Neng Mimin

feby fadillah jilbab hot (21)

Ruang tamu Aminah penuh sesak oleh ibu-ibu anggota tahlilan mingguan. Sebelum acara dimulai, seperti biasa mereka kasak-kusuk saling berkicau mengobrolkan hal-hal tak penting. Kali ini pembicaraan mereka terpusat pada Suliha, juragan toko kelontong, yang ditengarai memiliki resep khusus agar cantik mendadak. Suliha yang jadi bahan kekaguman orang-orang sekitarnya duduk kaku sok melamun, padahal telinganya bergerak-gerak kala menangkap bisik-bisik pujian dari dua ibu di sebelahnya.

feby fadillah jilbab hot (1)

Aku sendiri asyik mendengarkan hipotesis Yarni dan Nurtini. Sebagai orang yang tahu keseharian Suliha -keduanya jadi pramuniaga di toko Suliha- mereka berkoar-koar memaparkan resep ajaib kemulusan kulit juragannya. Ibu-ibu yang menyimak -termasuk aku- terbengong-bengong sampai tanpa sadar mulut kami terbuka.

“Dia beli kosmetik racikan dokter. Katanya bisa mencegah kerut, memudarkan flek-flek hitam, melicinkan kulit, dan yang terpenting… bisa jadi.. AWET MUDA!”

Nurtini tak mau kalah bicara. “Iya benar. Sebulan sekali dia ke dokter kulit. Di kota sana. Pulang-pulang bawa segepok printal-printil kosmetik dalam wadah kecil-kecil. Segini,” Nurtini mempertemukan jari telunjuk dan jempol, membentuk lingkaran kecil. “Mahal lho itu. Katanya lima ratus ribu. Juraganku itu emang hebat deh! Kayak artis pokoknya!” sumbar Nurtini pongah.

“Kenapa tiba-tiba Suliha tergerak mendatangi dokter kulit, Nur?” celetukku.

feby fadillah jilbab hot (20)

Yarni langsung memotong dengan jawabannya, meski Nurtini sudah siap angkat bicara. “Takut suaminya selingkuh. Kan adik iparnya baru ketahuan selingkuh sama sales kosmetik keliling. Makanya dia jadi gencar mempercantik diri, takut suaminya ketularan. Sekarang sih, pria gampang cari perempuan cakep. Kosmetik udah banyak macemnya. Makanya kalo punya duit, sebaiknya disisihin buat kecantikan. Biar suami kita ndak neko-neko. Kayak juraganku tuh, suaminya mesra. Makin cinta sama Suliha.”

Aku manggut-manggut membenarkan pernyataan Yarni. Sayangnya tak lama kemudian, Martinah, sang ketua tahlilan, sudah bertepuk tangan mendiamkan pesertanya yang mencicit riuh rendah. Acara akan dibuka dengan pembacaan Surat Yasin bersama-sama. Pembicaraan mengenai Suliha pun beralih. Aku memancangkan mata pada buku kecil ‘Surat Yasin dan Tahlil’, sementara pikiranku melayang-layang memikirkan ucapan Yarni.

feby fadillah jilbab hot (2)

***

Sesampai di rumah, kuutarakan niat pada Mas Yanto, suamiku, perihal keinginanku mengunjungi dokter kulit. Bukannya mendukung, Mas Yanto justru menyuguhkan gelagat keberatan, meski responsnya diperhalus.

Kebanyakan pria memang aneh. Jika pasangannya berusaha mempercantik diri, kadang diremehkan atau diabaikan. Namun manakala melihat perempuan yang lebih cantik -entah memang cantik alami atau polesan-, mereka akan terkagum-kagum seakan melihat boneka India.

“Ini kan demi Mas sendiri. Mas pasti seneng dong punya istri cantik,” aku bersikukuh.

“Iya. Tapi uangnya kan sayang. Lima ratus per bulan cuma buat beli dempul wajah, sayang toh?”

Aku terdiam dengan kening mengerut.

“Lagian kamu itu sudah cantik, Min. Kulitmu kuning mulus gitu. Mau diapain lagi?”

“Ya.. Kan buat mencegah keriput. Flek hitam. Biar awet muda,” ucapan Yarni kembali kucetuskan.

Mas Yanto menghela nafas. Sepertinya dia kebingungan harus menentukan sikap. Aku menunggu, memandangnya dengan intens, mendesak keteguhannya oleh tatapanku. Usahaku berhasil. Mas Yanto mengedikkan bahu.

“Ya sudahlah, terserah. Awas nanti wajahmu rusak,” ujarnya pasrah sekaligus mengingatkan. Kuraih kedua tangannya, mengecupnya bergantian.

feby fadillah jilbab hot (3)

***

Genap tiga minggu sudah aku menggunakan paket kosmetik dari Dokter Lusi, seorang dokter kulit di kota. Suliha juga menggunakan jasa dokter ini. Begitulah informasi yang berhasil kukorek dari Nurtini. Aku benar-benar merasa surprise melihat perubahan kulit wajahku. Jadi kelihatan licin, lebih putih, dan halus. Beberapa orang yang menyadari perubahan wajahku pasti memuji. Membuatku jadi salah tingkah seperti seekor kucing dibelai tuannya.

“Astaga! Mimin makin cantik aja! Kulitnya jadi licin begitu!”

“Wah, Yanto pasti tambah seneng kamu makin cantik begitu, Min!”

Saat orang-orang mengomentariku, Mas Yanto justru bersikap tak acuh. Jujur aku jadi sedikit gemas. Jarak 35 km kutempuh, panas-panas naik bis untuk mempercantik diri demi dia, tapi tak sedikitpun Mas Yanto menawarkan komentar walau hanya satu kalimat pendek saja. Aku merasa tak dihargai.

Parahnya lagi akhir-akhir ini dia sering lembur sampai larut malam. Alasannya loading barang mau ekspor. Dia terpaksa bekerja sampai jauh melebihi batas jam pulang karena bertugas sebagai karyawan gudang, bagian yang bertanggung jawab menghitung barang yang dikirim. Suamiku bekerja di pabrik furniture.

Tentu saja aku tak mempercayai ucapannya begitu saja. Setahuku pabrik tempat dia bekerja hanya melakukan ekspor seminggu dua kali. Berbagai prasangka buruk tumpang tindih menguasai akal sehatku. Menjelang subuh kutumpahkan bongkahan kedongkolanku padanya.

feby fadillah jilbab hot (4)

“Jangan-jangan ada yang lebih menarik di kantor.”

“Apa sih, Min. Pagi-pagi kok malah nuduh.”

“Iyalah. Udah aku bela-belain ke dokter kulit nguras tabungan demi Mas, taunya yang mau dipamerin malah pulang tengah malam. Aku berbuat begini ini demi Mas. Mas ngerti ndak?”

Mas Yanto masygul menatap lantai.

“Lagian, Mas kan bisa ndak usah lembur. Gantian ama Jatmiko. Orang gudang kan ndak cuma Mas Yanto aja toh?”

Senyap.

“Pokoknya aku ndak mau Mas pulang malem-malem lagi. Nanti ibu-ibu sini pada nanya lagi. Nanti dikiranya Mas sudah ndak sayang lagi sama aku. Malu.”

Mas Yanto bangkit, menyambar handuk yang telah tak jelas warnanya dari jemuran. Tanpa merespon omelanku dia langsung masuk kamar mandi. Aku serasa bicara dengan tembok. Tak ada reaksi balik.

feby fadillah jilbab hot (5)

***

Masih menyimpan kejengkelan akibat diabaikan suami, aku berangkat ke pasar dengan hati gemas. Di kedai Mak Trisni, penjual gorengan, duduk Nurtini, Yarni, dan Martinah. Mereka memanfaatkan momen antri dengan berdiskusi.

“Eh, Mimin. Seger banget wajahnya,” puji Yarni sambil matanya mengamatiku dari ujung sandal hingga ujung jilbab.

Aku tersenyum. “Lagi ngobrolin apa nih? Kok kayaknya serius amat?”

Seketika nada suara Yarni merendah, nyaris berbisik. “Suami Suliha selingkuh”

Aku terkesiap.

“Mungkin suaminya ndak betah ama Suliha. Dia terlalu galak sih. Siapa juga yang tahan sama orang judes. Meskipun cinta,” Nurtini unjuk komentar.

“Padahal ya.. Suliha sudah cantik begitu, masih saja diduakan. Memang jadi istri itu ndak gampang. Harus bisa memahami suami,” imbuh Martinah.

“Suliha tau dari mana?” tanyaku.

“Suaminya sering pulang malem. Nah, tiga hari yang lalu, Suliha sengaja jemput suaminya pake mobil ke kantor malem-malem. Ketahuan deh,” jelas Yarni.

Pikiranku terbang mengenang kejadian beberapa hari terakhir. Kegelisahan menyergapku menimbulkan sedikit kepanikan. Jangan-jangan Mas Yanto selingkuh di pabrik. Buktinya sekarang dia tak terlalu mempedulikanku. Sering lembur lagi.

Tak mau berlama-lama di situ, aku segera pamit. Aku tak mau mereka juga menduga hal-hal buruk mengenai suamiku yang juga sering telat pulang.

feby fadillah jilbab hot (6)

Setiba di rumah, sayup-sayup terdengar dering handphone. Aku menemukannya di atas meja kamar. Rupanya Mas Yanto lupa membawanya. Layar handphone hanya menampilkan deretan angka saja. Maka aku pun mengangkatnya. Segera aku mendapat kejutan.

“Siang. Pak Yanto-nya ada?”

Waktu serasa berhenti. Suara perempuan, sedikit centil. “Maaf, ini siapa?” tanyaku kaku.

“Saya Sinta. Kemarin kami sudah janji mau ketemu sepulang kerja nanti…”

Tangan kananku melorot perlahan, kubiarkan lenganku menggantung dengan handphone masih dalam genggaman. Tak sanggup lagi kudengar ucapan lanjutan perempuan yang mengaku Sinta itu. Astaga! Mas Yanto… Benarkah dia?? Tak mampu kuteruskan dugaanku.

***

Dadaku menggelegak dihentak emosi tinggi. Tak ada pilihan lain kecuali mendatangi pabrik, menuntut penjelasan Mas Yanto, dan kalau bisa menyeretnya pulang sekalian. Kadangkala suami juga harus diberi pelajaran agar tidak ’nakal’. Aku tak mau tahun pertamaku menduduki singgasana perkawinan koyak moyak gara-gara perselingkuhan.

feby fadillah jilbab hot (7)

Segera aku pergi ke kamar untuk ganti baju. Kulepas daster gombrong yang kukenakan, niatnya ingin kuganti dengan kemeja dan rok panjang saja. Di depan cermin aku mematut diri. Kupandangi tubuhku yang kini tinggal ber-beha dan bercelana dalam saja.

Kuperhatikan buah dadaku yang terlihat cukup padat dan berisi, tidak tampak turun sama sekali karena aku memang belum pernah menyusui. Kalau menyusui Mas Yanto sih sudah sering tiap malam. Lalu agak ke bawah, tampak perutku yang masih langsing dan ramping. Di bawah lagi, kulihat pinggulku yang besar seperti bentuk gitar dengan pinggang yang kecil. Kemudian aku menyampingkan tubuhku hingga pantatku terlihat, masih tampak menonjol dengan kencangnya. Yang terakhir paha dan betisku, masih kencang dan berbentuk mirip perut padi, seksi sekali.

“Mas Yanto sudah punya semua ini, tapi masih nyari yang lain.” batinku getir. Tak terasa mataku mulai meneteskan butiran bening. Hatiku sakit sekaligus juga marah.

Disaat aku masih merenung, tiba-tiba kudengar sebuah langkah kaki. Mang Roji, tukang yang sudah dua hari ini bekerja membetulkan tembok di halaman belakang, berteriak memanggilku.

“Neng, Neng Mimin.” Dia ada perlu. Mungkin minta air putih seperti biasanya, aku memang belum ngasih tadi.

feby fadillah jilbab hot (8)

“I-iya, Mang.” Tak ingin dia menunggu lama, segera kusambar handuk untuk menutupi tubuh polosku. Kuintip kedatangannya dari celah pintu. “Ada apa, Mang?” aku bertanya.

Lelaki tua tetanggaku itu tidak langsung menjawab, dia tampak kaget melihatku. Memang tidak biasanya aku berlaku begini. Inilah untuk pertama kalinya ia melihatku tanpa jilbab, dan aku yakin dia juga tahu kalau aku cuma berbalut handuk saja saat ini.

“I-itu, Neng. Semennya habis.” Dia berkata dengan terbata.

Aku tersenyum dan menutup pintu sebentar. Kuambil uang yang ada di laci lemari dan kuangsurkan kepadanya. Sekali lagi, hanya tanganku yang keluar. “Segini cukup?”

Mang Roji mengangguk dan menerimanya, tapi ia tidak langsung pergi.

“Ada lagi, Mang?” aku bertanya heran.

Tidak menjawab, Mang Roji malah melangkah mendekat. “Neng,” ia memanggil dengan sorot mata aneh.

Aku mulai takut. “Mang mau apa?” pekikku tertahan sambil berusaha menutup pintu kamar, tapi aku terlambat, Mang Roji sudah keburu mengganjalnya dengan kaki.

feby fadillah jilbab hot (9)

“Neng Mimin cantik sekali,” ia menyeringai mesum, menampakkan gigi-giginya yang ompong dan bau rokok.

Aku berjengit bingung dan kembali berusaha mendorong pintu, tapi tetap saja sia-sia. “Mang Roji jangan macem-macem ya, sana cepet keluar!” bentakku marah.

Tetapi laki-laki itu bukannya mematuhi perintahku, malah kakinya melangkah maju satu demi satu masuk ke dalam kamar tidurku. “Saya cuma mau satu macem aja kok, Neng.” Ia menatap tubuhku dengan lapar. “Ngentot sama neng Mimin, mumpung suami neng lagi nggak ada.” katanya berani.

Nyaliku ciut. Terus terang, melawannya hanya akan percuma. Aku sudah pasti kalah. Jadi, apa yang bisa kulakukan? “Mang, sudah aku bilang… cepat keluar dari sini!” bentakku lagi dengan mata melotot.

“Silakan Neng teriak sekuatnya, tidak akan ada yang dengar!” ucapnya dengan mata menatap tajam padaku. Terutama bulatan payudaraku yang tampak mau tumpah.

Sepintas kulihat celah jendela yang berada di sampingku, apa aku lompat saja dari situ? Ah, sepertinya tidak akan muat. Aku menemui jalan buntu. Betapa malangnya nasibku, sudah ditinggal suami selingkuh,eh sekarang malah mau diperkosa kakek tua.

Detik demi detik berlalu, dan tubuh Mang Roji semakin dekat dan terus melangkah menghampiriku. Terasa jantungku semakin berdetak kencang dan tubuhku semakin menggigil karenanya. Aku pun mulai mundur teratur selangkah demi selangkah, aku tidak tahu harus berbuat apa saat itu sampai akhirnya kakiku terpojok ke bibir ranjang tidurku.

feby fadillah jilbab hot (10)

“Mang… jangan!” kataku dengan suara gemetar.

“Huehehe…!” suara tawa laki-laki itu saat melihatku mulai kepepet.

“Jangan, Mang!” jeritku begitu Mang Roji yang sudah berjarak satu meteran dariku, tiba-tiba meloncat menerjang tubuhku hingga aku langsung terpental jatuh di atas ranjang dan dalam beberapa detik kemudian tubuh tukang itu langsung menyusul jatuh menindih tubuhku yang telentang.

“Setan alas! Bangsat! Lepaskan aku!” aku terus berusaha meronta saat dia mulai menggerayangi tubuhku yang tidak berdaya dalam himpitannya.

Perlawananku yang terus-menerus dengan menggunakan kedua tangan dan kedua kaki lumayan membuatnya kewalahan juga sehingga Mang Roji kesulitan saat berusaha menciumi pipi dan bibirku. Tapi tangannya tetap berhasil menangkup kedua payudaraku dan meremas-remasnya kuat hingga membuatku jadi menjerit kesakitan.

“Auw! Hentikan! Lepaskan aku!” teriakku sambil mendorong lebih keras. Dan tanpa kuduga, berhasil terlepas.

Merasa mendapat kesempatan, segera aku mundur untuk menjauh dari tubuhnya. Kubalikkan tubuhku dan berusaha merangkak, namun aku masih kalah cepat dengannya, ia berhasil menangkap celana dalamku dan menariknya hingga tubuhku pun kembali jatuh terseret ke pinggir ranjang. Lalu secepat kilat Mang Roji melepas celana dalam putihku itu hingga bongkahan pantatku terbuka lebar.

Namun aku terus berusaha melarikan diri, tak peduli dengan keadaan tubuhku yang sudah hancur-hancuran. Handukku entah terlempar kemana, sementara bongkahan payudaraku sudah dari tadi mencuat dari tempatnya. Meski masih mengenakan beha, aku benar-benar tampak seperti telanjang.

“Mau kemana, Neng?” Mang Roji melangkah cepat dan sekali lagi berhasil menangkap tubuhku. Aku masih berusaha untuk berontak, tapi tiba-tiba saja pinggulku seperti terasa kejatuhan benda berat hingga aku jadi tidak dapat bergerak lagi.

feby fadillah jilbab hot (11)

“Mang… jangan, Mang… aku mohon!” kataku berulang-ulang sambil terisak menangis.

Namun rupanya laki-laki tua itu sudah kesurupan dan lupa siapa yang sedang ditindihnya. Begitu melihat tubuhku yang sudah mulai kecapekan dan kehabisan tenaga, segera ia menggenggam lengan kananku dengan sigap dan menelikungnya ke belakang sehingga aku jadi sepenuhnya menyerah sekarang. Begitu pula dengan lengan kiriku, yang kemudian diikatnya kuat-kuat entah dengan apa. Setelah itu kurasakan betis kananku digenggamnya kuat-kuat lalu ditariknya hingga menekuk bertemu kaki kiri, dan diikatnya juga.

Aku jadi tidak bisa bergerak sama sekali.

“Saya ingin ngerasain tubuh molek Neng Mimin.” bisiknya dekat telingaku. “Sejak kemarin saya sudah menginginkan mendapatkan kesempatan seperti sekarang ini.” katanya lagi dengan napas memburu.

“Tapi aku ini istri orang, Mang.” kataku mencoba mengingatkan.

“Justru malah enak. Kalau Neng sampai hamil, masih ada bapaknya.” balasnya sambil melepas ikatan behaku. Kini aku sepenuhnya telanjang, aku bugil total di depannya. Tidak terperikan betapa malu dan marahnya diriku, tapi aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.

“Hhh… hmm… uhh…” desah nafasnya memenuhi telingaku saat ia mencoba mencumbu pipiku. “Saya pengen dapat kepuasan dari Neng Mimin.” katanya sambil terus mendengus-denguskan hidungnya di seputar telingaku hingga tubuhku jadi merinding dan geli.

Laki-laki itu segera melepas pakaiannya sendiri, lalu tubuhku dibaliknya hingga telentang. Aku dapat melihat tubuh polosnya saat itu. Bener dia kurus dan dekil, tapi kulihat kontolnya begitu panjang dan besar. Mau tak mau aku harus membandingkan dengan milik suamiku –satu-satunya penis yang pernah kulihat seumur hidupku– dan harus kuakui, Mang Roji lebih unggul. Sangat unggul malah, karena penis suamiku seperti tidak apa-apanya bila dibandingkan dengan miliknya.

“J-jangan, Mang.” aku merengek ketakutan, takut kemaluanku akan robek saat dimasuki kontolnya yang seperti kentongan itu.

feby fadillah jilbab hot (12)

Tapi Mang Roji dengan tidak peduli malah menarik kakiku sampai pahaku melekat pada perutku, lalu aku dipangkunya di atas kedua kakinya yang diselonjorkan, mirip anak perempuan yang tubuhnya sedang dipeluk ayahnya. Dan itu memang benar, karena usiaku yang baru 24 tahun memang lebih cocok jadi anaknya. Tangan kiri Mang Roji menahan pundakku sehingga kepalaku sekarang bersandar pada dadanya yang kurus, sedangkan tangan kanannya meremasi kulit pinggul, paha dan pantatku yang kencang dan putih bersih itu secara bergantian.

“M-Mang… j-jangan, Mang!” ucapku berulang-ulang dengan terbata-bata, mencoba mengingatkan pikirannya untuk yang terakhir kali.

Namun Mang Roji dengan senyum terkulum di bibir, terus saja meraba-raba pahaku penuh nafsu.

“Ouh… ssh… euh…” desisku pada akhirnya dengan tubuh menegang menahan geli. Aku seperti terkena setrum saat kurasakan tangannya melintas membelai belahan pahaku. Apalagi telapak dan jemari tangannya sesekali berhenti tepat di tengah-tengah lipatan pahaku dan mengelus lembut disana, membuatku jadi semakin tak tahan.

“Mang… eeh” rintihku lebih panjang lagi dengan tubuh bergetar sambil memejamkan mata. Entah kenapa aku jadi seperti ini. Aku yang awalnya begitu takut dan menolak, sekarang malah menikmati segala sentuhannya.

Memang masih terbersit rasa jengah di hatiku, tapi itupun dengan cepat terhapus saat kurasakan jemari nakal Mang Roji yang mulai mengusap-usap bibir vaginaku. Tangannya terus menyentuh dan bergerak dari bawah ke atas, lalu kembali turun lagi dan kembali ke atas lagi dengan perlahan sampai beberapa kali. Sebelum kemudian mulai sedikit menekan-nekan hingga ujung jari telunjuknya tenggelam dalam lipatan bibir vaginaku yang mulai terasa berdenyut-denyut, gatal dan geli.

Apakah ini karena efek perselingkuhan suamiku? Entahlah. Tapi yang jelas, semakin aku mengingatnya, semakin aku bertambah bergairah. Segala kelakuan Mang Roji semakin kunikmati. Jerit penolakanku sudah lama sirna, berganti dengan desahan dan rintihan yang perlahan namun pasti membuat kami jadi semakin terhanyut.

Tangan Mang Roji terus meraba dan menggelitik-gelitik bagian dalam bibir vaginaku, membuat birahiku yang mulai naik jadi terpancing dengan begitu cepatnya. Apalagi sudah cukup lama tubuhku tidak pernah mendapatkan kehangatan dari suamiku yang selalu sibuk dan sibuk. Dan sekarang ditambah dia berselingkuh, aku jadi semakin marah saja.

feby fadillah jilbab hot (13)

Biar saja dia bersenang-senang dengan… siapa namanya… ya, Sinta. Benar, Sinta. Peduli setan. Kalau dia bisa bersenang-senang, aku juga bisa. Daripada diperkosa cuma dapat letih dan sakit, kenapa aku tidak menikmatinya saja? Toh aku tidak rugi-rugi apa. Sambil itung-itung balas dendam juga kepada Mas Yanto, suamiku yang brengsek itu, yang sangat tidak tahu diri. Sudah capek-capek istrinya tampil cantik, eh dianya malah nyari wanita lain di luar.

Rasakan, Mas! Ini istrimu lagi dientot orang lain, dan aku akan menikmatinya.

Memutuskan begitu… entah siapa yang memulai duluan, tiba-tiba saja kurasakan bibirku sudah beradu dengan bibir Mang Roji yang kasar dan bau tembakau. Kami saling berpagut mesra, sama-sama menjilat, mengecup, dan menghisap liur yang keluar dari mulut masing-masing. Tak kusangka orang setua Mang Roji bisa pintar dalam bersilat lidah.

“Ouh… Neng Mimin, wajah cantikmu benar-benar merangsang sekali!” ucapnya dengan nafas semakin memburu.

Sungguh tak kusangka, ucapan seperti malah kudapat dari orang lain. Harusnya kan suamiku yang mengatakannya. Bukankah aku tampil cantik juga demi dia… Dengan hati semakin sakit, akupun pasrah saja saat Mang Roji menarik tubuhku hingga kedua buah dadaku yang tumbuh menantang berada tepat di depan mukanya.

Dan kemudian, “Ouh… Mang!” rintihku panjang dengan kepala menengadah ke belakang menahan geli bercampur nikmat yang tiada henti saat mulutnya dengan rakus memagut buah dadaku yang ranum itu. Kurasakan mulut Mang Roji menyedot, memagut, bahkan menggigit-gigit puting susuku sambil sesekali menarik-narik dengan menggunakan giginya.

feby fadillah jilbab hot (14)

Entah mengapa ada perasaan nikmat yang luar biasa menyelubungi hatiku saat ia melakukan itu, seakan-akan ada sesuatu yang telah lama hilang kini kembali, datang merasuki tubuhku yang sedang dalam keadaan tidak berdaya dan pasrah ini.

“Bruk…” tiba-tiba Mang Roji melepaskan tubuhku yang sedang asyik-asyiknya menikmati segala sentuhannya. Aku terjatuh di atas ranjang tidurku.

Namun itu tidaklah lama, karena beberapa saat kemudian kurasakan bagian bibir vaginaku dilumat olehnya dengan begitu buas seperti orang yang kelaparan. Mendapat serangan seperti itu kontan tubuhku langsung menggelinjang-gelinjang dan rintihan serta erangan suaraku semakin meninggi akibat menahan geli bercampur nikmat, bahkan sampai-sampai kepalaku bergerak menggeleng ke kanan dan ke kiri secara berulang-ulang.

Cukup lama mulut Mang Roji mencumbu dan melumati bibir vaginaku, terlebih pada bagian atasnya yang paling sensitif itu, tempat dimana klitorisku yang mungil berada. Kini benda itu sudah menebal dan membengkak parah.

“Mang… s-sudah… ouh… ampun!” rintihku panjang dengan tubuh mengejang-ngejang menahan geli yang menggelitik bercampur nikmat yang luar biasa rasanya saat itu. Lalu kurasakan tangan Mang Roji mulai rebutan dengan bibirnya. Kurasakan jarinya dicelup ke dalam lorong kecil kemaluanku untuk mengorek-ngorek segala isi di dalamnya.

“Ouh… Mang!” desisku menikmati alur permainannya yang terus terang belum pernah kudapatkan, bahkan dengan suamiku sendiri.

“Sabar, Neng. Mang suka sekali dengan yang satu ini!” suara Mang Roji yang setengah menggumam karena ia terus menjilat dan menghisap-hisap kemaluanku tanpa henti. Setelah puas, baru mulutnya naik mendekati wajahku sambil meremas-remas buah dadaku yang ranum dan kenyal.

feby fadillah jilbab hot (15)

“Neng Mimin… saya entot sekarang ya,” bisiknya lebih pelan lagi dengan nafas mendesah-desah.

Aku tidak menjawab. “Eee…” pekikku begitu kurasakan ada benda yang cukup keras dan besar mendesak-desak setengah memaksa ingin masuk di belahan bibir vaginaku.

“Tahan, Neng… dikit lagi… tahan ya…” bisiknya sabar.

“Aah… s-sakit, Mang!!” jeritku keras-keras menahan ngilu yang amat sangat, bahkan duburku sampai serasa ikut berdenyut-denyut karena saking ngilunya.

Dengan usaha yang cukup menguras tenaga –akibat kontolnya yang terlalu besar, sedangkan memekku sangat mungil dan sempit– akhirnya batang penis Mang Roji tenggelam seluruhnya. Beberapa saat lamanya, tukang bangunan tua itu mendiamkannya dengan sengaja. Dia seperti ingin menikmati pijitan-pijitan halus dinding-dinding kemaluanku pada batang penisnya. Dan memang itulah yang terjadi, karena memekku memang selalu bergetar bila dimasuki penis. Suamiku sudah mengakuinya.

Ah, mengingat Mas Yanto membuatku jadi sakit hati kembali. Dan sakit hati itu bermuara menjadi gairah baru yang sangat membutuhkan pelampiasan. Segera aku menggerakkan pinggulku, mengajak Mang Roji untuk mulai memompa dan menggoyangkan kemaluan masing-masing. Dia yang mengerti segera menarik keluar batang penisnya secara perlahan-lahan dan setelah itu didorongnya masuk lagi, juga dengan perlahan-lahan. Seakan-akan ingin menikmati setiap gesekan pada dinding-dinding lorongku yang sangat rapat dan hangat.

feby fadillah jilbab hot (16)

“Ahh… Mang!” aku merintih. Dan begitu pula dia. Kurasakan makin lama gerakan pinggul Mang Roji menjadi semakin cepat dan kuat sehingga tubuhku mulai terguncang-guncang dengan hebatnya. Kami berdua mengerang dengan penuh kenikmatan.

“Ahh… Neng… enak!!” rintihnya sambil mencari kedua putingku yang sudah sangat menegang dan memencetnya keras-keras. Tubuh kami berdua sudah banjir oleh keringat.

“Mhh… awhh… Mang, terus… lebih cepet lagi!” rintihku semakin bernafsu, dan akhirnya menjerit kuat tak lama kemudian tanda sudah mencapai klimaks. Cairanku tumpah ruah memenuhi bantal dan sprei.

Tahu kalau aku sudah lemas, Mang Roji ganti mengarahkan kontolnya ke mulutku. Tampaknya dia tahu diri juga, tidak ingin membuatku hamil. Tanpa perlu bertanya lagi segera kukulum dan kulumat habis penis yang bau cairan vagina itu maju mundur. Mang Roji langsung mengerang penuh kenikmatan.

“Ahh… Neng Mimin… saya… saya… oughh!!” dia menjerit saat menyemburkan sperma kental yang sedikit amis di dalam mulutku, dan menyuruhku untuk menelan semuanya.

Segera kulakukan, namun karena terlalu banyak, sebagian tetap ada yang mengalir keluar melalui celah bibirku. Tubuhku terasa lemas bagaikan tanpa tulang. Begitu pula dengan Mang Roji, dia langsung terhempas ke samping tubuhku. Kami tidur secara bersisian.

“Mang Roji gila!” ucapku memecah kesunyian dengan nada manja, sama sekali tidak ada nada marah disana. Beda dengan saat pertama kali tadi. “Sudah berani memperkosaku,” Kupandangi tubuhnya yang masih terkulai di samping kiriku.

feby fadillah jilbab hot (17)

Dia tertawa, “Tapi enak kan? Saya lihat Neng juga menikmatinya.” Tangannya membelai lembut bulatan payudaraku dan memenceti putingnya secara bergantian.

Wajahku langsung merah padam mendengar apa yang baru saja diucapkan olehnya, namun tidak bisa membantah karena itu memang benar. “Sekarang lepaskan ikatanku,” aku meminta, tanganku sudah pegal dan kaku.

“Maaf ya, Neng. Saya benar-benar tak tahan.” Ia mulai mengurai simpul di tanganku.

“Iya, aku ngerti kok.” Kupandangi, ternyata dia mengikat dengan menggunakan celana dalamku. Sedangkan kakiku dengan memakai robekan handuk.

“Jangan dilaporin ke Den Yanto ya, Neng.” Ia memohon, “Nanti saya kasih yang lebih nikmat lagi.”

Aku diam saja, tidak menjawab. Dia benar-benar sudah memegang kartuku, membuatku jadi mati kutu.

Setelah aku terbebas, laki-laki itu kemudian pamit. Sebelumnya ia terus mengucapkan maaf berkali-kali, dan sempat juga menawariku untuk main lagi satu babak. Tapi langsung kutolak mentah-mentah karena aku masih ada acara. Aku harus pergi ke pabrik Mas Yanto. Ya, aku akan kesana sekarang untuk meminta penjelasan darinya.

Setelah mandi dan ganti pakaian, aku pun berangkat. Mas Yanto seperti tersengat ular kobra begitu melihatku muncul dari pos satpam. Tiba di lobi, dia tampak kikuk. Membuat kecurigaanku jadi kian memuncak.

“Hapenya ketinggalan.” aku mati-matian mengatur napas yang telah disesaki amarah. “Trus ada Sinta telpon. Katanya udah janjian kan?”

“Min, aku minta maaf.”

feby fadillah jilbab hot (18)

Makin muntab saja aku. “Siapa dia?”

“Bukan siapa-siapa. Sumpah!”

“Pulang sekarang! Kita selesaikan di rumah!”

“Min, ndak bisa. Aku nanti lembur.”

Arsadi, teman kerja Mas Yanto muncul sambil mengulum senyum. “Tumben, Min? Mau ngecek rumah baru ya?” ujarnya santai.

Dahiku mengerut. “Rumah? Rumah siapa, Mas Arsad?”

“Loh? Yanto mau nyicil rumah toh?”

Aku masih mengarca.

“Dia udah nego ama Bu Sinta kan? Atau justru batal?”

Kupandang Mas Yanto dan Mas Arsadi bergantian. Mendadak Mas Yanto mendesah panjang, menepuk pundak kananku.

“Maaf, Min. Rencananya aku mau bikin kejutan sama kamu. Aku rencana nyicil rumah. Biar ndak ngontrak lagi. Sore ini mau ketemu sama Bu Sinta di kantor perumahan Griya Asri. Dia marketingnya. Tapi nanti ada stuffing ke Denmark. Batal lagi terpaksa.”

Perutku seakan menggelinjang dilingkupi keterkejutan. Astaga! Aku terpana.

“Kalo jadi, bulan depan ndak usah ke Dokter Lusi ya? Sayang duitnya,” lanjut Mas Yanto.

Jawabanku tertelan oleh rasa malu. Berani-beraninya aku berburuk sangka terhadap suamiku. Astaghfirullah! Seandainya kami berada dalam situasi sepi, niscaya aku sudah berlutut aku di hadapan Mas Yanto, meminta maaf atas dugaan sintingku. Juga pengkhianatanku tadi. Pundakku melorot, bibirku bergetar menahan haru. Sungguh kenyataan ini diluar dugaanku. Apa yang bisa kulakukan untuk menebus semua kesalahanku. Tubuhku sudah kotor. Sudah ada sperma laki-laki lain di dalam diriku!

“Min? Kamu ndak apa-apa kan? Kok jadi pucat begitu?” Mas Yanto mengangkat daguku.

feby fadillah jilbab hot (18)

Aku menatapnya dengan mata menggenang.

RIFA AND FRIENDS

Namaku riki, aku hanyalah seorang pelajar kelas 3 dari sebuah SMA di kota B. Tinggi badanku sekitar 170 cm . Dalam cerita ini aku hanya ingin menceritakan kisah seks-ku bersama pacarku dan mantan pacarku.
ninis jilbab montok (1)
Kejadian ini berawal ketika ku dekat dengan salah satu teman 1 SMP-ku di kota yang sama. Sebut saja namanya Rifa. Orangnya ramah dengan memiliki wajah baby-face. Kepalanya diselimuti oleh kerudung sehingga membuat wajahnya terilhat lebih manis. Tingginya hanyalah sekitar 155 cm. Tapi justru karena itu aku menyukainya. Saat ini, dia bersekolah di suatu boarding school di luar kota.
Saat itu status kami hanyalah sepasang sahabat. Namun dari status sahabat tersebut aku mulai merasakan jatuh cinta kepadanya. Kucoba untuk menyatakan cinta kepadanya. Ku ajak dia untuk bertemu di salah satu Mall ternama di kota ini. Dia pun menyetujuinya. Dan akhirnya kami pun bertemu di tempat tersebut.
Sengaja kusiapkan sekuntum mawar merah sebagai alat bantu dalam menyatakan cintaku kepadanya. Tapi karena malu untuk menembak dia di keramaian orang. Maka kuajak dia untuk ke bioskop. Biar nembaknya di bioskop aja menurutku. Dia menyetujuinya dan kami pergi ke bioskop yang ada di mall tersebut. Kami memilih sebuah film yang memang saat itu studionya sudah dibuka sehingga kami bisa lansung masuk ke studio tersebut.
Kami menduduki jejeran bangku F, aku tidak menikmati film yang ditayangkan karena aku dari awalnya Cuma berniat nembak dia. Dan aku mengajak dia berbincang. “Fah, ada yang mau gue omongin ke lu.” “Apa ki? Hmm kok serius gitu ngomongnya?” jawab dia sedikit heran dengan gaya omonganku. “Gini fah. Sebenernya gue tuh sayang sama lu..’’ belum selesai aku melanjutkan, dia sudah memotong omonganku.”hmm lu mau nembak gue yaa? Iyaa gue juga sayang lu kii.. tapi inget kii kita tuh sahabat.” Aku pun menjawab pernyataannya dengan sedikit murung. “hmm gitu ya? Ya mungkin lu jadi pacar gue hanya pikiran gue semata dan ga mungkin terwujud’’. “kata siapa eh? Haha gue tuh Cuma bercana kii tadi. Gue mau kok jadi pacar lu mulai dari sekarang.’’ Dia menjawab lagi dengan sedikit malu.
Mulai detik tersebut kami pun berstatus ‘pacaran’. Setelah berbincang’’ dengannya kami pun melanjutkan menikmati film yang ditayangkan, tentunya dengan gaya orang pacaran. Pegang tangan, rangkulan. Lalu ku cium tangannya yang kupegang, aku biasa melakukan hal ini kepada pacarku. Mantan’’ku pun pernah kucium tangannya. Tapi respon dari pacarku ini berbeda. Pada awalnya dia tarik tangannya. Katanya sih geli, tapi kok dia tempel lagi tangannya ke bibirku? Malah diteken’’. Alhasil tangannya pun sedikit berwarna merah di bagian yang kuciumi.
Setelah dari tangannya, kucoba untuk mencium mulutnya. Kutengokkan wajahnya ke wajahku. Seketika aku pertemukan bibirku dengannya. Dia tidak merespon negatif. Lalu perlahan kuselipkan lidahku ke dalam mulutnya. Dia pun tidak menolaknya. Hingga kedua lidah kami saling bertemu dan akhirnya kami French kissing. Saat melakukan kiss tersebut , sempat aku bukakan mataku dan melihat cantik wajahnya. Dan ternyata terlihat dari ekspresinya tersebut bahwa dia menikmati kiss tersebut. Kami ber French kissing cukup lama.
Tiba-tiba kami dikagetkan oleh seseorang gadis. Gadis itu ternyata adalah mantan pacarku. Sebut saja namanya Rina. Wajahnya juga cantik namun dia tidak menggunakan jilbab saat itu. ‘’Hmm deeeuh si riki pacaran enak banget, sorry ganggu ya, nih gue duduk Cuma 3 bangku di samping pacarlu. Gue kira siapa gitu, eh ternyata elu. Hahah yauda gua sapa deh drpd Cuma pura’’ galiat.’’ Ejek dia. “hahah dasar lu na. udah urus itu cowo lu. Gaenak gara’’ gue, dia jadi dicuekin kan sama lu.’’ Jawabku.
Rina pun kembali ke bangkunya, lalu dia sedikit berbincang dengan pacarnya. Ah peduli apa aku dengannya? Toh dia Cuma mantan. Walaupun bagiku dia mantan terbaik, tapi aku kan udah punya pacar. Rada kesel juga sih, lagi enak’’ French kiss eh diberhentiin seseorang. Jadinya sekarang aku dan pacarku hanya bisa menikmati kembali film tersebut walaupun ga ngerti alur ceritanya.
Tiba’’ pacarku berkata, ‘’sayang, coba kamu liat itu mantan kamu sama cowonya. Mereka bukan Cuma ciuman kyk kita tadi yang. Liat tangan cowonya, itu dadanya mantan kamu diremes’’ dari dalem kaosnya gitu. Tangannya mantan kamu juga nakal, masuk’’ ke celana cowonya. Hmm jangan’’ kamu juga pernah gitu ya sama dia?’’ aku diam sejenak. “hmm itu? Jujur aja yang, aku semaksimalnya dulu sama dia sampai remas’’ dada tapi masih diluar pakaian.’’ Jawabku. ‘’enak ga sih yang? Kalau enak, kamu mau ga gituin aku?’’ jawab dia. Permintaan dia membuatku kaget, wah pacar aku udah kerangsang ini mah. “hmm mantan aku sih keenakan, tuh liat aja sekarang dia keenakan banget kan. Kamu mau?” dia hanya mengangguk. Lalu aku pun kembali mencium bibirnya. Kami kembali melakukan French kiss namun tanganku mulai meraba-raba dadanya. Kutaksir dadanya berukuran 34 B.
Sepertinya dia sangat menikmatinya. Terasa dari ciumannya yang semakin ganas dan tangannya mulai meraba’’ tubuhku. Tiba’’ dia menuntun tanganku ke dalam pakaiannya. Dia menuntunku untuk meremas’’ dadanya dari dalam pakaiannya. Terasa sebuah kain masih menutupi payudaranya. Perlahan ku turunkan cup BHnya dan kumulai untuk meremas-remas payudaranya. Terasa ada yang menonjol dari tonjolan itu. Pentilnya. Sesekali kupijit-pijit kecil pentilnya itu. Saat dipijt. Pacarku pun sedikit menggelinjang.
ninis jilbab montok (2)
Pacarku mulai kehilangan akal sehatnya. Tangannya sudah mulai meremas’’ adik mungilku dari luar celana jeansku. Lalu dia membuka kancing jeansku dan tangannya menyusup ke dalam celana dalamku. Sehingga saat itu penisku yang sudah menegang tersebut diraihnya. Dia-pun memijit penisku dan sesekali dikocoknya. Jujur aku merasa keenakan saat itu, tapi aku menutupi rasa tersebut dengan wajahku seolah-olah ga kenapa’’.
Kami menyelesaikan French kiss kami, namun tangan kami masih saling memijat. Dia pun melihat kea rah mantanku. Astaga! Terlihat dia sedang mengulum’’ penis pacarnya. Gelapnya bioskop membuat pemandangan itu menjadi remang-remang. Tapi ketara jelas dia sedang mengulum penis pacarnya. “yang aku mau gituin kamu juga dong.’’ Jelas dia. Eh buset ini cewe gue udah kesetanan bukan?? Aku awalnya mikir’’ dulu. Tapi tangan ceweku yang nakal. Itu penisku dikeluarin dari celanaku. Dia mulai menundukan kepalanya kea rah penisku. Dia ciumi, jilati, dan tak lama kemudian dia kulum penisku. Awalnya pelan’’, lama’’ kencang. Asli saat itu kalau aku mau keluarin peju aku juga bisa. Tp aku tahan aja. Ga enak sama ceweku.
Ga lama, rina selesai mengulum penis cowonya. Entah apa yang terjadi di sana aku tidak tahu. Tapi ini ceweku masih aja ngulum’’ penisku dengan nikmatnya. Ku bilang ke dia, ‘’yang udahan dong. Itu liat rina juga udahan. Lagipula kayaknya ini film udah mau beres’’. Dia pun menurut, penisku dilepasnya dan celanaku kembali dibereskan. Lalu kami kembali menikmati film tersebut . dan benar 15 menit setelah itu, film pun selesai.
Kami keluar dari studio. Di luar studio ternyata kami ditunggu oleh Rina dan pacarnya. “heh! Maksud lu apa ngikutin gua tadi di dalem studio? Gua gini, lu ikut gini. Gua gitu, lu ikut gitu.” Rina labrak rifa. “Gue Cuma ga seneng aja sama gaya lu pas tadi lu kagetin gue sama cowo gue!” Rifa pun melabrak balik. Tiba’’ Rina berkata kepada pacarnya, “yang, kamu bawa duit berapa?” “sisa 500rb nih. kenapa yang?” Tanya pacarnya. Dengan nada rendah dia berkata “Kita sewa kamar.” “hmm mending di rumah aku aja.” Jawab pacarnya. “aku mau nunjukkin ke jablay itu kalau kita lebih hebat’’ Rina jawab kembali.
Aku kaget bukan main dengar kata’’nya. Ingin ku labrak balik mantanku itu karena telah memanggil pacarku dengan sebutan jablay. Tapi tiba’’ pacarku yang menjawab. “oh lu mau saingan? Oke! Gue ga takut sama lu. Lu tuh yang jablay!” Labrak balik dari pacarku. Aku dan pacarnya rina pun Cuma bisa kaget aja melihat pacar kita berdua.
Singkat cerita, Kami berempat menyewa sebuah kamar. Kamar tersebut berisi 2 tempat tidur. Sesampai di kamar tersebut, Aku dan pacarnya rina, sebut sama Prad, didorong oleh pacar masing-masing ke atas tempat tidur. Dan benar, mereka mulai berlomba memuaskan pacarnya.
ninis jilbab montok (3)
Rifa secara cepat melepas semua pakaianku. Dia mulai menciumi kembali penisku. Dikulumnya penisku dengan penuh nafsu. Penisku yang berukuran 16cm tersebut memang tak bisa dihisapnya secara penuh. Tapi dia punya teknik tersendiri. Dia mengulum biji zakar ku. Lalu menciumi dan menghisapi batang penisku dari pangkal hingga ujungnya. Teknik tersebut dilakukan secara berulang-ulang.
Berbeda dengan rifa, Rina justru lansung ke arah yang lebih ekstrim. Dia memulainya dengan lansung berhubungan kelamin. Posisi yang digunakannya adalah Women on top. Ya wajar secara dalam peraturan pertandingannya, sang pacar tidak boleh beraksi. Hanya diperbolehkan menikmati pelayanan ekstra dari pasangan masing-masing.
Raungan dari pasangan rina prad pun terdengar di ruangan tersebut. Sedangkan pasangan rifa dan aku masih senyap. Hanya aku yang sedikit meringis keenakan karena rifa sedang sibuk melayani penisku itu. Tiba rifa melepas penisku dari mulutnya. Badannya beranjak ke atas tubuhku. Dibuka celana dalamnya. Dengan tetap memakai rok, Penisku diarahkan ke arah vaginanya. Dia menggesek’’an penisku dengan vaginanya. Setelah siap, dia mulai memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Saat kepala penisku masuk seutuhnya ke dalam vagina. Mulai terasa nikmatnya ML. terasa penisku semakin lama semakin menembus lubang vaginanya. Namun tiba-tiba penisku terasa menemui sesuatu. Kupikir itu adalah selaput perawannya. Ya memang itu sepertinya. Rifa pun menyadari penisku menemui selaput daranya. Tapi secara cepat dia menjatuhkan badannya. Sehingga otomatis penisku menembus selaput daranya dengan seketika. Dia berteriak kesakitan. Namun hanya sebentar. Karena di tempat tidur yang lain. Rina tertawa mendengar jeritan rifa.
Rifa mulai memompa vaginanya ke atas dan kebawah. Isak tangisnya yang terjadi akibat hilangnya keperawanannya tersebut lama-lama menghilang dan kemudian berubah menjadi desahan nikmat. Rifa merasa berat melakukannya dengan busana. Maka ia lepas semua busana yang ia pakai. Alangkah indah tubuhnya. Kulit putih, wajah cantik baby face. Rambut lurus sebahu, payudara 34B mengantung dengan puting berwarna pink lalu vagina berwarna pink dengan bulu-bulu halus di sekitarnya. Rifa pun kembali memompa vaginanya. Payudaranya bergoncang ke atas dan ke bawah saat ia memomba vaginanya. Wajahnya terlihat sangat menikmati hal tersebut. Tiba-tiba ia mendenguh keras. Terasa ada cairan tersemprot membasahi kemaluanku dan mulai merembes keluar dari vaginanya. Dia telah mengalami orgasme hebat. Bukan hanya sekali. Terasa 2 3 kali derasan air vaginanya membasahi kemaluanku.
Rina tertawa melecehkan rifa, “ hahah jablay murahan emang baru gitu aja udah keluar.’’ Tap tak lama justru pacarnya mencabut penisnya. Saat penisnya tercabut lansung muncrat spermanya membasahi tubuhnya hingga ada yang mengenai wajahnya. Jujur saja, aku terangsang bukan hanya karena rifa. Tapi karena rina juga. Tak bisa terlupakan wajahnya saat tersemprot sperma dari pacarnya itu. Ditambah lagi, sperma yang ada di tubuhnya diratakan hingga ke seluruh tubuhnya.
Prad menyerah, dia sudah terlampau capek. Karena dia sudah dilayani oleh rina sejak di bioskop tadi dengan sangat bergairah. Dia bebaring dan tak lama ia tertidur. “Anjir cowo gua payah ah. Masak tidur sekarang? Gua gimana ini?” Cetus Rina. “Rasakan! Makanya jadi orang jangan sok jago. Eh malah pasangannya yang KO duluan.” Ledek rifa.
Rina tidak terima perkataan dari rifa tersebut. Ia menghampiri rifa dan menamparnya. Aku kaget segera beranjak dan menampar balik rina. “dari awal gue ga suka perilaku lu ke cewe gue na. gue tau lu lebih berpengalaman. Sedangkan cewe gue tuh baru sekarang kayak gini. “ lalu aku bicara ke rifa “Kamu juga yang. Ga usah lah make berantem kyk gini, kita damai-damai aja.” “aah udah ah mending tidur aja dari pada pusing.” Dengan kesal kututup mataku.
Sekitar 5 menit berlalu. Tiba-tiba bibirku disambar bibir lain. Kupikir itu rifa, jadi kuterima ciuman itu. Tapi ketika kubuka mataku, yang menciumku bukanlah rifa melainkan rina. Rifa hanya bisa kaget di sebelahku melihatku dengan rina berciuman. Kulepas ciuman dari rina segera ku minta maaf kepada rifa. “yang maaf. Aku kira yang cium aku tadi itu kamu.’’ Dia tidak menjawab dengan kata-kata. dia meraih wajahku dan menciumi bibirku. Sesaat dia melepas ciumannya dan berkata,’’gapapa yang. mungkin dia masih sayang sama kamu jadi dia gitu.’’ Kami pun berciuman mesra.
‘’Ki, gue emg masih sayang sama lu. Gue masih mengharapkan lu. Tapi tadi gua seketika sakit hati pas liat lu French kiss sama dia. Makanya gua kagetin kalian.” kata Rina tiba’’. Aku kaget mendengarnya. Kuhentikan aktifitas lidahku, kubiarkan rifa yang menggerayangi lidahku sendirian. Aku benar-benar tercengang. Tiba-tiba rifa berkata, “yauda na, lu ga ada temen main kan? Sini aja. Sekali ini aja gapapa main sama cowo gua.” “Kamu yakin yang? gapapa nih?” Tanyaku kepada pacarku. Ia menjawab dengan senyuman manisnya sambil menangguk. Lalu wajahnya berpindah ke arah penisku. Ia mulai mengulumnya kembali.
Mendengar pernyataan dari Rifa, Rina merasa bebannya telah hilang sebagian. Ia mulai mendekatkan diri kepadaku. “Mungkin ini hari terbaik dalam hidup gua ki” ia mulai menciumi bibirku lagi. Awalnya aku hanya diam tidak merespon. Namun setelah beberapa saat, aku mulai menerima ciumannya. Rifa pun tidak komentar saat melihat kejadian ini.
Setelah beberapa saat, rifa berkata kepada rina. “Na, giliran gua dong” Rina mengerti dan melepas bibirnya dariku. Lalu rifa meniduriku, dan vaginanya dihadapkan dengan mulutku. Dia menyuruhku untuk menjilatnya. Ku jilat-jilat vaginanya hingga dalam. Rifa hanya bisa terengah-engah keenakan. Di saat yang sama Rina mulai mengulum penisku. Kulumannya sangat hebat menarik narik kemaluanku. Dia menjilati seluruh bagian penisku. Mengulum biji zakarku. dan menikmati bulu-bulu kemaluanku.
Setelah sekitar 15 menit, Rina melepas penisku dari mulutnya. Lalu dia beranjak dan memasukkan penisku ke vaginanya. Dia menggenjotnya dengan nafsu yang tinggi. Tak lama,’’Ahhhh kiiii guee keluaaar nihhh..” dia mengalami orgasmenya. Setelah itu dia hanya bisa terengah-engah capai. Dia melepas penisku dan pindah ke tempat tidurnya kembali. “Thanks ya ki, walaupun gini juga gua nikmatin banget. Jujur selama sama cowo gua, ga pernah gua bergairah kayak gini.’’ Tak lama pun ia tertidur.
Rifa yang vaginanya masih dalam posisi dijilati olehku sekarang mulai tak karuan aksinya. Dan benar. Tak lama setelah itu ia merasakan orgasmenya yang ke 2 kali untuk hari ini. Dia beristirahat sebentar menenangkan dirinya. Lalu dia berbaring di sebelahku dan berkata . “yang giliran kamu yang beraksi. Aku nikmatin aja” aku pun beranjak dan mulai mengarahkan kemaluanku ke vaginanya. Dan perlahan kumasukkan kemaluanku ke dalam vaginanya. Bless… masuk sebagian penisku, kumulai untuk menggenjotnya. Dia hanya bisa merintih.. “ahhh sayaaangg enaaak aahhhhh.”
ninis jilbab montok (4)
Sekitar 15 menit ku menyetubuhinya seperti itu. Lalu ku minta dia untuk berbalik badan. Aku akan menyetubuhinya dengan doggy style. Mulai kugenjot lagi tubuh pacarku itu. Sekarang aku pun ikut merintih keenakan menyetubuhinya. Di ronde tersebut dia merasakan beberapa kali orgasme lagi. Namun tiba-tiba kemaluanku berdenyut siap mengeluarkan cairannya. “ssh Yaangh aku mmmau keluar hh , keluarin dimmana nih ssh ?’’ “hhh hmmph dhii dalamm phhh ajja yangg sshh. Akku llaghii nggha massa shubbur ..hhh.” CROT CROT.. berkali kali penisku menyemprotkan spermanya ke dalam vagina pacarku itu. Lalu ku keluarkan penisku dari vaginanya. Pacarku kembali mengulum penisku untuk merasakan sisa-sisa spermaku yang ada di penisku. Setelah itu kami hanya berbaring lemas dan tertidur.
Ku terbangun dan melihat ke HPku. Ku lihat waktu menunjukkan pukul 7 malam. Sudah saatnya kita semua pulang ke rumah. Ku bangunkan Prad,Rina dan Rifa. ku suruh bergegas pulang. Namun Rina dan prad tidak ingin pulang cepat. Sepertinya mereka masih ingin bermain beberapa ronde lagi. Aku dan rifa pun mandi bersama membersihkan tubuh kami. Saat mandi kami pun sempat melakukan aktivitas seks lagi walaupun tidak maksimal.
Kami pun berpamitan dengan Prad dan Rina. Dan kami pun pulang. Kuantar rifa ke rumahnya dengan motorku. Lalu aku pun pulang ke rumahku. Sungguh hari yang luar biasa.
10 Tahun kemudian…
Saat ini aku sudah berkeluarga namun belum dianugerahi anak. Wajar karena aku dan isteriku baru menikah bulan lalu. Dan tentu saja isteriku adalah Rifa. Kami bertekad akan menjadi keluarga yang harmonis. Aku sebagai kepala keluarga sewajibnya mencari nafkah, dan isteriku menjaga rumah.
Suatu hari, aku pulang kerja jam 6 sore. Saat ku sampai di rumah, aku disambut oleh isteriku dengan ciuman hangat di bibirku. Dan setelah itu isteriku memberitahu bahwa aku kedatangan seorang tamu istimewa. Dan ternyata tamu tersebut adalah Rina. Isteriku bertanya kepadaku dengan manja. “Bolehkah kita melakukan hal tersebut bersamanya seperti waktu itu?”

UFAIROH

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (5)

Ufairoh  begitu kesal, dosen yang harus ditemuinya di kampus hari ini berhalangan hadir. Ia pun kembali pulang ke pesantren dimana dia menuntut ilmu agama sambil kuliah di Yogjakarta. Ufairoh Nurulhayah adalah seorang aktivis muslimah di kampusnya dia menjadi pengurus dalam HMMTP perkumpulan mahasiswa muslim di fakultasnya.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (6)

Meskipun Ufairoh adalah seorang aktivis muslimah, tapi jubah yang dia pakai tidak bisa menutupi kemolekan dan kemontokan tubuhnya terutama payudaranya yang montok dan besar itu. Sebenarnya semua ikhwan-ikhwan di sekitarnya juga sangat bernafsu ketika melihat gundukan kelenjar susu yang besar dan montok itu. Bukan tidak sadar, Ufairoh mengetahui jika Payudaranaya itu istimewa, sehingga dia tidak pernah menggunakan jilbab yang panjang untuk menutupinya, karena tanpa diketahui semua orang, Ufairoh adalah seorang pecandu seks, dan dia sangat binal.

*******

Sambil memainkan HP di dalam kamar, Ufairoh  begitu penasaran dengan apa yang terjadi di kantor HMMTP. Sebenarnya ia begitu ingin menonton langsung duel antara Ummu Nida dan Faizah, karena hasil duel tersebut akan menentukan kelanjutan hidupnya. Namun ia juga membenarkan nasihat Ummu Nida, kalau kehadirannya di sana bisa membuat Faizah melakukan hal yang tidak-tidak.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (12)

“Tokk, tok …” Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar Ufairoh . Dalam kondisi setengah terkaget, ia yang masih mengenakan jilbab panjangnya langsung melompat dan setengah berlari ke arah pintu disaa sudah ada ina teman sekamarnya yang mengatakan jika ada seoran ikhwan mencarinya di luar .

Ufairoh  hanya membuka pagar itu sedikit, dan ternyata sudah ada Ardi yang berdiri di sana. Ia masih mengenakan baju koko berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam, pakaian yang sama dengan yang dikenakannya ketika berjumpa denganya dikantor HMMTP . “Ada apa, Ardi? “

“ada keributan antara Faizah dan Ummu Nida di Sekretarian HMMTP, saya disuruh menjemput kamu untuk melerai mereka.,“

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (11)

Ufairoh yang memang terlibat dalam organisasi itu dan merasa bertanggung jawab pada mereka karena berdebat langsung bersiap-siap untuk ke kantor HMMTP di kampusnya

****

Sesampainya di sekerteriatan Ufairoh  pun langsung menuju ruangan rapat sementara Ardi mengikuti dari belakang. Walau masih tertutup jubah dan jilbab panjang, tubuh Ufairoh  yang seksi masih bisa terlihat jelas, apalagi payudaranya yang begitu montok dan menonjol. Hal inilah yang sejak lama menghantui pikiran Ardi . Karena itu begitu Ummu Nida menyuruhnya  menjemput Ufairoh  , ia langsung mengiyakan.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (13)

Di dalam ruangan, Ufairoh  langsung mencari berkas untuk membantu Ummu Nida di seantero ruangan. Ia bahkan sampai menungging untuk mencarinya di laci meja. Ketika ia berdiri, tiba-tiba sepasang tangan telah merangkul tubuhnya dari belakang. Rupanya Ardi sudah langsung berdiri di belakangnya dan memeluk tubuh akhwat cantik yang montok dan sintal ini. Mungkin karena tidak ada ruang gerak lagi akhirnya Ufairoh  pasrah dirinya dipeluk Ardi dari belakang. Selain itu Ufairoh  sendiri sering berkhayal untuk berdua dengan Ardi. Tercium bau wangi shampoo dari rambutnya. “Aduh dik Ufairoh , rambut kamu wangi,ya” sambil tangan Ardi meraih rambut Ufairoh  dengan memasukkan tangannya ke dalam jilbab panjang yang dikenakan akhwat cantik ini.” Ardi jangan, aku geli,,,” , “Emang dik Ufairoh  nggak pernah buat kayak gini?”,” Ngak pernah Abu, saya nggak pernah dipeluk…” ,”Aah masak?” Ardi lalu kembali memeluk perut Ufairoh dari belakang. Tampak dari cermin wajah akhwat cantik ini terkejut dan memerah. Waktu Ardi menaikan pelukan di Payudaranya, tangan akhwat cantik ini disilangkan ke depan Payudaranya.” Ardi, apaan sih aku malu,..” sambil dia berputar ke arah depan Ardi. Ardi melihat wajah Ufairoh  yang bersemu kemerahan, lalu dengan cepat Ardimempererat pelukan hingga wajah mereka mendekat, tidak lama bibirnya segera dilumat Ardi. Pertama lidah Ufairoh  begitu pasif, tangannya sudah memeluk badan Abu. Ardi merasakan badan akhwat cantik ini gemetar menyambut ciuman, detak jantung mereka seolah seirama. Saat bibir akhwat cantik ini terbuka Ardimemasukkan lidahnya. Ragu-ragu Ufairoh menyambut lidah Ardi. Libido Ufairoh terpacu dan gairah seksnya meninggi.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (1)

Perlahan tangan Ardi menyusuri punggungnya dan menarik resliting jubah khawat cantik ini ke bawah sampai ke ujung pantatnya. Ardimeraba naik turun dari pantat menuju ke perut. Perlahan kaitan bra Ufairoh  dibuka Ardi, dan Ardi langsung mengelus dan meremas-remas payudara biada Ufairoh yang besar dan menggoda itu, Ardi merasakan semakin diraba, nafas akhwat cantik ini menjadi berat dan pendek-pendek. “Ardii jangan, ardii…ah” rintihan yang keluar dari mulutnya ketika tangan Ardimulai menjamah ujung celana dalam yang di pantatnya, lidahnya semakin liar seiring tangan Ardi yang menuju gundukan pantatnya. “Ah…uh…Ardiaaa…”. Tangan Ardi meremas lembut gundukan pantat akhwat cantik ini, kakinya berjinjit naik seiring tekanan naik dari remasan tangan Abu. Kukunya mencengkram erat punggung Ardi. Ciuman Ardipindah menyusuri leher jenjang yang telah banjir dengan keringat dari Ufairoh  dengan memasukkan kepada di balik jilbab akhwat cantik dan sintal ini.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (15)

Perlahan ciuman Ardi turun sampai ke target utamanya yaitu payudara montok milik ufairoh yang putih dan kenyal, Ardi mencupang payudara putih itu, “ Eerrrrhh…ardiiiii.. haaah…” tubuhnya mengejan dan merapat ke tubuh Abu, saat tangan Ardi yang menjelajah punggung dan pantatnya telah turun ke belahan paha. Dengan sedikit sentakan kedua tangan Arditelah melorotkan celana dalam akhwat cantik ini. Tangan kanan Ardimembelai lipatan pantatnya dan merasakan anusnya yang lunak. “Uuh….., aku geli” tiap kali Ardi menyentuh anusnya. Ciuman Ardi telah meninggalkan cupang merah di leher dan di payudara akhwat cantiik ini, tangan Ardi meraba pundaknya dan berhasil menurunkan jubahnya ke samping hingga melorot ke Payudaranya yang montok dan masih kenceng ini, jubahnya ditahan oleh lekuk payudaranya. Bibir Ardi ikut turun ke Payudara montok akhwat cantik ini, bra yang telah terlepas melonggar dan memberikan kesempatan Ardiuntuk mengecup payudaranya.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (14)

Tampak puting yang kemerahan yang tidak pernah terjamah laki-laki, tangan Ardimenyusuri memutar kedua payudara, kecupan menjelajah di antara ketiak dan daerah sekitar payudara, tubuh Ufairoh  kian menyusup menahan kenikmatan,” Ardiiiii , aku geli aaaaah,,,” kedua tangannya merangkul dan menekan kepala Ardi ke payudaranya, nafasnya semakin memburu. Ardi menempelkan telinga ke Payudara montok akhwat cantik ini, detak jantung terdengar semakin kencang. Tiba-tiba Ardimembalikkan badannya menghadap ke cermin,merah padam wajahnya melihat tanggan Ardi telah memegang payudaranya, kedua putingnya ditaruh di antara jari-jari Ardi, kemudian secara cepat Ardi melucuti jubah yang separuh menutupi tubuh akhwat cantik ini berikut celana dalam dan branya. Ardi cepat membuka baju dan celananya sendiri. Ardi mendudukkan ufairoh ke pangkuannya, tangan kanan akhwat cantik ini diarahkan ke penisnya. Ufairoh  terkejut dan berusaha menarik tangannya, tapi Ardi buru-buru merapatkan badannya, “Pegang aja sayang, ok”, tubuhnya melemas waktu Ardi menarik puting Payudaranya dengan tangan kiri. “Och.., ardiii” lirihnya. Dengan jari Ardi memelintir puting yang masih kenceng itu. Tubuh Ufairoh  mengejan, punggungnya menempel ke Payudara Ardidan tangan kanannya meremas penis Ardidengan lembut. ”Enak dik Ufairoh ??”, “Aah…” . Cuma itu yang dia bisa jawab di antara puncak birahinya. Bibir Ardi tak henti-henti mengecup Payudara sebelah kanan  dan tangan Ardi aktif menarik puting payudara biadab kiri itu hingga badan akhwat cantik ini bergemetaran. Ardi memangku Ufairoh di atas paha, Ardi membuka ke dua paha akhwat semok nan binal ini hingga menampakkan jajaran jembutnya menghiasai bukit kemaluaanya. Ketika kepalanya diarahkah Ardi ke belakang, Ardi mencium bibirnya dengan lidah merekka saling membelit, kemudian tangan Ardi turun membelai helaian jembutnya. Tangan kiri Ardi yang aktif memilin puting payudara dan yang kanan membelai jembutnya. Suatu pemandangan yang eksotis.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (10)

Mengingat Ufairoh  adalah seorang akhwat cantik yang alim, sehari-hari memakai jilbab yang panjang dan jubah, hari ini semua lekuk-lekuk yang tertutup itu bisa dilihat dan dinikmati Ardi. Putingnya telah memerah karena ditarik dan dipilin Ardi, keringat deras mengalir di Payudara dan punggung akhwat cantik ini, tangannya tetap meremas-remas penis Ardi dengan lembut. Ketika tangan kanan Ardimulai turun dan menyusuri bukit kemaluannya, tubuhnya mulai menggeliat dan menggigil. Ardi mencari benda sebesar kacang di ujung bukitnya. Ketika Ardi mendapatkan lalu ditekan perlahan “Owwwuuuhhhhh….ardiii, kau apakan tubuhku ini ardiii?”, ”Rilex dik Ufairoh , enak bukan?”, ”Uuhhhhh,stttttss…….iyaahh hahh yaaah nikmaat, enaaakh…..” Ufairoh   hanya merancau sambil meremas penis Abu. Tangan Ardi kemudian mengusap ke klitoris akhwat cantik ini. ”Sssssssttttts, aaaah” ketika tangan Ardi menyapu klitorisnya. Perlahan tangan kiri Ardi turun menelusuri labia mayora. Ardi menarik salah satu labia mayora, digosok dengan jempol dan jari telunjuk. ”Ahhh….geli….”, teriaknya sambil kepalanya mendongak dan berusaha merapatkan kakinya tapi tertahan oleh kedua paha Ardi.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (2)

Nafasnya semakin tersenggal mana kala tangan kanan Ardi dengan gerakan vertikal menggosok lubang kencingnya dan klitorisnya. ”Akuuu…pingin pipis….”. “Pipis aja dek ufairoh Ngak usah ditahan”, Ardi mempercepat putaran tangan pada klitorisnya. ”Aah…ah….ah…..Ardiiii aku pipisssss”, kedua pahanya diangkat merapat di atas paha Abu. Ardi merasakan klitoris akhwat cantik ini berkedut-kedut dan cairan hangat meleleh dari sela pahanya yang turun membasahi paha Abu. Ardi melihat dari cermin di mana Payudaranya membusung dan kepalanya mendongak disertai hentakan badannya yang mengelinjang tidak karuan, seolah Ardi menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Badannya kemudian melemas, Ardi menurunkan perlahan dari pahanya dan menidurkan akhwat cantik yang montok dan sintal ini di meja ruanga itu. Nafasnya masih memburu dan butiran keringat membasahi wajah dan tubuhnya. Ardimenurunkan ciumanku ke hidungnya, kedua pipinya trus dikulum bibirnya, lidah mereka kembali saling membelit. Ketika Ardi mengangkat kepalanya, kepala akhwat cantik ini juga juga terangkat seolah tidak mau melepas bibir Ardi. Ardi mengambil posisi di samping kanan Ufairoh , tangan kiri Ardi merangkul pundak akhwat cantik ini melewati lehernya dan mengelus payudara kiri. Perlahan bibir Ardi nida turun ke leher akhwat canetik ini dan tangan kanannya mengelus payudara dan putingnya. Berlahan lidah Ardi berputar di payudaranya kanan dan kiri bergantian sambil menyusuri wangi ketiak Ufairoh . Payudara Ufairoh  terangkat bergelinjang menahan geli, ketika lidah Ardi menelusuri bagian bawah payudara kembali tangannya menekan kepala Abu. “Dik Ufairoh boleh aku mencium putingmu?” wajah akhwat cantik ini memerah seketika, kemudian matanya terpejam dan menganggukan kepala. Ardi menyergap puting sebelah kiri yang sudah menonjol merah, menghisap lembut dan menjilat dalam mulutnya melingkar-lingkar. “AAah. Sssstttttt…….” tangan kanannya mengelus punggung Ardi dan tangan kirinya menekan kepala. Ardi merasakan keringat asin dari puting akhwat semok ini dan merasakan getaran tubuhnya yang menandakan kalau Ardi adalah lelaki pertama yang menyentuhnya. Tangan kiri Ardi aktif memilin puting yang lain, tangan kanan menarik punggungnya. Punggungnya telah dibsahi keringat, lembut punggungnya menandakan tidak pernah dijamah laki-laki. Kemudian bibir Ardi beralih ke puting kanan meninggalkan bekas gigitan di sekitar puting kirinya. “Ah…uh….” desahan yang keluar dari bibir Ufairoh  di saat putingnya tenggelam di bibir Ardi. Ardi menggigit lembut, menarik ke atas, Ufairoh  meremas-remas sprei sambil tangan kirinya menekan tengkuk Ardi. Sementara tangan kanan Ardi menggapai klitorisnya. Masih meleleh lendir licin keluar dari memek akhwat cantik ini, Ardi mengusap vaginanya dan menggunakan lendirnya untuk membasahi klitorisnya. Mata akhwat cantik ini kembali mendongak bergetar, hanya terlihat putih di kelopak matanya. Ardi menggigit puting kirinya dengan cepat. Kedua tangan Ardi melesat mengangkat pantatnya, terlihat warna pink di sekitar kemaluan hingga membangkitkan gairah Ardi. ”Ardi…. jangan…”, saat Ufairoh  melihat kepala Ardiberada di antara dua pahanya, dengan lembut Ardimenjilat klitorisnya, ”Aah….ardi…, jangan”, tubuhnya mengejan melengkung, kedua tangannya mencengkram sprei dan kepalanya kembali terdongak. Ardi mamasukkan ujung klitorisnya ke bibirnya sampai semua masuk ke bibir abu, Ardimenggigit pelan-plan. “Aah…aah…aduh…. …. aku ngilu” . Kedua paha akhwat cantik ini menjepit erat kepala Ardi.” Ardii….aku mau pipis lagi ardii” kepala Ardi tersanggkut.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (4)

Di paha Ardi air mani mengalir dari lubang pipisnya mengenai lidah. Waktu kececap rasanya seperti meminum bir pahit. Tampak lelehan lendir membasahi sprei di bawah pantat Ufairoh. Ardi mengamati wajahnya yang sudah mencapai orgasme, benar-benar menggetarkan, lalu Ardi membuka paha akhwat cantik itu dan menindih tubuhnya. Tiba-tiba ufairoh membuka matanya, “Ardi masukann masukaaan” kata ufairoh lirih ”Te..terimakasih abu, aku dari semula emang menganggumimu….makanya aku rela engkau jamah”. ”Terimah kasih, dik Ufairoh .

Memandang Ufairoh  yang sudah terserang birahi membuat Payudara Ardi seolah meledak, Ardi menaruh tangan di atas payudara akhwat cantik ini sementara tangan satunya membantu kontolnya untuk menggosok vagina Ufairoh . Perlahan kontol Ardimendesak masuk ke memek Ufairoh , perlahan namun pasti pahanya semakin dilebarkan. ”Abuuu..…trus….abuuu…..”, antara nafsu dan janji berlahan kata hati Ardimenguasai pikirannya. Ardimelambatkan gesekan mencabut ujung kontol dari memek Ufairoh , Ardi menghempaskan tubuh ke samping Ufairoh . Perlahan Ufairoh  membuka mata. ” Kenapa Ardi? Aku sudah hampir nyampe? Nggak enak?”,”Hah? Kenapa berhenti Ardi”. ” Aku juga sering mengagumi, dik Ufairoh ”.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (3)

Rangsangan jari Ardiini membuat Ufairoh  menggeleng-gelengkan kepala, tampak jilbab yang dikenakan menjadi longgar sehingga membuat rambutnya menyembul, tangan Ardi meraih puting susu akhwat cantik ini yang tampaknya dia semakin terangsang, dia menempatkan payudaranya tepat di mulut Ardidengan sekali gerakan k Ard imeraih puting kirinya, dengan bibir digigit pelan-pelan dan dikulum dengan buasnya. Perlahan tangan Ardi berpindah menarik punggungnya agar Payudara akhwat cantik ini dirapatkan ke Payudaranya, rasa hangat menerpa Payudara Ardi keringat mereka saling menyatu.

Ardi menempatkan kontol ke posisi vertikal. Ufairoh  kemudian mengesek naik turun kontol Ardi yang sudah berada tepat di belahan memeknya. Bibir Ardi menggigit lembut pundak akhwat cantik ini dan tangannya mengelus pantat bulatnya, Ardi menarik keluar sebagian labia mayoranya hingga menggesek kontolnya. Wajah horny Ufairoh  sungguh luar biasa, jilbabnya sudah melorot ke lehernya, matanya membeliak tiap kali jari Ardi menusuk-nusuk memeknya, tubuhnya beringsut mundur sehingga kepala kontol Ardi masuk ke dalam vaginanya yang telah banjir oleh lendir cintanya. Lidah mereka saling bertautan, nafas mereka semakin memburu. Kepala kontol Ardi tenggelam di gerbang vagina Ufairoh , tempo gesekan semakin cepat. Saat separuh batang Ardi hampir masuk ada suatu lapisan liat yang menghalangi, Ardi merasa itu adalah selaput daranya. Ardi melihat Ufairoh  tertunduk melihat kemaluannya dengan menggigit bibirnya. “ Miliki aku, Aardiii…”.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (9)

Kemudian dengan menarik nafas panjang Ufairoh  menaikkan tangannya di atas dada Ardi, dengan gerakkan sedikit melengkung dimasukkan seluruh batang kontol Ardihingga ke dasar vaginanya. ”bless…ach…ardiiiih, aku…..” tubuhnya langsung roboh ke tubuh Ardi. Ardi mengangkat pantat agar kontolnya tidak lepas dari vaginanya. Mereka terdiam sesaat, Ufairoh  mengangkat wajahnya yang dihiasi senyum walaupun ada air mata di sudut matanya.” Perih Ardi, sakit”, ”Iiya dek,nanti coba digesek pelan-pelan”. Perlahan Ufairoh  mulai menaikan pantatnya. ”Sssssshhhhhh……Ardii….”, kemudian tubuhnya diangkat ke atas dengan hanya bertumpu pada lututnya.” Coba jongkok ukhti Ufairoh , biar Ardi lihat”. Ufairoh  berjongkok dengan kontol Ardi yang masih tersarung di memeknya, Ardimelihat darah merah mengalir di sela-sela kontolnya. ”Sssshhhhtttt…ah…Ardii.. aku ngilu”, sambil mangangkat pantatnya. Ardi menahan pinggul akhwat yang sintal itu agar kontolnya tidak lepas dari vaginanya. “Ardi.. ardiiii…ardii…ouch” kontol Ardi keluar masuk dengan lancar, tiap kali ditarik vaginanya seolah ikut tertarik.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (8)

Rasanya kontol Ardi dipilin-pilin oleh memeknya diurut lubang peret dari perawan Ufairoh . Lubang yang sempit itu lama kelamaan semakin menjepit kontol Ardi seiring dengan makin terangsangnya Ufairoh . Lututnya kembali diturunkan, jembut mereka menyatu. Tangan Ardi aktif meremas dan memilin puting akhwat cantik ini. Gesekan yang dirasakan kontol Ardi keluar masuk vagina Ufairoh  semakin terasa ditambah denyut-denyut di dalam memeknya tiap kali Ufairoh  memasukkan kontol. Ardimengangkat pantat dan pinggul agar penetrasi semakin dalam.

” Ardi aku mau nyampe…”, “iya ukhti kita sama-sama, di dalam apa di luar?” Ufairoh  tidak menjawab ia hanya menggeram nikmat, Ardi juga merasakan ujung kenikmatannya akan keluar. “Ooch…ah…..uh…” nafasnya semakin pendek-pendek dan berat. ”Ukhty Ufairoh , Ardi juga mau nyampe” digigitnya bibirnya seolah menahan kenikmatan. Akhirnya tidak lama lahar Ardi sudah mendesak keluar. ” Ukhty ….. Ardi nyampe…….ah….” dengan kerasnya Ardimengangkat pantatnya, laharnya menyembur memenuhi lorongnya., Ufairoh  masih bergoyang di atas kontol abu.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (7)

“Ardii…aku juga…..aaahhhh ” Tiga goyangan Ufairoh  mengejan di atas tubuh Abu, Ardi merasakan tubuh akhwat cantik ini melengkung dan kepalanya mendongak kemudian turun cepat ke dada abu, tangannya memeluk tubuh Ardi dan kukunya menancap di punggung abu, Dada mereka saling menempel hingga Ardi merasakan detak jantungnya yang cepat. Kontol Ardi serasa diurut-urut oleh vagina akhwat cantik ini, tangan Ardi memeluk tubuhnya erat, 10 detik dia terdiam diiringi helaan nafas yang memburu menyembur telinga abu. Setelah birahi melanda, keringat mereka saling melekat satu sama lain. Ardi membiarkan Ufairoh  beristirahat di atas tubuhnya, tak lama kemudian kontol Ardi mengecil dan keluar dari vaginanya, serasa lendir mereka meleleh turun mengalir di sela paha dan membasahi sprei.

Setelah merasakan Seks dengan orang yang dikagumi, maka Ufairoh lupa akan urusanya,  dan mereka melakukan itu lagi dan lagi, sampai mereka tak sanggup berdiri.

Beginilah hidup ufairoh nurulhaya, penuh seks, dia tak lagi peduli dengan yang lain kecuali seks, dan semua masturbasinya selama ini terbayar dengan kontol asli milik Ardi.

ARINA AND FRIENDS

Namanya Okta, sebut saja begitu. Ia adalah salah satu mahasiswi di universitas ternama di Jawa Barat. Wajahnya tidak cantik, tapi memiliki aura eksotis. Badannya tidak tinggi, tapi sintal berisi, membuat siapapun yang melihatnya merasa gemas. Gemas ingin menjamah tubuh montok itu. Dengan payudara berukuran 36B, Okta merupakan sosok gadis menggairahkan yang membuat siapapun ingin merasakan tubuhnya.
Siang itu, Okta sendirian di kontrakannya. Ia menyewa sebuah rumah kontrakan besar bersama ketiga temannya : Eva, Arina, dan Hani. Kedua temannya itu masih kuliah, satu sudah bekerja. Ia sendiri tidak ada kuliah hari itu. Dengan hanya menggunakan bra dan celana hotpants, Okta terlihat asik melihat layar laptopnya.

”Main ke kontrakanku aja, yuk. Lagi sendiri juga nih aku.” ketiknya, saat itu ia sedang asik chatting dengan temannya di sebuah aplikasi chatting.

”Serius, mbak, boleh? Deket sih kontrakan mbak dari kosanku. Aku juga penasaran nih gimana aslinya. Hehehe.” balas teman chatnya tersebut.
Di layar, tampak foto Okta hanya dengan menggunakan bra dan foto lain dirinya yang tidak mengenakan bra, hanya kedua telapak tangannya yang menutupi dada besarnya itu. Sepertinya ia sedang bertukar foto seksi dengan lawan chattingnya itu.
”Boleh lah. Ini nomerku, nanti kalo sudah sampai sms saja.” balasnya sambil mengetik sebuah nomor handphone.
”Oke, mbaak. Aku ke sana yaa.” balas sang pria di ujung chatting.
Okta tersenyum simpul seraya bangkit dari kasurnya. Ia melepas branya dan mematut diri di depan cermin di kamarnya. ”Masih bagus kok,” ujarnya sambil memegang buah dadanya yang montok.
Sejak kehilangan keperawan di awal kuliah, Okta seolah ketagihan dengan aktivitas seksual. Hampir semua pacarnya pernah merasakan lubang di tubuh Okta. Sadar organ vitalnya sering digunakan, Okta benar-benar merawatnya sehingga dadanya tetap kencang dan vaginanya tetap rapat. Hal ini membuat pacar-pacarnya semakin betah berlama-lama menggarap dirinya.
Tanpa menggunakan branya, Okta keluar untuk mengambil handuk. Ia hendak mandi sebelum kedatangan teman chattingnya itu. Payudara besarnya dibiarkan terbuka sehingga bergoyang kesana kemari seiring langkahnya. Teras kontrakannya adalah halaman parkir yang cukup luas untuk 3 mobil dengan pagar besar dan kanopi yang menutupinya, sehingga Okta tidak perlu khawatir ada yang melihatnya setengah telanjang saat ke teras untuk mengambil handuk di jemuran. Sekitar kontrakannya pun tidak terlalu ramai sehingga membuatnya semakin tenang menuju teras dengan telanjang dada.
”Kamu masuk aja, mbak lagi mandi.” begitu balasannya saat sebuah pesan singkat masuk menanyakan kondisi kontrakannya.
Sambil menyabuni dan mencukur bulu vaginanya, Okta mendengar suara pintu pagarnya dibuka. ”Datang juga dia,” pekiknya senang. Seolah membayangkan kenikmatan yang akan segera ia dapatkan dari cowok yang baru dikenalnya, Okta tersenyum sambil terus membersihkan vaginanya dari rambut-rambut tipis.
“Lama, dek?” tanyanya kepada seorang pemuda yang katanya baru berusia 18 tahun. Edwin namanya.
“Eh, ohh. Ehmm… ngg… nggak kok, mbak.” jawabnya gugup saat melihat kedatangan Okta. Siapa yang tidak gugup saat melihat sesosok tubuh sintal dan montok hanya berbalut handuk tipis yang pendek. Setengah payudara besarnya menyembul sehingga terlihatlah belahan dadanya yang membuat Edwin menelan ludah.
“Ini minum dulu.” ujar Okta sambil meletakkan segelas teh. “Gimana, mau langsung apa gimana nih? Kamu mau liat aslinya kaaan?” tanya Okta genit sambil memegang bongkahan dadanya.
“Eh… ohh… ter-terserah mbak aja.”
“Kamu kok gugup gitu sih, padahal di chat tadi kamu semangat banget. Hehehe… nih mbak udah beres-beres sesuai kesukaan kamu.” ujarnya sambil memegang tangan Edwin dan menggiringnya ke area sensitifnya.
Edwin yang nampaknya baru pertama kali memegang benda bernama vagina langsung terlihat sangat gugup. Walau begitu, tangannya menikmati memegang daging tebal milik Okta. Bahkan, di tengah remasan-remasan itu, Edwin iseng memasukkan jarinya ke dalam vagina Okta.
“Auw!” pekik Okta. “Sabar dong, dek. Nanti ada waktunya. Kamu suka yang gak ada rambutnya kan?”
“I-iya, mbak.” jawab Edwin gugup. Ia bahkan tidak menyadari ada atau tidaknya rambut di sana karena begitu menikmati memegang alat kelamin gadis berusia 21 tahun itu.
Tidak ingin menunggu lama, Okta langsung mengajak Edwin masuk ke kamarnya. Duduk berdua di tepi ranjang, Okta hanya senyum-senyum melihat lawan chattingnya itu terlihat kikuk. Edwin, yang notabene masih perjaka, tentu gugup dengan pengalaman pertamanya ini.
“Sebelum mulai, mbak mau kamu oral dulu dong.”
“O-oke, mbak.”
Tidak lama-lama, Okta segera membuka handuk hijaunya. Di depan Edwin, Okta kini tidak mengenakan sehelai benangpun. Dadanya yang montok dan vaginanya yang tebal menjadi santapan mata Edwin dengan bebasnya. Putingnya yang bulat agak besar dengan warna agak hitam terlihat menantang di puncak bukit susu Okta.
“Kenapa, dek? Kok diem aja? Mau yaaa?” tanya Okta genit sambil menyodor-nyodorkan buah dadanya ke Edwin.
Edwin hanya menelan ludah melihat tubuh telanjang Okta di depan matanya. “Mbak, ge-gede banget.” pujinya.
“Iya dong. Cowok suka yang gede kan?” jawab Okta bangga sambil memilin-milin putingnya sendiri. “Kamu buka baju juga dong. Masa aku doang yang bugil.” pinta Okta.
Tanpa disuruh lagi, Edwin langsung membuka seluruh baju dan celananya. Jadilah keduanya kini telanjang di kamar Okta.
“Punyamu gede juga ya, dek.” kata Okta.
“Iya dong. Cewek kan suka yang gede, mbak.” balas Edwin meniru ucapan Okta.
“Hahaha. Kamu bisa aja. Ya udah yuk, mbak udah gak tahan nih. Kamu oral mbak dulu ya.”
“Siap, mbak.”
Okta langsung telentang di atas kasur. Kakinya tetap terjulur ke bawah sehingga vaginanya terekspose sepenuhnya ke arah Edwin. Hal ini sengaja agar Edwin mudah men-servis alat kelaminnya yang terlihat sudah menggembung karena nafsu.
“Shhh… oohhh… aahhhh… enakkhhh dekk… aaahhhhh…” desah Okta saat lidah Edwin mulai menyapu vaginanya. Meski belum pernah, Edwin sudah belajar dari film-film porno yang dimilikinya. Lidahnya menyapu bagian luar vagina Okta yang tebal. Sesekali menulusup ke dalam vaginanya, membasahi liang kenikmatan yang sudah berkali-kali mencicipi rasa penis itu.
“Ahhhh… terussshhh dekkk… aaahhhh…” desahan Okta semakin keras saat tangan Edwin mulai aktif menjamah payudaranya yang menganggur. Jarinya asik memilin-milin, memencet, dan menarik-narik puting Okta yang bulat tebal. Mendapat serangan di dua arah, Okta semakin bergelinjang tidak tahan menahan gairah yang semakin memuncak.
Puas bermain dengan dada montok Okta, Edwin menggunakan tangannya untuk melebarkan paha Okta, membiarkan lidahnya semakin leluasa bermain di liang surgawi gadis itu. “Slurrrrppppp…” Edwin coba menghisap memek tebal Okta kuat-kuat.
“Aaaaaaahhhhh… ssshhh… aaaahhhhh…” desah Okta semakin menjadi-jadi.
Edwin membuka vagina Okta dengan kedua jarinya sehingga merekah. Terlihatlah isi memek Okta dengan lebih jelas. Lidah Edwin pun merasuk lebih dalam, bermain-main dengan klitorisnya. Sesekali diemut dan digigit kecil biji sensitive Okta tersebut. Serangan tersebut membuat Okta semakin  bergelinjang ke sana kemarin, membuat buah dadanya berguncang hebat seiring gerakan badan seksinya.
“Dekk… aaaaahhhhhh… ssshhhh… mbaaakkkk… mauuuuu… keluaaarrrr… aaaaaaaa…”
Croot… croot… crooot… Cairan cinta Okta pun keluar membasahi mulut Edwin. Edwin menghisapnya kuat-kuat hingga semua cairan itu terminum semua olehnya.
“Ohhhhhh… aaahhhhhhh…” desah Okta saat menyadari Edwin tidak mengendurkan serangannya. Edwin tetap asik bermain di liang surgawi Okta meski tahu gadis itu baru saja orgasme. Ia tampak asyik menghisap, mengemut, dan menggigit kecil biji klitoris Okta.
“Woi!!!” sebuah suara yang dikenal tiba-tiba mengagetkan dua insan tersebut.
Edwin yang kaget membuatnya tidak sengaja mengigit klitoris Okta. “Aww!!!!” pekik Okta saat area sensitifnya itu tergigit Edwin. Dengan kaget, Okta dan Edwin menoleh ke arah pintu kamar yang memang lupa mereka tutup. Edwin yang panik langsung berusaha menutupi penisnya dengan tangan, sedangkan Okta tampak santai-santai saja duduk dan membiarkan tubuh telanjangnya terbuka lebar.
“Ah, gila lu, Han! Lagi enak-enak juga. Untung nggak pas tadi gue mau keluar, jadi gak gantung.” kata Okta.
Rupanya itu Hani, teman kontrakan Okta. Hani baru pulang kuliah saat mendapati Okta sedang diservis oleh cowok lain yang belum pernah dibawanya ke kontrakan sebelumnya.
“Biasa aja kali, dek. Gue udah sering liat penis cowok. Hahaha. Ini juga udah sering nyobain nih.” tawa Hani saat melihat wajah kikuk Edwin sambil menunjuk vaginanya sendiri. “Lagian elu, mentang-mentang libur malah asik-asikan sendirian di kontrakan. Siapa lagi nih cowok?” tanyanya pada Okta.
“Ada deh. Lagian gue sendirian di kontrakan. Daripada bête juga kan. Mending kasih makan nih si tembem.” ujar Okta sambil mengelus vaginanya yang masih mengeluarkan lelehan cairan orgasmenya.
“Gila lo ah! Haha. Ya udah sana lanjutin, gue mau mandi dulu. Panas banget gila.”
“Sono-sono, ganggu orang aja nih.”
“Yeee, makanya tutup tuh pintu. Ngablak amat, gue dari pintu depan juga bisa ngeliat ke dalem kalo memek lo lagi diservis.” jawab Hani sambil ngeloyor.
Hani

Hani, 21 tahun, teman satu kampus Okta. Perawakannya sangat berbeda dengan Okta. Kalo Okta tidak cantik tapi eksotis dan manis, Hani tergolong cantik dan manis. Badannya putih, tapi kecil dengan buah dada yang juga kecil, cuma 32B. Meski begitu, tidak sedikit pengalamannya soal ML karena Hani sudah merasakan namanya ML sejak SMP. Ia sudah biasa melihat Okta bersetubuh dengan cowok di kontrakan, pun sebaliknya. Bahkan cowok yang dibawa Okta untuk bersetubuh kerap berbeda.

“Maaf ya, dek. Lanjut yuk. Sekarang terserah deh kamu mau ngapain. Nih tubuh mbak hari ini punya kamu.” kata Okta pada Edwin.
“I-iya, mbak.” jawab Edwin singkat. Setelah nafsunya naik kembali setelah terpotong karena kehadiran Hani, Edwin langsung merangsek naik. Bibirnya langsung diarahkan ke puting dada Okta yang bulat.
“Aaahhhh… enakkk…” desah Okta menikmati kuluman Edwin di puting payudaranya. Edwin sesekali menghisap, mengigit, dan menarik puting Okta dengan gemasnya.
TING-TONG…!!!
“Mbaaak… kiriman gas dan air, mbaaaak!!!” teriak seseorang dari luar.
“Ih, siapa lagi sih?” gumam Okta sebal karena kenikmatannya terpotong lagi. “Hanii! Ada orang tuh di luar!” teriaknya pada Hani.
“Pasti tuh anak lagi mandi.” dengusnya sebal saat tidak mendapat jawaban. ”Bentar ya dek.” Okta pun memakai handuknya kembali sambil meninggalkan Edwin yang terlihat kecewa karena eksplorasinya di bukit susu Okta harus terpotong.
“Iya, mbak.” jawab Edwin singkat sambil beranjak duduk di kasur, menampakkan penisnya yang berukuran 20 cm yang sudah tegang, siap menyodok liang memek Okta kapan pun.
“Gila, memeknya oke banget. Toketnya super. Duh, nggak rugi deh ngerasain ML pertama sama mbak Okta. Super banget bodinya.” ujar Edwin dalam hati sambil memperhatikan Okta yang keluar kamar hanya dengan berbalut handuk.
***
“Eh, Bang Kiki. Pesenan galon sama gas ya, bang? Masuk aja. Nggak dikunci kok.” ujar Okta kepada pengantar yang dikenal bernama Bang Kiki.
Bang Kiki berusia sekitar 28-an, adalah pengantar di warung Bu Kosim, yang sering mengantar barang-barang pesanan pembeli. Tubuhnya agak jangkung dengan pipi tirus, wajahnya mirip Wendi Cagur dengan kumis dan janggut tebal yang menempel di wajahnya.
“Duh alahhhh, neng Okta seksi banget dah ah! Tau aja abang mau dateng. Mau kasih bonus nih, neng? Tuh toket makin mengkel aja. Udah ada susunya belom, neng? Hehehe.” goda Bang Kiki mesum yang melihat tubuh molek Okta yang hanya berbalut handuk tipis. Bang Kiki memang kerap mendapat bayaran berbeda kalau mengantar barang ke kontrakan ini.
“Ih, si abang mah, gak ada bonus-bonusan lah, tetep tergantung abang itu mah. Hehehe.” balas Okta tidak kalah genit. Ia yang sudah terbiasa dengan ulah Bang Kiki dan memang sering “membayar” tidak merasa terganggu dengan godaan mesum laki-laki itu.
“Semua berapa, bang?” tanya Okta sambil mengeluarkan dompetnya.
“Harga lagi pada naik, Neng. Totalnya jadi Rp 150.000,00 semuanya.”
“Ah, serius, Bang? Mahal banget!” ujar Okta terkejut mendengar nominal yang disebutkan Bang Kiki.
“Yaaa, tapi kan neng gak perlu bayar pake duit semua. Hehehe.” jawab Bang Kiki sambil tersenyum mesum. Matanya tidak lepas menatap bongkahan dada Okta seolah tidak sabar ingin “dibayar” seperti biasa.
Okta terdiam. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.  “Hmm… kemaren Bang Kiki pada dibayar gimana sama yang lain?” tanya Okta yang ingat sebelum-sebelumnya bukan dia yang menghampiri kalo Bang Kiki datang mengantar pesanan barang.
“Beda-beda, neng. Tergantung kurangnya sih. Tapi terakhir kali kalo sama neng Hani, burung abang diisep sama dia sampe peju abang keluar. Habis, abang mau isep teteknya tapi kan neng Hani teteknya kecil, nggak semontok neng Okta. Hehehe. Kalo yang terakhir sama neng Eva sih dia mau abang masukin burung abang ke pantatnya. Hehehe.” jawab Bang Kiki senang karena sudah bisa mencicipi tubuh gadis-gadis penghuni kontrakan di sini.
“Hah? Kok Eva mau dianal? Emang dia beli apa, Bang? Kalo sama Arina?” tanya Okta sambil menyebut Eva, satu-satunya perawan di kontrakan dan Arina, satu-satunya gadis berjilbab di kontrakan, yang tetap saja sudah pernah mencicipi rasa penis di vaginanya.
“Sama kayak sekarang, neng. Gas sama galon air 4, tapi neng Eva nggak bayar sama sekali. Jadi gantinya ya full servis, tapi tetep kan neng Eva gak mau dientot memeknya, Neng.” jawab Bang Kiki seolah paham kebiasaan Eva yang suka anal demi menjaga selaput dara di vaginanya.
“Kalo mbak Arina mah selalu bayar full, mbak. Abang belom pernah tuh cobain dia. Padahal mah biar kerudungan jugaa… keliatan toketnya montok atuh, nggak kalah sama neng Okta. Bulet pisan, euy. Mengkel.” lanjut Bang Kiki sambil menceritakan Arina, penghuni tertua di kontrakan tersebut.
“Ouhhh… ya udah deh, ni aku bayarnya Rp 50.000,00 aja ya, bang. Sisanya biasaaa…” ujar Okta pada akhirnya.
“Walahhh… gede atuh abang nomboknya ini, Neng.”
“Yeee… mau nggak, bang? Nanti aku kasih yang setara deh sama tombokan Bang Kiki.” kata Okta sambil menjulurkan uang 50ribuan.
“Bener ya, Neng? Abang mau dong tombok-tombok memek Neng. Hehehe.” jawab Bang Kiki sambil mengeluarkan senyum mesum khasnya.
“Yeee… si abang. Nggak lah, kan perjanjiannya tombok-tombok memek kalo gak bayar sama sekali.”
“Sekarang abang mau dibayar apa nih sisanya?” lanjut Okta sambil duduk di kursi teras.
“Abang mau minum susunya neng dong, kangen nih. Susu neng kan paling montok di antara temen-temen Neng. Hehehe. Sama main-main di memek neng ya. Tanggung tuh kayaknya, Neng. Hehehe.” pinta Bang Kiki yang melihat masih ada lelehan cairan cinta yang keluar dari vagina Okta.
Okta yang menyadari bahwa vaginanya masih memuntahkan lahar nikmat langsung reflek merapatkan pahanya. “Ih, abang ngintip-ngintip.”
“Ya udah dibuka atuh, Neng.”
Sambil masih duduk di bangku teras, Okta membuka handuknya, membiarkan tubuh moleknya menjadi santapan Bang Kiki yang terlihat seperti serigala yang siap menerkam mangsanya.
“Ya ampuuun… makin montok aja si neng, mah. Teteknya gak nahan nih, Neng, beda bener sama punya neng Hani sama neng Eva.” kagum Bang Kiki sambil mulai memilin-milin puting susu Okta.
“Shhhh… aahhhh… abangghh bisa ajaahhh… belom pernah liat teteknya Arina kaannhhh… aaahhh…” desah Okta pelan karena sadar mereka berada di teras, yang walau tertutup dan jalanan memang sepi, suaranya masih bisa terdengar kalau ada orang lewat.
“Belom, Neng, belom kesampean nyusu di teteknya mbak Arina.” jawab Bang Kiki sambil terus memainkan puting besar Okta.
Setelah kedua putingnya mengeras, barulah Bang Kiki mulai menyodorkan bibirnya ke pentil tetek Okta. “Aaahhh… sshhh… aaahhhhh…” desah Okta semakin menjadi saat serangan Bang Kiki berubah menjadi hisapan di bukit kembarnya. “Bang… aaaahhhh… terussshhiiinnn… aaaahhhhh…”
Badan Okta langsung bergelinjang saat Bang Kiki menghisap kuat-kuat putingnya dan tiba-tiba Bang Kiki menusuk vagina Okta dengan 2 jari sekaligus. “Aaaaaaaaa…” pekik Okta saat mendapat serangan kedua di area kelaminnya.
Bang Kiki terus menusuk-nusuk vagina Okta yang sudah basah dengan 2 jari, menyebabkan tubuh molek itu berguncang kesana kemari. Pergerakan badan Okta pun menyebabkan putingnya yang sedang digigit Bang Kiki tertarik sendiri sehingga menimbulkan sensasi geli dan sakit yang bercampur nikmat.
“Enak gak, Neng? Abang terusin ya sampe neng keluar,”
“Enakkkhhh bangghhh… aaaahhhh…”
Slup, slup, slup, slup, bunyi kedua jari tangan kanan Bang Kiki yang menusuk-nusuk vagina basah Okta. Berganti ke payudara sebelahnya, Bang Kiki menyiapkan serangan baru saat puting payudara Okta yang sebelah kanan mulai dicocor bibir birahi Bang Kiki sambil keempat jari tangan kanannya bersiap menghajar memek Okta.
“AAAAAAA…” teriak Okta saat keempat jari itu mulai menusuk vaginanya bertubi-tubi. Vagina Okta benar-benar dihajar sampai mengeluarkan cairan lebih banyak lagi. “Enakkk… aaahh… terussshhhhhh bangggghh…”
Sambil mengigit kecil puting Okta yang sebelah kanan, Bang Kiki mengorek-ngorek vagina Okta dengan kedua tangan. Tangan yang satu melebarkan kelamin Okta, yang satu lagi masuk ke dalam vaginanya, bermain di sana sambil sesekali menyentil biji klitorisnya yang belum lama tergigit Edwin sehingga masih ada sedikit rasa perih di sana.
“Aaahhh… yeess bang… aaahhhhhh…”
Merasa sudah menguasai Okta, Bang Kiki pun langsung meminta permintaan terlarang. “Neng, abang entot aja ya biar cepet neng keluarnya? Dari tadi gak keluar keluar sih si neng.” bisik Bang Kiki sambil terus menyerang vagina Okta.
“Shhhh… aaahhhhh… iiiyaaahhh bang… terserahhh abanggg ajahhhh…”
Mendapat lampu hijau, Bang Kiki langsung mengeluarkan penisnya dari balik celana pendeknya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya tetap bermain di dalam vagina Okta untuk memastikan tegangan birahi gadis itu tidak turun. Penis berukuran 18 cm mengacung tegak siap menghunus ke dalam memek Okta yang sudah cukup pemanasan dari tadi.
“Hmmpphhhh… hhmppphhh…” Okta kaget saat bibirnya tiba-tiba dicium Bang Kiki. Lidahnya perlahan tapi pasti coba menyapu mulut Okta bagian dalam. Terbawa birahi, Okta pun membalas sapuan lidah Bang Kiki tanpa sadar ada benda tumpul yang sedang mendekati alat kelaminnya.
SLEPP…!!! Dalam sekali hentak, penis Bang Kiki menerobos masuk ke vagina Okta dengan mudah.
“Akkhhh…!!” pekik Okta tertahan saat tiba-tiba dirasakannya vaginanya penuh oleh penis Bang Kiki.
“Akkhhh… bangghhhh…” belum sempat melanjutkan ucapannya, Okta kembali mendesah hebat saat Bang Kiki mulai memompa liang vaginanya.
“Akkkhhh… aaahhhh…” Bang Kiki memompa kelamin Okta dengan tempo pelan, membiarkan vagina mahasiswi itu terbiasa dengan penisnya. Sambil meremas-remas payudara Okta, Bang Kiki terlihat sudah dikuasai nafsu untuk menyetubuhi Okta.
“Tahan ya, Neng, abang cepetin nihh… aaaahhhh…” ucap Bang Kiki sambil mempercepat genjotannya di kelamin Okta.
Okta yang sudah terjebak birahi hanya bisa mendesah nikmat mengikuti irama genjotan Bang Kiki. “ Ssshhh… aaahhh… terusshh banggghhh… enakkkhhh… ooohhhh…”
Plok, plok, plok, plok, begitu bunyi pertemuan kelamin dua insan itu seiring semakin cepatnya Bang Kiki menggenjot tubuh Okta. Sudah 30 menit sejak persetubuhan itu dimulai, belum ada satu pun yang terlihat akan keluar.
“Ahhhh… ahhhhh… ahhhhh… ahhhh…” tubuh Okta berguncang hebat karena genjotan Bang Kiki di vaginanya. Dadanya berguncang hebat seiring gerakan tubuhnya.
“Ahhhh baaanngggghhhh… akhuuu mauuu kheluarrr… sshhhhh…”
“Ahhh… iya Neng… bareng atuhhhhh…”
Crooott crooott crooott… Sperma Bang Kiki muncrat memenuhi liang senggama Okta yang juga kembali mengeluarkan cairan kenikmatannya.
“Ahhhhhh…” rintih Bang Kiki seolah berusaha mengeluarkan seluruh spermanya tanpa sisa ke dalam memek Okta.
“Ahhh baaannggg…” Okta tidak kalah bersuara saat merasakan liang vaginanya disiram cairan hangat yang sangat kental.
Selesai orgasme pertama, Bang Kiki dan Okta seolah terdiam dengan kedua kelamin mereka masih menyatu. Rasanya mereka masih berusaha menikmati gelombang orgasme yang baru saja terjadi.
“Duuhhh… ini si abang nagihnya gak liat-liat tempat ya!!” tiba-tiba terdengar sebuah suara menegur pasangan yang baru saja dilanda orgasme itu.
Arina

Ternyata itu Arina, penghuni kontrakan yang lain. Arina adalah penghuni kontrakan yang paling tua di antara yang lain. Ia bekerja di salah satu bank swasta. Perawakannya yang berkerudung dan alim membuat siapa pun segan kepadanya. Namun, siapa yang menyangka bahwa pemilik buah dada berukuran 34B itu bukan orang baru dengan aktivitas seperti yang baru saja dilakukan Bang Kiki dan Okta.

“Eh, mbak Arina. Hehehe. Biasa mbak…” jawab Bang Kiki tanpa canggung walau Arina jelas-jelas bisa melihat penisnya masih tertancap di vagina Okta yang masih berusaha mengatur nafas.
Okta sendiri tidak menyadari kedatangan Arina. Ia masih bersandar sambil memejamkan mata, berusaha mengatur nafas dan menikmati gelombang orgasme yang baru saja terjadi.
“Mbak mau?” lanjut Bang Kiki tanpa sungkan. Memang, di antara semua penghuni kos, hanya mbak Arina lah yang belum pernah dicicipi tubuhnya, bahkan untuk sekadar melihat dadanya saja Bang Kiki belum pernah.
“Yeeee… enak ajaaa. Aku kan selalu bayar full, Bang.” ujar Arina sambil sesekali melirik ke arah penis Bang Kiki yang tertancap di memek Okta.
“Ya sudah lanjutkan sana, Bang. Aku masuk dulu ya,” ujar Arina sambil masuk ke dalam, meninggalkan Okta yang tubuhnya masih tertindih Bang Kiki.
“Oke, mbak.”
Mata Okta perlahan mulai terbuka, ia mulai menyadari apa yang baru saja terjadi. Saat pandangannya mulai jelas, dilihatnya Bang Kiki yang sedang asik menjilati putting susunya, sambil tetap membiarkan penisnya tertancap.
“Ehh, Bang Kiki! Apaan nih!?” pekiknya kaget sambil mendorong tubuh Bang Kiki.
Plop!!! Begitu bunyi saat penis Bang Kiki terlepas dari memek Okta. Okta yang tersadar pun langsung mengambil handuknya dan memakainya.
“Lebih banget nih aku bayarnyaa…” tegas Okta.
“Hehehe. Neng Okta seneng juga kok waktu itu.” senyum mesum Bang Kiki mengembang sambil terus mengocok-ngocok penisnya yang perlahan bangkit kembali.
“Ihhh… mana keluar di dalem lagi. Untung aku lagi gak subur tau, gak?” ujar Okta setengah kesal saat meraba vaginanya penuh dengan lelehan peju Bang Kiki. “Udah ya, Bang. Udah lebih tuh bayarnyaaa.”
“Iya, neng. Hehehe. Makasih yak bonusnya. Puas banget dah abang sama badan montok neng. Hehehe.” ujar Bang Kiki sambil memasukkan penisnya kembali ke dalam celana.
“Ihhh dasar. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan nih si abang.” gerutu Okta sambil melihat Bang Kiki pergi meninggalkan kontrakannya. Tidak lupa seutas senyum mesum ditebar pengantar barang itu sebelum pandangannya dari Okta yang hanya berlilitkan handuk menghilang.
”Niatnya perjakain anak orang, malah diperawanin Bang Kiki.” keluh Okta dalam hati mengingat seharusnya penis pertama yang menghujam vaginanya hari ini adalah penis perjaka milik Edwin, tapi malah penis Bang Kiki yang pertama menerobos liang senggamanya hari ini.
Sambil melangkah ke dalam kontrakan, Okta melihat Arina sedang makan di meja makan. “Eh, mbak Arina. Kapan pulang, mbak?” tanya Okta bingung melihat tiba-tiba Arina sudah di dalam.
“Baru aja, tadi kamu nggak liat mbak masuk. Kamu kan lagi digenjot sama Bang Kiki tadi.” jawab Arina,
“Duhhh,,, jadi malu. Mbak lihat ya?” tanya Okta. Mukanya memerah karena malu. Meski sudah biasa dengan aktivitas tersebut, tapi Okta masih merasa segan kalau melihat penampilan Arina yang masih rapi seperti sekarang.
“Pake malu segala, kayak sama siapa aja sih. Keliatan banget lah. Wong kamu main di teras, untung gak ada orang lain liat.”
“Habisnya Bang Kiki sih. Orang tadinya cuma ngasih ngisep-ngisep tetekku aja jadi kelewatan.”
“Ya iyalahhh. Siapa juga gak tahan kalo cuma dikasih isep tetekmu itu tapi kamunya telanjang. Selain mbak, di kontrakan ini yang teteknya besar ya kamu, jelas Bang Kiki nafsu banget, dari kemarin dapetnya kecil-kecil.” jelas Arina sambil menyinggung Eva dan Hani yang payudaranya tidak seberapa besar.
“Hehehe. Iya sih, aku juga yang salah.”
“Yowes, tuh udah ditunggu sama cowokmu di kamar. Tumben kamu suka yang kecil, Ta? Biasanya kan cowok-cowokmu dulu gede-gede penisnya. Sampe melar ini punya mbak kalo gak minum jamu.” tanya Arina sambil menggosok-gosok selangkangannya, menyinggung tentang masa-masa saat Arina suka ‘meminjam’ pacar-pacar Okta, Hani, atau Eva untuk memenuhi kebutuhan biologisnya mengingat Arina belum pernah pacaran lagi sejak lulus kuliah.
“Oh iya! Oke deh. Aku tinggal dulu ya mbak. Itu bukan cowokku kok.” ujar Okta sambil berlalu. Mahasiswi itu segera masuk ke kamarnya yang lupa ia tutup lagi. Di meja makan, Arina hampir tersedak saat mendengar kalimat terakhir Okta.
“Loh!” pekik Okta kaget saat melihat Edwin sedang tertidur di ranjangnya… dengan penis mengkerut.

Author : Rieska

MIA 1

Aku menggeliat kedinginan. Suhu AC di kamar ini dingin sekali. Aku menengok ke kiri dan kekanan untuk mencari remote control mesin pendingin itu. Ketika Sedang mencari-cari, pandanganku tertumbuk pada tubuh polos telanjang seorang pria yang masih terbaring tidur. “Lelap sekali dia…”, pikirku. Di sebelahnya ada anak perempuan kecil, dia Fanny, anakku. Aku melihat jam yang ada di meja disamping tempat tidur, “Jam 6…”, gumamku.
Aku malas sekali untuk pulang. Aku masih ingin disini, di rumah Alex. O.. Iya… Alex itu adalah nama pria yang masih tidur di sampingku. Dia bukan suamiku, aku baru mengenalnya kemarin siang. Tapi kami sudah saling melakukan penjelajahan pada tubuh kami berdua selama semalaman ini.
Aaahhh…. Dingin sekali kamarnya Alex. Saking dinginnya, putting susu di payudaraku mendadak mengeras. Sambil senyam-senyum sendiri, niat isengku timbul, aku membalikkan tubuh Alex yang sangat atletis itu. Seketika itu juga, aku disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Sebuah benda yang sangat panjang dan besar, yang selama beberapa jam tadi telah membuatku lupa akan keberadaan suamiku, telah kembali bangkit berdiri tanpa disadari pemiliknya. Dan seolah-olah menyuruhku untuk menjilati dan mengulumnya. Tapi aku belum sepenuhnya tergoda.
Sambil menggenggam batang keras itu, akupun mengelus-elus liang vagina ku sendiri, dan entah kenapa, pikiranku menerawang ke saat aku dan pemilik penis besar ini bertemu….

***

Pukul 11 siang. Aku dan Fanny sedang berbelanja bulanan di sebuah supermarket. Sambil mendorong trolly, aku berjalan dari lorong ke lorong, berusaha mencari barang-barang yang ada di daftar belanjaan ku. Sampai suatu ketika, aku membelokkan trollyku ke lorong minuman. Tapi karena aku tidak melihat sisi sebelah kiri lorong –karena terhalang oleh sebuah rak display- trollyku menabrak trolly lain yang ada di sisi luar display tadi. Kontan saja aku meminta maaf. Pria yang trollynya aku tabrak tadi tersenyum, “Nggak apa-apa kok…”, katanya.
“Bener gak apa-apa?”, Tanya ku memastikan.
“Iya, “ jawabnya. “Makanya non, jangan sambil melamun. Mikirin apa sih?” tanyanya lagi sambil tersenyum.
“Aku nggak mikirin apa-apa kok….” Jawabku agak sedikit genit (Aku sendiri heran, kenapa bisa bergenit-genit gitu)
Lalu, tanpa terduga, pria tadi mengajukan tangannya dan mengajak berkenalan.
“Mmh… boleh tahu namanya gak non?”
Terus terang, aku kaget. Tapi entah kenapa, aku juga mengajukan tangan dan berkenalan dengan pria tinggi, putih dan ganteng yang berdiri di depanku ini.
“Kenapa nggak kamu duluan?” tantangku.
Sambil tersenyum maaanniiisss sekali, dia menyebutkan namanya….
“Alex… kamu?”
“Mmmhh…. Mia! Dan ini anakku… Fanny…”
“Oo.. anakmu tho non….” Sahutnya.
“Iya…” jawabku, “emang kenapa?”
“Nggak papa… Eh iya… boleh tahu no hp mu nggak?” tanyanya lagi.
Dan sekali lagi, entah kenapa… aku dengan entengnya memberikan no hp ku. Padahal biasanya, aku gak pernah kaya gini. Setelah mencatat no ku ke dalam hp nya, Alex me-misscall-ku. “Itu no ku…” katanya. Tak lama setelah itu, kami pun berpisah dengan berjanji akan saling telfon, paling tidak, sms-an.

Pukul 11.30 siang.
Aku baru saja sampai dirumah. Aku menyuruh pembantuku membereskan belanjaan, sementara aku masuk kekamar untuk berganti pakaian. Pas… ketika kain peradaban terakhir yang melingkar menutupi daerah sensitifku meluncur turun melalui kedua paha dan betis indahku, Hp ku berbunyi… aku lihat nama si penelfon. Ternyata Alex!!!
“Hallo…” kataku.
“Hallo non… lagi ngapain?” jawab Alex.
“Mmh… lagi ganti baju. Ngapain telfon?”
“Lho… kok sinis sih? Aku Cuma mau ngobrol kok…”
“Iya… iya…. Nggak sinis kok..!!” kataku mengoreksi, “maksudku, kok telfonnya cepet banget… kirain besok-besok…”
“Mmh… tapi nggak papa kan?” Tanyanya…
Kami ngobrol-ngobrol hampir 1 ½ jam sebelum aku (dengan herannya pada diriku ini) Memberikan no telfon rumahku. Ternyata, Alex lagi sendirian dirumah. Istrinya lagi ke Semarang dengan anaknya. Tanpa diduga, Alex mengajakku untuk ketemuan. Setelah aku pikir-pikir, toh cuma ketemuan ini…. Ya sudah, akhirnya aku mengiyakan ajakannya. Janjiannya di PIM, didepan bioskop 21, jam 7 nanti malam.

Pas jam ½ 6, aku mengajak Fanny untuk mandi bareng (Alex membolehkanku untuk mengajak Fanny). Didalam kamar mandi, Fanny bertanya kepadaku…
“Mami kenapa? Kok senyum-senyum?” tanyanya lugu.
“Gak papa”, kataku, “mami mau ketemu sama Om Alex… tapi Fanny jangan bilang-bilang sama papi ya…. Nanti kalo Fanny nurut, mami beliin baju baru….”
“Asiiikkk…” sahut Fanny, “tapi…” katanya lagi, “kok ketemu Om Alex, mami seneng bener?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan Fanny, “Iya lah… Om Alex lebih ganteng dari papi, terus badannya bagus banget. Mami rasa, kontolnya Om Alex besar banget deh Fan….”
“Kontol apaan sih Mam?” Tanya Fanny lugu.
“Kontol itu buat dimasukkin kesininya mami!” jelasku sambil memperlihatkan belahan indah dibagian selangkanganku ini.
“Fanny juga punya….” Sahut Fanny seraya memperlihatkan memek kanak-kanaknya.
“Iya… tapi belum boleh dimasukkin kontol… nanti kalo Fanny sudah SMP atau SMU, Fanny mami bolehin deh masukkin kontol ke itunya Fanny”
“Emangnya kontol itu kaya gimana sih mam?”
Sedikit bingung njelasinnya, aku ngomong gini ke Fanny, “Kalo nanti Mami diajak ngewe sama Om Alex, mami kasih tahu ya…. Tapi inget… jangan bilang-bilang ke papi ya…!”
“Emangnya kenapa?”
“Nanti papi-mu ngiri…. Jangan bilang ke papi ya?”
Fanny mengiyakan saja…

Ketika aku ganti pakaian, suamiku bertanya, “kamu mau kemana?” Aku menjawab, kalau aku mau ke rumah Rieke, temanku, tapi suamiku gak tahu kalo aku sudah menelfon Rieke dan bilang kalo aku ada janji sama cowok… Rieke cuma ketawa kecil tapi ngerti. Lah… si Rieke ini jagonya selingkuh… hihihihihihi…..
Suamiku gak curiga dengan pakaianku. Aku memakai jilbab, baju kurung dan celana panjang ( aku pake g-string putih tipis dan tembus pandang), Sekitar jam ½ 7, aku dan Fanny, dengan menggunakan Taxi, cabut ke PIM.

Pertemuanku dengan Alex sangat menyenangkan. Dia selalu bisa membuatku tertawa dengan banyolan dan joke-jokenya. Bahkan dia membelikan Fanny, baju dan boneka. Kami juga sempat makan, belanja dan saling memuji. Katanya, rambut panjangku yang hitam sangat menarik, ditambah dengan tubuh yang proporsional, membuat dia ingin memeluk, mencium dan mencumbuku. Mau gak mau, aku cerita ke dia, kalo’ tadi pas lagi mandi, aku sempat membayangkan ‘barangnya’. Sambil tertawa, dia ngomong, “Ya ampun non, kamu sempat mikir gitu?”
“Iya!” jawabku singkat sambil tersipu malu.
Lalu ia membungkukkan badannya dan berbisik padaku, “Non, kamu mau nginap dirumahku gak? Nanti aku akan memuaskan rasa penasaranmu. Bahkan kamu boleh ngotak-ngatik barang yang tadi kamu bayangin.” Lalu ia mengecup pipiku dan tersenyum.
Tanpa banyak basa-basi, aku langsung meng-iyakan ajakannya. Di mobil, dalam perjalanan ke rumah Alex, aku menelfon suamiku. Aku bilang kepadanya, kalo’ aku dan Fanny menginap dirumah Rieke. Setelah menutup Hp-ku, aku bilang ke Alex… “Tonight, I’m yours!”
Dan Alex berkata (seolah untuk suamiku) “Sorry man! Tonight, your lovely, sexy, adorable and juicy wife is mine!”, lalu ia tertawa.
Aku ikut tertawa, sambil mengecup bibirnya, aku berkata, “Kamu lupa satu lagi!”
“Apa itu?” tanyanya…
“My pussy… my hairless, tight and warm pussy is yours too, tonight!”
“Yeah… baby! And my red neck dick is yours!” katanya…
Aku menjawab dengan gairah dan nafsu yang menggebu, “You’re right, baby! Can I try it now?”
Tanpa banyak basa-basi, Alex segera melepas celananya sebagian dan mengeluarkan benda yang dari tadi mengganggu pikiranku. Belum bangun sih… tapi itu saja sudah membuatku sesak nafas, karena besar sekali.
Sisa perjalanan ke rumah Alex diisi oleh suara-suara kecipak dan hisapan, tanpa ada suara lain. Aku sibuk dengan ‘barang baru’, Alex nyetir sambil keenakkan (terkadang, dia mengelus rambutku dan meremas toketku). Sementara Fanny, anakku, duduk di jok belakang dan diam saja menyaksikan aksi maminya ini.

Sesampainya dirumah, Alex langsung mengunci pintu dan jendela. Lalu ia menelfon istrinya dan berpura-pura ber ‘miss u-miss u’an, sementara tangan kirinya menggenggam batangannya sendiri, berusaha untuk menjaga agar tetap tegang.
Setelah selesai nelfon, Alex langsung membuka jilbab dan pakaianku meninggalkan Bh dan g-string. Sisa pakaianku tergeletak pasrah di pintu depan. Alex memelukku dari belakang. Tangan kanannya merogoh cd-ku dan memainkan jarinya di kelentitku, sementara tangan kirinya saling bergantian meremas kedua payudaraku. Aku yang melingkarkan tanganku di belakang lehernya, memasrahkan bibir dan lidahku untuk dilumat bibir dan lidah Alex.
Lalu kami melanjutkan aksi kami dengan ber-69 ria. Ketika sedang bertukar posisi (sekarang aku tengkurap diatas tubuh Alex yang berbaring terlentang), Fanny mendatangi kami.
“Mami lagi ngapain?” tanyanya.
Sambil terengah-engah (Lidah Alex tidak mau keluar dari liang vaginaku), aku berusaha menjawab, “ssh… lagi ngisep… kontolnya… mmmhh… Om Alex! Uuuh… enak baangget Lex…”
Setelah itu, Alex menghentikan serangannya dan menyuruhku berlutut sambil menghisap zakarnya, sementara ia duduk di sofa dan menyuruh Fanny duduk di sampingnya.
“Fanny lihat mami kan?” Tanya Alex.
“Iya, Om… mami lagi ngapain?”
“Mami lagi ngisep kontolya Om Alex, sayang.” Jelas Alex.
Aku menghentikan seranganku dan menjelaskan ke Fanny, kalau benda panjang, besar dan keras yang sedang aku hisap ini adalah kontol. Fanny mengangguk mengerti, mungkin ia ingat omonganku di kamar mandi tadi sore.
“Fan…” kata Alex, “nanti mami sama Om Alex mau ML. Fanny diam aja ya…”
Fanny mengiyakan saja, walaupun ia tidak tahu apa itu ML.
Lalu aku bangkit berdiri dan duduk di samping Alex sambil memangku Fanny. “Fan, inget pesen mami ya… jangan bilang ke papi. Nanti, kalo Fanny bialang, kasihan mami… gak bisa ML lagi sama Om Alex… ya?”
“Iya mam…” jawab Fanny polos.
“Dan kamu…” kataku ke Alex, “mulai hari ini, memekku punya kamu. Dan gak usah ikut mikir suamiku. Kalo sama dia kan kewajiban… kalo sama kamu namanya hak… hak untuk menikmati kontolmu yang besar ini!”
Alex tertawa, “Kalo’ memekmu punyaku, berarti kontolku boleh kamu acak-acak!”
Setelah menurunkan Fanny, kami berpelukan dan saling mengulum bibir kami.

Kemudian, Alex menyuruhku terlentang dan dia membuka kakiku lebar-lebar. Setelah itu, vaginaku mulai dijajah oleh jari dan lidahya. Aah… nikmat sekali. Tak lama kemudian, aku meraskan ada cairan yang membasahi vaginaku, rupanya cairan pelumasku keluar. Mengetahui hal ini, Alex segera berlutut dan berusaha memasukkan penisnya yang besar itu kedalam vaginaku.
“Ssshh… Alex… eeennaaakkkk…. Baangeeettt…. Mmhhh!!!!”
Aku tahu kalo’ vaginaku ini memang sempit, tapi aku heran, ternyata barang kesayanganku ini sanggup menelan zakar Alex yang panjang dan besar itu. Pergulatan kami dilanjutkan dengan doggy style. Baru saja aku nungging, memek kesayanganku ini langsung disumbat oleh batang besarnya Alex. Alex merangsak maju mundur, walau sesekali dia menancapkan dalam-dalam batangannya lalu diam, seolah menyuruh dinding bagian dalam vaginaku untuk merasakan denyutan-denyutan dari urat dan kelenjar di batang besar itu.
Hujaman-hujaman Alex kian liar tatkala dia tahu aku bocor untuk yang pertama. Aaahhh… nikmat sekali rasanya (suamiku pun belum pernah memberikan yang seperti ini). Gerakan maju mundur Alex kian lancer saja, karena memekku sudah basah banget. Lalu Alex melepas kontolnya dan menyuruhku berbaring miring.
Dengan gerakan cepat, Alex mengangkat kaki kananku dan menancapkan kontolnya dengan mantap di liang surgaku dari belakang. Rupanya ini jurus andalannya. Dan ternyata, gayanya ini membawaku ke orgasme kedua, aahhh…. Lebih nikmat dari yang pertama!! Di tengah hujaman-hujaman itu, Alex berkata;
“Non… mmmhh… aku mau keluar yaaa….?!”
Baru saja aku mau bilang ‘didalam aja ngeluarinnya!’, Alex sudah mengerang hebat. Pada saat yang sama, bagian dalam vaginaku disiram dengan kencang sekali oleh cairan yang hangat, lengket, kental… dan sepertinya banyak sekali.
Pokoknya enak banget! Kemudian Alex melepas kontolnya dan menyuruhku terlentang. Lalu dia menempelkan kepala kontolnya di mulutku lalu mengocoknya. Ternyata masih ada cairan yang keluar dari bapak beranak satu ini. Peju lengket dan hangat itu muncrat di mulut dan lidahku. Sebagian memang ada yang ku kumur-kumurkan dulu sebelum kutelan, tapi sebagian lagi (dan itu yang paling banyak) langsung aku nikmati dari batang tempat keluarnya tadi. Setelah selesai, Alex langsung bersandar di sofa, sementara aku masih terbaring terlentang, merasakan kenikmatan luar biasa. Sementara Fanny berlutut dan membungkukkan badannya didepan vaginaku. Kakiku memang aku buka selebar-lebarnya, walau aku menaikkan kedua lututku. Kata Fanny, “Mami, kok pipisnya putih?” Sambil berusaha mencerna pertanyaan Fanny, aku merasakan ada sisa cairan sperma Alex yang mengalir keluar dari vaginaku.

10 menit kemudian, aku dan Alex ke kamar mandi untuk membersihkan ‘kotoran’ yang ada di tubuh kami. Setelah itu, kami bertiga ke kamr tidur Alex. Aku dan Alex saling mencumbu lagi, sementara Fanny masih menyaksikan kami. Tiba-tiba Hp ku berbunyi, kulihat siapa yang menelfon… ternyata suamiku!
“Sayang…” kataku ke Alex, “ini suamiku. Kamu diam dulu ya… main sama Fanny dulu kek!” Lalu aku berkata ke Fanny, “Fan, kamu jangan berisik dulu yaa… main sama Om Alex dulu giih?!”
Fanny dan Alex menjawab berbarengan, “Iya mami…”
Lalu aku mengangkat telfon. Suamiku bertanya dimana aku sekarang. Aku bilang saja, ada di rumah Rieke. Sekarang, Rieke lagi keluar sama anaknya dan Fanny… lagi cari makan. Sementara aku menelfon, aku melihat Fanny sedang memegang-megang penis Alex. Aku terus berbicara di telfon sambil berusaha menahan senyum melihat Fanny dan Alex. Tak lama kemudian, aku menyudahi pembicaraan telfon dengan suamiku.
Setelah aku kembali ke tempat tidur, Alex ngomong ke aku, “Non, sekarang Fanny sudah tahu darimana dia berasal…”
“Kamu ngomong apa ke Fanny?” tanyaku. Lalu Alex menjelaskan pembicaraannya dengan Fanny. Aku hanya senyam-senyum aja dengerinnya. Sambil terus mendengarkan, aku dengan posisi berbaring miring menghadap Alex, kembali menggenggam batangan Alex dan mengocoknya. Sementara Alex yang berbaring terlentang, terus bercerita sambil terkadang meremas payudaraku yang besar dan memilin-milin putting susuku. Akibatnya, kami saling mencumbu lagi dan langsung memulai babak ke 2 pertandingan seru antara memekku dan kontol Alex.
Pergulatan itu berlangsung dalam berbagai gaya dan cara. Aku sampai 2 kali lagi mengalami orgasme. Untuk babak ini, Alex sengaja menyemprotkan spermanya di tubuh Fanny. Anakku kaget sekali disiram cairan kenikmatan Alex yang hangat, lengket dan banyak itu, tapi aku langsung menenangkannya. Seteha tenang, aku langsung membersihkan sperma itu dengan cara menjilati dan menelannya semua… sampai bersih. Aku dan Alex benar-benar gila sekali malam itu.

“We’re not makin’ love… we’re fuck!” kata Alex. Aku mengiyakan saja, sambil terus menjilati dan menciumi kepala zakar Alex. Sampai ½ 5 pagi, Alex sudah 4 kali mengeluarkan peju, sementara orgasmeku sudah tak terhitung lagi. Sekitar jam 5, kami tidur.

***

Tiba-tiba, aku tersadar dari lamunanku. Setelah mencium kontol Alex. Aku kamar mandi untuk sikat gigi dan mandi, lalu ke dapur untuk membuat sarapan (aku masih bugil). Ketika sedang membuat kopi, tubuhku dipeluk dari belakang, aku kaget sekali. Setelah melihat siapa dia, ternyata Alex.
“Pagi sayang!” kataku.
“Pagi juga Mia cantik…” jawab Alex sambil mengecup bibirku. “Kok kamu sudah bangun? Kenapa?”
“Aku kedinginan. Ya sudah, aku mandi aja pakai air hangat!” jawabku sambil memeluk tubuhnya yang tegap. “Kamu belum mandi! Kamu gak ke kantor?”
Alex menjawab sambil melepas pelukanku dan menyandarkan tubuhnya ke lemari kecil di sampingnya. “Kalo aku ke kantor, kamu kemana?”
“Ya… disini aja… nungguin kamu pulang!” jawabku.
“Tapi aku males masuk. Aku pingin ML lagi sama kamu… seharian ini!”
Aku kembali memeluk tubuh Alex yang telanjang itu, dan membiarkan penisnya menempel di perutku. “Aku juga mau! Tapi gimana kalo dirumahku aja?”
“Boleh…! Aku setuju!” sahut Alex sambil tersenyum. Senang sekali dia.

Singkat cerita, aku dan Fanny pulang jam 9 pagi, Alex ikut kerumahku. Dalam perjalanan pulang itu, aku mengenakan baju yang aku pakai waktu pergi (jilbab, baju kurung dan celana panjang). Sementara didalamnya, aku tidak memakai apa-apa… no bra… no kancut! Di lain pihak, Alex hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Sesampainya di rumah, suamiku sudah berangkat, hanya pembantuku saja. Kepadanya, aku bilang kalau Alex ini adalah rekan baruku dalam bisnis yang baru kurintis (bohong siiihh…  ) Jadi, aku aku dan Alex akan berdiskusi dikamarku. Dan aku berpesan, supaya jangan ada yang masuk ke kamarku. Kalau ada yang telfon, bilang aja gak ada ; Tapi kalau suamiku yang telfon, bilang aja aku sudah pulang dari pagi, tapi pergi lagi sama Rieke.

Didalam kamar, Alex langsung melepas jilbab dan bajuku dan aku melepaskan bauju Alex. kembali bugil! Setelah mengunci pintu, penis Alex langsung aku sepong lagi. Kali ini, Alex sudah dapat mengontrol dirinya. Hisapan-hisapanku ditanggapinya dengan tenang dan tidak grasak-grusuk. Sekitar 5 menit kemudian, aku minta Alex gantian menjilati memekku. Alex langsung memainkan peranannya, jilatan lidahnya pada kelentitku sangat hebat sekali dampaknya… cairan pelumasku keluar, basah sekali memek tersayangku ini. Mengetahui hal ini, Alex segera membalikkan tubuhku, sehingga aku dalam posisi menungging. Segera saja Alex memasukkan akar tunjangnya ke tempat yang seharusnya. Sambil bekerja keluar-masuk, penis Alex terkadang diputar-putarkan didalam memekku.
Batang besar itu lancar sekali bekerja, karena vaginaku sudah basah sekali. Setelah itu, Alex melepas zakarnya dan berbaring terlentang.
Melihat hal ini, aku faham. Aku duduki pahanya, dan kujepit kontolnya dengan memekku. Aksiku yang satu ini ditanggapi Alex dengan meremas-remas toket besarku. Ketika sedang nikmat-nikmatnya menggenjot batangan Alex, aku merasakan akan orgasme… “Lex, aku mau dapet… enaaakkk banngeeetttt!!” erangku sambil bergetar hebat. Ternyata, Alex juga mau keluar. Tanpa dikomando lagi, aku dan Alex orgasme berbarengan. Cairan orgasmeku membasahi kontol Alex yang pada saat bersamaan, menyemprotkan spermanya, yang kutahu banyak sekali. Dan sepertinya, vaginaku gak sanggup menampung semua sperma Alex, sehingga sebagian ada yang mengalir keluar. Setelah itu, (tanpa mengeluarkan kontol Alex) kami saling berpelukan dan berciuman, menikmati orgasme kami masing-masing.

Ketika sedang berciuman. Hp ku berbunyi, kulihat nama penelfonnya. Ternyata Rieke! Aku angkat telfon…
“Eh Ke… ngapain telfon?” tanyaku.
Di seberang sana, Rieke menjawab. Suaranya terdengar agak panik, “Ngapain… ngapain… Gila lo! Laki lo nyariin, nelfonin gue terus. Dimana lo?”
“Di rumah. Lo dimana?” tanyaku tenang.
“Di rumah? Sinting lo ya…” Rieke menghela nafas lega, “tadi malam nginep dimana neng? Gw sampe bohong sama laki lo.”
“Ada aja…” jawabku genit. Sementara Alex sedang memelukku dari belakang (kami masih di tempat tidur) sambil meremas-remas toket dan menciumi leherku. “Eh… elo dimana?” tanyaku lagi.
“Gw lagi di taksi. Mau jalan-jalan sama Meta”
“Ke sini aja neng!” kataku lagi sambil melirik Alex yang tampak kaget. Lalu aku menyuruh Alex tenang.
“Ke rumah lo? Ngapain? Sepi, gak ada apa-apa!” kata Rieke, “gue mau nyari ‘lontong’ di mall!”
“Hahahahaha….. dasar lo! Gak jauh-jauh dari kontol. Gak pernah puas apa? Tiap hari ngewe…”
“Lo tau gue kan neng… Gue belum nemu ‘lontong’ yang pas buat serabi botak gue.” Tiba-tiba Rieke tertawa, seolah menyadari sesuatu, “Eh… dari tadi gue ngomong ‘lontong’ terus ya… hihihi… supr taxi ngeliatin gue sambil senyam-senyum. Dia ngerti, barangnya gue sebut dari tadi!”
Aku tersenyum, “Ya udah… makanya kesini aja… disini ada kontol satu, tapi gede banget! Mau nyoba gak?”
“Ha? Waaahhh…. Gue ngerti kemana lo semalem. Di perkosa sama tu laki-laki dirumahnya ya? Gila lo…. Ya udah gue ke rumah lo!”
Hubungan terputus………

“Ku berangkat dulu ya sayang…” kata suamiku sambil mengecup keningku. Aku masih terbaring di tempat tidur, baru bangun. “Iya… hati-hati ya!” jawabku, “pulang jam berapa nanti?”
“Gak tahu. Tapi kayaknya gak pulang deh.”
Aku sedikit tersentak mendengar jawaban suamiku, setengah senang-setengah bingung. “Kok tumben? Kenapa?” tanyaku.
“Mia…” jawab suamiku, “hari ini, aku harus ngawasin proyek yang di Sukabumi. Soalnya sudah mau deadline, dan harus segera dibuat laporannya. Jangan marah ya…”
Aku menjawab sambil pura-pura kesal, padahal aku seneng banget. “Ya sudah lah, terserah! Tapi jangan lupa makan… biar gak sakit!”
“Iya… iya… ya sudah, aku berangkat dulu. Luv U!”
“Luv U too!”
Lalu suamiku berangkat.

Setelah suamiku pergi, aku ngulet sebentar. Aku melihat jam… Mmh… jam 6. Aku bangun dari tempat tidur. Aku masih telanjang bulat, sisa pertarungan gak seru semalam. Aku melihat di cermin lemariku, melihat vaginaku yang agak tebal dan sedikit merekah… ulah Alex! Selama sebulan ini, aku digenjot terus-terusan. Ya main berdua lah. Bonyok memek gue bisa-bisa, pikirku. Walaupun begini, suamiku sepertinya gak sadar, tapi kayaknya, dia memang gak ngerti. Tapi gak apa-apa… mereka semua punya zakar yang besar, jadinya aku juga ikut puas… lagipula, akunya juga suka kok!
Sepanjang pagi itu, aku hanya memakai daster dirumah. Aku tidak memakai jilbab. Pembantuku sedang pulang kampung dan Fanny lagi di rumah ibuku. Bener-bener sendiri. Setelah mandi, aku sarapan terus nonton TV sampai jam ½ 9. Sekitar jam 9 kurang seperempat, Alex telfon. Dia bilang, dia harus ke Surabaya selama 2 minggu, tugas kantor katanya. HUH… BT! Gak ada orang di rumah, gak ada Alex… emangnya memekku mau nganggur selama 2 minggu? Ya sudah… aku terusin aja nonton Tv.

Sekitar jam 10an, ada yang memencet bel rumah. Siapa sih pagi-pagi begini? Pikirku malas-malasan, dan aku memang malas kalau harus berapih-rapih. Ya sudah… aku tutupi saja tubuhku dengan jilbab dan daster tanpa mekai bra dan celana dalam. Daster bercorak bunga-bunga dengan warna dasar biru! Dasterku itu agak panjang, juga gak lebar. Jadi, setelah aku pakai, tubuhku tertutup  sampai dibawah lutut. Tetap saja  payudaraku yang besar ini, kelihatan banget walaupun sudah tertutup jilbab. Sementara di dalam tidak memakai apa-apa,. Lagipula, mungkin itu tamu yang gak penting. Lalu aku berjalan ke depan untuk membukakan pintu.
Ternyata, tamunya adalah teman kantor suamiku, namanya Andre. Kami sudah saling kenal.
“Eh ‘Ndre… ada apa? Kok gak ke kantor?” tanyaku setelah mempersilahkan dia duduk. Andre tampak kaget sekali melihat dandananku. Tapi bodo amat, paling Cuma sebentar.
“Eh… mmhh… anu…” katanya sedikit gugup. “Aku mau ngambil gambar blue print proyek nya Tino (suamiku-pen). Tadi katanya ketinggalan”
“Tinonya mana?” tanyaku lagi.
“Dia buru-buru ke Sukabumi, ke proyek. Maka itu dia nyuruh aku…” jawab Andre sudah lebih tenang.
“Ooo… ya sudah. Kamu cari sendiri aja di kamar! Aku nggak tahu… ngomong-ngomong, mau minum apa say?”
“Mmh… es teh manis aja deh…” katanya sambil tersenyum. (Anjrit… manis juga senyumnya, pikirku). Lalu dia pergi ke kamarku. Tapi kayaknya dia sempet melihat celana dalamku deh… soalnya, yang bangun duluan kan aku, pas bangun, aku agak sedikit mengangkang. Aah… bodo amat!

Pas lagi bikin teh didapur, aku mikir… Andre… Mmh… dia sudah married, dia temen suamiku, tapi dia ganteng banget. Tinggi, putih… jujur saja, waktu aku lihat dia berenang di laut waktu ada acara outing kantor suamiku dulu, dia tuh keren banget. Pas ngeliat dia pakai celana renangnya… Uuh… aku dan 4 ibu muda lainnya yang lagi ngumpul di teras bungalow, langsung pada ber-fantasi ria. Menurut kami, dan itu disetujui oleh semua, enak kali ya, kalau di ‘hajar’ pake barang segede gitu?! Hihihi…. Nakal ya kami…. Tanpa di duga, tiba-tiba selangkanganku basah. Anjing! Gue horny, pikirku.
”Hei… kok bengong?” kata Andre mengagetkan aku dari belakang.
“Eh… eee… mmhhh…. Gak apa-apa kok” sahutku sedikit panik dan gugup. “Sudah ketemu anunya?”
Andre tersenyum, “Anunya apa?”
“Ee… blue printnya maksudku…”
“Oo… sudah… nih!” Kata Andre lagi sambil menunjukkan 3 gulung kertas blue print yang tadi dicarinya. “Mi, mana teh ku?”
“Ini…” kataku sembari memberikan gelas tehnya. “Liat-liat apa di kamarku? Soalnya aku belum beres-beresin kamar!”
“Nggak liat apa-apa… Cuma jilbab, lingerie yang sexy banget, bra, kondom, g-string hitam yang tipis, 3 vcd blue, sama fotomu” jawab Andre sambil tersenyum.
“Aah… kamu tuh, iseng banget sih?” kataku sambil memukul pelan pundaknya (dan berharap dia agak-agak terangsang melihat aku. Horny berat niiihhh!!!)
“Lagian berantakan gitu!” katanya lagi, “Mi, kamu tuh sexy banget ya…”
“Mmh… genit deh. Kenapa? Karena dandananku sekarang?”
“Enggak… mmhh…. Iya juga sih!”
“Lagian,… males ganti baju. Kirain gak ada siapa-siapa yang dateng.”
“Ya… tapi kan….”
“Aah… udah ah…” potongku genit, “gak usah di omongin!”
“Ya sudah… tapi aku penasaran deh… itu kamu gak pake…”
Aku memotong lagi, “Enggak… gak pakai apa-apa!”
“Bohong…..”
“Nih lihat!” kataku sambil mengangkat jilbab yang menutupi dasterku. Sekarang terlihat pentil buah dadaku. Aku tersenyum.
“Bangsat…” kata Andre, “Sumpah! Bagus banget bodymu Mi!” Tiba-tiba, Andre membungkuk dan melepaskan jilbab dan dasterku.
“Ngeliat apa kamu say?”
“Ini lho…” kata Andre, “memekmu basah gini… kamu lagi horny ya Mi?” tanya Andre sambil tersenyum.
“Kalo iya, kenapa?” tantangku.
Tanpa banyak cingcong, Andre segera memeluk dan menciumku. Dia melumat bibirku dengan liar, ya sudah, aku membalas lebih liar lagi. Lalu Andre melingkarkan tangannya ke belakang tubuhku dan meremas kedua belahan pantatku. Demikian juga aku, ku tarik kepalanya dan ku hisap dalam-dalam lidahnya. Andre memanas… Dia membuka baju dan celananya, tapi ketika hendak membuka CD-nya, dia kutahan.
“Ini bagianku!” kataku. Akupun langsung melepas celana dalam Andre, pelan… pelan… pelan… sampai aku berlutut di depannya, sementara mulutku face to face dengan batang kontolnya yang baru setengah bangun. Setelah melihat Andre dan saling tersenyum, zakarnya langsung aku masukkan ke mulutku dan ku kulum, perlahan tapi pasti. Butuh sekitar 3 menitan untuk membuatnya benar-benar menjadi KONTOL. Setelah mengeras, aku lepas kulumanku, dan ku genggam erat-erat dan mengocoknya perlahan-lahan, sambil sesekali menjilati bagian kepalanya.

Tak lama setelah itu, Andre menyuruhku berdiri dan membopongku ke kamar tidur. Sesampainya di kamar, Andre membaringkan aku terlentang. Dan dia pun ‘balas budi’. Vaginaku di ciumi, di jilati, dan kelentitku di gosok-gosok menggunakan jarinya. Cairan pelumasku keluar lagi. Vaginaku sudah basah kuyup. Tanpa banyak basa-basi, Andre membuka pahaku lebar-lebar dan memasukkan benda keras dan panjang itu ke dalam lubang kesayanganku. Sumpah! Rasanya enak banget. Setelah itu, batangannya mulai merangsak maju mundur (kadang berputar) di dalam memekku.

Sekitar 10 menit kemudian, Andre menyruhku menungging. Dia ingin doggy style rupanya. Lalu dia berlutut dan menghajar memekku dari belakang. Tusukan-tusukannya sangat cepat tapi berirama, dan membawa dampak kurang baik bagiku, karena orgasmeku cepat sekali mau datang. Sesekali Andre menghentikan serangannya, membiarkan dinding vaginaku merasakan denyutan urat kontolnya. Dan itu enak banget! Pada kali keempat dia berhenti, aku orgasme! Merasa batangannya disiram mendadak, teman suamiku ini malah menggenjot aku semakin cepat. Andre memegang kedua sisi pinggangku dengan erat, dan dia menghajar, menusuk dan mengeweku semakin keras dan liar. Goyangan buah dadaku yang seperti lampu gantung kena gempa, menandakan buasnya serangan bapak beranak 2 ini. Keringat kami deras sekali mengucur, sementara desahan, erangan dan teriakan kenikmatan ku sangat keras sekali terdengar.

Tiba-tiba, aku merasakan akan orgasme lagi… “Gila!”, pikirku… “cepet banget!” Tak lama setelah aku orgasme kedua (dan itu enak banget!), Andre mengerang. Aku tahu…. Dia mau orgasme. Benar saja, tak lama kemudian, Andre menghentikan serangannya, dan menarik pinggulku dengan cepat, supaya kontolnya masuk semua. Dia muncrat di dalam memekku. Nikmat sekali rasanya, bagian dalam itil kesayanganku disiram cairan hangat, kental dan lengket. Dan kayaknya banyak banget! Lalu dia mengeluarkan penis besarnya dan membaringkan aku terlentang, setelah itu, dia menumpahkan sisa spermanya ke mulutku, yang segera aku minum dan telan.

“Gurih juga pejumu, Ndre!” kataku. Andre hanya tersenyum mendengar komentarku tentang cairan kenikmatannya itu. Lalu kami berdua berbaring kelelahan. Setelah bercumbu sebentar, kami ke kamar mandi untuk membersihkan jejak-jejak pertempuran kami yang hebat sekali. Kemudian, Andre berpakaian dan akan langsung ke Sukabumi. Sejujurnya, aku gak mau… tapi, mau gimana lagi?

Aku mengantarkan Andre sampai pintu depan, hanya memai daster. Di depan pintu (yang belum dibuka) aku secara terang-terangan ngomong ke Andre…
“Sayang… Usahain nanti bikin Tino agak lama di sana ya… 2 – 2 harian gitu deh. Syukur-syukur sebulan….?!”
“Kenapa?” tanya Andre bingung.
“Mmh… aku mau lagi di perkosa sama kamu…”
Andre tersenyum mendengar ucapanku, “Ya sudah… pasti aku usahain!”
“Tapi kamu nanti balik lagi kesini, ya…. Bilang aja sama istrimu, kamu nginep di Sukabumi…!”
“Ya sudah. Aku usahain jam-jam 7 aku sudah sampai disini lagi!” sahut Andre.
“Bener ya…?” rengekku agak manja, “Janji lho! Aku beneran nih hornynya….!”
“Iya… iya….!”
Lalu kami berpelukan dan berciuman dengan bernafsu sekali. Akibatnya… kami ML lagi di depan pintu sambil berdiri (Andre hanya melepas celananya saja). Setelah selesai, Andre berangkat ke Sukabumi. Sementara aku berbaring kelelahan di sofa dengan sperma Andre mengalir pelan, keluar dari vagina indahku yang kian menebal dan lubang surganya yang mulai merekah, karena selalu dihajar oleh batang-batang zakar yang besar-besar. Dan aku berfikir, semua orang yang ML sama aku selalu membuang cairan kenikmatannya di dalam memekku (tapi aku nggak khawatir hamil. Soalnya aku selalu minum pil KB)… Tapi nggak apa-apa… akunya juga suka kok!

Sekitar jam ½ 8, Andre sudah sampai lagi dirumahku, sementara suamiku (atas usaha Andre) tetap di Sukabumi, dan baru pulang besok malam. Kami 4 kali ML malam itu. Top banget stamina Andre. Pada game ke 3, suamiku telfon. Aku berbicara dengan sumiku dalam posisi nungging, sementara Andre bergerak pelan sekali… Lucu juga melihat tampang teman suamiku ini.
O iya… aku lupa bilang. Anakku tersayang juga melihat memek ibunya ini dihajar oleh Andre. Anakku pulang sekitar jam 9 malam (beberapa saat setelah game 1). Dia diantar oleh ibuku. Ketika melihat Andre yang mengenakan kaos dan celana pendek (dia gak sempat pake cd, buru-buru banget!), ibuku bertanya kepadaku didapur…
“Mia… itu siapa? Kok malem-malem ada laki-laki kesini?”
“Dia itu namanya Andre, bu… tetanggaku kok. Dia kesini nyari mas Tino…” ucapku asal.
“Ya sudah… suruh dia pulang! Sudah malam!”
“Iya… iya…!”
Pada saat itu, aku hanya mengenakan daster (no bra, no cd!). Tak lama kemudian, ibuku pulang dengan berpesan kepadaku (dan ini membuatku kaget sekali… )
“Hati-hati… jangan sampai Tino dan tetangga yang lain tahu!”
“Ha…??? Tahu apa bu?”
“Jangan pura-pura bego kamu! Itu seprai buktinya. Di situ ada celana dalam laki-laki, baju laki-laki, bh dan celana dalammu. Terus di situ juga ada tissu yang lengket-lengket basah. Ibu tahu kamu habis ngapain…”
“Maafin Mia ya bu…”
“Ya sudah… asal hati-hati saja!”
Tentu saja, aku kaget, terharu tapi senang. Langsung aku peluk ibuku dan dia tersenyum bijak. Setelah itu, ia memesankan hal yang sama kepada Andre, dan dia menghormati ibuku. Andre berjanji pada ibuku untuk merahasiakan hal ini…
“Bu…” kata Andre, “saya janji, gak akan nyakitin Mia…”
“Bagus… bagus….” Sahut ibuku.
“Kecuali….”
“Kecuali apa?” tanya ibuku bingung.
“Kecuali… mmhh… sakit-sakit enak!” sahut Andre.
Kami bertiga tertawa… “Bisa aja kamu!” kataku. Saking senangnya dengan suasana ini, aku memperlihatkan penisnya Andre ke ibuku, yang cuma bisa tersenyum dan kagum.
Setelah itu, ibu pulang…

Paginya, aku terbangun karena suara telefon yang berdering dari arah ruang tamu. Tanpa berepot-repot mengenakan pakaian, aku langsung mengangkat telfon… Rupanya suamiku. Dia ngecek keadaan rumah dan berpesan supaya hati-hati. Dia pulang malam ini. Setelah menutup telfon, akupun langsung menuju ke kamar mandi. Ketika sedang membasuh sisa sabun di sekitar kemaluanku, Andre masuk ke kamar mandi (aku tidak menutup pintu kamar mandi. Dan dia juga masih telanjang.)
“Siapa tadi yang telfon Mi?” tanyanya.
“Tino…” jawabku.
“Ngapain? Iseng amat pagi-pagi nelfon?”
“Yaa… ngecek istrinya lah…”
“Buat apa? Kan istrinya ditemenin sama laki-laki yang baik ini…”
“Justru itu… dia mungkin takut kalo istrinya yang sexy ini diperkosa sama laki-laki itu…” kataku sambil mulai menggenggam kontol teman suamiku ini dan mendekatkan tubuhku ke tubuhnya yang bidang itu.
“Tapi istrinya kan nggak diperkosa…” Kata Andre sambil meremas kedua buah dadaku yang ranum. “Dia di perlakukan dengan baik… karena…. (tangannya mulai turun ke bawah) memeknya… (tangannya mulai mengelus memekku) enak banget…!”
Andre langsung mencium bibirku dan melumatnya. Aku langsung membalas serangan Andre. Ku hisap dalam-dalam lidahnya… dan kugenggam dengan erat kontolnya dan mulai mengurut dan mengocok batangan yang makin lama makin keras dan memanjang itu.

“Mami…”
Aku dan Andre segera menghentikan kegiatan kami ini ketika Fanny memanggilku, tapi kami tetap berpelukan dengan erat sekali.
“Kenapa sayang?” kataku.
“Mami sama Om Andre lagi ngapain?” tanyanya.
“Mami sama Om Andre lagi mandi…” Jawabku.
“Kok madinya pelukan?” tanyanya lagi.
“Mmmhhh….” Belum selesai menjawab, Andre memotong…
“Mami kedinginan… makanya Om peluk supaya badannya anget!”
Aku tersenyum mendengar jawaban Andre. “Iya sayang… airnya dingin banget!”
Andre lalu melepas pelukannya dan langsung berlutut didepan Fanny, “Fanny mau mandi bareng sama Om, sama mami?”
“Mau…”
Lalu kami bertiga telanjang bulat dan masuk kedalam Bath tub, dan berendam bersama-sama. Walaupun itu tidak lama. Karena 10 menit kemudian, Fanny kembali menjadi saksi, bagaimana lubang tempat dia keluar dulu disumbat oleh batangan besar milik teman papinya itu.

NIZAH

Pengalaman ini pernah aku alami dan menjadi cerita dalam seumur hidupku yang membuatku merasakan sesuatu yang baru dari kenikmatan birahi. Kenikmatan birahi ini pertama aku rasakan ketika aku dan teman perempuanku yang sama-sama masih menjalani kuliah di semester 4 di salah satu universitas swasta di “xxxxxxx” dipertemukan untuk berbincang-bincang. Sebut saja nizah { nama samaran }, dia adalah teman satu kelas-ku. Dia perempuan yang cantik, berkulit putih, tinggi,tubuh sexy terlihat jelas dibalik pakaian anggun yg dikenakannya, sedikit ketat mengukuti lengkungan buah dada yang terlihat menonjol dan mebuat dadaku deg-deg-an ketika kerap aku memperhatikannya dari kejauhan. Pakaian rock panjang juga menghiasi lunggak lenggok pantatnya yg aduhai sexy-nya ketika tak sengaja aku melihat saat berjalan di belakangnya. Jelas ini membuatku sedikit horny, dan anu-ku menjadi berontak dalam slempak.
jilbab bikin horni - kurnia intan (13)

Pemandangan yang menggairahkan hasrat ini sering aku alami sejak semester pertama aku berkenalan dengan nizah. Aku sadar Hasrat ini hanya angan-angan semata walaupun terkadang aku sering berfantasi membayangkan bisa menyentuh dada-nya yang sexy dan membelai pantatnya yang berisi. Di semester 4 itu aku dan Nizah mulai dekat dan semakin akrab, dikarenakan kita sering berjumpa di kelas yang sama dan kebetulan sering menjadi satu kelompok jika ada tugas dari Perkuliahan.

jilbab bikin horni - kurnia intan (12)
Kedekatanku dengan Nizah sangat menguntungkan-ku. Aku bisa memandangi keindahan dan kesexian diri-nya sesuka ku karena begitu dekat posisiku dengan dia baik saat berbincang-bincang ataupun saat kita diskusi. ketika itu ada sesuatu yang masih membuatku penasaran dari teman perempuanku ini. Hasrat-ku semakin menggebu-gebu ketika kupandangi kerudungnya yang selalu kerap dia kenakan. Rasa penasaranku bertambah ingin tahu seperti apa panjang rambutnya karena belum pernah aku melihat nizah tak pakai kerudung.

jilbab bikin horni - kurnia intan (11)
Seperti biasa di ruangan kelas sembunyi-sembunyi aku memandanginya tanpa sepengetahuan nizah ataupun tema-teman lainnya. Ku pandangi kerudungnya yang berwarna ungu, mungkin itu adalah warna kesukaannya karena setiap aku perhatikan kerudung-kerudung-nya selalu bercorak ungu, terlihat sesuatu yang menonjol dari balik kerudungnya bagian belakang, pikirku itu mungkin rambutnya yang diikat sehingga saat ditutupi kerudung maka terlihat menonjol. Saat ku pandangi itu, hasrat birahi-ku entah kenapa semakin memanas.

jilbab bikin horni - kurnia intan (10)
Terbayangkan dalam otak mesum-ku nizah memiliki rambut panjang lurus, lebat dan menggairahkan, berfantasi aku bisa membelai rambtnya itu. Saat itu fantasi ku tentang nizah terbuyarkan karena suara bel berbunyi tanda jam kuliah sudah habis. Saat ku membereskan buku tiba-tiba ada yang mendekatiku dan menyapaku, ” Hai Kiki? “. saat aku melihatnya tak ku sangka ternyata nizah. Ini membuatku kaget dan sedikit gugup, ” Hai juga “. aku membalas sapa-nya. “Ada apa nizah ko km belum pulang ?” tanya-ku kepadanya.

jilbab bikin horni - kurnia intan (9)
” Ki, kebetulan tugas-ku belum selesai, aku bingung nih gak bisa beresin tugasnya kalau sendiri, kira-kira kiki bisa bantu gak? kalau kiki gak keberatan, sekarang kiki ke kosn nizah ya”, Pinta Nizah ke Aku. Saat kudu dengar permintaannya untuk aku bisa datang ke kosn-nya membuatku tak percaya dan dadaku semakin deg-deg-an, tanpa pikir panjang lagi aku langsung menyanggupinya. “Ok nizah, dengan senang hati, kebetulan aku g ada kegiatan apa-apa lagi”. Aku dan nizah langsung berangkat bareng ke kosn-nya.
Setibanya di sana kosn yang berukuran tidak begitu besar hanya berukuran 3 x 4 m dihiasi pernah pernik khas kamar perempuan dengan aroma parpum yang membuatku semakin deg-deg-an lagi, kebetulan Ibu kost lagi ke luar kota dan di kosn hanya nizah saja sendiri. Keadaan ini membuat hatiku bahagia sekali karena bisa lama-lama dengan nizah di kamar kosn-nya tanpa takut dimarahi ibu kosn. Hasratku mulai memanas saat aku duduk untuk pertama kali-nya di kosn nizah.

jilbab bikin horni - kurnia intan (8)
Kami tidak langsung mengerjakan tugas tetapi berbincang -bincang terlebih dahulu sambil istirahat sejenak karena perjalanan yang cukup melelahkan dari kampus ke kosn yang lumayan jauh. ” Ki, silahkan diminum dulu air nya, kamu pasti lelah kan?”,Nizah menyodori aku air minum. ” Makasih Nizah” ucapku.” wah enak juga ya kosn perempuan, bersih sama rapih beda sama kosn cwo yang sering berantakan ?”, basa-basi-ku ke nizah. ” Ah biasa ajah ki, cuman aku sering rapiin dulu kmr ku ini sebelum berangkat ke kampus”.
ujar nizah ke aku sambil tersenyum manis “.

jilbab bikin horni - kurnia intan (7)
Teringat bayangku dikelas tentang rambut di balik kerudung Nizah dan saat di kosn-nya penasaranku semakin menjadi-jadi. Aku-pun memberanikan diri untuk basa-basi bertanya ke Nizah dengan harapan nizah segera membuka kerudungnya supaya aku bisa menikmati keindahan rambutnya. ” Nizah sebenernya itu apa sih di balik kerudung kamu, aku liat ada yang monjol di bagian belakang kerudungnya”, ucap ku ke Nizah dengan sedikit gaya polos. Nizah pun langsung merespon,

jilbab bikin horni - kurnia intan (6)
” Oo ini Rambut aku yang aku iket supaya g gerah jadi memang bakal keliatan menonjol “, jawab Nizah sambil memegang tonjolan rambut-nya. Aku pun tak sabar dalam anganku pengen mencoba memegang tonjolan rambut Nizah itu yang ada di balik kerudungnya seperti tonjolan anu-ku di balik celana ku yang sudah horny. Aku pun Langsung berucap ” Oo pantesan y keliatan menonjol di balik kerudungnya, Jadi pengen Nyobain pegang, Boleh g Nizah “?, ucapku ke Nizah dengan sedikit becanda. Nizah-pun merespon,”

jilbab bikin horni - kurnia intan (5)
Ah kiki ada-ada aja, ya boleh sekalian bukain kerudung aku ya ?” sambil menghampiriku dan duduk di depan-ku sambil membelakangi-ku. Aku Pun tak mensia-sia kan kesempatan itu yang membuat hati ku dan hasratku birahi-ku melambung tinggi. Saat aku duduk di belakang dia dengan jarak hanya beberapa cm saja aku mulai sedikit meremas-remas tonjolan rambut yang diikat di balik kerudungnya, Aku mulai mencium-cium tonjolan itu, wangi sekali kerudungnya. Nizah mulai menyadari kalau aku …
sedang horny dan dia membiarkan aksiku itu.

jilbab bikin horni - kurnia intan (3)

Akal sehat ku sudah total menghilang dari otak-ku dan semuanya dipenuhi nafsu birahi yang memanas. Aku mulai membuka kerudunganya perlahan-lahan dan kulihat rambut panjangnya mulai tergerai dengan masih diikat seperti ekor kuda, tercium wangi rambutnya dan mendorongku mencium rambtunya dan menghirup wanginya, terlihat pundak yang putih dihiasi helaian rmbt di atasnya, aku pun langsung menciuminya sambil membelai rmbtnya yang penjang. tangan ku tidak diam di situ saja, saat ku ciumi rambtnya ,tangan ku Mulai memeluk dia dari belakang, kedua tangan ku masuh ke bawah kedua lengah Nizah dan Aku mulai menjelajah Tonjolan Buah dada-nya kemudian meremas-remasnya, terasa empuk, kenyal dan aksi-ku membuat nizah mendesah dan merangsang dahsyat.

jilbab bikin horni - kurnia intan (4)
Di sela-sela suara desahan nizah, dia bilang ” ki kamu ternyata nakal juga tapi enak juga nich, jangan bilang-bilang ya”.. ah.. ah ah..”. Aku pun langsung meyakininya ” Tenang aja nizah, ini rahasia kita berdua, maafin aku ya, soalnya aku g tahan dengan kesexian mu “. ucapku ke nizah”. Nizah pun pasrah dengan merespon” Iya Sayang”. Dengan kepasrahan Nizah atas aksi Hot ku membuatku merasa semakin bergairah untuk menikmati setiap kenikmatan yang kurasakan dari tubuhnya.

jilbab bikin horni - kurnia intan (3)
Rambut Nizah yang masih diikat aku coba untuk melepasnya, pemandangan yang begitu indah ketika rambutnya terurai panjang menggairahkanku, aku belai-belai dan kuciumi rambut wanginya. Aksi ku tidak pusa di situ saja, Aku mengajak Nizah untuk berdiri, Dia pun menuruti kemanuanku, setelah Nizah berdiri posisiku tetap di belakang Nizah, Ku pandangi sejenak Pantat yang sangat berisi, Ku mulai menyentuh dan meremas-remasnya, lagi-lagi Nizah mendesah, “ah..ahhh.. hmmm.. enak sayang”.

jilbab bikin horni - kurnia intan (2)
Kenikmatan itu semakin terasa tidak puas, aku pun menurunkan rock panjangnya dari pantat Nizah yang aku remas-remas. Terlihat CD Nizah berwarna merah muda semakin membuatku tak sabar menerbangkan burungku untuk hinggap di sana. Aku pun segera membuka celana jeans yang ku pakai sekaligus celana dalam ku, kontol ku menegang, tegak berdiri. Nizah pun penasaran dengan malu-malu mengocok kontolku. tapi tiu tidak lama. langsung aku buka bajunya sekaligus BH nya.

jilbab bikin horni - kurnia intan (1)
Terimakasih Anda telah membaca cerita ini. Saya tidak menyangka ternyata situs yg sudah aku tinggalkan hampir 2 tahun ini sudah memiliki banyak pengunjung hingga 12 ribuan. Saya sekarang sudah lulus kuliah dan saya sudah bertaubat dgn kesalahan masa lalu termasuk yg saya ceritakan di sini. Dengan saya bertaubat akhirnya cita cita saya tercapai. Kini saya berhasil jadi pengusaha sukses. Omset jutaan rupiah per hari sudah saya dafatkan.

BU AMELIYA

Sebelum aku mulai cerita ini, aku ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Iwan dan Aku adalah seorang pegawai negeri yang ditempatkan disebuah kota di Jawa Barat sekitar sepuluh tahun yang lalu. Aku merasa nyaman kerja di kota ini, karena teman-teman sekantorku orangnya ramah-ramah dan mengayomi bagi para pegawai muda yang masih mentah dalam pengalaman kerja Aku sangat berterima kasih pada rekan-rekan kerjaku yang tanpa pamrih membimbingku dalam berbagai hal.

Diantara rekan-rekan kerjaku ini, ada seorang wanita yang cantik keibuan dan umurnya 8 tahun diatasku. Namanya Amelia. Pada saat pertama kali aku bertemu dengannya dia belum menunaikan ibadah haji dan belum mengenakan jilbab, sehingga aku bisa melihat putih dan mulusnya kulit betis sebagian pahanya pada saat dia duduk. Tapi yang membuat aku tertarik padanya adalah banyaknya bulu-bulu yang tumbuh di betis dan lengannya yang membuat dirinya semakin seksi dimataku. Karena dalam imajinasiku jika seorang wanita mempunyai bulu-bulu yang lebat di betis dan lengan, terbayang olehku pastilah dia akan sangat menggairahkan dan mampu memberikan kenikmatan pada lelaki di tempat tidur. Maka aku selalu membayangkan dan menghayalkan betapa nikmatnya bila aku dapat menggaulinya. Obsesiku untuk dapat menggaulinya tidak pernah hilang, walaupun aku telah menikah dua tahun setelah aku bekerja. Dan dia selalu ada dalam hayalanku pada saat aku dan istriku sedang melakukan hubungan suami istri.

Tapi sebagai yunior, tentu saja aku tidak berani macam-macam padanya. Apalagi dia adalah seorang istri pejabat Pemda di daerahku. Oh ya, Dia sudah menikah selama 10 tahun dan baru dikaruniai putra berumur 2 tahun. Rupanya rumah tangganya termasuk yang cukup lama untuk mendapatkan momongan. Dari rekan-rekanku, kuketahui bahwa pada awal pernikahan mereka, suaminya pernah mendapat masalah dalam urusan vitalitas, itulah sebabnya dia lambat mendapatkan momongan. Disamping itu kuketahui pula bahwa perbedaan usia antara dirinya dan suaminya cukup jauh, yaitu sekitar 15 tahun.

Aku sering mendekatinya untuk sekedar ngobrol ngalor-ngidul, orangnya enak diajak ngobrol, ramah pada setiap orang. Itulah sebabnya rekan-rekan lelaki ditempat kerjaku senang menggodanya, dan dia tidak marah jika godaan-godaan itu tidak terlalu bersifat pelecehan. Namun aku tidak pernah menggodanya, karena selain usiaku jauh lebih muda darinya, aku tidak ingin ia menganggapku macam-macam. Aku selalu bertindak sebagai seorang yunior yang memerlukan petunjuk dari seniornya sehingga aku bisa semakin dekat dengannya, karena dia merasa bahwa aku sangat menghormati dan mengaguminya.

Lima tahun setelah aku bekerja, dia menunaikan ibadah haji dengan suaminya dan sejak saat itu dia selalu mengenakan jilbab untuk menutup seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangannya. Namun jilbab yang ia kenakan tidak mampu menyembunyikan keseksian tubuhnya, dan bahkan membuat dirinya semakin cantik dan keibuan, ditambah lagi dengan gaun dan jilbab yang ia kenakan selalu serasi dengan model-model yang gaul. Sehingga dia semakin menjadi objek hayalanku pada saat aku sedangkan melakukan hubungan suami istri dengan istriku.

Aku selalu konsisten menjaga sikapku dihadapannya, karena tidak ingin dia benci atau menjauh dariku. Maka dengan sabar aku selalu menjaga kedekatanku dengan dirinya sehingga aku dapat menikmati kecantikan, keanggunan dan keseksian tubuhnya dari dekat.

Kesabaranku itu kujalani hingga saat ini setelah 10 tahun mengenalnya dan dia merasa aku sebagai sahabat baik dan sekaligus bagaikan adik baginya, sehingga tidak segan-segan menceritakan berbagai masalah dengan diriku, bahkan meminta bantuanku untuk hal-hal yang tak dapat dia kerjakan. Bahkan kami sering duduk berdampingan dalam mengerjakan sesuatu sehingga aku bisa merasakan lembutnya buah dadanya yang montok. Dan pernah aku menggeser-geserkan bahuku yang menempel dengan buah dadanya, tapi dia hanya berkomentar “jangan nakal ach…, Wan !” sambil tersenyum dan tidak ada nada marah sama sekali. Sehingga hal itu sering aku lakukan bila kami duduk berdampingan pada saat mengerjakan sesuatu

Pada suatu hari ia datang padaku dan mengkonsultasikan laptop miliknya yang terasa lambat dan juga minta diajari bagaimana caranya mengkoneksikan laptop dengan internet. Setelah kuperiksa, ternyata banyak virus yang mengerogoti sistem di laptopnya sehingga mengakibatkan kinerja laptopnya menjadi terganggu. Dan aku bilang untuk membersihkan semua virus di laptopnya diperlukan waktu yang cukup lama, sedangkan agar bisa dikoneksikan ke internet, harus ada jalur telepon. Lalu dia menyarankan agar untuk menangani laptopnya dikerjakan di rumah kost miliknya yang ada di dekat kantor kami. Rumah kost itu terdiri dari 10 kamar dan diisi oleh para pelajar yang bersekolah di sekitar daerah itu. Dan aku menyanggupinya.

Sepulang dari kantor, aku dan dia menuju rumah kost miliknya dan kebetulan, hari itu adalah hari sabtu, sehingga semua penghuni kost pada pulang ke kampungnya masing-masing dan rumah kost tersebut kosong. Begitu tiba di sana, dia langsung membawaku ke ruang tamu dan aku mulai melakukan pembersihan virus dengan software yang aku bawa.

Sambil menunggu anti virus bekerja, kami ngobrol berbagai hal diselingi dengan minum dan makan camilan yang ia sediakan. Dari obrolan itu kuketahui, bahwa setiap malam minggu dia suka tidur di rumah kost ini pada saat para penghuni kost pulang ke kampung halamannya masing-masing. Oleh sebab itu di rumah ini ada kamar khusus untuk dirinya. Aku merasa heran, apakah suaminya tidak apa-apa ditinggal tidur sendiri di rumah sementara dia menunggu di rumah kost. Dia menjawab tidak ada masalah dengan hal itu, bahkan katanya di rumah pun dia jarang tidur sekamar dengan suaminya. Karena sejak suaminya pensiun, suaminya lebih sering ingin tidur sendiri. Aku heran dengan kenyataan ini, kenapa ada rumah tangga seperti ini, tapi aku mau bertanya lebih lanjut, takut dia merasa aku akan semakin jauh mengetahui privasi rumah tangganya.

Hari semakin gelap, tetapi anti virus masih bekerja, karena banyak sekali virus yang menyerang laptopnya dan kami terus melanjutkan obrolan. Tanpa disadari atau seolah-olah tanpa disadari, kami telah duduk berdampingan di ruang tamu yang sepi ini. Sambil mengobrolkan hal-hal yang bersifat pribadi. Perlahan-lahan aku mulai terangsang terhadapnya, tapi aku masih merasa takut untuk memulainya, walaupun bisikan-bisikan di kepalaku mengatakan bahwa inilah saatnya yang tepat untuk mewujudkan obsesi yang selama ini ada dalam khayalanku.

Akhirnya dengan hati-hati aku berkata padanya “Apakah, bapak tidak sayang meninggalkan ibu tidur sendiri ? Uhh… kalau saya jadi bapak, tidak akan saya biarkan ibu tidur sendiri satu malampun. Sayang dong…., membiarkan tubuh seksi dan cantik seperti ibu ini sendirian….. mubazir ”

“Ach… Iwan bisa aja ! Masak sih… tubuh peot dan wajah keriput ini disebut seksi dan cantik ?” katanya tersenyum dan tampaklah ekspresi kebanggaan diwajahnya mendengar pujianku. Dan aku merasa gembira karena dia tidak marah dengan ucapanku.

Dan kembali aku lanjutkan rayuanku “ bener lho, Bu! Saya ‘ngga bohong… , Di mata saya ibu adalah wanita yang paling cantik dan seksi di kantor kita..!”

“Udah ach… , jangan dilanjutkan rayuannya nanti saya bisa terbang… !” jawabnya samibil tersenyum semakin tersanjung.

“Ngomong-ngomong… , Bu..! Boleh ‘nggak saya minta sesuatu, nggak macam-macam kok, swear !” kataku

“Minta apaan sich.. ? kalau nggak macam-macam akan saya penuhi ! “ katanya

“Sebelumnya maaf ya, bu ! Boleh ngga saya membelai bulu kaki yang ada di betis dan bulu tangan yang ada di lengan ibu yang dulu sering saya lihat. Saya benar-benar terobsesi dengan bulu-bulu yang dimiliki ibu ?” kataku memberanikan diri.

Dia memandangku heran “Kok, Iwan tahu kalau saya memiliki bulu di kaki dan lengan…? Rupanya Iwan sering ngintipin ibu ya ?” Katanya menggodaku.

Aku tergagap mendapat godaannya “Ti…tidak bu…, saya tidak pernah ngintip.. khan dulu ibu ngga pake jilbab..” jawabku membela diri

“Apa sich.. istimewanya bulu-bulu itu ? saya justru merasa risih” katanya lagi

“Justru bagi saya hal itu sangat istimewa dan menggairahkan….., boleh kan bu, saya membelainya !”

“Ya.. dech …” Dia mengalah dan menyingsingkan ujung lengan bajunya hingga sebatas siku. Mataku terbelalak melihat putih dan mulusnya kulit lengan yang dihiasi dengan bulu-bulu lengan yang cukup panjang, aku semakin terangsang namun masih bisa mengendalikan diri. Dengan tangan gemetar aku membelai lengan halus tersebut. Darahku berdesir ketika tanganku mengusap dan membelai langan halus nan berbulu itu. Dari sudut mataku terlihat dia merasa bangga atas keterpanaanku pada kemulusan dan keindahan kulit lengannya. Aku tak tahu apakah dia merasakan desiran-desiran rangsangan pada saat telapak tanganku membelai lengannya.

Setelah puas membelai lengannya, kembali aku berkata “kakinya belum bu ? “. Namun dia menjawab tidak serius “udah ach…, cukup .”. Lalu rayuku lagi “Akh… Ibu, khan tadi saya mintanya lengan dan kaki !”

Lalu dengan gaya seperti yang terpaksa dia mengangkat rok panjangnya sebatas lutut sehingga terlihat betis indah yang putih mulus dihiasi oleh bulu-bulu yang cukup panjang dan merangsang. Kembali tanganku bergetar membelai betih indah tersebut, mataku terpejam dan darahku semakin berdesir memberikan rangsangan-rangsangan yang sangat kuat padaku. Cukup lama tanganku membelai dan mengusap betis indah milik Hj Amelia ini. Aku sangat menikmati apa yang kulakukan. Betis kiri dan kanannya secara bergantian aku belai dan usap, terlihat mata Hj. Amelia terpejam menikmati belai tanganku “Oh..mmmnn .. “ mulutnya berguman tidak jelas.

Melihat itu aku tak mau berhenti, tanganku terus membelai betis indah itu dan dengan sangat hati-hati arah belaian semakin ke atas di sekitar lutut . Mata Hj Amelia semakin rapat terpejam. Dengan hati-hati kedua betis Hj Amelia aku naikkan ke atas jok kursi panjang yang kami duduki dan aku duduk di lantai menghadap betis indah dan sebagian paha disekitar lutut yang terbuka”

Dengan suara bergetar dan suara yang sedikit memburu dia berkata “Kok jadi duduk dibawah ?”

“Ngga apa-apa bu, supaya lebih jelas “ jawabku beralasan ”Awas lho… jangan macam-macam !” ancamnya dengan nada yang tidak yakin.

Kembali tanganku melanjutkan belaian dan usapan pada betis berbulu yang merangsangku ini, tanganku dengan lembut membelai betis kiri dan kanan secara bergantian . Kembali matanya terpejam menikmati belaian tanganku pada betisnya. Kuberanikan diri untuk mencium lembut ujung kakinya. Matanya terbuka dan berkata “Kok..?” hanya kata itu yang keluar. Akhirnya kedua tangan dan bibirku membelai betis hingga lutut dan paha di sekitar lutut. Ciumanku dan tanganku semakin naik ke atas, ciumanku sudah mencapai lututnya dan kedua tanganku sudah membelai kedua pahanya. Dia semakin terlena, napasnya semakin memburu dan mulutnya semakin sering mengguman sesuatu yang tidak jelas. Sedangkan aku semakin terangsang penisku sudah mulai mengeras. Tapi aku masih berhati-hati agar dia tidak menghentikan usahku ini.

Tanganku semakin aktif membelai paha bagian bagian dalam dan mulutku menciumi lututnya yang kiri dan kanan secara bergantian. Duduknya sudah mulai gelisah, pinggulnya sudah bergoyang-goyang dan dari mulutnya sudah mulai memperdengarkan erangan-erangan nikmat dan terangsang. Ku hentikan gerakanku, matanya terbuka memandangku sayu, terlihat bahwa dia sudah sangat terangsang, kuberanikan diri wajahku mendekati wajahnya, dia memejamkan matanya kembali dengan mulut yang terbuka menantang, lagsung bibirku menciumi bibirnya yang seksi. Dia tidak marah, bahkan menyambut ciumanku dengan hangat dan sangat bergairah. Kami berciuman dengan sangat bergairah. Kedua tangannya meraih kepalaku dan mencium bibirku dengan sangat panas, bibirnya menghisap-hisap bibirku dan lidahnya menari-nari dengan lidahku seperti seorang wanita yang sudah sangat lama tidak bermesraan, tentu saja aku semakin melayang nikmat dan bersemangat. Tanganku mulai meremas-remas buah dadanya yang montok, dia diam saja bahkan semakin bergairah dan mengerang nikmat. Tanganku mulai mencopoti kancing bajunya satu-persatu dan menyusupkan tangan kananku ke dadanya yang sudah terbuka, kemudian menarik cup bh-nya ke atas, sehingga kedua buah dadanya yang putih montok terbuka bebas. Tanganku langsung meremas buah dada montok itu yang kiri dan kanan.

Dia menghentikan ciumannya dan memegang tangan kananku, sambil memandang padaku dengan sayu. Aku terkejut, takut dia marah dan menghentikan usaha yang telah dengan sabar aku lalui. Namun dengan suara bergetar dan napas memburu dia berkata “Jangan disini Wan..! bahaya kalau ada tamu datang… Di kamar saya aja.., biar tenang!” Plong… dadaku terasa lapang, ketakutanku ternyata tidak terbukti. Dia kemudian berdiri dan mengunci pintu tamu dan menarik diriku menuju kamarnya.

Tak kuperhatikan lagi anti virus yang masih bekerja pada laptop. Dengan tergesa-gesa kami menuju kamarnya yang cukup luas. Begitu tiba di dalam kamar, dia langsung menutup pintu kamar dan menarikku ketempat tidur. Aku langsung menindihnya dan bibirku kembali mencium bibirnya dengan gemas. Ciumannya kali ini semakin panas dan bergairah dan dia sudah tidak segan-segan lagi mengeluarkan lenguhan dan erangan nikmat.

Tanganku kembali merayap ke buah dadanya yang masih terbuka dan meremas-remasnya dengan nikmat, Dia membantu mencopoti sisa kancing yang masih terkait sehingga semua kancing bajunya terlepas dan melepaskan kaitan tali bh-nya. Kemudian dia duduk dan melepaskan baju dan bh dari tubuhnya. Tampaklah dihadapanku tubuh seorang wanita matang yang masih mengenakan jilbab dan rok panjang, namun sudah tidak mengenakan baju dan bh.

Aku kembali menubruknya dan mendorong tubuhnya hingga telentang diatas kasur, bibirku menciumi seluruh bagian buah dadanya baik bagian kiri maupun bagian kanan sedangkan tangan meremas-remas buahdada yang tidak aku ciumi. Aku begitu bernafsu menciumi buah dada Bu Hj Amelia ini. Walaupun dia sudah berumur, namun buah dadanya masih montok dan sekal, tidak mengelayut dan kendor. Kuhisap dan kujilati setiap mili bagian buah dada menggairahkan ini. Dan akhirnya bibirku dengan asyiknya menghisap dan menjilati putting susu yang tegak menantang. Dia semakin mengerang nikmat “Akhhhh… wan… euh … euh….!” Badannya bergelinjang-gelinjang menahan nikmat yang menderanya.

Setalah cukup lama bermain-main di buah dadanya, kedua tanganku berusaha melepaskan pengait rok panjang yang masih dikenakannya dan menariknya hingga lepas sekaligus dengan celana dalam nilon yang dia kenakan, dia hanya diam saja dengan tatapan mata yang semakin sayu, kembali mataku nanar melihat pemandangan merangsang yang ada dihadapanku. Sungguh luar biasa Bu Hj Amelia ini, walaupun sudah berusia 45 tahun, tapi tubuhnya masih sangat sempurna, perutnya masih ramping tanpa ada timbunan lemak, paha masih padat dan mulus dan yang paling luar biasa adalah jembut yang menutup vaginanya demikian lebat dan hitam menutupi hampir seluruh bagian antara kedua paha hingga keatas mendekati pusat

Beberapa saat aku terpana menatap pemandangan indah ini, Dia bangun dan meraih bajuku sambil berkata “Buka bajunya Wan… , ngga fair dong…, saya udah telanjang sementara Iwan masih berpakaian lengkap..” Dengan bantuannya aku mencopoti bajuku yang sudah basah oleh keringat dan sekaligus aku membuka celana panjangku sekaligus dengan cd yang aku kenakan. Dia terpana memandang penisku yang tegak menjulang, Tangannya mendorong tubuhku hingga aku telentang , kemudian dengan gemetar tangannya meraih penisku dan mengocoknya dengan gemas, aku melayang nikmat merasakan kocokan tangannya pada penisku, kemudian bibirnya dengan lembut menciumi penisku dan lidahnya menjilati kepala penisku. Aku semakin melayang.. “Ouhhh…. “ aku melenguh nikmat. Cukup lama lidah dan bibirnya bermain di kepala penisku membuat aku melayang-layang nikmat, kemudian mulutnya semakin terbuka lebar untuk memasukkan penis tegangku kedalam mulutnya sambil lidahnya terus-menerus menjilati kepala penisku. Mataku semakin terbeliak-beliak menahan nikmat “Ouh…ouh… aduhh….aduh… “ erangan nikmatku keluar tanpa dapat kucegah.

Dia begitu gemas dengan penis tegangku, bagaikan seorang wanita yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan penis yang tegang. Tanpa memperdulikan diriku yang terengah-engah menahan nikmat, mulut dan lidahnya terus menerus memberikan kenikmatan pada diriku. Aku tak tahan, ku geserkan kepalaku mendekati lututnya yang sedang menungging. Aku posisikan kepalaku diantara kedua lututnya yang terbuka, sehingga posisi kami menjadi posisi 69. Aku mulai menjilati jembut hitam yang menutupi vagina yang ada dihadapanku. Kedua tanganku membelai pantat montok, sementara lidahku terus mencari celah vagina yang tertutup jembut yang lebat, kusibakkan jembut lebat tersebut, terlihatlah vagina yang sudah sangat basah, lidahku terjulur menjilati celah vagina tersebut, badannya tergetar setiap kali lidahku menyentuh klentitnya. Aku semakin semangat menjilati dan menghisap vaginanya, dia semakin sering bergetar dan mengerang nikmat, sehingga mulutnya berhenti mempermainkan penisku. Aku tak peduli, lidah dan mulutku semakin lincah bermain di vaginanya, badannya semakin bergetar dan menekan-nekankan vaginanya dengan keras ke arah mulut dan hidungku sambil menjerit-jerit nikmat “Ouh.. ouh… ouh… euh…euh…”

Gerakannya semakin keras dan jeritannya semakin tak terkendali, hingga akhirnya pantatnya dia tekankan dengan keras ke arah mukaku hingga mulut dan hidungku tertekan vagina dengan sangat rapat sehingga aku sulit bernapas dan terdengar dia menjerit keras “Aaaakkkhhhh……..” kemudian terlihat olehku vaginana mengempot-ngempot dengan sangat keras.

Tak lama kemudian badannya ambruk menindih tubuhku. Beberapa saat kemudia dia menggulingkan tubuhnya hingga tidur telentang. Kubangunkan tubuhku dan memposisikan tubuhku agar tidur berdampingan. Kemudian matanya terbuka memandangku. Dengan napas yang masih tersengal-sengal dia berkata “kalau Iwan percaya…, Sudah 4 tahun saya tidak pernah melakukan hubungan suami istri, bukannya saya tidak ingin, tapi si bapak sudah tidak sanggup lagi. Sebagai wanita normal, tentu saja saya merasa sangat tersiksa denga keadaan ini…” Aku tidak mengomentari ucapannya, hanya dalam hati aku berkata pantas saja dia terlihat sangat gemas memandang penisku yang sangat tegang.

Karena aku belum apa-apa, maka badanku bangkit dan tanganku meremas-remas buah dadanya serta memilin-milin putting susunya yang perlahan-lahan mulai kembali tegak menjulang. Kembali badanku menindih tubuhnya dan bibirku mencium bibirnya, bibirnya menyambut bibirku dengan gairah yang kembali bangkit. Tangannya merayap ke arah penisku dan meremas-remas dengan gemas, kemudia berkata “Sekarang aja Wan! Saya sudah nggak tahan…”

Aku mengangkat pinggulku memberi jarak dengan selangkangannya, kemudian pahanya terbuka lebar dan tangannya menuntun penis tegangku agar tepat berada liang vaginanya. Dia sibakkan jembut lebat yang menghalangi liang vagina dengan kepala penisku, hingga akhirnya kepala penisku tepat berada di mulut liang vagina yang sangat basah. Kemudian kedua tangannya merengkuh pantatku dan menariknya.

Aku mengerti apa yang dia inginkan. Ku dorong pantatkudan Blessh…. Perlahan-lahan batang penisku menyusuri liang vagina hangat yang basah berlendir yang disertai kedutan-kedutan yang memijit batang penisku selama aku memasukinya. Jepitan dan kedutan vaginanya pada penisku memberikan sensasi nikmat yang luar biasa. Perjalanan masuk ini kulakukan perlahan-lahan, karena aku ingin menikmati setiap mili pergeseran antara batang penisku dan veginanya yang selama 10 tahun ini menjadi obsesi dan khayalanku. Aku tidak ingin obsesi yang menjadi kenyataan ini berlangsung cepat.

Setelah seluruh batang penisku amblas hingga ke pangkalnya, kudiamkan sejenak untuk menikmati sensasi nikmat yang diberikan oleh vaginanya pada diriku. Kemudian kutarik secara perlahan hingga menyisakan ujung kepalanya dan kudorong kembali masuk hingga amblas. Gerakan ini terus kulakukan dengan sabar sambil menikmati deraan nikmat yang datang bertubi-tubi.

Nampaknya Bu Hj Amelia ini sudah tidak sabar, pantat terangkat setiap aku mendorong masuk, dan tangannya memberikan bantuan kecepatan pada pantatku agar aku melakukan dengan lebih cepat dan keras. Aku tidak terpengaruh dengan gerakan pantatnya yang semakin bergelinjang dan tangannya yang semakin menarik-narik keras pantatku agar bergerak lebih cepat. Aku hanya menambah sedikit kecepatan pada gerakan mengocokku.

Pinggulnya semakin bergelinjang, kepalanya terlempar ke kiri dan kanan sambil mulut yang kembali mengerang-ngerang nikmat “Auh…auh….euh… euh…..” Gelinjang tubuhnya semakin keras dan hebat. Berputar, kekiri kekanan dan ke atas ke bawah, hingga akhirnya gerakannya semakin tak beraturan, badannya terlonjak-lonjak, tangannya menarik punggungku hingga tubuhnya terangkat dan kepalanya terdongak dengan mata terbeliak dia menjerit keras “Aaaaaakkkhhhhhh……. “ kakinya terjulur kaku, tak lama kemudian badanya terhempas lemas dan tangannya terlepas dari punggungku dan jatuh ke samping tubuhnya. Kurasakan vagina berkontraksi sangat keras memijit-mijit dan menghisap-hisap penisku sehingga akupun terbeliak menahan sensasi nikmat yang teramat sangat.

Kubiarkan batang penisku amblas di dalam vaginanya menikmati sensasi orgasme yang kembali dialaminya. Kutopang tubuhku dengan kedua tangan yang menahan di pinggir bahunya. Perlahan-lahan matanya terbuka dan berkata dengan napas tersengal-sengal menahan lelah “Makasih.. Wan.., barusan betul-betul nikmat…uuhhhh..” Aku hanya menjawab dengan mencium bibirnya dengan nafsu yang menggelora.

Dia menyambut lemah ciumanku. Dengan sabar aku berusaha membangkitkan kembali gairahnya. Kuciumi lehernya dari balik jilbab yang masih dikenakannya namun telah basah oleh keringat, kujilati dadanya yang juga basah oleh keringat. Ketelusuri hingga ke bawah hingga akhirnya mulutku kembali memilin-milin putting susunya untuk membangkitkan gairahnya. Sambil perlahan-lahan kukocok penisku yang masih terbenam divaginanya yang semakin basah, namun tetap masih terasa sempit dan memijit-mijit.

Perlahan-lahan gairahnya bangkit kembali, hal ini terasa dengan ciumannya yang semakin hangat dan pinggulnya yang bergerak membalas setiap gerakan pinggulku. Makin lama gerakan pinggulnya semakin erotis dan bersemangat dan erangan nikmat kembali terdengar dari mulutnya.

Kuhentikan gerakanku dan kucabut penisku yang masih tegang. Dia menatapku kecewa sambil berkata “Ada apa Wan? “. Aku tersenyum lalu berkata “Kita nungging bu!” Dia mengerti apa yang kuinginkan. Lalu dia bangun dan membuat posisi merangkak. Aku posisikan selangkanganku pada tengah-tengah pantatnya. Sebelum kumasukkan penisku, kembali aku terpana melihat keseksian tubuhnya dalam posisi menungging, kulit punggung yang begitu putih kekuning-kuningan, mengkilap oleh basahnya keringat yang keluar dari pori-pori tubuhnya. Hanya ada satu kata untuk mengomentari keadaan itu, yaitu “Sempurna..!” tanpa terasa bibirku berguman.

“Ada apa ..Wan..?” tanyanya padaku. Aku segera menjawab “Tubuh ibu betul-betul sempurna.”. Dia tidak menjawab mungkin dia merasa bangga dengan pujianku. Tangannya hanya menggapai-gapai meraih penisku untuk diarahkan vaginanya yang sudah menanti. Lalu kuarahkan penisku ke liang vaginanya dan Bleshhhh……

Kembali penisku menyusuri liang vagina basah yang masih tetap sempit dan memijit-mijit. Pantatku memulai bergoyang maju mundur agar penisku mengocok-ngocok vaginanya. Tanganku meraih buah dadanya yang bergantungan bebas dan kuremas-remas dengan gemas untuk menambah sensasi nikmat yang kembali mendera sekujur tubuhku. Tubuhnya bereaksi dengan apa yang kulakukan, mulutnya mengerang nikmat “Auh… auh… euh …. Euh… “, dan pinggulnya bergerak-gerak semakin liar. Kudiamkan gerakan pinggulku, namun pinggul dan pantatnya menghentak-hentakkan selangkanganku sehingga penisku semakin dalam mengocok dan mengaduk-aduk vaginanya. Kepalanya tidak bisa diam menggeleng-geleng sambil mulut yang tak henti-hentinya mengerang nikmat.

Gerakan pinggul dan pantatnya semakin liar tak terkendali, jeritan nikmatnya semakin keras, dan kedutan dan pijatan vaginanya pada penisku semakin keras. Hingga akhirnya badannya kaku, tangannya mencengkram kasur dengan sangat keras dan menjerit “Aaaakkhhhh…..” kembali kepala terdongak dengan mata yang terbeliak. Setelah itu kembali kontraksi keras terjadi pada vaginanya yang memelintir dan menghisap-hisap penis membuat aku terbeliak-beliak menahan nikmat. Tak lama kemudian… BRUK.. badannya jatuh tertelungkup hingga penisku yang masih tegang lepas dari vaginanya.

Kubiarkan dia istirahat menikmati sensasi orgasme yang kembali menderanya. Lalu mendekati punggungnya yang basah, kubelaikan tangan kiriku dari punggung hingga pantatnya, dan kuremas-remas pantat seksi itu. Tangan kananku menyibakkan jilbab yang sudah sangat basah dan akhirnya kulepaskan jilbab itu. Bibir dan mulutku menciumi tengkuk dan lehernya yang putih mulus tiada kerut. Mulutku menyusuri tengkuk dan punggung sedangkan tanganku meremas-remas pantatnya. Akhirnya gairahnya bangkit kembali. Dia membalikkan tubuhnya hingga telentang dan tangannya meraih tubuhku hingga menindih tubuhnya bibirnya mencium bibirku dengan ganas, kemudian tangannya mencari-cari penisku dan mengarahkan ke vaginanya.

Blesshh…. Untuk kesekian kalinya kembali penisku menjelajahi liangvagina yang semakin basah dan berdenyut. Aku menggerakkan pantatku untuk mengocok penisku di dalam vaginanya, dia menyambut dengan erangan dan gerakan pinggul yang bisa memelintir-melintir batang penisku dengan liarnya. Semakin lama gerakanku semakin cepat dan gerakannyapun semakin cepat dan liar.

Lenguhan nikmatku dan erangan nikmatnya bersatu padu membangun suatu komposisi musik penuh gairah dan merangsang, semakin lama suara erangan dan lenguhan nikmat semakin riuh rendah. Hingga akhirnya pantatku bergerak sangat keras dan liar tak terkendali demikian pula gerakan pinggulnya. Gerakan kami sudah menjadi hentakan-hentakan nikmat yang keras dan liar. Hingga akhirnya aku merasa gelombang yang maha dahsyat keluar dari dalam diriku melalui penis yang semakin keras dan kaku dan akhirnya tanpa dapat kukendalikan tubuhku menegang kaku dan badanku melenting ke atas serta menjerit melepas nikmat yang tak tertahankan “Akhhh….” Dan secara bersamaanpun dia menjerit nikmat “Akhhhh… “ dengan badan yang kaku dan tangan yang mencengkram punggungku dengan sangat keras.

Tak lama kemudian, tubuh kami ambruk kelelahan seperti orang yang baru saja berlari cepat dalam jarak yang sangat jauh. Aku menggulingkan tubuhku agar tidak menindih tubuhnya. Dan kami telentang berdampingan sambil menikmati sensasi kenikmatan orgasme yang masih datang menghampiri kami.

Setelah beberapa menit kami terdiam menikmati sensasi orgasme dan napas yang perlahan-lahan mulai pulih, Dia memiringkan badannya menghadapku, sambil tangannya membelai-belai dadaku dia berkata “Wan… kamu memang luar biasa… Dulu saja waktu si Bapak masih sehat. Belum pernah saya merasakan sepuas ini dalam berhubungan badan. Sebagai lelaki kamu mampu bermain cukup lama dan memberikan beberapa kali orgasme pada pasangan kamu. Pantas saja, istrimu sangat sayang padamu..”

“Ahh… jangan begitu ach… Bu! Saya jadi malu…” Sahutku sambil merasa bangga dipuji seperti itu.

Setelah cukup lama beristirahat kembali kami berpakaian, dan aku terlebih dahulu ke ruang tamu untuk memeriksa laptop yang masih menyala. Ternyata laptop sudah lama mati, karena hampir 1,5 jam aku tinggalkan. Tak lama kemudian Bu Hj. Amelia menghampiriku dan duduk disampingku sambil menggelayut mesra dan bertanya “bagaimana Wan , beres ?”. “Belum saya periksa bu…, keburu mati..” jawabku

“Ok dech , kamu lanjutin aja dulu, saya mau nyiapkan makan malam.

Akhirnya malam itu, aku menelepon istriku untuk memberitahukan pada iatriku bahwa aku tidak bisa pulang, karena ada pekerjaan yang belum selesai. Akhirnya sepanjang malam itu hingga mendekati subuh, kami isi dengan persetubuhan yang sangat bergairah. Kami hanya istirahat untuk minum dan makan memulihkan tenaga. Malam itu kami bagaikan sepasang pengantin baru yang menghabiskan malam pertamnya. Hal ini terjadi barangkali karena Bu Hj Amelia ini merupakan Wanita yang menjadi obsesi saya yang selama 10 tahun menjadi khayalan dan impian. Sedangkan bagi Bu Hj. Amelia, malam itu merupakan malam pertama selama 4 tahun dia tidak mendapatkan kehangatan tubuh laki-laki.

Akhirnya sampai saat ini aku dan Bu Hj Amelia berselingkuh, tanpa seorang temanpun yang tahu. Kami berusaha menjaga perselingkuhan ini serapih mungkin. Entah sampai kapan….

TAMAT