KETIKA IBLIS MENGUASAI 6

Perselingkuhan Aida dan Pak Sobri

Apakah pak Sobri sudah puas dengan pengalaman sekali saja menggarap Aida – ataukah di masa depan masih ada kesempatan lagi mencicipi tubuh Aida yang bahenol itu? Apakah Aida telah belajar kenal dengan semua teknik bercinta? Ooh, masih jauh dari itu. Pak Sobri bertekad akan mengulang menikmati Aida dengan cara lain dan menjadikannya budak sex yang patuh 100%

ANNISA ISLAMIYAH (11)

***

Keadaan kesehatan Ubaidillah yang dirawat di RS hanya menunjukkan perbaikan sedikit sekali. Uang yang diperoleh dari pak Sobri telah terpakai untuk segala macam pemeriksaan, perawatan, obat-obatan, dan juga honorarium dari para dokter spesialis. Sementara itu Ustadz Mamat serta adik iparnya, Farah, tetap belum memperoleh pamasukan yang pasti.

Secara sepintas terdengar jumlah uang tiga juta yang diperoleh Aida dari pak Sobri memang banyak, namun dengan kenaikan harga kebutuhan hidup sehari-hari, ditambah biaya RS, maka punahlah semuanya bagaikan tetesan air di kuali panas yang langsung menguap di udara. Demi mengusahakan agar dapur tetap berasap, maka Ustadz Mamat terpaksa sering bekerja di sebuah madrasah di kota kecil lain yang cukup jauh sehingga tak jarang harus menginap satu dua malam meninggalkan rumahnya.

Demikian pula dengan Farah yang karangannya belum juga dimuat dan telah mengalami pelecehan oleh pak Burhan, berusaha melupakan pengalaman gelapnya itu dengan bekerja sebagai guru agama di Sekolah Rakyat di sebuah desa yang berjauhan dengan rumahnya. Dengan demikian maka Aida semakin sering tinggal seorang diri di rumahnya – dan hal ini tentu saja tak luput dari pengamatan para lelaki di desa itu. Salah satu lelaki yang mengamati bagaimana keadaan Aida adalah seorang duda pemilik warung serba ada kecil-kecilan di desa itu : Fadillah.

Fadillah telah berusia masuk lima puluh tujuh, bertubuh sangat kekar dan wajah sangat bengis, jarang tertawa terkecuali jika ada langganan yang datang untuk membeli seorang wanita muda. Fadillah yang sehari-hari disebut Fadil itu pernah bekerja sebagai buruh kuli harian, dan kebetulan dahulu menjadi kuli bangunan pada saat rumah pak Sobri dibangun. Dimasa menjadi kuli borongan itulah, Fadil yang memang berjiwa maksiat, pernah mencuri bahan bangunan dan berusaha menjualnya di pasar gelap.

Akibatnya Fadil ditangkap polisi dan dimasukkan ke penjara – namun karena istri Fadil almarhum merasa kasihan terhadap suaminya, maka ia meminta tolong kebijaksanaan kepada pak Sobri yang banyak mengenal pihak polisi. Istri Fadil bernama Subiati memang cukup cantik sehingga pak Sobri bersedia menolongnya, namun tentu saja tidak dengan gratis, melainkan menjebak Subiati ke rumahnya untuk dapat digarapnya.

ANNISA ISLAMIYAH (10)

Subiati sebagai istri alim shalihah tak dapat sembuh kembali dari tekanan jiwa akibat perkosaan yang dialami, sehingga menderita tekanan batin dan semakin kurus akibat mengidap sakit paru-paru. Perempuan itu akhirnya meninggal mendahului suaminya, Fadillah, yang sejak saat itu hidup menduda.

Setelah ditinggal mati sang istri, Fadillah menjadi kaki tangan pak Sobri, terutama di dalam hal mencarikan ‘daun muda” di desa, karena Fadillah faham sekali apa kegemeran dan kesenangan pak Sobri.

Oleh karena itulah Fadillah mendapat perintah dari pak Sobri agar memperhatikan bagaimana kehidupan Aida setelah berhasil digarap olehnya, terutama pada saat berbelanja keperluan dapur di kedai milik Fadillah yang sejak awal mula didirikan dengan modal dari pak Sobri.

Tentu saja Fadillah harus menahan nafsunya sendiri melihat istri Ustadz yang seronok behenol setiap kali membeli beras, minyak dan bumbu-bumbu masak lainnya. Fadillah berusaha ramah-tamah dan menanyakan bagaimana keadaan Ustadz Mamat yang semakin lama semakin jarang muncul sendiri di warung itu.

Semula agak segan Aida menceritakan keadaan keluarganya, keadaan ayahnya yang masih dirawat di rumah sakit, kegiatan yang dilakukan suaminya mencari nafkah. Namun karena Fadillah yang memang diberikan perintah oleh pak Sobri untuk menjebak Aida semakin sering memberikan potongan harga dan menjual barang keperluan sehari-hari jauh di bawah harga pasaran biasa , maka Aida tanpa disadari mulai terhanyut oleh ’kebaikan hati’ laki-laki itu.

Dalam waktu hanya beberapa minggu, maka Fadillah telah memperoleh banyak informasi dari Aida yang polos dan lugu, bahwa biasanya di hari Senin dan Kamis, Ustadz Mamat mempunyai tugas mengajar para siswi di madrasah yang terletak cukup jauh dari desa. Informasi berharga ini disampaikan kepada pak Sobri yang memang selalu mencari kesempatan untuk menggauli kembali wanita alim idamannya itu. Apalagi memasuki musim hujan, maka hubungan antar desa semakin sukar sehingga Ustadz Mamat lebih sering terpaksa bermalam di madrasah setelah usai tugas mengajarnya itu – meninggalkan istrinya Aida seorang diri di rumah.

***

Setelah makan siang bersama, kembali Ustadz Mamat meninggalkan Aida, istrinya, untuk balik mengajar ke madrasah tempatnya bekerja. Ia memberitahu Aida bahwa karena banyaknya tugas, maka ia akan bermalam di asrama madrasah selama dua hari.

Secara naluri, Aida merasakan adanya perbedaan kelakuan suaminya sejak mempunyai pekerjaan di madrasah baru yang terletak di desa lain itu. Aida merasakan bahwa suaminya tidak lagi menunjukkan kegairahan di saat menggaulinya sebagaimana lazimnya seorang suami dengan istri yang masih berusia muda. Tak banyak dilakukan oleh Ustadz Mamat untuk mencumbu merayu sang istri sebelum sanggama, dan sesudah itupun, Ustadz Mamat langsung membalikkan tubuhnya ke arah lain dan mendengkur.

Aida yang baru saja kehilangan ayahnya yang meninggal setelah menderita stroke, ikut acuh pula terhadap sang suami. Dalam suasana kesedihan itulah, Aida merasakan tak adanya seseorang yang dapat menghibur dirinya; ketiga adik perempuannya semakin sibuk dengan tugas dan kuliah masing masing. Bahkan tak pernah diduganya bahwa Farah telah menjadi korban pelecehan pak Burhan dan kini menjadi guru di sekolah agama sehingga hanya sekali dua kali sebulan mengunjunginya.

ANNISA ISLAMIYAH (9)

Ada dugaan di dalam hati kecil Aida bahwa Ustadz Mamat, suaminya, mungkin menyeleweng dengan wanita lain; mungkin dengan salah seorang siswi muridnya sendiri. Namun dengan segera dihapusnya rasa syak wasangka itu. Semua siswi madrasah pasti alim shalihah, mana mungkin mau untuk menjadi sasaran nafsu gurunya sendiri? Demikianlah cara berpikir Aida yang amat lugu dan naif.

Selain itu Aida menyimpan pula sebuah rahasia dan rasa bersalah karena telah menjadi korban pak Sobri. Semuanya menyebabkan Aida semakin merasakan dirinya sendiri kurang berharga dan tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya untuk memulihkan segalanya seperti awal semula.

Semua suasana yang kurang menguntungkan itu tentu saja tidak luput dari pengawasan iblis yang memakai ‘anak buah’nya yaitu Fadillah, si pemilik warung dimana Aida selalu belanja.

Setelah suaminya kembali ke tempat kerja di madrasah, maka Aida bergegas membeli keperluan mandi di warung langganannya itu, dan karena kebetulan sepi maka mereka ngobrol sebentar. Dari hasil obrolan itulah Fadillah mengetahui bahwa Ustadz Mamat akan absen selama dua hari, artinya Aida hanya seorang diri di rumahnya karena ketiga adik wanitanya pun sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Fadillah yang tahu bagaimana keadaan Aida, segera melapor kepada majikannya yaitu pak Sobri. Dengan seksama pak Sobri mendengarkan laporan Fadillah, dan paham inilah kesempatannya untuk menikmati istri Ustadz yang selalu dirindukannya sejak digarap tempo hari.

Fadillah memberitahukan pula kepada pak Sobri bahwa Aida meminta bantuannya mendirikan tiang jemuran di halaman belakang serta memperbaiki grendel pintu belakang yang hampir terlepas. Aida telah bosan meminta suaminya membetulkan kedua hal sepele itu, namun entah memang sengaja atau tidak, selalu dilupakan oleh Ustadz Mamat. Fadillah berjanji akan datang setelah menutup warungnya di sore hari.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, demikian pikir pak Sobri yang memang mencari akal untuk dapat masuk ke rumah Aida. Setelah berhasil menipunya tempo hari, maka kemungkinan besar Aida tak akan mau membukakan pintu jika pak Sobri yang datang sendirian. Fadillah akan dijadikannya sebagai umpan pemancing; pada saat Fadillah membetulkan tiang jemuran itu, maka pak Sobri akan coba menyelinap masuk. Semuanya harus diatur sedemikian rupa waktunya sehingga bisa berjalan lancar.

Pak Sobri bertekad kali ini akan menggarap dan menaklukkan Aida untuk dijadikan budak seks-nya, sehingga di masa depan Aida akan selalu ‘ketagihan’ dan bersedia menerimanya tanpa bantuan serta akal bulus siapapun.

Fadillah juga tidak sebodoh yang diperkirakan pak Sobri. Untuk ‘jasanya’ menjadi umpan pemancing kali ini, maka diajukannya persyaratan bahwa ia harus diberi kesempatan untuk ikut menikmati tubuh Aida yang sudah lama dilahap matanya saat belanja di warung.

Setelah menimbang semua untung ruginya, akhirnya pak Sobri menyetujui keinginan Fadillah – saat itulah iblis menyeringai lebar penuh kepuasan karena dua manusia itu akhirnya jatuh ke dalam jebakannya!!!

Pak Sobri menjanjikan kepada Fadillah untuk boleh menikmati tubuh Aida, namun harus tunggu giliran. Fadillah diberikan petunjuk untuk merejang kedua tangan Aida, kemudian jika perlu diikatnya di ujung ranjang, demikian pula kedua pergelangan kakinya jika Aida tetap melawan. Setelah itu Fadillah harus menunggu giliran untuk dapat menikmati mulut serta buah dada Aida, namun kedua lubang di bawah adalah milik pak Sobri.

Fadillah semula menolak dan menuntut agar diberi kesempatan menikmati semua lubang di tubuh Aida, bahkan sedikit mengancam akan mengundurkan diri dan membatalkan bantuannya, hingga akhirnya pak Sobri bersedia bernegosiasi lebih lanjut dan memberikan tawaran bahwa disamping Fadillah diperkenankan menciumi mulut Aida, ia juga boleh meminta service lainnya. Namun memek Aida tetap menjadi bagian yang tabu bagi Fadillah, ia boleh merangsang sedemikian rupa, namun tak boleh dicoblos – bagian ini adalah hak monopoli pak Sobri.

Selain itu pak Sobri berniat menjarah lubang Aida lainnya yang di waktu pergulatan pertama belum sempat ia nikmati; sebuah lubang yang diyakini pak Sobri belum pernah dijamah oleh Ustadz Mamat, suami Aida, yang di dalam bidang seksual tidak begitu banyak fantasi liar.

Tanpa meneruskan perundingan mereka, sebetulnya Fadillah pun berpikir bahwa jika vagina Aida tidak boleh ia nikmati, mungkin ada lubang lain dimana si otongnya dapat mampir. Itu sama dengan yang diinginkan olek pak Sobri. Sepertinya mereka akan rebutan nanti.

***

Sore itu terasa udara sangat panas menyengat, langit mendung dan beberapa kali terdengar gelegar guntur. Namun hujan yang turun tak begitu lebat, hanya gerimis rintik-rintik saja. Tidak seperti biasanya, Fadillah telah menutup warungnya sekitar jam empat sore, kemudian dengan sepeda motor bekas pemberian pak Sobri, ia melawan rintik hujan menuju rumah Aida yang letaknya di pinggiran desa, agak tersembunyi di balik pelbagai pohon besar.

Di gang kecil tempat tinggal Ustadz Mamat hanya ada tiga rumah lain – yang terletak paling memojok di akhir jalan adalah rumah Aida. Ketika Fadillah membelokkan sepeda motornya memasuki gang itu, dilihatnya bahwa Aida sedang bergegas akan masuk ke rumah tetangganya di ujung jalan, di tangannya membawa botol kecil.

“Eeh, mau pergi kemana, ustazah? Saya kan sore ini mau membetulkan jemuran di belakang rumah,” demikian tanya Fadillah sambil menghentikan sepeda motornya.

“Iya, ini saya mau bawakan minyak tawon ke bu Nur, karena ia barusan jatuh di tepi sumur hingga lututnya memar. Silahkan bapak mulai saja betulkan jemuran dan pegangan pintu belakang, saya tidak lama koq.” jawab Aida dengan nafas agak tersengal dan segera masuk ke rumah bu Nur.

“Baik, ustazah. Saya harus mulai nih karena sudah turun hujan gerimis,” lanjut Fadillah yang merasa dapat kesempatan baik untuk memberitahu pak Sobri yang ternyata secara seksama mengikuti semua adegan itu dari belakang setir mobilnya yang berada di tempat agak jauh.

Ketika Aida telah masuk ke rumah bu Nur, maka Fadillah mengacungkan tangannya ke atas sebagai tanda bahwa pak Sobri agar segera parkir dan meninggalkan mobilnya. Pak Sobri lekas melakukannya. Setelah itu, bagaikan dikejar setan, ia langsung lari secepatnya mengikuti jejak Fadillah yang telah memutari pekarangan rumah Ustadz Mamat dan kini mulai menegakkan jemuran pakaian yang miring itu.

Rupanya Aida lagi mengangkat pakaian di jemuran ketika dia dipanggil oleh bu Nur, sehingga ia bergegas ke dalam mengambil botol minyak tawon dan berlari ke rumah tetangganya itu, tanpa menyadari bahwa pintu belakang rumahnya lupa ia kunci. Akibatnya, kini dengan mudah pak Sobri masuk ke dalam dan bersembunyi di dalam kamar tidur Ustadz Mamat.

Hujan gerimis berubah semakin lebat sehingga tanah menjadi sangat basah. Fadillah dengan mudah dapat menegakkan tiang penyangga jemuran, namun untuk memasang pondasi semen pada saat itu sungguh tidak mungkin. Karena itulah ia memutuskan untuk mengalihkan kegiatannya membetulkan grendel pintu belakang, dan hal itu ternyata hanya sepele saja; cukup dengan mengencangkan dua sekrup kecil yang berada di pegangan grendel sebelah dalam dan luar, maka sebentar saja grendel itu telah mantap dan tak goyang lagi sedikitpun.

Di saat Fadillah berniat untuk menyimpan lagi segala peralatan yang dibawanya ke tas di bagian belakang sepeda motornya, ternyata Aida telah kembali dan merasa kasihan karena Fadillah basah kuyup. Namun sebagai ustazah yang alim maka tak mungkin ia mengajak Fadillah masuk ke dalam rumah karena saat itu hanya seorang diri, tanpa mengetahui bahwa ‘mahluk buas’ telah berada di dalam kamar tidurnya.

Fadillah pun berpura-pura sama sekali tak berniat masuk dan hanya numpang meneduh sekedarnya di bawah jendela rumah sang Ustadz yang sedikit terbuka. Namun Fadillah telah melihat sebelumnya bahwa jendela itu sangat mudah untuk dicongkel penyangganya dari luar, dengan demikian ia dapat melompat masuk ke dalam rumah tanpa perlu susah payah.

Ketika hujan mulai mereda – namun keadaan sudah gelap sehingga tak mungkin di saat itu untuk Fadillah melanjutkan pekerjaannya, maka ia dengan suara lantang ‘pamit’ pulang kepada Aida dan menjanjikan untuk meneruskan membetulkan jemuran yang miring itu esok hari. Aida setuju dan merasa lega ketika mendengar suara sepeda motor Fadillah menderu sayup-sayup semakin menjauh.

Padahal Fadillah hanya menjalankan motornya beberapa puluh meter, kemudian kembali berhenti dan meneduh di bawah pohon sambil menantikan beberapa saat lagi, dimana di luar sudah sedemikian gelap sehingga tak ada manusia yang melihatnya, barulah ia kembali ke rumah Aida.

Sekitar sepuluh menit setelah suara sepeda motor Fadillah tak terdengar lagi, maka Aida berniat untuk membasuh dirinya di kamar mandi. Setelah menunaikan tugasnya seharian sebagaimana biasa sebagai ibu rumah tangga, maka Aida merasakan badannya membutuhkan siraman air segar untuk menghapus keringat yang melekat di badan. Sebagaimana biasanya ia selalu menukar pakaian setelah mandi, maka Aida menuju ke kamar tidurnya untuk mengambil pakaian baju kurung sederhana tapi bersih untuk dipakai sehari-hari di rumah. Tanpa curiga sedikit pun Aida membuka pintu kamar tidurnya dan mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam, ketika tubuhnya disergap-dibekap secara tiba-tiba dari belakang.

“Uumpfh.. efpffhhh.. s-siapa?! Aauuffhhh,” Aida menggeliat dan berusaha meronta membebaskan dirinya dari sergapan dan pelukan ketat yang melingkar di pinggangnya.

Dirasakannya bahwa tubuh lelaki yang menyergapnya dari belakang itu sangat kekar serta memiliki tenaga yang jauh berlipat dibandingkan dengan tenaganya sendiri. Selain itu aroma yang keluar dari tubuh penyergapnya sangat khas kelaki-lakian, bau keringat yang tidak keluar dari tubuh suaminya sendiri, namun bau itu pernah dialaminya beberapa bulan lalu. Ditambah lagi dengusan nafas menderu bagaikan banteng murka di tepi telinganya, dengusan penuh nada kejantanan yang didengarnya saat dirinya ditakluki seorang pemerkosa : pak Sobri!

Tanpa disadari Aida merinding, bulu kuduknya berdiri, lututnya melemas, badannya menggigil bagaikan demam : Ya Allah, jangan biarkan hal yang nista ini terulang lagi, demikianlah panjatan doanya.

“Ssh.. tenang aja, neng geulis, kan pernah kenalan sama bapak, pasti udah péngén digenjot lagi. Bapak juga kangeeen banget.. kenapa merinding, neng? Sini bapak bikin badan neng jadi anget,” bisik pak Sobri disertai nafasnya yang berbau rokok semakin menembus lubang hidung mungil Aida.

Tanpa memperdulikan rontaan dan hentakan Aida yang melawan mati-matian nasib yang akan terulang kembali, pak Sobri yang walapun telah cukup usia namun masih sangat tegap dan kuat, menyeret mangsanya perlahan-lahan ke arah ranjang. Sementara tangan kirinya tetap membekap mulut Aida, jari-jari tangan kanan pak Sobri semakin liar menjalar dan menyelinap masuk diantara belahan kebaya yang dipakai istri Ustadz Mamat itu.

ANNISA ISLAMIYAH (8)

Aida berusaha mencakar tangan pak Sobri, namun sang pejantan yang telah kemasukan iblis ini seolah tidak merasakan kuku wanita cantik mangsanya. Dengan sekali putaran dan dorongan, maka pak Sobri berhasil menghempaskan tubuh Aida ke ranjang dan langsung ditindih dengan badannya yang sangat berotot. Bagaikan singa telah menjatuhkan kancil ke tanah, maka pak Sobri semakin ganas menguasai calon korbannya.

Mulutnya kini sepenuhnya menutup rekahan bibir Aida yang ingin berteriak, namun sama sekali tak berdaya. Lidah pak Sobri menerobos dan menjalar ke dalam rongga mulut Aida, membasahi dan mencampuri ludah manis Aida dengan liur kentalnya yang berbau tembakau sangat memualkan dan tak disenangi oleh Aida.

Pada saat itu pintu kamar tidur Aida kembali terkuak dan dari sudut matanya, Aida melihat kemunculan sesosok tubuh yang dikenalnya : Fadillah! Penuh harap Aida menggapai ke arah Fadillah untuk meminta tolong, namun yang dilihat olehnya adalah sinar mata Fadillah berbinar-binar penuh nafsu. Telah beberapa kali Aida menangkap sinar mata liar Fadillah semacam itu di warungnya, namun memang dianggapnya bahwa itu lumrah saja untuk semua lelaki. Namun dalam situasi seperti ini, barulah Aida menyadari bahwa harapannya untuk mendapat bantuan dan pertolongan Fadillah sama sekali sia-sia belaka, bahkan dilihatnya kini Fadillah bergegas melepaskan pakaiannya sendiri!

“Gimana, pak, perlu bantuan?” demikian tanya Fadillah sambil melepaskan celana panjangnya sehingga kini hanya memakai kaos dan celana dalam saja, lalu mendekati pergulatan di ranjang itu.

“Iya, nih cewek masih cukup binal. Mana tali serta lakbannya, Dil ?” demikian tanya pak Sobri diantara ciuman ganasnya di bibir Aida sambil tetap menindih dan menggeluti tubuh yang makin terlihat kemulusan serta putih menggiurkan itu. Sarung kebaya yang selalu sopan ketat menutup tubuh Aida kini telah acak-acakan dan tersingkap akibat ronta mati-matian, menyebabkan dada berbukit kembar, perut datar berpusar menantang, serta paha betis halus bagaikan batu pualam milik Aida menonjol keluar!

Sambil tersenyum lebar penuh kemesuman, Fadillah menghampiri serta kini berdiri di ujung ranjang bagian kepala. Pak Sobri merenggut kasar kebaya dan BH yang dipakai oleh Aida, kemudian sarung penutup pinggul serta auratnya juga ditarik ke bawah, sementara Fadillah merejang merentangkan kedua tangan Aida, lalu diikatnya seerat mungkin ke ujung ranjang, sehingga kini tak dapat mencakar lagi.

“Toloong.. empfh.. sialaan! Bangsat! Bajingan kalian semua! Terkutuk, cepat lepaskan! Atau saya akan teriak panggil polisi.. tol-eummpfh!!” Kali ini teriakan Aida diredam oleh bibir Fadillah yang ternyata tak kalah ganas dan juga sama berbau tak sedap seperti mulut pak Sobri.

Kesempatan ini dipergunakan oleh pak Sobri untuk melepaskan semua pakaiannya. Dalam waktu hanya satu menit, terlihatlah tubuh pak Sobri yang meskipun agak tambun namun tetap berotot dan agak mengkilat dengan keringat akibat pergulatannya dengan Aida. Setelah itu pak Sobri kembali ke ranjang dan menindihi tubuh Aida yang tetap menggeliat meronta-ronta. Sarung yang telah turun melorot ke betis Aida dilepaskannya sama sekali, setelah mana pak Sobri menarik celana dalam kecil warna biru muda, diciuminya bagian tengah cd yang telah nampak lembab itu penuh nafsu.

“Wuih, harumnya nih air madu dari memek… enggak percuma selalu disimpan ya, neng.. udah waktunya ntar disedot ama bapak. Tapi sekarang bapak mau nyusu dulu ah,” celoteh pak Sobri sambil menelusuri bukit kembar di dada Aida; diremas dan dipilin-pilinnya puting yang semakin mengeras itu, kemudian dicaploknya bergantian kiri kanan sambil digigit dan dikenyotnya habis-habisan.

Aida semakin kewalahan menghadapi serangan kedua lelaki durjana ini, mulutnya masih tertutup oleh bibir dan lidah Fadillah yang menyapu langit-langitnya dengan kasar. Bau tak sedap terpaksa harus diterimanya karena liur Fadillah semakin bercampur dengan ludahnya sendiri, dan kini ujung syaraf tubuhnya sebagai wanita dewasa yang agak kurang mendapatkan nafkah batin dari suaminya mulai tergugah akibat rangsangan yang dilancarkan oleh pak Sobri di kedua puting buah dadanya.

Kedua betis langsing Aida yang sedari tadi menghentak menendang-nendang, kini mulai berubah irama; kaki dengan jari-jari amat kecil mungil kemerahan itu menekuk ke dalam mengiringi lekukan gelisah di sendi lutut Aida. Paha mulus yang selama itu berusaha merapat mempertahankan aurat yang tersembunyi di tengahnya, kini mulai agak gemetar dan perlahan-lahan kehilangan tenaga untuk bertahan.

ANNISA ISLAMIYAH (7)

Pak Sobri dengan penuh keahlian telah menempatkan diri diantara kedua paha korbannya, sementara tangannya tetap menyiksa kedua puting bukit kembar kemerahan milik Aida. Bibirnya yang tebal dower merambat turun dari dada ke arah perut, menggelitik pusar melengkung ke dalam perempuan itu, kemudian semakin turun…

Meskipun masih menciumi Aida dengan penuh rasa birahi tak tertahan, namun Fadillah sempat melihat dengan sudut matanya bahwa pak Sobri telah meningkatkan rangsangannya dengan makin mendekati bawah perut Aida. Fadillah merasakan nafsunya sendiri semakin tak tertahan, belahan bibir Aida yang sedemikian hangat menggiurkan, diidamkannya untuk bisa menerima kemaluannya. Betapa seringnya Fadillah mendambakan untuk menikmati tubuh Aida saat melayaninya di warung, kini bidadari idamannya itu telah berada dalam genggamannya : kedua nadi Aida terikat erat di sudut ranjang, mulutnya yang setengah terbuka kini akan dipaksanya mengulum menyepong penisnya.

Fadillah berlutut menempatkan diri di samping kepala Aida yang langsung melengos, namun secara sigap wajah cantik itu dipaksanya kembali menoleh dan kepala kejantanannya yang berbentuk jamur itu segera ditempelkannya ke bibir Aida. Tentu saja Aida menutup mulutnya sekuat tenaga, tapi Fadillah langsung menjepit hidung bangir mancung yang menggemaskan itu sehingga Aida tak dapat bernafas dan terpaksa membuka sedikit mulutnya. Namun bukaan ini belum cukup lebar untuk ditembus pentungan daging yang cukup besar keras dan tegang itu : Fadillah harus sabar!

Sementara itu pak Sobri telah menurunkan wajahnya mendekati bukit Venus kemaluan Aida. Bukit nan lebam hanya dihiasi bulu halus sangat terawat itu menampilkan lembah mungil di tengahnya, sebuah lekukan panjang, dalam dan sempit, sebuah celah yang mengundang untuk dijelajahi. Pak Sobri masih mengingat betapa empuk dan halus dinding celah surgawi itu, betapa lembut denyutan serta pijitan yang dialami kemaluannya ketika akhirnya berhasil membelah celah hangat licin itu.

Aroma kewanitaan yang khas menerpa hidungnya, aroma khas tubuh Aida yang meskipun belum sempat mandi namun justru menampilkan bau alami wanita yang amat membius. Dengan kedua tangan yang kuat berotot, pak Sobri membuka dengan paksa lutut Aida ke samping kiri kanan. Walaupun Aida dengan mati-matian mempertahankan diri, namun tenaganya kalah kuat sehingga kedua lututnya terbuka maksimal dan ditekan ditindih oleh lutut pak Sobri, menyebabkan Aida memekik kesakitan.

Kini terbukalah selangkangan Aida dihadapan mata pak Sobri yang menelan ludahnya beberapa kali, jakunnya turun naik, jari-jari kasar hitam pak Sobri mulai mengelus betis serta paha mulus Aida.

Fadillah menyaksikan kegiatan pak Sobri dari sudut matanya. Karena pak Sobri telah mengalihkan kegiatan jari-jarinya ke bawah tubuh Aida, maka tibalah giliran Fadillah untuk merasakan betapa halus namun kenyal dan padatnya gunung kembar di dada Aida. Tanpa menghentikan ciuman rakusnya yang sangat menjijikkan, mulailah Fadillah meraba dan mengelus bahu mangsanya. Dari bahu, jari-jari kasarnya menjalar ke ketiak, sedikit memijit-mijit disitu sehingga Aida menggeliat kegelian.

Perantauan jari-jari hitam Fadillah dengan kuku panjang tak terawat semakin nakal menaiki lereng bukit montok, mengelus-elus disitu sebelum mendaki ke puncak untuk menemukan puting mencuat berwarna merah kecoklatan, berdiam sebentar disitu kemudian mulai mengusap dan meremas-remasnya pelan.

“Aauummpfhh.. aasshhh.. eeiimmppfhh.. ooaahhh.. oooh..” bunyi desahan Aida tak nyata karena mulutnya tetap disumpal lidah Fadillah yang besar. Tubuh Aida yang putih montok semakin menggeliat menggelinjang resah sehingga terlepaslah tindihan lutut pak Sobri, Aida berusaha menggulingkan tubuhnya ke kiri ke kanan walaupun kedua tangannya terikat erat di ujung ranjang.

Namun semuanya hanya sia-sia saja karena kini pak Sobri bahkan meneruskan penjarahannya lebih lanjut dengan menangkap kedua pergelangan kaki Aida yang mencoba menendang ke kiri kanan. Kedua betis langsing bak padi membunting itu dicekalnya keras kemudian dinaikkan dan diletakkan di atas bahunya, sehingga Aida kini hanya dapat memukul-mukul lemah dengan tumit mungilnya ke punggung pak Sobri.

“Aauww.. sakiit! Lepaskan! Aaah.. sakiit! Auwffmph..” Aida menjerit kesakitan ketika Fadillah dengan sadis mencubit putingnya dengan kuku tajam tak terawat.

ANNISA ISLAMIYAH (6)

Pada saat mulutnya membuka lebar, maka kesempatan yang telah lama ditunggu Fadillah akhirnya tiba. Cepat lelaki itu menjejalkan kemaluannya yang memang sejak tadi menunggu di depan bibir Aida yang hanya terbuka sedikit. Lidah Aida berusaha sekuat tenaga mendorong keluar daging pentungan berkepala topi baja itu, namun Fadillah tak kenal kasihan. Tanpa mengurangi cubitannya bergantian di kedua puting Aida yang semakin ngilu mengeras, ia mendorong dan menekan kejantanannya senti demi senti ke dalam rongga mulut Aida sehingga menyentuh langit-langit dan menyebabkan Aida tersedak.

“Kalo enggak mau disiksa, makanya nurut dong! Ayo, sekarang kulum yang bener.. isepin, jilat yang bersih.. iya, gitu.. pinter, udah biasa nyepongin suami ya?” celoteh Fadillah keenakan ketika akhirnya Aida terpaksa menyerah, mulai mengulum penis hitam yang dibencinya itu. Namun biarlah daripada terus-menerus disakiti dengan puting yang telah sedemikian peka ditarik dan dicubiti kuku tajam.

Tanpa merasa kasihan Fadillah mencekal rambut Aida, kemudian digerakkannya kepala perempuan itu mundur maju memanjakan penisnya yang kini terlihat mengkilat akibat basah oleh ludah Aida.

Bagian bawah tubuh Aida kini tak kalah serunya dijadikan sasaran keganasan sang pejantan lain : sambil menikmati pukulan-pukulan lemah tumit Aida di punggungnya, pak Sobri telah menjelajahi bukit kemaluan Aida dengan beberapa jarinya. Terlihat betapa licin mengkilat lembah sempit yang telah lama diimpikannya itu. Dengan hati-hati Pak Sobri membuka dan melebarkan celahnya yang mungil, lalu disentuh dan dijilatnya dengan penuh rasa kepuasan sebelum lidahnya menyapu dinding halus itu.

Tanpa rasa jijik pak Sobri menikmati licinnya dinding surgawi Aida yang berwarna merah muda, dicicipinya lendir yang mulai keluar membasahi celah nirwana itu, dijilatinya penuh mesra hingga membuat Aida kegelian. Dilanjutkannya penjarahan lembah kewanitaan Aida dengan mengutik-utik, menyentuh, meraba dan mengusap-usap ujung klitoris yang kini semakin peka dan tanpa disadari mulai menonjol keluar.

“Ooohh.. jangan! Lepasin saya, pak! Ooohh… bang, jangan! Saya sudah menjadi istri ustadz! Tolong kasihani dong, pak! Jangan begini.. saya enggak rela! Ooohh..” Aida mulai menangis menimbulkan iba, namun tubuhnya yang ‘kekeringan’ selama ini mau tak mau mulai memberikan respons terhadap rangsangan kedua lelaki berpengalaman itu.

“Kenapa nangis, neng? Nikmati aja, percuma nunggu berkah dari suami bodoh yang pergi melulu.. masa istri bahenol gini enggak diganyang tiap malam? Ayolah, neng, lepasin semuanya! Jangan ngelawan, percuma aja ngarepin suami yang enggak pulang-pulang. Ini ada penggantinya,” pak Sobri mencoba berusaha mesra, kemudian mulai dikecupi, diciumi dan dijilatinya memek basah Aida.

Dibukanya bibir kemaluan Aida ke kiri kanan dengan hati-hati sehingga terlihatlah lubang kecil dari kandung kemihnya, demikian juga sepotong daging mungil di lipatan atas bagaikan yang penis kecil. Inilah pusat kenikmatan yang diabaikan sang ustadz, namun kini didapat oleh pak Sobri!

“Uumhhh.. duh mungilnya nih lubang.. cupp, cupp, aaah.. neng, wangi amat memeknya? Bapak enggak puas-puas ngeliatin nih kelentit. Bapak gigit dan jilatin mau ya?” Tanpa menunggu jawaban, pak Sobri segera menyentuh lubang kencing Aida dengan ujung lidah, sementara kumisnya yang sengaja dua hari tak dicukur, menyentuh klitoris Aida bagaikan sapu ijuk, mengakibatkan Aida merasakan kegelian luar biasa sehingga menjerit lupa diri!

“Jangan, pak! Lepaskan, udaah.. oohh.. saya mau diapain lagi?! Enggak mau, ooohh.. sssh.. saya mau pipis! Aaaah.. jangan! Lepasin,” Bagaikan terkena aliran listrik, tubuh Aida mulai menegang, sementara cairan memeknya semakin deras keluar.

“Sssh.. tenang aja, neng. Nikmati biar puas.. ini surga dunia, neng. Jangan dilawan, buang tenaga aja. Dijamin ntar puas, kapan lagi gratis dikerjain dua lelaki,? Ayo sepongin lagi tuh si Fadil, udah lama dia enggak dapat jatah perempuan. Sekarang bapak mau nerusin ngegali lobang si neng,” pak Sobri menundukkan kepalanya lagi dan meneruskan penjarahannya ke liang vagina dan kelentit Aida.

ANNISA ISLAMIYAH (5)

Sebelum Aida dapat protes lebih banyak, kembali mulutnya dijejali oleh penis Fadillah yang berbau asam meskipun disunat. Mungkin Fadillah tak mempunyai kebiasaan untuk mencuci kemaluannya jika telah kencing, dan sekarang justru nafsunya semakin meningkat melihat Aida telah berkali-kali hampir muntah. Pemilik warung ini semakin bersemangat memperkosa mulut mungil yang telah kewalahan membuka maksimal itu karena Fadillah ingin memaksa Aida meminum pejuhnya.

Sementara itu pak Sobri telah memusatkan perhatiannya ke vagina Aida yang dijilat dan dikecupnya tak henti-henti, menyebabkan Aida bagaikan cacing kepanasan yang menggeliat sejadi-jadinya. Pak Sobri tak peduli kegelisahan wanita alim shalihah itu : lidahnya bergantian menyentuh lubang kencing dan klitoris Aida. Daging yang semula kecil bersembunyi di lipatan bibir kemaluan itu semakin lama semakin terlihat menonjol keluar berwarna kemerahan. Permukaannya yang dipenuhi jutaan ujung syaraf peka diserang bertubi-tubi oleh sapuan lidah, gigitan kecil dan juga ujung kumis pak Sobri yang kaku bagaikan sapu ijuk.

Semua siksaan itu tak sanggup lagi ditahan oleh tubuh si wanita alim. Tubuh Aida melengkung bagaikan sekarat, menegang kaku seolah terkena aliran listrik, tangannya yang terikat di sudut ranjang membuat kepalan tinju kecil.

Fadillah memegang sekuat tenaga secara sangat sadis kepala Aida dan ditekannya rudalnya sehingga menekan di kerongkongan, disaat mana air maninya menyembur keluar berbarengan dengan orgasme Aida akibat rangsangan dari pak Sobri.

Pak Sobri pun tak kalah licik dan sadis ingin menikmati orgasme istri Ustadz ini : dimasukkannya jari telunjuk dan jari tengahnya ke liang vagina Aida untuk merasakan bagaimana jepitan denyut-denyutan ritmis otot memek yang sedang orgasme! Sementara jempolnya yang kasar mengusap permukaan klitoris Aida demi meneruskan dan memperpanjang orgasme yang melanda korbannya. Dilihatnya pula kedutan dan kontraksi otot-otot lingkar pelindung anus Aida – dan ini membuatnya tersenyum lebar.

“Pertama lubang di atas akan kunikmati sepuasnya sebelum lubang satunya kuperawani!” begitu dia bertekad.

Tentu saja Aida tak menyadari rencana licik pak Sobri, ia sedang dilanda tsunami orgasme sekaligus juga mati-matian harus melawan rasa ingin muntah karena terpaksa menelan pejuh Fadillah.

“Oooh.. uuuhh.. duh, enak tenan eeuy.. nyemprot ser-seran gini, di mulut istri orang yang cantik kayak neng. Nih datang lagi.. iya, sedot semua.. minum sampai habis!” tak henti-hentinya Fadillah memuji tegukan demi tegukan yang terpaksa dilakukan oleh Aida demi usahanya memperoleh nafas agar tak tercekik oleh luapan air mani lelaki asing yang kini dibencinya itu.

Jika ia mengira bahwa penyiksaannya telah berakhir, maka Aida salah besar : ternyata meskipun telah menyumbangkan air pejuhnya, namun penis Fadillah tetap saja tegak mengacung, mungkin akibat ramuan kuat yang juga dijual di warung, selain juga resep dari dukun kampung di situ.

Beberapa menit kemudian kedua lelaki durjana itu melepaskan Aida dari ikatan nadi di ujung kepala ranjang, tubuh putih mulus sintal telanjang bulat itu terlihat bergetar akibat tangisan sesenggukan. Semuanya itu sama sekali tak menimbulkan rasa kasihan pada kedua lelaki pejantan : permainan mereka justru baru memasuki babak pertama, kini mereka telah siap melanjutkan ke babak kedua!

Fadillah diberikan tanda oleh pak Sobri agar merebahkan dirinya, sedangkan tubuh Aida yang masih tergetar akibat tangisan tersedu-sedu itu diangkat oleh pak Sobri dan diletakkan diantara kaki Fadillah.

Dengan mata sembab penuh linangan air mata, Aida kini dipaksa untuk berlutut dengan wajahnya kembali menghadapi kejantanan Fadillah yang masih tegak mengacung bagaikan tugu Monas. Aida yang masih sangat lemas berusaha menolak dan ingin berdiri, namun pak Sobri yang berada di belakangnya segera menekan belakang lehernya dan memaksa wajah ayu penuh air mata itu mendekati kepala penis Fadillah yang masih mengkilat oleh air mani.

“Ayolah, neng, manjakan lagi nih si ujang. Bantuin pijit dan peres-peres nih biji pelir, masih banyak jus segar yang ntar bisa dipakai buat obat awet muda si neng. Tadi si neng udah ngicipin pejuh. Dan si neng emang jagoan, enggak muntah sama sekali, padahal kebanyakan cewek pada muntah tuh. Makin sering nyembur si ujang ini, maka akan manis air sarinya, neng!” demikian Fadillah dengan penuh dusta berbicara mengenai air pejuhnya.

ANNISA ISLAMIYAH (4)

Aida hanya menggeleng-gelengkan kepala, namun Fadillah telah menggantikan pak Sobri dan kini ia menarik kepala Aida dan dipaksanya untuk menciumi senjata kesayangannya kembali. Masih tetap istri ustadz itu menolak membuka bibirnya, apalagi ketika dirasakannya pak Sobri yang berlutut di belakang punggungnya kini telah menyentuh belahan pantatnya.

Aida berusaha berdiri namun pak Sobri telah siap dan dengan tenaga begitu kuatnya, pundak Aida lagi-lagi ditekan ke bawah sehingga posisi tubuhnya semakin menungging. Aida masih berusaha melawan dengan mencoba mencakar tangan pak Sobri yang menekannya ke bawah, tapi apalah artinya cakaran kuku wanita kalau sang pejantan telah kemasukan tenaga iblis?

Pak Sobri memijit kedua pundak Aida dengan cukup keras sehingga umamah ini menjerit kesakitan, kesempatan sekali lagi bagi Fadillah yang langsung menekan wajah Aida ke bawah dan mulut ternganga itu segera disumpal oleh tombak daging yang kali ini bahkan langsung masuk ke dalam kerongkongan!

“Eeghh.. ueeghkk.. eegghk.. aauhh.. uueeghh..” berkali-kali Aida merasa lambungnya bagai terpelintir, namun untunglah perutnya sudah lama kosong tak terisi sehingga ia tak jadi muntah.

Fadillah rupanya agak kasihan juga melihat korbannya penuh aliran air mata dan kelabakan megap-megap berusaha bernafas. Diurut-urutnya belakang kepala Aida seolah ingin melemaskan kerongkongannya agar dapat menerima seluruh batang kemaluan yang menjejal tajam.

“Iya, pelan-pelan aja. Yah begitu, diurut dan dikocok neng, supaya lebih mantap dan sip. Terus.. duh, makin pinter nyepongnya.. dasar emang istri ustadz pelacur!” ejekan sang pemilik warung membuat pipi Aida memerah panas dan merasa malu serta turun harga dirinya.

Sementara itu pak Sobri telah memegang penisnya yang hitam besar penuh urat melingkar, dan diarahkannya ke celah yang masih licin dengan cairan pelumas wanita dewasa serta air liurnya sendiri. Dengan satu tangan pak Sobri menekan pinggang Aida ke bawah sehingga tunggingan pantat nan bulat bahenol itu semakin merangsangnya, dan juga terlihat celah vagina yang agak merekah merah milik Aida. Perlahan dan dengan penuh kepuasan pak Sobri memajukan pinggulnya sendiri sehingga akhirnya kepala penisnya menyentuh dan mulai membelah celah memek Aida. Mula-mula meleset ke samping beberapa kali, namun akhirnya ujung pentungan daging berbentuk topi baja itu terjepit diantara bibir vagina nan sempit legit.

ANNISA ISLAMIYAH (3)

“Eemmhhh.. weleh-weleh, sempit amat nih memek neng! Sering latihan kegel ya, neng, atau barang suaminya memang kecil? Duh, enak tenan.. licin, anget, sempit lagi.. ayo mulai goyang-goyang dong pantatnya, neng, seperti tempo hari.” pak Sobri merem-melek merasakan senjatanya menerobos lubang hangat idamannya.

Berbeda dengan pak Sobri yang amat bergairah menikmati persetubuhan, maka Aida kembali merasa sangat perih dan ngilu karena vaginanya yang kecil dan sempit itu dipaksa membuka lebar untuk menerima sodokan penis besar.

“Wuih, enggak nyangka nih lobang kalo ditembus nungging jadi makin dalem.. tapi jangan kuatir, neng, alat pacul bapak cukup panjang buat ngeluku sampe bisa mentok! Oh nikmatnya.. ngimpi berbulan-bulan akhirnya kesampean juga, mmmhh.. sssshh..” lanjut pak Sobri.

Setelah maju-mundur tarik-dorong beberapa kali, akhirnya berhasil juga ujung kepala penis pak Sobri yang telanjang disunat itu menyentuh mulut rahim Aida. Setelah itu pak Sobri tak memperdulikan lagi perbedaan ukuran kemaluannya dengan lubang mungil Aida, gerakannya kini telah dikuasai oleh keinginannya mendengar keluhan, rengekan, desahan dan bahkan isakan tangis istri Ustadz Mamat akibat menahan rasa ngilu dan perih yang dideritanya.

Dan memang itulah yang didengarnya saat ini, namun pak Sobri yakin bahwa istri ustadz yang kekeringan nafkah batin ini akan segera berubah menjadi budak seks-nya. Rintihan sakit yang terdengar disaat rahim Aida dihentak dijedug kasar oleh senjata ampuh penakluknya, akan perlahan-lahan berubah menjadi desahan wanita dewasa yang meminta. Ya, desahan seorang wanita yang akan kehilangan semua rasa malu, akan melupakan pelecehan yang dialami, rintihan itu akan berubah menjadi ratapan dan permohonan agar perkosaan berlanjut!

Dan dugaan pak Sobri memang benar : semua hormon kewanitaan di tubuh sehat Aida mengkhianati, semua daya upaya pertahanannya berdasarkan rasa malu dan harga diri sebagai istri ustadz alim shalihah akhirnya dapat terkalahkan oleh keahlian kedua lelaki durjana yang menggagahinya.

Bunyi kecipak jilatan Aida menyepong Fadillah terselang-seling dengan dengusannya, bersilih ganti dengan ritme plak-plok-plak-plok pantatnya yang bersentuhan dengan paha pak Sobri. Kepalanya terasa pusing terbawa arus gelombang yang muncul dari genjotan tak kenal ampun di rahimnya.

Semakin lama semakin memuncak nafsu pak Sobri yang meskipun mulai putih beruban namun dalam persoalan menggarap wanita dapat dibandingkan anak usia belasan yang masih ingusan. Dirasakannya kemaluannya yang semakin memelar dan memanjang itu diremas dipijit oleh otot di dalam memek wanita yang tengah digagahinya, remasan dan pijitan yang mana mengundang lahar panasnya mulai mendidih dan mendesak mengalir menunggu ledakan dari saluran di sepanjang penisnya.

Bagaikan orang kesetanan, pak Sobri meningkatkan gerakan maju-mundurnya. Peluhnya mulai menetes di dahi. Matanya semakin melotot dan dengusannya semakin menguasai ruangan, hingga akhirnya… disertai teriakan menyeramkan, pak Sobri melepaskan arus syahwatnya.

“Aaaah.. bapak tak tahan lagi, mau banjir nih! Oooh.. neng geulis, lagi subur enggak? Siapa tahu jadi anak nih, oooh.. angetnya nih lobang! Iya, pijit dan remes-remes, Neng.. aje gile, neng bahenol! Enak enggak, neng, sakit-sakit nikmat ya?”

Pak Sobri menyemprot rahim Aida dengan air maninya yang menyembur bagaikan tak akan berhenti. Disaat mana juga Aida tak dapat menahan lagi gejolak mendidihnya hormon kewanitaan di seluruh ujung syarafnya. Wajahnya mendadak terlepas dari genggaman Fadillah dan menengadah ke atas dengan bibir merah merekah, hidung bangirnya mancung kembang-kempis , tarikan nafas panjang berubah menjadi histeris, dan…

“Aauw.. iyaah, ngilu! Aauuww.. pak, ngilu! Oouuh.. aaih.. iyah terus! Ooohh.. nikmat, oooh.. terus, pak!!” jeritan suara Aida melengking menandingi dengusan berat pak Sobri. Kembali tubuhnya kejang dan melengkung ketika gelombang orgasme kedua melandanya dan menghempaskannya kembali.

Pak Sobri menggeram bagaikan singa terluka karena menyadari bahwa kesanggupannya masih ada dan lebih dari cukup untuk meneruskan senggama dengan wanita cantik idamannya ini. Lembing pusakanya masih tegang ketika ditariknya keluar dari vagina Aida, dan dengan penuh kebanggaan pak Sobri melihat penisnya mengangguk-angguk tak sabaran menunggu tugas berikutnya.

Senyum iblis menghiasi wajah pak Sobri ketika direkahnya kedua bongkahan pantat Aida yang bahenol tanpa tandingan ketika perempuan itu bergoyang. Dilihatnya lubang kecil tersembunyi di tengah belahan pantat itu, lubang yang masih berkedut menciut ke arah dalam akibat kontraksi otot-otot pelindungnya.

Pak Sobri meludahi lubang kecil yang seolah menantang di hadapan matanya, ia menarik nafas amat dalam dan dipusatkan konsentrasinya agar penisnya menegang semaksimal mungkin. Diletakkannya kepala penisnya yang masih licin oleh lendir kewanitaan dan ditekannya perlahan-lahan ke tengah anus Aida. Dirasakannya otot-otot lingkar pertahanan anus Aida mencegah penetrasi lebih lanjut, namun dengan penuh keyakinan akan segera menang, pak Sobri menekan sekuatnya.

“Aduuh! Auuw.. jangan, pak! Oouuhh.. aauuuw.. sakit! Kasihani saya, pak! A-ampuun.. jangan masuk di situ, haram! Auuuw..” Aida menggelepar-gelepar menahan rasa sakit tak terkira di anusnya.

ANNISA ISLAMIYAH (2)

Air matanya kembali mengalir sangat deras turun di pipinya karena menahan penderitaan lubang tubuhnya yang terkecil sedang dijarah. Terasa panas bagaikan dicolok oleh kayu menyala, dan setiap kali pak Sobri menekan menambah masuk, maka perihnya bagaikan terkena sayatan pisau. Mungkin karena penis pak Sobri terlalu besar, maka walaupun telah dilicinkan dan dilumasi dengan air lendir cintanya sendiri, ditambah ludah pak Sobri, namun semuanya tidak menolong banyak. Apalagi otot-otot lingkar pertahanan anus Aida rupanya masih tak rela dilebarkan secara paksa oleh benda sebesar kemaluan pak Sobri, sehingga melawan dan berusaha menolak benda asing itu – semua hanya menambah rasa sakit dan perih.

Berbeda dengan penderitaan Aida yang menggeliat menggelepar menahan rasa sakit tak terkira, maka pak Sobri justru merasa betapa nikmatnya memasuki lubang intim Aida yang telah lama diincar dan dibayangkannya. Namun pak Sobri masih ingin menambah lagi rasa ego kebanggaan sebagai lelaki pertama yang berhasil masuk ke anus Aida : ya, pak Sobri ingin mendengar pengakuan itu langsung dari mulut Aida, bukan hanya dengan dugaannya semata-mata. Selain itu muncul kembali iblis yang menganjurkannya untuk menyaksikan bagaimana ekspresi wajah si wanita cantik idaman saat disiksa rasa sakit di anusnya.

Lihatlah bagaimana wajah istri ustadz saat disodomi, hehehe.. demikianlah bisikan iblis, dan pak Sobri telah sepenuhnya dikuasai oleh bujukan itu.

Oleh karena itu pak Sobri menarik sementara penisnya yang menancap di anus Aida, menyebabkan Aida menarik nafas lega karena sakitnya berkurang dan dikiranya bahwa deritanya telah berakhir. Namun dugaannya itu sama sekali meleset karena pak Sobri hanya ingin mengubah posisi : badan Aida yang sedemikian putih mulus sintal bahenol dan lemas lunglai itu kembali dibaliknya hingga telentang. Kemudian kedua paha Aida kembali dikuakkan lebar-lebar dan dikaitkan lagi di pundaknya sehingga selangkangan Aida dengan memek dan anusnya terekspos penuh di hadapannya.

Seringa mesum menghiasi wajah pak Sobri melihat anus Aida berdenyut kembang kempis menutup membuka, dan disaat agak membuka itu tampak kemerahan di bagian dalam karena baru saja mengalami pelebaran secara paksa. Aida hanya sanggup menangis tersedu sedan tak mampu melawan lagi, tapi ia ‘bersyukur’ bahwa bagian intimnya sementara dibebaskan dari penyiksaan yang menyakitkan.

“Ayo, Dil, bantu pegangin lagi nih cewek kalo dia ampe ngelawan. Ntar loe boleh mandiin dia ama pejuh loe sepuasnya. Sekarang dia harus ditaklukkan betul-betul dan jadi budak seks kita di masa depan,” kata-kata pak Sobri mendengung di telinga Aida dan ia menyadari bahwa nasib malangnya belumlah tamat.

“Jangan ngelawan ya, neng, tahan dikit lagi. Ini kita udah mau masuk babak terakhir,” ujar Fadillah sambil cengengesan dan kembali memegangi kedua nadi Aida di atas kepala.

Sementara itu tangan-tangan pak Sobri menekan kedua paha Aida ke samping sehingga vagina maupun anus Aida agak terkuak kembali. Sambil mengusap kelentit Aida yang mengintip keluar akibat ulah ibu jarinya, pak Sobri dengan penuh kebanggaan meletakkan lagi ujung kepala kemaluannya di anus mangsanya. Diperhatikannya denyutan kontraksi otot-otot Aida yang seolah menyedotnya masuk. Sambil menarik nafas panjang seperti beberapa menit lalu, pak Sobri menekan, mendorong, menekan, dan…

“Aauww.. udah, jangan masukin lagi disitu, pak! S-sakit.. toloong.. a-ampun!!” Aida kembali menjerit bagaikan hewan disembelih, sama sekali tak diduga deritanya berlanjut.

“Uuuh.. sempit amat nih lobang! Sakit-sakit enak ya, neng, sakit tapi nikmat kan? Enggak usah malu-malu lah, neng , pasti udah sering pantat si neng dijebol begini sama suami kan?” tanya pak Sobri pura-pura untuk memancing pengakuan dari mulut Aida sendiri, sesuai bujukan sang iblis.

“Aduh, pak, udahan dong! Saya enggak tahan, sakit! Haram ini, pak, enggak mau!!” Aida hanya sanggup menangis kesakitan sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

“Aah.. si neng jangan bohong! Pasti udah sering dijarah bo’olnya sama suami.. ngaku lah, neng! Kalo enggak, ntar saya terusin nih sampe semalaman. Mau enggak?” pak Sobri melanjutkan ‘interogasinya’ sambil bergerak maju-mundur, masuk keluar di anus Aida tanpa peduli korbannya kesakitan.

“Enggak pernah, pak, sungguh mati! Aauuw.. udah, stop dong.. saya enggak tahan lagi sakitnya, pak! Aduh.. auuw.. ampun, pak! Ya Allah, ampun sakitnya..” akhirnya tanpa sadar Aida mengakui bahwa memang pak Sobri-lah lelaki pertama yang menyodominya.

Saat itu tak dapat dilukiskan oleh kata-kata rasa kebanggan pak Sobri karena memang benar dialah lelaki pertama yang merenggut keperawanan anus istri alim shalihah ini. Kini tinggal selangkah lagi yang harus dilakukannya untuk menaklukkan Aida dan menjadikannya budak seks pribadi yang selalu menurut dan patuh atas semua kemauannya.

Pak Sobri meneruskan mengusap dan menyentil-nyentil biji klitoris Aida yang semakin memerah dan luar biasa peka itu, sementara ia meningkatkan gerakan dorong-tarik di lubang Aida yang sedemikian sempit. Dengan memberikan kombinasi antara sakit nikmat ini maka pak Sobri akan memaksakan Aida untuk mengaku bersedia menjadi budak seks-nya.

“Hehehe, kelihatannya udah lemes amat, neng.. ini belon apa-apa lho! Gimana, Dil, kita terusin semaleman sanggup enggak?” pak Sobri melirik Fadillah dengan kedipan mata penuh kelicikan.

“Lha, ya pasti sanggup, pak. Mesti diapain lagi ya nih cewek?” balas Fadillah penuh pengertian.

“Sekarang tergantung si neng dah, diterusin apa enggak? Kalo neng enggak mau, sekarang neng harus ngaku sekaligus janji ama kita,” pak Sobri merasakan kemenangan mutlak hampir tercapai.

“Ampun, pak, saya enggak… sanggup lagi.. auuw.. ngelayanin.. auuw.. saya enggak tahan lagi.. aauuw.. jangan diperkosa lagi, pak.. auw, auw, auw.. tolong hentikan, pak.. aauuw.. aauuw.. aduh, sakit! Saya janji tak akan lapor kemana-mana, juga pada siapapun.. tolong, pak,” suara Aida semakin melemah.

“Gimana, Dil, kelihatannya hampir kelenger nih istri pak Ustadz? Iya deh, kita berhenti dulu, neng. Tapi sekarang neng mesti janji dan ulangi apa yang bapak ucapkan, dan juga selalu siap melakukan di masa depan apa yang bapak inginkan. Setuju enggak?” pak Sobri mendesak terus sambil menambah genjotan dan tusukan penisnya di anus Aida, sementara kelentitnya ia pelintir dan pilin-pilin kuat.

“Ooohh.. sakit, pak! Geli, jangan dipelintir begitu! Aauw.. jangan dipilin lagi.. aauw.. udah, oooh.. aauuw.. ngilu, sakit, pak.. iya, saya nyerah! A-ampun, pak, saya pasrah.. aaaahh..” jeritan Aida yang disertai kejangan orgasme ketiga memberikan tanda mutlak kemenangan kedua lelaki itu – terutama pak Sobri.

Disertai raungan dan geraman terakhir, pak Sobri akhirnya menyemburkan lahar panasnya ke dalam anus Aida yang ternyata telah jatuh pingsan.

ANNISA ISLAMIYAH (1)

Di malam itu – disertai dengan linangan air mata, Aida harus berulang kali melayani nafsu pak Sobri yang dibantu tenaga iblis agaknya tak pernah kekurangan stamina. Menjelang pagi hari Aida telah berubah menjadi wanita dewasa jalang yang membutuhkan kepuasan seks. Ia telah kehilangan semua rasa malu dan jengah – suaminya, ustadz Mamat, hanya terikat pernikahan secara agama di atas kertas – sedangkan kepuasan batin dan badaniahnya hanya dapat dipenuhi oleh pak Sobri

WINDY 4

Di balik meja kerja, kuelus pelan batang kontolku yang sepertinya akan nganggur dalam dua bulan ini. Hanya istriku yang bisa kupakai, sedangkan Tanti dan Windy lagi halangan. Sungguh apes sekali. Tanti sedang nifas habis melahirkan, sedangkan Windy lagi hamil muda. Dua-duanya tak bisa melayaniku.

Namun ternyata nasibku tidak jelek-jelek amat karena sekitar dua minggu kemudian, Tanti tiba-tiba mengirim sms, “Ada waktu? Suamiku dinas ke luar kota besok, 3 hari.”

Tanpa menunggu lama, segera kukirim jawaban. Kusanggupi untuk datang. Kucoba membayangkan tubuh montok Tanti yang sekarang memiliki bayi berusia dua bulan. Yang pasti dia jadi tambah gemuk, tapi bokong dan payudaranya pasti juga tambah besar. Ah, jadi tak sabar rasanya pengen merangkul dan menggelutinya. Istriku yang bertanya kapan aku akan pulang, terpaksa kubohongi lagi.

“Maafkan aku, Sayang. Bukan aku nggak suka padamu, tapi aku juga penasaran pengen nengok lubang yang lain.” batinku dalam hati.

Jadilah pada sabtu sore sepulang kerja, aku langsung meluncur ke kota M. Tanti menyambutku dengan memakai baju hamil seperti daster panjang selutut, perutnya masih endut. Tapi tidak seendut bongkahan payudaranya yang seperti mau meledak saja. Disanalah tanganku langsung mengarah untuk membelai dan mengusapnya ringan.

“Makan dulu yuk,” ia mengajakku masuk.

Di meja makan, ia ikut duduk menemaniku sambil ngobrol ngalor-ngidul, menanyakan kabar masing-masing setelah hampir 3 bulan tak ketemu. Selama itu pula tanganku tak henti-henti meremas dan membelai-belai anggota tubuhnya yang bisa kujangkau. Tanti bergidik agak risih, namun sama sekali tidak menolak. Yang ada ia malah menggodaku.

“Gitu ya… dapat yang baru, yang lama jadi dilupain,” komentarnya karena aku sibuk menghamili Windy, jarang sekali menengoknya.

“Eh, bukannya gitu,” aku berkilah. “Kan kasihan dia kalau nggak hamil-hamil.”

Tanti tersenyum, “Kapan hari dia nelepon, katanya sudah isi 2 bulan.”

Aku mengangguk mengiakan, “Jadi nggak bisa dipakai deh,” kataku bercanda.

“Yee… pikirannya memek mulu,” Tanti mencubit perutku.

Kubalas dengan mencubit puting susunya, dan Tanti langsung ambruk ke dalam pelukanku. “Tan, aku kangen.” bisikku sambil membelai mesra dua bongkahan payudaranya.

“Ahh… a-aku juga, Mas.” Ia mendesah, “Tapi bisa kan kita nggak langsung main?” tanyanya meminta.

“Kenapa?” kupandangi wajahnya yang kini tampak bulat menggemaskan.

“Tolong pijitin kakiku sebentar ya, betisku rasanya pegel banget nih.” katanya.

Aku mengangguk, “Jangankan betis, semua juga aku mau. Asal setelah itu dikasih yang ini,” Kucolek sedikit lubang memeknya yang masih tertutup kain daster dan celana dalam tipis.

Tanti tertawa dan selanjutnya mengajakku pindah ke kamar. “Kalau pijitanmu enak, nanti kukasih bonus.” bisiknya menggoda.

“Apaan?” tanyaku sambil mengikutinya naik ke atas ranjang.

“Ada deh, pokoknya pijit dulu kakiku.” Dia tersenyum dan menyingkirkan majalah yang tergeletak disitu ke atas meja, lalu membaringkan diri di ranjang. Dia duduk dengan menyusun bantal di kepala ranjang sebagai sandaran, sementara kakinya selonjor ke arahku.

“Kamu tambah seksi, Tan,” bisikku tak berkedip menatapnya, terutama tonjolan payudaranya yang seperti tumpah ruah tak terkendali.

”Cepetan sini…” tangannya melambai. “duh, pegel banget kakiku, pijitin yang enak ya,” pintanya memelas.

Aku nyengir saja melihatnya dan mulai memijit betisnya bergantian. Kaki itu sekarang jadi agak gemuk, namun tetap terlihat putih dan mulus. Karena posisi Tanti agak merenggang, dan juga baju hamilnya yang menutupi hanya sebatas lutut, otomatis CD nya jadi kelihatan. Gundukan itu terlihat tebal dan sangat enak untuk dipandang, jadi ngaceng kontolku. Tapi aku tak ingin terburu-buru, toh nanti aku akan tetap dapet juga. Maka aku tetap konsentrasi memijat betisnya.

Cukup lama aku melakukannya sampai Tanti meminta agar pahanya dipijit juga. Namun baru aku mau memindahkan tangan, dia tiba-tiba berkata, ”Bentar, Mas. Aku buka celana dulu, soalnya rasanya ketat banget di sekitar pinggul, nggak nyaman.”

Tanpa berpikir macam-macam, kubantu memelorotkan celana dalam tipis itu. Lalu Tanti agak menaikkan baju hamilnya, ditariknya sampai ke paha atas hingga menampakkan pinggul dan bulatan bokongnya yang bulat kencang. Tak berkedip aku menatap dan mulai memijat, namun kali ini dengan agak resah karena kemaluan Tanti jadi terlihat jelas.

Belahannya agak berbeda dari yang dulu; sekarang seperti agak terbuka lebar. Warnanya juga jadi lebih gelap, namun tetap saja sangat merangsang nafsuku. Tanpa sadar, aku pun menelan ludah. Sementara di bawah, Tanti terus menikmati pijatanku sambil memejamkan mata. Sama sekali tak tahu kalau batang penisku sudah mulai mengeras tak terkendali.

Tapi aku tetap memijat. Biarlah kontolku ngaceng, akan kusimpan buat nanti. Aku tak berniat menyetubuhi Tanti sekarang, biarlah dia relaks dulu sebelum berkutat melayaniku. Biar kami bisa sama-sama puas. Toh malam ini aku bebas melampiaskan nafsuku.

Sampai suara merdu Tanti memecah lamunanku, ”Mas, mau ngerasain minum ASI nggak?” tanyanya pelan.

“Hah?” aku masih belum ngeh.

“Kalau mau coba, nih punyaku.” Dia menunjuk tonjolan payudaranya yang seperti semangka besar. Kuperhatikan ada noda tepat di puncaknya yang membusung indah.

“Bocor ya, Tan?” tanyaku antusias.

“He-eh,” Dia mengangguk. “ASI-ku banyak banget, sedang bayiku minumnya dikit. Jadinya ya gini ini, bocor kemana-mana. Ayo kalau mas mau, daripada terbuang percuma,”

”Memang boleh?” tanyaku bego.

”Asal nggak mas habiskan aja,” dia tersenyum.

Terus terang, aku memang penasaran. Terakhir kuingat minum ASI adalah satu tahun yang lalu, saat istriku masih menyusui buah hati kami. Rasanya saat itu begitu nikmat, netek langsung dari sumbernya yang begitu empuk dan kenyal. Aku ketagihan. Dan sekarang Tanti akan memberiku hal yang sama, yang tentu saja tak akan sanggup untuk kutolak.

”Mau dong, Tan,” jawabku pada akhirnya, penuh semangat.

”Bentar, aku buka baju dulu.” Tanti bangun dan melepas daster pendek yang ia kenakan, juga sekalian behanya yang seperti kerepotan dalam menyangga.

Kulihat perutnya masih nampak gendut, dengan bekas-bekas parut melingkar-lingkar luas disana-sini. Di atas sedikit, tonjolan payudaranya yang selalu kukagumi, sekarang jadi dua kali lipat lebih besar dari yang terakhir kulihat. Putingnya juga lebih besar dan benar-benar dalam posisi tegak mengacung. Warnanya sudah berubah, agak lebih cokelat gelap sekarang. Memang lebih bagus yang dulu, tapi tetap saja ada keseksian tersendiri melihatnya gemuk seperti ini. Jadi makin keras saja batang penisku.

Tanti lalu naik ke atas ranjang dan berbaring. “Ayo, Mas.” Dia memanggil.

Aku pun segera memposisikan diri ke sampingnya, kuciumi dulu perutnya sambil sesekali menempelkan hidungku di lubang senggamanya yang mulai berair. Sengaja kugelitik-gelitik sedikit disana agar membuat benda itu jadi semakin lengket dan basah. Samar kuperhatikan biji itilnya yang tertutup jembut tebal, indah sekali meski sudah pernah dilalui bayi. Lama aku menatapnya sementara Tanti hanya tersenyum dan membelai lembut kepalaku.

”Sudah dulu, Mas. Ini susuku rasanya sudah ngilu minta disedot,” rengeknya.

Aku pun menarik tubuh dan berbaring di sampingnya, posisiku sedikit lebih rendah sehingga ketika Tanti mengangsurkan dadanya, putingnya tepat namplok di mulutku. “Hmmh… Tan!” Tanpa membuang waktu, segera kujilat dan kuhisap-hisap rakus sambil tanganku ikut meremas-remas gemas karena kebiasaan.

“Mass…” Tanti mendesis, tangannya semakin kacau membelai rambutku.

Kurasakan teteknya jadi sedikit agak keras, namun aku tetap menyukainya. Malah sambil menghisap, jariku juga memilin-milin putingnya yang menganggur. ASI-nya langsung muncrat kemana-mana, membasahi pipi dan rambutku. Aku tak peduli, malah semakin menyukainya. Cairan putih manis itu segera kutelan dan kuhisap rakus. Tanpa ragu aku mengemutnya karena puting Tanti memang jadi lebih enak untuk dikulum saat ini. Besarnya pas saat mulutku mencoba menangkupnya. Semakin lama, kurasakan cairan yang keluar jadi semakin banyak. Selain manis, rasanya juga sedikit asin dan gurih.

Aku pun terus menghisapnya, nenen seperti bayi, sampai akhirnya Tanti mendesah perlahan. ”Mas, s-sudah… geli,”

”Hmm… Hagi henagh gihh…” jawabku masih sambil nenen.

”Dilepas dulu dong…” Dia menjewer telingaku hingga cumbuanku pun terlepas. Mulutku belepotan oleh ASI, begitu juga dengan kedua puting Tanti. Kuraba-raba benda mungil itu, kuratakan seluruh cairannya ke seluruh bulatannya yang putih membengkak. Payudara Tanti jadi tampak mengkilap sekarang, basah oleh air susunya sendiri.

“Mas ada-ada aja deh,” dia tersenyum.

”Enak banget, Tan… mau lagi donk,” pintaku sambil pengen nyosor lagi, tapi Tanti lekas menahan kepalaku.

“Hei, nanti bayiku nggak kebagian,” bisiknya lembut.

Aku pun nyengir. Terpaksa kulampiaskan nafsuku dengan meraba dan meremas-remas benda besar itu, karena hanya itu yang bisa kulakukan. Sementara Tanti kini perlahan merangsek ke bawah untuk melepas celana panjangku. Penisku yang memang sudah mengeras sedari tadi, segera dicekal dan dipeganginya erat.

“Kangen aku sama ininya Mas,” bisiknya gemas.

Tadinya aku mau berdiri saja biar dia gampang dalam melakukannya, namun Tanti menyuruhku berbaring. Kuturuti apa kemauannya, kuperhatikan saat ia mulai mendekati selangkanganku dengan posisi tubuh miring. Perlahan lidahnya menjulur untuk mulai memainkan lubang pipisku, dijilati perlahan, sebelum kemudian mulai mengulum kepala kontolku. Awalnya perlahan, namun semakin lama menjadi semakin cepat, lalu kembali perlahan. Tangannya juga memainkan biji dan batang penisku saat mulutnya terus menghisap rakus.

“Ahh… Tan!” aku merintih keenakan, dan kulampiaskan dengan kembali memenceti tonjolan buah dadanya secara bergantian.

Puas dengan hisapan ringan, Tanti kemudian memasukkan kontolku perlahan ke dalam mulutnya. Ia mulai mengulum dan menghisap-hisapnya lembut sambil sesekali diemut-emut dengan sedikit kasar. Sungguh sangat nikmat, apalagi saat bijiku juga disedotnya kuat-kuat.

“Aughh…” aku mendesah menahan serangan nikmat ini, dan entah bagaimana ceritanya, posisi tubuh Tanti kini sudah berubah tanpa kusadari; memeknya kini berada tepat di depan mukaku.

Secara naluri, aku segera memiringkan tubuh sedikit. Tanganku mulai mengelus-ngelus untuk memainkan rambut kemaluannya, lalu melihat untuk mengintip belahannya yang agak melebar. Pelan jariku mengusap-usapnya, ingin kubalas rasa nikmat pada kontolku yang sedang dimanja oleh mulutnya.

Tanpa perlu repot-repot bergeser, aku mulai mendekat. Lembut kuciumi celah mungil yang begitu menggiurkan tersebut. Tanti agak melebarkan kakinya, seperti ingin memberi kemudahan padaku.

Mula-mula aku menciumi dengan lembut seluruh permukaan dan belahannya yang terasa manis dan sedikit asam, sebelum kemudian lidahku mulai menyeruak untuk menjilati lubangnya. Terasa agak lain, agak sedikit lembab dan lebih lebar dari biasanya. Namun aku terus menyodok-nyodok rakus dengan ujung lidahku, sampai kemudian itilnya kutemukan.

Dengan cepat aku berganti sasaran. Lidahku memutar-mutar di atas biji mungil yang terasa kaku itu, menghisap dan menjilatinya dengan gemas sampai membuat Tanti mengerang dan merintih lirih, yang mana itu semakin menambah nafsuku.

“Ehgm… Tan,” aku ikut bergidik, pasrah menerima hisapan dan emutan mulutnya pada batang penisku. Lidah basahnya seakan tiada lelah terus menjelajahi seluruh selangkanganku, mulai dari batang hingga bijinya, juga rajin membelai urat-uratnya yang sensitif.

“Mass…” Tanti juga sama pasrahnya menerima tarian lidahku, kini desahannya menjadi semakin kuat seiring pinggulnya yang kadang-kadang menggeliat mengimbangi rasa nikmat yang diterima pada itilnya. Lama-lama makin cepat… dan akhirnya tubuh itu mengejang menerima orgasmenya.

Kubiarkan dia bergetar pelan sebentar saat menyemburkan cairan cintanya, sebelum kemudian kutarik kembali tubuhnya agar kami bisa berbaring saling berhadapan. “Gimana, enak?” tanyaku sambil mengecup puncak payudaranya.

”Lebih dari yang kubayangkan,” angguknya puas.

“Sekarang giliranku, dimasukin ya?” kutunjukkan penisku yang masih menegang dahsyat.

Tanpa membantah, Tanti segera mengatur posisi tubuhnya. “Tahu nggak, Mas. Setelah melahirkan, gairahku jadi tambah meningkat lho. Mas harus siap-siap capek malam ini,” bisiknya manja.

”Kalau yang kayak gitu… tanpa disuruh pun, aku juga udah siap, Tan.” Segera aku berdiri di pinggir ranjang, sementara Tanti berbaring dan memposisikan memeknya tepat di depan kontolku. Kakinya menjuntai ke lantai.

“Siap ya, aku masukkan sekarang…” Lembut aku mengarahkan penis ke lubang basah yang tak sempit lagi itu, masuk dengan mudah, namun tetap kurasakan sensasi gigitan dan jepitannya yang masih tetap mantap. Yang beda hanya kelembapan dan kehangatannya yang kini terasa lebih, sehingga terasa nyaman saat menyelimuti batang penisku.

“Aghh…” kami melenguh secara bersamaan.

Sambil menyusu di bongkahan payudaranya, aku mulai menggerakkan pinggulku. Rasanya gimana gitu, beda banget dengan yang dulu. Kontolku jadi terasa licin dan lancar, berbeda sekali dengan sebelumnya yang begitu ketat dan kesat. Ternyata melahirkan membuat memek seorang perempuan jadi berubah total, namun tetap mempunyai sensasi enak yang sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata. Dan aku tentu saja menyukainya.

Terus kugerakkan kontolku maju mundur secara lembut, tidak merasa perlu tergesa-gesa karena kami memang punya bayak waktu. Tanti juga tidak protes, malah seperti sangat menikmati. Sesekali agak kubungkukkan badanku untuk menciumi perut dan teteknya. Bunyi pompaanku di dalam lobang memeknya terdengar jelas, semakin menambah erotis suasana kamar yang sebenarnya sudah remang-remang.

Lama sudah posisi ini kulakukan, sampai akhirnya kucabut kontolku dan lalu naik ke atas ranjang. Kuminta Tanti untuk berbaring menyamping, yap… posisi favoritku, gaya samping.

Segera kuangkat lembut satu kakinya, dan dari arah samping, kumasukkan penisku ke lubang memeknya. Lalu kulanjutkan dengan memompa secara perlahan saja sambil mulutku mulai menciumi bibir dan lehernya, sebelum akhirnya mulutku berdiam dengan nyaman di atas putingnya, nenen susu disana.

Namun Tanti nampaknya kurang puas dengan sodokanku yang perlahan, ia merengek minta agar dipercepat sambil mengatakan bahwa memeknya gatal ingin digaruk. Maka aku percepat sedikit sodokanku sambil mulutku masih dengan rakusnya menghisap pentilnya yang besar, menikmati susu manis yang mengalir lancar dari sana.

Tak berapa lama, Tanti mulai mendesah dan mengerang. Badan dan pinggulnya sesekali menggeliat, sampai akhirnya dengan diiringi erangan nikmat, dia mengalami orgasme. Meski merasakan cairannya yang menyembur deras di batang kontolku, aku masih saja memompakan pinggul dengan cepat. Tanti berusaha mengimbangi dengan sesekali menggoyangkan pantatnya memutar.

Kunikmati ulahnya itu untuk menggiring denyut yang sudah familiar di daerah kontolku agar semakin cepat tercapai. Dan tak menunggu lama, spermaku pun muncrat keluar tak tertahankan lagi. Meledak membasahi lubang memek Tanti hingga membuatnya jadi semakin licin dan hangat.

“Hhh… Tan,” terengah-engah, aku lalu terkulai lemas sambil tetap mengemut putingnya satu per satu.

”Hmm… enak banget, Mas. Rasanya gairahku jadi terpuaskan.” bisiknya manja.

”Aku juga, Tan,” Kukecup bibir tipisnya. “Punyamu memang lebih longgar, tapi ada rasa lain yang lebih spesial.”

”Jadi nanti lagi ya?” Ia tersenyum menggoda.

”Tentu saja, mana cukup cuma main satu ronde sama kamu.”

Lalu kami berciuman dengan mesra. Tanpa perlu repot-repot berpakaian, kami tidur berpelukan di depan televisi. Kulihat di luar sudah sepi, hari sudah sangat larut rupanya. Sementara suami Tanti sedang dalam perjalanan menuju luar kota, aku juga ikut asyik menindih tubuh sintal istrinya. Sungguh perpaduan yang sangat menguntungkan.

Besoknya, aku bangun agak siang. Kulihat Tanti sedang duduk nonton TV di sebelahku, tubuhnya masih telanjang dan awut-awutan hasil pertempuran kami semalam. Aku pun bangkit dan memeluknya, lalu kukecup mesra pipinya.

”Hii… bau naga!” dia berseloroh.

“Sama,” kutindih dan kupepet kembali tubuh sintalnya yang hangat ke atas sofa. Cepat saja tanganku sudah menggerayang di atas gundukan dadanya yang super besar itu. “Lho, kok nggak ada susunya?” tanyaku bingung saat tidak ada ASI yang mengalir keluar meski sudah kupenceti putingnya berkali-kali.

“Sudah dihabiskan sama bayiku,” jawabnya sambil berusaha untuk bangkit.

Kuelus sebentar lubang memek Tanti yang masih nampak basah oleh sperma dan kuikuti dia yang melangkah pelan menuju dapur.

“Mau sarapan apa, mas?” tanyanya sambil mengenakan daster tipis semalam, tapi tanpa beha dan celana dalam.

“Terserah aja,” kupandangi tubuh sintal yang selalu bisa menggodaku itu, tak tahan aku kembali menelan ludah saat kulihat ia membuka kulkas di dekat meja makan dan agak membungkuk untuk mencari sayuran. Terlihat belahan memeknya mengintip sedikit, membuat pikiran nakalku jadi timbulke permukaan.

”Mandi dulu, Mas… ganti baju, sementara aku masak.” katanya sambil menunjuk handuk bersih yang tersampir di depan pintu kamar mandi.

”Nanti aja, lebih enak sarapan dulu,” jawabku sambil menghampiri dan meremas lembut bulatan pantatnya.

“Ihh…” Tanti bergidik, lalu membalikkan badannya sambil tertawa. ”Jahil amat sih, Mas.” katanya pura-pura marah.

”Salah sendiri… kenapa mamerin anggota tubuh kayak gitu. Lagian, aku pengen nih…” sahutku tertahan.

”Iya, aku juga… tapi sabar dong, Mas, kan aku mesti masak dulu…” kilahnya.

”Sudah, nanti saja deh masaknya… sekarang ada yang lebih penting.” serudukku ke tubuhnya.

”Huh, dasar Mas ini, nggak sabaran amat.” Ia menggelinjang saat kutarik tubuh mulusnya dan kututup pintu kulkas, lalu segera kuciumi bibirnya dengan gemas.

”Hmm…” Tanti membalasnya, lidah kami bertautan dengan cepat.

Tanganku meremas tetek besarnya sementara tangannya meremas batang penisku. Segera saja kulepaskan dasternya, lalu tubuhnya yang sintal itu kuangkat dan kubaringkan di atas meja makan yang kosong. Dengan berdiri di sampingnya, kuserbu teteknya dengan meremas-remas menggunakan tanganku dan melumatnya memakai mulutku, sesekali juga kumainkan dan kuhisap-hisap putingnya yang terasa manis.

Sementara tangan Tanti mulai meraih batang kontolku untuk dikocok-kocoknya ringan, lalu diarahkan ke mulutnya. Lidahnya dengan cepat mulai menjilati kepala penisku, juga batang dan biji pelerku dia jilati dan dia kulum-kulum halus. Tanti juga menghisapnya dengan ringan dan lembut. Lalu dia mulai mengulum dan menghisapnya semakin rakus, sampai aku yang masih sibuk menyusu di putingnya jadi turut tak mau tinggal diam.

Jariku segera menuju ke arah selangkangannya, kumainkan itilnya dan kusodok-sodok lobang memeknya dengan jariku. Tubuh Tanti menggeliat keenakan, namun kulumannya pada batang penisku masih tetap seperti biasa; perlahan namun mematikan, dengan jilatan lidah yang terus bergerak menggelitik saraf-saraf sensitifku.

Masih dengan penis di mulutnya, aku ikut menaiki meja. Posisi kami jadi 69. Kini lidahku mulai bergerilya menjilati memeknya yang sudah basah, kusapu lubang mungil yang ada disitu dengan rakus, sebelum mulai kumainkan itilnya yang besar dan menonjol dengan gemas. Kupilin-pilin dan kulumat benda bulat itu dengan ujung lidah hingga semakin membuat Tanti kelojotan tak karuan. Ditambah jariku yang kembali ikut berpartisipasi menyodok lobang memeknya, jadi makin seringlah ia menggeliatkan pinggulnya.

”Hmm… Tan!” Kurasakan pula hisapan pada kontolku menjadi semakin kuat. Enak sekali. Sebagai kompensasinya, itilnya semakin kulumat dengan cepat dan ganas.

Tanti terlihat sudah pasrah sepenuhnya. Sesekali terdengar desahannya, dengan badan terus menggeliat dan akhirnya mengejang saat menyemburkan cairan orgasmenya.

Aku segera turun dan berdiri di depannya. Kutarik kakinya hingga lubang memeknya kini berada di pinggiran meja. Masih ada sisa-sisa cairan yang merembes dari dalam sana meski sebagian besar sudah jatuh ke lantai. Kulebarkan kedua kakinya dan kuangkat ke atas dengan kedua tanganku, lubang memeknya kini terlihat melebar, siap menerima hujaman penisku. Segera saja aku menusuknya dengan memajukan pantatku ke depan.

Bless… tanpa perlu bersusah payah, amblaslah seluruh kemaluanku ke dalam lubang senggama itu, membuat tubuh mulus Tanti jadi bergetar sedikit.

”Mas…” Ia memanggil namaku, namun tanpa basa-basi aku segera memompa pinggulku dengan cepat, membuat desahan dan rintihannya jadi semakin kuat. Tetek besarnya yang indah terlihat bergoyang-goyang akibat sodokanku. Semakin kupercepat, semakin kuat juga benda itu bergoyang hingga akhirnya kupegangi agar tidak terus bertubrukan.

Tanti menikmati sambil mengaitkan kedua kakinya di bahuku. Pinggulnya juga tak tinggal diam, berusaha mengimbangi dengan berputar cepat seiring sodokanku yang menusuk semakin dalam. Kucondongkan badan untuk menciumi puncak payudaranya, lalu kujilati puting mungil memerah yang ada disana. Tanti menggeliat geli, geli tapi teramat nikmat.

”Ugh… enak, mas… enak banget… auw… yang cepat… ohh… terus… aughh…” rintihnya berkali-kali begitu kembali mengalami orgasme.

Aku lalu naik ke atas meja dan berbaring disana, kusuruh Tanti untuk naik ke atas tubuhku. Ia duduk membelakangiku, badannya condong ke belakang, sementara tangannya bertumpu di bibir meja. Kakinya jongkok, persis di atas batang penisku yang masih mengacung tegak. Sesuai aba-abaku, dengan perlahan Tanti menurunkan pinggulnya.

Jleeeb… dengan sempurna alat kelamin kami saling bertautan, dan tanpa membuang waktu ia pun mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun.

Dari belakang, tanganku terulur untuk mulai meremas-remas bulatan teteknya. Kumainkan juga putingnya sambil kunaikkan kepalaku sedikit untuk menciumnya. Lama kami bermain dalam posisi itu sampai Tanti memajukan badannya hingga berada dalam posisi jongkok sempurna. Kembali ia menaik-turunkan pinggulnya, yang kuimbangi dengan ikut menggoyangkan pinggulku mengikuti iramanya. Kulihat, sambil memainkan pinggul, tangan Tanti mulai memainkan itilnya sendiri. Sementara tangannya yang satu lagi sibuk meremas dan mengurut-urut biji pelerku. Sungguh sangat nikmat dan begitu menakjubkan.

”Ahh… Tan!” aku merintih masih sambil berbaring, menikmati saja apa yang ia berikan. Sesekali mataku merem-melek keenakan, apalagi saat mulai kurasakan denyutan enak di batang penisku. Kulihat badan Tanti juga mulai bergetar cepat.

Namun sebelum dia sempat berteriak, croot… croot… croot… spermaku sudah menyembur duluan tanpa ampun berbarengan dengan orgasmenya. Tanti menikmatinya sambil diam, masih terus berjongkok di atas kontolku yang tetap menancap penuh pada lubang kewanitaannya. Kurasakan cairan mengalir membasahi alat kelamin kami berdua. Kupeluk dia dan kami terdiam menikmati sensasi orgasme yang begitu melelahkan itu, sebelum kemudian Tanti bangkit untuk mencabut batang kontolku yang mulai melemas. Ia menjilatinya sebentar untuk membersihkan sisa-sisa sperma yang mungkin masih menempel disana.

”Ugh… nggak bisa tunggu nanti ya, mas ini.” bisiknya manja.

”Hehe… kamu juga mau kan?” Kukecup bibir merahnya. ”Anggap aja ucapan selamat pagi.”

”Ih, konyol deh.” ia tertawa. ”Mandi yuk, habis itu bantu aku masak.” ajaknya.

Lalu kami berdiri. Aku sempat mengecup pipinya dan kubersihkan meja makan, sebelum kemudian mengikutinya ke kamar mandi. Dengan telaten Tanti mencuci kontolku, juga menyabuni seluruh tubuhku. Kubalas dengan ikut menyabuni tubuhnya, dan ujung-ujungnya aku jadi ngaceng lagi karena terus memegangi tetek besarnya. Setelah main sebentar, kami pun mengeringkan tubuh dan segera berpakaian.

Pagi itu kami sibuk di dapur. Kubantu Tanti memasak sarapan dan makan siang, yang ditutup dengan kembali saling bertindihan di atas meja makan. Sorenya Tanti pergi ke posyandu untuk imunisasi anaknya. Pulangnya segera kugarap ia di kursi ruang tamu karena aku memang tak tahan ditinggal lama-lama. Dan seperti malam kemarin, malam itu kami juga jarang tidur karena lebih sibuk membelai dan mengusap satu sama lain. Menjelang subuh, baru kami pulas.

Besoknya aku tidak berpakaian. Kuhabiskan waktu yang tersisa untuk terus bercinta dan bersetubuh dengannya karena sore nanti suami Tanti katanya akan pulang. Kutindih tubuh sintalnya hampir di mana saja; mulai dari sofa, di dapur, halaman belakang, kamar mandi, pokoknya puas-puasan deh. Kegiatan itu baru kami akhiri ketika matahari sudah naik tinggi ke angkasa.

Tanti mengantarku ke terminal. Sambil menunggu bis berangkat, kusempatkan menyusu sebentar kepadanya di toilet terminal. Setelah kenyang, barulah aku pamit. Tanti mengecup pipiku dan berkata, ”Sampai jumpa, Mas. Nanti kukabari lagi.”

”Kutunggu, Tan,” Dengan diringi lambaian tangannya, kutinggalkan kota M di panas yang terik itu.

NYAI SITI 14 : ROHMAH

Melalui telepon genggamnya, Rohmah berpesan kepada Adinda, teman sekolahnya yang tadi janjian mau mengerjakan PR bersama. “Maaf, ya Din. Aku masih sibuk di Masjid. Ada anak-anak kecil yang harus kuajari mengaji. Tapi kayaknya sebentar lagi udah beres kok.”

“Jadi aku bagaimana dong?” tanya Adinda.

“Tunggu di situ saja. Sekitar dua puluh menit lagi aku sudah sampai rumah kok. Atau, mau ditunda besok saja?” tawar Rohmah.

“Aku ingin makalah ini cepat selesai… ya udah deh, biar kutunggu di sini saja.” kata Adinda pasrah.

“Maaf ya, Din. Kalau mau apa-apa, ambil saja sendiri. Atau, tanya saja sama mbak Wiwik,”

“Nggak ada. Cuma ada ibumu di sini.”

“Ya udah, minta saja sama ibuku. Pokoknya anggap saja rumah sendiri, Din.”

Adinda mengangguk dan segera mematikan hapenya. Gadis manis bertubuh sekal, mungil dan berdada kencang itu terpaksa harus menunggu. Satu jam lewat dia duduk di teras, sampai akhirnya pindah ke ruang tamu untuk membaca majalah yang ada di bawah meja. Namun Rohmah masih belum pulang juga. Mula-mula memang ia ditemani oleh Nyai Siti, tapi lama-lama obrolan mereka jadi nggak nyambung dan menjenuhkan sehingga Adinda mengganti kesibukannya dengan membaca majalah.

Nyai Siti tampak lebih tertarik dengan ‘sesuatu’ yang ada di dalam kamarnya, karena beberapa kali perempuan itu bolak-balik ke dalam dan lama tak kunjung keluar. Adinda sendiri tak keberatan ketika Nyai Siti akhirnya tak menemuinya lagi. Adinda merasa lebih tenang memandangi gambar-gambar cantik dan bentuk tubuh yang indah di majalah, ketimbang ngobrol dengan Nyai Siti yang seperti menyimpan sebuah misteri.

20 menit lagi berlalu, dan Rohmah tetap belum pulang. “Kalau ada mbak Wiwik enak nih, bisa jadi penghiburku. Biar usia kami terpaut 2 tahun, tapi mbak Wiwik senang bercanda, dia kocak dan supel.” pikir Adinda sambil membolak-balikkan majalah. Dia merasa tengkuknya dingin, tapi tak begitu dihiraukan Hanya diusap saja sambil lalu. Arlojinya dilirik, jarum jam menunjukkan pukul 20.14, masih belum larut malam.

Tapi Adinda lupa bahwa malam itu adalah malam Jumat Wage. Menurut kepercayaan orang Jawa, malam Jumat Wage punya kekuatan mistis tersendiri, hampir menyamai malam Jumat Kliwon. Maka wajarlah kalau malam itu hembusan angin terasa aneh. Seperti meninggalkan kelembaban tipis di kulit tubuh manusia. Wajar juga jika malam itu ada aroma aneh yang tercium di hidung Adinda. Aroma wangi aneh itu menyerupai keharuman dupa atau kemenyan. Tapi sebenarnya jauh lebih wangi dari asap dupa dan kemenyan .

“Bau apaan sih ini, wanginya aneh sekali?!” gumam hati Adinda sambil tengok kanan-kiri. Ada kecemasan yang mulai mengusik hati gadis itu. Ada rasa penasaran juga yang mendesak hati Adinda untuk mencari tahu, wewangian apa yang saat itu tercium olehnya.

Makin lama hembusan angin makin kencang. Tubuh Adinda mulai merasakan dinginnya malam, karena malam itu dia hanya mengenakan blus longgar lengan panjang dengan rangkapan jilbab dari bahan satin tipis. Celananya yang juga longgar, dari bahan sejenis beludru yang lentur, tak mampu menutupi bentuk tubuhnya yang meliuk-liuk indah.

Pintu kamar terkuak dan keluarlah Nyai Siti dengan badan penuh peluh dan wajah masih merah padam. Perempuan cantik berkebaya coklat itu clingak-clinguk dengan dahi berkerut. “Siapa sih yang bakar menyan sore-sore begini?!” gumamnya seperti bicara pada diri sendiri.

“Menyan?! Jadi bau harum ini dari asap bakaran menyan ya, Nyai?” tanya Adinda curiga.

“Iya, ini bau asap kemenyan.” Nyai Siti mengangguk memastikan. Kalau saja kebayanya tidak berwarna gelap, Adinda pasti bisa melihat dengan jelas ceceran sperma yang menempel di bokongnya.

“Kemenyan itu bukannya yang dipakai untuk memanggil jin atau…” Adinda tidak berani meneruskan kata-katanya.

“Tidak apa-apa, mungkin ini hanya ulah orang iseng.” Nyai Siti bergegas menjauh ke kamar mandi.

Sementara di ruang tamu, Adinda tak meneruskan membaca majalah karena melihat kedatangan seorang tamu. Karena pada waktu itu Nyai Siti masih berada di kamar mandi, maka Adinda lah yang menyambut kedatangan tamu tersebut. Dalam hati kecil Adinda sempat merasa heran, seiring kedatangan tamu itu, bau kemenyan terhirup semakin tajam. Adinda semakin berdebar-debar memandangi langkah sang tamu yang mendekati teras. Keadaan sang tamu menimbulkan keheranan dan perasaan bingung bagi Adinda.

Tamu itu adalah seorang kakek berusia lebih dari 60 tahun. Rambutnya putih kusam, agak awut-awutan, jenggotnya belang, tak terurus seperti rambutnya. Kakek yang masih tampak tegap itu memandang Adinda dengan matanya yang cekung menyeramkan, sementara di tangannya tergenggam tongkat hitam sebagai penopang langkahnya.

Pada saat Adinda ditatap dengan dingin, sekujur tubuhnya jadi merinding. Namun anehnya ia tak mampu pergi dari ruang tamu itu, seakan kakinya tertanam ke dalam tanah. Sampai akhirnya kakek yang rambutnya acak-acakan itu menginjakkan kakinya di lantai rumah juga. Kaki kurus itu menggunakan alas kaki dari bahan karet murahan. Pakaiannya yang gombrong menyerupai rompi berwarna abu-abu, terlihat melambai-lambai karena ditiup angin. Adinda mencium bau kemenyan lebih tajam setelah kakek misterius itu berada dalam jarak sekitar 3 meter dari tempatnya berdiri.

Adinda memaksakan diri agar tetap tenang, walaupun yang terjadi adalah kegugupan samar- samar dengan kaki dan tangan gemetar. “Hmm, ehh, mmm… mari, silakan duduk. Kakek mencari siapa?” tanya Adinda bingung.

“Cantik sekali kamu, Nduk!” jawabnya datar dan menggetarkan jiwa.

“Hmm, t-terima kasih, Kek!” Adinda memaksakan untuk tersenyum walaupun sangat kaku dan hambar.

“Hmm!” jawabnya dalam gumam pendek. Matanya melirik ke arah dalam rumah. Lirikannya… sungguh mengerikan bagi Adinda.

“Nyai Siti… eh, anu… maksud saya, Kyai Kholil nggak ada, Kek. Silakan duduk dulu. Hmm, ehh… kalau boleh saya tahu. Kakek dari mana?” tanya gadis itu.

Tak ada jawaban dari si kakek misterius. Yang ada hanya hembusan angin lebih kencang dan aroma harum kemenyan yang bercampur dengan aroma aneh lainnya, seperti bau keringat yang tak jelas bentuknya. Kadang bau sperma juga tajam tercium, tapi Adinda sama sekali tak mengetahuinya. Ia sama sekali tidak curiga kalau sedang dipelet oleh si Dewo.

“Kalau begitu, sini temani aku ngobrol.” Dewo tersenyum dan menepuk pundak gadis itu.

Adinda langsung berjengit, seperti tersengat arus listrik. Dan bersamaan dengan itu, pikirannya mendadak menjadi buram. Begitu mata dingin si Dewo memintanya untuk mendekat, maka seketika itu juga Adinda menjatuhkan tubuhnya tanpa bersuara. Jantungnya seakan berhenti berdetak dan terbelalak dengan mata terpentang sangat lebar hingga sulit untuk dikatupkan kembali ketika Dewo melakukan sesuatu yang sangat mengerikan. Adinda tahu, seharusnya dia menolak. Namun entah kenapa sama sekali tak mampu melakukannya.

Pelet si Dewo memang tak mungkin untuk dilawan! Sekali mangsa dijerat, maka tak akan bisa kabur lagi.

“A-apa yang bisa aku lakukan, Kek?” tanya Adinda ragu.

“Kamu santai saja,” Dewo mempersilakan dengan sopan, sungguh bertolak belakang dengan wajahnya yang angker. “Sekarang, lepas semua pakaianmu. Aku ingin melihat tubuhmu.”

Seperti orang bodoh, Adinda melakukannya. Ia segera mempreteli bajunya meski dalam hati merasa sangat bungung. Saat akan melepas dalemannya, Dewo melarang. “Yang itu jangan, biar nanti aku yang melepas. Sama jilbabmu juga jangan.”

Hanya dengan jilbab dan celana dalam, Adinda duduk bersebelahan dengan Dewo. Dengan gemas lelaki tua yang sudah bau tanah itu meraih tubuh sekal Adinda ke dalam pelukannya. Aroma parfum Adinda yang lembut membuatnya mulai naik, dibelainya bulatan payudara gadis itu yang kini hanya tertutup jilbab lebar.

“Hmm, gede juga susumu,” gumam Dewo sambil merebahkan tubuh mungil Adinda ke kursi ruang tamu. Dia langsung menciumi gadis itu sesaat setelah Adinda telentang. Diciumi kedua pipi dan kening Adinda, juga dilumatnya bibir gadis itu dengan rakus.

Adinda hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat melihat wajah seram Dewo yang mendekati mukanya. Belum pernah ada lelaki yang menciumnya, dan sekarang begitu mendapatkan, malah kakek tua renta seperti Dewo yang melakukannya. Bibir tebalnya terus melumat rakus, mengirim rasa muak pada diri Adinda pada awalnya, namun gadis itu tersadar bahwa ia sama sekali tidak sanggup untuk menolak. Inilah salah satu kehebatan pelet Dewo: semakin kuat korbannya melawan, maka dia akan semakin terjerat. Dan begitu sudah masuk ke dalam perangkap, maka tidak ada jalan untuk kembali.

Masih tetap memejamkan mata, Adinda mulai membalas lumatan bibir dan lidah Dewo dengan ragu-ragu. Meski batinnya menjerit, entah mengapa tubuhnya malah bergairah. Terasa aneh saat ia membalas lumatan laki-laki itu, sementara Dewo terus menyapukan lidah dengan terburu-buru dan melumat bibir tipis Adinda dengan mulutnya yang tebal. Dengan satu ‘tiupan’ terakhir, ia memasukkan sisa peletnya agar dapat menekan perasaan ragu yang timbul pada diri Adinda, lalu digantinya dengan bisikan gaib bahwa ini adalah sebuah kewajiban untuk dapat memuaskannya.

Tangan Dewo sudah menjelajah ke sekujur dada gadis itu; diremasnya bulatan payudara Adinda dengan kasar, diselipkannya di balik jilbab. Kulit tangannya terasa kaku saat meremas, dan Adinda menggeliat begitu Dewo mempermainkan putingnya yang mungil dengan dua jari.

“Hmm, Kek…” dia merintih, namun tetap diam saat satu tangan Dewo mulai mengelus celana dalam hitam berenda merah yang ia kenakan.

Sesaat Dewo menghentikan ciumannya, mengamati tubuh sekal Adinda, lalu tersenyum dan kembali melumat bibir tipis gadis itu dengan lebih bergairah. Bibir dan lidahnya beranjak menyusuri leher putih Adinda karena kini jilbabnya sudah disingsingkan ke belakang, Dewo ingin menatap bulatan payudara gadis itu dengan lebih jelas. Dipandanginya sejenak dua bukit kembar yang begitu putih dan mulus itu, dirasakannya dengan meremas-remasnya ringan, sebelum kemudian bibir tebalnya menyambar, mendarat tepat di puncaknya yang mungil menjulang kemerahan.

“Ahh…” Mata Adinda masih terpejam meskipun kegelian mulai menghinggapi tubuhnya.

Ia remas-remas rambut kaku Dewo ketika laki-laki itu terus menyusu di dadanya. Dia menggeliat tanpa sadar saat bibir tebal Dewo menyentuh putingnya. Terasa aneh pada awalnya, tapi makin lama makin terasa enak, hingga membuat Adinda mulai mendesis dalam nikmat. Apalagi Dewo menyelinginya dengan meremas-remas lembut puting yang satunya, bergantian mengulum dari puting kiri ke yang kanan, lalu balik lagi, dan begitu terus selama beberapa waktu sampai desahan Adinda semakin lepas keluar.

“Ahh… aughh… Kakek, a-apa yang… k-kakek l-lakukan?!! Arghh!!” Adinda menggelinjang.

Namun meski sudah kepanasan, mendesah serta keringetan, dia masih belum mampu membalas lebih jauh. Masih ada keraguan untuk menggerakkan tangannya ke selangkangan Dewo yang terasa mulai menegang, menyundul-nyundul kaku di perutnya. Terasa begitu membuai. Adinda hanya sebatas meremas-remas rambut laki-laki tua itu, karena sejujurnya memang baru pertama kali ini dia berbuat yang seperti ini.

“Ssh… nikmati saja, Nduk,” Dewo melanjutkan penjelajahannya, disusurinya perut Adinda dengan bibirnya yang tebal dan berhenti di selangkangan gadis muda itu.

Dia membuka lebar kaki Adinda, dan menarik turun celana dalam yang masih menutup di sana. Tanpa membuang waktu, lidahnya langsung menari pada biji klitoris Adinda, membuat si gadis langsung menjerit tertahan merasakan kenikmatan jilatan Dewo yang tak terduga. Mata Adinda masih terpejam, namun kini tangannya meremas-remas bulatan payudaranya sendiri untuk melampiaskan geli akibat lidah dan bibir Dewo yang bergerak liar di liang memeknya.

“Ahh, Kakek!! Aku… aughh…. geli!!” Gadis itu melambung dengan desahan semakin keras.

Sembari mempermainkan memek Adinda, tangan Dewo juga mengelus paha dan meremas-remas buah dada gadis itu. Remasannya begitu keras dan kasar, namun sama sekali tidak mengurangi kenikmatannya, malah semakin membuat Adinda menjerit takluk.

“Sini, Nduk!” Dewo merubah posisi, kini ia tuntun tangan Adinda agar meranjak ke batang kontolnya yang sudah tegang mengeras.

Dengan masih ragu Adinda memegang dan meremas-remasnya pelan. Kaget dia merasakan betapa panjang dan besarnya benda itu karena seumur-umur baru sekarang dia memegang kontol laki-laki. Karena penasaran, terpaksa ia membuka mata untuk melihatnya, dan langsung terhenyak. Dewo sudah telanjang di depannya, dengan kontol teracung sangat panjang dengan bentuk melengkung ke atas seperti busur panah. Sungguh sangat menarik sekali. Kalau bukan karena pelet, tidak mungkin Adinda bisa berpendapat seperti ini.

“Ahh…” Mata gadis itu kembali terpejam saat merasakan jilatan di memeknya kembali menghebat. Kali ini tanpa ragu lagi tangannya mulai mengocok-ngocok kontol panjang Dewo, rasanya tak sabar untuk segera merasakan benda itu masuk ke dalam liang memeknya yang masih perawan.

Dan keinginan itu tersampaikan beberapa menit kemudian, saat Dewo mulai berlutut diantara kedua kakinya. “Ahh… Kakek! Pelan-pelan saja,” pinta Adinda sambil menggelinjang.

Dia sudah siap seandainya benda itu melesak masuk, tapi Dewo justru mempermainkan dengan mengusap-usapkan penisnya ke paha dan bibir memek Adinda. Padahal kaki si gadis sudah terpentang lebar, dan pinggulnya turun-naik merasakan kegelian yang luar biasa di lubang memeknya.

“Ayo, Kek. Cepat masukkan!” kembali Adinda meminta.

“Dasar perempuan gatal, maunya cepat-cepat saja. Nih, emut dulu kontolku!” Dewo mengarahkan batang kontolnya ke mulut mungil Adinda.

Gadis yang masih mengenakan jilbab namun kini sudah awut-awutan itu, segera melahapnya dengan rakus. Dia mengulum dan menjilatinya sebisa mungkin, sempat beberapa kali pula tersedak, namun nampaknya cukup lancar meski ini adalah pengalaman pertamanya. Dewo tampak menikmati, dia mendesah-desah dengan mata tertutup sambil tangannya menggerayangi bulatan payudara Adinda yang berukuran cukup lumayan.

Setelah dirasa cukup, barulah Dewo kembali ke bawah. Dirabanya memek sempit Adinda sebentar sebelum sedikit demi sedikit kejantanannya memasuki liang kenikmatan itu.

“Aihh…” Adinda mulai menjerit. Ohh, betapa sakitnya kontol itu… tapi juga teramat nikmat! Makin dalam semakin nikmat, dan dia benar benar berteriak ketika Dewo berhasil menjebol selaput dara-nya.

“Pelan-pelan, kek… ughh! Pelan-pelan!” Adinda merintih saat Dewo mulai mengocok pelan maju-mundur. Sungguh sakit luar biasa, tapi juga ada sedikit rasa geli saat alat kelamin mereka saling bergesekan. Tak pernah Adinda merasakan yang seperti ini.

Dari tangis, perlahan jeritannya berubah menjadi rintihan. Dan manakala Dewo mengocok semakin cepat, sambil sesekali menyusu di puting payudaranya, desah napas Adinda pun semakin menderu, berpacu dengan desis dan jerit kenikmatannya. Dia tak bisa menahan rasa ini lebih lama lagi, matanya yang tak lagi terpejam bisa melihat dengan jelas ekspresi nikmat dari wajah Dewo yang hitam menyeramkan. Namun entah kenapa justru pemandangan itu terlihat begitu menggairahkan bagi dirinya.

Maka Adinda menurut saja ketika Dewo menunduk untuk mencium bibirnya, bahkan ia pun tak segan untuk ikut memeluk dan melumat rakus. Semuanya telah berubah akibat pengaruh pelet Dewo; dari yang asalnya menolak, kini Adinda sudah pasrah sepenuhnya, apalagi ketika merasakan nikmatnya kejantanan Dewo yang terus menghujam cepat seperti tiada berhenti.

Mereka terus mengayuh sampan birahi itu hingga ke tengah samudra nafsu yang terdalam. Keringat Dewo mengalir deras membasahi dada dan jilbab Adinda yang belum juga terlepas. Tubuhnya yang putih mulus semakin erat dalam dekapan tubuh hitam laki-laki tua itu. Dewo memeluk gadis itu dengan erat sembari pantatnya terus bergerak turun naik secara bertubi-tubi. Kocokannya berubah semakin cepat, membawa Adinda lebih dekat ke puncak birahinya.

“Ahh… Kakek!!” Jepitan kakinya pada pinggul Dewo membuat kontol laki-laki itu semakin dalam mengisi liang kenikmatannya. Ukurannya yang begitu besar serta bentuknya yang aneh dan panjang, serasa melempar Adinda hingga ke surga.

Pertahanannya pun jebol. Dengan kaki masih menjepit kuat, meledaklah jerit kenikmatannya. Ia mencengkeram erat kepala Dewo yang menempel di lehernya untuk meminta jeda sejenak, namun laki-laki itu justru malah mempercepat kocokannya.

Dewo kini berbaring telentang dan meminta Adinda agar duduk di atas. Dengan kondisi masih lemas, Adinda ragu apakah bisa bertahan lebih lama lagi. Sejenak ia pegang-pegang, lalu diremas-remas dan dikocoknya batang kontol Dewo dengan tangannya. Ini agar dia bisa menarik napas untuk beristirahat. Tak berkedip diamatinya kontol Dewo yang baru saja merobek perawannya., benda itu begitu keras dan hitam seperti kayu habis terbakar. Meski sudah tua, namun begitu kokoh dan kuat. Ingin rasanya Adinda melumatnya habis, namun Dewo keburu mengatur posisi tubuhnya hingga perlahan kontol itupun masuk kembali, menguak liang kenikmatannya mili demi mili hingga akhirnya terbenam semua.

“Ahh… enak memekmu, Nduk!” Dewo memandang, seolah menikmati ekspresi kesakitan yang kembali dialami oleh Adinda sembari tangannya menggerayangi kedua buah dada gadis muda itu. Dia mencegah Adinda yang mencoba membuka peniti jilbabnya.

“Biarkan saja. Sekarang, kamu goyangkan saja tubuhmu!” Dewo memang suka menyetubuhi perempuan dengan jilbab tetap terpasang, erotismenya terasa lebih nyata.

“Ahh… ahh…” Tubuh Adinda mulai bergerak turun-naik, pelan tapi semakin cepat dengan diiringi desahan dan jeritan nikmat dari Dewo. Mata laki-laki itu tak pernah lepas dari dadanya, terpancar ekspresi kepuasan di wajah Dewo saat tangannya menggerayang untuk meremas-remas benda bulat itu.

“Sini Nduk cantik,” Ditariknya tubuh sekal Adinda ke dalam pelukan. Kembali mereka saling mengadu bibir dan lidah. Hilang sudah rasa enggan pada diri Adinda, beralih dengan perasaan yang begitu eksotis, membuatnya makin bergairah dalam pelukan dan kocokan si laki-laki tua.

“Ahh… Kakek!!!” Adinda berteriak histeris ketika merasakan tubuh Dewo menegang saat menyemprotkan cairan spermanya. Pejuh kental itu terlontar sangat kencang hingga ke lorong rahimnya yang terdalam.

Adinda bisa merasakan dengan jelas denyutan demi denyutan kontol Dewo yang terus meludahkan cairan kental, membuat dinding-dinding memeknya jadi semakin lengket dan membanjir deras. Dewo memeluknya erat, sementara napas mereka menderu saling berpacu, lemas dalam keheningan. Hanya degup jantung yang saling bersahutan terdengar begitu keras.

Adinda menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu, merasakan kontol Dewo yang masih tegang tetap mengisi liang senggamanya. Jantungnya berdetak kencang, sementara pandangan matanya pun menjadi serba hitam pekat. Tulang dan urat-urat Adinda seperti putus semua, dan ia pun melayang entah ke mana. Gadis itu pingsan!

“Lho, dia kenapa Mas Dewo?!” Nyai Siti panik menemukan Adinda terkapar di kursi ruang tamu, sedangkan Dewo sudah memakai pakaiannya kembali.

“Hanya kecapekan,” kata Dewo sambil menyuruh Nyai Siti agar menutupi tubuh Adinda yang telanjang. “Nanti juga siuman.”

Nyai Siti memandangi wajah cantik Adinda yang kini sepucat mayat. Dia segera memasang kembali baju gadis itu sebisanya, sebelum Kyai Kholil pulang. Kalau sampai melihat Adinda dalam kondisi seperti ini, bisa-bisa suaminya itu tertarik dan ikut menyetubuhinya juga. Sesuai pesan dari Dewo, setelah semua lubangnya dicicipi, barulah korban yang masih perawan boleh diambil oleh Kyai Kholil. Nyai Siti berniat untuk mematuhinya karena tidak ingin kena marah.

“Bagaimana Bayu, sudah kau laksanakan perintahku?” tanya Dewo sambil mengambil air minum dari panci yang ada di dapur.

“Sudah 2 kali spermanya kukuras, tapi tetap masih belum encer juga. Sepertinya dia cukup kuat.” sahut Nyai Siti.

“Lakukan terus, kalau perlu sampai dia pingsan. Aku baru bisa memasukkan guna-gunaku kalau dia sudah benar-benar menyerah.”

Nyai Siti mengangguk dan lekas beranjak ke kamar. Di sana, terikat di atas ranjang, tampak Bayu berbaring lemas dengan tubuh telanjang bulat. Kontolnya sudah kemerahan akibat terus disepong dan dipakai oleh Nyai Siti. Namun kini benda itu sudah kembali berdiri menegak. Nyai Siti segera menyingkap kebayanya dan duduk mengangkangi, kembali memasukkan batang kontol itu ke dalam celah memeknya yang melembab cepat.

“Ahh…” Bayu mendesah, terlihat linglung dan bingung. Selanjutnya ia merintih begitu Nyai Siti mulai menggoyang tubuh sintalnya naik-turun secara perlahan-lahan.

“Mungkin kamu harus meminta bantuan pada Rohmah atau Wiwik,” kata Dewo yang melongokkan kepala di sela-sela pintu.

“Hhh… sepertinya memang begitu,” desah Nyai Siti, dan kini menggoyang semakin cepat.

Menyeringai senang, Dewo segera beranjak kembali ke ruang tamu. Dipandanginya tubuh sekal Adinda yang masih pingsan. Untuk ronde kedua nanti, ia berniat untuk mencicipi lubang anus gadis itu. Tapi sepertinya Dewo harus bersabar hingga Adinda siuman.

Ketika Iblis Menguasai 5

Adegan di Kamar Tidur 2 : Hilangnya Kehormatan Sumirah

Pak Jamal menelan ludahnya berulang-ulang, jakunnya turun naik menyaksikan pemandangan di depan matanya. Siswi madrasah ABG berusia belasan tahun – diperkirakannya sekitar tujuh belas tahun – yang dikenalnya sejak peristiwa pembantaian Murtiasih (baca kisah terdahulu Ustadz Mamat) itu bernama Sumirah atau dengan panggilan sehari-harinya ‘Irah’, kini hanya berdua dengannya di kamar!

Sumirah yang demikian ayu elok dan manis itu masih di bawah pengaruh obat penenang dan juga obat perangsang yang tak disadari diminumnya sekitar dua jam lalu. Sumirah tetap belum sadar ketika beberapa menit lalu pak Jamal menggendongnya keluar dari mobil, membawanya masuk ke dalam rumah milik pak Fikri, kemudian dibawa masuk ke sebuah kamar tidur yang ditunjuk oleh si pemilik rumah

Jilbab yang biasanya menutupi rambut serta lehernya telah tergeser ke bawah ketika tubuhnya dipanggul oleh pak Jamal. Sandalnya juga telah terlepas, demikian pula kaus kakinya. Bahkan sarung panjang yang menutup hingga mata kakinya pun tersingkap sehingga betis putih sangat menantang mata lelaki miliknya kini menjadi santapan mata pak Jamal.

Bagian atas tubuhnya pun tak lagi terlindung secara rapih oleh kebaya yang biasa sehari-hari tertutup rapat. Kancing dan peniti penjaga kebaya di bagian depan telah sebagian besar berantakan. Akibatnya belahan bukit kembar di dada Irah mengintip keluar, gundukan daging gempal terlindung BH putih dengan pinggiran renda muncul di hadapan mata Jamal yang ganas.

Pak Jamal menjulurkan lidah untuk membasahi bibirnya, lehernya dirasa sangat kering menghadapi gadis muda yang masih setengah tidur itu. Dari hidung Sumirah yang bangir terdengar nafas halus, matanya masih tertutup, tangannya tetap menggenggam saputangan yang memang sering dipakainya dengan dibasahi air mawar harum.

Pak Jamal meletakkan tubuh Sumirah di atas ranjang, tangan nakalnya membuka beberapa kancing peniti yang tersisa, yang masih menutup kebaya si siswi madrasah itu. Kemudian disingkapnya lebih lanjut sarung Sumirah ke atas sehingga kini bukan saja betisnya, namun paha begitu licin mulus bak batu pualam putih pun terpampang, pada saat mana Sumirah malahan menekuknya sehingga sarungnya semakin tersingkap dan selangkangannya menjadi terbuka, membuat pak Jamal hampir terbatuk-batuk karenanya.

Karena selangkangan Irah terbuka tanpa disadari oleh sang empunya, maka pak Jamal dapat melihat betapa halusnya kulit paha Irah yang putih kuning langsat karena selalu terlindung dan tak coklat terbakar sinar matahari. Pak Jamal menarik nafas dalam-dalam namun dengan dengus tertahan, karena ia ingin memakai kesempatan selama mangsanya belum pulih kesadarannya untuk menarik ke bawah dan mencopoti celana dalam Sumirah yang berwarna merah muda!

Celana dalam tipis dengan renda itu perlahan-lahan ditarik pak Jamal ke bawah. Semula agak sulit karena tertindih oleh pinggul Sumirah, namun dengan kesabaran yang cukup mengagumkan, pak Jamal sedikit demi sedikit dapat melorotinya. Akhirnya sebercak kain merah muda tipis penutup aurat Sumirah itu pun ditarik turun melewati paha, lolos melalui kedua lututnya, dan pada saat Sumirah tanpa sadar membalik tubuh maka lepaslah lewat kakinya!

Namun pak Jamal masih dapat menahan diri dan tak langsung menerkam mangsanya itu, perlahan-lahan ia berdiri di samping ranjang, satu persatu baju dan celananya sendiri ia lepaskan, sambil tetap mengawasi calon korbannya. Ketika ia hanya tinggal memakai celana dalam saja, pak Jamal kembali naik ke ranjang dan kini merebahkan dirinya di samping kanan Sumirah.

Pak Jamal yang terkenal sebagai pejantan kampung telah sering menggarap wanita di desanya – pada umumnya wanita muda yang telah bersuami tapi kurang memperoleh nafkah badaniah, demikian pula janda kembang entah karena diceraikan atau ditinggalkan suami yang meninggal pada usia muda.

Namun tak diingatnya lagi kapan ia pernah menggauli seorang gadis muda remaja, apalagi anak ABG siswi madrasah seperti Sumirah. Tak disangkanya ketika memasuki usia pertengahan lima puluhan masih memperoleh kesempatan menikmati tubuh Murtiasih beberapa bulan lalu, sebagai ’bonus’ dari Ustadz Mamat (baca kisah mengenai Ustadz Mamat sebelumnya).

Kini di hadapannya menggeletak seorang siswi madrasah lainnya yang hampir seusia dengan Murtiasih, siswi yang sehari-hari memang agak genit, apalagi jika sedang bergaul dan bercanda tertawa cekikikan bersama dengan Rofikah. Pak Jamal membayangkan betapa serunya adegan di kamar pak Fikri yang pasti sedang berusaha menguasai dan menggagahi Rofikah. Khayalannya itu semakin menggugah rencananya untuk mencicipi tubuh Irah yang pada saat itu dengan tak terduga rupanya mulai sadar dan perlahan-lahan membuka matanya!

“Iiih, pak Jamal, kenapa ada disini? Ayo keluaar! S-saya dimana, pak? Tolongin saya pulang ke rumah, Pak. J-jangan macam-macam, kita tak baik berduaan di kamar,” suara Irah terdengar panik.

“Tenang aja, non geulis… ditanggung aman deh, non, asal jangan berisik. Ntar mamang pulangin non ke madrasah, atau mau ke rumah juga boleh. Tapi sebelonnya mamang mau ngelonin si non geulis,” demikian pak Jamal yang langsung menyergap dan menarik tubuh Irah yang berusaha bangun.

“Toloong! Saya mau diapain? Enggak mau begini, kurang ajar!! Ntar aku laporin polisi lho, ayo lepasin…” Irah bergumul dengan lelaki setengah baya yang kembali berhasil meletakkannya di ranjang.

“Eeh… udah dibilang jangan berisik, malahan cerewet! Jangan rewel, non, percuma ngelawan! Kan si non juga pengen ngalamin seperti temen non Murtiasih itu, ayo sini deh mamang ajarin! Tadi mamang udah ngeliat barang non, tembeeem banget… keliatannya siiip dihiasin rambut halus! Bener nggak, non? Hehehe,” pak Jamal menyeringai mesum selebar-lebarnya sambil menatap Sumirah.

Sumirah sangat terkesiap mendengar kalimat terakhir itu, dan baru disadarinya bahwa ada sesuatu yang sangat lain daripada biasa di selangkangannya. Baru disadarinya bahwa selangkangannya telah ‘kehilangan’ sesuatu : terasa jauh lebih dingin daripada biasanya – ooh, kemana celana dalamnya?

Penuh dengan rasa panik, Sumirah kembali berusaha bangun sambil sejauh mungkin merapatkan kedua pahanya. Namun kali ini pak Jamal telah bersedia : tubuh Sumirah langsung ditindihnya dan mulutnya segera membekap dan menciumi hingga membuat Sumirah gelagapan dan menggeliat-geliat pelan.

Keadaan Sumirah sudah sangat tak menguntungkan karena pak Jamal sendiri telah lepas semua pakaiannya terkecuali celana dalamnya yang agak dekil, sedangkan busana muslim yang biasanya menutup tubuh Sumirah dengan rapih kini telah berantakan, bahkan celana dalamnya telah tergeletak di lantai.

Pergulatan yang tak sebanding itu berjalan beberapa menit. Jilbab Sumirah telah lepas terhempas di lantai, kebaya serta sarungnya berantakan tak karuan. Sementara pak Jamal yang menyekal kedua tangan Sumirah di atas kepalanya, kini mulai menciumi dan menyupangi leher korbannya.

“Lepaaaaas! Lepasin saya! T-toloong… saya enggaak relaaa! Ooooouuffhh…” kembali Sumirah merintih saat pak Jamal menciumi bibirnya dengan rakus, lalu turun lagi ke leher, bahu, dan menancap di ketiak.

“Duuuuh siaaaah… sedeeep teuuiiing nih ketek! Licin amat, slurrrrp… engggak puas-puas mamang mau ngejilatin teruuuus… wangi amat nih ketek, emang gadis madrasah lain baunya kali,” pak Jamal tak habisnya mengendus, mencium, menjilati dan menyupangi ketiak Sumirah kanan dan kiri.

Semua rontaan Sumirah sia-sia saja, bahkan semakin memacu pak Jamal yang kini hanya menyekal kedua nadi Sumirah dengan satu tangan kirinya yang kuat, sementara tangan kanannya menjelajahi serta mulai menggerayangi ke dalam kebaya Sumirah, mencari bukit daging kembar yang gempal dan kenyal.

Sumirah tetap menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan penuh keputus-asaan. Secara tak sengaja matanya melihat beberapa codetan panjang bekas luka di dada pak Jamal yang sedikit dipenuhi bulu, hal sama terdapat pula di lengan atasnya yang masih cukup berotot keras. Terpana mata Sumirah menatap bekas-bekas luka itu dan terbersit rasa ketakutan di matanya, yang mana itu tidak lolos dari pengamatan pak Jamal yang langsung menggunakan kesempatan untuk mengancam!

“Hehehe… bagus ya, non, banyak codetan bekas bacokan golok dan pisau di badan mamang… biasa deh, kalo ada yang enggak nurut dan ngelawan, mamang jadi berkelahi. Tapi semua udah diberesin langsung, enggak ada lagi yang ngerepotin mamang karena semuanya udah masuk ke dalam tanah,” pak Jamal mendadak mengubah nada suaranya menjadi dingin dan memberikan gerakan jari menyilang di depan leher yang berarti bahwa semua musuhnya telah digorok dan ia bunuh!

Sumirah tak tahu apakah benar apa yang dikatakan oleh pak Jamal, namun tanpa sengaja ia rasakan tubuhnya gemetar menggigil dan bulu badannya berdiri gara-gara ngeri atas ucapan tersebut. Sebagai lelaki berpengalaman, pak Jamal mengerti bahwa ucapannya memberikan pengaruh besar pada siswi madrasah muda dan lugu yang semakin lama semakin berada dalam kekuasaannya itu.

“Hehehe… jangan takut, non, mamang udah umpetin pisau mamang di bawah ranjang. Pokoknya si non enggak bakalan mamang sakitin asal nurut, engga ngelawan dan jangan bikin berisik, ngarti?” pak Jamal melanjutkan jamahan dan remasannya di gunung kembar gempal di dada Sumirah, lalu putingnya dipijit serta dicubit-cubitnya, menyebabkan Sumirah jadi meringis dan menggeliat kesakitan. Meskipun sehari-hari agak genit, namun pak Jamal menduga bahwa belum pernah ada lelaki melakukan hal seperti itu pada Sumirah.

“Hehehe… enak enggak, non? Geli ya sampe ngegelinjang begitu? Ini belon apa-apa, non, mamang tambahin lagi nih… mau netek di susunya si non, uummh… legitnya! Cuuppp… nyyuuuum… duuuh siaaah, mamang isep dan sedot supaya makin lancip ya, non? Tuh udah mulai ngacung dan merah muda kaya jambu,” pak Jamal kini bergantian menggigit dan menyedot-nyedot puting Sumirah sehingga anak ABG ini makin gelisah kelojotan, namun dari puting yang digigit-gigit itu muncul aliran rasa hangat dan geli menyebar ke seluruh tubuhnya.

“Aaah… aoouuh… udaah dong, maaang! Gelii… ngiluuu… aauhh!! Irah enggak mau, udahan dong mainnya! Lepasin, oooh… Iraah enggak tahan!!” Sumirah makin menggelinjang.

Dirasakan kedua buah dadanya semakin membengkak dan selain itu muncul kehangatan di tengah selangkangannya sebagai akibat dari obat perangsang yang secara tak sadar diminumnya tadi. Sumirah merasakan bahwa selangkangannya yang telah tak tertutup celana dalam itu semakin lembab dan juga ada rasa geli serta keinginan untuk meraba dengan jari tangannya sendiri. Namun hal itu tak mungkin dilakukannya karena bertentangan dengan rasa kehormatan dan malu. Sehingga tak sadar Sumirah hanya mencoba membuka menutup kedua pahanya, selain itu kedua kakinya yang jenjang melurus, kemudian menekuk, lalu melurus lagi secara bergantian. Kedua pipinya terlihat semakin muncul merah merona, hembusan nafasnya semakin cepat tak teratur disertai keluhan halus.

“Hehehe, bageuur eeuuy… si non makin cakep aja, udah waktunya nih mamang akan memanjakan si non. Abis netek begini biasanya mamang pengen minum air madu. Non mau sekalian diajarin nyepong apa engga? Apa ntar aja kalo mamang banjiran di mulut? Iya deh mamang ngajarinnya pelan-pelan supaya non jadi pinter dan belajarnya gampangan,” pak Jamal melepaskan cekalan dan remasannya, kemudian menyerosot turun sambil melepaskan pakaian Sumirah sehingga akhirnya terlihatlah semua tubuh indah dan montok siswi madrasah yang kini hanya menolehkan kepalanya ke samping.

Sumirah tak berdaya melawan rangsangan tubuhnya sendiri, namun rasa malu jengah dan penyesalan menyebabkan air matanya mulai berlinang dan tubuhnya terguncang pelan oleh isak tangis.

Namun semuanya tak akan lagi menghentikan keinginan pak Jamal untuk menggauli gadis muda ABG ini. Pak Jamal sebagai pejantan kampung memang selama ini cukup sering bersenggama dan merogol pelbagai wanita di desanya, namun belum pernah dengan seorang gadis siswi madrasah.

Kesempatan ini tentu saja tak akan diabaikannya. Ketika Murtiasih berhasil masuk jebakannya dan dibantu Rofikah serta Sumirah akhirnya digarap oleh Ustadz Mamat, maka pak Jamal memang sudah bertekad untuk suatu waktu menikmati tubuh ketiga siswi itu. Baginya tak menjadi soal siapa yang akan pertama kali digaulinya, dan rejekinya memang malam ini memperoleh Sumirah.

Kini pak Jamal telah berhasil menempatkan dirinya diantara kedua paha Sumirah yang terkuak, tak ada gunanya sang korban berusaha membalik diri ke kanan atau ke kiri, tindihan pak Jamal terlalu berat. Kedua tangan pak Jamal masih berada di atas dan tak hentinya meremas-remas buah dada Sumirah, sementara mulutnya disertai lidah basah menjulur keluar menyapu pinggang dan perut gadis muda itu.

Pusar Sumirah yang cekung ke dalam kini telah basah oleh ludah pak Jamal, kecupan hangat terus menerus menjalari seluruh pori kulit putih mulus : dari perut dan pusar semakin turun mengarah ke selangkangan. Disitu kecupan-kecupan pak Jamal semakin ganas dan brutal disertai dengan gigitan kecil di lipatan paha, kemudian bagian dalam paha, dan setelah menimbulkan beberapa cupangan merah akhirnya menuju bukit Venus dengan celah sempit yang tepinya dihiasi bulu-bulu halus terawat rapi.

Kedua tangan pak Jamal melepaskan cengkramannya pada buah dada Sumirah, kini telah turun mengusap paha mulus si gadis yang telah lemas terbakar nafsu birahinya sendiri. Sambil menekan kedua paha Sumirah dengan sikunya agar tetap membuka selebar mungkin, maka jari-jari tangan kiri pak Jamal kini berada di kiri-kanan bibir kemaluan Sumirah dan menguakkannya dengan perlahan-lahan.

Mata pak Jamal melotot bagaikan akan keluar dari cekungannya ketika melihat betapa indah dan menggiurkannya dinding vagina Sumirah yang berwarna coklat muda agak kemerahan. Pembuluh darah yang demikian halus tampak menghiasi dinding yang terlihat mulai mengkilat akibat dibasahi oleh cairan alamiah itu. Ketika bibir kemaluan Sumirah semakin ia kuakkan, maka terpampanglah lubang kencing yang demikian kecil, dan di bawahnya… di bawahnya, ooooh itukah yang disebut selaput dara?

Bagaikan seorang petualang menemukan harta, pak Jamal semakin mendekatkan wajahnya ke lubang surgawi mangsanya. Aah, betul rupanya omongan orang-orang bahwa selaput kegadisan agak berbentuk bulan sabit dan terletak di bawah lubang kantung kemih. Tak sanggup lagi menahan nafsunya, pak Jamal langsung menempelkan hidung dan bibirnya ke vagina Sumirah.

“Sshh… cuup, cuupp, slrruupp… aaah, wuuih manisnya nih madu si non, rejeki nomplok bisa ngirup madu cewek… slrrrrrruuup… duuuh segernya! Mamang ganti bayar madunya ama liur mamang ya supaya semakin licin? Cakepnya si non pas lagi dijilatin kayak gini,” pak Jamal mengulurkan lidahnya yang besar dan kasap untuk menyapu dinding celah kelamin Sumirah.

“Aaiih… emmhh… oooh, pak, Irah diapain lagi? Geli, pak, nngghh… oooh… gelii, sssh… ooohh… iih, Irah enggak tahan,” Sumirah menceracau dengan tanpa sadar kedua tangannya kini meremas-remas buah dadanya sendiri dan menarik-narik putingnya yang mungil indah.

“Enaak teuing ya, non? Betul engga tuh mamang bilang, jadi ketagihan kan? Sekarang mamang ajarin supaya non melayang ke surga ke tujuh ya, nih gini caranya,” bagaikan mencari butir perhiasan nan mahal, pak Jamal membuka lipatan atas bibir vagina Sumirah. Bagaikan penis mini seorang bayi laki-laki yang baru lahir, muncullah tonjolan daging diantara lipatan bibir memek Sumirah, seolah malu dan segan menampilkan dirinya. Namun kelentit yang dicari-cari itu langsung dikecup, diciumi, dan dijilati oleh pak Jamal. Sumirah yang telah terbuai dengan nafsu birahi kini menghentakkan kakinya bagaikan terkena aliran listrik tegangan tinggi, apalagi ketika kelentitnya tersapu kumis kasar pak Jamal.

“Aaiih… iihh… eemph… aah, geli amat, pak! Udaah…” Sumirah menggeliat-geliat dan berusaha berontak melepaskan dirinya, namun kedua pahanya tetap berada dalam tekanan lengan dan siku pak Jamal sehingga tetap terpaksa mengangkang lebar.

“Toloong, pak… aauuw! U-udah, hentikan! Gelii… aauww! Oooh… iiih… Irah pengen pipis, oooh… lepasin dong, pak! U-udaah,” bagaikan orang sedang kalap terkena serangan ayan, Sumirah menghentak-hentak dan menendang, sementara semua jari tangannya justru malah menjambak rambut pak Jamal dan menekan kepalanya seolah-olah ingin dirangsang terus.

Sinyal sangat khas yang begitu nyata ini tentu saja begitu dikenal oleh pak Jamal yang kini justru semakin meningkatkan kegiatannya. Klitoris yang telah menonjol diantara lipatan bibir kemaluan Sumirah kini dijepit oleh pak Jamal diantara bibirnya, disapu dan diusap dengan lidahnya, kemudian digesek serta digéwel dengan menggunakan barisan giginya yang digerakkan ke kiri dan ke kanan.

Rangsangan semacam ini tak akan dapat ditahan oleh wanita manapun, meskipun ustazah alim shalihah berpengalaman bagaimanapun pasti akan langsung blingsatan dan takluk! Apalagi yang sedang menghadapi serangan ini adalah gadis muda siswi madrasah yang masih asing lelaki.

Tanpa disadarinya tubuh Sumirah semakin terangkat dari kasur, semakin melengkung, dari lubang hidung yang mungil terdengar nafas memburu bagaikan seekor kuda sedang berpacu. Mata Sumirah membeliak terbalik ke atas, tangannya melepas sementara rambut pak Jamal lalu menarik sprei ke mulutnya untuk digigit sekuat tenaga. Kemudian kedua tangannya itu kembali menekan kepala pak Jamal sekuatnya seolah ingin agar rangsangan di klitorisnya semakin ditingkatkan, kedua paha betisnya menendang dan membuka menutup tak beraturan. Pada saat itu pak Jamal secara sadis meremas dan mencubit puting Sumirah dengan jari-jari tangan kirinya, lalu sekaligus telunjuk tangan kanannya menjelajah di bawah vagina dan dengan tiba-tiba menusuk masuk ke anus Sumirah yang amat sempit.

“Ummmppffh… eemmppffh… aiiihh… auww… Irah pipis!! Ohh, pak… auoohh,” tubuh Sumirah melengkung bagaikan busur yang siap melepaskan anak panah, mengejang dan gemetar selama beberapa menit disaat mengalami orgasme pertama kalinya. Setelah sesaat, barulah akhirnya perlahan-lahan melemas dan menghempas kembali.

Namun pak Jamal masih belum puas. Setelah tubuh Sumirah terhempas kembali dikasur, maka dengan sadis pak Jamal memulai kembali rangsangannya. Kedua puting susu Sumirah yang semakin membengkak dan mengacung ke atas itu dijadikannya sasaran kembali. Ia mempulir-pulir, mencubit-cubit, menggigit-gigit dan mengenyot-ngenyot penuh nafsu, bagaikan seorang bayi raksasa telah kehausan sehari semalam tak diberikan susu ibu. Terutama gigitan sadis yang membuat ngilu itu memaksakan Sumirah kembali dari dunia ekstase setelah orgasme pertama.

Sumirah menggeliat dan merintih-rintih ketika putingnya terasa perih dan lecet karena gewelan dan gigitan buas pak Jamal. Setelah puas dengan meremas dan membuat kulit buah dada sang mangsa penuh cupangan serta bercak merah, maka pak Jamal turun kembali dan mulai menjilati lagi kemaluan Sumirah. Tanpa ampun celah sempit di bukit Venus berbulu halus itu ia kuakkan kembali, dijilatinya dinding yang merah muda itu, dicarinya kelentit yang sedemikian peka, diulangi lagi ritualnya dengan maksud membangunkan birahi sang siswi yang malang itu.

Tak sangguplah Sumirah menghadapi serangan bertubi-tubi lelaki setengah baya yang begitu berpengalaman : tubuhnya yang telah letih, lemas dan mandi keringat itu mulai melengkung dan membusur ke atas. Sepuluh menit kemudian terdengar kembali jeritan histeris Sumirah, kali ini pak Jamal tanpa kasihan memaksanya untuk orgasme tiga kali berturut-turut!

Sumirah merasakan seolah-olah dilandai badai tsunami : jutaan bintang menguasai pandangan matanya, jutaan bintang meledak di dalam kepalanya, tubuhnya bagaikan dihempaskan ombak samudra hindia ketika sang penghuni Nyai Roro Kidul sedang mengamuk. Setelah ketiga kalinya kejang dan kesadarannya sama sekali hampir punah, barulah pak Jamal menghentikan kegiatannya, karena ia telah siap bersenggama!

Pak Jamal menyeringai dan tersenyum penuh kepuasan melihat korbannya telah runtuh semua pertahanannya dan takluk terhadap tindakan apapun yang akan dilakukan pak Jamal berikutnya. Kini telah tiba saatnya pak Jamal mengambil piala utama di petang hari itu, piala kemenangannya terhadap gadis alim shalihah. Piala itu hanya berupa kegiatan beberapa menit menembus selaput pertahanan dan pemisahan status seorang gadis dan wanita dewasa. Pak Jamal kembali menarik dirinya ke atas tubuh Sumirah yang mengkilat mandi keringat akibat orgasmenya. Nafas Sumirah masih memburu, terlihat dari naik turun buah dadanya dengan puting mencuat tajam. Selangkangannya tetap terkuak dan rambut halus di sekitar memek Sumirah tampak basah dengan air mazi serta air ludah pak Jamal yang menjilatinya beberapa menit lalu.

Pak Jamal menarik nafas panjang, menahannya selama mungkin. Jari-jari tangan kirinya menguakkan kembali bibir kemaluan Sumirah. Dengan tangan kanannya diarahkannya penisnya yang menegang maksimal sejak melihat orgasme calon mangsanya. Setelah kepala batang rudalnya diletakkan diantara belahan vagina Sumirah dan dirasakannya cukup mantap, dijepit bibir kemaluan berwarna kemerahan itu. Pak Jamal kemudian mengangkat dan meletakkan betis mangsanya di bahunya, lalu perlahan-lahan ia menekan ke bawah. Sekali dua kali tusukannya meleset, namun akhirnya kepala penis berwarna merah tua dengan bentuk topi baja itu meretas masuk di belahan hangat, senti demi senti lembing daging itu menghilang ke dalam lembah hangat licin dan menemukan pertahanan.

“Aduuh… aauww! Nyerii, pak… sakiiit!! J-jangan, pak… lepasin! S-sakiit, pak… ooh… udah!! Auw, ampuun…” Sumirah merasakan bagian dalam memeknya bagai disayat pisau, pinggulnya mengesot ke kiri dan ke kanan menahan rasa sakit.

Sangat berbeda dengan Sumirah yang kesakitan, maka pak Jamal justru merasakan kebanggaan tak terkira ketika alat kejantanannya masuk perlahan-lahan ke dalam liang nirwana gadis muda itu. Setengah jalan dirasakannya ada yang menahan tembusan penisnya dan pak Jamal tersenyum lebar karena yakin bahwa penahan itu adalah selaput kegadisan Sumirah. Ekspresi wajah mangsanya yang ayu cantik namun telah sepenuhnya dikuasai itu justru makin memacu nafsu birahinya.

Dengan penuh rasa kepuasan pak Jamal menekan lebih kuat ke depan, sementara kedua tangan Sumirah memukul lemah dadanya yang kekar penuh codetan. Dengan senyum mesum disertai nafsu iblis pak Jamal merejang kedua pergelangan tangan Sumirah, ditekannya ke kasur sehingga tak mungkin si gadis ini mencakar atau meronta lagi. Disertai dengusan bagai banteng ketaton, pak Jamal menghunjam ke depan dan dirasakannya bahwa pertahanan di dalam vagina Sumirah akhirnya berhasil ditembus.

“Uuh, sempitnya nih memek… non geulis kenapa meringis nangis? Ntar pasti keenakan, mmh… aah, kerasa jebol di dalem enggah, non? Kasian si non ngerasa ngilu, mamang licinin lagi ya supaya enggak terlalu perih? Duuh, begeuuuur teuiiing, mamang jadi makin napsu aja, hehehe.” pak jamal kembali menciumi mulut Sumirah yang setengah terbuka. Lidah Sumirah disedot serta dijepit diantara bibir tebalnya, kini ludah pak Jamal makin bercampur dengan ludah Sumirah.

“Eemmuuppffh… uuddhh… aauummppffh… aauuww, sakiiit! A-ampuun, pak!!” Sumirah menangis terisak-isak, tusukan dan hunjaman pak Jamal dirasakannya semakin menyiksa masuk ke dalam sehingga terasa ngilu menjalar sampai ke ulu hatinya.

Memang telah beberapa kali ia mendengar dari tetangga serta kenalan wanita yang telah menikah bahwa proses metamorfose dari gadis menjadi wanita dewasa di malam pengantin sering disertai dengan rasa sakit. Namun apa yang dirasakannya saat ini sama sekali di luar dugaannya, jauh lebih sakit daripada perasaanya semula.

Sumirah tetap berusaha menggeser pinggulnya ke pelbagai arah ketika alat kejantanan pak Jamal menumbuk mulut rahimnya yang penuh ribuan ujung syaraf peka. Namun semua tak mengurangi atau meringankan rasa perih dan ngilu karena dinding memeknya yang masih luka memar itu tetap digesek-gesek bagaikan diampelas oleh kulit kasar penis pak Jamal. Bahkan usaha goyang dan geseran pinggul Sumirah itu menyebabkan salah dugaan pak Jamal bahwa gadis korbannya justru mulai merasakan kenikmatan, sehingga semakin seru dan mantaplah pak Jamal menggerakkan penisnya.

“Wah, mulai ngerasa enak ya, non? Mamang bilang juga apa, sedap kan di entot? Pinter banget si non, mulai goyang pantat kaya penyanyi dangdut ngebor di panggung. Mamang mulai enggak tahan nih, yahud amat si non makin geuliiiis… cakepnya dipompa, aah… uuh!!” pak Jamal mengarahkan dan menumbuk senjata dagingnya ke semua sudut celah surgawi mangsanya.

Masuk keluar, masuk keluar, dorong tarik, tarik dorong, sebentar halus dan perlahan, mendadak berubah menjadi sangat kasar dan brutal. Siswi madrasah yang baru kehilangan kegadisannya itu hanya dapat mengikuti saja semua kemauan pemerkosanya. Percuma saja melawan karena justru akan lebih memacu nafsu hewaniah kuli pembersih di madrasah itu. Sumirah mulai membiasakan hidungnya dengan bau keringat pak Jamal yang kini bersimbah bercampur dengan keringatnya.

Tak ada lagi yang sanggup dipertahankannya, Sumirah hanya mengharapkan agar semuanya cepat berlalu dan ia akan segera pulang untuk melupakan pengalaman pahitnya yang ibarat mimpi buruk. Tapi pak Jamal ternyata mempunyai stamina yang sangat mengagumkan untuk seorang pria seusianya.

Setelah dirasa bahwa perlawanan Sumirah sama sekali tak ada, maka justru ia membalik badan dan meminta agar gadis itu menungganginya dalam posisi “woman on top”. Karena Sumirah telah lemas dan terlalu letih, maka justru pak Jamal yang mencengkeram pinggang langsing korbannya. Kemudian dia naik-turunkan tubuh Sumirah bagaikan boneka, sehingga memeknya ditikam dan ditusuk tusuk dari arah bawah oleh tombak daging yang mengacung ke atas dengan begitu gagahnya.

Setelah puas menjarah Sumirah dalam posisi ini, pak Jamal kini menyuruhnya merangkak bagaikan seekor anjing, kemudian didekati mangsanya dari belakang dan kembali dibelah vaginanya. Tanpa rasa kasihan sedikit pun, pak Jamal kini menggarap dan mengerjai Sumirah dari arah belakang, dan karena sudah amat lemas maka Sumirah tak sanggup lagi menunjang tubuhnya sendiri dengan lengan yang diluruskan.

Akhirnya Sumirah hanya sanggup menumpang tubuh atasnya dengan lengan atas dan bertopang di siku yang menekuk. Kepalanya yang sudah tak tertutup jilbab dengan rambut acak-acakan menyentuh kasur, setiap genjotan dan jedugan pak Jamal dari belakang hanya dijawab dengan lenguhan dan desahan putus asa, terputus-putus diantara isak tangis memilukan.

Pak Jamal merasakan bahwa gejolak lahar panasnya telah sangat meninggi di dalam biji pelirnya, secara iseng dan sadis ia menyentuh dan mencolek lubang kecil dilindungi otot lingkar mengkerut-kerut. Dengan penuh kepuasan dilihatnya otot pelindung yang masih mengerut itu berkontraksi menarik si lubang kecil hingga semakin menciut bersembunyi di tengah bongkahan pantat yang sangat menantang.

Namun kali ini pak Jamal masih mempunyai rencana lain, lubang pantat Sumirah akan disimpan untuk dikerjainnya dalam kesempatan di masa mendatang. Kali ini ia berniat mengajari Sumirah untuk menghirup air maninya, dibayangkannya betapa wajah ayu Sumirah dengan mulut mungil terpaksa membuka selebarnya untuk mengulum rudalnya. Betapa nikmatnya merasakan hangat dan lembut lidah Sumirah menyapu lubang kencingnya yang menyemburkan air pejuh kental. Pasti Sumirah akan menolak melakukan hal tak senonoh itu, namun pak Jamal tahu caranya menakluki dan mematahkan pertahanan si anak ABG muda.

“Uuuh, mamang udah hampir nyampe nih… buang pejuhnya di dalem supaya jadi anak mau ya? Kebetulan lagi subur enggak, non? Udah lama juga mamang enggak naburin ladang becek, mau ya?” sengaja pak Jamal menjedug-jedug rahim Sumirah sambil menanyakan hal tak senonoh itu.

“Jangan, pak, Irah enggak mau hamil… tolong, kasihani Irah dong, pak! Buang diluar aja,” isak tangis Sumirah semakin menimbulkan iba, namun tak dipedulikan oleh pemerkosanya.

“Kalo enggak dibikin anak kan sayang, tapi bisa juga dimasukin lobang yang laen. Ditimbun disini boleh enggak, non?” kembali pak Jamal menjedug menghunjam sambil mengusap anus Sumirah.

“Kelihatannya kecil dan sempit, pasti enak dijebol nih lobang,” lanjut pak Jamal sambil meludahi anus Sumirah kemudian dengan perlahan ditusuk-tusuk dengan jari telunjuknya.

“Auw, jangan, pak! Jangaaan… enggak mau disitu… haram, pak! Oooh… jangan, ampun, pasti sakit sekali… ampun, pak! Ampuuuun…” Sumirah berusaha meronta dan menggelinjang lemah.

“Wah, cerewet amat si non! Dibuang sini salah, dibuang kesitu juga salah… gini aja lah supaya jangan mubazir, mamang ajarin non minum air pejuh simpanan supaya jadi awet muda,” pak Jamal tak menunggu jawaban Sumirah namun langsung membalikkan dan menelentangkan tubuh sintal telanjang bulat itu. Kembali direjangnya kedua pergelangan tangan Sumirah di samping kepalanya, dan kemudian disodorkannya penis hitam legam penuh urat melingkar-lingkar itu di depan bibir Sumirah.

Sumirah melengoskan kepalanya ke samping ketika penis mengkilat mengangguk-angguk yang terlumasi bekas darah dan air mazinya sendiri itu menyentuh bibirnya. Pak Jamal hanya tersenyum sadis, segera dicengkeramnya kedua nadi Sumirah dengan satu tangan dan diletakkan di atas kepalanya. Tangan satunya kini digunakan untuk memegang dagu Sumirah , jari-jarinya yang kuat menekan pipi si gadis malang sedemikian kuat hingga menyebabkan siswi madrasah ini kesakitan dan tanpa sadar menjerit.

Kesempatan itu langsung dipergunakan oleh pak Jamal dengan meneroboskan kemaluannya ke celah diantara bibir yang membuka, lalu tanpa rasa iba didorongnya masuk sedalam mungkin.

Sumirah tersedak terbatuk-batuk ketika langit-langit mulutnya disentuh oleh benda asing, hidungnya mengernyit karena mencium aroma campuran yang baru pertama kali ini dikenalnya. Aroma keringat lelaki, aroma khas penis sang pemerkosa, aroma lendirnya sendiri, dan juga sebersit aroma darah perawan yang beberapa saat lalu mengalir akibat perenggutan paksa selaput kegadisannya.

Rasa mual ingin muntah menyebabkan lambung Sumirah memberontak, namun apalah dayanya saat ini : pak Jamal telah memaju-mundurkan pinggulnya. Lingkaran kemaluan sang pejantan dirasakan oleh Sumirah semakin lama semakin membesar, menyebabkan sendi rahangnya sangat pegal linu karena dipaksa membuka maksimal. Pak Jamal semakin mempercepat irama penggejotannya di dalam mulut yang sedang dijarahnya habis-habisan, semakin lama semakin ganas, semakin dalam dan…

“Aaah… oooh… iya! Isep, non! Iseep semua, ooh… duuh, enggak tahan lagi nih mamang mau ngecrot! Kemut, non, iyah… minum semuanya, ooh…” geraman dan dengusan pak Jamal menyertai semprotan serta luapan spermanya yang masuk memenuhi rongga mulut Sumirah. Tak ada ruangan sedikitpun yang dapat dipakai Sumirah untuk membuang air pejuh menjijikkan itu. Supaya tidak terselak dan kehabisan nafas maka tak ada jalan lain bagi Sumirah daripada menelan teguk demi teguk air mani yang dirasakan seolah tak ada habisnya.

Lebih dari tiga menit barulah semburan lahar panas di mulut Sumirah mereda, penis pak Jamal pun mengurang diameternya dan akhirnya dapat didorong keluar lidah Sumirah. Beberapa tetes air pejuh putih mengalir keluar dari sudut bibir Sumirah dan beberapa kali ia menarik nafas sedalam-dalamnya untuk menahan rasa ingin muntah karena aroma sepat agak asin di kerongkongannya.

“Gimana, non, puas enggak? Ngaku deh enaknya dientot sama lelaki, mamang masih pengen maen-maen lagi, lain kali diterusin pasti lebih puas,” demikian rayuan gombal pak Jamal berusaha untuk menghibur Sumirah yang masih terlentang telanjang bulat dengan isakan tangisnya.

Perlahan-lahan pak Jamal menuntunnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri, terutama bagian selangkangannya yang masih terasa sangat perih dan memar. Setelah itu pak Jamal membantu Sumirah memakai sarung panjang dan kebayanya, tak lupa jilbabnya menutup kembali rambutnya. Mereka kemudian duduk berdampingan di ranjang, kemudian pindah ke ruang tamu tanpa banyak mengucapkan kata. Mereka menunggu pasangan lain yang juga sibuk dengan acara hangat di kamar tidur masing-masing.

Beberapa jam kemudian Sumirah telah pulang ke rumahnya. Berbeda dengan pak Jamal yang langsung menggeros kepuasan karena dapat menikmati tubuh gadis remaja, maka Sumirah merasakan tubuhnya pegal linu akibat pergulatannya tadi. Beberapa kali diraba selangkangannya yang masih memar, namun ketika jari-jarinya menyentuh bibir kemaluannya, terutama kelentitnya yang tersembunyi itu, maka terbayangkan kembali adegan memalukan namun mengesankan sukar terlupakan ketika perawanannya direnggut paksa oleh kuli pengurus sekolah madrasah itu.

Karena sukar sekali tidur maka Sumirah mengusap dan meraba kelentitnya dengan perlahan, makin lama semakin cepat. Akhirnya dijepitnya bantal guling dengan kedua pahanya, bantal kepalanya digigit sekuat tenaga untuk meredam jeritan orgasmenya. Berkat kejantanan pak Jamal maka Sumirah sebagai siswi madrasah akhirnya menemukan kenikmatan badaniah yang selama ini tersembunyi, namun itu semua adalah lumrah dan normal bagi semua wanita muda. Tak perduli warna kulitnya, keturunannya, apapun kepercayaannya, kebangsaannya – tak perlu dijadikan rasa malu sama sekali. Barangsiapa berusaha menyangkal hal itu adalah hanyalah kaum munafik saja di dunia ini.

TAMAT EPISODE SUMIRAH DENGAN PAK MAMAT 

INTAN 2

INTAN 2

Dua hari lagi, Intan akan menjalani prakteknya di Purwokerto. Dan hari ini sesuai dengan janji yang sudah ia buat dengan Rangga, ia akan menghabiskan waktu seharian berjalan-jalan keliling Yogyakarta. Intan tahu bahwa pada akhirnya ini akan berakhir pada permainan ranjang yang panas di kontrakan Rangga seperti pada hari-hari sebelumnya. Yang Intan tidak tahu bahwa di ujung hari, ia tidak akan bergumul dengan kekasihnya, tetapi bersama Pak Jarwo.

Sudah beberapa hari ini sebenarnya Intan sering bermain cinta dengan Pak Jarwo tanpa diketahui oleh Rangga, kekasihnya. Dengan beralasan sedang praktek, response, dan lain-lain, maka Intan dengan bebas ‘bertamu’ ke rumah Pak Jarwo. Istri Pak Jarwo sendiri adalah seorang buruh migran yang entah kapan akan pulang dan tidak tentu mengirimkan uang untuk Pak Jarwo di Indonesia. Tapi semua itu tidak menjadi masalah karena banyak kebutuhan Pak Jarwo yang pada akhirnya ditanggung Intan. Dia sudah seperti istri kedua bagi Pak Jarwo. Laki-laki itu bagaikan raja yang menikmati kenikmatan lahir batin, kebutuhannya tercukupi dari Intan.

Sekarang kita tarik cerita dari sekitar dua minggu ke belakang, beberapa hari setelah permainan cinta pertama antara Intan dan Pak Jarwo. Saat itu hari Rabu pagi dan Intan kebetulan kuliahnya sedang kosong karena dosen yang berkepentingan sedang berada di luar kota.

Intan terbangun karena ada sms masuk ke handphone-nya, setelah dilihat ternyata dari Pak Jarwo. Setelah pertemuan pertama mereka, memang mereka pada akhirnya bertukar kontak supaya Pak Jarwo bisa menghubungi Intan lagi di lain kesempatan. Selain itu juga, hampir tiap malam Pak Jarwo mengirim sms mesra kepada Intan dan Intan juga tak kalah mesra membalas sms-sms tersebut. Ah, indahnya hubungan kedua insan berbeda usia jauh ini.

“Pagi cewek bispak, kuliah gak hari ini? Hmm, kayaknya pagi-pagi begini kalo sarapan sambil disepongin sama mahasiswi berjilbab pasti nikmat. Kamu ke rumah bapak dong, sayang..”

“Ah, Pak Jarwo kok pagi-pagi udah sms sih? Bikin memekku cenat-cenut kalo inget kemaren di kontrakan pacar saya. Saya gak kuliah hari ini, Pak. Hmm, Pak Jarwo mau ditemenin? Ya udah, kasih saya alamatnya ya. Sama itu juga, Pak Jarwo mau dibeliin sarapan apa?”

“Kamu tau aja maunya bapak, hehe… saya mau bubur ayam aja deh, beli dua buat kamu juga ya, saying. Oya, jangan lupa mandi yang bersih dan wangi, dandan, pake jilbab yang bikin kamu paling cantik ya, tapi pake baju dan celananya yang ketat. Oke, pelacur?”

“Duh, kalo bapak bilang saya pelacur tuh bikin saya makin terangsang. Hmm, ya udah, nanti bapak sms aja alamat rumah bapak ya. Saya manasin mobil dulu. Sampai nanti pejantanku sayang, mmuuaacchh!”

Sms-sms yang terjadi diantara keduanya memang sudah kelewat mesra bahkan cabul, dan Intan sebagai seorang mahasiswi berhijab dan calon dokter malah lebih terangsang ketika direndahkan oleh kata-kata kasar oleh seorang bapak tua yang jadi ketua RT di daerah kontrakan Rangga. Tidak berapa lama kemudian Intan sudah meluncur untuk membeli sarapan dan menuju rumah Pak Jarwo. Intan memberi tahu Rangga bahwa ia tidak enak badan dan tidak ingin diganggu selama seharian ini, supaya Rangga juga fokus dengan pekerjaannya. Sebuah alasan yang cukup klasik.

Akhirnya mobil Intan sampai di sebuah rumah yang cukup asri, kecil namun banyak ditumbuhi tumbuhan-tumbuhan liar, sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Pak Jarwo. Seorang bapak tua kemudian keluar untuk membuka gerbang dan menyuruh Intan memarkirkan mobilnya masuk ke garasi, setelah itu ditutup dengan cover mobilnya sehingga setiap orang yang lewat tidak mengetahui mobil siapa yang ada di garasi Pak Jarwo saat ini.

“Masuk aja, sayang, langsung buka sarapannya di meja makan ya. Bapak udah kangen banget sama kamu nih!” kata-kata Pak Jarwo dibarengi dengan tepukan di pantat Intan.

“Duh bapak, jangan diluar gini ah, nanti ada yang liat loh… hihi, masa cewek berjilbab mesra sama bapak-bapak, hihi… tapi ga papa deh, kan sama Pak Jarwo ini,” Sambil tersenyum manja, Intan mengatakan hal tersebut yang membuat Pak Jarwo makin kelimpungan.

Akhirnya mereka berdua sudah duduk di meja makan, tetapi Pak Jarwo bilang, “Loh, kok disitu sih? Sini dong.” katanya sambil menepuk paha, memberikan isyarat agar Intan duduk di situ.

“Aduh, bapak manja deh. Hihi, ya udah, Intan duduk menyamping di paha bapak ya.” Intan akhirnya duduk di pangkuan Pak Jarwo, lalu ia membuka bungkusan buburnya, tapi lagi-lagi Pak Jarwo menyela.

“Eh, punya kamu nanti aja, punya bapak dulu ya. Hehe, saya mau sarapan sambil disepong sama mahasiswi berjilbab, impian bapak dari dulu nih. Boleh ya, sayang?” Pak Jarwo mencolek dagu Intan, membuat gadis itu tersipu malu dan akhirnya menganggukkan kepala menuruti kemauan pak RT cabul yang satu ini.

Intan mencium bibir Pak Jarwo dan mengulumnya secara tiba-tiba, Pak Jarwo sendiri kaget. “Loh kok?”

“Dari tadi kan bibir kita belum ketemu, saya gak boleh ya cium bibir Pak Jarwo? Tiba-tiba saya jadi kangen banget sama rasa bibir bapak, uh!” Dalam hatinya, Intan merasa bahwa ada perasaan tersendiri jika berduaan dan bermesraan seperti ini dengan Pak Jarwo.

Setelah itu, perlahan Intan turun dari pangkuan Pak Jarwo dan duduk di bawah meja. Pikiran Pak Jarwo telah melayang-layang kemana-mana, ah seandainya ia bisa memperistri Intan dan bisa ia pakai setiap hari, pasti hidupnya akan lebih bahagia.

“Saya buka ya, pak… ups! Besarnya, hmm…” Intan membuka celana panjang Pak Jarwo dan menurunkannya sebatas paha, lalu menciumi paha Pak Jarwo yang telanjang.

Perlahan ia mendekati penis Pak Jarwo yang berukuran besar, penis itu masih layu dan sedikit bau pesing, tapi Intan tidak peduli. Perlahan ia mengenduskan hidungnya pada pangkal penis itu, menciumnya dengan sangat mesra dan penuh kasih sayang. Sementara di atas, Pak Jarwo mulai menikmati sarapan buburnya sambil juga menikmati ‘sarapan’ yang lain, ia tersenyum licik karena berhasil menaklukkan seorang mahasiswi fakultas kedokteran, berjilbab pula, bawa mobil juga, ah hidupnya terasa sangat indah sekarang.

Intan mulai menciumi penis Pak Jarwo hingga perlahan penis tersebut mengembang dan mengeras bagaikan sebatang kayu. Intan tertawa kecil melihat penis kesayangannya menjadi sebesar ini karena usahanya. Intan akhirnya menjilati penis Pak Jarwo dengan sangat perlahan, memindahkan rasa yang ada ke dalam mulutnya, menstimulasi penis tersebut agar makin mengeras, seakan-akan penis tersebut adalah pisang yang dilumuri oleh susu kental manis. Ah, Intan sangat ketagihan sekarang. Ia mulai membasahi semua bagian penis tersebut dengan liurnya, mulai memasukkannya ke dalam mulutnya secara perlahan.

Suara Intan yang sedang mengulum penisnya membuat Pak Jarwo makin bernafsu, kecipak pertemuan antara bibir indah berlipstik tipis, behel dan penis hitam miliknya membuat nafsu Pak Jarwo menjadi semakin meningkat.

Sementara Pak Jarwo terus melanjutkan sarapannya, Intan masih mengulum penis Pak Jarwo yang sudah benar-benar tegang. Ia mengocok dengan tangannya yang halus, jari-jarinya yang lentik dan kukunya yang baru tadi pagi di-kutek. Uh, tidak ada yang bisa menandingi sensasi dan aroma sensualitas yang ada di ruang makan rumah Pak Jarwo.

Tiba-tiba Pak Jarwo membuka kotak sarapan bubur milik Intan dan menarik Intan ke atas. “Duh, kayaknya kamu nafsu banget nyepong kontol bapak? Suka banget ya sama kontol bapak?” tanyanya.

“Mulut saya kayaknya udah jodoh sama kontol Pak Jarwo, uhh… kontolnya Pak Jarwo tuh bikin mulut saya jadi gatel dan yang bisa garukin cuma kontol ini, pak RT-ku tersayang, hihi…”

“Ya udah sayang, kamu makan dulu ya, biar nanti kita ngentotnya bisa kuat seharian. Kamu ga ada janji sama pacar kamu kan?”

“Ah, saya lebih milih seharian dientotin sama Pak Jarwo daripada harus kencan sama dia, pak. Hmm, pak… saya boleh minta tolong sesuatu gak?”

“Buat kamu, bapak akan turutin. Apa sih, sayang?”

“Suapin..” Dengan senyum malu-malu, Intan mengungkapkan keinginannya untuk dimanja oleh Pak Jarwo. Perempuan kalau sudah tersentuh hatinya, apalagi vaginanya, pasti akan takluk walaupun lawan mainnya adalah seorang bapak tua.

Intan menganggap Pak Jarwo sebagai suaminya sendiri, Intan bahkan akan gelisah kalau satu hari tidak berkomunikasi dengan Pak Jarwo. Tetapi bukan Pak Jarwo namanya kalau tidak punya ide gila, ia akan menyuapi Intan lewat mulut, dan hanya dijawab oleh anggukan serta senyum manis dari Intan.

Akhirnya Pak Jarwo mengaduk buburnya dan menyuapi dirinya sendiri, sehabis itu layaknya orang berciuman, Pak Jarwo mendekatkan mulutnya ke mulut Intan, perlahan-lahan bubur tersebut pindah ke mulut si gadis muda.

“Gimana? Enak, sayang?” tanya Pak Jarwo.

“Makasih ya, pejantanku saying. Pak Jarwo tuh satu-satunya cowok yang bikin saya, walaupun berbeda usia, jadi meleleh. Bapak tuh jantan banget.” Sambil berkata begitu, Intan yang masih duduk di pangkuan salah satu kaki Pak Jarwo, kembali mengelus dan mengocok penis Pak Jarwo yang belum mengeluarkan isinya.

Pak Jarwo yang sudah berpengalaman dengan berbagai wanita hanya melenguh pelan dan kembali menyuapi Intan dengan mulutnya. “Intan, uuhh… pelacur pribadiku. Uuhh… saya bentar lagi mau keluar nih, saya campurin pejunya ke bubur kamu ya, saying? Gimana, mau? Uuhh…”

“Ih, bapak… nanti buburnya jadi rasa peju dong. Tapi kayaknya malah enak, hihi… ya udah, pak, keluarin aja pejunya. Uhh…” Dengan muka penuh birahi, Intan kembali mengocok dengan kuat penis Pak Jarwo, hingga akhirnya tidak berapa lama kemudian, sperma laki-laki itu menyembur keluar.

“Aahhh… uuhhh… nikmatnyaa… uhh… terus kocok, saying… uuh…” Pak Jarwo akhirnya ejakulasi di atas bubur ayam milik Intan, sampai tetes terakhir spermanya pun tidak disia-siakan oleh Intan. Ia membersihkan penis Pak Jarwo dengan lidahnya, ia terlihat tidak ikhlas ketika satu tetes sperma jatuh ke lantai. Uh, hanya dengan melihatnya saja membuat Pak Jarwo jadi semakin bernafsu untuk menggarap tubuh molek berbalut jilbab dan gamis panjang ini.

Lalu Intan keluar dari kolong meja makan dan dengan kerlingan mata genitnya pada Pak Jarwo, ia menjilat bibirnya sendiri dan berkata nakal, “Hmm, enaknya peju Pak Jarwo, buat saya awet muda nih, hihi…”

Akhirnya Intan sarapan bubur ayam yang sudah dicampur dengan sperma Pak Jarwo, ia memakannya dengan lahap. Pak Jarwo sendiri pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan memulihkan staminanya setelah spermanya dikuras habis pagi ini oleh mahasiswi cantik berhijab seksi.

Pak Jarwo bersiul bernyanyi pelan di kamar mandi, memikirkan nasibnya yang sekarang seakan-akan telah menjadi raja dan Intan menjadi selirnya yang menjamin semua kebutuhannya, lahir dan batin. Sampai tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan persis di luar kamar mandi, Pak Jarwo melihat Intan yang perlahan-lahan menelanjangi diri; mulai dari hijabnya, kemudian baju, dan akhirnya bra serta celana dalamnya. Gadis itu melangkah perlahan mendekati Pak Jarwo yang masih saja ternganga dan hampir melotot tak percaya seorang mahasiswi kedokteran berhijab melakukan hal tersebut.

“Saya boleh ikutan mandi kan, Pak Jarwoku sayang?” tanya Intan manja.

“Tentu saja boleh, pelacur pribadiku. Hehe…”

Ketika berada di depan Pak Jarwo, Intan memutar tubuhnya, mempertontonkan bagian tubuh belakangnya yang polos tanpa selembar penghalang pun. Lalu ia menempelkan tubuhnya pada tubuh Pak Jarwo. Sambil sedikit mendesah, ia mengambil tangan Pak Jarwo dan menyentuhkan pada payudaranya, seakan meminta untuk diremas dan dimanjakan.

“Ayo, Pak Jarwo. Uhh… sentuh tiap senti tubuh saya, saya kangen sama kulit kasarnya Pak Jarwo yang bikin saya geli-geli gimana gitu. Cium setiap inci kulit saya, uhh… ayo, pejantanku saying, uhh…”             Sambil berkata begitu, Intan menggoyangkan pantatnya dan membuat penis Pak Jarwo yang tadinya lemas karena air yang dingin, jadi mengembang dan mengeras bak batang kayu jati.

Pak Jarwo hanya diam menikmati goyangan pantat Intan yang mengaduk penisnya sehingga benda panjang berurat itu menjadi ereksi total. Tangannya dengan lembut meremas payudara Intan sehingga si empunya kembali melenguh merasakan nikmatnya bersetubuh dengan pria yang jauh berbeda usia dengannya.

Ini juga membuat Pak Jarwo tidak pernah merasa bosan untuk menggarap tubuh muda dan sekal milik Intan. Saat ini penis Pak Jarwo mulai mencari jalan untuk masuk ke vagina Intan.

Intan yang mengerti kemauan Pak Jarwo langsung menundukan badannya agar lubang vaginanya bisa lebih mudah untuk dimasuki penis Pak Jarwo. Ia pun mendesah ketika senti demi senti penis Pak Jarwo akhirnya berhasil memasuki liang vaginanya. Ketika semuanya sudah masuk, mereka berdiam diri untuk sesaat. meresapi nikmatnya persetubuhan terlarang ini di bawah guyuran shower yang tidak terlalu kencang.

Perlahan Pak Jarwo mulai untuk menggoyangkan badannya maju mundur, menusuk liang peranakan milik Intan, sambil memegang pinggul Intan yang tak kalah semok dengan bagian tubuh lainnya. Pak Jarwo kembali mendapatkan semangat mudanya.

Intan pun mulai mendesah dengan merdu, seakan-akan dia sangat mengharapkan tusukan penis Pak Jarwo di vaginanya. Itu juga yang membuat Pak Jarwo semakin bersemangat untuk melakukan penetrasi.

“Ahh… aah… terus, Pak… uhh, enak banget tusukan kontol bapak di memek saya… uhh, nikmatnya ngentot sama bapak… uuuhh…” Intan merintih.

“Uhh… uuh… nih saya tusuk terus! Uhh, memek kamu pernah dihargai berapa paling mahal, sayang? Uuh!” tanya Pak Jarwo sambil terus menggoyang.

Omongan yang mulai melantur menandakan mereka berdua sudah tenggelam dalam lautan birahi dan hanya mengejar kenikmatan. Intan yang direndahkan seperti itu tidak merasa terhina, bahkan dia merasa lebih terangsang. Intan memutuskan lebih baik ia berdrama supaya dirinya dan Pak Jarwo jadi lebih terangsang.

“Uuh… cuma tiga ratus ribu, Pak Jarwoo… uhh! Kalau sama Pak Jarwo, saya rela terus-terusan dientot sama kontol besar dan enak milik bapak… uhh! Saya kan pelacur pribadinya Pak Jarwo, uhh! Uhh!”

Mendengar itu, Pak Jarwo pun semakin ganas menusukkan penisnya ke tubuh Intan. Ia membalikkan tubuh gadis itu dan mendudukkannya di pangkuan, di atas kloset.

Ah, ganas sekali Pak Jarwo hari ini, begitulah pikir Intan. Tetapi ia sangat senang kalau Pak Jarwo begini, itu artinya ia sangat bisa membuat pria seusia Pak Jarwo masih bergairah seperti anak muda.

Intan kembali menggoyangkan tubuhnya, tidak hanya ke atas dan ke bawah, tetapi juga ke samping kiri dan kanan hingga membuat penis Pak Jarwo seperti digiling dan rasanya… tentu sangat nikmat! Pak Jarwo sampai menutup matanya agar membebaskan Intan untuk bergoyang lebih binal dan liar. Hanya ada suara shower yang belum mati dan juga desahan mereka berdua, dan ini membuat suasana kamar mandi semakin mesum dan romantis.

Posisi Intan yang membelakangi Pak Jarwo membuat lelaki itu jadi tambah bergairah melihat goyangan pantatnya yang… hmm, liur Pak Jarwo menetes dan ia pun tidak tahan menahan ejakulasinya.

Tetapi Pak Jarwo belum mau melepaskan laharnya sekarang. Kasar ia menangkap payudara Intan dari belakang, meremasnya kuat, hingga membuat Intan harus merebahkan dirinya ke belakang, menyandarkan dirinya ke tubuh Pak Jarwo yang hangat.

“Uuh… Intanku, jangan terburu-buru dong, saying… uhh, goyangan pantat kamu buat saya gak tahan, uhh…” Pak Jarwo merintih.

“Abis suruh siapa punya kontol gede dan nikmat banget kayak punya Pak Jarwo, uhh… muachh!” Intan dengan manjanya melingkarkan tangannya ke belakang, memeluk leher Pak Jarwo dan mencium pipi kasar lelaki tua itu.

“Uuh, cium bibir saya dong, Pak Jarwoku saying. Saya udah gak tahan banget nih pengen ngeluarin peju Pak Jarwo pake gilingan memek saya, uhh!”

Pak Jarwo mengabulkan permintaan Intan untuk mencium bibirnya, dan ciuman tersebut berlangsung sangat panas sambil perlahan Intan menggoyang pantatnya pelan-pelan, membuat nafsu Pak Jarwo yang sempat turun menjadi perlahan naik kembali.

Tidak hanya Intan yang bergerak menaik-turunkan tubuhnya di atas penis Pak Jarwo, tetapi lelaki itu juga berusaha menusuk ke atas, membuat tubuh molek Intan bergoyang cukup keras. Desahannya pun semakin melengking hingga kadang sampai harus ditutup oleh mulut Pak Jarwo.

Tangan Pak Jarwo pun tidak tinggal diam, ia meremas dan memilintir dengan lembut puting tegang Intan, membuat sang empunya tidak tahan untuk tidak mendesah nikmat. Pak Jarwo juga terus-menerus merangsang Intan, tidak hanya dengan penis besarnya, tetapi juga dengan remasan di seluruh bagian tubuhnya. Pak Jarwo bertekad memberikan orgasme yang tidak akan pernah dilupakan oleh Intan seumur hidupnya.

“Terus, Pak Jarwo… uhh, teruskan… uhh, saya mau keluar nih, pejantanku sayang… uuhh! Aku gak tahan banget, uuh… kontol besar… uhh! Enaknya!!!”

“Enak kan, sayang? Uhh, kita keluar bareng-bareng yuk!! Uhh, enaknya ngentot sama mahasiswi berjilbab kayak kamu… uhh!!”

“Iya, ayo Pak Jarwoo… uhh… keluarin aja… uhh… saya juga mau keluar nih, uhh! Uhh… saya keluar, aaahhhh… aaahhhh… uuuhhhh!!”

“Iya, ini saya juga udah keluar, aaahhhh… aaaaahhhh… uuuhhhh… terus goyang, pelacurr!!”

Akhirnya mereka berdua melepaskan ejakulasinya masing-masing dan seketika itu juga semua suara terhenti, hanya terdengar suara shower yang masih mengucur deras, juga desahan napas yang terdengar berat, serta senyuman kecil di bibir mereka berdua, menandakan mereka telah mendapatkan kenikmatan yang benar-benar tidak pernah bisa mereka bayangkan sebelumnya.

Masih banyak cerita tentang Intan dan Pak Jarwo berikutnya, kisah mereka belum akan berhenti sampai disini..

KETIKA IBLIS MENGUASAI 4

Entah karena doa yang dipanjatkan oleh Aida, Farah, maupun Murtiasih, atau karena ulah dari sang iblis sendiri maka ketiga wanita korban perlecehan itu tak sampai hamil. Sementara itu para pejantan kisah bersambung ini : Pak Burhan (baca bagian kedua “Ketika Iblis Menguasai” mengenai ternodanya Farah), Pak Sobri dengan kaki tangannya Fadillah (baca bagian pertama “Ketika Iblis Menguasai” mengenai Aida dan Pak Sobri) serta Pak Jamal (baca bagian ketiga “Ketika Iblis Menguasai” mengenai terjerumusnya Ustadz Mamat) sempat bertemu dan berkenalan ketika silaturrahmi setelah Idul Fitri di rumah Pak Fikri.

Siapakah Pak Fikri?

Pak Fikri dulunya adalah bekas kepala polisi di sebuah desa yang terletak diantara kediaman Pak Burhan dan Pak Sobri. Di masa dia menjadi kepala polisi itulah sempat Fadillah hampir masuk penjara akibat perbuatan kriminal yang dilakukannya (mencuri bahan bangunan di rumah Pak Sobri yang sedang dibangun). Dengan bantuan ‘jasa’ Pak Sobri yang memberikan uang semir kepada Pak Fikri [selain Sobri sempat menggarap istri Fadillah bernama Subiati] maka Fadillah lolos penjara dan sejak itu menjadi kaki tangan Pak Sobri.

Selama tugasnya sebagai kepala polisi disitu, Pak Fikri sempat berkenalan dengan petugas pajak daerah situ, yang kebetulan adalah masih ada hubungan keluarga dengan Pak Burhan, si rentenir kakap. Dari situlah maka Pak Burhan akhirnya berkenalan dengan Pak Fikri. Tokoh lain di saat silaturrahmi itu adalah Pak Jamal yang telah kita kenal dalam kisah pelecehan Murtiasih, ia adalah bekas pegawai biasa di kantor Pak Fikri yang kemudian menjadi tokoh penjaga/pembersih madrasah tempat kerja Ustadz Mamat.

Ke-empat lelaki setengah baya itu bercakap-cakap mengenai pelbagai soal ringan, dan semakin malam berlarut maka mereka minum bandrék bajigur dicampur dengan air kelapa arén simpanan Pak Jamal. Air kelapa arén yang disimpan lama di tempat dingin itu tentu saja mengalami proses kimia dan sebagian berubah menjadi alkohol semacam minuman tuak. Dengan pengaruh minuman itu maka lidah keempat lelaki itu menjadi semakin ‘loncér’ dan percakapan mereka akhirnya sering menyeleweng dan menjurus secara tak langsung ke persoalan wanita, karena istri Pak Fikri telah meninggal setahun sebelumnya akibat penyakit ginjal menahun ditambah pula sakit kencing manis parah sejak remaja. Mereka rupanya menanyakan apakah Pak Fikri tidak berniat untuk menikah kembali, dan pembicaraan itu tanpa disadari beralih ke arah istri keluarga Ustadz Mamat.

Pak Sobri yang telah menjadi pejantan ahli penakluk Aida secara iseng menanyakan apakah Pak Fikri mengenal adik perempuan Aida yang bernama Farah. Pak Sobri hanya pernah melihat foto Farah di rumahnya Ustadz Mamat, namun dia belum pernah bertemu langsung dengan Farah. Tentu saja Pak Sobri tak tahu bahwa Farah telah menjadi korban Pak Burhan, dan tanpa curiga melanjutkan pujiannya terhadap kecantikan Farah.

Pak Fikri pernah selintas melihat Farah beberapa tahun lalu ketika mengajukan permohonan KTP baru, dan memang harus diakui bahwa gadis remaja berjilbab itu memang sangat cantik. Selama percakapan itu, Pak Burhan hanya tersenyum dan mendengarkan saja, namun ketika dirasakannya saat yang baik telah muncul barulah dengan sangat bangga ia menceritakan pengalamannya ketika berhasil menggauli Farah.

Rupanya Pak Sobri tak mau kalah mendengar hangatnya pelecehan Farah, maka ia pun akhirnya menceritakan bagaimana Aida terjebak siasatnya dan berhasil digarapnya tanpa setahu suaminya.

Ke-empat lelaki itu rupanya semakin lama semakin asyik dengan mengunggulkan diri sendiri dalam pergaulan bersama perempuan, mereka membual ‘kemampuan’ masing-masing dalam menaklukkan mangsanya.

Di luar kemauan mereka, iblis pun rupanya ikut mendengarkan serta mulai menyusun rencana berikutnya untuk menjebak menjerumuskan Ustadz Mamat, Aida istrinya, serta tiga adik perempuannya yang terkenal sangat alim shalihah.

Pak Jamal yang mengurus madrasah wanita mulai ‘menghasut’ dengan menceritakan betapa banyaknya gadis ABG desa yang ayu, manis dan lugu sehingga tak sukar untuk dijebak dan dijadikan mangsa untuk para lelaki setengah baya yang gemar daun muda.

Timbullah rencana Pak Sobri dan Pak Burhan untuk bersama mengumpulkan dana membangun madrasah khusus untuk wanita muda di desa tak jauh dari situ, dan Mamat akan dijadikan sebagai pemimpin ‘boneka’ disitu. Dengan ‘rahasia’ perbuatan cabulnya belum lama ini dengan muridnya Murtiasih, dimana rahasia itu berada di tangan Pak Jamal, Irah dan Ikah, maka Ustadz Mamat pasti tak mungkin menolak kedudukan yang ditawarkan.

Namun ke-empat lelaki yang mengatur siasat itu tentu saja mempunyai rencana maksiat lain terhadap Aida, Farah dan kedua adik perempuannya yang masih gadis murni, disertai Rofikah, Sumirah, mungkin pula beberapa ABG desa yang naif dan akan mudah dijebak!

Menjelang pagi mereka pulang dengan benak penuh rencana mesum!

Di desa Jamblang yang akan dijadikan ‘markas’ besar pelbagai perbuatan maksiat mereka di masa depan memang kebetulan ada sebuah gedung tua yang sudah lama tak dipakai. Puluhan tahun lalu gedung itu didirikan oleh Kompeni di zaman penjajahan Belanda sebagai pos penjagaan. Kemudian dipakai oleh penguasa Orde Lama dan Orde Baru untuk gudang, dan sejak hampir sepuluh tahun ini kosong terlantar. Dasar dan pondasinya tetap bagus sebagaimana umumnya bangunan zaman dulu, hanya dinding dan atapnya yang perlu direnovasi. Untuk itulah, ke-empat lelaki yang mempunyai rencana tak senonoh itu segera mengumpulkan anak buah dan pekerja harian di desa untuk melakukan perbaikan, sehingga hanya dalam waktu tiga bulan setengah semuanya telah diperbaharui dan siap untuk dipakai.

Ustadz Mamat pun kini telah diberikan ‘kedudukan’ baru yaitu sebagai pemimpin madrasah baru – dan dalam waktu tak terlalu lama pendaftaran para murid untuk tahun pelajaran baru telah dibuka, dan tentu saja Ustadz Mamat juga mempunyai peranan penting dalam penerimaan itu, sehingga sejak dari awal mula telah dapat dipilih murid baru mana yang lugu ayu dan bahenol…!!

Di bawah ini adalah kelanjutan kisah mereka yang semakin dalam terjerumus godaan iblis

Peristiwa yang dialami Murtiasih menyebabkannya sangat schock, prestasinya menurun dan sangat sukar baginya untuk konsentrasi dalam belajar. Aib semacam itu tak mungkin diceritakannya kepada siapapun, sehingga tanpa disadari, Murtiasih semakin menyendiri, menjauhi kawan dan rekan yang sebelumnya banyak bergaul dengannya. Semua bertanya-tanya namun Murtiasih menghindar tak mau memberikan jawaban, dan semua itu amat diperhatikan oleh Rofikah dan Sumirah.

Mereka dengan sangat cerdik dan menggunakan pelbagai akal bulus tak henti-hentinya selalu berusaha untuk mendekati serta menghibur Murtiasih, selain itu mereka yang semakin ‘dekat’ dengan ustadz Mamat, menganjurkan agar Murtiasih tetap diberikan penilaian yang cukup bagus. Ustadz Mamat yang telah terjerumus dan terlanjur berada di bawah pengaruh ancaman kedua muridnya itu tak dapat mengelak dan terpaksa menurut kemauan Ikah dan Irah.

Tentu saja kedua kaki tangan iblis itu tidak begitu saja mendekati dan menghibur Murtiasih, mereka pun baik secara langsung maupun tak langsung mengancam untuk membuka semua rahasia adegan mesum antara Murtiasih dan Ustadz Mamat yang mereka saksikan bersama dengan saksi ketiga yaitu Pak Jamal.

Setelah menghadiri malam silaturrahmi lepas lebaran itu, Pak Jamal menjadi semakin sering berhubungan dengan Pak Fikri yang menduda, tak jemu dan bosan-bosannya menceritakan betapa hangat pengalamannya dengan Murtiasih. Tentu saja sebagai pria menduda telah cukup lama tidak menikmati tubuh wanita, menjadi terbangun pula rasa ingin tahu Pak Fikri!

Pak Jamal sebagai pejantan kampung yang sangat vital perannya, merencanakan untuk menjebak dan mempersembahkan Murtiasih kepada Pak Fikri. Sementara itu ia pun menghasut Ustadz Mamat untuk secara bergantian menjarah Rofikah dan Sumirah, walaupun usaha kedua siswi genit ini untuk menarik perhatian Ustadz Mamat selama ini belum berhasil. Jadi, justru Ustadz Mamat yang akan mengambil alih jalan cerita menggarap kedua siswi genit ini. Kini hanya tinggal dicari waktu dan tempat yang cocok sekaligus menguntungkan.

Setelah upacara pembukaan madrasah baru, direncanakan untuk para pengunjung sedikit menyumbangkan dana. Dalam kesempatan itu tiga siswi diberikan tugas untuk menjaga kotak pengumpulan uang, dan setelah semua tamu pulang maka mereka akan ditugaskan menghitung uang dana yang masuk. Tak perlu diragukan lagi bahwa Rofikah, Sumirah dan tentu saja Murtiasih yang akan diberikan tugas itu!

Di saat akhir pengumpulan uang serta penghitungan dana masuk, dengan sembunyi-sembunyi Pak Jamal mencampurkan obat tidur dan perangsang ke dalam minuman segar mereka. Ketiga siswi calon korban itu diperhitungkan tanpa banyak perlawanan pasti akan dapat ‘digusur’ ke dalam mobil yang dikendarai oleh Pak Fikri untuk dibawa ke rumahnya yang letaknya cukup terpencil di atas bukit.

Pak Fikri akan mengatur agar rumahnya kosong, semua pembantunya di hari itu diberikan libur serta uang jajan sehingga tak ada seorang pun yang akan mengganggu rencana mesum mereka. Ustadz Mamat akan ikut di dalam mobil itu untuk mencegah agar ketiga siswi tersebut tak melarikan diri dengan misalnya melompat keluar dari mobil di tengah perjalanan. Pak Jamal akan ikut ‘mengawal’ dengan naik motor di belakang mobil sehingga seandainya ada yang lolos dari penjagaan Ustadz Mamat dan keluar dari mobil, maka segera akan dibekuk untuk dipaksakan masuk mobil kembali.

***

Tiga Bulan Kemudian…

Acara pembukaan madarasah dilaksanakan di hari Jum’at, tepat di tengah hari setelah sholat Jum’at. Banyak pemuka desa serta penduduk sekitarnya, terutama orang tua yang mempunyai minat memasukkan anak remaja mereka kesitu, datang serta memberikan sumbangan yang diharapkan.

Setelah upacara pengguntingan pita, peninjauan ruang-ruang kelas, administrasi, asrama dan sebagainya, menyusul acara makan kecil snack seadanya. Kemudian sebagaimana umumnya, disediakan waktu untuk para tokoh daerah memberikan sedikit ceramah serta penerangan rencana pendidikan yang akan diberikan. Sebagai acara penutup, sebagaimana di awal pembukaan diadakan doa bersama, sesudah itu mana para tamu berangsur-angsur pulang dan meninggalkan gedung baru tersebut.

Menjelang jam empat petang, tinggal Pak Fikri serta ketiga siswi yang masih berada di sana guna menghitung uang sumbangan yang masuk. Rofikah, Sumirah dan Murtiasih merasa pusing dan pandangan mata mereka semakin kabur, akhirnya tanpa disadari ketiganya meletakkan kepala mereka di atas meja tempat mereka menghitung uang itu…

***

Lima Puluh Menit Kemudian….

Rumah kediaman Pak Fikri mempunyai pelbagai ruangan cukup besar untuk ukuran desa : ruangan tempat menerima tamu, ruangan makan menyambung dengan dapur, tiga ruangan kamar tidur yang luas dan sebuah agak kecil hanya dipakai untuk menyimpan barang. Selain itu kamar mandi dan toilet bagi sang penghuni dan di belakang juga sama hanya untuk para pembantu.

Menurut rencana Pak Jamal, sebetulnya Murtiasih yang akan ‘dipersembahkan’ kepada Pak Fikri, namun agaknya Pak Fikri yang telah cukup lama tak menikmati tubuh wanita justru mendambakan peranan sebagai lelaki yang merenggut kegadisan dari salah satu siswi genit itu. Pilihannya jatuh kepada Rofikah yang telah sering diliriknya sejak upacara di gedung madrasah baru siang tadi.

Pak Jamal yang merupakan ‘otak’ dari peristiwa mesum petang ini menanyakan kepada Ustadz Mamat apakah ia keberatan untuk memulai sex-party itu dengan Murtiasih, murid kesayangannya.

Ternyata Ustadz Mamat tetap mendambakan Murtiasih meskipun telah direnggut kegadisannya dan digaulinya beberapa kali.

Oleh karena itu Pak Jamal akhirnya merasa senang juga karena sebagai pegawai rendahan akan dapat menggauli Sumirah yang diharapkannya masih utuh kegadisannya.

Ketiga lelaki itu telah membagi jatah masing-masing dan setelah sampai di dalam rumah, mereka menggendong ketiga calon mangsa yang masih setengah sadar itu ke kamar tidur yang diatur dan dibagi oleh Pak Fikri sebagai tuan rumah.

***

Adegan di Kamar Tidur 1   :   Hilangnya Kegadisan Rofikah  

Sebagaimana pada umumnya kodrat alam yang berlaku : anjing yang selalu menyalak jarang akan menggigit, atau seseorang yang banyak bicara dan membualkan diri umumnya adalah pengecut.

Demikian pula dengan Rofikah yang sehari-hari di madrasah berkelakuan genit, banyak bicara serta sering melirik ke arah para lelaki muda atau lansia yang iseng bersiul-siul ke arahnya disaat berjalan. Jika ia melintas di tempat banyak lelaki nganggur duduk di tepi jalan atau warung kopi, maka sengaja cara jalannya dibuat makin melenggok sehingga semakin menarik perhatian para lelaki nganggur. Lenggang dan goyang pinggulnya jelas terlihat lebih berputar menggiurkan, walaupun tertutup dengan sarung panjang. Bulatan pantatnya yang montok menonjol bagaikan mengundang tangan lelaki menjamah, bahkan meremas dan mencubitnya, Rofikah senang dikagumi lelaki.

Namun kini ia telah berada berduaan saja dengan lelaki setengah baya yang dikenalnya sebagai bapak Fikri. Lelaki berusia pertengahan lima puluhan itu bahkan lebih tua sedikit dari ayahnya sendiri, namun terlihat masih cukup gagah. Badannya sangat tegap, berkulit hitam, wajah sedikit kaku dan bengis, mata menatap tajam, hidung lebar agak pesek, bibirnya tebal terhiasi dengan kumis di atasnya. Lelaki yang bernama Pak Fikri dan kini dikenal sebagai sponsor utama dan pembangun madrasah baru itu, telah duduk di sampingnya dan mulai berusaha merayunya.

Rofikah – atau biasa panggilan sehari-harinya Ikah – telah terbangun dari pengaruh obat tidur yang dicampur di dalam minuman és alpukat tadi siang. Kini Ikah berusaha menyadari apa dan dimana ia berada. Dalam posisi setengah duduk Ikah melihat bahwa ia tidak lagi berada di ruangan madrasah, melainkan di sebuah kamar tidur. Rasa takut mulai menyelinap ketika disadarinya bahwa ia tengah duduk di sebuah ranjang yang cukup besar, ditopang bantal kepala besar di punggungnya.

Jilbab yang biasa dipakainya telah turun ke bawah, tak lagi menutupi rambutnya yang kini tergerai bebas ke belakang kepala dan pundaknya. Baju kurung yang dikenakannya telah semrawut tak teratur; bagian dada depan agak terbuka sehingga kulit dadanya yang putih terlihat oleh siapapun di hadapannya. Selain itu sarung yang biasa menutup hingga mata kaki di bawah betis, kini tersingkap ke atas sehingga bukan hanya betis dan lututnya saja yang kelihatan, namun sebagian pahanya yang mulus juga terpampang jelas.

Secara refleks Ikah menarik sarungnya ke bawah paha, disambut dengan seringai lebar mesum oleh Pak Fikri. Ikah menggoyang-goyangkan kepalanya sambil mengucek-ucek matanya seolah tak percaya, namun semuanya bukanlah mimpi melainkan kenyataan yang sebenarnya. Walaupun rasa letih dan ngantuk terpudar dan Ikah mulai menggigil karena ngeri dan takut berada berduaan di kamar tidur dengan lelaki asing, namun ada pula rasa aneh dan hangat mulai menjalari tubuhnya. Tentu saja Ikah tidak menyadari bahwa minuman segar es alpukat tadi selain diberi obat tidur, namun juga dicampuri dengan obat perangsang, yang kini justru mulai menunjukkan pengaruhnya di tubuh Ikah sebagai wanita muda.

“Saya ada dimana, Pak? Tolong, saya mau balik ke madrasah. Saya mau pulang!!” Ikah beringsut menjauh ketika Pak Fikri menggeserkan tubuhnya mendekat dan hampir menyentuhnya.

“Tak usah takut, Neng, bapak tadi senang ngeliat si Neng tidur nyenyak. Sekarang udah bangun dan segar kan? Bapak cuma mau menyenangkan, Neng. Ntar dianterin pulang, bapak janji nih,” Fikri semakin mendekatkan wajahnya ke muka Ikah sehingga tercium bau rokok kretek dari napas di mulutnya.

“Enggak mau ah, Pak. Saya mau pulang, tak baik kita berdua di kamar. Apa nanti kata orang? Apalagi nanti digunjingkan orang, bapak kan sudah ada keluarga,” Ikah berusaha menekan perasaan aneh yang seolah membuatnya gelisah dan juga ada gelora panas di pipi serta bagian-bagian vital di tubuhnya.

“Jangan takut, Neng, bapak cuma mau menyenangkan neng sebagai rasa terima kasih telah bantuin di madrasah tadi. Bapak tak akan menyakiti, cuma mau ngelonin neng sebentar supaya anget,” Fikri semakin melekatkan wajahnya sambil menyentuh lalu mengambil tangan Ikah di genggamannya.

“Udah dong, Pak, Ikah belon pernah begini. Jangan, Pak, engga baik. Lepasin dong, saya janji enggak bilang siapapun, asal bapak lepasin dan pulangin saya,” suara Ikah makin gemetar sambil berusaha menarik tangannya, namun Pak Fikri justru semakin menarik tubuh Ikah ke dalam pelukannya.

“Eenngmmpppffh,” hanya itu yang keluar dari mulut Ikah ketika Pak Fikri menyergap bibirnya sambil langsung melumat dan menciuminya dengan rakus sehingga ia jadi gelagapan. Selama ini kelakuan Ikah sering genit tidak sesuai dengan siswi madrasah, namun ia belum pernah intim dengan lelaki.

Kini – tanpa direncanakannya sendiri seperti yang pernah dilakukannya ketika menjebak Murtiasih – dirinya sendiri masuk ke dalam jebakan dan pelukan seorang lelaki seusia ayahnya. Seorang pria yang telah lama ‘puasa’ setelah meninggalnya sang istri kini terbangun nafsu birahinya! Betapa bahagianya Pak Fikri dapat mendekap tubuh gadis muda yang hangat dan sintal itu, tubuh yang meronta dan menggeliat tanpa hasil malah semakin memacu gairahnya. Membikin kemaluannya jadi semakin menegang ingin keluar!

Ikah menggeliat dan berusaha melepaskan diri ketika badannya yang telah setengah duduk dipaksa untuk kembali rebah terlentang. Rasa hangat dan gatal menyelubunginya ketika Pak Fikri menekan serta menindihnya di kasur, semua kancing dan peniti kebaya serta sarung yang dipakainya mulai berantakan ditarik secara kasar oleh lelaki yang bagaikan kesetanan itu.

“Cupp, cupp… diem, diem… sini sama bapak dikasih rasa anget, bapak sebentar lagi mau nyusu boleh ya? Percuma ngelawan, Neng. Nikmati aja, pasti kita sama-sama senang. Duuuh… nih leher enak dicupangin,” ucap Pak Fikri bagaikan singa sedang mencengkeram mangsanya.

“Eeemmmmh, sssshhhh, aaaaah, lepasiiiin dong! Jangaaan, Paak…” Ikah berusaha mengembalikan akal sehatnya, namun tubuhnya sudah terlanjur dimasuki obat perangsang dan kini semakin jelas terbuka karena sebagian besar busananya direnggut dan ditarik terlepas oleh Pak Fikri. Semakin rakus si lelaki setengah baya itu menekan Ikah sambil mengeluarkan buah dada si gadis dari BH-nya. Bukit kembar Ikah kini terpampang penuh kebanggaan ketika Pak Fikri meremas serta memilin putingnya.

“Auuuuw, aduuuuh! Jangan kasar gitu dong, Pak! Ngiluuu, sakiit, Pak! Pelan-pelan dong!!” Ikah tanpa sadar menengadahkan kepalanya di saat merasakan geli ngilu, apalagi saat putingnya yang memang sangat menantang itu masuk ke mulut Pak Fikri. Benda mungil itu disedot-sedot lalu digigit bergantian. Ikah hanya dapat mendesah dan tanpa disadari kedua tangannya justru mengelus dan mengusap-usap kepala Pak Fikri.

Setelah puas meninggalkan cupangan merah di bukit kembar putih yang menghiasi dada Ikah, kini Pak Fikri semakin menurunkan kegiatan tangannya ke bawah. Ia menyelusup ke arah pusar, menggoda lekukan yang masih murni belum pernah dijamah, semakin mengembara ke bawah mendekati batas yang masih tertutup celana dalam tipis berwarna putih.

“Aaaiiih, udaaaah, Paaak! Cukuuup, jangaaaan diterusiin! Enggaaaak mau yang itu, Pak! Jangaan, Ikah belum pernah gituan, Pak! Lepasin dong, tolong, Pak! Ikah enggak akan ngadu ke siapa pun, ooooh!!” Ikah merasakan dirinya mulai hanyut terbawa arus birahi. Namun sebagaimana umumnya, segenit apapun seorang gadis desa dan bahkan siswi madrasah, namun disadarinya kini ia akan kehilangan milik satu-satunya yang paling berharga, akal sehat Ikah kembali berontak menolak kenyataan ini.

“Udah terlanjur, Neng, ikutin aja. Kalo ngelawan malahan nanti tambah sakit. Nyerah aja ama bapak, ntar pasti pengen minta lagi. Ayo buka kakinya, dijilatin dulu mau ya?” kata Pak Fikri di tengah gejolak nafsunya.

Tanpa menunggu jawaban atau protes dari korbannya, Pak Fikri kembali mencakup mulut Ikah dengan ciuman ganas. Lidah kasar dan besar menerobos membelah bibir mangsanya yang agak merekah, menjarah masuk menyapu langit-langit mulut Ikah. Kemudian Pak Fikri menarik nafas sangat dalam dan panjang seolah-olah ia ingin menyedot habis semua daya perlawanan gadis yang telah dikuasainya ini.

Selain itu kedua tangan Pak Fikri tak henti-hentinya menarik dan melepaskan satu persatu lapisan pakaian pelindung di tubuh Ikah, dan dalam waktu hanya sepuluh menit kemudian, Ikah telah menggeletak dengan hanya celana dalam menutupi auratnya yang intim.

Pak Fikri merasakan bahwa perlawanan Ikah semakin berkurang. Dari belahan bibir gadis itu kini terdengar keluhan dan desahan putus asa, kedua tangannya kini tak lagi menegang berusaha mencakar Pak Fikri, hanya kedua betis jenjang dan paha mulus bergantian menekuk merentang gelisah. Terutama saat Pak Fikri menarik celana dalam Ikah ke bawah sehingga kini terlihat bukit Venus menantang dilindungi bulu-bulu halus.

Pak Fikri semakin bersemangat meremasi bergantian buah dada Ikah dengan tangan kirinya, sementara tubuhnya semakin merosot ke bawah. Mulutnya yang puas menyedot dan menggigit-gigit puting Ikah yang mencuat, semakin turun menjilati pusar, menyepongi perut bawah si gadis hingga akhirnya mencapai lembaran pertama rambut halus pelindung celah nirwana yang akan segera ditembusnya.

“Hmmmmh, memeknya bagus amat, Neng. Mana kecil lagi, masih sempit gini. Bapak jilatin supaya licin mau ya? Pasti neng suka, hmmmmhh, cuppp, srrrrt, cuupp, aaaah! Enak enggak, Neng?” Pak Fikri mulai menciumi dan menjilati vagina Ikah, menyebabkannya semakin gelisah kelojotan.

“Aiiiih, Paaaaak!! Geliiiii, oooohh!! Paak, udaaaah, sssshhhh! Geliiiii, Pak, Ikah enggak tahaan! Sssssh, ooooh, Paaak, jangan diterusin! Aaaaaaiiihh, stop, udaaah, Ikah mau pipiiisss, lepasin! Aaauw,”

Ikah berusaha menggelinjangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan untuk menahan segala macam rasa geli namun nikmat, terutama saat Pak Fikri selain menjilati memeknya juga menarik mencubit memilin putingnya.

“Asoooy… wuuuih, nih memek merah muda dalemnya. Tuh kelihatan lobang pipisnya, bapak pengen lihat gimana tombol listriknya. Pasti neng ketagihan kalo dijilat seperti kena setrum listrik, iyaaah mau coba ngumpet tapi bapak udah nemuin nih, cupp cupp, ssshhhh, srrrrhh, enak ya dijilat?” pejantan yang kemasukan setan ini rupanya telah menemukan kelentit yang dicarinya.

“Aaaaaaah, ooooohhhh, Ikaah lagi diapain? Ooooohh, auuuuww, engggga mauuu! Jangaaan, Paaak, Ikaaah bener-bener mau pipiiiiiiss, aaauuuuww, aaaaaaahhhh!” dengan suara melengking, akhirnya Ikah mengejang. Tubuhnya melengkung bagaikan busur, tangannya menarik sprei yang dibawanya ke mulut dan digigit sekuatnya sehingga sebagian jeritan sebagai tanda orgasme pertama teredam.

Namun Pak Fikri terus melanjutkan rangsangannya, kelentit Ikah berada diantara jepitan bibirnya yang tebal, dikecup dan digigit dengan mesra namun penuh kegemasan, dan kumisnya yang baplang itu mulai basah kuyup dengan air mazi pelicin yang keluar dari dinding vagina Ikah. Tanpa rasa jijik air pelumas itu dijilat disedotnya, nafsunya sudah naik ke ubun-ubun, kemaluannya telah menegang mengacung mengangguk-angguk. Dan setelah beberapa menit dirasakannya Ikah telah berkurang ketegangan tubuhnya sebagai tanda orgasmenya mulai berakhir, maka tibalah waktunya untuk Pak Fikri mengambil hadiah utama yang diidam-idamkannya, yaitu merenggut kehormatan sang gadis.

Kedua paha dan betis Ikah dikuakkan dan diletakkannya di atas bahunya, bantal kepala agak keras diletakkannya di bawah pinggul Ikah. Dicium dan dijilatinya lagi celah kenikmatan yang telah licin itu, menyebabkan Ikah dalam keadaan setengah sadar melenguh. Pak Fikri telah mengarahkan lembing daging kebanggaannya yang penuh urat dan berwarna coklat hitam mengkilat itu ke arah belahan yang sedikit merekah – perlahan-lahan dimajukannya kepala penisnya, diretasnya kedua bibir kemaluan Ikah, dirasakannya betapa hangat kepala jamurnya terjepit disitu, lalu Pak Fikri menekan…

“Aduuuuh, aaauuuuuww, periiiih, saakiiiit, hentikaaaaan, jangaaaan!! Toloooong Paak, sakiiiiiiit, oouuuuuw!! Aaaampuuuun, Paak, udaaah, sakiiiiiit, aaauuuuuw!!”

Ikah mendadak melolong menjerit-jerit bagaikan hewan disembelih ketika memeknya yang masih sempit itu mulai dibelah oleh penis pria seusia ayahnya. Kedua tangannya membentuk kepalan yang dipukulkannya ke dada Pak Fikri, kemudian kukunya digunakannya untuk mencakar bahu serta lengan lelaki setengah baya yang sedang menindihnya, namun Pak Fikri tetap perlahan-lahan melanjutkan mendorong menekan penisnya.

“Tahaaan dikiiit, Neng, rileks aja. Sssshhhh, rileks, Neng. Jangan dilawan, malahan makin sakit. Dikiit lagi masuk semuanya, Neng, oooh… sempitnya! Uuuuuh, emang bener si neng masih perawan,” desah Pak Fikri menekan kejantanannya semakin lama semakin dalam ke memek Ikah. Betapa sedapnya dan bangganya sebagai pria setengah uzur berhasil menaklukkan gadis muda belia nan montok ini.

Bahu dan kedua lengannya telah penuh dengan dengan cakaran Ikah yang berusaha mengeser-geserkan pinggulnya ke kiri-kanan seolah menghindarkan benda tumpul yang sedang menerobos memeknya, namun semua itu tak diperdulikannya karena Pak Fikri merasakan penisnya kini agak tertahan oleh sesuatu.

Ia menyeringai penuh kepuasan karena dirasakannya bahwa kepala pentungan dagingnya mulai menyentuh lapisan selaput gadis mangsanya. Uuuuh, betapa hebatnya aku ini, sudah hampir mencapai kepala enam akan merenggut kehormatan anak gadis madrasah, demikian di benak Fikri.

Sangat berbeda apa yang dirasakan Ikah saat itu; selain perih karena celah surgawinya dipaksakan melebar untuk menerima penis lelaki pertama kalinya, kini dirasakannya di dalam selangkangannya ngilu dan bagaikan ada benda tajam akan menyayatnya. Ikah kembali merintih sambil meronta-ronta.

Lelaki setengah baya dan cukup lama menduda itu tentu saja kini ingin menikmati bukan saja saat penisnya menembus selaput tipis di kemaluan Ikah, namun juga ekspresi seorang gadis kehilangan milik satu-satunya – sebuah panorama yang akan melekat di benaknya yang lansia namun mesum itu.

Dicekalnya kuat-kuat kedua pergelangan tangan Ikah yang langsing di samping kepalanya sehingga tak dapat dipakai mencakar lagi, ditatapnya wajah korbannya yang menggeleng-geleng ke kiri-kanan seolah tetap menolak apa yang tak dapat dihindarkan lagi. Mulut Ikah yang merah muda basah itu setengah terbuka agak gemetar, lubang hidungnya kembang kempis, keluhan dan rintihan lemah Ikah kini silih berganti dengan dengusan dan suara geraman dari si lelaki pejantan yang amat buas.

“Hmmmmggghh, sssssshgg, bapak tekan lagi nih! Eeeeemmmmfffh, bapak mesti kerja keras nembus pertahanan si neng! Bageeuuur eeeeuuuuyyy, alot juga si neng benteng pertahanannya, bapak maju lagi… aaaaaah, kerasa legaan dikit sekarang! Wah, mentok nih, hhhhhhssssh!” dengus Pak Fikri.

“Aaauuuuww, aduuuuh, aaauuuuuuww, emmpppfffffh!!” jeritan memilukan Ikah teredam kembali oleh ciuman bertubi-tubi dari Pak Fikri yang sangat terangsang melihat betapa ayu memelasnya wajah siswi genit ini ketika kehilangan kegadisannya. Keduanya kini beberapa saat tidak bergerak : Rofikah bagaikan kelinci lemah telah berada dalam cengkraman singa ganas Pak Fikri.

Perlahan-lahan Pak Fikri melepaskan ciumannya, kedua nadi Ikah tetap dicekal ditekannya ke kasur, diberikannya waktu beberapa saat bagi Ikah untuk membiasakan memeknya dibelah oleh benda asing. Setelah itu mulailah Pak Fikri menggerakkan pinggulnya maju mundur. Terkadang amat halus lembut, terkadang agak terputar, lalu diganti dengan sodokan ke pelbagai arah : ke atas, ke samping, ke bawah, sejenak kemudian diganti lagi dengan sodokan dan hunjaman keras brutal menghantam mulut rahim Ikah.

“Wuuuih, enak tenan si neng. Barangnya licin tapi tetep rapet, barang bapak kerasa dipijit-pijit. Pinteer amat neng bahenol. Mulai kerasa enak ya, Neng? Ayo sekarang ngaku sama bapak,” Pak Fikri memuji.

Ikah tak sanggup menjawab, badannya bagai terbawa arus gelombang, selangkangannya dirasakan geli, ngilu, hangat, gatal, nyeri sakit, namun setiap kali dihantam juga ada kenikmatannya sendiri.

Perlawanannya telah sirna, Ikah mulai terbawa dan tenggelam hawa nafsunya sendiri, wajahnya kini menengadah ke atas, mulutnya terbuka mengeluarkan desahan halus wanita muda, rintihannya yang memilukan telah berangsur berubah menjadi dengusan nafas mencerminkan nafsu birahi.

Pak Fikri rupanya cukup kuat dan bertahan sehingga hampir setengah jam ia memompa Ikah, tapi akhirnya mulai dirasakannya gejolak air lahar mendesak keluar dari biji pelirnya. Semakin seru dan cepat dipompanya tubuh montok Ikah, dihantamnya dan dijarahnya dari segala macam arah.

“Aaah, uuuuh, ooooh, aaaah, hhhuuuuhhh, ssssshhhh, bapak udah hampir nembak nih, Neng, banjir di dalem boleh enggak, Neng?” Pak Fikri mendengus-dengus di telinga Ikah sambil menciumi mengecup lehernya yang putih, yang kini telah penuh bercak dan cupangan merah.

“Jangaaaan, Pak, Ikah enggggak mau. Jangan di dalam, Pak, ampuuuun! Ikah nanti hamil, kasihani dong! Aauuuuwww, aaaah, aauuuuw! Tolooong, Pak, Ikah jangan dihamili,” suara Ikah panik terisak-isak karena diingatnya bahwa kemungkinan besar dirinya sedang masa subur.

“Abis gimana dong? Bapak udah mau banjir nih,” Pak Fikri terengah-engah sambil terus memompa.

“Udaaaah dong, Pak. Lepasin Ikah. Jangan di dalem, Pak, oooh… tolooong!!” Ikah semakin tersedu-sedu.

“Iyaa, bapak bisa tahan bentaran lagi ngejosnya. Kalo enggak boleh di dalem, bapak mau nyemprot di tempat lain. Bapak mau banjir di mulut neng aja ya, sekalian neng bapak ajarin nyepong. Mau ya?” rupanya Pak Fikri memperoleh bisikan iblis lagi.

“Enggak mau. Ikah ogah gituan. Jijik, Pak, ooooh… jangan paksa Ikah, kasihani dong!” suara Ikah putus asa diselang-seling isak tangisnya.

“Ya udah kalo Ikah enggak mau, bapak terusin aja banjir di dalem, itung-itung nyebar bibit di perut neng,” Pak Fikri tersenyum lebar merasakan bahwa bagaimanapun akhirnya Ikah akan terpaksa mengalah.

Ikah tidak dapat menjawab lagi, badannya terguncang-guncang disodok oleh Pak Fikri tercampur dengan tangis sesenggukannya. Air mata mengalir membasahi kedua pipinya, namun adegan mengenaskan ini sama sekali tak menimbulkan kasihan pada Pak Fikri, karena semua akal sehatnya telah hilang dikuasai bujukan iblis.

Dirasakannya bahwa pertahanan Ikah sudah hancur berantakan, badannya yang elok montok kini lemas lunglai, dan Pak Fikri yakin meskipun mulutnya menolak namun Ikah pasti akan patuh jika harus memilih antara hamil atau menelan sperma. Perlahan-lahan Pak Fikri mencabut penisnya yang tetap gagah mengacung, terlihat mengkilat licin dilapisi oleh cairan vagina, disamping itu disana-sini tampah bercak-bercak darah di kepala jamurnya sampai ke batang dan rambut kemaluannya.

Pak Fikri merangkak ke atas, setengah duduk setengah berlutut di atas dada Ikah dan kini menyodorkan kemaluannya ke arah mulut Ikah. Karena Ikah melengos memalingkan mukanya, maka Pak Fikri yang merasakan denyutan di biji pelirnya semakin meningkat, segera memegang wajah mangsanya serta memencet hidung Ikah yang bangir. Hal ini tak diduga oleh Ikah yang berusaha menggelengkan kepalanya namun tanpa hasil, dan karena kehabisan nafas maka secara tidak sadar mulutnya membuka sedikit untuk menghirup udara.

Namun celah mulut yang terbuka itu terlalu kecil untuk diterobos rudal Pak Fikri. Oleh karena itu pria setengah baya cabul itu secara sadis mencubit dan menarik puting buah dada Ikah. Tentu saja gadis malang yang telah sangat lelah itu menjerit kesakitan dan mulutnya tanpa disadari membuka sangat lebar, yang mana kesempatan itu tak dilewatkan oleh Pak Fikri dengan segera menerobos masuk secara brutal sehingga kepala jamurnya menyentuh langit-langit di kerongkongan Ikah. Mulutnya kini dipenuh dengan batang penis yang berlumuran air mazi sendiri.

Ikah merasa pengap dan dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada, dicakarnya paha Pak Fikri yang berada di kiri-kanan ketiaknya. Namun gerakan itu hanya berhasil beberapa detik karena Pak Fikri lagi-lagi merejang kedua nadinya di atas kepalanya sementara kepala penisnya memenuhi mulut Ikah.

Sedemikian penuhnya mulut Ikah dijejali kemaluan Pak Fikri sehingga siswi madrasah itu kini hanya dapat bernafas mendengus-dengus melalui kedua lubang hidungnya yang mungil kembang-kempis.

“Hmmmmmh, nih mulut memang diciptakan buat nyepongin bapak. Ayooooh buka yang lebaaaar! Iyaaaah begitu, pinternya… oooooh ngimpi apa bapak disepongin Ikah? Iyaaah jilaaaat, Neng, uuuih lobang kencing bapak dikitikin ujung lidah, ooooh bapak enggak tahan lagi mau meledak, aaaaaah!!”

Pak Fikri menekan penisnya sejauh mungkin ke langit-langit mulut mangsanya ketika gelombang demi gelombang sperma meluap dari tabungan biji pelirnya, memasuki lorong di batang penisnya dan menyembur masuk ke kerongkongan Ikah. Mati-matian Ikah menahan nafas dan berusaha melepehkan keluar cairan kental berbau khas laki-laki itu, sepat asin dan dirasakan amat memualkan perutnya. Namun karena besarnya batang penis memenuhi rongga mulutnya dan semburan sperma Pak Fikri begitu banyaknya dan menyemprot seolah tiada hentinya, maka tak ada jalan keluar lain bagi Ikah selain dengan penuh rasa muak menelan air benih Pak Fikri.

Selama satu dua menit simpanan air mazi Pak Fikri yang tersimpan sekian lama itu teguk demi teguk memasuki kerongkongan Ikah sebelum akhirnya penis Pak Fikri mulai mengecil dan akhirnya ditarik keluar oleh sang empunya.

Tanpa ada perlawanan sama sekali, Ikah membiarkan dirinya dalam keadaan telanjang bulat tetap dirangkul dan dipeluk oleh Pak Fikri. Diiringi senyum kepuasan, Pak Fikri membelai badan telanjang itu sambil berulang-ulang membisikkan keinginannya agar Ikah dengan sering selalu mau memenuhi keinginan nafsu sang duda, bahkan ditanyakannya apakah Ikah bersedia menjadi istrinya….

ANAK NAKAL : BUNDA

Namaku Doni. Aku anak nomor 2 dari tiga bersaudara. Kami adalah keluarga yang alim. Ayahku sendiri seorang yang taat beragama. Kakakku seorang aktivis di kampus. Kami benar-benar keluarga yang religius. Aku? Aku sebenarnya kalau dilihat dari luar religius, tapi dibalik itu aku cuma anak biasa saja. Ndak sebegitunya seperti kakak perempuanku.

Kakakku bernama Kak Vidia. Adikku bernama Nuraini. Ibuku? Oh ibuku ini seorang ustadzah. Aku sendiri dikatakan anak nakal oleh ibuku, aku menyebutnya bunda. Ayahku sering menasehatiku untuk tidak bergaul dengan anak-anak geng. Tapi apa boleh dikata, dari sinilah aku banyak mengenal dunia. Memang sih, aku bergaul dengan mereka, tapi tidak deh untuk berbuat yang aneh-aneh. Walaupun aku bergaul dengan mereka tapi aku sadar koq norma-norma yang harus dijaga. Aku bahkan sangat protektif terhadap saudari-saudariku. Ada temenku yang naksir saja langsung aku hajar. Makanya sampai sekarang banyak orang yang takut untuk mendekati kakakku maupun adikku.

Menginjak kelas 2 SMA, keluarga kami berduka. Ayahku kecelakaan. Ketika pulang kantor beliau dihantam oleh truk. Ia berpesan kepadaku agar jadi anak yang baik di saat-saat terakhirnya. Kami semua bersedih. Terutama bunda. Ia selalu menyunggingkan senyumnya tapi tak bisa menyebunyikan raut wajahnya yang sembab. Otomatis setelah meninggalnya ayah, keluarga kami pun banyak berubah.

Rasanya sangat berdosa sekali aku kepada ayahku. Aku sampai sekarang belum bisa jadi anak yang baik. Namun aku berusaha untuk berubah, mulai kujauhi teman-teman gengku. Aku pun mulai membantu bunda untuk bekerja, karena warisan ayah tak bisa untuk membiayai kami semuanya ke depan. Setelah aku pulang sekolah, aku selalu menjaga toko kami. Lumayanlah bisa mencukupi kebutuhan kami. Dari pagi sebelum sekolah aku sudah harus pergi ke grosir, membeli sembako, kemudian menyetok ke toko, setelah itu aku baru pergi sekolah. Pulangnya aku harus menjaga toko sampai sore. Begitulah, hampir tiap hari. Jadi tak ada kegiatan ekstrakurikuler yang aku ikuti.

Membiayai Kak Vidia kuliah, membiayai Nuraini sekolah, bukanlah hal yang mudah. Kak Vidia bahkan untuk uang sakunya sampai rela kerja sambilan. Namun perlahan-lahan kami pun bisa bernafas lega setelah toko kami mulai besar, walaupun begitu kami makin sibuk. Akhirnya kami pun memperkerjakan orang. Anak-anak lulusan SMK. Aku juga sudah kelas 3 SMA. Sebentar lagi lulus. Bingung mau kuliah ke mana. Apa ndak usah kuliah ya? Melihat bunda kelimpungan jaga toko mengakibatkan aku pun mengurungkan niatku kuliah.

Aku lulus dan adikku Nuraini masuk SMA. Dua tahun yang berat. Namun akhirnya toko kami sudah besar, berkat ide-ide yang kami pakai tiap hari akhirnya toko ini pun besar. Jarang ada toko sembako delivery order. Bahkan tidak sampai tiga tahun kami sudah ada waralaba. Bisa beli mobil, bisa renovasi rumah dan sebagainya. Kak Vidia pun sekarang jadi tidak bingung lagi kuliahnya. Ia sempat cuti 2 semester untuk membantu usaha kami.

Itulah profil keluarga kami. Tapi tahukah kalau di balik itu semua ada sesuatu hal yang sebenarnya menarik untuk diceritakan? Sebenarnya ini tak boleh diceritakan karena aib tersembunyi keluarga kami. Dan karena inilah hubunganku dengan kakakku, adikku dan ibuku jadi lebih akrab, bahkan aku dianggap sebagai kepala rumah tangga.

Ceritanya ini dimulai setelah 6 bulan ayah wafat. Aku saat itu benar-benar masih nakal. Menonton bokep sudah biasa bagiku. Bahkan sebenarnya, terkadang aku membayangkan begituan dengan bunda, maupun kak Vidia, atau bahkan terkadang juga dengan Nuraini. Iya, mereka semua pake jilbab, tapi hanya aku yang tahu bagaimana lekuk tubuh mereka, karena di rumah mereka membuka jilbabnya dan pakai pakaian biasa.

Awalnya aku benar-benar iseng sekali. Saat itu aku baru saja beli kamera pengintip. Bentuknya seperti sebuah gantungan kunci, berbentuk kotak kecil. Ketika ditekan tombol rahasianya, ia akan merekam selama kurang lebih 2 jam. Harganya cukup murah kalau dicari di internet, sekitar 500ribu. Aku menggantungkannya di anak kunci, sehingga ketika ke kamar mandi aku selalu mandi duluan, dan kemudian aku taruh di tempat yang bisa mengawasi semuanya. Jadi seluruh penghuni rumah, sama sekali tak curiga. Awalnya tak ada yang tahu, tapi nanti yang pertama kali tahu adalah Kak Vidia, tapi nanti aku ceritakan.

Aku meletakkan kunci itu di gantungan baju. Aku posisikan agar kameranya mengawasi seluruh ruangan kamar mandi. Yang pertama kali masuk setelah aku adalah bunda, kemudian Kak Vidia, lalu Nuraini. Setelah semuanya mandi, aku masuk ke kamar mandi untuk mengambil kamera pengintai. Aku kemudian ke kamar untuk menikmati hasilnya. Aku bisa mengetahui tubuh mulus mereka semua tanpa sehelai benang pun.

Misalnya bunda, rambutnya lurus, tubuhnya sangat terawat, langsing, dadanya besar, mungkin 34C, bahkan yang menarik beberapa minggu sekali bunda mencukur bulu kemaluannya. Kak Vidia juga begitu, kulitnya putih, rambutnya panjang, dadanya ndak begitu besar, 32B tapi putingnya yang bikin aku kaget, berwarna pink. Ini orang bule atau gimana? Tapi begitulah Kak
Vidia. Ia juga sama seperti bunda, mencukur bulu kemaluannya, bahkan halus seperti bayi. Terakhir Nuraini, jangan kira Nuraini cuma anak SMP, ia ini sangat dewasa. Dadanya besar banget, sama kayak bunda 34C. Masih SMP saja dadanya gedhe, gimana klo sudah SMA nanti? Ia pun sama, punya kebiasaan mencukur bulu kemaluan. Sepertinya cuma aku saja yang tidak. Tapi bolehlah ntar coba dicukur. Kayaknya lebih bersih.

Selama sebulan itu aku sering ngocok penisku di depan komputer sambil melihat adegan demi adegan di kamar mandi. Hal itu membuat aku terobsesi kepada mereka. Saking terobsesinya, aku kadang punya alasan untuk bisa menyentuh mereka, seperti mencium pipi adikku, mencium pipi bunda, terkadang juga memeluk Kak Vidia. Tapi mereka semua tak curiga. Dan satu-satunya yang membuatku kelewatan adalah memesan kloroform kepada salah seorang teman gengku. Aku pesan beberapa botol. Untuk stok pastinya. Pertama aku coba ke kucing tetangga. Ketika aku bekep pake sarung tangan yang ada kloroformnya, pingsan tuh kucing. Aku pun menghitung berapa kira-kira waktu yang dibutuhkan oleh kucing ini bisa sadar. Satu jam, dua jam, tiga jam. Lama sekali.

Siapa yang ingin aku coba pertama kali? Kak Vidia ndak mungkin, ia bakal kaget nanti kalau sudah tidak perawan ketika malam pertama dengan suaminya. Begitu juga Nuraini, bisa berabe aku nanti kalau dia melapor ke bunda memeknya perih. Jadi targetku adalah bunda.

***

Seperti biasa bunda menjaga toko waktu itu. Dan aku menyiapkan teh hangat untuk beliau. Aku berikan setetes kloroform di minumannya. Tujuanku sih agar ia pusing saja dan bisa aku suruh istirahat, baru kemudian aku bekap.

“Kamu ndak sekolah, Don?” tanya bunda.

“Tidak dulu bunda, mau bantu toko dulu,” jawabku.

“Lho, jangan. Ada bunda sama mbak Juni koq. Sekolah saja!” kata bunda. Mbak Juni adalah pegawai kami. Ia ada cerita untuk nanti. Ia janda, beranak satu, tapi masih muda. Usianya baru 21 tahun. Menikah muda. Bodynya masih singset.

“Tidak mengapa bunda, Doni udah ijin koq,” kataku.

“Baiklah, tapi cuma hari ini saja ya, jangan ulangi lagi,” katanya.

Bunda lalu meminum teh hangatnya. Aku pura-pura mencatat barang-barang di toko. Mbak Juni juga melakukan hal yang sama. Dan memindah-mindahkan karung beras. Kemudian datang seorang pembeli yang langsung dilayani oleh Mbak Juni.

Efek obat mulai terlihat. Bunda memegang kepalanya. Aku pura-pura peduli, “Kenapa, bunda?”

“Entahlah, bunda tiba-tiba pusing,” katanya.

“Capek mungkin, istirahat saja bunda,” kataku.

“Iya deh, aku istirahat sebentar. Mungkin nanti bisa baikan. Mbak Juni, tolong ya!” kata bunda.

“Iya, bunda,” kata Mbak Juni.

Bunda agak terhuyung-huyung, lalu beliau masuk kamar. Aku pun menyudahi pura-puraku, kemudian pura-pura ke kamarku, tapi sebenarnya menyusul beliau ke kamarnya. Aku beri waktu sekitar sepuluh menit, hingga kemudian terdengar nafas dengkurang halus bunda. Oh sudah tidur. Aku lalu beranikan diri masuk ke kamarnya. Bunda masih pakai jilbabnya, aku siapkan kloroform ke sarung tanganku, dosisnya seperti yang aku berikan ke kucing percobaan kemarin. Dan BLEP!!!

Bunda tak berontak, mungkin berontakannya tak berarti. Tangannya ingin menghalau tanganku tapi lemas. Matanya belum sempat terbuka dan ia pun sudah pingsan. Aku pun sangat senang, ini kemenangan.

Aku lalu kunci pintu kamar bunda. Biar ndak ada siapapun yang masuk. Jantungku berdebar-debar, antara senang, takut dan macem-macem rasanya. Aku duduk di sebelah bunda. Di pinggir ranjang itu aku lihat ujung rambut sampai ujung kakinya. Tanganku mulai bergerilya. Kuraba pipinya, bibirnya, aku buka sedikit, rahangnya aku turunkan hingga ia membuka mulutnya. Sesaat aku ingat ayah, tapi karena aku sudah bernafsu, rasa bersalahku pun aku tepis.

Aku pagut bibir bunda. Aku hisap lidahnya. Penisku mulai tegang, bunda benar-benar tak bereaksi sama sekali, bahkan sekarang bibirnya mulai basah. Wajah bunda sangat cantik, mungkin seperti Ira Wibowo. Bibirnya sangat lembut, tak puas aku menciumi bibir itu. Aku pun mulai meremas-remas dadanya walaupun masih tertutup gamis. Lalu tanganku mengarah ke selakangannya mengelus-elus tempat pribadinya.

Karena semakin bergairah, aku pun melepas celanaku sehingga bagian bawah tubuhku tak terbungkus sehelai benang pun. Penisku sudah mengacung tegang. Urat-uratnya mengindikasikan butuh dipuaskan. Aku arahkan jemari bunda untuk menyentuh penisku, Ohh… lemas aku. Lembut sekali jemari beliau. Aku tuntun tangannya untuk meremas telurnya, aku makin keenakan. Seandainya beliau bangun dan mau melakukannya kepadaku tentunya lebih nikmat lagi.

Aku kemudian naik ke ranjang. Aku berjongkok di depan wajahnya. Penisku aku gesek-gesekkan di pipi, hidung dan bibirnya yang agak terbuka itu. Aku sangat bergairah sekali. Selain itu juga takut ketahuan. Aku buka mulutnya, lalu kucoba masukkan kepala penisku, uhhhh….nikmat banget. Walaupun tak muat, aku buka mulutnya lagi, tangan kiriku mengangkat kepalanya dan tangan kananku membuka mulutnya lebih lebar, lalu kudorong penisku masuk.

Di dalam mulutnya penisku berkedut-kedut. Nikmat sekali. Aku makin bergairah melihatnya yang masih pakai kerudung. Kuambil ponsel dan aku abadikan ketika penisku masuk ke mulutnya. Kumaju-mundurkan penisku sampai mentok, walaupun giginya mengenai penisku rasanya nikmat sekali. Lucunya lidahnya bergoyang-goyang, entah ia mimpi apa, itu semakin membuatku terangsang. Pelan-pelan penisku menggesek rongga mulutnya, kemudian aku tarik keluar. Sekarang aku posisikan telurku di mulutnya. Karena punyaku sudah tercukur bersih aku bisa melihat semuanya. Seolah-olah bunda sedang menjilati telurku.

“Bunda, ohhh… nikmat banget,” racauku.

Kalau terus seperti ini, rasanya aku ingin muntahkan pejuku di wajahnya. Tapi aku tahan. “Tidak, bunda, Doni ingin merasakan ini, bolehkan?” aku meraba vaginanya.

Aku kemudian melepaskan gamis bunda, kancingnya aku buka semua, hingga ia hanya memakai bra dan CD. Aku turun ke bawah. Kuciumi seluruh tubuhnya, perutnya, pahanya, aku jilati semuanya sampai basah. Bahkan mungkin tak ada satupun yang terlewat. Aku lepas BH-nya. Ohh… dada yang dulu ketika kecil aku mengempeng, sekarang aku mengempeng lagi. Aku hisap teteknya, putingnya aku pilin-pilin, kupijiti gemas. Tapi aku tak ingin memberikan cupang di dadanya, nanti ia curiga. Belum saatnya. Ketiaknya yang bersih tanpa bulu pun aku hisap, kujilati. Semuanya aku jilati. Aku pun mencium bau yang aneh, ketika aku menghisapi jempol kakinya. Dan aku lihat CD-nya basah. Bunda terangsang?

“Bunda terangsang? Mau dimasukin bunda?” tanyaku.

Aku pun segera melepaskan CDnya, Dan kuikuti aku telanjang juga sekarang. Punyaku makin berkedut-kedut dan di lubang kencingnya muncul cairan bening. Aku melihat memek bundaku tersayang. Warnanya pink kecoklatan. Inikah tempatku keluar dulu? Betapa bersihnya, ada cairan keluar. Aku segera membuka pahanya, kepalaku mengarah ke sana, kujilati, kuhisap dan klitorisnya aku tekan-tekan dengan lidahku. Intinya lidahku menari-nari di sana seperti lidah ular, menjelajahi seluruh rongga vaginya. Setiap cairan yang keluar aku hisap, rasanya asin-asin bagaimana gitu.

Aku makin bergairah dan sepertinya bunda juga bergairah, ia sangat banjir, bahkan ketika aku colok-colok dengan lidahku, lebih dalam lagi kakinya bergetar. Ia mengeluh….dan mendesis, walaupun masih tidur dan tidak sadarkan diri tapi dia merasakannya. Mungkin ia bermimpi sedang begituan. Kepalanya yang masih memakai jilbab mendongak ke atas, Dan kemudian pantatnya diangkat, tubuhnya bergetar hebat, memeknya mengeluarkan cairan yang sangat banyak, menyemprot bibirku. Aku lalu duduk.

“Bunda orgasme?” tanyaku.

Tentu saja beliau tak menjawab. Sepertinya bunda sudah siap, aku posisikan penisku di ujung vaginanya. Kepala penisku sudah ingin masuk saja. Aku tak sabar, dan… BLESSS….!! Lancar banget, ohhhh… HANGATT…. !! ini ya rasanya memek wanita itu. Aku lalu ambruk di atas tubuh bunda, ia kutindih. Toketnya dan dadaku berpadu, Penisku berkedut-kedut dan anehnya memeknya juga seperti meremas-remas penisku. Ngilu rasanya, tapi nikmat.

“Bunda, seperti inikah bunda rasanya ngentot?” tanyaku. Aku mengabadikan peristiwa ini ke ponselku, kuclose up wajah bunda yang tidur, vaginanya yang sekarang penisku masuk ke sana juga kuabadikan, bahkan posisiku menindih bundaku pun aku abadikan.

“Doni… ohh… puasin, bunda…” terdengar suara bisikan bunda. Apa maksudnya, apakah bunda sadar?

Sejenak aku bingung, ternyata bunda memimpikan aku, bermimpi bersetubuh denganku. Itu membuatku makin bergairah. Aku kemudian menaik-turunkan pantatku perlahan-lahan, menikmati saat-saat ini. Tapi aku hanya punya waktu 3 jam kurang lebih, tak ingin aku sia-siakan kesempatan ini. Kugoyang pantatku naik turun, makin lama makin cepat.

“Bunda… oh… Doni kembali masuk ke tempat bunda,” racauku, makin lama makin cepat. Bunda aku tindih, pahanya terbuka lemas. Dan aku sepertinya akan keluar, oh sperma perjakaku… kemana ya harus keluar?

“Bunda, ke wajah bunda aja ya keluarnya… oohhh… keluar, bunda!!!” seruku. Aku segera mencabut dan berlutut di depan wajah bunda. Penisku kuarahkan ke situ.

CROOT…. CROTT… CROOTTT…. Banyak sekali tembakannya, aku sudah tidak perjaka lagi. Bunda sendiri yang menghilangkannya, spermaku belepotan di wajah bunda, sebagian masuk ke mulutnya, aku terus mengocoknya hingga tetes terakhir, lalu aku bersihkan sisa di ujung penisku ke mulutnya.

Momen ini tak bisa aku lewatkan segera aku abadikan ke ponselku. Aku lalu berbaring lemas di sampingnya. “Bunda… nikmat, bunda,” kataku. Aku peluk dia dari samping sambil memeluk toketnya.

Butuh waktu 15 menit bagiku untuk istirahat sebentar, kemudian aku bersihkan wajahnya dengan tisu yang ada di meja riasnya. Agar tidak bau sperma aku seka wajah ibuku pakai pelembab, biar tak ketahuan. Disaat membersihkan itulah aku terangsang lagi melihat payudaranya. Aku kenyot lagi dua buah toket besar itu. Kubenamkan wajahku ke tengah payudara, kuhisap aromanya yang harum. Aku kemudian menghadapkan tubuh ibuku miring ke tepi ranjang. Ternyata tepat di depan bundaku ada kaca lemari. Sehingga aku bisa melihat tubuhnya di sana.

Penisku yang tegang lagi ingin mencari mangsa. Kuposisikan kepala penisku dari belakang pantatnya. Karena masih basah, mudah sekali penisku masuk. SLEB…!! Oh, kembali kedut-kedut vaginanya. Aku angkat sebelah kakinya, sehingga aku bisa melihat dari kaca penisku masuk di sana. Aku lalu bergoyang maju mundur, kuturunkan kaki bunda, tanganku beralih ke toketnya. Pantatnya benar-benar membuatku terangsang hebat. Enak sekali.

Aku tak sadar siapa yang kusetubuhi sekarang. Yang aku inginkan adalah puncak kenikmatan. Tapi aku tetap pada pendirianku jangan keluarkan di dalam. Belum waktunya. Aku terus menggoyang pantatku maju mundur. Pantat bunda beradu dengan selakanganku. PLOK… PLOK… PLOK… bunyinya sangat menggairahkan. Dan sepertinya. Setiap kali aku ingin orgasme. Aku istirahat sebentar. Menciumi bibirnya, ketiaknya, dan menghisap putingnya. Dan akhirnya aku tak tahan lagi.

“Duh, bunda, maaf ya. Aku keluar lagi,” aku langsung cabut penisku dan kukeluarkan di pantatnya. Spermaku masih banyak aja. Enak rasanya penisku sampai berkedut-kedut berkali-kali setiap spermaku muncrat keluar. Aku istirahat sebentar sambil mengumpulkan tenaga. Ngilu sekali penisku. Aku lalu bangkit membersihkan pantat bunda yang belepotan dengan spermaku.

Aku melihat jam dinding, oh tidak, setengah jam lagi bunda akan sadar, tak sadar aku sudah lama ngentotin bunda. Aku bergegas memakaikan lagi pakaiannya. Jilbabnya yang terkena sedikit sperma aku bersihkan juga. Aku memakaikan lagi branya, tapi entah kenapa aku terangsang lagi. Maklum masih perjaka dan ada mainan baru. Aku lalu melakukan titfuck. Dada bunda mengocok penisku, aku melakukannya sambil sesekali menengok jam dinding, masih ada waktu, aku harus cepat. Aku bantu payudara bunda untuk mengocok penisku, dan aku keluar lagi, spermaku muncrat di belahan toket bunda. Tapi jumlahnya ndak sebanyak tadi,
karena mungkin sudah mulai kosong kantong produksinya. Aku segera bersihkan cepat-cepat, kuposisikan tubuh bunda seperti tadi tidur, aku berpakaian lalu keluar dari kamar bunda. Aku lalu mandi dan membersihkan diri.

***

Bunda terbangun setengah jam kemudian. Ia keluar kamar ketika aku masih menghitung stok toko. Ia menggeliat.

“Kenapa, bunda?” tanyaku.

“Entahlah, bunda koq tidurnya nyenyak ya? Tapi badan bunda pegel-pegel semua. Seperti habis olahraga aja,” jawab bunda. Tapi dalam hati aku senang sekali karena tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Hari itu aku membantu menjaga toko sampai sore. Dan setelah itu aku habiskan waktuku di kamar sambil melihat foto-foto hasil ngentotku dengan bunda tadi. Aku melakukan coli berkali-kali sampai penisku ngilu dan lemas. Malam itu aku tidur nyenyak sekali, entah berapa banyak tissu yang kuhabiskan, yang jelas aku baru sadar tissue di meja kamarku tinggal sedikit sekali.

Hari-hari setelah itu aku jadi berbeda. Siang hari setelah aku pulang sekolah, aku menyiapkan teh hangat untuk bunda, kemudian pasti ia mengantuk dan tidur. Setelah itu aku pasti ngentotin beliau seperti sebelum-sebelumnya, dan kini aku tidak takut lagi seperti dulu. Tapi aku tak melakukannya setiap hari, hanya kalau ada kesempatan saja. Dan itu tidak pasti atau jarang. Kalau aku sedang kepingin saja. Kalau tiap hari bisa bikin bunda curiga. Aku ingin bercinta dengan bundaku dalam keadaan sadar, karena aku setiap ngentot dengan bundaku selalu aku dengar rintihannya memanggil-manggil aku dalam mimpinya. Ia seperti membayangkan ngentot dengan aku. Ini tanda tanya besar. Dan itu terjawab ketika aku melihat rekaman di kamar mandi pada suatu siang setelah aku pulang dari ujian di sekolah.

Aku melihat rekaman video bunda mastrubasi dengan jarinya di kamar mandi. Ia mengocok-ngocok memeknya, sambil berkali-kali memanggil namaku. Kenapa? Apakah ia mengalami ‘mother complex’?

Setelah ia mengeluh panjang, ia lalu menutupi wajahnya sambil menggumam, “Kenapa dengan aku? kenapa? Apa yang aku lakukan? Kenapa aku menginginkan anakku sendiri?”

DEG…!! betapa kagetnya aku mendengar pengakuan bundaku sendiri dari rekaman itu. Ternyata benar, bunda menginginkan aku. Aku jadi ingin saja ngentotin dia setelah ini. Obsesiku kepada ibuku sendiri makin besar. Terlebih ketika tahu bahwa bunda masih haidh, masih produktif berarti.

Malamnya bunda sedang menghitung-hitung penghasilan. Kami di rumah sendirian. Nuraini ikut mabid atau apalah namanya. Kak Vidia juga sedang nginap di kampus ada kegiatan apa gitu. Aku sedang menonton tv sambil sesekali mengamati bunda, mengamatinya saja bikin aku terangsang. Aku berusaha menyembunyikan tegangnya penisku.

“Bunda, bunda capek kayaknya, ndak istirahat?” tanyaku.

“Nanti dulu, Don, masih kurang dikit lagi,” katanya.

“Kalau bunda capek, aku menawarkan diri untuk mijitin bunda kalau tidak keberatan,” kataku.

Bunda tersenyum renyah kepadaku. Ia kemudian masih melanjutkan pekerjaannya. Hingga kemudian acara tv selesai dan aku mematikan tv. Bunda kemudian duduk di sampingku. Aku hampir aja beranjak.

“Lho, katanya mau mijitin bunda?” tanyanya.

“Oh, jadi toh?” kataku.

“Iya dong,” katanya.

Bunda kemudian membelakangiku. Aku lalu mulai memijitinya. Ia masih memakai kerudungnya yang lebar. Aku mulai memijiti pundaknya.

“Oh… enak sekali, Don, pinter juga kamu memijat,” katanya.

“Siapa dulu dong,” kataku.

Aku berinisiatif kalau malam ini aku harus bisa ngentot ama bunda. Aku pun mulai pembicaraan. “Bunda, boleh tanya?” tanyaku.

“Tanya apa?” tanyanya.

“Doni waktu itu lupa sesuatu, trus pulang lagi ke rumah. Nah, Doni mendengar bunda manggil-manggil nama Doni di kamar mandi sambil merintih, emangnya kenapa itu, bunda?” tanyaku.

Bunda terkejut. Jantungnya berdebar-debar, ia bingung mau jawab apa. Ia pun bertanya balik, “Kapan itu?”

“Beberapa waktu lalu, emangnya bunda ngapain sih di kamar mandi?” tanyaku.

“I-itu… nggak ada apa-apa koq,” jawabnya.

“Tapi koq, manggil-manggil nama Doni?” tanyaku.

Bunda terdiam. Aku lalu memeluk bunda dari belakang. Dari situlah aku tahu bahwa jantung beliau berdebar-debar. Bunda lalu bersandar di dadaku. Matanya berkaca-kaca. Ia lalu menutup wajahnya.

“Bunda, kalau bunda misalnya rindu sama ayah, Doni bisa mengerti koq. Mungkin wajah Doni mirip ama ayah,” kataku.

Bunda lalu terisak, kami berpelukan. Bunda bersandar di pundakku. Ia tak berani melihat wajahku. Ia terus memelukku dan aku membelai kerudungnya yang panjang. Cukup lama ia bersandar di pundakku. Sampai aku kemudian mulai memberanikan diri untuk melihat wajahnya.

“Maafkan, bunda, engkau mirip sekali dengan ayahmu, dan bunda rindu dengan sentuhan ayahmu,” katanya.

“Boleh Doni minta sesuatu, bunda?” tanyaku.

“Apa itu?” tanyanya.

“Doni ingin mencium bunda,” kataku.

Ia tersenyum, “Boleh saja, kenapa memangnya?”

“Tapi bukan di pipi, di sini,” kataku sambil menyentuhkan telunjukku di bibirnya.

“Ah, Doni ini koq kolokan banget? Aku ini bundamu, bukan kekasihmu,” kata bunda.

“Sekali saja bunda, Doni ingin tahu rasanya ciuman, please… sekali saja,” kataku.

Bunda terdiam. Ia menatap wajahku. Ia mengangguk walau agak ragu. Aku senang sekali, tersenyum. YES! dalam hatiku.

Aku perlahan mendekatkan wajahku, wajah bunda kutarik ke arahku dan bibirku menempel di bibirnya. Pertama cuma menempel, selanjutnya aku mulai menghisap bibir bunda. Lagi dan lagi. Dan akhirnya kami berpagutan. Nafas bunda mulai memburu. Tiba-tiba bunda mendorongku.

“Tidak, Don, tidak. Kita terlalu jauh. Kita ini ibu dan anak. Ndak boleh beginian,” katanya.

“Lalu kenapa bunda mastrubasi sambil manggil-manggil Doni?” tanyaku.

“Kamu tahu?” tanyanya.

“Iya, Doni tahu. Itu artinya bunda kepingin kan?” tanyaku. “Sampai berfantasi ama Doni.”

Ia tak menjawab. Tampaknya aku menang. Bunda sepertinya pasrah. Aku ingin coba lagi. Kupegang kedua tangannya, aku memajukan wajahku lagi, kini ciumanku disambut. Wajah kami makin panas karena gairah. Lama sekali kami berpagutan, nafas ibuku makin memburu.

Aku lalu menarik wajahku lagi, “Kalau misalnya bunda kepingin dan tidak ada yang bisa memuaskan bunda, Doni bisa koq. Tapi jangan sampai semuanya tahu.”

“Tidak, Don… hhmm…” bibir bunda aku cium lagi sebelum selesai berkata-kata. Ia berusaha mendorongku. “Sudah, Don, sudah… bunda ndak mau, ingat kita ibu dan anak.”

“Lalu kenapa bunda membayangkan dientotin Doni?” tanyaku lagi. Kucium lagi bibirnya.

“Itu.. .hmmmm… itu… itu karena bunda khilaf, maafin bund… hhmfff,” bunda tak kuberi kesempatan melakukan penjelasan. Kuremas-remas dadanya dari luar gamisnya. Bunda pun mendorongku lebih kuat lagi.

“Baiklah, baiklah… bunda memang ingin kamu, bunda ingin ngentot dengan kamu, ayo ngentotin bunda! Sekarang!” katanya. “Buka bajumu!”

Aku lalu menghentikan aktivitasku. Melihat air matanya berlinang, aku mengurungkan niatku. Aku berdiri. “Maafin Doni, bunda. Maaf!”

Aku mencium tangannya lalu berbalik dan masuk ke kamarku. Perasaanku campur aduk setelah itu. Beberapa kali bunda mengetuk pintu kamarku, tapi tak kutanggapi, aku pun tertidur.

***

Paginya aku bangun, kemudian ingin ke kamar mandi. Saat itulah aku dikejutkan karena ternyata bunda ada di dalam kamar mandi telanjang, bener-bener polos. Aku terkejut dan mematung.

“Doni!?” bunda terkejut.

“Oh, maaf, bund,” aku segera menutup pintu kembali. Untuk beberapa saat aku diam di depan pintu kamar mandi. “Biasanya Doni mandi duluan, ndak tau kalau bunda mandi duluan. Habis bunda ndak ngunci sih.”

“Kamu mau mandi?” tanyanya. “Masuk aja!”

“Lho, bunda ‘kan di dalam,” kataku.

“Gak papa, sama bunda sendiri koq malu?” katanya.

Aku agak ragu, tapi kemudian aku pun masuk. Bunda melirikku sambil tersenyum, “Ndak usah malu, copot sana bajunya.”

Aku pun mencopot seluruh pakaianku. Bunda menyiram badannya di bawah shower. Terus terang hal itu membuatku terangsang banget. Penisku langsung menegang. Dan setan pun masuk ke otakku, aku melihat bundaku seperti seorang bidadari, segera aku memeluknya dari belakang, penisku yang sedang tegang maksimal menempel di pantatnya.

“Bunda, maafin, Doni. Tapi Doni ndak tahan lagi!” kataku. Bunda terkejut dengan seranganku. Aku meremas-remas toketnya, kupeluk erat bunda.

“Doni… sabar, Don, sabar!” kata bunda.

“Tapi, aku tak mau melepaskan bunda,” kataku.

Bunda mematikan shower, kemudian membelai tanganku. Aku menciumi lehernya dan menghisapnya dalam-dalam. “Oh, Doni… anak bunda sekarang sudah besar…” katanya. Tangan satunya tiba-tiba menyentuh kepala penisku. Penisku yang sudah tegang itu dipegangnya, makin tegang lagi, lebih keras dari sebelumnya. Kemudian bunda mengocoknya lembut. “Kamu ingin ini kan?”

Aku mengangguk.

“Bunda tahu koq, kamu kan anak bunda,” katanya. “Lepasin bunda sebentar.”

Aku lalu melepaskan pelukanku. Bunda berbalik, tinggi kami hampir sama, tapi aku lebih tinggi sedikit. Matanya menatapku lekat-lekat.

“Bunda, mengakui punya hasrat kepada anak bunda sendiri. Bunda tidak bohong. Itu semata-mata bunda rindu dengan belaian ayahmu. Dan bunda selama ini juga takut untuk bisa menjalin hubungan dengan lelaki lain. Tapi… bunda berpikir keras, apa jadinya kalau bunda berhubungan dengan anak sendiri, itu kan tabu… tapi bunda merasa nyaman bersamamu, hanya denganmu bunda sepertinya ingin, bukan lelaki lain. Dan bunda juga butuh itu,” kata bunda sambil terus mengocok lembut otongku yang udah tegang max.

Aku makin keenakan tak konsen apa yang diucapkan olehnya, tapi ketika ia berlutut di hadapanku dan menciumi kepala penisku, aku baru yakin dan ini bukan mimpi. Bunda mengoral penisku.

“Oh, bunda,” rintihku.

“Bunda akan berikan sesuatu yang engkau tak pernah sangka sebelumnya,” kata bunda. Ia lalu menjilati kepala penisku. Lubang kencingku dijilati seperti kucing. Kedua tangannya aktif sekali, yang satu meremas-remas telurku yang satunya mengocok-ngocok penisku. Penisku yang sudah tegang makin tegang saja.

“Bunda… enak sekali,” kataku.

Lidah bunda menjelajah seluruh permukaan penisku yang tanpa rambut itu. Bunda menjilati pinggiran kepala penisku, membuatku lemas saja. Lalu seluruh batangku dijilatinya. Kemudian dimasukkanlah kepala penisku ke mulutnya. Ia kemudian perlahan-lahan memaju mundurkan kepalanya. Penisku yang besar itu makin masuk ke rongga mulutnya. Ia kemudian menghisapnya dengan kuat. Aku makin lemas. Lemas keenakan.

Bunda lalu mengusap-usap perutku, sesekali meremas-remas pantatku, tanganku pun secara otomatis meremas rambutnya. Kalau misalnya ini film bokep aku pasti sudah coli. Tapi ini tak perlu coli karena ada yang bertugas mengocok penisku di bawah sana. Dengan mulutnya dan oh… lidahnya menari-nari mengitari kepala penisku, aku benar-benar keenakan.

“Bunda… oh… enak banget! Udah, bunda… bunda… Doni… kelu…aaaaarrrr… AAAAHHHH!” aku keluar. Spermaku tak bisa ditahan lagi. Bunda makin cepat memaju mundurkan kepalanya, penisku seperti ingin meledak dan SRETTT… CROOOTTT… CROOOOTTT… entah berapa kali aku menekan penisku ke kerongkongannya sampai ia agak tersedak. Spermaku banyak sekali muncrat di dalam mulutnya.

Bunda mendiamkan sebentar penisku hingga tenang dan tidak keluar lagi. Ia lalu menyedotnya hingga spermanya tidak keluar lagi, dan baru mengeluarkan penisku. Ia menengadahkan tangannya, kemudian ia keluarkan spermaku. Mungkin ada kalau 5 sendok makan. Karena pipi bunda sampai seperti menyimpan banyak air di mulutnya.

“Banyak banget spermamu,” Bunda lalu menciumi baunya. “Baunya bunda suka.” Bunda lalu berdiri menyalakan shower. Membersikan mulut dan tangannya. “Mandi bareng yuk,” katanya.

“I-iya, Bun,” sahutku.

Kami pun mandi bersama. Pertama bunda menyabuni tubuhku. Dari dadaku, perutku, punggungku, kakiku dan penisku pun disabuni. Penisku tegang lagi.

“Ih… masih ingin lagi?” kata bunda sambil menyentil penisku.

“Habis, bunda seksi sih,” kataku.

Bunda tersenyum. “Nanti ya, habis ini.”

Aku pun bergantian menyabuni bunda. Saat itu mungkin aku bukan menyabuni, tapi membelainya. Aku jadi tidak malu lagi untuk mencumbunya. Aku menggosok tubuhnya. Punggungnya aku sabuni, ketiaknya, dadanya aku pijat-pijat, putingnya aku pelintir-pelintir, ia mencubitku.

“Anak Nakal! Ibu nanti jadi terangsang. Sebentar, sabar dulu,” katanya.

Aku tak peduli, shower aku nyalakan untuk membersihkan sabun-sabun di tubuh kami. Aku memanggut bibir bunda. Kemudian aku menetek kepada bunda, kuhisapi putingnya.

“Don, di kamar bunda aja yuk,” katanya. “Mumpung Vidia sama Nur belum pulang.”

Aku mengangguk.

Bunda mengambil handuk dan membersihkan air di tubuhnya, aku pun melakukannya. Dan agak mengejutkannya, aku segera membopongnya.

“Eh… apa ini?” ia terkejut.

“Doni ndak sabar lagi, Bun.” kataku.

“Oh… anak bunda, jiwa muda,” katanya.

Kami keluar dari kamar mandi, aku masih telanjang, demikian juga bunda. Kami lalu masuk ke kamar bunda. Segera bunda aku letakkan di ranjang, kamar aku kunci. Bunda segera mulutnya kupanggut, kuciumi lehernya, payudaranya pun aku hisap-hisap. Kuremas, putingnya aku pelintir-pelintir, kuputar-putar, bunda menggelinjang. Ia remas-remas rambutku. Kuhisap buah dadanya yang putih dan ranum itu hingga membentuk cupangan. Cupangan demi cupangan membekas di buah dadanya yang besar.

“Nak… ohh… bunda terangsang banget,” katanya.

“Bunda, ohh…” aku menciumnya lagi.

Sekarang aku turun ke perutnya, lalu ke tempat pribadinya. Aku tak tinggal diam, segera aku ciumi, aku jilati, aku sapu memeknya yang basah sekali itu.

“Ohhhh… Donn… i-itu… aahhh…” bunda menggelinjang. Kakinya terbuka aku memegangi pahanya. Kulahap habis itu memeknya, klitorisnya pun aku jilati, hal itu membuatnya menggelinjang hebat.

Nafas Bunda mulai memburu. Ia meremas-remas rambutku, ketika aku menuju titik sensitifnya, ia semakin menekan kepalaku. Aku pun makin semakin menekan lidahku, hal itu membuatnya bergetar hebat.

“Don… bunda… bunda keluar… aaahhhh… ahhhh… ahhhhhhhh!!” pinggul bunda bergetar. Sama seperti orgasme-orgasme sebelumnya. Aku pun segera bangkit, melihat reaksi bunda. Pahanya menekan pinggangku. Saat itulah penisku sudah menegang, siap untuk masuk ke sarangnya.

“Bunda… bunda siap?” tanyaku.

“Masukkan… masukkan! Bunda sedang orgasme,” katanya.

Aku pun memposisikan penisku tepat di depan lubangnya, kugesek-gesek, bunda lalu mengangkat kepalanya. Matanya memutih, saat itulah pinggulnya naik dan penisku masuk begitu saja. BLESS!!!

“Ohhhh…!!” mulut bunda membentuk huruf O, menganga merasakan sesuatu yang selama ini ia inginkan. Ia memelukku, dada kami beradu dan aku memagutnya.

Bunda merebahkan dirinya lagi. Aku menindihnya. Aku peluk bundaku. “Bunda, Doni masuk lagi. Masuk lagi ke tempat Doni lahir,” kataku.

“Doni… ohh… iya, iya… sudah masuk, rasanya penuh… ohhh,” kata bunda.

Aku lalu menaik turunkan pantatku. Penisku otomatis menggesek-gesek rongga vaginanya yang becek. Kami berpandangan, mata kami beradu. Pinggul bunda bergerak kiri-kanan membuat penisku makin enak.

“Bunda, bunda… ohh… perjaka Doni buat bunda… ohh… enak bunda… bunda apain penis Doni?” tanyaku sambil melihat matanya.

“Anakku, ohh… bunda enak banget, kepingin keluar lagi, ohh… bunda ndak pernah keluar berkali-kali seperti ini… ohh… aahhh… sshhh,” bunda menatapku lekat-lekat. Kening kami menempel. Bibir kami saling mengecup berkali-kali.

Tak hanya di situ saja, aku sesekali menghisap puting susunya. Keringat kami setelah mandi keluar lagi. Tubuh bundaku yang seksi ini membuatku makin bersemangat untuk menyetubuhinya. Bunda… aku ingin menghamilimu.

“Bunda… ohhh… aku keluar… ahh… ahh… di mana?” tanyaku.

“Ohh… ahh… ahh, terserah Doni,” kata bunda. “Tapi… ohh… jangan di dalam… di luar aja… bunda takut hamil…..”

“Maaf, bunda, tak bisa. Doni ingin menghamili bunda. Ohh, Doni sampai… Sperma perjaka Doni buat bunda… ini… ini…!!”

“Jangan… jangan… Doni… ahhh… aduh… bunda juga keluar… sama-sama… tapi… ahkhh… jangan di dalam…. ahhhhhhhhhhh!!!” bunda mengeluh panjang.

Aku mencium bunda bibir kami bertemu dan pantatku makin cepat bergoyang dan di akhirnya menghujam sedalam-dalamnya ke rahim bunda. Spermaku memancar seperti semprotan selang pemadam kebakaran. Kutumpahkan semua kepuasan ke dalam tempatku dulu dilahirkan. Mata bunda memutih. Pantatnya bergetar hebat karena orgasme. Ia mengunci pinggulku, aku menindihnya dan memeluk erat dirinya sambil menciumnya. Entah berapa kali tembakan, yang jelas lebih dari sebelas. Karena saking banyaknya orgasme itu berasa lama. Memek bunda berkedut-kedut meremas-remas penisku, aku masih membiarkan penisku ada di dalam sana.

Butuh waktu sepuluh menit hingga penisku mengecil sendiri, dan kakinya melemas. Aku pun kemudian bangkit. Bunda tampak lemas, ia seakan tak berdaya. Penisku serasa ngilu. Aku melihat ke vaginanya. Tampak cairan putih menggenang di dalam lubang vaginanya. Aku tersenyum melihatnya. Aku kemudian merebahkan diri di sebelah bunda. Kemudian bunda memelukku, kami pun tidur terlelap.

Siang hari kami terbangun. Aku dulu yang terbangun. Melihat tubuh bundaku telanjang memelukku membuatku terangsang lagi. Aku menciumi bibirnya. Bunda masih tertidur. Aku lalu menggeser badanku, kemudian bangkit. Penisku sudah on lagi, mungkin karena melihat tubuh bundaku. Aku kemudian membuka pantatnya mencari lubang vaginanya. Kemudian segera saja aku masukkan. SLEB… bisa masuk! Masih basah. Mungkin karena sebagian spermaku masih ada di dalam sana.

Aku pun menggoyang-goyang. Maju mundur. Posisiku berlutut sambil bertumpu kepada kedua tanganku. Pinggulku mengebor pantatnya. Bunda membuka matanya, ia tersenyum melihat ulahku.

“Dasar anak muda, ndak ada puasnya,” katanya.

“Bunda… Doni enak, bunda…” kataku.

Bunda cuma diam melihatku. Aku sesekali meremas toketnya. Aku goyang terus sambil kulihat wajahnya. Bunda memejamkan mata, mulutnya sedikit terbuka, mengeluh pelan.

“Bunda, enak banget… hhhmmmmhh… keluar… Doni keluar lagi, bunda…” kataku. “Pantat bunda enak banget.”

“Doni… ahhh… aaaaahhh… bunda juga… koq bisa ya??” kata bundaku.

Tangannya menarik tanganku, aku berlutut sambil menghujamkan sekeras-kerasnya ke memeknya. Aku pun keluar lagi. Tapi tak seperti tadi. Kali ini cuma lima kali tembakan, tapi begitu terasa. Setelah itu aku mencabut penisku dan ambruk.

“Bunda, Doni cinta ama bunda,” kataku.

“Cinta karena nafsu, kamu bernafsu dengan bunda, makanya seperti ini,” katanya.

“Tapi bunda juga ‘kan?” kataku menyanggah.

Bunda diam.

“Bunda tidak bangun? Tidak buka toko?” tanyaku.

“Toko tutup dulu, kemarin ibu bilang ke Mbak Juni untuk tutup dulu,” kata bunda. “Bunda ingin istirahat dulu. Badan bunda serasa sakit semua, sebab sudah lama tidak bercinta lagi.”

Aku mengangguk.

“Kalau begitu, Doni pergi dulu,” kataku.

“Ke mana?” tanyanya.

Aku terdiam.

“Ke mana?” tanyanya lagi.

“Bunda merasa kehilanganku? Berarti bunda juga mencintaiku,” kataku.

Ia mencubit perutku. “Maunya,” katanya. Kami berpanggutan sebentar untuk beberapa lama sebelum kemudian aku meninggalkan kamar bunda tanpa baju.

***

Setelah itu, hubunganku dengan bunda berjalan sembunyi-sembunyi. Bunda sering dan selalu melarangku untuk mengeluarkan spermaku di dalam rahimnya, tapi aku tak peduli. Kalau ada kesempatan, saat itulah kami bercinta. Di dapur apalagi. Dan itu pengalaman yang sangat mendebarkan. Bunda bertumpu kepada wastafel. Dan aku menyodoknya dari belakang. Kami melakukan fast-sex karena saat itu Kak Vidia dan Nuraini ada di rumah. Bahkan terkadang kami mencicil hubungan sex kami ketika Kak Vidia dan Nuraini bolak-balik ke dapur.

Belum, bunda belum hamil. Ia masih menstruasi. Tapi nanti ada saatnya beliau hamil. Karena aku yang memaksanya. Tapi itu nanti. Sekarang beralih ke Kak Vidia dan Nuraini.