ZURAIDA AND FRIENDS 4

hilda yulis - jilbaber hot (12)
Zuraida membiarkan jilbab putihnya tertiup angin, coba mendinginkan hatinya yang terasa begitu panas. Namun hembusan angin pantai selatan pun tampaknya tak mampu untuk mengusir rasa gundah, kesal, cemburu yang menggulung menjadi satu dan memenuhi lubuk hatinya . Wanita cantik itu sengaja menepi dari ramainya obrolan dan celoteh teman-teman suaminya, karena tak yakin dapat menyembunyikan emosi yang terukir diraut wajah nan cantik.
“Uggghhhh,,, Argaaaa,,,” jemari lentiknya mematah ranting kecil dengan kesal. Berkali-kali mengumpat, menyebut nama Arga dengan rasa kesal yang begitu mendalam.
Bukan perkara mudah bagi seorang Zuraida, disaat dirinya sekuat tenaga menahan birahi ketika gerbang dari liang kemaluannya dicumbu dengan hebat oleh lidah seorang pejantan, lelaki yang hingga kini dikaguminya justru dengan bebasnya mencumbu cairan cinta dari seorang gadis muda. Sedangkan Dako,,, yaaa,, meski sempat marah saat matanya secara jelas menyaksikan bagaimana suaminya dengan begitu nakal memasukkan batangan sosis ke dalam vagina Bu Aida, tapi amarah itu tidak sebesar saat menyaksikan lidah Arga yang terjulur memasuki liang kemaluan Andini.
“Argaaaa,,, koq ga berpasangan sama aku aja tadiii,,, iikkkhhhsss,,,” terisak pelan, menyeka kelopak matanya yang berair. Emosi, cemburu dan birahi semakin berpadu merongrong hati yang tengah labil.
Tapi tidak ada yang dapat dilakukannya, meski tau Arga masih menyimpan rasa terhadap dirinya, tapi status mereka tidak sendiri lagi. Sambil menyandarkan tubuhnya ke batang pohon kelapa, Zuraida coba meresapi semilir angin di tubuhnya yang berkeringat. Merasa tidak cukup, wanita itu mengangkat tepian jilbab, dan membiarkan angin yang berpacu mencumbu leher dan kaos tipisnya. Lirikan mata Mang Oyik yang terpesona pada sepasang payudara yang tercetak jelas, tak dihiraukannya. Batin Zuraida berujar, Toh,, lelaki itu sudah menyaksikan bagaimana payudaranya berloncatan saat dirinya ikut lomba balap karung. Ternyata rasa kecewa dan cemburu dapat merubah hati seorang wanita.
“Wooyyy,, Mang,, mlototin nenen bini orang mulu, kalo kepotong tu tangan baru nyahoo,,” seru Bu Sofie, membuat Mang Oyik yang tengah mengupas buah kelapa tersadar, tangannya bisa saja melayang kalo mata dan konsentrasi sange nya terus tertuju pada tubuh si dokter cantik.
Zuraida tertawa mendengar celoteh Bu Sofie atas kekaguman Mang Oyik pada tubuhnya.

Seperti inikah perasaan yang tengah dinikmati oleh para istri yang dilihatnya menggunakan rok pendek. Rasa bangga atas pengakuan para lelaki akan tubuh indah mereka. Zuraida tidak tau pasti apa yang diinginkan oleh hatinya, tapi kini tangannya mengakat jilbabnya lebih tinggi, mengibas-ngibaskan ujung kain itu seolah berusaha mengusir rasa gerah yang tak mampu diatasi oleh angin laut yang cukup kencang. Zuraida berusaha menahan tawanya saat Bu Sofie memites kepala lelaki berambut kriwel itu, sambil mengayunkan parangnya lelaki itu masih saja berusaha mencuri pandang pada payudara Zuraida yang bergoyang pelan karena kibasan tangannya.
“Kalau kau memang menginginkan wanita yang nakal, akupun bisa,,, dan nikmatilah rasa cemburu yang akan menderamu,,” bisik hati Zuraida, tersenyum sinis, kecantikan yang tercipta dari indah senyumnya yang menampilkan keanggunan seorang Zuraida seakan sirna, berganti dengan seringai tajam diatas hati yang bergemuruh.
Matanya menatap Arga, meski tidak dapat mendengar percekapan mereka, tapi tampaknya lelaki yang hingga kini masih dikaguminya tengah kebingungan menerangkan pada Adit tentang apa yang telah terjadi saat game. Dikelilingi oleh Dako, suaminya, dan Pak Prabu.

hilda yulis - jilbaber hot (11)
“Gaaa,,, santai aja ngapaaa,,, Adit juga ga marah koq meqi istrinya kamu kobel-kobel pake lidah,,,hahahaaa,,” Pak Prabu tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Arga.
“Asseeeem,,, cuma orang gila yang ga marah bininya dikerjain ama orang, Om,,, lagian kamu emang kelewatan ya Gaaa,, sempat-sempatnya ngerjain Andini,,” Adit terus mengomel, hatinya begitu panas melihat Andini yang sukses menghambur caira orgasme ke mulut Arga.
“Hadeeeehhh,,, kan aku udah bilang,, aku cuma berusaha ngeluarin sosis yang dimasukin istri mu ke Meqinya, disini justru aku yang jadi korban,,,” Arga mencoba membela diri. “lagian kamu juga udah bikin bini ku orgasme juga kan?,,” Arga balik menyerang Adit.
“Sudaaahh,,sudaaahh,, ingat,,, ini cuma permainan,” Dako coba menengahi, “Ingatkan dengan perjanjian kita, selama tidak ada saling paksa dan intimidasi, game must go on,”.
“dan sekarang bagi yang belum pernah nyicipin istrinya Munaf, aku udah ngasih jalan,,, tapi tentunya setelah aku,hahahaa,,,” ucapan Dako yang didendangkan dengan suara pelan itu membuat para lelaki menatap tubuh Aida.
Ibu muda itu tampak begitu sulit berjalan, giginya menggigit bibir, pahanya mengatup erat persis seperti wanita yang tengah menahan hajat buang air kecil.
“Asal kalian tau,,tadi aku liat kimpitannya sempit banget,,,dan kalian tau kenapa dia berjalan seperti itu?,,,” pertanyaan Dako membuat Pak PRabu Arga dan Adit serentak menggeleng.
“Meqi nya aku jejalin sama sosis,,,, aku berani taruhan? kalo meqi istrinya Munaf emang ganas, pasti sekarang tu sosis udah ancur,,,”
“Busyeeeet,,, dasar sinting,,”
“Oooowwwhhh,,, gila kau Koo,,,”
“Emang saraf lu ya,,, pasti kesiksa banget tu Bu Guru,,,” serentak ketiganya mengumpat.

“Asseeeemmm,,, tapi batang ku jadi ngaceng Koo,,, kalo ada kesempatan, kita hajar aja si Aida bareng-bareng,,, liat aja tuh pantatnya nungging banget,, pasti nikmat kalo di Doggy,,,” seru Pak Prabu sambil mengelus-elus selangkangannya.
“Tapi gimana dengan si Munaf,,,” tanya Adit yang kelimpungan membetulkan letak batangnya yang kut ngaceng, nyasar kesamping kiri celana.
“gampang,,, Arga, nanti kau ajak Munaf jalan-jalan ya,,, kau kan udah pernah nyicipin Bu Guru cantik itu,,,” usul Pak Prabu, membuat Arga mengangguk pasrah.
“Wooyyy,,, ada apa nih,,, lagi ngomongin istriku ya?,,,” tanya Munaf saat memergoki keempat teman kerjanya itu tengah memplototi istrinya, tangannya tampak membawa buah kelapa yang sudah dipotong pangkalnya, siap untuk dinikmati.
“Iya Naf,,, saat game tadi aku baru nyadar, ternyata istrimu cantik juga ya,, apalagi saat ngangkang di atas mulut ku tadi,,, hehehee,,,”

hilda yulis - jilbaber hot (1)
“Juaaancuukkk,, bilang aja kau mau ngentotin istriku,, gila Kau Ko,,” Munaf menyumpah serapah mendengar pengakuan Dako. “Tapi ga segampang itu,,, karena kali ini aku bakal memprotect istriku bener-bener lebih ketat,,hehehee,,”
“Bener nih?,,, jadi kamu bakal ngangkremin istrimu terus nih?,,, ga pengen coba ndeketin istriku,,,” tantang Dako sambil menoleh ke arah Zuraida, diikuti lelaki lainnya.
Sontak Zuraida yang memang tengah memperhatikan Arga yang berdiri di antara suami dan teman-temannya itu menjadi bingung, apalagi para lelaki menatap tubuhnya dengan pandangan penuh nafsu.
“emang geser otak ni orang ya,,, istri sendiri ditawarin ke kita-kita,,,” Munaf menggeleng-gelengkan kepala, diikuti Arga yang menahan nafas, hatinya tidak rela bila wanita berjilbab yang memiliki kenangan baginya itu dinikmati oleh teman-temannya.
“Emang gila kau Ko, tapi aku suka,,, hahahaha,,, kalo aku beneran bisa masukin ni batang ke meqi istrimu yang alim itu jangan marah yaa,,, hahahaa,,,” Pak Prabu terkekeh sambil mengusap-usap batangnya. Dan tingkah Pak Prabu itu jelas terlihat oleh mata indah Zuraida, dan saat itu juga membuang pandangannya ke arah lain.
“kita buktikan saja, siapa yang beruntung,,,hehehee,,” Dako tampak begitu yakin tidak mudah untuk menaklukkan istrinya.
“Ya kita lihat saja nanti,,hahahaa,, Ehh,, dimana kau dapat kelapa itu Naf,,” tanya Pak Prabu yang tergiur dengan Munaf yang asik menyeruput air kelapa langsung dari buahnya.
“Tuhhh, sama Mang Oyik,, aku aja pengen nambah lagi nihh,,” Pak Prabu dan Adit segera menuju ketempat Mang Oyik disusul oleh Munaf.

“Gimana Gaa,, masa kamu ga mampu ngenaklukin Istriku,, keahlian mu sebagai penjahat kelamin belum hilangkan?,,” tanya Dako blak-blakan saat mereka tinggal berdua, berdiri berhadapan.
“Sebenarnya apa sih yang ada diotak mu itu Ko,, dari rencana liburan, perjanjian yang ga masuk di akal, sampai permainan gila-gilaan di pantai inipun kuyakin semua adalah usulmu,,,”
Dako tertawa garing, lalu wajahnya berubah menjadi murung.
“Aku juga ga tau Ga,, aku hanya merasa bersalah pada istriku, sebulan yang lalu Zuraida memergoki aku selingkuh dengan Risna,”
“Risnaa?,,, Risna keponakanmu yang masih SMA itu? Owwwgghh kamu emang gilaa,, gilaa,,gilaa,, apa sih kurangnya Zuraida,,”
“Argaaa,,, kita ini sama, sama-sama cowok petualang,, kau juga sudah memiliki Aryanti yang cantik, tapi kau tetap saja bersemangatkan menghajar tubuh istri teman-temanmu kan?,,” meski pelan, penekanan suara Dako meninggi.
“Bahkan saat kami masih belum apa-apa kau sudah berkali-kali membuat Aida, istri Munaf terkapar, plus tubuh Lik Marni tentunya,,,dan pastinya kau juga merasa bersalah pada istrimukan?,,” Dako menatap Arga dengan pandangan tajam.
“dan Aku juga sama seperti dirimu Sob,,, aku sudah berulang kali berusaha membuang kebiasaan buruk ku ini, tapi sangat sulit, entah kenapa aku selalu tertantang untuk menaklukan wanita,” intonasi suara Dako mulai kembali datar. Matanya menatap kelaut lepas.
“Argaa,, kamu teman ku yang paling aku percaya, tolong bebasin aku dari rasa bersalah ini,,, Kamu tau?,, Zuraida tidak pernah sekalipun mengenakan pakaian seketat dan setipis itu di tengah orang banyak, dan aku tau saat ini dia melakukan itu bukan karena aku, tapi kamu,,”
Arga hanya terdiam mendengar pengakuan sahabatnya. Apa yang dikatakan Dako memang benar adanya.
“Aku juga tidak ingin membuat istriku menjadi liar, tapi aku ga tau lagi cara seperti apa agar semua terlihat natural dan mengalir apa adanya,,,” Dako menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya dengan perlahan.
“Ko,, aku bisa menerima alasanmu itu untuk melakukan kegilaan ini, tapi itu tidak cukup, jujurlah,, sebenarnya ada apa?,,,” pertanyaan Arga menohok hati Dako. Sulit untuk berkelit dari Arga yang sudah sangat mengenal pribadinya.

Lagi-lagi Dako menarik nafas panjang. “Mungkin aku memang gila dan psycho, Sob,,” lelaki itu menatap Arga dalam-dalam. “Aku sangat terangsang bila melihat istriku yang alim itu dicumbu oleh orang lain,, aku merasakan sakit, tapi aku juga menikmatinya,,”
“Gilaa,,, pantas saja kau menawarkan istrimu sama mereka juga,,,” Arga menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak Gaa,, kau salah,,, aku bisa merasakan itu bila kamu yang melakukannya,,, Kau ingat percumbuanmu dengan Zuraida di kost kita, sehari sebelum kau cuti dan pergi meninggalkan kami?,,,”
Arga terkaget, lagi-lagi kenangan masa lalunya kembali terkoyak. “Apaa,, apaa kau melihat semuanya?,,” tanya Arga gugup, sadar bahwa hal itu pasti sangat menyakitkan bagi Dako yang juga tengah mengharapkan Zuraida.
“Aku melihat semuanya,,, dan saat itu aku baru sadar bahwa kita menginginkan gadis yang sama, aku hampir saja mendobrak masuk saat melihat Zuraida begitu pasrah dalam pelukanmu,,tapi,,,” Dako menghela nafasnya.
“Tapi kau menghentikan cumbuan mu tanpa sebab,, sorenya, kau menghilang, meninggalkan aku dan Zuraida tanpa pesan sedikitpun.”
Arga tertawa tanpa suara, matanya seakan dapat melihat peristiwa beberapa tahun silam. “Aku tidak mungkin menghianati sahabatku,”
“Bego!!!,,,” umpat Dako. “Akhirnya, kau justru tidak tau betapa nikmatnya keperawanan seorang Zuraida.”
“Asseeeeem,,, jangan manas-manasin aku gitu lah,,,” Arga melotot memukul lengan Dako dengan wajah kesal. “Tapi, kau sudah memberikan seorang wanita yang tidak kalah cantik dari Zuraida,” Arga dan Dako bersamaan menatap Aryanti yang tengah ngobrol dengan Sintya, sesekali kedua wanita itu tertawa terkikik.
“Tapi,,, sekarang aku justru bingung, kenapa Aryanti bisa berubah seperti ini,,,” Arga mengegeleng-gelengkan kepala, menatap istrinya yang terlihat agak cuek saat duduk, rok nya yang lebar dan pendek tak mampu menutupi keindahan dari paha mulusnya.
“Hahaaha,,, kita cuma bisa berharap semua kebinalan ini berakhir saat liburan ini selesai, tapi Gaaa,, kurasa istrimu memang,,,”
“Apa? Memang nikmat? Kempotannya dahsyat? Goyangnya liar?,,, Asseeeem,, taik kau Ko,, tega bener ngehajar istriku depan belakang,,”
“Whuhahahahaa,,, jadi kau melihat kenakalan istrimu tadi malam,,, hahahaa,, Sorry Sob, sorry banget,” Dako tertawa terpingkal, “Tapi,,,kamu ga marahkan?”

“Eeee,, busyet dah, mana ada suami yang ga marah ngeliat istrinya digenjot habis-habisan sama orang, Aaahhh,, taik kau Ko,,,” Arga bener-bener mangkel mendengar tawa Dako, tapi apa yang bisa diperbuatnya.
“Tapi,, Game must Go on,,, dan masih ada sisa waktu untuk mendapatkan istrimu,,” lanjut Arga berusaha menghibur dirinya, sambil menatap Zuraida yang tengah digoda oleh Mang Oyik.
“Yaaa,, aku ingin kau yang melakukannya,, Aku hanya ingin menebus rasa bersalahku pada kalian berdua, Okeeeyyy,, ke ketempat Aida dulu, kasian banget tu Bu Guru jalannya mpe tertatih gitu,, hehehehee,,,” Dako menepuk pundak Arga, lalu berjalan menghampiri Aida, dengan sedikit memaksa lelaki itu menarik Aida ke sebuah bangunan kecil yang biasa digunakan sebagai gudang.
“Dasar bocah kentir,,, dari dulu mpe sekarang ga pernah berubah,,, doyan banget nyatroni bini orang,,,” Arga tertawa melihat tingkah Dako, tapi dalam hatinya justru menertawakan dirinya sendiri yang tak jauh berbeda dengan Dako.
Arga memasang kacamata hitamnya, dengan langkah pasti menghampiri Zuraida. Saat melewati meja Tangannya meraih sebiji buah kelapa yang sudah dikupas ujungnya, siap untuk dinikmati.
“Hai Zee,,, sudah minum es kelapa?,,” lelaki itu menawarkan apa yang dibawanya kepada Zuraida sambil menebar senyum lebar.
“Sudah,, makasih, kalo kebanyakan takutnya malah ga bisa ikut lomba lagi,, hadiahnya mobil Bu Sofie lho,,hehehee,,”
Arga bisa melihat senyum dan tawa Zuraida tampak sangat dipaksakan, hati lelaki itu bertanya-tanya, apa yang tengah dipikirkan oleh Zuraida yang berusaha terlihat santai dan cuek.
“Mang Oyik, toiletnya dimana ya?,,, anterin dong,,,” Zuraida berdiri, membersihkan pasir pantai yang melekat di celananya. “Gaa,, aku kebelakang dulu ya,,”
Arga terkaget dengan sikap Zuraida, terlihat jelas bahwa wanita itu sengaja menghindari dirinya. Arga semakin kaget saat Zuraida menggandeng tangan Mang Oyik, membuat lelaki berabut kriwel itu tersenyum girang.
“Ada apa dengan mu Zee?,,,” hati Arga terasa begitu sakit, tercampakkan.

* * *
Disaat yang sama, tak seberapa jauh dari Arga yang berdiri terpaku, Andini terlihat tidak nyaman, sepertinya gadis itu sedang disindir oleh Aryanti.
“Din,,, kalo kamu mau ngerjain suamiku, jangan ditempat umum begini,,, kasian Mas Arga dia pasti jadi malu,,,”
“Iya mbaaa,, aku minta maaf,,, habisnya tadi akku kebawa-bawa permainan,,, ngga lagi koq,,,”
“Hahahaa,, iya santai aja,, gapapa koq,,, tapi hati-hati lho, batang Mas Arga tu gede banget,,,emang kamu sanggup?,,,”
“Emang gede banget mba, tapi masih bisa masu,,, ehh,, maksud saya tubuh Pak Arga emang gede banget,,,” Andini keceplosan, wajahnya menjadi pucat dibawah tatapan curiga Aryanti.
Tapi entah kenapa, dada Aryanti tiba-tiba bergemuruh bukan karena marah, tapi justru penasaran apakah suaminya yang memiliki tubuh tinggi besar, pernah menggagahi tubuh mungil Andini. Tanpa sepengetahuan gadis itu, Aryanti mengagumi kecantikan Andini, senyum manisnya mengingatkan Aryanti pada salah seorang anggota JKT 48, Melody Nurramdhani Laksani.
“Din,,, pernah kepikiran ngga, main sama orang yang tinggi besar seperti Mas Arga?,,,”
“Eeehh,, maksud ibu?,,” Andini menyelidik, takut dirinya tengah dipancing untuk mengakui persetubuhan dirinya dengan Arga dikolam renang.
“Nggaaa,, ngga apa-apa,,, aku cuma sering penasaran aja ngebayangin gadis mungil seperti kamu disetubuhi sama pria dengan tubuh tinggi besar,,,hehehee,, tapi lupain aja,,” terang Aryanti. “Maaf yaa,, aku nanya yang aneh-aneh,,”
“Kan,, tadi malam ibuu udah liat,,aku di,, di,, digituin sama Pak Prabu,,” jawab Andini pelan dengan wajah malu-malu.
“Tadi malam?,,,ohh,,,iyaaa aku lupaaa, habisnya tadi malam aku agak mabuk,,,,” Aryanti menepuk jidatnya, bagaimana bisa dirinya bisa lupa permainan kartu yang berubah jadi sangat panas.
“Kamu sih,, pake masukin batangnya Pak Munaf, aku jadi ikut-ikutan panas,, ujung-ujungnya malah aku yang digangbang dua cowok kesurupan,, hihihii,,” Obrolan dua wanita yang berpaut umur enam tahun lebih itu mulai mencair. Petualangan birahi memang dapat dengan cepat menyatukan keakraban anak manusia.
“Ihh,, ibuuu,, salahin Pak Munaf tuh,, mana ada sih cewek yang tahan kalo gerbang itunya terus-terusan disundul sama helm preman,, mana tu bapak ngerengek terus minta dimasukin, ya udah aku makan aja sekalian,,,hihihi,,, ga taunya baru masuk sebentar udah langsung croot,,,hahahahaa,,,” Andini menutup mulutnya berusaha menahan tawa, teringat wajah Munaf yang kalang kabut dan harus mengakui kekalahannya.
“Tapi waktu sama Pak Prabu,,,koq kamu langsung dapet sih?,,,” tanya Aryanti penasaran.
“Habisnyaaa,, itu nya Pak Prabu gede banget,, punyaku ampe penuh banget Bu,,,apalagi sebelumnya ni lubang udah dikerjain sama batang Pak Munaf, hihihii,,,” Andini cekikikan sambil menunjuk selangkangannya. Membuat mata Aryanti tertuju pada kemaluan Andini yang roknya sedikit terbuka.

hilda yulis - jilbaber hot (10)

“Tapi masih hebat ibu,, kuat banget ngeladenin Pak Prabu sama Pak Dako,,, Eeeng gimana sih bu rasanya kalo dimasukin depan belakang gitu?,,”
Wajah Aryanti merona malu teringat kenakalannya yang ditonton oleh Andini. “hebat apanya, aku aja sekuat tenaga nahan biar ngga keluar duluan, tengsin aja kalah sama si kunyuk Dako,,, hahahaa,, habisnya tu orang sering koar-koar jago bikin tepar cewek cuma dalam beberapa tusukan,,,”
“Emang sih,, kalo Pak Dako tangannya ga bisa diam, jago banget ngerangsang orang biar cepat keluar,,, Tapi koq ibu kayanya akrab banget sama Pak Dako,, jangan-jangan dari dulu udah sering itu ya sama Pak Dako,,hihihi,,” Gadis itu tertawa genit sambil melontarkan pertanyaan yang menyudutkan.
“Huussshh,, kamu ini,, aku akrab dengan Dako dan istrinya, Zuraida, karena dia memang tetangga ku sebelum menikah dengan Arga. tu orang emang nakal banget, untung aja Zuraida orangnya pengertian,, jadi ga mungkinlah aku ngehianatin orang yang udah baik banget ama aku,,” terang Aryanti.
Sewaktu masih sendiri, rumah yang disewa Aryanti memang berada tepat di samping rumah Dako dan Zuraida yang baru menikah. Dan hubungannya dengan Zuraida cukup baik, meski sering dihias dengan celoteh nakal dari suaminya, Dako. Dari mereka berdua jua lah akhirnya Aryanti bertemu dengan Arga.
“Diin,, punya kamu basah yaa?,,, hayooo,, mikirin punya siapa nih,, punya Pak Prabu yang gede, batang Munaf yang gemuk, atau punya Dako yang bengkok?,,hihihii,,”
“Iiihh,,, Mbaa Yantii,, habisnya dari tadi kita ngomongin punya cowok terus sih,,, tapi tadi malam kita emang gila banget yaa,,”
“Iyaa,, nyoba-nyobain batang punya cowok, mana ukuran dan bentuknya beda-bedaa,,, Haduuuhhh,, Diiin,, punya mba basah juga nihh,,” Aryanti menjepit pahanya saat merasakan desir cairan yang merembes keluar dari lipatan vaginanya.

* * *

Kita kembali kepada Arga yang kebingungan plus rasa sakit yang menyertai. Cukup lama dirinya terdiam, berdiskusi dengan hati yang galau. Mungkinkah Zuraida masih marah pada dirinya. Dengan berat Arga melangkahkan kaki, berharap jika memang wanita itu memang masih marah apa yang akan diterangkannya dapat diterima.
“Mang, ngapain? Mau ngintip ya?,,,” seru Arga saat mendapati Mang Oyik celiangk-celinguk mencari-cari celah untuk melihat ke dalam toilet. “Sana Gih,,,”
Ada beberapa kamar kecil dibangunan itu, meski tidak jelas lagi mana toilet untuk wanita dan mana yang untuk pria, tapi kebersihan tempat itu terpelihara dengan baik.
“Argaaa,,, ngapain disini,, kamu mau ngintipin aku?,, emang punya Andini tadi masih kurang?,,, hehehehee,,,”
“Zee,,, apa yang kamu lihat itu salah,, justru aku yang sedang dikerjai oleh Andini,,, Aku justru memikirkanmu terus,,,” suara Arga meninggi, hatinya yang sudah dipersiapkan untuk tenang tersulut mendengar kata-kata pedas dari wanita yang dikaguminya.
“Oyaaa,,, hehehee,, gapapa koq, itu masalah mu, istrimu aja bisa santai, masa aku harus marah-marah,,”
“Zeee,,,” kedua tangan Arga mencengkram pundak Zuraida, memaksa wanita itu untuk menatapnya, mencari kebenaran dari matanya.
“Percumaaa!!!,,, Mas Dako sudah memberikan waktu untuk kita,, tapi percumaa,,, semua sia-siaaa, aku berharap kamu masih seperti duluuu,, Tapii,,,,” setetes air mata mengalir dimata yang indah, ada kesedihan mendalam yang sulit untuk dibaca dibalik wajah cantik berbalut jilbab putih.
Pikiran Arga semakin bingung dengan penuturan Zuraida, mungkinkag wanita itu tau dengan rencana suaminya, dan segala permainan gila yang tercipta.
“MINGGIIIR,, LEPAAASIN,,,” Zuraida berontak, berusaha melepaskan tangan Arga.
“Zeee,,, kamu salah Zeeee,, cuma kamu yang aku inginkan saat ini,,,”
Entah karena frustasi, tidak tau lagi bagaimana harus menerangkan kepada wanita bertubuh semampai yang berdiri dengan goyah, Arga melumat bibir indah Zuraida, menciumi wajah cantiknya.
“Eeemmmpphhh,,, Eeeengghhhh,, heeekkss,,”
Zuraida semakin kuat berontak, mendorong kepala Arga agar menjauh dari wajahanya, tapi sia-sia. Lelaki itu tampak kesurupan.  Tangan Arga meremas bongkahan payudara Zuraida, mengusap, memilin dengan liar. Sesekali wanita itu melenguh, walau bagaimanapun rangsangan yang diberikan Arga begitu kuat. Tapi entah kenapa rasa kesalnya tak kunjung hilang.
“Bajingan kaaauuu Gaaa,,” jemari lentik Zuraida sekuat tenaga mendorong tubuh lelaki yang kini mulai menciumi lehernya, berusaha menyelusup ke balik kain penutup kepala.
“Oooowwwggghhhkk,,, Ghaaaa,,,” seketika tangan lentik Zuraida menjambak rambut Arga saat bibir lelaki itu melumat putingnya yang mengeras. Sangat sulit berkelit bahwa saat ini dirinyapun tengah dilanda birahi.

hilda yulis - jilbaber hot (9)

“Slluuurrppsss,,, Ooowwwhhhsss,,, Zeee,, milikmuuu,,, owwwhh,,,”
Arga mendengus, membuat tubuh Zuraida yang berkeringat semakin panas oleh hembusan nafas Arga yang menderu diantara sepasang payudaranya. Puting yang berwarna merah muda itu sangat menggoda Arga untuk memberikan gigitan kecil.
“Aaarrrggh,,,”
PLAAKKK,,,,
PLAAAKK,,,
“Ternyata kamuu memang ga bedaaa dengan merekaaa,,,,”
Arga terkejut, menarik wajahnya dari payudara Zuraida. Pipinya terasa panas oleh dua hantaman yang cukup keras dari tangan lembut seorang Zuraida.
“Asal kau tauu,, Dako itu memang liar, tapi satu yang membuatku merasa nyaman untuk terus bersamanya, Suamiku itu,,, suamiku Dako tidak pernah sekasar ini padaku,,,dia tau bagaimana cara memperlakukan seorang wanita,,
Arga mengusap pipinya, menatap mata Zuraida yang penuh kemarahan.
“dan satu yang harus kau ingat, jangan samakan aku dengan wanita-wanita yang dengan mudah kau tiduri. Dan kurasa Pak Prabu masih jauh lebih baik dibanding dirimu,,” air mata dengan cepat membasahi pipi yang lembut.
“Kau ini kenapa Zee,,, kenapa berfikir tentang ku sampai seburuk itu,,, Aku memang seperti mereka, seperti teman-temanku, seperti suami mu yang senang untuk menaklukkan wanita,,,” Arga berusaha mengatur nafasnya.
“Ok,, aku memang sudah kasar kepadamu, tapi itu karena aku sudah tidak tau lagi bagaimana harus menerangkan apa yang terjadi,, apa yang kau lihat tidak seburuk yang kau kira,,,”
“asal kau tau,, jauh didalam hati ini aku selalu menyayangimu, merindukanmu, mengharapkanmu lebih dari apapun, dan jangan pernah lagi membandingkan aku dengan Dako, Pak Prabu atau lelaki lainnya, aku ya aku, lelaki bego yang rela menyerahkan wanita yang dicintainya untuk balas budi,,, ”
Sebenarnya Arga tidak sanggup melihat wanita yang dicintainya itu menangis, tapi saat ini tangannya terasa begitu berat untuk memeluk Zuraida, kata-kata keras dengan mudah mengalir dari mulutnya, membuat air mata sang wanita semakin deras mengalir, sesenggukan, menyembunyikan wajahnya yang pilu diantara jemari yang lentik. Dan,, saat semua telah terjadi, saat dirinya tersadar, pelukan selembut apapun takkan sanggup membuat keadaan lebih baik.
“Maaf Zee,,, maaf,,, sungguh,,, hingga saat ini tak ada yang berubah, hati ini masih mencintaimu,, Maaf,,” suara Arga terdengar getir, lalu melangkah keluar meninggalkan Zuraida di lorong yang memisahkan kamar kecil yang saling berhadapan.
Sepeninggal Arga, tangis Zuraida semakin deras. memukul-mukul dinding, Meratapi pertualangan hatinya yang berakhir tragis. Di balik ego nya yang begitu tinggi, sebenarnya Zuraida sangat menikmati cumbuan kasar Arga, tapi rasa cemburu kembali mengambil alih. Label sebagai wanita cantik yang tidak mudah ditaklukan para pria, digenggamnya erat.
“Seharusnya kau rayu aku,, seharusnya kau bujuk aku,,, bukan meninggalkanku seperti ini,,hikksss,, aku cuma ingin kamu Gaa,,”
Bagi siapapun yang melihat kondisi Zuraida pasti akan mencibir, seorang wanita dewasa yang berpendidikan tinggi, disertai karir yang matang, meratap menangisi cinta layaknya gadis SMU belasan tahun. Tapi itulah cinta, dapat membuat seseorang menjadi layaknya anak kecil, menafikan pikiran sehat yang selalu mereka agungkan. Dan rasa cemburu yang selalu menyertai keagungan cinta, dapat merubah mereka menjadi pribadi yang berbeda.

* * *

Arga mengayunkan kaki tanpa arah. Pikirannya sepenuhnya dikuasai oleh Seorang wanita cantik bernama Zuraida.
“Paaaakkhh,,, Ooowwwhhh,,, gapapaaaa,, biar didaaaalaaam ajaaa,, Aaagghhh,,,”
Langkah Arga terhenti disebuah bangunan kecil, bangunan yang dituju oleh Dako saat menggiring si guru cantik Aida.
Arga yang tengah kalut justru tertawa mendengar rintihan Aida, ikut menikmati tubuh montok Bu Guru cantik ini mungkin dapat sedikit membantu menenangkan pikirannya, pikir Arga.
Di dalam, Arga mendapati Adit yang tengah menunggangi tubuh Aida yang mengangkang pasrah.
“Lhooo,, kamu Dit?,, Dako manaa?,,,”
Adit tertawa saat melihat wajah Arga dipintu. “Lubang Bu Guru emang sempit banget Pak,, bener-bener maknyus empotannya,,,hehehee,,”

hilda yulis - jilbaber hot (8)
Suara Adit yang menyapa Arga membuat Aida terkejut, lalu menoleh ke arah pintu, seketika wajahnya yang tengah terengah-engah pasrah menerima gempuran penis, tersipu malu. Tak lama Adit tampak mengejang, tangannya erat mencengkram pinggul Aida, menghentak kejantanannya jauh kedalam rongga vagina, menghantar sperma kedalam rahim si wanita.
“Oooowwhh,, owwhhh,,,oowwhh,, banyak banget Diiit,,,” rintih Aida, sangat menikmati setiap semprotan yang keluar dari lubang penis. Sementara Adit tertawa bangga.
“Saya boleh ikut?,,,” tanya Arga mengeluarkan batangnya, mengurut pelan, memamerkan perkakas jumbonya kepada Aida.
“Darimana aja bray,,,” tanya Adit, melepaskan batang nya dari jepitan vagina Aida.
“Adduuuuhh,,, bakal tambah bonyok nih,,,” Aida menepuk-nepuk vaginanya, seolah tengah merapal mantera agar alat tempurnya sanggup meladeni batang Arga yang kemarin telah berhasil membuatnya orgasme berkali.
“Kasian bu kalo saya make yang depan,,,” ucap Arga.
“Duuuhh,,, masa yang di belakang lagi Pak,,, ya udah deehh,, tapi pelan-pelan yaa,,” Aida membalikkan tubuhnya menungging, mengangkat tinggi pantatnya, sementara kepalanya bersimpuh di lantai.
“Pelan-pelan Pak,,,” sambil membuka liang anusnya, lagi-lagi Aida memperingatkan Arga.
“Aaawwhhh,,, katanya di belakang koq malah nusuk memek saya pak?,,”
Arga tertawa, tapi terus membenamkan batangnya jauh ke dalam lorong, lalu bergerak maju mundur dengan perlahan.
“Duuuhhh,, penuhhh bangeeet pak,,, nikmaaat bangeeet,,, yang depaaaan aja ya paaaak,, biar sama-sama enaaaak,, owwwhh,,,” Pantat Aida bergerak menjepit maju mundur, berusaha agar batang itu tetap betah di dalam vaginanya.
“Tenang Bu,,,cuma minta pelumasnya aja koq,, kemaren waktu saya tusuk dibelakang juga enakkan?,,”
“Iyaaa, tapi waktu itukan pake minyak goreng,,,” Aida pasrah saat Arga menarik keluar batangnya, dengan jarinya, Aida berusaha membuka liang anusnya lebih lebar, mempersilahkan batang Arga untuk bertandang.
“Weeekkssss Gila,, koq tadi ga bilang kalo yang belakang boleh dipake Bu,,” Adit kaget, tidak menyangka Aida bersedia dianal, matanya mengawasi batang Arga yang perlahan menghilang ke dalam tubuh guru cantik itu melalui jalur belakang.

hilda yulis - jilbaber hot (7)
Adit harus mengakui kelebihan yang dimiliki batang Arga.
“Aaaahhhhh,,, yaaa,,,masssuuukkkhhh,,” tubuh Aida melengking, meski sudah pernah merasakan nikmatnya dikerjai dari belakang, tetap saja penetrasi awal terasa sedikit perih.
Aida menoleh ke belakang, “Suddaaahh masuk semuaaa paaaakk,,,”
“Belum,, tapi ini udah cukup koq,,” tangan Arga bergerak meremasi payudara Aida, mengecup punggung mulusnya, lalu menarik tubuh Aida agar lebih tegak. “Kau semakin seksi saja Aii,,,”
Wajah Aida memerah mendengar pujian Arga,, “Pak Argaa bisa ajaaa,,,”
“Asseeem,,koq keliahatannya mesra banget sih,,,” Adit bingung dengan tingkah Aida yang terlihat begitu serius untuk melayani setiap keinginan Arga.
“Silahkaaan dinikmaati Paaakss,,,” Aida justru semakin bergairah mendengar komentar Adit, sambil berpegangan pada kursi, wanita itu menggerakkan pinggulnya, memberikan jepitan terbaik anusnya untuk memanjakan batang sipejantan.
“Owwwhhhh,, Tuuu kaann tambah mantap aja goyangan bininya Munaf ini,,, oowwhh,,” Arga memegangi pinggul Aida untuk menyetir kecepatan ritme yang diinginkannya.
“Dit,, Munaf kemanaaa,,” tanya Arga tanpa menghentikan gempurannya.
“Tadi aku suruh Aryanti dan Andini menemani Munaf ngobrol, makanya aku bisa kesini,,, hehehee,,” jawab Adit.
Mendengar suaminya disebut-sebut, goyangan pinggul Aida justru semakin ganas, entah kenapa birahinya terlecut.
“Paaakk,,, sooddooookk depaaan duluuu paaak,,” rintih Aida.
Arga yang sudah hapal dengan tingkah Aida yang ingin orgasme segera mencabut batangnya dari anus, dan tanpa ba bi bu, langsung menghajar vagina Aida dengan cepat.
“Paaaakk nikmaaaattss,,, penuhhh bangeeeeettss,,,Aaaggh,,, cepaaattt,,”
“Asseeeeemm,,, kenapa tambah legit ni memeq Aaaiii,,,” Arga semakin cepat merojok batangnya ke kemaluan guru cantik itu.
“Paaakk sayaaa keluaaarrr,,, Aaauuuhhhh,,, tahaaannn,, sodoook yang daaalaaam,,,Aaaahhh,,” tubuh Aida melengking, berkelojotan liar, hingga akhirnya melemah.
“Balik Ai,,,” pinta Arga meminta Aida kembali telentang, sebenarnya Arga lebih senang gaya missionoris ini, karena dirinya dapat dengan jelas melihat ekspresi wanita yang tengah menikmati rojokannya.
Aida telentang, memeluk kedua pahanya, hingga lorong vagina dan anusnya terentang, memberikan pilihan bebas kepada Arga untuk menikmati mana yang diinginnya.
“Aaaauuuhhhh,,, emang doyaaan lubang belakang yaaa paaak,,,” seru Aida saat Arga menusuk anusnya.
“Ngga juga,,, kali ini aku pengen nyemprot dirahim istrinya Munaf,,” jawab Arga, membuat gairah Aida kembali terlecut.
“Paaaakk,,, seneng nyodok meme qsss bini orang yaaaa,,,Aaaahh,,,” Aida merentangkan kedua pahanya, mengekspos lorong vagina yang terlihat sempit. Menggoda agar vaginanya kembali disodok.
“Aaaahh,,, Siaaal,,, pinter banget ssiihh si Munaaaf nyari meqi,,, Aaaagghhh,,, nih rasaaiiinnn,,” lagi-lagi Arga mengganti tujuan serangannya.
hilda yulis - jilbaber hot (6)
“Paaakk,,, masukin lebih dalaaamm,,” rintih Aida saat melihat sebagian batang Arga masih di luar vaginanya. “Yaaaaooohhh,,, menthhoookk,,, aauuwww,,”
“Paaakk,,, jangaaan keraasss-kerass,,” kini justru Aida yang meringis, saat dasar vaginanya digedor dengan keras.BLEEGG…
“Aaaaggghhh,,,”
Seketika Arga menghentikan gerakannya, “Masuk kemana tuh Ai,,” tanya Arga saat kepala penisnya menerobos lorong yang lebih sempit.
“Gaa,, taaauu,,,” jawab Aida sambil meringis menahan nyeri, mengamati batang Arga yang menghilang sepenuhnya kedalam tubuhnya. “Gerakin pelaan-pelaaan,, masih enak koq,, enaaak bangeeet,,”
“Aii,, Aiddaaaa,, aku ga taahaaann,,,empotan mu semakin dahsyaaaat,,,”
“Gilaaa,, Aidaaa,,,” Arga memeluk tubuh Aida dengan kuat. Menggencet payudara empuk dengan tubuhnya, melumat bibir ibu Guru cantik utu dengan ganas.
“Naaaaaaff,, aku nitip ngecrot dimeqi istrimuuu,, Aaarrgghhh,,,” tubuh Arga berkelojotan. Disusul lengkingan orgasme dari Aida.
Adit yang menyaksikan persetubuhan itu tercengang, tak pernah dirinya orgasme sedahsyat kedua orang itu.

* * *
Kita kembali ke Zuraida yang meratapi nasib hatinya.

“Bu,,, ibu ngga kenapa-kenapa kan Bu,,,” Pak Prabu yang tidak sengaja lewat, mendengar pertengkaran antara Zuraida dan Arga, cukup kaget dirinya saat mengetahui hubungan tersembunyi antara kedua insan itu.
Namun saat Arga meninggalkan wanita cantik itu menangis sendiri, hatinya menjadi iba. Tangannya yang kasar menyentuh pundak Zuraida yang masih sesenggukan menghadap dinding, penangkupkan kepalanya ke dinding dengan berlapakkan punggung tangan.
“Buuu,, ibu memang berbeda dari wanita lainnya,,, saya tau ibu hanya ingin melakukan segalanya atas dasar cinta, dan itu tidak salah,,,” Pak Prabu mengeluarkan kata-kata bijaknya, memilih untuk bersikap dewasa daripada memuaskan hasrat tangannya untuk menggerayangi tubuh wanita cantik yang tampak lemah itu.
“Tapi bukan berarti ibu harus terpenjara dalam kungkungan hati yang selalu berharap lebih, cobalah untuk menikmati apa yang ibu jalani lebih apa adanya.”
“Meski sulit, bebaskanlah dengan perlahan hasrat ibu pada lelaki yang ibu cintai itu, tanpa mengabaikan apa yang terjadi disekitar,” petuah dari Pak Prabu mengalir lembut, sementara hasratnya untuk mencumbu tubuh Zuraida mulai bergolak.
Tangannya terus mengusap-usap punggung wanita itu seolah berusaha untuk menenangkan. Meski sesekali telapak tangannya nyasar kebongkahan pantat yang terpapar, seolah menunggu untuk dicumbu.
Sebenarnya Pak Prabu sendiri kagum dengan kata-kata yang dilontarkannya, bagaimana bisa mulutnya yang terbiasa berkata kasar, mampu membuat Zuraida mengangguk mendengar petuahnya. Tapi memang itu lah adanya, kata-kata Pak Prabu meresap tanpa rintangan kehati Zuraida yang tengah labil, yang tak lagi memiliki pertahanan untuk memproteksi hatinya.
“Lihatlah teman-teman ibu yang lebih memilih untuk menikmati hidup, tanpa mengesampingkan rasa cinta mereka kepada lelaki yang mereka kasihi, mengusir jauh rasa cemburu yang hanya akan memperburuk keadaan, mereka justru bisa tertawa lepas tanpa beban,”
Kata-kata dari mulai sulit untuk diterima oleh logika orang yang waras, namun lagi-lagi kepala Zuraida justru mengagguk. Wejangan yang keluar dari mulut yang berbau tembakau itu mulai menyimpang, seiring tangannya yang perlahan tapi pasti mulai bergerilya, menyentuh pelan tepian payudara si wanita. Zuraida bukannya tidak sadar dengan aktifitas tangan Pak Prabu, tapi saat ini hatinya tangah berusaha mencari pembenaran, pembenaran atas orgasme yang didapat Andini saat mengangakangi Arga. Pembenaran atas orgasme yang didapat Aryanti diantara tubuh suaminya dan Pak Prabu. Pembenaran atas rengekan dan lenguhan manja Sintya saat dicumbu oleh Arga.
“Maaf Pak, aku bukan wanita seperti mereka, yang bisa acuh saat tubuhnya dinikmati lelaki yang tidak dicintainya,,, maaf,,,” Zuraida menepis tangan Pak Prabu, berusaha mendorong tubuh lelaki itu.

hilda yulis - jilbaber hot (5)
“Ohh,,, maaf,,, aku terbawa suasana, tapi kalau tidak salah aku tadi melihat dua orang pria yang kau kasihi sedang mendapatkan servis gratis dari Bu Aida,,”

Deegg!!!,,,keterangan yang diberikan Pak Prabu tepat sasaran, menghancurkan pertahanan terakhir dari kesetiaan hati seorang wanita.
“Paaak,, apa seseorang harus memiliki alasan untuk berbuat nakal?,,” tanya Zuraida pelan, hampir tak terdengar.
“Tidak, mereka hanya ingin menikmati hidup,,,” bisik Pak Prabu dengan suara yang sangat meyakinkan.
Air mata yang bening kembali mengalir, memproklamirkan rasa sakit yang disandang oleh hatinya yang merapuh.

Mengapa yang lain bisa,,,
Mendua dengan mudahnya,,,
Sementara kita terbelenggu,,,
Dalam ikatan tanpa cinta,,,”

Di antara kewarasan yang tersisa, wanita itu sadar bahwa Pak Prabu memiliki hasrat yang begitu besar atas tubuhnya. Usapan yang lembut menjelma menjadi remasan nakal. Dan, wanita itu juga sadar, jika dirinya terus diam tak berkelit, maka hanya menunggu waktu bagi tangan itu untuk menyentuh setiap bagian dari tubuhnya yang mengundang hasrat para lelaki.
“Paaakhhh,,,Eeeenghhh,,” Zuraida melenguh saat kedua payudaranya direngkuh dengan lembut oleh telapak tangan yang kasar. Bibirnya tersenyum nyinyir, mengakui ketepatan tebakannya, memang seperti inilah lelaki, tak ada yang berbeda.
Kini semua tergantung dirinya, apakah harus menepis tangan yang kini berusaha menyelinap ke dalam kaosnya, ataukah membiarkan sisi lain dari dirinya bertualang. Menikmati apa yang dinikmati oleh wanita lainnya, tanpa beban, tanpa rasa, tanpa cinta, hanya hasrat yang ingin dicecah dalam digdaya birahi.
“Eeeengghhh,,,” tubuh wanita itu terlonjak, setelah Arga, kini giliran Pak Prabu yang menikmati ranum nya payudara seorang Zuraida.
Kepala lelaki yang mendekati umur 50an itu menyelinap diantara ketiak Zuraida, melahap buah dada yang dibiarkan pemiliknya dalam diam. Meski sesekali bibir sensualnya merintih.
“Paaaak,, sakiiit,,,”
“Sakiiit?,,,” Wajah Pak Prabu mendongak, menatap Zuraida yang mengangguk dengan ekspresi yang tak dapat ditebak.
“Kena kumis saya ya?,,” Pak Prabu nyengir, wajah sangarnya jadi terlihat sangat lucu, lagi-lagi Zuraida mengangguk dengan tawa dikulum.
“Kenapa aku bisa seperti ini,, tersenyum dan membiarkan mulut seorang lelaki menikmati tubuhnya yang selalu terlindung oleh pakaian yang tertutup??,, ini salaaah,,, ini tidak benar,,” hati Zuraida mencoba protes.
Tapi tidak dengan tubuhnya, tangannya justru mengusap kepala Pak Prabu, merestui apa yang diinginkan lelaki itu atas tubuhnya. Parahnya lagi, tanpa sadar, pinggul Zuraida justru menyambut cumbuan batang Pak Prabu yang mulai mengeras, menggasak pantatnya dalam hijab celana legins.

“Uuuggghhh,,, Paaaak,,,” wajah Zuraida tampak memelas. Mencoba memberikan perlawanan atas setiap stimulan yang diberikan pejantan dari belakang tubuhnya.
Di balik rintihan, hatinya terus berkecamuk, menentang nurani dengan mencari-cari pembenaran atas perbuatannya ini. Dan sialnya rasa cemburu, cinta yang terluka, hingga sikap sang suami yang selalu memilih hubungan yang liberal, mampu menumbangkan nurani yang kini jatuh terjerembab. Pak Prabu membalik tubuhnya, menatap dengan lembut.
“Bu Dokter, Pantatmu nakal banget,,,” bisik Pak Prabu. Membuat Zuraida membuang muka, tersipu malu.
“Kenapa kamu tadi menolak cumbuan Arga, bukankah kamu mencintainya?,,,”
“Paaak!!!,,,” Zuraida segera menurunkan kaosnya, menyembunyikan payudaranya yang tersembul bebas. Wajahnya cemberut. Berusaha mendorong tubuh Pak Prabu.
“Okee,,Okeee, sorry,,, aku takkan mengungkitnya lagi,,,sorry,,,””Sekarang,,, mari kita nikmati kebebasan hatimu,,, aku bersedia koq jadi alat peraga,,, dan aku takkan bilang-bilang pada yang lain,,”
Tapi Zuraida masih saja cemberut, padahal saat ini dirinya mulai bisa menikmati perselingkuhan hatinya.
“Eeeeenggghhh Paaaak,,,” tiba-tiba tubuh Zuraida terhimpit ke dinding, saat Pak Prabu menggasak selangkangan wanita itu dengan batang yang mengeras.
Lelaki itu terus menggesek-gesek selangkangan Zuraida dengan batangnya, seolah ingin memamerkan keperkasaan senjatanya, yang menjadi misteri bagi wanita yang selalu mengenakan penutup kepala itu. Zuraida dapat merasakan betapa kerasnya batang yang berada dibalik celana pantai itu. Batang yang saat game tadi sempat mencuri perhatiannya. Pancingan Pak Prabu berhasil, kini mata Zuraida tertuju kebawah, dengan malu-malu, sesekali pinggulnya maju, seolah menyambut cumbuan kelamin sang penjatan dengan vagina yang mulai membasahi celana dalam dan leggins nya.
“Paaak,,,” tangan Zuraida memegang pinggul Pak Prabu, mengikuti ulah Pak Prabu yang lebih dulu memegang pinggulnya. “Punya bapak nakal banget,,,Eeenghhh,,,” bisik Zuraida saat menyambut gesekan kerasnya batang Pak Prabu dengan gerbang vagina yang gemuk.
Zuraida yakin, seandainya pakaian bawah mereka tak tertutup pakaian, dapat dipastikan batang itu pasti sudah menyelusup kedalam tubuhnya dengan cepat. Tapi Zuraida lebih menikmati percumbuan seperti ini. Kenakalan yang dianggapnya masih dalam batas wajar, seperti saat game tadi. Mungkin bagi orang yang melihat akan tampak lucu, tubuh kedua insan itu begitu kompak bekerjasama, saling menggesek selangkangan mereka.
“Aku tak yakin kau bisa mengeluarkan burung itu dari sangkarnya, tanpa harus memegangnya,,,” tantang Pak Prabu sambil meremas pantat montok Zuraida.
“Oyaaa,,, apa yang aku dapat jika aku berhasil melakukannya?,,,”
“Hhhmm,, apa saja yang kau mau?,,”
Zuraida tersenyum, “Aku ingin Mas Dako dikasih liburan ke Madrid, tapi hanya kami berdua,”
“Hahahaa,, itu gampang, tapi jika kamu gagal,,, Aku mau,, kita melanjutkan game yang terhenti tadi,,,” jawab Pak Prabu sambil mengusap selangkangan Zuraida, membuat wanita terhenyak, menggeliat geli, lalu mengangguk dengan lemah.Hati Pak Prabu berteriak girang bukan main, tapi berusaha terlihat santai. “Okee,, jadi sekarang,, cobalah untuk membebaskan burungku, tanpa melepasnya,” Pak Prabu melepas kaosnya, memamerkan tubuh yang masih terlihat tegap. Meski perutnya mulai berlemak, namun dada yang bidang dipenuhi rambut-rambut halus membuat pikiran Zuraida semakin kacau.

hilda yulis - jilbaber hot (4)
“Eeeenghhh,,,” Wanita itu melenguh, saat merasakan bibir vaginanya kembali diusap oleh tonjolan di balik celana Pak Prabu.
Zuraida berusaha mengangkat selangkangannya lebih tinggi, mencoba menjangkau tepian celan Pak Prabu dengan selangkangannya. Sambil menekan kebawah Zuraida berusaha menarik kebawah tepian karet celana.
“Paaak ini sulit banget,, karetnya kencang bangeeetsss,,,” rengek wanita berjilbab itu, gesekan yang semakin intens membuat bibir vaginanya semakin basah.
“Coba lah terusss,,,” pinta Pak Prabu sambil meremasi pantat Zuraida.
Pak Prabu yang tidak tahan ingin memamerkan batangnya, berusaha membantu, membungkukkan badannya, agar selangkangan Zuraida bisa lebih bebas bergerak, menarik turun celananya. tapi tetap saja terasa sulit.
“Pak,,,,Eeengghhhhh,,, Paaak,,,” mata Zuraida melotot saat melihat kepala dari batang Pak Prabu mulai mencuat keluar. Semakin cepat pinggulnya bergerak berusaha menurunkan dengan selangkangannya.
Dan kini batang Prabu telah mencuat sepenuhnya, tapi pinggul Zuraida terus bergerak menggesek, membuat selangkangannya semakin basah.
“Sudahh pak,,, burung bapak sudah keluar,,,” rintih Zuraida, matanya menatap Pak Prabu dengan wajah sendu, sementara pahanya menjepit batang Pak Prabu dengan kuat. “Burung Bapaak besar bangeeeet,,,”
“Yaaa,, sudaahh keluar,, teruss?,,,” jawab Pak Prabu terdiam, meminta pendapat Zuraida.
“Terusss,, Apaaa?,,” Zuraida menggumam tak jelas, balik bertanya, tidak tau lagi dengan petualangan seperti apa yang akan terjadi. Nafasnya menderu menikmati gerakan batang Pak Prabu di antara jepitan pahanya.
Tangan pak Prabu yang dari tadi terus meremasi pantat Zuraida beringsut keatas, memegang tepian leggins Zuraida. “Boleeeehh?,,,”
“Eeengghhh,,,” Zuraida bingung, hatinya panik, lalu mengangguk ragu-ragu, tak yakin dengan keputusannya.
Tanpa menunggu persetujuan lebih jauh, perlahan tangan kekar Pak Prabu menarik turun leggins putih yang sedari tadi menghalangi pertemuan kulit kelamin mereka.
“Paaak,,,” Zuraida mencengkram tangan pak Prabu. “Yang itu jangan pak,,, saya mohooon,,,” wanita berusaha mempertahankan kain kecil yang menjadi pertahanan terakhir dari alat senggamanya.

“Zee,,, Plisss,,,”
Zuraida terkaget, saat mendengar sebutan nama yang hanya digunakan oleh Arga, tangannya melemah, menuntun tangan Pak Prabu untuk melucuti pertahanan terakhirnya.
“Oooowwwhhh,, Paaak,,, saya ga bisaaa,,” tangannya dengan cepat menahan batang Pak Prabu yang berada tepat didepan bibir kemaluannya.
“Kenapaa Bu,,, pliss saya mohon,, saya ga kuat lagi buuu,,, izinin punya saya masuk,,,” rengek Pak Prabu.
“Tapi saya benar-benar ga bisa melakukannya tanpa rasa,, rasa cintaa,,,mengertilah Pak,,,”
“Buu,,, Eeemmmpphhh,,, eemmmphh,,,” Pak Prabu melumat lembut bibir Zuraida. Mata mereka berpandangan saling berkirim pesan, ciuman Pak Prabu begitu lembut membuat jantung Zuraida gemetar.
Perlahan mata Zuraida terpejam, seiring batang Pak Prabu yang menyentuh lebut klitoris kemaluannya, menggesek pelan.
“Oooowwgghhh,,,” Wanita itu melenguh saat Pak Prabu mulai memberikan tekanan untuk penetrasi.
“Paaak,,, jangan,,, Hiksss,,,,” Tiba-tiba Zuraida memundurkan pinggulnya, menjauhkan batang Pak Prabu dari bibir vagina yang menagih untuk dijejali. Tangisnya kembali tumpah.
Di saat dirinya berniat untuk menyambut kesenangan yang ditawarkan Pak Prabu, wajah Arga hadir bersama percumbuan panas mereka sebelum akhirnya Arga menghilang meninggalkan dirinya dan Dako.
“Saya mohon Paaak,,, Mengetilah,, ini bukan sekedar mencari kesenangan, tapi tentang janji seorang wanita,” air mata Zuraida mengalir semakin deras.
“Owwwhhh,,, maaf,,, saya memang kelewatan,,, maaf,,,” Pak Prabu mengusap-ngusap pundak Zuraida.

hilda yulis - jilbaber hot (3)
Meski dirinya bisa saja sedikit memaksa untuk menyetubuhi wanita yang tengah labil itu, entah kenapa hatinya tidak tega untuk terus mempermainkan nafsu dan perasaan wanita cantik itu.
“Benahi lah pakaian mu,,,” Pak Prabu membantu menurunkan kaos Zuraida yang berantakan.
“Hiikksss,, makasih pak,,, terimakasih,,,hiksss,hikss,,” entah kenapa Zuraida merasa seperti baru saja terbebas dari ujian yang besar.
“Kau memang berbeda,,, sungguh sangat beruntung lelaki yang mendapatkan cintamu,,” Pak Prabu tersenyum, lalu mengecup lembut kening Zuraida.
Zuraida terkaget saat keningnya dikecup dengan lembut, lalu berusaha tersenyum.
“Pak,,, makasih,,,” tiba-tiba Zuraida memeluk tubuh lelaki itu dengan erat.
“Sudaah,, sudahh,,, jangan lama-lama memeluk saya, nanti burung nya bangun lagi lho,,, haahaaaha,,”
Zuraida melepas pelukannya, berusaha menahan tawanya.
“Anggap aja tadi ujian dari setan, dan kamu sukses berhasil lepas dari ikatannya,,, hahahaa,,”
“Iiihh,, ya ngga gitu lah Pak,, masa setan sih,, hahahha,, justru bapak itu malaikat penolong yang menyadarkan saya,,hahahaa,,” Kali ini Zuraida tak mampu menahan tawanya.
“Tapi,, bila nanti saya sudah menyelesaikan janji cinta saya, mungkin kita bisa mencobanya lagi,,”

DEGG,,,
Zuraida terkejut dengan apa yang diucapkan oleh bibirnya, lidah memang tak bertulang.
“Yang Bener,,, Yeaaahhh,,,”
Wanita itu tersenyum kecut, baru saja dirinya membuat janji baru, janji dengan malaikat penolongnya.
“Tapi boleh saya meminta panjernya dulu,,”
“Maksud bapak?,,,”
Tanpa memberikan jawaban, Pak Prabu kembali melumat bibir Zuraida, hingga membuat wanita itu gelagapan.
“Plisss,, sekarang saya yang minta tolong,,,” ucap Pak Prabu dengan wajah memelas, tangannya menarik karet celana ke depan, memperlihatkan batang yang masih mengeras.
“Teruss,, saya mesti gimana,, tolong jangan minta saya mengoral, saya tidak pernah melakukan, walau dengan suami saya,,” bingung apa yang mesti diperbuatnya.
Pak Prabu juga terlihat bingung.
“Tapi,,, Kalo Bapak mau, bapak boleh melakukannya di luar,,,” Zuraida membalikkan tubuhnya, tangannya bertumpu ke dinding, dengan wajah malu-malu wanita itu menunggingkan pantatnya. “Kalo digesek-gesek seperti tadi bisa keluar ga Pak?,,”
“Ooowwhh,, Bu Dokteeeer,,,” wajah Pak Prabu berbinar, lalu menyergap tubuh Zuraida dari belakang, tangannya segera meremas payudara ranum Zuraida.
“Ooowwhhh,,, Buuu,,,” Pak Prabu segera menggesek-gesekkan batang yang ada di dalam celananya ke bongkahan pantat Zuraida yang masih terbungkus leggins.
Tapi mereka sadar, kain yang menutupi tubuh mereka masih terlalu tebal untuk dapat saling merasakan suguhan yang ditawarkan.
“Woooyy,,, ayooo kumpuuuul,,, bersiap untuk game terakhir,,,”
Sayup-sayup terdengar teriakan lantang Bu Sofie, yang memanggil untuk berkumpul.
“Buu,,”
“Yaa,, yaa,, saya tauu,, waktu kita tak banyak,,, keluarkanlah burung bapak,,” Zuraida memberi perintah, tapi justru tangan lentiknya yang terhulur ke belakang, menarik keluar batang Pak Prabu.
“Ooowwwhhh,,, Buuu,, ini jauh lebih baik,,,” dengus Pak Prabu yang segera menyelipkan batangnya dilipatan paha Zuraida, bergerak maju mundur selayaknya orang bersenggama.
Zuraida yang merasakan vaginanya mendapat gesekan-gesekan dari batang mulai dilanda gairah yang tadi sempat meredup.
“Buuu,,,waktu kita ga banyak bu,,,”
“Lalu gimana lagi Pak,,,” Zuraida menoleh, bingung bagaimana lagi untuk menyelesaikan panjer dadakan itu secepatnya.
“Ya sudahlah,,semoga ini bisa membantu,,tapi jangan dipelototin paak,,, saya maluu,,” dengan jantung bergemuruh, Zuraida menurunkan celana leginsnya, memamerkan pantat mulus berhias celana dalam mungil. meski sadar ini sudah terlalu jauh, tapi kondisi memaksa melakukan itu.

hilda yulis - jilbaber hot (2)
“Makaaassiiihhh,,, Bu,,, Aaaawwhhh,,, Buuu,,,” Tanpa membuang waktu Pak Prabu segera menjejalkan batangnya kelipatan paha tepat didepan bibir vagina gemuk yang tertutup kain tipis.

“Aaaaggghhh,,, Paaak,,, lubangnya jangan disundul paaaak,,,” Kini giliran Zuraida yang mulai kelabakan.
Berkali-kali batang Pak Prabu yang keras menghentak bibir vaginanya,membuat sebagian kain celana dalamnya masuk ke dalam lipatan vagina.
“Aaaaghhh,,, Aaaanghh,,, Aaaangghh,,,” bibir Zuraida terpekik setiap batang Pak Prabu menggasak kain tipis yang menjadi pelindung terakhir lorong vaginanya.
Serangan yang bertubi-tubi membuat kain itu semakin tertarik kebawah, dan semakin banyak pula bagian kain yang memasuki vagina Zuraida. Tangannya yang bertumpu didinding gemetar menahan birahi. Alat senggamanya yang sangat sensitif, dapat merasakan sebagian dari helm kejantanan Pak Prabu, berhasil menyatroni bagian dalam kemaluan yang sudah sangat basah.
“Paaak,, sayaaa ga kuaaat lagi paaak,,,”
Merasakan nikmatnya hentakan-hentakan yang tertahan itu, membuat tubuh sang wanita semakin penasaran, pantatnya semakin menungging, berusaha memberi akses untuk hentakan yang lebih keras. Seolah berharap batang perkasa itu mampu merobek kain tipis yang menghalang, dan menyelusup masuk memenuhi setiap sisi rongga vagina.
“Aaaagghhh,,, Paaak,, ”
Tiba-tiba Zuraida menoleh ke belakang, wajahnya terengah-engah menahan birahi. Dengan tubuh yang berusaha menahan hentakan, wajahnya mengangguk memberi isyarat, untuk persetubuhan yang sesungguhnya.  Tangan lentiknya terjulur ke selangkangan untuk menyibak kain yang menjadi perhalang, kenikmatan yang tertahan. Tapi belum sempat tangannya menyentuh kain itu,,,
”Aaaaaaaaaggghhhhh,,, Buuuuu,,, Sayaaaa keluarrrrr,,, Aaaagghhh,,, Pak Prabu menghentak dengan kuat, kerasnya sodokan Pak Prabu membuat sebagian kepala penisnya merangsek masuk ke dalam vagina.
“Aaaaggghhh,,, Tubuh mu memang nikmat banget,,,”
Zuraida dapat merasakan sperma yang menghambur tertahan oleh kain, merembes membasahi bibir dan sebagian dinding kemaluan.
“Maaf Buuu,,, tadi ibu mau ngelepas CD yaa,,” tanya Pak Prabu masih dengan nafas memburu.
“Owwwhhh tidaaak,, tapi hentakan bapak terlalu keras, takut membuat CD saya robek,” jawab Zuraida cepat sambil tersipu malu. Matanya tak lepas dari perkakas milik sang pejantan yang kembali dimasukkan kedalam celana.
“Hampir sajaa,,” Hati Zuraida menggumam, entah merasa beruntung semua tidak terjadi lebih jauh, entah merutuki kesempatan akan kenikmatan yang terbuang.

MIA 1

Aku menggeliat kedinginan. Suhu AC di kamar ini dingin sekali. Aku menengok ke kiri dan kekanan untuk mencari remote control mesin pendingin itu. Ketika Sedang mencari-cari, pandanganku tertumbuk pada tubuh polos telanjang seorang pria yang masih terbaring tidur. “Lelap sekali dia…”, pikirku. Di sebelahnya ada anak perempuan kecil, dia Fanny, anakku. Aku melihat jam yang ada di meja disamping tempat tidur, “Jam 6…”, gumamku.
Aku malas sekali untuk pulang. Aku masih ingin disini, di rumah Alex. O.. Iya… Alex itu adalah nama pria yang masih tidur di sampingku. Dia bukan suamiku, aku baru mengenalnya kemarin siang. Tapi kami sudah saling melakukan penjelajahan pada tubuh kami berdua selama semalaman ini.
Aaahhh…. Dingin sekali kamarnya Alex. Saking dinginnya, putting susu di payudaraku mendadak mengeras. Sambil senyam-senyum sendiri, niat isengku timbul, aku membalikkan tubuh Alex yang sangat atletis itu. Seketika itu juga, aku disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Sebuah benda yang sangat panjang dan besar, yang selama beberapa jam tadi telah membuatku lupa akan keberadaan suamiku, telah kembali bangkit berdiri tanpa disadari pemiliknya. Dan seolah-olah menyuruhku untuk menjilati dan mengulumnya. Tapi aku belum sepenuhnya tergoda.
Sambil menggenggam batang keras itu, akupun mengelus-elus liang vagina ku sendiri, dan entah kenapa, pikiranku menerawang ke saat aku dan pemilik penis besar ini bertemu….

***

Pukul 11 siang. Aku dan Fanny sedang berbelanja bulanan di sebuah supermarket. Sambil mendorong trolly, aku berjalan dari lorong ke lorong, berusaha mencari barang-barang yang ada di daftar belanjaan ku. Sampai suatu ketika, aku membelokkan trollyku ke lorong minuman. Tapi karena aku tidak melihat sisi sebelah kiri lorong –karena terhalang oleh sebuah rak display- trollyku menabrak trolly lain yang ada di sisi luar display tadi. Kontan saja aku meminta maaf. Pria yang trollynya aku tabrak tadi tersenyum, “Nggak apa-apa kok…”, katanya.
“Bener gak apa-apa?”, Tanya ku memastikan.
“Iya, “ jawabnya. “Makanya non, jangan sambil melamun. Mikirin apa sih?” tanyanya lagi sambil tersenyum.
“Aku nggak mikirin apa-apa kok….” Jawabku agak sedikit genit (Aku sendiri heran, kenapa bisa bergenit-genit gitu)
Lalu, tanpa terduga, pria tadi mengajukan tangannya dan mengajak berkenalan.
“Mmh… boleh tahu namanya gak non?”
Terus terang, aku kaget. Tapi entah kenapa, aku juga mengajukan tangan dan berkenalan dengan pria tinggi, putih dan ganteng yang berdiri di depanku ini.
“Kenapa nggak kamu duluan?” tantangku.
Sambil tersenyum maaanniiisss sekali, dia menyebutkan namanya….
“Alex… kamu?”
“Mmmhh…. Mia! Dan ini anakku… Fanny…”
“Oo.. anakmu tho non….” Sahutnya.
“Iya…” jawabku, “emang kenapa?”
“Nggak papa… Eh iya… boleh tahu no hp mu nggak?” tanyanya lagi.
Dan sekali lagi, entah kenapa… aku dengan entengnya memberikan no hp ku. Padahal biasanya, aku gak pernah kaya gini. Setelah mencatat no ku ke dalam hp nya, Alex me-misscall-ku. “Itu no ku…” katanya. Tak lama setelah itu, kami pun berpisah dengan berjanji akan saling telfon, paling tidak, sms-an.

Pukul 11.30 siang.
Aku baru saja sampai dirumah. Aku menyuruh pembantuku membereskan belanjaan, sementara aku masuk kekamar untuk berganti pakaian. Pas… ketika kain peradaban terakhir yang melingkar menutupi daerah sensitifku meluncur turun melalui kedua paha dan betis indahku, Hp ku berbunyi… aku lihat nama si penelfon. Ternyata Alex!!!
“Hallo…” kataku.
“Hallo non… lagi ngapain?” jawab Alex.
“Mmh… lagi ganti baju. Ngapain telfon?”
“Lho… kok sinis sih? Aku Cuma mau ngobrol kok…”
“Iya… iya…. Nggak sinis kok..!!” kataku mengoreksi, “maksudku, kok telfonnya cepet banget… kirain besok-besok…”
“Mmh… tapi nggak papa kan?” Tanyanya…
Kami ngobrol-ngobrol hampir 1 ½ jam sebelum aku (dengan herannya pada diriku ini) Memberikan no telfon rumahku. Ternyata, Alex lagi sendirian dirumah. Istrinya lagi ke Semarang dengan anaknya. Tanpa diduga, Alex mengajakku untuk ketemuan. Setelah aku pikir-pikir, toh cuma ketemuan ini…. Ya sudah, akhirnya aku mengiyakan ajakannya. Janjiannya di PIM, didepan bioskop 21, jam 7 nanti malam.

Pas jam ½ 6, aku mengajak Fanny untuk mandi bareng (Alex membolehkanku untuk mengajak Fanny). Didalam kamar mandi, Fanny bertanya kepadaku…
“Mami kenapa? Kok senyum-senyum?” tanyanya lugu.
“Gak papa”, kataku, “mami mau ketemu sama Om Alex… tapi Fanny jangan bilang-bilang sama papi ya…. Nanti kalo Fanny nurut, mami beliin baju baru….”
“Asiiikkk…” sahut Fanny, “tapi…” katanya lagi, “kok ketemu Om Alex, mami seneng bener?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan Fanny, “Iya lah… Om Alex lebih ganteng dari papi, terus badannya bagus banget. Mami rasa, kontolnya Om Alex besar banget deh Fan….”
“Kontol apaan sih Mam?” Tanya Fanny lugu.
“Kontol itu buat dimasukkin kesininya mami!” jelasku sambil memperlihatkan belahan indah dibagian selangkanganku ini.
“Fanny juga punya….” Sahut Fanny seraya memperlihatkan memek kanak-kanaknya.
“Iya… tapi belum boleh dimasukkin kontol… nanti kalo Fanny sudah SMP atau SMU, Fanny mami bolehin deh masukkin kontol ke itunya Fanny”
“Emangnya kontol itu kaya gimana sih mam?”
Sedikit bingung njelasinnya, aku ngomong gini ke Fanny, “Kalo nanti Mami diajak ngewe sama Om Alex, mami kasih tahu ya…. Tapi inget… jangan bilang-bilang ke papi ya…!”
“Emangnya kenapa?”
“Nanti papi-mu ngiri…. Jangan bilang ke papi ya?”
Fanny mengiyakan saja…

Ketika aku ganti pakaian, suamiku bertanya, “kamu mau kemana?” Aku menjawab, kalau aku mau ke rumah Rieke, temanku, tapi suamiku gak tahu kalo aku sudah menelfon Rieke dan bilang kalo aku ada janji sama cowok… Rieke cuma ketawa kecil tapi ngerti. Lah… si Rieke ini jagonya selingkuh… hihihihihihi…..
Suamiku gak curiga dengan pakaianku. Aku memakai jilbab, baju kurung dan celana panjang ( aku pake g-string putih tipis dan tembus pandang), Sekitar jam ½ 7, aku dan Fanny, dengan menggunakan Taxi, cabut ke PIM.

Pertemuanku dengan Alex sangat menyenangkan. Dia selalu bisa membuatku tertawa dengan banyolan dan joke-jokenya. Bahkan dia membelikan Fanny, baju dan boneka. Kami juga sempat makan, belanja dan saling memuji. Katanya, rambut panjangku yang hitam sangat menarik, ditambah dengan tubuh yang proporsional, membuat dia ingin memeluk, mencium dan mencumbuku. Mau gak mau, aku cerita ke dia, kalo’ tadi pas lagi mandi, aku sempat membayangkan ‘barangnya’. Sambil tertawa, dia ngomong, “Ya ampun non, kamu sempat mikir gitu?”
“Iya!” jawabku singkat sambil tersipu malu.
Lalu ia membungkukkan badannya dan berbisik padaku, “Non, kamu mau nginap dirumahku gak? Nanti aku akan memuaskan rasa penasaranmu. Bahkan kamu boleh ngotak-ngatik barang yang tadi kamu bayangin.” Lalu ia mengecup pipiku dan tersenyum.
Tanpa banyak basa-basi, aku langsung meng-iyakan ajakannya. Di mobil, dalam perjalanan ke rumah Alex, aku menelfon suamiku. Aku bilang kepadanya, kalo’ aku dan Fanny menginap dirumah Rieke. Setelah menutup Hp-ku, aku bilang ke Alex… “Tonight, I’m yours!”
Dan Alex berkata (seolah untuk suamiku) “Sorry man! Tonight, your lovely, sexy, adorable and juicy wife is mine!”, lalu ia tertawa.
Aku ikut tertawa, sambil mengecup bibirnya, aku berkata, “Kamu lupa satu lagi!”
“Apa itu?” tanyanya…
“My pussy… my hairless, tight and warm pussy is yours too, tonight!”
“Yeah… baby! And my red neck dick is yours!” katanya…
Aku menjawab dengan gairah dan nafsu yang menggebu, “You’re right, baby! Can I try it now?”
Tanpa banyak basa-basi, Alex segera melepas celananya sebagian dan mengeluarkan benda yang dari tadi mengganggu pikiranku. Belum bangun sih… tapi itu saja sudah membuatku sesak nafas, karena besar sekali.
Sisa perjalanan ke rumah Alex diisi oleh suara-suara kecipak dan hisapan, tanpa ada suara lain. Aku sibuk dengan ‘barang baru’, Alex nyetir sambil keenakkan (terkadang, dia mengelus rambutku dan meremas toketku). Sementara Fanny, anakku, duduk di jok belakang dan diam saja menyaksikan aksi maminya ini.

Sesampainya dirumah, Alex langsung mengunci pintu dan jendela. Lalu ia menelfon istrinya dan berpura-pura ber ‘miss u-miss u’an, sementara tangan kirinya menggenggam batangannya sendiri, berusaha untuk menjaga agar tetap tegang.
Setelah selesai nelfon, Alex langsung membuka jilbab dan pakaianku meninggalkan Bh dan g-string. Sisa pakaianku tergeletak pasrah di pintu depan. Alex memelukku dari belakang. Tangan kanannya merogoh cd-ku dan memainkan jarinya di kelentitku, sementara tangan kirinya saling bergantian meremas kedua payudaraku. Aku yang melingkarkan tanganku di belakang lehernya, memasrahkan bibir dan lidahku untuk dilumat bibir dan lidah Alex.
Lalu kami melanjutkan aksi kami dengan ber-69 ria. Ketika sedang bertukar posisi (sekarang aku tengkurap diatas tubuh Alex yang berbaring terlentang), Fanny mendatangi kami.
“Mami lagi ngapain?” tanyanya.
Sambil terengah-engah (Lidah Alex tidak mau keluar dari liang vaginaku), aku berusaha menjawab, “ssh… lagi ngisep… kontolnya… mmmhh… Om Alex! Uuuh… enak baangget Lex…”
Setelah itu, Alex menghentikan serangannya dan menyuruhku berlutut sambil menghisap zakarnya, sementara ia duduk di sofa dan menyuruh Fanny duduk di sampingnya.
“Fanny lihat mami kan?” Tanya Alex.
“Iya, Om… mami lagi ngapain?”
“Mami lagi ngisep kontolya Om Alex, sayang.” Jelas Alex.
Aku menghentikan seranganku dan menjelaskan ke Fanny, kalau benda panjang, besar dan keras yang sedang aku hisap ini adalah kontol. Fanny mengangguk mengerti, mungkin ia ingat omonganku di kamar mandi tadi sore.
“Fan…” kata Alex, “nanti mami sama Om Alex mau ML. Fanny diam aja ya…”
Fanny mengiyakan saja, walaupun ia tidak tahu apa itu ML.
Lalu aku bangkit berdiri dan duduk di samping Alex sambil memangku Fanny. “Fan, inget pesen mami ya… jangan bilang ke papi. Nanti, kalo Fanny bialang, kasihan mami… gak bisa ML lagi sama Om Alex… ya?”
“Iya mam…” jawab Fanny polos.
“Dan kamu…” kataku ke Alex, “mulai hari ini, memekku punya kamu. Dan gak usah ikut mikir suamiku. Kalo sama dia kan kewajiban… kalo sama kamu namanya hak… hak untuk menikmati kontolmu yang besar ini!”
Alex tertawa, “Kalo’ memekmu punyaku, berarti kontolku boleh kamu acak-acak!”
Setelah menurunkan Fanny, kami berpelukan dan saling mengulum bibir kami.

Kemudian, Alex menyuruhku terlentang dan dia membuka kakiku lebar-lebar. Setelah itu, vaginaku mulai dijajah oleh jari dan lidahya. Aah… nikmat sekali. Tak lama kemudian, aku meraskan ada cairan yang membasahi vaginaku, rupanya cairan pelumasku keluar. Mengetahui hal ini, Alex segera berlutut dan berusaha memasukkan penisnya yang besar itu kedalam vaginaku.
“Ssshh… Alex… eeennaaakkkk…. Baangeeettt…. Mmhhh!!!!”
Aku tahu kalo’ vaginaku ini memang sempit, tapi aku heran, ternyata barang kesayanganku ini sanggup menelan zakar Alex yang panjang dan besar itu. Pergulatan kami dilanjutkan dengan doggy style. Baru saja aku nungging, memek kesayanganku ini langsung disumbat oleh batang besarnya Alex. Alex merangsak maju mundur, walau sesekali dia menancapkan dalam-dalam batangannya lalu diam, seolah menyuruh dinding bagian dalam vaginaku untuk merasakan denyutan-denyutan dari urat dan kelenjar di batang besar itu.
Hujaman-hujaman Alex kian liar tatkala dia tahu aku bocor untuk yang pertama. Aaahhh… nikmat sekali rasanya (suamiku pun belum pernah memberikan yang seperti ini). Gerakan maju mundur Alex kian lancer saja, karena memekku sudah basah banget. Lalu Alex melepas kontolnya dan menyuruhku berbaring miring.
Dengan gerakan cepat, Alex mengangkat kaki kananku dan menancapkan kontolnya dengan mantap di liang surgaku dari belakang. Rupanya ini jurus andalannya. Dan ternyata, gayanya ini membawaku ke orgasme kedua, aahhh…. Lebih nikmat dari yang pertama!! Di tengah hujaman-hujaman itu, Alex berkata;
“Non… mmmhh… aku mau keluar yaaa….?!”
Baru saja aku mau bilang ‘didalam aja ngeluarinnya!’, Alex sudah mengerang hebat. Pada saat yang sama, bagian dalam vaginaku disiram dengan kencang sekali oleh cairan yang hangat, lengket, kental… dan sepertinya banyak sekali.
Pokoknya enak banget! Kemudian Alex melepas kontolnya dan menyuruhku terlentang. Lalu dia menempelkan kepala kontolnya di mulutku lalu mengocoknya. Ternyata masih ada cairan yang keluar dari bapak beranak satu ini. Peju lengket dan hangat itu muncrat di mulut dan lidahku. Sebagian memang ada yang ku kumur-kumurkan dulu sebelum kutelan, tapi sebagian lagi (dan itu yang paling banyak) langsung aku nikmati dari batang tempat keluarnya tadi. Setelah selesai, Alex langsung bersandar di sofa, sementara aku masih terbaring terlentang, merasakan kenikmatan luar biasa. Sementara Fanny berlutut dan membungkukkan badannya didepan vaginaku. Kakiku memang aku buka selebar-lebarnya, walau aku menaikkan kedua lututku. Kata Fanny, “Mami, kok pipisnya putih?” Sambil berusaha mencerna pertanyaan Fanny, aku merasakan ada sisa cairan sperma Alex yang mengalir keluar dari vaginaku.

10 menit kemudian, aku dan Alex ke kamar mandi untuk membersihkan ‘kotoran’ yang ada di tubuh kami. Setelah itu, kami bertiga ke kamr tidur Alex. Aku dan Alex saling mencumbu lagi, sementara Fanny masih menyaksikan kami. Tiba-tiba Hp ku berbunyi, kulihat siapa yang menelfon… ternyata suamiku!
“Sayang…” kataku ke Alex, “ini suamiku. Kamu diam dulu ya… main sama Fanny dulu kek!” Lalu aku berkata ke Fanny, “Fan, kamu jangan berisik dulu yaa… main sama Om Alex dulu giih?!”
Fanny dan Alex menjawab berbarengan, “Iya mami…”
Lalu aku mengangkat telfon. Suamiku bertanya dimana aku sekarang. Aku bilang saja, ada di rumah Rieke. Sekarang, Rieke lagi keluar sama anaknya dan Fanny… lagi cari makan. Sementara aku menelfon, aku melihat Fanny sedang memegang-megang penis Alex. Aku terus berbicara di telfon sambil berusaha menahan senyum melihat Fanny dan Alex. Tak lama kemudian, aku menyudahi pembicaraan telfon dengan suamiku.
Setelah aku kembali ke tempat tidur, Alex ngomong ke aku, “Non, sekarang Fanny sudah tahu darimana dia berasal…”
“Kamu ngomong apa ke Fanny?” tanyaku. Lalu Alex menjelaskan pembicaraannya dengan Fanny. Aku hanya senyam-senyum aja dengerinnya. Sambil terus mendengarkan, aku dengan posisi berbaring miring menghadap Alex, kembali menggenggam batangan Alex dan mengocoknya. Sementara Alex yang berbaring terlentang, terus bercerita sambil terkadang meremas payudaraku yang besar dan memilin-milin putting susuku. Akibatnya, kami saling mencumbu lagi dan langsung memulai babak ke 2 pertandingan seru antara memekku dan kontol Alex.
Pergulatan itu berlangsung dalam berbagai gaya dan cara. Aku sampai 2 kali lagi mengalami orgasme. Untuk babak ini, Alex sengaja menyemprotkan spermanya di tubuh Fanny. Anakku kaget sekali disiram cairan kenikmatan Alex yang hangat, lengket dan banyak itu, tapi aku langsung menenangkannya. Seteha tenang, aku langsung membersihkan sperma itu dengan cara menjilati dan menelannya semua… sampai bersih. Aku dan Alex benar-benar gila sekali malam itu.

“We’re not makin’ love… we’re fuck!” kata Alex. Aku mengiyakan saja, sambil terus menjilati dan menciumi kepala zakar Alex. Sampai ½ 5 pagi, Alex sudah 4 kali mengeluarkan peju, sementara orgasmeku sudah tak terhitung lagi. Sekitar jam 5, kami tidur.

***

Tiba-tiba, aku tersadar dari lamunanku. Setelah mencium kontol Alex. Aku kamar mandi untuk sikat gigi dan mandi, lalu ke dapur untuk membuat sarapan (aku masih bugil). Ketika sedang membuat kopi, tubuhku dipeluk dari belakang, aku kaget sekali. Setelah melihat siapa dia, ternyata Alex.
“Pagi sayang!” kataku.
“Pagi juga Mia cantik…” jawab Alex sambil mengecup bibirku. “Kok kamu sudah bangun? Kenapa?”
“Aku kedinginan. Ya sudah, aku mandi aja pakai air hangat!” jawabku sambil memeluk tubuhnya yang tegap. “Kamu belum mandi! Kamu gak ke kantor?”
Alex menjawab sambil melepas pelukanku dan menyandarkan tubuhnya ke lemari kecil di sampingnya. “Kalo aku ke kantor, kamu kemana?”
“Ya… disini aja… nungguin kamu pulang!” jawabku.
“Tapi aku males masuk. Aku pingin ML lagi sama kamu… seharian ini!”
Aku kembali memeluk tubuh Alex yang telanjang itu, dan membiarkan penisnya menempel di perutku. “Aku juga mau! Tapi gimana kalo dirumahku aja?”
“Boleh…! Aku setuju!” sahut Alex sambil tersenyum. Senang sekali dia.

Singkat cerita, aku dan Fanny pulang jam 9 pagi, Alex ikut kerumahku. Dalam perjalanan pulang itu, aku mengenakan baju yang aku pakai waktu pergi (jilbab, baju kurung dan celana panjang). Sementara didalamnya, aku tidak memakai apa-apa… no bra… no kancut! Di lain pihak, Alex hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Sesampainya di rumah, suamiku sudah berangkat, hanya pembantuku saja. Kepadanya, aku bilang kalau Alex ini adalah rekan baruku dalam bisnis yang baru kurintis (bohong siiihh…  ) Jadi, aku aku dan Alex akan berdiskusi dikamarku. Dan aku berpesan, supaya jangan ada yang masuk ke kamarku. Kalau ada yang telfon, bilang aja gak ada ; Tapi kalau suamiku yang telfon, bilang aja aku sudah pulang dari pagi, tapi pergi lagi sama Rieke.

Didalam kamar, Alex langsung melepas jilbab dan bajuku dan aku melepaskan bauju Alex. kembali bugil! Setelah mengunci pintu, penis Alex langsung aku sepong lagi. Kali ini, Alex sudah dapat mengontrol dirinya. Hisapan-hisapanku ditanggapinya dengan tenang dan tidak grasak-grusuk. Sekitar 5 menit kemudian, aku minta Alex gantian menjilati memekku. Alex langsung memainkan peranannya, jilatan lidahnya pada kelentitku sangat hebat sekali dampaknya… cairan pelumasku keluar, basah sekali memek tersayangku ini. Mengetahui hal ini, Alex segera membalikkan tubuhku, sehingga aku dalam posisi menungging. Segera saja Alex memasukkan akar tunjangnya ke tempat yang seharusnya. Sambil bekerja keluar-masuk, penis Alex terkadang diputar-putarkan didalam memekku.
Batang besar itu lancar sekali bekerja, karena vaginaku sudah basah sekali. Setelah itu, Alex melepas zakarnya dan berbaring terlentang.
Melihat hal ini, aku faham. Aku duduki pahanya, dan kujepit kontolnya dengan memekku. Aksiku yang satu ini ditanggapi Alex dengan meremas-remas toket besarku. Ketika sedang nikmat-nikmatnya menggenjot batangan Alex, aku merasakan akan orgasme… “Lex, aku mau dapet… enaaakkk banngeeetttt!!” erangku sambil bergetar hebat. Ternyata, Alex juga mau keluar. Tanpa dikomando lagi, aku dan Alex orgasme berbarengan. Cairan orgasmeku membasahi kontol Alex yang pada saat bersamaan, menyemprotkan spermanya, yang kutahu banyak sekali. Dan sepertinya, vaginaku gak sanggup menampung semua sperma Alex, sehingga sebagian ada yang mengalir keluar. Setelah itu, (tanpa mengeluarkan kontol Alex) kami saling berpelukan dan berciuman, menikmati orgasme kami masing-masing.

Ketika sedang berciuman. Hp ku berbunyi, kulihat nama penelfonnya. Ternyata Rieke! Aku angkat telfon…
“Eh Ke… ngapain telfon?” tanyaku.
Di seberang sana, Rieke menjawab. Suaranya terdengar agak panik, “Ngapain… ngapain… Gila lo! Laki lo nyariin, nelfonin gue terus. Dimana lo?”
“Di rumah. Lo dimana?” tanyaku tenang.
“Di rumah? Sinting lo ya…” Rieke menghela nafas lega, “tadi malam nginep dimana neng? Gw sampe bohong sama laki lo.”
“Ada aja…” jawabku genit. Sementara Alex sedang memelukku dari belakang (kami masih di tempat tidur) sambil meremas-remas toket dan menciumi leherku. “Eh… elo dimana?” tanyaku lagi.
“Gw lagi di taksi. Mau jalan-jalan sama Meta”
“Ke sini aja neng!” kataku lagi sambil melirik Alex yang tampak kaget. Lalu aku menyuruh Alex tenang.
“Ke rumah lo? Ngapain? Sepi, gak ada apa-apa!” kata Rieke, “gue mau nyari ‘lontong’ di mall!”
“Hahahahaha….. dasar lo! Gak jauh-jauh dari kontol. Gak pernah puas apa? Tiap hari ngewe…”
“Lo tau gue kan neng… Gue belum nemu ‘lontong’ yang pas buat serabi botak gue.” Tiba-tiba Rieke tertawa, seolah menyadari sesuatu, “Eh… dari tadi gue ngomong ‘lontong’ terus ya… hihihi… supr taxi ngeliatin gue sambil senyam-senyum. Dia ngerti, barangnya gue sebut dari tadi!”
Aku tersenyum, “Ya udah… makanya kesini aja… disini ada kontol satu, tapi gede banget! Mau nyoba gak?”
“Ha? Waaahhh…. Gue ngerti kemana lo semalem. Di perkosa sama tu laki-laki dirumahnya ya? Gila lo…. Ya udah gue ke rumah lo!”
Hubungan terputus………

“Ku berangkat dulu ya sayang…” kata suamiku sambil mengecup keningku. Aku masih terbaring di tempat tidur, baru bangun. “Iya… hati-hati ya!” jawabku, “pulang jam berapa nanti?”
“Gak tahu. Tapi kayaknya gak pulang deh.”
Aku sedikit tersentak mendengar jawaban suamiku, setengah senang-setengah bingung. “Kok tumben? Kenapa?” tanyaku.
“Mia…” jawab suamiku, “hari ini, aku harus ngawasin proyek yang di Sukabumi. Soalnya sudah mau deadline, dan harus segera dibuat laporannya. Jangan marah ya…”
Aku menjawab sambil pura-pura kesal, padahal aku seneng banget. “Ya sudah lah, terserah! Tapi jangan lupa makan… biar gak sakit!”
“Iya… iya… ya sudah, aku berangkat dulu. Luv U!”
“Luv U too!”
Lalu suamiku berangkat.

Setelah suamiku pergi, aku ngulet sebentar. Aku melihat jam… Mmh… jam 6. Aku bangun dari tempat tidur. Aku masih telanjang bulat, sisa pertarungan gak seru semalam. Aku melihat di cermin lemariku, melihat vaginaku yang agak tebal dan sedikit merekah… ulah Alex! Selama sebulan ini, aku digenjot terus-terusan. Ya main berdua lah. Bonyok memek gue bisa-bisa, pikirku. Walaupun begini, suamiku sepertinya gak sadar, tapi kayaknya, dia memang gak ngerti. Tapi gak apa-apa… mereka semua punya zakar yang besar, jadinya aku juga ikut puas… lagipula, akunya juga suka kok!
Sepanjang pagi itu, aku hanya memakai daster dirumah. Aku tidak memakai jilbab. Pembantuku sedang pulang kampung dan Fanny lagi di rumah ibuku. Bener-bener sendiri. Setelah mandi, aku sarapan terus nonton TV sampai jam ½ 9. Sekitar jam 9 kurang seperempat, Alex telfon. Dia bilang, dia harus ke Surabaya selama 2 minggu, tugas kantor katanya. HUH… BT! Gak ada orang di rumah, gak ada Alex… emangnya memekku mau nganggur selama 2 minggu? Ya sudah… aku terusin aja nonton Tv.

Sekitar jam 10an, ada yang memencet bel rumah. Siapa sih pagi-pagi begini? Pikirku malas-malasan, dan aku memang malas kalau harus berapih-rapih. Ya sudah… aku tutupi saja tubuhku dengan jilbab dan daster tanpa mekai bra dan celana dalam. Daster bercorak bunga-bunga dengan warna dasar biru! Dasterku itu agak panjang, juga gak lebar. Jadi, setelah aku pakai, tubuhku tertutup  sampai dibawah lutut. Tetap saja  payudaraku yang besar ini, kelihatan banget walaupun sudah tertutup jilbab. Sementara di dalam tidak memakai apa-apa,. Lagipula, mungkin itu tamu yang gak penting. Lalu aku berjalan ke depan untuk membukakan pintu.
Ternyata, tamunya adalah teman kantor suamiku, namanya Andre. Kami sudah saling kenal.
“Eh ‘Ndre… ada apa? Kok gak ke kantor?” tanyaku setelah mempersilahkan dia duduk. Andre tampak kaget sekali melihat dandananku. Tapi bodo amat, paling Cuma sebentar.
“Eh… mmhh… anu…” katanya sedikit gugup. “Aku mau ngambil gambar blue print proyek nya Tino (suamiku-pen). Tadi katanya ketinggalan”
“Tinonya mana?” tanyaku lagi.
“Dia buru-buru ke Sukabumi, ke proyek. Maka itu dia nyuruh aku…” jawab Andre sudah lebih tenang.
“Ooo… ya sudah. Kamu cari sendiri aja di kamar! Aku nggak tahu… ngomong-ngomong, mau minum apa say?”
“Mmh… es teh manis aja deh…” katanya sambil tersenyum. (Anjrit… manis juga senyumnya, pikirku). Lalu dia pergi ke kamarku. Tapi kayaknya dia sempet melihat celana dalamku deh… soalnya, yang bangun duluan kan aku, pas bangun, aku agak sedikit mengangkang. Aah… bodo amat!

Pas lagi bikin teh didapur, aku mikir… Andre… Mmh… dia sudah married, dia temen suamiku, tapi dia ganteng banget. Tinggi, putih… jujur saja, waktu aku lihat dia berenang di laut waktu ada acara outing kantor suamiku dulu, dia tuh keren banget. Pas ngeliat dia pakai celana renangnya… Uuh… aku dan 4 ibu muda lainnya yang lagi ngumpul di teras bungalow, langsung pada ber-fantasi ria. Menurut kami, dan itu disetujui oleh semua, enak kali ya, kalau di ‘hajar’ pake barang segede gitu?! Hihihi…. Nakal ya kami…. Tanpa di duga, tiba-tiba selangkanganku basah. Anjing! Gue horny, pikirku.
”Hei… kok bengong?” kata Andre mengagetkan aku dari belakang.
“Eh… eee… mmhhh…. Gak apa-apa kok” sahutku sedikit panik dan gugup. “Sudah ketemu anunya?”
Andre tersenyum, “Anunya apa?”
“Ee… blue printnya maksudku…”
“Oo… sudah… nih!” Kata Andre lagi sambil menunjukkan 3 gulung kertas blue print yang tadi dicarinya. “Mi, mana teh ku?”
“Ini…” kataku sembari memberikan gelas tehnya. “Liat-liat apa di kamarku? Soalnya aku belum beres-beresin kamar!”
“Nggak liat apa-apa… Cuma jilbab, lingerie yang sexy banget, bra, kondom, g-string hitam yang tipis, 3 vcd blue, sama fotomu” jawab Andre sambil tersenyum.
“Aah… kamu tuh, iseng banget sih?” kataku sambil memukul pelan pundaknya (dan berharap dia agak-agak terangsang melihat aku. Horny berat niiihhh!!!)
“Lagian berantakan gitu!” katanya lagi, “Mi, kamu tuh sexy banget ya…”
“Mmh… genit deh. Kenapa? Karena dandananku sekarang?”
“Enggak… mmhh…. Iya juga sih!”
“Lagian,… males ganti baju. Kirain gak ada siapa-siapa yang dateng.”
“Ya… tapi kan….”
“Aah… udah ah…” potongku genit, “gak usah di omongin!”
“Ya sudah… tapi aku penasaran deh… itu kamu gak pake…”
Aku memotong lagi, “Enggak… gak pakai apa-apa!”
“Bohong…..”
“Nih lihat!” kataku sambil mengangkat jilbab yang menutupi dasterku. Sekarang terlihat pentil buah dadaku. Aku tersenyum.
“Bangsat…” kata Andre, “Sumpah! Bagus banget bodymu Mi!” Tiba-tiba, Andre membungkuk dan melepaskan jilbab dan dasterku.
“Ngeliat apa kamu say?”
“Ini lho…” kata Andre, “memekmu basah gini… kamu lagi horny ya Mi?” tanya Andre sambil tersenyum.
“Kalo iya, kenapa?” tantangku.
Tanpa banyak cingcong, Andre segera memeluk dan menciumku. Dia melumat bibirku dengan liar, ya sudah, aku membalas lebih liar lagi. Lalu Andre melingkarkan tangannya ke belakang tubuhku dan meremas kedua belahan pantatku. Demikian juga aku, ku tarik kepalanya dan ku hisap dalam-dalam lidahnya. Andre memanas… Dia membuka baju dan celananya, tapi ketika hendak membuka CD-nya, dia kutahan.
“Ini bagianku!” kataku. Akupun langsung melepas celana dalam Andre, pelan… pelan… pelan… sampai aku berlutut di depannya, sementara mulutku face to face dengan batang kontolnya yang baru setengah bangun. Setelah melihat Andre dan saling tersenyum, zakarnya langsung aku masukkan ke mulutku dan ku kulum, perlahan tapi pasti. Butuh sekitar 3 menitan untuk membuatnya benar-benar menjadi KONTOL. Setelah mengeras, aku lepas kulumanku, dan ku genggam erat-erat dan mengocoknya perlahan-lahan, sambil sesekali menjilati bagian kepalanya.

Tak lama setelah itu, Andre menyuruhku berdiri dan membopongku ke kamar tidur. Sesampainya di kamar, Andre membaringkan aku terlentang. Dan dia pun ‘balas budi’. Vaginaku di ciumi, di jilati, dan kelentitku di gosok-gosok menggunakan jarinya. Cairan pelumasku keluar lagi. Vaginaku sudah basah kuyup. Tanpa banyak basa-basi, Andre membuka pahaku lebar-lebar dan memasukkan benda keras dan panjang itu ke dalam lubang kesayanganku. Sumpah! Rasanya enak banget. Setelah itu, batangannya mulai merangsak maju mundur (kadang berputar) di dalam memekku.

Sekitar 10 menit kemudian, Andre menyruhku menungging. Dia ingin doggy style rupanya. Lalu dia berlutut dan menghajar memekku dari belakang. Tusukan-tusukannya sangat cepat tapi berirama, dan membawa dampak kurang baik bagiku, karena orgasmeku cepat sekali mau datang. Sesekali Andre menghentikan serangannya, membiarkan dinding vaginaku merasakan denyutan urat kontolnya. Dan itu enak banget! Pada kali keempat dia berhenti, aku orgasme! Merasa batangannya disiram mendadak, teman suamiku ini malah menggenjot aku semakin cepat. Andre memegang kedua sisi pinggangku dengan erat, dan dia menghajar, menusuk dan mengeweku semakin keras dan liar. Goyangan buah dadaku yang seperti lampu gantung kena gempa, menandakan buasnya serangan bapak beranak 2 ini. Keringat kami deras sekali mengucur, sementara desahan, erangan dan teriakan kenikmatan ku sangat keras sekali terdengar.

Tiba-tiba, aku merasakan akan orgasme lagi… “Gila!”, pikirku… “cepet banget!” Tak lama setelah aku orgasme kedua (dan itu enak banget!), Andre mengerang. Aku tahu…. Dia mau orgasme. Benar saja, tak lama kemudian, Andre menghentikan serangannya, dan menarik pinggulku dengan cepat, supaya kontolnya masuk semua. Dia muncrat di dalam memekku. Nikmat sekali rasanya, bagian dalam itil kesayanganku disiram cairan hangat, kental dan lengket. Dan kayaknya banyak banget! Lalu dia mengeluarkan penis besarnya dan membaringkan aku terlentang, setelah itu, dia menumpahkan sisa spermanya ke mulutku, yang segera aku minum dan telan.

“Gurih juga pejumu, Ndre!” kataku. Andre hanya tersenyum mendengar komentarku tentang cairan kenikmatannya itu. Lalu kami berdua berbaring kelelahan. Setelah bercumbu sebentar, kami ke kamar mandi untuk membersihkan jejak-jejak pertempuran kami yang hebat sekali. Kemudian, Andre berpakaian dan akan langsung ke Sukabumi. Sejujurnya, aku gak mau… tapi, mau gimana lagi?

Aku mengantarkan Andre sampai pintu depan, hanya memai daster. Di depan pintu (yang belum dibuka) aku secara terang-terangan ngomong ke Andre…
“Sayang… Usahain nanti bikin Tino agak lama di sana ya… 2 – 2 harian gitu deh. Syukur-syukur sebulan….?!”
“Kenapa?” tanya Andre bingung.
“Mmh… aku mau lagi di perkosa sama kamu…”
Andre tersenyum mendengar ucapanku, “Ya sudah… pasti aku usahain!”
“Tapi kamu nanti balik lagi kesini, ya…. Bilang aja sama istrimu, kamu nginep di Sukabumi…!”
“Ya sudah. Aku usahain jam-jam 7 aku sudah sampai disini lagi!” sahut Andre.
“Bener ya…?” rengekku agak manja, “Janji lho! Aku beneran nih hornynya….!”
“Iya… iya….!”
Lalu kami berpelukan dan berciuman dengan bernafsu sekali. Akibatnya… kami ML lagi di depan pintu sambil berdiri (Andre hanya melepas celananya saja). Setelah selesai, Andre berangkat ke Sukabumi. Sementara aku berbaring kelelahan di sofa dengan sperma Andre mengalir pelan, keluar dari vagina indahku yang kian menebal dan lubang surganya yang mulai merekah, karena selalu dihajar oleh batang-batang zakar yang besar-besar. Dan aku berfikir, semua orang yang ML sama aku selalu membuang cairan kenikmatannya di dalam memekku (tapi aku nggak khawatir hamil. Soalnya aku selalu minum pil KB)… Tapi nggak apa-apa… akunya juga suka kok!

Sekitar jam ½ 8, Andre sudah sampai lagi dirumahku, sementara suamiku (atas usaha Andre) tetap di Sukabumi, dan baru pulang besok malam. Kami 4 kali ML malam itu. Top banget stamina Andre. Pada game ke 3, suamiku telfon. Aku berbicara dengan sumiku dalam posisi nungging, sementara Andre bergerak pelan sekali… Lucu juga melihat tampang teman suamiku ini.
O iya… aku lupa bilang. Anakku tersayang juga melihat memek ibunya ini dihajar oleh Andre. Anakku pulang sekitar jam 9 malam (beberapa saat setelah game 1). Dia diantar oleh ibuku. Ketika melihat Andre yang mengenakan kaos dan celana pendek (dia gak sempat pake cd, buru-buru banget!), ibuku bertanya kepadaku didapur…
“Mia… itu siapa? Kok malem-malem ada laki-laki kesini?”
“Dia itu namanya Andre, bu… tetanggaku kok. Dia kesini nyari mas Tino…” ucapku asal.
“Ya sudah… suruh dia pulang! Sudah malam!”
“Iya… iya…!”
Pada saat itu, aku hanya mengenakan daster (no bra, no cd!). Tak lama kemudian, ibuku pulang dengan berpesan kepadaku (dan ini membuatku kaget sekali… )
“Hati-hati… jangan sampai Tino dan tetangga yang lain tahu!”
“Ha…??? Tahu apa bu?”
“Jangan pura-pura bego kamu! Itu seprai buktinya. Di situ ada celana dalam laki-laki, baju laki-laki, bh dan celana dalammu. Terus di situ juga ada tissu yang lengket-lengket basah. Ibu tahu kamu habis ngapain…”
“Maafin Mia ya bu…”
“Ya sudah… asal hati-hati saja!”
Tentu saja, aku kaget, terharu tapi senang. Langsung aku peluk ibuku dan dia tersenyum bijak. Setelah itu, ia memesankan hal yang sama kepada Andre, dan dia menghormati ibuku. Andre berjanji pada ibuku untuk merahasiakan hal ini…
“Bu…” kata Andre, “saya janji, gak akan nyakitin Mia…”
“Bagus… bagus….” Sahut ibuku.
“Kecuali….”
“Kecuali apa?” tanya ibuku bingung.
“Kecuali… mmhh… sakit-sakit enak!” sahut Andre.
Kami bertiga tertawa… “Bisa aja kamu!” kataku. Saking senangnya dengan suasana ini, aku memperlihatkan penisnya Andre ke ibuku, yang cuma bisa tersenyum dan kagum.
Setelah itu, ibu pulang…

Paginya, aku terbangun karena suara telefon yang berdering dari arah ruang tamu. Tanpa berepot-repot mengenakan pakaian, aku langsung mengangkat telfon… Rupanya suamiku. Dia ngecek keadaan rumah dan berpesan supaya hati-hati. Dia pulang malam ini. Setelah menutup telfon, akupun langsung menuju ke kamar mandi. Ketika sedang membasuh sisa sabun di sekitar kemaluanku, Andre masuk ke kamar mandi (aku tidak menutup pintu kamar mandi. Dan dia juga masih telanjang.)
“Siapa tadi yang telfon Mi?” tanyanya.
“Tino…” jawabku.
“Ngapain? Iseng amat pagi-pagi nelfon?”
“Yaa… ngecek istrinya lah…”
“Buat apa? Kan istrinya ditemenin sama laki-laki yang baik ini…”
“Justru itu… dia mungkin takut kalo istrinya yang sexy ini diperkosa sama laki-laki itu…” kataku sambil mulai menggenggam kontol teman suamiku ini dan mendekatkan tubuhku ke tubuhnya yang bidang itu.
“Tapi istrinya kan nggak diperkosa…” Kata Andre sambil meremas kedua buah dadaku yang ranum. “Dia di perlakukan dengan baik… karena…. (tangannya mulai turun ke bawah) memeknya… (tangannya mulai mengelus memekku) enak banget…!”
Andre langsung mencium bibirku dan melumatnya. Aku langsung membalas serangan Andre. Ku hisap dalam-dalam lidahnya… dan kugenggam dengan erat kontolnya dan mulai mengurut dan mengocok batangan yang makin lama makin keras dan memanjang itu.

“Mami…”
Aku dan Andre segera menghentikan kegiatan kami ini ketika Fanny memanggilku, tapi kami tetap berpelukan dengan erat sekali.
“Kenapa sayang?” kataku.
“Mami sama Om Andre lagi ngapain?” tanyanya.
“Mami sama Om Andre lagi mandi…” Jawabku.
“Kok madinya pelukan?” tanyanya lagi.
“Mmmhhh….” Belum selesai menjawab, Andre memotong…
“Mami kedinginan… makanya Om peluk supaya badannya anget!”
Aku tersenyum mendengar jawaban Andre. “Iya sayang… airnya dingin banget!”
Andre lalu melepas pelukannya dan langsung berlutut didepan Fanny, “Fanny mau mandi bareng sama Om, sama mami?”
“Mau…”
Lalu kami bertiga telanjang bulat dan masuk kedalam Bath tub, dan berendam bersama-sama. Walaupun itu tidak lama. Karena 10 menit kemudian, Fanny kembali menjadi saksi, bagaimana lubang tempat dia keluar dulu disumbat oleh batangan besar milik teman papinya itu.

VINA

Aku baru saja keluar dari kelas sore itu, matakuliah terakhirku hari ini. Kira-kira masih jam 16.30 saat itu namun gedung fakultasku sudah sangat sepi. Aku lelah sekali, matakuliahku benar-benar padat hari itu. Akhirnya aku beristirahat dan duduk dibangku panjang di sebelah selatan, aku malas untuk langsung turun ke bawah dari lantai 4 ini. Beberapa saat kemudian, aku dikagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba keluar dari kelas didepanku. Ah, ternyata itu Vina, Dia adalah Mahasiswi  Filsafat semester 2 difakultasku. “Eh, Ada Bayu,Aku ikut duduk yah” sapanya padaku. “Iya gak papa,loh kok kamu belum pulang Vin?”tanyaku. “Iya nih, aku lagi males turun soalnya, nanti aja ah” jawabnya dengan kenesnya. Darahku berdesir duduk bersebelahan dengannya disaat kondisi lantai 4 fakultasku yang benar-benar sepi ini. Aku takjub dengan penampilannya saat itu, Tubuhnya langsing,dengan payudara yang cukup besar, kutaksir sekitar 34 B. Pinggulnya yang besar memperlihatkan seolah celana jeans ketatnya tak cukup menampung kedua bongkah pantatnya itu, ditambah dengan wajahnya yang cantik dan putih dibalut jilbab fasmina modisnya. Menambah keanggunan wanita berjilbab di depanku ini.

jilbab seksi - engga (2)

“Sibuk banget sih vin sama Hape-nya” tanyaku coba memecah keheningan. “ah, iya nih Bayu aku lagi sms-an sama Tiwi biar njemput aku” jawabnya lagi dengan kenesnya. Ah, kontolku jadi tegang dibuatnya. Aku teruskan mengobrol dengannya, ngalor-ngidul hingga akhirnya obrolan kami menyerempet hal-hal yang berbau seks “Hayooo..Bayu pernah ngapain sama Tiwii..”tanyanyan dengan senyumnya yang menggoda sambil mencubit-cubit perutku. Aku berusaha menghindar dan Vina malah tak sengaja memegang kontolku dari luar celana jeansku”iiih..apaan tuh, kok keras ya, hayoo Bayu ngaceng yaa”tuduhnya. Aku langsung panik “Ah, nggak kok vin nggak papa”. Aku terkejut dengan ucapannya barusan. “Udah ngaku aja Bayu gak papa kok, Vina tau kok Bayu dari tadi horny ngeliatin Vina.”Vina mulai menggodaku. Aku diam seribu bahasa, sejurus kemudian tiba-tiba Vina mencium bibirku, Ia juga meremas-remas kontolku dari luar celanaku. Karena memang akupun sudah horny, aku membalas ciuman ganas Vina dibibirku. Lidah kami saling beradu, aku tak mennyangka Vina yang ku kenal bisa begini binalnya dalam berciuman, aku bisa kehabisan nafas kalau begini.

jilbab seksi - engga (3)

Walau sudah dikuasai nafsu namun kesadaranku masih ada, aku berfikir ini bukan tempat yang tepat untuk bermesum ria dengan Vina, akhirnya sambil terus berciuman aku langsung mengajaknya masuk ke kelas tempat Vina keluar tadi, “R 4 K 15”. Akhirnya aku bisa aman bercinta dengan Si Jilbab Semok Vina ini. Kami pun melanjutkan ciuman kami, Aku mulai meremas Payudaranya dari luar Kemejanya. Sambil tetap berciuman aku mulai melepas satu persatu kancing kemejanya, terpampanglah payudara Vina yang masih terbungkus Bra bermotif polkadot warna hitam. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih. “Amhh..Amhh..Amhh..”, desah Vina tertahan dalam ciuman kami. “Bayu, aku buka celanamu ya”. Aku tak menjawab, Vina mulai membuka kancing celanaku kemudian tangannya menelusup ke dalam celana bokser-ku. Aku pun tak tinggal diam, aku menyuruh Vina tiduran dilantai kelas itu agar aku lebih leluasa, aku pun melepas bra yang menutupi payudaranya, terpampanglah dua buah payudara Vina yang putih bersih dengan puting kecoklatan yang sudah keras mengacung. Lantas aku pun menurunkan celanaku sampai lutut, dan melepas celana jeans ketat Vina sampai lutut juga. Vina pun menggenggam kontolku dan menggesek-gesekannya ke memeknya dari luar celana dalamnya yang sewarna dengan bra-nya. Aku melanjutkan kegiatanku dengan mengulum bibirnya dan memilin-milin putingnya yang sudah mengeras, Vina hanya bisa mendesah dan meracau tak karuan. “Ah Bayu enak banget, terus mainin susuku, ahhh..kontolmu enak Bayu..aaah..”Vina meracau saat kulepas ciumanku.

jilbab seksi - engga (7)

Aku pun berinisiatif untuk melakukan hal lain, Aku berjongkok dan melepas kontolku dari genggaman tangan Vina dan mengarahkannya ke belahan dada Vina, seakan mengerti Vina pun lantas mengatupan payudaranya dengan tangannya dan mulai menjepit erat kontolku, aku pun mulai memaju mundurkan kontolku dibelahan dadanya, ah terasa nikmat sekali. “Ah Bayuu terus Bayuu..enak banget sayang” Vina mendesah keenakan. Aku rasa cukup dengan yang ini, aku pun memainkan putingnya dengan kontolku,”Aaaah, teruss Bayuu..uuh enak” Vina mendesah lagi.

jilbab seksi - engga (4)

Lantas, aku mulai mengarahkan kontolku ke bibirnya, dan menggesek gesekannya dibibirnya yang basah dan mengkilap. Vina pun langsung melahap kontolku dan mengulumnya dengan ganas, aku hanya merem-melek keenakan dibuatnya. Kulumannya di kontolku semakin ganas saja, ia menjilati batang kontolku dari pangkal hingga pucuknya dan menjilati belahan dipucuk kontolku. Aku dibuat kelojotan oleh sepongannya. Aku merem-melek keenakan,”aaah..terus vin…seponganmu enak banget sayangg”..”aahm…eemmnak…khonmtolmu Bayuu..”. Setelah puas, aku berinisiatif untuk berganti posisi, aku mulai berbalik badan, dan mengarah ke memeknya .posisi 69 kurasa cukup cocok sekarang. Ku biarkan Vina menikmati kembali kontolku, ku lepas CDnya sampai lutut juga menyusul celana jeansnya yang sudah ku turunkan lebih dulu. Terpampanglah memeknya yang masih sempit dan berbulu tipis, aku mulai menjilati memeknya, tercium bau harum sabun kewanitaan. Gadis berjilbab memang pintar merawat kewanitaannya. Ku susuri belahan memeknya dan menjilati klitorisnya..”Ahh…enak Bayu..terus..iyaa enak disituu..aaah” Vina mendesah keenakan, “aaaah..aku udah gak tahan Bayuu cepetan masukin kontolmuu..”pinta Vina. Tak pikir panjang, aku langsung menghentikan aktivitasku dan melepas total celsna jeansnya dan CD nya sekaligus. Aku rentangkan pahanya dan ku arahkan kontolku ke selangkangannya. Ku gesekkan kontolku perlahan menyusuri belahan memeknya, perlahan aku tuntun kontolku masuk ke dalam liang kenikmatannya. Cukup sulit memasukkan kontolku ini kedalam memeknya, pelan-pelan dan dengan sekali hentak ku sodokkan kontolku ke dalam memeknya. “Aaah..pelan-pelan Bayu”. Kontolku pun amblas dalam liang kenikmatannya. Ku diamkan beberapa saat kontolku dalam memeknya, setelah kurasa Memeknya sudah mampu beradaptasi dengan kehadiran kontolku akupun mulai memaju mundurkan pinggulku dan mengocok memek Vina. “Aaaah..aaaah…terus Bayuu..enak banget..” Vina mulai mendesah lagi. Kupercepatan kocokan kontolku dimemeknya, kurasakan memeknya sudah benar-benar licin dan memudahkan kontolku menggenjot menggenjot memeknya.

jilbab seksi - engga (5)

Karena bosan dengan posisi missionaris ini, aku pun membalikkan tubuh Vina dan menyuruhnya untuk menunggingkan tubuhnya dan mengajaknya doggy-style, aku sempat terperangan sejenak melihat bongkahan pantatnya, begitu bulat menantang. “Bayuu..cepet masukin kontolmu lagi aku udah gak tahan”.Vina mulai merengek memintaku memasukkan kontolku ke liang kenikmatannya. Langsung saja aku memasukkan kembali kontolku ke sarangnya “bless”. Kontolku masuk sepenuhnya. “Aaaaaah..”Vina memekik, mendongakkan kepalanya menahan birahi. Aku pun memulai sodokan kontolku kembali ke memek  Vina. Hanya desahan yang keluar dari bibirnya, payudaranya yang menggantung tak kusis-siakan, sambil menggenjotnya dalam posisi ini aku mulai meremas-remas payudaranya. “Aaah..terus Bayu..aaah..enak banget..uuh…masukin kontolmu lebih dalam lagi” Vina meminta. Wajahnya yang masih dibalut jilbab fasminanya itu terlihat begitu pasrah. Aku makin bersemangat saja menggenjotnya.

jilbab seksi - engga (1)

Sepuluh menitan aku menggenjotnya dalam posisi ini hingga akhirnya Kontolku serasa diremas-remas oleh dinding vaginanya. Ternyata ia orgasme, cairan cintanya membanjiri kontolku yang masih keluar-masuk di vaginanya. Namun, karena jepitannya yang begitu membuatku tak tahan. Akhirnya aku menyusulnya, ku benamkan dalam-dalam kontolku dimemeknya. Menyemburlah spermaku yang membanjiri memeknya. Akupun ambruk diatas tubuhnya yang menelungkup. Vina tersenyum padaku. “Bayu, makasih banget. Kontolmu enak sayang.” Vina pun merubah posisinya, Ia mendekati selangkanganku dan kemudian menjilati kontolku yang belepotan sperma dan cairan orgasmenya hingga bersih. Benar-benar nikmat blowjob dari hijabers satu ini.

jilbab seksi - engga (6)

Kemudian, kami berbincang-bincang sejenak sambil mengenakkan pakaian kami. Kami sempat berciuman kembali sebelum keluar kelas. Ternyata diluar sudah ada Tiwi kawannya, dalam benakku aku berpikir apakah tiwi melihat persetubuhan ku dengan Vina sahabatnya itu. Ah, aku tak peduli. Aku, Vina dan tiwi kemudian sama-sama turun dari lantai 4 fakultas kami. Menuju ke parkiran. Sebelum berpisah, Vina mendekatiku, ia berbisik ke telingaku” Bayu, besok lagi yah. Aku ketagihan Kontolmu”. Aku hanya tersenyum mendengar permintaannya.

NYONYA HAJAR

Rumah itu tampak sepi saat Doni pergi meninggalkannya untuk pergi beranglat kerja ke kantor. Dia tidak pernah tahu bahwa ada lima orang begundal tengah mengamatinya dari dalam mobil box yang terparkir di ujung gang.

“Gimana, Bang, kita serbu sekarang?” tanya Botak.

“Tunggu, jangan keburu nafsu. Lihat situasi dulu, bego loe!” kata Mamat, pemimpin gank perampok tersebut.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (1)

“Biasanya jam segini, hansip suka lewat pake sepeda. Kita tunggu sebentar, Bang.” kata Tatto yang sudah seminggu mengamati rumah itu.

Bener kata Tatto, lima menit kemudian, dua orang hansip melewati jalan itu dengan mengayuh sepeda mereka. Kelima orang itu segera berpura-pura tengah menganti ban mobil box yang sama sekali tidak bocor.

Setelah hansip itu berlalau, Mamat langsung bertanya, “Gimana, sekarang?”

“Oke, Bang. Hansip itu cuma lewat, lalu nongkrong di pos ujung sana, main gaple,” terang Tatto.

“Oke, kita siap beroperasi. Botak, elo sama si Bedu masuk dulu. Beresin korban kita,” perintah Mamat.

Kedua orang itu segera bergerak cepat, mereka melompati pagar dan tanpa kesulitan masuk ke dalam rumah yang pintu utamanya tidak dikunci itu. Nyaris tak terdengar, mereka bergerak dengan cekatan melumpuhkan pembantu setengah tua yang memergoki aksi mereka. Kedua begundal itu kemudian mengendap pelan menuju ke kamar tidur utama dan membuka pintunya.

Hajar, seorang ibu muda berjilbab yang saat itu sedang asyik bersolek, kontan terkejut dengan kehadiran mereka. “Siapa kalian? Mau apa kalian kemari?” hardiknya setengah takut.

Mereka tersenyum menyeringai. Secepat kilat Botak telah memeluk tubuh Hajar lalu membekap mulutnya. Bedu menggunakan lakband yang dibawanya untuk membungkam mulut wanita cantik itu. Setelah si Nyonya rumah berhasil dilumpuhkan tanpa perlawanan berarti, Botak segera keluar untuk membuka pintu pagar. Dengan anggukan kepala ia memberi kode kepada ketiga temannya agar cepat menyusul masuk. Mobil box segera bergerak masuk ke dalam garasi. Tatto, Joki dan Mamat meloncat turun dari mobil dan segera mengikuti Botak masuk ke dalam rumah.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (2)

“Hei tunggu, dia punya anak. Satu lima tahun, satunya masih orok.” terang Tatto.

“Gak ada, gua udah periksa sekeliling rumah,” jawab Botak.

“Udah, gak usah peduli, cuma anak kecil aja. Ambil harta di rumah ini, cepat!” perintah Mamat.

Mereka pun segera berpencar untuk mencari segala benda berharga yang mungkin bisa dibawa, mulai dari setrika murahan hingga TV layar datar yang ada di ruang keluarga. Tak lupa juga lemari Hajar yang ada di kamar diobrak-abrik oleh mereka. Mamat mendapatkan sejumlah uang dan perhiasan. Ia juga menggondol surat-surat berharga yang ada disana. Tak sampai setengah jam, harta benda di rumah itu telah berpindah ke dalam mobil box.

“Ayo, jalan.” kata Tatto.

“Tunggu, gimana kalau kita senang-senang dulu. Nih cewek cakep juga, gua mau cobain,” kata Mamat sambil memandangi Hajar yang hari itu mengenakan busana terusan panjang berwarna hijau dan jilbab putih lebar sedada.

Hajar meronta dalam ikatannya saat perlahan Mamat mulai mendekatinya, yakin sesuatu yang buruk akan segera menimpa dirinya. Hajar langsung menjerit begitu Mamat membuka lakban yang menyumpal di mulutnya, “Tolong!! Rampok!!”
.
Plak! Dengan sadis sebuah tamparan Mamat hinggap di pipi wanita berjilbab tersebut. Hajar meringis kesakitan, apalagi saat tiba-tiba Mamat mengeluarkan sepucuk pistol dan menempelkan di lehernya. Rasa dingin langsung menjalar di seluruh tubuh Hajar.

“Elo mau gua bunuh?” ancam Mamat.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (3)

“Jangan, ampun… ampun, Bang.” Hajar menghiba.

Tiba-tiba Mamat menjulurkan lidahnya untuk menjilat wajah perempuan cantik itu. Hajar meronta, jijik dia rasakan. Tapi Mamat sepertinya tidak peduli,sambil memegang kepala Hajar, ia melumat bibir ibu muda beranak dua itu dengan penuh nafsu. Mamat mendorong lidahnya masuk ke dalam mulut Hajar yang terus meronta.

“Ampun, Bang. Saya sudah punya suami, jangan perlakukan saya seperti ini,” rintih Hajar.

“Huahaha… sama, gua juga sudah punya bini. Bini gua tiga malah, hahaha…” ejek Mamat. Dengan cepat tangannya terulur untuk meremas buah dada Hajar yang berada di balik baju terusan hijaunya.

Hajar meringis akibat remasan keras itu. Saat itu timbul lagi keberaniannya. Dia dengan keras mendorong tubuh Mamat dan berusaha untuk lari. Tapi apa daya, seorang wanita yang barusan melahirkan melawan lima orang pria yang kasar. Tatto dengan sigap menangkap tangannya lalu menyeretnya kembali ke atas ranjang. Dibantingnya tubuh montok Hajar hingga wanita berjilbab ini terbaring telentang di atas tempat tidur. Botak dan Bedu segera memegangi kedua tangan Hajar erat-erat agar takbisa lari lagi.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (4)

Joki memberikan sebilah belati tajam pada Mamat. Mamat menyeringai saat menerimanya, kembali ia mengancam Hajar. “Loe mau mampus yah?” hardiknya berang.

Hajar menggeleng, “Jangan! Ampun! Tolong… ” ia kembali menghiba.

Dengan belati yang ada di genggamannya, Mamat merobek pakaian Hajar, mereka tercengang menatap buah dada Hajar yang lumayan besar terburai keluar. Kini tubuh wanita itu hanya ditemani jilbab putihnya yang lebar dan celana dalam warna kremnya.Tapi itu pun juga tidak akan bertahan lama. Wajah Hajar terlihat memerah, belum pernah dalam hidupnya dia merasa terhina dan malu seperti ini. Tubuhnya yang separuh bugil dinikmati oleh mata mata liar para perampok itu. Kembali Mamat memainkan belati itu di hadapan mukanya.

“Ampun, Bang, jangan sakiti saya…” Hajar meminta.

“Dengar yah, gua cuma mau senang-senang sama elo. Jadi kalau elo nurut, tentu gua gak akan sakitin elo.” kata Mamat.

Hajar terlihat pasrah. Ketiga anak buah Mamat yang lain hanya diam menatap dirinya dengan nafsu, mereka tak berani bertindak sebelum diperintah bosnya yang terkenal kejam itu. Tangan Mamat tiba-tiba meremas buah dada Hajar dengan keras. Hajar tentu saja merintih dibuatnya. Begitu kerasnya remasan itu hingga mendesak ASI yang ada di dalamnya hingga muncrat keluar. Mamat tersenyum, dengan penuh nafsu dia segera menjilati ASI Hajar yang meleleh keluar. Kasar disedotnya puting susu Hajar dengan rakus bagai bayi yang kelaparan. Tangannya terus memencet, sementara mulutnya terus menghisap dengan ganas. Kedua-dua susu Hajar mendapat perlakuan seperti itu hingga membuat keduanya jadi begitu basah dan memerah.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (5)

“Jangan dihabiskan, Bang. Ini ASI buat anak saya.” Hajar mengingatkan.

Mamat tertawa mendengarnya, begitu juga dengan keempat anak buahnya. Puas dengan payudara Hajar, Mamat menurunkan jilatannya ke bawah, ia kini bermain di pusar Hajar dan terus menuju ke arah selangkangan perempuan cantik itu. Mamat dengan penuh nafsu mengendus aroma vagina Hajar yang baru melahirkan, membuat tubuh Hajar menggelinjang karenanya. Walaupun sehari-harinya dia adalah seorang ibu rumah tangga yang alim dan pemalu, tapi Hajar tetaplah seorang manusia, seorang wanita yang mempunyai nafsu birahi. Diperlakukan seperti ini oleh Mamat, tanpa bisa dicegah, perlahan birahinya mulai muncul dan meningkat, meninggalkan jejak basah dan lembab di celana dalam kremnya.

Mamat yang mengetahui korbannya mulai jinak, terus menggesekkan hidungnya ke selangkangan Hajar. Diendusnya kelamin itu sambil lidahnya terus merangsek disana. Sedikit demi sedikit celana dalam Hajar mulai tersingkap. Hingga selanjutnya, tanpa perlu melepasnya, Mamat sudah bisa menjilati lubang vagina Hajar yang mengintip malu-malu dari celahnya. Diserang seperti itu membuat Hajar mulai mendesah nikmat. Apalagi ditambah rangsangan yang diberikan Tatto dengan remasan-remasan lembut di atas buah dadanya, sementara putingnya yang mungil disedot bergantian oleh Botak dan Bedu sambil tetap memegang erat kedua tangannya.

“Tolong… jangan… tolong…” erang Hajar saat merasakan tangan Mamat mulai berusaha menurunkan celana dalamnya.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (6)

Mamat hanya tersenyum mendengarnya. Ia sama sekali tidak peduli dengan rintihan perempuan cantik berjilbab lebar itu. Tangannya terus menurunkan celana dalam Hajar hingga benda itu teronggok di lantai. Tak berkedip Mamat memandangi vagina Hajar yang terawat rapi tanpa bulu kemaluan, ia terlihat sangat menyukainya.

“Wah, memek elo bagus banget…” puji Mamat sambil berusaha membuka lebar kedua kaki Hajar. Dengan dua jarinya, ia membelah bibir kemaluan Hajar. Mamat bisa melihat dengan jelas, ada tahi lalat sebesar kismis di sebelah kiri bibir vagina perempuan cantik itu.

“Wah, biasanya cewek ada tai lalat di memeknya gini tandanya nafsunya besar.” ujar Mamat. Ucapan itu tentu saja semakin membuat Hajar malu. Dia pun berusaha merapatkan kedua kakinya, tapi Mamat segera menahannya. Lidah Mamat dengan penuh nafsu menjilati klitoris Hajar yang kini terbuka lebar.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (7)

“Aahhhh…” erangan panjang Hajar terdengar. Lidah kasar Mamat dengan buas menggelitik klitorisnya yang tentu saja membuat wanita berjilbab itu menjadi birahi. Liang vaginanya mulai mengeluarkan lendir birahi.

Mamat terus menyedot-nyedot klitoris Hajar dengan penuh nafsu. Sesakali ia juga mencucupi belahan memek Hajar yang tampak baru sembuh dari luka melahirkan. Perbuatan itu makin membuat Hajar menggelinjang kegelian, dia sudah tak mampu lagi menyembunyikan gairahnya. Apalagi saat lidah Mamat terus menari, makin lama makin cepat menyapu klitoris dan cairan yang keluar dari liang vaginanya, hingga sesaat kemudian tubuh wanita imut itu mengejang, Hajar tak dapat lagi menahan birahinya, dia memekik dan orgasme oleh jilatan lidah Mamat!

“Hahaha… enak kan?” goda Mamat dengan mulut belepotan oleh cairan. Hajar hanya bisa memejamkan matanya sebagai jawaban.

Mamat sekarang ganti menyodorkan penis besar dan hitamnya di depan wajah Hajar. “Isep kontol gua!” perintahnya kejam. Tentu saja Hajar menolak. Dia segera merapatkan mulut dan membuang mukanya, tidak mau memandang benda yang menurutnya menjijikkan itu.

Mamat tertawa, “Hahaha… kenapa, loe gak suka kontol gua yah?” sambil berkata, dia mulai mendesakkan ujung penisnya ke bibir Hajar, tapi Hajar dengan hati bulat tetap merapatkan mulutnya sekuat tenaga.

Tangan Mamat tiba-tiba meremas keras buah dada Hajar sampai-sampai air susunya muncrat keluar. Perbuatannya itu tentu saja membuat Hajar menjerit kesakitan. “Ahhhh… sakit!” pekik Hajar dengan mulut terbuka lebar.

Saat itulah, tanpa permisi, Mamat mendorong penis besarnya masuk ke dalam mulut Hajar. Hajar yang sama sekali tak siap, tidak bisa berbuat apa-apa. Mulutnya kini disumpal sepenuhnya oleh kontol besar Mamat, membuatnya jadi ingin batuk dan tersengal-sengal. Apalagi saat penis itu mulai bergerak keluar masuk dengan cepat, Hajar makin tersiksa saja dibuatnya. Tapi dia sama sekali tidak bisa menolak karena kedua tangannya masih setia dipegangi dengan erat oleh Botak dan Bedu.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (8)

“Ohh… ahh… mulut elo enak juga yah,” erang Mamat sambil terus mengocok penisnya di mulut manis Hajar. Sedang Hajar hanya bisa mengerang, dia sama sekali tidak bisa bersuara karena mulutnya tertahan oleh penis besar laki-laki itu. Benda itu terus bergerak dan mendorong-dorong hingga ke dalam tengorokannya. Agar tidak tersedak, terpaksa Hajar mulai menjilatinya meski dengan hati tidak rela.

”Nah, gitu dong. Isep terus kontol gue!” kata Mamat, tampak begitu menikmati apa yang dilakukan oleh Hajar. Tak perlu waktu lama, ia mulai dekat ke puncak birahinya. Terlihat dari gerakan pinggulnya yang semakin kasar, juga dengus nafasnya yang semakin berat. Mamat menghentak-hentakkan penisnya keras-keras, menyodok kerongkongan Hajar dalam-dalam. Lalu, “Ahhhh… gua keluar!” erang Mamat dengan tubuh bergetar dan sedikit kelojotan. Penisnya dengan deras menyemburkan cairan panas ke dalam mulut Hajar.

Di bawah, Hajar menerimanya dengan sedikit kalap. Tidak ingin menelan cairan itu, ia berusaha meronta untuk memuntahkan sperma Mamat. Tapi Mamat dengan sekuat tenaga menahan penisnya, ia terus menancapkan benda itu di mulut Hajar, bahkan dia sedikit mendorongnya dalam-dalam hingga tidak ada satupun cairan maninya yang tumpah keluar.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (9)

“Telan peju gua, goblok!!” bentak Mamat pada wanita berjilbab itu.

Hajar tetap tidak mau, dia terus meronta dan melawan sekuat tenaga hingga akhirnya dengan sengaja Mamat menjepit hidungnya. Hajar kelabakan, dia kehabisan nafas. Dengan hidung tersumbat dan mulut dijejali penis besar Mamat, dengan cepat tubuhnya jadi lemas. Kalau tetap mau hidup, mau tak mau Hajar harus menelan sebagian sperma Mamat. Maka jadilah dengan berat hati ia melakukannya. Rasanya yang menjijikkan sempat membuat Hajar ingin muntah, tapi sumbatan penis besar Mamat pada mulutnya membuat ia mengurungkan niat.

Puas melihat Hajar menghabiskan semua spermanya, Mamat menarik keluar penisnya. Hajar yang mendesah lega, sebisa mungkin memuntahkan sperma Mamat yang tertinggal di mulutnya. Para perampok itu tertawa-tawa melihat ulahnya.

“Nah, sekarang elo-elo boleh mainin wanita ini, tapi jangan dientot dulu, itu bagian gua, hahaha…” kata Mamat pada anak buahnya.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (10)

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (11)

Keempat orang yang sudah dari tadi menunggu sang bos selesai, segera berhamburan mengerubung tubuh montok Hajar yang berbaring tak berdaya di atas ranjang. Jilbab putih yang menutupi kepalanya sudah terlihat acak-acakan, tapi bukannya membuat jelek, jilbab itu justru makin menambah pesona kecantikan wanita beranak dua itu. Keempat perampok dengan tidak sabar menggerayangi tubuh molek Hajar. Dua orang dengan bernafsu meremas-remas keras buah dadanya. Air susu Hajar sampai muncrat-muncrat keluar tak terkendali karenanya. Sementara dua yang lain menggarap di bagian bawah.

“Ampun… sakit… hentikan…” erang Hajar pilu.

Tatto yang sedari tadi membantu bosnya memegangi tangan Hajar agar tak meronta, kini meminta Hajar untuk menservis penisnya. Sedang Joki yang berperawakan besar, asyik menyodok-nyodok vagina Hajar dengan dua jari. Mamat yang sudah orgasme tersenyum melihat kerakusan anak buahnya. Sambil menghisap rokok kreteknya, dia keluar kamar dan mencari lemari es besar yang tak dapat ia bawa dengan mobil boxnya. Mamat membuka pintu kulkas tersebut, mengambil sebotol air mineral dan menenggaknya. Rasanya capek juga setelah mengerjai tubuh Hajar. Saat itulah, matanya melihat ada beberapa buah mentimun besar di sana. Tersenyum senang, Mamat lalu mengambilnya dan membawanya ke tempat tidur.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (12)

“Ahh… sakit… sudah…” terdengar erangan Hajar yang mengiba. Terlihat Joki sedang mengorek-ngorek liang vaginanya dengan dua jari. Sementara di atas, Botak dan Bedu masih terus asyik menyusu pada putingnya.

“Eh, pake ini…” kata Mamat sambil memberikan mentimun di tangannya.

Joki menoleh dan menerimanya dengan senang hati. Dia segera mengarahkan ketimun itu ke liang vagina Hajar. Ketiga temannya melihat sambil bersorak-sorak seru.

“Iya, .. ayo sodok, Jok.” kata Botak dengan tangan terus menggerayangi susu besar Hajar.

“Jangan… jangan… tolong… jangan…” pinta Hajar memelas. Tapi tidak ada yang mempedulikan teriakannya. Bahkan yang ada adalah rasa panas yang tiba-tiba menyerang buah dadanya. Kontan Hajar memekik kaget!

“Ahhhh… panasss… perih…” jeritnya ketika Mamat dengan sadis menyundut bara rokok ke puting buah dadanya yang montok karena berisi ASI.

“Badan loe punya gua sekarang, jangan teriak-teriak… guoblok!” bentak Mamat kejam.

Tapi Hajar menjerit kembali ketika mentimun besar yang ada di belahan selangkangan didorong dengan kuat secara tiba-tiba oleh Joki. Begitu besarnya benda itu hingga seakan-akan merobek liang vaginanya. “Aghhh… sakit… hentikan…” erang Hajar menyedihkan.

Tak peduli, Joki mulai menggerakkan mentimun itu secara kasar. Dia menyodokkannya keluar masuk di liang vagina Hajar yang masih kelihatan sempit meski baru saja melahirkan. Bagai sebuah vibrator, Joki menggunakan mentimun itu untuk menyetubuhi Hajar. Erangan kesakitan perempuan cantik itu sama sekali tidak ia hiraukan.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (13)

Bedu dan Botak yang tidak mau kalah, kembali asyik meremas-remas dan menghisapi buah dada Hajar. Mereka menyedot putingnya yang mungil kemerahan keras-keras hingga air susu Hajar tumpah keluar. Dengan gemas mereka lalu menjilat dan menelannya. Semua perlakuan itu sangat melecehkan Hajar dan menyakiti tubuhnya, namun apa daya, ia sama sekali tidak bisa menolak. Jangankan menolak, untuk berteriak pun dia tidak bisa karena sekarang Tatto sudah kembali menjejali mulut Hajar dengan penisnya yang besar dan panjang, ia menyuruh Hajar untuk mengulum dan menghisapnya. Takut disundut rokok lagi, Hajar pun melakukannya. Jadilah ia merelakan seluruh tubuhnya yang selama ini cuma diberikan pada sang suami untuk dinikmati oleh keempat perampok bejat itu.

Lagi asyik-asyiknya, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara dering telepon genggam yang berbunyi nyaring. Mamat segera mencarinya. Ternyata itu dari HP Hajar yang berada di tumpukan baju. Mamat menatap layarnya dan menyeringai. Disitu tertera tulisan ’CINTAKU’. Ia segera menoleh pada keempat anak buahnya dan berkata. “Stop dulu,” Mamat memberi perintah kepada mereka agar menghentikan kegiatannya sejenak.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (14)

Berbekal belati mengkilap yang ada di tangannya, ia berjalan mendekati Hajar dan menempelkan belati itu ke leher Hajar yang jenjang. “Angkat telepon ini, tapi jangan macem macem. Bilang kamu baik-baik saja atau gua gorok leher elo!!” ancam Mamat bengis.

Tahu kalau laki-laki itu bersungguh-sungguh, Hajar tidak berani berbuat macam-macam. Selain takut pada keselamatannya sendiri, ia juga takut dengan nasib kedua buah hatinya kalau sampai membuat Mamat marah. Jadi, dengan suara dibuat senormal mungkin agar suaminya tidak curiga, Hajar menerima telepon itu. “Hallo, Mas…” katanya.

Suasana sunyi sejenak. Hajar tampak konsentrasi mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang suami. Sementara di sekelilingnya, Mamat beserta anak buahnya menatap tajam sambil terus mengelus-ngelus tubuh montoknya.

“Ohh… ehh… tidak, tidak apa-apa.” Hajar mendesah saat Botak dan Bedu kembali berebutan menghisap puting susunya. Di bawah, Joki kembali menggerakkan mentimun yang ada di genggaman tangannya ke dalam memek sempit Hajar.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (15)

“Enggak kok, cuma pusing sedikit… tapi aku gak apa-apa kok, Mas.” Hajar berbohong pada sang suami. Mamat menyeringai senang mendengarnya. Dia mengangguk sebagai tanda persetujuan.

Tatto yang tidak bisa memakai mulut Hajar untuk mengulum penisnya, kini ganti meminta Hajar untuk mengocok penisnya menggunakan tangannya yang bebas, yang tidak memegang HP. Hajar menurutinya, sambil mendengarkan suara sang suami, ia mulai mengurut kontol besar itu.

Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti itu sampai akhirnya pembicaraan Hajar selesai, “Yah… baik, Mas, baik…” kata Hajar lalu menutup teleponnya.

“Hahaha… lanjut!!” kata Mamat pada keempat anak buahnya.

Kembali tubuh Hajar dikeroyok oleh mereka. Joki terus menyodok-nyodok liang vaginanya semakin keras menggunakan mentimun. Sedang Botak dan Bedu sudah menjadikan susunya seperti adonan roti, mereka memencet dan memijitinya kuat-kuat hingga benda itu jadi tidak berbentuk lagi. Payudara Hajar jadi sedikit penyok dan merah-merah akibat ulah mereka. Yang paling mengenaskan adalah putingnya, sekarang sudah tidak ada lagi ASI yang keluar dari sana. Botak dan Bedu sudah menghabiskannya. Entah dengan apa Hajar akan menyusui anaknya nanti. Sementara Tatto yang sejak tadi sudah tak sabar, segera memperkosa mulut Hajar kembali hingga perempuan cantik berjilbab lebar jadi tidak bisa mengeluh dan bersuara sama sekali. Mamat dengan santai duduk di kursi meja rias menyaksikan ulah keempat anak buahnya sambil menghisap rokok kreteknya kuat-kuat.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (16)

Tidak lama, terdengar erangan nikmat Tatto, “Ohh… ahh… gua mau keluar nih… yang enak ngemutnya!” Dengan kasar ia terus menyodok-nyodokkan penisnya ke dalam mulut Hajar yang mungil.

”Ah, payah loe. Bentar aja udah keluar!” ejek Joki. Tangannya masih dengan setia menyodok-nyodok memek Hajar menggunakan mentimun.

”Loe belum ngerasain sih gimana enaknya mulut nih cewek.” balas Tatto, tak mau dikatakan lemah. Sambil terus menggerakkan penisnya cepat di mulut Hajar, ia pun orgasme. Tatto melepaskan spermanya di mulut Hajar. Tapi karena begitu banyaknya, sebagian tumpah membasahi wajah cantik Hajar yang masih tertutup jilbab lebar. Hajar kembali harus menelannya kalau tidak mau tersedak.

Mamat yang saat itu sudah kembali birahi, berjalan mendekat ke arah ranjang. Penisnya yang hitam panjang tampak sudah mengacung tegak. Sambil mengelus-elusnya, ia berkata pada Joki. “Eh, Jok, geser loe. Gua mau cobain memeknya.”

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (17)

Sebagai anak buah, Joki tidak bisa membantah. Meski masih ingin mengobel vagina Hajar lebih lama lagi, ia terpaksa menggeser tubuhnya. Ia bertukar tempat dengan Tatto yang sekarang sudah duduk keenakan di lantai. Joki menusukkan penisnya ke mulut Hajar dan meminta wanita cantik itu untuk mengulumnya. Tidak bisa menolak, lagi-lagi Hajar melakukannya. Mulutnya dengan sigap mulai mengelomoti kontol besar Joki. Sementara di bawah, Mamat sedang berusaha membuka kedua kakinya agar vagina Hajar terpampang lebih jelas lagi. Memposisikan tubuhnya, Mamat kemudian mengarahkan penisnya yang sudah kembali keras ke arah lubang sempit itu.

Hajar berusaha meronta sebisa mungkin saat ujung kontol Mamat mulai terasa mendesak masuk ke celah bibir vaginanya. Diperkosa di mulut, mungkin ia masih bisa menerima. Tapi ditusuk di kemaluan, Hajar sama sekali tidak bisa menoleransi. Sekuat tenaga, ia berusaha untuk memberontak. Tapi apalah daya seorang wanita melawan tenaga lima orang lelaki, dengan cepat mereka meringkus Hajar dan menghadiahinya sebuah pukulan keras di perut untuk membuatnya diam. Merintih kesakitan, Hajar langsung berhenti meronta.

“Diam! Bego loe…” ancam Botak. Rupanya dia yang barusan menghantam perut Hajar.

Tersengal-sengal, Hajar menganggukkan kepalanya takut-takut. Di bawah, begitu Hajar sudah tenang, dengan satu kali dorongan keras, Mamat menyodokkan penis besarnya memasuki liang vagina perempuan cantik itu.

Kontan Hajar menjerit keras, “Arghh… sakit! Hentikan… jangan… ampun…” merintih-rintih, ia kembali meronta. Tapi apa daya, itu tidak bisa menghentikan perbuatan Mamat yang terus asyik memperkosa dirinya. Malah Mamat terlihat menikmati segala jeritan dan rontaan Hajar. Ia menyeringai setiap kali Hajar menjerit kesakitan. Bahkan ia melarang saat Botak ingin memukul Hajar lagi untuk membuatnya terdiam.

”Jangan! Lebih enak begini!” mendengus-dengus, Mamat menggenjotkan penisnya semakin keras. Memek Hajar yang sempit terasa mencekik batangnya, tapi bukannya sakit, Mamat justru sangat menikmatinya. Vagina seperti inilah yang ia cari sejak dulu. Mamat tak pernah menyangka kalau akan mendapatkannya dari Hajar, wanita alim berjilbab yang sama sekali tidak pernah terlintas di benaknya.

Melihat sang boss bertindak kesetanan, perampok yang lain jadi ikut tergoda untuk menyakiti tubuh molek Hajar. Mereka dengan suka cita mencubit, meremas, mengigit, dan menampar-nampar seluruh tubuh Hajar secara bergantian. Hajar yang menjerit-jerit penuh permohonan sama sekali tidak mereka hiraukan. Berlomba bersama Botak, Bedu terus memainkan buah dada Hajar dengan menghisapi putingnya kuat-kuat sambil sesekali menarik dan menggigitnya penuh nafsu dengan menggunakan gigi mereka yang tonggos dan tidak rata.

“Aahhh… ampun! Ahhhh… sakit… hentikan…” jerit Hajar pilu. Di atas, penis besar Joki menampari wajahnya, juga pipi dan hidungnya hingga membuat Hajar jadi sedikit kesulitan bernafas. Ia terus mengerang kesakitan, tapi keempat perampok yang mengerubunginya sama sekali tidak menunjukkan rasa kasihan. Mereka terus menyerang dan membelai tubuhnya penuh nafsu. Bahkan sekarang Botak ikut meniru Joki dengan mengolesi muka Hajar mengginakan ujung penisnya. Bedu yang mendapat jatah kedua bukit kembar Hajar terlihat senang sekali. Ia tersenyum gembira dan langsung menelusupkan mukanya di belahannya yang empuk, sambil jari-jarinya tak henti memijit dan menarik-narik putingnya.

Tubuh Hajar mengejang. Dua penis besar milik Botak dan Joki sekarang bergantian masuk ke dalam mulutnya. Hajar hanya bisa pasrah dengan membuka mulutnya lebar-lebar. Jika dia melawan, tubuhnya akan memar menjadi sasaran pukulan mereka. Beberapa menit kemudian, jeritan Hajar hanya tinggal menyisakan erangan dan rintihan pelan.

Di bawah, Mamat terus memperkosanya tanpa henti, tubuhnya terus bergerak semakin cepat untuk menusuk memek sempit Hajar. Setelah lama kemudian, saat Hajar sudah benar-benar lemas, barulah laki-laki itu menarik penisnya hingga hampir terlepas, lalu sambil mengerang, mendorongnya maju secepat mungkin dan menusukkannya sekuat tenaga ke belahan vagina Hajar.

Kepala Hajar sampai terdongak menerimanya. Jeritan melengking kembali terdengar dari mulutnya. Hajar melolong panjang dan terkejang-kejang. Di atasnya, Mamat ikut menggeram dan bergetar. Tubuhnya mengejang beberapa kali sebelum akhirnya terdiam lemas tak lama kemudian. Hanya Hajar yang tahu apa yang terjadi. Di dalam vaginanya, penis besar Mamat meledak dan menyemburkan spermanya yang hangat dan kental. Ketika perlahan laki-laki itu menarik keluar penisnya yang telah melayu, pejuh putih kental tampak ikut mulai mengalir dari liang vagina Hajar. Mamat terduduk lemas, tapi terlihat sangat puas. Dengan terengah-engah ia menyaksikan Botak dan Joki yang asik memperkosa mulut Hajar.

“Ohhh… gua udah gak tahan nih!” erang Joki, lalu melepas spermanya. Cairan itu muncrat membasahi wajah cantik Hajar, juga jilbab putih yang ia kenakan yang kini sudah terlihat begitu lusuh dan lecek.

Tatto tertawa melihatnya. ”Benerkan apa yang gue katakan? Enak banget kan mulutnya?” dia berkata pada Joki.

Joki mengangguk mengiyakan sambil terduduk lemas di tepi ranjang. Dia menunjuk pada Botak yang juga hampir ejakulasi, ”Kuat juga si Botak, bisa tahan menghadapi mulut kayak gitu!” gumam Joki.

Botak tersenyum bangga sambil membenamkan penisnya dalam-dalam ke mulut manis Hajar. ”Siapa dulu dong, gue!” Selesai berkata, dia menyemburkan spermanya tepat di kerongkongan Hajar. Dan sekali lagi, tanpa perlu disuruh, Hajar langsung menelannya. Rasanya dia sudah kenyang gara-gara terus-terusan meminum sperma para begundal itu, padahal masih ada satu orang lagi yang belum mendapat giliran, yang sekarang sedang asyik menyusu pada payudaranya.

Hajar memejamkan mata, berharap ini semua hanya mimpi buruk saat Bedu mulai mengambil posisi dengan merangkak di atas tubuh sintalnya, perlahan mulai menindih dan menusukkan penisnya. Tidak bisa berbuat apa-apa, Hajar hanya bisa pasrah saat Bedu mulai menyetubuhinya. Ia dapat merasakan bagaimana bibir vaginanya perlahan membuka dan penis Bedu yang besar sedikit demi sedikit mulai menerobos masuk ke dalamnya. Kegetiran kembali tercermin di wajah Hajar, tak menyangka kalau akan mengalami nasib begini buruk, pagi-pagi sudah diperkosa oleh lima orang begundal yang sama sekali tidak dikenalnya.

Tubuhnya seperti dirobek-robek saat Bedu mulai menggenjot tubuhnya naik turun perlahan-lahan. Begitu juga dengan harga dirinya. Tanpa terasa, air mata mulai meleleh di pipi Hajar. “Aghhh… sakit… aghhh…” ia merintih diantara isakannya.

“Lo jangan belagu deh! Kalo lo nggak suka sama punya gue atau punya temen gue tadi, kenapa baru sekarang ngomongnya! Terlambat tau!” bentak Bedu.

Perkataan itu membuat Hajar tersadar. Iya, kenapa baru sekarang? Sebagai istri yang solehah, seharusnya ia sudah menangis sejak tadi, bukan cuma meronta-ronta tapi tetap membiarkan diri menikmati perlakuan mereka. Hajar merasa begitu bersalah. Ia merasa sudah mengkhianati sang suami. Berpikir seperti itu, Hajar berniat untuk memberontak dan melawan kelima perampok. Ia tidak ingin diperlakukan seperti ini lagi!

Tapi baru saja ingin menggerakkan tangannya, Hajar merasa ada yang salah pada tubuhnya. Tangan itu tidak mau menuruti perintah otaknya. Bukannya mendorong Bedu menjauh, Hajar malah merangkul pria itu dan menariknya agar lebih menempel pada tubuhnya. Goyangan Bedu yang lembut dan sopan membuat Hajar terlena, ia bagaikan bercinta dengan suaminya saat menerima tusukan kontol Bedu. Tanpa sadar, Hajar malah menginginkannya alih-alih mengusirnya.

Hajar juga berpikir, dari tadi dia berusaha melawan, tapi tidak pernah berhasil. Dia tidak akan pernah bisa mengalahkan kelima orang itu. Kalau sudah begini, apalagi yang bisa ia lakukan selain melayani mereka. Dan daripada melakukannya dengan berat hati, bukankah lebih baik ia menyerahkan dirinya dengan ikhlas, toh hasilnya juga akan sama saja, mereka akan tetap memperkosanya secara bergiliran. Sekarang saja Tatto dan Botak sudah kembali mengerubunginya dengan penis mengacung tegak ke depan. Hajar menelan ludah saat melihatnya.

Ya, sepertinya hanya itu pilihan yang ia punya. Hajar cuma berharap ia bisa selamat dari musibah ini dan berharap tidak ada seorangpun yang tahu apa yang telah ia alami. Di bawah, Bedu terus bermain dengan lembut, beda dengan Mamat yang kasar dan berangasan. Hajar menyukainya. Walau hatinya didera rasa takut, tapi karena perlakuan Bedu yang sopan, birahinya perlahan mulai naik. Hajar pun mulai memejamkan matanya untuk menikmati gesekan penis Bedu pada dinding-dinding vaginanya. Cairan cintanya yang tadinya mampet perlahan mengalir keluar, membuat persetubuhan mereka menjadi kian nikmat dan panas.

Mendengus keenakan, Bedu terus menggerakkan penisnya keluar masuk. Dia juga menciumi bibir Hajar yang berbau sperma teman-temannya sambil tangannya tak henti meremas dan memenceti payudara Hajar yang membulat indah, yang terus bergoyang-goyang seiring genjotan pinggulnya. “Nah, gini kan enak… daripada loe melawan, tak ada gunanya.” ujar Bedu sambil terus menggerakkan penisnya dengan lembut.

Hajar memejamkan matanya, berusaha menikmati permainan pria itu. Terasa vaginanya mulai berdenyut pelan, tanda kalau ia akan segera orgasme tidak lama lagi. Bedu yang bisa merasakan kalau mangsanya sudah mulai birahi, terus menggoyangkan pinggulnya dengan lembut, ia berniat untuk memancing hasrat Hajar agar melenting lebih tinggi lagi. Bedu memang berpengalaman dalam menaklukkan wanita, jadi dia tahu bagaimana cara mengantarkan Hajar menuju ke puncak klimaks persetubuhan.

“Aghhh… aghhh… aghhh…” erang Hajar penuh kenikmatan, dibiarkannya mulut Bedu yang terus menjilati putingnya dengan lembut. Apa yang dilakukan laki-laki itu membuat birahinya semakin terlontar dan naik menuju langit.

Tatto dan Botak yang menonton permainan mereka, dengan setia menunggu sambil mengocok penis masing-masing. Di lantai, tenaga Mamat dan Joki tampaknya juga sudah pulih kembali. Penis mereka perlahan membesar dan mengacung tegak meski belum terlalu keras. Terutama Mamat, setelah keluar dua kali, dia jadi kesulitan untuk mengembalikan penisnya ke ukuran yang semula, padahal dia masih ingin mencicipi tubuh montok Hajar untuk yang terakhir kali.

“Sayang, loe sudah mau keluar yah?” tanya Bedu sambil terus menggerakkan penisnya di liang vagina Hajar dengan lembut.

“Ahhh… ahhh… ahhh…” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Hajar sebagai jawaban.

Bedu mengerti, inilah saat yang tepat untuk menaikkan ritme goyangannya. Jadi, sambil berpegangan pada payudara Hajar yang bulat besar, ia pun melakukannya. Disodoknya vagina perempuan cantik itu dengan kecepatan dua kali lipat dari semula.

“Ahhh… ahhh… ahhh…” Hajar yang menerimanya menjerit semakin keras. Sesaat kemudian tubuhnya kembali kejang. Kali ini bukan karena semprotan sperma Bedu di dalam liang rahimnya, tapi karena ia benar-benar mendapat orgasmenya. Tanpa bisa ditahan, Hajar menyemprotkan cairan kewanitaannya, banyak sekali, juga sedikit kusam dan kental.

Bedu menahan genjotannya, memberi kesempatan pada Hajar untuk menikmati masa orgasmenya. Setelah dirasanya semprotan memek Hajar mulai sedikit mereda, ia pun kembali bergerak cepat, membuat Hajar kembali merintih dan mengerang-erang penuh kenikmatan. “Ahhhh… ahhh… pelan-pelan…” seru perempuan cantik itu.

Tapi Bedu tak peduli, dia terus bergerak cepat karena ia juga merasa akan melepaskan birahinya sebentar lagi. Menggeram keenakan, sambil menyusupkan mukanya di belahan payudara Hajar, Bedu menusukkan penisnya dalam-dalam dan menembakkan semua isinya disana. Hajar terkejang-kejang saat liang vaginanya kembali menerima sperma kental dari lelaki yang bukan suaminya itu.

Botak yang penisnya sudah pulih, segera menggantikan posisi Bedu. Laki-laki berkepala plontos itu segera merangkak ke atas tubuh Hajar, ia sama sekali tidak memberi kesempatan pada Hajar untuk beristirahat. Hajar yang sudah kehabisan tenaga menangis dan memohon agar mereka berhenti sejenak dan memberinya waktu untuk sekedar menarik nafas.

“Sebentar saja… tolonglah… ahh… s-saya sudah gak kuat lagi… ahhh… sakit!” rintih Hajar memelas.

Tapi Botak yang sudah terlanjur bernafsu sama sekali tidak menggubrisnya. Ia terus menindih Hajar dan meremas-remas buah dada perempuan cantik itu keras-keras hingga membuat Hajar menjerit kesakitan. “AHHGGG… sakit! Hentikan… tolong…” setelah persetubuhan lembut dengan Bedu, Hajar sama sekali tidak bisa menikmati kelakuan Botak yang kasar.

Tidak peduli, Botak malah menggigit dan menarik puting Hajar kuat-kuat. “AGHH… sakit… ampunnn…” membuat Hajar merintih semakin keras dan memilukan.

“Jangan berisik! Loe bikin gue gak mood aja!” bentak Botak tak sabar.

“Sudah, saya mohon… hentikan… ampun…” iba Hajar.

“Wah, loe dikasih ati minta ampela yah?” geram Botak. Dia lalu membalik tubuh Hajar hingga posisi wanita berjilbab lebar itu sekarang menungging di atas ranjang. Botak memposisikan diri di belakangnya sambil kedua tangannya membelah pantat mulus Hajar yang masih perawan. Satu jarinya menusuk masuk ke dalam lubang anus Hajar yang masih sangat peret dan sempit.

Menyadari apa yang akan terjadi, Hajar langsung berusaha untuk meronta, tapi gerakannya sangat lemah karena tubuhnya memang sudah begitu kelelahan. Botak dengan mudah saja meringkusnya.

“Ahhhhgggg…” jerit memilukan keluar dari mulut Hajar, mengisi ruang tidur yang tidak seberapa besar itu saat Botak menusukkan penisnya dalam-dalam untuk merobek liang anusnya. Begitu kasarnya ia berbuat hingga liang Hajar sampai terluka dan berdarah. Tapi Botak sama sekali tidak mempedulikannya, ia malah terlihat sangat menikmatinya karena jepitan erat anus Hajar yang seperti memek perawan.

”Ughh…” Botak mendesah, ia benar-benar merasa nikmat. Dengan penuh nafsu ia menggerakkan penisnya dengan cepat keluar masuk di lubang anus Hajar yang kini sudah mulai sedikit terkuak lebih lebar.

Hajar menangis, merintih, pedih terasa di anusnya, tapi Botak sama sekali tidak peduli. Dia terus memperkosa Hajar dengan begitu buas. Tubuh Hajar yang sudah sangat kelelahan menjadi semakin lemah jadinya. Perempuan itu merintih kesakitan, tapi suaranya terdengar parau. Saat Botak ejakulasi dalam anusnya, barulah Hajar bisa bernafas lega, tapi tetap saja hatinya meringis pedih.

Botak mencabut penisnya dari anus Hajar, menyisakan spermanya yang bercampur dengan darah segar dari liang anus Hajar yang terluka. “Wah, gua udah puas, enak banget! Cobain deh!” ia berkata kepada Tatto yang dengan setia menunggu di tepi ranjang.

Tatto tertawa sambil menggeleng. “Enggak deh, gua mending entot memeknya.” katanya menyahut.

“Oke, loe cepatan deh. Sudah dua jam kita di sini, nanti ketahuan orang.” kata Mamat sebagai pemimpin para perampok itu. Laki-laki itu sudah menyerah, dia sudah tidak bisa ngaceng lagi, jadi buat apa berada disini lama-lama. Lebih baik mereka segera pergi sebelum ada yang curiga.

Tatto pun merangkak menghampiri Hajar yang sudah terlihat sangat lemah. Segera ditindahnya tubuh wanita cantik itu dan menusukkan penisnya ke liang vagina Hajar yang sempit. “Aahhh…” erang Hajar lemah, sama sekali tidak melawan.

Tatto mulai menggerakkan penisnya, menggesek vagina Hajar naik turun dengan penuh nafsu. Sekali lagi, Hajar hanya bisa mengerang lemah menerimanya. Jangankan menolak, membuka mata saja rasanya sudah snagat berat sekali baginya. Saat itulah, Mamat sengaja mengambil HP Hajar, meredial nomer HP suaminya. Setelah terdengar nada sambung, Mamat segera mendekatkan HP itu ke telinga Hajar.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (19)

“Hallo… haloo…” terdengar suara sang suami.

Hajar tak mampu menjawab, hanya bisa mengerang lemah.

Saat itu, Joki yang kembali bergairah ikut naik ke atas ranjang. Ia ingin memanfaatkan lubang anus Hajar yang kosong di kesempatan yang sempit ini. Dengan pelan Joki memasukinya sambil tetap membiarkan Tatto menggenjot dari atas. Tubuh mereka bertindihan seperti roti lapis, dengan Hajar terjepit berada di tengah-tengah.

“Aaaghhhh…” suara Hajar melengking tinggi saat Joki dan Tatto mulai menggerakkan alat kelamin mereka.

“Hallo, kamu kenapa, Sayang… ada apa?” tanya suaminya bingung dari seberang sana.

“T-tolong… tolong, Mas… a-aku diperkosa!!” kata Hajar dengan suara lemah.

Joki yang mendengarnya bergerak semakin liar, dari bawah ia menghentak-hentak keras liang anus Hajar, memberinya rasa pedih dan sakit yang tiada tara. “Ahhh… sakit… perih… ampun… sudah… kumohon…” erang Hajar pilu.

“Bilang jangan, tapi memek loe jadi banjir begini… dasar munafik!!” ujar Tatto yang terus memperkosa memek Hajar dengan kasar.

“Hallo… hallo… tunggu, Sayang… aku segera pulang…” kata suaminya panik mendengar suara erangan kesakitan Hajar.

Joki terus mengoyang batang penisnya di liang anus Hajar, membuat perempuan berjilbab putih itu semakin tak mampu menahan rasa sakitnya. Di atas, Tatto juga bergerak semakin liar sampai akhirnya menyemburkan cairan kentalnya di memek sempit Hajar.

“Hahaha, gua seneng banget sama nih cewek.” ujar Tatto penuh kepuasan.

Joki menyusul tak lama kemudian, sambil meremas kuat-kuat susu montok Hajar, ia menembakkan spermanya di lubang anus perempuan cantik itu.

Tertawa puas, kelima orang itu pun segera membenahi pakaian masing-masing dan bersiap pergi meninggalkan rumah Hajar. Waktu sudah semakin mepet. Suami Hajar pasti sudah dalam perjalanan pulang kemari. Mamat mengambil mentimun besar yang tergeletak di lantai. Dua mentimun, satu dimasukkan ke liang vagina Hajar dengan paksa dan satu lagi di anusnya. Hajar merintih kesakitan, tapi sama sekali tidak bisa menolak. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk berbuat apapun.

HIJABER CANTIK SEMOK-ZHA MAISYARAH (18)

“Itu gua jadikan kenang-kenangan buat laki loe.” kata Mamat sambil tertawa. “Biar laki eloe yang cabut tuh mentimun, hahaha…” tambahnya sambil berlalu dari kamar tanpa menutup pintunya.

Tak sampai dua menit, mobil box mereka pun berlalu. Kendaraan itu keluar dari garasi rumah Hajar dan berjalan pelan meninggalkan tempat itu dengan membawa barang-barang jarahan mereka. Di ujung gang, ketika mobil hendak keluar dari komplek perumahan, Mamat melihat sebuah sedan berjalan cepat diikuti sebuah mobil polisi dengan raungan suara sirine yang amat keras.

“Hahaha, gua yakin itu mobil suaminya.” ujar Mamat pada anak buahnya. Kawanan perampok itu pun tertawa-tawa, merayakan keberhasilan mereka…

p style=”text-align:justify;”

NAFISAH

Sudahkah ****-**** tahu,kalo ternyata syahwat para akhwat itu sangat besar.Dibalik balutan jilbab dan jubah nan anggun,tersimpan syahwat nan besar yang terpendam.Dan kalo bisa membuka potensi itu ***** akan merasakan sensasi ngentot yang sangat sangat lezat dan nikmat.Kepuasan agung yang akan didapat dan berlipat melebihi ngentot dengan siapa pun.Apa lagi dapet yang perawan.Seperti kisahku ini.

jilbab toket (13)
Pernikahanku dengan seorang akhwat cantik bernama Nida terbilang cukup bahagia.Kami menikah ketika kami masih kuliah.Ya istilah kerennya pacaran sambil nikah.Hubungan sexsual kami sangat hot dan kehidupan kami sangat harmonis.Maklum masih 3 bulan menikah.Boleh dibilang masih bulan madu.Kehidupan kami membuat iri teman2ku di kampus.Mereka sangat mengagumi kehidupan kami.Salah satu yang mengaguminya adalah Nafisah teman dekat istriku.Satu kampus tapi beda jurusan.Nah akan kuceritakan kisah ngentotku sama Nafisah ini.Setelah nikah kami langsung berpisah dan tinggal di rumah kontrakan.Ya biar bisa bebas dan hitung2 belajar mandiri.

jilbab toket (2)
Nafisah ini orangnya cantik juga.Sebanding sama istriku Nida.Cuma dia agak pendekan aja.Bahkan dalam hati ada keinginan untuk polygami sama dia.Hehehe.Padahal masih bulan madu loh.Ya emang dah sifat laki2.***** juga pasti sama lah.Di depan dia kami suka mengumbar kemesraan.Bahkan sampe peluk cium.Kadang istriku suka bercandain dia.Nafisah,cepetan nikah,entar nyesel loh.Katanya.Dan Nafisah cuman tersenyum aja.Gila juga ya.Kalo cewek dah nikah,gak canggung ovenbar tentang nikmatnya menikah.Bahkan aku suka mendengar,istriku suka bercerita tentang nikmatnya bercinta dan kegagahanku dalam memberi nafkah bathin.Nafisah ini sudah seperti saudara sendiri.Bahkan dia gak canggung dan sungkan kalo maen ke rumah.Cukup salam,langsung masuk ke rumah tanpa mendengar jawaban salam dulu,tau2 dah masuk rumah aja.Dan aku juga gak merasa keberatan.Toh dia dah seperti saudara sendiri.Kadang dia juga suka nginap di rumahku sambil ngerjain tugas.Biasa minjam komputer.Enak kan kalo gratis.

jilbab toket (3)
Pagi itu hari rabu pas libur kuliah sehari.Sekitar jam 8 pagi,kami sedang asyik masyuk bercinta dengan istriku setelah kami lebih dulu nonton BF.Karena dah kebelet,kami langsung ngelanjutin ngentotan di kamar tanpa lebih dulu mematikan DVD player.Pintu rumah juga gak dikunci.Lagian siapa yang mau dateng pagi2 pas liburan.

Cukup lama aku ngentot sama istriku.Kami melakukan berbagai macam gaya.Sampe kami merasa puas dan kelelahan.Bahkan istriku Nida sampe pulas tertidur karena kecapekan.Sampe2 digoyang2 badannya gak bangun.Mungkin saking lelahnya.Padahal aku pengen nambah loh.Karena haus,aku keluar dari kamar yang lupa kututup.Ketika nyampe ruang tengah aku kaget.Lho kok DVD sama TV mati?Siapa yang matiin ya?Batinku.Aku telanjang loh pas itu.

Ketika aku mau ke dapur,aku mendengar suara desahan dan rintihan dari kamar belakang.Lho,kok sepertinya aku mengenal suaranya.Tapi bagen lah.Karena semakin erotis,membuatku jadi penasaran.Siapa gerangan ya?Lalu dengan perlahan aku mendekati kamar yang pintunya terbuka sedikit.

jilbab toket (4)
Subhanallaah!!!Maa ajmalahaa.Alangkah indahnya.Kulihat Nafisah gak telanjang sih,cuman naekin jubahnya ke atas sebatas payudaranya.Kulihat dia lagi meluk guling.Tangan kanannya maenin memeknya.Tangan kirinya ngeremasin toketnya sendiri.Kadang dia meluk2 guling.Aku berdiri terpana melihat pemandangan indah ini.Kulihat memek Nafisah merekah merah nan indah dihiasi lebatnya bulu nan hitam.Payudaranya yang putih dan pentilnya yang berwarna pink.Ukurannya sekitar 36D.Tampak dia sangat menikmati yang dia lakukan tanpa menyadari aku yang berdiri mematung menyaksikan yang dia lakukan.Tak terasa kontolku jadi bangun dan berdiri kokoh.Sekitar 10 menitan aku menyaksikan Nafisah yang lagi asyik tanpa dia sadari.Perlahan aku dorong pintunya ke dalam untuk melihat lebih dekat dan jelas.

Nafisah tidak menyadari kalo aku dah masuk dan ada dekat dia.Maklum,disamping dia lagi horny berat dan asyik masturbasi,wajah dia ditutupi bantal.Entah apa maksudnya.Kutatap dan kulihat dengan jelas.Memek nafisah dah basah oleh lendir.Kulihat paha nafisah sangat putih mulus.Pantat dia tampak bergoyang2.Perlu diketahui,pantat Nafisah lebih bohay dari pantat istriku.

jilbab toket (5)

Kulihat jemari Nafisah menggesek2 memeknya dan memainkan itilnya.Mulutku jadi ngiler ngelihatnya.Jakunku naik turun.Aku berusaha mengatur nafas.Terasa kontolku semakin keras dan menegan.Dengan perlahan kututup pintu biar rapat.
Jantungku dagdigdug gak jelas.Karena aku sudah gak kuat dan horni berat melihat Nafisah yang lagi ngangkang dan maenin memek dan itilnya,maka dengan perlahan aku mendekatkan kepalaku diantara kedua paha nafisah yang mengangkang lebar.Tercium bau cairan khas yang keluar dari memek.Kepalaku semakin mendekati pangkal pahanya. Ambo….y!!!Seger banget!!!Gila gan!Memeknya merekah indah.Aku semakin mendekatkan kepalaku.Nafisah belum nyadar juga kalo kepalaku sejengkal depan memek dia.Telunjuk Nafisah asyik gesek2 itilnya.Asli sampe ngiler gan.Memek sempit dengan lobang kecil ditumbuhi bulu lebat hitam nan tertata rapi.

Gila gan,pahanya tuh!Putih dan muluz banget.Bikin gemez aja.Aku sampe ngiler dan ngaceng berat melihat memek indah Nafisah.Karena sudah gak kuat,aku langsung memegang erat kedua paha Nafisah dan mulutku langsung nyosor memeknya yang sudah sangat basah oleh lendir kenikmatan.

jilbab toket (6)
Nafisah tampak sangat kaget. “A…..w!!!” Teriak dia mendapat perlakuan begitu.Dia berontak dan meronta2.Tapi pegangan tanganku di pahanya sangat kuat dan mulutku dah aktif nyosor dan jilatin memeknya.Kusedot2 itilnya dan kusapu lobang memeknya dengan lidahku.Kuhisap habis cairan yang keluar dari memek Nafisah.Sekarang Nafisah gak meronta2 lagi malah ganti dengan desahan dan rintihan erotis. “A…..h,uo….h,sshhh a….h!!!.Terus A….!Teru….s!!!”. Dengan rakusnya aku jilatin dan nyedot2 memeknya.Tiba2 Nafisah mengapitkan kedua pahanya dan menjambak rambutku sehingga aku hampir sulit bernafas. “A…..h!” Nafisah berteriak merasakan kenikmatan.Dari memeknya keluar lagi cairan kenikmatan yang habis kusapu dan kuhisap sampe habis.

Aku langsung menaiki tubuh Nafisah.Dia tampak pasrah dan menantikan yang kulakukan selanjutnya.Kuremas payudaranya dengan kedua tanganku.Kadang kujilat dan kuhisap puting susunya.Sehingga Nafisah semakin merintih dan mendesah.Aku dah lupa diri terhanyut dalam buaian nafsu syahwat yang melandaku.Akal sehatku dah hilang sudah.

Kutarik dan kulepas jubah dan jilbab Nafisah ke atas.Kutarik BH-nya di atas dadanya sampe terlepas.Kini dalam dekapanku terbujur sesosok akhwat yang telanjang bulat dengan body yang sangat aduhai.Pantat semok dan payudara putih mengkal dengan puting berwarna pink.Kira2 gedenya sekitar 36D.Lehernya yang putih jenjang habis kujilat dan kucupangi.Sehingga nampak bekas tanda merah sisa cupanganku.

 Nafisah semakin pasrah aja.Dia menatapku nanar dan tidak menolak.Ketika ku kiz bibirnya,dia malah membalasnya dengan ganas.Tangan dia mencari2 sesuatu dan hinggap di kontolku.Dia tampak kaget memegang kontolku yang super tegang gede dan panjang.Tapi selanjutnya malah dia mengocok2 dan meremas2 kontolku.Kujilati telinga dia hingga dia tambah merintih.Lalu jilatanku beralih ke payudaranya yang putih mengkal.Tak luput aku mencupangnya juga dengan ganas.

jilbab toket (7)

“A Eggy,Nafisah sayang kamu A”. Kata dia dengan desahnya yang erotis.
Lalu aku bersiap mengarahkan dan membimbing kontolku ke arah lobang memek Nafisah.Kedua pahanya semakin kubuka lebar.Tampak mata Nafisah merem melek dan dia menggigit2 bibir bawahnya karena saking nikmatnya kala kontolku kuusap2 tepat di lobang memeknya. “A….h,uo….h,ssshhh a….kh!Cepet masukin kontolna A.Cepet ewe memek Nafisah”. Desahnya.Nafsu syahwat telah membuat Nafisah lupa kalo dia seorang akhwat.Seorang perempuan yang menjaga dan menutupi semua auratnya.Dia malah ngomong jorok pengen cepet2 kuentot.

jilbab toket (12)

“Aa masukin ya sayang?” Nafisah cuma mengangguk tanda setuju.Lalu aku semakin menggesek2 kontolku di lobang memeknya.Memek dia semakin basah dan licin aja.Maka dengan perlahan kutekan masuk kontolku ke dalam memeknya.Blep,kontolku masuk helemnya doang.Terasa sangat hangat dan nikmat.Memeknya meremas dengan kuat dan terasa ngempot2 mau nyedot kontolku kedalam.Karena sudah basah dan licin,tak sulit aku dalam mendorong masuk kontolku.Tampaknya memek nafisah dah bener2 siap untuk dimasukin kontol.Ketika kutekan lagi kedalam,terasa ada sesuatu yang mengganjal.Tapi dengan memompa secara perlahan dan disertai hentakan agak kuat,slep,pret blez!! “.A….kh!” Nafisah berteriak merasakan sedikit perih di memeknya tatkala kontolku berhasil masuk seluruhnya kedalam memek Nafisah Aku membiarkan sejenak kontolku didalam memek Nafisah merasakan sensasi nikmat yang tak terlukiskan.Kontolku terasa terjepit dan diremas memek Nafisah.Memeknya seperti menyedot kontolku.Kala aku mulai memompa keluar masuk kontolku,Nafisah mulai mendesah erotis lagi.Kami bermain bibir sama dia.Kadang kujilati telinganya dan ini semakin membuat Nafisah mendesah.

jilbab toket (8)

Ketika aku memompa dengan ritme cepat,tiba2 dia memeluk aku dan menghimpitkan kedua kakinya di pinggangku dan berteriak, “a…..h,A Eggy….!!!” Mungkin dia orgasme.Terasa memeknya berkedut2.Kubiarkan sejenak.Setelah itu aku memompa kontolku lagi.Walau terasa licin,tapi jepitan memeknya terasa kuat.Aku merasakan ngilu bercampur nikmat tiada tara.Aneh juga,aku belum mau keluar juga.Mungkin ini karena sebelumnya aku maen dulu sama istriku Nida.Pantat Nafisah tak berhenti bergoyang mengimbangi setiap sodokan kontolku.Mulut Nafisah tak berhenti mendesah.Kadang bercampur ucapan jorok.Membuat aku semakin mempercepat setiap sodokan kontolku.Sekitar 40 menitan aku memompa kontolku di memek Nafisah.Dan aku merasakan sesuatu mau keluar dari kontolku.Semakin kupercepat sodokanku. “Sayang,aa mau keluar ne!!!” Dan ketika pada hentakan terakhir,ser,crot crot crot,kontolku memuntahkan laharnya dengan banyak.Disertai teriakan Nafisah sambil mencakar punggungku dan menggigit pundakku. “A…..h,a Eggy….!!!” Lalu aku terkulai lemas diatas tubuh Nafisah.Dia memelukku dengan erat.Kami merasakan sisa2 orgasme kami.Setelah itu aku jatuh disamping tubuh Nafisah.Tiba2 setelah itu,Nafisah mengambil bantal dan menutupi memek dan teteknya dengan cara mendekap bantal itu.Dia terisak dan memalingkan mukanya.Aku juga seperti tersadar.Kulihat Nafisah memunggungiku.Kupegang dan kuusap pundaknya,tapi dia melepaskannya.Dia seperti ingin menangis dengan keras,tapi dia menahannya.

jilbab toket (9)

“Nafisah,maafin A Eggy ya!!!Aa bener2 khilaf.Sungguh aa sangat menyesal”. Kutarik tubuh dia dan memeluknya sambil membelai rambutnya.Dia terisak dan membenamkan wajahnya di dadaku.”Gak apa2 A.Lagian salah Nafisah juga.Datang ke rumah Aa tanpa memberi tahu dulu.Tadi Nafisah dah salam sampe beberapa kali,tapi gak ada jawaban.Tapi TV terus nyala.Nafisah masuk aja sapa tau Aa dan Nida gak dengar karena sibuk.Pas masuk ke rumah,liat film begitu.Terus ada suara Aa sama Nida di kamar.Pas diliat,lagi gituan.Ya udah,karna gak kuat,aku masuk kamar belakang.Tau2 pas sadar,kita dah ngelakuin begini”. Babarnya disertai isakan. “Sekali lagi maafin Aa ya!” “Gak apa2 a.Toh dah terjadi.Mau gimana lagi.Toh aku juga sama2 menikmatinya.Cuman aku gak enak sama Nida aja A”.

jilbab toket (11)
Aku langsung terperanjat.Sambil bilang tunggu sebentar,aku mengendap2 pergi ke kamar depan.Kulihat Nida masih tertidur pulas.Mungkin karena capek banget.Alhamdulillaah.Untung saja dia gak bangun.Kalo dia tahu,bisa kiamat nanti.

jilbab toket (10)

Lalu aku menutup pintu kamarku pelan2 sampe rapat.Lalu berjingkat2 kembali ke kamar belakang nyamperin Nafisah lagi.Kulihat dia duduk termenung dan matanya sembab.Kuhampiri dia dan duduk disampingnya.Kubelai rambutnya lalu kukecup keningnya.Dia diam saja.Dan pandangan matanya kosong kedepan.Sambil kubelai rambutnya,aku ngomong sama dia. “Nafisah,maafin Aa ya.Aa akan tanggung jawab dengan menikahimu.Walau secara siri dulu.Aa gak mau sampe Nida tahu dulu.Dan aa harap,kamu bisa mengerti”. “Beneran yang aa bilang?” “Bener Nafisah.Aa gak mau jadi lelaki yang gak bertanggung jawab.Aa gak mau rumah tangga aa yang baru 3bulan sama Nida hancur berantakan.Kuharap kamu mengerti”. Nafisah cuma mengang tanda mengerti.Aku memeluk dia sambil mengelus2 punggung dia.Kulihat dibekas CD dia yang dipake membersihkan sisa2 hubungan kami terlihat ada bercak darah kemerahan.Aku telah merenggut keperawanan Nafisah.Lalu kuusap2 payudaranya.Dia mendesah lagi. “Sudah a,nanti Nida bangun.Bisa gawat nanti”. Kata Nafisah. “Tenang aja sayang,dia lagi pules tidur”. Jawabku. “Jangan a,Nafisah takut” “.Takut apa sayang?Tenang aja.Kita maennya pelan2 ya”. Langsung kupeluk dan kutindih dia.Kami bermain cinta lagi walau disertai degdegan takut Nida bangun.Tapi sensasinya sangat luar biasa.Bahkan kalo Nafisah mendesah agak keras,lalu kulumat bibirnya.Ya takut Nida bangun dan ketahuan.Bisa gawat nanti.Kami melakukan dengan berbagai macam gaya.Terasa lebih nikmat karena terkejar waktu.Kami melakukannya hampir 1 jam.Kadang kami berhenti sambil melihat situasi.Setelah dirasa aman,kami lanjut lagi.Aku merasa sangat puas.Karena dapat menikmati seluruh lekuk tubuh Nafisah dengan sempurna gak seperti main yang pertama.Setelah puas,Nafisah membersihkan badannya dengan handuk.Lalu setelah merapikan pakaiannya kembali,dia pamit pulang.Ya takut ketauan Nida.Beruntung dia datang pake motor beatnya.Setelah pulang,aku kembali ke kamar tidurku dan tidur pulas.Tau2 aku dibangunin Nida. “Abi,bangun,cepet mandi gih.Kita sholat jamaah ya.Katanya.Lalu setelah mandi,aku sholat berjamaah sama istriku ini.Dilanjutkan dengan makan siang”.

jilbab toket (1)

Begitulah kisahku *****.Selanjutnya hubunganku sama Nafisah tetap berlanjut.Aku belum menikahinya,toh Nafisah juga gak menuntut.Kadang kami bercinta dengan Nafisah pas ada istriku loh,di dapur,di kamar mandi lah.Pokoknya setiap ada kesempatan dan memungkinkan kami lakukan.Tapi ya gak bisa sambil telanjang.Cukup singkap rok ke atas sama pelorotin celdam lalu nungging,jadi deh.Pokoknya sangat nikmat.
Percaya atau tidak,akhirnya aku menikahi Nafisah.Tentu dengan seizin istriku.Setelah melalui pendekatan Nafisah ke Nida melalui curhat dan sharing pendapat.Dalam jamaah kami,polygami adalah sesuatu yang wajar.

ANNA, DINI DAN TIARA

Hari ini adalah hari Minggu, tak seperti hari-hari lainnya aku harus bangun pagi, untuk bersiap pergi ke kantor, hari ini aku santai sekali. Sudah pukul 9 pagi aku masih saja bermalas-malasan di kamarku sambil menonton televisi. Acara berita pagi diselingi dengan iklan kemudian acara olahraga menghiasi hari liburku. Aku kemudian pergi kebelakang, karena rasa sesak diperutku menyuruhku untuk segera kebelakang. Setelah itu perasaan lapar mulai menjalar. Aku tak tahu harus sarapan apa, karena biasanya aku sarapan dikantor. Tetapi pagi ini rasanya sangat malas untuk pergi keluar sekedar membeli sarapan pelepas lapar. Aku memutuskan untuk tetap dirumah saja pagi ini. Aku berpikir untuk makan nanti siang saja sekalian. Dan akupun melanjutkan acara menonton televisiku dikamar.

ANNA

Aku terbangun, suara motor tetangga diluar membangunkanku, ternyata aku ketiduran lagi. Aku merasa sangat lelah sekali, karena tadi malam aku tidur agak terlambat. Kemudian aku bangkit dari ranjangku. Kali ini perutku merasa sangat lapar, sepertinya tak dapat ditahan lagi. Aku memutuskan untuk pergi ke mall dekat rumahku. Aku bersiap diri, mandi dan memakai pakaianku. Aku memakai celana jins abu-abu dengan kemeja hitam berlengan pendek. Kemudian aku keluar dan tak lupa menutup dan mengunci pintu rumahku. Aku memutuskan untuk jalan kaki saja, maksudku untuk sekalian olahraga, karena pagi ini aku nyaris tak banyak menggerakkan badanku, dan lagipula jarak antara rumahku dan mall tujuanku tak terlalu jauh, hanya 15 menit berjalan kaki.

ANNA

15 menit kemudian aku sampai di mall, segera mencari-cari tempat makan yang sreg di hati. Aku kemudian masuk ke salah satu restoran langgananku. Kebetulan disana banyak gadis-gadis berjilbab yang cantik dari abg sampai mahasiswa nongkrong disana. Aku memang sangat suka pada gadis berjilbab, apalagi mereka yang berdandan dengan seksi dan pakaian serba ketat. Menurutku mereka lebih feminim, anggun, dan lebih menantang. Aku kemudian duduk, dan memesan kepada pelayan disana
“pesan apa mas?” tanya pelayan kepadaku
“Biasa mbak…” jawabku singkat. Aku memang sudah biasa makan disini. Aku yang bekerja sebagai manager disalah satu perusahaan dikotaku, membuatku mempunyai banyak kenalan, termasuk manager restoran ini. Sambil menunggu pesananku datang aku melihat-lihat gadis yang ada disana. Kemudian tak lama aku melihat 3 orang gadis berjilbab yang sepertinya adalah mahasiswa masuk ke restoran. Kulihat baju mereka bagus dan melekat ketat di badan mereka, membuat kemolekan tubuh mereka terlihat, kulit merekapun bersih dan putih, dan dengan mengenakan jilbab dengan warna yang pas, dan dengan gaya yang anggun dan feminin. Aku terus memandangi mereka, dan sepertinya mereka menyadari kalau aku memperhatikan mereka. Tak lama pesananku datang, dan aku mulai menyantap hidanganku. Sedang lahapnya aku makan, tiba-tiba 3 orang gadis berjilbab yang sedari tadi kuperhatikan datang menghampiriku, dan langsung ikut duduk di mejaku yang memang untuk 4 orang.

DINI

“Boleh duduk disini mas?” sapa salah seorang gadis tadi padaku,
“Oh, silakan dik, mau pesen juga ya, kalo gitu aku panggil ya” aku memanggil pelayan yang tadi untuk segera ke mejaku. “ Nah, silakan pesan adik2”
Mereka kemudian membuka menu, dan memesan. Aku bersikap sopan, tetapi terus mencuri pandang mereka bertiga. Dari dekat mereka memang semakin cantik dan seksi, apalagi bau mereka juga harum. Naluriku sebagai seorang laki-laki mulai berbicara, terbukti dengan mengerasnya penisku.
Setelah selesai memesan kami mulai berbincang,
“oh iya mas, kenalin aku anna, dan ini adalah dini dan tiara” mereka mengenalkan diri dan bersalaman denganku. “Oh ya, aku ronnie” jawabku. Anna duduk didepanku, dini disamping anna dan tiara disampingku.
Kemudian pesanan mereka bertiga datang, mereka mulai menyantap hidangan. Sambil kami terus berbincang.
“Oh ya, anna lihat, mas tadi perhatiin kami bertiga sejak kami masuk tadi”
“oh iya, maaf kalo gitu ya anna, maklum lah laki-laki” jawabku sekenanya karna aku kini salah tingkah didepan 3 gadis cantik.

“Oh nggak apa-apa mas, kita suka kok diperhatiin”jawab tiara, ia kemudian meraba-raba batang pennsku dari luar celana jins ku dengan tangan kirinya yang memang sedari tadi sudah mengeras. “Ohh..” aku mendesah tertahan, saat tiara kemudian meremas penisku. Kemudian ia melakukan tindakan yang lebih jauh lagi, ia melepaskan ritsleting celanaku, dan memelorotkan celana dalamku hingga penisku menyembul dibawah meja. Untung karena taplak mejanya panjang, jadi tak kelihatan oleh orang sebelah.
“ohhh…apa yang kamu lakukan tiara…hnggghkkk…kalllooo keliatan orang kan malu…” Tiara kemudian mengocok batangan penisku dengan tangannya yang terasa sangat lembut itu. Kemudian aku merasakan sesuatu yang basah menyelimuti penisku. Aku tak melihat dini di sebelah anna lagi. Ternyata dini telah berada dibawah meja, kini ia sedang mengoral penisku.

DINI

“ooohhkkkk….enakkkk” desahku tertahan karena takut ketauan. Kemudian terasa kocokan pada penisku semakin cepat, dan aku merasa sesuatu akan meledak pada penisku.
“ooohhkkhhh….aku keluarrrrr” aku mengeluarkan lahar panasku dalam mulut dini yang tengah aktif dibawah sana. Terasa spermaku dihisap sampai habis oleh dini. Kemudian tak lama dini pun muncul dari bawah meja, sambil menyeka bibirnya dengan jilbabnya.
“Kalian gila, gimana kalo ketahuan…??”
“Tapi enak kan mas? Itu hukuman karena mas berani-beraninya menatap kami seperti tadi” jawab anna.
“Tapi ini baru hukuman pertama mas, mas ronnie harus ikut kami” sambung dini.
Kemudian setelah selesai membayar, tiara menarik tanganku dan mengajakku ke parkiran tempan mereka memarkir mobil merah mereka. Mobilnya cukup bagus. Sepertinya mereka ini anak-anak orang kaya. Aku masuk dalam mobil mereka.
Didalam perjalanan, mereka mempreteli pakaianku didalam mobil, hingga aku telanjang bulat, tanganku diikat mereka ke belakang. Mereka memainkan penisku hingga kembali mengeras sempurna. Aku tak bisa membayangkan apa yang bakalan mereka lakukan kepadaku. Aku berharap sesuatu yang enak dan nikmat tentunya.

Beberapa menit kemudian kami sampai di sebuah rumah yang cukup megah, sepertinya adalah rumah anna. Terlihat tak ada siapa-siapa di pekarangan rumah itu. Kemudian dengan keadaan terikat, aku didorong oleh dini dari dalam mobil, sambil memegang tali ikatan tanganku. Kemudian anna menarik penisku dengan tanganku seperti menarik belalai gajah, Agar aku berjalan mengikutinya. Kemudian aku sampai pada sebuah kamar, ikatanku kemudian dibuka. Dan aku didorang oleh anna ke ranjang yang sangat empuk.
“aku duluan ya, kalian kan udah tadi” kata anna kepada dua temannya. Kemudian dengan sangat bernafsu, anna menerkam penisku seperti orang kelaparan, dan segera mengulumnya dengan kuat.

Sementara dini dan tiara bermain dengan bagian atasku. Tiara mengulum bibirku sedangkat dini menghisap-hisap puting ku. Aku benar-benar tak membayangkan kenikmatan yang ku peroleh ini. 3 orang gadis cantik berjilbab, tengah mengeroyokku. Aku benar-benar nafsu dibuatnya. Kemudian dini mengambil beberapa pil dan segelas air, “mas minum ini” katanya padaku. “untuk apa ini?” tanyaku singkat,”udah mas diminum aja” jawabnya. Aku menenggak pil-pil itu sekaligus. Beberapa menit kemudian aku merasa sangat bertenaga. Mungkin itu adalah obat kuat.

Kemudian aku melihat anna telah menurunkan celana dalamnya, dan sepertinya sudah tidak tahan lagi. Kemudian dini dan tiara memegangi kedua tanganku “Kenapa dipegang?” tanyaku,
“mas nggak boleh menyentuh kami, Cuma kami yang boleh menyentuh mas” kata tiara sambil kemudian mengikat kedua tanganku di tepi ranjang. Anna kemudian naik ke ranjang, dan menggangkangi penisku. Dini dan tiara kemudian menggenggam penisku dan mengarahkannya pada vagina anna. Anna kemudian menurunkan pantatnya yang bulat, tanpa kesulitan penisku yang cukup besar yang berukuran 17 cm dan diameter 5 cm masuk seluruhnya dalam vagina anna yang sudah basah kuyup itu. “ooohhh besarr sekali….enakkkk” kemudian tanpa menunggu lagi anna menggenjot penisku dengan kecepatan tinggi. Sampai tubuhnya menghentak-hentak dan jilbabnya berkibar-kibar. “Hohhh…hooo…ooohhggkkk anna….enak…sempithh….” racauku sambil menikmati goyangan dan jepitan serta lumatan liang vagina anna yang sepertinya sangat terawat, karena terlihat sangat bersih dan bibir vaginanya yang berwarna pink. 15 menit anna menggoyang tubuhnya hingga ia orgasme dan tubuhnya mengejang. “OOOHHHGKKK aku nyampeeee….” anna kemudian melemas dan tergeletak di sebelasku yang masih terikat, jepitan vaginanya yang terlepas dari penisku mengeluarkan bunyi ‘plop’. Anehnya aku masih belum merasakan akan orgasme. Kemudian tiara langsung naik keranjang dan mengangkangi penisku, kemudian langsung mengarahkan batangan penisku yang sudah keras seperti baja dan telah memerah ke liang surgawinya. “oooohhhhhgggjkk mass….besarnya, kerasnya….” jepitan vagina tiara terasa lebih sempit dan denyutannya terasa lebih kencang, sehingga penisku serasa di pijat dengan keras oleh liang kenikmatannya itu.

TIARA

Kemudian tanpa menunggu lagi, tiarapun langsung menggenjot penisku dengan kecepatan tinggi. Dia memutar mutar pantatnya sehingga penisku terkocok sempurna dalam vaginanya, akupun merasakan kenikmatan tiada taranya. 15 menit tiara menggenjot penisku kemudian ia mengejang nikmat, mengeluarkan seluruh hasratnya pada penisku,” OAHHHGDDHHHH….enaakkkkkk mass…anumu tebel sekali”. Kemudian tiarapun ambruk dan segera digantikan oleh dini yang melakukan hal sama dengan tiara dan anna tadi. 15 menit dini pun memperoleh orgasmenya atas penisku.

3 gadis cantik itu telah memperoleh kepuasan dari penisku, tetapi aku sedari tadi belum juga orgasme. Aku hanya merasakan kenikmatan-kenikmatan luarbiasa dari jepitan vagina 3 gadis berjilbab itu tanpa pernah mencapai puncaknya. Kemudian mereka bertiga mengelilingi pensku yang masih berdiri tegak, mereka bertiga terlihat kagum dengan benda kejantanan ku itu.
“wah hebat sekali ni, belum keluar-keluar juga, kita apain ya an?” tanya tiara pada anna.
“kita kerjain aja, ntar mani-nya kita ambil ‘n bagi-bagi sama temen-temen”
Lalu merekapun mulai menjilat dan menghisap penisku sehingga aku merasakan kenikmatan tiada taranya. penisku dikerjai 3 orang gadis cantik berjilbab sekaligus.

TIARA

20 menit mereka mengerjai penisku, aku merasakan akan meledakkan orgasmeku. “wah dah kedut-kedut nih, cepet ara” tiara dengan sigap mengambil sebuah botol film dari lemari di sebelah kiri ranjang ranjang. Lalu tiara memasukkan menutup lubang kencingku dengan botol tadi sambil mengocok penisku dengan cepat. “OOOOORRGGKKKK akhuuuu kelluuuaaarhrhhh” ‘cret-cret’ sekitar 10 semprotanku memenuhi botol tadi sampai 3 per empatnya. Cukup banyak spermaku yang keluar. Anehnya penisku tidak lemas setelah mencapai puncak kenikmatan pertama kali. Mereka bertiga lalu, terus menggenjot dan mengerjai penisku hingga 10 buah botol film terisi penuh dengan spermaku. Aku pun lemas dan lelah dibuatnya. Mereka lalu melepaskanku dan mengembalikan pakaianku. “makasih ya mas mani-nya stok kosmetik kita jadi banyak nih, n bisa dijual juga, Hehe” Aku kemudian diantarkan oleh sopir mereka pulang.

Sementara aku berlalu, terlihat mereka mengoleskan spermaku kewajah mereka masing-masing seakan-akan mereka memakai pelembab wajah. Lalu mereka juga meminum spermaku itu sambil melambaikan tangan kepadaku. Wah gila ni cewek-cewek, berjilbab, tetapi suka dengan sperma…tetapi ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan.

LILIS

Di kantorku ada seorang wanita berjilbab yang sangat cantik dan anggun. Tingginya sekitar 165 cm dengan tubuh yang langsing. Kulitnya putih dengan lengsung pipit di pipi menambah kecantikannya, suaranya halus dan lembut. Setiap hari dia mengenakan baju gamis yang panjang dan longgar untuk menyembunyikan lekuk tubuhnya, namun aku yakin bahwa tubuhnya pasti indah.

jilbab hot (1)

Namanya Lilis, dia sudah bersuami dan beranak 2, usianya sekitar 30 tahun. Dia selalu menjaga pandangan matanya terhadap lawan jenis yang bukan muhrimnya, dan jika bersalamanpun dia tidak ingin bersentuhan tangan. Namun kesemua itu tidak menurunkan rasa ketertarikanku padanya, bahkan aku semakin penasaran untuk bisa mendekatinya apalagi sampai bisa menikmati tubuhnya…., Ya…. Benar… Aku memang terobsesi dengan temanku ini. Dia betul-betul membuatku penasaran dan menjadi objek khayalanku siang dan malam di saat kesendirianku di kamar kost.

Aku sebenarnya sudah berkeluarga dan memiliki 2 orang anak yang masih kecil-kecil, namun anak dan istriku berada di luar kota dengan mertuaku, sedangkan aku di sini kost dan pulang ke istriku seminggu sekali.

Kesempatan untuk bisa mendekatinya akhirnya datang juga, ketika aku dan dia ditugaskan oleh atasan kami untuk mengikuti workshop di sebuah hotel di kota Bandung selama seminggu.

jilbab hot (2)

Hari-hari pertama workshop aku berusaha mendekatinya agar bisa berlama-lama ngobrol dengannya, namun Dia benar-benar tetap menjaga jarak denganku, hingga pada hari ketiga kami mendapat tugas yang harus diselesaikan secara bersama-sama dalam satu unit kerja. Hasil pekerjaan harus diserahkan pada hari kelima.

Untuk itu kami bersepakat untuk mengerjakan tugas tersebut di kamar hotelnya, karena kamar hotel yang ditempatinya terdiri dari dua ruangan, yaitu ruang tamu dan kamar tidur.

Sore harinya pada saat tidak ada kegiatan workshop, aku sengaja jalan-jalan untuk mencari obat perangsang dan kembali lagi sambil membawa makanan dan minuman ringan.

Sekitar jam tujuh malam aku mendatangi kamarnya dan kami mulai berdiskusi tentang tugas yang diberikan. Selama berdiskusi kadang-kadang Lilis bolak-balik masuk ke kamarnya untuk mengambil bahan-bahan yang dia simpan di kamarnya, dan pada saat dia masuk ke kamarnya untuk kembali mengambil bahan yang diperlukan maka dengan cepat aku membubuhkan obat perangsang yang telah aku persiapkan. Dan aku melanjutkan pekerjaanku seolah-olah tidak terjadi apa-apa ketika dia kembali dari kamar.

jilbab hot (3)

Hatiku mulai berbunga-bunga, karena obat perangsang yang kububuhkan pada minumannya mulai bereaksi. Hal ini tampak dari deru napasnya yang mulai memburu dan duduknya gelisah serta butiran-butiran keringat yang mulai muncul dikeningnya. Selain itu pikirannyapun nampaknya sudah susah untuk focus terhadap tugas yang sedang kami kerjakan

Namun dengan sekuat tenaga dia tetap menampilkan kesan sebagai seorang wanita yang solehah, walaupun seringkali ucapannya secara tidak disadarinya disertai dengan desahan napas yang memburu dan mata yang semakin sayu.

Aku masih bersabar untuk tidak langsung mendekap dan mencumbunya, kutunggu hingga reaksi obat perangsang itu benar-benar menguasainya sehingga dia tidak mampu berfikir jernih.

Setelah sekitar 30 menit, nampaknya reaksi obat perangsang itu sudah menguasainya, hal ini Nampak dari matanya yang semakin sayu dan nafas yang semakin menderu serta gerakan tubuh yang semakin gelisah. Dia sudah tidak mampu lagi focus pada materi yang sedang didiskusikan, hanya helaan nafas yang tersengal diserta tatapan yang semakin sayu padaku.

Aku mulai menggeser dudukku untuk duduk berhimpitan disamping kanannya, dia seperti terkejut namun tak mampu mengeluarkan kata-kata protes atau penolakan, hanya Nampak sekilas dari tatapan matanya yang memandang curiga padaku dan ingin menggeser duduknya menjauhiku, namun nampaknya pengaruh obat itu membuat seolah-olah badannya kaku dan bahkan seolah-olah menyambut kedatangan tubuhku.

Setelah yakin dia tidak menjauh dariku, tangan kiriku mulai memegang tangan kanannya yang ia letakkan di atas pahanya yang tertutup oleh baju gamisnya. Tangan itu demikian halus dan lembut, yang selama ini tidak pernah disentuh oleh pria selain oleh muhrimnya. Tangannya tersentak lemah dan ada usaha untuk melepaskan dari genggamanku, namun sangat lemah bahkan bulu-bulu halus yang ada di lengannya berdiri seperti dialiri listrik ribuan volt. Matanya terpejam dan tanpa sadar mulutnya melenguh..”Ouhh….”, tangannya semakin basah oleh keringat dan tanpa dia sadari tangannya meremas tanganku dengan gemas.

Aku semakin yakin akan reaksi obat yang kuberikan… dan sambil mengutak-atik laptop, tanpa sepengetahuannya aku aktifkan aplikasi webcam yang dapat merekam kegiatan kami di kursi panjang yang sedang kami duduki dengan mode tampilan gambar yang di hide sehingga kegiatan kami tak terlihat di layar monitor.

Lalu tangan kananku menggenggam tangan kanannya yang telah ada dalam genggamanku, tangan kiriku melepaskan tangan kanannya yang dipegang dan diremas mesra oleh angan kananku, sehingga tubuhku menghadap tubuhnya dan tangan kiriku merengkuh pundaknya dari belakang.

Matanya medelik marah dan dengan terbata-bata dan nafas yang memburu dia berkata “Aaa…aapa..apaan….nih……Pak..?” dengan lemah tangan kirinya berusaha melepaskan tangan kiriku dari pundaknya.

Namun gairahku semakin meninggi, tanganku bertahan untuk tidak lepas dari pundaknya bahkan dengan gairah yang menyala-nyala wajahku langsung mendekati wajahnya dan secara cepat bibirku melumat gemas bibir tipisnya yang selama ini selalu menggoda nafsuku.

Nafsuku semakin terpompa cepat setelah merasakan lembut dan nikmatnya bibir tipis Lilis, dengan penuh nafsu kuhisap kuat bibir tipis itu.

“Ja..jangan …Pak Ouhmmhhh… mmmhhhh…” Hanya itu kata yang terucap dari bibirnya.. karena bibirnya tersumpal oleh bibirku.

Dia memberontak.., tapi kedua tangannya dipegang erat oleh tanganku, sehingga ciuman yang kulakukan berlangsung cukup lama. Lilis terus memberontak…, tapi gairah yang muncul dari dalam dirinya akibat efek dari obat perangsang yang kububuhkan pada minumannya membuat tenaga berontaknya sangat lemah dan tak berarti apa-apa pada diriku.

Bahkan semakin lama kedua tangannya bukan berusaha untuk melepaskan dari pegangn tanganku tapi seolah mencengkram erat kedua tanganku seperti menahan nikmatnya rangsangan birahi yang kuberikan padanya, perlahan namun pasti bibirnya mulai membalas hisapan bibirku, sehingga terjadilah ciumannya yang panas menggelora, matanya tertutup rapat menikmati ciuman yang kuberikan.

Pegangan tanganku kulepaskan dan kedua tanganku memeluk erat tubuhnya sehingga dadaku merasakan empuknya buahdada yang tertutup oleh baju gamis yang panjang. Dan kedua tangannyapun memeluk erat dan terkadang membelai mesra punggungku.

Bibirku mulai merayap menciumi wajahnya yang cantik, tak semilipun dari permukaan wajahnya yang luput dari ciuman bibirku. Mulutnya ternganga… matanya mendelik dengan leher yang tengadah…

”Aahhh….. ouh…… mmmhhhh…. eehh… ke.. na.. pa….. begi..nii…ouhhh …”

Erangan penuh rangsangan keluar dari bibirnya disela-sela ucapan ketidakmengertian yang terjadi pada dirinya..

Sementara bibirku menciumi wajah dan bibirnya dan terkadang lehernya yang masih tertutup oleh jilbab yang lebar…, secara perlahan tangan kanan merayap ke depan tubuhnya dan mulai meremas buah dadanya.. ”Ouhhh….aahhh…” kembali dia mengerang penuh rangsangan. Tangan kirinya memegang kuat tangan kananku yang sedang meremas buahdadanya. Tetapi ternyata tangannya tidak berusaha menjauhkan telapak tanganku dari buahdadanya, bahkan mengarahkan jariku pada putting susunya agar aku mempermainkan putting susunya dari luar baju gamis yang dikenakannya “ouh…ouh…ohhh…..” erangan penuh rangsangan semakin tak terkendali keluar dari mulutnya

Telapak tanganku dengan intens mempermainkan buahdadanya…, keringat sudah membasahi gamisnya…, bahkan tangan kanannya dengan gemas merengkuh belakang kepalaku dan mengacak-ngacak rambutku serta menekan wajahku agar ciuman kami semakin rapat…Nafasnya semakin memburu dengan desahan dan erangan nikmat semakin sering keluar dari mulutnya yang indah.

jilbab hot (4)

Tangan kananku dengan lincah mengeksplorasi buahdada, pinggang dan secara perlahan turun ke bawah untuk membelai pingggul dan pantatnya yang direspon dengan gerakan menggelinjang menahan nikmatnya nafsu birahi yang terus menderanya. Tangan kananku semakin turun dan membelai pahanya dari luar gamis yang dikenakannya… dan terus kebawah hingga ke ujung gamis bagian bawah. lalu tanganku menyusup ke dalam sehingga telapak tanganku bisa langsung menyentuh betisnya yang jenjang..

Ouhhh… sungguh halus dan lembut terasa betis indah ini, membuat nafsuku semakin membumbung tinggi, penisku semakin keras dan bengkak sehingga terasa sakit karena terhimpit oleh celana panjang yang kukenakan, maka secara tergesa-gesa tangan kiriku menarik sleting celana dan mengeluarkan batang penisku yang tegak kaku.

Dari sudut matanya, Lilis melihat apa yang kulakukan dan dengan mata yang terbelalak dan mulut ternganga ia menjerit pelan melihat penisku yang tegak kaku keluar dari dalam celana ”Aaaihhh…”. Dari sorot matanya, tampak gairah yang semakin menyala-nyala ketika menatap penis tegakku.

Belaian tangan kananku semakin naik ke atas…., ke lututnya, lalu…. Cukup lama bermain di pahanya yang sangat halus…., Lilis semakin menggelinjang ketika tangan kananku bermain di pahanya yang halus, dan mulutnya terus-terusan mengerang dan mengeluh nikmat “ Euhh….. ouhhhh….. hmmmnnn…. Ahhhhh……”

Tanganku lalu naik menuju pangkal paha…., terasa bahwa bagian cd yang berada tepat di depan vaginanya sudah sangat lembab dan basah. Tubuhnya bergetar hebat ketika jari tanganku tepat berada di depan vaginanya , walaupun masih terhalang CD yang dikenakannya…, tubuhnya mengeliat kaku menahan rangsangan nikmat yang semakin menderanya sambil mengeluarkan deru nafas yang semakin tersengal “Ouh….ouhhhh…”

Ketika tangan kananku menarik CD yang ia kenakan…., ternyata kedua tangan Lilis membantu meloloskan CD Itu dari tubuhnya.

Kusingkapkan bagian bawah gamis yang ia kenakan ke atas hingga sebatas pinggang, hingga tampak olehku vaginanya yang indah menawan, kepalanya kuletakan pada sandaran lengan kursi.., kemuadian pahanya kubuka lebar-lebar.., kaki kananku menggantung ke bawah kursi, sedangkan kaki kiriku terlipat di atas kursi. Dengan masih mengenakan celana panjang, kuarahkan penisku yang keluar melalui sleting yang terbuka ke lubang vagina yang merangsang dan sebentar lagi akan memberikan berjuta-juta kenikmatan padaku.

Ku gesek-gesekan kepala penisku pada lipatan liang vaginanya yang semakin basah..”Auw…auw….. Uuhhhh….. uuuhhh…. Ohhh ….”

Dia mengaduh dan mengeluh… membuatku bertanya-tanya apakah ia merasa kesakitan atau menahan nikmat, tapi kulihat pantatnya naik turun menyambut gesekan kepala penisku seolah tak sabar ingin segera dimasuki oleh penisku yang tegang dan kaku…. Lalu dengan hentakan perlahan ku dorong penisku dan…

Blessshhh…. Kepala penisku mulai menguak lipatan vaginanya dan memasuki lorong nikmat itu dan “AUW… AUW…. Auw… Ouhhh……uhhhh…… aaahhhh…” tanpa dapat terkendali Lilis mengaduh dan mengerang nikmat dan mata terpejam rapat…., rintihan dan erangan Lilis semakin merangsangku dan secara perlahan aku mulai memaju mundurkan pantatku agar penisku mengocok liang vaginanya dan memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.

Hal yang luar biasa dari Lilis ternyata dia terus mengaduh dan mengerang setiap aku menyodokkan batang penisku ke dalam vaginanya. Rupanya dia merupakan tipe wanita yang selalu mengaduh dan mengerang tak terkendali dalam mengekspresikan rasa nikmat seksual yang diterimanya. Tak berapa lama kemudian, tanpa dapat kuduga, kedua tangan Lilis merengkuh pantatku dan menarik pantatku kuat-kuat dan pantatnya diangkatnya sehingga seluruh batang penisku amblas ditelan liang vagina yang basah, sempit dan nikmat. Lalu tubuhnya kaku sambil mengerang nikmat “Auuuww…. Auuuwww…… Auuuuuhhhh….. Aakkkhhhh…..” kedua kakinya terangkat dan betisnya membelit pinggangku dengan telapak kaki yang menekan kuat pantatku hingga gerakan pantatku agak terhambat dan kedua tangannya merengkuh pundakku dengan kuat dan beberapa saat kemudian tubuhnya kaku namun dinding vaginanya memijit dan berkedut sangat kuat dan nikmat membuat mataku terbelalak menahan nikmat yang tak terperi, Lalu …. badannya terhempas lemah…, namun liang vaginanya berkedut dan meremas dengan sangat kuat batang penisku sehingga memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.

Gairah yang begitu tinggi akibat rangsangan yang diterimanya telah mengantarnya menuju orgasmenya yang pertama.

Keringat tubuhku membasahi baju membuatku tidak nyaman, sambil membiarkannya menikmati sensasi nikmatnya orgasme yang baru diperolehnya dengan posisi penisku yang masih menancap di liang vaginanya, aku membuka bajuku hingga bertelanjang dada tetapi masih mengenakan celana panjang. Lalu secara perlahan aku mulai mengayun pantatku agar penisku mengocok liang vaginanya. Rasa nikmat kembali menderaku akibat gesekan dinding vaginanya dengan batang penisku.

Perlahan namun pasti, pantat Lilis merespon setiap gerakan pantatku. Pinggul dan pantatnya bergoyang dengan erotis membalas setiap gerakanku. Mulutnyapun kembali mengaduh mengekspresikan rasa nikmat yang kembali dia rasakan “Auw…Auw… Auuuwww…. Ouhhh…. Aahhh…”

Rangsangan dan rasa nikmat yang kurasakanpun semakin menjadi-jadi. Dan erangan nikmatnyapun terus-menerus diperdengarkan oleh bibirnya yang tipis menggairahkan sambil kepala yang bergoyang kekiri dan ke kanan diombang-ambingkan oleh rasa nikmat yang kembali menderanya

“Auw…Auw… Auuuwww…. Oohhh… ohhh… oohhh…” erangan nikmat semakin tak terkendali dan seolah puncak kenikmatan akan kembali menghampirinya hal ini tampak dari gelinjang tubuhnya yang semakin cepat dan kedua tangannya yang kembali menarik-narik pantatku agar penisku masuk semakin dalam mengobok-obok liang nikmatnya dan kedua kakinya sudah mulai membelit pantatku. Namun aku mencabut penisku , dan hal itu membuat Lilis gelagapan sambil berkata terbata-bata “Ke..napa…..di cabut…? Ouh…. Oh…” dengan sorot mata protes dan napas yang tersengal-sengal…

“Ribet ….” Kataku, sambil berdiri dan membuka celana panjang sekaligus dengan CD yang kukenakan. Lalu sambil menatapnya “Gamisnya buka dong..!”

Dia menatapku ragu.., namun dorongan gairah telah membutakan pikirannya apalagi dengan penuh gairah dia melihatku telanjang bulat di hadapannya, maka dengan tergesa-gesa dia berdiri dihadapanku dan melolosi seluruh pakaian yang dikenakannya…, mataku melotot menikmati pemandangan yang menggairahkan itu. Oohhh…. kulitnya benar-benar putih dan halus, penisku terangguk-angguk semakin tegang dan keras. Dia melepaskan gamis dan BHnya sekaligus, hingga dihadapanku telah berdiri bidadari yang sangat cantik menggairahkan dalam keadaan bulat menantangku untuk segera mencumbunya.

Dalam keadaan berdiri aku langsung memeluknya dan bibirku mencium bibirnya dengan penuh gairah…. Diapun menyambut ciumanku dengan gairah yang tak kalah panasnya.

Bibir dan lidahku menjilati bibir, pipi lalu ke lehernya yang jenjang yang selama ini selalu tertutup oleh jilbabnya yang lebar…. Lilis mendongakkan kepala hingga lehernya semakin mudah kucumbu…

Penisku yang tegang menekan-nekan selangkangannya membuat dia semakin bergairah. Dengan gemetar, tangannya meraih batang penisku dan mengarahkan kedepan liang vaginanya yang sudah sangat basah dan gatal., kaki kanannya dia angkat keatas kursi sehingga kepala penisku lebih mudah menerobos liang vaginanya dan blesshh….. kembali rasa nikmat menjalar di sekujur pembuluh nadiku dan mata Lilispun terpejam merasakan nikmat yang tak terperi dan dari mulutnyapun erangan nikmat “Auw… Auww… Oohh….. akhhh….”

Kepalanya terdongak dan kedua tangannya memeluk erat punggungku. Lalu pantatku mulai bergerak maju mundur agar batang penisku menggesek dinding vaginanya yang sempit, basah dan berkedut nikmat menyambut setiap gesekan dan kocokan batang penisku yang semakin tegang dan bengkak. Diiringi dengan rintihan nikmat Lilis yang khas… …”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”

Sambil pantatku memompa liang vaginanya yang nikmat, kepala Lilis semakin terdongak ke belakang sehingga wajahku tepat berada didepan buahdadanya yang sekal dan montok, maka mulut dan lidahku langsung menjilati dan menghisap buah dada indah itu.. putting susunya semakin menonjol keras. Lilis semakin mengerang nikmat…”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”

Gerakan tubuh Lilis semakin tak terkendali, dan tiba-tiba kedua kakinya terangkat dan membelit pinggangku, kemudian dia melonjak-lonjankkan tubuhnya sambil memeluk erat tubuhku sambil menjerit semakin keras …”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”.

Kedua tanganku menahan pantatnya agar tidak jatuh dan penisku tidak lepas dari liang vaginanya sambil merasakan nikmat yang tak terperi…

Tak lama kemudian kedua tangannya memeluk erat punggungku dan mulutnya menghisap dan menggigit kuat leherku. Tubuhnya kaku…., dan dinding vaginanya meremas dan memijit-mijit nikmat batang penisku. Dan tak lama kemudian “AAAAUUUUWWWW………..Hhhooohhhh….” Dia mengeluarkan jeritan dan keluhan panjang sebagai tanda bahwa dia telah mendapatkan orgasme yang kedua kali…

Tubuhnya melemas dan hampir terjatuh kalau tak ku tahan.

Lalu dia terduduk di kursi sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, badannya basah oleh keringat yang bercucuran dari seluruh pori-pori tubuhnya. Tapi dibalik rasa lelah yang menderanya, gairahnya masih menyala-nyala ketika melihat batang penisku yang masih tegang mengangguk-angguk.

Aku duduk disampingnya dengan nafas yang memburu oleh gairah yang belum terpuaskan. Tiba-tiba dia berdiri membelakangiku, kakinya mengangkang dan pantatnya diturunkan mengarahkan liang vaginanya agar tepat berada diatas kepala penisku yang berdiri tegak. Tangan kanannya meraih penisku agar tepat berada di depan liang vaginanya dan … bleshhhh…. “AUUWW…. Auww…. Ahhhh…”

Secara perlahan dia menurunkan pantatnya sehingga kembali batang penisku menyusuri dinding vagina yang sangat nikmat dan memabukkan..”Aaahhh……” erangan nikmat kembali keluar dari mulutnya. Lalu dia mulai menaik turunkan pantatnya agar batang penisku mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah..

Semikin lama gerakannya semakin melonjak-lonjak sambil tiada henti mengerang penuh kenikmatan, kedua tanganku memegang kedua buahdadanya dari belakang sambil meremas dan mempermainkan putting susu yang semakin keras dan menonjol.

Kepalanya mulai terdongak dan menoleh kebelakang mencari bibirku atau bagian leherku yang bisa diciumnya dan kamipun berciuman dalam posisi yang sangat menggairahkan… lonjakan tubuhnya semakin keras dan kaku dan beberapa saat kemudian kembali batang penisku merasakan pijatan dan remasan yang khas dari seorang wanita yang mengalami orgasme sambil menjerit nikmat “AAAUUUUUWWWWW…….. Aaakkhhhh………”

Namun saat ini, aku tidak memberi waktu padanya untuk beristirahat, karena aku merasa ada dorongan dalam tubuhku untuk segera mencapai puncak, karena napasku sudah tersengal-sengal tidak teratur, maka kuminta ia untuk posisi nungging dengan kaki kanan di lantai sedang kaki kiri di tempat duduk kursi sedangkan kedua tangannya bertahan pada kursi. Lalu kaki kananku menjejak lantai sedang kaki kiriku kuletakkan dibelakang

Kaki kirinya sehingga selangkanganku tepat berada di belahan pantatnya yang putih, montok dan mengkilat oleh basahnya keringat. Tangan kananku mengarahkan kepala penisku tepat pada depan liang vaginanya yang basah dan semakin menggairahkan. Lalu aku mendorong pantatku hingga blessshhh…. “Auw… Auw… Ouhhhh….”

Kembali ia mengeluh nikmat ketika merasakan batang penisku kembali memasuki dirinya dari belakang. Kugerakan pantatku agar batang penisku kembali mengocok dinding vaginanya.

jilbab hot (5)

Lilis memaju mundurkan pantatnya menyambut setiap sodokan batang penisku sambil tak henti-henti mengerang nikmat..Ouh… ohhh…ayoo.. Pak…ayo… ohh…ouhh…” Rupanya dia merasakan batang penisku yang semakin kaku dan bengkak yang menandakan bahwa beberapa saat lagi aku mencapai orgasme.

Dia semakin bergairah menyambut setiap sodokan batang penisku, hingga akhirnya gerakan tubuhku semakin tak terkendali dan kejang-kejang dan pada suatu titik aku menancapkan batang penisku sedalam-dalamnya pada liang vaginanya yang disambut dengan remasan dan pijitan nikmat oleh dinding vaginanya sambil berteriak nikmat “Auuuuwwwhhhhhhh…… Aakkhhh…….” Dan diapun berteriak nikmat bersamaan denganku. Dan Cretttt…. Creeetttt… crettttt spermaku terpancar deras membasahi seluruh rongga diliang vaginanya yang nikmat… Tubuh Lilis ambruk telungkup dikursi dan tubuhkupun terhempas di kursi sambil memeluk tubuhnya dari belakang dengan helaan napas yang tersengal-sengal kecapaian…

punggungku tersandar lemas pada sandaran kursi sambil berusaha menarik nafas panjang menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Dan kuperhatikan Lilispun tersungkur kelelahan sambil telungkup di atas kursi.

Sambil beristirahat mengumpulkan napas dan tenaga yang hilang akibat pergumulan yang penuh nikmat, mataku menatap tubuh bugil Lilis yang basah oleh keringat. Dan terbayang olehku betapa liarnya Lilis barusan pada saat dia mengekspresikan kenikmatan seksual yang menghampirinya. Semua itu diluar dugaanku. Aku tak menyangka Lilis yang demikian anggun dan lemah lembut bisa demikian liar dalam bercinta……

Mataku menyusuri seluruh tubuh Lilis yang bugil dan basah oleh keringat….

Uhhh……. .. Tubuh itu benar-benar sempurna ……

Putih , halus dan mulus….

Beruntung sekali malam ini aku bisa menikmati tubuh indah ini.

Aku terus menikmati pemandangan indah ini, sementara Lilis nampaknya benar-benar kelelahan sehingga tak sadar bahwa aku sedang menikmati keindahan tubuhnya…

Semakin aku memandangi tubuh indah itu, perlahan-lahan gairahku muncul kembali seiring dengan secara bertahap tubuhku pulih dari kelelahan yang menimpaku. Dalam hati aku berbisik agar malam ini aku bisa menikmati tubuh Lilis sepuas-puasnya sampai pagi.

Membayangkan hal itu, gairahku dengan cepat terpompa dan perlahan-lahan penisku mulai mengeras kembali….

Perlahan tanganku membelai pinggulnya yang indah, dan bibirku menciumi pundaknya yang basah oleh keringat…., namun nampaknya Lilis terlalu lelah untuk merespon cumbuanku, dia masih terlena dengan kelelahannya… mungkin dia tertidur kelelahan.

Posisi kami yang berada di atas kursi panjang ini membuatku kurang nyaman…, maka kuhentikan cumbuanku, kedua tanganku merengkuh tubuh indah Lilis dan dengan sisa-sisa tenaga yang mulai pulih kubopong tubuh indah itu ke kamar.

Dengan penuh semangat aku membopong tubuh bugil Lilis kearah kamar . Kuletakkan tubuhnya dengan hati-hati dalam posisi telentang. Lilis hanya melenguh lemah dengan mata yang masih terpejam.

Aku duduk di atas kasur sambil memperhatikan tubuh indah ini lebih seksama. Semakin keperhatikan semakin terpesona aku akan kesempurnaan tubuh Lilis yang sedang telanjang bugil. Kulit yang demikian putih , halus dan mulus….. dengan bagian selangkangan yang benar-benar sangat indah dan merangsang. Di sela-sela liang vaginanya terlihat lelehan spermaku yang keluar dari dalam liang vaginanya mengalir keluar ke sela-sela kedua pahanya..

Aku mengambil tissue yang ada di pinggir tempat tidur dan mengeringkan lelehan sperma itu dengan penuh perasaan.

Lilis menggeliat lemah., lalu matanya terbuka sedikit sambil mendesah..”uhhh……”

Bibir dan lidahku tergoda untuk menciumi dan menjilati batang paha Lilis yang demikian putih dan mulus. Dengan penuh nafsu bibir dan lidahku mulai mencumbu pahanya. Seluruh permukaan kulit paha Lilis kuciumi dan jilati… tak ada satu milipun yang terlewat.

Lambat laun gairah Lilis kembali terbangkitkan, mulutnya mendesis nikmat dan penuh rangsangan “uhhh….. ohhhh… sssssttt…”

Sementara telapak tanganku bergerak lincah membelai dan mengusap paha, pantat, perut dan akhirnya meremas-remas buahdadanya yang montok. Erangannya semakin keras ketika aku memelintir putting susunya yang menonjol keras “Euhh….. Ouhhh…. Auw…… Ahhh…” disertai dengan gelinjang tubuh menahan nikmat yang mulai menyerangnya.

Penisku semakin keras dan aku mulai memposisikan kedua pahaku di bawah kedua pahanya yang terbuka , lalu mengarahkan penisku ke tepat di lipatan vaginanya yang basah dan licin. Kugesek-gesekan kepala penisku sepanjang lipatan vaginanya, tubuhnya semakin bergelinjang…., pantatnya bergerak-gerak menyambut penisku seolah-olah tak sabar ingin ditembus oleh penis tegangku.

Namun aku terus merangsang vaginanya dengan penisku…., dia semakin tak sabar …… tubuhnya semakin bergelinjang hebat. Dan akhirnya ia bangkit dan mendorong tubuhku hingga telentang di atas kasur, dia langsung menduduki selangkanganku… mengangkat pantatnya dan tangannya dengan gemetar meraih penisku dan mengarahkan ke tepat liang vaginanya, lalu langsung menekan pantatnya dalam-dalam hingga…….

Blessshhhh……. batang penisku langsung menerobos dinding vaginanya yang basah namun tetap sempit dan berdenyut-denyut.

Mataku nanar menahan nikmat…., napasku seolah-olah terhenti menahan nikmat yang ku terima…”Uhhhh…..” mulutku berguman menahan nikmat. Dengan mata terpejam menahan nikmat, Lilispun mengaduh.”Auuww…. OOhhhhhhh……”

Pantatnya dia diamkan sejenak merasakan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Lalu secara perlahan dia menaik turunkan pantatnya hingga penisku mengocok-ngocok vaginanya dari bawah….. Erangan khasnya kembali dia perdengarkan “Auw….. auw…. auw… euhhhh…..”

Semakin lama gerakan pantatnya semakin bervariasi…, kadang berputar-putar…. Kadang maju mundur dan terkadang ke atas ke bawah bagaikan piston sambil tak henti-hentinya mengaduh nikmat…

Gerakannya semakin lincah dan liar, membuat aku tak henti-hentinya menahan nikmat. Kembali aku terpana oleh keliaran Lilis dalam bercinta…., sungguh aku tak menyangka…..Wanita sholeh…., anggun dan lembut ini begitu liar dan lincah .”Ouhhhh…. ouhhhh …” aku pun mengeluh nikmat menyahuti erangan nikmat yang keluar dari bibirnya yang tipis.

Buahdadanya yang montok dan indah terguncang-guncang keras akibat gerakannya yang lincah dan membuatku tanganku terangsang untuk meremasnya, maka kedua buahdada itu kuremas-remas gemas. Lilis semakin mengerang nikmat “Auw…. Auw….auhh….ouhhh…”

Lalu gerakannya semakin keras tak terkendali…, kedua tangannya mencengkram erat kedua tanganku yang sedang meremas-remas gemas buahdadanya…,, dan badannya melenting sambil menghentak-hentakkan pantatnya dengan keras hingga penisku masuk sedalam-dalamnya…. Dan akhirnya tubuhnya kaku disertai dengan jeritan yang cukup keras “Aaaaakkhhhsssss………….”

Dan tubuhnya ambruk menindihku……. Namun dinding vaginanya berdenyut-denyut serta meremas-remas batang penisku…. Membuatku semakin melayang nikmat….

Ya…. Lilis baru saja memperoleh orgasme yang pertama di babak kedua ini….

Dengan tubuh yang lemas dan napas yang tersengal-sengal bagaikan orang sudah melakukan lari marathon bibirnya menciumi lembut pipiku dan berkata sambil mendesah…”Bapak…. Benar-benar hebat….” Lalu mengecup bibirku dan kembali kepalanya terkulai di samping kepalaku sehingga dadaku merasakan empuknya dihimpit oleh buahdadanya yang montok.

Penis tegangku masih menancap dengan kokoh di dalam liang vaginanya, dan semakin lama denyutan dinding vaginanyapun semakin melemah…

Kugulingkan tubuhnya hingga tubuhku menindih tubuhnya dengan tanpa melepaskan batang penisku dari jepitan vaginanya.

Tangan kananku meremas-meremas buah dadanya diselingin memilin-milin putting susu sebelas kiri, sementara bibirku menjilati dan menghisap-hisap putting susu sebelah kanan, sambil pantatku bergerak perlahan mengocok-ngocok vaginanya.

Perlahan namun pasti…, Lilis mulai menggeliat perlahan-lahan…, rangsangan kenikmatan yang kulakukan kembali membangkitkan gairahnya yang baru saja terpuaskan…

“Emmhhh…… euhhhh……… auh……..” dengan kembali dia mengerang nikmat…

Pinggulnya bergoyang mengimbangi goyanganku….

Kedua tangannya merengkuh punggungku….

“Auw…. Auw…… ahhh….auhhh…” kembali dia mengaduh dengan suara yang khas, menandakan kenikmatan telah merasuki dirinya…

Goyang pinggulnya semakin lincah disertai dengan jeritan-jeritannya yang khas.

Dalam posisi di bawah Lilis menampilkan gerakan-gerakan yang penuh sensasi…

Berputar…., menghentak-hentak …, maju mundur bahkan gerakan patah-patah seperti yang diperagakan oleh penyanyi dangdut terkenal. Kembali aku terpana oleh gerakan-gerakannya…. Yang semua itu tentu saja memberikan kenikmatan yang tak terhingga padaku…..

Sambil mengerang dan mengaduh nikmat…, tangannya menarik kepalaku hingga bibirnya bisa menciumi dan menghisap leherku dengan penuh nafsu.

Gerakan pinggul Lilis sudah berubah menjadi lonjakan-lonjakan yang keras tak terkendali, kedua kakinya terangkat dan membelit dan menekan pantatku hingga pantatku tidak bisa bergerak, Kedua tangannya menarik-narik pundakku dengan keras dengan mata terpejam dan gigi yang bergemeretuk.

Dan akhirnya tubuhnya kaku sambil menjerit seperti yang yang disembelih…”AAkkkkkhhhh…….”

Kembali Lilis mengalami orgasme untuk ke sekian kalinya….

Aku hanya terdiam tak bisa bergerak tapi merasakan nimat yang luar biasa, karena walaupun terdiam kaku, namun dinding vagina Lilis berkontraksi sangat keras sehingga memijit dan memeras nikmat batang penisku yang semakin membengkak

Tak lama kemudian tubuhnya melemas…., kedua kakinya sudah terjulur lemah

Kuperhatikan napasnya tersengal-sengal…, Lilis menatap wajahku yang berada diatas tubuhnya., Lalu dia tersenyum seolah-olah ingin mengucapkan terima kasih atas puncak kenikmatan yang baru dia peroleh….

Kukecup bibirnya dengan lembut…

Tubuhku kutahan dengan kedua tangan dan kakiku agar tidak membebani tubuhnya, Sambil bibirku terus menciumi bibir, pipi, leher , dada, hingga putting susunya untuk merangsangnya agar gairahnya segera bangkit kembali…

Kuubah posisi tubuhku hingga aku terduduk dengan posisi kedua kaki terlipat dibawah kedua paha Lilis yang terangkat mengapit pinggangku.

Buahdadanya yang indah dan basah oleh keringat begitu menggodaku. Dan kedua tanganku terjulur untuk meremas-remas buah dada yang montok dan indah

“Euhh…. Euhhh…. “ Kembali tubuhnya menggeliat merasakan gairah yang kembali menghampirinya.

Sambil kedua tanganku mempermainkan buahdadanya yang montok…, pantatku kembali berayun agar penisku kembali mengaduk-ngaduk liang vagina Lilis yang tak henti-hentinya memberikan sensasi nikmat yang sukar tuk dikatakan….

Hentakan pantatku semakin lama semakin keras membuat buah dadanya terguncang-guncang indah.

Erangan nikmat yang khas kembali dia perdengarkan….

Kepalanya bergerak ke kanan dan kekiri seperti dibanting oleh rasa nikmat yang kembali menyergapnya…

Pinggul Lilis mulai membalas setiap hentakan pantatku….., bahkan semakin lama semakin lincah disertai dengan lenguhan dan jeritan nikmat yang khas….

Kedua tanganku memegangi kedua lututnya hingga pahanya semakin terbuka lebar membuat gerakan pinggulku semakin bebas dalam mengaduk dan mengocok vaginanya.

“Auw….Auw…. Auw…. Aahhh….ahhhh” erangan nikmat semakin meningkatkan gairahku…. Dan penisku semakin bengkak….

Dan ternyata dengan posisi seperti membuat jepitan vagina semakin kuat dan membuatku semakin nikmat.

Dan tanpa dapat kukendalikan gerakanku semakin liar tak terkendali seiring dengan rasa nikmat yang semakin menguasai diriku…

Lilispun mengalami hal yang sama…, penisku yang semakin membengkak dengan gerakan-gerakan liar yang tak terkendali membuat orgasme kembali dengan cepat menghampirinya dan dia pun kembali menjerit-jerit nikmat menjemput orgasme yang segera tiba… “Auw….Auw…. Auw…. Aahhh….ahhhh”

Akupun merasa bahwa orgasme akan menghampiriku…., tanpa dapat kukendalikan gerakan sudah berubah menjadi hentakan-hentakan yang keras dan kaku. Hingga akhirnya orgasme itu datang secara bersamaan dan kamipun menjerit secara bersamaan bagaikan orang yang tercekik. “AAkkkkkkhhssss…………..” Pinggul kami saling menekan dengan keras dan kaku sehingga seluruh batang penisku amblas sedalam-dalamnya dan beberapa saat kemudian.

Creetttt….creeettttt…. cretttt….. sperma kental terpancar dari penisku menyirami liang vagina Lilis yang juga berdenyut dan meremas dengan hebatnya…

Tubuhkupun ambruk… ke pinggir tubuh Lilis yang terkulai lemah…., namun pantatku masih diatas selangkangan Lilis sehingga Penisku masih menancap di dalam liang vaginanya.

Kami benar-benar kelelahan sehingga akupun tertidur dalam posisi seperti itu….

Malam itu benar-benar kumanfaatkan untuk menikmati tubuh Lilis sepuas-puasnya.. Entah berapa kali malam itu kami bersetubuh……., yang kutahu adalah kami selalu mengulangi berkali-kali…. Hingga hampir subuh…. Dan tertidur dengan pulasnya karena semua tenaga telah terkuras habis …

Pagi-paginya sekitar jam 6 pagi aku mendengar Lilis menjerit..”Apa yang telah terjadi..? Kenapa bisa terjadi begini..?” lalu dia menangis tersedu-sedu sambil tiada henti mengucap istigfar…. Sambil tak mengerti mengapa kejadian semalam bisa terjadi.

Tak lama kemudian dia berkata padaku sambil menangis “Sebaiknya bapak secepatnya meninggalkan tempat ini…!” katanya marah .

Akupun keluar kamar memunguti pakaianku yang tercecer diluar kamar dan mengenakannya serta keluar dari kamarnya sambil membawa laptop dan kembali ke kamarku. Sedangkan Lilis terus menangis menyesali apa yang telah terjadi.

Sejak saat itu selama sisa masa workshop, Lilis benar-benar marah besar padaku, dia memandangku dengan tatapan marah dan benci. Aku jadi salah tingkah padanya dan tak berani mendekatinya. Dan sampai hari terakhir workshop Lilis benar-benar tidak mau didekati olehku.

Setelah aku keluar dari kamar hotelnya, Lilis terus menangis menyesali apa yang telah terjadi. Dia tak habis mengerti mengapa gairahnya begitu tinggi malam tadi dan tak mampu dia kendalikan sehingga dengan mudahnya berselingkuh denganku.

Ingat akan kejadian semalam, kembali dia menangis menyesali atas dosa besar yang dilakukannya. Dia merasa sangat bersalah karena telah menghianati suaminya, apalagi pada saat dia mengingat kembali betapa dia sangat menikmati dan puas yang tak terhingga pada saat bersetubuh denganku….

Ya… dalam hatinya yang paling dalam, secara jujur Dia mengakui, bahwa malam tadi adalah pengalaman yang baru pertama kali dialami seumur hidupnya, dapat merasakan kenikmatan orgasme yang berulang-ulang dalam satu malam, Dia sampai tidak ingat, entah berapa puluh kali dia mencapai puncak orgasme, akibatnya dia merasakan tulangnya bagaikan dilolosi sehingga terasa sangat lemah dan lunglai, habis semua tenaga terkuras oleh pertarungan semalam yang begitu sensasional.

Dan hal itu belum pernah dia alami selama berumah tangga dengan suaminya. Suaminya paling top hanya mampu mengantarnya menjemput satu kali orgasme bersamaan dengan suaminya, setelah itu tertidur sampai subuh dan itupun jarang sekali terjadi. Yang paling sering adalah dia belum sempat menjemput puncak kenikmatan, suaminya sudah ejakulasi terlebih dahulu, meninggalkan dia yang masih gelisah karena belum mencapai puncak.

Dan peristiwa tadi malam, benar-benar istimewa karena dia mampu mencapai kenikmatan puncak yang melelahkan hingga berkali-kali.

Ingat akan hal itu kembali dia menyesali diri…, kenapa dia mendapatkan kenikmatan bersetubuh yang luar biasa harus dari orang lain dan bukan dari suaminya sendiri…. Kembali dia menangis……

Dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dan bertobat atas dosa besar yang dilakukannya. Dan dia akan menjauhi diriku agar tidak tergoda untuk yang kedua kalinya.

Itulah sebabnya selama sisa waktu workshop, dia selalu menjauh dariku.

Hari terakhir workshop, Lilis begitu gembira karena akan meninggalkan tempat yang memberinya kenangan “buruk” ini dan Dia begitu merindukan suaminya sebagai pelampiasan atas kesalahan yang sangat disesalinya.

Sehingga begitu tiba di rumah, dia memeluk suaminya penuh kerinduan. Tentu saja suaminya sangat bahagia melihat istrinya datang setelah seminggu berpisah. Dan malamnya setelah anak-anak tidur mereka melakukan hubungan suami istri.

Lilis begitu bergairah tidak seperti biasanya, dia demikian aktif mencumbu suaminya. Hal ini membuat suaminya aneh sekaligus bahagia, aneh… karena selama ini suaminyalah yang meminta dan merangsangnya sedangkan Lilis lebih banyak mengambil posisi sebagai wanita yang menerima, tapi kali ini sungguh beda… Lilis begitu aktif dan bergairah. Tentu saja perubahan ini membuat suaminya sangat bahagia, suaminya berfikir… baru seminggu tidak bertemu saja istrinya sudah demikian merindukannya sehingga melayani suaminya dengan sangat bergairah. Dan akhirnya suaminyapun tertidur bahagia

Namun, lain yang dialami suami, lain pula yang dialami oleh Lilis, malam itu Lilis begitu kecewa, Dia begitu bergairah dan berharap untuk meraih puncak bersama suaminya, namun belum sempat dia mencapai puncak, suaminya telah sampai duluan. Suaminya mengecup bibirnya penuh rasa sayang, sebelum akhirnya tertidur pulas penuh kebahagiaan, meninggalkan dirinya yang masih menggantung belum mencapai puncak.

Lilispun melamun……

Terbayang olehnya peristiwa di hotel, bagaimana dia bisa mencapai puncak yang luar biasa secara berulang-ulang. “Uhhh……” tanpa sadar dia mengeluh

Di bawah alam sadarnya dia berharap kapan dia dapat kembali merasakan kepuasan yang demikian sensasional itu..?

Namun buru-buru dia beristigfhar setelah sadar bahwa peristiwa itu adalah suatu kesalahan yang sangat fatal.

Namun….., kekecewaan demi kekecewaan terus dialami Lilis setiap kali dia melakukan hubngan suami istri dengan suaminya. Dan selalu saja dia membandingkan apa yang dialaminya dengan suaminya; dengan apa yang dialaminya waktu di hotel denganku. Hal itu membuatnya tanpa sadar sering menghayalkan bersetubuh denganku pada saat dia sedang bersetubuh dengan suaminya, dan hal itu cukup membantunya dalam mencapai kepuasan orgasme. Dan tentu saja kondisi seperti itu membuatnya tersiksa, tersiksa karena telah berkhianat terhadap suaminya dengan membayangkan pria lain pada saat sedang bermesraan dengan suaminya.

Semakin betambah hari, godaan mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dariku semakin besar karena dia tidak bisa mendapatkannya dari suaminya. Dan akhirnya dia menjadi sering merindukanku. Tentu saja hal ini merupakan siksaan baru baginya.

Itulah sebabnya, satu bulan setelah peristiwa di hotel, Lilis tidak terlihat membenciku. Bahkan secara sembunyi-sembunyi dia sering memperhatikan dan menatapku dengan tatapan penuh kerinduan. Dia tidak marah lagi bila didekati olehku, bahkan dia tersenyum penuh arti bila bertatapan denganku. Hal ini tentu saja membuatku bahagia

Namun perubahan itu, tidak membuat tingkah lakunya berubah. Tetap saja Lilis menampilkan sosok wanita berjilbab yang anggun dan sholehah.

Hingga pada waktu istirahat siang, dimana rekan-rekan sekantor sedang keluar makan siang, Aku mendekati Lilis yang kebetulan saat itu belum keluar ruangan untuk beristirahat dan dengan hati-hati aku berkata padanya “Bu…, maaf saya atas kejadian waktu itu…!”

Aku berharap-harap cemas menunggu reaksinya…, namun akhirnya dia menjawab dengan jawaban yang sangat melegakan, “Sudahlah Pak, itu semua karena kecelakaan…, saya juga minta maaf…, karena tadinya menganggap, itu semua adalah kesalahan bapak…., setelah saya pikir…, sayapun bersalah karena membiarkan itu terjadi…”. Dan selanjutnya sambil tersenyum manis, dia mohon ijin padaku untuk istirahat makan siang. Dan meninggalkan diriku di ruangan itu.

Sejak saat itu terjadi perubahan drastis atas sikapnya terhadapku, dia menjadi sering tersenyum manis padaku…, bisa diajak ngobrol olehku, bahkan kadang-kadang membalas kata-kata canda yang aku lontarkan padanya..

Tentu saja perubahan ini, menimbulkan pikiran lain pada diriku…, Ya… pikiran untuk bisa kembali menikmati tubuhnya…., tapi bagaimana caranya…?

Namun kesempatan itu akhirnya datang juga, saat itu dia membuat laporan tahunan yang harus diselesaikan bersama atasan kami, sehingga dia harus kerja lembur di kantor sampai malam hari menemani atasan kami yang kebetulan seorang wanita.

Lilis bekerja di sebuah ruangan bersama 4 orang rekan kerjanya lainnya di depan ruangan atasan kami, sedangkan aku berbeda ruangan dengannya. Saat itu semua rekan kerja kami sudah pulang dan kebetulan Atasan kami ada urusan lain sehingga saat itu meninggalkan Lilis sendirian di ruangan itu.

Aku memasuki ruangan kerja Lilis dan kulihat dia sedang asyik mengerjakan laporan di depan komputer.

“Ohh…Bapak…, ada apa Pak?” tanyanya setelah tahu yang masuk adalah aku

“Kok belum pulang..? Ibu mana ? “ Tanyaku berbasa-basi menanyakan atasan kami.

“Iyah…. Nich… pekerjaan masih banyak…., ada apa nanya Ibu ?” dia balik bertanya

“Ngga ada apa-apa…, biasanya kan Lilis menemani Ibu…, kok Ibunya ngga kelihatan..?” jawabku sambi bertanya kembali padanya.

“Beliau ada perlu dulu…., mungkin langsung pulang ke rumahnya” jawabnya lagi.

“Masih banyak pekerjaannya ? ada yang bisa dibantu ?” tanyaku menawarkan jasa

“banyak Pak, karena harus selesai dua hari lagi. Oh ya Pak…, tolong dong copykan file-file dokumen….. hasil …. Workshop saat itu dong Pak !” katanya agak sedikit bergetar pada saat mengatakan kata ‘hasil …workshop’ dan sekilas kulihat wajahnya langsung berubah merah sambil menundukkan kepala…

“Bbb…baa..ik… baik” kataku tak kalah gugupnya.

Aku langsung mengeluarkan laptopku dan menyalakannya, sementara kulihat Lilis kembali melanjutkan pekerjaannya.

Setelah laptopku ‘nyala’, aku langsung membuka foder hasil workshop dan menyisipkan flasdisk ke laptop dan mulai mencopy. Ingatanku terbayang pada file rekaman video persetubuhanku dengannya pada saat workshop dulu, dan file itu kucopykan juga. Setelah selesai, kucabut flashdisk dan kuserahkan padanya sementara aku berada di belakangnya yang sedang mengahadap komputer sehingga pandangan kami sama-sama memperhatikan layar monitor.

Dia menerima flashdisk itu dan menyisipkan ke PC di meja kerjanya.

“Dimana disimpannya, Pak ?” tanyanya

“Di folder Hasil Work shop” jawabku

Kemudian dia membuka folder Hasil Workshop dan terlihat olehnya file video 3gp dengan nama video1.3gp.

“Ini file video pada saat kegiatan apa , Pak?” tanyanya sambil menunjuk file rekaman tersebut…

“Buka aja ?” jawabku sambil dada bergemuruh menanti reaksi dari Lilis jika melihat hasil rekaman tersebut.

Begitu file tersebut terbuka…..

“Aihhh……!” jeritnya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya…

Terlihat di layar monitor saat aku sedang mencumbunya dan dia begitu menikmati penuh gairah menyambut cumbuanku….

Lilis diam terpaku dengan mulut ternganga menyaksikan rekaman dirinya yang sedang dirangsang olehku. Tangannya selolah kaku tidak bisa bergerak membiarkan media player terus menampilkan percumbuanku dan dirinya diselingi oleh erangan penuh ransangan yang keluar dari mulutnya.

Terlihat olehnya bagaimana dirinya dalam rekaman itu begitu menikmati rangsangan yang kuberikan diiringi lenguhan rangsangan penuh gairah dari bibirnya

“Bapak…jahat…., mengapa bapak lakukan itu…?” suaranya bergetar…, namun matanya seolah tidak bisa dialihkan dari layar monitor. Aku diam tak menjawab…

“Me..mengapa…, pak ?” tanyanya lagi dengan suara yang bergetar diselingi oleh deru nafas yang semakin bergemuruh…

“Buat kenangan…pribadi…, Lis ! Untuk mengingatkanku bahwa Lilis begitu istimewa…dimata saya..Percayalah, Lis. File ini rahasia…, hanya kita yang tahu dan tidak sedikitku terbersit dalam pikiran saya untuk menyebarkannya….. Saya juga malu kalau tersebar. Kan ada gambar saya di sana juga…” Jelasku menenangkannya.

Dalam gambar, tampak bahwa dia begitu menikmati dan bergairahnya membalas pagutan bibirku dan bagaimana ekspresi wajahnya yang menahan nikmatnya rangsangan gairah yang sedang melandanya saat itu.

Rekaman itu membawa Lilis akan kenangan betapa saat itulah dia merasakan kenikmatan puncak orgasme yang berulang yang tidak pernah dia dapatkan selama ini.

jilbab hot (6)

Serrrrrr…., perlahan namun pasti gairah Lilis mulai bangkit, dan gairah yang selama ini terpendam dan tak tersalurkan mulai meronta-ronta dengan hebatnya. Bulu-bulu halus di seluruh tubuhnya merinding…, tangannya semakin kaku menahan gelora yang mulai menghasutnya. Sementara itu bagian vaginanya mulai basah dan berdenyut-denyut membayangkan kenikmatan yang luar biasa yang ia rasakan saat itu..

“Uhh…” tanpa sadar keluhan penuh rangsangan keluar dari bibirnya yang tipis dan duduknya mulai gelisah merasakan vagina yang semakin basah dan berdenyut.

Sebenarnya saat itupun aku sudah terangsang, gairahku mulai bergelora, penisku sudah tegang dengan kerasnya mendesak celana kerjaku.

Kedua tanganku secara perlahan-lahan memegamg kedua pundaknya dari belakang. Tubuhnya semakin merinding begitu tersentuh olehku, sementara matanya tidak lepas dari layar monitor dan nafasnya semakin tersengal dipacu oleh nafsu yang semakin menggebu.

Kedua tangannya terangkat memegang kedua tanganku yang sedang memegang pundaknya, lalu berkata dengan bergetar….”Sebaiknya kita jangan mengulangi lagi….” Katanya lirih….

Namun nampaknya kata-kata itu seolah meluncur tanpa makna, karena ternyata kedua tangannya meremas kedua tanganku. Dan itu merupakan isyarat bagiku untuk bertindak lebih jauh.

Perlahan-lahan kutundukkan kepalaku dan bibirku mulai mengecup pundaknya yang terhalang oleh jilbabnya yang lebar…

“Euhh….” Lilis mengeluh. Tangannya semakin meremas jari-jariku yang berada di pundaknya dan kepalanya terdongak.

Aku terus mengecup pundaknya, sementara perlahan-lahan kedua tanganku bergerak ke arah buahdadanya yang terhalang oleh baju panjang yang dikenakannya. Tidak ada penolakan dari dirinya sehingga aku meremas-remas buahdadanya yang montok dan kenyal.

“Euhhh….. euhhh….” Lilis semakin mengerang….

Sementara matanya menatap layar monitor yang menampilkan adegan dimana dia menggeliat nikmat saat vaginanya diusap-usap oleh jari-jariku.

Aku bergerak kesamping sambil kuputarkan kursi kerja yang sedang diduduki oleh Lilis sehingga aku berdiri dihadapannya, lalu aku duduk dilantai sehingga kepalaku menghadap selangkangannya, kusingkapkan rok panjang yang dikenakannya ke atas sampai sebatas pinggangnya hingga dihadapanku terpampang pahanya yang putih dan mulus dan CD putih yang menutupi vaginanya yang indah.

Aku mulai menciumi pahanya yang kiri dan kanan dengan penuh gairah.

“Uhhhh… euhhhh…” Lilis semakin menggeliat nikmat dan penuh rangsangan.

Lalu kedua tanganku berusaha menarik CD yang dikenakannya. Lilis mengangkat pantatnya sehingga CD itu dengan mudah dapat kulepaskan.

Lalu dengan rakus aku menjilati lipatan vagina yang dihiasi oleh jembutnya yang halus..

“Auw…..auh….ouh….” Lilis mulai mengaduh nikmat dan mengerang… Pinggulnya bergelinjang.

Aku semakin bersemangat menjilati vagina Lilis yang semakin basah. Tangaku membuka lipatan bibir vaginanya dan Lidahku menjilati lorong basah itu dari bawah hingga ke atas dan berhenti dan menghisap clitorisnya yang menonjol keras..

“Aaaauuhhhh…. aaawwwwhh…….auwwww…” Dia menjerit dan tubuhnya bergetar pada saat lidahku menjilati dan menghisap clitorisnya. Tubuhnya menggeliat, melenting ke belakang hingga punggungnya menekan sandaran kursi dengan kuat, pantatnya terangkat menyambut jilatanku yang semakin bersemangat. Kedua tangannya mencengkram erat pegangan kursi dengan kuat hingga urat-urat tangannya menonjol keluar “Auw… auw….. ouhhhh… .euhhhh……” erangannya semakin merangsangku.

Gerakan menjilati celah vaginanya hingga clitorisnya kulakukan berulang menyebabkan Dia terus menerus mengaduh dan mengerang nikmat dan tubuh yang bergetar dan bergelinjang tiada henti.

Hingga akhirnya kedua kakinya terangkat melewati punggungku dan memiting leherku dengan kedua pahanya dan kedua tangannya mencengkram bagian kepalaku dan menekan kepalaku agar semakin menekan vaginanya dengan kuat dan kaku dan akhirnya…

“Aaaakkkkkssss……….aaauuuhhhhhhhhhhhhh” tubuhnya terlonjak-lonjak kaku sementara vaginanya terasa berdenyut-denyut oleh lidahku dan beberapa saat kemudian tubuhnya terhempas dengan napas yang terengah-engah dan tatapan mata yang menunjukkan rasa puas dan nikmat yang luar biasa.

Aku berdiri membuka gesper yang kugunakan dan membuka kancing celana yang kukenakan serta menari sleting hingga kebawah, lalu tanganku mengeluarkan penisku yang sudah sangat tegang dari pinggir CD yang kukenakan. Penisku mengacung tegak dan keras begitu terbebas dari kurungannya.

Mata Lilis masih setengah terpejam merasakan kenikmatan orgasme yang masih menderanya, kemudian mata itu terbuka perlahan dan memandang wajahku seolah ingin mengucapkan terima kasih karena telah memberikan kenikmatan orgasme padanya, tetapi tatapan mata itu kemudian jatuh pada penisku yang sedang mengacung tegak dan tegang, gairahnya kembali bangkit dengan cepat dan dengan penuh nafsu dia menatap penisku yang mengacung tegak.

Dengan gemetar tangan kanannya meraih batang penisku yang mengacung tegak, secara perlahan dia membelainya dengan penuh nafsu. Pantatku terangkat merasakan rasa nikmat yang menjalar dari batang penisku yang diremas olehnya. Melihat aku merasakan nikmat akibat perlakuannya, dia semakin bersemangat dan bernafsu meremas dan mengocok batang penisku.

Kepalaku terdongak ke belakang merasakan kenikmatan yang tak terperi. Tanganku mencengkram erat pundaknya menahan keseimbangan tubuhku.

Melihat tubuhku melenting kaku menahan rasa nikmat akibat kocokan yang dilakukannya, membuat Lilis semakin terangsang, merasakan nikmat dan puas tersendiri mampu menyiksaku dengan rasa nikmat “Uhh…ouhhh…” tanpa sadar mulutku mengeluh lirih…

Ada dorongan besar dalam dirinya untuk lebih menyiksa diriku dengan mempermainkan batang penisku yang semakin menggemaskan bagi dirinya. Sementara itu tubuhku semakin sering melenting kebelakang menahan rasa nikmat yang terus menghantamku.

Pada saat kepalaku terdongak untuk kesekian kalinya dihempas oleh rasa nikmat yang terus menghantamku.

Tiba-tiba aku menjerit “Auh…..ouhhhh….”, tanpa sadar mulutku menjerit kaget, karena kurasakan kepala penisku dilamuri oleh sesuatu yang basah, hangat dan nikmat luar biasa, membuat pantatku terangkat dan tubuhku kaku, tubuhkupun semakin melayang..

Rupanya Lilis mendapatkan kepuasan dan kenikmatan tersendiri ketika melihat bahwa dirinya mampu membuatku melayang-layang ketika dia meremas dan mengocok batang penisku yang semakin bengkak dan kaku. Di matanya, batang penisku terlihat semakin menggemaskan sehingga tanpa dia sadari kepalanya semakin mendekat dan akhirnya mulutnya mencaplok kepala penisku dan menghisapnya perlahan, membuat tubuhku semakin melenting dan menjerit nikmat.

Melihat tubuhku yang menggeliat-geliat nikmat, rangsangan dan gairahnyapun semakin menggebu dan vaginanya semakin berdenyut, basah dan gatal. Diapun akhirnya mengocok batang penisku dengan mulutnya…

Aku merasa semakin tak tahan…, akhirnya pantatku kumundurkan kebelakang sehingga batang penisku lepas dari mulutnya.

Lilis menatapku dengan senyum kemenangan. Lalu kuarahkan kedua tanganku untuk menarik kedua tangan Lilis sambil berkata “Lis.., duduk di meja…!”

Dia berdiri dengan kedua tangan memegang pinggir rok panjang yang dikenakan, pantatnya diarahkan ke pinggir meja, lalu duduk dipinggir meja dengan paha yang terkangkang seolah tak sabar ingin menjemput penis tegangku untuk segera memasuki dirinya.

Akupun berdiri menghadap dirinya, kuarahkan kepala penisku tepat di liang vaginanya, kedua tangan Lilis memegang pundakku, kedua kakinya terangkat memudahkan diriku untuk memasuki dirinya sementara matanya dengan penuh nafsu menatap nanar batang penisku yang sedang mengarah tepat di depan liang vaginanya yang berdenyut dan gatal penuh harap untuk segera dimasuki. Lalu secara perlahan

jilbab hot (7)

Blesshhhh……

“Auuwww….auww….. Auuhhhhhh…..” Lilis mengaduh nikmat pada saat batang penisku menerobos lorong vaginanya yang sangat nikmat, matanya terpejam menikmati sensasi nikmat yang dirindukankannya selama ini.

Aku mulai mengerakan pantatku maju mundur agar batang penisku mengocok-ngocok liang vaginanya yang semakin basah namun nikmat luar biasa..

Erangan dan lenguhan nikmat yang khas semakin keras diperdengarkan oleh Lilis sebagai ekspresi dari rasa nikmat yang bertubi-tubi menderanya.

Pinggul Lilis mulai bergerak dan menggeliat setiap penisku menerobos liang vaginanya. Dan gelinjang tubuh itu semakin keras sambil mengaduh nikmat “Auw…auuwww..auuw……auhh….”

Untuk mendapatkan kenikmatan lebih.., Lilis menurunkan kedua tangannya dari pundakku dan meletakkannya menekan meja dibelakang punggungnya sehingga pantatnya bisa melonjak-lonjak menyambut sodokan penisku di dalam liang vaginanya .

Jeritan mengaduh menahan nikmat semakin keras keluar dari mulutnya “Auw… auw… auw… ouhhhhhh…”

Kepalanya bergerak kekiri dan ke kanan seirama dengan sodokan batang penisku dan terkadang terdongak-dongak hingga dadanya naik

Beberapa menit kemudian, jeritan nikmat yang keluar dari mulutnya semakin keras dan tubuhnya semakin melonjak-lonjak keras, kedua kakinya yang berada dipinggir pinggangu terangkat dan kedua tumitnya menekan-nekan pantatku dengan keras dan kaku.

Kepalanya semakin terdongak dan kaku dan akhirnya jeritan menjemput puncak orgasme terdengar dari mulutnya “Aaaaaakkkkkkkkssss……..”

Tubuhnya terdiam kaku, dan terjadi kontraksi yang sangat hebat di dalam liang vaginanya meremas dan menghisap-hisap batang penisku dengan kuat, sementara pantatku tak bisa bergerat karena terkunci oleh jepitan kaki Lilis.

Beberapa saat kemudian “Uhhhhhh……” lenguhan melepaskan napas panjang keluar dari mulutnya dan tubuhnyapun melemas.

Kudekap tubuh Lilis agar kepalanya terkulai dipundakku. Kudiamkan bebera saat dalam posisi seperti itu, membiarkan Dia menikmati fase-fase orgasme yang baru saja diterimanya.

Setelah beberapa menit kepalanya bergerak dan tangannya memegang leherku, kemudian dia mencium bibirku dengan mesra…. Dan berkata “Pak… sungguh luar biasa….”

Akupun menyambut ciuman itu dengan lembut dan tersenyum bangga mendengar ucapannya. Lalu berkata “Nungging.. Yukkk!”

“Bagaimana…?” Dia bertanya

Aku menurunkan tubuhnya dari atas meja dan mengarahkan tubuhnya agar berdiri membelakangiku, kemudian kedua tangannya kuletakkan agar memegang pinggir meja, pinggulnya kumundurkan dan kakiknya ku kangkangkan agar dia berada pada posisi menungging sambil berdiri.

Kusingkapkan rok panjang yang dikenakannya ke atas pinggangnya, lalu kuarahkan kepala penisku tepat pada depan liang vaginanya yang semakin basah, lalu ….

Blessshhh…., Rasa nikmat kembali menjalar disekujur pembuluh darahku ketika batang penisku memasuki liang vaginanya yang berdenyut dan basah serta licin.

“Auw…auw….auhhhhh….” Lilispun kembali mengaduh nikmat….

Aku mulai mengocok batang penisku dengan memaju mundurkan pantatku sehingga selangkanganku bertepukan dengan pantatnya yang bulat dan montok

“Uh…uh….uh…” Napasku semakin berderu sambil pantatku memompa pantat Lilis..

Rasa nikmat semakin menjalar disekujur tubuhku….

Akupun semakin lama semakin keras dan cepat menggerakan pantatku.

Lenguhan nikmatku bersahutan dengan erangan nikmat dari mulut Lilis, bagaikan orkestra ekspresi nikmat sedang kami kumandangkan.

Pantat Lilis turut bergerak maju mundur menyambut sodokan batang penisku sehingga batang penis menancap semakin dalam, sehingga rasa nikmatpun semakin bertambah.

Goyangan kami makin lama semakin cepat dan aku merasa orgasme akan menerjang diriku sehingga gerakan tubuhku semakin tak terkendali dengan cepat dan kaku…

Dan Lilispun tahu bahwa aku segera mencapai puncak karena merasakan batang semakin keras membengkak di dalam vaginanya, hal ini membuat kenikmatan yang diterimanya semakin cepat mengantarnya menjemput orgasme untuk ke sekian kalinya. Diapun semakin cepat memaju mundurkan pantatnya.

Hingga akhirnya pantatku menekan keras dan kaku pantat Lilis membuat batang penisku amblas sedalam-dalamnya…

Dan Lilispun demikian, Dia pun menyambut sodokan terakhirku dengan menekan pantatnya dengan kuat pada selangkanganku

Badai puncak orgasmepun pada saat yang bersamaan menghantam Aku dan Lilis sehingga akhirnya dengan mata melotot dan tubuh yang melenting kaku sambil kedua tangan mencengkram kuat bongkahan pantat Lilis yang bulat sambil menjerit nikmat “Aaaakkkkkksssshhh………………”

Dan dijawab dengan jeritan nikmat Lilis “Aaaakkkkkksss……… “

Beberapa saat tubuh kami kaku dan akhirnya tubuhku berkelojotan sambil… Crettt..crettt.. creeeettttt….

Spermaku terpancar dengan deras membasahi seluruh lorong nikmat di dalam vaginanya, disambut dengan kontraksi yang sangat kuat seolah memeras-meras batang penisku agar mengeluarkan semua sperma yang sedang terpancar…

Beberapa saat kemudian, aku merasa tubuhku lunglai, lututku goyah menahan beban tubuhku dan hampir saja tubuhku terjatuh. Aku berusaha menjaga keseimbangan tubuhku dari sekuat tenaga agar tidak jatuh. Sedangkan Lilis langsung terduduk di pinggir meja, rupanya lututnya langsung goyah tak mampu menopang beban tubuhnya, hingga penisku tercabut dari liang vaginanya.

Sesaat kemudian kami terdiam, hanya napas kami yang tersengal-sengal seolah habis berlari jauh. Tak lama kemudian aku berusaha membangunkan Lilis dan menariknya agar berdiri. Lilis berdiri dengan bantuanku dan langsung berdiri berhadapaan, baju yang kami kenakan basah oleh keringat. Aku memeluknya dan membelai kepalanya, sejenak kamipun berciuman dengan lembut dan mesra.

“Uhhh…Pak, kenapa jadi begini….?” Tanyanya dengan pertanyaan yang tak perlu kujawab, lalu dia memunguti Cdnya yang tergeletak di lantai, mengenakannya dan akhirnya menghampiri kursi, kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kusi tersebut.

Aku menarik sleting dan mengancingkan celana panjangku dan berusaha duduk di kursi lain yang ada di sana.

Beberapa saat kami hanya duduk terdiam sambil mengatur napas yang perlahan-lahan mulai normal kembali

Tiba-tiba dia berkata “Sebaiknya bapak segera pulang, sebab sebentar lagi suami saya akan datang menjemput…., saya tidak ingin suami saya curiga dengan apa yang kita lakukan barusan…”

Akupun berdiri, mengambil tas laptopku, sebelum aku meninggalkan ruangan itu aku berusaha menciumnya, namun dia menepis mukaku dan menghindar. Akhirnya akupun pergi meninggalkannya sendiri di ruangan itu.

Sepeninggalanku, Lilis tampak termenung melamunkan apa yang baru saja terjadi. Hari ini kembali dia berbuat dosa…., kembali dia menghianati suaminya, dan yang paling membuatnya tersiksa adalah kembali dia merasakan puasnya kenikmatan sex yang tak pernah didapatkan dari suaminya.

Dan peristiwa barusan, semakin memperbesar ketergantungannya akan pemenuhan kebutuhan sex terhadap diriku. “Uhhh…..” tanpa sadar dia menghela napas panjang sebagai ekspresi dari melepaskan beban berat yang sedang menghimpitnya.

Tiba-tiba badannya tersentak kaget, ketika ingat bahwa di layar monitor masih terlihat aplikasi media player yang sudah selesai menampilkan adegan persetubuhannya denganku. Dengan tergesa-gesa dia keluar dari aplikasi tersebut dan menghapus file video tersebut.

Tak lama kemudian suaminya datang menjemputnya. Untuk menutupi rasa bersalahnya, Lilis menyambut suaminya dengan memberikan kecupan mesra dan tak lama kemudian merekapun pulang. Sepanjang perjalanan pulang dengan menggunakan sepeda motor, Lilis memeluk erat tubuh suaminya dari belakang dan meletakan kepalanya dipunggung suaminya.

Tapi ingatannya melayang pada saat-saat dimana tubuhnya terguncang-guncang diombang-ambingkan oleh rasa nikmat yang diberikan olehku.

Sepanjang perjalanan pulang, suaminya merasa nyaman dan bahagia, karena istri tercinta memeluk erat tubuhnya dari belakang dan diapun merasakan bahwa kepala istrinya disandarkan dipunggungnya. Kondisi begitu membuat gairahnya naik dan dia ingin segera sampai di rumah untuk melakukan hubungan suami istri dengan istrinya.

Namun pada saat keinginannya tersebut dia sampaikan ke Lilis, Lilis menolaknya dengan halus dengan mengatakan bahwa dirinya sangat lelah sehingga takut tidak bisa memuaskan suaminya dan dia berjanji bahwa besok dia akan melayani dan memuaskan suaminya. Suaminyapun mengerti akan alasan tersebut dan akhirnya merekapun tidur.

Alasan Lilis menolak ajakan suaminya, sebenarnya adalah dia merasa takut kalau penyelewengannya denganku di kantor dapat dirasakan oleh suaminya jika malam itu dia bersetubuh dengan suaminya. Itulah sebabnya dia memberi alasan bahwa tubuhnya lelah dan takut dia bisa melayani suaminya dengan baik, dan dia bersyukur karena suaminya bisa menerima alasanya.

Keesokan malamnya, setelah anak-anak mereka tidur, suaminya menagih janji Lilis untuk melakukan hubungan suami istri. Lilispun menyambutnya dengan senyuman dan kecupan mesra pada suaminya yang membuat gairah suaminya semakin tinggi.

Malam itu kembali Lilis begitu agresif terhadap suaminya, dia menciumi bibir suaminya dengan penuh nafsu dan membukakan seluruh pakaian suaminya. Lilis tidak memberi kesempatan pada suaminya untuk mencumbunya.

Pada saat tubuh suaminya sudah telanjang bulat dan telentang di kasur dengan batang penis yang mengacung tegak, kembali ingatannya pada saat dia mempermainkan batang penisku dan membuat tubuhku terkejang-kejang sambil mengerang nikmat.

Ingatan tersebut membuat gairah Lilis terpacu, maka dengan semangat dia mempermainkan batang penis suaminya yang mengacung tegak.

Tentu saja suaminya kaget dan berkata..”Mah…kok Mamah bergairah sekali..? tidak biasanya Mamah seperti ini ?”

“kan saya udah janji untuk memberi kepuasan yang lain dari biasanya pada Papah…” jawab Lilis sambil mengocok batang penis suaminya yang semakin tegang dan suaminyapun semakin menggeliat-geliat menahan nikmat yang diberikan olehnya.

Semakin suaminya menggeliat dan mengeluh nikmat, Rasa nikmat dan puaspun semakin menjalar ke seluruh penjuru darahnya, gairahnyapun semakin tinggi serta vaginanya semakin basah, berdenyut dan gatal. Hal ini membuat Lilis semakin bergairah mempermainkan batang tegak suaminya, hingga akhirnya Lilispun mengemut batang penis suaminya yang semakin tegak dan bengkak

“Aahhh…..” tubuh suaminya bergetar, ketika dia merasakan batang penisnya merasakan panas dan basahnya mulut istrinya. Tubuhnya kejang dan melayang dihantam oleh rasa nikmat yang baru pertama kali dialaminya selama hidupnya, karena seumur perkawinannya belum pernah Lilis melakukan hal ini padanya. Tentu saja dia merasa surprise dan nikmat luar biasa yang membuat tubuhnya melenting-melenting tanpa dapat dia kendalikan.

“Mah…Mamah… Ohhh.. Oh…” dengan tersengal-sengal menahan nikmat mulutnya terus meracau….

Mendengar racauan suaminya, Lilis semakin bersemangat mengoral batang penis suaminya, sehingga semakin lama dia merasakan batang suaminya semakin bengkak dan mulutnya terasa semakin penuh oleh batang suaminya dan akhirnya tanpa diduga tubuh suaminya melenting kaku dan menjerit “Aakkkkhhhh…” serta Cret…cret…cret….

Sperma kental terpancar tanpa dapat ditahan menyirami rongga mulut Lilis.

Lilispun kaget dan tersedak sehingga terbatuk-batuk dan melepaskan batang penis suaminya yang masih memancarkan sisa-sisa sperma.

Sementara itu napas suaminya tersengal-sengal merasakan nikmat yang luas biasa yang diberikan oleh istrinya.

Sementara itu, Lilis benar-benar kaget dan kecewa, karena suaminya sudah selesai sedangkan dia belum apa-apa, padahal dia merasakan vaginanya demikian basah dan berdenyut-denyut ingin diobok-obok oleh batang suaminya, tapi betapa kecewanya karena harapan itu sirna karena suaminya telah ejakulasi.

“Kok…Papah udahan sich…, saya kan belum diapa-apain…?” kata Lilis sambil cemberut.

“Abisnya…., Lilis sich…. Hari ini begitu lain…. Baru kali ini Lilis melakukan seperti tadi ke Papah, membuat Papah ngga tahan…tahu dari mana sih cara seperti tadi ?” jawab suaminya sambil menatap istrinya penuh selidik…

“tau dari temen… katanya bisa membuat suami melayang-layang nikmat…” jawab Lilis berbohong…” Teruss…. Saya gimana dong, Pah ? kan belum apa-apa…” lanjut Lilis sambil cemberut.

“Nanti..ya Mah…, Papah istirahat dulu…” jawab suaminya sambil mengecup mesra bibirnya.

Kemudian suaminya tergolek lemah dan tertidur, meninggalkan dirinya yang gelisah menahan gairah yang belum tersalurkan.

Sambil menahan gairah yang belum tersalurkan, Ingatan Lilis kembali melayang padaku…

Nyata benar bedanya bedanya, kemampuan suaminya dan diriku dalam memberikan kepuasan sex pada dirinya.

Dengan diriku, dia mendapatkan kepuasan dalam memberi dan menerima. Dia begitu puas dan nikmat bisa membuatku melayang-layang ketika mengoral batang penisku dan akhirnya diapun mendapatkan puncak orgasme berulang-ulang ketika batangku mengobok-obok liang vaginanya.

Sementara suaminya, baru dioral segitu aja udah kalah, meninggalkan dirinya yang belum diapa-apakan. “Uhhh….” Lilispun mengeluh penuh kecewa.

Kekecewaan yang baru saja dialaminya ini semakin merubah pandangan Lilis pada diriku. Di matanya, Aku bagaikan seorang maestro, yang mampu menjadikannya seorang wanita yang lengkap, seorang wanita yang bisa menikmati puncak orgasme yang begitu didambakannya. Dan aku bukan hanya mampu memberikannya satu kali, namun berkali-kali….

Semakin sering dia merasa kecewa karena ketidakmampuan suaminya memberikan kepuasan padanya, semakin membuatnya rindu padaku. Dan terkadang terpikir olehnya untuk rela menghadapi segala macam resiko untuk bisa meraih kenikmatan dariku.

Ya…, dibalik jilbab lebarnya, dibalik prilaku sholehnya dan dibalik tutur sapanya yang lembut, anggun dan sopan. Ternyata tersimpan gairah liar yang meronta-ronta yang tak dapat dipenuhi dari suaminya dan ini merupakan siksaan yang berat baginya. Membuatnya murung dalam kesehariannya.

Kecewaan yang berulang-ulang yang dialaminya membuat gairahnya secara perlahan-lahan berkurang dan hilang jika bersetubuh dengan suaminya. Akhirnya Lilis harus bersandiwara seolah-olah dia merasa puas dan nikmat ketika bersetubuh dengan suaminya karena dia tidak ingin melihat suaminya kecewa.

Tetapi di dalam kesendiriannya, ketika suaminya tidak ada di rumah atau sudah tidur gairahnya perlahan-lahan merayap naik dan menggodanya untuk membayangkan bersetubuh denganku, sambil jemarinya mengusap vagina dan meremas-remas buah dadanya sendiri. Hal itu semakin membuatnya rindu untuk meraih kenikmatan denganku.

Semakin lama, kerinduan itu semakin tak tertahankan dan semakin tak mampu mengendalikan gairahnya untuk bercinta denganku.

Pada suatu sore ketika aku baru pulang ke rumah kontrakanku dan selesai mandi, aku mendengar pintu depanku ada yang mengetuk, dan aku terbelalak kaget dan gembira ketika kubuka pintu ternyata Lilis yang anggun dan cantik telah berdiri di hadapanku. Aku hanya melongo sehingga lupa apa yang kulakukan.

Segera aku sadar…”Ohh..Lilis…, silakan masuk..!” kataku terbata-bata. Lilis segera masuk ke dalam rumah, aku menutup pintu dan “Silahkan duduk Lilis…!” kataku sambil mempersilahkannya duduk. Lilis duduk di kursi panjang yang berada di sudut ruangan dengan gelisah.. Akupun duduk di kursi panjang tersebut dengan jarak yang agak jauh.

“Aku… kangen banget ke bapak..!” katanya tiba-tiba membuatku kaget sekaligus bahagia, lalu dia menghampiri tubuhku dan tanpa kuduga, Lilis langsung mencium bibirku dengan gairah yang menyala-nyala, napasnya begitu terengah-engah didorong oleh nafsu birahi yang menyala-nyala tidak dapat dia kendalikan.

Akupun menyambut ciuman membara itu dengan tak kalah nafsunya. Selama beberapa menit napas kami saling memacu didorong oleh gairah yang demikian cepat menguasai kami berdua. Sambil menciumi bibirnya, tanganku mulai meremas-remas buahdadanya yang montok dari luar baju longgar yang dikenakannya.

Namun nampaknya Lilis ingin mengeluarkan semua gairahnya yang selama ini terpendam. Bibirnya menciumi dan menjilati pipi dan leherku, sementara tangannya dengan lincah membuka gesperku dan sleting celana panjang yang kukenakan dan tanganya langsung mencari-cari batang penisku yang tegang.

Begitu tangannya meraih batang penisku yang semakin tegang, tangannya langsung meremas dan mengocok batang penisku dengan gemas dan penus nafsu, sementara bibirnya masih terus menjilati dan menghisap leherku.

“Uhhh….” Kenikmatan ini betul-betul luar biasa dan tak terduga, membuatku melayang nikmat.

Tiba-tiba tubuhnya melorot kebawah kursi hingga kepalanya tepat berhadapan dengan batang penisku yang mengacung tegak dan keras dan dengan gairah yang menyala-nyala mulutnya mencaplok batang penisku dan mengoral penisku dengan lincahnya.

“Ouh…ouhhh…ouhh…..” akupun mengerang nikmat dengan napas terengah-engah dan Lilispun tanpa mengenal lelah terus mengoralku. Dan nampaknya dia begitu sangat menikmati karena bisa membuatku mengeliat-geliat menahan nikmat diatas kursi.

Semakin dia melihat diriku menggeliat-geliat menahan nikmat atas apa yang dilakukannya, rangsangan yang dirasakan Lilispun semakin tinggi dan gairahnyapun semakin bergelora, akhirnya Lilispun tak tahan lagi menahan gairahnya, karena merasa vaginanya semakin basah, berdenyut dan gatal, ingin segera diobok-obok oleh batang penisku yang tegang dan bengkak. Dia berdiri dan mau membuka celana dalamnya. Namun kutahan sambil berbisik “ kita ke kamar !” dia menatapku dgn gairah yang menyala-nyala, lalu kutuntun dia ke arah kamarku.

Ketika di dalam kamar, aku mencoba membuka baju longgar yang ia kenakan, namun dengan tergesa-gesa dia membuka baju longgar yang ia kenakan seolah-olah tidak memerlukan bantuanku. Akupun membuka membuka seluruh pakaianku sehingga kami sama-sama telanjang bulat. Aku langsung memeluknya dengan penuh nafsu, menciumi bibirnya dengan gemas, merayap ke lehernya yang jenjang. Lilispun membalas cumbuanku dengan tak kalah bergairahnya, sehingga kami kami bercumbu sambil berdiri dengan napas terengah-engah dipacu oleh nafsu yang semakin menggebu.

Beberapa saat kemudian, tubuh Lilis kudorong agar naik ke tempat tidur, dia naik ketempat tidur dan aku menyusulnya dengan merangkak. Kuarahkan kepalaku ke arah selangkangannya untuk menikmati vaginanya dengan lidahku.

Lilis menggeser punggungnya agar kepalanya mendekati batang penisku yang tergantung tegang hingga akhirnya kami membentuk posisi 69. Lilis langsung mengemut batang penisku dengan penuh gairah dari bawah, sementara aku tidak menyia-nyiakan waktu, langsung menjilati belahan vaginanya yang begitu merangsang, “Auw….auw…” erang Lilis ketika lidahku mejilati lipatan vaginanya dan dia balas dengan menghisap dan mengocok batang penisku dengan gairah yang tak kalah panasnya.

Rasa nikmat yang menjalar dari batang penisku membuat gerakan lidahku terhenti menahan rasa nikmat yang kurasakan, kemudian kujilati dan kuputar-putar klitorisnya dengan lidahku. “Auh..auw…auw…” Lilis tersentak dan menjerit nikmat sehingga kulumannya terhadap penisku terlepas.

Selama beberapa menit kami saling mencumbu kemaluan lawan kami masing-masing, memberi dan menerima nikmat yang luar biasa datang silih berganti. Lilis menghentakkan tubuhnya hingga kami berguling, dan dia mengambil posisi diatas dan mempermainkan penisku dari atas, akupun mempermainkan vaginanya dari bawah. Berkali-kali kami berguling berubah posisi, hingga pada suatu posisi dimana Lilis diatas, dia sudah melonjak-lonjak dan menekan-nekan selangkangannya dengan keras ke arah wajahku pada saat aku mempermainkan klitorisnya dengan lidahku, sementara itu kakinya sudah mulai kejang-kejang dengan napas yang semakin terengah-engah dan terputus-putus hingga akhirnya “Akkkkkkhhhsss………..” mulutnya menjerit melepas nikmat dan lidahku merasakan dinding vaginanya berkonstraksi sangat keras dan cepat serta terasa semakin banjir membasahi bibir dan hidungku.

Kemudian dia berguling lemas dan telentang, dengan napas yang tersengal-sengal seperti kehabisan napas.

Aku segera bangkit dan merangkak memposisikan kakiku berada disela-sela kedua tungkainya yang terkangkang lemas, sementara sikuku kuletakan dibawah pantatnya dan kedua tanganku melingkari pangkal pahanya yang masih lemah.

Jari-jari kedua tangankuku menyentuh vaginanya dari dua sisi dan posisi wajahku tepat berada di depan vaginanya yang semakin tampak indah dan merangsang.

Nafsuku masih mendorong untuk terus mencumbu vaginanya, Jari-jariku berusaha membuka lipatan bibir vaginanya sehingga lorong nikmat vaginanya terlihat merah muda dan basah berlendir , kujilati lagi sepanjang lorong nikmat tersebut, Lilis hanya mengeluh lemah “Uhh……euuhh…..”

Aku menjilati lorong itu dari liang vaginanya hingga menuju klitoris, dan terus kulakukan dengan nafsu yang tak pernah berhenti. Mendapat rangsangan yang terus menerus dariku, gairahnya bangkit kembali dan mulai berreaksi “Auw…..auh…..auhh” mulutnya mulai melenguh nikmat, pantatnya mulai bergoyang merespon jilatanku, dan pada saat ujung lidahku menusuk-nusuk dan mengorek-ngorek liang vaginanya yang semakin basah dengan aroma yang menggairahkan dengan rasa yang asin dan gurih. Lilis kembali mengaduh nikmat tak terkendali “Auw…auw…auw,…..”

Pantatnya kembali melonjak-lonjak dan akhirnya dia menjambak rambutku dan menariknya sambil berkata “Masukin….Pak…ouhh… masukin….. saya… tak tahan… ouh.. saya tak tahan….ouh….” Gerakannya semakin menggila.

jilbab hot (8)

Kulit kepalaku perih karena rambutku ditarik olehnya, akupun menghentikan kegiatanku menjilati vaginanya yang semakin basah menggairahkan. Kuposisikan kedua lututku dibawah kedua pahanya yang terangkat. Kepala penisku kuarahkan tepat dimulut liang vaginanya dan kugesek-gesekan kepala penisku sepanjang lipatannya, pantat Lilis bergoyang dan menggeliat seolah menyongsong kepala penisku untuk segera memasukinya, namun aku terus mempermainkan penisku seperti itu.

Lilis semakin menggelinjang, dan rupanya nafsunya sudah tak tertahankan, sehingga dengan merengek dia berkata sambil terengah-engah “Ayo.. Pak… masukin… masukin… ouh…. masukin…”

Sebenarnya, nafsukupun sudah diubun-ubun, kuletakkan kepala penisku tepat di mulut liang vaginanya dan secara perlahan kudorong pantatku… Blessshhh…

Rasa nikmat menjalar disekujur pembuluh darahku dan “Auw……ouhhhh……” Lilispun mengaduh nikmat. Perlahan namun pasti aku mulai menggoyang pantatku agar batang penisku mengobok-obok dan mengaduk-aduk liang nikmat Lilis. Lilispun membalas dengan goyangan pinggulnya yang begitu sensasional sambil mengaduh-ngaduh nikmat “Auw.. auw… auw… “

Gerakan pantatku yang teratur dengan ritme yang tetap, membuat Lilis semakin melayang dilambungkan oleh rasa nikmat yang terus menderanya, Lilis ingin segera meraih puncak, dia menghentakkan tubuhnya hingga kami bergulingan dan dia berada diatas tubuhku, kedua tangannya dia selipkan kebawah ketiakku sehingga jari-jari tangannya dapat mencengkram pundakku dari bawah dan dada montoknya menghimpit erat dadaku. Lalu dia mulai menggerak-gerakan pantatnya, keatas-kebawah hingga batang penisku menggaruk-garuk dinding vaginanya yang semakin gatal dan berdenyut serta meremas-remas batang penisku. Sambil terengah-engah memompa pantatnya, bibir Lilis menciumi bibirku dengan penuh nafsu, lidahnya terjulur memasuki rongga mulutku sambil mengerang nikmat “ouh…mmmmhhh ouhhh….. “

Dia ubah gerakan pantatnya dengan memutar-mutar sehingga batang penisku seperti dipelintir oleh gilingan yang sangat nikmat, akupun melenguh dan mendengus “Ouh…. ouh…”.

Keluhan dan erangan nikmat, keluar dari mulut kami sahut menyahut membentuk suatu orkestra yang menggairahkan diiringi oleh derit tempat tidur yang terguncang-guncang hebat. Semakin lama goyangan pantat Lilis semakin cepat dan patah-patah serta kaku, kedua kakinya mulai kejang-kejang dan akhirnya..”Aaaakkkkkkhhhss…….”

Tubuhnya benar-benar terdiam kaku dan melenting dan terasa olehku, batang penisku seperti diremas-remas dengan sangat kuat dan cepat oleh benda basah yang sangat nikmat…

Kemudian tubuhnya melemas “Ouhhhhhhh…….” Kepalanya terkulai di samping kepalaku. Namun batang penisku masih tertancap kokoh didalam liang vaginanya.

Ya…., Lilis baru saja memperoleh orgasme yang nikmat luar biasa, suatu puncak orgasme yang selalu dia dambakan selama ini dan tak pernah dia peroleh dari suaminya. Akhirnya saat ini dia dapatkan, sungguh Lilis merasakan puas yang tak terhingga dan diapun terhempas dengan penuh kepuasan yang tak bisa dilukiskan.

Dengan napas yang terengah-engah dan mata terpejam, Lilis terkulai lemah diatas tubuhku sambil merasakan desiran-desiran nikmat yang masih menghampirinya. Dengan gairah yang menggebu-gebu, bibirku menjilati dan menciumi leher jenjangnya yang basah oleh keringat yang berada tepat di depan mulutku, tanganku meremas-remas pantat montoknya, dan pantatku kudorongkan ke atas-kebawah agar batang penisku kembali mengocok-ngocok dinding vaginanya yang sangat basah namun tetap sempit dan berdenyut. Kenikmatan kembali menjalar disekujur tubuhku.

Aku terus menggerakan pantatku, walaupun tidak mendapat respon dari Lilis, karena dia benar-benar merasa lelah karena telah memperoleh orgasme yang luar biasa melelahkan. Namun walaupun Lilis tidak membalas gerakanku, tetap saja aku mendapatkan kenikmatan dari liang vaginanya yang sempit dan meremas-remas.

Lambat laun gairah nafsunya kembali datang, Lilis membalas gerakanku dengan menggoyang-goyang pantatnya mengakibatkan kenikmatan yang kuterima semakin bertambah, dan rasa nikmatpun kembali menghampiri dirinya sehingga kembali dia memperdengarkan lenguhan nikmatnya yang khas dan merangsang “Auw…auw… auw… ouhhhhh…” seirama dengan gerakan pantatnya yang bergoyang erotis.

Namun goyangan erotis itu hanya dalam beberapa menit kemudian telah berubah menjadi gerakan pinggul yang kejang-kejang tak terkendali, rupanya badai orgasme kembali datang menghantamnya, napasnya mulai terasa sesak dan akhirnya “Aaaaakkkhhss…..”.

Tubuhnya kembali melenting kaku dan kontraksi dari dinding vaginanya kembali kurasakan menjepit-jepit dan meremas-meremas batang penisku membuat mataku terbeliak-beliak menahan nikmat yang luar biasa. Beberapa detik kemudian tubuhnya terhempas lemas dan terkulai diatas tubuhku. Lilis kembali memperoleh puncak kenikmatan orgasme yang sensasional untuk ketiga kalinya.

Sementara Lilis terkulai lemah sambil merasakan sisa-sisa puncak kenikmatannya, pantatku terus mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah. Hanya satu menit, gairah Lilis telah pulih kembali dan diapun membalas goyanganku. Goyangannya begitu cepat dan menghentak-hentak hingga hanya dalam beberapa menit berselang kembali Lilis mencapai orgasme.

Wanita memang ditakdirkan mampu mengalami orgasme berulang-ulang, dan biasanya rentang waktu antara orgasme pertama dengan kedua, ketiga dan selanjutnya dapat berlangsung hanya dalam waktu beberapa menit, tidak seperti waktu perolehan orgasme pertama yang bisa memakan waktu antara 10 hingga 15 menit.

Demikian juga dengan Lilis, Dia mampu mendapatkan orgasme berulang-ulang dengan posisi seperti itu, dan hal itu berlangsung entah beberapa kali, akupun tak terlalu memperhatikan. Yang jelas nampaknya Lilis seperti ingin menumpahkan segala kerinduannya akan kepuasan orgasme yang tidak pernah dia peroleh dari suaminya.

Pada saat tu, Lilis bermain dengan gairah yang terus berkobar-kobar tanpa mengenal lelah. Apabila dia merasa tubuhnya sangat lelah, tubuhku digulingkannya hingga aku berada diatasnya.

Giliranku memompanya lebih aktif dan dia membalasnya dari bawah sampai dia memperoleh orgasme sambil melentingkan tubuhnya dengan kaku dan berteriak melepas nikmat dan terkulai lemah selama beberapa saat, namun hanya sesaat dia terkulai, karena tak lama kemudian diapun aktif kembali bergoyang tanpa mengenal lelah untuk menjemput puncak orgasme selanjutnya.

Aku menggulingkan tubuhku hingga dia kembali berada diatas, hingga kembali dia yang mengatur ritme goyangan. Demikian seterusnya, tubuh kami saling bergulingan untuk meraih kenikmatan yang lebih dan lebih bagaikan tak bertepi. Tubuh kami sudah sedemikian basah oleh keringat yang mengucur deras dari setiap lubang pori-pori, bantal dan seprei demikian porak poranda menahan pergulatan aku dan Lilis yang terus melenguh dan mengerang nikmat.

Pada saat aku berada diatas tubuhnya yang entah ke berapa kali, aku merasakan gelombang orgasme akan menghantamku, hal ini ditandai dengan gerakan pantatku yang sudah tak terkendali dan kejang. Dan lilispun merasakan itu dan diapun berusaha meraih kembali orgasmenya yang terakhir agar bersamaan denganku dan “Aaakkkkkksssss…..” secara berbarengan kami meraih orgasme dan Cret… cret…. Cret… sperma kental terpancar dari penisku membasahi seluruh rongga liang vagina Lilis. Tubuh kami sama-sama terhempas sangat lemah dan lunglai, keringat membasahi seluruh permukaan tubuh kami dengan persendian yang serasa seperti dilolosi. Aku berusaha menggulingkan tubuhku agar tidak menindihnya dan tidur berdampingan

Kamipun terbaring kelelahan selama beberapa menit.

Setengah jam kemudian, dengan badan yang sangat lemas, Lilis bangkit dari tidurnya dan berjalan sempoyongan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarku, kemudian mandi dengan menggunakan shower.

Gemericik air dikamar mandi membangunkanku dan akupun menyusulnya ke kamar mandi. Kulihat Lilis sedang membasahi tubuhnya dengan shower.

Uuhhhhh…… sungguh mulus dan menggairahkan tubuh ini….., beruntung sekali aku bisa menikmatinya. Aku menghampirinya. Dia tersentak kaget…. ”Ehhh… bapak…!!” katanya…

“Bareng..ah..!” kataku. Aku pun masuk tanpa menunggu jawaban darinya, kemudian tubuhkupun diguyur shower….. terasa sangat menyegarkan begitu tubuh yang lunglai ini diguyur air dingin dari shower sehingga perlahan-lahan tenagaku pulih kembali dan terasa segar.

Lilis mengambil sponge sabun dan menyabuni tubuhnya yang mulus dengan gerakan gemulai yang menggairahkan. Tubuh kami yang berhimpitan dibawah shower membuat gairahku bangkit dengan cepat…

”Aku sabuni ya…!” kataku sambil meraih sponge dari tangannya…, dia tidak protes.

Lalu kusabuni tubuh mulusnya, Darahku kembali berdesir ketika menyabuni tubuhnya, dan perlahan-lahan penisku berdiri tegak.

Perubahan pada batang penisku rupanya diperhatikan oleh Lilis.

jilbab hot (9)

“Ihhhh…., ini barang memang hebat….!! Ngga ada capenya….!” Katanya sambil tersenyum manja dan penuh gairah. Kemudian tangannya meraih batang penisku dan mengocoknya. Sementara Lilis mengocok batang penisku, tangankupun sudah tidak lagi menyabuni tubuh mulusnya namun lebih banyak meremas buah dadanya yang montok.

Acara mandi bersama telah berubah manjadi percumbuan di kamar mandi, semakin lama percumbuan itu semakin panas membara, dan napas kami sudah memburu dipacu oleh nafsu yang menggebu-gebu. Batang penisku semakin keras dan tegang. Kudorong tubuhnya agar menyandar ke dinding kamar mandi. Kutekuk kakiku dan dia membuka kakinya, kuarahkan batang penisku yang sudah mengacung kaku.

Lilis meraih batang penisku dan mengarahkan agar kepala penisku tepat berada di liang vaginanya dan setelah kurasa pas aku mulai mendorong pantatku.

Blesssshhhhh….. batang penisku mulai meyeruak memasuki liang vaginanya yang serasa seret karena terkena air dingin, namun memberikan sensasi nikmat yang beda.

Akupun mulai mengayunkan pantatku untuk mengocok-ngocok batang penisku di dalam liang vaginanya. “Auw… auw…. Auw… “ erangan nikmat yang khas mulai diperdengarkan oleh Lilis.

Bercinta dibawah pancuran shower, menimbulkan sensasi nikmat tersendiri, dan kami betul-betul menikmati persetubuhan itu hingga akhirnya tubuh Lilis melenting kaku dengan kaki terjinjit dan menjerit “Aaaakkkkkhhhh……” rupanya Lilis sudah meraih puncak orgasme di kamar mandi ini.

Kupeluk tubuhnya agar tidak jatuh dengan mempertahankan agar batang penisku tidak lepas dari liang vaginanya. Kuciumi bibir dan lehernya dengan penuh nafsu.

Tapi, Lilis mendorong tubuhku agar aku duduk di closet duduk. Akupun duduk dengan batang penis yang masih mengacung tegak. Lalu Lilis mengangkangiku sehingga kedua pahanya berada dipinggir kiri dan kanan pinggulku.

Secara perlahan dia menurunkan pantatnya dan Blesssshhhh…., batang penisku menyeruak liang vaginanya dan menyusuri dinding liang yang tak henti-hentinya memberikan rasa nikmat yang luar biasa. Lilis menekan pantatnya hingga seluruh batang penisku amblas tertelas oleh liang vaginanya. Dia menekan terus hingga batang penisku masuk sedalam-dalamnya. Dan mendiamkannya sesaat.

Kemudian secara perlahan, Lilis mengerakan pantatnya keatas-kebawah hingga batang penisku mengocok-ngocok dinding liang vaginanya, Kedua tanganku membantu gerakan tubuhnya dengan mengangkat pinggangnya ke atas kebawah.

Erangan nikmat kembali diperdengarkan Lilis “Auw… auw … auw…” dengan nafas yang terengah-engah oleh nafsu yang menguasai dirinya.

Semakin lama gerakan pantat Lilis berubah menjadi lonjakan-lonjakan yang cepat tak terkendali dan akhirnya kedua tangannya mencengkram bahuku dan menjerit sambil melentingkan tubuhnya “Aakkkkkkh……..”

Rupanya Lilis telah memperoleh orgasmenya kembali.

Lilis menghempaskan tubuhnya dengan memeluk erat tubuhku .

Tubuh itu benar-benar mulus luar biasa, basah dan mengkilat serta licin oleh sabun.

Tak lama kemudian tubuh itu kembali bergerak-gerak agar batang penisku yang masih tertancap kokoh diliang vaginanya kembali mengaduk-aduk liang vaginanya.

Tak lama kemudian, hanya beberapa menit saja kembali tubuhnya kejang-kejang dan menjerit nikmat meraih orgasme tuk kesekian kalinya “Akkkkkssssss…..”

Beberapa menit kemudian, Lilis kembali bergoyang mengocok-ngocok vaginanya dan aku merasa badai gelombang orgasme akan menghantamku, maka aku berdiri tegak sambil mengangkat tubuhnya dan berjalan menghampiri dinding kamar mandi, kusandarkan tubuhnya ke dinding, dan kulepaskan kakinya agar berdiri berjinjit, kemudian dengan gerakan pantat yang cepat, keras dan kaku, aku mulai mengocok batang penisku di dalam liang vagina Lilis, kenikmatan yang kudapat dalam posisi seperti ini sungguh luar biasa, dan posisi berdiri seperti merupakan posisi pavouritku, karena aku bisa mendapatkan sensasi kenikmatan orgasme yang luar biasa nikmat. Lilis paham, bahwa aku akan mencapai orgasme, maka diapun membalas gerakannku dengan tak kalah serunya, hingga akhirnya secara bersamaan kamipun menjerit meraih orgasme “Aaaakkkkkhsss……”. Cret… cret…. cret… spermakupun terpancar dengan deras ke seluruh rongga liang vaginanya.

Beberapa saat tubuh kami diam terpaku sambil saling berpelukan sementara shower terus mengguyur tubuh kami berdua.

Guyuran air shower dengan cepat memulihkan kesegaran kami, dan kamipun melanjutkan mandi sampai selesai disertai dengan cumbuan-cumbuan mesra.

Kami kemudian berpakaian, dan betapa kagetnya Lilis, karena ternyata waktu telah menunjukkan jam tujuh malam. Tapi dibenaknya langsung tercipta alasan yang bisa diterima oleh suaminya tentang keterlambatannya pulang ke rumah. Tak lama kemudian Lilispun pamitan dan menolak diantar olehku, ‘untuk menghindari curiga orang lain’ katanya.

Peristiwa yang ketiga persetubuhanku dengan Lilis, benar-benar telah mengikat akal sehat Lilis, Dia tak mampu lagi lepas dari pesona seksual yang didapatnya dariku dan dia benar-benar nekad, sehingga selalu mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk bisa melepaskan semua hasrat kepuasan birahi denganku, baik di tempat kostku, ataupun hotel di luar kota, dengan membuat alasan ‘ada tugas dari kantor’ pada suaminya.

Pernah dia mencoba untuk tidak bercinta denganku selama hampir dua bulan, tapi akhirnya pertahanannya bobol juga, karena kubutuhannya akan kepuasan seksual tidak juga dapat diperoleh dari suaminya dan akhirnya kembali dia membuat janji denganku untuk mengayuh nikmat meraih orgasme di hotel di luar kota. Dan jika sudah demikian Lilis pasti bermain bagaikan kuda binal yang melonjak-lonjak sangat liar tanpa mengenal lelah selama beberapa jam. Dia akan bergoyang dengan sangat lincah dan erotis untuk menjemput orgasmenya secara berulang-ulang, hingga akhirnya terhenti setelah tubuh kami tak bertenaga lagi karena suluruh persendian seolah-olah dilolosi.

Kami tidak tahu, kapan hubungan perselingkuhan ini akan berakhir.

Tamat