RHISKA

Pada suatu malam, aku sedang dalam perjalanan pulang ketika aku menaiki sebuah angkot yang sepi. Hanya ada aku, supir dan seorang gadis berjilbab hitam dan juga berbaju gamis hitam dan di dadanya terdapat nametag bertuliskan Rhiska Wulan. Wajahnya cantik karena terlihat jelas ada sedikit keturunan dari arab. Pikiranku segera ngeres dan mulai merencanakan sesuatu untuk menikmati tubuh sang gadis berjilbab itu.

JILBAB MONTOK   (3)

 Aku segera mendekati sopir dan berkata untuk nanti pura2 menepi di sebuah jalan karena mogok, sambil memberi segepok uang. Sang sopir melirik kerah wajahku dan lalu melihat ke sang gadis dibelakang. Dia nampak khawatir nmun akhirnya mau menerima uangku.

 Beberapa lama, akhirnya angkot ini memasuki daerah yang sepi dan tidak ada rumah disekitarnya, tiba2 mesin mati. Pak sopir segera menepikan mobil dengan sisa kekuatan yang ada dan langsung melongokkan kepala kedalam sambi lberkata, “mogok. Sebentar.” Katanya lalu keluar lagi dan membuka kap depan.

 Tanpa banyak kata, karena memang itu yang aku tunggu dan aku sudah konak 100%aku langsung mendekat ke sang gadis. Sebelum dia sadar apa yang akan terjadi, langsung aku cium bibir Rhiska itu sambil kudekap erat dan memojokkannya dipokoj angkot agar tidak lepas. Rhiska berontak dengan hebat namun kekuatannya masih kalah dnegan kekuatanku. Permainan lidah dan sedotan bibir aku mainkan, Sementara tanganku segera masuk ke balik jilbab dan baju gamis hitam Rhiska . Lalu masuk lagi ke dalam BH-nya. Lalu ku remas-remas buah dadanya dengan ganas sambil ujung jari aku memainkan puting susunya.

JILBAB MONTOK   (4)

 “Mmhh.. janganhh.. “

 Suara Rhiska mendesah tertahan karena aku masih melumat bibir tipis indahnya. Sementara itu, salah satu Tangan Rhiska kulepaskan dari telikunganku dibelakang tubuhnya . dan kuarahkan untuk meremas kontolku dari luar celana panjang kolorku. Kontolku langsung tegang.

 Setelah merasa bahwa sang gadis berjilbab sudah sangat syok, aku segera menyeretnya keluar dari angkot dan membantingnya terlentang diatas rumput dipinggir jalan yang sepi itu sampai sang gadis mengerang kesakitan.

 Aku segera menindih tubuh Rhiska. Aku cium bibirnya, pindah ke pipi, leher, lalu turun ke buah dadanya. Aku singkap jilba, gamis dan Bhnya yang mengganggu, dan langsung kujilat dan hisap puting susu Rhiska sambil meremas buah dada yang satu lagi. Rontaan dan jeritannya tertahan karena sang sopir yang ternyata juga ikut terangsang membantuku memegangi tangan sang gadis dan membekap mulutnya.

 “Ohh.. Mmhh.. mmmhh… Mmhh…” desah Rhiska tertanah sambil menggelinjang2 ketika kulumat buah dada dan putingnya.

JILBAB MONTOK   (5)

 Lalu lidahku turun lagi ke perut, lalu ketika mulai turun ke selangkangan, Rhiska berusaha mengatupkan kakinya namun kekuatanku tak mampu diimbanginya. Segera kusingkap roknya dan kupelorotkan celana dalamnya, kuberikan ke pak sopir yang langsung dijejalkan ke mulut sang gadis cantik berjilbab hitam yang malang itu.

 Aku langsung melebarkan kaki gadis manis berjilbab itu mengangkang. Memek Rhiska bersih tidak berbau. Bulunya hanya sedikit sehing nampak jelas belahan memeknya yang bagus. Aku segera jilati memek Rhiska terutama bagian kelentitnya.

 “hh….! Mmmhh..! Mmhh..! Mmmhh…!” Rhiska semakin keras mendesah, sambil badannya mengejang dan menggelinjang.

 Tak berapa lama tiba-tiba Rhiska mengepitkan kedua pahanya menjepit kepalaku. Memeknya terasa basah mengeluarkan cairan kenikmatan yang banyak. Aku bangkit, mengusap mulut aku yang basah oleh air memek Rhiska. Sang gadis berjilbab itu sudah terlihat lemas kelelahan dan tidak memberikan perlawanan lagi. Sang sopir melepaskan pegangan kuatnya dari tangan sang gadis dan menyeringai senang.

JILBAB MONTOK   (9)

 lalu langsung aku tindih badannya dan kucium bibirnya sementara tanganku yang satu membuka retsleting celanaku untuk mengeluarkan kontolku yang besar dan sudah sangat tegang. Rhiska terasa canggung, namun membalas ciumanku.

 “ni, isep kontolku ya, mbak jilbab..” pintaku. Lalu aku kangkangi wajah Rhiska dan ku sodorkan kontolku ke mulutnya. Mungkin karena sudah terngsang, Rhiska langsung menghisap dan menjilati kontolku dan mengocok dengan tangannya sambil memejamkan matanya. Terlihat air mata telah mengalir dari matanya, namun aku tak perduli.

 Setelah kurasa cukup basah, segera aku tindih kekbali tubuh langsing sang gadis berjilbab yang cantik dan sudah terangsang itu, lalu aku arahkan kontol aku ke memeknya.

 “jangan baaang… jangan perkosa Sinta.. jangaaan…” rintih Rhiska. Malah justru membuat birahiku menggila.

 Lalu, bless.. sleb.. sleb.. sleb.. Kontolku keluar masuk memek Rhiska.

JILBAB MONTOK   (10)

 “Mhhh… Sakiiitt… mmhhh… pelaann… maasshh.. pelaaann…” rintih gadis alim berjilbab lebar itu ditengah-tengah persetubuhan kami.

 “udah, diam! Keenakan aja sok alim lu!” ujarku menghinanya agar mentalnya semakin down dan semakin mudah kugagahi.

 Selang beberapa lama, tiba-tiba pinggul Rhiska mengikuti gerakan pinggulku dan semakin cepat. Kedua tangannya erat mendekap tubuhku. Jarinya mencakar-cakar punggungku.

 “baaangghh… enaaakk… mmhh… aduuuhh…. udaahhh” rintih gadis berjilbab itu dan kami sambut dengan tertawaan dan ejekan. .

 “Dasar sok alim lu! Tadi aja bilang jangan, sekarang keenakan! Munafik lu! Nih, makan kontol gua!” kataku terus mengejek sang Rhiska yang sedang kugagahi.

 Tak lama tubuhnya mengejang. Pahanya erat menjepit pinggulku. Sementara akau terus memompa kontolku di memeknya.

JILBAB MONTOK   (11)

 Tak lama akupun mulai merasakan kalo aku akan segera orgasme. Kupertcepat gerakanku.

 “Aku mau keluar, sayaaaa… kuhamili kamu, sayaaangg…” kataku.

 “Jangaaan!! Jangan hamili Sintaa..!!” pekik Rhiska histeris, tapi mulutnya langsung kembali dibekap oleh pak sopir. .

 Tubuhku menegang dan terasa kontolku meledak mengeluarkan cairan hangat kedalam memek sang gadis. Terlihat air mata sang gadis berjilbab itu deras mengalir… tujuh semburan sperma kusemprotkan kedalam rahim sang gadis berjilbab, sampai aku cpek dan mencabut kontolku yang sudahbasah oleh spermaku, darah perawan, dan cairan memek sang Rhiska. Si gadis terlihat sangat syok sampai terlihat terdiam membisu, terkapar lelah diatas rumput dipinggir jalan sepi. Kuambil gambarnya sebagai jaminan keamananku.

JILBAB MONTOK   (15)

 Akus egera duduk didekat gadis itu sambil mengeluarkan roko beristirahat, namun kaki sang gadis berjilbab sudah dikangkangkan lagi oleh pak sopir. Lenguhan birahi gadis berjilbab itu mengiringi melesaknya kontol hitam pak sopir kedalam memek seretnya. Petualanganku sudah harus dimulai.

RINDA

Kisah yang aku ceritakan ini adalah kisah nyata, pada awalnya aku takut menceritakannya, namun karena aku tahu, di sini aku diperbolehkan memakai nama samaran, maka akupun berani mencoba menceritakan segala pengalamanku. Aku tahu, cerita pengakuanku ini akan melibatkan banyak orang, terutama yang menjadi “korban” ku, apalagi jika mereka kebetulan ada yang membaca cerita ini.

Kisah ini aku alami 5 tahun yang lalu. Saat itu aku masih seorang mahasiswa D3 di sebuah perguruan tinggi negri terkemuka di kota Bandung. Aku saat itu, kurang memiliki banyak teman wanita, karena memang aku tidak terlalu pede jika berada di dekat wanita. Teman-temanku kebanyakan laki-laki, kami selalu melakukan semua kegiatan bersama-sama. Dari belajar bersama sampai makan-makan.

Lama kelamaan akupun memiliki beberapa kenalan teman wanita yang juga teman sekelasku. Diantaranya yang bernama Rinda. Rinda dan juga teman-teman wanita ku sebagian besar memakai jilbab, dan mereka rata-rata anak pengurus masjid kampus. Awalnya, Rinda dan aku tidak terlalu dekat, biasa saja. Justru aku lebih dekat dengan teman-temannya. Hal ini dikarenakan, perawakan Rinda yang biasa-biasa saja. Karena selalu memakai baju gamis jilbab, maka bentuk tubuhnya pun tidak terlalu kelihatan. Namun semakin hari, aku semakin tahu bagaimana karakter Rinda, mulailah kita berdua menjadi akrab, namun tetap, aku tidak naksir dia.

Sampai suatu hari aku main ke rumah kontrakannya, di rumah itu Rinda hanya tinggal berdua dengan kakaknya, Fifi, Teh Fifi pun memakai jilbab. Nampaknya keluarga Rinda sangat soleh sekali. Rinda, walaupun memakai jilbab dan cenderung sering berbicara mengenai agama, tidak terlalu fanatis, Ia masih suka mendengarkan musik2 pop yang lagi tren saat itu. Itulah yang membuat aku bisa merasa nyaman dekat dia, karena sebenarnya aku termasuk orang yang kurang dalam ilmu agama.


Semakin hari semakin sering menghabiskan waktu berdua, anehnya yang muncul dibenakku bukanlah rasa cinta atau suka, seperti yang biasa terjadi di cerita cinta- cerita cinta pada umumnya, namun rasa ingin mencium bibirnya dan menghirup aroma pipinya yang aku lihat dari dekat, jarang sekali Ia menggunakan make-up. Kulit wajahnya tidak terlalu halus, kuning langsat dan sedikit berminyak. Namun aku sering mencium sedikit aroma keringatnya saat ia mendekatkan wajahnya atau tubuhnya atau saat melewatiku. Nampaknya Rinda tidak menyadari bahwa aku semakin memiliki motif menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang tertutup dengan jilbabnya.

Setiap habis pulang dari rumahnya, aku selalu merenung di kamar dan melamun bagaimana rasanya mencium bibirnya dan menghirup aroma kulit pipinya. Bagaimana bentuk tubuhnya; Bagaimana rambutnya jika jilbabnya dilepas. Semuanya itu menjadi angan-angan yang ujung-ujungnya membuat aku berhasrat, sampai aku melakukan onani sendiri di kamar. Kuambil minyak bayi yang ada di atas meja belajar, lalu aku membuka celanaku, duduk dikursi sambil mengocok-ngocok penisku. Perlahan sambil membayangkan Rinda ada diselangkanganku sambil mengulum penisku. Tentunya aku dibantu oleh media, yaitu vcd porno. Terus terang, habis aku ‘keluar’ karena membayangkan Rinda, ada rasa deg-degan merasa berdosa, namun entah kenapa aku selalu terus lakukan. Aku sadar, kalo aku tidak punya foto Rinda.


Demi mendapat foto Rinda, aku teringat ada foto kelas yang baru saja jadi, lalu aku sibuk mencari-cari di mana aku letakkan foto itu. Ketemu! Ada rinda disitu, lalu aku pergi ke warnet untuk men-scan foto tersebut. Setelah disimpan di disket (waktu itu belum ada Flash disk), aku pulang dan kubuka di kamar. Dengan menggunakan software Adobe Photoshop, aku rekayasa foto Rinda, yang wajahnya aku taruh di foto telanjang perempuan asia lainnya. Jadilah foto telanjang Rinda, dengan jilbab yg masih dikenakan di kepala, namun dada ke bawah telanjang.

Begitu melihat hasil foto tersebut sontak aku jadi ingin onani lagi, kuambil minyak bayi-ku dan aku onani di kamar. (bahkan saat aku menulis cerita inipun, penisku mulai berdeyut tegang). Sejak saat itu, aku mulai ingin terus ketemu Rinda, dengan berbagai cara. Bahkan saat aku main lagi ke rumahnya, aku diam-diam mencuri kaosnya yg digantung di kamarnya, saat Rinda lagi cuci piring, ku sembunyikan di tas, dan kujadikan media onani di kamar kosku. Aku membayangkan meraba-raba tetek Rinda. “Akkhh.. ndaaa…” Setelah itu aku cipratkan spermaku saat klimaks onani ke kaos Rinda tersebut. Hal itu kuulangi sampai kaos Rinda menguning akibat spermaku yang mengering.

Suatu hari, saat aku main ke rumah Rinda, syukurlah hujan lebat, saat itu aku pura-pura mau berteduh di rumah Rinda sampai hujan berhenti. Saat itu di rumahnya hanya kami berdua, kakanya, Teh Fifi sedang kuliah. Lalu aku pura-pura ngantuk dan ketiduran di karpet ruang tamunya. Aku lakukan ini karena aku tahu tadinya Rinda mau mandi, karena ia sudah mengalungi handuk (Rinda tetap mengenakan jilbab meskipun di rumah). Benar, Rinda yang masih mengira aku tidur, masuk ke kamar mandi. Pintu kamar mandi Rinda sebenarnya agak sulit untuk diintip, namun aku mencoba mengintip dari lubang kuncinya (tipe kuncinya masih tipe lama), aku geser besi kunci yang tergantung dari dalam dengan lidi, sedikit saja, aku lalu bisa melihat ke dalam kamar mandi. Ya Tuhan, aku liat puting susu Rinda, kulit tubuhnya lebih putih dari wajahnya, mungkin karena selalu tertutup jilbab.

Aku deg-degan sekali saat mengintipnya mandi. Karena tidak tahan, aku segera pergi ke kamarnya, aku cari-cari benda yang bisa aku ‘semprotkan’ spermaku yang hendak keluar dari penisku ini. Lalu aku melihat mug/gelas milik Rinda, ku buka dalamnya ternyata teh manis yang baru saja dibuat Rinda untuk Rinda minum. Lalu aku onani dan menumpahkan spermaku ke dalam teh manis Rinda itu, entah apa pikiranku saat itu, namun aku ingin sekali Rinda menelan spermaku. “oooh…. Ndaaa”. Setelah masuk ke gelas, aku baru sadar, warna sperma dan teh sangat berbeda, teh Rinda jadinya seperti berbusa sedikit, aku aduk-aduk saja. Lalu aku tutup lagi mug/gelas itu dengan tutup gelas. Deg-degan sekali aku jika Rinda sadar saat meminum teh manisnya.


Aku dengar Rinda selesai mandi, ia ternyata sudah berpakaian di dalam kamar mandi (termasuk sudah memakai jilbabnya). “Hey, Ki, udah bangun… bentar ya” Ia menyapaku dan masuk ke kamar. Hari itu, aku pulang sehabis hujan reda. Aku deg-degan, duh bagaimana jika rinda sadar rasa teh-nya ada yg aneh. Tapi bodo amatlah.

Besok-besoknya ternyata Rinda bersikap seperti biasa, nampaknya ia tidak menyadari. Apakah ia tidak meminum tehnya itu? Atau jangan2 kakanya yang minum, toh siapapun yg minum, biar kakaknya aku juga oke2 aja. Ini yg menjadi cikal bakal aku juga jadi punya niatan untuk membayangkan kakaknya menjadi salah satu dari fantasi onaniku.
Sampai suatu hari aku dengar Rinda kecelakaan, Ia ditabrak motor hingga pingsan, mendengar kabar ini, aku dan Saiful (temanku juga) pergi ke rumah Rinda hari itu juga. Di rumah Rinda, Cuma ada Rina (temanku sekaligus sahabat Rinda dr kecil) yang menjaga Rinda yang terbaring pingsan di kamar. Pipinya lecet dan banyak obat mereh di tangannya. Tubuhnya lemas, dan keringatan. Melihat ini, Ya Tuhan, aku sama sekali tidak empati, justru melihat Rinda lemas dan keringatan, aku jadi ingin mencium bau keringatnya dan menjilat wajahnya dan bibirnya. Apalagi ia tetap dalam mengenakan jilbabnya. Ingin kuraba dadanya yg basah oleh keringat, ah, penisku mengeras! Tiba-tiba, cobaan dari Tuhan semakin menjadi kenyataan, Rina meminta tolong Saiful untuk pergi ke wartel untuk memberitahukan ke orang tua Rinda di Bekasi soal ini sekaligus pergi menebus resep dokter, aku pun dengan wajah munafik berpura-pura menjaga Rinda selama pergi. Tampaknya Rina dan Saiful yakin denganku, karena selama ini di mata mereka aku selalu menjadi teman yang baik, dewasa dan terpercaya.

Setelah kepergian Rina dan Saiful, aku mulai mengunci pintu, dan mulai mendekati wajahku ke wajah Rinda, uummmph ternyata bau keringatnya tidak begitu wangi, tapi bikin aku jadi nafsu. Aku coba panggil-panggil nama Rinda,dan menggoyang sedikit mencoba mengetes apakah Rinda benar-benar masih pingsan. Setelah aku yakin, maka ku dekati bibirku ke wajah Rinda, lalu aku cium bibirnya, aku buka sedikit bibirnya pakai jariku, untuk kumasukkan lidahku, aku jilat-jilat seluruh wajah Rinda. Termasuk lubang telinga dan hidungnya. Aku raba teteknya, ternyata tidak begitu besar, dan empuk sekali. Penisku tegang sekali, sakit sekali rasanya dan mulai berminyak. Aku deg-degan luar biasa, maka aku buka celanaku, aku ingin onani di wajah Rinda, dan ingin menumpahkan spermaku di mulut Rinda. Namun ternya jadi lebih jauh dari itu, aku menyingkap gamis Rinda yang seperti rok, membuka celananya, aku liat celana dalamnya, vaginanya berbulu lebat sekali, dan baunya,… umph… pengap sekali rasanya, namun aku tidak perduli, celana dalamnya tidak aku buka, aku hanya menyingkap celana dalam Rinda sedikit agar aku bisa melihat vaginanya yang sangat tertutup dengan bulu kemaluan. Entah apa yang merasuki ku, aku dengan deg-degan luarbiasa, memasukkan penis ke vagina Rinda, susah sekali ternyata. “Eghhh.. ayo, nda” sambil aku bergumam. Aku ingin cepat-cepat selesai, takut ketahuan Rina dan Syaiful soalnya.

Akhirnya aku berhasil, kukangkangkan kaki Rinda, aku masukkan penisku, “aduh..ssh” sempit sekali yah ternyata, susah untuk di tarik ulur (keluar masukkan), walau tidak banyak bergerak, tidak sampai 30 detik spermaku langsung keluar, hangat dan banyak, aku banjiri vagina Rinda yang belum juga siuman dengan sperma hangatku. Deg2an sekali hatiku, apalagi aku kaget ternyata, penisku berdarah, namun setelah aku cermati, darah itu mengalir dari vagina Rinda, aku langsung ambil lap basah di dapur (masih dalam keadaan tidak bercelana) dan mengelap vagina Rinda dan selangkangannya. Aku pakaikan lagi celana Rinda seperti semula. Jujur, kakiku lemas sekali, hatiku deg-degan, dan nafasku tersengal-sengal. Rasanya bercampur antara takut dan senang. Herannya, setelah aku mengeluarkan spermaku di dalam vagina Rinda, Rinda jadi tidak menarik lagi buatku. Aku jadi merasa Ia sangat tidak menarik, dan bau keringatnya yang tadi sangat merangsangku, sekarang jadi sangat tidak mengenakkan.

Rina dan Saiful datang, mereka tidak curiga sama sekali. Dua bulan kejadian itu berlalu, Rinda hamil, awalnya Ia menutupi, karena aku tahu Ia bingung kenapa ia bisa hamil dan bahkan ia tidak percaya, karena ia merasa tidak pernah berhubungan seks. Apalagi ia berjilbab. Saat itupun tidak ada seorangpun yg curiga denganku, termasuk Rinda. Aku hanya tinggal memasang wajah innocent. Rina temannyalah yang akhirnya menceritakan hal tsb kepada teman-teman dekatku, semua teman-teman di kampus kaget, Rinda tidak lagi masuk kampus sejak hari itu, Ia stress. Saat ini aku tidak tahu lagi bagaimana nasib Rinda. Apakah Ia melahirkan anak yang dikandungnya itu atau tidak. Ya, anak itu, anakku. Satu sisi aku masih merasa bersalah sampai detik ini, namun disisi lain aku tidak lagi memikirkannya. Rinda, seorang muslimah berjilbab yang layak untuk digagahi.

IBU RINA, ISTRI DAN MERTUA

Pengalaman ini berawal ketika aku kuliah di universitas di daerah Setiabudhi Badung. Aku nge-kost di daerah Geger Kalong yang saat itu identik dengan DT-nya Aa Gym yang menjadikan tidak terbesit olehku akan mengalami pengalaman yang seru ini.

Aku nge-kost di sebuah rumah pasangan suami-istri. Mereka mempunyai anak satu namun karena sudah berumah tangga maka anaknya itu sudah tidak tinggal di rumah itu. Tempat kost-ku mungkin berada agak jauh dari kampus dibandingkan dengan tempat kost-kost yang lain dan suananya lebih sepi dan tenang. Mungkin karena itu pula aku memilih kost-an itu disamping harganya yang lebih murah daripada kost-kostan yang lain. Hanya terdapat 3 kamar yang di sewakan di belakang bangunan utama yang ditinggali oleh pemilik kost tersebut. Pemilik kost tersebut Pak Dedi yang bekerja di sebuah perusahaan operator telepon seluler dan istrinya Bu Rina yang hanya sebagai ibu rumah tangga. Pak Dedi berumur sekitar 45 tahunan dan Bu Rina sekitar 38 tahunan.

Pekerjaan Pak Dedi yang suka mengurusi proyek-proyek pembangunan BTS di daerah-daerah menjadikannya sering keluar kota, mungkin dari itu juga makanya rumah mereka di kostkan, biar Bu Rina tidak kesepian kalau ditinggal keluar kota katanya. Bu Rina mungkin bisa dibilang sudah cukup berumur bahkan sudah menjadi nenek dari anak putrinya semata wayang. Namun dari wajahnya masih terlihat segar dan manis, mungkin waktu mudanya memang cantik.

ibu rina

Waktu awal aku ngekost disana, aku menganggap Bu Rina seperti kebanyakan ibu rumah tangga lainnya, bahkan aku menganggap sebagai wanita yang alim karena penampilan sehari-harinya selalu menggunakan jilbab dan baju gamis yang longgar sehingga tidak pernah terlihat sedikit pun lekuk tubuhnya dari luar. Pada awal-awal aku biasa saja, mungkin hanya senyum kalau bertemu atau berucap sapa sewajarnya. Bu Rina biasanya sering ngobrol dengan Putri, penghuni kost yang lain.

Keadaan mulai berubah ketika memasuki smester ke-3, penghuni di kost-an itu hanya tinggal aku karena Putri telah lulus dan sudah tidak tinggal di situ lagi, sedangkan kamar yang satunya lagi memang sudah lama kosong, mungkin karena jaraknya yang jauh dari kampus sehingga kurang peminatnya.

Suatu pagi hari rabu, aku dapat jam kuliah siang. Sambil nunggu kuliah, aku hanya santai-santai di kost-an sambil baca buku. Lalu datang Bu Rina menjemur pakaian, kebetulan tempat jemuran berada di depan kamarku, jadi sempat juga kuperhatikan Bu Rina yang sedang menjemur pakaian. Tidak seperti biasanya, saat itu Bu Rina menghampiriku setelah selesai menjemur pakaiannya.

“Tidak kuliah, Din?” tanyanya mengawali percakapan.

“Jadwalnya siang, Bu.” jawabku.

“Gimana tinggal di sini, betah gak?” tanyanya lagi.

“Betah kok, bu, tempatnya bersih, tenang, murah lagi.” jawabku sambil sedikit tertawa.

“Ya mungkin buat nak udin sih tenang, tapi buat Ibu sih sepi, apalagi setelah anak ibu menikah dan ikut suaminya, makanya rumahnya ibu kost-kan.” kata Bu Rina.

“Owh… tapi kenapa ibu gak jual aja bu rumahnya trus ibu beli rumah yang tempatnya ramai gitu?” aku balik bertanya.

“Ini rumah warisan orang tua ibu, dan diamanatkan supaya tidak boleh dijual, makanya ibu tetap bertahan.”

“Ya bagus lah, bu, kan saya juga jadi dapat kost-an yang murah.” candaku.

“Ah, kamu bisa aja, Din.” kata Bu Rina sambil tersenyum. “Udah dulu ya, Din, Ibu mau beres-beres rumah dulu.” lalu dia masuk ke rumahnya.

Hari itu aku merasa sesuatu yang beda, mungkin sudah gak ada Putri teman ngobrolnya yang dulu, jadi Bu Rina mencari teman ngobrol yang lain. Semakin hari aku semakin sering ngobrol berduaan dengan Bu Rina tapi hanya obrolan-obrolan biasa sekitar lingkungan tempat tinggal, aktifitas sehari-hari, hanya sebatas itu. Namun hampir setiap hari atau saat Bu Rina sedang tidak ada kerjaan selalu saja datang untuk ngobrol denganku.

Hingga pada suatu hari Pak Dedi dapat tugas keluar jawa untuk proyek BTS-nya. Saat itu aku baru saja pulang kuliah. Waktu itu tiba-tiba hujan, karena Bu Rina sedang tidak ada di rumah maka aku mengangkat jemurannya biar tidak kehujanan. Sepulangnya Ibu Rina, aku langsung mengantarkan jemurannya tadi, namun ketika aku kembali ke kamarku, tanpa kusadari ternyata celana dalam bu Rina ketinggalan secara tidak sengaja. Duh, bingung juga jadinya. Mau kuantarkan pasti malu lah hanya mengantarkan satu celana dalam Bu Rina, tapi kalau tidak kuantarkan pasti Bu Rina bakalan berpikiran negative kalau aku sengaja menyembunyikan celana dalamnya. Ah, daripada nantinya jadi macam-macam lebih baik aku antarkan saja.

Tok.. Tok.. kuketuk pintu belakang rumah Bu Rina. Muncul lah Ibu Rina. “Eh, nak Udin.” sapanya ramah seperti biasa.

“Maaf, bu, ini ada jemurannya yang tertinggal tadi.” kataku sambil memberikan celana dalamnya dengan menahan malu.

“Oh ya, makasih, Din.” terlihat wajah Bu Rina juga nampak malu karena celana dalamnya aku pegang. “Udah makan, nak Udin?” Bu Rina mengalihkan pembicaraan.

“Udah bu, makasih.” jawabku bohong.

“Ah, pasti belum, ibu juga tahu kamu tuh suka makannya malam, ayo temenin ibu makan.” ajaknya.

“Udah kok, bu. Beneran.” aku coba menolak.

“Ayo sini temenin ibu makan, gak baik loh nolak rezeki.” katanya sambil menarik tanganku, memaksa untuk masuk.

Tak kuasa menolak, aku pun menuruti permintaan Bu Rina. Aku masuk dan mengikutinya yang membawaku ke meja makan.

“Silahkan duduk, nak Udin.” kata Bu Rina

“Iya, makasih, bu.” aku pun duduk diikuti dengan Bu Rina yang ikut duduk. “Loh, bapak kemana, bu?” aku bertanya melihat hanya kami berdua yang ada di ruangan itu.

“Tadi bapak ada tugas mendadak ke Bengkulu, padahal Ibu susah masak, jadinya ga ada yang makan, makanya Ibu ajak nak Udin makan sekalian, biar gak mubazir.” jawabnya.

Kami pun makan bersama sambil mengobrol berdua. Mulai dari masalah makanan, hoby, tempat kost-an dan lain-lain. Selesai makan aku hendak pamit, meski masih betah ngobrol dengan Bu Rina tapi tak enak juga berduan dalam satu rumah. Apalagi sudah hampir malam, mungkin juga Bu Rina mau melakukan aktivitas lainnya.

“Sudah dulu yah, bu, sudah malam.” aku pamit.

“Nyantai aja, nak Udin, temenin Ibu dulu kenapa.” tapi Bu Rina melarang.

“Ah, gak enak, bu. Kalau dilihat orang kan gak enak.” aku berdalih.

“Ah, tenang aja, lagian ga akan ada orang yang lihat. Mau ibu bikinin kopi?”

“Gak usah, bu, makasih.”

Namun Ibu Rina tetap membikinkan kopi dan mengajakku untuk melanjutkan obrolannya di sofa di depan TV. Kami pun melanjutkan obrolan tadi namun kali ini Bu Rina menanyakan hal tentang aku.

“Kamu sudah punya pacar, Din? Kok ibu perhatikan kamu gak pernah ngajak perempuan ke sini, padahal kan usia seumur kamu pasti lagi asyik-asyiknya pacaran?”

“Saya gak punya pacar, bu, lagi konsentrasi kuliah dulu.”

“Tapi kalau pacaran pasti udah pernah kan?”

“Gak juga, bu, paling kalau sekedar suka sih pernah, tapi kalau pacaran belum.”

“Masa sih secakep kamu belum pernah pacaran, Din? Kalau begitu sama donk kaya ibu.”

“Maksudnya?” tanyaku bingung.

“Dulu ibu tuh nikah muda, usia 15 tahun ibu sudah dijodohkan, malahan waktu itu baru pertama bertemu Bapak tapi ibu langsung dinikahkan. Usia 16 tahun ibu sudah punya anak.”

“Oh, pantes masih muda Ibu udah punya cucu, kan Ibu masih cantik, gak kelihatan kaya nenek-nenek.” jawabku sambil becanda.

ibu rina

“Ah, kamu bisa aja, Din.” Bu Rina tersipu malu.

“Tapi meskipun belum pernah bertemu akhirnya Ibu cinta juga kan sama bapak?”

“Gak tau juga yah, Din, mungkin selama ini Ibu hanya berusaha menjadi seorang istri yang baik. Kalau dibilang cinta mungkin ibu hanya menjalani tugas saja. Mungkin juga ibu bertahan hanya demi anak saja.”

“Maksud ibu bertahan?”

“Yah, mungkin kalau ingin hati ibu itu ingin berpisah. Bapak itu tidak pernah mau ngertiin ibu, keras kepala, kadang kalau keinginannya gak sesuai suka main kasar.”

“Sabar aja yah, bu.” aku mencoba menghibur.

“Loh, kok ibu malah jadi curhat sama kamu sih, Din, maaf yah.”

“Ah, gak pa-pa kok, bu, sapa tau aja bisa ngurangi beban ibu.” dengan spontan kupegang tangan Bu Rina.

“Gak tau kenapa yah, Din, akhir-akhir ini hari-hari ibu terasa berbeda, seperti ada hal baru yang ibu rasain yang tak pernah ibu rasain dulu.”

Aku juga merasa yang berbeda. Suatu perasaan yang tak bisa ku pahami. Kalau sedang ngobrol dengan Bu Rina hati terasa tenang, terasa nyaman. Untuk beberapa saat kami tertegun mata kami saling memandang. Pandangan yang tak biasa yang membawa kami untuk beberapa saat berada di alam yang berbeda.

Bu Rina melepaskan genggaman tanganku, tapi tanpa kuduga dia langsung memelukku. Aku hanya bisa terdiam karena kaget. Lalu aku memberanikan diri membelai kepalanya yang masih tertutup jilbab. Untuk beberapa saat kami berpelukan, lalu Bu Rina mengangkat kepalanya dan kami saling bertatap mata lagi. Seperti sudah kompakan, bibir kami pun langsung melaju hingga saling bersentuhan.

Cuuup… satu kecupan. Dan diteruskan dengan kecupan-kecupan lain hingga kami saling mengulum bibir dan bermain lidah. Sungguh nikmat kurasakan, bibirnya yang tipis manis dan ludahnya yang hangat melambungkan birahiku hingga saat itu juga penisku mulai berdiri.

Namun tiba-tiba Bu Rina seperti tersentak. “Maaf kan ibu ya, Din, ibu kelewatan.” katanya sambil cepat-cepat melepaskan ciuman dan menarik pelukan.

“Ah, nggak kok, bu. Saya juga gak bisa menahan.” aku menjawab. Mungkin ada rasa malu pada dirinya, namun dari wajahnya, aku dapat melihat hal yang sama denganku. Birahi yang meninggi…

Kami terdiam, tanpa kusadari tatapan Bu Rina tertuju pada celanaku, dia memperhatikan perubahan penisku yang membesar. “Maaf, bu, gak bisa nahan.” dengan malu kututupi celanaku dengan kedua tangan.

Bu Rina hanya tersenyum.

“Ah, ibu curang, gak kelihatan, gak seperti aku.” aku coba bercanda untuk menutupi rasa maluku.

“Kamu juga kan tadi sudah lihat celana dalam ibu, sudah pegang lagi.” sahut Bu Rina, matanya masih tertuju pada tonjolan penisku.

“Tapi kan itu gak ada isinya, bu. Kalau aku kan isinya yang menonjol yang dilihat ibu.”

“Apa kamu mau lihat juga celana dalam yang ada isinya? Nih ibu kasih.” Aku terkaget ketika tiba-tiba bu Rina berdiri dan menganggat baju gamisnya sampai ke pinggang hingga bisa kulihat celana dalam warna krem yang menempel pada pantatnya yang montok. Aku hanya melongo sambil menatap indahnya pantat Bu Rina tanpa berkedip. Lalu tiba-tiba bu Rina naik ke pangkuanku dan langsung mencium bibirku. Aku hanya mengikuti karena ini yang pertama bagiku dan aku tak tahu harus bagaimana.

Semakin lama hisapan Bu Rina kurasa semakin kencang, lalu tiba-tiba Bu Rina memasukkan lidahnya ke mulutku sambil mendesah… ”Ssshhh… ssshhh…!” Ya ampun, nikmat sekali aku rasa saat lidah kami saling bersentuhan dan bermain-main. Sambil menggesek-gesekkan vaginanya ke penisku, bu Rina memegang tanganku dan mengarahkannya ke tonjolan buah dadanya, mengisyaratkan untuk diremas. Aku pun mulai meremas-remas payudara sebelah kanan Bu Rina hingga desahannya semakin kuat.

ibu rina

Bu Rina membuka kaos oblong yang kukenakan dan dijilatinnya putingku dan sesekali menggigitnya. Aku hanya terdiam, tubuhku serasa merinding. Jilatannya semakin bawah ke pusarku dan langsung dibukanya celana jeans yang kukenakan. Penisku langsung menyembul keluar karena telah bangun dari tadi. Tanpa disentuh langsung dimasukkannya benda itu ke dalam mulutnya. Aku tersentak.

“Aww…!” erangku, keenakan
.
Bu Rina mengeluarkan penisku dari mulutnya. “Kenapa, Din?” dia bertanya.

“Ngilu, bu. Tapi enak yah?” jawabku cengingisan. “Ibu buka juga dong bajunya, masa aku aja yang telanjang.” lanjutku.

Bu Rina tersenyum dan mencium penisku, lalu dia mulai membuka bajunya satu persatu. Dibukanya jilbab yang ia pakai hingga terlihat rambutnya yang lurus panjang terurai. Cantik sekali, untuk pertama kali aku lihat bu Rina tanpa kerudung. Dibukanya juga baju gamis dan celana panjang tipis yang melindungi kakinya, hanya menyisakan celana dalam dan BH saja. Terlihat tubuhnya yang montok dengan payudara dan bokong yang besar, meski terlihat sedikit kendur namun tidak mengurangi sedikitpun keindahannya. Lalu dibukanya BH warna krem hingga payudaranya yang bulat besar menyembul keluar dengan puting merah kecoklatan. Dan yang terakhir, bu Rina melepaskan celana dalamnya perlahan-lahan, terlihat bulu-bulu tipis yang tampak dicukur rapi dengan bokong yang besar dan seksi. Baru pertama kali aku melihat wanita telanjang bulat di depanku.

“Nih, udah sama telanjang, mau diapain sekarang?” tanya Bu Rina menggoda.

“Hmm.. gak tau juga mau diapain, bu.” jawabku jujur.

“Uh, dasar! Sini punya kamu dulu, Din, Ibu mainin.” bu Rina langsung memegang penisku yang semakin tegang. “Tahan yah, Din, nanti juga ngilunya jadi nikmat.”

Bu Rina menjilati penisku, dia mengulum dan menghisap-hisapnya. Tampak jauh beda dengan Ibu Rina yang selama ini aku lihat dengan watak yang tenang dan kalem, namun kali ini Bu Rina terlihat begitu semangat dan menggebu-gebu.

“Ahh… bu, enak banget! Terus, bu, jangan berhenti…!” erangku sambil memegangi kepalanya. Aku masih belum berani menyentuh tubuhnya.

Bu Rina pun semakin kencang mengulum penisku dan sesekali juga meremas-remas bijiku. “Gantian yah, Din.” pintanya saat dirasa penisku sudah sangat licin dan basah.

Ia pun duduk di sofa dan membuka kakinya, dengan perlahan Bu Rina menuntun kepalaku ke arah lubang vaginanya. Bisa kulihat dengan jelas benda berbelahan sempit miliknya yang berwarna merah dan sudah sangat basah. Awalnya aku sungkan, namun dengan bu Rina, lama-kelamaan aku pun menikmatinya. Kuciumi bulunya yang tipis dan kujilat perlahan-lahan lubangnya.

“Aahhh… aaahhh… sssttt… shhh…” hanya desahan dari Bu Rina yang kudengar saat kumasukan lidahku ke lubang vaginanya. “Iya, sayang, terus! Sshhhs… Itu itilnya juga ya, sayang!“

Berbunga-bunga aku dipanggil sayang oleh Bu Rina. “Itil tuh yang mana, bu?” aku bertanya belum paham.

“Itu tuh yang seperti kacang tapi kecil.” jawabnya parau.

Oke, aku menemukannya, ada di atas bibir vagina bu Rina. Tanpa bicara lagi langsung aku jilati benda mungil bernama itil itu. “Ouw yah, terus sayang…! isep yang kuat! Owwhhh… sssshhh…” bukan hanya desahan kali ini, tapi juga erangan keluar dari bibir manis Bu Rina.

Rintihannya terdengar dahsyat. Bu Rina memegang rambutku, mengisyaratkan agar aku lebih kencang menghisap-hisap itilnya. Tubuh Bu Rina yang montok dan semok menggeliat dan menggelinjang-gelinjang semakin kencang dan tak beraturan. Kupegangi pinggulnya agar itilnya tetap dalam hisapanku.

“Oowwhhhhh…. Sayaaang!” erang panjang Bu Rina. Kurasakan cairan hangat keluar dari lubang vaginanya. “Hhhh… hhh… Ibu sudah keluar, sayang.” katanya sambil terengah-engah. “Sini, masukin punya kamu, Din!” Bu Rina memegang penisku dan menuntunya masuk ke lubang vaginanya.

Cleebb! Kudorong penisku hingga masuk menembusnya. Terasa hangat dan ketat kurasakan. ”Goyang, Din. Gerakkan maju mundur, tapi jangan sampai lepas.” perintahnya. Mulai kugoyang pinggulku sambil kupegangi pinggang ramping Bu Rina. Payudaranya yang membulat besar, yang terlihat sungguh sangat menggiurkan, masih belum berani kupegang.

“Owh yeah, sayang… hmmmm… sshhh.. yeah…” Bu Rina kembali mendesah. Kupercepat gerakanku yang terus menghujam vaginanya. “Owhhh… ahhhhh… oowwssshhhhhh…“ desahannya terdengar semakin memilukan. ”Aarrgghhhhhhhh…!” kembali Bu Rina mengerang panjang, dan kali ini cairan hangat terasa menyembur di batang penisku. Ternyata dia telah kembali orgasme.

“Kamu juga keluarin dong, sayang.” rayu bu Rina genit dengan muka memerah dan berkeringat.

“I-iya, bu.” aku memang merasa seperti kebelet namun kutahan dari tadi. Aku masih ingin menikmati rasa ini sedikit lebih lama. “Ntar kalau keluarnya di dalam gimana, bu?” tanyaku sambil terus menggoyang.

“Gak pa-pa, sayang, Ibu sudah di KB kok. Mau gaya lain gak, sayang?” tawarnya.

“Gaya gimana, bu?” tanyaku yang memang belum pengalaman.

Bu Rina mengeluarkan penisku dan langsung nungging. Kulihat pantatnya yang masih kencang, mulus dan besar, lalu dituntunnya lagi penisku masuk ke lubang vaginanya. “Hmm, nikmat, sayang!” erang Bu Rina saat kutusuk tubuh montoknya dari belakang.

“Iya, bu. Nikmat baget…” aku mengangguk mengiyakan. Ternyata gerakan nungging ini membuatku tak tahan. Semakin cepat kugoyang Bu Rina, semakin terasa nikmat kedutan di ujung penisku. “Aaahhh….” aku mengerang keenakan.

“Ooowhhh… shhhh…” desis Bu Rina tak kalah nikmat.

“Aku mau keluar, sayang.” tanpa sadar, aku ikut memanggil Bu Rina dengan sebutan sayang.

“Aku juga, sayaaaang…!“ Bu Rina menjerit panjang.

“Ahhhh…” aku menggeram. Lalu crottt.. crottt.. crottt.. aku pun meledak, spermaku berhamburan memenuhi liang kewanitaannya.

“Ahhh… shhh… nikmat, sayanggg…” Bu Rina menyambutnya dengan semburan yang tak kalah dahsyat. Dia kembali orgasme untuk yang ke sekian kalinya.

Aku pun terkulai lemas di lantai sambil menyandarkan tubuhku ke sofa. Bu Rina turun dari sofa dan ikut berbaring di lantai dengan kepala diletakkan di pahaku. Untuk sesaat kami hanya tertegun diam tanpa kata. Setelah nafas kami kembali teratur, aku segera mengenakan kembali pakaianku, begitu juga dengan Bu Rina. Kami berpelukan dan berciuman sesaat sebelum akhirnya berpisah malam itu.

Aku tertegun di kamar kost-anku, perasaanku tak menentu, pikiranku kacau balau. Aku masih belum percaya dengan kenikmatan yang baru saja kurasakan, namun di sisi lain ada perasaan takut dengan apa yang telah terjadi. Mungkinkah suatu hari suami Bu Rina akan mengetahui atau kah sikap Bu Rina akan berubah terhadapku. Tidak bisa dipungkiri meski usia Bu Rina dua kali lebih tua dariku tapi ada perasaan yang special terhadapnya.

Esoknya aku menjalani aktivitas seperti biasa, bangun pagi dan berangkat ke kampus. Seperti biasa juga kulihat Bu Rina sedang menjemur pakaian di depan kamar kostku. Namun ada yang tidak biasa pagi ini, biasa nya Bu Rina selalu mengunakan jilbabnya bahkan sedang menjemur sekalipun namun pagi ini kutemui Bu Rina menjemur tanpa jilbabnya, bahkan hanya menggunakan daster tipis. Aku berjalan menuju luar, Bu Rina hanya memandang sesaat, tanpa sapa bahkan tanpa senyum. Sungguh aneh aku rasa, biasanya kalau aku lewat Bu Rina selalu menyapa atau setidaknya tersenyum.

Di kampus, pikiranku melayang, pelajaran kuliah tak ada yang masuk. Pikiranku terus tertuju pada Bu Rina, apakah Bu Rina menyesali apa yang telah aku dan dia lakukan sehingga sikapnya dingin begitu. Aku tak bisa terus membiarkan pikiranku menerka-nerka. Sehabis mata kuliah pertama aku langsung pulang, aku memberanikan diri bertanya pada Ibu Rina.

Tanpa masuk ke kamar kost, aku langsung menuju pintu rumah Bu Rina. “Pagi, bu.” sapaku, kebetulan pintu belakang rumah Bu Rina tidak tertutup.

“Masuk aja, Din.” terdengar sahutan dari dalam rumah. Kutemui Bu Rina yang sedang menonton TV dengan masih mengggunakan daster merah muda yang tadi pagi.

Setelah dipersilahkan duduk, aku pun memulai percakapan. “Maaf, bu, ada yang ingin kubicarakan.” Bu Rina hanya terdiam dan nampaknya dia juga tahu akan arah pembicaraanku. “Maaf ya, bu, kalau aku lancang, aku mau bertanya tentang yang kemarin.”

“Memangnya kenapa, Din?”

“Maaf ya, bu, dengan yang kemarin.”

“Kenapa minta maaf?”

“Sepertinya Ibu menyesali dengan yang terjadi kemarin.”

“Hmm…” Bu Rina terdiam sejenak sambil menarik nafas. “Ibu gak menyesal kok, Din, justru ibu merasa malu sama kamu.”

“Loh, kok malu sama aku, bu?”

“Yah, kamu masih muda, masa ibu yang sudah tua ini suka sama kamu.”

“Yah, aku juga gak tahu, bu, tapi aku juga merasakan perasaan yang aneh terhadap ibu, entah kenapa tiba-tiba aku merasa takut karena kemarin sikap ibu menjadi berubah dingin seperti tadi.”

“Ibu bukan dingin, Din, ibu juga bingung harus gimana. Apalagi tadi pagi ibu sudah sengaja menggunakan baju ini tapi kamu terus berjalan tanpa melirik sama sekali.”

“Oh, jadi untuk aku ya, bu?”

“Gak tau kenapa bangun tidur tadi ibu ingin merasakan kembali seperti kemarin, jadi ibu langsung menggunakan baju ini, eh tapi kamunya lurus terus gak ngelirik sekalipun.”

“Seperti kemarin gimana, bu, bukannya ibu sering seperti itu?”

“Yah, ibu memang sering berhubungan intim seperti itu, tapi yang kemarin beda banget.”

“Beda gimana, bu?”

“Seumur-umur ibu baru ngerasain keluar lebih dari 1 kali dalam sekali main, kalau sama suami ibu paling cuma sekali, bahkan sering juga ga keluar sama sekali.”

Aku tidak bisa komentar sama sekalai, aku hanya bisa pandangi wajah Bu Rina saat bicara, gerak bibirnya yang tipis memancarkan pesona yang mendalam dan menaikkan hasratku untuk melumatnya.

“Kenapa, Din?” dia bertanya.

“Ah, gak pa-pa, bu.” aku terkaget. “Hmm, daster ibu masih sama, berarti dari pagi ibu belum mandi donk.” aku coba alihkan pembicaraan.

“Ah, kamu, Din, ibu kan jadi malu.” wajah cantik bu Rina bersemu merah.

“Tapi meski belum mandi ibu tetap cantik kok.” kataku.

“Ah, masa sih, ibu kan sudah tua gini. Ya sudah lah, ibu mandi dulu.” bu Rina langsung beranjak masuk ke kamar mandi, entah kenapa dia langsunag mandi tanpa menungguku pulang dulu dan entah kenapa juga pintu kamar mandinya dibiarkan terbuka gitu.

“Maaf, bu, kok pintunya gak ditutup?” tanyaku dari luar.

“Ah, kamu, Din. Gak ngerti aja, cepetan masuk sini.” timpalnya dari dalam.

Aku pun masuk ke kamar mandi, Bu Rina tiba-tiba langsung memelukku dan mencubuku seperti seorang yang sedang kesurupan sampai-sampai bibirku digigitnya. Nampaknya sudah dari pagi hastratnya dipendam. Dibukanya daster merah mudanya dan ternyata sudah tanpa BH dan CD sehingga telanjang bulat lah dia.

“Jilati memekku, Din.” pintanya sambil menaruh bokong di atas closet duduk yang tertutup.

Memek? Pikirku, aneh kata itu bisa terucap dari mulut Ibu Rina yang selama ini selalu santun dalam bertutur kata. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju arah memeknya yang sudah mengaga. Kurasakan cairan di dalamnya, ternyata sudah basah. Kugoyangkan lidahku membelai klitorisnya dan dengan seketika tubuh Bu Rina menggeliat dan mendesah.

“Aaaahh… terus, sayang.” tangannya memegang kepalaku dan sesekali menjambak rambutku ketika rangsanganku makin menghebat. Kuangkat kakinya ke pundakku agar semakin leluasa aku bereksplorasi di bagian selangkangan Bu Rina. Sesekali aku jilati lubang pantatnya yang berwarna coklat hingga tubuh Bu Rina pun menggeliat dengan hebatnya.

“Aaahh…” terdengar teriakan Bu Rina. “Pelan-pelan, sayang.” ternyata dia kaget saat kugigit klitorisnya.

“Eh, iya, bu. Gantian ya, bu.” aku pun berdiri sambil membuka bajuku, dan tanpa kuminta, Bu Rina langsung membuka celana dan CD-ku hingga langsung menyembul lah penisku dengan kencangnya. Tanpa menunggu lama, Bu Rina langsung memasukkan penisku ke mulutnya, perlahan tapi pasti gerakannya membuatku merinding nikmat. Dijulurkan lidahnya dan dijilatinya inci demi inci batang penisku, mulai dari biji zakar sampai kepalanya, terus begitu bolak-balik. Terlihat wajahnya begitu menikmati layaknya anak kecil makan es krim.

“Auw!” aku tersentak kaget saat tiba-tiba kepala penisku digigitnya. Namun kulihat Bu Rina malah tersenyum nakal.

“Gantian tuh…” bisiknya.

“Ah, ibu nakal.” kataku sambil kucubit pipinya.

ibu rina

Bu Rina pun berdiri sambil terus memegangi penisku, dituntunnya aku duduk di atas WC dan ia pun langsung naik ke pangkuanku sambil menuntun penisku masuk ke dalam lubang vaginanya.

“Aaaaahhh…” sambil mendesah, kulihat matanya terpejam saat penisku masuk menerobos vaginanya. Terasa kehangatan menyelimuti batang penisku, nikmat sekali. Bu Rina mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya naik turun, sesekali juga digoyangkan berputar. Didekatkannya dadanya sehingga payudaranya menempel tepat di wajahku, kujilati putingnya dan sesekali kugigit, namun kali ini bukan jeritan yang keluar dari mulut manis Bu Rina, tapi desahan yang semakin mendera.

“Owhhh… ahhhh… nikmat, sayang.” jeritnya. Dituntunnya tanganku ke pantatnya. Sumpah, seksi banget pinggulnya, walau sudah berumur namun pantatnya belum turun sama sekali dan seperti jarang terjamah. Kuremas-remas daging bulat itu sambil sesekali kuelus-elus paha mulusnya.

“Hmm… yeah, begitu, sayang!” nampaknya Bu Rina menikmati ketika aku memainkan lubang anusnya. Kucoba untuk memasukan jariku kesana, namun tidaklah mudah karena begitu rapatnya, hanya ujung kukuku saja yang dapat menerobos masuk.

Tak lama kemudian kudengar desahan panjang yang mulai tak asing. “Aaahhhhhhh…” tubuh montok Bu Rina menggeliat dengan hebatnya yang menandakan dirinya sudah mencapai orgasme. Penisku terasa nikmat tercengkeram jepitan vaginanya, dan ujung jari telunjukku pun ikut terjepit lubang pantatnya.

“Udah keluar, bu?” tanyaku.

“Iya, sayang.” jawab bu Rina dengan nafas yang belum beraturan. “Sebentar ya, sayang.” katanya sambil merebahkan tubuhnya ke dadaku. Kupeluk dia dan kubelai rambutnya yang panjang lurus terurai dan sesekali kukecup keningnya dengan penis yang masih menancap dalam di lubang vaginanya.

“Nikmat baget, sayang, sampai aku lemas gini. Mau gantian, sayang?” tanyanya mesra.

“Hmm, terserah ibu saja deh.” jawabku.

“Gantian ya, kamu yang ngegoyang aku. Tapi sebelum itu, boleh minta sesuatu gak?”

“Minta apa, bu?” tanyaku.

“Kalau kita lagi berdua, jangan panggil ibu dong, panggil aja Rina atau apalah.” katanya sambil memainkan pentil dadaku.

“Ah, ntar gak sopan, bu.” aku berkilah.

“Kamu sayang aku gak? Kalau sayang, jangan panggil ibu dong.” dia meminta lagi.

“Iya, Rinaku sayang.” kukecup bibirnya dan saat itu juga wajahnya tersipu merona. “Terusin yuk, bu… eh, Rina sayang.”

Bu Rina menatap wajahku, lalu ia turun dari pangkuanku dan gantian, sekarang dia yang duduk di atas WC dengan mengangkangkan kedua kakinya. Kuhujamkan penisku ke vaginanya dalam-dalam lalu kukocok dengan cepat hingga desahan Bu Rina pun kembali keluar.

“Ahhh… sayaang!” nampaknya Bu Rina mencapai oragame lagi, begitu cepat, tidak sampai tiga menit.

“Lho, sudah keluar lagi, sayang?” aku bertanya heran.

“He-eh.” bu Rina mengangguk malu-malu.

“Kok cepet banget?” sambil terus kutusukkan penisku untuk menggenjot tubuh sintalnya.

“Iya, gak tau nih. Kalau sama kamu, aku jadi cepet banget.” muka bu Rina tersipu. “Kamu juga keluarin donk sayang.” dia meminta.

“Kalau begitu, Rina sayang, nungging yah…” kataku selanjutnya.

Bu Rina pun langsung nungging dengan tangan bertumpu pada bak mandi. Kuhujamkan penisku ke vaginanya dari belakang. “Aaaahhh…” wanita itu menjerit nikmat. Begitu juga denganku.

Kupercepat kocokanku sambil kuremas payudaranya, terdengar suara pok.. pok.. pok.. saat hujamanku mengenai pantatnya yang seksi. Lubang anusnya yang berkerut-kerut membuatku tergoda untuk memainkannya. Kutekan-tekan dengan jempolku dan kucoba mencoloknya. Sedikit demi sedikit jempolku masuk ke lubang pantanya dan saat itu juga kurasakan vaginanya menjadi bertambah kencang mencengkeram penisku. Desahan Bu Rina sekarang sudah mulai berubah menjadi erangan.

“Aarrgghhhhh… sayang! Aku mau lagi…” jeritnya.

“Iya, sayang mau apa?” jawabku tanpa menghentikan hujamanku.

“Mau…. ke-keluar… aarrgghhhhh…” saat itu juga penisku terjepit dengan kerasnya. Sekali lagi Bu Rina orgasme. Aku yang juga sudah tak tahan, menyusul tak lama kemudian. Penisku meledak, menyemburkan mani ke dalam vaginanya. Croot.. crooot.. croooot.. terasa cairan hangat mengalir dari ujung penisku.

“Arghhh… Rina sayang!” erangku keenakan. Aku tersungkur di lantai kamar mandi, demikian juga dengan bu Rina. Namun itu tak lama, karena selanjutnya kami mandi bareng. Saling menyirami, saling menggosoki tubuh masing-masing dengan sabun, dan membilasnya sampai bersih.

“Bisa minta tolong gak, sayang?” tanya bu Rina saat menyeka tetesan air di tubuh mulusnya dengan handuk.

“Minta tolong apa, sayang?” tanyaku balik.

“Aku lemes. Gendong aku ke kamar ya?” pintanya dengan manja.

“Apa sih yang nggak buat Rinaku sayang.” tanpa basa-basi, langsung kuangkat tubuh molek Bu Rina menuju kamarnya.

Di dalam, kami tidak langsung memakai baju. Kami berdua tidur terlentang di kasurnya Bu Rina, rasa capek menghinggapiku dan tanpa kusadari aku pun tertidur, dengan tubuh telanjang Bu Rina berada di pelukanku.

***

Aku terperanjat dari tidurku, kulihat jam di dinding sudah menunjukan pukul sembilan malam, ternyata sudah dua jam aku terlelap tidur. Kupandangi diriku, masih tampak telanjang namun sehelai selimut sudah menutupi tubuhku. Kulihat sampingku dan sekeliling kamar, ternyata Bu Rina sudah tidak ada. Aku beranjak dari tempat tidur, dengan selimut yang kubelitkan, aku menuju kamar mandi hendak cuci muka dan mengambil pakaianku yang masih tertinggal di sana. Ketika keluar kamar mandi, kudapati Bu Rina sedang menyiapkan makanan di meja makan.

“Udah bangun ya? Makan dulu yuk, sayang.” sapanya dengan senyuman manis.

“Eh, iya, bu.” jawabku malu-malu.

“Eits…” jari telunjuknya mengangkat sambil mendelik ke arahku.

“Eh, iya, sayang.” nampaknya aku masih belum terbiasa tidak memanggilnya ibu. Kupandangi bu Rina dengan seksama, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia nampak berbeda. Rambutnya yang lurus dibiarkan terurai sampai setengah punggungnya. Wajahnya yang manis tambah semakin cantik saja dengan riasan tipis yang menawan. Tubuhnya yang montok terlihat jelas setiap lekukannya, meski tidak langsing lagi namun terlihat kencang terawat. Bu Rina hanya mengenakan pakaian tidur transparan warna putih dengan motif bunga yang panjangnya sepaha dan mengunakan CD yang juga transparan. Tampak jelas payudaranya terlihat karena tidak mengenakan BH. Pantatnya tercetak indah pada pakaian tidurnya.

“Kok ngelihatnya kaya gitu banget sih?” tanya bu Rina.

“Kamu cantik banget.” aku hanya bisa terpana.

“Ah, masa sih?” Bu Rina tersipu malu.

Aku menghampirinya dan duduk di kursi meja makan yang sudah tersedia hidangan. Bu Rina lalu mengambilkan nasi dan lauknya serta memberikan kepadaku. Selanjutnya bu Rina duduk di pangkuanku. “Suapin aku ya, say.” pintanya manja.

“Ih, kaya bayi aja deh.” jawabku sambil meremas payudaranya gemas.

“Lha, kan tadi udah dimandiin, ya sekarang tinggal disuapinnya dong.”

Kami pun makan bersama dan saling suap-suapan, sesekali kami bercanda. Nampak indah aku rasa hari itu. Demikian juga dengan Bu Rina, wajahnya memancarkan keceriaan yang seperti mengembalikannya ke masa mudanya.

“Tidur di sini ya, sayang?” pintanya.

“Emang bapak kapan pulangnya?” tanyaku.

“Seminggu lagi baru pulang, kamu di sini aja ya temenin aku.”

“Hmm, kalau dengan suami, Rina suka seperti ini gak?”

“Seperti ini gimana?”

“Ya, manja-manjaan gini?”

“Hmm.. Boro-boro, aku manja dikit aja udah dibilang kaya anak kecil, justru yang ada malah aku dimarahi. Emang kamu gak suka ya aku kaya gini?” wajanya cemberut.

“Ya suka lah, sayang.”

“Hmm.. jadi gimana, mau tidur di sini kan?”

“Iya deh. Mau tidur sekarang?” tanyaku.

“Hmm, main dulu ya?” jawab bu Rina sambil tersenyum.

“Main apa, Rin?” jawabku pura-pura gak tau.

“Tuh dedenya sudah bangun lagi…” Bu Rina menggodaku.

“Ah, kamu tahu aja.” kuremas lagi payudaranya.

“Ya tau donk, kan ada yang ngeganjal nih di bawah. Ke kamar yuk!” ajaknya.

“Ayo, sapa takut.” kutanggapi ajakannya.

“Ya ayo.” bu Rina tersenyum-senyum.

“Ya turun donk, sayang.” mana bisa jalan kalo dia masih pangku seperti ini.

“Gak mau. Pengennya diangkat lagi.” manjanya mulai keluar lagi. Entah kenapa manjanya ini yang sangat aku sukai.

Kami pun beranjak ke ranjang di kamar, kurebahkan tubuh montok Bu Rina ke atas kasur. Tanpa basa basi kuciumi bibirnya, kulumat penuh nafsu. Demikian juga dengan Bu Rina, membalas ciumanku dengan nafsu yang bergelora juga. Kumasukan lidahku ke mulutnya, lidahnya pun menyambut lidahku, lidah kami bergulat dengan menggebu, sesekali lidahku dihisapnya. Tanganku pun gak mau kalah, kuremas payudaranya yang 38D, kupilin-pilin putingnya. Desahannya kian menjadi, kujilati lehernya, kukeluarkan payudaranya dari baju tidurnya dan sampailah jilatanku di putingnya. Nampaknya kali ini Bu Rina sudah tak tahan dengan pemanasan lama-lama.

“Langsung masukin, Say.” dia meminta.

“Sekarang?” tanyaku heran.

“Iya, cepet, sayang.” tangan bu Rina langsung mengarahkan penisku ke vagina. Dengan digosok-gosokkan sebentar, penisku langsung dihujamkannya. Dipeluknya tubuhku sampai aku menindih tubuhnya, diciuminya mulutku dengan penuh nafsu. Aku hanya menggenjotnya dan mengikuti permainan yang Bu Rina mau. Tubuhnya menggeliat, dilepaskannya ciuman mulutku lalu kakinya diangkat ke pundakku. Pada saat itu, aku rasakan jepitan vagina yang luar biasa, dan tak lama kemudian tubuh Bu Rina menggeliat dengan hebatnya dan erangan kerasnya pun keluar.

“Aahhhhhh… sayang, aku keluar!” tubuh bu Rina lemas seketika, dan aku pun menghentikan genjotan. Kucium keningnya dan berbaring di sampingnya, memberi waktu bagi wanita cantik itu untuk mengunpulkan tenaga kembali.

“Say…” suaranya lirih di telingaku.

“Iya,” jawabku.

“Kamu belum keluar ya?”

“He-eh.” jawabku. “Sudah siap untuk nerusin lagi?” sambungku.

“Ayo, tapi minta yang belakang ya?”

“Sambil nungging gitu?” tanyaku.

“Iya, tapi lubang yang satunya lagi. Tadi waktu di kamar mandi pas kamu mainin itu enak banget rasanya.”

“Lubang pantat??” tanyaku heran.

“Iya, sayang. Mau ya?” pintanya setengah memohon. Bu Rina pun langsung mengambil posisi nungging, aku bingung gimana harus memulai yang satu ini. Kucoba masukkan kepala penisku ke lubang pantat Bu Rina namun setelah beberapa kali berusaha tetap gak bisa. Lubang itu terlalu kecil dan rapat.

“Coba mainin dulu, Say.” kata bu Rina.

Tanpa menjawab, aku pun segera memainkan jariku di lubang pantatnya. Kutekan-tekan perlahan, kugunakan ludahku untuk melumasinya karena kering. Perlahan-lahan ujung jariku masuk dan Bu Rina pun mengerang sambil menggeliat. Kutekan jari telunjukku sehingga masuk semua ke lubang pantatnya, dia pun langsung menjerit mengerang. “Aaaahhhhh…”

“Kenapa, Say, sakit ya?” tanyaku.

“Hu-uh.” jawab bu Rina singkat.

“Mau diterusin gak?”

“Terusin aja, Say, nanti lama-lama juga nikmat.”

Kukeluarkan jariku, kucoba memasukkan kembali penisku ke lubang pantat bu Rina. Meski tidak selancar seperti masuk ke vagina, namun kali ini penisku berhasil masuk. Tapi kali ini aku terkaget-kaget, kulihat darah merah keluar dari sekitar lubang pantatnya. Kulihat Bu Rina hanya terpejam menggigit bibirnya sambil menahan erangan.

“Gimana nih, Say, berdarah gini?” aku tak tega untuk mulai menggoyang.

“Terusin aja, Say, tanggung.” jawab bu Rina. Dari raut wajahnya, aku bisa melihat kalau dia merasakan sakit di pantatnya, namun rasa penasaran yang begitu besar mengalahkan rasa sakitnya. Namun sebaliknya dengan aku, kurasakan nikmat sekali, penisku terasa dicengkeram kuat, lebih nikmat daripada dimasukkan ke lubang vagina.

Pelan, kukocok penisku, namun tak secepat seperti di vagina. Lubang pantat bu Rina yang begitu rapat menjadikan penisku terbatas dalam bergerak. Aku juga sengaja tidak mempercepat gerakanku agar bu Rina tidak semakin sakit. Hanya 5 menit, penisku langsung mengeluarkan isinya. Cengkeraman pantat bu Rina yang kuat menjadikan penisku tak dapat menahan sperma seperti biasa. Kurasakan nikmat yang begitu dasyat, namun dari tanda-tandanya, aku tidak melihat kalau bu Rina mencapai orgasme.

“Udah keluar nih, kamu belum ya?” tanyaku.

“Hu-uh.” jawabnya singkat, mungki masih merasakan sakit di pantatnya.

“Gimana dong?”

“Gimana apanya?”

“Kamu kan belum keluar.”

“Ah, gak pa-pa.”

“Sakit ya, Say?” kupeluk dari belakang tubuh Bu Rina yang masih tengkurap. Entah kenapa ada perasaan bersalah karena telah membuatnya kesakitan.

“Gak pa-pa kok, Say. Ntar sakitnya juga ilang, sama kaya waktu pertama kali memekku diperawanin.” kata bu Rina.

Aku tak membalas lagi ucapannya. Aku hanya memeluknya dan membelai rambutnya dengan sayang. Malam itu pun untuk pertama kalinya aku tertidur semalaman dengan seorang wanita dalam pelukanku.

ibu rina

***

Entah berapa kali dalam seminggu itu aku berhubungan badan dengan Bu Rina, tidak bisa dihitung sepertinya. Tidak pagi, siang, atau malam, pokoknya kalau mau, langsung saja kami berhubungan badan. Tidak hanya kebutuhan batinku saja yang terpenuhi, Bu Rina pun selalu menyiapkan makanan dan mengurus keperluanku.

Setelah suaminya pulang, kami tak lantas berhenti berhubungan badan. Pada siang hari, kami selalu mencuri-curi waktu untuk saling memuasakan birahi. Bukan hanya birahi, rasa sayang pun kian menjadi, bahkan menjadi cinta. Tak jarang juga saat Bu Rina sedang dengan suaminya, timbul rasa cemburu di dadaku. Mungkin ini terlarang, bahkan dosa, namun semua itu seakan sirna saat tubuhku dan tubuh Bu Rina bersatu. Aku sudah seperti suaminya di siang hari dan kalau suaminya sedang tugas keluar kota, dia menganggapku suami sepenuhnya. Hubungan sembunyi-sembunyi ini terus kami lakukan sampai aku lulus kuliah.

Setelah aku lulus, tak ada lagi alasanku untuk menetap di kost-an Bu Rina. Aku juga tak punya alasan untuk mengujunginya, nanti bisa menimbulkan kecurigaan. Namun hubunganku dengan Bu Rina tidak sepenuhnya terputus. Kami masih suka bertemu melepas kerinduan yang selalu diteruskan dengan melepas birahi dengan bercinta. Mungkin hanya dua minggu sekali atau pada situasi yang memungkinkan, namun karena frekuasi yang berkurang itu menjadikan hubungan seks kami menjadi lebih nikmat.

***

Asap mengepul dari mulutku setelah rokok kuhisap. Sudah hampir 15 menit aku duduk menunggu di depan hotel melati murahan di kota Bandung. Dari arah gerbang hotel datanglah sosok yang sudah aku nanti dari tadi. Wanita dengan baju muslim, lengkap dengan jilbabnya dan tas kecil yang ditentengnya. Tanpa keluar sepatah katapun, kami langsung menuju kamar di belakang yang sudah aku pesan tadi. Setelah masuk kamar, pintu langsung aku kunci. Kami langsung berpelukan. Hampir 5 menit lebih kami berpelukan erat. Rasa rindu yang menggebu dua insan yang saling mencinta bersatu dalam sebuah pelukan.

Kukecup keningnya. “Kangen, Say.” kata itu yang pertama terucap dari mulutku.

“Sama,” bu Rina menjawab lirih. Hampir sebulan kami tidak bertemu. Suami Bu Rina telah pensiun dan juga mereka habis berlibur ke luar kota.

“Gak ilang juga…” bisikku.

“Ilang apanya?” Bu Rina bertanya.

“Cantiknya.”

“Ah, bisa aja kamu, Say. Kamu gimana kabarnya?” Bu Rina balik bertanya.

“Baik.” aku menjawab.

“Kalau dede nya?”

“Hmm, kangen ya sama dedeku?” kucubit pipinya.

Saat itu juga kami langsung berpelukan. Bibir kami menari-nari saling melumat, lidah kami bergumul dengan hebatnya dan ludah kami bercampur. Tanganku mulai merayap menuju gundukan daging di dadanya. Dengan penuh nafsu kuremas payudara itu. Tangan Bu Rina pun tak mau kalah, diremas-remasnya pula tonjolan di celanaku, yah penisku yang telah bangun dan minta dikeluarkan dari celana.

Satu per satu kami saling melepas pakaian sampai kami telanjang bulat. Bibirku terus menjilati mulut, pipi, telinga, leher, dan payudaranya. Di daerah payudara, jilatanku cukup lama. Kumainkan puting coklat Bu Rina yang sudah mengeras. Desahan terus keluar dari mulut Bu Rina yang manis tipis. Jilatan lalu kuterukan ke perutnya. Di pusarnya, lidahku menari-nari. Dan terus turun semakin ke bawah, menuju bulu rambut kemaluan Bu Rina.

Seolah mengerti, Bu Rina membuka kakinya sehingga terlihatlah vaginanya yang sempit dan legit. Tercium aroma khas yang menyengat, namun aroma itulah yang aku rindukan. Lidahku terus berkelana, klitorisnya yang menyembul menjadi sasaranku selanjutnya. Keras terasa di lidahku, semakin menggeliat pula tubuh Bu Rina saat lidahku menyentuh klitorisnya. Selanjutnya lubang vagina, lidahku menari-nari masuk keluar lubangnya. Kugigit juga bibir vagina Bu Rina yang seperti jengger pada ayam.

Hampir 5 menit lidahku menari-nari di daerah vagina, dan akhirnya sampai juga pada moment yang kutunggu-tunggu. Yah, bu Rina orgasme. Ada perasaaan bahagia, senang, bangga saat aku bisa membuat wanita cantik itu orgasme.

“Aku sudah keluar, Sayang!” bu Rina berbisik lirih dengan nafas yang belum teratur. Dia lalu beranjak bangun, mengerti dengan tugasnya selanjutnya. Sambil berlutut, dihisapnya penisku dengan lahap. Hampir semua batangku dijelajahi dengan lidahnya, buah zakarku juga dikulum di mulutnya.

“Terus, sayang…” ucapku. Bu Rina semakin cepat dengan kulumannya.

Aku yang sudah horny, segera menelentangkan tubuh Bu Rina di atas ranjang. Tanpa basa-basi, langsung kutancapkan penisku ke vaginanya. ”Ahhh… “ Bu Rina merintih saat penisku menerobos masuk kemaluannya.

Kuangkat kaki Bu Rina ke pundakku, aku tahu posisi itu lah yang paling disukai oleh Bu Rina, katanya penetrasinya lebih terasa. Setahap demi tahap kocokanku semakin kencang, demikian pula dengan desahan Bu Rina. “Ahhh… aku mau keluar lagi, sayang.” jeritnya.

Mendengar itu, semakin cepat pula kocokanku. Hingga akhirnya, “AAAGGHHHHHHHHH…!!!” tubuh Bu Rina menggeliat kencang, tangannya meremas kain seprei. Aku tahu, dia sudah orgasme lagi.

“Hah.. hah.. hah..” nafasnya masih belum beraturan, namun tidak aku beri kesempatan berlama-lama. Aku segera membangunkannya dan meminta berganti posisi. Kini aku yang telentang, Bu Rina langsung menaikiku dan menuntun masuk penisku ke vaginanya. Seperti anak kecil yang menaiki kuda, Bu Rina terus mennggenjotku. Payudaranya yang sudah sedikit kendur ikut bergoyang naik turun mengikuti irama tusukanku. Sambil sesekali membetulkan rambutnya yang terurai, mulut Bu Rina tak berhenti mengeluarkan desahan. Tanganku pun ikut aktif memainkan klitorisnya untuk menambah kenikmatan. Dan hanya 5 menit berselang, orgasme ketiga Bu Rina.

“Aahhhh… nikmat, sayang!” tubuh Bu Rina terkulai lemas di atasku, penisku masih berada di dalam vaginanya. Kupeluk dia, kuciumi pipinya. Bu Rina berbisik di telingaku. “Anal yuk, sayang?”

Aku hanya mengangguk menyetui permintaannya. Bu Rina langsung menungging, lubang pantatnya sekarang sudah longgar dan tidak serapat dulu sehingga tidak perlu waktu lama, penisku pun sudah berada di dalam pantatnya.

“Nikmat, sayang. Terus, aku milikmu!” Kalau sudah anal, memang bukan hanya desahan, namun mulut bu Rina pun tak berhenti meracau. “Pukul pantatku, plissss…” dia meminta.

Plak.. Plak… Plaaaak… Kupukul pantat bu Rina yang montok dengan telapak tanganku. Warna putih mulus pantatnya kini berubah menjadi memerah.

“Kurang keras, sayang! Yang keras mukulnya! Lebih keras lagi!” pintanya lagi.

Plaaak… Plaaakk… semakin keras pukulanku, dan semakin kencang pula kocokanku di pantatnya. “Aahhhhhh…” Bu Rina menjerit. “aku keluar, sayang! arghhhhh…” tubuhnya berkedut-kedut saat dari dalam liang vaginanya menyembur cairan hangat yang banyak sekali hingga membasahi lantai.

“Aku juga, Say!” crot.. crot.. crot..!! spermaku menghujam di dalam pantat Bu Rina dan saat kukeluarkan penisku, nampak spermaku berceceran keluar dari lubang pantatnya. Bu Rina tengkurap lemas, sementara aku terbaring terlentang di sampingnya. Untuk beberapa saat, kami terdiam karena kecapekan. Kusibakkan rambutnya hendak mencium pipinya, namun aku terkaget ketika melihat air mata menetes dari mata Bu Rina.

“Kenapa menangis, Say?” tanyaku heran.

“Ini untuk yang terakhir kali, Sayang.” jawab bu Rina Lirih.

“Kenapa terakhir?” aku semakin heran, apa dia sudah bosan? “Ibu sudah gak menginginkan aku lagi?”

“Nggak. Bukan begitu. Aku sayang kamu, aku cinta kamu, tapi ini harus.” tangisannya menjadi. “Aku akan pindah ke Makasar.”

“Tapi aku gak mau pisah.” aku tidak bisa menerima keputusannya. “Kenapa?” aku menuntut penjelasan.

“Aku cinta kamu, Din, tapi aku gak mau menghancurkan hidup kamu, masa depan kamu, selamanya kita tidak mungkin bisa bersama.”

Aku hanya tertegun, hatiku hancur berkeping-keping.

“Selamanya aku cinta kamu, Din. Maafkan aku…” kata bu Rina untuk terakhir kali.

***

Lima tahun sudah perpisahanku dengan bu Rina. Kami tidak pernah berkomunikasi, tidak ada kabar sedikitpun. Mungkin ia sengaja demikian dan aku juga tidak mencari jejaknya karena hanya akan membuat perasaanku sakit. Yah, setelah 5 tahun berpisah, perasaanku terhadap Bu Rina tidak hilang sehingga selama lima tahun ini juga aku tidak berhubungan khusus atau pacaran.

Aku bisa menahan perasaan, tetapi tidak dengan birahiku. Kebiasaanku berhubungan badan dengan Bu Rina rupanya telah menjadi candu yang selalu ingin terpuaskan. Mungkin selama enam bulan syahwatku bisa tertahan, namun lambat laun birahiku berontak minta dilampiaskan. Akhirnya WTS lah yang menjadi sasaran pemuas birahiku, tidak perlu hubungan khusus atau perasaan, asal ada uang birahi pun terpuaskan.

Sudut-sudut kota Bandung sudah kujelajahi untuk memuaskan birahiku. Mulai dari Saritem yang terkenal, Tegalega, stasiun KA, sampai ke gang-gang yang kumuh. Aku sudah hapal betul tempat-tempat yang aman untuk memuaskan birahi. Mulai yang kurus sampai yang gendut seperti gajah, mulai ABG anak SMA sampai nenek-nenek yang banyak kriputnya, mulai yang tarif 2 juta sampai yang 50 ribu telah aku coba, namun tak ada satu pun yang seindah Ibu Rina.

Umurku sekarang sudah 29, usia yang sudah layak untuk berumah tangga. Keluargaku selalu mendorongku untuk menikah karena umurku yang sudah cukup dan pekerjaanku yang sudah tetap dengan penghasilan yang lumayan. Beberapa kali mereka mencoba mencarikan calon istri buatku namun aku selalu menolak. Bukan karena kurang cantik atau kurang apapun, tapi aku memang tidak bisa menikah tanpa adanya perasaan.

Risna

Hingga suatu saat, ketika reuni akbar di sekolahku dulu, aku bertemu dengan seorang wanita. Risna namanya, adik kelasku beda 2 angkatan. Aku dulu memang akrab dengan dia, bahkan dekat sekali, tapi selama itu, aku hanya menganggap dia tak lebih sebagai adik. Dari acara reuni itu, kami saling tukar nomor telepon, kami pun lebih sering berhubungan. Sebenarnya dari dulu aku mengetahui kalau Risna memendam perasaan kepadaku, namun karena waktu itu aku hanya konsentrasi sekolah maka aku selalu mengabaikan hal-hal yang seperti itu.

Risna belum menikah, bahkan dari pengakuannya, dia belum pernah pacaran sama sekali. Mungkin terasa aneh ketika wanita umur 27 tahun belum pernah pacaran, tapi itulah dia. Setelah lulus SMA dulu, dia tidak melanjutkan kuliah, tapi lebih memilih langsung bekerja untuk mengobati sakit bapaknya dan membiayai sekolah dua adiknya. Dua tahun yang lalu bapaknya meninggal karena sakit, dan sekarang adik-adiknya sudah pada lulus sekolah, mungkin sudah saatnya dia untuk mencari pasangan hidup, namun sialnya justru aku lah yang menjadi sasarannya.

Risna

Awalnya aku menolak, karena dari dulu aku selalu menganggapnya adik, namun akhirnya aku bersedia juga menikahinya. Rasa sayang ada, namun tidak dengan cinta. Yah, memang sudah saatnya aku nikah dan daripada aku selalu jajan untuk memuaskan birahiku, lebih baik aku nikah. Dua bulan setelah reuni, kami melaksanakan pernikahan. Pernikahan yang ala kadarnya tanpa pesta yang mewah karena tanpa ada persiapan.

Setelah menikah, aku tinggal di rumah orang tua Risna. Aku sebenarnya menginginkan tinggal berpisah, namun Risna menolaknya. Kedua adik Risna sekarang sudah bekerja di Batam dan Jakarta, makanya Risna tetap menginginkan tinggal di situ untuk menemani ibunya.

Risna

Setelah tiga bulan menikah, suatu hal yang aneh terjadi. Waktu itu hari sabtu, hari libur bagiku karena aku hanya kerja dari senin sampai jumat, tetapi tidak dengan istriku Risna yang bekerja di pabrik garment. Pagi itu, setelah istriku pergi, aku hanya menghabiskan waktu luangku di kamar sambil mendengarkan musik dan tiduran.

“Libur ya A’?” tanpa kusadari, mertuaku sudah ada di pintu kamar yang memang tidak tertutup. Risna anak pertama sehingga di keluarga dipanggil Teteh, makanya aku juga ikutan dipanggil Aa.

“Oh, iya, mah.” aku sedikit kaget.

“Tetehnya dah pergi?”

“Udah, mah, barusan aja.”

“Oh, mamah tadi habis senam ngerumpi dulu sih sama ibu-ibu jadi gak tau perginya. Aa hari ini gak kemana-kemana?”

“Nggak, mah, emang ada apa ya?” tanyaku.

Risna

“Ah, nggak, cuma mau ngobrol aja.” tiba-tiba mertuaku masuk dan duduk di kasur di sebelahku. “Aa kapan atuh mau ngasih mamah cucu, mamah kan sudah pengen ngegendong cucu nih.” lanjutnya.

“Belum dikasih aja, mah, kami juga sedang berusaha kok.”

“Mainnya kurang benar kali, A’!”

“Main apanya sih, mah?” aku sudah tahu kalau mertuaku sudah menjurus ke seks, tapi aku pura-pura tidak tahu arah pembicaraannya.

“Coba mamah lihat, apa Aa mainnya sudah benar apa belum?” Aku kaget saat tiba-tiba mertuaku berdiri dan membuka bajunya sampai bugil. Mertuaku umurnya sekitar 50 tahunan, badannya sudah melar namun tak nampak lemak yang bergelambir. Meski melar, tubuhnya terlihat masih pada kencang, mungkin karena rajin senam. “Ayo donk, A’…” dia meminta lagi.

Risna

“Ah, nggak, mah. Ntar Risna gimana?” meski penisku sudah menegang melihat mertuaku telanjang, aku coba untuk menolaknya. Bagaimanapun aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan mengkhianati Risna.

“Udah. Teteh mah gak usah dimalahin. Tenang aja A!” melihatku hanya melongo, mertuaku langsung membuka celanaku dan langsung mengulum penisku yang sudah menegang.

“Udah, mah, jangan!” mulutku berucap menolak, namun tidak dengan penisku. Kuluman mertuaku begitu nikmat terasa, lebih nikmat daripada kuluman Risna, istriku, mungkin karena lebih berpengalaman. Aku pun terhanyut dalam kuluman ibu mertuaku, tak ada niat lagi untuk menolak atau berontak. Lidah ibu mertuaku lincah megenai titik sensitifku.

Risna

“Gantian ya, A.” tanpa memberi kesempatan menjawab, ibu mertuaku langsung naik dan menindih wajahku dengan selangkangannya. Vaginanya langsung menghujam wajahku, namun tidak seperti yang kubayangkan, ternyata vaginanya tidak terlalu bau, bahkan nyaris tak berbau, hanya bau daun sirih yang kucium. Dibandingkan dengan ibu mertuaku ini, vagina Risna istriku ternyata lebih bau, sekali lagi pengalaman yang membedakan.

Lidahku pun bergoyang di vagina ibu mertuaku, saat klitorisnya kumainkan, terdengar desahan nikmat darinya. “Hmm… pintar juga nih Aa.” Ibu mertuaku turun dari atas wajahku. “Kalau punya Teteh suka dijilatin juga gak A?” lanjutnya.

“Gak pernah. Risna gak mau, mah.” Duh, kepikiran lagi istriku, Risna. Maafkan Aa ya. Mungkin mamahmu ini sudah edan. Sudah dua tahun gak ngerasain, makanya jadi haus banget. Tapi tidak bisa kupungkiri juga, dia memang hot. Aku lebih horny dengan mamah kamu dibanding kamu, ucapku dalam hati.

“Yuk, sekarang masukin punya Aa ke mamah.” mertuaku langsung tidur mengangkang.

Kali ini aku tak berpikir panjang, kuhujamkan penisku yang sudah mengeras ke vagina ibu mertuaku. Perlahan-lahan kukocok dan dengan berirama kocokanku kian cepat. “Hmm… sudah bagus ritmenya A. Terus. Terus, A!” rintihnya.

Tak lama kemudian nampaknya ibu mertuaku mencapai orgasme, tubuhku dipeluknya erat sampai kukunya terasa mencengkeram kulit punggungku. “Ahhh… mamah keluar A!” ucapnya. Untuk sesaat, aku pun berhenti. “Sekarang mamah yang di atas ya, A!” ucapnya lagi, aku pun hanya mengangguk mengiyakannya.

Aku telentang, ibu mertuaku langsung menaikiku dan memasukan penisku ke vaginanya. Mertuaku hanya diam, tidak bergoyang, namun kurasakan vaginanya meremas-remas penisku. Sungguh nikmat.

“Gimana A, enak gak?” tanya mertuaku.

“Iya, mah. Enak!” sahutku.

“Teteh mah belum bisa kaya gini, harus senam khusus dulu.” kata mertuaku. dia lalu bergoyang naik turun, tangannya menuntunku untuk meremas payudaranya yang sudah agak kendur. Sesekali putingnya yang kecoklatan aku mainin, dan pada saat itu juga desahan dari bibir mertuaku terlontar.

Setelah beberapa lama bergoyang erotis, mertuaku akhirnya mencapai puncak orgasme yang kedua. Kurasakan selangkangannya menjepit pinggulku, liang vaginanya mengejang, mengeras, mencengkeram kuat batang penisku.

“Ahhh… Ahh… mamah keluar lagi… Aa juga keluarin donk.” rintihnya.

“Eh, iya, mah.” jawabku sambil menikmati jepitan vaginanya.

Beberapa saat kemudian, dengan posisi yang masih sama, mertuaku kembali bergoyang. Kali ini goyangannya memutar. Kurasakan sensasi yang berbeda dari goyangan yang tadi. Penisku terasa dimanjakan dan terkena pada titik sensitifnya. Makin cepat goyangannya, makin tak bisa aku tahan. “Aku mau keluar, mah.” erangku.

“Keluarin aja, A!” jawab mertuaku.

“Dimana, mah?” aku ragu untuk menembakan sperma di dalam vaginanya.

“Yah di dalam aja, A.”

“Gak pa-pa nih, mah?” aku masih ragu.

“Gak pa-pa, A, biar nikmat.” sahut mertuaku.

Kulepaskan cairan sperma yang dari tadi kutahan. Lima kali muncratan aku rasa spermaku menghujam vagina mertuaku. Setelah selesai muncratannya, mertuaku langsung mengeluarkan penisku dari vaginanya dan turun dari atas tubuhku.

mertua

“Ternyata Aa udah hebat mainnya.” ucap mertuaku. “Ya udah, mamah mandi dulu yah, A.” dia meninggalkan kamar dengan masih keadaan telanjang bulat. Ditentengnya baju senam yang tadi berserakan di lantai.

Aku tidak sempat membalas ucapan mertuaku karena aku masih sibuk mengatur nafas. Pikiranku melayang membayangkan apa yang telah terjadi. Kepuasan yang begitu hebat. Ingin aku menyusul mertuaku ke kamar mandi dan mengulangi yang telah kami lakukan. Tapi saat itu juga aku terbayang wajah Risna istriku. Tidak! cukup kali ini saja, aku gak boleh mengulangi lagi, ucapku dalam hati.

Setelah mertuaku selesai mandi, aku segera mandi pula. Selesai mandi, aku langsung keluar menyalakan motor. Aku bilang ke mertuaku kalau aku mau servis motor sekalian jemput istriku. Padahal tidak ada rencana pada hari itu aku servis motor, namun aku tak bisa berduan dalam satu rumah dengan mertuaku yang edan itu. Bisa-bisa nanti aku ditidurin lagi. Memang nikmat dan memuaskan sih, tapi aku tak tega mengkhianati istriku.

Rupanya terlalu lama servis motornya sehingga aku terlambat menjemput istriku yang memang hanya setengah hari kerjanya. Setelah aku telepon, ternyata istriku sudah pulang duluan dan berada di rumah, saat itu juga aku putuskan kembali ke rumah.

Setiba di rumah, kudapati isriku dan mertuaku sedang mengobrol di depan TV. Aku hanya menyapa mereka dan langsung menuju kamar. Aku sengaja tidak ikut mengobrol karena masih terbayang apa yang telah aku lakukan bersama mertuaku tadi. Aku tidak bisa membayangkan seandainya istriku tahu apa yang telah kami lakukan.

Tidak beberapa lama, isriku menyusulku masuk ke kamar. “Udah makan, A?” dia menyapa.

“Belum, ntar aja ah, Ris, belum lapar.” nafsu makanku seolah hilang.

“Tadi sama mamah gimana, A?” Dug! Pertanyaan itu terasa tajam. Apakah istriku sudah tahu? Apa yang akan dikatakan istriku nanti. Baru 3 bulan nikah, aku sudah selingkuh, dengan ibunya dia sendiri lagi. “Aa?” Risna memanggil lagi.

Aku menarik nafas dalam-dalam. “Maafin Aa, Ris… Aa gak bermaksud, tapi mamah yang…”

Belum selesai kalimatku, istriku langsung memotong. “Aa kenapa sih? Kan Risna yang menyuruh mamah.” ucapnya.

“Maksudnya?” aku terkaget dan juga bingung dengan ucapannya.

“Iya, memang Risna yang nyuruh mamah buat main sama Aa.” Aku semakin bingung dengan ucapannya, apakah istriku mau ngetest kesetianku. Kalau memang iya, berarti sudah gagal lah aku.

“Gimana, Aa puas main sama mamah?”

“Emang maksud Risna tuh apa sih?” nadaku agak meninggi.

“Aa marah yah?” Pertanyaannya semakin membuatku bingung, kenapa harus aku yang marah? Seharusnya kan Risna yang marah karena aku telah berselingkuh dengan ibunya.

“Risna selama ini ngerasa belum bisa muasin Aa.” lanjutnya. “Risna sudah belajar sama mamah, semua yang mamah ajarin juga udah Risna praktekin, tapi tetep aja Risna masih belum ngerasa Aa belum terpuaskan. Mamah juga katanya bingung mau ngajarin Risna apalagi soalnya mamah sendiri belum tahu Aa sukanya kaya gimana, makanya Risna nyuruh mamah nyobain main ma Aa.”

Gila! Ibu dan anak sama edannya. Aku selama ini memang suka kikuk kalau sedang bercinta dengan istriku, Risna, karena selama ini aku biasa bermain dengan wanita-wanita yang sudah berpengalaman. Tapi apa selama ini Risna gak sayang sama aku sehingga dia tidak cemburu sama sekali aku bercinta dengan orang lain?

“Sebenarnya Risna sayang gak sama Aa?” aku bertanya penasaran.

“Ya sayang atuh, A!” jawabnya singkat.

“Tapi kamu kenapa gak cemburu Aa bercinta dengan orang lain?”

“Ah, Aa, orang lain siapa? Itu kan mamah Risna sendiri, ngapain juga pake cemburu, kalau Aa mainnya sama orang lain, baru Risna cemburu.”

“Emang tadi mamah bilang apa saja sama Risna?”

“Ya bilang yang Aa suka seperti apa, sukanya diapain… mau praktekin sekarang A?”

“Ayo,” jawabku singkat.

Risna langsung membuka celanaku dan mengeluarkan penisku. Dihisapnya penisku secara perlahan, memang hisapannya berbeda dari biasanya namun masih tetap lebih nikmat ibunya. Setelah penisku cukup keras, aku menyuruh istriku berhenti mengulumnya. Lalu aku menelanjangi istriku dan bersiap untuk merangsangnya. Kulumat mulut istriku, sambil kuremas-remas payudaranya. Payudara istriku memang tidak terlalu besar dibandingkan ibunya, mungkun hanya ukuran 34B, tetapi masih kencang dan kenyal saat diremas. Lalu aku buka kakinya hingga mengangkang dan hendak kujilati vaginanya. Namun ketika lidahku sudah menyentuh bibir vaginanya, istriku menolak.

“Jangan dijilatin ya, A… linu, langsung masukin aja ya?”

“Yah, Aa kan pengen ngerasain, Say.” jawabku kecewa.

Saat itulah terdengar suara ketukan di pintu kamar. “Teh, Teteh, chargeran HP mamah yang dipinjam teteh dimana?” tenyata mertuaku.

“Nih di meja, mah. Mamah ambil aja sendiri, teteh lagi nanggung nih, pintunya gak dikunci kok.” jawab istriku. Aku melirik padanya, menandakan protes terhadap istriku yang malah menyuruh masuk pada ibunya saat aku dan dia dalam keadaan telanjang.

“Gak pa-pa atuh, A… kan mamah juga sudah pernah liat Aa telanjang. Iya kan, mah?” jawab istriku sambil melirik ibunya yang sudah masuk ke dalam kamar. “Oh iya, mah, gimana sih caranya biar kalau dijilatin gak linu?” lanjut istriku lagi.

“Ya tetehnya rileks atuh, nyantai, jangan ditahan, nikmati aja.” jawab mertuaku.

“Yuk, A, cobain lagi ya…” pinta Risna padaku.

Duh, kacau nih, pikirku. Tiba-tiba moodku hilang dengan masuknya mertuaku itu. Tapi yah tanggung, kasihan juga istriku kalau sampai tak jadi main. Jadi aku coba jilat lagi vaginanya, namun masih sama. Ketika lidahku menyentuh bibir vagina, kaki istriku langsung merapat karena linu.

“Duh, teteh mah… nih, lihat mamah.” nampaknya mertuaku gemas melihat tingkah sang anak. Dia langsung membuka celana dalam dan mengangkatkan dasternya. Mertaku lalu berbaring dan mengangkangkan kakinya. “Coba, A, jilat punya mamah.” lanjutnya.

Aku agak sedikit ragu, kulirik istriku. ”Gak pa-pa, Ris?” aku bertanya.

“Iya, gak pa-pa atuh, A, kan Risna juga pengen tahu.” jawab istriku.

Aku lalu berpindah ke vagina ibu mertuaku. Memang vagina mertuaku sudah berkerut dan bibir vaginanya sudah bergelambir coklat, berbeda sekali dengan vagina istriku yang masih mulus kencang tidak bergelambir. Namun dari aromanya, vagina mertuaku lebih harum dari vagina istriku yang berbau pekat. Aku mulai menjilati bagian luar vagina mertuaku, bibir vagina yang bergelambirnya kuhisap-hisap. Mertuaku mulai mendesah, sedangkan istriku memperhatikan secara seksama di sampingku.

“Nih, teh, kaya gini… nyantai aja, ahhhh…” kata metuaku sambil mendesah.

Lalu aku jilati klitorisnya yang menyembul. Desahan mertuaku semakin menjadi. Saat itu juga istriku menarik tangan kiriku dan menempelkannya di vaginanya untuk kumainkan. Aku tak berhenti menjilati vagina mertuaku dan tanganku juga aktif di vagina Risna. Sekarang istriku pun mulai mendesah.

“Sudah, A, tuh jilati juga punya teteh.” kata mertuaku sambil beranjak mau pergi. Aku pun menghentikan jilatan di vaginanya.

“Mamah mau kemana? Jangan pergi dulu atuh, mah.” Istriku mencegah ibunya pergi.

“Sudah, Teteh terusin aja. Nanti mamah malah jadi pengen…” jawab mertuaku.

“Ajarin Teteh lagi atuh, mah. Kalau pengen, ntar sekalian dimasukin sama Aa. Mau kan, A?” Risna melirikku.

“Yah, gimana Risna sama mamah aja.” kataku pada akhirnya. Siapa juga yang bisa menolak kenikmatan seperti ini.

“Ya sudah, tuh terusin dulu jilatin punya teteh, A.” kata mertuaku.

Aku pun bersiap kembali menjilat vagina istriku yang dari tadi sudah mengangkang lebar. “Pelan-pelan ya, A.” kata istriku.

Perlahan mulai kujilati vaginanya. Pertama-tama aku jilati bulu-bulunya, lalu bagian luar secara perlahan. Risna mulai menikmati dan mengeluarkan desahannya. Kemudian kulanjutkan dengan bagian dalam vaginanya, perlahan-lahan klitorisnya kujilati. Saat klitorisnya kuhisap, istriku seperti tersentak kaget sambil memegangi tangan ibunya yang sudah ada di sampingnya.

“Linu, A.“ erang istriku. “Udah ya, A?!” pintanya.

mertua

Aku pun berhenti menjilati vagina istriku, lalu aku berganti ke payudara istriku. Kujilati puting kanan payudaranya, dan tanganku meremas payudara yang sebelah kirinya. Istriku sangat menikmati, desahannya semakin mengencang. Pada saat itu juga tiba-tiba penisku terasa hangat. Rupanya penisku sudah berada di mulut ibu mertuaku yang masih menggunakan daster. Sungguh terasa nikmat.

Melihat aku yang sedang menikmati kuluman mertuaku, istriku langsung bangun dan menyuruhku terlentang. Istriku memperhatikan secara detail kuluman mertuaku terhadap penisku. Melihat istriku yang memperhatikannya, mertuaku menyuruh istriku menggantikannya mengulam penisku. Kemudian dia membuka daster dan BH-nya sehingga telanjang bulat. Didekatkannya puting payudara yang sudah agak mengendur ke mulutku. Tanpa bertanya lagi, aku langsung menghisap dan menyedot puting itu.

“Masukin, Ris. Masukin!” aku sudah tidak tahan dengan kulumannya, kusuruh istriku untuk memasukkan penisku ke dalam vaginanya.

Istriku pun langsung menaikiku dan memasukan penisku ke lubang vaginanya. Perlahan-lahan dia bergoyang, sedangkan mulutku masih menghisap puting mertuaku. Tanpa kusadari, tangan mertuaku memegangi pinggul istriku, memberikan arahan dalam bergoyang. “Nah, gitu, teh. Enak kan?” katanya sambil memberi arahan goyangan memutar pada istriku.

“Iya, mah… ahhh… Teteh mau keluar, mah… Aaahhhhhhh…” seketika itu vagina Risna mencengkeram erat batang penisku, tubuhnya mengejang. Dia sudah orgasme. Lalu istriku menghentikan goyangannya dan mengatur nafasnya.

“Gantian mamah ya?” kata mertuaku. Istriku turun dari atas tubuhku sambil menarik ibunya untuk menggantikan posisinya. Namun saat mertuaku hendak naik, aku menolaknya. Aku tahu kalau mertuaku sudah bergoyang di atas, aku pasti cepat keluar.

“Mamah di bawah dulu ya…” kataku sambil mendekap tubuh montoknya dan meletakannya dalam posisi telentang. Kumasukkan penisku ke vaginanya yang bergelambir, kudekap erat tubuhnya sambil kuciumi mulutnya. Kugoyang terus sambil terus kuciumi mertuaku. Kuciumi lehernya, kucupang sampai memerah.

“Ahhhh… terus, A! Iya, begitu! Enak banget…!” ucapan itu keluar dari mulut mertuaku.

Mendengar desahannya, semakin kupercepat kocokan penisku pada lubang vaginanya. Dan beberapa saat kemudian, tubuhnya mengejang, tangannya memelukku kencang, sementara vaginanya mencengkeram keras.

“Aa… mamah keluar… hah.. hah.. hah.. hah..“ nafas mertuaku masih terputus-putus. Sebenarnya saat tadi juga aku hendak keluar, namun kucoba tahan.

“Teh, sama teteh lagi nih.” kata metuaku.

“Gak ah, mah, teteh masih linu. Sama mamah aja ya, gak pa-pa kan, A?” istriku bertanya padaku.

Aku juga sebenarnya lebih menikmati mertuaku dibanding istriku, mungkin karena lebih berpengalaman. “Ya sudah, tapi ganti mamah yang di atas ya?” aku mengiyakan.

Kami pun bertukar posisi, sekarang mertuaku yang berada di atas. Pada saat penisku menancap di vaginanya, mertuaku tidak langsung menggoyang. Tapi justru ini yang paling aku suka, saat penisku serasa dicengkeram-cengkeram oleh dinding vaginanya.

“Enak, mah.” gumamku tanpa sadar.

“Ntar teteh ajarin yang itu ya, mah.” kata istriku.

“Iya, ntar mamah ajarin.” kata mertuaku dengan senyum bangga.

Tak lama kemudian mertuaku mulai bergoyang. Payudaranya yang sudah menggelantung terlihat naik turun sesuai irama. Dan seperti yang sudah aku kira kalau aku tak kuat lama kalau mertuaku yang di atas. “Nikmat, mah. Aa mau keluar nih. “ kataku.

“Keluarin aja, A. “ jawab mertuaku.

Kugenggam tangan istriku yang berada di sampingku, dan tak lama kemudian kurasakan nikmat yang tak terkira saat air maniku keluar, menyembur dari penisku, menghujam jauh ke liang vagina mertuaku. Crot.. crot.. crot.. crot..! “Arghhhhhhh…” aku menjerit penuh kepuasan.

Setelah selesai, mertuaku langsung turun. Masih dalam keadaan telanjang, dia lalu pergi meninggalkan kamarku. Sekarang tinggallah aku dan istriku. Kubelai rambutnya. Meskipun terasa gila, tapi kurasakan aku semakin sayang kepadanya.

“Ris…” aku memanggil.

“Iya, A.” sahut istriku.

“Kok bisa ya kamu berbagi seperti itu?” tanyaku yang masih heran.

“Risna sama mamah mah dari dulu sudah dekat banget. Apa-apa suka berdua, pergi kemana-mana berdua, tidur berdua, bahkan mandi juga kadang suka berdua sama mamah. Makanya kalau Aa main sama mamah ya udah, ga masalah buat Risna.” jawabnya.

“Jadi Risna juga berbagi suami sama mamah?”

“Ya nggak atuh, A. Aa tuh suaminya Risna, trus kalau mamah ya tetep aja mertuanya Aa. Ini kan cuma masalah seks aja, A. Risna juga kasihan sama mamah, semenjak bapak sakit sampai meninggal, mamah tuh gak pernah berhubungan badan gitu, palingan cuma masturbasi sendiri. Terus kan nanti kalau Risna lagi mens atau sehabis ngelahirkan, kan gak bisa main. Jadi kalau Aa mau, tinggal main sama mamah, Risna kan gak mau Aa jajan atau nyari di luar.” jawaban istriku begitu datar seperti yang biasa, padahal bagiku ini hal yang aneh dan juga begitu gila. Tapi yah kalau boleh jujur, aku merasa lebih puas main dengan mertuaku yang lebih berpengalaman.

***

Setelah saat itu, kami sering bermain bertiga, bahkan tak jarang kalau istriku sedang kerja, aku bermain dengan mertuaku, tapi dengan sepengetahuan istriku. Sekarang aku sudah 5 tahun menikan dan sudah dikarunia seorang anak. Sampai saat ini juga aku masih suka berhubungan badan dengan mertuaku, apalagi kalau istriku sedang datang bulan.

LILIS

Di kantorku ada seorang wanita berjilbab yang sangat cantik dan anggun. Tingginya sekitar 165 cm dengan tubuh yang langsing. Kulitnya putih dengan lengsung pipit di pipi menambah kecantikannya, suaranya halus dan lembut. Setiap hari dia mengenakan baju gamis yang panjang dan longgar untuk menyembunyikan lekuk tubuhnya, namun aku yakin bahwa tubuhnya pasti indah.

jilbab hot (1)

Namanya Lilis, dia sudah bersuami dan beranak 2, usianya sekitar 30 tahun. Dia selalu menjaga pandangan matanya terhadap lawan jenis yang bukan muhrimnya, dan jika bersalamanpun dia tidak ingin bersentuhan tangan. Namun kesemua itu tidak menurunkan rasa ketertarikanku padanya, bahkan aku semakin penasaran untuk bisa mendekatinya apalagi sampai bisa menikmati tubuhnya…., Ya…. Benar… Aku memang terobsesi dengan temanku ini. Dia betul-betul membuatku penasaran dan menjadi objek khayalanku siang dan malam di saat kesendirianku di kamar kost.

Aku sebenarnya sudah berkeluarga dan memiliki 2 orang anak yang masih kecil-kecil, namun anak dan istriku berada di luar kota dengan mertuaku, sedangkan aku di sini kost dan pulang ke istriku seminggu sekali.

Kesempatan untuk bisa mendekatinya akhirnya datang juga, ketika aku dan dia ditugaskan oleh atasan kami untuk mengikuti workshop di sebuah hotel di kota Bandung selama seminggu.

jilbab hot (2)

Hari-hari pertama workshop aku berusaha mendekatinya agar bisa berlama-lama ngobrol dengannya, namun Dia benar-benar tetap menjaga jarak denganku, hingga pada hari ketiga kami mendapat tugas yang harus diselesaikan secara bersama-sama dalam satu unit kerja. Hasil pekerjaan harus diserahkan pada hari kelima.

Untuk itu kami bersepakat untuk mengerjakan tugas tersebut di kamar hotelnya, karena kamar hotel yang ditempatinya terdiri dari dua ruangan, yaitu ruang tamu dan kamar tidur.

Sore harinya pada saat tidak ada kegiatan workshop, aku sengaja jalan-jalan untuk mencari obat perangsang dan kembali lagi sambil membawa makanan dan minuman ringan.

Sekitar jam tujuh malam aku mendatangi kamarnya dan kami mulai berdiskusi tentang tugas yang diberikan. Selama berdiskusi kadang-kadang Lilis bolak-balik masuk ke kamarnya untuk mengambil bahan-bahan yang dia simpan di kamarnya, dan pada saat dia masuk ke kamarnya untuk kembali mengambil bahan yang diperlukan maka dengan cepat aku membubuhkan obat perangsang yang telah aku persiapkan. Dan aku melanjutkan pekerjaanku seolah-olah tidak terjadi apa-apa ketika dia kembali dari kamar.

jilbab hot (3)

Hatiku mulai berbunga-bunga, karena obat perangsang yang kububuhkan pada minumannya mulai bereaksi. Hal ini tampak dari deru napasnya yang mulai memburu dan duduknya gelisah serta butiran-butiran keringat yang mulai muncul dikeningnya. Selain itu pikirannyapun nampaknya sudah susah untuk focus terhadap tugas yang sedang kami kerjakan

Namun dengan sekuat tenaga dia tetap menampilkan kesan sebagai seorang wanita yang solehah, walaupun seringkali ucapannya secara tidak disadarinya disertai dengan desahan napas yang memburu dan mata yang semakin sayu.

Aku masih bersabar untuk tidak langsung mendekap dan mencumbunya, kutunggu hingga reaksi obat perangsang itu benar-benar menguasainya sehingga dia tidak mampu berfikir jernih.

Setelah sekitar 30 menit, nampaknya reaksi obat perangsang itu sudah menguasainya, hal ini Nampak dari matanya yang semakin sayu dan nafas yang semakin menderu serta gerakan tubuh yang semakin gelisah. Dia sudah tidak mampu lagi focus pada materi yang sedang didiskusikan, hanya helaan nafas yang tersengal diserta tatapan yang semakin sayu padaku.

Aku mulai menggeser dudukku untuk duduk berhimpitan disamping kanannya, dia seperti terkejut namun tak mampu mengeluarkan kata-kata protes atau penolakan, hanya Nampak sekilas dari tatapan matanya yang memandang curiga padaku dan ingin menggeser duduknya menjauhiku, namun nampaknya pengaruh obat itu membuat seolah-olah badannya kaku dan bahkan seolah-olah menyambut kedatangan tubuhku.

Setelah yakin dia tidak menjauh dariku, tangan kiriku mulai memegang tangan kanannya yang ia letakkan di atas pahanya yang tertutup oleh baju gamisnya. Tangan itu demikian halus dan lembut, yang selama ini tidak pernah disentuh oleh pria selain oleh muhrimnya. Tangannya tersentak lemah dan ada usaha untuk melepaskan dari genggamanku, namun sangat lemah bahkan bulu-bulu halus yang ada di lengannya berdiri seperti dialiri listrik ribuan volt. Matanya terpejam dan tanpa sadar mulutnya melenguh..”Ouhh….”, tangannya semakin basah oleh keringat dan tanpa dia sadari tangannya meremas tanganku dengan gemas.

Aku semakin yakin akan reaksi obat yang kuberikan… dan sambil mengutak-atik laptop, tanpa sepengetahuannya aku aktifkan aplikasi webcam yang dapat merekam kegiatan kami di kursi panjang yang sedang kami duduki dengan mode tampilan gambar yang di hide sehingga kegiatan kami tak terlihat di layar monitor.

Lalu tangan kananku menggenggam tangan kanannya yang telah ada dalam genggamanku, tangan kiriku melepaskan tangan kanannya yang dipegang dan diremas mesra oleh angan kananku, sehingga tubuhku menghadap tubuhnya dan tangan kiriku merengkuh pundaknya dari belakang.

Matanya medelik marah dan dengan terbata-bata dan nafas yang memburu dia berkata “Aaa…aapa..apaan….nih……Pak..?” dengan lemah tangan kirinya berusaha melepaskan tangan kiriku dari pundaknya.

Namun gairahku semakin meninggi, tanganku bertahan untuk tidak lepas dari pundaknya bahkan dengan gairah yang menyala-nyala wajahku langsung mendekati wajahnya dan secara cepat bibirku melumat gemas bibir tipisnya yang selama ini selalu menggoda nafsuku.

Nafsuku semakin terpompa cepat setelah merasakan lembut dan nikmatnya bibir tipis Lilis, dengan penuh nafsu kuhisap kuat bibir tipis itu.

“Ja..jangan …Pak Ouhmmhhh… mmmhhhh…” Hanya itu kata yang terucap dari bibirnya.. karena bibirnya tersumpal oleh bibirku.

Dia memberontak.., tapi kedua tangannya dipegang erat oleh tanganku, sehingga ciuman yang kulakukan berlangsung cukup lama. Lilis terus memberontak…, tapi gairah yang muncul dari dalam dirinya akibat efek dari obat perangsang yang kububuhkan pada minumannya membuat tenaga berontaknya sangat lemah dan tak berarti apa-apa pada diriku.

Bahkan semakin lama kedua tangannya bukan berusaha untuk melepaskan dari pegangn tanganku tapi seolah mencengkram erat kedua tanganku seperti menahan nikmatnya rangsangan birahi yang kuberikan padanya, perlahan namun pasti bibirnya mulai membalas hisapan bibirku, sehingga terjadilah ciumannya yang panas menggelora, matanya tertutup rapat menikmati ciuman yang kuberikan.

Pegangan tanganku kulepaskan dan kedua tanganku memeluk erat tubuhnya sehingga dadaku merasakan empuknya buahdada yang tertutup oleh baju gamis yang panjang. Dan kedua tangannyapun memeluk erat dan terkadang membelai mesra punggungku.

Bibirku mulai merayap menciumi wajahnya yang cantik, tak semilipun dari permukaan wajahnya yang luput dari ciuman bibirku. Mulutnya ternganga… matanya mendelik dengan leher yang tengadah…

”Aahhh….. ouh…… mmmhhhh…. eehh… ke.. na.. pa….. begi..nii…ouhhh …”

Erangan penuh rangsangan keluar dari bibirnya disela-sela ucapan ketidakmengertian yang terjadi pada dirinya..

Sementara bibirku menciumi wajah dan bibirnya dan terkadang lehernya yang masih tertutup oleh jilbab yang lebar…, secara perlahan tangan kanan merayap ke depan tubuhnya dan mulai meremas buah dadanya.. ”Ouhhh….aahhh…” kembali dia mengerang penuh rangsangan. Tangan kirinya memegang kuat tangan kananku yang sedang meremas buahdadanya. Tetapi ternyata tangannya tidak berusaha menjauhkan telapak tanganku dari buahdadanya, bahkan mengarahkan jariku pada putting susunya agar aku mempermainkan putting susunya dari luar baju gamis yang dikenakannya “ouh…ouh…ohhh…..” erangan penuh rangsangan semakin tak terkendali keluar dari mulutnya

Telapak tanganku dengan intens mempermainkan buahdadanya…, keringat sudah membasahi gamisnya…, bahkan tangan kanannya dengan gemas merengkuh belakang kepalaku dan mengacak-ngacak rambutku serta menekan wajahku agar ciuman kami semakin rapat…Nafasnya semakin memburu dengan desahan dan erangan nikmat semakin sering keluar dari mulutnya yang indah.

jilbab hot (4)

Tangan kananku dengan lincah mengeksplorasi buahdada, pinggang dan secara perlahan turun ke bawah untuk membelai pingggul dan pantatnya yang direspon dengan gerakan menggelinjang menahan nikmatnya nafsu birahi yang terus menderanya. Tangan kananku semakin turun dan membelai pahanya dari luar gamis yang dikenakannya… dan terus kebawah hingga ke ujung gamis bagian bawah. lalu tanganku menyusup ke dalam sehingga telapak tanganku bisa langsung menyentuh betisnya yang jenjang..

Ouhhh… sungguh halus dan lembut terasa betis indah ini, membuat nafsuku semakin membumbung tinggi, penisku semakin keras dan bengkak sehingga terasa sakit karena terhimpit oleh celana panjang yang kukenakan, maka secara tergesa-gesa tangan kiriku menarik sleting celana dan mengeluarkan batang penisku yang tegak kaku.

Dari sudut matanya, Lilis melihat apa yang kulakukan dan dengan mata yang terbelalak dan mulut ternganga ia menjerit pelan melihat penisku yang tegak kaku keluar dari dalam celana ”Aaaihhh…”. Dari sorot matanya, tampak gairah yang semakin menyala-nyala ketika menatap penis tegakku.

Belaian tangan kananku semakin naik ke atas…., ke lututnya, lalu…. Cukup lama bermain di pahanya yang sangat halus…., Lilis semakin menggelinjang ketika tangan kananku bermain di pahanya yang halus, dan mulutnya terus-terusan mengerang dan mengeluh nikmat “ Euhh….. ouhhhh….. hmmmnnn…. Ahhhhh……”

Tanganku lalu naik menuju pangkal paha…., terasa bahwa bagian cd yang berada tepat di depan vaginanya sudah sangat lembab dan basah. Tubuhnya bergetar hebat ketika jari tanganku tepat berada di depan vaginanya , walaupun masih terhalang CD yang dikenakannya…, tubuhnya mengeliat kaku menahan rangsangan nikmat yang semakin menderanya sambil mengeluarkan deru nafas yang semakin tersengal “Ouh….ouhhhh…”

Ketika tangan kananku menarik CD yang ia kenakan…., ternyata kedua tangan Lilis membantu meloloskan CD Itu dari tubuhnya.

Kusingkapkan bagian bawah gamis yang ia kenakan ke atas hingga sebatas pinggang, hingga tampak olehku vaginanya yang indah menawan, kepalanya kuletakan pada sandaran lengan kursi.., kemuadian pahanya kubuka lebar-lebar.., kaki kananku menggantung ke bawah kursi, sedangkan kaki kiriku terlipat di atas kursi. Dengan masih mengenakan celana panjang, kuarahkan penisku yang keluar melalui sleting yang terbuka ke lubang vagina yang merangsang dan sebentar lagi akan memberikan berjuta-juta kenikmatan padaku.

Ku gesek-gesekan kepala penisku pada lipatan liang vaginanya yang semakin basah..”Auw…auw….. Uuhhhh….. uuuhhh…. Ohhh ….”

Dia mengaduh dan mengeluh… membuatku bertanya-tanya apakah ia merasa kesakitan atau menahan nikmat, tapi kulihat pantatnya naik turun menyambut gesekan kepala penisku seolah tak sabar ingin segera dimasuki oleh penisku yang tegang dan kaku…. Lalu dengan hentakan perlahan ku dorong penisku dan…

Blessshhh…. Kepala penisku mulai menguak lipatan vaginanya dan memasuki lorong nikmat itu dan “AUW… AUW…. Auw… Ouhhh……uhhhh…… aaahhhh…” tanpa dapat terkendali Lilis mengaduh dan mengerang nikmat dan mata terpejam rapat…., rintihan dan erangan Lilis semakin merangsangku dan secara perlahan aku mulai memaju mundurkan pantatku agar penisku mengocok liang vaginanya dan memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.

Hal yang luar biasa dari Lilis ternyata dia terus mengaduh dan mengerang setiap aku menyodokkan batang penisku ke dalam vaginanya. Rupanya dia merupakan tipe wanita yang selalu mengaduh dan mengerang tak terkendali dalam mengekspresikan rasa nikmat seksual yang diterimanya. Tak berapa lama kemudian, tanpa dapat kuduga, kedua tangan Lilis merengkuh pantatku dan menarik pantatku kuat-kuat dan pantatnya diangkatnya sehingga seluruh batang penisku amblas ditelan liang vagina yang basah, sempit dan nikmat. Lalu tubuhnya kaku sambil mengerang nikmat “Auuuww…. Auuuwww…… Auuuuuhhhh….. Aakkkhhhh…..” kedua kakinya terangkat dan betisnya membelit pinggangku dengan telapak kaki yang menekan kuat pantatku hingga gerakan pantatku agak terhambat dan kedua tangannya merengkuh pundakku dengan kuat dan beberapa saat kemudian tubuhnya kaku namun dinding vaginanya memijit dan berkedut sangat kuat dan nikmat membuat mataku terbelalak menahan nikmat yang tak terperi, Lalu …. badannya terhempas lemah…, namun liang vaginanya berkedut dan meremas dengan sangat kuat batang penisku sehingga memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.

Gairah yang begitu tinggi akibat rangsangan yang diterimanya telah mengantarnya menuju orgasmenya yang pertama.

Keringat tubuhku membasahi baju membuatku tidak nyaman, sambil membiarkannya menikmati sensasi nikmatnya orgasme yang baru diperolehnya dengan posisi penisku yang masih menancap di liang vaginanya, aku membuka bajuku hingga bertelanjang dada tetapi masih mengenakan celana panjang. Lalu secara perlahan aku mulai mengayun pantatku agar penisku mengocok liang vaginanya. Rasa nikmat kembali menderaku akibat gesekan dinding vaginanya dengan batang penisku.

Perlahan namun pasti, pantat Lilis merespon setiap gerakan pantatku. Pinggul dan pantatnya bergoyang dengan erotis membalas setiap gerakanku. Mulutnyapun kembali mengaduh mengekspresikan rasa nikmat yang kembali dia rasakan “Auw…Auw… Auuuwww…. Ouhhh…. Aahhh…”

Rangsangan dan rasa nikmat yang kurasakanpun semakin menjadi-jadi. Dan erangan nikmatnyapun terus-menerus diperdengarkan oleh bibirnya yang tipis menggairahkan sambil kepala yang bergoyang kekiri dan ke kanan diombang-ambingkan oleh rasa nikmat yang kembali menderanya

“Auw…Auw… Auuuwww…. Oohhh… ohhh… oohhh…” erangan nikmat semakin tak terkendali dan seolah puncak kenikmatan akan kembali menghampirinya hal ini tampak dari gelinjang tubuhnya yang semakin cepat dan kedua tangannya yang kembali menarik-narik pantatku agar penisku masuk semakin dalam mengobok-obok liang nikmatnya dan kedua kakinya sudah mulai membelit pantatku. Namun aku mencabut penisku , dan hal itu membuat Lilis gelagapan sambil berkata terbata-bata “Ke..napa…..di cabut…? Ouh…. Oh…” dengan sorot mata protes dan napas yang tersengal-sengal…

“Ribet ….” Kataku, sambil berdiri dan membuka celana panjang sekaligus dengan CD yang kukenakan. Lalu sambil menatapnya “Gamisnya buka dong..!”

Dia menatapku ragu.., namun dorongan gairah telah membutakan pikirannya apalagi dengan penuh gairah dia melihatku telanjang bulat di hadapannya, maka dengan tergesa-gesa dia berdiri dihadapanku dan melolosi seluruh pakaian yang dikenakannya…, mataku melotot menikmati pemandangan yang menggairahkan itu. Oohhh…. kulitnya benar-benar putih dan halus, penisku terangguk-angguk semakin tegang dan keras. Dia melepaskan gamis dan BHnya sekaligus, hingga dihadapanku telah berdiri bidadari yang sangat cantik menggairahkan dalam keadaan bulat menantangku untuk segera mencumbunya.

Dalam keadaan berdiri aku langsung memeluknya dan bibirku mencium bibirnya dengan penuh gairah…. Diapun menyambut ciumanku dengan gairah yang tak kalah panasnya.

Bibir dan lidahku menjilati bibir, pipi lalu ke lehernya yang jenjang yang selama ini selalu tertutup oleh jilbabnya yang lebar…. Lilis mendongakkan kepala hingga lehernya semakin mudah kucumbu…

Penisku yang tegang menekan-nekan selangkangannya membuat dia semakin bergairah. Dengan gemetar, tangannya meraih batang penisku dan mengarahkan kedepan liang vaginanya yang sudah sangat basah dan gatal., kaki kanannya dia angkat keatas kursi sehingga kepala penisku lebih mudah menerobos liang vaginanya dan blesshh….. kembali rasa nikmat menjalar di sekujur pembuluh nadiku dan mata Lilispun terpejam merasakan nikmat yang tak terperi dan dari mulutnyapun erangan nikmat “Auw… Auww… Oohh….. akhhh….”

Kepalanya terdongak dan kedua tangannya memeluk erat punggungku. Lalu pantatku mulai bergerak maju mundur agar batang penisku menggesek dinding vaginanya yang sempit, basah dan berkedut nikmat menyambut setiap gesekan dan kocokan batang penisku yang semakin tegang dan bengkak. Diiringi dengan rintihan nikmat Lilis yang khas… …”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”

Sambil pantatku memompa liang vaginanya yang nikmat, kepala Lilis semakin terdongak ke belakang sehingga wajahku tepat berada didepan buahdadanya yang sekal dan montok, maka mulut dan lidahku langsung menjilati dan menghisap buah dada indah itu.. putting susunya semakin menonjol keras. Lilis semakin mengerang nikmat…”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”

Gerakan tubuh Lilis semakin tak terkendali, dan tiba-tiba kedua kakinya terangkat dan membelit pinggangku, kemudian dia melonjak-lonjankkan tubuhnya sambil memeluk erat tubuhku sambil menjerit semakin keras …”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”.

Kedua tanganku menahan pantatnya agar tidak jatuh dan penisku tidak lepas dari liang vaginanya sambil merasakan nikmat yang tak terperi…

Tak lama kemudian kedua tangannya memeluk erat punggungku dan mulutnya menghisap dan menggigit kuat leherku. Tubuhnya kaku…., dan dinding vaginanya meremas dan memijit-mijit nikmat batang penisku. Dan tak lama kemudian “AAAAUUUUWWWW………..Hhhooohhhh….” Dia mengeluarkan jeritan dan keluhan panjang sebagai tanda bahwa dia telah mendapatkan orgasme yang kedua kali…

Tubuhnya melemas dan hampir terjatuh kalau tak ku tahan.

Lalu dia terduduk di kursi sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, badannya basah oleh keringat yang bercucuran dari seluruh pori-pori tubuhnya. Tapi dibalik rasa lelah yang menderanya, gairahnya masih menyala-nyala ketika melihat batang penisku yang masih tegang mengangguk-angguk.

Aku duduk disampingnya dengan nafas yang memburu oleh gairah yang belum terpuaskan. Tiba-tiba dia berdiri membelakangiku, kakinya mengangkang dan pantatnya diturunkan mengarahkan liang vaginanya agar tepat berada diatas kepala penisku yang berdiri tegak. Tangan kanannya meraih penisku agar tepat berada di depan liang vaginanya dan … bleshhhh…. “AUUWW…. Auww…. Ahhhh…”

Secara perlahan dia menurunkan pantatnya sehingga kembali batang penisku menyusuri dinding vagina yang sangat nikmat dan memabukkan..”Aaahhh……” erangan nikmat kembali keluar dari mulutnya. Lalu dia mulai menaik turunkan pantatnya agar batang penisku mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah..

Semikin lama gerakannya semakin melonjak-lonjak sambil tiada henti mengerang penuh kenikmatan, kedua tanganku memegang kedua buahdadanya dari belakang sambil meremas dan mempermainkan putting susu yang semakin keras dan menonjol.

Kepalanya mulai terdongak dan menoleh kebelakang mencari bibirku atau bagian leherku yang bisa diciumnya dan kamipun berciuman dalam posisi yang sangat menggairahkan… lonjakan tubuhnya semakin keras dan kaku dan beberapa saat kemudian kembali batang penisku merasakan pijatan dan remasan yang khas dari seorang wanita yang mengalami orgasme sambil menjerit nikmat “AAAUUUUUWWWWW…….. Aaakkhhhh………”

Namun saat ini, aku tidak memberi waktu padanya untuk beristirahat, karena aku merasa ada dorongan dalam tubuhku untuk segera mencapai puncak, karena napasku sudah tersengal-sengal tidak teratur, maka kuminta ia untuk posisi nungging dengan kaki kanan di lantai sedang kaki kiri di tempat duduk kursi sedangkan kedua tangannya bertahan pada kursi. Lalu kaki kananku menjejak lantai sedang kaki kiriku kuletakkan dibelakang

Kaki kirinya sehingga selangkanganku tepat berada di belahan pantatnya yang putih, montok dan mengkilat oleh basahnya keringat. Tangan kananku mengarahkan kepala penisku tepat pada depan liang vaginanya yang basah dan semakin menggairahkan. Lalu aku mendorong pantatku hingga blessshhh…. “Auw… Auw… Ouhhhh….”

Kembali ia mengeluh nikmat ketika merasakan batang penisku kembali memasuki dirinya dari belakang. Kugerakan pantatku agar batang penisku kembali mengocok dinding vaginanya.

jilbab hot (5)

Lilis memaju mundurkan pantatnya menyambut setiap sodokan batang penisku sambil tak henti-henti mengerang nikmat..Ouh… ohhh…ayoo.. Pak…ayo… ohh…ouhh…” Rupanya dia merasakan batang penisku yang semakin kaku dan bengkak yang menandakan bahwa beberapa saat lagi aku mencapai orgasme.

Dia semakin bergairah menyambut setiap sodokan batang penisku, hingga akhirnya gerakan tubuhku semakin tak terkendali dan kejang-kejang dan pada suatu titik aku menancapkan batang penisku sedalam-dalamnya pada liang vaginanya yang disambut dengan remasan dan pijitan nikmat oleh dinding vaginanya sambil berteriak nikmat “Auuuuwwwhhhhhhh…… Aakkhhh…….” Dan diapun berteriak nikmat bersamaan denganku. Dan Cretttt…. Creeetttt… crettttt spermaku terpancar deras membasahi seluruh rongga diliang vaginanya yang nikmat… Tubuh Lilis ambruk telungkup dikursi dan tubuhkupun terhempas di kursi sambil memeluk tubuhnya dari belakang dengan helaan napas yang tersengal-sengal kecapaian…

punggungku tersandar lemas pada sandaran kursi sambil berusaha menarik nafas panjang menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Dan kuperhatikan Lilispun tersungkur kelelahan sambil telungkup di atas kursi.

Sambil beristirahat mengumpulkan napas dan tenaga yang hilang akibat pergumulan yang penuh nikmat, mataku menatap tubuh bugil Lilis yang basah oleh keringat. Dan terbayang olehku betapa liarnya Lilis barusan pada saat dia mengekspresikan kenikmatan seksual yang menghampirinya. Semua itu diluar dugaanku. Aku tak menyangka Lilis yang demikian anggun dan lemah lembut bisa demikian liar dalam bercinta……

Mataku menyusuri seluruh tubuh Lilis yang bugil dan basah oleh keringat….

Uhhh……. .. Tubuh itu benar-benar sempurna ……

Putih , halus dan mulus….

Beruntung sekali malam ini aku bisa menikmati tubuh indah ini.

Aku terus menikmati pemandangan indah ini, sementara Lilis nampaknya benar-benar kelelahan sehingga tak sadar bahwa aku sedang menikmati keindahan tubuhnya…

Semakin aku memandangi tubuh indah itu, perlahan-lahan gairahku muncul kembali seiring dengan secara bertahap tubuhku pulih dari kelelahan yang menimpaku. Dalam hati aku berbisik agar malam ini aku bisa menikmati tubuh Lilis sepuas-puasnya sampai pagi.

Membayangkan hal itu, gairahku dengan cepat terpompa dan perlahan-lahan penisku mulai mengeras kembali….

Perlahan tanganku membelai pinggulnya yang indah, dan bibirku menciumi pundaknya yang basah oleh keringat…., namun nampaknya Lilis terlalu lelah untuk merespon cumbuanku, dia masih terlena dengan kelelahannya… mungkin dia tertidur kelelahan.

Posisi kami yang berada di atas kursi panjang ini membuatku kurang nyaman…, maka kuhentikan cumbuanku, kedua tanganku merengkuh tubuh indah Lilis dan dengan sisa-sisa tenaga yang mulai pulih kubopong tubuh indah itu ke kamar.

Dengan penuh semangat aku membopong tubuh bugil Lilis kearah kamar . Kuletakkan tubuhnya dengan hati-hati dalam posisi telentang. Lilis hanya melenguh lemah dengan mata yang masih terpejam.

Aku duduk di atas kasur sambil memperhatikan tubuh indah ini lebih seksama. Semakin keperhatikan semakin terpesona aku akan kesempurnaan tubuh Lilis yang sedang telanjang bugil. Kulit yang demikian putih , halus dan mulus….. dengan bagian selangkangan yang benar-benar sangat indah dan merangsang. Di sela-sela liang vaginanya terlihat lelehan spermaku yang keluar dari dalam liang vaginanya mengalir keluar ke sela-sela kedua pahanya..

Aku mengambil tissue yang ada di pinggir tempat tidur dan mengeringkan lelehan sperma itu dengan penuh perasaan.

Lilis menggeliat lemah., lalu matanya terbuka sedikit sambil mendesah..”uhhh……”

Bibir dan lidahku tergoda untuk menciumi dan menjilati batang paha Lilis yang demikian putih dan mulus. Dengan penuh nafsu bibir dan lidahku mulai mencumbu pahanya. Seluruh permukaan kulit paha Lilis kuciumi dan jilati… tak ada satu milipun yang terlewat.

Lambat laun gairah Lilis kembali terbangkitkan, mulutnya mendesis nikmat dan penuh rangsangan “uhhh….. ohhhh… sssssttt…”

Sementara telapak tanganku bergerak lincah membelai dan mengusap paha, pantat, perut dan akhirnya meremas-remas buahdadanya yang montok. Erangannya semakin keras ketika aku memelintir putting susunya yang menonjol keras “Euhh….. Ouhhh…. Auw…… Ahhh…” disertai dengan gelinjang tubuh menahan nikmat yang mulai menyerangnya.

Penisku semakin keras dan aku mulai memposisikan kedua pahaku di bawah kedua pahanya yang terbuka , lalu mengarahkan penisku ke tepat di lipatan vaginanya yang basah dan licin. Kugesek-gesekan kepala penisku sepanjang lipatan vaginanya, tubuhnya semakin bergelinjang…., pantatnya bergerak-gerak menyambut penisku seolah-olah tak sabar ingin ditembus oleh penis tegangku.

Namun aku terus merangsang vaginanya dengan penisku…., dia semakin tak sabar …… tubuhnya semakin bergelinjang hebat. Dan akhirnya ia bangkit dan mendorong tubuhku hingga telentang di atas kasur, dia langsung menduduki selangkanganku… mengangkat pantatnya dan tangannya dengan gemetar meraih penisku dan mengarahkan ke tepat liang vaginanya, lalu langsung menekan pantatnya dalam-dalam hingga…….

Blessshhhh……. batang penisku langsung menerobos dinding vaginanya yang basah namun tetap sempit dan berdenyut-denyut.

Mataku nanar menahan nikmat…., napasku seolah-olah terhenti menahan nikmat yang ku terima…”Uhhhh…..” mulutku berguman menahan nikmat. Dengan mata terpejam menahan nikmat, Lilispun mengaduh.”Auuww…. OOhhhhhhh……”

Pantatnya dia diamkan sejenak merasakan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Lalu secara perlahan dia menaik turunkan pantatnya hingga penisku mengocok-ngocok vaginanya dari bawah….. Erangan khasnya kembali dia perdengarkan “Auw….. auw…. auw… euhhhh…..”

Semakin lama gerakan pantatnya semakin bervariasi…, kadang berputar-putar…. Kadang maju mundur dan terkadang ke atas ke bawah bagaikan piston sambil tak henti-hentinya mengaduh nikmat…

Gerakannya semakin lincah dan liar, membuat aku tak henti-hentinya menahan nikmat. Kembali aku terpana oleh keliaran Lilis dalam bercinta…., sungguh aku tak menyangka…..Wanita sholeh…., anggun dan lembut ini begitu liar dan lincah .”Ouhhhh…. ouhhhh …” aku pun mengeluh nikmat menyahuti erangan nikmat yang keluar dari bibirnya yang tipis.

Buahdadanya yang montok dan indah terguncang-guncang keras akibat gerakannya yang lincah dan membuatku tanganku terangsang untuk meremasnya, maka kedua buahdada itu kuremas-remas gemas. Lilis semakin mengerang nikmat “Auw…. Auw….auhh….ouhhh…”

Lalu gerakannya semakin keras tak terkendali…, kedua tangannya mencengkram erat kedua tanganku yang sedang meremas-remas gemas buahdadanya…,, dan badannya melenting sambil menghentak-hentakkan pantatnya dengan keras hingga penisku masuk sedalam-dalamnya…. Dan akhirnya tubuhnya kaku disertai dengan jeritan yang cukup keras “Aaaaakkhhhsssss………….”

Dan tubuhnya ambruk menindihku……. Namun dinding vaginanya berdenyut-denyut serta meremas-remas batang penisku…. Membuatku semakin melayang nikmat….

Ya…. Lilis baru saja memperoleh orgasme yang pertama di babak kedua ini….

Dengan tubuh yang lemas dan napas yang tersengal-sengal bagaikan orang sudah melakukan lari marathon bibirnya menciumi lembut pipiku dan berkata sambil mendesah…”Bapak…. Benar-benar hebat….” Lalu mengecup bibirku dan kembali kepalanya terkulai di samping kepalaku sehingga dadaku merasakan empuknya dihimpit oleh buahdadanya yang montok.

Penis tegangku masih menancap dengan kokoh di dalam liang vaginanya, dan semakin lama denyutan dinding vaginanyapun semakin melemah…

Kugulingkan tubuhnya hingga tubuhku menindih tubuhnya dengan tanpa melepaskan batang penisku dari jepitan vaginanya.

Tangan kananku meremas-meremas buah dadanya diselingin memilin-milin putting susu sebelas kiri, sementara bibirku menjilati dan menghisap-hisap putting susu sebelah kanan, sambil pantatku bergerak perlahan mengocok-ngocok vaginanya.

Perlahan namun pasti…, Lilis mulai menggeliat perlahan-lahan…, rangsangan kenikmatan yang kulakukan kembali membangkitkan gairahnya yang baru saja terpuaskan…

“Emmhhh…… euhhhh……… auh……..” dengan kembali dia mengerang nikmat…

Pinggulnya bergoyang mengimbangi goyanganku….

Kedua tangannya merengkuh punggungku….

“Auw…. Auw…… ahhh….auhhh…” kembali dia mengaduh dengan suara yang khas, menandakan kenikmatan telah merasuki dirinya…

Goyang pinggulnya semakin lincah disertai dengan jeritan-jeritannya yang khas.

Dalam posisi di bawah Lilis menampilkan gerakan-gerakan yang penuh sensasi…

Berputar…., menghentak-hentak …, maju mundur bahkan gerakan patah-patah seperti yang diperagakan oleh penyanyi dangdut terkenal. Kembali aku terpana oleh gerakan-gerakannya…. Yang semua itu tentu saja memberikan kenikmatan yang tak terhingga padaku…..

Sambil mengerang dan mengaduh nikmat…, tangannya menarik kepalaku hingga bibirnya bisa menciumi dan menghisap leherku dengan penuh nafsu.

Gerakan pinggul Lilis sudah berubah menjadi lonjakan-lonjakan yang keras tak terkendali, kedua kakinya terangkat dan membelit dan menekan pantatku hingga pantatku tidak bisa bergerak, Kedua tangannya menarik-narik pundakku dengan keras dengan mata terpejam dan gigi yang bergemeretuk.

Dan akhirnya tubuhnya kaku sambil menjerit seperti yang yang disembelih…”AAkkkkkhhhh…….”

Kembali Lilis mengalami orgasme untuk ke sekian kalinya….

Aku hanya terdiam tak bisa bergerak tapi merasakan nimat yang luar biasa, karena walaupun terdiam kaku, namun dinding vagina Lilis berkontraksi sangat keras sehingga memijit dan memeras nikmat batang penisku yang semakin membengkak

Tak lama kemudian tubuhnya melemas…., kedua kakinya sudah terjulur lemah

Kuperhatikan napasnya tersengal-sengal…, Lilis menatap wajahku yang berada diatas tubuhnya., Lalu dia tersenyum seolah-olah ingin mengucapkan terima kasih atas puncak kenikmatan yang baru dia peroleh….

Kukecup bibirnya dengan lembut…

Tubuhku kutahan dengan kedua tangan dan kakiku agar tidak membebani tubuhnya, Sambil bibirku terus menciumi bibir, pipi, leher , dada, hingga putting susunya untuk merangsangnya agar gairahnya segera bangkit kembali…

Kuubah posisi tubuhku hingga aku terduduk dengan posisi kedua kaki terlipat dibawah kedua paha Lilis yang terangkat mengapit pinggangku.

Buahdadanya yang indah dan basah oleh keringat begitu menggodaku. Dan kedua tanganku terjulur untuk meremas-remas buah dada yang montok dan indah

“Euhh…. Euhhh…. “ Kembali tubuhnya menggeliat merasakan gairah yang kembali menghampirinya.

Sambil kedua tanganku mempermainkan buahdadanya yang montok…, pantatku kembali berayun agar penisku kembali mengaduk-ngaduk liang vagina Lilis yang tak henti-hentinya memberikan sensasi nikmat yang sukar tuk dikatakan….

Hentakan pantatku semakin lama semakin keras membuat buah dadanya terguncang-guncang indah.

Erangan nikmat yang khas kembali dia perdengarkan….

Kepalanya bergerak ke kanan dan kekiri seperti dibanting oleh rasa nikmat yang kembali menyergapnya…

Pinggul Lilis mulai membalas setiap hentakan pantatku….., bahkan semakin lama semakin lincah disertai dengan lenguhan dan jeritan nikmat yang khas….

Kedua tanganku memegangi kedua lututnya hingga pahanya semakin terbuka lebar membuat gerakan pinggulku semakin bebas dalam mengaduk dan mengocok vaginanya.

“Auw….Auw…. Auw…. Aahhh….ahhhh” erangan nikmat semakin meningkatkan gairahku…. Dan penisku semakin bengkak….

Dan ternyata dengan posisi seperti membuat jepitan vagina semakin kuat dan membuatku semakin nikmat.

Dan tanpa dapat kukendalikan gerakanku semakin liar tak terkendali seiring dengan rasa nikmat yang semakin menguasai diriku…

Lilispun mengalami hal yang sama…, penisku yang semakin membengkak dengan gerakan-gerakan liar yang tak terkendali membuat orgasme kembali dengan cepat menghampirinya dan dia pun kembali menjerit-jerit nikmat menjemput orgasme yang segera tiba… “Auw….Auw…. Auw…. Aahhh….ahhhh”

Akupun merasa bahwa orgasme akan menghampiriku…., tanpa dapat kukendalikan gerakan sudah berubah menjadi hentakan-hentakan yang keras dan kaku. Hingga akhirnya orgasme itu datang secara bersamaan dan kamipun menjerit secara bersamaan bagaikan orang yang tercekik. “AAkkkkkkhhssss…………..” Pinggul kami saling menekan dengan keras dan kaku sehingga seluruh batang penisku amblas sedalam-dalamnya dan beberapa saat kemudian.

Creetttt….creeettttt…. cretttt….. sperma kental terpancar dari penisku menyirami liang vagina Lilis yang juga berdenyut dan meremas dengan hebatnya…

Tubuhkupun ambruk… ke pinggir tubuh Lilis yang terkulai lemah…., namun pantatku masih diatas selangkangan Lilis sehingga Penisku masih menancap di dalam liang vaginanya.

Kami benar-benar kelelahan sehingga akupun tertidur dalam posisi seperti itu….

Malam itu benar-benar kumanfaatkan untuk menikmati tubuh Lilis sepuas-puasnya.. Entah berapa kali malam itu kami bersetubuh……., yang kutahu adalah kami selalu mengulangi berkali-kali…. Hingga hampir subuh…. Dan tertidur dengan pulasnya karena semua tenaga telah terkuras habis …

Pagi-paginya sekitar jam 6 pagi aku mendengar Lilis menjerit..”Apa yang telah terjadi..? Kenapa bisa terjadi begini..?” lalu dia menangis tersedu-sedu sambil tiada henti mengucap istigfar…. Sambil tak mengerti mengapa kejadian semalam bisa terjadi.

Tak lama kemudian dia berkata padaku sambil menangis “Sebaiknya bapak secepatnya meninggalkan tempat ini…!” katanya marah .

Akupun keluar kamar memunguti pakaianku yang tercecer diluar kamar dan mengenakannya serta keluar dari kamarnya sambil membawa laptop dan kembali ke kamarku. Sedangkan Lilis terus menangis menyesali apa yang telah terjadi.

Sejak saat itu selama sisa masa workshop, Lilis benar-benar marah besar padaku, dia memandangku dengan tatapan marah dan benci. Aku jadi salah tingkah padanya dan tak berani mendekatinya. Dan sampai hari terakhir workshop Lilis benar-benar tidak mau didekati olehku.

Setelah aku keluar dari kamar hotelnya, Lilis terus menangis menyesali apa yang telah terjadi. Dia tak habis mengerti mengapa gairahnya begitu tinggi malam tadi dan tak mampu dia kendalikan sehingga dengan mudahnya berselingkuh denganku.

Ingat akan kejadian semalam, kembali dia menangis menyesali atas dosa besar yang dilakukannya. Dia merasa sangat bersalah karena telah menghianati suaminya, apalagi pada saat dia mengingat kembali betapa dia sangat menikmati dan puas yang tak terhingga pada saat bersetubuh denganku….

Ya… dalam hatinya yang paling dalam, secara jujur Dia mengakui, bahwa malam tadi adalah pengalaman yang baru pertama kali dialami seumur hidupnya, dapat merasakan kenikmatan orgasme yang berulang-ulang dalam satu malam, Dia sampai tidak ingat, entah berapa puluh kali dia mencapai puncak orgasme, akibatnya dia merasakan tulangnya bagaikan dilolosi sehingga terasa sangat lemah dan lunglai, habis semua tenaga terkuras oleh pertarungan semalam yang begitu sensasional.

Dan hal itu belum pernah dia alami selama berumah tangga dengan suaminya. Suaminya paling top hanya mampu mengantarnya menjemput satu kali orgasme bersamaan dengan suaminya, setelah itu tertidur sampai subuh dan itupun jarang sekali terjadi. Yang paling sering adalah dia belum sempat menjemput puncak kenikmatan, suaminya sudah ejakulasi terlebih dahulu, meninggalkan dia yang masih gelisah karena belum mencapai puncak.

Dan peristiwa tadi malam, benar-benar istimewa karena dia mampu mencapai kenikmatan puncak yang melelahkan hingga berkali-kali.

Ingat akan hal itu kembali dia menyesali diri…, kenapa dia mendapatkan kenikmatan bersetubuh yang luar biasa harus dari orang lain dan bukan dari suaminya sendiri…. Kembali dia menangis……

Dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dan bertobat atas dosa besar yang dilakukannya. Dan dia akan menjauhi diriku agar tidak tergoda untuk yang kedua kalinya.

Itulah sebabnya selama sisa waktu workshop, dia selalu menjauh dariku.

Hari terakhir workshop, Lilis begitu gembira karena akan meninggalkan tempat yang memberinya kenangan “buruk” ini dan Dia begitu merindukan suaminya sebagai pelampiasan atas kesalahan yang sangat disesalinya.

Sehingga begitu tiba di rumah, dia memeluk suaminya penuh kerinduan. Tentu saja suaminya sangat bahagia melihat istrinya datang setelah seminggu berpisah. Dan malamnya setelah anak-anak tidur mereka melakukan hubungan suami istri.

Lilis begitu bergairah tidak seperti biasanya, dia demikian aktif mencumbu suaminya. Hal ini membuat suaminya aneh sekaligus bahagia, aneh… karena selama ini suaminyalah yang meminta dan merangsangnya sedangkan Lilis lebih banyak mengambil posisi sebagai wanita yang menerima, tapi kali ini sungguh beda… Lilis begitu aktif dan bergairah. Tentu saja perubahan ini membuat suaminya sangat bahagia, suaminya berfikir… baru seminggu tidak bertemu saja istrinya sudah demikian merindukannya sehingga melayani suaminya dengan sangat bergairah. Dan akhirnya suaminyapun tertidur bahagia

Namun, lain yang dialami suami, lain pula yang dialami oleh Lilis, malam itu Lilis begitu kecewa, Dia begitu bergairah dan berharap untuk meraih puncak bersama suaminya, namun belum sempat dia mencapai puncak, suaminya telah sampai duluan. Suaminya mengecup bibirnya penuh rasa sayang, sebelum akhirnya tertidur pulas penuh kebahagiaan, meninggalkan dirinya yang masih menggantung belum mencapai puncak.

Lilispun melamun……

Terbayang olehnya peristiwa di hotel, bagaimana dia bisa mencapai puncak yang luar biasa secara berulang-ulang. “Uhhh……” tanpa sadar dia mengeluh

Di bawah alam sadarnya dia berharap kapan dia dapat kembali merasakan kepuasan yang demikian sensasional itu..?

Namun buru-buru dia beristigfhar setelah sadar bahwa peristiwa itu adalah suatu kesalahan yang sangat fatal.

Namun….., kekecewaan demi kekecewaan terus dialami Lilis setiap kali dia melakukan hubngan suami istri dengan suaminya. Dan selalu saja dia membandingkan apa yang dialaminya dengan suaminya; dengan apa yang dialaminya waktu di hotel denganku. Hal itu membuatnya tanpa sadar sering menghayalkan bersetubuh denganku pada saat dia sedang bersetubuh dengan suaminya, dan hal itu cukup membantunya dalam mencapai kepuasan orgasme. Dan tentu saja kondisi seperti itu membuatnya tersiksa, tersiksa karena telah berkhianat terhadap suaminya dengan membayangkan pria lain pada saat sedang bermesraan dengan suaminya.

Semakin betambah hari, godaan mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dariku semakin besar karena dia tidak bisa mendapatkannya dari suaminya. Dan akhirnya dia menjadi sering merindukanku. Tentu saja hal ini merupakan siksaan baru baginya.

Itulah sebabnya, satu bulan setelah peristiwa di hotel, Lilis tidak terlihat membenciku. Bahkan secara sembunyi-sembunyi dia sering memperhatikan dan menatapku dengan tatapan penuh kerinduan. Dia tidak marah lagi bila didekati olehku, bahkan dia tersenyum penuh arti bila bertatapan denganku. Hal ini tentu saja membuatku bahagia

Namun perubahan itu, tidak membuat tingkah lakunya berubah. Tetap saja Lilis menampilkan sosok wanita berjilbab yang anggun dan sholehah.

Hingga pada waktu istirahat siang, dimana rekan-rekan sekantor sedang keluar makan siang, Aku mendekati Lilis yang kebetulan saat itu belum keluar ruangan untuk beristirahat dan dengan hati-hati aku berkata padanya “Bu…, maaf saya atas kejadian waktu itu…!”

Aku berharap-harap cemas menunggu reaksinya…, namun akhirnya dia menjawab dengan jawaban yang sangat melegakan, “Sudahlah Pak, itu semua karena kecelakaan…, saya juga minta maaf…, karena tadinya menganggap, itu semua adalah kesalahan bapak…., setelah saya pikir…, sayapun bersalah karena membiarkan itu terjadi…”. Dan selanjutnya sambil tersenyum manis, dia mohon ijin padaku untuk istirahat makan siang. Dan meninggalkan diriku di ruangan itu.

Sejak saat itu terjadi perubahan drastis atas sikapnya terhadapku, dia menjadi sering tersenyum manis padaku…, bisa diajak ngobrol olehku, bahkan kadang-kadang membalas kata-kata canda yang aku lontarkan padanya..

Tentu saja perubahan ini, menimbulkan pikiran lain pada diriku…, Ya… pikiran untuk bisa kembali menikmati tubuhnya…., tapi bagaimana caranya…?

Namun kesempatan itu akhirnya datang juga, saat itu dia membuat laporan tahunan yang harus diselesaikan bersama atasan kami, sehingga dia harus kerja lembur di kantor sampai malam hari menemani atasan kami yang kebetulan seorang wanita.

Lilis bekerja di sebuah ruangan bersama 4 orang rekan kerjanya lainnya di depan ruangan atasan kami, sedangkan aku berbeda ruangan dengannya. Saat itu semua rekan kerja kami sudah pulang dan kebetulan Atasan kami ada urusan lain sehingga saat itu meninggalkan Lilis sendirian di ruangan itu.

Aku memasuki ruangan kerja Lilis dan kulihat dia sedang asyik mengerjakan laporan di depan komputer.

“Ohh…Bapak…, ada apa Pak?” tanyanya setelah tahu yang masuk adalah aku

“Kok belum pulang..? Ibu mana ? “ Tanyaku berbasa-basi menanyakan atasan kami.

“Iyah…. Nich… pekerjaan masih banyak…., ada apa nanya Ibu ?” dia balik bertanya

“Ngga ada apa-apa…, biasanya kan Lilis menemani Ibu…, kok Ibunya ngga kelihatan..?” jawabku sambi bertanya kembali padanya.

“Beliau ada perlu dulu…., mungkin langsung pulang ke rumahnya” jawabnya lagi.

“Masih banyak pekerjaannya ? ada yang bisa dibantu ?” tanyaku menawarkan jasa

“banyak Pak, karena harus selesai dua hari lagi. Oh ya Pak…, tolong dong copykan file-file dokumen….. hasil …. Workshop saat itu dong Pak !” katanya agak sedikit bergetar pada saat mengatakan kata ‘hasil …workshop’ dan sekilas kulihat wajahnya langsung berubah merah sambil menundukkan kepala…

“Bbb…baa..ik… baik” kataku tak kalah gugupnya.

Aku langsung mengeluarkan laptopku dan menyalakannya, sementara kulihat Lilis kembali melanjutkan pekerjaannya.

Setelah laptopku ‘nyala’, aku langsung membuka foder hasil workshop dan menyisipkan flasdisk ke laptop dan mulai mencopy. Ingatanku terbayang pada file rekaman video persetubuhanku dengannya pada saat workshop dulu, dan file itu kucopykan juga. Setelah selesai, kucabut flashdisk dan kuserahkan padanya sementara aku berada di belakangnya yang sedang mengahadap komputer sehingga pandangan kami sama-sama memperhatikan layar monitor.

Dia menerima flashdisk itu dan menyisipkan ke PC di meja kerjanya.

“Dimana disimpannya, Pak ?” tanyanya

“Di folder Hasil Work shop” jawabku

Kemudian dia membuka folder Hasil Workshop dan terlihat olehnya file video 3gp dengan nama video1.3gp.

“Ini file video pada saat kegiatan apa , Pak?” tanyanya sambil menunjuk file rekaman tersebut…

“Buka aja ?” jawabku sambil dada bergemuruh menanti reaksi dari Lilis jika melihat hasil rekaman tersebut.

Begitu file tersebut terbuka…..

“Aihhh……!” jeritnya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya…

Terlihat di layar monitor saat aku sedang mencumbunya dan dia begitu menikmati penuh gairah menyambut cumbuanku….

Lilis diam terpaku dengan mulut ternganga menyaksikan rekaman dirinya yang sedang dirangsang olehku. Tangannya selolah kaku tidak bisa bergerak membiarkan media player terus menampilkan percumbuanku dan dirinya diselingi oleh erangan penuh ransangan yang keluar dari mulutnya.

Terlihat olehnya bagaimana dirinya dalam rekaman itu begitu menikmati rangsangan yang kuberikan diiringi lenguhan rangsangan penuh gairah dari bibirnya

“Bapak…jahat…., mengapa bapak lakukan itu…?” suaranya bergetar…, namun matanya seolah tidak bisa dialihkan dari layar monitor. Aku diam tak menjawab…

“Me..mengapa…, pak ?” tanyanya lagi dengan suara yang bergetar diselingi oleh deru nafas yang semakin bergemuruh…

“Buat kenangan…pribadi…, Lis ! Untuk mengingatkanku bahwa Lilis begitu istimewa…dimata saya..Percayalah, Lis. File ini rahasia…, hanya kita yang tahu dan tidak sedikitku terbersit dalam pikiran saya untuk menyebarkannya….. Saya juga malu kalau tersebar. Kan ada gambar saya di sana juga…” Jelasku menenangkannya.

Dalam gambar, tampak bahwa dia begitu menikmati dan bergairahnya membalas pagutan bibirku dan bagaimana ekspresi wajahnya yang menahan nikmatnya rangsangan gairah yang sedang melandanya saat itu.

Rekaman itu membawa Lilis akan kenangan betapa saat itulah dia merasakan kenikmatan puncak orgasme yang berulang yang tidak pernah dia dapatkan selama ini.

jilbab hot (6)

Serrrrrr…., perlahan namun pasti gairah Lilis mulai bangkit, dan gairah yang selama ini terpendam dan tak tersalurkan mulai meronta-ronta dengan hebatnya. Bulu-bulu halus di seluruh tubuhnya merinding…, tangannya semakin kaku menahan gelora yang mulai menghasutnya. Sementara itu bagian vaginanya mulai basah dan berdenyut-denyut membayangkan kenikmatan yang luar biasa yang ia rasakan saat itu..

“Uhh…” tanpa sadar keluhan penuh rangsangan keluar dari bibirnya yang tipis dan duduknya mulai gelisah merasakan vagina yang semakin basah dan berdenyut.

Sebenarnya saat itupun aku sudah terangsang, gairahku mulai bergelora, penisku sudah tegang dengan kerasnya mendesak celana kerjaku.

Kedua tanganku secara perlahan-lahan memegamg kedua pundaknya dari belakang. Tubuhnya semakin merinding begitu tersentuh olehku, sementara matanya tidak lepas dari layar monitor dan nafasnya semakin tersengal dipacu oleh nafsu yang semakin menggebu.

Kedua tangannya terangkat memegang kedua tanganku yang sedang memegang pundaknya, lalu berkata dengan bergetar….”Sebaiknya kita jangan mengulangi lagi….” Katanya lirih….

Namun nampaknya kata-kata itu seolah meluncur tanpa makna, karena ternyata kedua tangannya meremas kedua tanganku. Dan itu merupakan isyarat bagiku untuk bertindak lebih jauh.

Perlahan-lahan kutundukkan kepalaku dan bibirku mulai mengecup pundaknya yang terhalang oleh jilbabnya yang lebar…

“Euhh….” Lilis mengeluh. Tangannya semakin meremas jari-jariku yang berada di pundaknya dan kepalanya terdongak.

Aku terus mengecup pundaknya, sementara perlahan-lahan kedua tanganku bergerak ke arah buahdadanya yang terhalang oleh baju panjang yang dikenakannya. Tidak ada penolakan dari dirinya sehingga aku meremas-remas buahdadanya yang montok dan kenyal.

“Euhhh….. euhhh….” Lilis semakin mengerang….

Sementara matanya menatap layar monitor yang menampilkan adegan dimana dia menggeliat nikmat saat vaginanya diusap-usap oleh jari-jariku.

Aku bergerak kesamping sambil kuputarkan kursi kerja yang sedang diduduki oleh Lilis sehingga aku berdiri dihadapannya, lalu aku duduk dilantai sehingga kepalaku menghadap selangkangannya, kusingkapkan rok panjang yang dikenakannya ke atas sampai sebatas pinggangnya hingga dihadapanku terpampang pahanya yang putih dan mulus dan CD putih yang menutupi vaginanya yang indah.

Aku mulai menciumi pahanya yang kiri dan kanan dengan penuh gairah.

“Uhhhh… euhhhh…” Lilis semakin menggeliat nikmat dan penuh rangsangan.

Lalu kedua tanganku berusaha menarik CD yang dikenakannya. Lilis mengangkat pantatnya sehingga CD itu dengan mudah dapat kulepaskan.

Lalu dengan rakus aku menjilati lipatan vagina yang dihiasi oleh jembutnya yang halus..

“Auw…..auh….ouh….” Lilis mulai mengaduh nikmat dan mengerang… Pinggulnya bergelinjang.

Aku semakin bersemangat menjilati vagina Lilis yang semakin basah. Tangaku membuka lipatan bibir vaginanya dan Lidahku menjilati lorong basah itu dari bawah hingga ke atas dan berhenti dan menghisap clitorisnya yang menonjol keras..

“Aaaauuhhhh…. aaawwwwhh…….auwwww…” Dia menjerit dan tubuhnya bergetar pada saat lidahku menjilati dan menghisap clitorisnya. Tubuhnya menggeliat, melenting ke belakang hingga punggungnya menekan sandaran kursi dengan kuat, pantatnya terangkat menyambut jilatanku yang semakin bersemangat. Kedua tangannya mencengkram erat pegangan kursi dengan kuat hingga urat-urat tangannya menonjol keluar “Auw… auw….. ouhhhh… .euhhhh……” erangannya semakin merangsangku.

Gerakan menjilati celah vaginanya hingga clitorisnya kulakukan berulang menyebabkan Dia terus menerus mengaduh dan mengerang nikmat dan tubuh yang bergetar dan bergelinjang tiada henti.

Hingga akhirnya kedua kakinya terangkat melewati punggungku dan memiting leherku dengan kedua pahanya dan kedua tangannya mencengkram bagian kepalaku dan menekan kepalaku agar semakin menekan vaginanya dengan kuat dan kaku dan akhirnya…

“Aaaakkkkkssss……….aaauuuhhhhhhhhhhhhh” tubuhnya terlonjak-lonjak kaku sementara vaginanya terasa berdenyut-denyut oleh lidahku dan beberapa saat kemudian tubuhnya terhempas dengan napas yang terengah-engah dan tatapan mata yang menunjukkan rasa puas dan nikmat yang luar biasa.

Aku berdiri membuka gesper yang kugunakan dan membuka kancing celana yang kukenakan serta menari sleting hingga kebawah, lalu tanganku mengeluarkan penisku yang sudah sangat tegang dari pinggir CD yang kukenakan. Penisku mengacung tegak dan keras begitu terbebas dari kurungannya.

Mata Lilis masih setengah terpejam merasakan kenikmatan orgasme yang masih menderanya, kemudian mata itu terbuka perlahan dan memandang wajahku seolah ingin mengucapkan terima kasih karena telah memberikan kenikmatan orgasme padanya, tetapi tatapan mata itu kemudian jatuh pada penisku yang sedang mengacung tegak dan tegang, gairahnya kembali bangkit dengan cepat dan dengan penuh nafsu dia menatap penisku yang mengacung tegak.

Dengan gemetar tangan kanannya meraih batang penisku yang mengacung tegak, secara perlahan dia membelainya dengan penuh nafsu. Pantatku terangkat merasakan rasa nikmat yang menjalar dari batang penisku yang diremas olehnya. Melihat aku merasakan nikmat akibat perlakuannya, dia semakin bersemangat dan bernafsu meremas dan mengocok batang penisku.

Kepalaku terdongak ke belakang merasakan kenikmatan yang tak terperi. Tanganku mencengkram erat pundaknya menahan keseimbangan tubuhku.

Melihat tubuhku melenting kaku menahan rasa nikmat akibat kocokan yang dilakukannya, membuat Lilis semakin terangsang, merasakan nikmat dan puas tersendiri mampu menyiksaku dengan rasa nikmat “Uhh…ouhhh…” tanpa sadar mulutku mengeluh lirih…

Ada dorongan besar dalam dirinya untuk lebih menyiksa diriku dengan mempermainkan batang penisku yang semakin menggemaskan bagi dirinya. Sementara itu tubuhku semakin sering melenting kebelakang menahan rasa nikmat yang terus menghantamku.

Pada saat kepalaku terdongak untuk kesekian kalinya dihempas oleh rasa nikmat yang terus menghantamku.

Tiba-tiba aku menjerit “Auh…..ouhhhh….”, tanpa sadar mulutku menjerit kaget, karena kurasakan kepala penisku dilamuri oleh sesuatu yang basah, hangat dan nikmat luar biasa, membuat pantatku terangkat dan tubuhku kaku, tubuhkupun semakin melayang..

Rupanya Lilis mendapatkan kepuasan dan kenikmatan tersendiri ketika melihat bahwa dirinya mampu membuatku melayang-layang ketika dia meremas dan mengocok batang penisku yang semakin bengkak dan kaku. Di matanya, batang penisku terlihat semakin menggemaskan sehingga tanpa dia sadari kepalanya semakin mendekat dan akhirnya mulutnya mencaplok kepala penisku dan menghisapnya perlahan, membuat tubuhku semakin melenting dan menjerit nikmat.

Melihat tubuhku yang menggeliat-geliat nikmat, rangsangan dan gairahnyapun semakin menggebu dan vaginanya semakin berdenyut, basah dan gatal. Diapun akhirnya mengocok batang penisku dengan mulutnya…

Aku merasa semakin tak tahan…, akhirnya pantatku kumundurkan kebelakang sehingga batang penisku lepas dari mulutnya.

Lilis menatapku dengan senyum kemenangan. Lalu kuarahkan kedua tanganku untuk menarik kedua tangan Lilis sambil berkata “Lis.., duduk di meja…!”

Dia berdiri dengan kedua tangan memegang pinggir rok panjang yang dikenakan, pantatnya diarahkan ke pinggir meja, lalu duduk dipinggir meja dengan paha yang terkangkang seolah tak sabar ingin menjemput penis tegangku untuk segera memasuki dirinya.

Akupun berdiri menghadap dirinya, kuarahkan kepala penisku tepat di liang vaginanya, kedua tangan Lilis memegang pundakku, kedua kakinya terangkat memudahkan diriku untuk memasuki dirinya sementara matanya dengan penuh nafsu menatap nanar batang penisku yang sedang mengarah tepat di depan liang vaginanya yang berdenyut dan gatal penuh harap untuk segera dimasuki. Lalu secara perlahan

jilbab hot (7)

Blesshhhh……

“Auuwww….auww….. Auuhhhhhh…..” Lilis mengaduh nikmat pada saat batang penisku menerobos lorong vaginanya yang sangat nikmat, matanya terpejam menikmati sensasi nikmat yang dirindukankannya selama ini.

Aku mulai mengerakan pantatku maju mundur agar batang penisku mengocok-ngocok liang vaginanya yang semakin basah namun nikmat luar biasa..

Erangan dan lenguhan nikmat yang khas semakin keras diperdengarkan oleh Lilis sebagai ekspresi dari rasa nikmat yang bertubi-tubi menderanya.

Pinggul Lilis mulai bergerak dan menggeliat setiap penisku menerobos liang vaginanya. Dan gelinjang tubuh itu semakin keras sambil mengaduh nikmat “Auw…auuwww..auuw……auhh….”

Untuk mendapatkan kenikmatan lebih.., Lilis menurunkan kedua tangannya dari pundakku dan meletakkannya menekan meja dibelakang punggungnya sehingga pantatnya bisa melonjak-lonjak menyambut sodokan penisku di dalam liang vaginanya .

Jeritan mengaduh menahan nikmat semakin keras keluar dari mulutnya “Auw… auw… auw… ouhhhhhh…”

Kepalanya bergerak kekiri dan ke kanan seirama dengan sodokan batang penisku dan terkadang terdongak-dongak hingga dadanya naik

Beberapa menit kemudian, jeritan nikmat yang keluar dari mulutnya semakin keras dan tubuhnya semakin melonjak-lonjak keras, kedua kakinya yang berada dipinggir pinggangu terangkat dan kedua tumitnya menekan-nekan pantatku dengan keras dan kaku.

Kepalanya semakin terdongak dan kaku dan akhirnya jeritan menjemput puncak orgasme terdengar dari mulutnya “Aaaaaakkkkkkkkssss……..”

Tubuhnya terdiam kaku, dan terjadi kontraksi yang sangat hebat di dalam liang vaginanya meremas dan menghisap-hisap batang penisku dengan kuat, sementara pantatku tak bisa bergerat karena terkunci oleh jepitan kaki Lilis.

Beberapa saat kemudian “Uhhhhhh……” lenguhan melepaskan napas panjang keluar dari mulutnya dan tubuhnyapun melemas.

Kudekap tubuh Lilis agar kepalanya terkulai dipundakku. Kudiamkan bebera saat dalam posisi seperti itu, membiarkan Dia menikmati fase-fase orgasme yang baru saja diterimanya.

Setelah beberapa menit kepalanya bergerak dan tangannya memegang leherku, kemudian dia mencium bibirku dengan mesra…. Dan berkata “Pak… sungguh luar biasa….”

Akupun menyambut ciuman itu dengan lembut dan tersenyum bangga mendengar ucapannya. Lalu berkata “Nungging.. Yukkk!”

“Bagaimana…?” Dia bertanya

Aku menurunkan tubuhnya dari atas meja dan mengarahkan tubuhnya agar berdiri membelakangiku, kemudian kedua tangannya kuletakkan agar memegang pinggir meja, pinggulnya kumundurkan dan kakiknya ku kangkangkan agar dia berada pada posisi menungging sambil berdiri.

Kusingkapkan rok panjang yang dikenakannya ke atas pinggangnya, lalu kuarahkan kepala penisku tepat pada depan liang vaginanya yang semakin basah, lalu ….

Blessshhh…., Rasa nikmat kembali menjalar disekujur pembuluh darahku ketika batang penisku memasuki liang vaginanya yang berdenyut dan basah serta licin.

“Auw…auw….auhhhhh….” Lilispun kembali mengaduh nikmat….

Aku mulai mengocok batang penisku dengan memaju mundurkan pantatku sehingga selangkanganku bertepukan dengan pantatnya yang bulat dan montok

“Uh…uh….uh…” Napasku semakin berderu sambil pantatku memompa pantat Lilis..

Rasa nikmat semakin menjalar disekujur tubuhku….

Akupun semakin lama semakin keras dan cepat menggerakan pantatku.

Lenguhan nikmatku bersahutan dengan erangan nikmat dari mulut Lilis, bagaikan orkestra ekspresi nikmat sedang kami kumandangkan.

Pantat Lilis turut bergerak maju mundur menyambut sodokan batang penisku sehingga batang penis menancap semakin dalam, sehingga rasa nikmatpun semakin bertambah.

Goyangan kami makin lama semakin cepat dan aku merasa orgasme akan menerjang diriku sehingga gerakan tubuhku semakin tak terkendali dengan cepat dan kaku…

Dan Lilispun tahu bahwa aku segera mencapai puncak karena merasakan batang semakin keras membengkak di dalam vaginanya, hal ini membuat kenikmatan yang diterimanya semakin cepat mengantarnya menjemput orgasme untuk ke sekian kalinya. Diapun semakin cepat memaju mundurkan pantatnya.

Hingga akhirnya pantatku menekan keras dan kaku pantat Lilis membuat batang penisku amblas sedalam-dalamnya…

Dan Lilispun demikian, Dia pun menyambut sodokan terakhirku dengan menekan pantatnya dengan kuat pada selangkanganku

Badai puncak orgasmepun pada saat yang bersamaan menghantam Aku dan Lilis sehingga akhirnya dengan mata melotot dan tubuh yang melenting kaku sambil kedua tangan mencengkram kuat bongkahan pantat Lilis yang bulat sambil menjerit nikmat “Aaaakkkkkksssshhh………………”

Dan dijawab dengan jeritan nikmat Lilis “Aaaakkkkkksss……… “

Beberapa saat tubuh kami kaku dan akhirnya tubuhku berkelojotan sambil… Crettt..crettt.. creeeettttt….

Spermaku terpancar dengan deras membasahi seluruh lorong nikmat di dalam vaginanya, disambut dengan kontraksi yang sangat kuat seolah memeras-meras batang penisku agar mengeluarkan semua sperma yang sedang terpancar…

Beberapa saat kemudian, aku merasa tubuhku lunglai, lututku goyah menahan beban tubuhku dan hampir saja tubuhku terjatuh. Aku berusaha menjaga keseimbangan tubuhku dari sekuat tenaga agar tidak jatuh. Sedangkan Lilis langsung terduduk di pinggir meja, rupanya lututnya langsung goyah tak mampu menopang beban tubuhnya, hingga penisku tercabut dari liang vaginanya.

Sesaat kemudian kami terdiam, hanya napas kami yang tersengal-sengal seolah habis berlari jauh. Tak lama kemudian aku berusaha membangunkan Lilis dan menariknya agar berdiri. Lilis berdiri dengan bantuanku dan langsung berdiri berhadapaan, baju yang kami kenakan basah oleh keringat. Aku memeluknya dan membelai kepalanya, sejenak kamipun berciuman dengan lembut dan mesra.

“Uhhh…Pak, kenapa jadi begini….?” Tanyanya dengan pertanyaan yang tak perlu kujawab, lalu dia memunguti Cdnya yang tergeletak di lantai, mengenakannya dan akhirnya menghampiri kursi, kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kusi tersebut.

Aku menarik sleting dan mengancingkan celana panjangku dan berusaha duduk di kursi lain yang ada di sana.

Beberapa saat kami hanya duduk terdiam sambil mengatur napas yang perlahan-lahan mulai normal kembali

Tiba-tiba dia berkata “Sebaiknya bapak segera pulang, sebab sebentar lagi suami saya akan datang menjemput…., saya tidak ingin suami saya curiga dengan apa yang kita lakukan barusan…”

Akupun berdiri, mengambil tas laptopku, sebelum aku meninggalkan ruangan itu aku berusaha menciumnya, namun dia menepis mukaku dan menghindar. Akhirnya akupun pergi meninggalkannya sendiri di ruangan itu.

Sepeninggalanku, Lilis tampak termenung melamunkan apa yang baru saja terjadi. Hari ini kembali dia berbuat dosa…., kembali dia menghianati suaminya, dan yang paling membuatnya tersiksa adalah kembali dia merasakan puasnya kenikmatan sex yang tak pernah didapatkan dari suaminya.

Dan peristiwa barusan, semakin memperbesar ketergantungannya akan pemenuhan kebutuhan sex terhadap diriku. “Uhhh…..” tanpa sadar dia menghela napas panjang sebagai ekspresi dari melepaskan beban berat yang sedang menghimpitnya.

Tiba-tiba badannya tersentak kaget, ketika ingat bahwa di layar monitor masih terlihat aplikasi media player yang sudah selesai menampilkan adegan persetubuhannya denganku. Dengan tergesa-gesa dia keluar dari aplikasi tersebut dan menghapus file video tersebut.

Tak lama kemudian suaminya datang menjemputnya. Untuk menutupi rasa bersalahnya, Lilis menyambut suaminya dengan memberikan kecupan mesra dan tak lama kemudian merekapun pulang. Sepanjang perjalanan pulang dengan menggunakan sepeda motor, Lilis memeluk erat tubuh suaminya dari belakang dan meletakan kepalanya dipunggung suaminya.

Tapi ingatannya melayang pada saat-saat dimana tubuhnya terguncang-guncang diombang-ambingkan oleh rasa nikmat yang diberikan olehku.

Sepanjang perjalanan pulang, suaminya merasa nyaman dan bahagia, karena istri tercinta memeluk erat tubuhnya dari belakang dan diapun merasakan bahwa kepala istrinya disandarkan dipunggungnya. Kondisi begitu membuat gairahnya naik dan dia ingin segera sampai di rumah untuk melakukan hubungan suami istri dengan istrinya.

Namun pada saat keinginannya tersebut dia sampaikan ke Lilis, Lilis menolaknya dengan halus dengan mengatakan bahwa dirinya sangat lelah sehingga takut tidak bisa memuaskan suaminya dan dia berjanji bahwa besok dia akan melayani dan memuaskan suaminya. Suaminyapun mengerti akan alasan tersebut dan akhirnya merekapun tidur.

Alasan Lilis menolak ajakan suaminya, sebenarnya adalah dia merasa takut kalau penyelewengannya denganku di kantor dapat dirasakan oleh suaminya jika malam itu dia bersetubuh dengan suaminya. Itulah sebabnya dia memberi alasan bahwa tubuhnya lelah dan takut dia bisa melayani suaminya dengan baik, dan dia bersyukur karena suaminya bisa menerima alasanya.

Keesokan malamnya, setelah anak-anak mereka tidur, suaminya menagih janji Lilis untuk melakukan hubungan suami istri. Lilispun menyambutnya dengan senyuman dan kecupan mesra pada suaminya yang membuat gairah suaminya semakin tinggi.

Malam itu kembali Lilis begitu agresif terhadap suaminya, dia menciumi bibir suaminya dengan penuh nafsu dan membukakan seluruh pakaian suaminya. Lilis tidak memberi kesempatan pada suaminya untuk mencumbunya.

Pada saat tubuh suaminya sudah telanjang bulat dan telentang di kasur dengan batang penis yang mengacung tegak, kembali ingatannya pada saat dia mempermainkan batang penisku dan membuat tubuhku terkejang-kejang sambil mengerang nikmat.

Ingatan tersebut membuat gairah Lilis terpacu, maka dengan semangat dia mempermainkan batang penis suaminya yang mengacung tegak.

Tentu saja suaminya kaget dan berkata..”Mah…kok Mamah bergairah sekali..? tidak biasanya Mamah seperti ini ?”

“kan saya udah janji untuk memberi kepuasan yang lain dari biasanya pada Papah…” jawab Lilis sambil mengocok batang penis suaminya yang semakin tegang dan suaminyapun semakin menggeliat-geliat menahan nikmat yang diberikan olehnya.

Semakin suaminya menggeliat dan mengeluh nikmat, Rasa nikmat dan puaspun semakin menjalar ke seluruh penjuru darahnya, gairahnyapun semakin tinggi serta vaginanya semakin basah, berdenyut dan gatal. Hal ini membuat Lilis semakin bergairah mempermainkan batang tegak suaminya, hingga akhirnya Lilispun mengemut batang penis suaminya yang semakin tegak dan bengkak

“Aahhh…..” tubuh suaminya bergetar, ketika dia merasakan batang penisnya merasakan panas dan basahnya mulut istrinya. Tubuhnya kejang dan melayang dihantam oleh rasa nikmat yang baru pertama kali dialaminya selama hidupnya, karena seumur perkawinannya belum pernah Lilis melakukan hal ini padanya. Tentu saja dia merasa surprise dan nikmat luar biasa yang membuat tubuhnya melenting-melenting tanpa dapat dia kendalikan.

“Mah…Mamah… Ohhh.. Oh…” dengan tersengal-sengal menahan nikmat mulutnya terus meracau….

Mendengar racauan suaminya, Lilis semakin bersemangat mengoral batang penis suaminya, sehingga semakin lama dia merasakan batang suaminya semakin bengkak dan mulutnya terasa semakin penuh oleh batang suaminya dan akhirnya tanpa diduga tubuh suaminya melenting kaku dan menjerit “Aakkkkhhhh…” serta Cret…cret…cret….

Sperma kental terpancar tanpa dapat ditahan menyirami rongga mulut Lilis.

Lilispun kaget dan tersedak sehingga terbatuk-batuk dan melepaskan batang penis suaminya yang masih memancarkan sisa-sisa sperma.

Sementara itu napas suaminya tersengal-sengal merasakan nikmat yang luas biasa yang diberikan oleh istrinya.

Sementara itu, Lilis benar-benar kaget dan kecewa, karena suaminya sudah selesai sedangkan dia belum apa-apa, padahal dia merasakan vaginanya demikian basah dan berdenyut-denyut ingin diobok-obok oleh batang suaminya, tapi betapa kecewanya karena harapan itu sirna karena suaminya telah ejakulasi.

“Kok…Papah udahan sich…, saya kan belum diapa-apain…?” kata Lilis sambil cemberut.

“Abisnya…., Lilis sich…. Hari ini begitu lain…. Baru kali ini Lilis melakukan seperti tadi ke Papah, membuat Papah ngga tahan…tahu dari mana sih cara seperti tadi ?” jawab suaminya sambil menatap istrinya penuh selidik…

“tau dari temen… katanya bisa membuat suami melayang-layang nikmat…” jawab Lilis berbohong…” Teruss…. Saya gimana dong, Pah ? kan belum apa-apa…” lanjut Lilis sambil cemberut.

“Nanti..ya Mah…, Papah istirahat dulu…” jawab suaminya sambil mengecup mesra bibirnya.

Kemudian suaminya tergolek lemah dan tertidur, meninggalkan dirinya yang gelisah menahan gairah yang belum tersalurkan.

Sambil menahan gairah yang belum tersalurkan, Ingatan Lilis kembali melayang padaku…

Nyata benar bedanya bedanya, kemampuan suaminya dan diriku dalam memberikan kepuasan sex pada dirinya.

Dengan diriku, dia mendapatkan kepuasan dalam memberi dan menerima. Dia begitu puas dan nikmat bisa membuatku melayang-layang ketika mengoral batang penisku dan akhirnya diapun mendapatkan puncak orgasme berulang-ulang ketika batangku mengobok-obok liang vaginanya.

Sementara suaminya, baru dioral segitu aja udah kalah, meninggalkan dirinya yang belum diapa-apakan. “Uhhh….” Lilispun mengeluh penuh kecewa.

Kekecewaan yang baru saja dialaminya ini semakin merubah pandangan Lilis pada diriku. Di matanya, Aku bagaikan seorang maestro, yang mampu menjadikannya seorang wanita yang lengkap, seorang wanita yang bisa menikmati puncak orgasme yang begitu didambakannya. Dan aku bukan hanya mampu memberikannya satu kali, namun berkali-kali….

Semakin sering dia merasa kecewa karena ketidakmampuan suaminya memberikan kepuasan padanya, semakin membuatnya rindu padaku. Dan terkadang terpikir olehnya untuk rela menghadapi segala macam resiko untuk bisa meraih kenikmatan dariku.

Ya…, dibalik jilbab lebarnya, dibalik prilaku sholehnya dan dibalik tutur sapanya yang lembut, anggun dan sopan. Ternyata tersimpan gairah liar yang meronta-ronta yang tak dapat dipenuhi dari suaminya dan ini merupakan siksaan yang berat baginya. Membuatnya murung dalam kesehariannya.

Kecewaan yang berulang-ulang yang dialaminya membuat gairahnya secara perlahan-lahan berkurang dan hilang jika bersetubuh dengan suaminya. Akhirnya Lilis harus bersandiwara seolah-olah dia merasa puas dan nikmat ketika bersetubuh dengan suaminya karena dia tidak ingin melihat suaminya kecewa.

Tetapi di dalam kesendiriannya, ketika suaminya tidak ada di rumah atau sudah tidur gairahnya perlahan-lahan merayap naik dan menggodanya untuk membayangkan bersetubuh denganku, sambil jemarinya mengusap vagina dan meremas-remas buah dadanya sendiri. Hal itu semakin membuatnya rindu untuk meraih kenikmatan denganku.

Semakin lama, kerinduan itu semakin tak tertahankan dan semakin tak mampu mengendalikan gairahnya untuk bercinta denganku.

Pada suatu sore ketika aku baru pulang ke rumah kontrakanku dan selesai mandi, aku mendengar pintu depanku ada yang mengetuk, dan aku terbelalak kaget dan gembira ketika kubuka pintu ternyata Lilis yang anggun dan cantik telah berdiri di hadapanku. Aku hanya melongo sehingga lupa apa yang kulakukan.

Segera aku sadar…”Ohh..Lilis…, silakan masuk..!” kataku terbata-bata. Lilis segera masuk ke dalam rumah, aku menutup pintu dan “Silahkan duduk Lilis…!” kataku sambil mempersilahkannya duduk. Lilis duduk di kursi panjang yang berada di sudut ruangan dengan gelisah.. Akupun duduk di kursi panjang tersebut dengan jarak yang agak jauh.

“Aku… kangen banget ke bapak..!” katanya tiba-tiba membuatku kaget sekaligus bahagia, lalu dia menghampiri tubuhku dan tanpa kuduga, Lilis langsung mencium bibirku dengan gairah yang menyala-nyala, napasnya begitu terengah-engah didorong oleh nafsu birahi yang menyala-nyala tidak dapat dia kendalikan.

Akupun menyambut ciuman membara itu dengan tak kalah nafsunya. Selama beberapa menit napas kami saling memacu didorong oleh gairah yang demikian cepat menguasai kami berdua. Sambil menciumi bibirnya, tanganku mulai meremas-remas buahdadanya yang montok dari luar baju longgar yang dikenakannya.

Namun nampaknya Lilis ingin mengeluarkan semua gairahnya yang selama ini terpendam. Bibirnya menciumi dan menjilati pipi dan leherku, sementara tangannya dengan lincah membuka gesperku dan sleting celana panjang yang kukenakan dan tanganya langsung mencari-cari batang penisku yang tegang.

Begitu tangannya meraih batang penisku yang semakin tegang, tangannya langsung meremas dan mengocok batang penisku dengan gemas dan penus nafsu, sementara bibirnya masih terus menjilati dan menghisap leherku.

“Uhhh….” Kenikmatan ini betul-betul luar biasa dan tak terduga, membuatku melayang nikmat.

Tiba-tiba tubuhnya melorot kebawah kursi hingga kepalanya tepat berhadapan dengan batang penisku yang mengacung tegak dan keras dan dengan gairah yang menyala-nyala mulutnya mencaplok batang penisku dan mengoral penisku dengan lincahnya.

“Ouh…ouhhh…ouhh…..” akupun mengerang nikmat dengan napas terengah-engah dan Lilispun tanpa mengenal lelah terus mengoralku. Dan nampaknya dia begitu sangat menikmati karena bisa membuatku mengeliat-geliat menahan nikmat diatas kursi.

Semakin dia melihat diriku menggeliat-geliat menahan nikmat atas apa yang dilakukannya, rangsangan yang dirasakan Lilispun semakin tinggi dan gairahnyapun semakin bergelora, akhirnya Lilispun tak tahan lagi menahan gairahnya, karena merasa vaginanya semakin basah, berdenyut dan gatal, ingin segera diobok-obok oleh batang penisku yang tegang dan bengkak. Dia berdiri dan mau membuka celana dalamnya. Namun kutahan sambil berbisik “ kita ke kamar !” dia menatapku dgn gairah yang menyala-nyala, lalu kutuntun dia ke arah kamarku.

Ketika di dalam kamar, aku mencoba membuka baju longgar yang ia kenakan, namun dengan tergesa-gesa dia membuka baju longgar yang ia kenakan seolah-olah tidak memerlukan bantuanku. Akupun membuka membuka seluruh pakaianku sehingga kami sama-sama telanjang bulat. Aku langsung memeluknya dengan penuh nafsu, menciumi bibirnya dengan gemas, merayap ke lehernya yang jenjang. Lilispun membalas cumbuanku dengan tak kalah bergairahnya, sehingga kami kami bercumbu sambil berdiri dengan napas terengah-engah dipacu oleh nafsu yang semakin menggebu.

Beberapa saat kemudian, tubuh Lilis kudorong agar naik ke tempat tidur, dia naik ketempat tidur dan aku menyusulnya dengan merangkak. Kuarahkan kepalaku ke arah selangkangannya untuk menikmati vaginanya dengan lidahku.

Lilis menggeser punggungnya agar kepalanya mendekati batang penisku yang tergantung tegang hingga akhirnya kami membentuk posisi 69. Lilis langsung mengemut batang penisku dengan penuh gairah dari bawah, sementara aku tidak menyia-nyiakan waktu, langsung menjilati belahan vaginanya yang begitu merangsang, “Auw….auw…” erang Lilis ketika lidahku mejilati lipatan vaginanya dan dia balas dengan menghisap dan mengocok batang penisku dengan gairah yang tak kalah panasnya.

Rasa nikmat yang menjalar dari batang penisku membuat gerakan lidahku terhenti menahan rasa nikmat yang kurasakan, kemudian kujilati dan kuputar-putar klitorisnya dengan lidahku. “Auh..auw…auw…” Lilis tersentak dan menjerit nikmat sehingga kulumannya terhadap penisku terlepas.

Selama beberapa menit kami saling mencumbu kemaluan lawan kami masing-masing, memberi dan menerima nikmat yang luar biasa datang silih berganti. Lilis menghentakkan tubuhnya hingga kami berguling, dan dia mengambil posisi diatas dan mempermainkan penisku dari atas, akupun mempermainkan vaginanya dari bawah. Berkali-kali kami berguling berubah posisi, hingga pada suatu posisi dimana Lilis diatas, dia sudah melonjak-lonjak dan menekan-nekan selangkangannya dengan keras ke arah wajahku pada saat aku mempermainkan klitorisnya dengan lidahku, sementara itu kakinya sudah mulai kejang-kejang dengan napas yang semakin terengah-engah dan terputus-putus hingga akhirnya “Akkkkkkhhhsss………..” mulutnya menjerit melepas nikmat dan lidahku merasakan dinding vaginanya berkonstraksi sangat keras dan cepat serta terasa semakin banjir membasahi bibir dan hidungku.

Kemudian dia berguling lemas dan telentang, dengan napas yang tersengal-sengal seperti kehabisan napas.

Aku segera bangkit dan merangkak memposisikan kakiku berada disela-sela kedua tungkainya yang terkangkang lemas, sementara sikuku kuletakan dibawah pantatnya dan kedua tanganku melingkari pangkal pahanya yang masih lemah.

Jari-jari kedua tangankuku menyentuh vaginanya dari dua sisi dan posisi wajahku tepat berada di depan vaginanya yang semakin tampak indah dan merangsang.

Nafsuku masih mendorong untuk terus mencumbu vaginanya, Jari-jariku berusaha membuka lipatan bibir vaginanya sehingga lorong nikmat vaginanya terlihat merah muda dan basah berlendir , kujilati lagi sepanjang lorong nikmat tersebut, Lilis hanya mengeluh lemah “Uhh……euuhh…..”

Aku menjilati lorong itu dari liang vaginanya hingga menuju klitoris, dan terus kulakukan dengan nafsu yang tak pernah berhenti. Mendapat rangsangan yang terus menerus dariku, gairahnya bangkit kembali dan mulai berreaksi “Auw…..auh…..auhh” mulutnya mulai melenguh nikmat, pantatnya mulai bergoyang merespon jilatanku, dan pada saat ujung lidahku menusuk-nusuk dan mengorek-ngorek liang vaginanya yang semakin basah dengan aroma yang menggairahkan dengan rasa yang asin dan gurih. Lilis kembali mengaduh nikmat tak terkendali “Auw…auw…auw,…..”

Pantatnya kembali melonjak-lonjak dan akhirnya dia menjambak rambutku dan menariknya sambil berkata “Masukin….Pak…ouhh… masukin….. saya… tak tahan… ouh.. saya tak tahan….ouh….” Gerakannya semakin menggila.

jilbab hot (8)

Kulit kepalaku perih karena rambutku ditarik olehnya, akupun menghentikan kegiatanku menjilati vaginanya yang semakin basah menggairahkan. Kuposisikan kedua lututku dibawah kedua pahanya yang terangkat. Kepala penisku kuarahkan tepat dimulut liang vaginanya dan kugesek-gesekan kepala penisku sepanjang lipatannya, pantat Lilis bergoyang dan menggeliat seolah menyongsong kepala penisku untuk segera memasukinya, namun aku terus mempermainkan penisku seperti itu.

Lilis semakin menggelinjang, dan rupanya nafsunya sudah tak tertahankan, sehingga dengan merengek dia berkata sambil terengah-engah “Ayo.. Pak… masukin… masukin… ouh…. masukin…”

Sebenarnya, nafsukupun sudah diubun-ubun, kuletakkan kepala penisku tepat di mulut liang vaginanya dan secara perlahan kudorong pantatku… Blessshhh…

Rasa nikmat menjalar disekujur pembuluh darahku dan “Auw……ouhhhh……” Lilispun mengaduh nikmat. Perlahan namun pasti aku mulai menggoyang pantatku agar batang penisku mengobok-obok dan mengaduk-aduk liang nikmat Lilis. Lilispun membalas dengan goyangan pinggulnya yang begitu sensasional sambil mengaduh-ngaduh nikmat “Auw.. auw… auw… “

Gerakan pantatku yang teratur dengan ritme yang tetap, membuat Lilis semakin melayang dilambungkan oleh rasa nikmat yang terus menderanya, Lilis ingin segera meraih puncak, dia menghentakkan tubuhnya hingga kami bergulingan dan dia berada diatas tubuhku, kedua tangannya dia selipkan kebawah ketiakku sehingga jari-jari tangannya dapat mencengkram pundakku dari bawah dan dada montoknya menghimpit erat dadaku. Lalu dia mulai menggerak-gerakan pantatnya, keatas-kebawah hingga batang penisku menggaruk-garuk dinding vaginanya yang semakin gatal dan berdenyut serta meremas-remas batang penisku. Sambil terengah-engah memompa pantatnya, bibir Lilis menciumi bibirku dengan penuh nafsu, lidahnya terjulur memasuki rongga mulutku sambil mengerang nikmat “ouh…mmmmhhh ouhhh….. “

Dia ubah gerakan pantatnya dengan memutar-mutar sehingga batang penisku seperti dipelintir oleh gilingan yang sangat nikmat, akupun melenguh dan mendengus “Ouh…. ouh…”.

Keluhan dan erangan nikmat, keluar dari mulut kami sahut menyahut membentuk suatu orkestra yang menggairahkan diiringi oleh derit tempat tidur yang terguncang-guncang hebat. Semakin lama goyangan pantat Lilis semakin cepat dan patah-patah serta kaku, kedua kakinya mulai kejang-kejang dan akhirnya..”Aaaakkkkkkhhhss…….”

Tubuhnya benar-benar terdiam kaku dan melenting dan terasa olehku, batang penisku seperti diremas-remas dengan sangat kuat dan cepat oleh benda basah yang sangat nikmat…

Kemudian tubuhnya melemas “Ouhhhhhhh…….” Kepalanya terkulai di samping kepalaku. Namun batang penisku masih tertancap kokoh didalam liang vaginanya.

Ya…., Lilis baru saja memperoleh orgasme yang nikmat luar biasa, suatu puncak orgasme yang selalu dia dambakan selama ini dan tak pernah dia peroleh dari suaminya. Akhirnya saat ini dia dapatkan, sungguh Lilis merasakan puas yang tak terhingga dan diapun terhempas dengan penuh kepuasan yang tak bisa dilukiskan.

Dengan napas yang terengah-engah dan mata terpejam, Lilis terkulai lemah diatas tubuhku sambil merasakan desiran-desiran nikmat yang masih menghampirinya. Dengan gairah yang menggebu-gebu, bibirku menjilati dan menciumi leher jenjangnya yang basah oleh keringat yang berada tepat di depan mulutku, tanganku meremas-remas pantat montoknya, dan pantatku kudorongkan ke atas-kebawah agar batang penisku kembali mengocok-ngocok dinding vaginanya yang sangat basah namun tetap sempit dan berdenyut. Kenikmatan kembali menjalar disekujur tubuhku.

Aku terus menggerakan pantatku, walaupun tidak mendapat respon dari Lilis, karena dia benar-benar merasa lelah karena telah memperoleh orgasme yang luar biasa melelahkan. Namun walaupun Lilis tidak membalas gerakanku, tetap saja aku mendapatkan kenikmatan dari liang vaginanya yang sempit dan meremas-remas.

Lambat laun gairah nafsunya kembali datang, Lilis membalas gerakanku dengan menggoyang-goyang pantatnya mengakibatkan kenikmatan yang kuterima semakin bertambah, dan rasa nikmatpun kembali menghampiri dirinya sehingga kembali dia memperdengarkan lenguhan nikmatnya yang khas dan merangsang “Auw…auw… auw… ouhhhhh…” seirama dengan gerakan pantatnya yang bergoyang erotis.

Namun goyangan erotis itu hanya dalam beberapa menit kemudian telah berubah menjadi gerakan pinggul yang kejang-kejang tak terkendali, rupanya badai orgasme kembali datang menghantamnya, napasnya mulai terasa sesak dan akhirnya “Aaaaakkkhhss…..”.

Tubuhnya kembali melenting kaku dan kontraksi dari dinding vaginanya kembali kurasakan menjepit-jepit dan meremas-meremas batang penisku membuat mataku terbeliak-beliak menahan nikmat yang luar biasa. Beberapa detik kemudian tubuhnya terhempas lemas dan terkulai diatas tubuhku. Lilis kembali memperoleh puncak kenikmatan orgasme yang sensasional untuk ketiga kalinya.

Sementara Lilis terkulai lemah sambil merasakan sisa-sisa puncak kenikmatannya, pantatku terus mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah. Hanya satu menit, gairah Lilis telah pulih kembali dan diapun membalas goyanganku. Goyangannya begitu cepat dan menghentak-hentak hingga hanya dalam beberapa menit berselang kembali Lilis mencapai orgasme.

Wanita memang ditakdirkan mampu mengalami orgasme berulang-ulang, dan biasanya rentang waktu antara orgasme pertama dengan kedua, ketiga dan selanjutnya dapat berlangsung hanya dalam waktu beberapa menit, tidak seperti waktu perolehan orgasme pertama yang bisa memakan waktu antara 10 hingga 15 menit.

Demikian juga dengan Lilis, Dia mampu mendapatkan orgasme berulang-ulang dengan posisi seperti itu, dan hal itu berlangsung entah beberapa kali, akupun tak terlalu memperhatikan. Yang jelas nampaknya Lilis seperti ingin menumpahkan segala kerinduannya akan kepuasan orgasme yang tidak pernah dia peroleh dari suaminya.

Pada saat tu, Lilis bermain dengan gairah yang terus berkobar-kobar tanpa mengenal lelah. Apabila dia merasa tubuhnya sangat lelah, tubuhku digulingkannya hingga aku berada diatasnya.

Giliranku memompanya lebih aktif dan dia membalasnya dari bawah sampai dia memperoleh orgasme sambil melentingkan tubuhnya dengan kaku dan berteriak melepas nikmat dan terkulai lemah selama beberapa saat, namun hanya sesaat dia terkulai, karena tak lama kemudian diapun aktif kembali bergoyang tanpa mengenal lelah untuk menjemput puncak orgasme selanjutnya.

Aku menggulingkan tubuhku hingga dia kembali berada diatas, hingga kembali dia yang mengatur ritme goyangan. Demikian seterusnya, tubuh kami saling bergulingan untuk meraih kenikmatan yang lebih dan lebih bagaikan tak bertepi. Tubuh kami sudah sedemikian basah oleh keringat yang mengucur deras dari setiap lubang pori-pori, bantal dan seprei demikian porak poranda menahan pergulatan aku dan Lilis yang terus melenguh dan mengerang nikmat.

Pada saat aku berada diatas tubuhnya yang entah ke berapa kali, aku merasakan gelombang orgasme akan menghantamku, hal ini ditandai dengan gerakan pantatku yang sudah tak terkendali dan kejang. Dan lilispun merasakan itu dan diapun berusaha meraih kembali orgasmenya yang terakhir agar bersamaan denganku dan “Aaakkkkkksssss…..” secara berbarengan kami meraih orgasme dan Cret… cret…. Cret… sperma kental terpancar dari penisku membasahi seluruh rongga liang vagina Lilis. Tubuh kami sama-sama terhempas sangat lemah dan lunglai, keringat membasahi seluruh permukaan tubuh kami dengan persendian yang serasa seperti dilolosi. Aku berusaha menggulingkan tubuhku agar tidak menindihnya dan tidur berdampingan

Kamipun terbaring kelelahan selama beberapa menit.

Setengah jam kemudian, dengan badan yang sangat lemas, Lilis bangkit dari tidurnya dan berjalan sempoyongan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarku, kemudian mandi dengan menggunakan shower.

Gemericik air dikamar mandi membangunkanku dan akupun menyusulnya ke kamar mandi. Kulihat Lilis sedang membasahi tubuhnya dengan shower.

Uuhhhhh…… sungguh mulus dan menggairahkan tubuh ini….., beruntung sekali aku bisa menikmatinya. Aku menghampirinya. Dia tersentak kaget…. ”Ehhh… bapak…!!” katanya…

“Bareng..ah..!” kataku. Aku pun masuk tanpa menunggu jawaban darinya, kemudian tubuhkupun diguyur shower….. terasa sangat menyegarkan begitu tubuh yang lunglai ini diguyur air dingin dari shower sehingga perlahan-lahan tenagaku pulih kembali dan terasa segar.

Lilis mengambil sponge sabun dan menyabuni tubuhnya yang mulus dengan gerakan gemulai yang menggairahkan. Tubuh kami yang berhimpitan dibawah shower membuat gairahku bangkit dengan cepat…

”Aku sabuni ya…!” kataku sambil meraih sponge dari tangannya…, dia tidak protes.

Lalu kusabuni tubuh mulusnya, Darahku kembali berdesir ketika menyabuni tubuhnya, dan perlahan-lahan penisku berdiri tegak.

Perubahan pada batang penisku rupanya diperhatikan oleh Lilis.

jilbab hot (9)

“Ihhhh…., ini barang memang hebat….!! Ngga ada capenya….!” Katanya sambil tersenyum manja dan penuh gairah. Kemudian tangannya meraih batang penisku dan mengocoknya. Sementara Lilis mengocok batang penisku, tangankupun sudah tidak lagi menyabuni tubuh mulusnya namun lebih banyak meremas buah dadanya yang montok.

Acara mandi bersama telah berubah manjadi percumbuan di kamar mandi, semakin lama percumbuan itu semakin panas membara, dan napas kami sudah memburu dipacu oleh nafsu yang menggebu-gebu. Batang penisku semakin keras dan tegang. Kudorong tubuhnya agar menyandar ke dinding kamar mandi. Kutekuk kakiku dan dia membuka kakinya, kuarahkan batang penisku yang sudah mengacung kaku.

Lilis meraih batang penisku dan mengarahkan agar kepala penisku tepat berada di liang vaginanya dan setelah kurasa pas aku mulai mendorong pantatku.

Blesssshhhhh….. batang penisku mulai meyeruak memasuki liang vaginanya yang serasa seret karena terkena air dingin, namun memberikan sensasi nikmat yang beda.

Akupun mulai mengayunkan pantatku untuk mengocok-ngocok batang penisku di dalam liang vaginanya. “Auw… auw…. Auw… “ erangan nikmat yang khas mulai diperdengarkan oleh Lilis.

Bercinta dibawah pancuran shower, menimbulkan sensasi nikmat tersendiri, dan kami betul-betul menikmati persetubuhan itu hingga akhirnya tubuh Lilis melenting kaku dengan kaki terjinjit dan menjerit “Aaaakkkkkhhhh……” rupanya Lilis sudah meraih puncak orgasme di kamar mandi ini.

Kupeluk tubuhnya agar tidak jatuh dengan mempertahankan agar batang penisku tidak lepas dari liang vaginanya. Kuciumi bibir dan lehernya dengan penuh nafsu.

Tapi, Lilis mendorong tubuhku agar aku duduk di closet duduk. Akupun duduk dengan batang penis yang masih mengacung tegak. Lalu Lilis mengangkangiku sehingga kedua pahanya berada dipinggir kiri dan kanan pinggulku.

Secara perlahan dia menurunkan pantatnya dan Blesssshhhh…., batang penisku menyeruak liang vaginanya dan menyusuri dinding liang yang tak henti-hentinya memberikan rasa nikmat yang luar biasa. Lilis menekan pantatnya hingga seluruh batang penisku amblas tertelas oleh liang vaginanya. Dia menekan terus hingga batang penisku masuk sedalam-dalamnya. Dan mendiamkannya sesaat.

Kemudian secara perlahan, Lilis mengerakan pantatnya keatas-kebawah hingga batang penisku mengocok-ngocok dinding liang vaginanya, Kedua tanganku membantu gerakan tubuhnya dengan mengangkat pinggangnya ke atas kebawah.

Erangan nikmat kembali diperdengarkan Lilis “Auw… auw … auw…” dengan nafas yang terengah-engah oleh nafsu yang menguasai dirinya.

Semakin lama gerakan pantat Lilis berubah menjadi lonjakan-lonjakan yang cepat tak terkendali dan akhirnya kedua tangannya mencengkram bahuku dan menjerit sambil melentingkan tubuhnya “Aakkkkkkh……..”

Rupanya Lilis telah memperoleh orgasmenya kembali.

Lilis menghempaskan tubuhnya dengan memeluk erat tubuhku .

Tubuh itu benar-benar mulus luar biasa, basah dan mengkilat serta licin oleh sabun.

Tak lama kemudian tubuh itu kembali bergerak-gerak agar batang penisku yang masih tertancap kokoh diliang vaginanya kembali mengaduk-aduk liang vaginanya.

Tak lama kemudian, hanya beberapa menit saja kembali tubuhnya kejang-kejang dan menjerit nikmat meraih orgasme tuk kesekian kalinya “Akkkkkssssss…..”

Beberapa menit kemudian, Lilis kembali bergoyang mengocok-ngocok vaginanya dan aku merasa badai gelombang orgasme akan menghantamku, maka aku berdiri tegak sambil mengangkat tubuhnya dan berjalan menghampiri dinding kamar mandi, kusandarkan tubuhnya ke dinding, dan kulepaskan kakinya agar berdiri berjinjit, kemudian dengan gerakan pantat yang cepat, keras dan kaku, aku mulai mengocok batang penisku di dalam liang vagina Lilis, kenikmatan yang kudapat dalam posisi seperti ini sungguh luar biasa, dan posisi berdiri seperti merupakan posisi pavouritku, karena aku bisa mendapatkan sensasi kenikmatan orgasme yang luar biasa nikmat. Lilis paham, bahwa aku akan mencapai orgasme, maka diapun membalas gerakannku dengan tak kalah serunya, hingga akhirnya secara bersamaan kamipun menjerit meraih orgasme “Aaaakkkkkhsss……”. Cret… cret…. cret… spermakupun terpancar dengan deras ke seluruh rongga liang vaginanya.

Beberapa saat tubuh kami diam terpaku sambil saling berpelukan sementara shower terus mengguyur tubuh kami berdua.

Guyuran air shower dengan cepat memulihkan kesegaran kami, dan kamipun melanjutkan mandi sampai selesai disertai dengan cumbuan-cumbuan mesra.

Kami kemudian berpakaian, dan betapa kagetnya Lilis, karena ternyata waktu telah menunjukkan jam tujuh malam. Tapi dibenaknya langsung tercipta alasan yang bisa diterima oleh suaminya tentang keterlambatannya pulang ke rumah. Tak lama kemudian Lilispun pamitan dan menolak diantar olehku, ‘untuk menghindari curiga orang lain’ katanya.

Peristiwa yang ketiga persetubuhanku dengan Lilis, benar-benar telah mengikat akal sehat Lilis, Dia tak mampu lagi lepas dari pesona seksual yang didapatnya dariku dan dia benar-benar nekad, sehingga selalu mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk bisa melepaskan semua hasrat kepuasan birahi denganku, baik di tempat kostku, ataupun hotel di luar kota, dengan membuat alasan ‘ada tugas dari kantor’ pada suaminya.

Pernah dia mencoba untuk tidak bercinta denganku selama hampir dua bulan, tapi akhirnya pertahanannya bobol juga, karena kubutuhannya akan kepuasan seksual tidak juga dapat diperoleh dari suaminya dan akhirnya kembali dia membuat janji denganku untuk mengayuh nikmat meraih orgasme di hotel di luar kota. Dan jika sudah demikian Lilis pasti bermain bagaikan kuda binal yang melonjak-lonjak sangat liar tanpa mengenal lelah selama beberapa jam. Dia akan bergoyang dengan sangat lincah dan erotis untuk menjemput orgasmenya secara berulang-ulang, hingga akhirnya terhenti setelah tubuh kami tak bertenaga lagi karena suluruh persendian seolah-olah dilolosi.

Kami tidak tahu, kapan hubungan perselingkuhan ini akan berakhir.

Tamat