NYAI SITI 13

Begitu mengetahui kedatangan ayahnya, Salamah segera berpaling ke Bayu; menyuruh pemuda itu agar lekas bersembunyi. Akan sangat berbahaya kalau mereka dipergoki berdua di tempat seperti ini, ditambah juga kondisi pakaian mereka yang sama-sama awut-awutan.

Namun sebelum Salamah sempat berucap, Bayu sudah meloncat menghilang. Dengan ringan ia menyelinap ke balik sesemakan sambil membawa baju dan celananya yang berserakan. Sekarang tinggal Salamah yang duduk kebingungan, berusaha membenahi pakaiannya dengan cepat sebelum ayahnya tiba di situ. Beruntung, tepat saat Haji Tohir membelokkan langkahnya, Salamah sudah pura-pura duduk diam dengan baju tertata rapi.

“Lho, Nduk… ngapain kamu disini?” tanya Haji Tohir kaget, tak menyangka akan menemukan Salamah di gubuk terpencil itu.

“Ehm… Abah sendiri, ada apa kesini?” kilah Salamah.

“Ah, Abah hanya jalan-jalan…” Haji Tohir menatap heran pada putrinya. “Ayo pulang, sudah sore. Nggak baik anak gadis sendirian di tempat seperti ini.” ajaknya.

Salamah mengangguk dengan kikuk, berharap ayahnya tidak melihat lipatan kain celana dalam yang tadi tak sempat ia gunakan. Salamah kini mengantongi kain itu. “Iya, Bah.” Ia segera turun dan mengikuti ayahnya. Payudaranya yang tak berkutang terasa bergesekan geli saat ia berjalan, membuat Salamah bergetar ringan hingga Haji Tohir kembali bertanya.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya lelaki itu, curiga.

“Ah, aku hanya kedinginan.” jawab Salamah lirih.

Haji Tohir hanya mengangguk dan meneruskan langkahnya. “Kamu jangan suka pergi sendirian. Di kampung ini sekarang nggak aman, banyak perempuan yang tiba-tiba hamil tanpa diketahui siapa bapaknya,”

“I-iya, Bah.” Salamah mengangguk muram. Tanpa membantah, ia ikuti Haji Tohir yang berjalan kembali ke rumah. Sekilas diliriknya tempat Bayu bersembunyi, kemanakah pemuda itu sekarang? batin Salamah dalam hati. Ia pasti akan merindukannya.

Bisakah mereka bertemu kembali? Salamah sangat berharap.

***

Selepas kepergian Salamah, Bayu balik lagi ke tempat dimana dia selama ini menghabiskan waktu: di sebuah gubuk tua di lereng tepi desa. Di sana dia memikirkan peristiwa yang barusan terjadi. Kegagalannya memetik kesucian Salamah sangat disyukuri sekaligus juga disesalinya sedikit. Namun yang paling merisaukan pikirannya adalah keberhasilan Dewo yang kembali sanggup melampiaskan nafsu bejatnya.

Bayu merasa bersalah dengan hilangnya kesucian dua orang gadis yang disetubuhi oleh Dewo. Sambil berjalan menyusuri pematang, benaknya berpacu bagaimana dirinya bisa mengalahkan Dewo, sempat terbersit juga apakah Dewo sudah tahu dengan keberadaannya di desa ini. Laki-laki tua itu tampak lebih waspada sekarang, ditambah juga Dewo seperti meningkatkan daya sirepnya. Bayu harus berusaha lebih keras lagi untuk melawannya.

Saat sedang berpikir seperti itu, Bayu melewati rerimbunan pohon. Matahari semakin condong ke barat, membuat burung-burung hitam kecil berarakan kembali ke sarangnya. Di kejauhan terdengar suara aliran air sungai yang mengalun deras, sementara di dekatnya, Bayu mendengar suara seorang wanita yang sedang mendesah-desah. Ah, apa-apaan ini! Apakah telinganya tidak salah dengar?

Namun semakin didengarkan, Bayu semakin yakin bahwa ia tidak keliru. Rintihan itu adalah milik seorang wanita yang sedang keenakan menikmati hasrat birahinya. Melihat sekeliling, Bayu jadi curiga; jangan-jangan ini ulah si Dewo. Tidak mungkin orang normal mau ngentot di tempat terbuka seperti ini tanpa campur tangan pelet Dewo. Apalagi musuhnya itu kelihatan belum puas tadi, Bayu sudah keburu mengganggunya ketika Dewo ingin mencoba lubang pantat Mila dan Nurmah.

Dengan langkah berjingkat, Bayu pun melangkah mencari arah sumber suara. Ia sedikit mengerahkan ilmunya untuk menjaga diri, siapa tahu ini jebakan yang dipasang oleh Dewo. Menatap waspada, Bayu mendatangi rerimbunan pohon yang terletak tak jauh di sebelah kirinya. Semak berduri yang menutupi sama sekali tidak menghalangi langkahnya.

Ia terus menyelinap tanpa suara sampai berdiri sangat dekat dan dirinya langsung kaget begitu mengetahui kalau ternyata suara desahan itu berasal dari seorang perempuan yang memakai jubah, sedangkan jilbabnya terlepas dan menyangkut di leher seperti membentuk syal. Dan disana ada Dewo! Dugaan Bayu benar, ini semua memang ulah laki-laki tua itu.

Jarak Dewo dengan wanita itu hanya tiga meter, korbannya kali ini tampak tengah meremas-remas bongkahan payudaranya dengan tangan kiri sambil mengobel memeknya dengan tangan kanan. Tubuh perempuan itu tampak pasrah dan lemas, bersandar di sebuah pohon besar. Dari pandangan matanya, terlihat sekali kalau ia sama sekali tidak menyadari kelakuannya yang salah.

“Ehm… ahh…” perempuan itu mendesah menikmati masturbasinya, sementara Dewo terus memperhatikan sambil tersenyum menjijikkan.

Bayu yang mengintai dari balik semak kembali menggeram marah, namun dia masih saja terus memperhatikan. Kali ini dia tidak ingin bertindak terburu-buru, jangan sampai Dewo dapat lolos lagi. Wanita korbannya kali ini tampak cantik dan montok, tipe kesukaan si Dewo. Seolah-olah tidak menyadari kedatangan Bayu, wanita itu terus melakukan remasan pada payudara dan kocokan dua jari di liang memeknya. Ia juga tetap mendesah-desah membayangkan sesuatu yang membuat gairahnya terangsang.

Apakah ini salah satu pelet baru Dewo, yang sanggup mempengaruhi pikiran seseorang tanpa harus menyentuhnya? Kalau memang benar, berarti Bayu sudah salah perhitungan. Ilmu pelet Dewo ternyata beberapa tingkat di atasnya. Lelaki tua sama sekali tidak bisa diremehkan. Bayu harus banyak belajar lagi kalau ingin benar-benar bisa menandinginya.

Wanita itu semakin liar, satu demi satu kancing jubahnya dilepaskan hingga tinggal dua buah saja yang tersisa. Dia kemudian mengeluarkan salah satu bulatan payudaranya yang berukuran besar dari cup bh-nya dan meremas-remasnya dengan sepenuh hati. Putingnya yang mungil dan berwarna merah kecoklatan juga tak lupa ia pilin dan pijit-pijit kuat.

Bayu yang melihat kejadian itu hanya bisa diam dan bengong dari balik semak. Tanpa terasa batang kontolnya mulai mengeras. Melihat wanita berjubah dengan rambut terurai panjang sampai ke pantat dan jilbabnya yang kini berubah menjadi syal di leher, membuat Bayu membayangkan seandainya itu adalah Salamah yang tadi hampir bisa ia setubuhi namun gagal karena ayahnya datang.

Akibatnya Bayu jadi tidak tahan. Dilihatnya Dewo hanya diam di depan sana, seperti tidak berniat untuk memegang apalagi merusak kehormatan wanita itu. Mungkin tidak ada salahnya kalau Bayu sedikit menahan diri, toh melawan Dewo sekarang juga percuma. Dengan kondisi terangsang seperti ini, Bayu tidak akan bisa berkonsentrasi. Sementara Dewo tampak berkuasa dengan memancarkan hawa jahat untuk memikat korbannya.

Maka Bayu kemudian membuka celananya dan bermaksud untuk coli agar nafsunya sedikit tersalurkan. Mungkin dengan begitu ia jadi bisa berpikir jernih. Dilihatnya perempuan itu semakin tinggi mengangkat kain jubahnya, seperti ingin memperlihatkan seluruh pantat dan belahan memeknya pada Dewo. Dengan mengangkangkan kakinya lebar-lebar, ia mendesah, “Ayo buka celananya, Pak Dewo… saya pingin lihat kontol bapak.”

Dewo hanya tersenyum menyeringai dan tetap berdiri diam. Sepertinya ia memang berniat untuk tidak menyentuh perempuan itu.

Merasa aman, sambil mulai mengocok batang kontolnya, Bayu memperhatikan bagaimana bagusnya tubuh perempuan itu. Teteknya yang besar terlihat begitu putih dan membulat kencang, pentilnya berwarna coklat kemerahan dan agak panjang, mungkin karena sering dihisap. Lalu selangkangannya, terlihat hitam karena bulu-bulunya yang lebat, tapi bibir memeknya membelah panjang berwarna merah muda; membuka dan menutup perlahan seiring kocokan tangan perempuan itu, memperlihatkan kedalaman lubangnya yang nampak basah dan berkilatan oleh air lendir.

Yang paling mengagumkan adalah itilnya yang begitu besar, hampir sebesar puting susunya. Kepala itil itu tampak merah muda, menyembul separuh dari kulit yang menutupinya, seperti kontol kecil yang tidak disunat. Sungguh luar biasa, belum pernah Bayu melihat itil sebesar itu. Milik Salamah yang meski sangat indah, jadi tidak ada apa-apanya.

Tangan perempuan itu terus mengusap-usap bagian luar memeknya, sambil sesekali jari telunjuknya masuk perlahan-lahan ke dalam lubangnya yang sudah merekah indah. Ia menggerakkannya keluar-masuk seperti kontol yang tengah menusuk memek. Sementara tangan yang satu lagi memegangi itilnya diantara telunjuk dan ibu jari dan memilin-milinnya cepat hingga jadi semakin besar.

Bayu pun tidak mau kalah. Dengan nafsu semakin berkobar, ia mulai mengusap-usap kepala kontolnya yang 14 cm, kemudian menggenggam batangnya dan mulai mengocoknya cepat sambil terus memperhatikan perempuan itu.

“Ahh… ahhh…. ugh…!!” perempuan itu mulai mendesah-desah dan memeknya pun mulai menimbulkan suara berdecak-decak karena basah, tampak cairan kental yang berwarna putih susu mengalir sedikit membasahi selangkangannya.

Bayu onani sambil terus memperhatikannya. Sungguh tidak pernah ia sangka akan berbuat begini dengan salah satu korban Dewo, bahkan dengan Dewo berdiri hanya beberapa langkah di depan sana. Kalau gurunya sampai tahu, Bayu pasti akan sangat dimurkai! Namun Bayu juga tidak bisa memungkiri rasanya yang begitu nikmat.

“Auw!” perempuan itu menjerit dan mencabut jarinya, tangannya kini meremas-remas kedua teteknya dengan keras manakala sebuah semburan memancar deras dari liang memeknya. Rupanya ia sudah memperoleh orgasme pertamanya.

Dengan tubuh terkejang-kejang, ia mengerang dan menggoyang-goyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Hanya dengan sedikit menggesek kembali tonjolan itilnya, tidak lama perempuan itu kembali mengeluarkan lenguhan keras dan memeknya pun kembali berdenyut-denyut cepat. Orgasme kedua berhasil ia raih hanya dengan selisih beberapa detik, kali ini dengan disertai cairan putih susu yang memancar agak banyak. Dan rupanya orgasme ketiga dan keempatnya juga turut mengalir. Perempuan itu seperti hampir menangis ketika merasakan sensasinya yang sungguh sangat nikmat.

Perempuan itu tergolek dengan lemas seperti balon yang kekurangan angin. Air cintanya tampak berceceran di paha dan rerumputan di depannya. Bayu terus memperhatikan sambil mengocok-ngocok terus batang kontolnya yang sudah terasa begitu keras dan tegang. Ia membayangkan wanita itu adalah Salamah. Akan ia puaskan anak Haji Tohir itu dengan kejantanan kontolnya. Akan dibuatnya Salamah bertekuk lutut dan terus menghiba untuk tetap disetubuhi. Bayu rasanya tak sabar ingin segera merasakan kembali kehangatan tubuh gadis itu.

Pikirannya yang bercabang membuat Bayu jadi lengah, dan itu adalah sebuah kesalahan fatal. Di saat hampir mencapai orgasme, ia jadi tidak waspada terhadap bahaya yang mungkin bisa menimpa dirinya karena pikiran Bayu fokus untuk segera ejakulasi.

..”Ahhh… ahhh… ayo, Salamah, aku hampir sampai…” Bayu bergumam sendiri sambil terus mengocok batang kontolnya. Dibayangkannya Salamah sedang mengoralnya saat itu.

Dia tidak sanggup lagi untuk bertahan karena kocokannya yang begitu nikmat, dan begitu spermanya mulai menyembur keluar… Saat itulah tiba-tiba sebuah benda keras menghantam kepalanya.

Bukkkk!!! Hanya suara itu yang terdengar, kemudian Bayu sudah tergeletak pingsan dengan tangan masih memegang kontolnya dan cairan pejuh yang masih meleleh keluar seolah-olah tidak mau berhenti menyemprot.

“Heheheheh… mampus kamu!!!” Dewo terkekeh sambil memegang batangan kayu yang telah ia gunakan untuk memukul Bayu sampai pingsan. “Makanya jangan usil sama orang tua, kau bocah… hahahahah,” tawa Dewo dengan senyum penuh kemenangan.

Dengan kejam, Dewo kemudian memukul sekali lagi kepala Bayu untuk memastikan pemuda itu pingsan beneran. Setelah dirasa cukup, Dewo dengan berbisik memanggil nama seseorang, “Nyai… Nyai Siti… kemarilah! Sudah pingsan ini bocah sok jagonya,” panggil Dewo dengan suara serak

Nyai Siti yang dipanggil kemudian bergegas ke semak dimana Dewo dan Bayu yang pingsan berada. Tersungging senyuman di bibirnya! Ternyata Dewo menggunakan Nyai Siti untuk mengalahkan Bayu. Dewo sebenarnya tahu dirinya dikuntit oleh Bayu saat memperawani Mila dan Nurmah, dan kemudian memanfaatkan situasi untuk meminta bantuan Nyai Siti saat Bayu sedang berduaan dengan Salamah.

Malam mulai turun di kampung itu. Langit perlahan menghitam dan denyar kekuningan yang tadi masih nampak di sebelah barat, kini sudah berubah menjadi kelabu. Rerimbunan di tengah persawahan berangsur-angsur hening, hanya suara jangkrik dan hewan malam yang ganti memecah kesunyian tersebut.

“Tuan Dewo, mana imbalan yang tadi kamu katakan padaku jika rencana ini berhasil?” tanya Nyai Siti menagih janji.

Dewo dengan senyum tersungging  kemudian menjawab, “Iya, lonteku, pasti aku kasih… tapi tolong bantu aku mengikat tangan bocah ini ke belakang, dan kakinya juga,”

Tanpa pikir panjang lagi, Nyai Siti segera membantu Dewo mengikat Bayu dengan tali yang sudah mereka siapkan dari rumah. Nyai Siti yang melihat kontol Bayu hanya berkata, “Ihh… kontol segini kecilnya mau main-main..!!” bisiknya sambil memasukkan kontol itu ke balik celana. Nyai Siti sempat nakal juga, saat memegang kontol Bayu, sempat ia mengurutnya sehingga peju Bayu menetes di tangan dan kemudian dijilatinya rakus.

“Lebih gurih punya Tuan Dewo,” ujarnya manja, dan Dewo hanya tertawa menanggapi.

Setelah beres mengikat Bayu hingga jadi tidak bisa bergerak, Nyai Siti kemudian mendekati Dewo. Dengan jubah masih awut-awutan dan jilbab tetap melingkar di leher, Nyai Siti mulai melepas celana Dewo.

“Tunggu, Nyai..!!” sela Dewo. “kamu rapikan jubah sama jilbabmu, serta rambutmu yang terurai itu… aku nggak mau ngentotin kamu kalau kamu tidak rapi,” pintanya tak ingin dibantah.

Nyai Siti pun tanpa diperintah dua kali langsung merapikan jubahnya. Kancingnya ia pasang kembali setelah terlebih dahulu memasukkan dua bulatan payudaranya ke balik bh. Perempuan itu juga menggelung rambutnya dan merapikan jilbabnya yang sudah lecek. Dengan cepat penampilannya kembali sebagai istri Kyai Kholil yang sangat disegani di seluruh kampung.

“Heheheh… gitu kan cantik kamu, lonteku,” puji Dewo.

Nyai Siti hanya tersenyum dan tanpa disuruh kemudian menyingkap kaos Dewo ke atas dan mulai mencium serta menghisap puting lelaki tua itu. Dewo hanya berdiri diam sambil sesekali meremasi payudara empuk Nyai Siti. Dengan sambil berdiri, Nyai Siti melakukan foreplay terhadap si Dewo. Kepekatan malam dan nyanyian jangkrik serta suara hewan seolah menjadi saksi kebejatan dua insan itu.

Puas dengan ciuman di dada, Nyai Siti kemudian turun menjilati perut buncit Dewo dan berhenti di pusarnya. Di sana ia bermain-main dengan menjilati pusar Dewo sambil tangannya memelorotkan celana kolor yang Dewo pakai dan mulai meremas-remas serta mengocok-ngocok kontol lelaki keriput itu. Perlakuannya membuat gairah Dewo mulai meningkat. Di otak cabulnya langsung terbersit ide untuk melakukan persetubuhan liar dan sangat kotor dengan Nyai Siti. Dewo seperti ingin melampiaskan nafsunya yang tadi sempat terputus dengan Mila dan Nurmah.

“Ehmph…” Ciuman Nyai Siti turun ke selangkangan Dewo dan terus sampai ke batang kontolnya. Nyai Siti sangat meresapi kontol Dewo saat menjilati maupun mengulumnya, dan bahkan berkali-kali lidahnya menggelitik lubang kencing Dewo.

“Ugh… Nyai,” Diperlakukan seperti itu, Dewo hanya mampu memegang kepala Nyai Siti yang terbungkus jilbab merah dan kemudian menggerakkannya maju-mundur. Ia mendorong batang kontolnya keras-keras sampai menyentuh rongga kerongkongan Nyai Siti yang sudah terbiasa dimasuki kontol panjang Dewo.

“Nyai, malam ini aku akan memberikanmu hadiah yang nggak mungkin kamu lupakan… heheheh,” kata Dewo sambil memaju-mundurkan kontolnya di mulut manis Nyai Siti.

Nyai Siti hanya mendongak ke atas sambil mengedipkan kedua matanya tanda setuju, karena mulutnya masih tersumpal kontol Dewo.

“Nyai, aku ingin kamu menjadi liar malam ini di balik rimbunnya semak ini,” kata Dewo lagi. Dia kemudian menghentikan aktivitasnya mengentot mulut Nyai Siti dan berktaa, “Sebentar, Nyai… aku akan mencari beberapa daun pisang untuk alas kita,”

Nyai Siti mengangguk sambil berkata, ”Baik, cintaku, tuanku, suamiku.”

Dewo bergegas pergi ke arah sungai untuk mencari daun pisang yang tumbuh di sekelilingnya dengan tidak memakai celana. Dibiarkan kontolnya yang panjang bergelantungan seperti pentungan pos ronda. Biar saja kalau ada yang melihat; kalau laki-laki, toh tidak akan bisa melawan ilmunya. Sedangkan kalau perempuan, akan ikut ia ajak main bersama Nyai Siti, itu malah asyik.

Tak berapa lama, Dewo sudah kembali dengan membawa delapan helai daun pisang. Pelan ia menatanya di tanah untuk dijadikan alas. Kini mereka sudah memiliki tempat ideal untuk melampiaskan hasrat bercinta yang brutal, liar, dan kotor.

Dewo yang berdiri kemudian meraih dagu lancip Nyai Siti dan berkata, ”Nyai, kamu memang budak dan gundikku yang cantik dan setia.”

Nyai Siti tersipu malu mendengar pujian Dewo. Dan sambil mendongak ke arah laki-laki itu yang masih berdiri, ia juga berkata. ”Aku akan selamanya menjadi budak, gundik atau lontemu, Tuan Dewo. Apapun yang kamu inginkan dari tubuhku akan kuberi. Apapun yang kamu suruh dan perintahkan akan kulakukan, karena di depanku dirimu adalah seorang laki laki perkasa. Semua bagian tubuhmu, aku sangat menyukainya, Tuan Dewo,” desah Nyai Siti.

“Lanjutkan omonganmu yang romantis itu, Nyai, supaya aku bisa lebih liar, brutal, dan kotor saat memakai tubuhmu,“ kata Dewo.

Sambil tetap mendongak ke atas memandang Dewo yang memegang dagunya, Nyai Siti berkata, ”Tuan Dewo bisa memakai tubuhku kapan saja, dimana saja, saat Tuan mau. Akan kulayani dirimu lebih dari suamiku yang letoy itu, Tuan. Aku ingin mulut, anus, dan vaginaku engkau pakai untuk apapun, Tuan. Semua bagian tubuhmu sangat menggodaku, Tuan, dan aku ingin bisa memilikinya tanpa terlewatkan sedikitpun. Jika boleh dan Tuan mengijinkan, Tuan bisa menggunakan mulutku saat kencing, memakai lidahku saat Tuan selesai beol, bahkan aku ingin tanganku bisa menjadi penampung bagi kotoranmu, Tuan,” kata Nyai Siti.

Mendengar apa yang diucapkan oleh Nyai Siti, terbakarlah gairah Dewo dan segera ingin membuktikan kata-kata itu. Maka Dewo kemudian meminta Nyai Siti untuk mengoral kontolnya. Dengan patuh Nyai Siti melakukannya. Dia mengulum, menghisap dan mengocok-ngocok kontol Dewo dengan gemas, seperti wanita yang baru pertama melihat kejantanan milik pasangannya.

Siapa pun pasti tak akan menyangka wanita yang dalam keseharian selalu tampil dengan busana muslim yang rapat dan menjadi guru mengaji ibu-ibu di kampung ini, ternyata juga lihai dalam urusan kulum-mengulum penis.

“Ehm… yah, teruskan, Lonteku!” Sambil menikmati kocokan dan kuluman pada batang kontolnya, Dewo meremasi tetek Nyai Siti yang menggantung indah. Bongkahan payudara itu terasa sangat lembut dan enak saat diremas. Bahkan puting-putingnya langsung mengeras setelah beberapa kali Dewo memerah dan memilin-milinnya.

Dewo ternyata mengentot mulut Nyai Siti dengan sangat brutal, ia menusuk begitu kuat dan dalam, bahkan sampai mentok ke tenggorokan perempuan cantik itu “Uekkkhhh…!!!” Nyai Siti tersedak oleh kontol panjang Dewo.

Tapi Dewo terus melakukannya kembali sampai empat kali, sebelum kemudian dengan kasar mendorong Nyai Siti dengan kakinya tepat di dada sampai perempuan itu jatuh terlentang. Seperti tidak sabar Dewo menyobek celana dalam Nyai Siti dan menyumpalkannya ke mulut si guru ngaji.

“Ahmoph…” Nyai Siti tergagap kaget, namun tidak memprotes. Malah ia mengangkang untuk membuka kedua pahanya lebar-lebar, memamerkan liang memeknya yang berbulu sangat lebat pada Dewo. Benda itu tampak lebar dan membukit. Jembutnya sangat lebat dan hitam pekat, kontras dengan paha Nyai Siti yang kuning langsat.

Puas memandangi bagian paling merangsang di selangkangan wanita itu, keinginan Dewo untuk menyentuh Nyai Siti menjadi tak tertahankan. Ia julurkan lidah sejenak untuk membasahinya. Dewo mengusap-usap jembut Nyai Siti yang keriting dan tumbuh panjang sambil terus menyusupkan lidahnya ke dalam hingga menimbulkan bunyi kemerisik.

Untuk bisa melihat lubang vaginanya, ia harus menyibak rambut-rambut yang menutupi memek Nyai Siti dengan kedua tangannya. Bibir luar benda itu tampak tebal dan kasar karena sudah sering dipakai oleh Dewo. Bagian dalamnya berwarna coklat kemerahan, ada lipatan-lipatan daging agak berlendir dan sebuah tonjolan itil sebesar jari kelingking. Dewo segera menjentik-jentik itil itu dengan jari telunjuknya sebelum kemudian menggigitnya rakus.

“Aghmph…” Nyai Siti langsung mendesah dan sedikit menggelinjang. Dewo sangat senang karena Nyai Siti menyukai dan keenakan oleh jilatan lidahnya. Dari liang sanggama perempuan itu mulai keluar lendir yang terasa asin.

Dewo terus mencucup dan menghisapnya hingga lendir itu banyak yang tertelan masuk ke kerongkongannya. Diperlakukan seperti itu membuat Nyai Siti seperti kesetanan. Tubuhnya bergetar hebat dan ia semakin merintih sambil meremasi sendiri kedua tetek besarnya. Disaat Nyai Siti masih mendesis kegelian, Dewo dengan brutal kemudian memasukkan kontolnya ke vagina perempuan cantik itu.

“Oughhh… oughhh…” hanya rintihan suara itu yang terdengar pelan dari mulut Nyai Siti karena teredam oleh celana dalamnya. Tangan istri Kyai Kholil itu mengalung di leher Dewo dengan erat dan kuat, matanya membeliak-beliak sambil meremasi sendiri kedua teteknya.

Melihat itu, Dewo langsung mengulum dan menghisapi puting Nyai Siti. Pentil susunya yang berwarna coklat kemerahan terasa mengeras saat ia hisap kuat-kuat. Makin lama menyodok dan mengaduk-aduk, Dewo merasakan lubang memek Nyai Siti menjadi semakin basah. Rupanya semakin banyak lendir yang keluar. Bunyinya cepok… cepok… cepok… setiap kali batang kontol Dewo menusuk masuk.

Sampai akhirnya tubuh Nyai Siti mengejang saat mendapatkan orgasmenya, namun Dewo masih terus menggenjot kuat. Kontolnya ia tekan hingga bibir memek Nyai Siti yang berkerut-kerut seperti ikut melesak masuk. Namun saat ditarik, seluruh bagian dalamnya seakan ikut keluar, termasuk jengger ayamnya yang menggelambir.

Pemandangan itu membuat Dewo kian terangsang dan kian bersemangat untuk memompa. Apalagi tetek besar Nyai Siti juga ikut terguncang-guncang mengikuti hentakan yang ia lakukan. Dewo makin bernafsu dan makin mempercepat irama kocokannya.

Nyai Siti tak dapat menyembunyikan kenikmatan yang ia rasakan. Perempuan itu merintih dan mendesah dengan mata membeliak-beliak menahan nikmat. Sesekali ia remasi sendiri susunya sambil mengerang-erang. Dan kembali istri Kyai Kholil itu orgasme, tubuh moleknya terkejang-kejang dengan cairan memek memancar deras.

“Aghh…” Dewo juga memperoleh kenikmatan yang sangat sulit untuk dilukiskan. Meski lubang memek Nyai Siti semakin terasa longgar, tetapi tetap memberi kenikmatan tersendiri hingga pertahanannya nyaris jebol.

Dewo segera menghentikan genjotannya. Dengan tubuh masih menindih Nyai Siti dan kontol tetap menancap di liang memeknya, Dewo mendekatkan wajah ke muka Nyai Siti dan mengambil celana dalam yang menyumpal di mulut perempuan cantik itu. Celana itu terasa sangat basah karena air liur Nyai Siti yang terserap ke serat kain, sehinga kerongkongan Nyai Siti jadi sangat kering sekali.

“Kasihan kamu, lonteku. Kamu pasti kehausan ya?” tanya Dewo. “buka mulutmu, Nyai,”

Saat Nyai Siti membuka mulutnya, Dewo segera meludahkan air lurnya beberapa kali ke dalam mulut Nyai Siti. Dengan rakus Nyai Siti langsung mengecap dan menelannya karena sangat haus, dan menimbulkan sensasi luar biasa saat dirinya menelan ludah Dewo.

Kedua kaki Nyai Siti yang panjang langsung membelit pinggang Dewo dan menekannya kuat-kuat. Selanjutnya ia membuat gerakan memutar pada pinggul dan pantatnya. Memutar dan seperti mengayak. Akibatnya batang kontol Dewo yang berada di kedalaman lubang vaginanya serasa diperah. Kenikmatan yang Dewo rasakan kian memuncak. Terlebih ketika dinding- dinding vagina Nyai Siti tak hanya

Memerah, tetapi juga mengempot dan menghisap. Kenikmatan yang diberikan oleh perempuan itu benar-benar makin tak tertahankan.

”Aaahh… ssshh… enak banget. Aku nggak kuat… enak banget…!!” Dewo merintih, dan… Plupp…!!! Suara kontolnya saat terlepas dari memek Nyai Siti.

Dewo kemudian berdiri dan membiarkan Nyai Siti telentang di atas daun pisang untuk beristirahat. Dewo tidak ingin keluar dengan begitu cepat. Ia kemudian melepas kaosnya dan kemudian merobeknya. Penuh nafsu Dewo memandangi Nyai Siti yang masih telentang dengan jilbab dan jubah yang sudah terangkat hingga ke pinggang serta kancing  jubah atas yang terbuka seluruhnya hingga kedua bulatan payudaranya mengintip keluar.

Dengan sensasi ini Dewo kemudian mendekati Nyai Siti dan membuatnya tengkurap. Dewo kemudian mengikat tangan Nyai Siti ke belakang dengan menggunakan sobekan kaosnya, dan membalikkannya telentang. Selanjutnya Dewo menduduki dada Nyai Siti dan mengangkat kepalanya agar menyepong lagi batang kontolnya. Kali ini Dewo tidak melakukannya dengan brutal, karena dia menginginkan air liur Nyai Siti untuk membasahi kontolnya.

Setelah dirasa cukup, Dewo menarik kontolnya dari mulut Nyai Siti dan kemudian menyumpal lagi mulut perempuan itu dengan celana dalamnya. Berikutnya dengan kasar Dewo menunggingkan pinggul Nyai Siti dan mengangkat jubahnya sampai ke perut dan tanpa ampun langsung menyodomi anus istri Kyai itu. Malam itu Dewo seperti ingin melampiaskan semua hasratnya yang tertahan cukup lama pada Nyai Siti.

Aksi yang dilakukannya sampai hampir satu jam membuat Nyai Siti orgasme beberapa kali dan membuat anusnya lecet sampai mengeluarkan bercak darah. Perempuan itu sudah terlihat hampir pingsan, namun Dewo senang sekali bisa memperlakukan Nyai Siti dengan brutal, kasar, dan kotor. Nyai Siti sendiri sangat heran dengan Dewo malam ini, karena sudah mengentot anus, mulut, dan memeknya, tapi belum keluar setetes pejuh pun dari kontol lelaki tua itu. Dewo benar-benar kuat malam ini. Meski kepayahan, tapi tak urung Nyai Siti tersenyum juga menikmatinya.

“Nyai, istirahatlah beberapa menit karena aku akan memberikan sensasi baru untukmu,” kata Dewo.

“Aku sangat puas dan senang sekali, Tuan mau memaki anus, mulut, dan memekku. Walaupun aku lelah, aku sangat ingin melayani apa yang Tuan inginkan,” jawab Nyai Siti, terengah.

Mendengar ucapan Nyai Siti yang seolah masih mampu itu, Dewo kemudian meminta Nyai Siti untuk menjilati kaki-kakinya; mulai dari telapak sampai ke paha dan batang kontolnya. Nyai Siti pun dengan patuh melakukannya. Sensasi itu membuat kontol Dewo semakin menegang panjang. Birahinya kembali naik.

Segera dimintanya Nyai Siti untuk rebah telentang. Dewo kemudian merobek sisa baju yang dikenakan Nyai Siti dan menempatkan batang kontolnya diantara payudara perempuan cantik itu. Nyai Siti yang mengerti segera menjepit kontol panjang Dewo dengan bulatan payudaranya, ia tekan dua gunung kembar yang sangat besar itu memakai kedua tangannya.

“Ehm… aku suka susumu, Nyai.” rintih Dewo yang mendapat pijatan nikmat. Ia menikmati aksi Nyai Siti sambil membayangkan Salamah, apakah payudara gadis itu juga akan seenak ini saat dipakai nanti? Hmm, mudah-mudahan saja.

Goyangan tetek Nyai Siti semakin kencang. Dan puncaknya, ia menjepit kontol panjang Dewo sambil mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi. Dewo mengejang saat kedutan pada batang penisnya kian terasa. Sampai akhirnya, “….ini, Nyai, madunya keluar…!!!” Dia menjerit begitu cairan pejuhnya muncrat membasahi muka Nyai Siti.

Nyai Siti langsung membuka mulutnya untuk menerima semburan pejuh Dewo yang sangat banyak sekali. Setelah dikulum dan ditampungnya beberapa saat, cairan kental itu kemudian langsung ia telan semuanya. Selanjutnya Nyai Siti membersihkan kontol Dewo dengan menjilat-jilatnya gemas.

Benar-benar di luar dugaan, mereka bercinta di alam bebas dengan diiringi kesunyian malam selama hampir tiga jam. Sementara itu Bayu masih belum sadar karena lukanya juga lumayan parah, kepalanya tampak berdarah.

Dewo kini berniat untuk membuktikan kata-kata Nyai Siti. “Nyai, ayo ikut aku sebentar,“ kata Dewo sambil menggandeng tangan Nyai Siti menjauh dari hamparan daun pisang. “Aku mau beol nih…!” Dewo kemudian berjongkok, “mana mulutmu buat nampung air kencingku?” tagihnya.

Nyai Siti segera tengkurap ke tanah dengan muka menghadap selangkangan Dewo. Rakus ia mengulum kembali kontol panjang Dewo yang mulai mengalirkan air seni secara perlahan-lahan. Nyai Siti langsung meminum dan meneguk semuanya. Dan sementara Dewo beol mengeluarkan kotorannya, Nyai Siti tetap setia mengulum dan menjilati kontol laki-laki itu yang sesekali mengeluarkan kencing saat mengejan.

Selesai beol, Dewo kemudian meminta Nyai Siti untuk telentang beralaskan daun pisang. Ia lalu memposisikan anusnya di mulut Nyai Siti. Nyai Siti yang tahu keinginan Dewo segera melakukan tugasnya menjilati anus Dewo yang barusan beol sampai bersih. Setelah dirasa cukup, Dewo kemudian memakai celana kolornya kembali.

“Nyai, mari kita pulang… dan bocah ini kita bawa ke rumah, akan aku jadikan pelayanku,” kata Dewo puas.

“Baik, Paman Dewo.” Nyai Siti buru-buru membenahi jubah dan jilbabnya, sedang bh dan cd-nya tidak bisa dipakai lagi karena disobek oleh Dewo.

Dewo dengan bertelanjang dada kemudian memanggul tubuh Bayu untuk dibawa ke rumah Kyai Kholil.