WINDY 3

Sudah sebulan berlalu sejak peristiwa dan hari-hari penuh sensasi dengan Windy. Terhitung seminggu sekali aku mengunjunginya. Harinya tidak tentu, mengikuti jam dinas suaminya yang berubah-ubah. Meski sedikit merepotkan, aku oke-oke saja. Rasanya tidak ada bosan-bosannya menyetubuhi wanita cantik yang satu itu. Meski tidak semolek Tanti, tapi ada saja ulah dan perbuatannya yang mengejutkanku.

Pernah suatu kali ia membukakan pintu sambil telanjang. Tubuhnya basah oleh semacam minyak, terlihat sangat mulus dan mengkilat sekali. Tentu saja aku langsung panas, dan kutubruk ia saat itu juga. Kami bercinta di ruang tamu rumahnya. Empat kali Windy mendapatkan orgasme, sedangkan aku cukup sekali saja, karena selanjutnya kami meneruskan acara tukar lendir itu semalam suntuk setelah Windy menawariku makan malam.

Atau saat ia menjemputku di terminal, dan mengoral penisku selama perjalanan menuju rumahnya. Begitu sampai, ia malah bilang kalau lagi ’dapet’. Sial, ia sengaja mengerjaiku. Jadilah aku malam itu cuma tidur mengeloninya, tanpa bisa berbuat apa-apa. Memang aku cukup puas juga karena selain masih bisa meraba-raba tubuh sintalnya, aku juga berkali-kali dioral hingga dalam semalam, terhitung empat kali aku muncrat di mulutnya. Dan Windy dengan senang menelan semuanya. Memang gokil sekali perempuan yang satu ini.

Dia juga sering mengajakku pindah-pindah tempat main; mulai dari kamar mandi hingga halaman belakang rumahnya. Pernah kami hampir dipergoki oleh tetangganya yang malam-malam mau buang sampah, untung wanita tua itu sudah katarak sehingga tidak melihat kami yang bertindihan telanjang di bawah pohon jambu. Kalau beneran ketahuan kan bisa berabe.

Tapi situasi yang ’menyeramkan’ itu malah semakin menambah gairah kami berdua. Windy jadi semakin liar dan geregetan, begitu pula denganku. Akibatnya, kami jadi begitu kecapekan pada keesokan harinya. Dan saat suaminya pulang di pagi hari, aku masih ada di kamar Windy. Ketiduran! Benar-benar mendebarkan. Aku sampai harus meloncat dari jendela untuk menyelamatkan diri, sementara Windy berusaha menyibukkan suaminya meski saat ia ia cuma bercelana dalam saja.

”Kok pakaianmu kaya gitu?” kudengar suaminya bertanya saat aku sibuk memakai celana di bawah ambang jendela.

Windy gelagapan menjawab, dan selanjutnya perempuan itu malah menjerit saat suaminya menyeret ia ke atas tempat tidur dan menyetubuhinya dua kali. Rupanya bukan aku saja yang terpana begitu menatap tubuh molek Windy, suaminya yang sudah menikahinya begitu lama, tetap berlaku sama. Memang, wanita cantik dan seksi seperti dia selalu bisa menggoda siapapun.

Tanpa sempat mandi apalagi gosok gigi, akupun pergi meninggalkan tempat itu. Kucegat taksi yang kebetulan melintas dan minta untuk diantarkan ke terminal. Saat kuceritakan kejadian itu kepada Tanty, dia langsung tertawa ngakak sambil menyumpahiku. Perempuan yang sekarang hamil 9 bulan itu menyuruhku agar lebih berhati-hati lagi.

”Jangan sampai ketangkep, nanti anakku ini bingung nyari-nyari ayahnya.” ia berkelakar. Bayi dalam kandungannya memang adalah anakku.

”Siap, Bos!” aku menyahut riang. Dan menutup telepon dengan ucapan ,”Aku kangen kamu, Tan.”

”Kangen aku apa kangen tubuhku?” godanya lagi.

”Dua-duanya,” Dan kamipun tertawa berbarengan. Aku membolos kerja hari itu karena siang baru sampai kembali ke kota S. Aku langsung menuju rumah kontrakan dan menelepon istriku yang akhir-akhir ini sedikit kuabaikan. Untung ia tidak curiga. Volume pekerjaan yang bertambah kujadikan alasan kenapa aku jarang pulang, padahal sebenarnya aku sibuk membagi benih kepada Windy dan Tanty.

Maafkan aku, istriku. Aku selingkuh bukan karena kamu kurang cantik, ataupun tubuhmu yang kurang seksi. Kamu sudah sangat sempurna; sabar, penyayang, pengertian, kalem, pokoknya segalanya deh. Kamu adalah malaikat dan bidadariku. Tapi… sekali lagi tapi, seperti kata pepatah: rumput tetangga lebih hijau, ataupun bosan tiap hari makan sate, sekali-kali nyoba gule… itulah yang terjadi kepadaku. Kamu sama sekali tidak bersalah. Akulah yang nakal dan tidak bisa menahan nafsu. Nafsu kepada dua wanita cantik semacam Tanty dan Windy, yang kuharap cukup dua itu saja karena kalau sampai ada lagi… aku juga masih mau, haha!

Siang itu panas sekali, dengan memakai taksi aku pergi ke rumah Windy. Dia sudah berkata kalau hari ini suaminya dinas malam. Seperti yang sudah-sudah, itulah saat yang tepat bagiku untuk mengunjunginya.

Sesampainya disana, segera kubuka pintu pagar. Tanpa perlu repot-repot mengetuk, Windy sudah keluar menyapaku. “Kangen aku, Mas,” rajuknya sambil menyerbu memelukku.

Segera kututup pintu dan cepat-cepat kubalas pelukannya. Kami berpagutan rakus di balik sambil tanganku lekas menggerayang di tubuh sintalnya.

“Ih, nafsu amat sih?” Dia tertawa dan memisahkan tubuhnya.

Kukejar dia dengan mengelus-elus bongkahan pantatnya saat mengajakku masuk ke ruang tengah. Disana, kembali ia kucium dan kugeluti sambil kupepet tubuh montoknya ke sofa merah di ruang tengah. Napasku sudah ngos-ngosan, sementara kuperhatikan Windy juga sudah merah padam. Tapi dia mencoba untuk bertahan saat aku ingin melepas baju panjangnya.

“Nanti dulu,” bisiknya serak. “ada yang ingin aku kasih tahu sama Mas.” Ditangkisnya tanganku yang ingin meraba kembali tonjolan payudaranya.

Kupandang wajahnya yang cantik jelita yang malam ini tertutup jilbab biru muda. Ia tersenyum membalasku dan mengangguk. “Dari senyummu, seharusnya ini berita bagus.” kataku.

Dia mengangguk, “Iya, aku hamil. Mas.” pekiknya ceria.

”A-apa?” meski sudah mengantisipasi jawaban ini, tak urung aku tetap terkejut juga.

”Sudah dua minggu ini aku telat, dan pagi tadi aku mual-mual.” Dia berbinar, membuatnya jadi tambah cantik. “Setelah diantar suami periksa ke dokter, ternyata positif,” lanjutnya.

“Wah, selamat ya.” Kupegang tangannya dan kucium pipinya, tapi Windy malah memberikan bibirnya untuk kulumat. Kami pun berciuman sekali lagi dan kembali tanganku menggerayangi tubuhnya yang sintal.

“Ih, nih tangan nakal amat,” serunya saat aku bergantian memijit-mijit kedua bongkahan payudaranya.

“Habis kamu sih, bikin aku gemes aja.” Kupagut lagi bibirnya yang tipis memerah, dan baru kulepas setelah napas kami sama-sama terengah-engah.

”Aku seneng sekali, Mas. Bayangkan, tiga tahun menunggu…” lirihnya sambil menaruh kepala di pundakku.

“Kalau reaksi suamimu, gimana?” tanyaku dengan tangan memeluk pinggangnya yang ramping.

“Dia juga seneng banget, dikiranya ini benih dari dia.” Windy tertawa getir.

Aku mencoba ikut tertawa. “Kalau dia sampai tahu gimana?”

“Asal kita pintar, aku yakin pasti aman.” Ia menyurukkan kepala di dadaku.

Kucium kembali pipinya, lalu hidungnya, dan terakhir belahan bibirnya yang selalu terlihat mengundang. “Berarti tugasku sudah selesai donk,” bisikku tak rela.

“Ah, ya nggak gitu juga kale…” Windy menggeleng. “Masa aku akan langsung melupakan jasa Mas gitu aja,”

”Lha terus?” tanyaku penasaran. Tak terasa, tanganku yang sudah sedari tadi menggerayang di pahanya, kini bisa menyingkap gaun gamisnya hingga ke pinggang. Membuat Windi yang duduk di atas pangkuanku jadi meringkuk setengah telanjang. Tak henti tanganku terus meraba dan mengelus-elus belahan pahanya yang terasa halus dan sangat hangat itu.

“Ehm…” Windy menggelinjang lirih, namun tetap membiarkannya saja. Malah yang ada ia seperti semakin memepetkan tubuhnya untuk menghimpit batang penisku yang sudah terjepit diantara perutnya. “Cepet amat, tahu-tahu dah ngaceng aja,” Dia tertawa.

Kucium lagi bibirnya yang merah tipis dan kulumat dengan rakus, yang diimbangi oleh Windy dengan senang hati. “Kau belum menjawab pertanyaanku,” aku berbisik.

“Ahh… y-yang mana?” tanyanya sambil mendesah begitu tanganku menelusup ke balik baju untuk menggelitik perutnya yang masih terasa rata.

“Kelanjutan hubungan kita,” Tanganku terus merayap dan sebentar saja sudah sampai di bawah bongkahan payudaranya. Kuremas pelan-pelan benda empuk kenyal yang terasa hangat itu, meski masih tertutup beha tipis tapi aku bisa merasakan kalau putingnya yang mungil sudah sedikit menegang.

“Ahh… Mas!” Windy mengeluh lagi, tak sanggup menjawab pertanyaanku karena kini tanganku sudah menyusup ke dalam beha untuk mencengkeram kedua bongkahannya secara langsung.

“Susumu gede, Win.” bisikku sambil mengendusi pipi dan bibirnya.

Windy membuka mulut untuk menyambut ciumanku. Tubuhnya sudah lemas, terlihat pasrah sepenuhnya. Aku terus membelai dan menggerayangi tubuhnya yang sintal sebelum Windy tiba-tiba membuka mata dan menjauhkan tanganku yang mencoba melepas jilbabnya.

“J-jangan, Mas… uhh, sudah dulu dong meluknya, panas nih…” Ia bangkit dan dengan terhuyung-huyung masuk ke dapur.

Aku mengikutinya, ”Oh… sori, Win. Habis aku pengen banget. Mau apa lagi kesini kalau bukan meluk kamu,” kataku.

“Iya, tapi ntar dulu ya.” Dia mengajakku duduk di meja makan. “Mas sudah makan belum, tadi aku beliin steak kesukaan Mas. Ayo dicoba dulu, mumpung masih hangat.” Dia melayaniku, bagai seorang istri lagi melayani suami.

”Sip banget,” kuminta Windy untuk duduk di sebelahku. Sementara aku melahap apa yang ia sajikan, Windy mengambilkan air minum. Senyum cerah terus menghiasi wajah cantiknya saat ia mulai berbicara.

”Mas nggak usah kuatir masalah kelanjutan hubungan kita.” Dia berkata. “selama suamiku nggak curiga, pokoknya Mas tenang aja. Tapi hanya ingat kata dokter, di triwulan pertama si bayi masih rentan. Jadi…”

“Iya, untuk sementara kita berhenti dulu.” kataku sambil satu tangan meraih tonjolan payudaranya, sementara tangan yang satunya terus melanjutkan makan.

”Eh, bukannya gitu…” Windy menggelinjang geli. “Bisa kok, tapi kita harus lebih hati-hati.

“Hah?” Aku terpana seakan tak percaya. Dengan Tanti dan istriku, aku harus berpuasa di awal-awal kehamilan mereka. Sementara Windy tampak oke-oke saja. Sungguh sangat beruntung sekali.

“Waktu periksa tadi, dokter sudah mengecek… kandunganku kuat kok. Aku juga tanya masalah hubungan seks saat kehamilan, kata dokternya, silahkan saja asal tidak berlebihan. Mengenai sampai kapan boleh berhubungan, dokter bilang itu relatif. Tergantung dari masing-masing pasangan. Malah dokter itu bilang, ada juga pasangan yang hamil 9 bulan masih melakukannya. Kenyataannya libido wanita justru meningkat saat sedang hamil, juga memang tidak ditabukan berhubungan seks saat hamil, karena bisa memperlancar lobang wanita.” Windy menambahkan.

“Tapi tujuan perselingkuhan kita jadi lain sekarang,” aku mengingatkan.

“Kenapa, mas nggak suka?” tantangnya sambil tersenyum.

Aku mengangkat bahu. “Gila kalau aku sampai menolak.”

“Ya sudah kalau begitu.” Windy bangkit untuk merapikan piring dan gelas. Selama itu juga tanganku terus menggerayang di bokong sintalnya.

“Tubuhmu nggak pernah bikin bosan, Win.” bisikku jujur.

“Mas aja yang kegatelan,” dia tertawa ringan sebelum kemudian mengajakku pindah ke ruang teve. Tampaknya disana permainan kami akan dimulai.

Kami berpelukan mesra di atas sofa menonton film yang entah apa, karena tanganku lebih sibuk meraba-raba daripada melihat tayangan yang ada disana. Windy menggelinjang namun sama sekali tidak menolak. Terus kuremas-kuremas paha dan tonjolan payudaranya hingga sebentar saja gamis panjang yang ia kenakan sudah tersingkap kemana-mana, menampakkan tubuh bugil indah yang selalu bisa memancing hasrat dan gairahku.

Saat akan kucium bibirnya, barulah Windy berbisik sedikit serius. ”Mas, sekali lagi aku mau berterimakasih sama Mas, tak terhingga. Aku kini merasa lengkap sebagai seorang perempuan. Terima kasih, Mas.”

”Ah, nggak usah begitu juga,” kulumat lembut bibirnya. “Aku turut senang kalau kamu bahagia.” kataku sambil tambah memeluknya.

”Terimakasih sekali lagi, Mas,” Windy balas memelukku, kurasakan air matanya mulai menetes.

Segera kulepas pelukan dan kuhapus air mata itu dengan tanganku. Lalu aku tersenyum. Windy pun ikut tersenyum. ”Sudah ah, lagi bahagia gini jangan menangis.” rayuku.

”I-iya, Mas. Kalau kamu bilang begitu, aku nggak nangis lagi deh.” sahutnya.

”Nah gitu dong,” Kukecup lagi bibirnya.

”Kalau nanti aku gendut, Mas masih suka nggak?” tanyanya tiba-tiba.

”Justru gendutnya wanita hamil itu yang bikin pengen. Ininya jadi tambah gede,” kataku sambil memencet-mencet ringan bulatan payudaranya.

“Punyaku nanti jadi segede apa ya?” Windy memandangi dadanya yang memang sudah over size, tampak terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang mungil dan kurus.

“Tambah gede malah tambah bagus,” kataku bercanda.

“Kalau punya Tanti?” tanyanya ingin membandingkan.

“Jadi gede juga, tapi tampaknya bakal lebih gede punyamu.” Aku menunduk, satu persatu kujilati puting Windy yang masih nampak mungil memerah. Enam bulan lagi, puting itu akan jadi tambah hitam dan menonjol, siap untuk memberi ASI bagi si bayi.

“Tanti sekarang lagi nifas ya?” tanyanya sambil menggelinjang. Ditatapnya tampangku yang kepengen, sebelum tangannya mulai mengelus dan meremas pangkal celanaku.

“Iya,” aku mengangguk.

Tanti memang baru melahirkan dua minggu yang lalu. Bayinya cowok seperti yang ia idam-idamkan, dan wajahnya mirip denganku. Suaminya sepertinya tidak curiga karena kata Tanti, laki-laki itu sangat menyayangi anaknya. Aku jadi lega, setidaknya apa yang kulakukan selama ini bisa memberi manfaat bagi semuanya.

“Nggak kangen sama Tanti?” tanya Windy. Tangannya yang terus bermain di celanaku, akhirnya mau tak mau membuat batang penisku bangun juga.

“Kangen sih, tapi untung ada kamu.” sahutku sambil kubantu Windy memelorotkan celana.

“Lebih suka mana, aku apa Tanti?” tanyanya menggoda.

“Nih jawabannya,” Kusuruh dia untuk menunduk, dan tanpa menunggu lama, lidahnya yang basah mulai menjilati kepala penisku.

Windy menjilatinya dengan lembut, mulai dari lubang pipis hingga batangnya yang sudah merekah besar. Tangannya juga tak henti mengocok, sambil sesekali mempermainkan biji zakarku yang seakan seperti ingin meledak.

“Ssshhh… Win!” aku mendesah ketika mulutnya mulai menelan ujung penisku. Ia mengemut dan menghisap-hisapnya rakus hingga akhirnya seluruh batangku dilahapnya, sambil sesekali gantian mengenyot bijiku. Perbuatannya itu kontan membuat birahiku meningkat. Masih sambil rebahan di sofa, kubuka bajuku hingga aku pun terduduk telanjang bulat menikmati segala sentuhannya.

Setelah agak lama, Windy berdiri dan mulai menanggalkan busananya. Aku hanya tiduran saja, menyaksikan sambil mengocok-ngocok penisku. Kuperhatikan tubuhnya, belum ada perubahan yang mencolok; masih tetap ramping dan seksi. Tetek besarnya masih tetap indah, dengan puting dan lingkaran sekitarnya agak merah kecoklatan. Puting itu sedikit tegang, yang tentu saja jadi menambah keras batang penisku.

Windy lalu naik ke sofa, duduk di depanku dengan provokatifnya. Kedua tangannya dinaikkan dan diapitkan di belakang kepala, seperti ingin memperlihatkan gundukan payudaranya yang selama ini selalu kukagumi. Sementara kakinya dibuka lebar-lebar dengan kedua lutut menekuk, menampakkan rimbunnya bulu kemaluan yang menghiasi celah selangkangannya.

“Hmm,” Aku meneguk ludah menyaksikan keindahan di depanku itu.

Segera aku bangkit dan menyerbu gundukan buah dadanya, kujilati dan kuciumi bergantian sampai menjadi basah. Lalu kucari bibirnya, cepat kami saling bertautan lidah dengan gairah membakar. Pipi, mata, leher, dan belakang telinganya tak luput dari jilatanku. Windy blingsatan kegelian, apalagi saat mulutku kembali menyerbu tetek besarnya sambil tanganku juga meremas-remasnya gemas.

Yang jadi sasaran nafsuku adalah putingnya yang terlihat lebih tegang dan lebih besar, terasa enak sekali saat dijilat dan dimainkan dengan lidah. Kujilati dan kuemut-emut benda mungil itu, kugoyang-goyang dengan lidahku. Windy menggeliatkan badannya, campuran antara geli dan keenakan. Aku benar-benar gemes sama putingnya saat itu, jadi lama aku nenen disana. Kadang bergantian dengan menggerayangi bulu-bulu kemaluannya sebentar untuk membelai-belai belahan memeknya, hanya membelai belahannya saja, tidak lebih.

Ada 10 menit aku hanya nenen saja, Windy juga tidak meminta untuk berubah posisi, mungkin ia sengaja membiarkanku menikmati mainan baru; yaitu tonjolan putingnya.

Puas menghisap disana, aku mulai menuju ke lembah kenikmatan milik perempuan cantik itu. Bibirku mulai menciumi permukaan dan belahannya yang sempit, pelan-pelan kusodokkan jariku ke sana sebelum biji itilnya menjadi sasaran santapan lidahku. Kembali Windy mendesah dan menggeliatkan pinggulnya, kini dia agak menaikkan badan dengan tangan meraih belakang kepalaku untuk semakin membenamkannya ke celah selangkangan agar aku terus memainkan itilnya lebih kuat dan lebih nikmat lagi.

“Hmm… hmph…” Aku makin bersemangat saja dalam menjilat dan mengulum, rambutku diremas olehnya. Desah dan erangannya kini mulai berkepanjangan.

”Ahhh… ahhh… betul, Mas… d-di situu…” teriaknya keenakan.

”Ough… sshh….” Sambil menjilat, aku juga kembali meraih tonjolan payudaranya dan meremas-remasnya gemas.

”Yah…. jilat terus, Mas… ohh… gila!!” rintihnya tak tahan.

Kupenceti puting susunya yang mungil berkali-kali sambil sesekali juga kupilin-pilin mesra. ”Ahmhp…” Dan aku juga terus mencaplok liang surganya.

Akibatnya, “Mas… a-aku…” Windy menjerit keras begitu cairan orgasmenya menyembur kencang membasahi lubang senggamanya.

Aku segera bangkit dan tanpa perlu repot-repot membersihkannya, langsung memposisikan tubuh di antara kedua kakinya yang masih mengangkang lebar, dan… Bless!! Hanya perlu satu kali tusukan, penisku pun amblas ke dalam lubang nikmatnya.

“Auw!” Windy memekik, sementara aku secara naluri bertumpu di atas kedua lutut dan tanganku, berusaha tidak menindih perutnya. Kumulai pompaanku dalam lobang kemaluannya.

Kurasakan sesaat, belum ada rasa yang berubah, masih sama legit sebelum dia hamil. Aku memompa dengan santai saja, aku tidak mau menyodok dengan cepat atau kuat, takut terjadi sesuatu. Kugerakkan penisku keluar masuk dengan teratur, sementara tanganku mulai berkarya meremasi bulatan teteknya; kupilin dan kuputar-putar putingnya yang selalu membuatku gemas, sambil sesekali tanganku membelai bulu keteknya saat tangan Windy terangkat ke atas.

Boleh dibilang permainan kami berlangsung secara lembut dan penuh kehangatan, namun tidak menurunkan kenikmatannya. Malah semakin menambah keasyikan. Kami terus bergaya seperti itu sebelum aku cabut kejantananku dan mengajaknya berganti posisi favoritku; yaitu menggaulinya dengan posisi sejajar menyamping.

Segera kuangkat dengan lembut satu kaki Windy, dan aku langsung membenamkan penisku ke dalam lubang kenikmatannya, sementara mulutku dengan leluasa menjilat serta menciumi bibirnya. Tak luput juga putingnya yang mungil kulumat bergantian sambil jariku memainkan itilnya yang kecil. Memang Windy paling senang kalau disodok dengan gaya ini, katanya semua bagian tubuhnya bisa aku mainkan sekaligus.

Maka desahan dan erangannya semakin menjadi-jadi, ”Ouw… ahhh… shh… hisap lagi, Mas… aduh… aduduh… itilku juga, jangan berhenti… ahh… auw!!”

Hasilnya, tak perlu waktu lama. Dia kembali orgasme. Aku masih tetap menyodokkan penisku dengan irama sedang saja; saat menarik, kukeluarkan sampai sebatas kepala, lalu kembali menusuk masuk secara perlahan-lahan. Begitu terus, dan tampaknya Windy sangat menikmati karena lubang memeknya kurasakan semakin basah dan lengket sementara itilnya jadi semakin mengeras oleh permainan jariku.

Akhirnya kurasakan denyutan yang sudah sangat kukenal. Segera kubenamkan dan kugoyang penisku dalam lubang kemaluannya sedikit lebih cepat…

Croot… croot… croot… spermaku meledak membanjiri lorong rahimnya. Kami terkulai lemas, sama-sama puas dan berkeringat. Windy mencium dan memelukku dengan mesra.

”Terima kasih, Mas, untuk kenikmatannya.” Ia berbisik, “dan juga karena telah memberiku anak.”

Lalu kami tertidur pulas. Lewat tengah malam kami bangun, main lagi dua kali sebelum kemudian mandi bareng karena hari sudah menjelang subuh. Di kamar mandi, kembali kunaiki tubuh sintalnya, namun kali ini kuguyurkan spermaku ke dalam mulutnya. Windy tersenyum saat menelannya. Setelah itu kami berpakaian dan kutemani dia memasak sarapan.

Menjelang suaminya pulang, kami pun berpisah. Windy berjanji akan mengabariku lagi kalau memang ada kesempatan. Namun itu ternyata sulit. Bukan karena suaminya berada di rumah terus, melainkan karena kandungan Windy yang tiba-tiba saja bermasalah. Dokter menganjurkan agar dia menghentikan sejenak kegiatan ranjang sampai kandungannya menginjak usia tiga bulan.

“Nggak apa-apa kan, Mas?” ia menelepon meminta pengertianku.

Apa lagi yang bisa kulakukan selain mengangguk menerimanya. Meski dengan berat hati, terpaksa aku berucap setuju. “Akan kutunggu,” kataku menyanggupi.

MURTI 7

Hari masih teramat pagi tapi Murti sudah berdandan sangat rapi. Dengan baju muslimah warna pink, ia terlihat lebih anggun dan ayu. Sementara Pak Camat, suaminya, masih tidur mendengkur kayak lembu. Murti tidak berniat untuk membangunkan. Suaminya pasti kelelahan dari bepergian. Ia tidak tahu jam berapa Pak Camat datang. Yang pasti ketika ia bangun jam dua dini hari, suaminya sudah ada.
“Besok aku libur, Mur. Kamu pergi saja ke pendopo dengan Gatot.” kata suaminya tadi malam.

“Baik. Mas Joko istirahat saja. Mas pasti capek setelah dua hari keluyuran.” balas Murti pedas.
“Kamu kok gitu sih? Aku kan ada tugas luar kota.” kilah Pak Camat.
“Bukannya apa-apa, Mas. Aku cuma sedikit rindu,” kata Murti.
“Rindu tapi benci ’kan?” sela Pak Camat.
Biarpun rindu tapi benci, namun tadi malam sempat terjadi juga keintiman suami istri. Tapi Murti tahu suaminya tidak bersungguh-sungguh. Keintiman tadi malam dibayangi ragu. Pelukan dan cumbuan tadi malam terjadi dengan setengah hati. Terasa hambar dan kaku. Keintiman yang tidak berlangsung lama, bahkan sangat singkat bagi Murti. Belum setengah ronde, suaminya sudah loyo. Murti tersenyum kecut. Memang lebih enak barang milik Gatot.
“Baik, Mas, saya berangkat.” kata Murti pada akhirnya.
Hari ini ia memang hendak ke pendopo untuk menghadiri acara pelantikan dirinya sebagai sebagai pegawai negeri sipil. Sebenarnya ia sangat ingin didampingi suami seperti para undangan yang lain. Murti kecewa karena hanya dialah satu-satunya tamu undangan yang datang seorang diri. Yang lainnya datang bersama istri dan suami masing-masing. Ia melangkah gontai menuju kursi yang telah diberi nomor.
Sementara Gatot yang mengantarnya lebih suka menunggu di luar pendopo, ngobrol bersama petugas pamong praja. Ternyata bukan hanya polisi yang mengenal Gatot, tetapi pamong praja juga kenal baik dengannya. Boleh dibilang kalau semua aparat di kota mengenal sejarah Gatot dari masa ke masa. Biarpun cuma lulusan SD, Gatot masih ingat wajah teman-teman mainnya dulu.
“Hei, kamu Gatot kan?” sapa seseorang.
“Iya, kamu pasti si Bejo.” balas Gatot.
“Betul. Makin subur saja kamu, Tot.” kata lelaki yang dipanggil Bejo.
“Jangan memuji.” sahut Gatot. ”Kamu sudah mapan, Jo, jadi pegawai negeri.” tambahnya.
“Ini sih sudah nasib. Mainlah ke rumah,” tawar Bejo.
“Pasti. Tapi aku masih sibuk, Jo, maklum cuma babunya Pak Camat.” Gatot beralasan.
“Kakakku pasti senang kalau ketemu kamu, Tot.” kata Bejo lagi.
“Si Ningsih?” tebak Gatot. ”Dimana kakakmu itu sekarang? Sudah punya suami?” tanyanya kemudian.
“Kak Ningsih ada kok. Dia sering menanyakan kamu.” jawab Bejo. ”Makanya main ke rumah!” kembali ia menawarkan.
Gatot tertawa kecil. Perbincangannya dengan Bejo telah membuatnya teringat pada Ningsih. Dulu ia, Bejo, Ningsih, dan juga Murti adalah teman bermain dan bersekolah. Mereka sering bersama kemana-mana, belajar kelompok bersama, bermain di sungai sampai puas. Sampai kemudian Bejo dan keluarganya keluar dari kompleks dan pindah ke jalan lain. Gatot ingat Ningsih dulu sama nakalnya dengan Murti, sama-sama suka mempermainkannya ketika kecil dulu, sering membuatnya menangis. Murti dan Ningsih juga sama cantiknya ketika masih bocah. Cuma sekarang ia tidak tahu seperti apa bentuk dan rupa Ningsih. Tentu tidak sama dengan puluhan tahun silam.
“Sampaikan saja salamku pada ningsih, Jo.” kata Gatot sambil tersenyum.
“Kak Ningsih berharap ketemu kamu, Tot.” sahut Bejo sedikit memaksa. ”Main saja ke rumah, nanti kukenalkan ke istri dan anakku.” ia masih belum mau menyerah.
“Baiklah.” Gatot akhirnya mengalah. ”Tapi aku tidak janji ya…”
Sementara itu Murti duduk dengan gelisah di bangkunya. Acara pelantikan masih setengah jam lagi, tapi Murti sudah sangat ingin keluar dari pendopo. Ia tahu bahwa semua mata tengah memandanginya dengan sorot mata dan ekspresi wajah bermacam-macam. Sekelompok orang yang ada di baris paling belakang kasak-kusuk dan sayup terdengar oleh Murti, membuatnya makin ingin angkat kaki. Untung ia duduk di sebelah Aisyah, membuatnya sedikit tenang dan terhibur.
“Bu Murti sepertinya tidak semangat,” kata Aisyah memecah kebekuan.
“Iya, Aisyah. Semalam saya begadang.” jawab Murti sekenanya.
“Pantas Bu Murti kelihatan loyo.” angguk Aisyah, ia memang gadis yang lugu dan polos. ”Kok tidak bersama Pak Camat?” tanyanya kemudian.
“Bapak lagi libur, Aisy. Beliau istirahat di rumah.” jawab Murti.
“Jadi ibu diantar Mas Gatot?” tanya Aisyah dengan wajah bersemu merah, senang sekaligus grogi karena ada kesempatan bertemu dengan Gatot.
“Benar.” Murti tersenyum memandang Aisyah yang menunduk malu-malu. ”Nanti kamu bisa pulang bersama kami,” jawabnya untuk makin menyenangkan gadis itu.
“Terima kasih, Bu. Tapi saya malu,” lirih Aisyah.
“Malu sama siapa? Anggap saja aku ini kakakmu, Aisy.” sahut Murti menggoda.
“S-saya malu sama mas Gatot, Bu.” ucap Aisyah dengan muka makin merona.
“Ibu ngerti kok. Nggak usah malu. Gatot senang kok berkenalan denganmu.” jawab Murti.
“Ah, Bu Murti bisa saja,” Aisyah makin tersipu.
Murti tertawa melihat Aisyah yang malu-malu kucing seperti itu. Ia ingin bicara lagi, tapi acara pelantikan sudah mulai dibuka. Saat-saat membosankan telah berlalu, berganti dengan wajah-wajah penuh harapan baru. Ada sekitar seratus orang yang semuanya adalah guru yang mengikuti pelantikan. Murti tidak begitu mendengarkan sambutan dari Bupati dan Kepala Diknas. Ia lebih suka menunggu dan berharap acara segera berakhir. Memang kata sambutan itu yang paling lama, sementara acara acara lain berlangsung cepat, begitupun dengan penyerahan SK yang sengaja dikebut.
Murti merasa bahagia sekaligus kecewa. Ketika membuka SK, wajahnya kontan berubah. Ia memang resmi jadi pegawai negeri, tapi juga dipindah tugaskan ke sekolah negeri, bukan lagi di madrasah.
“Kamu juga dimutasi, Aisyah?” tanya Murti pada Aisyah.
“Benar, Bu. Mulai besok saya mengajar di SMA 3.″ jawab Aisyah kalem.
“Syukurlah kita masih satu tempat. Rasanya berat sekali meninggalkan madrasah.” kata Murti.
“Saya juga begitu, Bu. Sedih meninggalkan sekolah rintisan Abah. Tapi memang harus ada regenerasi.” jawab Aisyah bijak.
“Kamu benar. Semoga tempat baru memberi kita rejeki baru.” dukung Murti.
“Semoga. Kita berdoa saja, Bu.” Aisyah mengangguk mengiyakan.
Mereka menunggu dengan sabar sampai acara pelantikan bubar. Setelah berjabat tangan memberi ucapan selamat pada semua orang, Murti dan Aisyah segera keluar dari aula pendopo dan menghampiri Gatot yang masih setia menunggu di bawah pohon. Bertiga mereka menuju mobil.
“Sudah selesai acaranya?” tanya Gatot pada Murti.
“Sudah. Aku dan Aisyah mau ke madrasah. Antar kesana ya?” ajak Murti.
Gatot menatap Aisyah yang masih dibayangi duka. Ingin rasanya ia menghapus wajah duka itu agar terlihat kembali ceria seperti sedia kala. Kematian memang menimbulkan duka mendalam bagi orang-orang yang ditinggalkan. Dan gatot menghitung kematian Pak Asnawi, ayahnya Aisyah, telah memasuki hari ke tujuh. Ia dibayangi ketakutan bahwa suatu saat nanti kejahatan itu akan terbongkar. Ia takut berhadapan dengan Aisyah bila saat itu tiba.
“Nanti malam terakhir tahlilan ya, Aisyah?” tanya Gatot pada Aisyah yang berjalan pelan di sebelahnya.
“Benar.” Aisyah mengangguk, dia tidak berani menatap Gatot. ”Saya akan senang bila Mas Gatot mau hadir mendoakan abah.” tambahnya.
“Saya ingin sekali datang. Tapi semua tergantung ijin Pak Camat.” jawab Gatot.
Aisyah mengangguk, lalu menoleh pada Murti. “Oh ya, Bu Murti, saya berniat tinggal di komplek. Adakah di sekitar situ rumah yang dikontrakkan?” tanyanya sopan.
“Komplek sudah penuh.” sahut Murti. ”Coba kamu bicara ke Gatot. Siapa tahu dia mau menyewakan rumahnya,” tambahnya sambil tersenyum penuh arti.
Gatot menoleh dan memandang Murti. “Apa maksudmu?” tanyanya tak mengerti.
“Maksudku, rumahmu kan sering kosong. Bagaimana kalau kamu sewakan saja?” jawab Murti ringan.
“Lalu saya mau tinggal dimana, Mur?” tanya Gatot sedikit kesal.
“Ya tinggal di rumahku. Mas Joko sudah lama ingin kamu tinggal bersama kami, Tot.” sahut Murti dengan senyum dikulum di bibir.
“Nggak,” Gatot menggeleng, dengan cepat menolak. ”Saya tinggal di rumah saja.” putusnya. Beda rumah aja, mereka sering melakukannya. Apalagi kalau satu rumah, bisa-bisa Murti makin lengket dengannya, dan ujung-ujungnya Pak Camat jadi curiga. Gatot tidak mau itu terjadi. Dia masih ingin menikmati tubuh molek Murti sedikit lebih lama, kalau bisa memberikan anak kepadanya. Mudah-mudahan saja …
“Bagaimana kalau saya saja yang tinggal di rumah Bu Murti?” tawar Aisyah, nadanya sedikit penuh harap.
“Bukannya ibu menolak niat baikmu, Aisyah. Tapi ibu dan Pak Camat sudah sepakat untuk tidak menerima wanita di rumah kami.” tolak Murti dengan halus.
“Tidak apa-apa, saya bisa paham kok sikap keluarga ibu.” Aisyah mengangguk, kemudian berpaling pada Gatot, ”Bagaimana kalau saya kos di rumah Mas Gatot saja?” tanyanya ragu.
Ganti Gatot yang terkejut mendengar permintaan Aisyah. Ia melihat kesungguhan di balik kata-kata gadis itu. Mungkin ada sisi baiknya, ia jadi punya teman ngobrol. Tetapi Gatot merasa akan lebih banyak sisi buruknya bila sampai Aisyah tinggal serumah dengannya. Gatot harus menebalkan iman untuk menghadapi kecantikan dan kemolekan tubuh gadis itu, yang mana ia yakin tidak akan bisa melakukannya. Belum sehari, bisa-bisa ia sudah memperkosa Aisyah. Belum lagi tanggapan warga yang lain, pasti akan ada pergunjingan dan cemoohan.
“Sebenarnya apa yang membuat Aisyah ingin pindah?” tanya Gatot menyelidik.
“Capek mas tiap hari bolak-balik ke Cemorosewu. Kalau kos kan bisa irit waktu dan tenaga. Bagaimana, Mas Gatot setuju?” tanya Aisyah, ia kembali menunduk saat Gatot menatap wajahnya.
“Saya belum bisa putuskan, Aisyah. Saya harus diskusikan dulu dengan Pak Camat dan Pak RT.” jawab Gatot.
“Secepatnya ya, Mas. Saya tunggu keputusan Mas Gatot.” Aisyah meminta.
Setelah mengantar Murti dan Aisyah ke madrasah, Gatot pulang ke rumah Pak Camat. Murti yang menyuruhnya pulang karena ada sms yang intinya Pak Camat sangat butuh bantuan Gatot. Sampai di rumah Pak Camat, ia sudah ditunggu majikannya itu di teras. Pak Camat tampak sangat rapi, membuat Gatot bertanya-tanya dalam hati hendak pergi kemana beliau. Ia segera menghampiri Pak Camat.
“Bapak mau kemana?” tanyanya tanpa berniat usil.
“Tempat biasa.” jawab Pak Camat tanpa beban. “Tapi kalau Murti tanya, bilang saja aku rapat.” pesannya pada Gatot.
“Baik, Pak.” Gatot mengangguk, ia sama sekali tidak boleh melawan perintah Pak Camat meski itu bertentangan dengan kata hatinya.
Merekapun pergi. Gatot tahu tempat biasa yang dimaksud oleh Pak Camat. Tidak begitu jauh dari komplek, tepatnya di sebuah kawasan perumahan mewah yang tidak sembarang orang bisa masuk. Ke situlah Gatot mengantar Pak Camat. Di depan sebuah rumah tingkat yang terletak paling ujung, Gatot menghentikan mobil, membunyikan klakson dan masuk ke halaman rumah begitu pagar terbuka. Dengan cepat pula pagar itu kembali tertutup. Seorang wanita muncul dan tersenyum pada Gatot, lalu wanita itu menggelayut manja dipelukan Pak Camat.
“Tot, terserah kamu mau kemana. Tapi jemput nanti jam lima sore ya,” pesan Pak Camat yang tanpa malu-malu melingkarkan tangan ke pinggul selingkuhannya, dan meremasnya pelan.
Gatot mengangguk, “Baik, Pak. Saya pergi dulu.” iapun pamit, tidak tahan melihat pemandangan itu lebih lama lagi.
Gatot meninggalkan rumah itu, meninggalkan Pak Camat yang sudah sibuk dengan wanita simpanannya. Ia bingung mau kemana, tapi akhirnya ia putuskan untuk pulang saja ke rumah Pak Camat.
Sepi. Murti belum pulang dan pintu masih terkunci. Untung Pak Camat memberikan kunci serep sehingga ia bisa masuk sesuka hati bagai di rumah sendiri. Dalam kesendirian itu, Gatot teringat semua kejadian yang menimpanya dalam kurun enam bulan terakhir ini. Sejak bercerai dari istrinya, Gatot merasa hidupnya berputar bagai yoyo. Pahit manis kehidupan telah ia jalani dengan beragam perasaan suka duka, senang sedih, rindu benci, dan segudang perasaan lain. Ia teringat pada mantan istrinya yang berada nun jauh disana, di seberang pulau. Ingin sekali ia kembali ke pulau itu, pulau yang telah memberinya banyak harapan dan kenangan.
Gatot duduk di teras rumah Pak Camat. Matanya menatap lurus ke depan, ke jalanan yang ramai oleh anak-anak komplek. Tapi ia tidak merasakan keramaian itu. Ia terasing di alamnya sendiri. Gatot memandang foto yang ada di dompetnya. Itu adalah foto Zulaikha, mantan istrinya. Tidak secantik dan semontok Murti, tetapi Gatot sangat mencintainya sepenuh hati. Dua tahun lamanya membina rumah tangga bersama Zulaikha, ia belum pernah melihat istrinya itu marah. Istrinya adalah wanita yang sabar dan rendah hati, pintar menjaga perasaan dan emosi.
Gatot menyesal kenapa ia harus meninggalkan istri sebaik Zulaikha. Ia berpikir rasanya tak mungkin lagi bisa menemukan wanita sebaik Zulaikha. Sayang semua itu kini hanya menjadi memori yang membelenggu jiwa. Ia ingin mendapat kabar tentang Zulaikha, tetapi ada rasa ketidakpantasan untuk menelepon mantan istrinya itu. Gatot menghela napas dan mengusap wajahnya, mengembalikan foto Zulaikha ke dalam dompet.
Tepat tengah hari, Murti pulang. Gatot merasa bersalah. Gara-gara tertidur di teras, ia sampai lupa menjemput istri majikannya itu. Untung Murti tidak marah dan memang tidak pernah bisa memarahi Gatot, yang ada ia malah menginginkannya. Murti cuma bisa tersenyum masam sambil menyeka keringat yang menetes di kening.
“Maaf, Mur, aku tertidur.” kata Gatot jujur.
“Tidak apa-apa. Tapi kenapa tidur di teras? Mana Mas Joko? Kamu sendirian di rumah?” tanya Murti cepat, ada sedikit nada curiga dan penasaran dalam suaranya.
“Tadinya aku berniat cari angin, eh malah ketiduran.” Gatot mencoba untuk tersenyum. ”Pak camat rapat. Tadi aku nganter beliau ke gedung dewan.” jawab Gatot, hatinya ngilu karena sudah berbohong pada Murti.
“Bukannya bapak libur?” Murti bertanya tak percaya, namun selanjutnya ikut tersenyum mengingat kesempatan langka yang terbuka di depan mata. ”Ayo masuk ke dalam.” ajaknya kemudian, sedikit terburu-buru.
“Aku disini saja, Mur.” Gatot mencoba untuk menolak, setelah persetubuhan mereka kemarin, ia masih sedikit lelah.
“Masuk saja. Ada yang mau kubicarakan!” tapi Murti memaksa, ia sama sekali tidak mau tahu alasan Gatot yang menolak untuk masuk. Ia dengan agak kasar menyeret Gatot dan menutup pintu saat mereka sudah ada di dalam.
Murti terus menyeret Gatot hingga ke kamar. Disitu ia baru membebaskan Gatot. Pintu kamar telah terkunci dan kuncinya disimpan oleh Murti,  Gatot sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Diperhatikannya Murti yang kini mengganti baju muslimahnya dengan baju rumahan.
“Benarkah Pak Camat rapat, Tot?” tanya Murti dengan tubuh hanya terbalut bh dan celana dalam.
Gatot tidak langsung menjawab, ia mendesah dengan mata tak berkedip menatap tubuh molek Murti. Ia tidak bisa menjawab dengan jelas pertanyaan istri majikannya itu. Semakin hari pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh Murti semakin datang bertubi tubi, semua bernada ketidakpercayaan dan kecurigaan.
“Begitulah, Mur.” jawab Gatot pendek, suaranya sedikit serak.
“Bohong!” Murti memotong.
“Terserah kamu, Mur. Tapi memang begitulah kenyataannya.” Gatot melihat Murti yang kini berjalan mendekatinya.
“Kamu tidak jujur, Tor!” tuduh Murti. ”Katakan dimana suamiku sekarang!” ancamnya sengit.
“Aku tidak bisa katakan.” Gatot menggeleng, sementara matanya tetap lekat menatap tubuh mulus Murti yang kini cuma berjarak sejengkal.
Murti mencopot lagi daster merah kembang-kembang yang baru saja ia kenakan, berharap dengan begitu bisa lebih mudah mengorek keterangan dari Gatot. Tubuh sintalnya biasanya selalu berhasil membuat Gatot menyerah. “Kenapa? Berapa mas joko menyuapmu sampai kamu tega membohongiku, Tot? Mana belas kasihanmu padaku?” hibanya pura-pura.
“Maafkan aku, Mur.” Gatot menatap sayu. ”aku mengasihimu. Tapi aku juga harus menjaga semua yang diamanatkan oleh Pak Camat.” katanya menegaskan. Tapi itu cuma di mulut, karena tak urung penisnya mulai bangkit juga melihat provokasi Murti yang kelewat berani.
Wanita itu sekarang sudah mencopot bh hitamnya, membuat Gatot bisa melihat dengan jelas tonjolan buah dadanya yang ranum dan indah. “Jujurlah demi aku, Tot.” Murti meminta. Digoyang-goyangkannya benda itu tepat di depan muka Gatot, membuat Gatot makin melongo dan bertekuk lutut, tak tahu harus berbuat apa lagi.
Gatot menggeleng untuk yang terakhir kali saat Murti merangkul dan menempelkan tonjolan buah dada itu tepat di mukanya. Keduanya segera larut dalam pelukan bisu, namun penuh dengan gairah. Keduanya hanyut dalam gelombang nafsu, yang meski begitu besar dan menggelora, tetap membuat Gatot ragu untuk berkata sejujurnya mengenai sepak terjang Pak Camat yang sudah kebablasan.
Setelah menunggu lama, dan Gatot tetap diam, Murti akhirnya mendesah. Ia memang ragu pada kesetiaan suaminya yang dirasa makin luntur dari hari ke hari, namun sepertinya keterangan itu tidak bisa didapatnya dari Gatot hari ini. Mungkin lain kali. Yang bisa diberikan Gatot saat ini cuma kehangatan. Murti bisa melihatnya lewat penis laki-laki itu yang kini sudah mengacung tegak dalam genggaman tangannya.
“Sampai kapan jiwa kita terbelenggu seperti ini, Mur?” bisik Gatot lirih sambil mulutnya mulai menghisap dan menciumi puting Murti satu per satu.
”Ahh…” sedikit menggeliat, Murti menjawab. “Mungkin sampai detak jantung kita berhenti, Tot.” balasnya berbisik. Tubuh sintalnya cuma dibalut oleh celana dalam, tapi tak lama benda itupun juga melayang, membuat Murti benar-benar telanjang bulat seperti bayi yang baru lahir sekarang.
Gatot tidak pernah menang bila sudah berhadapan dengan Murti yang seperti ini. Ia menyerah dengan begitu mudah dan kalah dalam satu kali serangan. Hati nuraninya memang bilang ini tidak boleh dan sangat dilaknat oleh Tuhan, tetapi Setan lebih berani dengan berkata bahwa keintiman yang dijalaninya bersama Murti adalah sesuatu yang sah dan wajar. Gatot tak tahu mana yang benar. Yang ia tahu cuma dahaga batin Murti harus terpenuhi. Dan hanya ia yang bisa memenuhinya.
Toh Murti juga sama sekali tidak merasa tersakiti, malah seperti menikmati. Dengan sigap dia menurunkan celana panjang Gatot, juga celana dalamnya hingga Gatot jadi sama-sama telanjang sekarang. Kejantanan Gatot yang sudah mengeras dan menegang tajam langsung digenggamnya dengan begitu erat, terlihat sangat mengagumi dan menyukainya.
”Hmm…” Murti mulai menjilat dengan sangat lembut, dimulai dari ujung hingga pangkal kejantanan Gatot, seakan ingin memanjakannya. Tak sesenti pun kejantanan Gatot yang tak tersapu oleh lidahnya yang mahir itu. Murti juga mengemut-ngemut kantong pelir Gatot dengan gemasnya, bahkan dia tak sungkan menjilati lubang dubur Gatot.
Mungkin karena didorong oleh perasaan cemburu pada Pak Camat, kenikmatan yang diberikan oleh Murti pada Gatot jadi sangat total dan berlipat ganda. Gatot jadi melenguh keenakan saat menikmatinya, ini sungguh diluar perkiraannya.
”Mur, uuh… enak sekali. Terus jilat punyaku, Mur… arghh!!” gumam Gatot dengan tubuh bergetar pelan. Jarang-jarang Murti mau mengulum penis dengan begini telaten.
Murti semakin ganas menghisap kejantanannya, benda itu terus keluar masuk di mulutnya, dari sisi kanan bergerak ke sisi kiri, menggesek susunan gigi dan lidahnya yang basah. Kenikmatan yang dirasakan oleh Gatot sungguh luar biasa, tidak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata. Ngilu, geli, nikmat, semua bercampur menjadi satu. Hingga akhirnya pangkal penis Gatot terasa berdenyut kencang, ingin menembakkan apapun yang sudah sejak tadi berusaha ia tahan-tahan.
“Mur, aku mau keluar…” rintihnya sambil menahan batang penis di dalam mulut Murti.
Tanpa bisa menolak, Murti hanya bisa pasrah saat Gatot memuncratkan seluruh spermanya di dalam mulut mungilnya yang berbibir tipis itu. Croot… croot… croot… tidak ingin muntah dan tersedak, iapun lekas menelan semuanya hingga tak tersisa. Murti juga membersihkan sisa-sisa sperma yang masih terlihat meleleh dari lubang kencing Gatot dengan menjilatinya sampai puas. Bagaikan wanita yang kehausan di tengah padang gurun pasir, Murti menyapu seluruh batang kejantanan Gatot dan menelan semua cairannya tanpa ragu.
”Ahh… Mur,” Gatot dengan lemas berguling ke sisi kiri, ia rebahkan tubuhnya yang sudah lunglai itu di sebelah Murti.
”Tot, aku belum dapat lho…” ingat Murti, ”Aku pengen nih,” pintanya memelas sambil terus mengelus-elus penis Gatot yang kini sudah meringkuk dan melemas gemas dalam genggaman tangannya.
”Iya, Mur, kamu pasti dapat kok…” janji Gatot. ”Tapi aku istirahat dulu ya.” ia tarik Murti ke dalam pelukannya dan diciuminya dengan mesra.
”Aku pengennya sekarang, Tot.” Murti menggeliat, tapi tak urung mendesah juga saat jari-jari nakal Gatot mulai meremas-remas pelan gundukan payudaranya.
”Tapi punyaku masih lemes, Mur.” Gatot berkata malu.
”Aku jilatin lagi biar cepet bangun.” sahut Murti penuh semangat.
”Terserah kamu saja, yang penting punyaku bisa kaku lagi.”
Tanpa menjawab, Murti dengan cekatan segera mengambil posisi. Kepalanya kini tepat berada di atas penis Gatot, dan kembali menghisap-hisapnya dengan begitu rakus dan cepat. Segala upaya ia lakukan, mulai dari membelai ujungnya yang tumpul hingga melumat habis biji pelirnya yang bulat kembar. Tak lama, penis Gatot pun sudah kelihatan basah oleh air liur Murti. Dan tak cuma itu, benda itupun juga mulai kaku dan menegang.
Merasa usahanya berhasil, Murti semakin mempercepat temponya. Alhasil kejantanan Gatot kembali mencuat dan mengeras dengan gagahnya, siap untuk bertempur kembali.
“Sudah, Tot. Ayo cepat lakukan!” seru Murti saat melihat batang penis Gatot sudah menegang maksimal.
Gatot yang juga sudah sabar ingin menerobos masuk dan mengaduk-aduk isi memek Murti, memberi aba-aba pada Murti agar bergerak. ”Kamu di atas,” bisiknya.
Dengan sigap Murti menggenggam batang penis Gatot dan menuntun untuk menyentuh lubang vaginanya yang sudah basah sedari tadi. Penis Gatot ia gesek-gesekkan terlebih dahulu di bibir memeknya, sesekali dibiarkannya membelah gemas, hingga perlahan batang penis itu mulai menerobos masuk saat Murti mulai mendudukinya pelan.
”Eghh…” rintih Gatot saat seluruh batang penisnya sudah terbenam di liang kewanitaan Murti. Goyangan pinggul istri Pak Camat itu juga membuatnya nikmat sekali, begitu lihai dan sangat menggairahkan. Semakin lama semakin kencang, hingga mau tak mau Gatot jadi makin melenguh nikmat dibuatnya.
”Pelan-pelan, Mur. Bisa patah punyaku!” sela Gatot sambil meremas-remas gundukan payudara Murti kuat-kuat.
Tapi seperti kesetanan, Murti tidak menghiraukannya. Bongkahan pantat semoknya terus bergoyang liar mempermainkan batang penis Gatot yang masih terbenam dalam. ”Uuh… Tot, punya kamu perkasa sekali. Nikmat… beda dengan punya suamiku!” bisik Murti dengan mata merem melek menikmati hujaman penis Gatot di liang senggamanya.
”Punya kamu juga enak, Mur.” balas Gatot. ”Rasanya punyaku jadi seperti dipijit-pijit… kamu apakan sih, kok bisa enak gitu?” tanyanya penasaran.
”Ahh… mau tahu aja kamu! Gak penting aku ngapain, yang penting kita bisa sama-sama enak!” sahut Murti sambil menggoyang semakin cepat. ”Cepat, Tot, aku sudah mau keluar… ooh!” ujarnya sambil menengadahkan  kepala ke atas.
Bersamaan dengan itu, Gatot merasakan ada semburan cairan hangat yang sangat banyak sekali dari lubang kewanitaan Murti. Istri Pak Camat itu sudah mencapai orgasmenya. Dengan lunglai Murti ambruk merebahkan tubuhnya yang telanjang tepat di atas badan Gatot.
”Tahan, Mur, aku juga sudah hampir…” seru Gatot sambil menyuruh Murti mengangkat pantatnya sedikit. Masih dengan posisi women on top, kembali ia menyodok-nyodokkan penisnya dengan beringas ke dalam liang kewanitaan Murti yang sudah basah kuyup.
”Tot, ini yang aku suka dari kamu… kuat sekali, tidak seperti suamiku… aah… aah… uhh…” erangan demi erangan keluar silih berganti dari bibir tipis Murti, bersama dengan keringat yang semakin mengucur deras di sekujur tubuh sintalnya.
Kata-kata Murti itu membuat darah muda Gatot semakin panas membara, sekaligus semakin membuatnya terangsang. ”Ehm… aku juga suka tubuhmu, Mur, nikmat sekali!” seru Gatot dengan nafas menderu karena nafsu birahinya sudah semakin memuncak.
Gerakan kontolnya juga semakin mengencang, mungkin seusai pertempuran ini, memek Murti akan lecet-lecet karena sodokannya. Tapi tidak apa-apa, yang penting mereka sama-sama puas sekarang. Merasa sebentar lagi akan keluar, maka Gatot segera membalikkan posisi tubuh Murti ke bawah tanpa harus melepaskan batang penisnya yang sudah tertanam rapi di liang kewanitaan istri Pak Camat itu.
”Lanjut ya, Mur?” pinta Gatot sambil membuka lebar-lebar selangkangan Murti dan kembali memompa tubuhnya.
”Lakukan, Tot, lakukan!” jerit Murti, dalam posisi seperti ini, terasa sekali milik Gatot seperti menyentuh hingga ke mulut rahimnya. Setiap hujaman yang Gatot berikan, maka erangan Murti yang tertahan terdengar semakin mengeras.
Sampai akhirnya, denyut-denyut nikmat yang sudah dirasakan oleh Gatot, terasa semakin menghebat. Bagaimanapun Gatot berusaha untuk menahannya, rasa itu tetap semakin menjadi. Hingga saat tak dapat ditahan lagi, akhirnya…
”Mur, aku mau keluar…” rintih Gatot.
”Jangan dicabut, keluarkan di dalam saja, tidak apa-apa. Jangan sia-siakan sperma kamu, siapa tahu aku bisa hamil karenanya!” seru Murti penuh harap.
”Arghh!!!” menjerit sedikit kencang, Gatot pun memuncratkan spermanya di liang senggama Murti Dian.
Bagi Murti, semprotan sperma di liang kewanitaannya terasa begitu nikmat sekali. Berbeda dengan milik suaminya yang biasanya cuma sedikit, cairan Gatot terasa sangat panas dan banyak, terasa meluncur hingga ke mulut rahimnya. Murti yakin, ia akan bisa hamil karenanya.
Ketika Gatot mencabut penisnya, tampak beberapa tetes cairan putih ikut mengalir keluar secara perlahan-lahan dari sela-sela belahan bibir vagina sempit Murti. ”Terima kasih, Tot.” ucap Murti sambil merebahkan dirinya yang lemas terkuras akibat pertempuran yang membawa kenikmatan ini.
”Aku yang terima kasih, Mur. Kamu sudah memberikanku kenikmatan yang tidak setiap orang bisa mendapatkannya.” balas Gatot, tangannya kembali meraih gundukan payudara Murti dan meremas-remasnya pelan.
”Aku juga merasa beruntung, Tot. Banyak gadis yang mengejarmu, tapi cuma aku yang bisa merasakan kejantananmu!” sahut Murti sambil membelai mesra penis Gatot yang sudah terkulai lemas.
”Awas, Mur… nanti bangun lagi lho. Apa kamu kuat meladeninya?” goda Gatot sambil memilin-milin puting Murti yang mungil seperti wanita yang belum menikah.
”Ihh… kamu kuat banget sih. Bisa mati aku kalau kamu hantam lagi seperti tadi.” Murti merajuk.
”Hahaha… habisnya tubuhmu sungguh menggiurkan.” sehabis berkata begitu, Gatot tiba-tiba terdiam.
”Kenapa, Tot?” tanya Murti bingung.
”Aku tidak ingin kehilangan kamu, Mur.” bisik Gatot sungguh-sungguh.
“Bagaimana kalau kamu menikahiku di bawah tangan?” tawar Murti.
“Itu takkan menghapus dosa kita, Mur.” ucap Gatot.
“Kalau begitu biarlah gelimang dosa ini kutanggung sendiri.” kata Murti yakin. Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia meneliti setiap inci tubuhnya dan tertawa sendiri. “Bukankah aku masih segar?” katanya di sela tawa yang tak kunjung berhenti. “Adakah yang lebih segar hingga Mas Joko tak lagi ingat aku?” katanya lagi.
“Tidak ada siapapun di hati Pak Camat, Mur. Dia hanya sibuk dengan tugasnya.” jawab Gatot.
Murti tertawa semakin keras, sampai tubuhnya terguncang-guncang, begitu pula dengan pembaringan yang bergoyang. Gatot hanya bisa memeluk dan mendekap Murti. Dan tak lama, mereka menyatu lagi dalam kobaran api birahi yang tak kunjung padam.

RIYANI

Cerita ini bermula ketika aku dan istriku sudah membina rumah tangga selama 2 tahun. Aku bernama Harto Suyanto dan Istriku bernama Riyani Agustina Mustaqimah , umurnya saat ini 27 tahun, berwajah cantik, kulitnya putih, tinggi badan sekitar 165cm, rambutnya sedikit lebih panjang dari bahu. Kehidupan kami berumah tangga sangatlah baik, kami termasuk keluarga yang mapan. Sebagai istri, Riyani adalah istri yang baik dan sholehah, ia adalah seorang wanita yang alim dan sopan. Cara berpakainnya sama seperti jilbaber pada umumnya, yaitu jubah panjang dan longgar lengkap dengan jilbab besarnya. Sangat anggun dan keibuan kata teman-temanku. Untuk urusan ranjang, Riyani dapat dikatakan bukanlah seorang ahli, kalau tidak mau dibilang sangat lugu. Laki-laki pertama yang menidurinya adalah aku yaitu pada saat malam pengantin kami. Dua tahun kehidupan perkawinan kami berjalan baik-baik saja, kami belum mempunyai keturunan, mungkin kekurangannya adalah kehidupan seks
kami terlalu biasa-biasa saja. Kami mungkin hanya berhubungan badan sekali dalam 2 minggu dan itupun hanya dengan cara yang sangat konvensional yaitu posisiku di atas dan dia di bawah. Riyani tidak menyukai atau bahkan dapat dikatakan tidak mau dengan gaya lain selain gaya konvensional tersebut.
Entah kenapa setelah 2 tahun berumah tangga, pada waktu berhubungan badan dengan Riyani , aku selalu membayangkan Riyani berubah menjadi liar dalam urusan ranjang dan suka disetubuhi laki-laki lain, dan hal tersebut terus berulang sampai-sampai pada saat sedang tidak berhubungan badanpun dengan Riyani aku selalu memikirkan bagaimana rasanya melihat Riyani disetubuhi laki-laik lain.
Aku bekerja di sebuah perusahaan multi-nasional, bossku adalah seorang warga negara China, umurnya sekitar 59 tahun, badannya sangat gemuk dan kepalanya sudah mulai botak, hanya tinggal rambut-rambut tipis menutupi bagian kepala belakangnya. Bossku ini, namanya Sanjaya  sangatlah baik kepadaku, dapat dibilang akulah tangan kanannya di Indonesia. Orangnya suka bergurau masalah-masalah seks. Sanjaya  sering sekali menanyakan kabar Riyani , memang sudah beberapa kali Sanjaya  bertemu dengan Riyani dalam acara-acara kantor, terlihat sekali dia sangat tertarik pada Riyani yang memang sangat cantik dan anggun. Suatu ketika Sanjaya  menanyakan kehidupan rumah tanggaku, seperti biasa dia menanyakan kabar Riyani dan menanyakan mengapa sampai saat ini kami belum mempunyai keturunan dan apakah hal tersebut disengaja karena memang belum menginginkan keturunan. Mendengar pertanyaan tersebut, akupun menjawab bahwa sebenarnya aku dan Riyani menginginkan keturunan tapi
memang belum berhasil mendapatkannya.
“Mungkin cara kamu salah Tom, berapa kali kamu berhubungan badan dengan istrimu dalam seminggu” Tanya Sanjaya  kepadaku.
“Yah sekitar sekali dalam 2 minggu dan pada saat istriku dalam keadaan subur” jawabku singkat.
“Waah, mungkin kamu harus periksa ke dokter tuh, dokter ahli kandungan dan dokter ahli jiwa. “Kenapa ke dokter ahli jiwa?” tanyaku. “Karena kamu punya istri cantik tapi hanya ditiduri sekali dalam 2 minggu atau pada saat subur saja. Kalau Riyani itu istriku, pasti aku tiduri dia tiap hari dan berkali-kali” candanya kepadaku.
Mendengar hal tersebut, entah setan apa yang menghinggapi diriku, timbul sebuah ide dalam benakku.
“Mr. Sanjaya  mau tidur dengan istriku? Bilang saja terus terang” celotehku.
Mendengar perkataanku muka Sanjaya  terlihat kaget dan tidak percaya.
“Kalau saya bilang memang mau bagaimana?” katanya memancingku.
“Ya boleh saja” sahutku.
Kemudian aku menceritakan kepada Sanjaya  bahwa akhir-akhir ini aku selalu membayangkan aku menyaksikan Riyani ditiduri laki-laki lain, dan aku juga menjelaskan bahwa mungkin pikiranku ini hanya akan jadi khayalan semata mengingat betapa alimnya Riyani . Ternyata gayung bersambut. Sanjaya  menjelaskan dan meyakinkan kepadaku bahwa sebenarnya tidak ada wanita yang alim dalam seks, termasuk jilbaber yang alim. Wanita hanya memerlukan pancingan dan pengaturan “permainan” dari laki-lakinya untuk membangkitkan nafsu yang ada dalam dirinya. Sanjaya  kemudian mengatakan bahwa dirinya akan dengan senang hati membantu khayalanku menjadi kenyataan kalau memang aku mempercayainya. Mendengar itu akupun langsung mengiyakan. Sanjaya  kemudian memastikan lagi apakah aku tidak akan apa-apa kalau dirinya meniduri Riyani dan menanyakan apakah aku meminta imbalan sesuatu dari dirinya agar dia diperbolehkan meniduri Riyani . Aku menjawab bahwa aku tidak meminta apa-apa,
aku hanya minta diperbolehkan untuk melihat dan menonton Sanjaya  meniduri Riyani .
“Hahaha…rupanya kamu sudah ingin sekali melihat istrimu ditiduri laki-laki lain ya” candanya kepadaku.
“Ya begitulah”, jawabku singkat.
“Baiklah, kalau itu maumu aku akan membantumu. Tapi tanda tangani dulu kertas bermaterai ini sebagai jaminan bahwa kau tidak akan menuntutku nantinya. Kertas ini masih kosong, kau tanda tangan saja dahulu diatas materai. Nanti sore biar aku ketik isinya”kata Sanjata sambil menyerahkan selembar kertas kosong berikut materai. Aku yang sangat ingin mewujudkan khayalanku segera menandatangani kertas kosong itu.
“Oke, kalau begitu jumat depan bawa istrimu ke villa xxx di puncak pada pukul 8.00 pm” sahut Sanjaya  sambil menunjukan ancer-ancer dimana villa itu berada.
Pukul 8 malam aku dan Riyani telah berada di depan villa yang dimaksud oleh Sanjaya . Riyani memakai jubah panjang warna biru dengan jilbab lebar biru muda. Wajahnya terlihat cantik dengan sapuan make-up tipis. Seorang pelayan yang rupanya bertugas menyambut tamu mempersilahkan kami masuk ke ruang tengah. Villa tersebut sangatlah besar ditengah perkebunan teh dengan halaman belakang dengan kolam renang dan jacuzzi. Ruang tengah villa tersebut sangatlah besar dan telah disulap menjadi ruang pesta yang sangat luas lengkap dengan semua hidangannya. Sudah banyak tamu lain baik wanita maupun laki-laki yang telah datang lebih dahulu daripada kami. Semua tamu kelihatannya adalah teman-teman Sanjaya , mereka adalah sesama pengusaha China daratan yang ada di Indonesia, rata-rata mereka berusia di atas 50 tahun. Aku tidak melihat satupun rekan kerjaku di kantor yang datang, mungkin karena memang tidak diundang. Melihat kami, Sanjaya  menyambut aku dan Riyani
dengan ramah. Sanjaya  kemudian mempersilahkan kami menikmati pesta yang diadakannya dan menjelaskan kepada kami bahwa pesta ini diadakan untuk networking sesama pengusaha China daratan di Indonesia. Kemudian Sanjaya  meninggalkan aku dan Riyani dan mempersilahkan kami untuk menikmati makanan dan minuman yang tersedia di ruang tengah.  Riyani dan aku mengambil segelas jus buah  dan kamipun menikmati pesta tersebut dan berbincang-bincang dengan tamu-tamu yang lain. Sekitar satu jam kemudian, yaitu tidak beberapa lama setelah Riyani menghabiskan jus buahnya, aku melihat terjadi perubahan pada diri Riyani . Pesta berlangsung meriah, tidak terasa 3 jam sudah berlalu. Riyani masih bercanda dengan tamu-tamu lainnya. Aku melihat sudah beberapa gelas minuman yang ditawarkan kepada Riyani dan dihabiskannya. Kemudian 3 tamu wanita mengajak Riyani ke lantai atas villa, aku berusaha mengikuti tapi tiba-tiba tangan Sanjaya  mencegahku di kaki tangga menuju lantai
atas.
“Biarkan saja, kamu harus mengikuti semua arahan saya kalau mau rencana kita berjalan lancar” kata Sanjaya  kepadaku ” Sekarang baca foto kopi kesepakatan yang kau tanda tangani tempo hari. Aku menerima lembaran kertas fotokopi bermaterai yang diserahkan Pak Sanjaya padaku karena isinya sangat mengagetkanku. Dalam selembar kertas itu tertulis bahwa aku telah melakukan kecerobohan dalam bekerja dan mengakibatkan kerugian perusahaan sebesar 4 milliar rupiah. Aku bersedia mengganti kerugian tersebut dalam waktu 1 bulan, apabila tidak sanggup maka segala kewenangan akan diserahkan kepada Pak Sanjaya selaku bosku. Melihat aku terkejut, Pak Sanjaya malah tertawa terkekeh, katanya ” Kau tidak usah terkejut dan kawatir. Aku tidak bermaksud melaporkan kau pengadilan dan kau dipenjara karena sebenarnya kau tidak melakukan kesalahan apapun. Surat itu hanya sebagai jaminan kalau kau tidak akan menuntutku apapun yang akan kulakukan pada istrimu. Bukankah itu yang
kamu inginkan?”. Aku hanya tertunduk, tidak tahu harus menjawab apa. Kusadari, mulai saat ini aku tidak akan bisa membantah apapun yang di inginkan bosku.
2 jam telah berlalu semenjak Riyani naik ke lantai atas villa, tamu-tamu sudah banyak yang pulang, ketika tiba-tiba Sanjaya  memanggilku.
“Ayo ke atas” ajak Sanjaya  kepadaku. Akupun mengikuti Sanjaya  ke lantai atas bersama 4 tamu pria yang lain yang aku tidak tahu namanya.
Di lantai atas, Sanjaya  membimbing kami ke dalam sebuah kamar. Kamar tersebut sangatlah besar lengkap dengan segala furniture mewah, dan tepat ditengah kamar terdapat tempat tidur king size dengan sprei berwarna merah marun dengan TV LCD yang sangat besar menempel di dinding dan menghadap ke tempat tidur tersebut. Sebuah connecting door yang tertutup telihat di salah satu sisi ruangan itu menandakan kamar tersebut tersambung dengan kamar yang lain. Riyani dan 3 tamu wanita sudah berada di kamar tersebut, mereka sedang berbincang-bincang dengan akrab.
“Nah, ini kamar buat Harto Suyanto dan istrinya Riyani , yang lain ayo ikut saya, akan saya tunjukan kamar masing-masing” kata Sanjaya  sambil mempersilahkan tamu-tamu yang lain keluar dari kamar itu.
“Selamat malam dan selamat tidur, besok kita pulang ke Jakarta” kata Sanjaya  kepadaku dan Riyani sambil meninggalkan kami berdua di kamar tersebut.
Aku tidak tahu apa rencana Sanjaya  jadi aku hanya mengikuti saja apa yang diinstruksikannya. Setelah membersihkan badan, aku dan Riyani pun naik ke tempat tidur. Beberapa saat kami mencoba tidur namun tidak bisa. Aku masih bingung dengan apa yang akan terjadi, mengapa Sanjaya  tidak melakukan apapun juga, sedangkan Riyani terlihat gelisah tidak tahu apa penyebabnya, sementara aku juga gelisah kalau mengingat surat pernyataan yang aku tanda tangani. Tiba-tiba Riyani memalingkan wajahnya kepadaku dan memelukku. Tanpa berkata apa-apa dia menciumku dan aku balas ciumannya.
Beberapa saat kami berciuman, Riyani berkata “Buka bajunya mas Harto, aku kepengen nih”.
Sedikit kaget aku melihat Riyani menjadi agresif, tidak biasanya Riyani mengajak aku melakukan hubungan badan, biasanya aku yang selalu mengajaknya.
“Mungkin ini akibat minuman yang diberikan Sanjaya  di pesta” pikirku.
“Mungkin ini ada kaitannya dengan rencana Sanjaya ” pikirku lagi.
Maka akupun menuruti apa yang diinginkan Riyani . Akupun melepaskan seluruh pakaianku dan kemudian aku melepaskan seluruh pakaian Riyani sehingga kami berdua telanjang bulat. Aku dan Riyani berciuman, berpelukan dan melakukan foreplay, namun meskipun telah beberapa saat melakukan foreplay, aku menyadari sesuatu hal yang aneh, kemaluanku tidak dapat berdiri dan mengencang.
“Ini pasti karena minuman yang diberikan oleh Sanjaya , dia pasti mencampur sesuatu pada minumanku” pikirku dalam hati.
Kami mencoba segala macam gaya foreplay, namun meskipun sudah lebih dari 1 jam tetap saja kemaluanku tidak dapat berdiri.
Riyani terus mencoba membangunkan kemaluanku, namun tetap tidak berhasil. Raut frustasi nampak di wajahnya. Terlihat sekali Riyani ingin berhubungan badan, gejolak dalam dirinya sudah tidak tertahankan lagi, namun keinginannya tidak dapat terpenuhi karena kemaluanku tidak bisa berdiri dan mengeras. Kami terus mencoba, namun tetap tidak berhasil. Wajah Riyani semakin terlihat frustasi, namun nafsu seksnya masih menggebu-gebu bahkan aku lihat tiap menit semakin bertambah. Tiba-tiba connecting door kamar kami terbuka dan Sanjaya  masuk ke dalam kamar kami dengan hanya menggunakan jubah tidur. Aku dan Riyani sangat kaget. Riyani langsung menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut.
“Maaf, mungkin saya bisa membantu kalian” kata Sanjaya  tiba-tiba.
“Pak Sanjaya , harap keluar dari kamar kami” sahut Riyani dengan sedikit membentak.
Sanjaya  bukannya keluar kamar kami, tapi malah duduk dipinggir tempat tidur kami dan berkata “Saya melihat suamimu sedang dalam masalah, saya hanya ingin membantu”
“Apa maksudnya? Jangan kurang ajar!” sahut Riyani dengan keras.
“Tenang, saya hanya ingin membantu. Kita akan berpesta malam ini” bentak Sanjaya  tegas.
Aku melihat Riyani sedikit takut mendengar bentakan Sanjaya .
“Coba kita tanya suamimu apa pendapatnya” bentak Sanjaya  lagi kepada Riyani .
Aku sekarang menyadari inilah rencana Sanjaya  untuk dapat meniduri Riyani . Dan aku ingin sekali melihat Riyani ditiduri pria lain, maka akupun mengikuti permainan Sanjaya . Apalagi dengan adanya surat pernyataan asli tapi palsu itu, aku tak bisa bertindak lain kecuali menuruti Pak Sanjaya.
“Terserah apa maunya Pak Sanjaya , kami akan menuruti” kataku kepada Sanjaya .
“Mas Harto, aku tidak mau, apa-apan in….” Riyani belum menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Sanjaya  menarik selimut yang menutupi tubuh Riyani dan dengan cekatan tangan kanannya memegang kedua tangan Riyani dan menariknya ke atas kepala Riyani , sedangkan tangan kirinya menangkap kedua kaki Riyani .
Sanjaya  kemudian memerintahkanku untuk memegang pergelangan kedua kaki Riyani dan membukanya lebar-lebar. Akupun menuruti sehingga posisi Riyani sekarang tiduran dalam dalam bentuk menyerupai Y terbalik.
“Mas Harto, jangan bantu dia tapi bant…..uuggghhh…..” terhenti kata-kata Riyani ketika Sanjaya  mulai menciumi kedua payudaranyayang berukuran pas sesuai dengan ukuran badannya, sedangkan tangan kiri Sanjaya  yang bebas sudah menggerayangi vagina Riyani .
“Mmmhh… saya tahu kamu sudah nafsu berat, jangan melawan, nikmati saja” bisik Sanjaya  kepada Riyani sambil terus menjilati kedua payudara Riyani .
“Mas Harto, apa yang kamu lakukan” desah Riyani sambil memandang sayu kepadaku.
Aku tidak menjawab atau lebih tepatnya pura-pura tidak mendengar. Terlihat dimuka Riyani bahwa dia sudah sangat terangsang karena ciuman dan jilatan-jilatan Sanjaya  dikedua payudaranya serta tangan kiri Sanjaya  yang memainkan klitorisnya. 15 menit diperlakukan demikian oleh Sanjaya , Riyani mulai mengeluarkan erangan-erangan dan rintihan-rintihan pelan, perut dan pinggangnya mulai bergerak mengikuti irama permainan jari Sanjaya  di klitorisnya. Mata Riyani semakin sayu, matanya mulai merem melek. Kemudian Sanjaya  menghentikan ciumannya di kedua payudara Riyani dan berkata padaku “Gimana , kamu lihat sendiri istrimu mulai menikmatinya”
“Sebentar lagi dia akan menikmati malam yang paling menakjubkan bagi dirinya” tambah Sanjaya  sambil tetap memaikan klitoris Riyani dengan jarinya.
“Coba kamu pangku istrimu di pinggir kasur, pegang dan buka kakinya lebar-lebar. Aku ingin menikmati vagina istrimu yang sudah basah ini” perintah Sanjaya  kepadaku kemudian.
Aku menuruti apa yang diperintahkan Sanjaya . Aku angkat Riyani dan aku duduk dipinggir kasur sambil memangku Riyani . Aku pegang dan buka kaki Riyani lebar-lebar sehingga sekarang Riyani posisinya dipangku olehku dan mengangkang lebar sehingga menyerupai huruf “M”. Riyani sudah tidak melawan lagi, tubuhnya yang lemas menuruti apa yang aku lakukan terhadapnya. Riyani hanya memandangku sayu tanpa berkata apa-apa lagi. Kemudian Sanjaya  berlutut dilantai dipinggir kasur. Sanjaya  memandang Riyani dan berkata
“Wow indah sekali vaginamu Riyani , pasti banyak laki-laki yang ingin memcobanya”.
Riyani hanya memandang Sanjaya  dengan sayu dan tidak menjawab. Sanjaya  kemudian mulai menjilati vagina Riyani yang disertai erangan dari Riyani . Riyani hanya bisa memandang Sanjaya  menjilati vaginanya, Riyani mulai menggigit bibirnya sendiri tanda dia makin terangsang, kadang-kadang dia memandangku. Kemudian tangan Sanjaya  membuka vagina Riyani dengan tangan kirinya. Hal ini membuat Riyani yang sedang memandang sayu kepadaku kaget dan melihat ke bawah kearah vaginanya.
“Jangan…” desah Riyani pelan.
“Tenang cantik… ini akan enak sekali” sahut Sanjaya  dengan kasar dan tegas.
Kemudian Sanjaya  memasukkan kedua jarinya ke dalam vagina Riyani dan menggerakkannya keluar masuk dan memutar disertai jeritan kecil Riyani . Lalu kembali menjilati vagina Riyani dan memainkan klitoris Riyani dengan lidahnya tanpa menghentikan kegiatan jarinya di vagina Riyani .
Erangan-erangan dan rintihan-rintihan Riyani semakin keras, badan dan pinggulnya bergerak mengikuti permainan Sanjaya  di vaginanya. 15-30 menit diperlakukan demikian oleh Sanjaya , Riyani terlihat mulai mendekati orgasmenya, erangannya semakin keras, goyangan badannya juga semakin keras dan tidak beraturan. Sampai pada akhirnya tubuh Riyani mengejang hebat, matanya tertutup rapat dan kepalanya mendongak ke atas.
“UUUGGGHHHHH…….” erang Riyani keras menandakan dia mengalami orgasme yang hebat. Cairan keluar dari vaginanya, cairan tersebut sedikit memuncrat. Tidak pernah kau melihat Riyani mengalami orgasme yang sedemikian hebat, apalagi hanya karena dijilati vaginanya. 3 menit lamanya Riyani dipuncak orgasme. Namun anehnya setelah orgasmenya berlalu Riyani tidak lemas, matanya malah berbinar .
“Istrimu sudah siap disetubuhi. Obat yang saya berikan dalam minumannya bekerja dengan baik dan cocok untuk dirinya. Istrimu siap untuk bersetubuh sepanjang malam. Setiap habis orgasme badannya akan terasa semakin segar dan nafsu seksnya semakin menggila” kata Sanjaya  menjelaskan kepadaku karena melihat aku heran dengan keadaan Riyani .
“Sekarang kamu, duduk saja di sofa itu dan menonton istrimu kusetubuhi. Aku lihat kemaluanmu mulai bisa bangun lagi, artinya obat yang kucampur di minumanmu mulai hilang, sehingga kamu bisa menikmati tontonan yang akan aku dan istrimu berikan spesial untukmu” perintah Sanjaya  kepadaku.
Aku menuruti Sanjaya  dan pindah ke sofa di samping tempat tidur. Sanjaya  mengangkat tubuh Riyani dan menelentangkannya di tengah tempat tidur. Sanjaya  kemudian melepaskan baju tidurnya. Ternyata di balik baju tidur tersebut Sanjaya  sudah tidak mengenakan apapun lagi, sehingga sekarang Sanjaya  dan Riyani berdua telanjang bulat di kasur. Riyani terlihat kaget melihat penis Sanjaya . Penis Sanjaya  sangat besar, panjang, tebal dan berurat. Kemudian Sanjaya  mendekati kepala Riyani . Sanjaya  berlutut mengangkangi muka Riyani . Tangan kirinya mulai meraih vagina Riyani . Riyani yang merasa ada tangan di vaginanya langsung membuka kakinya lebar-lebar. Sanjaya  mengarahkan penisnya yang besar ke mulut Riyani , dan Riyani pun tanpa diperintah membuka mulutnya lebar-lebar, dan Sanjaya  kemudian mulai memasukkan kemaluannya yang besar keluar masuk mulut Riyani yang mungil. Terlihat mulut Riyani kesulitan untuk menerima penis yang besar itu, namun Sanjaya
dengan sedikit kasar memaksakan penisnya keluar masuk mulut Riyani . Terlihat mulut Riyani penuh oleh penis Sanjaya . Riyani kelihatan kepayahan namun tetap berusaha mengikuti maunya Sanjaya . Kemudian Sanjaya  memerintahkan Riyani menjulurkan lidahnya keluar dengan tetap membuka mulutnya, dan Riyani menuruti apa maunya Sanjaya , sehingga sekarang penis Sanjaya  keluar masuk mulut Riyani dan lidah Riyani menjilati batang penis Sanjaya .
Sungguh suatu hal yang menakjubkan yang terjadi di depan mataku. Riyani yang biasanya paling tidak mau melakukan oral seks sekarang menuruti kemauan pria tua gendut yang sebenarnya tidak begitu dikenalnya. 10 menit kemudian penis Sanjaya  sudah terlihat sangat kencang, kemudian Sanjaya  menurunkan badannya dan mengarahkan penisnya ke vagina Riyani . Mengetahui apa yang akan dilakukan Sanjaya , Riyani membuka makin lebar kedua kakinya. Sanjaya  kemudian dengan perlahan memasukkan penisnya yang besar ke dalam vagina Riyani secara perlahan. Riyani terlihat menahan sakit ketika penis Sanjaya  mulai memasuki vaginanya, namun raut mukanya segera berubah menjadi raut muka takjub ketika penis Sanjaya  telah seluruhnya masuk ke vaginanya. Mungkin Riyani tidak menyangka vaginanya dapat menampung seluruh penis Sanjaya  yang sangat besar dan panjang itu. Setelah penis Sanjaya  masuk seluruhnya ke dalam vagina Riyani , Sanjaya  tidak langsung menggenjotnya, namun
Sanjaya  menunggu beberapa saat agar Riyani terbiasa dengan penisnya yang besar di dalam vaginanya. Satu menit kemudian Sanjaya  mulai menggerakkan penisnya keluar sampai hanya tinggal kepala penisnya di dalam vagina Riyani , kemudian Sanjaya  memasukkan seluruh penisnya kembali secara perlahan ke dalam vagina Riyani dan hal tersebut dilakukannya berulang-ulang dengan menambah tempo iramanya makin lama makin cepat. Riyani terlihat sangat menikmati permainan dan gerakan Sanjaya , matanya berbinar, erangan-erangan kecil keluar dari mulutnya yang mungil, pinggulnya bergerak mengikuti irama permainan Sanjaya  dan kadang-kadang Riyani menciumi dada Sanjaya  yang ditumbuhi bulu sangat lebat itu. Tempo permainan dan genjotan penis Sanjaya  di dalam vagina Riyani semakin cepat, racauan Riyani semakin kencang, matanya merem melek menikmati genjotan-genjotan penis Sanjaya  di vaginanya. Sanjaya  yang mengetahui Riyani sangat menikmati persetubuhannya makin
mempercepat gerakannya. Sanjaya  menciumi, menjilati dan sedikit menggigit puting kedua payudara Riyani secara bergantian. Riyani diperlakukan demikian semakin hanyut dalam nafsu birahinya, racauannya semakin keras lagi, mulutnya terbuka, matanya terpejam dan kedua tangannya meremas-remas sprei tempat tidur. 20 menit kemudian tubuh Riyani , Riyani , mulai mengejang, tanda dia akan mengalami orgasme yang hebat.
“Terus…terus…jaaanngaan berheen..ti” teriakan kecil keluar dari mulut Riyani .
Kemudian badannya mengejang hebat sampai badannya melengkung ke belakang, kedua kakinya diapitkan di pinggul Sanjaya  dan kedua tangannya merangkul leher Sanjaya  dengan kencang.
“OOOOhhhhh……” lolong Riyani ketika dia dipuncak orgasmenya, dan kemudian badannya sedikit melemas dan Riyani langsung menciumi bibir Sanjaya  dan mereka berdua berciuman dengan ganasnya, lidah Riyani dan lidah Sanjaya  saling berpautan, hal yang tidak pernah dilakukan Riyani terhadapku.
Melihat adegan live Riyani dan Sanjaya  membuat penisku menegang dengan keras. “Akhirnya kahayalanku menjadi kenyataan” pikirku dalam hati.
Setelah beberapa menit berciuman, Sanjaya  kemudian memindahkan posisi Riyani sehingga Riyani sekarang tiduran sambil menyamping menghadap ke arah diriku di sofa. Tanpa memgeluarkan penisnya dari vagina Riyani . Sanjaya  memindahkan tubuhnya ke belakang Riyani sehingga sekarang mereka berdua tidur menyamping menghadap diriku dengan Riyani didepan dan Sanjaya  di belakangnya. Sanjaya  kemudian melanjutkan genjotan penisnya yang sangat besar itu di vagina Riyani . Tangan kiri Riyani dilipatnya ke belakang sehingga tangan kiri Sanjaya  dapat dengan bebas memijat-mijat kedua payudara Riyani . Sanjaya  menggenjot penisnya dalam vagina Riyani dengan cepat, tangan kirinya bergantian memijat kedua payudara Riyani dan klitoris Riyani . Riyani kembali tenggelam dalam nafsu seksnya, matanya terlihat sayu, mulutnya terbuka sedikit dan tanpa sadar Riyani mengangkat kaki kirinya ke atas, sehingga terlihat olehku vaginanya yang mungil penuh sesak oleh penis Sanjaya
yang besar dan panjang itu. Sekitar 40 menit Sanjaya  telah menyetubuhi Riyani dengan gaya menyamping, gerakan-gerakannya semakin ganas. Riyani tergoncang-goncang dengan hebatnya, racauan-racauan Riyani sudah berubah menjadi terikan-teriakan kenikmatan. Gelombang demi gelombang orgasme melanda Riyani , namun Sanjaya  masih dengan semangatnya menyetubuhi Riyani dan belum ada tanda-tanda bahwa Sanjaya  akan orgasme, sedangkan aku saja sudah dua kali mengalami orgasme melihat Riyani disetubuhi oleh Sanjaya  dengan ganasnya. Sanjaya  yang belum puas dengan Riyani kembali mengubah posisi Riyani lagi. Kali ini Riyani dimintanya tengkurap menungging dengan kepala menghadap diriku di sofa, dan kemudian Sanjaya  menyetubuhi Riyani dengan gaya doggy style, hal mana yang belum pernah dilakukan oleh diriku dan Riyani karena Riyani selalu menolaknya, namun dengan Sanjaya , Riyani dengan senang hati menurutinya. Sanjaya  menggenjot vagina Riyani dari belakang dengan
tempo yang berubah-ubah, kadang cepat sekali dan secara tiba-tiba memelankan genjotannya seperti slow motion dan kemudian cepat lagi. Hal ini membuat Riyani semakin tidak bisa mengontrol dirinya, kepalanya tertunduk dan bergerak ke kanan kiri tidak beraturan. Tangan Riyani kembali meremas-remas sprei tempat tidur dengan kencangnya, racauan-racauan dan teriakan-teriakan Riyani semakin membahana di kamar itu.
Kemudian tangan kiri Sanjaya  meraih rambut Riyani , menjambaknya dan menariknya ke belakang sehingga kepala Riyani mendongak ke atas. Genjotan penis Sanjaya  dalam vagina Riyani masih dalam tempo yang berubah-ubah, tangan kanan Sanjaya  kadang-kadang menampar kedua pantat Riyani bergantian. Kepala Riyani terdongak ke atas, kedua matanya terpejam rapat dan mulutnya terbuka lebar. Riyani sudah tidak dapat lagi bergerak mengikuti permainan Sanjaya , tubuhnya hanya tergoncang-goncang keras karena sodokan-sodokan penis Sanjaya  ke dalam vaginanya. Gelombang-demi gelombang orgasme kembali melanda Riyani . Setiap mengalami orgasme tubuh Riyani mengejang untuk beberapa menit dan dari vaginanya sedikit memuncratkan cairan kewanitaannya, hal mana tidak pernah terjadi apabila Riyani bersetubuh denganku. Setiap setelah mengalami orgasme, tubuh Riyani terlihat melemas untuk beberapa saat, namun tidak lama kemudian terlihat tubuh Riyani menjadi segar kembali dan siap
menerima genjotan-genjotan ganas penis Sanjaya  yang besar di dalam vaginanya. “Ini pasti karena obat yang diberikan Sanjaya  dalam minuman istriku” pikirku dalam hati melihat stamina Riyani yang sangat kuat malam itu. Kedua tangan Sanjaya  kemudian meraih kedua tangan Riyani dan menarikanya ke belakang, sehingga tubuh Riyani sedikit terangkat ke atas dengan kedua lututnya masih bertumpu pada kasur, dan Sanjaya  menggerakan penisnya yang besar keluar masuk secara pendek-pendek dan dalam tempo yang sangat cepat pada vagina Riyani . Teriakan-terikan nikmat Riyani semakin gencar karena diperlakukan demikian, mata Riyani masih tertutup rapat dengan mulut terbuka lebar.
“Buka matamu Riyani dan pandang suamimu!” perintah Sanjaya  dengan tegas.
Riyani menuruti apa yang diperintahkan Sanjaya  sehingga Riyani sekarang melihat diriku yang sedang duduk di sofa sambil bermastrubasi.
“Lihat Riyani , suamimu sangat menikmati melihat kamu disetubuhi pria lain” sahut Sanjaya  kepada Riyani .
“Kamu suka disetubuhi pria lain?” Tanya Sanjaya  kepada Riyani .
Riyani tidak menjawab, mungkin dia malu, namun raut wajahnya tidak bisa membohongi diriku. Terlihat sekali dia sangat menyukai dan menikmati persetubuhannya dengan Sanjaya .
“Jawab!!!” hardik Sanjaya  dengan tiba-tiba kepada Riyani sambil mempercepat genjotan penisnya dalam vagina Riyani .
“Aaagh….suu…ka….” sahut Riyani dengan terbata-bata karena sambil menikmati penis Sanjaya  dalam vaginanya.
“Enakan mana Riyani ? suamimu atau saya” tanya Sanjaya  lagi sambil penisnya menggenjot dengan kasar vagina Riyani .
“Ee..naa….enak saaamaa pak…uughhh….Sanjaya ” jawab Riyani sambil mengerang-erang kenikmatan.
“Mau kamu saya setubuhi kapan saja saya mau” tanya Sanjaya  lagi dengan kasar.
“Maaa…..uuuuu….ppaak Sanjaya  ….” jawab Riyani sambil tubuhnya mengejang tanda Riyani mengalami orgasme lagi.
Dengan tetap memegang kedua tangan Riyani ke belakang, Sanjaya  menghentikan gerakannya untuk beberapa saat dan membiarkan Riyani menikmati orgasmenya. Setelah beberapa saat Sanjaya  kembali menggenjot vagina Riyani dengan kencang, membuat nafsu seks Riyani kembali bergelora. Benar-benar takjub aku melihat adegan demi adegan yang dipertontonkan Riyani dan Sanjaya . Riyani yang cantik dengan kulitnya yang putih mulus dengan setia melayani nafsu binatang seorang tua bangka bermuka jelek dan berperut gendut.
“Riyani , lihat suamimu sangat menikmati kamu disetubuhi olehku. Boleh suamimu menonton setiap kali kamu saya setubuhi?” tanya Sanjaya  dengan sedikit nada memerintah kepada Riyani .
“Boo…leehhh….aaagghh….paak…

uggghhh…Sanjaya ” jawab Riyani sambil meracau kenikmatan.
Melihat Riyani menurut dan tunduk sepenuhnya pada Sanjaya  membuat penisku kembali memuncratkan sperma untuk kesekian kalinya dan sedikit mengenai bibir atas Riyani . Melihat hal itu Sanjaya  memerintahkan Riyani menjilat dan menelan spermaku yang menempel dibibir atasnya, dan yang menakjubkan adalah tanpa pikir panjang Riyani menuruti apa yang diperintahkan Sanjaya  padahal aku tahu Riyani biasanya paling jijik dengan sperma apalagi harus menjilat dan menelannya. 20 menit sudah semenjak aku mencapai orgasmeku. Aku sudah terlalu capek untuk bermastrubasi lagi, namun Riyani masih dihajar vaginanya dengan ganas dari belakang oleh Sanjaya  dan Riyani sudah mengalami orgasme-orgasme yang sangat dahsyat. Beberapa saat kemudian Sanjaya  terlihat mulai akan orgasme. Rupanya Riyani menyadarinya.
“Uugh…aaghhh…pak Sanjaya …jaaa…ngaaan…keluar aaggghh… di dalam” pinta Riyani sambil mengerang-erang kenikmatan.
“Naaan…tiii aaaggghhh…saya….hamil….” tambah Riyani lagi dengan tetap merintih-rintih penuh nikmat.
“Kalau tidak boleh di dalam, berarti harus keluar di mulutmu Riyani , dan harus ditelan semua tidak boleh ada yang tercecer keluar” kata Sanjaya  kepada Riyani .
“Iii…yaaaaa….paaak weeeeen……di mulut saya…AAAAGHHHHH, adduuuuhhhhh niiikkmaaattt sekali pak weeeeennn…aampunnnn…nikmat……” teriak Riyani sambil orgasme lagi.
Kemudian Sanjaya  membalikkan tubuh Riyani sehingga Riyani terlentang di kasur. Sanjaya  kembali mengangkangi Riyani dan menjambak rambut Riyani dengan kasar dan memasukkan penisnya yang besar ke dalam mulut Riyani .
“Telan…telan semua…jangan sampai ada yang keluar” perintah Sanjaya  kepada Riyani .
Terlihat penis Sanjaya  yang besar berdenyut dengan keras, sedangkan mulut Riyani menghisap-hisap penis Sanjaya  dan terlihat tenggorokan Riyani bergerak-gerak tanda Riyani sedang menelan sesuatu dalam jumlah yang banyak. Sanjaya  menumpahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Riyani dan Riyani menelan setiap tetes sperma Sanjaya  yang masuk ke dalam mulutnya. Setelah beberapa saat Sanjaya  mengeluarkan penisnya yang besar dari mulut Riyani .
“Bersihkan…jilat sampai bersih…!” kembali Sanjaya  memerintahkan Riyani yang langsung dituruti oleh Riyani .
Selagi Riyani menjilat-jilati penis dan biji Sanjaya , Sanjaya  bertanya kepadaku “Boleh pinjam istrimu malam ini? Aku terkesiap mendengar permintaan Sanjaya . Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar.
Melihat aku tidak menjawab, Sanjaya  berkata lagi kepadaku “Riyani kelihatannya sangat menyukai aku setubuhi, dan obat yang aku berikan kepadanya masih bekerja, sehingga Riyani masih ingin dipuaskan nafsu seksnya.
“Bagaimana Riyani ” tanya Sanjaya  kemudian kepada Riyani . Riyani sambil tetap menjilati penis Sanjaya  hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda membenarkan apa yang dikatakan Sanjaya  kepadaku.
Melihat Riyani memberikan persetujuannya maka akupun mengiyakan permintaan Sanjaya . Sanjaya  kemudian menyruh Riyani pindah ke kamar sebelah dan Riyani menuruti permintaan Sanjaya .
“Harto, kamu istirahat saja di kamar ini, aku dan Riyani ada di kamar sebelah. Connecting door akan tetap terbuka, sehingga kapan saja kamu ingin melihat istrimu disetubuhi olehku, kamu dapat masuk ke kamar sebelah’ kata Sanjaya  kepadaku.
Aku hanya mengganggukan kepala tanda setuju, dan kemudian Sanjaya  meninggalkan aku dikamar sendirian dan Sanjaya  pindah ke kamar sebelah menyusul Riyani . Aku sudah terlalu capek untuk membersihkan badan atau berpakaian. Aku langsung naik ke tempat tidur dan menyelimuti tubuhku dengan selimut yang masih sedikit basah bekas cairan kewanitaan Riyani ….dan beberapa saat kemudian mulai terdengar rintihan-rintihan nikmat Riyani dari kamar sebelah menandakan Sanjaya  dan Riyani sudah mulai lagi dengan persetubuhan mereka…namun aku terlalu capek untuk beranjak dari kasur….dan kemudian terlelap….
Sinar Matahari tepat jatuh dimataku, ketika aku mulai bangun dari tidurku. Melihat posisi matahari dari jendela kamar itu, aku menyadari bahwa hari telah siang. Aku gerakan badanku dikasur untuk membangunkan diriku. Keadaanku masih telanjang bulat dan aku masih terkesima dengan apa yang telah terjadi tadi malam. Rintihan-rintihan dan erangan-erangan nikmat Riyani dari kamar sebelah, membuat diriku terbangun dari lamunanku.
“Ah, gila mereka, apa mereka masih bersetubuh terus” pikirku dalam hati.
“Apakah mereka melakukan persetubuhan secara non-stop sepanjang malam?” pikirku lagi.
Rasa lapar mulai terasa diperutku, dan aku mulai berpakaian. Rintihan-rintihan nikmat Riyani di tidak menggugahku untuk ke kamar sebelah. Namun ketika kakiku melangkah ke pintu kamar karena aku ingin ke dapur mencari makan, terdengar kegiatan di kamar sebelah sedikit aneh dan mengusik rasa ingin tahuku. Aku sepertinya mendengar lebih dari 2 orang di kamar sebelah. Maka akupun mengurungkan niatku untuk keluar kamar dan akupun melangkahkan kakiku ke connecting door yang menghubungkan kamarku dengan kamar sebelah. Betapa kagetnya ketika aku masuk ke dalam kamar sebelah tersebut. Aku melihat 2 wanita muda yang tadi malam bersama Riyani sedang duduk disofa panjang di sebelah tempat tidur di kamar itu sambil tertawa-tawa kecil menonton adegan yang sedang berlangsung di tempat tidur tersebut. Lebih kaget lagi ketika aku menyadari apa yang sedang terjadi di tempat tidur. Istriku Riyani , sedang disetubuhi oleh Sanjaya  dan salah seorang tamu Sanjaya  yang tadi
malam menginap di villa!!! Posisi Riyani bertumpu pada kedua lutut dan kedua tangannya dengan pantat yang sedikit menungging ke belakang. Terlihat tamu Sanjaya  tersebut, seorang pria tua berumur sekitar 60 tahunan berbadan besar dan buncit dengan bulu yang lebat memenuhi sekujur tubuhnya sedang menyetubuhi Riyani dengan kasar dari belakang. Sedangkan Sanjaya  yang tangan kanannya sedang menjambak rambut Riyani yang sekarang telah dikuncir buntut kuda terlihat asyik menggenjot penisnya dengan kasar di dalam mulut Riyani .
“Ah, kamu sudah bangun Tom” kata Sanjaya  ketika melihat diriku masuk ke dalam kamar.
“Silahkan duduk Tom” kata Sanjaya  lagi sambil mempersilahkan aku duduk di sofa di antara kedua wanita yang sedang menonton Riyani disetubuhi dua laki-laki tua itu.
“Ini namanya Pak Lam, dia ini salah satu sahabatku” kata Sanjaya  kemudian sambil memperkenalkan pria tua yang sedang menyetubuhi Riyani dengan kasar dari belakang. Yang disebut Pak Lam hanya menengok sebentar sambil melambaikan sebelah tangannya kepadaku dan kemudian melanjutkan kegiatannya pada Riyani .
“Aku selalu berbagi apapun dengannya. Vagina Riyani sangat nikmat untuk disetubuhi, sehingga aku harus membaginya kepada sahabat tuaku ini biar dia juga tahu betapa nikmatnya istrimu ini. Aku harap kamu tidak keberatan. Toh istrimu tidak keberatan, malah suka…” kata Sanjaya  sambil terkekeh kecil.
“Riyani , kamu suka disetubuhi Pak Lam kan?” tanya Sanjaya  kepada Riyani .
Riyani tidak menjawab. Riyani terlihat sedang asyik sendiri menikmati persetubuhannya.
“Hahaha…wanita cantik ini rupanya sudah dalam kenikmatannya sendiri” tawa Sanjaya  sambil melihat Riyani yang sedang menikmati setiap genjotan penis Lam dan penis Sanjaya .
Aku yang masih shock hanya menuruti perintah Sanjaya  dan duduk di sofa di antara kedua wanita muda tersebut.
“Ladies, tolong bantu sang suami tercinta ini agar dapat menikmati istrinya disetubuhi oleh 2 pria sekaligus” perintah Sanjaya  kepada kedua wanita yang duduk disamping kiri dan kananku.
Mendengar perintah Sanjaya , kedua wanita muda itu langsung membuka dan melepaskan celana dan celana dalamku. Kemudian mereka berdua dengan tetap sesekali menonton adegan Riyani dengan Lam dan Sanjaya  mulai menjilati penisku secara bergantian, membuat penisku langsung berdiri dengan tegak. Di atas tempat tidur aku melihat Riyani sedang disetubuhi habis-habisan oleh kedua pria tua itu. Mereka memperlakukan Riyani dengan kasar, namun terlihat Riyani meskipun kepayahan melayani nafsu kedua pria tersebut, Riyani nampak menikmatinya. Semakin Riyani diperlakukan kasar oleh kedua pria tua itu, semakin nampak Riyani menikmatinya. Rintihan-rintihan Riyani semakin keras apabila Lam dan Sanjaya  menggenjot penisnya masing-masing dalam vagina dan mulut Riyani dengan kasar. Sambil sesekali menampar kedua belahan pantat Riyani dengan tangan kirinya, Lam menggenjot penisnya di vagina Riyani dari belakang dengan cepat dan kasar. Kemudian tangan kanannya melingkar di
pinggul Riyani dan terus ke arah vagina Riyani dari arah depan sehingga jari-jari tangannya dapat memainkan klitoris Riyani . Riyani tanpa sadar mengangkat kaki kanannya sehingga posisinya sekarang seperti anjing yang sedang kencing untuk memberikan akses yang lebih luas bagi jari-jari tangan Lam di vagina Riyani . Dengan posisi satu kaki mengangkang ke atas, aku dapat melihat ternyata bulu-bulu di sekitar vagina Riyani telah dicukur habis. Aku tidak tahu kapan mereka mencukur habis bulu-bulu di sekitar vagina Riyani , mungkin tadi malam ketika aku sudah tidur. Rupanya mereka telah berpesta seks sepanjang malam. Vagina Riyani terlihat putih mulus tanpa sehelai bulupun dengan bibir vaginanya terlihat sedikit berwarna merah muda tanda vagina itu telah digenjot habis sepanjang malam. Ketika jari-jari tangan Lam mulai mempermainkan vagina Riyani dan mencubit-cubit kecil klitoris Riyani , tubuh Riyani bergoyang hebat, pinggulnya, badannya naik turun tidak
beraturan. Erangan-erangan dan rintihan-rintihan nikmat keluar dari mulut Riyani .
Sanjaya  sekarang menggunakan kedua tangannya untuk menjambak rambut Riyani sehingga dapat membuatnya semakin kencang menyetubuhi mulut Riyani . Diperlakukan demikian, Riyani semakin bergoyang-goyang,tubuhnya meliuk-liuk karena ditekan dari belakang dan dari depan. Racauan dan rintihannya semakin keras, matanya tidak berkedip dan selalu memandang ke arah muka Sanjaya . Lam dan Sanjaya  semakin mempercepat gerakannya sehingga Riyani benar-benar tergoncang-goncang hebat. Riyani terlihat bermaksud menurunkan kaki kanannya agar lebih memudahkannya menerima hajaran-hajaran penis Lam dan Sanjaya  di vagina dan mulutnya. Namun hal itu tidak dapat dilakukannya karena terhalang tangan kanan Lam yang telah benar-benar menggenggam vagina Riyani , terutama klitorisnya. Melihat adegan live didepan mataku, aku orgasme dengan cepat, dan kedua wanita muda yang melayani aku menghisap dan menelan seluruh spermaku sampai habis. Melihat aku sudah orgasme, Sanjaya  kemudian
memerintahkan salah satu wanita disebelahku untuk mengambil sesuatu
“Ambil pil yang biasa di laci itu” kata Sanjaya  memerintahkan wanita tersebut sambil menunjuk salah satu laci disamping tempat tidur.
Wanita yang disuruh Sanjaya , mengeluarkan sebuah botol dari laci tersebut, membukanya, dan mengeluarkan sebuah pil serta kemudian menyerahkannya kepada Sanjaya .
“Buka mulutmu Riyani , telan pil ini supaya kamu tidak hamil, Lam ingin memuntahkan spermanya dalam vaginamu. Saya juga ingin orgasme dalam vaginamu, bosan saya orgasme dalam mulutmu terus sepanjang malam” perintah Sanjaya  kepada Riyani .
Kemudian Sanjaya  mengeluarkan penisnya yang besar dari mulut Riyani dan memasukkan pil tersebut ke dalam mulut Riyani yang langsung ditelan Riyani tanpa menggunakan air sedikitpun. Setelah itu Sanjaya  kembali menjambak rambut Riyani dan kembali melanjutkan genjotan penisnya pada mulut Riyani . 20 menit telah berlalu, namun aku melihat baik Riyani , Sanjaya  maupun Lam belum ada yang orgasme. Terus terang terkejut aku melihat perubahan pada diri Riyani . Riyani tidak orgasme-orgasme, tidak seperti tadi malam yang dengan mudahnya dia mencapai orgasme berulang-ulang. Tatapan mata Riyani terlihat sangat sayu dan sedikit kosong, namun dari rintihan-rintihannya aku tahu dia lebih menikmati persetubuhannya saat ini daripada persetubuhannya tadi malam. Melihat raut wajahku yang penuh tanda Tanya, Sanjaya  kemudian menjelaskan kepadaku apa yang telah terjadi.
“Tadi pagi Riyani saya beri obat ramuan China. Obat ini membuat Riyani lebih lama mencapai orgasme, ini agar Riyani dapat mengimbangi kami sehingga tidak cepat lelah. Namun dengan obat ini otot vagina Riyani akan semakin kencang sehingga jepitannya pada penis yang masuk ke dalam vaginanya akan semakin kuat dan hal ini membuat Riyani dan siapapun pria yang menyetubuhinya merasa lebih nikmat. Setiap gesekan penis dalam vagina Riyani akan berpuluh-puluh kali lipat lebih terasa nikmat bagi Riyani dan pria tersebut” kata Sanjaya  menjelaskan kepadaku.
“Lihat Riyani sekarang sudah benar-benar menikmati setiap gesekan penis Lam dalam vaginanya, bahkan dia sangat menikmatinya sampai-sampai dia tidak begitu sadar akan sekelilingnya lagi, hanya kenikmatan dan kenikmatan yang dia rasakan saat ini. Dipikirannya hanya ada rasa kenikmatan yang amat sangat dan tidak ada rasa yang lain selain kenikmatan tersebut. Kenikmatan yang Riyani rasakan saat ini sudah menguasai dan menghipnotis seluruh badan dan pikirannya” tambah Sanjaya  kepadaku.
“Harto, kamu lihat nanti waktu istrimu mengalami orgasme. Kamu akan lihat bagaimana seorang wanita mengalami orgasme yang super dahsyat. Kamu pasti tidak akan menyangka bahwa istrimu bisa orgasme sehebat yang nanti kamu akan lihat” lanjut Sanjaya  kepadaku.
45 menit telah berlalu, ketika aku melihat perubahan pada diri Riyani . Erangan-erangan dan rintihan-rintihan nikmatnya mulai memelan, namun badannya semakin bergoyang-goyang dengan kencang dan tidak beraturan. Lam dan Sanjaya  semakin gencar menggenjot penisnya masing-masing dalam vagina dan mulut Riyani , membuat Riyani sulit untuk tetap bertumpu pada kedua tanganya dan satu lututnya. Badan Riyani benar-benar bergoncang hebat karena tekanan dari belakang dan dari depan disertai goyangan badannya sendiri yang semakin tidak beraturan. Mata Riyani tetap memandang kearah wajah Sanjaya  dengan sekali-kali mendelik-delik. Kedua tangannya beberapa kali jatuh karena tidak kuat menahan badannya, namun jambakan Sanjaya  pada rambutnya membuat Riyani tidak tersungkur ke kasur. Suara Riyani semakin pelan bahkan sekarang hampir tidak terdengar sama sekali, tangannya yang sudah tidak kuat menumpu badannya dan mulai mencari pegangan lain. Kedua tangan Riyani terlihat
berusaha memegang kedua sisi pinggul Sanjaya , kemudian beralih ke kedua tangan Sanjaya  yang sedang menjambak rambutnya, lalu kembali kasur menumpu badannya dan begitu seterusnya terlihat Riyani sedang mencari posisi yang enak untuk menumpu badannya yang bergoyang hebat dan dihajar dari depan dan belakang oleh Sanjaya  dan Lam.
“Kalian berdua kesini, bantu Riyani agar tetap pada posisinya, agar Pak Lam bisa menikmati orgasmenya dengan lancar” perintah Sanjaya  kepada kedua wanita itu.
Kedua wanita yang diperintah Sanjaya  kemudian naik ke kasur dan memposisikan diri mereka masing-masing berlutut disamping kiri dan kanan Riyani . Kemudian kedua wanita tersebut meraih masing-masing pundak Riyani dari arah bawah sehingga sekarang tangan-tangan kedua wanita tersebut masing-masing menumpu pundak Riyani , membuat kedua tangan Riyani terbuka kearah kiri dan kanan. Sudah tidak terdengar suara rintihan Riyani . Badan Riyani juga bergerak memelan namun terlihat Riyani berusaha memundurkan pinggulnya agar penis Lam makin masuk jauh ke dalam vaginanya. Gerakan Riyani yang pelan meliuk-liuk terlihat sangat kontras dengan gerakan Lam dan Sanjaya  yang semakin ganas menggenjot penisnya masing-masing ke dalam vagina dan mulut Riyani .
“Harto, sini naik ke kasur agar kamu bisa melihat dengan jelas. Istrimu sebentar lagi akan orgasme yang hebat” kata Sanjaya  kepadaku.
Tanpa menunggu lagi akupun segera naik ke kasur agar bisa melihat Riyani dari dekat dan dengan jelas. Lam kemudian melepaskan tangan kanannya dari klitoris Riyani sehingga kali Riyani bisa turun dan kedua lututnya bisa kembali menumpu badannya. Lam lalu sedikit berjongkok serta kedua tangannya meraih pinggul Riyani . Dengan posisi demikian Lam bisa dengan lebih leluasa menggenjot penisnya dengan keras ke dalam vagina Riyani . Kira-kira sepuluh menit kemudian, badan Riyani makin meliuk-liuk ke kiri dan ke kanan serta menekan ke belakang ke arah penis Lam.
Ditekan dari belakang dengan keras sampai ke ujung vaginanya, membuat mata Riyani mendelik. Kemudian Sanjaya  mengeluarkan penisnya dari mulut Riyani dan melepaskan jambakan tangannya di rambut Riyani sehingga sekarang kepala Riyani bebas bergerak.
Riyani terus menikmati penis besar Lam dalam vaginanya. Pinggul Riyani naik turun dan memutar-mutar secara perlahan ditambah tekanan pinggul Lam dari belakang dan tangan Lam yang menarik pinggul Riyani ke belakang, membuat kedua manusia yang meskipun berbeda umur sangat jauh menjadi satu kesatuan dan sama-sama menikmati persetubuhan mereka. Sepuluh menit kemudian, Riyani memejamkan matanya, jari-jari tangannya membuka dan mengepal secara perlahan, mulutnya terbuka lebar, goyangan pinggulnya menjadi patah-patah.
“Sekarang…!!!!’ sahut Lam dengan keras.
Seperti mengerti perintah Lam, Riyani menghentikan goyangannya, pinggulnya secara keras didorongnya ke belakang, kepalanya terdongak ke atas dengan mulut terbuka lebar, seluruh badannya menegang dan terdengar desahan kecil Riyani .
“Oohh… nikmat sekali….” desah Riyani pelan.
Bersamaan dengan itu Lam memuntahkan spermanya di dalam vagina Riyani .
Kembali sesuatu yang menakjubkan terjadi didepan mataku, sudah 10 menit berlalu tapi Nampak orgasme Riyani belum turun juga. Riyani masih terus dipuncak kenikmatan. Ketika Sanjaya  melepaskan pegangannya pada pinggul Riyani dan mulai menarik penisnya keluar dari vagina Riyani , Nampak raut muka Riyani sedikit sedih.
Lam  mencabut penisnya. Tapi kekecewaan Riyani hanya sebentar karena Sanjaya  langsung siap menggantikan posisi Lam. Ditidurkannya Riyani telentang di atas kasur dibukanya kaki Riyani lebar-lebar.
“Masih kurang Riyani ?” Tanya Sanjaya  menggoda Riyani sebelum mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Riyani .
“Masih…pak Sanjaya …saya masih orgasme…..ooohhhh nikmat sekali…..mau disetubuhi sekarang…” rengek Riyani sambil menarik pinggul Sanjaya  ke arahnya.
“Oohhhh……” desah Riyani ketika penis Sanjaya  masuk ke dalam vaginanya sampai mentok.
Sanjaya  kemudian secara perlahan menggenjot vagina Riyani dengan penisnya. Setiap gerakan Sanjaya  selalu disertai lolongan pelan namun panjang dari Riyani . Kepala Riyani terdongak ke belakang, matanya terpejam rapat, dadanya membusung ke atas sehingga sebagian punggungnya terangkat dari kasur. Bibir kecilnya mengigit-gigit pelan jari telunjuk kanannya, lolongan pelan namun panjang terdengar dari mulut Riyani setiap kali Sanjaya  menggerakan penisnya secara perlahan.
Penasaran dengan apa yang dirasakan Riyani , aku membisikinya dan bertanya.
“Bagaimana rasanya ? Enak?” tanyaku.
“Ennakkk…ooohhhhh…. Terima kasih mas Harto atas pengalaman indah ini…..orgasmeku tidak berhenti-henti nih…..oohhhh panjang sekali…..oohhhh…..aku disetubuhi sambil orgasme…..” jawab Riyani pelan kepadaku sambil terus menikmati orgasmenya yang berkepanjangan.
Lima belas menit kemudian, penis Sanjaya  berdenyut kencang pertanda dia akan orgasme, dan tubuh Riyani pun tiba-tiba lebih menegang lagi.
“Oohhh….apa ini pak Sanjaya ….kenapa saya……” desah Riyani pelan kepada Sanjaya .
“Inilah puncaknya orgasme dari orgasme . Nikmati saja” jawab Sanjaya .
Bersamaan dengan itu, tubuh Riyani dan Sanjaya  benar-benar menegang. Keduanya berusaha menarik satu sama lain dan merapatkan persenggamaan mereka. Kaki Riyani melingkar di pinggul Sanjaya . Dada Riyani makin membusung, kepalanya makin terdongak ke belakang dan giginya menggigit bibir bawahnya sendiri. Sedangkan kepala Sanjaya  berada di pundak Riyani , mulutnya sedikit menggigit pundak Riyani dan penisnya ditekan dengan keras ke dalam vagina Riyani .
“OOOhhhhh……” teriak Riyani dan Sanjaya  bersamaan. Sanjaya  memuntahkan seluruh spermanya ke dalam vagina Riyani , Dua manusia mengalami orgasme hebat secara bersamaan.
Beberapa menit Sanjaya  dan Riyani berada di puncak orgasme mereka.
“Oke semuanya keluar dari kamar ini. Biarkan Riyani istirahat dulu” kata Sanjaya  setelah selesai memuntahkan seluruh spermanya dalam vagina Riyani .
Sanjaya pun beranjak dari atas tubuh Riyani , tidur disampingnya dan menyelimuti dirinya dan Riyani dengan selimut. Riyani hanya tersenyum dengan mata terpejam dan menidurkan kepalanya di dada Sanjaya  yang ditumbuhi bulu yang sangat lebat, sedangkan yang lainnya termasuk aku pergi meninggalkan kamar itu dan membiarkan Sanjaya  dan Riyani istirahat.
Menjelang sore terlihat Sanjaya  keluar dari kamar itu dan bergabung dengan aku dan tamu-tamu yang lain di ruang tengah villa. Rupanya yang menginap di villa tersebut selain aku, Riyani , Sanjaya , Lam dan kedua wanita yang siang tadi berada di kamar, juga ada satu wanita lagi dan tiga tamu laki-laki.
“Wah, sudah pada berkumpul rupanya, maaf saya baru bangun” kata Sanjaya  kepada aku dan tamu-tamu lainnya.
Kamipun mengobrol di ruang tengah villa itu sampai menjelang malam. Kurang lebih jam 6.30pm Sanjaya  menginstruksikanku untuk membangunkan Riyani .
“Harto, bangunkan istrimu, kita akan makan malam bersama” sahut Sanjaya  kepadaku.
Akupun segera menuruti perintah Sanjaya  dan naik ke lantai atas villa menuju kamar tempat Riyani istirahat karena memang aku sudah mulai kuatir terhadap Riyani sebab setelah kejadian siang tadi di kamar aku belum melihatnya lagi. Sesampainya di kamar, aku melihat Riyani sudah bangun namun masih tiduran tengkurap di atas kasur, tubuhnya masih telanjang, terlihat mukanya nampak habis menangis. Melihat aku masuk ke kamar, air mata menetes kembali dari matanya.
“Mas Harto, apa yang terjadi denganku. Kenapa kamu  membiarkan semua ini terjadi?” tangis Riyani kepadaku.
Akupun berusaha menenangkan dan menghibur istriku, kami berbincang-bincang di kamar itu cukup lama sambil aku berusaha terus menghiburnya sampai tiba-tiba salah satu dari tamu wanita masuk ke kamar dan meminta Riyani untuk mandi dan membersihkan diri karena aku dan Riyani sudah ditunggu di ruang makan oleh Sanjaya  dan tamu-tamu yang lain. Dengan sedikit malas Riyani menurutinya. Setelah Riyani mandi dan memakai kembali jubah serta jilbab lebarnya kamipun keluar dari kamar itu dan menuju ruang makan. Riyani ragu-ragu untuk keluar dari kamar. Terlihat Riyani sangat malu untuk bertemu dengan Sanjaya  dan tamu-tamu yang lain setelah kejadian tadi malam dan tadi siang.
Sesampainya di ruang makan, tamu-tamu yang lain sudah menunggu. Sanjaya  mempersilahkan aku dan Riyani duduk di kursi yang disediakan di ruang makan itu demikian juga terhadap tamu-tamu yang lain masing-masing dipersilahkan duduk oleh Sanjaya . Kamipun menyantap hidangan malam yang disediakan sambil mengobrol. Pembicaraan di meja makan itu kebanyakan tentang bisnis antara Sanjaya  dan tamu-tamunya. Tidak ada yang menyinggung kejadian tadi malam dan tadi siang, seakan-akan kejadian tersebut tidak pernah terjadi. Hal itu membuat Riyani terlihat sedikit tenang. Selesai santap malam Sanjaya  mempersilahkan tamu-tamunnya, termasuk aku dan Riyani ke ruang tengah. Di ruang tengah makanan kecil dan minuman telah disediakan dan Sanjaya  mempersilahkan kami semua untuk mencicipi makanan kecil dan minuman tersebut kemudian melanjutkan obrolan bisnisnya dengan tamu-tamunya di ruang tengah, Sanjaya  sedikit mengacuhkan aku dan istriku karena memang obrolannya adalah
masalah bisnis. Setelah kurang lebih 2 jam berbicara bisnis dengan tamunya tiba-tiba Sanjaya  berkata
“Ok, saya rasa omomgan bisnis sudah cukup untuk malam ini. Sekarang kita ke topik selanjutnya”
“Zhou, obatmu ternyata sangat manjur, lihat saja ini hasilnya” sambung Sanjaya  sambil memencet remote TV.
TV menyala dan betapa kagetnya aku melihat apa yang muncul di TV. Rekaman persetubuhan Riyani tadi malam dan tadi siang terlihat di layar TV. Aku melihat wajah Riyani sangat terkejut dan merah padam karena sangat malu melihat tamu-tamu yang lain menyaksikan tayangan persetubuhannya dilayar TV. Riyani bangkit dari tempat duduknya dan bermaksud meninggalkan ruang tengah itu, namun Sanjaya  menghardiknya dengan tegas.
“Riyani , duduk kamu! Tidak ada yang menyuruh kamu untuk pergi!” bentak Sanjaya  dengan sangat keras.
Mendengar bentakan Sanjaya  aku sangat terkejut. Aku bermaksud untuk turut berdiri, namun aku merasakan tubuhku lemas dan aku tidak mampu berdiri. Kelihatannya Sanjaya  telah mencampurkan sesuatu lagi dalam minumanku sehingga badanku lemas tidak berdaya.
Aku melihat Riyani sangat ketakutan mendengar bentakan Sanjaya , namun dikarenakan aku hanya tetap duduk dan tidak membelanya, maka Riyani pun mengurungkan niatnya dan kembali duduk dengan wajah menunduk menahan perasaan malu yang luar biasa. Sanjaya  dan tamu-tamu lainnya kemudian membahas adegan demi adegan persetubuhan Riyani yang ditayangkan TV. Mereka membahasnya seakan-akan Riyani, wanita alim yang selalu menggunakan jubah dan jilbab lebar tidak ada di ruangan itu. Komentar-komentar keluar dari mulut mereka. Sanjaya  memuji Zhou atas kemanjuran obatnya. Sanjaya  menjelaskan bagaimana Riyani yang alim itu bisa menjadi seorang pelacur murahan dikarenakan meminum obat itu. Ada lagi tamu yang lain memuji daya tahan Riyani karena obat itu. Setelah rekaman adegan persetubuhan Riyani di TV selesai, kemudian Sanjaya  dengan suara tegas memerintahkan Riyani
“Nah, Riyani , tolong hibur tamu-tamuku ini. Jangan biarkan mereka hanya menonton kamu di TV saja, perbolehkan mereka juga menikmati dirimu secara langsung.”
Mendengar itu dengan raut muka yang pucat dan penuh ketakutan, Riyani bangkit dari tempat duduknya dan berusaha lari keluar dari villa, namun baru beberapa langkah berlari, Sanjaya  dan Zhou dengan sigap menangkap Riyani .
“Wow, rupanya pelacur ini tidak mau menuruti perintah. Ck…ck..ck…Riyani kamu sangat mengecewakan” kata Sanjaya  sambil mencengkram tubuh Riyani dari belakang.
“Kamu harus dihukum dan dididik dengan benar supaya bisa menjadi budak seks yang patuh” lanjut Sanjaya  kemudian kepada Riyani .
Riyani meronta-ronta dengan keras dan berusaha melepaskan diri, namun cengkraman Zhou dan Sanjaya  pada dirinya terlalu kuat, sehingga usaha Riyani untuk melepaskan diri menjadi sia-sia. Kemudian Sanjaya  dan Zhou menyeret Riyani ke basement villa, diikuti oleh tamu-tamu yang lain. Mereka meninggalkan aku di ruang tengah. Aku kembali berusaha bangkit untuk membantu Riyani , namun aku sama sekali tidak dapat berdiri sehingga aku hanya dapat terduduk lemah di sofa melihat perlakuan Zhou dan Sanjaya  terhadap Riyani . Tidak lama mereka meninggalkan aku di ruang tengah. Kira-kira 15 menit kemudian 2 orang tamu pria mendatangiku dan segera membopongku ke basement villa. Basement villa itu ternyata suatu ruangan yang kelihatannya sering digunakan untuk pesta seks yang aneh-aneh. Aku melihat banyak peralatan seks yang lebih mirip sebagai alat penyiksaan tergantung di dinding basement itu. Banyak peralatan seks yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Merinding aku ketika memasuki basement villa itu, namun yang membuat aku lebih kaget dan takut lagi adalah ketika aku melihat Riyani sudah terikat dalam keadaan telanjang bulat, hanya jilbabnya saja yang masih menutupi kepalanya. Posisi Riyani berdiri dengan kedua tangan terikat ke atas melebar oleh rantai-rantai yang tertancap kuat dilangit-langit basement, sedangkan kakinya mengangkang lebar terikat dengan rantai-rantai yang menancap kuat ke lantai basement, sehingga posisi Riyani menyerupai huruf “X”. Aku melihat Riyani meronta-ronta sekuat tenaga, air matanya mengucur deras di kedua pipinya,membasahi jilbab lebar yang tersampir di pundaknya. Permohonan-permohonan untuk dilepaskan keluar dari mulutnya, namun rengekannya hanya dibalas dengan tawa sinis oleh orang-orang yang berada di basement villa itu. Kedua tamu yang membopongku kemudian mendudukanku di sebuah kursi persis di hadapan Riyani .
“Teman-teman, malam ini kita akan mendidik pelacur berjilbab ini supaya mau menjadi budak seks yang patuh. Harap teman-teman duduk di kursi-kursi yang telah disediakan, dan kita akan segera mulai pendidikan buat pelacur yang alim ini” sahut Sanjaya  tiba-tiba.
Mendengar itu semua yang ada di basement itu duduk di kursi yang telah disediakan disekeliling tempat Riyani terikat dan menunggu apa yang selanjutnya Sanjaya  akan lakukan terhadap Riyani .
“Riyani , ini kesempatan kamu yang terakhir. Kamu bisa secara sukarela menjadi budak seksku yang patuh atau aku akan memaksamu  menjadi taat dan menurut padaku? Kedua-duanya pada akhirnya kamu akan menjadi budak seksku yang patuh, namun cara kedua pasti jauh lebih menyakitkan” kata Sanjaya  kemudian sambil tertawa “Kamu boleh dan bahkan harus tetap berpenampilan seperti biasa, anggun, sopan, berjubah dan berjilbab lebar. Tetapi kau harus dengan suka rela menjadi budak seksku, melayaniku kapanpun aku mau, dimanapun dan dengan cara apapun”
Mendengar itu aku melihat ekspresi ketakutan yang amat sangat di wajah Riyani . Riyani semakin kencang meronta-ronta berusaha melepaskan diri, jilbabnya menjadi berantakan. Tangisannya semakin keras, permohonan minta dilepaskan juga semakin keras.
“Ok, kalalu kamu mau dengan cara yang menyakitkan” kata Sanjaya  setelah melihat Riyani tetap berusaha melepaskan diri.
Sanjaya  kemudian mengambil sebuah cambuk kuda dan berdiri di belakang Riyani . Aku melihat Riyani merinding ketakutan melihat cambuk kuda tersebut.
“Ctaarr….ctttarr….cttaaarrr…..” suara cambuk 3 kali berbunyi disertai raungan kesakitan Riyani . Sanjaya  telah mencambuk punggung Riyani dengan keras.
Raungan tangis Riyani semakin keras, badannya tetap meronta-ronta untuk melepaskan diri.
“Cttaar…cttarr…ctarr..ctaarrr…” bunyi cambuk kembali bertubi-tubi mendera punggung Riyani hingga Riyani pingsan. Melihat Riyani pingsan salah seorang tamu wanita mengguyurkan air ke kepala Riyani untuk membangunkannya.
Ketika Riyani siuman, Sanjaya  menanyakan kepada Riyani apakah Riyani bersedia menjadi budak seksnya. Setiap kali Riyani mengatakan tidak atau berusaha meronta-ronta untuk melepaskan diri, maka bunyi cambuk akan terdengar lagi, dan kali ini tidak hanya mendera punggung Riyani , namun juga mendera ke pantat, kedua payudara dan vaginanya. 30 menit Riyani dicambuki seluruh tubuhnya, bekas-bekas cambuk berwarna kemerahan terlihat disekujur tubuhnya. Tubuh Riyani sudah kelihatan lemas. Tidak ada lagi raungan tangis keluar dari mulutnya.
“Bagaimana Riyani , apakah kamu sekarang bersedia jadi budak seksku?” tanya Sanjaya  kemudian.
Riyani hanya menggelengkan kepalanya secara lemah tanda penolakannya.
“Ok, kalau kamu tetap tidak mau. Kita akan ke tahap selanjutnya. Kita lihat sampai mana kamu tahan siksaan ini” sahut Sanjaya  kepada Riyani sambil mengisyaratkan sesuatu kepada seorang tamu wanita.
Tamu wanita yang diberi isyarat oleh Sanjaya  kemudian maju ke depan. Dia membawa sebuah jarum dan sebuah cincin yang terbuat dari emas dan menyerahkannya kepada Sanjaya . Kemudian Sanjaya  berjongkok di depan vagina Riyani . Dibukanya vagina Riyani secara perlahan. Mengetahui akan apa yang akan terjadi, Riyani meronta-ronta dengan hebat, namun beberapa tamu maju ke depan dan memegang erat-erat tubuh dan pinggul Riyani sehingga Riyani tidak dapat bergerak.
“Jangan…jangan….” pinta Riyani lirih.
“AAAUOOCCCHHH….” Kemudian terdengar teriakan Riyani . Ternyata Sanjaya  menusuk bibir dalam bagian atas vagina Riyani dengan jarum dan kemudian memasukkan cincin tersebut dalam lubang yang telah dibuatnya pada bibir vagina Riyani tersebut.
Raungan keras kesakitan Riyani membahana di basement itu, kemudian Riyani kembali pingsan. Kemudian Sanjaya  kembali berdiri dan mundur beberapa langkah untuk melihat hasil kerjanya. Dia terlihat puas dengan apa yang telah diperbuatnya pada Riyani . Riyani terlihat dalam posisi terikat, masih pingsan dengan sebuah cincin di bibir atas vaginanya dengan sedikit darah terlihat disekitar bibir atas vaginanya. Seorang tamu wanita kembali mengguyurkan air ke kepala Riyani dan membersihkan vagina Riyani dari bekas darah tersebut. Kemudian tamu wanita tersebut memberikan wewangian ke hidung Riyani agar Riyani siuman. Siuman dari pingsannya, terlihat sekali Riyani menahan sakit di vaginanya. Kemudian Sanjaya  kembali menghampiri Riyani dengan membawa jarum tersebut lagi beserta sebuah cincin emas lainnya. Tangan kiri Sanjaya  kemudian meraih puting payudara sebelah kiri Riyani dan tangan kanan Sanjaya  memegang jarum siap menusuknya.
“Jangan….jangan….ampun….jangan…sakit…saya bersedia jadi budak seks Pak Sanjaya  asalkan jangan siksa saya lagi” tiba-tiba terdengar suara pelan Riyani .
Mendengar hal itu Sanjaya  dan tamunya tertawa penuh kemenangan.
“Benar kamu mau jadi budak seksku dan menuruti semua keinginanku” Tanya Sanjaya  kepada Riyani .
“Iya…iya….saya mau…tolong jangan sakiti saya lagi” jawab Riyani menyerah.
“Ok, bagus..bagus…, ladies…beri hadiah kepada budak seksku yang baru ini, buat dia menikmati statusnya yang baru sebagai budakku” kata Sanjaya  sambil memberi isyarat kepada para tamu wanita untuk maju ke depan.
Para tamu wanita tanpa perlu diperintah lebih lanjut langsung maju ke depan mengelilingi Riyani . Satu tamu wanita berjongkok di hadapan vagina Riyani dan mulai menjilati dan menghisap-hisap vagina Riyani . Tamu-tamu yang lain menciumi dan menjilati kedua payudara Riyani , paha Riyani , punggung Riyani dan sekujur tubuhnya.
15 Menit diperlakukan demikian terlihat tubuh Riyani mulai mengkhianatinya. Riyani mulai meliuk-liukan badannya mengikuti permainan para tamu wanita tersebut di seluruh tubuhnya. Melihat reaksi Riyani , para tamu wanita tersebut semakin ganas mengerjai tubuh Riyani . Jari-jari tangan mereka secara bergantian keluar masuk vagina Riyani yang mana hal tersebut semakin membuat Riyani tidak dapat mengontrol tubuhnya. Tidak beberapa lama kemudian terdengar erangan Riyani tanda Riyani telah mencapai orgasmenya yang disambut oleh tepuk tangan meriah dari para tamu pria di basement itu. Tidak menunggu sampai orgasme Riyani reda, Sanjaya  kemudian melepaskan ikatan Riyani dan membimbingnya untuk berdiri di hadapanku.
“Mulai sekarang istrimu adalah budak seksku. Mulai sekarang aku harus didahulukan oleh istrimu dan bukan kamu lagi. Apabila kamu macam-macam rekaman dvd persetubuhan istrimu akan aku sebar di internet, kukirimkan pada orang tua kalian dan masalah hutangmu akan aku tuntut” kata Sanjaya  kepadaku.
Aku hanya diam tercekat oleh ancaman Sanjaya  itu. Badanku masih lemas sehingga aku tidak dapat berbuat apa-apa meskipun sebenarnya ingin aku meninju Sanjaya . Kemudian Sanjaya  mengaitkan sebuah bel kecil keperakan di cincin emas yang berada di bibir atas vagina Riyani , dan kemudian Sanjaya  mengetes bunyi bel tersebut dengan jarinya.
“Ting…ting…ting” terdengar bunyi bel pelan.
Riyani kemudian diposisikan membungkuk ke depan dengan kedua tangan bertumpu di kedua pegangan kursi tempat aku duduk. Pantatnya di keataskan sedikit oleh Sanjaya  sehingga Riyani sedikit berjinjit dengan pantat sejajar dengan selangkangan Sanjaya . Wajah Riyani dengan wajahku menjadi berhadapan dengan sangat dekat. Aku tidak bisa melihat tubuh istriku karena  jilbab lebarnya terurai dan menutupi punggung dan dadanya. Lalu Sanjaya  memelorotkan celananya sendiri. Terlihat penis Sanjaya  yang besar sudah mengacung keras, dan tanpa basa basi lagi dimasukkannya penis besar itu ke dalam vagina Riyani dari belakang. Erangan kecil keluar dari mulut Riyani disertai bunyi bel berdenting beberapa kali. Mata Riyani terpejam rapat. Aku melihat ke bawah ke arah vagina Riyani . Terlihat vagina Riyani sudah penuh dengan penis Sanjaya  yang besar dengan sebuah bel kecil yang bergoyang-goyang tergantung dari bibir atas vaginanya. Sanjaya  mulai memompa penisnya keluar
masuk vagina Riyani yang disertai erangan-erangan kecil Riyani dan bunyi bel yang bergoyang. Tubuh Riyani terdorong ke depan sehingga wajahnya sekarang berada disamping kuping kananku.
Terdengar erangan-erangan Riyani di kupingku setiap kali penis Sanjaya  yang besar memasuki vaginanya.
“Maafkan aku mas, aku tidak kuat disiksa…” tiba-tiba bisik Riyani di kupingku. Aku tidak menjawab dan hanya diam saja.
Genjotan-genjotan penis Sanjaya  pada vagina Riyani semakin keras, dan erangan-erangan Riyani semakin terdengar keras. Badan Riyani mulai mengikuti irama permainan Sanjaya . Terlihat vagina Riyani sudah sangat basah, cairan kewanitaannya mulai terlihat membasahi kedua paha dalamnya.
“Wah vagina istrimu sangat basah…dia sangat menikmatinya” kata Sanjaya  kepadaku sambil tertawa.
“Saatnya kita ke tahap selanjutnya” kata Sanjaya  kemudian sambil dengan tiba-tiba memasukkan 2 jarinya secara kasar ke dalam anus Riyani .
Jeritan keras terdengar dari mulut Riyani . Riyani berusaha menarik badannya namun dengan sigap Sanjaya  menahannya.
“Diam Riyani !!!” hardik Sanjaya  kepada Riyani .
Setelah beberapa menit puas mengobok-obok anus Riyani dengan kedua jarinya, Sanjaya  lalu mencabut penisnya dari vagina Riyani dan mengarahkannya ke anus Riyani . Sanjaya  menarik badan Riyani ke belakang sehingga wajah Riyani sekarang kembali berhadapan dengan wajahku. Terlihat wajah kesakitan dari Riyani ketika penis Sanjaya  yang besar mulai memasuki lubang anusnya. Air mata mulai meleleh dari kedua mata Riyani . Jilbabnya semakin basah terkena keringat dan air mata. Perlu beberapa menit sampai seluruh penis Sanjaya  masuk ke dalam lubang anus Riyani , dan kemudian Sanjaya  mulai memompa penisnya keluar masuk lubang anus Riyani . Jeritan-jeritan sakit terdengar dari mulut Riyani , matanya kembali terpejam menahan sakit. Dua tamu wanita kemudian mendatangi Riyani dari kedua sisi. Salah satunya membawa vibrator yang cukup besar dan menyalakannya.
“Ziiing…….” terdengar bunyi vibartor itu. Salah satu tamu wanita tersebut kemudian berjongkok disisi sebelah kiri Riyani dan memasukan vibrator tersebut ke dalam vagina Riyani yang disertai erangan-erangan Riyani . Tamu wanita yang lainnya berjongkok disisi kanan Riyani dan mulai meraba-raba dan menciumi payudara Riyani yang bergantung bebas. Tubuh Riyani kembali terdorong ke depan, sehingga wajahnya kembali berada disebelah kuping kananku. Badan Riyani bergoyang hebat dikarenakan genjotan penis Sanjaya  di lubang anusnya dan genjotan vibrator di vaginanya. Erangan-erangan Riyani terdengar keras bersahut-sahutan dengan bunyi vibrator dan bel yang bergoyang keras di bibir atas vaginanya. Erangan-erangan Riyani tidak lagi terdengar sebagai erangan kesakitan tapi telah berubah menjadi erangan kenikmatan. Tanpa disadarinya, Riyani mulai menciumi kuping dan leherku dan sesekali menggigit pelan leherku. Tidak butuh waktu lama untuk Riyani mencapai
orgasmenya kembali, badannya mengejang hebat disertai lenguhan kecil ketika dia mencapai puncak orgasmenya. Namun Sanjaya  belum ada tanda-tanda bahwa Sanjaya  akan mencapai orgasmenya. 40 menit telah berlalu, Riyani telah berkali-kali mengalami orgasme, sampai akhirnya Sanjaya  memuntahkan seluruh spermanya didalam anus Riyani . Sanjaya  kemudian menarik penisnya keluar dari lubang anus Riyani dan membimbing Riyani ke matras di tengah basement itu. Ternyata salah satu tamu pria Sanjaya  telah tidur terlentang di atas matras itu dengan keadaan telanjang bulat dan penis besar yang mengacung ke atas. Sanjaya  membimbing Riyani menduduki penis tersebut. Riyani hanya menurut saja apa yang dikehendaki Sanjaya . Setelah penis besar tamu Sanjaya  yang bernama Liem itu masuk seluruhnya ke dalam vagina Riyani , Liem kemudian menarik kedua putting payudara Riyani sehingga posisi badan atas Riyani meniduri dada Liem. Liem lalu mencium bibir Riyani dengan ganas,
dan aku melihat Riyani melayaninya. Lidah Riyani dan lidah Liem bertautan, mereka berciuman dengan ganasnya. Sementara itu Zhou yang juga sudah telanjang bulat mendekati pantat Riyani dari belakang, dan tanpa basa-basi memasukan penisnya yang juga besar ke dalam lubang anus Riyani , sehingga sekarang posisi Riyani terjepit di antara tubuh Liem dan Zhou dengan 2 penis menancap masing-masing di vaginanya dan di anusnya.
Mata Riyani terlihat berbinar ketika Liem dan Zhou mulai memompa penisnya masing-masing pada vagina dan anus Riyani . Tidak ada lagi penolakan dari Riyani , bahkan Riyani turut menggoyang-goyangkan pinggulnya seirama dengan genjotan Liem dan Zhou.
“Lihat, istrimu yang alim dan berjilbab itu mulai menikmati dan menerima statusnya yang baru sebagai budak seks. Saya harap kamu juga dapat menerimanya. Kamu tidak mau kan rekaman dvd istrimu tersebar dan kamu dipenjara karena hutang 4 milliar itu, lagipula aku lihat kamu juga mulai menikmatinya, lihat penis kamu mulai membesar” bisik Sanjaya  kepadaku.
“Kamu menurut saja, dan kamu dapat mendapatkan impianmu selama ini, yaitu melihat istrimu disetubuhi pria lain” lanjut Sanjaya  kepadaku.
Aku hanya mengangguk pelan. Terus terang melihat Riyani disandwich oleh 2 laki-laki tua telah membangkitkan nafsu birahiku. Obat yang diberikan Sanjaya  kepadaku mulai memudar dan tubuhku mulai tidak lemas lagi, namun bukannya aku membantu Riyani melepaskan diri tapi aku malah menikmati adegan seks di depanku. Terasa lama sekali untuk Liem dan Zhou mencapai orgasmenya, namun sebaliknya sangat cepat sekali Riyani mengalami orgasme. Setelah Riyani mengalami orgasme berkali-kali, barulah Liem dan Zhou secara bersamaan memuntahkan spermanya masing-masing dalam vagina dan anus Riyani . Selesai memuntahkan spermanya dalam anus dan vagina Riyani , Liem dan Zhou segera digantikan oleh tamu pria yang lainnya. Kali ini giliran Lam dan satu tamu lainnya yang bernama Kong. Riyani diposisikan tiduran terlentang di atas tubuh gemuk Lam dengan penis Lam yang menancap di anus Riyani , sedangkan Kong menancapkan penisnya ke dalam vagina Riyani dari atas. Lam dan Kong
dengan segera menggenjot penisnya masing-masing dengan kasar pada vagina dan anus Riyani . Riyani terlihat kepayahan melayani nafsu Lam dan Kong. Kedua tangan Riyani bertumpu di dada Lam, kedua kakinya terbuka lebar memberikan akses seluas-luasnya bagi penis Kong di vaginanya.  Sementara itu, ketiga tamu wanita yang semuanya telah telanjang bulat menyerbu penisku, mereka memelorotkan celana dan celana dalamku dan mulai menjilati penisku secara bergantian yang membuat nafsu birahiku semakin memuncak. Tanganku mulai berani meraba-raba payudara ketiga wanita tersebut. Riyani kadang-kadang terlihat memandang ke arahku yang sedang dioral service oleh ketiga tamu wanita tersebut. Entah cemburu atau karena tidak mau kalah melihat aku menikmati service ketiga tamu wanita tersebut, Riyani kembali berkonsentrasi dengan persetubuhannya dengan Lam dan Kong. Tangan kanannya meraih belakang kepala Kong dan ditariknya kedepan dan Riyani menciumi bibir Kong dengan
ganasnya.
Lidah Riyani terlihat bermain dengan lidah Kong, pinggul Riyani bergoyang makin hebat seakan-akan memberi semangat untuk Lam dan Kong agar menggenjot penisnya masing-masing dengan semakin ganas pada vagina dan anusnya. Orgasme demi orgasme melanda Riyani , sampai akhirnya Lam dan Kong menghabiskan seluruh spermanya dalam vagina dan anus Riyani . Aku sendiripun telah mengalami orgasme, seluruh spermaku ditelan habis oleh ketiga tamu wanita tersebut. Setelah selesai menghabiskan seluruh spermaku, ketiga wanita tersebut bermain seks bertiga. Rupanya mereka adalah lesbian. Ketika aku bermaksud untuk ikut serta, secara halus mereka menolakku. Sementara itu Riyani masih melayani kelima pria tua di atas matras. Mereka secara bergantian atau bersama-sama menyetubuhi Riyani dengan berbagai macam gaya seks. Terkadang seluruh lubang yang ada di Riyani yaitu mulut, vagina dan anus Riyani harus melayani penis-penis pria-pria tua tersebut secara bersamaan. Terlihat
juga Riyani melayani kelima pria tua tersebut secara bersamaan. Riyani duduk di atas Sanjaya  yang berbaring terlentang dimatras dengan penis Sanjaya  pada vagina Riyani , sedangkan Kong asyik menggenjot anus Riyani dari belakang. Secara bersamaan mulut Riyani menjilati dan menghisap penis Lam, sedangkan tangan kiri Riyani sibuk mengocok penis Zhou dan tangan kanan Riyani sibuk mengocok penis Liem. Terlihat suatu adegan yang fantastis di hadapanku, Riyani istriku yang cantik, berkulit putih dan mulus sibuk melayani 5 pria tua yang semuanya bertubuh gemuk dan berbulu lebat. Erangan-erangan mereka membahana di basement itu disertai bunyi bel kecil yang tergantung di bibir atas vagina Riyani . Orgasme-orgasme silih berganti melanda mereka. Sudah banyak sekali sperma kelima pria tua itu memenuhi vagina, lubang anus dan mulut Riyani . Bekas-bekas sperma nampak dibibir vagina dan lubang anus Riyani , juga demikian di bibir mulut Riyani , namun mereka terus
bersetubuh sepanjang malam itu sampai pagi menjelang ketika mereka semua kehabisan tenaga dan tidur bersama di basement itu dengan keadaan telanjang bulat.
Hari sudah siang ketika Riyani dan kelima pria tua bangun, merekapun mandi bersama-sama. Ketiga tamu wanita sudah tidak nampak di villa, kelihatannya mereka sudah pulang duluan ke Jakarta. Tidak terasa sudah dari jumat malam aku dan Riyani berada di villa. Sekarang sudah hari minggu, namun tidak terlihat Sanjaya  dan 4 pria lainnya akan pulang ke Jakarta. Mereka masih asyik menyetubuhi budak seks barunya, yaitu Riyani istriku yang berjilbab dan alim. Tidak henti-hentinya mereka menyetubuhi Riyani baik secara bergantian maupun secara bersama-sama. Mereka menyetubuhi Riyani baik di ruang tengah, di ruang makan, di kolam renang, di jacuzzi maupun di kamar tidur. Boleh dibilang Riyani tidak sempat berpakain, hanya jilbab lebarnya yang setia menempel di kepala. Aku melihat Riyani berusaha melayani nafsu binatang mereka dengan sebaik-baiknya. Terlihat sekali istriku sudah menerima status barunya sebagai budak seks. Meskipun terlihat sulit bagi Riyani untuk
mengimbangi kemampuan seks kelima pria tua itu, namun Riyani terlihat mulai menikmatinya, terutama apabila Riyani disetubuhi dengan gaya-gaya baru yang belum pernah dicobanya. Kelima pria itu terus menyetubuhi Riyani sepanjang hari Minggu, Senin sampai hari Selasa, mereka hanya berhenti kalau saatnya makan dan tidur sebentar. Kagum aku melihat stamina kelima pria tua tersebut mengingat usia mereka semuanya sudah di atas 50 tahun. Kadang-kadang ketika mereka beristirahat sebentar, mereka mengijinkanku untuk dioral oleh Riyani , namun mereka tidak pernah mengajakku untuk secara bersama-sama menyetubuhi Riyani .
Hari Rabu pagi, mereka baru mengijinkan aku dan Riyani kembali ke Jakarta dengan instruksi bahwa cincin dan bel kecil di bibir atas vagina Riyani tidak boleh dilepas, mulai sekarang Riyani hanya diperbolehkan memakai jubah dan jilbab saja. Tidak boleh memakai BH serta celana dalam, setiap hari Riyani harus meminum pil anti hamil yang diberikan oleh Sanjaya , Riyani harus selalu mencukur bulu-bulu disekitar vaginanya sehingga vaginanya selalu mulus tanpa bulu sehelaipun, aku tidak boleh menyetubuhi Riyani , aku hanya boleh dioral saja oleh Riyani dan kapanpun Sanjaya  dan teman-temannya memanggil Riyani atau datang ke rumah kami, Riyani harus siap melayani. Riyani hanya mengangguk tanda setuju mendengar instruksi Sanjaya  sedangkan aku hanya diam tanpa bisa berbuat apapun. Kamipun pulang ke Jakarta pada hari Rabu pagi itu dengan status baru istriku sebagai budak seks pemuas nafsu. Budak seks berjilbab yang alim dan anggun.Istriku Menjadi Budak Seks 2
Tidak terasa sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian di puncak. Selama tiga minggu itu tidak ada apapun yang terjadi. Aku dan istriku Riyani masih menuruti instruksi yang diberikan Sanjaya  sebelum kami pulang dari puncak, namun tidak ada tanda-tanda Sanjaya  akan meneruskan aksinya terhadap Riyani . Di kantor tempatku bekerja Sanjaya  tidak pernah membicarakan kejadian di puncak itu, dia bertindak seolah-olah kejadian di puncak tidak pernah terjadi dan akupun bekerja seperti biasa yaitu membantu Sanjaya  dalam manajemen kantor sehari-hari, meskipun semenjak kejadian 3 minggu lalu itu aku dan Sanjaya  menjadi tidak akrab seperti biasanya. Kami jarang mengobrol satu sama lain, adapun apabila harus berbicara dengan Sanjaya  hanyalah sebatas pembicaraan yang terkait dengan pekerjaan. Selama tiga minggu itu, Riyani tidak pernah keluar rumah. Bel kecil di bibir atas vaginanya dan larangan memakai BH dan celana dalam membuatnya risih untuk keluar rumah.
Setiap Riyani melangkah pasti terdengar bel kecil itu berbunyi pelan. Mungkin pembantu-pembantu dan supir di rumah sebenarnya mendengar dentingan bel kecil itu, hal itu terlihat di raut wajah mereka ketika Riyani ada di sekitar mereka. Raut wajah mereka menampakkan kebingungan dan kecurigaan karena mendengar bunyi bel kecil dari dalam jubah majikan perempuannya, mereka juga sering melirik dada Riyani yang berguncang ketika berjalan. Namun mereka tidak ada yang berani bertanya ataupun berkata apa-apa.
Di rumahku aku dan Riyani mempekerjakan 2 pembantu wanita, 1 pembantu pria dan seorang supir. Salah satu pembantu wanita kami yang biasa kami panggil bi Minah seorang wanita tua yang bertugas memasak dan mencuci pakaian. Satu pembantu wanita kami yang lain bernama panggilan Mar seorang wanita muda berumur 18 tahunan yang bertugas membersihkan rumah, sedangkan pembantu pria dan supir kami masing-masing bernama Sudin dan Amir. Keduanya berumur sekitar 50 tahunan dan berkulit sangat hitam tanda seringnya terkena terik sinar matahari. Pembantu-pembantu dan supir di rumah terlihat menyadari perubahan pada diri Riyani , terutama Sudin dan Amir. Mereka sering terlihat memandangi istriku di rumah, meskipun setiap kali aku melihatnya mereka memalingkan muka dan pura-pura sedang tidak memandangi Riyani . Riyani di rumah tidak pernah lagi memakai BH dan celana dalam, semua BH dan celana dalamnya sudah aku bakar habis, hal itu sesuai dengan instruksi Sanjaya . Ada
rasa kekuatiran bahwa pembantu dan supir di rumah mengetahui hal itu, apalagi setelah melihat akhir-akhir ini Sudin dan Amir sering memandangi istriku dengan tatapan yang lain, sedikit mesum terpancar di muka mereka yang hitam itu. Tidak terasa sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian di puncak…, ketika pada suatu malam telepon kami berdering. Riyani mengangkat telepon dan terlihat berbicara dengan serius dengan orang di seberang telepon itu. Setelah 10 menit berbicara, Riyani menutup telepon dan dengan muka pucat menghampiriku. Riyani menceritakan bahwa yang menelepon barusan adalah Sanjaya . Sanjaya  akan datang ke rumah besok siang dan memerintahkan istriku untuk mempersiapkan diri…

*******************************
Keesokan harinya, aku ke kantor seperti biasanya, karena ketika Sanjaya  menelepon Riyani tadi malam, Sanjaya  tidak menginstruksikan apa-apa yang berkaitan dengan diriku. Hari itu di kantor Sanjaya  memberikanku banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Terus terang aku tidak bisa konsentrasi di kantor. Perasaanku campur aduk mengingat telepon Sanjaya  pada istriku tadi malam, namun Sanjaya  tidak mengatakan apapun kepadaku tentang janjinya dengan Riyani siang ini. Sanjaya  memperlakukanku seolah-olah aku tidak mengetahui rencananya siang ini dengan Riyani . Menjelang istirahat makan siang, aku melihat Sanjaya  meninggalkan kantor. Melihat itu hatiku semakin campur aduk. Aku bisa menebak Sanjaya  akan pergi kemana, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor. Aku semakin tidak bisa konsentrasi dan pikiranku semakin kacau ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 sore dan belum ada tanda-tanda Sanjaya  kembali
ke kantor. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Hp Riyani . “Tuut…tuut…tuut…” bunyi nada panggil di Hp Riyani tidak ada yang mengangkat. Setelah beberapa detik kemudian baru ada yang mengangkat, dan yang mengangkat adalah Sanjaya .
“Harto, tenang saja, Riyani tidak apa-apa, kamu tidak perlu kuatir” suara Sanjaya  terdengar seakan-akan dia tahu kekuatiranku.
“Kamu tolong selesaikan dulu pekerjaan-pekerjaan yang saya kasih hari ini” perintah Sanjaya  kemudian lalu menutup Hp itu.
Perasaanku semakin kacau balau karena mengetahui ternyata Sanjaya  masih berada di rumahku, apalagi secara sayup-sayup aku mendengar erangan-erangan istriku di latar belakang suara Sanjaya  di HP. Dengan perasaan kalut akupun berusaha dengan cepat mengerjakan semua pekerjaan yang diberikan Sanjaya  kepadaku. Namun karena banyaknya pekerjaan yang diberikan Sanjaya , aku baru bisa menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan tersebut kurang lebih pukul 7 malam. Begitu semua pekerjaan selesai, akupun segera pulang ke rumah. Di jalan, Amir supirku aku suruh mengendarai mobil dengan cepat sehingga aku dapat sampai ke rumah dengan segera.
Sesampainya di rumah, aku melihat mobil Sanjaya  masih berada di depan rumahku. Aku sempat mendengar Amir supirku mengatakan “Kok ada mobil Pak Sanjaya ?”, namun aku tidak menjawab atau memperhatikan kata-kata supirku lagi, aku langsung keluar mobil dan masuk rumah dari pintu samping. Di dalam rumah, aku tidak melihat istriku atau Sanjaya  di ruang tamu maupun di ruang tengah. Akupun langsung naik ke lantai atas menuju kamar tidur utama rumahku. Pintu kamar utama ternyata terkunci dari dalam. Aku mengetuknya pelan beberapa kali sambil memanggil-manggil nama Riyani . Setelah beberapa menit, pintu kamar itu terbuka. Ternyata yang membukakan pintu adalah Sanjaya . Kemudian Sanjaya  mempersilahkan aku masuk ke dalam kamarku sendiri tersebut. Ternyata di dalam kamar sudah ada satu lagi pria yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sanjaya  memperkenalkan aku dengan pria tersebut yang ternyata adalah anaknya Sanjaya . Namanya Peter, umurnya kurang lebih 20
tahun, badannya kekar tanda dia sering pergi ke fitness center dan matanya sipit seperti bapaknya. Aku belum pernah melihat Peter sebelumnya, karena Sanjaya  memang selalu tidak pernah mengajak keluarganya dalam acara-acara kantor. Aku hanya pernah mendengar bahwa Sanjaya  adalah seorang duda dengan satu orang anak. Aku mengira bahwa selama ini anaknya Sanjaya  berada di Cina, ternyata dugaanku meleset, karena sekarang berdiri di hadapanku, Peter anaknya Sanjaya  yang nampak sekali sudah cukup lama berada di Jakarta bersama bapaknya, hal itu dapat dilihat dari betapa fasihnya Peter dalam berbahasa Indonesia. Baik Sanjaya  dan Peter sudah berpakaian lengkap, hanya kaus kaki dan sepatu saja yang belum mereka kenakan. Pertama kali melihatku, Peter terlihat canggung dan merasa tidak enak.
“Ter, seperti sudah papa katakan kepadamu, Riyani itu sudah mempunyai suami, dan suaminya telah setuju bahwa kita boleh melakukan apa saja terhadap istrinya. Terbukti kan papa tidak bohong” kata Sanjaya  tiba-tiba kepada Peter karena melihat kecanggungan Peter di hadapanku.
“Sekarang kamu nikmati saja malam ini. Papa ada tontonan menarik buatmu” sambung Sanjaya  kepada Peter yang membuat jantungku semakin berdegup kencang. Peter yang diajak bicara tidak menjawab, dia hanya mengangguk-angguk pelan.
“Tontonan? Apalagi ini yang akan diperbuat Sanjaya  kepada istriku” pikirku kalut dalam hati.
Setelah beberapa menit baru aku bisa menenangkan diri, dan aku baru menyadari bahwa Riyani tidak berada di kamar itu. Rupanya Riyani sedang di kamar mandi untuk membersihkan diri, hal itu aku ketahui dari bunyi shower di kamar mandi yang memang berada di kamar itu. Aku, Peter dan Sanjaya  tidak berbicara apapun lagi, kami hanya menunggu Riyani di kamar mandi. Aku merasa canggung berada dengan 2 pria lain di kamarku sendiri. Peter juga terlihat canggung, dia hanya terlihat beberapa kali berbisik kepada Sanjaya . Setelah beberapa menit, Riyani keluar dari kamar. Riyani menggunakan jilbab putih yang tersampir di pundaknya. Riyani terlihat sedikit terkejut ketika dia mengetahui aku sudah berada di kamar.
Mukanya terlihat malu. Ia menyadari penampilannya yang aneh, berjilbab tapi bagian bawahnya telanjang bulat.
“Riyani segera siap-siap sesuai perintahku” kata Sanjaya  kepada Riyani memecah keheningan kamar. Riyani hanya menggangguk menurut.
Melihat anggukan Riyani , Sanjaya  kemudian melangkah keluar kamar sambil menyuruhku dan Peter mengikutinya. Kami pun keluar dari kamar tidur utama meninggalkan Riyani sendiri dan kami menuju ruang TV di lantai bawah. Sesampainya di ruang TV, Sanjaya  menyuruh Peter dan aku meminggirkan meja di ruang TV sehingga hanya tinggal sofa dan karpet di ruang TV itu. Sanjaya  dan Peter duduk di sofa panjang sedangkan aku diminta duduk di sofa kecil di ruang TV. Setelah kurang lebih 15 menit kemudian, nampak Riyani turun dari lantai atas. Riyani sudah mengenakan make-up dan berdandan dengan sangat cantik, namun Riyani tidak mengenakan pakaian apapun juga, kecuali jilbabnya. Riyani turun ke ruang TV dalam keadaan telanjang bulat, di vaginanya yang bersih terlihat cincin emas dan bel kecil masih tergantung. Terus terang Riyani terlihat sangat cantik sekali dengan kepolosannya itu yang membuat penisku segera mengencang.
Sesampainya di ruang TV, Riyani langsung berdiri di tengah ruangan menghadap ke arah Sanjaya  dan Peter. Terlihat Riyani sedikit malu karena melihat kehadiranku diruang TV itu.
“Nah, Riyani , setelah saya dan anakku ini menikmati tubuhmu dari siang, sekarang saya ingin melihat apakah kamu sudah siap untuk benar-benar menjadi budak seksku” kata Sanjaya  tiba-tiba kepada Riyani .
Riyani yang ditanya hanya mengangguk pelan.
“Sekarang kamu panggil pembantu laki-laki dan supirmu kesini” perintah Sanjaya  kepada Riyani.
“Ter, kamu juga panggil si Kisno kesini” perintah Sanjaya  kepada Peter sambil menunjuk ke arah luar rumah menandakan Peter harus memanggil Kisno supir pribadi Sanjaya  yang menunggu diluar.
Mendengar apa yang dikatakan Sanjaya , Riyani dan aku sangat kaget. Kami tidak percaya dengan apa yang baru kami dengar.
“Maaf Pak Sanjaya , kelihatannya jangan sejauh itu” kataku kepada Sanjaya .
“Ya terserah kamu Harto, apakah kau tidak ingat dengan rekaman dan surat kesepakatan kita?” jawab Sanjaya  kalem.
Aku tidak bisa menjawab, aku hanya bisa memandang Riyani untuk menanyakan pendapatnya. Riyani hanya diam saja, air mata menetes di kedua pipinya.
“Bagaimana? Ini terserah kalian” sahut Sanjaya  kepadaku dan Riyani sambil memberi isyarat kepada Peter untuk bangkit dari sofa.
Melihat Sanjaya  dan Peter bangkit dari sofa, Riyani segera berlutut dan meraih paha Sanjaya .
“Ampuun Pak Sanjaya , saya akan lakukan apa saja, asal jangan dengan pembantu atau supir…malu saya…” tangis Riyani mengiba kepada Sanjaya .
“Aaahh…kamu itu budak seksku, kamu harus menurut apapun yang saya suruh tahu! Lagian pembantu-pembantumu pasti sudah curiga, dari tadi siang saya ada di dalam kamarmu. Apa lagi yang kamu harus sembunyikan” hardik Sanjaya  kepada Riyani .
“Saya hitung sampai 10, apabila tetap tidak mau, saya akan pergi dari rumahmu sekarang juga, tapi jangan salahkan saya kalau rekaman persetubuhanmu sampai ke tangan orang tuamu” lanjut Sanjaya  tegas.
“1…..2……3……4…….5…….6……7…..” hitungan Sanjaya  dimulai.
Pada hitungan ke delapan, Riyani bangkit dari posisi berlutut. Dengan gemetar dan isak tangis Riyani menuju menuju pintu kamar kedua pembantunya. Kepalanya dilongokkan ke kamar mereka. Jilbab putihnya diturunkan sehingga kedua pembantunya tidak langsung melihat kalau majikan perempuan mereka yang alim dan selalu berjilbab memanggil mereka dalam keadaan telanjang.
“Pak Sudin….Pak Amir…” suara Riyani bergetar memanggil pembantu laki-laki dan supirku.
“Ya bu..” terdengar jawaban Sudin dari dalam kamar.
“Tolong Pak Sudin dan Pak Amir menyusul saya ke ruang TV” lanjut Riyani masih dengan suara bergetar menahan tangis dan rasa malu yang luar biasa.
“Baik bu” jawab Sudin kemudian.
Mendengar itu, Sanjaya  segera meyuruh Peter untuk memanggil Kisno supir pribadinya yang menunggu diluar. Peter yang sudah dapat menebak apa yang diinginkan bapaknya dengan sedikit berlari segera keluar rumah.
“Jangan lupa bilang si Kisno bawa videocamnya” sahut Sanjaya  kepada anaknya.
Riyani telah kembali berdiri di tengah ruang TV sambil menangis ketika Sudin dan Amir tiba di ruang TV.
“Ada……aaapppaaaaaa…” Amir tidak dapat melanjutkan kata-katanya, nampak sekali dia kaget ketika tiba di ruang TV dan melihat majikan perempuannya yang tiap hari selalu berjubah lengkap dengan jilbabnya berdiri dalam keadaan telanjang bulat di tengah ruang TV. Jilbab putihnya masih menutupi kepalanya, sementara payudaranya terlihat menggantung indah karena Pak Sanjaya menyuruh Riyani untuk menyampirkan jilbabnya ke pundak.
Baik Amir maupun Sudin hanya berdiri terpana melihat keadaan Riyani . Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Meskipun raut muka mereka nampak kaget, namun mata mereka tidak bisa lepas dari pemandangan indah yang ada di hadapan mereka.
“Naahh, Sudin dan Amir, malam ini majikanmu mau memberimu hadiah atas kesetian kalian selama ini” kata Sanjaya  tiba-tiba memecah keheningan di ruang TV itu.
Mendengar kata-kata Sanjaya , Sudin dan Amir diam saja. Mereka mengerti apa maksud kata-kata Sanjaya , namun mereka berdua langsung menatapku seakan minta kepastian dariku. Karena masih kaget dan tidak tahu apa yang harus aku perbuat, aku hanya diam saja dan malah memandang ke arah Riyani seakan-akan menyuruh Sudin dan Amir menanyakannya langsung ke Riyani .
“Riyani , hentikan tangismu! Cepat katakan apa yang saya telah ajarkan kepadamu sepanjang siang” sahut Sanjaya  dengan keras kepada Riyani .
“Tuan-tuan, sa..saya..si..siap melayani tuan-tuan…silahkan pa..pakai se..seluruh lubang yang ada pada diri saya untuk ke…kenikmatan tuan-tuan” kata Riyani terbata-bata sambil menahan tangisnya.
“Nah, Sudin dan Amir, kalian sudah dengar sendiri kan. Silahkan langsung saja jangan malu-malu. Majikanmu sudah mengijinkan. Saya hanya minta boleh direkam ya….” kata Sanjaya  terkekeh sambil mengambil video kamera dari tangan Kisno yang ternyata juga bersama Peter telah tiba di ruang TV “Saya ingin membuat film tentang pelacur cantik yang alim dan berjilbab lebar”
“Kisno, kamu ajari Sudin dan Amir supaya tidak malu-malu” perintah Sanjaya  kemudian kepada Kisno supirnya.
“Siaap boss” jawab Kisno cepat sambil menghampiri Riyani .
Kemudian Kisno menjambak jilbab Riyani dengan tangan kirinya dan menariknya ke belakang sehingga wajah Riyani terdongak ke atas.

“Mir, Din. Majikanku ini selalu membagi budak seksnya kepadaku. Sekarang majikanmu ini sudah jadi budak seksnya, sehingga beruntunglah kalian bisa ikutan menikmatinya. Ayo jangan malu-malu, kapan lagi bisa menikmati dan memperbudak majikan sendiri, apalagi yang alim dan berjilbab seperti ini, tentu nikmat sekali…haa..haa….haa..” kata Kisno kepada Sudin dan Amir sambil tertawa dan tangan kanannya mulai meraba-raba kedua payudara dan vagina Riyani .
Dengan ragu-ragu, Sudin dan Amir menghampiri Riyani . Tangan-tangan mereka mulai menggerayangi tubuh dan paha mulus Riyani . Melihat Riyani hanya diam saja, tangan-tangan Sudin dan Amir semakin berani menggerayangi tubuh Riyani . Tangan-tangan mereka mulai ikut-ikutan meraba-raba kedua payudara dan vagina Riyani .
“Senyum! Jangan mewek aja kalau lagi ngelayanin tuan-tuanmu ini!” bentak Kisno keras kepada Riyani .
Riyani yang mendengar bentakan Kisno berusaha tersenyum dengan terpaksa.
“Cium kedua majikan kamu ini dengan mesra” perintah Kisno selanjutnya kepada Riyani sambil melepaskan jambakannya pada jilbab Riyani .
Riyani meskipun terlihat terpaksa kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Amir dan mulai mencium bibir Amir dengan mesra. Ciuman Riyani pada supirku itu tidak bertepuk sebelah tangan. Amir langsung membalas ciuman Riyani dengan ganas. Lidahnya langsung masuk ke mulut Riyani dan mengobok-obok mulut Riyani sampai-sampai Riyani kesulitan bernapas dan tersedak. Kemudian Riyani beralih kepada Sudin. Kembali kedua tangannya dilingkarkan di leher pembantuku itu, dan bibirnya mulai menciumi bibir Sudin. Tidak seperti Amir, Sudin membalas ciuman Riyani dengan mesra. Sudin sedikit menarik Riyani dari Kisno dan Amir, sehingga Riyani dan Sudin dapat berciuman dengan mesra berdua tanpa gangguan Amir dan Kisno. Sambil tetap berciuman dengan Riyani , Sudin melingkarkan tangan kirinya di pinggul Riyani dan tangan kanannya digunakan untuk meraba-raba dan mempermainkan klitoris Riyani . Setelah berciuman beberapa menit sambil mempermainkan klitoris Riyani , Sudin
menurunkan tangan kirinya ke bongkahan pantat Riyani . Diraba-rabanya kedua bongkahan pantat Riyani itu, dan kemudian dengan sedikit menahan pantat Riyani dengan telapak tangan kirinya, Sudin memasukan jari tengah dan jari telunjuk tangan kanannya ke dalam vagina Riyani dengan jempol tangan kanan Sudin tetap mempermainkan klitoris Riyani .
“Eegghhh…” terdengar erangan kecil Riyani ketika kedua jari Sudin memasuki vaginanya.
“Suka?” tanya Sudin kepada Riyani sambil melepaskan ciumannya pada Riyani . Riyani tidak menjawab, dia hanya diam saja.
Melihat Riyani hanya diam saja, Sudin menekan kedua jarinya di dalam vagina Riyani dengan sedikit keras.
“Egghh….” terdengar erangan Riyani sedikit mengeras.
“Suka?” tanya Sudin lagi kepada Riyani dengan sedikit tegas.
Mendengar pertanyaan Sudin untuk kedua kalinya, Riyani mengangguk pelan untuk menjawab dan menyenangkan hati Sudin.
“Eh..sini Din, jangan dipakai sendiri aja, kita juga mau” kata Kisno tiba-tiba sambil menarik Riyani dari Sudin.
“Ayo sini, layani kita bertiga sekaligus” kata Kisno sambil menarik Riyani kembali ke tengah ruang TV yang segera diikuti oleh Amir dan Sudin.
“Ayo pelacur, kamu kan sudah diajari Pak Sanjaya  dari tadi siang, tunjukkan keahlianmu” perintah Kisno kepada Riyani .
Kini Riyani yang telanjang bulat dan hanya memakai jilbabnya dikelilingi oleh Kisno, Sudin dan Amir di tengah ruang TV. Tanpa perlu diperintah lebih lanjut, Riyani mulai melepaskan pakaian Kisno, Sudin dan Amir. Setelah seluruh pakaian ketiganya lepas, Riyani kemudian berlutut dan mulai melepaskan celana dan celana dalam Kisno, Sudin dan Amir sehingga Kisno, Sudin dan Amir menjadi telanjang bulat. Terlihat sedikit kaget Riyani melihat selangkangan dan penis-penis Kisno, Sudin dan Amir. Selangkangan Kisno, Sudin dan Amir ditumbuhi bulu-bulu yang sangat lebat tidak terurus, ketiga penis mereka semuanya berwarna hitam, berukuran besar-besar dan sudah mengeras. Nampak penis Kisno sedikit berbeda dari yang lainnya. Di penis Kisno terlihat mempunyai tonjolan-tonjolan bulat, sepertinya di dalam kulit penis Kisno seakan-akan ada beberapa kelereng kecil yang dapat bergerak-gerak dan membuat kulit penis Kisno menjadi tidak rata dan bergelombang. Selain daripada
keanehan itu, terlihat kedua sisi penis kisno juga ditindik dengan beberapa cincin emas seperti yang ada pada bibir atas vagina Riyani , namun yang membedakannya adalah di cincin-cincin pada penis Kisno itu di beberapa bagiannya tertutup dengan bulu-bulu kasar seperti sabuk kelapa. Melihat penis Kisno yang sangat aneh itu, terlihat wajah Riyani menjadi panik dan ketakutan. Air mata kembali meleleh di kedua pipinya.
“Hehehehe….jangan takut” kata Kisno tiba-tiba kepada Riyani .
“Penis ini akan membawa kenikmatan untukmu pelacur! Pak Sanjaya  khusus membawaku ke Cina untuk menjadikan penisku ini sumber kenikmatan wanita yang tidak ada taranya. Jadi kamu harus merasa beruntung dapat mencicipi penisku ini. Kamu pasti akan ketagihan seks setelah merasakan penisku ini” kata Kisno dengan sedikit tertawa.
Setelah mengatakan hal itu, tanpa menunggu apa-apa lagi, Kisno langsung menarik muka Riyani ke arah selangkangannya. Dan dengan sedikit memaksa tangan Kisno membuka mulut Riyani dan memasukkan penisnya yang besar ke dalam mulut Riyani . Riyani dengan sedikit gelagapan berusaha membuka mulutnya lebar-lebar agar dapat menerima penis Kisno yang besar itu. Kisno langsung memompa penisnya pada mulut Riyani dengan cepat sampai Riyani tersedak-sedak. Setelah beberapa menit memompa mulut Riyani dengan penisnya, Kisno kemudian memalingkan wajah Riyani ke arah penis Amir. Riyani mengerti apa yang diminta, dia langsung membuka mulutnya dan mulai melakukan oral service pada penis Amir. Raut muka Amir menampakkan kegembiraan yang amat sangat ketika penisnya mulai dioral oleh mulut Riyani . Dia kelihatannya tidak mempercayai apa yang sedang terjadi, dia tidak pernah menyangka bahwa majikan perempuannya yang muda dan cantik mau mengulum-ngulum, menghisap-hisap dan
menjilati penis tuanya. Selagi mengoral service penis Amir, Kisno meraih tangan kiri Riyani dan mengarahkan ke penisnya. Riyani seperti wanita yang sudah terlatih langsung mengerti kemauan Kisno dan mulai mengocok-ngocok penis Kisno dengan tangan kirinya. Melihat itu Sudin juga tidak mau kalah dan meraih tangan kanan Riyani dan mengarahkannya ke penisnya. Tanpa diperintah lagi Riyani juga langsung mengocok-ngocok penis Sudin. Terlihat pemandangan yang sangat menakjubkan di hadapanku. Riyani yang cantik jelita, berkulit mulus dan putih sedang melayani 3 laki-laki yang buruk rupa sekaligus.
2 laki-laki itu yang sedang dilayani Riyani adalah pembantu dan supirnya sendiri yang sudah berusia 50 tahunan, sedangkan pria satu lagi, si Kisno, meskipun umurnya kira-kira seumuranku, namun mukanya dapat dikatakan yang paling buruk jika dibandingkan dengan yang lain, dan dengan tubuh gempalnya Kisno terlihat seakan-akan seperti raksasa jika dibandingkan dengan tubuh Riyani . Setelah beberapa menit mengoral penis Amir, wajah Riyani kembali dipalingkan oleh Kisno. Kali ini ke penis Sudin. Riyani langsung menurut dan mulai menjilati dan menghisap-hisap penis Sudin sedangkan tangan kanannya beralih ke penis Amir. Setelah beberapa menit melayani penis Sudin dengan mulutnya, wajah Riyani kembali dipalingkan ke penis Kisno dan tangannyapun beralih ke penis yang lain yang sedang tidak dioralnya. Kemudian beberapa menit kemudian beralih lagi ke penis Amir dan kemudian ke penis Sudin dan begitu seterusnya sehingga ketiga penis hitam raksasa itu diservicenya
bergantian. Selain menjilati dan menghisap ketiga penis itu, Sanjaya  yang sedari tadi asyik merekam adegan Riyani dengan Kisno, Sudin dan Amir memerintahkan Riyani untuk mengulum-ngulum biji-biji kemaluan Kisno, Sudin dan Amir serta juga menjilati paha dalam ketiganya. Riyani juga diperintahkan oleh Sanjaya , untuk melakukan deepthroat pada ketiga penis itu, yaitu memasukkan penis mereka sampai mentok ke pangkalnya sehingga kepala penis masuk sampai ke tenggorokkan Riyani melewati amandelnya. Perintah ini dipenuhi oleh Riyani dengan susah payah karena begitu besarnya penis-penis itu. Sanjaya meng close-up adegan ini, baginya hal ini sangat menarik, seorang wanita canti dan berjilbab mendeepthroat penis. Wajah Riyani jadi terlihat sangat merangsang. Riyani menuruti semua instruksi Sanjaya  meskipun terlihat beberapa kali Riyani merasa tidak nyaman karena bau dari penis-penis dan selangkangan-selangkangan Kisno, Sudin dan Amir, namun dengan pasrah Riyani
menurutinya. Sedangkan Kisno, Sudin dan Amir terlihat keenakan dioral dan dijilati oleh Riyani , muka-muka mereka sudah nampak mesum keenakan. Setelah hampir satu jam memberikan oral service kepada Kisno, Sudin dan Amir, nampak peluh mulai membasahi tubuh, wajah dan jilbab Riyani. AC di ruang TV sedikit banyak membantu Riyani sehingga peluh tidak membanjiri tubuhnya. Riyani yang sedang mengulum penis Sudin mempercepat gerakannya, kelihatannya Riyani mengetahui bahwa Sudin hampir mencapai klimaksnya.
“Good…good….telan semua ya….” perintah Sanjaya  seakan-akan tahu apa yang akan terjadi.
Riyani tidak menjawab, dia malah makin mempercepat gerakannya mengoral service penis Sudin. Dan tidak beberapa lama kemudian Sudin memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Riyani yang langsung ditelan semuanya oleh Riyani. Setelah menelan seluruh sperma Sudin, Riyani berpindah ke penis Amir. Dihisap-hisapnya penis Amir dengan mulutnya sambil tangan kanannya yang kini bebas mengelus-elus biji kemaluan Amir. Tidak beberapa lama kemudian, Amirpun memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Riyani dan seluruh sperma itupun ditelan habis oleh Riyani . Terakhir adalah giliran Kisno. Riyani menghisap-hisap dan menjilati penis Kisno dan kedua tangan Riyani mengelus-elus biji kemaluan dan paha dalam Kisno. Terlihat sekali Riyani berusaha memberikan rangsangan yang hebat untuk Kisno agar Kisno cepat mengalami orgasme dan penderitaan Riyani dalam memberikan oral service dapat segera berakhir. Namun rupanya Kisno mempunyai stamina yang cukup bagus, sehingga
perlu waktu yang cukup lama bagi Riyani untuk membuat Kisno orgasme dan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Riyani . Ketika seluruh sperma Kisno telah ditelan habis oleh Riyani , Kisno kembali menjambak jilbab Riyani dan menariknya ke atas dengan kasar sehingga Riyani terpaksa berdiri. Kemudian Kisno meraih cincin emas dan bel kecil di bibir atas vagina Riyani dengan kasar.
“Oooucchh….” terdengar jeritan kecil kesakitan keluar dari mulut Riyani .
Kemudian Kisno dengan menarik cincin emas dan bel kecil itu menuntun Riyani ke sofa tunggal yang menghadap TV LCD 42’ di ruang TV rumahku. Suatu pemandangan yang juga sangat menakjubkan, Kisno yang bertubuh besar dan gempal itu menarik cincin dan bel kecil itu dan dengan terpaksa dan sambil menahan sakit Riyani yang cantik mengikutinya. Kisno dengan seenaknya menarik cincin dan bel kecil itu seakan-akan dia sedang menarik cincin dihidung seekor sapi, namun bukan sapi yang ditarik melainkan istriku Riyani di vaginanya.
Riyani didudukan oleh Kisno di sofa tunggal itu, masing-masing kedua kakinya dibuka lebar diletakkan di lengan-lengan sofa tersebut sehingga posisi Riyani sekarang duduk di sofa dengan kedua kaki mengangkang lebar. Sanjaya  memberi isyarat kepada Riyani untuk tidak bergerak dalam posisi itu. Kemudian Sanjaya  menyambungkan sebuah kabel panjang ke TV LCD 42’ yang berada di hadapan Riyani . Dan setelah kabel tersambung, nampaklah gambar Riyani di TV itu sedang mengangkang lebar di sofa.
Riyani tidak menjawab apa-apa. Kemudian Sanjaya  memerintahkan Riyani untuk membuka vaginanya dengan jari-jari tangannya sendiri. Riyani dengan sedikit ragu menurutinya. Riyani membuka vaginanya sendiri dengan lebar-lebar. Lalu Sanjaya  memerintahkan Riyani untuk mengatakan hal-hal yang tidak senonoh, seperti “saya pelacur yang siap melayani”, “vagina saya sudah ingin sekali dimasuki penis yang besar” dan lain-lain. Riyani pada awalnya tidak mau menuruti perintah Sanjaya , namun setelah diancam oleh Sanjaya , Riyani pun menuruti dengan sedikit isak tangis dan air mata yang meleleh di kedua pipinya. Setelah puas mempermalukan Riyani , Sanjaya  memberikan isyarat kepada Kisno, dan Kisnopun langsung berlutut didepan selangkangan Riyani dan mulai menjilati paha dalam Riyani dan terus ke vagina Riyani . Ketika lidah Kisno yang ternyata ditindik dengan besi kecil itu mulai menyapu bagian dalam vagina Riyani , terlihat tubuh Riyani sedikit menegang
menerima rangsangan di vaginanya. Kedua tangan Riyani meremas-remas pegangan tangan sofa dan kadang-kadang memegang paha dalamnya sendiri agar kedua kakinya tetap mengangkang lebar. Mata Riyani tertuju pada selangkangannya sendiri untuk melihat kegiatan lidah Kisno di vaginanya.
“Riyani , ngapain kamu melihat ke bawah, di TV sudah ada gambarmu sendiri, kalau kamu mau melihat dengan jelas vaginamu tanpa terhalang kepala Kisno, akan saya zoom dan kamu bisa melihatnya secara jelas di TV” kata Sanjaya  sambil menzoom kameranya dan mengarahkannya pada posisi yang tepat sehingga di TV terlihat jelas sekali vagina Riyani yang sedang dijilati oleh Kisno dengan rakus.
Riyani menuruti apa yang dikatakan oleh Sanjaya . Riyani mulai memandang ke arah TV dan melihat vaginanya sedang dijilati oleh Kisno di TV. Dengan tanpa menghentikan jilatan-jilatannya pada vagina dan klitoris Riyani , Kisno memasukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ke dalam vagina Riyani . Riyani dengan mata tetap memandang ke TV mengeluarkan erangan kecil, badannya bergoyang-goyang mengikuti irama permainan jari-jari Kisno di vaginanya. Adegan itu direkam dengan lihainya oleh Sanjaya . Sanjaya  kadang-kadang menzoom in dan zoom out kameranya sehingga kadang-kadang hanya gambar vagina Riyani yang sedang dipermainkan Kisno nampak di layar TV dan kadang-kadang gambar keseluruhan Riyani sedang duduk mengangkang di sofa dengan badan yang bergoyang-goyang dan meliuk-liuk dengan kepala Kisno terbenam diselangkangannya nampak di layar TV. Erangan-erangan makin jelas keluar dari mulut Riyani , nampaknya Kisno dengan lihainya telah membuat Riyani
terangsang hebat. Tubuh Riyani makin bergoyang mengikuti irama jilatan-jilatan lidah Kisno di vaginanya. Kadang-kadang terlihat Riyani menggigit kecil bibir bawahnya sendiri menahan rangsangan hebat yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Cukup kira-kira 10 menit permainan Kisno di vagina Riyani sudah membuat Riyani mulai lupa pada keadaan sekelilingnya. Mata Riyani tetap menatap TV yang menanyangkan dirinya sedang dirangsang oleh Kisno, namun kedua tangannya mulai mengelus-elus dan menjambak-jambak kecil rambut di kepala Kisno. Riyani mulai berani memajukan pinggulnya ke depan agar lidah dan jari-jari tangan Kisno dapat makin menekan masuk ke dalam vaginanya.
“Iyaaa…teerruss…iyaa….teeerusss” mulai terdengar rintihan-rintihan Riyani tanda dia menyukai apa yang diperbuat Kisno di vaginanya.
Mendengar itu Sanjaya  tertawa kecil dan menzoom kamera ke wajah Riyani yang cantik dan berjilbab putih. Riyani yang melihat wajahnya di close-up di TV tersenyum kecil. Rangsangan yang diberikan Kisno pada vaginanya mulai menghilangkan rasa malu dan rasa jijiknya terhadap pasangan persetubuhannya.
Tidak lama setelah itu mulai nampak tanda-tanda Riyani akan mengalami orgasmenya. Pinggulnya makin ditekannya ke depan kearah mulut Kisno. Jambakan-jambakan tangannya pada rambut Kisno mulai semakin liar dan kedua kakinya semakin dibukanya lebar-lebar. Detik-detik akhir mendekati orgasme makin terlihat pada diri Riyani , gerakan pinggulnya semakin liar, erangan-erangannya semakin keras, namun ketika saat-saat orgasme tinggal selangkah lagi, tiba-tiba dengan mulutnya, Kisno menarik cincin emas yang ada di bibir atas vagina Riyani dengan keras.
“Aoouuuccch……..!!!” teriak Riyani keras karena kesakitan. Mukanya meringis menahan sakit, bibirnya menggigit tangan kanannya yang dikepal. Orgasme yang tinggal selangkah lagi dicapainya hilang karena rasa sakit itu.
Muka sedikit kecewa nampak diraut wajah Riyani , namun Kisno tidak mempedulikannya. Kisno kembali pada kegiatannya merangsang vagina Riyani kembali, dan bagi Riyani setelah beberapa menit rasa sakit itu hilang, Riyani pun kembali hanyut pada permainan Kisno di vaginanya. Beberapa kali kejadian seperti itu berulang, rupanya Kisno dengan sengaja membuat Riyani ke titik hampir klimaks namun kemudian menurunkannya kembali dengan cara menarik cincin emas yang berada di bibir atas vagina Riyani , sehingga Riyani hanya mengalami rangsangan yang sangat hebat namun tidak bisa orgasme. Diperlakukan seperti itu membuat Riyani penasaran, goyangan pinggulnya semakin hebat, sedangkan kedua tangannya berusaha melindungi cincin emas dan bel kecil yang berada di bibir atas vaginanya agar tidak bisa ditarik oleh mulut Kisno. Melihat itu Sanjaya  segera menyuruh Peter untuk memegang kedua tangan Riyani dan menariknya ke atas dan ke belakang kepala Riyani , sehingga dengan
kedua tangan yang dipegang Peter itu, Riyani tidak bisa mencegah perbuatan Kisno yang menghalanginya mencapai orgasme. Selama setengah jam Riyani diperlakukan demikian oleh Kisno. Riyani nampak sekali sudah tidak tahan untuk meraih orgasmenya yang tidak kunjung juga bisa dicapainya. Tatapan matanya sayu dan pasrah dan kadang-kadang dia memejamkan matanya.
“Tolong….bikin saya orgasme…jangan…ditarik lagi…” desah Riyani pelan kepada Kisno berulang-ulang.
Mendengar itu Sanjaya  kembali tertawa lebar dan berkata “Riyani , kamu itu budak seks, bukan kamu yang harus dilayani, tapi kamu harus melayani tahu!”
“Kamu kalau mau orgasme harus mohon ijin, apabila diijinkan baru boleh kamu orgasme, mengerti!” lanjut Sanjaya  kepada Riyani .
Riyani yang sudah tidak tahan untuk mencapai orgasme langsung menjawab “Pak Sanjaya , bolehkah saya orgasme?”
Permohonan itu diulangnya berkali-kali sampai tiba-tiba Sudin dan Amir secara hampir bersamaan berkata “Pak Sanjaya , biarkan saya yang membuatnya orgasme”.
Mendengar itu Sanjaya  tertawa kecil “Tidak usah rebutan, Riyani bisa melayani kalian berdua sekaligus”
“Riyani , kamu beruntung, ada 2 pejantan ini yang mau memuaskanmu, kamu tahu apa yang harus dilakukan” kata Sanjaya  setengah memerintah kepada Riyani .
Mendengar itu, Riyani dengan dibantu oleh Kisno bangkit dari sofa, lalu kemudian langsung merebahkan diri telentang di karpet di tengah ruang TV dengan kaki mengangkang lebar-lebar di hadapan Sudin dan Amir. Sudin dan Amir dengan penis-penisnya yang sudah kembali mengencang malah dengan bodohnya termangu melihat posisi siap disetubuhi yang dipertontonkan Riyani kepada mereka. Kelihatannya mereka tidak percaya apa yang ada di hadapan mereka dan mereka bingung siapa yang akan memulai duluan.
“Pak Amir…sini..” desah Riyani setengah memerintah kepada Amir dan dengan muka yang nampak sudah tidak sabar karena baik Amir maupun Sudin hanya termangu berdiri di hadapannya.
Amir yang mendengar namanya dipanggil dengan setengah cengengesan meledek kearah Sudin langsung memposisikan dirinya di atas tubuh Riyani . Amir segera mengarahkan penisnya yang besar dan hitam kearah vagina Riyani yang mungil dan mulus itu.
“Maaf ya bu….hehehehe…” terdengar bisikan Amir sambil terkekeh kecil kepada Riyani ketika Amir mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Riyani .
Terdengar erangan dan rintihan kecil dari mulut Riyani ketika penis Amir mulai memasuki vaginanya. Riyani berusaha memposisikan dirinya agar penis Amir dapat masuk dengan lancar ke dalam vaginanya. Meskipun vaginanya sudah sangat basah akibat permainan Kisno, namun terlihat Riyani sedikit kesusahan menerima penis Amir yang besar di vaginanya. Setelah beberapa puluh detik, barulah seluruh penis Amir amblas ke dalam vagina Riyani . Mata Riyani memancarkan kebahagiaan dan ketakjuban karena ternyata vaginanya dapat menampung seluruh penis Amir yang sangat besar dan panjang itu. Beberapa menit Amir mendiamkan penisnya dalam vagina Riyani untuk memberikan kesempatan pada Riyani membiasakan diri dengan penisnya yang besar itu. Kemudian tanpa basa-basi lagi Amir langsung menggenjot penisnya pada vagina Riyani dengan keras, cepat dan kasar. Riyani yang sudah terangsang berat karena permainan Kisno sebelumnya, langsung melayani permainan kasar Amir, dilayaninya
genjotan-genjotan Amir dengan goyangan-goyangan pinggulnya dengan tak kalah hebat. Terlihat pemandangan yang sangat hebat. Dua manusia berbeda jenis kelamin, yang satu muda dan cantik sedangkan yang satu lagi tua dan jelek bersetubuh hanya untuk mencari kepuasan nafsu hewani masing-masing, tanpa cinta dan tanpa kemesraan tapi hanya berlomba-lomba mencari kepuasan seksnya masing-masing. Riyani dan Amir bersetubuh dengan kasar dan ganas, mereka berdua sudah tidak mempedulikan sekelilingnya. Mereka seakan-akan berlomba untuk lebih dahulu mencapai orgasmenya sebelum pasangan persetubuhannya mencapai orgasme. Hanya perlu sekitar 15 menit ketika Riyani yang memang telah terangsang hebat dengan permainan Kisno mencapai orgasmenya yang hebat dan panjang. Lenguhan keras terdengar keluar dari mulutnya, badannya menegang keras, tanggannya merangkul erat punggung Amir dan kedua kakinya dikaitkan rapat-rapat pada pinggul Amir. Setelah beberapa menit di puncak
orgasme, badan Riyani melemas, kedua tangannya melepas pelukannya pada punggung Amir, kedua kakinya tergolek lemas di atas karpet.
Tidak seperti Riyani , Amir yang sebelumnya sudah mencapai orgasme ketika dioral service oleh Riyani , masih membutuhkan waktu lama untuk mencapai orgasme. Genjotan-genjotannya pada vagina Riyani malah semakin kencang, cepat dan kasar. Muka Amir tersenyum lebar karena mengetahui majikan perempuannya sudah mencapai orgasme, seakan-akan menunjukkan bahwa dia adalah pemenang dari pertarungan seks itu. Riyani yang sudah lemas, karena selain sudah orgasme juga karena sedari siang sudah melayani Sanjaya  dan anaknya hanya bisa tergoncang-goncang hebat dengan permainan kasar Amir. Kedua tangan Riyani hanya tergolek lemah di atas karpet, kedua kakinya tidak dapat diangkatnya lagi. Riyani hanya bisa tergeletak lemas dengan posisi kaki terbuka lebar di atas karpet. Ketika Amir meraih kedua pergelangan kaki Riyani dengan kedua tangannya dan mengangkatnya ke atas serta membuka kedua kakinya lebar-lebar, Riyani hanya bisa pasrah. Erangan-erangan terdengar setiap kali
penis Amir yang besar membobol vaginanya berulang kali dengan kasar. Mata Riyani hanya bisa menatap kosong ke wajah Amir dan sesekali kearah vaginanya seakan-akan menunggu kapan penis Amir yang besar akan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam vaginanya. Setelah belasan menit, Amir belum juga tampak akan orgasme. Amir merapatkan kedua kaki Riyani dan menyandarkannya pada salah satu bahunya dan semakin cepat menggenjot vagina Riyani . Riyani secara reflek merapatkan kedua tangannya sejajar di kiri dan kanan tubuhnya. Riyani hanya bisa mengerang-erang dan merintih-rintih ketika penis Amir masuk seluruhnya ke dalam vaginanya. Dengan kaki yang dirapatkan oleh Amir, vagina Riyani makin menyempit karena selangkangannya tertutup rapat. Badan Riyani hanya tergoncang-goncang mengikuti permainan Amir. Riyani sudah tidak sanggup lagi menggoyangkan pinggulnya, dia hanya bisa pasrah sambil merintih-rintih.

MURTI 1

Gosip tentang Gatot semakin tersebar luas. Dari mulut ke mulut, gosip itu hinggap ke gang demi gang, lalu mampir ke desa-desa sampai akhirnya seisi komplek tahu kalau Gatot dijemput polisi pas tengah malam tadi. Orang-orangpun berkata, Gatot, seorang pemuda pengangguran telah mengangkat kembali pamor komplek sebagai tempat judi nomor wahid di kota.

Dulu komplek ini memang dikenal sebagai tempat lahirnya para penjudi kelas kakap. Tapi sejak beberapa tahun belakangan cerita itu tak pernah terdengar lagi. Entah karena tobat atau karena takut, orang-orang seakan sepakat untuk menghapus cerita itu. Dan di depan komplek kini sudah di bangun polsek. Beberapa polisi juga tinggal di sini. Tiap malam ada ronda bergilir dari warga komplek. Pak Camat juga punya rumah disini, tepat di belakang rumah Gatot.

Anak anak komplek hampir semuanya sekolah di madrasah yang berdampingan dengan polsek. Setiap ada kesempatan entah itu pengajian ataupun arisan, pak Camat selalu berceramah yang intinya meminta warga agar terus menjaga ketertiban dan keamanan komplek serta menjaga nama baik komplek. Tapi tetap saja Gatot dan judi merajalela. Tiap malam, Gatot berangkat ke pasar lama yang sudah jadi arena perjudian. Dan dia pulang ketika orang sibuk berangkat kerja. Dia selalu naik motor yang entah darimana dia dapatkan.

Sebenarnya sudah beberapa kali Gatot didatangi polisi. Dia pernah di datangi ketua RT dan memberinya nasihat. Konon setiap ada yang datang ke rumahnya dan memberinya nasehat agar sadar dan tobat, Gatot selalu mengangguk sopan kemudian masuk ke dalam. Pas keluar di pinggangnya sudah terselip golok. Konon juga pak RT langsung diam dan pergi begitu diberi hidangan golok. Maka tidak ada lagi yang berani datang ke rumahnya, takut kalau golok itu melayang sesuka hati. Semakin menjadi-jadilah Gatot sang penjudi. Tidak ada lagi yang berniat menghentikannya.

Satu-satunya orang yang merasa sangat sedih adalah Murti, yang kini sudah jadi istri pak Camat. Gatot dan Murti sudah berkawan akrab sejak kecil. Bahkan sampai sekarang mereka tinggal berdekatan, hanya dibatasi tembok setinggi setengah meter yang memisahkan dapur rumah Gatot dengan dapur rumah pak Camat. Selain menjadi istri pak Camat, Murti juga menjadi guru agama di Madrasah. Tentu gosip tentang Gatot membuat Murti serasa ditohok dari belakang. Sama seperti yang lainnya, Murti juga tak kuasa menghentikan Gatot.

Karena tak kuat membayar listrik, pak Camat memberi sambungan dari rumahnya ke rumah Gatot dan itu gratis. Pun demikian dengan air, Gatot setiap sore selalu mengambil bertimba-timba air dari mesin pompa milik pak Camat. Bahkan Gatot juga menumpang jemuran disamping rumah pak Camat. Murti sering dengan terpaksanya mendatangi rumah Gatot untuk mencari pakaian suaminya yang terbawa bersama pakaian Gatot. Entah Gatot tidak sengaja atau memang sengaja mengambil pakaian suaminya, Murti tidak berani berprasangka. Dia takut menuduh Gatot sebagai pencuri.

Gatot memang nakal, itu yang diingat Murti. Seketika Murti teringat pada masa masa kecilnya bersama Gatot. Ketika masih ingusan, Gatot hanyalah bocah kurus kerempeng tapi punya wajah ganteng. Dia sering mendorong- dorong Gatot sampai terjatuh, membuat bocah itu menangis. Dulu Gatot sangat cengeng, lebih suka bermain sama anak perempuan karena takut pada sesama bocah lelaki. Semasa kecil, Gatot dapat julukan bencong. Murti juga sering merasa malu kalau mengingat betapa ia dulu setiap hari mandi bersama Gatot, ia sering menarik-narik ’ulat’ milik Gatot. Dan Gatot selalu membalas dengan memukuli ’bukit kecilnya’. Sampai kelas empat sekolah dasar, ia masih sering mandi bareng Gatot. Gatot juga sering belajar dan nonton TV di rumah Murti sambil menunggu ayah Murti pulang. Keluarga Murti sudah menganggap Gatot sebagai anak sendiri. Jadi setiap pulang kerja, ayah Murti selalu membawakan Gatot cemilan. Dulu Gatot adalah anak yang baik dan penurut. Banyak sekali kenangan bersama Gatot yang tak mudah dilupakan oleh Murti.

Tapi Gatot dulu lain dengan Gatot sekarang. Ada yang bilang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Gatot yang cuma sempat sekolah sampai kelas dua SMP seakan mewarisi perilaku ayahnya. Siapa di seantero komplek yang tidak kenal ayah Gatot. Para orang orang tua pasti tahu persis kelakuan cak Karso, ayahnya si Gatot. Kalau pagi, cak Karso memang bekerja normal sebagai sopir truk. Tapi begitu malam tiba, cak Karso beralih profesi, membuka warung kopi di pintu masuk komplek. Tentu bukan semata kopi yang dijual. Mulai dari air putih biasa sampai minuman anggur beralkohol luar biasa semuanya bisa didapat dan dinikmati dengan bebas, menemani permainan kartu dengan taruhan tak kalah luar biasa. Cak Karso adalah pelopor judi yang membuat komplek ini begitu tersohor hingga keluar kota.

Gatot kecil sering menemani ayahnya dan mengaku senang karena orang- orang sering memberinya uang jajan. Gatot juga mengaku suka kalau diajak minum-minuman yang katanya berasa nikmat. Sejak itulah Gatot kecil mulai menampakkan perubahan total. Dan semakin menjadi-jadi ketika ibunya meninggal dengan tragis, gara-gara dipertaruhkan judi oleh cak Karso.

Yu Darti, ibunya Gatot, meninggal tak lama setelah tiga hari tiga malam diperkosa secara bergiliran oleh para begundal. Cak Karso dengan kejamnya menjadikan istrinya sendiri sebagai tumbal permainan judi. Yu Darti yang merupakan bunga desa akhirnya lebih memilih mengakhiri hidup daripada menanggung aib dan malu. Sedangkan cak Karso tiba-tiba raib, menghilang entah kemana meninggalkan Gatot seorang diri.

Jadilah Gatot anak sebatang kara, putus sekolah, hidup dari belas kasihan orang. Salah satu alasan yang jadi penyebab kuat dia menjadi penjudi kawakan. Toh sampai sejauh itu Murti masih bisa menahan rasa sedihnya. Murti tetap memberikan listrik dan air gratis, juga masih membolehkan Gatot menumpang jemuran. Seburuk apapun kelakuan Gatot, dia adalah teman dekatnya. Gatot memang kurang ajar. Dia pernah mengintip Murti mandi, juga sering menggoda Murti kalau pulang dari mengajar. Puncaknya, Murti merinding bila mengingat kejadian itu, saat Gatot datang ke rumahnya, lalu masuk ke kamarnya dan menggerayanginya yang lagi tidur. Murti mengira itu adalah pak Camat, suaminya, maka iapun diam saja. Sudah kebiasaan suaminya, meminta ‘jatah’ di siang hari bolong seperti ini.

Meski merasa lain, karena terasa lebih kasar, Murti tidak pernah curiga saat Gatot mulai memeluk dan menciuminya. Ia juga tidak menolak begitu Gatot  mulai melepas daster putih yang ia kenakan. Setelah mencumbuinya sebentar, Gatot mulai membuka bra tipisnya dan melepaskan celana dalamnya. Setelah itu sedikit demi sedikit Gatot mulai menikmati jengkal demi jengkal seluruh bagian tubuh Murti, tidak ada yang terlewati. Dalam keremangan kamar, Murti bisa melihat penis Gatot yang disangka suaminya, benda itu tampak mulai menegang, tetapi belum keras sepenuhnya. Ukurannya yang agak lebih besar masih belum membuat Murti curiga.

Dengan penuh kasih sayang, Murti meraih batang kenikmatan Gatot dan memain-mainkannya sebentar dengan kedua belah tangannya, untuk kemudian mulai dikulumnya dengan lembut. Terasa di dalam mulutnya, batang penis Gatot mulai hangat dan mengeras. Murti terus menyedot batang panjang itu sambil sesekali matanya terpejam menahan nikmat akibat kocokan jari-jari Gatot di liang vaginanya. Ia masih belum menyadari siapa sebenarnya laki-laki di depannya ini.

Gatot kemudian membalas dengan meremas-remas kedua payudara Murti yang terlihat sangat menantang. Remasan Gatot membuat Murti mulai merasakan denyut-denyut kenikmatan yang bergerak dari puting payudaranya dan terus menjalar ke seluruh bagian tubuhnya yang lain, terutama lubang vaginanya, yang kini terasa semakin basah dan lengket akibat kocokan jari-jari Gatot. Murti melirik ke atas, ingin mencium sang suami, tapi Gatot dengan lihai menyembunyikan mukanya di punggung gadis itu hingga lagi-lagi Murti tidak mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Bahkan agar lebih mengelabui Murti, Gatot turun ke bawah dan mulai menjilati vagina sempit Murti. Ia menyembunyikan mukanya di celah selangkangan istri pak camat itu. Dengan liar lidahnya menyapu dan mengulum daging kecil klitoris milik Murti yang terlihat begitu mungil dan menggemaskan. Murti kaget sekaligus sangat kewalahan menerimanya, karena sebelumnya pak Camat tidak pernah melakukan hal yang seperti itu. Tubuh Murti langsung bergetar menahan nikmat, peluhnya mengucur begitu deras, dengan diiringi erangan-erangan kecil dan nafas tak tertahankan ketika ia merasakan rasa yang begitu nikmat ini.

Pelan tapi pasti, dengan posisi saling membelakangi, mulai dirasakannya penis Gatot, yang masih disangka suaminya, mulai terbenam sedikit demi sedikit ke liang vaginanya. Rasa gatal yang dirasakan Murti sejak tadi kini berubah menjadi rasa nikmat yang amat sangat saat penis Gatot yang telah ereksi sempurna mulai bergerak-gerak pelan maju mundur menggesek liang vaginanya.

Murti merasa suaminya lebih jago dalam permainan ini, beda dengan biasanya. Tapi sekali lagi, Murti tidak curiga. Ia menganggap, mungkin pak Camat telah banyak belajar hingga sekarang jadi sedikit lebih pintar. Akhirnya, dengan mata terpejam, dinikmatinya goyangan laki-laki itu. Murti begitu meresapinya hingga tak sampai lima menit kemudian, ia sudah berteriak kecil saat sudah tak mampu lagi menahan gejolak birahinya. Tubuhnya yang montok meregang sekian detik sebelum akhirnya rubuh di ranjang ketika puncak kenikmatan perlahan meninggalkan tubuhnya. Murti memejamkan matanya sambil menggigit kecil bibirnya saat merasakan sisa-sisa orgasme yang membuat vaginanya terus mengeluarkan denyut-denyut ringan penuh kenikmatan.

Gatot menyusul tak lama kemudian, laki-laki itu dengan cepat menarik penisnya dan beberapa detik kemudian, air maninya tumpah dan menyembur dengan derasnya ke tubuh dan wajah cantik Murti. Murti gelagapan, tapi dia berusaha membantu dengan mengocok penis ’suaminya’ sampai air mani Gatot habis, menetes seluruhnya. Murti sedang asyik menjilati penis itu, saat Gatot berbisik, ”Aku benar-benar puas, Mur, kamu memang hebat!” pujinya.

Seketika Murti berbalik, terkejutlah ia karena yang sedang ia ciumi penisnya adalah Gatot. Spontan ia mengusir laki-laki itu dan menangis sejadi-jadinya di kamar, sampai suaminya pulang. Pak Camat bingung melihat keadaan Murti, tapi ia tak pernah tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Sejak kejadian itu, Murti selalu mengunci semua pintu dan jendela bila sendirian di rumah. Dia takut Gatot akan masuk lagi sesuka hati.

Sampai tersiar berita yang masih dari bisik-bisik warga komplek. Gatot tidak hanya berjudi di pasar lama. Gatot diam-diam sering mengajak teman-temannya untuk berjudi dan minum sampai teler di rumahnya. Jelas itu adalah hal yang mencemaskan Murti. Bahkan sering juga ada perempuan yang menginap di rumah Gatot sampai berhari-hari. Yang jelas perempuan itu bukan istri Gatot karena sampai umur tigapuluhdua tahun ini, Gatot masih seorang duda. Bisik-bisik tetangga itulah yang membuat Murti perlu berdialog dengan pak Camat.

“Mas Joko, pepatah bilang nila setitik akan merusak susu sebelanga.”

“Artinya?” Joko sang pak Camat bertanya.

“Masa sih mas Joko nggak tahu. Artinya sebanyak apapun kebaikan yang kita lakukan akan rusak oleh keburukan.” Murti menjawab sambil memperbaiki posisi berbaringnya.

“Apa hubungannya dengan kita, Murti?”

“Bukan kita, mas. Tapi komplek kita ini,”

“Maksudmu tentang Gatot?”

Murti mengangguk. Pak Camat menarik napas panjang. Murti menunggu pak Camat bicara, tapi suaminya itu cuma tersenyum. Murti terpaksa ikut tersenyum. Senyum yang kecut dan kelu. Setelah itu mereka tak bicara lagi karena lebih memilih untuk meneruskan keintiman yang tertunda. Pak Camat dengan penuh nafsu melumat bibirnya, sementara Murti tersenyum manja saat memegang batang pak Camat yang memang sudah berdiri dari tadi. Laki-laki itu dengan sigap membuka kancing baju serta kait BH yang Murti pakai. Murti membalas dengan menarik kepala suaminya ke arah buah dadanya yang sudah terpampang bebas.

”Hisap, mas… hisap putingnya. Ughhhh!” pinta Murti tak tahan lagi.

Tapi belum puas pak Camat menghisapnya, Murti sudah dengan cepatnya menunduk dan mengulum batangnya yang sudah semakin mengeras dan menegang, “Ah… Mur, baru kali ini kamu menghisap penisku.” desahnya keenakan. Dia tidak pernah tahu, ada satu peristiwa yang membuat Murti jadi nakal seperti itu.

“Penis mas besar sekali, dan ah… berurat lagi, seperti kawat baja.” desah Murti tak mau kalah.

Pak Camat agak bingung mendengar perkataan istrinya, ”Besar? Berurat?” perasaan, penisnya tidak sampai seperti itu. Lalu, burung siapa yang dibicarakan oleh Murti? Pak Camat sudah ingin bertanya saat Murti mulai menghisap barangnya semakin cepat sambil kedua tangannya menggoyang-goyangkan bola kenikmatan yang ada di bawahnya, membuatnya jadi tak tahan dan akhirnya mengurungkan niat.

Malah yang ada, tanpa terasa pak Camat sudah mulai menunggangi tubuh bugil Murti. ”Kamu cantik banget, Mur.” seiring perkataan itu, melesaklah penis pak Camat menembus vagina sempit Murti.

”Oughh…” mereka menjerit bersamaan dan mulai menggoyangkan tubuh masing-masing.

Persetubuhan itu berlangsung singkat karena beberapa menit kemudian, pak Camat sudah melenguh penuh kepuasan. “Ahh… Mur, aku keluar! Ahh…” dia tekan pantatnya kuat-kuat dan menyemburkan spermanya di lorong sempit Murti.

Murti menerimanya dengan agak kecewa. Baru saja dia merasa nikmat, pak camat sudah keburu keluar. Tidak seperti… ah, dia tidak boleh mengatakannya. Murti sadar kalau apa yang ada dipikirannya bisa saja membuat pak Camat marah besar. Sambil membiarkan pak Camat merangkul tubuhnya, Murti juga membiarkan angannya terbang menjelajahi masa lalunya bersama Gatot kecil.

Bagi kebanyakan warga komplek, Gatot muda dan Murti muda bagaikan Rama dan Sinta. Gatot yang ketampanannya mewarisi kecantikan Yu Darti sangat cocok dan serasi bila sudah berjalan berdua dengan Murti yang memang sudah cantik sejak bayi. Setiap ada acara agustusan di komplek, Gatot dan Murti selalu berpasangan bila tampil di panggung. Gatot yang masih lugu dan pemalu sering membuat warga tertawa bila sudah dijahili Murti diatas panggung. Pokoknya dimana saja dan mau kemana saja, keduanya selalu bersama.

Murti ingat ketika baru masuk SMA, ayahnya sering meminta tolong pada Gatot agar mengantarnya ke sekolah. Gatot yang pengangguran senang saja mengantar Murti ke sekolah karena kalau sudah berdua dalam mobil, Murti sering lupa diri kalau sudah bukan anak kecil lagi. Tingkah Murti masih seperti bocah dan menganggap Gatot masih bocah juga. Gatot senang karena Murti cuma mengikik geli tiap kali dia meremas buah dada yang lagi ranum-ranumnya. Gatot senang karena Murti cuma merem-melek kalau dia mengelus dan menjilati paha yang sedang mulus-mulusnya. Itu setiap hari Gatot lakukan kalau mengantar Murti sekolah. Sampai akhirnya Murti sadar bahwa itu terlarang.

Sejak sadar itulah, Murti tidak mau lagi diantar Gatot. Terakhir Murti diantar Gatot dan dalam mobil Gatot berusaha memelorotkan celana dalamnya. Murti yang sudah sadar berusaha mempertahankan diri, namun karena kalah kuat, diapun cuma bisa menangis. Ajaib, tangisannya itulah yang membuat Gatot menghentikan niat busuknya. Padahal rok dan celana dalam Murti sudah teronggok di jok belakang. Tuhan memang maha besar hingga Murti masih tetap perawan. Sejak saat itu, Gatot tak pernah lagi mengantar Murti. Dan Murti kemudian mengganti seragam sekolah dengan seragam muslimah dan berkerudung. Sejak gagal memperkosanya, Murti tidak pernah lagi melihat Gatot berkeliaran di komplek.

Kemudian Murti tahu kalau ternyata Gatot menyewakan rumah peninggalan orang tuanya dan menggunakan uang hasil sewa rumah itu untuk pergi merantau ke luar pulau. Orang-orangpun senang dan berpikir kalau Gatot tidak seperti ayahnya yang pemabuk dan penjudi. Umur delapan belas tahun, Gatot sudah meninggalkan komplek. Enam tahun sejak meninggalkan komplek, terdengar kabar yang makin membuat warga memanjatkan puji syukur. Gatot telah menikah dengan gadis anak ulama terkenal di perantauannya. Mau tidak mau Gatot harus menyesuaikan dengan kehidupan istrinya. Setiap hari Gatot memakai baju gamis dan menjadi tukang azan di masjid. Ketika Gatot dipercaya oleh mertuanya untuk mengelola pondok pesantren, semakin besyukurlah warga komplek karena Gatot benar-benar berbeda dengan ayahnya.

Namun dua tahun kemudian Gatot berubah. Kabar yang berhembus mengatakan kalau Gatot mulai menyalahgunakan fungsi pondok. Dia mulai meniru perilaku ayahnya. Gatot mengganti musik qasidah dengan musik rock. Persatuan hadrah dia tambahi dengan konsep lagu mancanegara. Para santri tidak diwajibkan untuk sholat lima waktu. Santri pria tidak lagi dibatasi untuk bertemu santri wanita. Pengajian rutin berubah menjadi acara makan makan dan minum. Tentu saja mertuanya marah besar. Dan istrinya menanggung malu besar. Tidak sampai tiga tahun, perkawinan itu kandas tanpa dikaruniai seorang anak. Tuhan pasti tidak meridhoi Gatot menjadi seorang ayah karena takut akan menjadi seperti ayahnya. Gatot cerai dan mendapat harta bagi warisan dari istrinya berupa mobil dan uang tunai beberapa puluh juta.

Orang-orang mulai yakin kalau Gatot memang tak lebih baik dari ayahnya. Ketika Gatot kembali pulang ke komplek, maka ketika itulah perlahan tapi pasti dia merubah komplek menjadi seperti dulu. Harta yang didapat dari hasil perceraiannya ludes dalam sekejap, termasuk mobil. Awalnya Gatot berjudi kecil-kecilan bersama tukang tukang ojek, tapi kemudian beralih ke judi yang lebih besar di pusatnya judi, yakni pasar lama. Semakin hari, Gatot bukannya semakin kaya, tetapi justru semakin hidup susah dengan tumpukan hutang disana-sini. Sampai tersiar kabar kalau pas tengah malam tadi Gatot digelandang ke kantor polisi.

Murti menarik napas dan melemaskan urat-urat setelah beberapa lama berada dalam himpitan pak Camat. Tubuhnya yang masih terlihat segar dan montok telentang penuh keringat. Murti mendehem ketika pak Camat mau meminta lagi. Pak Camat paham artinya itu. Murti membiarkan pak Camat keluar kamar. Dia sendiri kemudian menyusul keluar untuk membersihkan diri dan sholat Ashar. Sehabis sholat, Murti berjalan menuju dapur. Namun belum sampai disana, dia mendengar bel rumah berbunyi diiringi ketukan pintu dan ucapan salam. Murti mengurungkan niat memasak dan berjalan menuju pintu. Begitu pintu terbuka, Murti kaget setengah mati. Di hadapannya telah berdiri Gatot dengan keadaan babak belur. Gatot berdiri menyandar pada kusen pintu seakan untuk menopang tubuhnya agar tak jatuh. Antara takut dan kasihan, Murti mempersilahkan masuk, namun Gatot menolak dan tetap berusaha untuk berdiri tegak.

“Mur, suamimu ada?” kata Gatot dengan suaranya yang parau. Dulu suara Gatot sangat bening dan jernih karena sering dipakai untuk mengaji dan qiro’ah.

“Ada. Untuk apa kamu cari suamiku?” Murti agak khawatir juga kalau-kalau Gatot nantinya akan menyakiti suaminya.

“Tak usah takut, Murti. Aku tidak akan menyakiti siapapun. Tolong panggilkan saja pak camat.”

Murti masuk ke dalam dan tak lama kemudian keluar menemui Gatot bersama suaminya. Melihat keadaan Gatot, pak Camat yang tadinya agak takut menjadi kasihan. “Ada apa, Gatot? Masuk saja ke dalam,” pak Camat menuntun Gatot dan mendudukkannya di kursi ruang tamu. Murti bergegas ke belakang untuk membuat minuman lalu muncul lagi dan duduk di samping suaminya.

“Saya sangat memohon bantuan, pak Camat.” kata Gatot tanpa berani menatap Murti, teringat apa yang telah ia lakukan pada teman mainnya itu. Gatot cuma berani mengangkat wajahnya sesekali untuk memandang pak Camat, lalu menunduk lagi.

“Kalau itu masih di dalam kemampuan saya, pasti kamu akan saya bantu, Gatot.”

“Saya ingin meminjam uang pada pak Camat.”

“Berapa?”

“Sepuluh juta, Pak. Untuk bayar hutang. Kalau sampai besok saya tidak bisa melunasi, polisi akan menahan saya.”

Murti dan pak Camat saling berpandangan dalam berjuta makna. Sepuluh juta adalah jumlah yang besar, apalagi yang meminjam adalah Gatot, seorang penjudi. Mereka bimbang. Sejujurnya mereka dan semua warga komplek senang kalau Gatot di penjara agar kehidupan warga tenang, tapi di sisi lain naluri kemanusiaan mereka bicara. Alangkah kasihan kalau Gatot harus mendekam di penjara cuma gara-gara hutang. Apalagi ketika kemudian Gatot menyodorkan sertifikat tanah dan BPKB motor diatas meja, semakin bimbanglah mereka.

“Untuk apa semua ini, Gatot?” tanya pak Camat.

“Itu adalah jaminan yang bisa bapak simpan. Saya sangat memohon, Pak.” pinta Gatot memelas.

Murti menangis dalam hati. Gatot yang kini di hadapannya tak ubahnya dengan Gatot semasa masih bocah yang menangis bila menginginkan sesuatu. Gatot kini memang tidak menangis, tetapi Murti tahu pria itu berjuang agar tidak menjatuhkan air mata. Pak Camat mengajak Murti ke dalam dan berbisik-bisik. Intinya mereka berdiskusi antara memberi atau tidak. Sejurus kemudian, mereka mengangguk-angguk dan keluar lagi menemui Gatot.

“Saya akan bantu kamu, Gatot. Untuk sementara biar semua ini kami simpan.” kata pak Camat.

“Silahkan, pak Camat. Saya sangat berterima kasih.”

“Ini juga sedikit buat pengobatanmu. Pergilah ke Puskesmas.”

“Sekali lagi terima kasih, pak Camat. Saya mohon diri.”

“Nanti malam saya antar uangnya ke rumahmu, Gatot.”

“Baik, pak Camat. Assalamualaikum,”

“Wa’alaikum salam,”

Pergilah Gatot. Tinggal Murti dan pak Camat yang memandang kepergiannya dengan nanar. Gatot, pria paling ditakuti di komplek, kini seperti kehilangan kegarangannya. Tubuhnya sempoyongan berjalan pulang. Pak camat dan Murti menghela napas lalu menutup pintu. Dalam lubuk hati terdalam, Murti berharap semoga doa yang selama ini dia panjatkan demi memohon kebaikan Gatot, terkabul. Dia dan semua warga komplek ingin menyaksikan Gatot bertobat yang sebenar-benarnya tobat. Murti bahkan ikhlas seandainya Gatot tidak mampu membayar hutang padanya asalkan pria itu menunjukkan perubahan yang nyata.

“Mas Joko ada ide?” tanya Murti pada suaminya saat mereka sedang makan malam.

“Ada. Aku akan mempekerjakan dia sebagai sopir kita.”

“Apa mas Joko tidak malu menanggung beban seorang penjudi dan pemabuk seperti Gatot? Ingat nama baik mas sebagai camat.”

“Setiap orang bisa bertobat, Murti. Semoga hari ini adalah hari pertobatan bagi Gatot.”

Murti mengangguk membenarkan perkataan pak Camat. Tuhan memberi kesempatan pada umatnya untuk bertobat. Semoga Gatot tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Murti ingin melihat Gatot sholat dan mengaji seperti dulu. Murti ingin mendengar suara Gatot mengumandangkan azan di musholla komplek seperti dulu. Yang terpenting lagi, Murti ingin Gatot berhenti judi dan mabuk.

Ini adalah awal kisah Murti dan Gatot, dua insan yang seperti ditakdirkan untuk saling bersama. Kini Gatot telah kembali dalam lingkaran kehidupan Murti. Gatot menjadi sopir pak Camat dan keluarganya. Gatot kembali mengantarkan Murti kemana saja meski tidak seperti dulu lagi. Murti tidak lagi mengumbar kemolekan tubuhnya. Dia selalu keluar berbusana muslimah untuk menjaga image sebagai istri seorang camat, juga sebagai guru madrasah yang digugu dan ditiru para muridnya.