GADIS KONTRAKAN : ARINA

Namanya Arina Syafarani Putri. Tidak terlalu tinggi, 25 tahun, cantik, berkerudung, payudara 34B dengan puting bulat kecil berwarna coklat gelap. Arina adalah penghuni kontrakan yang paling tua, paling disegani, dan tentu saja, paling pengalaman soal melayani penis cowok. Sejak kehilangan keperawanan di acara kemping SMA-nya saat kelas 3, Arina berjanji tidak akan melakukannya lagi. Ironisnya, pemerkosaan yang dialaminya di minggu pertamanya menggunakan jilbab oleh teman kampusnya di lab justru menjadi titik balik kebiasaannya. Ia menjadi wanita berjilbab haus sex yang selalu ingin dipuaskan, meski hal itu dapat ditutupinya di lingkungan umum.

Di kontrakan, Arina selalu menjadi tempat Hani, Okta, dan Eva untuk berkonsultasi mengenai seks. Arina juga satu-satunya yang memiliki vibrator dan obat-obatan yang diperlukan jika terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti disemburkannya sperma tepat di rahim Hani saat masa suburnya oleh Edwin. Arina sering meminjam pacar-pacar Hani, Eva, atau Okta untuk memuaskan hasrat seksnya.

Siang itu, Arina baru saja akan pulang dari shift-nya di sebuah bank. Ia mengenakan batik berbahan licin berwarna putih dengan beberapa aksen biru dan bunga. Baju tersebut menonjolkan payudara besarnya dengan sempurna, hal ini tentu menjadi santapan teman-teman prianya di kantor yang melihatnya keluar dari WC setelah ganti baju.

“Susunya mbak Arina mantep bener ya. Gede.” bisik seorang office-boy kepada teman di sebelahnya, diikuti sebuah cubitan kecil seorang office-girl di belakang mereka.

“Gak gue kasih susu lagi nih.” ujar sang office-girl ketus sambil berlalu.

***

“As…” Arina yang hendak mengucapkan salam tiba-tiba terhenti saat mendengar suara desahan dan lenguhan yang tidak asing baginya. Ya, tentu saja, Okta dan Bang Kiki, ujarnya dalam hati.

Melangkah pelan menuju teras, Arina melihat pergumulan Bang Kiki dan Okta. Okta yang terduduk pasrah sambil memejamkan mata dengan kepala mendongak sedang memangku Bang Kiki yang terlihat asik menikmati susu gadis itu, menjilat-jilat dan menghisap putingnya. Sesekali digigit dan ditarik kuat-kuat hingga Okta melenguh panjang karena nikmatnya.

“Duhh… ini si abang nagihnya nggak liat-liat tempat ya?” tegur Arina kepada kedua insan itu. Bang Kiki yang mendengar langsung menoleh dan mendapati sosok Arina sedang berdiri di sampingnya.

“Eh, mbak Arina. Hehehe. Biasa, mbak…” jawab Bang Kiki sambil tangannya terus memainkan puting besar Okta. Hal ini membuat Okta terus melayang dalam kenikmatan sehingga tidak menyadari kehadiran Arina di sana.

“Mbak mau?” lanjutnya. Matanya langsung tertuju ke bongkahan buah dada Arina yang menonjol ketat dari balik pakaiannya.

“Yeee… enak aja. Aku kan selalu bayar full, Bang.” ujar Arina sambil sesekali melirik ke arah penis Bang Kiki yang tertancap di memek Okta.

“Ya sudah lanjutkan sana, Bang. Aku masuk dulu ya.” ujar Arina sambil masuk ke dalam, meninggalkan Okta yang tubuhnya masih tertindih Bang Kiki.

“Oke, mbak.” jawab Bang Kiki singkat sambil tiba-tiba menggoyang-goyangkan pinggulnya ke memek Okta.

***

“Wah, dasar. Lagi pada pesta rupanya.” ujarnya dalam hati saat melihat Hani di kamar Okta tengah mengoral penis seorang cowok yang terbaring di sana dengan kaki menjulur ke lantai.

“Hufff… semua pada asik. Aku makan dulu aja deh.” ujarnya pelan kepada diri sendiri sambil menuju meja makan. “Kamu sabar ya,” lanjutnya sambil mengelus vaginanya yang terasa mulai berkedut dan basah.

***

“Kenapa, Ta?” tanyanya sambil menghampiri Okta. Okta tampak terkejut karena sebelum menghampiri Bang Kiki, penis Edwin mengacung dengan tegak dan terlihat sangat besar. Tapi, setelah pergumulannya selesai, penis Edwin tiba-tiba tampak mengecil. Hal tersebut tidak mungkin terjadi jika tidak ada yang menguras isi penis Edwin.

“Dia siapamu?” tanya Arina kepada Okta di sebelahnya.

“Temen chatting doang sih, mbak. Masih perjaka, dia minta diajarin ML, ya aku suruh dateng.” jawabnya.

“Tapi kok penisnya mengecil, tadi pas aku tinggal sebelum ke Bang Kiki tuh gede banget loh. Mbak Arina ya yang habis mainin penis dia sampe isinya keluar?” lanjut Okta.

“Yee… enak aja. Bukan mbaklah, mbak kan selalu bilang-bilang kalo mau ML sama pasangan kalian.” Arina melangkah memasuki kamar Okta.

“Mbak mau ngapain?”

“Cari pelakunya.” jawab Arina singkat meski dia sudah tahu bahwa Hani lah yang telah menggarap cowok itu.

Tanpa banyak bicara, Arina langsung jongkok tepat di depan penis Edwin, membuka paha cowok itu dengan kedua tangan, dan melahap penisnya langsung ke dalam mulutnya. Edwin yang sedang terlelap langsung melenguh saat Arina tiba-tiba menghisap penisnya.

“Ohh… mbak Haniiii… aah… hhh…” desah Edwin.

Arina langsung melepas emutannya dari penis Edwin yang baru saja akan ereksi. Sambil menoleh ke arah Okta yang tampak terkejut dengan kejadian tiba-tiba tersebut, ia berkata singkat, “Maharani Dwi Putrantiwi alias Hani.”

“Wow, mbak. Aku kaget tiba-tiba langsung masuk kamarku dan tau-tau oral penisnya.”

“Hmm, yahh… sebenernya aku udah tahu kalo itu Hani. Cuma mau nyobain aja. Hehehe,” ujar Arina sambil tertawa genit.

“Dasar, mbak ini. Udah lama ya, mbak? Hehehe… si Hani mah, perjakain jatah orang.” dengus Okta sebal sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya yang membuatnya terangkat dan semakin membusung indah.

“Yahh… hampir sebulanan. Hehehe. Makanya vibrator mbak cepet habis baterenya belakangan ini. Hehehe.” Arina tertawa. “Oh ya, kamu mau langsung main lagi apa mandi dulu? Bersihin itu tuh…” tanya Arina sambil menunjuk selangkangan Okta yang masih meneteskan sperma segar dari penis Bang Kiki yang baru saja mencicipi lubang kenikmatannya.

“Duh, iya nih. Masih lemes juga rasanya, pengen mandi dulu. Mbak emang mau ngapain?” tanya Okta.

“Umm… kalo boleh. Selagi kamu mandi, mbak pinjem cowoknya ya.” tanya Arina malu-malu. Sebulan tidak mendapat pasangan pemuas birahi tentu membuat nafsunya bertumpuk. Hal tersebut disebabkan putusnya Hani, Eva, dan Okta dari pacarnya masing-masing.

“Umm… ya udah, mbak. Pake aja dulu. Udah diduluin Hani juga, aku gak masalah nanti terakhir.”

“Wah, oke, Okta! Makasih yaa!!!” Arina kegirangan karena akhirnya bisa memberi makan vaginanya dengan daging asli, bukan daging palsu berwarna putih yang hanya bisa menggali vaginanya tanpa variasi.

Arina langsung masuk ke kamar Okta dan menutup pintunya. Ia terkagum-kagum melihat penis Edwin yang tadinya mengkerut sudah mulai mengembang ke ukuran normal karena hisapannya tadi.

“Dek, Dek,” Arina mencoba untuk membangunkan Edwin, tampaknya ia tidak tertarik untuk bermain di saat Edwin sedang tidur, seperti yang dilakukan Hani.

Edwin perlahan membuka matanya, dilihatnya sosok Arina yang sedang duduk di tepi ranjang sambil tersenyum kepadanya. Saat sepenuhnya sadar, Edwin kaget dan reflek menutup kemaluannya.

“Eh, oh… I-iya. Mbak siapa ya?”

“Kenalin, nama mbak Arina. Mbak juga penghuni kos di sini. Kamu temennya Okta kan?” tanyanya. Melihat Edwin yang terlihat gugup, Arina berusaha menenangkannya, “Udah buka aja. Santai aja kali. Mbak udah biasa lihat penis cowok kok.” lanjutnya.

Mendengar hal itu, Edwin perlahan membuka tangan dari kemaluannya. Dan seperti sulap, penisnya menjadi lebih besar daripada saat sebelum ditutup tadi. Jelas saja, siapa tidak terangsang berduaan saja dengan gadis berkerudung cantik dan berdada montok seperti Arina.

“Gimana?”

“Gimana apanya, mbak?”

“Ah, kamu. Itu, ML sama Okta dan Hani.” tanya Arina penasaran.

“Owhh, baru sama mbak Hani, mbak. Sama mbak Okta cuma baru sempet oral dia aja, belum sempet coba masukin penisku ke vaginanya.” jawab Edwin dengan lebih santai.

“Ohh… Okta lagi mandi sekarang, memeknya habis dipenetrasi sama orang tadi di teras. Dia masih lemes, jadi perlu jeda sebelum main sama kamu.”

“Hah? Mbak Okta diperkosa orang, mbak!?”

“Ummm… yaa, lebih tepatnya ada orang datang, Okta tiba-tiba buka handuk, tiba-tiba penis orang itu di dalam memeknya, semua senang. Nggak diperkosa kok.” jelas Arina. “Sambil nunggu Okta mandi, kamu mau main sama mbak dulu ya?”

“Eh?” Edwin tampak kaget dengan permintaan Arina yang tiba-tiba dan langsung ke poinnya.

“Iya, sejak temen-temen mbak pada putus sama pacarnya, mbak udah lama gak ML, nih. Mumpung ada kamu, mau ya? Gapapa kan sama kerudungan?”

Edwin hanya melongo saat Arina menjelaskan keadaannya. Ia sama sekali tidak menyangka akan bisa mencicipi tubuh gadis berkerudung yang selama ini cuma bisa menjadi fantasi seksnya.

“Kamu ga papa?” tanya Arina yang bingung melihat Edwin terdiam.

“Eh, oh, umm… gak papa kok, mbak. Aku cuma keinget temen SMA-ku. Namanya Syifa, dia kerudungan gitu deh. Waktu study tour ke pantai, aku nggak sengaja pegang dadanya waktu main games. Entah kenapa dia ketagihan, akhirnya kalo senggang dia selalu minta teteknya aku remes-remes. Sampe lulus, aku masih suka remes-remes payudaranya, padahal waktu itu aku punya pacar. Pas dia mau pindah kuliah di Sumatera, dia bilang makasih karena udah bikin dadanya jadi tambah gede. Dan di hari terakhir itu, pertama kalinya dia ngebolehin aku ngisep dada hasil karyaku itu.” cerita Edwin tentang masa SMA-nya.

“Wow, so sweet. Berarti kamu pengalaman sama cewek jilbab ya?” tanya Arina setelah mendengar cerita Edwin.

“Yah, tapi selama 3 tahun aku cuma remes-remes teteknya doang, mbak. Gak ML, nggak ciuman, nggak ngapa-ngapain. Itu pun dari luar baju seragam doang.” jelas Edwin.

“Owhh… kasiaaan. Ya udah, kalo gitu sama mbak aja yuk? Kalo bisa kamu bikin tetek mbak tambah gede juga ya. Hehehe,”

“Ah, punya mbak kan udah gede tuh. Hehehe.”

“Biarin, biar lebih gede dari punya Okta. Haha.”

Tanpa lama, Arina langsung mengarahkan tangan kanannya ke penis Edwin. Diremas-remasnya penis cowok itu dengan lembut, dirasakannya penis itu mengembang sedikit demi sedikit seperti adonan kue. Edwin sendiri menggeser duduknya sehingga kini mereka berdempetan. Ditariknya dagu Arina sehingga kedua bibir mereka mulai beradu.

“Hmmpphhh… hmmppphhhh…” sambil berciuman, Edwin meremas-remas bongkahan dada Arina. Dipijatnya bukit kembar itu dengan lembut. Arina sendiri tidak ketinggalan meremas penis Edwin sehingga batang itu semakin membesar dan tegang.

“Hmmpphh… slurrrppp… sluurrrrpppp…” lidah mereka saling berpagutan di dalam mulut masing-masing. Edwin memejamkan mata, berusaha menikmati bibir tipis Arina. Dikenyotnya bibir merekah itu sambil terus meremas dada Arina yang tampak semakin besar karena terangsang.

Arina meremas-remas batang Edwin seperti sedang memerah susu sapi. Dirasakannya batang itu semakin besar sehingga tangan mungilnya semakin kesulitan memerahnya. Edwin hanya menikmati momen sensual bersama karyawati berjilbab itu, seakan tidak ingin melepaskan kesempatan emas di depan mata untuk menikmati tubuh gadis berjilbab.

Keduanya saling melenguh, menikmati bibir dan remasan satu sama lain. Sudah hampir 20 menit mereka saling berpagut dan meremas. Penis dan payudara keduanya sudah tampak menegang maksimal, siap digarap lebih jauh lagi.

“Hhh… hhh… hhh… Dek, mbak mau tanya,” kata Arina sambil terengah-engah.

“Hhh… hhh… hhh… a-apa, mbak?”

“Kamu punya fantasi seksual?”

Edwin tersenyum mendengar pertanyaan Arina

***

Edwin memegang sebuah pisau. Sambil telanjang, ia berjalan pelan mengitari sebuah tubuh seksi berbungkus jilbab yang sedang duduk di sebuah kursi kayu. Tangan dan kakinya terikat erat dengan tali tambang tipis, sedangkan mulutnya tertutup. Arina terbelalak melihat Edwin menyeringai kepadanya sambil memegang sebuah pisau. Ia merasa sedikit takut, takut karena permintaannya sendiri agar Edwin dapat merealisasikan fantasi seksualnya kepadanya.

Cowok itu mendekati tubuh Arina, dibukanya satu per satu kancing baju gadis itu. Dirasakannya desah nafas yang semakin cepat dari Arina saat Edwin semakin menuju kancing bawah.

“Wooww!!” takjub Edwin saat akhirnya ia disuguhkan kedua bongkahan dada Arina hanya dengan BH. Begitu besar dan menggairahkan, tampak dua gunung Arina mengeras karena sudah diisi birahi oleh jari jemari terampil Edwin.

BRETTT… BRETTTT… SERRRTTTT…!!!

Dengan gerakan pisau yang lihai, Edwin merobek baju Arina, meninggalkan BH dan celana dalam melekat di tubuh gadis itu, dan jilbab tentunya.

Edwin melongo melihat badan Arina yang kini setengah telanjang, begitu putih dan mulus. Tidak ada lipatan di perutnya, begitu rata dan menggairahkan. Pinggang kecilnya membuat Arina tampak memiliki pantat dan payudara besar. Edwin menelan ludah melihat tubuh indah itu terikat tak berdaya, di depannya, di kamar yang tidak ada siapapun kecuali mereka.

SLURRRPPPPP…!!!

Arina mendongak, terdengar lenguhan pelan saat Edwin menjilat belahan dadanya. Ia mencucuk dada besarnya yang hanya tertutup setengah oleh branya yang seksi. Tanpa kesulitan, Edwin melepas kait bra Arina yang berada di depan. Tampaklah kedua gunung kembar gadis itu, begitu besar dan menantang. Puting coklatnya menghias ujung dadanya seperti buah ceri di atas kue tart. Tidak ingin melewatkan pesta, Edwin pun langsung memasukkan ceri coklat itu ke dalam mulutnya, menghisapnya seperti anak kecil mengemut permen favoritnya. Dihisap, diemut, kadang digigit kecil dan ditarik. Edwin membuat Arina bergelinjang dengan permainannya di puttng susu gadis itu.

“Hmmphhhh… hhhmmppphhhh…” Arina tiba-tiba tampak panik saat dilihatnya Edwin mendekatkan mata pisau yang dipegangnya ke puting susunya. Edwin menyeringai kecil. Ditariknya puting susu Arina kuat-kuat dan didekatkannya pisau itu seolah ingin memisahkan puting kecil itu dari dada Arina.

Edwin mulai menggesekkan pisaunya di puting Arina. Arina tampak kesakitan, terlihat dari badannya yang terus bergerak seolah ingin melepaskan diri dari kursi yang mengikatnya tersebut. Kepalanya mendongak, melenguh panjang dan mulai terdengar isakan tangis di baliknya. Edwin terus menikmati gesekan pisaunya dengan puting Arina, gesekan sisi tumpul pisau dengan puting gadis itu benar-benar dinikmati Edwin. Hal yang sama terjadi dengan puting sebelahnya, sehingga tidak terbayang betapa sakitnya Arina karena perlakuan Edwin terhadap puting susunya.

Selesai bermain dengan kedua puting Arina, Edwin mulai melirik ke arah organ intim gadis itu, satu-satunya yang masih tertutup.

BREEETTTT…!!

Satu tarikan, vagina Arina terbuka bebas, menampakkan gundukan daging tebal dengan balutan bulu tipis di sekitarnya. Edwin terbelalak melihat indahnya vagina Arina. Ia mengelusnya, memasukkan jarinya ke dalam, dan sesekali menarik rambut kelamin Arina.

“Mbaak, seksi banget sih?” ujar Edwin pelan sambil perlahan menjilat vagina gadis berjilbab itu, terus naik sampai ia menjilat kedua payudara Arina hingga kemudian berhenti dengan mencium hidung karyawati tersebut.

Arina menggelinjang karena geli oleh serangan lidah Edwin. Edwin terus menyapu seluruh badan Arina tanpa tertinggal setitik pun. Lidahnya berakhir di vagina. Dibukanya lebar-lebar vagina Arina dengan kedua tangannya sebelum lidahnya menyapu bagian dalam lubang pribadi gadis itu. Dirasakannya vagina Arina sudah sangat basah oleh cairan kenikmatannya sendiri. Edwin menjilat dan sesekali menggigit klitoris Arina yang ditemukannya. Arina bergelinjang semakin kuat saat Edwin menggigit dan menarik biji kecil itu, seolah ingin melepasnya dari vagina Arina.

Edwin menghentikan kegiatannya. Ia berdiri memandang Arina yang terengah-engah setelah tubuhnya dijamah habis-habisan oleh cowok itu. Tampak sedikit air mata menitik dari tepi mata Arina, hasil menahan sakit fantasi Edwin terhadap tubuh indah yang telanjang itu.

PLAKK…!!!

Edwin mendapat tamparan keras saat ia memutuskan untuk melepas ikatan Arina dan mengakhiri fantasinya. Arina langsung bangkit dan tanpa pikir panjang mendaratkan tangannya ke pipi Edwin.

“Kamu apa-apaan sih! Aku kira fantasi apa, ternyata seperti itu! Kamu pikir gak sakit apa putingku kamu sayat kayak gitu, klitorisku kamu tarik kayak gitu! Kamu kira… AAAKKKHHHHH…!!!” Arina yang sedang memarahi Edwin mendadak menjerit tertahan saat Edwin menusukkan sesuatu ke tubuh telanjang Arina.

Tubuh Arina bergetar, kepalanya mendongak sambil mulutnya mengeluarkan lenguhan, “Akkhhh… aakkkhhhh…”

Dalam satu serangan tiba-tiba, Edwin menusuk Arina tepat di alat kelaminnya. Tusukan yang begitu dalam hingga mentok ke rahim karyawati bank itu. Arina tidak berdaya di tangan Edwin. Tangan yang saat ini sedang memegang kedua bongkahan pantatnya, mendorong tubuhnya hingga tusukan penis cowok itu di vaginanya mencapai maksimal. Edwin memastikan penis 20 cm-nya menusuk vagina Arina sepenuhnya, seperti yang dilakukannya kepada vagina kecil Hani.

“Akkkhhhh… aaakkkhhhhh…” Arina menjerit kecil karena kelaminnya dipaksa menelan seluruh penis besar Edwin.

Edwin terus menerus mendorong pantat Arina sambil ia sendiri menggoyangkan pinggulnya menusuk-nusuk liang surgawi Arina. Jilbabnya sudah sangat berantakan. Tubuhnya mulai bergetar tanda orgasme hebat akan datang melanda. Edwin yang menyadari hal tersebut semakin cepat mengocok tubuh Arina.

“Sssshhh… aaakkkkkkk… aaaaaaaaaakkkkkk…” pekik Arina saat dirasakannya penis Edwin mendesak rahimnya.

“S-siap… mbak? Akkhhhh…” Edwin memperingatkan Arina bahwa mereka akan segera orgasme hebat.

CROOOT… CROOOT… CROOOOOTTTTT…!!!

Edwin orgasme. Penisnya menyemburkan sperma ke dalam rahim Arina seperti selang air, begitu banyak dan kencang. Tubuh Arina bergetar hebat menerima tembakan peju itu. Lelehan putih sperma tampak mengalir pelan dari celah vagina gadis itu, mengalir turun melalui paha, sebagian langsung menetes ke lantai.

Arina tampak terkulai. Tulangnya serasa dilolosi setelah dilanda orgasme hebat tersebut. Nafasnya tersengal-sengal seolah ia baru saja melakukan olahraga

PLOP!

Begitu bunyi ketika Edwin melepas penisnya dari vagina Arina. Dasar Edwin, penisnya tidak mengecil sedikit pun meski sudah menyemburkan sperma seperti itu. Edwin membopong tubuh lemas Arina ke ranjang. Direbahkannya tubuh telanjang itu dengan kaki terjulur ke lantai. Vagina Arina yang masih melelehkan peju tampak terekspose jelas.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Edwin mengambil telepon genggamnya dan langsung memotret tubuh indah yang tergeletak hanya tertutup jilbab itu. “Dapet banyak nih gue.” ujarnya salam hati sambil terus mengabadikan tubuh Arina.

“Duh! Tadi gue lupa lagi ngambil foto mbak Hani habis ngentot sama dia.” lanjutnya. Beberapa diambilnya secara selfie. Tampak ia tidur di samping Arina dan mengambil foto mereka berdua, ada juga pose Edwin sedang mengemut puting susunya, sampe pose di mana Edwin foto bersama vagina Arina yang masih mengeluarkan peju dari kelaminnya.

Edwin memang membuat semacam perjanjian dengan teman-temannya, siapapun yang berhasil meniduri cewek selain pacarnya, akan ditraktir teman-temannya yang lain. Sampai saat ini, baru Geri yang sukses mendapat makan dan nonton gratis setelah berhasil menembus memek Shela, adik tingkatnya di kampus, saat diadakan kemping. Shela sendiri memang terkenal binal dan sudah lama tidak perawan, jadi Geri beruntung saat berpasangan dengannya untuk mencari kayu bakar di hutan karena tiba-tiba mahasiswi semester 3 itu menciumnya. Sebagai cowok normal, Geri tentu membalas ciuman tersebut dan berlanjutlah hingga penisnya hinggap di vagina Shela. Berbekal foto dirinya sedang memeluk Shela yang sedang topless dari belakang, Geri langsung makmur saat pulang.

Walau melewatkan tubuh Hani, Edwin tetap merasa menang setelah mendapat bukti fotonya bersama tubuh Arina yang masih tergeletak lemas. Belum lagi setelah ini ia akan mencicipi Okta, semakin makmur lah ia sepulang nanti. Selain Farid, itu pun pacarnya semua, belum ada lagi temannya yang bisa meniduri 3 cewek sekaligus dalam satu hari.

Setelah melihat-lihat foto Arina yang telah diambilnya, Edwin pun kembali bernafsu. Arina yang masih terlihat lemas tidak tahu bahwa akan ada bagian kedua yang diterimanya.

Edwin membalikkan tubuh Arina menjadi tertelungkup, menampakkan bongkahan pantat yang begitu indah dan sekal. “Hhh… hhh… hhh… kamu mau apa lagi, Win?” tanya Arina tanpa bisa mengelak lagi.

Tanpa menjawab, Edwin mengarahkan penisnya ke lubang anus Arina yang tampak masih perawan. Dipegangnya dua bongkah pantat itu dan dibuka sehingga menampakkan lubang kecil anus gadis berjilbab itu.

Tanpa aba-aba dan tanpa belas kasih, Edwin langsung menghujamkan penis besarnya dengan kekuatan penuh, menembus anus Arina dalam sekali hentak.

JLEBBBBB…!!!

“AAAAAAAAAA…!!!”

AYU

Perkenalkan namaku Muhlis, aku adalah seorang pria yang dari segala sisi yang bisa dilihat sangat pas – pasan. Baik dari segi dompet apalagi tampang. Namun kemampuanku untuk berkomunikasi membuat aku mudah untuk memiliki banyak teman dekat, termasuk teman wanita. Apalagi aku ini orang yang sangat suka bercanda. Katanya, wanita paling suka dengan pria yang suka bercanda. Mungkin itulah banyak wanita yang mau dekat denganku meski dengan kondisiku yang aku jelaskan di atas.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (1) Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (6)

Aku sekarang sedang tinggal di sebuah Kota di pulau jawa. Aku mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studiku di jenjang strata 1. Aku berkesempatan untuk kuliah di salah satu PTN terbesar di negeri ini. Di kota ini aku tinggal di kost, jauh dari pengawasan orang tuaku. Mungkin hal inilah yang menjadi penyebab terjadinya cerita ini. Petualanganku bersama beberapa wanita yang berteman atau berpacaran denganku.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (2)

Pada suatu hari, di akhir semester pertama aku kuliah, aku kedatangan tamu dari kota sebelah. Dia bernama Ayu, dia adalah teman sekelasku waktu SMA dulu, walaupun dulu aku tak terlalu akrab dengannya. Karena pada dasarnya dia sangat pendiam. DIa cantik, kaya, sehingga aku cukup segan padanya. Tapi beberapa bulan yang lalu, di awal dunia perkuliahan, tiba – tiba dia mengirim pesan padaku. Pada saat itu ia meminta tolong aku untuk mengerjakan tugas kuliahnya, karena kebetulan tugas itu memang sesuai dengan bidang yang aku pelajari di universitasku. Dia kuliah di kampus kesehatan di kota sebelah kota dimana aku tinggal. Pada saat itu ia nampak panik, karena tugas itu harus dikumpulkan malam itu juga. Aku ingat, bahkan ia sempat menelponku untuk meminta bantuan. Aku menyanggupinya, karena memang tugas itu tidak terlalu susah, toh aku sedang tidak ada kerja.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (3)

Dalam waktu sejam aku sudah berhasil menyelesaikan tugas tersebut. Aku mengirimkan tugas itu padanya, agar dia bisa mengecek sebelum dikirim. Katanya itu sudah cukup bagus. Ia kembali menelponku untuk mengucapkan terima kasih. Mulai dari situlah komunikasiku dengannya terbangun. Sering berkirim pesan, hingga saling telfon. Hingga kami sepakat untuk bertemu. Awalnya aku mengunjungi kampusnya. Aku bertemu dia disana. Kemudian ia mengajakku ke asramanya. Ya, dia di asrama, sehingga aku tak bisa mengajaknya jalan – jalan karena akan sangat tanggung. Akhirnya kami hanya ngobrol di ruang tamu asramanya. Tapi itu cukup membuat aku dan dia menjadi lebih akrab.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (4)

Kemudian di suatu hari, di akhir semester pertama, dia berencana datang ke kampusku. Katanya ia pengen melihat kampusku. Aku bersedia untuk mengajaknya berkeliling kampusku itu. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk datang di akhir minggu. Ia datang naik bis, aku menjemputnya di halte. Aku menunggu disana, di atas sepeda motorku. Aku melihat beberapa bis datang bergantian. Tapi Ayu tak kunjung muncul di pandanganku. Hingga akhirnya bis keempat datang, dan di halte aku melihat sesosok gadis kecil dan sangat cantik. Bibirnya merah sensual, dengan berbalut baju lengan panjang warna putih dan rok warna hitam. Dikepalanya terlilit jilbab senada dengan warna bajunya. Sangat cantik. Dari dulu aku sangat suka melihat bibirnya. Sangat sensual.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (5)

Dia menengok – nengok mencariku. Saat ia berusaha menelponku, aku sudah tiba dengan motorku di depannya. “silahkan tuan putri”kataku sambil tersenyum padanya. “eh kamu”katanya membalas senyumku dengan senyuman yang sangat manis. Kemudian ia memboncengku. Aku mulai melajukan sepeda motorku. Suasana sedikit canggung, karena walaupun dulu sekelas, baru pertama kalinya aku jalan berdua dengannya seperti ini. Hingga akhirnya aku memecahkan suasana “Mau makan dulu nggak?, aku punya tempat yang harus kamu coba disini”kataku menawarinya. “emmm boleh, aku laper, kamu traktir kan? Hehe” balasnya. Aku tersenyum lalu menjawab “tentu saja, hari ini full service untukmu”. Dia tertawa lalu memukul manja pundakku. Aku tersenyum, lalu mengarahkan motor ke tempat makan yang aku maksud.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (6)

Selesai makan, dia nampak sangat menyukai tempat itu. Selain tempatnya rapid an nyaman, masakannya juga sangat enak katanya. “Sekarang mau kemana?”tanyaku. “terserah kamu, katanya mau ngajak aku keliling kampusmu?” balasnya. “hmmm masih jam 5 sore, akan lebih bagus kalau kita keliling habis magrib nanti”jawabku. “baiklah, lalu kemana?”tanyanya. “ayo ke kosku saja. Kamu harus mandi juga kan?, biar gak bau hehe”ledekku. Dia mencubitku sambil tersenyum manis. Lalu aku mengarahkan motorku ke kosku.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (7)

Habis magrib, aku mulai keliling kampus dengannya. Aku menjelaskan satu per satu gedung yang ada disana. Dia merasa cukup senang, apalagi pemandangan lampu di kampusku cukup menawan di malam hari. “aku lelah, kita istirahat dulu yuk. Kamu pasti pengen foto – foto kan?” tanyaku sambil tersenyum. Dia mengangguk. Aku membelokkan motorku ke tempat yang sangat strategis, tempat itu memnag menjadi spot favorit untuk foto – foto. Biasanya ramai setiap malam, tapi entah kenapa malam itu cuman ada aku dan Ayu disana. Memang kebetulan hari itu mendung cukup tebal menggantung di langit kotaku. Aku mulai menawarinya berfoto. Awalnya dia bergaya sendiri, hingga kemudian dia mengajakku foto bersama. Aku menyanggupinya dengan malu – malu. Hingga tanpa sengaja, ketika berpose foto, pipiku dengan pipinya berdempetan. Aku rasa dia tidak menyadarinya, tapi aku jadi salah tingkah karenanya. “Sudah ah capek foto – foto mulu, sini kamu, ayo ngobrol”katanya menarik tanganku untuk duduk disampingnya.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (8)

Kami ngobrol tentang banyak hal, hingga tanpa aku sadari tanganku sudah menggenggam erat tangannya. Tangan kiriku mulai membelai kepalanya yang bersandar di pundakku. Elusanku turun kepipinya, sangat lembut kulit pipinya itu. “Kamu cantik banget Yu”kataku berbisik. Dia menoleh ke arahku, aku mengecup pipinya. Dia terdiam. Kemudian memejamkan matanya, aku tau yang dia maksud. Aku mendekatkan wajahku, lalu mulai mencium hidungnya. Lalu mulai turun ke bibirnya. Awalnya hanya menempelkan bibirku ke bibirnya saja, karena aku ragu. Tapi kemudian dia menganggukkan kepala, dan menurutku itu pertanda bahwa yang aku lakukan benar. AKu mulai melumat bibirnya yang aku kagumi sejak dulu. “emhh.. emhh.. slurp”suara lidah kami saat mulai bertautan di rongga mulutnya. Dia mendesah desah, menikmati setiap sapuan lidahku. Kemudian dia melepas ciumannya. “Aku ganti posisi, aku mau menghadapmu dulu” katanya lalu bergeser menghadapku. Kemudian dia menyorongkan bibirnya lagi. Aku melumat bibirnya lagi. Aku sangat bernafus, hingga tubuhku seperti mendorong tubuhnya. Dia menjaga tubuhnya dengan meletakkan tangannya ke belakang sebagai penyangga tubuh, aku terus mendekatkan tubuhku. Aku memeluknya, mengelus elus punggungnya. Kakiku sudah mengangkangi kedua kakinya yang terbujur lurus.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (9)

Dalam posisi ini aku merasa sangat bernafsu. Tanganku terus bergerak dipunggungnya sampai akhirnya aku beranikan untuk meraih tangannya, sehingga kini aku menindih tubuhnya yang mungil. Tangannya beralih memeluk leherku, sementara tanganku berpindah kedepan. Aku ingin menyentuh susunya, walaupun aku masih ragu. Aku penasaran, dulu aku lihat dari seragam SMAnya dia memiliki susu yang kecil sesuai dengan ukuran badannya, sehingga aku juga tidak terlalu berminat untuk menjamahnya. Tapi lama kelamaan aku mulai tak bisa menahan laju tanganku, dengan sedikit ragu aku mulai mengelus susunya dari luar baju. Ia kaget, membuka matanya yang sedari tadi tertutup. Aku pun menarik tanganku takut ia marah.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (10)

Ta;pi diluar dugaanku, justru tangannya meraih tanganku untuk menjamah dadanya. Aku mulai meremasnya, dan aku merasa benda yang aku genggam tersebut memiliki ukuran yang cukup besar. Aku cukup kaget dibuatnya. Lalu aku lepas ciumannya. “kenapa?” katanya sedikit kecewa. “Besar sekali, aku kira dulu waktu SMA punyamu tak sebesar ini Yu?” tanyaku sambil meraba dadanya. Wajahnya bersemu merah karena malu.”aku juga tak tahu, tapi kamu suka yang besar kan?” katanya memancing. Aku mengangguk semangat.”yaudah lanjutin, aku masih pengen kamu cium”katanya. “Hemmm ayu, jangan disini, tempat ini sangat terbuka. Kita ke kosku aja”kataku menawari.Dia mengangguk. Kami merapikan pakaian lalu menuju sepeda motor untuk pulang ke kosku. Kali ini dia membonceng dengan tanpa ragu menempelkan dadanya di punggungku.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (11)

Sesampainya di kamar kostku, aku menyuruhnya untuk berganti kaos dulu karena sedari tadi ia memakai kemeja yang tentu saja sangat gerah. Setelah dia berganti pakaian, aku masuk kamar. “Lagi yuk”kataku.”Sini dong”katanya sambil terlentang di Kasur kecilku. Aku segera menyusulnya, menindih tubuhnya lalu menciumi bibirnya. “ahh.. ahh.. ssshhh” desahnya saat aku mulai meremasi susunya. “Aku buka bajumu ya Yu”tanyaku. “jangan muklis, nanti kita kebablasan. Kamu tidak puas pegng dari luar?” tanyanya. Aku bisa mengerti. Walau sedikit kecewa akhirnya aku melanjutkan remasanku. “Aku buka BHku saja dulu. Nanti kamu raba dari dalam kaos. Aku gak mau kamu lihat, aku malu”katanya. Aku setuju, lalu membalikkan badan. Beberapa menit berselang, sebuah BH terlempar kedepanku. Aku membalikkan badanku lalu melihat dadanya. Aku bisa melihat putingnya, karena kebetulan kaos yang ia gunakan cukup tipis. “Tunggu apa muklis?”katanya. Aku menyergapnya, memasukkan tanganku ke dalam kaosnya. Aku memainkan daging kenyal yang cukup mantap ditanganku. Aku memainkan tanganku pada ujung putingnya. Membuat Ayu mendesah desah.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (12)

“ahhh muklisssshhh shhh ohhh geli”desahnya. Aku menciumi pipinya, seluruh wajahnya, juga telinganya yang tertutup jilbab. Aku menyibakkan jilbabnya, lalu mulai membuka cupangan di leher putihnya.”Aku suka muhlis, terussshh”desahnya. Tanpa aku dan dia sadari, kedua tanganku yang bersemangat main di susunya membuat kaosnya tersingkap hingga atas. “Ayu, aku terlanjur melihat dadamu”kataku tersenyum. “kamu jahat nih, curang’katanya cemberut.”Lepas aja ya?”kataku. Dia mengangguk. Lalu dia melepas kaosnya. Dia juga berusaha melepas jilbabnya, tapi aku larang. Aku lebih suka dia menggunakan jilbab. Sekarang dia tak menggunakan kaos, dadanya terpampang jelas di mataku.Aku bengong melihatnya. “Kenapa bengong?”katanya sambil menutupi dadanya dengan kedua tangan. “Aku masih tak menyangka, sekarang bisa sebesar ini” kataku terpana. Tanganku mulai mengalihkan tangannya. Memainkan susunya dengan gemas. Aku mendekatkan bibirku, mulai mengulum putting susunya. “enggghhh geli sayang”katanya menggeliat saat aku hisap putting susunya. Aku memainkan susunya tanpa henti. Hingga tanpa aku sadari, tangannya bergerak ke arah selakanganku. Memegang kontolku dari luar celana. “Aku mau lihat ini boleh?” katanya. “Tentu saja, lepas saja celanaku “kataku sambil berdiri.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (15)

Ia berjongkok dan membuka celana sekaligus celana dalamku. Kontolku langsung menyembul memukul bibirnya. “Besar”katanya kaget. “69 yuk Yu”kataku. “apa itu?” katanya tak mengerti. “Kamu jilati burungku, aku jilati punyamu”jawabku menjelaskan. “Apa gak jijik?”tanyanya ragu. “kita coba aja”kataku. Dia mengangguk. AKu mulai melepas rok panjang beserta cela dalamnya, aku terpana melihat memeknya. Sangat sempit. Aku menciumnya. “auhh geli”katanya. “aku tiduran, kamu naik di atasku, tapi badanmu terbalik. Punyamu tepat di mukaku”kataku memberi penjelasan. Dia mengangguk. Aku mulai menjilati memeknya. Sangat aneh rasanya, tapi aku suka. “enggghhh ahhh terus sayang”katanya. Aku berusaha mencari klitorisnya dengan lidahku, tanganku meremasi pantatnya. “Mukhlis.,,, nikmat ahhh” desahnya lagi saat aku menemukan klitorisnya. “Ayu, kamu juga mainin burungku dong biar aku juga enak” kataku protes. Dia menggenggam burungku penuh ragu, dia mencium kepala penisku. Kemudian menjilatnya. “emuuut sayang”kataku tak tahan lagi. Dia membuka mulutnya lalu memasukkan kontolku dan mulai mengulumnya. Aku sangat menikmati karena ini pengalaman pertamaku. 15 menit lamanya kami saling menjilat dengan posisi itu.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (13)

“Muklis, aku mau keluarrr ahhhh ahhh”katanya berteriak. “Aku juga sayang, hisap terus”kataku. Beberapa detik kemudian, “ahhhhh muklisshhhh ahhhh geli”katanya dan disusul cairan yang keluar dari memeknya. Sementara kontolku belum terpuaskan oleh lidahnya. “Ayu aku belum keluar”kataku padanya. “baiklah, lakukan sesukamu, asal jangan kamu masukin. Aku masih perawan”katanya. Aku kemudian membuka selakangannya. “jangan masukin muklis, pliss”katanya mengiba. “aku gesek gesek aja sayang sampai keluar”kataku, aku mulai menggesek kontolku yang tegang ke memeknya. Sambil mulutku memainkan payudaranya. “ahhh… shhh,, ahh ohh”hanya itu yang terdengar dari mulutku. Aku tak tahan lagi, aku ingin memasukkannya tapi masih ragu. Tapi nafsuku benar – benar sudah sangat tinggi. Kepala kontolku mulai menyeruak. Dia terbelalak. Aku memandang matanya penuh ketenangan. Untuk mendapatkan kepercayaannya. AKhirnya ia mengangguk, aku tahu dia mulai terpancing birahi.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (14)

AKu mulai memasukkan kontolku. Sangat sulit karena memeknya sangatlah sempit. “pelan sayang,, perihh,, uhh”katanya. AKu memaju mundurkan kontolku. Hingga akhirnya aku merasa ada yang menahan. Aku yakin itu selaput daranya. Aku memaksanya masuk, dengan satu hentakan keras. “ahhh sakittt ahhh….”katanya menahan perih. AKu mendiamkan kontolku didalam memeknya. AKu melihat nafasnya mulai ngos – ngosan. Kemudian aku menindihnya, memeluknya dan menciumi wajahnya agar dia tenang. Tanganku bermain di putting susunya yang mungil. Aku mulai mengayun pinggulku. “ahhh,, terus,, ahh”desahnya di telingaku. “ahhh ayuu… nikmat banget… ahh..” desahku menahan nikmat. “Muklis, burungmu mentok ohh uhh” sahutnya. “Ayu, ini pengalaman pertamaku. Dan aku beruntung mendapatkan pengalaman seks pertama dengan kamu. Cantik, badan kamu bagus” aku memujinya sambil terus memainkan pinggulku. Kakinya mengait di punggungku, tangannya merangkul leherku, sementara bibirku terus ia lumat. Bibirku berpindah ke puttingnya. Sangat romantic, percintaan di kamar kost ini.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (17)

Desahan kami bersahutan, tapi aku sangat menyukai suara desahan ayu. Sangat sensual. “ahhh muhlis, hampir sampai,,, goyang yang kenceng sayang”katanya sambil mencakar punggungku. Ia menggoyangkan pinggulnya mengimbangi goyanganku. “ahhh muklis aku keluaarrr.. ahhh ahhh”katanya disusul orgasme yang sangat dasyat. Aku menghentikan goyanganku memberi ia kesempatan bernafas. “mau lagi?” tanyanya. “tentu, aku belum keluar. Balikkan badanmu sayang, nungging lah”kataku memberi aba aba. Dia menuruti, ia menunggingkan badannya.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (19)

Aku mengambil posisi, merabu memeknya lalu menancapkan kontolku disana. “ahh muklis ini nikmat sekali”katanya sambil meraih tanganku untuk memainkan payudaranya yang bergelantungan. Tentu saja aku sangat menyukainya. Aku memompanya dengan kencang. Sampai akhirnya aku tak tahan lagi, “aku akan keluar ayu”kataku. “Cabut sayang, jangan didalem”katanya. “ahhh aku terus mengocok kontolku sampai akhirnya aku mencabutnya dan crot crot crot, spermaku melebur ke punggungnya. Aku tersungkur menindihnya dari belakang. Tanganku masih memainkan puttingnya. “nikmat sekali muklis”katanya. “Tubuhmu sempurna Yu”kataku membalasnya.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (18)

Kami beristirahat setelah pertempuran itu, walaupun semalaman itu aku terus bermain dengan tubuhnya. Aku mengajarinya berbagai macam gaya seks dan dia sangat menyukainya. Hingga kami berdua tertidur di kamar kostku.

Pagi harinya aku mendengar suara sesenggukan, aku melihat ayu menangis. “kamu menyesal?” tanyaku. “sedikit. Tapi aku juga menikmatinya. Dan ini sudah terlanjur. Kamu sangat pandai membuatku senang Muklis. Termasuk dengan kejantananmu”jawabnya. “lalu bagaimana?” kataku bingung harus berkata apa. “tidak usah kau fikirkan, ini salah kita berdua. Akupun sangat menikmatinya semalam. Sekarang antarkan aku ke kotaku, aku masih ingin memelukmu walau di motor. Nanti aku akan sering kesini lagi. Kita main lagi. Katanya tersenyum. Aku membalas senyumnya.

Zunda ayu afifah jilbab cantik murah (20)

 Akhirnya aku mengantarkannya ke asrama, dan dia memelukku di sepanjang perjalanan di atas motorku. Dan hari hari setelahnya dia lebih sering menghubungiku. Tentu saja, sesuai janjinya ia akan mengunjungiku lagi untuk bermain denganku lagi

MARFUAH

Pagi itu saya lihat Marfuah anak tetangga samping rumah yang biasanya selalu memakai jilbab ketika pergi ke sekolah, sedang mau mandi sebelom berangkat ke sekolah di kamar mandi yang letak nya di belakang rumah saya,timbul niat saya untuk ngintipin Marfuah mandi,maklum karena di rumah Marfuah belom punya kamar mandi sendiri jadi tiap hari mandi nya di kamar mandi di belakang rumah saya.

payudara jilbab (1)
setelah Marfuah masuk ke kamar mandi perlahan saya berjalan mendekati kamar mandi,setetah mencari-cari celah buat ngintip akhir nya saya dapetin celah walaupun celah nya hanya sebesar lobang paku,tapi saya bisa lihat Marfuah melepas pakain nya,oohhhsungguh pemandangan yang luar biasa.
tubuh Marfuah yang putih mulus terlihat dengan buah dada yang begitu montok nya di hiasi punting yang masih ramun apalagi mem*k Marfuah yang masih di tumbuhi bulu-bulu tipis di sekitar mem*k nya yang membuat saya lebih bernafsu ngelihat nya.
saya liat Marfuah mulai membasahi tubuh nya dengan air dan mulai menyabuni seluruh badan nya,oohhh betapa nikmat nya klau saya bisa menikmati tubuh nya yang begitu menggoda, rupanya Marfuah enggak tau klau sedang saya intip,terkadang Marfuah meremas-remas buahdada nya sendiri menambah pemandangan saya lebih hott,tanpa sadar oleh saya kalau Marfuah dah mo selesai mandi nya,buru-buru saya meninggal kan kamar mandi terus duduk di teras belakang rumah saya sambil nungguin Marfuah lewat di depan teras.

payudara jilbab (2)

selang 10 menit kemudian Marfuah lewat depan teras rumah saya,oohh Marfuah lewat di depan teras saya hanya memakai jilbab dan pakain longgar,….mari om tumben kok belom berangkat kerja sapa Marfuah,langsung saya panggil Marfuah.
Marfuah ke sini sebentar om mau ngasih sesuatU ke Marfuah. apa sih om??ntar aja klau Marfuah dah ganti baju dulu,Marfuah kan malu.
gpp cuma sebentar aja kok lagian napa meti malu Marfuah kan masih pake handuk,bentar aja.
apa sih om kata Marfuah sambil berjalan masuk ke teras rumah saya.yuk masuk dulu san gak enak klau ngasih sesuatu nya di luar bujuk saya.
akhir nya Marfuah masuk ke rumah saya,tanpa sepengetahuan Marfuah langsung saya kunci pintu rumah dari dalam.

payudara jilbab (5)
mang mo ngasih apa om,buruan ntar Marfuah terlambat pergi ke sekolah nya kaya Marfuah.
om mau ngasih sesuatu ke Marfuah tapi Marfuah harus pejamin mata dulu biar surprice,iihh om ini ada-ada aja pake acara pejamin mata segala sih,setalh Marfuah mejamin mata nya saya ajak masuk ke kamar saya,setelah sampai di kamar saya kunci kamar saya dari dalam dan saya lepasin pakaian saya hingga telanjang.
dah belom om cepetan ntar Marfuah telat berangkat sekolah nya kata Marfuah yang masih memejam kan mata nya.
setelah saya telanjang saya peluk Marfuah dari depan sambil bisikin sekarang Marfuah buka mata nya.
haahhhh,,,,,oommmm mau ngapain,,,,sambil mencoba berontak berusaha ngelepasin dekapan saya.
jaaangggaannnn,,,ommmm,,,,jangannn perkosa Marfuah,,,jangan, diemm klau Marfuah berani teriak om bunuh,sambil saya tarik bajunya longgarnya yang menutupi tubuh mulus nya.
sambil saya dekap saya rebahin tubuh Marfuah di atas ranjang saya,
langsung saya tindih tubuh Marfuah sambil saya jilatin buahdada Marfuah yang montok,kadang kadang saya gigit puting nya hingga Marfuah merintih kesakitan.

payudara jilbab (6)
ammmpunnn ommmm,,ampuunnn,,jangan perkosa Marfuah,,,tanpa menghiraukan rintihan Marfuah saya gesekin jari saya ke mem*k Marfuah,
ahhh,,aahhh,,,ahhh,,,tanpa sadar Marfuah mendesah saat saya menggosok clitoris nya,perlahan saya coba masukin jari saya ke mem*k Marfuah.oooohhhh,,,saaaakiiiiittt ommmm,,,saat jari saya masuk ke mem*k Marfuah.
wah nih anak masih perawan kayak nya,saya cabut jari saya terus saya naik ke atas kepala Marfuah hingga kont*l saya tepat di depan wajah Marfuah.
sekarang Marfuah hisap kont*l om klau gak mau Marfuah saya tampar,,gakk mau Marfuah gak mau sambil berusaha menghindari kont*l saya,om bilang hisap sambil saya tampar pipi nya,tampak Marfuah syok sehabis saya tampar.perlahan Marfuah membuka mulut nya langsung saya masukin kont*l saya ke mulut nya yang mungil.
tampak mulut Marfuah penuh dengan kont*l saya,saya dorong lagi kont*l saya lebih dalam ke mlulut Marfuah..aaakkkhhh,,,aaakhhh rupa nya Marfuah tersedak karena kont*l saya lebih masuk di dalam mulut nya,
perlahan saya gerakin kont*l saya maju mundur sambil saya pegangin kepala Marfuah,
setelah 15 menit kemudian saya lepasin kont*l saya dari dalam mulut Marfuah,tampak Marfuah menangis karena takut klau saya bunuh dan Marfuah terlihat pasrah apa yang akan saya perbuat.
saya lebarin kedua paha Marfuah hingga membentuk huruf v saya jilatin mem*k Marfuah terkadang saya sedot clitoris nya sehingga tanpa sadar Marfuah ikut menggerakkan pantat nya,setelah mem*k Marfuah basah dengan air liur saya dan cairan kenikmatan nya saya arahin kont*l saya yang dah gak sabar pengin merobek keperawanan Marfuah, setelah kont*l saya pas di lobang mem*k nya saya dorong dengan sekuat tenaga sambil saya pegangin pantat nya.

payudara jilbab (7)
ooooocchhhhh,,,saaaakkiiiitttttttttttt,,,,sssaaakk iitttt,,,,,ammmpppuunnnn jerit Marfuah saat kont*l saya masuk menembus mem*k nya yang masih perawan,tenang aja Marfuah nikmain aja ntar juga nikmat kok kata saya sambil terus mendorong kont*l saya yang baru masuk setengah,saya lihat Marfuah meringis kesakitan akibat mem*k nya saya masukin kont*l saya,
setelah kont*l saya masuk seluruh nya saya diemin sambilo meresapi nikmat nya jepitan mem*k abg,saya lihat tampak darah perawan Marfuahmengalir dari sela-sela kont*l saya hingga membasahi sprei ranjang saya.
perlahan saya genjot mem*k Marfuah sambil saya jilatin buahdada Marfuah yang masih kencang dan montok.
ooohhh,,oohhh,,,ampuunn omm sakittttt,rintihan Marfuah membuat nafsu saya lebih memuncak.saya genjot mem*k Marfuah yang masih sempit hingga Marfuah mengerang ooocchhh,,,aakkkhhhh,,,akhhhh,
bosen ngent*tin Marfuah dengan gaya missionary saya balikin tubuh Marfuah hingga sekarang tubuh Marfuah berada di atas saya.langsung saya genjot tanpa kenal ampun.
goyangin pantat loe sambil saya remas buah dada nya dengan keras hingga Marfuah menjerit..aaakkkhhhh,,iiiiyaaaa ommm
oooohhhh nikmat nya goyangan mu sannnn,ayoo goyangin terus sambil saya tampar pantat saat Marfuah berhenti menggoyangkan pantat nya.
setetah 15 menit saya ent*tin Marfuah,saya suruh Marfuah turun darui tubuh saya trus saya suruh nungging dengan tangan bertumpu pada pinggir ranjang.
sekarang saya pengen ngent*tin Marfuah dari belakang kata saya sambil meremas pantat Marfuah yang semok
perlahan saya selipin kont*l saya di antara paha Marfuah hingga akhir nya saya tempelin kont*l saya di lobang mem*k Marfuah yang tampak membengkak akibat saya sodok.
dengan satu hentakan keras saya masukin lagi kont*l saya ke mem*k Marfuah dari belakang sambil saya tarik pantat Marfuah ke belakang hingga membuat kont*l saya masuk seluruh nya,
goe ent*tin Marfuah sambil saya ramas-remas buah dada ya yang tampak terayun-ayun karena sodokan saya.ooohhh..ooohhh.oooh nimat banget mem*k kamu Marfuah sambil terus saya ent*tin Marfuah.
tanpa sadar hampir 1jam saya menyetubuhi Marfuah dan geu ngerasa klau saya dah mau klimaks,langsung saya cabut kont*l saya dri mem*k Marfuah
saya suruh Marfuah jongkok di depan saya sambil saya paksa masukin kont*l saya ke mulut nya lagi.
Marfuah yang terlihat sudah lemas hanya bisa nurutin kemauan saya,perlahan kont*l saya masuk ke mulut nya yang mungil.

payudara jilbab (8)
langsung saya pegangin kepala Marfuah sambil terus saya genjot kont*l saya hingga akhir nya
cccoorttt,ccrrrooott.ccrooott,saya tahan kepala Marfuah sambil saya semburin sperma saya ke mulut Marfuah,
Marfuah mencoba melepaskan kepalanya tapi usaha nya sis-sia karena pegangan tangan saya di kepala nya terlalu kuat hingga sperma saya tertelan oleh Marfuah..ooohhh..ooohhh nikmat nya mulut kamu Marfuah,semburan demi semburan tanpa ada sperma saya yang keluar dari mulut Marfuah,setelah kont*l saya menyemburkan sperma nya di mulut Marfuah perlahan saya cabut kont*l saya,saya suruh Marfuah membersihkan sisa-sisa sperma saya yang masih melekat di kont*l saya.
timbul pikiran saya,
saya ambil hp saya langsung saya foto Marfuah yang masih telanjang sambil saya ancam lagi klau Marfuah berani macam-macam ama saya akan saya sebarin foto-foto telanjang Marfuah ke teman-teman Marfuah