BU ASIH 2: BUNGA

besoknya setelah aku menikmati tubuh Bu Asmi yang putih montok itu, aku menuju sekolah dimana bu Asmi mengajar. Bukan untuk menemuinya, namun untuk menemui pak Roy, guru yang melakukan hubungan intim dengan Bu Asmi. Bukannya aku butuh uang dan mau memerasnya, tapi kalau benar pak Roy itu playboy, kali aja aku bisa dibagi koleksi perempuannya. Heheheheh.

jilbab hot novita ningsih (2)

Siang menjelang sore itu sekolah sepi karena memang murid-murid udah pulang. Pukul 2 aku memasuki lorong sekolah, menuju ruang guru. Ketika kutengok ke ruang guru, ternyata ruang itu sudah kosong dari guru. Segera aku berjalan dan mencari-cari meja dari pak Roy. Beberapa saat segera aku menemukannya, dengan nama meja diatasnya. Ada foto juga dipajang dimeja itu, seorang laki-laki bertubuh atletis dengan celana training panjang dan kaus putih ketat dengan stopwatch dan peluit tergantung di lehernya. Aku menebak dia adalah pak Roy itu sendiri. Ketika hendak keluar, aku melihat ada seorang cleaning service yang sedang menyapu lantai diluar pintu.

jilbab hot novita ningsih (1)
“pak roy sudah pulang, pak?” tanyaku.
Cleaning service tadi melihat kearahku. “pak roy? Ooh, tadi kayaknya ke belakang sekolah pak. Mau ke kamar kecil, mungkin.” Jawabnya.
“kalo mau segera ktemu, lewat mana yah pak, ke belakang sekolah?” tanyaku. Sedikit curiga karena jelas-jelas disudut ruangan guru ada kamar kecil.
Sang cleaning service tadi memberitahukan jalannya, lalu segera aku menuju ketempat itu, yang memang tempatnya tersembunyi dari hiruk pikuk sekolah.

Ketika aku sudah mendekati tempat yang dimaksud, aku mendengar suara-suara yang aneh. Segera aku melambatkan langkah dan mengintip dari sebuah jendela kecil yang tertutup kaca gelap kusam, sehingga tidak memungkinkan orang yang ada di lapangan kecil disudut sekolah sepi itu melihatku. Lapangan badminton yang sudah tidak terpakai itu nampaknya menjadi semacam gudang besar dimana dipinggirnya banyak ditaruh bangku, almari dan berbagai macam inventaris sekolah yang sudah rusak. Apa yang aku curigai ternyata benar. Aku melihat Pak Roy ada ditengah lapangan sedang bercumbu dengan seseorang. Dan terpananya lagi, ternyata yang ia cumbu adalah seorang gadis muda yang masih mengenakan baju seragam abu-abu putih berjilbab, walaupun sudah berantakan karena cumbuannya. Seragam OSIS putihnya sudah terbuka semua kancingnya, menampakkan buah dada ranum putih sekal yang tidak tertutup lagi oleh BH yang sudah diturunkan kebawah. Gadis itu cantik dan berwajah lugu. Kulitnya yang putih dan seragam SMA serta jilbab putih panjangnya membuatnya terlihat semakin cantik. Pak Roy sambil agak membungkuk mengulum-ngulum putting siswi berjibab itu yang sudah tampak pasrah dan hanya bisa merintih dan mendesah sambil tubuhnya sesekali bergetar merasakan rangsangan yang diberikan oleh guru olah raga itu. Dibelakang, seorang lelaki yang memakai baju safari serta kopiah dikepala menonton adegan panas kedua orang itu.

jilbab hot novita ningsih (3)

Setelah puas merangsang sang siswi itu, pak Roy berdiri didepan siswi berjilbab yang sudah lemas dan pasrah itu sambil mengelus-elus kejantanannya yang sudah mengacung, keluar dari celananya yang memang sudah diturunkan retsletingnya. Dengan tangan satunya Pak Roy menekan pundak sang siswi canti berjilbab itu turun, sampai bagian bawah perut Pak Roy persis berada di depan wajah siswi cantik berjilbab itu. siswi berjilbab berparas lugu itu sepertinya sudah tahu apa yang pak Roy mau. Ada sedikit perlawanan, namun tenaga guru olah raga terlalu kuat dibanding tenaga siswi itu. segera gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu bersimpuh ditengah lapangan kecil kotor itu yang sudah dialasi tikar lusuh yang mungkin memang sudah disiapkan oleh pak Roy dan temannya, lalu perlahan-lahan pak Roy mendekatkan batang kemaluannya ke wajah sang siswi berjilbab itu yang memejamkan matanya.

jilbab hot novita ningsih (4)

Pak Roy kemudian menggesek-gesekkan kontolnya ke pipi siswi itu sambil mendesah-desah. Tak lupa ia tampar-tamparkan pelan kontolnya ke wajah putih bersih siswinya. Beberapa saat, pak Roy membungkuk meraih tangan kiri siswi berjilbab yang sekal itu lalu dipegangkan ke kejantanannya itu. Penis Pak Roy bergetar dalam genggaman siswi berjilbab berparas lugu itu. Tangan siswi cantik berjilbab itu tidak cukup untuk menggengam penisPak Roy yang besar itu. Perlahan-lahan siswi berjilbab itu mengocok-kocok batangPak Roy itu keatas dan kebawah.
‘emmmhh…iyaahhh..enaakk, bungaaa… kamu pintarrrr… nanti bapak kasih nilai bagusshhh…” Pak Roy menatap siswi berjilbab yang ternyata bernama Bunga sambil mendesah-desah dan meracau. Seorang gadis muda yang cantik, sedang mengelus-elus penisnya.

“ayo sayaaangghh…sekarang dikulum-kulum yaahh…” kata pak Roy sambil terus menyorong-nyorongkan batang kerasnya ke wajah siswi berjilbab cantik itu. Pelan-pelan siswi berjilbab berparas lugu itu mengarahkan mulutnya ke penis pak Roy. Gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu siswi berjilbab itu mengulum sekalian alat vital pak Roy ke dalam mulutnya hingga membuat lelaki itu melek merem keenakan. Benda seperti pentungan satpam itu dikulum dan dijilati. “Oh.. Bungaa…enaakk.. sayaaangghh… enaak muridkuu….” kata pak Roy sambil mendesah-desah kenikmatan. “Ehm..ehmm…”hanya itu yang keluar dari mulut siswi cantik berjilbab itu. Selain menyepong, pak Roy juga mengajari siswinya yang cantik berjilbab itu turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya.

jilbab hot novita ningsih (5)

Pak Guru berkopiah yang dari tadi hanya melihat, lalu mendekati mereka. Dia membuka retsleting celana panjangnya, mengeluarkan penisnya yang hitam, lalu meraih tangan siswi berjilbab berparas lugu itu untuk menggengam kemaluannya. Siswi berjilbab itu meraih penis hitam itu lalu secara perlahan-lahan gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu mengocok. Secara bergantian mulut dan tangan siswi berjilbab itu melayani kedua penis yang sudah menegang itu. Tapi siswi cantik berjilbab itu lebih sering mengoral punya Pak Roy, sedangkan penis Pak Guru berkopiah lebih sering dikocok pakai tangan siswi berjilbab berparas lugu itu. Tidak puas hanya menikmati tangan siswi berjilbab itu, sesaat kemudian Pak Guru berkopiah meminta ke pak Roy untuk merubah posisi. Tubuh siswi berjilbab itu tanpa perlawanan yang berarti dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tangan gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu. siswi cantik berjilbab itu diposisikan doggy style sambil mengulum penis Pak Roy, sementara Pak Guru berkopiah itu mengambil tempat dibelakang sisiwi berjilbab yang sudah pasrah itu, dan langsung menyibakkan rok panjang gadis manis siswi SMA itu keatas pinggul dan memelorotkan Cdnya.

“eeemmhh…jjaanngaaannn…jangaannn..” Siswi berjilbab berparas lugu itu berhenti mengulum penis pak Roy dan merintih ketika jari Pak Guru berkopiah itu mulai merenggangka vagina siswi berjilbab itu.

jilbab hot novita ningsih (6)

“udah diem!” bentak pak guru berkopiah. Pak Roy juga segera mencengkeram kepala sang siswi berjilbab dan kembali menjejalkan penisnya ke mulut siswi pelajar SMA itu untuk menghentikan rintihannya. Kembali pak Roy mendesah dan memaju mundurkan pinggulnya, menggenjot mulut siswi berjilbab itu. Siswi berjilbab bertubuh mengkal itu memekik tertahan ketika penis hitam pak guru berkopiah menyeruak masuk kedalam liang vaginanya yang sempit. mulut siswi berjilbab berparas lugu itu yang masih tersumpal penis Pak Roy mengeluarkan desahan tertahan berbarengan dengan amblasnya penis pak guru berkopiah memasuki vagina siswi cantik berjilbab itu. Kening siswi berjilbab itu berkerut menahan sakit karena memang ukuran penis Pak Guru berkopiah memang lumayan besar. Tapi Pak Guru berkopiah justru merasakan nikmatnya jepitan vagina gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu di penisnya. Ditariknya penisnya keluar, lalu kembali didorongnya penisnya itu lebih kedalam hingga kembali amblas semuanya ditelan rongga siswi berjilbab berparas lugu itu. Kontan tubuh siswi berjilbab itu bergetar hebat.

“Ooohh.. Pak.. ngghh”erang siswi cantik berjilbab itu sambil melepas penis Pak Roy dari mulut siswi berjilbab itu. Pak Guru berkopiah perlahan-lahan menggenjot vagina itu, tapi makin lama makin cepat sehingga desahan siswi berjilbab berparas lugu itu menjadi erangan panjang. Pak Roy tidak menyia-nyiakan mulut gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu yang terbuka lebar, diatancapkannya penisnya kemulut siswi berjilbab itu, sehingga siswi cantik berjilbab itu tidak bisa berteriak lagi.

Siswi berjilbab berparas lugu itu disetubuhinya dari belakang, sambil menyodok, kepala Pak Guru berkopiah merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudara siswi berjilbab itu yang sudah tak tertutup apa-apa lagi karena kemeja OSISnya sudah terbuka semuanya dan Bhnya juga sudah dilolosi. siswi berjilbab berparas lugu itu menggelinjang tak karuan waktu puting kanan siswi berjilbab itu digigitnya dengan gemas, kocokan dan kulumann siswi cantik berjilbab itu pada penis Pak Roy makin bersemangat.

jilbab hot novita ningsih (7)

Rupanya gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu telah membuat Pak Roy ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulut Bunga dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepala siswi berjilbab berparas lugu itu pun dipeganginya dengan erat. Bahakan sesekali dia ikut menampar pantat sekal mulus siswi berjilbab itu ketika siswi cantik berjilbab itu menggigit pelan batangnya. Penisnya yang besar itu memenuhi mulut siswi berjilbab itu yang mungil, malah masih ada sisaanya diluar. Hal itu membuat gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu susah bernafas. Akhirnya siswi berjilbab berparas lugu itu hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka dilapangan sepi sudut sekolah yang kotor itu. Sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuh Bunga. siswi cantik berjilbab itu terlihat semakin menikmati permainan brutal Pak Roy dan temannya hingga akhirnya tubuh siswi berjilbab itu mengejang dan mata siswi berjilbab berparas lugu itu membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Roy. Bersamaan dengan itu pula genjotan Pak Guru berkopiah terasa makin bertenaga.

jilbab hot novita ningsih (8)

“mmhhh…Bungaaahhhh… bapak mau keluar nih !” erangnya panjang sambil meringis. Mereka pun terlihat mengejat-ngejat mencapai orgasme bersamaan. Dari selangkangan siswi berjilbab itu meleleh cairan hasil persenggamaan. gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu melepaskan penis Pak Roy dan jatuh telungkup dilantai kotor beralas tikar lusuh itu. Siswi cantik berjilbab itu terlihat sangat lemas. Setelah mencapai orgasme yang cukup panjang, tubuh Bunga berkeringat sangat banyak. “bapak tusuk sekarang ya bunga sayaaangg…? udah ga tahan dari tadi belum rasain memeknya bunga… tahan ya bunga sayaaaang…” kata Pak Roy sambil membalikkan tubuh siswi berjilbab berparas lugu itu. siswi berjilbab itu tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan dia sudah tak mampu melawan ketika Pak Roy yang sudah dibakar api birahi membalik tubuhnya terlentang. Rok panjang gadis SMA itu yang kembali turun dinaikkannya lagi keatas pinggul. Jilbab yang menutupi buah dada mengkal sang gadis dililitkan ke lehernya.

“Pelan-pelan paak….”kata siswi cantik berjilbab itu setengah merintih sambil menatap ngeri ke penis pak Roy yang besar. Air matanya sudah mengalir dipipinya. Pak Roy terlihat semakin bernafsu. Lalu dia mengambil posisi berlutut di depan siswi berjilbab itu. dibukanya paha siswi berjilbab berparas lugu itu lalu diarahkan penisnya yang panjang dan keras itu ke vagina gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir kemaluan siswi cantik berjilbab itu sehingga Bunga berkelejotan.

jilbab hot novita ningsih (9)

“Suka ga Bunga, memeknya bapak ginikan?”Tanya Pak Roy sambil terus menggesek-gesek.Dia nampaknya tidak mau buru-buru. Dia terlihat menikmati melihat siswi berjilbab berparas lugu itu tersiksa seperti ini.

“Aahh.. iya…senang…” desah siswi cantik berjilbab itu tak tertahankan.

Penisnya yang kekar itu menancap perlahan-lahan di dalam vagina siswi cantik berjilbab itu. siswi berjilbab itu memejamkan mata, meringis, dan merintih akibat gesekan benda itu pada milik siswi cantik berjilbab itu yang masih sempit. Air mata siswi berjilbab itu kembali mengalir. Penis Pak Roy tampaknya susah sekali menerobos vagina siswi berjilbab itu walaupun sudah dilumasi oleh lendir siswi cantik berjilbab itu. dia memasukkan penisnya sedikit demi sedikit kalau terhambat ditariknya lalu dimasukkan lagi.

jilbab hot novita ningsih (10)

“Wah.. Bunga.. hhh… sempit banget memeknya…” ceracaunya. Kini dia sudah berhasil memasukkan setengah bagiannya dan mulai memompanya walaupun belum masuk semua. Rintihan siswi berjilbab berparas lugu itu mulai berubah jadi desahan nikmat. Penisnya menggesek dinding-dinding vagina Bunga, semakin cepat dan semakin dalam, hingga masuk semua. Kini vagina gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu telah terisi oleh benda hitam panjang itu dan benda itu mulai bergerak keluar masuk. Sepertinya siswi berjilbab berparas lugu itu merasa sakit bukan main karena kemudian siswi cantik berjilbab itu kembali merintih-rintih menyuruh Pak Roy berhenti sebentar, namun Pak Roy yang sudah kalap ini tidak mendengarkan siswi berjilbab itu, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih cepat. siswi cantik berjilbab itu terlihat mulai terhanyut sensasi itu. rasa perih dan nikmat bercampur baur dalam desahan dan gelinjang tubuh mereka.

jilbab hot novita ningsih (12)

“Oh..oh…”hanya itu yang keluar dari mulut Bunga. Mata siswi berjilbab berparas lugu itu terlihat terbelalak seolah merasakan kenikmatan yang tiada tara. Malah kini siswi berjilbab itu juga ikut menggoyang-goyangkn pantatnya secara aktif. Melihat siswi cantik berjilbab itu sudah `in` Pak Roy makin bersemangat. Dia lalu berganti posisi. Pak Roy melepas penisnya lalu duduk berselonjor dan menaikkan tubuh gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu ke penisnya. Pak Roy ingin memberi siswi berjilbab itu kepuasan lebih dengan cara siswi berjilbab itu yang memegang kendli. siswi cantik berjilbab itu terlihat sudah sangat pasrah dan terhanyut birahinya. Dengan refleks siswi berjilbab berparas lugu itupun menggenggam penis Pak Roy sambil menurunkan tubuhnya yang sintal itu hingga benda perlahan-lahan itu amblas ke dalam memeknya. Jilbab putihnya turun menutupi buah dadanya yang sudah terbuka, namun pak Roy tidak peduli. Justru sang gadis semakin cantik, dengan jilbab yang masih ia pakai, merintih-rintih sambil mengikuti naluri hewaniahnya, menggenjot penis Pak Roy .

jilbab hot novita ningsih (11)

“aiihh…sakiit paak…” kata siswi cantik berjilbab itu merintih kesakitan sebentar kala penis Pak Roy makin dalam menyentuh liang siswi berjilbab itu. Tapi setelah berhenti sebentar siswi cantik berjilbab itu pelan-pelan mulai menaik turunkan tubuh gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu perlahan-lahan. Pak Roy memegangi kedua bongkahan pantat siswi cantik berjilbab itu yang padat berisi itu, secara bersamaan mereka mulai menggoyangkan tubuh mereka. Desahan mereka bercampur baur, tubuh Bunga tersentak-sentak tak terkendali, kepala siswi cantik berjilbab itu digelengkan kesana-kemari. Jilbabnya sudah basah oleh keringat ketiga orang itu.

Semakin lama, terlihat gadis berjilbab berbuah dada sekal itu semakin bernafsu. siswi berjilbab berparas lugu itu menggoyangkan pinggulnya semakin cepat diatas tubuh Pak Roy, bahkan siswi cantik berjilbab itu dengan kedua belah telapak tangannya meremasi payudaranya sendiri yang bergoyang-goyang.

Pak Guru berkopiah menonton adegan siswi berjilbab itu sambil mengelus-elus penisnya, dia ingin memncing adik kecilnya untuk `bangun`.

jilbab hot novita ningsih (13)

“Ayo…goyang sayaaanghh…oohh!” Pak Roy sepertinya ketagihan dengan goyangan gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu. Tangannya tetap meremas-remas dada Bunga, bahkan sesekali dicondongkannya wajahna untuk melumat payudara siswi berjilbab itu. Kontan siswi cantik berjilbab itu menjerit-jerit makin kuat. Jeritan siswi berjilbab berparas lugu itu membuat Pak Roy makin bernafsu begitu juga Pak Guru berkopiah, dia tidak tahan hanya menonton saja. Dia mendekat dan berdiri di sebelah gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu, penisnya mengacung di depan muka siswi berjilbab itu. Pak Guru berkopiah itu mengelus-elus pipi siswi cantik berjilbab itu yang putih mulus. “Emut Bungaa…ayo buka mulutnya!” sambil mengarahkan batangnya kemulut siswi berjilbab itu yang mendesah-desah. Dengan setengah memaksa Pak Guru berkopiah itu menjejalinya ke mulut siswi cantik berjilbab itu. siswi berjilbab berparas lugu itu yang tak punya pilihan lain langsung memasukkan penis itu kemulutnya. Siswi cantik berjilbab itu menyambut batangnya dengan kuluman dan jilatan. Seperti tak perduli pada bau sperma pada benda itu, lidah gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu terus menjelajah ke kepala penisnya dimana masih tersisa sedikit cairan itu, mungkin karena sudah sangat birahi, siswi berjilbab itu tidak merasa jijik. Malah siswi berjilbab berparas lugu itu mepakai ujung lidah siswi cantik berjilbab itu untuk menyeruput cairan yang tertinggal di lubang kencingnya. Hal itu membuat Pak Guru berkopiah blingsatan sambil meremas-remas kepala siswi berjilbab itu yang masih memakai jilbab putih. Bunga melakukannya sambil terus bergoyang di pangkuan Pak Roy.

jilbab hot novita ningsih (14)

“ah uh ah..ah..uh..auuhh…mmhh..”suara-suara itu membahana disudut sekolah itu, suara nista lenguhan dua orang guru yang sedang menggagahi siswiny ayang berjilbab. Sang siswi berjilbab bernama bunga juga akhirnya pasrah dan dipaksa menikmati persetubuhan nista itu. Aku masih terpaku disudut jendela kusam tempatku mengintip. Hpku sudah kugunakan dari tadi, merekam persetubuhan itu.

Dengan tetap bergoyang, siswi berjilbab berparas lugu itu juga mengisap-ngisap penis Pak Guru berkopiah makin keras. Tangan Pak Guru berkopiah merayap ke bawah menggerayangi payudara siswi cantik berjilbab itu. Dia sangat pandai meremas-remas titik sensitif gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu, sehingga siswi berjilbab itu dibuatnya terpekik-pekik penuh kenikmatan.

“auugghhh..oohhhmm…paaakkk…bungaaa….mauuu..mauuu…”, siswi cantik berjilbab itu meracau terpekik-pekik bahwa sebentar lagi dia orgasme.
“mmmhhh..tahan sayaaaangghhh…bapak juga sudah maauuu….” Pak Roy terus menggenjot dari bawah, ebrusaha segera meraih kenikmatan.

jilbab hot novita ningsih (16)
Sampai akhirnya dia meremas pantat Bunga erat-erat dan memberitahu siswi cantik berjilbab itu akan segera keluar, perasaan yang ditahan-tahan itu pun dicurahkan juga. “Aaaahhhhh….!!” jeritan panjang tertahan keluar dari mulut siswi berjilbab berparas lugu itu, kepala siswi berjilbab itu mendongak ke atas menatap langit sore. Mereka orgasme bersamaan dan Pak Roy menumpahkan sperma kentalnya di dalam vagina sempit siswi cantik berjilbab itu. Sperma yang tidak tertampung meleleh keluar di daerah selangakangan gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu.

Penis Pak Guru berkopiah yang sudah tegang benar dilepaskan lalu Bunga ambruk ke depan, ke dalam pelukan Pak Roy. Dia peluk tubuh siswi cantik berjilbab itu sambil penisnya tetap dalam vagina siswi berjilbab berparas lugu itu, mereka berdua basah kuyup keringat yang mengucur.

jilbab hot novita ningsih (17)

Pak Roy lalu melepas tubuh Bunga yang sangat lemas. Dia mengambil air minum kemasan miliknya di sudut lapangan untuk minum. Penisnya sudah tidak setegang yang tadi. siswi cantik berjilbab itu kini telentang terengah-engah kehabisan tenaga menghadap Pak Guru berkopiah yang sedang mendekat kearah gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu. siswi berjilbab itu menggeleng lemah ke Pak Guru berkopiah yang sudah bersiap-siap ingin mengagahi siswi cantik berjilbab itu. Ar matanya terlihat masih mengalir di pipinya. Tapi sepertinya air mata dan keadaan sang gadis berjilbab itu yang sudah sangat lemas tidak bisa menyurutkan birahi Pak Guru berkopiah itu yang sudah on fire. Pak Guru berkopiah mengambil handuk kecil kotor di sudut lapangan dan membersihkan vagina Bunga yang belepotan sperma. Usapan ujung handuk di vagina siswi berjilbab berparas lugu itu cukup membuat siswi berjilbab itu bergetar.

kemudian tubuh siswi cantik berjilbab itu oleh Pak Guru berkopiah dipaksa dibalikkan dalam posisi menungging lalu kembali menyibakkan rok gadis berjilbab ityu yang kembali turun menutupi paha dan betisnya. Dia menepuk-nepuk pantat gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu yang montok. Puas menepuk sekarang giliran lidah Pak Guru berkopiah yang merasakan kelembutan kulit pantat siswi berjilbab berparas lugu itu. Mulutnya dengan rakus menciumi pantat siswi berjilbab itu. Lidahnya menelusuri vagina Bunga dari atas kebawah. siswi berjilbab itu semakin menggelinjang ketika lidah Pak Guru berkopiah memjilati anus siswi cantik berjilbab itu. Pak Guru berkopiah tanpa perasaan jijik masih terus menjulurkan lidahnya ke anus siswi cantik berjilbab itu sehingga memberi siswi berjilbab berparas lugu itu terus menggelinjang.

jilbab hot novita ningsih (18)

Puas merasakan nikmatnya vagina dan anus gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu, dia kemudian meludahi bagian dubur siswi berjilbab itu beberapa kali. lalu digosok-gosokkan dengan jarinya ke daerah itu. siswi cantik berjilbab itu terlihat memejamkan mata pasrah. Bunga terlihat terkejut ketika Pak Guru berkopiah mulai menggesekkan penis hitamnya dibibir lubang anus siswi cantik berjilbab itu. siswi berjilbab berparas lugu itu kontan menarik pantat siswi berjilbab itu. Tapi Pak Guru berkopiah menarik gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu. siswi berjilbab itu terkejut dan mencoba berontak “Jangan pak…jangan di situ…. sakit” iba siswi cantik berjilbab itu. “Tahan dikit sayang, masih baru emang sakit, tapi ntar pasti enak kok” katanya dengan tenang. Pak Guru berkopiah itu perlahan-lahan mendorong penisnya masuk ke anus siswi berjilbab berparas lugu itu. Anus siswi berjilbab itu kontan mengerut. Pak Guru berkopiah itu terlihat kesulitan memasukkan penisnya kedalam dubur sempit Bunga. Siswi berjilbab itu merintih menahan rasa perih akibat tusukan benda tumpul pada dubur siswi cantik berjilbab itu yang lebih sempit dari vaginanya. Air mata gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu kembali meleleh keluar.

“Aduuhh… Sudah Pak… Bunga nggak tahan” rintih siswi berjilbab berparas lugu itu kesakitan. Tapi Pak Guru berkopiah itu tidak menghiraukannya. Dengan paksa terus dimasukkannya penisnya ke anus siswi berjilbab itu.

“Uuhh… Sempit banget nih anus kamu…” Pak Guru berkopiah itu mengomentari siswi berjilbab itu dengan wajah meringis menahan nikmat.

Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya mentok juga penisnya. Pekikan Bunga semakin keras. Pak Guru berkopiah itu mendiamkan sebentar penisnya disana untuk beradaptasi sekalian menikmati jepitannya. Kesempatan ini juga dipakai bunga untuk membiasakan diri dan mengambil nafas.

“Auhhh….sakit…” Siswi cantik berjilbab itu menjerit keras saat Pak Guru berkopiah itu mulai menghujamkan penisnya. Secara bertahap sodokannya bertambah kencang dan kasar sehingga tubuh Bunga pun ikut terhentak-hentak. gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu mengerang dan memekik keras merasakan perih. Tanpa menghiraukan siswi berjilbab berparas lugu itu dia tetap mengentot dubur siswi berjilbab itu. Untuk merangsang siswi cantik berjilbab itu, tangannya kedepan meraih kedua payudara siswi berjilbab itu yang bergoyang dan diremas-remasnya dengan lembut.

“pak..u..da..ah….Bunga..sa..kit” jerit gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu panjang. Keringat dan air mata siswi berjilbab itu terus bercucuran. Jeritan Bunga itu tampaknya justru membuat Pak Guru berkopiah itu makin bernafsu. Dengan keras dia sodok-sodokan penisnya dan payudara siswi berjilbab berparas lugu itu yang menggantung diremas-remas dengan brutal. Suara rintihan siswi cantik berjilbab itu saling beradu dengan lenguhan Lambat laun jerit kesakitan gadis SMA berjilbab itu berjurang, walaupun begitu air mata gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu tetap bercucuran. Siswi berjilbab itu mengaduh setiap kali Pak Guru berkopiah itu mengirim hentakan dan remasan keras, namun terkadang terlihat siswi berjilbab itu mengimbangi goyangan Pak Guru berkopiah. Terkadang Bunga harus menggigit bibir untuk meredam jeritannya.

Pelan-pelan terdengar pekikan kesakitan sang gadis berjilbab karena sodokkan penis Pak Guru berkopiah mulai berkurang, berganti dengan rintihan nikmat, apalagi waktu Pak Guru berkopiah itu menarik wajah siswi berjilbab berparas lugu itu dan memagut bibir siswi cantik berjilbab itu, diciumnya gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu dengan lembut. Sungguh suatu perpaduan keras-lembut yang fantastis, dia perlakukan anus dan dada siswi berjilbab itu dengan kasar, tapi di saat yang sama dia perlakukan mulut siswi cantik berjilbab itu dengan lembut.

jilbab hot novita ningsih (19)

Akhirnya setelah Pak Guru berkopiah semakin cepat menggoyang pinggulnya menggagahi anus siswi berjilbab itu, sang gadis berjilbab itu mengerang panjang dan mengejat-ngejat, siswi berjilbab itu mengalami orgasme panjang dengan cara kasar seperti ini, tubuh siswi berjilbab berparas lugu itu menegang beberapa saat lamanya hingga akhirnya lemas seperti tak bertulang. Pak Guru berkopiah sendiri menyusul siswi berjilbab itu tak lama kemudian, dia menggeram dan makin mempercepat genjotannya. Kemudian dengan nafas masih memburu dia mencabut penisnya dari gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu dan membalikkan tubuh siswi cantik berjilbab itu. Spermanya muncrat dengan derasnya dan berceceran di sekujur dada dan perut siswi berjilbab itu, mengenai BH dan seragam OSISnya.

Siswi berjilbab berparas lugu itu terlihat lemas sekali. Ia hanya terbaring pasrah di tikar lusuh. Bajunya sangat berantakan. Terdengar sisa isak tangisnya. Nafasnya masih menderu karena orgasme-orgasme yang ia alami. Pak Roy kembali merapikan bajunya, semntara Pak Guru berkopiah rekannya masih duduk beristirahat sambil mengocok-ngocok penisnya sendiri. beberapa saat kemudian dari arah aku datang (aku sudah bersembunyi di ruang gelap sebelah jalan yang penuh kursi-kursi rusak sehingga cukup aman) datang lagi seorang yang berjenggot dan juga memakai baju safari.

“wah, kalian mainnya kok ninggal-ninggal aku.” Kata Pak Guru berjenggot itu. Dia langsung membuka retsleting celananya dan mengeluarkan kontolnya yang terlihat berurat.. Segera ia mendekati lagi sang gadis berjilbab yang masih terbaring lemah.

“jangaaan…sudaaah….sakiiitt…” Bunga, gadis berjilbab bertubuh sekal itu kembali merintih namun tak bisa berbuat apa-apa ketika Pak Guru berjenggot itu kembali membentangkan kaki Bunga dan langsung menjejalkan penis berburatnya kedalam vagina yang masih berlumuran sperma milik siswi cantik berjilbab itu.. “eemmmhhh….” Bunga yang sudah sangat lemas hanya bisa mendesah ketika penis Pak Guru berjenggot itu melesak kedalam dan mulai digenjot pelan. Pak Guru berkopiah dan Pak Roy hanya tersenyum melihat birahi rekannya yang baru datang . Pak Guru berkopiah masih beristirahat sambil terus mengelus-elus kontol hitamnya, sementara pak Roy segera beranjak meninggalkan tempat itu. Aku segera mematikan rekamanku karena merasa cukup, dan mengikuti Pak Roy dari belakang, meninggalkan Bunga sang siswi berjilbab itu merintih-rintih karena memeknya kembali digenjot kontol untuk kesekian kalinya, jilbab putihnya yang sudah basah karena keringat masih terpakai rapi membungkus kepalanya.

INDAH

“Aku seperti mendengar geraman, tapi tak ada seorang pun di sini selain kita…” kata Indah Ananta pelan sembari memandang ke bawah bukit. Perasaan takut yang tidak biasa membuatnya segera memegang tangan sang ustad yang berdiri tak jauh di sebelahnya.

Ustad Hakim Bawazier membalas dengan menggenggam erat tangan Indah dan tersenyum pada wanita cantik berjilbab itu. “Jangan khawatir, kita pasti akan baik-baik saja,” katanya berusaha menghibur.

“Iya, mudah-mudahan saja begitu…” sahut Indah.

Ustad Hakim tidak menjawab, namun hanya mengangguk dengan mantap, dia tersenyum dengan ekspresi yang meyakinkan.

“Sekarang sebaiknya bagaimana, ustad?” tanya Indah yang kembali memandang ke sekeliling tempat mereka berdiri.

“Kita pergi dari sini,” jawab Ustad Hakim singkat. Dia segera memimpin Indah untuk kembali menuju jalan yang mereka lalui sebelumnya. Mereka kembali melewati batu besar, menuruni jalan setapak, dan melewati gubuk roboh yang sudah rusak.

Entah hanya perasaan atau bukan, tapi sang Ustad merasa ada yang sedikit berbeda jika dibanding saat mereka datang pertama kali tadi. Gubuk roboh itu terlihat lebih hancur, batu besar memang masih ada namun bentuknya sedikit berbeda dan terlihat lebih besar sekarang, dan jalan setapak yang mereka lalui kini terasa lebih sempit. Dia terus berjalan sebelum mereka sampai di ujung yang berakhir di tempat yang berbeda. Sebuah jalan buntu!

“Bagaimana mungkin?” ujar Ustad Hakim tak percaya.

Merasa bahwa Ustad Hakim seperti mencemaskan sesuatu, Indah yang menyusul dari belakang segera bertanya. “Apa? A-ada apa, Ustad?”

“Jalan setapaknya hilang…” kata laki-laki itu lirih.

“Hah? Maksudnya?” tanya Indah tidak mengerti.

“Jalan setapaknya hilang… tadi kita datang dari sini dan jalannya tidak buntu begini,” kata Ustad Hakim lagi. Dia masih berusaha melihat ke sekeliling, berharap mereka hanya salah jalan. Sayangnya, dugaannya jauh dari benar.

“Lalu bagaimana sekarang?” Indah mulai terlihat takut.

“Kita terus saja, jalan ini tidak benar-benar buntu kan? Rerumputannya saja yang lebih lebat,” kata Ustad Hakim sebelum mencoba memaksakan diri untuk menembus jalan buntu tersebut yang terbukti tidak efektif. Rumput yang tumbuh begitu tinggi, duri-duri yang begitu banyak, ditambah ilalang yang tajam menyayat kakinya, dalam sekejap membuat sang Ustad mengaduh kesakitan. Celana yang dipakainya seperti tidak berguna sama sekali. Laki-laki itu segera kembali ke tempat Indah dengan ekspresi kesakitan.

“Ustad tidak apa-apa?” tanya Indah khawatir, mengepalkan tangannya sendiri di dadanya dengan cemas.

Ustad Hakim tidak menjawab, sebaliknya dia masih mencari kalau-kalau ada bagian dari rerumputan itu yang lebih longgar dan bisa dilalui. Pada akhirnya dia harus kecewa juga. Kalau sang Ustad sendirian, jalan buntu ini bisa dilaluinya dengan paksa walau mungkin dia harus merelakan kakinya untuk disayat oleh ilalang dan duri. Tapi kalau Indah sudah pasti tak akan tahan. Pada akhirnya, laki-laki itu hanya menghela napas dengan sedih.

“Ustad?” panggil Indah khawatir.

“Aku tidak apa-apa,” balas Ustad Hakim cepat sebelum berbalik menoleh pada Indah. “Jalan ini tak bisa ditembus, kita harus mencari jalan lain.” katanya sembari tersenyum.

Indah masih menatapnya selama beberapa detik sebelum melempar pandangannya ke bawah. “Tapi Ustad bisa melewatinya…” jawab Indah pelan, merasa malu atas keterbatasannya yang membebani laki-laki itu.

“Ah, tidak. Aku tidak berpikir…” Ustad Hakim berkata.

“Saya tidak mau menjadi beban.” potong Indah dengan suara sekecil bisikan.

Ustad Hakim menepuk pelan bahu wanita cantik itu. “Aku tidak pernah berpikir seperti itu, kita hanya perlu mencari jalan lain. Lagipula, orang-orang di studio pasti segera menyadari kalau ada yang tidak beres dengan kita, mereka akan datang mencari,” katanya yakin.

Sebenarnya, hari ini adalah hari di mana Indah dan Ustad Hakim syuting acara Dua Dunia untuk penayangan minggu depan. Seperti biasa, dengan ditemani beberapa penduduk lokal yang nanti dipakai sebagai perantara, serta kru yang sudah berpengalaman, mereka pergi ke lokasi yang dituju. Kali ini adalah Candi Mrica di kawasan pegunungan Arjuna. Tempat ini terkenal angker dan wingit. Mereka pasti akan mendapatkan banyak penampakan disini.

Sebenarnya tetua desa sudah memperingatkan kalau lokasi itu tidak boleh diganggu, apalagi melihat Indah dan Ustad Hakim yang seperti terlalu pede dengan ilmu yang mereka miliki. Mereka seperti meremahkan penghuni Candi Mrica yang terkenal ganas dan buas. ”Itu kerajaan jin, nduk. Banyak jin-jin tua yang berkemampuan tinggi tinggal disana.” kata sang tetua.

”Justru itu yang kami cari, mbah. Semakin banyak jin-nya, akan semakin bagus untuk acara ini.” Indah menjawab sambil tersenyum manis.

”Bukan begitu, nduk. Kamu tidak akan bisa mengatasi mereka. Jumlah mereka terlalu banyak.” balas sang tetua.

”Jumlah kami juga banyak. mbak.” Indah menunjuk kru dan penduduk yang bersedia ikut dengannya, dengan bayaran mahal tentunya. Dia lalu berpaling pada Ustad Hakim. ”Juga ada Ustad Hakim yang bisa mengendalikan situasi.”

Sang Ustad yang sedikit gemuk itu mengangguk mengiyakan. ”Iya, mbah tenang saja. Kami akan jaga diri, kami sudah biasa syuting ke tempat-tempat seperti ini. Ini bukanlah kepergian kami yang pertama.”

Sang tetua desa yang sudah sepuh itu terdiam. Setelah berdehem dan batuk-batuk beberapa saat, dia pun berkata. ”Baiklah kalau itu mau kalian, aku cuma bisa memberikan restu. Tapi ingat, kalau terjadi apa-apa, aku tidak mau bertanggung jawab. Kalian harus menanggungnya sendiri.”

”Baik, mbah.” jawab Indah dan Ustad Hakim berbarengan. Setelah berpamitan dan mencium tangan laki-laki tua itu, mereka pun berangkat.

Halangan pertama mereka muncul tak lama kemudian. Langit yang tadinya terang dan bersih, tiba-tiba menggelap dan mencurahkan hujan yang amat deras. Terpaksa mereka berhenti untuk memasang jas hujan dan pelindung pada kamera. Dengan hujan masih mengguyur, Indah mengajak krunya untuk melanjutkan perjalanan. Tapi mereka berhenti saat di depan, kabut mulai turun dan menutupi jalan setapak.

”Bagaimana, kalau kita teruskan, kita bisa tersesat. Atau kalau tidak, kita terpeleset dan jatuh ke jurang.” seru Ustad Hakim.

Indah tampak berpikir. ”Tapi waktu kita sudah mepet.” katanya, lalu menoleh pada penduduk sekitar yang menyertai mereka. ”Ada yang bisa membimbing ke Candi Mrica dalam kondisi seperti ini? Nanti akan saya tambah upahnya.”

Seorang laki-laki tua berbadan pendek melangkah maju. ”Saya hafal jalannya.” ia berkata.

”Baiklah, bapak di depan, nanti kita mengikuti.” Indah menoleh pada Ustad Hakim. ”Lihat, masalah kita terpecahkan.”

Diiringi anggukan malu dari sang Ustad, mereka pun beriringan melanjutkan perjalanan, menuju Candi Mrica, tempat dimana konon kerajaan Jin berada.

***

Dua jam kemudian, mereka tiba di tempat yang dituju. Meski mungil, Candi Mrica terlihat angker dan menyeramkan. Pepohonan tumbuh tinggi di sekitarnya, seperti menaungi bangunan itu dari sinar matahari. Hujan sudah berhenti, tinggal menyisakan rintik kecil yang berjatuhan di semak lebat yang mengelilingi Candi.

Indah tersenyum pada Ustad Hakim. ”Tempat yang bagus bukan, Pak Ustad?” tanyanya.

Ustad Hakim mengangguk membenarkan. ”Saya bisa merasakan banyak energi gelap. Sangat besar dan tua. Mereka memang tak suka kita berada disini. Saya akan mencoba berkomunikasi, menerangkan maksud sebenarnya kita datang kemari.” dia lalu menutup matanya dan mulai berkomat-kamit, sementara kru dengan dibantu para penduduk mulai mempersiapkan kamera dan peralatan syuting lainnya.

Indah baru saja menaruh bokong bulatnya di sebuah batu saat tiba-tiba tubuh Ustad Hakim terpental keras dan jatuh terjerembab ke rerumputan, ada darah segar mengalir dari sudut bibirnya. ”Arghhh…” laki-laki itu mengerang sambil memegangi dadanya.

Indah segera berlari menghampiri, begitu juga dengan para kru dan penduduk. ”Ustad, anda tidak apa-apa? Apa yang terjadi?” tanya Indah panik, tersirat rona kecemasan di wajahnya yang jelita.

”Ughhh.. k-kita harus pergi dari t-tempat ini.” kata Ustad Hakim lirih. ”M-mereka terlalu kuat. B-bukan hanya Jin yang menghuni tempat ini, t-tapi juga setan dan iblis. Cepat ke…”

Tapi belum selesai ia berkata, terdengar suara gemuruh dari bagian dalam Candi. Sepertinya semua sudah terlambat. Dan selanjutnya, seperti adegan film yang dipercepat, tubuh para kru mulai terlempar satu per satu. Begitu juga dengan para penduduk, mereka sudah mau lari saat kekuatan tak kasat mata menghantam tubuh mereka dan melemparkannya lima kaki ke udara. Begitu kembali ke tanah, mereka pun langsung jatuh dengan telak hingga tak bergerak sama sekali. Beberapa patah tulang, sisanya tewas dengan tengkorak pecah atau pun organ dalam remuk.

Indah yang melihatnya, menjerit tak terkendali. Apalagi di sekitarnya, kamera dan peralatan elektronik lainnya mulai meledak satu per satu, menciptakan letusan dan bunga api yang menulikan telinga. Hanya karena kemampuannya lah, Indah bisa selamat dari serangan itu. Bersama Ustad Hakim, dia menyeret kakinya, berusaha secepat mungkin meninggalkan tempat terkutuk itu. Sementara para kru yang tertinggal, bernasib sama seperti para penduduk. Tubuh mereka dihantam dan dilempar-lempar kesana-kemari. Darah muncrat kemana-mana, membasahi semak belukar yang tadinya hijau hingga menjadi merah gelap.

Dan pelarian mereka terbukti tidak mudah, para Jin yang marah terus mengejar, memporak-porandakan apapun di belakang mereka. Jalan gunung yang berliku-liku dengan cepat membuat keduanya tersesat. Dalam situasi panik, Ustad Hakim merapal dan membaca apapun yang pernah ia pelajari, dengan harapan sedikit memperlambat laju Jin-jin itu.

”Sepertinya ustad berhasil.” seru Indah begitu tidak mendengar suara gemuruh dan geraman dari arah belakang.

Ustad Hakim membungkuk untuk menenangkan nafasnya yang memburu seperti lokomotif kereta api tua. ”I-iya, sepertinya begitu.”

”Bagaimana dengan kru kita dan para penduduk?” tanya Indah lirih, dia tampak shock dan gemetar hebat akibat peristiwa yang barusan terjadi. Syuting berkali-kali, baru kali ini ia mengalami peristiwa seperti ini.

”Sepertinya mereka tidak akan selamat.” kata Ustad Hakim. ”Berbahaya juga kalau kita kembali kesana untuk melihat keadaan mereka. Lebih baik kita mencari jalan untuk kembali ke desa dan meminta batuan.”

Indah mengangguk setuju. Dan disini lah mereka sekarang, berjalan berdua beriringan untuk menyelamatkan nyawa mereka dari sergapan jin-jin penghuni Candi Mrica yang liar dan ganas. Dia masih terlihat berusaha menguatkan diri, menggigit bibirnya dan tampak berusaha untuk tidak menangis. “Pak Ustad, di sana juga ada jalan setapak,” katanya sembari menunjuk ke arah kiri dari tempat mereka berdiri.

“Ayo kita lihat, mungkin itu jalan pulang yang benar,” jawab Ustad Hakim bersemangat. Ide untuk menjauhi bagian atas gunung tampaknya adalah ide yang paling baik untuk saat ini. Ustad Hakim memimpin jalan diikuti oleh Indah di belakangnya. Sesekali sang Ustad harus menunggu agar Indah bisa menyusulnya dikarenakan ketidakmampuan wanita cantik itu untuk melangkah lebih cepat.

Mereka akhirnya sampai di ujung jalan dengan tebing curam membentang cukup luas yang dihubungkan oleh jembatan gantung terbuat dari kayu yang tampak sudah lapuk. Di seberang tebing tampak sangat gelap oleh kabut tebal yang menyelimuti. Ustad Hakim memeriksa jembatan di depannya. Memang sudah tua tapi sepertinya masih bisa dilalui kalau mau. Yang menjadi masalah justru adalah minimnya cahaya di sana. Salah injak dan mereka bisa saja terjatuh ke dalam jurang.

“Aku pikir ini bukan jalan yang bagus,” kata Indah tiba-tiba.

“Eh, memangnya kenapa?” tanya Ustad Hakim bingung sembari menoleh pada Indah yang segera menunjuk ke seberang tebing. Sang Ustad melirik tempat yang ditunjuk wanita berumur 27 tahun itu dan segera mengerti apa yang Indah maksudkan.

“Aduh… kenapa harus Candi lagi?” keluh Ustad Hakim setelah sadar ada banyak sekali Candi dengan puncak yang sudah tidak utuh lagi di sana. Dia tidak bisa menduga seluas apa kompleks Candi itu karena tempatnya yang gelap. Terlepas dari luas atau tidak, tetap saja Candi-candi itu tampak mengerikan.

“Kupikir bukan ide yang bagus untuk ke sana,” kata Indah mengulang.

“Kau benar,” jawab Ustad Hakim singkat sebelum melanjutkan. “Apa menurutmu, kita harus mengecek jalan lain?”

Indah tidak menjawab dan Ustad Hakim memakluminya. Kalau berbalik, bisa saja mereka bertemu dengan Jin penghuni Candi Mrica, dan itu tidak boleh terjadi. Namun ada kah jalan lain? Mereka sudah tak bisa kemana-mana lagi. Sang Ustad tidak yakin kalau menunggu bantuan di hutan adalah solusi yang baik. Tempat ini adalah hutan yang berbeda dari tempat mereka kehujanan beberapa jam yang lalu. Diserang ular berbisa atau binatang berbahaya lainnya adalah hal terakhir yang diinginkan olehnya. Mengerti kalau mereka tidak punya pilihan lain, Ustad Hakim memimpin jalan dengan Indah mengikuti dari belakang. Mereka berjalan dengan pelan tanpa bicara sama sekali. Mereka tidak bisa berjalan cepat karena Indah harus hati-hati menyeret kaki kanannya yang terluka .

“Jangan berpikir yang macam-macam ya, kita pasti akan selamat.” kata Ustad Hakim tiba-tiba tanpa menoleh ke arah Indah, seperti tahu apa yang sedang dipikirkan oleh wanita cantik itu.

“Iya, maafkan aku,” sahut Indah lirih.

Ustad Hakim hanya menghela napas. “Ayo, kau tak perlu minta maaf, kau tidak melakukan kesalahan apapun,” jawabnya. Dia masih tampak ingin mengatakan sesuatu sebelum terhenti. Ustad Hakim sadar dia baru saja menginjak sesuatu yang tampak seperti batu bata kecil berwarna hitam. Batu penyusun Candi Mrica!

”Gawat, mereka ada disini!” tapi belum sempat dia bertindak, Ustad Hakim sudah terpental keras saat ada sesuatu yang meninju rahangnya. Dengan nafas ngos-ngosan dia berusaha bangkit untuk menolong Indah yang sekarang sudah menjerit-jerit ketakutan.

”Indah, lari…” seru Ustad Hakim sambil meraih potongan kayu yang ada di sebelahnya untuk membela diri, namun di saat yang bersamaan, tendangan beruntun yang tidak terlihat bersarang di kepala dan badannya. Didengarnya Indah menjerit semakin keras sebelum dunia serasa gelap gulita bagi suami Ismi Riqqah itu.

***

Ustad Hakim terbangun dengan kepala pening sambil mengingat-ngingat apa yang terjadi. Seranngan itu… ”Ughhh!” dia melenguh saat akan menarik tangannya yang terikat ke atas, rasanya nyeri sekali. Rupanya dia sudah diikat ke sebuah tiang panjang dengan menggunakan tali tambang yang kuat. Ustad Hakim tersentak kaget menyadari dirinya terikat dalam keadaan telanjang bulat, tanpa busana sama sekali.

Laki-laki itu memperhatikan ruang tempatnya disekap dengan teliti, bangunannya tampak sangat kuno dengan beberapa bagian dindingnya sudah hancur, bahkan ada yang sudah luluh lantak menyatu dengan tanah. Ruangan itu seperti sudah lama tak berpenghuni. Namun anehnya, beberapa obor kayu masih menyala di beberapa tempat, seperti di sudut lorong dan di depan pintu masuk.

Sebuah suara yang parau, penuh kesedihan namun di saat yang sama juga dirasakan Ustad Hakim sebagai suara yang penuh dengan kebencian, mendengung begitu saja di telinganya. Ketakutan, dia berusaha mencari asalnya. Anehnya, dia tidak melihat apapun di ruangan itu selain debu yang beterbangan di bawah sinar obor yang terpasang di sudut lorong tak jauh darinya.

Lalu didengarnya suara erangan dan rintihan seorang wanita, yang rasa-rasanya dia mengenali suara itu. Saat pandangannya semakin jernih, Ustad Hakim baru menyadari kalau dia tidak sendirian di ruangan itu. Di sebelah kirinya, berbaring di altar kecil di tengah ruangan, tampak sesosok tubuh wanita berkulit putih dalam keadaan tubuh nyaris telanjang bulat, hanya tersisa jilbab yang menutupi payudaranya yang membukit indah, BH dan celana dalamnya telah terlepas sehingga menampakkan sebagian besar kulit putih mulusnya yang menggiurkan. Tangan wanita itu terikat di belakang punggung. Altar kecilnya hanya dapat menampung punggung wanita cantik itu, sehingga kepalanya jatuh menengadah. Di depannya, tampak sesosok makhluk hitam besar dengan tubuh bugil sedang memegangi kedua pahanya sambil membuat gerakan maju mundur. Suara rintihan yang terdengar dari mulut manis wanita itu, samar-samar menyingkap siapa dia sebenarnya.

”Indah…?” Ustad Hakim berkata tak percaya. Darahnya seperti tersirap menyadari siapa wanita cantik yang sedang diperkosa itu. Dia memang tidak pernah melihat tubuh telanjang Indah, tapi dilihat dari posturnya, tubuh mulus di atas altar memang milik Indah. Ditambah jilbab merah yang menutupi kepalanya, Ustad Hakim makin yakin kalau wanita itu memang Indah. Benar-benar Indah Ananta yang menjadi partner host-nya di acara Dua Dunia.

Ya, Tuhan, kenapa jadi seperti ini? Dilihatnya sweater, jaket, kaos dalam, celana jeans, BH dan celana dalam perempuan itu berserakan di lantai. Ustad Hakim melihat perkosaan itu dengan marah, namun tak berdaya menolong karena menolong diri sendiri saja dia tidak mampu. Keampuhan ilmunya seperti lenyap diserap daya magis ruangan ini.

”Tidak usah buru-buru, pak Ustad. Nanti giliranmu akan tiba.” seru sebuah suara berat yang entah muncul darimana, yang jelas bukan dari makhluk hitam yang sekarang sedang menyetubuhi Indah penuh nafsu.

”Keparat! Lepaskan aku!” baru kali ini Ustad Hakim mengumpat. Yang disambut dengan tawa ejekan di sekitarnya. Sepertinya ada banyak Jin di ruangan itu, tapi mereka tidak mau repot-repot menampakkan diri.

”Teruslah seperti itu, Ustad. Kami menikmatinya.” sebuah geraman terdengar sangat dekat dengan wajahnya, tapi Ustad Hakim tetap tidak bisa melihat bagaimana rupa makhluk itu.

”Jangan pengecut kalian! Ayo keluar!” tantang sang Ustad penuh tekad. Dia begitu merasa menyesal karena tidak bisa melindungi Indah. Dipandanginya lagi wanita cantik itu. Saat melihat tubuh Indah yang tak berdaya dan nyaris bugil, yang sekarang terlonjak-lonjak karena genjotan makhluk hitam di bawahnya, seperti ada sesuatu, terasa seperti aliran listrik yang merambat cepat ke dalam kepalanya, diikuti oleh debaran jantung yang kian mengencang. Tunggu, ini tidak boleh terjadi! Mati-matian Ustad Hakim berusaha melawannya, tapi tanpa bisa dicegah, batang kemaluannya pelan-pelan terbangun dan menegang keras. Dia terangsang.

”Hahaha… dasar manusia munafik.” sesosok wajah samar terlihat di sudut ruangan. Ada tanduk besar yang mencuat di dahinya yang penuh sisik.

Ustad Hakim sudah akan menjawab saat dari lorong muncul tiga makhluk yang tidak kalah mengerikan. Tubuh mereka tinggi besar dan sangat berotot. Dua tanduk mencuat panjang di kepala masing-masing. Rambut gimbal menutupi tubuh mereka yang berwarna merah kehitaman. Meski masih tertutup kain hijau kumal, Ustad Hakim bisa memastikan kalau kemaluan mereka sangat besar dan panjang. Tawa mereka membahana mengerikan memenuhi ruangan saat melihat temannya sedang asyik memperkosa Indah.

Salah satunya berpaling pada sang Ustad dan berkata, ”Hmm, sudah bangun kamu rupanya.” geramannya campuran antara kaca yang digesek dan auman harimau.

Yang lainnya ikut berpaling. ”Hahaha… lihat, ngaceng juga dia.” Tidak sesuai dengan badannya yang tinggi besar, suara makhluk yang sebelah kiri terdengar mencicit seperti tikus, tapi tetap saja terdengar menakutkan.

”Sabar, Ustad, nanti kamu juga akan dapat giliran. Sekarang biarkan Jabbar menuntaskan nafsunya dulu. Ngomong-ngomong, temanmu itu sangat cantik sekali. Itulah alasan kenapa kami tidak membunuhnya, dia bisa jadi budak seks yang sangat potensial.” seru makhluk yang tersisa. Suaranya terdengar biasa saja, seperti manusia pada umumnya. Tapi ada aura hitam yang mengikutinya sehingga mengesankan dia lah yang paling kejam.

Makhluk hitam bugil yang sedang memperkosa Indah, yang dipanggil Jabbar itu, menyeringai sambil terus memompa batang kemaluannya yang super besar. Apakah vagina Indah tidak robek dimasuki penis sebesar itu? batin Ustad Hakim dalam hati. Dia melirik ke bawah, memandangi penisnya yang sudah ngaceng berat. Benda itu terlihat menyedihkan dibanding punya makhluk-makhluk gaib itu.

Tampak Indah berusaha mengatupkan pahanya untuk menahan rasa sakit yang dideritanya, namun Jabbar kembali melebarkannya sehingga kaki Indah kembali membentuk huruf V, dan terus memompa keluar masuk dengan buasnya. Jabbar mengulurkan tangannya dan menyingkap jilbab merah Indah dengan kasar hingga tampaklah dua bukit kembar milik host cantik asal Cimanggis, Depok itu. Payudara Indah terpentang bebas, membusung menantang dan terlihat sangat menggairahkan, bahkan dalam posisi dada yang agak tertarik karena kepala Indah yang menengadah ke bawah, benda itu masih tampak montok dan padat. Jabbar terus memompa pinggulnya sambil tangannya meremas-remas payudara Indah.

Ketiga makhluk yang baru datang mendekati Ustad Hakim, ”Hei, manusia bangsat! Itu istrimu ya?!” tanya si suara tikus.

Ustad Hakim diam saja, lalu satu tinju mendarat keras di perutnya, membuatnya mengaduh dan merintih pelan. ”Ughhhh…”

”Kamu bisu ya?” hardik si suara harimau. Takut dipukul lagi, terpaksa Ustad Hakim menjawab lirih, menjelaskan siapa mereka dan tujuan mereka kemari.

“Salah sindiri, lancang masuk kemari. Sekarang tanggung sendiri akibatnya.” jawab si suara tikus. “Akan kami setubuhi temanmu itu sampai mati, hahaha…” tambahnya sambil tertawa lebar.

”Tidak. Jangan!” Ustad Hakim memekik, tak sanggup kehilangan Indah dengan cara seperti itu.

”Kenapa, kamu mau ikutan juga ya? Dilihat dari kontolmu yang sudah ngaceng gitu sih… sepertinya kamu juga pingin, hahaha…” suara harimau mengejek dengan geramannya yang rendah.

Ustad Hakim marah sekali mendengarnya, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Lagi pula, apa yang dikatakan makhluk-makhluk itu memang benar, dia terangsang melihat tubuh bugil Indah (ngomong-ngomong, siapa sih yang tidak? Aku pengen tahu!) ada sebersit rasa ingin mencicipinya juga meski tahu kalau itu salah dan tidak boleh. Menekan hasratnya, Ustad Hakim berhasil melemaskan kembali kemaluannya hingga mengkerut separoh dari ukurannya semula. Dia tidak ingin pikiran kotor terus menyelimuti hatinya.

Tapi itu cuma bertahan beberapa menit saja karena selanjutnya, Jabbar yang rupanya telah selesai memperkosa Indah, menuntun wanita cantik kelahiran 31 Agustus 1985 itu ke depan sang Ustad. ”Ini, aku kasih buat kamu.” katanya sambil menampar Indah dengan kuat, sehingga Indah menangis. ”Hisap penis laki-laki ini, cepat! Kalo tidak, akan aku potong lidah dan puting susu kamu!”

Jabbar melepaskan ikatan tangan Indah dan mendorong tubuh mulus wanita cantik itu ke arah Ustad Hakim. ”Ayo cepat, kulum!” hardiknya lagi saat melihat Indah masih diam, cuma memandangi penis sang Ustad sambil terus menangis.

”Jangan, In… jangan lakukan!” lirih suara Ustad Hakim. Tapi antara kata-kata dan batang penisnya tidak bisa kompromi. Di mulut dia menolak, tapi di bawah, batang penisnya perlahan membesar dan mengeras, kembali ke ukuran semula. Padahal Indah cuma memandanginya saja, belum ngapa-ngapain.

Takut disiksa lebih kejam lagi, Indah pun mendekatkan mulutnya dan dengan ragu-ragu menyentuh ujung batang kemaluan sang Ustad. Walau hanya tersentuh sedikit, ustad Hakim tak dapat menahan gejolak birahinya. Ia pun melenguh keenakan. ”Oughhhh… Innn!” dia memejamkan matanya saat lidah tipis Indah mulai menjilati batang penisnya bagai menikmati es krim batangan rasa coklat.

”Makan penis itu! Masukkan ke mulutmu!” sesosok makhluk berambut hijau tebal membentak dengan sikap mengancam. Entah kapan makhluk itu muncul, sang Ustad tidak tahu karena saking enaknya menikmati jilatan Indah pada batang penisnya.

Terpaksa Indah melahap penis Ustad Hakim dan mulai mengulumnya pelan, ia memasukkannya ke dalam mulut dan menjepitnya dengan menggunakan gigi dan lidahnya. Bibirnya menyapu permukaan batang sang Ustad yang berwarna coklat kehitaman. Indah terlihat mudah saja melakukannya, padahal penis sang Ustad terlihat cukup besar untuk ukuran manusia. Apakah dia sudah sering melakukan ini? batin Ustad Hakim dalam hati. Laki-laki itu tidak tahu, selama ia pingsan tadi, Indah sudah mengulum banyak batang yang ukurannya jauh lebih besar dari miliknya. Jadi menghadapi burung sang Ustad yang cuma sepanjang 12 cm, Indah tidak menghadapi masalah berarti.

”Ayo, masukkan semua ke dalam mulutmu. Telan sampai habis! Jangan dikeluarkan sampai aku memerintahkan!” bentak Jabbar.

Dengan ketakutan, Indah mengulum batang kemaluan Ustad Hakim dalam-dalam dan menggerakkannya maju mundur dengan begitu cepat. Mulutnya yang mungil tampak penuh dan sesekali pipinya menggembung oleh kepala penis sang Ustad saat dia melakukan itu.

”Indah… Oughhhh… kenapa jadi begini…” keluh Ustad Hakim keenakan. Dia merasa risih dan sangat berdosa karena telah melakukan perbuatan yang sangat dilaknat Tuhan ini, tapi di sisi lain, dia juga tidak ingin Indah berhenti. Kuluman dan hisapan wanita berjilbab itu terasa begitu nikmat, menggelitik seluruh saraf-saraf birahinya yang selama ini tertidur, hingga membuatnya melayang dan merintih penuh kenikmatan. Tak berapa lama, dia pun tak tahan lagi. Sambil menggeram keras, Ustad Hakim menyemburkan spermanya.

Indah tampak kaget merasakan cairan kental yang hangat berkali-kali menyemprot memenuhi kerongkongannya. Ia sudah hampir tersedak, namun ia tidak berani melepaskan hisapannya. Jabbar tidak menyuruh, Indah takut akan membuat makhluk hitam legam itu marah, pukulannya sangat menyakitkan. Indah berusaha membuang sperma sang Ustad melalui celah bibirnya, sisanya yang terlanjur masuk terpaksa ia telan meski dengan rasa jijik yang amat sangat.

”Dasar manusia tidak berguna, sudah kontolnya kecil, cepat keluar lagi!” ejek si suara harimau, yang diikuti suara tawa teman-temannya. Dia lalu mendekat dan menjambak rambut Indah yang masih tertutup jilbab. ”Lihat bagaimana cara yang benar memuaskan wanita! Ayo, Ghoul, kita garap dia bareng-bareng!” serunya pada si suara Kucing.

Makhluk merah yang dipanggil Ghoul segera melepas cawatnya, dan mempertontonkan batang penisnya yang sebesar lengan orang dewasa pada Ustad Hakim. ”Ini baru namanya penis.” dia menggenggamnya dengan bangga. ”Kalau punyamu itu, lebih pantas disebut sosis daripada kontol. Hahaha!” Ghoul tertawa. Jin yang lain ikut tertawa. Ruangan jadi riuh, padahal cuma terlihat 5 makhluk disitu. Yang lain masih menghilang, enggan untuk menampakkan diri.

Si suara harimau membawa Indah kembali ke altar dan menelungkupkan gadis cantik berjilbab itu di atasnya, sehingga payudara Indah yang bulat dan menantang menempel, tergencet di permukaan batu altar yang dingin. Indah dalam posisi menungging sekarang, bokong bulatnya terlihat begitu menggiurkan, dengan lubang kemaluan sempit yang yang telah memerah dan merekah lebar. Lelehan sperma aneka warna tampak di permukaaanya yang berambut tipis.

Ustad Hakim memalingkan muka dengan pilu saat melihat Ghoul dan suara harimau mulai memperkosa Indah dengan buas. Wanita cantik itu menjerit-jerit dan melolong histeris menerima hujaman batang kemaluan mereka yang begitu besar dan panjang. Secara bergantian mereka mengaduk-aduk liang kemaluan Indah yang semakin lama terasa semakin panas. Darah kembali mengucur dari vagina yang 1 jam lalu masih perawan itu.

”Oughh… sakit! Ahh… hentikan! Sakit!” Indah merintih, tapi dua makhluk yang sedang menungganginya seperti tidak mendengar. Mereka terus menggenjot tubuh mulusnya secara brutal dan bergantian.

Sambil memperkosa Indah, sesekali mereka mengejek sang Ustad. “Hei, kamu tahu tidak… memek teman kamu ini enak sekali lho, basah dan anget banget!” kata jin bersuara harimau yang dipanggil Nimsiq oleh Ghoul. Sampai sekarang, dialah jin berkemaluan paling besar yang dilihat oleh ustad Hakim diantara jin-jin yang menampakkan diri di ruangan itu.

Ghoul mengangkat tubuh mulus Indah dan menekuk tangannya ke belakang punggung. Dengan posisi seperti itu, buah dada Indah jadi tampak sangat menggairahkan, apalagi dengan tubuhnya yang ramping, tampak buah dada itu menggantung indah, padat dan sangat berisi. Ustad Hakim tidak berkedip saat melihatnya.

Nimsiq duduk di atas altar, sementara Indah ditempatkan di atas pangkuannya dengan posisi berhadapan dan paha mengangkang lebar. Sambil menusukkan penisnya, Jin itu meremas-remas kedua payudara Indah dengan penuh nafsu. Indah hanya dapat merintih-rintih dalam keadaan antara sadar dan tidak mendapat serangan seperti itu. Apalagi di depannya, Ghoul memaksanya untuk mengoral penis yang rasanya begitu busuk dan memuakkan. Indah makin tak tahan dibuatnya.

Sambil terus memompa penisnya, Nimsiq tertawa-tawa disaksikan teman-temannya yang kini muncul semakin banyak. Mereka tampak tidak sabar menanti giliran. Ustad Hakim menghitung, sudah lebih dari selusin Jin yang menampakkan diri. Akankah Indah harus melayani semuanya?

“Hei, aku capek nih. Sekarang kamu yang harus bergerak!” kata Nimsiq pada Indah. Ia pun berhenti memompa pinggulnya. Takut dihajar, secara refleks Indah melenguh dan mulai menggerakkan pantatnya naik turun agar memeknya tetap menjepit dan mengocok penis Jin itu yang masih bersarang di dalam kemaluannya.

“Hahaha… lihat pak Ustad, temen kamu ini ternyata nakal juga.” ejek Ghoul sambil mengocok penisnya, dan tak lama kemudian muncrat di wajah cantik Indah Ananta yang masih tertutup jilbab. Spermanya yang berwarna kuning kehijauan menempel di mata, pipi, dan bibir host cantik itu. Setelah melenguh sejenak, makhluk jelek itupun menghilang dengan menyisakan bau belerang yang tercium samar.

Nimsiq tertawa sambil memeluk tubuh mulus Indah, tangannya mengelus-ngelus punggung putih mulus wanita 27 tahun itu, sementara buah dada Indah yang kenyal terjepit di dadanya yang berbulu lebat. Rupanya Indah mendengar perkataan itu, wajah cantiknya tampak memerah karena malu dan marah, tapi tetap tidak bisa berbuat apa-apa. Saat Indah diam tanda memprotes, Nimsiq langsung marah dan menarik kuat-kuat kedua buah dadanya. Satu ditarik ke atas dan satu ditarik ke bawah, begitu bergantian dengan keras sehingga Indah menjerit-jerit kesakitan.

“Ayo, coba melawan lagi, akan aku siksa kamu lebih kejam!” ancam Jin berkulit merah itu.

Indah menunduk. “J-jangan, ampun!” sahutnya lirih sambil kembali menggerakkan tubuhnya naik turun. Ustad Hakim yang melihatnya jadi ikut meneteskan air mata, tahu bagaimana rasanya penderitaan wanita cantik itu.

“Begini kan lebih enak.” senyum Nimsiq penuh kemenangan. “Akan aku buat kamu orgasme, rasakan bagaimana nikmatnya bercinta sama Jin.” Dengan penuh nafsu, kembali ia memperkosa Indah. Sesekali Nimsiq menghentikan pompaannya, dan secara refleks kembali Indah menggoyang-goyangkan pantatnya naik-turun. Ia takut Jin itu marah kalau ia tidak melakukannya. Bahkan saat Nimsiq mengangkat tubuhnya hingga batang kemaluannya terlepas, Indah secara refleks mengejarnya dan memasukkan kembali benda itu ke dalam jepitan memeknya. Indah ingin memberikan pelayanan total pada Jin tua itu.

Nimsiq semakin lama tampak semakin ganas memperkosanya, hingga selang beberapa saat kemudian, tampak tubuh mulus Indah berkelonjotan dan menegang, kedua kakinya mengacung lurus ke depan dengan otot paha dan betisnya mengejang, jari-jari kakinya menutup, dan nafas Indah terdengar tak beraturan, ia merintih keras dan panjang, “Oughhhh… aghhhh… oohhhh…” Indah orgasme. Meski cairannya menyembur banyak sekali, tapi tidak ada satu pun yang menetes keluar. Itu karena memeknya tersumbat rapat oleh batang penis Nimsiq yang besar dan panjang!

Setelah berkelonjotan sesaat, tubuh Indah akhirnya tumbang dengan lemas di pelukan Jin pemerkosanya. Bukannya berhenti, Nimsiq malah semakin cepat memompa pinggulnya, ia menggenjot tubuh mulus Indah begitu liar dan brutal sambil nyengir lebar dan berkata, “Hehe… ustad lihat, dia rupanya suka dientot jin kayak kita-kita, hahaha…” suara tawanya yang berat membahana ke seluruh ruangan yang tidak seberapa besar itu.

Jin-jin yang lain ikut tertawa dan bersorak. Penampakan yang muncul semakin banyak. Ustad Hakim sudah tidak bisa menghitung jumlah persisnya, yang jelas lebih dari dua puluh! Termasuk salah satunya adalah makhluk merah berapi yang bertubuh besar dan tegap dengan tanduk menjulang hampir mencapai langit-langit. Semua Jin tampak menjaga jarak darinya. Apakah dia sang Raja Jin! batin ustad Hakim dalam hati.

Entah berapa lama Indah diperkosa oleh Nimsiq hingga pingsan berkali-kali, namun Jin itu selalu menyadarkannya lagi dengan menampar dan menyiram Indah dengan air, lalu kembali memperkosanya dengan brutal.

Kini tubuh montok Indah diletakkan di atas lantai beralaskan tikar lusuh, Nimsiq melebarkan kaki perempuan itu hingga membentuk seperti kaki katak. Dengan posisi seperti itu, ia menghujamkan batang kemaluannya yang panjang dan besar keluar masuk dengan cepat dan keras ke dalam liang kemaluan Indah yang terlihat semakin bengkak memerah. Sementara salah satu Jin lain yang bersisik tebal seperti trenggiling, memaksa Indah mengulum batang kemaluannya yang anehnya tampak mengkilat tanpa ada sisik sedikitpun.

Saat mulut mungil Indah penuh oleh batang kemaluan besar itu, Nimsiq yang sedang memperkosanya berganti posisi. Ia menduduki tubuh Indah lalu meletakkan batang kemaluannya yang panjang di antara dua bukit kembar milik Indah. Tangannya yang berbulu lebat mendempetkan buah dada Indah hingga menjepit batang kemaluannya dengan erat, untuk kemudian ia gerakkan maju-mundur mengocok batangnya. Selang beberapa saat, dari batang kemaluan yang hitam dan panjang itu, menyembur cairan sperma berwarna merah kehijauan yang menyemprot membasahi wajah dan leher jenjang Indah. Sisa-sisanya yang masih menetes-netes dioleskan oleh Nimsiq pada kedua buah dada Indah yang montok menggiurkan.

”Ughh… nikmat sekali!” Nimsiq beranjak sambil tertawa lebar. Jin yang lain ikut tertawa bersamanya.

Ustad Hakim menutup mata agar tidak melihat penderitaan wanita cantik itu, tapi masih saja ia dengar rintihan Indah yang semakin lama semakin terdengar lemah. Gerombolan Jin di sekitar mereka tak henti-hentinya mengucapkan kata-kata ejekan. “Ayo, entot dia sampai mampus! Tusuk memeknya! Tarik toketnya yang gede itu! Cabuti jembutnya!”

Seiring kata-kata itu, tiba-tiba sang Ustad merasa tubuhnya ditendang dengan keras sebelum akhirnya ikatannya dilepas. Sekarang ia berbaring telentang di lantai. Dilihatnya Jin berapi yang ia taksir sebagai sang Raja, mendekat, “Sekarang giliran kamu menikmati teman kamu ini. Aku yakin, kamu sudah banyak belajar dari tadi! Hahaha…” makhluk itu tertawa dan mencampakkan tubuh bugil Indah yang telah lemah lunglai ke atas tubuh ustad Hakim.

Sang Ustad segera memeluknya. Sambil membelai kepala Indah yang masih tertutup jilbab, ia berbisik, “Tabah ya, kita pasti bisa melalui semua ini.” kata laki-laki itu walaupun ia sendiri sangat ketakutan. Indah hanya dapat mengangguk lemah sambil menangis sesunggukan.

“Hei, kalian tunggu apa lagi?! Ayo main! Aku pingin lihat! Yang cewek di atas!” seru Nimsiq sambil mengacungkan tinjunya yang membuat kedua host Dunia Lain itu mendelik ketakutan.

Indah menurut, ia segera menekan liang kewanitaannya ke bawah untuk melahap batang kemaluan ustad Hakim yang memang telah menegang keras saat mereka berpelukan tadi. Sekuat apapun laki-laki itu berusaha mengekang hawa nafsunya, tapi tonjolan buah dada Indah yang lengket oleh sperma, terasa kenyal dan hangat menekan bahunya, membuat api birahinya perlahan menyala dan menggeliat. Apalagi bisa dirasakannya juga kulit tubuh Indah yang halus dan hangat, yang sangat berbeda sekali dengan milik istrinya di rumah. Sang Ustad pun lepas kendali dengan cepat.

Laki-laki itu serasa berada di awang-awang saat batang kemaluannya sedikit demi sedikit menembus kemaluan Indah yang beberapa jam lalu masih perawan. Saat sudah terbenam seluruhnya, ustad Hakim merasa batang kemaluanku seperti dijepit oleh kenikmatan yang tiada taranya. ”Ughhh…” tanpa sadar ia melenguh dan meremas payudara Indah yang menggantung bebas di depan matanya.

Indah makin menangis sesenggukan, laki-laki yang tadi berjanji melindunginya, ternyata juga menikmati saat bersetubuh dengannya. Beginikah rasanya menjadi wanita cantik dan menarik, semua orang jadi bernafsu pada dirinya? batin Indah dalam hati.

“Ayo goyang tubuh kamu sebelum raja Ammet marah!” hardik Nimsiq sambil melirik jin tinggi besar yang ada di sebelahnya. Yang dilirik cuma menggeram rendah dan mengangguk.

Ketakutan, Indah mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun. Vaginanya yang bengkak memerah mengurut penis tegang ustad Hakim begitu rupa, membuat laki-laki berperawakan gendut itu tak dapat menahan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia mengerang keenakan. Begitu nikmatnya memek Indah hingga tak lama kemudian, baru beberapa menit, sang Ustad sudah menjerit dan ejakulasi. Spermanya yang kental menyemprot keras di dalam liang kewanitaan Indah. Tidak terlalu banyak karena dia sudah mengalami orgasme tadi.

”Ughhh… Indah, m-maafkan aku!” seru ustad Hakim terengah-engah. Tangannya bergetar, ingin memegang payudara Indah tapi tidak berani.

Indah tidak menghiraukan, ia terus menggoyangkan pinggulnya naik turun untuk menikmati sisa-sisa ketegangan penis sang Ustad yang perlahan ia rasakan mulai melemah dan menghilang. Di luar dugaan, setelah beberapa kali kesakitan karena sodokan penis raksasa milik para Jin, Indah ternyata menikmati tusukan penis ustad Hakim yang mungil, yang terasa pas memenuhi lubang vaginanya. Diraihnya tangan laki-laki itu dan ditaruhnya di atas gundukan payudaranya. Indah tahu, ustad Hakim pasti menyukainya. Dari tadi mata sang Ustad tidak lepas menatap benda bulat padat itu.

”Remas, Ustad!” bisik Indah lirih. Dengan begini ia berharap Ustad Hakim akan bergairah kembali. Sudah kepalang tanggung, ia merasa tubuhnya telah kotor. Indah tidak ingin permerkosaan ini menjadi siksaan baginya. Untuk kali ini, ia ingin menikmatinya.

Tapi itu cuma ada di angan-angan Indah saja. Tahu kalau budaknya mulai menikmati, Ammet segera menghentikan permainan itu. ”Hei, wanita… angkat memek kamu! Kita lakukan permainan lain.” jin berapi itu berkata keras.

Indah menggeleng sambil menangis, “Tidak… aku mohon, beri aku waktu sedikit lagi.” ia yang merasa sudah hampir orgasme, terus menggerakkan pinggulnya. Sementara di bawah, ustad Hakim merem melek keenakan sambil tangannya bergerak lincah meremas-remas payudara Indah yang bulat dan padat dengan penuh nafsu.

“Angkat memek kamu, aku bilang!” bentak Ammet menggelegar. Kerikil dan debu jatuh dari dinding ruangan. Beberapa jin mundur ketakutan, termasuk Nimsiq dan Jabbar. Sementara jin yang terlalu ketakutan segera meledak dan menghilang, pergi dari tempat itu.

Ammet dengan kasar lalu mendorong tubuh Indah yang masih tetap membuat gerakan naik-turun hingga jatuh. Ia tertawa melihat batang kemaluan ustad Hakim yang tidak lebih besar dari jari kakinya. ”Hahaha… dasar aneh! Benda seperti ini kamu sukai?” ia menoleh pada Indah. ”Lihat,” Ammet membuka celananya dan memamerkan penisnya yang sebesar lengan orang dewasa pada perempuan itu. ”kamu pasti akan puas dengan milikku ini!” sentaknya sambil menamparkan batang itu ke pipi Indah yang halus dan mulus.

”Auw!” Indah menjerit kesakitan, tapi tidak bisa melawan. Ia langsung bergidik saat menatap benda itu. Inilah penis terbesar yang pernah ia lihat. Semua penis raksasa yang tadi sudah mengaduk-aduk liang vaginanya, tidak ada apa-apanya dengan yang ini. Akankah vaginanya akan sanggup menampungnya? Sepertinya tidak.

Ammet yang rupanya telah sangat terangsang melihat tubuh bugil Indah, merenggut paksa jilbabnya hingga terlepas dan menarik Indah ke dalam pelukannya, “Ustad lihat baik-baik, begini caranya menyetubuhi wanita!” katanya pada ustad Hakim.

Tubuh Indah lalu diangkatnya dengan mudah. Dengan posisi berdiri, ia menggendongnya dengan mengangkat pantat Indah, terpaksa Indah memeluk leher Jin yang tinggi kekar itu agar tidak terjatuh ke belakang. Anehnya, meski api masih menyala di sekujur tubuh Ammet, Indah sepertinya tidak merasa panas sama sekali. Rupanya Ammet bisa mengendalikan suhunya, benar-benar Jin yang berkemampuan luar biasa. Pantas dia diangkat menjadi Raja oleh Jin yang lain.

”Heghh… ahhhh!!!” Indah memekik panjang ketika dengan perlahan Ammet mulai menyodokkan batang penisnya. Di luar dugaan, meski terlihat tidak mungkin, ternyata benda itu bisa menerobos masuk dan terbenam seluruhnya ke dalam vagina Indah yang tampak monyong kemerahan. Ustad Hakim bergidik membayang betapa sakit rasanya.

Apalagi saat dengan buas Ammet mulai memompa batang kemaluannya yang luar biasa panjang dan besar itu keluar masuk di dalam liang kemaluan Indah. Ustad Hakim segera memalingkan mukanya, ia tidak sanggup untuk melihat lebih lama. Ammet yang setinggi lebih dari dua meter, memompa tubuh Indah yang hanya setinggi 165 cm, seperti orang tua yang menggendong anaknya saja layaknya.

Dengan posisi seperti itu, batang kemaluan Ammet dengan deras amblas keluar masuk ke dalam kemaluan Indah yang sempit. Ammet terus melakukannya hingga tubuh Indah terguncang hebat, buah dadanya yang besar terhentak-hentak naik turun menggiurkan. Tak berapa lama, tubuh Indah menggelinjang dan ototnya menegang, diiringi dengan rintihan panjang, dia mengalami orgasme hebat. Rupanya, sisa-sisa kenikmatan bersetubuh dengan ustad Hakim berhasil dituntaskan dengan sempurna oleh Ammet.

Tapi Ammet tidak berhenti. Sementara dari kemaluan Indah mengucur cairan cinta yang cukup banyak, pompaan Raja Jin itu malah semakin bertambah kuat. Indah tentu saja semakin lelah dan lemah karenanya, apalagi setelah kenikmatan orgasmenya berlalu, ia pun lemas dan jatuh lunglai ke belakang. Ammet menangkap tubuhnya dan menaruhnya ke dalam pelukan, sementara batang kemaluannya semakin hebat saja mengaduk liang kemaluan Indah yang kini menjadi sangat becek. Ammet melakukannya sambil berjalan dan tertawa-tawa, tampak santai sekali ia melakukannya.

Setelah puas mengocok Indah dengan posisi seperti itu, Jin Berapi itu lalu mengangkat pinggul Indah naik hingga ke dada. Tubuh Indah terangkat dengan kepala di bawah karena perempuan itu masih pingsan. Batang kemaluan Ammet yang masih tegang membentur-bentur punggung mulusnya. Jin itu terus mengangkatnya hingga kemaluan Indah terhidang di depan mulutnya. Dengan rakus Ammet lalu melumat dan menghisapnya. Ia menjilat habis kemaluan Indah yang bengkak memerah dengan mulutnya. Kemudian ia memutar tubuh mulus Indah sehingga kini wajah host Dua Dunia itu ditampar-tampar oleh batang penisnya yang besar dan masih sangat keras.

Ammet kembali melumat kemaluan Indah dengan penuh nafsu, jari-jari tangannya juga menyodok-nyodok anus Indah yang masih terjuntai pingsan. Selanjutnya, setelah bosan menjilat, Jin Tua itu kembali menyetubuhi Indah. Kali ini dengan gaya biasa, ia menaruh tubuh bugil di altar dan menindihnya dari atas. Dengan posisi ini, akhirnya Ammet berejakulasi. Spermanya yang kemerahan mirip lava gunung berapi, dengan deras membanjiri wajah Indah hingga membuat wanita cantik itu terbangun.

”Apa… hpmh! Hmpmh!” Indah ingin bersuara, tapi sperma Ammet yang kental sudah keburu memenuhi mulutnya. Terpaksa dia harus menelannya kalau tidak ingin tersedak. Beberapa yang muncrat belakangan, mengotori rambut Indah yang hitam panjang, dan menetes-netes ke lantai batu, menimbulkan uap kecil disana. Banyak sekali sperma Raja Jin itu.

Ustad Hakim memperhatikan semuanya tanpa berkedip. Ia tidak bisa memalingkan mukanya lagi karena diancam pukul oleh Nimsiq. Hatinya makin teriris-iris saat perkosaan itu terus berlanjut dengan brutal. Kini tangan Indah diikat ke sebuah palang yang ada di pojok ruangan, palang itu bisa diatur tinggi rendahnya. Jin yang mendapat giliran mengatur tinggi palang hingga posisi lubang kemaluan Indah tepat berada di depan batang penisnya karena tubuh Jin itu yang cukup tinggi, hampir mencapai langit-langit ruangan.

Kaki Indah sekarang tidak menyentuh lantai, ia tergantung dengan tangan terikat ke atas. Indah menangis menahan perih pada tangannya, sementara sang Jin mengangkat paha kanan perempuan itu dan mulai memasukkan batang kemaluannya yang besar dan panjang ke dalam liang kemaluan Indah, dan mulailah ia mengocok tubuh bugil Indah tanpa ampun sambil tangan kanannya memegangi paha Indah agar tetap terangkat, tangan kirinya dengan buas meremas dan memijat kedua buah dada Indah bergantian. Puting susu Indah sesekali dicubit dengan keras. Indah hanya dapat merintih-rintih dengan lemah menerimanya.

Setelah puas dengan posisi itu, Indah kemudian dibaringkan ke lantai, lalu dengan buas sang Jin memperkosanya hingga Jin itu orgasme dan menyemprotkan spermanya ke buah dada Indah yang bulat membusung.

Selesai dengan Jin itu, Jin lain segera maju untuk mengambil gilirannya. Begitu terus hingga tak terasa sudah 14 Jin yang memperkosa Indah dengan buas. Indah telah pingsan berkali-kali, namun selalu disadarkan lagi dan kembali diperkosa dengan luar biasa brutal.

Ustad Hakim merinding membayangkan masih ada banyak Jin yang berkerumun menunggu giliran. Sepertinya tidak ada habis-habisnya. Giliran berikutnya tiga Jin maju sekaligus. Mereka mengelilingi Indah yang telentang telanjang bulat di altar dengan batang kemaluan yang telah berdenyut-denyut kencang, menuntut untuk dilampiaskan. Jin pertama yang bermata satu, langsung menancapkan batang penisnya ke kemaluan Indah dan memompa keluar masuk dengan brutal. Jin kedua memompa mulut Indah dengan batang kemaluannya, sementara Jin ketiga dengan rakus menyedot-nyedot kedua buah dada Indah yang ranum bergantian kiri dan kanan, seperti anak kecil yang sedang menyusu pada ibunya. Bedanya, anak yang ini bertubuh ular dan berekor Srigala.

Setelah cukup lama, mereka lalu saling berganti posisi. Kini si Ular yang menikmati liang vagina Indah, sedangkan dua temannya mendapat sisanya. Mengalami perlakuan seperti ini, dimana kemaluan dan mulutnya dipompa secara brutal, serta harus menyusui tiga Jin yang haus akan birahi, tak dapat dihindari, kembali tubuh telanjang Indah mengejang-ngejang tanda orgasme. Dari mulutnya keluar suara lirih, “Ohh…”

Selesai dengan ketiga Jin itu, berikutnya dua Jin bertubuh besar maju bersamaan. Indah yang lemas diangkat dan diapit di atas kasur, Jin yang di bawah memompa liang anus Indah, sementara yang di atas memperkosa liang kemaluan perempuan cantik itu tanpa belas kasihan. Indah megap-megap saat wajahnya harus menempel pada dada Jin yang besar dan berbulu itu. Pemandangan mengenaskan itu membuat Ustad Hakim makin menangis pilu.

Indah terus diperkosa hingga Jin terakhir selesai. Perempuan itu tidak dapat bangun lagi saat Jin terakhir yang bertubuh cebol selesai memompanya dengan ganas dan menumpahkan spermanya di liang memek Indah yang sudah luar biasa basah.

Setelah puas, mereka lalu mencampakkan Indah ke lantai. Ustad Hakim segera memeluk dan membelai tubuh bugil perempuan itu. ”Sudah selesai, kita bisa pergi dari tempat ini.” ia berbisik. Indah mengangguk dan menangis sesenggukan.

Saat tengah malam, tanpa memberi mereka pakaian, Ammet melepaskan kedua orang itu. ”Ingat, jadikan ini sebagai peringatan. Jangan coba-coba kembali lagi ke tempat ini!” pesan Raja Jin sebelum menghilang. Seluruh anak buahnya menyusul tak lama kemudian.

Kini tinggallah Indah dan Ustad Hakim di tempat sepi itu. Terpaksa mereka berjalan kaki tertatih-tatih balik ke kampung terdekat. Kali ini perjalanan jadi lebih mudah, jalan setapak seperti terbuka bagi mereka. Tak sampai subuh, mereka sudah tiba di rumah pertama. Ustad Hakim segera mencuri baju di jemuran untuk dipakai menutupi tubuh mereka yang telanjang.

Dalam hati ustad Hakim berharap, ini adalah kali terakhir dia berurusan dengan Jin-Jin penghuni Candi Mrica. Namun entah mengapa, dia memiliki perasaan buruk, bahwa mereka akan terus membayangi, khususnya Indah, dan akan kembali suatu saat nanti.

KISAH PPT

Hari yang sangat melelahkan di kantor, acara bedah buku yang berlangsung dari pagi hingga siang membuat Aya lemas. Begitu sampai di rumah, dia langsung menghempaskan tubuh montoknya di sofa. Masih dengan memakai kemeja, hanya melepas sepatu dan kaos kakinya, ia tiduran telentang di sofa ruang tengah, depan televisi. Karena sejuknya hembusan udara dari AC yang disetel dingin, beberapa saat kemudian, dia sudah tertidur pulas.

Di luar, terdengar suara motor ustad Ferry berhenti di depan rumah. Laki-laki itu baru pulang dari musholla. Haifa, istrinya, masih mampir sebentar di toko seberang jalan untuk beli sesuatu. Begitu masuk ke dalam, langkah sang Ustadz langsung terhenti.

”Ohh…!!” Betapa kagetnya dia saat dari balik almari buku yang membatasi ruang tamu dengan ruang keluarga, matanya melihat Aya yang tidur telentang di sofa. Bukan karena ada yang aneh -Aya sudah sering tidur di sofa itu- namun yang membuat langkah ustadz Ferry terhenti adalah posisi tidur Aya yang begitu menggiurkan.

Istri Azzam itu menyandarkan kakinya tinggi-tinggi ke sandaran sofa, membuat rok satinnya tersingkap hingga ke perut, menampakkan betis dan pahanya yang putih mulus. Bahkan kalau diperhatikan lebih jeli, juga bokong Aya yang bulat montok, yang masih terbalut celana dalam warna putih. Dengan jantung berdebar kencang, mata Ustad Ferry menelusuri, mulai dari betis, lalu naik ke paha, dan akhirnya berhenti di pantat Aya yang membulat indah. Meskipun dia sudah sering melihat Aya telanjang, namun tak urung pemandangan ini membuat gejolak birahinya mengalir deras.

“Ck-ck-ck… Aya, Aya, kenapa tubuhmu begitu menggoda?” batin ustad Ferry dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepala. Cukup lama dia memandangi paha mulus Aya sambil tiada henti berdecak kagum.

”Eh, papa ngapain?” Haifa yang baru masuk rumah menegur, mengagetkannya.

”Eh, mm… ini… mm…” ustad Ferry menjawab gugup.

”Hayo! Ngintip Aya lagi yah… ih, papa nakal!!” bisik Haifa pelan sambil mencubit perut sang suami.

Ustad Ferry terkikik geli. ”Mmm… habisnya, siapa yang nggak tergoda lihat Aya kayak gitu.” dia menunjuk Aya yang tidur telentang di sofa dengan rok tersingkap pada sang istri.

”Eitt… ih, papa genit!” Haifa berkelit saat ustad Ferry memeluk tubuhnya dari belakang. ”Bentar, aku betulin rok Aya dulu.” kata Haifa sambil berusaha melepas pelukan sang suami.

”Mmm… Nggak boleh. Aku pengen tubuh mama sekarang.” bisik ustad Ferry, tetap merangkul erat tubuh sintal sang istri. Sementara matanya masih lekat memandang kemontokan bokong Aya yang masih terlelap di depan sana.

”Tiap habis ngintip Aya, pasti jadi kayak gini.” keluh Haifa, agak jengkel tapi juga suka. Memang, cukup sering ustad Ferry mengintip Aya -baik dalam keadaan telanjang maupun baju tersingkap seperti sekarang- dan ujung-ujungnya, laki-laki itu akan langsung menarik Haifa untuk diajak bercinta dengan sangat menggebu-gebu. Haifa tentu saja sangat suka dengan momen-momen seperti ini karena dia akan sangat terpuaskan.

”Adikmu itu bener-bener sexy ya, Ma?” sambil meremas pelan payudara sang istri, mata Ustad Ferry tidak lepas dari bokong montok Aya.

”Iya, siapa dulu dong kakaknya!” bisik Haifa manja.

”Uh, bener-bener gadis yang sempurna.” Mata sang Ustad semakin jalang.

”Ih, ada yang bergerak di bokong mama nih,” bisik Haifa pelan sambil menggesekkan pantatnya yang lebar pada penis ustad Ferry yang sudah menegang dahsyat.

”Uuh…” desah sang Ustad. Ia makin menekan penisnya ke bokong bulat sang istri. Sambil terus menikmati pemandangan bokong indah Aya, ia mulai menciumi pipi dan telinga Haifa. ”Ma, papa pengen nih.” bisiknya mesra.

”Aahh… jangan di sini, Pa. Nanti Aya bangun.” desah Haifa, tubuh montoknya menggeliat pelan.

”Nggak apa-apa, Ma. Biar aja dia bangun, kita ajak main sekalian, seperti biasa.” bisik ustad Ferry sambil semakin liar menciumi pipi dan telinga istrinya, sementara matanya masih memandang nanar pada bokong bulat Aya.

”Aaahhh… terserah papa aja!” Haifa menggeliat pasrah kegelian karena tangan sang Ustad mulai kembali meremas-remas payudaranya.

Dengan liar, tangan ustad Ferry menyelusup ke balik kemeja sang istri. Ia preteli kancing baju Haifa satu per satu dan mengangkat BH wanita cantik itu ke atas -mengeluarkan payudara Haifa yang bulat besar- lalu meremas-remasnya dengan penuh nafsu, dengan mata tetap lekat memandang paha dan bokong indah Aya. Dia juga terus menggesekkan penisnya yang semakin menegang ke pantat bulat Haifa yang masih terbalut rok panjang berenda.

”Papah!” desah Haifa pelan sambil menggerakkan pinggulnya, menyambut gesekan penis sang suami.

”Aarrgghh…“ ustad Ferry mengerang sambil menggigit lembut tengkuk sang istri, membuat bulu kuduk Haifa berdiri. Tangannya yang satu mulai menyusup ke dalam rok panjang wanita cantik itu.

”Eeuhh… Paaa!” Haifa menggeliat mendongakkan kepala ketika tangan nakal ustad Ferry mulai meremas vaginanya yang masih terbungkus celana dalam. Dengan cepat ia memasukkan tangan ke dalam rok lalu menarik dan melepaskan celana dalamnya, membuat tangan ustad Ferry semakin bebas bergerak.

”Mama bener-bener pinter.” bisik sang Ustad. Tangannya mulai mengelus dan meremas vagina Haifa yang sudah basah licin.

”Aaahh… Papaaa!” Haifa menggeliat sambil melebarkan pahanya, memberi ruang agar tangan sang suami bisa meremas seluruh vaginanya. Tangannya menjulur ke atas, meraih kepala ustad Ferry yang asyik menjilati tengkuknya, membuat dadanya yang bulat indah kian membusung ke depan.

”Ssss… aaahh…” desah Haifa menikmati semua aktivitas sang Ustad pada tubuhnya.

Sambil terus menjilati tengkuk sang istri, tangan kiri ustad Ferry meremas-remas payudara Haifa, sedangkan tangan kanannya mengelus vagina wanita cantik itu. Rok panjang Haifa sudah tersingkap sampai perut, menampakkan kemaluan Haifa yang licin dan berbulu lebat. Dengan kondisi seperti itu, ustad Ferry makin leluasa mengelus maupun meremas vagina sang istri, sambil matanya terus memandang penuh nafsu ke arah bokong bulat Aya.

Melihat pemandangan tersebut, nafas ustad Ferry semakin memburu, dipeluknya tubuh montok Haifa begitu erat. Kini posisi mereka berdiri berhadapan sehingga payudara Haifa yang montok terhimpit di dada sang Ustad. Sambil terus memandangi bokong Aya, tangan ustad Ferry meremas kuat bokong istrinya. Dia membayangkan seandainya yang dia remas adalah bokong bulat Aya, sang adik ipar.

Haifa menurunkan tubuhnya dan berjongkok tepat di depan selangkangan sang suami. Dengan cekatan dia lepas ikat pinggang ustad Ferry dan menarik resluitingnya turun. Lalu menarik celana panjang sekaligus celana dalamnya sampai ke bawah. Seketika penis ustad Ferry yang sudah menegang maksimal menyembul dengan gagahnya, tepat di depan wajah cantik Haifa yang masih berbalut jilbab lebar. Setelah beberapa kali mengelus, Haifa memasukkan penis itu ke dalam mulutnya dan menghisapnya dengan rakus.

”Aaaarrgghhh…” erang ustad Ferry pelan, matanya terpejam, berusaha meresapi kehangatan yang menyelimuti kepala penisnya, yang sekarang berada di dalam mulut manis sang istri. Dengan tangan kiri, dia berpegangan pada almari, sedangkan yang satunya memegangi kepala Haifa dan menggerakkannya maju mundur dengan cepat seiring kuluman wanita cantik itu.

Sambil menikmati hisapan Haifa pada penisnya, mata ustad Ferry kembali terbuka, memandangi tubuh molek Aya yang masih tertidur dengan posisi yang sangat menggairahkan di depan sana. Untuk merangsang sang istri, ustad Ferry menggerakkan kakinya. Dengan punggung telapak kaki, ia gesek-gesek vagina sempit Haifa yang jongkok mekangkang di depannya sehingga vaginanya benar-benar terekspose.

“Uuhhmm…” Haifa langsung mendesah keenakan, ia semakin bersemangat mengulum penis sang Ustad, apalagi saat punggung kaki ustad Ferry mengenai kelentitnya, lendir vaginanya jadi keluar semakin banyak, bahkan sampai menetes-netes di lantai.

”Aaaahh… Mamaa!!” erang ustad Ferry, dia sudah tidak tahan lagi, kuluman istrinya terasa begitu nikmat. Segera diangkatnya tubuh molek Haifa dan dipeluknya dengan sangat bernafsu. Sambil diiringi ciuman bibir yang ganas dan panas, didorongnya tubuh Haifa mepet ke tembok. Ustad Ferry mulai mendesakkan penisnya ke arah vagina sempit sang istri. Haifa menyambutnya dengan menopangkan kaki kirinya ke almari, membuka selangkangannya lebar-lebar untuk sang suami sehingga vaginanya benar-benar terekspose dengan jelas, siap menerima apapun perlakuan sang Ustad.

”Arrrrggh…” ustad Ferry menggeram pelan ketika perlahan penisnya mulai mendesak masuk ke dalam vagina sang istri. Pelukannya semakin erat.

”Eeeehh…” Haifa menyambut penis sang suami dengan memajukan pinggulnya, sehingga perlahan namun pasti, penis ustad Ferry tenggelam dalam cengkeraman vaginanya.

”Uuuhh… Mamaa!” ustad Ferry meremas bokong istrinya kuat-kuat ketika dia mulai menggerakkan penisnya keluar masuk di dalam vagina sang istri.

”Eeeuuhh…” tubuh montok Haifa bergetar kuat ketika sodokan penis sang suami pada vaginanya terasa semakin cepat dan kencang. Karena bokongnya dipegangi oleh ustad Ferry, ia jadi tidak bisa menggerakkan pinggulnya untuk mengimbangi. Haifa hanya bisa memeluk suaminya sambil melingkarkan kaki kirinya ke pinggang laki-laki itu saat gerakan pinggul sang ustad semakin keras dan liar.

Karena nafsunya sudah diubun-ubun, Haifa pun berteriak kencang tak lama kemudian. “Aaahh… aaaahh… aaakkhhh…” erangan dan desahan panjang keluar dari mulut manisnya, terdengar begitu syahdu mengiringi gelinjang tubuhnya saat menyambut gelombang orgasme yang datang menerjang secara cepat dan tiba-tiba.

Ustad Ferry yang merasakan vagina istrinya mencengkeram begitu kencang saat menyemburkan cairan cintanya, bukannya berhenti, malah makin mempercepat genjotannya. Tangannya semakin kuat memegangi bongkahan bokong montok Haifa. Sementara mulutnya menempel dan menyusu di bulatan payudara wanita cantik itu, menghisap dan mencucup putingnya yang merah merekah secara bergantian, kiri dan kanan.

”Arrgghhhh… aaaarrggghh…!!!” geraman ustad Ferry tertahan di tenggorokan ketika dia menyodok kuat vagina sang istri. Ia tekan penisnya dalam-dalam saat spermanya muncrat berkali kali ke dalam rahim Haifa. Mereka berpelukan erat sambil terpejam, menikmati orgasme masing-masing, kemudian terdiam. Beberapa kali tubuh mereka masih menggelinjang kecil menikmati sisa-sisa orgasme yang masih melanda.

”Ehh… hh… hh… fiuhh!” hanya desah nafas mereka berdua yang terdengar. Sementara di depan sana, seperti tidak terganggu sama sekali, Aya masih tetap terlelap dengan posisi tidurnya yang sexy.

***

Matahari masih bersinar terang sore itu saat Azzam pulang ke rumah. Dilihatnya Aya sedang sibuk menyetrika setumpuk cucian kering di ruang tengah. Disebelahnya, duduk di depan teve, tampak Haifa yang sepertinya asyik menonton acara Tausiyah. Bang Ferry tidak terlihat, tapi dari suara guyuran air di kamar mandi, sepertinya laki-laki itu sedang mandi.

”Tumben sudah pulang, Zam?” sapa Haifa ramah pada adik iparnya.

Azzam mengangguk. ”Iya, Kak. Badanku agak nggak enak, meriang. Mungkin mau flu.”

”Cepat istirahat aja.” kata Haifa. ”Minta buatkan teh hangat sama Aya.” tambahnya.

”Iya, Kak.” Azzam tersenyum dan menghampiri sang istri. Dipeluknya Aya dari belakang. ”Kamu dengar kan apa kata kakakmu?” tanyanya menggoda.

”Jangan ganggu, aku lagi nyetrika nih.” ketus Aya.

”Hei, suamimu ini lagi sakit lho.” sergah Azzam.

”Halah, sakit kok pake pegang-pegang segala!” Aya melirik tangan Azzam yang perlahan melingkar di depan dadanya.

”Hehe,” Azzam tersenyum. ”Aku pengen, Sayang.” dipencetnya payudara Aya bergantian, terasa sangat empuk dan kenyal sekali. Azzam menyukainya.

”Nanti malem aja,” Aya menyingkirkan tangan itu. ”Aku lagi sibuk!” dengusnya.

Tidak ingin mundur, Azzam berganti posisi. Kali ini bokong bulat Aya yang jadi sasaran. Dengan nakal dibelainya daging montok itu.

”Zam!” Aya mendelik, jelas terlihat tidak suka.

”Hei, kalau suami lagi pengen, istri nggak boleh menolak lho.” ancam Azzam. ”Itu kata Nabi.” tambahnya untuk meyakinkan.

Tapi Aya tetap tidak peduli. Dia terus berusaha menyingkirkan tangan Azzam dari atas tubuhnya. ”Aku capek, Zam. Tadi banyak kerjaan di kantor. Mengertilah sedikit.” mohon Aya.

”Aku juga capek, Sayang. Tapi aku menginginkanmu.” Azzam terus memaksa. Kali ini mulutnya menyerbu, menyosor bibir tebal Aya dan melumatnya dengan rakus.

”Hmph… Zam!” sedikit berteriak, Aya mendorong tubuh laki-laki itu. Ciuman mereka terlepas. ”Kak Haifa, Azzam nih… nakal.” manja Aya pada Haifa.

Haifa yang sedang menonton teve jadi ikut tertawa melihat ulah dua anak muda itu. ”Sudahlah, Zam. Kasihan Aya, nanti kan juga masih bisa.” katanya kemudian.

”Tapi aku pengennya sekarang, Kak.” sahut Azzam.

”Dasar keras kepala!” sungut Aya sambil memalingkan mukanya dan kembali menekuri setrikaannya yang masih setumpuk.

”Ayolah, Aya sayang.” Azzam mencoba untuk merayu kembali. Dipegangnya pundak Aya.

”Tidak!” tapi Aya tetap bersikukuh pada pendiriannya. Entah kenapa, sore ini, ia begitu malas melayani Azzam. Biasanya ini tanda-tanda kalau siklus mens-nya bakal segera datang. Emosinya jadi gampang tersulut.

Azzam yang juga mengerti hal itu, dengan terpaksa mengurungkan niat. Tapi sebelum benar-benar mundur, dia melontarkan ancaman terakhir pada Aya. ”Baiklah, kalau kamu nggak mau. Aku minta sama Kak Haifa aja.” gertaknya.

”Silahkan, kalau Kak Haifa mau!” di luar dugaan, Aya dengan enteng menanggapi, membuat Azzam jadi tak tahu harus berkata apa lagi. ”Ayo, lakukan sana!” semprot Aya sinis, tangannya kembali lincah bermain di papan setrika.

Menghela nafas, Azzam akhirnya berkata. ”Baiklah, tapi jangan nyesel ya kalau nanti malam kamu nggak aku urus.” sehabis berkata, Azzam memutar tubuhnya dan melangkah mendekati Haifa yang memandangnya sambil tersenyum.

”Kenapa, nggak dikasih ya?” tanya wanita cantik itu.

”Iya nih. Lagi badmood dia.” Azzam duduk di sebelah Haifa dan membelai lembut tangan kakak iparnya. ”Kakak bisa bantu aku kan?” tanyanya kemudian, sedikit memaksa, tidak ingin ada penolakan.

Haifa tertawa. ”Kamu itu, nggak bisa banget nahan nafsu. Coba itung, sudah berapa kali kamu niduri Kakak minggu ini? Lebih banyak kan daripada tidur dengan Aya!”

Azzam tercenung, lalu mengangguk. ”Iya, bener juga ya…” baru kemarin mereka main. Dan sekarang, Azzam sudah minta lagi. ”Tapi nggak apa. Habis tubuh Kak Haifa seksi banget sih, bikin aku jadi pengen terus. Lagian, Aya juga nggak keberatan. Iya kan, Sayang?” teriak Azzam pada Aya.

”Tau ah! Bodoh!” sahut Aya tanpa menoleh.

”Nah, Kakak dengar sendiri kan? Jadi bagaimana, Kak Haifa mau?” sambil berkata, Azzam memindah tangannya, mengelus paha dan pinggul Haifa yang masih tertutup baju panjang. Tapi karena kain itu sedikit tipis, Azzam jadi bisa merasakan kulit paha Haifa yang halus dan mulus, membuatnya semakin terangsang dan tak tahan.

”Aku tolak pun, kamu pasti akan memaksa. Jadi, ya… terserah kamu lah!” Haifa mengedikkan bahunya dan mengangguk.

Tersenyum senang, Azzam segera mencium bibir kakak iparnya itu. ”Terima kasih, Kak.” ucapnya sambil dengan cepat membuka kancing baju panjang yang dikenakan oleh Haifa.

Menoleh kepada Aya, dada Haifa terasa bergemuruh, dirasakannya semua bulu kuduknya berdiri. Sensasi ini telah lama ia rindukan, main dengan Azzam di depan Aya! Sebelumnya mereka lebih sering main berdua, sendiri-sendiri, di kamar yang berlainan; Azzam dengan dirinya, sedangkan Aya dengan ustad Ferry. Tidak pernah dalam satu ruangan seperti sekarang ini. Meski Aya tidak menolak, tapi Haifa tahu kalau adiknya itu memperhatikan apa yang tengah ia lakukan bersama Azzam. Namun karena tidak ada protes dari gadis itu, Haifa pun meneruskannya. Pasrah, ia biarkan jari-jari Azzam yang nakal bermain-main di atas gundukan bukit kembarnya.

Azzam yang sepertinya mendapatkan angin dari sang istri, sepertinya juga tidak mau buru-buru. Meski sudah sangat terangsang, ia tidak lepas kendali dengan menelanjangi Haifa cepat-cepat. Dinikmatinya tubuh molek sang kakak ipar inci demi inci, pelan-pelan, satu per satu, bagian demi bagian. Dimulai dari buah dada Haifa yang bulat dan montok. Dengan sabar Azzam meremas-remasnya. Tangannya menangkup benda padat itu, dua-duanya. Meski masih tertutup beha, tapi ia bisa merasakan teksturnya yang empuk dan kenyal saat memijitnya.

”Oughh… Zam!” rintih Haifa saat Azzam terus mempermainkan payudaranya. Dalam beberapa detik, deru nafasnya mulai tidak teratur akibat perbuatan sang adik ipar. Susah payah Haifa berusaha menahan gejolak dalam dirinya, tapi mana bisa kalau tanpa menepis tangan Azzam yang kini bergerak semakin liar!

Tidak menjawab, Azzam perlahan membuka jilbab lebar yang dikenakan oleh Haifa. Awalnya Haifa mencoba untuk menahan tangan pemuda itu, tapi Azzam segera menepisnya. ”Ssst… aku nggak ingin nambah dosa, Kak.” bisiknya. Haifa pun menyerah. Dibiarkannya Azzam menarik kain merah itu hingga rambut panjangnya kelihatan.

”Kakak cantik,” Azzam mengusap rambut Haifa sebentar sebelum meraih dagu perempuan cantik itu dan mendekatkan mulutnya, mengecup bibir tipis Haifa.

Bergetar hati Haifa saat menerimanya. Perlahan ia membuka bibirnya dan mengulum lidah Azzam yang menerobos masuk. Dengan cepat ia larut dalam pagutan panas itu, terlihat dari mata Haifa yang tertutup rapat dan dengus nafasnya yang semakin cepat. Di bawah, dengan kedua tangannya, Azzam berusaha menarik turun baju panjang Haifa. Tanpa perlawanan, Haifa membiarkannya. Tubuh moleknya sudah setengah telanjang sekarang. Hanya tersisa bra putih tipis yang menutupi payudara montoknya. Dan itupun tidak bertahan lama, karena sembari terus berciuman, Azzam mencari pengaitnya di punggung Haifa. Dan begitu sudah ditemukan, segera dibukanya dengan cepat. Beha itu jadi kendor sekarang, sedikit menumpahkan payudara Haifa yang bulat padat ke bawah. Perlahan Azzam menurunkan tali penyangga yang melingkar di atas pundak Haifa, ditariknya ke samping, lalu disentakkannya ke depan begitu cepat.

Haifa sedikit terhenyak saat bukit kembarnya yang masih kencang, bulat dan padat, terburai keluar. ”Aih.” ia sedikit memekik, ingin menutupinya, tapi tangan Azzam sudah keburu mencegahnya. Laki-laki itu dengan nanar menatap puting Haifa yang mengacung tegak menantang, sebelum akhirnya merabanya tak lama kemudian.

“Ah, Zam… aku malu,” lirih Haifa.

”Malu? Bukankah sudah sering kakak telanjang di depanku.” kata Azzam tak mengerti, jalan pikiran wanita memang begitu membingungkan.

”Iya, tapi tidak di luar seperti ini.” Haifa melirik Aya yang masih tampak sibuk dengan pekerjaannya.

”Kak Haifa sungkan sama Aya?” tanya Azzam.

Haifa mengangguk.

Azzam tertawa. Dan sebelum dia berkata, Aya sudah memotong duluan. ”Nggak usah sungkan, Kak. Aku nggak apa-apa kok.”

Azzam tertawa semakin lebar, sementara Haifa tersenyum malu-malu dengan muka memerah. ”Ah, baiklah kalau begitu.” katanya.

”Baiklah apanya, Kak?” goda Azzam. Tangannya masih hinggap di gundukan bukit kembar Haifa, dan tak henti-henti meremas benda bulat padat itu.

”Ah, kamu! Masa harus dikatakan!” sahut Haifa, wajah cantiknya berubah jadi agak memerah.

”Hehe, iya, Kak.” tersenyum gembira, Azzam mengambil tangan kiri Haifah dan kemudian diletakkannya di bawah perut, tepat di atas gundukan penisnya.

”Hm, Zam!” masih sedikit malu-malu, Haifa mengelus-elus batang itu dari luar celana, naik-turun, sambil sesekali menggenggam dan memencetnya pelan.

Sebentar mereka bertatapan, saling memandang, sebelum Azzam merengkuh bahu mulus Haifa dan perlahan-lahan merebahkannya ke sofa. Azzam mulai meraba kedua bukit kembar milik sang kakak ipar, sementara Haifah, memegang tangan Azzam. Bukan bermaksud untuk melarang, tapi malah ingin meminta agar Azzam segera memanjakannya. Mengangguk mengerti, Azzam segera mengecup tubuh Haifah. Dimulai dari leher jenjang wanita cantik itu, kemudian perlahan turun ke dua bukit kembar Haifa yang masih terlihat membusung indah meski dalam posisi tiduran, menunjukkan kalau benda itu benar-benar padat dan mengkal. Sambil meremas-remasnya, Azzam menjulurkan lidahnya dan mulia menjilat. Ia susuri permukaannya yang halus dan mulus, menggigit pelan di beberapa bagian, menekan-nekan dengan hidungnya, dan diakhiri dengan sedotan kencang di ujung putingnya.

”Auwghh!!” Terdengar erangan keras seorang wanita, yang tentu saja keluar dari mulut manis Haifa. Mendesis seperti kepedesan, kedua tangannya meraih rambut gondrong Azzam, sedikit menjambaknya, sebelum kemudian menekannya kuat-kuat agar Azzam semakin cepat menjilat di atas putingnya.

Dengan lidahnya, Azzam terus mempermainkan daging kemerahan itu; mulai dari mencucup, menghisap, sedikit menggigit, hingga menariknya kuat-kuat saat Haifa menjambak rambutnya semakin keras. Begitu terus bergantian, kiri dan kanan. Setelah keduanya basah dan mengkilat, barulah Azzam meneruskan gerilyanya. Lidahnya kini turun ke arah pusar Haifah, berputar-putar sejenak disana, sebelum semakin turun ke pusat sasaran, selangkangan kakak iparnya yang sempit dan legit.

Dengan cepat Azzam menelanjangi Haifa. Ditariknya baju panjang wanita cantik itu hingga terlepas, juga celana dalam merah berenda yang dikenakannya. Setelah Haifah telanjang, Azzam juga melepas bajunya sendiri. Setelah sama-sama bugil, dibiarkannya Haifah memegang penisnya sebentar -sekedar untuk mengagumi ukuran dan panjangnya- sebelum ia menurunkan tubuh dan berjongkok di depan kemaluan Haifah yang berbulu lebat.

”Eh, Zam, kamu mau ngapain?” selidik Haifah di atas sana, curiga dengan tingkah laku sang adik ipar.

Tidak menjawab, dengan tangan kanannya, Azzam menyingkap bulu lebat yang menutupi selangkangan Haifa, berusaha untuk menemukan pintu surganya.

”Jangan. Zaam! Kotor! Ahhh…” erang Haifah menahan gejolaknya. Ia tampak keberatan saat Azzam mulai menjilat vaginanya perlahan, tapi tidak sanggup untuk menolak. Sensasi yang diberikan oleh pemuda itu mustahil untuk dielakkan.

Azzam melirik zang kakak ipar, dilihatnya mata wanita itu terpejam rapat penuh kenikmatan. Ia pun meneruskan aksinya.

”Zaam… uh, gila kamu! Ssshhh… ahhh… tapi enak! Aghhh…” Haifa menjerit tertahan sembari menjambak rambut panjang Azzam. Lidah pemuda itu sudah menemukan klitorisnya sekarang, dan menjilat rakus disana. Azzam mencucup dan memilinnya sambil sesekali menghisap lembut, membuat Haifa kelojotan penuh kenikmatan.

”Zaam, aku nggak kuat! Ughhh… rasanya mau pipis!” teriak Haifa sambil berusaha menyingkirkan kepala sang adik ipar dari kemaluannya.

Tapi bukannya menjauh, Azzam malah semakin kuat membenamkan mukanya. Meski terasa agak sedikit sakit akibat jepitan paha Haifah, ia tidak peduli. Yang penting ia bisa mengantarkan istri ustad Ferry itu ke kenikmatan orgasme yang akan tiba sebentar lagi.

”Achhh… emmmhhh… Zaamm! Essss… ahhh…” menjerit tertahan, Haifa merasa seolah semua persendian di tubuhnya meluruh, memberinya sensasi nikmat yang tak mampu dicapai oleh pikirannya. Wanita cantik itu terkapar, tubuhnya nampak basah oleh keringat, sementara dari liang kemaluannya, meleleh cairan orgasme yang amat banyak.

Tersenyum, Azzam memeluknya. Dielusnya rambut dan kepala Haifah. Sementara Haifah yang kehabisan nafas, cuma bisa memejamkan mata sambil terdiam. Dibiarkannya tangan nakal Azzam kembali bermain-main di puncak payudaranya.

***

Aya menoleh saat ustad Ferry keluar dari kamar mandi. Air masih tampak menetes-netes dari tubuhnya yang telanjang. ”Ai, punya handuk?” tanya laki-laki itu tanpa merasa bersalah sedikit pun, padahal dia sudah membuat Aya rikuh dengan ketelanjangannya.

Belum sempat menjawab, mereka dikejutkan oleh teriakan Haifa dari ruang tengah, ”Achhh… emmmhhh… Zaamm! Essss… ahhh…” tampak tubuh montok Haifa terkejang-kejang beberapa kali sebelum akhirnya lemas di pelukan Azzam.

Ustad Ferry geleng-geleng kepala melihat perbuatan istrinya itu, ”Dasar! Baru juga siang tadi dikasih jatah, sekarang sudah main lagi.” gumamnya.

”Mungkin dia nggak puas kali tadi, Bang.” celetuk Aya.

”Heh, sembarangan! Kurus-kurus gini, aku masih mampu lho bikin kamu KO dalam tiga ronde.” ustad Ferry mendekati adik iparnya itu. Siluet tubuh Aya yang putih dan montok membuatnya tergoda.

”Iya, percaya-percaya.” Aya melipat setrikaannya yang terakhir dan menaruhnya di tumpukan baju yang sudah tersusun rapi. Dia kemudian menghadap pada ustad Ferry. ”Ini handuknya, Bang.” diberikannya kain tebal berwarna merah di tangannya pada laki-laki itu.

Tapi bukannya menerima, ustad Ferry malah asyik memelototi bulatan payudara Aya yang terlihat membusung indah di depannya. Benda itu tampak bergerak-gerak pelan naik turun seiring dengus nafas Aya yang sepertinya sedikit agak memburu. ”Kamu nggak apa-apa?” tanya ustad Ferry.

”Emmm… iya,” Aya menjawab dengan ragu. Di ruang tengah, rintihan dan lenguhan Haifa kembali terdengar. Entah apa yang sekarang dilakukan Azzam pada wanita cantik itu!

”Lihat, Ai… asyik banget mereka.” seru ustad Ferry. “Bikin pengen aja.” diliriknya Aya yang sekarang mukanya kelihatan semakin memerah.

Aya mengangguk, dan… ”Sini, bang. Biar Aya yang bersihkan tubuh abang.” kata gadis itu sambil berjalan mendekat. Disekanya tetesan air yang ada di tubuh sang ustad, dimulai dari lengannya.

Ustad Ferry tentu saja sangat surprise dengan tingkah adik iparnya ini. Apalagi sambil menyeka, tanpa sungkan Aya juga menempelkan toketnya yang bulat besar ke lengannya, membuat pikiran sang ustad jadi terpecah. Kalo Haifah sama Azzam saja bisa melakukannya, kenapa dia tidak? Toh Aya sepertinya juga tidak keberatan. Jadi, sambil memandang sang adik ipar penuh nafsu, ia pun berkata. ”Ai, bersihkan yang di bawah juga dong.” Dengan isyarat mata, ustad Ferry menunjuk burungnya yang sudah mulai tegang.

Tersenyum malu-malu, Aya mengangguk. Dia lalu jongkok dan memegangi burung sang Ustad dengan mata berbinar. ”Gede banget, Bang.” gumamnya sambil mengelus-ngelusnya mesra.

”Ah, kamu, Ai. Kayak baru pertama ngeliat aja.” kata ustad Ferry sambil menikmati tangan lentik Aya yang kini mulai mengocok pelan batang penisnya.

”Hehe,” Aya tersenyum.

”Hisap, Ai.” ustad Ferry mendorong maju sehingga kontolnya tepat berada di depan bibir Aya.

Tanpa menolak, Aya segera membuka mulutnya dan melahap daging panjang itu.

”Aghhhh… Ai,” lenguh ustad Ferry keenakan. Tangannya memegangi kepala Aya yang masih berbalut jilbab dan menggerakkannya maju mundur pelan-pelan.

”Hppmh… hpmhhp… hhmph…” Aya membuka bibirnya semakin lebar, berusaha mengulum dan menghisap penis ustad Ferry senikmat mungkin.

”Ouhhh… enak banget, Ai! Terus, hisap yang kuat!” rintih ustad Ferry diantara desahannya. Kini, sambil menghisap, Aya juga menggunakan jari-jarinya untuk memainkan biji pelir sang ustad, membuat kakak iparnya itu makin merintih dan melenguh keenakan. ”Oouhh… Ai! Pinter banget kamu! Ya, begitu… terus! Aghhh…”

***

Tidak ingin kalah dengan Aya, Haifa juga berusaha memberikan hisapan terbaiknya pada Azzam. Setelah beristirahat sejenak, sekarang tiba gilirannya untuk memuaskan laki-laki muda itu.

”Ahhh… Kak!” rintih Azzam. Terduduk di sofa, matanya terpejam merasakan sensasi bibir Haifa yang terus mengulas-ulas batang kemaluannya. Wajah Haifa memang lugu, tapi untuk urusan sedot-menyedot, dia lah jagonya. Azzam sudah merasakannya sejak pertama kali mereka bersetubuh, tepat di malam pernikahannya dengan Aya. Mungkin ini yang dinamakan bakat alam, tanpa dipelajari sudah pintar secara naluri.

Hisapan dan kuluman itu terus berlangsung beberapa saat sampai akhirnya Haifa berhenti tak lama kemudian. ”Kenapa, Kak?” tanya Azzam keberatan.

”Mulutku kelu, Zam. Burungmu gede banget sih.” Haifa tersenyum malu-malu.

”Hehe,” Azzam terkekeh bangga. ”Kalau gitu, kak Haifa rebahan aja, aku masukin sekarang.”

Tidak membantah, Haifa tiduran di sofa, telentang, dengan kedua kaki terbuka lebar-lebar, menampakkan lubang vaginanya yang basah dan memerah, siap untuk dimasuki.

”Tahan ya, Kak.” Azzam memasang posisi penisnya dan menusuk.

”Auw! Pelan-pelan, Zam!” Haifa meringis merasakan moncong senjata Azzam yang perlahan-lahan mendesak lubang kemaluannya. Benda itu terus menerobos dan meluncur masuk hingga terbenam seluruhnya. Mereka terdiam beberapa saat untuk memberi waktu bagi alat kelamin mereka untuk saling menyapa dan berkenalan. Setelah di rasa cukup akrab dan bisa saling menyesuaikan diri, barulah Azzam mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur.

”Ssshhh… enaak, Zam! Terus! Tusuk lebih dalam! Oughhhh…” erang Haifa keenakan. Tubuhnya mulai berkeringat walau udara sore itu sebetulnya cukup dingin.

”Gila! Seret banget, Kak. Dipakein apa sih?!” kata Azzam disela-sela genjotan nikmatnya.

”Ah, mau tahu aja kamu, Zam. Ini rahasia, cuma wanita yang boleh tahu, hehe…” kekeh Haifa dengan bangga.

Mencium kembali bibir wanita cantik itu, Azzam semakin mempercepat goyangan pinggulnya. ”Nanti Aya ajari juga ya, biar sama-sama rapet kayak punya kak Haifa.” bisiknya dengan tangan meremas dan memijit-mijit bongkahan susu Haifa yang bulat besar.

”Ehsss…” bergidik keenakan, Haifa mengangguk. ”Emang punya Aya nggak njepit ya?” tanyanya.

”Rapet juga sih, tapi lebih enak punya Kak Haifa. Padahal kan kak Haifa sudah pernah melahirkan, sedang Aya belum.” jelas Azzam.

Haifa mengangguk mengerti. “Iya deh, nanti aku ajari. Oughhh… shhhh…” sehabis berkata begitu, tubuhnya terlihat gemetar. Sensasi nikmat kembali melanda tubuh sintalnya. ”Aahh… Zam, aku mau pipis lagi! Aaaaahhhhhh…” Untuk kedua kalinya, Haifa melenguh panjang, pertanda telah mencapai orgasmenya yang kedua. Ia menjepit pinggang Azzam kuat-kuat saat cairan cintanya menyembur keluar.

Azzam sedikit meringis merasakan jepitan kaki Haifa di tubuhnya, tetapi dia mengerti akan apa yang sedang dialami oleh wanita cantik itu. Jadi dia menghentikan goyangannya dan membiarkan Haifah menikmati semburan klimaksnya.

Setelah beberapa saat, sesudah tiga kali guyuran air hangat pada batang penisnya, barulah Azzam beraksi kembali. Tapi dia berinisiatif untuk merubah gaya, sekarang disuruhnya Haifa untuk nungging membelakangi sambil berpegangan pada lengan sofa. Dengan posisi seperti ini, lubang kemaluan Haifa jadi semakin jelas kelihatan, begitu merah dan merekah, juga basah sekali, membuat sisa-sisa cairan cintanya yang masih meleleh keluar mengalir pelan menuruni bokong dan pahanya.

Tanpa kesulitan, Azzam memasukkan kembali penisnya. Bahkan kini ia bisa dengan lancar menggenjot tubuh sintal Haifa, sambil tangannya berpegangan pada payudara wanita cantik itu yang terayun-ayun indah seiring tusukannya.

”Ahhh… Zam! Terus! Tusuk yang dalam! Enak, Zam ! Aku merasa enak!” rintih Haifa sambil memeluk bantalan sofa. Semakin cepat Azzam menusuk, semakin keras pula jeritan istri ustad Ferry itu.

Azzam yang juga keenakan, memacu pinggulnya semakin cepat. Ia tidak peduli lagi meski di depannya, Haifa merintih dan menjerit-jerit semakin brutal.

”Hei, lirih sedikit napa! Malu dong didengar sama tetangga,” tegur ustad Ferry dari arah dapur.

Tersadar, Azzam segera mengurangi kecepatannya. Tapi ia tetap menusukkan penisnya dalam-dalam, menyambangi lorong kemaluan Haifa yang selama ini belum ia capai. ”I-iya, Bang!” sahut Azzam pada kakak iparnya. Dari sudut mata, ia bisa melihat kalau laki-laki itu lagi merem-melek keenakan menikmati hisapan Aya pada batang penisnya.

”Zam, aku mau pipis lagi!” desah Haifa tiba-tiba.

”Lho, cepet amat. Kakak sudah tiga kali, sedangkan aku masih belum sama sekali.” sahut Azzam.

”Habis enak banget sih,” kata Haifa dengan mata terpejam. ”Cepet keluarin, Zam. Kita sama-sama.” tambahnya lirih.

”Ahhh… iya, Kak.” mengangguk patuh, Azzam pun tidak menahan gairahnya lagi. Ia biarkan birahinya mengalir bebas, menuruni syaraf dan aliran darahnya, dan berkumpul tepat di ujung kemaluannya.

”Aahhhhh… Zam! Aku keluar!” jerit Haifa dengan tubuh gemetar dan kelojotan.

Bersamaan dengan saat itu, Azzam juga melepas air maninya. Sedikit menggeram, ia peluk tubuh montok Haifa erat-erat. Diciuminya leher dan pipi wanita cantik itu saat cairan kenikmatan mereka bertemu dan bercampur menjadi satu, memenuhi lubang rahim Haifa yang semakin terasa basah dan lengket.

”Ahhh… hh… hh… hh…” Keduanya terkapar di sofa dengan deru nafas yang saling berlomba. Haifa memeluk Azzam, sedang Azzam membelai mesra rambut lurus sang kakak ipar. Mereka saling mendekap dalam diam, lalu berpagutan sebentar, sebelum saling tersenyum tak lama kemudian.

”Terima kasih, Kak. Nikmat sekali.” bisik Azzam tulus.

Haifa mengangguk dan menyandarkan kepalanya di dada laki-laki muda itu.

***

Di sela-sela hisapannya, samar-samar Aya bisa mendengar pernyataan Azzam, ”Terima kasih, Kak. Nikmat sekali.” kata-kata yang sama yang sering diucapkan laki-laki itu setiap kali mereka selesai bercinta. Tapi sekarang, Azzam menujukannya untuk Haifa. Aya sedikit sakit hati, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Malah justru -entah kenapa- semakin menambah semangatnya untuk memperoleh kenikmatan yang sama dari ustad Ferry. Dia terus mengulum dan menghisap penis kakak iparnya itu semakin kuat dan nikmat.

“Ahh… ahh… terus, Ai! Ya, begitu! Ughh… jilatanmu nikmat sekali, Ai!” erang ustad Ferry dengan badan melengkung ke belakang, mendorong batang penisnya memasuki mulut sang adik ipar lebih jauh lagi.

“Hmph… hppmh…” terus mengulum, Aya sama sekali tidak bisa menjawab. Sementara di ruang tengah, sudah tidak terdengar suara lagi. Mungkin Azzam dan Haifa sudah terkapar tidur kelelahan.

Saat itulah, terdengar ketukan dan salam di pintu depan. Suara bang Jack. Aya menoleh sebentar, tapi segera melanjutkan kulumannya. “Cuma bang Jack,” katanya pada ustad Ferry.

Mengangguk mengerti, sang Ustad mempersilahkan merbot masjid itu masuk. ”Masuk aja, Bang. Nggak dikunci kok.” teriaknya pada bang Jack.

Terdengar suara gagang pintu diputar dan bang Jack pun masuk. “Pak Ustad, ini…” kata-katanya langsung terhenti begitu melihat apa yang terjadi di ruang tengah. Berpelukan di depan televisi, tampak Azzam dan Haifa yang tiduran mesra dengan tubuh masih sama-sama telanjang. Kulit tubuh mereka yang putih menyilaukan matanya.

Haifa menoleh dan tersenyum kepadanya, “Masuk aja, Bang. Tuh, pak Ustad ada di belakang.” Tunjuknya tanpa mempedulikan aurat tubuhnya yang meleler kemana-mana.

Tidak menjawab, bang Jack malah memelototi Haifa, memperhatikan mulai dari atas hingga bawah. Ia tampak terpesona oleh kecantikan alami Haifa, juga kemontokan tubuh wanita setengah baya itu. Terutama bulatan payudaranya yang sekarang berada di dalam genggaman Azzam. Tapi karena cuma yang kiri, jadi bang Jack bisa melihat yang kanan dengan sangat jelas. Benda tampak begitu bulat dan padat, dengan kulit putih kemerahan penuh bekas cupangan Azzam. Putingnya yang menonjol mungil kecoklatan membuat tangan bang Jack jadi gatal. Tanpa sadar, penjaga musholla itu melangkahkan kakinya mendekat dan jongkok di depan Haifa.

”Hmm, bu Ustad…” lirih bang Jack sambil tangannya terulur dan memegang payudara Haifa yang satu lagi. ”Ahhh…” desahnya pelan saat mulai memijit dan meremasnya perlahan-lahan.

”Ah, Bang. Sudah. Jangan. Aku capek.” tolak Haifa halus. Dia berusaha memirinkan tubuh untuk menyembunyikan tonjolan buah dadanya. Di sebelahnya, Azzam yang sudag tertidur pulas, sama sekali tidak tahu dengan apa yang terjadi.

”Ayolah, Bu. Saya juga pengen nih.” bang Jack menarik tangan Haifa dan menaruhnya di atas tonjolan selangkangannya yang sudah menegang dahsyat.

”Iya, bang. Tapi aku capek. Aku habis main dua ronde sama Azzam.” Haifa menarik tangannya dan beringsut menjauh.

Bang Jack kembali membelai dan meraba-raba tubuh montok Haifa. Kali ini bokong Haifa yang bulat dan kencang yang menjadi sasarannya. ”Tubuh bu Ustad selalu bisa membangkitkan gairahku.” bisik bang Jack lirih, sambil tangannya memijiti bongkahan pantat Haifa kiri dan kanan.

Sedikit menggeliat, Haifa menunjuk ke arah dapur. ”Sama Aya aja, bang. Tubuhnya juga nggak kalah bagus sama punyaku.” dia menepis tangan bang Jack yang terasa mulai merambat menuju lubang vaginanya dengan halus.

”Tapi saya inginnya sama bu Ustad.” desak laki-laki itu. Kepalanya turun, dan menyambar mulut tebal Haifa dan melumatnya dengan rakus untuk beberapa saat.

“Hmmph!” Haifa cepat menarik kepalanya dan melotot. ”Jangan kurang ajar ya, bang. Kalau nggak mau ya sudah, lebih baik apa pergi dari rumah ini. Sekarang!” semprotnya marah.

Diancam seperti itu, bang Jack langsung terdiam. Dari arah dapur, terdengar suara ustad Ferry memanggil. ”Sini napa, Bang?! Sama aja kok. Jangan bikin istriku marah,”

Bang Jack menoleh. Dari tempatnya duduk, bisa dilihatnya tubuh montok Aya yang sedang asyik melumat kontol ustad Ferry. Tersenyum, dia pun beranjak dan pergi ke dapur. ”Kalau bu Ustad sudah kuat, saya tunggu di dapur. Hehe…” kekehnya pada Haifa.

Cuma menjawab dengan dengusan, Haifa mengeratkan pelukannya pada tubuh Azzam dan menutup mata, berusaha untuk ikut terlelap.

”Pak Ustad, saya boleh gabung nggak? Saya pengen banget nih habis lihat tubuh telanjang bu Ustad.” kata bang Jack pada ustad Ferry.

”Gabung aja, Bang. Aya kayanya kuat kok muasin kita berdua. Hehe…” kekeh ustad Ferry, yang langsung disambut tatapan tajam oleh Aya.

Ikut tertawa, bang Jack langsung mengusap dan meremas-remas bokong bulat Aya yang tersaji indah di depannya. Tidak puas melakukannya dari luar, dia pun mengangkat rok lebar Aya hingga tersingkap ke pinggangnya, memperlihatkan bokong lebar Aya yang masih tertutupi oleh celana dalam warna merah. ”Ai, mulus sekali bokongmu.” lirih bang Jack sambil mulai mengusap dan menciuminya.

Sedikit menggeliat, Aya tidak sanggup untuk menolak. Dia terlalu sibuk berkonsentrasi memuaskan ustad Ferry. Penis laki-laki itu terasa semakin padat dan nikmat di dalam mulutnya.

Merasa mendapat angin, bang Jack meneruskan aksinya. Ditelusurinya tubuh montok Aya sebentar sebelum memeluk dan mendekapnya erat dari belakang. Dicumbunya leher istri Azzam itu dan dijilatinya dengan rakus saat sudah berhasil menyingkap jilbabnya. Cuma menyingkap, tidak sampai melepasnya. Sementara kedua tangannya menyusup ke balik kemeja panjang yang dikenakan oleh Aya dan menuju kedua bukit kembar gadis itu.

Aya yang merasa kegelian saat bang Jack mulai mengusap-usap bulatan payudaranya, sedikit menggigit penis Ustad Ferry sembari melenguh pelan. ”Ahh… bang! Enak! Shhhh… tapi geli… ughhh!” Puting susunya terasa mengencang, mengeras di sela jemari bang Jack. Rona merah semakin terlihat di wajah cantiknya saat bang Jack memilin dan memijitnya semakin keras. “Ouw… bang!” Aya menjerit gemas begitu laki-laki tua itu menjepit dan menarik putingnya kuat-kuat. Tubuh montoknya menggelinjang, bahkan kontol ustad Ferry sampai terlepas dari kulumannya.

”Haha…” bang Jack terkekeh, sementara ustad Ferry ikutan tersenyum. Dia kembali menarik kepala Aya agar mengulum penisnya.

”Hmph… shhh!” Aya mendesis menikmati tangan bang Jack yang semakin gemas memijiti payudaranya. Sambil melakukannya, penjaga musholla At-Taufiq itu juga menjilati telinganya, membuat nafsu Aya yang sudah terpancing jadi semakin menggelora. Aya hanya diam, ia menikmatinya dengan mata terpejam sambil terus menghisap kontol panjang ustad Ferry. Bahkan saat bang Jack mulai menyingkap kemeja yang dikenakannya, ia juga menurut saja. Aya malah mengangkat lengannya, membiarkan baju itu lolos dari tubuh sintalnya. Istri Azzam itu kini tinggal memakai bra warna merah dan rok panjang yang sudah menumpuk di pinggang. Jilbab lebarnya memang masih membingkai wajah cantiknya, tapi sudah diikat ke belakang oleh bang Jack, membuat payudaranya yang bulat padat terekspos dengan jelas.

“Ini dibuka aja ya, Ai.” kata bang Jack, menunjuk kait beha yang ada di punggung Aya.

Aya mengangguk, maka bang Jack pun dengan cekatan membukanya sehingga dengan cepat Aya sudah telanjang dada. Payudara yang bulat kencang dan putih mulus memantul-mantul indah di depan dadanya, lengkap dengan putingnya yang menonjol pungil dan berwarna coklat kemerahan. Tak tahan melihat benda sebagus itu, bang Jack langsung mencucup dan melumatnya dengan rakus. Dimulai dari yang kanan, lalu beralih ke yang kiri, trus kembali lagi ke yang kanan, balik ke yang kiri lagi. Begitu terus hingga membuat Aya merintih dan mendesis-desis kegelian.

”Bang… ahh! Shhh… ah.. Hmpmhh!” tapi langsung terpotong begitu ustad Ferry menjejalkan lagi penisnya.

“Pentilmu bagus banget, Ai. Kecil tapi kaku, merah lagi!” komentar bang Jack sambil memilin-milin puting Aya bergantian. Dia menjulurkan lidahnya, lalu menyapukannya pada leher jenjang Aya, membuat adik Haifa itu merinding dan makin mendesis kegelian. Bang Jack meneruskan rangsangannya dengan mengecupnya kuat-kuat berkali-kali, sengaja membuatnya jadi memerah dan memberi banyak cupangan di daerah itu. Jilbab Aya yang terikat ke belakang memudahkannya untuk melakukannya. Tangan bang Jack juga tak tinggal diam, terus bergerilya di payudara Aya dan anggota tubuh lainnya.

Tangan itu turun ke bawah, menyusup ke balik celana dalam Aya. ”Eemmhhh…” gadis itu kembali mendesis saat merasakan jari-jari bang Jack meraba dan mengusap-usap permukaan kemaluannya.

“Walah, lebat banget, Ai…” gumam bang Jack merasakan bulu kemaluan Aya yang tumbuh lebat. Tangannya terus berada di dalam celana dalam itu untuk beberapa saat dan mengobok-obok liar disana. ”Sudah basah banget, Ai.” bang Jack menarik keluar tangannya dan menunjukkan jari-jarinya yang basah oleh cairan lendir pada Aya.

Aya mengangguk dan sekali lagi tak bisa menolak saat bang Jack beringsut ke belakang untuk menarik lepas celana dalamnya. Kini dia sepenuhnya telanjang, diapit oleh dua orang lelaki yang usianya terpaut jauh dari dirinya. Bang Jack tampak tertegun melihat tubuh indah nan putih mulus yang tersaji di hadapannya. Tampak kemaluan Aya dengan bulu-bulunya yang tebal mengintip malu-malu dari celah paha mulusnya.

“Duh, Ai… montok banget sih tubuhmu, bikin aku jadi nggak tahan aja!” kata bang Jack sambil mendekap erat tubuh istri Azzam itu dari belakang. Bibirnya mulai mencium pipi Aya, lalu lidahnya menjulut untuk menjilati leher dan telinganya, menikmati betapa licin dan mulusnya wajah gadis muda itu. Sementara kedua tangannya juga tidak tinggal diam, terus berpindah-pindah mengelusi paha dan payudara Aya.

”Shhhh…” Tubuh Aya bergetar ketika jemari bang Jack mulai menyentuh bibir kemaluannya dan membukanya secara perlahan-lahan. Erangan tertahan terdengar dari mulutnya yang sedang menghisap penis ustad Ferry.

Puas mengerjai bagian bawah, bang Jack segera membuka kaos dan celana gombrong yang dipakainya hingga dia bugil. Menggenggam penis tuanya yang masih tampak perkasa, dengan bangga ia memamerkannya pada Aya. “Ini, Ai. Jilat juga dong!” pintanya sambil menaruh tangan Aya pada benda itu, meminta untuk dikocok dan dibelai.

“Gede banget, Bang. Keras lagi. Nggak nyangka punya abang seperti ini.” jawab Aya yang tangannya sudah mulai mengocoknya pelan maju-mundur.

Tersenyum bangga, bang Jack membungkuk dan kembali meremas-remas payudara gadis itu.

Sambil mengocok penisnya sendiri, ustad Ferry berkata. ”Untung bang Jack datang disaat yang tepat. Kalau telat sedikit saja, abang nggak bakalan dapat nikmat seperti ini.” dia lalu tertawa, diikuti oleh bang Jack.

”Hehe… Iya, pak Ustad. Beruntung sekali saya hari ini.” sambil berkata, merbot gendut itu menyodorkan penisnya ke mulut Aya.

Aya tanpa ragu segera melahap dan menghisapnya. Ia melakukannya bergantian dengan kontol ustad Ferry, dengan sabar ia gilir dua kontol yang sama-sama haus akan kenikmatan itu. Sampai akhirnya, ustad Ferry yang sudah tidak tahan, menarik badannya berdiri dan merebahkannya di atas meja makan. Tak berkedip dipandanginya memek Aya yang terbuka indah di depannya sebelum perlahan ia menurunkan kepala dan mulai menjilatinya.

”Ehm… merah banget memekmu, Ai. Segar, aku suka!” kata ustad Ferry dengan lidah terjulur dan bergerak liar kemana-mana, menusuk dan membelah daging sempit itu hingga ke lorongnya yang terdalam yang bisa ia capai. “Bang, nggak mau lihat nih? Bagus banget loh!” kata ustad Ferry pada bang Jack yang masih asyik berdiri dengan penis berada di dalam mulut Aya.

“Hmm… nggak ah, pak Ustad. Saya nggak mau mengganggu pak Ustad. Biar saya netek aja, ini juga dah enak kok!” kata bang Jack sambil membungkukkan badan dan mulai menjilati payudara Aya, mulai dari pangkal hingga ke putingnya. Dia jilat puting mungil kemerahan itu lalu dihisapnya kuat-kuat, sementara tangannya memilin-milin putingnya yang lain.

“Hhhnngghh… Bang, oohh!” jerit Aya dengan menggigit bibir sambil memeluk erat kepala ustad Ferry yang menyusup makin dalam ke belahan vaginanya. Dia makin menggelinjang saat lidah ustad Ferry membelit klitorisnya dan menghisapnya kuat-kuat. “Aaaahh…!” desahnya panjang, tubuhnya menggelinjang hebat, sementara kedua pahanya mengapit kepala sang Ustad.

Tanpa ampun, ustad Ferry terus menyapu lorong vagina Aya. Lidahnya makin menyeruak masuk, menjilati segenap dindingnya yang basah dan lengket, sampai akhirnya dia berhenti dan menyiapkan penisnya. Dia sudah siap untuk menyetubuhi adik iparnya itu.

Aya masih mendesah hebat saat pelan-pelan ustad Ferry mulai memasukkan penisnya. Tubuhnya menekuk ke atas saat batang coklat panjang itu menembus belahan memeknya secara perlahan. “Aaakkhh…!” istri Azzam itu menjerit keras saat penis ustad Ferry mulai menerobos, dan terus masuk, hingga mentok ke dasar vaginanya.

”Hmm, nikmat sekali, Ai.” bisik ustad Ferry sambil mulai menggoyangkan pinggulnya secara perlahan, untuk kemudian makin lama semakin cepat.

“Ahh… ahh.. uhh… hmph!” desah Aya sebelum terdiam karena kontol besar bang Jack kembali memenuhi mulutnya. Dia terpaksa menghisap kembali penis itu sementara di bagian bawah, ustad Ferry terus menghajar memeknya.

“Enak ya, Ai?” tanya bang Jack di dekat telinganya. Laki-laki itu kembali asyik meremas dan menciumi payudara Aya. Selama ustad Ferry menggenjot tubuhnya, bang Jack menunggu giliran dengan menghujani kedua payudara Aya ciuman dan jilatan. Membuat puting Aya yang sudah sangat keras menjadi lebih kaku lagi. Benda itu berdiri tegak, seperti Monas mini saja layaknya, tapi yang ini kembar.

Aya membalas dengan menggenggam penis bang Jack dan mengocoknya begitu cepat karena saking hornynya. Dia juga terus menjilati penis itu hingga membuatnya jadi semakin licin dan mengkilat. Di bawah, kedua kakinya melingkar di pinggang ustad Ferry, seolah minta disodok lebih dalam lagi.

Tapi ustad Ferry tidak bisa melakukannya karena bang Jack terus menarik-narik tubuh Aya ke atas. Saat dia protes, bang Jack cuma tertawa. ”Pak ustad enak sudah dapat memek. Lha saya, cuma dapat mulut. Ngalah dikit napa, pak Ustad?!” sindirnya.

Ustad Ferry terdiam. Daripada meladeni bang Jack, lebih baik dia berkonsetrasi memuaskan nafsunya pada tubuh Aya yang sangat molek ini. Sambil menggoyang, dia berniat-niat untuk meremas-remas payudara Aya yang tersaji indah di depannya. Tapi lagi-lagi bang Jack mengganggunya. ”Ini punya saya, pak Ustad. Pak Ustad di bawah saja. Masak nggak kasian sama saya?” kata bang Jack sambil melindungi kedua payudara dengan telapak tangannya.

Aya yang melihat tingkah kedua laki-laki itu, cuma tertawa saja diantara desahannya. Ia tidak bisa bersuara karena bang Jack sekarang mencium bibirnya, mengajaknya saling mencucup dan menghisap lidah, sementara kedua buah dadanya kembali diremas-remas gemas. Di bawah, ustad Ferry juga menusuk dan mengocok penis besarnya semakin cepat. Tubuh Aya sampai terlonjak-lonjak dibuatnya.

Bang Jack kembali berdiri dan memberikan penisnya, meminta Aya untuk mengulum dan menghisapnya. Sesudah Aya menelan benda itu, bang Jack segera menggerakkannya maju-mundur dengan brutal. “Emhh… ehmm… Bang, aku… mmm!” Aya berusaha protes tapi suaranya tersendat-sendat karena mulutnya penuh dijejali oleh penis laki-laki tua itu.

“Mmm… enak, Ai. Sudah lama Abang nggak merasakan yang seperti ini, uuhh!” rintih bang Jack keenakan. Ia melenguh dan merem-melek menikmati kuluman bibir Aya.

Lain bang Jack, lain pula ustad Ferry. Sementara bang Jack merintih-rintih penuh kepuasan, laki-laki itu malah tidak bisa menikmati tubuh Aya secara total. Adik iparnya itu lebih berkonsentrasi mengoral kontol bang Jack daripada melayaninya. Akibatnya, ustad Ferry jadi tidak merasa nikmat seperti tadi. Goyangannya menjadi kaku dan putus-putus, tidak lancar seperti pada awal-awal permainan. Ia jadi frustasi dan uring-uringan. Dan puncaknya, saat bang Jack menggeram keenakan sambil menusukkan penisnya dalam-dalam ke mulut Aya, sang Ustad malah mencabut penisnya dan berlalu dari tempat itu.

Aya mengira kalau ustad Ferry sudah mencapai klimaksnya. Tapi kenapa dia tidak merasakan semprotan pejuh hangat seperti biasanya? Begitu melihat penis sang kakak ipar yang masih kaku dan menegang, tahulah dia kalau ustad Ferry masih belum apa-apa. Lalu, kenapa dia sudah keburu berhenti? Tidak nikmatkah tubuhku? Aya sudah akan bertanya saat dengan tiba-tiba bang Jack sudah membungkam mulutnya sambil menusukkan penisnya kuat-kuat.

JLEEBBB!!!

”Auw!” Aya spontan menjerit, dan begitu bang Jack mulai menggenjot tubuhnya, ia pun sepenuhnya lupa pada ustad Ferry yang sekarang berjalan pelan menuju ruang tengah.

***

Dengan hati dongkol, ustad Ferry membangunkan Haifa yang sedang tidur lelap berpelukan dengan Azzam. Ditepuknya bahu wanita cantik itu.

”Hmm… apa, Pah?” tanya Haifa sambil sedikit menggeliatkan tubuh sintalnya.

Ustad Ferry menunjukkan penisnya yang masih menegang pada sang istri. ”Bantuin dong, Mah. Masih pengen nih.” pintanya.

Haifa tersenyum, ”Lho, tumben Aya nggak bisa bikin papa moncrot. Biasanya dia selalu berhasil.” tangannya meraih penis itu dan mulai mengocoknya pelan. Azzam yang mengetahui hal itu, sedikit berguling ke samping, memberi kesempatan pada kakak iparnya untuk menikmati tubuh molek sang istri.

”Gara-gara bang Jack tuh. Sukanya ganggu melulu.” ustad Ferry membuka paha Haifa, memperhatikan memek istrinya yang masih nampak basah oleh lendir pejuh Azzam.

”Ya sudah, sini sama mamah aja. Tapi mama cuma berbaring aja ya, mama capek.” kata Haifa sambil tangannya membimbing penis sang suami agar segera memasuki liang vaginanya. ”Ehm… ughh!” rintihnya pelan saat ustad Ferry sudah menusuk dan mulai menyetubuhinya. Laki-laki itu dengan giat menggenjot pinggulnya, sementara Haifa cuma terbaring pasrah sambil sesekali merintih dan menjerit, dia terlalu lelah untuk membalas. Haifa masih membutuhkan waktu untuk memulihkan tenaganya kembali.

Tepat saat itulah, pintu depan tiba-tiba terbuka. Masuklah Kalila dengan keceriannya seperti biasa. ”Hai, semua! Aku bawa…” sama seperti bang Jack, ucapannya juga langsung berhenti begitu melihat apa yang terjadi. Tersaji vulgar di depan matanya, tampak ustad Ferry yang menindih tubuh bugil sang istri, mereka bercinta dengan segenap nafsu dan gairah. Di sebelahnya, Azzam tertidur pulas, seperti tidak terganggu oleh teriakan dan rintihan Haifa yang bersahut-sahutan dengan jeritan Aya dari dapur. Bang Jack yang sedang menggenjot tubuh bugil Aya di atas meja makan, menoleh dan tersenyum kepadanya.

”Ayo, Kalila. Gabung disini.” kata laki-laki tua itu.

”Ihh, amit-amit, Bang. Lebih baik aku pulang aja daripada main sama abang.” Kalila mengidikkan bahunya. Hari ini dia memakai baju putih lengan panjang yang menunjukkan keindahan payudaranya, dengan rok panjang dari bahan sejenis.

”Kalau main sama aku, mau nggak?” tanya ustad Ferry sambil menghentikannya goyangannya.

”Iya, Kalila. Tolong sebentar ya? Aku masih capek habis main dua ronde sama Azzam.” pinta Haifa ikut mendukung sang suami.

Sebenarnya Kalila lebih suka main dengan Azzam. Selain karena Azzam masih muda, juga karena Kalila mencintainya. Bukankah lebih nikmat melakukannya dengan orang yang kita cintai? Tapi melihat kondisi Azzam yang masih teler tak bertenaga, Kalila jadi ilfil juga. Apalagi dilihatnya penis Azzam juga mengkerut menyedihkan, hanya sebesar jempol tangannya. Di lain pihak, begitu ustad Ferry mencabut penisnya, dilihatnya kontol laki-laki itu begitu panjang dan perkasa, tampak begitu kaku dan keras, membuat Kalila dengan mudah tergoda dan tak mampu untuk menolaknya. Jadi, saat tangan ustad Ferry membimbingnya menuju sofa, iapun tidak melawan. Kalila pasrah pada laki-laki itu.

”Kalila, hmph…” ustad Ferry mendekap dan menciumi bibir Kalila habis-habisan sampai membuat nafas gadis itu memburu. “Ayo, Kalila!” dia dorong tubuh Kalila hingga telentang di sofa.

”Auw!” Kalila menjerit kecil tapi tidak menolak. Matanya tak berkedip menatap kontol ustad Ferry yang masih mengacung tegak di depannya, siap untuk pertempuran selanjutnya.

Sebelum Kalila sempat berkata, ustad Ferry sudah menerkam dan meremas-remas payudaranya yang masih terbungkus pakaian. “Wow, gede juga tetekmu, Kalila. Nggak kalah sama punya Aya.” komentarnya. Dia kemudian menyingkap rok Kalila hingga terlihatlah celana dalam Kalila yang berwarna hitam, sangat kontras dengan paha dan bokongnya yang putih mulus. Dengan tak sabar, ustad Ferry mengelus dan meremas-remasnya. Tangannya terus naik hingga ke pangkal paha gadis itu. Disana, jari-jarinya menyelinap lewat tepi celana dalam Kalila dan mulai menggerayangi kemaluannya.

Dengan tangannya yang lain, ustad Ferry meraih tangan Kalila dan menggenggamkannya pada batang penisnya. “Kocok, Kalila. Kocok yang cepat!” pintanya.

“Pak Ustad… mhpmhh…!” desah Kalila di tengah cecaran bibir ustad Ferry yang terus melumat bibirnya dengan rakus. Dia sudah hanyut menikmati gairahnya, sepenuhnya tenggelam dalam hasrat seksualnya.

“Lepas ya, Kalila? Aku pengen ngeliat tubuh kamu!” kata ustad Ferry sambil mulai melucuti baju Kalila satu per satu. Kalila tidak bisa menolak, pakaiannya dengan cepat berjatuhan di lantai hingga akhirnya tak satupun tersisa di tubuhnya yang indah. Ustad Ferry memandangi tubuh telanjang Kalila tanpa berkedip. “Mulus banget kulitmu, Kalila. Montok lagi! Aku jadi nggak tahan!” gumamnya sambil langsung melahap salah satu payudara Kalila. Dia remas dan jilati putingnya dengan penuh nafsu.

”Ughh…” Kalila merintih dan menggelinjang. Dia pegangi kepala ustad Ferry dan diarahkannya ke payudaranya yang lain. “Yang ini juga, pak Ustad.” pintanya genit.

Dengan senang hati ustad Ferry melakukannya. Ia jilati payudara Kalila bergantian, kiri dan kanan, sambil tak lupa terus memegangi dan meremas-remas bulatannya. Setelah puas, baru ia turun ke bawah dan membuka lebar kedua belah paha gadis itu. Tak berkedip ia memandangi daerah kemaluan Kalila yang berbulu lebat dengan belahan tengahnya yang memerah.

”Ehmmm… ughhhh!!” rintih Kalila dengan tubuh menggelinjang hebat merasakan lidah ustad Ferry yang mulai menggelitik lubang vaginanya. Sambil menjilat, tangan laki-laki itu terus memilin-milin putingnya, sesekali juga menelusuri punggung dan pantatnya, membuat Kalila hanya bisa menggeliat-geliat hebat dirangsang seperti itu.

Setelah beberapa saat, ustad Ferry merasa cukup dengan foreplay-nya. Dipegangnya pundak Kalilah dan diputarnya tubuh gadis itu membelakanginya, ”Membungkuk sedikit, Kal. Pegangan di sofa! Kakimu renggangkan sedikit.” pinta ustad Ferry yang dituruti Kalila dengan sedikit bingung.

Berdiri di belakang bokong bulat Kalila yang tersaji indah di depannya, ustad Ferry meraba vagina Kalila dan membelahnya perlahan, merasakan kalau benda itu sudah begitu hangat dan basah, membuat Kalila menjerit kecil, kaget tapi suka. Menoleh ke belakang, dilihatnya sang Ustad sudah bersiap untuk memasukinya. ”Pelan-pelan, pak Ustad… sshhhh!” rintih Kalilah masih dengan posisi setengah membungkuk.

JLEEBBB! Penis itu menerobos masuk dan, plok-plok-plok! bunyi yang timbul saat ustad Ferry mulai memompa pinggulnya maju mundur begitu cepat. Gesekan alat kelamin mereka membuat suasana menjadi semakin panas. Dengan semakin banyaknya lendir kenikmatan Kalila yang meleleh keluar membuat ustad Ferry tidak kesulitan untuk melakukannya.

Kalilah mengerang, tapi tidak begitu terdengar, kalah oleh rintihan dan jeritan Aya yang disetubuhi oleh bang Jack di dapur. Aya memang suka berisik kalau lagi main. Tapi itu sudah cukup memacu gairah ustad Ferry untuk menggerakkan penisnya semakin cepat. Kalila yang menerimanya bergoyang nikmat ke kiri dan ke kanan, membuat gerakan memutar seolah meremas kejantanan laki-laki itu. Tak kuasa menahan serangan ustad Ferry yang begitu cepat dan brutal, Kalila pun menjerit tak lama kemudian, ”Pak Ustad, Kalila nyampee! Aaaahhh…” lenguh gadis muda itu dengan cairan cinta menyembur deras.

Ustad Ferry buru-buru mencabut penisnya, dibiarkannya lendir Kalila berlelehan di lantai. Ia yang juga merasa sudah hampir klimaks, mengajak Kalila untuk berganti posisi. Dia duduk di sofa, sementara Kalila jongkok di hadapannya. ”Emut, Kal!” ustad Ferry ingin ejakulasi di dalam mulut Kalila.

Tanpa bertanya, Kalila memasukkan kemaluan sang Ustad ke dalam mulutnya. Ia mengulum dan menghisap batang itu penuh nafsu. Bisa dirasakannya batang kemaluan ustad Ferry mulai berkedut-kedut ringan, tanda kalau tak lama lagi akan menyemburkan isinya. Kalila tetap mengulumnya karena tak keberatan ustad Ferry orgasme di dalam mulutnya.

Beberapa detik kemudian, ”Ahh… sshhh… Kaal! Aghhh… aku keluar!!” dengus ustad Ferry mencapai puncak. Sembari memegang kepala Kalila yang masih berbalut jilbab, ia tembakkan seluruh spermanya hingga tetes yang terakhir.

Kalila langsung menelan semuanya. Tanpa rasa jijik dan tanpa sisa sedikit pun. Wajahnya memang kelihatan lugu, tapi ternyata liar luar biasa saat bermain.

”Enak, Kal?” tanya ustad Ferry di sela nafasnya yang mulai teratur.

”He-eh, asin tapi gurih.” Kalila tersenyum nakal sembari membersihkan sisa sisa lendir di mulutnya dengan lidah.

***

Haifa keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk. Setelah melihat sang suami sibuk dengan Kalila, dia segera pergi ke belakang sekedar untuk membasuh tubuhnya. Di dapur, ia berjumpa dengan bang Jack yang masih asyik menikmati tubuh montok Aya. Laki-laki itu terus merangsek memek sempit Aya sambil bibirnya tak henti menciumi bagian-bagian tubuh Aya yang bisa ia capai. Terutama payudaranya, benda itu sekarang menjadi sangat bengkak dan memerah akibat terlalu sering jadi sasaran lumatan bang Jack. Dan di luar dugaan, laki-laki itu ternyata kuat sekali. Aya sampai kewalahan melayaninya.

”Kak, bisa tolong aku? Aku sudah capek banget nih.” lirih Aya pada Haifa. Nafasnya sudah berat dan putus-putus, setelah dua kali orgasme, tubuhnya jadi sangat lelah dan lemas sekali.

Kasihan melihat kondisi Aya, Haifa terpaksa turun tangan. Dia tidak ingin Aya menjadi sakit hanya karena ulah bang Jack yang tidak bertanggung jawab. Mengangguk pelan, Haifa segera melepas lilitan handuknya dan langsung bugil karena dia memang tidak memakai cd dan bh lagi. Tubuhnya terlihat tidak kalah bagus dibanding Aya, sama-sama putih dan bersih, toketnya juga sama-sama besar. Malah Haifa terlihat lebih unggul karena tubuhnya sudah matang sempurna, bandingkan dengan Aya yang masih dalam tahap pertumbuhan.

Bang Jack terus melanjutkan tusukan penisnya di memek sempit Aya saat Haifa mengajaknya berciuman, saling melumat bibir dan bertarung lidah hingga air liur mereka berleleran dan bercampur satu sama lain. ”Gila!” bang Jack melenguh dalam hati. Dapat satu aja sudah lumayan, ini malah bisa menikmati dua perempuan kakak beradik yang sama-sama cantik dan seksi. Mimpi apa dia semalam?!

Haifa menurunkan ciumannya ke dada bang Jack dan menjilati putingnya. ”Ouhhh…” belum selesai bang Jack melenguh, Haifa makin menurunkan mulutnya hingga tiba di selangkangan laki-laki tua itu. Dipandanginya penis bang Jack yang besar dan panjang, yang masih bergerak cepat mengocok memek sempit Aya. Ditunggunya hingga penis itu selip. Begitu bang Jack terlalu kuat menarik hingga penisnya terlepas, Haifa segera menyambar dan mengulumnya. Setelah puas, baru ia kembalikan agar bang Jack bisa menyetubuhi Aya kembali. Sungguh dua bersaudara yang sangat akrab, bisa dengan nyaman berbagi kontol seperti itu.

Bang Jack yang menerimanya cuma bisa melenguh keenakan menikmatinya. Dipandanginya tubuh montok Haifa yang sekarang berdiri telanjang tepat di depannya. ”Mau apa lagi dia?” batin bang Jack dalam hati.

Jawabannya ia ketahui saat Haifa berkata tak lama kemudian. ”Ini memekku, Bang. Jilat! Habiskan semuanya!” ia berkata sambil mendorong selangkangannya ke mulut bang Jack.

Tidak menolak, bang Jack pun langsung menjulurkan lidahnya dan mulai menjilat. Dia telusuri seluruh lorong cinta Haifa sambil ia terus memompa pinggulnya, menyetubuhi Aya.

”Bang, jangan ditumpahin di dalem ya… saya lagi masa subur,” kata Aya di sela-sela dengusan nikmatnya.

”Tenang saja, Ai. Abang ngerti kok.” sahut bang Jack sambil terus memainkan kontolnya di lorong rahim Aya yang sudah sangat becek.

”Dorong yang keras, Bang. Ughh… enak banget! Saya mau nyampe nih.” pinta Aya.

Bless! Sleep! Sleep! bang Jack pun menusukkan penisnya semakin keras. ia pompa terus alat kelaminnya sampai Aya bergerak tidak teratur karena menahan nikmat. ”Oouh… hhshh… uhfff… terus, Bang! Entot terus memek aku!” jeritnya keenakan.

”Enak kan kontolku, Ai?” tanya bang Jack sambil memainkan jari-jarinya di lubang vagina Haifa. Sementara Haifa sendiri asyik mencucup dan menjilati puting susu Aya sambil tak henti meremas-remas bongkahannya.

”Hmm… enak banget, Bang. Tapi bikin saya jadi capek!” Aya menggeliat. ”Auw! Aku nyampe, Bang! Ughhh… AAHHHHHH!!!” menjerit keras, dia pun melepas orgasmenya.

”Oughhh…” bang Jack ikut melenguh, kontolnya serasa dijepit dan kemudian terasa hangat karena cairan kenikmatan Aya yang mengalir deras. Dia terus memompa pinggulnya hingga menimbulkan suara Clep-clep-clep yang menggetarkan jiwa setiap kali alat kelamin mereka beradu dan saling bergesekan.

”Sudah, bang. Berhenti dulu, aku capek!” Aya meminta.

”Iya, Bang. Sini, sama aku aja.” kata Haifa sambil asyik memainkan klitorisnya sendiri, nampaknya dia sudah sangat konak.

Mengangguk mengerti, bang Jack mencabut penisnya dan duduk di kursi. Diperhatikannya memek sempit Aya yang masih basah memerah, cairan kenikmatan tampak masih merembes keluar dari benda itu, membasahi taplak bermotif bunga yang mereka gunakan sebagai alas.

”Aku capek banget, Bang. Ternyata abang hebat juga muasin wanita,” bisik Aya saat bang Jack melumat bibirnya penuh nafsu. Mereka berciuman sejenak sebelum bang Jack tiba-tiba berseru kaget.

”Ahhh…” ternyata Haifa. Wanita itu sekarang tampak asyik mengulum kontol besar bang Jack. Entah kapan dia turun dari meja. Tahu-tahu sekarang sudah jongkok di depan tubuh bang Jack dan menghisap penisnya.

Tersenyum senang, bang Jack membiarkannya. Dia kembali memandang Aya dan mengajak istri Azzam itu berciuman. ”Bang, kok abang kuat banget sih? Saya sudah tiga kali, tetapi abang belum sama sekali!” tanya Aya penasaran.

Bang Jack hanya tersenyum. Sambil menggerayangi susu bulat Aya, ia minta Haifa agar terus mengulum penisnya. ”Iya, bu Ustad… begitu! Terus! Ughhh… yah, hisapan bu Ustad enak banget!”

Dipuji seperti itu membuat Haifa makin ganas mengulum, hingga membuat bang Jack merintih dan mendesis tak tahan tak lama kemudian. ”Ayo, Bu. Saya entot bu Ustad sekarang. Saya sudah nggak tahan nih. Burung saya sudah gatel pengen ngerasain memek bu ustad.”

Disuruhnya wanita itu menungging, berpegangan pada bibir meja. Dari belakang, bang Jack mendorong pelan-pelan batang penisnya sampai amblas seluruhnya ke dalam memek Haifa.

”Oouh… nikmat banget kontol Abang! Terus goyang, Bang!” pinta Haifa saat bang Jack mulai menggoyang pinggulnya.

”Iya, bu Ustad.” Sambil berpegangan pada payudara Haifa yang menggantung indah, bang Jack pun mempercepat tusukan penisnya.

”Ehm… enak banget, Bang! Sshhhh… uhffhh… entot terus, Bang! Aku suka dientot sama bang Jack.” Haifa mulai meracau tidak karuan, sementara Aya memeluk bang Jack dari belakang dan menggesek-gesekkan tubuhnya ke punggung laki-laki tua itu sambil menciumi lehernya.

“Nanti aku minta lagi ya, Bang! Bang Jack masih sanggup kan?” bisik Aya di telinga bang Jack.

Bang Jack hanya diam karena sedang berkonsentrasi menggenjot memek Haifa. Mereka terus saling bertindihan seperti itu, dengan bang Jack berada di tengah-tengah, sampai akhirnya Haifa menjerit tak lama kemudian. ”Bang, saya mau keluar nih! Terus, Bang! Genjot terus! Oouhh…”

Cret… cret… cret… bang Jack bergidik saat merasa kontolnya disiram oleh cairan cinta oleh Haifa. Tapi dia terus memompa pinggulnya karena merasa hampir sampai juga. Ditariknya rambut panjang Haifa sehingga wajahnya menghadap ke belakang. Mereka berciuman sejenak. ”Enak kan kontolku, bu Ustad?” tanya bang Jack nakal.

“Enak banget, Bang! Entot terus memek aku! Terus! Ughhhh…” Kini Haifa memutar-mutar pinggulnya sehingga membuat kontol bang Jack yang masih bersarang di dalam serasa bagai terpilin-pilin.

”Ehm… terus, bu Ustad. Enak banget! Saya mau keluar nih.” bisik bang Jack. Tangannya kini ganti meremas-remas payudara Aya yang masih menempel erat di punggungnya.

”Iya, Bang. Saya juga mau keluar lagi.” sahut Haifa. Goyangan pinggulnya menjadi kian cepat dan liar.

“Saya keluarin dimana nih, bu Ustad?” tanya bang Jack dengan mata merem melek keenakan.

”Tumpahin di dalam aja, Bang.” kata Haifa pelan.

Bang Jack pun menggenjot dengan cepat memek Haifa, sedang Aya masih asyik mencupangi lehernya. ”Saya keluar, bu Ustad. Oouh… aahhh…!!” Croot! Croot! Croot! Dengan tubuh bergetar, bang Jack menumpahkan seluruh spermanya di dalam memek Haifa sambil terus memompanya pelan-pelan. Saking banyaknya, sebagian sperma itu keluar lewat celah bibir vagina Haifa.

”Enak banget di entot sama bang Jack, uhfff… capek!” lirih Haifa gemetaran, tapi sangat puas dan nikmat.

Bang Jack mencabut kontolnya. Setelah menguras seluruh isinya, benda itu jadi terlihat lemas. Haifa segera berbalik dan menjilati sisa-sisa sperma yang masih menempel disana, sampai bersih. Setelah itu dia pamit, ”Aku udahan dulu ya. Capek banget, soalnya tadi sudah sama Azzam dua ronde. Kalian lanjutin aja berdua, Aya kayanya masih pengen tuh.” berjalan terseok-seok, Haifa masuk kembali ke kamar mandi.

Tinggallah bang Jack berdua bersama Aya. Sambil memeluk tubuh montok Aya, bang Jack berbisik. ”Ai, sebenernya abang sudah lama banget pengen ngentot sama kamu, tapi abang takut ngajak soalnya kamu sudah punya Azzam.”

”Abang tahu nggak, kontol bang Jack itu enak banget lho. Biar sudah tua tapi tahan lama, nggak kalah sama punya Azzam. Mulai sekarang, kapanpun bang Jack pengen, langsung aja kemari. Abang tahu sendiri kan gimana kehidupan seks kita?” Aya menunjuk dirinya, juga Haifa yang berada di kamar mandi, serta Kalila yang masih asyik ditunggangi oleh ustad Ferry di ruang tengah.

Bang Jack tersenyum, dia sangat senang mendengarnya. Tanpa pernah menyangka, di usia tuanya, dia bisa ngentot kapan saja dengan ketiga bidadari cantik yang ada di rumah ini. ”Tinggal minta aja, langsung dikasih.” pikirnya dalam hati. Sungguh sangat beruntung.

”Bang, entot saya lagi dong, masih pengen nih.” pinta Aya tanpa sungkan.

”Bang Jack sih mau aja, Ai. Tapi kontol abang sudah lemes gini nih,” bang Jack menunjuk kemaluannya yang meringkuk memilukan.

”Tapi masih bisa kan dibangunkan lagi?” harap Aya.

Bang Jack mengangguk. ”Bisa, tapi tergantung sama usaha kamu.” ujarnya.

Tersenyum gembira, Aya meraih penis itu dan dengan lahap mulai mengulumnya. Dia memasukkan semua kontol itu ke dalam mulutnya dan menghisapnya dengan begitu rakus. Bang Jack mendesis merasakan lidah Aya yang bermain-main di ujung batang kemaluannya.

“Oohhh… nikmat banget, Ai. Terus, burungku sudah mulai bangun nih.” rintih bang Jack. Terlihat kontolnya memang sudah mulai tegang kembali.

Aya menghisapnya makin cepat seperti sedang menikmati lolypop, sambil lidahnya terus menggelitik ujung kontol itu. Hampir sepuluh menit dia melakukannya sampai akhirnya bang Jack berbisik, ”Masukin sekarang, Ai. Aku udah nggak tahan.” laki-laki itu duduk di kursi, sementara Aya jongkok di atas kontolnya dan mengarahkan daging hitam itu ke belahan vaginanya. Pelan tapi pasti, Aya menurunkun pantatnya. Terlihat rona mukanya jadi memerah saat kontol bang Jack mulai menembus masuk.

”Oouh… kontol abang kok bisa gede gini sih? Kayanya mentok deh sampai ke rahim aku.” sambil berkata, Aya mulai menggoyang pinggulnya.

Berpegangan pada bulatan payudara Aya, bang Jack melenguh keenakan. ”Oouhh… Ai, enak banget, sayang! Terus!” dia merasa kontolnya bagai dipijat dari segala arah oleh memek sempit Aya. Sebagai pelampiasan, dia remas buah dada gadis itu semakin keras untuk menahan rasa nikmatnya.

”Aah… kontol bang Jack juga enak.” sahut Aya dengan tetap menggenjot pinggulnya, bahkan kini menjadi semakin cepat dan kuat.

Bang Jack mengimbangi dengan terus meremas-remas payudara istri Azzam itu dan menggoyangkan pinggulnya memutar.

“Nikmat banget, Bang. Aku mau keluar nih, terus!” Aya meremas tangan bang Jack yang berada di atas gundukan payudaranya, sepertinya dia sedang menahan sesuatu yang sangat nikmat yang sebentar lagi akan datang. Kepalanya menengadah ke atas.

Saat bang Jack menusukkan penisnya dalam-dalam, Aya pun menjerit. ”Ouhhhh… aku keluar, Bang! Ughhh… nikmat banget! Uhffff…” dengan deras, cairan cintanya mengalir keluar membasahi batang kontol bang Jack, juga jembut mereka yang bertaut tak beraturan. Aya menunduk, mencium mesra bibir bang Jack yang tebal, sementara kontol laki-laki gendut itu masih berada di dalam vaginanya.

”Trims ya, Bang, udah muasin aku. Uh, capek banget!” keluh Aya gembira.

Tidak peduli, bang Jack mengangkat tubuh gadis itu dan membaringkannya di meja, lalu memompanya lagi dengan begitu cepat. ”Aku belum, Ai.” bisiknya.

”Ouhhh… iya, Bang. Tapi jangan keras-keras! Sakit! Uffhh…” rintih Aya. Tubuh montoknya tampak terlonjak-lonjak akibat genjotan bang Jack yang semakin liar.

”Memek kamu enak banget, Ai. Aku suka!” laki-laki itu menunduk dan kembali menjilati puncak payudara Aya.

”Ehss… pelan-pelan, Bang!” Aya meminta lagi.

Dan kembali, bang Jack tidak mengabulkannya. Dia terus menggoyang pinggulnya kuat dan brutal. ”Tahan sebentar, Ai. Aku mau keluar nih,” bisiknya parau.

Merasakan kontol bang Jack yang mulai berkedut-kedut ringan, Aya pun segera mendorong tubuh laki-laki tua itu. ”Jangan di dalam, Bang!” pintanya.

Dengan agak kecewa, bang Jack mencabut penisnya, kemudian berdiri di depan Aya dan menyuruh gadis itu untuk mengocoknya. Aya pun jongkok dan melakukannya. “Ayo, Bang, keluarin spermamu. Aku pengen ngerasain spermamu!” Aya terus mengocok dengan penuh semangat sambil menjilati ujung kontol bang Jack.

”Hisap, Ai. Pake mulut kamu. Abang mau keluar nih! Sebentar lagi…” desis bang Jack.

Aya pun langsung memasukkan kontol basah dalam genggamannya itu ke dalam mulut, dan menghisapnya dengan begitu rakus, sementara tangannya bergantian memainkan bijinya yang menggantung indah.

”Ughhhh… Ai!” bang Jack merintih merasakan kehangatan mulut Aya. Rasanya begitu nikmat. Tubuhnya sampai mengejang saat cairan spermanya menyembur keluar. ”Oouhhhh… achhh… Ai!!” diatahannya kepala gadis cantik itu agar Aya menelan semua pejuhnya. Creeet! Creett! Crettt! Cairan lengket berwarna putih itu tumpah semua di mulut Aya.

”Hmm… cleguk! cleguk!” tanpa rasa jijik, Aya langsung menelan semuanya dan menjilati sisa-sisa sperma yang masih tersisa di kontol bang Jack. ”Sperma abang rasanya enak banget. Asin tapi gurih.” gumamnya.

Bang Jack tidak menjawab. Tampak kontolnya langsung lemas karena keluar dua kali dalam waktu yang hampir bersamaan.

***

Azzam terpaku memandangi Kalila yang sedang merangkak mendekati dirinya. Ia melihat betapa gadis itu belum terpuaskan oleh permainan ustad Ferry.

”Gimana, Zam, udah segeran dong habis tidur lama?” tanya Kalila membuka
percakapan. Ia naik ke atas tubuh Azzam dan menggesek-gesekkan bulatan payudaranya ke dada laki-laki itu.

”Masih pengen ya?” kata Azzam sembari menarik tangan Kalila dan ditaruhnya di atas batang penisnya.

”Iya, ustad Ferry cepet banget keluarnya.” sambil tersenyum manis, Kalila menunjuk ustad Ferry yang sekarang terkapar kelelahan di karpet. ”Aku mau sama kamu, Zam. Nih udah bangun.” dia mengenggam batang penis Azzam dan mulai mengocoknya pelan.

”Setiap kali lihat tubuhmu, aku selalu terangsang, Kal.” jawab Azzam.

”Kalau gitu… entot aku, Zam. Punyaku gatel nih liat kontolmu.” Kalila mendesah.

”Gila kamu, Kal. Nggak ada capek-capeknya.” Azzam merengkuh leher gadis itu, kemudian ditempelkannya bibirnya ke bibir tipis Kalilah. Tampak sekali kerinduan Kalila akan cumbuan Azzam, dia membalas rabaan serta ciuman Azzam dengan tidak kalah ganasnya. Mereka melepas rindu dengan saling memagut dan melumat mesra. Azzam menjilati leher jenjang Kalila diiringi desahan nakal Kalila dan rabaan tangan gadis itu di belakang punggungnya. Kemudian Kalila jongkok dan tanpa sungkan lagi meraih penis Azzam untuk dikulum layaknya anak kecil yang rindu akan es krim kegemarannya. Azzam tersenyum melihat tingkah sahabatnya.

Setelah beberapa saat, Kalila berdiri dan kembali mencium bibir Azzam. Bisa dirasakannya tangan Azzam meraba payudaranya yang sebelah kiri, lalu meremas lembut sembari memainkan putingnya. ”Ughhh…” Kalila mendesah keenakan. Dia membalas dengan menggesek-gesekkan kemaluannya pada batang penis Azzam.

”Kal,” berbisik memanggil, Azzam mengangkat kedua paha Kalila. Seolah menggendong anak kecil, ia putar tubuh Kalila untuk kemudian ditidurkannya di atas sofa. Dengan rakus dijilatinya kedua payudara Kalila, kiri dan kanan, bergantian. Kalila menggelinjang keenakan. Diraihnya kepala Azzam dan diacak-acaknya rambut laki-laki itu.

”Auw! Zam…” Kalilah memekik saat lidah Azzam sampai pada lubang kemaluannya. ”Ughhh… ya, jilat yang dalam, Zam! Sshhh…” racaunya tanpa peduli keadaan sekitar.

Azzam terus memainkan lidahnya pada klitoris Kalila. Dengan diiringi decakan lidah, ia adu mulutnya dengan vagina Kalila yang telah basah membanjir.

”Ahhh… ahhh… mmhhh… sshhh… aahhh… Zaammm!!!” Kalila menjerit histeris. Di dapur, dua pasang telinga mendengar desahan itu dan tersenyum.

”Kalila kayaknya lagi enak banget tuh.” kata bang Jack.

”Biasa ah, Kalila memang suka teriak-teriak gitu.” sahut Aya.

Mereka sedang perpelukan duduk di meja dapur. Dengan nakal bang Jack meraba-raba selangkangan Aya, digosok-gosoknya lembut, terasa benda itu begitu hangat dan lembab. Sementara tangan yang sebelah lagi meremas pelan payudara Aya yang membusung indah, yang diakhiri dengan pijitan keras di putingnya. Aya yang diperlakukan seperti itu jadi resah kembali. Sekuat tenaga, berusaha ia atur nafasnya yang mulai memburu agar tidak terdengar oleh bang Jack. Kalau sampai laki-laki itu tahu, bisa-bisa ia minta lagi. Padahal Aya masih sangat lelah saat ini.

Tiba-tiba terdengar jeritan Kalila dari ruang tengah. Rupanya gadis itu sudah mencapai klimaksnya, ”Zaamm! Aahhh… hheggghhh… ssshhh… aaahhh…” didekapnya kepala Azzam yang masih berada di depan selangkangannya, dijepitnya dengan dua paha erat-erat. Azzam jadi tidak bisa menghindar saat memek Kalila berkedut-kedut kencang dan menyemburkan cairan cintanya. Dengan terpaksa Azzam menerima dan menelan semuanya.

Setelah tubuh Kalila melemas dan terkapar dalam kepuasan yang tiada terkira, Azzam bangkit dan merengkuhnya. Diciumnya kening gadis itu dan diusapnya rambut Kalila yang panjang penuh rasa sayang.

”Zam, oughh… enak banget!” ujar Kalila di sela-sela nafasnya yang masih tersengal.

”Aku juga pengen enak, Kal. Sekarang aku yang tiduran ya, kamu yang berada di atas.” pinta Azzam kepada Kalila.

”Ahh, terserah kamu, Zam!” kata Kalila pasrah.

Azzam segera merebahkan tubuhnya di sofa, perlahan ia bimbing Kalila untuk jongkok di atas perutnya. Kalila yang paham, sembari tersenyum, meraih penis Azzam dan perlahan dimasukkannya ke dalam belahan kemaluannya. Ia menurunkan pinggulnya hingga perlahan batang penis Azzam menusuk masuk ke dalam liang vaginanya. Setelah mentok, Kalila menarik dan menurunkan pinggulnya lagi. Begitu terus hingga lama kelamaan gerakan itu menjadi lancar dan cepat.

Menikmati goyangan gadis itu, Azzam memegangi payudara Kalila yang jatuh menggelantung indah. Diremas-remasnya pelan sambil sesekali meraih bokong besar Kalila di bawah sana dan mengusap-usapnya mesra.

Kalila yang merasakan sensasi baru dalam bersetubuh, merintih suka. ”Ahhh… Zam, enak banget! Ughhh… terus setubuhi aku, Zam!” ia merasakan gesekan klitorisnya pada batang penis Azzam begitu nikmat dan menggelikan. Tak butuh waktu lama baginya untuk mencapai orgasmenya kembali.

”Ouhhh… aku keluar, Zam! Kontolmu enak sekali!” racau Kalila dengan tubuh mengejang dan cairan cinta menyembur deras.

Azzam segera mencabut penisnya. Diberikannya benda yang masih menegang dahsyat itu pada Kalila. ”Hisap sampai keluar, Kal!” perintahnya.

Tapi Kalila menolak. ”Nggak ah. Keluarin aja di memek Kalila. Entot aku lagi, Zam!” sehabis berkata begitu, ia membaringkan tubuh mulusnya di sofa dan membuka kedua pahanya lebar-lebar sehingga terlihat jelas bentuk vaginanya yang sudah merah merekah.

Azzam segera menancapkan lagi kontolnya ke lubang sempit itu. Lalu perlahan-lahan mulai ia goyang maju mundur hingga alat kelamin mereka kembali bergesekan.

”Oouchh… nikmat banget, Zaam! Setubuhi aku sampai kamu keluar. Siram rahimku dengan sperma, Zam.” birahi Kalila yang kembali memuncak membuat gadis itu meracau tidak karuan, kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan di sofa yang sempit itu sehinga terlihat sangat seksi. Azzam pun memompa tubuhnya semakin cepat.

”Goyang terus, Zam. Tusuk memekku dengan kontolmu. Aku mau keluar lagi, Sayang! Ouchhh… ahh!” Kalila kelojotan saat cairan cinta kembali menyembur dari liang vaginanya. Sementara Azzam yang juga sudah tidak tahan lagi, mencabut penisnya dan mengarahkannya ke wajah imut Kalila.

Croot! Croot! Croot! Spermanya keluar membasahi wajah gadis itu. Azzam lalu mendorong kontolnya masuk ke dalam mulut Kalila untuk menyuruh gadis itu agar membersihkan sisanya. Kalila langsung menjilatnya dengan lahap. Azzam mengusap sperma yang berlelehan di wajah Kalila dengan menggunakan jari-jarinya, kemudian ia berikan jari itu pada kalila. Tanpa membantah, Kalila langsung menjilatinya. Ia bersihkan jari-jari Azzam yang penuh dengan sperma itu hingga bersih, dan menelan semuanya tanpa sungkan.

Mereka berciuman sejenak sebelum akhirnya berpelukan tertidur berdua di sofa. Haifa yang selesai mandi membangunkan ustad Ferry dan mengajaknya pindah ke dalam kamar. Sementara Aya dan bang Jack, mandi bareng berdua dan memulai babak baru permainan mereka.

UKHTI OKI

Sore itu aku jalan-jalan di sekitar TK Al Munawarah, tampak anak kecil sedang belajar huruf hijaiyah. mereka tampak rapi melafadzkan huruf – huruf tersebut, memang kekuatan huruf hijaiyah itulah yang membuat Al Qur’an tetap otentik sampai sekarang.

Di balik kerumunan itu terlihat ukhti Oki sedang menulis di papan, ukhti tampak anggun dan ayu suaranya terdengar merdu. aku sering bengong menikmati kecantikan wajah ukhti OKi.

jilbab cantik (1)

Beberapa hari terakhir tiap sore aku mampir ke TK tersebut untuk menikmati kesejukan Ukhti Oki. Jilbab lebarnya tidak bisa menutupi kemolekan tubuh nya, rok panjangnya menutup sampai kaki.

Akhirnya aku cari akal bagaimana mendekatinya, kalau para akhwat kan tidak boleh berdekatan dengan lelaki atau pacaran apa lagi yang lain.

Aku pun menemui Mba Oki dan mengutarakan isi hati untuk ta’aruf (perkenalan), walaupun pada awalnya ditolak akhirnya ybs mau diajak jalan.

Pada pertemuan awal hanya makan siang dan jalan-jalan ke toko buku. Di pertemuan ke tiga aku ajak ybs ke Ancol.

Perjalanan ke Ancol menggunakan motor supra fit ku yang sederhana. perjalanan sangat menyenangkan kita sering bicara hal hal yang tidak jelas, diselingi tawa renyah dan canda-an kecil. Dalam hati aku berpikir akan benar-benar jatuh cinta pada mba Oki.

Tanpa disadari tubuh kami merapat, karena mbak Oki bonceng gaya laki-laki dan aku suka mengerem mendadak saat ada lobang di jalan dapat kurasakan tonjolan hangat bukit kembar mbak Oki, hembusan nafas mbak Oki sering menerpa tengkuk belakangku, aku pun menjadi horny dan makin pelan dalam berkendara.

jilbab cantik (2)

Sesampainya di Ancol aku memilih pergi ke Dufan terlebih dahulu, pada saat mengantri ticket aku beranikan untuk memeluk tubuh sintal Mbak Oki dari belakang, penisku langsung mencium lembut pantat mbak Oki, agaknya mbak Oki sudah tidak mengindahkan norma-norma ke akhwatannya. Aku pun memanfaatkan hal itu untuk memeluk erat tubuhnya, penisku makin menegang dan membesar. Oki hanya diam dan malah menggerak- gerakan pantatnya, yang makin membuat aku keenakan.

Kami bermain di Dufan sampai sore, kemudian meluncur ke pantai Ancol, suasana pantai sangat sepi hanya tampak beberapa pasangan di kejauhan.

Kami berpelukan memandang debur ombak dan matahari yang mulai menyurut, suasana sangat romantis ,kedua tangan mba Oki menumpu pada batas pantai, meskipun memakai jilbab lebar dan rok panjang , pantatnya sungguh terlihat indah,wajah ayunya diterpa sinar matahari sore yang redup. Aku memanfaatkan kesempatan untuk memeluk tuuhnya dari belakang , dan si penis yang sudah sedari tadi tegang, langsung menyusur belahan pantatnya, mba Oki malah tampak menikmati tonjolan di pantatnya . Aku beranikan tanganku untuk menyusup ke jilbab lebarnya dan meremas payudara montok nya, mba Oki tampak terkejut tapi setelah ku bujuk akhirnya Oki hanya diam, dan lama kelamanan mulai menikmati. akupun makin intents mengosok belahan pantat oki dengan penisku. Suasana makin gelap aku beranikan untuk menyingkap roknya, tangan mbak Oki berusaha menolak, tapi karena kalah tenaga dia akhirnya diam saja, aku megelus pantat bahenolnya dan menyusuri selangkangan dan paha mulusnya. Mbak Oki tampak mulai terangsang. Tangan ku mulai mengaduk-aduk vagina mbak Oki yang makin membuat mba Oki kelojotan. Diam-diam aku mengeluarkan penisku dan aku selipkan di selangkangan mba Okidan, akhirnya langsung menembus vagina mba Oki dengan pelan.

jilbab cantik (3)

Mba oki ingin berteriak, tapi ku bungkam mulutnya dan aku terus menyodok pelan, tetesan air mata mba oki mengalir di tanganku, lama-kelamaan dia tampak pasrah. Dan aku terus memacu penisku, sungguh jepitan vagina mbak Oki sangat nikmat, setelah beberapa lama, aku membalikkan tubuh mbak Oki dan memaksanya berjongkok sehingga penisku mengacung tepat di wajahnya, aku memaksa mbak Oki mengulum penisku dan muncratlah air maniku di mulutnya, mbak oki tampak sedih karena keperawanannya telah hilang, tapi aku hibur dengan berjanji untuk menikahinya. Kami pun pulang agak larut.

Mulai hari itu, aku sering berkunjung ke TK tersebut dan di waktu senggang mbak oki sering bercumbu dengan ku, bahkan sering aku memaksanya untuk memuaskan syahwatku ketika murid-murid telah pergi. Mbak Oki sering menangis dan menagih kapan aku menikahinya. Aku hanya menjanjikan secepatnya makin hari aku makin sering bermain ke tk tersebut, ketika aku melihat mbak Oki mengajar nafsuku terasa menggelegak, keanggunan wajahnya dan indah tubuhnya tidak bisa di tutupi oleh jilbab lebar yang di kenakan, senyum dan candanya ketika mengajar makin menggairahkan tapi senyum itu kadang berubah menjadi tangis ketika penisku menusuk mulut dan vaginanya, aku kadang-kadang sudah tidak menhiraukan lagi ke akhwatannya setiap ada kesempatan, penisku menghujam ke belahan vagina yang sempit kepunyaannya, kadang kami ke mall atau ke bioskop dan pada akhirnya aku memaksanya untuk mengocok penisku, kadanga di bus kota aku senantiasa menggesek penis ku ke belahan pantatnya dan di akhiri semburan air maniku di tempat-tempat sepi.

jilbab cantik (4)

Setelah tiga bulan semua per zinahan ini berlangsung aku memutuskan, untuk menghilang dan meninggalkan kekasihku mbak Oki yang anggun dan ayu itu, mungkin mbak Oki sekarang sudah hamil dan menikah, dan mungkin telah melahirkan anakku.

Semoga kisah ini tidak terulang pada para akhwat.

ANI

Namaku Sony dan aku adalah seorang mahasiswa semester 5 jurusan Fisika di suatu Perguruan Tinggi yang cukup terkenal di kota Bandung, Aku mempunyai sahabat yang sangat akrab bernama Aceng. Sebagai dua orang sahabat karib, kami kemana-mana selalu berdua. Bahkan saking akrabnya secara bercanda teman-temanku yang lain di kampus selalu mengatakan kami adalah sepasang suami istri. Padahal kami adalah dua orang pemuda yang normal, yang masing-masing telah punya pacar.

jilbab semok (1)
Kami selalu belajar bersama bahkan sampai menginap, kalau tidak di rumahku maka pastilah di rumah Aceng sehingga keesokan harinya kami ke kampus bersama-sama. Bahkan lebih sering aku yang menginap di rumah Aceng. Sedangkan Aceng tinggal bersama dengan kakak perempuannya yang sudah bersuami dan mempunyai dua orang anak, yang pertama adalah perempuan berusia kurang lebih 14 tahun dan duduk di kelas 2 MTs bernama Ani dan sedangkan yang kedua laki-laki bernama Danu dan masih duduk di kelas 2 SD.
Ani adalah seorang gadis remaja yang cantik, manis dan lugu. Dia selalu mengenakan jilbab baik pada saat pergi ke sekolah maupun di rumah. Nampaknya sebagai gadis remaja, Ani sedang memasuki masa puber sehingga dia mulai menyenangi lawan jenis. Sering aku lihat Ani mencuri-curi pandang padaku pada saat aku sedang belajar di rumahnya bersama Aceng, namun tak terlalu kupedulikan dan aku memang tak berniat untuk menggodanya karena aku sangat menghargai persahabatanku dengan Aceng.
Pada suatu hari Aceng meminta padaku untuk mengajari Ani pelajaran matematika, karena dia merasa kesulitan dalam pelajaran tersebut, sedangkan Aceng merasa tidak mampu untuk memberikan penjelasan tentang pelajaran tersebut. Aku menyanggupinya sehingga sejak saat itu secara rutin seminggu dua kali aku memberi pelajaran tambahan matematika ke Ani sampai jam 9 malam, sebelum aku belajar bersama dengan Aceng hingga larut malam.
Selama belajar denganku, kurasakan bahwa Ani semakin memperhatikan diriku, dia begitu manja dan selalu meminta perhatian dariku. Ada saja yang dia tanyakan agar dia bisa berdekatan dan ngobrol denganku, bahkan sering kali dia menggodaku dan mengajak bercanda. Namun sampai saat itu aku masih bisa mengendalikan diri dan perasaan untuk tidak tergoda memacari keponakan sahabatku ini.
Hubunganku dengan keluarga Aceng, sudah sangat akrab seperti keluarga sendiri. Aku sudah tidak sungkan-sungkan lagi di rumah itu, bahkan walaupun Aceng tidak ada di rumahpun, aku sudah terbiasa keluar masuk rumah itu dan tidur di kamar Aceng. Namun ada sesuatu yang kurang nyaman, jika aku belajar hingga larut malam di rumah Aceng ini, yaitu jika pada malam-malam tertentu kakaknya Aceng melakukan hubungan suami istri dengan suaminya, aku merasa sedikit terganggu karena kakaknya Aceng selalu mengeluarkan erangan-erangan nikmat yang cukup keras, hingga kadang-kadang terdengar sampai ke kamar Aceng dimana aku atau kami sedang belajar. Tentu saja hal itu membuat diriku terangsang dan hilang konsentrasi belajarku.

jilbab semok (2)
Suatu hari, setelah aku mengajari Ani, Aku melanjutkan dengan belajar sendirian, karena Aceng sedang pergi ke Banten menemui kakaknya yang paling besar untuk keperluan tertentu. Sekitar jam 11 malam aku ke WC untuk kencing. Dan untuk ke WC aku harus melewati kamar kakaknya Aceng yang bersebelahan dengan kamar Ani. Ketika aku tepat berada di depan pintu kamar kakaknya Aceng, kudengar suara desahan dan erangan nikmat dari mulut kakaknya Aceng dan suaminya. Nampaknya mereka sedang melakukan hubungan suami istri. Tanpa aku sadari, aku terdiam dan mendengarkan desahan dan erangan yang cukup merangsang diriku. Namun beberapa saat kemudian aku melanjutkan langkah kakiku menuju WC dan selintas kulihat pintu kamar Ani agak terbuka sedikit, rupanya lupa dia tutup rapat.
Setelah aku dari WC, kulihat pintu kamar Ani masih agak terbuka dan lampu kamar dimatikan. Iseng-iseng aku lebih memperhatikan isi kamar yang gelap itu. Aku tersentak heran karena melihat Ani sedang mengintip kamar orangtuanya dari jendela kaca yang terpasang diantara kamar Ani dan kamar orang tuanya dan dihalangi gordyn dari kamar orang tuanya, namun menyisakan celah yang bisa digunakan untuk mengintip apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Nampaknya dia begitu terhanyut dengan apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Ani tidak menyadari, ketika pintu kamar aku buka perlahan-lahan dan secara perlahan-lahan pula kuhampiri dirinya.
Di belakang Ani, aku melihat ibunya Ani sedang merem-melek sambil mengerang nikmat ketika ayahnya dengan sangat bergairah memompa penisnya ke dalam vagina ibunya sambil mulutnya memilin-milin putting susu ibunya dan tangannya meremas-remas buah dada ibunya yang satu lagi. Terlihat Ani sangat terangsang dengan apa yang dilihatnya, napasnya memburu, tangan kanannya meremas-remas buahdadanya sedangkan tangan kirinya menggosok-gosok vagina dengan penuh kenikmatan. Akupun sangat terangsang melihat adegan live show itu, penisku langsung mengeras dan napaskupun tanpa kusadari telah memburu dipompa nafsu yang mengebu-gebu.
Kutepuk bahu kiri Ani. Dia tersentak kaget, tapi kusimpan telunjukku didepan bibirku memberi isyarat agar dia jangan ribut. Dia diam tidak bersuara, tapi terlihat bahwa dia sangat malu karena kepergok sedang mengintip. Lalu kubisikan ke telinganya “ Ayo ikut ke kamar Aa, ada yang ingin Aa bicarakan dengan Ani !”. Ani hanya termangu, lalu kupimpin tangannya dan secara perlahan-lahan kutarik dia ke kamar Aceng. Ani hanya menuruti apa yang kulakukan. Kutup pintu kamar Ani dari luar dan kami segera ke kamar Aceng.
Setibanya di kamar Aceng, kututup pintu kamar dan kutarik tubuh Ani agar dia duduk disisi tempat tidur. Lalu aku bertanya “Ani sering mengintip apa yang dilakukan oleh Ayah dan Ibu Ani seperti tadi ?”.
Dengan malu-malu Ani menjawab “Sering A, habis Ibu dan bapak kalau lagi begituan suka ribut, membuat Ani terbangun dari tidur..”
“Sejak kapan, Ani suka ngintip ?” tanyaku lagi
“Dari dulu A, barangkali sejak Ani kecil…” jawabnya lagi.
“Apa yang Ani rasakan, pada saat ngintip ?” tanyaku lagi ingin tahu
“Gimana ya, susah diomongin…, rasanya darah seperti berdesir, merinding tapi ada perasaan melayang-layang…. , pokoknya mah susah diomongin lah….malah ada perasaan pingin nyoba, abisnya ibu seperti yang sangat keenakan sampai merem-melek segala, apalagi kalau pingin udahan ibu dan bapak suka melonjak-lonjak sambil melotot dan menjerit-jerit keenakan kemudian terhempas seperti yang sangat kelelahan kemudian mereka saling melepas senyum bahagia dan berciuman mesra” jelasnya dengan polos.
“Terus…, kenapa atuh…., sambil ngintip, Ani pake meremas-remas susu dan menggosok-gosok bagian selangkangan Ani segala..?” tanyaku lagi semakin ingin tahu.
“Abis enak sich…” jawabnya dengan genit.

jilbab semok (3)
“Ani pingin nyoba, seperti yang dilakukan oleh orang tua Ani tadi ?” pertanyaan isengku muncul
Dengan ragu-ragu dia menjawab “karena sering mengintip, Ani jadi ingin sekali mencobanya. Tapi dengan siapa ? Ani ‘kan belum kawin. Kata temen-teman Ani, yang begituan mah dilakukannya dengan suami, sedangkan Ani kan belum kawin” jawabnya lagi dengan lugu.
“Udah aja Aa sekarang jadi suami Ani, kan kita sudah sangat dekat. Biar pesta perkawinannya mah nanti aja kalau kita udah selesai sekolah. Jadi Ani bisa mencobanya sekarang dengan Aa, karena Aa juga ingin mencoba seperti apa yang dilakukan oleh orang tua Ani !” pikiran kotorku mulai bekerja mempengaruhinya.
Entah Ani terpengaruh oleh rayuanku, atau dia memang sudah sangat terangsang dengan apa yang dilihatnya tadi sehingga dia ingin segera mencoba apa yang dilihatnya. Ani memandangku sejenak dan mengangguk perlahan.
Hatiku bersorak. Kuhampiri wajahnya yang manis, dia menatapku sayu. Bibirku mendekati bibirnya dan secara lembut bibirku mencium bibirnya dengan lembut dan secara perlahan kuhisap dengan penuh perasaan. Perlahan-lahan mata Ani terpejam dan dengan kaku dia mulai membalas hisapan bibirku. Gairahku semakin terpompa dan nampaknya Anipun menikmati ciuman ini, Dia berdecak-decak menciumku, napasnya sudah memburu. Akhirnya kupeluk erat tubuhnya dan Anipun memeluk erat tubuhku, sambil kedua bibir kami saling menghisap dengan gairah yang menyala-nyala.
Walaupun ciuman ini adalah hal yang pertama bagiku juga bagi Ani, namun secara naluri akhirnya bibir kami saling menghisap dan mencium apa yang dapat dicapai oleh bibir masing-masing, mulai dari bibir, hidung, pipi, telinga hingga leher secara bergantian dengan perasaan nikmat yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. “Ouhhh… enak.. A.. enak…. Ouhhh… terus… terussss..” erang keenakan keluar dari mulut Ani ketika bibir dan lidahku mencium dan menjilat telinga dan seluruh permukaan lehernya yang halus, kepalanya terdongak dan matanya mendelik, pelukannya pada diriku semakin erat seolah tak mau lepas.
Badanku sudah mulai terasa panas kegerahan, keringatpun sudah mulai keluar dari seluruh pori-poriku dan napas semakin memburu, demikian juga dengan Ani. Lalu badanku agak kurenggangkan diri tubuhnya, sehingga tangan kananku bisa meremas-remas buah dadanya yang mungil dari luar bajunya. Tubuhnya bergetar hebat, ketika telapak tanganku meremas buah dadanya seraya keluar erangan “Auh…Aa… enak..”
Penisku semakin keras mendengar erangan itu, nafsuku semakin menggebu, dan telapak tanganku semakin meremas-remas buah dadanya serta bibir dan lidahku menjilati leher dan dan dagu penuh nafsu. Ani semakin menikmati apa yang kulakukan, desahan nikmat terus-menerus keluar dari mulutnya yang mungil, kepalanya semakin terdongak dan matanya mendelik hingga hanya bagian putihnya saja yang terlihat.
Nafsuku semakin meninggi, baju yang kukenakan semakin basah oleh keringat. Sambil bibirku menghisap bibirnya kucopot bajuku hingga terlepas dan kulemparkan ke bawah tempat tidur, kemudian kubuka kancing baju tidur Ani satu persatu , dia diam saja tidak menolak, bahkan turut membantu melepaskan baju tidurnya hingga terlepas dari tubuhnya dan menyisakan bh ukuran remaja yang menutupi buah dadanya yang mungil. Kucari-cari cara untuk melepaskan bh tersebut, setelah beberapa lama tidak terbuka, Ani membantu melepaskan bh yang menutupi buah dadanya hingga lepas dari tubuhnya. Kini tampaklah tubuh gadis remaja usia 14 tahun telanjang yang menggairahkan dihadapanku, hanya menyisakan celana panjang tidur bagian bawahnya.
Kudorong tubuhnya agar terlentang di atas kasur. Dengan penuh nafsu tangan kananku meremas buah dada yang tertutup oleh telapak tanganku dan terkadang memilin-milin putting susu yang berukurn kecil namun menonjol keras. Kepala Ani tidak bisa diam kuperlakukan seperti itu, kepalanya terus terdongak sambil mata mendelik dan terkadang terpejam rapat sambil mulutnya mengeluarkan desahan “Auh…auh…enak…enak…. Auh….. terus Aa … terusssss”

jilbab semok (4)
Aku semakin bernafsu, mulutkupun tak diam, menjilat menyusuri dada dan akhirnya menjilat dan menghisap putting susu bagian kiri. Seerrr….. badannya kembali bergetar ketika lidah dan bibirku tiba di putting susunya dan terdengan suara erangan “Aaahhh..”
Aku menghisap-hisap buah dada mungil Ani baik yang kiri maupun yang kanan, dan hisapan itu kadang-kadang demikian kerasnya karena rasa gemas dan nafsu yang semakin menggebu, hingga tanpa kusadari menimbulkan banyak tanda merah dipermukaan buah dadanya. Namun nampaknya Ani semakin melayang nikmat dengan apa yang kulakukan, tubuhnya melonjak-lonjak merasakan nikmat yang tak tertahankan dan erangan nikmat terus keluar dari mulutnya.
Ciuman bibirku mulai turun kearah perutnya dan menjilati sekitar pusat sementara kedua tanganku meremas dan memilin kedua buah dada dan putting susunya. Ani semakin tak bisa diam, tubuhnya semakin basah oleh keringat. Lalu mulutku semakin turun dan kedua tanganku menarik celana tidur sekaligus dengan calana dalam yang dikenakannya hingga lepas dari tubuhnya, hingga kini dihadapanku benar-benar tergolek tubuh telanjang menggairahkan dari seorang gadis remaja yang masih duduk di kelas 2 MTs.
Mataku nanar melihat tubuh gadis telanjang yang baru pertama kali kulihat seumur hidupku secara nyata bukan dalam film BF, kuperhatikan jembut di vaginanya masih jarang, hingga bibir vaginanya begitu jelas terlihat. Aku tak sanggup melihat pemandangan merangsang ini berlama-lama, lidahku langsung menjilati bibir vagina itu. Serrrr….. kembali tubuhnya bergetar seperti dialiri aliran listrik ribuan volt. Kali ini getaran itu begitu keras, hingga kakinya terjulur kaku dan kembali ia mengeluarkan teriakan nikmat tanpa diasadarinya “Aaaaahhh Aa….auh,…. “
Kulakukan jilatan bibir vagina dari bawah ke atas secara intensif, pinggulnya bergoyang-goyang tak bisa diam sambil terus-menrus mengerang nikmat “Aaahhh…enak…auh…”
Kujulurkan lidahku untuk membuka bibir vagina itu, tak terlihat ada liang di sana, hanya ada gurat kecil yang sangat rapat, kukorek-korek dengan lidahku, lidahku terasa asin, tapi tak kupedulikan, terus kukorek-korek, gerakan pinggulnya semakin menggila dan akhirnya lidahku naik menyusuri lipatan hingga aku menemukan tonjolan kecil sebesar kacang hijau yang cukup keras, kujilati tonjolan kecil itu. Tubuh Ani semakin bergetar dengan keras dan erangannya seperti tercekik “Aakh……auh Aa….”
Akhirnya aku menjilati cukup lama tonjolan kecil itu. Getaran dan erangan Ani semakin menggila, hingga akhirnya pantatnya naik menekan mulutku dan kedua tangannya menjambak erat rambutku sambil menekan kepalaku ke arah vaginanya sambil menjerit cukup panjang sambil melentingkan badannya “Aaaaaakkhhhh……” kemudian pantatnya berkedut-kedut cukup keras dan cepat. Dan beberapa saat kemudian tubuhnya melemas dan jambakan rambutku terlapas. Ani terlentang lemas dengan napas yang tersengal-sengal kecapean.
Kemudian dengan tenaga yang lemah dia berusaha menarik tubuhku ketas agar wajahnya bisa berhadapan dengan wajahnya. Walaupun ini adalah pengalaman pertamaku, tapi karena aku sering nonton BF, aku tahu bahwa Ani baru saja mengalami orgasme yang cukup hebat. Tubuhku bergeser agar bisa berhadapan dengan tubuh telanjangnya yang lemas kelelahan Ani memandangku dengan tatapan puas dan berkata “Aa , Ani cape, tapi barusan enak sekali….”

jilbab semok (5)
Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Kepalanya kubelai dan kucium bibirnya dengan lembut. Ani membalas lemah kecupan bibirku. Lalu kukatakan padanya “Ani barusan mengalami orgasme seperti yang dirasakan Ibu Ani kalau mau selesai waktu berhubungan dengan Bapak, kan Ibu Ani juga suka kelelahan begitu selesai main dengan bapak..” jelasku padanya
“Tapi bapak juga suka menjerit keenakan dan kelelahan, kalau ibu sudah menjerit keenakan seperti Ani tadi. Kenapa Aa kelihatannya masih segar belum nampak kelelahan seperti bapak Ani ?” Tanya Ani dengan lugunya.
“Karena Aa belum keluar, kan Ani lihat, Aa masih pake celana panjang “ jelasku
“Oh..iya..yah… Kenapa atuh celana Aa belum dibuka. Aa curang…, Ani sudah telanjang sedangkan Aa belum… Buka dong !” mintanya dengan manjanya.
Aku yang masih dalam keadaan terangsang, segera membuka celana panjang dan celana dalamku sekaligus, sehingga begitu terlepas, tampaklah penisku yang masih keras dan tegang terangguk-angguk ketika aku kembali menghampiri dirinya di tempat tidur.
Kemudian Ani bangkit dari tidurnya, tangannya meraih penisku yang tegang dan keras serta dimainkannya dengan dikocok-kocok. Lalu dia berkata “Ibu juga mainin punya Bapak seperti dibeginiin, kelihatannya bapak seperti yang keenakan…” sambil terus menerus tangan lembutnya mengocok-ngocok lembut penisku.
“Ouh… Ni…. Enak.. tentu saja…. Aa juga enak…” kataku sambil merem-melek merasakan kocokan lembut tangan Ani di penisku
Melihat aku yang merem-melek keenakan. Ani semakin bersemangat, Dia jadi ingat dengan yang sering dilihatnya ketika ibunya mempermainkan penis bapaknya. Dia terus mengocok dan memijit lembut penisku membuat diriku melayang-layang kenikmatan. Dan tanpa aku duga-duga, Mulut Ani menghampiri penisku dan lidahnya menjilati kepala penisku sambil tangannya tetap mengocok batang penisku. Aku semakin melayang dan mataku semakin merem-melek keenakan dan mulutku melenguh “Ohhh….ouh… Enak Ni….. enak…ouh…..”
Ani semakin bersemangat melihatku melenguh nikmat, rupanya gairahnya sudah bangkit lagi dengan cepat dan dia sangat menikmati mengoral penisku yang tegang dan keras. Setelah cukup lama dia mengoral penisku, kemudian dia berhenti dan berkata “Aa, bagaimana kalau punya Aa di masukkan ke punyai Ani, seperti yang biasa Bapak lakukan ke Ibu !”
Aku yang masih dikuasai gairah yang menyala-nyala dan belum tertuntaskan tentu saja langsung menyetujuinya, kubaringkan tubuhnya dan kuposisikan selangkanganku berhadapan dengan selangkangannya sementara pahanya terbuka lebar dan lututku berada diantara kedua pahanya. Kuarahkan kepala penisku ke bibir vaginanya yang masih rapat naum sangat basah, kudorong pantatku….. mentok, kutekan pantatku , penisku malah bengkok seperti mau patah, aku meringis kesakitan.

jilbab semok (7)
Kucoba lagi mengarahkan ke tepat bibir vaginanya, kutekan…, kepala penis meleset ke atas, kucoba lagi…. Meleset kesamping… kucoba lagi… meleset ke bawah.
Beberapa kali kucoba … selalu gagal, keringatku semakin mengucur deras dan Ani nampaknya semakin terangsang, pinggulnya bergoyang-goyang, sambil berkata..”Ayo dong…Aa.. jangan main-main aja..”
Aku semakin penasaran dan malu terhadap Ani, kucoba lagi mengarahkan penisku ke bibir vagina Ani, kubantu kedua tanganku untuk membuka bibir vagina itu, setelah kepala penis tepat berada didalam celah vaginanya yang basah, kudorong… kembali meleset ke atas hingga kepala dan batang penisku menekan dan menggesek tonjolan sebesar kacang hijau yang terdapat dibagian atasbibir vagina. Kurasakan tubuh Ani bergetar hebat merasakan nikmat, akupun merasakan nikmat yang sangat akibat gesekan ini. Kenikmatan yang kurasakan ini adalah kenikmatan yang pertama kali aku rasakan, akhirnya walaupun aku tak berhasil menembus liang vaginanya saat ini aku merasa cukup dengan menggesek-gesekkan penisku ke celah bibir vagina Ani hingga ke tonjolan sebesar kacang hijau yang barangkali itu yang disebut dengan klitoris.
Gesekan-gesekan yang kulakukan dengan memaju-mundurkan pantatku di atas tubuh Ani menimbulkan kenikmatan yang tiada tara bagiku, mataku sampai berkunang-kunang merasakan kenikmatan ini, diriku seolah melayang-layang terombang-ambing oleh perasaan nikmat yang teramat sangat. Demikian juga yang dirasakan oleh Ani, dia memeluk erat diriku hingga buah dadanya menempel erat dengan dadaku dan sambil menggerak-gerakkan pinggul dan pantat, kami berciuman dengan penuh gairah dan napas semakin memburu
Cukup lama gerakan seperti itu kami lakukan, dan makin lama gerakan kami semakin cepat tak terkendali, hingga akhirnya aku merasa ada gelombang yang maha dahsyat melanda diriku membuat darahku bergerak sangat cepat dan gerakanku menjadi cepat tak terkendali dan menghentak-hentak tubuh Ani. Demikian juga dengan Ani, gerakan pinggulnya telah berubah menjadi lonjakan-lonjakan keras dengan napasyang memburu saling berkejaran. Dan tiba-tiba tanpa kami kehendaki kedua tubuh kami melenting kaku secara bersamaan dan menjerit tertahan melepas nikmat secara bersamaan “Aaaakkh…”
Cret… cret… , spermaku terpancar deras dan kental keluar dari mulut penisku membasahi perut dan pusar Ani. Beberapa kali penisku berkedut-kedut nikmat sambil menumpahkan semua sperma yang ada di dalamnya hingga akhirnya melemah. Demikian juga dengan Ani, pantatnya beberapa kali terjadi kontraksi dengan keras… Dan akhirnya secara bersamaan badan kami ambruk kelelahan. Akupun terbaring disamping tubuh Ani dengan napas yang tersengal-sengal seolah-olah kehabisan napas
Beberapa saat kami terdiam menikmati sensasi nikmat yang baru pertama kualami, kemudian kupandangi wajah Ani dengan perasaan puas dan kukecup bibirnya dengan lembut dan mesara. Ani membalas kecupanku dengan tak kalah lembut dan mesra. Kemudian dia berkata dengan polosnya “Pantas ibu dan bapak sering melakukan hal seperti yang kita lakukan, enak sich…!”
Setelah tenaga kami pulih, Ani mengeringkan sperma yang membasahi perutnya dengan celana dalamnya, kemudian mengenakan celana dan baju tidur tanpa mengenakan celana dalam, akupun mengenakan pakaianku. Dengan hati-hati ia kembali kekamarnya, dan kurasa orang tuanya sudah terlelap tidur kelelahan.
Setelah ditinggal Ani, aku berbaring sambil melamunkan apa yang baru saja kualami. Walaupun aku tidak berhasil melakukan penetrasi secara sempurna pada pengalaman pertama ini, namun aku cukup puas karena merasakan nikmat yang baru pertama aku rasakan. Aku terus melamun hingga akhirnya aku tertidur lelap kelelahan.
Keesokkan paginya, pada saat sarapan bersama dengan keluarga kakaknya Aceng, terlihat perubahan yang sangat mencolok pada diri Ani. Wajahnya sangat ceria walaupun terlihat kurang tidur, secara sembunyi-sembunyi sambil makan dia sering melemparkan senyum bahagia padaku. Dengan seragam MTs dan jilbab yang dia kenakan, dimataku Ani semakin cantik dan menggemaskan saat itu, dan tanpa dapat kutahan penisku langsung mengeras ketika aku teringat apa yang terjadi tadi malam. Setelah sarapan Suami kakaknya Aceng pergi kerja sedangkan Ani dan adik lelakinya pergi sekolah.
Hari itu, aku masuk kuliah jam 11 siang, sehingga aku akan tetap disana sampai aku berangkat ke kampus jam 10.30. Sekitar jam 8.30 pagi, kakaknya Aceng bilang padaku bahwa dia akan ke rumah temannya untuk keperluan bisnis sampingan dan mungkin pulangnya sekitar magrib. Dan dia memesan agar kunci rumah disembunyikan ditempat biasa apabila seluruh penghuni rumah lagi keluar rumah. Dan akhirnya akupun ditinggalkan sendirian di rumah itu. Sambil menunggu rumah, aku membaca buku-buku kuliah sebagai persiapan kuliah yang akan kuhadapi hari itu.
Sekitar jam 10, aku tersentak kaget dan sekaligus bahagia, karena Ani sudah pulang dari sekolah dan langsung menghampiri kamar yang kutempati, lalu kutanyakan padanya mengapa dia pulang lebih awal dan dia menjawab “Di sekolah ada kegiatan PKS (Pekan Kreativitas Siswa), jadi Ani pulang aja ach.. “
“Kenapa pulang , ‘khan kegiatannya seru dan heboh ?” tanyaku lagi
“‘ngga seru Ach… mendingan pulang. “ jawabnya lagi.
“Ngga seru .. atau pingin ketemu Aa ?” tanyaku menggodanya
“’ngga seru dan ingin ketemu Aa” jawabnya sambil mencubit pinggangku dengan manja
“Aduduhh…” jeritku pura-pura kesakitan, begitu cubitannya terlepas aku langsung berucap “lagi dong…!”. Ani kembali ingin mencubitku tapi aku menangkap tangannya yang telah siap mencubit pinggangku, lalu langsung kupeluk sambil kucium gemas bibirnya. Ani membalas ciumanku dengan penuh gairah, kami berciuman sambil berdiri, tanganku membelai jilbab yang dikenakannya sedangkan kedua tangan Ani memeluk erat pinggangku.
Ciuman itu berlangsung begitu lama dan menggairahkan, hingga akhirnya terlepas karena masing-masing kami kehabisan napas. Napasku dan napas Ani begitu memburu didorong oleh gairah nafsu yang mengebu-gebu.
“Tadi di sekolah, Ani ‘ngga bisa tenang, ingat aja ke Aa..” katanya, dilanjutkan dengan mencium bibirku dan kedua tangannya meremas dan membelai kepalaku dengan penuh gairah.
“Apalagi Aa, sejak tadi malam susah tidur setelah Ani keluar dari kamar, ingat terus ke Ani… malahan di dalam buku kuliah Aa yang terlihat hanya wajah Ani…” kataku menggombal, sambil menyambut ciumannya dengan tak kalah bernafsunya.
Sambil berciuman, tanganku membuka kancing baju seragamnya satu persatu dan Anipun melakukan hal yang sama padaku, dia membuka kancing bajuku satu persatu, sehingga semua kancing baju yang kami kenakan telah terbuka semuanya. Aku langsung mencopot bajuku dan melepaskan baju seragam yang dikenakan Ani, baju-baju itu aku lemparkan ke lantai. Kemudian aku berusaha melepaskan kaos dalam yang dikenakan Ani, dia membantu melapaskannya, hingga kini aku telah bertelanjang dada sedangkan Ani masih mengenakan jilbab , BH , dan rok biru panjang seragam MTs.

jilbab semok (6)
Kembali Ani mencium bibirku dan tangannya membelai dada dan mempermainkan putting susuku membuat aku semakin terangsang. Tanganku mengarah ke punggungnya untuk membuka kaitan Bh yang dikenakannya, kali ini usahaku berhasil tidak seperti tadi malam, bh itupun terlepas dari tubuh mungil Ani yang semakin menggairahkan. Tangankananku langsung meremas-remas buah dada bagian kiri milik Ani. Ani mulai mengeluh “Ouhhh…ouhmmmnn…. Aa…ouh…”
Keluhan nikmat itu semakin memacu gairahku, kepalaku menunduk mengarah ke buahdada bagian kanan milik Ani, kukecup dan kujilati permukaan buah dada yang menggemaskan itu dengan penuh nafsu dan berakhir dengan memilin dan menghisap-hisap putting susu miliknya. Badan Ani bergetar dan erangan nikmat semakin nyaring keluar dari mulutnya “Auh.. Aa.. Aa.. ouh…. Aa….” Kepalanya terdongak dengan mata yang mendelik menahan nikmat yang menderanya. Penisku pun semakin mengeras hingga bagian depan celanaku menggelembung. Tonjolan dibagian depan celana panjangku ini menggesek dan menekan perut dibagian bawah pusar Ani membuat dia semakin bergairah.
Dengan gairah yang menyala-nyala, Ani mengusap penisku dari luar celana panjangku dengan gemas. Badanku bergetar, aliran darahku semakin cepat mengalir dan napasku semakin memburu terpompa oleh gairah yang semakin menggebu, sehingga hisapan, jilatan dan kulumanku pada buah dada Ani semakin panas. Tanganku menarik sleting rok biru yang dikenakannya hingga rok panjang tersebut terlepas turun dari pinggulnya menyisakan celana dalam berwarna pink yang menghalangi vaginanya yang terlihat basah oleh gairah yang menyerang tubuh Ani dengan hebatnya.
Tanpa membuang waktu, kulanjutkan dengan menarik cd berwarna pink hingga tubuh Ani benar-benar bugil dengan indahnya dan hanya menyisakan jilbab yang masih dikenakan menghalangi rambutnya nan indah. Napasku semakin sesak melihat vagina Ani yang indah dan menggairahkan, gairahku semakin terpompa cepat. Lidahku langsung terjulur dan menjilat-jilat permukaan vagina indah itu dari bawah ke atas. Badan Ani bergetar keras, kakinya terangkat dan dari mulutnya keluar teriakan nikmat yang cukup keras “Aaaakkhhhh…. Aaaa ouhhh…. Enak… Aa … enak aaakkhhhh….”
Teriakan nikmat itu semakin memompa gairahku, hisapanku semakin keras, jilatanku semakin cepat dan lidahku mengorek-ngorek liang vagina yang semakin basah oleh gairah. Tubuh Ani semakin keras bergetar, erangan serta teriakan nikmat semakin keras tiada henti keluar dari mulutnya yang mungil “Aa… Aa… aaaakhhh…. Auh… enak..”
Tubuhnya menggeliat-geliat menahan nikmat yang teramat sangat.
Telapak tangan kananku meremas-remas pantatnya yang halus dan montok, sedangkan jempol jari tangan kiriku menekan dan memutar-mutar klitorisnya, sementara lidahku yang panas terus mengorek-ngorek liang vaginanya. Ani semakin terlonjak-lonjak merasakan siksaan nikmat yang datang bertubi-tubi tiada henti “Hoh..hoh..Aa… ouh…aouh….” Teriakan nikmatnya semakin tak terkendali.
Tak kupedulikan teriakan itu, bahkan lidah dan jariku semakin liar mempermainkan liang vagina dan klitorisnya, hingga akhirnya kakinya terjinjit dan tubuhnya melenting kaku serta kedua tangannya menjambak keras rambutku sambil keluar teriakan panjang seperti tercekik “Aaaaaaakhh……. Hhhhhoooohhhhhsss…” badannya limbung hilang keseimbangan dan terjadi kontraksi yang sangat keras pada pantatnya dan liang vaginanya menghisap-hisap lidahku dengan keras seraya mengeluarkan rembesan cairan kenikmatan yang terasa asin diujung lidahku. Lalu.. persendian lututnya seperti yang terlepas dan dia ambruk terjengkang ke belakang. Untung aku masih sigap menahannya…. Ani tergolek lemas di lantai kamar…, napasnya tersengal-sengal kehabisan napas.
Kupangku tubuhnya dan kuletakkan diatas kasur dan membiarkan dia mengatur napasnya agar kelelahan yang dideritanya mereda. Dia membuka mata dan memandangku dengan pandangan rasa puas yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata, lalu terpejam kembali menikmati sisa-sisa rasa nikmat yang masih terus menghampiri dirinya. Sementara itu aku melepaskan celana panjang dan celana dalam serta meletakkannya di lantai kamar dan merayap menghampiri Ani yang sedang tergolek diatas kasur.
Kuposisikan diriku berbaring miring menghadap tubuh telanjang Ani yang masih mengenakan jilbab yang sudah tak karuan dan basah oleh keringat. Kukecup bibirnya dengan lembut dan mesra. Ani membuka mata dan memeberiku senyuman yang sangat manis, lalu dia membalas kecupanku dengan hisapan yang sangat dalam dengan napas yang belum sepenuhnya normal.
Penisku yang sangat keras dan tegang menekan selangkangannya, sehingga dengan gemas dan rasa penasaran, tangan kirinya meraih batang penisku dan mengocoknya secara perlahan sambil tersenyum memendang diriku.
Badanku bergetar dan rasa nikmat menjalar disekujur tubuhku, ketika Ani dengan inetnsnya terus meremas dan mengocok batang penisku. Kemudian dia berkata “Aa sekarang mah, punya Aa harus bisa masuk seluruhnya ke punya Ani seperti yang biasa Bapak dan Ibu lakukan. Jangan seperti tadi malam, hanya digesek-gesek aja..!” pintanya padaku penasaran ingin merasakan yang lebih seperti yang biasa ia lihat jika Bapak dan Ibunya bersetubuh.

jilbab semok (8)
“Ya…dech…, nanti akan Aa masukkan semuanya ke milik Ani…” sahutku sambil kembali menciumnya dengan gairah yang menyala. Ani membalas dengan gairah yang tak kalah menyalanya, rupanya gairahnya sudah bangkit kembali dan menuntut kenimkmatan yang lebih dari kenikmatan yang baru saja dia rasakan.
Disela-sela napasnya yang memburu , Ani berbisik mesra “Ayo.. dong Aa… sekarang… masukin… ouhhh..!” diakhiri dengan desahan nafsu yang terus memburunya.
Kubuka pahanya lebar-lebar agar dia mengangkang dan kuposisikan kedua lutut tepat dibawah pahanya, kutarik kedua pahanya kearah pinggangku sehingga betisnya terangkat, kusibakkan bibir vaginanya agar liang vaginanya yang sangat sempit dan hampir tak telihat karena masih perawan, hanya terasa bagian itu sangat basah dan licin, lalu kuletakan kepala penisku yang sangat keras tepat di liang sempit tersebut.
Kudorong penisku dengan sangat perlahan, terasa liang yang sangatsempit itu memuai, namun belum sanggup meloloskan kepala penisku, kudorong lagi.. , liang itu semakin melebar, namun terlihat Ani meringis menahan sesuatu…
Kuhentikan gerakanku dan bertanya…”kenapa, Ni ? Sakit..?”
“’ngga apa-apa Aa…, terus aja…” jawabnya.
Ani merasakan vaginanya seperti karet gelang yang ditarik melebar, agak terasa perih…, namun ia tidak mau menghentikan, karena yang biasa dia lihat, ibunya begitu sangat menikmati apabila vaginanya di dimasukki oleh batang penis bapaknya. Jadi Ani sangat penasaran, mengapa ia merasa perih. Mungkin belum pikirnya, oleh sebab itu ia tidak mau menghentikan apa yang sedang kulakukan. Ditambah lagi bahwa dirinya sedang diliputi oleh gairah nafsu yang menyala-nyala, sehingga rasa perih kalah oleh nafsu dan gairah yang melayang-layangkan dirinya.
Sementara itu aku merasakan nikmat yang tak dapat terkatakan ketika ujung kepala penisku dapat membelah liang vaginanya yang sangat sempit. “Ini baru ujung kepala penis sedah sedemikian nikmat apalagi jika seluruh batang penisku dapat memasuki liang vaginanya tentu aku akan merasakan jauh lebih nikmat” pikirku dalam hati. Maka aku lebih berkonsentrasi untuk dapat menembus selaput dara yang menghalangi liang vagina tersebut.

jilbab semok (10)

Kudorong lagi perlahan, liang itu semakin terkuak. Kepala penisku semakin terasa nikmat yang aneh dan agak terasa sakit akibat jepitan yang sangat ketat. Namun nafsu yang menggebu dan rasa nikmat yang aneh mengalahkan rasa sakit di kepala penisku demikian juga dengan Ani, walaupun terlihat meringis kesakitan namun dia tidak menginginkan aku menghentikankan usahaku ini, Ani semakin penasaran…
Kudorong lagi lebih keras, hingga liang vaginanya terkuak semakin lebar dan seluruh kepala penisku telah masuk kedalam liang vaginanya yang licin dan basah . Breettt… “Auw….saaakiiitt Aa..!!” Ani menjerit kesakitan…, aku merasa ujung kepala penisku menembus suatu lembaran yang terkoyak dan terasa basah, namun rasa nikmat yang aneh itu membuatku tertegun dan nervous. Kuhentikan gerakanku dengan bagian kepala penis menancap dengan eratnya pada liang vagina Ani. Kulihat Ani meringis dan menggigit bibir bagian bawah menahan rasa sakit karena ada bagian vaginanya yang terkoyak, namun anehnya dia tidak mendorong tubuhku untuk melepaskan penisku dari vaginanya, bahkan sambil meringis dan mata terpejam, dia memeluk tubuhku dengan erat sehingga penisku kembali terdorong…, “Aduhhh…Aa… sakiitt….” pelukannya semakin erat.
Aku semakin bingung dan nerveous, namun rasa nikmat semakin menjalar disekujur tubuhku walaupun rasa sakit di kepala penisku akibat jepitan vaginanya tidak berkurang, tapi aku merasa kepala penisku seperti diremas-remas oleh selubung yang sangat halus namun ketat, remasan itu semakin menambah rasa nikmat yang kurasakan.
Dan kudorong lagi sehingga seluruh batang penisku masuk secara perlahan-lahan hingga mentok. “Aaahhh…. Aduh…. Aouh.. Aa” Tubuh Ani terguncang sangat keras ketika seluruh batang penisku tertanam dengan eratnya di dalam vaginanya. Namun aku merasakan nikmat yang luar biasa, karena seluruh permukaan kepala dan batang penisku seperti ada selubung yang sangat halus dan lembut meremas dan memijit penisku. Mataku terbeliak merasakan kenikmatan itu. Dan rasa sakit akibat jepitan vagina yang sangat ketat sudah tak kurasakan dan kuhiraukan lagi, mataku semakin nanar merasakan kenikmatan itu.
Lengan Ani semakin erat memeluk tubuhku, tapi pantatnya semakin dia angkat dengan mata terpejam dan mulut yang meringis seperti kesakitan tapi penasaran sehingga selangkangan kami menempel sangat rapat. Kucium bibirnya dengan penuh nafsu, dan aku terkesiap, Ani membalas ciumanku dengan sangat ganas dan liar, disela-sela ringisannya, Ani tampaknya seperti merasakan kenikmatan yang membuatnya melayang-layang tinggi.
Kutarik penisku perlahan…
”aduuuhhh… auuh.. Aa” kembali ringisan kesakitannya terdengar, namun diselingi dengan erangan kenikmatan, pantatnya mengikuti tarikan penisku hingga menyisakan bagian kepalanya saja. Kudorong lagi perlahan…, terdengar erangan nikmat dan ringisan kesakitan secara bersamaan..”Auhh….. Aa…adduuh… aouh… “ kembali penisku amblas ditelan vaginanya yang rapat, namun remasan dan belaian didalam vaginanya terasa semakin keras dan bervariasi sehingga diriku semakin melambung nikmat.
Kutarik dan kudorong lagi perlahan, erangan nikmat semakin jelas keluar dari Ani walaupun terkadang ringisan kesakitannya masih tampak. Gerakan kocokan itu terus kulakukan dengan secara perlahan dan makin lama semakin lancar dan cepat
“Ohh…Ani.. .. enak… aouh “ lenguhan nikmat keluar dari mulutku….
“Auh..Aa… Aa… enak… ouh..” Ani membalas lenguhanku.
Aku semakin bergairah, nafsuku semakin membuncah di kepalaku, mukaku semakin merah dan darah semakin cepat mengalir, gerakan kocokanku semakin cepat dan vagina Ani terasa semakin basah dan licin.
Tampaknya rasa sakit yang dirasakan Ani semakin berkurang, bahkan kini secara naluri Ani mulai membalas gerakan pinggulku dengan menggerakan pinggulnya dengan penuh gairah sambil tak putus-putusnya erangan dan jeritan nikmat keluar dari mulutnya
“Aahh…. Aahhh.. Aahh…. Aahhh…”
Makin lama gerakan dan erangan Ani semakin liar, kedua tangannya bukan hanya memeluk punggungku dan kukunya mencengkram erat kulit punggungku sambil menghentak-hentakkan tubuh agar dadaku beradu dengan buah dadanya dan pinggulnya melonjak-lonjak liar serta teriakan-teriakan yang semakin nyaring.
Aku melihat buah dada montok Ani berguncang-guncang sangat keras dan semakin terlihat indah dan menggemaskan. Mulutku menghisap-hisap dengan keras buah dada itu sehingga meninggalkan tanda merah disana sini. Ani semakin melayang kepalanya semakin terdongak dan pinggulnya semakin bergerak liar
“Oooouuhhhh…. Ouh… ouh… “ erangan nikmat tiada henti-hentinya menyertai setiap gerakan Ani.jilbab semok (9)
Tanpa kusadari gerakankupun semakin liar dan gerakan pantatku menghentak-hentak dengan kerasnya sehingga terdengar suara
PLOK… PLOK…. yang cukup nyaring
Napasku tersengal-sengal namun pantatku bergerak cepat tak terkendali
Rasa nikmat semakin membuat diriku melayang-layang. Dan tampaknya Anipun merasakan hal yang sama, karena gerakannyapun semakin liar dan melonjak-lonjak tak terkendali.
Tiba-tiba aku merasakan darahku mengalir sangat cepat dan berkumpul pada suatu titik dan aku merasakan ada gelombang yang menghantam tubuhku membuat tubuhku terbang melayang sambil menjerit nikmat “Aaaakkhh…..”, badanku melenting kaku dan penisku kutancapkan dalam-dalam ke dalam liang vagina Ani. Dalam waktu yang bersamaan Anipun merasakan hal yang sama, Dia merasa dihantam oleh gelombang yang sangat dahsyat yang menerbangkan tubuhnya dan Anipun menjerit sangat keras “Aaaaaaakkkhhhh…” dan tubuhnyapun melenting kaku dengan kepala terdongak kebelakang.
Selama beberapa detik, badan kami melenting kaku, kemudian CRETTT… CRETTT… sperma kental dan panas tersembur dari penisku jauh kedalam ujung rahimnya dan dibalas dengan kontraksi yang sangat hebat didalam vagina Ani yang memelintir dan menghisap-hisap membuat mataku semakin nanar oleh kenikmatan yang teramat sangat. Lalu seperti bangunan yang tiang penyangganya patah karena kelebihan beban, tubuh kami pun terhempas dengan sangat keras
“Hhuuhhssss……” keluhan kelelahan bagaikan koor … keluar secara bersamaan dari mulut kami, tubuhku ambruk menindih tubuhnya, kugelosorkan tubuhku ke samping tubuhnya dan kami berdua telentang terkapar tak berdaya…
Seluruh persendian kami terasa seperti dilolosi dan selama beberapa detik kami tak mampu menggerakkan tubuh, yang terdengar hanyalah dengusan napas tersengal-sengal kelelahan yang saling bersahutan yang keluar dari mulut kami berdua.
Selama beberapa menit kami terkapar tak berdaya, hanya tangan kiriku dan tangan kananya saling mengenggam erat saling berbicara tanpa kata.
Setelah rasa lelah kami berkurang…, aku bangkit menghampiri Ani yang masih telentang tak berdaya, kukecup lembut bibirnya seraya berkata “Aa sayang ke Ani…” Ani memandangku dan tersenyum, kemudian membalas kecupanku dengan mesra. Dan kamipun berpelukan erat. Kali ini kurasakan nuansa yang lain dalam berpelukan. Aku merasa sangat sayang padanya dan merasa nyaman memeluknya. Dan nampaknya Anipun merasakan hal yang sama, dia memeluk erat tubuhku dan menyusupkan kepalanya didadaku. Tidak ada nafsu dalam pelukan ini, benar-benar pelukan yang membuat perasaan menjadi nyaman dan damai. Cukup lama kami merasakan kedamaian dalam pelukan ini hingga aku rasakan tubuhku benar-benar pulih dari lelah yang tadi menghantamku.
Ani melepaskan diri dari pelukanku dan bangkit dari tidurnya. Dia memperhatikan selangkangannya kemudia menjerit tertahan “Aaahh Aa..”. Aku kaget dan bangit dari tidur lalu bertanya “Ada apa, sayang..?”
Ani tidak menjawab, hanya matanya memandang kaget ke selangkangan dan sprei yang ditindihnya, tampak ada noda merah darah disekitar selankangannya dan sprei yang ditindihnya bercampur dengan cairan sperma yang keluar dari liang vaginanya. Air matanya meleleh dan berucap..”Aa… saya … “ , dia melanjutkan ucapannya.
Aku mengerti apa yang menjadi kesedihannya, aku dekap ia dengan rasa sayang yang tulus dan berkata “Aa… akan bertanggung jawab, kalau terjadi apa-apa pada diri Ani. Jangan takut… Aa sayang ke Ani.. percaya ke Aa” Aku menenangkan dirinya sambil mencium lembut kepalanya yang masih tertutup oleh jilbab yang sangat kusut.
Ani merasa tenang mendengar ucapanku… dan ia membalas erat pelukanku serta menyusupkan kepalanya kedalam dadaku. Ia merasakan damai disana.
Tiba-tiba.. diluar terdengar teriakan adiknya Ani..
“Assalamu’alaikum..! Teh… Teteh….” Rupanya adik Ani yang duduk di SD sudah pulang dari sekolah mencari-cari kakaknya . Kami tersentak kaget dan dengan terburu-buru kami mengenakan pakaian kami yang berserakan dan kulihat jam dinding, ternyata telah menunjukkan jam 12.15, pantas saja adiknya sudah pulang.
Setelah beres, Ani segera keluar kamar dan menghampiri adiknya “Ada apa Danu..?” kata Ani kepada adiknya seperti tidak terjadi apa-apa. Kemudian Ani mengurus adiknya dan mengajakku dan adiknya makan siang.
Hari itu aku tak jadi kuliah…, tapi sejak hari itu aku telah mengikat janji dengan Ani untuk menjadi sepasang kekasih, walaupun masih sembunyi-sembunyi dari Aceng dan ibunya. Tapi lama-lama hubunganku diketahui oleh mereka, dan aku bersyukur mereka merestui hubunganku dengan Ani berlangsung, mereka hanya berpesan agar aku jangan kelepasan, agar sekolahnya dan kuliahku tidak terganggu. Aku hanya mengangguk setuju.
Tetapi dibelakang mereka , secara sembunyi-sembunyi aku masih terus mereguk kenikmatan persetubuhan dengan Ani yang semakin lama semakin ahli memberikan kenikmatan padaku. Aku jadi semakin sayang dan cinta padanya dan semakin memantapkan hati untuk tidak akan meninggalkannya.
Ani
You are my sun shine….
You are my endless love…
You are my everything…
I love you so much….

BU DIANA

Sebagai seorang kepala rumah tangga yang memiliki seorang anak laki-laki yang telah memasuki ke ajang pendidikan tentunya sangat membahagiakan. Ini terjadi denganku dikala anakku yang bernama Jerry telah memasuki SD kelas 1. Setelah istriku meninggal dunia karena terkena penyakit kanker payudara, akulah satu-satunya yang mesti mengurusi anakku, Jerry. Secara jujur, kehidupanku sangat menyedihkan dibandingkan sebelum istriku meninggal. Sekarang semuanya kulakukan sendiri seperti mengajari anakku mengerjakan PR-nya, memasak yang tentunya bercampur dengan kesibukanku di kantor sebagai salah satu orang terpenting di perusahaan Jepang yang berdomisili di Jakarta.

Kadang-kadang aku menjadi bingung sendiri karena bagaimanapun masakanku tidak sesempurna istriku dan untunglah Jerry, anakku satu-satunya tidak pernah mengkritik hasil masakanku walaupun aku tahu bahwa semua hasil masakanku tidak bisa dimakan karena kadang-kadang terlalu asin dan kadang-kadang gosong. Suatu hari Jerry memberitahuku bahwa aku mesti datang ke sekolahnya karena gurunya ingin bertemu denganku.

bu guru muslimah payudara besar (1)

Pada hari yang sudah ditentukan, aku pergi ke sekolah anakku untuk bertemu Ibu Diana, nama lengkapnya Diana Supangat dan sewaktu aku bertemu dengannya, aku menjadi cukup gugup dan untunglah perasaan itu dapat kukuasai karena bagaimanapun aku pergi dengan anakku dan aku tidak ingin anakku membaca kegugupanku itu. Akhirnya aku dipersilakan duduk oleh ibu guru yang ternyata belum menikah itu karena aku tidak melihat cincin kawin di jarinya dan juga dia mengaku sendiri bahwa dia masih single ketika kupanggil dia dengan sebutan Ibu Diana. Orangnya cantik, bertubuh padat dan montok dan terlihat nyata meskipun Ibu Diana mengenakan rok panjang serta jilbabnya yang longgar dan lebar. Membuat kontolku ngaceng selama bercakap-cakap dengan guru anakku itu.

Didalam percakapan itu, dia menceritakan mengenai pelajaran Jerry yang agak tertinggal dengan murid-murid lainnya. Ternyata baru ketahuan dari pengakuan Jerry, bahwa walaupun dia rajin mengerjakan PR tetapi dia tidak pernah mengulang pelajarannya karena waktunya dihabiskan untuk bermain Play Station yang kubelikan untuknya sehari setelah kepergian istriku supaya dia tidak menangis lagi.

Akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa Ibu Diana akan memberikan anakku les privat dan setelah kami sama -sama sepakat mengenai harga perjamnya, kami bersalaman dan meninggalkan sekolah itu. Selama perjalanan ke rumah, aku selalu teringat dengan wajah imut guru muda anakku yang alim itu. Cantik, montok, bertubuh padat dan alim.

bu guru muslimah payudara besar (2)

Sore harinya setelah aku tidur sore, aku teringat bahwa 1 jam mendatang guru anakku akan datang dan berarti aku juga harus bersiap -siap untuk menyambutnya. Setelah guru Jerry datang dan aku mengajaknya ngobrol untuk beberapa saat, dia kemudian minta izin untuk memulai les privat untuk anakku. Aku hanya mengangguk dan meninggalkan mereka berdua. Aku mulai membaca koran Kompas hari itu dan aku sekali-kali mencuri pandang pada guru anakku yang berjilbab lebar itu sedang mengajari Jerry. Kulihat bahwa Ibu Diana ini cukup pengertian dalam mengajari anakku yang kadang-kadang masih cukup bingung akan materi yang dipelajarinya.

Dua jam berlalu sudah dan kusadari bahwa ……jam privat les sudah usai dan ketika dia hendak pulang ke rumahnya, aku menawarkan kepadanya untuk mengantarkannya berhubung hari sudah malam dan aku tahu persis bahwa tidak ada lagi kendaraan umum pada jam-jam begitu di sekitar rumahku. Akhirnya aku mengeluarkan mobil BMW kesayanganku dan setelah aku bersiapsiap, aku menyuruh Jerry untuk mengulang pelajaran yang tadi sementara aku akan mengantarkan gurunya pulang. Jerry menuruti ucapan ayahnya dan tanpa basa basi, dia mulai membuka kembali bukunya dan mengulang materi yang baru saja dipelajarinya.

bu guru muslimah payudara besar (3)

Aku kemudian mulai menyuruh Ibu Diana untuk masuk dan kemudian aku memulai mengendarai mobil itu setelah aku menutup pintu gerbang tentunya karena aku tidak mempunyai pembantu rumah tangga saat itu. Di tengah perjalanan, kami bercakap-cakap mengenai segala hal dan mengenai perubahan yang dialami Jerry setelah ibunya meninggal dunia. Nampaknya Ibu Diana serius sekali mendengarkan curahan hatiku yang kesepian setelah ditinggal oleh istriku.

Tiba-tiba ketika kami sedang asyik bercakap-cakap, aku melihat sekilas seorang anak kecil yang sedang lari menyeberang sehingga dengan secepat kilat, aku langsung mengerem secara mendadak dan disaat aku mengerem mendadak itu, karena Ibu Diana lupa tidak memakai “Seatbelt” (sabuk pengaman), guru alim yang cantik itu langsung jatuh ke dalam pelukanku. Dia nampaknya malu sekali setelah kejadian itu tetapi setelah aku bilang tidak apa-apa, dia kembali seperti sediakala dan sekarang kami nampaknya semakin akrab dan aku menjadi sangat kaget dikala dia minta tolong untuk pergi ke motel terdekat karena dia ingin buang air dengan alasan bahwa rumahnya masih sangat jauh. Aku melihat ekspresi wajahnya seperti orang yang menahan sesuatu sehingga akhirnya aku menyetujui untuk pergi ke motel terdekat untuk menyelesaikan ‘ bisnis’nya.

bu guru muslimah payudara besar (5)

Akhirnya kami berada di dalam sebuah motel murah yang tidak jauh dari tempat aku mengerem mendadak tadi. Setelah berada di dalam kamar, aku langsung duduk di tepi ranjang sementara Ibu Diana dengan kecepatan yang luar biasa langsung pergi ke arah toilet yang berada di dalam kamar motel itu. Beberapa menit kemudian, aku dikagetkan oleh Ibu Diana yang keluar dari dalam toilet dengan mendadak.

“Bu.. ada apa?” aku mendadak gugup bercampur kepingin melihat tubuh Ibu Diana yang sangat indah itu. Ibu Diana sudah melepaskan jilbab lebar yang tadi dipakainya. Tapi tiba-tiba Diana menarikku dan langsung mencium bibirku. Sepertinya aku mau meledak! Ibu Diana yang tingginya 172 cm, rambut panjang dan tubuhnya sempurna sekali, padat, keras, sedikit berotot perut, pokoknya seksi sekali. Diana menuntun tanganku ke dadanya. Disuruhnya aku meremas-remas dadanya. Belakangan kuketahui ukuranya 34C. Kemudian dia sendiri melepas bajunya dengan senyumnya yang menggoda sekali. Aku hanya diam terpaku melihat caranya melepas pakaian dengan pelan -pelan dengan gaya yang menggairahkan sambil menggoyang pinggulnya.

Kemudian terlihatlah semua bagian tubuhnya yang biasanya tersembunyi dibalik pakaian longgar dan jilababnya. Dadanya yang montok kencang menggantung-gantung, bulu kemaluannya yang tipis rapi, tubuhnya yang putih mulus sangat menggairahkan. Batang kejantananku juga sudah membesar mengeras lebih dari biasanya. Lalu Diana kembali merapatkan tubuhnya ke arahku, ditempelkannya mulutnya ke kupingku, menjilatinya dan berbisik kepadaku, “Kamu akan merasakan seperti di surga.” Tapi aku masih berusaha menghindar walaupun sebenarnya aku mau kalau tidak pemalu. “Nanti kalau teman-teman datang bagaimana?” “Tenang saja saya sudah bilang mau tidur sebentar di sini dan jangan diganggu.” Gile sudah direncanakan!

bu guru muslimah payudara besar (6)

Tanpa kusadari kemejaku sudah lepas (ke mana-mana aku biasa memakai kemeja lengan pendek) Diana menjilati perutku dan terus ke bawah. Aku masih diam ketakutan. Sampai akhirnya dia membuka celana dalamku. “Wah, ini akan hebat sekali. Begitu besar, keras. Belum pernah aku melihat seperti ini di film porno.” Ternyata Ibu Diana yang alim ini senang juga nonton film-film porno.

Diana mulai mengisap -isap batang kemaluanku (baru-baru ini aku tahu namanya disepong karena almarhum istriku tidak pernah melakukannya). “Aaarghh.. argh..” aku baru sekali senikmat itu. “Kamu mulai bergairah kan, Sayang?” Baru kali itu dia memanggilku sayang. Aku benar-benar bergairah sekarang. Kuangkat tubuhnya ke kasur kujilati liang kewanitaannya yang sudah basah itu. “Nnngghhh.. ngghhh.. aaahh… ahhh” Diana mulai mengerang-ngerang. Tapi itu membuatku makin bergairah. Kuhisapi putting susunya yang berwarna pink. “Aahhh.. yeahh.. Tak kusangka kamu agresif sekali.” Kumasukkan jariku ke liang senggamanya. Kusodok-sodok makin lama makin cepat. Diana hanya bisa mengerang, mendesah-desah. “Ricky, cepat masukkan.. ahhnggh.. cepat, Diana udah nggak tahan.. ahhh.. Tapi pelan-pelan, Diana masih perawan.”
Waktu itu aku tidak memikirkan dia perawan atau tidak. Aku hanya memasukkan batang kemaluanku dengan pelan -pelan, sempit sekali. Benar-benar masih perawan, kupikir. Liang kewanitaannya begitu ketat menjepit batang kejantananku. Sampai akhirnya batang kemaluanku yang panjangnya 20 cm dan diameternya 3,8 cm amblas semua. “Aaakkhhh…” lagi -lagi teriakannya membuatku bersemangat sekali. Kusodok sekuat-kuatnya, sekancang-kencangnya kedalam meme wanita alim ini.

“Ngghhh.. Rickkk.. gede banget.. aanggghh.. indah sekali rasanya.”
Kemudian kami mengganti posisi nungging. “Plok.. plok.. plok..” suara waktu aku sedang menggenjotnya dari belakang. Dadanya berayun-ayun. Diana kadang meremasnya sendiri.
“Aahhh.. lagi.. lebih cepat.. Aaahhh.. Diana udah keluar.. Kamu keluarin di luar, ya!” Tidak lama kemudian akupun keluar juga.

bu guru muslimah payudara besar (7)

Kusemprot maniku ke sekujur tubuh Diana yang lemas tak berdaya. Dijilatinya lagi batang kenikmatanku sampai lama sekali sampai-sampai keluar lagi. Dengan nafas masih memburu terengah-engah, Diana memakai pakaiannya kembali. “Kamu hebat sekali Rick. Diana puas sekali. Sebenarnya aku sudah jatuh hati kepadamu pada pandangan pertama.” Kemudian sebelum keluar kamar Diana kembali mencium bibirku. Kali ini aku tidak malu lagi, kucium dia sambil kupegang payudaranya.

Setelah kenikmatan bersama itu, kami berpelukan …
…untuk beberapa menit dan kami berciuman lagi untuk beberapa lama. Sejujurnya aku sudah jatuh hati kepada guru anakku sejak pertama kali bertemu dan sekarang baru kusadari bahwa dia juga telah jatuh hati kepadaku. Setelah itu aku kemudian berkata kepadanya, “Diana, aku ingin kamu menjadi kekasihku yang bersedia mengajari Jerry..” Belum selesai aku menyelesaikan kata-kataku, Diana langsung menciumku dan aku membalasnya dengan penuh kemesraan dan tentunya berbeda dengan perlakuan kami yang baru saja terjadi.

Setelah kami berciuman untuk beberapa menit, Diana langsung berkata kepadaku, “Ricky, aku juga ingin memiliki kekasih dan ternyata aku sekarang menemukannya dan aku ingin menikah denganmu dan kita bisa bersama-sama mendidik Jerry.” Setelah kejadian itu, Diana sering pergi keluar bersamaku dan Jerry.

AIDA

Aida namaku, mahasiswi 20 tahun di salah satu universitas di Surabaya. Aku berjilbab, tapi bukan jilbab biasa, aku adalah seorang akhwat yang juga menjadi pengurus di masjid kampusku. Namun aku cenderung supel, senang tersenyum, periang dan aktif. Seperti akhwat-akhwat lainnya, aku sangat menjaga pakaianku, meski cukup sulit menemukan pakaian terusan yang tidak menonjolkan payudaraku yg berukuran 36B. Kesalahanku adalah aku terlalu supel dan cepat dekat dengan laki-laki tanpa memikirkan bahwa mungkin saja mereka memiliki niat jahat. dan itulah yang terjadi…

jilbab semok (1)

Siang itu teman akrab sekelasku (yang sudah kuanggap sebagai kakak sendiri) yang bernama Taufik mampir ke kostku. seperti biasanya, saat siang keadaan kostku sangatlah sepi. saat itu aku sedang tidak ada kuliah, jadi aku sendiri di kost. Taufik mengucapkan salam dan akupun membalasnya. Lalu kami ngobrol di ruang tamu yg letaknya tidak jauhdari kamarku (kamarku paling depan). Setelah duduk, Taufik menyerahkan bungkusan yang ternyata berisi juice alpukat, kesukaanku.

“tumben bawa ginian?” tanyaku. “ada acara apa nih?”
“nggak, cuman tadi abis ke warung juice sama Yogi dan faruk” jawabnya santai. Akupun membuka minuman itu dan meminumnya. Taufik lantas mengeluarkan buku pelajaran dan duduk di sampingku sambil memintaku mengajarinya.

Beberapa menit kemudian aku merasa agak gerah, langsung saja kuhabiskan es juice pemberian Mas taufik.
“panas ya?” kata mas Taufik, aku cuma mengangguk.
Rasa gerah itu lama-lama berubah menjadi sebuah perasaan yg aneh, tiba-tiba saja jantungku berpacu kencang.
“Da… kamu dah putus sama si Hildan ya?” tanya mas Taufik. aku hanya mengangguk pelan sambil berusaha memfokuskan pikiran. Tiba-tiba tangan mas taufik menyentuh pundakku dan menarikku ke pundaknya.

Entah apa yangaku pikirkan tapi badnku sangat lemas dan tidak bisa bergerak. belum habis heranku, tiba-tiba terasa gatal di sekitar kemaluanku, kemaluanku teras panas, dan aku dapat merasakan putingku mengeras.

“kenapa Da?” tanyanya lgi, belum aku menjawab, mas Taufik sudah mencium pipiku dan lalu semakin mendekat ke bibirku hingga akhirnya dia mencium bibirku. aku tidak bisa bergerak aku hanya memalingkan wajah begitu mas Taufik menghentikan cumbuannya.

Tanpa banyak kata tangan Mas Taufik turun ke payudaraku yg masih terbungkus pakaianku dan mulai meremasnya.
“jangan…” kataku lemas… vaginaku terasa semakin panas dan gatal,sedang putingku semakin mengeras. aku mencoba menggerakkan diriku tapi tidak mampu.

Mas Taufik meneruskan remasannya sambil tangan satunya mencopoti kancing depan baju terusanku. dalam hitungan menit, tangannya menyelusup ke dalam bajuku dan terus ke dalam Bra-ku, kini Mas Taufik menyentuh payudaraku langsung. Tanpa sadar aku mendesah lirih dan badanku terangkat saat Mas Taufik menyentuh dan mulai meremas payudaraku. Ciumannya di bibirku semakin ganas, dan aku terbawa, aku membalas ciumannya, melupakan ke akhwatanku selama ini.

jari jemarinya memilin-milin kecil putingku hingga aku benar-benar terangsang. Tiba-tiba dia menarik tangannya keluar dari bra-ku dan mulai masuk ke dalam rok panjangku dari arah bawah. Sekali lagi aku tak mampu melawannya, ciuman panas di bibirnya dan sentuhannya di kemaluanku (yang terbalut CD) membuatku semakin terbawa. Di bawah sana, aku sudah sangat basah. Ini memang bukan pertama kalinya tubuhku dijamah lelaki, kekasih pertamaku, Hildan, pernah memasukkan tiga jarinya saat main ke kost, malah dia melakukan saat ada teman-teman kost, untung saja teman kost tidak tahu.

Perlahan tapi pasti Mas Taufik menarik Celana Dalamku hingga benar-benar lepas, kini tangannya bermain-main di permukaan bibir vaginaku, sesekali menyentuh klitorisku, membuatku tanpa sadar mendesah.

“jangan disini” ujar Mas Taufik tiba-tiba. “nanti kelihatan orang, kita ke kamarmu saja” Dan tanpa basa-basi lagi Mas Taufik menuntunku (yang sudah sangat lemas dan terangsang) ke dalam kamarku.

Kamarku tidak memiliki daun pintu, hanya ditutup kain kelambu, itu kamar paling depan dan akses ke ruang tamu paling cepat, itu sebabnya aku memilih kamar itu, meski tidak ada pintunya. soalnya teman-temanku sering datang kemari.

Di kamar, Mas Taufik tidak menunggu lama, dia merebahkanku di ranjang dan mulai menggulung rok-ku ke atas, hingga dia dapat melihat dengan jelas vaginaku yg sudah basah. Bajuku di singkap dan Bra-ku dinaikkan sehingga payudaraku juga terlihat, dia mengecup dan memainkan lidahnya di payudaraku, menghisap-hisap putingku hingga aku lebih sering lagi mendesah. Beberapa menit melakukan itu, dia melepas celana panjangnya berikut CDnya. dan inilah pertama kalinya aku menyaksikan tongkol laki-laki. dia memegangkan tanganku ke kemaluannya dan memintaku mengocoknya. aku belum tau harus bagaiman jadi yang aku lakukan malah meremas-remasnya. Tak lama kemudian Mas Taufik membuka kedua kakiku dan menggesek-gesekkan kemaluanny ke vaginaku, aku merasa sangat nikmat, detik berikutnya dia mulai mencari lubang dan melakukan penetrasi.

Aku tersentak karena sakit yang luar biasa! tiba-tiba kesadaranku pulih! aku mendorong tubuh Mas Taufik yang menindihku, tapi dia malah menekankan tubuhnya.

“Sakit!!” ujarku sambil meringis menahan sakit, “jangan!! sakit!! sudah mas! jangan!” pintaku.

jilbab semok (2)

Tapi satu hentakan berikutnya terasa sangat menyakitkan, Mas Taufik terus menekan-nekankan tongkolnya hingga benar-benar amblas. Aku menangis meringis menahan sakit, tanpa banyak kata, Mas Taufik mulai menarik kembali tongkolnya dan membenamkannya lebih dalam lagi. aku kembali tersentak.
“Hmmmpphh” desahku menahan sakit. Mas Taufik melakukannya berulang-ulang sambil terus menahan tubuhku yang berontak, dia menggejotku semakin cepat dan cepat, tiba-tiba tirai pintu kamarku terbuka, dan aku dapat melihat Yogi dan Faruk masuk ke kamarku.

“bisa juga ternyata Aida dient*t” komentar Yogi sambil tersenyum melihat Taufik yang menggenjotku makin keras.
“hebat kamu fik, akhwat juga bisa kamu ent*t” tmbah Faruk.

Aku meronta tapi tak ada tenaga, Taufik mempercepat gerakannya, Yogi dan faruk duduk di kursi kecil di tepi ranjangku, menyaksikan Taufik yang semakin menggenjotku, tiba-tiba ada suara langkah dari ruang tamu, lantas terdengar suara wanita dewasa, Ibu Kost! pikirku setengah panik, aku berusaha menahan desahan dan eranganku sebisa mungkin. Mengetahui itu, Mas Taufik bukannya memperlambat malah mempercepat genjotannya.
lalu tiba-tiba mencabut penisnya dan mengeluarkan spermanya di atas perutku.

Aku berusaha bangkit tapi Yogi dan faruk (yang sudah telanjang) menekan tubuhku kembali berbaring.

“jangan…. jangan… yog…. sudah…” ucapku lemas.

Tubuhku sudah sangat lemas dan entah mengapa rasanya libidoku masih tinggi, tanpa perlawanan berarti yogi menancapkan penisnya ke vaginaku dan memompanya.

“habis kamu perawani” ucap Yogi sembari menggenjotku, “tapi masih sempit”.

“jangan dibuang didalam” ujar Taufik (yang sudah kembali berpakaian) “siapa tau dia dalam kondisi subur” tambahnya sambil pergi keluar kamar.

Faruk yang dari tadi meremas-remas payudaraku mulai melepas bajuku diikuti rok.
“sekarang kita lihat rambutmu Da..” ujar Faruk sambil melucuti jilbabku. aku tak berdaya, yogi masih menggenjotku makin kencang, penisnya keluar masuk dengan cepat, tubuhku sampai sedikit terguncang. setelah melihat rambutku yang sebahu, Faruk menempelkan penisnya ke bibirku dan memaksaku mengoralnya. aku menolak, tapi dia menekan terus, hingga akhirnya penisnya bisa masuk, dia menggoyangkan penisnya searah, lalu memaksaku memakai lidah, terpaksa aku menurutinya.

Yogi mencabut penisnya dan memberi isyarat pada Faruk, segera Faruk melesakkan penisnya ke vaginaku, saat keperawananku direnggut, aku digilir tiga orang sekaligus!!.

Yogi mendekatkan penisnya ke mulutku dan menekannya masuk, begitu penisnya didalam, dia menekan kepalaku dan mengeluarkan spermanya di mulutku. aku meronta, tapi Yogi terus menahan, apalagi Faruk memutar-mutarkan penisnya, membuat aku tak bisa konsentrasi melawan, Yogi tidak segera mencabutnya, sehingga terpaksa aku menelan spermanya.

20 menit Faruk memakaiku, setelah akhirnya dia mengeluarkan spermanya juga di dalam mulutku. kejadian itu, direkam oleh Yogi lewat HPnya. setelah insiden itu, mereka mengancam akan mengedarkan rekaman itu, dan aku harus siap untuk dipakai mereka lagi. yang paling aku sesalkan adalah jumlah mereka terus bertambah dan berganti-ganti saat memakaiku, aku jadi budak seks mereka. aku tidak bisa melepas jilbab karena keluargaku adalh keluarga Islam yg terpandang. Ternyata bukan hanya aku korban mereka, satu sahabat baikku (bukan akhwat) Yungky (pacar Taufik sendiri) diperawani dan digarap oleh cowok satu kelas saat berlibur di Villa Malang dulu. (end)

Huda masih menyodok vaginaku dalam posisi Doggy Style, desahan-desahan kecil keluar dari mulutku yang sudah lemas ini. Tak lama Huda mempererat goyangannya dan mencengkeram pinggangku sambil memasukkan penisnya lebih dalam lagi.
“Engggh….” erangku pelan saat merasakan cairan sperma Huda yang hangat memenuhi liang senggamaku. Ini adalah pertama kalinya Huda menyetubuhiku. Dengan ini, berarti semua pria di kelasku sudah pernah menyetubuhiku, menikmati tubuh yang sehari-harinya kubungkus dengan jilbab dan pakaian layaknya akhwat yang lainnya.

Tubuhku tersungkur lemas di lantai kamar Yogi yang dilapisi karpet warna hijau, Huda mengambil tissue dan membersihkan ceceran sperma yang menetes di karpet. Malam ini aku terpaksa (lagi) menginap di rumah Yogi, orang tuanya sedang ke rumah neneknya, jadi dia hanya tinggal dengan adik laki-lakinya yang saat ini kelas 2 SMU. Tanpa sepengetahuan Yogi sendiri, adiknya sering menunggangiku kalau Yogi keluar, bahkan pernah mengajak teman-temannya menunggangiku bersamaan.

Kupaksakan kaki yang masih lemas untuk mengenakan kembali pakaian dan jilbabku, lalu keluar ke kamar mandi untuk mencuci tubuh, seusai mandi aku meminum pil anti hamil, seperti malam-malam sebelumnya. Sebelum aq terlelap dalam tidur, Yogi sempat mengingatkan tentang camping bersama yang akan diadakan 2 hari dari sekarang, bersama anak-anak kelas C. Hanya 2 gadis dari kelas B yang diajak yaitu aku dan Yungky (yang juga telah menjadi budak seks mereka), jadi aku tahu sekali kalau aku akan jadi bahan pertukaran antar kelaCatur membawakan tas punggungku dan menaruhnya ke dalam bak truk tentara yang akan menjadi sarana transportasi kita ke Malang. Sebenarnya tidak perlu menyewa truk, toh ini hanya camping biasa, bukan OSPEK. Anak-anak kelas C sibuk menaruh barang mereka di truk masing-masing, begitu pula kami. Siswa kelas C ada 55 orang, tapi yang saat ini ikut camping hanya sekitar 20 orang, 15 cowok dan 5 cewek. Sedangkan seluruh cowok kelas kami (kelas B) yang berjumlah 25 orang ikut semua, yang cewek hanya 4 orang, aku, Yungky, Adhelia dari kelas E dan Poppy dari kelas F. Entah bagaimana, tapi sepertinya Taufik dkk telah berhasil membuat mereka berdua menjadi budak seks juga.

Diantara pria kelas C ada seseorang yang bernama Agung, yang sering digosipkan menaruh hati padaku, setiap aku melewati kerumunan anak-anak kelas C pasti mereka menyebut nama Agung keras-keras. Dan sepertinya sebentar lagi dia akan ikut menikmati tubuhku.

“Oke Aida, Adhel ama Yungky ikut truk anak kelas C” komando Taufik. Aku sempat protes tapi mereka tidak peduli, sebagai gantinya, 4 cewek kelas C ikut truk kelas B. sepertinya mereka mau meraba-raba tubuh kami di sepanjang perjalanan nanti.

Walhasil aku sekarang duduk diantara cowok-cowok kelas C yang saat membantuku naik ke truk tadi dengan sengaja menyentuh-nyentuh pantatku. Dan dengan sengaja juga mereka mendudukkanku di sebelah Agung sambil dari tadi menggodaku. Agung memang pernah bilang ke teman-temannya kalau dia naksir aku sejak semester satu.

Truk berjalan, makan waktu 3 jam untuk sampai di lokasi camping di Malang, aku dan Agung hanya mengobrol saja. Lalu Agung mulai memberanikan diri memegang tanganku, aku diam saja, Agung terlihat sangat kikuk. Yang lain mulai menyoraki Agung agar bertindak lebih jauh, Agung semakin bingung dan salah tingkah. Tidak sabar melihat sikap Agung, Anton, ketua kelas C menghampiriku dan menarik tanganku sehingga aku berdiri.

jilbab semok (3)
“begini loh Gung!” ujar Anton sambil mendekap tubuhku dari belakang, tangan kanannya meremas-remas buah dadaku yang masih tertutup pakaian terusan. “nih, terus diginiin” katanya sambil meletakkan tangan kirinya tepat di selangkanganku, lalu mulai menggerak-gerakkan jarinya dari luar rokku. Tak perlu waktu lama bagi libidoku untuk naik, aku memang paling tidak tahan bila daerah selangkangku dipermainkan. Apalagi saat itu semua mata di truk memandang ke arahku, secara refleks aku mengeluarkan desahan halus tanda kenikmatan. Tiba-tiba Anton menghentikan aktifitasnya dan mendorongku jatuh ke pangkuan si Agung. “tuh! Gituin! Cepetan! Yang lain juga pengin!” ujar Anton sambil kembali duduk di tempatnya.

Aku kini duduk di pangkuan Agung, penisnya yang sudah tegang terasa sekali menonjol menyentuh pantatku. Tanpa banyak bicara dia meremas payudaraku dari luar, akupun menjatuhkan tubuhku pasrah dipangkuannya. Tidak perlu waktu lama bagi tangannya untuk menyentuh dan membuka kancing depan bajuku dan dalam sebentar saja tangannya sudah menelusup ke balik BHku, meremas dan memain-mainkan putingku yang sudah dari tadi mengeras. Aku memalingkan wajahku ke belakang dan bibir kamipun berpagutan, kecupan-kecupan berubah menjadi hisapan-hisapan sebelum akhirnya menjadi sapuan-sapuan lidah yang sangat menggebu-gebu. Tangan kanannya masih aktif dengan payudara kiriku sedang entah sejak kapan, tangan kirinya telah bermain menusuk-nusuk selangkanganku. Aku menjadi sangat horny, aku tidak tinggal diam, tangan kiriku meremas-remas tonjolan di celananya, tampaknya dia sangat menikmatinya.
Aku sudah tidak tahan lagi, biasanya kalau sudah begini cowok di kelasku pasti sudah menyodorkan penisnya untuk ku oral. Tapi Agung tampak sangat polos.
“Aku isep ya?” akhirnya aku tidak tahan untuk tidak memintanya, Agung melepas pelukannya, aku berdiri lalu berlutut di dekat selangkangannya, dan mulai membuka resleting celananya. Di sisi lain truk terdengar desahan keras, begitu kutoleh ternyata Adhelia dan Yungky sudah mulai dipakai bersamaan. Aku jadi semakin horny, begitu penis Agung yang lumayan panjang dan kurus itu keluar dari celananya aku segera mengocok dan memasukkannya ke dalam mulutku, kuhisap dan kukeluar-masukkan ke dalam mulutku dengan cepat, diiringi sapuan lidah dan ludaku, Agung mengerang keenakan sambil nafasnya terus memburu. Akhirnya setelah beberapa menit mengoral, Agung berdiri dan merebahkan tubuhku di kursi.
“aku nggak tahan Da, aku pakai kamu sekarang…” ujarnya dengan nafas tak teratur sambil tangannya menggulung rokku hingga ke pinggang, dan langsung melucuti celana dalamku, dia membuka celana dan celana dalamnya, lalu membimbing penisnya ke vaginaku yg sudah lumayan basah.

Dalam hitungan detik dia menusukkan penisnya, tubuhku menggelinjang sambil mendesah keras, detik berikutnya, dia mengeluar-masukkan penisnya dengan berirama dan sangat cepat, membuat erangan dan desahanku semakin cepat juga.
“akh akh ukh akh a…gung.. akh aaah… ssshh…” desahku mengimbangi goyangannya yang semakin cepat.
“uuuh… Da… memiawmu enak banget… ah… ah… nikmat…” ceracaunya sambil menggenjotku lebih kencang dan dalam, aku semakin menggeliat-geliat, desahanku jadi berubah menjadi sedikit berteriak. Luar biasa sekali, Agung mampu mempertahankan bahkan menambah kecepatan genjotannya dalam waktu cukup lama, kira-kira 15 menit, biasanya cowok-cowok kelasku sudah mulai tidak teratur irama genjotannya pada waktu segitu. Agung meletakkan kedua tangannya ke payudaraku yang berayun, menjadikan mereka daya tumpu genjotannya.
“Aw…akh akh akh uh akh ah ahaaa ahaa akh…” desahku semakin kencang, aku hampir saja orgasme ketika kurasa Agung menghentikan genjotannya dan melesakkan penisnya lebih dalam.
“Ahhak…akh…” desisku saat penisnya menancap sangat dalam dan memuntahkan cairan hangatnya di rahimku. Sial pikirku, padahal aku hampir saja orgasme.

Melihat Agung telah mencapai ejakulasi, Anton (yang ternyata dari tadi memperhatikan) bergegas menarik tubuh Agung ke belakang. “Minggir loe! Lama amat dari tadi” katanya sambil menjauhkan Agung dariku. Tanpa banyak kata Anton mendekatiku dan melepas celana serta celana jeansnya. Penisnya yang kepalanya cukup besar di pegangnya dengan tangan kanan. Anton mengangkat kedua kakiku dan meregangkannya, hingga vaginaku yang sudah bercampur dengan cairan Anton terpampang jelas. Detik berikutnya aku mengerang saat kepala penisnya mulai memasuki liang kewanitaanku.
“augghm… ehm…” desahku. Anton menekan terus penisnya hingga seluruh batangnya tertanam di vaginaku.
“gila… bener-bener enak… hebat kamu Da” puji Anton sambil mulai menggenjotku.
“aah…akh..akh ekhm..uukh..hhh…sshhh” ceracauku saat penisnya keluar masuk dengan cepat. “augh..ugh…ugh…” jeritanku semakin kencang, begitu pula genjotan Anton. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk kembali larut dalam permainan seks, karena tadi aku sudah hampir orgasme.
Wawan dan Satria bergerak menghampiri tubuhku yang sedang digenjot oleh Anton. Di tengah-tengah desahanku, dengan santai mereka membantuku duduk dan melepaskan semua kancing baju depanku lalu melucutinya diikuti BHku. Sementara Anton tidak menghentikan aksinya sama sekali, membuat tubuhku sedikit terlonjak-lonjak.
“jilbabnya biarin aja” ujar Satria. “jadi lebih hot”.
Tubuhku direbahkan kembali, aku hanya menurut karena tubuhku memang sudah terasa sangat lemas. Sementara Anton semakin memasuk-masukkan penisnya semakin dalam, membuatku mengeluarkan teriakan-teriakan kecil.
Tidak lama kemudian Satria sudah menyodorkan penisnya ke mulutku, dan memasukkannya. Sambil menikmati genjotan Anton, aku mengulum, menghisap, dan menyapu batang penis Satria sampai Satria mengerang-erang kenikmatan.
“Hmph! Hmph slurp slurp ehkmm…” tubuhku mengejang keras. Aku orgasme, Satria dan Anton menghentikan gerakan mereka ketika tahu aku mencapai orgasme. Setelah beberapa detik mengejang, aku kembali lemas. Anton mencabut penisnya lalu memberi isyarat pada Satria agar minggir. Begitu Satria minggir, Anton membalikkan tubuhku yang benar-benar sudah lemas, dan menarik pantatku, aku tahu yang dia inginkan, doggy style…

Anton di belakang dan Satria di depan, dengan kedua tanganku bertumpu pada paha Satria Anton mengobok-obok vaginaku lagi. Dipegangnya pinggulku kencang, lalu digerakk-gerakkannya dengan cepat, kembali jeritan-jeritan kecil keluar dari mulutku. Tapi jeritanku tidak lama, karena setelah itu, Satria yang penisnya tepat di wajahku, menarik kepalaku dan mengarahkan penisnya ke mulutku.

Anton menggoyangku maju-mundur, dan itu membuat penis Satria terkocok oleh mulutku. Dan semakin kencang genjotannya, semakin cepat juga penis satria terkcok. Benar saja, tidak sampai 2 menit kemudian, Satria mencengkeram kepalaku yang masih tertutup jilbab dan mengeluarkan spermanya ke dalam tenggorokanku. Aku mencoba menelan semuanya, tapi sebagian spermanya masih menetes ke jilbabku. Satria mencabut penisnya dan duduk tidak jauh dengan wajah penuh kepuasan. Wawan menggantikan posisinya, sambil meremas-remas buah dadaku, dia memasukkan penisnya ke mulutku.

Sementara di belakang, Anton mencengkeram dan menguatkan pegangannya pada pinggulku, membuat gerakannya semakin kencang dan dalam, Rintihan dan jeritanku tertahan oleh penis Wawan. Kemaluanku terasa perih bercampur nikmat, Anton menunggangiku dengan kasar sekali, sepertinya dia menumpahkan semua nafsu birahinya padaku. Sampai akhirnya tubuhnya mengejang, dibenamkannya penisnya ke vaginaku sedalam dia mampu, dan dapat aku rasakan dia menyemburkan spermanya kedalam rahimku. Sesaat ketika Anton terdiam dan menikmati ejakulasinya, Wawan mendorong kepalaku hingga penisnya terkocok mulutku. Aku menggunakan lidahku, dan tampaknya dia keenakan.

Akhirnya Anton mencabut penisnya.
“Dasar pelacur!” katanya sambil memukul pantatku, aku sudah tidak peduli lagi, kata-kata itu sudah sering aku dengar. Wawan mencabut penisnya, menekan pinggulku dan memasukkan penisnya ke vaginaku, masih dalam doggy style. Aku sendiri sudah sangat lemas, tubuhku aku biarkan terkulai di bangku truk, sementara Wawan terus menunggangiku, mencari kenikmatannya sendiri. Desahan dan desisanku sudah sangat lemas, meski masih jelas terdengar.

Wawan menumpahkan spermanya diwajahku, bukan mulutku, tapi wajahku, sehingga jilbabku jadi belepotan terkena spermanya. Cairan kental itu berceceran di hidung, pipi dan mataku. Setelah mengeluarkan semua spermanya, dia menggesek-gesekkan penisnya ke bibirku. Dan sebelum pergi, Wawan meremas payudaraku kencang sekali sampai aku meringis kesakitan.

Aku lemas dan tebaring beberapa saat, sebelum akhirnya aku memaksakan diri mengambil tissue basah di tasku, lalu membersihkan sperma Wawan di wajahku, dan juga di kemaluanku. Setelah itu, aku mengenakan pakaian lengkapku lagi. Di sepanjang sisa jalan, aku diapit oleh tiga orang, Rio, Aris dan Nanang, Rio menarikku dipangkuannya dan menikmati payudaraku dari luar, sampai pakaian yang aku kenakan jadi kusut. Sementara Aris dan Nanang bergantian memacu penisnya dimulutku. Mereka tidak menunggangiku karena waktu yang tidak memungkinkan. Hanya Nanang yang sempat berejakulasi di dalam mulutku, Aris tidak. Setengah jam kemudian kami tiba di bumi perkemahan Malang, tempat pesta seks kami berikutnya.

Truk tentara yang kami gunakan menuju bumi perkemahan di Malang itu telah berhenti di pelataran parker. Aku dibantu oleh Agung dan Anton menurunkan tas ranselku. Dari kejauhan aku melihat Taufik sedang berbincang-bincang dengan kedua sopir truk itu. Dan entah apa itu perasaanku saja, tapi kedua sopir truk itu seolah melihat ke arahku.
Begitu selesai menurunkan barang, teman-teman segera menuju ke kapling perkemahan yang sudah disewa, kecuali Anton dan Taufik yang sepertinya masih ada urusan dengan para sopir truk itu. Tidak lama kemudian Taufik memanggilku, kontan saja perasaanku berubah jadi tidak enak. Benar saja, setelah mendekat, Anton langsung mengambil alih barang bawaanku dan bergegas pergi, sedangkan Taufik bicara perlahan ke arahku.
“bapak-bapak ini pingin make kamu Da, kamu naik ke dalam truk gih!”. Ujar Taufik pelan, aku tahu benar, ini perintah bukan permintaan. “ini pak Basuki dan yang ini pak Aryo” ujar Taufik sambil memperkenalkan aku kepada kedua sopir itu.
Keduanya berpostur tubuh bagus meski sudah berumur sekitar 40-an, itu karena mereka adalah supir truk mariner. Potongan keduanya cepak, hanya saja Pak Aryo berkulit gelap. Akhirnya akupun naik ke bangku depan truk, diapit Pak Basuki yang memegang kemudi dan pak Aryo. Taufik sendiri tidak ikut. Aku jadi takut, selama ini aku belum pernah melayani laki-laki yang usianya jauh lebih tua dariku, apalagi aku tidak tahu mereka akan membawaku kemana.
“kembali utuh lho pak…” pesan Taufik ketika mesin truk sudah menyala dan mereka siap pergi. Pak Basuki hanya tersenyum lebar. “beres” ucapnya. “utuh kok, paling cuman gak kuat jalan aja..”.Mendengar kata-kata itu aku langsung dapat membayangkan kalau mereka akan membantaiku habis-habisan. Tapi aku tetap berusaha tenang. Tangan pak Basuki menggapai tuas persneling, tapi oleh dia sengaja dilarikan ke selangkanganku yang tertutup rok tipis. Dia meremas kuat bagian itu, membuatku sedikit menggelinjang. Setelah itu, truk meninggalkan areal parkir. Baru beberapa menit dari bumi perkemahan, tangan Pak Aryo sudah menjelajah di tubuhku, mulai dari paha hingga dadaku, bahkan menyelusup ke balik jilbabku dan melepas kancing-kancing atasku. Lalu meremas-remas payudaraku dari balik bra.

jilbab semok (4)

Pak Basuki sama saja, kendati memegang kemudi, tangannya membimbing tanganku untuk membuka resleting celananya dan memainkan barangnya. Akupun menuruti kemauanya. Sampai akhirnya Pak Aryo menyingkap rokku ke atas, jarinya menelusup ke balik CD ku dan memainkan jarinya keluar masuk kewanitaanku. Aku sudah tidak berdaya, dengan baju dan jilbab yang kusut dan rok yang tersingkap, aku Cuma bisa mengerang, semakin cepat permainan jari Pak Aryo, semakin keras eranganku. Tubuhku kusandarkan lemas pada dada Pak Aryo yang semakin bernafsu memainkan vaginaku, nafasku tidak teratur, vaginaku benar-benar becek.

Akhirnya truk itu berhenti di sebuah jalanan sepi. Aku dan mereka berdua turun dan melanjutkan permainan ke bak belakang truk yang sebelumnya sudah ditutup. Tanpa segan mereka berdua melepas pakaiannya dan melucuti seluruh pakaianku, termasuk jilbab dan kaus kakiku. Aku ditelentangkan di lantai truk, Pak Basuki memasukkan penisnya yang lumayan besar ke mulutku, akupun menghisapnya. Sedang Pak Aryo asyik meremas dan menjilat serta menggigit-gigit putting susuku. Mereka melakukannya bergantian.

Puas dengan mulutku, mereka mengambil posisi, Pak Basuki yang pertama, dia melebarkan selangkanganku dan menancapkan penisnya sedikit-demi sedikit, seolah-olah dia sangat menikmati hal ini.

“eghhhh…ehmmm..akkkkh…….” ceracauku, Pak Basuki tetap tenang dan mengerang pelan sampai seluruh penisnya amblas ke dalam vaginaku. Lalu dia membiarkanku mengambil nafas. Sebelum dengan tiba-tiba dia menggenjotku dengan irama yang teratur dan cepat, aku kesakitan, meringis dan menjerit, tapi genjotan Pak Basuki malah semakin menggila. Herannya, berapa menit kemudian aku orgasme. Ini adalah orgasme tercepatku, mungkin ini bedanya kalau disetubuhi oleh orang yang lebih tua dan berpengalaman. PAk Basuki membiarkan aku sebentar, lalu kembali memompa penisnya di dalam vaginaku.
Aggh…ah…hmm…sshh… desahanku semakin kencang, libidoku naik kembali, tubuhku berkelenjotan digenjot Pak Basuki.
“enak banget… ehm… enak banget m3mekmu… sempit… kmu apain?” tanyanya sambil mempercepat genjotannya.
“ugh…ra..rajin…mm..minum daun sirih pak…ahh…sshh…. enak pak…” jawabku terputus-putus.

Dua puluh menit Pak Basuki menindihku, kewanitaanku benar-benar terasa perih dan panas.
“ah…aukkkh…agh..agh…agh…auwww” aku hanya menjerit sambil menggeleng-gelengkan kepalaku menahan sakit. Tubuhku benar-benar dihimpit dan kemaluanku benar-benar dipacu sangat kasar dan cepat. “sss…sssakit…agh….agh…auww…uhuhhh…” tanpa sadar aku mengeluarkan air mata. Pak Basuki tidak perduli. Waktu terasa sangat lama berjalan, rasa nikmat memang ada, tapi begitu juga rasa sakit.
“bapak keluar… keluarin di dalam ya?” katanya berbisik ditelingaku sambil menekan-nekan penisnya lebih dalam dan cepat lagi. Aku hanya mengangguk pelan, cowok-cowok memang suka banget ngeluarin di dalam, pikirku.
Akhirnya Pak Basuki menusukkan penisnya dalam-dalam, aku yang menyadari kalau dia mau ejakulasi menyambutnya dengan erangan keras. Dan cairan hangat menyembur ke rahimku.

Tubuhku penuh dengan keringat, keringatku dan Pak Basuki. Pak Basuki sendiri terlihat sangat puas.
Pak Aryo tidak menyia-nyiakan kesempatan barang semenit, dengan santai tubuhku yang lemas dibimbingnya dan kepala juga dadaku dinaikkannya ke jok truk, dia mau menunggangiku dari belakang.
“engghh… pelan pe..lan… agghh…” Aku yang sudah lemas hanya bisa melenguh pelan saat k0ntol pak Aryo melesak masuk ke vaginaku. Mudah saja penisnya masuk, vaginaku sudah amat basah dari campuran cairan kewanitaan dan sperma pak Basuki. Pak Basuki sudah mengenakan baju lengkapnya, dan beranjak keluar. Tak lama kemudian, mesin truk menyala.
“eengh….ah…ah… ehm..ehmm…” lenguhku saat Pak Aryo asik mengent0tku di posisi doggy style. Payudaraku yang terhimpit jok ikut bergoyang karena tubuhku sudah benar-benar lemas.
“Enak banget tempikmu lonte!!” kata Pak Aryo sambil mempercepat pacuannya. “Gua bakal ent*t loe ampe pagi! Tempik cewek jilbaban emang beda!!.” katanya. Kupingku panas mendengarnya, tapi aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa. Aq hanya bisa merintih dan semakin keras merintih. Tiba-tiba Pak Aryo menarik rambutku, hingga tubuhku tertekuk ke belakang, genjotannya semakin kencang, aq bisa mendengar bunyi kocokan penisnya di kemaluanku, tangan kanannya mencengkeram pinggulku erat-erat, dan dia terus memperkuat genjotannya.
“Aaaah! Aaakh! Aakh pak! Sss..sssakit! Sakit!” jeritku.
“Diam loe lonte jilbaban!!” Bentak Pak Aryo.

Aku terus menjerit, tapi Pak Aryo tidak perduli. Setelah beberapa saat, akhirnya dia melepaskan jambakan dan genggamannya, mambalikkan tubuhku dan memerintahku. “Pake jilbabmu!” Ujarnya kasar, sambil menangis aku mengenakan jilbabku. Pak Aryo mengeluarkan hp-nya dan mulai menekan tombol rekam. Dia menyodorkan k0ntolnya ke wajahku.

jilbab semok (5)

Tanpa disuruh, aku menghisap tongkolnya cepat-cepat, beberapa menit kemudian dia menarik lepas tongkolnya dan mengeluarkan air maninya di wajahku, sangat banyak, menetes2 hingga menodai jilbabku, lalu dipaksakannya tongkolnya masuk ke mulutku, dan ajaib! Dia mengeluarkan air maninya sekali lagi didalam mulutku, aq menelannya dan menjilati k0ntolnya hingga benar-benar bersih. Semuanya direkam olehnya.

“puas banget gua ngent*t cewek jilbaban kayak loe”. Katanya, “sekarang pake baju loe semua, kecuali bra ama CD!!”. Aku menurut saja.

Setelah merapikan pakaianku aku merasa truk mulai berhenti. “ayo turun, kita mampir sebentar” ujar Pak Aryo. aku menurut saja, dan begitu melihat sekitar ternyata aku berada di sebuah Markas batalyon di Malang. tampak seorang tentara muda mendekat dan berbincang-bincang dengan Pak Aryo.

“kamu bakal kita balikin ke kamp da..” ujar Pak Basuki pelan. “tapi ga mungkin dengan keadaan kumal gitu, kamu mandi dulu disini, toh kita juga butuh mandi, dan setelah mandi ntar kamu layanin dulu tentara muda itu, dia komandan disini”
“layani dia pak?”
“iya, ngent0t ma dia, tapi kayaknya dia bakal ajak beberapa orang kepercayaannya”
“aduh pak, saya capek, bapak tau sendiri kan tadi perjalanan Surabaya-Malang saya dipake temen-temen, trus dipake bapak-bapak”
“iya deh ntar saya coba lobby supaya dia ga ngajak temennya banyak-banyak, tapi kmu pinter ya? minum daun sirih buat ngesetin m3mek kmu?”
“saya emang dah biasa pak, dari kecil”

Pak Aryo selesai bicara dengan tentara muda itu, lalu mereka mendekatiku.
“kamu ikut mas Pras ini, mandi sana trus kita pulangin ke kamp”

Aku menurut saja, mengikuti Pras dari belakang, ia mengantarku ke sebuah kamar mandi di belakang barak, dan aku terkejut mengetahui kamar mandi itu gak ada pintunya.
“dah kmu mandi sana” ujar Pras sambil mencolek dadaku, “ntar aku sama temenku make kamu di kamar mandi itu oke?”.
“mas sendiri aja ya?, ga usah pake temen?” pintaku memelas.
“lho? kenapa?”
“saya capek mas, hri ini digilir banyak orang”
“oke deh, ya udah mandi sana, saya liatin dari sini”

jilbab semok (6)

Perlahan tapi pasti aku memlepaskan jilbabku, rambutku yang sebahu tergerai luluh, Mas Pras masih memandangiku dengan senyum-senyum sendiri. Meski sedikit risih, aku mencoba bertahan dengan melepaskan pakaian terusanku, dan segeralah terlihat payudara dan vaginaku yang memang tak tertutup bra maupun CD. Aku maju sedikit untuk menyentuh air di bak, dingin sekali, pikirku, segera kuambil segayung air dan sambil mencoba mengacuhkan dinginnya mala itu aku mengguyur tubuhku dengan air, dan mulai mandi. Kuambil sabun batangan yang ada di dekat bak dan kugosok-gosokkan ke tubuhku. Begitu selesai aku mengambil handuk dan mengeringkan tubuhku, belum selesai aku mengeringkan tubuhku, Mas Pras sudah menubrukku dari belakang, meremas-remas payudaraku lemas, aku mengerang sedikit dan pasrah dalam pelukannya.

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk hanyut dalam cumbuan Mas Pras, dan juga tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari kalau dia tidak lagi mengenakan celana, penisnya menegang dan menggesek-gesek belahan pantatku.
“isep!” katanya agak kasar di telingaku.
Aku segera berbalik, berlutut di depan k0ntolnya dan mulai membuka mulutku, memasukkan kepala penisnya dengan hati-hati, memainkan lidahku, dan menghisapnya sekuatku.
“ehmm… engg…” erang Mas Pras setiap kuhisap penisnya kuat-kuat.
“masukkan…hmm…. Yang dalam…” perintahnya, tanpa menunggu dia memegang kepalaku dan mengocok penisnya dalam mulutku.

Aku sedikit sulit berkosentrasi dengan tarikan di kepalaku, sekitar 2 menitan dia melepas kepalaku dan menarik k0ntolnya dari mulutku.
“pegangan ke bak, aku mau nunggangin kamu dari belakang!” perintahnya, dan segera setelah aku menungging dia melesakkan k0ntolnya ke temp1kku.
“Akkhh…” desahku kecil saat k0ntolnya menembus tiap lapis dinding luar vaginaku. Tanpa menunggu lama, mas Pras menggoyangku. Erangannya merasakan setiap kenikmatan saat menunggangiku menggema ke seluruh kamar mandi. Membuat desahanku juga jadi semakin kencang.

“ukh… enak… lama banget ga ngerasain tempikk… ukh…” ujarnya sambil memepercepat tunggangannya.
“akh! Akh!… akh… uuh… ssshh…” desahku sambil berusaha menerima goyangannya yang semakin kencang. Wajahku megap-megap dan mataku merem melek menikmati goyangannya.

Dicengkerammnya pinggulku dan ditekannya penisnya dalam-dalam sambil menarik pinggulku, sehingga pantatku menekan perutnya, aku jadi lemas, pasrah, dan lelah, kenikmatan yang kurasakan lambat-laun semakin mengambil-alih kendali atas tubuhku.
“akh! Akh!…uhmm… teruss… mas… aku… samp…sampai… AAAAgH!!!” akhirnya tubuhku mengejang, Mas Pras menghentikan gerakannya sekitar lima detikan, lalu kembali menunggangiku. Setelah beberapa menit dia menghujamkan penisnya dalam-dalam dan mengejang, aku dapat merasakan hangat spermanya yang mengisi kewanitaanku. Setelah puas dia memintaku membersihkan penisnya dengan lidahku.

“enak banget!” katanya, “aku bawa ke barak ya? Biar dient0t ma temen-temenku juga?” katanya, tapi aku buru-buru menolak sambil memasang wajah lemas. Untung dia mengurungkan niatnya.

Malam itu aku dikembalikan ke Bumi Perkemahan Malang, dimana ternyata anak-anak sedang pesta seks gila-gilaan di alam terbuka, bahkan beberapa pria yang ikut bukan dari kampusku.