ZURAIDA AND FRIENDS PART 11

Tanpa mereka sadari, didepan pintu, sesosok wanita berusaha menahan air mata. Bersandar didinding, kakinya yang gemetar berusaha tubuh yang terasa begitu lemah.

“Seharusnya kalian bisa bersatu,,,” bisik Aryanti, mulai terisak, “seandainya kalian memperjuangkan cinta kalian,,, hikss,,,,”

    yessi ecii jilbab hot (5)

Tangan Aryanti berusaha menahan tubuhnya yang limbung, berjalan dengan telapak tangan merayap pada dinding. Melangkah keluar cottage. Dengan tubuh terhuyung menuju gazebo.

Dako yang menyusul Aryanti kedalam cottage melalui pintu belakang beberapakali terjatuh saat mendaki tangga, lelaki itu tampak mabuk berat. Baru saja dirinya sampai diatas, dilorong yang temaram tanpa cahaya yang memadai, wanita yang dikejarnya sudah kembali berlari tertatih menuruni tangga depan.

“Yaaant,,, kamu mau kemana lagi sayaaaang,,,” panggil nya, namun suaranya tak mampu keluar. Berusaha mengejar. Tapi langkahnya terhenti didepan pintu kamar Arga. Berdiri mematung dengan tatapan kosong, dilorong yang suram.

Aryanti terus berjalan, meski kepalanya mulai terasa berat, kakinya dipaksa untuk terus melangkah, menembus pekat malam dalam rinai hujan yang tiba-tiba menghambur seolah dengan sengaja dijatuhkan oleh awan untuk melengkapi ujian wanita yang selalu terlihat ceria itu.

Setelah mendapati bangku yang agak panjang, wanita itu merebahkan tubuhnya, menahan tubuh yang sakit dengan air mata berlinang. Gemuruh ombak, deru angin, dan derasnya hujan seakan menyempurnakan derita.

Di gazebo, Aryanti menangis sendiri, entah berapa banyak air mata yang mengalir keluar. Berkali-kali tangannya mengusap wajah yang telah basah oleh air mata dan air hujan yang sempat menyapa kulit mulusnya. Zuraida dan Arga,,, dua sosok penting dalam hidupnya.

Terbayang senyum Arga yang lembut, saat melamarnya disebuah resto pinggir pantai. Sebuah pinangan yang dinobatkannya sebagai kado terindah dihari ulang tahunnya. Tubuhnya yang menggigil mencoba mengingat hangat pelukan sang suami.

Terbayang tatapan sepasang mata Zuraida yang meneduhkan, saat Dako mengenalkan sebagai tunangan.

Wanita yang begitu melindunginya ketika dirinya diteror oleh seorang lelaki sinting yang tergila-gila pada tubuhnya. Mengizinkannya menginap berhari-hari dirumah mereka tanpa mengeluh, meski Zuraida dan Dako saat itu baru saja menikah, hingga akhirnya Aryanti membeli rumah tepat disamping kediaman Zuraidan dan Dako.
Terbayang saat pertama kali dirinya menghianati Arga, hanya untuk sebuah promosi jabatan, gairah muda telah melacurkan kesetiaannya sebagai seorang Nyonya Arga, titel yang baru dua bulan disandangnya.

Terbayang ketika dirinya menggoda suami sahabatnya, Dako, dengan tubuhnya dalam permainan kartu yang panas. Mabuk tidak dapat dijadikan alasan untuk membela diri atas ulah nakalnya, memasukkan perkakas senggama Dako kedalam tubuhnya.

“Maasss,,, Mbaaa,,, maafin Yantii,,,” suaranya yang bergetar pelan, semakin hilang tergulung oleh deru ombak, angin, dan hujan.

“Buuu,,,, ibu baik-baik saja, Buu,,,”

Telinga Aryanti lamat mendengar sebuah suara, berusaha membuka matanya, berharap itu adalah suaminya, Arga. Tapi wanita sedikit kecewa, karena laki-laki berpayung potongan plastik yang menghampirinya bertubuh lebih besar dari suaminya.

“Ibu kenapa tiduran disini,,, Bu,, badan ibu panas, ibu sakit?,,,” tangan kekar yang besar memegang lengannya, memerika keningnya.

“Konteet?,,,” tanya wanita itu lemah.

“Iya bu,,, ini saya,, mari Bu,, biar saya gendong masuk ke cottage,,,”

Tapi wanita itu menggeleng, kembali meringkuk memeluk tubuhnya sendiri.

Kontet bingung, wanita yang tadi begitu liar bercinta didepan matanya kini didapatinya dalam keadaan begitu lemah, dengan suhu tubuh yang tinggi.

Naluri lelaki bertubuh besar itu mengintruksikan untuk memeluk melindungi tubuh mulus yang hanya dibalut mini dres yang basah. Membaringkan kepala Aryanti dipahanya.

Merasa ada kehangatn yang mencoba menyelimuti tubuhnya, Aryanti segera beringsut, semakin masuk dalam pelukan si lelaki. Menekuk tubuhnya dalam pangkuan tubuh besar dan kekar.

“Teeet,, dingiiiin,,, dingiiin bangeeeet,,,”

Kontet bingung apa yang harus dilakukannya, tangannya reflek mengusap-usap tubuh Aryanti, mencoba memberi hawa panas. Sementara derai hujan semakin deras, seakan ingin menghabiskan seluruh persediaan yang ada dilangit.

Usaha itu cukup berhasil, tubuh Aryanti yang gemetar menggigil mulai bisa tenang. Nafasnya mulai teratur, terlelap.

Tinggallah kontet sendiri yang panas dingin, dikegelapan malam berselimut awan hitam, mata kontet berusaha menjelajah selangkangan yang tak mampu ditutupi oleh mini dress yang begitu pendek.

Tangan kanan Kontet mengambil sesuatu dari kantong celananya, sebuah kain kecil warna merah muda, warna yang sama dengan dengan gaun yang dikenakan oleh Aryanti. Tangan yang kekar membawa kain itu kewajahnya, lalu menghirup aroma yang melekat.

Berkali-kali lelaki itu menghirup membaui kain yang tidak lain merupakan celana dalam Aryanti, yang tadi dilepas oleh Dako dan dilemparkan kearah Kontet yang duduk mengawasi persetubuhan wanita itu.

Ditengah nafsu yang memburu, Kontet mencoba bertahan, melampiaskan hasratnya pada celana dalam Aryanti, tak ingin mengganggu sicantik yang terlelap dipangkuannya.

Tapi itu justru membuat nafsunya semakin bertingkah, tak puas dengan kain ditangannya, Kontet dengan hati-hati melabuhkan tangannya pada payudara si teller bank yang cantik.

Payudara besar yang kencang, jauh berbeda dengan wanita-wanita diwarung remang-remang yang kerap dikunjunginya.

“Buuu,,,,” jantung lelaki itu bergemuruh saat mulai meremas, terus dan terus bermain-main pada bundaran daging yang ada didada siwanita.

Tiba-tiba kepala Aryanti bergerak, berusaha menatap pemilik dari tangan yang tengah bermain-main dengan tubuhnya. “Jangan kontet,,,” tangannya berusaha menepis, tapi tenaganya yang begitu lemah tak berarti apa-apa bagi tangan kekar itu.

“Tidurlah Bu,,, saya hanya ingin mengenali tubuh Ibu, seperti tadi sore,,”

Tadi sore,,, Yaaa,,, tadi sore,,,
Otak Kontet me-review semua kejadian didapur, saat tubuh besarnya berjongkok diselangkangan si teller bank cantik, menghisap setiap tetes cairan yang mengalir membasahi vagina.

Me-review saat batangnya yang begitu besar, berusaha untuk memasuki tubuh yang juga tengah dilanda birahi, tapi terhenti oleh kehadiran Dako dan Pak Prabu.

Dan kini, ditempat sepi ini,,, tak ada seorang pun yang dapat menghentikan bila dirinya ingin mengulang kembali kejadian didapur. Dengan cepat tangan Kontet terhulur menuju selangkangan yang terbuka, mengusap paha yang mulus.

“Ooowwhh,,, Buu,,,”
Pikiran Kontet kacau diaduk nafsu yang memburu, rasa kasihannya pada wanita yang tengah sakit mulai tergusur oleh birahi.

Jangankan memegang,, bermimpi pun Kontet tidak berani, bisa mendapatkan tubuh wanita secantik Aryanti, tapi kini wajah cantik dipadu dengan tubuh indah nan putih mulus itu terbaring dipangkuannya, tak berdaya.

yessi ecii jilbab hot (2)

Tiba-tiba kontet melepaskan pelukannya, membaringkan tubuh itu diatas bangku kayu yang panjang, merentang kedua tungkai kaki yang indah kelantai. Menyingkap minidress semakin keatas. Otak lelaki yang hanya lulus SD itu sepenuhnya dikuasai setan.

“Konteeet,,, jangaaaan,,,” suara Aryanti serak, tangannya tak memiliki tenaga untuk mendorong tubuh Kontet yang mulai menindih.

“Buuu,,, Maaf Bu,,, saya hanya mencoba menghangatkan tubuh ibu,,, maaf Bu,,,”
Suara Kontet menggeram, seiring pinggulnya yang berusaha menerobos vagina Aryanti dengan batang yang besar,,, sangat besar,,, lebih besar dari miliki Arga dan Pak Prabu.

Jika vagina Bu Sofie, yang sudah beberapakali melahirkan, kesulitan saat berusaha melumat batang Kontet, lalu bagaimana dengan Aryanti, yang baru saja menikah.

Wajah Aryanti meringis menahan perih, lelaki yang tadi dinobatkannya sebagai dewa penolong kini justru berusaha memperkosa tubuhnya yang tengah sakit. Air mata kembali menetes. Meratapi nasib dirinya.

“Apakah ini adalah karma yang harus ku terima, setelah berbuat nakal disepanjang masa liburan,” lirih hati Aryanti. Tubuhnya terasa ngilu dan perih akibat ulah Kontet yang terus memaksa menjejalkan batang kedalam kemaluannya.

Cairan milik Dako yang masih menggenang, tak mampu membantu banyak atas usaha batang Kontet untuk menorobos masuk.

“Maaf Buuu,,, Maaaaf,,, banget,,, cuma ini kesempatan saya bisa menikmati tubuh secantik ibu,,,” ucap Kontet, tangannya mengangkat kedua kaki Aryanti kepundaknya yang berotot.

“Sakiiiit,,, sakiiiiit,,, ngga kuaaaat,,, sakiiit,,,” wanita itu menjerit kuat, Kontet memaksa menekan batangnya dengan sangat kuat,,, terus dan teruuus menekan,,, hingga akhirnya setengah dari batang besar itu menghilang dilorong kemaluan.

Wanita itu mengigit bibirnya hingga berdarah, berusaha mengalihkan rasa sakit yang diterima oleh vaginanya, sedikitpun tak ada kenikmatan yang bisa dirasakannya dari gerakan batang yang mulai keluar masuk memperkosa liang kawin.

Tubuhnya yang tak berdaya, tergoncang akibat hentakan-hentakan yang mulai dilakukan dilakukan dengan kasar.

Begitu berbeda dengan Kontet yang terus menggeram menikmati sensasi dari vagina seorang teller bank swasta ternama. vagina Lik Marni yang tadi sore dicicipinya dan sering menjadi hayalan mesumnya seakan tak berarti apa-apa dibanding milik seorang Aryanti.

“Oooowwwhh,,, Bu,,, nikmaaat bangeeet,,, nikmaaat banget Buuu,,,”

“Memeeek cewek kotaaa ternyataaa memang nikmaaat bangeeeet,,, owwwh,,,”
Hentakan batang Kontet semakin cepat dan dalam, tak peduli dengan kondisi Aryanti yang mulai kehilangan kesadarannya.

“Buuu,,, sayaaa semprot dimemeek ibuu yaaa?,,, boleeh Buu?,,, sayaaa ngecrooot buuu,,, Aaaarggg,,, aaagghhh,,,”

Tubuh kontet mengejang, mengejat-ngejat mengeluarkan begitu banyak sperma yang tak mampu ditampung oleh vagina Aryanti. Lalu jatuh memeluk tubuh Aryanti.

Tapi sedikitpun tak ada respon dari tubuh yang berhasil memuaskan nafsunya, Aryanti pingsan.

“Buuu,,, banguuun Buuu,,, banguuun,,,”
Panggil Kontet dengan panik.

* * *
“Sayaaaang,,, peluklah aku,,, aku kedinginan,” pinta Zuraida manja, menarik tubuh Arga, tapi bukan untuk sekedar memeluknya, tangan wanita itu memaksa Arga menaiki tubuh telanjangnya.

“Zeee,,, tubuhmu itu kelelahan sayang,,, istirahat sajalah,,,”

“Kau menolak permintaan ku lagi?,, coba mengacuhkan ku lagi?,,,”

“Hadeeeeh,,, ya ngga laaah,,, aku tak mungkin mengacuhkan mu lagi, tapi cobalah untuk mengasihani tubuhmu,,,”

“Argaaa,, tapi aku saat ini benar-benar menginginkanmu, aku ingin,,, ” lagi-lagi bibir Zuraida terdiam, bingung dengan apa yang ingin diucapkannya. “Ayolaaah,,, plisss,,, setelah ini aku takkan memintanya lagi,,,” lanjutnya, tidak tau bagaimana cara meminta Arga bersedia menyetubuhinya.

Arga menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Siapa yang tidak berminat pada tubuh indah yang kini telanjang bulat disampingnya. “Tapi jangan lama-lama ya,,, langsung di crotin aja,,,”

Zuraida tertawa mendengar kata-kata Arga.

“Tuuu kaaaan,,, punya mu juga udah keras koq,,,” seru Zuraida, merasakan batang yang menempel dipahahnya saat lelaki itu mulai mendaki keatas tubuhnya. Menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka, dengan tangannya sendiri wanita itu berusaha melepas celana Arga. Sepertinya wanita itu ingin menebus kesalahannya kepada Arga.

“Argaaa,, lakukan sepenuh hatimu sayang,,, aku tidak tau apa yang akan terjadi setelah liburan ini, maka anggaplah ini yang terakhir,,,” ucap Zuraida dengan sedih, merentang lebar kedua kakinya. Jari yang lentik menggenggam batang, memastikan benda telah siap memasuki tubuhnya berada diposisi yang benar.

“Zeee,,,” Arga mencium bibir Zuraida, seiring gerakan tubuh menghantar batang kedalam lorong yang lembab.

“Jangan menangis sayang,, kamu adalah jagoanku,,, seandainya waktu kita masih banyak, niscaya aku akan selalu melayanimu sepenuh hati,,,” Zuraida berusaha menghibur Arga, meski air matanya ikut meleleh.

Dua tubuh itu bergerak pelan, setiap gerakan seakan ditasbihkan dalam kadar cinta yang terbuncah dalam nafsu yang berselimut syahdu. Tak ada hentakan-hentakan yang kasar, tak ada remasan-remasan yang nakal, hanya gerakan penuh cinta yang membara.

Arga membalik tubuh mereka, membuat tubuh Zuraida berada diatas, membiarkan wanita itu mengambil kendali. Duduk tegak diatas batang yang mengacung keras didalam tubuhnya, Bergerak maju mundur dengan pelan, meremas batang Arga dengan lembut.

“Sayaaang,,, kalo terus seperti ini mungkin besok lusa baru selesai,,,”

Zuraida tertawa. “Lhooo,,, memangnya kenapa sayang, biarkan mereka pulang duluan, kita lanjutkan liburan ini hanya berdua.”

“Hahahaa,,, memangnya kau sanggup terus melayani batangku,,,”

“Kalau batangmu dapat terus mengeras didalam tubuhku, kenapa tidak, aku cukup tidur telentang dan menonton aksimu menikmati tubuhku,,, hihihi,,,” Zuraida tertawa sambil terus menggerakkan pantatnya, duduk tegak memamerkan bongkahan payudara yang mancung didepan mata Arga.

“hahahaa,,, tapi tetap sajakan aku tidak bisa menyiram didalam vaginamu,,,”

Zuraida menjatuhkan tubuhnya kedada Arga. Menatap lekat mata si pejantan. “Kau ingin menyirami lorong vaginaku?,,, ingin memenuhi rahimku yang tengah subur dengan semburan bibitmu?,,,” tanya Zuraida, tersenyum menggoda.

“Seandainya boleh,,,” ucap Arga, meremas pantat Zuraida dan menekannya kebawah, membuat batangnya menyundul pintu rahim siwanita.

“Ooowwwhhsss,,, Gaaa,, Argaaa,, apa kau bisa merasakan mulut rahim yang tengah dihuni sel telurku,, sayaaang?,,,” Zuraida mengusap pipi Arga, sambil mengulek batang Arga yang berusaha menyelusup lebih dalam.

“Eeemmmhhh,,, aaahhsss,, Hanya kau yang mampu menyentuh sisi terdalam kemaluan ku Gaaa,,, benihmu pasti tidak akan kesulitan untuk membuahiku,,,”

Tiba-tiba Arga menggeleng, “Kau ingin membuatku merasa bersalah pada Dako?,,,”

Kata-kata itu membuat si wanita tertegun, gerakannya terhenti.

Sosok lelaki nestapa, yang terus mengamati pergumulan dan percakapan dua sejoli itu, melangkah pelan,,, mundur hingga menabrak dinding kamar, terhuyung membuka pintu kamarnya, tertawa sendiri dikegelapan, menenggak bir yang ada digenggaman. Terjatuh dilantai saat berusaha membuka laci meja, mengacak-acak isinya mencari sesuatu yang dapat menenangkan pikiran yang kacau.

“Sayaaang,,, tak perlu memikirkan itu,,, sekarang aku hanya ingin menikmati kebersamaan kita,,,” seru Arga, tangannya mendorong tubuh Zuraida untuk kembali menduduki penisnya. Lalu meremas payudara Zuraida. “Aku ingin melihatmu mengendarai batangku sayang,,,”

Wanita itu tertawa. “Hahaaha,, aku ngga bisa sayaaang,,, selama bersama Dako kami lebih sering melakukan gaya konvensional,,, Dako ngga pernah secerewet kamu tauu,,, jadi jangan meminta yang aneh-aneh yaaa,,, aku maluu,,,hahaha,,,”

yessi ecii jilbab hot (4)

Tiba-tiba Zuraida teringat saat tubuhnya bergerak liar meladeni keinginan Pak Prabu, kejadian yang akan membuatnya begitu malu setiap teringat kejadian itu.

“Yaa,, tapi sekarang kau akan melakukan itu untukku,,,” ucap Arga dengan gaya cool, melipat kedua tangannya kebawah kepala. “Ok,,, One Girl Shooow,,,” sambungnya, memandang Zuraida menunggu wanita itu beraksi.

“Hahahaaa,, kau paling pinter membuatku malu,,, tapi jangan diketawain ya,,,”
Zuraida menekuk kedua lututnya, berpegangan pada perut Arga, lalu perlahan mengangkat pinggul membuat batang Arga hampir terlepas, lalu dengan cepat kembali menghentak kebawah.

“Ooooowwwsshhh,,,,” wanita itu kaget, ternyata gerakan yang dilakukan dengan terpaksa itu membuat lorong vaginanya terasa begitu nikmat, semakin cepat tubuhnya bergerak semakin vaginanya ketagihan, semakin kuat pantatnya menghentak semakin besar nikmat yang dirasakan oleh vaginanya.

Kali ini Zuraida lebih bisa menikmati ulah nakalnya, sambil terengah-engah tersenyum puas melihat wajah Arga yang merem melek menikmati servis dari vaginanya. Tapi itu justru membuatnya semakin bersemangat mengejar kenikmatan puncak.

“Argaaa,,, ayo sayaaaang,,, aku ingin kau yang melakukannya untukku,,,” Zuraida menarik tubuh Arga untuk kembali menindih tubuhnya. Merentang lebar pahanya. Memeluk erat tubuh Arga, mendesah penuh birahi ditelinga si lelaki yang mulai memacu tubuhnya dengan kecepatan tinggi.

“Ooowwwssshh,,, Argaaaa,,, akuuuu hanyaaa ingiiin dirimmmuuu,,, Ssshhh,,,”

“Aku ingin bataaangmu yang selaaaluuu mengiissiii memekkuuu sayaaang,,,”
”Oooowwwhhh,,, Saaaaayaaang bawaaa akuuuuhh kepuncaaaak sayaaang,,,”

Menjambak rambut sipejantan, memberi perintah tepat didepan wajahnya dengan suara menggeram nikmat. Tubuhnya melengkung mengangkat pantatnya lebih tinggi, mengejar batang Arga yang begitu cepat menggasak diliang yang sempit.

“Tusssuuuuk yang kuaaaat,,, Aaarrggghhaaa,,,”

“lebiiihh dalaaaam,,, Arrggghhh,,, kaaauu bisaaa,,,”

“Kaau pastiii bisaaa membuahi kuu sayaaaang,,,”

Zuraida sadar apa yang diucapkannya, memohon pada lelaki yang bukan suaminya untuk menitipkan benih dirahimnya.

Mendengar permohonan Zuraida, Arga menghentak batangnya dengan kalap.

“Aaaagghh,,, Aku tidaaak bisa Zeee,,,”

Tiba-tiba Zuraida menatap Arga garang. “Ku mohooon sirami rahimkuuu,,, izinkaaan akhuu pergii membawa buaaah cintaaa kitaaa,,, Aaawwhhhh,,,”

Dua tubuh yang tengah berpacu dalam birahi tinggi itu berdebat diantara decakan alat kawin yang membanjir. Diantara batang yang menghujam dengan ganas. Diantara liang senggama yang terus menyambut hujaman dan melumatnya dengan jepitan yang kuat.

“Tidaaak Zeee,,, Arrgggghhhh,, aku maaau keluaaarr,,,”

“Oowwhh,, oowwhh,,,Aaaaku,,, owwhh,,,siaaap saayaaaang,,, hamilii akuuu,, sekaaaarang,,,”

“lepaaass sayaaaang,,, aku tidaaak bisaaa,,,”

“Ooowwwghhh,,, Gilaaa,,, gilaaa,,, aku saaampaii,,, aku keluaaarr,,,”

Zuraida meregang orgasme, suaranya terengah-engah,,, melonjak-lonjak dengan mulut terbuka,,, menatap Arga memproklamirkan kenikmatan yang didapat.

Tangannya meremas kuat pantat lelaki yang menindih tubuhnya. Dengan sepasang kaki yang menyilang mengunci paha Arga.

Lagi-lagi Arga menggelengkan kepala.
bisa saja dirinya dengan paksa melepaskan tubuh Zuraida. Tapi vagina Zuraida yang tengah orgasme mencengkram penisnya dengan sangat kuat, terasa begitu nikmat, seakan ingin memisahkan batang itu dari tubuhnya. Memaksa spermanya menghambur keluar.

“Aaarrgghhh Zeee,,,”
Arga meminta ketegasan dari apa yang akan dilakukan.

Zuraida yang masih dirudung orgasme panjang, hanya bisa mengangguk dengan nafas memburu, tatapan birahi nan syahdu yang mengemis sebuah siraman benih dirahimnya.

Setelah berusaha menjejalkan penisnya lebih dalam, Arga memeluk tubuh Zuraida yang membuka lebar pahanya, menapak dikasur membuat pantatnya melengkung keatas, membantu usaha Arga menjejali pintu rahimnya.

“Zeee,,, Owwwhhh,,, sayaaaang,,, aku keluaaaaar,,, aku keluar dimemekmu sayaaang,,, Ooowwhh,,,” pinggul lelaki itu mengejat, dengan kepala jamur besar yang menghambur cairan semen disertai ribuan benih kehidupan.

“Terimalaaah Zeee,,, biarkan semua memasuki tubuhmu, sayaaang,,,” Arga terus berusaha mendorong penisnya lebih dalam, dengan semprotan kuat menggelitik daging yang sensitif.

yessi ecii jilbab hot (3)

Aksi Arga membuat Zuraida kalang kabut, penis Arga serasa semakin membesar dalam jepitan kewanitaannya. “Oooowwwhhh,,, Argaaa,,, akhuuu,, akuuu keluar lagiii,,,” orgasme tiba-tiba kembali menyapa tubuhnya. Ikut mengejang dibawah tindihan tubuh Arga yang tengah mentransfer bermili-mili sperma kedalam tubuhnya.

Dua tubuh itu melonjak-lonjak, masing-masing sibuk menikmati aktifitas yang terjadi dialat kelamin mereka. Penis yang mengeras sempurna, menghambur beribu-ribu bibit cinta. Dan vagina yang mencengkram kuat batang sang kekasih, berkedut, memijat ritmis pusaka sang penjantan, seolah memaksa menguras habis persedian sperma dari kantungnya.

“Oooowwwgghhh,, gilaaa,,, nikmat banget sayaaang,, gilaaa,,,”

Zuraida terkapar, berusaha mengisi rongga paru dengan oksigen, menatap Arga yang masih mencari-cari kenikmatan tersisa yang didapat dari alat kelamin kekasihnya. Hingga akhirnya terdiam, tertelungkup menindih tubuh si wanita yang tersenyum puas.

“Zeee,,, apa kau sadar, dengan apa yang baru saja kita lakukan?,,,” tanya Arga, sambil menciumi wajah cantik Zuraida.
“Yaaa,,, aku sadar,,, terimakasih sayang,,, terimakasih untuk yang sudah kau berikan ini,,, semoga memang terjadi, dan biarkan aku membawa titipan mu ini pergi,,,”

Zuraida tersenyum, membiarkan bibir Arga bermain-main diwajahnya.

“Apa kau bisa menikmati, menuntaskan semua didalam tubuhku?,,,”

“Nikmat bangeeet,,, punyamu nikmat banget sayang,,, vaginamu seperti menghisap habis semua spermaku,,,”

Zuraida tertawa mendengar pengakuan Arga. “Masih pengen lagi?,,,”

Arga mengangguk dengan cepat.

“Ya udah,,, ayo entotin memek ku lagiii,,, lagian sepertinya punyamu masih keras nih,,” wanita itu memainkan otot vaginanya.

Giliran Arga yang tertawa. “Kalo aku tusuk-tusuk lagi, entar bibit ku malah keluar,,,” meski berkata seperti itu, batang Arga mulai bergerak pelan, membuat Zuraida merasa geli.

“Yaaa,,, sebagian mungkin keluar, tapi bukankah setelah itu kau bisa mengisi penuh lagi,,,lagipula sel telurku hanya perlu satu bibit yang beruntung dari ribuan yang hamburkan tadi,,,”

“Emang boleh semprot didalam lagi?,,,,”

“Iiiihh,,, ya bolehlah,,,, kan punyamu masih ada didalam, ngapain kalo setelah ini kamu nyemprot diatas perutku,,, ngga nikmat tau,,,” Zuraida ikut menggerakkan pinggulnya, berusaha mencari kembali kenikmatan yang membuat tubuhnya ketagihan.

“Ayooo Papaaah,,, ngecrot dimemek mamah lagi,,,, aku masih sanggup melayani batangmu beberapa ronde lagi,,, hihihi,,,”

“Koq Papah?,,,”

“Yaa,, Papah,,, mungkin 9 bulan setelah hari ini,,,”

Arga tertawa mendengar kelakar Zuraida, “Ya udah,,, kalo gitu kita bikin adeknya aja sekarang.

“Yeee,,, mana bisa gitu,,, ihhh,,, Hahahaa,,,”
Keduanya tertawa dengan tubuh kembali bergerak berirama. Bersiap memulai pertarungan yang berikutnya.

Braaakk…

Pintu kamar yang sedikit terbuka itu didorong dengan kuat.

“Argaaaa,,, Dako,,, Dako, Gaa,,,”

“Zuraidaaa,, Suamimuu,, tolongin suami muu,,”

yessi ecii jilbab hot (6)

Terdengar suara munaf yang panik didepan pintu. Menunjuk-nunjuk keseberang kamar.

Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Dengan cepat Arga melepaskan pagutannya, mengambil celana dan bergegas mengenakannya.

Begitupun dengan Zuraida yang masih bertelanjang bulat, mengambil handuk baju yang menggantung, lalu berlari menuju kamarnya.

“Siaaal,,,” umpat Munaf, yang tak sengaja menyaksikan pemandangan indah, terbayar sudah rasa penasarannya akan bayang tubuh seorang dokter cantik bernama Zuraida. Payudara yang membulat padat, dan selangkangan dengan gundukan tembem yang bersih dari rambut kemaluan.

“Maasss,,, Maasss,,,”
Zuraida panik,,, menggoyang-goyang tubuh Arga.

“Zee,,, kamu dokternya,,, ingat,,”

Tubuh suaminya yang terbaring dilantai tak sadarkan diri, dengan mulut mengeluarkan busa, membuat wanita itu panik, seolah lupa dengan titelnya, lupa dengan semua ilmu yang didapat.

Dengan cepat Zuraida memeriksa tubuh Dako, memeriksa pupil mata, dan setiap bagian yang dapat memberinya informasi tentang kondisi Dako.

Bu Sofie, Andini, Pak Prabu, yang masih dalam kondisi setengah mabuk ikut menghambur kedalam kamar.

“Bu Sofie, tolong ambilkan tas saya dilemari Bu,,,”

“Arga,, tolong aku mengangkat Mas Dako ke kasur,” perintah Zuraida yang mulai bisa mengendalikan suasana hatinya.

Semoga Mas Dako tidak apa-apa, ucapnya setelah menyuntikkan obat kedalam tubuh suaminya. Tapi wajahnya masih tampak cemas. Merapikan tubuhnya yang masih terbuka dengan mengikat tapi yang ada pada handuk. Lalu mengusapi rambut Dako yang lembab.

“Tolooong,,, Argaa,, istrimu Gaa,,”
“Tolooong,,,” kembali terdengar teriakan dari lantai bawah.

“Kenapa istriku?,,, ada apa?,,” dengan cepat wajah Arga memucat, meloncat keluar kamar, diiringi yang lain.

“Buu,,,, Pak Dako biar saya yang jaga,,,” seru Andini. Membaca sitausi dengan cepat.”Tolong ya Din,,, tolong jaga suamiku sebentar,,,”

Zuraida yang belum sempat mengenakan penutup kepala, hanya berbalut handuk baju, segera menyambar tas yang berisi peralatan kerjanya, lalu menghambur berlari keluar, tak peduli dengan bagian depan dadanya yang terbuka.

Diruang tengah, mereka mendapati Sintya yang memeluk Aryanti yang tak sadarkan diri. Wajahnya begitu pucat, demamnya semakin tinggi. Dengan Bibir yang tampak membiru kedinginan. Sementara cairan kental hampir menutupi seluruh kemaluannya yang terbuka.

“Yaaant,,, Yantiii,,, bangun sayang,,,”

“Zeee,,, tolong Yanti Zeee,, cepat Ze,,,”

“Tolong ambilin selimut tebal,,,” seru Zuraida cepat. Adit dan Sintya berlari bersamaan, masing masing mengambil selimut dikamarnya. Panik.

Setelah memeriksa dan memberikan pertolongan semampunya, Zuraida menangis sambil memeluk tubuh Aryanti yang berbalut selimut tebal. “Yaaant,,, kamu tidaak apa sayang,,, kamu akan sembuh,, cepatlah sadar sayang,,, hiks,,”

“Kenapa tubuh Aryanti basah begini?,,, kenapa dirinya sampai pingsan?,,” tanya Arga, menadang semua yang ada disitu, berharap ada seseorang yang tau.

“Tadii,,, tadiii,,, aku melihat Kontet yang menggendong mba Aryanti dari Gazebo depan,,,” jawab Sintya gemetar.

“Kontet? Terus sekarang tu orang kemana?,,,”

“Ngga tauu,, setelah membaringkan Mba Aryanti dia langsung lari keluar,,, wajahnya juga terlihat panik,,,”

“Bajingaaaan,,, Konteeet,,, mana Konteeet,,,” Arga berteriak nyaring, mencari Kontet.

Mendengar penuturan Sintya dan melihat selangkangan Aryanti yang penuh dengan sperma laki-laki, Siapapun akan berasumsi Kontet telah melakukan sesuatu pada wanita itu.

“Mang Oyik,,, Kontet manaaa?,, mana Kontet Maang?,,,” Arga memburu Mang Oyik yang terlihat datang tergopoh.

“Ngga tau Den,,, tadi saya liat dia pergi pake motor saya Den,,, ngga tau kemana,,,”

“Bajingan kalian,,, cepet seret temenmu itu kemari,,, cepaaaat,,,” Arga mencengkram kerah Kontet, hendak memberikan pukulan kewajah lelaki itu.

“Argaa,, sabar, Ga,,, lebih baik sekarang kita bawa Aryanti kekamar,,,” cegah Pak Prabu, menahan ayunan tangan Arga.

“Ingat!!!,,, Semua ini salah kita jugaaa,,,” bentak Pak Prabu.
Memiting tangan Arga, memaksa lelaki itu untuk berpikir jernih.

“Kontet ya?,,,”
Ucap Bu Sofie sambil bergidik, membisik pada Munaf yang membiarkan tangannya dipeluk, iba melihat kondisi Aryanti.

“Memang nya kenapa dengan Kontet, Bu,,,”

“Batang Kontet itu lho,,, ngeri banget,, pasti Aryanti kesakitan banget, aku yang sudah berkali-kali melahirkan aja sulit banget nelen tu batang,,,,,”

Munaf cuma bisa melongo mendengar apa yang dikatakan Bu Sofie sambil berbisik ditelinganya.

“Naaf,,, punyamu tak ada apa-apanya dibanding batang kontet,” Sambungnya, membuat Munaf bergidik ngeri.

* * *

Sinar hangat mentari pagi menerobos jendela yang terbuka lebar, menghangatkan suasana didalam kamar. Hujan deras pada dini hari tadi, menyisakan jejak pada rerumputan dan tanah yang basah.

Tubuh Aryanti dan Dako dibaringkan disatu kasur yang lebar, agar Zuraida dapat mengawasi keduanya bersamaan.

Wajah cantik yang masih terlihat pucat tampak berusaha tersenyum, menyampaikan binar pesan pada orang disekitar yang terlihat cemas, bahwa saat ini dirinya tak apa-apa.

“Yaaant,,, maafin mba mu ini sayaaang,,,” ucap Zuraida yang bersimpuh disamping kasur, menggenggam erat tangan Aryanti, sambil tersedu-sedu.

“Mbaa,,, bukan salah mba koq,,, tubuh Yanti aja yang letoy, cepet ngedrop kalo kecapean,” jawabnya dengan suara pelan.

Arga cuma bisa memandang wajah istrinya dengan penuh kasih, karena saat itu dirinya tengah membantu Dako untuk duduk pada sandaran kasur.

Lelaki itu berusaha menahan sedih, merasa dirinyalah suami yang paling tidak bertanggung jawab. Begitu terlena pada cinta masa lalu.

Suasana yang sebelumnya meriah berubah menjadi haru, Pak Prabu berdiri sambil memeluk kedua istrinya, begitupun dengan Adit dan Munaf yang juga memeluk istri masing-masing.

Semua, seolah sepakat untuk mengakhiri permainan yang berujung pada tragedi yang hampir merenggut nyawa Aryanti dan Dako.

“Maaah,, maafin papah ya mah,, selalu menuntut macam-macam padamu,,” bisik Munaf, memeluk tubuh istrinya dengan erat. Aida mengangguk, menyandarkan kepala dipundak sang suami.

* * *
“Cukup besar pelajaran yang harus kita terima untuk menyadarkan kita, Zee,,,” ucap Arga saat menuju bis, sambil membawa beberapa barang..

Zuraida mengangguk,,, wajahnya masih terlihat sendu, kelopak matanya bengkak akibat terlalu lama menangis. “Kasihan Aryanti, terpaksa kau acuhkan, gara-gara diriku yang selalu menagih perhatian darimu,”

“Istrimu memiliki kesabaran yang sempurna, dia lebih memilih untuk menanggung semua. Sudah cukup lama aku mengenalnya, dan sangat jarang aku melihatnya bersedih, wajahnya selalu ceria,”

Zuraida menghentikan langkah Arga, dengan berdiri didepan lelaki itu.

“Arga,,, mungkin ini permintaan ku yang terakhir padamu,,,”

“Yaa,,, katakanlah sayang,,, semoga aku bisa melakukan apa yang kau minta,,,”

“Aku mohon dengan sangat kepadamu,,, Tolong,,, jagalah Aryanti, jangan buat ia sakit dan menangis lagi,,,”

Lelaki itu mengangguk, “Pasti,,, aku akan menjaganya, mencintainya seperti hati ini mencintaimu,,, Dan kau,,, jagalah Arga, sampai kapanpun ia adalah sahabat terbaikku,,, berikan ia servis terbaikmu,,, seperti yang sudah aku ajarkan,,,”

“Iiihh,,, masih sempat-sempatnya mikir yang itu, jahat kamu Ga,,,” Zuraida tertawa sambil menangis, mencubit pinggang Arga.

“Akan sangat sulit untuk melupakan semua kenangan ini,,, jadi aku memilih untuk selalu menyimpan cintamu dihatiku bersama Aryanti. Percayalah aku tak akan menyia-nyiakan nya lagi,,,”

Zuraida tertawa, jari-jarinya berusaha membendung air mata yang terus keluar..

“Arga,,, aku masih boleh memelukmu?,,,”

Tertawa mendengar pertanyaan Zuraida, Arga merentang kedua tangannya, menyambut Zuraida yeng menghambur kepelukannya.

“Sayang,,, aku pun akan selalu mencintaimu, tapi aku juga tak akan mensia-siakan cinta Dako dan hidupnya,,, Terimakasih untuk benih yang kau titipikan,,, berdoalah, semoga Dako bisa menerima semua,” ucap Zuraida lirih

“Woooyyyy,,, pacaran mulu,,,” seru Bu Sofie, menepok pundak Arga. Mebuat keduanya kaget, lalu tersipu malu-malu. “Zuraida, dicari Aryanti tuh,,, katanya dia pengen duduk disamping kamu,,,” lanjut wanita dengan rambut disanggul ala Syarini, itu.

“Eeehh,,, iya Bu,,, saya naik ke bis duluan ya,,,” jawab Zuraida, ngacir, mencari aman.

“Arga,,, ingat, kamu masih punya hutang sama saya,” ujar wanita itu ketika Zuraida sudah masuk kedalam bis.

“Heehh? Hutang apa ya Bu?,,,” tanya Arga, bingung.

yessi ecii jilbab hot (1)

“Kamu lupa ya,,, kamu sudah nyicipin semua istrimu teman-temanmu,,, tapi kamu justru lupa dengan istri atasanmu ini,,,” ucap Bu Sofie, matanya melotot, tapi itu justru membuat wanita berumur terlihat semakin cantik.

Setelah mengerling genit, wanita itu berpaling menuju bis, sengaja melenggok memamerkan pantatnya super montok. “Ingat ya,,, sebelum kami berangkat ke Jakarta,, aku sudah mencicipi batang mu itu,,,:” ucapnya lagi, sambil memeletkan lidah. Meninggalkan Arga yang menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

Suasana dalam bus terasa lebih sepi dibanding saat mereka berangkat. Entah karena memang kecapean, atau memang mereka bersimpati pada kondisi Aryanti dan Arga, meski sudah semakin membaik, keduanya masih harus mendapatkan perawatan lanjutan dan banyak beristirahat.

Adit tampak begitu mesra mengobrol dengan istrinya, Andini. Merencanakan apa yang akan mereka lakukan setelah liburan ini.
Pak Prabu bersandar dipelukan Sintya, sambil merasakan pijatan mesra istri mudanya itu.Sementara Bu Sofie tampak asik dengan kamera LSR nya, mengambil gambar yang dianggapnya menarik, sepanjang perjalanan.

Arga sibuk mencatat semua pengeluaran selama liburan, tugas yang seharusnya dilakukan oleh Dako yang tengah tertidur sambil memeluk boneka beruang besar milik Aida.

Zuraida, wanita itu memangku kepala Aryanti yang berbaring, mengobrol sambil berbisik-bisik, seperti tengah membahas sesuatu yang sangat penting, sesekali wajah mereka tertawa kecil.

Sedangkan Munaf, lelaki itu tampak tertidur bersandar dijendela. Terjaga saat istrinya tak ada disisi. “Maaahh,,, Mamaaah kemana,,,” panggilnya keras, membuat semua menoleh kearahnya.

“Paaahh,,, aku disini Paaah,, dibelakaang,,, Ooowwhhsss,,”
“Aaaahhh,,, Papaaahh,,, enak banget paaah,,,”

“Lho Mamah lagi ngapain,,, emang masih kurang Mahh,,, ?” tanya Munaf, ketika mendapati istrinya tengah bergerak naik turun, seperti sedang mengendarai tubuh seseorang yang terhalang oleh seat bis.

Lelaki itu menatap bingung, karena Pak Prabu, Adit, Dako, dan Arga berada dibangkunya masing-masing.

“nyicipin punya siapa lagi sih,, sayaaang,,,”

Karena tragedi yang mereka alami, Munaf berusaha menjadi suami yang lebih toleran pada istrinya yang ternyata memiliki kebutuhan seksual yang tinggi.

“Punya Kontet Paah,,, Ooowwhh,,, kontolnya gede banget,, memek mamaaahh sampai ngilu,,, tapi nikmat bangeeet paaah,,,”

“Haaahh? KONTEEET???,,,” teriak Pak Prabu tan percaya, lalu jatuh pingsan diatas bangku Bus.
END…

ZURAIDA PART 5

yessi ecii - jilbab bahenol (5)
zuraida
“Mang,, tempat gamenya pindah ya?,, kemana?,,” tanya Aida, berjalan beriringan dengan Arga.
“Iya buu,, kita pindah ke sana, tempatnya lebih rindang, adem,,,” Mang oyik tampak kerepotan membawa beberapa balon yang tertiup angin, meski sudah diisi dengan air beberapa gelas air, balon itu tetap saja bergerak liar saat disapa angin yang lebih kencang.
Di depan Mang Oyik tampak rombongan Bu Sofie yang berjalan lebih dulu menuju tempat yang dimaksud. Wanita bertubuh super montok itu menggelendot manja di lengan Pak Prabu. Tertawa menanggapi banyolan yang dilontarkan oleh Dako dan yang lainnya.
“Buuu,,, tolong tangkepin tu balon Buu,,,” tiba-tiba Mang Oyik yang berusaha secepatnya tiba di tempat yang dituju, berseru pada Aida yang berjalan agak tertatih.
Aida berusaha menangkap, tapi langkahnya tertahan. Menjepit erat pahanya, seperti menahan sesuatu.
“Kenapa Bu,, koq jalannya gitu,,,hehehee,,” goda Arga.
“Ihhh,, kamu ini, udah nyemprotnya paling banyak, masih aja berlagak gak tau,,, banjir banget niiihhhh,,,”
“Hahahaaa,, masa tadi ga dikeluarin dulu sih,,”
“Mana sempat,,, Bu Sofie keburu teriak-teriak suruh kita ngumpul,, Duuuhhh,, gmana ni Gaa,,, banyak banget,,”
“Udah,, biarin aja Bu,, ntar juga kering dicelana, kalo ibu jalan kaya gitu malah ngundang perhatian suami ibu lhoo,,”
Apa yang diucapkan Arga ada benarnya, Aida berusaha berjalan senormal mungkin, tapi rembesan cairan yang mengalir membuat dinding vaginanya terasa geli.
“Iiihhh,,, sialaaaan,, kenapa tadi mesti buang didalam sih,,,” Aida mulai ngedumel, tangannya berpegangan dilengan Arga, berharap dapat membantu agar jalannya bisa sedikit lebih normal.
“Kenapa kita tidak pakai ATV aja sih,, kayanya jauh nih jalannya,,,”
Arga mengangkat kedua pundaknya, sebagai jawaban tidak tau. “Yang depan jalan kaki, ya kita jalan kaki juga,,,”
Tanpa disadari Arga, beberapa langkah di belakangnya, Zuraida menatap dirinya dengan pikiran yang kacau. Bukan lagi karena cemburu, tapi karena dihantui rasa bersalah yang tiba-tiba menyergap.
“All is well,,,” gumamnya pelan. Menguatkan hati yang masih terombang-ambing, layaknya gadis belia yang tengah mencari jati diri.
“Hai Bu Dokter,,, gimana istirahatnya, udah cukup?,,”
“Eeehh,,, Mas Adit, iya,, cukup,, cukup buat bikin hati plong,, hehehee,,” Zuraida kaget mendengar sapaan Adit.Arga yang mendengar suara Zuraida dan Adit menoleh ke belakang.
“Zee,,” sapa Arga ramah sembari menebar senyum. Matanya berusaha membaca raut wajah wanita yang penutup kepalanya mulai terlihat lusuh.
Zuraida membalas dengan senyum, Tak ada lagi luapan emosi diwajah cantiknya, dan itu lebih dari cukup untuk menenangkan hati Arga, lalu kembali menoleh kedepan, menanggapi kegelisahan Aida.
“Hati plong?,,,Maksud ibu?,,” Adit kembali melanjutkan obrolan mereka yang terpotong.
“yaaa plong aja,, hehehee,,,” Zuraida tersenyum, melangkahkan kaki dengan santai. Ternyata senyum Arga juga mampu memberikan ketenangan yang sama pada wanita itu, dan itu membuat hatinya sedikit lebih tenang, plong.
Diam-diam Adit yang berjalan di samping berdecak kagum memandangi kecantikan natural seorang Zuraida. Begitu sederhana tanpa polesan make up yang mencolok.  Mata pemuda itu turun kebongkahan payudara yang memamerkan bentuk puting yang samar terlihat.
“Ooowwwhhh,, Shiiit,,, mancung banget tu puting,,,”
Zuraida bukannya tidak tau apa yang tengah diperhatikan oleh mata Adit, tapi dirinya sudah sangat lelah untuk menghindar.  Di benak Zuraida, Adit, seperti hal nya Mang Oyik yang terkagum-kagum pada tubuh indahnya, tak ada yang dapat mereka lakukan selain memandangi dan berdecak kagum. Sementara Adit yang semakin penasaran dengan tubuh semampai Zuraida, yang selama ini sangat jarang memperhatikan sosok wanita cantik itu, berkali-kali menelan ludah. Sambil mengerem langkahnya, lagi-lagi Adit harus berdecak kagum dengan kemolekan pantat yang tidak terlalu besar, tapi bentuknya menungging seperti pantat bebek. Kencang dan padat.
“Hhhmmm,, pasti abis ngelepas beban itu yaa?,,,hehehe,,” tiba-tiba Adit nyeletuk.
“Maksudnya?,,,” kini giliran Zuraida yang balik bertanya.
“Hehehee,, tuh ngalir sampai ke paha ibu,,,” Adit tertawa, matanya tertuju pada tetesan sperma yang terlihat samar dicelana leggins putih.
DEGG!!!… Wajah Zuraida pucat seketika, jarinya segera mengelap cairan itu.
“Ini,, ini cuma susu bendera cair koq, buat tambahan es kelapa tadi,,,” Wanita itu mencari alasan sekenanya.
Tapi Adit memandang dengan tak percaya.
“Nihh,, manis koq,, ga percayaan banget sih jadi orang,,” dengan terpaksa Zuraida menjilat cairan itu dengan lidahnya, “Mauuu?,,”
“Gilaaa,, aku menjilat sperma Pak Prabu,,,” Wanita itu mengumpat dalam hati. Kesal kenapa dirinya menjilat sperma itu untuk meyakinkan Adit.
“Owwhh,, ngga,, terimakasih,,, tapi sepertinya dipantat ibu masih banyak susu yang nempel tuh,,” jawab Adit sambil menunjuk beberapa tetesan sperma yang mengahmbur di pantat hingga bawah selangkangannya.
Zuraida tak mampu lagi berkelit, merasa begitu malu, pasti pemuda di hadapannya berfikir bahwa dirinya baru saja melakukan perbuatan terlarang dengan seseorang, walau sebagian tuduhan itu ada benarnya.

“Uuuugghhhh,,, Pak Prabuuuu,,, kenapa tadi ga dibersihiiinn,,” ingin sekali wanita itu berteriak mengumpat ulah bos dari suaminya itu, tapi bukankah tadi justru dirinya sendiri yang memberikan tawaran. “Uuuhhhggg,,,” lagi-lagi bibirnya mengumpat kesal.
Sialnya, ketika tubuhnya membungkuk berusaha membersihkan, saat itulah Arga berbalik, melihat apa yang dilakukannya. Wajah cantik itu semakin pucat.
“Kamu baik-baik aja kan Zee,,,”
“Ehhh,, iya,, gapapa koq,,,” Zuraida tersenyum kecut menjawab pertanyaan Arga.
“Cepet dikit Ga,,, aku malu kalo sampai ada yang netes, terus kelihatan sama Zuraida,,” Pinta Aida lalu menggamit tangan Arga untuk melangkah lebih cepat.
“Sini mba,, biar aku bersihkan,” tawar Adit. Melepas bandana yang terikat di kepalanya.
“Eeehh,, ga usah Dit, aku bisa sendiri.”
“Ststsss,, udah tenang aja mba, ga bakal kelihatan koq, lagian kalo Mba Zuraida berisik, ntar Arga sama Bu Aida di depan kita malah tau lho,,,”
“Diiitt,,, ga usaaahh,,,”
“Ststssss,, tetap jalan dengan tenang seolah ga ada apa-apa,,”
Zuraida menutup mulutnya, apa yang dilakukan Adit sebenarnya sangat lancang. Mengusap-usap bongkahan pantat montoknya. Tak lebih dari alasan Adit untuk bisa merasakan kemolekan pantat seorang wanita yang wajahnya selalu tertutup kain. Tapi Arga yang berjalan beberapa langkah di depannya bisa saja menoleh kalo mendengar suara ributnya.
“Uuugghh,, Adiiit,, cepet, ntar ada yang liat Or,,, Diiit!!! jangan nakaaaal,,” Dengus Zuraida, berusaha menepis tangan Adit yang awalnya mengusap, tiba-tiba berubah menjadi remasan.
Tapi tangan itu terus saja membersihkan, sesekali meremas bergantian sepasang bongkahan pantat yang padat.
“Bener-bener pemuda yang nakal,,,” gumam Zuraida, yang menoleh memperhatikan wajah Adit yang tersenyum-senyum sendiri dengan ulahnya. Namun setiap tangan pemuda itu bergerak meremas, Zuraida dapat melihat gelora nafsu yang tertahan.
“Asseeem,,, cute juga ternyata keponakan Bu Sofie ini,,” Zuraida mulai mengaggumi wajah Adit yang cukup ganteng, seperti artis korea dengan rambut lurus yang sengaja dibikin acak-acakan.
“Sudah belum ngebershinnya, cepet entar kelihatan orang Dit,,,” mata Zuraida menoleh ke belakang, memastikan tak ada seorang pun di belakang mereka.
“Bentar mba,,, susunya lengket banget,,”
“Egghhh iyaa,, tapi cepet,,” langkah wanita itu sesekali berjinjit akibat ulah jari-jari Adit yang sengaja merangsek menyusuri belahan pantatnya. Matanya nanar mengawasi ke depan.

“Ooowwhh mbaa,, sekel banget mbaa,,, indaah bangeeet,, mba pinter banget ngerawat ni daging biar tetep kenceng,, Ooowwhhh,,,”
“Ststssss,,, jangan berisik Dit,,,” jemari lentiknya mencengkram pegelangan Adit, mengingatkan pemuda itu untuk tidak berisik.
“Mbaa,, yang dibawah sini dibersihin juga ngga?,, banyak banget nihh,,,” telapak tangan Adit mencaplok sepanjang garis selangkangannya.
Tatapan mereka bertemu, bila Zuraida menahan birahi yang tersulut dengan wajah yang memerah, wajah Adit justru menunjukkan hasrat yang begitu besar, berharap diberi sedikit kesempatan untuk mengenali selangkangan wanita cantik itu.
“Bersihinn ajaa,, ehh,,Terseraaah,, terseraaah kamuu,, tapi cepet,, Oooowwwggghhh,,, jangan diremeeees gituuu,,,”
Izin yang keluar dari bibir seorang wanita cantik berjilbab itu, mengomando tangan Adit dengan cepat.
“Maaf mbaaa,,, aku gemeees bangeeet,,,”
“Gemeeesss,,, kenapaa?,, punya istrimu bentuknya kan juga seperti ini,,,Aaasshhh,,,” Zuraida kadang heran, apa yang membuat para lelaki begitu bernafsu mengejar selangkangan para wanita, bukankah bentuknya sama, hanya sebuah liang senggama yang berbentuk vertikal.
“Ya samaaa,,, punya Andini dan Bu Sofie juga sama seperti ini,,, tapi karena ini milik mba Zuraida yang selalu mengenakan jilbab lah yang menjadikannya luar biasa,”
BUUGGG…kata-kata Adit menohok hatinya. Menyadarkan posisinya sebagai wanita yang selalu menutup rapat bagian tubuhnya. Menyadarkannya sebagai wanita yang selalu menjaga tingkah laku. Tapi justru karena itulah, semakin rapat seseorang menutup bagian tubuhnya, semakin besar pula rasa penasaran yang tercipta.
“Sudaaahh Diiit,,, cukup,,, Aaagghhh,,, kamu mau ngapaiiinn,,” tubuh Zuraida telonjak, kakinya menjingkit, saat dirinya asik bermain dengan fikiran, tangan Adit dengan cepat menyelusup di sela celana legginsnya.
“Mbaaa,, pliss jangan berisiiiik,, pliss,, Adit ngga mau mba malu diliat Arga sama Bu Sofie,”
“Uuugghh,,, pinter bener ni bocah manfaatin situasi,,” Hati Zuraida menggumam kesal, kondisi dan situasi memang sangat mendukung Adit untuk mengintimidasi Zuraida.
“Oooowwhhh,, Diiitt,, jangan Diiit,, pliss,,” wanita itu menatap Adit dengan wajah menghiba.
“Mbaaa,, maaf mba,, kalo saya meminta dengan sopan untuk melakukan ini, meski di tempat yang sepipun Mba pasti tidak akan mengizinkan,,,”
Adit memelas, berharap Zuraida mengendorkan cengkraman tangannya yang menahan laju tangan, “maaf banget mbaa,,, cuma saat-saat seperti ini saya bisa menyentuh bagian terindah milik Mba Zuraida,, pliss,,,”
“Diittt,, aku melarang karena ini salaaah,, kamu pasti mengerti itu,,, mengertilah,,,”

Tapi tangan Adit terus saja bergerilya, merasakan langsung bagaimana mulusnya kulit pantat Zuraida.
“Mbaaa,, mulus banget,, seperti pantat bayiii,, uuuggghh,, Adit rela koq kalo ni wajah dipantatin sama Mbaa,,,”
Zuraida membuang pandangannya kedepan, sekaligus mengawasi Arga yang dapat kapan saja menoleh ke belakang. Meski dirinya tau Adit tengah mengeluarkan jurus gombal para lelaki, tapi tetap saja pujian itu membuatnya tersipu.
“Diiit,, jangaaann,, kesituuu,,plisss,,,” wanita berjilbab itu menggelengkan kepala saat jarii-jari Adit berusaha menjangkau bibir kemaluannya, memandang pemuda yang memasang wajah memohon.
“Ugghhh,,,Kenapa ni bocah pasang wajah melas, ngarep banget ama selangkangan kuuu,,” pertahanan hati Zuraida mulai goyah, cengkramannya mengendur.
“Owwwhhh,, Diiit,,” Zuraida terus menggelengkan kepalanya. Namun tidak lagi untuk menunjukkan larangan, tapi sebuah pelampiasan dari geliat birahi saat jari-jari seorang lelaki yang perlahan tapi pasti menyeruak masuk membelah liang vaginanya.
Jantungnya berdebar kencang. Bagian paling sensitif nya itu dapat mengenali bagaimana jari-jari Adit berformasi. 1 jari Adit, jari telunjuk, menggesek bagian kacang kecil yang ada didepan gerbang. Disusul jari kedua, jari tengah yang menggeseki labia mayoranya, membuat kaki Zuraida gemetar menahan rangsangan.
“Oooowwwhh,, Argaaa,, Plisss,, jangan liat ke belakaaaang,,” Jantung Zuraida berdebar, seseorang yang sangat berarti baginya, berdiri hanya beberapa meter dari tempat dirinya dikerjai. Berharap lelaki bertubuh jangkung itu tidak menoleh ke belakang.
“Owwwgghhhh,,, Adiiittt,,, punya mba diapaaaiiinn,,,” tubuh wanita itu menggigil saat jari ketiga dari tangan Adit, jari manis yang berhiaskan cincin akiq perlahan menyelusup ke dalam vaginanya.
Kini lengkap sudah, setiap bagian dari kemaluan wanita cantik yang selalu mengenakan penutup kepala itu, menerima pesan-pesan birahi, yang bergerak liar. Tangan Zuraida tak lagi mencengkram lengan Adit, tapi justru berpegangan pada pundak pemuda itu, berusaha meredam tubuhnya yang gemetar menerima rangsangan di tengah umum. Disadarinya, cairan dari liang senggamanya mengalir deras. Membasahi jari-jari Adit. Matanya bergerak liar mengawasi sekitar, begitu takut tingkah gilanya ketahuan oleh yang lain.
“Oooowwwhhhsss,,, Aaahhhhsss,,,” pantat Zuraida bergerak maju mundur, kekiri dan kekanan, mengikuti gerak jari Adit.
“Seperti inikah rasanya kegilaan yang dialami oleh para istri saat melakoni game tadi, memacu birahi dalam kebisuan, pasrah mengikuti kehendak para pejantan.
Langkah kedua nya semakin pelan, semakin jauh dari rombongan. Dan gilanya Zuraida justru berharap tempat yang mereka tuju masih jauh.
“Diiitt,, jangan terlalu dalaaam,,, yaa disituuu,, Uuugghh,,,” Zuraida harus menghentikan langkahnya, menatap wajah Adit berharap untuk menyelesaikan kegilaan itu secepatnya. Menggeliat, gemetar, cemas, mengejar sesuatu yang sangat baru baginya.
“Oooowwwhhhsss,, Diiittt,,, tarriikkk tangaaaanmuuu,, aduuuuhh,,” paha Zuraida menjepit tangan Adit dengan kuat, seiring dengan desir cairan yang menghambur keluar.

“Suddaaaah,, Ditt,,, tarik tanganmu,, maaf, tangannmu jadi ikut basah,,,” wajah Zuraida memerah. Mengamati tangan Adit yang keluar dari legginsnya dalam kondisi basah oleh cairan.
“Gilaaa,, ini benar-benar gila,” tubuh Zuraida membungkuk, menopang tubuhnya dengan tangan yang bertengger di lutut, meredam kakinya yang gemetar oleh orgasme singkat.
Masih tidak percaya, Bagaimana bisa dirinya yang selalu menjaga prilaku bisa senekat ini, membiarkan tangan seorang lelaki mengaduk-aduk liang kemaluannya.
“Mbaaa,,, kita kesitu dulu yuuuukkk,,,” Adit menunjuk pepohonan rimbun, dengan wajah memelas, memohon dengan memasang wajah tanpa dosanya. Sementara tangan pemuda itu meremas-remas batang di balik celananya.
“Ngapaaainnn,,, entaaaar kitaaa malah dicarriin,,,” mata Zuraida tertuju pada batang Adit yang tegak mengacung ke depan, mengarah tepat ke wajahnya yang tengah membungkuk.
Berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Adit, sebuah penyelesaian dengan penetrasi di liang kemaluannya. Dibawah sadarnya, pikiran wanita itu tengah mengira-ngira seperti apakah bentuk dari batang Adit.
“Mbaaaa,, aku mauuu nyeluuup,, sebentaaaar ajaaa,, plisss,,”
“Tidaaak Ditt,, tidaaak boleeeh,, ini sajaa sudah terlalu gila buat mbaaa,,,”
“Plisss mbaaa,, udah ga taaahhaaan,, tolong bantuin Adit Mbaaa,,” Adit menarik karet celana pantainya, memamerkan batangnya yang bengkok kekiri.

Deeeg…
“Diiiit,,, kenapa punya mu bisa seperti ittuuuu,,”
Zuraida kaget plus bingung, seperti halnya Aryanti ketika pertama kali melihat batang Adit saat memberikan servis kilat bersama Sintya.
“Gaa taauu mbaa,, koq bisa bengkok banget seperti ini, tapi banyak koq yang suka, Mba Aryanti aja juga suka koq,”
“Aryanti??,,,” Zuraida melotot, sembari memapar wajah tak percaya. Tapi bila ingat kejadian di malam itu, apa yang dikatakan Adit bukanlah suatu hal yang mustahil. Tapi seingatnya, Aryanti dulu memang seorang gadis yang supel, tapi selalu menjaga sopan santun.
“Malah Mba Aryanti udah pernah nyobain. Tapi cuma sebentar sih,,, Mba juga mau nyobain?,,”
“Aryanti,, kamu,, vagina mu sudah pernah merasakan batang unik inii?,,,” jantung Zuraida kembali berdetak tak teratur.
Batinnya bertanya-tanya, haruskah kembali mengulangi kejadian beberapa menit yang lalu, membiarkan penis seorang lelaki menghambur sperma tepat di pintu gerbang kemaluannya. Bahkan mungkin ini akan menjadi lebih gila lagi. Memang tidak sulit, dirinya cukup menurunkan celananya dan membiarkan batang itu meyelusup masuk ke alat senggama miliknya yang sudah sangat basah. Sangat mudah, bahkan terlalu mudah.  Zuraida yang tengah mengenali dunia barunya, dunia ekhibis yang bebas, yang diselubungi oleh keluguan dan kealimannya, kini mulai tergoda. Kebimbangannya meraja, sangat ingin mencoba apa yang telah dilakukan Aryanti, memasukkan batang milik lelaki lain ke dalam tubuhnya. Jantung wanita itu berdetak kencang, menatap Arga dan Bu Sofie yang mulai jauh meninggalkannya, lalu beralih menatap pepohonan rimbun yang dimaksud oleh Adit.
“Ugghhh,,, haruskah aku mengangguk menerima tawaran Adit untuk disetubuhi, tapi bukankah tadi aku juga sudah menjanjikan tubuh ini untuk Pak Prabu, setelah Arga,, yaaa,, setelah Arga,,” batin Zuraida berkecamuk hebat.
Sesaat Zuraida menatap Adit, wajah putih dengan style remaja korea. “Diiitt,,, Engghhh,,,” kata-kata Zuraida terhenti, bingung, haruskan dirinya juga memberikan janji serupa pada pemuda itu.

“Zeee,,, kamu baik-baik ajakan?,,,” terdengar teriakan lantang dari Arga, yang bergegas menghampirinya.
“Kamu baik-baik ajakan?,,,” terlihat wajah cemas Arga yang tak dapat disembunyikan saat mendapati tubuh Zuraida membungkuk, tampak lemas dan gemetar.
“Dit,, kamu apain Zee ku?,,,” suara Arga pelan tapi menebar ancaman tersembunyi pada Adit. Membuat pemuda itu mulai ketakutan, tak pernah dirinya melihat Arga seemosi itu.
Apalagi saat Arga mendapati batang Adit yang menyembul dari balik celana, sangat sulit untuk disembunyikan oleh pemiliknya. Sementara Zuraida justru termenung,
“Zee ku,,,” bibir tipis wanita itu mengulang apa yang tadi dikatakan Arga, kata-kata yang mengungkapkan perasaan Arga yang masih menganggap dirinya sebagai milik lelaki itu.
Kata yang sangat singkat, tapi mampu membuat hatinya mabuk kepayang seketika, tersanjung, bahagia, sekaligus membuat rasa bersalahnya semakin besar.
“Argaa,, aku ngga apa-apa koq,,, Adit cuma mau nolong aku, ngga tau kenapa kakiku keram, mungkin terlalu capek,,” Zuraida berusaha menenangkan Arga.
“Ya udaahh,, kau jalan duluan sana,,” Arga menyuruh Adit dengan suara datar, berusaha menyembunyikan emosi, dari batang Adit yang mengeras, Arga mengambil asumsi bahwa pemuda itu baru saja atau hendak melecehkan Zuraida.
“Ok,, aku duluan, biar aku menemani Bu Sofie,,,” ucap Adit, lalu meninggalkan keduanya.
“Gaa,, ini tidak seperti yang kamu fikirkan koq,,,” Zuraida bisa membaca curiga dari wajah Arga. Dan tak ada yang bisa dilakukannya selain mengelak, tak mungkin untuk mengakui kegilaan yang baru saja terjadi.
“Iya aku percaya koq, kamu adalah Zuraida,,,karena itu aku selalu percaya, justru aku minta maaf karena tidak tau apa yang terjadi dengan mu saat berjalan di belakangku, bagaimana dengan kakimu?,,bisa berjalan? Sini biar aku gendong,,”
Meski hati Arga ketar-ketir tak berani untuk menduga-duga tentang apa yang terjadi pada diri wanita yang membuatnya terpesona itu, Lelaki itu tetap berusaha tersenyum, mencoba menenangkan hatinya.
“Ngga usah, aku masih bisa jalan sendiri koq,,” tapi Arga tak menggubris, tangannya segera membopong tubuh Zuraida.
“Aaakkhh,,,” Zuraida terpekik, tertawa, “Gaa jangan kaya gini,, kalo gini seperti pengantin turun di pelaminan,,, hihihii,,,”
Arga yang sudah hendak melangkah terhenti, “Yaa,, ini seperti orang yang menggelar pernikahan,,hehehee,,” lelaki itu tersenyum kecut. Entah kenapa hatinya terasa nyeri.
Sesaat keduanya saling menatap, ada penyesalan dihati Zuraida menyebut kata-kata pernikahan. Yaa,, pernikahan, sebuah sesi hidup yang menunjukkan kepemilikan sepenuhnya atas diri dan hati seseorang.

“Ayoo,, aku gendong dibelakang aja yuk,,,” Arga menebar senyum, mencairkan suasana. Membungkukkan tubuhnya agar Zuraida bisa naik ke atas punggungnya.
“Uuugghhh,,, berat juga ya ternyata tubuhmu,,,” Arga tertawa menggoda Zuraida.
“Iiihh,, langsing gini koq dibilang berat,,, apalagii,,”
“Apalagi apa?,,,”
“Eeengghh,,,Apalagi punyaku kan lebih kecil dari milik istrimu,,” Zuraida merasa malu, karena sepasang benda yang tengah diperbincangkan menempel erat di punggung Arga.
“Kata siapa kecil?,,, ini aja berasa banget gedenya, apalagi kemaren waktu aku emut-emut gede juga koq,, walo gelap, tanganku masih hapal bentuk dan ukuran punya mu ini,,hahahaha,,,”
“Iiiihh,, tu kan,, seneng banget ngeledekin,,” Zuraida mencubit lengan Arga. Teringat saat Arga mencumbu tubuhnya di kegelapan bibir pantai.
“Hahahahaa,, tapi emang bener koq,,, Eehhh,, tapi koq punggung ku kayanya basah ya,, kamu ga ngompolkan hahaha,,?,,”
“Nggaa,, nggaa koq,, tadi aku,, aku,, celanaku ketumpahan air kelapa tadi,,”
“Oowwhhh,,, ya gapapa sih, cuma khawatir aja ntar kamu malah masuk angin,,” Arga memiringkan kepalanya berusaha menoleh kewajah Zuraida sambil tersenyum. Dimata Zuraida senyum itu sangat manis.
“Gaa,, ni aku kasih mmuaahhhh,,, buat upah nggendong,,,hehehee,,” Zuraida tidak tahan untuk tidak mengecup pipi lelaki yang tengah menggendong tubuhnya. Sebuah kecupan singkat namun sarat dengan rasa kasih dan sayang.
“Waahhh,, lagi dong,, lagii,,”
“Hahahaha,,, udahh,, ngga boleh kemaruk,,hahaha,,,”
Entah kenapa hati Zuraida serasa lebih tenang, setelah cukup lama terombang-ambing, mulai dari tersingkapnya kembali memori mereka saat pertemuan beberapa tahun lalu, yang berbuah menjadi rasa cinta yang kembali menyapa, disusul dengan hadirnya cemburu, marah, kesal, dan petualangan gila sebagai pelarian hatinya. Dan kini,,, dirinya kembali memeluk lelaki yang beberapa tahun lalu bersimbah darah dipangkuannya. Dengan kedamaian hati yang tak pernah ditemukannya sebelumnya.
“Argaaa,,, maafin aku ya,,,” ucap Zuraida mempererat pelukannya, merebahkan kepalanya di pundak Arga. Hati kecilnya berharap, dapat terus memeluk Arga, bukan hanya saat ini, tapi selamanya.
“Maaf untuk apa?,,,”
“Untuk apapun yang kau anggap salah,,,dan tadiii aku,,” bibir tipis Zuraida terdiam.
“Kenapa tadi?,,,”
“Tadii,, aku udah nakal,, nakal banget,,,” Ada rasa sesal dihati Zuraida, telah mengucap kejujuran, yang bisa saja merusak kedamaian yang baru saja dirasakannya.

“Owwhhh,, sudah mulai nakal juga yaa,,, hehehee,, tapi jangan kelewatan ya sayang,,, agar aku bisa terus mengagumi mu,,”
“Gaaa,,,hikss,,” Zuraida tak mampu menahan air matanya, setulus itukah kasih sayang yang diberikan oleh Arga untuk dirinya. Wanita itu tau hati lelaki ini tengah menahan pedih, namun berusaha menyimpannya sendiri, dan berusaha tetap tersenyum untuk dirinya.
“Ehh,, jangan nangis,, malu keliatan yang lain, ntar dikira aku udah nakalin bini orang,,,”
“Uuugghhh,, sebeeel,, aku kaya gini masih aja diledekin,,,” Zuraida segera mengusap air matanya.
“Tapi tadi aku nakalnya ga sampe kelewatan juga koq,,, ntar aku kalo mo nakal izin sama kamu dulu deeehhh,,”
Zuraida bingung sendiri, melihat tingkahnya yang seperti anak kecil, anak kecil yang takut dimarahi karena berbuat nakal.
“Lhoo,, kenapa malah izin sama aku,,, kan ada suami mu Zee,,,”
“Nggaaa,, aku tegasin,, kalo aku ini juga milikmu,,setidaknya saat liburan ini,, titik!!!, ga usah dibahas lagii,,,”
Meski Arga tak dapat melihat wajah Zuraida yang tersipu malu setelah mengatakan itu, tapi Arga tau tidak mudah bagi Zuraida untuk mengungkapkan perasaan itu.
“Hahahaaa,,, koq bisa gituu,, beruntung banget aku,, tapi kalo emang punyaku, berarti boleh kunakalin kapan aku mau dong,,,”
Zuraida tidak menjawab langsung, namun dari punggungnya Arga tau wanita cantik itu mengangguk, lalu terdengar suara lirih dari bibirnya, “Kapanpun Arga mau,,”
Lalu lengannya memeluk pundak Arga semakin erat, merasakan bagaimana dirinya begitu dilindungi, berharap tubuhnya dapat melebur dengan tubuh lelaki itu.
“Gaaa,,, Zuraida kenapa?,,,” Aryanti menghampiri Arga dengan cemas.
Mengagetkan Zuraida yang tengah terbuai digendongan. “Koq Arga ga bilang sih kao udah nyampe,” hatinya kesal.
Wanita itu tersipu malu, karena memeluk suami dari sahabatnya itu begitu erat.
“Aku ngga apa-apa koq,,, cuma kaki kanan ku aja terasa keram,,,”
Arga menurunkan tubuh Zuraida diatas sebuah potongan batang pohon kelapa.
“Bener ngga apa-apa?,,,” tanya Aryanti, lalu memijat kaki Zuraida pelan.
“Iya ga apa-apa,,, sueerr,, aku juga masih bisa ikut lomba koq,,,” Aryanti tersenyum mendengar jawaban sahabatnya.
“Bagaimana, apa kau bisa menikmati liburan ini?,,,”

Mendengar pertanyaan Aryanti itu, Zuraida sedikit kaget, apakah wanita di depannya ini memang sudah mengetahui hubungan tersenyum antara dirinya dan Arga. Keduanya terdiam sesaat, tidak tau apa lagi yang ingin dibicarakan untuk sekedar berbasa-basi, entah kenapa kedua wanita yang sebelumnya sangat akrab ini menjadi kaku. Mata mereka tertuju pada sosok Arga yang berjalan menjauh, menuju kumpulan para lelaki yang terlihat sibuk meniup balon.
“aku minta maaf,, aku udah cemburu pada mu,,”
“Eeehh,, maksudmu?,,,” Zuraida mulai was-was, mungkinkah Aryanti akan menanyakan langsung tentang sejau mana hubungannya dengan Arga, dan membongkarnya dihadapan umum.
Tapi Aryanti justru tersenyum, “Jujur,, aku tau Arga suami yang nakal, tapi aku tidak pernah marah, karena aku tau dia tidak pernah membawa serta perasaannya, dan aku percaya pada hatinya,” Aryanti menghela nafas sesaat, tangannya terus bergerak memijat kaki Zuraida.
“Tapi entah kenapa, saat melihat kau dan Arga bercanda hatiku terasa sakit,,,” Aryanti tersenyum kecut, lalu beranjak,duduk disamping Zuraida, memeluk pundak sahabatnya. “Tapi kurasa itu tidak lebih dari pelarian rasa bersalahku, diliburan ini aku sudah terlalu nakal, dan lagi-lagi Arga bisa memaklumi itu,”
“Yan,,, aku minta maaf, aku memang punya masa lalu dengan Arga, dan aku,,,”
“Hahahaa,, udah jangan dipikirin,, suamimu Dako udah cerita koq,,, dan aku tidak keberatan di liburan ini untuk berbagi denganmu,,,”
DEGG,,, Zuraida keget dengan jawaban Aryanti.
“Yan,,, maksudku bukan begitu, lagipula aku tetap merasa ga enak dengan dirimu,, bukan bermaksud merebut koq,,” Zuraida merasa bersalah pada sahabatnya itu.
“Ststsss,, udah, udah santai aja ngapa, kalo enak dimasukin, kalo ga enak buang diluar,,, hahaaa,,,”
“Iiihh,,, koq kamu jadi genit gini sih Yan,,,”
“Hahahaa,, aku cuma ingin menikmati liburan ku, Say,,”
“Ayo semua berkumpul,,, kita lanjutin permainan kita,,,” Bu Sofie berteriak mengumpulkan pasukan.
“Permainan kali ini sangat mudah, tetap berpasang-pasangan, dan penentuan pasangan masih seperti tadi,,Well,,,untuk menghemat waktu, apa kalian setuju bila aku yang menentukan pasangan kalian dengan bola-bola ini?,”
Para lelaki mengangkat pundaknya, menyerahkan semua keputusan kepada Bu Sofie yang memang terlihat begitu berkuasa. Dako akhirnya senyum sumringah kembali menghias bibir para lelaki. Munaf yang kali ini mendapatkan Andini dengan cepat merasakan batangnya mengeras, meski tidak tau permainan seperti apa yang bakal digelar. Sementara Pak Prabu dengan tangan terbuka menyambut Aida yang berjalan mendekat dengan malu-malu, lalu menyampirkan tangannya di pinggul wanita itu. Adit tersenyum puas saat mendengar Bu Sofie menarik bola dengan warna senada dengan pita milik Sintya. Memorynya dengan cepat mengingatkan lelaki itu pada permainan lidah sekretaris cantik itu saat memanjakan penisnya. Dako tertawa girang, mengusap-usap batang dibalik celana saat tau partnernya kali ini adalah Aryanti. Dan tingkah Dako itu membuat Aryanti tertawa tergelak.
“Emang kamu mau ngapain, ini kan cuma game,,,hahaaahaa,,,”
Tapi di antara mereka Zuraida dan Arga lah yang paling merasa senang, wanita itu tersenyum mengangkat gelang pitanya saat Bu Sofie mengeluarkan bola warna hijau.
“Okeeey,,, sekarang para wanita silahkan ikut saya,,, Mang Oyik,,, tolong bawain kain yang tadi ya,,,” Bu Sofie meminta penjaga cottage yang selalu setia mengiringi kemanapun wanita itu pergi, untuk membawa kain bali dengan corak dan warna yang meriah. Kain yang sering digunakan para SPG untuk menyembunyikan paha mulus mereka saat naik kendaraan roda dua.

“Kita mau ngapain Bu?,,,” tanya Aida yang bingung.
Tapi Bu Sofie hanya tersenyum penuh misteri. “Silahkan masuk bilik ini satu persatu,, ganti rok dan celana kalian dengan kain ini,,,”
“Ooowwhh,,, ok,, tidak terlalu buruk, kain ini bahkan lebih panjang dari rok ku,, heheheee,, tapi permainan apa lagi sih Bu?,,” tanya Andini ikut penasaran.
“Udah,, masuk dulu,,,jangan keluar sebelum aku menghampiri kalian satu persatu,,” teriak Bu Sofie saat para wanita satu persatu masuk kedalam bilik yang memang biasa digunakan untuk berganti pakaian.
Wanita yang mampu menjaga tubuhnya agar tetap terlihat ideal meski sudah dimakan usia itu, menyusul masuk kekamar yang dimasuki Zuraida. Di dalam, Zuraida yang tengah melepas celana legginsnya sempat terkaget saat Bu Sofie memasuki biliknya. “Zuraida, lepas celana dalam mu juga ya,,”
“Hehh,,, maksud ibu?,,,”
“Pokoknya lepas aja,,,” ucapnya lagi sambil tersenyum, tapi Zuraida masih tampak bingung, terlihat enggan melepas kain kecil yang telah melindungi liang kemaluannya dari batang ganas Pak Prabu.
“Ayolaaahh,, lepas aja,,, aku sudah berusaha menyediakan waktu untuk kalian, dan aku sudah berusaha memasangkan dirimu dengan Arga, meski suamiku sempat ngotot untuk dapat berpasangan dengan mu lagi,,,”
“Jadi undian bola tadi memang sudah ibu atur?,,,” Bu Sofie mengangguk pasti, menjawab pertanyaan Zuraida.
“Aku merasa kalian sangat serasi, jadi tolong jangan sia-siakan kesempatan ini,, ok?,,, aku harus ke bilik yang lain,,” Bu Sofie membuka pintu hendak melangkah keluar.
Tapi kepala wanita itu kembali menyembul dari balik pintu untuk sekedar menegaskan. “Inget ya,, kain kecil yang penuh dengan sperma suamiku itu lepas aja,,,punya mu emang lebih cocok buat Arga, tapi jangan dihabisin, soalnya aku juga pengen nyicipin,,,hihihi,,,”
“Ada apa ini sebenarnya,,,” Zuraida tersandar lemas didinding bilik.
Ternyata game ini memang sudah direncanakan oleh Bu Sofie, dan parahnya lagi, darimana wanita itu tau tentang cairan yang membasahi celana dalamnya adalah milik suaminya, Pak Prabu.
Di bilik sebelah, bu Sofie kembali memaparkan intruksi yang sama, entah apa yang tengah direncakan oleh wanita itu. Zuraida keluar dari bilik, disusul para istri lainnya. Mata mereka saling pandang, masing-masing tau dibalik kain yang mereka kenakan tak ada kain segitiga yang melindungi alat kelamin mereka. Semua membisu, cukup saling tau dengan kondisi masing-masing, dengan jantung berdegup kencang berjalan mengiringi Bu Sofie yang bersenandung riang menuju arena permainan.
“Oke guyss,,, permainnanya adalah, kalian harus menggendong pasangan kalian, sambil menggiring balon yang kalian miliki menuju garis finish,, mengerti?,,,”
“Maksud ibu gendong didepan?,,” tanya Aryanti ragu-ragu.
“Yaaa, gendong di depan, seperti monyet menggendong anaknya,,, bisa kan?,,”
Bu Sofie memperagakan sambil merentangkan kedua tangannya memeluk leher Mang Oyik, kemudian meloncat dengan kaki menjepit pinggul Mang Oyik dengan cueknya.
“Sudah paham?,,,”
Para suami mengangguk cepat sambil tertawa, sementara para istri menayangkan wajah pucat, memaksakan untuk menganggukkan kepala mereka.

“Bu Aidaa,, maaf yaa,,aku pinjam suami ibu dulu,,” ucap Andini, dirinya bisa merasakan permainan ini akan menjadi lebih gila dari sebelumnya.
“Eeehh,, iya gapapa,,, kamu yang hati-hati ya, jangan sampai jatuh,” jawab Aida ragu-ragu, berusaha mengajak bercanda.
“Ayolaaahh,,, nikmati permainan ini, aku sudah merelakan mobil kesayanganku bagi siapapun yang menang dari kalian,” Rupanya Bu Sofie gregetan dengan tingkah para istri yang malu-malu seperti kucing, yang berusaha menyembunyikan kebinalan mereka dari para suami.
“Oke bersiap,,, semua wanita silahkan naik ke kuda pacuannya,,,”
Bu Sofie memberi aba-aba, penggunaan istilah kuda pacuan membuat para lelaki tertawa.
Deegg,, jantung Zuraida tercekat saat membuka pahanya untuk menjepit pinggang Arga, kain yang mereka kenakan terlalu pendek, meski tubuh bagian bawah dan belakang mereka tetap terlindung, tapi dibagian depan selangkangan mereka yang telanjang bertemu langsung dengan tubuh pasangan mereka.  Dengan cepat Zuraida menoleh ke Aryanti, rupanya sahabatnya itu juga tengah kebingungan, berusaha menutupi selangkangan dengan kain, meski itu sia-sia.
“Zee,,, daleman kamu mana?,,” bisik Arga saat menyadari wanita yang tengah menjepit pinggulnya dengan erat itu tak mengenakan sehelain kain pun.
“Iyaaa,, tadi Bu Sofie yang suruh lepas,, dan aku ga tau kalo game nya bakal seperti ini,,,” Zuraida pucat, entah kenapa dirinya takut bila Arga marah. Pasti lelaki itu tidak tau jika itu memang skenario Bu Sofie.
Dan benar dugaan Zuraida, wajah Arga tampak sedikit emosi, “Gila,,, bagaimana seandainya jika kamu berpasangan dengan yang lain, dengan kemaluan terbuka seperti ini?,,,” suara Arga meninggi.
“Iyaaa,, aku minta maaf udah nurutin kemauan aneh Bu Sofie,, tapi bukankah sekarang aku denganmu,,”
“Tunggu,,tunggu,,,apa Aryanti dan wanita lainnya juga tidak mengenakan celana seperti ini?,,,”
Zuraida mengangguk pelan, tak berani menatap Arga. Keributan tidak hanya terjadi pada Arga dan Zuraida, tapi juga pasangan lainnya. Munaf yang merasa mendapat durian runtuh langsung merengek pada Andini untuk memasukkan batang penisnya ke vagina mungil Andini. Alasan Munaf, bukankah mereka sudah pernah melakukan, tapi dibawah tatapan cemburu Adit, gadis itu menggeleng tegas.
“Ayolah Din,,, apa kamu tidak kangen ama batangku,,, dijamin kali ini pasti lebih lama deh,,,”
“Jangaan,, ada mas Adit, ntar dia marah,,” Munaf tertawa mendengar jawaban Andini, sedikit lampu hijau, artinya saat lomba nanti dirinya dapat dengan bebas memasuki liang mungil itu tanpa sepengatahuan Adit.
Sementara di samping mereka Adit berusaha menyembunyikan hasratnya untuk menusuk vagina Sintya. Adit menahan bukan karena tak ingin, tapi karena memikirkan kondisi vagina Andini yang pastinya kini tengah mengangkangi batang Munaf. Rasa cemburunya semakain besar saat melihat gerakan tangan Munaf yang bergerak, menggeser celana agar batangnya dapat keluar.

Berbeda lagi dengan Bu Aida yang terlihat gemetar, Pak Prabu yang tidak pernah menunda setiap kesenangan yang dihidangkan dengan cepat menggoda vagina Aida dengan gesekan-gesekan lembut. Aida kini merasakan dirinya begitu binal, batang milik Pak Prabu adalah batang terakhir yang belum merasakan jepitan vaginanya.
“Koq sudah basah banget Bu?,,,” tanya Pak Prabu, kedua tangannya memeluk pantat Aida, selain untuk menahan tubuh wanita itu, tapi juga untuk memudahkan batangnya yang bergerak menggoda.
“Okey,,, sudah siap?,,, perhatikan balon di hadapan kalian, dan ingat kalian harus menggiring balon yang sudah diisi air itu ke garis finish,,, mengerti?,,,”
“Siaaap,,, tapi kalo seperti ini aku lebih memilih untuk kalah aja deh,, haahhhaha,,,” Munaf tertawa, sambil menepuk-nepuk pantat Andini, dan ulahnya itu membuat Adit meradang.
“Diiitt,,, jangan pikirkan istrimu,, di kantor kamu sering menggoda ingin kencan denganku, dan kurasa ini lebih dari itu,, apakah aku lebih jelek dari istrimu,,” ucap Sintya, membisiki telinga Adit dengan cara yang sangat menggoda.
Adit tertawa, matanya beralih ke payudara Sintya yang kini berada di depannya. “Ayolah buat game ini semakin panas,,,”
Kini giliran Sintya yang tertawa, tau apa yang dimaksud oleh Adit. “Liat saja nanti,,” bisik Sintya tak kalah panas, tak lagi peduli dengan Pak Prabu yang kini juga terlihat bahagia dengan Aida.
“1,,, 2,,, 3!!!,,, Goooo…” Bu Sofie berteriak memberi aba-aba penuh semangat.
Kaki para lelaki dengan cepat berusaha menendang balon yang bergerak liar tertiup angin, air yang ada di dalam balon tidak cukup berat untuk menahan hempasan angin. Bu Sofie tertawa, meski para lelaki terlihat serius melakoni lomba, wanita itu dapat melihat, bagaimana Adit menghentak batangnya ke liang kemaluan Sintya, tepat saat aba-aba Goo berkumandang. Begitupun dengan suaminya, Pak Prabu yang memaksa Aida untuk menurunkan tubuhnya, dan menerima batang besarnya di liang vaginanya yang sudah sangat basah.
“Ooowwgghhhh,, Paaakk,,,” Aida melenguh, akhirnya batang terakhir itu memasuki tubuhnya. Tangannya berpegangan erat berusaha agar tidak terjatuh saat pak Prabu setengah berlari mengejar balonnya yang tertiup angin cukup kencang.
“Ugghhh,, apa lagi sih yang kalian tunggu,,, tinggal masukin aja koq susah bener,,,” Bu Sofie menggerutu melihat pasangan Arga dan Zuraida yang berlari sangat pelan.
Tubuh Zuraida tampak sesekali menggeliat saat batang Arga yang masih tersimpan di balik celana menyentuh bibir vaginanya.
“Gaaa,,, aku ga kuaaat kalo seperti iniii,,” Zuraida merintih pilu di telinga Arga, berusaha bertahan, sudah berkali-kali tubuhnya menerima rangsangan hebat, dari pak Prabu dan Munaf.

Sementara Aryanti yang berada tidak jauh di depan mereka menatap wajah suaminya yang menahan birahi, tak berbeda dengan dirinya yang berusaha menahan laju batang Dako yang berusaha menyelusup masuk.
“Masss,,,” bibir Aryanti terbuka, seolah meminta izin untuk menerima batang milik Dako kedalam tubuhnya. Sangat sulit baginya untuk terus bertahan.
Tapi di mata Arga, istrinya justru terlihat seperti tengah mendesah. Pikiran negatif menyeruak di hati lelaki itu. Mungkinkah Dako sudah berhasil menyetubuhi istrinya. Tapi diamnya Arga, layaknya membiarkan istrinya berselingkuh langsung di depan matanya, tapi ini adalah game, game yang sangat panas, sangat sulit bagi para wanita untuk bertahan dari rangsangan para lelaki.
“Maaf Masss,, aku udah ga tahaaan,,”
Tubuh Arga menggigil, saat Aryanti menutup mata, tubuh nya beringsut turun, menyesuaikan posisi liang vaginanya dengan batang Dako yang tegak mengacung ke atas, lalu menyelusup cepat kedalam liang yang sempit. Arga dapat melihat, saat bibir sensual istrinya terbuka melenguh pelan, ketika tubuh indah itu bergerak naik turun tak teratur, bukan karena gerakan Dako yang tengah berlari mengontrol arah balon, tapi karena ulahnya sendiri yang berusaha mengejar kenikmatan didepan suaminya. Mata Aryanti terbuka, menatap sendu, memberi pesan tentang kenikmatan yang tengah dirasakan oleh vaginanya.
“Dakooo,,, kamu ngentotiiinn aku di depaaann Argaaaa, gilaaa,, tapi nikmaaat banget,,” pinggul Aryanti bergerak semakin cepat.
“Apa kamu ingin kita menjauh lebih ke depan,,,agar bisa lebih bebas menikmati batangku,,” tanya Dako yang mulai kewalahan, menyetubuhi wanita yang sedang digendong, sambil mengejar balon bukan perkara yang mudah.
“Tidaaakk,, tetaaap seperti iniii,,, aku benar-benar menikmati iniii,,, uuugghhhhh,, Dakooo,,, aku merasa batangmu semakin besar di vaginakuuu,,,” Aryanti tidak lagi bergerak naik turun, tapi pinggulnya bergerak maju mundur sangat cepat.
“ooo,,, aku keluaaaarrr,,,” bibir Aryanti terbuka mendesah lepas, pantatnya bergetar menjepit erat pinggul Dako.
“Ooowwhhhhsss,, Kooo,, batangmu keras bangeeett,,, meqi ku mpe klengeeerrrsss,,,” Aryanti seakan tak rela nikmatnya orgasme berlalu begitu cepat. Sensasi dipuaskan oleh batang milik lelaki lain tepat di depan suaminya menjadi rangsangan tersendiri baginya.
“Yaaan aku juga mau keluaaarr,, terus empot seperti tadiii,, enak bangeeet,,,” Dako mulai kewalahan, langkahnya tak lagi teratur.
“Zeee,,,, mereka sudah melakukaannyaaa,,,” ucap Arga pada Zuraida yang tengah terengah-engah merasakan gesekan batang Arga yang masih terbalut celana.
Tiba-tiba langkah Dako terhenti tepat di depan mereka. Nafas lelaki itu mendengus liar, kedua tangannya mencengkram erat pantat Aryanti, menghentak maju mundur mengejar orgasmenya sendiri. Sementara Aryanti tak kalah liarnya, berusaha menekan batang Dako jauh ke dalam kemaluannya, pantatnya bergerak maju mundur dengan ritme yang kacau.

“Maaasss Dakooo,,” seru Zuraida pelan, saat kedua pasangan itu bersisian, dan saat itu jualah sperma Dako menghambur, memenuhi rahim Aryanti yang juga tengah merintih menyambut orgasmenya yang kedua.
Dan semangat rintihan Aryanti tak lepas dari tatapan Arga yang langkahnya sempat terhenti tepat di samping mereka. Arga tau vagina istrinya tengah menerima transfer sperma milik Dako, sebanyak apapun cairan yang keluar, liang kemaluan istrinya itu tetap pasrah menerima.
“Gaaa,,,” wajah Zuraida yang terkejut dengan aksi Dako dan Aryanti kini menatap Arga, memberi isyarat bahwa dirinyapun ingin merasakan kenikmatan yang baru saja diterima Aryanti.
Ingin sekali Zuraida berteriak bahwa vaginanya juga sudah tak tahan, ingin merasakan batang penis yang memenuhi liang kemaluannya. Gayung bersambut, tangan Arga menyusur ke bawah, menarik turun celananya. Kini kendali sepenuhnya ditangan Zuraida, bibir vaginanya dapat merasakan gesekan dari helm kemaluan Arga.
Arga dan Zuraida saling tatap, “Zee,,, bolehhh?,,,” tanya Arga terengah-engah di antara langkahnya yang semakin pelan.
Zuraida mengangguk, meski dirinya selalu berharap Arga menyetubuhinya dalam suasana yang romantis, tapi saat ini kondisi benar-benar memaksa tubuhnya untuk turut merasakan kenikmatan liar yang diciptakan oleh Bu Sofie. Dengan jantung dag dig dug berdenyut cepat, Zuraida menurunkan pantat mulusnya. Bibir vaginanya mencari-cari ujung dari batang milik Arga.
“Gaaa,,, aku izin yaaa mau nakaaal,,,” kalimat yang keluar dari bibir tipis itu membuat Arga bener-bener gemas.
Tapi bila waniita itu mengira vaginanya yang sudah sangat basah dan terbuka lebar, akan dengan mudah menerima batang Arga, itu adalah salah. Vagina Zuraida yang memang memiliki pintu masuk yang mungil, tampak kerepotan untuk menelan helm dengan ukuran big size milik Arga.
“Kegedeaaann,, ga bisa masuuuk,,,” Zuraida menggeleng-gelengkan kepala, tapi pinggulnya terus bergerak mencoba mencari posisi yang lebih pas untuk sebuah penetrasi darurat.
“Gaaa,,, ayooo dong,, jangan malah diketawain,,,” dari balik jilbabnya bibir tipisnya merengek seperti anak kecil, vaginanya terasa sangat gatal, tak pernah dirinya begitu ingin disetubuhi seperti saat ini.
“Wooyyy,,, Argaaa,, perhatiin dong balon kamu larinya kemana!!!,,,” seru Bu Sofie, mengagetkan Arga dan Zuraida, saat menyadari balon mereka tak ada lagi di depan, sontak keduanya tertawa terpingkal.
Suara Bu Sofie seakan menyadarkan mereka yang begitu asik dengan dunia mereka berdua. Mata Zuraida kembali mengawasi suaminya Dako, yang masih berada di belakang mereka, dan untuk kesekian kalinya mengayunkan pantat Aryanti untuk menerima hujaman batangnya. Mata dengan bulu yang lentik itu beralih pada Bu Sofie yang terlihat begitu kelelahan, dengan sisa tenaganya berpegangan erat di leher Pak Prabu. Tubuhnya bergerak mengikuti setiap gerakan pejantan yang tengah menggendongnya, Tampak begitu pasrah menerima setiap hujaman batang besar Pak Prabu. Lain lagi halnya dengan Adit dan Munaf yang berlari beriringan, aroma persaingan tampak jelas terlihat. Munaf begitu puas bisa mempencundangi Adit dengan memberikan orgasme pada istrinya Andini yang tidak berkutik di hadapan suaminya. Sementara bagi Adit sendiri, ingin sekali menunjukkan bahwa dirinya masih lebih hebat dengan menghantar Sintya pada orgasme yang sangat liar.
“Gaaa,,, masukin yuuuk,,, ga ada yang ngeliat kita koq,,,mereka semua sibuk sendiri koq,,,”
Zuraida kembali merengek, ingin sekali menghentak pantatnya, dan melumat batang Arga dengan paksa, tapi wanita itu seperti masi ragu untuk kenakalan yang lebih jauh.

“Zeee,,, bener kamu ingin sekarang,,, tidak ingin menunggu nanti malam,,,”
Zuraida bingung, lalu akhirnya menjawab sambil berbisik, seolah takut terdengar oleh lainnya, “Aku pengen sekarang,,,tapiii,, jangan sampai mereka tauu,,”
Arga tersenyum, Tangan nya segera menggenggam batang, dan mengarahkan tepat ke vagina Zuraida. Menyunul-nyunul pelan, lalu perlahan membelah tubuh wanita cantik itu.
“Gaaa,, ooowwwhhhh,, masuuuk,,,sedikit lagiii,,, masuuuk,,,”
Mulut Zuraida terbuka lebar, matanya terpejam saat batang Arga perlahan menerobos masuk.
Sangat mudah, tidak sesulit usahanya tadi,
“Aku tau kamu tadi masih ragu,” ucap Arga disela nafas Zuraida yang tercekat.
Kini tubuhnya telah menerima batang milik lelaki lain, perlahan terus menyelusup masuk kebagian terdalam tubuhnya, seiring luluhnya segala digdaya kesempurnaan dirinya sebagai istri yang setia.
“Gaaa,, seperti inikah rasa nikmat dari kejantanan mu,,” vaginanya masih berusaha memasukkan batang Arga lebih dalam, meresapi rasa nikmat yang dikumandangkan oleh liang kemaluannya yang menjepit erat.
“Gaaa,,,Ooowwhhhh,,, penuuuhhh bangeeet,,,” pinggulnya mulai bergerak pelan, mencari-cari sensasi nyata yang disuguhkan.
Sementara Arga seakan tak percaya, akhirnya berhasil menyetubuhi wanita yang bertahun-tahun menjadi fantasi liar nya.
“Zeee,,, aku entot yaaa,,,”
Mata Zuraida terbuka, mengangguk pelan, berusaha melebarkan selangkangannya dengan mata mencoba mengintip ke bawah, tempat dua alat senggama mereka bertemu.
“Gaaa,,, batangmu ooowwwssshh,,, jangan terlaluuu cepaaaat,,, Arrgghhhhh,,,aku bisaaa keluaaaarr,,,”
Mata Zuraida nanar menatap batang Arga yang bergerak cepat keluar masuk lubang kawinnya. batang pertama selain milik suaminya yang berhasil mengobok-obok lorong sempit yang selama ini dijaganya dalam biduk kesetiaan.
“Argaaa,,, aku keluaaaarrr,,,Adduuuuhhh gaaa,, aku pipisss,,,Aaaggghhh,,,” Kaki Zuraida berusaha memiting pinggul Arga, memaksa batang itu masuk jauh lebih dalam. Tubuhnya bergetar, menggeliat liar.
“Zeee,,, kau memaaang indaaahh,, Zee,,,” batang penis Arga serasa semakin membesar, lelaki itu tidak sanggup lagi bertahan saat wajah cantik di depannya melepas orgasme sambil menatapnya penuh kenikmatan.
“Argaa,,, kamu maauu keluaaaarr?,,, cabuuut Gaaa,, aku sedaaang subuuuur,,, aku bisa hamil Gaaa,,,”
Mendengar kata-kata Zuraida, Arga justru semakin bernafsu, mencengkram erat pantat Zuraida, memaksa batangnya tetap bersemayam dibagian paling dalam, merasakan empotan vagina Zuraida yang masih dilanda orgasme. Sia-sia bagi Zuraida berusaha melepas batang Arga dari vaginanya, karena saat ini kemaluannya juga tengah menagih hal yang sama.
“Zeee,, aku keluaaarrr,, aku keluar dirahim mu sayaaaang,,,oowgghhhh,,,” batang Arga berkedut, lalu menghambur bermili-mili sperma, menghentak dinding rahim Zuraida dengan deras.

“Ooowwhhhh,, Argaaa,,,keluarkaaan sayaaaaang,,, keluar semuaaa dirahimkuuu,,,” Zuraida menatap wajah Arga yang orgasme dengan rasa bahagia di hati. Membiarkan lelaki itu menikmati setiap detik kenikmatan yang diberikan oleh alat senggamanya.
Kembali menjepit pinggul Arga, memaksa otot vaginanya memijat batang Arga, seakan berusaha menguras seluruh isi kantong sperma, dan menerima semua peralihan cairan itu kedalam tubuhnya.
“Gaa,,, sperma mu banyak bangeeet,, kamu bisa menghamiliku,,,” bisik Zuraida.
Whoooo,,, Plok,,Plok,,Plok,, Plok,,Plok,,Plok,,tepuk tangan dan sorak terdengar riuh, mengagetkan Arga dan Zuraida. Tanpa mereka sadari semua mata menatap ke arah mereka. Wajah Zuraida memerah seperti udang rebus, turun dari tubuh Arga dengan terhuyung, kakinya begitu lemas, tak bertenaga.
“Duduk dulu sayaaang,, kau terlihat sangat kelelahan,,” sambut Aryanti, wajahnya tersenyum menahan tawa.
“Maaf yaaan,, maaf banget, aku minjam suamimu ga bilang-bilang,,,”
“Ststsss,, udah jangan ributin itu,,,” jawab Aryanti, merapikan kain yang menutupi tubuh bagian bawah Zuraida yang hampir terlepas.
“Hey,, Pak Prabu, ngapain ngintip-ngintip, ga boleh tau,, sana gih,, haahahaa,,” Aryanti mengusir Pak Prabu yang berusaha mengintip selangkangan Zuraida. Tampak sperma milik Arga perlahan mengalir keluar dari celah sempit itu.
“Gilaaa,, sepertinya orgasmemu tadi dahsyat bener Ga,,,” seru Munaf, sambil terus bertepuk tangan.
“Asseeeem,,, sejak kapan kalian nonton,, akkhh,, taik kau Naf,,, lombanya siapa yang menang,,,” Arga berusaha mengalihkan obrolan.
“ngga ada yang menang,,, liat aja balon kalian ngumpul di pantai semua tuh,,,hahaahaa,,,” seru Bu Sofie disambut gelak tawa yang lainnya.
“Okeeey,,, masih ada waktu setengah hari untuk kita beristirahat, karena nanti malam kita akan mengadakan sedikit pesta perpisahan.” Pak Prabu kembali mengambil alih komando.
“Ada beberapa kabar, entah ini baik atau buruk untuk kalian, tergantung kalian menyikapi kabar ini, lebih jelasnya kita bicarakan nanti malam saja, Oke??,,,”
Wajah beberapa orang menjadi tegang, penasaran dengan kabar yang baru diterima Pak Prabu.

ZASKIA

Godaan birahi bisa menerpa siapa saja, tak kenal tebal tipis imannya, tak kenal dia alim atau bermuka mesum. Orang berjilbab pun tak pernah bisa lepas dari namanya godaan seks, bahkan malah lebih parah, sangat doyan seks dibanding wanita tidak berjilbab. Entah kenapa pikiranku kini tertuju pada wanita mungil bernama Zaskia Adya Mecca, artis berjilbab ini toketnya tidak besar justru malah membuatku ngaceng. Aku secara pribadi aku tidak mengenalnya, namun jika aku menyatut nama salah satu artis yang pernah aku garap pastilah dia akan tahu. Dengan berbekal modal seperti itu aku menjadi nekad, aku pengin menyetubuhi Zaskia Adya Mecca ini. Aku pengin sekali lagi merasakan batangku ditelan dalam bibir mungil seperti milik Cut Memey, kalau Zaskia Adya Mecca yang melakukan apalah jadinya, lebih kecil di banding milik Cut Memey.

Modal nekad saja yang aku bawa untuk mencoba menyantroni vagina Zaskia Adya Mecca yang pastilah sangat sempit untuk ukuran kontolku. Aku juga hanya bisa fifty fifty saja untuk kali ini. Dengan kutambahi semangat sore itu aku meluncur ke rumah Zaskia Adya Mecca yang tinggal bersama suaminya Hanung Bramantyo seorang sutradara. Tepat ketika menginjak jam 7 malam aku sampai di depan rumahnya, entahlah .. kalo orangnya nggak ada ya sudah .. lain hari aku bisa lakukan lagi. Kukantongi nomer handphone Zaskia Adya Mecca dari artis yang sering kuajak bercinta. Tak lama kemudian aku pun cuap cuap dengan Zaskia Adya Mecca.

“Oooh .. Burhan .. okee deeh .. tunggu saja yaaa .. surprise daaah “ sahut Zaskia Adya Mecca dengan tertawa, rupanya Zaskia Adya Mecca malah mengenalku. Tak lama kemudian Zaskia Adya Mecca membukakan gerbang, aku pun memasukan mobilku, huuuuh ..sungguh megah rumahnya, wanita mungil ini sangat cantik sekali dengan pakaian baju lengan panjang dan celana panjang, tak lupa jilbabnya yang menambah kecantikan dan kemolekan tubuhnya semakin tercetak jelas karena pakaiannya tidak longgar, justru malah menampakan busungan dadanya itu. Tak terasa penisku semakin tidak tahan dengan kemolekan tubuh mungil seksi milik Zaskia Adya Mecca.

Aku dipersilakan duduk di ruang tamu bagian depan, yang mungkin kelak di mana aku menggeluti Zaskia Adya Mecca dengan bertelanjang bulat, kubayangkan tubuh Zaskia Adya Mecca meliuk liuk di sofa yang kududuki itu, dengan merengek rengek pengin disetubuhi dengan kontol besar, atau aku pengin kontolku hanya dijilati oleh lidah Zaskia Adya Mecca karena besarnya bibir mungilnya tak akan muat dimasukin batangku, kurasakan penisku mendesak desak luar biasa, untung aku memakai kaus yang longgar sampai menutupi selakanganku. Senyum manis diberikan padaku setelah aku bersalaman dengannya, tangannya lumayan dingin.

Tak lama kemudian aku dihidangkan minuman dingin agar aku segar, kami berbincang bincang berdua, entah kenapa Zaskia Adya Mecca tidak merasa risih padaku yang baru dikenalnya.

“Sudah lama berkecipung dalam dunia itu ?” tanya Zaskia Adya Mecca dengan mimik yang membuatku semakin tergoda, terkadang muka mesumnya tampak, entah aku merasa terkejut tiba tiba rokok di depanku diambil, Zaskia Adya Mecca langsung menyulutnya, kemudian menghisapnya dalam dalam.

“Doyan rokok juga ya “ tanyaku dengan bercanda

“Aaaaah ..dah lama .. “ jawab Zaskia Adya Mecca dengan cuek

“Kalo rokok hidup pasti juga suka .. “ kataku dengan tertawa sampai membuat Zaskia Adya Mecca melemparkan bungkus rokokku. Hampir sejam kami saling berbicara, banyak masukan yang aku berikan, saatnya aku melancarkan aksiku, entahlah .. aku bingung melakukan dari mana, meminta langsung jelas tidak mungkin. Entahlah . aku sampai termenung sampai Zaskia Adya Mecca mengibaskan tangannya agar aku tidak tercenung seperti orang bloon. Apalagi dari obrolan kami, Zaskia Adya Mecca sedang di rumah sendirian, hanya pembantu tua renta di pojokan belakang yang jauh dari rumah megahnya itu.

“Sorry deh .. aku banyak pikiran yang tak bisa kuselesaikan sendir .. terkadang kita manusia tidak bisa hidup sendirian .. “ kataku menetralisir dan disambut senyum manis plus nakalnya itu, muka mesumnya semakin tampak ketika ekor matanya yang nakal itu melirik ke selakanganku, ketika aku tak sengaja mengambil handphoneku karena bergetar dan berdering, mata Zaskia Adya Mecca sampai membuka ke atas kemudian tersenyum kecut karena kaosku kembali menutupi selakanganku.

Zaskia Adya Mecca kemudian pamit menuju ke belakang, aku menguntitnya diam diam, ketika masuk ke ruang tengah, aku menyelinap lebih dalam, tak lama kemudian Zaskia Adya Mecca mencariku karena tidak ada di ruang tamu

“Haaaaan .. kemana nich .. “ panggil Zaskia Adya Mecca padaku, aku kemudian sudah berada di belakangnya, aku sudah tidak tahan lagi, aku pengin segera melucuti pakaian Zaskia Adya Mecca itu, kurasakan batangku sungguh tersiksa, aku langsung membekap tubuhnya, kubekap bagian mulutnya agar tidak berteriak. Zaskia Adya Mecca meronta ronta. Tangannya kuat hendak melepaskan diri, namun aku kuat memegangnya dan tanganku tepat meremas kedua bukit kembarnya itu.

“Mmmmffffffff …mmmmmmmmmhhhhhhhhh .. “ suara yang keluar dari mulut Zaskia Adya Mecca yang kubekap dengan telapak tanganku. Kubisikan kata kata gombal

“Aku sudah nggak tahaaan . pengin merasakan tubuhmu, Zaskiaaaaa “ kataku membuat mata Zaskia Adya Mecca melotot, Zaskia Adya Mecca masih mencoba melawan, namun sudah tidak mampu karena aku sangat kuat memegang tubuhnya, kakinya hendak menendang nendang, namun aku sudah menguncinya, kutarik tubuhnya kemudian aku membawanya ke karpet empuk di belakangku, kemudian aku memaksa Zaskia Adya Mecca bisa berada di karpet, aku langsung menindihnya

“Mau apa kau “ bentak Zaskia Adya Mecca dengan memukul kepalaku. Kutahan rasa sakit itu.

Anehnya Zaskia Adya Mecca tidak berteriak ketika tanganku kulepas itu.

“Aku pengin bercinta denganmu .. “ kataku polos

“Aku istri milik orang .. nggak bisa .. “ tolak Zaskia Adya Mecca dengan masih kesal. Aku tak tahan, maka aku langsung menyerbu bibirnya, Zaskia Adya Mecca menolak dengan diam tidak membuka bibirnya, aku terus merangsangnya, kuremas buah dadanya itu, buah dadanya sudah mulai menyembul menegang karena rangsanganku yang gencar melakukan gerilnya

“Pleasee ..jangaaan aaaaaaah .. pleasee “ rengek Zaskia Adya Mecca, ketika berbicara itu mulutnya terbuka, maka aku langsung menyumpal dengan bibirku dan kusedot. Zaskia Adya Mecca sampai melotot karena aku sudah melumat bibirnya dan menghisap, tanganku semakin nakal, bagian selakangannya aku elus elus dan kutekan meembuat Zaskia Adya Mecca menjadi tak karuan

“Haaaaan ..aaakuu mooohoon .. jangaan lakukaan .. “ iba Zaskia Adya Mecca dengan menatapku lekat, namun tak lama kemudian kembali menunduk mmebiarkan aku semakin nakal bermain dengan selakangannya itu, kuusap selakangan Zaskia Adya Mecca dengan telapak tanganku

“Uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh …aaaaaah “ erang Zaskia Adya Mecca ketika aku naik meremas buah dadanya itu dengan penuh kelembutan. Aku juga tidak tahan lagi, aku membuka kancing bajunya, Zaskia Adya Mecca seolah olah pasrah, membiarkan aku lebih dalam memasukan tanganku masuk ke dalam bajunya, kemudian menyingkirkan cup BHnya, tanganku langsung menangkap bukit kembarnya sebelah kirinya lalu kuremas dengan gemas

“Pleasee ..Haaaaaaan .. jangaaaan .. Ooooh .. dosaa aaaaaaaaaah “ Zaskia Adya Mecca masih mencoba melawan pikirannya, namun hatinya sudah buta oleh birahi. Aku menjadi semakin menguasai wanita ini, kubisikan kata kata yang membuat Zaskia Adya Mecca sampai melotot

“Kau akan merasakan kontol besarku, Zaskia .. kontolku lebih besar dari pada punya suamimu .. buktikan saja “

“Jangaaaaaaaaaan “ tolak Zaskia Adya Mecca lagi.

“Kalo begitu aku akan memperkosamu .. “

“Jangaaaaaaaaaan “ kata itu lagi yang keluar dari mulut Zaskia Adya Mecca

“Kalo begitu aku akan pergi .. “ pancingku untuk membuang logika berpikirnya.

“Jangaaaaaaaaaaaan “ sahut Zaskia Adya Mecca dengan merem merasakan remasan tanganku di buah dadanya dengan lembut. Aku sampai pengin tertawa keras namun kutahan, kulirik selakangannya sudah mulai membasah.

“Maukah kau bercinta denganku . “ tanyaku dengan lekat memandang wajah Zaskia Adya Mecca yang masih merem menikmati remasan tanganku di buah dadanya, kelembutan buah dadanya sungguh membuatku semakin ingin terus menggeluti Zaskia Adya Mecca sepuasku, kutarik resluting celanaku dengan tangan kiriku, kemudian tanganku memaksa membuka, walau sulit namun aku berhasil mengeluarkan rudalku yang sudah ngaceng bak tugu monas itu. Zaskia Adya Mecca masih belum menyadari kalau batangku sudah menyembul keluar dari celana dalamku, aku tetap meremas buah dadanya dengan pelan pelan.

Jilbabnya masih terpasang di kepalanya hanya bergeser ke samping membuka sedikit kelihatan rambutnya.

“Akan kuberikan kenikmatan cinta, sayang “ kataku dengan menindihnya lagi membuat Zaskia Adya Mecca membuka matanya dan memandangku

“Kau benar benar nekad …. “ ujar Zaskia Adya Mecca hanya malah memburu dengan nafas tak karuan. Kugiring tangannya menyelusup ke selakanganku, Zaskia Adya Mecca sampai melotot matanya ketika penisku digenggamnya.

“Ooooooh .. My God .. … “ teriak Zaskia Adya Mecca dengan kaget dan mendorong dadaku dengan kuat, aku sampai terduduk dengan penisku mengacung perkasa, Zaskia Adya Mecca sampai menutup mulutnya menyaksikan batangku itu tepat di hadapannya. Zaskia Adya Mecca sampai tak berkedip memandang batangku yang besar itu, bahkan Zaskia Adya Mecca sampai sangat kawatir, bibirnya sampai gemetaran menyaksikan kontol besar, Zaskia Adya Mecca hanya diam memandang batangku yang bergerak pelan ke sana kemari karena nafasku juga mulai tak karuan.

“Ayolah, sayaaang .. nikmati saja kontolku .. “ bujukku dengan memegang tangan Zaskia Adya Mecca ke penisku, Zaskia Adya Mecca sangat kuat menahan tangannya namun akhirnya Zaskia Adya Mecca menurut juga sehingga kini penisku terpegang namun Zaskia Adya Mecca masih diam, lingkaran jari tangannya tidak bisa melingkari batang penisku.

“Sialan kau Haan .. kamu kesini hanya pengin tubuhku ?” pandang Zaskia Adya Mecca tanpa melepaskan pegangan pada batangku

“Aku sudah nafsu .. sudahlah sayaaang .. malam ini akan kuberikan kenikmatan tiada duanya .. akan kuberikan kepuasan batin .. “ rayuku dengan semakin nakal mengusap selakangannya yang semakin membasah. Zaskia Adya Mecca melirik ke samping.

“Jangan di sini .. “ bisik Zaskia Adya Mecca ke telingaku dengan mendekat, aku menjadi senang, akhirnya kudapatkan wanita bengal nan mesum wal doyan kontol ini. Aku langsung meraup tubuh mungil Zaskia Adya Mecca ini dan kupondong ke kamar di arah lirikan Zaskia Adya Mecca tadi. Zaskia Adya Mecca merangkulku

“Kalo ketahuan Kang Hanung kamu harus berani ambil resiko “ ucap Zaskia Adya Mecca dengan wajah mesumnya yang mulai tampak, ketika masuk kamar dan kututup dengan kakiku, Zaskia Adya Mecca memegang handle kemudian mengancing pintu itu, kulemparkan wanita mesum ini ke ranjang kamar tidur tamu ini. Zaskia Adya Mecca sampai tersenyum semakin nakal.

“Buka bajumu, Zaskia sayaaang ..sisakan jilabmu .. “ perintahku dengan tidak memandangnya karena aku membuka kaosku dan membuangnya, kemudian memelorotkan celanaku yang sudah tak karuan karena lepas kancing dan reslutingnya. Zaskia Adya Mecca dengan ragu hendak membuka bajunya, namun melihatku yang sudah naik dengan telanjang bulat membuat Zaskia Adya Mecca pelan pelan membuka kancing bajunya. Birahi telah membutakannya.

Aku kemudian langsung menarik kakinya, kubuka celana panjangnya

“Kau sudah tidak tahan, bukan ?”

“Kau benar benar nakal, Haaaaan .. hhhhmmm .. tapi kontolmu .. benar benar besar sekaaalii .. aku tak yakin bisa masuk ke vaginaku … “ kata Zaskia Adya Mecca dengan sikap nakalnya mulai mengemuka. Bajunya sudah lepas, punting susunya sudah mencuat, tangannya ke belakang membuka kaitan BHnya, dan BH itu akhirnya lepas, kemudian dilempar kemukaku.

“Silakan beri aku kenikmatan yang kau katakan .. “ kata Zaskia Adya Mecca dengan membuka lebar pahanya ketika celana panjangnya kutarik itu, celana dalam warna pink itu sudah basah termakan birahi, kupelorotkan celana dalamnya, Zaskia Adya Mecca sampai tangannya menutup vaginanya karena malu

“Luar biasa sempit .. tenang saja,sayang .. vagina eeh .. tempek dan kontol itu lentur .. “ kataku ngawur

“Kamu jorok “ maki Zaskia Adya Mecca dengan mencubit lenganku

“Katakan deh .. bilang suka sama kontol besarku .. “ desakku

“Ogaaaah aaaaaaaaaah “ tolak Zaskia Adya Mecca dengan tersenyum nakal, kini Zaskia Adya Mecca mulai bersikap mesum, namun belum sempat aku bicara, Zaskia Adya Mecca menyela

“Tadi aku sempat melihat selakanganmu pas ngambil hape .. kontolmu besar banget ..aaaaah .. meman betul, Han .. kontolmu besar .. malah lebih besar dari dugaanku .. “ sahut Zaskia Adya Mecca dengan memegang batangku dengan kuat kemudian menggeleng geleng.

“Kau benar benar munafik .. nggak mau nyatanya sangat mau .. payah aah “ ejekku

“Habis kamu maksa sih “ balas Zaskia Adya Mecca dengan tertawa.

“Masak aku bilang .. yuuk bercinta denganmu .. kuno aaah “ kataku dengan langsung mendorong tubuh Zaskia Adya Mecca dan menindihnya, kulumat bibirnya. Zaskia Adya Mecca kemudian membalas lumatanku, kutahan kepalanya agar jilbab yang menututpi bagian atas tidak terlepas. Kurasakan lumatan demi lumatan kami saling menghisap. Zaskia Adya Mecca sampai kewalahan ketika dengan sangat nakalnya aku melumat da meremas buah dadanya.

“Mmmmmhhhh ..mmmmmmmhhhhhhh …hhh.. “ lenguh Zaskia Adya Mecca ketika bibir kami terlepas, nafsu sudah semakin memburu.

“Lakukan Haan .. lakukan sayang .. lakukan .. jangan biarkan aku kedinginan .. malam ini aku adalah milikmu .. aku sudah 2 minggu tidak digauli sama suamiku .. beri aku .. aaaah .. aku pengin air manimu memenuhi memekku .. “ kata Zaskia Adya Mecca dengan memohon. Aku hanya menggeleng geleng

“Tidak mau ? jahat aaaaaah “ protes Zaskia Adya Mecca

“Bukan itu, bukan itu ..sayaaang .. kamu menolak awalnya .. kini malah pengin .. “ kataku dengan gemas

“Aaaaaaaaaah ..kalo itu aaah mana kutahu .. segera deh .. yuuk … aku nggak keberatan bercinta denganmmu .. aku pengin merasakan kontol besarmu .. aku menikah dengan Hanung cuma masalah harta kok .. ayooo deh .. masak kamu mau membiarkan aku kesepian .. aku milikmu sayaaang .. milikmu ..segera tumpahkan spermamu di dalam tempekku .. sodok tempekku dengan kontolmu .. aku senang denga kontol besarmu itu .. “ pancing Zaskia Adya Mecca.

Aku langsung kembali menindih, kami saling memeluk dengan penuh nafsu, kami saling memilin dan meremas, Zaskia Adya Mecca sampai meremas sprei sekuatnya ketika tidak tahan akan lumatan dan remasan tanganku di buah dadanya bergantian. Jilbabnya semakin basah dengan keringat kami, namun menambah indahnya tubuh telanjang polos dan hanya ada penutup kepala. Sebentar lagi akan kumasukin lubang surgawinya dengan kontolku, namun aku pengin mengerjai dengan mengulum penisku mampu atau tidak.

Kami berdua saling merangsang dengan penuh birahi, Zaskia Adya Mecca semakin lama semakin terbuai dengan indahnya birahi, penisku juga sudah tidak tahan lagi, aku pengin merasakan kuluman dan jilatan lidah Zaskia Adya Mecca yang mungil itu. Tak terasa aku menggeluti istri Hanung Bramantyo ini dengan penuh kelembutan, kulakukan dengan penuh kemesraan, pelan pelan kuatur ritme lumatanku dari ganas menjadi penuh kelembutan, remasan tanganku di buah dada Zaskia Adya Mecca kulakukan dengan lembut meremas dan kadang memutir punting susunya itu. Zaskia Adya Mecca dengan gemas melingkarkan kakinya menjepit pinggangku kemudian memegang kepalaku, namun tangan kirinya menggapai gapai mencari pegangan karena tidak tahan dengan lumatanku yang panjang tanpa memberikan nafas kepada Zaskia Adya Mecca. Gerakan geliat tubuh mulus nan putih Zaskia Adya Mecca sering tertahan dengan tubuhku yang menindih sangat gemas, terkadang Zaskia Adya Mecca dengan memaksa menahan kepalaku untuk mengambil nafas, kulepas remasan buah dadanya itu dan kedua tanganku menyelusup di balik jilbabnya itu, kuangkat dan aku kembali melumat bibir Zaskia Adya Mecca tanpa memberikan jeda dalam berpagutan sangat lama. Zaskia Adya Mecca sampai terengah engah ketika aku melepaskan pagutan dan lumatan itu.

“Sssssssssshhhhh ..ssssssssssssssshhh …mmmmmmmhhh .. hhhhhsssss ..hhhhh “ Zaskia Adya Mecca merasakan beratnya nafas, nafasnya berantakan kepalanya mengeleng pelan menandakan tidak kuat melayani adu bibir dengan lama. Dadanya naik turun, badanya semakin mengkilap karena keringat. Matanya semakin sayu pertanda lapar sekali akab birahi. Aku mendiamkan saja Zaskia Adya Mecca mengatur nafasnya, aku kemudian bangun dan berposisi duduk, kutarik tubuh Zaskia Adya Mecca agar kupangku, Zaskia Adya Mecca menurut dan kemudian dengan gemulai menopangkan kedua tangannya kepundakku

“Kaaauu ..heee..heebaaat ..saay sayaaaang “ ujar Zaskia Adya Mecca dengan terbata bata sambil mengusap mukanya yang penuh air liur itu. Dibenahi jilbanya yang posisinya berantakan itu.

“Jangan dilepas jilbabmu, sayaaang .. “ kataku sambil menghembuskan nafasku menerpa ke mukanya

“Oke deeeh ..sayaaang .. nggak masalaaah .. walaaau panaas .. tapi demi sebuah kenikmatan cinta harus berani mengambil resiko .. “ kata Zaskia Adya Mecca sampai merogoh ke bawah dan meremas batangku dengan pelan. Kupangku Zaskia Adya Mecca dalam pahaku itu, Zaskia Adya Mecca mengangkang dari vaginanya sudah sangat basah termakan birahi. Kuberikanw aktu untuk menghela nafas agar Zaskia Adya Mecca bisa kembali bersemangat mengarungi samudera birahi bersamaku.

“Sekarang .. aku pengin kamu mainin kontolku .. emut kontolku yaa . tapi aku pengin ini duluuu .. “ perintahku pada Zaskia Adya Mecca yang tersenyum dengan sangat mesumnya

“Srruuuuuuuuuuuuuuuup “

Punting susunya aku kulum dan air permainkan, Zaskia Adya Mecca meremasi kepalaku, menekan nekan kepalaku agar aku bermain di kedua bukit kembarnya itu, kukulum punting itu dengan kusedot sedot

“Sayaaaaaaang aaaaaaaaaah … isaaaaaaaaap ..aaaaaaaah ..enaaaaaaak “ erang Zaskia Adya Mecca dengan menggelinjang sehingga membuat penisku jutsru malah terdesak oleh selakangan Zaskia Adya Mecca yang menekan, gesekan antara dinding luar vagina dengan penisku membuat Zaskia Adya Mecca semakin lama semakin tidak tahan.

“Sayaaaaaaang .. geliiiii aaaaaaaaaaaaah “ timpal Zaskia Adya Mecca dengan merangkulku lebih erat agar aku bisa semakin lama bermain dengan buah dadanya, kuremas buah dadanya ketika aku mengulum punting sebelahnya. Zaskia Adya Mecca sampai mendongak ke atas merasakan remasan tanganku yang semakin kuat merengkuh kenyalnya daging di dadanya itu, Zaskia Adya Mecca sampai melengkung memberikan buah dadanya dan kupermainkan dengan lidah dan tanganku.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ teriak Zaskia Adya Mecca penuh kenikmatan ketika buah dadanya aku remas dengan kuat, kepalanya kemudian menggeleng geleng dengan ke sana kemari membuat jilbabnya yang memanjang ke belakang bersliweran ke sana kemari, luar biasa nafsu seksnya wanita ini, tubuh mungil itu sudah memberikan jiwa raganya untuk kuberikan kenikmatan surga. Memberikan tubuhnya untuk kunikmati luar dalam, untuk disantroni vaginanya dengan penisku dan menyemburkan air maniku dalam dalam.

Cumbuan demi cumbuan, rangsangan demi rangsangan semakin membuat Zaskia Adya Mecca menjadi semakin suka

“Teruuus Haaaaan .. aaaaaah .. akuuu sukaaaa kamuuu aaaaaaaah .. kaaau aaaaaaaah .. benaar benaar memuaskan akuuuuuuu ..hhhsssss ….ssssssssshhhhh .. mmmmmmmmhhhh “ kata kata Zaskia Adya Mecca bercampur dengan desisan tak karuan itu, kusudahi bermain dengan buah dadanya, kemudian aku memberikan pagutan mesra.

“Haaaaaaaaaan ..aaah, sayaaang … saatnya aku disetubuhi, sayaaaaaaaaaaang “ ajak Zaskia Adya Mecca

“Belum, Zaass .. aku masih pengin kitaaa .. kitaaa …saling mencumbuuu duluuu .. aku pengiin kamuuu menguluuum kontolkuuu kalo kamu sanggup menelan kontolku ini .. “ kataku sambil membawa tangan Zaskia Adya Mecca menuju ke penisku yang mengaceng dengan sangat kuat itu. Zaskia Adya Mecca kemudian mundur dari selakanganku dan menyaksikan batangku mengkilap karena keringat yang membanjir di seluruh tubuhku.

Zaskia Adya Mecca memandang ke batangku dengan sangat kawatir, saking besarnya batangku itu.

“Nggak bakalan masuk dalam mulutku, sayaaaaaaang .. jadi maafin yaaa .. aku cukup menjilati kontolmu itu .. palingan aku telan buah telurmu itu ..hi hi hi hi hi hi .. “ ucap Zaskia Adya Mecca dengan tertawa kecil.

“Lakukan Zaskiaaa .. aku pengin kamuuu menjilati kontolku ini .. sebelum aku menggenjotmu nanti ..”

“Iiih … omonganmu sangat jorok banget .. dari kontol, tempek, genjot, memek, vagina, itil, silit .. muka mesum, kau sangat menghinaku dengan kata itu … aku bermuka mesum ndak sih ? “ kata Zaskia Adya Mecca dengan tertawa lagi dan kali ini sangat mesum sekali.

“Lha kamu merasa mesum ndak sih ?” tanyaku yan balik yang disambut tawa Zaskia Adya Mecca

“Lha kalo posisi begini dengan suami brengseku itu .. ya mesumlah .. “ balas Zaskia Adya Mecca kemudian dan mencubitku

“Katakan deh .. aku memang mesum “ godaku

“Nakaaaaaaal aaaaaaaaah ..dasar muka kontooool “ ejek Zaskia Adya Mecca dengan tertawa.

“Emang mukamu nggak yaka tempekmu apa ?” balasku lagi yang di sambut dengan rengkuhan tangan Zaskia Adya Mecca ke kepalaku dan langsung melumat bibirku dengan rakus, kulayani lumatan Zaskia Adya Mecca itu sampai dirinya ngos ngosan lagi.

“Trims, sayaaaaaang .. biarlah aku bermuka tempek .. kamu bermuka kontol .. “ kata Zaskia Adya Mecca sambil melepaskan tangannya dari kepalaku kemudian menepuk nepuk pipiku.

“Janji yaaa .. kalo aku ngajak kamu begini kamu nggak boleh nolaaak .. aku punya villa di Bogor .. kapan kapan kita berdua saja di sana, mengadu birahi, memuaskan hasrat kita .. diperlakukan aku di sana bak seorang istri yang harus kau geluti siang malam .. kamu nanti bisa menggenjotku terserah kapan kamu mau ..”

“Oke deeh “

Zaskia Adya Mecca kemudian mundur lagi, kini dengan membungkuk langsung menjilati batangku dari atas ke bawah kemudian naik lagi, lidahnya yang kecil itu terasa membuat batangku geli.

“Yaaaa aaaaaaaah .. kaaamuu …aaaaah .. mukaaa tempeeek yangg sukaaa sama kontol “ kataku sambil mengelus elus kepala lewat jilabnya itu. dengan penuh kerakusan Zaskia Adya Mecca menjilati batangku berulang ulang, tangan kiriku menyusuri punggung mulusnya itu, sedang tangan kananku turun ke arah dadanya dan meremasnya dengan gemas, tangan Zaskia Adya Mecca sampai menahan tangan kananku agar tidak meremas dengan kuat

“Sssssssssh …hhhhmmm ..mmmmmmmmfffff .. “ desis Zaskia Adya Mecca ketika dengan sangat rakusnya menjilati batangku naik turun, bahkan mulutnya membuka dan ingin menelan diameter batangku pas ditengah, sialnya Zaskia Adya Mecca kemudian menggigit batangku dengan giginya walau pelan membuat sampai meremas buah dadanya dengan kuat

“Zaaaaaaaaskiaaaaaaaaa …..aaaaaaaaaaaaaaah ..nakaaaaaaaaaaal kamuuuuuuuu .. “

Zaskia Adya Mecca kemudian tersenyum ke atas padaku sambil menjulurkan lidahnya

“Kontolmu adalah kontol terbesar yang pernah kurasakan .. punya suamiku .. wuiih .. sudah jelek kecil lagi ..kalo ini mah extra large deh .. mimpi apa aku ini dapat kontol besaaaaaar “ kata Zaskia Adya Mecca yang kemudian kembali menjilati batangku nai turun, kemudian menjilati buah zakarku dan dimasukan ke dalam mulutnya dan dikulum, lidahnya sangat piawai mengerjai telurku, aku sampai berdegup kencang.

Jilatan lidahnya kembal menjur julur, tangannya kemudian mengocok batangku dengan gemas dan senang sekali, sesekali tersenyum melihat besarnya batangku itu, kocokannya sangat nikmat dan tidak kasar, tidak cepat sampai membuatku gemetaran di kaki. Kocokan demi kocokan dilakukan Zaskia Adya Mecca dengan senang dan sesekali naik mencium pipiku tanda senang sekali.

Zaskia Adya Mecca membuka mulutnya dan memasukan kepala penisku, terasa sangat sesak, diemutnya kepala batangku dan disedot dengan kuat

“Huuuuuuuuuuuuuuuuh .. pinteeer kamuuu mainin kontol, sayaaang “ pujiku sambil merapikan jilbabnya itu. Zaskia Adya Mecca kemudian berusaha membuka lebar mulutnya namun besaran penisku tidak muat, Zaskia Adya Mecca hanya mampu menelan batangku sepertiganya saja.

“Panjaaaaaaaang .. besaaaaaaaar ..uuuuuuuh .. luar biasa kontolmu ini .. aku bisaaa pingsan kalo aku digenjot oleh kontolmu ini .. hihihihihihi “ goda Zaskia Adya Mecca dengan sangat nakalnya.

Zaskia Adya Mecca kemudian mengeluarkan batangku dan dikocok kocok lagi, lingkaran jari jari tangannya tidak bisa menjangkau diameter batangku itu.

“Kau wanita hebaaaaat ,sayaaaaaang .. aku suka sama muka mesummu yang persis tempekmu itu “ pujiku yang disambut dengan senyum nakal Zaskia Adya Mecca itu

“Trim .. aku suka julukan ituuuu, sayaaaaaaang .. muka tempek, membuat aku bersemangat ingin segera aku disetubuhi.. aku sudah nggak tahaaan .. pengiiin kontolmuuu mengoyak tempekku “ balas Zaskia Adya Mecca dengan kembali langsung menjilati batangku. Zaskia Adya Mecca akhirnya berhenti bermain dengan batangku kemudian merebah ke ranjang lalu membuka pahanya lebar lebar

“Giliran aku sayaaaaaaaang .. cumbu aku di tempekku ini .. buat aku menggelepar sampai puncaaak ..ajaaak akuu ke puncaaaaaaak birahiii ..segeraaa sayaaaaaaang .. “ pancing Zaskia Adya Mecca dengan menatapku penuh dengan kenafsuan birahi.

Aku langsung saja menyusuri pahanya yang mulus itu dengan menjilati sampai membuat Zaskia Adya Mecca menjadi menggelinjang

“Gelii aaaaaah… sayaaaaaaang ‘’ kata Zaskia Adya Mecca dengan mengelus elus kepalaku, aku menjilati dengan pelan pahanya sebelah kiri itu sampai di segitiganya yang sudah membasah itu, sampai di vaginanya yang jembutnya tipis itu, aku menjilati pelan pelan, terasa asin dan amis bau vaginanya, namun bau wangi samar samar menerpa hidungku, terasa menambah semangatku untuk terus menguliti nafsu birahi Zaskia Adya Mecca yang kelihatan alim di luar karena berjilbab itu, namun nyatanya tak beda dengan tempeknya .. suka mesum.

Kususuri daging belahan vaginanya itu dengan lidahku membuat Zaskia Adya Mecca menggelinjang bak cacing kepanasan di padang pasir.

“Uuuuuuuuuuh aaaaaaaaaaaaaaaaaaaah ..uuuuuuuuh ..sssssssshhh .. ooouuuh ..aaaah .sayaaaaaang ..teruuuus ..cumbuuuu aaaaaaaah …tempekkku aaaaaah eeenaaaaaaaaaaaak .. pinteeer aaaaah “ teriak Zaskia Adya Mecca dengan meremas sprei dengan kuat merasakan jilatan demi jilatan lidahku merongrong vaginanya itu. Tangannya sangat kuat sekali meremas sprei, tubuhnya kadang hendak menggelinjang ke kanan dan kekiri, lidahku semakin dalam membuka daging kenyal itu, cairan dari dalam tak pernah berhenti meneteskan cairan kewanitaannya.

Kusedot bibir vaginanya itu sampai membuat Zaskia Adya Mecca menggigit bibirnya kuat kuat, Zaskia Adya Mecca sampai merem melek keenakan, bola matanya hanya memutih, badannya kembali menggeliat, kuremas buah dadanya dengan kuat membuat Zaskia Adya Mecca semakin kewalahan

“Teruuuus aaaaaah teruuuus ..yaaaaaaaaaaa.. teruuuus .nggaaak aaaaaaah ..taaahaaaaaaan “ teriak Zaskia Adya Mecca dengan keras membuat kamar sangat berisik penuh dengan rintihan, erangan dan lenguhan serta desisan kami. Lubang vaginanya semakin melebar, kaki Zaskia Adya Mecca mulai merapat menjepit kepalaku, sehingga aku tak bisa kemana mana sekalin bermain dengan tempek milik Zaskia Adya Mecca ini.

“Teruus … yaa ..sayaaaang ..aaakuu sukaa kamuu .. kamuuu pandaai memuaskaaan aaaakuu “ kata Zaskia Adya Mecca tanpa membuka kepalanya, jilbabnya kemudian diatur lagi agar tidak lepas, nafasnya semakin berantakan. Pahanya merapat dan aku pun juga merasakan, tidak lebih dari sepuluh menit Zaskia Adya Mecca pasti akan menggelepar merasakan sedotan bibirku dan jilatan lidahku.

Zaskia Adya Mecca semakin tak karuan gelinjangannya, tangannya memukul mukul ranjang pertanda tidak kuat lagi. Tangannya kadang mencakar cakar ke lenganku sampai berdarah membuatku perih.

“Haaaaaaaaan ..aaaakuuu aaaaaaaaaaaaah “ jerit Zaskia Adya Mecca dengan keras

Jepitan pahanya semakin kuat, kurasakan orgasmenya akan datang, kujilati dan kupermainkan klitorisnya membuat Zaskia Adya Mecca semakin kuat menggelinjang, tubuhnya kemudian menegang dengan membusung ke atas cukup lama, kuremas buah dadanya dengan kuat, kusedot lagi bibir vaginanya itu dan dari dalam akhirnya muncrat menerpa mukaku

“Cruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut “

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” erang Zaskia Adya Mecca panjang mendapatkan orgasmenya. Tubuhnya kemudian berkelonjotan tak karuan, badannya melemas dengan cepat, tubuhnya bak disetrum lisrik ribuan volt, dadanya naik turun, kutarik mukaku dan kulihat Zaskia Adya Mecca memejamkan matanya dengan sangat erat, desahan dan desisannya masih terdengar, lama kudiamkan Zaskia Adya Mecca ini, dadanya masih naik turun dengan berantakan, aku kemudian meraba raba pahanya untuk memberikan rangsangan agar bangun lagi, naik dan meremas buah dadanya dengan penuh kelembutan.

Zaskia Adya Mecca menikmati orgasmenya dengan penuh kesenangan, tak lama kemudian matanya membuka dan tersenyum padaku.

“Baruuu kalii ini kurasakan seks yang nikmat, sayaaang ..Oooh ..pacarku memang hebaaaat “ puji Zaskia Adya Mecca padaku

“Pacar ???” tanyaku heran

“Selingkuhanku .. mau ya jadi selingkuhanku .. tenang saja .. kita atur waktu kita .. janji ya selalu memenuhi kebutuhan batinku” pinta Zaskia Adya Mecca sambil menunggu jawabanku

Aku tak menjawab sehingga membuat Zaskia Adya Mecca senewen

“Mau ndak sih ? oke deh .. kalo kamu ngajak aku bercinta begini make jilbab nggak masalah kok .. aku juga menikmati .. aku ini wanita .. butuh kenikmatan seks donk .. “ iba Zaskia Adya Mecca dengan memohon belas kasihan.

“Dasar muka tempek “ makiku gemas

“Lha khan sudah aku akui .. aku bermuka tempek .. masih aja ngejek .. “ canda Zaskia Adya Mecca sambil menjawil hidungku tanda sayang

“Oke deeeh .. akan kupenuhi kebutuhan batinmuuu “ sahutku enteng

“Naaaaaaaaaah gitu .. muka kontol,sayaaaaaaaaang “ ejek Zaskia Adya Mecca balik

Kami berdua diam sejenak aku kemudian menindihnya sambil menempelkan batangku ke belahan vaginanya agar tidak cepat menutup. Kini saatnya aku ingin memasukan lubang surgawinya yang sempit itu. Entah bagaimana rasanya, tunggu saja besok lanjutan cerita mesum Zaskia Adya Mecca ini.

BU SITI

Aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Saat aku kelas 2 SD, ibu memutuskan untuk bercerai dengan ayah. Alasannya karena tabiat ayah yang suka berselingkuh. Ibu akhirnya memutuskan untuk menjadi TKW. Awalnya aku tinggal dengan nenek dari ibu, tapi dua tahun kemudian, aku ikut ayah karena nenek meninggal. Aku tinggal bersama orang tua ayah karena ayahku sering kerja keluar kota sebagai sopir sebuah perusahaan.

jilbab montok (1)

Ayah sudah menikah lagi dengan wanita muda, tapi hanya bertahan kurang dari setahun. Kemudian saat aku kelas 5 SD, dia menikah lagi dengan wanita yang sudah mempunyai anak. Aku sempat dibawa ayah pindah, tapi kembali, saat aku masuk kelas satu SMP, mereka berpisah lagi. Akhirnya, saat di pertengahan kelas dua SMP, kembali ayah menikah. Kali ini bersama wanita tanpa anak, sebut saja namanya bu Siti, wanita alim dan berjilbab yang berusia hampir 30 tahun.

Aku kembali dibawa ayah, karena bu Siti punya rumah dan hanya tinggal sendirian. Bu Siti di mataku merupakan wanita yang baik dan murah senyum. Saat pertama ketemupun, aku sudah akrab dengannya, karena dia sangat berbeda dengan dua ibu tiriku sebelumnya yang kadang mengajakku bicara hanya jika ada ayah saja. Bu Siti sangat memperhatikan keperluanku, bahkan sangat detail. Dari pelajarang sampai makan pun sering kali dia ingatkan. Sungguh, aku melihatnya sebagai wanita sempurna pengganti ibuku.

Karena bu Siti punya usaha sendiri -jualan makanan ringan yang dia buat lalu dia titipkan di toko-toko- dia dengan leluasa memberiku uang jajan, bahkan sering kali berlebih. Dia hanya menyuruhku untuk menabung kalo ada sisa uang jajan.

jilbab montok (2)

Empat bulan pertama perkawinan mereka, sungguh kelihatan bahagia. Tapi kemudian ketika ayah jadi sering keluar kota. Bu Siti kelihatan sering sedikit murung, apalagi jika ditinggal agak lama. Tapi biasanya ketika ayah kembali, kemurungannya seperti sirna. Sungguh, lama-lama aku bisa merasakan bahwa dia sangat kesepian kalau ditinggal ayah. Tapi di depanku, dia selalu berusaha bersikap tanpa masalah. Bahkan kadang, tak jarang jika dia jenuh, dia mengajakku ke kota, sekedar makan bakso atau membelikanku pakaian. Sungguh aku bahagia dengan perhatian beliau.

Sampai akhirnya, ketika aku liburan kenaikan ke kelas tiga SMP, kulihat bu Siti kembali murung karena ayah pergi sudah hampir empat hari. “Ayah memang pulangnya kapan, bu?” tanyaku.

“Katanya semingguan,” jawab bu Siti.

“Ibu jangan murung aja, kan ada aku yang menemani disini.” kataku.

Bu Siti tersenyum, ”Nanti malam tidur di kamar ibu lagi ya?” katanya.

Aku mengangguk. Kadang memang ketika ayah pergi, aku tidur di kamar ayah. Aku tidur di lantai, sementara ibuku di ranjang. Malam itu, saat hendak memejamkan mata, kulihat bu Siti gelisah di atas ranjangnya. Dia sudah melepas jilbabnya, bisa kulihat rambut hitamnya yang lurus sepunggung. Aku kasihan kepadanya, tapi aku tak bisa melakukan apa-apa.

jilbab montok (3)

Esok harinya, badanku sedikit demam, tapi aku kembali menemani beliau. Sebelum tidur, kami sempat berbincang. ”Kamu dingin nggak di lantai? Kalo nggak, tidur di kamar kamu aja.” katanya.

”Nggak apa-apa, bu. Nggak dingin kok.” jawabku. Dari maghrib hingga hampir jam 10 malam, hujan memang turun tanpa henti. ”Ibu kok masih gelisah?” tanyaku kemudian.

“Ah, nggak apa-apa. Biasa aja kok.” katanya. ”Ya udah, kamu tidur di atas aja, daripada masuk angin.” ucapnya lagi.

Aku menurut. Dia sempat membelai-belai rambutku saat aku bertanya, “Bu, kenapa sih kalo ayah gak ada, ibu suka resah?” tanyaku.

”Kamu nggak akan ngerti,” katanya.

”Pasti ibu kesepian ya? Kan ada aku, bu, masa masih sepi?” kataku bodoh.

Dia tersenyum dan melingkarkan tangannya di pundakku. Usapannya sungguh sangat menghangatkan, sampai tak sadar aku mulai merapatkan badanku ke tubuh montoknya dengan posisi tengkurap. Oh ya, hampir lupa ngasih tahu, ibu tiriku ini punya tetek dan pinggul yang besar. Aku baru menyadari setelah sering tidur sekamar dengannya. Sekarang bisa kurasakan tonjolan payudaranya yang empuk itu mengganjal lembut di dada dan bahuku.

”Dingin ya?” tanya bu Siti ramah, sama sekali tidak berusaha untuk menarik atau menjauhkan tubuhnya.

”Iya,” sahutku pendek.

Bu Siti kemudian mendekapku erat. Sungguh, entah kenapa, tiba-tiba jantungku berdetak kencang. Apalagi saat dia mengusap punggungku dan makin menekan tonjolan payudaranya ke bahuku. Tanpa sadar aku mulai memeluk pinggangnya.

”Kamu suka ibu peluk gini?” katanya.

”Iya, bu. Suka.” jawabku polos. Dan makin kudekap erat pinggulnya. Kuusap-usap bulatan bokongnya yang bulat dan padat dengan jari-jariku. Lama-lama kudengar nafas bu Siti mulai berat dan tidak teratur. Aku dapat mendengar debaran jantungnya yang berdetak semakin cepat karena wajahku sangat dekat dengan dadanya.

“Duh, ibu jadi kangen ayah,” katanya setengah mendesah.

”Kan ada aku, bu.” kataku sambil kurapatkan wajahku di bulatan buah dadanya. Perlahan kurasakan tangan bu Siti mengusap pantatku. Aku makin deg-degan. Entah sadar atau tidak, dia malah meremas selangkanganku.

jilbab montok (20)

”Masih nggak enak badan?” tanyanya sambil mengusap-usap burungku yang mulai terbangun.

”Udah nggak gitu, bu.” jawabku, lalu merintih keenakan. ”Eghhh,”

”Kenapa kok gemetaran, takut ya dipeluk ibu?” tanyanya menggoda.

”Bukan, bu. Gemetar karena dingin.” jawabku sekenanya, malu untuk bilang kalau aku lagi menikmati belaian tangannya di batang penisku.

”Ya sudah, sini masuk selimut ibu.” katanya kemudian. Dia pun membagi selimutnya yang lebih tebal dibanding selimutku. Tubuhku semakin bergetar saat kakiku bersentuhan dengan kakinya, tangannya masih setia mengelus pantat dan selangkanganku. Kemudian tangan itu kurasakan mendorong pinggulku, tapi aku agak bertahan, tetap tengkurap di atas tubuh semoknya.

”Kenapa, takut? Ini supaya kamu nggak sesak aja.” katanya sambil tersenyum.

”Nggak, bu.” jawabku pendek. Aku menyadari bahwa kemaluanku ternyata sudah berdiri tegak, kaku dan keras sekali. Ini semua akibat usapan tangan bu Siti. Malu kalau dia sampai mengetahuinya, dengan cepat aku beringsut, sedikit agak menjauh darinya. Kurasakan tangannya mengejar, ingin kembali mengusap dan mengelus batang kontolku. Aku sedikit bergerak agak menjauh lagi, lalu kuambil bantal dan menutupkannya ke depan celanaku.

”Kenapa?” tanyanya.

”Nggak apa-apa, bu.” kataku.

”Kok bergeser, kenapa hayo?” tanyanya lagi.

Karena tidak punya alasan, dan malu untuk mengatakan yang sebenarnya, aku akhirnya kembali merapatkan tubuhku kepadanya. Tangan bu Siti kurasakan hendak menarik dan mengambil bantalku. ”Jangan, bu.” kataku mencegah.

”Emang kenapa?” tanyanya.

jilbab montok (4)

”Nanti aku kedinginan.” ah, alasan yang sungguh bodoh.

”Ya udah sini, ibu peluk.” sambil berkata begitu, tangannya tiba-tiba menyelusup ke dalam bantal hendak memelukku, dan… ”Ooh!” desisnya saat menyenggol benda keras yang ada di baliknya.

Kurasakan mukaku pedas dan memerah. ”Eh, maaf, bu.” hanya itu yang bisa kurasakan.

”Nggak apa-apa, nggak usah malu. Burung memang suka bangun kalau udara dingin. Makanya rapetin ke ibu biar anget. Nggak apa-apa kok,” katanya lirih.

Agak sedikit ragu, kuikuti sarannya hingga posisiku sekarang agak sedikit menyamping tapi sangat rapat ke tubuhnya. Kembali tangan bu Siti bergerak untuk meraba pantatku, tapi kali ini dengan sedikit meremas. ”Burungmu masih tegang?” tiba-tiba dia bertanya.

”I-iya, bu.” jawabku. Entah sudah seperti apa mukaku saat itu. Apalagi saat kemudian kurasakan tangannya mulai meraba bagian kemaluanku. Celana boxerku yang tipis makin memperjelas bentuk kontolku yang bangun.

”Boleh ibu pegang?” tanyanya.

Aku hanya diam. ”Kan sudah dari tadi ibu pegang,” rutukku dalam hati. Tapi aku cuma mengangguk, memberinya ijin untuk berbuat apa saja pada tubuh kecilku.

jilbab montok (19)

Dia tersenyum, kemudian menyelusupkan tangannya ke dalam boxerku. ”Ih, keras amat!” katanya, campuran antara kaget dan gemas. Aku hanya tersenyum.

”Sini, lebih rapat.” katanya lagi. Aku mengangguk, kemudian perlahan, kurapatkan tubuhku hingga kemaluanku menempel di perut bu Siti. Hangat sekali rasanya. Sesaat kami terdiam, bu Siti masih terus mengusap dan mengelus-elus penisku dari dalam celana. Kurasakan jari-jarinya begitu lembut dan hangat membungkus batang kontolku. Aku hanya bisa mendesah dan mengerang menikmatinya.

Masih dalam lindungan selimut, bu Siti membimbingku. Ia melepas genggamannya sejenak di batang kontolku untuk kemudian meraih tangan kiriku dan meletakkan di atas bongkahan pantatnya. Setelah itu dia meraba pantatku dan menariknya hingga makin rapat ke daerah kemaluanya. Satu kakinya kemudian kurasakan naik di pahaku.

”Nggak apa-apa, kamu nurut aja.” katanya.

”I-iya, bu.” jawabku bingung, memang siapa juga yang mau nolak? Meski tidak mengerti apa yang dia inginkan, tapi aku akan mengikuti permainannya.

jilbab montok (5)

Kemudian kurasakan tangan bu Siti mulai menurunkan celana bagian samping kiriku, sesaat kemudian dia menarik bagian tengah, hingga aku tahu, kontolku sudah berada di luar sekarang. “Bu?” kataku gemetar saat kurasakan ujungnya menyundul tepat di depan kemaluan bu Siti yang masih terbalut celana dalam. Tapi aku tahu, bagian itu sudah sangat basah dan hangat.

”Kenapa? Takut?” tanyanya tanpa rasa bersalah.

”Nggak kok, bu. Nggak apa-apa.” jawabku dalam bingung.

”Kalau gitu sini, rapetin ke badan ibu.” katanya. Aku hanya mengangguk. Tangannya kemudian bergerak, membimbingku agar membantu melepas celana dalamnya. Saat benda itu sudah turun hingga ke dengkul, kembali kurasakan kehalusan kulit paha dan bokongnya saat bu Siti menyuruhku untuk mengusap-usapnya lagi.

Bu Siti sendiri memegang kemaluanku dan menariknya merapat ke tubuh sintalnya. Kali ini bukan kain yang kurasakan, tapi seperti bulu-bulu halus yang sungguh licin dan hangat. Mataku pura-pura aku pejamkan saat tangannya mulai menggerakkan batang kontolku hingga kurasakan kemaluanku itu melalui sesuatu yang makin lama makin terasa hangat dan basah. Tubuhku bergetar, aku sadar apa yang telah dia lakukan, tapi aku tak kuasa untuk menolak. Karena jujur, aku juga menikmati dan menginginkannya.

Akhirnya, sebagian kontolku telah masuk ke lubang yang sangat sempit dan lengket itu. Hangat, geli, dan nikmat kurasakan, apalagi saat tangan bu Siti mulai menekan pantatku, membuatku batangku makin melesak dan menusuk semakin dalam. Sesekali dia menggerakkan pinggulnya perlahan agar kontolku bisa lancar menerobos liang vaginanya. Saat sudah masuk seluruhnya, bu Siti mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, sedangkan aku cuma diam, tak tahu apa yang harus kulakukan.

Jepitan memek ibu tiriku itu kurasakan begitu nikmat, hingga tak lama kemudian kurasakan suatu aliran hendak memancar keluar dari batang penisku. “Bu,” kataku perlahan.

”Kenapa?” tanyanya, masih terus menggenjot dan menggoyang tubuh sintalnya.

”Nggak tahu, kayak ada yang mau keluar,” jawabku.

”Nggak apa-apa, keluarin aja.” katanya sambil mengecup pipiku penuh rasa sayang.

Tanpa sadar, kudekap tubuh mulus bu Siti erat-erat, dan tiba-tiba kontolku berdenyut hebat. Kurasakan aliran panas keluar dari benda itu, sungguh sangat nikmat rasanya, begitu luar biasa. Berkali-kali semprotanku itu memancar deras, mengisi liang kemaluan ibu tiriku itu hingga menjadi semakin basah. Bu Siti sendiri berhenti menggoyang, dia menekan penisku dalam-dalam hingga saat kontolku kutarik keluar, tidak ada sedikit pun cairan yang tertumpah.

jilbab montok (7)

Lima menit kami berpelukan erat, hingga akhirnya kurasakan bu Siti merapikan celanaku dan memasukkan kembali burungku yang sudah melembek dan melemah. Masih di balik selimut, dia kemudian bangkit dan melepas celana dalamnya. Kulihat bokongnya yang bulat dan putih mulus saat dia berjalan keluar untuk pergi ke belakang karena dasternya masih berada di atas pinggang. Tak lama, dia kembali dan memberiku minum. Setelah kuhabiskan air es itu, kembali aku tengkurap dibalik selimut tebal, bu Siti berbaring di sampingku. Kami terus diam, mungkin selama satu jam lebih, tapi aku tak bisa tidur. Saat berbalik, kulihat bu Siti masih duduk menyandar di tembok.

“Ibu belum tidur? Ini selimutnya.” kataku sambil hendak memberinya selimut yang kupakai.

”Nggak usah, ibu cuma belum ngantuk.” jawabnya. ”Maafkan ibu ya?” tambahnya kemudian.

“Nggak apa-apa kok, bu.” kataku.

”Kamu nggak marah? Ibu hanya rindu ayah,” jelasnya.

”Buat apa marah? Aku malah merasa enak kok, aku juga nggak akan bilang sama ayah.” jawabku.

Dia tersenyum. ”Kamu sendiri, kenapa belum tidur?” katanya.

”Nggak tahu, bu. Nggak ngantuk juga. Nungguin ibu tidur dulu aja,” jawabku.

”Iya, makasih.” katanya.

”Ibu jangan murung, kan sekarang ada aku disini.” kataku sok dewasa.

Dia tersenyum. Bu Siti kemudian meraba-raba punggungku yang tengkurap, lalu pantatku, dan juga pahaku. Tiba-tiba wajahnya mendekati wajahku dan kemudian mengecup bibirku. Aku hanya tersenyum saat tangannya mulai masuk ke balikboxer dan meremas pantatku. Aku diam dan membiarkannya.

”Ibu belum ngantuk,” katanya.

”Aku temani kok, bu.” jawabku, masih tak mengerti kalau ibu tiriku masih belum tuntas tadi. Dadaku kembali berdegup kencang saat perlahan tangannya mulai menarik turun celanaku. Aku menurut, dan dengan cepat, tubuhku sudah setengah telanjang sekarang. Masih berbalut selimut, boxerku sudah luruh jatuh ke lantai. Dengan gemas, bu Siti meremas-remas dua bongkahan pantatku. Ia memijitnya sambil sesekali menyenggol buah zakarku. Hingga ketika sudah tak tahan, ia pun akhirnya ikut masuk ke dalam selimut.

Jantungku terasa berdebar saat dia membalikkan tubuhku. Aku menurut saat kaosku dia tarik. Aku akhirnya telanjang dalam selimut. Aku tahu, bu Siti pun mulai melucuti pakaiannya hingga kami sama-sama telanjang, kemudian wajahnya masuk dalam selimut. Kurasakan kecupan di dadaku, lalu pusarku, hingga akhirnya kurasakan mulutnya mulai menghisap batang kontolku yang sudah sedikit menegang lagi. Tak lama, dia merapatkan tubuhnya di atasku, kemudian dia kembali mencium bibirku.

“Kita lakukan lagi ya?” tanyanya.

”I-iya, bu.” jawabku senang.

”Kamu di atas ibu, mau gak?” tanyanya. Aku mengangguk.

Aku pun bergerak saat tubuh molek bu Siti terbaring di sampingku. Perlahan dia meregangkan kakinya saat aku telah berada di atas tubuhnya. Satu tangannya kurasakan memegang kontolku, dan perlahan mengarahkannya ke lubang kemaluannya. Kembali kurasakan nikmat saat kontolku mulai masuk ke lubang sempit itu. Saat sudah tenggelam seluruhnya, dia menaik-turunkan pinggangku dengan tangannya. Dia begitu sabar dan telaten mengajariku bersetubuh. Lama-lama, akupun mulai bergerak sendiri, menggenjot tubuh sintalnya dengan tusukan penisku.

jilbab montok (10)

”Oh, nikmatnya! Ehsss… enak!” desah bu Siti.

Aku terus menggenjotnya hingga peluh mengucur deras di dahiku. Bu Siti mengusapnya. ”Kamu capek nggak?” tanyanya.

”Enggak, bu.” jawabku sambil terus menggenjotnya. Setengah jam lebih aku berada di atas tubuhnya, sampai akhirnya…. akupun mengejang, dan kembali kusemprotkan cairan kenikmatanku.

”Bu, jangan bilang ayah ya?” kataku dengan nafas tersengal karena nikmat.

“Ya nggak lah, nanti pasti ibu yang disalahin.” katanya.

Malam itu, hingga pagi tiba, kami tidak bisa tidur. Kami terus bermain dan bermain. Tak bosan-bosannya aku naik ke atas tubuh bu Siti, menggenjot tubuh mulusnya, dan menumpahkan spermaku di dalam lubang kemaluannya. Satu kali aku moncrot di dalam mulutnya, saat ibu tiriku itu asyik mengulum penisku setelah dia orgasme. Yah, aku akhirnya berhasil mengantarkannya ke nikmat persetubuhan. Dia tampak bahagia sekali, begitu juga dengan aku.

Jam lima pagi, baru aku tertidur. Sementara bu Siti keluar untuk mandi dan membersihkan tubuhnya. Kukira setelah itu dia akan tidur juga, tapi saat aku bangun jam dua siang, kulihat bu Siti tidak ada di sampingku. Masih dengan tubuh telanjang, kudatangi dia di dapur. Kudengar suara senandung merdunya dari sana. Kulihat ibu tiriku itu sudah rapi dengan baju terusan panjang dan jilbab lebar seperut. Dia tampak sibuk menyiapkan makan siang.

”Makan dulu aja, mandinya nanti.” katanya sambil tersenyum. Aku tidak membantah. Bu Siti tertawa saat melihat burungku yang menciut sebesar jempol kaki. ”Itu capek banget kayaknya, nggak bangun sama sekali.” tunjuknya.

jilbab montok (12)

Aku mengangguk malu. ”Iya, bu. Capek habis disuruh melek semaleman.” candaku. Dan kami tertawa berbarengan.

Selesai makan, aku langsung mandi. Keluar dari kamar mandi, saat masih basah dan mengenakan handuk, aku melintas di dekat bu Siti yang duduk di dekat meja makan. ”Maafkan ibu ya?” katanya.

“Maafkan apa, bu? Ibu nggak ada salah kok.” jawabku santai.

“Gara-gara ibu, kamu jadi korban.” katanya.

”Saya nggak merasa jadi korban kok, bu.” kataku, hanya kata-kata itu yang terlintas di pikiranku.

Tiba-tiba tangan bu Siti meremas handuk yang menutup kemaluanku. Aku hanya diam, dan tak lama, kontolku mulai bereaksi. ”Ibu mau lagi?” kataku.

”Ah, nggak juga. Kalau kamu?” tanyanya.

”Terserah ibu,” jawabku.

Tiba-tiba handukku ia lepas. Bu Siti terus memandangi kontolku yang kini sudah mengacung tegak. ”Ibu sudah salah, bulu kamu aja masih tipis, tapi kamu harus mengalami hal ini.” katanya.

”Nggak apa-apa, bu. Aku suka kok.” jawabku, lalu kudekatkan kontolku ke mulutnya. Dia tersenyum, dan perlahan mulai mengulum dan menjilatnya. Bu Siti setuju saat aku mengajaknya masuk ke kamarku. Akhirnya, kembali sore itu aku menggenjot tubuh mulusnya.

Kami terus melakukannya, siang dan malam. Hingga dua hari kemudian, ayah pulang. Aku lebih banyak diam di kamarku daripada takut ayah melihat hal aneh, karena aku masih merasa risih dan bersalah karena sudah bercinta dengan istrinya. malam harinya, aku tak dapat tidur. Aku tahu pasti, sekarang bu Siti pasti sedang bergumul dengan ayah, karena sejak jam sembilan, mereka sudah masuk ke kamar.

Senin, saat sekolah baru mulai, hari baru sekitar jam lima pagi ketika aku selesai mandi. Ayah masih terlelap karena kemarin pulangnya agak malam. Baju seragam telah kupakai. Aku lalu pergi ke dapur hendak mengambil minum. Kulihat bu Siti telah selesai membuat nasi goreng. “Kamu kok banyak diam, kenapa?” tanyanya.

”Nggak apa-apa, bu.” jawabku.

”Bilang aja, kita kan sudah janji nggak ada rahasia-rahasian.” katanya.

jilbab montok (13)

“Nggak, bu. Cuma, anu…” kataku terputus. ”Nggak ah, nanti aja.” kataku kemudian. Aku lalu masuk ke kamarku. Sesaat kulihat bu Siti mengikutiku. Aku sedang merapikan tasku saat perlahan kurasakan tangannya mengusap pundakku, kemudian tangannya yang lain meraba daerah kemaluanku.

”Ibu kangen,” bisiknya sambil meremas-remas kemaluanku.

”Jangan, bu. Nanti ketahuan ayah.” bisikku takut.

”Dia bangunnya siang, kelelahan sehabis main semalam suntuk sama ibu.” kata bu Siti nakal. Mendengarnya, kontolku langsung menegang. ”Sini,” katanya mesra. Perlahan dia bergerak ke balik pintu kamarku, aku mengikutinya. Tangannya kemudian menarik turun resletingku, dan kembali, aku hanya diam. Bu Siti menarik kontolku keluar, dia tersenyum saat melihatnya sudah kaku dan keras.

”Mau nggak?” tanyanya sambil menjilati batangku hingga basah kuyup.

Aku mengangguk. Bu Siti kemudian menarik gamisnya ke atas, menjepitnya di perut, dan kemudian perlahan menurunkan sedikit celana dalamnya hingga ke dengkul. Dia bersandar di pintu, membelakangiku. Bisa kulihat memeknya yang tembem menguak lebar. Ada sedikit sisa sperma ayah disana. Kuusap-usap perlahan benda itu sambil aku mempersiapkan penisku.

”Ibu masih kurang habis digarap ayah habis0habisan semalam?” tanyaku polos. Tanganku meremas-remas sebentar bulatan payudaranya.

”Ayahmu cuma mau menang sendiri, nggak ngerti kebutuhan ibu. Sudah, cepat masukkan. Nanti kamu terlambat ke sekolah.” katanya sambil mengangkangkan kakinya semakin lebar.

Perlahan, di balik pintu kamarku, aku mulai menusukkan kontolku, dan saat sudah amblas seluruhnya, segera menggerakkannya maju mundur dengan cepat. Bu Siti mengimbangi genjotanku dengan memutar pinggulnya berlawanan arah dengan tusukanku. Kami terus melakukannya walau dengan sedikit ketakutan karena ayah lagi ada di rumah. Tapi ketenangan bu Siti menenangkanku. Dan sensasi main dalam suasana seperti benar-benar luar biasa. Tak lama, akupun mulai merintih. Pejuhku rasanya sudah mau muncrat.

jilbab montok (22)

Segera kudekap tubuh montok bu Siti, dan… ahh! ahh! kutahan nafasku berbarengan dengan keluarnya air maniku. Begitu juga dengan bu Siti, dia juga menyemburkan cairan kenikmatannya. Memeknya terasa begitu penuh sekarang. Saat kucabut penisku, cairan itu meleleh keluar membasahi paha dan betis bu Siti, beberapa bahkan ada yang menetes di lantai. Kami tertawa berbarengan saat melihatnya. Begitu puas, begitu nikmat.

“Sarapan enak di pagi hari.” bisik bu Siti nakal. Aku tersenyum dan mengecup pipinya. “Kalau nanti kamu mau lagi, bilang aja, jangan diam aja.” katanya, seolah tahu keresahanku. ”Nanti kita cari waktu dan tempat yang pas.” dia menurunkan kembali gamis hitamnya dan merapikan jilbabnya yang awut-awutan.

jilbab montok (18)

Kami keluar dari kamar. Bu Siti meneruskan acara memasaknya, sedangkan aku, setelah sarapan dan mencium tangannya, segera berangkat ke sekolah.

Sejak itu, kami makin dekat. Saat ayah tak ada di rumah, bukan lagi masalah bagi bu Siti. Bahkan merupakan anugrah baginya, juga bagiku. Kami tidak sungkan lagi untuk saling meminta dan memuaskan. Aku sendiri sangat menikmatinya, siapa juga yang tidak senang bisa meniduri wanita cantik dan molek macam bu Siti. Yang menurut pandangan orang luar sangat alim dan lugu, tapi ternyata nakal dan liar soal urusan ranjang.

INDAH

Sore itu aku begitu suntuk di kantor, karena sekretarisku melakukan kesalahan yang cukup fatal sehingga perusahaanku ditolak untuk mengikuti tender yang bernilai Rp 12M. Sekretarisku hanya menangis dan meminta maaf atas segala kesalahan yang dilakukannya dan dia berjanji akan melakukan apa saja untukku untuk menebus kesalahannya itu agar ia tidak dipecat olehku. Aku tidak menanggapi tangisan dan janjinya, karena perasaan dongkol di dalam dada telah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan sebuah tender yang bernilai cukup besar bagi perusahaanku. Untuk menghilangkan kekesalanku, aku meninggalkan kantor berjalan kaki menyusuri jalan berusaha menghilangkan kekesalan yang melanda dada, sedangkan BMW-ku kutinggalkan di kantor.

Sebelum aku melanjutkan cerita ini, kuperkenalkan terlebih dahulu identitasku. Namaku adalah Agus, umur 32 tahun dan karena keuletan dan kerja keras, saat ini aku telah berhasil sebagai direktur utama dari sebuah perusahaan yang bergerak dibidang jasa dan penyediaan barang di kota kembang Bandung. Statusku saat ini masih bujangan, karena waktuku kugunakan untuk kerja keras. Menurut teman-temanku wajahku termasuk wajah yang memperlihatkan karakter lalaki yang sangat jelas walaupun tanpa kumis dan janggut yang lebat, oleh sebab itu sudah banyak cewe yang berusaha mendekatiku dan mengajak kencan, termasuk sekretarisku yang baru saja membuatku kesal.

Namun sebagai lelaki normal, tentu saja aku membutuhkan penyaluran biologis, tapi hal itu bukanlah masalah besar bagiku. Setiap wanita yang mendekatiku selalu memberikan apa yang kubutuhkan dengan harapan agar dipilih olehku untuk kunikahi. Namun aku cukup hati-hati dalam menyalurkan arus bawah ini, karena aku tidak ingin terjebak oleh perangkap cewe-cewe yang mendekatiku.

Walaupun aku bukanlah tipe lelaki yang suci, tetapi mempunyai keinginan yang sangat besar untuk dapat memperistri seorang wanita baik-baik khususnya yang berjilbab, karena dimataku mereka begitu cantik, anggun dan mempesona.

Kakiku terus melangkah menyusuri jalan Asia-Afrika sambil melamun. Keringat yang membasahi kemejaku membuatku kurang nyaman, kucopot dasi dan kumasukkan ke dalam saku celana, kemudian satu kancing kemeja kulepas untuk mengurangi rasa gerah. Disekitar alun-alun Bandung, aku berhenti sejenak dan membeli teh botol yang dijual dipinggir halte bis kota jurusan Cicaheum – Cibeureum. Aku meminumnya dengan rakus untuk membasahi kerongkongan yang kering. Ketika menjauhkan botol dari mulutku, tiba-tiba aku terpana melihat senyuman yang dilontarkan oleh seorang gadis berjilbab yang sangat cantik dan anggun. Rupanya dia melihat apa yang kulakukan pada saat aku minum teh botol dengan rakusnya, dan merasa kelakuan itu lucu sehingga ia tersenyum. Ketika dia sadar aku memandangnya terpesona, dia langsung membuang muka.

Walaupun pertemuan pandangan mata itu hanya sesaat, namun cukup menggetarkan hatiku dan melepaskan kekesalan yang sedang melandaku. Tak kulepaskan tatapanku dari wajahnya sedetikpun, tapi dia hanya tertunduk dan sekali-sekali melihat apakah bis kota yang dinantinya ada atau tidak.

jilbab montok bohay (2)

Aku terus memperhatikannya, umurnya kuperkirakan sekitar 24 tahun dan dari pakaian yang dikenakan aku menebak bahwa ia adalah karyawati salah satu departement store yang ada di sekitar alun-alun Bandung.

Aku sadar akan kekurang ajaran tatapanku padanya, maka ikut-ikutan melihat seolah-olah sedang menunggu bis kota juga. Begitu bis kota yang ditunggu datang, dia berusaha naik, tanpa sadar aku turut naik bis kota tersebut dan tepat berada di belakangnya. Penumpang bis demikian penuhnya hingga berdesak-desakan sambil berdiri, karena bertepatan dengan waktu pulang kerja. Bis kota yang penuh sesak itu bergoyang-goyang, namun aku berusaha untuk tidak menempelkan badanku padanya, aku berusaha agar dia merasa nyaman walaupun sambil berdiri. Rupanya dia menyadari apa yang kulakukan, kemudian dia memandangku dan tersenyum manis, lalu menunduk kembali.

Serrrr… dadaku bergetar mendapat senyum manis darinya. Aku tidak ada keberanian untuk menanyainya, bahkan merasa bingung apa yang harus kulakukan. Sepanjang jalan aku hanya melamunkan bagaimana caranya agar aku bisa berkenalan dengannya.

Disekitar Gang Gwan An, kulihat gadis itu turun. Karena jalanan macet, maka aku dapat terus memperhatikan langkah kakinya hingga ia belok ke arah suatu Gang. Hatiku semakin tergetar dan terpana melihatnya berjalan demikian anggunnya. Setelah dia hilang dari pandangan mata, baru aku tersadar bahwa aku sudah terlalu jauh dari kantorku. Langsung aku turun dipemberhentian selanjutnya dan ke kantor menggunakan taxi. Kemudian aku bergegas pulang ke rumahku di Margahayu Raya.

Di rumah, aku terus-menerus gelisah. Bukan gelisah memikirkan kegagalan tender, tetapi gelisah karena bayangan gadis cantik berjilbab itu terus menggodaku. Senyum manis dan tatapan mata yang teduh betul-betul menggetarkan hatiku dan tidak bisa kulupakan. Sambil berbaring dan memeluk bantal aku terus melamunkan gadis cantik berjilbab yang telah meruntuhkan hatiku… sampai aku tertidur dan memimpikan tentang dirinya.

Keesokan harinya aku ke kantor dengan perasaan berbunga-bunga seperti orang yang sedang kasmaran. Sekretaris dan anak buahku yang lain terheran-heran karena melihatku tersenyum dan tidak memperlihatkan wajah kecewa dan marah akibat kegagalan kemarin, Sekitar jam 4 sore, dengan terburu-buru aku keluar dari kantor dan meninggalkan mobil BMW-ku, kemudian mencari taxi untuk mengantarku ke halte tempat aku bertemu dengan gadis idamanku. Aku tiba disana terlalu cepat, dengan sabar aku menantinya, hingga akhirnya gadis pujaanku datang. Jantungku berdebar sangat keras, keringat dingin keluar dari pori-poriku dan membuatku salah tingkah. Aku benar-benar bagaikan pemuda ingusan yang baru mengenal cinta.

jilbab montok bohay (3)

DEG… jantungku berhenti berdetak ketika dia memandangku dan tersenyum manis lalu menundukkan kepala. Aku semakin salah tingkah, dorongan untuk menegurnya begitu besar, namun badanku terasa kaku dan mulutku terasa terkunci. Aku hanya dapat merasakan jantungku berdetak sangat cepat dan keras serta napas yang memburu. Dan seperti kemarin, hari inipun aku naik bis kota mendekati dirinya, walaupun tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Namun aku merasa sangat bahagia bisa bertemu dan berdekatan dengannya. Dia turun di sekitar Gg. Gwan An kemudian aku kembali ke kantorku menggunakan taxi.

Kejadian seperti itu kulakukan setiap hari selama seminggu, namun pada minggu kedua aku tidak menemuinya ditempat pemberhentian bis kota walaupun aku mencarinya hampir setiap hari.Baru minggu ke tiga aku kembali bertemu dengannya dan dengan memberanikan diri aku bertanya padanya ketika sama-sama menunggu bis kota.“Pulang kerja Neng ?” pertanyaan basa-basi kulontarkan.

“Iya, Kang. Akang pulang kerja juga ?” dia balik bertanya.

“Iya, Neng. Eneng kerja dimana?” tanyaku lagi

“Di Matahari, kalau akang? “ dia balik bertanya

“Ah, akang mah supir di perusahaan…“ tanpa sadar kuucapkan nama perusahaanku dan alamat kantorku.

“Oohhh, akang baru kerja di sana ya?” dia mulai berani bertanya padaku.
“Iya, baru dua minggu…” jawabku berbohong, sebab aku baru dua minggu bertemu dengannya disini.

Pembicaraan terhenti, karena bis yang ditunggu tiba, kami menaikinya dan kebetulan penumpang tidak begitu ramai, sehingga ada tempat duduk kosong untuk ukuran dua orang. Kamipun duduk berdampingan.

“Ehh, ngomong-ngomong, perkenalkan. Nama saya Agus!” kataku seraya menyodorkan tangan, dia menyambut jabatan tanganku dengan lembut dan menjawab, “Indah..”

Aku terpana merasakan kelembutan tangannya dan tanpa sadar terucap “Oohhh… Indah, seindah wajah dan penampilannya.” kataku berguman.

“Ada apa, Kang ?” dia bertanya padaku karena ucapanku tak didengarnya.

Aku gugup dan dengan tergagap menjawab “Ti-tidak, anu…ehh… Namanya Indah, seindah wajah dan penampilan yang menyandangnya. Maaf…” kataku takut dia tersinggung dan menganggap aku kurang ajar.
“Ah, Akang bisa aja.” katanya sambil tersenyum . Serrrr… hatiku kembali bergetar.

Sepanjang jalan kami bercakap-cakap, aku tetap hati-hati menjaga sikap dan seperti biasa Indah selalu menundukkan wajahnya setiap setelah bertanya ataupun menjawab pertanyaanku. Perasaanku saat itu benar melayang bahagia, sehingga tanpa terasa Indah harus turun. Dan seperti biasa aku pulang sebagaimana biasa.

Hari-hari berikutnya, betul-betul merupakan hari-hari yang indah bagiku, aku selalu mengerjakan dengan cepat semua pekerjaanku. Dan sekitar jam empat, aku sudah meninggalkan kantor untuk bertemu dengannya. Bahkan kadang-kadang aku sudah menongkrong didepan Matahari menunggu dia keluar sehingga aku punya banyak waktu untuk ngobrol dengannya, bahkan kadang-kadang kubawa mobilku dengan alasan Boss mengijinkanku membawa mobilnya untuk alasan tertentu. Dari obrolanku dengannya, kuketahui bahwa dia sudah 1,5 tahun bekerja di sana dan dia bekerja dengan sistem shift, seminggu pagi hingga sore dan seminggu lagi sore hingga malam sekitar jam sembilan.

Sampai saat ini aku masih menjaga sikapku padanya agar dia tidak menjauh dariku. Bahkan kadang-kadang dengan alasan ingin jalan-jalan ke Matahari, Aku sengaja menemuinya ditempatnya bekerja

Sikapku yang terlihat begitu menghargai dan menghormati dirinya menimbulkan rasa simpati yang cukup besar dari dalam diri Indah. Perasaan simpati itu lambat laun berubah menjadi rasa suka dan rasa sayang yang membingungkan bagi diri Indah, namun sejauh ini hubungan itu masih tetap terjaga dari perbuatan tercela, hal itu membuat Indah semakin suka dan merasa nyaman bila berdekatan denganku, sehingga ada kerinduan dalam diri Indah jika satu atau beberapa hari tidak bertemu denganku. Namun demikian, Indah sendiri merasa bingung dan gundah dengan perasaannya pada diriku.

Sedangkan aku merasa sangat berbahagia dengan hubungan ini, walaupun hanya sebatas ngobrol didalam bis kota yang hanya beberapa menit setiap hari, namun sanggup mengisi kekosongan jiwaku selama ini.

Hubunganku dengan Indah semakin akrab dan indah menurutku, kami bisa tertawa bersama, ngobrol ngalor-ngidul, bahkan kepada hal-hal pribadi diriku. Namun ada satu masalah yang masih mengganggu pikiranku, Indah selalu menghindar jika kutanyakan hal-hal pribadi dirinya bahkan menolak dengan keras jika aku ingin ke rumahnya. Dia hanya berkata, “Kang, Indah memiliki masalah yang sangat berat dan tiada seorangpun yang dapat mengurangi beban berat ini. Indah mohon Akang bisa mengerti.”

Berkali-kali aku mendesaknya untuk membantu meringankan bebannya, tapi setiap kali itu pula dia menolak dengan keras, bahkan pernah mengancam untuk tidak usah bertemu lagi, jika aku tetap memaksanya. Aku menyerah dan dalam hati aku berpikir biarlah keadaan tetap seperti ini daripada tidak bisa lagi bertemu dengannya, sebab dengan keadaan seperti inipun aku sudah merasa sangat bahagia dan tenang.

Sore ini telah masuk bulan keempat perkenalanku dengan Indah, dan aku sangat gelisah, karena hujan turun sejak siang dan sampai jam empat belum berhenti juga. Dan akhirnya kugunakan mobilku menuju Matahari tempat kerja Indah. Di tempat kerja Indah, terlihat olehku Indah sedang tertunduk ketakutan sedang dibentak dan dimarahi oleh supervisornya, karena tanpa disengaja olehnya seorang pelanggan telah merusak barang dagangan yang harganya cukup mahal, dan harus diganti oleh Indah. Kutawar barang yang sudah rusak itu untuk kubeli dengan harga normal agar Indah terhindar dari sanksi.

Supervisor menyetujuinya dan akhirnya barang itu kubayar, kemudian Indah berkata padaku tanpa sepengetahuan supervisornya. “Tunggu di depan ya, Kang, kita pulang bareng lagi.”

Aku mengangguk sambil membawa barang yang kubeli.

Aku menunggu di depan dan hujan masih turun dengan lebatnya. Tak lama kemudian Indah muncul dan berkata dengan nada khawatir. “Waduh, gimana nich? Hujannya lebat banget. Kita tungguin aja ya, Kang?”

Tapi aku mengajaknya ke tempat parkir sambil berkata, “Kita pulang sekarang aja. Akang bawa mobil Boss kok.” kemudian menuju tempat dimana BMW-ku kuparkir.

Indah berkata, ”Masa sich mobil BMW Boss, Akang bawa-bawa terus.”

“Boss sedang Diklat di Preanger selama 3 malam dan di karantina, sehingga nggak boleh kemana-mana, jadi selama 3 malam ini BMW ini boleh Akang bawa-bawa. “ kataku memberikan alasan membawa BMW.

“Oh gitu…” kata Indah mengerti.

Di sepanjang jalan, Indah meminta maaf telah merepotkanku sehingga harus mengganti barang yang rusak dan dia berjanji akan mengganti uang yang kukeluarkan. Tapi aku menolaknya dan berkata. “Nggak apa-apa, Ndah, nggak usah diganti. Kebetulan Akang dikasih tip sama Boss cukup besar, jadi barangkali itu bukan rezeki Akang.”

“Walaupun bagaimana, Indah pasti akan mengganti uang Akang.” katanya memaksa.

jilbab montok bohay (4)

“Yah terserah Indah lah.” kataku menyerah.

Setelah mobil tiba di mulut gang menuju ke rumahnya, aku mengambil payung yang ada di dalam mobil dan berniat untuk mengantarnya hingga ke rumahnya. Namun kembali dengan tegas dia menolak keinginanku dengan berkata, “Kang, seperti yang pernah saya katakan, jika Akang ingin kita terus bisa bertemu, Akang tidak boleh datang ke rumah saya sebelum masalah berat yang saya hadapi dapat diselesaikan. Sekali lagi saya mohon pengertian Akang. Payung ini saya pinjam dan besok saya kembalikan.” Kemudian dia turun dari mobil dan berjalan meninggalkan diriku yang termangu kecewa.

Hari-hari berikutnya aktivitasku dengan Indah berjalan seperti biasa, namun sekali-sekali aku membawa mobilku dengan memberikan berbagai alasan padanya, bahkan Indah mulai bersedia kuajak makan sebelum kuantar pulang ke depan gang rumahnya.

Pada hari suatu hari sabtu sekitar jam 8 pagi, saat aku sedang membaca koran di ruang kerjaku, tiba-tiba hp-ku bunyi dan betapa berbunga-bunganya hati ini ternyata yang menghubungiku adalah Indah.

“Assalamu’alaikum, ada apa, ‘Ndah?” sapaku.

“Wa’alaikum salam, Akang ada waktu nggak?” balasnya.

“Lagi kosong nich.” jawabku bersemangat. ”Kenapa?” lanjutku.

“Akang bisa ke sini, ke Matahari…”

Ucapannya belum selesai dan langsung kupotong. “Ok. Tunggu 10 menit. Akang kesana!” jawabku semangat, dan kututup hp dan bergegas menuju ke tempat dimana mobilku diparkir.

Tak sampai 10 menit, aku sudah tiba di Matahari dan menemuinya. Setelah bertemu, Indah menjelaskan. “Seharusnya hari ini Indah masuk pagi, tapi teman Indah minta tukeran jadwal, karena nanti malam ada acara yang sangat penting. Indah setuju karena ingin membantu teman. Tapi sekarang Indah bingung, di rumah suntuk, sedangkan masuk kerja nanti sekitar jam 3.30 sore. Gimana nich?”

“Kita jalan-jalan aja, kebetulan Akang bawa mobil karena tadi pagi Akang baru mengantar boss ke Bandara, besok pagi baru Akang jemput,” usulku.

“Jalan-jalan kemana, Kang?” tanyanya ragu-ragu.

“Bagaimana kalau ke Tangkuban Perahu, nanti sebelum jam 4 sore kita udah disini lagi.” usulku lagi.

“Bolehlah, Kang.” jawabnya setuju. Lalu kami menuju ke mobilku berangkat ke arah utara kota Bandung.

Di tengah perjalanan kutanyakan padanya kenapa suntuk di rumah dan dia tidak mau menunggu di rumah saja hingga menjelang sore.

“Masalah yang dihadapi Indah makin berat aja sehingga akan semakin suntuk kalo Indah pulang ke rumah. Indah pingin ngobrol agar rasa suntuk ini berkurang.” jawabnya.

“Kenapa sich Indah tidak mau ngasih tahu Akang tentang masalah yang sedang dihadapi? Mungkin Akang bisa bantu meringankan.” tanyaku.

“Nanti pada waktunya akan Indah terangkan dan rasanya sekarang Indah belum sanggup menjelaskan ke Akang, maaf ya, Kang.”

Aku hanya menghela napas panjang dan tak berani menanyakan lebih lanjut. Dan akhirnya ganti topik pembicaraan.

Sepanjang perjalanan hatiku berbunga-bunga, karena baru kali ini aku bisa berlama-lama bersama dengannya dan terlihat olehku, walaupun dari sorot matanya dia seperti memendam masalah yang berat, namun tidak mampu menyembunyikan keanggunan dan kecantikan wajahnya. Dadaku berdebar-debar keras, tapi aku sangat menikmati suasana debaran jantung yang membuat napasku terasa berat dan sesak ini.

Kurang lebih 40 menit kemudian, kami telah tiba di Tangkuban Perahu. Kuparkirkan mobilku tak jauh dari kawah Ratu dan berjalan-jalan menikmati pemandangan indah kawah tersebut.

Terkadang tangannya kupegang sehingga kami tampak bagaikan sepasang suami istri yang sedang berlibur. Kami sangat menikmati suasana ini, dan tanpa kami sadari pegangan tangan kami semakin erat mengalirkan getar-getar nikmat diseluruh peredaran darahku, mungkin juga Indah merasakan hal yang sama denganku sebab seringkali tanganya meremas-remas erat tanganku. Kami duduk di tempat yang memiliki view keindahan kawah yang indah tersebut dan mengobrol sambil berpegangan tangan, hawa dingin tangkuban perahu seolah tidak kami rasakan.

Karena saat itu adalah musim hujan, maka langit mendung dan makin lama makin pekat menghitam seolah-olah akan segera turun hujan. Namun kami yang sedang asyik ngobrol seolah tidak menghiraukan keadaan cuaca tersebut. Sehingga akhirnya hujan turun dengan derasnya. Kami tersentak dan langsung berlari menuju tempat berteduh, tetapi posisi kami berada jauh dari kios-kios pedagang bahkan lebih dekat ke areal parkir, maka kuputuskan untuk berteduh di dalam mobilku. Badan kami basah kuyup ketika kami masuk ke dalam mobil karena cukup jauh kami kehujanan. Diluar, hujan semakin lebat dan kami mulai kedinginan, karena mengenakan pakaian yang basah oleh air hujan ditambah lagi dengan dinginnya hawa gunung Tangkuban Perahu.

Untuk mengurangi rasa dingin dari bajuku yang basah, dengan meminta maaf padanya kubuka bajuku dan kuperas bajuku agar seluruh air yang menempel dibajuku keluar lalu kuhanduki tubuhku dengan handuk yang biasa aku bawa di dalam mobil. Indah memandang dadaku yang telanjang, selintas kulihat ada tatapan kagum melihat tubuhku yang atletis. Dia terpana melihat tubuhku yang basah kemudian tertunduk. Entah apa yang ada dipikirannya

Aku kasihan melihat Indah mengigil kedinginan, kutawarkan handuk untuk mengurangi basah ditubuhnya dan kutawarkan pula jaket yang selalu ada didalam mobilku untuk dia kenakan. Indah menerima handuk dan jaket yang kutawarkan, namun sejenak dia bingung. Aku paham yang dibingungkannya, lalu berkata, “Ganti aja baju basahmu dengan jaket itu di jok belakang. Aku tidak akan melihat pada saat kamu buka baju.”

Indah memandangku sejenak dan karena rasa dingin semakin menusuk tulangnya maka dia berkata, “Awas lho… Akang nggak boleh ngintip waktu Indah buka baju.“

Aku mengangguk, kemudian dia beranjak ke jok belakang dan membuka baju basahnya untuk diganti dengan jaket yang kuberikan. Dengan jantung yang berdebar kencang, aku berusaha untuk tidak mengintip, tapi dari kaca spion yang ada di atas kaca depan, terlihat olehku dia membuka baju basahnya dengan tergesa-gesa.

Napasku sesak dan jantungku berdebar kencang, ketika dari kaca spion terlihat betapa putih dan mulusnya tubuh gadis berjilbab itu. Dan Indah tidak sadar bahwa aku dapat melihat dia bertelanjang dada, hanya tertutup oleh bh krem yang menopang buahdada yang montok dan ranum serta jilbab basah yang menutupi kepalanya. Dengan perlahan dia mulai mengeringkan badannya dengan handuk dan napasku semakin memburu dan gairahku bangkit dengan cepat melihat pemandang indah itu.

Setelah badannya dirasakan cukup kering, maka Indah mulai mengenakan jaket yang kuberikan sementara baju basahnya dia peras dan digantungkan di jok depan menggantung ke belakang. Kemudian berkata, “Sekarang sudah agak mendingan, tidak terlalu kedinginan seperti tadi. Makasih, Kang.”

Aku tidak menjawab, hanya membalikkan tubuhku ke belakang sehingga dapat menatap tubuhnya yang sudah mengenakan jaketku, sementara jilbab dan rok panjang yang basah masih dia kenakan.

Aku mengeluh dalam hati, Uhhh… gadis ini memang luar biasa cantik. Menggunakan pakaian apa saja tetap saja terlihat cantik. Aku terpana memandangnya tanpa berkata-kata membuat Indah malu dan berkata, ”Ada apa sich, Kang, melihat Indah seperti ada yang aneh?”

“Ah nggak.” jawabku malu.

Sambil menunggu hujan yang kian lebat, kami mengobrol banyak hal. Namun posisi tersebut membuatku kurang nyaman, akhirnya aku melangkahi jok depan untuk pindah ke jok belakang. Indah tidak protes ketika aku pindah ke jok belakang sehingga duduk kami berdampingan. Hawa gunung tangkuban perahu yang dingin menusuk tulang ditambah lagi dengan hujan lebat yang tak kunjung reda, membuat badannya menggigil kedinginan apalagi aku yang pada saat itu sedang bertelanjang dada, sehingga tanpa kami sadari duduk kami semakin rapat dan kedua tanganku memegang kedua tangannya dengan erat untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk tulang.

Perlahan namun pasti, ada hawa lain yang menyertai rasa dingin yang kami alami, yaitu suatu hawa yang membuat peradaran darah kami mengalir dengan cepat disertai dengan getaran-getaran yang mulai menghangatkan tubuh serta menarik kedua tubuh kami semakin rapat, tanpa kami sadari napasku semakin memburu demikian juga deru napas Indah semakin jelas terdengar. Dingin yang kurasakan semakin berkurang tergantikan dengan dorongan gairah yang meronta-ronta. Aku tak tahu, apakah Indah juga merasakan apa yang kurasakan saat ini.

Kepala kami, makin lama semakin mendekat hingga suatu ketika kulihat dengan napas yang terengah-engah Indah menutup matanya dengan mulut yang sedikit terbuka. Tiba-tiba ada dorongan yang sangat kuat dalam diriku untuk mengecup bibir sensual yang menantang tersebut. Pertemuan bibir itu terasa kaku, namun hanya beberapa detik dilanjutkan dengan hisapan-hisapan yang membuat perasaanku melayang-layang, beberapa detik kemudian Indah mulai membalas hisapan bibirku dengan gairah yang sama, sehingga kedua bibir kami saling hisap dan saling kecup. Gairahku semakin meninggi dan tubuhku mulai terasa panas menggantikan dingin yang tadi kurasakan.

Indahpun semakin bergairah menciumku dan lidahnya mulai menerobos mulutku sehingga kedua lidah kami saling bertemu dan saling menjilat. Ciuman itu semakin panas, kedua napas kami semakin terengah-engah didorong oleh nafsu yang semakin menggebu, tanpa kami sadari tanganku telah memeluk tubuhnya dengan sangat erat demikian juga Indah, tangannya memeluk, membelai dan mengusap punggungku yang telanjang.

Tiba-tiba, dengan napas yang masih terengah-engah. Indah melepaskan pelukanku dan mendorong tubuhku serta berkata, ”Apa yang kita lakukan, Kang? Ini tidak boleh terjadi, tidak boleh.” katanya terbata-bata seperti ketakutan.

Aku terkejut dan menghentikan cumbuanku. Aku tidak ingin memaksakan gairahku padanya, takut hal itu menyakiti hatinya, karena Aku mencintai Indah sejak pertama kali bertemu. Dengan nafas yang masih memburu, aku berkata, “Tahukah, Ndah? Bahwa Akang sudah jatuh cinta ke Indah sejak pertama kali melihat Indah mentertawakan kelakuan Akang di halte bis 4 bulan yang lalu. Oleh sebab itu akang selalu ingin bertemu dengan Indah.”

“Indah juga suka ke Akang… dan Indah tahu bahwa Akang suka ke Indah, tapi Indah takut, Akang akan kecewa. Indah tidak pantas dicintai oleh Akang.” setelah berkata demikian, Indah menangis tersedu-sedu seperti ingin menumpahkan segala beban yang dideritanya.

Aku terkejut dengan perkataannya dan berkata dengan suara bergetar “Apanya yang tidak pantas, apa karena Akang hanya seorang supir sehingga Indah merasa tidak pantas?”

Indah terkejut mendengar ucapanku dan memelukku serta merebahkan kepalanya di dadaku sambil berkata, ”Bukan. Bukan itu. Ohhh, kenapa jadi begini?” terlihat Indah sangat bingung dan kembali menangis bahkan lebih tersedu-sedu.

Aku semakin heran dan bingung, sambil mengelus-elus jilbabnya aku berkata dengan lembut “Kalau gitu, apa dong?” tanyaku sambil terus membelai-belai kepalanya yang terhalang jilbab agar dia merasa aman dan nyaman.

Lama Indah tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya sesenggukan di dadaku. Tak lama kemudian dengan suara bergetar dia berkata. “Indah suka ke Akang, Indah juga ingin selalu bertemu dengan Akang, dan Indah merasa aman dan nyaman berdekatan dengan Akang, tapi…”

“Tapi apa, Ndah?” tanyaku memaksa.

jilbab montok bohay (5)

“Saya mohon, Akang jangan memaksa, yang penting Akang sudah tahu… Indah suka ke Akang dan selalu merindukan Akang.” katanya lagi sambil menyusupkan kepalanya di dadaku. Aku tidak mau memaksanya lebih lanjut, yang penting saat ini aku sudah tahu bahwa Indah ternyata suka padaku dan selalu merindukanku. Dan hal itu merupakan jawaban yang cukup membahagiakan bagi diriku. Maka aku memeluknya semakin erat.

Lambat laun gairahku dan gairahnya mulai bangkit melawan hawa dingin yang kembali menyerang kami. Aku mulai mencium kepalanya, bergeser ke kening, Indah memejamkan matanya dan napasnya semakin memburu.

Kuciumi matanya yang kiri dan kanan, dan nampaknya Indah menikmati apa yang kulakukan. Kugeser lagi bibirku hingga mencium pipinya yang kiri dan kanan hingga akhirnya mulut Indah terbuka sambil memejamkan mata. Kusambut bibir indah yang terbuka itu dan langsung kuhisap dan kujulurkan lidahku untuk menjilati bibir dan bagian dalam mulut. Diluar dugaanku, Indah menyambut ciumanku kali ini dengan hangat dan lebih bergairah, dengan napas terengah-engah penuh gairah, bibir Indah balas menghisap dan menjilat bibirku, kedua tangannya merayap membelai punggung dan dadaku.

Kembali badanku melayang diombang ambing oleh kenikmatan percumbuan ini. Secara perlahan, sambil berciuman dengan penuh gairah tangan kananku menarik sleting jaket yang menutupi dadanya, tangannya menahan dengan ragu tanganku, namun tidak ada penolakan yang berarti ketika tanganku terus bergerak menarik sleting hingga kebawah, tanganku mulai merayap mengusap kulit perut yang halus dan ramping, tanganku terus bergerak ke atas hingga mengusap dan membelai dada yang tak tertutup bh.

“Uhhh… euh…” Indah melenguh disela-sela ciumanku merasakan nikmat ketika dia rasakan telapak tanganku meremas buah dadanya dengan penuh gairah dari balik bh-nya.

Lenguhan itu membuat gairahku semakin terpompa, kembali kuremas buah dada itu. “Uuh… oohhh…” kembali dia mengeluh. Rasa dingin sudah tak kurasakan lagi tergantikan oleh hawa panas yang keluar dari dalam tubuh kami. Tanganku merayap kepunggung dan menarik pengait bh hingga terlepas, kemudian menarik bh itu ke atas hingga buah dadanya putih, mulus dan montok terpanpang jelas didepan mataku. Mataku nanar memandang keindahan itu, dan napasku semakin sesak dihimpit oleh gairah yang semakin menggebu.

Tangan kananku meremas-remas buah dada indah itu dengan penuh nafsu. ”Uhhh… Ohhh…” kembali Indah melenguh nikmat sambil mendongakkan kepala. Mulut turun kebawah menyusuri dagu, kemudian leher yang masih tertutup jilbab, lalu ke dadanya yang putih mulus, kukecup, kuhisap dan kujilat permukaan dada itu, kembali Indah melenguh. ”Ouh… Kang… ouh…”

Bibirku semakin mengulas menuju buah dada yang montok sekal menggemaskan, Indah semakin mengerang nikmat. Hingga akhirnya bibirku menghisap dan menjilat-jilat putting susunya yang menonjol keras, Tubuh Indah semakin bergetar dan erangan nikmatnya semakin nyaring ketika lidahku menjilati dan memilin putting susu yang semakin keras menjulang. Sambil lidahku mempermainkan putting susunya, kedua tanganku berusaha mencopot rok basah yang masih dikenakan Indah. Kembali tangan Indah menahan ragu, tapi nampaknya gairah nafsu sudah membakar tubuhnya, sehingga tangan itu membiarkan ketika tanganku mulai menarik rok panjang tersebut, bahkan pantatnya diangkat turut membantu agar rok tersebut dapat lepas dengan mudah dari tubuhnya.

Kembali tanganku merasakan permukaan paha yang sangat lembut dan halus, kemudian kubelai kemulusan paha Indah yang kiri dan kanan secara bergantian, gairah Indah semakin meninggi dan dirinya semakin merasa melayang dibuai nikmat. Dan tiba-tiba badannya bergetar keras dan dari mulutnya keluar erangan nikmat yang cukup panjang ketika tanganku menggesek-gesek vaginanya dari balik Cd yang ia kenakan. “Euuuhhhhh… euhhhhhhhh… auhhh… auh…” Permukaan cd itu semakin basah oleh cairan gairah yang keluar dari vaginanya, ketika tanganku berusaha menarik cd yang ia kenakan, kali ini tidak ada lagi penolakan, bahkan tangannya membantu melepaskan cd tersebut.

Tangan kananku langsung aktif membelai dan menekan-nekan vagina Indah yang semakin basah. Dan erangan nikmat semakin nyaring terdengar dan tak putus-putus, hingga akhirnya badannya melonjak-lonjak keras disertai dengan teriakan-teriakan nikmat ketika jari tengahku mengocok-ngocok liang vagina yang licin namun sempit memijit dan mengurut-ngurut jari tengahku yang berada di dalam liang vaginanya. Jari tengahku semakin semangat mengocok, memutar dan mengait-ngait seluruh ruangan di liang vagina yang dapat dicapai oleh jariku.

Mata Indah semakin mendelik, dan napasnya semakin terengah-engah seperti kehabisan napas disertai dengan teriakan-teriakan nikmat yang tiada henti. “Auh… Kang… auh… euhhh… auww… oohhhh…”

Tanganku semakin lincah mengexploitasi setiap relung vagina Indah sedangkan bibirku semakin bernafsu menghisap, menjilat serta memilin-milin putting susu yang luar biasa indahnya. Tubuh Indah semakin berkelojotan menahan nikmat yang kuberikan, hingga akhirnya kelojotan itu semakin keras dan semakin keras diakhiri dengan teriakan panjang tercekik.

”Aaaaaakkkhhhhhhhssss…” badannya melenting kaku, kepala terdongak dan mata terbeliak, lalu terjadi perut dan pantatnya berkedut-kedut keras serta jari tengahku seperti dipijit, diremas dan duhisap-hisap dengan sangat keras. Setelah itu badannya terhempas lemah di sandaran jok belakang mobil dengan napas yang tersengal-sengal dan mata yang terpejam serta bibir yang menampakkan seulas senyum rasa puas yang teramat sangat.

Kucabut jariku tengahku dari liang vaginanya yang semakin banjir kurasakan, tanpa keraguan sedikitpun kujilati jariku yang basah oleh lendir kenikmatan dari vagina Indah.

Indah memandang apa yang kulakukan, dengan lemah tangannya menarik jari tengah yang sedang kujilati lalu dia menjilati dan menghisap jari tengahku seperti orang yang makan permen lolipop dengan nikmatnya dengan napas yang masih terengah-engah kecapaian..

Cukup lama Indah menghisap dan menjilati jari tanganku hingga perlahan-lahan gairahnya bangkit kembali, hal ini terasa dengan napasnya yang kembali memburu dan Indah mulai menjilati dada dan putting susuku. Aku melayang diperlakukan seperti itu, kemudian tangannya berusaha membuka celana panjangku, kubantu melepaskan celana panjang sekaligus dengan cd yang kukenakan. Indah terpana memandang penisku yang menjulang tegang dan keras.

Kakinya melangkahi pinggulku, sambil mencium bibirku dengan sangat bergairah, tangannya memegang penisku dan mengarahkan kepala penisku tepat dimulut liang vagina yang licin dan basah.

Blesss…. Perlahan-lahan penisku menembus vaginanya, sangat perlahan karena sangat sempit walaupun sangat basah dan licin.. Seeerrrr rasa nikmat menjalar dengan cepat ke seluruh peredaran darahku membuat mataku terbeliak menahan nikmat. Indah semakin menekan pantatnya dalam-dalam hingga seluruh batang penisku ditelan oleh vaginannya yang sempit menjepit dan menghisap-hisap penisku.

“Uhh…” aku mengeluh nikmat, vagina Indah terus-menerus memijit dan menghisap penisku mendatangkan nikmat yang tiada henti sehingga aku terus menerus mengerang nikmat. Gerakan Indah makin lama semakin cepat, dan vaginanyapun semakin keras menghisap-hisap penisku. Kepala Indah terdongak kebelakang sambil mengerang nikmat, kedua tangannya merengkuh bahuku dan gerakannya semakin liar tak terkendali.

Akhirnya badannya melenting kaku dan mulutnya melepaskan teriakan panjang melepas nikmat. “Aaaaakkkkkkkhhhhss….” Kemudian tubuhnya ambruk menindih dada dan bahuku. Sedangkan penisku merasa nikmat yang teramat sangat karena vagina Indah memijit, meremas dan menghisap dengan keras pada saat dia mencapai puncak.

Aku merasa orgasmeku akan datang, oleh sebab itu kubaringkan dia dijok mobil dan kubuka paha dan kuangkat betisnya dan blesss…! Kembali penisku menerobos liang vagina yang makin basah dan licin, tapi anehnya tetap sempit menjepit nikmat batang penisku. Aku mulai mengocok penisku keluar masuk liang vaginanya. Gairah Indah bangkit kembali dan mengimbangi gerakanku sehingga rasa nikmat semakin cepat menjalar disekujur tubuhku.

Gerakan tubuhku semakin menghentak-hentak keras tak terkendali disambut dengan hentakan yang tak kalah kerasnya dari tubuh Indah, hingga akhirnya aku merasa ada gelombang yang sangat besar mengalir dari pangkal penisku dan badanku melenting kaku. “Akkkhhhh… “ aku menjerit melepas nikmat. Cretttt… Cretttt… Cretttt…!!! sperma kentalku terpancar dengan keras di dalam vagina Indah.

Dan seperti terpicu oleh semprotan spermaku, tubuh Indahpun kembali melenting sambil menjerit melepas nikmat dan terjadi pada tubuh Indah sehingga vaginanya kembali meremas, memijit dan menghisap-hisap penisku dengan kerasnya. Aku merasa seolah-olah vaginanya menyedot habis seluruh cadangan sperma yang ada di penisku, hingga akhirnya aku ambruk menindih tubuh Indah yang basah oleh keringat.

Aku bangkit dari atas tubuh Indah dan menyandar pada sandaran jok, sambil mengatur napas yang terengah-engah. Selama beberapa menit kami terdiam menikmati sisa-sisa nikmat yang masih terasa dan memulihkan napas yang secara perlahan-laha mulai teratur kembali. Walaupun di luar hujan masih sangat lebat, namun saat itu kami sudah tidak merasa dingin lagi, bahkan kami merasa kegerahan.

Setelah kesadaran kami pulih, tiba-tiba Indah menjerit tertahan sambil menutup buah dadanya dengan jaket yang masih dikenakannya “Aahhh…!!!” Dan tangannya yang lain berusaha menutup vaginanya serta merapatkan kaki.

“Ada apa, sayang?” tanyaku heran.

Indah tidak menjawab, hanya dengan tergesa-gesa ia mengenakan Cd dan rok panjang yang masih basah oleh air hujan, kemudian dia berkata. “Ohhh, seharusnya hal ini tidak boleh terjadi, maafkan aku… maafkan aku.” terus menangis sesenggukan.

Aku bingung dengan apa yang dipikirkannya dan tak sanggup berkata-kata, kemudian aku berusaha membelainya di bergeser menjauh sambil tetap sesenggukan, akhirnya kudiamkan dirinya melepaskan tangis sedangkan aku berdiam diri melamun bingung.

Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke tempat kerjanya karena waktu telah menunjukkan jam 13.30. Sepanjang perjalananan pulang kami lebih sering membisu dan terasa sangat kaku. Hingga sampai di tempat kerjanya, Indah lebih sering diam membisu dengan wajah yang menampakkan setumpuk kegundahan.

***

Beberapa hari setelah kejadian mengesankan di Tangkuban Perahu, Indah seperti yang menghindar dariku, berkali-kali kujemput, tidak pernah mau menemuiku.

jilbab montok bohay (6)

Hal itu membuatku gelisah tak menentu. Aku menjadi kelimpungan dibuatnya. Di kantor aku menjadi mudah marah, hampir semua anak buahku kumarahi jika mereka berbuat kesalahan walaupun kesalahan yang sepele. Perubahan sikapku ini membuat aneh anak buahku, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Kegelisahanku demikian memuncak, sehingga kuputuskan untuk mendatangi rumahnya dan aku mulai mencari informasi dimana alamat rumahnya pada teman sepekerjaannya. Namun baru saja aku bertanya pada teman sepekerjaannya, Indah datang menemuiku dan berkata, “Kang, kita harus bicara!”

“Kapan?” tanyaku pula.

“Nanti, setelah pulang kerja.” jawabnya.

Masa penantian yang hanya 1 jam saja, terasa bagaikan bertahun-tahun, sehingga akhirnya masa penantian itupun berakhir. Indah keluar menghampiriku. “Yuk, Kang!” katanya.

“Mau kemana kita?” tanyaku.

“Kemana aja, yang penting kita bisa ngobrol.” sahutnya.

“Bagaimana kalo kita ke ‘Tea House’ Dago?” usulku.

“Terserah Akang!” jawabnya lagi.

Akhirnya aku membawanya ke Tea House, yaitu suatu tempat makan atau minum di daerah Dago Utara dengan suasana yang sangat nyaman dan indah. Setelah tiba, kami masuk ke saung-saung yang tersedia dan memesan manakan dan minuman ringan.

“Kenapa sich, Indah susah ditemui akhir-akhir ini. Lagi ngambek yah ke Akang?” tanyaku memecah kebisuan.

“Maafkan Indah, Kang! Akang tidak salah. Indah sengaja menjauhi Akang, karena Indah takut terlalu dalam mencintai Akang.“ jawabnya dengan nada perlahan penuh kesedihan.

“Mengapa Indah takut mencintai Akang? Bukankah Indah juga tahu bahwa Akang sangat mencintai Indah ? Bahkan Akang merasa sangat bahagia kalau tahu Indah begitu dalam mencintai diri Akang.” jawabku sambil tersenyum dan meraih pundaknya dan mendekapnya.

Indah membiarkan tubuhnya direngkuh olehku dan meletakkan kepalanya di dadaku, melepaskan kerinduan yang selama ini dia rasakan. Kemudian berkata, “Tapi, tetap saja Indah merasa takut. Karena semakin lama, Indah makin mencintai Akang. Dan ini sebenarnya tidak boleh.” katanya pelan.

“Udahlah, nggak perlu takut. Bukankah Indah pernah bilang, kita jalani aja hubungan seperti ini, Akang tidak akan mendatangi rumah Indah dan bertanya tentang pribadi Indah, kalau Indah tidak mengijinkan. Percayalah, Ndah! Akang cukup bahagia dengan keadaan seperti ini, walaupun terasa janggal. Akang akan menunggu keikhlasan Indah untuk hal-hal yang lebih lanjut.” kata-kataku meluncur menenangkan dirinya sambil mengecup keningnya dengan penuh rasa cinta.

Cinta?

Ya, aku merasa bahwa aku sangat mencintainya, dan aku akan melakukan apa saja untuk kebahagiaannya, walaupun aku belum tahu siapa dia sebenarnya.

Selanjutnya, obrolan diisi dengan curahan rasa cinta masing-masing diselingi kecupan mesra. Aku benar-benar merasa bahagia saat itu, demikian juga nampaknya dengan Indah. Wajahnya bersinar semakin cantik dan anggun, dia selalu tersenyum manis setiap kali bicara, dan bibirnya begitu menggoda setiap kali dia bicara, sehingga berkali-kali kukecup bibirnya dengan gemas. Dan nampaknya Indah begitu bangga dan bahagia menerima perlakuanku tersebut.

Tak terasa waktu telah memasuki waktu magrib, maka kami segera pulang. Dan seperti biasa aku mengantarnya sampai depan gang rumahnya.

***

Selanjutnya hari-hariku kembali ceria dan tidak ngambek-ngambek lagi di kantor, dan perubahan ini tentu saja menggembirakan anak buahku, sehingga semangat kerja mereka muncul kembali.

Dua minggu setelah peristiwa di Tangkuban Perahu, aku mengajaknya jalan-jalan pada hari dimana dia OFF. Saat itu aku mengajaknya menikmati keindahan situ Cileunca di daerah Pangalengan – Bandung Selatan. Kami ketemuan di depan tempat dia kerja. Sebelum menemuinya aku ke kantor terlebih dahulu dan mendelegasikan semua pekerjaan kepada anak buahku. Kemudian aku menjemputnya sekitar jam 09.30 dengan menggunakan sepeda motor inventaris kantor.

Sepanjang perjalanan, dia mendekapku dengan mesra dari belakang, desiran darahku membuat perasaanku melayang ketika kurasakan punggungku dihimpit oleh buah dadanya yang montok. Kurasakan perjalanan Bandung – Pangalengan demikian singkat, karena tanpa terasa kami sudah tiba di Situ Cileunca.

Kami menikmati keindahan alam situ Cileunca sambil bergandengan tangan dengan mesra bagaikan pasangan suami istri yang sedang dalam masa bulan madu, naik perahu, jalan-jalan diantara kebun teh dan bercanda tawa selama menikmati keindahan alam ini.

Mendekati tengah hari aku mengajak Indah ke villa milikku yang berada di daerah tersebut, kusebutkan bahwa aku udah janjian untuk mengunjungi teman di daerah tersebut. Indah mengikuti saja kemana aku ajak, karena dia benar-benar menikmati dan merasa bahagia dengan kebersamaannya denganku saat itu.

Ketika tiba di depan gerbang villa, aku langsung menghubungi penjaga villa dan kubisikan agar ia bersandiwara seolah-olah aku adalah teman dari si pemilik villa dan memberikan sejumlah uang untuk menyiapkan makanan dan minuman. Penjaga villaku cepat tanggap akan situasi yang kuinginkan.

Dia berkata padaku dihadapan Indah. “Wah sayang, Pak Agus! Pak Dedi pergi ke Majalaya dan pulangnya besok, tapi beliau berpesan bahwa kalo Pak Agus datang disuruh istirahat aja dulu.”

“Wah, gimana nich, Ndah? Temanku pergi, tapi kita istirahat aja dulu yach?” kataku pada Indah.

Indah hanya mengangguk setuju. Kami pun masuk ke villa tersebut diantar oleh penjaga villa tersebut. Dan tak lama kemudian istri penjaga villa menyuguhkan makanan dan minuman yang masih hangat, kemudian mempersilahkan kami menikmati hidangan tersebut sementara mereka kembali ke rumahnya meninggalkan kami berdua. Tapi sebelum meninggalkan kami, penjaga villa tersebut berkata, “Kalo perlu apa-apa, hubungi mamang aja ke rumah, Mamang pamit dulu!”

“Terima kasih, Mang!” kataku.

Sepeninggal mereka, Kamipun menikmati hidangan tersebut dengan lahap. Dan dilanjutkan dengan obrolan-obrolan ringan tentang komentar kami akan keindahan alam di sekitar situ cileunca dan juga tentang nikmatnya masakan khas daerah tersebut yang baru saja kami nikmati.

Setelah dirasakan cukup rileks, kami menuju balkon yang terletak di lantai 2 dan memiliki view situ cileunca dari kejauhan, sehingga terlihat keindahan situ cileunca yang dikelilingi oleh perkebunan dan gunung-gunung. Kami duduk berdampingan di kursi panjang, tangan kananku memeluk pundaknya, sedangkan kepala Indah disandarkan ke pundakku.

“Ndah, betapa bahagianya Akang saat ini, apakah Indah merasakan hal yang sama seperti Akang?” tanyaku sambil mengecup keningnya

“Kebahagiaan Indah sukar diucapkan dengan kata-kata, Kang. Pokoknya mah banget.” jawab Indah sambil wajahnya menoleh terhadapku. Bibirnya mencari bibirku dan memberikan ciuman yang hangat penuh rasa cinta padaku. Aku membalas ciumannya, dengan menghisap dan mengecup bibir tipisnya yang menggemaskan. Cukup lama bibir kami saling mengecup dan menghisap, sampai akhirnya Indah berusaha melepaskan ciuman tersebut karena kehabisan napas.

Tanpa kami sadari napas kami sudah tersengal-sengal dipacu oleh nafsu birahi yang mulai merasuki diri kami. Sehingga tak lama kemudian kami berciuman kembali, namun kali ini, ciuman yang terjadi adalah ciuman yang sudah dirasuki oleh nafsu birahi sehingga terasa begitu panas bergelora dengan napas yang terengah-engah.

Rangsangan yang kurasakan semakin tinggi, dan kubisikan padanya. “Ke kamar, yuk!”

Indah menatapku penuh harap dan mengangguk lemah. Aku berdiri dan menuntunnya untuk menuju kamar. Sesampainya di kamar, aku mengajaknya duduk di pinggir tempat tidur, kemudian kembali berciuman, dan ciuman kali ini jauh lebih bergelora dibandingkan dengan yang tadi kami lakukan, sambil berciuman dan mempermainkan lidah, tangan kananku mulai meremas buahdadanya yang montok dari balik bajunya.

Ciumannya terlepas dan terdengar erangan nikmat dari bibirnya dengan mata yang terpejam rapat. “Euhhh… Uuhhhh…“ Erangan yang keluar dari bibirnya yang tipis memberikan rangsangan yang semakin tinggi bagiku, napasku semakin menggebu demikian juga dengan napasnya, helaan napas kami bagaikan sedang berpacu, saling menghela dengan terengah-engah. Tubuh kami terasa panas, mengalahkan hawa dingin pegunungan daerah Pangalengan.

Jilbab yang dikenakannya kusut masai, maka secara perlahan kulepas jilbab tersebut, Indah hanya diam saat jilbabnya terlepas dan kulemparkan ke bawah tempat tidur, lalu kuciumi lehernya yang jenjang dan menggairahkan. Indah menggelinjang dan terdongak sehingga lehernya semakin terbuka dan kuhisap-hisap penuh nafsu, mata Indah terpejam menikmati rangsangan yang kuberikan.

Secara perlahan, aku mulai berusaha melepaskan gaun yang dikenakannya. Indah membantu melepaskan gaun tersebut terlepas dari tubuhnya. Mataku berbinar dan terpana menatap tubuh mulus dan halus dari bagian atas tubuh Indah yang terbuka dan hanya secarik bh krem yang menutupi buahdadanya yang montok.

Kuciumi dan kujilati perut Indah yang rata dan halus bagai porselen. Setiap kukecup dan kujilati permukaan perut Indah, terlihat otot-otot perutnya tergetar seolah teraliri oleh arus nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya. Indahpun semakin mengerang nikmat sambil menggeliat. “Uhhh… ouuhhhh… Kang… Kang… ouhhh…!”

Erangan nikmat itu semakin merangsang diriku, dan tanganku berusaha melepaskan bh krem yang menghalangi keindahan buahdadanya. Begitu terlepas, kedua tanganku langsung meremas-remas buahdada yang montok itu. Indah semakin menggelinjang nikmat dan mengerang semakin keras. “Ouh… Kang… Ouh… Kang…“ Kepalanya terdongak dengan mata terpejam dan tubuh yang melenting serta kedua tangan yang bergerak kesana-kemari mencari pegangan dan akhirnya meremas sprey dengan sangat kuat hingga urat-uratnya menonjol.

Lidahku terus mengulas permukaan perutnya yang halus bak pualam, sementara Indah terus menerus mengerang dan meregang dan napas yang tersengal-sengal. Dengan penuh nafsu lidahku merayap ke atas, kearah buah dadanya yang montok. Indah semakin mengerang, “Ouhh…!“ tubuhnya semakin menggeliat, putting susunya menonjol keras dan runcing.

Jari-jari tangan kananku memilin-milin putting susu sebelah kiri, tubuh Indah semakin bergetar dengan erangan yang semakin bergemuruh. “Euhhh… Ouh… kang… kang…”

Lidahku menghisap dan mengecup permukaan buah dada di sekitar putting susu yang semakin menonjol, geliat tubuh Indah semakin keras dan menggeliat dengan erangan nikmat yang tak terputus-putus serta napas yang semakin tersengal. Dan akhirnya lidah dan bibirku mulai mengecup dan menghisap putting susu yang semakin menonjol, tubuh Indah semakin melenting dan cengkraman jari-jari tangannya pada sprey semakin kuat menahan rasa nikmat yang tak terperi, kepalanya terdongak semakin dalam. “Auh… Ahhh… Kang…”

Napasku semakin terengah-engah terdorong oleh nafsu yang semakin menggebu, kedua tanganku mulai melolosi rok panjang dan cd yang dikenakannya. Pantat Indah terangkat memudahkan tanganku melepaskan sisa pakaian yang menempel pada tubuhnya. Napasku semakin tersengal-sengal dengan pandangan mata yang semakin nanar, terpukau oleh kemulusan dan keindahan tubuh bugil Indah yang semakin memompa gairahku

“Ohhh… “ mulutku berguman kagum akan keindahan ini. Tanpa ragu wajahku langsung mengarah ke selangkangan Indah dan dengan penuh nafsu aku menjilati dan mengecup vagina Indah yang ditutupi oleh jembut yang halus dan menggairahkan.

Tubuh Indah bergetar keras seperti teraliri listrik ribuan volt dengan tubuh yang melenting kaku dan jeritan keras. “Akkkkhhhs…” Begitu lidahku menyusuri lipatan vaginanya yang bahsah dan harum menggairahkan. Setiap lidahku menyusuri lipatan vagina dan berhenti di klitoris yang menonjol keras, tubuh bergetar dan mengeliat serta mengerang cukup keras, “Akkhhhsssss…”

jilbab montok bohay (7)

Dengan cepat dan penuh gairah, lidahku kukorek-korekan ke dalam liang vagina Indah yang terasa asin dan gurih. Kedua kaki Indah menghentak-hentak dan tubuh menggeliat serta kepala yang semakin terdongak, hingga akhirnya tubuh Indah melenting kaku bagaikan ulat yang tertusuk duri diserta jeritan nikmat yang sangat panjang dengan napas yang tercekik. “Aaaaaaakkkkkkhhhhhsssss…!!!”

Lidahku terasa bagaikan dijepit oleh dinding-dinding vagina yang berkontrkasi sangat kuat, dan akhirnya tubuh Indah terhempas bagaikan layangan putus, deru napasnya tersengal-sengal seperti kehabisan napas lalu terkulai lemas. “Ouhhhh… Kang, nikmat banget… ouhhh…” katanya sambil menghembuskan napas panjang penuh kepuasan.

Pakaian yang kukenakan basah kuyup oleh keringat yang mengucur deras dari seluruh pori-poriku. Kulepaskan seluruh pakaian yang kukenakan, sementara Indah masih terbaring lemah sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang baru diraihnya.

Setelah tubuhku bugil, kembali aku merangkak mendekati tubuh Indah yang tergolek lemah. Lalu kukecup bibirnya dengan mesra, Indah menyambut kecupanku. Kuhisap bibir indah tersebut, Indah balas menghisap dan akhirnya lidahku kumainkan untuk menjilat bibir Indah dan berusaha memasuki rongga mulutnya. Indah membalas ciumanku dengan gairah yang mulai bangkit kembali, tangannya merengkus tengkukku agar ciuman kami semakin rapat. Akhirnya tubuhku menindih tubuhnya dan bergumul dengan nafsu yang menggebu-gebu. Batang penisku yang tegang dan keras menganjal permukaan vaginanya, membuat gairah Indah semakin tinggi dengan deru napas yang semakin cepat.

Tiba-tiba Indah menggulingkan tubuhnya sehingga dia berada diatas tubuhku dan mulai mengambil inisiatif untuk merangsangku. Dia menciumi pipi, leher, dada, menghisap-hisap putting susuku baik yang kiri maupun yang kanan membuat tubuhku menggelinjang dilanda rangsangan yang sangat tinggi. Dan Indah semakin bergairah melihat mataku terpejam-pejam menahan nikmat. Ciumannya pindah ke perut dan terus turun ke bawah hingga akhirnya mata Indah terlihat nanar penuh gairah memandang batang penisku yang mengacung tegak menjulang, dan “Ouhh…” tanpa sadar erangan nikmat keluar dari mulutku ketika kurasakan Indah mulai memasukan batang penisku ke dalam mulutnya.

Kepala Indah berputar-putar agar batang penisku mengocok-ngocok rongga mulutnya, tubuhku semakin menggeliat menahan nikmat dan mulutku hanya sanggup mengeluarkan keluhan nikmat terputus-putus. “Ouhhh… Ndah… Ouhhh… eeennnak… ohhh…”

Indah semakin bergairah bisa memberikan kenikmatan padaku, lidah tidak tinggal diam, dia gunakan untuk menjilati kepala penisku, aku semakin melayang, penisku semakin bengkak dan keras.

Gairah Indah sudah tak tertahankan lagi, karena vagina mulai terasa sangat basah, berkedut dan gatal. Dia menghentikan kegiatannya mengulum batang penisku, Dia merangkak menghadapku dan menempatkan vagina tepat diatas batang penisku yang mengacung semakin keras, tangan kanannya menggenggam batang penisku dan mengarahkan agar kepala penisku tepat berada di liang vaginanya yang semakin berdenyut gatal, lalu… Blessshh!!!

“Ooouuhhhh…” Rasa nikmat menjalar dari syarat nikmat yang terdapat dipermukaan kepala dan batang penisku, ketika Indah menurunkan pantatnya perlahan. Kepala penisku menyeruak dan menyusuri lorong nikmat dari liang vagina Indah yang basah, licin dan berdenyut-denyut serta meremas-remas nikmat.

“Ouhhh… Kang…” Indah pun mengerang ketika rasa nikmat menderanya, ketika dia merasakan batang penisku mulai memasuki liang vaginanya. Gerakan menekan pantatnya demikian perlahan, sehingga rasa nikmat yang kurasakan terasa lama dan sensasional dan akhirnya terhenti setelah seluruh batang penisku amblas hingga ke pangkalnya dan selangkangan kami menempel sangat rapat. Indah menekan pantatnya sangat kuat sambil mendongakkan kepala menahan nikmat yang menderanya, kedua tangannya mencengkram kuat dadaku.

Lalu pinggul dan pantatnya mulai bergerak keatas-kebawah sehingga batang penisku mengocok-ngocok liang vaginana, erangan nikmat keluar dari mulut kami sahut menyahut. Indah semakin cepat menggerakan pantatnya, terkadang bergerak memutar sehingga kurasakan batang penisku seperti dipelintir dan akupun melotot sambil mengerang nikmat. “Ouhhh… Ouhhh…“

Sementara itu, gerakan Indah semakin cepat dengan kepala terdongak kebelakang dan mengerang dengan mata terpejam. Buahdadanya berguncang-guncang indah, dengan nafsu yang tak pernah surut kedua tanganku menjulur dan mulai meremas-remas buahdada montok itu, Indah semakin terdongak dan melonjak-lonjak nikmat disertai dengan lenguhan dan erangan yang semakin keras.

Gerakan pinggul Indah semakin cepat tak terkendali dan kejang-kejang, hingga akhirnya tubuhnya melenting kaku, dengan kepala terdongak ke belakang, kuku-kuku jarinya mencengkram erat dadaku dan, “Aaaa… aakkkkkkhhhsssss…” Jeritan panjang keluar dari mulut Indah, selama beberapa detik tubuhnya kaku seperti itu dan akhir tubuhnya terhempas, melayang dan ambruk menindih tubuhku dengan napas yang tersengal-sengal seperti kehabisan napas.

Sementara itu penisku seperti diremas dan dijepit dengan sangat kuat membuat akupun melayang nikmat. Tubuh kami yang berpelukan, basah oleh keringat yang mengucur deras. Sementara itu penisku masih menancap dengan kokohnya di dalam liang vagina Indah.

Kugulingkan tubuhku sehingga tubuhku diatas tubuhnya dengan batang penis yang tetap menancap di liang vagina, kuarahkan mulutku pada buah dadanya dan mulai menghisap dan menjilati putting susu Indah, Indah mengerang lemah, “Euhhhh…” sementara itu secara perlahan pantatku mulai mengayun hingga batang penisku mengocok-ngocok liang vagina Indah. Rasa nikmat kembali menjalar di sekujur tubuh Indah, perlahan namun pasti gairah Indah bangkit kembali. Indah menggerakan pinggulnya untuk membalas gerakan pantatku, kenikmatanpun semakin menjalar pada tubuh kami berdua.

Aku semakin cepat mengayun pantatku, gerakan pinggul Indah semakin bervariasi dan memabukkan, dan hanya beberapa menit kemudian, tubuh Indah kembali melenting kaku dan menjerit menjemput nikmatnya Orgasme. “Aaakkkkkksssshhh…” Pantatnya terangkat dan akhirnya terhempas. Kudiamkan sejenak pantatku untuk menikmati remasan dan hisapan yang dilakukan dinding vagina Indah pada batang penisku.

Setelah kurasakan kedutan dan hisapan dinding vagina Indah melemah pada batang penisku, kembali aku mengayun pantatku untuk mngocok-ngocok liang vaginanya, sambil mulut dan tanganku mempermainkan buah dada dan putting susunya yang tak membosankan untuk diremas dan dihisap.

Kurang dari semenit, Indah kembali membalas gerakan pantatku dengan menciumku dan menggerakan pinggulnya sambil kembali mengerang nikmat, namun hanya berselang beberapa menit kemudian, kembali tubuhnya melenting kaku dan kembali dia menjemput orgasme yang menghampiri dirinya. Dan aku kembali mendiamkan pantatku sejenak untuk menikmati remasan dan hisapan dinding vagina Indah pada batang penisku pada saat dia mengalami fase orgasme. Pantatku kembali mengayun setelah kurasakan remasan pada penisku melemah, dan pinggul Indah kembali membalas gerakan pinggulku setelah beberapa detik kemudian hingga akhirnya kembali ia menjemput orgasme.

Perolehan orgasme bagi Indah, terjadi berulang-ualng, entah berapa kali, yang jelas tubuhku terus menggenjot tubuh Indah tanpa mengenal lelah, sementara badanku basah kuyup oleh keringat yang mengucur deras.

Kuhentikan ayunan pantatku setelah Indah memperoleh orgasme entah yang ke berapa kali. Kuletakkan ke dua lututku dibawah kedua pangkal pahanya, kedua tanganku memegang kedua tumit kaki Indah dan membukanya lebar-lebar, sementara Indah nampak tergoleh kelelahan, namun tatapan matanya masih menampakkan gairah yang belum surut, apalagi melihat batang penisku yang masih kokoh menancap di dalam liang vaginanya.

Dalam posisi paha Indah yang terbuka lebar aku mulai mengayun pantatku agar batang penisku kembali mengaduk-aduk dan mengocok-ngocok liang vaginanya. Rasa nikmat yang kurasakan semakin bertambah, karena jepitan dinding vagina Indah serasa semakin sempit dan menjepit, dan kulihat vagina Indah terkempot-kempot setiap kali aku melesakkan batang penisku.

Kulihat kepala Indah terbanting ke kiri dan ke kanan setiap kali aku menghela pantatku diiringi erangan nikmat yang dia perdengarkan. Kedua tangannya mencengkram erat seprey yang ada di sekitarnya.

Kurasakan badai orgasme akan menghantamku, mataku mulai berkunang-kunang, asaku terasa melayang dan gerakan pantatku mulai kejang-kejang dan menghentak. Indah merasakan bahwa aku akan mencapai orgasme, karena dia merasakan penisku semakin bengkak menyesakkan liang vaginanya dan gerakanku terasa semakin keras dan kasar menimbulkan rasa nikmat yang luar biasa, sehingga diapun merasa orgasme akan kembali menghampiri dirinya.

Dengan terengah-engah menahan nikmat, sambil menggerakan pinggulnya membalas gerakanku diapun berkata, “Ayo, Kang… ayo… bareng-bareng…“ dan… “Aaaa… aakkkkkkkh… hhhsss…” seperti mengeluarkan tenaga yang penghabisan, Indah menjerit keras menjemput orgasme yang dirasakannya sangat luar biasa, berbeda dengan orgasme-orgasme yang terdahulu, tubuhnya mengejang sangat kaku.

Secara bersamaan, akupun menjerit melepas nikmat menjemput badai orgasme yang sangat dahsyat. “Akkkhhhhhhhssss…” Tubuhku berkelojotan sambil crettt… cretttt… crett… sperma kental memancar sangat deras membasahi lorong vagina Indah. Beberapa detik kemudian, kurasakan tubuhku terasa ringan bagaikan layang-layang putus dan aku ambruk menghempaskan tubuhku disamping tubuh Indah yang terkulai lemas. Napas kami tersengal-sengal seperti yang baru selesai balap lari.

Tubuh kami terasa sangat lelah, setiap persendian bagaikan dilolosi dan kami terbaring lemas dengan kesadaran yang melayang-layang. Cukup lama kami dalam keadaan seperti itu.

Setelah perlahan-lahan kesadaran kami pulih, Indah menggulirkan tubuhnya menghadapku dan tangannya mengusap pipiku sambil berkata, “Akang hebat, Indah benar-benar sangat puas, Indah semakin sayang ke Akang.” lalu wajahnya menghampiri wajahku dan mengecup bibirku sangat mesra.

Aku tersenyum bangga dan bahagia, kemudian balas mencium bibirnya dengan penuh kemesraan. Basahnya tubuh oleh keringat yang lengket, membuatku tidak nyaman, lalu dengan malas aku berusaha bangkit dan berdiri, namun hampir aku terjatuh. Lututku gemetar dan terasa copot hingga hampir tak sanggup untuk berdiri, kembali aku duduk dipinggir tempat tidur yang sepreynya acak-acakan oleh pertempuran hebat yang baru saja selesai.

Indah tersenyum melihat keadaan lututku yang gemetar dan hampir jatuh lalu berkata. “Ada apa, Kang? Capek ya?”

“Iya nich. Lutut terasa copot, habis Indah sich… luar biasa!” sahutku sambil tersenyum.

“Ahhh… Akang!” sahutnya bahagia.

Lama aku terduduk, setelah kurasakan tenagaku benar-benar pulih, aku berdiri dan menuju kamar mandi, lalu mandi menyegarkan diri, tak lama kemudian Indah pun mandi dan mengenakan pakaiannya kembali lengkap dengan jilbabnya. Lalu Indah merapihkan tempat tidur yang acak-acakan.

jilbab montok bohay (8)

Waktu telah menunjukkan jam 3 sore, kamipun pulang setelah aku memberitahu penjaga villa. Sepanjang perjalanan pulang, Indah semakin menempel mesra padaku, dia hanya menjauhkan tubuhnya setelah kami berada dekat dengan gang rumahnya.

Setelah mengantarnya pulang, aku memutuskan kembali ke kantorku untuk mengambil mobilku.

Kesan yang kudapatkan pada hari itu, menjerumuskan aku semakin dalam terhadap rasa cintaku pada Indah. Aku merasa tidak mampu berpisah dengannya.

***

Gundah… Gelisah… Takut… Itulah yang dirasakan Indah saat ini, sore itu, setelah diantar pulang hingga ke mulut gang oleh Agus, Indah benar-benar gundah, gelisah, dan takut.

Persetubuhannya yang kedua kali denganku, benar-benar telah menjeratnya, Dia telah benar-benar mencintaiku dan tak sanggup untuk melupakannya, padahal perasaan ini adalah perasaan yang selama ini berusaha dia tolak karena merupakan sesuatu yang salah. Tadinya dia berencana bahwa Aku hanya sebagai lelaki yang mengisi kekosongan batinnya, dan tidak sedikitpun terpikirkan olehnya untuk berselingkuh denganku. Namun dalam usianya yang masih muda, gairahnya yang menyala-nyala, tak pernah dapat tersalurkan, sehingga membuat dirinya demikian mudah terangsang dan akhirnya terjadilah persetubuhan yang sangat memuaskan dirinya, bahkan sangat puas hingga dia mampu memperoleh orgasme berulang-ulang. Sementara kepuasan seperti itu belum pernah dia alami sebelumnya.

Sebenarnya Indah adalah istri Dedi berusia 30 tahun, mereka menikah pada saat Indah berusia 20 tahun dan Dedi berusia 26 tahun. Awalnya rumah tangga mereka sangat bahagia, Dedi yang seorang karyawan sebuah perusahaan, mampu membahagiakan Indah baik lahir maupun batin. Namun akibat pola hidup yang salah, setelah dua tahun menikah dan belum sempat memperoleh buah hati, Dedi terserang penyakit diabetes yang cukup parah, sehingga membuat dirinya impoten.

Dia sudah berobat kesana-kemari hingga harta bendanya habis terjual namun penyakitnya tak sembuh juga, bahkan diperparah dengan PHK yang menimpanya sehingga otomatis Indahlah yang menjadi tulang punggung rumah tangga mereka, sementara Dedi kerja serabutan bahkan lebih sering berada di rumah.

Dedi masih bisa merasakan rangsangan yang cukup besar melihat kemolekan tubuh istrinya oleh sebab itu berkali-kali mereka mencoba untuk melakukan hubungan suami istri, tapi penis Dedi tidak mampu berdiri tegak, berbagai cara rangsangan telah dilakukan Indah agar batang penis suaminya bisa berdiri tegak, tangan Indah berusaha meremas dan mengocok memberikan rangsangan pada batang penis Dedi, tapi tidak juga bisa berdiri, bahkan pernah mulut Indah mengoral penis Dedi hampir setengah jam sampai Indah merasakan kaku pada tulang rahangnya, namun penis Dedi tetap tergantung lemah. Jika sudah demikian nampak sekali kegelisan dan kekecewaan yang mendalam terpancar dari sorot mata Indah, dan Dedi benar-benar merasa terpukul dengan keadaan dirinya seperti itu. Dedi merasa malu dan rendah diri di hadapan istrinya.

Namun walaupun demikian, Indah tetap mencintai suaminya, baginya Dedi adalah hidupnya, dia rela melakukan apa saja demi membahagiakan suaminya. Indah selalu memberi semangat dengan penuh cinta pada Dedi untuk memperoleh kesembuhan ataupun memperoleh pekerjaan yang layak dan selalu berkata pada Dedi bahwa apapun pekerjaan Dedi, dia akan selalu mencintai Dedi.

Rasa cintanya yang besar seolah mengabaikan kebutuhan hidupnya. Dalam usia yang masih muda, tentu saja gairah biologisnya sering meronta-ronta minta penyaluran, namun selalu dia tekan dengan mencurahkan rasa cintanya pada Dedi.

Selama 2 tahun, Indah berhasil mengekang kebutuhan biologisnya walaupun terkadang dia merasa tersiksa dengan keadaan ini.

Namun akhirnya pertahanan Indah bobol, setelah berkenalan denganku. Dia melihatku sebagai lelaki yang sopan dan enak diajak ngobrol. Jika sedang bersama denganku, Indah seolah mampu menghilangkan sejenak masalah berat yang sedang dihadapinya. Dan perasaan suka timbul didalam hatinya, karena aku selalu berbuat sopan padanya. Dan akhirnya perasaannya menjadi terjerat padaku, terutama setelah kami melakukan persetubuhan yang sensasional dan mampu membasahi kekeringan yang melandanya selama 2 tahun terakhir ini.

Indah semakin terjerat akan pesona seksual yang ada pada diriku, dan dia benar-benar telah jatuh cinta padaku. Perasaan cintanya padaku sangat menyiksanya, karena diapun sangat mencintai suaminya dan tak ingin meninggalkan suaminya.

Disisi lain, Dedi sadar benar akan kebutuhan biologis istrinya, namun apadaya dia tak mampu memberikannya akibat penyakit yang dideritanya. Cintanya yang besar pada istrinya membuat dirinya berpikir untuk rela membiarkan istrinya menyalurkan hasrat biologisnya pada orang lain, namun ia takut, takut istrinya terkena penyakit kalau menyalurkan sembarangan, atau takut istrinya akan meninggalkannya, karena istrinya adalah sumber semangat hidupnya.

Perasaan ingin membahagiakan istrinya dengan merelakan istrinya menyalurkan hasrat biologisnya dengan lelaki lain dan perasaan takut ditinggalkan istrinya selalu berkecamuk di pikiran Dedi, sehingga tanpa sepengetahuan istrinya, sebenarnya Dedi sering menguntit istrinya dari kejauhan tanpa sepengetahuan istrinya.

Selama 2 tahun memata-matai istrinya, Dedi melihat bahwa Indah adalah istri yang setia, karena dia melihat istrinya tidak pernah menanggapi godaan lelaki lain. Dedipun melihat perhatian dan pelayanan istrinya tidak berkurang padanya, walaupun dirinya impoten dan tidak memiliki pekerjaan tetap setelah diPHK. Oleh sebab itu Dedi semakin mencintai istrinya dan semakin tidak sanggup ditinggalkan oleh istrinya.

Rasa cinta yang semakin besar, semakin memperbesar keinginan Dedi untuk merelakan istrinya dapat menyalurkan hasrat biologisnya pada lelaki lain dengan syarat Indah tidak akan meninggalkannya. Berkali-kali dia merencanakan untuk membicarakan hal ini pada Indah, namun ia takut. Apakah Indah akan setuju? Apakah Indah tidak akan tersinggung? kembali niat itu surut untuk diajukan ke istrinya. Namun kerelaannya agar istrinya dapat menyalurkan hasrat biologisnya dengan lelaki lain tetap besar.

Itulah sebabnya, sebenarnya Dedi telah mengetahui, jika aku sering menjemput istrinya. Dedi bisa melihat bahwa istrinya menyukai diriku, hal itu terlihat dari tatapan mata Indah dan gerak-gerak Indah bila bersamaku, bahkan Dedi mengetahui jika istrinya telah dua kali pergi denganku entah kemana pada saat istrinya OFF. Dan Dedi merasa curiga bahwa Istrinya telah selingkuh denganku, sebab Dia bisa melihat keceriaan dan rona kebahagiaan terpancar dari wajah Indah setelah bepergian denganku, namun hal itu tidak pernah dia tanyakan pada istrinya, karena dia tidak melihat berkurangnya limpahan cinta dari istrinya.

Dedi berusaha menyelidiki diriku, dan akhirnya dia tahu siapa diriku sebenarnya. Dedi menjadi takut ditinggalkan istrinya setelah mengetahui statusku, maka dia langsung mendatangiku.

Pagi itu, aku sedang duduk di ruang kerjaku sambil merencanakan bahwa sore nanti aku akan menemui Indah di tempat kerjanya. Aku merasa sangat rindu padanya, karena sudah 10 hari aku tidak bertemu dengannya disebabkan kepergianku ke luar kota untuk keperluan bisnis. Tiba-tiba sekretarisku memberitahuku bahwa ada tamu yang ingin menemuiku. Akupun mempersilahkan tamuku masuk.

“Perkenalkan, nama saya Dedi.” kata tamuku sambil menjulurkan tangan mengajak bersalaman.

Aku menyambut uluran tangannya sambil berkata, “Agus, silahkan duduk!” “Ada yang bisa saya bantu, Pak Dedi?” tanyaku.

“Begini, Pak, bapak kenal dengan Indah, yang rumahnya di Gang Gwan An?“ tanya Dedi dengan tatapan menyelidik.

DEG! Jantungku serasa mau copot, mendengarkan pujaan hatiku disebut. “B-benar. Ada apa dengan dia, Pak? Dan bapak ini siapa?” jawabku gugup.

Terlihat Dedi tersenyum puas mendengar jawabanku “Dia baik-baik saja. Oh ya, saya suaminya!” katanya tenang, tak terlihat nada emosi dari ucapannya.

TENGGG…!!! Dunia serasa gelap, badanku mendadak lemas tertimpa perasaan bersalah karena telah menyintai dan berselingkuh dengan istri seseorang yang berada di hadapanku.

“Tenang aja, Pak! Tidak perlu sekaget itu!“ Dedi berusaha menenangkanku dengan tulus. “Apakah bapak tahu bahwa Indah telah bersuami? Dan apakah bapak mencintai Indah? Tolong Bapak jawab dengan jujur. Percayalah, Pak! Saya tidak akan marah dan menuntut bapak.“ katanya lagi tersenyum tulus sehingga Aku percaya akan isi kata-katanya.

“Ya, saya mencintai istri Bapak, maaf saya tidak tahu kalau Indah telah bersuami. Dia hanya berkata bahwa dia sedang menghadapi masalah yang sangat berat, namun saya tidak boleh tahu apa masalahnya. Masalah itu pula yang menyebabkan saya tidak boleh mengantarnya sampai ke rumahnya.” terangku panjang lebar.

“Pak, saya mohon, jangan rebut Indah dari saya. Saya sangat mencintainya dan saya tak sanggup ditinggalkan olehnya. Tapi saya juga mengerti akan kebutuhan Indah yang tak mampu saya penuhi, oleh sebab itu jika Bapak memang mencintai istri saya, bapak boleh menikmati rasa cinta Bapak, tapi jangan rebut dia dari saya, saya mohon!“ katanya memelas.

“Apa maksudnya, pak?” tanyaku yang tak mengerti akan maksud ucapannya.

“Begini, Pak! Saya sangat mencintai Indah, namun saya tak sanggup memberikan nafkah batin padanya karena penyakit yang saya derita. Namun saya kasihan pada Indah yang menanggung beban akan penyakit saya derita. Padahal dia masih muda, penuh gairah dan perlu menyalurkan hasrat biologisnya yang masih bergelora. Itulah sebabnya saya punya usul, bapak boleh menggauli istri saya kapan dan dimanapun bapak kehendaki dengan syarat saya harus melihatnya atau mengetahuinya, bahkan bapak boleh melakukannya di rumah kami. Memang usul ini terdengarnya gila, namun inilah bukti, betapa besar rasa cinta saya pada istri saya. Tapi usul ini tidak pernah saya kemukakan pada istri saya, takut dia tersinggung.” jelasnya panjang lebar.

Aku termenung mendengar penjelasannya.

“Bagaimana, Pak? Bapak setuju dengan usul saya? Bapak nggak usah ragu, saya tidak akan memeras bapak, saya melihat bapak orang baik-baik dan tidak akan menyakiti hati istri saya dan sayapun melihat bahwa istri saya menyukai bapak.” Lalu lanjutnya. “Saya hanya meminta bapak tidak merebut Indah dari sisi saya, Bagaimana?” kembali dia mengajukan usulan.

“Baik, saya menerima usul Pak Dedi, walaupun terdengar aneh. Sayapun sangat mencintai Indah dan jujur saja, saya juga tak sanggup berpisah dengannya.” jawabku jujur.

“OK dech kalau begitu! Bagaimana kalau sekarang kita ke rumahku, kebetulan Indah OFF hari ini dan dia ada di rumah.” dia mengajakku ke rumahnya.

Ajakan ini sangat mendadak, dan tentu saja kuterima ajakan tersebut dengan senang hati. Kamipun berangkat menuju rumah Dedi dengan sepeda motor inventaris. Sepanjang jalan Dedi menjelaskan rencananya, bahwa aku dan Dedi adalah teman lama semasa SMA yang baru ketemu lagi, sengaja diajak Dedi untuk diperkenalkan pada Indah dan setelah itu Dedi akan pura-pura meminjam motorku untuk pergi mengambil order pekerjaan sekitar 2 jam, padahal dia akan membawa motorku ke tempat pencucian motor dan kembali jalan kaki ke rumah untuk mengintip apa yang aku dan Indah lakukan. Aku setuju dengan rencananya.

Sesampainya di rumah Dedi, Indah yang saat rambutnya hanya tertutup oleh ‘ciput’ (penutup kepala) sehingga terlihat lehernya yang putih dan jenjang. Indah tampak kaget melihat kami berdua berdiri di depan pintu, wajahnya pucat pasi, namun Dedi seolah-olah tidak memperhatikan perubahan pada wajah istrinya, Dedi hanya berkata, “Ndah, kenalkan teman lamaku waktu di SMA. Namanya Agus!” katanya memperkenalkanku pada istrinya.

Aku menjulurkan tanganku mengajaknya besalaman sambil berkata basa-basi “Agus!” Dengan gemetar Indah menyambut jabatan tanganku.

Dedi bertindak seolah-olah aku dan Indah belum saling mengenal, dan dia memainkan perannya begitu meyakinkan, sehingga aku dan Indah terbawa oleh suasana yang diciptakannya. Tak lama kemudian Dedi berkata padaku, “Gus, pinjam motornya ya! Aku mau ngambil order. Nggak lama kok, paling 2 jam-an. Kamu ngobrol aja dulu dengan istriku, kalau mau istirahat, tidur aja di kamar.” katanya lagi sambil menunjuk kamar yang biasa diperuntukkan untuk tamu keluarga.

Aku mengerti akan sandiwara yang dibawakannya, lalu kuberikan kunci motorku berikut STNKnya. Kami mengantar Dedi ke depan pintu hingga Dedi menjalankan motor. Kerinduan yang begitu mendalam membuatku tak tahan, begitu pintu depan ditutup dan belum terkunci, aku langsung memeluk Indah dari belakang penuh kerinduan dan menciuminya dengan gemas. Kukecup dan kuhisap lehernya yang putih dengan penuh nafsu. Indah hanya bergelinjang manja, nampaknya dia masih kaget bahwa aku adalah teman lama suaminya. Dihati Indah terbayang sebuah kesempatan bahwa dia akan sedikit bebas bisa berduaan denganku. Membayangkan hal itu, gairah Indah dengan cepat bangkit, apalagi rangsangan dariku semakin gencar maka gairahnyapun semakin cepat merayap naik. Indah membalikkan badannya dan menyambut ciumanku dengan gairah yang menyala dengan napas yang memburu.

Kami berciuman dengan penuh gelora sambil berdiri di balik pintu depan rumahnya, kakinya terjinjit menikmati percumbuan ini. Erangan dan lenguhan penuh rangsangan sesekali keluar dari mulutnya yang sedang tersumpal oleh bibirku. Kedua tangannya memeluk erat punggungku. Deru napas kami semakin memburu. Lalu kubisikkan, “Kita punya waktu 2 jam, aku kangen banget sama kamu, Ndah!”

“Saya juga, Kang!” jawabnya mesra, dan pergulatan dua bibir yang didorong oleh nafsupun terjadi dengan panasnya.

jilbab montok bohay (18)

Sambil berpelukan dan tetap melakukan percumbuan yang memompa gairah, Indah berusaha membawa tubuhku menjauhi pintu depan, menuju kamar tidur yang biasa digunakan oleh tamu, kamar tidur tersebut tidak memiliki daun pintu, hanya ditutupi oleh tirai gordyn. Kami melanjutkan percumbuan sambil berdiri, tidak ada rasa takut dipergoki orang lain dalan diri Indah, karena di rumah ini dia hanya berdua dengan suaminya yang saat ini sedang keluar.

Kugeser posisi diriku hingga Indah membelakangiku sehingga kami sama-sama menghadap meja hias yang terdapat di kamar tersebut. Dari cermin, Ku lihat bayangan tubuh Indah yang sedang menggeliat menggairahkan, matanya terpejam menikmati cumbuanku, kepalanya dimiringkan kesamping sehingga lehernya yang jenjang serta putih, mulus merangsang terhidang tepat di depan bibirku, tak kusia-siakan kesempatan yang menggairahkan ini. Bibir dan lidahku mengecup, menghisap dan menjilat leher, pundak hingga bagian belakang telinga Indah, sementara kedua tanganku dengan gemasnya meremas kedua buahdada yang masih tertutupi oleh baju.

“Uhhhh… Kang… ouhhh…” Indah mengerang nikmat penuh rangsangan. Matanya semakin terpejam dan kepalanya semakin terdongak ke belakang, buah dadanya semakin membusung indah menggairahkan, akupun semakin nafsu meremas-remas buah dada tersebut.

Sementara itu, Setelah tiba di tempat penyucian motor dan menitipkan motor untuk dicuci, Dedi kembali ke rumah dengan berjalan kaki. Setiba di rumahnya, Dedi bergerak perlahan agar tidak bersuara, dia memeriksa pintu depan yang ternyata tidak terkunci, secara hati-hati Dedi membuka pintu tersebut agar tidak menimbulkan suara. Dedi tersenyum, karena tidak melihat aku dan istrinya di ruang tamu. Dengan perlahan dia mencari keberadaan diriku dan istrinya, akhirnya samar-samar dia mendengar desahan dan erangan penuh rangsangan dari kamar tidur dimana aku dan istrinya sedang bercumbu.

Dia mencari celah diantara tirai gordyn, agar bisa mengintip apa yang sedang kami lakukan. Terlihat olehnya bahwa aku dan Indah dalam keadaan polos sedang bercumbu di depan cermin hias dengan napas yang tersengal-sengal dipacu oleh nafsu berahi yang menguasai diri kami. Semua pakaian kami telah terlepas dan berceceran di lantai.

Terlihat olehnya bahwa aku sedang menciumi leher istrinya dari belakang dan kedua tanganku meremas-remas buahdada Indah dengan penuh nafsu, terkadang jari-jari tanganku memilin-milin putting susu Indah yang menonjol tegak dan keras. Selangkanganku menempel rapat pada bongkahan pantat Indah yang bulat dan montok dan pastinya Indah merasakan batang penisku yang keras dan tegang mengganjal di belahan pantatnya. Tubuh Indah menggeliat menahan nikmat, pinggangnya melenting dan kepalanya terdongak kebelakang dengan mata terpejam menahan rasa nikmat yang diterimanya, buahdadanya semakin membusung indah menggairahkan.

Tubuh Indah yang menggeliat-kegeliat menahan nikmat dan disertai lenguhan dan erangan nikmat yang keluar dari bibir mungil istrinya demikian merangsang. Dan rangsangan itu juga menjalar di tubuh Dedi walaupun belum sanggup membangunkan batang penisnya. Timbul rasa cemburu, dari dalam hati Dedi melihat aku yang sedang mencumbu Indah, tapi betapa dilihatnya bahwa Indah begitu menikmati apa yang kulakukan yang selama ini tidak pernah dapat dia berikan.

Dedi begitu bahagia melihat istri tercintanya begitu menikmati dapat menyalurkan hasrat biologisnya. Akhirnya Dedi benar-benar menikmati apa yang dilihatnya dan menghapus rasa cemburu yang bergemuruh di dadanya.

Saat itu, tangan kananku telah merayap ke bawah menuju selangkangan Indah, sementara tangan kiri tetap mempermainkan buahdada Indah yang semakin membusung. Lidah dan bibirku mengulas pundak, leher dan tengkuk Indah membuat Indah semakin menggelinjang.

Tangan kananku yang telah berada di depan vagina Indah, mulai mengorek-ngorek lipatan liang vagina Indah, terasa basah olehku, tubuh Indah bergetar dan bibirnya mengerang nikmat, “Ouhhh… ouhhh… auw…” Erangan nikmatnya semakin keras ketika jari tengahku memasuki liang vaginanya dan mengucek-ngucek dinding vaginanya. “Auh… Owhh… Kang… Kang… Ouhhhh…”

Kudorongkan semakin dalam jari tengahku sambil jari tengahku berputar, mengait dan mengorek-ngorek. Tubuh Indah semakin bergetar menahan nikmat diserta erangan nikmat. “Ouuhhh… Kang… Ouhh…“ Kugunakan jempolku menekan dan memutar-mutar klitorisnya yang menonjol keras, Tubuh Indah semakin bergetar keras dan, “Aaaauhhh… Aaauhhh… K-kang…” ia makin mengeliat-geliat dengan kepala semakin terdongak ke belakang.

Klitoris Indah terus kuputar dan kutekan oleh jempolku, sementara jari tengahku mengucek-ngucek semakin cepat. Tubuh Indah melonjak-lonjak dengan keras menahan nikmat yang semakin melambungkannya, hingga akhirnya Indah merengek dengan tersengal-sengal, “Masukkan, Kang! Sekarang! Ouhh… Nggak tahan… Nggak tahan… Ouhhhh… ouuhhhh…!!”

Akupun sebenarnya sudah tak tahan, kudorong punggungnya agar membungkuk, kedua tangannya diletakkan agar bertumpu di pinggir meja rias, pantatnya diangkat dan kutekan pinggangnya agar agak kebawah, sehingga Indah berada dalam posisi tubuh melenting sambil membungkuk, kedua kakinya kurenggangkan, lalu kupegang batang penisku dan kuarahkan penisku kepala penisku kearah mulut liang vagina Indah yang sudah basah dan licin dari belakang melalui belahan pantatnya. Lalu…

Bleshh…!!! Batang penisku terasa hangat dan basah menguak liang vagina Indah yang sempit dan nikmat. ”Ouhhhh…” Erang nikmat Indah keluar dari bibirnya sambil mendongakkan kepala. Posisi Indah yang sedang mengerang dan menggeliat ketika vaginanya diterobos batang penisku, begitu menggairahkan Dedi yang sedang mengintip perbuatan kami. Dedipun merasakan ada getaran-getaran nikmat yang terjadi pada batang penisnya, padahal selama ini, walaupun sudah dirangsang sedemikian rupa oleh Indah hingga membuat Indah kepayahan, Penisnya tidak juga merasakan getaran-getaran nikmat yang dapat membuatnya mengeras.

Namun saat ini, Dedi merasa aneh sekaligus gembira, karena dia merasakan ada getaran-getaran nikmat yang diakibatkan oleh aliran darah yang mengalir cukup cepat pada batang penisnya. Dedipun merasakan batang penisnya agak mengeras tidak seperti biasanya, walaupun belum bisa dikatakan batang penisnya telah tegang dengan sempurna, namun perubahan ini membuatnya sangat gembira dan menimbulkan harapan bahwa suatu saat nanti Dia akan mampu berfungsi sebagai lelaki normal kembali. Oleh sebab itu Dedi semakin asyik menikmati persetubuhan yang sedang dilakukan oleh istrinya.

Sementara saat itu, aku dengan penuh gairah memompa pantatku agar batang penisku mengaduk-ngaduk liang vagina Indah. Kepala Indah terangguk-angguk menerima helaan dan sodokan dariku sambil tak henti-hentinya mengerang nikmat. “Ouh… ouhh… Kang… Kanggg…”

Buah dadanya yang montok terayun-ayun dengan indahnya. Indahpun menggerakan pinggulnya menyambut setiap sodokan batang penisku membuat rasa nikmat semakin melambungkan kami berdua. Terkadang pinggul Indah berputar-putar sehingga batang penisku serasa dipelintir dengan sangat nikmat.

Hentakan tubuhku dan gerakan pinggul Indah semakin lama semakin cepat dan telah berubah menjadi lonjakan-lonjakan yang keras diiringi dengan erangan nikmat yang semakin nyaring. Hingga akhirnya lonjakan tubuh Indah menjadi tak terkendali dan mulai kejang-kejang dan akhirnya tubuh Indah melenting kaku terdiam dengan kaki terjinjit disertai teriakan, “Aaaaakkkkkkhhhs…!!!”

Selama beberapa detik batang penisku seperti diremas-remas dan dijepit oleh dinding vagina Indah dengan sangat kuat membuat napasku berhenti dihimpit oleh rasa nikmat yang luar biasa. Sesaat kemudian tubuh Indah melemas, lututnya dan sikunya goyah dan akhirnya ambruk terduduk di lantai sehingga Batang penisku yang sedang menancap pada liang vaginanya terlepas.

Indah baru saja memperoleh puncak kenikmatan orgasme yang sungguh luar biasa, meninggalkan diriku yang masih sedang berada di awang-awang kenikmatan dan belum mencapai puncak. Napasku terengah-engah dengan perasaan sedikit kecewa karena kenikmatan yang kurasakan seolah terputus.

Disisi lain, Dedi juga merasakan kenikmatan rangsangan yang sangat tinggi melihat ekspresi wajah istrinya saat meraih puncak orgasme. Lututnya terasa lemas dan goyah menikmati apa yang dilakukan istrinya.

Dengan perasaan tak menentu, aku menunggu sejenak Indah merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme dengan napas yang terengah-engah. Beberapa detik kemudian, aku membangkitkan Indah dan menuntunnya menuju tempat tidur, Indah naik ke tempat tidur dan berbaring telentang, napasnya perlahan-lahan normal dan pancaran matanya masih menampakkan gairah yang masih menyala. Aku merangkak mendekatinya, gairah Indah semakin berkobar ketika dia melirik batang penisku yang berdiri dengan kokohnya.

jilbab montok bohay (1)

Sementara itu, dada Dedi kembali berdegup menantikan detik-detik dimana tubuh Istrinya akan kembali digenjot olehku di tempat tidur. Dalam hatinya Dedi memuji akan kemampuan sex diriku yang belum juga ejakulasi padahal telah mampu membuat istrinya melonjak-lonjak meraih orgasme.

Kuciumi bibir Indah dengan lembut, Indah membalas dengan tak kalah lembutnya. Kemudian kuhisap-hisap bibirnya dan dibalas dengan hisapan dan kecupan, lalu kutindih tubuhnya, kaki Indah terkangkang mempermudah, tangan Indah meraih batang penisku dan mengarahkan kepala penis agar berada tepat di mulut liang vaginanya dan…

Bleshhhh…!! Kepala penisku kembali menyeruak liang vagina Indah yang semakin basah dan licin, “Aaahhhh…” Indahpun kembali mengerang nikmat.

Bibirku mengecup dan menyosor bibir dan leher Indah secara acak dan penuh nafsu, sementara pantatku mulai mengayuh mengaduk-ngaduk dan mengocok-ngocok liang vagina Indah yang semakin basah dan licin, namun tetap sempit dan menjepit. Rasa nikmatpun kembali menjalar keseluruh penjuru nadiku.

Genjotan tubuh demikian cepat dan bertenaga membuat buahdada Indah terguncang-guncang menggemaskan. Kuhisap dan kujilati buahdadanya yang kiri dan kanan secara bergantian. Erangan nikmatpun kembali merasuki disekujur tubuh Indah. “Ouhh… Kang… Ouhhh… ouh…”

Pinggul Indah berputar dan bergoyang menyambut setiap helaan dan sodokan batang penisku menimbulkan suara deritan tempat tidur yang cukup keras. Selama beberapa menit aku mengayuh dan memompa disambut dengan goyangan pinggul Indah yang erotis dan kadang menghentak-hentak disertai erangan-erangan nikmat. “Aouh… aouhhh… Kang… Kang…”

Dedi yang mengintip dari balik tirai juga merasakan nikmatnya rangsangan yang cukup tinggi, batang penisnyapun semakin mengeras tegang, dan hal ini semakin menggembirakannya. Disamping itu, dia semakin kagum akan stamina sex yang dimiliki olehku.

Goyang pinggul Indah telah berubah menjadi lonjakan-lonjakan keras dan menghentak, sementara aku tetap mengayuh pantatku untuk mengocok liang vagina Indah dengan kecepatan yang tetap. Indah menginginkan kenikmatan yang lebih, dia menggulingkan tubuhku sehingga tubuhnya menindih tubuhku dan langsung menghentak-hentakkan pinggulnya dengan cepat dan keras dengan tubuh yang mulai melenting dan kepala terdongak ke belakang. Dan beberapa menit kemudian…

”Aaakkkaaangggg… kkhhhss…” Tubuh Indah melenting kaku, kembali Indah memperolah orgasme yang luar biasa. Kemudian tubuhnya melemas “Ouhhhhhhh…” Kepalanya terkulai di samping kepalaku. Namun batang penisku masih tertancap kokoh di dalam liang vaginanya.

Ya, Indah baru saja memperoleh orgasme yang nikmat luar biasa, suatu puncak orgasme yang selalu dia dambakan selama ini, dan tak pernah dia peroleh dari suaminya. Akhirnya saat ini dia dapatkan, sungguh Indah merasakan puas yang tak terhingga dan diapun terhempas dengan penuh kepuasan yang tak bisa dilukiskan.

Sementara itu, Dedi kembali merasakan puncak kenikmatan rangsangan, ketika dia menyaksikan istrinya memperoleh puncak orgasme dan dia semakin asyik menikmati apa yang istrinya lakukan.

Dengan napas yang terengah-engah dan mata terpejam, Indah terkulai lemah diatas tubuhku sambil merasakan desiran-desiran nikmat yang masih menghampirinya. Dengan gairah yang menggebu-gebu, bibirku menjilati dan menciumi leher jenjangnya yang basah oleh keringat yang berada tepat di depan mulutku, tanganku meremas-remas pantat montoknya, dan pantatku kudorongkan ke atas-kebawah agar batang penisku kembali mengocok-ngocok dinding vaginanya yang sangat basah namun tetap sempit dan berdenyut. Kenikmatan kembali menjalar disekujur tubuhku.

Aku terus menggerakan pantatku, walaupun tidak mendapat respon dari Indah, karena dia benar-benar merasa lelah karena telah memperoleh orgasme yang luar biasa melelahkan. Namun walaupun Indah tidak membalas gerakanku, tetap saja aku mendapatkan kenikmatan dari liang vaginanya yang sempit dan meremas-remas.

Lambat laun gairah nafsunya kembali datang, Indah membalas gerakanku dengan menggoyang-goyang pantatnya mengakibatkan kenikmatan yang kuterima semakin bertambah, dan rasa nikmatpun kembali menghampiri dirinya sehingga kembali dia memperdengarkan lenguhan nikmatnya merangsang. “Auhh, Kangg… aouhh… ouhhhhh… Kangghh…” seirama dengan gerakan pantatnya yang bergoyang erotis.

Namun goyangan erotis itu hanya dalam beberapa menit kemudian telah berubah menjadi gerakan pinggul yang kejang-kejang tak terkendali, rupanya badai orgasme kembali datang menghantamnya, napasnya mulai terasa sesak dan akhirnya, “Aaaaakkkhhss…”

Tubuhnya kembali melenting kaku dan kontraksi dari dinding vaginanya kembali kurasakan menjepit-jepit dan meremas-meremas batang penisku membuat mataku terbeliak-beliak menahan nikmat yang luar biasa. Beberapa detik kemudian tubuhnya terhempas lemas dan terkulai diatas tubuhku. Indah kembali memperoleh puncak kenikmatan orgasme yang sensasional untuk ketiga kalinya.

Sementara Indah terkulai lemah sambil merasakan sisa-sisa puncak kenikmatannya, pantatku terus mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah. Hanya satu menit, gairah Indah telah pulih kembali dan diapun membalas goyanganku. Goyangannya begitu cepat dan menghentak-hentak hingga hanya dalam beberapa menit berselang kembali Indah mencapai orgasme.

Dedi semakin kagum akan staminaku, karena sudah berjalan hampir 1 jam dia mengintip apa yang kulakukan, Aku belum juga ejakulasi. Sementara itu Dedipun merasa bahagia karena dilihatnya Indah bermain dengan gairah yang terus berkobar-kobar tanpa mengenal lelah.

Indah merasa tubuhnya sangat lelah namun gairahnya masih berkobar-kobar mengalahkan rasa lelah yang merasuki dirinya, tubuhku digulingkannya hingga aku berada diatasnya. Aku mengambil inisiatif dengan memompanya lebih aktif dan Indah menyambutnya dengan goyangan dan lonjakan dari bawah sambil mengerang dan menjerit seperti sedang mengejar sesuatu yang sangat didambakan. “Ouh… ouhh… Kang… Kang… hekss… ouhhh…”

Hingga akhirnya kembali Indah menggapai apa yang didambakannya, Indah melentingkan tubuhnya dengan kaku dan berteriak melepas nikmat dan terkulai lemah selama beberapa saat, namun hanya sesaat dia terkulai, karena gairahnya kembali meronta-ronta ketika vaginanya diaduk-aduk dan dikocok-kocok oleh diriku tiada henti dan tak lama kemudian, diapun aktif kembali bergoyang tanpa mengenal lelah untuk menjemput puncak orgasme selanjutnya.

Aku menggulingkan tubuhku hingga dia kembali berada diatas, hingga kembali dia yang mengatur ritme goyangan. Demikian seterusnya, tubuh kami saling bergulingan untuk meraih kenikmatan yang lebih dan lebih bagaikan tak bertepi. Tubuh kami sudah sedemikian basah oleh keringat yang mengucur deras dari setiap lubang pori-pori, bantal dan seprei demikian porak poranda menahan pergulatan aku dan Indah yang terus melenguh dan mengerang nikmat.

Pada saat aku berada diatas tubuhnya yang entah ke berapa kali, aku merasakan gelombang orgasme akan menghantamku, hal ini ditandai dengan gerakan pantatku yang sudah tak terkendali dan kejang. Dan Indahpun merasakan itu dan dia pun berusaha meraih kembali orgasmenya yang terakhir agar bersamaan denganku dan, “Aaakkkkkksssss…!” secara berbarengan kami meraih orgasme.

Cret… cret…. Cret… sperma kental terpancar dari penisku membasahi seluruh rongga liang vagina Indah. Tubuh kami sama-sama terhempas sangat lemah dan lunglai, keringat membasahi seluruh permukaan tubuh kami dengan persendian yang serasa seperti dilolosi. Aku berusaha menggulingkan tubuhku agar tidak menindihnya dan tidur berdampingan. Kamipun terbaring kelelahan selama beberapa menit.

Saat kami mencapai puncak orgasme secara bersamaan, Dedipun merasakan puncak rangsangan yang sama, tubuhnya terasa lemas dan oleng, matanya berkunang-kunang menikmati sensasi puncak rangsangan yang diperolehnya.

Disaat aku dan Indah masih tergolek lemah, dengan mengendap-ngendap Dedi keluar dari rumah menuju tempat pencucian motor dan ternyata motorku sudah lama selesai dicuci. Dedipun membawa pulang motorku.

Hanya beberapa menit kami tergolek lemah, lalu dengan tergesa-gesa bangkit dan memunguti pakaian yang berserakan dan mengenakannya. Indah ke kamar mandi untuk menyegarkan diri, sementara aku menunggunya di ruang tamu.

Tak lama kemudian, kulihat Dedi pulang dari tempat pencucian motor. “Gus, kamu hebat bisa membuat istriku terlonjak-lonjak kenikmatan!” katanya sambil mengedipkan mata padaku, “Istriku mana?” lanjutnya lagi.

“Sedang di kamar mandi.” jawabku tersipu. Aku heran bagaimana ia bisa tahu, padahal aku tidak merasa diintip olehnya. Mungkin aku terlalu terlena oleh kenikmatan yang diberikan oleh Indah, sehingga tidak sadar bahwa aku telah diintip olehnya.

“Gus, kamu harus menepati janji untuk tidak merebut Indah dariku!” kembali dia mengingatkanku sambil berbisik takut didengar oleh istrinya.

“Aku janji.” jawabku meyakinkannya.

***

Sejak itu aku sering mengunjungi rumah Indah untuk menumpahkan segala kerinduan sekaligus meraih nikmat bersama Indah dan ada saja alasan Dedi untuk meninggalkanku agar aku dan istrinya merasa bebas bercinta. Bahkan seringkali Dedi pura-pura pergi dari rumah sebelum aku datang.

Aku semakin akrab dengan Dedi, bahkan Dedi kupekerjakan pada perusahaanku sehingga kami bisa mengatur rencana pertemuanku dengan istrinya secara lancar.

Penyakit impoten yang diderita oleh Dedipun secara perlahan-lahan mulai membaik, penisnya bisa tegang hampir sempurna jika melihat aku menggauli istrinya dan ketegangan penisnya semakin keras ketika menyaksikan istrinya meraih orgasme. Namun apabila dia bermesraan dengan istrinya saat berduaan, penisnya susah sekali bangun, dan seperti biasa Indah selalu berusaha keras merangsangnya dengan berbagai cara.

Akhirnya Dedi mengusulkan padaku, untuk menggantikan posisiku menggenjot istrinya pada saat istrinya mencapai puncak orgasme yang pertama dan aku boleh menggenjot istrinya kembali setelah dia mencapai ejakulasi. Aku menerima usulnya, namun rencana ini tidak dibicarakan ke istrinya.

Ketika rencana ini dilaksanakan, Indah sangat kaget begitu melihat suaminya masuk dalam keadaan telanjang saat dia sedang terengah-engah karena baru mencapai puncak orgasme. Namun Indah sangat heran karena suaminya tidak marah melihat perselingkuhannya dengan temannya, dan yang lebih aneh sekaligus menggembirakan hatinya adalah Indah melihat penis suaminya mampu tegang dengan sempurna.

Dedi langsung menghampiriku yang terdiam melihat Dedi masuk kamar ketika aku sedang menikmati remasan dan jepitan vagina istrinya, Dedi berkata: “Gus, gantian dong, mumpung penisku sedang tegang nich!”

Dengan berat hati aku mencabut batang penisku yang sedang menancap kokoh dari liang vagina Indah, dan beranjak ke meja rias kemudian duduk dikursi yang terdapat di sana menyaksikan apa yang akan dilakukan Dedi pada istrinya.

Mulanya Indah malu dan ragu melihat situasi seperti ini, namun kebahagiaannya melihat batang penis suaminya yang dapat tegang sempurna setelah 2 tahun tertidur lemas, menggantikan keraguannya dengan gairah yang menyala-nyala. Indah berusaha bangkit dengan tangan terbuka menjemput tubuh bugil suaminya dengan cinta yang membara. Dedi langsung memposisikan batang penisnya tepat di liang vagina Indah, dan langsung menyodokkan batang penisnya ke liang vagina Indah dan disambut dengan erangan nikmat penuh kebahagiaan dari Indah. “Ohhhhh… Kang Dedi… Ouhhh…”

Dedi mengayun pantatnya dengan sangat cepat, seolah takut ketegangan penisnya akan surut kembali, tangannya meremas-remas buahdada istrinya dengan penuh semangat, sementara itu Indah membalas setiap perlakuan suaminya dengan lonjakan-lonjakan yang luar biasa bergairah, bahkan gairah seperti ini belum pernah dia pertunjukkan padaku, mereka saling mengerang penuh kenikmatan, disertai hentakan-hentakan tubuh cepat dan keras serta kaku.

Sungguh pemandangan yang sangat membangkitkan gairah bagi siapa saja yang menyaksikannya. Batang penisku yang belum terpuaskan semakin tegang dan keras menyaksikan persetubuhan mereka yang sangat erotis dan merangsang.

Beberapa menit kemudian, terlihat kedua tubuh mereka melenting kaku dan menjerit nikmat bersamaan meraih orgasme, sebelum akhir berkelojotan dan akhirnya terhempas lemas.

Dedi menggulirkan tubuhnya menjauh dari tubuh istrinya, dada mereka turun-naik menghirup napas dengan cepat dan tersengal-sengal. Terpancar di wajah mereka kepuasan dan kebahagiaan yang sukar tuk dibayangkan.

Setelah kulihat napas mereka berangsur-angsur normal, kuhampiri mereka yang tergolek lemah dan berkata pada Dedi. “Ded, bagaimana dengan ini?“ kataku sambil menujuk batang penisku yang mengacung-ngacung minta dipuaskan.

“Terserah Indah…” jawab Dedi sambil melirik ke Indah.

Indah balas menatap mata Dedi, minta persetujuan. Dedi hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu Indah menatapku dengan tatapan mengundang. Kuhampiri tubuh Indah, dan kutuntaskan permainanku yang tertunda. Terasa agak becek, liang vagina Indah, namun tidak mengurangi rasa nikmat yang kuterima. Dan Permainan kali ini sungguh luar biasa. Indah bergoyang dan menggeliat tiada henti, walaupun telah berkali-kali mencapai orgasme, Indah terus meladeni dengan semangat yang tak pernah padam. Sampai akhirnya aku benar-benar terkulai lemas diatas tubuhnya.

Hubunganku yang ganjil ini terus berlangsung, hingga Indah memperoleh 2 orang anak yang kini telah berusia SD. Aku tidak tahu, apakah itu anakku atau anak Dedi, Aku sangat menyayangi anak-anak tersebut bagaikan anakku sendiri, demikian juga Dedi, dia sangat menyayangi anak-anak tersebut bagaikan anaknya sendiri.

Walaupun sekarang aku telah beristri dan memiliki anak dari istriku, hubungan cintaku dengan Indah masih berlangsung, sebab hingga kini Dedi belum sanggup melakukan persetubuhan dengan istrinya tanpa didahului menyaksikan istrinya dirangsang dan digauli olehku.

Entah kapan hubungan ini akan berakhir, akupun tak tahu…

BUKU HARIAN LINA

Namaku Lina. Sejak aku kuliah semester awal, aku telah memutuskan untuk mengenakan busana Muslimah termasuk mengenakan Jilbab yang menutupi Kepalaku. Meski demikian pakaian tersebut tak mampu menutupi lekuk liku tubuhku yang indah. Terutama pada bagian dada 34C ku yang memang sangat menonjol itu.

Jika pada umumnya wanita lain mengenakan busana muslimah dengan ukuran longgar, aku memilih mengenakan pakaian yang ketat hingga membentuk tubuhku dengan jelas. Jika pada umumnya wanita lain mengenakan Jilbab yang panjang hingga sampai ke perut, aku justru memilih Jilbab pendek yang bahkan tidak sampai menutupi dadaku. Karena terus terang saja, aku memang sangat bangga pada bentuk dadaku yang besar, montok menggelayut indah. Jika mengenakan BH yang tepat, dipadu dengan baju yang ketat, maka akan terlihat menonjol dan menantang sekali.

Pacarku sangat tergila-gila pada bentuk dadaku. Setiap kali kami bertemu, pasti disempatkannya untuk mencumbu dadaku. Sementara kedoyananku pada kontol bermula ketika aku masih duduk di bangku SMA. Saat itu aku hanya berani menyentuh kontol pacarku saja. Menyentuh, mengelus-elus. Tidak lebih dari itu.

Lagipula ketika SMA itu pacarku memang tidak pernah menuntut lebih. Dia sudah cukup keenakan hanya dengan kusentuh-sentuh saja. Bahkan seringkali aku hanya menyentuh kontolnya dari luar celananya.

Namun semuanya berubah ketika aku mulai kuliah di Jakarta. Perkenalanku dengan cowok-cowok Jakarta yang ternyata penuh pengalaman membuat hidupku berubah.

Sejak pertama kali pacarku meminta aku mengisap kontolnya, aku langsung suka . Dan sejak itu aku jadi wanita berjilbab yang doyan kontol.

***

# Sebuah Permulaan

Pagi ini hangatnya mentari yang menerobos jendela kamarku membuatku terbangun dari tidurku yang lelap setelah semalam memekku luluh lantak dijilat pacarku.

Masih terbayang bagaimana lidahnya menari-nari di dalam memekku. Masih terbayang juga bagaimana kontolnya memenuhi rongga mulutku sampai muncrat dengan derasnya di dalam mulutku. Saking derasnya sampai-sampai tumpah meleleh membasahi leherku.

Malas-malasan kusingkirkan selimut yang menutupi tubuh telanjangku. Kubiarkan angin menerpa tubuh mulusku. Sambil tanganku meraba-raba bulu memekku yang tipis, aku membayangkan kembali kejadian-kejadian di masa lalu saat pertama kali aku mengenal kontol.

***

Saat itu aku masih kelas 3 SMA. Sebenarnya saat itu aku belum boleh pacaran. Tapi mana bisa aku tahan. Maka dengan diam-diam aku tetap menjalin hubungan dengan teman sekelasku.

Ceritanya waktu itu aku janjian dengan pacarku mau nonton film di bioskop. Sekitar jam 6.30 sore aku bergegas pergi tanpa pamit.

Sesampai di bioskop pacarku menyambut dengan senyum lebarnya. Langsung digandengnya tanganku menuju teater 3 karena pertunjukan sudah hampir dimulai.

Ternyata da memilih tempat duduk paling belakang dan paling ujung. Benar-benar tempat yang strategis dan aman untuk pacaran. Kami pun langsung duduk manis di pojok bioskop ini.

Belum lagi pertunjukan dimulai, tangannya sudah mulai bergerilya meraba-raba pahaku yang terbungkus rok longgar dengan potongan agak pendek. Perlahan dia menyentuh lututku yang tidak tertutup rok. Padahal lampu bioskop belum dimatikan. Tapi kudiamkan saja perbuatannya itu. Karena kulihat di barisan tempat kami duduk tidak ada penonton lain. Jadi bisa dipastikan tidak ada yang melihat gerakan jemarinya di lututku.

Mungkin karena merasa tidak ada penolakan dariku membuat jemarinya semakin berani. Perlahan jari-jemarinya bergerak ke atas menggeser rokku hingga sedikit tersingkap. Bulu kudukku lamgsung meremang menerima serangan seperti ini.

Ini adalah pengalaman pertama aku di raba-raba seperti ini. Biasanya pacarku hanya berani menggandeng dan menggenggam tanganku saja. Kejadian ini benar-benar pengalaman pertama buatku.

Perlahan jemari di atas pahaku semakin bergerak ke atas. Perasaan aneh menyelimuti diriku. Geli… tapi nikmat. Hingga akhirnya rokku benar-benar tersingkap sampai atas. Dan celana dalamku pun terpampang dengan jelasnya sementara lampu bioskop masih terang benderang. Sejenak ada terbersit rasa takut ketahuan. Tapi rasa nikmat mengalahkan pikiran sehatku. maka kubiarkan saja jemari kasar itu terus bermain-main di atas pahaku. bahkan kemudian kurasakan jemarinya mulai menyentuh belahan memekku dari luar celana dalam.

Aku tersentak nikmat. Rasa nikmat yang belum pernah kurasakan.

Sedang kunikmati gesekan jemarinya di belahan memekku, tiba-tiba lampu padam. Ah, pertunjukan akan dimulai.

Aku tidak perduli lagi dengan keadaan sekitar. Langsung kurengkuh wajah pacarku ini. Kucium bibirnya penuh nafsu. Lidahku bermain-main di rongga mulutnya. Saling membelit, melilit, menjilat-jilat dengan liar. Padahal ini adalah ciuman pertama bagiku. Aku hanya mengikuti naluri nafsuku saja.

Menerima perlakuanku yang penuh nafsu itu membuat dia bertambah semangat. Jemarinya langsung menerobos celana dalamku. Dan akupun terpekik pelan saat kurasakan jemarinya menyentuh memekku secara langsung. Perlahan dibukanya belahan memekku sambil mencari-cari klitorisku. Dan saat benda kecil itu tersentuh, sungguh rasanya seperti melayang ke langit ke tujuh. Luar biasa nikmatnya. Jika saja aku sedang tidak di dalam bioskop, aku pasti sudah berteriak histeris penuh nikmat.

Saat kurasakan tangan pacarku agak terhambat celana dalam, tanpa ragu-ragu segera kupelorotkan celana dalamku dan kuletakkan celana dalamku itu di kursi sebelah. Lalu kubentangkan kakiku lebar-lebar agar memekku bebas terhidang dengan lezatnya. Dengan demikian jemari nikmat itu semakin mudah mengobok-obok memekku yang sudah banjir bandang.

“Aaaaah… gosok terus, sayaaang…” aku mengerang perlahan takut terdengar penonton lain. kugoyang-goyangkan pinggulku agar jemarinya menyentuh itilku. Setiap kali itilku tersentuh, rasanya seperti ada ribuan jemari yang menggelitik sekujur tubuhku.

Nikmaaaaaat… Oooooh…!!!

Tak cukup sampai disitu, segera kubuka kancing-kancing kemejaku. Kubuka semuanya sampai tubuh bagian depanku terbuka bebas. Lalu kubuka kancing BH ku dari belakang. Tak ayal kedua payudaraku yang berukuran extra itu langsung melompat mencari udara segar.

Kubuka BH-ku lewat kedua lenganku dan kuletakkan di kursi sebelah bersama CD-ku yang sudah nangkring duluan. Kini dadaku terpampang dengan indah. Lalu kuremas-remas sendiri mengimbangi gerak jemari pacarku yang masih asik bermain-main di memekku.

Tak lama kurasakan ada sesuatu yang mendesak akan meledak dari dalam tubuhku. Seluruh otot ditubuhku mengejang. Terutama otot memek. Beberapa kedutan kurasakan dengan rasa nikmat yang tak terkira. “Aaaaaaaah… sayaaaaanggg… enak bangeeeeet…”

Masih tersisa beberapa kedutan lagi sampai akhirnya tubuhku lemas tak berdaya. Rasanya bagaikan tulang-tulang di seluruh tubuh ku di lepas satu per satu.

Aku masih terbuai dengan rasa nikmat yang tiada tara saat kurasakan puting dadaku ada yang mencium. Oooh… nikmat itu datang lagi. Lalu pacarku berbisik lembut di telingaku. “Lin, gantian pegang kontolku donk…”

Aku hanya mengangguk sambil menjawab “Iya…” dengan perlahan. Dalam hatiku muncul rasa penasaran seperti apa bentuk kontol itu sebenarnya.

Dengan agak terburu-buru kekasihku menurunkan celana berikut celana dalamnya sampai sebatas lutut. Dan terlihat lah benda bulat panjang yang mengacung dengan gagahnya.

Agak ragu kusentuh benda yang katanya bisa bikin enak memek itu.

Melihat aku ragu-ragu, pacarku langsung menyambar tanganku dan membimbingnya untuk menggenggam kontol besar itu. Baru sekali itu aku melihat langsung kontol yang sedang ngaceng. Karena belum mengerti harus bagaimana, aku hanya mengelus-elus perlahan sambil kubolak-balik memperhatikan bentuknya.

Sedang seru-serunya menggenggam kontol, tiba-tiba lampu menyala terang benderang. Aku panik bukan main. Buru-buru kukancingkan bajuku tanpa sempat memakai BH. Bahkan celana dalam pun belum sempat kukenakan.

Jadilah aku pulang dengan tanpa BH tanpa celana dalam…

***

# Ancol Kenangan

Selepas SMA, aku melanjutkan kuliah ke Jakarta di sebuah perguruan tinggi yang lokasinya dekat dengan Ancol. Disaat kuliah inilah aku memutuskan untuk memakai busana muslim lengkap dengan Jilbab yang menutupi kepalaku.

Di bulan ketiga aku kuliah, aku berkenalan dengan seorang cowok dari fakultas teknik. Wajahnya lumayan ganteng, tubuh atletis karena memang dia rajin berolah raga. Dadanya bidang tegap dengan bongkahan pantatnya yang membulat bikin ngences. Doni benar-benar punya bentuk tubuh yang sangat menjanjikan.

Kencan pertama kami pergi nonton di bilangan Kelapa Gading. Saat film dimulai, Doni mulai menggenggam jemariku. Kemudian dia mencium jemariku. Aku menunggu dengan berdebar langkah berikutnya.

Tapi ternyata serangannya hanya sampai di situ saja. Hingga film usai, dia hanya menciumi jemariku tidak lebih. Ah, padahal aku ingin lebih. Ingin rasanya aku memulai, tapi malu juga. Apalagi ini baru kencan pertama. Akhirnya kami pulang tanpa meninggalkan kesan apapun.

Hari-hari berikutnya aku disibukkan dengan kuliah hingga tidak terlalu sering bertemu dengan dia.

Namun selang 3 hari, kembali Doni mengajakku kencan. Mau makan malam katanya. Akupun langsung menyetujui dan minta dia menjemputku di tempat kostku.

Jam 8 malam dia datang menjemput, dan kami langsung menuju Ancol dengan mobilnya. Awalnya kami hanya berputar-putar saja di kawasan ancol. Mungkin karena dia mengira aku belum pernah ke ancol. Maklum baru 3 bulan di Jakarta.

Akhirnya kami parkir di tempat yang agak sepi. Sebenarnya aku bingung juga, ngapain ngobrol di mobil. Katanya mau makan malam. Tapi belum sempat aku bertanya, tiba-tiba dia sudah langsung mencium bibirku. Ciumannya begitu menghanyutkan membuat aku benar-benar terlena. Apalagi tangan kanannya langsung meremas dada kiriku dengan lembut. Lalu tanpa sempat aku menolak, Jilbabku di buka. Aku ingin mencegah, tapi kupikir pacaran begini pake jilbab, ya malu sama jilbab lah. Maka kubiarkan saja jilbabku melayang entah kemana.

Perlahan ciumannya berpindah ke kupingku yang sudah tak tertutup jilbab lagi. Langsung aku gemetar merasakan geli-geli enak yang luar biasa. Setelah itu lidahnya turun menjilati leherku yang putih mulus. Aku semakin melayang.

Perlahan tangannya membuka kancing-kancing bajuku sampai copot semua. Dengan semangat, kemejaku di kuakkannya hingga terbuka lebar. Lalu tangannya bergerak ke punggungku dan ‘Tasss !’ kancing BH-ku dilepas. Dadaku yang besar langsung melompat indah.

Dengan penuh nafsu dia angkat BH-ku keatas, dan tampaklah payudaraku yang putih besar dengan putingnya yang sudah mengacung keras. Sejenak dipandanginya kedua buah dadaku. Lalu perlahan diusapnya putingku. Dipencet-pencet, dipelintir pelan, ooooh…. rasanya tidak kuat lagi. Langsung kutarik kepalanya minta diisep.

Rupanya dia mengerti keinginanku. Langsung lidahnya bermain-main di putting susuku. Ujung pentilku di sentil-sentil dengan lidahnya. Rasanya bukan main. Enaaakkk sekali…

“Aaaaah… Sayaaaang…. Isep, sayaaang…” tak mampu kutahan kejolak nafsuku. Saat mulutnya melahap dadaku, eranganku semakin menjadi. “Aaaaaaghhhh… terus, sayaaang… isep yang kenceeeng…” Lupa sudah aku dengan Jilbabku. Yang kuinginkan saat ini adalah kenikmatan yang lebih dan lebih …

Celana dalamku rasanya sudah basah. Maka agar dia langsung menuju memekku yang sudah becek ini, kuangkat kakiku dan ngangkang selebar-selebarnya. Rok-ku tersingkap sampai perut. CD-ku terlihat dengan bebasnya. Benar saja. Melihat gayaku seperti itu, tangannya langsung dimasukkan ke dalam CD-ku.

“Ooooooooogh… iya itu, sayang… mainin yang itu…” aku benar-benar sudah lupa diri. Saat itilku dimainkan, teriakanku semakin menjadi-jadi. Kugoyang-goyangkan pantatku mencari kenikmatan lebih. Kuimbangi gerakan jarinya di memekku dengan goyangan pinggulku.

Sampai akhirnya desakan di memekku semakin kuat. Otot-otot memekku mengejang, dan… “Oooooooooghhh… sayaaang… enaaaaaaak!!” Memekku berkedut-kedut beberapa kali. Rasanya sungguh luar biasa. Bagaikan dilempar ke angkasa, kemudian dihempaskan kembali ke bumi dengan nikmat.

Aku lemas, tersandar, ngangkang…

Kubiarkan kakiku ngangkang dengan lebarnya beberapa saat. Sambil kuresapi kenikmatan barusan. Saat kubuka mataku, tampak senyum lebar pacarku. Langsung kukecup mesra bibirnya. Lalu dia bangkit dan merebahkan sandaran kursinya. Dia pun terlentang di kursinya, dan tampaklah kontolnya mengacung dengan gagahnya, Rupanya saat aku terpejam tadi dia sudah membuka celana berikut CD-nya.

Aku tertegun menatap kontolnya yang sudah ngaceng itu. Wuiiiih… Gede banget. Tegak berdiri, Urat-uratnya tampak bertonjolan di sekitar kontolnya. Kepala kontolnya begitu besar seperti helm tentara. Nafsuku langsung bangkit lagi.

Perlahan kugenggam kontol besar itu. Waaaw, tanganku yang mungil ini hampir tidak cukup menggenggamnya. Kontolnya kuremas-remas, kuusap-usap, seperti yang biasa dulu kulakukan dengan pacarku saat di SMA.

“Diisep donk, say…” kata pacarku tiba-tiba.

Aku terkejut. ”Kok diisep? kenapa ?”

“Ya biar enak”. jawabnya.

Karena penasaran, kucoba mencium kepala kontolnya perlahan. Lalu kujilat batang kontolnya dari bawah ke atas. Tapi dia rupanya belum puas kalau belum kukulum. Dia minta aku memasukkan kontolnya ke mulutku. Meski agak jijik, tapi karena memang pengen tau, kumasukkan kontol gede itu ke mulutku yang lebar. Kuisap, kepalaku naik turun dengan sendirinya. Ternyata enak juga.

Gesekan kontol besar itu di mulutku menimbulkan sensasi nikmat sendiri. Aku semakin semangat mengelomoh kontolnya yang luar biasa itu. Sesekali kujilati kepala kontolnya. Lalu lubang kencingnya kubuka-buka dengan lidahku. Dia sampai merem melek akibat perbuatanku itu. Kubasahi seluruh batang kontolnya dengan ludahku, kemudian kukocok dengan kuat pake tangan. Saat kontolnya agak kering, kumasukkan lagi ke mulutku. Lalu kukocok lagi.

“Iyaaaah… terus, sayang… isep yang kenceng…. Ooohhh…” pacarku benar-benar keenakan. Melihat kondisi pacarku seperti itu, aku semakin bersemangat memberikan kenikmatan padanya.

“Oooogghhh… kamu pinter, sayang… kocok terus, sayaaaang…” rintihnya.

Sampai kurasakan kontolnya semakin membesar, lalu tiba-tiba… “Craaaaattttss…!!!” air maninya menyembur saat kukocok dengan kencang. Aku tak sempat mengelak hingga mukaku terkena muncratan air maninya. Begitu juga leher dan dadaku.

Terus kukocok kontolnya sampai tidak ada lagi air mani yang keluar. Lalu kujilati kontolnya sampai bersih. Tampak pacarku begitu puas. Dan aku juga sangat puas. Pertama kali ngisep kontol dan pertama kali melihat sperma laki-laki.

Sejak itu, aku semakin doyan ngisep kontol. Setiap ada kesempatan aku selalu minta untuk ngisep kontolnya sampai dia muncrat keenakan…

***

# Kontol Sore-Sore

Aku masih bengong sendirian di kamar. jam baru menunjukkan pukul 4 sore, Sudah seminggu lewat sejak terakhir aku ngisep kontol. Dan malam ini pacarku mengajakku jalan malam lagi. Ugh… masih lama. Padahal aku udah kangen banget sama kontolnya. Kangen pengen kuisep-isep lagi.

Sedang aku termenung sendiri, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar kostku. Dengan agak malas aku membuka pintu.

Saat pintu terbuka, ternyata pacarku yang datang lebih awal. Aku terkejut sekaligus senang dengan kedatangannya. “Kok udah dateng am segini? Aku belom mandi lho…”

Pacarku tersenyum sambil melangkah masuk ke dalam kamarku. Katanya dia udah kangen. Gak tahan nunggu sampai malam.

Aku senang mendengarnya. Supaya bisa cepat berangkat, aku pamit mau mandi dulu. Tapi pacarku mencegah. Dia bilang mandinya nanti aja. Sekarang ngobrol-ngobrol dulu katanya. Lalu dia menutup pintu kamar. Ups! Cepat-cepat aku cegah. Soalnya di tempat kostku ini kalau ada tamu cowok boleh aja di bawa ke kamar. Tapi gak boleh tutup pintu.

Pacarku sepertinya kecewa. Untung aku cepat dapat ide. Segera aku minta pacarku menggeser tempat tidurku ke balik pintu kamar. Sehingga pintu hanya bisa di buka sepermpat. Dan ruang dibalik pintu menjadi agak lega dan aman. Kalaupun ada yang masuk, pasti kita yang di dalam udah tau duluan.

Mendengar itu pacarku langsung semangat. Dengan badannya yang kekar itu sebentar saja tempat tidurku sudah berpindah posisi. Dan benar. Posisi di balik pintu benar-benar aman.

Dengan agak tergesa tubuhku di dorong hingga jatuh telentang di atas tempat tidurku di bagian yang terlindung. Dan dengan tergesa juga tiba-tiba dia sudah menindih tubuhku. Bibirku langsung dilumatnya dengan penuh gairah. Lidah kami langsung saling melilit. Bahkan lidahnya sampai menggaruk-garuk langit-langit mulutku.

Dengan cepat gairahku naik. Memekku langsung terasa lembab dan berdenyut minta di jilat.

Ciuman pacarku mulai bergerak dari bibirku bergeser ke kupingku. Daerah paling sensitive yang bisa bikin aku menggelinjang hebat. Kalau bukan karena pintu yang masih terbuka, pasti aku sudah mengerang-ngerang keenakan. Terpaksa aku tahan suaraku agar tidak terdengar dari luar. Benar-benar tersiksa rasanya. Tersiksa dalam penjara kenikmatan birahi yang luar biasa.

Lalu lidahnya meluncur turun ke leherku. Digigit-gigit kecil leherku, bikin aku tambah kelojotoan. Aku tidak perduli walau leherku penuh dengan bekas gigitan. Toh kalau keluar aku selalu pakai jilbab. Gak bakal keliatan.

Sambil terus menjilat leherku, tangannya mulai menggerayangi dadaku. Diremas-remas begitu benar-benar bikin aku tidak tahan. “Hhhhhhh… sayaaang…” erangku pelan takut terdengar dari luar. Kurasakan jemari tangan pacarku mulai bekerja membuka kancing-kancing kemejaku. Ups! segera kucegah. Aku takut kalau aku sampai telanjang lantas tiba-tiba ada yang masuk, bisa berabe.

Akhirnya pacarku hanya meremas-remas dadaku dari luar bajuku saja. Tidak berhenti disitu, tangannya dengan cepat mengangkat rokku sampai ke perut. Maka memekku yang masih tertutup CD langsung terhidang dihadapannya. Tidak menunggu lama-lama, jemarinya langsung menyelinap kebalik CD-ku dan menari-nari di lubang penuh nikmat itu.

Aku benar-benar tidak sanggup lagi bertahan. Tubuhku menggelinjang dan bergetar dengan hebat. Setiap gesekan jemarinya membuat aku melayang-layang tidak karuan. Tiba-tiba tangannya berusaha menarik lepas CD-ku.

“Jangan!” meski sudah dipenuhi birahi, aku masih sempat kuatir jika nanti ada yang masuk secara tiba-tiba.

Untunglah pacarku tidak protes. “Ya udah, kalo kamu gak mau buka celana, aku aja deh.” katanya sambil langsung membuka celananya sampai sebatas lutut.

Woooow… aku terbelalak melihat kontolnya yang gede panjang sudah berdiri tegak siap tempur. Belum sempat aku meraih batang kontol besar itu, pacarku sudah menindih tubuhku lagi. Kontolnya yang sudah keras itu di gesek-gesekkannya ke memek aku yang masih tertutup CD.

Ampuuuunnn…. rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Enaknya luar biasa.

Terus saja dia gesek-gesek kontolnya ke memekku. Terkadang malah kepala kontolnya di tusuk-tusukkan ke lobang memekku. Membuat tubuhku semakin bergetar.

Akhirnya aku tak mampu lagi bertahan. Bagaikan bendungan yang jebol, seluruh hasratku memancar dengan derasnya. Memekku berkedut-kedut dengan gencarnya. CD-ku basah, benar-benar banjir. Tubuhku lemas lunglai, kunikmati terjangan gelombang orgasme ini dengan kaki mengangkang lebar. Nikmaaaaat…

Setelah dilihatnya napasku mulai teratur, tanganku ditariknya sampai aku terduduk di kasur. Lalu disodorkannya kontolnya yang besar itu ke mulutku. Aku mengerti keinginannya. Langsung saja kuraih batang enak itu, kuelus-elus sejenak sebelum kumasukkan ke dalam mulutku.

Aku selalu suka jika batang kontol besar memenuhi rongga mulutku. Dengan semangat batang kontol itu aku isap, kujilat, mulutku maju mundur dengan teratur.

Setelah kontolnya basah dan licin, segera kukocok kontol itu dengan tanganku. Kuisap lagi, kocok lagi begitu seterusnya, sampai tiba-tiba tubuh pacarku menegang dan… Craaaaat…!! air maninya memancar seperti pemadam kebakaran. Banyak sekali. Langsung saja kutelan semua air mani itu sambil kubersihkan kontolnya dengan lidahku.

Akhirnya malam itu kami tidak jadi keluar. Kami lebih suka menghabiskan malam dengan ngobrol di kamarku sambil sedikit raba-raba. Malah aku masih sempat ngisep kontolnya sampai ngecret di mulutku sekali lagi.

***

# Sehari Dua Kontol

Hubunganku dengan Doni sudah berjalan hampir setahun. Selama kami berpacaran, entah sudah berapa kali kontolnya yang besar itu menyemburkan air maninya di dalam mulutku.

Untunglah aku masih bisa bertahan untuk tidak menyerahkan keperawananku pada Doni. Betapapun menggairahkannya kontol Doni, namun aku tetap pada prinsip bahwa perawanku hanya untuk suamiku kelak.

Belakangan frekuensi pertemuan kami semakin berkurang. Terkadang sampai sebulan kami tidak bertemu sama sekali.

Di tengah jarangnya pertemuanku dengan Doni, aku berkenalan dengan Sam, mahasiswa di kampusku juga. Pemuda asal Padang ini lumayan ganteng. Badannya juga gak kalah dengan Doni. Malah mungkin bisa dibilang lebih bagus, lebih berisi.

Hubungan kami dimulai dengan ngobrol di kantin, makan bareng. Hanya di kampus. Aku belum berani menerima ajakan Sam untuk jalan, karena kuatir ketauan Doni. Bagaimanapun sampai saat ini statusku masih pacar Doni.

Saat makan siang hari ini, Sam mengajak aku menemaninya besok siang ke tempat perkumpulan Mahasiswa Sumbar. Semula aku menolak, tapi melihat wajah Sam yang kecewa, akhirnya aku bersedia.

Begitu juga saat Sam memaksa untuk mengantarkanku ke tempat Kost, aku tidak menolak. Kupikir toh Doni tidak akan tahu. Dia kan sedang ke Bandung dengan teman-temannya.

Sesampai di tempat kost, aku sengaja tidak mengajak Sam ke kamarku karena ini adalah kunjungan pertamanya. Dia hanya kuajak ngobrol di ruang tengah yang biasanya dipakai untuk menerima tamu.

Saat ngobrol, Sam mulai berani menyentuh tanganku. Jemariku diremas-remas, terkadang dikecup lembut. Gairahku mulai terpancing, tapi aku masih menunggu Sam yang memulai. Untungnya saat ini tempat kost ku sedang sepi.

Sampai akhirnya Sam mencium bibirku. Ciumannya panjang dan lama sekali. Seolah tak mau berhenti. Tapi kurasakan bahwa Sam belum banyak pengalaman dengan perempuan. Ciumannya terasa biasa-biasa saja. Saat aku baru akan mulai melayani ciumannya dengan penuh gairah, Sam malah menghentikan ciumannya. Dia pamit pulang. Aaah… nanggung banget rasanya…

Saat pulang Sam sempat mengingatkan soal rencana besok ke tempat perkumpulan Mahasiswa Sumbar. Aku katakan untuk bertemu di kampus saja. Aku janji jam 10 pagi sudah bisa meninggalkan kampus.

***

Pagi-pagi sekali aku sudah siap untuk berangkat kuliah. Aku teringat dengan janjiku dengan Sam jam 10 nanti. Artinya hari ini aku hanya akan mengikuti satu mata kuliah saja.

Namun betapa terkejutnya aku saat membuka pintu kamar, Doni sudah berdiri di depan pintu dengan senyumnya yang khas. Tanpa kupersilahkan masuk, Doni sudah melangkah ke dalam kamarku.

“Eh… ngapain masuk? Yuk berangkat. Aku mau kuliah.” kataku. Tapi Doni hanya senyum-senyum sambil merebahkan tubuhnya di kasur.

“Lho… kamu gak mau kuliah, Don?” tanyaku. Lagi-lagi Doni hanya tersenyum sambil menarik tanganku sampai aku terjatuh menimpa tubuhnya.

“Aku kangen,” kata Doni singkat dan langsung mencium bibirku. Aku tidak bisa apa-apa selain meladeni ciuman Doni yang memang jago ciuman itu. Perlahan gairahku bangkit. Lumatan lidahnya di dalam rongga mulutku membuat aku melenguh nikmat.

Tapi saat Doni akan membuka jilbabku, cepat-cepat aku menolak. Aku teringat akan janjiku dengan Sam. Gawat… bisa telat nih. Jadi kupikir, supaya cepat selesai, lebih baik biar aku saja yang memuaskan Doni. Segera lidahku bermain di sekujur wajah Doni. Lalu ciumanku turun ke lehernya. Mulai dari leher bagian bawah, ke jakun sampai dagu kujilati naik turun. Doni tampak mulai keenakan. Kepalanya sampai mendongak ke atas.

Lalu kubuka kancing baju kemejanya, dan langsung kujilati dadanya yang bidang bikin ngiler itu. Puting susunya kujilati, kusedot-sedot dan kusentil-sentil dengan lidahku. Doni mulai mendesah nikmat. Jilatanku turun lagi sampai ke perutnya yang rata dan kencang. Lubang pusernya kujilati hingga terlihat perut Doni bergerak karena menahan napas.

Puas menjilati perutnya, kubuka resleting celana Doni. Lalu kuturunkan celananya berikut CD nya sekaligus. Wooow! kontolnya sudah ngaceng dan keras sekali. Aku sangat suka dengan kontol Doni. Apalagi sudah sebulan aku tidak bertemu dengan Kontolnya ini. Langsung saja kontolnya yang besar itu kukulum dan kuisap-isap dengan kuat. Aku berharap Doni cepat keluar supaya aku tidak terlambat menepati janjiku dengan Sam.

Namun sepertinya kali ini Doni benar-benar hebat. Sudah hampir 1 jam aku mengulum kontolnya yang besarnya minta ampun ini. Tapi belum juga ada tanda-tanda dia mau keluar. Sementara waktu sudah semakin siang. Bisa-bisa aku terlambat. Sam pasti sudah menungguku.

Kujilati kontol besar panjang itu mulai dari bijinya yang kencang, terus kujilat ke atas sampai kepala kontolnya. Turun lagi sampai ke bijinya. Lalu kubolak balik kontol besar itu. Kujilat bagian atasnya, lalu kujilat bagian bawahnya yang banyak urat-uratnya. Lalu kumasukkan kontolnya ke dalam mulutku sambil lidahku bermain-main di kepala kontolnya.

Tidak itu saja, aku mengocok kontol Doni dengan mulutku sambil menghisapnya. Saat mulutku maju dan kontolnya masuk ke dalam mulutku, lidahku bermain-main di batang kontolnya. Saat mulutku mundur kuhisap kontol Doni dengan kuat sambil kukeluarkan sampai batas kepala kontolnya.

Gayaku ini tampak membuahkan hasil. Doni mengerang-ngerang keenakan. Lalu kukocok kontolnya dengan tanganku. Kuhisap lagi, kukocok lagi. Kubasahi kontol Doni dengan ludahku supaya licin. Kemudian kukocok dengan cepat. Sampai akhirnya terasa Kontol itu semakin membesar dan semakin keras. Lalu bisa kurasakan ada kedutan-kedutan di urat-uratnya yang sudah sangat kuhapal. Doni mau keluar. Cepat kumasukkan kontol itu ke dalam mulutku dan kuhisap kuat-kuat.

Crooooot… croott… air maninya menyembur ke dalam mulutku. Kutelan semuanya sambil terus kuisap kontolnya sampai tidak ada lagi tetesan air mani yang keluar.

Akhirnya… aku lega.

Cepat aku membersihkan diri, merapikan pakaian dan menyemprotkan parfum di bajuku. Aku takut nanti Sam mencium bau sperma di mulutku. Bisa gawat.

Setelah semuanya rapi, Doni mengantarkanku ke kampus. Doni tidak kuliah. Mau istirahat di rumah, katanya. Aku lega sekali. Berarti dia tidak akan tahu aku pergi dengan Sam hari ini.

***

Meski agak terlambat, aku dan Sam tetap pergi ke tempat perkumpulan Mahasiswa Sumbar sesuai rencana. Ternyata tempatnya berupa mess atau guest house yang dihuni oleh para mahasiswa asal Sumbar.

Hari ini mess tersebut terlihat sepi. Menurut Sam kalau jam segini memang biasa sepi. Baru ramai nanti sore menjelang malam. Sam membawaku ke sebuah kamar dan menguncinya dari dalam. Aku langsung duduk di tepi tempat tidur. Tidak menunggu lama, Sam langsung menciumku dengan penuh semangat. Tapi seperti kemarin, Sam hanya menciumku lamaaaa tapi tidak melakukan hal-hal yang lain. Jika kemarin aku masih ja’im, tidak hari ini. Langsung kudorong tubuh Sam hingga terlentang di kasur. Kakinya masih menjuntai ke lantai.

Kucium bibir Sam dengan ganas, lidahnya kubelit dengan lidahku. Sam tampak gelagapan tidak menduga aku yang pakai jilbab bisa seganas ini. Lalu bibirku mulai turun menjilati lehernya, kupingnya, kembali lagi ke lehernya. Lalu kubuka kancing baju kemejanya, dan langsung kujilati dadanya. Puting susunya kujilati, kusedot-sedot dan kusentil-sentil dengan lidahku. Sam semakin kelojotan.

Jilatanku turun lagi sampai ke perutnya yang rata dan kencang. Lubang pusernya kujilati hingga terlihat perut Sam bergerak-gerak dengan cepat. Lidahku terus menari-nari di sekitar pusarnya sambil kuusap-usap perut bawahnya. Lalu lidahku turun lagi sampai ke perut bawahnya. Kemudian kubuka kubuka resleting celananya. Sam sempat mencegah dengan memegang tanganku erat. Tapi sambil tersenyum dan menatap matanya, kusingkirkan tangan Sam yang mencegah perbuatanku.

Celananya kuperosotkan ke bawah. Terlihat gundukan besar di dalam CD nya. Kuciumi gundukan besar itu. Lalu kuturunkan CD nya menyusul celananya yang sudah merosot duluan.

Oooowwgh… besarnyaaa…!!! ternyata kontol Sam lebih besar dari kontol Doni. Tidak sabar, langsung aku merosot berjongkok di lantai dan kujilati batang kontol yang luar biasa indahnya itu. biji pelernya kuremas-remas lembut sambil terus kujilati batang kontolnya.

Lalu mulai kumasukkan batang kontol itu ke dalam mulutku. Kuisap-isap, kuemut-emut dan kujilati dengan penuh nafsu.

Namun, mungkin karena ini pengalaman pertama buat Sam, baru sebentar aku mengisap kontolnya sudah terasa kedutan-kedutan tanda Sam mau muncrat. Cepat kukeluarkan kontol itu dari mulutku dan kukocok-kocok. Aku belum mau Sam keluar di mulutku karena ini baru pertama.

Cepat kukocok-kocok kontol Sam sambil aku agak menghindar ke samping. Dan benar saja, tak lama kemudian Sam berteriak tertahan, dan… Crooooootttt…! air maninya mucrat dengan derasnya. Muncratannya sampai mengenai dinding kamar saking kencangnya. Benar-benar kontol perjaka.

Tanganku terus saja bermain-main dengan kontol Sam sampai kontol itu mengecil kembali. Tapi aku tidak berhenti, terus saja kontol itu aku permainkan. Aku begitu terpesona dengan kontol Sam sampai rasanya sayang kalau buru-buru dilepaskan.

Aaaghhh… segarnya. Seharian ini aku sudah dapat 2 kontol.

Saat di jalan pulang, dengan mengendarai motor, tanganku tetap masuk ke dalam celana Sam. Sepanjang jalan aku terus bermain-main dengan kontolnya.

***

# Segarnya Kontolmu Sayang

Sejak kejadian dengan Sam di Mess Mahasiswa Sumbar, hubunganku dengan Sam semakin dekat. Sementara hubunganku dengan Doni semakin merenggang. Terus terang, dibanding dengan Doni, Sam kalah jauh untuk urusan percumbuan. Karena bagaimanapun Doni jauh lebih jago untuk urusan bercumbu. Jilatan-jilatannya pada dadaku, serta permainan jarinya di memekku membuatku benar-benar ketagihan. Belum lagi kontolnya yang besar panjang itu terasa sekali memenuhi rongga mulutku. Aku selalu bernafsu ingin mengisap kontolnya.

Sementara Sam sangat lugu dan kurang pengalaman. Namun kelembutan Sam mampu membuat aku merasa nyaman berada di dekatnya. Siang ini sepulang kuliah seperti biasa aku membonceng motor Sam menuju Kost-ku. Seperti biasa juga sepanjang jalan tanganku masuk ke dalam celananya sambil meremas-remas kontolnya. Aku suka dengan bentuk kontolnya yang gemuk dan kekar.

Tapi di perjalanan aku sempat bingung karena ternyata motor Sam tidak menuju ke tempat kostku. Sebenarnya aku mau protes, tapi akhirnya kubiarkan saja sambil terus menikmati bermain-main dengan kontol Sam yang sudah semakin menegang.

Ternyata aku dibawa ke rumahnya. Saat itu rumahnya dalam keadaan sepi. Langsung aku dibawa ke dalam kamarnya.

“Kamu mau minum apa, Lin?” tanya Sam basa-basi.

Aku tau itu sekedar basa-basi makanya aku menjawab dengan menggoda “Minum kontol kamu aja deh…”

Mendengar jawabanku, Sam langsung mengunci pintu kamarnya, kemudian menubruk tubuhku sampai aku terlentang di tempat tidurnya. Sam mencium bibirku lama sekali. Bibirku di sedot-sedot, berganti-ganti bibir atas dan bibir bawah. Tapi lidahnya sama sekali tidak bermain. Maka aku segera mengambil inisiatif. Kujulurkan lidahku kedalam mulutnya. Kucari lidahnya, kemudian kubelit-belit dengan lidahku. Perlahan namun pasti Sam mulai bisa mengimbangi ciumanku. Lidahnya mulai bisa menari-nari didalam rongga mulutku. Sampai langit-langit mulutkupun di jilatinya. Rasanya cukup membuat aku terangsang.

kemudian tangannya mulai meremas-remas dada kiriku. Aku langsung menggelinjang nikmat. Sam terus bermain dengan dadaku dari luar kemejaku. Tidak sabar, aku buka sendiri kancing bajuku hingga terbuka lebar, Jilbabku kutarik lebih keatas agar dadaku tidak terhalang meski jilbabnya tidak dibuka.

Melihat keadaanku yang sudah terhidang, ciuman Sam langsung pindah ke dadaku. Gumpalan dadaku diciumi dengan penuh nafsu. Terkadang digigit-gigit kecil sampai meninggalkan tanda merah.

Sekali lagi aku merasa tidak sabar. Sam hanya menciumi bukit dadaku sambil meremas tanpa berusaha membuka BH-ku. Langsung saja kukeluarkan toketku dari BH dan kusodorkan puting susuku ke mulutnya seperti ibu yang menyusui bayi. Sam dengan lahap langsung menyedot puting susuku.

“Ooooh… Saaaam… sedot terus, sayaaang… sedot yang kenceeeng…” teriakku tak perduli apakah suaraku terdengar keluar atau tidak. Toh rumah ini sedang sepi.

“Teruuuuss… Saaaam…. sedot teruuuuussss… remes-remes yang kenceng…” pekikanku semakin tidak karuan.

Mendengar eranganku, Sam semakin bersemangat. Dia menciumi dadaku berganti-ganti yang kiri dan kanan. Saat mencium dada kiri, Tangannya meremas dada kananku. Sebaliknya saat mencium dada kanan, tangannya meremas dada kiriku.

Aku benar-benar dibawa ke dunia kenikmatan yang sangat indah. Sambil terus menikmati ciuman Sam pada dadaku, kuangkat rokku sampai ke perut. Hingga tampaklah memekku yang masih tertutup CD. Sudah terasa denyutan di bawah sana minta dicolok.

Kemudian kubuka resleting celana Sam. Rupanya dia mengerti. Dia segera bangkit dan membuka seluruh pakaiannya hingga bugil. Terlihatlah kontolnya yang sudah tegang. Begitu besar dengan urat-urat disekitar batang kontolnya. Setelah itu dia langsung menindih tubuhku lagi. Kontolnya yang tegang di gesek-gesekkan ke memekku yang masih tertutup CD. Rasanya sungguh luar biasa.

Sambil tetap menggesek-gesekkan kontolnya, Sam kembali menciumi dadaku. Dengan tubuh agak membungkuk dia terus menyedot puting susuku sambil kontolnya terus maju mundur menggesek-gesek memekku.

Kutarik tangan Sam dan kubawa ke memekku. Tangannya langsung masuk ke balik CD-ku dan bermain-main disana. Ketika itilku tersentuh, aku spontan terpekik nikmat. “Oooooowwwgh… Saaaaam…. enaaaaak… enak bangeeet, sayaaaang…” Kugoyang-goyangkan pinggulku mengejar kenikmatan yang mendera seiring dengan permainan jari-jari Sam di itilku.

Jari-jari Sam terus meluncur naik turun di memekku. Tekadang dijepitnya memekku dengan jempol dan telunjuknya. Membuat aku semakin berteriak-teriak histeris. “Addduuuh… Saaaam…. enak bangeeet… terus, sayaaaang…”

Sementara bibir dan lidah Sam masih terus saja mengerjai dadaku, membuat aku benar-benar seperti cacing kepanasan. Menggeliat-geliat nikmat. Kutekan kepala Sam lebih keras lagi ke dadaku. Kujenggut-jenggut rambutnya menahan kegelian dan kenikmatan yang tiada tara.

Sampai kemudian kedutan di memekku semakin terasa nyata, dan gelombang kenikmatan seperti mengalir dari sekujur tubuhku menuju memekku, dan… “Aaaaaaaakhhh… Saaaaam…. aku nyampeeee….ooooowhg…!!!”

Pancaran kenikmatan menyembur membasahi memekku. Dan tubuh serasa tersedot menuju lubang yang dalam. Gelap, indah, nikmaaaat…

Setelah mengatur nafas, segera kudorong tubuh Sam hingga ia terlentang di kasur. Lalu kutindih tubuh bugil Sam. Kontolnya kududuki sambil kugoyang-goyangkan pinggulku maju mundur menggesek kontolnya yang besar.

Sam tampak keenakan dengan perbuatannku. Kulanjutkan dengan menjilati lehernya, kemudian kupingnya. Sam semakin kelojotan. Napasnya menjadi tidak teratur.

Ciumanku turun ke dadanya. Puting susunya kujilati. Kugigit-gigit kecil, kemudian kusentil-sentil dengan lidahku. Kujilati terus dadanya kiri dan kanan. Sementara pantatku terus maju mundur menggesek-gesek memekku ke kontolnya yang sudah sangat tegang.

Kontolnya yang besar terasa sekali mengerus belahan memekku meski aku masih mengenakan CD. Walau hanya di gesek-gesek dari luar, rasanya memekku sudah belah menjadi lebar.

Kemudian lidahku turun lagi menyusuri tubuh telanjangnya menuju perutnya. Akupun semakinmerosot ke bawah. Meski sayang kutinggalkan kontolnya dari memekku. Kucium perutnya dan kujilati sekitar pusarnya dengan melingkar. Lalu lidahku terus turun dan menyentuh ujung kontol kerasnya.

Kujilati kepala kontol besar itu. Kujilati lubang kecilnya sambil kubuka-buka lubangnya dengan lidahku. Lalu kujilati batang kontolnya mulai dari bijinya, naik keatas sampai kepala kontolnya. Kujilati lagi terus berulang ulang.

Lalu perlahan kumasukkan batang kontol yang besar itu kedalam mulutku. Kudiamkan sejenak dalam mulutku sambil lidahku bemain-main mengusap batang kontolnya. Baru kemudian perlahan kutarik mulutku keatas sampai ujung, kemudian kuturunkan lagi. Lalu kunaikkan lagi sambil kuisap kuat-kuat. Kuturunkan lagi. Begitu terus, kepalaku naik turun secara otomatis. Penuhnya rongga mulutku dengan batang kontolnya membuat aku semakin bernafsu. Memekku sampai basah lagi.

Jika sebelumnya aku membiarkan Sam muncrat ke tembok, kali ini aku ingin memberi hadiah pada Sam untuk muncrat di dalam mulutku. Cepat kukocok-kocok kontol Sam dengan tanganku. Jika kering kukulum lagi kontolnya sampai licin, kemudian kukocok lagi dengan tanganku.

Saat kurasakan denyutan kontol Sam semakin terasa, buru-buru kontol Sam kumasukkan ke dalam mulutku lagi dan kuisap kuat-kuat. Sampai akhirnya … Crooooottzz…!!! Air mani Sam muncrat kedalam mulutku dengan deras dan banyak sekali. Saking banyaknya sampai-sampai air mani itu tidak bisa kutelan semua dan ada yang meleleh membasahi dagu dan Jilbabku.

Buru-buru aku lari ke kamar mandi membersihkan jilbabku. Kuatir nanti aromanya tercium saat aku pulang nanti.

***

# Ih, Kecil Banget..

Memasuki Semester akhir, hubungan cintaku malah berantakan. Sudah 3 bulan aku menjomblo. Artinya sudah 3 bulan aku tidak ketemu kontol.

Seringkali aku membayangkan saat-saat bercumbu dengan pacar-pacarku dulu. Saat dengan bernafsu kancing bajuku dilucuti, saat BH ku dibuka dan selanjutnya dadaku diremas-remas dengan kuat. terbayang bagaimana lidah mereka menjilati puting susuku. menyentil-nyentil nakal, lalu toketku di hisap dengan gemas. Aaaaah…. nikmatnya.

Kalau sudah begitu biasanya aku langsung buka baju dan BH ku kemudian rebahan di tempat tidur. Kuremas-remas sendiri dadaku sambil membayangkan ada tangan lelaki yang meremasnya.

Lalu terbayang saat ada lidah yang menyusuri tubuhku. Mulai dari dada turun ke perut, berputar-putar di pusarku, lalu turun lagi menjilati bawah pusarku. teruuuuuss… turun sampai menyentuh bagian atas memekku.

Oooowgh… tidak tahan langsung kugosok-gosok sendiri itilku. Daging kecil itupun membesar dan habis kupermainkan dengan jariku. Kugosok, kujepit, kemudian jariku kugosok naik turun sepanjang belahan memekku. Banjir sudah memekku. Terasa semakin licin saja.

Pantatkuku goyang-goyang mengejar kenikmatan yang mulai mendera. Oooooh… aku pengen kontooolll…

Jemariku semakin cepat menggosok-gosok memekku. Pantatku berputar-putar hebat. Sampai akhirnya tubuhku mengejang hebat. Memekku berdenyut-denyut.

Ah, gila. begitu kangennya aku sama kontol sampai-sampai aku bisa orgasme hanya dengan masturbasi begini. Terlalu…

***

Pulang kuliah… aku masih tidak semangat. Masih terbayang kejadian tadi pagi saat aku masturbasi sebelum berangkat kuliah. Memekku gatal lagi.

Sedang aku berjalan sambil melamun jorok, tiba-tiba ada suara orang memanggilku. “Lin, tunggu…”

Aku menoleh mencari arah suara itu. Terlihat seorang cowok ganteng berlari menghampiriku. Oh, si Sony. Teman sekelasku. “Ada apa, Son” tanyaku saat Sony sudah berada dihadapanku sambil aku melanjutkan langkahku.

“Mau pulang bareng gak? Gue anter deh. Kan gue emang selalu lewatin tempat kost kamu.” kata Sony sambil berjalan di sampingku.

Aku katakan pada Sony bahwa siang ini aku mau ke rumah kakakku di Rawamangun. Gak langsung pulang ke kost.

“Ya gak pa pa. Gue anterin aja sekalian ke Rawamangun. Gimana, mau kan?” sahut Sony semangat.

Kupikir, apa salahnya. Lumayan irit ongkos. Dan tentunya lebih enak naik mobil dari pada naik bajaj. Lantas kami segera menuju mobil Sony di tempat parkir.

Di perjalanan berkali-kali tangan Sony seperti tidak sengaja menyentuh pahaku saat memindahkan gigi mobilnya. Semula aku ingin bergeser menghindar. Tapi sentuhan-sentuhan kecil yang seolah tidak sengaja itu justru membawa sensasi tersendiri. Maka bukannya aku bergeser menjauh, justru aku menggeser mendekat. Sempat aku melirik senyum Sony yang merasa berhasil menggodaku. Wah gawat. bisa dikira cewek gampangan nih.

Sesampai di depan rumah aku langsung turun dari mobil sambil mengucapkan terima kasih. Tapi Sony bukannya langsung pergi malah mematikan mesin mobilnya dan ikut turun mengikutiku ke depan pintu rumah.

“Lin, aku boleh mampir ya. ngobrol-ngobrol aja sebentar. Males pulang sekarang.” kata Sony sambil menatap mataku lembut. Aku tidak bisa menolak. Maka kuajak Sony masuk ke rumah.

Seperti biasa, kalau jam segini pasti rumah kakakku kosong. Maka tanpa perlu mengetuk pintu aku langsung membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu kubawa di dalam tasku.

“Wah, kamu bawa kunci sendiri. Rumahnya kosong ya, Lin?” tanya Sony.

“Iya. kalo jam segini masih pada kerja. nanti pulangnya menjelang maghrib.”

“Wah, asik donk..”

“Asik apaan! jangan macem-macem deh.” ancamku pada Sony sambil cemberut. Sony hanya tersenyum sambil ikut masuk ke dalam rumah. Tanpa dipersilahkan Sony langsung menghempaskan pantatnya di sofa.

Aku menawarkan Sony untuk minum, tapi Sony menolak. Katanya mending ngobrol-ngobrol dulu aja. Nanti kalo udah haus baru minum.

Ternyata enak juga ngobrol dengan Sony. Orangnya humoris, sering membuat aku tertawa. Lama kelamaan obrolan kami mulai nyerempet-nyerempet ke hal-hal yang berbau porno . Entah bagaimana mulanya, tau-tau kami sudah berciuman.

Awalnya hanya kecupan-kecupan ringan, sampai akhirnya ketika lidah kami mulai saling melilit ciuman tu berubah menjadi ciuman penuh nafsu yang ganas.

Tangan Sony mulai meremas dadaku dari luar bajuku. Aku langsung tersentak nikmat. Oooh… sudah 3 bulan dadaku tidak disentuh lelaki. Aku begitu menginginkannya. Ingin lebih.

Tangan Sony bergerak ingin membuka jilbabku. Segera kutahan. “Son… kita di kamar aja yuk.”

Sony tersenyum girang mendengar ajakanku. Kamipun bergegas menuju kamar tamu. Sesampai di kamar, Sony menutup pintu dan langsung mendorong tubuhku ke pintu.

Aku dipepet ke pintu dan bibirnya kembali menyergap bibirku. Ciumannya kali ini benar-benar ganas. Jilbabku dibuka, dan langsung leherku diserang dengan jilatan-jilatan yang membuat aku mengerang.

Lalu tangannya mulai mempereteli kancing bajuku satu persatu. Bajuku dilempar begitu saja ke lantai. Sony sempat tertegun memandang dada besarku yang seperti mau melompat keluar dari BH.

Tidak menunggu lama, bibirnya langsung nyosor menciumi dadaku. Sementara tangannya bergerak ke belakang mencari kaitan BH-ku. Aku membantu melepas BH dan membuangnya ke lantai.

Sony semakin bernafsu melihat dadaku yang sudah terhidang bebas di depan wajahnya. Lidahnya pun langsung menari-nari di pentil susuku. Ugh… nikmatnya. Rasa yang sudah lama tidak kudapatkan. Kutekan kepala Sony ke dadaku lebih erat lagi. Sony semakin kuat menyedot pentil susuku. Lalu lidahnya kembali menjalar ke leherku. Lalu bibirku dicium lagi. Kami ciuman panjang dan lama. Lidah kami saling melilit.

Tak sabar kubuka kancing baju Sony, lalu kulepas baju itu dan kubuang ke lantai. Kupeluk Tubuh Sony erat hingga dadaku menempel ketat dengan dadanya. Tangan Sony mengelus punggungku, lalu turun ke bawah ke arah pinggangku. Terus ke bawah lagi. Bongkahan pantatku di remas-remasnya. Aku menggelinjang geli. Goyanganku membuat memekku bergesekan dengan gundukan daging di selangkangannya menambah nikmat percumbuan ini.

Dengan terampil Sony membuka kancing dan resleting rok panjangku. Dan rok itupun meluncur jatuh di kakiku. Kini aku berdiri hampir telanjang dengan hanya mengenakan CD ku saja.

Aku tidak mau kalah, kubuka ikat pinggang celana Sony. Lalu kubuka kancing dan resletingnya. Sony membantu memerosotkan celana panjangnya. Setelah celananya merosot, kembali Sony merangkul tubuhku dengan erat. Ciumannya semakin ganas.

Sangat terasa ada yang mengganjal dan menekan-nekan memekku. Ugh, sepertinya kontol Sony sudah mulai ngaceng walau belum sepenuhnya. Tapi sudah mulai terasa nikmat gesekannya.

Ciuman Sony meluncur turun ke leher, lalu turun lagi ke dadaku. Bergantian puting dada kanan dan dada kiriku di isapnya. “Ooooogh… Sonnn… isep terusssss… iyaaaahhhh…” erangku tak kuasa menahan nikmat. Rasa kangen akan sentuhan yang telah kutahan selama 3 bulan ini benar-benar minta di tuntaskan.

Tubuh Sony mulai merosot sambil terus menjilati tubuhku. Perutku di jilat-jilat. Lidahnya bermain-main di lubang pusarku. Akhirnya Sony berjongkok, dan wajahnya langsung menghadap memekku yang masih terbungkus CD. Dengan sekali tarikan meluncurlah CD ku sampai kaki. Aku membantu mengangkat kaki dan menendang CD ku sampai melayang entah kemana.

Lalu Sony mengangkat kaki kananku dan ditumpangkan dibahunya. Akibatnya memekku langsung merekah lebar menganga di hadapannya. Perlahan lidah Sony menyapu belahan memekku dari bawah ke atas. “Aaaawh! Sonnnn… enaaaaaak, sayaaaanghhh…”

Ini gaya baru. Belum pernah memekku dijilati sambil berdiri begini. Rasanya luar biasa nikmat. Kugoyang-goyangkan pantatku maju mundur mengejar lidahnya yang terus menari-nari di memekku. Terkadang lidahnya terasa menerobos masuk menjilati pinggiran dinding dalam memekku. Aku semakin bergelinjang tak karuan. Teriakanku semakin keras menerima rangsangan yang hebat seperti ini.

“Adddduhh, Son.. enak bangeeeet…. Gilaaa… lu pinter banget sih jilat memeknyaaa…”

Sedang nikmat-nikmatnya dijilat, tiba-tiba Sony menghentikan serangannya dan berdiri. Dia lalu meraih lenganku dan membimbingku ke tempat tidur. Aku langsung berbaring telentang. Kakiku kukangkangkan lebar-lebar menanti serangan Sony berikutnya.

Melihat posisiku yang menantang itu Sony sampai terbelalak. Cepat dia memelorotkan CD nya. Tampaklah kontolnya. Kelihatannya belum ngaceng benar. ukurannya belum maksimal.

Sonny langsung menerkam aku. Tubuhku ditindih, bibirku dicium dengan ganas. Kontolnya di gesek-gesek ke memek. Sempat kurasakan ujung kontolnya menyeruak belahan memekku.

“Son, jangan dimasukin. Gue masih perawan.” desahku di tengah kenikmatan yang menderu.

Sony agak kaget mendengarnya. Untung dia mau ngerti. “Iya. Gak gue masukin deh. Tapi nanti bantu keluarin ya…”

Aku menjawab dengan ciuman penuh nafsu pada bibirnya. Sony bangkit, kali ini langsung nyungsep ke memekku. Jilatan-jilatannya semakin menggila. Aku tidak tahan lagi.

“Soooonnn… gue keluaaarrrr…” aku kejang. Tubuhku tersentak-sentak bersama dengan kedutan-kedutan yang menyembur di memekku. Sony bukannya berhenti malah terus menjilati memekku dengan ganas. Aku bagai kapas yang ditiup dan melayang-layang. Nikmaaaat…

Sony lantas menindihku lagi dan mencium bibirku mesra. Lalu tubuhnya bergulir dan tiduran telentang di sampingku.

Aku mengerti yang diinginkannya. Segera aku bangkit duduk, dan kuraih kontolnya. Kuremas-remas lembut. Kontolnya belum juga membesar meski sudah sangat keras. Aku sempat bingung. Perasaan tadi sudah di puncak nafsu. Kok kontolnya masih kecil gini?

Segera kukulum kontol Sony, kujilat-jilat, kusedot-sedot. Tetap saja kecil. Ah, kayaknya kontolnya memang kecil nih. Cuma sebesar pisang lampung. Seluruh kontolnya bisa masuk ke mulutku dengan mudah. Nafsuku langsung hilang… yaaaaah… kecil bangeeeeettt…

Untuk tidak mengecewakan Sony, kukocok-kocok saja kontolnya dengan tanganku. Kalau kering aku hanya meludahinya saja. Aku malas memasukkan kontol kecil itu ke mulutku. Tidak ada sensasi apa-apa. Terlalu longgar.

Tak berapa lama, Sony ngecret. Langsung saja dia kutinggal ke kamar mandi sambil kubawa semua pakaianku.

Jilatnya pinter sih… tapi kecilnya itu…

***

# Oops!

Petualanganku dengan Sony sempat berlanjut selama beberapa kali. Tapi aku sudah malas untuk ngisep kontolnya lagi. Gairahku langsung hilang bila melihat kontolnya yang kecil itu. Jadi aku lebih suka minta dia menjilat memekku sampai aku selesai, baru kemudian kontolnya kukocok. Paling hanya kukulum sebentar untuk melicinkan kontolnya saja. Toh dengan begitupun dia sudah kelojotan. Begitu dia selesai, gairahku selalu hilang tanpa bekas. Maka biasanya kalau kami bercumbu di rumahku, dia akan langsung kusuruh pulang dengan berbagai alasan. Atau jika di tempat lain, aku akan buru-buru minta diantar pulang.

Tak lama berselang kuliahku selesai. Dan selesai juga hubunganku dengan Sony. Beruntung bagiku selesai kuliah tidak pelu repot-repot mencari kerja. Salah satu familyku mengajakku bekerja di perusahaannya yang baru dibangun.

Berhubung kantornya terletak di bilangan Kebayoran, maka kuputuskan untuk mencari tempat kost di dekat-dekat kantor.

Di kantor ada salah seorang staff yang usianya terpaut 4 tahun lebih muda dari aku. Penampilan Dodi yang energik dan humoris membuat aku betah berlama-lama ngobrol dengannya.

Sebenarnya aku sadar setiap kami ngobrol, mata Dodi seringkali menatap dadaku yang berukuran 34C ini. Dan menyadari hal itu membuat aku ingin menggodanya dengan sering-sering membusungkan dadaku. Terkadang aku sengaja mengangkat tanganku tinggi-tinggi seolah ingin menghilangkan pegal. Padahal maksudnya supaya dadaku semakin terekspos di depan matanya.

Benar saja, setiap kali aku melakukan gerakan-gerakan seperti itu matanya tak berkedip memandang dada besarku.

Sekali waktu Dodi mengajakku nonton ke bioskop sepulang kerja. Karena aku juga tidak ada acara, aku pun menyambut ajakannya. Kami segera menuju kawasan Blok M.

Saat film dimulai, Dodi mulai menggenggam tanganku. Kubalas dengan genggaman yang lembut sambil jemariku bermain mengelus jarinya. Karena dilihatnya aku tidak menolak, Dodi melepas genggaman tangannya dan beralih merangkul pundakku. Akupun segera merebahkan kepalaku di dadanya.

Terasa bahuku diusap-usap dan terkadang diremas dengan keras. Aku membalas dengan mengusap-usap dadanya, kemudian turun ke perutnya. Lama telapak tanganku berputar-putar di perutnya.

Lalu Dodi mengangkat daguku dengan tangannya. Saat kepalaku terdongak ke atas dia langsung mencium bibirku. Bukan ciuman lembut, tapi langsung ciuman penuh nafsu. Ah… dasar anak muda. Maunya langsung-langsung aja. Aku mengimbangi permainan bibir dan lidahnya. Perlahan nafsuku mulai bangkit.

Di tengah pergumulan lidah itu kurasakan tangan Dodi mulai meraba dadaku, Segera kutolak. Ini baru kencan pertama. Meskipun sebenarnya aku sangat menginginkannya, tapi kupikir aku harus jaga image dulu di kantor baruku ini. Aku takut Dodi yang masih muda ini akan membanggakan diri cerita ke teman-teman lainnya. Bisa berabe aku.

Kutepis tangan Dodi sambil aku melepaskan ciuman dan mencoba konsentrasi pada film yang diputar. Sebenarnya bukan konsentrasi, tapi aku harus menurunkan nafsuku sendiri yang sebenarnya sudah mulai bergejolak. Meski terlihat agak kecewa, tapi Dodi tetap merangkul dan mengusap-usap bahuku sampai film usai.

***

Sejak ciuman di bioskop, hubunganku dengan Dodi semakin dekat. Mungkin dia menganggap ciuman itu sudah merupakan tanda bahwa kami resmi pacaran. Padahal bagiku itu tidak lebih dari sekedar ciuman iseng saja.

Jelang 2 hari kemudian, kembali Dodi mengajakku nonton bioskop. Kali ini kami kebagian duduk di barisan agak tengah. Tapi untungnya masih kebagian yang paling pinggir. Jadi tetap bisa mojok walaupun ada resiko telihat oleh penonton yang duduk di barisan atas.

Dasar anak muda, begitu lampu padam aku langsung direngkuhnya. Bibirku dilumat dengan penuh nafsu. Dan tidak menunggu waktu lama tangannya langsung meremas dadaku. Kali ini kudiamkan saja karena aku juga sudah sangat rindu dengan remasan-remasan pada dadaku.

Perlahan tanganku meluncur dari dadanya, turun ke perutnya dan akhirnya mendarat di selangkangannya. Terasa kontol ngacengnya dari balik celananya. Kuremas-remas dan kugosok-gosok kontol itu dari luar celana. Woooow… besaaaar… Jenis kontol yang kusuka. Kugosok-gosok .dan kuremas-remas terus kontolnya. Sesekali kuremas biji-bijinya meski hanya dari luar celananya.

Aku begitu bernafsu sampai tidak menyadari bahwa kancing bajuku telah terbuka semua. Bahkan BH ku telah terlepas ke atas. Aku begitu terkejut saat tiba-tiba bibir Dodi menyergap putting susuku. Owwwgh… What ! Aku sudah telanjang dada?!

Aku kaget bercampur takut ada yang melihat. Soalnya posisi duduk kami sangat tidak aman. Apalagi penonton di barisan belakang cukup ramai. Cepat aku mendorong kepala Dodi agar menghentikan aksinya.

Bukannya berhenti, Dodi malah menyedot puting susuku dengan kuat. Sementara sebelah tangannya meremas susuku yang sebelah lagi. Aku langsung menggelinjang hebat. Betapapun aku takut dilihat orang, tapi rasa nikmat yang mendera tubuhku lebih kuat dari rasa takutku. Akhirnya aku hanya sanggup mengerang pelan sambil kuremas kepala Dodi dan menekannya lebih kuat lagi ke dadaku.

Ciuman dan jilatan Dodi mulai turun ke bawah ke arah perutku. Terus turun sampai di bawah pusarku. Aku semakin kelojotan tidak karuan. Tiba-tiba Dodi membuka resleting celana panjangku dan menariknya turun besama dengan celana dalamku. Aku bukannya mencegah, malah kuangkat sedikit pantatku agar Dodi lebih mudah membuka celanaku. Aku sudah tidak perduli lagi dengan keadaan sekeliling yang mungkin saja ada yang melihat kelakuan kami berdua ini. Nafsu birahi sudah menutupi akal sehatku.

Celana panjang berikut celana dalamku meluncur sampai ke mata kakiku. Dodi mengangkat kaki kananku hingga celanaku terlepas sebelah. Kaki kananku diletakkan pada sandaran kursi hingga posisiku mengangkang dengan lebar. Kemudian Dodi berjongkok di lantai dan menghadap memekku secara langsung.

Dengan penuh nafsu Dodi langsung menjilati memekku dari bawah ke atas. Itilku dijilat dan dipermaikan dengan lidahnya. Terkadang itilku di sedot dengan kuat. Duniaku sudah gelap. Bahkan suara film yang sedang diputar pun sudah tidak terdengar lagi. Yang ada hanya rasa nikmaaaaaat… enaaaaaaaak…

Sampai akhirnya kurasakan denyutan yang sudah sangat kuhapal. Denyutan yang menyerbu memekku dengan deras. Tubuhku mengejang, aku mengerang panjang. ”Oooooooooghhhhh… enaaaaaaaakkkk… aaaaakhhhh…”

Memekku banjir sudah. Aku lemas. Aku terpejam mengangkang menikmati semburan nikmat yang baru saja lewat. Aku tidak perduli dengan keadaanku yang separuh telanjang sambil mengangkang. Sampai tiba-tiba lampu menyala terang benderang. Oops! Filmnya habis.

Aku panik. Segera kukatupkan kemejaku menutupi dadaku yang terbuka. Tapi celanaku belum sempat kupakai. Terpaksa celana panjangku kudorong agak ke bawah tempat duduk. Kuambil tasku dan kuletakkan diatas pahaku menutupi ketelanjangan bagian bawahku.

Kami tetap duduk menunggu seluruh penonton pergi. Entahlah apakah para penonton yang melewati tempat duduk kami menyadari bahwa aku tidak pakai celana. Semoga saja tidak ada yang sadar.

Setelah seluruh penonton meninggalkan ruangan, barulah aku mengenakan celana dan merapikan BH serta kemejaku.

***

# Ke Ancol Lagi
Pengalaman percumbuan di bioskop bersama Dodi waktu itu adalah yang pertama dan terakhir bagiku. Bukan karena aku tidak menyukainya. Bukan… Jujur saja pengalaman bercumbu di depan orang banyak begitu menimbulkan sensasi erotis yang menggairahkan bagiku. Mengingatnya saja bisa membuat memekku basah.

Namun yang membuatku enggan meneruskan petualangan bersama Dodi adalah sikapnya yang menjadi sangat protektif terhadap diriku. Dia benar-benar menganggap aku ini sebagai miliknya yang bisa dikuasai sesuai dengan keinginannya.

Sementara bagiku, Dodi is just another Kontol. Tidak lebih. Dia sudah mulai banyak bertanya jika aku dekat dengan teman pria lain. Atau di lain kesempatan dia mulai mengatur cara aku berpakaian. Dia tidak suka dengan jilbabku yang pendek. Dia meminta aku mengenakan jilbab panjang yang menutupi dadaku. Katanya jilbab yang aku kenakan saat ini justru sangat menonjolkan bentuk dadaku yang besar. Lho… So What ? Memang itu yang kuinginkan.

Atas sikapnya itu aku memutuskan mulai menjaga jarak dan lebih sering menghindar. Beberapa kali ajakannya untuk menonton aku tolak. Walau sebenarnya saat dia mengajak aku nonton di bioskop, langsung terbayang kejadian dimana dia begitu bernafsu menjilat memekku. Ingin sekali rasanya aku mengulangi kejadian itu.

Namun jika mengingat hidupku yang semakin tidak nyaman, aku kuatkan untuk tetap menolak.

“Kamu kenapa sih, gak pernah mau lagi jalan sama aku?” tanya Dodi kesal saat aku kembali menolak ajakannya untuk nonton.

“Gak apa-apa kok. Lagi males aja.” jawabku santai. “Kalau mau jalan, kita makan aja yuk, gak usah nonton” sambungku.

Walau dengan wajah cemberut, akhirnya Dodi setuju untuk pergi makan malam. Akhirnya kami pergi ke Pondok Indah.

“Sebenernya ada apa sih, Lin? Belakangan sikap kamu aneh.” ujar Dodi sambil menunggu makanan pesanan kami datang. Kutatap mata Dodi lekat-lekat. Aku menimbang-nimbang dalam hati. Kubiarkan saja pertanyaannya, atau aku berterus terang saja soal perasaanku padanya yang hanya menganggap teman, bukan pacar.

Kembali Dodi mendesak dengan pertanyaannya, Kutatap lagi matanya.

“Loe beneran mau tau?” tanyaku sambil menatap matanya tajam.

“Ya iya lah. Gak enak pacaran tapi aneh gini.” jawabnya.

Aku mengambil nafas panjang sambil mencari kata-kata yang tepat. “Dod, sebelumnya sorry ya. Gue akui loe orangnya baik, lucu, ganteng. Tapi masalahnya, belakangan gue mulai merasa gak nyaman karna kayaknya gue udah gak bebas lagi sejak deket sama loe.” aku berusaha mengucapkan kata-kata itu dengan sangat sopan.

Tapi tak urung Dodi tersentak kaget. “Gak nyaman gimana maksud kamu, Lin?”

“Ya, belakangan loe udah berani ngatur-ngatur gue, ngatur cara berpakaian gue, ngatur dengan siapa gue bisa berteman, ya gitu deh. Buat gue itu udah bikin gue gak nyaman.” jawabku dengan suara yang kucoba sedatar mungkin.

“Lho… wajar donk, namanya juga orang pacaran…“

“Nah, itu dia masalahnya,“ tukasku memotong ucapannya. “Loe terlalu gegabah menganggap kita pacaran. Sementara gue cuma menganggap loe sebagai teman dekat gue. Gak lebih gak kurang, Dod.”

Dodi tampak terkaget-kaget mendengar ucapanku. “Cuma teman? Trus, gimana dengan hubungan kita selama ini…” tanya Dodi seperti tidak bisa menerima ucapanku.

“Hubungan yang mana…” tanyaku belaga bego.

“Ya hubungan kita. Ciuman-ciuman kita… trus … yang di bioskop…”

Aku tersenyum geli melihat Dodi mencak-mencak begitu. “Dod, ciuman sama loe emang nyaman buat gue. Apalagi kejadian yang di Bioskop. Jilatan loe emang bener-bener hebat. Gue sampe menggelapar waktu itu, Dod. Tapi itu kan gak berarti lantas gue jadi pacar loe? Itu kan hubungan sama-sama enak. Memek gue enak loe jilatin, loe juga dapet rejeki bebas jilatin memek gue. Kurang apa, Dod? Cukuplah hubungan kita sebatas itu aja. Jangan berharap lebih lagi. Soalnya menurut gue itu udah lebih banget. Coba… sampe memek gue aja gue kasih, kurang gimana lagi hayo?!”

Dodi tampak geram mendengar ucapanku. Lalu dengan suara berat dia lanjut bertanya. “Jadi… bukan cuma aku yang kamu kasih jilatin memek kamu?”

Aku menatap tajam matanya mendengan ucapannya yang menurutku cukup kurang ajar. “Itu urusan gue. Loe gak perlu tau!” ujarku ketus sambil tetap menatap matanya dengan tajam.

“Hah, gak nyangka, Lin. Kamu gak beda sama perek-perek di jalan. Percuma kamu pake jilbab. Mending telanjang aja kamu!” Dodi memakiku sambil bangkit dan beranjak meninggalkan aku sendiri di rumah makan itu.

Aku cukup sakit hati mendengar ucapannya. Laki-laki! Waktu dia berusaha menelanjangi tubuhku apa pernah dia berpikir seperti itu. Saat sudah gak dapet memek lagi, langsung pandangannya berubah. Dasar!

Malam itu aku pulang sendiri. Hatiku gundah, sedih, sakit… Belum pernah aku dihina seperti ini. Mantan-mantanku dulu tak pernah menyakitiku seperti ini.

Besoknya aku tidak melihat Dodi di kantor. Besoknya lagi juga tidak. Hari ketiga dia muncul menghadap HRD dan mengajukan pengunduran dirinya. Lalu dia pergi tanpa berpamitan denganku.

Meski begitu, tetap saja rasa sakit hatiku belum bisa hilang. Jika kuingat lagi ucapannya di restoran malam itu, hatiku benar-benar seperti di sayat-sayat. Untunglah beberapa hari kemudian ada karyawan baru yang ganteng dan bertubuh atletis. Tidak membutuhkan waktu lama, aku sudah akrab dengan Torik, karyawan baru tersebut.

Sudah 2 hari berturut-turut kami makan siang bersama. Bukan itu saja, sudah 2 hari berturut-turut pula aku diantar pulang dengan mobilnya. Di hari ke 3, bertepatan dengan akhir pekan, Torik mengajakku jalan-jalan dulu sebelum pulang. Aku setuju saja. Bagaimana mungkin aku menolak ajakan cowok ganteng seperti Torik. Apalagi badannya juga bagus sekali, terutama bagian bokongnya yang terlihat begitu kencang.

Ternyata Torik membawa mobilnya menuju Ancol. Ah… Ancol. Teringat aku pada pengalaman pertamaku ngisep kontol. Di ancol inilah pertama kali aku belajar ngisep kontol pacarku waktu kuliah dulu.

Torik memarkir mobilnya di tempat sepi. Sama seperti kejadian dengan pacarku dulu. Membayangkan hal itu aku sudah panas dingin duluan. Torik memarkir mobil tanpa mematikan mesinnya. Lalu tanpa ba bi bu dia langsung mencium bibirku. Ah… sudah nafsu rupanya. Aku tidak mau tinggal diam, kuladeni ciumannya dengan menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Ugh… cepat sekali birahiku naik.

Kupeluk erat tubuh Torik sambil kubisikkan kata-kata… “Sayang, pindah ke belakang aja yuk…”

Torik tersenyum penuh semangat mendengar ajakanku. Tak menunggu lebih lama lagi kami langsung pindah ke kursi belakang. Begitu sampai di belakang Torik langsung membuka jilbabku. Kemudian diserangnya leherku yang jenjang dengan jilatan-jilatannya yang membuat aku menggelinjang birahi.

Tangannya tak tinggal diam, satu-persatu kancing kemejaku di preteli. Kemudian di lepaskannya kemejaku dan dilemparkan ke lantai mobil. Setelah itu lidahnya langsung pindah menuju bukit dadaku yang hampir melompat keluar dari BH ku. Tidak puas menjilati bukit dadaku, Torik membuka kait BH- ku dan merenggutnya hingga lepas dan terbang entah kemana. Setelah itu lidahnyapun mendarat di puting susuku yang sudah tegak mencuat dan keras.

Aku terhenyak nikmat merasakan sedotan bibirnya pada putting susuku. Aaaaaagh… aku kangeeeennnn sama beginian…

Aku di dorong hingga terlentang di jok mobilnya. Kemudian jilatannya bergeser menuju perutku. Terus turun lagi sampai perut bagian bawah… Oghhh… aku tidak tahan. Pasti memekku sudah banjir.

Dengan penuh nafsu Torik membuka resleting celana panjangku, lalu menarik lepas celana berikut celana dalamku. Dan bugil lah aku. Kemudian Torik bangkit duduk untuk membuka seluruh pakaiannya. Dan wooooowww… kontolnya… Besaaaarrr…!

Memekku sampai berdenyut-denyut melihat kontol Torik yang mengangguk-angguk seolah memanggilku untuk menghisapnya. Dengan tidak sabar Torik melebarkan kakiku sampai terpentang ngangkang. Kemudian dia menindih tubuhku. Sepertinya nafsunya sudah sampai di ubun-ubun. Gerakannya begitu bersemangat.

Kurasakan kontolnya mulai berusaha menerobos lubang memekku. Oh Gawat ! “Sayang, jangan dimasukin! Aku masih perawan!”

Tapi sepertinya Torik tidak perduli. Dia mencium bibirku dengan ganas, dan kontolnya terus berusaha menyodok lubang memekku. “Jangan… oghhh… jangan….. digesek-gesek di luar aja….” erangku antara menolak dan ingin.

Sodokan kepala kontolnya benar-benar nikmat. Aku hampir tidak kuasa lagi untuk menolak kenikmatan ini. Ditengah kebimbangan antara takut kehilangan perawan dan rasa nikmat yang luar biasa, tiba-tiba…

Creeet… Creeeet… Creeeet… Terasa memekku disiram dengan semburan-semburan hangat dari kontolnya. Aaaah… rupanya Torik begitu bernafsu sampai-sampai sudah keluar sebelum tiba di tujuan. Syukurlah… perawanku selamat.

Cepat kudorong tubuh Torik yang sudah lemas, kemudian segera kubersihkan air mani Torik dengan tissue yang sudah tersedia di mobilnya. Buru-buru kupakai celanaku. Soalnya aku tidak yakin bisa menolak jika nanti Torik minta lagi. Segera aku pindah ke kursi depan menunggu Torik selesai berpakaian. Aku mengajak Torik segera pulang.

***

# Hampir Saja Perawanku Hilang

“Terima kasih ya, pak.” ujarku mengakhiri percakapanku di telepon dengan seorang Manager Hotel di kawasan Sudirman. Karena seringnya perusahaan kami memesan kamar hotel untuk klien-klien kami dan selama ini aku yang selalu berhubungan dengan pihak Hotel, maka pihak Hotel memberi hadiah berupa beberapa lembar voucher untuk menginap gratis di kamar Superior mereka. Lumayan…

Ah… memekku langsung berdenyut saat membayangkan akan mengajak Torik untuk menggunakan voucher ini. Terbayang Kontol besar Torik saat kami bercumbu di ancol beberapa hari lalu. Apalagi aku belum sempat merasakan kontol besarnya secara utuh. Ugh… menbayangkan itu saja aku sudah tidak sabar ingin ngisep kontolnya.

Seperti dugaanku Torik sangat bersemangat saat hal itu kusampaikan padanya ketika kami makan siang. “Ya udah ntar malem aja, Lin.” ucap Torik dengan penuh semangat. Aku tersenyum pengen melihat semangatnya itu.

“Besok aja deh, malem ini gue musti ke rumah tante gue.”

“Yaah… kelamaan nunggunya, Lin. Udah pengen nih.” ujar Torik dengan wajah kecewa. Aku tertawa melihatnya begitu.

“Sabaaar ah. Besok pagi jemput gue ke tempat kost ya. Kan musti bawa baju ganti.”

“Sip. Pagi-pagi gue jemput.” jawab Torik girang.

“Tapi janji dulu.” ucapku membuat Torik memandangku heran.

“Janji apa?” tanya Torik.

“Jangan dimasukin. Gue masih perawan.”

“Iyaaa.. jangan kuatir.” jawab Torik sambil kembali menyeruput kopinya.

***

Pagi-pagi sekali Torik sudah menjemputku di tempat kost. Gila, semangat amat. Untung aku sudah menyiapkan pakaian ganti sejak tadi malam. Jadi bisa langsung berangkat.

Hari ini sepertinya pekerjaan begitu membosankan, Aku sudah tidak sabar untuk segera menikmati kontol Torik di hotel nanti. Brengseknya hari ini justru aku banyak pekerjaan.

Sudah pukul 8 malam lewat sedikit saat aku menyelasikan pekerjaanku. Saat aku sampai di lobby, kulihat Torik masih menunggu dengan wajah bosan. Kamipun segera bergegas menuju Sudirman.

Di perjalanan sepertinya Torik sudah tidak sabar. Tubuhku dirangkul sampai tersandar di perutnya sementara tangannya terus saja meremas toketku dari balik punggungku.

Aku tidak mau kalah, kuremas-remas kontolnya dari luar celana. Terasa sekali kontol itu sudah begitu tegangnya. Besaaar… keraaaas…

Rupanya Torik benar-benar sudah tidak tahan. Dia membuka sendiri kait ikat pinggang dan menurunkan resleting celananya. Tampaklah kepala kontolnya yang sudah menyembul keluar dari celana dalamnya.

Kusentuh kepala kontol itu dengan jari-jariku. Woow… lebar sekali. Kuturunkan celana dalamnya. Kontol besar itu sampai melompat bergoyang-goyang saat terbebas dari celana dalamnya. Gilaaa… gede bangeeet… Dengan gemas kugenggam batang kontolnya dengan kedua tanganku. Uuuh… sudah pakai dua tangan, tapi kepala kontolnya masih nongol. Panjaaaang…

Hhh.. tak sadar aku mendesah. Bukan karena toketku yang terus diremas-remas oleh Torik. Tapi karena tak kuat membayangkan enaknya kontol besar begini.

Kuremas-remas kontol besar itu. Kukocok dengan lembut. Lalu kuusap-usap kepala kontolnya dengan jari telunjuk dan jempolku. Tak lama terlihat cairan bening keluar dari lubang di ujung kontolnya. Bening… tapi kental. Kusapukan cairan itu ke seluruh permukaan kepala kontolnya.

Kontan Torik tersentak dan mengerang “Aaaaaghhh…”

Aku sudah tidak sabar ingin mengemut kontol ini. Tapi baru saja aku akan memasukkan kontol itu ke mulutku, Torik sudah menarik tubuhku untuk bangun.

“Udah dulu sayang… kita udah sampe.”

Aaah… tanggung bener sih… Segera kurapikan celana Torik dan akupun bangkit duduk dengan manis.

Sesampai di kamar, Torik benar-benar seperti Tarzan yang mau perang. Begitu pintu di kunci, aku langsung direngkuhnya dengan ganas. Bibirku dicium dengan bernafsu sekali. Aku sampai gelagapan sulit bernapas. Jilbabku dibuka dengan terburu-buru. Lalu kembali aku diciumi sambil berdiri. Leherku dijilat-jilat dan digigit-gigit kecil.

Lalu bajuku dibuka dengan kasar. Saking kasarnya sampai ada kancing yang copot terpental entah kemana. Bajuku dilemparkan begitu saja, dan tidak menunggu lama langsung tangannya menuju punggungku membuka kait BH. Kembali BH itu terlempar. Tidak seperti biasanya, Torik melewatkan Toketku yang sudah tegang. Tangannya langsung meraih kancing dan resleting celana panjangku. Celanaku dipelorotkan berikut dengan celana dalamnya. Oooh… aku langsung bugil dihadapannya.

Kemudian Torik dengan terburu-buru melucuti seluruh pakaiannya sampai sama-sama bugil. Aku masih saja terbelalak menyaksikan kontolnya yang menakjuban itu. Tiba-tiba aku terkaget karena tubuhku digendong dan dibawa ke ranjang. Torik melempar tubuhku begitu saja ke atas ranjang. Owgh… kasar sekali. Tapi aku suka.

Belum hilang kagetku, Torik sudah melompat menindih tubuhku dan langsung menyerang bibirku dengan ganas. Terasa kontol besarnya bergesekan dengan memekku. Oooghhh… enak sekali permainan kasar begini. Aku belum pernah dipelakukan seperti ini. Ternyata sensasinya sungguh beda. Lebih nikmat.

Tiba-tiba Torik bangkit duduk. Kedua belah kakiku diangkat terlipat, sampai dengkulku menyentuh Toket. Aku benar-benar terkangkang dan memekku terekspos dengan bebas di hadapan Torik. Kemudian Torik mulai berusaha memasukkan kontolnya ke dalam memekku. Oh gawat! Torik pengen ngentot.

“Jangan… Torik! Jangan…” aku benar-benar panik. Kugoyang-goyangkan pantatku menghidari kontolnya yang ingin menerobos ke dalam memekku. Tapi goyanganku justru membuat kontol itu seperti di gesek-gesek kebelahan memek. Dan rasanya luar biasa nikmat. Aku benar-benar dipersimpangan jalan. Kubiarkan kontol itu masuk dan kehilangan perawan, atau biarin aja. Enaaaaak…

Torik terus berusaha memasukkan kontolnya. Aku semakin panik dan semakin bimbang. Pantatku masih terus kugoyang-goyangkan. Tapi sepertinya bukan lagi untuk menghindar, melainkan untuk mendapatkan rasa enak yang semakin menjalar.

Akhirnya kepala kontol Torik mulai menemukan jalan masuk. Goyanganku justru membuat jalannya semakin terbuka. Ooohhhh… gawaaaaat…

Mungkin karena merasa yakin sudah pasti masuk, Torik langsung merebahkan tubuhnya menindihku dan kembali menjilati leherku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, kugigit kupingnya dengan keras. Torik terpekik kesakitan dan tubuhnya merenggang. Langsung kudorong tubuh kekarnya sampai terguling ke samping. Dan lepaslah kontolnya dari memekku.

Sebelum Torik marah, segera kudorong Torik sampai telentang, lalu cepat kutindih tubuhnya. Kucium bibirnya. Kususupkan lidahku ke dalam mulutnya. Untung, Torik tidak jadi marah. Dia membalas lilitan lidahku. Memekku tepat diatas kontolnya. Terasa batang kontol itu sampai membelah memekku. Kugesek-gesek memekku maju mundur mengejar nikmat batang kontolnya. Tiap kali Torik berusaha bergerak ingin menggulingkan tubuhku cepat aku mendekapnya erat sambil tetap menggesek-gesekkan kontolnya ke memekku.

”Owwwgggghhhh… nikmatnya…” memekku semakin basah membuat gesekan memekku di kontolnya semakin licin dan lancar. Terus kugesek sampai kepala kontolnya berkali-kali terasa menyundul klitorisku. Uuuuuaaaagghhh… enaaak bangeeeet…

Cepat sekali birahiku menyerbu. Denyutan-denyutan terasa mendera memekku. Tubuhku kejang, dan ooooggggh…. Aku orgasme. Terasa ada yang menyembur-nyembur dari dalam memekku. Aku lemas. Sungguh rasanya tulangku copot semua. Kudekap erat tubuh Torik. Untung aku segera tersadar. Jika tidak cepat bertindak, pasti aku akan diperkosa lagi oleh Torik.

Cepat aku meluncur ke bawah menuju kontolnya. Langsung kumasukkan kontol yang masih belepotan cairan cintaku itu ke dalam mulutku. Kusedot dengan kuat. Torik sampai teriak nikmat merasakan sedotanku. Lalu mulutku mulai naik turun mengocok kontol besarnya. Mulutku sampai terasa penuh menampung batang kontol besar panjang ini.

Saat mulutku naik, kusedot kontolnya dengan kuat sampai kepala kontolnya hampir terlepas. Lalu kuturunkan lagi mulutku. Kuangkat lagi sambil kusedot kuat-kuat. Torik benar-benar kubikin sampai kelojotan dan mengerang-ngerang hebat.

Saat mulutku mulai terasa pegal segera kuludahi kontol itu sampai basah kuyup, lalu ku kocok-kocok dengan tanganku. Begitu kontolnya kering, kulumat lagi kontolnya dengan mulutku sampai pegal. Kuulangi terus berkali-kali.

Sedot…. kocok…. sedot…. kocok….

Memekku sampai gatal lagi. Segera aku rubah posisi dari nungging menjadi telungkup. Memekku kugeser-geser menindih kakinya sampai terasa jempol kakinya menyentuh memekku.

Langsung saja jempol kaki Torik kujadikan pemuas memekku sambil aku terus mengerjai kontolnya dengan mulutku. Uuuughhhh enak banget…. memekku terus kugesek-gesek ke kakinya, sementara mulutku terus bekerja. sedot… kocok… sedot… kocok…

Gelombang orgasmeku kembali menyerbu. Kurapatkan pahaku sambil menjepit jempol kaki Torik. Kusedot kontolnya dengan kuat sambil menikmati gelombang orgasmeku. Sedotanku yang kuat membuat Torik tidak mampu bertahan lagi. Kontonya mendenyut-denyut dan… crooooot… crooot… crooot… air maninya menyembur ke dalam tenggorokanku.

Aku sampai kaget merasakan kencangnya semburan dari kontol Torik. Air maninya begitu banyak sampai tidak tertampung dalam mulutku. Sebagian ku telan saja, tapi tidak bisa semuanya. Masih banyak yang melelh keluar dari bibirku dan mengalir ke dagu dan terus ke leherku. Aaaaah… segarrr… ngisep kontol memang benar-benar nikmat. Cepat kukenakan jas mandi yang sudah tersedia di kamar hotel mewah ini.

“Rik, loe pulang aja deh sekarang.” ujarku pada Torik sambil aku mengumpulkan pakaian Torik dan kulemparkan ke arahnya.

Torik menangkap pakaiannya dengan terkejut. “Lho, kok pulang? Kan kita mau nginep…“ tanyanya dengan bingung.

“Siapa bilang kita mau nginep. Gue mau nginep sendiri. Bukan nginep bareng.” ucapku sambil berdiri dekat pintu, kuatir Torik menolak aku suruh pulang. Maksudku, jika dia menolak aku akan membuka pintu lebar-lebar hingga terlihat dia masih telanjang.

Torik tampak kesal, tapi melihat wajahku yang serius akhirnya dia segera mengenakan pakaiannya dan mengangkut tasnya menuju ke arahku, “Gue gak ngerti sama sekali, Lin. Kenapa cepet sekali berubah…” ucap Torik dengan wajah kaku.

Aku menghela nafas dan menatapnya lembut. “Sorry, Rik. Gue belom siap tidur bareng. Cuma itu aja. Cukup kayak gini aja. Terima kasih Rik. Tadi itu luar biasa enak. Tapi gue belum bisa lebih dari itu…” ucapku pelan. Aku benar-benar tidak yakin bisa bertahan jika Torik tetap menginap malam ini.

Torik meletakkan tasnya di lantai dan berusaha menyentuh wajahku. Aku segera mundur sambil menarik pintu hingga terbuka lebar. Torik menghentikan gerakannya melihat sikapku seperti itu.

“Tapi boleh gak gue jilat memek loe sebentar. Bentaaar… aja!” memekku langsung berdenyut mendengar permintaannya. Aku langsung bimbang.

“Tapi disini aja ya. Jangan di kasur.” jawabku sambil beringsut sedikit berlindung dibalik pintu. Torik menyeringai girang merasa menang. Cepat dia berjongkok di depan memekku dan menyibakkan jas mandiku dimana aku tidak mengenakan apa-apa lagi di dalamnya.

Torik langsung mencium memekku. Ooogh… aku tidak tahan. Kuangkat sebelah kakiku dan kutumpangkan di bahunya untuk semakin memudahkan serangan Torik.

Lidahnya langsung menari-nari di celah memekku. Lidahnya menjilat dari bawah ke atas berulang-ulang. Uuuugh… nikmat luar biasa. Orgasmeku mulai mendekati. Aagggh… cepat sekali aku terangsang.

Torik meneruskan serangannya dengan menyedot keras itilku sambil lidahnya menari-nari di seputar itilku. “Oooooggghhhh… iyaaaaah… itu enak bangeeeet..” Aku lupa bahwa pintu terbuka hingga tak sadar berteriak lumayan keras menikmati jilatan Torik.

Akhirnya kedutan-kedutan nikmat itu muncul juga. Kutekan kepala Torik ke arah memekku dengan kuat. Aku kejang… dan… “Oooogghhhh… sayaaanggg… aaaaakh…” memekku berkedut kencang. Aku lemas. Cepat kuraih daun pintu menjaga agar aku tidak jatuh. Kudorong kepala Torik menjauhi memekku,

“Udah.. udah… Rik! Udah…” ujarku sambil terus kudorong kepalanya.

Torik bangkit lalu dia pergi tanpa pamit lagi. Segera kututup pintu dan kukunci. Lalu kubuka jas mandiku dan kuhempaskan tubuh telanjangku ke atas kasur empuk hotel ini.

Aku terbaring telentang…. telanjang…. ngangkang….

***

# Perjodohan Yang Nikmat

Aku terbangun dengan tubuh agak menggigil kedinginan. Uuuh… pantas saja dingin. Aku masih telanjang bulat. Kuraih jam tanganku yang kuletakkan di meja samping tempat tidur. Ah, masih jam 2 pagi. Aku kembali meringkuk di balik selimut tebal kamar hotel.

Sempat terpikir untuk mengenakan pakaian. Tapi rasanya malas sekali untuk beranjak dari kasur empuk ini. Akhirnya aku terus saja meringkuk sambil kuselipkan tanganku diselangkangan untuk mencari kehangatan. Namun rupanya hal itu malah menimbulkan getar-getar enak di seputar memekku.

Aaaah… terbayang lagi bagaimana Torik menjilati memekku di depan pintu sebelum dia kuusir tadi. Gila, semalaman tadi sudah orgasme sampai dua kali. Sekali saat kugesek memekku ke kontolnya yang luar biasa besar itu, kemudian saat dia menjilati memekku habis-habisan sambil berdiri di balik pintu.

Membayangkan hal itu menyebabkan memekku kembali basah. Kugosok-gosok permukaan memekku dengan tanganku yang masih kuselipkan di antara selangkangan. Aaaah… nikmat. Aku telentang sekarang. Kubentangkan kaki selebar mungkin, lalu kuraba-raba memekku. Kuusap-usap bulu-bulu memekku dengan halus, kemudian perlahan jariku bergerak kebawa sampai hampir menyentuh duburku. Kemudian dengan agak ditekan, kutarik jemariku menelusuri memekku dari bawah sampai ke itilku. Aaaaaah… enaaaak…

Kugosok lagi memekku ke bawah, kemudian kutekan dan kutarik lagi ke atas sampai ke itilku. Sungguh nikmat. Kuulangi terus menerus sambil sebelah tanganku yang lain meremas dadaku sendiri. Puting toketku sudah sangat tegang berdiri mengacung dan keras. Kupelintir-pelintir putingku sambil sesekali kuremas dadaku kuat-kuat. Sementara di bawah sana jemariku terus bermain-main dengan lobang memekku yang sudah semakin licin.

Kugoyang-goyangkan pinggulku dengan hebat sambil terus kugosok-gosok memekku mencari kenikmatan yang terus mendera. Jemariku berhenti sejenak di itilku. Kupermainkan daging kecil itu ke kiri dan ke kanan. Kucolek-colek, kupencet dengan dua jari. Oooooghhhh… nikmatnya…

Kubayangkan lidah Torik menyentil-nyentil itilku. Nafsuku semakin menggelora. Ooooowgh…. pengen di jilaaaatttt… Sempat aku menyesal telah mengusir pulang Torik tadi malam. Seandainya tidak kuusir, pasti sekarang kontol besarnya sedang menggesek-gesek memekku. Oh, kontol itu… terbayang besarnya kontol Torik. Terbayang bagaimana kepala kontolnya yang sepert helm tentara itu masuk ke celah memekku dan menyundul-nyundul itilku.

Terbayang batang kontolnya yang besar dan berurat menggesek-gesek celah memekku. Urat-uratnya begitu terasa seperti polisi tidur menggerus memekku.

Aku semakin hebat bergoyang, menggosok-gosok memek, meremas toket sambil terus membayangkan kontol besar Torik. Dan… aaaaaaahhhhhkkkk… tubuhku kejang… seluruh urat di tubuhku menegang, memekku berkedut-kedut… seerrrrr… srrrr… denyutan-denyutan kencang menerpa bersamaan menyemburnya cairan cintaku membasahi relung-relung memekku. Aku terengah-engah lemas. Tubuhku bagai dihempaskan dari loteng. Aku telentang, kedua tanganku terentang ke kiri dan kekanan, kakiku mengangkang lebar seperti kaki kodok. Nikmaaat… dan akupun jatuh tertidur lagi…

***

HP-ku berdering membangunku dari tidur nikmatku. Kuraih Hp itu dan kubaca nama pemanggilnya. Hhhh… tante Neni? Mau apa dia pagi-pagi begini?

“Assalamualaikum… “ sapaku dengan suara serak akibat nyawa yang belom kumpul semua.

“Waalaikum salaaam. Ya ampuuuun… Lin, jam segini belum bangun? Gimana sih, anak perawan kok males banget.” Tante Neni yang memang cerwet itu terus saja nyerocos ngomel. Aku hanya mendengarkan saja omelannya dengan malas-malasan. Pada intinya dia memintaku untuk bolos kerja hari ini dan harus sudah ada dirumahnya paling telat pukul 9 pagi. Aku lirik jam tanganku yang ada di meja. Jam 6. Buset, masih pagi bener, Pantes males banget bangun.

“Pokoknya kamu pasti suka deh. Orangnya ganteng, bisnisnya juga udah mapan, dan yang pasti orang tuanya kaya. Kalo kamu bisa kawin sama dia, dijamin hiduo kamu gak bakalan susah.” semangat sekali tante Neni mempromosikan anak temannya yang akan dijodohkan denganku. Huh… Jaman gini, masih musim ya jodoh-jodohin orang.

Tapi agar tidak mengecewakan tante Neni akupun menyanggupi untuk datang ke rumahnya dengan syarat tante Neni harus telpon adiknya yang jadi bossku sekarang ini.

Selesai menutup telepon kembali kuhempaskan tubuh telanjangku ke ranjang. Lima menit kemudan barulah aku bangkit. Kusingkapkan selimut tebal yang menutupi tubuh telanjangku, kemudian aku beranjak ke jendela. Kubuka tirai yang menutupi dan Ups! silau sekali saat sinar mentari menyambar mataku yang masih ngantuk.

Kubiarkan sinar mentari pagi meraba tubuhku. Kurentangkan tanganku tinggi-tinggi dan kunikmati hangatnya mentari pagi menyusuri seluruh tubuhku, wajahku, leherku, dadaku, perutku, memekku… lalu… Opss lagi!

Ternyata tirai benar-benar terbuka, termasuk vitrage tipis yang biasanya menjadi pelapis kedua gorden. Artinya, tubuhku benar-benar ter-ekspos di depan kaca. dan pastinya akan terlihat dengan jelas dari luar sana. Kuperhatikan kondisi diuar. Ah, untung aku ada di lantai 5. Agak sulit orang di bawah sana melihat kemari. Paling-paling orang-orang di gedung sebelah yang sejajar dengan kamarku. Biarin deh…

Setelah puas berjemur ringan, aku segera menuju kamar mandi. Mau mandi tentunya…

***

Aku mampir sebentar ke tempat kost untuk meletakkan tas pakaianku, baru aku berangkat ke rumah tante Neni. Bisa bingung dia kalo aku datang kesana sambil bawa-bawa tas pakaian.

Sekitar pukul 10 pagi teman tante Neni datang. Seorang ibu yang kira-kira seusia dengan tante Neni. Kelihatan dari dandanannya memang dia berasal dari keluarga berada. Tapi yang menarik perhatianku adalah cowok ganteng yang datang bersamanya. Gilaaa… ganteng banget. Putih, tinggi dan tubuhnya atletis.

Celana jeans ketatnya memperlihatkan paha yang kuat dan bokong yang kencang. Selera gue banget deh, asli bikin ngences… Setelah basa-basi perkenalan yang membosankan, ibu si Dito, cowok ganteng itu menyarankan agar kami jalan-jalan dulu malam ini.

Supaya tidak terlalu terlihat bahwa aku sudah mupeng, aku minta Dito menjemputku ke kantor besok sore saja. Semuanya setuju dengan usulku. Tante Neni terlihat senang sekali karena aku sepertinya menyambut perkenalan ini. Ya iya laaah… siapa sih yang bisa nolak cowok keren kayak gitu.

***

Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku masih saja duduk di lobi kantor sambil membaca majalah yang baru saja kubeli saat makan siang tadi. Suasana kantor sudah sepi, hanya ada satpam dan beberapa karyawan yang memang akan kerja lembur.

Malam ini aku menunggu Dito yang berjanji akan menjemputku pulang kantor sesuai kesepakatan kami kemarin. Tak lama tampak sebuah sedan memasuki pelataran parkir. Ah, itu pasti Dito. Aku segera bergegas menghampiri mobil tersebut dan langsung duduk di kursi depan. Dia berseri-seri melihatku mengenakan pakaian muslim ketat hingga dia bisa melihat lekuk liku bodyku yang proporsional dan langsung mengundang selera lelaki yang melihatnya.

“Kamu laper gak, kita makan dulu yuk?” ujar Dito.

“Terserah kamu deh, aku ikut aja.” jawabku sambil tersenyum.

Tidak sampai 20 menit kami sudah memasuki kawasan Senayan, dimana banyak pedagang makanan di pinggir jalan berjejer dengan tenda-tenda semi permanen. Memang kantorku tidak jauh dari kawasan Senayan.

Dito memilih parkir yang agak jauh dari keramaian dan cukup terlindung pepohonan hingga suasananya cenderung gelap. Didukung kaca mobilnya yang memang gelap, maka bisa dipastikan tidak ada orang yang dapat melihat ke dalam mobil. Aku tersenyum sendiri menyadari maksud Dito memilih tempat parkir yang sepi begini.

Seorang pelayan berlari kecil menghampiri mobil. Dito membuka kaca mobilnya sambil bertanya padaku. “Kamu mau makan apa, Lin?”

“Minum aja ah, aku belum laper.” jawabku.

“Ya udah, aku juga minum dulu aja deh.” Dito segera meminta pelayan tersebut untuk membawakan 2 botol soft drink.

Sepeninggal pelayan, kami lanjutkan obrolan-obrolan ringan kami. Setelah beberapa lama ngobrol, Dito menghadapkan tubuhnya ke arahku dan meletakkan tangannya di pahaku. Merinding aku merasakan gerak jemarinya di atas pahaku.

Tiba-tiba kurasakan bibirnya sudah menyentuh dahiku, terus menyusur pipiku. Tubuhnya begeser merapat, bibirku dilumat dengan lembut. Kenikmatan menjalar hangat di sekujur tubuhku. Sensasi nikmat yang sudah kutunggu sedari tadi. Di tengah gelora nikmat yang melanda, tiba-tiba terdengar ketukan di kaca mobil.

Kamipun terkejut dan segera melepaskan ciuman. Ternyata itu adalah pelayan yang datang membawa minuman pesanan mereka. Dito segera mengambil minuman tersebut dan menutup kaca mobilnya kembali. Sepertinya Dito sudah tidak perduli lagi dengan minuman yang dipesannya karena botol minuman itu langsung diletakkan begitu saja di lantai mobil.

Selanjutnya tanpa dikomando kembali kami berpagutan. Kali ini ciuman Dito bukan lagi ciuman mesra, namun sudah berubah menjadi ciuman-ciuman panas.

Sedang kunikmati lidahnya yang menjelajah di mulutku, kurasakan tangannya meremas lembut toketku yang masih terhalang baju muslim dan terbungkus BH. Ooooh… aku merasa sudah tidak kuat menahan gejolak nafasku, padahal baru awal pemanasan.

Perlahan jemari Dito mulai menjalar ke arah perutku. Dan terus turun hingga pinggulku. Diremas-remasnya pinggulku dengan gemas sambil bibirnya terus menciumi bibirku. Desahanku semakin kuat apalagi saat kurasakan jemari Dito mulai membelai-belai pahaku yang masih tertutup celana panjang.

“Kita pindah ke belakang yuk,” bisik Dito tiba-tiba. Aku hanya mengangguk pelan dan langsung beranjak mengikuti Dito pindah ke kursi belakang.

Di kursi belakang Dito menerkamku dengan lebih ganas. ciumannya semakin gencar menyerang. Lidahnya menari-nari dirongga mulutku. Bibirnya meneruskan jelajahannya, sambil tangannya melepas satu persatu kancing baju muslimku. Maka tampaklah bulatan dadaku yang putih tertutup BH hitamku. Tangan Dito langsung meremas toketku dan menyelusup kebalik BH ku. Pentil toketku dipermainkan membuatku semakin menggelinjang. Kemudian tangannya menjalar kepunggungku dan melepas kaitan BH-ku hingga toketku terbebas dan semakin mudah untuk diremas.

Lalu aku direbahkan hingga terbaring telentang di kursi belakang mobil ini. BH ku diangkat hingga kedua toketku benar-benar terhidang dengan bebas. Bibirnya langsung menelusur di permukaan kulitku.

Dari mulai pentil kiriku tersentuh lidahnya dan dihisap. Terus pindah ke pentil kanan. Kadang-kadang seolah seluruh toketku akan dihisap. Dan tangan satunya mulai turun dan memainkan puserku, terasa geli tapi nikmat, nafsuku makin berkobar karena elusan tangannya. Kemudian tangannya turun lagi dan menjamah selangkanganku. Menyentuh memekku yang pasti sudah basah sekali.

Lama hal itu dilakukannya sampai akhirnya dia kemudian membuka ristsluiting celanaku dan menarik celanaku ke bawah terus melewati kakik kemudian teonggok di lantai mobil. Tinggalah CD miniku yang tipis. Dibelainya celah memekku dengan perlahan. Sesekali jarinya menyentuh itilku. Ketika benda itu dielus pahaku otomatis mengangkang agar dia bisa mengakses daerah memekku dengan leluasa. Bergetar semua rasanya tubuhku, kemudian CD ku yang sudah basah itu dilepaskannya. Aku mengangkat pantatku agar dia bisa melepas pembungkus memekku dengan leluasa.

Jadilah aku wanita muslimah berjilbab dengan baju bagian depan terbuka memperlihatkan toket besar menantang dan kaki mengangkang mempertontonkan memek telanjangku.

Dito mengangkat kakiku hingga terpentang tinggi. Jarinya mulai sengaja memainkan itil-ku. Oh, nikmatnya… bibirnya terus bergantian menjilati pentil kiri dan kanan dan sesekali dihisap dan terus menjalar ke perutku. Dan akhirnya sampailah ke memekku. Kali ini diciumnya jembutku yang tipis dan aku rasakan bibir memekku dibuka dengan dua jari. Dan akhirnya kembali memekku dibuat mainan oleh bibirnya, kadang bibirnya dihisap, kadang itilku, namun yang membuat aku tak tahan adalah saat lidahnya masuk di antara kedua bibir memekku sambil menghisap itilku. Dia benar-benar mahir memainkan memekku.

Hanya dalam beberapa menit aku benar-benar tak tahan. Dan.. Aku mengejang dan dengan sekuatnya aku berteriak sambil mengangkat pantatku supaya merapatkan itilku dengan mulutnya, kuremas-remas rambutnya. Dia terus mencumbu memekku, rasanya belum puas dia memainkan memekku hingga nafsuku bangkit kembali dengan cepat. Kubuka pahaku lebih lebar lagi untuk menggapai kenikmatan lebih dalam.

Dito kemudian membuka celananya. Aku terkejut melihat kontolnya yang besar dan panjang nongol dari bagian atas CD-nya, gak kebayang ada kontol sebesar itu. Kemudian dia juga melepas CD-nya. Sementara itu aku dengan berdebar terbaring menunggu dengan semakin berharap. Kontolnya yang besar dan panjang dan sudah maksimal ngacengnya, tegak hampir menempel ke perut.

Dan saat dia pelan-pelan menggesek-gesekan kontolnya di memekku, aku membuka pahaku makin lebar, rasanya tidak sabar memekku menunggu kontol extra gede itu. Aku pejamkan mata. Kurasakan bibir memekku mulai tersentuh ujung kontolnya. Sebentar diusap-usapkan dan pelan sekali mulai kurasakan bibir memekku terdesak menyamping. Ohh, benar-benar kurasakan penuh dan sesak liang memekku dimasuki kontolnya. Aku menahan nafas. Dan nikmat luar biasa. Gesekan demi gesekan kurasakan memenuhi memekku. Kepala kontol besar itu bergerak ke atas menyentuh klitorisku, turun lagi ke bawah berkali-kali.

Aku mendesah tertahan karena rasa yang luar biasa nikmatnya. Terus.. Terus… Dan tangannya tak henti-henti meremas-remas toketku. Konsentrasi kenikmatanku tetap pada kontol besar yang terus saja di gesek-gesekan ke bagian dalam memekku. Aku benar benar cepat terbawa ke puncak nikmat tak berujung. Nafasku cepat sekali memburu, terengah-engah. Aku benar-benar merasakan nikmat luar biasa merasakan gerakan kontol besar itu. Maka hanya dalam waktu yang singkat aku makin tak tahan. Dan dia tahu bahwa aku semakin hanyut. Maka makin gencar remasan tangannya di toketku.

Dengan kontolnya dipepetnya itil-ku sambil digoyang-goyangkan, aku menggelepar, tubuhku mengejang, tanganku mencengkeram kuat-kuat sekenanya. Memekku menegang, berdenyut dan mencengkeram kuat-kuat, benar-benar puncak kenikmatan yang tiada tara. Ohh, aku benar benar menerima kenikmatan yang luar biasa. Aku tak ingat apa-apa lagi kecuali kenikmatan dan kenikmatan.

“Ditooooo… aku nyampeeeee…” Aku sendiri terkejut atas teriakkan kuatku.

Setelah selesai, pelan pelan tubuhku lunglai, lemas. Setelah dua kali aku nyampe dalam waktu relatif singkat, namun terasa nyaman sekali. Kubuka mataku, Dia tersenyum dan menciumku lembut sekali, tak henti hentinya toketku diremas-remas pelan.

Kemudian perlahan Dito bangkit dan jongkok di samping kepalaku. Ketika menengadah kulihat kontolnya telah berada persis di depanku. Kuremas kontolnya, lalu kuarahkan ke mulutku. Kukecup ujung kepala kontolnya. Tubuhnya bergetar menahan nikmat ketika aku menjilati kepala kontolnya. Dia makin menggeliat dan berdesis menahan kenikmatan permainan lidahku dan membuat mulutku semakin penuh.

Kurasakan agak sulit ngisep kontol dengan posisi seperti ini. Aku segera bangkit duduk dan kuminta Dito gantian berbaring di kursi. Lalu aku yang gantian jongkok di lantai sambil menghadap kontolnya yang sudah tegak itu. Kusedot-sedot kontol besanya dengan semangat. Kukeluarkan segala kemampuan ngisepku. Sesekali kujilati batang kontolnya dari bawah sampai ke kepala kontolnya. Lidahku menyusuri batang kontol yang putih bersih itu terus menerus. Sempat kujilati kedua biji pelernya. Bahan biki peler itu kumasukkan ke dalam mulutku sambil kuhisap bergantian. Hisap yang kiri, hisap yang kanan, lalu lidahku menjilati batangnya dari batas lubang pantatnya ke biji, ke pangkal batang, batang terus sampai ke kepala kontolnya. Kumasukkan kepala kontolnya ke mulutku sedikit, sambil lidahku berputar-putar menjilati kepala kontolnya. Lalu lidahku menjilati lubang kencingnya. Kubuka-buka lubang kencing itu dengan lidahku. Dito sampai terkejang-kejang saat lubang kencingnya kupermainkan.

Lalu kumasukkan seluruh batang kontol itu ke mulutku. Huaaah… hampir sampai ke tenggorokan. Enak sekali ngisep kontol besar begini. Kunaik-turunkan mulutku di sepanjang kontolnya. lalu kubasahi kepala kontolnya dengan ludahku, kemudian kukocok-kocok dengan taganku. Lalu kumasukkan lagi ke dalam mulutku dan kuhisap-hisap dengan nikmat.

Tiba-tiba tangannya meremas-remas pundakku dengan kuat. Kurasakan kontolnya semakin besar dan penuh dalam mulutku. Tubuhnya mengejang dan menggelepar, wajahnya menengadah. Satu tangannya mencengkeram kepalaku yang masih tertutup jilbab dan satunya meremas pundakku. Puncak kenikmatan diikuti semburan peju yang kuat di dalam mulutku, menyembur berulang kali.

Oh, terasa banyak sekali peju kental dan hangat menyembur dan memenuhi mulutku, hangat sekali dan terasa sekali peju yang keluar seolah menyembur seperti air yang memancar kuat. Langsung kutelan semua cairan nikmat itu tanpa bersisa. Setelah selesai, dia memiringkan tubuhnya dan tangannya meraih wajahku hingga mendekati wajahnya. Tangannya meremas lembut toketku sambil mencium wajahku. Aku senang dengan perlakuannya terhadapku.

“Lin, kamu luar biasa, memekmu licin, isepanmu nikmatnya bukan main.” Aku tersenyum bahagia mendengarnya sambil terus kugenggam kontolnya yang mulai mengecil.

Dia memang sangat pandai memperlakukan wanita. Dia tidak langsung bangkit merapihkan pakaian, tapi malah mengajak mengobrol sembari kontolnya makin mengecil. Dan tak henti-hentinya dia menciumku, membelai wajahku dan paling suka membelai toketku. Setelah cukup mengobrol dan saling membelai, dia menciumku lembut sekali. Benar benar aku terbuai dengan perlakuannya.

Hari-hari selanjutnya kejadian ini selalu kami ulangi dan ulangi lagi. Aku semakin suka dengan kontolnya yang besar dan panjang itu.

***

# Mandi Bareng Yang Nikmat
Sejak kuusir dari kamar Hotel beberapa waktu lalu, Torik semakin menjauhiku. Jika bukan untuk urusan kerja, dia tidak pernah lagi menegurku. Bahkan jika memungkinkan untuk urusan kerjapun dia hanya menitipkan dengan rekan kerjaku. Kecuali untuk pengambilan uang tunai yang memang harus menhadap aku secara langsung.

Apalagi sejak dia mengetahui aku mulai sering jalan bareng Dito. Bisa dikatakan hubunganku dengan Torik usai sudah. Bagiku tidak menjadi masalah. Karena hubunganku dengan Dito jelas jauh lebih menjanjikan.

Sejak aku resmi pacaran dengan Dito yang dideklarasikan saat air maninya menyembur di dalam mulutku di parkiran mobil Senayan beberapa hari lalu, gaya berpakaianku berubah total. Jika biasanya aku selalu mengenakan gaun muslim ketat dengan resleting di bagian punggung hingga bagian depan tubuhku benar-benar tercetak dengan jelas, kini aku selalu mengenakan busana dengan kancing-kancing yang banyak di bagian depan. Begitu juga dengan bagian bawahnya. Biasanya aku selalu mengenakan celana panjang, kini aku selalu mengenakan rok panjang.

Hal itu kulakukan atas permintaan Dito. Dia lebih suka aku mengenakan rok dan busana muslim berkancing depan. Bagiku tidak masalah, toh semua pakaian itu Dito yang membelikan.

Alasannya aku terlihat lebih anggun jika mengenakan busana seperti itu. Padahal aku tahu pasti alasan sebenarnya. Busana dengan kancing depan, tentunya supaya mudah dipreteli. Dan rok panjang, tentunya supaya mudah diangkat tanpa harus diplorotin seperti jika aku mengenakan celana panjang.

Apalagi sekarang ini jika kami akan kencan di tempat parkir Senayan yang sudah menjadi lokasi tetap kami itu, Dito selalu meminta aku untuk tidak mengenakan BH dan celana dalam. Dia selalu memeriksa kondisi ini ketika menjemputku di kantor. Begitu aku duduk di mobilnya, dia langsung meraba toket dan memekku. Jika ternyata aku masih mengenakan pakaian dalam, pasti aku disuruh turun lagi untuk segera melepasnya di toilet kantor.

Pernah usai kencan di mobil sampai dia ngecret di mulutku seperti biasanya, kami lanjut jalan-jalan ke Plaza Senayan. Padahal saat itu aku tidak mengenakan pakaian dalam karena Dito tidak mengijinkan aku mengenakannya. Jadilah aku jalan-jalan di sepanjang mall tanpa pakaian dalam. Selama jalan-jalan itu Dito tidak pernah lepas merangkul pinggangku sambil sesekali meremas pantatku yang telanjang di bagian dalamnya.

Dengan Dito memang aku cenderung jadi penurut. Bukan hanya karena Dito begitu royal dalam memberi hadiah termasuk HP terbaru yang saat ini aku gunakan. Tapi mungkin karena aku sudah yakin bahwa Dito akan menikahiku mengingat hubungan ini memang diawali oleh niat kedua belah pihak keluarga untuk menjodohkan kami. Aku suah sering dibawa berkunjung ke rumahnya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, atau hanya sekedar silaturahmi saja.

Seperti hari ini, dimana aku menghabiskan hari mingguku di rumah orang tua Dito sejak jam 8 pagi tadi. Bahkan untuk datang ke rumah orang tua Dito kali ini aku tidak perlu janjian dengan Dito, dan tidak perlu di jemput. Aku bisa datang sendiri.

Saat aku tiba dirumah orang tua dito di kawasan kemayoran, aku hanya diterima oleh ibunya. Sementara Dito sendiri masih tidur di kamarnya. Sebenarnya ibunda Dito mempersilahkan aku untuk membangunkan Dito di kamarnya. Tapi aku menolak karena rasa tidak enak dan tentunya jaga image sebagai calon menantu solehah, hahaha..

Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, ternyata ibu dan ayah Dito harus pergi berbelanja beberapa keperluan. Aku sempat kecewa dan segera pamit pulang.

Tapi mereka mencegah, malah menyuruhku untuk jangan pulang dulu sampai mereka kembali dari berbelanja nanti. Katanya aku harus bantu mereka merias beberapa kado untuk pernikahan sahabat mereka.

“Emang belanjanya di mana, Bu?” tanyaku ingin tahu kira-kira berapa lama mereka meninggalkan rumah.

“Pondok Indah. Soalnya waktu itu udah coba cari di Senen sama di Kelapa Gading gak ada. Temen ibu bilang sih di Pondok Indah ada. Ya udah, mending yang pasti-pasti ajalah,”

Wah, kemayoran – pondok indah kan jauh. Berarti mereka bakalan lama banget baru pulang. Langsung pikiran jorokku melintas.

“Ya udah, Lin, kita pergi dulu ya. Tolong jagain rumah ya, Lin, pintunya di kunci aja.” Aku hanya mengangguk. Pastilah pintunya akan aku kunci. Supaya kalau mereka kembali aku sempat pake baju dulu.

Begitu mobil mereka hilang dari pandanganku, langsung kukunci pintu. Kemudian aku segera berjalan menuju kamar Dito. Kubuka pintu kamar Dito pelan-pelan karena tidak ingin membangunkan Dito.

Di dalam kamar yang luas ini kulihat Dito tergeletak di kasurnya bertelanjang dada dengan selimut yang hanya menutupi pinggang ke bawah. Kututup pintu pelan-pelan, langsung kubuka seluruh pakaianku sampai aku telanjang bulat tanpa sehelai benangpun menutupi. Kemudian aku langsung rebah disamping Dito, dan kukecup bibir Dito lembut. Dito hanya menggeliat kecil saat kukecup bibirnya. Kembali bibirnya kukecup pelan sambil tanganku mengusap-usap perutnya.

Perlahan Dito membuka matanya, dan terkejut melihat aku sudah berbaring bugil di sampingnya. “Eh, kamu kok telanjang di sini, nanti ketahuan ibu gimana?” sergah Dito sedikit panik.

“Tenang aja. Semuanya pergi ke Pondok Indah. Rumah sepi kok. Cuma ada pembantu. Mereka gak akan ngadu kan?” jawabku sambil menindih tubuh Dito dan mengeser-geser putting dadaku ke dadanya.

Dito tersenyum sambil merangkul tubuhku dan tangannya meremas pantatku. Kemudian aku digulingkan ke samping hingga aku terbaring telentang. Kemudian gantian Dito yang menindih tubuhku. Dia langsung menyerbu bibirku dengan penuh nafsu.

“Iiih… jorok ah. Belom sikat gigi. Mandi dulu gih sana.” teriakku sambil meronta centil menghindari ciuman-ciumannya.

“Mandiin…” rengek Dito manja.

“Manja deh…” tapi aku tidak menolak.

Kami segera bangkit dari tempat tidur. Aku keluar dari kamar Dito menuju kamar mandi sambil tetap dalam keadaan telanjang bulat. Aku yakin jika pembantu Dito melihatpun tidak akan berani bicara apa-apa pada keluarga Dito.

Di dalam kamar mandi aku langsung menelanjangi Dito yang tinggal memakai celana pendek. Kutarik celananya sambil aku berjongkok di depannya. Kontolnya hampir menampar mukaku saat celana dalamnya kupeloroti. Terlihat kontolnya sudah mulai ngaceng walau belum terlalu keras. Arahnya masih tegak lurus menunjuk mukaku. Belum sampai tegak berdiri. Biasanya kalau sudah ngaceng maksimal, pasti kontolnya akan tegak ke atas. Bukan menunjuk ke mukaku seperti sekarang ini.

Kugenggam pelan kontol Dito sambil kemudian kekocok-kocok pelan. Lalu kukecup ujung kepala kontolnya sambil aku bangkit berdiri. “Ayo, mandi dulu” bisikku seraya mengecup bibir Dito pelan.

Dito segera berbalik menuju Washtafel dan mulai menggosok giginya. Selama Dito menggosok gigi, aku menempelkan tubuhku dari belakang. Kutekan-tekan dadaku ke punggungnya, sementara kedua tanganku bermain-main dengan kontol besarnya. Batang kontolnya kukocok-kocok pelan dan biji pelernya kuremas-remas lembut. Saat Dito membungkuk untuk berkumur, aku meremas biji pelernya dari belakang pantatnya.

Selesai berkumur, Dito langsung mendekap tubuhku dan mengecup bibirku penuh nafsu. Lidah kami langsung saling membelit mengahdirkan rangsang-rangsang birahi yang menghanyutkan. Perlahan Dito mendorong tubuhku sampai dibawah shower. Sambil tetap berciuman tangan Dito membuka keran Shower.

Aku sempat terkaget sedikit saat air mengguyur tubuhku. “Oooghh….” desahku sambil terus menikmati jilatan-jilatan Dito di leherku.

Kontol Dito yang masih belum berdiri tegak terlipat ke bawah menyodok memekku. Kepala kontolnya menggerus-gerus memekku. Terasa sangat kencang karena kontol yang sedang berusaha bangkit berdiri itu tersangkut di belahan memekku. Tangan Dito meluncur dari punggungku terus turun sampai ke pantatku. Bongkahan pantatku diremasnya dengan gemas. Sambil terus menjilati leher dan pundakku, tangannya yang meremas pantatku terus turun sampai ke lobang pantatku. Jemarinya melewati lobang pantat dan menyentuh memekku. Aku tersentak dan otomatis memaju-mundurkan pinggulku.

Kuangkat sebelah kakiku membelit kakinya hingga aku agak terkangkang. Akibatnya kepala kontol Dito semakin leluasa menyodok memekku. “Katanya mau mandiin aku…” bisik Dito ditelingaku sambil daun telingaku di kecup dan ditarik-tarik dengan bibirnya. Aku segera melapaskan pelukanku dan mengambil botol sabun cair dan menuangkannya ke kain busa yang sudah tersedia.

Lalu kogosok tubuh Dito mulai dari dadanya, kemudian turun keperut bawahnya sampai hampir menyentuh batang kontolnya. Kemudian aku berputar ke balik tubuhnya dan mulai menyabuni punggung Dito. Aku merosot turun sampai berjongkok dan lama menyabuni pantat seksi Dito. Kugosok-gosok dan kuremas-remas pantatnya. Kemudian aku terus menyabuni paha belakangnya sampai ke betis dan mata kakinya. Lalu aku meminta Dito berbalik hingga kontolnya kembali menghadap wajahku. Kusabuni paha depan Dito dan bagian dalam paha di dekat biji pelernya.

Aku tidak menyabuni kontolnya karena aku lebih tertarik menjilati kontol yang sudah tegang itu. Kukecup ujung kontol Dito, kuemut-emut kepala kontolnya. Lalu kuhisap kontol Dito kuat-kuat sambil mulutku maju. Kontol itu seolah tersedot ke dalam mulutku sampai pangkal batang kontolnya. Seluruh batang kontol Dito masuk sudah ke dalam mulutku. Lidahku berputar-putar menjelajahi seluruh batang kontolnya. Lalu kembali kusedot kuat sambil mulutku mundur sampai ke ujung kepala kontolnya. Begitu sampai di kepala kontol, aku menghisap lebih kuat lagi lalu kumundurkan mulutku sampai kontolnya terlepas. Kontol Dito sampai terpental dan plak! terdengar suara keras saat kontol itu terpental menyentuh perutnya. Kontolnya benar-benar sudah ngaceng penuh.

Aku sedikit bangkit dan menunduk untuk mengambil kembali kontol Dito dengan mulutku, dan melanjutkan menghisap, menjilat dan mengulum kontol besar yang menggairahkan itu. Kukocok-kocok kontol Dito dengan tanganku yang belepotan sabun. Akibat banyaknya sabun di tanganku, kocokanku pada kontol Dito menjadi licin dan lancar. Kemudian kubiarkan air shower menghapus busa sabun di kontolnya dan kembali aku memasukkan kontol itu ke dalam mulutku, membuat Dito mengerang-ngerang hebat.

Tiba-tiba Dito menggenggam bahuku dan memaksaku berdiri. Gantian sekarang dia yang menyabuni tubuhku. Padahal tadi pagi aku sudah mandi. Tapi mandi kali ini jauh lebih nikmat daripada mandiku tadi pagi.

Dito menyabuni tubuhku dengan telaten. Apalagi saat sampai di bagian dadaku. Lama sekali tangannya berputar-putar di sekitar puting susuku. Kedua tangannya berputar-putar di kedua belah dadaku sambil meremas-remas. Kemudian putaran tangannya semakin mengerucut hingga menyentuh pentil toketku. Lalu pentil toketku di jepit dengan jari-jarinya dan dipilin-pilin kemudian ditarik-ditarik. Setelah itu kembali tangannya berputar-putar menjelajahi dadaku dan terus menjawil-jawil pentil toketku lagi.

Aaaaaghhh… aku benar-benar menikmati permainan Dito. Nikmat sekali dikerjain sambil diguyur shower seperti ini. Dito meletakkan busa ke tempatnya di dinding kamar mandi dan kembali meremas dadaku sampai busa sabunnya benar-benar hilang tersapu air shower.

Lalu gantian lidahnya yang menyerbu toketku. Pentil toketku di sedot dengan kuat sambil lidahnya terus menyentil-nyentil. Bergantian dada kiri dan kananku diserbu oleh Dito. Aku semakin bergelinjang nikmat. Pentil susuku sudah berdiri mengacung dengan tegak. Mulutku hanya mampu mendesis-desis tidak bisa berkata yang lain.

Dito mulai menurunkan tubuhnya sambil lidahnya ikutan turun menjelajahi perutku. Tanpa mampir ke perutku, Dito terus turun dan langsung melahap memekku. Tidak perlu dikomando lagi langsung kuangkat sebelah kakiku. Telapak kakiku kuletakkan di bahu Dito. Posisiku saat ini benar-benar merangsang. Ngangkang lebar sekali.

Dengan posisiku seperti itu lidah Dito menjadi leluasa untuk menjilati seluruh relung memekku. Lidahnya menjilat dari bawah ke atas berkali-kali.

“Ooooohhhhh… Ditoooo… enaaaaak…” aku menggoyang-goyangkan pinggulku mencari kenikmatan. Dito terus saja menjilati memekku dari bawah keatas. Lalu tiba-tiba itilku disedot dengan kuat.

“Aaaaaawww…” aku bukan lagi sekedar mendesah. Tapi aku menjerit sekuatnya. Sedotan Dito pada itilku benar-benar membuat aku tersentak-sentak nikmat. Sepinya rumah membuat aku merasa leluasa untuk menjerit-jert histeris.

Kemudian sambil terus menjilati memekku, Dito membuka memekku dengan kedua belah tangannya. Memekku sampai merekah lebar. Lalu lidah Dito menerobos lebih ke dalam lagi lubang memekku.

“Aaaawwwwhhhh… Dito… diapaiiin ituuu… enak bangeeeet…” aku semakin histeris merasakan lidah Dito yang menerobos ke dalam lubang memekku. Lidah itu tidak hanya menerobos, tapi berputar-putar menjilati dinding-dnding memek.

Aku tidak mampu lagi bertahan. Gelombang orgasme menderu dengan derasnya. Aku berpegangan pada kepala Dito sambil kuremas rambutnya. Memekku kutekan kuat-kuat ke mulutnya mengiringi semburan-semburan nikmat dari dalam memekku. Aku kejang… tegang… lemas…

Tak bisa ditahan lagi, tubuhku meluncur turun sampai aku terduduk di lantai dan bersandar lemah ke dinding kamar mandi. Dito membiarkan aku terduduk lemas dan melanjutkan mandinya. Kulihat perlahan kontol Dito mulai mengecil karena terguyur air dingin. Tapi tidak sampai kecil sekali. Kontolnya hanya mengecil sedikit sampai pada posisi menunjuk ke depan lagi. Setelah selesai mandi dia mematikan shower dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk.

Setelah itu dia mengelap tubuhku dengan handuk. Mulai dari rambutku, wajahku, leher, kemudian dada, perut, memek dan kakiku dikeringkannya dengan handuk. Kemudian aku ditarik hingga duduk tegak agar dia mudah mengeringkan punggungku. Aku merasa tersanjung sekali dengan perlakuannya.

Setelah selesai, aku digendong keluar kamar mandi dalam keadaan kami masih sama-sama telanjang bulat. Saat akan memasuki kamar Dito, kami berpapasan dengan salah seorang pembantu Dito yang langsung menjerit kaget melihat kontol Dito yang mengangguk-angguk. Pembantu itu langsung terbirit-birit ke dapur sambil menutup mukanya. Aku dan Dito hanya cekikikan menyaksikan peristiwa itu.

Sesampai di kamar, Dito menutup pintu kamar dengan cara menendangnya. Kemudian aku direbahkan ke kasur dan langsung Dito menindih tubuhku. Bibirku kembali diciumi denga ganas, sementara kontolnya menggesek-gesek memekku.

Kemudian tiba-tiba Dito bangkit berjongkok di depan memekku. Kedua belah kakiku diangkat sampai mengangkang lebar. Kemudian Dito mulai menggesek-gesek memekku dengan kontolnya.

Aku langsung tegang menerima serangan seperti ini. Aku takut Dito memasukkan kontolnya ke dalam memekku. Tapi aku juga tidak ingin menyuruhnya berhenti.

Rupanya Dito menyadari ketakutanku. Dia menunduk mengecup puting dada kananku kemudian memandangku sambil tersenyum. “Tenang, sayang… aku tahu kamu masih perawan. Aku cuma mau gesek-gesek aja kok. Kamu nikmatin aja ya. Gak usah tegang gitu.”

Aku tenang mendengar janji Dito. Walaupun bisa saja Dito melanggar janjinya dan nekat menerobos masuk. Kembali Dito meletakkan kontolnya di belahan memekku. Kemudian kontol itu digerak-gerakkan ke atas dan ke bawah. Terkadang dengan bantuan tangannya kontol itu digetar-getarkan dengan kuat di lubang memekku.

“Aaaaawwww… Dito… iyaaa… gitu, sayaaaang… enak bangeeet…” aku menjerit-jerit lagi. Dito terus memainkan kontolnya di memekku. Itilku disundul-sundul menggunakan kepala kontolnya.

Gelombang nikmat kembali menderaku dengan hebat. Seluruh tubuhku menegang, pentil susuku mengacung keras, aku mengangkat pantatku tinggi menekan kontolnya lebih keras lagi. Dan… serrrr… srrrrrr… semburan nikmat terasa melanda dari dalam memekku dengan derasnya.

Pantatku terus terangkat tinggi. Memekku menempel ketat pada kontolnya. Setelah itu aku terjerembab lemas terkangkang di kasur. Dito masih menindih tubuhku sebentar sambil menciumi wajahku. Setelah itu dia bangkit dan duduk bersandar di sebelahku. Kontolnya masih mengacung tegak dekat sekali dengan kepalaku.

Aku berguling kepangkuannya dan langsung menghadap kontolnya. Kumasukkan kontol besar yang full ngaceng itu ke dalam mulutku. Kusedot-sedot, kukocok-kocok dengan mulutku. Lidahku menjilati batang kontolnya mulai dari biji pelernya, naik terus ke batang kontol sampai ke ujung kepala kontolnya. Lubang kencingnya kujilat-jilat dan kubuka-buka dengan ujung lidahku. Kumasukkan lagi seluruh batang kontol itu ke dalam mulutku. Mulutku kutekan sampai menyentuh pangkal kontolnya. Terasa ujung kontolnya hampir menyentuh kerongkonganku. Lidahku bermain-main di dalam sana. Lalu kutarik pelan mulutku sambil menghisap kontol Dito kuat-kuat.

Kuturunkan lagi, kuhisap lagi sambil kutarik keluar, kuhisap lagi, lalu kukocok-kocok dengan mulutku berkali-kali dengan kecepatan sedang. Setelah itu kontolnya kukocok dengan tanganku setelah seluruh permukaan kontolnya kubasahi dengan ludahku. Dito mengerang keras saat tanganku mengocok kontolnya. Sepertinya dia merasa lebih nikmat saat kukocok. Karena teriakannya lebih keras saat kontolnya kukocok dengan tangan dibandingkan saat kuhisap-hisap dengan mulutku.

Menyadari itu aku lebih sering mengocok dengan tangan daripada menghisapnya dengan mulut. Paling-paling saat kontolnya agak kering, aku mengulumnya sejenak untuk membasahi kontonya lagi. Setelah itu kukocok lagi menggunakan tanganku dengan kecepatan tinggi.

Cara ini membuahkan hasil. Dito sampai mendelik sambil mengerang keras. Kontolnya terasa mendenyut-denyut keras. Cepat-cepat kumasukkan lagi kontolnya ke dalam mulutku. Kusedot-sedot dengan kuat. Dan… Crooooooot… croooot…

Terasa tidak kurang dari 6 kali semburan hangat menerpa mulutku. Kutelan semua air mani Dito. Tapi saat kontolnya kulepaskan dari mulutku, ternyata masih ada 2 kali semburan lagi yang langsung menerpa wajahku dan membasahi hidung dan bibirku. Aku sampai terkaget-kaget menerima semburan yang tiba-tiba itu.

Setelah aku yakin semburannya sudah berhenti, kubersihkan kontol Dito dengan mulutku. Kemudian aku berguling telentang.

Aaah… nikmat sekali…

***

# Sebuah Pengakuan

“Iya, sayaaang… isep terussss… isep yang kenceng…” teriak Dito di tengah sibuknya mulutku mengulum kontol besarnya. Kulepaskan kontol Dito dari mulutku lalu kukocok-kocok kontol itu dengan tanganku.

“Aaaaaahh… iseeep lagiiii…” kurasakan kontol Dito semakin keras. Cepat kulahap lagi kontol Dito. Kuhisap kuat-kuat dan… crooottt… crooott… beberapa semburan hangat menerjang tenggorokanku.

Kutelan semua air maninya, kemudian kubersihkan kontol Dito dengan cara menjilati sekujur batang kontolnya. Setelah kontolnya bersih, kurebahkan tubuh telanjangku di sebelah Dito.

Hhh… sudah jam 9 malam. Capek juga. Sudah tiga kali Dito ngecret di mulutku sejak kami check-in sore tadi. Hotel dikawasan Sudirman ini lagi-lagi memberiku hadiah voucher menginap. Kali ini aku menikmatinya bersama Dito. Dan begitu kami masuk kamar kami langsung bertempur hebat dalam keadaan bugil total. Dan sampai saat ini kami belum berpakaian sama sekali. Termasuk saat makan malam tadi, tetap kami nikmati dalam keadaan bugil.

Saat pelayan mengantarkan makanan, aku hanya menutupi tubuh telanjangku dengan selimut tebal sambil berbaring. Sementara Dito hanya melilitkan handuk menutupi kontolnya yang baru saja muncrat.

Dito mengusap kepalaku lembut, kemudian mengecup bibirku pelan. Selanjutnya aku bergeser mendekat dan meletakkan kepalaku di bahunya. “Kamu pinter banget sih ngisep kontolnya, sayang…” ucap Dito sambil mengusap-usap bahuku. Aku diam saja tidak berkomentar. Hanya jemariku saja yang terus mengusap-usap dada bidangnya.

“Emang kamu udah pengalaman ya ngisep kontol?” tanya Dito tiba-tiba. Aku agak tercekat mendengar pertanyaannya.

“Nggak kok… kamu nuduh…” jawabku pelan dan hati-hati. Dito tetap mengusap-usap bahuku.

“Kalo gak pengalaman, kok bisa jago gitu ngisepnya?”

“Ya nggak tau… aku cuma ngikutin naluri aja.” jawabku berdalih. Tidak mungkin aku mengakui bahwa sebenarnya hampir semua mantan pacarku pasti pernah aku isap kontolnya.

“Cerita donk, sayang… aku gak apa-apa kok kalo memang ternyata kamu udah pengalaman. Malah enak kan, punya pacar yang jago ngisep kontol.” Dito terus saja medesak dengan pertanyaannya.

Aku bimbang. Haruskah aku jujur padanya? Bagaimana kalau nanti dia merasa jijik dan malah meninggalkanku. Tapi jika aku tidak jujur, bagaimana jika nanti dia tau dari orang lain? Apalagi jika kami sudah menikah nantinya, tiba-tiba ada mantan pacarku yang cerita. Pasti Dito akan marah besar. Aku benar-benar bingung.

Dito terus saja membujukku dengan kata-kata yang lembut sambil terus mengusap-usap bahuku. Sampai akhirnya aku merasa Dito benar-benar sayang padaku dan mau menerimaku apa adanya.

“Iya emang aku udah pernah sih ngisep kontol sebelum kamu…” ujarku pelan. Sangat pelan malah. Nyaris hanya berbisik. Aku menunggu reaksi Dito dengan takut. Dito meremas bahuku sejenak.

“Nah, kan gitu enak. Gak apa-apa lagi. Gak usah malu-malu. Lagian kan berasa isepan yang udah pengalaman sama yang belom.” Aku tetap tidak berani menatap wajah Dito. Ada rasa malu yang hinggap ketika harus mengaku mengenai masa laluku.

“Udah berapa kontol yang pernah kamu isep?” tanya Dito lagi tetap tanpa ekspresi yang berlebihan. Dia tetap dengan gaya tenangnya sambil mengusap-usap bahuku.

“Iih… udah ah. Jangan bahas yang begituan.” aku menghindar dari pertanyaannya. Sulit bagiku untuk menjawab pertanyaan yang satu ini.

“Gak apa-apa, sayang. Aku pengen tau aja. Gak akan ada pengaruhnya buat aku. Aku tetep sayang kamu kok.” terus saja Dito membujukku untuk mengaku.

“Ya ampir semua mantan pacarku pernah aku isep.” jawabku akhirnya.

“Kamu udah berapa kali pacaran sih?” taya Dito lagi.

“Delapan kali, termasuk kamu.”

“Semuanya pernah kamu isep?” kejar Dito. Sepertinya dia benar-benar penasaran ingin tahu yang sebenarnya.

“Ya nggak lah. Gak semuanya aku isep.” sergahku. Kupererat pelukanku pada tubuh Dito untuk menutupi rasa khawatirku.

“Jadi berapa kontol yang udah pernah kamu isep?” tanya Dito terus-menerus sampai akhirnya aku menyerah.

“Lima, termasuk kamu.” jawabku hati-hati.

“Wooow… dari 8 pacar, 5 orang kamu isep kontolnya? Hebat. Ternyata kamu bener-bener pengalaman soal kontol, sayang…” ujar Dito sambil mengangkat wajahku. Aku begitu malu untuk menatap wajahnya. Tapi melihat senyumnya, akhirnya aku menjadi lega. Dito tidak marah. Dia malah mencium bibirku dengan penuh nafsu.

“Ngebayangin kamu ngisep kontol pacar-pacar kamu, aku jadi ngaceng lagi nih…” Mendengar ucapannya buru-buru kuraba selangkangannya. Oooh… memang benar. Kontolnya sudah keras lagi.

“Ayo, sayang… puasin aku lagi. Keluarin semua ilmu ngisep kontol kamu, sayang…” pinta Dito sambil tersenyum penuh nafsu.

“Beneran kamu pengen diisep?” tanyaku berbasa-basi.

“Iya donk, sayang… percuma punya pacar jago ngisep kontol kalo gak mau di isep. Ayo, sayang, puasin aku.” Dito berkata begitu sambil mendorong kepalaku menuju kontolnya.

Aku segera menggeser tubuhku turun dan menjilati perutnya. Tapi Dito terus saja mendorong kepalaku. “Gak usah mampir di perut. Langsung aja isep kontolnya.” aku mendengar nada yang agak aneh dan tidak biasanya. Tapi buru-buru kuhapus rasa aneh tersebut. Aku langsung merosot menuju kontolnya.

Kugenggam kontol Dito yang sudah ngaceng penuh itu. Urat-urat di batang kontolnya sudah bertonjolan membuat kontol itu tampak begitu gagah. Kujilat pelan kepala kontolnya yang seperti helm tentara itu. Kuputar-putar lidahku di selebar kepala kontolnya. Kubuka-buka lubang kencingnya dengan ujung lidahku. Erangan Dito mulai terdengar agak keras.

Aku tidak ingin buru-buru memasukkan kontol besar ini ke dalam mulutku. Kujelajahi dulu seluruh batangnya dengan lidahku. Mulai dari kedua bijinya, kujilati bergantian biji kiri dan kanan. Kemudian kumasukkan salah satu biji pelernya ke dalam mulutku. Kusedot pelan sambil lidahku bermain-main di seputar biji itu. Lalu kulakukan hal yang sama pada biji satunya lagi. Kumasukkan ke dalam mulut, kuhisap pelan dan kujilati seluruh permukaan bijinya. Lalu kutarik-tarik bulu-bulu di sekitar bijinya dengan bibirku.

Kemudian lidahku menjilati dari biji naik ke atas menyusuri seluruh batang kontolnya. Kujilati dari bawah ke atas berulang-ulang sambil terus kugenggam kontol beras itu dengan tanganku.

Selanjutnya kutekuk kontol Dito sedikit ke arah bawah, sehingga aku bisa menjilati perut bawah Dito. Kutarik-tarik lagi bulu-bulu di perut bagian bawah tepat diatas pangkal kontol dengan bibirku. Kemudian kuciumi permukaan kontolnya sampai ke ujung kepala kontolnya. Barulah setelah itu kumasukkan kepala kontolnya ke dalam mulutku.

Kuisap-isap dan kupermainkan lidahku dipermukaan kepala kontolnya. Lalu kumasukkan seluruh batang kontolnya ke dalam mulutku. Memang terasa batang kontol Dito lebih besar dan lebih keras dari biasanya. Mungkin benar Dito menjadi lebih terangsang mendengar aku sudah banyak pengalaman soal kontol.

Memikirkan itu aku jadi lebih bersemangat. Kugerakkan mulutku maju mundur mengocok kontolnya sambil lidahku terus menjilat-jilat. Kusedot-sedot kontolnya sampai hampir melejit keluar dari mulutku.

Setelah mulutku agak pegal, kukocok kontol Dito dengan tanganku. Kukocok dengan kecepatan tinggi. Dito sampai berteriak saking enaknya. “Uaaaaaahhhhhh… enak banget, sayang….. terus, sayaaaanggg…”

Semakin Dito berteriak, semakin semangat aku mengocok dan menghisap kontolnya. Sampai akhirnya kurasakan denyutan-denyutan kecil di kontol Dito. Menyadari bahwa Dito sebentar lagi akan ngecret, cepat kuhisap kontol Dito sekuat-kuatnya sambil batang kontolnya dibagian bawah kukocok-kocok dengan tanganku.

Akhirnya sampai juga. Dito berteriak histeris menjemput ejakulasinya. Crooooooootttt…!!! semburannya begitu keras terasa menggempur dinding-dinding mulutku. Kuhisap terus, kusedot-sedot sambil aku menelan semua air mani yang ada. Kusedot-sedot terus sampai tidak ada lagi yang keluar dari kontolnya.

Kusedot terus sampai kontol Dito melemas dan mulai mengecil. Terus saja kusedot-sedot sampai kontol itu benar-benar kecil dan lemas.

Dito terkapar nikmat. Matanya terpejam sementara dadanya naik turun seiring dengan nafasnya yang ngos-ngosan. Aku berbaring disebelah Dito sambil mengangkang lebar menunggu serangan Dito selanjutnya. Tapi kutunggu-tunggu Dito tetap memejamkan matanya tak peduli dengan memekku yang sudah gatal ingin dijilati.

Dengan tak sabar kutindih tubuh Dito lalu kukecup bibirnya. Tak ada reaksi, malah terdengar dengkur tipis Dito. Aahh… Dito tidur? Kok curang sih?

Kuhempaskan lagi tubuhku ke kasur dengan sedikit kesal. Tapi setelah kupikir lagi, ya wajarlah Dito jatuh tertidur. Dia sudah 4 kali ngecret semalaman ini saja. Menyadari hal itu kukecup pipi Dito yang masih terlelap itu dengan penuh rasa sayang. Kemudian aku mencoba untuk tidur.

***

# Dia Mulai Berubah

Semenjak Dito tahu bahwa aku sudah biasa ngisep kontol-kontol para mantanku dulu, nafsunya seolah menjadi semakin liar. Jujur sebenarnya aku takut masa laluku yang cukup liar dalam berpacaran membuat hilangnya rasa sayang Dito padaku. Tapi melihat perkembangan hubungan kami setiap hari yang semakin panas, aku menjadi lebih tenang dan yakin bahwa perilaku liarku dimasa lalu tidak akan mempengaruhi hubungan kami.

Namun meski Dito semakin liar padaku, terkadang aku menjadi agak risih dengan keinginannya yang semakin aneh-aneh. Belakangan ini Dito senang sekali memintaku telanjang meski di lokasi yang tidak terlalu aman.

Seperti hari ini, seperti biasa Dito menjemputku ke kantor. Dan seperti biasa aku sudah siap tanpa celana dalam dan BH menghampiri mobilnya. Begitu aku duduk, Dito langsung meremas dada dan memekku sekedar men-check apakah aku mengenakan pakaian dalam atau tidak. Setelah yakin aku polos didalam, Dito tersenyum dan mengecup bibirku perlahan kemudian menjalankan mobilnya.

Belum jauh mobil meninggalkan kantor, Dito memintaku untuk membuka rok panjangku. Aku sempat protes karena saat ini jalanan masih ramai. Baru jam enam sore lewat sedikit. Bahkan masih cukup terang. Tapi Dito tetap memaksa dengan alasan kaca mobilnya sangat gelap sehingga tidak akan terlihat dari luar.

Dengan deg-degan aku melepas rok panjangku dan melemparnya ke kursi belakang. Kemudian cepat aku berusaha menutupi memekku dengan ujung kemeja walau dengan sangat susah payah. Karena sialnya hari ini aku mengenakan kemeja yang agak pendek, hingga aku harus menahan ujung kemeja itu dengan tangan agar tetap bisa menutupi memekku.

Gawatnya Dito segera menepis tanganku. Akibatnya memekku terbuka dengan bebas karena kemejaku tak mampu menutupinya. Aku benar-benar malu saat itu. Rasanya semua mata di jalanan melihat bagian bawahku yang telanjang. Tapi belum sempat aku protes, Dito telah melebarkan pahaku hingga mengangkang dan langsung jemarinya menggosok-gosok memekku. Aku tak mampu lagi untuk protes. Aku hanya bisa menengadah merasakan getar nikmat akibat rabaan jemari Dito di memekku. Untunglah perlahan namun pasti matahari semakin tenggelam. Dengan demikian aku bisa lebih tenang menikmati serangan Dito di memekku.

Dito begitu bersemangat mengubek-ngubek memekku. Bibir memekku di buka-buka dengan dua jarinya. Kemudian jarinya langsung menggosok itilku. Uuugh… nikmatnya. Aku terkapar tak berdaya sambil mengangkat-angkat pantatku mengejar jemarinya.

Tiba-tiba Dito menjepit itilku dengan dua jari, kemudian memelintirnya bolak-balik. “Aaaaaaakhhh… Ditooooo… diapain sihhh, sayaaaang…”

Dito tidak menjawab. Tatapannya tetap konsentrasi pada jalanan di depannya, sementara tangan kirinya terus mengerjai memekku tiada henti. Itilku di pelintir, digosok atas bawah, digosok kiri kanan, Kemudian jemarinya menggosok memekku dari bawah ke atas sampai menyentuh itilku. Lalu tiba-tiba tangannya menggosok bibir memekku dari kiri ke kanan dengan kecepatan tinggi.

“Aoooooowwwwhhh…. Enaaaak bangeeettt…” Aku sudah hampir orgasme ketika tiba-tiba Dito menghentikan kegiatannya. Ah, rupanya kami sudah sampai di Senayan tempat biasa kami berkencan.

Dito langsung memarkir mobilnya di tempat yang agak sepi. Begitu mengaktifkan rem tangan, Dito langsung menarik jilbabku sampai lepas dan serta merta mencium bibirku penuh nafsu. Bibirku disedot dengan ganas. Lidahnya langsung menari-nari dalam rongga mulutku. Nafsuku yang sempat tertunda langsung naik lagi. Apalagi tangan kanan Dito mulai lagi menari-nari di memekku.

Sedang seru-serunya kami ciuman, tiba-tiba terdengar suara ketukan di jendela sebelah Dito. Dengan santai Dito melepas ciumannya kemudian membuka kaca jendela mobil tanpa perduli dengan keadaanku yang setengah telanjang.

“Dito, tunggu…!”. Terlambat. Kaca mobil sudah terbuka dengan lebar. Aku hanya bisa menutupi memekku dengan telapak tangan. Aku yakin pelayan makanan itu pasti puas melihat paha mulusku yang terbuka sambil mendengarkan pesanan Dito.

Sepeninggal pelayan, Dito menutup kembali kaca jendela mobil dan langsung merengkuh tubuhku lagi. Kurasakan ciumannya semakin ganas. Dan kali ini jemarinya dengan tangkas mempereteli kancing kemejaku.

“Nanti aja Dito. Bentar lagi minumannya datang. Bisa repot kalo telanjang sekarang.” bisikku berusaha mencegah tangan Dito yang sedang menelanjangiku.

“Buka kancingnya aja. Bajunya gak usah dulu.” jawab Dito sambil terus mempereteli kancing bajuku satu persatu sampai terlepas semuanya. Setelah itu kemejaku disibakkan ke kiri dan kanan hingga dadaku yang tanpa BH bebas merdeka.

Dito langsung menciumku lagi sambil meremas dada kiriku. Aku risih dengan perlakuan Dito ini, tapi ada rasa nikmat yang lebih dari yang biasa kurasakan. Perlakuan Dito yang sedikit agak ’merendahkanku’ ini justru membuat nafsuku cepat sekali bangkit. Desahanku semakin keras seiring dengan remasan-remasan tangan Dito di dada kiriku.

Dan benar saja…. kembali terdengar ketukan di kaca jendela. Pelayan warung sudah siap dengan 2 buah teh botol di tangannya. Lagi-lagi Dito langsung membuka kaca jendela tanpa menunggu aku selesai merapikan bajuku. Terlihat dari sudut mataku pelayan itu melotot menyaksikan memekku yang tidak sempat kututupi karena kemejaku hanya sempat menutupi dadaku saja. Sementara bagian bawahnya masih terbuka lebar.

Dito segera menutup kembali kaca jendela setelah meletakkan teh botol kami di lantai. Lalu dengan cepat dia melepaskan kemejaku hingga aku bugil total. “Pindah ke belakang aja yuk…” bisikku di tengah serangan. Mendengar permintaanku, Dito menghentikan serangannya dan segera pindah ke belakang mendahuluiku. Aku mengikutinya dengan perasaan was-was takut dilihat orang karena tubuhku sudah bugil.

Sesampai di belakang, Dito langsung menanggalkan seluruh pakaiannya hingga kami sama-sama bugil. Terlihat kontolnya sudah ngaceng sempurna. Dia memintaku untuk duduk dipangkuannya. Aku segera mengangkang dipangkuannya. Tak bisa dihindari, memekku bersentuhan dengan batang kontolnya. Aku merinding merasakan kontolnya menggesek belahan memekku. Kugoyang-goyangkan pantatku maju mundur menikmati gesekan kontolnya disepanjang belahan memek.

Sementara Dito begitu lahapnya menciumi toketku. Toketku dihisap sekuat-kuatnya seperti ingin ditelan seluruhnya. Selanjutnya pentil susuku di sentil-sentil dengan lidahnya sebelum akhirnya di hisap dengan kuat. Erangan dan goyanganku semakin menjadi-jadi. Apalagi tangan Dito mulai meremas bongkahan pantatku dan membantuku memaju mundurkan pantat menggesek kontol Dito ke memekku.

Lalu kurasakan jemari Dito menelusuri bawah pantatku dan bermain-main di pinggiran lobang pantatku. ”Oooooooowwgghhhh… gilaaaaaa… enaaaaaakkk…”

Memekku banjir sudah. Kedutan-kedutannya semakin jelas terasa. Aku semakin menggila menggoyang-goyangkan pantatku dan menggesek-gesekkan memekku ke kontol besar Dito.

Sampai akhirnya… ”Aaaaaakkhhhh…” aku berteriak kuat sambil memeluk kepala Dito kuat-kuat. Orgasmeku memancar dengan derasnya diiringi kedutan-kedutan dahsyat. Lebih sering dan lebih kuat dari biasanya.

Gilaaaa… nikmat sekali. Aku lemas… aku tergolek kesamping, tersandar… Kemudian aku tersadar bahwa kontol Dito masih berdiri tegak menunggu giliran. Tanpa di komando lagi aku merosot ke bawah bersimpuh di depan kontol Dito.

Kugenggam kontol besar yang penuh cetakan urat-urat menonjol itu. Kuusap-usap sambil meratakan cairan cintaku yang membasahi bawah kontolnya. Kukecup pelan ujung kontolnya, kujilati seluruh permukaan kepala kontol yang menjamur lebar itu. Kubuka-buka lubang kencingnya dengan lidahku. Lalu kumasukkan seluruh batang kontolnya ke dalam mulutku. Kubiarkan sejenak batang kontol besar itu di dalam mulutku sambil lidahku bermain-main didalamnya. Baru kemudian kuangkat kepalaku perlahan sampai kontol itu terlepas dari mulutku.

Kujilati kedua biji pelernya. Kutarik-tarik jembutnya dengan bibirku sambil tanganku menggenggam lembut batang kontolnya. Kumasukkan satu biji pelernya ke dalam mulutku, kuhisap pelan sambil lidahku terus menjilati. Setelah itu ganti biji satunya lagi kuperlakukan dengan sama.

Kemudian kutelusuri seluruh batang kontolnya dengan lidahku sambil sesekali kugigit-gigit kecil kulit kontolnya. Sampai di kepala kontolnya lidahku bermain-main di bagian bawah topi helm kontol Dito.

Seluruh permukaan bawah kepala kontolnya kujilati sambil lidahku berputar-putar disekitar kepala kontolnya. Baru kemudian kuhisap kuat-kuat kepala kontolnya. Dan mulailah kumaju-mundurkan kepalaku mengocok kontolnya dengan mulutku.

Kubasahi seluruh permukaan batang kontol Dito dengan ludahku. Lalu kukocok-kocok kontolnya menggunakan tanganku dengan kecepatan tinggi. Pada saat tanganku sampai di kepala kontolnya, kuremas sejenak kepala kontol itu sebelum kembali aku mengocok dengan kencang.

Tak sampai 5 menit aku isap dan kocok, kurasakan kontol Dito semakin membesar dan berdenyut-denyut. Kukocok semakin kuat. Dan saat Dito menegang, cepat-cepat kumasukkan kontolnya ke dalam mulutku sambil kuhisap dengan kuat. Dan… Crooooot… crooottt… 5 sampai 6 tembakan kurasakan mendera rongga mulutku. Kutelan semua air mani yang terpancar. Air kental asin yang sangat kusuka…

Belum lagi aku istirahat, Dito meminta aku mengambil teh botol yang ada di lantai depan. Segera aku meraih bajuku untuk sekedar menutupi ketelanjanganku. Tapi Dito mencegah.

“Gak usah pake baju dulu. Ambil aja tehnya dulu.” sergah Dito.

“Kaca depannya gak terlalu gelap Dito. Nanti orang diluar bisa liat aku telanjang.” jawabku menjelaskan kenapa aku harus pake baju.

“Udaaah… jangan banyak jawab. Ambil aja minumannya. Gak usah pake baju.” sergah Dito lagi agak keras.

Aku sempat tersentak mendengar nada bicara Dito yang menurutku tidak seperti biasanya. Tidak lemah lembut, tapi agak sedikit membentak. Dengan menahan kecewa aku melangkah ke kursi depan dengan tubuh telanjang bulat. Kubungkukkan tubuhku agar tidak terlihat dari luar. Cepat-cepat kuambil teh botol dan segera kembali ke kursi belakang.

Sesampai di belakang, kulihat Dito sedang membersihkan kontolnya menggunakan jilbabku. Aku kesal sekali melihat perbuatannya. Gak mungkin kan aku pulang dengan jilbab belepotan air mani begitu.

“Kamu apa-apan sih? Itu kan jilbab. Kenapa gak pake Tissue?” bentakku sambil merebut jilbabku dari tangannya.

“Lho… kenapa memangnya?” tanya Dito berlagak bodoh.

“Kok kenapa sih? Nanti aku pulang gimana, masak pake jilbab belepotan mani gini?” aku benar-benar kesal jadinya.

“Yang aku pake kan bagian dalemnya. Gak akan keliatan dari luar.” jawab Dito seenaknya.

“Ya tetep aja ada baunya.” sergahku lagi.

“Nggak lah… gak semua orang apal bau kontol. Kecuali yang udah sering ngisep kontol kayak kamu.”

Seperti di tampar rasanya aku mendengar kata-kata Dito. Aku sedih sekali. “Kita pulang sekarang!” aku segera mengenakan semua pakaianku dan pindah duduk di bangku depan.

Dito mengikuti setelah selesai berpakaian. Setelah membayar minuman, kami beranjak pulang. Disepanjang perjalanan kami hanya diam membisu. Aku benar-benar kecewa dengan ucapan Dito barusan.

Sampai di kamar kostku aku menangis sejadi-jadinya… Sedih… perih… sakit…

***

# Dinginnya Bandung

Hampir seminggu aku mogok kencan dengan Dito. Bukan hanya mogok kencan, bahkan telepon dan smsnya pun tak mau kujawab. Aku benar-benar tersinggung atas kata-katanya padaku.

Tapi Dito terus saja membujukku melalui sms-smsnya. Kata-kata maaf mengalir terus menerus membuatku goyah juga. Akhirnya aku setuju untuk dijemput seperti biasanya, dan kembali bercumbu di mobil seperti biasa. Dito menepati janjinya. Tidak sedikitpun dia menyinggung soal masa laluku yang sudah banyak mengenal bentuk kontol.

Bahkan malam ini percumbuan kami begitu menggairahkan. Setelah kontolnya kuisap sampai ngecret di mulutku, Dito tidak langsung istirahat. Dia malah segera melahap memekku lagi dengan lidahnya. Padahal, sebelum kontolnya kuhisap tadi, dia sudah menjilati memekku sampai aku lemas.

Cepat sekali birahiku mendera. Tubuh telanjangku menggeliat-geliat hebat di kursi belakang mobil Dito. Eranganku tak putus-putus menerima serangan lidah Dito yang terus saja menyeruak belahan memekku.

Dito membuka memekku dengan kedua tangannya hingga lobang memekku menganga lebar. Aku terkangkang hebat menerima perlakuannya. Setelah itu lidahnya menerobos masuk ke dalam lobang yang menganga. Mengaduk-aduk dinding lobang yang telah banjir ini. Kemudian lidahnya bergerak dari bawah keatas berkali-kali sambil sesekali menyentuh klitorisku. Aku benar-benar terlempar-lempar merasakan nikmat yang tiada tara.

Tiba-tiba kurasakan klitorisku dilumat dan disedot kuat-kuat. “Aaauuuuwwwwhhhhh…“ aku menjerit sejadi-jadinya. Dito bukannya berhenti mendengar teriakanku. Dia malah mengunyah itilku dengan bibirnya, membuatku terlonjak-lonjak di kursi.

Aku benar-benar tak kuasa menahan kenikmatan ini. Tubuhku melengkung menyambut semburan dahsyat dari dalam tubuhku yang menyerbu menuju memekku. Kedutan-kedutan deras di memekku tak dapat kubendung lagi. Aku terus melengkung mengangkat pinggulku tinggi-tinggi sampai akhirnya aku terhempas ke kursi dengan tubuh lunglai… lemas… nikmat…

Aku terpejam bersandar. Masih kurasakan belaian lembut Dito pada dadaku, kecupan ringan di puting susuku. Kubiarkan semuanya… aku benar-benar terhempas dalam kenikmatan…

“Sayang… “ bisik Dito di telingaku sambil bibirnya melumat daun telingaku pelan.

“Hmmmmm…” aku hanya menggumam menjawab panggilannya.

“Besok ikut aku ke Bandung ya?” sambung Dito di telingaku.

“Ke Bandung? Jam berapa?”

“Pagi-pagi. Kita nginep semalem.” jelas Dito. Tangannya terus saja meremas-remas dadaku.

“Besok kan aku masih kerja,” aku ragu-ragu antara kepengen dan bingung karena besok masih hari kerja.

“Ya ijin aja lah. Besok telepon aja boss kamu dari jalan. Alesan apa kek…” bujuk Dito lagi.

Akhirnya aku setuju dengan ajakannya. Di depan rumah kost-ku, kembali Dito mengingatkan akan menjemputku pagi-pagi sekali. Dan lagi-lagi dia minta aku tidak mengenakan pakaian dalam. Ah… masih aja dia begitu. Padahal, sekarang pun aku turun dari mobilnya tanpa pakaian dalam.

***

Baru saja aku selesai Sholat subuh ketika kudengar suara mobil parkir di depan rumah kostku. Entah karena masih subuh dan sepi hingga suara mobilnya terdengar jelas, atau karena memang letak kamarku yang lokasinya paling depan. Yang jelas aku langsung keluar buka pintu dan mengajak Dito masuk kamarku sambil menunggu aku merapikan pakaian yang akan aku bawa.

Selesai aku menyiapkan pakaian, aku segera menanggalkan pakaianku. Ganti baju. Soalnya aku masih mengenakan pakaian tidur. Baru saja aku akan mengenakan rokku, Dito cepat mencegah.

“CD-nya buka donk. Ngapain pake CD? BH-nya juga.”

Aku berusaha menolak, “Bandung kan dingin, Dit. Apalagi sekarang masih subuh…”

“Nanti AC mobilnya aku kecilin. Bawa jaket aja.”

Akhirnya aku menurut saja pada permintaan Dito. Segera kutanggalkan CD dan BH-ku. Lalu cepat kukenakan rok panjang dan kemeja serta jilbabku. Kalau kelamaan bisa-bisa aku diserbu. Bisa gak jadi ke bandung nanti.

Di mobil, setelah menyalakan mesin, Dito masih sempat memelukku dan mencium bibirku. Dan tangannya langsung membuka kancing jaket serta kancing kemejaku. Kemudan di bentangkannya jaket dan kemeja itu hingga dada telanjangku terbuka. Setelah itu diangkatnya rok panjangku hingga memekku terlihat. Barulah setelah itu dia menjalankan mobilnya.

Setelah masuk Tol, Dito memintaku untuk duduk menghadap dia. Aku bersandar ke pintu mobil memperlihatkan tubuh telanjangku yang dibungkus kemeja dan jaket yang terbuka. Sebelah kakiku kuangkat ke kursi, hingga praktis aku terkangkang menampakkan memekku dengan jelas.

Sepenjang perjalanan tak henti jemarinya bermain-main di dada dan memekku bergantian. Berkali-kali dia mencubit dan menarik-narik itilku, membuat aku benar-benar banjir.

Sesampai di tempat parkir Hotel, tak kurang sudah 3 kali aku orgasme. Begitu masuk kamar, aku langsung menggila. Kupereteli semua pakaian Dito sampai dia bugil. Kudorong tubuhnya sapai terhempas telentang di kasur. Tidak menunggu lama lagi, kuisap habis kontolnya yang sudah ngaceng. Aku benar-benar tidak tahan menunggu dari subuh tadi. Kulumat kontolnya dengan ganas. Kujilat-jilat kepalanya, kubuka-buka lobang kencing dengan lidahku. Kujilati seluruh permukaan batangnya dari bawah ke atas seperti menjilati es lilin. Aku benar-benar menggila dan liar.

Kumasukkan kontol besar itu ke dalam mulutku. Kusedot-sedot dengan kuat. Bukan hanya kukulum, tapi benar-benar kusedot. Lalu kukocok-kocok dengan tanganku kuat-kuat. Aku bagaikan cewek yang sudah setahun gak ketemu kontol. Aku sendiri heran kenapa bisa begini. Aku begitu lapar akan kontol Dito yang besar.

Sepertinya Dito pun sudah kewalahan dengan keliaranku. Kurasakan kontolnya semakin keras dan berdenyut-denyut. Cepat kuhisap dan kusedot lagi kontolnya. Benar saja… tak lama, croooot… crooott… semburan hangatnya menerpa mulutku. Kutelan semua sambil aku terus menyedot kuat kontolnya.

Sebelum kontol Dito mengecil, cepat kutindih tubuh Dito dan kugesek-gesek kontol yang hampir lemas itu ke memekku. Ingin kuraih lagi kenikmatan yang mulai menghampiriku. Tapi Dito menolak…

“Udah dulu, sayang… aku harus ketemu orang pagi ini.” ujar Dito sambil bangkit dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi.

Aku terhempas kecewa. Tapi kupikir, sudahlah. Dito kesini karena ada kerjaan. Aku tidak boleh egois. Segera aku bangkit menyiapkan pakaian Dito. Sebelum pergi, ia meninggalkan uang tunai 1 juta. Katanya untuk aku belanja-belanja di Factory Outlet yang banyak bertebaran di Bandung. Apalagi kami menginap di kawasan Dago yang banyak sekali FO nya.

Sepeninggal Dito, aku lanjutkan berbaring telanjang di kasur empuk hotel ini. Dan aku terlelap lelah.

Aku terjaga sekitar pukul 1 siang lewat. Perutku lapar. Segera aku mandi dan berpakaian. Kutelusuri Dago dengan berjalan kaki. Kubelanjakan uang 1 juta dari Dito. Senang sekali rasanya dimanjakan seperti ini.

Sekitar jam 4 sore, aku sudah telanjang lagi di hotel menunggu kedatangan Dito. Tapi sampai jam 9 malam, Dito tidak juga pulang. Akhirnya aku tertidur telanjang dibalik selimut.

Di tengah lelapnya aku tertidur, kurasakan ada yang bermain-main dengan memekku. Kurasakan ada benda tumpul yang menggesek-gesek memekku. Saat kubuka mataku, kulihat Dito sedang berjongkok telanjang di depan selangkanganku sambil menggosok-gosokkan kontol ngacengnya ke belahan memekku. Aku langsung kejang merasakan nikmatnya. Dito terus menyodok-nyodokkan kontolnya sampai menyundul-nyundul itilku. Luar biasa nikmatnya. Seandainya Dito nekat memasukkan kontolnya ke dalam memekku, aku yakin aku tak mungkin mampu menolak.

Pinggulku bergoyang-goyang mengikuti irama sodokan kontol Dito. Aku benar-benar tidak tahan lagi. Orgasmeku menyerbu dengan derasnya. Setelah aku terhenyak lemas, Dito duduk bersandar di sebalah kepalaku. Kontolnya berdiri tegak dengan gagahnya. Memandang kontol besar yang indah itu, aku segera berguling ke pangkuan Dito.

Kini kepalaku menghadap langsung kontol ngaceng Dito yang sudah tegak dengan perkasa. Segera kugenggam kontol indah itu dengan kedua belah tanganku. Kukocok-kocok, lalu kujilat-jilat.

Kuhisap dan kulumat kontolnya dengan penuh semangat. Kujilat-jilat kepalanya, kubuka-buka lobang kencing dengan lidahku. Kujilati seluruh permukaan batangnya dari bawah ke atas. Kukocok-kocok lagi dengan tanganku. Begitu terus, isap, kocok, isap, kocok…

Akhirnya kontol di dalam mulutku ini mulai berdenyut-denyut lagi dan… croooot… kurasakan lagi semburan kerasnya.

Dito telentang puas. Aku telentang nikmat…

***

# Akhir Yang Menyakitkan

Aku terbangun karena sinar matahari menerpa wajahku. Ternyata kain gorden penutup jendela terbuka dengan lebar. Kugeliatkan tubuh telanjangku menghapus sisa-sisa kantuk dari tidur nikmatku semalam.

Aku menoleh kesamping. ”Lho, Dito mana?” aku tidur sendirian. Ah, mungkin dia di kamar mandi. Tapi kemudian mataku tertumbuk pada tumpukan uang 100 ribuan di meja kecil samping tempat tidur. Didekatnya ada secarik pesan. Kuambil pesan itu. Dari Dito…

“Lin, sorry aku berangkat pagi-pagi. Kamu pulang duluan aja ke Jakarta. Gak usah nunggu aku. Aku udah tinggalin kamu duit 2 juta. Anggap aja tanda terima kasih karena udah kamu bikin enak semalam. See you, Dito.”

Aku merasa kata-kata dalam surat ini agak kasar. Apakah Dito serius memberiku 2 juta sebagai tanda terima kasih? Bukan karena sayang? Atau Dito cuma bercanda. Ya semoga dia cuma bercanda.

Berpikir seperti itu aku segera bangkit dari tempat tidur dan dengan santainya aku berdiri telanjang bulat sambil menggeliat meluruskan otot-ototku. Tapi oops! Ternyata jendela kamar benar-benar terbuka tanpa penutup kain vitrage sekalipun. Padahal kamar ini ada di lantai dasar dan jendelanya menghadap taman. Akibatnya beberapa tamu hotel yang sedang berjalan-jalan di taman tertegun menatap tubuh telanjangku yang sedang dalam pose menggairahkan. Telanjang, kedua tangan diangkat tinggi-tinggi, hingga dada dan memekku jelas terpampang.

Gila! Dito benar-benar gila! Aku segera berlari menuju kamar mandi. Seusai mandi aku keluar kamar mandi dengan berbalut handuk. Perlahan aku melangkah menuju jendela. Kututup jendela dengan menarik tali di pinggirannya. Ah… aman.

Barulah setelah itu aku berani melepas handuk penutup tubuhku dan segera berdandan. Aku harus checkout pagi ini juga dan langsung pulang ke Jakarta. Seharian aku berputar-putar di kota Bandung sendirian. Baru menjelang malam aku pulang ke Jakarta mengendarai mobil angkutan Cipaganti.

***

Sesampai di kamar kostku di Jakarta, kuhempaskan tubuhku di kasur kamarku. Pikiranku menerawang. Aku memikirkan kejadian-kejadian yang kualami belakangan ini.

Kuraih dompetku. Kukeluarkan sisa uang pemberian Dito. Menginap semalam bersama Dito aku mendapatkan 3 juta. Tapi kenapa hati ini tidak bisa senang. Kenapa aku justru merasa terhina. Apalagi kata-kata Dito dalam pesan yang ditinggalkannya pagi tadi sungguh menyakitkan.

Apa iya Dito hanya menganggapku perempuan bayaran? Ah, tapi tidak mungkin. Dengan 3 juta seharusnya Dito bisa dapat pelayanan penuh dari perempuan-perempuan malam yang siap memberikan kepuasan. Sedangkan dengan aku, Dito tidak bisa menikmati tubuhku sepenuhnya. Artinya, Dito tidak mungkin menganggapku sama dengan para perempuan malam itu.

Lagipula, kami sudah sering membahas rencana pernikahan kami dengan kedua orang tua Dito. Bahkan seluruh keluarga sudah sepakat pernikahan akan dilangsungkan 4 bulan lagi.

Tapi… tetap saja aku merasa tidak nyaman. Apalagi Dito seringkali seolah sengaja mempertontonkan tubuh telanjangku kepada orang lain. Di mobil, dan terakhir pagi tadi di Hotel setelah dengan sengaja membuka tirai Hotel lebar-lebar.

Aku bingung… aku bimbang… akhirnya aku tertidur lelah…

***

Pagi…

Baru saja aku akan berangkat ke kantor ketika kudengar ketukan di pintu kamarku. Kubuka pitu dengan hati bertanya-tanya siapa yang sepagi ini mau bertamu ke kamarku.

Saat kubuka pintu, kulihat Dito berdiri sambil tersenyum tipis. Sebelum sempat kusapa, Dito sudah mendorong tubuhku masuk kembali ke kamar. Kemudian Dito menutup pintu dan menguncinya sekaligus. Setelah itu tanpa berkata apa-apa dia mulai membuka seluruh pakaiannya sendiri.

“Dit, mau ngapain? Nanti aku terlambat.” protesku. Aku agak tersinggung dengan kedatangannya yang tiba-tiba dan langsung buka pakaian di hadapanku tanpa basa-basi.

“Biarin lah terlambat sedikit. Udah biasa kan?” jawab Dito santai sambil membuka celana dan celana dalamnya sekaligus. Aku ingin protes lagi, tapi mataku tertumbuk pada kontol besarnya yang sudah ngaceng dan berdiri tegak. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi saat Dito memeluk tubuhku dan mencium bibirku.

Aku hanya pasrah saja saat Dito membuka jilbabku dan melemparkannya entah kemana. Aku semakin pasrah ketika lidah Dito menari-nari di telingaku sementara kurasakan kontol kerasnya mendesak-desak perutku. Kuremas rambut Dito sambil meresapi jilatannya di telinga dan leherku.

Dito tidak hanya menjilat leherku, tapi menggigit-gigit kecil sambil dihisap kuat-kuat. Aku yakin gigitannya pasti meninggalkan bekas merah di leherku. Aku tidak perduli. Toh nanti akan tertutup jilbabku. Aku hanya peduli pada kenikmatan yang kurasakan saat ini.

Setelah puas menggarap leherku, Dito berhenti sejenak sambil menatap tubuhku yang masih berpakaian lengkap. Kemudian tiba-tiba dengan agak kasar dan terburu-buru Dito melepas kancing-kancing bajuku dan merenggutnya dengan keras untuk kemudian melemparkannya begitu saja. Lalu tangannya bergerak ke punggungku membuka kait BH ku. Lagi-lagi Dito merenggut BH ku dengan agak kasar dan melemparkannya.

Sejenak dipandanginya dada telanjangku. Lalu diremasnya dengan kedua tangannya. Oooh… kasar sekali. Tapi rasanya justru aku menyukainya. Remasan kasar Dito pada dadaku berhenti saat Dito meluncur turun berjongkok di hadapanku.

Tangannya dengan lincah membuka celana sekaligus celana dalamku dalam satu tarikan. Dan bugil lah aku… Di kecupnya memekku dan dijilat dari bawah keatas. Uuughhh… aku berdiri dengan gemetar merasakan jilatan Dito pada memekku.

Disaat aku sedang menikmati jilatannya, tiba-tiba Dito menghentikan kegiatannya. Dia bangkit berdiri dihadapanku lalu tanpa persiapan sama sekali aku di dorong keras hingga terpental ke kasur.

Aku kaget dengan perlakuan kasar Dito ini. Tapi belum sempat aku berkata apa-apa, Dito sudah menerkam menindih tubuhku. Ciumannya begitu ganas. Lidahnya menerobos membelit-belit lidahku. Pinggulnya bergerak-gerak menekan kontolnya di atas memekku.

Aku benar-benar terhanyut dengan permainan kasar ini. Sensasi dari ketidak berdayaan seolah akan diperkosa ini justru menambah nikmat cumbuan-cumbuan yang kurasakan.

Jilatan Dito mulai turun ke dadaku. Mulutnya melahap dada kiriku dengan penuh nafsu seolah ia ingin memasukkan seluruh daging dadaku itu ke dalam mulutnya.

“Ooooh… Dit… kamu tambah hebat, sayang…” aku semakin meracau tidak karuan dengan perlakuannya ini. Ditambah lagi sementara mulutnya melahap sambil menjilati puting dada kiriku, tangan kirinya meremas kuat dada kananku sambil jemarinya memilin-milih puting susu kananku dengan cepat dan berulang-ulang.

Aku tak tahan menghadapi serang Dito kali ini. Belum-belum memekku banjir sudah. Kugoyang-goyangkan pinggulku mengejar kontolnya yang terus saja menggesek permukaan memekku.

Dito merosot ke bawah. Tangannya menggenggam kedua pahaku dan di bentangkannya lebar-lebar. Lalu kepalanya merangsek selangkangku dengan tiba-tiba.

“Aoooow! Oooooooohhh…!” Aku benar-benar dibuat menjerit. Lidah Dito langsung bermain menjilati lubang memekku. Dengan kecepatan lebih dari biasanya, Dito menjilati memekku dari bawah ke atas berulang-ulang. Lidahnya serasa menggaruk-garuk memekku yang memang sudah gatal sedari tadi.

Lalu Dito melahap sebelah bibir memekku seperti sedang mencium bibirku. Di sedot-sedotnya bibir memekku sambil lidahnya menerobos masuk ke dalam lobang memekku dan menjilati dinding-dinding bagian dalam memekku. Ooowwwh… semoga selaput daraku tidak sampai pecah gara-gara lidah Dito yang bermain sampai ke dalam.

Kemudian kembali Dito menjilati memekku dari bawah ke atas berulang-ulang, Lalu tiba-tiba mulutnya menangkap itilku dan menghisapnya kuat-kuat sambil giginya mengunyah perlahan membuat itilku seperti digiling.

Aku tidak sanggup lagi bertahan. Tubuhku kejang. Pantatku kuangkat tinggi-tinggi mengejar mulut Dito. Tanganku terlempar ke kiri dan kanan sambil meremas apa saja yang bisa kugapai. Punggungku melengkung, kepalaku terdongak ke atas.

Kupejamkan mataku sambil berteriak histeris, “Aaaaaaaaaaagghhhhhh…”

Rasanya cairan memekku bukan hanya mengalir. Tapi benar-benar menyembur dengan kuat. Entahlah, benar begitu atau perasaanku saja. Yang jelas aku benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa.

Lama aku kejang dalam posisi melengkung seperti itu sampai akhirnya aku terhempas hebat ke kasur. Nafasku tersengal dengan keringat yang membasahi tubuhku.

Plak! Dito menampar pahaku tiba-tiba sambi menghempaskan tubuhnya telentang di sampingku. “Ayo gantian. Isep kontolku sekarang.” ujar Dito agak kasar.

Meski masih terasa lemas, aku bangkit duduk menghadap kontol Dito. Kuraih batang kontol yang besar dan berurat itu. Kuremas-remas dengan gemas. Lalu tanpa basa basi lagi kumasukkan batang keras yang hangat itu ke dalam mulutku.

Kumajukan kepalaku naik turun mengocok kontolnya dengan mulutku. Sesekali kuhisap kuat-kuat kontol itu sebelum akhirnya kukocok lagi dengan mulutku. Kujilati kepala kontol Dito, lalu kuhisap. Hanya kepala kontolnya saja yang masuk ke mulutku. Lalu kuhisap-hisap sambil lidahku ikut menjilat-jilat. Kuhisap-hisap sampai kepala kontol itu melejit dan hampir terlontar keluar. Tapi sebelum kontolnya terlepas dari mulutku, segera kumasukkan lagi kepala kontol itu sambil tetap kuhisap-hisap.

Setelah itu kembali kumasukkan seluruh batang kontol besar itu ke dalam mulutku. Kukocok-kocok lagi dengan mulutku sampai akhirnya kubasahi seluruh permukaan kontolnya dengan ludahku.

Selanjutnya giliran tanganku yang bertugas memberikan kenikmatan kepada kontol Dito. Kukocok dengan cepat batang kontol besar ini. Tiba-tiba Dito bangkit duduk dan berdiri diatas kedua lututnya membuat aku ikut terduduk.

“Ayo, isep terus… kocok yang kenceng… aku udah mau keluarrrr…” teriak Dito.

Aku pun semakin bersemangat mengocok kontol Dito. Kurasakan kontol itu semakin keras. Dan mulai terasa kedutan-kedutan pertanda sudah mau keluar. Seperti biasa, aku segera memasukkan kontol Dito ke dalam mulutku supaya bisa ngecret di mulut.

Tapi Dito justru menepis tanganku dan mencabut kontolnya dari mulutku. Lalu dia malah mengocok sendiri kontolnya dengan tangannya di hadapan mukaku, dan… Crooot… Croooot… crooot… tiga semburan menerpa wajahku. Mata, hidung dan mulutku. Dan Dito mendorong tubuhku hingga telentang sambil terus saja mengocok kontolnya. Dengan sengaja Dito mengarahkan semburan kontolnya ke leher, dada dan terakhir ke perutku.

Aku terkapar telentang belepotan air mani di sekujur wajah dan tubuhku. Kulihat Dito bangkit meraih bajuku dan membersihkan kontolnya dengan bajuku itu. Aku ingin protes, tapi lemas sekali rasanya. Kubiarkan saja kelakuannya itu.

Tanpa berkata-kata Dito mengenakan pakaiannya kembali. Sementara aku tetap saja terbaring lemas di kasur. Kupikir sudahlah, aku tidak usah ngantor hari ini.

“Lin, aku mau ngomong…” ujar Dito sambil mengenakan sepatunya. Aku tidak menjawab selain menatapnya heran dengan wajahku yang masih belepotan air maninya itu.

“Mulai hari ini… kita putus!” ucap Dito tiba-tiba.

Aku tersentak bangun. Aku duduk menatap wajahnya yang tampak tanpa ekspresi itu. “Kenapa ?” tanyaku lemah.

“Terus terang, sebenernya pacaran sama kamu itu enak. Nikmat banget. Susah nyari perempuan yang bisa bikin enak kayak kamu, Lin. Masalahnya, kamu cuma enak buat dipacarin. Kalau untuk dijadikan istri, aku mau cari perempuan baik-baik yang belum kenal kontol sama sekali. Bukan yang udah kebanjiran air mani kayak kamu gini… Sorry ya, Lin. Kita sampai disini aja. Terima kasih, barusan luar biasa enak.”

Aku tak mampu lagi berteriak. Aku hanya menatap Dito yang melangkah ke pintu dengan air mataku yang berlinang bercampur dengan air mani yang membasahi pipiku.

Sebelum membuka pintu, kembali Dito berkata “Eh, tapi kalo kamu kangen sama kontol aku, telpon aja ya. Aku siap kok. Oke?“ setelah itu Dito membuka pintu dan berlalu.

Aku membanting tubuhku telentang ke kasur. Dan menangis sejadi-jadinya…

***

# Bertemu Dana

Enam bulan sudah sejak perpisahanku dengan Dito yang menyakitkan. Terlebih lagi jika mengingat hubungan kami sebenarnya sudah sangat serius. Bahkan rencana pernikahan sudah sering dibicarakan diantara keluarga kami. Hubunganku dengan orang tua Dito sudah demikian dekat.

Tak bisa kubayangkan jika Dito menyampaikan kepada orang tuanya alasan dia memutuskan hubungan kami. Bagaimana mungkin gadis baik-baik berjilbab yang mereka sayangi ini ternyata luar biasa binal, bahkan saat putus dengan anaknya pun penuh belepotan air mani.

Untunglah Dito masih punya sisa-sisa kebaikan. Dia cuma bilang bahwa kami sangat tidak cocok.

Well, enam bulan gak ketemu kontol. Enam bulan gak ada yang jilatin memek. Kangennya luar biasa. Tapi untuk memulai hubungan lagi rasanya juga gampang. Trauma dengan sikap Dito setelah menerima kenikmatan dariku membuatku semakin ragu untuk pacaran lagi.

Tapi kemudian semuanya berubah. Aku dipindah tugaskan sebagai staff administrasi khusus untuk event-event seminar wilayah Jakarta. Hal ini menyebabkan aku sering terlibat langsung dengan penyelenggaraan event, bahkan sampai menginap di hotel tempat penyelenggaraan.

Pada saat event-event inilah aku sering bertemu Dana, salah seorang Staff yang biasa mengurus operasional event. Seringnya kami kerja bersama-sama dalam sebuah event membuat kami tambah akrab. Keakraban itu berlanjut tidak hanya di tempat event, tapi juga ke kantorku. Setiap hari kami makan siang bareng, walaupun untuk pulang bareng masih belum menjadi rutinitas.

Dana tidak terlalu ganteng jika dibandingkan dengan mantan-mantanku dulu. Secara fisik hampir tidak ada yang istimewa. Namun wajah teduhnya membuat aku nyaman berada di dekatnya.

Sangat terlihat bahwa Dana belum banyak pengalaman soal perempuan. Seringkali Dana terlihat canggung jika aku mengajaknya bicara yang agak nyerempet-nyerempet bahaya. Wajahnya terlihat tersipu, dan aku tahu itu bukan pura-pura. Satu lagi, Dana sangat sholeh. Aku tidak pernah melihatnya meninggalkan Sholat. Bahkan jika kebetulan aku datang ke kantor agak pagi, kerap aku memergoki Dana sedang Sholat Duha. Melihat kenyataan itu, tipis rasanya harapanku untuk merasakan kontolnya. Tapi di lain sisi, aku berharap Dana bisa menjadi calon suamiku.

Suatu ketika, kembali kantorku menyelenggarakan event seminar. Dan seperti biasanya aku ditugaskan langsung dimulai sejak persiapan.

Saat itu seluruh team yang bertugas diberi fasilitas menginap di Hotel dimana event tersebut diselenggarakan. Tentunya karyawan wanita sekamar dengan yang wanita. Sebaliknya karyawan pria dengan karyawan pria. Dan tidak ada satupun dari kami yang kebagian sekamar sendirian. Sehingga tipis kemungkinan aku bisa tidur bareng Dana.

Dana mendapat kamar di lantai 4 sekamar dengan Baron sedangkan aku menempati kamar dilantai 5 sekamar dengan rekanku Nani yang bertugas sebagai kasir.

Persiapan baru selesai sekitar pukul 9 malam. Saat akan kembali ke kamar, Baron mengajak Dana untuk mencari makan di luar saja. Alasannya makanan di kamar disamping mahal, rasanya juga gak nendang. Aku agak malas untuk makan diluar karena rasanya sudah sangat letih dan ingin segera rebahan untuk istirahat.

Sesampai di kamar aku segera mengganti pakaian dengan daster panjang tanpa lengan dimana di dalamnya aku tidak mengenakan apa-apa lagi. Sebenarnya aku lebih suka tidur telanjang bulat. Namun karena aku tidak sendirian, terpaksa kututupi tubuh bugilku dengan daster panjang.

Rasanya belum lama aku memejamkan mata ketika HP ku berbunyi. Ah.. Dana. Ngapain malam-malam gini telpon?

“Ya, Dan… ada apa?” tanyaku dengan suara agak serak-serak bangun tidur.

“Udah tidur ya. Aku beliin martabak nih. Mau gak?”

“Aku udah kenyang, Dan. Nggak usah deh.” jawabku malas-malasan. Malam-malam gini makan martabak? Bisa gendut aku.

“Yaaah… sayang donk. Ya udah, temenin kita makan aja yuk. Sambil ngobrol-ngobrol.”

Sebenarnya aku masih sangat ngantuk. Tapi ngobrol-ngobrol dengan Dana di kamar? Sayang kalau dilewatkan. “Iya deh. Tunggu sebentar ya.” Aku segera bergegas bangkit dari kasur. Kukenakan kembali Jilbabku. Aku sempat bimbang apakah aku harus ganti baju, pakai celana dalam dan BH, atau gak usah aja. Kupandangi sejenak tubuhku melalui cermin. Rasanya tidak akan terlihat kalau aku tidak pakai celana dalam. Tapi BH? wow, pentil susuku jelas sekali terlihat. Lagipula daster ini tanpa lengan. Bisa rusak imageku nanti.

Akhirnya kukenakan jaket dan kukancingkan rapat untuk menutupi dada serta lenganku yang terbuka. Yup. Cukup tertutup lah. Jadi aku tidak perlu ganti baju.

Yakin dengan dandananku yang cukup tertutup, segera aku keluar menuju kamar Dana di lantai 4.

Sama seperti kamarku, kamar Dana memiliki dua buah tempat tidur yang dipisahkan oleh meja kecil di tengah-tengahnya. Sesampainya aku di sana ternyata mereka sedang makan nasi goreng di atas tempat tidurnya masing-masing. Aku segera menghampiri Dana dan duduk di kasur berdekatan dengan Dana.

Selesai makan kami lanjutkan ngobrol-ngobrol. Dana pindah duduk di kursi sementara Baron tetap duduk di kasurnya. Sedangkan aku dengan santai duduk di kasur Dana bersandarkan bantal yang kususun tinggi.

Jujur saja, isi obrolan sangat membosankan. Apalagi Baron. Omongannya gak ada yang menarik. Jokenya pun garing banget. Seandainya bukan karena Dana, aku pasti sudah balik ke kamar. Tapi kesempatan berdekatan begini sayang rasanya kalau kulewatkan begitu saja.

Untunglah setelah sekitar sejam ngobrol gak jelas, Baron ngantuk dan pamit tidur duluan. Dia langsung masuk ke balik selimut dan tidur miring menghadap tembok. Ah, asiiik…. aku tinggal berdua dengan Dana.

Kutunggu sesaat sampai kira-kira Baron sudah tertidur. Setelah kulihat tak ada tanda-tanda kehidupan, kubuka kancing jaketku hingga tubuh bagian depanku yang terbungkus daster bisa terlihat. Terutama bentuk dada besarku serta putingnya pasti tercetak dengan jelas.

Berkali-kali kulihat Dana menatap dadaku sekilas, kemudian langsung memalingkan wajahnya. Aku yakin Dana bisa melihat bentuk dadaku, dan aku yakin dia tahu kalau aku tidak pakai BH. Terlihat sekali dia canggung dengan keadaan pakaianku. Wah, bagaimana kalau dia tahu aku tidak pakai celana dalam ya?

“Dan, ngobrolnya sini donk. Jangan jauh-jauhan gitu. Kayak musuhan aja.” ajakku ketika kulihat Dana tidak juga mengambil inisiatif. “Ayo sini. Gak akan aku gigit deh. Kecuali kamu yang minta.” ajakku lagi saat Dana tidak juga bereaksi.

Akhirnya Dana bangkit pindah duduk di sebelahku. Terasa sekali Dana sangat canggung duduk berdekatan di atas tempat tidur berduaan denganku. Aku jadi tersenyum geli melihat tingkahnya yang serba salah itu.

Kugeser dudukku lebih dekat dan menghadap dia. Kuusap kepalanya lembut sambil terus ngobrol ngalor ngidul. Saat bercerita, sesekali siku lengan Dana menyenggol dadaku yang tanpa BH. Dana semakin gelisah.

Tidak tahan dengan sikapnya yang pasif, segera kuraih kepala Dana dan kucium bibirnya. Beberapa kali kukecup-kecup bibirnya sampai akhirnya Dana mulai bisa menguasai keadaan. Tangannya mulai meraih pipiku sambil lidahnya bermain-main di mulutku. Kemudian perlahan tangannya turun ke leherku, terus turun lagi sampai ke dadaku. Diremasnya dadaku perlahan. Ah… akhirnya bisa juga dia.

Aku benar-benar tidak tahan. Kudorong tubuh Dana hingga terlentang, lalu kutindih dia. Kuciumi bibirnya dengan penuh gelora nafsu sambil memekku kugesek-gesekkan ke kontolnya yang terasa sudah keras dibalik celana panjangnya.

Sedang seru-serunya kami bercumbu, tiba-tiba …

“Lin, kalo mau pacaran jangan disini. Gue gak bisa tidur dengerinnya…” terdengar suara Baron agak ketus walau wajahnya tetap menghadap tembok.

Aku menghela nafasku yang sudah tersengal-sengal. Duuuuh… ganggu aja deh… Terpaksa kami menghentikan kegiatan nikmat ini. Aku minta Dana untuk mengantarku ke kamar. Di dalam Lift kembali kucium Dana dengan penuh nafsu. Dana memelukku erat. Tiba-tiba tangannya meremas pantatku. Saat itulah dia sadar kalau aku tidak pakai celana dalam. Sayang, pintu lift keburu terbuka. Kami keluar dari lift dengan saling rangkul. Rupanya tangan Dana masih betah berdiam di pantatku. Kurasakan tangannya mengelus-elus pantatku dengan mesra.

Di depan pintu, kembali kami berciuman. Kali ini Dana sangat bernafsu. Tangannya tidak henti meremas dadaku. Kurasakan kontolnya begitu keras menekan atas perutku.

“Dan… besok kita buka kamar aja yuk…” bisikku di telinga Dana dengan nafas memburu. Dana menatap mataku sejenak. Terlihat dia agak ragu. “Aku yang bayar deh. Mau yah… yah… yah…” bisikku lagi setengah memaksa.

Akhirnya Dana mengangguk setuju. Kucium bibirnya lama sebelum akhirnya kulepaskan dan meninggalkannya berdiri di depan pintu.

***

Seharian ini kuikuti kegiatan seminar dengan tidak sabar. Pikiranku sudah tertuju pada rencana malam nanti. Saat break makan siang tadi aku sudah memesan kamar dilantai 8. Agak mahal memang, tapi yang penting terpisah jauh dari teman-temanku yang lain.

Begitu Seminar hari pertama selesai, aku langsung menghilang ke kamar. Kepada Nani teman sekamarku kukatakan bahwa malam ini aku tidak menginap. Padahal sesungguhnya aku pindah ke kamar yang telah kupesan.

Di kamar aku langsung melepas seluruh pakaianku hingga telanjang bulat. Semula aku akan menyambut Dana dengan tubuh bugil seperti ini. Tapi setelah kupikir lagi, rasanya terlalu ekstrim. Akhirnya aku memilih daster yang paling tipis. Setelah siap, kutelpon Dana, memintanya segera menemuiku di kamar.

Tak berapa lama kudengar bel berbunyi. Segera kubuka pintu, dan Dana tertegun memandangku.

Kutarik tangan Dana dan segera kututup pintu. Dana menatapku dengan takjub. Aku yang biasa berpakain serba tertutup kini berdiri di hadapannya hanya mengenakan daster tipis tanpa apa-apa lagi di dalamnya.

Kudorong tubuh Dana hingga tersandar di pintu. Kupeluk dia, kucium dengan ganas. Dana sampai gelagapan menghadapi seranganku yang tiba-tiba. Dengan tergesa dan penuh nafsu kupereteli kancing-kancing kemejanya. Lalu kubuka kemeja itu dan kulemparkan ke lantai. Lidahku langsung menari-nari di lehernya. Kugigit-gigit kecil lehernya. Lalu kujilati mulai pangkal lehernya melewati jakun sampai ke dagunya. Kujilati berulang-ulang. Dana tidak bisa bisa berkata-kata selain ucapan uh-uh yang tidak jelas.

Lidahku meluncur ke dadanya. Kujilat pentil dadanya sambil kutarik-tarik dengan mulutku. Lalu kusedot kuat-kuat bergantian pentil kiri dan kanan. Selanjutnya aku merosot turun berjongkok dihadapannya. Kujilati pusarnya sambil tanganku membuka ikat pinggangnya. Kubuka kancing celananya, kubuka resletingnya lalu kuperosotkan celana panjangnya hingga ke mata kaki. Tampaklah tonjolan dibalik celana dalam putih yang sudah siap untuk dikulum.

Saat aku akan merenggut celana dalamnya, Dana mencegahku. Tubuhku ditarik berdiri, kemudian dia memelukku dengan kuat sambil kembali mencium bibirku. Tangannya meremas-remas pantatku.

Aku benar-benar tidak tahan. Kutarik tangannya menuju tempat tidur. Kudorong tubuhnya hingga jatuh telentang diatas tempat tidur. Kubuka dasterku dan berdiri telanjang bulat dihadapannya. Dana sampai melotot melihat tubuh telanjangku. Tak menunggu lama lagi kutarik celana dalam Dana melewati kakinya dan kulempar entah kemana. Maka terlihatlah kontolnya yang sudah ngaceng sepenuhnya. Berdiri tegak menanti untuk di sedot.

Ukuran kontolnya biasa saja, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Tapi bagiku yang sudah enam bulan tidak ketemu kontol, pemandangan di hadapanku ini menjadi begitu menggairahkan.

Kupanjat tubuh telanjang Dana. Kuciumi bibirnya dengan nafsu membara. Kutekan dadaku ke dadanya hingga gepeng. Lalu kugoyang-goyang pinggulku hingga memekku bergesekan dengan kontolnya. Kugoyang pantatku maju mundur, membuat belahan memekku yang sudah basah meluncur lancar disepanjang batang kontolnya.

Tidak sampai dua menit aku menggesek memek kulihat Dana mengerang keras, dan… Croooot air maninya menyembur membasahi perut kami berdua. Ah… kontol perjaka. Nyesel tadi gak aku isep aja. jadi kan air maninya gak mubazir terbuang percuma begini.

Sedikit kecewa aku beranjak ke kamar mandi membersihkan tubuhku dari semburan air mani Dana. Setelah itu aku kembali ke kamar sambil membawa handuk kecil. Kubersihkan perut Dana dengan handuk kecil yang kubawa. Kubersihkan juga kontolnya yang sudah mulai mengecil.

Setelah itu aku berbaring di samping Dana. Kurebahkan kepalaku di bahunya sambil tanganku terus meremas-remas kontolnya. Aku berharap kontol Dana bisa cepat bangkit kembali.

Dan benar saja, tidak perlu berlama-lama kurasakan kontol itu semakin membesar. Kukocok-kocok terus kontolnya sampai benar-benar ngaceng. Setelah itu aku langsung bangkit menindih tubuhnya lagi.

Aku berjongkok di atas kontolnya. Kuraih kontolnya dengan tanganku, lalu dengan nekat kugosok-gosok kepala kontolnya ke dalam belahan memekku. Aaaah… rasanya luar biasa nikmat. Ingin rasanya kumasukkan seluruh batanp style=”text-align:justify;”p style=”text-align:justify;”g kontol ini ke dalam memekku ketika tiba-tiba Dana meronta menghindari memekku.

“Jangan, Lin. Gak boleh. Kita belom nikah…” wajah Dana terlihat tegang. Antara takut dosa dan kepengen dosa.

Kurebahkan tubuhku menindih tubuhnya. Kukecup lembut pipinya. “Iya, aku tau. Aku juga masih perawan kok.” ujarku sambil kemudian kukecup lembut bibirnya. “Tapi kalo main-main dikit boleh kan?” aku tak menunggu jawabannya, tapi langsung melorot ke bawah hingga wajahku berhadapan langsung dengan kontolnya.

Kuraih benda yang sudah lama kurindukan itu. Kuusap-usap, lalu kemudian kujilat dari bawah ke atas. Ooooh… akhirnya… ketemu kontol lagi…

Kusedot-sedot kepala kontolnya sambil lidahku menari-nari diseluruh permukaan kepala kontolnya. Lalu kumasukkan seluruh batang kontol itu ke dalam mulutku. Karena kontol Dana tidak terlalu panjang, tidak sulit aku menelan seluruh batang kontolnya.

Kukocok-kocok kontol ngaceng itu dengan mulutku. Maju-mundur-maju-mundur, kuisap kuat-kuat sambil kutarik sampai hampir terlepas. Lalu kuisap lagi kuat-kuat sambil menelan kontolnya.

Belum lama kontol itu kuisap, kurasakan denyutan-denyutan yang sudah sangat ku kenal. Ah cepat sekali… Langsung kuisap-isap dengan kuat dan cepat, dan… crooot.. crooot.. crooot.. terasa semburan yang sangat kuat menerpa mulutku. Kutelan semua cairan yang menyembur itu sambil terus kusedot-sedot kepala kontolnya dengan kuat. Kontol itu baru kulepaskan setelah menciut jadi kecil dan lembek lagi.

Kutatap wajah Dana. Matanya terpejam puas. Aku berbaring di sebelahnya sambil kubelai-belai rambutnya. Tak lama, Dana tertidur…

Tinggal aku yang terbaring bugil dengan nafsu yang masih menggantung. Tak apalah, lumayan setelah enam bulan nganggur…

***

# Gairah di Pagi Hari

Bangun tidur, aku merencanakan untuk menggoda Dana lagi. Pura-pura mau mandi, aku berjalan pelan di depannya. Aku hanya menggunakan handuk kecil untuk kulilitkan ke tubuhku seadanya. Saat lewat di depannya yang sedang menonton TV, persis di depan matanya, handuk itu kulepaskan hingga jatuh ke lantai, kontan tubuhku yang tidak terbungkus apapun terlihat jelas olehnya.

Dana langsung tersipu malu dan melengoskan pandangannya. Dasar bocah lugu. Sudah menikmati tubuhku semalaman, masih juga malu. Kuteruskan langkahku ke kamar mandi sambil tersenyum tertahan melihat tingkahnya.

Tidak lama di dalam, aku berseru memanggil Dana untuk mengambilkan sabun cair di tas, ”Dan, tolong ambilin sabun yaaa…” kataku.

”Iya, Lin, sebentar…” kudengar dia turun dari ranjang dan melangkah pelan ke lemari, tempat dimana tasku berada. Setelah ketemu, dia mengetuk pintu kamar mandi yang tidak kukunci.

Aku berseru. ”Masuk aja, Dan.”

Dana membuka sedikit pintu itu dan menjulurkan tangannya yang menggenggam sabun. Segera kutarik tangannya ke dalam sambil berkata, ”Tolong dong, sabuni aku. Aku nggak bisa menyentuh bagian belakangku.”

Dana tertegun melihat tubuh telanjangku yang mengkilat karena basah. Terutama payudara dan puting susuku yang tampak makin membengkak besar. Dia sudah tidak melengoskan pandangannya lagi, malah Dana memperhatikan tubuhku yang bugil dan ranum itu dengan muka memerah.

“Heh, kok malah ngeliat gitu sih?” ujarku sambil pura-pura menutupi buah dadaku yang sudah besar dari dulu ini, karena susuku sering diremas dan di rangsang oleh laki-laki. ”Sini, buka bajumu agar gak basah. Kita mandi sama-sama.” segera kulucuti pakaian Dana tanpa menunggu jawaban darinya.

Setelah kubuka celana dalamnya, kulihat kontolnya masih kecil, belum tegang sama sekali. Penasaran banget aku, masa ngeliat tubuhku gini, dia belum ngaceng sih, pikirku. Biar, nanti kuhisap dan kubuat kau ketagihan hisapan mulutku, pikirku mesum.

Kupasang shower dan aku mulai mandi di depan Dana yang juga sudah telanjang bulat. ”Ayo, sabuni aku. Jangan bengong aja gitu.” ujarku. Dia mulai mengusap punggungku dengan tangan gemetar. Wah, asik nih, akan kuajari dia cara menyenangkan perempuan, pikirku.

”Sini, depannya juga. Masa cuma punggungnya aja.” kataku sambil membalikkan badan. Kuberikan bongkahan payudaraku kepadanya.

”Eh, i-iya, Lin….” Dana menjawab dengan gugup. Dia mulai mengusap-usap dadaku, meremasnya pelan, dan memilin-milin putingnya yang mungil menggiurkan. Aku jadi terangsang dengan usapan tangannya. Kunikmati pijatannya sambil merem melek.

Tidak puas, aku juga mulai menyabuninya, ”Sini, Dan… tubuhmu juga harus dibersihkan, biar wangi dan harum.” kataku.

Dana diam saja. Tapi tangannya masih tetap mengusap-ngusap buah dadaku. Dia meremasnya kuat-kuat saat tanganku berhenti di kontolnya dan mengocoknya lembut. Nah, mulai kelihatan aslinya, pikirku. ”Aduh, Lin, geli… geli banget… tapi enak.” katanya takut-takut.

”Udah, kamu diam aja.” Setelah kusiram bersih tubuhku dan tubuhnya, aku jongkok di depannya sambil kugenggam erat kontolnya yang belum terlalu ngaceng itu, masih agak lembek. Sambil melihat wajahnya, kumasukkan kontol itu ke dalam mulutku dan kukemot pelan-pelan. Kulihat mata Dana melotot sambil memperhatikan kontolnya yang keluar-masuk di mulutku, dia mendesah dan menelan ludah.

Pelan kujilati seluruh kontolnya, mulai dari pelirnya sampai ke ujung kepala. Dari situ kumasukkan seluruh kontolnya ke mulutku, lumayan keras meski belum ngaceng sempurna.

Setelah beberapa lama menghisap kontolnya, Dana mulai bergetar. Wah, tandanya dia mau keluar nih, pikirku. Semakin kuperkuat hisapanku, kontolnya kukenyot cepat di mulutku. Saking enaknya, tanpa disadari Dana, pantatnya sampai maju mundur seperti orang ngentot. Dia memperkosa mulutku.

Lin, aduh… aku… Oughh! Enak sekali…” teriaknya, lalu… croott… crooottt… crooooottth…!!! banyak sekali pejuhnya keluar di dalam mulutku, langsung kusedot habis dan kutelan dengan kenikmatan luar biasa. Kulihat wajahnya merah padam pada saat pejuhnya keluar. Dana mendongak ke atas dan oleng ke kiri dan ke kanan.

”Enak nggak, Dan? Kau suka kontolmu kuhisap?” tanyaku nakal.

”He-eh, Lin. Enak sekali.” katanya masih sambil bergetar.

Aku maklum, karena meski ini bukan pejuh pertamanya, tapi tetap saja dia menikmatinya. Pengalaman ini pasti terasa begitu luar biasa bagi orang pemula seperti Dana.

Setelah dia bisa mengatur nafas, kini giliranku yang minta kepuasan. Berbaring mengangkang di lantai kamar mandi, kuminta dia menjilat memekku. Dana melakukannya dengan senang hati.

Total hari itu, lebih dari 12 kali kami moncrot. Pejuh Dana berhamburan di mulutku, juga ke wajah, rambut, dan susuku. Bahkan ada yang ditaruh di atas memekku, sempat membuatku takut juga kalau sampai hamil. Cepat kuseka cairan itu dengan tissue sampai bersih.

Sementara cairanku sendiri mengalir deras membasahi kasur dan sprei. Beberapa ada juga yang menyembur sampai ke lantai.

Sama-sama puas, kami akhirnya terkulai lemas dan berbaring berpelukan. Mataku terpejam, sementara mulutku terbuka mengalirkan pelan pejuh Dana masuk ke dalam perutku.

Aku lelah… tapi juga gembira luar biasa…

***

Sejak itu, hubunganku dengan Dana makin dekat dan intim. Di kantor, kami sudah tidak malu-malu lagi untuk mengakui kalau kami berpacaran. Bahkan bisa lebih dari sekedar pacar, karena kini Dana sudah tidak malu-malu lagi meminta oral kepadaku. Aku juga begitu, horny dikit, aku langsung kontak Dana untuk ketemuan. Pokoknya, asal waktu dan tempatnya terpenuhi, kami akan melakukannya. Tapi meski begitu, satu yang kami pegang, aku mau tetap perawan sampai menikah nanti. Jadi terangsang bagaimanapun, kami harus bisa nahan diri cukup dengan emut atau gesek saja, tanpa tusuk apalagi genjot.

Sama seperti sore ini, jam 17:15 aku datang ke ruangan Dana. Sudah sejak siang, memekku gatal pingin digaruk. Kebetulan seisi ruangan sudah pada pulang semua, tinggal aku berdua dengan Dana. Maka tanpa membuang waktu lagi, kubanting tubuh Dana ke meja kerjanya dan kuciumi dengan penuh nafsu.

Dia yang sudah mengerti akan nafsu gilaku, mengimbangi dengan menyentuh paha mulusku pelan. Kebetulan hari itu aku mengenakan rok panjang longgar, jadi Dana mudah saja menyelipkan tangannya. Dengan cepat jari-jarinya naik, sedikit demi sedikit, menuju pangkal pahaku. Aku mulai merem melek keenakan, sambil tanganku merangkul pundaknya, sementara bibirku tetap menancap di mulut Dana yang tebal.

Aku melenguh saat ujung jari tengah Dana menyentuh selangkanganku dan mengelus pelan sekumpulan rambut hitam yang ada disana, yang masih tertutup oleh celana dalam. ”Ahhhh… Dan, terus…” aku mendesah.

”Kamu memang sangat menggairahkan, Lin.” Dana berkomentar.

Aku cuma menjawab dengan anggukan kecil dan mata makin terpejam rapat. Desahanku terdengar semakin keras. Jari tengah Dana sudah melewati celah celana dalamku sekarang, dia menyentuh bibir kemaluanku, dan mengelusnya. Dana menggesek-gesekkan jarinya di permukaan klitorisku yang sudah menyembul keras. Oughhhh… tubuhku langsung melenting. Aku kegelian, tapi juga enak.

Setengah sadar aku berkata, ”Aduh, Dan… geliii… oughhh… geliii…” terasa sekali memek dan celana dalamku sudah basah berlendir. Tanganku makin rapat memegang pundak Dana, sementara mulut kami terus saling beradu.

Tak mau kalah, tangan kananku merambat ke arah gundukan kaku di selangkangan Dana. Kubuka resletingnya dan kulorotkan celana dalamnya hingga sebatas paha. Tanpabisa dicegah, tersembulah kontol Dana yang sudah menegang dahsyat. Benda itu berdiri tegak, siap untuk diapain aja. Tanpa disuruh, aku segera memegang dan mengelus-elusnya.

Dana yang sepertinya juga sudah nafsu buanget, meraih celana dalamku dan menariknya turun. Sementara rok panjangku cuma ia gulung hingga ke pinggang. Dana lalu mendudukkanku di meja sambil tangannya membuka kancing bajuku satu per satu. Ia juga meraih tali pengait BH-ku dan melepasnya dengan mudah. Maka lengkaplah sudah, aku telanjang di depannya.

Kami saling melumat beberapa saat sebelum akhirnya ciuman Dana turun ke leher dan dadaku. Dia mencucup dan menjilati puncak gunung kembarku dengan rakus. Oughhh… Aku langsung mengerang keenakan. Tanganku makin keras meremas dan mengelus burung Dana.

Setelah agak lama menyusu, dia lalu berbisik. ”Lin, jadi pengen masukin burungku ke sangkarnya…” sambil tangannya menerobos pelan lubang memekku.

Aku yang tidak ingin ngentot, tentu saja menolaknya. ”Jangan, Dan… ingat komitmen kita.” aku masih ingin mempersembahkan perawanku untuknya saat malam pertama nanti.

Dana yang pada dasarnya juga lugu, dengan mudah tersadar. Dia pun tidak berkata-kata lagi. Asyiknya, tangan dan mulutnya tidak berhenti bekerja, dia terus memborbardir pertahananku dengan lumatan dan elusannya yang sungguh-sungguh membangkitkan gairah.

Melihat dia sudah tidak kuat lagi, aku segera turun dari meja dan berjongkok di bawah untuk mengulum burungnya. Dengan perlahan bibirku mengecup ujungnya, kujilati cairan precum Dana yang mulai meleleh keluar. Kemuadian dengan sangat berhati-hati kutelan kontol itu, kumasukkan ke dalam mulutku. Kuhisap kontol itu bervariasi, dengan menjilati batangnya dari ujung lubang kemaluan sampai buah pelirnya, kemudian kuhisap-hisap keras seluruhnya hingga membuatku hampir tersedak, lalu kembali lagi pelan di sekitar ujungnya.

Begitu terus hingga tanpa terasa 15 menit pun berlalu. Kurasakan kontol Dana mulai memanas dan berkedut-kedut. Sepertinya benda itu sudah mau meledak. Aku segera mempercepat kocokanku. Kumasukkan kontol Dana dalam-dalam ke mulutku dan kuhisap kuat-kuat.

Dana menggeram, ”Lin, aku sudah mau keluaaarrr…”

Segera kulepas kontol itu dan kukocok-kocok di depan wajahku. Tak sampai 1 menit, muncratlah air mani Dana membasahi wajah dan payudaraku. ”Ssshh… Lin… Enaknya…” dia mendesah sambil bersandar di kursi.

Aku yang sudah sangat bergairah, segera berbaring telentang di meja. Kubuka kakiku lebar-lebar hingga Dana bisa melihat memek merahku yang sudah sangat basah. ”Ayo… Dan, jilat!” aku meminta.

Dana pun segera membenamkan kepalanya disana…

Begitulah hubunganku dengan Dana yang begitu panas dan menggairahkan.
Hubungan kami terus berlanjut hingga ke tahap yang serius. Aku yakin Dana adalah laki-laki yang tepat untukku. Dia alim sekaligus nakal. Sementara bagi Dana, aku adalah gadis yang telah berjasa membawanya menuju kedewasaan. Kami saling mengisi dan melengkapi.

***

# Malam Pertama Pengantin Baru

Dua bulan kemudian, kami menikah. Setelah lama cuma petting dan oral sex , inilah saat dimana kami akan melakukan yang sebenarnya. Berbekal pengetahuan seks yang kudapat dari internet, aku siap melayani Dana, suamiku.

Wangi harum melati semerbak ke setiap sudut kamar pengantin kami yang dihias warna dominan merah jambu. Berbalut daster tipis yang juga berwarna pink, aku berbaring di ranjang. Jilbabku sudah kulepas sejak tadi. Dana ada di sisiku. Matanya yang bening menatapku penuh rasa cinta, sementara jemarinya yang halus membelai lembut tanganku yang sedang memeluknya.

Malam ini adalah malam pertama kami sah untuk sekamar dan seranjang. Tidak ada lagi rasa takut atau khawatir dipergoki orang, tidak ada lagi rasa terburu-buru, dan juga tidak ada lagi rasa berdosa seperti yang kami rasakan dan alami selama berpacaran.

Suasana yang romantis, ditambah dengan sejuknya hembusan AC, sungguh membangkitkan nafsu. Dana memelukku dan mengecup keningku, lalu mengajakku berdoa pada Yang Maha Kuasa seperti pesan pak Kyai tadi. ”Andaikan apa yang kami lakukan malam ini menumbuhkan benih dalam rahim, lindungi dan hindarilah dia dari godaan setan yang terkutuk.”

Dari kening, ciuman Dana turun ke alis mataku yang hitam dan lebat, lalu berlanjut ke hidung dan terus hingga sampai ke bibirku. Ciuman kami semakin lama semakin bergelora, dua lidah saling melumat diikuti dengan desahan nafas yang semakin memburu. Tangan Dana yang tadinya memeluk punggungku, mulai menjalar ke depan, perlahan menuju ke gundukan payudaraku yang cukup besar. Dia memujiku karena sudah pintar memilih daster. Baju ini berkancing di depan dan hanya 4 buah, jadi mudah bagi Dana untuk membukanya tanpa harus melihat. Tidak lama kemudian, baju itu pun terkuak, juga kaitan BH-ku yang melingkar di punggung. Kedua bukit kembar ku pun tersembul keluar. Tampak indah menggoda dengan ukurannya yang besar dan bentuknya yang bulat sempurna, lengkap dengan putingnya yang mungil kemerahan.

Sementara Dana mengelus dan memandanginya dengan kagum, aku juga berhasil membuka kancing piyamanya, melepas singlet dan juga celana panjangnya. Hanya tinggal celana dalam masing-masing yang masih memisahkan tubuh telanjang kami berdua.

Kubisikkan kata-kata cinta padanya. Dana tersenyum dan menatapku sambil berkata bahwa dia juga amat mencintaiku. Dia lalu melanjutkan ciumannya ke leherku, turun ke dada, dan dengan amat perlahan, mendaki bukit payudaraku dengan lidahnya. Saat sampai di puncak, Dana menjilat dan mengulumnya dengan penuh nafsu. Diperlakukan seperti itu, putingku yang sudah mengacung keras, makin menegak tak karuan.

”Oughhh.. Arrgghhhhh…” aku jadi mendesah dan meracau tidak jelas. Mataku terpejam, sementara bibirku yang tebal sensual sedikit merekah. Sungguh sangat menggairahkan sekali.

Sambil terus mencucup, tangan Dana mengelus, meremas dan memilin puting di puncak bukit satunya lagi. Dia seperti tidak ingin buru-buru, seperti ingin menikmati detik demi detik yang indah ini secara perlahan. Mulutnya berpindah dari satu sisi susu ke sisi satunya lagi, diselingi dengan ciuman ke bibirku, membuatku makin berkeringat. Aku cuma bisa membalas dengan mengacak-acak rambutnya liar, bahkan kadang-kadang menarik dan menjambaknya, yang penting birahiku terlampiaskan.

Dengan berbaring menyamping berhadapan, Dana melepas celana dalamku. Satu-satunya kain yang masih tersisa. Perlakuan yang sama kulakukan kepadanya, membuat kontolnya yang sudah sedemikian kerasnya mengacung gagah. Dana membelai kakiku sejauh tangannya bisa menjangkau, perlahan naik ke paha, berputar-putar, berpindah dari kiri ke kanan, sambil sesekali seakan tidak sengaja menyentuh gundukan berbulu lebat milikku.

Sementara aku yang juga sudah tidak sabar, segera membelai dan menggenggam kontolnya. Kukocok benda itu, kugerakkan tanganku maju mundur.

”Ahhhssss…” Dana melenguh nikmat. Walaupun hal itu sudah sering dia rasakan dalam kencan-kencan liar kami selama berpacaran, tetapi kali ini rasanya sungguh lain. Pikiran dan konsentrasi kami tidak lagi terpecah. Kami sudah halal untuk melakukannya.

Melalui paha sebelah dalam, perlahan tangan Dana naik ke atas, menuju ke memekku. Begitu tersentuh, aku mendesah semakin keras. Nafasku juga semakin memburu. Perlahan Dana membelai rambut kemaluanku, lalu jari tengahnya mulai menguak ke tengah, membelai dan memilin-milin tonjolan daging sebesar kacang milikku yang sudah sangat licin dan basah.

Tubuhku langsung menggelinjang, pinggulku bergerak ke kiri ke kanan, juga ke atas dan ke bawah. Keringat semakin deras keluar dari tubuhku yang montok.

Di atas, ciuman Dana menjadi semakin ganas. Ia mulai menggigiti lidahku yang masih berada di dalam mulutnya. Sementara tangannya semakin cepat bermain di atas klitorisku, mengelusnya maju-mundur dengan cepat, hingga tak lama tubuhku mengejang dan melengkung, kemudian terhempas keras ke tempat tidur disertai erangan panjang. Orgasme yang pertama telah berhasil ia persembahkan untukku.

Kupeluk dia dengan erat dan berbisik, “Ohh… nikmat sekali. Terima kasih, sayang.”

Dana yang tidak ingin beristirahat lama-lama, segera menindih tubuhku, lalu dengan perlahan menciumi payudaraku, dan terus ke bawah hingga ke perut, ke bawah lagi, dan terus ke bawah, hingga deru nafasku kembali terdengar berisik disertai rintihan panjang begitu lidahnya mulai menguak lubang memekku. Cairan vagina ditambah dengan air liur Dana membuat lubang hangat itu semakin basah.

Dana memainkan klitorisku dengan lidahnya, sambil kedua tangannya meremas-remas pantatku yang padat berisi. Tanganku kembali mengacak-acak rambutnya, sambil sesekali kukuku yang tidak terlalu panjang menancap di bahunya. Ngilu tapi nikmat rasanya. Kepalaku terangkat lalu terbanting kembali ke atas bantal menahan kenikmatan amat sangat yang diberikan oleh Dana. Perutku terlihat naik turun dengan cepat, sementara kedua kakiku menjepitnya dengan kuat.

Tak tahan, kutarik kepalanya, lalu kucium dia dengan gemas. Dana menatap mataku dalam-dalam, meminta ijin dalam hati untuk menunaikan tugasnya sebagai suami. Tanpa kata, aku mengiyakannya. Akhirnya, tiba juga saat itu. Sambil tersenyum manis, kuanggukkan kepalaku.

Dana memberikan kontolnya untuk kukulum sebentar, sekedar untuk membasahinya, sebelum akhirnya dengan perlahan, mengarahkannya menuju liang kewanitaanku. Dia menggosok-gosoknya sedikit untuk menambah bukaan memekku, kemudian dengan amat perlahan, menekan dan mendorong masuk.

Aku langsung merintih keras, kesakitan. Spontan kudorong bahunya, meminta Dana untuk berhenti sebentar. Air mata meleleh di sudut mataku.

Dana yang tidak tega, segera menarik kembali penisnya. Dia memeluk dan menciumiku. Hilang sudah nafsunya saat itu juga.

”Maafkan aku, sayang..” aku berkata penuh sesal.

”Iya, aku mengerti.” Dana melumat bibirku. ”kita coba lagi nanti.”

Setelah beristirahat beberapa lama, Dana mencoba memulainya lagi, dan lagi-lagi gagal. Dia sangat mencintaiku sehingga tidak tega untuk menyakitiku.

Aku sendiri juga sangat ingin melakukannya. Tapi mau bagaimana lagi, rasanya memang sangat-sangat sakit. Jadilah malam itu kami tidur berpelukan dengan tubuh masih telanjang. Aku meminta maaf kepadanya dengan mengoralnya sampai keluar. Tapi Dana kelihatan tidak begitu puas. Dia ingin memecah perawanku. Aku bisa mengerti kegusarannya.

***

Esoknya, kami berdiskusi mengenai perkosaan. Kalau hubungan yang didasari oleh kerelaan dan rasa sayang saja susah, agak tidak masuk di akal bila seorang wanita diperkosa oleh seorang pria tanpa membuat wanita itu tidak sadarkan diri. Bukankah si wanita pasti berontak dengan sekuat tenaga? Apalagi kalau sampai wanita itu menikmati dan sampai orgasme, itu sangat-sangat tidak mungkin.

Jam 10 malam, kami kembali masuk kamar dengan bergandengan mesra, diikuti oleh beberapa pasang mata dan olok-olok saudara-saudara iparku. Tidak ada rasa jengah atau malu, seperti yang kami alami pada waktu mata Receptionist Hotel mengikuti langkah-langkah saat kami pacaran dulu. Olok-olok dan sindiran dari mulut saudara-saudara ipar, kutanggapi dengan senang dan bahagia.

Seperti biasa, setelah saling merayu dan memuji, kami segera melepas pakaian masing-masing. Dengan tubuh sama-sama telanjang, kami naik ke atas tempat tidur dan berpelukan dengan erat. Setelah berciuman dan saling remas beberapa saat, aku pun segera menghisap penis Dana. Kulakukan sampai dia hampir keluar. Sebelum moncrot, Dana meminta untuk berhenti. Sepertinya dia benar-benar berniat akan mangambil perawanku malam ini.

Dana memintaku untuk berbaring telentang di tempat tidur. Dia menarik lututku hingga aku mengangkang. Telungkup tepat di bawahku, muka dan mata Dana persis berada di depan vaginaku. Dia memelototi bagian dalam memekku yang merah basah, sungguh menggairahkan. Dengan dua jari, Dana membuka dan memperhatikan bagian-bagiannya.

”Baru kali ini aku melihat memekmu dengan jelas.” katanya. Aku tahu, meski sudah sering menjilatinya, tapi Dana melakukannya dengan mata tertutup.

”Aku baru tahu kalau klitoris bentuknya tidak bulat, tetapi agak memanjang. Aku bisa mengidentifikasi mana yang disebut Labia Mayor, Labia Minor, Lubang Kemih, Lubang Senggama, dan yang membuatku merasa sangat beruntung, aku bisa melihat apa yang dinamakan Selaput Dara, benda yang berhasil kau jaga utuh selama ini. Jauh dari bayanganku, selaput itu ternyata tidak bening, tetapi berwarna sama dengan lainnya, merah darah. Di tengahnya ada lubang kecil.” Dia menerangkan.

Tidak tahan berlama-lama, Dana segera mulai menciumi memekku. Dia memainkan klitorisku dengan lidahnya yang basah, hingga membuatku kembali mengejang.

”Arghhhhh…” merintih keenakan, kujepitkan kedua kakiku ke kepalanya erat-erat, seakan tidak rela untuk melepaskannya lagi.

Dana terus memilin, menyedot, dan memain-mainkan klitoris kecilku dengan lidah dan mulutku. Dia semakin liar, bahkan aku sampai terduduk menahan kenikmatan yang amat sangat.

Aku lalu menarik pinggulnya, sehingga posisi kami menjadi berbaring menyamping berhadapan, tetapi terbalik. Kepala Dana berada di depan memekku, sementara aku dengan rakusnya telah melahap dan mengulum batang penisnya yang sudah sangat keras dan besar. Oughhh… rasanya sungguh nikmat tiada tara.

Tapi Dana kelihatan kesulitan untuk melakukan oral terhadapku dalam posisi seperti ini. Jadi dia memintaku kembali telentang di tempat tidur. Dana lalu naik ke atas tubuhku, tetap dalam posisi terbalik. Kami pernah beberapa kali melakukan hal yang sama dulu, tetapi rasa yang ditimbulkan jauh berbeda, karena kami sudah suami istri sekarang.

Hampir bobol pertahanan Dana menerima jilatan dan hisapan lidahku yang hangat dan kasar. Apalagi saat kumasukkan kontolnya ke dalam mulutku seperti akan menelannya, kemudian aku bergumam. Getaran pita suaraku seakan menggelitik ujung kemaluannya, membuatnya menggelinjang keras. Bukan main nikmatnya.

Karena hampir tidak tertahankan lagi, Dana segera mengubah posisi. Wajah kami berhadapan. Kembali dia menatap mataku, membisikkan bahwa dia sangat menyayangiku. Dana juga bertanya, apakah kira-kira aku akan tahan kali ini? Kucium bibirnya dengan gemas sebagai jawaban, kuminta dia untuk melakukannya pelan-pelan.

Dana menuntun kontolnya menuju lubang vaginaku. Berdasarkan pengamatannya tadi, Dana tahu dimana kira-kira letak Liang Senggamaku. Dia menciumku sambil menurunkan pinggulnya pelan-pelan.

Aku langsung merintih tertahan, tapi kali ini tanganku tidak lagi mendorong bahunya. Dana mengangkat lagi pinggulnya sedikit, sambil bertanya apakah terasa sangat sakit. Dengan isyarat gelengan kepala, kukatakan bahwa aku juga sangat menginginkannya.

Setelah memintaku untuk menahan sakit sedikit, dengan perlahan tapi pasti, Dana menekan pinggulnya. Dia memasukkan kontolnya sedikit demi sedikit.

Kepalaku terangkat ke atas menahan sakit. Dana segera menghentikan usahanya saat melihatku meringis. Dia menatap mataku lagi, meminta persetujuan.

Meski ada setitik air mata disana, tetapi sambil tersenyum, aku menganggukkan kepala. ”Lakukan… sayang!” bisikku lirih.

Mengangkat pinggulnya sedikit, Dana kemudian menekannya lagi pelan-pelan. Saat aku sudah tidak menolak, dia lalu mendorongnya kuat-kuat.

”Heggkkhhh…” aku mengerang keras sambil menggigit kuat bahunya. Kelak, bekas gigitan itu baru akan hilang setelah beberapa hari.

Akhirnya, setelah melewati perjuangan keras dan menyakitkan, seluruh batang Dana berhasil masuk ke dalam lubang memekku. Dia tampak bangga dan bahagia telah berhasil melakukan tugasnya. Dana menciumi bibirku dengan mesra, dan menyeka butir air mata yang mengalir dari sudut mataku.

Aku membuka mata. Sebagai istri, aku juga bahagia. Di balik rasa sakit yang kualami, aku juga telah berhasil mempersembahkan satu-satunya milikku yang berharga pada suamiku.

Setelah rasa sakitku sedikit mereda, perlahan Dana menarik keluar kontolnya, lalu menekan lagi, ditarik lagi, ditekan lagi, begitu terus berulang-ulang, tapi tetap dalam tempo pelan, takut membuatku kesakitan. Baru setelah memekku bisa menerima kehadiran kontolnya, dia melakukannya dengan sedikit cepat.

Setiap Dana menekan masuk, aku mendesah. Dan kali ini bukan lagi rintihan penuh kesakitan, tapi desisan dari rasa nikmat yang amat sangat yang menyerang memekku saat kontol kaku Dana menggesek cepat permukaannya yang hangat dan lembut. Menimbulkan rasa nikmat tiada tara yang baru kali ini kurasakan. Rasanya lebih nikmat dari sekedar jilat atau petting. Rupanya, beginilah kenikmatan persetubuhan yang sebenarnya. Oughhh… aku menyukainya. Kurasa, aku bisa ketagihan dan tergila-gila dibuatnya.

Butir-butir keringat mulai membasahi tubuh telanjang kami berdua. Nafsu birahi yang telah lama tertahan terpuaskan lepas saat ini. Kepalaku mulai membanting ke kiri dan ke kanan, seiring kontol Dana yang mengocok lubang memekku semakin cepat.

”Oughhhh… Sshhhh…” aku merintih. Kupeluk erat tubuh Dana sambil sesekali kukuku menancap di punggungnya.

Pijitan dan jepitan erat memekku membuat Dana jadi tidak tahan lagi. Sambil menancapkan batang kontolnya dalam-dalam, ia pun menyemburkan spermanya banyak-banyak ke dalam rahimku. Dana kalah kali ini. Dia memeluk dan menciumi wajahku yang basah oleh keringat, sambil berucap terima kasih.

Mataku yang bening indah menatapnya bahagia. Meski tidak sampai orgasme, tapi aku sangat puas bisa mempersembahkan milikku yang paling berharga kepadanya.

Dana menambahkan, ”Aku titip padamu, jaga baik-baik anak kita bila benih itu tumbuh nanti.”

Aku mengangguk mengiyakan. Kami baru sadar bahwa kami lupa berdoa sebelumnya, tapi mudah-mudahan Yang Maha Esa selalu melindungi benih yang akan tumbuh itu.

Seprai merah jambu sekarang bernoda darah. Mungkin karena selaput daraku cukup tebal, noda darahnya cukup banyak, hingga menembus sampai ke kasur. Itu akan menjadi kenang-kenangan kami selamanya.

Malam itu kami hampir tidak tidur. Setelah beristirahat beberapa saat, kami melakukannya lagi, lagi, dan lagi. Entah berapa kali, tapi yang pasti, pada hubungan yang ke dua setelah tertembusnya selaput dara itu, Dana berhasil membawaku orgasme, bahkan lebih dari satu kali. Dia yang sudah kehilangan banyak sperma, menjadi sangat kuat dan tahan lama, hingga akhirnya dia menyerah kalah dan tergeletak dalam kenikmatan dan kelelahan yang amat sangat…

***

Saat ini, kami telah memiliki 3 orang anak yang lucu-lucu. Tapi gairah dan nafsu kami seperti tidak pernah padam. Dalam usia kami yang mendekati 40 tahun, kami masih sanggup melakukannya 2-3 kali seminggu, bahkan tidak jarang, lebih dari satu kali dalam semalam. Nafsu yang didasari oleh cinta, memang tidak pernah padam. Aku sangat mencintai dia, begitupun yang kurasakan dari dia.

END

ANNA, DINI DAN TIARA

Hari ini adalah hari Minggu, tak seperti hari-hari lainnya aku harus bangun pagi, untuk bersiap pergi ke kantor, hari ini aku santai sekali. Sudah pukul 9 pagi aku masih saja bermalas-malasan di kamarku sambil menonton televisi. Acara berita pagi diselingi dengan iklan kemudian acara olahraga menghiasi hari liburku. Aku kemudian pergi kebelakang, karena rasa sesak diperutku menyuruhku untuk segera kebelakang. Setelah itu perasaan lapar mulai menjalar. Aku tak tahu harus sarapan apa, karena biasanya aku sarapan dikantor. Tetapi pagi ini rasanya sangat malas untuk pergi keluar sekedar membeli sarapan pelepas lapar. Aku memutuskan untuk tetap dirumah saja pagi ini. Aku berpikir untuk makan nanti siang saja sekalian. Dan akupun melanjutkan acara menonton televisiku dikamar.

ANNA

Aku terbangun, suara motor tetangga diluar membangunkanku, ternyata aku ketiduran lagi. Aku merasa sangat lelah sekali, karena tadi malam aku tidur agak terlambat. Kemudian aku bangkit dari ranjangku. Kali ini perutku merasa sangat lapar, sepertinya tak dapat ditahan lagi. Aku memutuskan untuk pergi ke mall dekat rumahku. Aku bersiap diri, mandi dan memakai pakaianku. Aku memakai celana jins abu-abu dengan kemeja hitam berlengan pendek. Kemudian aku keluar dan tak lupa menutup dan mengunci pintu rumahku. Aku memutuskan untuk jalan kaki saja, maksudku untuk sekalian olahraga, karena pagi ini aku nyaris tak banyak menggerakkan badanku, dan lagipula jarak antara rumahku dan mall tujuanku tak terlalu jauh, hanya 15 menit berjalan kaki.

ANNA

15 menit kemudian aku sampai di mall, segera mencari-cari tempat makan yang sreg di hati. Aku kemudian masuk ke salah satu restoran langgananku. Kebetulan disana banyak gadis-gadis berjilbab yang cantik dari abg sampai mahasiswa nongkrong disana. Aku memang sangat suka pada gadis berjilbab, apalagi mereka yang berdandan dengan seksi dan pakaian serba ketat. Menurutku mereka lebih feminim, anggun, dan lebih menantang. Aku kemudian duduk, dan memesan kepada pelayan disana
“pesan apa mas?” tanya pelayan kepadaku
“Biasa mbak…” jawabku singkat. Aku memang sudah biasa makan disini. Aku yang bekerja sebagai manager disalah satu perusahaan dikotaku, membuatku mempunyai banyak kenalan, termasuk manager restoran ini. Sambil menunggu pesananku datang aku melihat-lihat gadis yang ada disana. Kemudian tak lama aku melihat 3 orang gadis berjilbab yang sepertinya adalah mahasiswa masuk ke restoran. Kulihat baju mereka bagus dan melekat ketat di badan mereka, membuat kemolekan tubuh mereka terlihat, kulit merekapun bersih dan putih, dan dengan mengenakan jilbab dengan warna yang pas, dan dengan gaya yang anggun dan feminin. Aku terus memandangi mereka, dan sepertinya mereka menyadari kalau aku memperhatikan mereka. Tak lama pesananku datang, dan aku mulai menyantap hidanganku. Sedang lahapnya aku makan, tiba-tiba 3 orang gadis berjilbab yang sedari tadi kuperhatikan datang menghampiriku, dan langsung ikut duduk di mejaku yang memang untuk 4 orang.

DINI

“Boleh duduk disini mas?” sapa salah seorang gadis tadi padaku,
“Oh, silakan dik, mau pesen juga ya, kalo gitu aku panggil ya” aku memanggil pelayan yang tadi untuk segera ke mejaku. “ Nah, silakan pesan adik2”
Mereka kemudian membuka menu, dan memesan. Aku bersikap sopan, tetapi terus mencuri pandang mereka bertiga. Dari dekat mereka memang semakin cantik dan seksi, apalagi bau mereka juga harum. Naluriku sebagai seorang laki-laki mulai berbicara, terbukti dengan mengerasnya penisku.
Setelah selesai memesan kami mulai berbincang,
“oh iya mas, kenalin aku anna, dan ini adalah dini dan tiara” mereka mengenalkan diri dan bersalaman denganku. “Oh ya, aku ronnie” jawabku. Anna duduk didepanku, dini disamping anna dan tiara disampingku.
Kemudian pesanan mereka bertiga datang, mereka mulai menyantap hidangan. Sambil kami terus berbincang.
“Oh ya, anna lihat, mas tadi perhatiin kami bertiga sejak kami masuk tadi”
“oh iya, maaf kalo gitu ya anna, maklum lah laki-laki” jawabku sekenanya karna aku kini salah tingkah didepan 3 gadis cantik.

“Oh nggak apa-apa mas, kita suka kok diperhatiin”jawab tiara, ia kemudian meraba-raba batang pennsku dari luar celana jins ku dengan tangan kirinya yang memang sedari tadi sudah mengeras. “Ohh..” aku mendesah tertahan, saat tiara kemudian meremas penisku. Kemudian ia melakukan tindakan yang lebih jauh lagi, ia melepaskan ritsleting celanaku, dan memelorotkan celana dalamku hingga penisku menyembul dibawah meja. Untung karena taplak mejanya panjang, jadi tak kelihatan oleh orang sebelah.
“ohhh…apa yang kamu lakukan tiara…hnggghkkk…kalllooo keliatan orang kan malu…” Tiara kemudian mengocok batangan penisku dengan tangannya yang terasa sangat lembut itu. Kemudian aku merasakan sesuatu yang basah menyelimuti penisku. Aku tak melihat dini di sebelah anna lagi. Ternyata dini telah berada dibawah meja, kini ia sedang mengoral penisku.

DINI

“ooohhkkkk….enakkkk” desahku tertahan karena takut ketauan. Kemudian terasa kocokan pada penisku semakin cepat, dan aku merasa sesuatu akan meledak pada penisku.
“ooohhkkhhh….aku keluarrrrr” aku mengeluarkan lahar panasku dalam mulut dini yang tengah aktif dibawah sana. Terasa spermaku dihisap sampai habis oleh dini. Kemudian tak lama dini pun muncul dari bawah meja, sambil menyeka bibirnya dengan jilbabnya.
“Kalian gila, gimana kalo ketahuan…??”
“Tapi enak kan mas? Itu hukuman karena mas berani-beraninya menatap kami seperti tadi” jawab anna.
“Tapi ini baru hukuman pertama mas, mas ronnie harus ikut kami” sambung dini.
Kemudian setelah selesai membayar, tiara menarik tanganku dan mengajakku ke parkiran tempan mereka memarkir mobil merah mereka. Mobilnya cukup bagus. Sepertinya mereka ini anak-anak orang kaya. Aku masuk dalam mobil mereka.
Didalam perjalanan, mereka mempreteli pakaianku didalam mobil, hingga aku telanjang bulat, tanganku diikat mereka ke belakang. Mereka memainkan penisku hingga kembali mengeras sempurna. Aku tak bisa membayangkan apa yang bakalan mereka lakukan kepadaku. Aku berharap sesuatu yang enak dan nikmat tentunya.

Beberapa menit kemudian kami sampai di sebuah rumah yang cukup megah, sepertinya adalah rumah anna. Terlihat tak ada siapa-siapa di pekarangan rumah itu. Kemudian dengan keadaan terikat, aku didorong oleh dini dari dalam mobil, sambil memegang tali ikatan tanganku. Kemudian anna menarik penisku dengan tanganku seperti menarik belalai gajah, Agar aku berjalan mengikutinya. Kemudian aku sampai pada sebuah kamar, ikatanku kemudian dibuka. Dan aku didorang oleh anna ke ranjang yang sangat empuk.
“aku duluan ya, kalian kan udah tadi” kata anna kepada dua temannya. Kemudian dengan sangat bernafsu, anna menerkam penisku seperti orang kelaparan, dan segera mengulumnya dengan kuat.

Sementara dini dan tiara bermain dengan bagian atasku. Tiara mengulum bibirku sedangkat dini menghisap-hisap puting ku. Aku benar-benar tak membayangkan kenikmatan yang ku peroleh ini. 3 orang gadis cantik berjilbab, tengah mengeroyokku. Aku benar-benar nafsu dibuatnya. Kemudian dini mengambil beberapa pil dan segelas air, “mas minum ini” katanya padaku. “untuk apa ini?” tanyaku singkat,”udah mas diminum aja” jawabnya. Aku menenggak pil-pil itu sekaligus. Beberapa menit kemudian aku merasa sangat bertenaga. Mungkin itu adalah obat kuat.

Kemudian aku melihat anna telah menurunkan celana dalamnya, dan sepertinya sudah tidak tahan lagi. Kemudian dini dan tiara memegangi kedua tanganku “Kenapa dipegang?” tanyaku,
“mas nggak boleh menyentuh kami, Cuma kami yang boleh menyentuh mas” kata tiara sambil kemudian mengikat kedua tanganku di tepi ranjang. Anna kemudian naik ke ranjang, dan menggangkangi penisku. Dini dan tiara kemudian menggenggam penisku dan mengarahkannya pada vagina anna. Anna kemudian menurunkan pantatnya yang bulat, tanpa kesulitan penisku yang cukup besar yang berukuran 17 cm dan diameter 5 cm masuk seluruhnya dalam vagina anna yang sudah basah kuyup itu. “ooohhh besarr sekali….enakkkk” kemudian tanpa menunggu lagi anna menggenjot penisku dengan kecepatan tinggi. Sampai tubuhnya menghentak-hentak dan jilbabnya berkibar-kibar. “Hohhh…hooo…ooohhggkkk anna….enak…sempithh….” racauku sambil menikmati goyangan dan jepitan serta lumatan liang vagina anna yang sepertinya sangat terawat, karena terlihat sangat bersih dan bibir vaginanya yang berwarna pink. 15 menit anna menggoyang tubuhnya hingga ia orgasme dan tubuhnya mengejang. “OOOHHHGKKK aku nyampeeee….” anna kemudian melemas dan tergeletak di sebelasku yang masih terikat, jepitan vaginanya yang terlepas dari penisku mengeluarkan bunyi ‘plop’. Anehnya aku masih belum merasakan akan orgasme. Kemudian tiara langsung naik keranjang dan mengangkangi penisku, kemudian langsung mengarahkan batangan penisku yang sudah keras seperti baja dan telah memerah ke liang surgawinya. “oooohhhhhgggjkk mass….besarnya, kerasnya….” jepitan vagina tiara terasa lebih sempit dan denyutannya terasa lebih kencang, sehingga penisku serasa di pijat dengan keras oleh liang kenikmatannya itu.

TIARA

Kemudian tanpa menunggu lagi, tiarapun langsung menggenjot penisku dengan kecepatan tinggi. Dia memutar mutar pantatnya sehingga penisku terkocok sempurna dalam vaginanya, akupun merasakan kenikmatan tiada taranya. 15 menit tiara menggenjot penisku kemudian ia mengejang nikmat, mengeluarkan seluruh hasratnya pada penisku,” OAHHHGDDHHHH….enaakkkkkk mass…anumu tebel sekali”. Kemudian tiarapun ambruk dan segera digantikan oleh dini yang melakukan hal sama dengan tiara dan anna tadi. 15 menit dini pun memperoleh orgasmenya atas penisku.

3 gadis cantik itu telah memperoleh kepuasan dari penisku, tetapi aku sedari tadi belum juga orgasme. Aku hanya merasakan kenikmatan-kenikmatan luarbiasa dari jepitan vagina 3 gadis berjilbab itu tanpa pernah mencapai puncaknya. Kemudian mereka bertiga mengelilingi pensku yang masih berdiri tegak, mereka bertiga terlihat kagum dengan benda kejantanan ku itu.
“wah hebat sekali ni, belum keluar-keluar juga, kita apain ya an?” tanya tiara pada anna.
“kita kerjain aja, ntar mani-nya kita ambil ‘n bagi-bagi sama temen-temen”
Lalu merekapun mulai menjilat dan menghisap penisku sehingga aku merasakan kenikmatan tiada taranya. penisku dikerjai 3 orang gadis cantik berjilbab sekaligus.

TIARA

20 menit mereka mengerjai penisku, aku merasakan akan meledakkan orgasmeku. “wah dah kedut-kedut nih, cepet ara” tiara dengan sigap mengambil sebuah botol film dari lemari di sebelah kiri ranjang ranjang. Lalu tiara memasukkan menutup lubang kencingku dengan botol tadi sambil mengocok penisku dengan cepat. “OOOOORRGGKKKK akhuuuu kelluuuaaarhrhhh” ‘cret-cret’ sekitar 10 semprotanku memenuhi botol tadi sampai 3 per empatnya. Cukup banyak spermaku yang keluar. Anehnya penisku tidak lemas setelah mencapai puncak kenikmatan pertama kali. Mereka bertiga lalu, terus menggenjot dan mengerjai penisku hingga 10 buah botol film terisi penuh dengan spermaku. Aku pun lemas dan lelah dibuatnya. Mereka lalu melepaskanku dan mengembalikan pakaianku. “makasih ya mas mani-nya stok kosmetik kita jadi banyak nih, n bisa dijual juga, Hehe” Aku kemudian diantarkan oleh sopir mereka pulang.

Sementara aku berlalu, terlihat mereka mengoleskan spermaku kewajah mereka masing-masing seakan-akan mereka memakai pelembab wajah. Lalu mereka juga meminum spermaku itu sambil melambaikan tangan kepadaku. Wah gila ni cewek-cewek, berjilbab, tetapi suka dengan sperma…tetapi ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan.