INTAN

Intan merupakan seorang mahasiswi kedokteran dari sebuah universitas swasta di Yogyakarta yang terkenal memiliki banyak mahasiswi cantik-cantik serta seksi. Tidak hanya itu saja, disana juga banyak mahasiswi yang katanya bisa di-booking, walaupun dengan harga mahal tentunya. Intan sendiri merupakan mahasiswi kedokteran yang sebentar lagi akan melakukan praktek di daerah terpencil di daerah Purwokerto, Jawa Tengah.

Intan mempunyai seorang pacar yang bernama Rangga, dia hanyalah seorang buruh pabrik, walaupun begitu tekad kerja keras untuk menjadi tulang punggung keluarganya-lah yang membuat Intan jatuh hati dan akhirnya bersedia menjadi pacarnya. Intan sendiri memakai hijab modern ketika keluar rumah, tapi tidak ketika bersama Rangga, seperti sore itu di kontrakan Rangga.

“Aaahh.. uuhh.. Ranggaaa.. nikmatnya, sayangg!” teriakan dan desahan nikmat berasal dari bibir seorang calon dokter yang sehari-harinya berhijab, Intan. Dia sedang mendaki bukit kenikmatan bersama kekasihnya, Rangga. Seperti biasa, sore itu ketika semua teman Rangga pulang ke kampung halamannya masing-masing, dia mengayuh perahu birahi bersama Intan.

“Uuuhh.. memek kamu enak banget ngejepit kontol aku, sayangg.. uuhh!” Rangga hampir tidak tahan untuk menyemprotkan isi testisnya ketika Intan berkata, “Iya, kontol kamu juga nusuk banget ke dalem memek aku, bebbb!”

Intan yang saat itu hanya tinggal memakai bra, masih menggoyang pantatnya di atas pangkuan Rangga. “Uuuhh.. kamu kuat banget sih, sayangg? Udah 15 menit belum keluar juga! Uuuhh!” Rambutnya yang tergerai panjang membuat kesan menggairahkan bagi Rangga.

“Aku udah mau keluar, Yang! Uuuhh.. aku harus keluar dimana nih?” Rangga sudah sangat ingin mengeluarkan spermanya dari tadi pagi ketika melihat foto-foto selfie telanjang Intan yang dikirim via Line.

“Di luar, Sayangg! Uhh.. aku masih masa subur soalnya nih. Uuhh.. bareng-bareng ya, sayangg!” Intan mengingatkan.

Crott! Crott! Hampir lima kali semprotan sperma dari penis Rangga akhirnya jatuh ke atas perutnya sendiri ketika penisnya dikeluarkan dari vagina sempit Intan. Intan pun membantu dengan mengocok penis Rangga agar semua isinya keluar, serta sesekali mengulumnya juga.

“Uuuhh.. sayangku Intan, makasih ya buat ngentot sore ini. Uuuhh.. aku keluar banyak banget nih!” Rangga tidak sadar bahwa Intan hampir klimaks tapi belum mencapai puncak orgasme. Oleh karena itu, dia seolah tidak peduli ketika jatuh tertidur dan Intan mengocok vaginanya sendiri dengan dua jari tangannya sendiri.

“Uuuhh.. uuhh.. Rangga, kontol kamu enak banget. Uuhh.. memekku bakal selalu kangen kontol kamu kalo aku udah di Purwokerto! Uuuhh.. kontol kamu boleh aku bawa gak? Uuuhh!” Itulah kebiasaan Intan untuk menaikkan birahinya, bicara kotor. Dan akhirnya, Crott! Crott! Intan mencapai puncak orgasmenya dan ikut tidur di sebelah Rangga yang sudah terlelap lebih dulu. Intan tidak tersenyum.

***

Keesokan harinya..

Intan terbangun dan memakai sebuah kemeja putih polos yang terlalu besar ukurannya karena itu punya Rangga, dan di dalamnya ia tidak memakai daleman. Dia menuju dapur dan mengambil minum ketika ada suara pintu diketuk.

Tok! Tok! Tok!

Intan sempat mengintip dari jendela, dan itu ternyata adalah Pak Jarwo, ketua RT disini. Intan mengenakan hotpants dan mengancingkan kemejanya sampai atas, dia lalu membuka pintu.

“Iya, Pak Jarwo kan? Ada apa ya, Pak?”

“Eh, ada mbak Intan. Begini, mbak, ada sesuatu yang harus dibicarakan. Boleh saya masuk? Mas Rangga-nya ada? Atau teman-temannya yang lain?”

Bingunglah Intan untuk menjawab pertanyaan tersebut, kalau dibilang ada maka teman-teman Rangga akan dipanggil. Tapi kalau dijawab tidak ada, maka Intan dan Rangga akan langsung diarak keliling desa karena dituduh berbuat asusila. Mata Pak Jarwo pun tak pernah lepas dari paha putih milik Intan, wanita yang selama ini tertutup dan memakai hijab ternyata bisa menjadi binal juga, begitulah pikir Pak Jarwo.

“Tidak ada, Pak.” akhirnya Intan menjawab dengan jujur.

Pak Jarwo tersenyum licik. “Ah, begini… tadi malam ada laporan dari warga bahwa mbak Intan menginap berdua disini dengan mas Rangga. Sudah menjadi etika moral disini bahwa hal tersebut tidak diperbolehkan, bisa jadi fitnah bahkan bisa kita arak keliling desa.” Pak Jarwo menjelaskan duduk permasalahan dengan santai.

“Iya, Pak, saya minta maaf. Lain kali tidak akan saya ulangi lagi.” Intan berusaha memilih kata-kata dengan hati-hati agar tidak salah ucap dan supaya kejadian kali ini tidak menjadi buah bibir masyarakat desa. “Oh ya, bapak mau minum apa? Saya bikinkan kopi ya,” Intan berusaha mengalihkan bahan pembicaraan.

“Tapi ada beberapa syarat ketika mbak Intan ingin kejadian ini tidak menjadi besar, mungkin mbak Intan bisa buatkan saya kopi terlebih dahulu.” ujar ketua RT ini dengan begitu santainya.

Intan pun berjalan menuju dapur diikuti ekor mata Pak Jarwo yang sudah sangat lapar untuk menyantap belahan pantat montok kepunyaannya. Diam-diam Pak Jarwo mengikuti Intan ke dapur, dan seketika itu pula mendekap Intan dari belakang dan menutup mulutnya.

“Ini syarat pertama, saya mau kopi susu dan… susunya langsung dari sini.” Pak Jarwo mengelus pelan payudara Intan yang tidak ditutupi bra dan hanya dilapisi oleh kemeja tipis.

Seketika Intan berusaha berontak, tapi apalah daya Intan melawan kekuatan Pak Jarwo. Intan juga takut Rangga terbangun dan memergoki mereka.

“Hmm.. kamu memang binal, pagi-pagi sudah menggoda saya dengan tidak memakai bra dan celana pendek.” ujar Pak Jarwo.

“Intan baru bangun tidur, Pak Jarwo.” Intan sudah memahami maksud dari Pak Jarwo yang mendekapnya saat ini dan mencoba santai. “Pak Jarwo mau pakai susu? Yang kanan apa yang kiri? Aahh..” kata Intan manja. Seketika itu juga Intan berubah menjadi sangat binal dengan harapan permainan ini cepat selesai.

Mendengar Intan yang dipikirnya susah ditaklukan lalu menjadi seperti pelacur, tak ayal penis Pak Jarwo pun menegang kuat bahkan hampir keluar dari celana bahannya karena saking panjangnya.

“Intan, Intan… kamu luarnya saja berhijab, mahasiswi kedokteran, tapi dalamnya tidak beda dengan para perek yang saya temui di jalanan. Kalau begitu langsung masuk ke syarat kedua, kamu harus menjadi budak seks saya.” kata Pak Jarwo sambil tangannya terus menerus meremas payudara besar milik Intan.

“A-apa, Pak? Budak seks? Intan siap memberikan semuanya buat Pak Jarwo kok, Pak Jarwo bisa entot Intan dimanapun dan kapanpun. Uuuhh.. remas terus tetek Intan dong, Pak. Intan yakin kontol Pak Jarwo lebih bisa muasin memek Intan daripada kontol Rangga.. uuhh.. uuhh..” Intan semakin tidak bisa mengontrol kata-katanya ketika dia merasakan kerasnya penis Pak Jarwo yang sengaja digesekkan ke belahan pantatnya.

“Oke, bawa kopi dan susunya ke ruang tamu. Kamu harus telanjang, hanya pakai handuk dan temui saya. Bisa?” Pak Jarwo dengan sangat jumawa memerintah Intan.

Intan pun berbalik dan mengemuti jari-jari tangan Pak Jarwo sambil berkata dengan suara manja, “Apa pun yang Pak Jarwo mau dengan tubuh Intan, Intan akan berusaha muasin Pak Jarwo dan membuat Pak Jarwo setia sama memek Intan. Uuuhh.. Pak Jarwo tunggu aja di ruang tamu, yaa..”

Usai berkata begitu, Pak Jarwo pun akhirnya meninggalkan Intan di dapur dan menuju ruang tamu. Intan sendiri masih merenung di dapur, dia bingung kenapa dia mau mengiyakan permintaan Pak Jarwo untuk melayaninya pagi ini padahal Rangga, kekasihnya yang tampan, masih tidur nyenyak di kamarnya. Tapi Intan tak ingin dia dan Rangga pada akhirnya dituduh berbuat asusila dan diarak keliling desa, mau ditaruh dimana harga diri dan nama baik keluarganya? Padahal sehari-harinya Intan memakai hijab.

Banyak pertanyaan muncul di kepalanya saat itu. Satu hal yang membuat Intan akhirnya mantap menjadi budak seks Pak Jarwo mulai pagi ini adalah ukuran penis Pak Jarwo yang tadi digesekkan ke pantatnya, seakan membelai vagina dan lubang pantatnya. Intan seketika itu juga tersenyum dan membawa kopi panas ke ruang tamu.

“Ini, Pak, kopinya. Intan mau siap-siap dulu, Pak Jarwo tunggu ya..”

Sambil mengelus pantat Intan, Pak Jarwo berkata, “Iya, pelacur, jangan lama-lama ya.. saya tidak punya waktu banyak.” Pak Jarwo tersenyum menjijikkan.

Intan pun berjalan menuju kamar tidur sambil menggoyangkan pantat, mempertontonkan kemontokan tubuhnya pada Pak Jarwo. Sampai di depan pintu, ia menengok ke belakang dan dengan kerlingan mata nakal, Intan menjilat bibirnya sendiri. Uuuh! Penis milik Pak Jarwo sudah tidak tahan ingin segera mencoblos vagina Intan saat itu juga, tapi Pak Jarwo masih bersabar.

Tak berapa lama kemudian, Intan keluar hanya dengan memakai handuk. Ia berjalan menuju ruang tamu dan duduk menyamping di pangkuan Pak Jarwo. “Pejantannya Intan, nih maunya udah diturutin. Sekarang Pak RT cabul ini mau apalagi?” Intan berusaha menjadi pelacur yang baik walau dalam hatinya masih ada sedikit keraguan.

Pak Jarwo yang ditanya seperti itu malah semakin memuncak birahinya, tapi memang beliau adalah pria yang sudah sangat matang, tidak mau terburu-buru. Maka sambil mengelus lengan Intan yang terbuka, ia berkata, “Sekarang berdiri di hadapan saya, buka handuknya, terus rentangkan sambil kamu duduk di pangkuan saya sekarang. Ayo lakukan!!”

Intan segera berdiri, membuka lipatan handuknya dan memperlihatkan vaginanya yang tercukur rapi serta payudaranya yang montok dengan putingnya yang berwarna pink mencuat ke atas, tanda dia sendiri pun sebenarnya dalam kondisi terangsang. Perlahan-lahan dengan menyunggingkan senyum nakal, Intan duduk di pangkuan Pak Jarwo.

“Hmm.. bapak ini banyak maunya deh, aku juga paham kok caranya muasin tua bandot mesum kayak bapak. Bapak tenang aja ya..” Sehabis berkata begitu, Intan perlahan mendekatkan bibirnya yang ranum ke telinga Pak Jarwo, “Jangan selesai terlalu cepat ya, suamiku sayang.” Intan berbisik dengan begitu mesra dan itu membuat jantung Pak Jarwo semakin berdetak kencang.

Intan mengulum telinga Pak Jarwo dengan pelan dan mesra, dengan tangan masih memegang handuk dan memeluk leher Pak Jarwo, seakan-akan mereka tak ingin terlihat orang lain. Pak Jarwo pun tersenyum licik, menyadari ketidakpercayaannya bagaimana begitu mudah ia menaklukkan mahasiswi kedokteran yang sehari-harinya berjilbab ini. Dengan tangannya yang kasar, Pak Jarwo mengelusi buah dada Intan yang hanya bisa dibayangkannya selama ini.

“Uuuhh.. Pak Jarwo nakal ya tangannya. Kok cuma dielus sih, Pak? Diremes juga dong, ini kan punya bapak sekarang. Hihi,” Intan pun mulai terbawa arus birahi ketika bibirnya menyentuh bibir Pak Jarwo yang kental dengan bau tembakau, tapi itu malah menambah gairahnya untuk mengulum bibir pejantan tuanya.

“Uuhh.. hmm.. mmhh.. hmm.. uuhh.. Pak Jarwo lebih aktif dong! Uuuhh.. hmm.. mmhh..” Lidah mereka berdua saling bertautan, beradu seakan saling mendorong keluar. Kecipak suara mereka juga sangat keras karena Pak Jarwo sangat menyukai seks yang sedikit kasar dan berisik, maka dia coba meludahi mulut Intan dan Intan dengan sangat setia menelan semua air liur Pak Jarwo.

Pak Jarwo meremas payudara Intan dengan sedikit kasar, membuat Intan melenguh nikmat. Jari-jari tua itu mulai memilin puting mahasiswi kedokteran tersebut, pegangan tangan Intan pada handuk pun lepas karena Intan tidak tahan dengan sentuhan-sentuhan tangan Pak RT tersebut. Tangan Intan mengelus rambut Pak Jarwo yang sudah memutih dengan penuh rasa sayang.

“Uuuhh.. Pak Jarwooo.. bapak pasti udah lama gak ngerasain tubuh montok kayak Intan ya? Intan pagi ini jadi istri bapak deh, Intan akan bikin bapak ngerasain surga dunia ya.. uuhh..” Intan menarik kepala Pak Jarwo menuju payudaranya, berharap putingnya diemut bibir tua namun menggairahkan tersebut.

“Hmm.. umm.. mmm.. puting kamu memang manis, sama seperti orangnya. Hihi..” Pak Jarwo mencolek dagu Intan sehingga pipi Intan pun semakin memerah mendengar pujian tersebut.

Pak Jarwo terus mengemuti puting Intan dan akhirnya.. mencupang payudara Intan dengan keras dan berisik. “Auuuww!! Pak Jarwo, pelan-pelan dong ah. Intan gak mau Rangga sampe bangun, nanti Intan gak ngerasain kontol Pak Jarwo pagi ini..”

Pak Jarwo melempar handuk yang tadi dipakai Intan, meremas pantat gadis itu dan menciumi lehernya. Pak Jarwo berubah menjadi beringas karena ia sebenernya sudah tidak tahan dengan segala kata-kata yang keluar dari mulut Intan saat ini.

Intan melenguh menahan desahannya yang sebenarnya sudah tidak tertahankan, ia baru ingat bahwa ia lupa mengunci pintu kamarnya dan Rangga bisa keluar sewaktu-waktu. Tapi rasa takut ketahuan malah membuat birahinya makin meningkat. Intan berusaha melepaskan kancing-kancing kemeja Pak Jarwo saat lidah laki-laki itu semakin ganas melumuri lehernya dengan air liur. Intan melempar kemeja Pak Jarwo entah kemana, ia begitu kagum melihat dada bidang Pak Jarwo yang sedikit berbulu.

“Aaaahh.. Pak Jarwo, biarkan saya yang bekerja melayani bapak ya..” Intan tersenyum manja dan turun dari pangkuan Pak Jarwo secara perlahan sambil menciumi leher lelaki tua itu.

“Aaahh.. Intan, kamu memang pintar sekali memainkan lidahmu di kulit bapak, uuhh!” Pak Jarwo baru kali ini dimanjakan oleh lidah seorang perempuan, apalagi ketika ciuman Intan turun menuju putingnya. Gadis itu mencium, menjilat dan sedikit menggigit puting Pak Jarwo.

Birahi Intan sudah tak tertahankan lagi, ia sudah bertransformasi menjadi layaknya pelacur jalanan yang menghamba pada kenikmatan seksual. Ciumannya kembali turun menuju perut Pak Jarwo yang sudah sedikit membuncit, walau begitu sisa-sisa hasil fitness zaman dulu masih terlihat samar. Hmm.. dengan sedikit tergesa-gesa, Intan mencoba melepas ikat pinggang dan celana panjang milik Pak Jarwo, ia sendiri tidak sabar untuk memanjakan kontol yang tadi digesekkan ke belahan pantatnya.

“Pak Jarwo..” Intan memanggil nama ketua RT tersebut sambil mendesah dan mengerlingkan matanya dengan nakal, tangannya meremas penis Pak Jarwo sambil menciuminya dari luar celana dalam.

Ah, bagai mimpi jadi kenyataan bagi Pak Jarwo sendiri, ia bisa mengelusi rambut seorang Intan yang sedang membuka celana dalamnya dan akhirnya mengelus penisnya. Kulit bertemu kulit.

Bagaikan adegan film slow motion, Intan mengecup pelan kepala penis Pak Jarwo. Cup! Lalu ia mulai menjilati pinggiran penis Pak Jarwo, masih dengan gerakan yang lambat karena Intan ingin meresapi rasa penis yang mungkin akan menjadi penis favoritnya untuk selamanya. Intan menjilat penis Pak Jarwo senti demi senti, sambil menutup matanya bagaikan mencoba pertama kali es krim coklat kesukaannya saat SD.

“Hmm.. mmhh.. umm.. Intan suka rasa Pak Jarwo, mulut ini bakal selalu kangen disentuh kontol Pak Jarwo, hmm.. mmm..” Penis Pak Jarwo makin tegang mendengar Intan berkata kotor seperti itu.

Mulailah Intan memasukkan semua bagian penis Pak Jarwo setelah dirasa cukup basah oleh liurnya. Perlahan, sangat pelan, Intan memasukkan semua ke dalam mulutnya, ia ingin penis tersebut menyentuh ujung tenggorokannya. Lalu juga dengan pelan sekali, Intan melepaskan penis tersebut. Cup! Penis tersebut sudah begitu tegang ketika pada akhirnya Intan menghisapnya, dari pelan perlahan menjadi semakin cepat, cepat dan semakin cepat.

“Uhh.. hmm.. mmhh.. hmm.. Pak Jarwo.. hmm.. mmhh!!”

“Iya, mbak Intan? Kontol saya sepertinya jodoh sama mulut mbak, hehe..”

Tapi Pak Jarwo tetaplah seorang pria tua, ia tak akan tahan kalau begini terus. Maka dari itu sebelum spermanya keluar, segera ia membangunkan Intan dan menyuruh gadis itu kembali dipangku olehnya untuk mulai memasukkan penis ke dalam liang vagina Intan yang sudah begitu basah. Intan juga berpikir kalau lama-lama, Rangga bisa bangun dan memergokinya bergumul mesra dengan Pak Jarwo. Maka Intan pun naik dan duduk di pangkuan Pak Jarwo, tangannya yang lembut memegang dan mengarahkan penis Pak Jarwo ke dekat bibir vaginanya.

“Uuuhh.. Pak Jarwo.. puaskan saya ya, Pak.. cup!” Intan mencium pipi keriput Pak Jarwo dan menurunkan tubuhnya perlahan-lahan supaya penis Pak Jarwo bisa masuk secara sempurna ke dalam lorong vaginanya.

“Hhhh… saya tidak menyangka bisa ngentot sama mbak Intan. Tenang aja, bukan Jarwo namanya kalau gak bisa muasin memek perempuan, hehe..” Pak Jarwo membantu dengan menaikkan pinggulnya guna menyambut pantat Intan yang semakin turun menyelimuti penisnya dengan kehangatan liang vaginanya.

“Uuhh.. hhh.. mmhh.. uuhh!!” Intan mulai mendesah ketika ia mulai memompa penis Pak Jarwo dengan vagina sempitnya yang bak perawan. Sambil menggenjot, ia meremas rambut Pak Jarwo dan menciumi pipinya.

“Aahh.. mbak Intan! Uuhh.. uuhh.. memek mbak enak banget, belum pernah saya menikmati memek seperti ini, uuhh!” Darah tua Pak Jarwo mulai berganti menjadi darah muda kembali, tangannya mengelus punggung dan pantat Intan yang sedikit demi sedikit mulai berkeringat. Kecipak pertemuan penis dan vagina perempuan dan lelaki berbeda usia ini begitu berisik, untung saja Rangga memang terbiasa bangun siang karena ini hari Minggu. Intan yang mengetahui hal itu menerima saja tumbukan penis di vagina yang sehari-harinya hanya diisi oleh penis kekasihnya.

“Uuuhh.. teruusshh, Pak Jarwoo.. kontol bapak memang tidak ada duanyaaa!!” Selesai berkata seperti itu, bibir Intan mencium, mengulum bahkan seperti akan memakan bibir Pak Jarwo, begitu ganas, liar dan beringas. Intan terbiasa menerima perlakuan seksual yang lembut dari Rangga, tapi sekarang ia menjadi liar karena kenikmatan yang kelewat batas.

“Uuuhh.. uuuhh.. mbak Intan! Ayo ganti gaya, saya mau mbak nungging, saya mau doggy style! Uuhh.. hhhh!” Pak Jarwo merasa bahwa ia harus mengeluarkan spermanya di vagina Intan, kalau bisa menghamilinya.

Intan akhirnya turun dari pangkuan Pak Jarwo dan dengan berpegangan pada sofa, ia menunggingkan pantatnya yang montok ke arah Pak Jarwo.

Pak Jarwo berdiri dan mencoba memasukkannya ke vagina Intan saat tiba-tiba ia berkata, “Mbak Intan yang binal, rayu kontol saya biar mau masuk ke memek mbak dong, hehe..” Dia tersenyum menjijikkan.

“Uuhh.. Pak Jarwo.” Intan mendesah sambil menggoyangkan pantatnya seakan menyambut penis Pak Jarwo yang semakin mendekat ke liang vaginanya. “Ayo dong kontolku sayang, masuk ke memek aku. Aku udah gak tahan banget pengen disodok sama kamu, terus disemprot pake peju, uuhh!” Intan berkata dengan manja sambil memperlihatkan muka sayu, menggigit jarinya sendiri dan itu cukup membuat Pak Jarwo kembali menusukkan penisnya ke vagina Intan dengan ganas!

“Uuuhh.. uuhh.. dasar perek nakal! Mahasiswi emang semuanya bisa dipake! Uuhh.. uuhh! Ini bapak entot! Uuuhh!” Pak Jarwo menggenjot vagina Intan dengan ganas, sambil menampar pantat gadis itu sampai memerah.

”Uhh! Uhh! Uuhh! Uuhh!” desahan mereka saling bersahutan tetapi tetap berusaha untuk tidak terlalu keras. Intan juga ikut menggoyangkan pantatnya dan mencari kenikmatan dengan menggosok kelentitnya sendiri menggunakan jari-jarinya.

“Uuuhh.. uuuhh.. terus, Pak Jarwooo!! Sudah hampir setengah jam berlalu, bapak belum keluar juga! Uuhhh!” Intan terus mendesah, sebentar lagi ia akan mencapai klimaksnya!

“Aaahhh.. Pak Jarwoo!! Saya keluaarrrrr!! Aaahhhhh!!” Intan mendorong pantatnya ke belakang dengan keras, ia ingin penis Pak Jarwo menyentuh ujung rahimnya.

“Aaaahhhhh.. nikmatnya, Pak Jarwo.. aahhh.. bapak belum keluar ya? Yuk keluarin aja, Pak, di dalem juga gak papa. Hehe..” Kata-kata Intan yang menggoda membuat Pak Jarwo tidak sabar menyirami vagina mahasiswi kedokteran ini dengan spermanya.

“Aaahh.. aahhh!” Pak Jarwo semakin ganas menusuk vagina Intan sampai suara tumbukan antara pantat Intan dan pinggul Pak Jarwo semakin berisik, untung saja tidak berapa lama kemudian Pak Jarwo merasa bahwa spermanya telah berada di ujung penis dan siap untuk ditembakkan.

“Aaahh.. aaahhh! Memek mbak enak banget! Sumpah saya ndak bohong! Aaahhh.. uuuhh.. saya keluar yaaa.. aaaaaaaaahhhhhhhhh!!!” Dengan satu lolongan kuat dan dorongan yang kuat akhirnya sperma Pak Jarwo meluncur masuk ke dalam rahim Intan.

“Aaaahhh.. akhirnya saya bisa puas ngentot sama memek perempuan kayak kamu, uuhh..” Jatuhlah tubuh tua namun masih bertenaga milik Pak Jarwo ke sofa, ia masih menutup mata dan terengah-engah. Belum benar-benar bangun dari kenikmatan surgawi yang baru ia rasakan.

Intan sendiri juga ikut menyusul merebahkan dirinya di atas tubuh Pak Jarwo, ia bersandar pada dada bidang laki-laki itu sambil memainkan penis Pak Jarwo yang masih sedikit tegang namun sangat basah.

“Hmm.. saya puas banget bisa main sama Pak Jarwo.. hmm, kontol bapak sekarang bebas keluar masuk memek saya deh.. oke pejantanku sayang?” Intan sekarang benar-benar manja dan terlihat tidak mau melepas penis milik Pak Jarwo, ia sudah takluk dan menghamba pada kenikmatan seksual yang diberikan oleh Pak Jarwo.

“Iya, mbak, saya juga puas banget. Hhmm.. ya sudah, pokoknya mbak harus janji selalu sedia memek setiap kali saya sange ya, mbak.. hehe, cup!” Pak Jarwo mengecup kening Intan, membuat perempuan itu semakin terbang melayang.

Akhirnya Pak Jarwo memakai kembali pakaiannya dan pergi dari kontrakan Rangga sebelum hari makin siang dan Rangga kembali terbangun. Sebelumnya, Pak Jarwo dan Intan sempat bertukar liur sebelum mereka berpisah.

Ah, hari yang indah! Intan akhirnya mandi dan pulang meninggalkan Rangga yang sebenarnya.. berpura-pura tidur!!

WINDY 3

Sudah sebulan berlalu sejak peristiwa dan hari-hari penuh sensasi dengan Windy. Terhitung seminggu sekali aku mengunjunginya. Harinya tidak tentu, mengikuti jam dinas suaminya yang berubah-ubah. Meski sedikit merepotkan, aku oke-oke saja. Rasanya tidak ada bosan-bosannya menyetubuhi wanita cantik yang satu itu. Meski tidak semolek Tanti, tapi ada saja ulah dan perbuatannya yang mengejutkanku.

Pernah suatu kali ia membukakan pintu sambil telanjang. Tubuhnya basah oleh semacam minyak, terlihat sangat mulus dan mengkilat sekali. Tentu saja aku langsung panas, dan kutubruk ia saat itu juga. Kami bercinta di ruang tamu rumahnya. Empat kali Windy mendapatkan orgasme, sedangkan aku cukup sekali saja, karena selanjutnya kami meneruskan acara tukar lendir itu semalam suntuk setelah Windy menawariku makan malam.

Atau saat ia menjemputku di terminal, dan mengoral penisku selama perjalanan menuju rumahnya. Begitu sampai, ia malah bilang kalau lagi ’dapet’. Sial, ia sengaja mengerjaiku. Jadilah aku malam itu cuma tidur mengeloninya, tanpa bisa berbuat apa-apa. Memang aku cukup puas juga karena selain masih bisa meraba-raba tubuh sintalnya, aku juga berkali-kali dioral hingga dalam semalam, terhitung empat kali aku muncrat di mulutnya. Dan Windy dengan senang menelan semuanya. Memang gokil sekali perempuan yang satu ini.

Dia juga sering mengajakku pindah-pindah tempat main; mulai dari kamar mandi hingga halaman belakang rumahnya. Pernah kami hampir dipergoki oleh tetangganya yang malam-malam mau buang sampah, untung wanita tua itu sudah katarak sehingga tidak melihat kami yang bertindihan telanjang di bawah pohon jambu. Kalau beneran ketahuan kan bisa berabe.

Tapi situasi yang ’menyeramkan’ itu malah semakin menambah gairah kami berdua. Windy jadi semakin liar dan geregetan, begitu pula denganku. Akibatnya, kami jadi begitu kecapekan pada keesokan harinya. Dan saat suaminya pulang di pagi hari, aku masih ada di kamar Windy. Ketiduran! Benar-benar mendebarkan. Aku sampai harus meloncat dari jendela untuk menyelamatkan diri, sementara Windy berusaha menyibukkan suaminya meski saat ia ia cuma bercelana dalam saja.

”Kok pakaianmu kaya gitu?” kudengar suaminya bertanya saat aku sibuk memakai celana di bawah ambang jendela.

Windy gelagapan menjawab, dan selanjutnya perempuan itu malah menjerit saat suaminya menyeret ia ke atas tempat tidur dan menyetubuhinya dua kali. Rupanya bukan aku saja yang terpana begitu menatap tubuh molek Windy, suaminya yang sudah menikahinya begitu lama, tetap berlaku sama. Memang, wanita cantik dan seksi seperti dia selalu bisa menggoda siapapun.

Tanpa sempat mandi apalagi gosok gigi, akupun pergi meninggalkan tempat itu. Kucegat taksi yang kebetulan melintas dan minta untuk diantarkan ke terminal. Saat kuceritakan kejadian itu kepada Tanty, dia langsung tertawa ngakak sambil menyumpahiku. Perempuan yang sekarang hamil 9 bulan itu menyuruhku agar lebih berhati-hati lagi.

”Jangan sampai ketangkep, nanti anakku ini bingung nyari-nyari ayahnya.” ia berkelakar. Bayi dalam kandungannya memang adalah anakku.

”Siap, Bos!” aku menyahut riang. Dan menutup telepon dengan ucapan ,”Aku kangen kamu, Tan.”

”Kangen aku apa kangen tubuhku?” godanya lagi.

”Dua-duanya,” Dan kamipun tertawa berbarengan. Aku membolos kerja hari itu karena siang baru sampai kembali ke kota S. Aku langsung menuju rumah kontrakan dan menelepon istriku yang akhir-akhir ini sedikit kuabaikan. Untung ia tidak curiga. Volume pekerjaan yang bertambah kujadikan alasan kenapa aku jarang pulang, padahal sebenarnya aku sibuk membagi benih kepada Windy dan Tanty.

Maafkan aku, istriku. Aku selingkuh bukan karena kamu kurang cantik, ataupun tubuhmu yang kurang seksi. Kamu sudah sangat sempurna; sabar, penyayang, pengertian, kalem, pokoknya segalanya deh. Kamu adalah malaikat dan bidadariku. Tapi… sekali lagi tapi, seperti kata pepatah: rumput tetangga lebih hijau, ataupun bosan tiap hari makan sate, sekali-kali nyoba gule… itulah yang terjadi kepadaku. Kamu sama sekali tidak bersalah. Akulah yang nakal dan tidak bisa menahan nafsu. Nafsu kepada dua wanita cantik semacam Tanty dan Windy, yang kuharap cukup dua itu saja karena kalau sampai ada lagi… aku juga masih mau, haha!

Siang itu panas sekali, dengan memakai taksi aku pergi ke rumah Windy. Dia sudah berkata kalau hari ini suaminya dinas malam. Seperti yang sudah-sudah, itulah saat yang tepat bagiku untuk mengunjunginya.

Sesampainya disana, segera kubuka pintu pagar. Tanpa perlu repot-repot mengetuk, Windy sudah keluar menyapaku. “Kangen aku, Mas,” rajuknya sambil menyerbu memelukku.

Segera kututup pintu dan cepat-cepat kubalas pelukannya. Kami berpagutan rakus di balik sambil tanganku lekas menggerayang di tubuh sintalnya.

“Ih, nafsu amat sih?” Dia tertawa dan memisahkan tubuhnya.

Kukejar dia dengan mengelus-elus bongkahan pantatnya saat mengajakku masuk ke ruang tengah. Disana, kembali ia kucium dan kugeluti sambil kupepet tubuh montoknya ke sofa merah di ruang tengah. Napasku sudah ngos-ngosan, sementara kuperhatikan Windy juga sudah merah padam. Tapi dia mencoba untuk bertahan saat aku ingin melepas baju panjangnya.

“Nanti dulu,” bisiknya serak. “ada yang ingin aku kasih tahu sama Mas.” Ditangkisnya tanganku yang ingin meraba kembali tonjolan payudaranya.

Kupandang wajahnya yang cantik jelita yang malam ini tertutup jilbab biru muda. Ia tersenyum membalasku dan mengangguk. “Dari senyummu, seharusnya ini berita bagus.” kataku.

Dia mengangguk, “Iya, aku hamil. Mas.” pekiknya ceria.

”A-apa?” meski sudah mengantisipasi jawaban ini, tak urung aku tetap terkejut juga.

”Sudah dua minggu ini aku telat, dan pagi tadi aku mual-mual.” Dia berbinar, membuatnya jadi tambah cantik. “Setelah diantar suami periksa ke dokter, ternyata positif,” lanjutnya.

“Wah, selamat ya.” Kupegang tangannya dan kucium pipinya, tapi Windy malah memberikan bibirnya untuk kulumat. Kami pun berciuman sekali lagi dan kembali tanganku menggerayangi tubuhnya yang sintal.

“Ih, nih tangan nakal amat,” serunya saat aku bergantian memijit-mijit kedua bongkahan payudaranya.

“Habis kamu sih, bikin aku gemes aja.” Kupagut lagi bibirnya yang tipis memerah, dan baru kulepas setelah napas kami sama-sama terengah-engah.

”Aku seneng sekali, Mas. Bayangkan, tiga tahun menunggu…” lirihnya sambil menaruh kepala di pundakku.

“Kalau reaksi suamimu, gimana?” tanyaku dengan tangan memeluk pinggangnya yang ramping.

“Dia juga seneng banget, dikiranya ini benih dari dia.” Windy tertawa getir.

Aku mencoba ikut tertawa. “Kalau dia sampai tahu gimana?”

“Asal kita pintar, aku yakin pasti aman.” Ia menyurukkan kepala di dadaku.

Kucium kembali pipinya, lalu hidungnya, dan terakhir belahan bibirnya yang selalu terlihat mengundang. “Berarti tugasku sudah selesai donk,” bisikku tak rela.

“Ah, ya nggak gitu juga kale…” Windy menggeleng. “Masa aku akan langsung melupakan jasa Mas gitu aja,”

”Lha terus?” tanyaku penasaran. Tak terasa, tanganku yang sudah sedari tadi menggerayang di pahanya, kini bisa menyingkap gaun gamisnya hingga ke pinggang. Membuat Windi yang duduk di atas pangkuanku jadi meringkuk setengah telanjang. Tak henti tanganku terus meraba dan mengelus-elus belahan pahanya yang terasa halus dan sangat hangat itu.

“Ehm…” Windy menggelinjang lirih, namun tetap membiarkannya saja. Malah yang ada ia seperti semakin memepetkan tubuhnya untuk menghimpit batang penisku yang sudah terjepit diantara perutnya. “Cepet amat, tahu-tahu dah ngaceng aja,” Dia tertawa.

Kucium lagi bibirnya yang merah tipis dan kulumat dengan rakus, yang diimbangi oleh Windy dengan senang hati. “Kau belum menjawab pertanyaanku,” aku berbisik.

“Ahh… y-yang mana?” tanyanya sambil mendesah begitu tanganku menelusup ke balik baju untuk menggelitik perutnya yang masih terasa rata.

“Kelanjutan hubungan kita,” Tanganku terus merayap dan sebentar saja sudah sampai di bawah bongkahan payudaranya. Kuremas pelan-pelan benda empuk kenyal yang terasa hangat itu, meski masih tertutup beha tipis tapi aku bisa merasakan kalau putingnya yang mungil sudah sedikit menegang.

“Ahh… Mas!” Windy mengeluh lagi, tak sanggup menjawab pertanyaanku karena kini tanganku sudah menyusup ke dalam beha untuk mencengkeram kedua bongkahannya secara langsung.

“Susumu gede, Win.” bisikku sambil mengendusi pipi dan bibirnya.

Windy membuka mulut untuk menyambut ciumanku. Tubuhnya sudah lemas, terlihat pasrah sepenuhnya. Aku terus membelai dan menggerayangi tubuhnya yang sintal sebelum Windy tiba-tiba membuka mata dan menjauhkan tanganku yang mencoba melepas jilbabnya.

“J-jangan, Mas… uhh, sudah dulu dong meluknya, panas nih…” Ia bangkit dan dengan terhuyung-huyung masuk ke dapur.

Aku mengikutinya, ”Oh… sori, Win. Habis aku pengen banget. Mau apa lagi kesini kalau bukan meluk kamu,” kataku.

“Iya, tapi ntar dulu ya.” Dia mengajakku duduk di meja makan. “Mas sudah makan belum, tadi aku beliin steak kesukaan Mas. Ayo dicoba dulu, mumpung masih hangat.” Dia melayaniku, bagai seorang istri lagi melayani suami.

”Sip banget,” kuminta Windy untuk duduk di sebelahku. Sementara aku melahap apa yang ia sajikan, Windy mengambilkan air minum. Senyum cerah terus menghiasi wajah cantiknya saat ia mulai berbicara.

”Mas nggak usah kuatir masalah kelanjutan hubungan kita.” Dia berkata. “selama suamiku nggak curiga, pokoknya Mas tenang aja. Tapi hanya ingat kata dokter, di triwulan pertama si bayi masih rentan. Jadi…”

“Iya, untuk sementara kita berhenti dulu.” kataku sambil satu tangan meraih tonjolan payudaranya, sementara tangan yang satunya terus melanjutkan makan.

”Eh, bukannya gitu…” Windy menggelinjang geli. “Bisa kok, tapi kita harus lebih hati-hati.

“Hah?” Aku terpana seakan tak percaya. Dengan Tanti dan istriku, aku harus berpuasa di awal-awal kehamilan mereka. Sementara Windy tampak oke-oke saja. Sungguh sangat beruntung sekali.

“Waktu periksa tadi, dokter sudah mengecek… kandunganku kuat kok. Aku juga tanya masalah hubungan seks saat kehamilan, kata dokternya, silahkan saja asal tidak berlebihan. Mengenai sampai kapan boleh berhubungan, dokter bilang itu relatif. Tergantung dari masing-masing pasangan. Malah dokter itu bilang, ada juga pasangan yang hamil 9 bulan masih melakukannya. Kenyataannya libido wanita justru meningkat saat sedang hamil, juga memang tidak ditabukan berhubungan seks saat hamil, karena bisa memperlancar lobang wanita.” Windy menambahkan.

“Tapi tujuan perselingkuhan kita jadi lain sekarang,” aku mengingatkan.

“Kenapa, mas nggak suka?” tantangnya sambil tersenyum.

Aku mengangkat bahu. “Gila kalau aku sampai menolak.”

“Ya sudah kalau begitu.” Windy bangkit untuk merapikan piring dan gelas. Selama itu juga tanganku terus menggerayang di bokong sintalnya.

“Tubuhmu nggak pernah bikin bosan, Win.” bisikku jujur.

“Mas aja yang kegatelan,” dia tertawa ringan sebelum kemudian mengajakku pindah ke ruang teve. Tampaknya disana permainan kami akan dimulai.

Kami berpelukan mesra di atas sofa menonton film yang entah apa, karena tanganku lebih sibuk meraba-raba daripada melihat tayangan yang ada disana. Windy menggelinjang namun sama sekali tidak menolak. Terus kuremas-kuremas paha dan tonjolan payudaranya hingga sebentar saja gamis panjang yang ia kenakan sudah tersingkap kemana-mana, menampakkan tubuh bugil indah yang selalu bisa memancing hasrat dan gairahku.

Saat akan kucium bibirnya, barulah Windy berbisik sedikit serius. ”Mas, sekali lagi aku mau berterimakasih sama Mas, tak terhingga. Aku kini merasa lengkap sebagai seorang perempuan. Terima kasih, Mas.”

”Ah, nggak usah begitu juga,” kulumat lembut bibirnya. “Aku turut senang kalau kamu bahagia.” kataku sambil tambah memeluknya.

”Terimakasih sekali lagi, Mas,” Windy balas memelukku, kurasakan air matanya mulai menetes.

Segera kulepas pelukan dan kuhapus air mata itu dengan tanganku. Lalu aku tersenyum. Windy pun ikut tersenyum. ”Sudah ah, lagi bahagia gini jangan menangis.” rayuku.

”I-iya, Mas. Kalau kamu bilang begitu, aku nggak nangis lagi deh.” sahutnya.

”Nah gitu dong,” Kukecup lagi bibirnya.

”Kalau nanti aku gendut, Mas masih suka nggak?” tanyanya tiba-tiba.

”Justru gendutnya wanita hamil itu yang bikin pengen. Ininya jadi tambah gede,” kataku sambil memencet-mencet ringan bulatan payudaranya.

“Punyaku nanti jadi segede apa ya?” Windy memandangi dadanya yang memang sudah over size, tampak terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang mungil dan kurus.

“Tambah gede malah tambah bagus,” kataku bercanda.

“Kalau punya Tanti?” tanyanya ingin membandingkan.

“Jadi gede juga, tapi tampaknya bakal lebih gede punyamu.” Aku menunduk, satu persatu kujilati puting Windy yang masih nampak mungil memerah. Enam bulan lagi, puting itu akan jadi tambah hitam dan menonjol, siap untuk memberi ASI bagi si bayi.

“Tanti sekarang lagi nifas ya?” tanyanya sambil menggelinjang. Ditatapnya tampangku yang kepengen, sebelum tangannya mulai mengelus dan meremas pangkal celanaku.

“Iya,” aku mengangguk.

Tanti memang baru melahirkan dua minggu yang lalu. Bayinya cowok seperti yang ia idam-idamkan, dan wajahnya mirip denganku. Suaminya sepertinya tidak curiga karena kata Tanti, laki-laki itu sangat menyayangi anaknya. Aku jadi lega, setidaknya apa yang kulakukan selama ini bisa memberi manfaat bagi semuanya.

“Nggak kangen sama Tanti?” tanya Windy. Tangannya yang terus bermain di celanaku, akhirnya mau tak mau membuat batang penisku bangun juga.

“Kangen sih, tapi untung ada kamu.” sahutku sambil kubantu Windy memelorotkan celana.

“Lebih suka mana, aku apa Tanti?” tanyanya menggoda.

“Nih jawabannya,” Kusuruh dia untuk menunduk, dan tanpa menunggu lama, lidahnya yang basah mulai menjilati kepala penisku.

Windy menjilatinya dengan lembut, mulai dari lubang pipis hingga batangnya yang sudah merekah besar. Tangannya juga tak henti mengocok, sambil sesekali mempermainkan biji zakarku yang seakan seperti ingin meledak.

“Ssshhh… Win!” aku mendesah ketika mulutnya mulai menelan ujung penisku. Ia mengemut dan menghisap-hisapnya rakus hingga akhirnya seluruh batangku dilahapnya, sambil sesekali gantian mengenyot bijiku. Perbuatannya itu kontan membuat birahiku meningkat. Masih sambil rebahan di sofa, kubuka bajuku hingga aku pun terduduk telanjang bulat menikmati segala sentuhannya.

Setelah agak lama, Windy berdiri dan mulai menanggalkan busananya. Aku hanya tiduran saja, menyaksikan sambil mengocok-ngocok penisku. Kuperhatikan tubuhnya, belum ada perubahan yang mencolok; masih tetap ramping dan seksi. Tetek besarnya masih tetap indah, dengan puting dan lingkaran sekitarnya agak merah kecoklatan. Puting itu sedikit tegang, yang tentu saja jadi menambah keras batang penisku.

Windy lalu naik ke sofa, duduk di depanku dengan provokatifnya. Kedua tangannya dinaikkan dan diapitkan di belakang kepala, seperti ingin memperlihatkan gundukan payudaranya yang selama ini selalu kukagumi. Sementara kakinya dibuka lebar-lebar dengan kedua lutut menekuk, menampakkan rimbunnya bulu kemaluan yang menghiasi celah selangkangannya.

“Hmm,” Aku meneguk ludah menyaksikan keindahan di depanku itu.

Segera aku bangkit dan menyerbu gundukan buah dadanya, kujilati dan kuciumi bergantian sampai menjadi basah. Lalu kucari bibirnya, cepat kami saling bertautan lidah dengan gairah membakar. Pipi, mata, leher, dan belakang telinganya tak luput dari jilatanku. Windy blingsatan kegelian, apalagi saat mulutku kembali menyerbu tetek besarnya sambil tanganku juga meremas-remasnya gemas.

Yang jadi sasaran nafsuku adalah putingnya yang terlihat lebih tegang dan lebih besar, terasa enak sekali saat dijilat dan dimainkan dengan lidah. Kujilati dan kuemut-emut benda mungil itu, kugoyang-goyang dengan lidahku. Windy menggeliatkan badannya, campuran antara geli dan keenakan. Aku benar-benar gemes sama putingnya saat itu, jadi lama aku nenen disana. Kadang bergantian dengan menggerayangi bulu-bulu kemaluannya sebentar untuk membelai-belai belahan memeknya, hanya membelai belahannya saja, tidak lebih.

Ada 10 menit aku hanya nenen saja, Windy juga tidak meminta untuk berubah posisi, mungkin ia sengaja membiarkanku menikmati mainan baru; yaitu tonjolan putingnya.

Puas menghisap disana, aku mulai menuju ke lembah kenikmatan milik perempuan cantik itu. Bibirku mulai menciumi permukaan dan belahannya yang sempit, pelan-pelan kusodokkan jariku ke sana sebelum biji itilnya menjadi sasaran santapan lidahku. Kembali Windy mendesah dan menggeliatkan pinggulnya, kini dia agak menaikkan badan dengan tangan meraih belakang kepalaku untuk semakin membenamkannya ke celah selangkangan agar aku terus memainkan itilnya lebih kuat dan lebih nikmat lagi.

“Hmm… hmph…” Aku makin bersemangat saja dalam menjilat dan mengulum, rambutku diremas olehnya. Desah dan erangannya kini mulai berkepanjangan.

”Ahhh… ahhh… betul, Mas… d-di situu…” teriaknya keenakan.

”Ough… sshh….” Sambil menjilat, aku juga kembali meraih tonjolan payudaranya dan meremas-remasnya gemas.

”Yah…. jilat terus, Mas… ohh… gila!!” rintihnya tak tahan.

Kupenceti puting susunya yang mungil berkali-kali sambil sesekali juga kupilin-pilin mesra. ”Ahmhp…” Dan aku juga terus mencaplok liang surganya.

Akibatnya, “Mas… a-aku…” Windy menjerit keras begitu cairan orgasmenya menyembur kencang membasahi lubang senggamanya.

Aku segera bangkit dan tanpa perlu repot-repot membersihkannya, langsung memposisikan tubuh di antara kedua kakinya yang masih mengangkang lebar, dan… Bless!! Hanya perlu satu kali tusukan, penisku pun amblas ke dalam lubang nikmatnya.

“Auw!” Windy memekik, sementara aku secara naluri bertumpu di atas kedua lutut dan tanganku, berusaha tidak menindih perutnya. Kumulai pompaanku dalam lobang kemaluannya.

Kurasakan sesaat, belum ada rasa yang berubah, masih sama legit sebelum dia hamil. Aku memompa dengan santai saja, aku tidak mau menyodok dengan cepat atau kuat, takut terjadi sesuatu. Kugerakkan penisku keluar masuk dengan teratur, sementara tanganku mulai berkarya meremasi bulatan teteknya; kupilin dan kuputar-putar putingnya yang selalu membuatku gemas, sambil sesekali tanganku membelai bulu keteknya saat tangan Windy terangkat ke atas.

Boleh dibilang permainan kami berlangsung secara lembut dan penuh kehangatan, namun tidak menurunkan kenikmatannya. Malah semakin menambah keasyikan. Kami terus bergaya seperti itu sebelum aku cabut kejantananku dan mengajaknya berganti posisi favoritku; yaitu menggaulinya dengan posisi sejajar menyamping.

Segera kuangkat dengan lembut satu kaki Windy, dan aku langsung membenamkan penisku ke dalam lubang kenikmatannya, sementara mulutku dengan leluasa menjilat serta menciumi bibirnya. Tak luput juga putingnya yang mungil kulumat bergantian sambil jariku memainkan itilnya yang kecil. Memang Windy paling senang kalau disodok dengan gaya ini, katanya semua bagian tubuhnya bisa aku mainkan sekaligus.

Maka desahan dan erangannya semakin menjadi-jadi, ”Ouw… ahhh… shh… hisap lagi, Mas… aduh… aduduh… itilku juga, jangan berhenti… ahh… auw!!”

Hasilnya, tak perlu waktu lama. Dia kembali orgasme. Aku masih tetap menyodokkan penisku dengan irama sedang saja; saat menarik, kukeluarkan sampai sebatas kepala, lalu kembali menusuk masuk secara perlahan-lahan. Begitu terus, dan tampaknya Windy sangat menikmati karena lubang memeknya kurasakan semakin basah dan lengket sementara itilnya jadi semakin mengeras oleh permainan jariku.

Akhirnya kurasakan denyutan yang sudah sangat kukenal. Segera kubenamkan dan kugoyang penisku dalam lubang kemaluannya sedikit lebih cepat…

Croot… croot… croot… spermaku meledak membanjiri lorong rahimnya. Kami terkulai lemas, sama-sama puas dan berkeringat. Windy mencium dan memelukku dengan mesra.

”Terima kasih, Mas, untuk kenikmatannya.” Ia berbisik, “dan juga karena telah memberiku anak.”

Lalu kami tertidur pulas. Lewat tengah malam kami bangun, main lagi dua kali sebelum kemudian mandi bareng karena hari sudah menjelang subuh. Di kamar mandi, kembali kunaiki tubuh sintalnya, namun kali ini kuguyurkan spermaku ke dalam mulutnya. Windy tersenyum saat menelannya. Setelah itu kami berpakaian dan kutemani dia memasak sarapan.

Menjelang suaminya pulang, kami pun berpisah. Windy berjanji akan mengabariku lagi kalau memang ada kesempatan. Namun itu ternyata sulit. Bukan karena suaminya berada di rumah terus, melainkan karena kandungan Windy yang tiba-tiba saja bermasalah. Dokter menganjurkan agar dia menghentikan sejenak kegiatan ranjang sampai kandungannya menginjak usia tiga bulan.

“Nggak apa-apa kan, Mas?” ia menelepon meminta pengertianku.

Apa lagi yang bisa kulakukan selain mengangguk menerimanya. Meski dengan berat hati, terpaksa aku berucap setuju. “Akan kutunggu,” kataku menyanggupi.

ZURAIDA AND FRIENDS 4

hilda yulis - jilbaber hot (12)
Zuraida membiarkan jilbab putihnya tertiup angin, coba mendinginkan hatinya yang terasa begitu panas. Namun hembusan angin pantai selatan pun tampaknya tak mampu untuk mengusir rasa gundah, kesal, cemburu yang menggulung menjadi satu dan memenuhi lubuk hatinya . Wanita cantik itu sengaja menepi dari ramainya obrolan dan celoteh teman-teman suaminya, karena tak yakin dapat menyembunyikan emosi yang terukir diraut wajah nan cantik.
“Uggghhhh,,, Argaaaa,,,” jemari lentiknya mematah ranting kecil dengan kesal. Berkali-kali mengumpat, menyebut nama Arga dengan rasa kesal yang begitu mendalam.
Bukan perkara mudah bagi seorang Zuraida, disaat dirinya sekuat tenaga menahan birahi ketika gerbang dari liang kemaluannya dicumbu dengan hebat oleh lidah seorang pejantan, lelaki yang hingga kini dikaguminya justru dengan bebasnya mencumbu cairan cinta dari seorang gadis muda. Sedangkan Dako,,, yaaa,, meski sempat marah saat matanya secara jelas menyaksikan bagaimana suaminya dengan begitu nakal memasukkan batangan sosis ke dalam vagina Bu Aida, tapi amarah itu tidak sebesar saat menyaksikan lidah Arga yang terjulur memasuki liang kemaluan Andini.
“Argaaaa,,, koq ga berpasangan sama aku aja tadiii,,, iikkkhhhsss,,,” terisak pelan, menyeka kelopak matanya yang berair. Emosi, cemburu dan birahi semakin berpadu merongrong hati yang tengah labil.
Tapi tidak ada yang dapat dilakukannya, meski tau Arga masih menyimpan rasa terhadap dirinya, tapi status mereka tidak sendiri lagi. Sambil menyandarkan tubuhnya ke batang pohon kelapa, Zuraida coba meresapi semilir angin di tubuhnya yang berkeringat. Merasa tidak cukup, wanita itu mengangkat tepian jilbab, dan membiarkan angin yang berpacu mencumbu leher dan kaos tipisnya. Lirikan mata Mang Oyik yang terpesona pada sepasang payudara yang tercetak jelas, tak dihiraukannya. Batin Zuraida berujar, Toh,, lelaki itu sudah menyaksikan bagaimana payudaranya berloncatan saat dirinya ikut lomba balap karung. Ternyata rasa kecewa dan cemburu dapat merubah hati seorang wanita.
“Wooyyy,, Mang,, mlototin nenen bini orang mulu, kalo kepotong tu tangan baru nyahoo,,” seru Bu Sofie, membuat Mang Oyik yang tengah mengupas buah kelapa tersadar, tangannya bisa saja melayang kalo mata dan konsentrasi sange nya terus tertuju pada tubuh si dokter cantik.
Zuraida tertawa mendengar celoteh Bu Sofie atas kekaguman Mang Oyik pada tubuhnya.

Seperti inikah perasaan yang tengah dinikmati oleh para istri yang dilihatnya menggunakan rok pendek. Rasa bangga atas pengakuan para lelaki akan tubuh indah mereka. Zuraida tidak tau pasti apa yang diinginkan oleh hatinya, tapi kini tangannya mengakat jilbabnya lebih tinggi, mengibas-ngibaskan ujung kain itu seolah berusaha mengusir rasa gerah yang tak mampu diatasi oleh angin laut yang cukup kencang. Zuraida berusaha menahan tawanya saat Bu Sofie memites kepala lelaki berambut kriwel itu, sambil mengayunkan parangnya lelaki itu masih saja berusaha mencuri pandang pada payudara Zuraida yang bergoyang pelan karena kibasan tangannya.
“Kalau kau memang menginginkan wanita yang nakal, akupun bisa,,, dan nikmatilah rasa cemburu yang akan menderamu,,” bisik hati Zuraida, tersenyum sinis, kecantikan yang tercipta dari indah senyumnya yang menampilkan keanggunan seorang Zuraida seakan sirna, berganti dengan seringai tajam diatas hati yang bergemuruh.
Matanya menatap Arga, meski tidak dapat mendengar percekapan mereka, tapi tampaknya lelaki yang hingga kini masih dikaguminya tengah kebingungan menerangkan pada Adit tentang apa yang telah terjadi saat game. Dikelilingi oleh Dako, suaminya, dan Pak Prabu.

hilda yulis - jilbaber hot (11)
“Gaaa,,, santai aja ngapaaa,,, Adit juga ga marah koq meqi istrinya kamu kobel-kobel pake lidah,,,hahahaaa,,” Pak Prabu tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Arga.
“Asseeeem,,, cuma orang gila yang ga marah bininya dikerjain ama orang, Om,,, lagian kamu emang kelewatan ya Gaaa,, sempat-sempatnya ngerjain Andini,,” Adit terus mengomel, hatinya begitu panas melihat Andini yang sukses menghambur caira orgasme ke mulut Arga.
“Hadeeeehhh,,, kan aku udah bilang,, aku cuma berusaha ngeluarin sosis yang dimasukin istri mu ke Meqinya, disini justru aku yang jadi korban,,,” Arga mencoba membela diri. “lagian kamu juga udah bikin bini ku orgasme juga kan?,,” Arga balik menyerang Adit.
“Sudaaahh,,sudaaahh,, ingat,,, ini cuma permainan,” Dako coba menengahi, “Ingatkan dengan perjanjian kita, selama tidak ada saling paksa dan intimidasi, game must go on,”.
“dan sekarang bagi yang belum pernah nyicipin istrinya Munaf, aku udah ngasih jalan,,, tapi tentunya setelah aku,hahahaa,,,” ucapan Dako yang didendangkan dengan suara pelan itu membuat para lelaki menatap tubuh Aida.
Ibu muda itu tampak begitu sulit berjalan, giginya menggigit bibir, pahanya mengatup erat persis seperti wanita yang tengah menahan hajat buang air kecil.
“Asal kalian tau,,tadi aku liat kimpitannya sempit banget,,,dan kalian tau kenapa dia berjalan seperti itu?,,,” pertanyaan Dako membuat Pak PRabu Arga dan Adit serentak menggeleng.
“Meqi nya aku jejalin sama sosis,,,, aku berani taruhan? kalo meqi istrinya Munaf emang ganas, pasti sekarang tu sosis udah ancur,,,”
“Busyeeeet,,, dasar sinting,,”
“Oooowwwhhh,,, gila kau Koo,,,”
“Emang saraf lu ya,,, pasti kesiksa banget tu Bu Guru,,,” serentak ketiganya mengumpat.

“Asseeeemmm,,, tapi batang ku jadi ngaceng Koo,,, kalo ada kesempatan, kita hajar aja si Aida bareng-bareng,,, liat aja tuh pantatnya nungging banget,, pasti nikmat kalo di Doggy,,,” seru Pak Prabu sambil mengelus-elus selangkangannya.
“Tapi gimana dengan si Munaf,,,” tanya Adit yang kelimpungan membetulkan letak batangnya yang kut ngaceng, nyasar kesamping kiri celana.
“gampang,,, Arga, nanti kau ajak Munaf jalan-jalan ya,,, kau kan udah pernah nyicipin Bu Guru cantik itu,,,” usul Pak Prabu, membuat Arga mengangguk pasrah.
“Wooyyy,,, ada apa nih,,, lagi ngomongin istriku ya?,,,” tanya Munaf saat memergoki keempat teman kerjanya itu tengah memplototi istrinya, tangannya tampak membawa buah kelapa yang sudah dipotong pangkalnya, siap untuk dinikmati.
“Iya Naf,,, saat game tadi aku baru nyadar, ternyata istrimu cantik juga ya,, apalagi saat ngangkang di atas mulut ku tadi,,, hehehee,,,”

hilda yulis - jilbaber hot (1)
“Juaaancuukkk,, bilang aja kau mau ngentotin istriku,, gila Kau Ko,,” Munaf menyumpah serapah mendengar pengakuan Dako. “Tapi ga segampang itu,,, karena kali ini aku bakal memprotect istriku bener-bener lebih ketat,,hehehee,,”
“Bener nih?,,, jadi kamu bakal ngangkremin istrimu terus nih?,,, ga pengen coba ndeketin istriku,,,” tantang Dako sambil menoleh ke arah Zuraida, diikuti lelaki lainnya.
Sontak Zuraida yang memang tengah memperhatikan Arga yang berdiri di antara suami dan teman-temannya itu menjadi bingung, apalagi para lelaki menatap tubuhnya dengan pandangan penuh nafsu.
“emang geser otak ni orang ya,,, istri sendiri ditawarin ke kita-kita,,,” Munaf menggeleng-gelengkan kepala, diikuti Arga yang menahan nafas, hatinya tidak rela bila wanita berjilbab yang memiliki kenangan baginya itu dinikmati oleh teman-temannya.
“Emang gila kau Ko, tapi aku suka,,, hahahaha,,, kalo aku beneran bisa masukin ni batang ke meqi istrimu yang alim itu jangan marah yaa,,, hahahaa,,,” Pak Prabu terkekeh sambil mengusap-usap batangnya. Dan tingkah Pak Prabu itu jelas terlihat oleh mata indah Zuraida, dan saat itu juga membuang pandangannya ke arah lain.
“kita buktikan saja, siapa yang beruntung,,,hehehee,,” Dako tampak begitu yakin tidak mudah untuk menaklukkan istrinya.
“Ya kita lihat saja nanti,,hahahaa,, Ehh,, dimana kau dapat kelapa itu Naf,,” tanya Pak Prabu yang tergiur dengan Munaf yang asik menyeruput air kelapa langsung dari buahnya.
“Tuhhh, sama Mang Oyik,, aku aja pengen nambah lagi nihh,,” Pak Prabu dan Adit segera menuju ketempat Mang Oyik disusul oleh Munaf.

“Gimana Gaa,, masa kamu ga mampu ngenaklukin Istriku,, keahlian mu sebagai penjahat kelamin belum hilangkan?,,” tanya Dako blak-blakan saat mereka tinggal berdua, berdiri berhadapan.
“Sebenarnya apa sih yang ada diotak mu itu Ko,, dari rencana liburan, perjanjian yang ga masuk di akal, sampai permainan gila-gilaan di pantai inipun kuyakin semua adalah usulmu,,,”
Dako tertawa garing, lalu wajahnya berubah menjadi murung.
“Aku juga ga tau Ga,, aku hanya merasa bersalah pada istriku, sebulan yang lalu Zuraida memergoki aku selingkuh dengan Risna,”
“Risnaa?,,, Risna keponakanmu yang masih SMA itu? Owwwgghh kamu emang gilaa,, gilaa,,gilaa,, apa sih kurangnya Zuraida,,”
“Argaaa,,, kita ini sama, sama-sama cowok petualang,, kau juga sudah memiliki Aryanti yang cantik, tapi kau tetap saja bersemangatkan menghajar tubuh istri teman-temanmu kan?,,” meski pelan, penekanan suara Dako meninggi.
“Bahkan saat kami masih belum apa-apa kau sudah berkali-kali membuat Aida, istri Munaf terkapar, plus tubuh Lik Marni tentunya,,,dan pastinya kau juga merasa bersalah pada istrimukan?,,” Dako menatap Arga dengan pandangan tajam.
“dan Aku juga sama seperti dirimu Sob,,, aku sudah berulang kali berusaha membuang kebiasaan buruk ku ini, tapi sangat sulit, entah kenapa aku selalu tertantang untuk menaklukan wanita,” intonasi suara Dako mulai kembali datar. Matanya menatap kelaut lepas.
“Argaa,, kamu teman ku yang paling aku percaya, tolong bebasin aku dari rasa bersalah ini,,, Kamu tau?,, Zuraida tidak pernah sekalipun mengenakan pakaian seketat dan setipis itu di tengah orang banyak, dan aku tau saat ini dia melakukan itu bukan karena aku, tapi kamu,,”
Arga hanya terdiam mendengar pengakuan sahabatnya. Apa yang dikatakan Dako memang benar adanya.
“Aku juga tidak ingin membuat istriku menjadi liar, tapi aku ga tau lagi cara seperti apa agar semua terlihat natural dan mengalir apa adanya,,,” Dako menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya dengan perlahan.
“Ko,, aku bisa menerima alasanmu itu untuk melakukan kegilaan ini, tapi itu tidak cukup, jujurlah,, sebenarnya ada apa?,,,” pertanyaan Arga menohok hati Dako. Sulit untuk berkelit dari Arga yang sudah sangat mengenal pribadinya.

Lagi-lagi Dako menarik nafas panjang. “Mungkin aku memang gila dan psycho, Sob,,” lelaki itu menatap Arga dalam-dalam. “Aku sangat terangsang bila melihat istriku yang alim itu dicumbu oleh orang lain,, aku merasakan sakit, tapi aku juga menikmatinya,,”
“Gilaa,,, pantas saja kau menawarkan istrimu sama mereka juga,,,” Arga menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak Gaa,, kau salah,,, aku bisa merasakan itu bila kamu yang melakukannya,,, Kau ingat percumbuanmu dengan Zuraida di kost kita, sehari sebelum kau cuti dan pergi meninggalkan kami?,,,”
Arga terkaget, lagi-lagi kenangan masa lalunya kembali terkoyak. “Apaa,, apaa kau melihat semuanya?,,” tanya Arga gugup, sadar bahwa hal itu pasti sangat menyakitkan bagi Dako yang juga tengah mengharapkan Zuraida.
“Aku melihat semuanya,,, dan saat itu aku baru sadar bahwa kita menginginkan gadis yang sama, aku hampir saja mendobrak masuk saat melihat Zuraida begitu pasrah dalam pelukanmu,,tapi,,,” Dako menghela nafasnya.
“Tapi kau menghentikan cumbuan mu tanpa sebab,, sorenya, kau menghilang, meninggalkan aku dan Zuraida tanpa pesan sedikitpun.”
Arga tertawa tanpa suara, matanya seakan dapat melihat peristiwa beberapa tahun silam. “Aku tidak mungkin menghianati sahabatku,”
“Bego!!!,,,” umpat Dako. “Akhirnya, kau justru tidak tau betapa nikmatnya keperawanan seorang Zuraida.”
“Asseeeeem,,, jangan manas-manasin aku gitu lah,,,” Arga melotot memukul lengan Dako dengan wajah kesal. “Tapi, kau sudah memberikan seorang wanita yang tidak kalah cantik dari Zuraida,” Arga dan Dako bersamaan menatap Aryanti yang tengah ngobrol dengan Sintya, sesekali kedua wanita itu tertawa terkikik.
“Tapi,,, sekarang aku justru bingung, kenapa Aryanti bisa berubah seperti ini,,,” Arga mengegeleng-gelengkan kepala, menatap istrinya yang terlihat agak cuek saat duduk, rok nya yang lebar dan pendek tak mampu menutupi keindahan dari paha mulusnya.
“Hahaaha,,, kita cuma bisa berharap semua kebinalan ini berakhir saat liburan ini selesai, tapi Gaaa,, kurasa istrimu memang,,,”
“Apa? Memang nikmat? Kempotannya dahsyat? Goyangnya liar?,,, Asseeeem,, taik kau Ko,, tega bener ngehajar istriku depan belakang,,”
“Whuhahahahaa,,, jadi kau melihat kenakalan istrimu tadi malam,,, hahahaa,, Sorry Sob, sorry banget,” Dako tertawa terpingkal, “Tapi,,,kamu ga marahkan?”

“Eeee,, busyet dah, mana ada suami yang ga marah ngeliat istrinya digenjot habis-habisan sama orang, Aaahhh,, taik kau Ko,,,” Arga bener-bener mangkel mendengar tawa Dako, tapi apa yang bisa diperbuatnya.
“Tapi,, Game must Go on,,, dan masih ada sisa waktu untuk mendapatkan istrimu,,” lanjut Arga berusaha menghibur dirinya, sambil menatap Zuraida yang tengah digoda oleh Mang Oyik.
“Yaaa,, aku ingin kau yang melakukannya,, Aku hanya ingin menebus rasa bersalahku pada kalian berdua, Okeeeyyy,, ke ketempat Aida dulu, kasian banget tu Bu Guru jalannya mpe tertatih gitu,, hehehehee,,,” Dako menepuk pundak Arga, lalu berjalan menghampiri Aida, dengan sedikit memaksa lelaki itu menarik Aida ke sebuah bangunan kecil yang biasa digunakan sebagai gudang.
“Dasar bocah kentir,,, dari dulu mpe sekarang ga pernah berubah,,, doyan banget nyatroni bini orang,,,” Arga tertawa melihat tingkah Dako, tapi dalam hatinya justru menertawakan dirinya sendiri yang tak jauh berbeda dengan Dako.
Arga memasang kacamata hitamnya, dengan langkah pasti menghampiri Zuraida. Saat melewati meja Tangannya meraih sebiji buah kelapa yang sudah dikupas ujungnya, siap untuk dinikmati.
“Hai Zee,,, sudah minum es kelapa?,,” lelaki itu menawarkan apa yang dibawanya kepada Zuraida sambil menebar senyum lebar.
“Sudah,, makasih, kalo kebanyakan takutnya malah ga bisa ikut lomba lagi,, hadiahnya mobil Bu Sofie lho,,hehehee,,”
Arga bisa melihat senyum dan tawa Zuraida tampak sangat dipaksakan, hati lelaki itu bertanya-tanya, apa yang tengah dipikirkan oleh Zuraida yang berusaha terlihat santai dan cuek.
“Mang Oyik, toiletnya dimana ya?,,, anterin dong,,,” Zuraida berdiri, membersihkan pasir pantai yang melekat di celananya. “Gaa,, aku kebelakang dulu ya,,”
Arga terkaget dengan sikap Zuraida, terlihat jelas bahwa wanita itu sengaja menghindari dirinya. Arga semakin kaget saat Zuraida menggandeng tangan Mang Oyik, membuat lelaki berabut kriwel itu tersenyum girang.
“Ada apa dengan mu Zee?,,,” hati Arga terasa begitu sakit, tercampakkan.

* * *
Disaat yang sama, tak seberapa jauh dari Arga yang berdiri terpaku, Andini terlihat tidak nyaman, sepertinya gadis itu sedang disindir oleh Aryanti.
“Din,,, kalo kamu mau ngerjain suamiku, jangan ditempat umum begini,,, kasian Mas Arga dia pasti jadi malu,,,”
“Iya mbaaa,, aku minta maaf,,, habisnya tadi akku kebawa-bawa permainan,,, ngga lagi koq,,,”
“Hahahaa,, iya santai aja,, gapapa koq,,, tapi hati-hati lho, batang Mas Arga tu gede banget,,,emang kamu sanggup?,,,”
“Emang gede banget mba, tapi masih bisa masu,,, ehh,, maksud saya tubuh Pak Arga emang gede banget,,,” Andini keceplosan, wajahnya menjadi pucat dibawah tatapan curiga Aryanti.
Tapi entah kenapa, dada Aryanti tiba-tiba bergemuruh bukan karena marah, tapi justru penasaran apakah suaminya yang memiliki tubuh tinggi besar, pernah menggagahi tubuh mungil Andini. Tanpa sepengetahuan gadis itu, Aryanti mengagumi kecantikan Andini, senyum manisnya mengingatkan Aryanti pada salah seorang anggota JKT 48, Melody Nurramdhani Laksani.
“Din,,, pernah kepikiran ngga, main sama orang yang tinggi besar seperti Mas Arga?,,,”
“Eeehh,, maksud ibu?,,” Andini menyelidik, takut dirinya tengah dipancing untuk mengakui persetubuhan dirinya dengan Arga dikolam renang.
“Nggaaa,, ngga apa-apa,,, aku cuma sering penasaran aja ngebayangin gadis mungil seperti kamu disetubuhi sama pria dengan tubuh tinggi besar,,,hehehee,, tapi lupain aja,,” terang Aryanti. “Maaf yaa,, aku nanya yang aneh-aneh,,”
“Kan,, tadi malam ibuu udah liat,,aku di,, di,, digituin sama Pak Prabu,,” jawab Andini pelan dengan wajah malu-malu.
“Tadi malam?,,,ohh,,,iyaaa aku lupaaa, habisnya tadi malam aku agak mabuk,,,,” Aryanti menepuk jidatnya, bagaimana bisa dirinya bisa lupa permainan kartu yang berubah jadi sangat panas.
“Kamu sih,, pake masukin batangnya Pak Munaf, aku jadi ikut-ikutan panas,, ujung-ujungnya malah aku yang digangbang dua cowok kesurupan,, hihihii,,” Obrolan dua wanita yang berpaut umur enam tahun lebih itu mulai mencair. Petualangan birahi memang dapat dengan cepat menyatukan keakraban anak manusia.
“Ihh,, ibuuu,, salahin Pak Munaf tuh,, mana ada sih cewek yang tahan kalo gerbang itunya terus-terusan disundul sama helm preman,, mana tu bapak ngerengek terus minta dimasukin, ya udah aku makan aja sekalian,,,hihihi,,, ga taunya baru masuk sebentar udah langsung croot,,,hahahahaa,,,” Andini menutup mulutnya berusaha menahan tawa, teringat wajah Munaf yang kalang kabut dan harus mengakui kekalahannya.
“Tapi waktu sama Pak Prabu,,,koq kamu langsung dapet sih?,,,” tanya Aryanti penasaran.
“Habisnyaaa,, itu nya Pak Prabu gede banget,, punyaku ampe penuh banget Bu,,,apalagi sebelumnya ni lubang udah dikerjain sama batang Pak Munaf, hihihii,,,” Andini cekikikan sambil menunjuk selangkangannya. Membuat mata Aryanti tertuju pada kemaluan Andini yang roknya sedikit terbuka.

hilda yulis - jilbaber hot (10)

“Tapi masih hebat ibu,, kuat banget ngeladenin Pak Prabu sama Pak Dako,,, Eeeng gimana sih bu rasanya kalo dimasukin depan belakang gitu?,,”
Wajah Aryanti merona malu teringat kenakalannya yang ditonton oleh Andini. “hebat apanya, aku aja sekuat tenaga nahan biar ngga keluar duluan, tengsin aja kalah sama si kunyuk Dako,,, hahahaa,, habisnya tu orang sering koar-koar jago bikin tepar cewek cuma dalam beberapa tusukan,,,”
“Emang sih,, kalo Pak Dako tangannya ga bisa diam, jago banget ngerangsang orang biar cepat keluar,,, Tapi koq ibu kayanya akrab banget sama Pak Dako,, jangan-jangan dari dulu udah sering itu ya sama Pak Dako,,hihihi,,” Gadis itu tertawa genit sambil melontarkan pertanyaan yang menyudutkan.
“Huussshh,, kamu ini,, aku akrab dengan Dako dan istrinya, Zuraida, karena dia memang tetangga ku sebelum menikah dengan Arga. tu orang emang nakal banget, untung aja Zuraida orangnya pengertian,, jadi ga mungkinlah aku ngehianatin orang yang udah baik banget ama aku,,” terang Aryanti.
Sewaktu masih sendiri, rumah yang disewa Aryanti memang berada tepat di samping rumah Dako dan Zuraida yang baru menikah. Dan hubungannya dengan Zuraida cukup baik, meski sering dihias dengan celoteh nakal dari suaminya, Dako. Dari mereka berdua jua lah akhirnya Aryanti bertemu dengan Arga.
“Diin,, punya kamu basah yaa?,,, hayooo,, mikirin punya siapa nih,, punya Pak Prabu yang gede, batang Munaf yang gemuk, atau punya Dako yang bengkok?,,hihihii,,”
“Iiihh,,, Mbaa Yantii,, habisnya dari tadi kita ngomongin punya cowok terus sih,,, tapi tadi malam kita emang gila banget yaa,,”
“Iyaa,, nyoba-nyobain batang punya cowok, mana ukuran dan bentuknya beda-bedaa,,, Haduuuhhh,, Diiin,, punya mba basah juga nihh,,” Aryanti menjepit pahanya saat merasakan desir cairan yang merembes keluar dari lipatan vaginanya.

* * *

Kita kembali kepada Arga yang kebingungan plus rasa sakit yang menyertai. Cukup lama dirinya terdiam, berdiskusi dengan hati yang galau. Mungkinkah Zuraida masih marah pada dirinya. Dengan berat Arga melangkahkan kaki, berharap jika memang wanita itu memang masih marah apa yang akan diterangkannya dapat diterima.
“Mang, ngapain? Mau ngintip ya?,,,” seru Arga saat mendapati Mang Oyik celiangk-celinguk mencari-cari celah untuk melihat ke dalam toilet. “Sana Gih,,,”
Ada beberapa kamar kecil dibangunan itu, meski tidak jelas lagi mana toilet untuk wanita dan mana yang untuk pria, tapi kebersihan tempat itu terpelihara dengan baik.
“Argaaa,,, ngapain disini,, kamu mau ngintipin aku?,, emang punya Andini tadi masih kurang?,,, hehehehee,,,”
“Zee,,, apa yang kamu lihat itu salah,, justru aku yang sedang dikerjai oleh Andini,,, Aku justru memikirkanmu terus,,,” suara Arga meninggi, hatinya yang sudah dipersiapkan untuk tenang tersulut mendengar kata-kata pedas dari wanita yang dikaguminya.
“Oyaaa,,, hehehee,, gapapa koq, itu masalah mu, istrimu aja bisa santai, masa aku harus marah-marah,,”
“Zeee,,,” kedua tangan Arga mencengkram pundak Zuraida, memaksa wanita itu untuk menatapnya, mencari kebenaran dari matanya.
“Percumaaa!!!,,, Mas Dako sudah memberikan waktu untuk kita,, tapi percumaa,,, semua sia-siaaa, aku berharap kamu masih seperti duluuu,, Tapii,,,,” setetes air mata mengalir dimata yang indah, ada kesedihan mendalam yang sulit untuk dibaca dibalik wajah cantik berbalut jilbab putih.
Pikiran Arga semakin bingung dengan penuturan Zuraida, mungkinkag wanita itu tau dengan rencana suaminya, dan segala permainan gila yang tercipta.
“MINGGIIIR,, LEPAAASIN,,,” Zuraida berontak, berusaha melepaskan tangan Arga.
“Zeee,,, kamu salah Zeeee,, cuma kamu yang aku inginkan saat ini,,,”
Entah karena frustasi, tidak tau lagi bagaimana harus menerangkan kepada wanita bertubuh semampai yang berdiri dengan goyah, Arga melumat bibir indah Zuraida, menciumi wajah cantiknya.
“Eeemmmpphhh,,, Eeeengghhhh,, heeekkss,,”
Zuraida semakin kuat berontak, mendorong kepala Arga agar menjauh dari wajahanya, tapi sia-sia. Lelaki itu tampak kesurupan.  Tangan Arga meremas bongkahan payudara Zuraida, mengusap, memilin dengan liar. Sesekali wanita itu melenguh, walau bagaimanapun rangsangan yang diberikan Arga begitu kuat. Tapi entah kenapa rasa kesalnya tak kunjung hilang.
“Bajingan kaaauuu Gaaa,,” jemari lentik Zuraida sekuat tenaga mendorong tubuh lelaki yang kini mulai menciumi lehernya, berusaha menyelusup ke balik kain penutup kepala.
“Oooowwwggghhhkk,,, Ghaaaa,,,” seketika tangan lentik Zuraida menjambak rambut Arga saat bibir lelaki itu melumat putingnya yang mengeras. Sangat sulit berkelit bahwa saat ini dirinyapun tengah dilanda birahi.

hilda yulis - jilbaber hot (9)

“Slluuurrppsss,,, Ooowwwhhhsss,,, Zeee,, milikmuuu,,, owwwhh,,,”
Arga mendengus, membuat tubuh Zuraida yang berkeringat semakin panas oleh hembusan nafas Arga yang menderu diantara sepasang payudaranya. Puting yang berwarna merah muda itu sangat menggoda Arga untuk memberikan gigitan kecil.
“Aaarrrggh,,,”
PLAAKKK,,,,
PLAAAKK,,,
“Ternyata kamuu memang ga bedaaa dengan merekaaa,,,,”
Arga terkejut, menarik wajahnya dari payudara Zuraida. Pipinya terasa panas oleh dua hantaman yang cukup keras dari tangan lembut seorang Zuraida.
“Asal kau tauu,, Dako itu memang liar, tapi satu yang membuatku merasa nyaman untuk terus bersamanya, Suamiku itu,,, suamiku Dako tidak pernah sekasar ini padaku,,,dia tau bagaimana cara memperlakukan seorang wanita,,
Arga mengusap pipinya, menatap mata Zuraida yang penuh kemarahan.
“dan satu yang harus kau ingat, jangan samakan aku dengan wanita-wanita yang dengan mudah kau tiduri. Dan kurasa Pak Prabu masih jauh lebih baik dibanding dirimu,,” air mata dengan cepat membasahi pipi yang lembut.
“Kau ini kenapa Zee,,, kenapa berfikir tentang ku sampai seburuk itu,,, Aku memang seperti mereka, seperti teman-temanku, seperti suami mu yang senang untuk menaklukkan wanita,,,” Arga berusaha mengatur nafasnya.
“Ok,, aku memang sudah kasar kepadamu, tapi itu karena aku sudah tidak tau lagi bagaimana harus menerangkan apa yang terjadi,, apa yang kau lihat tidak seburuk yang kau kira,,,”
“asal kau tau,, jauh didalam hati ini aku selalu menyayangimu, merindukanmu, mengharapkanmu lebih dari apapun, dan jangan pernah lagi membandingkan aku dengan Dako, Pak Prabu atau lelaki lainnya, aku ya aku, lelaki bego yang rela menyerahkan wanita yang dicintainya untuk balas budi,,, ”
Sebenarnya Arga tidak sanggup melihat wanita yang dicintainya itu menangis, tapi saat ini tangannya terasa begitu berat untuk memeluk Zuraida, kata-kata keras dengan mudah mengalir dari mulutnya, membuat air mata sang wanita semakin deras mengalir, sesenggukan, menyembunyikan wajahnya yang pilu diantara jemari yang lentik. Dan,, saat semua telah terjadi, saat dirinya tersadar, pelukan selembut apapun takkan sanggup membuat keadaan lebih baik.
“Maaf Zee,,, maaf,,, sungguh,,, hingga saat ini tak ada yang berubah, hati ini masih mencintaimu,, Maaf,,” suara Arga terdengar getir, lalu melangkah keluar meninggalkan Zuraida di lorong yang memisahkan kamar kecil yang saling berhadapan.
Sepeninggal Arga, tangis Zuraida semakin deras. memukul-mukul dinding, Meratapi pertualangan hatinya yang berakhir tragis. Di balik ego nya yang begitu tinggi, sebenarnya Zuraida sangat menikmati cumbuan kasar Arga, tapi rasa cemburu kembali mengambil alih. Label sebagai wanita cantik yang tidak mudah ditaklukan para pria, digenggamnya erat.
“Seharusnya kau rayu aku,, seharusnya kau bujuk aku,,, bukan meninggalkanku seperti ini,,hikksss,, aku cuma ingin kamu Gaa,,”
Bagi siapapun yang melihat kondisi Zuraida pasti akan mencibir, seorang wanita dewasa yang berpendidikan tinggi, disertai karir yang matang, meratap menangisi cinta layaknya gadis SMU belasan tahun. Tapi itulah cinta, dapat membuat seseorang menjadi layaknya anak kecil, menafikan pikiran sehat yang selalu mereka agungkan. Dan rasa cemburu yang selalu menyertai keagungan cinta, dapat merubah mereka menjadi pribadi yang berbeda.

* * *

Arga mengayunkan kaki tanpa arah. Pikirannya sepenuhnya dikuasai oleh Seorang wanita cantik bernama Zuraida.
“Paaaakkhh,,, Ooowwwhhh,,, gapapaaaa,, biar didaaaalaaam ajaaa,, Aaagghhh,,,”
Langkah Arga terhenti disebuah bangunan kecil, bangunan yang dituju oleh Dako saat menggiring si guru cantik Aida.
Arga yang tengah kalut justru tertawa mendengar rintihan Aida, ikut menikmati tubuh montok Bu Guru cantik ini mungkin dapat sedikit membantu menenangkan pikirannya, pikir Arga.
Di dalam, Arga mendapati Adit yang tengah menunggangi tubuh Aida yang mengangkang pasrah.
“Lhooo,, kamu Dit?,, Dako manaa?,,,”
Adit tertawa saat melihat wajah Arga dipintu. “Lubang Bu Guru emang sempit banget Pak,, bener-bener maknyus empotannya,,,hehehee,,”

hilda yulis - jilbaber hot (8)
Suara Adit yang menyapa Arga membuat Aida terkejut, lalu menoleh ke arah pintu, seketika wajahnya yang tengah terengah-engah pasrah menerima gempuran penis, tersipu malu. Tak lama Adit tampak mengejang, tangannya erat mencengkram pinggul Aida, menghentak kejantanannya jauh kedalam rongga vagina, menghantar sperma kedalam rahim si wanita.
“Oooowwhh,, owwhhh,,,oowwhh,, banyak banget Diiit,,,” rintih Aida, sangat menikmati setiap semprotan yang keluar dari lubang penis. Sementara Adit tertawa bangga.
“Saya boleh ikut?,,,” tanya Arga mengeluarkan batangnya, mengurut pelan, memamerkan perkakas jumbonya kepada Aida.
“Darimana aja bray,,,” tanya Adit, melepaskan batang nya dari jepitan vagina Aida.
“Adduuuuhh,,, bakal tambah bonyok nih,,,” Aida menepuk-nepuk vaginanya, seolah tengah merapal mantera agar alat tempurnya sanggup meladeni batang Arga yang kemarin telah berhasil membuatnya orgasme berkali.
“Kasian bu kalo saya make yang depan,,,” ucap Arga.
“Duuuhh,,, masa yang di belakang lagi Pak,,, ya udah deehh,, tapi pelan-pelan yaa,,” Aida membalikkan tubuhnya menungging, mengangkat tinggi pantatnya, sementara kepalanya bersimpuh di lantai.
“Pelan-pelan Pak,,,” sambil membuka liang anusnya, lagi-lagi Aida memperingatkan Arga.
“Aaawwhhh,,, katanya di belakang koq malah nusuk memek saya pak?,,”
Arga tertawa, tapi terus membenamkan batangnya jauh ke dalam lorong, lalu bergerak maju mundur dengan perlahan.
“Duuuhhh,, penuhhh bangeeet pak,,, nikmaaat bangeeet,,, yang depaaaan aja ya paaaak,, biar sama-sama enaaaak,, owwwhh,,,” Pantat Aida bergerak menjepit maju mundur, berusaha agar batang itu tetap betah di dalam vaginanya.
“Tenang Bu,,,cuma minta pelumasnya aja koq,, kemaren waktu saya tusuk dibelakang juga enakkan?,,”
“Iyaaa, tapi waktu itukan pake minyak goreng,,,” Aida pasrah saat Arga menarik keluar batangnya, dengan jarinya, Aida berusaha membuka liang anusnya lebih lebar, mempersilahkan batang Arga untuk bertandang.
“Weeekkssss Gila,, koq tadi ga bilang kalo yang belakang boleh dipake Bu,,” Adit kaget, tidak menyangka Aida bersedia dianal, matanya mengawasi batang Arga yang perlahan menghilang ke dalam tubuh guru cantik itu melalui jalur belakang.

hilda yulis - jilbaber hot (7)
Adit harus mengakui kelebihan yang dimiliki batang Arga.
“Aaaahhhhh,,, yaaa,,,masssuuukkkhhh,,” tubuh Aida melengking, meski sudah pernah merasakan nikmatnya dikerjai dari belakang, tetap saja penetrasi awal terasa sedikit perih.
Aida menoleh ke belakang, “Suddaaahh masuk semuaaa paaaakk,,,”
“Belum,, tapi ini udah cukup koq,,” tangan Arga bergerak meremasi payudara Aida, mengecup punggung mulusnya, lalu menarik tubuh Aida agar lebih tegak. “Kau semakin seksi saja Aii,,,”
Wajah Aida memerah mendengar pujian Arga,, “Pak Argaa bisa ajaaa,,,”
“Asseeem,,koq keliahatannya mesra banget sih,,,” Adit bingung dengan tingkah Aida yang terlihat begitu serius untuk melayani setiap keinginan Arga.
“Silahkaaan dinikmaati Paaakss,,,” Aida justru semakin bergairah mendengar komentar Adit, sambil berpegangan pada kursi, wanita itu menggerakkan pinggulnya, memberikan jepitan terbaik anusnya untuk memanjakan batang sipejantan.
“Owwwhhhh,, Tuuu kaann tambah mantap aja goyangan bininya Munaf ini,,, oowwhh,,” Arga memegangi pinggul Aida untuk menyetir kecepatan ritme yang diinginkannya.
“Dit,, Munaf kemanaaa,,” tanya Arga tanpa menghentikan gempurannya.
“Tadi aku suruh Aryanti dan Andini menemani Munaf ngobrol, makanya aku bisa kesini,,, hehehee,,” jawab Adit.
Mendengar suaminya disebut-sebut, goyangan pinggul Aida justru semakin ganas, entah kenapa birahinya terlecut.
“Paaakk,,, sooddooookk depaaan duluuu paaak,,” rintih Aida.
Arga yang sudah hapal dengan tingkah Aida yang ingin orgasme segera mencabut batangnya dari anus, dan tanpa ba bi bu, langsung menghajar vagina Aida dengan cepat.
“Paaaakk nikmaaaattss,,, penuhhh bangeeeeettss,,,Aaaggh,,, cepaaattt,,”
“Asseeeeemm,,, kenapa tambah legit ni memeq Aaaiii,,,” Arga semakin cepat merojok batangnya ke kemaluan guru cantik itu.
“Paaakk sayaaa keluaaarrr,,, Aaauuuhhhh,,, tahaaannn,, sodoook yang daaalaaam,,,Aaaahhh,,” tubuh Aida melengking, berkelojotan liar, hingga akhirnya melemah.
“Balik Ai,,,” pinta Arga meminta Aida kembali telentang, sebenarnya Arga lebih senang gaya missionoris ini, karena dirinya dapat dengan jelas melihat ekspresi wanita yang tengah menikmati rojokannya.
Aida telentang, memeluk kedua pahanya, hingga lorong vagina dan anusnya terentang, memberikan pilihan bebas kepada Arga untuk menikmati mana yang diinginnya.
“Aaaauuuhhhh,,, emang doyaaan lubang belakang yaaa paaak,,,” seru Aida saat Arga menusuk anusnya.
“Ngga juga,,, kali ini aku pengen nyemprot dirahim istrinya Munaf,,” jawab Arga, membuat gairah Aida kembali terlecut.
“Paaaakk,,, seneng nyodok meme qsss bini orang yaaaa,,,Aaaahh,,,” Aida merentangkan kedua pahanya, mengekspos lorong vagina yang terlihat sempit. Menggoda agar vaginanya kembali disodok.
“Aaaahh,,, Siaaal,,, pinter banget ssiihh si Munaaaf nyari meqi,,, Aaaagghhh,,, nih rasaaiiinnn,,” lagi-lagi Arga mengganti tujuan serangannya.
hilda yulis - jilbaber hot (6)
“Paaakk,,, masukin lebih dalaaamm,,” rintih Aida saat melihat sebagian batang Arga masih di luar vaginanya. “Yaaaaooohhh,,, menthhoookk,,, aauuwww,,”
“Paaakk,,, jangaaan keraasss-kerass,,” kini justru Aida yang meringis, saat dasar vaginanya digedor dengan keras.BLEEGG…
“Aaaaggghhh,,,”
Seketika Arga menghentikan gerakannya, “Masuk kemana tuh Ai,,” tanya Arga saat kepala penisnya menerobos lorong yang lebih sempit.
“Gaa,, taaauu,,,” jawab Aida sambil meringis menahan nyeri, mengamati batang Arga yang menghilang sepenuhnya kedalam tubuhnya. “Gerakin pelaan-pelaaan,, masih enak koq,, enaaak bangeeet,,”
“Aii,, Aiddaaaa,, aku ga taahaaann,,,empotan mu semakin dahsyaaaat,,,”
“Gilaaa,, Aidaaa,,,” Arga memeluk tubuh Aida dengan kuat. Menggencet payudara empuk dengan tubuhnya, melumat bibir ibu Guru cantik utu dengan ganas.
“Naaaaaaff,, aku nitip ngecrot dimeqi istrimuuu,, Aaarrgghhh,,,” tubuh Arga berkelojotan. Disusul lengkingan orgasme dari Aida.
Adit yang menyaksikan persetubuhan itu tercengang, tak pernah dirinya orgasme sedahsyat kedua orang itu.

* * *
Kita kembali ke Zuraida yang meratapi nasib hatinya.

“Bu,,, ibu ngga kenapa-kenapa kan Bu,,,” Pak Prabu yang tidak sengaja lewat, mendengar pertengkaran antara Zuraida dan Arga, cukup kaget dirinya saat mengetahui hubungan tersembunyi antara kedua insan itu.
Namun saat Arga meninggalkan wanita cantik itu menangis sendiri, hatinya menjadi iba. Tangannya yang kasar menyentuh pundak Zuraida yang masih sesenggukan menghadap dinding, penangkupkan kepalanya ke dinding dengan berlapakkan punggung tangan.
“Buuu,, ibu memang berbeda dari wanita lainnya,,, saya tau ibu hanya ingin melakukan segalanya atas dasar cinta, dan itu tidak salah,,,” Pak Prabu mengeluarkan kata-kata bijaknya, memilih untuk bersikap dewasa daripada memuaskan hasrat tangannya untuk menggerayangi tubuh wanita cantik yang tampak lemah itu.
“Tapi bukan berarti ibu harus terpenjara dalam kungkungan hati yang selalu berharap lebih, cobalah untuk menikmati apa yang ibu jalani lebih apa adanya.”
“Meski sulit, bebaskanlah dengan perlahan hasrat ibu pada lelaki yang ibu cintai itu, tanpa mengabaikan apa yang terjadi disekitar,” petuah dari Pak Prabu mengalir lembut, sementara hasratnya untuk mencumbu tubuh Zuraida mulai bergolak.
Tangannya terus mengusap-usap punggung wanita itu seolah berusaha untuk menenangkan. Meski sesekali telapak tangannya nyasar kebongkahan pantat yang terpapar, seolah menunggu untuk dicumbu.
Sebenarnya Pak Prabu sendiri kagum dengan kata-kata yang dilontarkannya, bagaimana bisa mulutnya yang terbiasa berkata kasar, mampu membuat Zuraida mengangguk mendengar petuahnya. Tapi memang itu lah adanya, kata-kata Pak Prabu meresap tanpa rintangan kehati Zuraida yang tengah labil, yang tak lagi memiliki pertahanan untuk memproteksi hatinya.
“Lihatlah teman-teman ibu yang lebih memilih untuk menikmati hidup, tanpa mengesampingkan rasa cinta mereka kepada lelaki yang mereka kasihi, mengusir jauh rasa cemburu yang hanya akan memperburuk keadaan, mereka justru bisa tertawa lepas tanpa beban,”
Kata-kata dari mulai sulit untuk diterima oleh logika orang yang waras, namun lagi-lagi kepala Zuraida justru mengagguk. Wejangan yang keluar dari mulut yang berbau tembakau itu mulai menyimpang, seiring tangannya yang perlahan tapi pasti mulai bergerilya, menyentuh pelan tepian payudara si wanita. Zuraida bukannya tidak sadar dengan aktifitas tangan Pak Prabu, tapi saat ini hatinya tangah berusaha mencari pembenaran, pembenaran atas orgasme yang didapat Andini saat mengangakangi Arga. Pembenaran atas orgasme yang didapat Aryanti diantara tubuh suaminya dan Pak Prabu. Pembenaran atas rengekan dan lenguhan manja Sintya saat dicumbu oleh Arga.
“Maaf Pak, aku bukan wanita seperti mereka, yang bisa acuh saat tubuhnya dinikmati lelaki yang tidak dicintainya,,, maaf,,,” Zuraida menepis tangan Pak Prabu, berusaha mendorong tubuh lelaki itu.

hilda yulis - jilbaber hot (5)
“Ohh,,, maaf,,, aku terbawa suasana, tapi kalau tidak salah aku tadi melihat dua orang pria yang kau kasihi sedang mendapatkan servis gratis dari Bu Aida,,”

Deegg!!!,,,keterangan yang diberikan Pak Prabu tepat sasaran, menghancurkan pertahanan terakhir dari kesetiaan hati seorang wanita.
“Paaak,, apa seseorang harus memiliki alasan untuk berbuat nakal?,,” tanya Zuraida pelan, hampir tak terdengar.
“Tidak, mereka hanya ingin menikmati hidup,,,” bisik Pak Prabu dengan suara yang sangat meyakinkan.
Air mata yang bening kembali mengalir, memproklamirkan rasa sakit yang disandang oleh hatinya yang merapuh.

Mengapa yang lain bisa,,,
Mendua dengan mudahnya,,,
Sementara kita terbelenggu,,,
Dalam ikatan tanpa cinta,,,”

Di antara kewarasan yang tersisa, wanita itu sadar bahwa Pak Prabu memiliki hasrat yang begitu besar atas tubuhnya. Usapan yang lembut menjelma menjadi remasan nakal. Dan, wanita itu juga sadar, jika dirinya terus diam tak berkelit, maka hanya menunggu waktu bagi tangan itu untuk menyentuh setiap bagian dari tubuhnya yang mengundang hasrat para lelaki.
“Paaakhhh,,,Eeeenghhh,,” Zuraida melenguh saat kedua payudaranya direngkuh dengan lembut oleh telapak tangan yang kasar. Bibirnya tersenyum nyinyir, mengakui ketepatan tebakannya, memang seperti inilah lelaki, tak ada yang berbeda.
Kini semua tergantung dirinya, apakah harus menepis tangan yang kini berusaha menyelinap ke dalam kaosnya, ataukah membiarkan sisi lain dari dirinya bertualang. Menikmati apa yang dinikmati oleh wanita lainnya, tanpa beban, tanpa rasa, tanpa cinta, hanya hasrat yang ingin dicecah dalam digdaya birahi.
“Eeeengghhh,,,” tubuh wanita itu terlonjak, setelah Arga, kini giliran Pak Prabu yang menikmati ranum nya payudara seorang Zuraida.
Kepala lelaki yang mendekati umur 50an itu menyelinap diantara ketiak Zuraida, melahap buah dada yang dibiarkan pemiliknya dalam diam. Meski sesekali bibir sensualnya merintih.
“Paaaak,, sakiiit,,,”
“Sakiiit?,,,” Wajah Pak Prabu mendongak, menatap Zuraida yang mengangguk dengan ekspresi yang tak dapat ditebak.
“Kena kumis saya ya?,,” Pak Prabu nyengir, wajah sangarnya jadi terlihat sangat lucu, lagi-lagi Zuraida mengangguk dengan tawa dikulum.
“Kenapa aku bisa seperti ini,, tersenyum dan membiarkan mulut seorang lelaki menikmati tubuhnya yang selalu terlindung oleh pakaian yang tertutup??,, ini salaaah,,, ini tidak benar,,” hati Zuraida mencoba protes.
Tapi tidak dengan tubuhnya, tangannya justru mengusap kepala Pak Prabu, merestui apa yang diinginkan lelaki itu atas tubuhnya. Parahnya lagi, tanpa sadar, pinggul Zuraida justru menyambut cumbuan batang Pak Prabu yang mulai mengeras, menggasak pantatnya dalam hijab celana legins.

“Uuuggghhh,,, Paaaak,,,” wajah Zuraida tampak memelas. Mencoba memberikan perlawanan atas setiap stimulan yang diberikan pejantan dari belakang tubuhnya.
Di balik rintihan, hatinya terus berkecamuk, menentang nurani dengan mencari-cari pembenaran atas perbuatannya ini. Dan sialnya rasa cemburu, cinta yang terluka, hingga sikap sang suami yang selalu memilih hubungan yang liberal, mampu menumbangkan nurani yang kini jatuh terjerembab. Pak Prabu membalik tubuhnya, menatap dengan lembut.
“Bu Dokter, Pantatmu nakal banget,,,” bisik Pak Prabu. Membuat Zuraida membuang muka, tersipu malu.
“Kenapa kamu tadi menolak cumbuan Arga, bukankah kamu mencintainya?,,,”
“Paaak!!!,,,” Zuraida segera menurunkan kaosnya, menyembunyikan payudaranya yang tersembul bebas. Wajahnya cemberut. Berusaha mendorong tubuh Pak Prabu.
“Okee,,Okeee, sorry,,, aku takkan mengungkitnya lagi,,,sorry,,,””Sekarang,,, mari kita nikmati kebebasan hatimu,,, aku bersedia koq jadi alat peraga,,, dan aku takkan bilang-bilang pada yang lain,,”
Tapi Zuraida masih saja cemberut, padahal saat ini dirinya mulai bisa menikmati perselingkuhan hatinya.
“Eeeeenggghhh Paaaak,,,” tiba-tiba tubuh Zuraida terhimpit ke dinding, saat Pak Prabu menggasak selangkangan wanita itu dengan batang yang mengeras.
Lelaki itu terus menggesek-gesek selangkangan Zuraida dengan batangnya, seolah ingin memamerkan keperkasaan senjatanya, yang menjadi misteri bagi wanita yang selalu mengenakan penutup kepala itu. Zuraida dapat merasakan betapa kerasnya batang yang berada dibalik celana pantai itu. Batang yang saat game tadi sempat mencuri perhatiannya. Pancingan Pak Prabu berhasil, kini mata Zuraida tertuju kebawah, dengan malu-malu, sesekali pinggulnya maju, seolah menyambut cumbuan kelamin sang penjatan dengan vagina yang mulai membasahi celana dalam dan leggins nya.
“Paaak,,,” tangan Zuraida memegang pinggul Pak Prabu, mengikuti ulah Pak Prabu yang lebih dulu memegang pinggulnya. “Punya bapak nakal banget,,,Eeenghhh,,,” bisik Zuraida saat menyambut gesekan kerasnya batang Pak Prabu dengan gerbang vagina yang gemuk.
Zuraida yakin, seandainya pakaian bawah mereka tak tertutup pakaian, dapat dipastikan batang itu pasti sudah menyelusup kedalam tubuhnya dengan cepat. Tapi Zuraida lebih menikmati percumbuan seperti ini. Kenakalan yang dianggapnya masih dalam batas wajar, seperti saat game tadi. Mungkin bagi orang yang melihat akan tampak lucu, tubuh kedua insan itu begitu kompak bekerjasama, saling menggesek selangkangan mereka.
“Aku tak yakin kau bisa mengeluarkan burung itu dari sangkarnya, tanpa harus memegangnya,,,” tantang Pak Prabu sambil meremas pantat montok Zuraida.
“Oyaaa,,, apa yang aku dapat jika aku berhasil melakukannya?,,,”
“Hhhmm,, apa saja yang kau mau?,,”
Zuraida tersenyum, “Aku ingin Mas Dako dikasih liburan ke Madrid, tapi hanya kami berdua,”
“Hahahaa,, itu gampang, tapi jika kamu gagal,,, Aku mau,, kita melanjutkan game yang terhenti tadi,,,” jawab Pak Prabu sambil mengusap selangkangan Zuraida, membuat wanita terhenyak, menggeliat geli, lalu mengangguk dengan lemah.Hati Pak Prabu berteriak girang bukan main, tapi berusaha terlihat santai. “Okee,, jadi sekarang,, cobalah untuk membebaskan burungku, tanpa melepasnya,” Pak Prabu melepas kaosnya, memamerkan tubuh yang masih terlihat tegap. Meski perutnya mulai berlemak, namun dada yang bidang dipenuhi rambut-rambut halus membuat pikiran Zuraida semakin kacau.

hilda yulis - jilbaber hot (4)
“Eeeenghhh,,,” Wanita itu melenguh, saat merasakan bibir vaginanya kembali diusap oleh tonjolan di balik celana Pak Prabu.
Zuraida berusaha mengangkat selangkangannya lebih tinggi, mencoba menjangkau tepian celan Pak Prabu dengan selangkangannya. Sambil menekan kebawah Zuraida berusaha menarik kebawah tepian karet celana.
“Paaak ini sulit banget,, karetnya kencang bangeeetsss,,,” rengek wanita berjilbab itu, gesekan yang semakin intens membuat bibir vaginanya semakin basah.
“Coba lah terusss,,,” pinta Pak Prabu sambil meremasi pantat Zuraida.
Pak Prabu yang tidak tahan ingin memamerkan batangnya, berusaha membantu, membungkukkan badannya, agar selangkangan Zuraida bisa lebih bebas bergerak, menarik turun celananya. tapi tetap saja terasa sulit.
“Pak,,,,Eeengghhhhh,,, Paaak,,,” mata Zuraida melotot saat melihat kepala dari batang Pak Prabu mulai mencuat keluar. Semakin cepat pinggulnya bergerak berusaha menurunkan dengan selangkangannya.
Dan kini batang Prabu telah mencuat sepenuhnya, tapi pinggul Zuraida terus bergerak menggesek, membuat selangkangannya semakin basah.
“Sudahh pak,,, burung bapak sudah keluar,,,” rintih Zuraida, matanya menatap Pak Prabu dengan wajah sendu, sementara pahanya menjepit batang Pak Prabu dengan kuat. “Burung Bapaak besar bangeeeet,,,”
“Yaaa,, sudaahh keluar,, teruss?,,,” jawab Pak Prabu terdiam, meminta pendapat Zuraida.
“Terusss,, Apaaa?,,” Zuraida menggumam tak jelas, balik bertanya, tidak tau lagi dengan petualangan seperti apa yang akan terjadi. Nafasnya menderu menikmati gerakan batang Pak Prabu di antara jepitan pahanya.
Tangan pak Prabu yang dari tadi terus meremasi pantat Zuraida beringsut keatas, memegang tepian leggins Zuraida. “Boleeeehh?,,,”
“Eeengghhh,,,” Zuraida bingung, hatinya panik, lalu mengangguk ragu-ragu, tak yakin dengan keputusannya.
Tanpa menunggu persetujuan lebih jauh, perlahan tangan kekar Pak Prabu menarik turun leggins putih yang sedari tadi menghalangi pertemuan kulit kelamin mereka.
“Paaak,,,” Zuraida mencengkram tangan pak Prabu. “Yang itu jangan pak,,, saya mohooon,,,” wanita berusaha mempertahankan kain kecil yang menjadi pertahanan terakhir dari alat senggamanya.

“Zee,,, Plisss,,,”
Zuraida terkaget, saat mendengar sebutan nama yang hanya digunakan oleh Arga, tangannya melemah, menuntun tangan Pak Prabu untuk melucuti pertahanan terakhirnya.
“Oooowwwhhh,, Paaak,,, saya ga bisaaa,,” tangannya dengan cepat menahan batang Pak Prabu yang berada tepat didepan bibir kemaluannya.
“Kenapaa Bu,,, pliss saya mohon,, saya ga kuat lagi buuu,,, izinin punya saya masuk,,,” rengek Pak Prabu.
“Tapi saya benar-benar ga bisa melakukannya tanpa rasa,, rasa cintaa,,,mengertilah Pak,,,”
“Buu,,, Eeemmmpphhh,,, eemmmphh,,,” Pak Prabu melumat lembut bibir Zuraida. Mata mereka berpandangan saling berkirim pesan, ciuman Pak Prabu begitu lembut membuat jantung Zuraida gemetar.
Perlahan mata Zuraida terpejam, seiring batang Pak Prabu yang menyentuh lebut klitoris kemaluannya, menggesek pelan.
“Oooowwgghhh,,,” Wanita itu melenguh saat Pak Prabu mulai memberikan tekanan untuk penetrasi.
“Paaak,,, jangan,,, Hiksss,,,,” Tiba-tiba Zuraida memundurkan pinggulnya, menjauhkan batang Pak Prabu dari bibir vagina yang menagih untuk dijejali. Tangisnya kembali tumpah.
Di saat dirinya berniat untuk menyambut kesenangan yang ditawarkan Pak Prabu, wajah Arga hadir bersama percumbuan panas mereka sebelum akhirnya Arga menghilang meninggalkan dirinya dan Dako.
“Saya mohon Paaak,,, Mengetilah,, ini bukan sekedar mencari kesenangan, tapi tentang janji seorang wanita,” air mata Zuraida mengalir semakin deras.
“Owwwhhh,,, maaf,,, saya memang kelewatan,,, maaf,,,” Pak Prabu mengusap-ngusap pundak Zuraida.

hilda yulis - jilbaber hot (3)
Meski dirinya bisa saja sedikit memaksa untuk menyetubuhi wanita yang tengah labil itu, entah kenapa hatinya tidak tega untuk terus mempermainkan nafsu dan perasaan wanita cantik itu.
“Benahi lah pakaian mu,,,” Pak Prabu membantu menurunkan kaos Zuraida yang berantakan.
“Hiikksss,, makasih pak,,, terimakasih,,,hiksss,hikss,,” entah kenapa Zuraida merasa seperti baru saja terbebas dari ujian yang besar.
“Kau memang berbeda,,, sungguh sangat beruntung lelaki yang mendapatkan cintamu,,” Pak Prabu tersenyum, lalu mengecup lembut kening Zuraida.
Zuraida terkaget saat keningnya dikecup dengan lembut, lalu berusaha tersenyum.
“Pak,,, makasih,,,” tiba-tiba Zuraida memeluk tubuh lelaki itu dengan erat.
“Sudaah,, sudahh,,, jangan lama-lama memeluk saya, nanti burung nya bangun lagi lho,,, haahaaaha,,”
Zuraida melepas pelukannya, berusaha menahan tawanya.
“Anggap aja tadi ujian dari setan, dan kamu sukses berhasil lepas dari ikatannya,,, hahahaa,,”
“Iiihh,, ya ngga gitu lah Pak,, masa setan sih,, hahahha,, justru bapak itu malaikat penolong yang menyadarkan saya,,hahahaa,,” Kali ini Zuraida tak mampu menahan tawanya.
“Tapi,, bila nanti saya sudah menyelesaikan janji cinta saya, mungkin kita bisa mencobanya lagi,,”

DEGG,,,
Zuraida terkejut dengan apa yang diucapkan oleh bibirnya, lidah memang tak bertulang.
“Yang Bener,,, Yeaaahhh,,,”
Wanita itu tersenyum kecut, baru saja dirinya membuat janji baru, janji dengan malaikat penolongnya.
“Tapi boleh saya meminta panjernya dulu,,”
“Maksud bapak?,,,”
Tanpa memberikan jawaban, Pak Prabu kembali melumat bibir Zuraida, hingga membuat wanita itu gelagapan.
“Plisss,, sekarang saya yang minta tolong,,,” ucap Pak Prabu dengan wajah memelas, tangannya menarik karet celana ke depan, memperlihatkan batang yang masih mengeras.
“Teruss,, saya mesti gimana,, tolong jangan minta saya mengoral, saya tidak pernah melakukan, walau dengan suami saya,,” bingung apa yang mesti diperbuatnya.
Pak Prabu juga terlihat bingung.
“Tapi,,, Kalo Bapak mau, bapak boleh melakukannya di luar,,,” Zuraida membalikkan tubuhnya, tangannya bertumpu ke dinding, dengan wajah malu-malu wanita itu menunggingkan pantatnya. “Kalo digesek-gesek seperti tadi bisa keluar ga Pak?,,”
“Ooowwhh,, Bu Dokteeeer,,,” wajah Pak Prabu berbinar, lalu menyergap tubuh Zuraida dari belakang, tangannya segera meremas payudara ranum Zuraida.
“Ooowwhhh,,, Buuu,,,” Pak Prabu segera menggesek-gesekkan batang yang ada di dalam celananya ke bongkahan pantat Zuraida yang masih terbungkus leggins.
Tapi mereka sadar, kain yang menutupi tubuh mereka masih terlalu tebal untuk dapat saling merasakan suguhan yang ditawarkan.
“Woooyy,,, ayooo kumpuuuul,,, bersiap untuk game terakhir,,,”
Sayup-sayup terdengar teriakan lantang Bu Sofie, yang memanggil untuk berkumpul.
“Buu,,”
“Yaa,, yaa,, saya tauu,, waktu kita tak banyak,,, keluarkanlah burung bapak,,” Zuraida memberi perintah, tapi justru tangan lentiknya yang terhulur ke belakang, menarik keluar batang Pak Prabu.
“Ooowwwhhh,,, Buuu,, ini jauh lebih baik,,,” dengus Pak Prabu yang segera menyelipkan batangnya dilipatan paha Zuraida, bergerak maju mundur selayaknya orang bersenggama.
Zuraida yang merasakan vaginanya mendapat gesekan-gesekan dari batang mulai dilanda gairah yang tadi sempat meredup.
“Buuu,,,waktu kita ga banyak bu,,,”
“Lalu gimana lagi Pak,,,” Zuraida menoleh, bingung bagaimana lagi untuk menyelesaikan panjer dadakan itu secepatnya.
“Ya sudahlah,,semoga ini bisa membantu,,tapi jangan dipelototin paak,,, saya maluu,,” dengan jantung bergemuruh, Zuraida menurunkan celana leginsnya, memamerkan pantat mulus berhias celana dalam mungil. meski sadar ini sudah terlalu jauh, tapi kondisi memaksa melakukan itu.

hilda yulis - jilbaber hot (2)
“Makaaassiiihhh,,, Bu,,, Aaaawwhhh,,, Buuu,,,” Tanpa membuang waktu Pak Prabu segera menjejalkan batangnya kelipatan paha tepat didepan bibir vagina gemuk yang tertutup kain tipis.

“Aaaaggghhh,,, Paaak,,, lubangnya jangan disundul paaaak,,,” Kini giliran Zuraida yang mulai kelabakan.
Berkali-kali batang Pak Prabu yang keras menghentak bibir vaginanya,membuat sebagian kain celana dalamnya masuk ke dalam lipatan vagina.
“Aaaaghhh,,, Aaaanghh,,, Aaaangghh,,,” bibir Zuraida terpekik setiap batang Pak Prabu menggasak kain tipis yang menjadi pelindung terakhir lorong vaginanya.
Serangan yang bertubi-tubi membuat kain itu semakin tertarik kebawah, dan semakin banyak pula bagian kain yang memasuki vagina Zuraida. Tangannya yang bertumpu didinding gemetar menahan birahi. Alat senggamanya yang sangat sensitif, dapat merasakan sebagian dari helm kejantanan Pak Prabu, berhasil menyatroni bagian dalam kemaluan yang sudah sangat basah.
“Paaak,, sayaaa ga kuaaat lagi paaak,,,”
Merasakan nikmatnya hentakan-hentakan yang tertahan itu, membuat tubuh sang wanita semakin penasaran, pantatnya semakin menungging, berusaha memberi akses untuk hentakan yang lebih keras. Seolah berharap batang perkasa itu mampu merobek kain tipis yang menghalang, dan menyelusup masuk memenuhi setiap sisi rongga vagina.
“Aaaagghhh,,, Paaak,, ”
Tiba-tiba Zuraida menoleh ke belakang, wajahnya terengah-engah menahan birahi. Dengan tubuh yang berusaha menahan hentakan, wajahnya mengangguk memberi isyarat, untuk persetubuhan yang sesungguhnya.  Tangan lentiknya terjulur ke selangkangan untuk menyibak kain yang menjadi perhalang, kenikmatan yang tertahan. Tapi belum sempat tangannya menyentuh kain itu,,,
”Aaaaaaaaaggghhhhh,,, Buuuuu,,, Sayaaaa keluarrrrr,,, Aaaagghhh,,, Pak Prabu menghentak dengan kuat, kerasnya sodokan Pak Prabu membuat sebagian kepala penisnya merangsek masuk ke dalam vagina.
“Aaaaggghhh,,, Tubuh mu memang nikmat banget,,,”
Zuraida dapat merasakan sperma yang menghambur tertahan oleh kain, merembes membasahi bibir dan sebagian dinding kemaluan.
“Maaf Buuu,,, tadi ibu mau ngelepas CD yaa,,” tanya Pak Prabu masih dengan nafas memburu.
“Owwwhhh tidaaak,, tapi hentakan bapak terlalu keras, takut membuat CD saya robek,” jawab Zuraida cepat sambil tersipu malu. Matanya tak lepas dari perkakas milik sang pejantan yang kembali dimasukkan kedalam celana.
“Hampir sajaa,,” Hati Zuraida menggumam, entah merasa beruntung semua tidak terjadi lebih jauh, entah merutuki kesempatan akan kenikmatan yang terbuang.

UMI ANIS

Teng! Jam dinding berdentang satu kali. Malam semakin larut, tapi Anis masih duduk di ruang tengah. Sejak tadi matanya sulit terpejam. Baru beberapa jam yang lalu Ibu Mas Iqbal, suaminya, menelepon, “Nis, Alhamdulillah, barusan ini keponakanmu bertambah lagi…” suara ibu terdengar sumringah di ujung sana.”Alhamdulillah… laki-laki atau perempuan, Bu?” Anis tergagap, kaget dan senang. Sudah seminggu ini keluarga besar Mas Iqbal memang sedang berdebar-debar menanti berita Dini, adik suaminya, yang akan melahirkan.

hijaber hot (1)

“Laki-laki. Cakep lho, Nis, mirip Mas-mu waktu bayi…” Ibu tertawa bahagia. Dini memang adik yang termirip wajahnya dengan Mas Iqbal.
“Selamat ya, Bu, nambah cucu lagi. Salam buat Dini, Insya Allah besok pulang kerja, Anis dan Mas Iqbal akan jenguk ke rumah sakit.” janji Anis sebelum menutup pembicaraan dengan Ibu yang sedang menunggu Dini di rumah sakit.
Setelah menutup telepon, Anis termenung sesaat. Ia jadi teringat usia pernikahannya yang telah memasuki tahun ke lima, tapi belum juga ada tangis si kecil menghiasi rumah mereka. Meskipun demikian ia tetap ikut merasa sangat bahagia mendengar berita kelahiran anak kedua Dini di usia pernikahan mereka yang baru tiga tahun.
“Kok melamun?!” Mas Iqbal yang baru keluar dari kamar mandi mengagetkannya. Ia memang pulang agak malam hari ini, ada rapat di kantor katanya. Air hangat untuk mandinya sempat Anis panaskan dua kali tadi.
“Mas, ibu tadi mengabari, Dini sudah melahirkan. Bayinya laki-laki,” cerita Anis.

“Alhamdulillah… Dila sudah punya adik sekarang,” senyum Mas Iqbal sambil mengeringkan rambutnya, tapi entah mengapa Anis menangkap ada sedikit nada getir dalam suaranya. Anis menepis perasaannya sambil segera menata meja menyiapkan makan malam.

Selepas Isya’an bersama, Mas Iqbal segera terlelap, seharian ini ia memang lelah sekali. Anis juga sebenarnya agak lelah hari ini. Ia memang beruntung, selepas kuliah dan merasa tidak nyaman bekerja di kantor, Anis memutuskan untuk membuat usaha sendiri saja.
hijaber hot (2)
Dibantu temannya yang seorang notaris, akhirnya Anis mendirikan perusahaan kecil-kecilan yang bergerak di bidang design interior. Anis memang berlatar pendidikan bidang tersebut, ditambah lagi ia punya bakat seni untuk merancang sesuatu menjadi indah dan menarik. Bakat yang selalu tak lupa disyukurinya. Keluarga dan teman-teman banyak yang mendukungnya, akhirnya sekarang ia sudah memiliki kantor mungil sendiri tidak jauh dari rumahnya.
Dan, seiring dengan kemajuan dan kepercayaan yang mereka peroleh, perusahaannya sedikit demi sedikit mulai dikenal dan dipercaya masyarakat. Tapi Anis merasa itu tidak terlalu melelahkannya, semua dilakukan semampunya saja, sama sekali tidak memaksakan diri, malah menyalurkan hobi dan bakatnya merancang dan mendesign sesuatu sekaligus mengisi waktu luangnya. Beberapa karyawan yang sigap dan cekatan membantunya. Malah sekarang sudah ada beberapa designer interior lain yang bergabung di perusahaan mungilnya.
Itu sebabnya sesekali saja Anis agak sibuk mengatur ketika ada pesanan mendesign yang datang, selebihnya teman-teman yang mengerjakan. Waktu Anis terbanyak tetap buat keluarga, mengurus rumah atau masak buat Mas Iqbal meski ada Siti yang membantunya di rumah, menurutnya itu tetap pekerjaan nomor satu. Anis juga bisa tetap rutin mengaji mengisi ruhaniahnya. Namun karena kegiatannya itu, biasanya ia tidur cepat juga, tapi malam ini rasa kantuknya seperti hilang begitu saja. Berita dari ibu tadi membuat Anis teringat lagi. Teringat akan kerinduannya menimang si kecil, buah hatinya sendiri.
Lima tahun pernikahan adalah bukan waktu yang sebentar. Awalnya Anis biasa saja ketika enam bulan pertama ia tak kunjung hamil juga, ia malah merasa punya waktu lebih banyak untuk suaminya dan merintis kariernya. Seiring dengan berjalannya waktu dan tak hentinya orang bertanya, dari mulai keluarga sampai teman-temannya, tentang kapan mereka menimang bayi, atau kenapa belum hamil juga, Anis mulai khawatir. Fitrahnya sebagai wanita juga mulai bertanya-tanya, apa yang terjadi pada dirinya, atau kapan ia hamil seperti juga pasangan-pasangan lainnya…
Atas saran dari banyak orang, Anis mencoba konsultasi ke dokter kandungan. Seorang dokter wanita dipilihnya. Risih juga ketika menunggu giliran di ruang tunggu klinik, pasien di sekitarnya datang dengan perut membuncit dan obrolan ringan seputar kehamilan mereka. Atau ketika salah seorang diantara mereka bertanya sudah berapa bulan kehamilannya.
“Saya tidak sedang hamil, hanya ingin konsultasi saja…” senyum Anis sabar meski dadanya berdebar, sementara Mas Iqbal semakin pura-pura asyik dengan korannya. Anis bernafas lega ketika dokter menyatakan ia sehat-sehat saja. Hindari stress dan lelah, hanya itu nasehatnya.
Setahun berlalu. Di tengah kebahagiaan rumah tangganya, ada cemas yang kian mengganggu Anis. Kerinduan menimang bayi semakin menghantuinya. Sering Anis gemas melihat tingkah polah anak-anak kecil disekitarnya, dan semakin bertanya-tanya apa yang terjadi dengan dirinya. Setelah itu mulailah usaha Anis dan suaminya lebih gencar dan serius mengupayakan kehamilan. Satu demi satu saran yang diberikan orang lain mereka lakukan, sejauh itu baik dan tidak melanggar syariat agama. Beberapa dokter wanita juga kadang mereka datangi bersama, meski lagi dan lagi, sama saja hasilnya. Sementara hari demi hari, tahun demi tahun terus berlalu.
Kadang Anis menangis ketika semakin gencar pertanyaan ditujukan padanya atau karena cemas yang kerap mengusik tidurnya. Mas Iqbal selalu sabar menghiburnya, “Anis, apa yang harus disedihkan? Dengan atau tanpa anak, rumah tangga kita akan berjalan seperti biasa. Aku sudah sangat bahagia dengan apa yang ada sekarang. Insya Allah tidak akan ada yang berubah dalam rumah tangga kita…” kata Mas Iqbal suatu ketika seperti bisa membaca jalan pikirannya.
hijaber hot (3)
Suaminya memang tahu kapan Anis sedang mendalam sedihnya dan harus dihibur agar tidak semakin larut dalam kesedihan. Di saat-saat seperti itu memang cuma suaminya yang paling bisa menghiburnya, tentu saja disamping do’a dan berserah dirinya pada Tuhan. Kadang Anis heran kenapa Mas Iqbal bisa begitu sabar dan tenang, seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi. Dia selalu ceria dan optimis seperti biasa. Apakah memang pria tidak terlalu memasukkan unsur perasaannya atau mereka hanya pintar menyembunyikan perasaan saja? Anis tidak tahu, yang pasti sikap Mas Iqbal banyak membantu melewati masa-masa sulitnya.
Sebenarnya Anis juga bukan selalu berada dalam kondisi sedih seperti itu. Sesekali saja ia agak terhanyut oleh perasaannya, biasanya karena ada faktor penyulutnya, yang mengingatkan ia akan mimpinya yang belum terwujud itu. Selebihnya Anis bahagia saja, bahkan banyak aktivitas atau prestasi yang diraihnya. Buatnya tidak ada waktu yang disia-siakan. Selagi sempat, semua peluang dan kegiatan positif dilakukannya. Kadang-kadang beberapa teman menyatakan kecemburuannya terhadap Anis yang bisa melakukan banyak hal tanpa harus disibuki oleh rengekan si kecil. Anis tersenyum saja.
Anis juga tidak pernah menyalahkan teman-temannya kalau ketika sesekali bertemu obrolan banyak diisi tentang anak dan seputarnya. Buatnya itu hal biasa, usia mereka memang usia produktif. Jadi wajar saja kalau pembicaraan biasanya seputar pernikahan, kehamilan, atau perkembangan anak-anak mereka yang memang semakin lucu dan menakjubkan, atau cerita lain seputar itu. Biar bagaimanapun Anis menyadari menjadi ibu adalah proses yang tidak mudah dan perlu belajar atau bertukar pengalaman dengan yang lain.
Tapi kadang-kadang, sesekali ketika Anis sedang sedih, rasanya ia tidak mau mendengar itu dulu. Anis senang juga jika ada yang berusaha menjaga perasaannya diwaktu-waktu tertentu, dengan tidak terlalu banyak bercerita tentang hal tersebut, bertanya, atau malah menyemangati dengan do’a dan dukungan agar sabar dan yakin akan datangnya si kecil menyemarakkan rumah tangganya.
Anis tersadar dari lamunannya. Diminumnya segelas air dingin dari lemari es. Sejuk sekali. Meskipun malam tapi udara terasa pengap. Anis meneruskan tidurnya. Dalam lelap ia bermimpi bermain bersama beberapa gadis kecil. Senang sekali.
***Siang keesokan harinya, Anis sedang merancang sebuah ruang pameran di kantornya. Ada festival Islam yang akan digelar, mungkin karena tidak banyak designer interior berjilbab rapi seperti Anis, ia dipercaya merancangnya. Ketika sedang mencorat-coret gambar, Fitri mengejutkannya, “Mbak Anis, ada tamu yang mau bertemu.”

hijaber hot (4)

“Dari mana, Fit?” tanya Anis.
“Katanya dari Yayasan Amanah, mbak, tanya soal aplikasi mbak Anis bulan kemarin.”
“Oh itu. Iya deh, saya ke depan sepuluh menit lagi.” jawab Anis.
Setelah berbincang-bincang dengan tamunya, akhirnya Anis menyepakati mengangkat salah satu anak yatim yang diasuh yayasan tersebut sebagai putra asuhnya. Namanya Safiq. Anis memang selalu menyisihkan rezekinya untuk mereka yang membutuhkan. Dan kali ini, ia berniat untuk menyantuni dan mengasuh Safiq seperti anaknya sendiri, itupun setelah dimusyawarahkan dengan suaminya. Anis berharap, dengan begitu ia bisa cepat hamil. Ibu-ibu banyak yang mengatakan, mungkin Anis perlu ’pancingan’ agar bisa lekas dapat momongan.
Begitulah, mulai saat itu, Safiq yang berusia 12 tahun, tinggal bersama Anis dan Iqbal.
Mempunyai ’anak’, membawa banyak hikmah bagi Anis. Ia jadi semakin teliti dan perhatian. Apapun kebutuhan Safiq berusaha ia penuhi. Mulai dari baju hingga mainan, juga kebutuhan sekolah bocah itu yang tahun depan mau masuk SMP. Anis juga mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada Safiq, hingga mas Iqbal yang merasa tersisih, sempat melayangkan protes sambil bercanda, ”Hmm, gimana kalau punya anak beneran ya, bisa-bisa aku nggak boleh tidur di kamar.”
Anis cuma tertawa menanggapinya. ”Ah, mas bisa aja.” dia mencubit pinggang laki-laki itu. Dan selanjutnya merekapun bergumul di ranjang untuk memuaskan satu sama lain, sambil berharap persetubuhan kali ini akan membuahkan hasil.
Esok paginya, seperti biasa, Anis menyiapkan sarapan bagi Safiq. Tidak terasa, sudah hampir tiga bulan bocah itu tinggal bersamanya. Dan Anis merasa senang sekaligus bersyukur, karena pilihannya ternyata tidak salah, Safiq sangat pintar dan baik. Anak itu tidak nakal, sangat menurut meski agak sedikit pendiam. Hanya kepada Anis lah ia mau berbincang, sedangkan dengan mas Iqbal, Safiq seperti menjaga jarak.
”Kenapa, Fiq?” tanya Anis menanyakan sebabnya saat mereka sarapan bersama. Saat itu mas Iqbal sudah berangkat ke kantor, sedangkan Safiq masuk siang.
Bocah itu terdiam, hanya jari-jari tangannya yang bergerak memainkan bulatan bakso di atas nasi gorengnya.
”Tidak apa-apa, ngomong saja sama Umi.” kata Anis. Dia memang menyuruh Safiq untuk memanggilnya dengan panggilan ’Umi’ sedangkan untuk mas Iqbal ’Abi’.
”Ah, nggak, Mi.” Safiq masih tampak takut.
Anis menatapnya. Di usianya yang baru beranjak remaja, bocah itu terlihat tampan. Kalau besar nanti, pasti banyak gadis yang akan terpikat kepadanya. ”Umi nggak akan marah.” kata Anis lagi, penuh dengan sabar.
Safiq menggeleng, dia menundukkan kepalanya semakin dalam.
Kasihan, Anis pun mendekatinya. ”Tidak apa-apa kalau kamu nggak mau bilang, umi nggak akan maksa.” Dipeluknya bocah kecil itu, diletakkannya kepala Safiq di atas gundukan buah dadanya. Ia biarkan Safiq menangis di situ.
”Maaf kalau Umi sudah membuatmu takut.” ucap Anis penuh nada penyesalan, ia memang tidak berharap perbincangan ini akan berakhir seperti itu.
Lama mereka berpelukan, hingga Anis merasa tangis Safiq perlahan mereda dan akhirnya benar-benar berhenti. Ia sudah akan melonggarkan dekapannya saat merasakan sesuatu yang lembut mengendus dan menyundul-nyundul pelan buah dadanya. Ah, Safiq! Apa yang kamu lakukan? Anis memang cuma mengenakan daster longgar saat itu, hanya saat keluar rumah atau ada tamu pria, ia mengenakan jilbab. Dengan pakaian seperti ini, bibir Safiq yang bermain di belahan payudaranya sungguh sangat-sangat terasa.
Cepat Anis melirik ke bawah, dilihatnya si bocah yang kini berusaha mencium dan menyusu ke arah buah dadanya. ”Safiq!” Anis menegur, tapi dengan suara dibuat selembut mungkin, takut membuat bocah itu kembali mengkerut. Padahal dalam hati, Anis benar-benar mengutuk aksinya yang sudah kurang ajar.
Safiq mendongakkan kepala, ”M-maaf, Mi.” suaranya parau, sementara tubuhnya gemetar pelan.
Tak tega, Anis segera memeluknya kembali. ”Tidak apa-apa, tapi jangan diulang lagi ya. Itu tidak boleh.” ia membelai rambut Safiq penuh rasa sayang.
Safiq mengangguk. ”Maaf, Mi. Safiq cuman pengen tahu gimana rasanya nenen.”
Anis terkejut, ”Emang kamu belum pernah?” tanyanya tak percaya.
”Safiq kan yatim piatu dari kecil, Mi. Jangankan nenen, siapa ibu Safiq aja nggak ada yang tahu. Safiq ditinggal di depan pintu yayasan.” jawab bocah itu dengan getir.
Anis meneteskan air mata mendengarnya, ia mendekap dan mengelus kepala Safiq lebih erat lagi. Setelah terdiam cukup lama, Anis akhirnya membuka suara, ”Bener kamu pengen nenen?” tanyanya dengan suara berat. Keputusan sudah ia ambil, meski itu awalnya begitu berat.
Safiq menganggukkan kepala.
”Janji ya, cuma nenen?” tanya Anis sambil memandang matanya.
”I-iya, Mi.” angguk Safiq cepat.
”Dan jangan ceritakan ini sama orang lain, termasuk pada Abi. Karena anak sebesar kamu sudah tidak seharusnya nenen pada Umi, ini tidak boleh.  Tapi karena kasihan, Umi terpaksa mengabulkannya.” terang Anis, terbersit nada getir dalam suaranya.
”Iya, Mi. Safiq janji.” kata bocah kecil itu.
Begitulah, dengan perlahan Anis pun menurunkan dasternya hingga buah dadanya yang besar terlihat jelas. Meski masih tertutup BH, benda itu tampak begitu indah. Ukurannya yang di atas rata-rata membuatnya jadi tampak sesak. Anis segera membuka cup BH-nya, tanpa ada yang menyangga, bulatan kembar itupun terlontar dengan kerasnya hingga sanggup membuat mata bulat Safiq makin melotot lebar.
”M-mi…” Safiq memanggil, tapi pandangannya sepenuhnya tertuju pada area dada sang ibu angkat yang kini sudah terbuka lebar, siap untuk ia jamah.
”Ayo, katanya mau nenen?” kata Anis sambil menarik salah satu bulatan payudaranya ke depan, memberikan putingnya yang merona merah pada Safiq.
Tahu ada benda mulus menggiurkan yang mendekat ke arah mulutnya, Safiq pun membuka bibir, dan mencaplok puting Anis dengan perlahan, ”Ahm…” lenguh mereka berdua hampir bersamaan. Anis kegelian karena ada lidah basah yang melingkupi ujung payudaranya, sedangkan Safiq merasa nikmat mendapat benda yang selama ini ia idamkan-idamkan. Lidahnya terus menari membelai puting payudara Umi-nya, sedangkan bibirnya terus mengecap untuk mencucup dan menghisap-hisapnya.
”Ah, jangan keras-keras, Fiq. Sakit!” desis Anis di sela-sela jilatan sang anak angkat. Ia mulai merasa merinding, jilatan Safiq mengingatkannya pada mas Iqbal, yang biasa melakukannya sebelum mereka tidur. Meski aksi Safiq terasa agak sedikit kaku, tapi sensasi dan rasanya tetaplah sama.
Sementara itu, Safiq dengan tak sabar dan penasaran terus menyusu. Mulutnya dengan liar bermain di gundukan payudara Anis. Tidak cuma yang kiri, yang kanan juga ia perlakukan sama. Kadang Safiq malah membenamkan wajahnya di belahan payudara Anis yang curam, dan membiarkan mukanya dikempit oleh bulatan kenyal itu, sambil tangannya mulai meremas-remas ringan.
hijaber hot (5)
”Ah, Fiq.” rintih Anis mulai tak sadar. Ia menekan kepala bocah itu, berharap Safiq mempermainkan payudaranya lebih keras lagi.
Safiq yang gelagapan berusaha mencari udara, digigitnya salah satu puting Anis hingga umi-nya itu menjerit kesakitan.
”Auw, Fiq! Apaan sih, sakit tahu!” Anis mendelik marah, tapi melihat muka Safiq yang memerah dan nafasnya yang ngos-ngosan, iapun akhirnya mengerti. ”Eh, maaf. Umi nggak tahu.”
”Gak apa-apa, Mi.” Safiq tersenyum, kedua tangannya masih hinggap di dada Anis dan terus meremas-remas ringan disana.
”Gimana, kamu suka?” tanya Anis sambil membelai kepala Safiq penuh rasa sayang.
Si bocah mengangguk, ”Iya, Mi.”
”Mau lagi?” tanya Anis.
Safiq mengangguk, senyumnya terlihat semakin lebar.
”Kalau begitu, ayo sini.” Anis pun menarik kepala bocah itu dan ditaruhnya kembali ke atas gundukan payudaranya.
Begitulah, sampai siang, Safiq terus menyusu di bongkahan payudara Anis, sang ibu angkat yang masih berusia muda, tidak lebih dari 30 tahun. Dengan payudara yang masih mulus sempurna, Safiq benar-benar dimanjakan. Ia menjadi bocah yang paling beruntung di dunia. Sementara Anis juga merasa senang karena kini ia menjadi semakin intim dan akrab dengan sang putra angkat yang sangat ia sayangi.
***
Rutinitas itu terus berlangsung. Kapanpun dan dimanapun Safiq ingin, asal tidak ada orang -terutama mas Iqbal- Anis dengan senang hati menyusuinya. Dan seperti yang sudah dijanjikan, Safiq memang tidak pernah meminta lebih. Bocah itu cuma meremas dan menghisap, tidak macam-macam. Ditambah lagi, sama sekali tidak ada nafsu ataupun birahi dalam setiap jilatannya, Safiq benar-benar murni melakukannya karena pengen nenen. Anis jadi merasa aman.
Tapi semua itu berubah saat Safiq naik ke jenjang SMP…
Umur yang bertambah membuat pikiran bocah itu semakin berkembang. Dari yang semula cuma nenen biasa, kini berubah menjadi jilatan mesra yang sangat lembut namun sangat menggairahkan. Remasan bocah itu juga semakin bervariasi; kadang keras, kadang juga lembut. Kalau menghisap puting yang kiri, Safiq memijit dan memilin-milin yang kanan, begitu pula sebaliknya. Tak jarang Safiq mendempetkan dua puting itu dan menghisapnya dalam satu waktu. Pendeknya, Safiq sekarang sudah tumbuh menjadi remaja yang tahu apa arti seks yang sesungguhnya.
Anis bukannya tidak mengetahui hal itu. Ia sudah bisa menebaknya saat melihat penis Safiq yang sedikit ereksi saat mereka sedang melakukan ’ritual’ itu. Tapi Anis pura-pura tidak tahu dan mendiamkannya saja. Toh Safiq juga tidak berbuat macam-macam, anak itu tetap ’sopan’. Malah Anis yang panas dingin, itu karena ukuran penis Safiq yang saat ini sudah melebihi punya mas Iqbal, padahal usia bocah itu masih sangat muda. Gimana kalau nanti sudah besar… ah, Anis tidak kuat membayangkannya.
Esoknya, saat membangunkan Safiq untuk sholat subuh, Anis disuguhi pemandangan baru lagi. Saat itu Safiq masih tertidur lelap, tapi tidak demikian dengan penisnya. Benda itu sedang berdiri dan menjulang begitu tegarnya. Sempat Anis terpana dan terpesona untuk beberapa saat, tapi setelah bisa menguasai diri, ia segera membangunkan sang putra, ”Fiq, ayo sholat dulu.”
Safiq cuma menggeliat lalu meneruskan tidurnya. Anis jadi tergoda. Apalagi sekarang di depannya, penis Safiq jadi kelihatan lebih menantang. Ukurannya yang begitu besar membuat Anis tercengang, dengan warna coklat kehitaman dan ‘kepala’ yang masih kelihatan imut (Safiq baru bulan kemarin disunat), benda itu jadi terasa seperti magnet bagi Anis. Tanpa terasa perlahan jari-jarinya terulur dan mulai menggenggamnya. Ia memperhatikan wajah sang putra angkat, Safiq terlihat tenang saja, matanya tetap terpejam rapat sambil menikmati tidur pulasnya.
Dengan hati berdebar dan penuh perhitungan, takut dipergoki oleh sang suami -juga takut bila Safiq tiba-tiba bangun- Anis mulai mengocok benda panjang itu perlahan-lahan. Saat diperhatikannya Safiq tetap tertidur, malah bocah itu seperti menikmatinya -terlihat dari desah nafasnya yang semakin memburu dan tarikan lirih karena terangsang- Anis pun mempercepat kocokannya. Hingga tak lama kemudian berhamburan cairan putih kental dari ujungnya. Safiq ejakulasi. Yang gilanya, akibat rangsangan Anis, ibu angkatnya sendiri.
Merasa sangat bersalah, dengan tergopoh-gopoh Anis segera membersihkannya. Saat itulah, Safiq tiba-tiba terbangun. ”Eh, umi…” gumamnya tanpa tahu apa yang terjadi.
Anis mengelap sisa sperma Safiq ke ujung dasternya, ”Ayo sholat dulu, sayang.” katanya dengan nada suara dibuat senormal mungkin, padahal dalam hati ia sangat berdebar-debar.
Safiq memperhatikan cairan putih kental yang berceceran di perutnya. Untuk yang ini, Anis tidak sempat membersihkannya. ”Ini apa, Mi?” Safiq mengambil cairan itu dan mempermainkan di ujung jarinya, lalu mengendusnya ke hidung. ”Ih, baunya aneh.” bocah itu nyengir.
Anis tersenyum, ”Tidak apa-apa, itu tandanya kamu sudah mulai dewasa.”
Safiq memandang umi-nya, ”Dewasa? Safiq nggak ngerti. Maksud Umi apaan?” tanyanya.
”Nanti Umi jelaskan, sekarang mandi dulu ya.” Anis membimbing putra kesayangannya turun dari ranjang.
Safiq menggeleng, ”Nggak mau ah, Mi. Dingin!”
”Eh, harus. Kalau nggak, nanti badanmu kotor terus. Ini namanya mandi besar.” terang Anis.
”Mandi besar?” tanya Safiq, lagi-lagi tidak mengerti.
”Ah, iya. Kamu kan belum pernah melakukannya. Ya udah, ayo Umi ajarin.” Anis mengajak Safiq untuk beranjak ke kamar mandi.
Di ruang tengah, dilihatnya mas Iqbal kembali tidur setelah menunaikan sholat subuh. Sudah kebiasaan laki-laki itu, malam melek untuk sholat tahajud, habis subuh tidur lagi sampai waktu sarapan tiba. Dengan bebas Anis membimbing Safiq masuk ke kamar mandi.
“Lepas bajumu,” katanya memerintahkan.
Safiq dengan patuh melakukannya. Ia tidak risih melakukannya karena sudah biasa telanjang di depan ibu angkatnya. Tak berkedip Anis memperhatikan penis Safiq yang kini sudah mengkerut dan kembali ke ukuran semula.
”Pertama-tama, baca Bismillah, lalu niat untuk menghilangkan hadast besar.” kata Anis.
”Emang Safiq baru dapat hadast besar ya?” tanya Safiq pada ibu angkatnya yang cantik itu.
Anis dengan sabar menjawab, ”Iya, kamu tadi mimpi enak kan?” tanyanya.
Safiq mengangguk, ”Iya sih, tapi Safiq sudah lupa ngimpiin apa.”
”Nggak masalah, itu namanya kamu mimpi basah. Itu tanda kedewasaan seorang laki-laki. Dan sehabis dapat mimpi itu, kamu harus mandi besar biar badanmu suci lagi.” sahut Anis.
Safiq mengangguk mengerti. ”Terus, selanjutnya apaan, Mi?”
”Selanjutnya… basuh kemaluanmu seperti ini,” Anis meraih penis Safiq dan mengguyurnya dengan air. Ajaib, bukannya mengkeret karena terkena air dingin, benda itu malah mendongak kaku dan perlahan kaku dan menegang karena usapan tangan Anis.
”Mi, enak…” Safiq merintih.
hijaber hot (6)
Anis jadi serba salah, cepat ia menarik tangannya. ”Eh,”
Tapi Safiq dengan kuat menahan, ”Lagi, Mi… enak,” pintanya.
Melihat pandangan mata yang sayu dan memelas itu, Anis jadi tidak tega untuk menolak. Tapi sebelumnya, ia harus memastikan segalanya aman dulu. Dikuncinya pintu kamar mandi, lalu ia berbisik pada sang putra. ”Jangan berisik, nanti Abimu bangun.” sambil tangan kanannya mulai mengocok pelan batang penis Safiq.
Safiq mengangguk. Yang kurang ajar, untuk meredam teriakannya, ia meminta nen pada Anis. “Plis, Mi. Safiq pengen.”
Menghela nafas -karena merasa dipecundangi- Anis pun memberikan bongkahan payudaranya. Jadilah, di kamar mandi yang sempit itu, ibu serta anak yang seharusnya saling menghormati itu, melakukan hal buruk yang sangat dilarang agama. Safiq menggelayut di tubuh montok ibu angkatnya, sambil mulutnya menyusup ke bulatan payudara Anis. Bibirnya menjilat liar disana. Sementara istri Iqbal, dengan nafas memburu menahan kenikmatan, terus mengocok penis besar sang putra hingga  menyemburkan sperma yang dikandung di dalamnya tak lama kemudian.
Banyak dan kental sekali cairan itu, meski tidak seputih yang pertama, tapi pemandangan itu sudah cukup membuat Anis jadi horny. Wanita itu merasakan celana dalamnya jadi basah. Tapi tentu saja ia tidak mungkin menunjukkannya pada Safiq, bocah itu tidak akan mengerti. Jadi cepat-cepat ia bersihkan semuanya, takut mas Iqbal yang sedang tertidur di ruang tengah tiba-tiba bangun dan memergoki ulah mereka.
Didengarnya Safiq menarik nafas panjang sambil mendesah puas, ”Terima kasih, Mi. Nikmat banget. Badan Safiq jadi enteng.”
Anis mengangguk mengiyakan. ”Sudah, sekarang mandi sana. Ulangi semuanya dari awal.”
Safiq tersenyum, dan dengan bimbingan dari ibu angkatnya yang cantik, iapun melakukan mandi wajib pertamanya.
Sejak saat itu, level ’permainan’ mereka jadi sedikit meningkat. Anis tidak cuma memberikan payudaranya, tapi kini juga harus memuaskan Safiq dengan tangannya. Dan si bocah, tampak senang-senang saja menerimanya. Siapa juga yang bakal menolak kenikmatan seperti itu. Dan sampai saat ini, Anis masih belum juga hamil, padahal ia dan mas Iqbal tidak pernah lelah berusaha. Ah, mungkin memang belum rejekinya. Anis berusaha menerima dengan ikhlas dan lapang dada. Toh kini sudah ada Safiq yang menemani hari-harinya. Dan bagusnya, bocah itu bisa bertindak lebih dari sekedar anak.
Itu dibuktikan Safiq saat mereka berbincang berdua sambil menunggu mas Iqbal yang bekerja lembur. Berdua mereka duduk di sofa ruang tengah, di depan televisi. Mereka mengobrol banyak, mulai dari sekolah Safiq hingga saat-saat intim mereka berdua yang menjadi semakin sering. ”Kamu nggak bosen nenen sama Umi?” tanya Anis sambil membelai rambut Safiq yang lagi-lagi tenggelam ke belahan buah dadanya.
Dengan mulut penuh payudara, Safiq berusaha untuk menjawab, ”Ehm… enggak, Mi. Susu umi enak banget!”
”Saat aku kocok gini, enak juga nggak?” tanya Anis yang tangannya mulai menerobos ke dalam lipatan sarung Safiq.
Safiq melenguh pelan saat merasakan jari-jari Anis melingkupi batang kemaluannya dan mulai mengocok pelan benda coklat panjang itu. ”Hmm, enak, Mi.” sahutnya jujur.
Anis tersenyum, dan melanjutkan aksinya. Terus ia permainkan batang penis sang putra angkat hingga Safiq melenguh kencang tak lama kemudian. Badan kurusnya kejang saat spermanya berhamburan mengotori sarung dan tangan Anis. Mereka terdiam untuk beberapa saat. Anis memperhatikan tangannya yang belepotan sperma, dan selanjutnya mengelapkan ke sarung Safiq. Lalu dipeluknya bocah itu penuh rasa sayang.
”Terima kasih, Mi.” gumam Safiq di sela-sela pelukan mereka.
Anis mengecup pipinya lalu membimbing anak itu untuk pindah ke kamar, sekarang sudah waktunya untuk tidur.  Tapi Safiq tidak langsung beranjak, ia tetap duduk di sofa, sementara Anis sudah berdiri di hadapannya. Safiq menengadah memandangnya dengan tatapan sayu. Dengan nada bergetar, bocah itu berucap, ”Safiq sayang Umi,” sambil mulutnya mendekat untuk mencium kemaluan Anis.
Anis jadi bingung, mau menolak, tapi takut membuat Safiq kaget dan malu. Dibiarkan, ia tahu apa yang diinginkan bocah kecil itu. Belum sempat menjawab, tangan Safiq sudah menyusup ke balik dasternya untuk mengusap paha Anis dari luar. Dan terus makin ke atas hingga menemukan CD yang membungkus pantat bulatnya. Anis sedikit terhentak saat Safiq memegang dan menarik turun kain mungil itu. ”Ah, Safiq! Apa yang kamu lakukan?” teriaknya, tapi tetap membiarkan sang putra angkat menelanjangi dirinya. Ia berpikir, mungkin Safiq hanya akan menciumnya sesaat saja.
Tapi tebakannya itu ternyata salah. Memang Safiq cuma mencium pelan, hanya bagian luar yang dijamah oleh bocah kecil itu. Tapi itu cuma awal-awal saja, karena selanjutnya, saat melihat tidak ada penolakan dari diri Anis, iapun melakukan yang sebenarnya, Safiq mengangkat salah satu kaki Anis ke sandaran sofa hingga kini selangkangan sang ibu angkat terbuka jelas di depan matanya. Diperhatikannya kemaluan Anis yang basah merona kemerahan untuk sesaat, sambil tangannya meremas dan mengelus-elus bongkahan pantat Anis dengan gemas.
hijaber hot (8)
”Ehm,” Anis melenguh, tubuh sintalnya mulai bergetar. Ia yang awalnya ingin menolak, kini malah terdiam mematung. Anis pasrah saja saat bibir kemaluannya mulai disentuh oleh Safiq, dari mulai jilatan yang sopan hingga semakin lama menjadi semakin gencar. Akhirnya Anis malah merapatkan kemaluannya ke bibir Safiq dan tanpa sadar mulai menggoyangkan pinggulnya. Aksinya itu membuat Safiq semakin leluasa menciumi lubang kemaluannya.
”Ough…” Anis merasakan lidah Safiq semakin kuat menari dan menjelajahi seluruh lekuk kemaluannya. Ia merasakan cairan kewanitaannya semakin deras mengalir seiring dengan rangsangan Safiq yang semakin kuat. Entah darimana bocah itu belajar, tapi yang jelas, jilatan dan hisapannya sungguh terasa nikmat. Tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh mas Iqbal membuat Anis merintih kegelian, namun terlihat sangat menyukai dan menikmatinya. Ia elus-elus kepala Safiq yang terjepit diantara pangkal pahanya, hingga akhirnya tubuhnya mengejang dan menekuk kuat tak lama kemudian.
Safiq yang tidak mengetahui kalau Anis akan mencapai puncak, terus menghisap kuat-kuat disana. “Uuhh…” didengarnya sang ibu angkat melenguh sambil menghentak-hentakkan pinggulnya. Dari dalam lubang surga yang tengah ia nikmati, mengalir deras cairan bening yang terasa agak sedikit kecut. Baunya pesing, seperti bau air kencing. Cepat Safiq menarik kepalanya, tapi tak urung, tetap saja beberapa tetes air mani itu membasahi mukanya. Diperhatikannya Anis yang saat itu masih merapatkan kaki dengan tubuh mengejang-ngejang pelan. Selanjutnya, tanpa suara, istri Iqbal itu jatuh lunglai ke atas sofa, menindih badan kurus Safiq ke dalam pelukannya.
Mereka terdiam untuk beberapa saat. Anis berusaha untuk mengatur nafasnya, sementara Safiq dengan polos melingkarkan tangan untuk mengusap-usap bokong bulat Anis yang masih terbuka lebar.
”D-darimana kamu b-belajar seperti i-itu, Fiq?” tanya Anis saat gemuruh di dadanya sedikit mulai tenang.
Safiq memandangnya, ”Dari Umi,” jawabnya polos.
“Jangan ngawur kamu, Umi nggak pernah ngajarin yang seperti itu.” sergah Anis sedikit berang.
“Memang nggak pernah, tapi Umi pernah memintanya.” sahut Safiq.
“Meminta? Maksud kamu…”
Safiq pun berterus terang. Kemarin ia memergoki kedua orang tua angkatnya bercinta di ruang tengah, di sofa dimana mereka tengah berpelukan sekarang. Saat itu Anis meminta agar mas Iqbal mengoral kemaluannya, tapi laki-laki itu menolak dengan alasan jijik dan dilarang oleh ajaran agama. Anis memang kelihatan kecewa, tapi bisa mengerti. Safiq yang terus mengintip jadi menarik kesimpulan; perempuan suka jika kemaluannya dijilat. Dalam hati Safiq berjanji, ia akan melakukannya untuk membalas budi baik Anis yang selama ini sudah merawat dan menyayanginya.
”Kamu sudah salah paham, Fiq,” di luar dugaan, bukannya senang, Anis malah terlihat ketakutan.
”Kenapa, Mi?” tanya Safiq kebingungan.
“Setelah menjilat, kamu pasti akan melakukan hal lain, seperti yang kamu tonton kemarin malam. Benar kan?” tuduh Anis.
Safiq terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Memang sempat terbersit di hati kecilnya untuk melakukan apa yang sudah diperbuat kedua orang tua angkatnya. Sepertinya nikmat sekali. Sebagai seorang remaja yang baru tumbuh, ia jadi penasaran, dan ingin merasakannya juga. Safiq sama sekali tidak mengetahui kalau itu sangat-sangat dilarang dan tidak boleh.
“Ah, ini salah Umi juga.” keluh Anis, pelan ia menarik tubuhnya dan duduk di sisi Safiq. Tangan Safiq yang terulur untuk memegangi bongkahan payudaranya, ditepisnya dengan halus. Safiq jadi terdiam dan menarik diri. Anis merapikan bajunya kembali.
“M-maaf, Mi.” lirih Safiq dengan muka menunduk, sadar kalau sudah melakukan kesalahan besar.
“Tidak apa-apa. Tapi mulai sekarang, jangan nenen sama Umi lagi, kamu sudah besar.” putus Anis sambil bangkit dan beranjak menuju kamar, meninggalkan Safiq sendirian di ruang tengah menyesali kebodohannya.
***Esoknya, Anis menyiapkan sarapan dalam diam. Dia yang biasanya ramah dan ceria, hari ini terlihat seperti menanggung beban berat. Mas Iqbal bukannya tidak mengetahui hal itu, tapi dia mengira Anis cuma lagi PMS saja.  Tapi setelah ditunggu berhari-hari, dan sang istri tercinta tetap cemberut saja, bahkan cenderung keras hati, iapun mulai curiga.

”Ada apa, Nis? Kuperhatikan, kamu berubah akhir-akhir ini. Ceritakanlah, siapa tahu aku bisa membantu.”
Anis menggeleng, ”Ah, nggak, Mas. Tidak ada apa-apa, aku cuma lagi capek aja.”
hijaber hot (9)
”Jangan bekerja terlalu keras. Ingat, kita kan lagi program hamil.” Mas Iqbal mengingatkan.
Anis berusaha untuk tersenyum, ”Iya, Mas.” Dan saat sang suami merangkul lalu mengecup bibirnya untuk diajak menunaikan sunnah rasul, iapun berusaha melayani dengan sepenuh hati. Siapa tahu, dengan begitu ganjalan di relung hatinya bisa cepat sirna.
Tapi harapan tetap tinggal harapan. Bukannya hilang, hatinya malah semakin resah. Apalagi saat melihat Safiq yang mulai menjauhinya. Bukan salah bocah itu juga, Anis juga jarang mengajaknya bicara berdua seperti dulu. Sejak peristiwa di ruang tengah itu, mereka jadi seperti dua orang asing, hanya saat benar-benar perlulah mereka baru bertegur sapa.
Di sisi lain, Anis juga seperti kehilangan sesuatu. Penis Safiq yang besar dan panjang terus menghantui pikirannya, juga jilatan dan hisapan bocah itu di atas gundukan payudaranya, dan yang terutama, kuluman Safiq di lubang vaginanya yang sanggup mengantar Anis meraih orgasmenya. Semua itu ia rindukan, meski dalam hati terus berusaha ia bantah. Tapi tak bisa dipungkiri, pesona Safiq sudah menjerat nafsu birahinya. Kalau dia yang beriman saja merasa seperti ini, bagaimana dengan Safiq yang ingusan? Bocah itu pasti lebih menderita.
Anis mulai meneteskan air mata. Pikirannya kacau, campur aduk antara ingin menolak dan minta ditiduri oleh Safiq. Ada rasa ingin merasakan, tapi juga ada rasa takut akan dosa. Tapi adzan subuh yang berkumandang lekas menyadarkannya, cepat ia menghapus air mata dan mengambil air wudhu. Ia harus tegar. Ini perbuatan maksiat. Sangat salah dan berdosa. Tidak boleh diteruskan. Kalau tidak, akan percuma lantunan tobatnya selama ini.
Tapi benarkah seperti itu?
Semuanya berubah saat Anis menerima surat panggilan dari sekolah keesokan harinya. Safiq memberikannya dengan takut-takut, ”M-maaf, Mi.” gagap bocah kecil itu.
Tidak menjawab, Anis menerimanya dan membacanya di kamar. Siangnya, bersama Safiq, ia pergi ke sekolah.
”Nilai-nilainya turun, Bu. Sangat jelek sekali.” kata ibu kepala sekolah yang gemuk berjilbab.
Anis berusaha untuk tersenyum dan meminta maaf.
”Mungkin ada masalah di rumah?” tanya ibu kepala sekolah. ”Dulu Safiq itu sangat pintar, salah satu yang terpandai di kelas. Tapi sepertinya sekarang lagi mengalami penurunan motivasi.”
”Emm, sepertinya tidak ada.” jawab Anis berbohong, padahal dia sangat tahu sekali apa yang dipikirkan anak angkatnya itu.
”Baiklah, saya harap ibu membantu kami untuk mengembalikan semangat belajarnya. Kalau begini terus, ia bisa tidak naik kelas.” pesan ibu kepala sekolah sebelum mengakhiri pertemuan itu.
hijaber hot (10)
Anis pun mengucapkan terima kasih dan memohon diri. Dilihatnya Safiq yang meringkuk ketakutan di sampingnya. Dipeluknya bocah kecil itu dan berbisik, ”Umi tunggu di rumah, belajar yang rajin ya…”
Safiq mengangguk. Mereka pun berpisah, Anis kembali ke rumah, sementara Safiq meneruskan pelajarannya.
Sorenya, saat pulang dari sekolah, Safiq mendapati ibunya menyambut di ruang tamu. Wanita itu memeluknya dengan erat. ”Maafkan Umi, Fiq. Gara-gara Umi, kamu jadi begini.” kata Anis lirih sambil berlinang air mata.
Belum sempat Safiq berkata, Anis sudah menunduk dan melumat bibirnya dengan lembut. Dicium untuk pertama kali, tentu saja membuat Safiq jadi gelagapan, tapi ia cepat belajar. Saat bibir Anis terus mendecap dan menempel di bibirnya, iapun mengimbangi dengan ganti melahap dan menghisapnya rakus. Dinikmatinya lidah sang bunda yang kini mulai  menjelajah di mulutnya.
”Ehmm… Mi,” Safiq melenguh, sama sekali tak menyangka kalau akan diberi kejutan menyenangkan seperti ini.
”Sst…” Anis kembali membungkam bibirnya. ”Diam, Sayang. Umi ingin menebus kesalahan kepadamu.” Pelan Anis menarik tangan Safiq dan ditempelkan ke arah gundukan payudaranya. ”Kamu kangen ini kan?” tanyanya sambil tersenyum manis.
Dengan polos Safiq mengangguk dan mulai meremas-remas pelan. Jari-jarinya memijit untuk merasakan tekstur bulatan yang sangat menggairahkan itu. Seperti biasa, ia tidak bisa mencakup seluruhnya, payudara itu terlalu besar. Safiq bisa merasakan kalau Anis tidak memakai BH, tubuh sintalnya  cuma dibalut daster hijau muda yang sangat tipis sehingga ia bisa menemukan putingnya dengan cepat.
“Mi,” sambil memanggil nama sang bunda, Safiq meneruskan jelajahannya. Ia tarik tali daster Anis ke bawah hingga baju itu turun ke pinggang, menampakkan buah dada sang bunda yang sungguh besar dan menggiurkan. Safiq memandanginya sebentar sebelum lehernya maju untuk mulai mencucup dan menjilatinya, sambil tangannya terus meremas-remas pelan.
Anis merebahkan diri di sofa, dibiarkannya Safiq menindih tubuhnya dari atas. Bibir bocah itu terus menelusur di sepanjang bukit payudaranya, mulai dari pangkal hingga ujungnya, semuanya dihisap tanpa ada yang terlewat. Beberapa kali Safiq membuat cupangan-cupangan yang membikin Anis merintih kegelian. Terutama di sekujur putingnya yang mulai kaku dan menegang, baik yang kiri maupun yang kanan. Safiq menghisap benda mungil kemerahan itu dengan begitu rakus, ia mencucupnya kuat sekali seolah seluruh payudara Anis ingin dilahap dan ditelannya bulat-bulat. Tapi tentu saja itu tidak mungkin.
“Ehmmm…” merintih keenakan, Anis membimbing salah satu tangan Safiq untuk turun menjamah kemaluannya yang sudah sangat basah. Ia sudah menanti hal ini dari tadi. Sepulang sekolah, Anis berpikir dan merenung, Safiq jadi malas belajar karena perseteruan mereka tempo hari. Maka, untuk meningkatkan kembali semangat bocah kecil itu, inilah yang bisa ia lakukan. Anis akan memberikan tubuhnya!
Jangan dikira mudah melakukannya. Anis sudah menimbang dengan matang, memikirkan segala resikonya, dan tampaknya memang inilah jalan yang terbaik. Selain bagi Safiq, juga bagi dirinya sendiri. Karena tak bisa dipungkiri, Anis menginginkannya juga, hari-harinya juga berat akhir-akhir ini. Pesona kemaluan Safiq yang besar dan panjang terus mengganggu tidur malamnya. Mas Iqbal yang selalu setia menemani di atas ranjang, mulai tidak bisa memuaskannya. Memang penisnya juga besar dan panjang, tapi entahlah, dengan Safiq ia seperti mendapatkan sensasi tersendiri. Sensasi yang membuat gairah dan birahinya berkobar kencang. Sama seperti sekarang.
Bergetar semua rasa tubuh Anis begitu Safiq mulai memainkan jari di lubang vaginanya. bocah itu menggesek-gesek kelentitnya pelan sebelum akhirnya menusukkan jari ke dalam lubangnya yang sempit dan gelap. ”Ough,” Anis merintih nikmat. Di atas, bibir Safiq terus bergantian menjilati puting kiri dan kanannya sambil sesekali menghisap dan menggigitnya rakus.
Anis mendorong kepala bocah kecil itu, meminta Safiq untuk beranjak ke bawah. Safiq yang mengerti apa keinginan sang bunda, segera menurunkan ciumannya. Ia jilati sebentar perut Anis yang masih langsing dan kencang sebelum mulutnya parkir di kewanitaan perempuan yang sudah membiayai hidupnya itu.
”Jilat, Fiq!” Anis meminta sambil membuka kakinya lebar-lebar, memamerkan kemaluannya yang sudah becek memerah pada Safiq.
hijaber hot (11)
Si bocah menelan ludah, memandangi sebentar lubang indah yang terakhir kali dilihatnya sebulan yang lalu itu. Perlahan mulutnya turun saat Anis menarik kepalanya. Safiq menjulurkan lidah dan mulai menciuminya. Ia lumat bibir tipis yang tumbuh berlipat-lipat di tengah permukaannya. Bulu kemaluan Anis yang tercukur rapi juga diciuminya dengan senang hati. Anis merasakan Safiq membuka bibir kemaluannya dengan dua jari. Dan saat terkuak lebar, kembali lorongnya dibuat mainan oleh bocah kecil itu.
Lidah Safiq bergerak liar, juga cepat dan sangat dalam. Namun yang membuat Anis tak tahan adalah saat lidah bocah itu masuk diantara kedua bibir kemaluannya sambil menghisap kuat-kuat kelentitnya. Lama tidak bertemu, rupanya Safiq jadi tambah lihai sekarang. Diam-diam Anis bersyukur dalam hati, rupanya ia tidak salah membuat keputusan. Memang, ia tahu ini dosa -salah satu dosa besar malah- tapi kalau rasanya senikmat ini, ia sama sekali tidak menyesal telah melakukannya.
Safiq terus memainkan kemaluan Anis. Mulutnya menghisap begitu rakus dan kencang, hingga dalam beberapa menit, membuat sang bunda jadi benar-benar tak tahan. ”Auw… arghh!” Mengejang keenakan, Anis pun berteriak sekuat tenaga sambil mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. Kelentitnya yang sedang dijepit oleh Safiq, berkedut kencang saat cairannya menyembur deras membasahi lantai ruang tamu.
”Hah, hah,” terengah-engah, Anis meremas pelan rambut Safiq yang duduk berjongkok di lantai.
”Enak, Mi?” tanya bocah kecil itu dengan polos, matanya menatap sang bunda sebelum beralih memandangi selangkangan Anis yang masih mengucurkan sisa-sisa cairan orgasmenya.
Anis mengangguk, ”Nikmat banget, Sayang.” bisiknya sambil berusaha untuk bangkit.
”Mau kemana, Mi?” tanya Safiq cepat, takut tidak mendapatkan jatahnya.
”Kita pindah ke kamar, disini terlalu berbahaya, nanti dipergoki sama tetangga.” sahut Anis. Ditariknya tangan sang putra untuk masuk ke dalam rumah. Beriringan mereka menuju kamar.
”Kamarmu,” kata Anis saat melihat Safiq ingin berbelok ke kiri. Safiq segera memutar langkahnya, kamar mereka memang berseberangan.
Di dalam, tanpa menunggu lama, Safiq segera menelanjangi diri. Begitu juga dengan Anis. Dengan tubuh sama-sama telanjang, mereka naik ke atas tempat tidur. ”Kamu pengen nenen?” tanya Anis sambil mendekap kepala Safiq dan lekas ditaruhnya ke atas gundukan payudaranya.
Tanpa menjawab, Safiq segera mencucup dan menciumi dua benda bulat padat itu. Dihisapnya puting Anis dengan begitu rakus sambil tangannya bergerak meremas-remas pelan. Di bawah, penisnya yang sudah ngaceng berat terasa menyundul-nyundul lubang kelamin Anis.
”Fiq, ayo masukkan!” pinta perempuan cantik itu. Ia membuka pahanya lebar-lebar sehingga terasa ujung penis Safiq mulai memasuki lubangnya.
”Gimana, Mi, didorong gini?” tanya Safiq polos sambil berusaha menusukkan penisnya.
”Yah, begitu… oughhh!” Anis melenguh, penis Safiq terasa membentur keras, tapi tidak mau masuk. Dengan pengalamannya, Anis bisa mengetahui penyebabnya. Maka dengan cepat ia bangkit berdiri dan meraih penis Safiq, lalu dimasukkan ke dalam mulutnya.
“Ahh, Mi!” Safiq menjerit, sama sekali tak menyangka kalau sang bunda akan berbuat seperti itu. Dan asyiknya lagi, rasanya ternyata begitu nikmat, lebih nikmat daripada dikocok pake tangan. Safiq mulai mengerang-erang dibuatnya, tubuhnya kelojotan, dan saat Anis menghisap semakin kuat, iapun tak tahan lagi. Penisnya meledak menumpahkan segala isinya yang tertahan selama ini. Begitu banyak dan kental sekali.
”Ahh,” Anis yang sama sekali tidak menyangka kalau Safiq akan keluar secepat itu, jadi sangat kaget. Beberapa sperma si bocah sempat tertelan di mulutnya, sisanya yang sempat ia tampung, lekas ia ludahkan ke lantai.
“M-maaf, Mi.” kata Safiq dengan muka memerah menahan nikmat, lelehan sperma tampak masih menetes dari ujung penisnya yang mengental.
Anis tersenyum penuh pengertian, “Tidak apa-apa. Bukan salahmu, sebulan tidak dikeluarkan pasti bikin kamu nggak tahan.”
Penuh kelegaan, Safiq menyambut sang bunda yang kini berbaring di sebelahnya. Mereka saling berpelukan dan berciuman. Tapi dasar nafsu remaja, begitu payudara Anis yang besar menghimpit perutnya, sementara paha mereka yang terbuka saling bergesekan, dengan cepat penis Safiq mengencang kembali.
“Eh, udah tegang lagi tuh.” kata Anis gembira sambil menunjuk penis Safiq yang perlahan menggeliat bangun.
“Iya, Mi.” Safiq ikut tersenyum.
Anis mengocoknya sebentar agar benda itu makin cepat kaku dan menegang. Saat sudah kembali ke ukuran maksimal, ia lekas mempersiapkan diri. Rasanya sudah tidak sabar lubang vaginanya yang gatal dimasuki oleh kemaluan muda itu. Anis memejamkan mata saat Safiq mulai mendekap sambil terus menciumi bibirnya, ia merasakan bibir kemaluannya mulai tersentuh ujung penis si bocah kecil.
”Tunggu dulu,” Anis menjulurkan tangan, sebentar ia usap-usapkan ujung penis Safiq ke bibir kemaluannya agar sama-sama basah, barulah setelah itu ia berbisik, ”Sudah, Fiq, masukkan sekarang!” Anis memberi jalan.
hijaber hot (12)
Safiq mulai mendorong. Pelan Anis mulai merasakan bibir kemaluannya terdesak menyamping. Sungguh luar biasa benda itu. Ohh, Anis benar-benar merasakan kemaluannya nikmat dan penuh sesak. Safiq terus mendorong, sementara Anis menahan nafas, menunggu pertautan alat kelamin mereka tuntas dan selesai sepenuhnya.
”Ahh,” Anis mendesah tertahan saat penis Safiq terus meluncur masuk, membelah bibir kemaluannya hingga menjadi dua, memenuhi lorongnya yang sempit hingga ke relungnya yang terdalam, sampai akhirnya mentok di mulut rahimnya yang memanas.
Mereka terdiam untuk sejenak, saling menikmati rangsangan kemaluan mereka yang kini sudah bertaut sempurna, begitu erat dan intim. Rasanya sungguh luar biasa. Safiq bergidik sebentar saat merasakan Anis yang mengedutkan-ngedutkan dinding rahimnya, memijit batang penisnya dengan remasan pelan. Safiq membalas dengan kembali mencium bibir dan payudara sang bunda, sambil tangannya tak henti-henti meremas-remas bulatannya yang padat menggoda.
Beberapa detik berlalu. Saat Anis sudah merasa cukup, iapun meminta Safiq untuk mulai menggerakkan pinggulnya. ”Pelan-pelan aja, nggak usah buru-buru. Kita nikmati saat-saat ini. Abi-mu masih lama pulangnya, dia lembur malam ini.” kata Anis.
Mengangguk mengerti, Safiq pun mulai memompa pinggulnya. Gerakannya begitu halus dan pelan, meski terlihat agak sedikit kaku. Maklum, masih pengalaman pertama. Tapi itu saja sudah sanggup membuat Safiq merintih keenakan, ia benar-benar cepat terbawa ke puncak kenikmatan yang belum pernah ia alami sebelumnya. Nafasnya sudah memburu, terengah-engah. Sementara tubuhnya mulai bergetar pelan.
Anis yang melihatnya jadi panik. ”Tahan dulu, Fiq. Tahan sebentar!” bisiknya, ia tidak mau permainan ini berhenti begitu cepat. Ia baru mulai merasa nikmat.
Tapi apa mau dikata, jepitan kemaluan Anis terlalu nikmat bagi seorang perjaka seperti Safiq. Diusahakan seperti apapun, bocah itu sudah tak mampu lagi. Maka hanya dalam waktu singkat, Safiq pun menjerit dan kembali menumpahkan spermanya. Kali ini di dalam kemaluan Anis. Cairannya yang kental berhamburan saat Safiq ambruk menindih tubuh bugil sang bunda dengan nafas ngos-ngosan.
”Ah, Safiq!” meski terlihat kecewa, namun Anis berusaha untuk memakluminya. Ia belai punggung Safiq dengan lembut. Penis bocah itu yang masih menancap di lorong vaginanya, masih terasa berkedut-kedut, menguras segala isinya. Anis merasakan liangnya jadi begitu basah dan penuh.
Mereka terus berpelukan untuk beberapa saat hingga tiba-tiba Anis menjerit kaget, ”Ah, Fiq!” tubuh montoknya sedikit terlonjak saat merasakan penis Safiq yang tiba-tiba saja kaku dan menegang kembali. ”Cepet banget!” pujinya gembira. Diciumnya bibir bocah itu sebagai hadiah.
Safiq cuma tersenyum dan kembali memperbaiki posisi. Ia sudah siap untuk beraksi. Sambil melumat bibir dan leher Anis, ia mulai menggerakkan pinggulnya. Remasan tangannya di payudara sang bunda juga kembali gencar, secepat tusukannya yang kini sudah mulai lancar dan tahan lama.
”Ahhh… terus, Fiq. Yah, begitu!” Anis yang menerimanya, merintih dan menggeliat-geliat tak terkendali. Tubuh montoknya menggelepar hebat seiring goyangan Safiq yang semakin kuat. Dengan tusukannya yang tajam, bocah itu membuat vagina Anis menegang dan berdenyut pelan, benar-benar puncak kenikmatan yang belum pernah ia alami selama enam tahun pernikahannya dengan mas Iqbal. Ohh, sungguh luar biasa. Anis jadi tak ingat apa-apa lagi selain kepuasan dan kenikmatan. Dosa dan neraka sudah lama hilang dari pikirannya. Hati dan kesadarannya sudah tertutup oleh nafsu birahi.
“Fiq, ooh… oohh… terus… arghhh…” Anis sendiri terkejut oleh teriakannya yang sangat kuat. Pelan tubuhnya bergetar saat cairan kenikmatannya menyembur keluar.
Safiq yang juga kesetanan terus memompakan kemaluannya berulang kali, dan tak lama kemudian ikut menggelepar. Wajahnya yang tampan menengadah, sementara kedua tangannya mencengkeram dan menekan payudara Anis kuat-kuat. Di bawah, spermanya yang kental kembali meledak di dalam vagina sang bunda, memancar berulang kali, hingga membuat rahim Anis jadi begitu basah dan hangat.
”Oh,” Anis melenguh merasakan banyak sekali cairan kental yang memenuhi liang vaginanya.
Setelah selesai, Safiq memiringkan tubuh sehingga tautan alat kelamin mereka tertarik dan terlepas dengan sendirinya. Tangannya kembali meremas lembut payudara Anis sambil bibirnya menciumi wajah wanita yang sangat dikasihinya ini. Anis senang dengan perlakuan Safiq terhadap dirinya.
“Fiq, kamu sungguh luar biasa.” puji Anis kepada putra angkatnya. ”Cepet banget tegangnya, padahal barusan keluar.”
Safiq tersenyum, ”Trims, Umi. Safiq senang bisa membuat Umi bahagia.”
”Tapi kamu juga nikmat kan?” goda Anis.
”Tentu saja, Mi.” Safiq mengangguk.
“Mau lagi?” tawar Anis.
”Umi nggak capek?” Safiq bertanya balik.
”Seharusnya umi yang tanya begitu,” sahut Anis, dan mereka tertawa berbarengan.
***Sejak saat itu, hubungan mereka pun berubah. Bukan lagi seorang ibu dan anak, tetapi berganti menjadi sepasang kekasih yang selalu berusaha untuk memuaskan nafsu masing-masing. Kapanpun dan dimanapun.

Prestasi Safiq kembali meningkat, bahkan lebih dari sebelumnya. Sementara Anis, mendapat hikmah yang paling besar. Ia kini hamil, sudah jalan 2 minggu. Sudah jelas itu anak siapa, tapi sepertinya mas Iqbal tidak curiga. Malah laki-laki itu kelihatan sangat senang dan gembira, sama sekali tidak curiga saat Anis kelepasan ngomong, ”Selamat, Fiq, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah,”

VINA

Aku baru saja keluar dari kelas sore itu, matakuliah terakhirku hari ini. Kira-kira masih jam 16.30 saat itu namun gedung fakultasku sudah sangat sepi. Aku lelah sekali, matakuliahku benar-benar padat hari itu. Akhirnya aku beristirahat dan duduk dibangku panjang di sebelah selatan, aku malas untuk langsung turun ke bawah dari lantai 4 ini. Beberapa saat kemudian, aku dikagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba keluar dari kelas didepanku. Ah, ternyata itu Vina, Dia adalah Mahasiswi  Filsafat semester 2 difakultasku. “Eh, Ada Bayu,Aku ikut duduk yah” sapanya padaku. “Iya gak papa,loh kok kamu belum pulang Vin?”tanyaku. “Iya nih, aku lagi males turun soalnya, nanti aja ah” jawabnya dengan kenesnya. Darahku berdesir duduk bersebelahan dengannya disaat kondisi lantai 4 fakultasku yang benar-benar sepi ini. Aku takjub dengan penampilannya saat itu, Tubuhnya langsing,dengan payudara yang cukup besar, kutaksir sekitar 34 B. Pinggulnya yang besar memperlihatkan seolah celana jeans ketatnya tak cukup menampung kedua bongkah pantatnya itu, ditambah dengan wajahnya yang cantik dan putih dibalut jilbab fasmina modisnya. Menambah keanggunan wanita berjilbab di depanku ini.

jilbab seksi - engga (2)

“Sibuk banget sih vin sama Hape-nya” tanyaku coba memecah keheningan. “ah, iya nih Bayu aku lagi sms-an sama Tiwi biar njemput aku” jawabnya lagi dengan kenesnya. Ah, kontolku jadi tegang dibuatnya. Aku teruskan mengobrol dengannya, ngalor-ngidul hingga akhirnya obrolan kami menyerempet hal-hal yang berbau seks “Hayooo..Bayu pernah ngapain sama Tiwii..”tanyanyan dengan senyumnya yang menggoda sambil mencubit-cubit perutku. Aku berusaha menghindar dan Vina malah tak sengaja memegang kontolku dari luar celana jeansku”iiih..apaan tuh, kok keras ya, hayoo Bayu ngaceng yaa”tuduhnya. Aku langsung panik “Ah, nggak kok vin nggak papa”. Aku terkejut dengan ucapannya barusan. “Udah ngaku aja Bayu gak papa kok, Vina tau kok Bayu dari tadi horny ngeliatin Vina.”Vina mulai menggodaku. Aku diam seribu bahasa, sejurus kemudian tiba-tiba Vina mencium bibirku, Ia juga meremas-remas kontolku dari luar celanaku. Karena memang akupun sudah horny, aku membalas ciuman ganas Vina dibibirku. Lidah kami saling beradu, aku tak mennyangka Vina yang ku kenal bisa begini binalnya dalam berciuman, aku bisa kehabisan nafas kalau begini.

jilbab seksi - engga (3)

Walau sudah dikuasai nafsu namun kesadaranku masih ada, aku berfikir ini bukan tempat yang tepat untuk bermesum ria dengan Vina, akhirnya sambil terus berciuman aku langsung mengajaknya masuk ke kelas tempat Vina keluar tadi, “R 4 K 15”. Akhirnya aku bisa aman bercinta dengan Si Jilbab Semok Vina ini. Kami pun melanjutkan ciuman kami, Aku mulai meremas Payudaranya dari luar Kemejanya. Sambil tetap berciuman aku mulai melepas satu persatu kancing kemejanya, terpampanglah payudara Vina yang masih terbungkus Bra bermotif polkadot warna hitam. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih. “Amhh..Amhh..Amhh..”, desah Vina tertahan dalam ciuman kami. “Bayu, aku buka celanamu ya”. Aku tak menjawab, Vina mulai membuka kancing celanaku kemudian tangannya menelusup ke dalam celana bokser-ku. Aku pun tak tinggal diam, aku menyuruh Vina tiduran dilantai kelas itu agar aku lebih leluasa, aku pun melepas bra yang menutupi payudaranya, terpampanglah dua buah payudara Vina yang putih bersih dengan puting kecoklatan yang sudah keras mengacung. Lantas aku pun menurunkan celanaku sampai lutut, dan melepas celana jeans ketat Vina sampai lutut juga. Vina pun menggenggam kontolku dan menggesek-gesekannya ke memeknya dari luar celana dalamnya yang sewarna dengan bra-nya. Aku melanjutkan kegiatanku dengan mengulum bibirnya dan memilin-milin putingnya yang sudah mengeras, Vina hanya bisa mendesah dan meracau tak karuan. “Ah Bayu enak banget, terus mainin susuku, ahhh..kontolmu enak Bayu..aaah..”Vina meracau saat kulepas ciumanku.

jilbab seksi - engga (7)

Aku pun berinisiatif untuk melakukan hal lain, Aku berjongkok dan melepas kontolku dari genggaman tangan Vina dan mengarahkannya ke belahan dada Vina, seakan mengerti Vina pun lantas mengatupan payudaranya dengan tangannya dan mulai menjepit erat kontolku, aku pun mulai memaju mundurkan kontolku dibelahan dadanya, ah terasa nikmat sekali. “Ah Bayuu terus Bayuu..enak banget sayang” Vina mendesah keenakan. Aku rasa cukup dengan yang ini, aku pun memainkan putingnya dengan kontolku,”Aaaah, teruss Bayuu..uuh enak” Vina mendesah lagi.

jilbab seksi - engga (4)

Lantas, aku mulai mengarahkan kontolku ke bibirnya, dan menggesek gesekannya dibibirnya yang basah dan mengkilap. Vina pun langsung melahap kontolku dan mengulumnya dengan ganas, aku hanya merem-melek keenakan dibuatnya. Kulumannya di kontolku semakin ganas saja, ia menjilati batang kontolku dari pangkal hingga pucuknya dan menjilati belahan dipucuk kontolku. Aku dibuat kelojotan oleh sepongannya. Aku merem-melek keenakan,”aaah..terus vin…seponganmu enak banget sayangg”..”aahm…eemmnak…khonmtolmu Bayuu..”. Setelah puas, aku berinisiatif untuk berganti posisi, aku mulai berbalik badan, dan mengarah ke memeknya .posisi 69 kurasa cukup cocok sekarang. Ku biarkan Vina menikmati kembali kontolku, ku lepas CDnya sampai lutut juga menyusul celana jeansnya yang sudah ku turunkan lebih dulu. Terpampanglah memeknya yang masih sempit dan berbulu tipis, aku mulai menjilati memeknya, tercium bau harum sabun kewanitaan. Gadis berjilbab memang pintar merawat kewanitaannya. Ku susuri belahan memeknya dan menjilati klitorisnya..”Ahh…enak Bayu..terus..iyaa enak disituu..aaah” Vina mendesah keenakan, “aaaah..aku udah gak tahan Bayuu cepetan masukin kontolmuu..”pinta Vina. Tak pikir panjang, aku langsung menghentikan aktivitasku dan melepas total celsna jeansnya dan CD nya sekaligus. Aku rentangkan pahanya dan ku arahkan kontolku ke selangkangannya. Ku gesekkan kontolku perlahan menyusuri belahan memeknya, perlahan aku tuntun kontolku masuk ke dalam liang kenikmatannya. Cukup sulit memasukkan kontolku ini kedalam memeknya, pelan-pelan dan dengan sekali hentak ku sodokkan kontolku ke dalam memeknya. “Aaah..pelan-pelan Bayu”. Kontolku pun amblas dalam liang kenikmatannya. Ku diamkan beberapa saat kontolku dalam memeknya, setelah kurasa Memeknya sudah mampu beradaptasi dengan kehadiran kontolku akupun mulai memaju mundurkan pinggulku dan mengocok memek Vina. “Aaaah..aaaah…terus Bayuu..enak banget..” Vina mulai mendesah lagi. Kupercepatan kocokan kontolku dimemeknya, kurasakan memeknya sudah benar-benar licin dan memudahkan kontolku menggenjot menggenjot memeknya.

jilbab seksi - engga (5)

Karena bosan dengan posisi missionaris ini, aku pun membalikkan tubuh Vina dan menyuruhnya untuk menunggingkan tubuhnya dan mengajaknya doggy-style, aku sempat terperangan sejenak melihat bongkahan pantatnya, begitu bulat menantang. “Bayuu..cepet masukin kontolmu lagi aku udah gak tahan”.Vina mulai merengek memintaku memasukkan kontolku ke liang kenikmatannya. Langsung saja aku memasukkan kembali kontolku ke sarangnya “bless”. Kontolku masuk sepenuhnya. “Aaaaaah..”Vina memekik, mendongakkan kepalanya menahan birahi. Aku pun memulai sodokan kontolku kembali ke memek  Vina. Hanya desahan yang keluar dari bibirnya, payudaranya yang menggantung tak kusis-siakan, sambil menggenjotnya dalam posisi ini aku mulai meremas-remas payudaranya. “Aaah..terus Bayu..aaah..enak banget..uuh…masukin kontolmu lebih dalam lagi” Vina meminta. Wajahnya yang masih dibalut jilbab fasminanya itu terlihat begitu pasrah. Aku makin bersemangat saja menggenjotnya.

jilbab seksi - engga (1)

Sepuluh menitan aku menggenjotnya dalam posisi ini hingga akhirnya Kontolku serasa diremas-remas oleh dinding vaginanya. Ternyata ia orgasme, cairan cintanya membanjiri kontolku yang masih keluar-masuk di vaginanya. Namun, karena jepitannya yang begitu membuatku tak tahan. Akhirnya aku menyusulnya, ku benamkan dalam-dalam kontolku dimemeknya. Menyemburlah spermaku yang membanjiri memeknya. Akupun ambruk diatas tubuhnya yang menelungkup. Vina tersenyum padaku. “Bayu, makasih banget. Kontolmu enak sayang.” Vina pun merubah posisinya, Ia mendekati selangkanganku dan kemudian menjilati kontolku yang belepotan sperma dan cairan orgasmenya hingga bersih. Benar-benar nikmat blowjob dari hijabers satu ini.

jilbab seksi - engga (6)

Kemudian, kami berbincang-bincang sejenak sambil mengenakkan pakaian kami. Kami sempat berciuman kembali sebelum keluar kelas. Ternyata diluar sudah ada Tiwi kawannya, dalam benakku aku berpikir apakah tiwi melihat persetubuhan ku dengan Vina sahabatnya itu. Ah, aku tak peduli. Aku, Vina dan tiwi kemudian sama-sama turun dari lantai 4 fakultas kami. Menuju ke parkiran. Sebelum berpisah, Vina mendekatiku, ia berbisik ke telingaku” Bayu, besok lagi yah. Aku ketagihan Kontolmu”. Aku hanya tersenyum mendengar permintaannya.

NYONYA HAJAR

Rumah itu tampak sepi saat Doni pergi meninggalkannya untuk pergi beranglat kerja ke kantor. Dia tidak pernah tahu bahwa ada lima orang begundal tengah mengamatinya dari dalam mobil box yang terparkir di ujung gang.

“Gimana, Bang, kita serbu sekarang?” tanya Botak.

“Tunggu, jangan keburu nafsu. Lihat situasi dulu, bego loe!” kata Mamat, pemimpin gank perampok tersebut.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (1)

“Biasanya jam segini, hansip suka lewat pake sepeda. Kita tunggu sebentar, Bang.” kata Tatto yang sudah seminggu mengamati rumah itu.

Bener kata Tatto, lima menit kemudian, dua orang hansip melewati jalan itu dengan mengayuh sepeda mereka. Kelima orang itu segera berpura-pura tengah menganti ban mobil box yang sama sekali tidak bocor.

Setelah hansip itu berlalau, Mamat langsung bertanya, “Gimana, sekarang?”

“Oke, Bang. Hansip itu cuma lewat, lalu nongkrong di pos ujung sana, main gaple,” terang Tatto.

“Oke, kita siap beroperasi. Botak, elo sama si Bedu masuk dulu. Beresin korban kita,” perintah Mamat.

Kedua orang itu segera bergerak cepat, mereka melompati pagar dan tanpa kesulitan masuk ke dalam rumah yang pintu utamanya tidak dikunci itu. Nyaris tak terdengar, mereka bergerak dengan cekatan melumpuhkan pembantu setengah tua yang memergoki aksi mereka. Kedua begundal itu kemudian mengendap pelan menuju ke kamar tidur utama dan membuka pintunya.

Hajar, seorang ibu muda berjilbab yang saat itu sedang asyik bersolek, kontan terkejut dengan kehadiran mereka. “Siapa kalian? Mau apa kalian kemari?” hardiknya setengah takut.

Mereka tersenyum menyeringai. Secepat kilat Botak telah memeluk tubuh Hajar lalu membekap mulutnya. Bedu menggunakan lakband yang dibawanya untuk membungkam mulut wanita cantik itu. Setelah si Nyonya rumah berhasil dilumpuhkan tanpa perlawanan berarti, Botak segera keluar untuk membuka pintu pagar. Dengan anggukan kepala ia memberi kode kepada ketiga temannya agar cepat menyusul masuk. Mobil box segera bergerak masuk ke dalam garasi. Tatto, Joki dan Mamat meloncat turun dari mobil dan segera mengikuti Botak masuk ke dalam rumah.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (2)

“Hei tunggu, dia punya anak. Satu lima tahun, satunya masih orok.” terang Tatto.

“Gak ada, gua udah periksa sekeliling rumah,” jawab Botak.

“Udah, gak usah peduli, cuma anak kecil aja. Ambil harta di rumah ini, cepat!” perintah Mamat.

Mereka pun segera berpencar untuk mencari segala benda berharga yang mungkin bisa dibawa, mulai dari setrika murahan hingga TV layar datar yang ada di ruang keluarga. Tak lupa juga lemari Hajar yang ada di kamar diobrak-abrik oleh mereka. Mamat mendapatkan sejumlah uang dan perhiasan. Ia juga menggondol surat-surat berharga yang ada disana. Tak sampai setengah jam, harta benda di rumah itu telah berpindah ke dalam mobil box.

“Ayo, jalan.” kata Tatto.

“Tunggu, gimana kalau kita senang-senang dulu. Nih cewek cakep juga, gua mau cobain,” kata Mamat sambil memandangi Hajar yang hari itu mengenakan busana terusan panjang berwarna hijau dan jilbab putih lebar sedada.

Hajar meronta dalam ikatannya saat perlahan Mamat mulai mendekatinya, yakin sesuatu yang buruk akan segera menimpa dirinya. Hajar langsung menjerit begitu Mamat membuka lakban yang menyumpal di mulutnya, “Tolong!! Rampok!!”
.
Plak! Dengan sadis sebuah tamparan Mamat hinggap di pipi wanita berjilbab tersebut. Hajar meringis kesakitan, apalagi saat tiba-tiba Mamat mengeluarkan sepucuk pistol dan menempelkan di lehernya. Rasa dingin langsung menjalar di seluruh tubuh Hajar.

“Elo mau gua bunuh?” ancam Mamat.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (3)

“Jangan, ampun… ampun, Bang.” Hajar menghiba.

Tiba-tiba Mamat menjulurkan lidahnya untuk menjilat wajah perempuan cantik itu. Hajar meronta, jijik dia rasakan. Tapi Mamat sepertinya tidak peduli,sambil memegang kepala Hajar, ia melumat bibir ibu muda beranak dua itu dengan penuh nafsu. Mamat mendorong lidahnya masuk ke dalam mulut Hajar yang terus meronta.

“Ampun, Bang. Saya sudah punya suami, jangan perlakukan saya seperti ini,” rintih Hajar.

“Huahaha… sama, gua juga sudah punya bini. Bini gua tiga malah, hahaha…” ejek Mamat. Dengan cepat tangannya terulur untuk meremas buah dada Hajar yang berada di balik baju terusan hijaunya.

Hajar meringis akibat remasan keras itu. Saat itu timbul lagi keberaniannya. Dia dengan keras mendorong tubuh Mamat dan berusaha untuk lari. Tapi apa daya, seorang wanita yang barusan melahirkan melawan lima orang pria yang kasar. Tatto dengan sigap menangkap tangannya lalu menyeretnya kembali ke atas ranjang. Dibantingnya tubuh montok Hajar hingga wanita berjilbab ini terbaring telentang di atas tempat tidur. Botak dan Bedu segera memegangi kedua tangan Hajar erat-erat agar takbisa lari lagi.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (4)

Joki memberikan sebilah belati tajam pada Mamat. Mamat menyeringai saat menerimanya, kembali ia mengancam Hajar. “Loe mau mampus yah?” hardiknya berang.

Hajar menggeleng, “Jangan! Ampun! Tolong… ” ia kembali menghiba.

Dengan belati yang ada di genggamannya, Mamat merobek pakaian Hajar, mereka tercengang menatap buah dada Hajar yang lumayan besar terburai keluar. Kini tubuh wanita itu hanya ditemani jilbab putihnya yang lebar dan celana dalam warna kremnya.Tapi itu pun juga tidak akan bertahan lama. Wajah Hajar terlihat memerah, belum pernah dalam hidupnya dia merasa terhina dan malu seperti ini. Tubuhnya yang separuh bugil dinikmati oleh mata mata liar para perampok itu. Kembali Mamat memainkan belati itu di hadapan mukanya.

“Ampun, Bang, jangan sakiti saya…” Hajar meminta.

“Dengar yah, gua cuma mau senang-senang sama elo. Jadi kalau elo nurut, tentu gua gak akan sakitin elo.” kata Mamat.

Hajar terlihat pasrah. Ketiga anak buah Mamat yang lain hanya diam menatap dirinya dengan nafsu, mereka tak berani bertindak sebelum diperintah bosnya yang terkenal kejam itu. Tangan Mamat tiba-tiba meremas buah dada Hajar dengan keras. Hajar tentu saja merintih dibuatnya. Begitu kerasnya remasan itu hingga mendesak ASI yang ada di dalamnya hingga muncrat keluar. Mamat tersenyum, dengan penuh nafsu dia segera menjilati ASI Hajar yang meleleh keluar. Kasar disedotnya puting susu Hajar dengan rakus bagai bayi yang kelaparan. Tangannya terus memencet, sementara mulutnya terus menghisap dengan ganas. Kedua-dua susu Hajar mendapat perlakuan seperti itu hingga membuat keduanya jadi begitu basah dan memerah.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (5)

“Jangan dihabiskan, Bang. Ini ASI buat anak saya.” Hajar mengingatkan.

Mamat tertawa mendengarnya, begitu juga dengan keempat anak buahnya. Puas dengan payudara Hajar, Mamat menurunkan jilatannya ke bawah, ia kini bermain di pusar Hajar dan terus menuju ke arah selangkangan perempuan cantik itu. Mamat dengan penuh nafsu mengendus aroma vagina Hajar yang baru melahirkan, membuat tubuh Hajar menggelinjang karenanya. Walaupun sehari-harinya dia adalah seorang ibu rumah tangga yang alim dan pemalu, tapi Hajar tetaplah seorang manusia, seorang wanita yang mempunyai nafsu birahi. Diperlakukan seperti ini oleh Mamat, tanpa bisa dicegah, perlahan birahinya mulai muncul dan meningkat, meninggalkan jejak basah dan lembab di celana dalam kremnya.

Mamat yang mengetahui korbannya mulai jinak, terus menggesekkan hidungnya ke selangkangan Hajar. Diendusnya kelamin itu sambil lidahnya terus merangsek disana. Sedikit demi sedikit celana dalam Hajar mulai tersingkap. Hingga selanjutnya, tanpa perlu melepasnya, Mamat sudah bisa menjilati lubang vagina Hajar yang mengintip malu-malu dari celahnya. Diserang seperti itu membuat Hajar mulai mendesah nikmat. Apalagi ditambah rangsangan yang diberikan Tatto dengan remasan-remasan lembut di atas buah dadanya, sementara putingnya yang mungil disedot bergantian oleh Botak dan Bedu sambil tetap memegang erat kedua tangannya.

“Tolong… jangan… tolong…” erang Hajar saat merasakan tangan Mamat mulai berusaha menurunkan celana dalamnya.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (6)

Mamat hanya tersenyum mendengarnya. Ia sama sekali tidak peduli dengan rintihan perempuan cantik berjilbab lebar itu. Tangannya terus menurunkan celana dalam Hajar hingga benda itu teronggok di lantai. Tak berkedip Mamat memandangi vagina Hajar yang terawat rapi tanpa bulu kemaluan, ia terlihat sangat menyukainya.

“Wah, memek elo bagus banget…” puji Mamat sambil berusaha membuka lebar kedua kaki Hajar. Dengan dua jarinya, ia membelah bibir kemaluan Hajar. Mamat bisa melihat dengan jelas, ada tahi lalat sebesar kismis di sebelah kiri bibir vagina perempuan cantik itu.

“Wah, biasanya cewek ada tai lalat di memeknya gini tandanya nafsunya besar.” ujar Mamat. Ucapan itu tentu saja semakin membuat Hajar malu. Dia pun berusaha merapatkan kedua kakinya, tapi Mamat segera menahannya. Lidah Mamat dengan penuh nafsu menjilati klitoris Hajar yang kini terbuka lebar.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (7)

“Aahhhh…” erangan panjang Hajar terdengar. Lidah kasar Mamat dengan buas menggelitik klitorisnya yang tentu saja membuat wanita berjilbab itu menjadi birahi. Liang vaginanya mulai mengeluarkan lendir birahi.

Mamat terus menyedot-nyedot klitoris Hajar dengan penuh nafsu. Sesakali ia juga mencucupi belahan memek Hajar yang tampak baru sembuh dari luka melahirkan. Perbuatan itu makin membuat Hajar menggelinjang kegelian, dia sudah tak mampu lagi menyembunyikan gairahnya. Apalagi saat lidah Mamat terus menari, makin lama makin cepat menyapu klitoris dan cairan yang keluar dari liang vaginanya, hingga sesaat kemudian tubuh wanita imut itu mengejang, Hajar tak dapat lagi menahan birahinya, dia memekik dan orgasme oleh jilatan lidah Mamat!

“Hahaha… enak kan?” goda Mamat dengan mulut belepotan oleh cairan. Hajar hanya bisa memejamkan matanya sebagai jawaban.

Mamat sekarang ganti menyodorkan penis besar dan hitamnya di depan wajah Hajar. “Isep kontol gua!” perintahnya kejam. Tentu saja Hajar menolak. Dia segera merapatkan mulut dan membuang mukanya, tidak mau memandang benda yang menurutnya menjijikkan itu.

Mamat tertawa, “Hahaha… kenapa, loe gak suka kontol gua yah?” sambil berkata, dia mulai mendesakkan ujung penisnya ke bibir Hajar, tapi Hajar dengan hati bulat tetap merapatkan mulutnya sekuat tenaga.

Tangan Mamat tiba-tiba meremas keras buah dada Hajar sampai-sampai air susunya muncrat keluar. Perbuatannya itu tentu saja membuat Hajar menjerit kesakitan. “Ahhhh… sakit!” pekik Hajar dengan mulut terbuka lebar.

Saat itulah, tanpa permisi, Mamat mendorong penis besarnya masuk ke dalam mulut Hajar. Hajar yang sama sekali tak siap, tidak bisa berbuat apa-apa. Mulutnya kini disumpal sepenuhnya oleh kontol besar Mamat, membuatnya jadi ingin batuk dan tersengal-sengal. Apalagi saat penis itu mulai bergerak keluar masuk dengan cepat, Hajar makin tersiksa saja dibuatnya. Tapi dia sama sekali tidak bisa menolak karena kedua tangannya masih setia dipegangi dengan erat oleh Botak dan Bedu.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (8)

“Ohh… ahh… mulut elo enak juga yah,” erang Mamat sambil terus mengocok penisnya di mulut manis Hajar. Sedang Hajar hanya bisa mengerang, dia sama sekali tidak bisa bersuara karena mulutnya tertahan oleh penis besar laki-laki itu. Benda itu terus bergerak dan mendorong-dorong hingga ke dalam tengorokannya. Agar tidak tersedak, terpaksa Hajar mulai menjilatinya meski dengan hati tidak rela.

”Nah, gitu dong. Isep terus kontol gue!” kata Mamat, tampak begitu menikmati apa yang dilakukan oleh Hajar. Tak perlu waktu lama, ia mulai dekat ke puncak birahinya. Terlihat dari gerakan pinggulnya yang semakin kasar, juga dengus nafasnya yang semakin berat. Mamat menghentak-hentakkan penisnya keras-keras, menyodok kerongkongan Hajar dalam-dalam. Lalu, “Ahhhh… gua keluar!” erang Mamat dengan tubuh bergetar dan sedikit kelojotan. Penisnya dengan deras menyemburkan cairan panas ke dalam mulut Hajar.

Di bawah, Hajar menerimanya dengan sedikit kalap. Tidak ingin menelan cairan itu, ia berusaha meronta untuk memuntahkan sperma Mamat. Tapi Mamat dengan sekuat tenaga menahan penisnya, ia terus menancapkan benda itu di mulut Hajar, bahkan dia sedikit mendorongnya dalam-dalam hingga tidak ada satupun cairan maninya yang tumpah keluar.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (9)

“Telan peju gua, goblok!!” bentak Mamat pada wanita berjilbab itu.

Hajar tetap tidak mau, dia terus meronta dan melawan sekuat tenaga hingga akhirnya dengan sengaja Mamat menjepit hidungnya. Hajar kelabakan, dia kehabisan nafas. Dengan hidung tersumbat dan mulut dijejali penis besar Mamat, dengan cepat tubuhnya jadi lemas. Kalau tetap mau hidup, mau tak mau Hajar harus menelan sebagian sperma Mamat. Maka jadilah dengan berat hati ia melakukannya. Rasanya yang menjijikkan sempat membuat Hajar ingin muntah, tapi sumbatan penis besar Mamat pada mulutnya membuat ia mengurungkan niat.

Puas melihat Hajar menghabiskan semua spermanya, Mamat menarik keluar penisnya. Hajar yang mendesah lega, sebisa mungkin memuntahkan sperma Mamat yang tertinggal di mulutnya. Para perampok itu tertawa-tawa melihat ulahnya.

“Nah, sekarang elo-elo boleh mainin wanita ini, tapi jangan dientot dulu, itu bagian gua, hahaha…” kata Mamat pada anak buahnya.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (10)

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (11)

Keempat orang yang sudah dari tadi menunggu sang bos selesai, segera berhamburan mengerubung tubuh montok Hajar yang berbaring tak berdaya di atas ranjang. Jilbab putih yang menutupi kepalanya sudah terlihat acak-acakan, tapi bukannya membuat jelek, jilbab itu justru makin menambah pesona kecantikan wanita beranak dua itu. Keempat perampok dengan tidak sabar menggerayangi tubuh molek Hajar. Dua orang dengan bernafsu meremas-remas keras buah dadanya. Air susu Hajar sampai muncrat-muncrat keluar tak terkendali karenanya. Sementara dua yang lain menggarap di bagian bawah.

“Ampun… sakit… hentikan…” erang Hajar pilu.

Tatto yang sedari tadi membantu bosnya memegangi tangan Hajar agar tak meronta, kini meminta Hajar untuk menservis penisnya. Sedang Joki yang berperawakan besar, asyik menyodok-nyodok vagina Hajar dengan dua jari. Mamat yang sudah orgasme tersenyum melihat kerakusan anak buahnya. Sambil menghisap rokok kreteknya, dia keluar kamar dan mencari lemari es besar yang tak dapat ia bawa dengan mobil boxnya. Mamat membuka pintu kulkas tersebut, mengambil sebotol air mineral dan menenggaknya. Rasanya capek juga setelah mengerjai tubuh Hajar. Saat itulah, matanya melihat ada beberapa buah mentimun besar di sana. Tersenyum senang, Mamat lalu mengambilnya dan membawanya ke tempat tidur.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (12)

“Ahh… sakit… sudah…” terdengar erangan Hajar yang mengiba. Terlihat Joki sedang mengorek-ngorek liang vaginanya dengan dua jari. Sementara di atas, Botak dan Bedu masih terus asyik menyusu pada putingnya.

“Eh, pake ini…” kata Mamat sambil memberikan mentimun di tangannya.

Joki menoleh dan menerimanya dengan senang hati. Dia segera mengarahkan ketimun itu ke liang vagina Hajar. Ketiga temannya melihat sambil bersorak-sorak seru.

“Iya, .. ayo sodok, Jok.” kata Botak dengan tangan terus menggerayangi susu besar Hajar.

“Jangan… jangan… tolong… jangan…” pinta Hajar memelas. Tapi tidak ada yang mempedulikan teriakannya. Bahkan yang ada adalah rasa panas yang tiba-tiba menyerang buah dadanya. Kontan Hajar memekik kaget!

“Ahhhh… panasss… perih…” jeritnya ketika Mamat dengan sadis menyundut bara rokok ke puting buah dadanya yang montok karena berisi ASI.

“Badan loe punya gua sekarang, jangan teriak-teriak… guoblok!” bentak Mamat kejam.

Tapi Hajar menjerit kembali ketika mentimun besar yang ada di belahan selangkangan didorong dengan kuat secara tiba-tiba oleh Joki. Begitu besarnya benda itu hingga seakan-akan merobek liang vaginanya. “Aghhh… sakit… hentikan…” erang Hajar menyedihkan.

Tak peduli, Joki mulai menggerakkan mentimun itu secara kasar. Dia menyodokkannya keluar masuk di liang vagina Hajar yang masih kelihatan sempit meski baru saja melahirkan. Bagai sebuah vibrator, Joki menggunakan mentimun itu untuk menyetubuhi Hajar. Erangan kesakitan perempuan cantik itu sama sekali tidak ia hiraukan.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (13)

Bedu dan Botak yang tidak mau kalah, kembali asyik meremas-remas dan menghisapi buah dada Hajar. Mereka menyedot putingnya yang mungil kemerahan keras-keras hingga air susu Hajar tumpah keluar. Dengan gemas mereka lalu menjilat dan menelannya. Semua perlakuan itu sangat melecehkan Hajar dan menyakiti tubuhnya, namun apa daya, ia sama sekali tidak bisa menolak. Jangankan menolak, untuk berteriak pun dia tidak bisa karena sekarang Tatto sudah kembali menjejali mulut Hajar dengan penisnya yang besar dan panjang, ia menyuruh Hajar untuk mengulum dan menghisapnya. Takut disundut rokok lagi, Hajar pun melakukannya. Jadilah ia merelakan seluruh tubuhnya yang selama ini cuma diberikan pada sang suami untuk dinikmati oleh keempat perampok bejat itu.

Lagi asyik-asyiknya, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara dering telepon genggam yang berbunyi nyaring. Mamat segera mencarinya. Ternyata itu dari HP Hajar yang berada di tumpukan baju. Mamat menatap layarnya dan menyeringai. Disitu tertera tulisan ’CINTAKU’. Ia segera menoleh pada keempat anak buahnya dan berkata. “Stop dulu,” Mamat memberi perintah kepada mereka agar menghentikan kegiatannya sejenak.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (14)

Berbekal belati mengkilap yang ada di tangannya, ia berjalan mendekati Hajar dan menempelkan belati itu ke leher Hajar yang jenjang. “Angkat telepon ini, tapi jangan macem macem. Bilang kamu baik-baik saja atau gua gorok leher elo!!” ancam Mamat bengis.

Tahu kalau laki-laki itu bersungguh-sungguh, Hajar tidak berani berbuat macam-macam. Selain takut pada keselamatannya sendiri, ia juga takut dengan nasib kedua buah hatinya kalau sampai membuat Mamat marah. Jadi, dengan suara dibuat senormal mungkin agar suaminya tidak curiga, Hajar menerima telepon itu. “Hallo, Mas…” katanya.

Suasana sunyi sejenak. Hajar tampak konsentrasi mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang suami. Sementara di sekelilingnya, Mamat beserta anak buahnya menatap tajam sambil terus mengelus-ngelus tubuh montoknya.

“Ohh… ehh… tidak, tidak apa-apa.” Hajar mendesah saat Botak dan Bedu kembali berebutan menghisap puting susunya. Di bawah, Joki kembali menggerakkan mentimun yang ada di genggaman tangannya ke dalam memek sempit Hajar.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (15)

“Enggak kok, cuma pusing sedikit… tapi aku gak apa-apa kok, Mas.” Hajar berbohong pada sang suami. Mamat menyeringai senang mendengarnya. Dia mengangguk sebagai tanda persetujuan.

Tatto yang tidak bisa memakai mulut Hajar untuk mengulum penisnya, kini ganti meminta Hajar untuk mengocok penisnya menggunakan tangannya yang bebas, yang tidak memegang HP. Hajar menurutinya, sambil mendengarkan suara sang suami, ia mulai mengurut kontol besar itu.

Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti itu sampai akhirnya pembicaraan Hajar selesai, “Yah… baik, Mas, baik…” kata Hajar lalu menutup teleponnya.

“Hahaha… lanjut!!” kata Mamat pada keempat anak buahnya.

Kembali tubuh Hajar dikeroyok oleh mereka. Joki terus menyodok-nyodok liang vaginanya semakin keras menggunakan mentimun. Sedang Botak dan Bedu sudah menjadikan susunya seperti adonan roti, mereka memencet dan memijitinya kuat-kuat hingga benda itu jadi tidak berbentuk lagi. Payudara Hajar jadi sedikit penyok dan merah-merah akibat ulah mereka. Yang paling mengenaskan adalah putingnya, sekarang sudah tidak ada lagi ASI yang keluar dari sana. Botak dan Bedu sudah menghabiskannya. Entah dengan apa Hajar akan menyusui anaknya nanti. Sementara Tatto yang sejak tadi sudah tak sabar, segera memperkosa mulut Hajar kembali hingga perempuan cantik berjilbab lebar jadi tidak bisa mengeluh dan bersuara sama sekali. Mamat dengan santai duduk di kursi meja rias menyaksikan ulah keempat anak buahnya sambil menghisap rokok kreteknya kuat-kuat.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (16)

Tidak lama, terdengar erangan nikmat Tatto, “Ohh… ahh… gua mau keluar nih… yang enak ngemutnya!” Dengan kasar ia terus menyodok-nyodokkan penisnya ke dalam mulut Hajar yang mungil.

”Ah, payah loe. Bentar aja udah keluar!” ejek Joki. Tangannya masih dengan setia menyodok-nyodok memek Hajar menggunakan mentimun.

”Loe belum ngerasain sih gimana enaknya mulut nih cewek.” balas Tatto, tak mau dikatakan lemah. Sambil terus menggerakkan penisnya cepat di mulut Hajar, ia pun orgasme. Tatto melepaskan spermanya di mulut Hajar. Tapi karena begitu banyaknya, sebagian tumpah membasahi wajah cantik Hajar yang masih tertutup jilbab lebar. Hajar kembali harus menelannya kalau tidak mau tersedak.

Mamat yang saat itu sudah kembali birahi, berjalan mendekat ke arah ranjang. Penisnya yang hitam panjang tampak sudah mengacung tegak. Sambil mengelus-elusnya, ia berkata pada Joki. “Eh, Jok, geser loe. Gua mau cobain memeknya.”

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (17)

Sebagai anak buah, Joki tidak bisa membantah. Meski masih ingin mengobel vagina Hajar lebih lama lagi, ia terpaksa menggeser tubuhnya. Ia bertukar tempat dengan Tatto yang sekarang sudah duduk keenakan di lantai. Joki menusukkan penisnya ke mulut Hajar dan meminta wanita cantik itu untuk mengulumnya. Tidak bisa menolak, lagi-lagi Hajar melakukannya. Mulutnya dengan sigap mulai mengelomoti kontol besar Joki. Sementara di bawah, Mamat sedang berusaha membuka kedua kakinya agar vagina Hajar terpampang lebih jelas lagi. Memposisikan tubuhnya, Mamat kemudian mengarahkan penisnya yang sudah kembali keras ke arah lubang sempit itu.

Hajar berusaha meronta sebisa mungkin saat ujung kontol Mamat mulai terasa mendesak masuk ke celah bibir vaginanya. Diperkosa di mulut, mungkin ia masih bisa menerima. Tapi ditusuk di kemaluan, Hajar sama sekali tidak bisa menoleransi. Sekuat tenaga, ia berusaha untuk memberontak. Tapi apalah daya seorang wanita melawan tenaga lima orang lelaki, dengan cepat mereka meringkus Hajar dan menghadiahinya sebuah pukulan keras di perut untuk membuatnya diam. Merintih kesakitan, Hajar langsung berhenti meronta.

“Diam! Bego loe…” ancam Botak. Rupanya dia yang barusan menghantam perut Hajar.

Tersengal-sengal, Hajar menganggukkan kepalanya takut-takut. Di bawah, begitu Hajar sudah tenang, dengan satu kali dorongan keras, Mamat menyodokkan penis besarnya memasuki liang vagina perempuan cantik itu.

Kontan Hajar menjerit keras, “Arghh… sakit! Hentikan… jangan… ampun…” merintih-rintih, ia kembali meronta. Tapi apa daya, itu tidak bisa menghentikan perbuatan Mamat yang terus asyik memperkosa dirinya. Malah Mamat terlihat menikmati segala jeritan dan rontaan Hajar. Ia menyeringai setiap kali Hajar menjerit kesakitan. Bahkan ia melarang saat Botak ingin memukul Hajar lagi untuk membuatnya terdiam.

”Jangan! Lebih enak begini!” mendengus-dengus, Mamat menggenjotkan penisnya semakin keras. Memek Hajar yang sempit terasa mencekik batangnya, tapi bukannya sakit, Mamat justru sangat menikmatinya. Vagina seperti inilah yang ia cari sejak dulu. Mamat tak pernah menyangka kalau akan mendapatkannya dari Hajar, wanita alim berjilbab yang sama sekali tidak pernah terlintas di benaknya.

Melihat sang boss bertindak kesetanan, perampok yang lain jadi ikut tergoda untuk menyakiti tubuh molek Hajar. Mereka dengan suka cita mencubit, meremas, mengigit, dan menampar-nampar seluruh tubuh Hajar secara bergantian. Hajar yang menjerit-jerit penuh permohonan sama sekali tidak mereka hiraukan. Berlomba bersama Botak, Bedu terus memainkan buah dada Hajar dengan menghisapi putingnya kuat-kuat sambil sesekali menarik dan menggigitnya penuh nafsu dengan menggunakan gigi mereka yang tonggos dan tidak rata.

“Aahhh… ampun! Ahhhh… sakit… hentikan…” jerit Hajar pilu. Di atas, penis besar Joki menampari wajahnya, juga pipi dan hidungnya hingga membuat Hajar jadi sedikit kesulitan bernafas. Ia terus mengerang kesakitan, tapi keempat perampok yang mengerubunginya sama sekali tidak menunjukkan rasa kasihan. Mereka terus menyerang dan membelai tubuhnya penuh nafsu. Bahkan sekarang Botak ikut meniru Joki dengan mengolesi muka Hajar mengginakan ujung penisnya. Bedu yang mendapat jatah kedua bukit kembar Hajar terlihat senang sekali. Ia tersenyum gembira dan langsung menelusupkan mukanya di belahannya yang empuk, sambil jari-jarinya tak henti memijit dan menarik-narik putingnya.

Tubuh Hajar mengejang. Dua penis besar milik Botak dan Joki sekarang bergantian masuk ke dalam mulutnya. Hajar hanya bisa pasrah dengan membuka mulutnya lebar-lebar. Jika dia melawan, tubuhnya akan memar menjadi sasaran pukulan mereka. Beberapa menit kemudian, jeritan Hajar hanya tinggal menyisakan erangan dan rintihan pelan.

Di bawah, Mamat terus memperkosanya tanpa henti, tubuhnya terus bergerak semakin cepat untuk menusuk memek sempit Hajar. Setelah lama kemudian, saat Hajar sudah benar-benar lemas, barulah laki-laki itu menarik penisnya hingga hampir terlepas, lalu sambil mengerang, mendorongnya maju secepat mungkin dan menusukkannya sekuat tenaga ke belahan vagina Hajar.

Kepala Hajar sampai terdongak menerimanya. Jeritan melengking kembali terdengar dari mulutnya. Hajar melolong panjang dan terkejang-kejang. Di atasnya, Mamat ikut menggeram dan bergetar. Tubuhnya mengejang beberapa kali sebelum akhirnya terdiam lemas tak lama kemudian. Hanya Hajar yang tahu apa yang terjadi. Di dalam vaginanya, penis besar Mamat meledak dan menyemburkan spermanya yang hangat dan kental. Ketika perlahan laki-laki itu menarik keluar penisnya yang telah melayu, pejuh putih kental tampak ikut mulai mengalir dari liang vagina Hajar. Mamat terduduk lemas, tapi terlihat sangat puas. Dengan terengah-engah ia menyaksikan Botak dan Joki yang asik memperkosa mulut Hajar.

“Ohhh… gua udah gak tahan nih!” erang Joki, lalu melepas spermanya. Cairan itu muncrat membasahi wajah cantik Hajar, juga jilbab putih yang ia kenakan yang kini sudah terlihat begitu lusuh dan lecek.

Tatto tertawa melihatnya. ”Benerkan apa yang gue katakan? Enak banget kan mulutnya?” dia berkata pada Joki.

Joki mengangguk mengiyakan sambil terduduk lemas di tepi ranjang. Dia menunjuk pada Botak yang juga hampir ejakulasi, ”Kuat juga si Botak, bisa tahan menghadapi mulut kayak gitu!” gumam Joki.

Botak tersenyum bangga sambil membenamkan penisnya dalam-dalam ke mulut manis Hajar. ”Siapa dulu dong, gue!” Selesai berkata, dia menyemburkan spermanya tepat di kerongkongan Hajar. Dan sekali lagi, tanpa perlu disuruh, Hajar langsung menelannya. Rasanya dia sudah kenyang gara-gara terus-terusan meminum sperma para begundal itu, padahal masih ada satu orang lagi yang belum mendapat giliran, yang sekarang sedang asyik menyusu pada payudaranya.

Hajar memejamkan mata, berharap ini semua hanya mimpi buruk saat Bedu mulai mengambil posisi dengan merangkak di atas tubuh sintalnya, perlahan mulai menindih dan menusukkan penisnya. Tidak bisa berbuat apa-apa, Hajar hanya bisa pasrah saat Bedu mulai menyetubuhinya. Ia dapat merasakan bagaimana bibir vaginanya perlahan membuka dan penis Bedu yang besar sedikit demi sedikit mulai menerobos masuk ke dalamnya. Kegetiran kembali tercermin di wajah Hajar, tak menyangka kalau akan mengalami nasib begini buruk, pagi-pagi sudah diperkosa oleh lima orang begundal yang sama sekali tidak dikenalnya.

Tubuhnya seperti dirobek-robek saat Bedu mulai menggenjot tubuhnya naik turun perlahan-lahan. Begitu juga dengan harga dirinya. Tanpa terasa, air mata mulai meleleh di pipi Hajar. “Aghhh… sakit… aghhh…” ia merintih diantara isakannya.

“Lo jangan belagu deh! Kalo lo nggak suka sama punya gue atau punya temen gue tadi, kenapa baru sekarang ngomongnya! Terlambat tau!” bentak Bedu.

Perkataan itu membuat Hajar tersadar. Iya, kenapa baru sekarang? Sebagai istri yang solehah, seharusnya ia sudah menangis sejak tadi, bukan cuma meronta-ronta tapi tetap membiarkan diri menikmati perlakuan mereka. Hajar merasa begitu bersalah. Ia merasa sudah mengkhianati sang suami. Berpikir seperti itu, Hajar berniat untuk memberontak dan melawan kelima perampok. Ia tidak ingin diperlakukan seperti ini lagi!

Tapi baru saja ingin menggerakkan tangannya, Hajar merasa ada yang salah pada tubuhnya. Tangan itu tidak mau menuruti perintah otaknya. Bukannya mendorong Bedu menjauh, Hajar malah merangkul pria itu dan menariknya agar lebih menempel pada tubuhnya. Goyangan Bedu yang lembut dan sopan membuat Hajar terlena, ia bagaikan bercinta dengan suaminya saat menerima tusukan kontol Bedu. Tanpa sadar, Hajar malah menginginkannya alih-alih mengusirnya.

Hajar juga berpikir, dari tadi dia berusaha melawan, tapi tidak pernah berhasil. Dia tidak akan pernah bisa mengalahkan kelima orang itu. Kalau sudah begini, apalagi yang bisa ia lakukan selain melayani mereka. Dan daripada melakukannya dengan berat hati, bukankah lebih baik ia menyerahkan dirinya dengan ikhlas, toh hasilnya juga akan sama saja, mereka akan tetap memperkosanya secara bergiliran. Sekarang saja Tatto dan Botak sudah kembali mengerubunginya dengan penis mengacung tegak ke depan. Hajar menelan ludah saat melihatnya.

Ya, sepertinya hanya itu pilihan yang ia punya. Hajar cuma berharap ia bisa selamat dari musibah ini dan berharap tidak ada seorangpun yang tahu apa yang telah ia alami. Di bawah, Bedu terus bermain dengan lembut, beda dengan Mamat yang kasar dan berangasan. Hajar menyukainya. Walau hatinya didera rasa takut, tapi karena perlakuan Bedu yang sopan, birahinya perlahan mulai naik. Hajar pun mulai memejamkan matanya untuk menikmati gesekan penis Bedu pada dinding-dinding vaginanya. Cairan cintanya yang tadinya mampet perlahan mengalir keluar, membuat persetubuhan mereka menjadi kian nikmat dan panas.

Mendengus keenakan, Bedu terus menggerakkan penisnya keluar masuk. Dia juga menciumi bibir Hajar yang berbau sperma teman-temannya sambil tangannya tak henti meremas dan memenceti payudara Hajar yang membulat indah, yang terus bergoyang-goyang seiring genjotan pinggulnya. “Nah, gini kan enak… daripada loe melawan, tak ada gunanya.” ujar Bedu sambil terus menggerakkan penisnya dengan lembut.

Hajar memejamkan matanya, berusaha menikmati permainan pria itu. Terasa vaginanya mulai berdenyut pelan, tanda kalau ia akan segera orgasme tidak lama lagi. Bedu yang bisa merasakan kalau mangsanya sudah mulai birahi, terus menggoyangkan pinggulnya dengan lembut, ia berniat untuk memancing hasrat Hajar agar melenting lebih tinggi lagi. Bedu memang berpengalaman dalam menaklukkan wanita, jadi dia tahu bagaimana cara mengantarkan Hajar menuju ke puncak klimaks persetubuhan.

“Aghhh… aghhh… aghhh…” erang Hajar penuh kenikmatan, dibiarkannya mulut Bedu yang terus menjilati putingnya dengan lembut. Apa yang dilakukan laki-laki itu membuat birahinya semakin terlontar dan naik menuju langit.

Tatto dan Botak yang menonton permainan mereka, dengan setia menunggu sambil mengocok penis masing-masing. Di lantai, tenaga Mamat dan Joki tampaknya juga sudah pulih kembali. Penis mereka perlahan membesar dan mengacung tegak meski belum terlalu keras. Terutama Mamat, setelah keluar dua kali, dia jadi kesulitan untuk mengembalikan penisnya ke ukuran yang semula, padahal dia masih ingin mencicipi tubuh montok Hajar untuk yang terakhir kali.

“Sayang, loe sudah mau keluar yah?” tanya Bedu sambil terus menggerakkan penisnya di liang vagina Hajar dengan lembut.

“Ahhh… ahhh… ahhh…” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Hajar sebagai jawaban.

Bedu mengerti, inilah saat yang tepat untuk menaikkan ritme goyangannya. Jadi, sambil berpegangan pada payudara Hajar yang bulat besar, ia pun melakukannya. Disodoknya vagina perempuan cantik itu dengan kecepatan dua kali lipat dari semula.

“Ahhh… ahhh… ahhh…” Hajar yang menerimanya menjerit semakin keras. Sesaat kemudian tubuhnya kembali kejang. Kali ini bukan karena semprotan sperma Bedu di dalam liang rahimnya, tapi karena ia benar-benar mendapat orgasmenya. Tanpa bisa ditahan, Hajar menyemprotkan cairan kewanitaannya, banyak sekali, juga sedikit kusam dan kental.

Bedu menahan genjotannya, memberi kesempatan pada Hajar untuk menikmati masa orgasmenya. Setelah dirasanya semprotan memek Hajar mulai sedikit mereda, ia pun kembali bergerak cepat, membuat Hajar kembali merintih dan mengerang-erang penuh kenikmatan. “Ahhhh… ahhh… pelan-pelan…” seru perempuan cantik itu.

Tapi Bedu tak peduli, dia terus bergerak cepat karena ia juga merasa akan melepaskan birahinya sebentar lagi. Menggeram keenakan, sambil menyusupkan mukanya di belahan payudara Hajar, Bedu menusukkan penisnya dalam-dalam dan menembakkan semua isinya disana. Hajar terkejang-kejang saat liang vaginanya kembali menerima sperma kental dari lelaki yang bukan suaminya itu.

Botak yang penisnya sudah pulih, segera menggantikan posisi Bedu. Laki-laki berkepala plontos itu segera merangkak ke atas tubuh Hajar, ia sama sekali tidak memberi kesempatan pada Hajar untuk beristirahat. Hajar yang sudah kehabisan tenaga menangis dan memohon agar mereka berhenti sejenak dan memberinya waktu untuk sekedar menarik nafas.

“Sebentar saja… tolonglah… ahh… s-saya sudah gak kuat lagi… ahhh… sakit!” rintih Hajar memelas.

Tapi Botak yang sudah terlanjur bernafsu sama sekali tidak menggubrisnya. Ia terus menindih Hajar dan meremas-remas buah dada perempuan cantik itu keras-keras hingga membuat Hajar menjerit kesakitan. “AHHGGG… sakit! Hentikan… tolong…” setelah persetubuhan lembut dengan Bedu, Hajar sama sekali tidak bisa menikmati kelakuan Botak yang kasar.

Tidak peduli, Botak malah menggigit dan menarik puting Hajar kuat-kuat. “AGHH… sakit… ampunnn…” membuat Hajar merintih semakin keras dan memilukan.

“Jangan berisik! Loe bikin gue gak mood aja!” bentak Botak tak sabar.

“Sudah, saya mohon… hentikan… ampun…” iba Hajar.

“Wah, loe dikasih ati minta ampela yah?” geram Botak. Dia lalu membalik tubuh Hajar hingga posisi wanita berjilbab lebar itu sekarang menungging di atas ranjang. Botak memposisikan diri di belakangnya sambil kedua tangannya membelah pantat mulus Hajar yang masih perawan. Satu jarinya menusuk masuk ke dalam lubang anus Hajar yang masih sangat peret dan sempit.

Menyadari apa yang akan terjadi, Hajar langsung berusaha untuk meronta, tapi gerakannya sangat lemah karena tubuhnya memang sudah begitu kelelahan. Botak dengan mudah saja meringkusnya.

“Ahhhhgggg…” jerit memilukan keluar dari mulut Hajar, mengisi ruang tidur yang tidak seberapa besar itu saat Botak menusukkan penisnya dalam-dalam untuk merobek liang anusnya. Begitu kasarnya ia berbuat hingga liang Hajar sampai terluka dan berdarah. Tapi Botak sama sekali tidak mempedulikannya, ia malah terlihat sangat menikmatinya karena jepitan erat anus Hajar yang seperti memek perawan.

”Ughh…” Botak mendesah, ia benar-benar merasa nikmat. Dengan penuh nafsu ia menggerakkan penisnya dengan cepat keluar masuk di lubang anus Hajar yang kini sudah mulai sedikit terkuak lebih lebar.

Hajar menangis, merintih, pedih terasa di anusnya, tapi Botak sama sekali tidak peduli. Dia terus memperkosa Hajar dengan begitu buas. Tubuh Hajar yang sudah sangat kelelahan menjadi semakin lemah jadinya. Perempuan itu merintih kesakitan, tapi suaranya terdengar parau. Saat Botak ejakulasi dalam anusnya, barulah Hajar bisa bernafas lega, tapi tetap saja hatinya meringis pedih.

Botak mencabut penisnya dari anus Hajar, menyisakan spermanya yang bercampur dengan darah segar dari liang anus Hajar yang terluka. “Wah, gua udah puas, enak banget! Cobain deh!” ia berkata kepada Tatto yang dengan setia menunggu di tepi ranjang.

Tatto tertawa sambil menggeleng. “Enggak deh, gua mending entot memeknya.” katanya menyahut.

“Oke, loe cepatan deh. Sudah dua jam kita di sini, nanti ketahuan orang.” kata Mamat sebagai pemimpin para perampok itu. Laki-laki itu sudah menyerah, dia sudah tidak bisa ngaceng lagi, jadi buat apa berada disini lama-lama. Lebih baik mereka segera pergi sebelum ada yang curiga.

Tatto pun merangkak menghampiri Hajar yang sudah terlihat sangat lemah. Segera ditindahnya tubuh wanita cantik itu dan menusukkan penisnya ke liang vagina Hajar yang sempit. “Aahhh…” erang Hajar lemah, sama sekali tidak melawan.

Tatto mulai menggerakkan penisnya, menggesek vagina Hajar naik turun dengan penuh nafsu. Sekali lagi, Hajar hanya bisa mengerang lemah menerimanya. Jangankan menolak, membuka mata saja rasanya sudah snagat berat sekali baginya. Saat itulah, Mamat sengaja mengambil HP Hajar, meredial nomer HP suaminya. Setelah terdengar nada sambung, Mamat segera mendekatkan HP itu ke telinga Hajar.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (19)

“Hallo… haloo…” terdengar suara sang suami.

Hajar tak mampu menjawab, hanya bisa mengerang lemah.

Saat itu, Joki yang kembali bergairah ikut naik ke atas ranjang. Ia ingin memanfaatkan lubang anus Hajar yang kosong di kesempatan yang sempit ini. Dengan pelan Joki memasukinya sambil tetap membiarkan Tatto menggenjot dari atas. Tubuh mereka bertindihan seperti roti lapis, dengan Hajar terjepit berada di tengah-tengah.

“Aaaghhhh…” suara Hajar melengking tinggi saat Joki dan Tatto mulai menggerakkan alat kelamin mereka.

“Hallo, kamu kenapa, Sayang… ada apa?” tanya suaminya bingung dari seberang sana.

“T-tolong… tolong, Mas… a-aku diperkosa!!” kata Hajar dengan suara lemah.

Joki yang mendengarnya bergerak semakin liar, dari bawah ia menghentak-hentak keras liang anus Hajar, memberinya rasa pedih dan sakit yang tiada tara. “Ahhh… sakit… perih… ampun… sudah… kumohon…” erang Hajar pilu.

“Bilang jangan, tapi memek loe jadi banjir begini… dasar munafik!!” ujar Tatto yang terus memperkosa memek Hajar dengan kasar.

“Hallo… hallo… tunggu, Sayang… aku segera pulang…” kata suaminya panik mendengar suara erangan kesakitan Hajar.

Joki terus mengoyang batang penisnya di liang anus Hajar, membuat perempuan berjilbab putih itu semakin tak mampu menahan rasa sakitnya. Di atas, Tatto juga bergerak semakin liar sampai akhirnya menyemburkan cairan kentalnya di memek sempit Hajar.

“Hahaha, gua seneng banget sama nih cewek.” ujar Tatto penuh kepuasan.

Joki menyusul tak lama kemudian, sambil meremas kuat-kuat susu montok Hajar, ia menembakkan spermanya di lubang anus perempuan cantik itu.

Tertawa puas, kelima orang itu pun segera membenahi pakaian masing-masing dan bersiap pergi meninggalkan rumah Hajar. Waktu sudah semakin mepet. Suami Hajar pasti sudah dalam perjalanan pulang kemari. Mamat mengambil mentimun besar yang tergeletak di lantai. Dua mentimun, satu dimasukkan ke liang vagina Hajar dengan paksa dan satu lagi di anusnya. Hajar merintih kesakitan, tapi sama sekali tidak bisa menolak. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk berbuat apapun.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (18)

“Itu gua jadikan kenang-kenangan buat laki loe.” kata Mamat sambil tertawa. “Biar laki eloe yang cabut tuh mentimun, hahaha…” tambahnya sambil berlalu dari kamar tanpa menutup pintunya.

Tak sampai dua menit, mobil box mereka pun berlalu. Kendaraan itu keluar dari garasi rumah Hajar dan berjalan pelan meninggalkan tempat itu dengan membawa barang-barang jarahan mereka. Di ujung gang, ketika mobil hendak keluar dari komplek perumahan, Mamat melihat sebuah sedan berjalan cepat diikuti sebuah mobil polisi dengan raungan suara sirine yang amat keras.

“Hahaha, gua yakin itu mobil suaminya.” ujar Mamat pada anak buahnya. Kawanan perampok itu pun tertawa-tawa, merayakan keberhasilan mereka…

p style=”text-align:justify;”

MBAK WULAN

Semula aku tidak percaya telah berbuat mesum dengan seseorang yang sangat aku hormati, dia adalah Mbak Wulan (35 tahun) seorang guru agama di sebuah SMP negeri di Kota Magelang. Aku mengenalnya karena suaminya yang bernama Susilo (45 tahun) sering mengisi pulsa di counter HP milikku. Seminggu sekali dia ketempatku, kadang sendiri kadang juga berdua dengan istrinya. Karena sudah kenal baik aku sering mampir kerumahnya saat pulang dari toko, kebetulan rumahnya searah dengan tempat kosku. Oh ya namaku adalah Anton (26 tahun) asal kotaku adalah Surabaya. Singkat cerita kami sudah akrab, mereka berdua sebenarnya keluarga yang sempurna menurutku, Mas Susilo bekerja sebagai teknisi listrik PLN dan mereka sudah memiliki 2 orang anak yang berusia 12 dan 8 tahun.

hijab montok-nabila (1)
Terus terang saat pertama bertemu dengan Mbak Wulan aku sudah sangat kagum, dia pintar, cantik dan sholehah karena selalu berjilbab rapi. Selain itu dia juga taat pada suami dan pandai mendidik anaknya. Namun semua kekagumanku itu tiba-tiba berubah saat aku tahu kalau dia punya Pria Idaman Lain. Hal ini ku ketahui tanpa sengaja ketika aku melihat Mbak Wulan berboncengan dengan seorang lelaki di sebuah objek wisata di Kabupaten Magelang, padahal waktu itu masih jam sekolah dan seharusnya dia masih mengajar. Akupun terus mengikutinya dan mereka berdua berhenti di tempat yang sepi di sebuah warung yang tak di pakai lagi. Dengan mengendap-endap aku merekam aksi mereka berdua yang memadu kasih di tempat sepi. Walaupun mereka hanya sekedar berpelukan dan berciuman namun ini bisa jadi bukti yang kuat atas perselingkuhan mereka.
Pada keesokan harinya aku berniat memberitahukan perselingkuhan ini pada Mas Susilo, namun saat aku datang kerumahnya aku cuma bertemu dengan Mbak Wulan. Entah setan mana yang menghasutku, tiba-tiba aku ingin memanfaatkan ini untuk berbuat sesuatu pada Mbak Wulan ketika aku diberitahu bahwa Mas Susilo sedang pergi mengunjungi Ibunya di Purwokerto beserta dua anaknya. Akhirnya akupun menjelaskan tentang rekaman video itu sambil mengancam Mbak Wulan akan mengirimkan rekaman ini pada suaminya. Dia sangat terkejut dengan pernyataanku yang mengetahui dengan detail perselingkuhannya dan akhirnya dengan menangis diapun memohon padaku untuk menghapus video itu dan sebagai gantinya dia berjanji akan memberi imbalan apapun yang aku inginkan.

hijab montok-nabila (2)
Akhirnya Mbak Wulan masuk perangkapku, dengan terus terang akupun meminta imbalan pertamaku yaitu mengajaknya mandi bersama. Dia langsung menolaknya dan menawarkan uang sebagai gantinya, namun aku tetap pada pendirianku sambil menyatakan bahwa aku tak butuh uang. Setelah sedikit bujukan akhirnya diapun mau menerima permintaanku dan aku segera menuju kamar mandi, sedangkan Mbak Wulan terlebih dulu mengambil handuk di kamarnya. Hal ini sengaja kulakukan agar aku bisa meletakkan HPku di tempat yang aman untuk bisa merekam aksi kami tanpa diketahui oleh Mbak Wulan. Sesaat kemudian diapun datang hanya dengan berlilitkan handuk, karena semua pakaian dan jilbabnya sudah di lepas di dalam kamar. akupun segera melepas pakaianku hingga bugil. Dia terkejut melihat torpedoku yang berdiri tegak karena terangsang dan segera kuraih tangannya lalu kuajak masuk kekamar mandi. Dia hanya diam saja sambil merunduk malu dan kesal pada perbuatanku, tapi aku tak peduli segera saja kutarik handuknya dan kamipun sama-sama bugil.

hijab montok-nabila (6)
Aku sempat tertegun melihat tubuh Mbak Wulan yang sangat seksi, kulitnya yang putih mulus sangat kontras dengan warna rambutnya yang hitam panjang tergerai sampai punggung. Setelah itu kamipun mandi berdua dengan menggunakan shower sambil menikmati guyuran air aku mulai mencumbui Mbak wulan, awalnya dia menolak namun dengan sedikit ancaman diapun menurut juga. Dengan leluasa aku memainkan organ intimnya, payudaranya yang montok dan berukuran 34B itu menjadi santapan empuk bagi bibir dan lidahku. Selain itu kedua telapak tanganku juga secara bergantian bergerilya di sekitar vagina dan pantatnya yang bahenol. Awalnya Mbak Wulan selalu berusaha menghindar saat aku memasukkan dan memainkan jariku ke lubang vegy miliknya namun akhirnya dia pasrah juga, mungkin karena sudah terangsang.

hijab montok-nabila (3)
Setelah beberapa lama perkiaanku ternyata benar, Mbak wulan mulai mendesah karena birahi dan akhirnya dia orgasme. Tubuhnya meliuk-liuk dan sesekali mengejang sambil mulutnya terus merintih. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, saat dia lengah segera kuposisikan tubuhnya sedikit menungging dan kupeluk dari belakang, dia menurut saja dan tak tahu kalau sebentar lagi akan kuentoti. Aku terus memainkan jariku di lubang vegy miliknya dan pada saat yang tepat langsung kuganti dengan kontolku yang telah berdiri tegak Blezz…. Slepp kontolku menancap sempurna. Mbak Wulan langsung berontak dan berusaha mencabut kontolku dari vaginanya, namun hal itu sia-sia saja karena aku sudah merengkuhnya dengan sepenuh tenaga sehingga perlawanannya tak berguna. Dengan leluasa aku mulai mnggoyangkan pantatku maju mundur dengan irama pelan agar tidak lepas lalu diapun mulai rileks dan tak berontak lagi, mungkin dia mulai menikmati goyangan kontolku di dalam vegynya. Akupun mulai menambah kecepatan goyanganku Slepp…slepp…slepppp…oh…ahhh..ahhh oh…. aku dan Mbak Wualn mulai saling mendesah dan tak berapa lama dia kembali orgasme, namun reaksinya jauh berbeda dengan yang pertama. Dia mengerang dan mendesah tak karuan Ahhh….Uhghhh….ahhhchh …ohhh….. akupun menjadi bersemangat dan semakin mempercepat goyanganku lalu diapun terkulai tak berdaya di sambil bersandar pada bak mandi. Oh… Ton kamu jahat banget sih….. aku kan sudah keluar banyak, ko masih di goyang terus….aku jadi lemas nihh. Akupun kembali memeluknya Maaf Mbak…. aku benar-benar terangsang dengan tubuhmu yang bahenol, jadi pinginnya goyang terusss…..Tapi enak kan Mbak..? Mbak Wulan tersenyum malu sambil mencubit perutku, Ton… kalo dari tadi aku tahu kamu pinter ngentot, nggak usah dipaksapun aku mau kamu entotin. Aku sangat kaget dengan pernyataanya ini, namun hal ini dibuktikan oleh dia. setelah tenaganya pulih dia tidak menolak kuajak ngentot lagi, namun dia minta pindah kedalam kamar tidur.

hijab montok-nabila (4)
Masih dalam kondisi bugil aku keluar dari kamar mandi untuk mengambil HPku yang kuselipkan di atas lubang ventilasi lalu segera masuk ke dalamkamar Mbak Wulan. Sambil menunggu dia datang kulihat kembali rekaman tadi dan hasilnya cukup memuaskan, karena semua adegan itu terekam dengan baik. Setelah itu aku segera mencari tempat yang pas untuk merekam aksiku yang kedua, tak jauh dari kasur ada tumpukan kulihat pakaian, segera kuletakkan disana sehingga tersamar dengan baik. Setelah Mbak Wulan masuk kamar akupun segera mencumbuinya, sengaja kuarahkan vaginanya menghadap kamera HP yang berada diantara tumpukan pakaian, sehingga aksi jari-jariku yang nakal di vagina Mbak Wulan terekam dengan baik. Setelah puas bercumbu kupun segera mengentotnya yang kuawali dengan posisi terlentang. Bless….Sleppp tanpa kesulitan aku menancapkan torpedoku dan rasanya memang mantap…. clepp..cleppp..ahhh…ahhhh….ohh..ohhh. Hanya desahan dan suara tumbukan kelamin kami yang terdengar dan berbagai gaya dalam ngentot seperti dalam film bokep yang ku tonton aku coba, termasuk gaya Dogy favoritku. Sampai akhirnya aku puas dan mencapai orgasme 2 kali. Sedangkan Mbak Wulan terkapar sampai tertidur karena kelelahan. Bahkan saat kurekam tubuh bugilnya dari jarak dekat dia hanya diam saja.

hijab montok-nabila (5)
Sejak saat itulah fantasi Sex yang aku inginkan selalu dapat ku praktekkan, aku menjadi sering mendownload film bokep dari barat dan kemudian aku coba lakukan dengan Mbak Wulan. Dia tak pernah menolak, kapanpun aku minta ngentot asalkan nggak sedang menstruasi dia akan datang. Karena kebetulan tempat kosku sangat aman maka aku tak pernah repot mencari tempat untuk ngentot. Namun bila rumah Mbak Wulan sepi aku lebih suka ngentot dirumahnya karena aku bisa lebih bebas berekspresi di berbagai tempat, tidak cuma di atas kasur, bisa di dapur, di ruang tengah, di meja makan di kamar mandi, di tempat jemur pakaian DLL . Di rumahnya aku memiliki tempat favorit yaitu diatas kursi sofa di ruang tamu karena lebih santai dan penuh sensasi. Sampai saat ini aku terus melakukan perselingkuhan ini.