AYU

Perkenalkan namaku Muhlis, aku adalah seorang pria yang dari segala sisi yang bisa dilihat sangat pas – pasan. Baik dari segi dompet apalagi tampang. Namun kemampuanku untuk berkomunikasi membuat aku mudah untuk memiliki banyak teman dekat, termasuk teman wanita. Apalagi aku ini orang yang sangat suka bercanda. Katanya, wanita paling suka dengan pria yang suka bercanda. Mungkin itulah banyak wanita yang mau dekat denganku meski dengan kondisiku yang aku jelaskan di atas.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (1) Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (6)

Aku sekarang sedang tinggal di sebuah Kota di pulau jawa. Aku mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studiku di jenjang strata 1. Aku berkesempatan untuk kuliah di salah satu PTN terbesar di negeri ini. Di kota ini aku tinggal di kost, jauh dari pengawasan orang tuaku. Mungkin hal inilah yang menjadi penyebab terjadinya cerita ini. Petualanganku bersama beberapa wanita yang berteman atau berpacaran denganku.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (2)

Pada suatu hari, di akhir semester pertama aku kuliah, aku kedatangan tamu dari kota sebelah. Dia bernama Ayu, dia adalah teman sekelasku waktu SMA dulu, walaupun dulu aku tak terlalu akrab dengannya. Karena pada dasarnya dia sangat pendiam. DIa cantik, kaya, sehingga aku cukup segan padanya. Tapi beberapa bulan yang lalu, di awal dunia perkuliahan, tiba – tiba dia mengirim pesan padaku. Pada saat itu ia meminta tolong aku untuk mengerjakan tugas kuliahnya, karena kebetulan tugas itu memang sesuai dengan bidang yang aku pelajari di universitasku. Dia kuliah di kampus kesehatan di kota sebelah kota dimana aku tinggal. Pada saat itu ia nampak panik, karena tugas itu harus dikumpulkan malam itu juga. Aku ingat, bahkan ia sempat menelponku untuk meminta bantuan. Aku menyanggupinya, karena memang tugas itu tidak terlalu susah, toh aku sedang tidak ada kerja.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (3)

Dalam waktu sejam aku sudah berhasil menyelesaikan tugas tersebut. Aku mengirimkan tugas itu padanya, agar dia bisa mengecek sebelum dikirim. Katanya itu sudah cukup bagus. Ia kembali menelponku untuk mengucapkan terima kasih. Mulai dari situlah komunikasiku dengannya terbangun. Sering berkirim pesan, hingga saling telfon. Hingga kami sepakat untuk bertemu. Awalnya aku mengunjungi kampusnya. Aku bertemu dia disana. Kemudian ia mengajakku ke asramanya. Ya, dia di asrama, sehingga aku tak bisa mengajaknya jalan – jalan karena akan sangat tanggung. Akhirnya kami hanya ngobrol di ruang tamu asramanya. Tapi itu cukup membuat aku dan dia menjadi lebih akrab.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (4)

Kemudian di suatu hari, di akhir semester pertama, dia berencana datang ke kampusku. Katanya ia pengen melihat kampusku. Aku bersedia untuk mengajaknya berkeliling kampusku itu. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk datang di akhir minggu. Ia datang naik bis, aku menjemputnya di halte. Aku menunggu disana, di atas sepeda motorku. Aku melihat beberapa bis datang bergantian. Tapi Ayu tak kunjung muncul di pandanganku. Hingga akhirnya bis keempat datang, dan di halte aku melihat sesosok gadis kecil dan sangat cantik. Bibirnya merah sensual, dengan berbalut baju lengan panjang warna putih dan rok warna hitam. Dikepalanya terlilit jilbab senada dengan warna bajunya. Sangat cantik. Dari dulu aku sangat suka melihat bibirnya. Sangat sensual.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (5)

Dia menengok – nengok mencariku. Saat ia berusaha menelponku, aku sudah tiba dengan motorku di depannya. “silahkan tuan putri”kataku sambil tersenyum padanya. “eh kamu”katanya membalas senyumku dengan senyuman yang sangat manis. Kemudian ia memboncengku. Aku mulai melajukan sepeda motorku. Suasana sedikit canggung, karena walaupun dulu sekelas, baru pertama kalinya aku jalan berdua dengannya seperti ini. Hingga akhirnya aku memecahkan suasana “Mau makan dulu nggak?, aku punya tempat yang harus kamu coba disini”kataku menawarinya. “emmm boleh, aku laper, kamu traktir kan? Hehe” balasnya. Aku tersenyum lalu menjawab “tentu saja, hari ini full service untukmu”. Dia tertawa lalu memukul manja pundakku. Aku tersenyum, lalu mengarahkan motor ke tempat makan yang aku maksud.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (6)

Selesai makan, dia nampak sangat menyukai tempat itu. Selain tempatnya rapid an nyaman, masakannya juga sangat enak katanya. “Sekarang mau kemana?”tanyaku. “terserah kamu, katanya mau ngajak aku keliling kampusmu?” balasnya. “hmmm masih jam 5 sore, akan lebih bagus kalau kita keliling habis magrib nanti”jawabku. “baiklah, lalu kemana?”tanyanya. “ayo ke kosku saja. Kamu harus mandi juga kan?, biar gak bau hehe”ledekku. Dia mencubitku sambil tersenyum manis. Lalu aku mengarahkan motorku ke kosku.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (7)

Habis magrib, aku mulai keliling kampus dengannya. Aku menjelaskan satu per satu gedung yang ada disana. Dia merasa cukup senang, apalagi pemandangan lampu di kampusku cukup menawan di malam hari. “aku lelah, kita istirahat dulu yuk. Kamu pasti pengen foto – foto kan?” tanyaku sambil tersenyum. Dia mengangguk. Aku membelokkan motorku ke tempat yang sangat strategis, tempat itu memnag menjadi spot favorit untuk foto – foto. Biasanya ramai setiap malam, tapi entah kenapa malam itu cuman ada aku dan Ayu disana. Memang kebetulan hari itu mendung cukup tebal menggantung di langit kotaku. Aku mulai menawarinya berfoto. Awalnya dia bergaya sendiri, hingga kemudian dia mengajakku foto bersama. Aku menyanggupinya dengan malu – malu. Hingga tanpa sengaja, ketika berpose foto, pipiku dengan pipinya berdempetan. Aku rasa dia tidak menyadarinya, tapi aku jadi salah tingkah karenanya. “Sudah ah capek foto – foto mulu, sini kamu, ayo ngobrol”katanya menarik tanganku untuk duduk disampingnya.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (8)

Kami ngobrol tentang banyak hal, hingga tanpa aku sadari tanganku sudah menggenggam erat tangannya. Tangan kiriku mulai membelai kepalanya yang bersandar di pundakku. Elusanku turun kepipinya, sangat lembut kulit pipinya itu. “Kamu cantik banget Yu”kataku berbisik. Dia menoleh ke arahku, aku mengecup pipinya. Dia terdiam. Kemudian memejamkan matanya, aku tau yang dia maksud. Aku mendekatkan wajahku, lalu mulai mencium hidungnya. Lalu mulai turun ke bibirnya. Awalnya hanya menempelkan bibirku ke bibirnya saja, karena aku ragu. Tapi kemudian dia menganggukkan kepala, dan menurutku itu pertanda bahwa yang aku lakukan benar. AKu mulai melumat bibirnya yang aku kagumi sejak dulu. “emhh.. emhh.. slurp”suara lidah kami saat mulai bertautan di rongga mulutnya. Dia mendesah desah, menikmati setiap sapuan lidahku. Kemudian dia melepas ciumannya. “Aku ganti posisi, aku mau menghadapmu dulu” katanya lalu bergeser menghadapku. Kemudian dia menyorongkan bibirnya lagi. Aku melumat bibirnya lagi. Aku sangat bernafus, hingga tubuhku seperti mendorong tubuhnya. Dia menjaga tubuhnya dengan meletakkan tangannya ke belakang sebagai penyangga tubuh, aku terus mendekatkan tubuhku. Aku memeluknya, mengelus elus punggungnya. Kakiku sudah mengangkangi kedua kakinya yang terbujur lurus.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (9)

Dalam posisi ini aku merasa sangat bernafsu. Tanganku terus bergerak dipunggungnya sampai akhirnya aku beranikan untuk meraih tangannya, sehingga kini aku menindih tubuhnya yang mungil. Tangannya beralih memeluk leherku, sementara tanganku berpindah kedepan. Aku ingin menyentuh susunya, walaupun aku masih ragu. Aku penasaran, dulu aku lihat dari seragam SMAnya dia memiliki susu yang kecil sesuai dengan ukuran badannya, sehingga aku juga tidak terlalu berminat untuk menjamahnya. Tapi lama kelamaan aku mulai tak bisa menahan laju tanganku, dengan sedikit ragu aku mulai mengelus susunya dari luar baju. Ia kaget, membuka matanya yang sedari tadi tertutup. Aku pun menarik tanganku takut ia marah.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (10)

Ta;pi diluar dugaanku, justru tangannya meraih tanganku untuk menjamah dadanya. Aku mulai meremasnya, dan aku merasa benda yang aku genggam tersebut memiliki ukuran yang cukup besar. Aku cukup kaget dibuatnya. Lalu aku lepas ciumannya. “kenapa?” katanya sedikit kecewa. “Besar sekali, aku kira dulu waktu SMA punyamu tak sebesar ini Yu?” tanyaku sambil meraba dadanya. Wajahnya bersemu merah karena malu.”aku juga tak tahu, tapi kamu suka yang besar kan?” katanya memancing. Aku mengangguk semangat.”yaudah lanjutin, aku masih pengen kamu cium”katanya. “Hemmm ayu, jangan disini, tempat ini sangat terbuka. Kita ke kosku aja”kataku menawari.Dia mengangguk. Kami merapikan pakaian lalu menuju sepeda motor untuk pulang ke kosku. Kali ini dia membonceng dengan tanpa ragu menempelkan dadanya di punggungku.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (11)

Sesampainya di kamar kostku, aku menyuruhnya untuk berganti kaos dulu karena sedari tadi ia memakai kemeja yang tentu saja sangat gerah. Setelah dia berganti pakaian, aku masuk kamar. “Lagi yuk”kataku.”Sini dong”katanya sambil terlentang di Kasur kecilku. Aku segera menyusulnya, menindih tubuhnya lalu menciumi bibirnya. “ahh.. ahh.. ssshhh” desahnya saat aku mulai meremasi susunya. “Aku buka bajumu ya Yu”tanyaku. “jangan muklis, nanti kita kebablasan. Kamu tidak puas pegng dari luar?” tanyanya. Aku bisa mengerti. Walau sedikit kecewa akhirnya aku melanjutkan remasanku. “Aku buka BHku saja dulu. Nanti kamu raba dari dalam kaos. Aku gak mau kamu lihat, aku malu”katanya. Aku setuju, lalu membalikkan badan. Beberapa menit berselang, sebuah BH terlempar kedepanku. Aku membalikkan badanku lalu melihat dadanya. Aku bisa melihat putingnya, karena kebetulan kaos yang ia gunakan cukup tipis. “Tunggu apa muklis?”katanya. Aku menyergapnya, memasukkan tanganku ke dalam kaosnya. Aku memainkan daging kenyal yang cukup mantap ditanganku. Aku memainkan tanganku pada ujung putingnya. Membuat Ayu mendesah desah.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (12)

“ahhh muklisssshhh shhh ohhh geli”desahnya. Aku menciumi pipinya, seluruh wajahnya, juga telinganya yang tertutup jilbab. Aku menyibakkan jilbabnya, lalu mulai membuka cupangan di leher putihnya.”Aku suka muhlis, terussshh”desahnya. Tanpa aku dan dia sadari, kedua tanganku yang bersemangat main di susunya membuat kaosnya tersingkap hingga atas. “Ayu, aku terlanjur melihat dadamu”kataku tersenyum. “kamu jahat nih, curang’katanya cemberut.”Lepas aja ya?”kataku. Dia mengangguk. Lalu dia melepas kaosnya. Dia juga berusaha melepas jilbabnya, tapi aku larang. Aku lebih suka dia menggunakan jilbab. Sekarang dia tak menggunakan kaos, dadanya terpampang jelas di mataku.Aku bengong melihatnya. “Kenapa bengong?”katanya sambil menutupi dadanya dengan kedua tangan. “Aku masih tak menyangka, sekarang bisa sebesar ini” kataku terpana. Tanganku mulai mengalihkan tangannya. Memainkan susunya dengan gemas. Aku mendekatkan bibirku, mulai mengulum putting susunya. “enggghhh geli sayang”katanya menggeliat saat aku hisap putting susunya. Aku memainkan susunya tanpa henti. Hingga tanpa aku sadari, tangannya bergerak ke arah selakanganku. Memegang kontolku dari luar celana. “Aku mau lihat ini boleh?” katanya. “Tentu saja, lepas saja celanaku “kataku sambil berdiri.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (15)

Ia berjongkok dan membuka celana sekaligus celana dalamku. Kontolku langsung menyembul memukul bibirnya. “Besar”katanya kaget. “69 yuk Yu”kataku. “apa itu?” katanya tak mengerti. “Kamu jilati burungku, aku jilati punyamu”jawabku menjelaskan. “Apa gak jijik?”tanyanya ragu. “kita coba aja”kataku. Dia mengangguk. AKu mulai melepas rok panjang beserta cela dalamnya, aku terpana melihat memeknya. Sangat sempit. Aku menciumnya. “auhh geli”katanya. “aku tiduran, kamu naik di atasku, tapi badanmu terbalik. Punyamu tepat di mukaku”kataku memberi penjelasan. Dia mengangguk. Aku mulai menjilati memeknya. Sangat aneh rasanya, tapi aku suka. “enggghhh ahhh terus sayang”katanya. Aku berusaha mencari klitorisnya dengan lidahku, tanganku meremasi pantatnya. “Mukhlis.,,, nikmat ahhh” desahnya lagi saat aku menemukan klitorisnya. “Ayu, kamu juga mainin burungku dong biar aku juga enak” kataku protes. Dia menggenggam burungku penuh ragu, dia mencium kepala penisku. Kemudian menjilatnya. “emuuut sayang”kataku tak tahan lagi. Dia membuka mulutnya lalu memasukkan kontolku dan mulai mengulumnya. Aku sangat menikmati karena ini pengalaman pertamaku. 15 menit lamanya kami saling menjilat dengan posisi itu.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (13)

“Muklis, aku mau keluarrr ahhhh ahhh”katanya berteriak. “Aku juga sayang, hisap terus”kataku. Beberapa detik kemudian, “ahhhhh muklisshhhh ahhhh geli”katanya dan disusul cairan yang keluar dari memeknya. Sementara kontolku belum terpuaskan oleh lidahnya. “Ayu aku belum keluar”kataku padanya. “baiklah, lakukan sesukamu, asal jangan kamu masukin. Aku masih perawan”katanya. Aku kemudian membuka selakangannya. “jangan masukin muklis, pliss”katanya mengiba. “aku gesek gesek aja sayang sampai keluar”kataku, aku mulai menggesek kontolku yang tegang ke memeknya. Sambil mulutku memainkan payudaranya. “ahhh… shhh,, ahh ohh”hanya itu yang terdengar dari mulutku. Aku tak tahan lagi, aku ingin memasukkannya tapi masih ragu. Tapi nafsuku benar – benar sudah sangat tinggi. Kepala kontolku mulai menyeruak. Dia terbelalak. Aku memandang matanya penuh ketenangan. Untuk mendapatkan kepercayaannya. AKhirnya ia mengangguk, aku tahu dia mulai terpancing birahi.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (14)

AKu mulai memasukkan kontolku. Sangat sulit karena memeknya sangatlah sempit. “pelan sayang,, perihh,, uhh”katanya. AKu memaju mundurkan kontolku. Hingga akhirnya aku merasa ada yang menahan. Aku yakin itu selaput daranya. Aku memaksanya masuk, dengan satu hentakan keras. “ahhh sakittt ahhh….”katanya menahan perih. AKu mendiamkan kontolku didalam memeknya. AKu melihat nafasnya mulai ngos – ngosan. Kemudian aku menindihnya, memeluknya dan menciumi wajahnya agar dia tenang. Tanganku bermain di putting susunya yang mungil. Aku mulai mengayun pinggulku. “ahhh,, terus,, ahh”desahnya di telingaku. “ahhh ayuu… nikmat banget… ahh..” desahku menahan nikmat. “Muklis, burungmu mentok ohh uhh” sahutnya. “Ayu, ini pengalaman pertamaku. Dan aku beruntung mendapatkan pengalaman seks pertama dengan kamu. Cantik, badan kamu bagus” aku memujinya sambil terus memainkan pinggulku. Kakinya mengait di punggungku, tangannya merangkul leherku, sementara bibirku terus ia lumat. Bibirku berpindah ke puttingnya. Sangat romantic, percintaan di kamar kost ini.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (17)

Desahan kami bersahutan, tapi aku sangat menyukai suara desahan ayu. Sangat sensual. “ahhh muhlis, hampir sampai,,, goyang yang kenceng sayang”katanya sambil mencakar punggungku. Ia menggoyangkan pinggulnya mengimbangi goyanganku. “ahhh muklis aku keluaarrr.. ahhh ahhh”katanya disusul orgasme yang sangat dasyat. Aku menghentikan goyanganku memberi ia kesempatan bernafas. “mau lagi?” tanyanya. “tentu, aku belum keluar. Balikkan badanmu sayang, nungging lah”kataku memberi aba aba. Dia menuruti, ia menunggingkan badannya.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (19)

Aku mengambil posisi, merabu memeknya lalu menancapkan kontolku disana. “ahh muklis ini nikmat sekali”katanya sambil meraih tanganku untuk memainkan payudaranya yang bergelantungan. Tentu saja aku sangat menyukainya. Aku memompanya dengan kencang. Sampai akhirnya aku tak tahan lagi, “aku akan keluar ayu”kataku. “Cabut sayang, jangan didalem”katanya. “ahhh aku terus mengocok kontolku sampai akhirnya aku mencabutnya dan crot crot crot, spermaku melebur ke punggungnya. Aku tersungkur menindihnya dari belakang. Tanganku masih memainkan puttingnya. “nikmat sekali muklis”katanya. “Tubuhmu sempurna Yu”kataku membalasnya.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (18)

Kami beristirahat setelah pertempuran itu, walaupun semalaman itu aku terus bermain dengan tubuhnya. Aku mengajarinya berbagai macam gaya seks dan dia sangat menyukainya. Hingga kami berdua tertidur di kamar kostku.

Pagi harinya aku mendengar suara sesenggukan, aku melihat ayu menangis. “kamu menyesal?” tanyaku. “sedikit. Tapi aku juga menikmatinya. Dan ini sudah terlanjur. Kamu sangat pandai membuatku senang Muklis. Termasuk dengan kejantananmu”jawabnya. “lalu bagaimana?” kataku bingung harus berkata apa. “tidak usah kau fikirkan, ini salah kita berdua. Akupun sangat menikmatinya semalam. Sekarang antarkan aku ke kotaku, aku masih ingin memelukmu walau di motor. Nanti aku akan sering kesini lagi. Kita main lagi. Katanya tersenyum. Aku membalas senyumnya.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (20)

 Akhirnya aku mengantarkannya ke asrama, dan dia memelukku di sepanjang perjalanan di atas motorku. Dan hari hari setelahnya dia lebih sering menghubungiku. Tentu saja, sesuai janjinya ia akan mengunjungiku lagi untuk bermain denganku lagi

ZURAIDA AND FRIENDS PART 6

“Wooyy,,, Ga,,, tu bini orang mau diculik kemana ,” teriak Adit, yang sedang duduk santai di gazebo bersama Bu Sofie dan Aida.

Arga menoleh kesumber suara, lalu melambaikan tangannya sambil tertawa. Disampingnya berjalan Zuraida yang terlihat begitu feminim, jilbab hijau muda, dipadu dengan kaos lengan panjang dengan warna senada, sementara rok hitam panjang yang menutup hingga kemata kaki melekat cukup ketat, membungkus kaki jenjang yang berujung pada paha dan pinggul yang aduhai.

yessy ecii jilbab merangsang (1)

“Memangnya kau mau mengajak ku kemana?,,,”

“Ngga ada tujuan pasti, cuma ingin jalan-jalan bersamamu,,, tenang aja, kan tadi udah izin ama Dako,, kamu ngga capek kan?,,,” Arga balik bertanya sambil memandangi wajah Zuraida yang tampak tersenyum malu-malu layaknya gadis SMA yang pertama kali diajak kencan.

“Capek sih,, tapi ngga apa-apa, aku juga ingin jalan-jalan,,” Bibir tipis Zuraida yang bergerak menjawab pertanyaan, tak lepas dari pandangan Arga.

“Kamu cantik banget,,, lebih cantik dibanding saat kuliah dulu, kau yang sekarang terlihat lebih matang sebagai seorang wanita,,,”

“Kalo cantik kan emang dari dulu, hehehee,,, kalo matang,,, emmhh,, mungkin proses hidup,,,” Zuraida yang berjalan sambil melipat tangan didepan dada, segera menurunkan tangannya, saat melihat mata Arga yang memandangi payudaranya yang membusung.

“Mateng banget,,,hehehee,,”

“Iiihh,,, dasar cowok mesum, pikirannya ngga pernah jauh dari situ,,,hahahaahaa,,,” Zuraida tertawa sambil menggelng-gelengkan kepala.

“Ya maklumlah,, aku masih normal,, Aki-aki aja banyak yang masih doyan ama begituan,,,”

Zuraida menyambut tangan Arga yang perlahan menggamit jemari lentiknya. Berjalan bergandengan menyusuri bibir pantai. Sesekali kaki mereka disapa oleh ombak yang datang menghampiri.

“Hahaha,,,, emang bisa apa kalo udah jadi aki-aki,,,”

yessy ecii jilbab merangsang (2)

“Lhoo,, jangan salah,,, seorang cowok, selama tangannya masih bisa mengangkat ember penuh air, ya hasrat dan pikirannya ga bisa jauh ama yang begituan,, apalagi kalo ceweknya cantik seperti kamu,,,”

“Hahahahaa,,, macam-macam ajaa,,,”

* * *
“Iiiihhh,,, duduknya geseran kesana dikit dong,,,” keluh Sintya sambil mendorong tubuh Munaf.

“Geser kemana lagi,, emang tempat nya sempit gini?,,” jawab Munaf, sambil menarik tubuhnya kesamping, bersandar pada pintu mobil pick up, sementara Mang Oyik hanya bisa tertawa melihat tingkah gadis disampingnya.

Sintya merengut, bibirnya manyun, wanita yang tidak terbiasa dengan angkutan darurat itu terlihat begitu gelisah, apalagi tatapan mata Mang Oyik yang berulangkali menyatroni pahanya yang terbuka.

“Ngapain sih Pak Prabu pake suruh aku ikut segala,” sungutnya, tangannya berusaha menarik roknya lebih kebawah, berharap bisa lebih menutupi pahanya yang mulus.

yessy ecii jilbab merangsang (3)

Munaf berusaha menahan tawa, wajahnya dipalingkan kearah jendela. Yaa,,, Munaflah dalang dari kesialan Sintya yang siang itu diminta Pak Prabu untuk menemani Munaf dan Mang Oyik ke pasar, dekat kantor kecamatan.

Sebenarnya pemandangan hamparan padi yang menghijau disepanjang jalan yang mereka lewati cukup menarik bagi orang-orang perkotaan seperti mereka, khususnya bagi Sintya. Tapi jangankan menikmati pemandangan, untuk duduk dengan tenang saja gadis itu terlihat kerepotan.

Pundak Munaf yang berada didepannya, berkali-kali mengambil kesempatan dengan menggesek-gesek bongkahan payudara Sintya. Sementara tangan Mang Oyik begitu terampil memainkan jari-jarinya saat memindah persneling yang berada tepat disamping Paha wanita itu.

“Pak,,, bapak mundur kebelakang dikit,,” pinta Sintya. Lalu memajukan badannya kedepan, menurutnya posisi ini mungkin lebih baik untuk tempat sesempit itu.

Tapi, Munaf yang menarik lengannya kebelakang, dengan iseng justru meletakkan telapak tangannya dipundak Sintya.

“Iiiihhh,,, bapak ini, tangannya bisa nyamper di jok kan?,,,”

“Disini?,,,” jawab Munaf seraya menurunkan tangan kepantat Sintya.

“Keatas sanderan Joooook,,,,” suara Sintya meninggi, tak mampu lagi menahan emosinya.

yessy ecii jilbab merangsang (4)

“Hahahaa,,,, ihh,,, galak banget sih,,, padahal tadi bapak lihat ikhlas banget waktu dimasukin itunya sama si Adit,” ucap Munaf sambil tertawa.

“Yaaa,,, terserah saya dong,,, lagian itukan kondisi yang memaksa,,,” Sintya mencoba berkelit.

“Sama dong dengan sekarang,,, kondisinya maksa banget nih Sint,,,”

“Berani megang,,, saya tonjok lho Pak,,,”

“Hahahaahaa,,, iya Nooon,,, iyaaa,,,”

“Dah nyampe Pak?,,, tu mini marketnya,,,” seru Mang Oyik, memotong tawa Munaf, sekaligus memecah tensi Sintya yang sedang memuncak.

Munaf keluar, menuju mini market, tapi berbalik lagi kearah pick up. “Mang,,, mamang aja deh yang beli,, Ni duitnya Mang,,, Dji Sam Soe, dua selop,,,”

“Siap Den,,,” jawab Mang Oyik, lalu bergegas menuju mini market yang merupakan satu-satunya ada di dikecamatan pesisir pantai itu.

“Tunggu,,,, tunggu,,, Pak Munaf kesini cuma buat beli rokok doang?,,,”

Munaf tidak menjawab, tapi tertawa lebar, tak lama tawa itu berubah menjadi senyum kecut saat melihat wajah Sintya yang sekuat tenaga menahan emosi..

yessy ecii jilbab merangsang (5)

“Gilaaa,,, ini benar-benar gilaa,,, kalian emang kelewatan,,,” wajah sintya tertunduk, menekuk kepalanya dipintu pick up sambil meratapi nasib sialnya.

Tapi tadi si Dako juga nitip kondom kan?,,,” Munaf mencoba mengingatkan Sintya tentang pesanan rekan kerja nya itu.

“Ohh,, iyaa,, ya udah,,, temenin kedalam yuk pak,,,” Sintya melangkah gontai, tubuhnya sebenarnya sudah cukup lelah setelah permainan game yang menguras banyak stamina.

Tak berapa lama, ketiga orang itu keluar dari supermarket.

“Mang,,, pulangnya biar aku yang nyetir ya,,,”

Sintya menghela nafas, saat mendengar Munaf meminta Mang Oyik untuk bertukar tempat duduk. Bersiap untuk menghadapi kejahilan apaalagi yang akan diterimanya.

* * *

Sementara itu, di bagian belakang cottage, tepatnya dikamar Mang Oyik. Suara rintihan tertahan terdengar dari bibir seorang wanita, tangannya berpegangan dipinggiran meja dengan gemetar, mencoba menikmati permainan lidah seorang lelaki yang tampak begitu menikmati liang di selangkangannya.

yessy ecii jilbab merangsang (5)

“Ooowwwhhhsss,, Yaaa,, disituuu,,, jilatin yaaang lembut yaaa,, ”
perintahnya pada seorang lelaki yang tertawa-tawa dengan lidah terjulur menusuk kecelah vagina yang sempit.

Tanpa menunggu persetujuan, wanita berparas cantik itu dengan liar menggasak mulut dan wajah lelaki yang begitu pasrah melayani segala permintaan, dengan bibir vaginanya yang sudah sangat basah.

Wajah cantiknya semakin terlihat bergairah saat menyaksikan wajah seseorang yang tampak bersemangat menyeruput setiap tetes cairan pelumas yang merembes dicelah alat senggamanya.

Sesekali ujung hidung si lelaki menyentuh pintu anusnya, membuat tubuh wanita itu semakin menggelinjang.

“Ooowwwhhh,,, jilat yang belakang beraaaniii ngga,,,?,,,” Mulutnya memohon, ingin mencoba sensasi yang baru.

Wanita itu tak lain adalah Aryanti, teller bank cantik dengan tubuh sempurna, yang sering diidamkan para wanita. Tengah asik mengangkangi wajah Kontet.

Yaa,,, siang itu, disaat yang lain tengah sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, Aryanti dan Andini justru terjebak pada situasi birahi yang liar. Awalnya kedua wanita cantik itu pergi kedapur untuk meminjam pisau, tapi disana mereka justru mendapati Lik Marni yang bersimbah keringat, tubuhnya terlihat bergerak lincah melayani dua pria yang menggasak kedua lubangnya.

Keduanya sangat kaget, bukan hanya karena pertarungan 2 lawan 1 saja, tapi juga kemampuan Lik Marni mengimbangi tusukan dua bilah batang kemaluan yang menggasak kedua lubang diselangkangannya.

“Pak Prabu,, sama Dako kan itu?,,,” tanya Andini berusaha menegaskan apa yang dilihatnya.

“Iya,,, asik banget kayanya,,, hebat juga Lik Marni, bisa ngimbangin mereka,,,” jawab Aryanti, teringat aksinya yang cukup kewalahan saat meladeni nafsu liar Pak Prabu dan Dako. “Balik aja yuk,,,” sambung Aryanti, menarik tangan Andini.

Saat berbalik, mereka dikagetkan dengan kehadiran Kontet dari arah belakang. Pemuda bertubuh besar dengan perut agak buncit itu memang sering hilir mudik di cottage Mang Oyik.

“Ada apa Bu? Mencari Mang Oyik?,, maaf,, kalo ga salah tadi saya liat si mamang naik pick up kekecamatan,,, kalo Lik Marni mungkin ada dikamarnya,” ucap Kontet, berusaha tersenyum seramah mungkin.

“Kami cuma mau pinjam pisau pak,,,” ucap Aryanti berusaha menyembunyikan kekagetannya.

“Owwhhh,,, ada tu bu, ambil aja didalam,,, biasa sih Lik Marni naruh pisau diatas lemari.”

“Eehh iya,,,, Kalo ga salah namamu Mang kontet kan?,,,,” tanya Aryanti, berusaha menguasai situasi., dan segera masuk kedalam mencari-cari benda yang dimaksud.

Kontet tersenyum, saat mengikuti Aryanti kedalam dapur, melalui kaca, diruang sebelah tampak istri Mang Oyik tengah asik melayani dua orang lelaki, pikirannya segera berasumsi bahwa kedua wanita itu baru saja mengintip.

yessy ecii jilbab merangsang (6)

Wajah Kontet tersenyum nakal kearah Andini yang menunggu didepan pintu dapur, yang memang berdampingan dengan kamar Mang Oyik, membuat hati wanita itu bergidik. Lalu berpaling menatap tubuh Aryanti dengan penuh nafsu.

“Mana Mang? Pisaunya ngga ada?,,,”

Andini tau, seperti dirinya, mata Aryanti juga tidak fokus mencari pisau, tapi lebih tertarik menyaksikan live show Lik Marni dari balik kaca satu arah yang semakin panas. Namun kehadiran mereka tidak disadari oleh Lik Marni yang kini asik menduduki penis Dako, pantat besarnya bergerak turun naik dengan cepat, melumat batang Dako tanpa masalah berarti.

“Pisaunya disini Bu,,,”

“Aakkhhh,,, Mamang, ngapain disituuu,,,” bukan hanya Aryanti, Andini pun terkaget saat melihat Kontet berjongkok dibelakang Aryanti, wajahnya tepat menghadap pantat montok Aryanti, sementara tangannya berusaha menjangkau pisau yang ada dirak bawah, melalui kedua kaki jenjang Aryanti.

“Buu,,, kenalaaan dikit boleeehkaaan?,,, sayaaa ngga tahan ngeliatnya buu,,,” ucap Kontet, lalu membenamkan wajahnya kesela-sela pantat yang masih dibalut rok span longgar.

“Eeehh,, si Mamang,,, main sosor aja, bahaya kalo kenalan dengan punya sayaaa,, bikin ketagihan lhooo,,,” Aryanti semakin kaget dengan kenekatan Kontet, tapi melihat ulah lelaki yang terlihat seperti kerbau yang kelaparan membuat bibirnya tertawa, niat usilnya muncul seketika.

yessy ecii jilbab merangsang (7)

“Din,,, tunggu bentar yaaa,,, ada kebo yang kelaparan,, hiihihi,,,” Aryanti mengedipkan matanya kepada Andini yang bisa maklum dengan ulah usil Aryanti yang sering kumat, tapi cara menggoda Aryanti, menurut Andini yang masih hijau itu sedikit kelewatan.

Aryanti mencoba membungkuk dan semakin menunggingkan pantatnya, membiarkan lelaki dengan wajah amburadul itu menciumi pantatnya, sambil tertawa.

Berkali-kali Kontet menggigit lembut, dan berkali-kali pula berusaha membenamkan wajah nya lebih dalam diantara belahan pantat yang tertutup kain, hingga hidung nya menggelitik anus Aryanti.

“Buu,,, buka yaaa,,,,” Kontet memohon sambil mengusap-usapkan wajahnya di bongkahan pantat.

“Hhhmmm,,, boleh ngga ya?,,, Din,,, boleh ngga nih?,,” Aryanti menatap wajah Kontet yang begitu berhasrat pada bongkahan daging miliknya, bola matanya berputar genit keatas menatap langit-langit plafon, lalu berbalik menatap Andini yang bersandar didinding, menatap ulah nakal Aryanti. Mengangkat kedua pundaknya mengembalikan pertanyaan.

“Kasih aja dikit, tapi awas kebablasan lhoo mba,,,” celetuk Andini tiba-tiba, gadis itu tau, meski dilarang pun Aryanti akan tetap menggoda Kontet dengan tubuh indahnya.

“Tuhh,,, dibolehin koq ama teman ku,,,” Kontet nyengir lebar, “eittss,,, tapi tangannya ngga boleh ikutan lhooo,,,” serunya, ketika tangan besar berbulu ingin menyibak rok nya.

Seakan takut kehilangan kesempatan, tanpa fikir panjang Kontet menyelusupkan kepala kedalam rok Aryanti. “Iiihh,,, Mamaaang, pelan-pelan atuuuh, nafsu banget sih,,,hihihii,,, Aawww,,,” wanita itu hampir terjengkang kedepan, ketika kepala Kontet menyundul pantatnya, bibir tipisnya tertawa melihat ulah si penjaga cottage sebelah.

Tapi tawanya terhenti seketika, saat wajah kasar yang penuh bopeng mengusap belahan kulit mulusnya. Hidungnya menghirup dalam, coba mengenali aroma dari selangkangan wanita yang begitu menggoda nafsunya.

“Ooowwwhhhh,,,,” Aryanti melenguh lembut, mencoba membuka selangkangannya semakin lebar. Jarinya mencengkaram tepian meja dengan kuat.

“Mba Yanti,,,,” Andini coba mengingatkan, baginya apa yang dilakukan Aryanti sudah terlalu jauh.

Aryanti menoleh, lalu tersenyum, ibu jari dan telunjuknya membentuk huruf O, sebagai tanda Ok, bahwa dirinya masih bisa mengontrol permainan yang disuguhkannya kepada Kontet.

yessy ecii jilbab merangsang (8)

Meski bibirnya masih bisa dipaksakan untuk tersenyum, namun raut wajahnya tak bisa menyembunyikan mimik birahi yang dirasakan oleh tubuhnya. Sesekali mulutnya terbuka, melepaskan lenguhan tanpa suara.

Sementara dibawah sana, diantara kedua paha nya lidah Kontet berusaha menjangkau vagina Aryanti yang terbalut kain tipis.

Kepala Andini menggeleng pelan, kembali mengingatkan Aryanti, saat wanita itu mengangkat paha kanannya dengan perlahan, wajahnya memelas, memohon sedikit pengertian dari gadis itu.

Kini Andini dapat melihat aktifitas Kontet, wajah lelaki penuh bopeng itu tenggelam dibelahan pantat Aryanti, bergerak-gerak keatas kebawah seiring sapuan lidahnya divagina Aryanti.

Tanpa sadar Andini menyilangkan kedua kakinya, nafasnya ikut memburu, tangannya yang bersedekap didepan dada mulai gelisah.

“Maaangss,,, panas banget sih lidahnyaaa,,,eemmmhhh,,” suara Aryanti terdengar lirih. Sesekali menggigit bibirnya saat lidah Kontet berusaha menyingkap sisi kain yang menutupi belahan vaginanya.

Kini Andini mulai cemas, celana dalam tipis yang dikenakan Aryanti seakan tak berdaya melindungi kemaluan wanita itu. Andini bergerak reflek, menggeser tubuhnya, matanya berusaha mengawasi usaha lidah Kontet yang mencoba menyingkap kain tipis yang sudah sangat basah..

yessy ecii jilbab merangsang (9)

Aryanti pun tidak berdiam diri, pahanya semakin membuka, seakan memberi dukungan, tubuhnya semakin membungkuk, pantatnya bergerak saat lidah Kontet sesaat berhasil mengait tepian kain dan berusaha menyibaknya, tapi kain itu terlalu ketat membungkus selangkangan montok Aryanti.

“Ayooo Maaang,,, kamu pasti bisaaa,,,,” ucapnya , namun karet celana nya masih terlalu tangguh untuk lidah Kontet. Bukan hanya Aryanti yang dag dig dug melihat usaha Kontet, karena Andini pun mulai belingsatan, dirasakannya lipatan bibir kemaluannya mulai terasa gatal, seakan ikut merasakan geliat lidah Kontet di selangkangan Aryanti.

“ Mba Yaaant,,, jangan mbaa,,” seru Andini pelan tapi tegas,, matanya melotot memberi peringatan saat tangan Aryanti terhulur turun menjangkau sisi celana dalam yang menutupi bagian intimnya.

“Jangan lapor Mas Arga yaa,,, cuma main-main aja koq,,,, ga pake penetrasi,,,,” Aryanti memelas, meminta persetujuan Andini atas ulah nakalnya.

Kini berbalik Andini yang bingung,, bingung harus mengizinkan atau tidak, sementara nafsunyanya juga tengah memburu, ingin melihat sejauh mana kedua kedua anak manusia itu berulah.

Akhirnya kepala Andini mengangguk pelan, disambut gerak cepat Aryanti, namun tangannya bukan menyibak sisi celana dalam, tapi justru menarik turun seluruh kain segituga itu.

Kontet yang terus asik dengan selangkangan milik Aryanti, tidak menggubris interaksi kedua wanita itu, seketika terkaget saat disodori bongkahan daging putih dan mulus.

Hidung lelaki itu bergerak maju, menoel pantat Aryanti dengan gemas, dengan sangat perlahan lidahnya yang terjulur menyapu lembut dari bagian paha yang mulus, terus menyusur menuju bongkahan pantat.

Nafas Andini terasa begitu berat melihat aksi kontet yang mungkin bagi sebagian orang menjijikkan, kini kedua bongkahan pantat sahabatnya itu terlihat basah, mengkilat oleh air liur Kontet.

Sementara Aryanti hanya bisa mendesah menikmati servis mandi kucing ala lidah Kontet. “Lanjutin yang di tengah Maangss,,,” Aryanti membungkuk, mengitip dari sela kedua pahanya.

Pandangan kedua nya bertemu, terlihat jelas bagaimana bernafsunya pemuda bertubuh tambun itu pada lubang vagina basah dipenuhi rambut kemaluan, yang memisahkan wajahnya dan Wajah Kontet.

yessy ecii jilbab merangsang (10)

Ketika Kontet kembali menjulurkan lidahnya yang panjang, Aryanti membentang pahanya semakin lebar, menunggu sapuan lidah Kontet yang mencoba menjangkau klirotisnya.

“Oooowwhhh,,,, teruuuuussss,,,, teruuuussssss,,,” Bibir mungil wanita itu terpekik tertahan, menggelinjang menahan geli saat lidah yang hangat memberikan sapuan panjang dari gerbang kemaluan hingga kelubang anusnya.

“Gilaaaa,,,, gilaaaa bangeeeet,,,, ini benar-benar nikmat Din,, Oooowwhh,,,” rintih Aryanti dengan mata setengah terpejam, menikmati ulah Kontet yang melakukan sapuan panjang berulang-ulang.

Bukan hanya tubuh Aryanti yang dibasahi oleh keringat, karena Andini yang berdiri terpaku pun juga bersimbah keringat, wanita yang hanya pernah melihat adegan itu di blue film, untuk pertama kalinya menyaksikan lidah seorang lelaki menyapu lorong anus seorang wanita.

Jepitan paha Andini semakin kuat. Nafasnya memburu, ingin sekali tangannya menggaruk lorong vaginanya yang terasa begitu gatal.

“Mangsss,,, masukin lidahnya kebelakang yaaa,,, masukin ke anus sayaaa,,,” rintih Aryanti, kedua tangannya berusaha membuka bongkahan pantat, memamerkan pintu Anus yang masih tertutup rapat.

Sesaat Kontet meneguk liurnya, memandang pintu anal yang mengerucut imut tepat didepan matanya.

“Ooowwgghh,,, Oooowwwhhhgg,,, Aaakkhhh,,,, panasss bangeeeet lidah mu Maaang,,, Oooowwhhh,,,,” Aryanti melenguh, lalu merintih tertahan saat lidah yang kasar perlahan menguak pintu belakangnya.

Tangan kanannya bepindah, berusaha menjambak rambut Kontet yang cepak, terengah-engah membantu Kontet menikmati tubuh bagian belakangnya. “Teruss Mangss,,, mainin lidahnya didalaaam sanaaa,,, terussshhh Owwhh,,,”

“Diiin,,, enak banget, beneraaaan dimasukiiiin,,, ooqqhhhh,,,” tubuh Aryanti terlonjak-lonjak kegelian saat lidah panas Mang Oyik menyelusup kedalam lorong analnya.

yessy ecii jilbab merangsang (11)

Sementara wajah Andini tampak mengernyit jijik. Tapi saat matanya menatap Aryanti yang tampak menggeliat geli berselubung kenikmatan, terbayang sensasi yang tengah dinikmati, membayangkan lorong sempit itu menerima sapuan panas lidah seorang lelaki yang begitu berhasrat pada wanita secantik mereka.

“Seru banget ya Non?,,, pasti nikmat banget tuh,,,”

Tiba-tiba terdengar suara berat tepat disamping Andini, dengan cepat gadis itu menoleh. “Mang Oyiik,,, ngapain Mamang disini,,,” tanya nya dengan panik., tak menyangka akan kehadiran Mang Oyik yang baru datang mengantar Munaf dan Sintya.

“Maaf Non,,,, ini kan memang tempat kerja saya,,,” jawab Mang Oyik berusaha sopan, tapi matanya liar memandang dada Andini yang bergerak naik turun, akibat nafas yang terasa berat. Meski tertutup kaos orange, pesonanya masih dapat membuat batang Mang Oyik siaga 1.

“Oooaaagghh,,, eemmmgghhhhh,,, ga kuaaaat,,, Ooowwhh,,,” desahan Aryanti menyadarkan lamunan Mang Oyik.

“Pasti gurih banget tu lubang,,,sluurrpp,,, beruntung banget si Kontet” ucap Mang Oyik, ikut menyandarkan tubuhnya didinding, tepat disamping Andini.

“Hehehee,,, pengen juga ya Mang?,,,” tanya Andini sambil tertawa., melihat ulah Mang Oyik yang menyapu bibir tebalnya denga lidah.

“Non, mau ngasih?,,,” tanya Mang Oyik cepat menoleh, penuh harap.

“Eeettss,,, siapa bilang saya mau ngasih,,,” Andini reflek menutupi payudara dan selangkangannya dengan tangan, menyesal karena menggoda Mang Oyik. “Sono nohh,, minta ama tante cantik, kalo beruntung pasti dikasih juga koq,,,”

“Eeehhh,,, adaaa Mang Oyikk yaa,,,” Aryanti menoleh tersipu malu, berusaha mendorong kepala Kontet lalu berbalik sambil merapikan rok nya.

“Santai aja Bu,,, kita disini emang buat mbantu-bantu tamu koq,,, tu istri saya aja sampe ngos-ngosan mbantuin Pak Prabu dan Pak Dako,”

Serentak Andini dan Aryanti menoleh kearah kaca yang menjadi perantara pandangan antara dapur dan kamar Mang Oyik. Tampak tubuh Lik Marni yang sedang menungging bermandikan keringat, sementara Pak Prabu tak bosan-bosan menikmati pintu belakang wanita bertubuh montok itu. Dari arah depan Dako terlihat begitu menikmati servis lidah Lik Marni yang begitu memanjakan batangnya.

“Oooowwhhh,,, Liiik,,, aku mo ngecrot liiik,, ngecrooot,,,,”

Bukannya menghindar Lik Marni justru semakin mempercepat gerakan mulutnya, dan beberapa detik selanjutnya mata wanita itu melotot, sperma Dako menyemprot kuat, tapi wanita itu berusaha menjaga batang Dako tetap berada dimulutnya.

“Ooowwwhhhh,,, Liiik,,, nikmaaaat bangeeeet,,, ooowwwgghh,,,” Dako menjambak rambut Lik Marni, sesekali memaju mundurkan pantatnya layaknya tengah menyetubuhi mulut wanita itu.

“Tukeran dong Ko,, kayaknya enak banget nyemprot disitu,,,” Pak Prabu melepas batangnya, berpindah kebagian depan. Dako hanya terkekeh, duduk dipinggiran ranjang, mengatur nafas untuk aksi selanjutnya.

“Mamang ngga marah istrinya dipake kaya gitu,,,” tanya Andini penuh keheranan, apalagi batang yang ada dicelana lelaki itu mulai menggelembung melihat aksi istrinya. Mang Oyik mengangkat kedua pundaknya. “Kalo istri saya yang mau, saya mesti gimana lagi,,,”

“Bu Aryanti yang cantik,,, tenang aja, tu anak penurut banget koq,,, cuma ngelakuin apa yang disuruh, jadi ga perlu takut,,,” Sambung Mang Oyik, yang melihat Aryanti mulai kesal dengan ulah Kontet yang berusaha kembali mendapatkan kemaluannya.

“Beneeerr,,, dia ga bakal mintaaa,,, eemmhh,,,mintaa masukin tu batang kan?,,,” tanya Aryanti sambil melirik Kontet yang masih berjongkok seperti anjing yang penurut didepannya.

Mang Oyik mengangguk dengan gaya yang dibuat cool. Membuat Aryanti dan Andini yang masih was-was, tertawa… Cool nggilani…

“Sini Teett,,, tapi pelan-pelan yaaa,,” tangan kanan wanita yang masih digantung birahi itu mengangkat rok depannya, sementara tangan kirinya meraih kepala Kontet, yang dengan cepat menghilang dibalik kain katun itu.

“Ooowwwhhh,,, eeemmmhh,,, tunggu sebentar ya Diiin,,, satu kali ngecrit aja koq,,,” pinta nya pada Andini yang membuang nafas panjang melihat tingkah wanita didepannya.

Tapi geliat nafsu dan birahi selalu berhasil mengenyahkan kesadaran manusia.
Ganasnya permainan lidah Kontet dikemaluan Aryanti, membuat wanita itu harus meletakkan pantatnya keatas meja, dan membuka pahanya lebar-lebar.

Meremas rambut Kontet dengan gemas. Melenguh liar. Sesekali mengangkat pantatnya agar lidah Kontet dapat menjangkau anusnya.

Dan Andini,,, kembali menjepit kedua pahanya saat menyaksikan lidah Kontet menerobos membelah vagina yang basah.

“Maaang,,, tolong bantu teman sayaaa yaaa,,,” pinta Aryanti tiba-tiba. Merasa tidak enak dengan Andini yang hanya melihat kenakalannya.

“Waahhh,,, dari tadi saya juga pengen mbantuin Bu,, tapi si Non geulis nya yang ngga mau,,,” jawab Mang Oyik yang menghulurkan tangan mencoba memegang pundak Andini, tapi segera ditepis gadis itu.

“Ya Udaahh sini,,, minggir dulu Tet,,,” Aryanti beranjak mendekati Andini yang terlihat bingung. Gadis itu memang sudah mengalami beberapa petualangan nakal, tapi keluguannya sebagai seorang gadis remaja membuatnya menjadi agak kikuk.

“Mba Yanti mau ngapain?,,, Emmppphh,,,” mata Andini melotot ketika Aryanti melumat bibirnya. Mengajaknya untuk saling melumat dalam hisapan yang dalam.

“Eeemmmppp,,, mbaaa,,, mbaaa,,,,” Andini mulai ngos-ngosan. Nafasnya tertahan oleh hisapan Aryanti yang cukup lama, hingga akhirnya tautan bibir mereka terlepas.

“Dari tadi aku pengen banget dicium, tapi ngga mau sama mereka,,, hihihii,,, mau lagi?,,,”

Andini yang memang tengah bernafsu mengangguk dengan malu-malu, lalu membuka mulutnya. “Eeemmmpphhh,,,,”

Dan kedua wanita cantik itu kembali saling melumat, tapi kali ini tangan mereka mulai ikut aktif, saling meremas, saling mengagumi keindahan tubuh lawannya. Dan ini adalah pengalaman pertama mereka melakukan hubungan sesama jenis, yang ternyata tidak kalah mendebarkannya.

Kontet yang mematung melihat aksi dua wanita itu terkaget saat tangannya ditoel oleh Mang Oyik. “Ayo Tet, hajaaar,, kamu garap yang muda, biar aku yang muasin Bu Yanti,” bisik Mang Oyik.

Rupanya Mang Oyik sudah cukup lama penasaran dengan keindahan tubuh Aryanti yang lebih matang sebagai seorang wanita. Dengan cepat lelaki itu berjongkok, lalu membenamkan wajahnya dipantat Aryanti.

“Oooowwhhhssss,,, Diiinn,,, punya ku dijilatin lagiii,,, kamu mau jugaaa?,,,”
Andini tidak menjawab, tapi tidak pula menolak saat Kontet menurunkan celana nya.

“Oooowwwhhh,,, mbaaa,,, anus kuuu diciuuumin mbaaa,, dijilaaaat jugaaa,,, Uuuggghhhh,,, geli mbaaa,,, eemmpp,,,” erangan Andini terhenti. Mulutnya dibekap oleh Aryanti.

Gadis muda itu mencoba mengikuti gerakan tangan Aryanti yang menyelusup kedalam kaosnya. “Mbaaa,,, nenen mbaaa,, gedeee,,, kenceeeng,,” seru nya, ketika jari-jarinya berusaha membekap kedua payudara Aryanti.

“ Diniii maauuu?,,,Oooowwhhhss,,, Maaaang,,, itil nyaaa jangaaaan digiiiigitt,, Eeeeengghhh,,,” Aryanti yang ingin menjawab komentar Andini menjerit, bagian mungil yang berada didepan bibir kemaluannya dihisap dengan kuat oleh Mang Oyik, hingga terasa seperti digigit.

“Maaang,, jangan ditusuuuk,,, anusss sayaaa jangan ditusuuuk,, Ooowwgghh,,” Andini balas menjerit saat merasakan jari-jari kontet mencoba menyelusup kepintu belakangnya. Kaki gadis itu sampai berjinjit karena ulah Kontet.

“Oooowwhhh,,, Maang,,,” Andini lagi-lagi menjerit, jari-jari kontet yang besar, beralih menusuk-nusuk liang vaginanya. Pegangann tangannya beralih mencengkram tangan Kontet, tapi cengkraman itu melemah seiring lidah kontet yang kembali menyelusup kedalam anusnya.

“Buuu,,, boleeeh sayaaa tussuuuk jugaaa,” bisik Mang Oyik lembut ditelinga Aryanti.

“kalo tusuk pake tangan boleeh,, tapi kalo dientot,,, saya ngga maaauu,,,”

Mang Oyik menggesek-gesekan batangnya yang sudah mengeras dibelahan pantat Aryanti. Sementara tangannya meremas-remas payudara wanita itu dengan sangat bernafsu.

“Terus batang sayaa,, gimana buuu,,,” nafsu Mang Oyik sudah sampai keubun-ubun, ingin sekali langsung menusukkan batangnya ke pintu vagina basah yang ada didepan batangnya. Apalagi saat itu pantat Aryanti yang membulat, mampu membekap batangnya dengan begitu nikmat. “Buuu,,, saaaya entotin yaaa buuu,,,”

“I,, Iyaa deehh,,,Maaang,,, tapi sebeeentar aj,,, Ooowwhh Gilaaaa,, itu bataang monster,,” gerakan tangan Aryanti yang sudah memegang batang Mang Oyik terhenti, tidak lain akibat ulah Kontet didepannya yang ikut-ikutan mengeluarkan penis dari balik celana.

Sejak awal Aryanti yakin Kontet memiliki batang yang besar, tapi tidak menyangka jika sebesar seperti yang tengah dilihatnya. Aryanti merinding, Yaaa,, batang itu lebih besar dari milik Arga yang sangat dibanggakannya.

Kontet berdiri, memeluk Andini dari belakang, dan batang monster itu kini tegak mengacung disela-sela paha Andini.

“Mang Oyyyiiik,,, masukiinn ke tempat Andini ajaa yaaa,,, kasiaan diaa kalo dimasuukin batang sebesar ituuu,,,” ucap Aryanti, melepas batang Mang Oyik yang ada dalam genggamannya.

“Tapi buu,,,”

“Stsstsss,,, jangan ngebantaah,,, punya Andini juga enak koq,, malah lebih sempit lhoo,,” terang Aryanti. Lalu menarik Kontet untuk bertukar.

“Gilaaa,,,” hanya itu yang keluar dari bibir Andini, saat menyadari batang yang tengah menggesek-gesek selangkangannya ternyata memiliki ukuran luar biasa.

“Ooowwhh,,, Maaaang,,, kenapaaa, dimasukiiiin,,,” Andini menjerit, meski cukup pelan, tapi penetrasi batang Mang Oyik yang tidak disadarinya membuat gadis itu terpekik kaget.

“Nooon geuliss,, nikmatin ajaa,, saya lembut koq mainnya,,,”

Sementara Aryanti mendorong tubuh Kontet kedinding, tangannya dengan terampil meremas dan menggosok batang yang berdiri tegak mengacung.

“Teeett,,,, ni batang udaaah masuk kemana ajaaa,,,” tanya Aryanti, sambil mengoosok kepala jamur yang besar kebibir kemaluannya.

“Cuma ke istri saya bu,, soalnya Mang Oyik ngga pernah ngizinin saya nyicipin bininya,, katanya takut memek Lik Marni ndower,,,”

“Hihihiii,,, kamu ini ada-ada aja,,, tapi kalo ketempat saya bisa ngga yaaa,,, Ooowwhhsss,, Teeett,,, liaaat,, bibirnya sampai ndoweeer gituuu,,,” bibir Aryanti mengoceh, mengomentari pintu vaginanya yang dipaksa menganga saat disundul jamur besar, hingga membuat bibir vaginanya menyeruak keluar.

“Eeeiittsss,,, jaaangaaan ditusuuuuk Teeet,,,” Aryanti memundurkan pinggulnya saat menyadari Kontet ingin melakukan tusukan. Entah kenapa wanita itu terlihat ragu-ragu untuk melakukan persetubuhan. Ada rasa ngeri jika kemaluannya harus melumat batang sebesar itu. Ada rasa takut jika Arga sampai mengetahui kenakalannya.

“Gosok-gosok didepan aja yaa Tettt,,,” bisiknya, lalu menjepit batang Kontet dengan pahanya, pinggul dan pantatnya mulai bergerak, memainkan batang besar yang menggesek-gesek bibir vaginanya.

“Uuuuggghh,,, gini juga enaaaakkan?,,,”

“Iyaaa buuu,, tapiii memeeek ibuuu lebiiiihh enaaak kalooo buat ngetoot,,,”

Telinga Aryanti terasa panas mendangar komentar nakal Kontet. Apalagi pemuda gempal itu mulai menunjukkan powernya sebagai seorang lelaki. Tangannya yang besar mengangkat rok Aryanti lebih tinggi lalu mencengkram pinggulnya dengan kuat, sementara batangnya semakin cepat menggesek-gesek selangkangan Aryanti.

“Ooowwwhhh,,, Maaang,,,, saaaaya maauuu keluaaaar,,,” terdengar rintihan Andini yang setengah membungkuk, menikmati aksi Mang Oyik yang menyetubuhi kemaluannya dari belakang.

Dengan cepat Mang Oyik melempas kan batangnya, menarik tubuh mungil Andini berbaring keatas meja, lalu dengan rakusnya lelaki itu melumat, menghisap, mengunyah kemaluan Andini dengan rakusnya.

“Maaanng,,, ooowwhh,,, isap teruuuss,, Aaahhhkkkss,,,” pinggul gadis itu terangkat tinggi, dengan bibir vagina yang menghambur kelenjar bening, membasahi wajah Mang Oyik yang tertawa puas, mampu menaklukkan mangsanya. Lalu berdiri lagi bersiap kembali memasukkan batangnya kekemaluan gadis bertubuh mungil itu.

“Buuu,,, saaayaaa masuuukiiin ya buu,,,” Kontet sudah tak mampu lagi menahan hasratnya, memutar tubuh, menyandarkan tubuh Aryanti kedinding.

“Teeet,,, aku ngga maaau dimasuuukiiin,,,” lenguh Aryanti, matanya menatap sendu kemata Kontet yang terlihat beringas diumbar nafsu, tiba-tiba tenaga Aryanti terasa menghilang, tak mampu menolak kehendak tangan kontet yang membuka kakinya lebih mengangkang.

“Konteeeet,,,uuugghhh,,,”
“Aaahhssss,,, ga bakal bisa massuuuk,, jangaaan teeet,,,”

Bibir Aryanti mendesah, merintih, saat batang besar itu mencoba memasuki alat senggamanya. Tapi berkali-kali meleset keluar, membuat wanita itu melenguh.

“Weeeiiittsssss,,,, Woleeess brooo,,,” tiba-tiba terdengar suara lelaki dari arah pintu, yang dengat cepat menarik tubuh Kontet menjauh dari tubuh Aryanti.

Sementara lelaki satunya mendorong tubuh Mang Oyik menjauh dari tubuh Andini.

“Sorry ya Mang,, kita emang berterimakasih banget diizinin nyicipin istri Mamang,, tapi kalo mau minta imbalan yang kaya gini ya jangan dong,,,hehee,,” ucap lelaki yang ternyata Dako.

“Hehehee, iyaa,, maaf banget yaa mang,,, istri ponakan saya ini emang masih lugu,, jadi kalo mau minta ya mesti izin sama suaminya dulu,,,” timpal Pak Prabu yang mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu.

“Mamang coba aja nyicipin cewek-cewek yang ada diwarung remang-remang pinggir jalan dekat sini, kemarin saya liat banyak koq yang barangnya masih bagus-bagus.,” lanjutnya, lalu memapah Andini yang masih terkaget, turun dari meja.

“Ehh,, iya,, maaf Gan,, kami kebawa suasana, tadi cuma disuruh ngebantuin malah kebablasan,,” Mang Oyik tampak cengengesan.

yessy ecii jilbab merangsang (11)

Rupanya Pak Prabu tidak ingin apa yang terjadi pada istrinya terulang, apalagi pada istri ponakannya yang masih terbilang belia untuk wanita yang sudah menikah. “Ya sudah,, ngga apa-apa,, ni ambil aja,,” ucapnya lalu beranjak keluar sambil menggandeng Andini, diiringi Dako dan Aryanti.

“Mang,,, aku ngga tahan nih,,, pinjam istri Mamang yaa,,,” seru Kontet, lalu berlari menuju kamar Mang Oyik. Mengagetkan Lik Marni yang masih bugil, tersenyum-senyum sendiri setelah melayani Pak Prabu dan Dako.

“Teeet,, mau ngapain,, eehh,,, Teett,,, batangmu,,, Gilaaaa,,, Aaaauugghh,,,, Bapakeee,, aku dientotin Konteeeet,,, Aaaauuuwww,,, pelan-pelan bego,n Oooowwgghhh,,” Lik Marni menjerit histeris, tubuh bugilnya diterjang Kontet, yang langsung memaksa membenamkan batang besar kekemaluannya.

“Asseeeem,,, Teeett,,, Woooyyy,,, kurang ajar tu bocah,,,” Mang Oyik yang asik menghitung uang ditangannya kaget dengan gerak cepat Kontet yang menyerbu masuk kekamarnya. Mang Oyik kelabakan mencari celana yang ternyata nyampir diatas kompor gas.

“Teeet,,, buka pintunya,,, Wooyyy,,, Edan ni anak,,,” Mang Oyik menggedor-gedor pintu yang ternyata sempat dikunci oleh Kontet. “Duuuh,,, bakal bonyok dah tu memek,,” dengusnya, meratapi nasib istrinya dari kaca dapur, yang tengah merem melek menahan gempuran Kontet.

“Kamu ngapain sih Yan,, jangan kaya wanita murahan gitu lahh,,” bisik Dako pelan, dari nada suaranya tersirat perasaan tidak suka atas apa yang dilakukan Aryanti.

“Kamu itu yang kenapa?,,, habis ngegarap bini orang, terus marah-marah, dan sekarang bilang aku wanita murahan,,,” suara Aryanti meninggi. Emosinya tersulut. Memang Dako sudah menyelamatkannya dari persetubuhan yang liar. Tapi kata-kata yang diucapkan lelaki itu membuat telinganya panas.

Dako terdiam, menyesali apa yang diucapkannya, dirinya juga tidak tau bagaimana bisa hatinya tidak bisa menerima jika Aryanti diperlakukan seperti itu.

“Yaan,, Yantii,, maksudku bukan seperti itu,,, maaf Yan,,” Dako berusaha mengejar Aryanti yang berlari kekamarnya dengan cepat.

“Yant,,, dengar dulu,,,” cegah Dako, saat Aryanti ingin menutup pintunya.

“Mau apalagi,, masih kurang?,,, masih mau nunjukin keegoisan para lelaki lagi?,,,”

yessy ecii jilbab merangsang (12)

Dako tidak menjawab, tapi mendorong pintu lebi kuat dan masuk kekamar Aryanti.

“Coba jawab dengan jujur, istri siapa aja yang sudah kamu cicipin?,,, dan sekarang kamu dengan gaya pahlawan mencoba ‘menyelamatkan’ aku dari lelaki lain?,,”

“Tadi malam,, tadi malaam ingat?,,, saat kamu tertawa menggarap tubuhku dengan Pak Prabu?,,, benar-benar menjadikanku seperti wanita murahan,,, dan sekaraang?,,, Dasar cowok MUNAFIK,,”

“YANTII!!!,,, aku bukan cowok munafik, ITU KARENA AKU SAYANG SAMA KAMU?,,”

Deeeg..
Aryanti terdiam, gendang telingannya seperti ditepuk kalimat tak lazim, coba menafsirkan kata-kata yang diucapkan Dako.

Dan Dako,,, Kakinya lemah menuju kasur,,, lalu menghempas tubuhnya dengan pikiran kacau. Termenung,,, bagaimana bisa kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya,, benarkah iya menyayangi wanita yang kini ada dihadapannya?..

“Keluarlah,,, aku ingin istirahat,,” ucap Aryanti pelan, tangannya membukakan pintu.

Dako menghembus nafas dengan berat, melangkah gontai, tepat didepan pintu langkahnya terhenti, menatap Aryanti yang menitikkan air mata..

“Maaf,, aku tidak mengerti apa yang kurasakan saat ini,, Maaf,,,” ucapnya. Lalu berbalik, keluar kamar.

“Dako,,,” Aryanti mengejar lelaki yang tengah berjalan diselasar depan kamar. Tanpa diduga wanita itu melumat bibir Dako. Memberikan ciuman yang dirasakan Dako kali ini sedikit berbeda.

“Kamu mau menemani ku istirahat?,,,” suara Aryanti terdengar kikuk, namun berusaha tersenyum lembut.

“Tapi kamuu?,,,”

“Hanya istirahat,, tidak yang lain koq,, badanku capek banget,,,” Aryanti mencoba tersenyum diantara air mata yang mengalir.

Dako mengikuti langkah Aryanti yang menggandeng tangannya.

Membaringkan tubuhnya disamping Aryanti yang kemudian memeluk tubuhnya erat. Melabuhkan ciuman yang lembut,, sangat lembut.

“Dako,,, aku ngga mau ada rasa itu diantara kita, karena pasti akan sangat menyakitkan bagi pasangan kita,,,” ucapnya lirih,, lalu membenamkan wajah yang dibasahi oleh air mata dipelukan Dako.

Dako coba merengkuh tubuh wanita yang setengah menindih tubuhnya, suasana menjadi kaku, jari-jarinya coba menyisir rambut Aryanti, dengan pikiran yang melayang, mencoba mencari tau perasaan hatinya yang terasa begitu asing.

Masih terlintas dipelupuk matanya, saat menangkap binar gembira istrinya, ketika Arga meminta izin padanya untuk mengajak Zuraida jalan-jalan dipantai.

Tak ada yang tau, dibalik sikap urakan, selalu tertawa cengengsan, dan sifat cueknya, lelaki itu ternyata memendam rasa perih dihati yang mendalam. Meski telah mempersiapkan dirinya sedemikan rupa, tapi apa yang disaksikan oleh mata ternyata lebih menyakitkan.

Semua yang diucapkannya pada Arga saat dipantai tidak lebih dari usahanya untuk membuktikan semua

Bertahun-tahun mencinta wanita yang menyimpan rasa terhadap lelaki lain.

“Yaant,,,Seandainya,,,”

“Ststssss,,, tenangkan hatimu,,, Trust me,, All is well,,,” bisik Aryanti, seolah bisa membaca pikiran lelaki itu.

Aryanti beringsut menaiki tubuh Dako, meletakkan kepalanya didada lelaki itu, memejamkan mata, mencoba mencari ketenangan untuk dirinya sendiri. Lalu mencoba untuk terlelap dalam dekapan insan yang tengah terluka, dan mencoba melarikan hati pada dirinya.

* * *
“Waaahh,,, udah jauh juga kita jalan,,,” celetuk Arga, saat mereka melewati tempat game tadi pagi, tempat yang mungkin tak akan pernah mereka lupakan. “Masih pengen jalan terus?,,,”

“Ayoo,,,siapa takut, tapi jangan cepat-cepat, santai aja,,,”

“Owwhh Sorry,, aku kecepatan ya,,, Kata Mang Oyik ni pantai dipisah oleh tebing karang itu,,,”

“Ngga terlalu capek sih, tapi belahan rok ini terlalu sempit,,, biar aku buka sedikit,,,”

Kreeek,,, kreeek,,,
Zuraida merobek belahan rok nya hingga kelutut, membuat kakinya lebih mudah melangkah.

“Waduuuhh,,, ngga sayang roknya dirobek,,,”

Tapi Zuraida hanya tersenyum, lalu menarik tangan Arga untuk kembali berjalan. Keduanya melangkah pelan beiringan, layaknya dua remaja yang tengah dimabuk asmara.

“Gaa,, tadi Dako sempat marah padaku,,,”

“Kenapa? Memang sih,, yang kita lakukan saat game tadi memang kelewatan? Tapi bukankah dia melakukan hal yang sama pada Aryanti?,,,”

“Ngga tau,,, mungkin dia marah karena aku membiarkanmu membuang didalam,,,”
Jawab Zuraida lemah.

Arga terdiam mencoba memahami reaksi emosi Dako yang membuatnya bingung, disatu sisi sahabatnya itu terus menggoda kelalakiannya untuk menaklukkan istrinya, tapi setelah semua terjadi justru mengumbar emosi. “Ku kira hatimu seperti batu, Ternyata kau masih menyimpan rasa cemburu,,,” bisik hati Arga, sambil tersenyum menggeleng-gelengkan kepala. Hati sahabatnya ternyata tidak berbeda jauh dengan dirinya.

“Kenapa? Koq malah senyum-senyum sendiri,,”

“Ehh,,, ngga apa-apa,,, Emm,, Apa kamu benar-benar dalam masa subur,,,”

Zuraida mengangguk, tersenyum kecut, “Kami memang tidak pernah menggunakan kontrasepsi, Dako sudah sangat ingin memiliki anak,” terang Zuraida.

Arga manggut-manggut. Berbeda dengan dirinya dan Aryanti, yang sepakat menggunakan kontrasepsi implant. Aryanti terpaksa menunda kehamilannya dengan alasan karir, dan Arga cuma bisa mengangguk setuju.

Tangan Arga tak lagi menggandeng Zuraida, tapi beralih memeluk pundak dokter cantik itu. Tak ada lagi kata-kata yang terucap, masing-masing sibuk dengan lamunannya, pikiran mereka dipenuhi oleh segala keterbatasan yang memagari hubungan rasa dan hati mereka yang terlarang.

Melebihi tingginya tebing karang yang memisahkan bibir pantai, yang tak terasa kini berada tepat didepan mereka.

“Berani menyebrang kesebelah sana?,,,” tantang Arga sambil menunjuk celah tebing. “Kalo sore celah itu hilang, tertutup air pasang,,, Berani?,,,”

“Ngga ahhh,,, takut ngga bisa balik,,,”

“apa kamu tidak percaya padaku?,,,” kata-kata Arga berubah menjadi serius.

Zuraida terdiam, bingung dengan sikap Arga, mencoba membaca apa yang diingin oleh lelaki yang memeluk pundaknya erat.

“Aku percaya padamu,,, Ayoo,,” jawab Zuraida sambil tersenyum.

“Waaaahhh,,,, disini pasirnya lebih putih dan lembut,,, koq bisa sih,, padahal kan cuma terpisah beberapa meter,,,” seru Zuraida, ketika mereka berhasil melewati celah karang yang cukup sempit itu.

Wanita bertubuh semampai itu berlari, menyusuri pasir yang masih menyisakan riak ombak yang baru saja menyapa. Arga tertawa melihat tingkah Zuraida, yang sedang menampilkan sisi childish nya.

Ujung kaki Zuraida terlihat sibuk mengukir sesuatu diatas pasir, “ARGA JELEK”,,,

“Hahahaaa,,, Biariiinnn,,, yang penting disayang Zee,,,” teriak lelaki itu sambil tertawa, lalu duduk diatas pasir. Membiarkan sang betina yang tengah menikmati panorama pantai pasir putih yang memang sangat jarang ditemui.

Zuraida membentang kedua tangannya, seakan memasrahkan tubuhnya pada angin yang menjilati tubuhnya dengan sapuan yang lembut. Jilbabnya berkibar menari-nari mengikuti irama alam yang begitu tenang dan sepi, sangat sepi, jauh dari jamahan keserakahan anak manusia.

Zuraida berjalan menghampiri Arga, matanya menyapu setiap sisi pantai, seolah mencari tau, lalu berbalik menatap Arga, dengan senyum yang terlihat genit, perlahan wanita itu melepas kain yang menutup kepalanya.

Arga tertawa, mencoba memaklumi kebebasan yang tengah dinikmati wanita yang dulu terpaksa ditinggalkannya demi seorang sahabat.

Bibir Arga berdecak kagum, saat rambut Zuraida yang panjang terurai tertiup angin, kecantikan seorang Zuraida terlihat begitu nyata, bibir tipisnya yang tersenyum tak mampu menutupi wajah yang tersipu malu. Entah apa yang ada dipikiran wanita yang kini berdiri sekitar 10 meter dari tempat nya duduk.

yessy ecii jilbab merangsang (13)

“Zeee,,, apa kau ingin?,,, owwhh Zee,,,” suara Arga begitu pelan, seolah bertanya pada dirinya sendiri. Matanya tak berkedip saat tangan Zuraida mengangkat kaosnya keatas, menayang sesosok tubuh yang putih mulus, sepasang payudara yang tampak ranum dan kencang menghias sempurna, mengokohkan keindahan tubuh dokter cantik itu.

“Cukup,,, Zeee,,, cukuuuup,,, kau bisa membuatku memperkosamu,,, Owwwhh,,, Shiiitt,,,” gumam Arga pelan dengan suara tercekat, nafsunya bergemuruh seiring rok hitam yang dibiarkan jatuh kepasir, menayang sosok wanita seksi yang sedang bertingkah layaknya seorang model. Bibirnya tersenyum nakal.

Dengan genitnya, telunjuk Zuraida bergerak seolah memanggil Arga. “Apa kau ingin membiarkan gadis cantik ini berenang sendiri?,,,” seru Zuraida.

“Hahahaa,,, jangan salahkan aku jika nanti kau kuperkosa,,, hahahaa,,,” teriak Arga, melapas kaosnya, lalu mengejar Zuraida yang berlari kegolongan ombak kecil yang menyambut tubuh mulusnya.

“Kyaaaa,,, Arggaaaa,,, ummpphh,,,” Zuraida berteriak kencang saat tubuhnya dipeluk Arga dari belakang, keduanya berguling di air gelombang yang kembali kelaut.

“Gaaa,, akuuu ga bisaaa berenaaang,,, Aaargaaa,, ummbbllbb,, ugghh,,” Zuraida tersedak, terminum air laut yang asin. Tangannya memegang tubuh sang pejantan dengan erat, mencari perlindungan.

“Hahahaa,, tenang sayang,,, kamu baik-baik saja,,,” ucap Arga, sambil membantu kaki Zuraida menapak lebih kuat.

“Kamu jahaaat,, aku sampai keminum air,,, asin bangeeet”

“Hhhmm,,, maaf yaa,,,” jemari Arga menyibak rambut yang menutup mata indah wanita, yang mempercayakan tubuhnya sepenuhnya pada dekapan erat tangan Arga.

“Gaa,,, akuu,,, emmpphh,,,” kalimat Zuraida terputus oleh kecupan bibirnya. Mata mereka bertemu, saling menatap, mencoba mencari cinta yang tersisa dibola mata Arga.

Arga kembali mendekatkan bibirnya, untuk mengulangi pertemu bibir yang terasa hangat, yang perlahan menjadi lumatan yang lembut.

Lidah sang pejantan mencoba mengundang lidah lembut si betina untuk bertandang dirongga mulut yang hangat, sesaat daging lembut itu menyapa bibir Arga, lalu dengan malu-malu mencoba mengejar lidah sang pejantan yang menggelitik menggoda.

Saling memberi dan menerima, saling membelit dan menggelitik, saling bertukar ludah seperti yang diminta oleh pasangannya. Ciuman yang begitu cepat berubah menjadi panas sekaligus terasa begitu menghanyutkan.

Hingga membuat nafas kedua nya terengah-engah, dan sepakat untuk rehat, mencari oksigen yang terasa begitu langka disekitar mereka.

Zuraida tersenyum, lalu membuka mulutnya, memberi sinyal kepada Arga untuk mencoba bertualang dimulutnya yang menjanjikan kehangatan lebih dari apa yang diinginkan lelaki itu.

Sebagaimana lidah mereka yang begitu kompak menari berkejaran. Tangan keduanya pun mencoba menari diatas kulit lawannya yang basah. Dengan malu-malu tangan Zuraida mencoba mengikuti geliat tangan Arga yang berselancar diatas tubuhnya.

Wanita itu hampir tertawa, saat tangannya mencoba meremas pantat Arga yang berotot, sebagaimana jari-jari Arga yang meremasi pantatnya.

Namun canda yang tercipta diantara mereka mulai surut seiring anggukan Zuraida yang mengizinkan jari-jari Arga menyapa bibir kemaluan, mengusap lembut lipatan yang begitu sensitif, lalu perlahan menyelusup kedalam belahan senggama yang mulai basah.

Dengan mulut terus saling melumat, Arga menganggukkan kepalanya, memberi izin serupa pada jari-jari lentik yang begitu ingin mengenali perkakas alat kawin sang pejantan. Jantung Zuraida berdegub kencang ketika kedua tangannya menggenggam batang besar yang sudah mengeras.

Mata Zuraida terpejam, meremas lembut batang yang ada digenggamannya, saraf-saraf ditangannya dengan begitu jelas menyatakan keperkasaan batang yang dimiliki Arga.

“Gaaa,,,” ucap Zuraida pelan, saat Arga membopong tubuh telanjangnya ketepi pantai.
Membaringkannya diatas hamparan pasir putih.

Jemarinya yang lentik mengusap pipi lelaki yang kini sudah menindih tubuhnya, perlahan mengucap putingnya yang sudah mengeras.

Tak ada lagi kata yang terucap selain lenguhan pelan dari bibir si wanita yang mengusapi rambut lelaki yang tengah bertualang dikedua payudaranya. Suatu pemasrahan diri kepada sang kekasih, dibalut rasa cinta yang terpendam sekian tahun, yang seketika kembali tersulut dalam hitungan nafas.

Sepasang mata penuh cinta kembali bertemu, saling meminta dan dipinta untuk babak percitaan selanjutnya.

Zuraida mengangguk, meng-amini segala kehendak sang pejantan yang juga dituntut oleh hatinya yang penuh gairah, seiring kain kecil yang perlahan turun menayang gundukan mungil yang terbelah menjadi dua.

Wanita cantik itu membuang pandangannya kesamping ketika si lelaki merentang kedua pahanya. Wajahnya memerah saat lantun kekaguman mengalir dari bibir.

“Zee,,, milikmu indah,,, cantik,,,”
Jari-jari pejantan mengusap lembut, sesekali mencoba menguak gundukan daging yang berisi kismis dengan warna merah muda, begitu bersih, begitu terawat. Dirembesi cairan cinta yang mencoba membasahi sisi-sisi yang dengan cepat menjadi mengkilat.

“Uuuuhhhssss,,, Saayaaaaang,,,”
Sapuan lidah yang lembut, berusaha menyambut tetesan bening yang telah sampai diujung aliran sungai. Memaksa bibir si betina melantun kan lagu nirwana,

Alunan rintihan semakin nyaring terdengar seiring kerakusan lidah sang pejantan yang tak sabar menunggu tetes cinta, mencoba menguak dasar mata air, dan menyeruput dalam hisapan yang penuh hasrat.

“Argaaaa,,, Emmmpphhh,,,” wanita itu mengatup bibirnya, mencoba menyembunyikan nafsu yang menguasai tubuh yang telah polos sepenuhnya. Tapi sungguh itu suatu usaha yang sia-sia. Saraf-saraf ditubuh wanita itu bekerja dengan sempurna menyampai pesan keotak akan rangsangan yang mendera.

“Ooooowwwwhhhssss, Saaayaaaang,,, Stooopss,,, Aaakkhhsss,,,

Nafas menderu, terengah-engah menerima orgasme yang begitu saja mendera, diproklamirkan oleh cairan bening yang mengalir deras dicelah kemaluan yang masih dicumbu lidah yang semakin basah.

Pantat dan paha wanita itu terangkat tinggi, mengejat berkali-kali hingga akhirnya kembali jatuh kembali bumi seiring kesadaran yang berusaha menyapa hasrat yang terhempas, begitu terpuaskan oleh layanan sang lelaki.

“Argaa,,, apa kamu mauu,,,” Zuraida tak menyelesaikan kata-katanya saat melihat penis Arga yang mengeras sempurna. Merentang kedua kakinya, memberi tempat pada yang terkasih untuk mengayuh bagian tubuh terdalamnya.

“Peluk akuu,,” rengek Zuraida begitu manja, tangannya meraih leher Arga dan menyambutnya dengan ciuman yang begitu mesra.

“Sudah siap?,,,” tanya Arga dengan wajah jenaka.

“Siaaap,,,”
“Eenghh,,, pelaaaann,,”
“Gaa,, geli bangeeet,, uuhhhsss,,, duuuhhh,, dalaam bangeet sihh masuknyaaa,,,”
“Udaaahh,,, nyampee beluuumm,,”
Bibir Zuraida terus berceloteh, entah untuk menghilangkan rasa malu, entah tengah menikmati penetrasi yang dilakukan dengan perlahan.
“Uuugghh,, mentook,, daleeem bangeeet,,, Gaa,,”

Arga tersenyum, “Aku tidak menyangka, vaginamu yang mungil ini bisa menampung seluruh panjang batangku,,,,, hangat banget didalam,,, licin,, lembut,, tapi lorongnya mencengkram banget,,”

“Iiiihh,, apaan sih,, ga usah dikomentarin gitu dong,,, tapi punyamu emang panjang banget,,, aku ga pernah ditusuk sampe sedalam ini,,, aku juga bisa merasakan otot-otot dari batangmu,,, kerasa banget,, bikin gelii,,,” ucap Zuraida sambil menyampirkan kedua kakinya diatas paha Arga. Mengokohkan posisi batang didalam kemaluannya.

“Lhooo,, katanya ngga boleh ngomentarin,,, ehh,, kalo sambil meremas ini bolehkan?,, habisnya kenyal banget,, apalagi,,,”

“Sayaaang,,Kita mau ngobrol atau mau apa sih ini,,, punyaaaku,, punyaakuu,,” Zuraida mulai menggeliat, menikmati ulah Arga yang memanjakan kedua payudaranya, sementara lorong vaginanya penuh dijejali batang si pejantan.

“Punyamu mulai gatal?,, pengen digaruk seperti ini?,,” sambut Arga, perlahan menggerakkan batangnya, menikmati setiap inci dekapan daging lembut milik seorang wanita yang setiap hari mengenakan jilbab.

“Eeeenghh,, iyaa,,, Eeeuuuhhhss,,,”
“Gaaa,, punya mu besar bangeeet,,,” rintih wanita itu, Arga yang mengangkat tubuh memberi Zuraida kesempatan untuk melihat langsung bagaimana alat senggama mereka bertemu.

Menghilangnya batang besar kedalam bibir kemaluan yang mungil menjadi pemandangan yang penuh sensasi bagi keduanya. Tanpa bisa dicegah tubuh keduanya bergerak semakin cepat. Mencari kenikmatan yang ditawarkan.

“Oooowwhhh,,, Argaaa,,, akuuu keluaaarrr,,,” vagina Zuraida berkedut, tubuhnya mengejang, memeluk tubuh Arga dengan kuat.

“Zeee,,, aku jugaaa,,,, aku jugaaa mauu keluaarrr,, emmpphh,,,”

yessy ecii jilbab merangsang (14)

Seketika wajah Zuraida yang masih menikmati sensasi orgasme terlonjak kaget. “Gaa,, please,, jangaaan dikeluariin didaalaaam,,,oowwhhh,,, kumohooon jangaaaann,, Aaagghh,,,”

Payudara Zuraida bergerak liar seiring hujaman batang yang semakin cepat menggempur selangkangannya. Matanya memohon pengertian Arga.

“Aaaagghhh,,,Zeee,, akuuu ingiiin didaaaalam tubuuuhmuuu,, akuuu,,,”

“Jaaangaaan Gaaa,, kumoohoooonnn,,,”

“Aaaaakkkhhssss,,, Ooowwhhh,,,Ooowwhhh,,,,” seketika semprotan sperma menghambur diatas perut yang mulus, beberapa menyapa leher dan dagu si cantik yang terengah-engah.

“Maaf Gaa,, maaf,,, aku pun ingin cairan cintamu memenuhi rahimku,, sangat ingin,, tapi itu tidak mungkin,,,” didasar hatinyah, wanita itu ingin memberikan kesempurnaan dalam persetubuhan, menyediakan tubuhnya untuk menerima hasrat lelaki yang yang dicintainya. Tapi secuil kesadaran coba mengingatkan status mereka. Dan akibat fatal yang bisa saja terjadi.

“Tidak apa-apa?,,, inipun sudah luar biasa banget,,, lebih joss dan nikmat dibanding saat kita melakukannya sambil berlari tadi?,,,”

“Ihhh,, Argaaa,,” Zuraida mencubit pinggang Arga, saat lelaki itu membalikkan tubuh mereka, lalu memeluk Zuraida yang kini berada diatas, membiarkan tubuhnya dibawah tindihan penuh kasih sayang.

“Kapan ya kita bisa-jalan-jalan seperti ini lagi?,,,” celetuk Arga tiba-tiba.

Arga menarik tangan Zuraida, lalu mengecup punggung jari-jari yang lentik, tapi sesaat kemudian geraknya terhenti ketika secara tidak sengaja pandangannya terbentur cincin pernikahan yang menghias jari manis Zuraida.

“Mungkin ini untuk yang terakhir kali,,” Jawab Zuraida, lirih. Sebuah pertanyaan yang saat itu sangat tidak ingin didengar oleh telinganya.

“Maaf,,,, Zee,,,”

Namun terlambat, mata indah wanita itu perlahan dialiri air mata. Bola matanya yang bening menatap wajah Arga, berusaha menyampaikan pesan tentang kepedihan hati yang kini mendera.

Lalu membenamkan kepalanya di leher Arga dengan pelukan yang begitu erat. Air mata mengalir semakin deras, menumpah segala beban cinta yang tak pernah mampu mengalir dengan sempurna.

Arga mengusap lembut rambut basah Zuraida yang mulai mengering.
“Zee,,,
Sampai kapanpun aku akan selalu mengingatmu,,,
Memujamu dalam diam,,,
Mencintamu dengan caraku sendiri,,, ”

ZURAIDA AND FRIENDS 3

hilda yulis - hijabers mom community (2)

“Cantik,,,sangat cantik,,,”
Mata Bu Sofie menyapu panorama dari ruang tak berbatas, matahari pagi memberi warna berkilauan pada ombak yang pagi itu sedikit lebih jinak. Wanita berambut ikal yang diikat keatas itu melepas sendalnya, berjalan menyambut ombak kecil yang dengan cepat menjilati jari-jari dan telapak kakinya.
“Aku ingin seperti ini selamanya,,,” gumam Bu Sofie pelan, merentang kedua tangan seolah ingin memeluk langit. bibir tersenyum bahagia, bahagia dengan kebebasan yang tengah dinikmatinya.
Lepas dari sorotan mata bengis para wanita sosialita, lepas dari segala macam barang branded puluhan juta. Tas versace, gaun dari desainer ternama, jam tangan hingga kalung dan cincin berlian yang selalu menjadi barometer kesuksesan para suami. Bu Sofie menggerak-gerakkan tangannya yang serasa begitu bebas tanpa mata berlian yang setiap hari menjepit erat aliran darah, yang terkadang membuat jari-jarinya kebas.
“Bebaaass,,,” gumamnya, tersenyum lepas, terbebas dari segala beban.
Bukan sekedar bebas dari rintih persaingan para srikandi borjuis, tapi juga bebas dari kritik tajam Pak Prabu yang sehari-hari tak kalah cerewet dengannya. Tak ada pula komentar miring dari suaminya saat mendapati pantat montoknya hanya dibalut kain pantai tipis, tanpa underwear. Bahkan beberapa kali tubuh montoknya dipeluk Dako dan Munaf dihadapan suaminya, tapi lelaki berkumis itu hanya tersenyum, seolah mengizinkan dirinya mencari bahagia ditempat itu. Bibir Bu Sofia tersenyum kecut, saat teringat tingkah suaminya yang pura-pura tidak melihat saat tubuh montoknya diseret Dako ke kaki sebuah tebing.

“Pemuda yang nakal,” kepala Bu Sofie menggeleng-geleng, coba mengingat bagaimana lelaki muda itu menggumuli dirinya dengan begitu buas di atas pasir pantai.
Teringat pula bagaimana serunya persaingan antara dirinya dan Aida saat berebut mengendarai batang Adit subuh tadi. “Keponakan geloo,,dikira pingsan beneran, ga taunya malah main kuda-kudaan sama Aida,” umpat Bu Sofie sambil tertawa.
Parahnya lagi, beberapa saat lalu, secara terang-terangan dirinya menawarkan tubuh montoknya kepada Arga, “Uuugghhh,,,dasar betina gatel,,,ga punya maluuu,,” Bu Sofie memaki dirinya sendiri, sambil tertawa kecil. Kakinya menendang gumpala ombak kecil.
“Ibu baik-baik aja kan Bu?,,,”
Tanya Mang Oyik yang heran melihat tingkah Bu Sofie yang tertawa sendiri.
“Ehh,,, iyaa,, baik,, Mang,,kenapa di sini lebih banyak batu karangnya dibanding pantai di depan cottage?,,”
Bu Sofie berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah, malu dengan tingkahnya sendiri, bertanya pada Mang Oyik, namun lelaki berambut kriwel itu mengangkat kedua pundaknya tanda tak tau.

Mata belo (baca: mata bola pingpong nya Bung Iwan Fals) yang dihias bulu mata lentik itu beralih menuyusuri bibir pantai. Tiba-tiba pandangannya beralih pada ATV yang masih diduduki Mang Oyik. “Mang,, ajarin saya nyetir ATV dong,,, kaya nya seru kalo bisa ngebut di pantai sepi begini,,” pinta Bu Sofie.
“Lhaa,, terus nyiapin peralatan game nya gimana Bu?,,” Mang Oyik menjawab pertanyaan bu Sofie dengan mata yang tak lepas dari payudara besar Bu Sofie yang dipastikan tidak mengenakan bra. “Gilaa,, pentilnya aja gede banget,,” gumam Mang Oyik penuh birahi.
“Kenapa Mang?,,,”
“Eenghh,, maksud saya,,, saya ga enak kalo mereka ke sini peralatan game belum siap,,,”
Kali ini mata Mang Oyik lebih beruntung, angin pantai begitu lihai meniup rok lebar Bu Sofie, hingga menampilkan pantat yang begitu montok.
“Itu gampang Mang,,lagian mereka masih lama ke sini,,kita aja yang terlalu pagi,, Ayolaaah, ajarin sayaaa,,,” rengek Bu Sofie, begitu acuh dengan kenakalan angin yang memanjakan mata Mang Oyik.
Mang Oyik meneguk ludah, saat Bu Sofia berbalik menghadapnya, memohon dengan gaya centil khas ABG, tak peduli dengan ulah angin yang berhasil menyingkap rok bagian depannya, hingga menampilkan gundukan vagina yang gemuk. Tangan Mang Oyik gemetar menyerahkan kunci, disambut tawa Bu Sofia yang sukses mengerjai lelaki berambut kriting itu.
“Ayo naik,, biar saya bonceng,” seru Bu Sofia yang sudah duduk manis mengangkangi ATV.
Dan ternyata,,, memang tidak sulit bagi Bu Sofia untuk menjinakkan ATV di atas pasir pantai, ulah ngebut Bu Sofie membuat membuat Mang Oyik sedikit terganggu menikmati tubuh dan paha mulus di depannya.
“Jangan terlalu ngebut Bu,,, pasir pantai bikin roda jadi liar lhoo,,apalagi kalo mau naik tanjakan bukit itu,,” seru Mang Oyik menunjuk bukit pasir yang menjauh dari bibir pantai, mencari-cari alasan agar dapat berpegangan pada pinggang yang sedikit berlemak.
Bu Sofia justru tertawa, menggeber gas semakin kencang. Namun tiba-tiba laju ATV mulai menurun saat Mang Oyik mengelusi paha. ATV Menaiki bukit pasir yang landai namun cukup tinggi dengan gas tertatih, akibat ulah Mang Oyik yang berhasil mengganggu konsentrasi wanita itu, hingga akhirnya kendaraan beroda 4 itu turun dengan sendirinya dari bukit.
“Mang,, kalo mamang takut jatuh, pegangan yang kenceng,,,” seru Bu Sofie, yang diamini mang Oyik, memindah telapak tangannya ke payudara besar Bu Sofia, dan meremasnya dengan kuat.
“Pegangan seperti ini Bu?,,,”
“Tidaaak,,, lebiiih kencaaang lagiii,,,” rintih Bu Sofie, menikmati kebrutalan tangan Mang Oyik. ATV terhenti ketika Mang Oyik berusaha menarik keluar sepasang payudara.
“Silahkan jalan lagi buu,,” bisik Mang Oyik, ditengah kekaguman, telapak tangannya yang kasar tak mampu sepenuhnya menangkup kedua daging milik Bu Sofie.
ATV berjalan dengan sangat lambat, bibir wanita itu terus mendesis, putingnya yang mengeras terasa sedikit pedih saat jari-jari Mang Oyik mencubit dan memelintir. Tubuh Bu Sofie semakin gemetar saat pantatnya merasakan menggesek batang yang sudah sangat keras.
“yang nempel di pantat saya ini apa Mang?,”
“Cuma tongkat persneling koq Bu,,,”
“Mana ada sih ATV pake persneling,hahahaa,,oowwwhsss,,,” Bu Sofie tertawa di sela rintihannya.
“hahahaa,, ya artinya ini tongkat persneling saya bu,, hahaha,,Pengen nyoba tongkat persneling saya?,,,”

Deg,,, Laju ATV direm mendadak, Bu Sofie memang sudah sering mencoba ketangguhan para pejantan muda yang menjadi bahan arisan teman-temannya, tentunya tanpa sepengetahuan suami-suami mereka, tapi Mang Oyik adalah manusia paling amburadul yang pernah menjamah tubuhnya. Matanya menyusur bibir pantai, menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada seorangpun selain mereka ditempat itu. Mengucap terimakasih pada bukit pasir yang tadi dinakinya, menutup akses pandangan dari arah cottage
“Boleehhh,,, biar saya coba,,” jawab Bu Sofie dengan jantung berdebar, coba merasakan batang keras yang terus menggesek-gesek sekitar pinggang dan pantatnya.
Wanita itu berdiri, mengangkangi jok ATV, perlahan menurunkan celana dalamnya dengan mata waspada mengamati sekitar pantai. Melihat pantat montok mulus yang terbuka di depan wajahnya Mang Oyik langsung membenamkan wajahnya ke belahan pantat Bu Sofie.
“Aaaakkkhhh,,, Maaaangssss,,,,” tubuh wanita terlonjak, tak menduga dengan serangan Mang Oyik, tangannya segera memegang stang menahan tubuhnya yang terhuyung kedepan.
“Oowwwhhssss,,,Ganas baangeetss ni Orang,,, Aaaggghhhsss,,,” gumam wanita itu tak jelas, merasakan lidah panas Mang Oyik yang dengan cepat melakukan sapuan panjang di selangkangannya, menjilati bibir vaginanya dan terus menyapu hingga ke lubang anusnya.
Terus berulang-ulang, menyapu, menggelitik, sesekali menusuk lorong vagina dan anusnya, membuat tubuhnya merinding.
“Aaaaggghhh,,, gilaaaa,,, masukin maaaaang kalo beraniii,,,” rintih Bu Sofie semakin membuka lebar pahanya, dan benar saja, sesaat kemudian Mang Oyik menjawab tantangannya

hilda - jilbab hot (7)
Lidah panas itu berusaha menguak lubang anus Bu Sofie. Akibatnya wanita itu semakin kalang kabut dilanda birahi. Tak pernah dirinya diperlakukan seperti ini, selama ini pejantan muda yang dibokingnya kebanyakan dari kalangan mahasiswa, yang minim pengalaman dan terlalu menjaga sopan santun. Tapi kini, wanita itu dapat merasakan lidah panas yang berhasil menerobos liang kotor itu, menggelitik liar berusaha masuk semakin dalam,
“Aaaaaggghhhh,, Maaaang,,,jilaaaatin dalam nyaaa jugaaaa Maaaangssshhh,,,” pantat besar Bu Sofie menekan wajah Mang Oyik.
Tak ingin mengecewakan tamunya, Mang Oyik tak lagi peduli dengan rasa pahit di lidah, daging tak bertulang itu menari, melengkung ke kiri ke kanan seolah mencari sesuatu di lorong anus Bu Sofie.
“Dasaaarrr,,, betinaaa binaaaallll,,,” rintihnya, mengakat pantatnya semakin tinggi, memberi akses sepenuhnya pada lidah Mang Oyik untuk bertualang. Bibirnya terus mendesis, merintih, menjerit histeris.
“Aaaaakkkkhhhhhh,,,,, pindaaaah depaaaaannn,,, sedooottt yang didepaaaan Maaaaang,,,,” jerit Bu Sofia tiba-tiba, menjambak rambut kriting Mang Oyik, mengangkangi wajah Mang Oyik, mengarahkan lidah yang masih terjulur itu kebagian depan.
Tapi, belum puas dengan gerakan lidah Mang Oyik di vaginanya, pantat Bu Sofie bergerak semakin liar, menggesek-gesek bibir vaginanya yang penuh lendir ke wajah mang Oyik dengan kuat. Hingga akhirnya gelombang orgasme menyerang tubuhnya.
“Aaaaggghhh,,, keluaaaaaarrrr,,,,”
“Sedooot Maaang,,, minuuuum,,,sedoooot semuaaaa,,,” perintah Bu Sofie yang merintih penuh kenikmatan, menjejalkan bibir vaginanya ke mulut Mang Oyik yang terbuka.
Tapi bukan Mang Oyik namanya jika pasrah begitu saja menjadi objek pelampiasan seorang wanita. Karena bibir tebalnya tiba-tiba membekap seluruh pintu vagina Bu Sofie, dan melakukan sedotan kuat, hingga wanita itu terkencing-kencing.

Didera orgasme panjang kaki montok itu gemetar, “Sudaaaah Maaaang,,,stooop,,,” namun bibir Mang Oyik terus menghisap, menyedot lorong vaginanya, memaksa semua cairan keluar dan beralih ke mulutnya.
“Uuuuggghhh,,,”
Seeeerrr…. lagi-lagi Bu Sofie squirt, memuntahkan air seni yang dipaksa keluar. Tubuhnya roboh memeluk stang ATV, menungging membelakangi Mang Oyik yang tertawa puas dengan wajah basah oleh cairan vagina.
“Saat nya beraksi,,,” batin Mang Oyik, Tangan kirinya mengocoki batang yang sudah mengeras, sementara tangan kanannya mengusap-usap bibir vagina yang penuh dengan tetesan lendir.
“Oooowwwwhhhssss,,,”lenguh Bu Sofie, saat merasakan batang Mang Oyik yang dengan mudah menerobos vagina yang basah, tanpa menunggu dirinya siap, Mang Oyik langsung menggenjot dengan kasar.
Bu Sofie tertawa melihat ulah Mang Oyik yang begitu bernafsu, wajar saja, sangat jarang lelaki itu bisa merasakan barang semulus milik Bu Sofie.
“Selamat menikmati,,” seru Bu Sofie dengan gaya yang sangat genit, menduduki batang Mang Oyik di atas ATV.
Menggerakkan pinggulnya pelan. Wanita itu sadar, lorong vaginanya yang terbiasa dengan batang besar, terasa sedikit longgar saat berusaha mengempot batang Mang Oyik.
“Waaahhh,,, Mang Oyik, ada barang bagus dipake sendiri nih,,,” seru seseorang dari arah belakang. Bu Sofie yang terlalu asik dengan Mang Oyik tak menyadari seorang pemuda menghampiri mereka. Bu Sofie berusaha meloncat turun dari atas tubuh Mang Oyik, tapi lelaki itu mencengkram erat pinggulnya sambil tertawa. akhirnya wanita itu hanya bisa berusaha menutupi selangkangannya dengan rok yang terlalu pendek.
“Tenang Bu, dia si Kontet teman saya koq, penjaga cottage sebelah, ga usah takut, Kontet ini kalo ga diizinin ga bakalan ikut nyodok koq,” terang Mang Oyik, yang langsung dijawab Kontet dengan plototan mata.
“Gila lu Mang, barang bagus gini masa gue cuma disuruh nonton, aaahh,,, tai lu Mang, bini gue kemarin lu obrak-abrik gue santai aja, sekarang elu ada barang bagus dipake sendiri, liat aja ntar bini lu gue pake siang malam jangan protes lu,,,”
“Aaahh,, berisik Lu Tet, bikin orang ga khusu aja,” Mang Oyik melempar sendal ke arah Kontet.
Bu Sofie tak bisa menahan tawanya, meski tampangnya lebih sangar dan punya body yang jauh lebih besar dari Mang Oyik, ternyata lelaki itu cerewetnya minta ampun.
“Bu,, gimana?,,, boleh ikut gabung ga?,,,”
“Eeenghh,, iya deehh,, eemmh,,terserah deh maksud sayaa,,” wajah Bu Sofie panas seketika, bibirnya telah memperislahkan dua manusia amburadul itu untuk menikmati tubuhnya, tubuh istri dari seorang direktur cabang perusahaan besar di negeri maritim ini.

hilda yulis - hijabers mom community (4)

Tapi ulah Kontet yang tertawa girang menampilkan gigi yang sebagian ompong itu, membuat Bu Sofie tak mampu lagi menahan tawanya. Dan akhirnya hanya bisa merutuki nasibnya yang harus menjadi pemuas nafsu dua kura-kura pantai selatan.
“Tapi bilangin Mang, kalo nusuk punya saya ini mulut harus diam, ga boleh cerewet,,Hihihihi,,,”
Namun tawa Bu Sofie terhenti saat Kontet mengeluarkan batangnya. Batang yang lebih besar dari milik suaminya yang sudah termasuk kategori big size. Berselimut kulit yang coklat kehitaman, membuat tampilannya semakin sangar.
“Kenapa Bu,, gede banget ya,,,hehehee,,, makanya saya ga pernah ngizinin dia ngentotin bini saya, pasti ancur meqi Marni kalo disodok tu batang,,,hehehee,,,”
Jantung Bu Sofie bergemuruh mendengar paparan dari Mang Oyik yang begitu vulgar, khas orang pinggiran. Tapi batang itu memang sangat besar. Pinggul besar Bu Sofie kembali bergerak, berusaha sekuat mungkin menjepit batang Mang Oyik agar lelaki itu cepat selesai. Sementara Kontet berjalan ke depan ATV, seolah ingin memamerkan batang gorilanya kepada Bu Sofie yang tak berkedip memandang dengan bibir mendesis birahi. Tak sabar menunggu giliran.
“Bu,,, kelamaan kalo nungguin Mang Oyik kelar,,langsung masukin double dong Bu,,,”
“Gila kamuu,, bisa hancur beneran punya sayaa,,, Sini deehhh,,Aaawwwhh,, pelan Mangss,,”
Bu Sofie kembali menungging, agar mulutnya dapat menjangkau batang besar itu.
“Dasar kau Sofiee,, ga pernah bisa sabar kalo liat batang besar,” batinnya tertawa girang bercampur ngeri.
“Ooowwwhhh,,,yaaa,,, jilaaat buuu,,,yaaa,,,basaaahiin dulu batangnyaaa,, jilat memutar buuu,, oowwhhh,,,”
“yaaa sekarang masukin kemulut ibu,,, ooowwwhhhsss,,, gilaaa,, mulut ibuuu hangaaat bangeeettt,,masukiiin semua dong Buuu,,ayoo buuu semuaaa,,”
“AAAAWWWW,,, SAKIT BUUUU,,,”
Kontet menjerit seketika, batang besarnya digigit oleh Bu Sofie.
“Makanya diam,,, tinggal nikmatin aja repot bener sih,,, ga tau apa kalo ane masih Nobi,, kalo bikin cernas otaknya masih sering ngadat.”
(Naahhhh,, Lhooo,,, tepos kan ,,,lanjut ngaceng lagi yuuu,,,)
“Makanya diam,,, tinggal nikmatin aja repot bener sih,,, ga tau apa kalo ni batang gede banget,, ga bisa masuk semua tauu,,,”
“Tapi Bu, kan ga usah pake digi,,,”
“Diam!!!,,”
Kontet langsung menutup rapat mulutnya.
“Whuahahahaa,, emang bener Lu Tet, sampe ngentot aja mulut lu ga bisa diam,,,” Mang Oyik sontak tertawa. disambut tawa Bu Sofie yang ga sanggup melihat wajah Kontet yang seketika pucat, mendengar bentakannya.

Kehadiran Kontet membuat Bu Sofie bisa lebih rileks, seakan lupa dengan status sosialnya.
“Waduuuhh,,, koq malah ngecil sih ni batang,” Bu Sofie tiba-tiba panik saat mendapati batang Kontet yang keras seperti kayu mulai loyo.
“Sini dehh,, ibu masukin semuuaaa,, Eeemmmpphhh,,,, uuummpphhh,,,”
Bu Sofie berusaha menjejalkan batang gemuk itu kemulutnya, membekap dengan lidahnya. Namun batang itu hanya mampu masuk setengah.
“Uuugggmmpphhh,, Ooommppphh,,,” Bu Sofie gelagapan, saat batang kontet yang hitam kembali membesar di dalam mulutnya. Tapi mulut wanita itu enggan untuk melepaskan.
Ini adalah persetubuhan paling gila dari yang pernah dialaminya. Tangan Bu Sofie mencengkram pantat Kontet, memberi perintah agar batang itu bergerak di dalam mulutnya.
“Ooommmpphhh,,, uuggmmmppp,,,” jari lentiknya menekan pantat Kontet lebih kuat, hingga batang besar itu hampir masuk ke kerongkongannya, menutup saluran nafasnya.”
“Ooogghhhh,,,” mulut Bu Sofie tersedak, melepaskan batang besar, matanya berair akibat tersedak, tapi gilanya bibir sensualnya itu justru tersenyum.
“Gimanaa Tet,,,nikmat mana sama meqi binimu,,”
“Juancuuuk,, mulut Ibu ganas banget,,nikmat banget Bu,,,hampir aja saya muncrat di mulut ibuuu,” telinga Bu Sofie terasa panas saat mendengar Kontet hampir saja memenuhi mulutnya dengan sperma, batangnya saja sudah bau, bagaimana spermanya.
“Buu,, sebelum mulut ibu menampung sperma kita-kita,, saya cium dulu dong Buu,,” Mang Oyik yang merasa diacuhkan memalingkan wajah Bu Sofie, lalu dengan cepat melumat ganas.
“Eeemmpphhh,,, Mmaamgghhh,, emmpphh,,” Bu Sofie gelagapan, mulutnya dihisap Mang Oyik, lidahnya membelit, menarik masuk lidah wanita cantik itu ke dalam mulut yang bau tembakau.
Tak henti-hentinya Mang Oyik menyedot dan meneguk ludah Bu Sofie yang terkumpul. Sementara batangnya kembali bergerak menghajar kemaluan wanita itu. Belum lagi Kontet yang begitu ganas menyusu di payudara besarnya.
“Bolehkan? kalo saya nyemprot di mulut ibu?,,” tanya Mang Oyik, dengan nafas memburu. Pantatnya semakin cepat bergerak.
“mulut sayaa?,, Yaaa,, saya rasa itu lebih baik, saya sedang subuurrr,” ucap Bu Sofie terengah-engah, entah apa maksudnya, padahal subuh tadi keponakannya Adit berkali-kali memenuhi rahimnya dengan benih yang sangat subur. Tapi yang pasti, mulut Mang Oyik yang bau itu hampir saja menghantarnya pada orgasme yang liar.
“Buu,, isep punya saya lagi buuu,,,” pinta Kontet dengan suara memelas, sesaat Bu Sofie menatap wajah Kontet yang penuh harap. Haapp…
Kembali batang besar itu memenuhi mulut Bu Sofie.

“Eeemmpphh,, Oooommggghh,, Ooowwhhggg,,,”
“Ooowwhhhsss,, Buuu enaaaak Buuu,,,”
Tangan Bu Sofie kembali mencengkram pantat kekar Kontet, memandu agar batang besar itu bergerak lebih cepat di dalam mulutnya, begitu kompak dengan kedua tangan kontet yang memegangi kepala Bu Sofie, seakan benar-benar tengah menyenggamai mulut wanita cantik itu.
“Oooommmgggghh,,, Aaaaagghhmmm,,,”
Mata Bu Sofie kembali berair, berkali-kali batang besar itu menyodok tenggorokannya dengan kasar. Tapi wanita enggan melepaskan, bahkan lidahnya semakin liar menggelitik batang besar Kontet.
“Buuu,,, sayaaa keluaar duluaaannn,,, Aggghhhh,,,” tiba-tiba Mang Oyik mendengus liar, menghambur sperma di lorong kemaluan Bu Sofie.
Wanita itu berusaha berdiri, melepaskan batang Mang Oyik, tapi lelaki itu mencengkram erat pinggulnya, menekan kuat pantatnya ke bawah, membuat Batang Mang Oyik semakin jauh tenggelam. Mati-matian Bu Sofie berusaha melepaskan batang yang terus berkedut menghambur benih, tapi sangat sulit, mulutnyapun masih dipenuhi oleh Batang besar. Bahkan gerakan batang itu semakin kasar. Bu Sofie menatap wajah Kontet yang habang ijo mengejar kenikmatan tertinggi.
“Uuugghhh,, Siaaal,,” hati Bu Sofie mengumpat melihat wajah Kontet yang menunjukkan bagaimana besarnya kenikmatan yang diberikan oleh mulut seorang wanita sosialitas kelas atas.
“Ooommmggghhh,,, uuuggmmhhhh,,,,” tangan Bu Sofie meremas erat pantat Kontet, pinggulnya besar wanita itu kembali bergerak, berharap batang Mang Oyik masih dapat melaksanakan tugasnya.

Terlanjur basah, dirinyapun tak ingin rugi, harus mendaptkan orgasme seperti yang tengah dikejar Kontet, dengan mulut menggeram, penuh dengan jejalan batang besar, mata wanita menatap Kontet memberi sinyal. Inilah saat yang tepat.
“Oooowwwhhhsss,, Buuu,,,Aaaagghhhh,,,”
“Gilaaa,, nikmat bangeeeet,,,” Kontet histeris menghambur sperma, yang sigap disambut mulut Bu Sofie, berkali-kali mulutnya meneguk sperma Kontet yang memancar, seiring lorong vaginanya yang juga menghambur cairan orgasme ditengah sumpalan batang Mang Oyik.
“Ooommpphh,, puiihh,,puaahh,, puihhh,, asin banget sperma mu Tet,,,”
“Haayyaaaahh,, kalo asin kenapa ditelan Buu,, heheheee,,”
“Terpaksa tau,,”
Bu Sofie mencoba berdalih, meski mulutnya sudah terbiasa dengan beberapa cita rasa sperma.
“Buu,,,” Kontet kembali merengek, meminta bibir mungil Bu Sofie membersihkan batangnya.
“Aaahhh,, ngelunjak Lu Tet,, gue kan juga mau disepong ama Bu Sofie,,,” protes Mang Oyik yang merasa tersisih.
“Iyaa,,iyaa,, sini gantian,,,” wanita itu melepaskan batang Mang Oyik dari vaginanya. Lalu turun dari ATV, tanpa tendeng aling langsung melahap batang yang masih mengeras, dan itu membuatnya sangat heran.
BREEMMM…BREEEMMMM… BREEEEMMMMM….tiba-tiba terdengar suara ATV di kejauhan. Bu Sofie terkaget, itu pasti rombongan suaminya. dan mereka pasti mencari dirinya yang tiba lebih dulu. Sebenarnya Bu Sofie bisa saja langsung melepaskan batang Mang Oyik, membenahi pakaiannya lalu menghampiri mereka. Tapi matanya menatap nanar batang Kontet yang besar dan masih mengeras. Yaa,, dirinya masih ingin merasakan batang yang lebih besar dari milik suaminya itu memasuki tubuhnya.

“Aaahh,, persetanlah,, ntar gampang cari-cari alasan,” batin Bu Sofie menghentak.
“Tet,, cepet tiduran,,” BU Sofie mendorong tubuh besar Kontet kepasir, lalu dengan sigap menggenggam batang besar pemuda itu, dan mengarahkan keliang kemaluannya.
“Oooowwhhhhsss,, Gilaaa,, emang besar bangeeeettsss,,”
“Aaagghhh,,, Tai Lu,, jangan diaaam,, cepet masukiin batang Luu,,”
Bentak Bu Sofie panik,kata-katanya terdengar vulgar. Tanpa pikir panjang Kontet menghentak dengan kuat, bahkan terlalu kuat, hingga batang besarnya menggelosor masuk menghentak hingga ke lorong rahim.
“Aaagghhhh,,, begooo,,,sakiiitt,,kegedeaaann,,”
“Tapi bisa masuk koq Bu,,,” jawab Kontet cengengesan, antara takut dan nikmat.
“Yaaa,, masuukk,,Aaahhhss,, sampe mentoookss,,” Bu Sofie coba meresapi kenikmatan di lorong vaginanya.
“Maaang,,,mau Apaa?,,,jangaaan disituuu,,”
“Aaagghhh,, gilaaa,,,masuuukk,,jangaaann,,sakiitt begooo,,,Aaagghhh,, dikit lagiii,,,”
Bu Sofie kalang kabut, kedua lubangnya dipenuhi batang.
“Buu Sofieee,,, Buuu,,,”
“Sayaaaang,,, yu huuuu,,,”
“Buuuu,,, bu Sofie dimana,,,,”
“Mang Oyiiiik,,, Woooyy,,, Maaaang,,,”
Terdengar teriakan-teriakan samar memanggil namanya. Tapi sudah terlambat untuk menyudahi permainan. Kini dua buah batang pejantan telah memenuhi kedua lorongnya.
“Ayoo Tett,, Hajaaarrr,,” seru Mang Oyik. Memegangi pantat Bu Sofie yang begitu indah, seperti berbentuk amor yang sangat besar, dengan dua panah besar menembusi bagian tengahnya. Assseeeeemm,, pantat besar kaya gini yang dari dulu gue cari-cari,”
“Hehehee,, iyaa Mang,,kapan lagi bisa ngerasain barang kelas atas yang bisa dipake join depan belakang kaya gini,,,” jawab Kontet,mulai bergerak liar, batang besarnya bergerak cepat memaksa sperma Mang Oyik keluar.
“Ooowwwhhhss,,, Gilaaa,,kaliaaan,,ayooo hajaaarr punya Ibuuu,,,” rintih Bu Sofie yang kerepotan menahan tubuhnya, menjaga posisi agar kedua batang itu dapat bergerak cepat dan leluasa menikmati sempit kedua liang kemaluannya.
“Oooowwhhhsss,,, seperti inikah nikmatnya di gangbang, seperti kata Bu Ningrum,, Aaahhhsss,,,” Bu Sofie teringat cerita temannya yang terbiasa digangbang oleh suami dan anak kandungnya.
“Aaarrrgghhhssss,,papii,,, yang cepeeeet,, Sandyyy,,hajar memek Ibuuuu muuu ,,,” tiba-tiba mulut Bu Sofie meracau, membayangkan yang tengah menyetubuhinya adalah suaminya dan anaknya Sandy Prabu, yang tengah kuliah di Australia. Menyodorkan payudara besarnya ke mulut Kontet yang segera melahap rakus.
“Aaaaggghh,,, teruusss soddoook yang kuaaaat Saaandyyy,, masukin memek ibuuu yang dalaaaam Naaak,,”
Tubuh wanita itu mulai gemetar bersiap menyambut orgasme, bertepatan dengan matanya yang menangkap sosok suaminya berdiri di atas bukit pasir, menatap tak percaya.

“Papiii,,, Maaf Piii,, mamiii,,keluaaarrrrhhhh,,, Aaaarrrgggghhh,,,”
Mata Pak Prabu melotot, mulutnya ternganga melihat istrinya dihimpit dua lelaki dengan kejantanan bersemayam di lorong vagina dan anusnya. Sangat persis saat dirinya menunggangi Aryanti bersama Dako, Tapi kenapa istrinya justru menyebut namanya dan anaknya Sandy saat menyambut orgasme. Terlihat jelas bagaimana tubuh montok itu bergetar, pantatnya menekan batang Kontet hingga ke muara rahimnya. Hingga akhirnyaaa,,
“Uuunnghhh,,,Arrggghhh,, masuuuk semuaaaa,,,”
Pak Prabu terbelalak saat Istrinya menghentak keras, sangat keras. Hingga batang yang besar dan panjangnya melebihi miliknya itu tenggelam sepenuhnya kedalam kemaluan istrinya. Mungkinkah batang itu menerobos pintu rahim istrinya yang sudah melahirkan 3 orang anak.
“Buuuu,,, sayaaaa ngecrooot di memek ibuuuuu,,” teriak Kontet yang tak lagi mampu bertahan, jepitan vagina wanita itu tiba-tiba begitu kuat mencengkram seluruh penisnya. Tak pernah ada wanita yang sanggup melumat seluruh batangnya, dan apa yang dilakukan Bu Sofie bener-bener membuat batangnya begitu nikmat.
“Gilaaa kau Teeet,,, cabuuuut,,, cepet cabuuuut,,,” Wanita itu panik, semprotan lahar hangat Kontet dengan cepat memenuhi rahimnya.
“Sayaaa jugaaa keluaaar Buuu,,,” teriak Mang Oyik, menekan kuat batangnya kedalam anus Bu Sofie, hingga menggagalkan usaha wanita itu melepaskan batang Kontet yang terus menghambur cairan kental.
“Ooowwwwghhhhh,,, gilaaa kaliaaaannn,,, aku keluaaar lageeehhhh,,,” lagi-lagi tubuh montok itu menggelinjang, saat merasakan kedua lorongnya terasa begitu penuh.
Akhirnya Bu Sofie jatuh lemas dalam pelukan Kontet, menatap mata suaminya yang berubah seperti orang linglung. “Ooggghh,,ooghh,,” sesekali bibir tipisnya melenguh saat salah satu penis dalam tubuhnya menggeliat ke kiri dan ke kanan.
“Mereka tidak ada disini,,,” teriak Pak Prabu parau. Menuruni bukit, meninggalkan istrinya yang masih terengah-engah kelelahan diantara dua pejantan yang begitu enggan melepaskan batangnya. “Fifty-fifty,,,” gumam lelaki berkumis itu,suaranya begitu lirih.
##############################
Prepare

hilda yulis - hijabers mom community (3)

Di saat yang sama, tepatnya beberapa menit sebelumnya. Di tepi kolam renang.
“Dako,, sudah kau kumpulkan semua milik mereka?,,,” tanya Pak Prabu tertawa cengengesan, memasukkan beberapa potong bra milik Sintya dan Bu Sofie kedalam kerdus besar yang dipegang Dako.
“Beres Paak, Semua udah ngumpul disini, dipastikan tak ada satupun yang tersisa,, Hahahahaaa,,,”
“Terus punya Aryanti mana?,,,”
“Tuhh,, dipegang sama Adit,,” Dako memonyongkan bibirnya menunjuk Adit yang berdiri bersandar ke tembok, matanya terpejam begitu khusu menciumi bra berwarna pink dan cream.
“Asseeem,,, terus punya Zuraida, istrimu mana?,,,”
“Tadi, diambil sama Munaf,,,” Mata Dako celingak-celinguk mencari Munaf
“Juancuk,,, taik kau Naf,, awas aja kalo sampe bra istriku basah ama coli mu,,,” rutuk Dako, ketika mendapati Munaf menggosok-gosok bra warna ungu, ke selangkangan celananya, sambil tertawa.
“Cepet banget sih kalian nyerobot hak atasan,,,” umpat Pak Prabu kesal.
“Tenang Pak, bra Aryanti yang sudah dipake dan belum dicuci ada di bagian bawah kerdus,,,hehehehee,,,” celetuk Dako, membuat wajah Pak Prabu berbinar. Dengan cepat tangannya mengais tumpukan bra dalam kerdus.
“Yang ini?,,,” Pak Prabu menarik tali bra warna hitam dengan bahan yang sangat lembut, hampir saja membenamkan wajahnya ke dalam mangkok bra, tapi untunglah matanya masih jeli menangkap gumpalan sperma yang masih basah di kain itu.
“Dakooo,,, taik kaaauu,,, siapa yang udah make bra ini buat coli?,,,”
“Hahahaa,,sorry Paak, habisnya ga tahan kalo ingat tadi malam, tapi itu bener punya Aryanti koq,,” teriak Dako yang sudah lebih dulu menghindar menjauh. Disambut tawa Munaf dan Adit. Lalu masuk ke ruang tengah cottage.
“Waahh,,Dari mana saja kalian, cepatlah makan, kita mau ngadain game paling panas dari semua game yang ada,,,hahahaa,,” sambut Munaf, saat Arga dan Zuraida memasuki ruang tengah cottage, di samping Munaf tampak Aida yang pagi itu terlihat begitu cantik.
Tak jauh dari mereka, Andini begitu mesra memeluk Adit yang tengah ngobrol dengan Pak Prabu. wajahnya masih terlihat kelelahan akibat permainan tadi malam. Tak berbeda dengan Aida, Andini juga mengenakan kaos ketat dan rok pendek dengan lipitan yang lebar, seolah menjadi seragam wajib bagi para wanita selama liburan ini. Tapi Arga tidak mendapati Aryanti, kemana istrinya? Sedang apa?,,, tanya itu lagi-lagi menyeruak.
“Arga,, Aku duluan ya,, perutku udah lapeeerrr,,,” ucap Zuraida seraya melambaikan tangan. Arga mengacungkan jempol tanda setuju.
“Gaa,, kalo gitu kami juga berangkat sekalian,,,” celetuk Munaf, menggandeng istrinya, Aida, wanita itu melempar senyum penuh makna kepada Arga.
Pak Prabu menghampiri Arga, lalu menepuk pundaknya,,“Mukeee gileee,, kayanya udah sukses nih eksekusi dokter cantik,” tanpa menunggu jawaban dari Arga yang sedikit kelabakan ditembak seperti itu, Pak Prabu berlalu sambil tersenyum.

“Aryanti,,,” gumam Arga, lalu bergegas menaiki tangga. Didalam kamar Aryanti baru saja selesai mandi, mengenakan kaos putih, dengan tulisan ‘Touch Me’ tepat dibagian payudara nya yang membusung. Begitu serasi dengan rok warna merah menyala yang begitu pendek.
“Haaiii Sayaaaang,,” sapa Aryanti sambil menyisir rambutnya yang masih basah.
“Cantik,,, kau memang cantik,,,” ucap Arga mendekat, lalu memeluk dari belakang. Membuat istrinya tersenyum. Wajah wanita itu begitu segar, seakan pertarungan ganas tadi malam adalah hal yang biasa bagi tubuh indahnya yang terbiasa mengikuti aerobik.
“Apakah kau sudah sarapan?,,,”
“Belum,” jawab Arga, tangannya menyusuri pinggang ramping yang bersinergi dengan pinggul dan pantat yang montok berisi. “Apa kau ingin menemaniku sarapan?,”
“Sebenarnya aku sangat ingin menemanimu makan, tapi aku harus membawa barang-barang itu ke tempat game, mungkin Dako yang akan mengantarku,” jawab Aryanti dengan wajah menyesal.
“Yaa,, kurasa tak mengapa,,,” jawab Arga berusaha rileks saat telapak tangannya tiba di  selangkangan wanita yang mengikat janji setia untuk hidup bersamanya.
Tatapan mata sepasang suami istri bertemu di cermin, Aryanti tersenyum, namun seketika berubah murung saat suaminya mengusap lembut gundukan vaginanya.
“Cepatlah mandi sayang,,, kasian teman-teman mu menunggu terlalu lama,”
Hampir saja Arga menurunkan kain tipis di selangkangan Aryanti. Menarik nafas panjang, membaui rambut Aryanti, mengecup lembut rambut istrinya. Aryanti berjalan ke samping kasur, menunduk mengambil pakaian kotor yang ada di lantai, saat itulah jantung Arga tersentak, rok Aryanti terlalu pendek, siapapun dapat melihat pantatnya yang montok bila sedang menungging seperti itu. Jantung Arga semakin berdetak kencang, pakaian kotor yang ada di tangan Aryanti tidak lain adalah kaos dan leggins yang dipakainya tadi malam.
“Kenapa celana mu robek sayang?”
“Owwhhh ini,,, ini ulah teman-temanmu saat bermain game tadi malam,” jawab Aryanti dengan mimik salah tingkah.
“Game?,,,” Arga berpura-pura tak tau dengan apa yang dialami istrinya tadi malam.
“Yaaa,, hanya permainan yang sedikit nakal, yang diusulkan oleh sahabatmu Dako,,,”
“Hanya permainan?,,,” tanya Arga dengan suara lembut tapi begitu tajam.
Wajah Aryanti berubah pucat seketika, dirinya tidak pernah mampu berbohong saat Arga bertanya padanya dengan sebuah senyum yang menyejukkan. Seketika itu juga Aryanti memeluk tubuh Arga,
“Maaf sayaaang,,,” sesal Aryanti dengan suara berat, “aku terlalu terbawa permainan,” matanya yang indah mulai sembab, penyesalan mengalir tak terbendung.
Sangat sulit bagi Arga untuk meneruskan percakapan itu, yang akan membuat hatinya sakit saat harus mengingat kembali kejadian tadi malam, toh apa yang dilakukannya tak jauh berbeda dengan Aryanti. Lagipula, istrinya sudah mengakui kesalahannya.
“Sudahalah,,, bukan kah itu hanya sebuah permainan?,,,” Arga tersenyum sambil menatap mata Aryanti. Tapi,,,
“Sayaaang,, apa kamu,, eenghh,, tidak memakai bra?,,,” tanya Arga ragu-ragu saat merasakan gumpalan empuk yang menyentuh dadanya tidak mengenakan pelindung bra.
“Oohh iya,, bra ku dan semua bra para wanita disita oleh Pak Prabu, karena kami kalah taruhan saat sarapan tadi pagi,,,”

“Taruhan?,,,”
“Yaaa,, bos mu itu menantang kami para wanita untuk menebak, batang siapa yang sanggup tetap tertidur bila Lik Marni memperlihatkan payudaranya yang kencang itu,,” Aryanti bercerita penuh semangat.
“Ohhh,, sayaaang,,, seharusnya kau ada di ruang makan saat itu, karena Lik Marni akhirnya benar-benar memperlihatkan dagingnya yang bulat besar dan kencang itu, kurasa batangmu pun pasti akan dengan cepat mengeras bila melihatnya. Hasilnyaa,,,semua batang milik teman-temanmu itu mengeras semua, hahahahaa,,,sesuai tebakan kami,,, tapi tidak dengan batang Pak Prabu,,”
“Ohh yaa,,,” Arga meneguk liurnya, apa yang digambarkan Aryanti sama persis dengan apa yang dinikmatinya dari tubuh istri penjaga cottage itu.
“Bagaimana kalian tau, bukankah mereka mengenakan celana,,,”
“Yaaa,, karena penasaran, dan untuk memastikan siapa yang memenangkan pertaruhan, kami mengecek batang mereka satu persatu,,”
“Ohh,, apakah kamu juga ikut mengecek batang mereka satu persatu?,,”
“Yaaa,, karena para wanita melakukannya, kurasa tidak mengapa jika aku turut memastikan,” jawab Aryanti, sambil menggelayut manja, tangannya merogoh ke dalam celana Arga mengelus lembut batang yang sudah mengeras.
“Tapi lucunya,,, batang Pak Prabu yang tetap tertidur setelah disentuh para wanita itu, justru mengeras saat kusentuh,,, dan itu membuat semua yang ada di ruang makan tertawa, jadi aku terus meremasnya hingga batang itu menegang sepenuhnya, tapi aku melakukannya dari luar celana, jadi,, kurasa itu tak masalah,, bukan begitu sayang?,,,”
“Eehhh,, iya,, selama kau tidak menyentuhnya langsung, tapi,,,”
tok,,tok,,tok,,
“Sayaaaang,, apa kau sudah siap?,,,”

hilda yulis - hijabers mom community (2)
Seseorang mengetuk pintu, dan pemilik suara itu lain adalah Dako. Pintu terkuak sebelum sempat Arga dan Aryanti menjawab.
“Tidak apa-apa kan, bila Dako yang mengantarku? Nanti kau susullah bersama Zuraida dan Sintya, sepertinya dia juga belum selesai bersiap-siap,”
“Okee,, berhati-hatilah,, jangan ngebut walau pake ATV,” Arga berusaha tidak mempermasalahkan panggilan sayang yang diucapkan Dako kepada istrinya.
“Sob,,, tolong bocengin istriku ya,,,” seru Dako sambil mengedipkan matanya, lalu menggamit pinggang Aryanti yang membawa kerdus berisi bola, menuruni tangga.
“Aryantii,,, Apa kau masih bisa membawa beberapa kain ini?” seru Sintya dari arah ruang makan, membawa segumpalan kain bali, “Pak Prabu memintaku untuk membawa kain ini,tapi sepertinya aku akan terlambat,”
“Waaahh,,,sudah penuh Sin, taruh aja di kamarku, nanti biar Arga yang bawa,” jawab Aryanti sambil memperlihatkan isi kotak.
“Owwhh,, okee,, biar kuantar kekamarmu,,” jawab Sintya yang melihat sosok Arga yang masih di atas, berdiri di pinggiran tangga. Lalu melambai kepada Aryanti yang kemudian menghilang di pintu keluar.

Sintya menaiki tangga, tersenyum penuh makna, manatap Arga dengan kerlingan nakal.
“Apa kau ke kamarku hanya untuk mengantar kain itu?,,,” goda Arga, matanya menatap tonjolan mungil pada kaos ketat Sintya yang membulat padat.
Saat tiba di hadapan Arga, wanita cantik itu menepis poni yang menutupi mata indahnya sambil membusungkan dada semakin ke depan.
“Menurutmu?,,, apalagi yang kubawa selain barang-barang ini?,,” Sintya mengerling mata menunjuk kain-kain yang ada di kedua tangannya. Tapi itu tak ubahnya seperti menunjuk kedua payudara yang membusung. Lalu berlenggok genit menuju kamar, sengaja menggoyangkan pantatnya sedikit berlebihan untuk menggoda Arga.
“Okeee,,bawalah barang-barang ini ke kamarku,,,” seru Arga yang menubruk tubuh Sintya dari belakang. Tangannya segera meremas payudara yang hanya ditutupi kaos tipis.
“Uuuugghhh,,, kurasa kau salah,,, karena barang ini milik Pak Prabu, Bos ku di kantor,,” rintih Sitya yang menahan geli ketika payudaranya diremas dengan kuat, memainkan puting yang begitu cepat mengeras.
“Ohh,, yaa?,,, kurasa Pak Prabu tak akan keberatan jika barang spesial ini dihibahkan untuk pimpinan cabang yang baru,,”
Blaam,,,Arga segera menutup pintu dengan kakinya, ketika kedua sudah berada di dalam. Lalu menyeret tubuh Sintya ke ranjang.
“Boleh aku mencobanya?,,,” tanya Arga, memandangi payudara yang kini terpapar bebas di depan matanya, tubuhnya beringsut menaiki, menindih tubuh Sintya yang menggeliat manja.
“Sudah kubilang, itu punya Bos ku di kantor,, jika kau adalah bos baruku, maka kau bebas untuk mencicipinya,,,” wajah Sintya memerah, menunggu bibir Arga yang berada beberapa senti dari putingnya.
“Ooowwwhhh,,, Emmmppphhh,,,”
“Yaaa,, yaaang kanaaan jugaaa,,,, aaaggghhh,,”
“Boosss,,, gimanaaa,,, apa aku masih layak jadi sekretarismu nanti,,” tangan Sintya mengelus wajah Arga yang masih sibuk mengenyoti dua puting yang sudah mengeras.
“Apa kau masih membawa alat tester kelamin para lelaki?” tanya Arga, membuat Sintya bingung, lalu tertawa terbahak saat teringat kejadian di gazebo, saat mereka bercanda dalam birahi, tentang barang siapa yang lebih besar, apakah milik Arga ataukah milik Pak Prabu.
“Hahahaa,,Yaa,, kurasa aku membawanya,, cobalah cek, apakah alat itu masih ada di bawah sana?” Sintya menunjuk selangkangannya dengan menggerakkan wajahnya.Arga tertawa girang, “kurasa kita harus menyelesaikan tugas kita di gazebo, mengukur punya siapa yang lebih besar,” tangan Arga menarik tepian celana panjang dari bahan katun yang membekap tubuh bagian bawah Sintya.
“Yaaa,, benar katamu,,kita harus menyelesaikannya,,” dengus Sintya, mengangkat pantat sekalnya memudahkan usaha Arga.
Tapi tiba-tiba terdengar suara derap langkah mendekat dari luar kamar
“Argaaaa,,,”
“Gaaa,,, Argaaaa,,,”
Zuraida memanggil dari depan pintu, sontak keduanya meloncat bangun, membenahi pakaian yang mulai berantakan.
“Yaa,, Ada apa,, engghhh,, apa kau sudah sarapan?,,, aku,, aku belum mandi,,” Arga gelagapan saat pintu terbuka, sementara Sintya baru saja berhasil memasukkan payudaranya yang besar kembali ke dalam kaos.
“Hohohohooo,,, ternyata kau nakal juga yaa,,” seru Zuraida sambil berkecak pinggang, bola matanya melotot menyelidik wajah Arga yang pucat, layaknya maling tertangkap tangan.
“Huuhh,, ku kira kau memang berbeda dengan mereka,, ternyata,,,” wajah Zuraida yang kaget berubah menggoda Arga, tertawa genit, lalu berjalan menghampiri Sintya yang masih di atas kasur.
“Tunggu Zee,,, kami hanyaaa,, emmhhh,, maksudku,,,”
Tapi Wanita anggun itu tampak cuek, mengacuhkan Arga yang mati-matian mencari alasan, menghampiri Sintya lalu membisikkan sesuatu ke telinganya.
“Iiihh,, mba Zuraida apaan sih,,,” wajah Sintya tersipu malu, entah apa yang dibisikkan Zuraida ke telinganya.
Zuraida balik menghampiri Arga, berdiri tepat di depan lelaki yang terlihat canggung itu.
“Sayaaang,, Pak Prabu, Munaf, Bu Sofie, Aida, bahkan suamiku dan istrimu, Sepertinya mereka benar-benar menikmati permainan ini, lalu kenapa kita harus menahan diri,” ucap Zuraida.
Tangan lentiknya perlahan meraih selangkangan Arga, lalu tertawa genit, saat mendapati batang Arga yang keras mulai lunglai karena kaget.
“Kau punya waktu beberapa menit, sampai aku selesai mandi, tapi ingat,,, berusahalah untuk tidak memasukkan barang ini kedalam tubuh Sintya, karena aku bisa cemburu,,” ucap Zuraida dengan suara bergetar, tangannya mencengkram erat batang Arga yang dengan cepat kembali keras.
“Weelll,, aku mandi dulu ya sayang, manfaatkan waktumu dengan baik,,, Sintya, ingat kata-kataku tadi ya,,” seru Zuraida melepaskan batang Arga, mengedip genit ke arah Sintya. Lalu melangkah keluar dan menutup pintu.Tinggal Arga dan Sintya yang saling pandang.
“Apa yang dikatakan Zuraida tadi?,” tanya Arga, duduk ditepi ranjang.
“Adda aja,,,” Sintya tertawa genit, berusaha menurunkan celananya yang ketat hingga ke lutut, memamerkan gundukan vagina yang begitu indah, tersembunyi penuh misteri di balik kain segitiga berenda yang tipis.
“Soo,,, apa kau masih ingin alat ini mengukur batangmu itu,” tanya Sintya, jarinya mengusap-usap kain tepat di bibir vagina, membuat kain itu mulai basah.
“Aaaawwww,,, Argaaa,,,” Sintya terpekik, Arga membenamkan wajahnya ke selangkangannya, lalu mengusapi kain pelindung dengan hidung dan bibirnya.
“Gaaa,, ingaaat kata Zuraida, waktu kita hanya sebentaaar,,” Sintya berusaha melepaskan celana dalamnya, lalu membuka lebar pahanya.
Arga yang tengah melepas celana, harus meneguk ludahnya, barang itu statusnya memang milik Pak Prabu, tapi bos nya itu sangat jarang menggunakan, hanya pada saat berpergian keluar daerah bersama Sintya.
“Maaf Sin,, aku ga bisa memasukkan punyaku,,, tapi,,, kurasa bibir mu ini cukup mahir untuk mengukur seberapa besar batangku ini,,,” Arga memegangi batang besarnya yang sudah mengeras sempurna.
Mau tak mau Sintya harus mengakui keunggulan batang Arga dari milik Pak Prabu, tanpa menyentuhnya pun semua wanita pasti sudah tau.
“Sini Gaaa,, biar bibirku yang memastikan,,” Sintya membuka lebar mulutnya, tanpa basa-basi wanita itu ingin segera melumat seluruh batang Arga ke dalam mulutnya.
“Eeemmmhhh,,, Ghheedhheee bhhaaangheeed,,,” Sintya memutar-mutar wajahnya, membuat batang Arga serasa dipelintir. Menariknya keluar memandangi dengan takjub, lalu kembali memasukkan sambil menggerakkan kepalanya maju mundur.
Arga tertawa bangga. “hehehee,,,bagaimana? punya siapa yang lebih besar,,,”
Wanita itu memandangi Arga dengan tatapan birahi, “Masukkanlah ke dalam tubuhku,,, hingga aku benar-benar bisa mengukurnya,,,” Sitya mengangkat pinggulnya, seolah memamerkan kenikmatan yang siap diberikan oleh kemaluannya
Sintya menggeliat, tubuhnya sudah tak tahan untuk merasakan kejantanan Arga, apalagi saat teringat kejadi di gazebo, saat batang itu memenuhi lorong vaginanya dengan sempurna. Mata Arga memandangi vagina yang terus dielus-elus oleh Sintya, membuat permukaannya begitu basah. Tapi Arga menggelengkan kepala dengan sangat berat. “Aku ga bisaaa, Sin,,” pesan Zuraida terombang-ambing di pikirannya.
“Gaa,, Pleasee,,,” Sintya merengek, semakin tinggi mengakat vaginanya, memamerkan pada Arga yang masih berlutut di samping kepalanya. Menguak kedua pintu vagina, hingga mata Arga dapat melihat lorong yang begitu sempit.
“Aaagghhh,, Siaaal,,, Zeee,,, maaaf sayaaang,,aku ga tahaaaan pengen nusuuuk lubang Sintyaaa,,,” Arga menggeram, menindih tubuh montok Sintya, mengarahkan batangnya ke pintu vagina, dan dalam tiga hentakan batang besar itu berhasil masuk sepenuhnya.Tanpa sepengetahuan Arga, mata indah milik Zuraida mengamati dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Tersenyum lembut sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Gaa,,Usahamu untuk bertahan boleh juga,,” gumamnya pelan, lalu berbalik menuju kamar dengan birahi yang ikut tersulut.
“Gaaa,,, Oooowwwhhh,,, penuh banget Gaaa,,,”
“Mba Zuraidaaa,,,sudaaah masuk semua Mbaaa,,,”
“Oooowwwhh,,,”
Arga terkaget, menghentikan gerakannya, “Apa maksud mu Sin,,,”
“Mba Zuraida membisikiku,, menantang, apakah aku bisa menelan semua batangmu,,,”
“Owwhhh yaaa?,,,jadi memang ini yang diinginkannya?,,lalu apalagi,,” Arga menjadi bingung dengan Zuraida, dirinya dilarang tapi justru menantang Sintya untuk menggodanya. Tapi masa bodoh lah bila itu adalah ujian untuk dirinya, karena vagina Sintya sangat mahir memanjakan batangnya di dalam sana. Pinggulnya kembali bergerak menghentak dengan ganas.
“Mba Zuraida juga pengen Pak Arga nyemprot di dalam sebelum dia selesaai maandiiii,,, Aaahhhh,, yaaa,,,Oooowwwhhh,,,”
“Owwwhh,,,tapi apa kau sanggup membuat aku keluar secepat itu? Arrggghhh,,,”
“Aaahhhssss,,, bisaaa,, haruuusss bisaaa,,, Sintyaaa pengeeen disemproot punyaaa bapaaaak,,,” paha montok itu menjepit pinggul Arga, kakinya membelit kaki Arga dan menekan pinggulnya keatas. Membuat batang Arga masuk semakin dalam dan terjepit begitu erat.
“Gilaaa,, ada jugaaa ternyata tehnik seperti ini,,, Uuugghhh,, tapi ini belum cukup Sin,,,”
Sintya tertawa sambil terengah-engah di sela sodokan Arga yang semakin keras. Lalu mendorong Arga hingga duduk bersimpuh di atas kedua kaki, dan menaikinya, tanpa menunggu Arga siap, Sintya yang kini dalam posisi dipangku segera menggerakkan pantatnya dengan liar.
“Oooowwwhhh,,, Paaaak,,, bagaimanaaa,,, Aaagghhhh,,,”
Membekap wajah Arga di antara kedua payudara, pinggul montok itu kini bergerak menghentak dengan kasar dengan lorong vagina yang menjepit erat.
“Paaaak,,, cepeeet keluaaarin Paaaak,,, Sintya udaaah ga kuaaaaat,,”
“Ooowwwhhh,,, batang mu gedeee bangeeet Paaak,,,”
Gerakan liar wanita cantik berponi itu membuat Arga kelabakan, batangnya dengan cepat keluar masuk.
“Uuugghh,, gila kamu Sin,,, Aaaghhh,, barangmu ini haruss menjadi milikkuuu Aaarrgghh,,,”

hilda - jilbab hot (1)
“Please semprotin meeeemek aaahh,,,Sintyaaaa,,”
“Pleaseeee,,, Sintyaaa keluaaaarrrr,,,”
“Aaarrrgggghhh,,,”
“Akuuu semprooot memeeeeeek mu Siiin,,, Aaaarrrgghhhh,,,”
Kedua tubuh manusia berlainan jenis itu berkelojotan, saling melumat bibir, bertukar ludah, seiring cairan kelamin mereka yang menyatu dalam vagina Sintya.
“Oowwhh,, nikmat banget punyamu Sin,,,hehehee” ucap Arga, menjatuhkan tubuh Sintya ke kasur, dan menindihnya.
“Punya bapak tuh yang gila,, nusuknya dalem banget, sampe mentok,,hihihi,,,”
“Paak,, Apa bener bapak mau ngambil saya dari Pak Prabu,,,” tanya Sintya, tatapannya begitu serius, membuat Arga bingung.
“Eeeenghhh,, maksud ku,,”
“Hehehe,, tenang aja pak,, Sintya Cuma bercanda koq,,hehehe,,”
“Tapi kalo kapan-kapan bapak mau nyoba alatnya Sintya lagi, boleh koq,” Wanita itu tersenyum, menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Arga. Memeluk erat, dalam desir hati yang berbeda.

“Waahh,,, cepet banget,,, tau-tau udah makan disini,,,” Sapa Zuraida saat mendapati Arga dan Sintya sudah berada di ruang tamu. “Tapi kamu sudah mandi kan Ga?,,”
“Ya sudahlah,, kamu aja yang terlalu lama mandinya,,” jawab lelaki itu sambil memandangi tubuh Zuraida yang dibalut kaos putih yang ketat. lebih ketat dari biasanya.
“Gimana tadi?,,,” bisik Zuraida, duduk di sisi Sintya.
“Aku menang,,Mba kalah,,,” jawab Sintya malu-malu.
Zuraida langsung melotot ke arah Arga, yang tiba-tiba keselek dipandangi wanita berwajah cantik itu. penutup kepalanya diikat keleher seakan sengaja memamerkan sepasang gundukan payudara yang membulat padat.
“Aku ke kamar sebentar, ngambil kacamata, pasti panas banget nanti,,” pamit Sintya, menuju kamar.
“Sempurnaaa,,” ucap Arga pelan. Matanya tak sengaja menangkap tonjolan mungil, puting Zuraida tercetak jelas di kaos putihnya yang ketat. Bulatan payudara yang tidak ditopang oleh bra itu tetap membusung tegak, bergerak begitu indah mengikuti gerakan tubuh sang wanita. Sontak wanita itu tersipu malu, menundukkan wajahnya.
“Argaa,,, apakah aku masih terlihat cantik?,,” Hati Zuraida bergemuruh, ingin mendapatkan pengakuan dari lelaki yang dulu begitu dikaguminya.
“Cantik, bahkan sekarang kau bertambah lebih montok,,” Arga berdiri, mendekati bangku Zuraida. “Tapi bagiku, kau lebih dari sekedar cantik dan seksi, kau masih yang terindah,,”
“hohohoo,,, tidak,,tidaaak, jangan menggodaku lagi,,,” Zuraida bangkit, berusaha mengelak dari Arga yang ingin merengkuh pinggangnya. “Kau sudah gagal tadi,, u are a looser,, hahaaha,,,” berjalan menuju keluar.
“Aaahhh Siaaaal,,,” Arga memang sudah menduga jika Zuraida tadi tengah mengujinya.
“Zeee,,, Sayaaaang,,,” Arga menggenggam tangan Zuraida, menahan wanita itu. Menatap dengan penuh harap.

Setidaknya…
Biarkan di waktu yang tersisa ini aku memilikimu…
Merengkuh hatimu yang begitu jauh…
Meski sesaat, itu sangat berarti bagiku…
Aku ingin dirimu…

Lagi-lagi Zuraida harus menyerah pada tatapan teduh itu. Berjalan mendekat, masuk dalam pelukan sang lelaki.
“Arga,,, meski untuk sesaat, liburan ini juga sangat berarti bagiku,,, berusahalah untuk mendapatkan ku,, mendapatkan tubuhku,,,” ucap wanita yang hatinya tengah goyah itu.
Ada hasrat untuk menyerahkan tubuhnya dalam keperkasaan sang pejantan, tapi tidak dalam birahi liar. Wanita itu menginginkan sang pejantan menikmati tubuhnya dalam ritual hasrat yang sengaja dicipta, mencinta dan dicinta.
“Mbaaa,, Hehehee,, sorry,, lagi-lagi aku ngeganggu, Cepet Yuk,,, udah ditunggu sama yang lain,” seru Sintya, tepat saat Arga mengecup lembut Zuraida, yang menyambut dengan bibir terbuka.

***********************************
“Ayooo Aidaaaa,,, satu putaran lagiii,,,”
“Aryantiii,,, cepeeet,,, jangan mau kalaaahh,,,, loncat yang tinggi,,hahahaaa,,,”
Teriakan para suami terdengar ramai, tapi mereka bukan memberi semangat kepada istri masing-masing, teriakan itu justru ditujukan kepada istri yang memiliki gerakan paling liar.  Yaa,, lomba balap karung dipilih sebagai laga pembuka untuk game pantai.  Mata para suami tertuju pada Aida yang begitu semangat meloncat memacu tubuhnya, memimpin paling depan, dan bisa ditebak, mata jalang para suami tertuju pada sepasang payudara besarnya yang bergerak naik turun.  Sementara di belakangnya Aryanti berusaha menyusul, meloncat dengan cepat, tak peduli dengan payudara mereka yang tidak dilindungi bra, bergerak liar. Memang sangat merepotkan bagi mereka yang memiliki buah dada dengan ukuran besar, ketika harus meloncat, jelas sepasang benda menggiurkan itu akan ikut bergerak tak terkendali. Andini yang berada diurutan ketiga memang lebih diuntungkan dengan payudaranya yang tidak terlalu besar, namun ukuran karung yang hampir menutup seluruh tubuhnya itu membuatnya sangat kerepotan.
“Ayooo cepeeeet,,, yang nyampe duluan saya kasih piala,,” seru Pak Prabu yang berdiri di garis finish, sambil menggosok-gosok penisnya, membuat para suami lainnya tertawa. Tapi justru membuat para wanita yang tengah berloncat dan berlari tersipu malu.
Siapapun dapat melihat tojolan penis Pak Prabu, yang telah mengeras dengan sempurna, dan itu diakibatkan ulah payudara mereka yang bergerak brutal tak terkendali. Aryanti yang sudah pernah merasakan keperkasaan batang besar itu, tertawa. Terlintas dipikiran nakalnya untuk menabrak Pak Prabu, dan memberi pelajaran buat lelaki paruh baya itu dengan meremas batangnya saat tubuh mereka terjatuh.  Aryanti lagi-lagi tertawa, menertawakan pikiran mesumnya. Tapi ternyata hal yang sama juga terlintas dibenak Aida, meski tidak tau pasti ukuran pusaka Bos suaminya itu, dari balik kacamata minusnya Aida dapat memastikan batang itu memeiliki ukuran yang menggiurkan birahinya. Tak ayal kedua wanita cantik itu memacu kakinya lebih cepat, bersaing menuju tempat Pak Prabu berdiri. Saling bersenggolan sambil tertawa. Membuat Munaf yang berdiri tak jauh dari Pak Prabu sangat cemburu.
“Kyaaaaa,,,”
“Aaaaaa,,,hahahaahaa,,,”
“Mba Aida curaaaang,,, Hahahaaa,,”
Bruaakkk!!! Kedua tubuh montok itu bersamaan menubruk Pak Prabu yang tertawa menyambut sambil merentangkan kedua tangannya, jatuh terjengkang ditindih dua wanita cantik. Membuat para lelaki begitu iri dengan keberuntungan Pak Prabu. Apalagi mata mereka menangkap gerakan tangan Aida dan Aryanti yang berebut mencengkram selangkangan Pak Prabu bersamaan. Andini yang tepat berada di belakang mereka seakan tak mau kalah ikut meloncat ketubuh Pak Prabu, menindih Aida dan Aryanti. Membuat tawa semakin riuh.Tentu saja Pak Prabu juga berusaha sebaik mungkin memanfaatkan kesempatan, tangannya yang terentang dengan bebas meremasi payudara para wanita yang menyerahkan tubuh pada dirinya.
“Asseeeemmm,, mantap bener pantat istri kalian,,, uggghh,,, pasti nikmat banget kalo di Doggy,,” celetuk Mang Oyik kepada Arga dan Munaf, meremas-remas selangkangnya saat melihat rok ketiga wanita itu tersingkap, memamerkan pantat yang dibalut celana dalam aneka warna.
hilda - jilbab hot (2)
“Kan mamang udah pernah nyobain, kemaren nyemprot didalam juga kan?,,hehehe,,” jawab Arga terkekeh.
“Mamang udah pernah nyobain? Sama siapa? Istrimu Ga?,,,” tanya Munaf bingung.
“Ya istri mu lah,,, ngeliat sendirikan gimana lemesnya istri mu tadi malam? Hahahahaa,,,” Arga tertawa, seakan ingin membalas ulah Munaf yang sempat merayon tubuh Aryanti saat bermain kartu.
“Heehhh,, yang beneeer?,, ahh sialan kau Mang,,,” wajah Munaf seketika berkerut, tak pernah terlintas diotaknya kalau tubuh mulus istrinya turut dinikmati oleh lelaki seperti Mang Oyik.
Aryanti menghampiri Arga sambil tertawa. “Huuufff,,, capek banget sayang,, kakiku pegel seperti ingin keram,”
Sementara Munaf dan Mang Oyik harus meneguk liur menatap payudara Aryanti yang tercetak jelas di balik kaos, bergerak naik turun dengan teratur, mengikuti tarikan nafas yang masih tersengal.
“Kalau gitu istirahat lah dulu,” ucap Arga santai tanpa menoleh.
“Sayang,,, masih marah ya?” tanya Aryanti yang bingung melihat Arga sedikit agak cuek dari biasanya. “Atau kau marah karena kejadian tadi, saat aku menabrak Pak Prabu, aku memang melakukannya dengan sengaja, maaf,,,”
“Ngga koq sayang,, aku tau kau cuma terbawa permainan,” Arga menoleh sambil tersenyum lembut, tapi tetap saja ada yang mengganjal di hati Aryanti. Perlahan dipeluknya Arga dari samping.
“Ayooo Zuraidaaaa,,, cepaaat,,, jangan mau kalaah sama Bu Sofie,,,”
DEEEGGG, hati Aryanti terasa sakit saat Arga memberi semangat kepada Zuraida. Tapi kenapa?,,, Zuraida adalah teman baiknya, dan Zuraida pula yang menjodohkan mereka. Wanita cantik itu semakin erat memeluk pinggang Arga. Tapi bukan hanya Arga, karena mata semua lelaki kini tertuju pada Zuraida yang terlihat malu-malu untuk meloncat, menghindari gerakan di dadanya, sesekali kakinya berusaha berjalan di dalam karung yang sempit. Akibatnya Bu Sofie yang berada di belakang perlahan mulai mendekat, padahal tenaga wanita dengan tubuh padat berisi itu telah terkuras habis akibat ulah Mang Oyik dan Kontet.
“Ayooo Zuraidaaaa,,, loncat yang tinggiii!!!,,, Awwww,,,” Munaf yang berteriak memberi semangat seketika terpekik akibat cubitan Aida yang cemburu.
Teriakan Munaf justru membuat gerakan Zuraida semakin pelan, tapi sepelan apapun gerakan, payudara dengan ukuran menggiurkan itu pasti akan bergerak tanpa topangan bra.
“Hahahahaaa,, Hooosshh,, Hooshhh,, haahh,,hahaaahh,,,” Bu Sofie yang tertinggal dibelakang, kembali bersemangat saat melihat gerakan Zuraida semakin pelan, kini dirinya sudah menyusul beberapa langkah di depan, berusaha memperpendek jarak dengan Sintya yang ada di depannya.“Siaaal,,, Uuuhhhh,, Kenapa semua melihat ke aku sih,, padahal masih ada Sintya dan Bu Sofia yang nenennya lebih gedeeee,, Uuuhh,,, ,” Hati Zuraida berteriak kesal seakan ingin menangis.
Tubuh nya yang selalu tertutup hingga kekepala itu, tak pernah sekalipun dipertotonkan seperti itu kepada banyak orang, meskipun hanya dengan pakaian yang ketat. Tapi kini semua lelaki dapat melihat puting payudara yang tercetak jelas. Apalagi saat dirinya menangkap pandangan mata Pak Prabu, Adit dan munaf yang menatap penuh birahi. Parahnya lagi, di belakang ketiga lelaki itu, Mang Oyik begitu bernafsu menggosok selangkangannya, mulut lelaki berwajah amburadul itu membuka dan menutup mengikuti gerak payudaranya yang naik turun. Ada penyesalan dihati wanita itu, kenapa tadi dirinya memilih kaos ketat, padahal tujuannya tidak lain hanya untuk menggoda Arga, tapi jika ranum buah dadanya itu turut dipelototi oleh lelaki lain, jelas dirinya sangat malu.
“Begoooo,,, kenapa ga ditutup pake jilbab aja,,, uugghhh,, begoo, begooo,,,” rutuk hati Zuraida, ketika teringat bagian bawah jilbabnya yang terikat ke belakang. Dengan sekali hentakan ikatan kain putih itu terlepas, menutupi bagian depan payudaranya. Sontak teriak kecewa menghambur dari mulut para lelaki.
“Whooooo,,, Zuraidaaa pelit,, Aaaaww,,, koq dicubit terus sih mahh,,” protes Munaf ketika teriakan kecewanya beroleh cubitan di perutnya yang mulai buncit.
“Mamahkan enak, udah nyobain banyak batang dimari,,,” sungut Munaf.
“Tu kan,,, salahnya papah juga sih suruh-suruh mamah pake rok beginian, pasti biar bisa pamerin punya mamah kan?, jadi kalo ada orang yang minta isi dalam rok mamahh, papah ga boleh marah dong,,,” protes Aida lalu melenggang meninggalkan Munaf yang terbengong.
“Eeee,,, busyet dah, sejak kapan bini ku binal kaya gitu, main kasih memek seenaknya,, kan tu punya kuu,,,” dengus Munaf kesal, melototi istrinya yang melenggang cuek, sesekali memamerkan pantat yang tak mampu ditutupi oleh rok yang pasrah tertiup angin.
“Yeeeeaaahhhh,,,,” terdengar teriakan Sintya yang berhasil mencapai finish.
“Aaahhh,,, tungguuu,,tungguuu,,, curang kaliaaan,,,” Bu Sofie berteriak histeris dengan nafas ngos-ngosan, mulai keteteran tak mampu menyaingi Zuraida yang memacu tubuhnya, menyalip dengan cepat mencapai garis finish.
“Yaaaaaaaa,,,, hahahahahaaa,,,” Zuraida ikut tertawa heboh berdiri digaris finish. Mengangkat tinggi kedua tangannya, terlihat jelas wanita itu mulai menikmati permainan.
“Maaf ya buu,, sekali-sekali ibu yang belakangan,,,heheehee,,” ucap Zuraida menyambut Bu Sofie yang menggerutu lucu, di garis finish.
Sekilas Zuraida melirik Arga yang mengangkat jempolnya, membuat wanita itu tertawa tersipu. Dokter cantik itu tidak menyadari, Aryanti yang berdiri di samping suaminya tersenyum kecut, cemburu melihat kemesraan Suaminya dan Zuraida
“Wokkeeeee,,, game kali ini dimenangkan oleh Aidaaa,,,” Pak Prabu mengumumkan pemenang lomba.
“Lhoo koq bisa Pak?,,, aku kan lebih dulu nginjak garis finis dibanding Aida,,” protes Aryanti.
“Yaa,, tapi Aida sepersekian detik lebih cepat memegang punyaku,,,hahahaa,,,”
“Whhoooooo,,, Pak Prabu curang,,Hahahahaaa,,,”
“jurinya mupeng tuuuhhh,,,Hahahaa”

Teriakan dan tawa menghambur di bibir pantai. Terik matahari seakan tak mampu mengurangi keceriaan para suami istri.
“kali ini biar adil, biar aku yang jadi jurinya, karena game berikutnya bakal lebih panas, lomba makan sosis hahahaa,,” ucap Bu Sofie sambil bertolak pinggang.
“Ayooo sini,,,, semua ngumpul,,, para wanita silahkan pakai kalung pita ini,” lanjutnya, lalu menyerahkan pita merah kepada Aryanti, pita biru untuk Andini, pita ungu diserahkan pada Aida, Pita putih untuk Sintya, dan pita hijau untuk Zuraida. Bu Sofie meminta para istri mengalungkan di leher.
“Ayooo,, sekarang giliran para suami, cepet sini,,,” teriaknya sambil menenteng kain kantongan berisi beberapa bola.
“Dako kau duluan,, silahkan pilih wanita mu,,,, hehehee,,,” Bu Sofie mengulurkan kantong. Mata Dako berusaha mengintip melalui celah.
“Eeehh,, ga boleh ngintip,,, semua tergantung keberuntungan tanganmu,, ayo cepat ambil satu bola,”
“Warna Unguuu,, Aidaa,,,hahahaa,,” Bu Sofie mengumumkan pasangan Dako adalah Aida.
“Hehehehee,,, hay bu guru cantik, udah siap untuk menang?,,” Dako sengaja mencolek pinggang Aida, menggoda Munaf yang lagi uring-uringan.
hilda - jilbab hot (6)
“Yaaa,, meraahh,,Aryantiii,,,”
“Yeeeaaahhh,,,” Adit berteriak girang, menghampiri Aryanti, “Sorry ya calon boss,, aku pinjam dulu istrimu,,,hehehee,,” Adit menggoda Arga, menarik tangan Aryanti yang masih memeluk pinggang suaminya.
“Awas aja kalo sampe lecet, aku jadiin OB kamu,,” ancam Arga bercanda, walau ada rasa was-was dihati, permainan seperti apa yang bakal digelar.
“Sintyaaa,,, Putih,,,”
“Weeew,,, boleh juga nih,,, game nya harus hot Bu,,” seru Munaf, jengkelnya sedikit berkurang. Sudah lama dirinya tertarik dengan wanita yang setiap hari duduk manis di depan ruang Pak Prabu dengan rok ketat dan minimalis.
“Argaa,, kau dapat Andini,,, hahahaa,, mau ditukar dengan ibu?” goda Bu Sofie, ketika Arga maju mengambil bola warna Biru.
“Emang ibu sanggup makan sosis saya?,,” jawaban Arga membuat Bu Sofie terdiam dengan jantung berdegub kencang.
“Tunggu tanggal mainnya, pasti kulahap habis sosis besarmu itu,,” balas Bu Sofie, berbisik dengan jantung menderu merasa ditantang.
“Tersisa satu bola hijau, artinya Zuraida berpasangan dengan suamiku, pak Prabu,,,” terang Bu Sofie, sepeninggal Arga yang mendekati Andini.“Jadi permainannya seperti ini,, Sosis yang dibagikan Mang Oyik ini harus diikat dipinggang para istri, dan mereka harus mendekati pasangan mainnya dengan mata tertutup, dan pasangan mainnya harus memberi aba-aba kemana si wanita harus menuju, terus,,,” Bu Sofie menghentikan ucapannya sambil wajah tersenyum nakal, membuat peserta lomba penasaran menunggu.
“Terus,,, sosis itu harus dimasukkan ke dalam mulut para lelaki yang berbaring di pasir, dan ingat,, tidak boleh dibantu oleh tangan,,,hehehee,,” Bu Sofie tertawa sambil bertolak pinggang. Permainan itu tak ubahnya seperti permainan memasukkan pensil dalam botol, hanya saja dilakukan dengan cara yang vulgar.
“Haahhh???,, yang benar aja bu,, masukin sosis kemulut Adit yang tiduran, berarti kami harus ngangkangin mereka dong?,,,” Aryanti coba protes, tangannya reflek menahan rok yang tertiup angin, entah kenapa tiba-tiba dirinya merasa malu, pasti lomba ini akan terlihat sangat vulgar.
“Hehehee,, itulah tantangan dari game ini, kalian boleh berusaha menutupi rok kalian bila mau, tapi ingat tangan kalian tidak boleh memegang sosis itu,,.” terang Bu Sofie, tersenyum puas melihat wajah para wanita mulai pucat.
hilda - jilbab hot (3)
“Tenang aja mba,, ntar saya merem koq,,,”
“Merem? aku make rok aja kamu masih usaha buat ngintip ke bawah, gimana kalo aku ngangkang depan matamu,,, awas aja kalo ngga merem, bakal ku colok matamu,,,”
“Hahahahaaa,, nih Yan,,, buat jaga-jaga, kalo ngintip colok aja,” celetuk Zuraida, menyerahkan potongan ranting kepada Aryanti.
Wanita yang selalu setia dengan penutup kepalanya itu dapat sedikit bernafas lega, karena dirinya memakai celana leggins putih. Meski celana dalam warna hitamnya dapat terlihat dengan samar, setidaknya itu masih lebih baik dibanding para istri lainnya yang mengenakan rok. Mang Oyik membagikan potongan sossis yang ujungnya dibungkus plastik, agar dapat diikat oleh tali, wajah mesumnya cengengesan membayangkan kegilaan yang bakal terjadi.
“Lho Mang,,, koq tali punya saya pendek banget sih, tuker yang lebih panjang dong,,” sela Zuraida saat menerima sosisnya.
“Waduh,, udah habis bu,, itu yang terakhir,,” jawaban Mang Oyik membuat wajah cantiknya cemberut.
“Aaahhhh,,, tu kaaaann,,, pendek banget,,” Zuraida mulai panik, sosis yang sudah diikat kan di pinggang menggantung hanya beberapa senti dari pantatnya.
“Heheheheee,,,, cuma game aja koq Bu Dokter,,,ga usah terlalu diambil hati,, hehehee,,,” ucap Pak Prabu, hatinya berteriak girang, dengan mata tak lepas dari pantat montok Zuraida.Dokter cantik itu cuma bisa tersenyum kecut, andai saja partner game nya adalah Adit atau Munaf mungkin Zuraida bisa main bentak kalo mereka nakal, tapi ini adalah Pak Prabu. Akhirnya wanita itu cuma bisa berharap game dapat selesai dengan cepat.
“Ko,,, koq pendek banget sih ngiketnya,, lagian kenapa ngiketnya dibelakang,,,” protes Munaf kepada Dako yang membantu mengikatkan sosis di pinggang belakang istrinya, membuat sosis itu menggantung tepat di depan selangkangan istrinya.
Dako mengangkat kedua pundaknya, “Tapi Istrimu ga protes tuh,,,” jawaban itu membuat Munaf melototi istrinya yang jadi salah tingkah, wajah berhias kacamata itu memerah malu.
“Sayaaaang,,, Kan ini cuma permainan aja,, ngga lebih koq,” bujuk Aida, membuat Munaf tidak bisa berkata apa-apa.
“Hanya permainan,,,” hati Aida berkali-kali mengucap kalimat itu dengan jantung berdegub kencang.
Protes yang sama juga dilontarkan Adit yang melihat Istrinya, Andini, dengan sengaja memutar sosis yang berada di belakang ke depan, hingga menggantung tak jauh dari selangkangannya. Begitu juga dengan Pak Prabu yang melototi ulah Munaf, meski sosis itu tetap berada di belakang, tapi wanita simpanannya tidak protes saat Munaf menggulung tali menjadi lebih pendek.
“Okeeee,,, para suami silahkan berbaris disana,,, dan kalian berbaris di sini,, silahkan menutup mata dengan syal ini,,,” Bu Sofie kembali memberi perintah.
Berbeda dengan para lelaki yang tampak terlihat girang, para wanita justru terlihat pucat, saling pandang dengan bingung, masing-masing merasa tidak nyaman.
“Duuuhhh,,, aku ga bisa,,, kasian kamu Zuraidaa,,,” ucap Aida, memutar posisi sosisnya ke belakang, lalu menurunkan tali menjadi lebih panjang.
Perbuatan Aida ternyata diikuti wanita lainnya, yang berusaha menjauhkan gantungan sosis dari selangkangan mereka. Perbuatan para istri itu jelas membuat para lelaki yang berbaris 5 meter dari para wanita, terlihat kecewa.
“Kalian harus mendengarkan intruksi dari pasangan kalian, kemana kalian harus melangkah,, dan kalian yang cowok, setelah pasangan kalian sudah mendekat tepuk pundaknya lalu kalian boleh berbaring dan memakan sosis itu sampai habis,” Bu Sofie terpaksa harus sedikit berteriak agar semua dapat mendengar suaranya.
“Yaaa,,,Silahkan pasang penutup mata kalian,,” seru Bu Sofie sambil memeriksa mata para wanita, memastikan sudah benar-benar tertutup.
“Semua sudaahh siaaap?,,,”
“Satuuuu,,,,”
“Duaaaaa,,,,”
“Tigaaaaaa,,, Gooo,,,!!!”
Aba-aba dari Bu Sofie langsung disambut teriakan para lelaki yang heboh memberi komando kepada pasangannya agar menuju ke arah mereka. Para wanita harus bekerja sedikit ekstra untuk mengenali suara, untungnya Bu Sofie memberi jarak dua meter antar wanita dan pasangan mainnya agar suara teriakan tidak terlalu kacau dan membingungkan. Sintya yang lebih dulu sampai di hadapan Munaf, pundaknya segera ditepuk oleh Munaf, dan dengan wajah sumringah Munaf segera berbaring di kaki Sintya.
hilda - jilbab hot (4)
“Yaaa,, buka kakimu Sin,,, turunin sosisnya pelan-pelan,,,”
“Ooowwwhh,,, Shit!!!,,,” Munaf mengumpat saat Sintya mengangkangi wajahnya, pantat semok milik sekretaris seksi itu tepat di depan matanya, perlahan mulai turun mendekati wajahnya. Meski mulutnya sudah menyentuh sosis, Munaf tetap saja menyuruh Sintya menurunkan pantatnya.
“Yaa,,, cukup,,, aku akan makan sosis ini pelan-pelan,,,” seru Munaf saat selangkangan Sintya tinggal sejengkal dari mulutnya.
“Makan yang cepet Pak,, jangan lama-lama,,,” seru Sintya, entah kesal, entah marah, tapi yang jelas liang vaginanya yang kini berada satu jengkal dari wajah Munaf, mulai basah.
“Ayooo Bu,,,, Yaaa,, cepet buka kaki mu,,,turuuniiin,, Oooowwwhhh,,, punyamu mantap banget Buuu,,,” seru Dako tak kalah heboh, langsung berbaring dan meletakkan kepalanya di antara kedua kaki Aida.
“Ckckckck,,, bener-bener mantap ni pantat, apalagi meki nya gemuk banget,,pasti jepitannya mantap nih,,” Dako dengan cueknya berkomentar, tak peduli dengan kondisi Aida yang panas dingin. “curang tu si Arga, dapet barang bagus ga bilang-bilang,,,”
DEG,,,
“Jangan-jangan Dako juga melihat perselingkuhannya dengan Arga?,,,” hati Aida semakin tidak karuan.
“Ayooo Dakoo,, cepet makan sosisnya,,,” pinta Aida tidak karuan.
“Aku ga mau sosis,,, aku mau nya kue apem,,, hehehe,,,” jawab Dako.
“Huusss,, jangan nakal,,, makan aja cepat,,,” Aida perlahan semakin menurunkan pantatnya, hingga hidung Dako dapat merasakan aroma dari vagina yang mulai basah.
Hal yang sama juga dirasakan Zuraida, yang tidak menyangka dirinya menuruti begitu saja untuk mengikuti permainan gila itu. Dirinya yang berhasil sampai di tempat Pak Prabu berdiri, disambut dengan cara yang sangat nakal. Yaaa,, Pak Prabu yang seharusnya memberi kode dengan menepuk pundak atau tangannya, justru mencolek puting payudaranya.
“Maaf Bu Dokter,,, ga tahan pengen nyolek, habisnya kenceng banget,,,Hehhehe,,,” ucap Pak Prabu pelan, yang begitu menikmati kenakalannya mengerjai wanita alim itu.
Seandainya lelaki itu bukan atasan suaminya, ingin sekali Zuraida menampar wajah Pak Prabu, tapi dirinya cuma bisa menahan emosi,  Toh,, sebentar lagi lelaki itu akan pergi meninggalkan kantor suaminya, akhirnya Zuraida berusaha untuk tetap tersenyum di antara wajah kagetnya.
“Kakinya buka yang lebar ya Bu Dokter,,, kepala saya mau masuk,,,”
“Ooowwwhh,,, pantat ibu mantap banget Bu,,, ga terlalu besar, tapi nungging kaya itik,,,”
Komentar-komentar nakal Pak Prabu sangat menganggu pikiran jernih Zuraida. Tak pernah dirinya merasa senakal ini di hadapan orang lain, selain dengan Arga. Tak ubahnya seperti eksibisi berselubung persaingan dalam permainan.
“Paakk,, berhenti mengomentari tubuh saya, selesaikan saja permainan ini secepatnya,,” ucap Zuraida dengan intonasi tinggi, untuk menunjukka rasa tidak senangnya atas kenakalan atasan suaminya itu.Tapi tanpa disadari Zuraida, rasa dari amarah yang menyeruak itu tidak lebih dari pelarian rasa malu dan bersalahnya. Dan parahnya permainan ini baru saja dimulai.
“Pelan-pelan aja bu nurunin meqi nya,,, ga usah buru-buru,,,hehehee,,”
“Uuuugghhhh,,,” Zuraida bingung, sangat bingung, komentar Pak Prabu semakin nakal.
Zuraida masih bingung, bagaimana bisa dirinya terjebak permainan gila seperti ini. ingin sekali dirinya menyudahi permainan itu, tapi itu hanya akan membuat suaminya malu. Dengan bertopang pada tangan yang berpegangan dilutut, Zuraida perlahan menurunkan pantatnya. Meski matanya tertutup tapi wanita itu sangat yakin tepat di bawah selangkangannya wajah Pak Prabu sedang tersenyum girang. Dirinya cukup sering menemani suaminya dalam acara-acara kantor, dan Pak Prabu selalu memuji kecantikan wajah dan keindahan tubuhnya, dan saat ini lelaki itu tengah memuaskan rasa penasaran atas tubuhnya.
“Terus Bu,, turunin pantatnya, mulut saya belum bisa menjangkau meqi ibu,, ehh,, maksud saya sosisnya bu,,,Hehehehee,,”
Zuraida tau, lelaki berkumis lebat itu tidak berbohong, karena tali pengikat sosisnya memang sangat pendek, dengan sangat terpaksa menurunkan tubuhnya lebih rendah, membuat siapapun yang melihat akan tergoda untuk menghajar pantat montok yang semakin menungging.
“Ooowwhhggg,,,” tubuh Zuraida kembali terangkat, dirinya sangat kaget saat sesuatu yang lembut menyentuh lapisan celana leggins nya, tepat di bibir vagina.
“Lho koq diangkat lagi sih Bu,,, saya baru pengen ngegigit meqi ibu, eehh,, sosis nya bu,,,”
“Paaak,,, jangan nakal,, plisss,, saya mohon,,,” Zuraida serasa ingin menangis, sungguh dirinya tidak ingin menjadi wanita yang nakal. Meski dirinya pernah menggoda Arga, tapi itu tidak lebih dari ungkapan perasaan hatinya yang masih memiliki rasa terhadap Arga.
“Heheehee,, maaf bu,,, tadi ga sengaja bibir saya nyenggol itunya ibu,,,”
“Tapi meqi punya Bu Dokter emang indah banget, gemuk, mukung,,, seperti punya Sintya,, hehehehe,,,”
“Tuuu kaaaan,,, Pak Prabu memang mengincar vagina ku yang gemuk,,,” hati Zuraida semakin panik. Tapi kata-kata Pak Prabu yang membeber bentuk vagina Sintya membuat Zuraida teringat pada Arga.
Teringat ketidaksengajaan dirinya saat memergoki percumbuan Arga dan Sintya. Zuraida yang sangat mengerti dengan kondisi para lelaki, merasa kasihan dengan kondisi Arga yang berkali-kali menggantung setelah bercumbu setengah jalan dengan dirinya, dan akhirnya memilih untuk mendukung kenakalan Arga pada Sintya.
“Mukung seperti punya Sintya?,,, uggghhh,,, apa vagina Sintya memang seperti milik ku?,,, Apa Arga juga suka bentuk vaginaku,,, Aaaggghhhh,,,” kepala Zuraida menggeleng-geleng, berusaha mengenyahkan pikiran nakal.
“Ooowwwhh Paaaak,,,” Zuraida terkesiap, pantatnya bergetar, dirasakannya mulut Pak Prabu bergerak-gerak dibibir vaginanya. Lewat celah dibawah matanya, wanita itu melihat Pak Prabu yang mulai mengunyah sosisnya, bergerak pelan sesekali menggesek vaginanya.
Zuraida tak yakin dirinya dapat bertahan dengan godaan ini, apalagi saat merasakan ada cairan yang merembes dicelah kemaluannya. Ingin sekali mengangkat tubuhnya, tapi para istri lainnya pun pasti tengah mengalami hal yang sama dengan dirinya, berusaha menyelesaikan lomba secepatnya.
“Batang Pak Prabu bangun!!!,,,” Jantung wanita itu berdegub semkain keras, mata indahnya tidak sengaja melihat celana Pak Prabu yang menonjol.
“Kenapa Bu?,,,”
“Ngga apa-apa,,, cepat pak makan sosisnya,,,”
Tapi permintaannya itu justru membuat tubuhnya semakin tidak karuan, Zuraida tidak bisa memastikan apa saja yang tengah dilakukan mulut lelaki itu dibawah selangkangannya, tapi yang pasti mulut lelaki itu semakin cepat bergerak, menggesek bibir vaginanya semakin cepat. Pak Prabu yang tau apa yang tengah dipelototi oleh wanita itu, sengaja menggerakkan otot penisnya, memamerkan keperkasaan batangnya. Meski tertutup kain celana, Dokter cantik itu pasti dapat melihat dan memastikan seberapa besar betang yang bergerak nakal
“Owwwhhhh,,, Pak cepaaat habiiiskaaan,,, Aaagghhhh,,, Paak,,”
Tubuh wanita itu melejit, refleks terangkat saat kumis tebal Pak Prabu berhasil menyelinap dan menusuk bibir vaginanya. Lagi-lagi wanita itu harus menyesal, kenapa tadi pagi memilih celana leggins yang tipis, tak mengira akan ada permainan seperti ini. Tak jauh dari dokter cantik itu, Aryanti juga tengah berjuang membunuh rasa malunya. Komentar-komentar Adit membuat Aryanti ingin menghajar bibir pemuda itu.
“Mbaaa,, tebel banget kayanya tu jembi,,, bener-bener bikin konti ku ngaceng,, jadi pengen masukin kaya malam kemarin,,, hehehee,,,”
“Banyak omong ni bocah, tinggal nikmatin aja masih sempat komentar, kalo masih cerewet aku bekep mulut mu pake ni pantat,,” Aryanti benar-benar gerah dengan komentar Adit, terlintas keajadian malam itu saat bibirnya dan bibir Sintya meberikan servis pada batang Adit.
“Ooowwhhh,,, mauu dong dibekep ama pantat montok mu mbaaa,,,”
“Cepeeet habisin,, atau ku pecahin dua telur mu ini,,,” seru Aryanti sambil mencengkram dua telur kehidupan milik Adit, dan ancamannya ternyata cukup manjur, Adit yang kesakitan segera melahap sosis yang menggantung.
Tampaknya wanita cantik itu tengah berusaha untuk tidak nakal, dan menyelesaikan permainan secepatnya. Tapi nafas Adit yang mendengus panas tepat mengenai bibir vaginanya yang hanya dibalut kain tipis. Lutut Aryanti gemetar, berusaha untuk tidak menurunkan pantatnya lebih dekat kewajah Adit.
“Oooowwwhhh,,, Diiiit,,, jangan nakaaaal,,,” lirih Aryanti saat Adit dengan sengaja menggesekkan hidung ke bibir vaginanya. Mati-matian wanita itu bertahan untuk tidak lagi mengkhianti suaminya.
Karena saat ini hatinya sudah cukup sakit melihat kemesraan pandangan mata suaminya dan Zuraida. Yaaa,, sebatas pandangan mata yang mesra, karena Aryanti percaya akan kesetiaan suaminya, lagipula dirinya yakin Zuraida bukan wanita yang mudah tergoda oleh lelaki. Tapi hatinya jadi penasaran, apa yang tengah dilakukan Arga pada Andini, istri dari lelaki yang tengah dikangkanginya.
hilda - jilbab hot (5)
Tepat disamping Aryanti, beberapa langkah dari tempat wanita cantik itu mengangkangi wajah Adit, Arga telihat tengah digoda oleh Andini yang menarik segitiga pelindungnya kedalam belahan pantat, seolah memamerkan kulit pantat yang putih mulus. Sepertinya gadis itu sengaja ingin membalas ulah nakal Arga dikolam renang tadi malam. Arga tertawa lalu meremas pantat mungil Andini yang kencang, entah apa yang diucapkan Arga, hingga membuat Andini terlihat tertawa, lalu menyentil batang nya yang mengeras. Perlahan Arga makan sosis yang menggantung. Siapapun tau, jika gadis itu tengah menggoda Arga, tapi lelaki itu hanya berani mengusap-usap paha dan pantat mulusnya. Berkali-kali Andini menurunkan tubuhnya hingga vagina yang masih terbalut celana dalam putih itu mengenai bibir Arga, tapi lelaki itu menghindar dengan membuang wajahnya ke samping sambil tertawa.
“Hihihi,, ternyata Pak Arga juga jinak-jinak merpati, kalo ada istri nya sok jaim, tapi kalo ga ada,, wuuuhhhh,,, habis-habisan meqi ku dihajaaarr,,, hihihii,,” bisik Andini yang agak kesal dengan sikap sok cool lelaki itu. Sementara birahi mudanya tengah terbakar.
Padahal saat itu hati Arga tengah gundah, berkali-kali matanya melirik istrinya yang tengah dinakali oleh Adit, berkali-kali pemuda itu dengan sengaja mengakat kepala agar lidahnya dapat mengusap vagina istrinya. Dilihatnya Aryanti tampak berusaha untuk bertahan, namun saat kain celana dalam yang mulai basah itu disapu oleh lidah Adit, mau tidak mau bibir seksinya melenguh menahan nikmat. Sementara di sebelah kanannya Zuraida tampak menggeliat menahan godaan bibir Pak Prabu yang menciumi bibir vaginanya. Berkali-kali bibir nya merintih saat Pak Prabu membenamkan wajahnya setelah menggigit potongan sosis, dan dengan cepat Zuraida mengangkat kembali pantatnya dengan wajah yang tersipu malu. Tanpa disadari Arga yang tengah mengamati sekitar, tiba-tiba Andini menarik celana dalamnya ke samping, lalu mengambil sosis yang menggantung dan meletakkannya di bibir vagina, perlahan pantatnya turun, mengarahkan sosis ke bibir Arga.
“Asseeeemm,,, ni cewek, bener-bener ngerjain aku dah,,,” umpat Arga, saat melihat batangan sosis terjepit divagina Andini.
“Aaahh,, Masa Bodoh lahh,,,” dengan cepat Arga menggigit sebagian sosis, tapi gerakannya yang terburu-buru itu justru membuat sebagian sosis yang tersisa masuk semakin dalam ke vagina Andini.
“Oooowwhhh,,, Paaakk,,, Jangan nakaaall,,”
Meski pelan, Rintihan Andini membuat Aryanti menoleh,,,
“Mas Argaaa,,, Maaass!!!,,,”
Jantung wanita itu seakan berhenti berdetak, Aryanti yang sengaja membuka sedikit penutup matanya, melihat Arga seperti tengah memasukkan batangan sosis ke dalam vagina mungil Andini.
Tapi Aryanti juga heran, jika suaminya memang tengah menakali Andini, kenapa suaminya justru begitu takut bibirnya tersentuh vagina gadis mungil itu. Dengan giginya Arga berusaha menarik keluar batangan sosis, tapi gerakan pinggul Andini justru membuat sosis itu masuk semakin dalam. Membuat wajah Arga kebingungan.
“Dasar,, gadis nakal,,,” gumam Aryanti kesal, “lihat apa yang bisa kulakukan pada suami mu,,,”
Perlahan Aryanti menurunkan pantatnya, membenamkan wajah Adit di belahan pantat dan vaginanya, membuat pemuda itu terkejut tapi juga kegirangan.
“Mbaaa,,, Owwwhh,, wangi banget mba meqi muuu,, owwhhh,,,” Adit mendengus disela belahan vagina Aryanti, menggerak-gerakkan hidungnya seolah ingin membelah vagina Aryanti yang masih tertutup kain.Kini justru Aryanti yang kelimpungan, gerakan Adit membuat vaginanya begitu cepat basah, berusaha sekuat tenaga menahan lenguhan agar Arga yang berada beberapa meter darinya tidak mendengar dan menoleh.
“Ooooggghhh,, Adiiittt,,, jangan digigiiiit,,,” Aryanti terpekik tertahan, Adit yang memegangi pinggulnya tiba-tiba menekan pantat montoknya hingga wajah pemuda menghilang sepenuhnya, dan tanpa diduga mengigit bibir vaginanya.
Aryanti berusaha mengangkat tubuhnya, tapi tenaga Adit mampu menahan.
“Diiitt,,, jangaaaan,, Oooowwwhh,, Aku bisaaa keluar kalooo diginiiin teruusss,,”
“Suuudaaaahhh,,,”
Aryanti semakin kaget, disaat bibirnya merintih akibat ulahnya sendiri, saat itulah Arga menoleh, pandangan mata mereka bertemu,,,”
“Maaaasss,, aku dikerjai Adiiiit,,,”
“Eeeeeenghhhhkkss,,Ooooowwhhhhhsss,,,,” Aryanti melenguh menghantar orgasme dihujung tatapan suaminya.
Ingin sekali Aryanti menerangkan bahwa dirinya tengah dikerjai Adit, tapi sulit baginya untuk berkelit, tubuhnya yang menggelinjang orgasme telah menerangkan segalanya. Bu Sofie yang melihat permainan mulai panas justru tertawa.
“Ayooo,,, cepaaaat,,, habiskan sosisnya,,, Yang cowok jangan nakal yaa,,,hahahaaa,,”
“Saya hitung sampaai sepuluh,,, kalo ga habis bakal saya kasih sosisnya Mang Oyik lhoo,, hahahaa,,,”
Mendengar nama nya disebut untuk ditawarkan, membuat Mang Oyik tertawa girang. “Waaahh,, bener nih punya saya mau dikasihin keteman-teman ibu?,,,heheee,,makasih Buu,,,”
“Yeee,, jangan girang dulu,, bukan buat yang cewek,, tapi buat cowok yang kalah,,”
“Anjrit,,,”
“Asseeemm,,,”
Serentak para cowok yang mendengar obrolan Mang Oyik dan Bu Sofie mengumpat, bergegas menghabiskan sosisnya. Zuraida tersenyum kecut, saat Pak Prabu menghentikan kenakalannya, kain celana leggins nya tampak sangat basah, entah oleh ludah Pak Prabu, entah oleh rembesan cairan vaginanya, tapi yang pasti Dokter cantik itu mampu bertahan.  Begitu juga dengan Munaf dan Adit, sambil tertawa kedua orang itu mengunyah habis sosisnya. Lidah Dako yang tengah asik menikmati labia mayora milik guru cantik bernama Aida, mengumpat berkali-kali. Yaaa Aida dengan sukarela menyibak celana dalamnya kesamping karena tak mampu bertahan atas rayuan Dako.
“Asseeem,,, emang aku Maho,,,” umpat Dako, setelah menarik lidahnya dari lorong vagina Aida yang baru saja mendapat orgasme, tapi sosisnya masih utuh, belum digigit sedikitpun.
Sambil tersenyum nakal, dengan bibirnya Dako menarik lepas sosis yang masih utuh menggantung, lalu dengan mulutnya memasukkan sosis yang memiliki potongan cukup besar itu ke vagina Aida. Membuat wanita itu menjerit kaget.
“Akuu,, titip dulu,,, ntar setelah lomba baru kuambil,,,” bisik Dako, sementara Aida cuma bisa mengangguk, lalu mengangkat tubuhnya untuk berdiri.
Kakinya terlihat gemetar, menahan geli akibat sosis yang bersemayam di dalam vagina. Tersisa Arga yang kelimpungan, terpaksa mengais-ngais vagina Andini, berusaha menarik keluar sosis yang masuk semakin dalam ke vagina Andini.“Ooowwhhsss,,Ni Paaak,,, aku bantu ngeluarin,,,” ucap Andini disela desahannya, mengencangkan otot vaginanya, hingga membuat batangan sosis yang tersisa sedikit itu meloncat keluar, seiring dengan cairan orgasme yang menghambur.
“Ooowwhhhh,,,” kaki Andini gemetar, orgasme diatas wajah Arga yang kelimpungan, di bawah tatapan Aryanti dan peserta lomba lainnya.
Terlihat jelas wajah malu Aryanti, meski ia tau suaminya tengah dikerjai, tapi tidak bagi yang lainnya, yang hanya menonton prosesi hebohnya orgasme Andini. Jika yang lainnya justru tertawa dan bersorak menganggap itu adalah kemenangan Arga sebagai seorang lelaki, tidak begitu halnya dengan Zuraida, wanita cantik itu terlihat sangat kecewa. Menggenggam erat ujung kaosnya untuk meredam emosi, cemburu, marah yang membaur menjadi satu. Tapi wanita itu cuma bisa terdiam, sedikitpun dirinya tidak memeliki hak untuk marah, Arga bukan suaminya, bukan pula kekasihnya, karena masa bagi dirinya dan Arga telah habis beberapa tahun yang lalu.
“Okeee,,, permainan selesai,,”
“Sambil menunggu Mang Oyik mengambil minuman, kita istirahat sebentar,,,” Seru Bu Sofie, tanpa rasa bersalah setelah memberikan permainan yang begitu gila.
“Ingat,,, permainan selanjutnya bakal lebih gila,,, tapi bagi mereka yang menang akan mendapatkan mobil saya sebagai kenang-kenangan,,,” Sambungnya, lalu berjalan menuju kesebuah pohon.
Mereka yang awalnya ingin protes menjadi tertawa, saling pandang, tertantang untuk mendapatkan Honda CRV milik Bu Sofie.

ADELIA

Edies Adelia baru beberapa bulan memakai jilbab, perilakunya semakin alim dan religius. Saban hari mencerminkan seseorang yang tidak nakal lagi, lebih banyak waktunya dihabiskan untuk menekuni dunia akhirat, dan yang pasti pengin berbuat kebajikan. Namun semuanya itu harus dibayar mahal, naluri seks yang mengebu kini harus ditahan tahannya. Jilbab seakan akan menjadi penghalang untuk berekspresi lebih bebas, siapa tidak ingin menjadi manusia yang bebas walau dalam kehidupan yang tidak bebas ini. Walau selalu mengaku, semenjak memakai jilbab dirinya merasa menikmati, namun dalam urusan seks yang kian terbatas, karena kesibukan suaminya, juga aturan baku yang dalam urusan seks lebih mengarah hanya kewajiban belaka sehingga naluri dan fantasi seks tertahan di benak kepalanya, dulu sebelum memakai jilbab kelakuannya bebas, menikmatinya namun kini dengan balutan jilbab kebebasan itu sudah tidak didapatkan lagi. Sayangnya, entah kenapa Edies Adelia bertemu denganku ketika aku secara tak sengaja berada di sebuah studio, padahal aku juga tidak ada maksud datang ke studio itu yang nyatanya hanya berisi beberapa orang karena pada sibuk shooting di luar kota.
Awalnya aku tidak tahu kalo itu Edies Adelia karena beberapa bulan yang lalu aku bertemu dengannya tidak berjilbab, namun kini dengan balutan jilbab itu, kecantikannya justru malah memukau, apalagi dengan pakaian gamisnya itu, menambah keanggunan dan keseksiannya, kubayangkan selingkuhku dengan beberapa artis berjilbab yang sangat menarik minatku untuk memburu artis berjilbab lagi, begitu sangat sopannya di luar, namun di ranjang mengerang penuh kenikmatan dengan masih berjilbab.
“Haaaan .. Burhaaaan “ panggil Edies Adelia ketika aku sedang suntuk dengan netbook, aku tak menyadari kalo itu Edies Adelia.
“Siapa ya “ tanyaku dengan seksama.
“Owalaaah .. kamu Edies .. gila maaah .. duh tambah cakep kamu “ pujiku dengan memandangnya sambil tersenyum plus mupeng alias muka pengin.
“Kok sepi sih Haan .. kemana nich orang orang “ tanya Edies Adelia dengan menggeleng gelengkan kepalanya.
“Tumben kamu jilbaban Edies “ tanyaku heran sambil duduk di sampingnya, uh bau wangi tubuhnya menusuk hidungku.
“Iya deh .. demi kebaikanku donk .. “ ucap Edies Adelia dengan tersenyum.
“Kau tambah cantik. Edies .. malah aku jadi kesengsem nih “ godaku yang dijawab dengan melototnya mata Edies Adelia itu.
“Kamu sejak dulu memang jahil, Han .. “ balas Edies Adelia dengan mengibaskan tangannya karena mulai panas di ruangan itu.
Mendadak beberapa pegawai pulang, tinggal satu sekretaris yang memanggilku. Anita mengatakan akan pergi ke tempat shooting yang jaraknya di luar Jakarta, Anita justru tidak keluar lewat depan, namun lewat belakang, naluri seksku langsung kambuh, bagaimana menggarap Edies Adelia ini, kebetulan tinggal aku berdua dengan Edies Adelia di studio ini. Sekeluar Anita aku langsung mengunci pintu belakang, segera aku membuka tasku dan kuambil obat perangsang agar bisa menjebak Edies Adelia berbirahi denganku. Kubawa minuman teh manis itu ke depan, ruangan sofa yang bagian depannya sudah ditutup, sedang bagian samping merupakan ruangan terbuka, namun masuknya tetap dari ruangan tengah. Kuberikan minuman itu di meja
“Waah .. kamu kok repot repot sih .. aku nggak lama kok ..” sahut Edies Adelia dengan tersenyum
“Ndak apa apa .. aku juga hendak pulang .. istirahat dikitlah .. jalanan jakarta jam segini juga macet “ kataku diplomatis untuk menahan Edies Adelia agar tertahan dan meminum minuman yang kuberikan, kutenggak juga gelas yang aku bawa.
Obrolan demi obrolan kami menyangkut masalah pekerjaan di mana aku sering membantu di studio yang sering membuat sinetron gombal ini, walau aku tidak suka sinetron namun karena tuntutan pekerjaan maka kulakoni juga sekalian berburu artis yang gemas berselingkuh.
Edies Adelia membenahi jilbabnya warna merah muda itu dan tersenyum padaku
“Eh Haaan .. aku mau tanyaaa .. tapi aaah .. “ tanya Edies Adelia dengan suara yang mulai tak teratur karena pengaruh obat perangsang itu, dosisnya aku atur dalam jangka sepuluh menit akan merasakan khasiatnya
“Tanya apa Mbak .. soal seks ya “ pancingku membuat Edies Adelia menjadi terkejut
“Iyaa .. eeeh tidak aah . anuu .. soal komputer “ ralat Edies Adelia yang semakin kacau, panas tubuhnya semakin membakar gairahnya.
“Kenapa nggak tenang Mbak .. panas ya .. apa Mbak Edies geraaah “ tanyaku dengan mendekatkan tubuhku agar lebih dekat, Edies Adelia sendiri juga tidak menyingkir, malah memijit kepalanya
“Aku sedang .. tak enaak badan nich .. uuh .. Haaan .. gimana yaa akuu mau minta tolong .. tapi aaah “ ujar Edies Adelia semakin bingung. Aku langung ambil inisiatif memandangnya dengan tersenyum sampai membuat Edies Adelia terkejut dipandangi dengan tersenyum itu, Edies Adelia menjadi malu dan tangannya meremas sofa itu.
“Kau cantik dengan balutan jilbab Mbak Edies .. kau makin seksi kok .. sungguh “ kupuji puji itu membuat Edies Adelia malah melambung dan tersenyum, minuman itu ditengguk sisanya, namun badannya kian panas. Aku terus mendekat sedikit demi sedikit, Edies Adelia memejamkan matanya merasakan panas tubuhnya, apalagi rangsangan dari minuman itu kian menggerogoti tubuhnya, kugenggam tangannya, Edies Adelia menjadi terkejut
“Tenang Mbak Edies .. rilekslaaah .. aaaku akan membuatmu rileks “ kataku dengan memijit lengannya itu. Edies Adelia kemudian merebah, jilbabnya diatur sebentar kemudian memejamkan matanya, pelan pelan aku memijatnya, kupegang tangannya.
“Pejamkan matamu .. jangan dibuka .. hembuskan nafasmu pelan pelan “ perintahku yang bertujuan aku agar bisa menggiring tangannya agar menyentuh pada selakanganku, pelan pelan sambil kupijit itu tangannya semakin dekat dengan selakanganku. Edies Adelia tetap tidak tenang
“Uuh Haaan .. rasanya panas “ keluh Edies Adelia
“Tenang Mbaaak .. sedikit lagi .. kau sungguh sangat menggairahkan Mbak dengan berjilbab “ rayuku membuat Edies Adelia membuka matanya namun dipejamkan kembali
“Iyaa Haan .. eeeh masaak sih “ ucap Edies Adelia tak karuan, kubawa tangannya semakin dekat dan akhirnya nemplok di selakanganku yang ngaceng itu, kontan saja Edies Adelia langsung membuka matanya, sialnya tangan Edies Adelia langsung merengut batangku tak sengaja
“Iiiiiiiih . apa apaan ini .. “ selidik Edies Adelia dengan terkejut, namun aku sudah tidak tahan lagi, kuserongkan kepalaku dan langsung melumat bibir Edies Adelia, kupegang kepalanya yang berjilbab itu. Sangat kontras, jika mengerang erang berjilbab ketika memeknya kucoblos akan sangat indahnya. Tangannya masih nemplok di selakanganku
“Oh Haaan … aaaaaaaahh .. “ jerit Edies Adelia dengan mata tertutup kemudian. Edies Adelia justru malah menanggapi lumatanku itu akibat pengaruh obat perangsang. Pelan pelan aku mengendurkan lumatan menuju pagutan, Edies Adelia menikmati pagutan itu dengan memejamkan matanya, kupagut dan kumainkan lidahku. Tiba tiba Edies Adelia terkejut ketika ada yang menggerayangi dadanya, kontan saja membuka matanya lalu mendorngku
“Haan .. apa apan ini .. dosa aaku . aku muslimaah .. jangan Han “ tolak Edies Adelia, namun aku tidak mundur, kupeluk dan kuhujani dengan pagutan lagi, kuremas buah dadanya kembali, besarnya buah dadanya itu yang membuatku semakin bernafsu, kenyal dan enak sekali.
“Haan aaaaaaah .. enaaak Haaaan .. teruus .. uuuuuuh “ kembali Edies Adelia terangsang, aku semakin nakal.
“Aakan kuberikan kenikmatan surgawi, Mbak Edies, sayang “ rayuku semakin menggila. Edies Adelia kini semakin tenggelam dalam lautan asmara, kutekan dan kutinih tubuhnya. Edies Adelia membuka matanya
“Haan … jangan .. jangan lakukaan .. please .. “ tahan Edies Adelia yang di mana tanganku sudah masuk ke dalam rok panjangnya menerobos sampai di celana dalamnya, kurasakan jembutnya itu
“Uuuh .. enaak Haaan .. uuh “ lenguh Edies Adelia ketika dengan nakal aku mengelus dan menekan nekan vaginanya yang membasah itu
“Marilah bercinta denganku, Mbak Edies “ kataku pada wanita berjilbab ini, Edies Adelia membuka matanya.
“Iya Haan . uuuh .. penismu gedhee “ ungkap Edies Adelia dengan tak karuan, racauan mulutnya sudah keluar dari logika, kutahan tubuhnya sebentar, kuberikan pagutan lagi, lalu aku langsung berdiri, kubuka celanaku dengan cepat, Edies Adelia masih terpejam merasakan panasnya birahi itu, aku menarik tangan Edies Adelia dan duduk lalu membuka matanya, di depannya sudah tersaji penisku yang ngaceng. Edies Adelia sampai melotot melihat penisku yang besar itu, kepalanya menggeleng geleng, namun matanya tak berkedip, kudorong belakang kepalanya yang berjilbab itu.
“Kulum Mbaaak .. enaak kok .. ayo deeeh .. besar khan kontolku “ kataku jorok. Kutarik tangannya dan kembali kuarahkan penisku. Edies Adelia kemudian tersenyum memandang batangku, nafsu seksnya naik dengan drastis. Pelan pelan kepala Edies Adelia maju dan membuka mulutnya. Kuatur jilbabnya itu agar lebih rapi kebelakang, tanganku semakin nakal meremas buah dadanya yang tertutup pakaian gamis itu. Roknya tak karuan karena aku singkapkan, kelihatan betapa mulusnya, Edies Adelia menelan batangku dengan pelan pelan, setelah telan Edies Adelia mengulum dengan pelan pelan.
“Tahan, sayaang “ kataku dengan menahan kepala Edies Adelia, dikeluarkan batangku itu, aku kemudian duduk, kuelus pahanya itu Edies Adelia pun kemudian membungkuk.
“Ssssh .. sssssshh .. enaak aaaaaaaah .. teruus kulum .. kontolku sayaang . kau benar benar menggiarahkan berjilbab sambil kulum kontol “ kataku dengan menarik kuciran jilbabnya agar tidak ke depan, aku semakin terlanda birahi, namun aku menahan untuk mengontrol nafsuku agar bisa bercinta dengan Edies Adelia lebih lama.
Pelan pelan batangku kini diisep oleh Edies Adelia yang sudah terbakar birahi, kehormatan sebagai seorang istri kini telah disingkirkan, kubuka bajuku pelan pelan dan aku bertelanjang dada. Hanya celanaku melorot sampai lutut.
“Teruus Mbaaak .. Mbak Edies benar benar cantik deeh ..makin cakep dengan berjilbab .. makin merangsang “ rayuku semakin menggila membuat Edies Adelia semakin cepat mengulum batangku itu. Pelan pelan Edies Adelia kini semakin instan mengulum batangku, aku semakin nakal dengan mengelus pahanya, menaikan tangan kiriku
Kutahan kuluman itu, lalu aku menghujani dengan pagutan kembali, Edies Adelia memejamkan matanya menikmati pagutanku.
“Sssssssssshh ssssssssssssssssssshhh ssssssshhh hhhh “ desis Edies Adelia dengan suara yang terdengar jelas, bibirnya sampai bergetar merasakan kenikmatan pagutan kami. Kudorong tubuhnya lagi dan aku langsung mengangkat pantatnya, kutarik celana dalamnya, tiba tiba setelah tertarik celana dalamnya itu,
“Haaan .. jangan Haan .. apa apaan ini “
“Sudahlah sayaaang .. nikmati saja “ kataku dengan menaikan roknya dan langsung kuserbu vaginanya itu. Edies Adelia kemudian memejamkan matanya lagi
“Ooh Haan .. enaaknya aaaaah aaaaauuh teruus Haan .. teruuus “ ucap Edies Adelia kembali terlanda birahi. Antara sadar dan tidak sadar bercmpur menjadi satu, kukuliti vaginanya dengan membungkuk, Edies Adelia sampai berdegup kencang merasakan oralku yang dengan cepat mengorek itu. Edies Adelia sampai menggeliat tak karuan, tubuhnya sudah mulai membasah tak karuan itu.
“Haan .. nakaal aah .. eeenaak .. teruus, sayaaang eeeh .. aaah ssssssshh sssssshh aaaaaauh “ lenguh dan erang Edies Adelia yang jilbabnya kini semakin tak teratur akibat gelengan kepalanya itu, namun dengan sigap tanganku naik memegang kepalanya, kubenahi sebentar namun agak susah juga, bibirku masih bermain di vaginanya yang sangat basah itu, apalagi celana dalamnya nemplok di lututnya itu.
Kupagut lagi bibirnya setelah Edies Adelia mengerang merasakan oralku
“Mari Mbak Edies .. kontolku siap mencoblos memekmu “ bisiku yang dijawab membuka matanya
“Jangan Haan .. jangan “ tolak Edies Adelia itu
“Enaaak .. copot celdamu sayaaang .. ceepet aaah “ tarikku pada tubuh Edies Adelia yang kini berdiri, kutahan roknya agar tidak terjatuh. Aku langsung mengangkat kakiku, menekan celana dalam itu. Mata Edies Adelia sendiri masih memandang dengan mata membesar itu batangku itu. Aku sampai mengocok dengan cepat agar batangku semakin ngaceng. Celana dalam itu akhirnya tertanggal dari mata kakinya
“Naikan aku Mbaak .. pengin mencoblos memekmu “ ajakku dengan memangku Edies Adelia yang mengangkang itu
“Haaan .. pleasee .. ini dosa aaaaaaah aaaaaaaakuu aaaaah … “ elak Edies Adelia tak kuat menahan birahinya, pelan pelan selakangannya mendekat dengan penisku, kupegang batang, tanganku masuk ke gamisnya meremas buah dadanya membuat Edies Adelia semakin meresapi birahi lebih dalam, tubuhnya menggeliat, namun Edies Adelia kemudian menekan membuat batangku mulai menerobos.
Tangan kiriku merapikan jilbabnya
“Tekan Mbaaak “ ajakku yang disambut dengan tekanan selakangan Edies Adelia itu, batangku mulai tenggelam dan Edies Adelia merasakan kesakitan
“Sakit Haaan duuuuuh .. aaaaaaaaaauh “
“Tenang Mbaak .. wanita seindah dirimu yang berjilbab akan nikmat ketika menggenjotku “ rayuku lagi, kutekan batangku ke atas.
“Iyaa Haan .. aaoh .. batangmu gedhe Haaan “
“Kontol namanya Mbak .. “ sahutku
“Iyaa kontol .. aaah jorok aaaaaah .. nggak maauu “ sahut Edies Adelia semakin tak karuan.
Desakan tekana itu semakin besar, vaginanya bak ular yang menelan mangsa, ukuran mangsa yang besar itu bisa tertelan dengan pelan pelan, luar biasa vagina Edies Adelia yang sempit membuka dengan pelan pelan tertutup roknya itu. Jeritan Edies Adelia semakin menggila, namun lama lama kesadarannya pulih, namun rangsangan birahi masih membelenggunya, kutekan pinggangnya membuat batangku semakin melesak lebih dalam
“genjotin pelan pelan “ ajakku yang disambut genjotan itu, akibatnya batangku melesak lebih dalam
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaw “
“Aaaayoo genjot teruuus “ ajakku
Edies Adelia semakin menggenjotku, batangku luar biasa diperas dalam vaginanya, Edies Adelia terus menggenjotku
“Huuuh aaah .. aaaaaauh eneaaaaaaak “ erang Edies Adelia, kuhujani dengan pagutan dan lumatan dan Edies Adelia pun semakin larut dalam birahinya.
“Aaayoo Haan .. enaaaaaak sssssshhh ..sssssssshhh uuuuuuuuh “ lenguh Edies Adelia yang naik turun dengan cepat karena tak tahan akan penisku yang mengoyak vaginanya itu, kurapikan jilbabnya agar tidak terlepas
“kaau Haan . aaahkaaau kurang ajaaar “ teriak Edies Adelia dengan menggenjotku lebih cepat. Genjotan demi genjotan cepat itu karena Edies Adelia hendak mencapai orgasme, genjotan itu semakin menekan lebih dalam sampai mentok di dalam bagian vaginanya.
“Haaaaaan .. nggak kuaat kuaaat .. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ erang Edies Adelia dengan menghujamkan selakangannya keras keras. Vaginanya menyempit dengan cepat, matanya terpejam erat, kepalanya mendongak ke atas merasakan orgasme, Edies Adelia membusung menegang dengan bola mata memutih. Kuremas buah dadanya dari luar gamisnya itu.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaauuuuuuuuuuuuuuuuu “ erang Edies Adelia mendapatkan orgasme dengan menekan kuat kuat ke selakanganku. Tubuhnya kemudian berkelonjotan dalam pangkuanku. Kupeluk tubuhnya yang ngos ngosan itu untuk memberikan ketenangan, kedua tangan Edies Adelia memelukku. Kurasakan vaginanya membasah banyak sekali sampai membasahi sofa itu.Masih dalam pelukanku Edies Adelia merasakan ketenangan, badannya mulai membasah di sana sini membuatku semakin bersemangat untuk terus menggenjot Edies Adelia yang sudah terbakar birahi. Gairah seksnya kini sudah dalam genggamanku, nafasnya masih tak teratur setelah menggenjotku dengan penuh kenikmatan. Aku menenangkan dengan mengelus elus kepalanya yang berjilbab itu. penisku masih dalam vaginanya yang hangat menyedot nyedot batangku. Tangan Edies Adelia memelukku erat, kedua tangannya merangkul di pundakku, kepalanya yang berjilbab itu menempel ketat di sisi kiri kepalaku. Sesekali tangan Edies Adelia mengelus elus bagian bawah belakang kepalaku. Tak lama kemudian menarik kepalanya dan memandangku dengan perasaan setengah marah.
“Kau merangsangku dengan obat ya Han .. kamu benar benar bangsat “ maki Edies Adelia dengan nada masih marah.
“Aku sudah tidak tahan dengan kemolekan tubuhmu, sayaang “ kataku dengan membual
“Ini dosa tauk .. nggak baik .. duh .. aku sudah aaaaah .. “ ungkap Edies Adelia dengan menunduk mengusap mukanya dan kemudian hendak membuka jilbabnya
“Nggak usah dibuka, sayaaang .. ayo deeh .. tinggal selangkah lagi .. tuh memekmu menjepit kontolku “ ajakku memandang kecantikan wanita ini yang tidak mencopot jilbabnya.
“Han tolong deeh .. kita sudahin .. aku mau pulang “ rengek Edies Adelia dengan memelas
“Sekali lagi deeh .. mosok kamu sudah orgasme .. sedang aku belum “ kataku dengan menyelusupkan tanganku masuk ke dalam roknya mengelus elus pahanya yang mulus
“Haaan . pleasee .. kamu nakal aaaaah .. geli nich ..” Edies Adelia menggelinjang karena aku semakin nakal menyelusupkan ke bagian dadanya, cup branya sudah lepas semenjak Edies Adelia menggenjotku, kuremas buah dadanya itu, kunaikan pakaian bagian atas itu, kuangkat terus dan kulepas, Edies Adelia tidak melawan atau mencegahku, kubuka ke atas melewati jilbabnya, luar biasa juga buah dada Edies Adelia yang berjilbab itu, Edies Adelia memandangku dengan menggeleng geleng
“Jangan Haan . pleasee .. ini dosaa .. “ ucap Edies Adelia dengan perasaan ditahan tahan, apalagi kontolku terjepit itu sering membuat Edies Adelia menjadi lupa daratan.
“Akan kuberikan kenikmatan tak kau lupakan, Mbak Edies .. aku pengin menggenjotmu dengan menungging “ ajakku dengan memeluk Edies Adelia dan menggulingkan ke samping, kutindih Edies Adelia yang langsung melenguh merasakan desakan batangku yang tenggelam itu.
“Haaaaaaan eeh .. enaak sih .. kontolmu itu “ aku Edies Adelia dengan memejamkan matanya, apalagi aku sesekali menggenjotnya pelan
“Mau ndak nich .. kita selesaikan .. setelah itu urusan selesai “ ajakku dengan mulai bergerak lagi, gerakanku sampai ditahan tangan Edies Adelia, Edies Adelia menyampirkan ekor jilbabnya yang menutupi mukanya dan menggeleng geleng.
“Nggak mau ? masak sih .. rasakan ini “ kataku dengan menarik batangku dan menghujamkan sehingga membuat Edies Adelia menjerit kesakitan.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaauh .. pleasee .. oke deeh .. kita selesaikan .. janji ya Haan .. jangan kau ganggu aku lagi dalam kemaksiatan … aakuu nggak sukaa, aku pengin berubah Han. “ Edies Adelia mencoba berdalih
“Aku takut kamu ketagihan sama kontolku, lagian kau berjilbab juga tidak mengubahmu .. tetep suka seks khan ? “ tahanku dengan menekan tangan Edies Adelia yang menahanku agar aku bisa kembali menyodokinya.
“Aaah nggak .. karena kau yang merangsangku “ kembali Edies Adelia mencoba mencari pembenaran
“Ntar kita lihat saja .. kalo kau ketagihan kontolku jangan salahkan aakuu .. “ aku kemudian menarik batangku pelan pelan, Edies Adelia sampai melenguh karena gesekan batangku yang besar itu, kemudian aku melepaskan batangku itu. Edies Adelia menggigit bibirnya karena batangku lepas, secercah kecewa ketika batangku lepas, sikapnya masam. Namun kemudian berubah senyum lagi ketika aku menarik tangannya, membawanya ke dekat meja yang ada jendelanya. Kembali aku meremas buah dadanya sampai membuat Edies Adelia melenguh dan mendesah keenakan, jilbabnya kemudian diatur lagi agar tidak lepas.
“Kau naikan kakimu ke meja, sayaang “ perintahku yang disambut senyum Edies Adelia.
“Oke deeh Haaan .. belum pernah aku diginiin .. “ aku Edies Adelia
“Naaah .. kau akan suka sayaang .. aku coblos lagi memekmu ya Mbaaak .. tahaan deh “ ajakku dengan merapatkan selakanganku ke pantat Edies Adelia yang bahenol itu.
“Iya Haan “ jawab Edies Adelia dengan singkat
“Ntar malam aku ke rumahmu Mbak Edies .. aku akan memberikan kepuasan lagi “ pancingku membuat mata Edies Adelia membesar
“Jangan Han . jangan .. bahayaa .. pleasee .. cukup di sini saja .. aku janji tak lapor polisi “ jawab Edies Adelia dengan berat hati.
“Kau tahu Mbak .. aku ada foto kita sedang bersetubuh .. kalo Mbak Edies nggak mau .. aku bisa menyebarkan ke internet .. gimana ?” kataku dengan berdalih
“Haaaaaaaaaaaah ! jangan Haan .. please .. aku takut ini dosaaa “ ingatan logika Edies Adelia kembali normal namun aku sudah kembali menusukan batangku membuat Edies Adelia menjerit kecil
“Uuuuuuh Haaaaan .. uuh .. aayoo .. tusuuk .. enaaaaaak .. oke .. aaayoo ….. ssssshhh ssssshhh sssshh ssssshhh .. hhhhh .. huuuh .. penismuu kegedeaaan “ jerit Edies Adelia dengan menggeleng gelengkan kepala, ekor jilbabnya ikut bergerak ke kanan kiri.
“Kontol namanya sayaaang “ racunku kembali agar lebih jorok
“Iiih .. kamu kok jorok banget .. nyebut nyebut dengan kontol segala“ sahut Edies Adelia dengan memalingkan wajahnya, ketika memalingkan itu langsung kusambar bibirnya, Edies Adelia pun langsung menanggapi pagutanku, kupagut bibir itu, Edies Adelia pun semakin tenggelam dalam lautan birahi, batangku kutekan terus sambil berpagutan, tanganku yang memeluk di bagian dadanya itu ikut meremas remas buah dadanya sehingga Edies Adelia semakin kembali terbuai birahi.
“Uuuuuh .. remeees Haaan .. remeess .. enaak .. ssssshhh sssssshh ssssssshh hhhh “ erang Edies Adelia semakin tenggelam dalam birahi bersamaku
“Ntar malam aku ke rumahmu ya Mbaaak .. “ ajakku
“Iyaaa eeeh .. jangaaan “ sahut Edies Adelia dengan bingung.
“Pokoknya aku dataaang deeh .. tunggu aja “ kataku dengan memancing.
“Hati hati Haaan .. aaaaaauh ayoo sayaang .. genjot donk .. katanya mau entotin aaaku . pleasee .. aku suka sama kontol yang besaaar .. rasanya nggak aaaaaahh aaaaaaaauh pleasee .. teruuus desaaak .. aaaaauh ..aaaaah .. sssssshh ssssshhh … “ Edies Adelia sampai merem setelah melepaskan pagutan itu. Roknya yang tersingkap tak karuan itu membuat pahanya yang mulus menjadi daerah rabaan setelah dadanya, branya copot tak berada di bagian yang benar, kedua buah dadanya menyembul dengan sangat indahnya, sedang di depan jendela itu, are kebun yang agak rindang, sepoi sepoi angin menerpa kami.
Aku kemudian menarik batangku dan mendesak lagi membuat jeritan Edies Adelia meninggi karena batangku menjadi ludes mentok di bagian terdalam vaginanya.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaw .. Ouuh Haaan .. pleasee .. enaaknya sssssshh sssssssssh .. aayoo sayaang .. aduuh nggak tahaan nich .. pleasee .. entotin .. teruus .. ayoo geraaak “ erang Edies Adelia semakin menggila dan bersemangat, bahkan Edies Adelia justru menekan ke belakang dan maju lagi sehingga batangku menjadi keluar masuk
“Duuh .. enaaak bangeeeeet .. ayoo genjot . sodok… sodook ! “ ajak Edies Adelia dengan merem kuat menahan keenakan memeknya dimasukin kontolku
Aku lalu bergerak pelan pelan membuat Edies Adelia menjadi mulai menggelinjang, tangan kiri meremas buah dadanya sebelah kanan dan tangan kananku mengelus pahanya yang naik ke meja itu. Kusodokan pantatku maju mundur
“Yees .. yesss .. enaak Haaan .. Oh .. nikmaaaaaaat .. teruuus, sayaaang aaaaaah aaaaaaauh sssssssh .. ssssssshh .. “ erang Edies Adelia semakin senang.
“Jilbabmu jangaaan sampai lepaas, sayaang “ ingatku yang dijawab dengan tangan Edies Adelia memperbaiki letak jilbabnya itu, aku terus menggenjotnya dengan pelan pelan untuk memberikan kenikmatan.
“Iyaa sayaaang .. pelan pelaan ajaaa .. enaak .. duuuh .. kok bedaaa kontolmuu aaay eeeeh penis .. aaah .. uuuh “ sahut Edies Adelia dengan membuka matanya kemudian memaling ke belakang dan tersenyum padaku
“Enak khan ? sebut kontol deeh ” ajakku dengan terus menggenjot memek Edies Adelia itu, kupegang ekor jilbabnya sampai menutupi buah dadanya, lalu aku meremas buah dadanya dengan beralaskan jilbab itu.
“Iyaa kontol .. aayoo .. Haan . teruus .. ssssssh ..aaaaaaah .. uuuh “ lenguh Edies Adelia dengan membuka matanya, tangan kirinya mengelus elus bagian atas vagiananya yang menggelembung karena penisku yang besar itu.
“Cepetan dikit yaaaa .. ayoo Haan .. aaayoo sayaaang “ ajak Edies Adelia semakin menikmati gaya seks di meja itu.
Aku langsung bergerak dengan cepat membuat tubuh Edies Adelia menjadi tergoncang dengan hebat, tubuhnya bergerak seiring genjotanku, kuremas terus buah dadanya, kupindahkan tangan kananku meremas pantatnya yang bahenol itu. Edies Adelia kemudian membungkuk sehingga aku semakin cepat menggenjotnya.
“Haaaaaaan .. aaayoo nggak tahaan nih .. ayoo .. cepetaaan aaakuu sudaaaah maaaauuu maaau muncaaak “ jerit Edies Adelia dengan merem melek keenakan, buah dadanya yang menggelantung indah itu terus kuremas. Edies Adelia tidak tahan akan rangsangan itu, aku terus menggenjotnya dengan cepat, kuhujamkan batangku dengan keras membuat Edies Adelia sampai menjerit jerit. Jepitan vaginanya semakin sempit menjepit batangku
“Aaaaaaaah aaaaaah ..aaaaaaaaaauh aaaaaaah .. nggaaaaaak .. aaaaaauh “ erang Edies Adelia semakin melemah karena tenaganya kian habis, kugenjot terus, Edies Adelia mendapatkan orgasme dengan menjerit panjang, dari vaginanya mengucur cairan panas membasahi batangku, sehingga aku semakin lancar memaju mundurkan batangku keluar masuk vaginanya.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah sssssssssssssssssssssssssshhhhhhhh ssssssssssssssshhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhhhhhhhhhhh “ desis Edies Adelia panjang dengan menegang kaku, kuremas buah dadanya dengan kuat untuk memberikan daya maksimal sensasi seks. Edies Adelia berkelonjotan, aku terus menggenjotnya sampai membuat Edies Adelia kelimpungan rebah di meja, namun kaki kanannya menjadi selonjor. Kugenjot dengan cepat karena aku tidak tahan.
“Aaaah ..eeeh ..aaah ..eeeeh ..sudaaah daaaah … “ erang Edies Adelia tidak tahan akan sodokanku yang menggila itu. Aku menghujamkan berkali kali sampai Edies Adelia tergoncang ke sana kemari, aku sudah tidak kuat lagi, kubenamkan dalam dalam batangku ke dalam vagina Edies Adelia, kepalanya yang berjilbab menekan ke meja dengan kuat, bibirnya menggigit dengan kuat.
“Craaaaaaaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaat “
Kusemburkan air maniku ke dalam rahimnya sampai membuat Edies Adelia terkejut
“Aaaaaaauh .. bissaaa haaamiil .. siaaalaan kaaau Burhaaaaan .. siaaal aaaaaaah “ keluh Edies Adelia yang dengan nafas masih berantakan, aku menindih tubuhnya setelah aku menyemburkan isi batangku itu, nafasku tak teratur. Edies Adelia sampai menekanku ke atas agar aku tidak menindihnya.
Kutarik badannya dan penisku yang menciut itu keluar dari vaginanya, lendir kental berlepotan di batangku demikian pula dengan vagina Edies Adelia itu. Edies Adelia langsung bangun kemudian meninggalkan aku ke kamar mandi dan menutup pintu tanpa mengucapkan kata kata. Aku langsung duduk di sofa itu, kulap penisku dengan pakaian Edies Adelia. Penisku menjadi bersih kembali. Tak lama kemudian Edies Adelia masuk ke dalam ruangan itu dengan menunduk. Seolah menyesali perbuatannya. Edies Adelia kemudian langsung menjewerku melihat pakaiannya ada lendir kental
“Siaaalaan kau Haan .. “ maki Edies Adelia dengan kesal. Aku tak berkata apa apa.
Edies Adelia memakai pakaiannya kembali, celana dalamnya aku sembunyikan agar tidak dipakai, Edies Adelia sampai bingung mencari celana dalamnya. Aku tak mengubris kebingungan Edies Adelia itu, kupakai pakaianku sampai aku rapi, Edies Adelia masih mencari cari celana dalamnya tanpa bertanya. Ketika berdiri itu Edies Adelia kepeluk, namun Edies Adelia menolak lagi, namun aku terus memaksanya sampai kembali kutindih di sofa itu.
“Maumu apa Haan ? belum puas yaa ?” tanya Edies Adelia dengan wajah masam
“Nanti malam yaa .. “ ajakku
“Tapi di rumah banyak orang .. bahayaa “ sahut Edies Adelia dengan menolak pagutanku.
“Makanya kamu atur orang orangmu donk .. “ desakku lagi
“Aku mohon Haan .. jangan ganggu aku .. aku ini orang alim dan nggak macam macam “ tolak Edies Adelia yang hendak memagut namun bibirnya kembali membuka karena aku tak menyerah, Edies Adelia pun menanggapi pagutanku itu, kami berpagutan mesra, kuakhir pagutan itu dan aku bangun, merapikan pakaian Edies Adelia yang ada lendirnya di bagian bawah.
Edies Adelia langsung memungut tasnya kemudian keluar tanpa pamit, ketika menutup pintu depan itu, Edies Adelia memandangku sebentar sambil menggeleng geleng. Aku membenahi ruangan itu, kulap sperma yang menetes ke lantai itu, habis itu aku keluar dari ruangan itu, menuju ke lantai atas, dari jendela itu aku memandang Edies Adelia keluar menuju mobilnya, sesampai di dalam mobilnya Edies Adelia menutup mukanya, kepalanya ditundukan ke stir mobilnya, entah menyesali atau memang pengin lagi, kemudian kepalanya dinaikan dan menggeleng geleng, mengusap mukanya. Edies Adelia memandang ke atas dan melihatku sedang memperlihatkan celana dalamnya.
“Sialan kau Haan, balikin sini “ maki Edies Adelia dengan suara keras ke atas.
“Nanti malam aku kembalikan Mbaaak “ kataku dengan tersenyum. Edies Adelia kemudian menutup kaca samping mobilnya kemudian mobilnya melaju meninggalkan aku yang tersenyum penuh kemenangan, tak lama kemudian Edies Adelia menelponku
“Haaan .. aaku tak mau lagi .. jangan datang ke rumahku .. “ hardik Edies Adelia dengan tegas
“Sudahlah sayaaang .. tak akan kulepaskan dirimu, sayaaang .. “
“Han, tolong donk .. tolong yaa .. ini aib “ sahut Edies Adelia
“tapi enak khan ? kamu ketagihan sama kontol besarku .. “ godaku
“Aaaaaaaaaaaaaaah .. “ tiba tiba Edies Adelia menutup telepon itu karena kesal. Aku langsung bergegas turun ke bawah dan mengambil netbookku, kumasukan dalam tas, aku keluar dari ruangan itu. Kukunci pintu studio itu dan kuncinya aku berikan pada rumah sebelah yang biasa menjaga studio milik temanku itu. Malam nanti aku akan datang menggeluti Edies Adelia di rumahnya.

MBAK TARI

Aku bangun dari tidur setelah ritual yang melelahkan karena kenikmatan. Aku makan siang, terus buka diktat kuliahku kalau-kalau ada tugas. Aku ingat bahwa ada tugas yang belum aku kerjakan. Dengan terpaksa aku berangkat ke kost temanku untuk kerjakan tugas yang terlupakan. Setelah sampai kost, ternyata teman-temanku sudah ngumpul, sudah mengerjakan tugas yang cukup menyita waktu itu. Aku langsung nimbrung ngerjakan tugas dengan semangat, jangan sampai aku tidak berhasil gara-gara memek mbak Lasmi. Aku lupakan dulu semua, toh mbak Lasmi pun mungkin akan menerima alasanku tidak nyodok memeknya. Sampai tengah malam, aku baru selesai. Akhirnya aku tertidur kelelahan di rumah temenku sampai pagi.

Tanpa pulang dulu, aku langsung kuliah dengan pakaian seadanya. Maklum mahasiswa teknik, isinya cowok semua, kuliah tidak ganti baju tidak masalah. Tugas berhasil aku kumpulkan meskipun masih ada sedikit kesalahan, tapi dosen memakluminya. Ia menghargai mahasiswa yang masih mau berusaha. Sampai sore, aku sibuk di kampus. Jam tiga baru aku pulang ke rumahku. Dalam perjalanan pulang, sudah mulai terbayang lagi kemontokan tubuh mbak Lasmi. Dalam hati aku berucap, ”Mbak, akan kuganti ketidakhadiranku. Akan kuentot mbak sampai pagi.”

Sampai rumah…

“Pergi kok sehari semalam to, Riz, kemana kamu?” tanya ibuku.

“Anu, bu, semalam ngerjakan tugas di kost teman, trus langsung kuliah.“ jawabku.

“Oalah, masak anak ibu kuliah tidak ganti baju… tugasnya beres tidak?” kata ibu.

“Beres dong, lha ibu mau kemana?” tanyaku melihat kedua orang tuaku siap dengan tas besar.

“Ini, Riz, aku dan bapak mau ke Semarang sama om Joko, ada acara mantenan besok pagi. Malam ini acara midodareni, jadi aku sama bapak nginep di sana.“ jelas ibuku.

“Lha kok gantian yang pergi, aku jadi sendirian lagi.” kataku sambil ngeloyor ke kamarku.

Tak berapa lama, mobil om Joko datang. Aku keluar untuk bantu angkat-angkat barang bawaan orang tuaku.

“Kamu nggak ikut, Riz?” tanya om Joko.

“Tidak, om. Besok masuk.“ jawabku singkat. Dalam hati: ”Aku malam ini mau merengkuh kenikmatan, om.”

“Walah, paling kamu kencan sama pacarmu ya?” canda om Joko.

“Ti-tidak, om. Belum ada yang mau.” jawabku agak gelagapan.

“Hati-hati di rumah ya, Riz. Jangan kamu tinggalkan rumah lagi.” pesan ibu.

“Iya, bu. Salam untuk keluarga disana.” jawabku.

Akhirnya mereka berangkat, aku lambaikan tanganku mengantar mereka pergi, dalam hati aku berdoa semoga lancar perjalanan mereka. Aku lihat rumah mbak Lasmi kosong, mungkin lagi pergi. Sebenarnya aku pengin kesana, tapi akhirnya aku langsung tidur di kamarku. Sampai sore aku tertidur, terasa lapar saat aku bangun. Aku langsung makan dan mandi. Sore itu kuisi dengan mengobrol dengan tetangga di luar rumah sambil melihat keadaan rumah mbak Lasmi.

Habis maghrib hujan malah turun, kelihatan jalan sudah sepi. Aku merasa sepi di rumah, sementara kulihat rumah mbak Lasmi masih saja gelap pertanda tidak ada kehidupan disana, mungkin mbak Lasmi memang pergi atau malah marah karena semalam aku tidak main ke rumahnya. Mungkin dia ingin balas dendam kepadaku. Dalam kesendirian, terlihat sepeda motor mbak Lasmi datang, tapi dia cuek saja, tidak sedikitpun melihat ke rumahku. Aku tidak sabar ingin langsung ke rumah mbak Lasmi, tapi sebelumnya tak lupa beres-beres rumah supaya kelihatan aku pergi jauh. Motor kusembunyikan di belakang supaya kalau ada yang datang mengira aku pergi keluar. Aku pingin memberi kejutan kepada mbak Lasmi. kulihat rumah mbak Lasmi lampunya sudah menyala. Karena situasi saat itu yang sepi, akupun masuk ke rumahnya lewat pintu samping seperti biasa dan mendengar ada yang sedang mandi. Kulihat pintu kamar mandi terbuka sedikit. Saat akan mengintipnya, kurasa ada yang memergokiku dan langsung menguncinya dari dalam. Aku jadi ragu, apakah mbak Lasmi benar-benar marah?

Setelah pintu samping kututup, kupanggil mbak Lasmi yang ada di kamar mandi. “Mbak, lagi mandi yah?” tanyaku basa-basi.

Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Akupun melanjutkan. “Kamu marah yah. mbak? Maaf yah, aku gak kasih tahu kalo aku mau nginep di kost temanku. Malam ini aku mau buat mbak puas. Aku akan cium mbak, bikin mbak puas hari ini. Aku akan jilati tubuh mbak mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.” rayuku.

Masih tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Aku mendekati pintu kamar mandi sambil berkata, “Mbak. Aku akan bikin kamu puas beberapa kali hari ini sebelum kau rasakan kontolku. Aku akan cium memekmu sampai kau menggelinjang puas dan memohon agar aku memasukkan kontolku. Mbak ingat waktu memekmu kusodok dibelakang mas slamet?”

Terdengar suara batuk kecil dari dalam kamar mandi, sudah tidak terdengar guyuran air lagi, tinggal suara orang yang menggunakan handuk.

“Mbak, maafkan aku. Aku rela mencium kakimu untuk memohon maaf. Mbak nggak usah pakai baju saja, toh nanti akan kuciumi semua. Tidak hanya kakimu, pokoknya semua, sampai itilmu. Aku kunci pintu depan dulu dan matikan lampunya ya, mbak.” Akupun berbalik untuk mengunci pintu dan mematikan lampu depan, sekarang tinggal lampu ruang tengah yang menyala. Kupikir dengan begini, aku bisa ngentot mbak Lasmi dengan tenang.

Ketika kumatikan lampu depan, kudengar pintu kamar mandi terbuka. Akupun tersenyum dan bersorak dalam hati. Aku langsung balik ke ruang tengah, pengin langsung memeluk mbak Lasmi. Tapi ternyata, yang ada dalam kamar bukanlah mbak Lasmi, tapi mbak Tari, adiknya. Aku jadi kaget dan mematung, memang mbak Tari mirip sekali dengan mbak Lasmi, tapi agak sedikit hitam. Namun untuk masalah bodi, tidak kalah sama mbak Lasmi, malah menurutku lebih bahenol mbak Tari. Aku memang sering memperhatikan bodinya ketika ia berkunjung kesini. Mbak Tari umurnya lebih muda dua tahun dari pada mbak Lasmi, suaminya seorang PNS di Jogja. Mereka belum dikaruniai anak, entah apa sebabnya, aku tidak tahu.

Terlihat mbak Tari yang baru saja selesai mandi keluar dengan menggunakan daster bertali merah milik mbak Lasmi yang sangat ketat membalut tubuh sintalnya. Ia berdiri memandangiku penuh pertanyaan. Ia memang sudah mengenalku. Aku juga memandanginya; mulai dari kakinya yang mulus terawat, betisnya yang indah, pahanya yang kencang, bokong dan pinggulnya yang besar, pinggangnya yang ramping, hingga ke belahan buah dadanya yang terlihat sangat menantang sekali untuk diremas dan dielus. Ukurannya jelas sedikit lebih besar dari punya mbak Lasmi.

Mbak Tari hanya tersenyum sambil berkata, ”Cari siapa, Riz, kok langsung nylonong masuk?”

“Anu, mbak, aku cuma pingin nyambangi rumah ini. Kan mbak tahu aku sudah seperti keluarga sendiri.” kataku berkelit. “Mbak Lasmi kemana, mbak, kok nggak kelihatan?” tanyaku sambil duduk di sofa.

Mbak Tari pun ikut duduk. “Mbak Lasmi sedang ke Yogya, menginap di acara dikeluarga mas Slamet. Tadi aku ketemu di Solo, mbak Lasmi ke Jogja dan motornya aku pakai. Karena besok masih ada acara, maka aku menginap disini.” terang mbak Tari sambil menyilangkan kakinya sehingga hampir semua pahanya kelihatan. Tidak aku sia-siakan pemandangan itu, langsung aku memelototinya, otomatis kontolku yang tadi sempat tertidur sebentar langsung berdiri tegak.

“Kalau mbak sudah di sini, aku sebaiknya pulang saja. Mau jaga rumah, kebetulan rumahku juga kosong.” kataku kaya maling ketahuan.

“Tunggu, Riz, ada yang perlu aku omongkan.“ kata mbak Tari mencegah kepergianku.

“A-ada apa, mbak?” tanyaku penuh cemas, jangan-jangan mbak Tari akan marah atas rayuanku yang salah sasaran tadi.

“Kamu harus jawab jujur! Tadi mbak sudah dengar rayuanmu, maaf mbak memang sengaja mendengarkan rayuanmu ataupun pengakuanmu, jadi selama ini kamu suka ngentot ya sama mbak Lasmi? Padahal aku percaya kamu tidak akan begitu sama kakakku.” kata mbak Tari.

“Kuakui, mbak, aku memang pernah ngentot sama mbak Lasmi. Tapi mungkin baru sebulan ini, semenjak mas Slamet ditahan kemarin karena kita sama-sama mau dan keadaan memungkinkan.” jelasku sambil menunduk.

“Kamu cinta mbak Lasmi?” tanya mbak Tari.

“Tidak, mbak. Hubungan kita cuma atas nama nafsu, saya tidak akan mengganggu rumah tangga mas Slamet, itu prinsip kami.” jawabku sedikit lebih berani.

“Kamu pernah ngentot yang lain selain mbak Lasmi?” tanya mbak Tari lebih lanjut.

“Tidak, mbak. Baru sama mbak Lasmi dan itupun aku banyak diajari untuk menjadi lelaki sejati olehnya.“ jelasku.

Kami diam beberapa saat dengan pikiran masing-masing. Akhirnya aku beranikan ngomong untuk mencairkan suasana. “Maaf, mbak. Aku nggak tahu kalo yang di dalam itu mbak Tari.” kataku sambil kuberanikan diri memandangnya meskipun aku masih takut. Tapi di lain sisi aku juga terangsang melihat tubuhnya. Mbak Tari menyadari kalau aku sedang memandanginya, tapi ia membiarkannya saja. Rambutnya yang hitam sepundak tampak tergerai basah. Dada yang menantang dengan belahan yang terlihat cukup dalam. Paha yang mulus dan kencang hingga betis yang terawat rapi. Kalau menurutku, mbak Tari boleh mendapat nilai 8 hingga 8,5 dari 10.

“Lalu kalo bukan mbak Lasmi kenapa? Kamu nggak mau mencium mbak, buat mbak puas, menjilati tubuh mbak seperti yang kamu bilang tadi?” tanya mbak Tari memancingku.

“Aku sih mau aja, mbak, kalo mbak kasih!” jawabku langsung tanpa berpikir, seperti kejatuhan duren lagi sambil melangkah mendekatinya. Sebab sebagai laki-laki normal, aku sudah tidak kuat menahan nafsuku melihat sesosok wanita cantik yang hampir pasti telanjang karena baru selesai mandi. Belum lagi pemandangan dada putih mulusnya yang sangat menggoda.

Setelah duduk di sebelahnya, aku mencium wangi harum tubuhnya. “Tubuh Mbak harum sekali,” kataku sambil mencium lehernya yang putih dan jenjang.

Mbak Tari menggeliat dan mendesah ketika lehernya kucium, mulutku pun naik dan mencium bibirnya yang mungil dan merah merekah. Mbak Tari pun membalas ciumanku dengan hangatnya. Perlahan kumasukkan lidahku ke dalam rongga mulutnya dan lidah kami pun saling bersentuhan, hal itu membuat mbak Tari semakin hangat.

Perlahan tangan kiriku menyelusup ke dalam dasternya, ternyata mbak Tari tidak memakai bra, persis seperti dugaanku. Kuraba payudaranya yang hangat dan kenyal, terasa lebih besar dari punya mbak Lasmi. Sambil terus berciuman, kuusap dan kupijat lembut kedua payudaranya bergantian. Payudaranya pun makin mengeras dan putingnya pun mulai naik. Sesekali kumainkan putingnya dengan tanganku sambil terus melumat bibirnya.

Tidak puas dengan itu, aku angkat dasternya dan mbak Tari membantuku sehingga dengan mudah kain itu melewati kepalanya. Aku pun mengubah posisiku, kurebahkan tubuh mbak Tari di sofa sambil terus melumat bibirnya dan meraba payudaranya.. Aku berhenti mencium lehernya sebentar untuk melihat tubuh wanita yang akan kutiduri sebentar lagi ini, karena aku belum pernah melihat tubuh mbak Tari tanpa seutas benang sedikitpun. Sungguh pemandangan yang indah dan tanpa cela.

Payudaranya yang montok dan tegak menantang berukuran lebih mantap dari milik mbak Lasmi, dengan puting yang sudah naik penuh, terlihat sangat menggairahkan. Pinggangnya juga langsing karena perutnya yang kecil. Bulu halus yang tumbuh di sekitar selangkangannya tampak rapi, mungkin mbak Tari baru saja mencukur rambut kemaluannya. Sungguh pemandangan yang sangat indah dan menggiurkan.

“Hh, gimana, Riz, kamu mau ngentot denganku?” desah mbak Tari membuyarkan lamunanku.

Aku pun langsung melanjutkan kegiatanku yang tadi sempat terhenti karena mengagumi keindahan tubuhnya. Kembali kulumat bibir mbak Tari sambil tanganku mengelus payudaranya dan perlahan-lahan turun ke perutnya. Ciumanku pun turun ke lehernya. Desahan mbak Tari pun makin terdengar. Perlahan mulutku pun turun ke payudaranya dan menciuminya dengan leluasa. Payudaranya yang kenyal pun mengeras ketika aku mencium sekeliling putingnya.

Tanganku yang sedang mengelus perutnya pun turun ke pahanya. Sengaja aku membelai sekeliling memeknya dahulu untuk memancing reaksi mbak Tari. Ketika tanganku mengelus paha bagian dalamnya, kaki mbak Tari pun merapat. Terus kuelus paha mbak Tari hingga akhirnya perlahan tanganku pun ditarik olehnya dan diarahkan ke belahan memeknya.

“Elus dong, Riz. Biar mbak ngerasa enak, Riz.” ucapnya sambil mendesah.

Bibir memek mbak Tari sudah basah ketika kusentuh. Kugesekkan jariku sepanjang bibir kemaluannya, dan iapun mendesah. Tangannya meremas kepalaku yang masih berada di atas gundukan payudaranya.

“Ahh, terus, Riz!” Pinggulnya makin bergoyang hebat sejalan dengan rabaan tanganku yang makin cepat. Jari-jariku kumasukkan ke dalam lubang memeknya yang semakin terasa basah. “Ohh… Riz, enak sekali, Riz!!” desah mbak Tari makin hebat dan goyangan pinggulnya juga menjadi semakin cepat.

Jariku pun semakin leluasa bermain dalam lorong sempit memek mbak Tari. Kucoba memasukkan kedua jariku dan desahan serta goyangan mbak Tari makin hebat, membuatku semakin terangsang.

“Ahh… Riz!!” mbak Tari pun merapatkan kedua kakinya sehingga tanganku terjepit di dalam lipatan pahanya, tapi jariku masih terus mengobok-obok memeknya yang sempit dan basah dengan leluasa.

Remasan tangan mbak Tari di kepalaku semakin kencang, mbak Tari seperti sedang menikmati puncak kenikmatannya. Setelah berlangsung cukup lama, mbak Tari pun melenguh panjang, jepitan tangan dan kakinya pun perlahan mengendur.

Kesempatan ini langsung kupergunakan secepat mungkin untuk melepas kaos dan sarungku. Setelah aku tinggal mengunakan CD saja, kuubah posisi tidur mbak Tari. Semula seluruh badan mbak Tari ada di atas sofa, sekarang kubuat hanya pinggul ke atas saja yang ada di atas sofa, sedangkan kakinya menjuntai ke bawah. Dengan posisi ini, aku bisa melihat memek mbak Tari yang merah merekah. Kuusap sesekali benda itu, masih terasa basah. Akupun mulai menciuminya. Terasa lengket tapi harum sekali. Pasti mbak Tari selalu menjaga bagian kewanitaannya ini dengan teratur sekali.

“Ahh… Riz, enak, Riz!!” racau mbak Tari. Pinggulnya bergoyang seiring jilatan lidahku di sepanjang memeknya. Memek merahnya semakin basah oleh lendir cinta yang harum lengket. Desahan mbak Tari pun makin hebat ketika kumasukkan lidahku ke dalam lubang memeknya. Ia menggelinjang hebat. “Terus, Riz!!” desahnya.

Tanganku yang sedang meremas pantatnya yang padat ditariknya ke payudara. Tangannku pun bergerak meremas-remas payudaranya yang kenyal. Sementara lidahku terus menerus menjilati memeknya. Kakinya menjepit kepalaku dan pinggulnya bergerak tidak beraturan. Sepuluh menit hal ini berlangsung dan mbak Tari pun mengalami orgasme yang kedua. “Ahh… Riz, aku keluar, Riz!!!” jeritnya.

Aku pun merasakan cairan hangat keluar dari lubang memeknya. Cairan itu pun kujilat dan kuhabiskan dan kusimpan dalam mulutku dan secepatnya kucium bibir mbak Tari yang sedang terbuka agar dia merasakan cairannya sendiri.

Lama kami berciuman, dan perlahan posisi penisku sudah berada tepat di depan memeknya. Sambil terus menciumnya, kugesekkan ujung penisku yang mencuat keluar dari CD-ku ke bibir memeknya. Tangan mbak Tari yang semula berada disamping, kini bergerak ke arah penisku dan menariknya. Tangannya mengocok penisku perlahan-lahan.

“Besar juga punya kamu, Riz, panjang lagi. Lebih besar dari milik suamiku dan mas Slamet.” ucap mbak Tari di sela-sela ciuman kami.

Aku kaget, kok mbak Tari bisa ngomong lebih besar dari milik mas Slamet? Berarti dia pernah merasakannya. “Kok kontol mas Slamet? Jangan-jangan mbak pernah ngentot sama mas Slamet ya?” tanyaku.

“Iya, Riz. Tapi itu tidak sengaja. Cepat, Riz, mau nggak sama memek mbak?” desaknya. ”Meskipun sudah dipakai dua orang, tapi kurasa akan nikmat untuk kontolmu yang besar ini.” kata mbak Tari lagi. “Nanti aku ceritakan bagaimana kau bisa ngentot sama mas Slamet, sekarang cepet sodok memekku, Riz.” tambahnya.

Aku sudah tanggung pinging ngentot meskipun dapat dua memek yang semuanya pernah dipakai oleh mas Slamet, tapi kurasa akan tetap sempit sebab milikku lebih besar. Sambil masih berciuman, aku melepaskan CD-ku sehingga tangan mbak Tari bisa leluasa mengocok kontolku. Setelah lima menit, akupun menepis tangan mbak Tari dan menggesekkan kontolku ke bibir memeknya. Posisi ini lebih enak dibandingkan dikocok.

Perlahan aku mulai mengarahkan penisku ke dalam memeknya. Ketika penisku mulai masuk, badan mbak Tari pun sedikit terangkat. Terasa basah sekali sekaligus nikmat. Lobang memeknya lebih sempit dibandingkan punya mbak Lasmi, atau mungkin karena lubang memeknya belum terbiasa dengan kontolku?

“Ahh… Fariz. Ya, begitu, sayang! Uhh, enak sekali!” racaunya ketika kontolku mulai kugerakkan maju mundur. Pinggul mbak Tari bergoyang liar mengimbangi gerakanku. Akupun terus menciumi bagian belakang lehernya.

“Ahh…” desahnya semakin menjadi. Akupun semakin bernafsu untuk terus memompanya. Semakin cepat gerakanku, semakin cepat pula goyangan pinggul mbak Tari. Kaki mbak Tari yang menjuntai ke bawah pun bergerak melingkari pinggangku. Akupun mengubah posisiku sehingga seluruh badan kami ada di atas sofa.

Setelah seluruh badan ada di atas sofa, akupun menjatuhkan dadaku diatas payudara besar dan kenyalnya. Tanganku bergerak ke belakang pinggulnya dan meremas pantatnya yang padat. Goyangan mbak Tari pun semakin menjadi-jadi oleh remasan tanganku. Sedangkan pinggulku pun terus menerus bergerak maju mundur dengan cepat yang diimbangi goyangan pinggul mbak Tari yang semakin lama menjadi semakin liar.

“Riz, kamu hebat, Riz. Terus, Riz. Penis kamu besar dan panjang, Riz. Terus. Goyang lebih cepat lagi, Riz.” begitu racau mbak Tari di sela kenikmatannya.

Aku pun semakin cepat menggerakkan pinggulku. Memek mbak Tari memang lebih enak dari punya mbak Lasmi, lebih sempit, sehingga penisku sangat menikmati berada di dalam lorongnya. Goyangan mbak Tari yang semakin liar, juga desahannya yang tidak beraturan, membuatku semakin bernafsu hingga mempercepat gerakanku.

“Mbak, aku mau keluar, Mbak!” kataku tersengal.

“Di dalam aja, Riz, biar enak.” desah mbak Tari sambil tangannya memegang pantatku seolah dia tidak mau penisku keluar dari memeknya barang sedikitpun.

“Ahh!!” desahku saat aku memuntahkan semua cairanku ke dalam lubang rahimnya.

Tangan mbak Tari menekan pantatku sambil pinggulnya mendorong keatas, seolah dia masih ingin melanjutkan lagi, matanya terpejam. Aku pun mencium bibir mbak Tari, dengan posisi badan masih diatasnya dan penisku masih dalam memeknya. Mata mbak Tari terbuka, dia membalas ciuman bibirku cukup lama. Badannya basah oleh keringat.

“Kamu hebat, Riz, aku belum pernah sepuas ini sebelumnya.” kata mbak Tari.

“Mbak juga hebat. Memek Mbak sempit, legit dan harum lagi.” ucapku.

“Memang memek mbak Lasmi nggak?” senyumnya sambil menggoyangkan pinggulnya.

“Sedikit lebih sempit punya mbak dibanding punya mbak Lasmi.” jawabku sambil menggerakkan penisku yang masih menancap di dalamnya. Sepertinya dia masih ingin melanjutkan lagi, pikirku.

“Penis kamu masih keras, Riz?” tanya mbak Tari sambil memutar pinggulnya.

“Masih, Mbak masih mau lagi?” tanyaku.

“Mau, tapi Mbak diatas ya?” kata mbak Tari. “Cabut dulu, Riz.” Ia menyuruh.

Setelah kucabut, mulut mbak Tari pun bergerak untuk menciumi penisku. Ia mengulum penisku terlebih dahulu sambil memberikan memeknya kepadaku. Kembali terjadi pemanasan dengan posisi 69. Desahan-desahan mbak Tari dan hangat lubang memeknya yang harum membuatku melupakan mbak Lasmi untuk sementara waktu. Malam itu sampai pagi, aku ngentot mbak Tari. Mungkin sampai lima kali aku orgasme di memek maupun mulutnya, tapi mbak Tari lebih banyak lagi. Kupikir mumpung mbak Lasmi tidak ada, kucumbu saja adiknya dulu.

MBAK FITRI

Pada suatu pagi, sekitar pukul setengah delapan aku sedang nongkrong di warnet langgananku. Sengaja aku nongkrong disitu karena sering ada gadis2 cantik yang browsing di warnet itu, aku seorang hunter yang hebat tentu saja tidak mau melewatkan calon mangsa yang banyak itu hehe.
Ketika sedang ada di depan, ngobrol dengan OP yang juga sama mesumnya, tiba2 ada seorang wanita muda yang memakai baju ketat oranye dengan logo perusahaan madu terkenal dengan jilbab ketat yang dililitkan ke leher dam masuk ke balik kerah bajunya. Kutaksir usia wanita itu sekitar 28-30an tahun. Wah, montok juga nih, pantatnya yang memakai jenas ketat Nampak sangat bahenol. Segera aku bertanya nomor bilik warnetnya kepada si OP mesum, lalu aku message lewat bilik yang sudah biasa aku pakai.

jilbab susu montok-nia (1)

“hai” tulisku. “kenalan dunk”

“siapa ini ya?” kata dia.

“boleh kenalan gak.. aku yang tadi duduk diluar..” kataku lagi.

“oh, boleh..” jawabnya.

“namaku wawan, kamu?”

“aku Fitri.”

Akhirnya percakapan melalui message warnet itu berlanjut, sampai ketika dia keluar bilik warnet, aku langusng kenalan langsung dan ngajak dia makan pagi, tapi dia sudah akan beranjak pulang.

“kalo gitu aku antar deh, boleh gak mbak? “ kataku. “tapi ada yang marah gak nih..”

Dengan berusaha sedemikian hebat, akhirnya dia mau kuantar. Selama di mobil, akhirnya aku tahu kalau dia adalah seorang janda muda yang bercerai dengan suaminya. Sekarang usia wanita montok berjilbab ketat ini 30 tahun, dan mempunyai anak 1 yang duduk di TK nol kecil.

“aku tunggu deh, kamu nanti mau jemput anakmu kan? Aku temenin..” kataku sesampainya dirumah petak kontrakan wanita cantik montok itu. Dia mengangguk sambil tersenyum dan mempersilahkan aku masuk.

Sampai didalam, segera dia membuatkan aku minuman dingin dan akhirnya kami ngobrol lagi. Lama kelamaan, obrolan kami semakin mendalam, sambil aku sedikit demi sedikit mendekati tubuh montoknya. Pada sebuah kesempatan, ketika dia kukira sudah tidak akan melawan, segera kuraih tangannya, Mbak Fitri tidak menolak. Kemudian kami sama-sama berpagutan bibir. Ternyata, wanita cantik ini sangat agresif. Belum lagi aku mampu berbuat lebih banyak, ternyata ia menyentuh selakanganku. wanita berjilbab ketat itu terkejut ketika melihat kejantananku sudah setengah berdiri. Tanpa basa-basi, aku segera membuka celana jeansku dan memperlihtakan penisku yang sudah tegak. Segera kusorongkan kedepan wajahnya yang masih terbalut jilbab ketat. Pelan2 dia menyentuh kejantananku serta meremas-remasnya.

“Oh.. ennaakk.. terussh..” desisanku sengaja kukeraskan, agar mengundang gairahnya untuk berbuat lebih jauh. Tiba-tiba ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu berjongkok, serta melumat kepala kontolku.

“Uf.. Sshh.. Auhh.. Nikmmaat..” janda montok berjilbab ketat itu sangat mahir seperti tidak memberikan kesempatan kepada untuk berbuat tanya.

Dengan semangat, SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu terus mengulum dan mengocok kontolku. Aku terus dibuai dengan sejuta kenikmatan. Sambil terus mengocok, mulut janda montok jablay yang berjilbab ketat itu terus melumat dan memaju-mundurkan kepalanya.

“Oh.. aduhh..” teriakku kenikmatan.

jilbab susu montok-nia (2)

Akhirnya hampir 10 menit aku merasakan ada sesuatu yang mendesak hendak keluar dari kontolku.

“Oh.. tahann.. sshh. Uh.. aku mau kkeluaar.. Oh..”

Dengan seketika muncratlah air maniku ke dalam mulut wanita berjilbab ketat itu , sampai membasai dagu dan mengalir ke jilbabnya. Sambil terus mencok dan mengulum kepala kontolku, Mbak Fitri berusaha membersihkan segala mani yang masih tersisa.

Aku merasakan nikmat yang luar biasa. Mbak Fitri tersenyum. Lalu aku mencium bibirnya. Kami berciuman kembali. Lidah janda montok berjilbab ketat itu terus dimasukkan ke dalam mulutku. Aku sambut dengan mengulum dan menghisap lidahnya.

Perlahan-lahan kejantananku bangkit kembali. Kemudian, tanpa kuminta, Mbak Fitri melepaskan seluruh pakaiannya termasuk bra dan CDnya, kecuali jilbab ketatnya karena itu semakin membuat gairahku naik.. Mataku tak berkedip. Buah dadanya yang montok berwarna putih mulus dengan puting yang kemerahan terasa menantang untuk kulumat. Kuremas-remas lembut payudara ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu yang semakin bengkak.

“Ohh.. Teruss Wan.. Teruss..” desah SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu .

Kuhisap-hisap pentil wanita berjilbab ketat itu yang mengeras, semnetara tangan kiriku menelusuri pangkal pahanya. Akhirnya aku berhasil meraih belahan yang berada di celah-celah pahanya. Tanganku mengesek-geseknya. Desahan kenikmatan semakin melenguh dari mulut janda montok berjilbab ketat itu . Kemudian ciumanku beralih ke perut dan terus ke bawah pusar. Aku membaringkan tubuhnya ke kasur. Tanpa dikomando, kusibakkan paha janda montok jablay yang berjilbab ketat itu . Aku melihat vaginanya berwarna merah muda dengan rumput-hitam yang tidak begitu tebal.

Dengan penuh nafsu, aku menciumi memek ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu dan kujilati seluruh bibir kemaluannya.

“Oh.. teruss.. Wan.. Aduhh.. Nikmat..”

Aku terus mempermainkan klitorisnya yang lumayan besar. Seperti orang yang sedang mengecup bibir, bibirku merapat dibelahan vaginanya dan kumainkan lidahku yang terus berputar-putar di kelentit SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu seperti ular cobra.

“Wan.. oh.. teruss sayangg.. Oh.. Hhh.”

Desis kenikmatan yang keluar dari mulut janda montok berjilbab ketat itu , semakin membuatku bersemangat. Kusibakkan bibir kemaluannya tanpa menghentikkan lidah dan sedotanku beraksi.

“Srucuup-srucuup.. oh.. Nikmat.. Teruss.. Teruss..” teriakan wanita berjilbab ketat itu semakin merintih.

jilbab susu montok-nia (3)

Tiba-tiba wanita berjilbab ketat itu menekankan kepalaku ke memeknya, kuhisap kuat lubang memeknya. SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu mengangkat pinggul, cairan lendir yang keluar dari memeknya semakin banyak.

“Aduhh.. Akku.. keluuaarr.. Oh.. Oh.. Croot.. Croot.”

Ternyata Mbak Fitri mengalami orgasme yang dahsyat. Sebagaimana yang janda montok berjilbab ketat itu lakukan kepadaku, aku juga tidak menghentikan hisapan serta jilatan lidahku dari memek ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu . Aku menelan semua cairan yang kelyuar dari memeknya. Terasa sedikit asin tapi nikmat.

jilbab susu montok-nia (4)

Mbak Fitri masih menikmati orgasmenya, dengan spontan, aku memasukkan kontolku ke dalam memeknya yang basah. Bless..

“Oh.. enakk..”

Tanpa mengalami hambatan, kontolku terus menerjang ke dalam lembutnya vagina Mbak Fitri.

“Oh.. Mbak Fitri.. sayang.. enakk.”

Batang kontolku sepeti dipilin-pilin. Mbak Fitri yang mulai bergairah kembali terus menggoyangkan pinggulnya.

“Oh.. Wan.. Terus.. Sayang.. Mmhhss..”

Kontolku kuhujamkan lagi lebih dalam. Sekitar 15 menit aku menindih Mbak Fitri.. Lalu janda montok jablay yang berjilbab ketat itu meminta agar aku berada di bawah.

“Kamu di bawah ya, sayang..” bisik SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu penuh nikmat.

Aku hanya pasra. Tanpa melepaskan hujaman kontolku dari memeknya, kami merobah posisi. Dengan semangat menggelora, kontolku terus digoyangnya. Mbak Fitri dengan hentakan pinggulnya yang maju-mundur semakin menenggelamkan kontolku ke liang memeknya.

“Oh.. Remas dadaku.. Sayaangg. Terus.. Oh.. Au.. Sayang enakk..” erangan kenikmatan terus memancar dari mulut janda montok berjilbab ketat itu .
“Oh.. Mbak Fitri.. terus goyang sayang..” teriakku memancing nafsunya.

Benar saja. Kira-kira 15 menit kemudian goyang pinggul wanita berjilbab ketat itu semakin dipercepat. Sembari pinggulnya bergoyang, tangannya menekan kuat ke arah dadaku. Aku mengimbanginya dengan menaikkan pinggulku agar kontolku menghujam lebih dalam.

“Wawani.. Ah.. aku.. Keluuaarr, sayang.. Oh..”

Ternyata Mbak Fitri telah mencapai orgasme yang kedua. Aku semakin mencoba mengayuh kembali lebih cepat. Karena sepertinya otot kemaluanku sudah dijalari rasa nikmat ingin menyemburkan sperma.

Kemudian aku membalikkan tubuh Mbak Fitri, sehingga posisi ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu di bawah. Aku menganjal pinggulnya dengan bantal. Aku memutar-mutarkan pinggulku seperti irama goyang dangdut.

“Oh.. Mbak Fitri.. Nikmatnya.. Aku keluuarr..”

jilbab susu montok-nia (5)

Crott.. Crott.. Tttcrott.

Aku tidak kuat lagi mempertahankan sepermaku.. Dan langsung saja memenuhi liang vagina Mbak Fitri.

“Oh.. Wan.. kau begitu perkasa.”

Telah lama aku menantikan hal ini. Ujar SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu sembari tangannya terus mengelus punggungku yang masih merasakan kenikmatan karena, Mbak Fitri memainkan otot kemaluannya untuk meremas-remas kontolku.

Kemudian, tanpa kukomando, Mbak Fitri berusaha mencabut kontolku yang tampak mengkilat karena cairan spermaku dan cairan memeknya. Dengan posisi 69, kemudian janda montok berjilbab ketat itu meneduhi aku dan langsung mulutnya bergerak ke kepala kontolku yang sudah mulai layu. Aku memandangi lobang memeknya. Mbak Fitri terus mengulum dan memainkan lidahnya di leher dan kepala kontolku. Tangan kanan janda montok jablay yang berjilbab ketat itu terus mengocok-ngocok batang kontolku. Sesekali ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu menghisap dengan keras lobang kontolku. Aku merasa nikmat dan geli.

“Ohh.. Mbak Fitri.. Geli..” desahku lirih.

Namun Mbak Fitri tidak peduli. Ia terus mengecup, mengulum dan mengocok-ngocok kontolku. Aku tidak tinggal diam, cairan rangsangan yang keluar dari vagina Mbak Fitri membuatku bergairah kembali. Aku kemudian mengecup dan menjilati lobang memeknya. Kelentit SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu yang berada di sebelah atas tidak pernah aku lepaskan dari jilatan lidahku. Aku menempelkan bibirku dikelentit itu.

“Oh.. Wan.. nikmat.. ya.. Oh..” desisnya.

Mbak Fitri menghentikan sejenak aksinya karena tidak kuat menahan kenikmatan yang kuberikan.

“Oh.. Terus.. Sss.” desah janda montok berjilbab ketat itu sembari kepalanya berdiri tegak.

Kini mememeknya memenuhi mulutku. wanita berjilbab ketat itu menggerak-gerakkan pinggulnya.

“Ohh.. Yaahh. Teruss.. Oh.. Ooohh” aku menyedot kuat lobang vagina wanita berjilbab ketat itu .
“Wan.. Akukk ohh.. Keluuaarra.. Ssshhss..”

SPG wanita 3o tahun montok cantik berjilbab ketat itu menghentikan gerakannya, tapi aku terus menyedot-nyedot lobang memeknya dan hampir senmua cairan yang keuar masuk kemulutku. Kemudian dengan sisa-sisa tenaganya, kontolku kembali menjadi sasaran mulutnya. Aku sangat suka sekali dan menikmatinya. Kuakui, Mbak Fitri merupakan wanita yang sangat pintar membahagiakan pasangannya.

Mbak Fitri terus menghisap dan menyedoti kontolku sembari mengocok-ngocoknya. Aku merasakan nikmat yang tiada tara.

“Oh.. Mbak Fitri.. Teruss.. Teruss..” rintihku menahan sejuta kenikmatan. Mbak Fitri terus mempercepat gerakan kepalanya.
“Au.. Mbak Fitri.. Aku.. Keluuarr.. Oh..”

Croott.. Croott.. Croot..

Maniku tumpah ke dalam mulut janda montok berjilbab ketat itu . Sementara Mbak Fitri seakan tidak merelakan setetespun air maniku meleleh keluar.

“Terimakasih sayang..” ucapku..

Aku merasa puas.. ibu muda beranak satu yang montok dan berjilbab ketat itu mengecup bibirku. akhirnya karena kelelahan kami tertidur pulas.

LILIS

Di kantorku ada seorang wanita berjilbab yang sangat cantik dan anggun. Tingginya sekitar 165 cm dengan tubuh yang langsing. Kulitnya putih dengan lengsung pipit di pipi menambah kecantikannya, suaranya halus dan lembut. Setiap hari dia mengenakan baju gamis yang panjang dan longgar untuk menyembunyikan lekuk tubuhnya, namun aku yakin bahwa tubuhnya pasti indah.

jilbab hot (1)

Namanya Lilis, dia sudah bersuami dan beranak 2, usianya sekitar 30 tahun. Dia selalu menjaga pandangan matanya terhadap lawan jenis yang bukan muhrimnya, dan jika bersalamanpun dia tidak ingin bersentuhan tangan. Namun kesemua itu tidak menurunkan rasa ketertarikanku padanya, bahkan aku semakin penasaran untuk bisa mendekatinya apalagi sampai bisa menikmati tubuhnya…., Ya…. Benar… Aku memang terobsesi dengan temanku ini. Dia betul-betul membuatku penasaran dan menjadi objek khayalanku siang dan malam di saat kesendirianku di kamar kost.

Aku sebenarnya sudah berkeluarga dan memiliki 2 orang anak yang masih kecil-kecil, namun anak dan istriku berada di luar kota dengan mertuaku, sedangkan aku di sini kost dan pulang ke istriku seminggu sekali.

Kesempatan untuk bisa mendekatinya akhirnya datang juga, ketika aku dan dia ditugaskan oleh atasan kami untuk mengikuti workshop di sebuah hotel di kota Bandung selama seminggu.

jilbab hot (2)

Hari-hari pertama workshop aku berusaha mendekatinya agar bisa berlama-lama ngobrol dengannya, namun Dia benar-benar tetap menjaga jarak denganku, hingga pada hari ketiga kami mendapat tugas yang harus diselesaikan secara bersama-sama dalam satu unit kerja. Hasil pekerjaan harus diserahkan pada hari kelima.

Untuk itu kami bersepakat untuk mengerjakan tugas tersebut di kamar hotelnya, karena kamar hotel yang ditempatinya terdiri dari dua ruangan, yaitu ruang tamu dan kamar tidur.

Sore harinya pada saat tidak ada kegiatan workshop, aku sengaja jalan-jalan untuk mencari obat perangsang dan kembali lagi sambil membawa makanan dan minuman ringan.

Sekitar jam tujuh malam aku mendatangi kamarnya dan kami mulai berdiskusi tentang tugas yang diberikan. Selama berdiskusi kadang-kadang Lilis bolak-balik masuk ke kamarnya untuk mengambil bahan-bahan yang dia simpan di kamarnya, dan pada saat dia masuk ke kamarnya untuk kembali mengambil bahan yang diperlukan maka dengan cepat aku membubuhkan obat perangsang yang telah aku persiapkan. Dan aku melanjutkan pekerjaanku seolah-olah tidak terjadi apa-apa ketika dia kembali dari kamar.

jilbab hot (3)

Hatiku mulai berbunga-bunga, karena obat perangsang yang kububuhkan pada minumannya mulai bereaksi. Hal ini tampak dari deru napasnya yang mulai memburu dan duduknya gelisah serta butiran-butiran keringat yang mulai muncul dikeningnya. Selain itu pikirannyapun nampaknya sudah susah untuk focus terhadap tugas yang sedang kami kerjakan

Namun dengan sekuat tenaga dia tetap menampilkan kesan sebagai seorang wanita yang solehah, walaupun seringkali ucapannya secara tidak disadarinya disertai dengan desahan napas yang memburu dan mata yang semakin sayu.

Aku masih bersabar untuk tidak langsung mendekap dan mencumbunya, kutunggu hingga reaksi obat perangsang itu benar-benar menguasainya sehingga dia tidak mampu berfikir jernih.

Setelah sekitar 30 menit, nampaknya reaksi obat perangsang itu sudah menguasainya, hal ini Nampak dari matanya yang semakin sayu dan nafas yang semakin menderu serta gerakan tubuh yang semakin gelisah. Dia sudah tidak mampu lagi focus pada materi yang sedang didiskusikan, hanya helaan nafas yang tersengal diserta tatapan yang semakin sayu padaku.

Aku mulai menggeser dudukku untuk duduk berhimpitan disamping kanannya, dia seperti terkejut namun tak mampu mengeluarkan kata-kata protes atau penolakan, hanya Nampak sekilas dari tatapan matanya yang memandang curiga padaku dan ingin menggeser duduknya menjauhiku, namun nampaknya pengaruh obat itu membuat seolah-olah badannya kaku dan bahkan seolah-olah menyambut kedatangan tubuhku.

Setelah yakin dia tidak menjauh dariku, tangan kiriku mulai memegang tangan kanannya yang ia letakkan di atas pahanya yang tertutup oleh baju gamisnya. Tangan itu demikian halus dan lembut, yang selama ini tidak pernah disentuh oleh pria selain oleh muhrimnya. Tangannya tersentak lemah dan ada usaha untuk melepaskan dari genggamanku, namun sangat lemah bahkan bulu-bulu halus yang ada di lengannya berdiri seperti dialiri listrik ribuan volt. Matanya terpejam dan tanpa sadar mulutnya melenguh..”Ouhh….”, tangannya semakin basah oleh keringat dan tanpa dia sadari tangannya meremas tanganku dengan gemas.

Aku semakin yakin akan reaksi obat yang kuberikan… dan sambil mengutak-atik laptop, tanpa sepengetahuannya aku aktifkan aplikasi webcam yang dapat merekam kegiatan kami di kursi panjang yang sedang kami duduki dengan mode tampilan gambar yang di hide sehingga kegiatan kami tak terlihat di layar monitor.

Lalu tangan kananku menggenggam tangan kanannya yang telah ada dalam genggamanku, tangan kiriku melepaskan tangan kanannya yang dipegang dan diremas mesra oleh angan kananku, sehingga tubuhku menghadap tubuhnya dan tangan kiriku merengkuh pundaknya dari belakang.

Matanya medelik marah dan dengan terbata-bata dan nafas yang memburu dia berkata “Aaa…aapa..apaan….nih……Pak..?” dengan lemah tangan kirinya berusaha melepaskan tangan kiriku dari pundaknya.

Namun gairahku semakin meninggi, tanganku bertahan untuk tidak lepas dari pundaknya bahkan dengan gairah yang menyala-nyala wajahku langsung mendekati wajahnya dan secara cepat bibirku melumat gemas bibir tipisnya yang selama ini selalu menggoda nafsuku.

Nafsuku semakin terpompa cepat setelah merasakan lembut dan nikmatnya bibir tipis Lilis, dengan penuh nafsu kuhisap kuat bibir tipis itu.

“Ja..jangan …Pak Ouhmmhhh… mmmhhhh…” Hanya itu kata yang terucap dari bibirnya.. karena bibirnya tersumpal oleh bibirku.

Dia memberontak.., tapi kedua tangannya dipegang erat oleh tanganku, sehingga ciuman yang kulakukan berlangsung cukup lama. Lilis terus memberontak…, tapi gairah yang muncul dari dalam dirinya akibat efek dari obat perangsang yang kububuhkan pada minumannya membuat tenaga berontaknya sangat lemah dan tak berarti apa-apa pada diriku.

Bahkan semakin lama kedua tangannya bukan berusaha untuk melepaskan dari pegangn tanganku tapi seolah mencengkram erat kedua tanganku seperti menahan nikmatnya rangsangan birahi yang kuberikan padanya, perlahan namun pasti bibirnya mulai membalas hisapan bibirku, sehingga terjadilah ciumannya yang panas menggelora, matanya tertutup rapat menikmati ciuman yang kuberikan.

Pegangan tanganku kulepaskan dan kedua tanganku memeluk erat tubuhnya sehingga dadaku merasakan empuknya buahdada yang tertutup oleh baju gamis yang panjang. Dan kedua tangannyapun memeluk erat dan terkadang membelai mesra punggungku.

Bibirku mulai merayap menciumi wajahnya yang cantik, tak semilipun dari permukaan wajahnya yang luput dari ciuman bibirku. Mulutnya ternganga… matanya mendelik dengan leher yang tengadah…

”Aahhh….. ouh…… mmmhhhh…. eehh… ke.. na.. pa….. begi..nii…ouhhh …”

Erangan penuh rangsangan keluar dari bibirnya disela-sela ucapan ketidakmengertian yang terjadi pada dirinya..

Sementara bibirku menciumi wajah dan bibirnya dan terkadang lehernya yang masih tertutup oleh jilbab yang lebar…, secara perlahan tangan kanan merayap ke depan tubuhnya dan mulai meremas buah dadanya.. ”Ouhhh….aahhh…” kembali dia mengerang penuh rangsangan. Tangan kirinya memegang kuat tangan kananku yang sedang meremas buahdadanya. Tetapi ternyata tangannya tidak berusaha menjauhkan telapak tanganku dari buahdadanya, bahkan mengarahkan jariku pada putting susunya agar aku mempermainkan putting susunya dari luar baju gamis yang dikenakannya “ouh…ouh…ohhh…..” erangan penuh rangsangan semakin tak terkendali keluar dari mulutnya

Telapak tanganku dengan intens mempermainkan buahdadanya…, keringat sudah membasahi gamisnya…, bahkan tangan kanannya dengan gemas merengkuh belakang kepalaku dan mengacak-ngacak rambutku serta menekan wajahku agar ciuman kami semakin rapat…Nafasnya semakin memburu dengan desahan dan erangan nikmat semakin sering keluar dari mulutnya yang indah.

jilbab hot (4)

Tangan kananku dengan lincah mengeksplorasi buahdada, pinggang dan secara perlahan turun ke bawah untuk membelai pingggul dan pantatnya yang direspon dengan gerakan menggelinjang menahan nikmatnya nafsu birahi yang terus menderanya. Tangan kananku semakin turun dan membelai pahanya dari luar gamis yang dikenakannya… dan terus kebawah hingga ke ujung gamis bagian bawah. lalu tanganku menyusup ke dalam sehingga telapak tanganku bisa langsung menyentuh betisnya yang jenjang..

Ouhhh… sungguh halus dan lembut terasa betis indah ini, membuat nafsuku semakin membumbung tinggi, penisku semakin keras dan bengkak sehingga terasa sakit karena terhimpit oleh celana panjang yang kukenakan, maka secara tergesa-gesa tangan kiriku menarik sleting celana dan mengeluarkan batang penisku yang tegak kaku.

Dari sudut matanya, Lilis melihat apa yang kulakukan dan dengan mata yang terbelalak dan mulut ternganga ia menjerit pelan melihat penisku yang tegak kaku keluar dari dalam celana ”Aaaihhh…”. Dari sorot matanya, tampak gairah yang semakin menyala-nyala ketika menatap penis tegakku.

Belaian tangan kananku semakin naik ke atas…., ke lututnya, lalu…. Cukup lama bermain di pahanya yang sangat halus…., Lilis semakin menggelinjang ketika tangan kananku bermain di pahanya yang halus, dan mulutnya terus-terusan mengerang dan mengeluh nikmat “ Euhh….. ouhhhh….. hmmmnnn…. Ahhhhh……”

Tanganku lalu naik menuju pangkal paha…., terasa bahwa bagian cd yang berada tepat di depan vaginanya sudah sangat lembab dan basah. Tubuhnya bergetar hebat ketika jari tanganku tepat berada di depan vaginanya , walaupun masih terhalang CD yang dikenakannya…, tubuhnya mengeliat kaku menahan rangsangan nikmat yang semakin menderanya sambil mengeluarkan deru nafas yang semakin tersengal “Ouh….ouhhhh…”

Ketika tangan kananku menarik CD yang ia kenakan…., ternyata kedua tangan Lilis membantu meloloskan CD Itu dari tubuhnya.

Kusingkapkan bagian bawah gamis yang ia kenakan ke atas hingga sebatas pinggang, hingga tampak olehku vaginanya yang indah menawan, kepalanya kuletakan pada sandaran lengan kursi.., kemuadian pahanya kubuka lebar-lebar.., kaki kananku menggantung ke bawah kursi, sedangkan kaki kiriku terlipat di atas kursi. Dengan masih mengenakan celana panjang, kuarahkan penisku yang keluar melalui sleting yang terbuka ke lubang vagina yang merangsang dan sebentar lagi akan memberikan berjuta-juta kenikmatan padaku.

Ku gesek-gesekan kepala penisku pada lipatan liang vaginanya yang semakin basah..”Auw…auw….. Uuhhhh….. uuuhhh…. Ohhh ….”

Dia mengaduh dan mengeluh… membuatku bertanya-tanya apakah ia merasa kesakitan atau menahan nikmat, tapi kulihat pantatnya naik turun menyambut gesekan kepala penisku seolah tak sabar ingin segera dimasuki oleh penisku yang tegang dan kaku…. Lalu dengan hentakan perlahan ku dorong penisku dan…

Blessshhh…. Kepala penisku mulai menguak lipatan vaginanya dan memasuki lorong nikmat itu dan “AUW… AUW…. Auw… Ouhhh……uhhhh…… aaahhhh…” tanpa dapat terkendali Lilis mengaduh dan mengerang nikmat dan mata terpejam rapat…., rintihan dan erangan Lilis semakin merangsangku dan secara perlahan aku mulai memaju mundurkan pantatku agar penisku mengocok liang vaginanya dan memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.

Hal yang luar biasa dari Lilis ternyata dia terus mengaduh dan mengerang setiap aku menyodokkan batang penisku ke dalam vaginanya. Rupanya dia merupakan tipe wanita yang selalu mengaduh dan mengerang tak terkendali dalam mengekspresikan rasa nikmat seksual yang diterimanya. Tak berapa lama kemudian, tanpa dapat kuduga, kedua tangan Lilis merengkuh pantatku dan menarik pantatku kuat-kuat dan pantatnya diangkatnya sehingga seluruh batang penisku amblas ditelan liang vagina yang basah, sempit dan nikmat. Lalu tubuhnya kaku sambil mengerang nikmat “Auuuww…. Auuuwww…… Auuuuuhhhh….. Aakkkhhhh…..” kedua kakinya terangkat dan betisnya membelit pinggangku dengan telapak kaki yang menekan kuat pantatku hingga gerakan pantatku agak terhambat dan kedua tangannya merengkuh pundakku dengan kuat dan beberapa saat kemudian tubuhnya kaku namun dinding vaginanya memijit dan berkedut sangat kuat dan nikmat membuat mataku terbelalak menahan nikmat yang tak terperi, Lalu …. badannya terhempas lemah…, namun liang vaginanya berkedut dan meremas dengan sangat kuat batang penisku sehingga memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.

Gairah yang begitu tinggi akibat rangsangan yang diterimanya telah mengantarnya menuju orgasmenya yang pertama.

Keringat tubuhku membasahi baju membuatku tidak nyaman, sambil membiarkannya menikmati sensasi nikmatnya orgasme yang baru diperolehnya dengan posisi penisku yang masih menancap di liang vaginanya, aku membuka bajuku hingga bertelanjang dada tetapi masih mengenakan celana panjang. Lalu secara perlahan aku mulai mengayun pantatku agar penisku mengocok liang vaginanya. Rasa nikmat kembali menderaku akibat gesekan dinding vaginanya dengan batang penisku.

Perlahan namun pasti, pantat Lilis merespon setiap gerakan pantatku. Pinggul dan pantatnya bergoyang dengan erotis membalas setiap gerakanku. Mulutnyapun kembali mengaduh mengekspresikan rasa nikmat yang kembali dia rasakan “Auw…Auw… Auuuwww…. Ouhhh…. Aahhh…”

Rangsangan dan rasa nikmat yang kurasakanpun semakin menjadi-jadi. Dan erangan nikmatnyapun terus-menerus diperdengarkan oleh bibirnya yang tipis menggairahkan sambil kepala yang bergoyang kekiri dan ke kanan diombang-ambingkan oleh rasa nikmat yang kembali menderanya

“Auw…Auw… Auuuwww…. Oohhh… ohhh… oohhh…” erangan nikmat semakin tak terkendali dan seolah puncak kenikmatan akan kembali menghampirinya hal ini tampak dari gelinjang tubuhnya yang semakin cepat dan kedua tangannya yang kembali menarik-narik pantatku agar penisku masuk semakin dalam mengobok-obok liang nikmatnya dan kedua kakinya sudah mulai membelit pantatku. Namun aku mencabut penisku , dan hal itu membuat Lilis gelagapan sambil berkata terbata-bata “Ke..napa…..di cabut…? Ouh…. Oh…” dengan sorot mata protes dan napas yang tersengal-sengal…

“Ribet ….” Kataku, sambil berdiri dan membuka celana panjang sekaligus dengan CD yang kukenakan. Lalu sambil menatapnya “Gamisnya buka dong..!”

Dia menatapku ragu.., namun dorongan gairah telah membutakan pikirannya apalagi dengan penuh gairah dia melihatku telanjang bulat di hadapannya, maka dengan tergesa-gesa dia berdiri dihadapanku dan melolosi seluruh pakaian yang dikenakannya…, mataku melotot menikmati pemandangan yang menggairahkan itu. Oohhh…. kulitnya benar-benar putih dan halus, penisku terangguk-angguk semakin tegang dan keras. Dia melepaskan gamis dan BHnya sekaligus, hingga dihadapanku telah berdiri bidadari yang sangat cantik menggairahkan dalam keadaan bulat menantangku untuk segera mencumbunya.

Dalam keadaan berdiri aku langsung memeluknya dan bibirku mencium bibirnya dengan penuh gairah…. Diapun menyambut ciumanku dengan gairah yang tak kalah panasnya.

Bibir dan lidahku menjilati bibir, pipi lalu ke lehernya yang jenjang yang selama ini selalu tertutup oleh jilbabnya yang lebar…. Lilis mendongakkan kepala hingga lehernya semakin mudah kucumbu…

Penisku yang tegang menekan-nekan selangkangannya membuat dia semakin bergairah. Dengan gemetar, tangannya meraih batang penisku dan mengarahkan kedepan liang vaginanya yang sudah sangat basah dan gatal., kaki kanannya dia angkat keatas kursi sehingga kepala penisku lebih mudah menerobos liang vaginanya dan blesshh….. kembali rasa nikmat menjalar di sekujur pembuluh nadiku dan mata Lilispun terpejam merasakan nikmat yang tak terperi dan dari mulutnyapun erangan nikmat “Auw… Auww… Oohh….. akhhh….”

Kepalanya terdongak dan kedua tangannya memeluk erat punggungku. Lalu pantatku mulai bergerak maju mundur agar batang penisku menggesek dinding vaginanya yang sempit, basah dan berkedut nikmat menyambut setiap gesekan dan kocokan batang penisku yang semakin tegang dan bengkak. Diiringi dengan rintihan nikmat Lilis yang khas… …”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”

Sambil pantatku memompa liang vaginanya yang nikmat, kepala Lilis semakin terdongak ke belakang sehingga wajahku tepat berada didepan buahdadanya yang sekal dan montok, maka mulut dan lidahku langsung menjilati dan menghisap buah dada indah itu.. putting susunya semakin menonjol keras. Lilis semakin mengerang nikmat…”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”

Gerakan tubuh Lilis semakin tak terkendali, dan tiba-tiba kedua kakinya terangkat dan membelit pinggangku, kemudian dia melonjak-lonjankkan tubuhnya sambil memeluk erat tubuhku sambil menjerit semakin keras …”Auw… Auw… Ouhh… ouhh…ahhh…”.

Kedua tanganku menahan pantatnya agar tidak jatuh dan penisku tidak lepas dari liang vaginanya sambil merasakan nikmat yang tak terperi…

Tak lama kemudian kedua tangannya memeluk erat punggungku dan mulutnya menghisap dan menggigit kuat leherku. Tubuhnya kaku…., dan dinding vaginanya meremas dan memijit-mijit nikmat batang penisku. Dan tak lama kemudian “AAAAUUUUWWWW………..Hhhooohhhh….” Dia mengeluarkan jeritan dan keluhan panjang sebagai tanda bahwa dia telah mendapatkan orgasme yang kedua kali…

Tubuhnya melemas dan hampir terjatuh kalau tak ku tahan.

Lalu dia terduduk di kursi sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, badannya basah oleh keringat yang bercucuran dari seluruh pori-pori tubuhnya. Tapi dibalik rasa lelah yang menderanya, gairahnya masih menyala-nyala ketika melihat batang penisku yang masih tegang mengangguk-angguk.

Aku duduk disampingnya dengan nafas yang memburu oleh gairah yang belum terpuaskan. Tiba-tiba dia berdiri membelakangiku, kakinya mengangkang dan pantatnya diturunkan mengarahkan liang vaginanya agar tepat berada diatas kepala penisku yang berdiri tegak. Tangan kanannya meraih penisku agar tepat berada di depan liang vaginanya dan … bleshhhh…. “AUUWW…. Auww…. Ahhhh…”

Secara perlahan dia menurunkan pantatnya sehingga kembali batang penisku menyusuri dinding vagina yang sangat nikmat dan memabukkan..”Aaahhh……” erangan nikmat kembali keluar dari mulutnya. Lalu dia mulai menaik turunkan pantatnya agar batang penisku mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah..

Semikin lama gerakannya semakin melonjak-lonjak sambil tiada henti mengerang penuh kenikmatan, kedua tanganku memegang kedua buahdadanya dari belakang sambil meremas dan mempermainkan putting susu yang semakin keras dan menonjol.

Kepalanya mulai terdongak dan menoleh kebelakang mencari bibirku atau bagian leherku yang bisa diciumnya dan kamipun berciuman dalam posisi yang sangat menggairahkan… lonjakan tubuhnya semakin keras dan kaku dan beberapa saat kemudian kembali batang penisku merasakan pijatan dan remasan yang khas dari seorang wanita yang mengalami orgasme sambil menjerit nikmat “AAAUUUUUWWWWW…….. Aaakkhhhh………”

Namun saat ini, aku tidak memberi waktu padanya untuk beristirahat, karena aku merasa ada dorongan dalam tubuhku untuk segera mencapai puncak, karena napasku sudah tersengal-sengal tidak teratur, maka kuminta ia untuk posisi nungging dengan kaki kanan di lantai sedang kaki kiri di tempat duduk kursi sedangkan kedua tangannya bertahan pada kursi. Lalu kaki kananku menjejak lantai sedang kaki kiriku kuletakkan dibelakang

Kaki kirinya sehingga selangkanganku tepat berada di belahan pantatnya yang putih, montok dan mengkilat oleh basahnya keringat. Tangan kananku mengarahkan kepala penisku tepat pada depan liang vaginanya yang basah dan semakin menggairahkan. Lalu aku mendorong pantatku hingga blessshhh…. “Auw… Auw… Ouhhhh….”

Kembali ia mengeluh nikmat ketika merasakan batang penisku kembali memasuki dirinya dari belakang. Kugerakan pantatku agar batang penisku kembali mengocok dinding vaginanya.

jilbab hot (5)

Lilis memaju mundurkan pantatnya menyambut setiap sodokan batang penisku sambil tak henti-henti mengerang nikmat..Ouh… ohhh…ayoo.. Pak…ayo… ohh…ouhh…” Rupanya dia merasakan batang penisku yang semakin kaku dan bengkak yang menandakan bahwa beberapa saat lagi aku mencapai orgasme.

Dia semakin bergairah menyambut setiap sodokan batang penisku, hingga akhirnya gerakan tubuhku semakin tak terkendali dan kejang-kejang dan pada suatu titik aku menancapkan batang penisku sedalam-dalamnya pada liang vaginanya yang disambut dengan remasan dan pijitan nikmat oleh dinding vaginanya sambil berteriak nikmat “Auuuuwwwhhhhhhh…… Aakkhhh…….” Dan diapun berteriak nikmat bersamaan denganku. Dan Cretttt…. Creeetttt… crettttt spermaku terpancar deras membasahi seluruh rongga diliang vaginanya yang nikmat… Tubuh Lilis ambruk telungkup dikursi dan tubuhkupun terhempas di kursi sambil memeluk tubuhnya dari belakang dengan helaan napas yang tersengal-sengal kecapaian…

punggungku tersandar lemas pada sandaran kursi sambil berusaha menarik nafas panjang menghirup udara sebanyak-banyaknya.

Dan kuperhatikan Lilispun tersungkur kelelahan sambil telungkup di atas kursi.

Sambil beristirahat mengumpulkan napas dan tenaga yang hilang akibat pergumulan yang penuh nikmat, mataku menatap tubuh bugil Lilis yang basah oleh keringat. Dan terbayang olehku betapa liarnya Lilis barusan pada saat dia mengekspresikan kenikmatan seksual yang menghampirinya. Semua itu diluar dugaanku. Aku tak menyangka Lilis yang demikian anggun dan lemah lembut bisa demikian liar dalam bercinta……

Mataku menyusuri seluruh tubuh Lilis yang bugil dan basah oleh keringat….

Uhhh……. .. Tubuh itu benar-benar sempurna ……

Putih , halus dan mulus….

Beruntung sekali malam ini aku bisa menikmati tubuh indah ini.

Aku terus menikmati pemandangan indah ini, sementara Lilis nampaknya benar-benar kelelahan sehingga tak sadar bahwa aku sedang menikmati keindahan tubuhnya…

Semakin aku memandangi tubuh indah itu, perlahan-lahan gairahku muncul kembali seiring dengan secara bertahap tubuhku pulih dari kelelahan yang menimpaku. Dalam hati aku berbisik agar malam ini aku bisa menikmati tubuh Lilis sepuas-puasnya sampai pagi.

Membayangkan hal itu, gairahku dengan cepat terpompa dan perlahan-lahan penisku mulai mengeras kembali….

Perlahan tanganku membelai pinggulnya yang indah, dan bibirku menciumi pundaknya yang basah oleh keringat…., namun nampaknya Lilis terlalu lelah untuk merespon cumbuanku, dia masih terlena dengan kelelahannya… mungkin dia tertidur kelelahan.

Posisi kami yang berada di atas kursi panjang ini membuatku kurang nyaman…, maka kuhentikan cumbuanku, kedua tanganku merengkuh tubuh indah Lilis dan dengan sisa-sisa tenaga yang mulai pulih kubopong tubuh indah itu ke kamar.

Dengan penuh semangat aku membopong tubuh bugil Lilis kearah kamar . Kuletakkan tubuhnya dengan hati-hati dalam posisi telentang. Lilis hanya melenguh lemah dengan mata yang masih terpejam.

Aku duduk di atas kasur sambil memperhatikan tubuh indah ini lebih seksama. Semakin keperhatikan semakin terpesona aku akan kesempurnaan tubuh Lilis yang sedang telanjang bugil. Kulit yang demikian putih , halus dan mulus….. dengan bagian selangkangan yang benar-benar sangat indah dan merangsang. Di sela-sela liang vaginanya terlihat lelehan spermaku yang keluar dari dalam liang vaginanya mengalir keluar ke sela-sela kedua pahanya..

Aku mengambil tissue yang ada di pinggir tempat tidur dan mengeringkan lelehan sperma itu dengan penuh perasaan.

Lilis menggeliat lemah., lalu matanya terbuka sedikit sambil mendesah..”uhhh……”

Bibir dan lidahku tergoda untuk menciumi dan menjilati batang paha Lilis yang demikian putih dan mulus. Dengan penuh nafsu bibir dan lidahku mulai mencumbu pahanya. Seluruh permukaan kulit paha Lilis kuciumi dan jilati… tak ada satu milipun yang terlewat.

Lambat laun gairah Lilis kembali terbangkitkan, mulutnya mendesis nikmat dan penuh rangsangan “uhhh….. ohhhh… sssssttt…”

Sementara telapak tanganku bergerak lincah membelai dan mengusap paha, pantat, perut dan akhirnya meremas-remas buahdadanya yang montok. Erangannya semakin keras ketika aku memelintir putting susunya yang menonjol keras “Euhh….. Ouhhh…. Auw…… Ahhh…” disertai dengan gelinjang tubuh menahan nikmat yang mulai menyerangnya.

Penisku semakin keras dan aku mulai memposisikan kedua pahaku di bawah kedua pahanya yang terbuka , lalu mengarahkan penisku ke tepat di lipatan vaginanya yang basah dan licin. Kugesek-gesekan kepala penisku sepanjang lipatan vaginanya, tubuhnya semakin bergelinjang…., pantatnya bergerak-gerak menyambut penisku seolah-olah tak sabar ingin ditembus oleh penis tegangku.

Namun aku terus merangsang vaginanya dengan penisku…., dia semakin tak sabar …… tubuhnya semakin bergelinjang hebat. Dan akhirnya ia bangkit dan mendorong tubuhku hingga telentang di atas kasur, dia langsung menduduki selangkanganku… mengangkat pantatnya dan tangannya dengan gemetar meraih penisku dan mengarahkan ke tepat liang vaginanya, lalu langsung menekan pantatnya dalam-dalam hingga…….

Blessshhhh……. batang penisku langsung menerobos dinding vaginanya yang basah namun tetap sempit dan berdenyut-denyut.

Mataku nanar menahan nikmat…., napasku seolah-olah terhenti menahan nikmat yang ku terima…”Uhhhh…..” mulutku berguman menahan nikmat. Dengan mata terpejam menahan nikmat, Lilispun mengaduh.”Auuww…. OOhhhhhhh……”

Pantatnya dia diamkan sejenak merasakan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Lalu secara perlahan dia menaik turunkan pantatnya hingga penisku mengocok-ngocok vaginanya dari bawah….. Erangan khasnya kembali dia perdengarkan “Auw….. auw…. auw… euhhhh…..”

Semakin lama gerakan pantatnya semakin bervariasi…, kadang berputar-putar…. Kadang maju mundur dan terkadang ke atas ke bawah bagaikan piston sambil tak henti-hentinya mengaduh nikmat…

Gerakannya semakin lincah dan liar, membuat aku tak henti-hentinya menahan nikmat. Kembali aku terpana oleh keliaran Lilis dalam bercinta…., sungguh aku tak menyangka…..Wanita sholeh…., anggun dan lembut ini begitu liar dan lincah .”Ouhhhh…. ouhhhh …” aku pun mengeluh nikmat menyahuti erangan nikmat yang keluar dari bibirnya yang tipis.

Buahdadanya yang montok dan indah terguncang-guncang keras akibat gerakannya yang lincah dan membuatku tanganku terangsang untuk meremasnya, maka kedua buahdada itu kuremas-remas gemas. Lilis semakin mengerang nikmat “Auw…. Auw….auhh….ouhhh…”

Lalu gerakannya semakin keras tak terkendali…, kedua tangannya mencengkram erat kedua tanganku yang sedang meremas-remas gemas buahdadanya…,, dan badannya melenting sambil menghentak-hentakkan pantatnya dengan keras hingga penisku masuk sedalam-dalamnya…. Dan akhirnya tubuhnya kaku disertai dengan jeritan yang cukup keras “Aaaaakkhhhsssss………….”

Dan tubuhnya ambruk menindihku……. Namun dinding vaginanya berdenyut-denyut serta meremas-remas batang penisku…. Membuatku semakin melayang nikmat….

Ya…. Lilis baru saja memperoleh orgasme yang pertama di babak kedua ini….

Dengan tubuh yang lemas dan napas yang tersengal-sengal bagaikan orang sudah melakukan lari marathon bibirnya menciumi lembut pipiku dan berkata sambil mendesah…”Bapak…. Benar-benar hebat….” Lalu mengecup bibirku dan kembali kepalanya terkulai di samping kepalaku sehingga dadaku merasakan empuknya dihimpit oleh buahdadanya yang montok.

Penis tegangku masih menancap dengan kokoh di dalam liang vaginanya, dan semakin lama denyutan dinding vaginanyapun semakin melemah…

Kugulingkan tubuhnya hingga tubuhku menindih tubuhnya dengan tanpa melepaskan batang penisku dari jepitan vaginanya.

Tangan kananku meremas-meremas buah dadanya diselingin memilin-milin putting susu sebelas kiri, sementara bibirku menjilati dan menghisap-hisap putting susu sebelah kanan, sambil pantatku bergerak perlahan mengocok-ngocok vaginanya.

Perlahan namun pasti…, Lilis mulai menggeliat perlahan-lahan…, rangsangan kenikmatan yang kulakukan kembali membangkitkan gairahnya yang baru saja terpuaskan…

“Emmhhh…… euhhhh……… auh……..” dengan kembali dia mengerang nikmat…

Pinggulnya bergoyang mengimbangi goyanganku….

Kedua tangannya merengkuh punggungku….

“Auw…. Auw…… ahhh….auhhh…” kembali dia mengaduh dengan suara yang khas, menandakan kenikmatan telah merasuki dirinya…

Goyang pinggulnya semakin lincah disertai dengan jeritan-jeritannya yang khas.

Dalam posisi di bawah Lilis menampilkan gerakan-gerakan yang penuh sensasi…

Berputar…., menghentak-hentak …, maju mundur bahkan gerakan patah-patah seperti yang diperagakan oleh penyanyi dangdut terkenal. Kembali aku terpana oleh gerakan-gerakannya…. Yang semua itu tentu saja memberikan kenikmatan yang tak terhingga padaku…..

Sambil mengerang dan mengaduh nikmat…, tangannya menarik kepalaku hingga bibirnya bisa menciumi dan menghisap leherku dengan penuh nafsu.

Gerakan pinggul Lilis sudah berubah menjadi lonjakan-lonjakan yang keras tak terkendali, kedua kakinya terangkat dan membelit dan menekan pantatku hingga pantatku tidak bisa bergerak, Kedua tangannya menarik-narik pundakku dengan keras dengan mata terpejam dan gigi yang bergemeretuk.

Dan akhirnya tubuhnya kaku sambil menjerit seperti yang yang disembelih…”AAkkkkkhhhh…….”

Kembali Lilis mengalami orgasme untuk ke sekian kalinya….

Aku hanya terdiam tak bisa bergerak tapi merasakan nimat yang luar biasa, karena walaupun terdiam kaku, namun dinding vagina Lilis berkontraksi sangat keras sehingga memijit dan memeras nikmat batang penisku yang semakin membengkak

Tak lama kemudian tubuhnya melemas…., kedua kakinya sudah terjulur lemah

Kuperhatikan napasnya tersengal-sengal…, Lilis menatap wajahku yang berada diatas tubuhnya., Lalu dia tersenyum seolah-olah ingin mengucapkan terima kasih atas puncak kenikmatan yang baru dia peroleh….

Kukecup bibirnya dengan lembut…

Tubuhku kutahan dengan kedua tangan dan kakiku agar tidak membebani tubuhnya, Sambil bibirku terus menciumi bibir, pipi, leher , dada, hingga putting susunya untuk merangsangnya agar gairahnya segera bangkit kembali…

Kuubah posisi tubuhku hingga aku terduduk dengan posisi kedua kaki terlipat dibawah kedua paha Lilis yang terangkat mengapit pinggangku.

Buahdadanya yang indah dan basah oleh keringat begitu menggodaku. Dan kedua tanganku terjulur untuk meremas-remas buah dada yang montok dan indah

“Euhh…. Euhhh…. “ Kembali tubuhnya menggeliat merasakan gairah yang kembali menghampirinya.

Sambil kedua tanganku mempermainkan buahdadanya yang montok…, pantatku kembali berayun agar penisku kembali mengaduk-ngaduk liang vagina Lilis yang tak henti-hentinya memberikan sensasi nikmat yang sukar tuk dikatakan….

Hentakan pantatku semakin lama semakin keras membuat buah dadanya terguncang-guncang indah.

Erangan nikmat yang khas kembali dia perdengarkan….

Kepalanya bergerak ke kanan dan kekiri seperti dibanting oleh rasa nikmat yang kembali menyergapnya…

Pinggul Lilis mulai membalas setiap hentakan pantatku….., bahkan semakin lama semakin lincah disertai dengan lenguhan dan jeritan nikmat yang khas….

Kedua tanganku memegangi kedua lututnya hingga pahanya semakin terbuka lebar membuat gerakan pinggulku semakin bebas dalam mengaduk dan mengocok vaginanya.

“Auw….Auw…. Auw…. Aahhh….ahhhh” erangan nikmat semakin meningkatkan gairahku…. Dan penisku semakin bengkak….

Dan ternyata dengan posisi seperti membuat jepitan vagina semakin kuat dan membuatku semakin nikmat.

Dan tanpa dapat kukendalikan gerakanku semakin liar tak terkendali seiring dengan rasa nikmat yang semakin menguasai diriku…

Lilispun mengalami hal yang sama…, penisku yang semakin membengkak dengan gerakan-gerakan liar yang tak terkendali membuat orgasme kembali dengan cepat menghampirinya dan dia pun kembali menjerit-jerit nikmat menjemput orgasme yang segera tiba… “Auw….Auw…. Auw…. Aahhh….ahhhh”

Akupun merasa bahwa orgasme akan menghampiriku…., tanpa dapat kukendalikan gerakan sudah berubah menjadi hentakan-hentakan yang keras dan kaku. Hingga akhirnya orgasme itu datang secara bersamaan dan kamipun menjerit secara bersamaan bagaikan orang yang tercekik. “AAkkkkkkhhssss…………..” Pinggul kami saling menekan dengan keras dan kaku sehingga seluruh batang penisku amblas sedalam-dalamnya dan beberapa saat kemudian.

Creetttt….creeettttt…. cretttt….. sperma kental terpancar dari penisku menyirami liang vagina Lilis yang juga berdenyut dan meremas dengan hebatnya…

Tubuhkupun ambruk… ke pinggir tubuh Lilis yang terkulai lemah…., namun pantatku masih diatas selangkangan Lilis sehingga Penisku masih menancap di dalam liang vaginanya.

Kami benar-benar kelelahan sehingga akupun tertidur dalam posisi seperti itu….

Malam itu benar-benar kumanfaatkan untuk menikmati tubuh Lilis sepuas-puasnya.. Entah berapa kali malam itu kami bersetubuh……., yang kutahu adalah kami selalu mengulangi berkali-kali…. Hingga hampir subuh…. Dan tertidur dengan pulasnya karena semua tenaga telah terkuras habis …

Pagi-paginya sekitar jam 6 pagi aku mendengar Lilis menjerit..”Apa yang telah terjadi..? Kenapa bisa terjadi begini..?” lalu dia menangis tersedu-sedu sambil tiada henti mengucap istigfar…. Sambil tak mengerti mengapa kejadian semalam bisa terjadi.

Tak lama kemudian dia berkata padaku sambil menangis “Sebaiknya bapak secepatnya meninggalkan tempat ini…!” katanya marah .

Akupun keluar kamar memunguti pakaianku yang tercecer diluar kamar dan mengenakannya serta keluar dari kamarnya sambil membawa laptop dan kembali ke kamarku. Sedangkan Lilis terus menangis menyesali apa yang telah terjadi.

Sejak saat itu selama sisa masa workshop, Lilis benar-benar marah besar padaku, dia memandangku dengan tatapan marah dan benci. Aku jadi salah tingkah padanya dan tak berani mendekatinya. Dan sampai hari terakhir workshop Lilis benar-benar tidak mau didekati olehku.

Setelah aku keluar dari kamar hotelnya, Lilis terus menangis menyesali apa yang telah terjadi. Dia tak habis mengerti mengapa gairahnya begitu tinggi malam tadi dan tak mampu dia kendalikan sehingga dengan mudahnya berselingkuh denganku.

Ingat akan kejadian semalam, kembali dia menangis menyesali atas dosa besar yang dilakukannya. Dia merasa sangat bersalah karena telah menghianati suaminya, apalagi pada saat dia mengingat kembali betapa dia sangat menikmati dan puas yang tak terhingga pada saat bersetubuh denganku….

Ya… dalam hatinya yang paling dalam, secara jujur Dia mengakui, bahwa malam tadi adalah pengalaman yang baru pertama kali dialami seumur hidupnya, dapat merasakan kenikmatan orgasme yang berulang-ulang dalam satu malam, Dia sampai tidak ingat, entah berapa puluh kali dia mencapai puncak orgasme, akibatnya dia merasakan tulangnya bagaikan dilolosi sehingga terasa sangat lemah dan lunglai, habis semua tenaga terkuras oleh pertarungan semalam yang begitu sensasional.

Dan hal itu belum pernah dia alami selama berumah tangga dengan suaminya. Suaminya paling top hanya mampu mengantarnya menjemput satu kali orgasme bersamaan dengan suaminya, setelah itu tertidur sampai subuh dan itupun jarang sekali terjadi. Yang paling sering adalah dia belum sempat menjemput puncak kenikmatan, suaminya sudah ejakulasi terlebih dahulu, meninggalkan dia yang masih gelisah karena belum mencapai puncak.

Dan peristiwa tadi malam, benar-benar istimewa karena dia mampu mencapai kenikmatan puncak yang melelahkan hingga berkali-kali.

Ingat akan hal itu kembali dia menyesali diri…, kenapa dia mendapatkan kenikmatan bersetubuh yang luar biasa harus dari orang lain dan bukan dari suaminya sendiri…. Kembali dia menangis……

Dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dan bertobat atas dosa besar yang dilakukannya. Dan dia akan menjauhi diriku agar tidak tergoda untuk yang kedua kalinya.

Itulah sebabnya selama sisa waktu workshop, dia selalu menjauh dariku.

Hari terakhir workshop, Lilis begitu gembira karena akan meninggalkan tempat yang memberinya kenangan “buruk” ini dan Dia begitu merindukan suaminya sebagai pelampiasan atas kesalahan yang sangat disesalinya.

Sehingga begitu tiba di rumah, dia memeluk suaminya penuh kerinduan. Tentu saja suaminya sangat bahagia melihat istrinya datang setelah seminggu berpisah. Dan malamnya setelah anak-anak tidur mereka melakukan hubungan suami istri.

Lilis begitu bergairah tidak seperti biasanya, dia demikian aktif mencumbu suaminya. Hal ini membuat suaminya aneh sekaligus bahagia, aneh… karena selama ini suaminyalah yang meminta dan merangsangnya sedangkan Lilis lebih banyak mengambil posisi sebagai wanita yang menerima, tapi kali ini sungguh beda… Lilis begitu aktif dan bergairah. Tentu saja perubahan ini membuat suaminya sangat bahagia, suaminya berfikir… baru seminggu tidak bertemu saja istrinya sudah demikian merindukannya sehingga melayani suaminya dengan sangat bergairah. Dan akhirnya suaminyapun tertidur bahagia

Namun, lain yang dialami suami, lain pula yang dialami oleh Lilis, malam itu Lilis begitu kecewa, Dia begitu bergairah dan berharap untuk meraih puncak bersama suaminya, namun belum sempat dia mencapai puncak, suaminya telah sampai duluan. Suaminya mengecup bibirnya penuh rasa sayang, sebelum akhirnya tertidur pulas penuh kebahagiaan, meninggalkan dirinya yang masih menggantung belum mencapai puncak.

Lilispun melamun……

Terbayang olehnya peristiwa di hotel, bagaimana dia bisa mencapai puncak yang luar biasa secara berulang-ulang. “Uhhh……” tanpa sadar dia mengeluh

Di bawah alam sadarnya dia berharap kapan dia dapat kembali merasakan kepuasan yang demikian sensasional itu..?

Namun buru-buru dia beristigfhar setelah sadar bahwa peristiwa itu adalah suatu kesalahan yang sangat fatal.

Namun….., kekecewaan demi kekecewaan terus dialami Lilis setiap kali dia melakukan hubngan suami istri dengan suaminya. Dan selalu saja dia membandingkan apa yang dialaminya dengan suaminya; dengan apa yang dialaminya waktu di hotel denganku. Hal itu membuatnya tanpa sadar sering menghayalkan bersetubuh denganku pada saat dia sedang bersetubuh dengan suaminya, dan hal itu cukup membantunya dalam mencapai kepuasan orgasme. Dan tentu saja kondisi seperti itu membuatnya tersiksa, tersiksa karena telah berkhianat terhadap suaminya dengan membayangkan pria lain pada saat sedang bermesraan dengan suaminya.

Semakin betambah hari, godaan mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dariku semakin besar karena dia tidak bisa mendapatkannya dari suaminya. Dan akhirnya dia menjadi sering merindukanku. Tentu saja hal ini merupakan siksaan baru baginya.

Itulah sebabnya, satu bulan setelah peristiwa di hotel, Lilis tidak terlihat membenciku. Bahkan secara sembunyi-sembunyi dia sering memperhatikan dan menatapku dengan tatapan penuh kerinduan. Dia tidak marah lagi bila didekati olehku, bahkan dia tersenyum penuh arti bila bertatapan denganku. Hal ini tentu saja membuatku bahagia

Namun perubahan itu, tidak membuat tingkah lakunya berubah. Tetap saja Lilis menampilkan sosok wanita berjilbab yang anggun dan sholehah.

Hingga pada waktu istirahat siang, dimana rekan-rekan sekantor sedang keluar makan siang, Aku mendekati Lilis yang kebetulan saat itu belum keluar ruangan untuk beristirahat dan dengan hati-hati aku berkata padanya “Bu…, maaf saya atas kejadian waktu itu…!”

Aku berharap-harap cemas menunggu reaksinya…, namun akhirnya dia menjawab dengan jawaban yang sangat melegakan, “Sudahlah Pak, itu semua karena kecelakaan…, saya juga minta maaf…, karena tadinya menganggap, itu semua adalah kesalahan bapak…., setelah saya pikir…, sayapun bersalah karena membiarkan itu terjadi…”. Dan selanjutnya sambil tersenyum manis, dia mohon ijin padaku untuk istirahat makan siang. Dan meninggalkan diriku di ruangan itu.

Sejak saat itu terjadi perubahan drastis atas sikapnya terhadapku, dia menjadi sering tersenyum manis padaku…, bisa diajak ngobrol olehku, bahkan kadang-kadang membalas kata-kata canda yang aku lontarkan padanya..

Tentu saja perubahan ini, menimbulkan pikiran lain pada diriku…, Ya… pikiran untuk bisa kembali menikmati tubuhnya…., tapi bagaimana caranya…?

Namun kesempatan itu akhirnya datang juga, saat itu dia membuat laporan tahunan yang harus diselesaikan bersama atasan kami, sehingga dia harus kerja lembur di kantor sampai malam hari menemani atasan kami yang kebetulan seorang wanita.

Lilis bekerja di sebuah ruangan bersama 4 orang rekan kerjanya lainnya di depan ruangan atasan kami, sedangkan aku berbeda ruangan dengannya. Saat itu semua rekan kerja kami sudah pulang dan kebetulan Atasan kami ada urusan lain sehingga saat itu meninggalkan Lilis sendirian di ruangan itu.

Aku memasuki ruangan kerja Lilis dan kulihat dia sedang asyik mengerjakan laporan di depan komputer.

“Ohh…Bapak…, ada apa Pak?” tanyanya setelah tahu yang masuk adalah aku

“Kok belum pulang..? Ibu mana ? “ Tanyaku berbasa-basi menanyakan atasan kami.

“Iyah…. Nich… pekerjaan masih banyak…., ada apa nanya Ibu ?” dia balik bertanya

“Ngga ada apa-apa…, biasanya kan Lilis menemani Ibu…, kok Ibunya ngga kelihatan..?” jawabku sambi bertanya kembali padanya.

“Beliau ada perlu dulu…., mungkin langsung pulang ke rumahnya” jawabnya lagi.

“Masih banyak pekerjaannya ? ada yang bisa dibantu ?” tanyaku menawarkan jasa

“banyak Pak, karena harus selesai dua hari lagi. Oh ya Pak…, tolong dong copykan file-file dokumen….. hasil …. Workshop saat itu dong Pak !” katanya agak sedikit bergetar pada saat mengatakan kata ‘hasil …workshop’ dan sekilas kulihat wajahnya langsung berubah merah sambil menundukkan kepala…

“Bbb…baa..ik… baik” kataku tak kalah gugupnya.

Aku langsung mengeluarkan laptopku dan menyalakannya, sementara kulihat Lilis kembali melanjutkan pekerjaannya.

Setelah laptopku ‘nyala’, aku langsung membuka foder hasil workshop dan menyisipkan flasdisk ke laptop dan mulai mencopy. Ingatanku terbayang pada file rekaman video persetubuhanku dengannya pada saat workshop dulu, dan file itu kucopykan juga. Setelah selesai, kucabut flashdisk dan kuserahkan padanya sementara aku berada di belakangnya yang sedang mengahadap komputer sehingga pandangan kami sama-sama memperhatikan layar monitor.

Dia menerima flashdisk itu dan menyisipkan ke PC di meja kerjanya.

“Dimana disimpannya, Pak ?” tanyanya

“Di folder Hasil Work shop” jawabku

Kemudian dia membuka folder Hasil Workshop dan terlihat olehnya file video 3gp dengan nama video1.3gp.

“Ini file video pada saat kegiatan apa , Pak?” tanyanya sambil menunjuk file rekaman tersebut…

“Buka aja ?” jawabku sambil dada bergemuruh menanti reaksi dari Lilis jika melihat hasil rekaman tersebut.

Begitu file tersebut terbuka…..

“Aihhh……!” jeritnya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya…

Terlihat di layar monitor saat aku sedang mencumbunya dan dia begitu menikmati penuh gairah menyambut cumbuanku….

Lilis diam terpaku dengan mulut ternganga menyaksikan rekaman dirinya yang sedang dirangsang olehku. Tangannya selolah kaku tidak bisa bergerak membiarkan media player terus menampilkan percumbuanku dan dirinya diselingi oleh erangan penuh ransangan yang keluar dari mulutnya.

Terlihat olehnya bagaimana dirinya dalam rekaman itu begitu menikmati rangsangan yang kuberikan diiringi lenguhan rangsangan penuh gairah dari bibirnya

“Bapak…jahat…., mengapa bapak lakukan itu…?” suaranya bergetar…, namun matanya seolah tidak bisa dialihkan dari layar monitor. Aku diam tak menjawab…

“Me..mengapa…, pak ?” tanyanya lagi dengan suara yang bergetar diselingi oleh deru nafas yang semakin bergemuruh…

“Buat kenangan…pribadi…, Lis ! Untuk mengingatkanku bahwa Lilis begitu istimewa…dimata saya..Percayalah, Lis. File ini rahasia…, hanya kita yang tahu dan tidak sedikitku terbersit dalam pikiran saya untuk menyebarkannya….. Saya juga malu kalau tersebar. Kan ada gambar saya di sana juga…” Jelasku menenangkannya.

Dalam gambar, tampak bahwa dia begitu menikmati dan bergairahnya membalas pagutan bibirku dan bagaimana ekspresi wajahnya yang menahan nikmatnya rangsangan gairah yang sedang melandanya saat itu.

Rekaman itu membawa Lilis akan kenangan betapa saat itulah dia merasakan kenikmatan puncak orgasme yang berulang yang tidak pernah dia dapatkan selama ini.

jilbab hot (6)

Serrrrrr…., perlahan namun pasti gairah Lilis mulai bangkit, dan gairah yang selama ini terpendam dan tak tersalurkan mulai meronta-ronta dengan hebatnya. Bulu-bulu halus di seluruh tubuhnya merinding…, tangannya semakin kaku menahan gelora yang mulai menghasutnya. Sementara itu bagian vaginanya mulai basah dan berdenyut-denyut membayangkan kenikmatan yang luar biasa yang ia rasakan saat itu..

“Uhh…” tanpa sadar keluhan penuh rangsangan keluar dari bibirnya yang tipis dan duduknya mulai gelisah merasakan vagina yang semakin basah dan berdenyut.

Sebenarnya saat itupun aku sudah terangsang, gairahku mulai bergelora, penisku sudah tegang dengan kerasnya mendesak celana kerjaku.

Kedua tanganku secara perlahan-lahan memegamg kedua pundaknya dari belakang. Tubuhnya semakin merinding begitu tersentuh olehku, sementara matanya tidak lepas dari layar monitor dan nafasnya semakin tersengal dipacu oleh nafsu yang semakin menggebu.

Kedua tangannya terangkat memegang kedua tanganku yang sedang memegang pundaknya, lalu berkata dengan bergetar….”Sebaiknya kita jangan mengulangi lagi….” Katanya lirih….

Namun nampaknya kata-kata itu seolah meluncur tanpa makna, karena ternyata kedua tangannya meremas kedua tanganku. Dan itu merupakan isyarat bagiku untuk bertindak lebih jauh.

Perlahan-lahan kutundukkan kepalaku dan bibirku mulai mengecup pundaknya yang terhalang oleh jilbabnya yang lebar…

“Euhh….” Lilis mengeluh. Tangannya semakin meremas jari-jariku yang berada di pundaknya dan kepalanya terdongak.

Aku terus mengecup pundaknya, sementara perlahan-lahan kedua tanganku bergerak ke arah buahdadanya yang terhalang oleh baju panjang yang dikenakannya. Tidak ada penolakan dari dirinya sehingga aku meremas-remas buahdadanya yang montok dan kenyal.

“Euhhh….. euhhh….” Lilis semakin mengerang….

Sementara matanya menatap layar monitor yang menampilkan adegan dimana dia menggeliat nikmat saat vaginanya diusap-usap oleh jari-jariku.

Aku bergerak kesamping sambil kuputarkan kursi kerja yang sedang diduduki oleh Lilis sehingga aku berdiri dihadapannya, lalu aku duduk dilantai sehingga kepalaku menghadap selangkangannya, kusingkapkan rok panjang yang dikenakannya ke atas sampai sebatas pinggangnya hingga dihadapanku terpampang pahanya yang putih dan mulus dan CD putih yang menutupi vaginanya yang indah.

Aku mulai menciumi pahanya yang kiri dan kanan dengan penuh gairah.

“Uhhhh… euhhhh…” Lilis semakin menggeliat nikmat dan penuh rangsangan.

Lalu kedua tanganku berusaha menarik CD yang dikenakannya. Lilis mengangkat pantatnya sehingga CD itu dengan mudah dapat kulepaskan.

Lalu dengan rakus aku menjilati lipatan vagina yang dihiasi oleh jembutnya yang halus..

“Auw…..auh….ouh….” Lilis mulai mengaduh nikmat dan mengerang… Pinggulnya bergelinjang.

Aku semakin bersemangat menjilati vagina Lilis yang semakin basah. Tangaku membuka lipatan bibir vaginanya dan Lidahku menjilati lorong basah itu dari bawah hingga ke atas dan berhenti dan menghisap clitorisnya yang menonjol keras..

“Aaaauuhhhh…. aaawwwwhh…….auwwww…” Dia menjerit dan tubuhnya bergetar pada saat lidahku menjilati dan menghisap clitorisnya. Tubuhnya menggeliat, melenting ke belakang hingga punggungnya menekan sandaran kursi dengan kuat, pantatnya terangkat menyambut jilatanku yang semakin bersemangat. Kedua tangannya mencengkram erat pegangan kursi dengan kuat hingga urat-urat tangannya menonjol keluar “Auw… auw….. ouhhhh… .euhhhh……” erangannya semakin merangsangku.

Gerakan menjilati celah vaginanya hingga clitorisnya kulakukan berulang menyebabkan Dia terus menerus mengaduh dan mengerang nikmat dan tubuh yang bergetar dan bergelinjang tiada henti.

Hingga akhirnya kedua kakinya terangkat melewati punggungku dan memiting leherku dengan kedua pahanya dan kedua tangannya mencengkram bagian kepalaku dan menekan kepalaku agar semakin menekan vaginanya dengan kuat dan kaku dan akhirnya…

“Aaaakkkkkssss……….aaauuuhhhhhhhhhhhhh” tubuhnya terlonjak-lonjak kaku sementara vaginanya terasa berdenyut-denyut oleh lidahku dan beberapa saat kemudian tubuhnya terhempas dengan napas yang terengah-engah dan tatapan mata yang menunjukkan rasa puas dan nikmat yang luar biasa.

Aku berdiri membuka gesper yang kugunakan dan membuka kancing celana yang kukenakan serta menari sleting hingga kebawah, lalu tanganku mengeluarkan penisku yang sudah sangat tegang dari pinggir CD yang kukenakan. Penisku mengacung tegak dan keras begitu terbebas dari kurungannya.

Mata Lilis masih setengah terpejam merasakan kenikmatan orgasme yang masih menderanya, kemudian mata itu terbuka perlahan dan memandang wajahku seolah ingin mengucapkan terima kasih karena telah memberikan kenikmatan orgasme padanya, tetapi tatapan mata itu kemudian jatuh pada penisku yang sedang mengacung tegak dan tegang, gairahnya kembali bangkit dengan cepat dan dengan penuh nafsu dia menatap penisku yang mengacung tegak.

Dengan gemetar tangan kanannya meraih batang penisku yang mengacung tegak, secara perlahan dia membelainya dengan penuh nafsu. Pantatku terangkat merasakan rasa nikmat yang menjalar dari batang penisku yang diremas olehnya. Melihat aku merasakan nikmat akibat perlakuannya, dia semakin bersemangat dan bernafsu meremas dan mengocok batang penisku.

Kepalaku terdongak ke belakang merasakan kenikmatan yang tak terperi. Tanganku mencengkram erat pundaknya menahan keseimbangan tubuhku.

Melihat tubuhku melenting kaku menahan rasa nikmat akibat kocokan yang dilakukannya, membuat Lilis semakin terangsang, merasakan nikmat dan puas tersendiri mampu menyiksaku dengan rasa nikmat “Uhh…ouhhh…” tanpa sadar mulutku mengeluh lirih…

Ada dorongan besar dalam dirinya untuk lebih menyiksa diriku dengan mempermainkan batang penisku yang semakin menggemaskan bagi dirinya. Sementara itu tubuhku semakin sering melenting kebelakang menahan rasa nikmat yang terus menghantamku.

Pada saat kepalaku terdongak untuk kesekian kalinya dihempas oleh rasa nikmat yang terus menghantamku.

Tiba-tiba aku menjerit “Auh…..ouhhhh….”, tanpa sadar mulutku menjerit kaget, karena kurasakan kepala penisku dilamuri oleh sesuatu yang basah, hangat dan nikmat luar biasa, membuat pantatku terangkat dan tubuhku kaku, tubuhkupun semakin melayang..

Rupanya Lilis mendapatkan kepuasan dan kenikmatan tersendiri ketika melihat bahwa dirinya mampu membuatku melayang-layang ketika dia meremas dan mengocok batang penisku yang semakin bengkak dan kaku. Di matanya, batang penisku terlihat semakin menggemaskan sehingga tanpa dia sadari kepalanya semakin mendekat dan akhirnya mulutnya mencaplok kepala penisku dan menghisapnya perlahan, membuat tubuhku semakin melenting dan menjerit nikmat.

Melihat tubuhku yang menggeliat-geliat nikmat, rangsangan dan gairahnyapun semakin menggebu dan vaginanya semakin berdenyut, basah dan gatal. Diapun akhirnya mengocok batang penisku dengan mulutnya…

Aku merasa semakin tak tahan…, akhirnya pantatku kumundurkan kebelakang sehingga batang penisku lepas dari mulutnya.

Lilis menatapku dengan senyum kemenangan. Lalu kuarahkan kedua tanganku untuk menarik kedua tangan Lilis sambil berkata “Lis.., duduk di meja…!”

Dia berdiri dengan kedua tangan memegang pinggir rok panjang yang dikenakan, pantatnya diarahkan ke pinggir meja, lalu duduk dipinggir meja dengan paha yang terkangkang seolah tak sabar ingin menjemput penis tegangku untuk segera memasuki dirinya.

Akupun berdiri menghadap dirinya, kuarahkan kepala penisku tepat di liang vaginanya, kedua tangan Lilis memegang pundakku, kedua kakinya terangkat memudahkan diriku untuk memasuki dirinya sementara matanya dengan penuh nafsu menatap nanar batang penisku yang sedang mengarah tepat di depan liang vaginanya yang berdenyut dan gatal penuh harap untuk segera dimasuki. Lalu secara perlahan

jilbab hot (7)

Blesshhhh……

“Auuwww….auww….. Auuhhhhhh…..” Lilis mengaduh nikmat pada saat batang penisku menerobos lorong vaginanya yang sangat nikmat, matanya terpejam menikmati sensasi nikmat yang dirindukankannya selama ini.

Aku mulai mengerakan pantatku maju mundur agar batang penisku mengocok-ngocok liang vaginanya yang semakin basah namun nikmat luar biasa..

Erangan dan lenguhan nikmat yang khas semakin keras diperdengarkan oleh Lilis sebagai ekspresi dari rasa nikmat yang bertubi-tubi menderanya.

Pinggul Lilis mulai bergerak dan menggeliat setiap penisku menerobos liang vaginanya. Dan gelinjang tubuh itu semakin keras sambil mengaduh nikmat “Auw…auuwww..auuw……auhh….”

Untuk mendapatkan kenikmatan lebih.., Lilis menurunkan kedua tangannya dari pundakku dan meletakkannya menekan meja dibelakang punggungnya sehingga pantatnya bisa melonjak-lonjak menyambut sodokan penisku di dalam liang vaginanya .

Jeritan mengaduh menahan nikmat semakin keras keluar dari mulutnya “Auw… auw… auw… ouhhhhhh…”

Kepalanya bergerak kekiri dan ke kanan seirama dengan sodokan batang penisku dan terkadang terdongak-dongak hingga dadanya naik

Beberapa menit kemudian, jeritan nikmat yang keluar dari mulutnya semakin keras dan tubuhnya semakin melonjak-lonjak keras, kedua kakinya yang berada dipinggir pinggangu terangkat dan kedua tumitnya menekan-nekan pantatku dengan keras dan kaku.

Kepalanya semakin terdongak dan kaku dan akhirnya jeritan menjemput puncak orgasme terdengar dari mulutnya “Aaaaaakkkkkkkkssss……..”

Tubuhnya terdiam kaku, dan terjadi kontraksi yang sangat hebat di dalam liang vaginanya meremas dan menghisap-hisap batang penisku dengan kuat, sementara pantatku tak bisa bergerat karena terkunci oleh jepitan kaki Lilis.

Beberapa saat kemudian “Uhhhhhh……” lenguhan melepaskan napas panjang keluar dari mulutnya dan tubuhnyapun melemas.

Kudekap tubuh Lilis agar kepalanya terkulai dipundakku. Kudiamkan bebera saat dalam posisi seperti itu, membiarkan Dia menikmati fase-fase orgasme yang baru saja diterimanya.

Setelah beberapa menit kepalanya bergerak dan tangannya memegang leherku, kemudian dia mencium bibirku dengan mesra…. Dan berkata “Pak… sungguh luar biasa….”

Akupun menyambut ciuman itu dengan lembut dan tersenyum bangga mendengar ucapannya. Lalu berkata “Nungging.. Yukkk!”

“Bagaimana…?” Dia bertanya

Aku menurunkan tubuhnya dari atas meja dan mengarahkan tubuhnya agar berdiri membelakangiku, kemudian kedua tangannya kuletakkan agar memegang pinggir meja, pinggulnya kumundurkan dan kakiknya ku kangkangkan agar dia berada pada posisi menungging sambil berdiri.

Kusingkapkan rok panjang yang dikenakannya ke atas pinggangnya, lalu kuarahkan kepala penisku tepat pada depan liang vaginanya yang semakin basah, lalu ….

Blessshhh…., Rasa nikmat kembali menjalar disekujur pembuluh darahku ketika batang penisku memasuki liang vaginanya yang berdenyut dan basah serta licin.

“Auw…auw….auhhhhh….” Lilispun kembali mengaduh nikmat….

Aku mulai mengocok batang penisku dengan memaju mundurkan pantatku sehingga selangkanganku bertepukan dengan pantatnya yang bulat dan montok

“Uh…uh….uh…” Napasku semakin berderu sambil pantatku memompa pantat Lilis..

Rasa nikmat semakin menjalar disekujur tubuhku….

Akupun semakin lama semakin keras dan cepat menggerakan pantatku.

Lenguhan nikmatku bersahutan dengan erangan nikmat dari mulut Lilis, bagaikan orkestra ekspresi nikmat sedang kami kumandangkan.

Pantat Lilis turut bergerak maju mundur menyambut sodokan batang penisku sehingga batang penis menancap semakin dalam, sehingga rasa nikmatpun semakin bertambah.

Goyangan kami makin lama semakin cepat dan aku merasa orgasme akan menerjang diriku sehingga gerakan tubuhku semakin tak terkendali dengan cepat dan kaku…

Dan Lilispun tahu bahwa aku segera mencapai puncak karena merasakan batang semakin keras membengkak di dalam vaginanya, hal ini membuat kenikmatan yang diterimanya semakin cepat mengantarnya menjemput orgasme untuk ke sekian kalinya. Diapun semakin cepat memaju mundurkan pantatnya.

Hingga akhirnya pantatku menekan keras dan kaku pantat Lilis membuat batang penisku amblas sedalam-dalamnya…

Dan Lilispun demikian, Dia pun menyambut sodokan terakhirku dengan menekan pantatnya dengan kuat pada selangkanganku

Badai puncak orgasmepun pada saat yang bersamaan menghantam Aku dan Lilis sehingga akhirnya dengan mata melotot dan tubuh yang melenting kaku sambil kedua tangan mencengkram kuat bongkahan pantat Lilis yang bulat sambil menjerit nikmat “Aaaakkkkkksssshhh………………”

Dan dijawab dengan jeritan nikmat Lilis “Aaaakkkkkksss……… “

Beberapa saat tubuh kami kaku dan akhirnya tubuhku berkelojotan sambil… Crettt..crettt.. creeeettttt….

Spermaku terpancar dengan deras membasahi seluruh lorong nikmat di dalam vaginanya, disambut dengan kontraksi yang sangat kuat seolah memeras-meras batang penisku agar mengeluarkan semua sperma yang sedang terpancar…

Beberapa saat kemudian, aku merasa tubuhku lunglai, lututku goyah menahan beban tubuhku dan hampir saja tubuhku terjatuh. Aku berusaha menjaga keseimbangan tubuhku dari sekuat tenaga agar tidak jatuh. Sedangkan Lilis langsung terduduk di pinggir meja, rupanya lututnya langsung goyah tak mampu menopang beban tubuhnya, hingga penisku tercabut dari liang vaginanya.

Sesaat kemudian kami terdiam, hanya napas kami yang tersengal-sengal seolah habis berlari jauh. Tak lama kemudian aku berusaha membangunkan Lilis dan menariknya agar berdiri. Lilis berdiri dengan bantuanku dan langsung berdiri berhadapaan, baju yang kami kenakan basah oleh keringat. Aku memeluknya dan membelai kepalanya, sejenak kamipun berciuman dengan lembut dan mesra.

“Uhhh…Pak, kenapa jadi begini….?” Tanyanya dengan pertanyaan yang tak perlu kujawab, lalu dia memunguti Cdnya yang tergeletak di lantai, mengenakannya dan akhirnya menghampiri kursi, kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kusi tersebut.

Aku menarik sleting dan mengancingkan celana panjangku dan berusaha duduk di kursi lain yang ada di sana.

Beberapa saat kami hanya duduk terdiam sambil mengatur napas yang perlahan-lahan mulai normal kembali

Tiba-tiba dia berkata “Sebaiknya bapak segera pulang, sebab sebentar lagi suami saya akan datang menjemput…., saya tidak ingin suami saya curiga dengan apa yang kita lakukan barusan…”

Akupun berdiri, mengambil tas laptopku, sebelum aku meninggalkan ruangan itu aku berusaha menciumnya, namun dia menepis mukaku dan menghindar. Akhirnya akupun pergi meninggalkannya sendiri di ruangan itu.

Sepeninggalanku, Lilis tampak termenung melamunkan apa yang baru saja terjadi. Hari ini kembali dia berbuat dosa…., kembali dia menghianati suaminya, dan yang paling membuatnya tersiksa adalah kembali dia merasakan puasnya kenikmatan sex yang tak pernah didapatkan dari suaminya.

Dan peristiwa barusan, semakin memperbesar ketergantungannya akan pemenuhan kebutuhan sex terhadap diriku. “Uhhh…..” tanpa sadar dia menghela napas panjang sebagai ekspresi dari melepaskan beban berat yang sedang menghimpitnya.

Tiba-tiba badannya tersentak kaget, ketika ingat bahwa di layar monitor masih terlihat aplikasi media player yang sudah selesai menampilkan adegan persetubuhannya denganku. Dengan tergesa-gesa dia keluar dari aplikasi tersebut dan menghapus file video tersebut.

Tak lama kemudian suaminya datang menjemputnya. Untuk menutupi rasa bersalahnya, Lilis menyambut suaminya dengan memberikan kecupan mesra dan tak lama kemudian merekapun pulang. Sepanjang perjalanan pulang dengan menggunakan sepeda motor, Lilis memeluk erat tubuh suaminya dari belakang dan meletakan kepalanya dipunggung suaminya.

Tapi ingatannya melayang pada saat-saat dimana tubuhnya terguncang-guncang diombang-ambingkan oleh rasa nikmat yang diberikan olehku.

Sepanjang perjalanan pulang, suaminya merasa nyaman dan bahagia, karena istri tercinta memeluk erat tubuhnya dari belakang dan diapun merasakan bahwa kepala istrinya disandarkan dipunggungnya. Kondisi begitu membuat gairahnya naik dan dia ingin segera sampai di rumah untuk melakukan hubungan suami istri dengan istrinya.

Namun pada saat keinginannya tersebut dia sampaikan ke Lilis, Lilis menolaknya dengan halus dengan mengatakan bahwa dirinya sangat lelah sehingga takut tidak bisa memuaskan suaminya dan dia berjanji bahwa besok dia akan melayani dan memuaskan suaminya. Suaminyapun mengerti akan alasan tersebut dan akhirnya merekapun tidur.

Alasan Lilis menolak ajakan suaminya, sebenarnya adalah dia merasa takut kalau penyelewengannya denganku di kantor dapat dirasakan oleh suaminya jika malam itu dia bersetubuh dengan suaminya. Itulah sebabnya dia memberi alasan bahwa tubuhnya lelah dan takut dia bisa melayani suaminya dengan baik, dan dia bersyukur karena suaminya bisa menerima alasanya.

Keesokan malamnya, setelah anak-anak mereka tidur, suaminya menagih janji Lilis untuk melakukan hubungan suami istri. Lilispun menyambutnya dengan senyuman dan kecupan mesra pada suaminya yang membuat gairah suaminya semakin tinggi.

Malam itu kembali Lilis begitu agresif terhadap suaminya, dia menciumi bibir suaminya dengan penuh nafsu dan membukakan seluruh pakaian suaminya. Lilis tidak memberi kesempatan pada suaminya untuk mencumbunya.

Pada saat tubuh suaminya sudah telanjang bulat dan telentang di kasur dengan batang penis yang mengacung tegak, kembali ingatannya pada saat dia mempermainkan batang penisku dan membuat tubuhku terkejang-kejang sambil mengerang nikmat.

Ingatan tersebut membuat gairah Lilis terpacu, maka dengan semangat dia mempermainkan batang penis suaminya yang mengacung tegak.

Tentu saja suaminya kaget dan berkata..”Mah…kok Mamah bergairah sekali..? tidak biasanya Mamah seperti ini ?”

“kan saya udah janji untuk memberi kepuasan yang lain dari biasanya pada Papah…” jawab Lilis sambil mengocok batang penis suaminya yang semakin tegang dan suaminyapun semakin menggeliat-geliat menahan nikmat yang diberikan olehnya.

Semakin suaminya menggeliat dan mengeluh nikmat, Rasa nikmat dan puaspun semakin menjalar ke seluruh penjuru darahnya, gairahnyapun semakin tinggi serta vaginanya semakin basah, berdenyut dan gatal. Hal ini membuat Lilis semakin bergairah mempermainkan batang tegak suaminya, hingga akhirnya Lilispun mengemut batang penis suaminya yang semakin tegak dan bengkak

“Aahhh…..” tubuh suaminya bergetar, ketika dia merasakan batang penisnya merasakan panas dan basahnya mulut istrinya. Tubuhnya kejang dan melayang dihantam oleh rasa nikmat yang baru pertama kali dialaminya selama hidupnya, karena seumur perkawinannya belum pernah Lilis melakukan hal ini padanya. Tentu saja dia merasa surprise dan nikmat luar biasa yang membuat tubuhnya melenting-melenting tanpa dapat dia kendalikan.

“Mah…Mamah… Ohhh.. Oh…” dengan tersengal-sengal menahan nikmat mulutnya terus meracau….

Mendengar racauan suaminya, Lilis semakin bersemangat mengoral batang penis suaminya, sehingga semakin lama dia merasakan batang suaminya semakin bengkak dan mulutnya terasa semakin penuh oleh batang suaminya dan akhirnya tanpa diduga tubuh suaminya melenting kaku dan menjerit “Aakkkkhhhh…” serta Cret…cret…cret….

Sperma kental terpancar tanpa dapat ditahan menyirami rongga mulut Lilis.

Lilispun kaget dan tersedak sehingga terbatuk-batuk dan melepaskan batang penis suaminya yang masih memancarkan sisa-sisa sperma.

Sementara itu napas suaminya tersengal-sengal merasakan nikmat yang luas biasa yang diberikan oleh istrinya.

Sementara itu, Lilis benar-benar kaget dan kecewa, karena suaminya sudah selesai sedangkan dia belum apa-apa, padahal dia merasakan vaginanya demikian basah dan berdenyut-denyut ingin diobok-obok oleh batang suaminya, tapi betapa kecewanya karena harapan itu sirna karena suaminya telah ejakulasi.

“Kok…Papah udahan sich…, saya kan belum diapa-apain…?” kata Lilis sambil cemberut.

“Abisnya…., Lilis sich…. Hari ini begitu lain…. Baru kali ini Lilis melakukan seperti tadi ke Papah, membuat Papah ngga tahan…tahu dari mana sih cara seperti tadi ?” jawab suaminya sambil menatap istrinya penuh selidik…

“tau dari temen… katanya bisa membuat suami melayang-layang nikmat…” jawab Lilis berbohong…” Teruss…. Saya gimana dong, Pah ? kan belum apa-apa…” lanjut Lilis sambil cemberut.

“Nanti..ya Mah…, Papah istirahat dulu…” jawab suaminya sambil mengecup mesra bibirnya.

Kemudian suaminya tergolek lemah dan tertidur, meninggalkan dirinya yang gelisah menahan gairah yang belum tersalurkan.

Sambil menahan gairah yang belum tersalurkan, Ingatan Lilis kembali melayang padaku…

Nyata benar bedanya bedanya, kemampuan suaminya dan diriku dalam memberikan kepuasan sex pada dirinya.

Dengan diriku, dia mendapatkan kepuasan dalam memberi dan menerima. Dia begitu puas dan nikmat bisa membuatku melayang-layang ketika mengoral batang penisku dan akhirnya diapun mendapatkan puncak orgasme berulang-ulang ketika batangku mengobok-obok liang vaginanya.

Sementara suaminya, baru dioral segitu aja udah kalah, meninggalkan dirinya yang belum diapa-apakan. “Uhhh….” Lilispun mengeluh penuh kecewa.

Kekecewaan yang baru saja dialaminya ini semakin merubah pandangan Lilis pada diriku. Di matanya, Aku bagaikan seorang maestro, yang mampu menjadikannya seorang wanita yang lengkap, seorang wanita yang bisa menikmati puncak orgasme yang begitu didambakannya. Dan aku bukan hanya mampu memberikannya satu kali, namun berkali-kali….

Semakin sering dia merasa kecewa karena ketidakmampuan suaminya memberikan kepuasan padanya, semakin membuatnya rindu padaku. Dan terkadang terpikir olehnya untuk rela menghadapi segala macam resiko untuk bisa meraih kenikmatan dariku.

Ya…, dibalik jilbab lebarnya, dibalik prilaku sholehnya dan dibalik tutur sapanya yang lembut, anggun dan sopan. Ternyata tersimpan gairah liar yang meronta-ronta yang tak dapat dipenuhi dari suaminya dan ini merupakan siksaan yang berat baginya. Membuatnya murung dalam kesehariannya.

Kecewaan yang berulang-ulang yang dialaminya membuat gairahnya secara perlahan-lahan berkurang dan hilang jika bersetubuh dengan suaminya. Akhirnya Lilis harus bersandiwara seolah-olah dia merasa puas dan nikmat ketika bersetubuh dengan suaminya karena dia tidak ingin melihat suaminya kecewa.

Tetapi di dalam kesendiriannya, ketika suaminya tidak ada di rumah atau sudah tidur gairahnya perlahan-lahan merayap naik dan menggodanya untuk membayangkan bersetubuh denganku, sambil jemarinya mengusap vagina dan meremas-remas buah dadanya sendiri. Hal itu semakin membuatnya rindu untuk meraih kenikmatan denganku.

Semakin lama, kerinduan itu semakin tak tertahankan dan semakin tak mampu mengendalikan gairahnya untuk bercinta denganku.

Pada suatu sore ketika aku baru pulang ke rumah kontrakanku dan selesai mandi, aku mendengar pintu depanku ada yang mengetuk, dan aku terbelalak kaget dan gembira ketika kubuka pintu ternyata Lilis yang anggun dan cantik telah berdiri di hadapanku. Aku hanya melongo sehingga lupa apa yang kulakukan.

Segera aku sadar…”Ohh..Lilis…, silakan masuk..!” kataku terbata-bata. Lilis segera masuk ke dalam rumah, aku menutup pintu dan “Silahkan duduk Lilis…!” kataku sambil mempersilahkannya duduk. Lilis duduk di kursi panjang yang berada di sudut ruangan dengan gelisah.. Akupun duduk di kursi panjang tersebut dengan jarak yang agak jauh.

“Aku… kangen banget ke bapak..!” katanya tiba-tiba membuatku kaget sekaligus bahagia, lalu dia menghampiri tubuhku dan tanpa kuduga, Lilis langsung mencium bibirku dengan gairah yang menyala-nyala, napasnya begitu terengah-engah didorong oleh nafsu birahi yang menyala-nyala tidak dapat dia kendalikan.

Akupun menyambut ciuman membara itu dengan tak kalah nafsunya. Selama beberapa menit napas kami saling memacu didorong oleh gairah yang demikian cepat menguasai kami berdua. Sambil menciumi bibirnya, tanganku mulai meremas-remas buahdadanya yang montok dari luar baju longgar yang dikenakannya.

Namun nampaknya Lilis ingin mengeluarkan semua gairahnya yang selama ini terpendam. Bibirnya menciumi dan menjilati pipi dan leherku, sementara tangannya dengan lincah membuka gesperku dan sleting celana panjang yang kukenakan dan tanganya langsung mencari-cari batang penisku yang tegang.

Begitu tangannya meraih batang penisku yang semakin tegang, tangannya langsung meremas dan mengocok batang penisku dengan gemas dan penus nafsu, sementara bibirnya masih terus menjilati dan menghisap leherku.

“Uhhh….” Kenikmatan ini betul-betul luar biasa dan tak terduga, membuatku melayang nikmat.

Tiba-tiba tubuhnya melorot kebawah kursi hingga kepalanya tepat berhadapan dengan batang penisku yang mengacung tegak dan keras dan dengan gairah yang menyala-nyala mulutnya mencaplok batang penisku dan mengoral penisku dengan lincahnya.

“Ouh…ouhhh…ouhh…..” akupun mengerang nikmat dengan napas terengah-engah dan Lilispun tanpa mengenal lelah terus mengoralku. Dan nampaknya dia begitu sangat menikmati karena bisa membuatku mengeliat-geliat menahan nikmat diatas kursi.

Semakin dia melihat diriku menggeliat-geliat menahan nikmat atas apa yang dilakukannya, rangsangan yang dirasakan Lilispun semakin tinggi dan gairahnyapun semakin bergelora, akhirnya Lilispun tak tahan lagi menahan gairahnya, karena merasa vaginanya semakin basah, berdenyut dan gatal, ingin segera diobok-obok oleh batang penisku yang tegang dan bengkak. Dia berdiri dan mau membuka celana dalamnya. Namun kutahan sambil berbisik “ kita ke kamar !” dia menatapku dgn gairah yang menyala-nyala, lalu kutuntun dia ke arah kamarku.

Ketika di dalam kamar, aku mencoba membuka baju longgar yang ia kenakan, namun dengan tergesa-gesa dia membuka baju longgar yang ia kenakan seolah-olah tidak memerlukan bantuanku. Akupun membuka membuka seluruh pakaianku sehingga kami sama-sama telanjang bulat. Aku langsung memeluknya dengan penuh nafsu, menciumi bibirnya dengan gemas, merayap ke lehernya yang jenjang. Lilispun membalas cumbuanku dengan tak kalah bergairahnya, sehingga kami kami bercumbu sambil berdiri dengan napas terengah-engah dipacu oleh nafsu yang semakin menggebu.

Beberapa saat kemudian, tubuh Lilis kudorong agar naik ke tempat tidur, dia naik ketempat tidur dan aku menyusulnya dengan merangkak. Kuarahkan kepalaku ke arah selangkangannya untuk menikmati vaginanya dengan lidahku.

Lilis menggeser punggungnya agar kepalanya mendekati batang penisku yang tergantung tegang hingga akhirnya kami membentuk posisi 69. Lilis langsung mengemut batang penisku dengan penuh gairah dari bawah, sementara aku tidak menyia-nyiakan waktu, langsung menjilati belahan vaginanya yang begitu merangsang, “Auw….auw…” erang Lilis ketika lidahku mejilati lipatan vaginanya dan dia balas dengan menghisap dan mengocok batang penisku dengan gairah yang tak kalah panasnya.

Rasa nikmat yang menjalar dari batang penisku membuat gerakan lidahku terhenti menahan rasa nikmat yang kurasakan, kemudian kujilati dan kuputar-putar klitorisnya dengan lidahku. “Auh..auw…auw…” Lilis tersentak dan menjerit nikmat sehingga kulumannya terhadap penisku terlepas.

Selama beberapa menit kami saling mencumbu kemaluan lawan kami masing-masing, memberi dan menerima nikmat yang luar biasa datang silih berganti. Lilis menghentakkan tubuhnya hingga kami berguling, dan dia mengambil posisi diatas dan mempermainkan penisku dari atas, akupun mempermainkan vaginanya dari bawah. Berkali-kali kami berguling berubah posisi, hingga pada suatu posisi dimana Lilis diatas, dia sudah melonjak-lonjak dan menekan-nekan selangkangannya dengan keras ke arah wajahku pada saat aku mempermainkan klitorisnya dengan lidahku, sementara itu kakinya sudah mulai kejang-kejang dengan napas yang semakin terengah-engah dan terputus-putus hingga akhirnya “Akkkkkkhhhsss………..” mulutnya menjerit melepas nikmat dan lidahku merasakan dinding vaginanya berkonstraksi sangat keras dan cepat serta terasa semakin banjir membasahi bibir dan hidungku.

Kemudian dia berguling lemas dan telentang, dengan napas yang tersengal-sengal seperti kehabisan napas.

Aku segera bangkit dan merangkak memposisikan kakiku berada disela-sela kedua tungkainya yang terkangkang lemas, sementara sikuku kuletakan dibawah pantatnya dan kedua tanganku melingkari pangkal pahanya yang masih lemah.

Jari-jari kedua tangankuku menyentuh vaginanya dari dua sisi dan posisi wajahku tepat berada di depan vaginanya yang semakin tampak indah dan merangsang.

Nafsuku masih mendorong untuk terus mencumbu vaginanya, Jari-jariku berusaha membuka lipatan bibir vaginanya sehingga lorong nikmat vaginanya terlihat merah muda dan basah berlendir , kujilati lagi sepanjang lorong nikmat tersebut, Lilis hanya mengeluh lemah “Uhh……euuhh…..”

Aku menjilati lorong itu dari liang vaginanya hingga menuju klitoris, dan terus kulakukan dengan nafsu yang tak pernah berhenti. Mendapat rangsangan yang terus menerus dariku, gairahnya bangkit kembali dan mulai berreaksi “Auw…..auh…..auhh” mulutnya mulai melenguh nikmat, pantatnya mulai bergoyang merespon jilatanku, dan pada saat ujung lidahku menusuk-nusuk dan mengorek-ngorek liang vaginanya yang semakin basah dengan aroma yang menggairahkan dengan rasa yang asin dan gurih. Lilis kembali mengaduh nikmat tak terkendali “Auw…auw…auw,…..”

Pantatnya kembali melonjak-lonjak dan akhirnya dia menjambak rambutku dan menariknya sambil berkata “Masukin….Pak…ouhh… masukin….. saya… tak tahan… ouh.. saya tak tahan….ouh….” Gerakannya semakin menggila.

jilbab hot (8)

Kulit kepalaku perih karena rambutku ditarik olehnya, akupun menghentikan kegiatanku menjilati vaginanya yang semakin basah menggairahkan. Kuposisikan kedua lututku dibawah kedua pahanya yang terangkat. Kepala penisku kuarahkan tepat dimulut liang vaginanya dan kugesek-gesekan kepala penisku sepanjang lipatannya, pantat Lilis bergoyang dan menggeliat seolah menyongsong kepala penisku untuk segera memasukinya, namun aku terus mempermainkan penisku seperti itu.

Lilis semakin menggelinjang, dan rupanya nafsunya sudah tak tertahankan, sehingga dengan merengek dia berkata sambil terengah-engah “Ayo.. Pak… masukin… masukin… ouh…. masukin…”

Sebenarnya, nafsukupun sudah diubun-ubun, kuletakkan kepala penisku tepat di mulut liang vaginanya dan secara perlahan kudorong pantatku… Blessshhh…

Rasa nikmat menjalar disekujur pembuluh darahku dan “Auw……ouhhhh……” Lilispun mengaduh nikmat. Perlahan namun pasti aku mulai menggoyang pantatku agar batang penisku mengobok-obok dan mengaduk-aduk liang nikmat Lilis. Lilispun membalas dengan goyangan pinggulnya yang begitu sensasional sambil mengaduh-ngaduh nikmat “Auw.. auw… auw… “

Gerakan pantatku yang teratur dengan ritme yang tetap, membuat Lilis semakin melayang dilambungkan oleh rasa nikmat yang terus menderanya, Lilis ingin segera meraih puncak, dia menghentakkan tubuhnya hingga kami bergulingan dan dia berada diatas tubuhku, kedua tangannya dia selipkan kebawah ketiakku sehingga jari-jari tangannya dapat mencengkram pundakku dari bawah dan dada montoknya menghimpit erat dadaku. Lalu dia mulai menggerak-gerakan pantatnya, keatas-kebawah hingga batang penisku menggaruk-garuk dinding vaginanya yang semakin gatal dan berdenyut serta meremas-remas batang penisku. Sambil terengah-engah memompa pantatnya, bibir Lilis menciumi bibirku dengan penuh nafsu, lidahnya terjulur memasuki rongga mulutku sambil mengerang nikmat “ouh…mmmmhhh ouhhh….. “

Dia ubah gerakan pantatnya dengan memutar-mutar sehingga batang penisku seperti dipelintir oleh gilingan yang sangat nikmat, akupun melenguh dan mendengus “Ouh…. ouh…”.

Keluhan dan erangan nikmat, keluar dari mulut kami sahut menyahut membentuk suatu orkestra yang menggairahkan diiringi oleh derit tempat tidur yang terguncang-guncang hebat. Semakin lama goyangan pantat Lilis semakin cepat dan patah-patah serta kaku, kedua kakinya mulai kejang-kejang dan akhirnya..”Aaaakkkkkkhhhss…….”

Tubuhnya benar-benar terdiam kaku dan melenting dan terasa olehku, batang penisku seperti diremas-remas dengan sangat kuat dan cepat oleh benda basah yang sangat nikmat…

Kemudian tubuhnya melemas “Ouhhhhhhh…….” Kepalanya terkulai di samping kepalaku. Namun batang penisku masih tertancap kokoh didalam liang vaginanya.

Ya…., Lilis baru saja memperoleh orgasme yang nikmat luar biasa, suatu puncak orgasme yang selalu dia dambakan selama ini dan tak pernah dia peroleh dari suaminya. Akhirnya saat ini dia dapatkan, sungguh Lilis merasakan puas yang tak terhingga dan diapun terhempas dengan penuh kepuasan yang tak bisa dilukiskan.

Dengan napas yang terengah-engah dan mata terpejam, Lilis terkulai lemah diatas tubuhku sambil merasakan desiran-desiran nikmat yang masih menghampirinya. Dengan gairah yang menggebu-gebu, bibirku menjilati dan menciumi leher jenjangnya yang basah oleh keringat yang berada tepat di depan mulutku, tanganku meremas-remas pantat montoknya, dan pantatku kudorongkan ke atas-kebawah agar batang penisku kembali mengocok-ngocok dinding vaginanya yang sangat basah namun tetap sempit dan berdenyut. Kenikmatan kembali menjalar disekujur tubuhku.

Aku terus menggerakan pantatku, walaupun tidak mendapat respon dari Lilis, karena dia benar-benar merasa lelah karena telah memperoleh orgasme yang luar biasa melelahkan. Namun walaupun Lilis tidak membalas gerakanku, tetap saja aku mendapatkan kenikmatan dari liang vaginanya yang sempit dan meremas-remas.

Lambat laun gairah nafsunya kembali datang, Lilis membalas gerakanku dengan menggoyang-goyang pantatnya mengakibatkan kenikmatan yang kuterima semakin bertambah, dan rasa nikmatpun kembali menghampiri dirinya sehingga kembali dia memperdengarkan lenguhan nikmatnya yang khas dan merangsang “Auw…auw… auw… ouhhhhh…” seirama dengan gerakan pantatnya yang bergoyang erotis.

Namun goyangan erotis itu hanya dalam beberapa menit kemudian telah berubah menjadi gerakan pinggul yang kejang-kejang tak terkendali, rupanya badai orgasme kembali datang menghantamnya, napasnya mulai terasa sesak dan akhirnya “Aaaaakkkhhss…..”.

Tubuhnya kembali melenting kaku dan kontraksi dari dinding vaginanya kembali kurasakan menjepit-jepit dan meremas-meremas batang penisku membuat mataku terbeliak-beliak menahan nikmat yang luar biasa. Beberapa detik kemudian tubuhnya terhempas lemas dan terkulai diatas tubuhku. Lilis kembali memperoleh puncak kenikmatan orgasme yang sensasional untuk ketiga kalinya.

Sementara Lilis terkulai lemah sambil merasakan sisa-sisa puncak kenikmatannya, pantatku terus mengaduk-ngaduk vaginanya dari bawah. Hanya satu menit, gairah Lilis telah pulih kembali dan diapun membalas goyanganku. Goyangannya begitu cepat dan menghentak-hentak hingga hanya dalam beberapa menit berselang kembali Lilis mencapai orgasme.

Wanita memang ditakdirkan mampu mengalami orgasme berulang-ulang, dan biasanya rentang waktu antara orgasme pertama dengan kedua, ketiga dan selanjutnya dapat berlangsung hanya dalam waktu beberapa menit, tidak seperti waktu perolehan orgasme pertama yang bisa memakan waktu antara 10 hingga 15 menit.

Demikian juga dengan Lilis, Dia mampu mendapatkan orgasme berulang-ulang dengan posisi seperti itu, dan hal itu berlangsung entah beberapa kali, akupun tak terlalu memperhatikan. Yang jelas nampaknya Lilis seperti ingin menumpahkan segala kerinduannya akan kepuasan orgasme yang tidak pernah dia peroleh dari suaminya.

Pada saat tu, Lilis bermain dengan gairah yang terus berkobar-kobar tanpa mengenal lelah. Apabila dia merasa tubuhnya sangat lelah, tubuhku digulingkannya hingga aku berada diatasnya.

Giliranku memompanya lebih aktif dan dia membalasnya dari bawah sampai dia memperoleh orgasme sambil melentingkan tubuhnya dengan kaku dan berteriak melepas nikmat dan terkulai lemah selama beberapa saat, namun hanya sesaat dia terkulai, karena tak lama kemudian diapun aktif kembali bergoyang tanpa mengenal lelah untuk menjemput puncak orgasme selanjutnya.

Aku menggulingkan tubuhku hingga dia kembali berada diatas, hingga kembali dia yang mengatur ritme goyangan. Demikian seterusnya, tubuh kami saling bergulingan untuk meraih kenikmatan yang lebih dan lebih bagaikan tak bertepi. Tubuh kami sudah sedemikian basah oleh keringat yang mengucur deras dari setiap lubang pori-pori, bantal dan seprei demikian porak poranda menahan pergulatan aku dan Lilis yang terus melenguh dan mengerang nikmat.

Pada saat aku berada diatas tubuhnya yang entah ke berapa kali, aku merasakan gelombang orgasme akan menghantamku, hal ini ditandai dengan gerakan pantatku yang sudah tak terkendali dan kejang. Dan lilispun merasakan itu dan diapun berusaha meraih kembali orgasmenya yang terakhir agar bersamaan denganku dan “Aaakkkkkksssss…..” secara berbarengan kami meraih orgasme dan Cret… cret…. Cret… sperma kental terpancar dari penisku membasahi seluruh rongga liang vagina Lilis. Tubuh kami sama-sama terhempas sangat lemah dan lunglai, keringat membasahi seluruh permukaan tubuh kami dengan persendian yang serasa seperti dilolosi. Aku berusaha menggulingkan tubuhku agar tidak menindihnya dan tidur berdampingan

Kamipun terbaring kelelahan selama beberapa menit.

Setengah jam kemudian, dengan badan yang sangat lemas, Lilis bangkit dari tidurnya dan berjalan sempoyongan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarku, kemudian mandi dengan menggunakan shower.

Gemericik air dikamar mandi membangunkanku dan akupun menyusulnya ke kamar mandi. Kulihat Lilis sedang membasahi tubuhnya dengan shower.

Uuhhhhh…… sungguh mulus dan menggairahkan tubuh ini….., beruntung sekali aku bisa menikmatinya. Aku menghampirinya. Dia tersentak kaget…. ”Ehhh… bapak…!!” katanya…

“Bareng..ah..!” kataku. Aku pun masuk tanpa menunggu jawaban darinya, kemudian tubuhkupun diguyur shower….. terasa sangat menyegarkan begitu tubuh yang lunglai ini diguyur air dingin dari shower sehingga perlahan-lahan tenagaku pulih kembali dan terasa segar.

Lilis mengambil sponge sabun dan menyabuni tubuhnya yang mulus dengan gerakan gemulai yang menggairahkan. Tubuh kami yang berhimpitan dibawah shower membuat gairahku bangkit dengan cepat…

”Aku sabuni ya…!” kataku sambil meraih sponge dari tangannya…, dia tidak protes.

Lalu kusabuni tubuh mulusnya, Darahku kembali berdesir ketika menyabuni tubuhnya, dan perlahan-lahan penisku berdiri tegak.

Perubahan pada batang penisku rupanya diperhatikan oleh Lilis.

jilbab hot (9)

“Ihhhh…., ini barang memang hebat….!! Ngga ada capenya….!” Katanya sambil tersenyum manja dan penuh gairah. Kemudian tangannya meraih batang penisku dan mengocoknya. Sementara Lilis mengocok batang penisku, tangankupun sudah tidak lagi menyabuni tubuh mulusnya namun lebih banyak meremas buah dadanya yang montok.

Acara mandi bersama telah berubah manjadi percumbuan di kamar mandi, semakin lama percumbuan itu semakin panas membara, dan napas kami sudah memburu dipacu oleh nafsu yang menggebu-gebu. Batang penisku semakin keras dan tegang. Kudorong tubuhnya agar menyandar ke dinding kamar mandi. Kutekuk kakiku dan dia membuka kakinya, kuarahkan batang penisku yang sudah mengacung kaku.

Lilis meraih batang penisku dan mengarahkan agar kepala penisku tepat berada di liang vaginanya dan setelah kurasa pas aku mulai mendorong pantatku.

Blesssshhhhh….. batang penisku mulai meyeruak memasuki liang vaginanya yang serasa seret karena terkena air dingin, namun memberikan sensasi nikmat yang beda.

Akupun mulai mengayunkan pantatku untuk mengocok-ngocok batang penisku di dalam liang vaginanya. “Auw… auw…. Auw… “ erangan nikmat yang khas mulai diperdengarkan oleh Lilis.

Bercinta dibawah pancuran shower, menimbulkan sensasi nikmat tersendiri, dan kami betul-betul menikmati persetubuhan itu hingga akhirnya tubuh Lilis melenting kaku dengan kaki terjinjit dan menjerit “Aaaakkkkkhhhh……” rupanya Lilis sudah meraih puncak orgasme di kamar mandi ini.

Kupeluk tubuhnya agar tidak jatuh dengan mempertahankan agar batang penisku tidak lepas dari liang vaginanya. Kuciumi bibir dan lehernya dengan penuh nafsu.

Tapi, Lilis mendorong tubuhku agar aku duduk di closet duduk. Akupun duduk dengan batang penis yang masih mengacung tegak. Lalu Lilis mengangkangiku sehingga kedua pahanya berada dipinggir kiri dan kanan pinggulku.

Secara perlahan dia menurunkan pantatnya dan Blesssshhhh…., batang penisku menyeruak liang vaginanya dan menyusuri dinding liang yang tak henti-hentinya memberikan rasa nikmat yang luar biasa. Lilis menekan pantatnya hingga seluruh batang penisku amblas tertelas oleh liang vaginanya. Dia menekan terus hingga batang penisku masuk sedalam-dalamnya. Dan mendiamkannya sesaat.

Kemudian secara perlahan, Lilis mengerakan pantatnya keatas-kebawah hingga batang penisku mengocok-ngocok dinding liang vaginanya, Kedua tanganku membantu gerakan tubuhnya dengan mengangkat pinggangnya ke atas kebawah.

Erangan nikmat kembali diperdengarkan Lilis “Auw… auw … auw…” dengan nafas yang terengah-engah oleh nafsu yang menguasai dirinya.

Semakin lama gerakan pantat Lilis berubah menjadi lonjakan-lonjakan yang cepat tak terkendali dan akhirnya kedua tangannya mencengkram bahuku dan menjerit sambil melentingkan tubuhnya “Aakkkkkkh……..”

Rupanya Lilis telah memperoleh orgasmenya kembali.

Lilis menghempaskan tubuhnya dengan memeluk erat tubuhku .

Tubuh itu benar-benar mulus luar biasa, basah dan mengkilat serta licin oleh sabun.

Tak lama kemudian tubuh itu kembali bergerak-gerak agar batang penisku yang masih tertancap kokoh diliang vaginanya kembali mengaduk-aduk liang vaginanya.

Tak lama kemudian, hanya beberapa menit saja kembali tubuhnya kejang-kejang dan menjerit nikmat meraih orgasme tuk kesekian kalinya “Akkkkkssssss…..”

Beberapa menit kemudian, Lilis kembali bergoyang mengocok-ngocok vaginanya dan aku merasa badai gelombang orgasme akan menghantamku, maka aku berdiri tegak sambil mengangkat tubuhnya dan berjalan menghampiri dinding kamar mandi, kusandarkan tubuhnya ke dinding, dan kulepaskan kakinya agar berdiri berjinjit, kemudian dengan gerakan pantat yang cepat, keras dan kaku, aku mulai mengocok batang penisku di dalam liang vagina Lilis, kenikmatan yang kudapat dalam posisi seperti ini sungguh luar biasa, dan posisi berdiri seperti merupakan posisi pavouritku, karena aku bisa mendapatkan sensasi kenikmatan orgasme yang luar biasa nikmat. Lilis paham, bahwa aku akan mencapai orgasme, maka diapun membalas gerakannku dengan tak kalah serunya, hingga akhirnya secara bersamaan kamipun menjerit meraih orgasme “Aaaakkkkkhsss……”. Cret… cret…. cret… spermakupun terpancar dengan deras ke seluruh rongga liang vaginanya.

Beberapa saat tubuh kami diam terpaku sambil saling berpelukan sementara shower terus mengguyur tubuh kami berdua.

Guyuran air shower dengan cepat memulihkan kesegaran kami, dan kamipun melanjutkan mandi sampai selesai disertai dengan cumbuan-cumbuan mesra.

Kami kemudian berpakaian, dan betapa kagetnya Lilis, karena ternyata waktu telah menunjukkan jam tujuh malam. Tapi dibenaknya langsung tercipta alasan yang bisa diterima oleh suaminya tentang keterlambatannya pulang ke rumah. Tak lama kemudian Lilispun pamitan dan menolak diantar olehku, ‘untuk menghindari curiga orang lain’ katanya.

Peristiwa yang ketiga persetubuhanku dengan Lilis, benar-benar telah mengikat akal sehat Lilis, Dia tak mampu lagi lepas dari pesona seksual yang didapatnya dariku dan dia benar-benar nekad, sehingga selalu mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk bisa melepaskan semua hasrat kepuasan birahi denganku, baik di tempat kostku, ataupun hotel di luar kota, dengan membuat alasan ‘ada tugas dari kantor’ pada suaminya.

Pernah dia mencoba untuk tidak bercinta denganku selama hampir dua bulan, tapi akhirnya pertahanannya bobol juga, karena kubutuhannya akan kepuasan seksual tidak juga dapat diperoleh dari suaminya dan akhirnya kembali dia membuat janji denganku untuk mengayuh nikmat meraih orgasme di hotel di luar kota. Dan jika sudah demikian Lilis pasti bermain bagaikan kuda binal yang melonjak-lonjak sangat liar tanpa mengenal lelah selama beberapa jam. Dia akan bergoyang dengan sangat lincah dan erotis untuk menjemput orgasmenya secara berulang-ulang, hingga akhirnya terhenti setelah tubuh kami tak bertenaga lagi karena suluruh persendian seolah-olah dilolosi.

Kami tidak tahu, kapan hubungan perselingkuhan ini akan berakhir.

Tamat