VINA

Aku baru saja keluar dari kelas sore itu, matakuliah terakhirku hari ini. Kira-kira masih jam 16.30 saat itu namun gedung fakultasku sudah sangat sepi. Aku lelah sekali, matakuliahku benar-benar padat hari itu. Akhirnya aku beristirahat dan duduk dibangku panjang di sebelah selatan, aku malas untuk langsung turun ke bawah dari lantai 4 ini. Beberapa saat kemudian, aku dikagetkan dengan seseorang yang tiba-tiba keluar dari kelas didepanku. Ah, ternyata itu Vina, Dia adalah Mahasiswi  Filsafat semester 2 difakultasku. “Eh, Ada Bayu,Aku ikut duduk yah” sapanya padaku. “Iya gak papa,loh kok kamu belum pulang Vin?”tanyaku. “Iya nih, aku lagi males turun soalnya, nanti aja ah” jawabnya dengan kenesnya. Darahku berdesir duduk bersebelahan dengannya disaat kondisi lantai 4 fakultasku yang benar-benar sepi ini. Aku takjub dengan penampilannya saat itu, Tubuhnya langsing,dengan payudara yang cukup besar, kutaksir sekitar 34 B. Pinggulnya yang besar memperlihatkan seolah celana jeans ketatnya tak cukup menampung kedua bongkah pantatnya itu, ditambah dengan wajahnya yang cantik dan putih dibalut jilbab fasmina modisnya. Menambah keanggunan wanita berjilbab di depanku ini.

jilbab seksi - engga (2)

“Sibuk banget sih vin sama Hape-nya” tanyaku coba memecah keheningan. “ah, iya nih Bayu aku lagi sms-an sama Tiwi biar njemput aku” jawabnya lagi dengan kenesnya. Ah, kontolku jadi tegang dibuatnya. Aku teruskan mengobrol dengannya, ngalor-ngidul hingga akhirnya obrolan kami menyerempet hal-hal yang berbau seks “Hayooo..Bayu pernah ngapain sama Tiwii..”tanyanyan dengan senyumnya yang menggoda sambil mencubit-cubit perutku. Aku berusaha menghindar dan Vina malah tak sengaja memegang kontolku dari luar celana jeansku”iiih..apaan tuh, kok keras ya, hayoo Bayu ngaceng yaa”tuduhnya. Aku langsung panik “Ah, nggak kok vin nggak papa”. Aku terkejut dengan ucapannya barusan. “Udah ngaku aja Bayu gak papa kok, Vina tau kok Bayu dari tadi horny ngeliatin Vina.”Vina mulai menggodaku. Aku diam seribu bahasa, sejurus kemudian tiba-tiba Vina mencium bibirku, Ia juga meremas-remas kontolku dari luar celanaku. Karena memang akupun sudah horny, aku membalas ciuman ganas Vina dibibirku. Lidah kami saling beradu, aku tak mennyangka Vina yang ku kenal bisa begini binalnya dalam berciuman, aku bisa kehabisan nafas kalau begini.

jilbab seksi - engga (3)

Walau sudah dikuasai nafsu namun kesadaranku masih ada, aku berfikir ini bukan tempat yang tepat untuk bermesum ria dengan Vina, akhirnya sambil terus berciuman aku langsung mengajaknya masuk ke kelas tempat Vina keluar tadi, “R 4 K 15”. Akhirnya aku bisa aman bercinta dengan Si Jilbab Semok Vina ini. Kami pun melanjutkan ciuman kami, Aku mulai meremas Payudaranya dari luar Kemejanya. Sambil tetap berciuman aku mulai melepas satu persatu kancing kemejanya, terpampanglah payudara Vina yang masih terbungkus Bra bermotif polkadot warna hitam. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih. “Amhh..Amhh..Amhh..”, desah Vina tertahan dalam ciuman kami. “Bayu, aku buka celanamu ya”. Aku tak menjawab, Vina mulai membuka kancing celanaku kemudian tangannya menelusup ke dalam celana bokser-ku. Aku pun tak tinggal diam, aku menyuruh Vina tiduran dilantai kelas itu agar aku lebih leluasa, aku pun melepas bra yang menutupi payudaranya, terpampanglah dua buah payudara Vina yang putih bersih dengan puting kecoklatan yang sudah keras mengacung. Lantas aku pun menurunkan celanaku sampai lutut, dan melepas celana jeans ketat Vina sampai lutut juga. Vina pun menggenggam kontolku dan menggesek-gesekannya ke memeknya dari luar celana dalamnya yang sewarna dengan bra-nya. Aku melanjutkan kegiatanku dengan mengulum bibirnya dan memilin-milin putingnya yang sudah mengeras, Vina hanya bisa mendesah dan meracau tak karuan. “Ah Bayu enak banget, terus mainin susuku, ahhh..kontolmu enak Bayu..aaah..”Vina meracau saat kulepas ciumanku.

jilbab seksi - engga (7)

Aku pun berinisiatif untuk melakukan hal lain, Aku berjongkok dan melepas kontolku dari genggaman tangan Vina dan mengarahkannya ke belahan dada Vina, seakan mengerti Vina pun lantas mengatupan payudaranya dengan tangannya dan mulai menjepit erat kontolku, aku pun mulai memaju mundurkan kontolku dibelahan dadanya, ah terasa nikmat sekali. “Ah Bayuu terus Bayuu..enak banget sayang” Vina mendesah keenakan. Aku rasa cukup dengan yang ini, aku pun memainkan putingnya dengan kontolku,”Aaaah, teruss Bayuu..uuh enak” Vina mendesah lagi.

jilbab seksi - engga (4)

Lantas, aku mulai mengarahkan kontolku ke bibirnya, dan menggesek gesekannya dibibirnya yang basah dan mengkilap. Vina pun langsung melahap kontolku dan mengulumnya dengan ganas, aku hanya merem-melek keenakan dibuatnya. Kulumannya di kontolku semakin ganas saja, ia menjilati batang kontolku dari pangkal hingga pucuknya dan menjilati belahan dipucuk kontolku. Aku dibuat kelojotan oleh sepongannya. Aku merem-melek keenakan,”aaah..terus vin…seponganmu enak banget sayangg”..”aahm…eemmnak…khonmtolmu Bayuu..”. Setelah puas, aku berinisiatif untuk berganti posisi, aku mulai berbalik badan, dan mengarah ke memeknya .posisi 69 kurasa cukup cocok sekarang. Ku biarkan Vina menikmati kembali kontolku, ku lepas CDnya sampai lutut juga menyusul celana jeansnya yang sudah ku turunkan lebih dulu. Terpampanglah memeknya yang masih sempit dan berbulu tipis, aku mulai menjilati memeknya, tercium bau harum sabun kewanitaan. Gadis berjilbab memang pintar merawat kewanitaannya. Ku susuri belahan memeknya dan menjilati klitorisnya..”Ahh…enak Bayu..terus..iyaa enak disituu..aaah” Vina mendesah keenakan, “aaaah..aku udah gak tahan Bayuu cepetan masukin kontolmuu..”pinta Vina. Tak pikir panjang, aku langsung menghentikan aktivitasku dan melepas total celsna jeansnya dan CD nya sekaligus. Aku rentangkan pahanya dan ku arahkan kontolku ke selangkangannya. Ku gesekkan kontolku perlahan menyusuri belahan memeknya, perlahan aku tuntun kontolku masuk ke dalam liang kenikmatannya. Cukup sulit memasukkan kontolku ini kedalam memeknya, pelan-pelan dan dengan sekali hentak ku sodokkan kontolku ke dalam memeknya. “Aaah..pelan-pelan Bayu”. Kontolku pun amblas dalam liang kenikmatannya. Ku diamkan beberapa saat kontolku dalam memeknya, setelah kurasa Memeknya sudah mampu beradaptasi dengan kehadiran kontolku akupun mulai memaju mundurkan pinggulku dan mengocok memek Vina. “Aaaah..aaaah…terus Bayuu..enak banget..” Vina mulai mendesah lagi. Kupercepatan kocokan kontolku dimemeknya, kurasakan memeknya sudah benar-benar licin dan memudahkan kontolku menggenjot menggenjot memeknya.

jilbab seksi - engga (5)

Karena bosan dengan posisi missionaris ini, aku pun membalikkan tubuh Vina dan menyuruhnya untuk menunggingkan tubuhnya dan mengajaknya doggy-style, aku sempat terperangan sejenak melihat bongkahan pantatnya, begitu bulat menantang. “Bayuu..cepet masukin kontolmu lagi aku udah gak tahan”.Vina mulai merengek memintaku memasukkan kontolku ke liang kenikmatannya. Langsung saja aku memasukkan kembali kontolku ke sarangnya “bless”. Kontolku masuk sepenuhnya. “Aaaaaah..”Vina memekik, mendongakkan kepalanya menahan birahi. Aku pun memulai sodokan kontolku kembali ke memek  Vina. Hanya desahan yang keluar dari bibirnya, payudaranya yang menggantung tak kusis-siakan, sambil menggenjotnya dalam posisi ini aku mulai meremas-remas payudaranya. “Aaah..terus Bayu..aaah..enak banget..uuh…masukin kontolmu lebih dalam lagi” Vina meminta. Wajahnya yang masih dibalut jilbab fasminanya itu terlihat begitu pasrah. Aku makin bersemangat saja menggenjotnya.

jilbab seksi - engga (1)

Sepuluh menitan aku menggenjotnya dalam posisi ini hingga akhirnya Kontolku serasa diremas-remas oleh dinding vaginanya. Ternyata ia orgasme, cairan cintanya membanjiri kontolku yang masih keluar-masuk di vaginanya. Namun, karena jepitannya yang begitu membuatku tak tahan. Akhirnya aku menyusulnya, ku benamkan dalam-dalam kontolku dimemeknya. Menyemburlah spermaku yang membanjiri memeknya. Akupun ambruk diatas tubuhnya yang menelungkup. Vina tersenyum padaku. “Bayu, makasih banget. Kontolmu enak sayang.” Vina pun merubah posisinya, Ia mendekati selangkanganku dan kemudian menjilati kontolku yang belepotan sperma dan cairan orgasmenya hingga bersih. Benar-benar nikmat blowjob dari hijabers satu ini.

jilbab seksi - engga (6)

Kemudian, kami berbincang-bincang sejenak sambil mengenakkan pakaian kami. Kami sempat berciuman kembali sebelum keluar kelas. Ternyata diluar sudah ada Tiwi kawannya, dalam benakku aku berpikir apakah tiwi melihat persetubuhan ku dengan Vina sahabatnya itu. Ah, aku tak peduli. Aku, Vina dan tiwi kemudian sama-sama turun dari lantai 4 fakultas kami. Menuju ke parkiran. Sebelum berpisah, Vina mendekatiku, ia berbisik ke telingaku” Bayu, besok lagi yah. Aku ketagihan Kontolmu”. Aku hanya tersenyum mendengar permintaannya.

NURLAELAH

Kejadian ini sudah berlangsung lama sekali, tapi tiap detil kejadiannya masih kekenang hingga sekarang. Waktu itu aku masih menjadi seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi yang cukup terkenal di Bandung.
Sore itu, kira-kira jam 5.30 sore, aku pulang kuliah naik bus kota bersama teman cewek sekelasku yang sedang dalam masa pendekatan. Di sekitar daerah tegalega , para penumpang sudah banyak yang turun sehingga banyak kursi kosong tak berpenumpang, aku dan temanku melihat seorang gadis manis berjilbab lebar dan bergaun longgar yang panjang sedang sesenggukkan menangis dengan ekspresi wajah yang kelihatan bingung.
Temanku menyentuh tanganku dan berkata “Ded… (namaku Dedi), perhatikan gadis berjilbab itu? Kelihatannya dia seperti yang bingung. Coba kamu tanyain, siapa tahu dia memerlukan bantuan !” sambil mendorongkan tubuhku agar aku menghampiri gadis berjilbab tersebut.
Mataku menatap mata teman ceweku yang sebenarnya sedang dalam masa pendekatan ini dan berkata padanya : “Kamu ‘nggak apa-apa kalau aku nanyain dia ? ‘Ntar kamu cemburu dan ngambek, khan bisa gawat !”
“Nggaklah Ded…, kan aku yang nyuruh kamu , lagi pula tujuannya ‘khan menolong orang yang sedang kesusahan “ katanya sambil menerus memaksaku untuk menanyai gadis berjilbab tersebut.
Akhirnya aku kalah , walaupun sebenarnya aku kasihan pada gadis tersebut dan ingin menolongnya tapi aku masih menjaga perasaan ceweku ini dan kebutulan dia yang minta. Aku berdiri dan melangkah menghampiri gadis berjilbab itu dan duduk disampingnya. Dia kaget melihat orang asing duduk disampingnya padahal masih banyak kursi lain yang kosong.
“Jangan curiga dulu, Neng ! “ kataku menenangkannya.
“Saya dan teman saya dibelakang..” kataku sambil menunjukkan tanganku ke arah teman cewekku dan gadis berjilbab inipun memandang temen cewekku dan melemparkan senyum manisnya sambil mengangguk. Lalu lanjutku lagi “Dari tadi kami melihat Eneng seperti yang sedang bingung dan menangis. Ada apa ? Mungkin kami bisa membantu ?” kataku sambil menatapnya dengan penuh kesungguhan.
Dia menatapku dan beralih menatap teman cewekku kemudian berkata padaku “benar kang…, saya lagi bingung. Bingung nggak bisa pulang ke rumah karena sudah kemalaman..”
“Emangnya Eneng mau kemana dan dari mana ?” tanyaku
“ke Majalaya” jawabnya menyebutkan nama suatu kecamatan di kabupaten Bandung yang letaknya berada di sebelah tenggara kota Bandung.

“Saya baru pulang dari Pasantren di Tasikmalaya dan akan melanjutkan kuliah di IAIN Sunan Gunung Jati, datang ke terminal Kebon Kelapa jam 5 sore tadi ( waktu kejadian ini terjadi terminal Kebon kelapa masih ada dan belum dipindahkan ke terminal Leuwi Panjang). Padahal sebentar lagi magrib, dan bila lepas magrib maka angkot ataupun bus yang ke Majalaya sudah jarang. Saya takut kang… takut terjadi apa-apa pada diri saya” Ceritanya menerangkan siapa dirinya sambil bingung dan mulai kembali mengeluarkan air mata dan terisak
“Oohhh….gitu…, kalau gitu bagaimana kalau akang antar sampai ke rumah ?” kataku semangat menawarkan jasa ingin menolong gadis manis berjilbab yang baru keluar dari pasantren ini.
Dia menatapku gembira, tapi kemudian dia menatap ceweku dan berkata “Bagaimana dengan si Teteh ? Apa dia mengijinkan dan tidak marah ?”
“Tenang…, nanti aku akan minta ijin padanya dan lagi pula dari tadi dia kok yang mendorong diriku untuk menolong Eneng..” jawabku
“Oh ya neng, nama Eneng siapa ? nama Saya Dedi saya kuliah di …..” Kataku memperkenalkan diri dan menyebutkan nama sebuah pertinggi yang sudah dikenalnya
“Nama saya Nurlaelah, akang boleh panggil saya Elah. Saya alumnus Aliyah yang terdapat di Pansantren. Sebenarnya saya juga ingin kuliah ke sana, tapi orang tua menganjurkan saya untuk daftar ke IAIN” katanya lagi menjelaskan siapa dirinya.
“Sebentar ya…, aku mau ngomong dulu ke temanku..” kataku, lalu aku berdiri dan menghampiri ceweku yang duduk sendiri sambil memperhatikan diriku ngobrol dengan gadis berjilbab yang sedang bingung.
“Siapa dia dan ada apa dengannya ?” tanya ceweku begitu aku duduk disampingnya. Lalu kuterangkan siapa dia sebenarnya dan kenapa dia menangis..
“Ohhh gitu…, antar aja atuh ke rumahnya, apalagi orangnya cantik…!” katanya tapi ada nada cemburu yang kutangkap dari kata-kata tersebut.
“Benar nich, boleh kuantar…, kamu ikhlas. Kalau kamu larang juga aku tidak akan mengantar gadis itu !” kataku pada ceweku memberikan penekanan bahwa aku lebih berat pada ceweku dibandingkan cewe manis berjilbab lebar yang membutuhkan pertolonganku.
Tapi ceweku menjawab dengan sungguh-sungguh “Benar ..aku serius…kasihan dia, tapi kamu jangan macam-macam ya padanya.. kamu hanya ngantar kerumahnya setelah itu langsung pulang jangan merayu-rayu segala…” Aku aneh waktu mendengar kalmatnya yang terakhir, karena ada nada kekhawatiran dan kecemburuan. Apakah itu berarti bahwa teman ceweku ini juga sedang mendekatiku dan berusaha supaya jadi pacarku, aku berbunga-bunga memikirkan hal ini.
Begitu bus kota tiba di pool terakhir di daerah Cigereleng Mohamad Toha, semua penumpang turun, kemudian Elah menghampiri teman ceweku dan berkata “Makasih The yah , telah mengijinkan si Akang mengantarkan saya ke rumah. Saya tidak tahu apa yang terjadi kalau tidak ketemu Teteh dan Akang “
“’Nggak apa-apa…, sok aja , semoga selamat di jalan “ kata ceweku pada Elah sambil tersenyum. Kemudian kami menunggu angkot yang akan ditumpangi oleh ceweku. Setelah ceweku naik angkot maka aku dan Elah menunggu angkot yang menuju ke arah Majalaya yang masih sepi dan jarang ada angkot pada saat itu.
Akhirnya aku mengantar Elah ke rumahnya yang letaknya dipinggir sawah yang tak jauh dari jalan raya yang menuju ke arah ibu kota kecamatan Majalaya. Di rumahnya hanya ada Ibu dan Bapaknya berdua. Sebab orang tua hanya memiliki tiga orang putri yang sudah dewasa sedangkan Elah adalah putri bungsu sedangkan putri pertamanya sudah menikah dan tinggal di kota Bandung dan putri keduanya juga sudah menikah dan tinggal di Bogor. Sehingga dalam keseharian di rumah itu orang tua Elah hanya tinggal berdua.
Mereka sangat berterima kasih atas kesediaanku mengantar anak mereka yang kemalaman di jalan. Aku tak berlama-lama di rumah Elah, hanya sebentar duduk dan minum lalu pamit mohon diri untuk segera pulang.
Bererapa hari setelah kejadian itu, aku mendapat surat dari Elah yang dia kirimkan melalui alamat kampusku yang isinya tentang ucapan rasa terimakasih darinya dan keluarganya yang sangat besar padaku karena telah mengantarkan dirinya pulang ke rumah. Pujian dan sanjungan yang dia tuliskan dalam surat itu kurasakan sangat berlebihan dan membuatku tersanjung bahkan di akhir suratnya dia sangat mengharapkan kehadiranku untuk sering-sering main ke rumahnya.
Tapi surat yang kuterima itu tidak kutanggapi dan akhirnya kejadian itu berlalu begitu saja, tanpa aku berusaha untuk mengingatnya. Namun , sebulan setelah peristiwa itu sahabat dekatku Odang mengajakku untuk menemaninya ke Majalaya karena ada urusan yang harus dia selesaikan.
Pada saat aku sudah berada di Majalaya, aku teringat akan Elah yang pernah kuantarkan dulu, maka aku berkata pada Odang : “Dang, aku punya kenalan cewe cantik berjilbab di daerah sini. Setelah urusanmu selesai, kita main kerumahnya yuk !” ajakku.
“Ayo… apalagi kalau cantik dan berjilbab mah, aku paling suka dengan cewe cantik berjilbab..” kata temanku ini bersemangat.
Setelah urusan temanku ini selesai, kami langsung menuju ke rumah Elah, namun rupanya kami kurang beruntung. Karena Elah tidak ada di rumah tapi di rumah kakaknya di Bandung. Akhirnya kami pulang dengan kecewa.
Tiga hari setelah aku ke rumahnya, datang lagi surat dari Elah melalui alamat kampusku yang isinya tentang penyesalannya yang tidak bisa bertemu denganku dan permohonan maafnya yang teramat dalam padaku karena telah membuatku kecewa. Dan di akhir suratnya dia gambarkan peta tempat tinggal kakaknya di Bandung dan sangat mengharapkan aku bisa mengunjunginya di sana, karena sekarang dia tinggal dengan kakaknya di Bandung.
Akhirnya aku memutuskan untuk mengunjunginya, karena merasa kasihan padanya yang telah susah payah menggambarkan peta tempat tinggalnya pada ku dan pastinya sangat mengharapkan untuk bisa bertemu denganku. Maka pada hari jum’at sore sekitar jam 3.30 setelah selesai kuliah aku berniat berangkat ke rumah kakaknya Elah langsung dari kampusku. Dan aku tiba di rumahnya sekitar jam 4.30.
Walaupun dia menggunakan jilbab pada saat menyambutku, namun jilbab itu tidak mampu menyembunyikan kegembiraan dan kebahagiannya pada saat bertemu denganku.Kami ngobrol cukup lama dan iseng-iseng aku berkata padanya
“Kalau besok Akang datang malam mingguan ke sini, ada yang marah ‘ngga ?” dia langsung menjawab dengan spontan dan gembira penuh harap
“Siapa yang akan marah kang ? Saya mah disini orang baru, belum ada yang kenal. Akang mungkin yang bakal dimarahin dan diputusin sama si Teteh kalau malam mingguan ke sini ? “ tanyanya menyelidiki apakah aku sudah punya pacar atau belum.
“Akang mah Lah , saat in ‘nggak punya pacar. Yang kemarin itu adalah teman kuliah Akang, bukan pacar Akang. Kalau dia pacar Akang, masa dia menyuruh pacarnya untuk mengantar cewe cantik lain ke rumah ?” jawabku memberi alasan sambil memuji kecantikannya secara tidak langsung
“Kalau gitu, Elah akan nunggu kedatangan Akang besok, janji Kang ya!” katanya gembira.
“Iya Akang janji, besok Akang kesini ngapelin Elah..” Kataku kembali berjanji. Dia sangat gembira setelah mendengar janji dariku bahwa aku akan datang malam mingguan.
Menjelang magrib aku pamit pulang. Dan dengan berat hati Elah mengizinkan aku pulang dan mengantarkan aku sampai ke depan pagar rumahnya.
Keesokkan harinya setelah magrib aku bersiap-siap untuk malam mingguan ke rumah Elah. Aku datang ke rumahnya sekitar jam 7.15 malam. Dia menyambutku dengan mengenakan jilbab, baju lengan panjang dan serta rok panjang. Dia kelihatan sangat cantik dan segar saat itu. Aku tercengang memandangnya.
“Ada apa Kang ? kok bengong ?” Tanyanya padaku melihat aku bengong dengan mulut terbuka.
“Oh…’nggak. Elah kelihatannya cantik sekali “ kataku gugup tak mampu menyembunyikan keterkesimaanku melihat kecantikannya
“Ah..Akang mah..merayu. Cantikan juga Teteh teman Akang yang kemarin itu “ katanya tersipu malu.
Aku duduk di kursi panjang yang terdapat di ruang tamu. Setelah dia menyuguhi air minum dan kue-kue dia menutup pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan ruang tengah. Alasannya agar keponakannya yang berumur 3 tahun tidak mengganggu mengacak-ngacak minuman dan kue yang disuguhkan padaku. Jadi hanya kami berdua di ruang tamu itu yang hanya di terangi oleh lampu pijar 5 watt..
Dia duduk disampingku. Aku gelisah, karena seumur hidup aku belum pernah duduk berdampingan berdua-duaan. Karena pacaran yang kulakukan sejak SMA dulu hanya sebatas jalan-jalan, jajan dan bila main ke rumah juga aku akan duduk dengan kursi yang berbeda dengan kursi yang diduduki pacarku dulu.
Sedangkan saat ini aku duduk berdampingan dengan gadis cantik yang dengan beraninya mendekatkan badan dan wajahnya ke depan wajahku. Tentu saja hal ini membuat aku gugup, aku selalu membuang muka bila Elah bicara sambil memandangku. Hingga pada suatu waktu, setelah aku membuang muka dan kembali menghadapkan wajahku ke wajahnya . Elah langsung menyerangku dengan menyosor bibirku.
Aku gugup dan kaget, tak tahu berbuat apa-apa. Aku hanya terdiam merasakan bibirku dilumat oleh Elah. Jujur….sampai aku tingkat dua saat itu belum pernah merasakan berciuman dengan seorang gadis.
Badanku bergetar seperti dialiri listrik, namun bibirku merasakan manisnya bibir dan air liur Elah, birahiku terdongkrak dengan cepat, maka secara naluri aku membalas ciuman dan lumatan bibir Elah padaku. Dan secara reflek tanganku memeluknya erat-erat sehingga percumbuan yang kami lakukan semakin panas dan lama.
Setelah bibirku merasakan kaku aku melepaskan pagutan bibirku dari bibir Elah. Sambil kembali duduk berdampingan, aku berkata pada Elah “Kok Elah demikian lihainya berciuman ? Akang mah baru saat ini mengalami apa itu ciuman ?” tantaku padanya penuh selidik.
“Elah suka melakukan ini waktu di Aliyah dulu dengan kakak kelas yang menjadi pacar Ellah yang sekarang sudah putus…” jawabnya menerangkan
Oh…pantas saja dia sangat berpengalaman dalam berciuman. “Tapi apa ‘nggak takut dosa ?” tanyaku lagi polos padanya. Dan aku memang bego dalam hal ini.
“Kata kakak kelasku dulu, dosanya akan terhapus , kalau setelah melakukan percumbuan kitanya bersuci kembali” jawabnya memberikan alasan.
Ouh.. rupanya gadis ini masih sangat lugu sehingga bisa ditipu oleh kakak kelasnya dulu. Tapi saat itu aku tak terlalu memperdulikannya, dan kembali bibirku mencium bibirnya. Dan kembali kami terlibat percumbuan bibir yang panas dan menggairahkan, nafsuku sudah menguasaiku, penisku sudah sangat tegang dan keras mendorong celana jean yang kukenakan sehingga menimbulkan rasa nyeri pada batang penis dan selangkangannku.
Dengan malu-malu meluruskan posisi batang penisku, Elah melihatnya dan hanya tersenyum seolah tahu apa yang terjadi pada penisku. Kemudian dengan malu-malu , ragu-ragu namun penuh nafsu kucoba untuk meremas buah dada Elah dari luar bajunya. Ternyata dia diam saja, malah memberi kesempatan dengan mendongakkan kepala dan melenguh nikmat dengan desahan yang merangsang…”Ouh….kang..”
Nafsuku semakin berada diubun-ubun, tangan kiriku meyibakkan jilbab yang dkenakannya dan bibirku langsung lehernya yang putih jenjang dan menggairahkan, sehigga kepalaku berada dibalik jilbab.. Mata Elah terpejam menikmati apa yang kulakukan padanya sambil mengerang “Ouh…euh….Kang…..kang… ouh..”
Aku semakin berani, maka dengan tergesa-gesa aku berusaha membuka kancing bajunya. Karena aku tidak punya pengalaman maka aku menarik kancing bajunya denga keras, saking kerasnya tarikanku membuat kancing itu copot. Aku malu pada Elah dan berkata dengan tampang bloon “Maaf … Lah, kancingmu copot !”. Tapi dia tidak memperdulikannya, dengan napas yang meburu tersengal-sengal dia membantu membukakan kancing baju dan Bhnya sekalian. Rupanya Elah sudah dikendalikan oleh nafsunya sendiri sehingga sudah tidak malu-malu lagi padaku.
Begitu buah dadanya terbuka, maka tampaklah pemandangan indah yang baru pertama kali aku melihatnya selama aku dewasa. Buah dada gadis remaja yang montok putih dan mulus dengan putting yang menantang tegak. Pemandangan ini membuat mataku nanar. Bibirku langsung menciumi dan menjilati buah dada itu. Dan akhirnya bibir dan lidahku asyik memilin putting susunya yang tegak merangsang. Mulut Elah semakin tak bisa diam terus menerus mengerang dan mendesah menahan nikmat. Dia membalas membuka sleting celanaku dan mengeluarkan penis tegangku dari cd, tanpa ragu-ragu dia remas-remas dan kocok-kocok penisku membuat aku terhenyak merasakan nikmatnya permainan tangan yang diberikan oleh Elah pada penisku
“Oukh…ouch…hohh….” Aku mengerang melayang-layang
Tiba-tiba…, dengan nafsu yang mengebu-gebu. Elah mengagetku dengan melakukan sesuatu yang tak kuduga-duga. Kepalanya menunduk, lidahnya langsung menjilati penisku yang sudah sangat keras dan tegang berdiri dengah gagahnya. Tanganku tersentak dan badanku seolah-olah dialiri listrik ribuan volt
Seeerrr….. bergetar seluruh tubuh ini ketika lidah basah nan panas membara terus terus menjilati dan diselingi dengan mulutnya yang mengemut dan menghisap penisku. Aku semakin tak tahan, seluruh bulu yang ada di tangan dan tengkukku seolah berdiri dengan perasaan nikmat yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata. Hanya bibirku saja tanpa sadar mengeluarkan keluhan dan erangan nikmat
“Ouh…. Lah…. Ouh……”
Aku terus melayang dan melayang dengan mata yang terbeliak-beliak menyaksikan pemandangan sensasional dari seorang gadis berkerudung sedang mengoral penisku dengan lihainya. Kakiku terkejang-kejang menerima deraan nikmat ini.
Tak lama kemudian jari tangannya menggantikan mulutnya yang bekerja cukup lama memberikan kenikmatan pada penisku. Mulutnya kembali mencari menciumi wajah dan bibirku dengan panas membara. Luar biasa kemampuan gadis berjilbab ini dalam memberikan kepuasan pada laki-laki. Aku dibuat terus dan terus melayang tanpa diberi kesempatan untuk menghirup napas dengan tenang. Nafasku terus menerus dibuatnya berpacu mengejar sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya.
Tanganku bergerak mencari kepuasan tambahan, tanganku berusaha menyingkapkan rok panjangnya dan mengusap-ngusap paha yang mutih mulus menggairahkan, membuat nafsu semakin membungbung tinggi. Kemudian dengan perlahan namun pasti tanganku menyelusup kebalik cd-nya dan mengubek-ngubek vaginanya yang terasa lembut ditimbuni oleh jembut yang lebat dan lembut.
Kembali kepuasan dan nafasku terhenti mendapatkan pengalaman yang yang pertama kali kulakukan yaitu menyentuh vagina seorang wanita dengan penuh nafsu. Asaku melayang dan aku merasa nerveous dan surprise yang tak dapat diuraikan dengan kata-kata. Vagina itu terasa lembab dan sedikit basah terutama tepat di bagian lipatan bibir vagina.
Dan ketika jari-jariku berusaha menyibakkan bibir vagina itu dengan lembut dan berusaha menggesekkan jari tengahku kebagian dalam lipatan yang sudah sangat basah dan menggairahkan. Tiba-tiba tanganku dipegang dan ditahannya seraya berkata “Jangan dipegang-pegang daerah sana Kang ! Saya suka tidak kuat… “ katanya dengan nafas yang tersengal-sengal, kemudian sambungnya “Biar Akang Saya puasin aja Kang. Saya akan sangat puas bila melihat Akang puas sebab saya sangat mencintai Akang, karena Akang begitu baik pada Elah”
Setelah itu kembali mulut dan tangannya memberikan kenikmatan padaku dan membuatku melayang-layang kembali. Gerakan mulut, bibir dan lidahnya demikian hebatnya memberikan kenikmatan padaku, ditambahkan dengan tangan halusnya yang mempermainkan buah pelir dan panggal penisku yang tak terjangkau oleh mulutnya membuat kenikmatan ini seolah-olah datang bertubi-tubi tiada henti.
Hingga akhirnya penglihatanku terasa gelap, nafasku terhenti dan tanpa dapat kukendalikan tubuhku mengejang kaku dan akhirnya ada dorongan dalam tubuhku melalui penisku melepaskan sperma demikian kuat dan derasnya membuat aku menjerit tertahan menahan nikmat yang tak terkira
“Aaaahh……”
Cret…cret…cret…., spermaku terpancar dari penisku yang masih berada di dalam mulutnya yang seksi. Mulutnya tidak mau melepaskan penisku walaupun pada saat itu penisku terus menembakkan sperma beberapa kali, bahkan dengan rakusnya penisku dihisap-hisapnya hingga sperma yang kusemprotkan langsung ditelannya dengan lahap. Hingga akhirnya spermaku habis tak bersisa . Tubuhku secara perlahan-lahan mengendur dan napasku tersengal-sengal seperti orang yang kehabisan oksigen. Tangan dan kakiku sangat lelah dan lunglai tak bertenaga. Akhirnya badanku kusandarkan di sofa dengan nafas yang masih tersengal-sengal menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang telah diberikan oleh gadis berjilbab yang sangat cantik dan menggairahkan ini.
Dia mengambil air dalam cangkir yang ada di atas meja tamu dan meminumnya dengan tergesa-gesa seperti orang yang kehausan karena habis bekerja keras. Kemudian memandangku dengan pandangan penuh kepuasan karena telah berhasil memberikan kenikmatan yang tak terhingga kepada pria yang sangat dikagumi.
“Akang puas ?” Tanyanya padaku
“Banget…” jawabku lemah sambil mengangguk
“Lah…., kamu betul-betul luar biasa seperti yang sudah sangat berpengalaman. Betul-betul diluar dugaan melihat penampilan Elah yang anggun dan selalu menggunakan jilbab .” kataku melanjutkan mengomentarinya.
“Seperti yang saya ceritakan tadi kang, pacarku dulu sering mencumbuku waktu masih di Aliyah. Dan saya jadi ketagihan untuk melakukan itu. Makanya waktu tadi Akang meraba-raba vagina saya , Saya menolaknya sebab biasanya kalau vagina udah digesek dan dipermainkan. Saya suka tidak tahan untuk menjerit dan melanjutkan yang lebih jauh. Sedangkan disini tempatnya tidak memungkinkan.” Ceritanya panjang lebar.
Waktu telah menunjukkan jam 11 malam, maka dengan terpaksa aku pamit pulang. Elah mengijinkan dengan nada terpaksa. Kami beres-beres merapihkan pakaian yang kusut karena percumbuan yang demikian panjang dan melelahkan, serta tentu saja dengan kepuasan yang tak terlupakan dalam hidupku. Sebelum pulang kami bercumbu kembali sebagai acara penutup dan Elah menegaskan padaku “Minggu depan datang lagi ya, Kang !” sambil bibirnya mengecup mesra bibirku.
Akupun menjawabnya dengan anggukan dan membalas kecupannya. Dan setelah itu akupun pulang dengan pengalaman baru dan tubuh melayang ringan seringan kapas , sambil mulut tersenyum puas dan nafas terasa lapang.
Selama seminggu sesudah itu, Aku selalu gelisah, tak sabar menunggu malam minggu berikutnya. Selalu saja terbayang apa yang kami lakukan malam itu dan masih kurasakan hisapan dan jilatan lidahnya yang luar biasa pada penisku yang membuat spermaku tersedot keluar begitu banyak sehingga lututku serasa mau copot.
Malam yang ditunggu-tunggupun akhirnya datang juga dan seperti malam minggu sebelumnya, jam 7 malam aku sudah ada di depan rumahnya dengan bayangan dikepala akan mendapatkan sesuatu yang nikmat seperti malam minggu sebelumnya atau bahkan mungkin lebih.
Elah membuka pintu dan menyambutku dengan mesra dan tatapan mata yang memancarkan luapan kerinduan yang menggelora bagaikan seorang gadis yang sudah bertahun-tahun tidak dijenguk oleh kekasihnya. Elah mengenakan kaos longgar lengan panjang dengan jilbab yang tak pernah lepas dari tubuhnya serta rok panjang yang longgar pula. Malam itu kulihat Elah sangat cantik dan menawan serta farfum yang dia kenakan begitu cepat membangkitkan kelaki-lakianku.
Dia mempersilahkan aku masuk ke ruang tamu dan aku duduk di sofa panjang. Elah masuk ke dapur untuk mengambil air dan penganan yang akan ia suguhkan padaku. Aku menantinya dengan perasaan yang tidak sabar. Setelah ia menyuguhkan air dan penganan di meja tamu, kemudian ia dengan manjanya duduk disampingku sambil menggelayut manja dan berbisik “Saya kangen berat ke Akang… rasanya seminggu ‘ngga ketemu sama Akang bagaikan bertahun-tahun…” katanya diakhiri dengan mengecup mesra pipiku.
Badanku menjauh darinya seraya berkata-kata “Jangan begitu ach…malu dilihat sama Tetehmu atau keponakanmu !” sebab saat itu pintu ruang tamu belum tertutup sehingga aku masih bisa melihat keadaan ruang tengah.
“Tenang aja…Kang. ‘Ngga ada siapa-siapa. Teteh dan keluarganya lagi menjenguk Bapak dan Ema di Majalaya . Dan saya disuruh Teteh untuk jaga rumah..” katanya menerangkan kondisi rumah yang tidak ada siapa-siapa. Hatiku langsung berbunga-bunga membayangkan bahwa aku mungkin akan lebih bebas bermesraan dengan Elah yang cantik ini.
Maka tanpa ragu-ragu tanganku membelai jilbab yang menempel dikepalanya dan bibirku langsung mencium bibirnya dengan gemas..
Serrr….darahku berdesir dengan cepat menikmati bibirnya yang lembut dan basah menggairahkan. Dan Elahpun membalas ciumanku dengan tak kalah mesranya, mulutnya menghisap bibirku dalam-dalam seperti orang kehausan. Hisapannya demikian lama dan menghanyutkan. Tangannya dengan lincah mencopoti kancing bajuku satu persatu dan tangannya menyelusup ke bali bajuku dan langsung membelai dadaku dengan mesra serta memainkan putting susuku dengan memilin-milinnya.
Kemudiannya kepalanya mengarah ke dadaku dan menjilati serta menciumi seluruh dadaku memberikan rangsangan-rangsangan yang membuat berahi bangkit dengan cepat. Aku dibuatnya melayang dan mendengus
“Ouhh…. Lah…Kamu kok pinter banget sich …?” kataku terbata-bata menahan nafas yang tersengal-sengal menahan nafsu. Penisku langsung mengeras dengan hebat.
“Kan…semua ini untuk Akang…, Orang yang Elah cintai dan sayangi..” katanya sambil terus menjilati dada dan leherku.
Tanganku secara naluri mulai menelusup ke balik kaos panjang yang Elah kenakan mencari-cari buah dada Elah yang bulat dan montok. Aku terpana dan heran, ternyata Elah tidak mengenakan BH. Aku berkomentar heran “Kok.. Elah ‘nggak pake BH ?”
“Khan…biar Akang gampang meremas-remas dan menciuminya, daripada nanti kancingnya copot lagi ” Jawabnya sambil tersenyum manis menggodaku mengingatkan kecerobohanku yang mengakibatkan kancing bajunya lepas seminggu yang lalu. Aku hanya tersenyum malu mengingat kebodohanku minggu lalu
Kaos panjang itu langsung aku tarik ke atas dan tanganku langsung meremas buah dada yang menggairahkan ini dan bibirku langsung menciumi dan menjilati buah dada Elah yang sebelahnya. Elah langsung mengerang dan melenguh dengan lepas tanpa tertahan “Ouh….Kang…ouh…”
Tangan dan bibirku terus dengan intensif mempermainkan kedua buah dada dan putting susu Elah yang sudah tegak menantang. Dan Kepala Elah terdongak dengan terus-menerus mengerang menikmati rangsangan yang kuberikan
“Euh…euh…euh…oh…Kang….Kang…”
Tanganku yang satu lagi mulai menarik rok panjangnya ke atas dan menari-nari mulai dari betis, lutut hingga paha kemudian mengusap-ngusapnya dengan lembut dan penuh gairah.
Elah semakin menggelinjang dan mengerang. Kemudian tanganku bergerak keatas menuju selangkangan Elah. Kembali aku terpana ternyata Elah tidak mengenakan CD, karena jariku langsung meraba bulu-bulu jembutnya Elah ketika tiba di selangkangannya. Aku terdiam dan memandangnya heran.
Rupanya Elah mengerti akan keherananku dan langsung menjawab “Biar praktis Kang, karena saya yakin pasti Akang akan membongkar CD Elah…Ya udah . Elah lepas aja “ katanya kembali menggodaku.
Aku langsung turun dari sofa dan dengan pantatku kudorong meja tamu ke belakang supaya badan dan wajahku bisa berhadapan dengan selangkangan Elah. Dan kusibakkan rok panjang itu Dan..
Deg…jantung seolah berhenti berdetak begitu melihat pemandangan yang baru kualami seumur hidup, di hadapanku tampak vagina indah yang dihiasi oleh jembut-jembut yang lebat namun halus dari seorang gadis cantik yang masih mengenakan jilbab walaupun bentuknya sudah tak karuan.
Kembali naluri kelaki-lakian bekerja secara reflek, wajahku langsung menghampiri vagina indah yang menggairahkan dan membuat penisku semakin keras ini, bibirku langsung menciumi seluruh permukaan vagina itu tanpa ragu dan sungkan
Ouhh…. Betapa harum dan menggairahkannya vagina ini. Bibirku menciuminya dengan penuh nafsu dan nafas yang tersengal-sengal. Lidahku bergerak dari bawah ketas sepanjang lipatan bibir vagina indah ini.
“Auh….auh….auw……Ouhh…Kang..ouh kang “ Elah terus meracau seiring dengan bibirku yang bergerak tak bisa diam menciumi dan menjilati vaginanya yang menggairahkan ini.
Bibirku terus bergerak menikmati sensani vagina yang baru pertama kali kurasakan. Hingga akhirnya Erangan, lenguhan dan kata-kata meracau yang keluar dari mulut Elah semakin sering dan nyaring dan gerakan badan yang melonjak-lonjak tak terkendali
“Ouh…Kang…Ouh…Kang…, saya … ‘ngga kuat…saya … ‘nggak kuat Ouuuuhhhh….”
Tiba-tiba Elah berdiri dan berkata “Jangan di sini Kang ! Kita ke kamar Elah aja” lalu tangannya menarik tanganku dan membingbing ku ke kamarnya. Dengan tergesa-gesa Elah menarik badanku menuju kamarnya dan tanpa menutup kamarnya kembali Elah langsung menarik badanku ke tempat tidur dan mendorongku hingga jatuh telentang dikasurnya yang empuk. Lalu dengan tergesa-gesa penuh nafsu tangannya berusaha membuka celanaku sekaligus dengan celana dalamku hingga bagian bawahku menjadi telanjang bulat dengan penis yang berdiri tegak dengan gagahnya. Aku merasa malu, karena baru pertama aku telanjang bulat di depan seorang gadis. Tampaknya Elah tak memperdulikan rasa maluku. Dia terus menyerangku, telapak tangannya meraih pangkal penisku dan mengocoknya, sementara mulutnya langsung melahap penisku dengan rakus dan penuh nafsu. Bibir dan lidahnya bekerja dengan lincahnya memberikan kenikmatan yang tak terperi sehingga aku terlonjak-lonjak dan melenguh…”Ouh…upsss ouh….”
Elah terus memberikan kenikmatan padaku dengan mempermainkan penisku oleh bibir dan lidahnya. Sampai akhirnya dia merasa tak tahan dia berdiri dan mencopoti jilbab, kaos panjang dan rok panjang yang ia kenakan. Dihadapanku tampaklah seorang bidadari cantik yang telanjang sedang merangkak menghampiriku yang sedang telentang menahan nafsu yang menggebu.
Elah langsung memelukku , namun langsung kugulingkan dia hingga posisinya di bawah. Dan badanku bergeser ke bawah agar wajahku bisa berhadapan kembali dengan vaginanya yang sekarang tampak lebih indah dibandingkan dengan tadi waktu di ruang tamu karena sudah tidak terhalam oleh rok panjangnya lagi.
Bajuku belum lepas sehingga terasa mengganggu maka aku langsung melepaskannya dengan tergesa-gesa. Lalu kedua tanganku langsung merengkuh pantat Elah yang mulus menggairahkan dan bibirku kembali menciumi vagina Elah yang sudah semakin basah. Lidahku mengorek-ngorek liang sempit yang terhalang oleh lipatan bibir vaginanya
“Auw….auw…” jeritnya setiap kali lidahku menyentuh liang vagina Elah. Namun tanganku terus meremas pantat Elah dan lidahku terus mengulas-ngulas celah vagina Elah hingga nampak basah mengkilat
“Auwhhh … auwhhh…” jeritnya semakin panjang. Badannya terlonjak-lonjak tak terkendali lagi dan kedua tangannya mulai meremas dan mencengkram kepalaku seperti yang sedang menahan sesuatu, hingga akhirnya pantatnya menegang kaku terangkat ke atas dan kedua tangannya menekan kepalaku hingga wajahku rapat dengan vaginanya disertai dengan jeritan panjang seperti tercekik..
“Aaaaaaakkhhh…..” Diakhiri dengan kedutan pantat yang menggetarkan tanganku dan liang di vaginanyapun berdenyut-denyut berkotraksi meremas-remas ujung lidahku yang sedang menelusurinya.
Lalu setelah itu…badannya terhempas dan dari mulutnya keluar desahan panjang
“Hhuhh……” disertai nafas yang tersengal-sengal seperti yang baru selesai melakukan lari sprint. Dan badannya diam lemas seolah tak bertenaga…
“Sudah dulu kang…. Saya cape…” katanya padaku.
Aku yang belum mengerti apa yang sedang terjadi hanya termangu sambil menahan nafsu yang masih menggebu. Kedua tangannya menarik lemah badanku agar bisa berhadapan dan berpelukan, kemudian dia berkata…”Akang…hebat… Saya baru aja keluar… Pacar saya dulu waktu di Aliyah ‘nggak pernah membuat saya bisa melayang dan menghempaskan seperti ini.”
“Tapi malah Dia saja yang keluar dan membasahi mulut atau selangkangan Elah setiap kali kami bercumbu” lanjutnya lagi.
“Oh gitu…” sahutku..tidak terlalu memperhatikan apa yang diucapkannya, karena gairah nafsuku masih menari-nari dikepalaku dan penisku yang keras dan tegang perlu penyaluran. Aku menciuminya kembali untuk menuntaskan nafsuku. Dengan nafas yang memburu tangankupun bergerak liar membelai dan meremas buah dadanya montok menggemaskan, rasanya tak pernah bosan-bosan bagiku jika seharian aku harus mempermainkan buah dada indah ini.
Mulut, bibir dan lidah serta tanganku secara intensif terus-menerus secara konstan memberikan rangsangan-rangsangan kenikmatan kepada Elah. Usahaku berhasil, gairah Elah kembali bengkit dan Elah mulai membalas ciumanku dengan panas dan bergairah, Badan Elah bergelinjang-gelinjang menahan nafsu yang kembali membludak dalam dirinya. Tangan kananku bergerak kearah selangkangannya dan jari tengahku dengan lincah menari-nari dibelahan bibir vagina yang kurasakan basah, klirotisnya ku tekan dan kupilin. Elah mengerang…cukup keras “Ouh…..Kang…”
Kembali jari tengahku menekan klitorisnya dan menari-nari di atasnya, erangan dan lenguhannya semakin keras dan terengah-engah
“Auw…. Aouh….Oh…..Kang…, Elah .. ‘ngga tahan…” Katanya mendesah seperti menahan derita nikmat yang tak terperi. Kemudian pahanya terbuka semakin lebar dan pinggulnya bergoyang-goyang erotis sambil mengerang dan mengeluh “Ouh….Ah….”
Aku sudah tak sabar dan naluriku menuntunku untuk memposisikan diriku diantara dua paha yang terbuka lebar dengan vagina yang berwarna merah muda mempesona. Dan kuarahkan ujung penisku ke depan liang vagina Elah, lalu dengan terburu-buru aku menekankan pantatku.
Penisku bukannya masuk ke dalam liang vagina yang sempit itu, tapi terpelset kea rah depan. Berkali-kali kucoba…., selalu meleset kadang ke belakang, ke samping atau kedepan. Keringatku semakin bercucuran dan dalam kati aku merasa malu pada Elah. Masa aku yang mahasiswa ini tidak bisa memasukkan penis yang sudah tegang kedalam vaginanya. Namun aku terus mencoba walaupun selalu gagal. Akhir aku menyerah dan berkata pada Elah
“Kok susah sich masuknya ? Akang sudah ‘nggak tahan nich..!”
“Pacar Elah juga dulu ‘nggak bisa masuk-masuk, makanya dia selalu keluarkan maninya di selangkangan Elah, karena udah ‘nggak bisa menahan nafsunya lagi. Jadi aja keluar diluar…”
Oh.. kalau gitu berarti vagina Elah masih perawan, sebab belum pernah diterobos oleh penis sebelumnya, pantas aja susah.
Setelah tahu bahwa sesungguhnya Elah masih perawan, maka aku mulai berhati-hati dan lebih konsentrasi. Jari-jariku menyibakkan lipatan bibir yang menutup liang vagina, kuperhatikan dengan seksama, ternyata di bagian bawah lipatan bibir vagina itu terdapat sebuah lubang yang sangat sempit. Aku arahkan kepala penisku yang sudah sangat tegang ke lubang yang sangat sempit itu. Kutekan secara perlahan pantatku agar ujung penisku menekan dan menerobos lobang sempit itu. Agak susah dan terlihat Elah menyeringai.
Kudorong lagi sedikit…., ujung kepala penisku agak masuk, kulihat Elah semakin menyeringai dan terlihat seperti meringis.
Kudorong lagi agak keras…, lobang itu terbuka sedikit. Elah menjerit lirih “Aduhhh Kang…”, Kuhentikan gerakanku tapi Elah berkata lagi “jangan hentikan Kang, terus aja.” Rupanya dorongan nafsu Elah mengalahkan rasa perih dari selaput darahnya yang mulai terkoyak.
Kudorong lagi dengan keras hingga kepala penisku bisa masuk kedalam liang vaginanya. Elah kembali menjerit lirih sambil menahan badanku “Aaauuuhhh…”. Sedangkan aku merasa nerveous begitu kepala penisku berada dalam liang vagina Elah. Berjuta-juta perasaan yang tak kumengerti melayang-layang diatas kepalaku. Aku tak bisa menjelaskan rasa apa itu. Setelah tahanan tangan Elah melemah, kembali kudorongkan penisku hingga amblas sampai ke pangkal paha
“Aukh…” jerit Elah sambil memeluk erat tubuhku. Kuhentikan gerakanku menikmati sensasi yang luar biasa ini. Setelah sensasi itu berkurang kucoba mencabut penisku sedikit demi sedikit. Pergesekan antara kulit penisku dengan dinding vagina Elah yang basah berdenyut menghasilkan kenikmatan yang tiada tara, demikian juga nampaknya bagi Elah, sebab jerit lirihnya diselingi dengan erangan nikmat
“Aduh….Ouh…..” antara perih dan nikmat dirasakan Elah secara bersamaan. Ketika hanya kepala penis yang masih tertanam di dalam liang vagina Elah, aku hentikan gerakan mencabut dan kudorong penisku kedalam untuk kembali menyelam menikmati sensasi gesekan penis dengan dinding vagina yang basah berdenyut tiada henti
“Ouh….” Erangku menahan nikmat
Gerakan keluar masuk penisku di dalam vagina Elah kulakukan berulang dengan kecepatan yang konstan. Jerit lirih kesakitan Elah telah hilang secara total tergantikan oleh sensasi kenikmatan yang juga pertama kali dirasakannya..
“Ouh…Kang….nikmat…, Ouh Kang…. Ouhhhh…” demikian erangan dan lenguhan Elah keluar dari mulutnya berulang-ulang.
Hingga akhirnya pinggul Elah turut bergerak memberikan tambahan sensasi nikmat yang berlebihan bagi diriku maupun dirinya
“Auh…auh… hehh….”Dengusan dan erangan bersatu dalam keriuhan deru nafas kami. Rasa nikmat ini terus melayang-layangkanku dan Elah sehingga erangan nikmatku bersahutan dengan erangan nikmat Elah. Sehingga mengahasilkan suatu konser desahan kenikmatan yang bisa membuat terangsang bagi yang mendengarnya.
Gerakanku dan goyangan pinggul Elah semakin cepat dan mulai kejang-kejang tanpa dapat dikendalikan. Dan deraan nikmatpun semakin membuat kami lupa diri. Aku dan Elah terus mendengus dan mengerang bersahutan dengan gerakan yang sudah tidak beraturan lagi, seolah sedang menggapai nikmat yang semakin lama semakin bertambah tinggi.
“Ouh…Kang…., ouh…nikmat….ouh…..auwh…” Elah semakin meracau
“Oh … Lah…. Oh ….. heks.. heks….” Dengus nikmatkupun semakin nyaring
Tiba-tiba ada dorongan tenaga yang sangat besar dari dalam tubuhku yang tidak bisa kulawan. Badanku melenting kejang kaku, penisku tertanam dalam menekan vagina Elah hingga ke pangkalnya dan dari mulutku keluar jeritan nikmat yang panjang tak tertahan “Aaaahkkks…..”
Pada saat yang samapun Elah mengalami hal yang sama. Badannya melenting, kukunya menancam dipunggungku dan pinggulnya naik menekan selangkanganku serta kepala terdongak dan keluar jeritan panjang “Aaaaaaahhhhkkkks……..”
Sedetik kemudian…. Cret….cret…cret… spermaku keluar dengan derasnya membasahi seluruh rongga liang vagina Elah dan disambut dengan kontraksi yang sangat hebat dari dalam liang vagina Elah yang memeras dan memijit-mijit batang penisku serta menghisap-hisap seluruh sperma yang terpancar dari ujung penisku menghasilkan suatu puncak kenikmatan yang tak terbandingkan secara bersamaan yang kami rasakan.
Setelah itu, kurasakan badanku seolah melayang ringan jatuh terhempas diatas tubuh Elah yang juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan..
“Hhwahhhhhsss…..” napas kami keluar seperti orang yang sangat kelelahan. Dengan napas yang ngos-ngosan kami saling berpandangan dengan rasa puas dan nikmat. Kemudian bibirku mencium mesra bibir Elah dan disambutnyapun dengan mesra “Wuih…. enak banget Kang…., baru kali ini Elah merasakan hal yang seperti ini “ katanya dengan nafas yang masih tersengal-sengal
“Akang juga sama geulis….. Ini adalah pengalaman pertama Akang..” jawabku.
Kemudian badanku kugulirkan kesamping tubuh Elah sehingga penis tercabut dari liang vagina Elah. Kuperhatikan ada lelehan sperma kental yang berwarna putih bercampur dengan warna kemerahan yang keluar dari liang vagina. Rupanya Elah memang benar-benar masih perawan. Jadi selama ini pacarnya belum memerawani Elah secara sempurna, mungkin karena kondisi lingkungan Aliyah atau pasentren tidak memungkinkan mereka berdua dapat melakukan persetubuhan dengan tenang sehingga percumbuan yang mereka lakukan selalu terburu-buru, sehingga pacar Elah yang dulu hanya memikirkan bagaimana agar spermanya cepat keluar tanpa bisa menembus selaput dara Elah yang mesih menjaga keperawanannya.
Kami berpelukan cukup lama mengumpulkan semua kesadaran yang sempat hilang sambil menormalkan helaaan napas yang tersengal-sengal akibat percumbuan yang demikian lama.
Sambil berbaring kuperhatikan tubuh gadis cantik yang biasanya berjilbab ini dalam keadaan telanjang tergolek lemah. Oh… betapa indahnya…, betapa putih dan mulusnya…, tanganku membelai dan mengusap tubuh indah yang basah oleh keringat ini. Matanya memandangku mesra dan bibirnya tersenyum manis menggiurkan. Kucium lagi bibir lembutnya dan tanganku membelai serta meremas buah dadanya yang montok merangsang.
Tak terasa gairahku bangkit kembali, perlahan namun pasti penis mulai mengeras kembali. Dan Elahpun merasakan hal yang sama, gairahnya mulai bangkit kembali dan kembali kami berciuman dan berpelukan bergulingan di kasur.
Kami kembali bercumbu dengan penuh gairah dan penisku kuarahkan kembali ke liang vaginanya. Kali ini penisku dapat masuk dengan mudah, dan persetubuhan kali inipun berlangsung lebih panas dan lebih menggairahkan dari percumbuan sebelumnya.
Percumbuan kami terhenti setelah aku melihat waktu telah menunjukkan jam 11.30 malam. Maka dengan terpaksa aku pamit pulang dengan janji akan mendatanginya lagi malam minggu berikutnya.
Malam minggu berikutnya, aku mendatanginya dengan harapan kami bisa kembali mereguk kenikmatan secera bersama-sama. Namun harapanku tak terlaksana karena ternyata dia sedang haid dan lagi pula keluarga kakaknya ada di rumah. Dan sebagai gantinya saat itu Elah memang betul-betul menservisku secara sempurna di ruang tamu. Dengan mengenakan jilbab dan baju longgar, Elah mengoral penisku dengan cara yang sangat bervariasi sehingga spermaku sampai muncrat membasahi wajah dan baju yang dia kenakan. Sungguh luar biasa pelayanan sex dari gadis berjilbab ini.
Hari sabtu berikutnya, tanpa memberitahukan terlebih dahulu padaku, sekitar jam 1 siang, Elah datang ke rumahku mengendarai mobil Jimny dengan mengenakan pakaian seperti biasa yaitu jilbab lebar dengan baju longgar yang panjang..dan saat itu memang aku tidak ada jadwal kuliah.
“Yuk, Kang kita jalan-jalan malam mingguan ke pemandian air panas Ranca Upas di daerah Ciwidey..!” Ajaknya padaku.
“Pake apa dan dengan siapa ?” tanyaku
“Pake Jimny itu, Kang. Kita berdua aja..” jawabnya sambil menunjuk Jimny putih yang diparkir di depan rumahku.
“Tapi Akang belum bisa nyetir..” kataku malu-malu
“’Ga apa-apa atuh, Kang. Biar saya aja yang nyetir. Cuek aja…” jawabnya pula
“Ok dech, kalo gitu mah…” jawabku bersemangat
Aku siap-siap dan tak lama kemudian kami berangkat. Di perjalanan Elah bercerita bahwa mobil Jimny itu adalah milik kakaknya yang nomor dua yang sekarang sedang menginap di rumah kakaknya yang pertama, jadi di rumahnya saat ini ramai dengan keponakannya. Sehingga daripada menggangu kemesraan kami, maka Elah berinisiatif padaku untuk bermesraan di luar rumah. Tentu saja aku gembira mendengar ceritanya.
Sepanjang perjalanan tangan kananku selalu mengusap-ngusap paha Elah yang tertutupi olah rok panjangnya. Namun tetap saja mampu memberikan kehangatan dan rangsangan kenikmatan pada diri Elah yang bisa membuat matanya merem-melek merasakan sensasi nikmat dan napasnya melenguh nikmat sambil tetap konsentrasi pada kemudi yang sedang dipegangnya.
“Jangan terlalu akh Kang…, nanti celaka….! Lagi di jalan nich..!” katanya dengan napas yang menderu. Aku sadar untuk tidak melakukan hal yang jauh lagi yang bisa mencelakakan kami berdua. Namun usapan dan belaian mesra selalu kulakukan di sepanjang perjalanan itu. Membuat dirinya nyaman dalam perjalan, sehingga tak terasa kami sudah tiba di tempat yang kami tuju sekita jam 4 sore
Kami masuk ketempat itu bagaikan pasangan muda suami istri, karena terlihat sangat mesra. Kami berjalan-jalan sambil berpelukan erat menahan hawa dingin pegunungan di daerah Ciwidey ini, sambil menikmati pemandangan alam yang indah dan romantis. Setelah lelah jalan-jalan, kami menyewa sebuah kamar mandi untuk keluarga yang di dalamnya terdapat kolam air panas dengan ukuran 2 X 2 meter.
Begitu masuk kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi kami langsung berpelukan erat dengan bibir yang saling berpagut mesra. Percumbuan itu kami lakukan cukup lama sambil berdiri sehingga akhirnya kami hentikan dan kubisikan “ sambil berendam air panas Yuk !” ajakku, Elah menatapku mesra dan mengangguk setuju.
Dengan tergesa-gesa kami menanggalkan semua pakaian yang melekat di badan sehingga kami telanjan bulat. Penisku telah berdiri tegak dan Elah dengan gemasnya meremas penisku sambil berkata manja “Iihhh … ini burung, kok sudah berdiri tegak lagi. ?” diakhiri dengan mengecup mesra kepala penisku. Aku hanya tersenyum bangga melihat kelakuan Elah yang menggemaskan ini.
Kemudian dia kembali berdiri tegak. Tampaklah putting buah dadanya sudah tegak menantang dan secara spontan bibirku langsung menghisapnya dengan penuh gairah Elah mengeluh “Uuhh…” tapi mendorong badanku seraya berkata “katanya pingin sambil berendam…?” protesnya sambil tersenyum. Maka kubimbing Elah dan kami berduapun masuk ke dalam kolam air panas yang kedalamannya hanya sebatas pinggang.
Di dalam kolam, air panas itu begitu menghangatkan dan membuat nyaman di tengah suasan pegunungan yang dingin menusuk tulang. Kami berpelukan dan berpagutan bibir dengan gairah yang berapi-api, tanganku meremas-remas buah dadanya yang montok membulat, badannya kesandarkan dipinggir kolam. Lalu mulutku mulai menyosor buah dada menggemaskan itu penuh dengan nafsu, bibirku menghisap dan mengecup seluruh bagian buah dada itu, dan lidahku menjilat-jilat dan akhirnya mengulum dan menghisap putting susu yang semakin tegak menjulang.
“Ouh…ouh…..” erangan Elah mulai terdengar sambil meremas-remas rambutku dan terkadang menariknya dengan cengkraman yang seperti sedang menahan nikmat yang tak tertahan. Kemudian dengan ganas tangannya menarik kepalaku dan mengarahkan wajahku ke wajahnya da bibirnya langsung menyosor bibirku dengan nafsu yang menggebu dan napas yang memburu.
Ciuman Elah begitu liar, lidah dan bibirnya menyusuri bibir, pipi, telinga lalu turun ke leher, menghisap-hisap leherku membuat aku terpejam menahan nikmat dan rangsangan yang semakin menggila. Kemudian bibir dan lidahnya turun menjilati dadaku hingga ke putting susuku yang telah berdiri kaku. Tangannya bergerak ke bawah kedalam air kolam yang hangat menggapai penisku yang sangat tegang dan mengocoknya dengan irama yang menghanyutkan memberikan kenikmatan tiada henti.
Tangan kiriku merengkuh tubuhnya memeluk erat, bibirku mencium bibirnya dan menghisapnya dalam penuh nafsu serta tangan kananku mengarah ke vaginanya mengusap dan mengobel seluruh permukaan vaginanya. Tubuh Elah mulai tak bisa diam, bibirnya melepaskan dir dari pagutanku dan kepalanya terdongak ke belakang serta mengerang “Ouh….ouhh….Kang…..ouh…”
Erangannya semakin meningkatkan nafsuku semakin tinggi dan tinggi. Jariku mulai mencari celah lipatan liang vagina Elah dan mengoreknya dari bawah hingga ke atas menuju klitorisnya yang sudah semakin membesar menonjol keras. Dan begitu jari tengahku menyentuh dan menekan klitorisnya, Erangan Elah semakin keras “Auh…Ah..”
Jariku terus mempermainkan vaginanya. Pinggul Elah bergoyang dan bergetar menahan nikmat yang kuberikan desisan dan erangannya semakin nyaring “Ouh…..”.
Akhirnya jari tengahku menussuk liang vagina Elah, Tubuh Elah bergetar, matanya mendelik serta menjerit “Auwh…..auw…” Gelinjang tubuh Elah semakin liar.
Jari tengahku semakin mengocok-ngocok vagina Elah keluar masuk masuk dengan cepat hingga ke pangkal jariku.
“Oh … Kang…. Elah …’ngga tahan…Elah…ngga tahan…” racaunya… lalu
“Oh…Kang…. Masukkan…masukkan….ouh…” pintanya padaku memelas dengan nafas yang semakin tersengal-sengal diburu nafsu yang semakin membludak.
Sebenarnya akupun sudah tak tahan ingin segera memasukkan penis tegangku ke dalam vaginanya yang nikmat. Aku arahkan penis tegangku ke vagina Elah, kakiku kutekukkan, Elah membuka pahanya memberi jalan bagi penisku, tangan kanannya meraih penisku dan mengarahkan kepala penisku tepat didepan liang vaginanya. Setelah dirasakannya pas, dia memajukan pinggulnya.Aku langsung mengerti pantatku mendorong penisku dan
Blesss….perlahan-lahan penisku masuk……”Ouh….” Elah mengerang sambil memejamkan matanya rapat-rapat seolah sangat menikmati proses itu. Aku merasakan proses penetrasi di dalam air hangat ini memberikan sensasi nikmat yang sangat berbeda. Nikmat luar biasa “Wwhohh…” Akupun mendesah nikmat…
Pantatku semakin kutekan dalam-dalam sehingga seluruh penisku dapat masuk hingga ke pangkalnya, kaki Elah terangkat dan tangannya memeluk erat tubuhku. Lalu kami diam selama beberapa saat menikmati penetrasi didalam air hangat yang nikmat luar biasa..Dinding vagina Elah berdenyut-denyut memberikan sensasi kenikmatan yang membuat mataku terbeliak-beliak menahan nikmat.
Perlahan-lahan aku mulai menggoyang pantatku agar penisku bisa keluar masuk vagina Elah memberikan gesekan antara batang penis dan dinding liang vagina Elah yang semakin berdenyut dan menghisap-hisap liar batang penisku. Aku semakin melayang dan Elahpun semakin mengerang dan mengeluh nikmat “Ahhh…”
Pinggul Elah turut bergoyang erotis didalam air memberikan tambahan sensasi nikmat. Air kolam bergolak seiring dengan gerakan kami yang makin lama semakin cepat dan liar. Bunyi berkecipaknya air kolam bersatu padu dengan erangan serta lenguhan Aku dan Elah yang saling bersahutan.
Makin lama gerakan kami makin tak terkendali, riak dan bunyi berkecipaknya air semakin nyaring. Dan erangan dan lenguhan Elah sudah berganti dengan jeritan-jeritan nikmat yang semakin tak dapat dikendalikannya
“Aouh…aouhhh…oh…oh…..”
Dengusankupun semakin cepat seiring dengan gerakan pantatku yang semakin menghentak-hentak cepat dan keras membuat tubuh Elah terlonjak-lonjak. Hingga akhirnya aku merasakan desiran darahku mengalir begitu cepat dan melemparkan tubuhku tinggi melayang. Pantatku kehentakan keras kedepan hingga seluruh penisku menancap dalam hingga ke pangkalnya di dalam vagina Elah. Badanku melenting kaku dan dari mulutku keluar teriakan tertahan “Aaakkhhhhss…”
Pinggul Elahpun menyambut tekanan pantatku dengan arah yang berlawanan membuat kedua selangkangan kami menempel erat. Badannya melenting kaku dan dari mulutnyapun keluar teriakan panjang menahan nikmat “Aaaaaaaaaahhhhkkkk….”
Sesaat kemudian…
Cret…cret…cret….spermaku menyemprot dengan deras di dalam vagina Elah disambut dengan denyutan vagina Elah sangat keras memijit dan memeras badan penisku serta hisapan-hisapan yang menyedot habis seluruh spermaku di dalam veginanya.
Kedua tubuh kami terdiam kaku menikmati puncak orgasme secara bersamaan dalam suasana sensasi nikmat yang sukar diucapkan. Mataku berkunang-kunang menahan nikmat yang menghilangkan hampir seluruh kesadaran yang ada dalam diriku. Perasaan kami seolah-olah sedang melayang tinggi, lalu
“Hhhooahhhh….” Secara bersamaan kami mengeluarkan napas lepas merasakan tubuh kami melayang jatuh terhempas ke dasar jurang yang sangat dalam. Riak air kolam perlahan-lahan mulai tenang, seiring tenangnya tubuh kami menyisakan rasa cape dan lelah yang teramat sangat.
Sesaat kami merasakan tubuh kami lunglai tak bertenaga di dalam air kolam yang hangat. Sambil berpelukan kami menjaga keseimbangan agar tidak tenggelam ke dasar kolam merasakan sisa-sisa kenikmatan dan kepuasan yang masih terus kami rasakan selama beberapa saat.
Setelah kesadaran dan tenaga kami berangsur-angsur pulih. Kami lanjutkan dengan mandi dan bercengkrama mesra di dalam kolam. Setelah cukup puas mandi berendam, kami keluar dari kolam dan berpakaian dengan perasaan yang sangat bahagia. Aku semakin merasa cinta pada gadis berjilbab yang luar biasa ini.
Kami pulang dari Ranca Upas sebelum magrib dan tiba di rumah Elah sekitar jam 8 malam. Dan karena suasan rumah sangat ramai oleh keluarga kakaknya Elah, maka aku tidak berlama-lama di rumahnya dan akupun pamit pulang.
Sejak saat itu aku semakin memantapkan diri untuk menjadi kekasih Elah dan kami saling mencintai. Aku sudah melupakan perasaanku pada cewe teman sekampusku yang tadinya akan kupacari, karena aku telah menemukan seorang gadis berjilbab yang bisa memberikan kebahagiaan padaku.
Namun enam bulan setelah aku mengikat hubungan cinta dengan Elah. Suatu hari Elah menemuiku sambil menangis. Dia bercerita bahwa dia telah dilamar oleh mantan pacarnya waktu di pasantren dulu yang ternyata sampai sekarang masih mencintainya dan lagipula dia merasa berdosa pada Elah karena telah menodai Elah pada waktu mereka masih di pasantren Tasikmalaya. Ternyata mantan pacar Elah itu adalah putra seorang ulama yang cukup ternama di daerah Tasikmalaya dan keluarga Elah sangat setuju atas lamaran tersebut.
Mereka memaksa Elah untuk menerima lamaran tersebut membuat Elah tidak berdaya untuk menolaknya. Dengan perasaan duka yang sangat dalam aku tidak dapat berbuat banyak. Terpaksa aku relakan Elah yang sangat kucintai ini untuk menikah dengan orang lain.
Oh…Elah…semoga engkau bahagia dengan suamimu….
TAMAT

LINA

Hai, sudah lama sekali gak ketemu denganku ya? Sekarang aku, wawan, akan kembali menceritakan pengalaman yang kudapat dengan seorang mahasiswi berjilbab baru-baru ini.
Pada suatu hari, aku sedang berjalan dan melihat sebuah pengumuman tentang sebuah kursus les privat bahasa inggris. “Diampu oleh mahasiswi bahasa inggris tingkat akhir yang sangat kompeten di bidangnya” kata pengumuman itu.
Wah, mahasiswi, pikirku. Langsung saja aku coba untuk mengontak dan mendaftar lewat nomor yang tertera di pengumuman itu.
Akhirnya, siang itu juga, setelah janjian di rumah baruku yang kecl namun terawatt rapi (yaiyalah, biaya perawatanya aja 2juta sebulan!), aku menunggu dia. Tidak sampai 5 menit dari waktu yang disepakati, bel pintu depan berbunyi dan ketika kubuka, kulihat sesosok wajah cantik yang berjilbab, tersenyum didepan pintu.
“Assalamu alaikum.. mas wawan ya?” kata dia. Segera saja kupersilahkan masuk dan kubawa ke ruang dalam rumahku, agar lebih pribadi hehe.

rupanya gadis manis berjilbab hitam ini namanya Lina, mahasiswi tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi negri terkenal. Manis juga, pikirku. Kulitnya putih langsat, tinggi, lebih pendek sedikit dari aku. Kira – kira sekitar 165 cm. Wajahnya oval dengan hidung yang mancung. Yang paling menggairahkan adalah bibirnya. Kecil merah muda merekah.. Badannya lumayan bagus, agak kurus tapi montok, terutama bagian pantat dan dadanya. Ia mengenakan rok hitam panjang dan baju yang longgar. Buahdadanya yang besar nampak menyembul dari balik jilbab dan baju hitamnya. Lina ini baru brumur 21 tahun. Masih muda juga, pikirku.
Setelah beberapa lama berbincang2 dan masuk ke materi, terlihat Lina agak gelisah. Tentu saja gelisah, karena sudah kucampur obat perangsang diminumannya hehe.
“Eh,… mas… bisa pinjem kamar mandinya“, tanya Lina beberapa saat kemudian.. Kelihatannya Mahasiswi berjilbab cantik itu sudah gak kuat. Biasa terjadi pada yang terangsang, mereka langsung ke kemar mandi. Yang gak kuat lagsung masturbasi sendiri, yang kuat Cuma membasahi muka agar sadar.
“Bisa,… masuk aja…. Sepi koq, nggak ada siapa – siapa. Kamu jalan terus aja, ntar kamar mandinya di sebelah kiri.“ Jawabku. Sengaka kuberi kamar mandi yang slotnya agak rusak sehingga gak bisa dikunci hehe. Langsung saja Lina bergegas menuju kamar mandi, entah mau apa hehe. Langsung saja ku ikuti dirinya perlahan.
Beberapa saat kudiam didepan pintu kamar mand, sampai kudengar desahan dan rintihan Lina, wah, ternata dia gak kuat, udah pegang2 sendiri kataku hehe. Langusng saja aku masuk ke dalam kamar mandi. Kudapati si Mahasiswi berjilbab montok itu ini duduk di kloset sambil memeknya terbuka lebar. Roknya sudah tersingkap keatas. Tangannya mengelus2 memeknya keenakan.
“Eh,.. sorry mbak, cuma mau nganterin sabun….“, kataku. Agak lama juga kami berdua terpaku. Lalu perlahan – lahan aku mendekati Mahasiswi berjilbab cantik itu yang masih termangu. Wajahnya merah padam, sebagian malu, sebagian lagi gak kuat menahan birahi. Kepalanya menggeleng pelan, namun tangannya tidak mampu berhenti memegang memeknya. tanganku mulai mengocok kontolku dengan pelan dari luar celana jeansku. Mahasiswi berjilbab cantik itu merhatiin apa yang aku sambil terus memegang memeknya.
“Tolong dong sekalian pegang kontolku, mbak…..“, pintaku sambil mendekat. Lina kelihatan ragu.
Kuhampirinya dengan pelan. Kutarik tangannya dan kutuntun ke kontolku. Dipegangnya kontolku dengan ragu ragu. Kemudian dengan lembut ia mulai mengocok kontolku turun naik. Kesampaian juga keinginanku untuk dikocok tangan halus itu.
“Ahh… enak sekali mbak….uh…“. rintihku. tanpa disuruh tanganku mulai merengkuh payudaranya yang sintal.
“Ssshh.., ahh…jangan… “ Lina merintih keenakan. Tak kuhiraukan omongannya, tanganku mulai merogoh payudaranya. Mahasiswi berjilbab cantik itu semakin terangsang. tangannya mulai mempercepat ritme gosokannya di memeknya dan kontolku. Segera tanganku menyibakkan jilbabnya kepundaknya, lalu mencopoti kancing baju dan BH nya. Segera setelah baju dan BH nya jatuh ke lantai, payudara Lina dapat terlihat dengan jelas. Padat sekali dan berwarna putih mulus dengan puting susu yang berwarna pink. Putting susu itu membusung kedepan memperlihatkan lancipnya payudara Mahasiswi berjilbab montok itu. Langsung kuremas payudara kirinya sementara tangan kananku memilin – milin dan menarik putting susu kanannya.
“Ah……“ Lina semakin merintih keenakan. Kudekatkan kepalaku ke dadanya, ku hisap – hisap puting kanannya. Lina semakin menggelinjang. Tangan kananku mulai bergerak turun, mengelus – elus perutnya yang padat. Karena terangsang, dengan cepat aku melorotkan celana jeans dan cd ku. Kontolku langsung menyembul keluar memperlihatkan seluruh bentuknya. Mata Mahasiswi berjilbab montok itu tak lepas – lepasnya dari kontolku.
Tangannya mulai membelai buah pelirku dengan ganas semantara tangannya yang lain semakin keras mengocok memeknya.
Nikmat sekali rasanya gesekan tangannya dengan kontolku. Rasa enaknya sampai ke seluruh urat sarafku sehingga tanpa kusadari badanku mulai bergetar keenakan. Kedua tanganku segera bergerak menjelajah ke bagian memek Lina.
Segera kutemukan clitoris di belahan memeknya. Lina telah mencukur habis jembutnya sehingga terasa memeknya licin dan bersih. Memek model begini yang membuat aku terangsang hebat. Kubuka belahan memeknya. Tangan Mahasiswi berjilbab cantik itu yang satu berpindah dari memeknya, membantu memberi kenikmatan di kontolku.
“Ah……enaaak… “ Lina mengejang keenakan begitu ku gosok dengan lembut clitorisnya. Kuputar – putar clitorisnya dengan ibujariku sementara jari tengahku mulai masuk ke liang senggamanya yang sudah basah kuyup.
Melihat Lina sudah terangsang berat, langusng kusodorkan kontolku ke mulutnya. dengan ganas kontolku kumasukkan ke dalam mulutnya. Sedotannya terasa enak sekali. Lidah Mahasiswi berjilbab cantik itu yang bermain – main di bagian sensitifku sementara mulutnya yang menghisap maju mundur membuatku kesetanan. Tanganku meremas – remas payudara dan pantatnya dengan kuat, lebih kuat dari sedotannya.
“mmmmmmm…..“, Mahasiswi berjilbab montok itu mengeluh keenakan. Beberapa detik kemudian rasa enak itu tak dapat kutahan lagi.
“Ahhh… mbak, aku mau klimaks nih….uh…..“. Lina tak menyahut, hanya mempercepat gerakan mulut dan lidahnya. Tak dapat kutahan lagi, spermaku keluar dengan derasnya. Begitu banyaknya yang keluar sampai – sampai spermaku menetes keluar dari mulutnya. Setelah 6 sampai 7 kali semprotan, aku pun lemas keenakan.
Lina tau kalau aku sudah puas, ia mulai mengendorkan sedotannya, lalu kemudian melepaskan kontolku dari mulutnya. Lina rupanya telah menelan semua spermaku, sedangkan tetesan sperma yang sempat lolos dari mulutnya menetes ke jilbab dan payudaranya.
Walaupun telah mencapai klimaks, kontolku tetap nggak mau kendur juga. Langusng kutarik Mahasiswi berjilbab cantik itu berdiri, aku berganti duduk di kloset. Kuposisikan dia membelakangiku. Ia bereaksi menarik rok hitamnya keatas pinggangsehingga semakin memamerkan memeknya dari belakang. bagus bener bentuknya, pikirku. Memek yang bersih licin itu berwarna merah jambu. Karena tak ada sehelai rambutpun yang menutupinya, dengan jelas dapat kulihat setiap lekuk memeknya. Memek yang basah kuyup dengan bibir yang merekah itu menantangku. Tak boleh kulewatkan kesempatan untuk ngerasain memek cewek ini. Kuremas memeknya dari belakang, kugesek clitorisnya dengan semua jari – jariku. Kugosok – gosok clitorisnya dengan cepat.
“sssss… cepetan mas,… cepet masukin kontolmu… aku udah gak tahan….. ssss“, Lina memohon. Lalu dengan jari telunjuk dan jari tengah kubuka bibir memeknya. Kontolku tanpa basa basi langsung kuhujamkan keliang vaginanya yang sudah terbuka.
“Ahhh…“, Lina merintih keenakan karena kontolku bener – bener menuh – menuhin memeknya dari dalam. Dengan beberapa kali desakan, kontolku kudorong mentok ke liang rahimnya. Memek Mahasiswi berjilbab cantik itu bener – bener seret rasanya. Enak sekali ngerasain memek yang seret anget basah itu. Kali ini kugerakkan pinggangku maju mundur secara kuat, Lina tampaknya menyukainya.
“terusss… ahh…. Lebih cepat… lebih cepat…. Ahhh….“ Tangan kiri Lina mulai menggesek – gesek clitorisnya sendiri menggantikan tanganku. Kupercepat gerakan ku sampai sampai terdengar bunyi gesekan kontolku dengan memek Lina. Kupegang pinggang Mahasiswi berjilbab cantik itu dengan kedua tanganku untuk membantu kontolku keluar masuk. Lina juga tak mau tinggal diam, ia memutar – mutar pinggulnya dengan kencang. Tak lama kemudian Lina mulai menggelinjang, menggelepar – gelepar sambil merintih keenakan. Tak sampai lima detik kemudian tubuhnya menegang. Sambil berteriak keenakan Mahasiswi berjilbab montok itu mencapai klimaks. Kurasakan denyutan memeknya memijat – mijat kontolku dengan kerasnya. Keadaan ini membuat kontolku muntah untuk kedua kalinya. Kami berdua merintih keenakan.
Sedetik kemudian kami colapse di lantai porselen putih kamar mandi itu. Kami berdua terengah – engah, mengatur nafas yang mungkin terlupakan sewaktu kami berdua asik tadi. Kupeluk Lina dari belakang. Kudekatkan bibirku ketelinganya.
“Makasih ya mbak“, bisikku dengan agak parau. Kuciumi tengkuknya dengan lembut, lalu perlahan – lahan kujilati kupingnya sambil merintih untuk memancing Mahasiswi berjilbab cantik itu kembali. Kontolku masih tetap ngaceng, mau minta lagi. Ku tempelkan kontolku ke pantatnya, perlahan kugesek – gesekkan.
Tanganku mulai beraksi lagi. Kujelajahi memeknya yang kian basah. Spermaku meleleh keluar dari memeknya dan membasahi pahanya. Kumainkan cairan putih itu. Clitorisnya yang mulai lemas kembali menegang. Tanganku mulai naik ke atas, meremas – remas payudaranya yang padat. Mula – mula lembut kemudian mengeras dan mengeras. Lina merintih keenakan. Pantatnya yang sintal mulai digosok – gosokkan ke belakang sehingga menyentuh kontolku.
Tak tahan lagi kumasukkan kontolku ke memeknya dari belakang. Kutindih tubuh Lina. Lina yang dalam posisi telungkup dan berada di bawah tak bisa berbuat banyak. Di rentangkannya kakinya yang mulus dan jenjang itu untuk mempermudah kontolku masuk.
Dengan tangan yang terus meremas – remas dan memilin – milin payudara serta putingnya itu aku memompa Mahasiswi berjilbab montok itu dengan sangat bernafsu.
“Oh… enak sekali mas….“,katanya tersengal – sengal. Kuciumi tengkuknya dengan ganas. Lina hanya bisa menggelepar keenakan. Tak lama kemudian Lina klimaks untuk kedua kalinya. Tanpa memperdulikan Mahasiswi berjilbab cantik itu yang terus mengejang kupercepat ayunan kontolku. Bunyi yang dihasilkan dari kecepatan dan basahnya memek Lina membuatku makin bernafsu. Lama sekali Mahasiswi berjilbab cantik itu mengejang keenakan sampai akhirnya aku keluar juga. Kali iniku semprotkan spermaku ke pantatnya. Karena udah tiga kali aku klimaks, air maniku tak sebanyak semprotan yang pertama dan kedua, tapi cukuplah untuk membasahi pantat Lina yang merangsang itu. Akhirnya aku colapse lagi di atas mahasiswi berjilbab cantik itu. Mahasiswi itu kunikmati semalaman, merintih2 sampai pagi dirumahku

MBAK YETI

Sebagai anak paling kecil dari tiga bersaudara, sebenarnya aku tidak merasa mempunyai kekurangan apapun. Jarak kelahiran yang agak jauh dari kakak-kakakku malah membuatku mendapat limpahan kasih sayang dari keluarga. Tapi jalan hidup manusia siapa yang tahu, kadang apapun yang terjadi pada diri kita, tak dapat kita duga.

JILBAB KETAT TOGE BESAR-AULIA (1)

Semua berawal dari kakakku yang paling besar, sebut saja mas Amran. Mas Amran semenjak SMP memang dikenal playboy. Banyak wanita yang mudah dia pikat. Kelakuannya bahkan sering memusingkan orang tuaku. Dulunya, ayahku bekerja di sebuah pabrik tekstil. Tapi karena faktor kesehatan, beliau pensiun dini, lalu buka warung kecil-kecilan depan rumah. Sedangkan ibuku seorang PNS. Usiaku dengan kakak tertuaku terpaut sekitar 13 tahun. Kata ibu, kehamilanku justru tidak disengaja. Tapi beliau menerimanya dengan gembira.

Saat lulus SMA, kakakku mengambil program D3. Tapi kuliahnya baru berjalan kira-kira tiga bulan, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatanya karena telah menghamili anak gadis orang. Padahal waktu itu usia kakakku baru sekitar 18 tahun. Orangtuaku saat itu sangat terpukul, apalagi diketahui, kehamilan wanita itu telah memasuki bulan keenam. Akhirnya mereka dinikahkan secara diam-diam. Pernikahan mereka tidak berjalan lama, saat bayinya lahir dan baru berusia sekitar lima bulan, mereka berpisah. Sejak itu, banyak sekali wanita yang dibawa kakak ke rumah.

JILBAB KETAT TOGE BESAR-AULIA (2)

Kira-kira dua tahun kemudian, kakakku kembali memutuskan menikahi seorang wanita yang usianya terpaut dua tahun lebih tua darinya. Waktu itu kakakku baru diterima bekerja di pabrik bekas ayah dulu bekerja. Orang tuaku tak bisa berbuat apa-apa. Wanita yang dinikahi kakakku pun sudah bekerja di sebuah bank. Pernikahan baru berjalan enam bulan, tetapi istri kakakku sudah melahirkan. Awalnya kakakku yang nomer dua, perempuan, yang kadang suka mengasuh anak kakakku. Tapi semenjak dia menikah dan diboyong suaminya, akhirnya mereka menyuruh tetangga untuk mengasuh. Belum setahun usia bayi, istri kakakku kembali hamil. Dan akhirnya dikarunia anak kembali.

Tapi kembali, pernikahan kakakku dilanda masalah. Tabiat kakakku yang suka main perempuan dan seringnya dia bekerja keluar kota, membuat istrinya tak tahan, dan akhirnya mereka memutuskan berpisah. Belum setahun perceraian, kuketahui istri kakakku sudah menikah lagi dengan teman sekantornya. Anak-anak sendiri karena masih kecil, dibawa oleh istri kakakku.

Kembali kakakku suka membawa wanita ke rumah. Warung ayah yang sudah tutup semenjak kakak keduaku menikah dan seringnya dia hanya bisa berbaring di kamar serta ibuku yang bekerja, membuat kakakku leluasa membawa wanita, apalgi di siang hari. Sesekali aku suka memergoki kakakku berduaan di kamar belakang dengan wanita, tapi sepertinya kakakku suka tak acuh. Malah dia suka memberiku uang tutup mulut. Akupun menerimanya dengan senang hati.

JILBAB KETAT TOGE BESAR-AULIA (4)

Ya, aku memang termasuk anak yang polos dulunya. Pergaulanku sendiri hanya sebatas teman-teman sekolah. Di rumah, aku jarang sekali main karena ibuku selalu menyuruhku menjaga ayah. Kadang aku merasa iri dengan kakakku yang sepertinya bebas kemanapun dia mau. Akhirnya saat usiaku 13 tahun, waktu itu aku baru masuk SMP, kembali kakakku menikahi seorang wanita. Tapi kali ini lain, karena wanita ini berjilbab.

Pernikahan siri dilakukan kakakku, berdasarkan kesepakatan keluarga. Wanita yang sebaya kakakku, sebut saja mbak Yeti, bekerja sebagai pelayan sebuah toko baju. Kesehariannya sangat ramah. Cara berpakaiannya pun sangat rapi dan sopan. Baju terusan panjang dan jilbab lebar selalu membingkai tubuhnya yang menurutku agak sedikit berisi, tapi menurut teman-teman ibu, bahkan sebagian teman sekolahku yang kadang datang ke rumah, bilang bahwa kakak iparku itu seksi.

Meski rumah kami agak jauh dari tetangga lain, tetapi wanita yang dinikahi kakakku kali ini sesekali suka mendapat pujian dari tetanggaku, terutama dari para lelaki muda. Malah ada teman sekampungku yang bilang, kalau dia yang jadi adik iparnya, pasti tiap hari akan mencoba ngintip kalau dia mandi, begitu candanya kepadaku. Aku sendiri sama sekali tidak menggubrisnya. Tapi memang setahun pertama pernikahan, kakakku sepertinya betah di rumah. Pulang kerja pun tak pernah telat.

Ibuku sendiri merasa senang, meski mbak Yeti bekerja, tapi dia selalu membantu menyiapkan makanan, bahkan membersihkan rumah. Jika mbak Yeti masuk pagi, biasanya baru sore harinya dia mencuci baju suaminya, bahkan kadang bajuku pun dia cuci. Jika dia kerja siang, paginya selain mencuci, dia juga membantu menyiapkan makanan. Hal itu membuat ibuku senang, kehadiran mbak Yeti sungguh memperingan kerja rumah tangga ibuku.

Aku sendiri biasanya membantunya menimbakan air jika dia hendak mencuci, ibuku yang menyuruhku, agar mbak Yeti nggak kecapekan. Lama-lama, aku dan mbak Yeti memang jadi akrab. Dia malah sering menyuruhku makan jika dia membuatkan sesuatu. Katanya supaya tubuhku gagah kayak kakakku, tidak kurus seperti sekarang. Yah, tubuhku memang agak kurus, apalagi tinggi badanku yang lumayan, membuat aku kelihatan agak ringkih. Tapi aku sendiri tidak begitu peduli, toh tidak kurus-kurus amat. Selain itu, tak jarang mbak Yeti memberiku uang jajan.

Awalnya, kami berpikir kakakku sudah berubah. Kehadiran mbak Yeti yang membuat dia betah di rumah, menyenangkan hati ibuku. Bahkan jika kebetulan mbak Yeti libur, kakakku sering datang siang hari, dan bersenda gurau di kamar dengan mbak Yeti. Tingkah mbak Yeti pun suka aneh, biasanya jika mereka bedua, kulihat cara bicara mbak Yeti suka berbeda, menjadi sedikit genit. Beda jika ada ibuku.

Tapi ternyata waktu berkata lain. Setahun lebih pernikahan mereka, kesibukan kakakku menjadikan dia kadang jarang ada di rumah. Semenjak mendapat tugas pengawas pemasaran, kakakku jadi makin sering keluar kota. Meski tidak mengganggu keharmonisan mereka, tapi kadang hal itu membuat mbak Yeti jadi sering melamun.

Awalnya tidak begitu kelihatan, maklum jika di depan semua orang, sepertinya tidak ada apa-apa. Tapi jika dia sendirian, tak jarang aku memergokinya sedang melamun. Bahkan sesekali sering aku mendengar keluhannya, walau awalnya aku tidak mengerti, saat dia sedang berdua dengan kakakku, ”Mas, jangan capek terus dong.” katanya. Dan ditanggapi kakakku dengan lenguhan lesu. Semenjak itu, mbak Yeti seperti mencari kesibukan juga. Dia kadang mengambil lembur.

Dan kemudian, siang itu, awal dari makin dekatnya hubunganku dengan mbak Yeti… Siang itu, hari begitu panas. Aku sebenarnya baru pulang dari sekolah dan sedang makan, tapi karena udara panas, aku memutuskan untuk mandi. Aku lihat bak mandi kosong, akhirnya aku yang sudah tak berpakaian, menimba air. Sedang asyik menimba, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Aku sendiri tidak begitu kaget saat kemudian mbak Yeti nongol dan tersenyum.

“Maaf, kirain nggak ada orang.” katanya. Aku tidak merasa malu dan biasa saja, bahkan saat mata mbak Yeti terus memandang kelaminku.

”Mbak mau apa?” kataku, sambil kemudian aku perlahan mengambil handuk yang mengantung tak jauh dariku, dan melilitkannya ke pinggang.

“Mbak nggak kuat, sakit perut!” katanya.

“Ya udah, mbak dulu aja.” kataku. Aku pun kemudian keluar.

Setelah itu, tak ada hal yang luar biasa, hanya kulihat mbak Yeti selalu tersenyum ke arahku. “Mbak kok pulang cepat?” kataku.

“Iya, minta ijin, nggak enak badan.” katanya.

Setelah itu, aku langsung masuk kamar, mengerjakan tugas-tugas sekolah. Bahkan ketika ibu pulang, aku masih asyik di kamar.

Besoknya, saat pulang kerja, mbak Yeti mengetuk pintu kamarku. ”Mbak bawa martabak,” katanya.

Aku langsung keluar, hari sekitar jam tiga sore, kulihat mbak Yeti membawa martabak ke kamar depan, ”Biasa, ayah lagi baca di kasurnya.” kata mbak Yeti tanpa ditanya. “Dari kemarin panas aja ya?” tambahnya lagi.

“Iya, mbak, padahal tadi aku sudah mandi, tapi tetep keringetan.” kataku.

”Jadi tadi nimbanya bugil lagi?” kata mbak Yeti, aku hanya nyengir. “Kamu nggak malu ya kepergok mbak?” tanyanya lagi.

“Nggak sadar, mbak. Tapi nggak apa-apa, mbak kan bukan orang lain.” kataku polos.

Tiba-tiba tangan mbak Yeti mengusap-usap pundakku. “Mbak juga mau mandi, baknya penuh nggak?” katanya.

”Tadi sih masih setengah. Nggak apa-apa, nanti aku isi.” jawabku sambil makan martabak.

”Ya udah, makan dulu aja.” katanya, kemudian dia masuk ke kamarnya. Tak lama dia keluar. Saat itu kulihat dia berpakaian daster dengan belahan sangat rendah. Bisa kulihat tonjolan payudaranya yang besar dan montok. Di tangannya ada handuk, BH, jilbab, dan celana dalam. Dia kemudian duduk di sampingku. “Duh, panas ya?” katanya sambil mengipas-ngipaskan tangan.

Ini baru pertama kalinya aku melihat dia berpakaian seperti itu, biasanya dia memakai baju panjang dan jilbab yang sangat sopan, tapi semua itu sama sekali tak mempengaruhiku. Dasar aku masih sangat polos. Bahkan saat kemudian dia mengajakku bicara dengan sedikit lain dari biasa, agak genit dan banyak usapan mesra di pahaku, aku tetap tak bereaksi.

Sejak itu, tingkah mbak Yeti menjadi agak berbeda, terutama jika kami sedang berdua. Tak jarang dia mengelus kepalaku, bahkan pahaku saat bercanda. Awalnya aku agak risih, tapi kemudian aku acuhkan. Saat itu, aku sama sekali tak mengerti, bahkan ketika dia menanyakan sesuatu yang berbau dewasa, aku menjawabnya dengan polos.

JILBAB KETAT TOGE BESAR-AULIA (3)

“Kamu punya pacar belum?” katanya.

“Belum, mbak.” jawabku.

”Tapi udah mimpi kan?” katanya lagi.

Aku mengangguk.

”Pertama kali kapan mimpinya?”

”Awal kelas dua kemarin, mbak.” aku menjawab.

“Mimpinya sama siapa hayo, pasti cewek ya?” katanya.

“Nggak tahu, mbak. Sudah lupa.” kataku.

“Enak nggak mimpinya?” katanya.

“Nggak tahu, mbak, lupa. Tahu-tahu sudah basah aja.” kataku.

Yah, kadang mbak Yeti menanyakan hal-hal sensitif, tapi aku merasa biasa aja, walau kadang kulihat dia cekikikan sendiri mendengar jawaban polosku. Lama-lama, kulihat mbak Yeti pun makin tidak malu dihadapanku. Aku jadi sering melihatnya keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk sedada, membiarkan paha mulusnya kemana-mana. Bahkan sepertinya dia sengaja melakukan itu, walau seringnya aku sendiri tak begitu memperhatikannya.

Dan siang itu, saat dia terus memperhatikanku, aku menganggapnya biasa. ”Mbak lihat kamu garuk-garuk burungmu terus, kenapa, gatal?” tanyanya saat aku hendak ke kamar mandi.

“Iya, mbak, numbuhnya makin banyak.” kataku tanpa sungkan, karena dia pernah menyinggungnya, dan saat itu aku bilang: ”Kata temanku cukur aja supaya nggak gatal,” tapi mbak Yeti bilang: ”Jangan, bisa makin gatal.”

”Cukur aja kali ya, mbak?” kataku.

“Ya udah, tapi biasanya makin gatal. Nanti mbak beliin bedak.” katanya.

Aku kemudian kencing. Selesai kencing, kulihat mbak Yeti keluar dari kamarnya. ”Nih, kalau mau cukuran, make ini aja. Tapi jangan bilang-bilang kakak kamu kalo alat cukurnya dipake buat nyukur bulu titit.” katanya cekikikan.

”Iya, mbak.” aku ikut tersenyum.

”Nanti alatnya bersihin lagi ya, supaya nggak ketahuan kalo habis dipake.” katanya, aku mengangguk. ”Hati hati luka, atau mau mbak yang cukurin?” katanya senyum-senyum.

“Nggak, mbak, malu. Biar aku aja nanti.” kataku menolak.

”Ya udah, cepat sekarang aja, mumpung kakakmu belum pulang.” kata mbak Yeti.

Aku kemudian ke kamarku sambil membawa handuk. Duduk di ranjang, mulai kucukur bulu kelaminku. Setelah selesai, aku kemudian mandi. Tapi benar, kurasakan rasa gatalnya tidak hilang, malah semakin terasa. Dan kulihat, aku tidak bisa mencukur bersih. Saat keluar kamar mandi, kulihat mbak Yeti sudah ada di dekat pintu. Baju gamisnya sudah berganti dengan daster berbelahan rendah. Jilbabnya juga sudah dia lepas, memperlihatkan rambut lurusnya yang panjang sepunggung.

“Sudah?” tanyanya, aku mengangguk. ”Kok cepat? Masih gatal nggak?” katanya.

“Iya, mbak. Gimana ya, mbak?” kataku.

Tangannya kemudian mengusap pundakku. ”Apa kata mbak, mending didiemin aja.” katanya. ”Mau dikurangi nggak supaya nggak gatal amat?” tawarnya. Aku mengangguk. ”Tapi janji jangan bilang siapa-siapa, termasuk ibu dan kakakmu.” bisiknya. Aku mengangguk lagi.

”Sini,” dia menarik tanganku, kemudian kami berdiri di balik pintu kamar mandi. “Kamu merem. Awas, jangan ngelihat!” katanya.

Aku yang waktu itu masih handukan menuruti apa katanya. Tiba-tiba kurasakan tubuhnya merapat ke tubuhku. Satu tangannya kurasakan mulai meraba kelaminku. Aku hanya diam saat kemudian kurasakan tangannya masuk ke dalam handukku. Sesaat kemudian, kurasakan kontolku menempel pada benda berbulu. ”Mbak,” kataku mulai tak tenang.

“Nggak apa-apa, diam aja. Nanti nggak gatel lagi, kamu pasti suka.” katanya. Perlahan kurasakan ujung kontolku digosok-gosokkan ke benda berbulu itu. Ada geli kurasakan, selain rasa hangat yang mulai menjalar cepat di batang kontolku, yang akhirnya membuatnya bangun dan menegang.

”Mbak, geli ah!” kataku parau. Mataku masih tetap merem.

”Nggak apa-apa, bentar lagi juga enggak.” katanya.

Aku tak berani melihat, walau saat itu sebenarnya aku tak begitu memejamkan mata. Wajahku ada di pundak mbak Yeti. Bisa kucium wangi keringat di lehernya, membuat kontolku makin mengeras dan menegang. Dan saat sudah benar-benar terbangun, kurasakan mbak Yeti makin menekan kontolku, melewati ruang hangat yang sempit dan lembab.

”Mbak, sudah ah, jangan!” kataku gugup. Dalam hati aku ingin mencegah, tapi kenikmatan yang kurasakan di ujung kontolku membuatku membatalkannya.

“Nggak apa-apa, tenang aja. Nanti gatalnya hilang sendiri.” katanya membujuk.

Sebenarnya rasa gatal sudah tak kuingat lagi, aku hanya merasakan nikmat yang menjalar di sekujur tubuhku, apalagi saat kontolku makin dalam masuk ke lubang hangat itu. Aku makin melayang. Saat itulah, tiba-tiba kurasakan pantat mbak Yeti bergerak pelan, memompa maju-mundur, membuat kontolku menggesek lubang sempit itu. Nikmat. Nikmat sekali kurasakan.

”Mbak ngapain?” tanyaku tak mengerti.

“Nggak apa-apa, tenang aja. Kamu agak turun.” katanya sambil menekan pundakku, aku pun sedikit menurunkan kakiku. Kini posisi kami benar-benar pas. Kontolku masuk sempurna di lubang sempit itu. Rasa geli makin menjalar di sekujur tubuhku saat kontolku menggesek dinding-dinding basah yang melingkupinya. Nikmat yang baru pertama kali kurasakan setelah 13 tahun lahir di dunia ini. Sampai akhirnya, aku merasa tak kuasa…

”Mbak, rasanya aku ada yang mau keluar.” kataku berbisik.

“Keluarin aja,” katanya sambil terus menggerakkan pinggulnya, menyetubuhiku.

Dan ahh.. ahh… ahh… kudekap tubuh montok mbak Yeti erat-erat saat cairanku membanjir keluar. Rasa nikmatnya seperti mimpi basah, tapi yang ini lebih enak karena benar-benar nyata.

”Kamu merem terus ya tadi?” kata mbak Yeti, kurasakan kontolku ia lepas da dilap dengan ujung daster. Aku mengangguk. ”Sudah,” katanya. Ia meraih handukku dan melingkarkannya lagi ke pinggangku. “Gimana, ilang nggak gatalnya?” ia bertanya. Aku mengangguk. ”Ingat, jangan bilang siapa-siapa ya?” bisiknya. Aku mengangguk lagi. Entah kenapa, aku kesulitan untuk menanggapi pertanyaannya.

Aku kemudian kembali ke kamarku. Saat selesai berpakaian, kulihat mbak Yeti masih ada di kamar mandi. Aku kemudian makan. Saat makan, mbak Yeti yang baru selesai mandi, tersenyum ke arahku. Seperti biasa, dia cuma menutupi tubuh moleknya dengan handuk. Sambil mengunyah, kupandangi pahanya yang putih mulus saat dia berlalu ke kamar. Selesai makan, mbak Yeti sudah berpakaian rapi dengan baju panjang dan jilbab lebar. Dia menghampiriku.

”Masih gatal?” tanyanya ramah.

”Sedikit, mbak.” kataku. “Mbak tadi ngapain sih?” aku bertanya. Entah, saat itu aku tak tahu mau bicara apa.

”Enak nggak?” bukannya menjawab, dia malah balik bertanya.

Aku mengangguk. “Mbak masukin burungku ke anunya mbak ya?” tebakku tak percaya.

”Iya, jangan bilang siapa-siapa ya?” dia tersenyum. Aku mengangguk mengiyakan. Siapa juga yang bakal bilang-bilang? Kemudian tangannya meraba boxerku. ”Coba lihat,” katanya. Dan entah kenapa, aku hanya diam saja, tidak protes. Mungkin karena teringat rasa nikmat tadi.

”Pantes, kamu nyukurnya nggak rapi.” katanya.

JILBAB KETAT TOGE BESAR-AULIA (5)

”Iya, mbak. Tapi nggak apa-apa. Nanti bisa dirapiin.” kututup lagi celanaku.

”Mbak mau lho bantu ngerapiin.” dia tertawa genit sebelum berlalu dari ruang makan. Aku hanya diam saja dan segera membawa piring kotorku ke belakang untuk dicuci.

Peristiwa itu terus aku ingat, bahkan sampai ibu pulangpun, aku masih melamunkan kejadian tadi. Dan esoknya, aku bahkan ingin cepat-cepat pulang, walau aku tahu mbak Yeti masih bekerja. Jantungku berdegup kencang ketika jam menunjukan sekitar pukul dua siang. Aku terus melihat ke jendela, bahkan ketika sosok mbak Yeti terlihat dari jauh, jantungku makin berdegup tak karuan. Ketika kudengar pintu depan dibuka, aku malah masuk ke kamarku.

“Kamu sudah makan?” tanyanya saat melintas di depan kamarku. Aku mengangguk, pura-pura membaca buku. Dia kemudian berlalu ke belakang. Entah apa yang ada di pikiranku saat itu, aku akhirnya keluar dan menunggunya di meja makan. Tak lama, dia muncul.

“Mbak nggak makan?” kataku saat kulihat dia minum dan hendak masuk kamar lagi.

”Tadi sudah makan bakso, masih kenyang.” katanya.

Aku tak tahu harus berkata apa lagi, jadi kubiarkan mbak Yeti masuk ke kamarnya. Aku terus duduk menunggunya keluar, saat itu, entah kenapa, kurasakan kontolku bergerak dan perlahan-lahan mulai menegang dan mengeras. Saat sudah ngaceng maksimal, pintu kamar mbak Yeti terbuka. Aku melihat ke arahnya, tersenyum.

”Lagi apa, kok masih disana?” kata mbak Yeti curiga. Dia sudah berganti pakaian, tapi masih tetap baju terusan panjang dan jilbab lebar.

“Nggak, mbak. Ini…” jawabku bingung. ”Kenapa burungku gatal terus ya, mbak?”

Mbak Yeti tersenyum, kemudian menghampiriku. Dia melotot melihat celanaku yang sedikit mumbul. Perlahan dia meraba dan senyumnya menjadi makin lebar. ”Mau kayak kemarin nggak?” katanya menggoda, aku mengangguk cepat.

”Di kamar mbak aja yuk.” dia mengajak. Aku mengangguk lagi. Segera kuikuti langkahnya. Sampai di kamar, mbak Yeti menyuruhku berbaring, aku menurut. Perlahan dia menarik celanaku dan tersenyum. ”Ih, kok sudah bangun sih?” katanya gemas.

“Nggak tahu, mbak.” jawabku malu. Aku sempat merasa kaget saat kemudian tanpa malu, mbak Yeti membuka satu persatu pakaiannya, termasuk juga jilbab putih yang ia kenakan. Kulihat payudaranya yang besar dan bulat menggantung indah di depan dadanya. Warnanya putih dan mulus sekali. Ada banyak urat-urat halus kehijauan di sekujur permukaannya. Tapi yang membuatku tak berkedip adalah tonjolan puting di puncaknya yang berwarna merah kecoklatan. Benda itu tampak mungil dan menggemaskan sekali.

Kemudian kualihkan pandanganku ke kumpulan rambut hitam di bawah pusarnya. Terlihat cukup lebat dan panjang. Sepasang pahanya juga tampak mulus menggiurkan. Ditambah bulatan bokong yang padat dan mengkal, jadilah dia sangat sempurna sekali di mataku. Mbak Yeti kemudian berbaring di sampingku.

”Ayo naik, tempelin tititmu di itunya mbak.” bisiknya di telingaku. Aku pun naik ke atas tubuhnya. Kutindih dia dan kupeluk erat. Mbak Yeti membalas dengan merangkul tubuh kurusku tak kalah erat. Jantungku bergejolak saat kontolku perlahan menempel di depan liang vaginanya. Mbak Yeti sudah membuka kakinya sekarang hingga aku bisa melakukannya dengan mudah. Kudiamkan sebentar, kubiarkan alat kelamin kami saling menempel dan menyapa. Saat itu mbak Yeti menekan-nekan payudaranya di dadaku, memintaku untuk memegang dan meremasnya.

”Kontolmu gede ya?” bisiknya saat tanganku mulai meraba dan mengelusnya pelan. Kurasakan betapa empuk dan halus permukaannya. Putingnya yang terasa mengganjal di sela-sela jariku, kujepit dan kupilin-pilin ringan. Mbak Yeti tersenyum melihatnya.

”Mbak, masukin ya?” kataku sambil mengecup pipinya. Dia menganguk dan kemudian meraba kontolku. Dengan bantuan tangannya, perlahan kontolku mulai masuk ke ruang hangat dan sempit yang sejak tadi aku inginkan.

”Nah, gerakin naik-turun.” katanya saat batangku sudah terbenam total di dalam lubang memeknya. Aku menurut, sambil terus meremas-remas bulatan payudaranya, perlahan aku mulai menggerakkan pantatku, mengikuti arahan tangannya yang ada di pinggangku. Rasa nikmat menjalar di seluruh tubuhku saat alat kelamin kami saling bertemu dan bergesekan. Ironisnya, nikmat itu kudapatkan dari wanita yang seharusnya menjadi milik kakakku.

Di atas ranjangnya, kudapati kenikmatan yang luar biasa saat kontolku mulai bergerak cepat di atas memek tembem mbak Yeti. Nikmat yang selalu terbayang di kepalaku ketika aku melihat tubuh mulusnya sehabis mandi. Mbak Yeti pun seakan tak mau hanya pasrah menerima sodokan-sodokanku, perlahan mulutnya mulai menghisap tetekku, memberi kenikmatan lain yang menjadikanku semakin tak peduli bahwa aku telah merasakan kenikmatan terlarang dari seorang wanita yang bukan milikku.

”Mbak, enak, mbak!” kataku lirih.

JILBAB KETAT TOGE BESAR-AULIA (6)

”Masukin yang dalem!” sahutnya parau. Dan saat aku melakukannya, ”oh… ya, begitu! Terus, ohh… terus!” mbak Yeti makin mendesah keenakan.

”Begini ya, mbak?” kataku sambil mencium bibirnya dan melumatnya pelan.

“Iya, kontolmu enak! Terus, ohh…” kata mbak Yeti gelagapan.

”Mbak, ohh… mbak, ahh… ahh…” akhirnya aku tak kuasa menahan desakan air maniku. Sambil menekan batang penisku dalam-dalam, kubiarkan cairan putih lengket itu keluar di lubang kemaluan kakak iparku. Setelah satu menit, perlahan aku terkulai di atas tubuh mulus mbak Yeti.

”Mbak, enak, mbak.” bisikku pelan.

”Mau lagi?” sahutnya nakal.

”Istirahat dulu, mbak.” kataku sambil mencabut penis. Kuperhatikan lelehan spermaku yang merembes keluar dari celah vagina mbak Yeti. Dia mengelapnya dengan tisu yang ada di atas meja.

”Ambilkan mbak minum ya? Haus nih.” dia meminta.

Setelah meremas-remas payudaranya sebentar, aku pun keluar menuju dapur. Tubuhku tetap telanjang. Kubawakan mbak Yeti segelas air dingin. Dia hanya tersenyum-senyum saat menerimanya. Setelah menghabiskan isi gelasnya, dia menghampiriku di tepi ranjang. ”Bentar lagi ibu pulang.” bisiknya penuh arti.

“Iya, mbak, gimana nih?” kataku. ”Aku kan masih pingin,”

Mbak Yeti mengelus-elus penisku sebentar sebelum akhirnya bangkit dan mengunci pintu depan, dengan harapan saat ibu pulang nanti tidak langsung bisa masuk. Kami sepakat main lagi di kamarku. Segera, beriringan kami berpindah kamar. Tubuh kami masih sama-sama telanjang. Saat sampai di kamarku, mbak Yeti menyuruhku duduk di kasur, sedang dia jongkok di lantai di depanku. Mbak Yeti langsung mengulum dan menghisap batang kontolku. Kurasakan nikmat yang luar biasa saat dia melakukan itu.

”Mbak, cepet, masukin sekarang. Nanti keburu ibu pulang.” kataku tak kuasa.

“Sabar dong,” katanya genit.

Hari itu, akhirnya dua kali aku mengenjot tubuh sintal mbak Yeti. Dan itu bukanlah terakhir kalinya. Karena setelah itu, kami sering mengulanginya lagi. Bahkan diawal-awal bersetubuh dengan mbak Yeti, hampir tiap hari aku berusaha menggaulinya. Mbak Yeti pun menerimanya dengan suka cita. Ketidakhadiran kakakku menjadi hal yang tidak mengganggunya lagi, karena kini dia bisa mendapatkan kenikmatan yang sama dari saudaranya, yaitu aku.

Perlahan aku pun dapat mengerti kenapa kakakku sangat suka main perempuan, ternyata kenikmatan ragawi memang telah membelenggu kakakku, dan sepertinya telah membelengguku pula. Saat itu, usiaku belum genap 15 tahun, tapi aku sudah merasakan kenikmatan seorang wanita.

Hubungan terlarang kami berlangsung cukup lama, sekitar dua tahun, sebelum akhirnya kakakku memutuskan bercerai dengan mbak Yeti. Meski mbak Yeti memberiku kebebasan untuk menemuinya, tapi aku tak berani, takut dicurigai. Untungnya, aku bertemu dengan wanita-wanita yang nakal bahkan kesepian. Selain mencari kenikmatan dari teman wanita di sekolahku, sesekali akupun mencari kenikmatan dari tante-tante kesepian yang kebetulan aku jumpai. Dan kamu tahu, aku lebih suka yang berjilbab, ada kebanggaan tersendiri kalau bisa membawa mereka ke tempat tidur.

LINDA

Akhirnya, aku, wawan, sang pengelana pemburu kenikmatan sex memilih untuk menyewa sebuah kamar kost disebuah kampung di sudut barat kota XXXXXXX. Aku menyewa kamar ini bukan karena aku berencana untuk menetap, namun lebih karena aku ingin agak lama bertualang sex dengan gadis-gadis kota XXXXXXX yang katanya lugu-lugu namun cantik-cantik.

BUAH DADA BESAR (1)

Pada suatu siang, aku sedang ebrada di sebuah warung makan. Aku sedang menikmati makananku ketika kulihat seorang wanita cantik masuk ke warung itu. Wajahnya sangat putih dan terlihat sangat halus, dengan bibir tipis dan mata yang sipit, menandakan dia orangnya sinis namun ganas di ranjang. Tubuhny ayang tidak begitu tinggi dan terhitung kecil tertutupi oleh kecantikannya. Kacamata dan jilbab coklat yang ia pakai menyempurnakan kecantikannya.

Segera aku mencari cara untuk berkenalan. Beberapa saat, tiba-tiba otakku mendapatkan ide. Kenapa tidak pura-pura menabraknya? Mumpung tempat dudukku ada di antara tempat duduknya dan lemari dimanan lauk dihidangkan di warung itu. Segera kujalankan rencanaku.

Saat itu datang ketika dia sedang membawa pesanannya dari lemari depan ke mejanya. Pelan-pelan aku mempersiapkan diri, lalu setelah dia kira-kira sudah dekat, segera aku berdiri dan berbalik.

“gubrak!!” “praang!!” tiba-tiba piring dan gelas berisi makanan sayur dan minuman yang ia bawa tumpah ke bajuku dan bajunya, lalu jatuh pecah di lantai.

BUAH DADA BESAR (2)

“eh maaf mbak, tidak sengaja…” kataku sambil berwajah bodoh. Langsung wanita cantik itu ngomel-ngomel dihadapanku. Sudah kuduga, karena memang terlihat wanita cantik ini punya lidah yang tajam. Ah, aku sih sudah kebal.

Akhirnya dengan sok gentleman, aku menawarkan untuk membayar semua kerugian dan mentraktrnya bersama dua rekannya. Aku juga menawarkan untuk mengantarnya pulang untuk berganti baju (dia ternyata adalah seorang karyawati sebuah perusahaan perkreditan motor syariah di kota itu). Semua tawaranku diterima nya mentah-mentah. Akhirnya, di hari pertama sukseslah aku berkenalan dengan wanita cantik berjilbab yang kira-kira berusia 25 tahun itu. Bahkan aku juga sukses mengetahui rumahnya. Padanya aku memperkenalkan diri sebagai seorang pegawai sebuah perusahaan riset dan sedang melakukan riset di kota XXXXXXX selama beberapa minggu.

BUAH DADA BESAR (3)

Tiga hari berlalu, Kami yang selalu bertemu di warung makan itu (dia selalu makan di warung itu pada jam istirahatnya) pun cepat akrab. Percakapan kami sudah mulai mengalir dan seringkali disertai candaan layaknya teman dekat. Sambil bercanda aku mencuri-curi pandang ke wajah cantiknya yang ebrjilbab. Pikiranku yang mulai kotor untuk memperkosanya langsung di warung itu Terus terang saja membuat si kecil di balik celanaku bangun menggeliat, ditambah aroma parfum tipis bercampur keringat khas tubuhnya yang membuat terangsang birahiku. Ternyata, wanita cantik berjilbab ini telah menikah, namun suaminya adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan telepon yangs ering bepergian keluar kota. suaminya adalah orangyang gila kerja, sehingga walaupun kehidupan mereka terjamin, namun Linda tidak mendapatkan nafkah batin yang layak. apalagi sang suami seringkali ejakulasi dini, sehingga sering tidak bisa dinikmati oleh Linda.

Pada suatau hari, aku pada sore hari emnunggunya di depan kantornya. Ketika ia keluar, segera aku menghampirinya. Wanita cantik itu terkaget melihat aku ada di situ. Aku mengatakan bahwa aku hanya ingin berkunjung kerumahnya. Ternyata dia mempersilahkan. Aku segera mengikuti motornya menuju rumahnya yang ada di sebuah perkampunagn sepi, tak jauh dari kantornya.

BUAH DADA BESAR (4)

Setelah masuk, kami bercakap diruang depan. Linda berkata jika dia sendirian dirumah, sementara suaminya sedang berada diluar kota. Tak beberapa lama, Linda sang gadis berjilbab cantk itu mengajakku untuk pindah ke ruang tengah sambil nonton TV untuk meneruskan mengobrol. aku pun tidak menolak dan mengikutinya masuk setelah dia mengunci pintu depan. Sambil ngemil hidangan kecil dan minuman yang kubuat, kami melanjutkan ngobrol-ngobrol. Sesekali wanita berjilbab cantik itu mencubit lengan atau pahaku sambil ketawa-ketiwi ketika aku mulai melancarkan guyonan-guyonan. Tidak lama, adik kecilku di balik celana tambah tegar berdiri. Aku kemudian usul ke Linda untuk nonton VCD yang kubawa saja. Setelah Linda setuju, aku masukkan film koleksiku ke dalam player. Filmnya tentang drama percintaan yang ada beberapa adegan-adegan ranjang. Kami berdua pun asyik nonton hingga akhirnya sampai ke bagian adegan ranjang, aku lirik wanita cantik berjilbab itu matanya tidak berkedip melihat adegan itu.

BUAH DADA BESAR (11)

Kuberanikan diri untuk merangkul bahu Linda, ternyata gadis cantik berjilbab itu diam saja tidak berusaha menghindar. Ketika adegan di TV mulai tampak semakin hot, Linda mulai gelisah, sesekali kedua paha mulusnya digerak-gerakkan buka tutup. Wah, gila juga nih cewek, seakan-akan dia mengundang aku untuk menggumulinya. Aku beranikan diri untuk mengelus-elus lengannya, kemudian kepalanya yang tertutup jilbab. Linda tampak menikmati, terbukti gadis berjilbab ini diam saja. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, langsung kupeluk tubuh hangatnya dan kucium pipinya. Linda tidak protes, malah tangan wanita cantik berjilbab bertubuh mulus itu sekarang diletakkan di pahaku, dan aku semakin terangsang lalu kuraih dagunya. Kupandang matanya yang sipit dan indah, sejenak kami berpandangan dan entah siapa yang memulai tiba-tiba, kami sudah berpagutan mesra. Kulumat bibir bawahnya yang tipis itu dan Linda membalas, tangannya yang satu memeluk leherku, sedang yang satunya yang tadinya di pahaku sekarang sudah mengelus-elus yuniorku yang sudah super tegang di balik celanaku.

BUAH DADA BESAR (5)

Lidah kami saling bertautan dan kecupan-kecupan bibir kami menimbulkan bunyi cepak cepok, yang membuat semakin hot suasana dan seakan tidak mau kalah dengan adegan ranjang di TV. Tanganku pun tidak mau tinggal diam, segera kuelus paha mulus wanita berjilbab berwajah menggairahkan itu yang masih tertutup celana panjang hitam, Linda pun seakan memberi kesempatan dengan membuka pahanya lebar-lebar, sehingga tanganku dengan leluasa mengobok-obok paha dalam wanita cantik berjilbab itu sampai ke selangkangan dari luar celana panjangnya. Begitu bolak-balik kuelus dari paha lalu ke betis kemudian naik lagi ke paha. Sambil terus melumat bibirnya, tanganku sudah mulai naik ke perut wanita cantik berjilbab itu kemudian menyusup terus ke dadanya. Kuremas dengan gemas payudaranya walau masih tertutup kemeja kerja, Linda merintih lirih. Melihat sang wanita cantik itu merintih-rintih terhanyut birahi dengan wajah yang masih memakai jilbab dan kacamata membuatkus emakin ebrsemangat. Lalu tanganku kumasukkan ke dalam kemejanya dan mulai meraba-raba mencari BH- wanita berjilbab berwajah menggairahkan itu. Setelah ketemu lalu aku meraih ke dalam BH dan mulai meremas-remas kembali buah dadanya, kusentuh-sentuh putingnya dan Linda mendesah. Seiring dengan itu, tangan Linda juga mengocok yuniorku yang masih tertutup celana dalam, dan mulai dengan ganas menyusup ke dalam celana dalam meraih yuniorku dan kembali mengocok dan mengelus.

Tak beberapa lama, tiba-tiba dia berhenti. “sudah mas wawan… jangan… aku sudah punya suami… ini zina…”

Aku tidak menjawab sepatah katapun. Mana mau aku kalah dengan kata-kata penolakans eperti itu, kataku. Dengan lembut aku gapai tangan wanita cantik berjilbab itu dan kuremas lembut. Dengan lembut pula aku rangkul dia untuk rebahan disova panjang diruang tengah rumahnya. Tanpa terasa jantungku berdetak keras. Sensasi seperti inilah yang dicari searcher sepertiku. Bagaikan dikomando aku menciumi pipi Linda yang terlihat sangat bersih dan putih, menjelajahi sisi kepalanya, dan menciumi dan menggigiti telinga wanita cantik berjilbab itu dari luar jilbabnya.

“Linda kamu sangat cantik sayang..,” aku berbisik.
“Wawan.. Jangaan please..,” desahan Linda dan aroma tubuhnya yang khas membuat aku semakin terangsang. Lidahku semakin nakal menciumi dan menjilati pipi Linda yang putih bersih.

BUAH DADA BESAR (6)

“Akhh Wawan..” tanpa terasa tanganku mulai nakal untuk menggerayangi payudara Linda yang aku rasakan mulai mengencang mengikuti jilatan lidahku dibalik telinganya.
“Ooohh.. Mas Wawan..”

Linda mulai mengikuti rangsangan yang aku lakukan di dadanya. Aku semakin berani untuk melakukan yang Iebih jauh..

“Lin, aku buka baju kamu yach, biar tidak kusut..,” pintaku. Linda hanya mengikuti pergerakan tanganku untuk melepaskan pakaiannya. Jilbabnya yang cekak melilit lehernya kubiarkan terpakai, begitu juga dengan kaca matanya. Wajah wanita berjilbab berwajah menggairahkan itu semakin cantik dan menggairahkan bagiku ketika memakai dua benda tersebut. Sementara kemeja kerjanya kulepas, sampai akhirnya dia hanya mengenakan BH warna hitam. Dadaku semakin naik turun, ketika tubuh wanita cantik berjilbab itu yang putih nampak dengan jelas dimukaku.

Setelah terbuka, aku berusaha naik di tubuh dia, aku ciumi bibir Linda yang tipis, lidahku menjelajahi bibirnya dan memburu lidah Linda yang mulai terangsang dengan aktivitas aku. Tanganku yang nakal mulai menarik BH warna hitam. Daann.. Wow.. Tersembul puting yang kencang.. Tanpa pikir panjang aku melepas lumatan di bibir Linda untuk kemudian mulal melepas BH dan menjilati puting Linda yang berwana kecoklatan. Satu dua kali hisapan membuat puting wanita cantik berjilbab bertubuh mulus itu berdiri dengan kencang.. Sedangkan tangan kananku memilin puting yang lainnya.

“Ooohh Wawan.. Kamu… ouuhh…emmmhh… udaaahhh…enaakkkhhh…,” rintih Linda.

Dan saat aku mulai menegang.. Linda berusaha bangkit dari tempat tidur, tapi aku tidak memberikan kesempatan Linda untuk bangkit dari pinggir ranjang. Aroma khas tubuh Linda menambah gairah aku untuk semakin berani menjelajahi seluruh tubuh wanita cantik berjilbab itu. Dengan bekal pengetahuan sex yang aku ketahui, aku semakin berani berbuat lebih jauh dengan Linda.

Aku segera melucuti celana panjang kerjanya tanpa perlawanan yang berarti dari Linda yang sudah terangsang. Langsung aku membuka CD yang digunakan Linda, dan darahku mendesir saat melihat tidak ada sehelai rambutpun di bagian memek Linda. Tanpa berpikir lama, aku langsung menjilati, menghisap dan sesekali memasukkan lidahku ke dalam lubang memek Linda.

BUAH DADA BESAR (7)

“Oohh.. wawaaann…jangaaannn…ntar aku…hhhh.. mmhhh… enakhh.. Nikmat..mmhh!!” Linda merintih kenikmatan setiap lidahku menghujam lubang kewanitaanya .
“enaakk..waaan…..” Desah Linda disaat kocokkan jariku semakin cepat, Linda sudah mulai memperlihatkan ciri-ciri orang yang mau orgasme dan sesat kemudian..
“Wawan..udaahhh… Aku nggak tahan.. Oohh.. Mass aku mau..” Linda menggelinjang hebat sambil menggapit kedua pahanya sehingga kepalaku terasa sesak dibuatnya.
“waaannhhh.. Ookkhh.. Aakuu keluaarr..” Crut-crut-crut-crut-crut-crut.

Linda merintih panjang saat clitorisnya memuntahkan cairan kental dan bersamaan dengan itu, dia mengejat-ngejat. Aku biarkan dia terlentang menikmati orgasmenya yang pertama, sambil membuka semua pakaian yang aku kenakan. Aku memperhatikan Linda begitu puas dengan foreplay aku tadi, itu terlihat dari raut wajah wanita berjilbab berwajah menggairahkan itu yang tampak begitu puas.

Tanpa memberi waktu panjang, aku segera menghampiri tubuh wanita cantik berjilbab bertubuh mulus itu yang masih lemas dan menarik pinggulnya dipinggir sofa, dan tanpa pikir panjang kontolku yang berukuran besar, langsung menghujam celah kenikmatan Linda yang sontak meringis..

BUAH DADA BESAR (8)

“Aaakhh.. Wawan..,” desah Linda saat kontolku melesak ke dalam lubang memeknya.
“Mass.. Kontol kamu besar sekali.. Aakkh..”

Aku merasakan setiap gapitan bibir memek wanita cantik berjilbab itu yang begitu seret, sampai aku meringis ngilu disetap gerakan keluar masukku. Aku berpacu dengan nafsu, keringatku bercucuran seperti mandi dan menetes diwajah Linda yang terus mendesah dan mengerang binal. Setiap gerakan maju mundur kontolku, selalu membuat tubuh Linda menggelinjang hebat karena memang mulai aku rasakan sangat menikmati permainan ini.

“Waannhh.. Sudahhh.. mmhhh.. Akhh..” sembari berteriak panjang aku rasakan denyutan bibir memek mengapit batang kontolku.

Dan aku rasakan cairan hangat mulai meleleh dari memek Linda. Aku tidak mempedulikan desahan Linda yang semakin menjadi, aku hanya berusaha memasukkan kontolku yang agak bengkok ke kiri. Tiba-tiba Linda mendekap tubuhku erat dan aku tahu itu tanda dia mencapai orgasme yang kedua kalinya.

Kontolku bergerak keluar masuk dengan cepat dan.. Sesaat kemudian aku melepas kontolku dan mengarahkan ke mulut Linda yang masih terlentang. Aku biarkan dia oral kontolku sejenak, lalu segera kembali menjejalkan kontolku dalam memek wanita cantik berjilbab itu.
“Waannhh.. Aku.. Mau.. Keluarr lagi.. Aaakk.. Kamu hebat waaann.., aku.. Nggak tahan..” Seiring jertian itu, aku merasakan cairan hangat kembali meleleh disepanjang batang kontolku.
“Aaakhh.. Sayang.. Enak sekali.. Ooohh..,” rintih Linda.

Bagaikan orang mandi, keringatku kembali berkucuran, diatas tubuh Linda..

BUAH DADA BESAR (9)

“Liin.. aku boleh keluarin di dalam..,” aku tanya Linda.
“Jangan.. Aku nggak mau, entar aku hamil,” jelas Linda.
“Nggak deh Lin.. jangan khawatir..,” rengekku.
“Jangan Waannn.. Aku nggak mau..,” rintihan Linda membuat aku semakin bernafsu untuk memberikan orgasme yang berikutnya. Kembali aku menggerakkan pinggulku maju mundur.
“Akhh.. Oohh.. Wawan.. keluarin kontol kamu.. Aaakkhh..,” Linda memintaku.

Disaat aku mulai mencapai klimaks, Linda meminta berganti posisi diatas.

“Wawanh..gan..tian.. aku ingin diatas..”

Aku melepas kontolku dan langsung terlentang. Linda bangkit dan Iangsung menancapkan kontolku dalam-dalam di lubang kewanitaannya.

“Akhh gila, kontol kamu hebat banget Waann nikmaat.. Ooohh.. Enak..” Linda merintih sambil terus menggoyangkan pinggulnya.
“Aduhh enak Waannhh..”

Goyangan pinggul Linda membuat gelitikan halus di kontolku..

“Liinn.. Lindaa.. Akh..,” aku mengerang kenikmatan saat Linda menggoyang pinggulnya.
“Mass.. Aku mau keluar sayang..,” sambil merintih panjang, Linda menekankan dalam-dalam
tubuhnya hlngga kontolku “hilang” ditelan memeknya dan bersamaan dengan itu aku sudah mulai merasakan klimaks sudah diujung kepala.

“Aaahh.. Ahh..”

Aku biarkan spermaku muncrat di dalam memeknya. Daann.. semburan spermaku langsung keluar di dalam Lubang memek Linda, bersamaan dengan kembali mengejat-ngejatnya tubuh Linda menikmati orgasmenya yang kesekian kalinya, lalu terhempas jatuh di sofa ruang tengahnya. Aku segera mengatur nafasku, lalu segera berpakaian. Aku mencari dapur dan mengambilkan Linda segelas air putih. Ketika aku kembali ke ruang tengah, aku temui Linda sudah duduk termenung.

“makasih ya lin..” kataku sambil mengecup keningnya.

“aku takut hamil, wan..” kata Linda.

Aku hanya tersenyum. “gak bakal. Tenang saja…” Persetan, pikirku.

Setelah beberapa waktu duduk dan memeluknya, aku segera berpamitan dan kembali ke kostku, dengan tubuh yang lelah namun penuh kepuasan.

RAPAT DKM (ZAHRA, ANITA, TYAS, NISA)

Namaku Sugeng, mahasiswa semester 6 di kota Y. Di kampus aku termasuk aktivis DKM, walaupun sebenarnya tidak terlalu aktif. Aku berasal dari keluarga yang religius, maka paman dan kakakku menyarankan aku untuk masuk organisasi DKM. Sebenarnya aku tidak terlalu minat, tapi supaya keluargaku tidak cerewet, dan lumayan untuk menambah pengalaman organisasi di CVku, kuputuskan untuk masuk. Aku bergabung di bagian publishing yang kerjanya membuat buletin, mading masjid fakultas dan website. Untungnya di bagian ini ada temanku yang sama parahnya, atau lebih parah dariku untuk masalah porn, namanya Misno. Kalau aku hanya suka membuka website porn, Misno malah lebih aktif, yaitu suka ngintip dan merekam teman kos wanitanya sedang mandi. Kadang-kadang dia menshare hasil “kejahatannya” denganku. Benar-benar teman yang kreatif.

ZAHRA

ZAHRA

Untungnya lagi, teman-teman akhwat di bagianku cantik-cantik semua. Zahra, tubuhnya pendek, berkaca-mata, tapi kulitnya putih bagaikan susu. Anita, sama pendeknya dengan Zahra, tapi wajahnya lebih manis. Tyas, tinggi semampai, dengan hidungnya yang mancung dan senyumnya yang super sweet. Terakhir adalah Nisa, berkulit coklat, tubuhnya lebih padat berisi, namun tetap cantik. Walaupun mereka semua berkerudung panjang, namun aura pesona mereka tetap tak bisa tertutupi, membuat mata yang memandang mereka makin nyaman dalam kesyahduan.

Alkisah Misno membuka obrolan denganku saat jajan es kelapa di kantin fakultas.
“Geng, emang kira-kira iklan obat perangsang yang ada di kampus.us itu beneran ga ya?” ujarnya.
“Wah mana ku tau, aku sih ga pake begituan juga udah terangsang hahaha…,” jawabku sekenanya. Misno pun ikut tertawa.
“Tapi ane masih penasaran geng, jadi pengen nyobain…” sambungnya lagi.
“Wah gila lu ya, mo nyobain ke mana? Ah aku tau, pasti temen kosan kau itu mau kau kasih obat, terus kau rekam ya?” terkaku.
Misno tertawa mendengan jawabanku.
“Ga tau deh, tapi ane udah bosen sih lihat bodinya Murni itu. Pengen liat yang lain, tapi siapa ya…” lanjutnya lagi.
“Wah dasar aktivis DKM mesum kau…,” jawabku. Aku pikir Misno hanya becanda saja, walaupun untuk urusan seperti ini biasanya Misno aku tau tidak pernah takut mencoba. Tapi lagian mau ngintip siapa lagi kalau bukan teman kosannya?


Seminggu kemudian…

ZAHRA

ZAHRA

Sesuai kesepakatan, sore ini ada meeting buletin dan mading di ruang publishing DKM. Semua tim publishing mesti hadir. Jam setengah dua siang sudah hadir semua. Anita, Zahra, Tyas, Nisa, Misno, Rizki sang ketua bagian, Herman sang editor dan aku. Rizki mulai membuka meeting dan menjalankan sesuai agenda, sementara Herman mengetik notulensi meeting di laptonya. Sore itu cukup panas sehingga baru setengah jam, kami sudah kehausan semua.
“Wah, mulai haus nih, kayaknya butuh penyegaran tenggorokan,” komentar Rizki.
“Iya, sama nih kita-kita juga,” balas Zahra mewakili tim akhwat.
“Oh ini tadinya aku mau beli konsumsi, tapi gak sempat. Biar kubeli dulu ya,” tiba-tiba Anita nyeletuk. Memang biasanya Anita lah yang membelikan kami konsumsi karena dia yang paling tajir di antara kami.
“Eh gak usah repot-repot ukti, biar aja aku yang beli. Emang mau beli konsumsi apa?” Misno menjawab sambil berdiri menawarkan diri.
“Oh akhi Misno yang mau beli, terserah aja deh mau beli apa. Ini uangnya,” kata Zahra sambil memberikan selembar seratus ribu kepada Misno.
“Wah Akhi Misno, baik sekali akhi,” ujar Rizki sambil tersenyum.
“Ga papa, sekali-kali kok,” jawab Misno sambil ngeloyor pergi meninggalkan kami.

ANITA

Kurang lebih sepuluh menit Misno datang membawa delapan teh botol dan cemilan kripik dan bolu kering. Dengan semangat kami menyerbu konsumsi tersebut karena memang sudah tak tahan haus dan agak lapar. Lagipula agenda meeting sudah selesai, tinggal membicarakan hal-hal tambahan yang perlu untuk tim publishing. Teh botol yang sudah terbuka sejak dibawa Misno langsung kami sruput dengan semangat sambil bincang-bincang ringan. Ketika pembicaraan dianggap selesai, kami segera beres-beres untuk pulang. Toh tidak baik juga kalau anggota DKM berkumpul laki dan perempuan dalam satu ruangan tanpa pembatas berlama-lama. Tapi saat beres-beres itulah kulihat anggota yang lain mulai bertingkah aneh. Ada yang garuk-garuk, kipas-kipas kepanasan, resah. Pada kenapa ini?? Tapi pas kulihat Misno, dia malah cengar-cengir memperhatikan teman-teman semua.

“Mis, kenapa cengar-cengir? Itu temen-temen pada kenapa ya?” bisikku perlahan.
“Geng, ente inget tentang obat perangsang yang pernah kuomongin kan, tadi kumasukkan ke teh botol mereka hihihi…” jawab Misno.
“Buset, nekat amat lu, begimana ini? bisa pada orgy nih anak DKM,” kataku sambil melotot.
“Tenang geng, kita lihat dulu perkembangannya…” jawab Misno.
Dengan santai Misno menutup pintu ruangan ini yang dari tadi terbuka lebar, menambah gerah suasana. Anehnya, tidak ada yang protes. Lalu Misno mendekati Zahra dan Tyas yang duduk di sofa kecil yang ada di kamar itu. Zahra tampak resah, mukanya menengadah ke atas, sementara Tyas tak henti-hentinya mengelap keringan di pipinya sambil sesekali tangannya menyentuh-nyentuh badannya.

ANITA

ANITA

“Kenapa Zahra, pusing ya?” tanya Misno
“Iya nih, pusing dikit, panas pula…” jawabnya
“Sini ane pijitin ya…” kata Misno lagi sambil tangannya mulai memijit pundak Zahra.
“Jangan akh, ga usah…” tukas Zahra. Tapi anehnya Zahra tidak menolak tangan Misno, malah mulai menikmati pijatan di pundaknya. Merasa mendapat angin, Misno menurunkan pijatannya dari pundak ke punggung Zahra dan dengan cekatan ke depan, ke dada Zahra yang masih terbungkus kerudung, jubah dan pakaian dalamnya. Bukan memijat sekarang, lebih tepatnya meremas. Zahra benar-benar tidak melawan, hanya memekik perlahan saja. Sementara Tyas yang ada di sampingnya, Anita yang ada di sofa panjang, Nisa, Rizki dan Herman yang masih di karpet, dan aku sendiri terpana menyaksikan pemandangan itu. Tidak ada yang protes, malah seolah-oleh menunggu kelanjutan pergerakan tangan Misno.

TYAS

TYAS

Bisa dikatakan semua sudah terpengaruh obat perangsang yang Misno masukkan ke teh botol kecuali Misno dan aku, sebab teh botol Misno dan aku tidak diberi obat perangsang. Seperti seorang ahli, Misno dengan cekatan mencium mulut Zahra dan tangannya menyibakkan jubah Zahra hingga ke pinggang. Melihat Zahra masih memakai celana panjang, Misno langsung memelorotkan celana itu hingga terlepas kemudian melepas celana dalam Zahra yang berwarna pink. Dengan ganas Misno melanjutkan ciumannya sementara tangan kirinya meremas-remas dada Zahra dan tangan kanannya meraba kemaluan Zahra.

Melihat pemandangan itu, akupun langsung On. Kudekati Tyas yang ada di sofa yang sama.
“Tyas mau kaya gitu?” tanyaku memancing. Tapi Tyas diam saja tak merespon. Maka langsung kucium mulutnya sebagai serangan awal sambil kuraba-raba seluruh tubuhnya. Dadanya, perutnya, pahanya, pantatnya, walaupun masih terbungkus jubah. Setelah agak bosan, kulakukan pada Tyas apa yang Misno lakukan pada Zahra, kusingkap jubahnya, kubuka celananya. Lalu kutarik dan kukangkangkan kaki Tyas yang masih duduk di sofa lebar-lebar, dapat kulihat vaginanya yang masih menutup dengan bulu-bulu halus di atasnya. Langsung kubenamkan wajahku, dan kujilat belahan kemaluan itu. Tyas melonjak-lonjak sambil tangannya meremas-remas rambutku. Terus kujilat sampai puas. Kemudian aku berdiri lagi sambil masih memegang kedua pergelangan kaki Tyas. Pemandangan yang luar biasa, Tyas yang alim dan mancung ini masih berkerudung dan berjubah, namun paha dan kemaluannya terpampang di depan hidungku.

TYAS

TYAS

Karena merasa ada desakan di celanaku, langsung kubuka dan kuturunkan sehingga penisku yang sudah tegang mencuat. Kusodorkan ke mulut Tyas sambil kutarik kepalanya. Tyas pun menurut memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Agak sakit malah karena gadis ini pasti belum pernah melakukan blow job. Tapi sensasi lidahnya yang menyapu kepala penisku benar-benar membuatku melayang. Kulirik ke kiriku, ternyata Zahra juga sedang mengoral Misno, bedanya Zahra ternyata sudah tidak berbusana. Payudaranya agak lonjong seperti pepaya mencuat dengan puting yang menegang, ditarik dan diremas oleh Misno. Uniknya lagi, kerudung Zahra tidak dilepas sehingga pemandangan itu sungguh eksotis.

“Mimpi apa gue Geng, diblowjob cewe-cewe alim kaya gini?” kata Misno kepadaku sambil menikmati mulut Zahra.
“Dasar sableng lu No,” jawabku sekenanya.
Aku menoleh ke karpet, ternyata Herman dan Nisa sudah bergaya 69 sambil menyamping, dan keduanya sudah setengah telanjang. Herman tinggal memakai kemejanya, sedangkan Nisa tinggal memakai kerudungnya yang panjang seperut. Sementara di ranjang. Anita dan Rizki yang paling soleh sedang bergaya 69 dengan Rizki di atas sambil mengepaskan penisnya di mulut Anita, sedangkan Anita di bawah membuka kakinya lebar-lebar memberikan ruang untuk mulut Rizki mengeksplorasi vaginanya. Keduanya sudah melepaskan pakaiannya, termasuk Anita yang sudah melepas kerudungnya sehingga rambutnya yang ikal bergelommbang terurai di sofa.

NISA

NISA

Melihat pemandangan ini membuat libidoku memuncak. Kuluman dan remasan Tyas pada penisku membuat pertahananku mulai goyah. Tiba-tiba Misno menepak pundakku, “Gantian dong, aku mau sama Tyas,” katanya.
“Oke aja,” jawabku. Lalu aku melepas penisku dari mulut Tyas, dan pindah ke kiri menghadap Zahra. Aku langsung memasukkan penisku ke mulut Zahra sambil meremas-remas payudaranya yang mencuat dan menggantung itu. Aku terpejam menikmati kulumannya dan kekenyalan teteknya. Tiba-tiba terdengar jeritan “Auu, sakit…” kubuka mataku dan kulihat ke sebelah, ternyata Misno sudah menusukkan penisnya ke vagina Tyas. Keduanya terpejam, yang satu menahan sakit, yang satu menahan nikmat. Bener-bener sableng Misno, keperawanan gadis DKM ini mau direnggutnya juga.

Tapi melihat Tyas yang masih berkerudung menganga sambil menjerit kecil dengan kaki mengangkang membuatku tak kuat lagi. Kupercepat kocokanku di mulut Zahra, kemudian kucabut penisku dari mulutnya, kuarahkan ke atas dan “Aaaakhhhh…”, maniku belepotan di kacamata dan pipi Zahra, menembak-nembak menandakan kenikmatan yang begitu kuat, sambil tangan kiriku terus menekan kenyalnya dada Zahra. Tak lama, aku mulai lemas dan terduduk di lantai. Kulihat Zahra masih belum puas, meremas payudaranya sendiri dengan tangan kanan, sedangkan yang kiri meraba-raba vaginanya yang berambut halus. Di sebelahnya, Misno dengan semangat menyodok-nyodokkan penisnya dalam-dalam ke selangkangan Tyas. Pakaian Tyas kini sudah amburadul dengan jubah yang terangkat hingga pundak, BH yang lepas cupnya dan kedua bukit dadanya yang bulat dengan puting yang menghitam.

NISA

NISA

Kulihat di tempat karpet Herman berbaring terlentang sementara Nisa di atasnya, keduanya tanpa sehelai benangpun, keduanya saling menggesek-gesekkan selangkangan. Entah hanya saling bergesekan, atau penis Herman sudah masuk ke vagina Nisa. Bisa kukatakan, dada Nisa agak rata dan konturnya tidak seindah kedua temannya, tapi erotiknya, ketika pantatnya dimajumundurkan, dari mulutnya terdengar desahan Ahhh… Ahhh… Ahhh… berulang-ulang, tampak sangat menikmati. Dan di sofa panjang, Rizki menindih Anita dengan hentakan yang keras hingga sofanya ikut bergoyang. Mungkin keperawanan Anita pun sudah direnggutnya. Entahlah.

Lama-lama kesadaranku pulih. This is not good, this can be a nasty scandal for DKM. Buru-buru aku merapikan celanaku, merapikan tas dan barang-barangku. Aku tidak mau berlama-lama terlibat dalam perbuatan mesum ini. Aku melihat sejenak aktivitas di kamar mesum ini untuk terakhir kalinya, semua masih sibuk dengan aktivitas masing-masing. Langsung aku menuju pintu, membukanya dan menengok keluar. Ternyata di luar ada Pak Agus, dosen pembimbing DKM di fakultasku bersama Ilham sang ketua DKM.
“Eh Assalamualaikum Sugeng, kalian masih di dalam ya? Saya dengar kalian meeting di ruangan ini. Saya ada perlu sama Rizki dan Anita untuk membicarakan departemen publishing, mereka ada di dalam tidak? Kok pintunya ditutup sih? Boleh kami masuk?”
Aku ternganga…….

BU EKA

Namaku Arly dan sekarang umurku baru 15 tahun, dan perawakanku tinggi 171.5 cm dan kulitku sawo matang, sedangkan mataku berwarna coklat, dan kisah yang aku ceritakan ini adalah kisah nyata sekaligus pengalaman hidupku. Tahun 2010 beberapa hari yang lalu, saat ini aku sekolah di salah satu SMK yang ada di Tanjung Pinang (kepulauan Riau). Sekolahku letaknya jauh di luar kota (kira-kira 20 km dari kota tempat tinggalku), dan sehari-hari aku pergi menggunakan bus jemputan sekolahku, dan dari sinilah kisahku bermula.

toge besar jilbaber  (1)
Pada suatu siang saat di sekolahan aku dan teman-teman sedang istirahat di kantin sekolah dan sambil bercanda ria, dan saat itu pula ada guruku (berjilbab) sedang makan bersama kami, pada saat itu pula aku merasa sering di lirik oleh ibu itu (panggil saja Eka), bu Eka badannya langsing cenderung agak kurus, matanya besar, mulutnya sedikit lebar dan bibirnya tipis, payudaranya kelihatan agak besar, sedangkan pantatnya padat dan seksi, bu Eka adalah guru kelasku yang mengajar mata pelajaran bahasa Inggris, dan dalam hal pelajarannya aku selalu di puji olehnya karena nilaiku selalu mendapat 8 (maaf bukan memuji diri sendiri!!) Saat didalam pelajaran sedang berlangsung bu Eka sering melirik nakal ke arahku dan terkadang dia sering mengeluarkan lidahnya sambil menjilati bibirnya, dan terkadang dia suka meletakkan jari tangannya di selangkangannya dan sambil meraba di daerah sekitar vaginanya. Dan terkadang saya selalu salah tingkah di buatnya (maklum masih perjaka!!!!), dan kelakuannya hanya aku saja yang tahu. Saat istirahat tiba aku di panggil ke kantor oleh ibu itu, dan saat itu aku di suruh mengikutinya dari belakang.
Jarak kami terlalu dekat sehingga saat aku berjalan terlalu cepat sampai-sampai tangan ibu Eka tersentuh penisku (karena bu Eka kalau berjalan sering melenggangkan tangannya) yang saat itu sedang tegang akibat tingkahnya di kelas. Namun reaksi ibu Eka hanya tersenyum dan wajahnya sedikit memerah. Sampai saat aku pulang menaiki bus jemputan kami. Aku dan temanku duduk paling belakang, sedangkan bu Eka duduk di kursi deretan paling depan. Saat semua teman-temanku sudah turun semua (saat itu tinggal aku, bu Eka dan supirnya) bu Eka melirik nakal ke arahku, dan tiba-tiba ia langsung pindah duduknya di sebelahku, dia duduk paling pojok dekat dinding, dan dia menyuruhku pindah di sebelahnya, dan aku pun menanggapi ajakannya. Saat itu dia meminjan handphoneku, katanya dia mau beli hp yang mirip punyaku (Nokia tipe 6600) entah alasan atau apalah. Saat dia memegang hpku, tiba-tiba hpku berbunyi, dan deringan hpku saat itu berbunyi desahan wanita saat di kentot.

toge besar jilbaber  (2)
“Aaaahhhhh……. ahhhhshhhhshshh…. ooooo…. oooohhhhhh” dan seterusnya ternyata temanku yang menelepon. Tanpa basa basi bu Eka bilang…
“Apa ngga ada yang lebih hot, ibu mau dong”. dengan nada berbisik.
Yang membuatku nafsu.
“Jangan malu-malu tunjukin aja ama ibu…”
Saat itu kupasang earphone dan langsung aku perlihatkan rekaman video porno yang ku dapat dari temanku. Tanpa aku sadari bu Eka meraba kontolku yang saat itu sedang tegang-tegangnya, dan dia terkejut,
“Wooow besar sekali anumu…”
Padahal aku punya ngga gede-gede amat, panjangnya 15 cm dan diameternya 2.3 cm aja yaaa standart lahhhh. Dan terjadilah percakapan antara aku dan bu Eka. Saat itu dia berbisik padaku…
“Aku masih perawan looo……” diiringi dengan desahan.
Lalu jawabku
“Oh yaaa, saya juga masih perjaka bu…”
“Jadi klo gitu kita pertemukan saja antara perjaka dan perawan, pasti nikmat”.
Tanpa basa basi lagi.
“Ngga ah bu, saya ngga berani!!”
“Ayolah… (dengan nada memelas)”
“Tapi di mana bu?” tanyaku!
“Di hotel aja biar aman”
“Tapi saya ngga punya uang bu”
“Ngga apa-apa ibu yang bayarin!!!”
Dan saat tiba di kamar hotel ibu itupun langsung beraksi tanpa basa basi lagi. ia melucuti bajunya satu persatu sambil di iringi dengan desahan yang pertama ia lepaskan adalah jilbab yang menutupi kepalanya, lalu baju, kemudian rok panjangnya dan tibalah saat ia melepaskan BHnya, yang kulihat saat itu adalah toket bu Eka yang putih mulus (mungkin karena sering di tutupi kalleeee) dan putingnya yang masih merah dan pada saat ia mau melepaskan celana dalamnya.
“Mau bantuin ngga…..” tanya bu Eka kepadaku.
Lalu hanya kujawab dengan mengangguk saja tanpa basa basi juga, aku mulai melepaskan celana dalamnya yang berwarna putih tipis yang kulihat saat itu adalah jembut tipis saja, lalu aku mulai menyandarkannya di dinding kamar sambil kujilati. Dan timbullah suara desahan yang membuat tegang kontolku.
“Aah… ahh….. ahhhshhh… terruusss……. ohhh…… yeahhh……. ooohhhh……. au….. udahh dong ibu ngga tahan lagi…. ooohhhh….. yeah….. o..o… oo…. ohhhh…”
Tanpa ku sadari ada cairan yang membasahi wajahku. Cairan putih ituku hisap dan kutumpahkan ke dalam mulutnya, ternyata bu Eka suka.
“Mau lagi donggg……….” lalu aku kembali menghisap pepek bu Eka yang basah dan licin kuat-kuat…
“Aaahhhh…. ahhh… aarrgghh…… uh..uh… uh…uh… ouuu….. yeah….. dan di sela teriakan kerasnya muncrat lagi cairan putih kental itu dengan lajunya.

toge besar jilbaber  (3)
“Crroot…. crooot…..” di saat dia terbaring lemas aku menindih badan bu Eka dan selangkangannya kubuka lebar-lebar, lalu aku mencoba memasukkan kontolku ke dalam pepeknya bu Eka dan yang terjadi malah ngga bisa karena sempit. Saat kutekan kepala kontolku sudah masuk setengah dan ibu itu berteriak.
“Ahhhh…. ahhhhhhhhh….. ahhhhh………, sakitttt.. ahhh… pelan-pelan dong…”
Seakan tak perduli kutekan lagi. Kali ini agak dalam ternyata seperti ada yang membatasi. ku tekan kuat-kuat.
“Ahhhhhh…… aaaaaa……. aaaauuuuu…… sakit…. ohh…. oh….. ooghhhhhh…” aku paksakan saja… akhirnya tembus juga.
“Aahhhhhhhhhh……….. aaaahhhhhh….. sakitttttttt…..” bu Eka berteriak keras sekali.
Sambil kudorong kontolku maju mundur pelan dan kupercepat goyanganku.
“Aaahhhhh…… auhhhhhh….. u.h…. u.u.. hh… a…. u.. u…… hhhhh.hhhh………
Dia terus menjerit kesakitan, dan sekitar 20 kali goyanganku aku terasa seperti mau keluar. Lalu aku arahkan kontolku ke mulutnya dan….
Croot……… crroootttt…… sekitar 5 kali muncrat mulut bu Eka telah di penuhi oleh spermaku yang berwarna putih kental (maklum udah 2 minggu ngga ngocok). Selang beberapa menit aku baru menyadari kalau pepek bu Eka mengeluarkan cairan seperti darah. Lalu ibu Eka cepat-cepat ke kamar mandi. Setalah keluar dari kamar mandi bu Eka langsung menyepong kontolku sambil tiduran di lantai. Ternyata walaupun perawan bu Eka pandai sekali berpose. Lalu ku pegang pinggul bu Eka dan mengarahkan ke posisi menungging. Lalu aku arahkan kontolku ke pepek bu Eka, lalu ku genjot lagi….
“Oohhh….. oh……. o….. h.h.h.h.hh.. h.hhhhh…… hhhhhh.. hhhhh… yeahhhhh oouu…. yesssss….. ooohhhhh… yeahhhhh…”
Saat aku sudah mulai bosan ku cabut kontolku lalu ku arah kan ke buritnya
“Sakit ngga…..” tanya bu Eka.
“Paling dikit bu…..” jawabku sambil aku mencoba memasukkan tetapi ngga bisa karena terlalu sempit.
“Ngga apa-apa kok kan masih ada pepekku mau lagi nggaaaa…..” tanya bu Eka.
Lalu kukentot lagi pepeknya tapi sekarang beda waktu aku memasukkan kontolku ke dalam, baru sedikit saja sudah di telan oleh pepeknya. Ternyata pepek bu Eka mirip dengan lumpur hidup. Aku mengarahkan kontolku lagi .
“Aahhh… ahhh… ahhh…. ahh…. oooouuuhh….. yeah… ou…. ou… ohhhhhh… dan saat sekitar 15 kali goyanganku bu Eka melepaskan kontolku.
“Aku mau keluar….”
“Aku juga bu…., kita keluarin di dalem aja buu…”
“Iya deeh” jawabnya.
Lalu kumasukkan lagi kontolku kali ini aku menusuknya kuat-kuat.

toge besar jilbaber  (4)
“Aaaahhhh……. ahhhh………. aaaahhhhhh. ooooouuuuuuhh…..” saat teriakan panjang itu aku menyemprotkan spermaku ke dalam pepeknya.
Crroooot…. crootttt… aku mendengar kata-katanya.
“Nikmat sekali…….”
Dan aku pun tidur sampai pagi dengan menancapkan kontolku di dalam pepeknya dengan posisi berhadapan ke samping.