INTAN

Intan merupakan seorang mahasiswi kedokteran dari sebuah universitas swasta di Yogyakarta yang terkenal memiliki banyak mahasiswi cantik-cantik serta seksi. Tidak hanya itu saja, disana juga banyak mahasiswi yang katanya bisa di-booking, walaupun dengan harga mahal tentunya. Intan sendiri merupakan mahasiswi kedokteran yang sebentar lagi akan melakukan praktek di daerah terpencil di daerah Purwokerto, Jawa Tengah.

Intan mempunyai seorang pacar yang bernama Rangga, dia hanyalah seorang buruh pabrik, walaupun begitu tekad kerja keras untuk menjadi tulang punggung keluarganya-lah yang membuat Intan jatuh hati dan akhirnya bersedia menjadi pacarnya. Intan sendiri memakai hijab modern ketika keluar rumah, tapi tidak ketika bersama Rangga, seperti sore itu di kontrakan Rangga.

“Aaahh.. uuhh.. Ranggaaa.. nikmatnya, sayangg!” teriakan dan desahan nikmat berasal dari bibir seorang calon dokter yang sehari-harinya berhijab, Intan. Dia sedang mendaki bukit kenikmatan bersama kekasihnya, Rangga. Seperti biasa, sore itu ketika semua teman Rangga pulang ke kampung halamannya masing-masing, dia mengayuh perahu birahi bersama Intan.

“Uuuhh.. memek kamu enak banget ngejepit kontol aku, sayangg.. uuhh!” Rangga hampir tidak tahan untuk menyemprotkan isi testisnya ketika Intan berkata, “Iya, kontol kamu juga nusuk banget ke dalem memek aku, bebbb!”

Intan yang saat itu hanya tinggal memakai bra, masih menggoyang pantatnya di atas pangkuan Rangga. “Uuuhh.. kamu kuat banget sih, sayangg? Udah 15 menit belum keluar juga! Uuuhh!” Rambutnya yang tergerai panjang membuat kesan menggairahkan bagi Rangga.

“Aku udah mau keluar, Yang! Uuuhh.. aku harus keluar dimana nih?” Rangga sudah sangat ingin mengeluarkan spermanya dari tadi pagi ketika melihat foto-foto selfie telanjang Intan yang dikirim via Line.

“Di luar, Sayangg! Uhh.. aku masih masa subur soalnya nih. Uuhh.. bareng-bareng ya, sayangg!” Intan mengingatkan.

Crott! Crott! Hampir lima kali semprotan sperma dari penis Rangga akhirnya jatuh ke atas perutnya sendiri ketika penisnya dikeluarkan dari vagina sempit Intan. Intan pun membantu dengan mengocok penis Rangga agar semua isinya keluar, serta sesekali mengulumnya juga.

“Uuuhh.. sayangku Intan, makasih ya buat ngentot sore ini. Uuuhh.. aku keluar banyak banget nih!” Rangga tidak sadar bahwa Intan hampir klimaks tapi belum mencapai puncak orgasme. Oleh karena itu, dia seolah tidak peduli ketika jatuh tertidur dan Intan mengocok vaginanya sendiri dengan dua jari tangannya sendiri.

“Uuuhh.. uuhh.. Rangga, kontol kamu enak banget. Uuhh.. memekku bakal selalu kangen kontol kamu kalo aku udah di Purwokerto! Uuuhh.. kontol kamu boleh aku bawa gak? Uuuhh!” Itulah kebiasaan Intan untuk menaikkan birahinya, bicara kotor. Dan akhirnya, Crott! Crott! Intan mencapai puncak orgasmenya dan ikut tidur di sebelah Rangga yang sudah terlelap lebih dulu. Intan tidak tersenyum.

***

Keesokan harinya..

Intan terbangun dan memakai sebuah kemeja putih polos yang terlalu besar ukurannya karena itu punya Rangga, dan di dalamnya ia tidak memakai daleman. Dia menuju dapur dan mengambil minum ketika ada suara pintu diketuk.

Tok! Tok! Tok!

Intan sempat mengintip dari jendela, dan itu ternyata adalah Pak Jarwo, ketua RT disini. Intan mengenakan hotpants dan mengancingkan kemejanya sampai atas, dia lalu membuka pintu.

“Iya, Pak Jarwo kan? Ada apa ya, Pak?”

“Eh, ada mbak Intan. Begini, mbak, ada sesuatu yang harus dibicarakan. Boleh saya masuk? Mas Rangga-nya ada? Atau teman-temannya yang lain?”

Bingunglah Intan untuk menjawab pertanyaan tersebut, kalau dibilang ada maka teman-teman Rangga akan dipanggil. Tapi kalau dijawab tidak ada, maka Intan dan Rangga akan langsung diarak keliling desa karena dituduh berbuat asusila. Mata Pak Jarwo pun tak pernah lepas dari paha putih milik Intan, wanita yang selama ini tertutup dan memakai hijab ternyata bisa menjadi binal juga, begitulah pikir Pak Jarwo.

“Tidak ada, Pak.” akhirnya Intan menjawab dengan jujur.

Pak Jarwo tersenyum licik. “Ah, begini… tadi malam ada laporan dari warga bahwa mbak Intan menginap berdua disini dengan mas Rangga. Sudah menjadi etika moral disini bahwa hal tersebut tidak diperbolehkan, bisa jadi fitnah bahkan bisa kita arak keliling desa.” Pak Jarwo menjelaskan duduk permasalahan dengan santai.

“Iya, Pak, saya minta maaf. Lain kali tidak akan saya ulangi lagi.” Intan berusaha memilih kata-kata dengan hati-hati agar tidak salah ucap dan supaya kejadian kali ini tidak menjadi buah bibir masyarakat desa. “Oh ya, bapak mau minum apa? Saya bikinkan kopi ya,” Intan berusaha mengalihkan bahan pembicaraan.

“Tapi ada beberapa syarat ketika mbak Intan ingin kejadian ini tidak menjadi besar, mungkin mbak Intan bisa buatkan saya kopi terlebih dahulu.” ujar ketua RT ini dengan begitu santainya.

Intan pun berjalan menuju dapur diikuti ekor mata Pak Jarwo yang sudah sangat lapar untuk menyantap belahan pantat montok kepunyaannya. Diam-diam Pak Jarwo mengikuti Intan ke dapur, dan seketika itu pula mendekap Intan dari belakang dan menutup mulutnya.

“Ini syarat pertama, saya mau kopi susu dan… susunya langsung dari sini.” Pak Jarwo mengelus pelan payudara Intan yang tidak ditutupi bra dan hanya dilapisi oleh kemeja tipis.

Seketika Intan berusaha berontak, tapi apalah daya Intan melawan kekuatan Pak Jarwo. Intan juga takut Rangga terbangun dan memergoki mereka.

“Hmm.. kamu memang binal, pagi-pagi sudah menggoda saya dengan tidak memakai bra dan celana pendek.” ujar Pak Jarwo.

“Intan baru bangun tidur, Pak Jarwo.” Intan sudah memahami maksud dari Pak Jarwo yang mendekapnya saat ini dan mencoba santai. “Pak Jarwo mau pakai susu? Yang kanan apa yang kiri? Aahh..” kata Intan manja. Seketika itu juga Intan berubah menjadi sangat binal dengan harapan permainan ini cepat selesai.

Mendengar Intan yang dipikirnya susah ditaklukan lalu menjadi seperti pelacur, tak ayal penis Pak Jarwo pun menegang kuat bahkan hampir keluar dari celana bahannya karena saking panjangnya.

“Intan, Intan… kamu luarnya saja berhijab, mahasiswi kedokteran, tapi dalamnya tidak beda dengan para perek yang saya temui di jalanan. Kalau begitu langsung masuk ke syarat kedua, kamu harus menjadi budak seks saya.” kata Pak Jarwo sambil tangannya terus menerus meremas payudara besar milik Intan.

“A-apa, Pak? Budak seks? Intan siap memberikan semuanya buat Pak Jarwo kok, Pak Jarwo bisa entot Intan dimanapun dan kapanpun. Uuuhh.. remas terus tetek Intan dong, Pak. Intan yakin kontol Pak Jarwo lebih bisa muasin memek Intan daripada kontol Rangga.. uuhh.. uuhh..” Intan semakin tidak bisa mengontrol kata-katanya ketika dia merasakan kerasnya penis Pak Jarwo yang sengaja digesekkan ke belahan pantatnya.

“Oke, bawa kopi dan susunya ke ruang tamu. Kamu harus telanjang, hanya pakai handuk dan temui saya. Bisa?” Pak Jarwo dengan sangat jumawa memerintah Intan.

Intan pun berbalik dan mengemuti jari-jari tangan Pak Jarwo sambil berkata dengan suara manja, “Apa pun yang Pak Jarwo mau dengan tubuh Intan, Intan akan berusaha muasin Pak Jarwo dan membuat Pak Jarwo setia sama memek Intan. Uuuhh.. Pak Jarwo tunggu aja di ruang tamu, yaa..”

Usai berkata begitu, Pak Jarwo pun akhirnya meninggalkan Intan di dapur dan menuju ruang tamu. Intan sendiri masih merenung di dapur, dia bingung kenapa dia mau mengiyakan permintaan Pak Jarwo untuk melayaninya pagi ini padahal Rangga, kekasihnya yang tampan, masih tidur nyenyak di kamarnya. Tapi Intan tak ingin dia dan Rangga pada akhirnya dituduh berbuat asusila dan diarak keliling desa, mau ditaruh dimana harga diri dan nama baik keluarganya? Padahal sehari-harinya Intan memakai hijab.

Banyak pertanyaan muncul di kepalanya saat itu. Satu hal yang membuat Intan akhirnya mantap menjadi budak seks Pak Jarwo mulai pagi ini adalah ukuran penis Pak Jarwo yang tadi digesekkan ke pantatnya, seakan membelai vagina dan lubang pantatnya. Intan seketika itu juga tersenyum dan membawa kopi panas ke ruang tamu.

“Ini, Pak, kopinya. Intan mau siap-siap dulu, Pak Jarwo tunggu ya..”

Sambil mengelus pantat Intan, Pak Jarwo berkata, “Iya, pelacur, jangan lama-lama ya.. saya tidak punya waktu banyak.” Pak Jarwo tersenyum menjijikkan.

Intan pun berjalan menuju kamar tidur sambil menggoyangkan pantat, mempertontonkan kemontokan tubuhnya pada Pak Jarwo. Sampai di depan pintu, ia menengok ke belakang dan dengan kerlingan mata nakal, Intan menjilat bibirnya sendiri. Uuuh! Penis milik Pak Jarwo sudah tidak tahan ingin segera mencoblos vagina Intan saat itu juga, tapi Pak Jarwo masih bersabar.

Tak berapa lama kemudian, Intan keluar hanya dengan memakai handuk. Ia berjalan menuju ruang tamu dan duduk menyamping di pangkuan Pak Jarwo. “Pejantannya Intan, nih maunya udah diturutin. Sekarang Pak RT cabul ini mau apalagi?” Intan berusaha menjadi pelacur yang baik walau dalam hatinya masih ada sedikit keraguan.

Pak Jarwo yang ditanya seperti itu malah semakin memuncak birahinya, tapi memang beliau adalah pria yang sudah sangat matang, tidak mau terburu-buru. Maka sambil mengelus lengan Intan yang terbuka, ia berkata, “Sekarang berdiri di hadapan saya, buka handuknya, terus rentangkan sambil kamu duduk di pangkuan saya sekarang. Ayo lakukan!!”

Intan segera berdiri, membuka lipatan handuknya dan memperlihatkan vaginanya yang tercukur rapi serta payudaranya yang montok dengan putingnya yang berwarna pink mencuat ke atas, tanda dia sendiri pun sebenarnya dalam kondisi terangsang. Perlahan-lahan dengan menyunggingkan senyum nakal, Intan duduk di pangkuan Pak Jarwo.

“Hmm.. bapak ini banyak maunya deh, aku juga paham kok caranya muasin tua bandot mesum kayak bapak. Bapak tenang aja ya..” Sehabis berkata begitu, Intan perlahan mendekatkan bibirnya yang ranum ke telinga Pak Jarwo, “Jangan selesai terlalu cepat ya, suamiku sayang.” Intan berbisik dengan begitu mesra dan itu membuat jantung Pak Jarwo semakin berdetak kencang.

Intan mengulum telinga Pak Jarwo dengan pelan dan mesra, dengan tangan masih memegang handuk dan memeluk leher Pak Jarwo, seakan-akan mereka tak ingin terlihat orang lain. Pak Jarwo pun tersenyum licik, menyadari ketidakpercayaannya bagaimana begitu mudah ia menaklukkan mahasiswi kedokteran yang sehari-harinya berjilbab ini. Dengan tangannya yang kasar, Pak Jarwo mengelusi buah dada Intan yang hanya bisa dibayangkannya selama ini.

“Uuuhh.. Pak Jarwo nakal ya tangannya. Kok cuma dielus sih, Pak? Diremes juga dong, ini kan punya bapak sekarang. Hihi,” Intan pun mulai terbawa arus birahi ketika bibirnya menyentuh bibir Pak Jarwo yang kental dengan bau tembakau, tapi itu malah menambah gairahnya untuk mengulum bibir pejantan tuanya.

“Uuhh.. hmm.. mmhh.. hmm.. uuhh.. Pak Jarwo lebih aktif dong! Uuuhh.. hmm.. mmhh..” Lidah mereka berdua saling bertautan, beradu seakan saling mendorong keluar. Kecipak suara mereka juga sangat keras karena Pak Jarwo sangat menyukai seks yang sedikit kasar dan berisik, maka dia coba meludahi mulut Intan dan Intan dengan sangat setia menelan semua air liur Pak Jarwo.

Pak Jarwo meremas payudara Intan dengan sedikit kasar, membuat Intan melenguh nikmat. Jari-jari tua itu mulai memilin puting mahasiswi kedokteran tersebut, pegangan tangan Intan pada handuk pun lepas karena Intan tidak tahan dengan sentuhan-sentuhan tangan Pak RT tersebut. Tangan Intan mengelus rambut Pak Jarwo yang sudah memutih dengan penuh rasa sayang.

“Uuuhh.. Pak Jarwooo.. bapak pasti udah lama gak ngerasain tubuh montok kayak Intan ya? Intan pagi ini jadi istri bapak deh, Intan akan bikin bapak ngerasain surga dunia ya.. uuhh..” Intan menarik kepala Pak Jarwo menuju payudaranya, berharap putingnya diemut bibir tua namun menggairahkan tersebut.

“Hmm.. umm.. mmm.. puting kamu memang manis, sama seperti orangnya. Hihi..” Pak Jarwo mencolek dagu Intan sehingga pipi Intan pun semakin memerah mendengar pujian tersebut.

Pak Jarwo terus mengemuti puting Intan dan akhirnya.. mencupang payudara Intan dengan keras dan berisik. “Auuuww!! Pak Jarwo, pelan-pelan dong ah. Intan gak mau Rangga sampe bangun, nanti Intan gak ngerasain kontol Pak Jarwo pagi ini..”

Pak Jarwo melempar handuk yang tadi dipakai Intan, meremas pantat gadis itu dan menciumi lehernya. Pak Jarwo berubah menjadi beringas karena ia sebenernya sudah tidak tahan dengan segala kata-kata yang keluar dari mulut Intan saat ini.

Intan melenguh menahan desahannya yang sebenarnya sudah tidak tertahankan, ia baru ingat bahwa ia lupa mengunci pintu kamarnya dan Rangga bisa keluar sewaktu-waktu. Tapi rasa takut ketahuan malah membuat birahinya makin meningkat. Intan berusaha melepaskan kancing-kancing kemeja Pak Jarwo saat lidah laki-laki itu semakin ganas melumuri lehernya dengan air liur. Intan melempar kemeja Pak Jarwo entah kemana, ia begitu kagum melihat dada bidang Pak Jarwo yang sedikit berbulu.

“Aaaahh.. Pak Jarwo, biarkan saya yang bekerja melayani bapak ya..” Intan tersenyum manja dan turun dari pangkuan Pak Jarwo secara perlahan sambil menciumi leher lelaki tua itu.

“Aaahh.. Intan, kamu memang pintar sekali memainkan lidahmu di kulit bapak, uuhh!” Pak Jarwo baru kali ini dimanjakan oleh lidah seorang perempuan, apalagi ketika ciuman Intan turun menuju putingnya. Gadis itu mencium, menjilat dan sedikit menggigit puting Pak Jarwo.

Birahi Intan sudah tak tertahankan lagi, ia sudah bertransformasi menjadi layaknya pelacur jalanan yang menghamba pada kenikmatan seksual. Ciumannya kembali turun menuju perut Pak Jarwo yang sudah sedikit membuncit, walau begitu sisa-sisa hasil fitness zaman dulu masih terlihat samar. Hmm.. dengan sedikit tergesa-gesa, Intan mencoba melepas ikat pinggang dan celana panjang milik Pak Jarwo, ia sendiri tidak sabar untuk memanjakan kontol yang tadi digesekkan ke belahan pantatnya.

“Pak Jarwo..” Intan memanggil nama ketua RT tersebut sambil mendesah dan mengerlingkan matanya dengan nakal, tangannya meremas penis Pak Jarwo sambil menciuminya dari luar celana dalam.

Ah, bagai mimpi jadi kenyataan bagi Pak Jarwo sendiri, ia bisa mengelusi rambut seorang Intan yang sedang membuka celana dalamnya dan akhirnya mengelus penisnya. Kulit bertemu kulit.

Bagaikan adegan film slow motion, Intan mengecup pelan kepala penis Pak Jarwo. Cup! Lalu ia mulai menjilati pinggiran penis Pak Jarwo, masih dengan gerakan yang lambat karena Intan ingin meresapi rasa penis yang mungkin akan menjadi penis favoritnya untuk selamanya. Intan menjilat penis Pak Jarwo senti demi senti, sambil menutup matanya bagaikan mencoba pertama kali es krim coklat kesukaannya saat SD.

“Hmm.. mmhh.. umm.. Intan suka rasa Pak Jarwo, mulut ini bakal selalu kangen disentuh kontol Pak Jarwo, hmm.. mmm..” Penis Pak Jarwo makin tegang mendengar Intan berkata kotor seperti itu.

Mulailah Intan memasukkan semua bagian penis Pak Jarwo setelah dirasa cukup basah oleh liurnya. Perlahan, sangat pelan, Intan memasukkan semua ke dalam mulutnya, ia ingin penis tersebut menyentuh ujung tenggorokannya. Lalu juga dengan pelan sekali, Intan melepaskan penis tersebut. Cup! Penis tersebut sudah begitu tegang ketika pada akhirnya Intan menghisapnya, dari pelan perlahan menjadi semakin cepat, cepat dan semakin cepat.

“Uhh.. hmm.. mmhh.. hmm.. Pak Jarwo.. hmm.. mmhh!!”

“Iya, mbak Intan? Kontol saya sepertinya jodoh sama mulut mbak, hehe..”

Tapi Pak Jarwo tetaplah seorang pria tua, ia tak akan tahan kalau begini terus. Maka dari itu sebelum spermanya keluar, segera ia membangunkan Intan dan menyuruh gadis itu kembali dipangku olehnya untuk mulai memasukkan penis ke dalam liang vagina Intan yang sudah begitu basah. Intan juga berpikir kalau lama-lama, Rangga bisa bangun dan memergokinya bergumul mesra dengan Pak Jarwo. Maka Intan pun naik dan duduk di pangkuan Pak Jarwo, tangannya yang lembut memegang dan mengarahkan penis Pak Jarwo ke dekat bibir vaginanya.

“Uuuhh.. Pak Jarwo.. puaskan saya ya, Pak.. cup!” Intan mencium pipi keriput Pak Jarwo dan menurunkan tubuhnya perlahan-lahan supaya penis Pak Jarwo bisa masuk secara sempurna ke dalam lorong vaginanya.

“Hhhh… saya tidak menyangka bisa ngentot sama mbak Intan. Tenang aja, bukan Jarwo namanya kalau gak bisa muasin memek perempuan, hehe..” Pak Jarwo membantu dengan menaikkan pinggulnya guna menyambut pantat Intan yang semakin turun menyelimuti penisnya dengan kehangatan liang vaginanya.

“Uuhh.. hhh.. mmhh.. uuhh!!” Intan mulai mendesah ketika ia mulai memompa penis Pak Jarwo dengan vagina sempitnya yang bak perawan. Sambil menggenjot, ia meremas rambut Pak Jarwo dan menciumi pipinya.

“Aahh.. mbak Intan! Uuhh.. uuhh.. memek mbak enak banget, belum pernah saya menikmati memek seperti ini, uuhh!” Darah tua Pak Jarwo mulai berganti menjadi darah muda kembali, tangannya mengelus punggung dan pantat Intan yang sedikit demi sedikit mulai berkeringat. Kecipak pertemuan penis dan vagina perempuan dan lelaki berbeda usia ini begitu berisik, untung saja Rangga memang terbiasa bangun siang karena ini hari Minggu. Intan yang mengetahui hal itu menerima saja tumbukan penis di vagina yang sehari-harinya hanya diisi oleh penis kekasihnya.

“Uuuhh.. teruusshh, Pak Jarwoo.. kontol bapak memang tidak ada duanyaaa!!” Selesai berkata seperti itu, bibir Intan mencium, mengulum bahkan seperti akan memakan bibir Pak Jarwo, begitu ganas, liar dan beringas. Intan terbiasa menerima perlakuan seksual yang lembut dari Rangga, tapi sekarang ia menjadi liar karena kenikmatan yang kelewat batas.

“Uuuhh.. uuuhh.. mbak Intan! Ayo ganti gaya, saya mau mbak nungging, saya mau doggy style! Uuhh.. hhhh!” Pak Jarwo merasa bahwa ia harus mengeluarkan spermanya di vagina Intan, kalau bisa menghamilinya.

Intan akhirnya turun dari pangkuan Pak Jarwo dan dengan berpegangan pada sofa, ia menunggingkan pantatnya yang montok ke arah Pak Jarwo.

Pak Jarwo berdiri dan mencoba memasukkannya ke vagina Intan saat tiba-tiba ia berkata, “Mbak Intan yang binal, rayu kontol saya biar mau masuk ke memek mbak dong, hehe..” Dia tersenyum menjijikkan.

“Uuhh.. Pak Jarwo.” Intan mendesah sambil menggoyangkan pantatnya seakan menyambut penis Pak Jarwo yang semakin mendekat ke liang vaginanya. “Ayo dong kontolku sayang, masuk ke memek aku. Aku udah gak tahan banget pengen disodok sama kamu, terus disemprot pake peju, uuhh!” Intan berkata dengan manja sambil memperlihatkan muka sayu, menggigit jarinya sendiri dan itu cukup membuat Pak Jarwo kembali menusukkan penisnya ke vagina Intan dengan ganas!

“Uuuhh.. uuhh.. dasar perek nakal! Mahasiswi emang semuanya bisa dipake! Uuhh.. uuhh! Ini bapak entot! Uuuhh!” Pak Jarwo menggenjot vagina Intan dengan ganas, sambil menampar pantat gadis itu sampai memerah.

”Uhh! Uhh! Uuhh! Uuhh!” desahan mereka saling bersahutan tetapi tetap berusaha untuk tidak terlalu keras. Intan juga ikut menggoyangkan pantatnya dan mencari kenikmatan dengan menggosok kelentitnya sendiri menggunakan jari-jarinya.

“Uuuhh.. uuuhh.. terus, Pak Jarwooo!! Sudah hampir setengah jam berlalu, bapak belum keluar juga! Uuhhh!” Intan terus mendesah, sebentar lagi ia akan mencapai klimaksnya!

“Aaahhh.. Pak Jarwoo!! Saya keluaarrrrr!! Aaahhhhh!!” Intan mendorong pantatnya ke belakang dengan keras, ia ingin penis Pak Jarwo menyentuh ujung rahimnya.

“Aaaahhhhh.. nikmatnya, Pak Jarwo.. aahhh.. bapak belum keluar ya? Yuk keluarin aja, Pak, di dalem juga gak papa. Hehe..” Kata-kata Intan yang menggoda membuat Pak Jarwo tidak sabar menyirami vagina mahasiswi kedokteran ini dengan spermanya.

“Aaahh.. aahhh!” Pak Jarwo semakin ganas menusuk vagina Intan sampai suara tumbukan antara pantat Intan dan pinggul Pak Jarwo semakin berisik, untung saja tidak berapa lama kemudian Pak Jarwo merasa bahwa spermanya telah berada di ujung penis dan siap untuk ditembakkan.

“Aaahh.. aaahhh! Memek mbak enak banget! Sumpah saya ndak bohong! Aaahhh.. uuuhh.. saya keluar yaaa.. aaaaaaaaahhhhhhhhh!!!” Dengan satu lolongan kuat dan dorongan yang kuat akhirnya sperma Pak Jarwo meluncur masuk ke dalam rahim Intan.

“Aaaahhh.. akhirnya saya bisa puas ngentot sama memek perempuan kayak kamu, uuhh..” Jatuhlah tubuh tua namun masih bertenaga milik Pak Jarwo ke sofa, ia masih menutup mata dan terengah-engah. Belum benar-benar bangun dari kenikmatan surgawi yang baru ia rasakan.

Intan sendiri juga ikut menyusul merebahkan dirinya di atas tubuh Pak Jarwo, ia bersandar pada dada bidang laki-laki itu sambil memainkan penis Pak Jarwo yang masih sedikit tegang namun sangat basah.

“Hmm.. saya puas banget bisa main sama Pak Jarwo.. hmm, kontol bapak sekarang bebas keluar masuk memek saya deh.. oke pejantanku sayang?” Intan sekarang benar-benar manja dan terlihat tidak mau melepas penis milik Pak Jarwo, ia sudah takluk dan menghamba pada kenikmatan seksual yang diberikan oleh Pak Jarwo.

“Iya, mbak, saya juga puas banget. Hhmm.. ya sudah, pokoknya mbak harus janji selalu sedia memek setiap kali saya sange ya, mbak.. hehe, cup!” Pak Jarwo mengecup kening Intan, membuat perempuan itu semakin terbang melayang.

Akhirnya Pak Jarwo memakai kembali pakaiannya dan pergi dari kontrakan Rangga sebelum hari makin siang dan Rangga kembali terbangun. Sebelumnya, Pak Jarwo dan Intan sempat bertukar liur sebelum mereka berpisah.

Ah, hari yang indah! Intan akhirnya mandi dan pulang meninggalkan Rangga yang sebenarnya.. berpura-pura tidur!!

AZIZAH

Azizah, gadis berjilbab lebar yang berwajah manis adalah seorang mahasiswi yang kuliah di salah satu PTS di kota ini. Aku dan teman2ku adalah para kuli yang sedang memperbaiki salah satu bagian rumah kost Azizah. Sudah sejak lama kami menyimpan hasrat birahi pada mahasisiwi berjilbab ini. Tubuhnya yang selalu tertutup jubah longgar dan jilbab yang lebar justru membuat kami semakin penasaran. Kamipun tidak segan mengintipnya saat ia sedang mandi, dan ternyata memang tubuh gadis cantik berjilbab yang selama ini ia sembunyikan memang benar2 indah. Akhirnya kami tidak kuasa untuk menahan hasrat kami terlalu lama. Kami memilih saat yang tepat, yaitu saat teman2 kost Azizah pergi kuliah, untuk menikmati tubuh Azizah yang putih mulus menggairahkan itu. Akhirnya saat itu tiba juga.

toket akhwat - farida janah (1)

Pada hari itu cuaca sangat panas, sehingga pintu kamar kost Azizah dibiarkan terbuka, agar udara segar dapat masuk. Gadis berjilbab itu sedang duduk menyelesaikan laporan kuliahnya di komputer waktu aku, Doni dan Ferry datang ke kamarnya. Tiba -tiba kami bertiga sudah ada di samping dan di belakangnya.

“Mbak Azizah, kami minta jatah..!” kataku yang diiyakan juga oleh Ferry dan Doni yang berdiri di samping kiri-kanannya membaca monitor sambil mengusap-usap celana bagian depannya yang nampak makin lama makin menonjol. Azizah kaget sekali “mau apa kalian? Maksudnya apa ini?” tanya gadis alim itu panik. Terdengar nada ketakutan dalam suaranya yang lembut. Suaranya malah semakin membangkitkan birahi kami.

toket akhwat - farida janah (5)

Azizah semakin kaget lagi sewaktu mereka secara bersamaan tiba-tiba membuka celana sekaligus CD-nya ke bawah, sehingga di kanan-kiri Azizah muncul dua benda panjang menjulur ke depan. “Ah, masak mbak Azizah nggak tau…?” kata Dony. Rupanya mereka sudah tidak tahan membayangkan tubuh Azizah yang pernah mengundang birahi mereka, saat mereka mengintip gadis berjilbab itu saat mandi.

“Tuh kan, jadi keras nih punyaku.., ayo pegang..!” kata Doni sambil menarik tangan mulus gadis berjilbab itu dan ditempelkannya di batang kontolnya sekaligus kontol Ferry.
“Eh, ngapain nih pada..?” tanya Azizah sambil agak meronta. Wajahnya nampak merah padam. Mungkin karena dia belum pernah melihat kemaluan laki2 sebelumnya, apalagi memegangnya.
“Udah deh, pegang aja..!” kata Doni yang tiba-tiba menyusupkan tangannya ke bawah jilbab Azizah hingga menyentuh gundukan buah dadanya yang masih tertutup jubah coklat muda itu.

Azizah langsung menggeliat merasakan usapan tangan Doni pada bagian sensitifnya yang menimbulkan sensasi tersendiri, namun gadis alim itu tetap berusaha meronta. Akupun segera mengeluarkan pisauku yang tajam, dan menyodorkannya kedepan gadis berjilbab alim itu. “Diam!! Jangan berontak!! Kalo berontak, pisau ini menancap di memekmu!!” kataku mengancam. Azizah langsung diam. Wajahnya pucat pasi. “jangan, bang…” bisiknya putus asa. “ambil apa aja yang abang inginkan…” saat itu Ferry pun tidak mau kalah, tangannya ikut masuk menggerayangi buah dada yang kiri sambil memilin-milin lembut puting Azizah yang masih tertutup jubah, yang ternyata semakin mengeras.
“Boss!! Putingnya jadi keras bos!!” kata Ferry. “wah, ternyata cewek alim kita ini rindu belaian cowok ya ferr!!” kata Dony sambil tertawa. Azizah semakin pucat. Ternyata memang tubuhnya tidak mampu menahan gejolak birahi akibat rangsangan kedua temanku.

toket akhwat - farida janah (6)
“kamu diam dan tutup mata!! Nikmati aja!!” kataku kembali mengancam.
Azizah, gadis alim itu mulai pasrah. Matanya yang indah ia pejamkan rapat2, seoalah berharap bahwa itu semua hanyalah mimpi. Sementara itu, kedua tangannya masih terus dipaksa mengelus dan mengocok kontol Ferry dan Dony. aku segera menyarungkan kembali pisauku, dan mulai menjulurkan tanganku kearah jubah panjang gadis manis yang alim itu. Kucoba menyingkapkan jubah panjangnya keatas. Dengan agak susah payah, akhirnya aku berhasil menyingkapnya sampai atas lututnya. Segera kurogohkan tanganku masuk ke daerah selangkangannya, mencoba meraih memeknya. Tubuhnya menggeliat saat tanganku menyentuh bagian tubuh yang selama ini ia jaga. Segera kukocok2 dan kuremas2 memeknya, yang membuat ia semakin menggeliat2. “mmmhhh…..nnnnggghhh….” mulai terdengar lenguhan tertahan dari mulutnya. Matanya masih tertutup rapat. Bibirnya yang indah membuatku tak bisa menahan diri. Segera kulumat bibirnya. Lidahku bertemu lidah gadis berjilbab itu, dan saling berpilin. Tidak banyak penolakan yang ia berikan. Sepertinya ia memang takut akan ancaman yang kukatakan tadi.

“Aaah.., sshh..,” 5 menit kemudian, desahannya semakin terdengarsaat tubuhnya tidak mampu lagi menahan kenikmatan yang diberikan 3 pria yang ia sendiri tidak mengenalnya. Tangan gadis berjilbab itu dengans endirinya terus menggenggam dan sesekali mengocok batang kontol Dony dan Ferry.

Tiba2 kami serentak menghentikan kegiatannya, membuat Azizah menggeliat2 sendiri untuk beberapa saat. Jilbab lebarnya kusut dan ujung2nya sudah terlingkar hilehernya. Kancing jubahnya sudah terbuka sampai ke perutnya, memperlihatkan tubuh yang indah, dengan buah dada yang ranum menggantung dan mengacung kedepan, keras karena dirangsang oleh Dony dan Ferry. Kutang yang tadi dipakai gads berjilbab itu sudah berada dipojok ruangan. Memek gadis berjilbab itu sudah basah oleh cairan yang keluar karena rangsangan jemariku tadi.

“buka mulutmu!” perintahku. Dengan pelan Azizah membuka mulutnya yang indah. Segera kumasukkan jemariku yang basah kuyup oleh lendir kemaluannya kedalam mulut gadis alim itu. “kulum!!” perintahku. Terasa kemudian lidah Azizah menari2 di jemariku, sambil sekali2 menyedot2nya. Aku mulai penasaran, seperti apa nikmatnya kuluman gadis berjilbab ini.

toket akhwat - farida janah (7)

“ayo berdiri!” perintah Dony, sambil menarik Azizah berdiri. “ampun baaang… “katanya pelan. Matanya sudah basah. Tubuhnya sudah lemas karena rangsangan yang kami berikan. “ampun baaang… minta apa saja akan saya berikan baaang…” kata gadis berjilbab itu memelas. Tangan Dony dan Ferry langsung melayang ke pipi kiri dan kanannya. Ternyata mereka juga ingin memberinya gertakan. “Diam kamu!!” teriak Dony. kami tidak takut ketahuan, karena disini temboknya tebal dan tidak ada orang lain selain kami berempat di rumah kost yang besar ini. Mendengar bentakan itu Azizah langsung kembali terdiam.

aku.dengan lembut menanggalkan jubah yang sudah terbuka kancingnya. Segera jubah itu melorot belantai, membuat tubuh Azizah yang putih mulus terlihat jelas. Kami bertiga menelan air liur melihat tubuh Azizah yang biasanya tertutup jubah longgar dan jilbab lebar itu sekarang terpampang dihadapan kami, hampir tanpa apa2, tinggal jilbab putih yang sudah kusut dan tersampir ke leher, dan celana dalam putih yang menggairahkan.

toket akhwat - farida janah (2)

Azizah dibawa kedekat ranjangnya, dimana aku duduk di pinggir ranjangnya tanpa busana. Pisauku tadi kembali kuacungkan, membuatnya kembali takut dan mulai menutup matanya lagi. Gadis berjilbab itu semakin pasrah berdiri sambil terus terisak2 waktu Ferry dan Doni merentangkan kedua tangannya, dan mulai menciumi dari mulai ujung jari hingga ke lengan bagian atas. Bulu-bulu halus Azizah langsung berdiri menerima perlakuan ini. Kecupan dan permainan lidah Ferry dan Doni di sepanjang kulit tangan Azizah membuatnya seperti terbang melayang. Rintihan gadis berjilbab itu mulai terdengar dan makin menggila sewaktu mereka menaikkan tangan Azizah ke atas dan menyusupkan bibir-bibir mereka ke ketiak gadis berjilbab itu yang berbau harum.

Jilatan-jilatan Ferry dan Doni yang belum pernah Azizah rasakan sebelumnya itu, membuat gadis alim itu menggelinjang kegelian penuh rangsangan. Hatinya menolak keras terhadap apa yang terjadi dengannya, namun tubuhnya tidak bisa melawannya. Kepalanya yang menengadah ke atas langsung disambut dengan ciuman liar Dony, sementara Ferry meneruskan jelajahan bibir dan lidahnya yang liar ke samping pinggang Azizah. aku berdiri dari ranjang dan tak kusia-siakan buah dada gadis alim berjilbab yang membusung itu dengan kukecup lembut di sekitarnya. Putingnya yang mencuat kujilat, kukulum dan kuhisap bergantian yang membuat tubuh gadis alim yang tancik itu bergetar hebat menahan nikmat.

Desahan dan erangannya yang semakin mengeras tidak terdengar lagi, karena tiba-tiba Doni membungkam mulut Azizah dengan mulutnya yang liar sambil memiringkan kepala Azizah. Mau tidak mau Azizah melayani permainan bibir dan lidah Doni yang menari-nari di dalam rongga mulut gadis alim itu.
“Mmph.. mmph..,” erangnya di tengah hebatnya serangan kami bertiga.

toket akhwat - farida janah (8)

Sementara itu Ferry sudah berada di bawah tubuh Azizah yang asyik menciumi belakang batang kakinya mulai dari paha, betis hingga tumit kaki gadis berjilbab itu. Tangan Ferry yang tadinya meremas-remas pantat Azizah, tiba-tiba begitu cepat turun ke bawah bersamaan dengan CD-nya, hingga akhirnya tak sehelai benang pun menempel di tubuh Azizah kecuali jilbab putih yang kami biarkan bertengger dikepala Azizah. Jilbab itu memberi sensasi dan gairah sendiri pada kami bertiga. Pemandangan indah gundukan memek Azizah tidak kusia-siakan dengan bibirku yang sudah turun dari melumat buah dada gadis berjilbab itu menjadi ke perutnya.

Setelah puas memutar-mutarkan lidahku di seputar perut dan pusarnya, aku kembali duduk di pinggir ranjang dengan posisi wajahku berhadapan dengan memek Azizah. Tanganku kemudian menarik pinggulnya lebih mendekat ke arah wajahku, dan bibirku langsung mengecup gundukan memek Azizah dengan lembut yang membuat gadis solehah itu menggeliat merasakan sensasinya.

Tidak puas dengan itu, makin kuturunkan tubuhku ke bawah dengan posisi berlutut. Tanganku kemudian merenggangkan kakinya, hingga memek Azizah terbuka bebas menggantung di depan wajahku. Tidak lama kemudian kubenamkan wajahku ke selangkangan Azizah yang kemudian diikuti oleh usapan lidah Ferry di seputar pipi pantat gadis alim itu. Azizah semakin hebat menggelinjang, apalagi sewaktu aku sudah mulai menjilat dan mengisap klitorisnya dari bawah yang membuat memek gadis alim berjilbab lebar itu semakin basah.

toket akhwat - farida janah (3)

Azizah kembali mencoba meronta, tapi kami malah semakin menggila. Tubuh Azizah kami dorong ke ranjang, dan kusuruh menungging di pinggir ranjang dengan posisi kakinya menggantung. Doni naik ke ranjang dan berlutut di depannya dengan kontolnya yang mengarah ke wajah Azizah. Tangan Doni kemudian mencengkeram kepala Azizah yang masih terbalut jilbab putih dan menengadahkan kepalnya.
“Buka mulutmu..!” perintah Doni yang segera diikuti, karena memang Azizah sudah pasrah dan sangat terangsang, sehingga sudah tidak mampu lagi berbuat apa2.

Begitu mulut gadis berjilbab itu terbuka, masuklah batang kontol Doni yang tegang itu sedikit demi sedikit. Azizah mulai mengemut kontol Doni. Kepalanya dipaksa maju mundur sesuai gerakan tangan Doni yang masih mencengkeram kepalanya.
“Ayo isep dan jilat..!” perintah Doni lagi yang segera diikuti Azizah dengan menjilati sepanjang batang kontolnya yang divariasi dengan mengemut kepala kontolnya.Sambil terus menghisap, Azizah merasakan ada sesuatu di bawah selangkangannya. Ternyata kepala Ferry sudah menengadah di antara kedua paha Azizah dengan posisi badannya berada di bawah ranjang. Bibir dan lidah Ferry mulai beraksi dengan buasnya di memek gadis berjilbab itu. Yang membuat Azizah semakin histeris adalah ketika aku menyambut goyangan-goyangan pantatnya yang mencuat ke atas dengan menyapukan lidahku ke belahan pantat Azizah dengan sesekali menusukkan ujung lidahku ke lubang pantat gadis alim itu.

Tanganku pun tidak mau tinggal diam, maju ke depan meremas-remas buah dadanya yang menggantung. Lengkaplah sudah bagian-bagian sentra kenikmatan gadis berjilbab itu diserang habis-habisan. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan indah ini. Kutarik kepalaku dari pantatnya, dan kugantikan dengan menusukkan kontolku ke memek gadis berjilbab itu dari belakang. Dan untuk mempermudah genjotanku, ferry memindahkan kepalanya dari selangkangan Azizah ke bawah buah dadanya yang menggantung, dan mulai menggeluti puting Azizah dengan mulutnya.

Pelan2 kutuskkan kontolku kedalam memeknya. Terasa sempit sekali. Aku berpikir, pastilah gadis berjilbab ini masih perawan. Pelan2 kutambah kedalaman kontolku, menghujam memeknya yang nikmat. Ia mengentikan kuluman bibirnya dara kontol Dony, dan menengadah. Wajahnya terlihat kesakitan. Aku berhenti untuk memberinya waktu untuk bernafas. Namun kemudian aku langsung menghujamkan kontolku dalam2, membuatku merasa ada sesuatu yang sobek dalam memek gadis alim ini. Sesaat terlihat ia akan menjerit, namun Dony dengan sigap mengulum bibir gadis berjilbab itu sehingga jeritannya tertahan lidah Dony yang menari2 di mulutnya. saat kulihat, dari memek gadis alim berjilbab itu mengalir darah segar keperawanannya. terbersit rasa bangga karena berhasil memerawani memek gadis alim yang biasanya selalu menjaga tubuhnya itu.

toket akhwat - farida janah (4)

Semakin lama semakin kupercepat genjotan kontolku dalam memek gadis alim ini yang sangat nikmat. Terdengar jeritan kesakitan Azizah berubah menjadi desahan dan erangan penuh napsu. Mulutnya dengan pasrah menurut saat dituntun Dony untuk kembali mengulum kontolnya.

Bersamaan dengan semakin cepatnya gerakan maju-mundur kontol Doni di mulut Azizah, kupercepat juga sodokan kontolku ke lubang memeknya sambil mencengkeram keras pinggulnya. Sampailah pada erangan keras Azizah diikuti dengan mengejangnya tubuh gadis berjilbab itu tanda mencapai puncak. Terasa hangatnya cairan di lubang memek Azizah yang diikuti dengan kencangnya otot-otot di situ yang menjepit kontolku.

Tanpa istirahat, Doni yang lalu mencabut kontolnya dari mulut Azizah, membaringkan dirinya dan menarik tubuh mulus Azizah yang sudah sangat lemas ke atasnya, hingga posisinya jadi berjongkok dengan memeknya yang tepat berada di atas kontol Doni yang masih tegak berdiri. Sesaat kemudian, terbenamlah kontol Doni bersamaan dengan diturunkannya tubuh Azizah. Erangan Azizah terdengar cukup keras merasakan nikmat, dan semakin memacu Doni untuk mempercepat pompaan pada memek gadis berjilbab itu. Jhilbab putihnya sudah basah kuyup karena keringat dan air liur Azizah sendiri yang mengalir deras saat mengulum kontol Doni.

Sementara itu, Ferry yang menunggu giliran mengambil inisiatif dengan berdiri di samping Azizah, dan memasukkan kontolnya ke mulut Azizah dengan memutar sedikit kepalanya. Memek dan mulut Azizah kembali bekerja keras memompa, sementara aku juga tidak tinggal diam dengan menarik kedua tangan Azizah ke belakang, lalu menjilat-jilat puting di buah dada kirinya yang terguncang-guncang seirama naik-turunnya tubuhnya.

Rupanya Doni mencapai puncaknya lebih cepat. Ia menekan tubuhnya ke atas yang secara naluriah diimbangi Azizah dengan menahan ke bawah. Azizah melenguh tertahan saat Dony menyemprotkan air maninya yang putih kental kedalam memek Azizah yang semakin basah oleh cairan kenikmatannya yang kembali membanjir.

Ferry yang sudah tidak tahan kontolnya dilumat, langsung mengambil inisiatif dengan mendorong tubuh Azizah ke samping hingga merebah di ranjang. Kedua tangan Azizah direntangkan ke atas, hingga berpegangan pada ujung tiang ranjang, lalu kedua kaki putih gadis berjilbab itu direntangkan, dan Ferry ambil posisi di antara kedua paha Azizah. Memek Azizah yang terbuka langsung dihujam oleh kontol Ferry yang masih basah bekas lidah Azizah. Azizah kembali melenguh. Ferry mulai menyodokkan kontolnya dengan lembut yang membuat Azizah mengerang dan mendesah.

Sementara itu, Doni yang berada di samping Ferry membantu merangsang Azizah dengan menciumi, menjilat, dan mengulum jari-jari kaki Azizah yang mulus itu. Bibir sensual Azizah yang terus mengerang itu membuatku tidak tahan melihatnya. Aku bergerak maju dan kukangkangi wajah cantiknya, hingga kontolku yang masih tegang berada tepat di depan mulut gadis berjilbab itu. Kuangkat sedikit kepalanya dan kudorong masuk kontolku. Azizah pun menyambut perlakuanku ini. Dihisap dan dikulumnya kontolku dengan bibir dan lidahnya.

Genjotan kontol Ferry semakin cepat di bawah yang membuat Azizah menggelinjang hebat.
“Mmmh.. mmph.. mmph..,” teriak Azizah tertahan kontolku di mulutnya bersamaan dengan melengkungnya tubuh Azizah ke atas.
Azizah telah mencapai puncaknya bersamaan dengan Ferry.
“Tunggu, aku juga mau keluar..!” kataku lagi sambil melepas kontolku dari mulutnya dan mengocok kontolku di depan bibirnya yang sengaja dibukanya lebar.
“Aaagghh..!” erangku yang bersamaan dengan semprotan maniku ke wajah dan mulut Azizah.

Tak hanya itu, waktu semprotanku berhenti, langsung dikulumnya kontolku lagi dalam-dalam yang membuatku terasa ngilu tapi nikmat sekali. Akhirnya kami berempat merebah jadi satu di ranjang. Beberapa saat kemudian terdengar isak tangis Azizah. Doni dan ferry mendekatinya, dan seolah menenangkannya, namun kemudian Azizah kembali melenguh. Ternyata Doni dan Ferry belum puas, dan kembali menggilir gadis berjilbab itu sampai tiga kali.

LARAS

Laras adalah seorang perempuan diantara Anto dan Markus, dua orang laki2 yang mengapitnya. Seorang gadis alim aktifis BEM dikampusnya, berparas cantik, kulit putih dan tubuh montok yang selalu tertutup oleh jilbab lebar dan pakaian muslimah yang longgar dan santun. Matanya yang indah dah lentik nampak sayu, tak kuasa menahan gejolak rasa yang sedang ia rasakan, dari sentuhan2 dua orang laki2 yang mengapitnya. Gadis alim itu tak kuasa melawan gejolak yang diakibatkan sentuhan2 dua orang laki2 dikiri dan kanannya. Bibirnya yang tipis sedikit terbuka, mendesahkan rintihan-rintihan birahi, dan sedikit kata2 penolakan yang tak berarti. Sang dara berjilbab itu sudah hanyut dalam permainan dua laki2 kotor yang berbafsu padanya.

jilbab semok akhwat montok (1)

Malam itu, Laras sang gadis alim yang santun itu sebenarnya mendapat undangan rapat mendadak persiapan mahasiswa baru di kampusnya, namun saat ia sampai di kAntor BEM, ternyata disana hanya ada Anto, sang ketua BEM, dan Markus, si pejantan kampus dari Irian, yang tahun ini bertugas menjadi ketua keamanan kampus. “lainnya mana pak Anto? Mas kholid? Mbak Sari? Mbak Yulia?” tanya Laras pada Anto. “Mereka ijin nggak bisa datang. Ada acara.” Kata Anto. Laras hanya mengangguk2 percaya. Bagaimana tidak, Anto, ketua BEM itu sudah sangat lama menjadi seorang yang Laras idamkan. Ketampanan dan kedewasaan Anto yang membuat Laras menaruh hati padanya. Anto bukannya tidak tahu hal itu, tapi tanpa sepengetahuan Laras, Anto sesungguhnya adalah seorang playboy yang sangat handal. Sudah banyak wanita baik yang menjadi korban sang ketua BEM itu, dari yang anak gaul sampai anak rohis jang berjilbab besar di kampus nya. Dan target Anto selanjutnya adalah Laras. undangan rapat itu juga sebenarnya hanya akal2an Anto dan Markus, karena yang diundang sebenarnya hanya Laras.

Rapat yang terjadi ternyata menyita waktu 3 jam, sampai sekitar pukul 10 malam. Diluar gedung, butir2 besar air hujan mengucur deras membasahi bumi. Setelah rapat selesai, belum ada tanda2 hujan akan reda. Laras hendak nekat pulang dibawah guyuran hujan deras, namun dengan lembut Anto menahannya dan memintanya untuk menunggu barang sebentar lagi. Gadis alim itu termakan rayuan Anto, dan menyetujuinya.

Beberapa saat kemudian, dua insan itu sudah terlibat percakapan yang hangat. Mereka tidak mengetahui Markus yang keluar. Saat2 berlalu, percakapan kedua insan berlainan jenis itu semakin menuju kearah BEMbicaraan pribadi, dan Laras, sang gadis alim yang lugu semakin larut kedalam rayuan hebat Anto, ketua BEM yang playboy itu. Pipi mulus Laras sedikit2 terlihat merona merah karena rayuan Markus. Bibir indahnyapun sedikit2 tersenyum simpul, tertipu malu. Perlahan tangan Anto mendekat ke Laras, dan dengan lembut meraih tangan Laras. Laras sedikit terkejut, namun gadis alim itu tidak menarik tangannya. Ia hanya tersipu malu.

jilbab semok akhwat montok (15)

“aku mau jujur sama dik Laras… aku sayang sama dik Laras…” kata Anto. Tangannya menggenggam erat dan meremas2 tangan Laras. Laras terdiam. Wajahnya merah padam karena malu. Tapi saat itu Markus datang. Laras salah tingkah dan hendak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Anto, namun Anto melarangnya. Senyum menenangkan dari Anto membuat gadis lugu yang alim itu tenang. Markus mendekati mereka beredua dan memberikan dua gelas susu panas. “untuk teman dingin2.” Kata Markus. Segera Anto menerima gelas berisi susu yang diberikan Marku padanya,s ementara Laras menerima yang satu lagi. Setelah senyum2 sedikit dengan Anto, Markus segera menjauh dari Laras dan Anto, duduk disudut ruangan, dan membuka laptopnya. Laras dan Anto meneruskan perbincangan mesra mereka. Posisi duduk mereka semakin dekat satu sama lain, didepan komputer milik BEM.

Tak lama, Laras merasakan tubuhnya agak panas, dan kepalanya terasa ringan. Gadis lugu itu tak tahu apa yang terjadi, namun yang pasti, ia merasakan didalam tubuhnys eolah ada sedikit gejolak2 yang aneh dan belum pernah ia rasakan, namun ia coba menafikkannya, karena ia mengira rasa itu hanya dari dalam dirinya saja. Ternyata, tanpa sepengetahuan Laras, Markus telah memberi obat perangsang pada minuman susu yang Laras minum. Obat itu tidak terlalu keras, namun sang peminumnya pasti tak bisa menolak gairah2 seks yang terjadi.

Tanpa terasa, posisi duduk Laras sudah sangat dekat dengan Anto, dan tanpa Laras sadari, tangan Anto sudah merentang dan merangkul Laras lembut. Gadis alim itu tak mampu menolak, karena gairah yang ia rasakan terus meninggi, dan ditambah perasaan cintanya pada Anto. “aku ingin cium kamu…” bisik Anto lembut. Wajah Laras terlihat kembali memerah. Laras hanya bisa menggeleng pelan. Untuk mengatakan “tidak”, ia tak mampu, karena perasaannya pada Anto menginginkannya. Walaupun Laras menggeleng namun Anto tetap mendekatkan bibirnya ke pipi Laras. Laras berusaha mengelak dengan halus, namun Anto tetap terus maju, sampai akhirnya bersentuhanlah bibir Anto dan pipi mulus Laras. Laras hanya bisa mendesah lirih. Setelah berhasil mencium untuk pertama kalinya, ciuman kedua tidak mengalami halangan yang berarti. Bahkan di ciuman ketiga, Laras memejamkan matanya. Gadis berjilbab lebar itu tak mampu menahan gejolak birahinya yang semakin meninggi.

Dan jadilah, seorang gadis alim yang memakai jilbab lebar, sedah merintih dan mendesah dirangsang oleh sang ketua BEM. Sementara Anto terus menciumi Laras yang masih terus mendesah, Markus mendekat dan mengambil posisi disisi Laras yang lain. Anto, yang merangkul dan menciumi pipi gadis alim itu, kini mulai mengulurkan tangan yang satu lagi untuk mengusap2 paha Laras yang masih tertutup rok panjang. Terdengar desahan Laras semakin kencang saat tangan kiri Anto naik sampai atas, ke pangkal paha Laras, sang gadis berjilbab yang sedang birahi.

Tangan Anto tak sampai ditiu. Ia menaikkan tangannya keatas, mengusap2 daerah dada Laras. Gadis alim itu merasakan ngilu dan nikmat di puting Laras , dan membuat Laras merintih semakin kencang. Kemudian, “Antooo… janganmmhh…,” Laras merintih semakin kencang. “enak ya ras? Mau yang lebih enak lagi?” perlahan Markus menarik Laras dan perlahan Anto melepaskan gadis alim yang cantik itu. Markus memeluk Laras , tangannya Laras rasakan menyentuh dada Laras dan mengusap-usapnya lalu meremas-remas buah dada gadis berjilbab itu dari luar baju longgar dan jilbabnya.

Sesaat Laras terdiam menahan nafas dan agak terkaget dengan sentuhan Markus. Gadis alim itu merasakan putingnya mengeras dan menegang membuat aliran darah Laras terangsang keseluruh tubuh. Rasanya ngilu dan nikmat membuat seluruh tubuh gadis alim yang cantik itu merinding dan lemas. Perlahan mengalir ketonjolan didekat saluran kencingnya. Kemudian Laras rasakan bibir memek dan anus Laras berdenyut-denyut. Gadis alim yang berjilbab besar itu sedang terangsang hebat. Untung Markus tak menyentuh selangkangan Laras. “jangan too… kuusss…!” ucap Laras sambil kedua tangan Laras dengan lemah berusaha melepaskan kedua tangan Markus dari dada Laras. Walaupun sebenarnya gadis alim itu mulai menikmatinya, namun harga dirinya mengatakan tidak. Tiba2 gadis alim itu merasakan sebuah bibir mencium kupingnya dari luar jilbab merah yang ia kenakan. Mata Laras melirik ke arah wajah tersebut dan terlihat sekilas wajah Anto. Sesaat Laras terdiam kembali. Nikmat di dalam darah gadis alim itu mengalir kembali. Bibir Anto kemudian melumat daun telinga sang gadis alim yang sedang dilanda gejolak birahi itu dari luar jilbab merahnya. Laras rasakan nikmat dan lembut mulut Anto dan membuat Laras tidak dapat mengelak dan menolak. “Ehhhmmmhhh….” hanya itu yang bisa Laras desahkan. Dagu Laras terangkat tinggi. Gadis berjilbab lebar itu merasakan putingnya mengeras dan menegang menjadi sensitif. Laras rasakan ngilu dan nikmat di putingnya.

jilbab semok akhwat montok (2)

Tampaknya Markus tak mau kalah. Segera tangannya kembali meremas-remas dada Laras. Perlahan mulut Markus mendekat dan melumat bibir gadis alim itu. Lidahnya menjilati semua yang ada di mulut Laras. Laras hanya bisa terdiam tak bergerak, Laras rasakan pikiran Laras melayang jauh. Birahi gadis alim itu mengalir di dalam darahnya. Tubuh Laras semakin sensitif dan haus akan sentuhan. Terlintas di pikiran Laras berharap mendapatkan yang lebih lagi. Gadis alim berjilbab itu merasakan buaian tangan Anto di pahanya sehingga membuat daerah sensitif di selangkangan Laras semakin menjadi. Laras rasakan rok Laras perlahan diangkat Anto. Tangan Anto dengan lembut mengelus-elus paha putih montok gadis alim berjilbab itu dari daerah paha luar, dalam dan sampai di belahan selangkangan Laras. Tubuh Laras bergetar hebat, dan menggelinjang. Tak beberapa lama, diiringi rangsangan2 Anto dan Markus, Tubuh Laras menghentak2 hebat selama beberapa detik dan langsung lunglai. Desahan panjang keluar dari mulut Laras. Gadis alim yang berjlbab dan selalu santun itu mendapat orgasmenya yang pertama kali dalam hidupnya. Kedua pemerkosanya tersenyum karena melihat sang korban sudah jatuh ketangan mereka.

Beberapa saat kemudia Anto menghentikan kegiatannya dan berdiri, begitu juga Markus. “jangan disini to, ntar ada yang liat. Kita bawa ke tangga yang pernah kita pake buat ngerjain Silvi aja.” Kata Markus. Ternyata, Markus dan Anto juga pernah melakukan hal yang sedang mereka lakukan pada Laras pada Silvi, seorang gadis lugu yang juga berjilbab besar teman Laras. Segera mereka berdua menuntun Laras yang sudah lunglai tak berdaya keluar dari ruang BEM, menuju tangga. Tangga itu sudah tak pernah dipakai, karena penerangan yang minim juga lantai dan temboknya yang rusak. Biasanya para mahasiswa memakai tangga besar di sayap utara gedung atau lift yang ada ditengah gedung. Tangga ini tak pernah dipakai disiang hari, apalagi di malam hari. Mereka bertiga segera menuruni tangga dan berhenti diantara lantai tiga dan dua, dimana ada bagian datar yang besar.

Selesai turun tangga ternyata Markus langsung memeluk Laras. Kedua tangannya menggerayangi buah dada Laras. Gadis alim itu merasakan putingnya menegang ngilu yang nikmat. Birahi mengalir dalam darahnya membuat ia semakin terangsang. Kemudian mereka bertiga duduk dilantai, dengan Anto dikiri dan Markus dikanan Laras. Dan tak lama kemudian tubuh Laras kali ini dirangkul oleh Anto. Tangannya mengelus dan meraba paha Laras , kemudian perlahan menyusup di rok gadis berjilbab itu. Tak lama kemudian celana dalam gadis alim itu yang membentuk belahan kemaluannya terlihat jelas, telah basah oleh cairan orgasmenya. Tangan Anto bergerak dari bagian paha luar, dalam, dan selangkangan Laras. Terasa bibir memek gadis berjilbab itu berdenyut dan sensitif. Rintihan gadis itu kembali terdengar. Jelas sekali sang gadis alim yang cantik itu sedang terangsang.

“Laras… Paha kamu mulus… putih… Kulit kamu lembut…,” sahut Anto dengan kedua tangan yang menikmati tubuh Laras. Sesaat kemudian gadis alim itu merasakan tangan Markus mendekap salah satu buah dadanya yang sedang terangsang. Sesaat nafasnya tertahan. Ia merasakan nikmat di dadanya. Puting Laras sedang dialiri darah birahi. Perlahan dagu Laras terangkat tinggi. Nafas gadis alim itu memburu.

Tampaknya Markus dan Anto tahu bila gadis cantik berjilbab besar itu sudah terangsang hebat. Tanpa basa basi lagi mereka melakukan permainan selanjutnya. Perlahan tangan Markus yang mendekap dada Laras turun dan menyusup kedalam kemeja longgar yang dikenakan Laras. Gadis berjilbab yang cantik itu merasakan tangan Markus menyentuh Kulit perutnya yang mulus dan menyusup sampai mendekap dada montok mulusnya yang tertutup BH dan kemudian meremas-remasnya. Dagu Laras terangkat tinggi. Matanya yang sayu menatap bohlam 5 watt yang membuat tempat itu etrlihat temaram. Kemudian bibir Markus Laras rasakan mengecup dan mencuimi leher Laras yang masih tertutup jilbab. Mata Laras terpejam. Gadis alim berjilbab besar itu menggigit lembut bibir bawahnya, berusaha menahan gejolak nikmat birahi yang seharusnya terlarang baginya.

jilbab semok akhwat montok (17)

“Oouuuhhhh..” dengan pelan desahan itu keluar dari mulut Laras. Semakin gadis berjilbab itu keluarkan suara dari mulut maka semakin mereka menjadi. Laras rasakan tali BH- Laras terlepas dan BH-nya mengendor. Entah siapa yang melakukannya. Gadis berjilbab itu merasakan tangan Markus mendekap dadanya secara langsung. “mmhhhh…,” Laras rasakan. Dada Laras diremas-remas lagi dan kemudian kedua puting Laras dimainkan oleh Markus. Nikmat yang membuat gadis berjilbab itu terasa melayang2 diudara.

Perlahan kemeja Laras dibuka dan kemudian BHnya. Udara pun menyentuh puting Laras langsung dan merangsang tubuh Laras. Celana dalam Laras dibuka Anto. Kaos dan BH-Laras dilepas Markus. Rok Laras tidak ketinggalan. Baju muslim yang menyelimuti tubuh putih montok sang dara alim berjilbab itu berserakan disekeliling mereka.

Akhirnya tiada sehelai kainpun di tubuh gadis berjilbab itu, kecuali jilbab besar yang ujung2nya disampirkan ke pundak Laras, kaos kaki putih selutut dan sepatu yang masih terpakai. Ternyata jilbab dang sepatu serta kaos kaki itu memberi sensasi tersendiri pada gairah seks Markus dan Anto. Laras, gadis alim itu kini hanya bisa mendesah2 pasrah menerima rangsangan dari kedua pemerkosanya, seorang preman kampus dari daerah timur Indonesia dan seorang yang disukainya.

Perlahan tangan Anto membuat kaki Laras mengangkang lebar. Rasanya buaian angin merangsang paha dalam dan daerah kemaluan gadis berjilbab itu. Tiba2 gadis alim itu merasakan bibir Anto menyentuh dan mengecup bibir memeknya. Dagu Laras terus terangkat tinggi dan dada Laras reflek membusung seakan menyodorkan diri. Mata gadis berjilbab itu terpejam erat. Gadis alim itu merasakan seperti ada setrum yang mengalir dari bibir memek ke seluruh tubuh.

“Oouuhhhh…” dengan panjang Laras ucapkan. Laras rasakan tangan Markus meremas dada Laras dan memainkan puting Laras. Ah, dua titik sensitif Laras terangsang. Dengan reflek dada montok gadis berjilbab itu membusung sesampai-sampainya. Tampaknya Markus tidak diam melihat Laras begini. Segera ia menghisap salah satu puting Laras. Sekarang ketiga titik sensitif Laras terangsang. Gadis berjilbab itu merasakan jari-jari Anto perlahan masuk ke liang memeknya. Lalu keluar lagi dan akhirnya keluar masuk dengan cepat dan serakah. Awalnya Laras memekik karena merasakan sakit yang sangat, namun sejenak kemudian Laras rasakan kenikmatan yang sangat, yang membuat birahi Laras melayang dan terangsang membuat Laras pasrah dan menikmati cara mereka yang sedang menikmati tubuh putih mulusnya. Gadis alim itu mearasakan kemaluannya basah kuyub. Terlihat banyak cairan cinta keluar dari memek sang gadis alim itu, bersama darah keperawanannya. Anusnya juga terkena air yang mengalir. Tampaknya Anto mengetahui hal ini. Perlahan salah satu jarinya masuk ke anus gadis berjilbab itu. Semakin lama anus gadis berjilbab itu licin dan jari Anto dapat keluar masuk mudah. Akhirnya jari-jari Anto keluar masuk dikedua liang tubuh Laras. Jilbab yang masih ia kenakan basah kuyub oleh keringat. Bibir Anto menikmati daerah pinggang dan perut Laras. Seperti listrik mengalir dalam darah gadis alim itu dan juga daerah daerah tubuhnya yang mereka sentuh. Tak beberapa lama gadis alim itu kembali meraih orgasmenya yang kedua, lalu ketiga. Tubuh montoknya yang putih terlonjak2 menahan birahi yang meledak2 dalam tubuhnya. Mulutnya memekik-mekik keras dan erotis. Sang gadis alim berjilbab, dara di kampus itu telah dikuasai oleh seks dan birahi.

Akhirnya Laras terbaring lemas saat ia lihat Anto melepaskan celananya. Laras lihat kontolnya terhunus dan ia tujukan ke liang memek Laras. Gadis alim itu merasakan sentuhan milik Anto di bibir memeknya. Perlahan-lahan masuk. Dagu dan dada gadis berjilbab besar itu terangkat tinggi, merasakan benda hangat, besar dan keras itu masuk menyeruak memenuhi liang memeknya. “Auuughhh!!!!” Laras memekik keras sambil akhirnya milik Anto menancap dalam di liang memek Laras. Kemudian ia keluar-masukkan. Gadis berjilbab itu merasakan gesekan milik Anto keluar masuk. Nikmat rasanya sampai-sampai anus gadis alim itu berdenyut-denyut. Mata Laras setengah terpejam dan kadang-kadang tubuh Laras ikut bergoyang karena tak tahan merasakan nikmat. Mulutnya mendesah dan merintih penuh kenikmatan. Gadis berjilbab itu sudah terbuai sepenuhnya oleh kenikmatan terlarang. Sekilas terlihat Markus melepaskan celananya. Gadis berjilbab itu melihat milik Markus yang lalu oleh Markus langsung ditempelkan ke mulut Laras. Perlahan kontolnya dimasukkan ke dalam mulut Laras, dan langsung disodok2kan keluar masuk. Saking bersemangatnya Markus, sampai sering gadis berjilbab itu tersedak2 oleh kontol Markus yang hitam dan besar.

jilbab semok akhwat montok (18)

Beberapa saat kemudian Anto memutar posisi Laras jadi mengungging. Dengan begini Markus dapat dengan mudah memperkosa mulut gadis alim itu dengan kontolnya hitam besarnya yang terhunus. Perlahan Laras rasakan kenikmatan yang berbeda. Milik Anto perlahan ia cabut dari liang memek gadis alim itu dan kemudian Anto hunuskan ke anusnya yang terasa berdenyut-denyut nikmat. Perlahan ia masukkan ke anus Laras yang sudah terangsang, basah dan longgar karena jemarinya. Tidak bisa masuks ecara cepat karena besarnya kontol Anto dan sempitnya anus Laras, namun akhirnya tertancap dalam juga dan segera Anto mengeluar masukkan dengan pelan. Laras memekik2mekik antara sakit dan nikmat. Karena sudah licin maka ia keluar-masukkan dengan cepat dan akhirnya menyembur cairan di liang anus Laras, berbarengan dengan gadis berjilbab itu mencapai orgasmenya yang ketiga, juga dengan melonjak2. Lantai dibawah mereka semakin becek oleh permainan mereka bertiga.

jilbab semok akhwat montok (3)

“Ouuhh…” Laras ucapkan sambil menikmati semburan yang Anto keluarkan. Setelah itu Anto mendiamkan kontolnya diam tertancap. Sesaat kemudian ia mainkan lagi. Anus Laras sangat licin karena cairannya. Kadang ia keluarkan dulu dan kemudian dia tancapkan lagi. Tampaknya ia sengaja. Karena pada setiap tancapan, gadis berjilbab itu mendesah karena merasakan nikmat.

Beberapa saat kemudian Laras rasakan banyak cairan yang menyembur dari milik Markusmemenuhi mulutnya. Markus segera mencengkeram kepala Laras yag masih terbalut jilbab sembari membentak sang gadis berjilbab itu untuk menelan semua spermanya. Laras dengan susah paya menelan cairan sperma itu, namun karena saking banyaknya, cairan sperma Markus meluber sampai keluar dan membasahi dagu sampai ke jilbab Laras, bahkan menetes ke lantai. Setelah habis, Markus melepaskan kontolnya dari mulut Laras, dan gadis berjilbab itu langsung terbatuk dan muntah2. Markus dan Anto tertawa melihatnya. Anto kemudian menarik pundak Laras. Sehingga ia dapat memeluk Laras dari belakang. Tangannya meraba-raba dada Laras.

Gadis berjilbab itu merasakan Anto berdiri dan Laras tergantung di kontolnya yang menancap. Dari depan Laras lihat Markus ikut berdiri dan menghampiri Laras lagilalu langsung menancapkan kontolnya ke liang memek Laras. Gadis berjilbab itu merasakan kenikmatan tiada tara, merasakan kedua liangnya mereka penuhi dengan kontol besar hitam mereka. Dan akhirnya setelah genjotan demi genjotan, mereka sama-sama sampai puncak dan puas. Laras terbarih lemas dilantai, saat kedua pemerkosanya membenahi pakaian mereka.

Tak lama mereka segera membawa Laras naik kembali ke lantai tiga, lalu membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang basah kuyup oleh cairan cinta. Didalam kamar mandi kembali Laras digilir oleh mereka. Diantara genjotan2 yang gadis alim itu rasakan, ia tahu itu bukanlah terakhir ia diperkosa oleh kedua laki2 itu, namun ia sudah tak bisa berbuat apa2, dan hanya bisa pasrah, bahkan terhanyut dalam kenikmatan terlarang itu. Kembali cairan orgasmenya menyemprot-nyemprot keluar ketikagadis alim yang cantik dan berjilbab lebar itu orgasme untuk yang kesekian kalinya.

…….

Suatu hari setelah terjadinya perkosaan itu, Laras masih terus teringat. Bukan takut yang ia rasakan, namun rasa ingin mengulanginya lagi, walaupun tak pernah ia mengungkapkannya. Ia tahu, itu akan membuat harga dirinya hancur. Namun saat ia mengingat kontol2 besar Markus dan Anto dan menusuk2 dua lubangnya, seringkali memeknya terasa basah. Gadis alim yang lugu itu ternyata sudah mulai kecanduan kontol.

Disebuah sore, saat Laras baru berjalan pulang keluar dari kampus islam tempatnya kuliah, tiba2 dari belakang sebuah mobil escudo memepoetnya. Ada satu orang yang keluar darinya, dan ternyata itu Markus! Langsung bayangan perkosaan yang pernah terjadi teringat dibenak Laras. Kenikmatan kontol besar Markus yang menyodok2 memek dan lubang anusnya juga ikut terbayang.
“hai, mbak Laras… ikut camping yuk!” kata Markus langsung. Laras menundukkan pandangannya antara malu, takut dan khawatir birahinya yang tersulut disadari oleh Markus. Segera dia menggelengkan kepala. “maaf mas Markus … saya mau pulang… banyak kerjaan di kost…” kata gadis alim itu dengan suara yang mendayu, terdengar seperti pasrah ditelinga Markus.
“cuman sampai besok mbak… besok kan sabtu, gak ada kuliah…” kata Markus. “bareng2 sama teman2ku kok…” kata Markus lagi. “ada ceweknya juga kok. Kalo gak mau ntar kampus heboh lhoo…” kata Markus sambil menyeringai. Laras, gadis alim itu terkesiap. Gadis berjilbab itu menyadari Markus sedang mengancamnya, dan pasti berhubungan dengan perkosaan yang ia alami dulu. Jangan2 Markus punya foto2 saat dia diperkosa. Dengan pucat pasi Laras mengangguk pelan.

jilbab semok akhwat montok (19)
“nhaaa… gitu donk!” kata Markus. Akhirnya Laras dengan setengah hati ikut mereka, tanpa pulang ke kost dulu. “pake baju gitu aja sudah cakep kok!” kata Markus. Laras yang memakai baju biru langit, rok hitam dan jilbab besar yang berwarna biru langit juga memang terlihat cantik sekali.
Didalam mobil, Laras berkenalan dengan teman Markus. Ada Robert, rekan Markus sesuku, yang nampak lebih hitam dan lebih gahar dengan tubuh tinggi kekar. Lalu ada William, yang mengaku dari Maluku, dan seorang wanita yang juga berjilbab besar, yang bernama Jannah. Jannah adalah seorang mahasiswi yang etrlihat pemalu, dengan wajah yang ayu. tubuhnya yang walaupun selalu dibalut baju terusan yang longgar, namun samar2 masih menampakkan kemontokannya. wajahnya yang dibalut jilbab lebar coklat tua terlihat putih dan cantik, walaupun ada beberapa noda bekas jerawat dipipinya yang putih dan agaks edikit tembam. Laras yang mengetahui bahwa Jannah adalah seorang mahasiswi semester tiga yang sangat alim dan pemalu juga pendiam dikampusnya heran, mengapa dia bisa bersahabat dengan Markus dan kawan2nya. Namun Laras tak mampu bertanya2 apa2, karena dia duduk didepan disamping Markus yang menyetir mobil, sementara Jannah ada di belakang, diapit Robert dan William. Ketika mobil berjalan, Laras menyadari ada gelagat buruk. iA tahu dia akan kembali diperkosa oleh orang2 dari luar jawa ini. Terlebih, nampaknya Jannah juga salah satu dari korban mereka.

Mobil berhenti didepans ebuah rumah gubug yang jauh dari peukiman. Seseorang tua keluar dari gubug dan menyambut Markus dan teman2nya. “barang baru ya bos? Masih seger2…” kata orang tua itu pada Markus pelan, namun terdengar oleh Laras yang kebetulan ada dibelakang Markus. “Markus terlihat menyeringai. “legit-legit semua… lugu-lugu.” Kata Markus. Setelah memarkir mobil dibelakang gubug itu, segera rombongan itu tanpa disertai sang orang tua yang menjaga tempat parkiran itu berjalan menembus hutan. Sekitar 30 menit berjalan, akhirnya sampailah mereka disebuah tanah yang agak lapang ditengah hutan, dimana segera Robert dan teman2nya mendirikan tenda. Laras memberanikan diri untuk meminta tendanya dan Jannah diletakkan agak jauh dari tenda Markus dan kawan2nya, dan sambil menyeringai lagi si Markus mengangguk. Saat itu waktu menunjukkan pukul 1920.

Laras dan Jannah, sepasang gadis berjilbab itu hanya bisa duduk bersama ketiga orang dari daerah timur indonesia itu mengelilingi api unggun. Mereka berdua hanya diam, dan terkadang menjawab pertanyaan ketiga orang laki2 itu. Sementara itu markus, robert dan William sepertinya sangat menikmati malam itu, camping dengan dua dara cantik berjilbab, ditemani gitar dan beberapa botol minuman keras. Laras tidak melihat gelagat buruk dari ketiga laki2 itu, namun firasat Laras mengatakan bahwa perbuatan itu akan segera terjadi.

“Mbak, bisa antarkan aku sebentar? Aku pingin pipis…” bisik Jannah ditelinga Laras. “pipis dimana? Disini gak ada kamar mandi…” kata gadis berjilbab itu. “ada apa? Gak usah kasak-kusuk, ngomong aja sama kita2…” kata William yang melihat bisik-bisik kami. “anu mas Mas… kebelet pipis…” kata Jannah. “pipis beneran apa pipis enak?” tanya robert nakal, langsung disambut gelak tawa kegita lelaki itu, dan rona merah padam diwajah Jannah sang gadis berjilbab montok itu.

“terserah mau pipis beneran apa pipis enak, tapi harus kerumahnya pak penjaga tempat ini.. jalannya jauh…” kata William, masih cekikikan.

“gak papa… biar saya sama mbak Laras saja…” kata Jannah.

“jangan!” kata Masian langsung, seolah takut kami melarikan diri. “bahaya! Biar aku yang nganterin kamu, Nah. Laras, kamu disini aja…” segera mereka berdua pergi. Sebelum pergi, Laras melihat Jannah menatap padanya dengan tatapan takut dan khawatir.

Lima menit berlalu, Laras tak mamu menahan perasaannya. “aku juga mau nyusul mereka. Permisi sebentar.” Katanya pada Markus dan Robert yang langsung bengong. Segera Gadis montok berjilbab itu menyusuri jalan setapak membelah hutand engan senter robert yang tergeletak didekat api unggun. Belum ada 50 meter ia berjalan, ia melihat dikiri jalan ada cahaya. Ternyata cahaya lampu badai yang tadi dibawa William. Segera Laras terkejut dengan apa yang ia lihat. Ia melihat Jannah, sang gadis berjilbab lebar dan berpayudara besar tadi sedang digeluti oleh William si pemuda hitam dari maluku, dengan bersandar dibawah pohon. Lampu badai diletakkan didahan diatas mereka, mampu memberi cahaya remang yang erotis.

Terlihat William menggeluti Jannah. Jannah memberikan meronta2 dan mengerang2 namun rontaan dan erangannya tak mampu mengimbangi kekuatan Jong Ambon yang kekar itu. Akhirnya rontaan gadis berjilbab itu tak lebih dari sekedar formalitas agar ia tidak dikira menikmati. lidah William menjalar bagai bagai ular menjilati semua bagian wajah gadis alim itu yang memang putih dan cantik. Bibirnya mengecup semua bagian wajah Dahia. Erangan tanda penolakan Jannah segera berubah menjadi desahan2 tanggung, menolak namun juga seakan tak kuasa menahan birahinya. sementara itu tangan William menyusup kebalik jilbab gadis alim itu, membuka kancing baju terusannya dan langsung masuk kedalamnya, meremas-remas payudara montok Jannah, yang menyebabkan gadis berjilbab itu mendesah-desah semakin keras. suaranya desahannya terdengar sangat sensual. Sang gadis alim yang berwajah lugu itu telah terhanyut gelora birahi,.

William menyibakkan jilbab Jannah dan dililitkannya ke leher gadis alim itu, mempertontonkan buah dadanya yang montok, keluar dari baju terusannya yang telah terbuka kancingnya. BH yang ia gunakan juga sudah melorot, sehingga putihnya kulih buah dada itu dan putingnya yang merah jambu juga turut terlihat. Segera William membungkuk. Mulutnya mencaplok buah dada sang gadis alim yang sudah terhanyut gelombang birahi itu. Lidahnya menjalar dan meliuk-liuk di putting merah jambu gadis berjilbab itu, menghisap dan meremas-remas payudara Jannah. Setelah itu tangannya mulai merayap kebawah, mengelus-elus bagian sensitif Jannah yang masih tertutup celana dalam dan baju terusan itu. William pelan2 menaikkan bagian bawah baju terusan Jannah, lalu setelah tersibak, ia berusaha membuka penutup terakhir sang gadis alim itu, tapi ketika jari2 besar William menyentuh celana dalam Jannah, seakan Jannah sadar dari birahinya dan langsung meronta keras

“Jangan Mas” tolak Jannah.
“Kenapa Nah, kemarin kamu keenakan…” tanya William.
“Jannah takut… jangan mas… ini dosa…”
“Ntar kalo dah keenakan lu bakalan lupa, cantik…” bujuk William.
“Jannah nggak mau..” Jannah memelas. Matanya berkaca2.
“Mas pelan2, kamu bakalan enak…” lanjut William membujuk
Gadis berjilbab itu diam. Kepalanya menggeleng.
“Kamu rileks aja ya…”, kata William sambil menciumi pipi dan bibir Jannah, sembari kembali meremasi buah dada montok sang gadis berjilbab itu. Mata Jannah kembali setengah tertutup. Birahi kembali menghinggapinya.

William tidak membuang-buang waktu, ia membungkuk dan kembali menikmati bukit kenikmatan Jannah yang indah itu, menyedot2 dan menggigit-gigit putingnya. Gadis berjilbab itu menggelinjang. perlahan mulutnya merayap makin kebawah.. kebawah.. dan kebawah. Ia mengecup-ngecup gundukan diantara paha sekaligus menarik turun celana dalam putih berenda Jannah yang sudah basah kuyub. Dengan hati-hati William membuka kedua paha putih montok Jannah dan mulai mengecup kewanitaannya disertai jilatan-jilatan. Tubuh montok gadis alim yangs elalu memakai jilbab lebar dan baju terusan itu bergetar merasakan lidah William. Kepalanya yang masih terbalut jilbab terdongak keatas. Tubuhnya kembali menggelinjang. Gadis alim berjilbab itu terus bergetar, berdiri bersandar sebuah pohon dengan jilbab yang tersibak, buah dada montok yang menggantung keluar penuh air liur dan cupangan, dan seorang laki-laki yang jongkok didepannya, menjilati dan mengorek2 memeknya dengan lidahnya. Desahan dan erangan nikmat terdengar semakin menjadi2 dari mulut sang gads berjilbab.

“Agghh.. Mas.. jangaaannhh…oouugghh.. enakk.. Mas…aaiiihh…”

Mendengar desahan Jannah, William semakin menjadi-jadi, ia bahkan menghisap-hisap kewanitaan gadis alim yang lugu itu, dan meremas-remas payudaranya dengan liar. Hentakan-hentakan birahi sepertinya telah menguasai Jannah, tubuh gadis berjilbab itu menggelinjang keras disertai desahan dan erangan yang tidak berkeputusan, tangannya kirinya mengusap-usap dan menarik-narik rambut William, seakan tidak ingin melepaskan kenikmatan yang ia rasakan, sementara tangan kanannya mulai meremas-remas buah dada montoknya sendiri, dan merangsang putingnya.

Jannah semakin membuka lebar kedua kakinya agar memudahkan mulut William melahap kewanitaannya. Kepala gadis berjilbab itu mengeleng kekiri-kekanan, tangannya menggapai-gapai keatas, lalu mencengkeram erat pohon yang menjadi tempat bersandarnya. Mata sang gadis alim berjilbab itu terbalik dan hanya terlihat putihnya saja. Jannah sudah tenggelam dan setiap detik belalu semakin dalam ia menuju ke dasar lautan birahi. William yang sudah yakin rangsangannya berhasil, tahu persis apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ia segera membuka retsleting celana jeansnya, dan langsung memelorotkannya bersama celana dalamnya. Terlihat Kontol William yang besar dan hitam sudah mengacung. Ia segera bangkit dari jongkoknya, kembali menggeluti tubuh Jannah dengan berdiri. Jannah yang sudah terhanyut dalam lautan birahi tak mampu lagi melawan nafsunya, dan menyambut rangsangan2 dari William. Kemaluan mereka saling beradu, menggesek, dan menekan-nekan.

Laras yang dari tadi terkesima melihat live show ditengah hutan itu merasakan degup jantungnya berdetak kencang. bagian-bagian sensitif di tubuhnya mengeras. Laras mulai terjangkit virus birahi mereka.

William kemudian dengan satu kakinya tanpa kesulitan merenggangkan kaki Jannah. Pemuda maluku itu lalu memepet sang gadis berjilbab di pohon tadi, memegang kejantannya, lalu mengarahkan kejantanannya keselah-selah paha putih montok sang gadis alim. “Jangan Mas… Jannah takuut…” sergah Jannah. Tapi etrasa penolakannya tanpa tenaga apa2.
“Rileks Nah.. ntar pasti enak.. nikmati aja..” bujuk William, sambil mengosok-gosok ujung penisnya di kewanitaan gadis alim itu.
“Tapi.. Mas.. oohh.. aahh” protes Jannah tenggelam dalam desahannya sendiri.
“Nikmatin aja Nah..kamu dulu juga keenakan, kan…” kata William sambil menyeringai.
“Ehh.. akkhh.. mpphh” Jannah semakin mendesah
“Gitu Nah…. rileks.. nanti lebih enak lagi”
“He eh Mas.. eesshh”
“Enak kan, Nah….?”
“Ehh.. Maaaasssshh…”
Laras yang melihat itu benar-benar ternganga dibuatnya. Tubuhnya terasa tidak nyaman. Birahi yang ia rasakan semakin meninggi gara2 live show yang terjadi.

Tidak ada lagi protes apalagi penolakan hanya desahan kenikmatan Jannah yang terdengar.
“Aku masukin ya Nah..” pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.
William langsung menekan pinggulnya, ujung kejantanannya tenggelam dalam kewanitaan gadis alim berjilbab lebar itu.
“Aakhh.. Mas.. eengghh” erang Jannah cukup keras, membuat bulu-bulu ditubuh Laras meremang mendengarnya.
William lebih merunduk lagi. Perlahan pinggulnya bergerak turun naik serta mulutnya dengan rakus melumat payudara Jannah. Lidahnya kembali merangsang putting merah jambu sang gadis berjilbab.
“Eeemmhhh…teruss.. Mas.. enaaakhh.. ohh.. isep yang kerasss..” Jannah meracau.
“Aku suka sekali payudara kamu Nah…. mmhh”
“Isep terussss…massshh…aaahhh…” secara refleks sang gadis nberjilbab itu menyorongkan dadanya membuat William bertambah mudah melumatnya.

Bukan hanya Jannah yang terayun-ayun gelombang birahi, Laras yang terus melihat semua dari balik belukar turut hanyut dibuatnya. Tanpa sadar jemari Laras menyusup kebalik jilbabnya, mulai meremas-remas payudara dan memainkan putingnya sendiri dari luar bajunya, membuat mata Laras terpejam-pejam merasakan nikmatnya.

William tahu Jannah sudah pada situasi yang sangat birahi, ia segera mencangkeram pinggul Jannah dengan kedua tangannya yang kekar seraya terus melumat mulut dan menciumi seluruh bagian wajah gadis alim itu. Terlihat William menekan pinggulnya lebih dalam dengan kasar. Laras menggelinjang membayangkan bagaimana kejantanan William yang besar, tebal dan hitam melesak masuk ke dalam rongga kenikmatan Jannah sang gadis berjilbab itu.
“Auuwww.. Mas.. sakiitt” jerit Jannah.
“udaah…udah Maaassss…” air matanya mulai mengalir. Walaupun Jannah sudah tidak perawan karena keperawanannya sudah direnggut oleh William diperpustakaan kampus beberapa hari yang lalu, namun kontol William yang besar serta sodokan William yang kasar tetap menyakitinya.
“Rileks Nah…. supaya enak nanti” bujuk William, sambil terus menekan lebih dalam lagi.
“Sakit Mas.. pleasee.. jangan diterusin”
Terlambat.. seluruh kejantanan William telah terbenam di dalam rongga kenikmatan Jannah. Beberapa saat William tidak bergerak, masih sambil berdiri dan memepet Jannah di pohon, ia mengecup-ngecup bibir dan seluruh wajah Jannah, dan turun ke payudara gadis alim itu yang montok dan putih. Perlakuan William membuat birahi Jannah terusik kembali, gadis lugu berjilbab itu mulai melenguh dan mendesah-desah, lama kelamaan semakin menjadi-jadi. Tangan gadis alim itu merangkul leher William dan meremas2 rambut William.

William memahami sekali keadaan Jannah, pinggulnya mulai digerakan memutar perlahan sekali tapi mulutnya bertambah ganas melahap gundukan daging gadis alim berjilbab itu yang dihiasi puting kecil kemerah-merahan.
“Uhh.. ohh.. Mas” desah kenikmatan Jannah, kakinya dibuka lebih melebar lagi.jilbabnya yang tersingkap, basah oleh keringat, bajunya yang terbuka memamerkan buah dada yang montok putih, dan bagian bawah yang tersingkap membuat segalanya semakin erotis.
William tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dipercepat ritme gerakan pinggulnya.
“Agghh.. ohh.. enak maass… terus Maaassss…” Jannah meracau merasakan kejantanan William yang berputar-putar di kewanitaannya, kepalanya yang masih memakai jilbab tengadah dengan mata terpejam, pinggulnya turut bergoyang. Merasakan gerakannya mendapat respon William tidak ragu lagi untuk menarik-memasukan batang kemaluannya.
“Aaauugghh.. sshh.. Mas.. ohh.. Mas” gadis alim yang biasanya santun itu tak kuasa lagi menahan luapan kenikmatan yang keluar begitu saja dari mulutnya. Mereka berdua bersetubuh dengan berdiri, bersandar di pohon besar ditemani cahaya remang lampu badai di malam buta. Desahan2 erotis mereka berdua mengisi hutan. Sang gadis montok berjilbab itu kembali takluk oleh sang pemuda maluku berkontol besar.

Pinggul William yang turun naik dan kaki Jannah yang terbuka lebar membuat darah Laras yang sedang mengintip berdesir, menimbulkan denyut-denyut di bagian sensitifnya. Gadis berjilbab itu menyingkap rok panjangnya dengan tangan kiri dan menyusupkannya kebalik CD. Tubuh sintal Laras bergetar begitu jari-jemari lentiknya meraba-raba kewanitaannya.
“Ssshh.. sshh” desis Laras tertahan manakala jari tengah gadis balim itu menyentuh bibir kemaluannya sendiri yang sudah basah, sesaat ‘life show’ William dan Jannah terlupakan. Kesadaran Laras kembali begitu mendengar pekikan Jannah.
“Adduuhh.. Mas.. nikmat sekalii” Gadis alim yang lugu itu terbuai dalam birahinya yang menggebu-gebu.
“enak kan Nahhh.. makanya gak usah munafik… ahh.. nikmati ajaahh..”
“Ssshh.. ahh.. ohh.. ennaak Mas”
“Punya kamu enaakk sekalii Nah…. uugghh.. memek gadis berjilbab kayak mau emang legiithh..”
“Ohh.. Mas.. eennaaakkk.. sshh…” desah Jannah seraya memeluk William. Gadis lugu yang berjilbab itu semakin agresif, pantatnya bergoyang mengikuti irama hentakan-hentakan turun-naik pantat William.
“Enaak Nah…. terus goyang.. uhh.. eenngghh..cewek jilbab ternyata doyan ngentothhh…” merasakan goyangan Jannah William semakin mempercepat hujaman-hujaman kejantanannya.
“Ahh.. aahh.. Mas.. teruss.. mau keluaaarrhh…” pekik Jannah.
Semakin liar keduanya bergumul, keringat kenikmatan membanjir menyelimuti tubuh mereka.
“Mas.. tekan lagii.. uuhh.. aku mau ke.. kelu.. aarrghh..ooouuugghhh….!!!” Gadis alim yang masih ebrjilbab itu melenguh keras dan panjang. Ia sudah mencapai orgasmenya.
William menekan pantatnya dalam-dalam dan tubuh Jannahpun mengejang. Gema erangan kenikmatan Jannah memenuhi malam dan kemudian Jannah terkulai lemas.

William melepaskan tubuh montok Jannah, dan pelan-pelan Jannah jatuh terduduk dibawah pohon itu. Nafasnya memburu, dari memeknya air kenikmatannya mengalir deras. Sementara itu William yang belum mencapai puncak kenikmatan nampaknya masih ingin meneruskan permainan.

Dari tempat Laras bersembunyi, terlihat kontol William yang besar berkilat-kilat karena terbaluri cairan cinta milik Jannah. Pelan2 William mengocok kontolnya sendiri dengan tangan kanan. Tangan kirinya menaikkan kaosnya agar penisnya bisa semakin jelas terlihat. Segera ia mendekati Jannah, si gadis berjilbab itu yang sedang terduduk bersimpuh, lemas karena baru saja meraih orgasmenya.

“Sekarang Jannah emut punyaku.” kata William sambil menyodorkan penisnya yang hitam ke wajah cantik gadis berjilbab itu dengan gaya santai. Jannah menggelengkan kepalanya dengan ekspresi jijik melihat penis yang besar dan legam itu, yang sudah basah oleh cairan cintanya sendiri.

“Jangan takut Nah, entar juga enak kok..” kata William masih dengan gaya santai, seolah menyodorkan permen kepada anak kecil. Jannah kembali meneteskan air mata menggeleng, hal itu membuat William tidak sabar, dicengkeramnya kepala Jannah yang masih terbalut jilbab dan ditariknya sampai wajahnya mendongak, lalu digesek-gesekkannya penisnya ke wajah Jannah. Gadis alim itu pelan-pelan menurut, dibukanya mulut mungilnya dangan enggan, lalu seperti menelan permen besar, penis William meluncur masuk ke mulutnya. Terasa cairan cintanya sendiri dilidahnya, yang kemudian dihisap dan dikulumnya penis itu dengan lembut, sesekali Jannah diperintahkan untuk mengocok-ngocok penis itu dengan tangannya juga, lama kelamaan gadis alim itu mulai terbiasa dengan penis William dan mulai dapat menyesuaikan diri, sesuai dengan instruksi William. Gadis alim yang lugu dan berjilbab besar itu diajari cara memberi kenikmatan pada lelaki dengan mulut dan tangan oleh sag pemuda maluku, William.
Jannah diminta untuk menjilati samping-sampingnya hingga ke buah pelirnya, bahkan memainkan ludahnya sedikit di penis itu, kemudian Jannah diperintahkan untuk kembali memasukkan kepala penis itu ke mulutnya. William mendesah merasakan kehangatan mulut Jannah, sentuhan lidah gadis alim yang lugu itu memberi sensasi nikmat padanya.

“Uuhhh…gitu Nah, enakmmmm.. kamu pintarrrhh…!” gumamnya sambil memegangi kepala Jannah yang masih tertutup jilbab dan memaju-mundurkan pinggulnya. Jannah merasakan wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir William yang berbulu lebat itu, penis di dalam mulut gadis lugu yang berjilbab itu semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya.

William yang merasakan kehangatan dari bibir dan mulut Jannah makin meledak, lalu dengan menahan kepala gadis alim itu diselangkangannya menggunakan kedua tangannya, dengan kasarnya William menggerakkan pinggulnya maju mundur sehingga penis itu menggenjot mulut gadis berjilbab itu.

“Aggh..aggh… .” suara Jannah terdengar tersedak oleh penis William. Air liur gadis berjilbab itu mengalir keluar, deras membasahi dagunya, turun ke jilbabnya yang sudah tersibak, sampai bajunya yang awut2an. Airmatanya deras mengalir. Tangan Jannah berusaha menahan pinggul William agar tidak bisa memompa penis besar itu ke dalam mulutnya. Tapi usaha Jannah sia-sia saja, William dengan kuat mencengkeram kepala Jannah yang masih memakai jilbabdan mennyodok-nyodokkan penisnya dengan kasar membuat gadis alim itu menggelepar berusaha untuk bernafas dengan baik.

Sekitar sepuluh menit lamanya gadis alim itu dipaksa untuk melakukan hal itu, sampai William menekan kepalanya sambil melenguh panjang. William masih terus menggenjotnya selama beberapa menit ke depan, dan akhirnya dia pun mencabut penisnya lalu buru-buru mendekati wajah cantiks ang gadis alim yang berjilbab itu.

“Arrghhh… Oohhhh…” William kembali melenguh bagai banteng terluka, seketika Jannah merasakan wajahnya tersiram oleh cairan hangat yang kental dan lengket dan berbau. William menyemprotkan spermanya ke wajah lugu gadis berjilbab itu dengan deras. Cairan putih kental pun berceceran membasahi wajah dan jilbab gadis itu.

Bersamaan dengan itu. Ditempat persembunyiannya Laras mempercepat kocokannya di memeknya dan ditemani erangan terrahan, tubuhnya bergetar hebat. Air cintanya menyemprot keluar. Gadis alim itu orgasme melihat rekannya sesama gadis berjilbab digauli dengan paksa.

“Arrghhh… Oohhhh…” William kembali melenguh bagai banteng terluka, seketika Jannah merasakan wajahnya tersiram oleh cairan hangat yang kental dan lengket dan berbau. William menyemprotkan spermanya ke wajah lugu gadis berjilbab itu dengan deras. Cairan putih kental pun berceceran membasahi wajah dan jilbab gadis itu.

Bersamaan dengan itu. Ditempat persembunyiannya Laras mempercepat kocokannya di memeknya dan ditemani erangan terrahan, tubuhnya bergetar hebat. Air cintanya menyemprot keluar. Gadis alim itu orgasme melihat rekannya sesama gadis berjilbab digauli dengan paksa.

Beberapa menit Laras istirahat mengatur nafas. Orgasmenya benar2 membuat ia capek., namun ia semakin terangsang dan ingin ada kontol yang memasuki memeknya.

Setelah beberapa menit, ia memutuskan untuk kembali ke tenda. Ketika ia melihat Jannah da William, ternyata William sudah kembali gairahnya dan sudah kembali menggenjot memek jannah, kali ini dengan tiduran dan Jannah terlentang pasrah dibawahnya kembali desahan mereka berdua terdengar. Namun Laras tidak melanjutkan acara mengintipnya, dan kembali ke tenda.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

sekembalinya di tenda, ia tidak menemui Markus dan Robert. Segera ia duduk didean api unggun dan berusaha mengusir bayangan tentang live show yang tadi ia lihat, namun alih-alih pergi, bayangan itu jstru terus membayanginya. Tak terasa kembali tangan kananya menyusup kebalik jilbabnya, meremasi buah dadanya sendiri dari luar bajunya. Tangan kirinya kembali turun kebawah, merangsang memeknya dari luar bajunya. Gadis alim yang berjibab dan berbadan sintal ini sudah sangat terangsang. Bibir bawahnya ia gigit 2 karena sangat terangsang.

Tiba-tiba, kegiatan Laras berhenti karena dikejutkan oleh suara dari arah belakang. Ternyata Robert dan marku sudah kembali, entah darimana. Mereka berdua langsung tersenyum menyeringai dan mendekati Laras.

“tenang saja mbak, kami cuman mau duduk disamping mbak.” Kata Markus sambil tersenyum lebar.
Akhirnya mereka duduk beralaskan tikar, didepan api unggun. Laras di tengah. Pikiran gadis alim itu teringat pada perkosaan nikmat yang pernah ia rasakan, dan live show yang tadi ia saksikan. Wajahnya yang cantik jadi merah padam, dan jadi salah tingkah. Tanpa ia sengaja, kenikmatan yang dulu ia rasakan kembali membangkitkan birahi gadis berjilbab itu. Rasa gatal menyeruak dimemek Laras mengelitik sekujur tubuh dan setiap detik berlalu semakin memuncak saja, Laras jadi salah tingkah. Markus yang pertama melihat kegelisahan Laras.

“Kenapa Mbak Laras…, gelisah banget horny ya” tegurnya bercanda.
“Ngga lagi, ngaco kamu Kus” sanggah Laras.
“Kalau horny bilang aja Mbak Laras….. hehehe.. kan ada kita-kita” Robert menimpali.
“Udah, jangan ngomong kayak gitu…” sanggah Laras lagi menahan takut. Tapi sesungguhnya dibenaknyapun rasa itu semakin menjadi.

Markus tidak begitu saja menerima sanggahannya, diantara mereka ia paling tinggi jam terbangnya sudah tentu ia tahu persis apa yang sedang Laras rasakan. Markus tidak menyia-nyiakannya, bahu gadis berjilbab itu dipeluknya. Laras sedikit menggeliat hendak menghindar namun pelukan Markus terlalu erat. “jangan kuss…” kata Laras. Suaranya yang lirih dan terkesan pasrah membuat Markus tahu bahwa Gadis alim berjilbab lebar ini sebenarnya juga sudah mulai terangsang.

jilbab semok akhwat montok (5)

“Santai Mbak Laras…, kalau horny enjoy aja, gak usah malu.. itu artinya kamu normal.. toh kamu juga dah pernah ngerasain kotolku. Enak kan?” bisik Markus sambil meremas pundak Laras yang tertutup baju dan jilbabnya. Kata2 markus membuat wajah putih gadis ebrjilbab itu merah padam. Gadis alim itu kembali menggeliat berusaha melepaskan diri, namun sekali lagi, tenaganya yangs etengah2 karena sudah terangsang itu tak mampu menandingi pelukan Markus.

Remasan dan terpaan nafas Markus saat berbisik menyebabkan semua bulu-bulu di tubuh Laras meremang, tanpa terasa tangan gadis berjilbab itu meremas-remas rok panjangnya. Matanya terpejam2 keenakan dan kembali ia menggigiti bibir bawahnya. Markus menarik tangan Laras meletakan dipahanya ditekan sambil diremasnya, tak ayal lagi tangan Laras jadi meremas paha Markus.
“Remas aja pahaku Mbak Laras… daripada rok” bisik Markus lagi.
Merasakan paha Markus dalam remasan Laras membuat darah Laras berdesir keras.
“Ngga usah malu Mbak Laras…, santai aja.. ntar juga enak..” lanjutnya lagi.
Entah karena bujukannya atau Laras sendiri yang sudah sangat terhanyut napsu birahi, tidak jelas, yang pasti tangan Laras tidak beranjak dari pahanya dan setiap ada adegan yang ‘wow’ Laras meremas pahanya. Merasa mendapat angin, Markus melepaskan rangkulannya dan memindahkan tangannya di atas paha gadis berjilbab yang alim itu yang masih terbungkus rok panjang hitam, awalnya masih dekat dengkul lama kelamaan makin naik, setiap gerakan tangannya membuat Laras merinding.

Entah bagaimana mulainya tanpa Laras sadari, Markus sudah menyingkap rok hitamnya keatas dan tangan Markus sudah berada dipaha dalamnya, tangan kasar Markus mengelus-elus paha putih laras yang selama ini tertutup rok dan baju yang longgar dengan halus, ingin menepis, tapi, rasa geli-geli enak yang timbul begitu kuatnya, membuat Laras semakin terbuai, membiarkan kenakalan tangan Markus yang semakin menjadi-jadi tanpa mampu berbuat apa2.
“Ras gue pengen deh liat leher sama pundak kamu” bisik Markus seraya mengecup pundak Laras dari luar baju dan jilbabnya..
A Laras yang sudah terbuai elusannya karuan saja tambah menjadi-jadi dengan kecupannya itu. Selama ini belum ada yang memperlakukan gadis alim itu seperti yang dilakukan Markus.
“Jangan Kus” namun Laras berusaha menolak.
“Kenapa Mbak Laras…, cuma pundak aja kan” tanpa perduli penolakan Laras Markus tetap saja mengecup, bahkan ciuman Markus semakin naik keleher Laras yang masih tertutup jilbabnya, disini Laras tidak lagi berusaha ‘jaim’.
“Kus.. ahh” desah Laras tak tertahan lagi.
“Enjoy aja Mbak Laras…” bisik Markus lagi, sambil mengecup dan menggigiti daun telinga Laras dari luar jilbabnya.
“Ohh Kus” Laras sudah tidak mampu lagi menahan, semua rasa yang terpendam sejak melihat ‘live show’, perlahan merayapi lagi tubuh Laras.
Laras hanya mampu tengadah merasakan kenikmatan mulut Markus di leher dan telinga Laras. Robert yang sedari tadi asik nonton melihat Laras seperti itu tidak tinggal diam, ia pun mulai turut melakukan hal yang sama. Pundak, leher dan telinga sebelah kiri Laras jadi sasaran mulutnya.

Melihat Laras sudah pasrah mereka semakin agresif. Tangan Markus semakin naik hingga akhirnya menyentuh memek gadis alim berjilbab lebar itu yang masih terbalut CD. Elusan-elusan di memeknya, remasan Robert di payudara Laras dan kehangatan mulut mereka dileher Laras membuat magma birahi Laras menggelegak sejadi-jadinya.
“Agghh.. Kuss.. Berthhh….. ohh.. sshh” desahan Laras bertambah keras.

jilbab semok akhwat montok (4)
Robert dengan tangkas menyibakkan jilbab lebar Laras dan menyampirkannya ke bahunya, lalu membuka kancing2 baju dan bra Laras. Bukit kenyal 34b- Laras yang putih bersih menyembul, langsung dilahapnya dengan rakus. Markus juga beraksi memasukan tangannya kedalam CD meraba-raba memek Laras yang sudah basah oleh cairan pelicin. Laras jadi tak terkendali dengan serangan mereka tubuh Laras bergelinjang keras. Baju longgar dan jilbab lebar yangs elama ini ia pakai untuk menjaga dirinya dari para hidung belang sudah awut2an.

“Emmhh.. aahh.. ohh.. aagghh” desahan Laras berganti menjadi erangan-erangan. Sang gadis alim itu sudah tak lagi mampu menahan gejolak birahinya. Suara desahan birahinya mengisi keheningan lapangan ditengah hutan itu.

Mereka melucuti seluruh penutup tubuh Laras kecuali jilbab biru langtnya dan kaus kaki putih bersih gadis alim itu. Tubuh sintal Laras dibaringkan dirumput beralas tikar dan mereka pun kembali menjarahnya. Robert melumat bibir Laras dengan bernafsu lidahnya menerobos kedalam rongga mulutnya, lidah mereka saling beraut, mengait dan menghisap dengan liarnya. Sementara Markus menjilat-jilat paha Laras lama kelamaan semakin naik.. naik.. dan akhirnya sampai di memeknya, lidahnya bergerak-gerak liar di klitorisnya, bersamaan dengan itu Robert pun sudah melumat payudaranya, puting Laras yang kemerah-merahan jadi bulan-bulanan bibir dan lidahnya.

Diperlakukan seperti itu membuat Laras kehilangan kesadaran, tubuh Laras bagai terbang diawang- awang, terlena dibawah kenikmatan hisapan-hisapan mereka. Mata sang gadis alim itu terbalik sampai hanya terlihat ptihnya, terlihat sangat erotis dengan jilbab yang masih ia kenakan. Laras mulai meremas2 punggung Robert sambil meracau tak karuan, meminta mereka untuk tidak berhenti melakukannya.
“Aaahh.. Kuss.. Berthhh….. teruss.. sshh.. enakk sekalii”
“Nikmatin Mbak Laras….. nanti bakal lebih lagi” bisik Robert seraya menjilat dalam-dalam telinga Laras dari luar jilbabnya..
Mendengar kata ‘lebih lagi’ Laras seperti tersihir, menjadi hiperaktif pinggul Laras angkat-angkat, seolah ingin Markus melakukan lebih dari sekedar menjilat, ia memahami, disantapnya memek Laras dengan menyedot-nyedot gundukan daging yang semakin basah oleh ludahnya dan cairan Laras. Tidak berapa lama kemudian Laras merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, tubuh putih gadis alim itu menegang, Laras peluk Robert-yang sedang menikmati puting susu-dengan kuatnya.

jilbab semok akhwat montok (6)
“Aaagghh.. Kuss.. Berthhh….. akuu.. oohh” jerit Laras keras, dan merasakan hentak-hentakan kenikmatan didalam memek Laras. Tubuh mahasiswi yang biasanya selalu menjaga dirinya dengan baju longgar dan jilbab lebar itu menggeleppar2 lalu melemas.. lungai.

Markus dan Robert menyudahi ‘hidangan’ pembukanya, dibiarkan tubuh Laras beristirahat dalam kepolosan, sambil memejamkan mata Laras ingat-ingat apa yang baru saja Laras alami. Permainan Robert di payudara dan Markus di memek Laras yang menyebarkan kenikmatan yang belum pernah Laras alami sebelumnya, dan hal itu telah kembali menimbulkan getar-getar birahi diseluruh tubuh Laras. Laras semakin tenggelam saja dalam bayang-bayang yang menghanyutkan, dan tiba-tiba Laras rasakan hembusan nafas ditelinga Laras dan rasa tidak asing lagi.. hangat basah.. Ahh.. bibir dan lidah Robert mulai lagi, tapi kali ini tubuh Laras seperti di gelitiki ribuan semut, ternyata Robert sudah polos dan bulu-bulu lebat di tangan dan dadanya menggelitiki tubuh Laras. Begitupun Markus sudah bugil, ia membuka kedua paha Laras lebar-lebar dengan kepala sudah berada diantaranya.

Mata Laras terpejam, Laras sadar betul apa yang akan terjadi, kali ini mereka akan menjadikan tubuh Laras sebagai ‘hidangan’ utama. Gadis alim itu sudah pasrah dengan apa yang terjadi. Gairah Laras bangkit merasakan lidah Markus menjalar dibibir kemaluannya, ditambah lagi Robert yang dengan lahapnya menghisap-hisap puting Laras membuat tubuh Laras mengeliat-geliat merasakan geli dan nikmat dikedua titik sensitif tubuh Laras.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

“Aaahh.. Kuss.. Berthhh….. nngghh.. aaghh” rintih Laras tak tertahankan lagi.
Markus kemudian mengganjal pinggul Laras dengan gulungan tikar sehingga pantat Laras menjadi terangkat, lalu kembali lidahnya bermain dikemaluan Laras. Kali ini ujung lidahnya sampai masuk kedalam liang kenikmatannya, bergerak-gerak liar diantara kemaluan dan anus, seluruh tubuh Laras bagai tersengat aliran listrik Laras hilang kendali. Gadis manis berjilbab itu merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Lalu Laras rasakan sesuatu yang hangat keras berada dibibir Laras.. kontol Robert! Laras mengeleng-gelengkan kepala menolak keinginannya, tapi Robert tidak menggubrisnya ia malah manahan kepala Laras dengan tangannya agar tidak bergerak.

“Jilat.. Mbak Laras…” perintahnya tegas.
Gadis alim berdada sekal itu tidak lagi bisa menolak, Laras jilat batangnya yang besar dan sudah keras membatu itu, Robert mendesah-desah merasakan jilatan Laras.
“Aaahh.. Mbak Laras…r.. jilat terus.. nngghh” desah Robert.
“Jilat kepalanya Mbak Laras…” Laras menuruti permintaannya yang tak mungkin Laras tolak.
Lama kelamaan Laras mulai terbiasa dan dapat merasakan juga enaknya menjilat-jilat batang kontol itu, lidah Laras berputar dikepala kemaluannya membuat Robert mendesis desis.
“Ssshh.. nikmat sekali Mbak Laras…r.. isep sayangg.. isep” pintanya diselah-selah desisannya.

Laras tak tahu harus berbuat bagaimana, Laras ikuti saja apa yg pernah Laras lihat di film, kepala kontolnya pertama-tama Laras masukan kedalam mulut, Robert meringis.
“Jangan pake gigi Mbak Laras….. isep aja” protesnya, Laras coba lagi, kali ini Robert mendesis nikmat.
“Ya.. gitu sayang.. sshh.. enak.. Mbak Laras…”
Melihat Robert saat itu membuat Laras turut larut dalam kenikmatannya, apalagi ketika sebagian kontolnya melesak masuk menyentuh langit-langit mulutnya, belum lagi kenakalan lidah Markus yang tiada henti-hentinya menggerayangi setiap sudut kemaluan Laras. Tubuh mahasiswi berjilbab lebar itu sudah terkunci, dirangsang atas dan bawahnya. Laras semakin terombang-ambing dalam gelombang samudra birahi yang melanda tubuhnya, Laras bahkan tidak malu lagi mengocok-ngocok kontol Robert yang separuhnya berada dalam mulut Laras.

Beberapa saat kemudian Robert mempercepat gerakan pinggulnya dan menekan lebih dalam batang kemaluannya, tangan Laras tak mampu menahan laju masuknya kedalam mulut Laras. Laras menjadi gelagapan, Laras geleng-gelengkan kepala Laras hendak melepaskan benda panjang itu tapi malah berakibat sebaliknya, gelengan kepala Laras membuat kemaluannya seperti dikocok-kocok. Robert bertambah beringas mengeluar-masukan batangnya dan..
“Aaagghh.. nikmatt.. Mbak Laras…aa…aakkuuuhh.. kkeelluaarr” jerit Robert, air maninya menyembur-nyembur keras didalam mulut Laras membuat Laras tersedak, sebagian meluncur ke tenggorokan Laras sebagian lagi tercecer keluar dari mulut Laras, menetes turun membasahi jilbab biru langit laras. Laras sampai terbatuk-batuk dan meludah-ludah membuang sisa yang masih ada dimulut Laras. Gadis alim itu shock dengan apa yang terjadi.

Belum Laras pulih dari syoknya, Markus merebahkan tubuh Laras kembali dilantai beralas karpet, kali ini dada Laras dilahapnya puting yang satu dihisap-hisap satunya lagi dipilin-pilin oleh jari-jarinya. Dari dada kiri Laras tangannya melesat turun ke memeknya, dielus-elusnya kelentit dan bibir kemaluan Laras. Birahi gadis alim itu kembali mennggi. Tubuh Laras langsung mengeliat-geliat merasakan kenakalan jari-jari Markus.
“Ooohh.. mmppff.. ngghh.. sshh” desis Laras tak tertahan.
“mmmhh….Kuss.. aakkhh”
Laras menjadi lebih menggila waktu Markus mulai memainkan lagi lidahnya di kemaluannya, seakan kurang lengkap kenikmatan yang Laras rasakan, kedua tangan Laras meremas-remas payudara Laras sendiri. Gadis alim itu sudah total terbakar api birahi nista.
“Ssshh.. nikmat Kuss.. mmpphh” desahan Laras semakin menjadi-jadi.
Tak lama kemudian Markus merayap naik keatas tubuh Laras, sambil mengelap keringat yang muncul diwajah Laras dengan jilbab yang masih Laras pakai, lalu merapikannya. “ternyata emang kamu lebih cantik dan seksi kalo pake jilbab, mbak laras…jadi gak sabar pengen ngentot kamu.” Kata Markus. Terlihat binar birahi dimatanya. Gadis berjilbab itu pasrah menanti apa yang akan terjadi. Markus membuka lebih lebar kedua kaki Laras, dan kemudian gadis alim itu merasakan ujung kontol Markus menyentuh mulut memek Laras yang sudah basah oleh cairan cinta.

“Aauugghh.. Kuss.. jangaann..saakiitt…pelann..” jerit Laras lirih, saat kepala kontolnya melesak masuk kedalam rongga kemaluan Laras.
Markus menghentikan dorongannya, sesaat ia mendiamkan kepala kemaluannya dalam kehangatan liang memek Laras. Kemudian-masih sebatas ujungnya-secara perlahan ia mulai memundur-majukannya. Sesuatu dulu pernah Laras rasakan kembali menjalar dari gesekan itu keseluruh tubuh Laras. Rasa geli, enak dan entah apalagi berbaur ditubuh Laras membuat pinggul gadis alim itu mengeliat-geliat mengikuti tusukan-tusukan Markus.
“Ooohh.. Kuss.. sshh.. aahh.. Kuss..mmhh..” desah Laras lirih.
Laras benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang luar biasa akibat gesekan-gesekan di mulut memek Laras. Mata Laras terpejam-pejam kadang Laras gigit bibir bawah Laras seraya mendesis.
“Enak.. nggaakk..mbaakk…Laraass..” tanya Markus berbisik.
“He ehh Kuss.. oohh enakk.. Kuss.. sshh”
“Nikmatin mbaakk.. nanti lebih enak lagi” bisiknya lagi.
“Ooohh.. Kuss.. ngghh”

jilbab semok akhwat montok (7)

Markus terus mengayunkan pinggulnya turun-naik-tetap sebatas ujung kontolnya-dengan ritme yang semakin cepat. Selagi Laras terayun-ayun dalam buaian birahi, tiba-tiba Markus menekan kontolnya lebih dalam membelah memek Laras.
“Auuhh.. sakitt Kuss” jerit Laras. Markus menghentikan tekanannya.
“nanti juga hilang kok sakitnya” bisik Markus seraya menjilat dan menghisap telinga Laras tetap dari luar jilbabnya. Rupanya memang Markus dan Robert sengaja tidak melepas jilbab Laras, karena membuat Laras semakin nampak Innocent, sehingga menambah gairah dua pejantan dari indonesia timur itu untuk menggauli sang gadis alim.

Entah bujukannya atau karena geliat liar lidahnya, yang pasti Laras mulai merasakan nikmatnya milik Markus yang keras dan hangat didalam rongga kemaluan Laras.

Markus kemudian menekan lebih dalam lagi, membenamkan seluruh batang kemaluannya dan mengeluar-masukannya. Gesekan kontolnya dirongga memek Laras menimbulkan sensasi yang luar biasa! Setiap tusukan dan tarikannya membuat gadis alim itu menggelepar-gelepar. Jilbabnya sudah kembali awut2an.
“Ssshh.. ohh.. ahh.. enakk Kuss.. empphh” desah Laras tak tertahan.
“Ohh.. Mbak Laras…r.. bener-bener enak banget memek kamu.. oohh..tebell..oouuhh..” puji Markus diantara lenguhannya.
“Agghh.. terus Kuss.. teruss” Laras meracau tak karuan merasakan nikmatnya hujaman-hujaman kontol Markus di kemaluan Laras.
Peluh-peluh birahi mulai membanjir membasahi tubuh. Jeritan, desahan dan lenguhan mewarnai pergumulan mereka. Menit demi menit kontol Markus menebar kenikmatan ditubuh Laras. Magma birahi semakin menggelegak sampai akhirnya tubuh Laras tak lagi mampu menahan letupannya.
“Markusi.. oohh.. tekan Kuss.. agghh.. nikmat sekali Kuss” jeritan dan erangan panjang yang jalang terlepas dari mulut Laras.
Tubuh Laras mengejang, Laras secara refleks memeluk Markus erat-erat, magma birahi Laras meledak, mengeluarkan cairan kenikmatan yang membanjiri relung-relung memek Laras.

jilbab semok akhwat montok (21)

Tubuh Laras terkulai lemas, tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian Markus mulai lagi memacu gairahnya, hisapan dan remasan didada Laras serta pinggulnya yang berputar kembali membangkitkan birahi gadis alim yang montok itu. Lagi-lagi tubuh Laras dibuat mengelepar-gelepar terayun dalam kenikmatan duniawi. Tubuh Laras dibolak-balik bagai daging panggang, setiap posisi memberikan sensasi yang berbeda. Entah berapa kali memek Laras berdenyut-denyut mencapai klimaks tapi Markus sepertinya belum ingin berhenti menjarah tubuh Laras. Selagi posisi Laras di atas Markus, Robert yang sedari tadi hanya menonton serta merta menghampiri mereka, dengan berlutut ia memeluk Laras dari belakang. Leher Laras dipagutnya seraya kedua tangannya memainkan buah dada Laras. Apalagi ketika tangannya mulai bermain-main diklitoris Laras membuat Laras menjadi tambah meradang.

Kepala Laras yang masih terbalut jilbab bersandar pada pundak Robert, mulut Laras yang tak henti-hentinya mengeluarkan desahan dan lenguhan langsung dilumat oleh Robert. Pagutan Robert Laras balas, mereka saling melumat, menghisap dan bertukar lidah. Pinggul Laras semakin bergoyang berputar, mundur dan maju dengan liarnya. Laras begitu menginginkan kontol Markus mengaduk-aduk seluruh isi rongga memek Laras yang meminta lebih dan lebih lagi.
“Aaargghh.. Mbak Laras…r.. enak banget.. terus Mbak Laras….. goyang terus” erang Markus.
Erangan Markus membuat gejolak birahi Laras semakin menjadi-jadi, Laras remas buah dada Laras sendiri yang ditinggalkan tangan Robert.. Ohh Laras sungguh menikmati semua ini.

jilbab semok akhwat montok (20)

Robert yang merasa kurang puas meminta merubah posisi. Markus duduk dengan kaki dibentangkan ditikar, Laraspun diperintahkan merangkak kearah batang kemaluannya.
“Isep Mbak Laras…” perintah Markus, segera Laras lumat kontolnya dengan rakus.
“Ooohh.. enak Mbak Laras….. isep terus…aah…emang enak banget emutan cewek jilbab…aaahh..”
Bersamaan dengan itu Laras rasakan Robert menggesek-gesek bibir kemaluan Laras dengan kepala kontolnya. Tubuh Laras bergetar hebat, saat batang kemaluan Robert-yang satu setengah kali lebih besar dari milik Markus-dengan perlahan menyeruak menembus bibir kemaluan gadis berjilbab itu dan terbenam didalamnya. Tusukan-tusukan kontol Robert serasa membakar tubuh, birahi Laras kembali menggeliat keras. Gadis yang biasanya alim itu kini menjadi sangat binal merasakan sensasi erotis dua batang kontol didalam tubuh Laras. Batang kemaluan Markus Laras lumat dengan sangat bernafsu. Kesadaran Laras hilang sudah. Naluri birahi gadis alim itu yang menuntun melakukan semua itu.

“Rasr.. terus Mbak Laras…r.. gue ngga tahan lagi.. Aaarrgghh” erang Markus.
Laras tahu Markus akan segera menumpahkan cairan kenikmatannya dimulutnya, Laras lebih siap kali ini. Selang berapa saat Laras rasakan semburan-semburan hangat sperma Markus.

jilbab semok akhwat montok (8)
“Aaagghh.. nikmat banget Mbak Laras…r.. isep teruss.. telan Mbak Laras…r” jerit Markus, lagi-lagi naluri Laras menuntun agar Laras mengikuti permintaan Markus, Laras hisap kontolya yang menyemburkan cairan hangat dan.. gadis alim itu menelan cairan itu. Aneh! Entah karena rasanya, atau sensasi sexual karena melihat Markus yang mencapai klimaks, yang pasti Laras sangat menyukai cairan itu. Laras lumat terus itu hingga tetes terakhir dan benda keras itu mengecil.. lemas.

Markus beranjak meninggalkan Laras dan Robert untuk beristirahat sebentar. meski begitu, laras belum bisa istirahat. hujaman-hujaman kemaluan Robert yang begitu bernafsu dalam posisi ‘doggy’ dapat membuat Laras kembali merintih-rintih. Apalagi ditambah dengan elusan-elusan Ibu jarinya dianus Laras. Bukan hanya itu, setelah diludahi Robert bahkan memasukan Ibu jarinya ke lubang anus gadis alim itu. Sodokan-sodokan dimemek Laras dan Ibu jarinya dilubang anus membuat gadis berjilbab lebar itu mengerang-erang.
“Ssshh.. engghh.. yang keras Berthhh….. mmpphh”
“Enak banget Berthhh….. aahh.. oohh”
Mendengar erangan jalang Laras Robert tambah bersemangat menggedor kedua lubangnya, Ibu jarinya Laras rasakan tambah dalam menembus anusnya, membuat Laras tambah lupa daratan. Jilbab biru langtnya sudah semakin basah oleh keringat birahinya.

Sedang asiknya menikmati, Robert mencabut kontol dan Ibu jarinya.
“Roberti.. kenapa dicabutt” protes Laras.
“Masukin lagi Bert.. ” pinta gadis alim montok menghiba.
Sebagai jawaban Laras hanya merasakan ludah Robert berceceran di lubang anusnya, tapi kali ini lebih banyak. Laras masih belum mengerti apa yang akan dilakukannya. Saat Robert mulai menggosok kepala kontolnya dilubang anus baru Laras sadar apa yang akan dilakukannya.
“Roberti.. pleasee.. jangan disitu” Laras menghiba meminta Robert jangan melakukannya.
Robert tidak menggubris, tetap saja digosok-gosokannya, ada rasa geli-geli enak kala ia melakukan hal itu. Dibantu dengan sodokan jarinya dikemaluan Laras hilang sudah protes gadis alim itu. Tiba-tiba Laras rasakan kepala kemaluannya sudah menembus anus Laras. Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit batang kenikmatannya membelah anus Laras dan tenggelam habis didalamnya.

“Aduhh sakitt Berthhh….. akhh..!” keluh Laras pasrah karena rasanya mustahil menghentikan Robert.
“Rileks Mbak Laras….. seperti tadi, nanti juga hilang sakitnya” bujuknya seraya mencium punggung dan satu tangannya lagi mengelus-elus klitoris Laras.
Separuh tubuh Laras yang tengkurap diatas gulungan tikar sedikit membantunya, dengan begitu memudahkan Laras untuk mencengram dan mengigit tikar itu untuk mengurangi rasa sakit. Berangsur-angsur rasa sakit itu hilang, Laras bahkan mulai menyukai batang keras Robert yang menyodok-nyodok anus Laras. Perlahan-lahan perasaan nikmat mulai menjalar disekujur tubuh Laras. Gadis alim itu mulai merem melek keenakan, disodomi oleh orang papua diatas tikar ditengah hutan, dibawah sinar bulan dan cahaya api unggun.
“Aaahh.. aauuhh.. oohh Berthhh…” erang-erangan birahi Laras mewarnai setiap sodokan kontol Robert yang besar itu.
Robert dengan buasnya menghentak-hentakan pinggulnya. Semakin keras Robert menghujamkan kontolya semakin gadis alim itu terbuai dalam kenikmatan.

Markus yang sudah pulih dari ‘istirahat’nya tidak ingin hanya menonton, ia kembali bergabung. Membayangkan akan dijarah lagi oleh mereka menaikan tensi gairah Laras. Atas inisiatif Markus mereka b erhenti dan mengatur posisi, jantung Laras berdebar-debar menanti permainan mereka. Markus merebahkan diri terlentang ditikar dengan kepala beralas gulungan tikar, tubuh Laras ditarik menindihinya. Sambil mencengkeram bagian belakang kepala laras yang masih terbalut jilbab, ia melumat mulut Laras, yang segera Laras balas dengan bernafsu. ia membuka lebar kedua paha Laras dan langsung menancapkan kemaluannya kedalam memek Laras.
“mmhhhh….” Gadis alim itu hanya bisa mendesah pasrah ketika memeknya kembali ditembus kontol hitam. Robert yang berada dibelakang membuka belahan pantat Laras dan meludahi lubang anus Laras. Menyadari apa yang akan mereka lakukan menimbulkan getaran birahi yang tak terkendali ditubuh Laras. Sensasi sexual yang luar bisa hebat Laras rasakan saat kontol mereka yang keras mengaduk-aduk rongga memek dan anus Laras. Hentakan-hentakan milik mereka dikedua lubang Laras memberi kenikmatan yang tak terperikan.

Robert yang sudah lelah berlutut meminta merubah posisi, ia mengambil posisi tiduran, tubuh Laras terlentang diatasnya, kontolnya tetap berada didalam anus Laras. Markus langsung membuka lebar-lebar kaki Laras dan menghujamkan kontolnya dikemaluan Laras yang terpampang menganga. Posisi ini membuat Laras semakin menggila, karena bukan hanya kedua lubang Laras yang digarap mereka tapi juga payudara Laras. Robert dengan mudahnya memagut leher Laras dan satu tangannya meremas buah dadanya, Markus melengkapinya dengan menghisap puting buah dada Laras satunya. Laras sudah tidak mampu lagi menahan deraan kenikmatan demi kenikmatan yang menghantam sekujur tubuh Laras. Hantaman-hantaman Markus yang semakin buas dibarengi sodokan Robert, sungguh tak terperikan rasanya. Hingga akhirnya Laras rasakan sesuatu didalam memek Laras akan meledak, keliaran Laras menjadi-jadi.

“Aaagghh.. ouuhh.. Kuss.. Berthhh….. tekaann” jerit dan erang Laras tak karuan.
Dan tak berapa lama kemudian tubuh Laras serasa melayang, Laras cengram pinggul Markus kuat-kuat, Laras tarik agar batangnya menghujam keras dikemaluannya, seketika semuanya menjadi gelap pekat. Jeritannya, lenguhan dan erangan mereka menjadi satu.
“Aduuhh.. Kuss.. Berthhh….. nikmat sekalii”
“Aaarrghh.. Mbak Laras…r.. enakk bangeett”
Keduanya menekan dalam-dalam milik mereka, cairan hangat menyembur hampir bersamaan dikedua lubang Laras. Tubuh gadis alim itu bergetar keras didera kenikmatan yang amat sangat dahsyat, tubuh Laras mengejang berbarengan dengan hentakan-hentakan dimemek Laras dan akhirnya mereka.. terkulai lemas.

jilbab semok akhwat montok (9)

Sepanjang malam tak henti-hentinya mereka menggilir Laras. Ketika kemudian william dan jannah kembali, mereka melakukan pesta seks. Pesta seks dengan peserta tiga orang hitam dari bagian timur indonesia yang memperkosa dan menggilir dua orang gadis berjilbab yang berkulit putih, yang terus mendesah, mengerang dan menjerit, terhanyut dalam kenikmatan. Desahan dan jeritan kenikmatan mereka mengisi hutan. pesta seks dengan dua orang gadis alim berjilbab besar itu selesai pagi hari, dan ketiga koboy kampus itu mengembalikan kedua gadis alim kampus yang sudah sangat lemas itu kekost mereka masing2.

………..

Suatu hari, nampak Laras sedang duduk ruang tamu rumah kostnya. Sebenarnya, rumah itu bukanlah rumah kost, namun sebuah rumah kontrakan dengan satu ruang depan, ruang tamu dan tiga kamar. Rumah kontrakan itu disewa oleh Laras dan dua orang rekannya, Rika dan Tata. Sama seperti Laras, Rika dan Tata juga mahasiswi yang selalu memakai jilbab lebar dan baju longgar, yang juga aktifis di kampus. namun berbeda dengan Laras, Rika dan Tata adalah mahasiswi baru yang baru menginjak semester 2.

Hari itu, laras sedang sendirian di kontrakan. Tata sedang pulang kampung di Temanggung karena urusan keluarga, sementara Rika belum pulang dari kampus. Suasana rumah yang sepi membuat Laras mengingat kembali peristiwa yang menimpanya beberapa hari yang lalu, yaitu perkosaan yang terjadi padanya. Ia tidak menceritakan peristiwa itu pada teman2nya, satu karena ia takut, satu lagi karena ia malu kalau ketahuan bahwa ia juga menikmati perkosaan itu. Bahkan, saat rumah dalam keadaan sepi seperti sore itu, perasaan birahi dan rindu memeknya disodok kontol-kontol besar kembali datang. Ternyata tanpa Laras sadari, ia telah ketagihan seks. Namun Laras berusaha mengusir perasaan itu dengan menonton tivi diruang tengah.

Ditengah2 menonton tivi, tiba2 gadis alim itu mendengar pintu diketuk. Pasti bukan Rika, karena Rika membawa kunci cadangan. Segera Laras memakai jilbabnya dan keruang depan untuk membuka pintu.

“selamat sore Mbak Laras…” william berdiri didepan pintu dengan senyum yang lebar. “mau apa kamu?!” bentak Laras. “cuman mau main mbak… masak nggak boleh. Gak usah galak-galak gitu donk.” Kata William. Laras sudah hendak membanting pintu, namun langsung ditahan oleh William. “aku punya fotomu ho mbak, masak mau temen2 dikampus tahu semua…” kata William. Laras langsung pucat pasi. Tubuhnya gemetar karena marah. Namun ia menyerah. Akhirnya gadis alim berjilbab itu pelan2 membuka pintu, lalu William masuk.

“lagi ngapa mbak?” tanya william setelah duduk disofa diruang depan. Laras tidak menyaut, namun hanya berdiri. “mau apa kamu kesini?” tanya Laras ketus, meskipun terbersit ingatan tentang memeknya yang disodok2 William dan teman2nya. “ya cuman main, mbak. Kali aja mbak rindu sama saya. Or sama kontol besar saya.” Kata William, menyeringai sambil meremas2 selangkangannya sendiri. Laras melotot. Gadis alim berjilbab itu marah, namun memeknya terasa basah tanpa ia bisa menghambatnya.

“Sendirian mbak? Teman2nya pada dimana?” tanya laki-laki dari ambon itu. “pergi.” Kata Laras pendek. William tersenyum lebar. “marah ya mbak, saya lama gak kesini? Memeknya rindu disodok2 kontol saya yah? Wah, saya jadi kepingin nih. Mbak tambah cantik aja kayaknya.” Kata William. Laras hanya bis amemandang marah tanpa bisa berkata apa-apa. Terasa memeknya semakin basah. Kata-kata kotor William merangsangnya.

“sebelumnya boleh saya minta minum mbak?” kata William masih sambil menyeringai. Laras kembali memandang William dengan tatapan marah. Namun mahasiswi aktifis berjilbab itu akhirnya beranjak kedalam, mengambilkan minum bagi tamunya.

Ketika sudah didalam, ia baru sadar kalau william ikut masuk kedalam. Ketika gadis montok berjilbab itu berbalik, ia melihat william ada dibelakangnya. “saya pengen minum susu mbak. Susunya mbak. Enak dikenyot-kenyot.” Kata william lagi.

“Jangan ngelunjak Will… Sana cepet keluar!” hardik Laras dengan telunjuk mengarah ke pintu.

Bukannya menuruti perintah Laras, William malah melangkah mendekati Laras, tatapan mata William tajam seolah menembus baju ungu kaos longgar ungu muda, rok hitam dan jilbab lebar hitam yang dipakai oleh gadis lugu montok yang alim itu.

“William… Saya bilang keluar… Jangan maksa!” bentak Laras lagi.

“Ayolah Mbak Laras, cuma sebentar saja kok… Aku sudah kebelet nih, lagian masa Mbak Laras nggak kepingin sih, disodok2 kontol saya. Dulu itu mbak keenakan.” ucap William sambil terus mendekat.

Wajah Laras merah padam. Memeknya terasa semakin basah. Namun gadis berjilbab itu terus mundur selangkah demi selangkah menghindari William, jantung Laras semakin berdebar-debar. Perasaanya campur aduk, antara tidak mau diperkosa lagi, tapi juga sulit menahan nafsu. Akhirnya kaki gadis alim itu tersandung oleh tepi kasur busa yang berada didepan tivi diruang tengah, Laras hingga Laras jatuh terduduk di sana. Kesempatan ini tidak disia-siakan William. Lelaki Ambon itu langsung menerkam dan menindih tubuh Laras. Gadis alim berwajah cantik itu menjerit tertahan dan meronta-ronta dalam himpitan William. Namun sepertinya reaksi Laras malah membuat William semakin bernafsu, William tertawa-tawa sambil menggerayangi tubuh Laras. Laras menggeleng-gelengkan kepala Laras yang terbungkus jilbab lebar hitam kesana kemari saat William hendak mencium Laras dan menggunakan tangan putihnya untuk menahan laju wajah William.

“Mmhh… Jangan Will… Laras nggak mau!” mohon gadis manis berjilbab itu.

Aneh memang, sebenarnya Laras bisa saja berteriak minta tolong, tapi tidak Laras lakukan. Nafsu birahinya menahan gadis cantik berjilbab berwajah putih bersih itu untuk berteriak, ia hanya bisa merintih dan mengerang. Breettt… rok hitam Laras robek sedikit di bagian bawah dalam pergumulan yang tidak seimbang itu. William telah berhasil memegangi kedua lengan Laras dan direntangkannya ke atas kepala Laras. Gadis alim itu sudah benar-benar terkunci, hanya bisa menggelengkan kepalanya yang masih terbungkus jilbab hitam, itupun dengan mudah diatasi William. Bibir William yang tebal itu sekarang menempel di bibir Laras. Gadis manis alm berjilbab itu bisa merasakan kumis pendek yang kasar menggesek sekitar bibir Laras juga deru nafas William pada wajah Laras.

Kecapaian dan kalah tenaga membuat rontaan Laras melemah, mau tidak mau mahasiswi aktifis rohis dikampusnya itu harus mengikuti nafsunya. William merangsang Laras dengan mengulum bibir Laras, mata Laras terpejam, mengakui bahwa gadis montok alim itu menikmati cumbuan William. Lidah William terus mendorong-dorong memaksa ingin masuk ke mulut Laras. Mulut Laras pun pelan-pelan mulai terbuka membiarkan lidah William masuk dan bermain di dalamnya. Lidah Laras secara refleks beradu karena William selalu menyentil-nyentil lidah Laras seakan mengajaknya ikut menari. Suara desahan tertahan, deru nafas dan kecipak ludah terdengar jelas didalam ruangan berukuran 3X3 meter, disebuah kontrakan para gadis berjilbab itu.

jilbab semok akhwat montok (10)

Mata Laras yang terpejam terbuka ketika gadis alim itu merasakan tangan kasar William mengelusi paha mulusnya, dan terus mengelus menuju pangkal paha. Jari William menekan-nekan liang vagina Laras dan mengusap-ngusap belahan bibirnya dari luar. Birahi Laras naik dengan cepatnya, terpancar dari nafas gadis manis berjilbab itu yang makin tak teratur dan vagina Laras yang semakin becek.

Tangan William sudah menyingkap rok panjang hitam gadis alim itu, lalu menyusup ke balik celana dalam. Jari-jari William mengusap-usap permukaannya dan menemukan klitoris Laras. Benda seperti kacang itu dipencet-pencet dan digesekkan dengan jari William membuat Laras menggelinjang dan merem-melek menahan geli bercampur nikmat. Tangan gadis berjilbab itu sudah tidak berontak, namun merentang keatas kepala, meremas-remas kasur busa. Terlebih lagi ketika jari-jari lain William menyusup dan menyetuh dinding-dinding dalam liang aktifis dakwah kampus itu.

“Ooohhh… Mbak Laras Laras jadi tambah cantik saja kalau lagi konak gini!” ucap William sambil menatapi wajah Laras yang merona merah dengan matanya yang sayu karena sudah terangsang berat.

Lalu William tarik keluar tangannya dari celana dalam Laras. Jari-jarinya belepotan cairan bening dari vagina Laras.

“Mbak Laras cepet banget basahnya, ya. Lihat nih becek gini,” kata William memperlihatkan jarinya yang basah di depan wajah Laras yang lalu dijilatinya.

Kemudian dengan tangan yang satunya William sibakkan jilbab dan kaos longgar Laras sehingga payudara Laras yang memakai bra terbuka. Segera pula bra itu terlepas, dan teronggok dipinggir ruangan, membuat ppayudara putih sekal gadis manis alim itu terlihat jelas. Mata William melotot mengamat-ngamati dan mengelus payudara Laras yang berukuran 34B, dengan puting kemerahan serta kulitnya yang putih mulus.

“Nnngghhh… Will” desah Laras dengan mendongak ke belakang merasakan mulut William memagut payudara yang menggemaskan milik gadis alim itu.

Mulut William menjilat, mengisap, dan menggigit pelan putingnya. Sesekali Laras bergidik keenakan kalau kumis pendek William menggesek puting Laras yang sensitif. Tangan lain William turut bekerja pada payudara Laras yang sebelah dengan melakukan pijatan atau memainkan putingnya sehingga gadis cantik berjilbab lebar itu merasakan kedua benda sensitif itu semakin mengeras. Yang bisa Laras lakukan hanya mendesah dan merintih. Tangan putih mulusnya tak bisa berhenti meremasi kasur busa.

Puas menyusu dari Laras, mulut William perlahan-lahan turun mencium dan menjilati perut Laras yang rata dan terus berlanjut makin ke bawah sambil tangannya menyibakkan rok hitam gadis alim itu kepangkal paha, lalu menurunkan celana dalamnya. Sambil memeloroti William mengelusi paha putih mulus gadis montok berjilbab itu. CD itu akhirnya lepas melalui kaki kanan Laras yang William angkat, setelah itu William mengulum sejenak jempol kaki Laras dan juga menjilati kaki Laras. Darah Laras semakin bergolak oleh permainan William yang erotis itu. Selanjutnya William mengangkat kedua kaki Laras ke bahunya, badan gadis berjilbab itu setengah terangkat dengan selangkangan menghadap ke atas. Bajunya sudah awut2an, namun jilbabnya masih tetap saja terpasang.

Laras pasrah saja mengikuti posisi yang William inginkan karena dorongan nafsu Laras ingin menuntaskan birahi Laras ini. Tanpa membuang waktu lagi William melumat kemaluan Laras dengan rakusnya. Lidah William menyapu seluruh pelosok vagina Laras dari bibirnya, klitorisnya, hingga ke dinding di dalamnya, anus mahasiswi alim montok itu pun tidak luput dari jilatan William. Lidah William disentil-sentilkan pada klitoris Laras memberikan sensasi yang luar biasa pada daerah itu. Laras benar-benar tak terkontrol dibuatnya, mata Laras merem-melek dan berkunang-kunang, syaraf-syaraf vagina Laras mengirimkan rangsangan ini ke seluruh tubuh yang membuat Laras serasa menggigil.

“Ah… Aahh… Will… Nngghh… Terus!” erang Laras lebih panjang di puncak kenikmatan, gadis alim itu meremasi payudaraya sendiri sebagai ekspresi rasa nikmat.

William terus menyedot cairan yang keluar dari memek gadis alim berjilbab lebar itu dengan lahapnya. Tubuh Laras jadi bergetar seperti mau meledak. Kedua belah paha Laras semakin erat mengapit kepala William. Setelah puas menyantap hidangan pembuka berupa cairan cinta Laras, barulah William turunkan kaki Laras. Laras sempat beristirahat dengan menunggu William membuka baju, tapi itu tidak lama. Setelah William membuka baju, William langsung beraksi.

William dengan paksa melepaskan rok hitam Laras, lalu membentangkan kedua paha Laras dan mengambil posisi berlutut di antaranya. Bibir vagina Laras jadi ikut terbuka memancarkan warna merah merekah diantara bulu-bulu hitamnya, siap untuk menyambut yang akan memasukinya. Namun William tidak langsung mencoblosnya, terlebih dulu William gesek-gesekkan penisnya yang besar itu pada bibirnya untuk memancing birahi gadis alim bertubuh putih mulus itu agar naik lagi. Karena sudah tidak sabar ingin segera dicoblos, secara refleks Laras meraih batang itu, keras sekali benda itu waktu Laras genggam, panjang dan berurat lagi.

“Aaakkhh…!” erang Laras lirih sambil mengepalkan tangan erat-erat saat penis William melesak masuk ke dalam memek becek gads berjilbab yang montok itu.

jilbab semok akhwat montok (11)

“Aauuuhhh…!” Laras menjerit lebih keras dengan tubuh berkelejotan karena hentakan keras William hingga penis itu tertancap seluruhnya pada vagina Laras.

Dengan gerakan perlahan William menarik penisnya lalu ditekan ke dalam lagi seakan ingin menikmati dulu gesekan-gesekan pada himpitan lorong sempit yang bergerinjal-gerinjal itu. Gadis alim itu ikut menggoyangkan pinggul dan memainkan otot vaginanya mengimbangi sodokan William. Respon mahasiswi aktifis yang biasanya selalu menjaga pergaulannya itu membuat William semakin menggila, penisnya semakin lama menyodok semakin kasar saja. Kedua gunung Laras jadi ikut terguncang-guncang dengan kencang.

Laras merasakan selama menggenjot memeknya, otot-otot tubuh William mengeras, tubuhnya yang hitam kekar bercucuran keringat, sungguh macho sekali, pria sejati yang memberi Laras kenikmatan sejati. Suara desahan dan rintihan gadis montok berjilbab lebar itu bercampur baur dengan erangan jantan William dan derit ranjang. Butir-butir keringat nampak di sejukur tubuh Laras seperti embun, sampai kaosnya yang tersingkap juga jilbabnya basah oleh keringat.

“Uugghh… Mbak Laras Laras… Sayang… memek kamu emang enaakk… Oohh… Mbak Laras cewek paling cantik yang pernah Aku entotin,memek kamu juga tebel dan keset..” William memgumam tak karuan di tengah aktivitasnya.

Dia menurunkan tubuhnya hingga menindih Laras, Laras sambut dengan pelukan erat, kedua tungkai Laras Laras lingkarkan di pinggang William. William mendekatkan mulutnya bibir tipis yang indah milik Laras dan memagutnya. Sementara di bawah sana penis William makin gencar mengaduk-aduk vagina Laras, diselingi gerakan berputar yang membuat memek gadis alim montok itu terasa diaduk-aduk. Tubuh mereka sudah berlumuran keringat yang saling bercampur, Laras pun semakin erat memeluk William. Laras merintih makin tak karuan menyambut klimaks yang sudah mendekat bagaikan ombak besar yang akan menghantam pesisir pantai.

Namun begitu sudah di ambang klimaks, William menurunkan frekuensi genjotannya. Tanpa melepaskan penisnya, William bangkit mendudukkan dirinya, maka otomatis Laras sekarang diatas pangkuan William. Dengan posisi ini penis William menancap lebih dalam pada vagina Laras, semakin terasa pula otot dan uratnya yang seperti akar beringin itu menggesek dinding kemaluan Laras. Kembali gadis aktifis masjid di kampusnya itu menggoyangkan badannya, kini dengan gerakan naik-turun. Rintihannya semakin keras. William merem-melek keenakan dengan perlakuan Laras. Mulut William sibuk melumat payudara Laras kiri dan kanan secara bergantian membuat kedua benda itu penuh bekas gigitan dan air liur. Tangan William terus menjelajahi lekuk-lekuk tubuh Laras, mengelusi punggung, pantat, dan paha. Jilbab yang Laras kenakan semakin menaikkan birahi William.

Tak lama kemudian Laras kembali mendekati orgasme, maka gadis berjilbab lebar itu mempercepat goyangannya dan mempererat pelukannya. Hingga akhirnya mencapai suatu titik dimana tubuh Laras mengejang, detak jantung mengencang, dan pandangan agak kabur lalu disusul erangan panjang serta melelehnya cairan hangat dari vagina Laras. Saat itu William gigit puting Laras dengan cukup keras sehingga gelinjang gadis manis yang alim itu makin tak karuan oleh rasa perih bercampur nikmat. Ketika gelombang itu berangsur-angsur berlalu, goyangan Laras pun makin mereda, tubuh gadis berjilbab lebar itu seperti mati rasa dan roboh ke belakang tapi ditopang dengan lengan William yang kokoh.

Dia membiarkan Laras berbaring mengumpulkan tenaga sebentar. Diambilnya tempat minum di atas meja kecil sebelah ranjang Laras dan disodorkan ke mulut Laras. Beberapa teguk air membuat Laras lebih enakan dan tenaga Laras mulai pulih berangsur-angsur.

Tak lama kemudian Laras kembali mendekati orgasme, maka gadis berjilbab lebar itu mempercepat goyangannya dan mempererat pelukannya. Hingga akhirnya mencapai suatu titik dimana tubuh Laras mengejang, detak jantung mengencang, dan pandangan agak kabur lalu disusul erangan panjang serta melelehnya cairan hangat dari vagina Laras. Saat itu William gigit puting Laras dengan cukup keras sehingga gelinjang gadis manis yang alim itu makin tak karuan oleh rasa perih bercampur nikmat. Ketika gelombang itu berangsur-angsur berlalu, goyangan Laras pun makin mereda, tubuh gadis berjilbab lebar itu seperti mati rasa dan roboh ke belakang tapi ditopang dengan lengan William yang kokoh.

Dia membiarkan Laras berbaring mengumpulkan tenaga sebentar. Diambilnya tempat minum di atas meja kecil sebelah ranjang Laras dan disodorkan ke mulut Laras. Beberapa teguk air membuat Laras lebih enakan dan tenaga Laras mulai pulih berangsur-angsur.

Tiba-tiba, terdengar suara motor yang masuk kehalaman rmah kontrakan itu. “itu Rika!” Kata Laras yang langsung tergesa-gesa merapikan bajunya dan mengenakan roknya. Segera mereka berdua kembali keruang depan, duduk disofa berpura-pura tidak ada apa2.

“Assalamu alaikum…” Beberapa saat kemudian, Rika masuk. Laras dan William menjawabnya. “ada tamu ya mbak?” tanya Rika. Laras hanya mengangguk. “kenalkan, nama saya William.” Kata William sambil mengulurkan tangannya. Matanya jelalatan memandang Rika yang cantik dan ramping, yang memakai baju longgar putih, jilbab coklat muda dan rok yang berwarna sama dengan jilbabnya. Wajahnya manis dan putih, dengan bibir yang indah dan tipis. Rika tidak menyambut tangan William, namun langsung mengatupkan tangannya, :kenalkan, nama saya Rika.” Kata Rika. William langsung salah tingkah. “Mbak aku masuk dulu yah.” Kata Rika. Laras mengangguk. Kemudian Rika masuk. Tak berapa lama terdengar tivi diruang tengah didepan kasur busa yang tadi dipakai Laras dan William untuk bercinta terdengar dihidupkan. Ternyata Rika menonton tivi.

Beberapa saat, William mendekati Laras yang masih kepayahan. “Sudah segar lagi kan, Mbak Laras? Kita terusin lagi yuk!” sahut William senyum-senyum sambil mulai menggerayangi tubuh Laras kembali.

jilbab semok akhwat montok (12)

“jagan will..ntar Rika tahu..” kata Laras. “ya kita mainnya disini aja… diem-diem…” kata William sambil terus menggerayangi tubuh Laras. Tangan nakal William membuat Laras kembali mendesah. Kaki gadis berjilbab itu mulai terbuka. Namun William menginginkan gaya yang berbeda.

Kali ini tubuh Laras dibalikkan dalam posisi menungging telungkup diatas sofa. Kemudian William pelan2 menyibakkan rok hitam Laras, lalu mulai menciumi pantat Laras. Lidah William menelusuri vagina dan anus Laras memberi Laras sensasi geli. Kemudian Laras merasa William meludahi bagian dubur Laras, ya ketika gadis aktifis masjid kampus itu melihat ke belakang William memang sedang membuang ludahnya beberapa kali ke daerah itu, lalu digosok-gosokkan dengan jarinya. William mau main sodomi. Laras sudah lemas dulu membayangkan rasa sakitnya ditusuk kontol sebesar milik William pada daerah situ.

Benar saja yang Laras takutkan, setelah melicinkan daerah itu William bangkit lalu membuka retsleting celana jeansnya, mengeluarkan kontol besarnya, lalu dengan tangan kanan membimbing penisnya dan tangan kiri membuka anus Laras. Gadis alim itu meronta ingin menolak tapi segera dipegangi oleh William. “ssstt..jangan berontak..ntar Rika dengar..” bisik William ditelinga Laras.

“Jangan Will… Jangan disitu, sakit!” bisik Laras memohon, setengah meronta.

“Tenang Mbak Laras, nikmati saja dulu, ntar juga enak kok. Saya gak akan kasar. Dulu itu mbak juga keenakan khan?” bisik William.nafasnya terasa tersengal2, menahan gejolak birahi.

Gadis ayu berjilbab itu merintih tertahan sambil menggigit sofa menahan rasa perih akibat tusukan benda tumpul pada duburnya, yang lebih sempit dari vaginnya. Air mata Laras meleleh keluar.

“Aduuhh… Sudah Will… Laras nggak tahan,” rintih Laras yang tidak dihiraukannya.

“Uuhh… Sempit banget nih,” William berbisik mengomentari Laras dengan wajah meringis menahan nikmat.

Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya mentok juga penis William. William diamkan sebentar penisnya disana untuk beradaptasi sekalian menikmati jepitannya. Kesempatan ini juga dipakai gadis manis berjilbab itu untuk membiasakan diri dan mengambil nafas.

Laras menjerit kecil saat William mulai menghujamkan penisnya. Secara bertahap sodokan William bertambah kencang dan kasar sehingga tubuh gadis berjilbab itu pun ikut terhentak-hentak. Tangan William meraih kedua payudara Laras dari luar kaos dan jilbabnya dan diremas-remasnya dengan brutal. Keringat dan air mata Laras bercucuran akibat sensasi nikmat di tengah-tengah rasa perih dan ngilu, gadis manis berjilbab itu menangis bukan karena sedih, juga bukan karena benci, tapi karena rasa sakit bercampur nikmat. Rasa sakit itu Laras rasakan terutama pada dubur dan payudara, Laras mengaduh pelan setiap kali William mengirim hentakan dan remasan keras, namun gadis alim itu juga tidak rela William menyudahinya. Terkadang Laras harus menggigit bibir atau sofa untuk meredam jeritannya agar tidak keluar sampai keruang sebelah, dimana Rika ada disana.

Akhirnya ada sesuatu perasaan nikmat mengaliri tubuh Laras yang Laras ekspresikan dengan desahan panjang, ya Laras mengalami orgasme panjang dengan cara kasar seperti ini, tubuh gadis montok berjilbab itu menegang beberapa saat lamanya hingga akhirnya lemas seperti tak bertulang. William sendiri menyusul Laras tak lama kemudian, William menggeram dan makin mempercepat genjotannya. Kemudian dengan nafas masih memburu William mencabut penisnya dari Laras dan membalikkan tubuh gadis aktifis kampus berjilbab lebar itu lalu mengarahkan kontolnya kewajah cantk dan putih Laras. Sperma William muncrat, menyemprot dengan derasnya dan berceceran di wajah Laras, menetes sampai membasahi jilbab hitam Laras.

Tubuh Laras tergolek lemas disofa, sementara William duduk terengah-engah dikursi empuk sebelah sofa panjang. Ia barusaja menikmati tubuh seorang gadis alim berjilbab yang biasanya menjaga dirinya. Terlebih lagi, william menikmatinya dikontrakan sang gadis berjilbab itu sendiri, tanpa melepas bajunya, dan ada rekannya sesama gadis berjilbab diruang sebelah. Sebuah senssi yang membuat gairahnya semakin tinggi dan orgasmenyapun semakin kuat. Pelan2 Laras duduk dan mengambil tissue dimeja, lalu membersihkan wajahnya yang berlumuran sperma, juga jilbabnya. Kemudian dengan pelan ia beranjak masuk kedalam, sepertinya hendak ke kamar mandi. Sementara itu tivi yang ada diruang dalam tidak terdengar lagi suaranya.

Tiba-tiba ditengah kelelahannya, William ingat Rika, rekan Laras sesama gadis berjilbab lebar yang tadi masuk ke dalam. Kembali pikiran bejatnya penasaran,s eperti apa rasa memek sang gadis yang terlihat lugu tadi. Setelah tenaganya sedikit terkumpul, ia kembali masuk ke ruang tengah.

Diruang tengah, ia menjumpai ruangan itu kosong, dan televisi yang tadi menyala telah mati. Segera ia melirik ke dua kamar di debelah ruang tengah. Dikamar yang satu, lewat pintu yangs edikit terbuka ia melihat Larasl, berbaring menelungkup dikasur. Wajahnya terbenam dalam bantal, dengan jilbab, baju longgar dan rok panjang yang masih ia pakai. Nampaknya gadis alim montok itu menangis. William tidak peduli. Langsung ia berpaling ke pintu satunya, yang tertutup. Segera ia berjongkok untuk mengintip dari lubang kunci, dan ketika ia mengintip, terkejutlah ia teramat sangat. Birahi yang tadi telah lepas, kini kembali datang. Ia melihat Rika, gadis alim berjilbab yang wajahnya terlihat lugu itu tidur terlentang. Baju, jilbab, kaus kaki putih dan roknya masih ia pakai, namun roknya sudah tersingkap keatas, memperlihatkan pahanya yang putih mulus. Keterkejutan William ialah karena Rika, sang gadis cantik berjilbab itu sedang menyusupkan tangannya ke balik celana dalamnya dan meraba-raba memeknya sendiri.

Sesaat kemudian Rika melepaskan celana dalam putih berendanya, membuat William semakin terkesima melihat bentuk memek Rika yang indah, dihiasi bulu-bulu tipis. William merasakan nafsu birahi kembali bangkit, batang kemaluannya kembali mengeras. William terus mengintip. Tangannya turun ke kontolnya yang etrtutup celana jeans, dan mengelus2nya.

Detik-detik selanjutnya, gadis berjilbab itu kembali melanjutkan aktivitasnya. Tangannya meraba-raba bibir memeknya yang merah merekah, sambil mulutnya tak berhenti mendesah. Pemandangan selanjutnya semakin membuat perasaan William tak karuan. Dimana, Rika mencucuk-cucuk memeknya sendiri dengan irama yang semakin lama semakin cepat. Namun melihat sang gadis ayu berjilbab itu masturbasi tanpa melepas jilbab dan bajunya tetap membuat William semakin birahi.

jilbab semok akhwat montok (13)

“Akkhh.. oohh.. oughhtt.. ouhh.. akhh..” desahan dan rintihan yang keluar dari mulut Rika semakin keras, sampai suatu saat William melihat tubuh gadis alim itu terhentak-hentak, pantatnya terangkat dan tubuhnya mengejang beberapa saat untuk kemudian terkulai lemas dan tertidur. Rupanya Rika sudah mencapai orgasme, pikir William dalam hati.

William yang sedari tadi mengintip tak dapat lagi membendung nafsu birahinya yang kembali datang.s egera ia ingat pada Laras.

Dengan segera William masuk kek amar Laras, dan menindih Laras. Laras yang terkejut tidak mampu berbuat apa-apa. “wil… udahhh…ampuuunnn… jangaaann… aku capeeeek…” rintih Laras sambil terisak-isak, namun William tidak peduli. Segera william bangkit dan menarik pantat gadis montok berjilbab itu kebelakang sehingga posisi Laras sekarang agak menungging. Laras yang sudah lemas tidak mampu berontak, kecuali hanya terisak dan merintih memohon ampun yang tidak digubris oleh William. Gadis berjilbab itu menjerit tertahan ketika william menyingkap rok panjangnya keatas dan memelorotkan celana dalamnya. Beberapa saat kemudian terasa sebuah benda hangat yang besar kembali menyeruak masuk lubang memeknya. Dengan amat bernafsu setelah melihat Rika, agdis berjilbab rekan Laras masturbasi, William melampiaskan birahinya dengan kembali memperkosa memek Laras. disodoknya memek Laras dari belakang.

“Ohh.. Mbak Laras.. Ooh.. Oohh.. Oohh.. Mbak Laraaashhngg”, William meracau histeris sambil memacu kontolnya menembusi memek gadis alim itu dengan cepat dan bertenaga.

Berkecipak-kecipak suara memek Laras dihajar kontol William yang masih kokoh dan tegang itu. Tangan kekarnya kadang menepuk pantat bahenol dan padat Laras sampai merah kulitnya, gadis alim itu meringis-ringis antara perih dan nikmat yang mulai kembali menjalar dari memeknya keseluruh tubuhnya. “Aauughh.. Aaugghh.. Eehhmggh..”, Laras mulai bergairah kembali. Gadis alim itu mulai kembali tenggelam dalam birahi, diperkosa untuk kesekian kalinya dikamar kontrakannya olehs eorang asal indonesia timur. Kepalanya yang masih memakai jilbab ia benamkan kebantal, meredam desahan dan erangan nikmatnya.

Memek Laras berdenyut-denyut menyekap kontol William sehingga dari mulut William mencerocos erang-erangan kenikmatan. “Emmppoott.. Mbak Laraaashhngghh.. Ennaakk.. Bbanngeet.. Adduuhh.. Heehghh..”, semakin liar sodokan William, sampai pantat Laras merah-merah karena hantaman-hantaman paha William.

Kontol diayun untuk menyodok sedalam-dalamnya. Keduanya tercerai dari kesadaran kembali. Erangan dan ceracau terlontar di luar kendali akal. Kemudian dengan kasar Laras ditelentangkan dan diangkat satu kakinya yang kanan dan dipegangi. Lurus ke atas. William mendekatkan kontolnya kembali, dengan tubuh tegak sejajar kaki kanan Laras, William memajukan dan menghujamkan kontolnya lalu mulai mengayuh kembali. Laras sang gadis berjilbab itu memejamkan matanya rapat0rapat. Bibirnya ia gigit, seolah menahan erangan nikmat yang akan keluar. Tidak berhasil, karena masih etrdengar dengusan nafas birahi dan desahannya yang erotis.

Keduanya berpacu kembali, berliter-liter keringat telah membanjir keluar dari tubuh keduanya sampai baju yang masih mereka pakai basah kuyup. Tangan william merambat keatas, meremas kasar tetek Laras sambil terus menggenjot memek gadis alim montok itu dengan ganas. Hunjaman-hunjaman kontolnya kuat dan menyentak, membuat Laras merasakan kenikmatan yang sangat dalam perkosaannya. Matanya hanya membeliak-beliak dengan erangan-erangan yang sudah semakin menghilang.

“Oohggh.. Aaghh.. Eegh.. Eeghh.. Eeghh.. Maauuhh.. Nyampaihh.. Mbak Laraaashhnngghh.”

Laras tidak sempat menanggapi lagi karena dia sudah mencapai orgasmenya. kenikmatan kali ini yang dia rasakan sudah tak terukur. keduanya memekik tertahan, takut ketahuan oleh Nuruk yang tertidur dikamar sebelah.

“Aahh!!”.

Keduanya melengkungkan tubuh masing-masing ingin saling memasuki, William mencoba menembuskan kontolnya sampai ke tempat terdalam milik Laras, gadis alim itu terlihat seolah ingin mencakup seluruh milih William. Keduanya melipat dan saling mengatupkan dirinya dengan kuat-kuat ingin berpadu tak teruraikan.

jilbab semok akhwat montok (14)

Setelah beberapa saat menumpahkan spermanya ke memek Laras, William berbaring terlentang disamping Laras, kehabisan tenaga. Isak tangis Laras sudah tak terdengar. Gaids alim itu sepertinya sudah tak punya tenaga lagi juga. Beberapa saat istirahat, William kembali merapikan bajunya, dan beranjak pergi. Tidak lupa ia mengambil gambar Laras yang sedang tertidur dengan bagian bawah terbuka lebar. William tahu itu berguna suatu saat nanti.

Namun ia sekarang sudah puny target baru. Sang gadis alim yang berwajah lugu dan cantik, namun ternyata maniak masturbasi, Rika. Segera ia melenggang keluar kjontrakan gadis-gadis berjilbab itu dengan langkah ringan karena mendapat mangsa baru.

RIKA

Hari itu hawa terasa sangat panas dikampus islam itu . matahari yang bersinar terik membuat semua orang ebrusaha menghindari panasnya. Kebanyakan berteduh dikantin, ada yang tinggal didalam gedung dan beberapa b erusaha menutupi diri mereka dengan jaket dan sapu tangan.

Dari sebuah gedung fakultas ekonomi islam, keluar seorang wanita cantik. Jilbab lebar berwarna coklat muda, kemeja longgar putih dan rok yang juga berwarna coklat muda tidak dapat menutupi kecantikan wajahnya. Bibirnya yang tipis dan lesung pipit yang kentara menimbulkan hasrat semua lelaki untuk menikmatinya. Namun Rika, nama gadis itu berusaha untuk menjaga dirinya, dengan tidak terlalu menjalin hubungan dekat dengan lelaki.

MBAK SANTI

MBAK SANTI

Ketika langkahnya sampai di parkiran motor, tiba-tiba HP nokia miliknya berdering. Ia ambil dari dalam tasnya dan ia lihat. Nomor asing. Segera ia memencet tombol ANSWER.
“Halo, Assalamu alaikum?” kata gadis cantik berjilbab itu.
“waalaikum salam. Rika ya?” kata sebuah suara laki2 yang sepertinya sudah bapak2.
“iya. Siapa yah?” tanya Rika.
“ini pakdhe Mitro.” Kata suara itu. Jantung Rika seakan berhenti untuk beberapa detik. Sebuah pengalaman yang menakutkan namun juga nikmat yang dulu pernah pakdhe Mitro ajarkan pada gadis alim itu bertahun2 yang lalu kembali terbersit.
“aa…ada apa nggih Pakdhe?” tanya Rika, berusaha untuk tenang.
“Pakdhe mau ke kota. Mungkin pakdhe akan mampir ke kostmu sebentar, diminta bapakmu. Ada titipan. Cuma mau ngabari itu.” Kata pakdhe Mitro.
“oh.. nggih pakdhe.” Kata Rika. Suaranya masih terdengar sedikit bergetar.
“Si otong juga rindu sama remesanmu.” Kata pakdhe, datar saja seolah tidak bermaksud apa-apa, namun hati Rika kembali terasa berhenti. Perasaan bingung menderanya. Sebagian marah oleh perbuatan pakdhenya yang telah menghancurkan kegadisannya bertahun2 yang lalu, namun hasrat biologisnya bereaksi mendengar kata rangsangan dari pakdhenya tadi. Rika terdiam, tak mampu berkata apa2.
“ya sudah, besok kalau pakdhe sampai di terminal, tolong dijemput nggih. Assalamu alaikum.” Ujar pakdhe menyudahi pembicaraan.
Rika pun menutup teleponnya tanpa berkata apa2. Segera ia naik ke motornya, pulang dengan hati yang bimang dan bingung. Dalam perjalanan, ingatannya kembali kemasa saat ia masih SMA, ketika ia masih menjadi seorang gadis alim yang sangat lugu, saat ia berlibur ke rumah Pakdhenya.

**************************
pada suatu hari ketika liburan, Rika yang saat itu masih kelas 2 SMA berlibur selama dua pekan dirumah pakdhe Mitro di desa. Pakdhe Mitro adalah kakak dari bapaknya yang sudah menduda 0setelah ditinggal mati istrinya, budhe Murni setahun yang lalu. Sekarang ia tinggal bersama anaknya, Rika memanggilnya Mbak Santi, seorang gadis cantik yang berjilbab dan punya senyum manis, lulusan SMEA berumur 20 tahun yang bekerja di kelurahan. Rika memandang mbak Santi sebagai seorang yang cantik, berjilbab dan solehah, aktif di remaja masjid di desanya. Dia juga supel dan manis juga berkulit putih, membuat banyak lelaki di desa tersebut jatuh hati padanya. Namun dengan lembut mbak Santi menolaknya. Mbak Santi tidak mau pacaran yang tidak jelas, begitu alasannya.

Kejadian mengejutkan Rika adalah ketika suatu malam ketika Rika masih liburan dirumah pakdhe Mitro, Rika terbangun dan tidak menjumpai Mbak Santi disampingnya. Dengan pelan Rika bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Sebenarnya bukan untuk mencari mbak Santi, namun untuk mencari air minum karena haus. Rika mengira mbak Santi hanya ke kamar mandi. Rika kaget saat mendengar suara mencurigakan terdengar dari kamar Pakdhe Mitro yang setengah terbuka. Rika dengar suara Mbak Santi mengerang-ngerang disertai suara seperti berkecipak. Dengan langkah mengendap-endap Rika dekati pintu kamarnya dan mengintip melalui pintu yang setengah terbuka. Astaga!! Rika benar-benar kaget!! Ternyata di kamar Rika ada Mbak Santi dan Pakdhe. Yang lebih mengejutkan, pakaian keduanya sudah berantakan.

Saat itu pakaian bagian atas Mbak Santi sudah terbuka sama sekali, begitu pula dengan Pakdhe Mitro. Keduanya sedang bergumul di atas tempat tidur. Pakdhe hanya mengenakan sarung dan kain yang menutupi tubuh Mbak Santi hanyalah celana dalam dan jilbab coklat saja. Kacamata mbak santi masih bertengger diwajahnya.

Apa yang Rika lihat benar-benar membuat hati Rika tercekat. Rika lihat Pakdhe dengan rakus meneteki payudara Mbak Santi kanan dan kiri berganti-ganti, sementara tangan Mbak Santi, wanita berjilbab yang Rika anggap alim itu meremas-remas rambut Pakdhe yang sudah mulai memutih. Kepala Mbak Santi yang tertutup jilbab coklat bergoyang-goyang sambil terus mengerang. Begitu pula dengan Pakdhe yang dengan lahap terus menetek kedua payudara Mbak Santi secara bergantian. jilbab Mbak Santi yang menutupi disibak keatas.

Rika yang mengintip perbuatan mereka menjadi panas dingin dibuatnya. Tubuh Rika gemetar dan lututnya lemas. Hampir saja kepala Rika terbentur daun pintu saat Rika berusaha melihat apa yang mereka perbuat lebih jelas. Tak lama kemudian Rika lihat Pakdhe menarik celana dalam yang melekat di tubuh Mbak Santi dan melemparkannya ke lantai. Kini hanya jilbab satu2nya kain yang masih melekat ditubuh Mbak Santi di bawah dekapan tubuh bapaknya sendiri yang kelihatan masih berotot walau usianya sudah kepala lima.

Erangan Mbak Santi semakin keras saat Rika lihat wajah Pakdhe menyuruk ke selangkangan Mbak Santi yang terbuka. Tangan Mbak Santi yang memegang kepala Bapaknya sendiri lihat semakin kuat menekan ke arah kemaluannya yang sedang diciumi Pakdhe. Rika yang baru kali ini melihat pemandangan seperti itu menjadi terangsang. Rika membayangkan seolah-olah tubuhnya yang sedang digumuli Pakdhe.

Kedua kaki Mbak Santi melingkar di leher Pakdhe. Suara napas Pakdhe terdengar sangat keras seperti kerbau. Mbak Santi semakin keras mengerang dan tubuh sintalnya Rika lihat melonjak-lonjak saat Rika lihat wajah Pakdhe menggesek-gesek bagian selangkangan Mbak Santi. Beberapa saat kemudian tubuh Mbak Santi, aktifis mesjid berjilbab itu mulai melemas dan terdiam.

Kemudian Rika lihat Pakdhe melepas sarungnya. Dan astaga! Rika lihat batang kemaluan Pakdhe yang sangat besar dan berwarna coklat kehitaman mengacung tegak menantang langit. Pakdhe langsung mengangkangi wajah Mbak Santi dan mengosek-ngosekan batang kemaluannya yang dipeganginya ke wajah Mbak Santi, yang terlihat sangat cantik dengan jilbab yang masih ia pakai.

Mbak Santi yang masih lemas Rika lihat mulai memegang batang kemaluan Pakdhe dan menjulurkan lidahnya menjilati batang kemaluan itu. Pakdhe pun kembali menyurukkan wajahnya ke arah selangkangan Mbak Santi. Kini posisi mereka saling menjilati selangkangan lawan dengan posisi terbalik.

Pakdhe yang mengangkangi wajah Mbak Santi menjilati selangkangan Mbak Santi yang telentang dengan lutut tertekuk dan paha terbuka. Tubuh Rika mulai meriang. Vagina dan buah dadanya terasa gatal seolah-olah membayangkan kalau vaginanya sedang diciumi Pakdhe. Tanpa sadar tangan Rika bergerak ke arah vaginanya sendiri yang tertutup rok panjang dan mulai menggaruk-garuk. tangan Rika yang lain menyusup ke balik jilbab putih dan kaosnya, meremas2 buah dadanya sendiri, mendesah2 sambil terus mengintip perbuatan zina mbak santi, aktifis pengajian di masjid yang berjilbab yang sedang dirangsang oleh ayahnya sendiri.

Kejadian yang Rika lihat berikutnya membuat hatinya semakin mencelos. Setelah puas saling menciumi selangkangan masing-masing lawan, tubuh Pakdhe berbalik lagi sejajar dengan Mbak Santi. Mereka saling berhadap-hadapan dengan tubuh Pakdhe menindih Mbak Santi. mbak santi masih terus medesah seperti kepedasan.

Kemudian Rika lihat Pakdhe menempatkan diri di antara kedua paha Mbak Santi yang mengangkang. Lalu dengan memegang batang kemaluannya Pakdhe menggosok-gosokkan ujung batang kemaluannya ke selangkangan Mbak Santi. Rika lihat kepala Mbak Santi yang nasih terlilit jilbab mendongak-dongak ke atas dengan kedua tangan meremas-remas payudaranya sendiri saat Pakdhe mendorong pantatnya dan menekan ke arah selangkangan Mbak Santi. Mereka terdiam beberapa saat ketika tubuh mereka pada bagian kemaluan saling lengket satu sama lain.

Mbak Santi mulai merintih dan mengerang saat Pakdhe mulai memompa pantatnya maju-mundur dengan mantap. Rika lihat pantat Mbak Santi bergerak mengayun menyambut setiap dorongan pantat Pakdhe. Dan setiap kali tulang kemaluan Mbak Santi dan Pakdhe beradu selalu terdengar seperti suara tepukan. Suara deritan dipan tidur Rika pun semakin nyaring terdengar mengiringi irama gerakan mereka.

Tubuh Mbak Santi menggelepar-gelepar semakin liar. Kepalanya yamh terbungkus jilbab yang sudah mulai basah oleh keringatpun semakin liar bergerak ke kanan dan kekiri, mulutnya tak henti-hentinya mengerang. Akhirya Rika dengar Mbak Santi merintih panjang disertai tubuhnya yang tersentak-sentak, pantatnya terangkat menyambut dorongan pantat Pakdhe. Lalu beberapa detik kemudian tubuh Mbak Santi mulai melemas, tangannya terlempar melebar ke samping kanan-kiri tubuhnya dan matanya terpejam.

Pakdhe lalu menarik pantatnya dan Rika lihat dari arah Rika yang persis di samping kirinya, batang kemaluan Pakdhe yang hitam kecoklatan masih kencang. Kemudian Pakdhe menarik tubuh Mbak Santi agar merangkak di kasur. Dengan bertumpu pada lututnya, Pakdhe menempatkan diri di belakang pantat Mbak Santi yang menungging. Pakdhe memegang batang kemaluannya dan mengarahkannya ke belahan pantat Mbak Santi.

Rika lihat kepala Mbak Santi terangkat saat Pakdhe mulai mendorong pantatnya. Kembali Rika lihat pantat Pakdhe mengayun dari depan ke belakang dengan posisi Mbak Santi merangkak dan Pakdhe berlutut di belakang pantat Mbak Santi. Batang kemaluan Pakdhe kelihatan dari tempat Rika berdiri saat Pakdhe menarik pantatnya dan hilang dari penglihatan Rika saat ia mendorong pantatnya. Rika yang mengintip menjadi tidak tahan lagi. Tangan Rika secara refleks mulai menyusup kedalam celana dalam memegang vaginanya dan meremas-remasnya. Vagina Rika mulai basah oleh cairan. Jari tangahnya Rika tekankan pada daerah sensitifnya dan Rika gerakkan memutar.

MBAK SANTI

MBAK SANTI

Rika dengar Pakdhe mulai menggeram. Tangan pakdhe meremas payudara anaknya sendiri yang berayun-ayun seirama dengan dorongan pantat Pakdhe yang menyodok-nyodok. Gerakan Pakdhe semakin cepat dan geramannya semakin keras. Mbak Santi pun mengimbangi gerakan ayunan pantat Pakdhe dengan memutar-mutar pantatnya. Gerakan mereka semakin liar. Derit dipan kayu pun Rika dengar semakin keras. Lalu keduanya merintih panjang.

Tubuh keduanya yang menyatu mengejat-ngejat. Kepala keduanya seolah-olah terhantam sesuatu hingga mendongak ke atas. Lalu tubuh Pakdhe ambruk dan menindih Mbak Santi yang ambruk tengkurap di kasur. Rika pun merasa ada sesuatu yang meledakdi bawah perutnya. Tubuhnya seperti melayang dan akhirnya Rika merasa lemas.

Rika yang takut ketahuan melihat perbuatan keduanya segera berjingkat-jingkat dan kembali kekamarnya, berpura-pura tidur. Paginya Rika pura-pura bersikap seperti biasa. Rika bersikap seolah-olah tidak mengetahui perbuatan Mbak Santi dan bapaknya tadi malam. Selama beberapa hari itu pikiran Rika selalu terganggu dengan bayangan apa yang dilakukan Mbak Santi dengan Bapaknya sendiri di kamar itu.

Tepat satu pekan setelah kejadian itu, Rika harus berada sendirian di rumah dengan Pakdhe. Mbak Ningsih mengikuti acara kenaikan tingkat di tempatnya bekerja. Rika yang sedang liburan dirumah pakdhenya diminta menggantikan Mbak Santi. Rika sedang menyapu halaman ketika pakdhe memanggilnya. Ternyata pakdhe sudah membuatkan the untuknya dan untuk akdhe sendiri.

RIKA

RIKA

Rika menyempatkan diri meminum tehnya sebelum pergi ke kamar mandi. Teh yang Rika minum rasanya agak lain, tapi Ia tidak begitu curiga. Saat mandi itulah Rika merasa ada yang agak aneh dengan tubuhnya. Tubuh Rika terasa panas dan jantungnya berdebar-debar. Rasa aneh menyergapnya. Memek Gadis alim itu terasa berdenyut-denyut dan ada rasa aneh menyerbu dirinya. Tubuhnya terasa gerah sekali.

Rika menyiram seluruh tubuhnya dengan air dingin agar rasa gerahnya hilang. Apa yang Rika lakukan ternyata cukup menolong. Tubuh Rika merasa segar sekali. Lalu Rika menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun. Rasa aneh itu kembali menyerang dirinya, apalagi saat Rika menyabuni daerah selangkangannya yang baru mulai ditumbuhi rambut satu-satu. Rika merasa ada dorongan birahi yang begitu kencang. Rika tidak tahu mengapa ini terjadi. Tiba-tiba angan Rika melayang pada apa yang Ia lihat beberapa hari yang lalu saat Mbak Ningsih dan Pakdhe Marto bergumul di kamarnya.

Cepat-cepat Rika membuang pikiran itu jauh-jauh dan segera menyelesaikan acara mandi paginya. Hanya dengan tubuh terbalut handuk, Rika lari masuk kamarnya. Rika selalu berganti pakaian di kamarnya sambil mematut-matut dirinya di depan cermin. Kali ini jilbab biru muda dengan baju terusan berwarna senada dengan bordir bunga2 kuning dan putih ia kenakan. Dada Rika yang mulai tumbuh dengan puting yang sebesar kacang kedelai dengan warna merah muda mulai terlihat bentuknya walaupun ia menggunakan jilbab lebar dan jubah terusan. Pinggulnya mulai tumbuh membesar. Banyak teman2nya yang mulai suka melirik Rika, namun karena ia takut jatuh pada zina, Rika mengabaikan pandangan mereka.

Baru saja Rika selesai berpakaian, Rika dikejutkan dengan pelukan tangan yang kokoh menyergapnya. Rika tidak sempat menjerit karena tiba-tiba sosok yang memeluknya langsung membekap mulutnya dengan tangannya yang kokoh. Belum hilang terkejutnya, jilbab biru muda lebar yang dipakai Rika disingkap orang itu, bagian depannya dililitkan ke leher Rika sehingga dada Rika yang tertutup bra dan jubah terbuka. Rika benar-benar kaget sehingga bingung mau berbuat apa.

Kembali rasa aneh yang menyerang Rika semakin menggelora. Ada dorongan hasrat yang menggebu-gebu dalam dirinya. Rika tak mampu meronta dan menjerit! Tangan yang kokoh dan berbulu tetap membekap mulutnya sementara tangan satu lagi memeluk tubuh ranumnya. Mata Rika semakin nanar menerima perlakuan seperti itu. Apalagi Rika rasakan sentuhan tubuh kekar menempel hangat di punggungnya. Pantat sekal Rika yang terbalut jubah dan celana dalam pink terasa menekan suatu benda panjang melingkar dan keras di balik kain tipis.

Rika semakin tak mampu menahan gejolak liar yang mulai bangkit dalam dirinya saat terasa tangan kasar menyingkap bagian belakang jilbabnya, lalu dengan perlahan menurunkan retsleting hubah Rika sampai mentog. Sesaat kemudian jubah yang Rika kenakan teronggok dilantai dibawah kaki Rika tanpa ada perlawanan berarti darti Rika, membuat sang gadis abg alim itu tinggal memakai jilbab lebar biru muda yang telah tersingkap, bra, dan celana dalam. Mulailah sapuan-sapuan lidah panas menyerbu tengkuk Rika yang terbuka. Rika menggelinjang kegelian dan melenguh. Lidah itu semakin liar bergerak menyusuri lehernya.. pundaknya.. Lalu turun ke bawah ke sepanjang tulang punggung Rika, jilatan itu berhenti hanya untuk memberi waktu orang itu membuka kancing bra Rika, melepasnya, lalu melemparkannya kesudut kamar. Rika semakin menggelinjang, merasa payudara ranumnya tidak tertutup apa2 lagi. Lidah itu lalu meneruskan petualangannya ditubuh ranum Rika, merayap ke bawah dan pinggang Rika mulai dijilati, sembari sepasang tangan memelorotkan celana dalam pinknya. Kaki Rika serasa lemah tak bertenaga. Kini hanya jilbab biru muda yang sudah tersingkap yang masih melekat ditubuh ranumnya. Rika hanya pasrah saat tubuhnya didorong ke tempat tidurnya dan dijatuhkan hingga Rika tengkurap di tempat tidurnya. Tubuh Rika lalu ditindih oleh sesosok tubuh yang sangat berat.

Kaki Rika mulai memberontak liar karena geli. Apalagi lidah itu dengan rakus mulai menjilati pinggulnya. Pantat sekal Rika terangkat saat mulut berkumis itu mulai menggigiti buah pantatnya dengan gemas. Pantat sekal gadis manis yang selalu berjilbab itu terangkat-angkat liar saat lidah panas itu mulai menyusup ke dalam celah-celah bongkahan pantatnya dan mulai menjilati lubang anusnya. Rika benar-benar seperti terbang mengawang. Rika belum tahu siapa yang memeluknya dari belakang dan menggerayangi seluruh tubuhnya. Rika hanya bisa merasakan dengusan napas panas yang menghembus di bongkahan pantatnya saat lidah itu mulai menjilati lubang anusnya.

Rika tercekik kaget saat tubuhnya dibalik hingga telentang telanjang bulat di kasurnya. Ternyata orang yang sedari tadi menggumuli Rika adalah Pakdhe Mitro. Rika tak tak mampu berteriak karena mulutnya langsung dibekap dengan bibir Pakdhe. Lidah Rika didorong dorong dan digelitik. Gadis alim yng cantik itu terangsang hebat. Apalagi sejak minum teh tadi tubuh Rika terasa agak aneh. Seolah-olah ada dorongan menghentak-hentak yang menuntut pemenuhan.

Tubuh Rika menggelinjang saat tangan kekar dan agak kasar mulai meraba dan meremas kedua payudara Rika yang baru mulai tumbuh. Lalu kedua kaki Rika dipentangkan oleh Pakdhe Mitro lebar-lebar, lalu Pakdhe menindih tubuh ranum Rika yang sudah telanjang bulat di antara kedua paha Rika yang terkangkang. Gadis belia berjilbab iitu merasa ada benda keras seperti tongkat yang menekan ketat ke bukit kemaluan Rika di balik kain sarung yang dikenakan Pakdhe.

Mulut dan lidah Pakdhe tak henti-hentinya menjilat dan melumat setiap jengkal bagian tubuhnya. Dari mulut Rika, bibir Pakdhe bergeser turun ke dua belah payudaranya. Tubuh Gadis alim itu semakin menggerinjal saat lidah dan mulut Pakdhe dengan rakusnya melumat kedua puting payudara Rika yang baru sebesar kacang kedelai. Disedotnya payudara Rika hingga hampir seluruhnya masuk ke dalam mulut Pakdhe Mitro. Rika sangat terangsang dan sudah tidak mampu berpikir jernih. Ada sesuatu yang mulai menggelora dan mendesak-desak di perut bagian bawah Gadis manis lugu berjilbab iitu.

Lidah Pakdhe terus merayap semakin ke bawah. Perut Rika menjadi sasaran jilatan lidah Pakdhe. Tubuh Gadis belia berjilbab iitu semakin menggelinjang hebat. Akal sehat Rika sudah benar-benar hilang. Kobaran napsu sudah menjerat Gadis alim itu. Pantat sekal Rika terangkat tanpa dapat Rika cegah saat lidah Pakdhe terus merayap dan menjliati gundukan bukit kemaluan di selangkangan Gadis manis lugu berjilbab iitu yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus. Rika merasa kegelian yang amat sangat menggelitik selangkangannya.

RIKA

RIKA

Tubuh Rika serasa mengawang di antara tempat kosong saat lidah Pakdhe mulai menyelusup ke dalam bukit kemaluan Rika dan menggelitik kelentit Gadis alim yng cantik itu. Lubang memek Rika semakin berdenyut-denyut tergesek gesek lidah Pakdhe yang panas. Rika hanya mampu menggigit bibir Rika sendiri menahan rasa geli yang menggelitik selangkangan Gadis belia berjilbab iitu. Tubuh Rika semakin melayang dan seperti terkena aliran listrik yang maha dahsyat.

Rika tak mampu lagi menahan gelora napsu yang semakin mendesak di dalam perutnya. Pantat sekal gadis alim itu terangkat seperti menyongsong wajah Pakdhe yang menekan bukit kemaluannya. Lalu tubuh Gadis alim itu seperti terhempas ke tempat kosong. Rika merasakan ada sesuatu yang meledak di dalam perut bagian bawahnya. Tubuh Rika menggelepar dan tanpa sadar Gadis belia berjilbab iitu mejepit kepala Pakdhe dengan kedua kaki Rika untuk menekannya lebih ketat menempel selangkangannya.

Belum sempat Rika mengatur napas tiba-tiba mulut Gadis manis lugu berjilbab iitu sudah disodori batang kontol Pakdhe Mitro yang tanpa Rika tahu sejak kapan sudah melepas sarungnya dan sudah telanjang bulat mengangkangi wajahnya. Batang kontol Pakdhe yang besar, hitam panjang dan tampak mengkilat mengacung di depan wajah Rika seperti hendak menggebuk Rika kalau Gadis alim itu menolak menciuminya.

Dengan rasa jijik Rika terpaksa menjulurkan lidah Rika dan mulai menjilati ujung topi baja Pakdhe yang mengkilat. Rika hampir muntah saat lidah Rika menyentuh cairan lendir yang sedikit keluar dari lubang memek Pakdhe. Namun jepitan kedua paha Pakdhe di sisi wajah Rika tidak memberi Gadis alim itu kesempatan lain.

Rika hanya mampu pasrah dengan tetap menjilati batang kontol Pakdhe. Lalu dengan paksa Pakdhe membuka mulut Rika dan menjejalkan batang kontolnya ke dalam mulutnya. Rika menjadi gelagapan karena susah bernapas. Batang kontol Pakdhe yang besar memenuhi mulut Gadis alim yng cantik itu yang masih kecil.

Rika dengar Pakdhe menggumam tanpa jelas apa yang diucapkannya. Pantat Pakdhe digerak-gerakannya hingga batang kontol Pakdhe yang masuk ke dalam mulut Gadis alim itu mulai bergerak keluar masuk di dalam mulutnya. Rika hampir tersedak saat ujung kemaluan Pakdhe menyentuh-nyentuh kerongkongannya. Rika hanya mampu melotot karena hampir tersedak. Tanpa sadar kedua tangan Gadis belia berjilbab iitu mencengkeram pantat Pakdhe Mitro.

Setelah puas “mengerjai” mulut Rika dengan batang kontolnya, Pakdhe menggeser tubuhnya dan menindih Rika lagi dengan posisi sejajar. Kedua paha Gadis manis lugu berjilbab iitu dikuak Pakdhe dan dengan tangannya, dicucukannya batang kontolnya ke arah bukit kemaluannya. Gadis alim itu merasa geli saat ujung kemaluan Pakdhe mulai menggesek-gesek pintu lubang memek Rika yang sudah basah.

Dari rasa geli dan nikmat, tiba-tiba Rika merasa perih di selangkangan Rika saat Pakdhe mulai menurunkan pantatnya sehingga batang kontol Pakdhe mulai menerobos ke dalam lubang memek Gadis alim itu yang masih perawan. Rika merintih kesakitan dan air mata Gadis alim itu mulai mengalir. Rika tersadar akan bahaya! Namun terlambat. Pakdhe yang sudah sangat bernafsu sudah tidak mungkin mau berhenti. Ia hanya sejenak menghentikan gerakannya. Ia merayu Rika dan mengatakan kalau sakit Rika hanya sebentar dan berganti rasa nikmat yang tidak terkira.

Pakdhe menarik pantatnya ke atas hingga batang kontolnya yang terjepit di dalam lubang memek Rika tertarik keluar. Gesekan batang kontol Pakdhe yang besar di dalam dinding lubang memek Gadis alim yng cantik itu menimbulkan rasa nikmat seperti apa yang dikatakannya. Rika mulai dapat menikmati rasa nikmat itu. Ini mungkin karena pengaruh teh yang Rika minum sehingga Rika benar-benar belum sadar akan bahaya yang Rika hadapi. Yang Rika inginkan hanya satu yaitu menuntaskan gejolak yang meledak-ledak dalam dirinya.

Rika kembali merintih kesakitan saat Pakdhe mulai menekan pantatnya lagi yang membuat batang kontolnya menerobos lebih dalam ke dalam lubang memeknya. Lagi-lagi Pakdhe membisiki Rika kalau rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya. Ia menarik lagi pantatnya. Benar.. Rasa sakit itu berganti nikmat saat batang kontol Pakdhe ditarik keluar hingga hanya ujung kepalanya saja yang masih terjepit dalam lubang memeknya.

Lubang memek Rika yang sudah sangat licin sangat membantu pergerakan batang kontol Pakdhe dalam jepitan lubang memeknya. Detik-detik berlalu dan sedikit-demi sedikit batang kontol Pakdhe menerobos semakin dalam ke dalam lubang memeknya. Pakdhe terus menarik dan mendorong pantatnya dengan pelan dan teratur. Hingga suatu saat Rika menggigit bibir Rika keras-keras saat selangkangan Rika terasa perih sekali. Selangkangan Rika terasa robek saat Pakdhe menekan pantatnya hingga batang kontol Pakdhe hampir masuk separuh ke dalam lubang memeknya.

Rika sempat menjerit menahan sakit yang amat sangat di selangkangannya. Pakdhe segera menghentikan gerakannya dan memberi Gadis alim yng cantik itu kesempatan untuk bernapas. Rika merasa lega saat Pakdhe menghentikan gerakannya. Kini Rika dapat merasakan lubang memek Rika seperti terganjal benda keras dan hangat. Benda itu berdenyut-denyut dalam jepitan lubang memeknya.

Kembali rasa sakit yang tadi menyentak Rika berangsur mulai hilang tergantikan rasa nikmat saat batang kontol Pakdhe yang semakin lancar mulai bergerak lagi keluar masuk dalam jepitan lubang memeknya. Rasa nikmat terus meningkat sehingga tanpa sadar Rika menggoyangkan pantat sekal Rika untuk segera meraih kenikmatan yang lebih banyak lagi.

Rika seperti gila. Rasa sakit itu sudah benar-benar hilang tergantikan rasa nikmat yang benar-benar memabukkan. Pakdhe semakin bersemangat mengayunkan pantatnya menghunjamkan batang kontolnya. Empat kali mendorong lalu didiamkan dan diputar kemudian ditarik lagi. Tanpa sadar pantat Gadis alim itu terangkat saat Pakdhe menarik pantatnya.

Berkali-kali Pakdhe mengulang gerakannya hingga perut Rika terasa kejang. Tubuh Gadis alim itu mulai melayang. Tangan Rika semakin kuat mencengkeram punggung Pakdhe untuk mencoba menahan kenikmatan yang mulai menerjangnya. Pakdhe semakin kuat mengayunkan pantatnya diiringi geramannya yang Rika dengar bergemuruh di telinganya.

Mata Rika semakin membeliak menahan desakan yang kian dahsyat di perut bagian bawahnya. Gadis belia berjilbab iitu hampir menjerit saat ada sesuatu yang Rika rasa pecah di dalam sana. Namun bibir Pakdhe yang tiba-tiba melumat bibir Rika menghentikan teriakannya. Pakdhe melumat dengan rakus kedua belah bibirnya. Rika merasa tubuh ranum Rika seolah-olah terhempas di awan. Tubuh ranum Rika mengejat-ngejat saat Gadis alim itu mencapai puncak pendakian yang melelahkan. Pakdhe yang bibirnya masih melumat bibir Rika pun mulai berkelojotan di atas perutnya. Lalu ia menggeram dengan dahsyat..

Dan akhirnya Rika rasakan ada semburan cairan hangat yang memancar dari batang kontol Pakdhe yang terjepit dalam lubang memeknya. Batang kontol Pakdhe berkedut-kedut dalam jepitan lubang memeknya. Tubuh Pakdhe masih bergerak dengan liar selama beberapa saat lalu ambruk menindihnya. Napas Rika hanya tinggal satu-satu. Napas Pakdhe pun Rika dengar menggemuruh di telinganya.

RIKA

RIKA

Air mata Rika mengalir saat Gadis alim itu sadari segalanya telah terlambat baginya. Kegadisan Rika telah terenggut oleh Pakdhe.

peristiwa itu terulang malam harinya. bahkan Rika digagahi berkali2 oleh pakdhe mitro sejak malam sampai pagi. setelah liburan itu, Rika tidak lagi mau berlibur dirumah pakdhe Mitro, meski terkadang ia merindukan batang kontol besar pakdhe Mitro menyodok2 lubang memeknya.

—–

Akhirnya hari itu tiba. Rika terlihat menunggu dengan resah di terminal. Sudah satu jam ia menunggu, namun bus yang ditumpangi pakdhe belum terlihat. Akhirnya, setelah lima belas menit ia menunggu, gadis alim berjilbab yang manis itu melihat bus yang membawa pakdhenya maemasuki terminal.

” pakdhe.” Kata Rika menyambut sang bapak yang ada dihadapannya. Rasa canggung berusaha ia tutupi, namun pandangannya secara refleks melihat selangkangan pakdhe, dimana terdapat benda yang dulu pernah membuatnya mabuk kepayang. Ia berusaha menghilangkan pikiran itu namun tidak sanggup. Segera gadis alim itu mencium tangan pakdhenya, dan memimpinnya ke parkiran. Hujan rintik mulai turun.

Sesampainya di parkiran, hujan turun semakin deras. Rika yang tidak mau basah kuyub segera membuka mantel hujannya dan mengenakannya. Segera dia memboncengkan pakdhe pergi dari terminal itu. Sebersit terlintas senyum samar pakdhe yang penuh arti, namun sang gadis manis berjilbab itu tidak mampu menerkanya.

Tiba-tiba ditengah perjalanan, Rika tersentak merasakan sentuhan pada buahdadanya yang tertutup baju biru langit longgar, jilbab putih dan jaket. Ternyata pakdhe nekat merangsang dirinya ditengah hujan itu, tertutup oleh mantel hujan yang tebal. Terus tangan pakdhe menelusup masuk kedalam jaket dan jilbab lebarnya, lalu sekali sentil terbukalah satu kancing bagian dadanya. Gadis manis berjilbab itu mendesah tertahan saat ia merasakan tangan kekar dan kasar pakdhe menyentuh buahdadanya, lalu meremas-remasnya lembut. Ternyata pakdhe Mitro sudah tidak tahan dengan kemolekan tersembunyi dari keponakannya yang cantik namun alim ini, dan merangsangnya agar nanti lebih mudah mendapatkan tubuh sekal sang mahasiswi berjilbab lebar itu. Rika memekik pelan ketika ia merasa tangan pakdhe yang satunya turun lalu meremas memeknya. Ia menggigit bibirnya, agar pekikan dan rintihannya tidak terdengar. Perasaan malu, marah, takut namun juga terangsang membuatnya bingung dan tak mampu berbuat apa-apa, sampai mereka tiba di kontrakan.

Didepan kontrakan, ternyata Rika melihat salah satu teman dari Mbak Laras sedang menunggu di teras. Memang Laras sedang pergi kuliah, sementara Tata belum kembali dari kampung, jadi Rika sekarang dikontrakan sendiri bersama dua orang pria. Yang satu adalah pakdhenya, yang satu adalah William, teman Laras. Tanpa diketahui Rika, sebenarnya William sudah tahu kalau Laras sedang kuliah, William sengaja datang ketika Rika sendirian di kontrakan, untuk menikmati tubuhnya. Lelaki ambon itu kecewa melihat Rika pulang bersama seorang lelaki, namun di atidak bisa berbuat apa-apa, begitu pula ketika Gadis manis berjilbab lebar itu, yang dengan wajah masih merah padam karena birahi, mengenalkan sang pakdhe, lalu mempersilahkan William masuk ke ruang depan, sementara ia dan pakdhenya masuk ke ruang dalam. Rika mempersilahkan pakdhe duduk diruang tengah, didepan televisi dimana dulu tanpa sepengetahuan Rika, pernah digunakan William untuk menyetubuhi Laras yang montok. Rika yang masih agak syok dengan perlakuan pakdhe segera pergi tanpa permisi menuju kamar mandi. Namun tanpa Rika ketahui, pelan-pelan pakdhe yang sudah tidak tahan oleh kecantikan dan kesekalan tubuh keponakannya yang alim dan berjilbab lebar itu mengikutinya ke kamar mandi dari belakang.

Baru saja mau menutup pintu kamar mandi, tiba-tiba tangan pakdhe mengganjal pintu kamar mandi dan menyerobot masuk. Rika tidak sempat berteriak karena tiba-tiba pakdhe sudah memeluk Rika. Tubuh pakdhe yang kekar berpakaian lengkap sudah basah penuh keringat nafsu, memeluk Rika erat-erat. Gadis manis berjilbab lebar itu tidak berani berteriak karena malu terhadap William. Dengan air mata yang Rika tahan Gadis manis berjilbab lebar itu pasrah akan apa yang dilakukan pakdhe pada Rika.

Tanpa membuang waktu pakdhe segera melepas seluruh bajunya dan telanjang bulat. Batang kemaluan pakdhe yang berwarna hitam kecoklatan masih mengkerut dan menggantung lunglai, namun tetap membuat Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu berdebar-debar. Kemudian pakdhe duduk di tepi bak mandi keramik dengan kaki yang terbuka. Ditariknya tubuh Rika yang masih berpakaian lengkap ke dalam pelukannya dan dilumatnya bibir Gadis alim yang manis itu dengan rakusnya.

Mulut Rika masih tertutup saat lidah pakdhe mulai mencoba menerobos masuk ke dalam mulut Rika. Karena tidak tahan dengan sapuan-sapuan lidah pakdhe yang mendesak-desak bibir Rika, akhirnya bibir Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu pun terbuka. pakdhe segera menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Rika dan mendorong-dorong lidah Rika. Mula-mula Rika diam saja, namun lama-kelamaan Gadis mahasiswi santun berjilbab itu jadi terangsang juga. Apalagi batang kemaluan pakdhe yang tadinya mengkerut perlahan-lahan mulai mengembang dan mengganjal perut Rika yang nasih tertutup baju dan jilbab. Rika mulai bereaksi. Lidah Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu tanpa sadar membalas dorongan lidah pakdhe.

Tubuh Rika mulai menggerinjal dalam pelukan pakdhe saat tangan pakdhe mulai menggerayangi buah pantat Gadis manis alim itu dari luar rok panjangnya. Tangan pakdhe dengan gemas meremas dan memijat buah pantat Rika lalu ditariknya tubuh Gadis alim yang manis itu hingga semakin ketat lengket dalam pelukannya.

Setelah puas memainkan lidahnya dalam mulut Rika, tangan pakdhe menekan kepala Rika hingga Gadis mahasiswi santun berjilbab itu disuruhnya berlutut di depan selangkangannya. Batang kemaluan pakdhe yang sudah keras nampak mengacung tegak di depan wajah Rika yang putih dan halus itu. Ditariknya wajah Rika ke selangkangannya dan disuruhnya mulut Rika menciumi batang kemaluannya itu. Awalnya Rika berusaha menolak, namun karena cengkeraman tangan pakdhe begitu kua, Gadis lugu yang berjilbab lebar itu tak bisa menghindar. Apalagi akdhe terus menepuk-nepukkan batang kontolnya yang besar dan coklat juga keras itu kewajah Rika sehingga membuat Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu semakin terangsang. Dengan pelan Rika membuka mulutnya dan mulai menciumi batang kemaluan pakdhe yang sudah mengeluarkan sedikit cairan.

RIKA

RIKA

Kepala Rika didorong maju mundur oleh tangan pakdhe yang mencengkeram kepala Akhwat manis alim itu yang masih terbungkus jilbab hingga batang kemaluannya mulai bergeser keluar masuk dalam mulut Rika. Kerongkongan Rika tersodok-sodok ujung kepala kemaluan pakdhe yang keluar masuk dalam mulut Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu. Rika dengar napas pakdhe mulai menggebu. Batang kemaluan pakdhe semakin mengeras dalam kuluman mulut Gadis alim yang manis itu.

Mungkin karena tak tahan, pakdhe segera menarik tubuh Rika agar berdiri lalu mendudukan Gadis manis alim itu di sisi bak mandi. Tangan pakdhe dengan kasar menyampirkan jilbab lebar Rika kesamping, membuka baju longgar Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu, dan memelorotkan bra Rika kebawah, membuat payudara putih bersih kenyal milik Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu terpampang jelas. pakdhe langsung membuka Mulutnya dan segera mencecar payudara Rika kanan dan kiri silih berganti. Rika menggelinjang hebat manakala mulut pakdhe dengan rakusnya mempermainkan kedua puting payudara Gadis mahasiswi santun berjilbab itu. Tangan pakdhe pun tak tinggal diam. Tangan pakdhe mulai merayap ke selangkangan Rika yang masih tertutup rok hitam dan mulai meremas gundukan bukit kemaluan Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu. Lalu dengan kasar pakdhe menyingkap rok Rika ke pinggang dan merenggut lepas celana dalam Gadis alim yang manis itu, dan kembali meremas gundukan bukit kemaluan Rika.

Rika sampai megap-megap mendapat rangsangan seperti itu. Gadis manis alim itu semakin tersiksa oleh gejolak nafsu. Mulut pakdhe lalu merayap menyusuri perut Rika dan mulai menjilati gundukan bukit kemaluan Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu. Dikuakkanya kedua bibir kemaluan Rika dengan jari-jarinya lalu disusupkannya lidahnya ke dalam lubang kemaluan Gadis lugu yang berjilbab lebar itu.

Tubuh Akhwat manis alim itu yang duduk di sisi bak mandi hampir saja terjatuh karena menggelinjang saat lidah pakdhe mulai menggesek-gesek dinding lubang kemaluan Rika. Tanpa sadar tangan Rika mencengkeram rambut pakdhe dan menekankan kepala pakdhe agar lebih ketat menekan bukit kemaluan Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu.

Rika semakin blingsatan menahan rangsangan yang dibeRikan pakdhe di selangkangan Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu. Tanpa sadar mulut Rika mendesis-desis dan duduk Gadis alim yang manis itu bergeser tak karuan. Perut Rika mulai mengejang menahan desakan gejolak yang meledak-ledak. Tubuh Rika terasa mulai mengawang dan pandangan mata Gadis mahasiswi santun berjilbab itu nanar. Akhirnya dengan diiringi rintihan panjang Rika mencapai orgasme Rika.

Belum sempat Rika mengatur napas tiba-tiba pakdhe sudah berdiri di hadapan Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu. Batang kemaluan pakdhe yang keras dicocokkan ke bibir kemaluan Rika dan digesek-gesekkannya ujung kepala kemaluannya ke bibir kemaluan Gadis manis alim itu yang sudah basah dan licin. Rika menggelinjang lagi saat benda hangat itu mulai menerobos masuk ke dalam bibir kemaluan Rika. Bibir pakdhe Mitro dengan rakusnya mulai melumat bibir Rika sambil mendorong pantatnya hingga batang kemaluannya semakin melesak ke dalam jepitan bibir kemaluan Rika.

Rika masih duduk di bibir bak mandi sementara pakdhe Mitro menggenjot lubang kemaluan Rika sambil berdiri. Mungkin karena kesulitan bergerak, dicabutnya batang kemaluannya dari jepitan bibir kemaluan Rika. Tubuh Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu lalu diturunkan dari bibir bak mandi. Dengan kasar pakdhe melepas semua baju Rika, tanpa ada perlawanan yang berarti dari Rika yang sudah sangat terangsang. Akhirnya terlepas semualah baju longgar Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu, kecuali jilbab yang memang dibiarkan pakdhe tetap dipakai Rika. Segera pakdhe membalik tubuh Rika hingga Gadis manis alim itu berdiri dengan tangan bertumpu bak mandi. Lalu pakdhe menempatkan diri di belakang Rika dan mulai mencoba memasukan batang kemaluannya ke dalam bibir kemaluan Rika dari celah bongkahan pantat Gadis manis alim itu.

Punggung Rika didorong pakdhe agar sedikit membungkuk hingga setengah menungging. Dipentangkanya kedua kaki Gadis alim yang manis itu lebar-lebar lalu dicucukannya batang kemaluannya ke gundukan bukit kemaluan Rika. Setelah arahnya tepat, pakdhe mulai mendorong pantatnya hingga kembali batang kemaluannya menerobos masuk dalam jepitan bibir kemaluan Rika.

Kembali Rika mulai merasa ada suatu benda hangat menyeruak ke dalam lubang kemaluan Gadis lugu yang berjilbab lebar itu. Dinding-dinding lubang kemaluannya serasa dikilik-kilik. Batang kemaluan pakdhe yang terjepit ketat dalam lubang kemaluan Rika berdenyut-denyut. pakdhe yang napasnya mulai memburu semakin kuat mengayunkan pantatnya maju mundur hingga gesekan batang kemaluan pakdhe pada dinding lubang kemaluan Akhwat manis alim itu semakin cepat.

Pinggul Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu yang dipegang pakdhe terasa agak sakit karena jari-jari pakdhe mulai mencengkeram. Pinggul Rika ditarik dan didorong oleh tangan kuat pakdhe seiring dengan ayunan pantatnya. Tubuh Rika mulai terhentak dan Rika mulai limbung. Kembali Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu merasa melayang karena desakan gejolak yang meledak-ledak. pakdhe semakin kuat mengayunkan pantatnya dan napas pakdhe semakin menderu.

RIKA

RIKA

Pantat Rika yang ditarik dan didorong pakdhe maju mundur semakin cepat bergerak. Cengkeraman jari-jari pakdhe semakin terasa di pinggul Rika. Gerakan ayunan pantat pakdhe semakin tak terkendali. Tak lama kemudian Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu kembali mencapai orgasme Rika. pakdhe pun Rika kira mencapai puncak kenikmatannya karena Rika merasa ada semburan cairan hangat yang menyemprot dari batang kemaluan pakdhe ke dalam lubang kemaluan Rika dengan diiringi geraman yang keluar dari mulut pakdhe.

pakdhe tetap membiarkan batang kemaluannya terjepit dalam lubang kemaluan Rika selama beberapa saat. Napas pakdhe yang mulai teratur terasa hangat menerpa kulit pipi Gadis mahasiswi santun berjilbab itu. Tulang kemaluan pakdhe menekan kuat di bukit buah pantat Rika. Rika merasa sedikit geli karena rambut kemaluan pakdhe menempel ketat dan menggesek buah pantat Rika. Batang kemaluan pakdhe yang masih keras terasa berdenyut-denyut dalam jepitan lubang kemaluan Rika. Setelah menyemprotkan sisa-sisa air maninya batang itu mulai mengendur dan terlepas dengan sendirinya.

Tubuh Gadis alim yang manis itu sudah terasa lemas tak bertenaga. Rika hanya memejamkan mata karena lemas dan malu karena untuk kedua kalinya Gadis manis alim itu berhasil digagahi pakdhe Rika sendiri. Rika membiarkan saja saat pakdhe memandikan Rika seperti bayi. Tangan pakdhe yang kokoh menyibak lepas jilbab Rika, membuat rambut lurus sebahu Rika tergerai lepas terlihat indah. segera pakdhe menyabuni seluruh lekuk tubuh Gadis manis alim itu. Tubuh Rika kembali menggerinjal saat tangan pakdhe yang kokoh mulai menyabuni payudara Rika yang baru mulai tumbuh. Puting Gadis manis alim itu yang mencuat dipermainkan pakdhe dengan gemas.

Tubuh Rika semakin menggelinjang saat tangan pakdhe mulai menyentuh perut Rika lalu meluncur turun dan mulai menyabuni gundukan bukit kemaluan Rika yang baru mulai ditumbuhi rambut satu-satu. Jari-jari pakdhe menyisir celah sempit di tengah gundukan bukit kemaluan Rika dan berlama-lama menyabuni daerah itu.

Rika tak berani memandang pakdhe saat ia mengangsurkan sabun ke tangan Rika dan menyuruh Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu menyabuninya. Dengan agak kaku tangan Rika mulai menyabuni punggung pakdhe yang kekar. Tangan Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu bergerak hingga seluruh punggung pakdhe Rika gosok merata dengan sabun. Lalu pakdhe membalikkan tubuhnya menghadap Rika. Tangan pakdhe mengelus-elus kedua payudara Rika sementara Rika disuruhnya menyabuni tubuh bagian depannya.

Tangan Rika bergerak dari dada terus turun ke arah perut. Napas pakdhe mulai memburu saat tangan Rika yang dilumuri busa sabun mulai menggosok bagian bawah perutnya. Batang kemaluan pakdhe yang tadi kendur sudah mulai mengembang. Tangan Gadis lugu yang berjilbab lebar itu yang agak ragu dipegang pakdhe dan diarahkan untuk menyabuni daerah kemaluan pakdhe. Rambut kemaluan pakdhe sangat lebat tumbuh di pangkal batang kemaluannya yang mulai berdiri setengah tegak dan mengeras.

jilbab toket gede memek basah (4)

pakdhe yang sudah mulai terangsang segera menyuruh Rika menyelesaikan acara saling memandikan. Hanya dengan berbalut handuk, tubuh Rika yang masih agak basah ditarik pakdhe dari kamar mandi dan diseret masuk ke kamar Rika. pakdhe pun hanya mengenakan kolornya yang tadi dipakainya hingga batang kemaluan pakdhe yang sudah setengah keras tampak membusung di balik kolornya.

Baru saja pintu ditutup, tubuh Akhwat manis alim itu sudah langsung disergap pakdhe. Diloloskannya handuk yang melilit tubuh Rika hingga Gadis alim yang manis itu telanjang bulat. pakdhe segera melepas kolornya dan bugil dihadapan Rika. Mulut pakdhe segera menyergap bibir Rika dan melumatnya dengan rakus. Kedua payudara Rika segera menjadi bulan-bulanan remasan tangan pakdhe hingga tubuh Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu menggelinjang dalam dekapannya.

Tangan Rika segera dibimbing pakdhe dan dipegangkannya ke batang kemaluan pakdhe yang sudah semakin mengembang. Bibir pakdhe yang rakus meulai bergeser turun dari bibir Rika ke dagu, lidahnya menjilat-jilat dagu Rika terus turun ke leher Rika hingga Gadis mahasiswi santun berjilbab itu semakin menggelinjang karena kumis pakdhe yang pendek dan kasar menggaruk-garuk batang leher Rika.

Rika semakin mendesis karena kini bibir pakdhe sudah mulai melumat kedua puting payudara Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu kanan dan kiri secara bergantian. Tangan Rika secara tak sadar bergerak mengurut dan meremas batang kontol pakdhe. Napas pakdhe pun semakin menderu dan semakin keras menghembus di kedua payudara Rika. Jilatan pakdhe semakin liar di seluruh bukit payudara Gadis manis alim itu tanpa terlewatkan sejengkalpun.

Batang kemaluan pakdhe yang semakin keras mulai berdenyut-denyut dalam genggaman tangan Rika. Sementara tangan pakdhe mulai bergerak liar menyusuri penggung Rika dan turun ke bawah lalu berhenti di kedua pantat Rika dan meremas-remas kedua buah pantat Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu dengan gemasnya. Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu sangat terangsang. Ya.. Mungkin daerah kelemahan Rika adalah pada buah pantat Rika dan pada kedua puting payudara Rika. Tubuh Gadis manis alim itu sudah mulai mengawang dan sudah pasrah bersandar dalam pelukan pakdhe.

Mengetahui kalau tubuh Rika sudah tersandar sepenuhnya dalam pelukan pakdhe, pakdhe segera mendorong tubuh Rika ke kasurnya hingga Gadis alim yang manis itu berbaring telentang. Ditindihnya tubuh telanjang Rika oleh tubuh kekar pakdhe. Dibentangkannya kedua kaki Rika lebar-lebar dan Rika kembali digumuli pakdhe Rika. Lidah pakdhe kembali menyerbu bibir Rika lalu bergeser ke leher Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu.

batang kontol pakdhe yang sudah sangat keras mengganjal di perut bagian bawah Rika. Rambut kemaluan pakdhe yang gombyok sangat terasa menggesek-gesek perut Rika menimbulkan rasa geli.

Lidah pakdhe menjilat-jilat seluruh batang leher Rika hingga Gadis manis alim itu mendesis-desis kegelian. Tubuh Rika semakin menggelinjang menahan geli saat lidah pakdhe mulai bergeser turun dan menyapu-nyapu sekeliling bukit payudara Rika di sekitar puting Rika. Tubuh Rika semakin menggerinjal saat lidah pakdhe yang panas mulai menyapu-nyapu puting payudara Rika. Tubuh Gadis lugu yang berjilbab lebar itu serasa semakin melayang.

Lidah pakdhe terus bergeser ke bawah. Pusar Rika dijilatnya dengan rakus lalu lidah pakdhe mulai bergerak turun ke perut bagian bawah Rika. Otot-otot perut Rika terasa seperti ditarik-tarik saat bibir pakdhe menyedot-nyedot daerah sekitar perut bagian bawah Rika di atas pangkal paha Rika. Geli sekali rasanya, apalagi kumis pakdhe yang pendek dan kasar menyeruduk-nyeruduk kulit perut Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu yang halus.

RIKA

RIKA

pakdhe lalu membalik tubuhnya. Wajah pakdhe menghadap selangkangan Rika sementara batang kontol pakdhe dihadapkan ke wajah Rika. Diturunkannya pantat pakdhe hingga batang kemaluannya menempel bibir Gadis alim yang manis itu. Dibimbingnya batang kontolnya ke mulut Rika. Rika tahu Rika harus membuka mulut Rika menyambut batang kontol pakdhe yang dijejalkan ke dalam mulut Rika. Dengan terpaksa Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu mulai mengulum batang kontol pakdhe dan menjilati seluruh ujung topi bajanya yang mengkilat.

Tubuh Rika terhentak saat mulut pakdhe mulai melumat bibir kemaluan Rika. Kedua tangan pakdhe menarik kedua bibir lubang kemaluan Rika dan membukanya lebar-lebar lalu lidah pakdhe yang panas didorong keluar masuk kedalam lubang kemaluan Rika. Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu semakin mendesis-desis menahan nikmat. Napas pakdhe yang semakin menggebu sangat terasa meniup-niup lubang kemaluan Rika yang terbuka lebar.

Tanpa sadar pantat Rika terangkat ke atas seolah menyambut dorongan lidah pakdhe yang menggesek-gesek kelentit Rika. Gerakan lidah pakdhe yang liar seolah membuat Rika semakin gila. Tanpa dapat Rika cegah lagi, mulut Gadis mahasiswi santun berjilbab itu merintih dan mendesis menahan gejolak kenikmatan yang meledak-ledak. Batang kemaluan pakdhe yang menyumpal mulut Rika tak mampu menahan desisan yang keluar dari mulut Akhwat manis alim itu.

Mata Gadis lugu yang berjilbab lebar itu kembali nanar. Perut Rika terasa kejang.. Dorongan gejolak liar yang mendesak di perut bagian bawah Rika sudah hampir tak dapat Rika tahan lagi. Lalu dengan diiringi rintihan panjang tubuh Rika menggelepar dan berkelojotan seperti ayam disembelih. Tubuh Gadis manis alim itu lalu melayang dan terhempas di tempat kosong. Akhirnya tubuh Rika terdiam beberapa saat. Rika telah mencapai orgasme yang ke sekian di pagi itu.

Tubuh Rika terasa lemas tak bertenaga. Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu hanya pasrah saat pakdhe yang telah mencabut batang kemaluannya dari kuluman mulut Rika bangkit dan duduk di sisi pembaringan mengangkat tubuh Rika dan mendudukan Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu di pangkuannya. Tubuh Rika dihadapkan pakdhe ke dirinya dan kaki Rika dipentangkannya hingga Gadis alim yang manis itu terduduk mengangkang dipangkuan pakdhe dengan saling berhadapan. Kemudian tangan pakdhe mengarahkan batang kemaluannya ke celah bukit kemaluan di selangkangan Rika.

Bless!! Rika terhenyak saat pantat Rika diturunkan dan ada suatu benda keras dan hangat mengganjal di lubang kemaluan Rika. Nikmat sekali rasanya. Seluruh dinding lubang kemaluan Gadis mahasiswi santun berjilbab itu terasa berdenyut-denyut. Kelentiti Rika yang sudah membengkak tergesek nikmat pada pangkal batang kemaluan pakdhe. Lain sekali rasanya bersetubuh dengan posisi begini. Rika merasa sangat terangsang! Kelentit Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu serasa tergesek penuh pada batang kemaluan pakdhe.

Dengan dibantu kedua tangan pakdhe yang menyangga kedua buah pantat Rika tubuh Rika bergerak naik turun di pangkuan pakdhe. Payudara Rika yang baru tumbuh bergetar bergoyang-goyang seiring dengan naik turunnya tubuh Gadis manis alim itu di pangkuan pakdhe. Batang kemaluan pakdhe yang menancap ketat dalam jepitan lubang kemaluan Rika terasa menggesek nikmat seluruh dinding lubang kemaluan Rika yang terus berdenyut-denyut meremas apa saja yang menyumpalnya.

Tubuh Rika terasa menggigil bergetar saat mulut pakdhe tak tinggal diam. Mulut pakdhe dengan rakusnya melumat kedua puting payudara Rika bergantian. Mulut pakdhe menyedot buah dada Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu sepenuhnya. Gerakan Rika menjadi kian liar. Desakan gejolak birahi semakin mendesak. Rika mempercepat gerakan Rika naik turun dengan diselingi sedikit memutar saat seluruh batang kemaluan pakdhe masuk hingga ke pangkalnya ke dalam jepitan lubang kemaluan Rika.

RIKA

RIKA

Karena tak tahan lagi tanpa sadar Rika dorong tubuh pakdhe hingga terbaring telentang di kasur dengan kedua kaki menjuntai ke lantai. Tubuh Rika yang tadi di pangku pakdhe menjadi duduk seperti seorang joki yang sedang naik kuda balap berpacu dalam birahi dengan menduduki pakdhe yang berbaring telentang. Gerakan Rika kian bebas. Dengan tangan bertumpu pada dada pakdhe yang bidang Rika terus menggerakan pantat Rika memutar dan maju mundur. Kelentiti Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu kian ketat tergesek batang kemaluan pakdhe. Gadis yang biasanya alim dan santun itu berubah liar dan binal, disetubuhi pakdhe.

Tangan pakdhe yang memegang kedua pantat Rika semakin ketat mencengkeram dan membantu mempercepat gerakan Rika. Rika merasa tubuh Rika kembali mulai mengawang. Gerakan Gadis mahasiswi santun berjilbab itu kian tak terkendali. Mata Rika mulai membeliak dan mulut Rika menceracau tak karuan. Puncak pendakian kian dekat..

Dan akhirnya dengan merintih panjang tubuh Gadis alim yang manis itu berkejat-kejat seperti sedang terkena aliran listrik. Lubang kemaluan Rika berdenyut-denyut saat ada sesuatu yang pecah di dalam sana.. Tubuh Rika berkejat-kejat beberapa saat lalu ambruk di atas perut pakdhe. Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu benar-benar tak bertenaga. Ya akibat batang kontol pakdhe Rika mencapai orgasme yang kesekian kalinya. Luar biasa pakdhe Rika ini. Walaupun sudah tua namun mampu membuat Rika yang masih muda bertekuk lutut.

pakdhe yang rupanya belum mencapai orgasme segera membalikkan tubuh Rika dengan tanpa melepaskan batang kemaluannya yang masih menancap dalam jepitan lubang kemaluan Rika. Sekarang tubuh Gadis santun berjilbab bertubuh sekal itu yang telentang gantian digenjot pakdhe. Rika yang sudah tak bertenaga hanya pasrah. pakdhe dengan semangat juang terus menggenjot selangkangan Rika dengan tusukan-tusukan batang kemaluan pakdhe. Batang kontol pakdhe tanpa ampun menghajar lubang kemaluan Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu.

Perlahan-lahan napsu Rika mulai bangkit lagi menerima tusukan-tusukan batang kontol pakdhe. Dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada Rika berusaha menyambut setiap tusukan batang kontol dengan menggoyangkan pantat Rika ke kanan dan kiri.

Napas pakdhe semakin memburu dan terdengar menggemuruh menghembus ke payudara Rika yang dilumat bibir rakus pakdhe. Genjotan pakdhe semakin kuat dan bertubi-tubi. Desakan gejolak yang mendesak dalam tubuh Gadis manis alim itu semakin menguat. Rika sudah hampir tak kuat lagi menahan desakan itu. Tubuh Akhwat manis alim itu kembali mengejang. Pantat Rika terangkat dan dengan merintih panjang Rika mencapai puncak pendakian yang sangat melelahkan.

Tubuh Rika terhempas di tempat kosong dan pandangan mata Gadis berkulit putih berjilbab lebar itu makin nanar. Rika merasa betapa di saat-saat itu tubuh pakdhe yang menindih perut Rika mulai bergetar. Mulut pakdhe menggeram dahsyat dan pantatnya menekan kuat-kuat menghunjamkan batang kontolnya ke dalam jepitan lubang kemaluan Rika. Tubuh pakdhe berkejat-kejat lalu Rika merasa ada semprotan cairan hangat menyiram di dalam lubang kemaluan Rika. Ada rasa berdesir menyergap Rika saat semprotan itu menyembur ke liang rahim Mahasiswi berjilbab berwajah cantik itu. Tubuh pakdhe tersentak-sentak lalu ambruk di atas perut Rika.

Sungguh melelahkan pergumulan di hari itu. Akhirnya pakdhe tertidur karena terlalu lelah, sementara Rika segera berpakaian dan memakai jilbabnya lalu keluar kamar dan masuk ke kamar mandi, membersihkan lubang memeknya yang berlepotan sperma pakdhe. sementara itu William sudah pulang dengan perasaan menang karena mendapat mangsa baru, sembari menimang2 handphone berkameranya yang tadi ia gunakan untuk merekam adegan ranjang Rika dan pakdhenya.

MUFRODHAH & ALIAH

Aksi kejahatan di dalam taksi sering sekali terdengar , korbannya bisa supirnya atau bahkan penumpangnya. Di kota besar seperti jakarta , berita seperti itu sudah tak aneh lagi bagi warganya.
Namun mufrodhah tak akan pernah menyangka bahwa kejadian itu akan menimpanya bersama pula adik perempuannya aliah.
Malam itu kedua gadis alim alim itu keluar dari stasiun gambir. Baru saja kemarin aliah mendapatkan kabar jika ia lolos penyaringan salah satu kader partai islam . aliah memang aktif dalam berorganisasi walau pun ia selalu berpakian tertutup (berjubah, berjilbab gede), tentu saja kesempatam ini tidak dia sia-siakan, karena itu bersama mufrodhah kakaknya ia segera ke Jakarta untuk menghadiri acara pengangkatannya..
malam itu jakarta agak sepi karena sedari sore tadi hujan turun agak deras , meski saat itu sudah mulai mereda , hanya tinggal rintik rintik.

MUFRODHAH

Taksi yg mufrodhah dan aliah tumpangi berhenti di sebuah lampu merah saat tiba tiba pintu belakang taksi terbuka dan masuk dua orang yang langsung mengapit kedua gadis alim itu di tengah tengah. seorang diantaranya menodongkan pistol ke kepala mufrodhah. taksi kemudian tetap melaju dengan tenang seolah tak ada apa apa.
“diam kalian…jangan berulah……kita cuma butuh sedikit sumbangan..hehehehe…” ancamnya.
kedua gadis alim itu sangat ketakutan terutama aliah , ia memeluk erat lengan kakaknya sambil menangis.
“tenang.jangan takut….kita kasih aja yg mereka mau….” kata mufrodhah berusaha menenangkan.
“siapa nama kalian…?” tanya si hitam
“sa..saya…mufrodhah…dia adik saya aliah….”
“aliah….hmm ….berapa umur kamu…?”
“tujuh..belas….” jawab aliah dengan nada ketakutan.
“tujuh belas ya…..? wahhh..tapi toked kamu udah gede gitu …hahahaha…” kata si hitam sambil mencolek buah dada aliah, membuat gadis alim itu semakin ketakutan.
“toolong…jangan sakiti kami……ambil aja semua uang sama barang barang kami…..” kata mufrodhah berusaha mencegah terjadi hal yang lebih buruk.
“hehehe…santai aja nona nona…sekarang kita mampir dulu ke ATM ya..? hehehehe….”
taksi itu kemudian menuju ke sebuah jajaran ATM yang tidak terlalu ramai.

MUFRODHAH

“Lepaskan kami…..kalian kan udah ambil semuanya…” kata mufrodhah setelah salah seorang penjahat itu kembali dari ATM dan menguras uang didalamnya sebanyak mungkin.
“hahaha..ga bisa……emang kami bego……tar kalian bisa langsung lapor polisi…..nanti juga kalian dilepas, tenang aja…. “
Taksi itu kemudian berputar putar sejenak kemudian masuk ke daerah yang cukup sepi , hanya beberapa rumah yg terlihat terang tanda ada penghuninya.
Mereka kemudian masuk ke sebuah rumah yang agak terpisah dengan yg lain , lampu di dalamnya menyala tak terlalu terang.
Mufrodhah dan aliah digiring masuk ke dalam , ternyata di dalam sudah ada dua orang yg sedang asyik bermain kartu , wajah mereka terlihat menyeramkan .
“yoo..bro…kita bakal pesta besar nih…gue bawa oleh oleh…..” kata supir taksi itu.
Dua orang yang sedang bermain kartu itu adalah preman dan penjahat yg sudah malang melintang di dunia hitam , meraka adalah bejo dan codet. Hampir semua kejahatan pernah mereka lakukan, mulai dari copet , nodong sampai pemerkosaan dan pembunuhan , sudah jadi maianan mereka.
Supir taksi itu namanya jojon ..termasuk komplotan mereka juga. dulunya jojon memang supir taksi, namun dipecat karena sering menggelapkan uang setoran dan pernah melakukan pelecehan seksual pada seorang penumpangnya, karena dendam ia nekad mencuri taksi di tempat ia bekerja , sedikit dipoles dan kini digunakan sebagai alat untuk melakukan kejahatan.

MUFRODHAH

 Sisanya yg menodongkan pistol pada mufrodhah adalah prapto , dan kawannya dono, tak banyak yg tahu catatan kejahatannya namun bisa dipastikan mereka juga sama jahatnya dengan yg lain.
“weleh..wlweh….siapa gadis-gadis alim ini….?” Tanya codet
“yg kecilan namanya aliah yg satu lagi mufrodhah….mereka baik loo..nih ada duit dari mereka..hahahaha..”
“hmmm …..tau aja loo bro…emang kita udah suntuk nih…kita lagi butuh hiburan….” kata codet.
mendengar kata hiburan, sebersit ketakutan melintas di benak mufrodhah.,
“hi..hi..buran..ap..apa…maksud kalian…..?” suara mufrodhah bergetar karena takut.
“hahahaha….jangan pura pura bego deh..hiburan ya hiburan….di ranjang…hahahaha….”
mendengar itu , aliah langsung menjerit dan menangis histeris sambil memeluk mufrodhah.
“tolong..saya mohon..jangan perkosa dia….dia masih kecil….tolong…”mufrodhah memohon sambil berusaha menenangkan adiknya.
“masih kecil…..17 tahu sih udah dewasa dong neng..ya ga bro…?” kata si codet dan disambut dengan derai tawa teman temannya.
“tolong….saya akan lakukan apa saja..asal jangan dia…tolong……”mufrodhah memohon.
“wah bener nih..?” tanya bejo
“betul…apa saja…asal jangan sentuh dia..kasihan…” jawab mufrodhah.
“bagus….ok..kalau begitu. itu mau kamu kan. …..sekarang kamu buka semua jubah kamu…..”
“disini..?” mufrodhah ragu , “kenapa ga di kamar..”

ALIAH

“disini..sekarang…..atau adik kamu kami perkosa beramai ramai…..cepat…” Bejo tak sabar.
setelah berusaha menenangkan aliah . kemudian mufrodhah maju ke tengah ruangan, dan mulai melepas satu persatu jubahnya, ia berusaha untuk tidak menangis atau meneteskan air mata, namun wajahnya memerah karena dipermalukan seperti ini.
“WEEIIHH…..gila men…..bodynya yahud banget……fitness loe ya…?” kata bejo
mufrodhah hanya menangguk pelan , dan berhenti melepaskan jubah luarnya , kini ia hanya mengenakan jilbab dan pakain dalam saja, dibawah tatapan mata para penjahat penuh nafsu.
“ayo teruskan…kok berhenti…..?” tanya bejo
“cukup….sampai sini saja….” kata mufrodhah
“Terserah deh…” kata bejo lalu memberi isyarat pada kawannya.
jojon dan prapto kemudian mendekati aliah dan langsung berusaha merobek jubah bagian atas aliah, membuat gadis alim ini berteriak teriak histeris.
“Jangan…..ga mau…..jangan……..jangaannn…”
“tolong…jangan sakiti dia…tolong….” mufrodhah memohon.
namun kini jojon dan prapto sudah berhasil merobek jubah atas aliah, dan keduanya langsung meremas dan mengulum buah dada gadis alim remaja itu, smentara teriakan aliah terdengar kian keras dan histeris.
“tidaaaaakk…jaaaangaannnn….cici..tolooooong…….awaaaawwwww……”
“baik..baik…..lepaskan dia…saya menurut…saya ….” mufrodhah memohon
bejo memrintahkan kedua temannya berhenti, namun demikian keduanya masih memegang kedua tangan aliah yg kini bertelanjang dada, buah dadanya yang sedikit tertutup jilbabnya terlihat kemerahan dan agak basah.
mufrodhah kini mulai melepaskan bra dan celana dalamnya, tubuhnya begitu terlihat indah tanpa busana hanya tinggal jilbab di kepala, buah dadanya menonjol lepas siap untuk diremas remas , vaginanya dengan bulu rambut yg tak terlalu banyak begitu menggoda , belum lagi kulitnya yg halus putih dan lembut.
“nah..gitu kan bagus…..punya body ok kok ditutup tutup…hehehehe…”
mufrodhah kemudian disuruh untuk berjalan bak seorang pragawati di catwalk, tanpa busana hanya jilbab yang tersisa.

ALIAH

demi adiknya , ia berusaha menahan malu dilecehkan sperti ini , namun ia tak punya pilihan lain meskipun otaknya terus berjalan mencari jalan untuk meloloskan diri.
bejo tiba tiba maju ke tengah dan memerintah mufrodhah ,
“nah..nona cantik ..sekarang kamu berlutut…..abang punya permen loli buat kamu ..hehehehe……”
mufrodhah berlutut , dan bejo membuka celananya , mengeluarkan penisnya yg siap beraksi menerobos vagina gadis alim dihadapannya.
bejo kemudian menggesek gesekan penisnya di wajah cantik mufrodhah , menggosok gosok di bibirnya , samapi akhirnya membenamkannya di mulut gadis alim malang itu.
“isep yang enak…..jilatin juga pake lidah kamu…..”
dengan canggung mufrodhah berusaha mengemut dan menjilat penis itu, selain ukurannya , baunya dan rasa asinnya cukup membuat mufrodhah mual , namun ia terpakasa melakukannya, daripada adiknya yg harus mengalami semua ini , karena ia tahu aliah adiknya masih virgin.
kali ini mufrodhah tak bisa menahan air matanya jatuh.
“ADUH..cape gue berdiri..kita ke sofa sayang…” kata bejo sambil membawa mufrodhah ke sofa.
bejo duduk di sofa , sementara mufrodhah kembali berlutut diantara kaki bejo , dan mengulumnya kembali.
mufrodhah sempat kelabakan saat bejo menahan kepala gadis alim itu dan menghujamkan penisnya jauh semakin ke dalam . mufrodhah tersedak dan hampir kehabisan nafas , saat mufrodhah hampir kepayahan , bejo baru melepaskannya diringi tawa puas.
bejo kemudian menyuruh mufrodhah menjlati buah zakarnya dan penisnya perlahan ke atas dan ke bawah seperti menjilati es krim , lalu kemudian mengulumnya kembali.
waktu terasa lambat berjalan bagi mufrodhah sampai akhirnya , penis bejo menyemburkan seluruh isinya masuk langsung ke perut gadis alim itu.
setelah mufrodhah selesai menjalankan tugasnya , tiba tiba dono datang dan langsung mengikatnya erat , sehingga ia tak bisa bergerak.
“apa apaan ini…kenapa saya diikat seperti ini…lepaskan….” Protes mufrodhah.
“hehehehe….sudah diam…hehehe…..prapto , jojon , ayo teruskan yg tadi, gue pengen lihat body abg sekarang kaya apa..?”
“apa…!!!kalian sudah berjanji……jangan sentuh dia…” mufrodhah merasa marah dan tertipu.
“YAHHH…gimana ya….kita emang pembohong kok….hahahahaha…” Jawab bejo.
prapto dan jojon sgera merobek seluruh jubah yang terisisa di tubuh aliah, gadis alim ini hanya kembali menjerit jerit histeris dan menangis.
tubuh telanjang aliah yang masih remaja ternyata menarik perhatian seluruh lelaki disana, ia kemudian dibawa ke tengah ruangan, dan seluruh tubuhnya tak ada yg luput dari jamahan tangan tangan kotor itu.
‘bangsaat kalian…..!!!!lepaskan dia…lep…..”
mufrodhah tak dapat meneruskan kata katanya ketika dono dan codet menariknya masuk ke sebuah kamar , disana ia dikerjai habis habisan oleh kedua penjahat itu.
sementara itu prapto, jojon dan bejo masih asyik menjamahi tubuh aliah yg masih remaja.
“tiidaaaakk……..ga mauuuuu….ga mauuuuuuu………..” aliah berusaha berontak, namun tentu saja ia tak punya daya apapun melawan tiga laki laki itu.


Jojon menghisap dengan nafsu buah dada kiri aliah, sementara bagian kana menjadi milik prapto.
di bawah bejo asyik menjilati vagina perawan itu.
“hehehehe…jarang..jarang nih dapet perawan..hahahaha…..” bejo tertawa senang.
“aampuun…jang..an….aahhhww…..jangan………” aliah menangis
“aaalllaaa……sok juah mahal….nanti juga ketagihan…..ya gak….?” KATA prapto
“iya nih…..sok banget…” timpal yg lain
“aampuunn…jangan diperkosa……jangan…saya belum pernah…sa..saya….”
“boleh…..kamu ga diperawanin…tapi sebagai gantinya kita masuk lewat lubang yg lain…hehehe..”
“ap..apa…maksdunya…..?” tanya aliah katakutan.
“ya..pantat kamu..sama mulut kamu…ya ga….?”
“baik…baik….asal jangan ambil keperawanan saya……” kata aliah pasrah.
Prapto segera memposisikan aliah , penisnya memukul mukul pantat indah aliah, dan tanpa ragu sedikitpun menembus masuk ke dalam pantat adis itu.
“aaaaaaaaaaahhhhhhhh..sakiiittttt……..” aliah menangis menahan sakit saat penis itu masuk menembusnya.
dan jeritan semakin keras dan menyedihkan setiap prapto mendorong penisnya semakin dalam.
‘awww…aaahhhh…udahhhh…udaahhhhh…aahhhhh………”
“aaaahhhhhh…uuhhh…sa/…..kiiittt…aahhhh………..”
Siksaan itu berjalan cukup lama bagi aliah sampai akhirnya ia merasakan ada cairan hangat membasahi pantatnya.
aliah menangis keras saat prapto telah mencabut penisnya , ia tergolek lemah tak berdaya.
Namun belum sempat ia merasa lega , prapto dan jojon tiba tiba memegang kedua tangannya, smentara bejo tengah bersiap dengan penisnya diantara kaki aliah.
“oohh..tidakk…jangan….penjahat…penipu……jangan….jaaaaaaaaahhhhhhh
hhhhh…….”
Tanpa banyak bicara penis bejo menembus vagina aliah yg masih perawan.
aliah kembali menjerit histeris dan meronta ronta saat, penis itu mengaacak acak keperawannannya.
“aaaaaaaaaaaaa…..tidaaaaaaaaaaaakkk……….aaaawwwwwww……….”
Tangisan gadis alim itu tentu menjadi stimulus para pemerkosanya , bejo malah semakin kencang menggenjot aliah.
sementara, vaginanya di acak acak , biuah dadanya tak lepas dari remasan remasan nakal bejo, putingnya dicubiti dan ditari tarik.
Bejo menggeram keras ketika pada akhirnya ia sampai di puncak kenikmatan , cairan putih bercampur merah meleleh keluar dari vagina aliah.
Wajah cantiknya basah oleh keringat dan airmata, sleuruh tubuhnya terasa sakit lemas seolah tak bisa digerakkan, ia mnegguman gumam tak jelas.
Malam masih panjang…………penderitaan kedua gadis alim itu masih akan terus berlanjut..