USTADZAH YUNI

Ustadzah Yuni yang juga seorang dokter umum itu keluar dari kelas tempatnya mengajar. Ia seorang wanita alim dan shalihah, berjilbab rapat, berjubah amat besar dan lebar serta bercadar. Ia melangkah keluar pintu pesantren tempat ia membantu mengajar pelajaran umum. Tiba-tiba dilihat seorang lelaki bertubuh kekar memegang pisau. Wajah lelaki itu sangar. Ia memang seorang lelaki bekas napi yang masuk penjara karena memperkosa banyak gadis dan wanita cantik. Saat itu suasana amat sepi sekali. Padahal sudahjam sepuluh pagi. Lelaki itu ternyata menodongkan pisau di leher wanita alim ini. “Ustadzah Yuni ya?” Tanyanya. “Ya, ada apa ya?” Wanita bercadar yang bersuara lembut itu balik bertanya.

jilbab merah9

“Kalau kamu mau selamat, turuti kemauan saya.” “Kamu mau apa?” Kembali Ustadzah Yuni bertanya. “Saya Cuma mau ngentot sama perempuan bercadar. Sama kamu.” Bentaknya keras. Muka ustadzah itu memanas. Ia berkata ketus: “Tidak mungkin. Saya wanita baik-baik, saya juga sudah bersuami dan punya anak. Lagipula ini di luar rumah. Jangan bicara ngawur. Lepasin saya, saya akan bayar berapa aja kamu minta.” Ujar ustadzah itu dengan tegas berapi-api, meski suaranya tetap lembut.

jilbab merah7

“Saya Cuma mau memek kamu, memek perempuan bercadar. Karena Cuma perempuan bercadar yang belum pernah saya perkosa. Perawat, polwan, mahasiswi, sampai perempuan berjilbab lebar sudah pernah saya tusuk nonoknya.” Ujar lelaki itu. “Soal di luar rumah, jangan khawatir. Saya enggak minta kamu telanjang atau buka jilbab, cadar atau jubah sekalipun. Buka saja kancing jubah di bawah perut, turunkan celana dalam kamu, saya entot kamu sambil berdiri. Gimana?”

jilbab merah4

Ustadzah Yuni betul-betul terkejut mendengar itu. Tak lama kemudian keduanya terlibat pertengkaran mulut. Tapi akhirnya Ustadzah bercadar itu mengalah. Dengan tangan kiri memegang pisau yang ditodongkan di leher wanita itu, lelaki kekar setengah tua itu mendekati Ustadzah Yuni. Wanita bercadar itu mulai membuka tiga buah kancing di perutnya. Tangannya di masukkan ke balik jubah untuk menarik turun celana panjang berikut celana dalamnya putihnya. Mata lelaki itu terus melotot melihat turunnya celana dalam wanita bercadar itu.

jilbab merah3

Pemandangan yang tidak akan dilupakannya seumur hidup. Selanjutnya ia memepetkan tubuhnya ke wanita bercadar itu ke dekat dinding, lalu memeluknya dengan erat dengan tangan kanannya, ia mendekap wanita bercadar itu dengan erat sekali, sehingga terasa kehangatan tubuh Ustadzah Yuni meski terbalut jubah tebal dan jilbabnya. Resleting celananya di buka, penis super besarnya (24 cm dengan diameter 3 CM) dikeluarkan dari celananya, langsung di arahkan ke bagian jubah Ustadzah bercadar itu yang terbuka. Mata ustadzah Yuni melotot. Ia terkejut sekali melihat ‘barang lelaki’ sebesar itu. Selanjutnya, bagaikan ular mencari lubang, penisnya berusaha mencari lubang kemaluan ustadzah itu. Meski agak sulit, akhirnya berhasil. Setelah meletakkan kepala penisnya di lubang kenikmatan wanita bercadar yang masih dipeluknya sambil berdiri itu, ia langsung menekan dengan keras sehingga seluruh penisnya amblas ke dalam memek dokter Yuni, ustadzah bercadar yang malang itu. Ia mendekap erat tubuh wanita bercadar yang tetap rapat dengan jilbab cadar dan seluruh pakaiannya, kecuali celdam dan beberapa kancing jubah saja, sekedar muat untuk masuk kontol lelaki kesetanan itu. Sambil berdiri dan memeluk wanita bercadar itu, penisnya terus menusuk, menekan, mengobrak-abrik dan membongkar kemaluan wanita alim itu. Sementara ustadzah bercadar itu sendiri bergetar badannya. Ia merintih dan menjerit pelan tetapi dengan suara berubah agak besar, menahan tangis sekaligus kenikmatan tak terhingga. Kalau dilihat terlihat lucu, seorang wanita bercadar dipeluk di luar rumah, di tempat terbuka oleh seorang lelaki dengan pakaian lengkap, padahal kemaluan mereka sedang saling bertempur!!!

jilbab merah3

Hampir 1 jam lelaki bernama Parto itu menggarap wanita bercadar yang menggemaskan itu, sampai akhirnya spermanya muncrat di rahim wanita bercadar yang tubuhnya bergetar hebat sambil tetap berdiri itu. Mata wanita bercadar itu melotot lebar sekali, menandakan iapun keenakan. Tanpa sengaja ia membalas pelukan Parto. “Gimana, enak bu? Akhirnya berhasil juga saya ngentot wanita bercadar. Terima kasih, memek ibu enak sekali.” Lalu tubuh lunglai wanita bercadar itu dilepas hingga terjatuh ke belakang dalam keadaan pingsan!!

IZUL – MBAK KIKO

“Halo, Izul… kamu dimana?” ibu muda itu berteriak histeris dari telepon seluler.
“Iya, Mbak… Izul sudah di pintu masuk. Mbak dimana?” tanyaku balik.
“Dimananya, Zul? Di depan loket?” tanya dia lagi.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (10)
“Oh, bukan… belum nyampe loket, Mbak. Di pintu masuk. Mbak dimana ya, kok nggak kelihatan? Izul pake baju putih.“ mataku beredar ke depan, mengamati taksi, becak, dan mobil yang berbaris rapi di luar, mencari-cari sosoknya. Ini kali pertama aku akan bertemu dengan ibu muda yang cantik tersebut.
“Oh, Izul… Aku sudah lihat kamu.” ucapnya di telepon.
Aku pun bingung. Di depan tak satupun terlihat sepasang mata yang mencari diriku.
“Izul…!!” terdengar suara wanita memanggilku dari belakang. Bukan lagi dari telepon seluler.
Aku pun membalikkan badan, terlihat ibu muda itu melambaikan tangan ke arahku. Aku bergegas menyusul, ke depan loket. “Mbak Kiko ya?” sapaku.
“Iya, Zul. Akhirnya nggak sekedar di dunia maya, hehehe…” ia tersenyum.
”Saya senang bisa ketemu Mbak.” sambil berjabat tangan, kucium kedua pipinya. ”Dek Afi mana, Mbak?” tanyaku, tadi lewat sms dia mengabarkan kalau datang bersama anaknya.
Belum sempat dia menjawab, datanglah adik kecil dengan jilbab pastel membingkai wajahnya yang imut. Dia malu-malu, tapi santun sekali. Tidak nakal.
“Halo… Dek Afi ya?” aku menyapa ramah. Seketika gadis kecil itu mencium tanganku. Kali ini dia tidak hanya tersenyum, tapi hampir tertawa, memamerkan gigi-gigi kelincinya yang lucu sekali.
“Iya. Ini Afi, Zul. Kalau kakaknya yang gendut itu nggak kuajak, kemarin udah ikut ke Bromo soalnya. Hihihi…” Mbak Kiko tertawa ceria.
Kamipun masuk ke bioskop dan lekas mencari tempat duduk. Sesekali masih kuperhatikan dia, ternyata Mbak Kiko melebihi bayanganku selama ini. Tante Retno bilang kalau dia gendut, Mbak Kiko juga sering berkata demikian. Tapi ibu muda yang saat ini duduk denganku, jauh dari kesan itu. Ya, memang tidak bisa dibilang kurus. Tapi untuk dibilang gendut, tidak cocok juga. Tubuhnya berisi, kalau tidak mau dikatakan seksi ataupun montok. Wajahnya sedikit cubby, matanya tidak terlalu lebar, tapi hidungnya mancung dan kulitnya cukup bersih.
Yang paling menarik adalah, dia sangat-sangat cantik, hampir mendekati jelita. Tidak terlalu kelihatan kalau sudah mempunyai dua orang anak. Mbak Kiko begitu lincah dan ceria, mirip gadis perawan.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (9)
“Mbak, Izul kaget lho tadi. Ternyata Mbak sangat cantik, hihihi…” candaku saat film sudah mulai diputar.
“Cantik dari mana, Zul? Aku tuh gendut, udah ibu-ibu lagi.” sahutnya.
”Enggak… bagiku, wanita seperti Mbak ini yang kelihatan menarik.” bisikku.
Mbak Kiko tertawa, ”Ah, kamu bisa aja, Zul.”
Kugenggam tangannya, dia tidak menolak. Kami terus saling bergandengan selama film diputar.
”Aku juga kaget tadi pas lihat kamu, kok ternyata bongsor ya. Hihihi…” senyumnya begitu keluar dari ruang bioskop. Dia mengomentari tonjolan penisku, tak sengaja dia menyenggolnya tadi.
Aku tertawa, “Hehe… iya, Mbak. Kalau kurus, bisa-bisa Izul nggak laku. Yang ini harus dirawat baik-baik.” sambutku.
Dia ikut tertawa, dan mengajakku mampir ke foodcourt untuk makan siang. ”Jadi gak sabar pengen cepat merasakannya,” bisiknya nakal di telingaku saat kami duduk menunggu pesanan.
”Sabar, Mbak. Bentar lagi,” kugenggam tangannya.
Dia ekspresif sekali. Gerak-gerik matanya menggambarkan kalau ibu muda yang satu ini memang tidak betah kalau hanya diam saja. Gerakan kepalanya, pandangan matanya, cara berjalannya… semuanya membuatku penasaran, apakah dia akan begitu juga di atas ranjang? Ah, mudah-mudahan saja.
Pembicaraan demi pembicaraan kami mengalir begitu saja dalam kurun waktu satu jam tersebut. Mbak Kiko banyak bercerita, aku banyak mendengarkan. Sesekali dia bertanya dan aku menjawab sambil senyum saja. Aku juga sempat mengobrol sama Afi, anak pertamanya yang sekarang duduk di bangku kelas 1 SD. Begitu mengalir saja. Anak-anak selalu menarik perhatianku.
“Zul, kok Mbak Retno bisa tahu kamu?” tanyanya.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya.
“Dapat info dari siapa?” dia bertanya lagi.
Aku menggeleng, “Maaf, Mbak. Itu rahasia, hehe…” kilahku.
Mbak Kiko terlihat penasaran sekali, tapi roman mukanya tetap ceria penuh canda. Mungkin dia tahu kalau aku tidak akan memberikan keterangan apa-apa, jadi begitu dia paham dengan ekspresiku, dia ganti topik pembicaraan.
Ceritanya pun mengalir begitu saja. Tentang gunung, tentang saxophone, tentang musik jazz yang ia gemari, tentang lomba lukis yang pernah diikuti Afi di Bogor, tentang apa-apa yang mungkin bisa mengisi waktu luang kami.
Aku membalas ceritanya dengan senyum ringan saja, sesekali menjawab seperlunya. Sudah prinsipku, biar klien yang mengungkapkan jati diri mereka, sedangkan aku harus tetap menjadi misteri bagi mereka. Dengan begitu para ibu atau tante itu akan selalu mencari dan penasaran dengan keberadaanku. Dan itu berhasil. Aku sudah membuktikannya, percayalah!
“Dek Afi suka nglukis ya… kakak boleh lihat?” kugoda Afi yang sejak tadi mungkin bingung dengan percakapanku dengan ibunya.
Afi menggeliat. Tersenyum. Mungkin gadis kecil ini setipe denganku. Respon untuk mengatakan suka atau tidak ketika diajak bicara, sempurna ditutupi. Bukan datar, tapi senang mendengar dulu, baru sedikit-sedikit mengomentari.
Kami cukup lama mengobrol, sampai akhirnya… mbak Kiko memintaku untuk mengantarnya pulang. Ok, inilah saatnya. Dengan menggunakan mobil Mbak Kiko, kamipun meluncur.
Berhubung waktu pulang hujan turun cukup lebat, aku harus mengambil jalan memutar yang cukup jauh untuk menghindari wilayah yang biasanya banjir. Selama perjalanan menuju rumahnya, kami terus mengobrol kesana kemari. Saat masih berada di mobil, entah dalam konteks apa, tiba-tiba kami terlibat dalam obrolan yang cukup menyentil.
“Apa kamu suka melakukan pekerjaan ini, Zul?” itu pertanyaan pribadinya yang pertama kuingat. Pandangannya tetap lurus ke depan kaca mobil. Di bangku belakang, Afi sudah terlelap tertidur sambil memeluk boneka beruangnya.
“Yah, namanya nyari uang, Mbak. Apapun harus dilakukan,” jawabku diplomatis, setelah sebelumnya agak gelagapan menerima pertanyaan yang agak sensitif itu.
“Kamu nggak bohong?” tanyanya bernada tak percaya.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (8)
“Memang kenapa?” aku mulai berani memancing.
“Ya nggak apa-apa, cuma nanya aja kok. Nggak boleh?” ia menoleh ke arahku, menatap wajahku.
“Boleh,” aku tersenyum.
Kemudian kami saling terdiam selama beberapa menit.
“Mbak sendiri gimana?” tanyaku balik.
“Maksud kamu?” ia pura-pura tak mengerti.
“Dengan melakukan ini, apa mbak nggak merasa berdosa sama suami?” Ok, aku tahu, ini pertanyaan yang berbahaya. Kalau dia tiba-tiba mengusirku, aku tidak akan membantah.
“Ya kadang-kadang sih…” gumamnya pelan. “Tapi ini bukan salahku juga. Kalau saja suamiku nggak sibuk kerja, aku pasti nggak akan melakukannya.” ia menambahkan.
“Sudah lama?” tanyaku lagi.
Kali ini Mbak Kiko mengerti arah pertanyaanku, ia tampak menerawang sejenak sebelum menjawab. “Baru dua kali, dan semuanya mengecewakan.” dia lalu menatapku, ”Aku harap kali ini berbeda.” pintanya.
Aku tersenyum, “Percayalah, Mbak. Aku nggak akan berani memenuhi undangan Mbak kalau nggak yakin bisa!”
Dia mengangguk dan ikut tersenyum, “Mudah-mudahan begitu, percuma aku berbuat dosa kalau apa yang kucari tidak kudapatkan.”
”Mbak,” kuberanikan diri untuk menggenggam tangannya. Dan ia diam saja. Bahkan kemudian membalas remasan tanganku. “Aku jadi takut!” kataku lirih.
“Takut apa?” ia bertanya.
“Takut kalau Mbak akan ketagihan sama punyaku.” candaku.
“Ihh, dasar!” ia memekik sambil tangannya mencubit pahaku.
”Auw,” aku berteriak, meskipun cubitannya tidak sakit. “Cubit yang lainnya dong…” aku menggodanya lagi.
“Yee, maunya!” tapi tangannya tetap terulur ke arah selangkanganku dan mulai menarik retsleting celana jeans-ku ke bawah.
Masih dalam posisi menyetir, aku segera mengatur posisi agar ia bisa leluasa membuka celanaku. Dalam sekejap milikku sudah terjulur keluar dari celah atas celana dalamku. Milikku mulai membesar tapi belum tegang.
Tangan kanan Mbak Kiko lalu mulai beraksi dengan meremas dan memijit-mijitnya, membuat otot pejal kebanggaanku itu mulai bangun dan berdiri tegak. Rasanya nikmat sekali, aku harus berusaha keras membagi konsentrasi dengan menyetir mobil. Apalagi di luar sana hujan turun semakin lebat. Wiper yang bergerak-gerak seperti tak mampu menahan air hujan yang mengalir turun memenuhi kaca depan, sebagaimana aku tak dapat menahan rasa geli akibat tangan Mbak Kiko yang mulai mengocok pelan.
“Digenggam dong…” kataku menuntut saat Mbak Kiko hanya menjepit dengan menggunakan jempol dan jari tengahnya.
“Tadi katanya minta dicubit aja,” jawabnya sambil melakukan gerakan mencubit pelan pada pangkal kemaluanku yang kini sudah mengeras tajam, membuatku menggelinjang ringan karena kegelian.
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Ya sudah, aku nikmati saja apa yang ia lakukan. Bahkan aku kemudian menjulurkan tangan kiri ke arah buah dadanya yang masih terbungkus baju lengan panjang tanpa kancing, sementara tangan kananku tetap memegang kemudi. Kurasakan buah dadanya sudah mengeras kencang. Meski tertutup jilbab lebar, benda itu terasa empuk dan sangat kenyal sekali. Ukurannya juga begitu besar, membuatku jadi makin bernafsu meremasnya. Maka mulailah acara saling meremas dan memijit di dalam mobil, di tengah hujan deras yang masih mengguyur di sepanjang jalan.
Tampaknya Mbak Kiko mulai terangsang dengan gerayangan tanganku pada buah dadanya. Ia memintaku untuk melakukannya di bagian tubuhnya yang lain, dengan tangannya ia menuntun jariku untuk menuju ke sela-sela pahanya yang sengaja dibuka agak lebar. Roknya sudah ia tarik ke atas sebatas pinggul, menampakkan kulit pahanya yang putih mulus dan sangat licin sekali. Maka jari-jari tangan kiriku pun segera beraksi, meraba tepat di bagian depan celana dalamnya yang menyembul hangat dan sudah mulai basah.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (7)
Tapi pandanganku tetap harus ke depan, ke arah jalan yang mulai masuk ke kompleks perumahan. Di sampingku, Mbak Kiko dengan enaknya terus menggeliat-geliat sambil mendongakkan kepalanya, menikmati segala gelitikanku pada bagian luar cd-nya, tepat di bagian celah kemaluannya. Sementara tangan kanannya kini tak lagi memijit-mijit, tapi sudah menggenggam batang penisku yang makin meradang karena terus dikocok-kocok olehnya.
Aku menarik tanganku dari sela paha Mbak Kiko ketika mobil sudah mulai masuk ke jalan menuju rumahnya. Ia sempat mendesah ketika aku menghentikan aksiku, terlihat nanggung dan kecewa.
“Sudah sampai, Mbak.” kataku memberi alasan sekaligus mengingatkan dia.
Mbak Kiko segera membenahi pakaiannya dan kemudian gantian membereskan celanaku yang sudah setengah terbuka. Kemaluanku yang belum sepenuhnya lemas, agak sulit untuk dibungkus kembali.
“Bandel nih!” gerutunya lucu.
“Makin bandel makin ngangenin, Mbak… hehehe.” aku tertawa melihat ia kesulitan memasukkan batang kemaluanku kembali ke dalam celana.
”Kegedean, Zul.” gumamnya rikuh.
“Sudah biarin, nanti juga dikeluarin lagi.” sahutku.
Dia lalu kusuruh turun duluan menuju teras sambil menggendong Afi yang masih terus terlelap. Aku kemudian memasukkan mobil ke garasi, lalu membetulkan celanaku dan kemudian bergegas keluar menuju teras, menyusulnya. Jilbab dan baju Mbak Kiko terlihat agak basah oleh air hujan.
Kami lalu segera masuk ke dalam rumah. Inilah pertama kalinya aku melakukan kencan di rumah, biasanya di hotel atau villa. Untuk Mbak Kiko aku memberi pengecualian, tante Retno sudah mengatakannya kemarin, ibu muda itu cuma mau melakukannya disini, di rumahnya. Ok, ya udah. Aku jalani aja.
Memang aku jadi sedikit canggung dan kurang nyaman, takut dipergoki oleh penghuni yang lain. Tapi jaminan dari Mbak Kiko, juga saat menatap kaos panjangnya yang basah, yang menampakkan bagian gumpalan buah dadanya, membuatku jadi berpikir lain.
Aku kembali terangsang melihat tubuhnya. Maka setelah ia menaruh Afi di kamar dan keluar menemuiku yang menunggu di ruang tengah, segera kupeluk tubuhnya dan kami pun lalu tenggelam dalam ciuman yang hangat dan penuh gelora.
Saat itulah untuk pertama kalinya aku benar-benar bisa merasakan kehangatan dan kelembutan bibirnya. Sudah sejak tadi aku merindukan percumbuan seperti ini, sehingga nafasku terdengar memburu saat kami berciuman dengan lahapnya. Tanpa perlu disuruh, mulai kujamah bagian-bagian tubuhnya yang sensitif. Terutama dada dan pantatnya yang membulat, yang sepanjang jalan tadi selalu membuatku bergairah.
Mbak Kiko pun langsung membalas, ia remas cepat milikku yang sudah mengeras di balik celana pantalon yang kukenakan. ”Ehm, Zul…” ia merintih dalam dekapanku.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (6)
Aku makin bernafsu, sambil tetap melumat bibirnya, kutekan telapak tanganku ke celah pahanya yang tertutup rok panjang lebar, meremas daging lembut yang ada di sana. Aku sudah akan mencopotnya saat Mbak Kiko berbisik di telingaku, ”Jangan disini, nanti ada orang yang lewat.”
Ah ya, benar. Maka cepat kulepas pelukanku.
“Kita ke kamar aja.” katanya sambil menarik tanganku, mengajakku pergi ke kamar tidurnya. Aku menurut saja, kuikuti dia sambil menggandeng pinggulnya.
Di dalam, birahi kami memanas kembali. Ciuman pun berkembang menjadi acara saling remas, saling tekan, saling rangsang, dan puncaknya; kami berdua lalu saling membantu untuk melepas pakaian satu sama lain dan membiarkannya terserak di lantai.
Di luar, hujan masih turun dengan derasnya. Suara tempaan airnya menyamarkan desahan dan lenguhan yang keluar dari mulut kami berdua. Tubuh bugil kami bergelut dengan penuh gairah di atas ranjang. Mbak Kiko yang berjilbab, ternyata besar juga nafsunya. Ia meminta ijinku untuk melakukan oral seks setelah beberapa saat tubuh telanjang kami menempel erat.
”Boleh ’kan, Zul?” pintanya sambil memegangi penisku.
Tentu saja kuijinkan.  Siapa juga yang mau menolak.
Ia dengan penuh nafsu segera melumat dan mengisap kepala kemaluanku yang terlihat bulat membonggol dan tampak licin mengkilat akibat lumuran cairan precum. Mbak Kiko mengaku, ia suka dengan milikku yang katanya berukuran besar dan panjang. ”Pasti aku akan puas nanti!” yakinnya sambil terus melakukan permainan mulut.
Aku berusaha mengimbangi dengan merangsang bibir kemaluannya dengan jariku. Saat itu posisiku setengah rebahan dan menyandarkan kepalaku pada sandaran springbed. Sedangkan Mbak Kiko berbaring miring setengah telungkup di samping pinggangku. Ia menggeliat ketika jari tengahku mulai menerobos masuk ke celah kemaluannya, sementara jempolku bermain-main pada klitorisnya.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (5)
“Ouw…” jeritnya tertahan, sedikit menjengit tapi terlihat suka.
“Kenapa, Mbak, enak?” tanyaku sambil menusukkan jari tengahku lebih dalam dan memutar jempolku lebih keras pada tonjolan kecil di atas bibir kemaluannya.
”Ahh, Zul…  aku.. ehss… ughh…” kembali mulutnya bersuara, tapi kali ini lebih riuh dan lebih mirip desisan. Sejenak mulutnya terlepas dari batang kemaluanku, tapi sesaat kemudian ia menunduk kembali dan melumat habis batangku hingga hampir ke pangkalnya, dan mengisapnya sedemikian rupa sampai aku merinding kegelian. Pantatku sempat tersentak-sentak karena saking nikmatnya.
Gila! Kelihatannya aja lugu dan alim, ternyata jago juga nyepong kontol. Aku takjub dan benar-benar tak menyangka. Ditambah tubuhnya yang masih utuh sempurna, resmilah Mbak Kiko jadi salah satu langganan favoritku.
“Kenapa, enak ya?” katanya sambil melirikku, lalu melanjutkan kulumannya kembali. Sepertinya ia ingin membalas atau mungkin ingin mengimbangi perbuatanku.
Selanjutnya kami tak sempat bicara sepatah kata pun karena terlalu serius untuk saling melakukan dan menikmati rangsangan. Mataku terpejam mencoba menikmati setiap hisapan mulutnya, sementara jari-jari tanganku terus asyik bermain-main di sekitar liang kewanitaannya.
Berbeda dengan milikku yang kasar dan lebat, rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan Mbak Kiko tak terlalu lebat, terlihat halus dan tercukur rapi. Tentu saja karena dia wanita yang cinta kebersihan. Aku jadi suka sekali mengusap-usapnya. Mbak Kiko berusaha mengimbangi dengan menciumi juga bulu-bulu yang tumbuh di sekitar selangkanganku. Saat sudah tidak tahan lagi, barulah dia melepaskannya.
”Ayo, Zul, sekarang!” ia meminta sambil bangkit dari posisi tengkurapnya, lalu mulai mengangkangi pinggulku, dan kemudian menelusupkan batang penisku yang sudah menegang keras ke sela-sela pahanya.
Dengan posisi antara duduk dan bersandar, aku mencoba membantunya dengan sedikit mengangkat pantatku ke atas. Maka sedikit demi sedikit amblaslah kepala kemaluanku ditelan mulut kecil yang ada di selangkangannya. Terasa sekali liang itu begitu ketat, lembut menjepit sepanjang batangku. Rasanya hangat, lembut dan agak-agak terasa kesat. Tipikal kewanitaan yang jarang sekali dipakai.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (4)
Kenikmatanku semakin terasa ketika kepala penisku yang sensitif mulai menyentuh ujung dinding kemaluannya. Sejenak Mbak Kiko memutar-mutar pinggulnya seolah merayakan pertemuan total itu. Secara spontan kami berdua serempak mengeluarkan rintihan kenikmatan yang sejak tadi tertahan, ”Ooughhhh…!!!”
Mbak Kiko tampak meresapi jejalan batang penisku dan gesekan urat-urat yang ada di sekujur permukaannya. Mulutnya mendesis-desis seperti orang kepedasan. Beberapa kali jarinya berusaha menyentuh bagian luar bibir kewanitaannya, seperti mau menggaruk seolah kegelian, namun tak bisa.
Ia kemudian mengatur posisi berlututnya sedemikian rupa hingga jadi lebih bebas bergerak. Beberapa saat kemudian, setelah kami sama-sama siap, Mbak Kiko mulai menggenjot tubuhnya naik turun. Makin lama genjotannya menjadi semakin cepat, sehingga membuat buah dadanya yang besar jadi tampak berayun-ayun indah di depan wajahku.
Mulutku segera menangkap putingnya yang sudah mengeras tajam dan langsung melumatnya habis, dua-duanya, kiri dan kanan.
”Auw!” ia menjerit tertahan, namun aku tak mempedulikan. Terus aku mengulum kedua bukit padatnya itu secara bergantian. Sementara di bawah sana, pinggulku terus menyentak-nyentak mengimbangi genjotannya di atas tubuhku. Terasa sekali rasa nikmat mulai menjalar di sekitar pangkal dan sekujur batang kemaluanku. Suara hujan di halaman depan makin membuatku bergairah.
Entah sudah berapa lama kami dalam posisi seperti ini, terus menggoyang dan saling memperdengarkan rintihan dan desah penuh kenikmatan. Tubuh Mbak Kiko makin meliuk dan menggeliat-geliat di atas tubuhku. Kedua pahanya yang sejak tadi mengangkang dan bertumpu di tempat tidur, mulai kuelus-elus. Dan rupanya ia menyukainya, karena lenguhan kenikmatannya makin keras terdengar.
Elusanku lalu bergeser ke bukit pantatnya. Tapi kini aku tak lagi mengelus, tanganku lebih sering meremas di bagian itu, membuat Mbak Kiko makin menggelinjang geli akibat ulahku. Tak lupa juga terus kucucup dan kujilati kedua putingnya hingga membuat dia merintih semakin keras. Kami mengakhiri permainan ketika Mbak Kiko mulai menunjukkan tanda-tanda akan mencapai puncak birahi.
Aku segera mempergencar tusukan dan hentakan dari bawah, sementara dia memeluk kepalaku erat-erat hingga membuatku terbenam dalam di belahan dadanya yang curam. Kedua kakinya juga menjepit erat pinggangku, membuat posisi bersandarku jadi agak merosot ke bawah. Beberapa menit kami masih sempat bertahan dalam posisi itu sambil terus berpacu menuju puncak kenikmatan.
“Zul… Izul… ahh… aku…” rintihnya.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (2)
“Iya, Mbak… keluarin aja… jangan ditahan…” sahutku.
”Ahh… auw!” mendadak rintihannya berubah menjadi keras.
Segera kuangkat dan kubalik tubuhnya, lalu kembali kutindih dia. Kini aku yang berada di atas, kugenjot tubuh mulus Mbak Kiko habis-habisan sampai kami berdua akhirnya mencapai orgasme secara hampir bersamaan.
”Mbak… ahh… ahh…” aku mengerang-ngerang ketika kurasakan air maniku mulai menyembur kencang. Ada sekitar empat kali aku menembakkannya. Alirannya terasa nikmat di sepanjang batang kemaluanku. Rasanya berdesir-desir menggelikan.
”Ehm, Zul…” Mbak Kiko pun kulihat ikut menikmati puncak birahinya. Wajah cantiknya memerah dan matanya terpejam, sementara tubuhnya sesekali bergetar menahan rasa nikmat yang menjalar di seluruh pusat kewanitaannya.
Pelan kulumat bibirnya yang basah memerah, dan kami pun melengkapi puncak kenikmatan ini dengan ciuman yang amat dalam dan lama. Sesekali tubuh kami tersengal oleh sisa-sisa letupan kenikmatan yang belum sepenuhnya reda.
Suara riuh hujan tak terdengar lagi. Hanya bunyi tetes-tetes air yang masih berdentang-dentang menimpa atap teras depan. Entah sejak kapan hujan mulai reda. Kami terlalu sibuk untuk memperhatikannya.
Selama beberapa saat, kami terus berbaring berpelukan di atas ranjang. Masih dengan telanjang dan alat kelamin menempel erat. Aku berbaring di atas tubuh Mbak Kiko yang telentang. Tanganku mengusap-usap tonjolan buah dadanya yang bergerak-gerak halus seiring tarikan nafasnya. Sementara ia bermain-main di sekitar pantat dan buah zakarku yang terasa basah oleh ceceran sperma dan cairan kewanitaannya.
“Gimana, Mbak, suka dengan permainanku?” tanyaku meminta pendapatnya.
“Suka banget!” dia mengangguk. ”Nggak salah Mbak Retno merekomendasikanmu.” tambahnya genit.
“Aku juga, Mbak…  selain cantik, Mbak juga sangat seksi dan begitu menggairahkan!” kataku.
“Ah, kamu bisa aja,” ia melenguh manja.
“Beneran… nih buktinya.” kugerakkan penisku yang mulai kembali menegang di dalam liang vaginanya.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (1)
”Auw… sudah ah… geli, Zul!” ia tergelak, dan kami lalu tertawa bersama. Sementara tanganku terus meremas tonjolan buah dadanya, meremas dan terus meremas hingga akhirnya kami kembali bergelut di atas ranjang, mempersiapkan permainan berikutnya.
Tapi untuk ronde yang kedua ini, kami hanya melakukannya sebentar saja karena suami Mbak Kiko sudah waktunya pulang dari kantor.
“Makasih ya, Zul…” katanya saat kembali merasakan orgasme, entah untuk yang keberapa kalinya di hari itu, di pertemuan pertama kami. Sementara aku baru saja menyemburkan spermaku yang kedua, sekaligus juga yang terakhir.
”Sama-sama, Mbak.” sahutku sambil mencium bibirnya.
Kami pun berpisah. Sesaat sebelum aku pergi, Mbak Kiko memberiku satu bungkus jajanan untuk oleh-oleh, “Maaf ya, Zul… cuma ada ini.” katanya. “untuk bayaranmu, besok aku transfer.” tambahnya lagi.
“Eh, iya… nggak apa-apa, Mbak… ngak usah buru-buru.”sahutku. Kupandangi ia yang kini kembali mengenakan baju panjang dan jilbab lebar, tidak lagi telanjang seperti tadi. Dengan pakaian seperti ini, tentu tidak akan ada yang menyangka kalau Mbak Kiko sebenarnya adalah wanita kesepian yang butuh kehangatan.
Dia memencet hidungku, ”Burungmu enak, kapan-kapan kupanggil lagi ya…” bisiknya.
”Siap, Mbak… anytime deh pokoknya buat mbak.” aku melambaikan tangan, berharap bisa secepatnya bertemu lagi dengan bidadari berjilbab ini.

LATIFA , PUTRI YANG TERNODA

Latifa telah mulai bersiap-siap untuk kembali Yogyakarta setelah seminggu berada di desa kelahirannya. Telah bulat tekadnya bahwa kedatangannya ke desa kelahirannya di pulau bali kali ini adalah yang terakhir kali, bukan karena Latifa telah menjadi angkuh dan lebih senang di kota besar, melainkan ada sebab lainnya. Telah terpenuhi tugasnya sebagai putri yang berbakti yaitu menghadiri dan mendampingi ibu kandungnya disaat-saat terakhir sakit dan sampai menutup mata serta dimakamkan.

jilbab-toge-putri-aulia-latifa- (1)

Latifa yang berwajah cantik itu adalah seorang jururawat dengan kedudukan cukup mantap dan baik di sebuah rumah sakit terkenal di ibukota. Ia telah menikmati pendidikan sebagai jururawat bukan saja di Yogyakarta, namun telah dilanjutkannya di Amsterdam, Belanda dan memperoleh ijazah perawat internasional. Oleh karena itulah setelah kembali dan memperoleh pekerjaan di Yogyakarta, hanya dalam waktu singkat Latifa – dengan nama lengkap sebenarnya Putri Latifa, telah menduduki jabatan kepala dari seluruh team perawat, termasuk bagian operasi dan juga ICU/CCU – meskipun usianya baru 22 tahun dan belum berkeluarga karena sibuk dengan tugasnya sehari-hari di tempat kerja. Telah banyak dokter-dokter muda yang mengincarnya namun belum ada satupun yang dapat merebut hati si perawat cantik ini.

Ibu kandungnya yang tetap tinggal di desa telah menikah lagi beberapa tahun lalu karena suaminya telah meninggal dunia akibat kecelakaan. Sebagai “janda kembang” berusia awal empat puluhan dan masih terlihat anggun menarik, tak mudah hidup di desa pedalaman, selalu dijadikan bahan pergunjingan.  Latifa sebenarnya tak begitu senang bahwa ibu kandungnya menikah lagi – apalagi ketika diketahuinya bahwa ayah tirinya adalah Kades Dollah yang terkenal “hidung belang” dan sering main gila dengan istri orang lain. Dollah telah tiga kali menikah dan semua pernikahannya kandas karena perselingkuhannya.

Terbukti pada saat duduk di pelaminan bersama dengan ibunya, terlihat sering sekali mata Dollah mampir ke arah Latifa anak tirinya seolah ingin menelanjangi tubuhnya, membuat Latifa resah dan tak betah.

Oleh karena itu pula Latifa jarang pulang ke desa kelahirannya karena segan bertemu dengan ayah tiri yang mata keranjang itu, justru sang ibu yang lebih sering datang ke kota mengunjungi putrinya dan selalu menanyakan kapan kiranya putri semata wayangnya itu akan menikah dan mempunyai keturunan.

Sebelum keinginan mempunyai cucu dari putrinya tercapai terjadilah musibah tak terduga: desa kecil itu mengalami wabah demam berdarah – dan salah satu korbannya adalah ibu kandung Latifa. Entah karena memang daya tahan tubuhnya kebetulan sedang lemah atau ada faktor lain, maka proses sakit ibu Latifa itu sangat cepat dan hanya dalam waktu tak ada 2 hari langsung meninggal akibat pendarahan hebat.

Kesedihan Latifa tak dapat diuraikan dengan kata-kata, namun sebagai seorang yang taat beragama maka Latifa menerima tabah percobaan yang menimpanya. Semua acara adat dan tradisi desa diikuti oleh Latifa dengan patuh, semua kebiasaan ritual yang sangat melelahkan dijalankannya pula.

Selama upacara sampai dengan pemakaman selesai, Latifa selalu memakai chadar tipis berwarna hitam dan demikian pula jilbab dengan warna serupa. Dihadapan semua yang hadir sebelum jenazah ibunya dimakamkan, Latifa berjanji akan selalu memakai jilbab putih selama satu tahun – juga selama menunaikan tugasnya di RS sekembalinya di yogyakarta , ini sebagai tanda penghormatan dan juga masih berkabung.

Dengan dalih bahwa masih ada sedikit warisan dan peninggalan pribadi ibunya almarhum yang masih harus diurus dan setelah itu disimpan sendiri oleh Latifa, maka sang ayah tiri Dollah dan putra kandungnya (kakak tiri Latifa) bernama Ghazali dengan nama panggilan Ali meminta agar Latifa tak langsung keesokannya kembali ke ibukota, melainkan menginap satu dua malam lagi setelah acara duka cita dengan penduduk desa selesai.

Sebetulnya Latifa telah ingin segera meninggalkan ayah dan kakak lelaki tirinya secepat mungkin, tapi dengan muslihat kata-kata keduanya mengemukakan bahwa apalah pandangan penduduk desa jika putri satu-satunya langsung meninggalkan desa kelahiran sementara tanah pemakaman ibunya masih basah.

Akhirnya Latifa mengalah dan menelpon RS tempatnya bekerja bahwa ia baru akan kembali bekerja dua hari kemudian – sebuah kesalahan yang tak dapat dibayar atau ditebus kembali dengan apapun.

***

Di sore hari itu hujan turun dengan amat deras – disertai suara petir dan guntur silih berganti, karena itu jalanan diluar sepi tak ada tukang jualan. Setelah makan malam bersama ayah dan kakak laki tirinya, Latifa dengan sopan santun mengundurkan diri masuk kamar tidurnya dan mulai membenahi pakaian di kopernya. Karena malam minggu maka para pembantu pun diizinkan Dollah pulang ke rumah masing-masing.

jilbab-toge-putri-aulia-latifa-UGM (1)

Dollah dan Ali juga berpamitan dengan Latifa dan mengatakan bahwa mereka masih harus selesaikan pelbagai urusan kantor di kelurahan yang juga ada hubungannya dengan persoalan catatan sipil. Tanpa curiga dan bahkan merasa lega, Latifa melepaskan kedua laki-laki itu dan melihat mereka menghilang di tikungan sudut jalan dengan mengendarai motor masing-masing di tengah arus hujan lebat. Sangat naif sekali Latifa mengira bahwa keduanya betul-betul pergi – padahal mereka hanya naik motor sekitar tiga menit, menyembunyikan motor mereka di belakang ruangan sholat pelataran jual pompa bensin, lalu dengan memutar jalan kaki sedikit telah kembali lagi memasuki kebun belakang rumah.

Hujan yang sangat deras disertai bunyi petir dan guntur memudahkan dan menutup semua bunyi langkah kaki mereka ketika memasuki pekarangan rumah dari belakang. Bahkan bunyi terputarnya kunci pintu belakang sama sekali tak dapat didengar oleh Latifa yang merasa aman seorang diri di rumah dan sedang bersiap untuk mandi menghilangkan kepenatan tubuhnya. Baju tidur telah digantungnya di kamar mandi, demikian pula celana dalam bersih putih berbentuk segitiga kecil, sedangkan bh-nya yang  berukuran 34B serta celana dalam yang dipakainya telah dilepaskan dan terletak di ranjang.

Hanya jilbab hitamnya masih menutup rambutnya yang bergelombang melewati bahu, sedangkan badan yang langsing namun sintal menggairahkan setiap lelaki dibalut dengan kain batik kemben. Sebagaimana pada umumnya wanita pedesaan yang akan mandi di sungai, maka kain kemben itu dibawah menutup setengah betis sedangkan bagian atas pas-pasan dilipat di tengah melindungi tonjolan buah dada.

Dengan hanya terlindung balutan kain kemben itu Latifa keluar dari kamar tidurnya untuk berjalan lima meter memasuki kamar mandi namun merasa aneh bahwa lampu di gang mati padahal dua menit lalu masih menyala ketika ia membawa celana dalam bersih, baju tidur dan handuk ke kamar mandi itu.

Disaat Latifa meraba-raba dinding untuk mencari tombol lampu, tiba-tiba ia merasa tubuhnya disergap dari belakang dan sebelum ia sempat berteriak, mulutnya juga dibekap dan disumbat oleh seseorang. Meskipun sangat kaget, Latifa langsung berontak sekuat tenaga dan berusaha menendang ke kiri dan ke kanan, namun pukulan tinju keras menghantam ulu hati, membuatnya kehilangan nafas dan menjadi lemas lunglai.

Kesempatan ini segera dipakai oleh salah satu lelaki penyergapnya yaitu Dollah untuk menggendong dan membawa Latifa ke kamar tidurnya sendiri yang memang letaknya paling dekat dengan kamar mandi.

Sementara itu Ali mengencangkan kembali sekring listrik yang tadi sengaja dikendorkan sehingga tak ada aliran listrik, kemudian kembali ke kamar Latifa untuk membantu ayahnya menikmati mangsa mereka. Lampu yang telah menyala kembali kini memberikan cahaya cukup, menampilkan dengan jelas apa yang sedang terjadi di kamar tidur : Latifa si cantik direbahkan di tengah ranjangnya sendiri yang cukup besar. Tubuhnya nan ramping namun sintal menggeliat-geliat berusaha melepaskan diri dari tindihan ayah tirinya, Dollah, yang penuh kerakusan sedang melumat bibir Latifa dengan mulut besarnya yang berbau rokok.

Dollah tahu bahwa putri tirinya ini sangat benci terhadap lelaki merokok – oleh karena itu ia senang sekali saat ini dapat melumat mulut Latifa dengan bibir manisnya hingga membuatnya membuka dan menerima uluran lidah penuh ludah berbau rokok miliknya. Terlihat Latifa berusaha selama mungkin menahan nafas agar tak mencium bau yang sangat tak disenanginya itu, namun akhirnya terpaksa menerima limpahan ludah sang ayah tiri serta lidahnya yang berusaha mengelak kini telah ditekan dan disapu-sapu oleh lidah ayahnya yang kasar itu.

Akibat rontaan Latifa maka kain batik kemben yang menutup tubuhnya hanya sampai batas atas dada itupun terlepas dan dengan mudah ditarik ke bawah oleh Dollah dan Ali, kemudian diloloskan melewati pinggul Latifa yang bergeser menggeliat ke kanan dan ke kiri dengan tidak teratur sehingga kini tubuhnya polos bugil tanpa tertutup sehelai benangpun, menyebabkan kedua lelaki durjana itu makin bernafsu melihatnya.

jilbab-toge-putri-aulia-latifa-UGM (3)

Latifa mulai mengalirkan air mata karena sadar nasib apa yang akan segera menimpanya dan menyesali dirinya sendiri kenapa mau dibujuk untuk menginap lagi dua malam di rumah yang dihuni dua srigala itu.

Dollah tak perduli akan tangisan putri tirinya karena nafsu birahi yang selama ini tertahan sudah naik ke ubun-ubunnya, didudukinya perut datar Latifa hingga gadis itu jadi sukar bernafas dan kembali diciumi berulang-ulang bibir ranum Latifa, kembali dijarahnya rongga mulut Latifa yang hangat dengan lidah kasarnya.

“Eeeehmmm, emang dasar perawat dari kota, mulut atasnya aja harum begini, gimana mulut bawahnya… sebentar lagi abah mau nyicipin, nyerah aja ya nduk, percuma teriak enggak ada yang denger,” demikian celoteh Dollah sambil berulang-ulang meneteskan ludah yang bau, membuat Latifa merasa amat mual.

“Iya, percuma berontak, pasti cuma akan makin pegel dan sakit badannya. Ikut aja nikmati permainan kita berdua, pasti belon pernah ngalami ginian kan di kota?” ujar Ali menyebabkan Latifa semakin takut.

Sementara itu Ali tak mau kalah dan ikut beraksi : kedua kaki Latifa yang menendang kesana-sini, ke kiri dan ke kanan, dengan sigap ditangkap dan dicekalnya di pergelangan sehingga Latifa jadi sukar berontak lagi. Tak hanya sampai disini saja : telapak kaki Latifa yang halus licin dan peka diciumi dan dijilat-jilatnya, membuat Latifa terkejut dan semakin menggelinjang kegelian. Apalagi ketika satu persatu jari kakinya dikulum oleh Ali, celah jari kakinya juga dijilat-jilat, membuat ronta kegelian Latifa semakin sukar dikendalikan, dan ini menambah nafsu birahi Dollah yang tengah menindih tubuhnya.

Kedua pergelangan tangan Latifa direjangnya diatas kepala yang masih tertutup jilbab sehingga tampak ketiak tercukur licin yang menjadi sasaran ciuman dan gigitan Dollah sehingga mulai muncul cupangan-cupangan merah disana.

Latifa yang kini lepas dari ciuman buas ayah tirinya berteriak sekuat tenaga, namun deras hujan angin disertai dentuman petir dan guntur menutup teriakan minta tolong memelas hati itu.

Dollah merejang dan menekan kedua pergelangan tangan Latifa diatas kepalanya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya kini mulai meremas-remas bukit gunung kembar di dada putri tirinya yang amat menggemaskan itu. Buah dada putih montok kebanggaan Latifa yang sampai saat ini tak pernah disentuh lawan jenisnya kini menjadi sasaran Dollah : selain diremas dan dipijit dengan kasar, putingnya yang berwarna merah tua kecoklatan itu juga diraba dan diusap-usap, sesekali juga ditarik, dipilin bahkan dipelintir ke pelbagai arah oleh Dollah, mengakibatkan rasa geli dan sekaligus juga ngilu tak terkira bagi Latifa.

Latifa tetap berusaha berontak sambil menangis sesenggukan, wajah cantiknya terlihat semakin ayu manis tetap di bawah jilbab hitamnya, tapi dirasakannya daya tahannya untuk melawan semakin berkurang.

Dollah yang telah sering menggarap banyak perempuan entah yang telah bersuami, maupun janda dan bahkan juga perawan di desa sekitar situ merasakan bahwa perlawanan Latifa mulai menurun.

“Hehehe, mulai lemes ya, Nduk? Gitu donk, pinter banget nih anak manis, ntar lagi diajak ngerasain apa itu surga dunia, tapi sekarang belajar dulu gimana ngisep sosis desa alamiah. Nih sosis makin diisep makin jadi gede, ntar malahan bisa keluarin sari jamu awet muda, mau nyoba kan?” seringai Dollah.

Latifa tidak langsung mengerti maksud kata-kata Dollah, ia merasakan tubuh ayah tirinya yang hampir delapan puluh kilo itu kini tak menduduki perutnya, melainkan bergeser ke atas dan meletakkan kedua lututnya hampir setinggi lipatan ketiaknya, sehingga dalam posisi ini wajah cantik Latifa langsung berhadapan dengan selangkangan Dollah.

Dengan tetap merejang dan menekan kedua pergelangan tangan Latifa ke kasur dengan satu tangan kiri saja, Dollah kini dengan sigap melepaskan ikat pinggang serta ritsluiting celananya. Sebagai wanita dewasa dan jururawat, Latifa kini paham apa kemauan Dollah dan dengan penuh ketakutan berusaha mati-matian meronta. Tercium bau tak menyenangkan dari celana dalam ayah tirinya yang mungkin hari itu belum diganti – yang mana segera diturunkan pula oleh Dollah dan bagaikan ular Cobra yang mencari mangsanya, keluarlah rudal kebanggaan Dollah.

Kemaluan Dollah yang besar panjang berurat-urat serta di-khitan itu kini mengangguk-angguk di depan wajah Latifa yang berusaha melengos ke samping. Reaksi penolakan semacam ini sudah biasa dialami  dan ditunggu Dollah. “Hehehe, biasa tuh perempuan, selalu malu-malu ngeliat barang lelaki, padahal dalam hati kecil udah pingin ngerasain ya. Tapi sebelumnya bikin si Otong makin binal, ayooh buka tuh bibir lebar-lebar, kulum, isep dan jilat dulu nih sosis alam sampe ngeluarin pejuh obat awet muda.”

Latifa merasa amat jijik melihat penis Dollah dan tak mau menyerah begitu saja, namun ayah tirinya sudah berpengalaman bagaimana mengatasi penolakan perempuan – dicubitnya puting susu Latifa yang telah tegak mengeras dengan memakai kukunya sehingga Latifa menjerit kesakitan atas perlakuan sadis ini.

Kesempatan ini telah dinantikan ayah tirinya : segera alat kelelakiannya yang memang telah bersiap di depan wajah Latifa ditempelkan ke bibirnya yang tentu saja Latifa segera menutupnya kembali. Dollah menyeringai sadis dan kini jari-jarinya yang sedang mencubit puting susu Latifa dipindahkan untuk memencét hidung mancung bangir milik putri tirinya sehingga Latifa kelabakan megap-megap mencari udara, otomatis tanpa dikehendaki mulutnya kembali membuka. Kali ini tanpa ada ampun lagi kejantanan Dollah menerobos masuk diantara kedua bibir basah merekah dan memasuki rongga mulut Latifa yang hangat basah.

Latifa merasa sangat jijik dan ingin mengeluarkan kemaluan yang sedang memerawani mulutnya itu, namun apalah dayanya sebagai perempuan lemah dikeroyok dua laki laki perkasa, apalagi kini ayah tirinya kembali merejang kedua tangan ke atas kepalanya yang masih tertutup jilbab, sedangkan tangan satunya tetap memencét hidungnya hingga mulutnya tetap terpaksa untuk terbuka untuk mencari nafas.

Dollah kini mulai memaju-mundurkan penisnya di mulut Latifa, setiap gerakan maju selalu lebih dalam daripada sebelumnya, menyebabkan Latifa tersedak setiap kalinya, ingin batuk tapi tidak bisa.

“Hehehe… nah, gimana rasanya, Nduk, dirajah dan diperkosa mulutnya, enak kan? Abah enggak bohong lan! Iyaaa… mulai pinter nyepongnya, teruuus… iyaaa… gituuuu… kulum nyang bener! Aaaaaah… pinteer emang putri abah satu ini! Ayo, iseeeep nyang kuaaat… jilaaaat… iyaaa… abah udah mau keluaar nih, ooaaah!!!” akhirnya Dollah hanya berhasil memasukkan sekitar setengah dari penisnya ke mulut Latifa.

Ujung kemaluan Dollah kini menyentuh, memukul-mukul dinding rahang Latifa di ujung kerongkongannya, menyebabkan Latifa berkali-kali tersedak menahan rasa mual ingin muntah. Rasa ingin muntah itu mengalami puncaknya ketika alat kejantanan Dollah terasa semakin membesar dan berdenyut-denyut, hingga akhirnya…

“Aaaaaah… iyaaaaaaa… nduuuuuk… ini abah keluaaaaar! Pinter banget, Nduuk… ayo, jangan ada yang dibuang! Teguk, abisin semuanya, Nduuuk… aaaah… iyaaaaa!!” Dollah menggeram bagai binatang buas disaat ia dengan penuh nikmat menyemprotkan lahar panasnya ke mulut Latifa.

jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (3)

Berbeda dengan Dollah yang sedang dilanda orgasme, Latifa merasa sangat terhina dan terpaksa menghirup sperma ayah tiri yang saat itu sangat dibencinya. Cairan kental hangat itu bagai tak henti menyembur dari lubang di puncak kemaluan Dollah, memenuhi kerongkongan Latifa, terasa sepat agak asin dengan bau khas sperma laki-laki. Pertama kali merasakannya membuat perawat cantik berkudung ini tersedak ingin muntah. Namun Dollah bukan anak kemarin sore yang baru masuk usia belasan – kedua tangannya dengan sangat kuat segera memegangi kepala Latifa yang berjilbab sehingga Latifa jadi tak berkutik sama sekali, penis Dollah yang memang besar tetap memenuhi  rongga mulut mangsanya dengan sempurna sehingga tak ada ruangan bagi Latifa untuk melepehkan cairan yang dirasakannya sangat menjijikkan itu.

Latifa hanya dapat mencakar-cakar lemah kaki Dollah dengan kukunya yang rapih terawat karena lengan atasnya telah ditindih dan ditekan ke kasur dengan kasar oleh lutut ayah tirinya sehingga tidak banyak dapat digerakkannya untuk melawan. Teguk demi teguk air mani Dollah terpaksa harus ditelannya karena jika tidak maka pasti akan masuk memenuhi dan mencekik jalan nafasnya. Latifa mengharapkan agar nasibnya dijarah kedua lelaki itu telah berakhir disini, namun dugaannya itu sia-sia belaka – ini baru babak pertama penderitaannya.

Setelah sang ayah tiri menarik penisnya dari rongga mulutnya, maka kini giliran sang kakak tiri menagih bagiannya dengan tentunya mendapat bantuan dari sang ayah. Dollah berlutut di samping kiri badan Latifa dan tetap mencekal menekan kedua nadi putri tirinya yang langsing diatas kepalanya yang masih tertutup jilbab dengan tangan kanannya ke kasur, sementara tangan kirinya kembali mengusap-usap buah dada korbannya, Dollah meremas-remas, memijit-mijit dan menyentil-nyentil puting Latifa.

Serangan bertubi-tubi ini kembali menunjukkan hasilnya karena bagaimanapun Latifa berusaha menekan gejolak birahinya, namun tubuhnya yang bahenol penuh dengan hormon kewanitaan kembali mulai mengkhianatinya. Kedua putingnya yang memang selalu mencuat ke atas dirasakannya semakin hangat gatal dan geli menginginkan ada tangan yang meremasnya. Namun karena tangannya sendiri di rejang ke kasur, maka yang dapat dilakukannya secara tanpa disadari adalah melentingkan tubuh bagian atasnya sehingga buah dadanya semakin membusung keatas.

“Hehehe, nikmat ya, Nduk? Enggak usah malu-malu deh, enak ya pentilnya dirangsang, ntar lagi abah sama Ali pingin ngerasain susu asli, nih abah bantuin supaya keluar susunya,” Dollah bersenyum cabul lalu menundukkan kepalanya dan mulai menyusu di bongkahan payudara Latifa, mulutnya menyedot-nyedot sambil sesekali menggigit puting susu Latifa yang begitu merangsang.

“Aaah, auuw, oooh, udah dong abaah… jangan diterusin, enggak mauu… jangaaaan, lepasiiin, iieeempppphh, eeehhmmmp, jangaaan!” keluh si gadis cantik tanpa daya sambil terus menggeliat-geliat penuh keputus-asaan. Namun itu semua hanya makin memacu nafsu birahi dan kebuasan kedua lelaki pemerkosanya.

Sementara itu, Ali telah menempatkan diri diantara kedua paha Latifa yang begitu halus mulus dengan kulit putih kuning langsat. Kedua tangannya tak henti-henti mengusap-usap betis belalang Latifa – menyentuh dengan mesra kemudian meneruskan elusannya semakin naik ke arah paha, naik dan terus naik menuju ke arah selangkangan Latifa. Nafas kedua lelaki jahanam itu semakin berat mendengus-dengus melihat indahnya bukit kemaluan Latifa – bukit intim itu ternyata licin karena selalu dirawat dan dicukur tandas oleh sang empunya.

“Wuuiiih, memang lain ya perawat dari kota, memeknya kelimis begini, pasti sering diurut dan mandi spa ya?! Abang pengen nyicipi air celah perawan, pasti manis madunya, betul enggak, Neng?” goda Ali.

Tanpa menunggu jawaban, Ali merebahkan diri diantara kedua paha Latifa dan mendekatkan wajahnya ke arah selangkangan yang begitu merangsang nafsu setiap lelaki yang melihat itu. Ali menelungkupkan diri di antara kedua paha mulus yang dipaksa untuk dibuka lebar, betapapun Latifa berusaha mengatupkannya, namun tenaganya kalah dengan kedua lengan Ali yang sangat berotot.

“Emmmhhhh… emang bener, harum banget nih mémék, pake sabun apa sih, Neng? Atau selalu diolesin minyak wangi ya?” tanya Ali sambil mulai mengecup dan menciumi bukit kemaluan Latifa. Lidahnya yang kasar tak kalah dengan sang bapak mulai menjelajahi bukit gundul kemaluan Latifa, Ali menjilat dan membasahinya dengan ludahnya, telaten ia menelusuri celahnya yang masih rapat karena belum pernah diterobos siapapun. Bibir kemaluan luar pelindung celah kewanitaan Latifa mulai dibuka oleh jari-jari Ali disertai dengan jilatan naik turun, sesekali berputar, merintis jalan memasuki bagian dalam yang berwarna kuning kemerahan.

“Jangaaan, udaaaaah, sialaaaan, anjiing semuanya, enggak malu dua lelaki main keroyokan dengan perempuan!! Oooooh, udaaaah, stoooop, jangan diterusin, aaaaaah!” Latifa semakin menggeliat geli dan menahan gejolak naluri kewanitaannya yang semakin lemah menginginkan penyerahan total.

“Baguuus amat nih mémék, haruuuum, enggak ada bau pesing sedikitpun, enggak seperti punya lonte desa, rejeki banget bisa ngerasain yang kaya begini,” Ali menjilat semakin ganas sambil menceracau tak karuan. Gerakan paha mulus Latifa yang mengatup membuka tak teratur tak dipedulikannya karena penjelajahannya kini semakin dalam sampai lidahnya menemukan tonjolan daging kecil berwarna merah jambu yang tersembunyi diantara lipatan bibir kemaluan Latifa bagian dalam.

“Ini dia yang gue cari dari tadi, horeeee akhirnya ketemu juga butir jagung paling lezat… eeeemh, cuppp, cupppp, legitnya nih daging… si neng rupanya enggak disunat ya, jadi ngumpet tuh butir jagung. Tapi udah ketemu nih, jadi perlu diberikan pelayanan extra ya, Neng.” demikian sindir Ali yang kemudian tak berkata-kata lagi karena asyik menjilati kelentit Latifa yang semakin terlihat menonjol keluar.

jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (4)

“Aaaaaah, lepaaaaas, lepaaaaaskan, jangaaaan, enggaaaak mauuuuu, oooooooohh, emmmppfhhhh,” suara teriakan putus asa Latifa menggema di malam yang dingin itu, namun tetap dikalahkan oleh bisingnya suara hujan menimpa atap rumah, ditambah pula semakin seringnya gema petir dan guntur yang menggelegar menakutkan.

Dollah yang kembali tak sanggup menahan syahwatnya melihat tubuh Latifa yang telanjang bulat putih mulus meronta-ronta tak berdaya berusaha melawan rangsangan kakak tirinya yang dengan asyik melumat dan menggigit-gigit kelentitnya yang semakin lama semakin memerah, kembali mendekap dan menciumi mulut putri tirinya itu sehingga teriakan Latifa segera teredam.

Sementara itu Ali terus meningkatkan rangsangannya terhadap klitoris Latifa – dijepitnya daging mungil amat peka itu diantara bibirnya yang tebal dan dowér, kemudian dijilatinya dengan penuh nafsu dan semangat sambil sesekali digosok-gosoknya kelentit yang semakin membengkak itu dengan kumis baplangnya dan juga janggutnya. Terutama janggutnya yang hanya tumbuh beberapa milimeter, bagaikan sapu ijuk kaku sehingga sentuhannya dirasakan oleh Latifa ibarat klitorisnya sedang digosok dengan sikat – itu tak dapat ditahan lagi oleh pusat susunan syaraf Latifa yang kini sedang dipenuhi oleh hormon birahi kewanitaannya.

Jutaan bintang kini meledak dihadapan matanya mengiringi gelombang orgasme bagaikan angin taufan menghempas tubuhnya yang melambung ke atas, Latifa mengejang beberapa menit ibarat terkena aliran listrik tegangan tinggi, jeritan yang seharusnya melengking, tertahan oleh mulut dan lidah Dollah, hingga akhirnya badan Latifa melemas dan terhempas kembali ke atas ranjang , menggelepar bagaikan orang sekarat.

Inilah saat yang telah dinantikan oleh kedua lelaki itu – sampai taraf ini mereka akan meruntuhkan pertahanan Latifa : dari perempuan alim berjilbab yang belum pernah disentuh lelaki menjadi wanita binal mendambakan kehangatan tubuh lelaki.

Sesudah itu mereka akan bergantian dan juga sekaligus menikmati tubuh Latifa namun dengan cara lebih mesra dan hanya dimana perlu akan sedikit saja dikasari secara halus. Mereka telah telah merencanakan siapa lebih dahulu menikmati lubang yang mana, bahkan mereka sebelumnya telah melakukan undian. Dalam undian itu Dollah akan pertama merajah mulut atas Latifa dan memaksa menikmati air maninya, sedangkan Ali mengoral mulut bawah sehingga gadis malang itu mengalami orgasme pertamanya.

Setelah itu mereka akan bergantian tempat – Ali memaksa Latifa mengoralnya dan menikmati lagi pejuh lelaki kedua dalam hidupnya sementara Dollah akan merebut kegadisan putri tiri yang memang sudah diidamkannya sejak lama.

Dan babak terakhir mereka berdua akan threesome mengajarkan Latifa untuk di”sandwich” : Dollah tetap berada di bawah dan menikmati kehangatan celah kewanitaan yang baru direnggutnya , sedangkan Ali akan merenggut keperawanan Latifa yang kedua dengan menembus lubang bulat kecil di belahan pantatnya.

Dalam pelaksanaan maksud jahat mereka itu, keduanya telah sepakat bahwa Latifa akan mereka telanjangi terkecuali jilbab di kepalanya – ini akan memberikan lebih rasa kebanggaan dan ego yang tersendiri : mereka berhasil menjarah seorang gadis alim dan taat tata susila, merebut keperawanannya dan diakhir pergulatan mereka akhirnya si gadis menjadi wanita dewasa yang ke arah dunia luar tetap terlihat alim berjilbab namun di dalam tubuhnya telah terbangun nafsu birahi bergejolak, membuatnya menjadi wanita binal.

Kedua lelaki ayah dan anak itu saling berpandangan penuh kepuasan melihat korban mereka tergelimpang lemah lunglai dilanda kenikmatan. Untuk beberapa saat bahkan keduanya tak perlu memegang, merejang atau bahkan menindih tubuh Latifa, karena si gadis yang telah mandi keringat akibat orgasme pertamanya itu sedang “menderita” kelemasan. Tubuh Latifa yang sedemikian sintal dan bahenol hanya kejang-kejang lemah tanpa busana disertai sesenggukan tangisnya – saat itu tak sadar harus melindungi auratnya yang sedang dijadikan kepuasan mata para pemerkosanya.

Kini Ali dan Dollah menukar posisi mereka untuk memulai babak kedua aksi mereka : Ali dalam posisi rebah setengah menyamping di sisi kiri Latifa, memegangi kedua tangan Latifa di atas kepala yang masih terhias jilbab satin hitam. Tangan kiri Ali kini mendapat kesempatan untuk ekspedisi naik turun gunung daging putih yang disana sini agak merah akibat jamahan kasar Dollah tadi. Sesuai dengan rencana maka Ali kini mempermainkan buah dada mangsanya dengan lebih halus daripada ayahnya.

Ali meraba dan membelai payudara berkulit halus itu dengan penuh kemesraan ; ibarat seorang ahli benda purbakala sedang menilai cawan porselen dynasti Ming yang sangat langka, mengusap-usap dengan sangat hati-hati. Jari-jari tangan Ali menaiki lerengnya yang terjal dan dengan lembut menuju ke arah puncaknya yang berwarna merah kecoklatan, ia menyentuhnya sedemikian perlahan dan halus seolah ingin menambah kemancungan dan ketinggiannya. Dan memang Latifa mulai mendesah mengeluh perlahan dengan mata masih setengah tertutup karena merasakan buah dadanya mengalami godaan yang sangat berbeda dengan kekasaran yang dialaminya tadi oleh Dollah.

“Wah, ini tedoy emang betul yahud, legit dan kenyal banget. Bisa dijadikan guling nih, sambil nyusu anget, pasti lebih sehat dari susu kaleng. Enggak tahan lagi nih, mau néték dulu ah, boleh ya?” celoteh Ali sambil meremas kedua buah dada dan bergantian menyedot menggigit kedua puting merah mencuat milik Latifa, menyebabkan Latifa semakin menggelinjang meronta tapi semua sia sia saja.

Sementara itu Dollah telah menempatkan diri diantara paha Latifa – mulutnya dengan bibir tebal berkilat karena berulang kali dibasahi oleh lidahnya sendiri ibarat ular python telah menemukan mangsa.

Latifa masih di dalam keadaan setengah ekstase akibat orgasme menyadari apa yang akan segera dialaminya, ia berusaha lagi memberontak sekuat tenaga tapi tetap tak berdaya menghadapi kedua lawan yang demikian kuat dan sedang dipenuhi oleh hawa nafsu dan bisikan iblis.

jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (5)

Dollah kini berusaha menekan nafsu iblisnya dan bertindak seolah seorang suami di malam pengantin akan merenggut mahkota kegadisan istrinya. Diciuminya secara bergantian telapak kaki Latifa, jari-jari kakinya, betis langsing halus mulus, paha licin putih, naik melusur ke atas ke arah selangkangan Latifa yang tercukur rapi.

Kini Latifa mulai merasakan malu sehingga tak terasa pipinya yang basah airmata merona merah, malu karena tubuhnya tanpa dikehendaki dan diluar kemauannya sendiri mulai merasakan pengaruh rangsangan dari ayah dan saudara tirinya. Selangkangan Latifa yang masih terasa pegal kaku karena tadi dipaksa membuka oleh Ali, kini kembali dipaksa menguak. Kedua pahanya yang sekuat tenaga ingin dirapatkan, telah dipaksa lagi dipengkang sehingga terasa ngilu. Kedua lutut Latifa menekuk dan diletakkan di bahu kiri kanan Dollah – sementara mulut dowérnya semakin mendekati mengendus-endus lipatan paha Latifa sampai akhirnya menempel di bukit Venus putri tirinya itu.

“Duuuuh, sialaaan! Ini mémék emang buatan alam kelas satu, enggak pernah ngeliat bukit gundul licin kayak gini. Pinter banget ngerawatnya, hmmh… kalo mau tetep tinggal disini, ntar abah cukurin tiap hari, terus langsung dijilatin. Mau ya, Nduk? Mmmmmh, udah keluar madu lagi, duuuh manisnya, Nduk!” Dollah berceloteh sendiri sambil mulai menjilati kemaluan Latifa. Lidahnya yang kasar menyapu dan menyelinap diantara celah bibir kewanitaan Latifa, menjilati dinding yang telah licin akibat madu pelumas disaat orgasme beberapa menit lalu, ditelusurinya bibir bagian dalam vagina kemerah-merahan itu, menuju lipatan atas dan akhirnya menemukan apa yang dicarinya.

Kembali Latifa diterpa rasa kegelian yang tak terkira, klitorisnya yang beberapa saat lalu menjadi sasaran lidah Ali sehingga memaksanya naik ke puncak orgasme, kini dilanjutkan dan diulang kembali. Ibarat seorang yang baru dipaksa mendaki, akhirnya mencapai puncak gunung, tapi tak diberikan waktu istirahat untuk menuruni tebing ke bawah – kini mulai lagi diseret dan dipaksa sekali lagi mendaki ke arah puncak. Latifa tak rela diperlakukan seperti ini, dikutuknya kelakuan kedua lelaki yang sedang menjarahnya itu, namun apalah daya seorang wanita dalam keadaan seperti ini.

Latifa berusaha menekan semua perasaan nikmat yang semakin menguasai tubuhnya, badannya yang sejak tadi meliuk meronta, kini dibiarkannya lemas lunglai, ia berharap bahwa dengan memperlihatkan reaksi “dingin” itu kedua pemerkosanya akan bosan dan menghentikan kegiatan mereka. Sayang sekali lawan yang dihadapinya – terutama Dollah bukan lelaki sembarang dan ingusan, ia telah mempunyai pengalaman cukup banyak dan tahu bagaimana memaksa bangun gairah seorang wanita yang sedang dikuasainya.

Bibir Dollah yang tebal kini mengecup dan melekat di kelentit idamannya, tak dilepaskannya sasaran utamanya itu, dicakupnya daging kecil berwarna merah jambu milik Latifa diantara bibirnya, dipilinnya ke kiri dan ke kanan, ditekan dan dijepitnya dengan gemas diantara bibirnya, dilepaskannya sebentar dan digantinya dengan sapuan lidah ampuhnya, demikian terus menerus dan berulang-ulang.

Diserang dengan cara sangat ampuh seperti ini, Latifa akhirnya harus mengakui kekalahannya – rambutnya yang hitam bergelombang menjadi kebanggaannya telah acak-acakan tergerai, hanya jilbab penutupnya yang masih belum terlepas, disertai rintihan putus asa, tubuh sintal bahenolnya kembali kejang di orgasme keduanya.

“Toloooong, lepaaaaas, janggaaaan diterusiiiiiin, aaaauuuuuwww, aaaiiiihh, enggggggak maaauuu, tolooong, oooouuuuuuuw, eeemmmppffffhh!” kembali Latifa melenguh menjerit putus asa berusaha menembus bisingnya deraian hujan menimpa atap rumah, dan kembali mulutnya tertutup oleh bibir Ali yang berusaha sejauh mungkin mencium mulut adik tirinya dengan penuh kemesraan.

jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (6)

Dollah merasa puas melihat hasil rangsangannya – ia tahu bahwa di saat ini Latifa sedang dilanda badai orgasme lagi – dan saat ini adalah saat yang terbaik untuk menembus celah vaginanya. Tak ada rasa yang lebih nikmat bagi Dollah ketika menembus keperawanan seorang gadis pada saat otot-otot dinding vaginanya berdenyut berkontraksi karena orgasme. Saat itu adalah saat paling membahagiakan bagi pria berpengalaman : merasakan penisnya menembus liang kewanitaan wanita yang seolah dipijit diurut-urut oleh dinding nan licin basah namun masih sangat sempit dan penuh kehangatan. Semuanya itu disertai dengan wajah si wanita yang seolah-olah tak percaya dengan apa yang terjadi : nikmat sakit, sakit tapi nikmat.

Dollah kini telah berhasil menempatkan kepala penisnya yang keras, tegang berwarna hitam, dihiasi oleh pembuluh darah yang melingkar-lingkar menghiasi sepanjang batangnya. Kepala penisnya yang gundul bagaikan topi baja serdadu terlihat sangat gagah dengan lobang di tengah agak membuka seperti mulut ikan, mulai memasuki vagina putri tirinya. Mili demi mili, sang penis maju menusuk membelah celah yang belum pernah dijarah oleh lelaki manapun itu – disertai rasa kepuasan Dollah namun penderitaan bagi Latifa yang menangis tersedu-sedu, menjerit, merintih memilukan hati mengiringi kehilangan miliknya yang selama ini sangat dijaga dan diharapkannya akan diberikan kepada suami tercintanya kelak.

Habislah harapan muluk Latifa untuk memasuki malam perkawinan dengan kesucian yang utuh, punah sudah impiannya untuk meneteskan air mata kebahagiaan di dalam pelukan kekasih dan suaminya ketika dengan penuh kerelaan ia mempersembahkan mahkota kegadisannya.

Sesuai dengan rencana maka saat ini Dollah tak memperlakukan Latifa dengan kasar, ia tidak menusuk secara brutal membabi buta ke dalam vagina sang putri, melainkan agak diputar-putarnya gerakan maju mundur sang penis.

“Nikmaaat tenaaaan, Nduk… begeuuuuur teuuuiiiing no bahenoool, abaaah dikasiiiih hadiaaaah begini enaaak, ntar abah ajariiiin yang lebiiiiih mantaaaab lagi. Ayooooh goyaaaangin tuh pinggul, jangan dieeem aja. Abaaah cobaa masuuuk dalemaaaaan lagi, Neng… jangan berontaaak ya, ntaar sakit, terima pasraaah aja!!” dengus Dollah sambil dengan yakin memaju-mundurkan pinggulnya, ibarat pompa air berusaha mencari sumber di tempat yang semakin dalam. Sesekali disodoknya ke arah atas, kiri, kanan, bawah, lalu diulangnya lagi dari awal.

Gerakan ini menyebabkan dinding tempik Latifa yang sedang mengalami penjarahan pertama seolah diaduk – diulek dan digesek dengan penuh kemesraan.

Sementara Ali tetap memegangi kedua nadi Latifa sambil mulutnya tak kunjung berhenti menyusu di puting kiri kanan Latifa yang tetap mengeras bagaikan batu kerikil. Kedua lelaki itu penuh kepuasan mengamati wajah Latifa yang telah mendongak ke atas namun tetap menggeleng ke kiri dan ke kanan. Wajah cantik Latifa semakin terlihat kuyu dan lemas, hidung bangirnya kembang kempis mendengus dan bernafas semakin cepat, sementara bibirnya yang mengkilat basah setengah terbuka.

“Auuummph, aaaaaoooohh, eeemmmpppph, eeeeeengghhh, aaaaaauuuww, ssssshhhhhh, udaaaah doong, aaaahhhh, udaaaaah, saaakiiiiiiit, ngiluuuuuu, ouuuuhhh, eeemmpphh, iiyyyaaaa, auuuuw, iyaaaaa,” tak sadar lagi Latifa mengeluarkan suara khas wanita yang sedang dilanda kenikmatan birahi.

Dollah dan Ali yang rupanya telah beberapa kali mengerjai wanita secara bersama, kembali saling berpandangan dan yakin bahwa pertahanan Latifa telah hancur luluh dan kini tinggal dilanjutkan permainan seksual ini untuk mengubah Latifa dari gadis alim menjadi wanita dewasa yang bukan saja hilang rasa malunya bersenggama, namun sebaliknya bahkan tak segan segan menagih jatah untuk selalu dipuaskan.

Merasakan bahwa Latifa telah tak sanggup melawan, maka mereka berdua mengganti lagi posisi badan mereka : Ali kini setengah terlentang dengan penis telah berdiri mengacung ke udara, Latifa diangkat oleh Dollah dan diatur berlutut sambil menungging untuk “memanjakan” penis Ali, sedangkan dari belakang sang ayah tiri kembali mendorong dan memasukkan penisnya ke vagina Latifa.

Meskipun telah demikian licin basah, namun karena baru saja diperawani maka tetap terasa perih sakit disaat penis ayah tirinya mulai masuk sehingga Latifa tak sadar memekik dan melepaskan penis Ali yang sedang dikulumnya sambil menggoyang pinggul seolah ingin melepaskan diri dari penetrasi Dollah.

Namun Dollah telah memegangi pinggang Latifa yang ramping sehingga pinggulnya tak dapat digeser ke samping – sementara Ali juga dengan mantab menjambak jilbab putih dan menekan kembali kepala Latifa untuk melakukan “service” ke rudalnya yang berukuran tak kalah dengan milik ayah tirinya.

Ketika Dollah semakin dalam mendorong penisnya maka Latifa kembali merasa perih ngilu kesakitan, mungkin karena bagian selaput daranya yang beberapa menit lalu sobek kembali terbuka lukanya.

Latifa berusaha mencakar paha sang pemerkosa dibelakang pinggulnya dengan kuku-kuku kedua tangannya, namun Dollah sudah siap dan terbiasa dengan reaksi perlawanan wanita dalam posisi sepertiini. Kedua tangan Latifa yang menggapai ingin menyakar itu lekas ditangkap, dicekal pergelangan nadinya dan lalu ditelikung ke belakang.

Dalam kedua tangannya berada dipunggung dan ditelikung maka Latifa tak dapat menunjang lagi badan bagian atasnya, namun ini justru memudahkan Ali yang sedang disepong untuk menjambak jilbab dan rambut Latifa, lalu dengan ritmis diturun-naikkan dengan irama yang sangat memuaskan “otong”nya.

Dengan satu tangan Dollah tetap menelikung nadi mangsanya sehingga Latifa tak dapat mencakar, sementara tangannya yang lain meremas-remas buah dada Latifa yang menggantung indah dan memilin serta memijit-mijit putingnya.

jilbab-toge-puteri-aulia-UGM (7)

Tubuh Latifa kembali mengkhianati : rasa ngilu, sakit, nyeri dan nikmat berkumpul lagi menjadi satu dan melanda semua bagian peka yang sedang dirangsang oleh Dollah dan Ali, memacu pusat orgasme di otaknya kembali bekerja.

Dollah merasakan dinding vagina Latifa kembali mulai berdenyut, semakin lama menjadi semakin cepat, mantap memijit kemaluannya, dan dengan sangat tak terduga oleh Latifa, mendadak jari tengah Dollah yang baru saja memilin putingnya, pindah merantau menusuk masuk ke lubang anusnya.

Teriakan kaget dan kesakitan Latifa teredam oleh penis Ali yang menancap di mulutnya, yang disaat sama berdenyut-denyut pula sambil menyemburkan lahar panas ke arah kerongkongannya. Kembali Latifa merasakan tubuhnya bagai meledak mengalami orgasme untuk kesekian kalinya, terutama disaat bersamaan Dollah juga menyemprotkan sperma hangatnya ke dalam rahimnya.

Ketiga insan itu dalam waktu hampir bersamaan mengalami orgasme secara bersama-sama – ketiganya merasakan tubuh mereka mengejang beberapa menit sebelum terkulai lemas penuh dengan keringat beberapa saat kemudian.

Sementara Latifa masih lemas setengah pingsan, Ali yang termuda, dalam waktu singkat, hanya seperempat jam, telah mulai pulih kembali tenaganya, terutama ketika melihat tubuh Latifa yang putih mulus, yang telanjang bulat setengah telungkup diatas tubuh ayah tirinya. Betapa kontras warna kedua tubuh itu, Dollah yang agak gemuk berisi berkulit hitam legam dekil, sedangkan Latifa bertubuh ramping langsing berkulit putih kuning langsat. Namun yang menarik perhatian Ali adalah bongkahan pantat Latifa yang begitu sempurna, besar bulat tanpa cacat sedikitpun. Membayangkan betapa sempitnya lubang yang tersembunyi diantara belahan itu menyebabkan si ayam jago di selangkangan Ali mulai bangun dan siap untuk kukuruyuk kembali.

Ali menyentuh kaki Dollah sehingga sang ayah membuka matanya, diberikannya tanda agar Dollah memeluk Latifa secara ketat untuk mencegah jangan sampai gadis itu dapat berontak. Dollah segera mengerti apa maksud Ali, ia langsung meletakkan tubuh Latifa diatas tubuhnya sendiri dengan sempurna, kemudian dipeluknya pinggang putri tirinya yang langsing itu dengan kedua lengannya yang berotot sehingga Latifa tak mungkin bergeser kemanapun.

Ali dengan perlahan mendekati tubuh Latifa dari belakang, ditariknya pinggul Latifa ke atas sehingga menjadi posisinya sekarang menjadi berlutut menungging tinggi dan sekaligus kedua paha Latifa yang masih gemetar halus akibat sisa orgasme dibukanya lebar-lebar dan ditahan di kiri kanan oleh paha ayah tirinya. Kini terpampang dengan jelas celah diantara belahan pantat Latifa yang di bagian tengahnya terlihat cekungan berwarna coklat muda kemerahan dihiasi kerut-kerutan halus tipis menandakan masih sempurnanya tegangan otot lingkar yang melindungi anus Latifa.

Ali mengolesi telapak tangannya dengan ludah lalu diratakannya ke ujung kepala penisnya sehingga benda itu jadi terlihat licin mengkilat, selanjutnya ia meneteskan ludahnya di cekungan anus Latifa. Penuh kepuasan Ali melihat bahwa cekungan itu mulai berdenyut dan “menelan” tetesan ludahnya seolah ada sedotan kuat yang menarik ke dalam. Kejantanan Ali yang semula masih terlihat agak menggantung kini menjadi tegak penuh kegagahan karena sang empunya telah membayangkan betapa perlawanan sia-sia dari otot lingkar pelindung itu, namun jika telah ditembus dikalahkan maka justru secara alamiah akan menarik menyedot kemaluannya semakin dalam.

Dengan kedua tangannya Ali memegang dan agak menarik bongkahan pantat Latifa ke kiri dan ke kanan, lalu mulailah ia menekan kepala penisnya di pintu gerbang paling intim dari Latifa, adik tirinya itu. Bagaikan disengat oleh hewan berbisa, Latifa melonjak meronta dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Dollah yang kuat, anusnya terasa sangat panas dan perih bagai disayat pisau saat ada barang keras berusaha untuk masuk ke dalam sana.

“Aaaaaah, auuuuuuuuww, jangaaaan! Aduuuuuuh, jangaaaan! Sialaaaan! Ampuuuuuun, sakiiiiiiiiit, lepaaaas, tolooong lepaskan! Mmmphh, auuuuuuuuuww! Tolong, Bang, kasihani saya, saya enggak mau disodomi! Sakiiiiiit, Bang, udaaah!” Latifa menjerit dan berteriak sekuat nafas yang dapat dikeluarkan dari paru-parunya, namun semua sia-sia dan terlambat karena tanpa rasa kasihan, Ali terus mendorong kemaluannya untuk menembus keperawanan Latifa yang kedua.

Selama ini Latifa hanya mendengar dari teman-teman dekatnya yang telah menikah bahwa suami mereka kadang menginginkan variasi dalam ML dengan memakai jalan belakang. Semuanya menceritakan secara sembarang saja apa yang dirasakan saat itu – namun Latifa tak pernah membayangkan betapa sakit dan penderitaan yang dialami disaat ini. Berbeda dengan Ali yang diawal penetrasi juga merasakan betapa susah dan peretnya memasuki lubang anus adik tirinya, namun kini mulai terbiasa dan secara ritmis memaju mundurkan pinggulnya untuk lebih menikmati penjarahannya itu.

Dollah melihat penuh kepuasan wajah cantik Latifa yang kini dibasahi oleh air mata dan dari celah bibir mungilnya yang terbuka terdengar rintihan dan keluhan tiada henti menimbulkan iba. Suara rintihan Latifa semakin lama semakin sesuai dan sinkron dengan dengusan Ali yang kini makin mempercepat gerakan pinggulnya. Dirasakannya bahwa semua lahar yang berkumpul di pelirnya makin mendidih dan akhirnya menyemburkan membasahi bagian dalam anus Latifa yang sudah sedemikian peka sehingga dengan jeritan putus asa kesekian kalinya, Latifa jatuh pingsan kembali dan ambruk diatas tubuh ayah tirinya.

TERPERANGKAP JEBAKAN

“TOLOL!!” emosiku meledak, aku berdiri dari sofa lusuhku dan menghampiri seorang anak muda yang berdiri di hadapanku. Dia tampak sangat ketakutan, bahkan bisa kulihat kakinya gemetar. Bagus. Aku menamparnya dengan sangat keras hingga dia terjatuh.

jilbab manis-nia (1)

“Lu setor duit dua rebu, buat APA?! Lu pake boker aja kaga bisa!!” aku menarik kerah baju lusuhnya, dan memaksanya berdiri. “Udah gue bilang, jurus pura-pura sakit lo tuh murahan! Mana ada orang yang mau beli jam kaya tai gitu ratusan rebu?! Pake otak, njing!” aku mendorong Totok hingga mundur beberapa langkah.

“Ma-maaf, Bang.” Totok menjawab terbata-bata. “Gue kira dia bakalan ngasih duit yang gedean, perempuan kan biasanya pada baik, Bang.”

“Baik? Lu pikir dia emak lo?! Goblok banget punya anak buah kaya elu, Tok!”

Totok menundukkan pandangannya sambil meremas bajunya, “Maaf, Bang. Gue kan anak baru disini, Tapi, kalo Abang mau, coba aja Abang yang kesono. Dia cantik banget, Bang, kaya bidadari.”

“Ga usah nyuruh-nyuruh gue! Gue ajarin cara malak orang yang profesional kaya apa. Lo liatin yang bener! Ambil ilmunya! Ga ada lagi gue denger lo pake modus pura-pura HIV lagi!”

Aku beranjak dari hadapan Totok sambil melepas bajuku. Lalu mencoba mencari pakaian yang sedikit rapi dan mengenakannya, tidak lupa aku mengambil sweater converse abu-abu khas anak muda di belakang pintu keluar dan juga tas selempang yang biasa kupakai untuk kuliah. Dengan semprotan halus parfum mahal ‘spesial’ di beberapa bagian tubuhku, aku siap memangsa target favorit buruanku. Wanita muda yang lagi sendirian.

Tidak butuh waktu lama untuk mencapai tempat yang ditunjuk Totok, trotoar tempat dia ‘beroperasi’ hanya berjarak sekitar 25 meter dari rumah kontrakanku. Yah, sebetulnya tempat itu bisa dibilang sebagai markas juga. Karena bagian belakang halaman rumah ini kugunakan untuk mengatur segala aktivitas kriminalku. Belum lagi letaknya yang berada di ujung jalan dan tanpa bangunan lain di sekitarnya menjadikan rumah ini sangat cocok dijadikan tempat bersembunyi dari bisnis haramku. Copet, jambret, hipnotis, penipuan, ngamen, penculikan, perkosaan. Sebut saja semuanya satu-persatu. Hampir pasti semua kegiatan kriminal di daerah ini melibatkanku. Sosok yang disegani di daerah ini karena pengaruhnya yang sangat besar dalam segala hal yang tidak menyenangkan. Tidak ada yang tidak mengenalku di daerah ini. Seorang anak tunggal dari penguasa Tanah Abang.

Aku menyulut rokok mild dan menghisap asapnya dalam-dalam. Suasana tempat ini selalu sepi pada jam malam seperti ini. Kalau tidak terpaksa, sepertinya orang-orang akan memilih jalur lain yang lebih terang untuk hanya sekedar lewat. Kecuali jalan raya di depan sana, sampai kiamat pun sepertinya akan selalu ada mobil yang melintas.

Tidak begitu jauh di depan, aku melihat seorang wanita berparas cantik berpakaian ala wanita karier, jilbab lebar membungkus wajahnya yang oval. Persis seperti yang dideskripsikan Totok. Sepertinya dia sedang menunggu jemputannya, tidak, angkutan kota mungkin lebih tepatnya. Tidak mungkin seseorang menjemputnya di tempat seperti ini. Aku tersenyum melihat targetku ternyata lebih menggiurkan daripada yang bisa kubayangkan. Berbagai macam modus melintas di benakku, dan jujur saja, aku kebingungan memilih-milih cara yang cocok untuk menjerat mangsa yang menggairahkan ini.

jilbab manis-nia (2)

Untungnya suasana sekitar sangat mendukung. Sekilas aku menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada orang. Aman. Aku mempercepat langkahku ke arah wanita itu dan berhenti sekitar tiga meter di depannya agar dia tidak curiga. Aku menangkap matanya melirik ke arahku sekilas. Dengan cepat aku melemparkan senyuman terbaikku. Dia membalasnya sedikit. Cih.

Aku berdiri agak lama, mungkin sekitar 15 menit. Berpura-pura menunggu angkutan kota dan melihat jam tanganku berulang kali. Dan aku bisa melihat dari sudut mataku, wanita itu melakukan hal yang sama. Tidak salah lagi, dia menunggu angkutan kota yang melintas. Saat ini aku tertawa terbahak-bahak di dalam hatiku. Mengetahui bahwa pada jam ini angkutan kota yang melintas sangat jarang sekali. Kalau pun ada, tidak mungkin ada tempat yang kosong.

Aku menunggu umpan yang akan dilemparkan wanita itu padaku, apapun bentuknya, aku akan menyambut dan memanfaatkannya. Tidak lama kemudian wanita itu menghela nafasnya sambil berdecak tidak sabar. Aku tersenyum lagi, dia baru saja memasang umpannya. Dengan kilat aku memikirkan siasat licikku. Tidak lupa dengan analisa terbaik dan terburuk yang akan kuhadapi. Dan saat ini, hampir pasti aku bisa menjerat wanita itu ke dalam rencanaku. Tentu saja dia tidak melihat senyumanku. Tinggal sedikit lagi.

Aku membungkuk untuk sedikit memijit kedua kakiku yang terasa agak pegal. Aku juga meregangkan kaki dan tanganku sebentar hingga mengeluarkan bunyi yang khas dari persendian tulangku. Oh, asal kau tahu, aku melakukannya dengan sebuah tujuan.

Tidak lama Kemudian wanita itu mulai memijit kedua kakinya, dan membungkuk sedikit ragu-ragu. Berhasil!. Tanpa disadari, dia baru saja melemparkan umpannya padaku. Dengan senang hati aku akan menangkapnya. Dasar Bodoh! Bodoh! Bodoh!

Aku menoleh sedikit ke arahnya dan membuka percakapan, “Dari tadi ya, mbak? Duduk aja. Saya juga pegel nunggu angkot 09, lama banget.”

jilbab manis-nia (3)

Wanita itu menatapku dan tersenyum sedikit, “Oh, nggak kok, Mas.” Dia menghentikan pijitannya dan berpura-pura membersihkan rok panjangnya yang berwarna gelap.

Aku belum bisa masuk ke zona amannya, jadi aku berjalan ke arahnya, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh, aku duduk di sisi trotoar. Menghadap ke jalan raya, tepat di sampingnya. “Udah, santai aja, Mbak. Saya temenin duduknya disini. Saya aja pegel, masa mbak nggak?”

“Eh..” wanita itu sedikit kaget dan terdiam sekitar 3 menit sebelum akhirnya dia ikut duduk di sampingku dengan jarak yang terpaut 1 meter.

Dua hal yang kuanalisa dari keragu-raguannya. Pertama, dia takut berdekatan denganku, pria yang bukan muhrimnya. Kedua, dia merasa tidak nyaman. Tapi aku yang duduk diam disampingnya secara tidak sadar telah membuatnya merasa lebih aman. Belum lagi otot kaki dan pinggangnya kurasa sudah tidak bisa meregang lebih lama dan berteriak-teriak meminta istirahat dari tadi.

Aku biarkan dia menganalisa diriku sebentar. Memberinya waktu untuk menyesuaikan diri di situasi yang aneh ini. Dengan dandanan anak kuliahan seperti ini, besar kemungkinan dia tidak mencurigaiku. Didukung dengan parasku yang sama sekali tidak menunjukkan bahwa aku adalah orang yang berbahaya. Dan jangan lupakan parfum berbau halus yang kusemprotkan tadi akan membuat nyaman siapapun yang berada di dekatku. Terutama wanita.

“Malem-malem gini angkotnya udah susah banget, Mbak.” aku menyulut rokokku dan menunggu tanggapannya.

Hening. Dia mengacuhkanku. Brengsek! Wanita congkak!

“Kalau ibu saya ga sakit, ga akan deh saya maen kesini malem-malem.” aku melancarkan serangan tambahan. Kali ini aku menolehkan wajahku padanya, meminta dia menjawab pernyataanku secara langsung.

jilbab manis-nia (4)

“Kalau lagi sakit, kenapa ibunya ditinggal?” akhirnya wanita itu angkat bicara. Meskipun dia sama sekali tidak menatapku, Itu sudah lebih dari cukup.

“Besok saya ada ujian pagi-pagi. Kalau ga pulang ke kosan sekarang, saya pasti ga bisa ikut ujian besok, Mbak.” aku menghisap rokokku dalam-dalam. “Untungnya di rumah ada adek yang bisa jaga ibu. Tadi juga saya kesini ditelepon dia, katanya ibu step lagi.”

Aku berhasil mencuri sedikit perhatiannya. Kali ini aku bisa melihat sorotan matanya yang penuh dengan pertanyaan.

“Emang adiknya umur berapa?” wanita itu berkata dengan intonasi yang dibuat-buat. Mungkin maksudnya ingin terlihat stay-cool, namun tampaknya tidak berhasil.

“Sembilan tahun. Sekarang dia sendirian jaga ibu, rumah saya keliatan kok dari belokan di depan.” aku menunjuk dengan rokokku ke arah rumah kontrakanku. “Kasian, dia jadi begadang terus.”

“Sakit apa ibunya?”

“Kanker otak.”

Wanita itu terlihat sedikit tercekat, dan kurasa sekaranglah saat yang tepat. Semua persiapan sudah matang. Hanya tinggal sandiwara penutup yang harus dilakukan dengan sempurna.

Handphoneku berdering, alarm berbunyi nada telepon yang kupasang saat aku menunggu tadi. Aku berpura-pura kaget sekaligus panik. Dengan cepat aku merogoh saku depan sweaterku dan mengangkat teleponnya. “Ada apa, Dek?” Aku diam sesaat sebelum kemudian membelalakkan mataku. “Sa-sabar ya, Dek, mas kesana sekarang, jangan panik!!”

jilbab manis-nia (5)

Aku menutup teleponku dan berusaha membuat wajahku terlihat sekacau mungkin. “Ibu… meninggal!!”

Aku berlari sekencang mungkin meninggalkan wanita itu dengan wajahnya yang keheranan. Dan bisa kudengar di kejauhan dia memanggilku dengan lantang. Tentu saja dia memanggilku, karena aku meninggalkan tas kuliahku dengan sengaja di sampingnya. Inilah yang kusebut pertaruhan yang sebenarnya. All in!!

Kalau kalkulasiku benar, wanita itu akan mengejarku. Dia tidak akan tega untuk mengacuhkan tas berisi buku kuliah di sisi jalan. Dan dompet di dalamnya yang berisi uang tiga ratus ribu lengkap dengan fotoku adalah sebuah alibi, yang akan membuatnya mempercayaiku dan tidak akan mencurigaiku. Perfect!

Aku sampai di rumahku, dengan nafas terengah-engah aku mencari cairan berwarna hijau yang terakhir kuingat terletak di kotak obat. Aku segera menuangkan cairan pembius berbau menyengat itu ke atas saputanganku, Chloroform.

Aku bisa merasakan adrenalinku meningkat drastis. Aku sangat menyukai permainan seperti ini. Lebih menyenangkan sekaligus menggairahkan, saat ini aku tidak ambil pusing jika dia mengambil tasku dan kabur. Peduli setan!. Toh anak buahku bisa mengejarnya dengan motor jambretnya.

Aku mengintip melalui kaca ke arah jalan di luar. Dan seketika perasaanku membuncah bahagia luar biasa, ketika aku melihat sosok wanita itu menghampiri rumah ini dengan setengah berlari. Dia menggendong tas kuliahku. Aku benar-benar tidak tahan untuk tidak tertawa. Wanita bodoh!

Dengan sedikit ragu-ragu wanita itu mulai masuk pekarangan rumahku, mengucapkan permisi beberapa kali sebelum akhirnya melangkahkan kakinya ke dalam rumah ini. Dan saat itulah aku yang bersembunyi di balik pintu membekapnya dengan sapu tangan berisi obat bius itu tanpa ragu.

jilbab manis-nia (6)

Dia meronta, sangat kuat. Tapi aku yang menguasai keadaan. Aku yang berkuasa disini. Aku yang memainkan permainan ini. AKU!!

Tidak lama wanita itu lunglai. Tubuhnya menyerah pada kekuatan obat bius yang terlalu banyak dihisapnya. Nafasku makin memburu melihat sesosok wanita cantik tergeletak tak berdaya di hadapanku. Aku menyeret tubuh wanita itu ke dalam kamarku dan mengunci pintunya di belakangku.

Tanpa membuang waktu, aku melempar badan wanita itu ke atas kasur dan mengikat semua tangan dan kakinya di keempat tiang di pojokan kasur. Aku mengambil pisau besar Rambo di atas lemari, dan mulai merobek pakaian wanita itu perlahan-lahan, mencoba membuat potongan baju yang hanya ada pada bayangan terliar seorang lelaki yang diburu nafsu, kusisakan jilbab birunya tak tersentuh.

Wanita itu mengerang lemah, sebuah tanda dia akan segera siuman. Aku duduk di sampingnya, membuka sumpalan di mulutnya dan memandangnya sebentar, lalu mencium bibirnya lama. Kemudian aku menghirup habis setiap aroma keringat bercampur parfum yang sangat khas dari tubuhnya.

Ketika aku mengusap rambutnya yang hitam, dia terbangun. Aku mengelus pipinya perlahan, mencoba membuatnya tenang. Dia yang baru menyadari situasinya terancam mulai meronta-ronta lebih gila dari sebelumnya.

“LEPASKAN AKU!!” wanita itu berteriak. “TOLONGG!! TOLOOONGG!!”

“Ssstt, jangan berisik ya…”dengan perlahan aku menempelkan sisi pisau yang bergerigi di atas bibir mungilnya yang berwarna merah muda. Aku tidak ingin merusak bibir yang sempurna itu.

“BANGSAT KAMU!!” diluar dugaanku, dia mengibaskan kepalanya dengan berani, dan meludahiku. Tepat di wajahku. Dia bergidik ketika aku menjilat ludahnya yang menetes ke mulutku.

jilbab manis-nia (7)

Saat ini semua hal yang dilakukannya hanya akan membuatku semakin bergairah, nafsuku memuncak, ke-tidak berdayaannya semakin membuatku ingin melumatnya habis. Aku melepas pakaianku dan duduk di atas pinggangnya, aku hanya tersenyum melihatnya yang terus menerus berontak sambil mengucapkan semua sumpah serapah terkasar yang ada di dunia ini.

“Jangan ngomong kasar dong, Sayang!” aku kembali menempelkan ujung pisauku pada bibirnya.

“BAJINGAN KAMU!! LEPASKAN AKU KALO BERANI, DASAR BENCONG PENGECUT!!” wanita itu bergidik melihat apa yang akan menimpanya, tapi sama sekali tidak bisa menghindar, ia tidak punya waktu untuk menghindar. Telapak tanganku sudah melayang menghajar mukanya yang sebelah kiri.

”AUW!!” wanita itu tersentak, ia menjerit, lebih banyak karena terkejut daripada karena sakitnya tamparanku.

Kujambak rambutnya yang tertutup jilbab, sementara tanganku yang lain menarik bagian atas blusnya hingga bisa kulihat tonjolan buah dadanya yang bulat besar. Kuremas-remas sebentar sambil tak lupa kupilin-pilin putingnya yang mungil kemerahan saat aku kembali mengancam, “DIAM, ATAU KUBUNUH KAU!!!” kataku keras.

Wanita yang terlihat semakin hot di penglihatanku itu masih berusaha melindungi dirinya dengan mendorong tanganku menjauh ketika aku sedang meremas salah satu gundukan buah dadanya. Dia rupanya gigih juga bertahan. Geram, langsung saja kutarik lagi jilbabnya, kujambak rambutnya yang terikat melingkar di belakang. Wanita itu mengerang kesakitan, tatapan panik dan ketakutan tampak di matanya yang bulat ketika ia menatap mataku. “Jangan, jangan!” teriaknya parau.

Aku tampar dia sekali lagi, lebih keras dari yang tadi, suara jeritannya terdengar merdu sekali di telingaku ketika kepalanya terlempar ke samping, sementara tanganku masih menjambak jilbabnya yang kini mulai terlihat kusut dan acak-acakan.

jilbab manis-nia (8)

“Jangan berisik!” aku menghardiknya, jerit kesakitan dan ketakutannya bagaikan musik di telingaku, “Tutup mulut kamu!” ancamku.

“Le-lepaskan aku!!” sahutnya dengan suara gemetaran karena shock akan kejadian yang tengah menimpanya. Untuk ukuran orang yang baru mengalami penyiksaan, dia cukup tegar juga.

“Le-lepaskan aku! Kumohon!!” dia mengulangi perintahnya, kali ini lebih keras.

Aku menggeleng, tentu saja itu tidak mungkin. Tubuh telanjangnya telah membiusku. Lihat, penisku yang menempel di kulit pahanya sudah ngaceng berat, masa mau kubiarkan begitu saja. Itu mubazir namanya.

“Tidak!!!” wanita itu memekik. “Mau ngapain kamu?” dia terkesiap saat dengan pelan kumasukan jari tengahku ke liang kemaluannya yang terasa hangat dan basah. Kukocok sebentar disana sebelum akhirnya kutarik keluar beberapa saat kemudian.

jilbab manis-nia (9)

“Ahh! Lepaskan aku! Kamu gila!!” jeritnya dengan tubuh menggelinjang ke kiri dan ke kanan. Kuremas-remas tonjolan buah dadanya yang bergerak indah saat dia terus memberontak sambil kujilati jari tengahku yang penuh oleh cairan kewanitaannya. Hmm, rasanya gurih dan nikmat. Baunya juga harum sekali, aku menyukainya. Rupanya dia telaten juga merawat liang kemaluannya.

Tak sabar, segera kuletakkan batang penisku di mulut gerbang surgawinya. “Tidak! Jangan!!” wanita itu makin meronta dan memohon-mohon padaku. Dia tidak tahu, semakin dia memberontak, semakin aku terangsang untuk menyetubuhinya.

“Diam kamu! Dasar cerewet!!” tukasku dengan sembarangan. Sekali hentak, kudorong batang kemaluanku ke depan. Bless!! Tak sampai satu detik, tubuhku sudah menjadi satu dengan tubuhnya. Alat kelamin kami saling mengisi dan bersentuhan. Ugh, rasanya sungguh nikmat sekali.

“AAAH… setan kamu!!” wanita itu mengumpat, tapi kudengar ada sedikit nada kegelian dalam suaranya. Aku yakin, dia juga menikmatinya.

Segera kugoyang pinggangku secara liar hingga batang kemaluanku mulai mengocok-kocok liang kemaluannya. Aku menyetubuhinya. Kuperkosa dia dengan sesuka hati.

“Ahh… bajingan! Stop! Hentikan!!”

Semakin dia memaki dan mengumpatku dengan ekspresi judesnya itu, semakin terangsang aku jadinya. Kembali kuremas-remas tonjolan buah dadanya yang membulat indah sambil kugoyang pinggulku semakin cepat. Akan kubuat dia takluk dalam nikmatnya orgasme dan mengakui kejantanan yang kuberikan padanya.

“Mmmh… s-sudah! Jangan!!” dia masih berteriak-teriak memintaku untuk berhenti.

jilbab manis-nia (10)

“Diam kamu, jangan banyak omong!!” hardikku cuek. Sambil terus memompa liang kemaluannya, aku menunduk untuk menghisap puting payudaranya yang berwarna pink agak kecoklatan. Kuhisap benda mungil menggemaskan itu bergantian.

“Ohh… shhh!” rintihnya pilu. Dia menatapku dengan pandangan yang bercampur antara kemarahan dan kegelian yang amat sangat akibat rasa nikmat yang ditahan.

Sejenak aku menghentikan gerakanku. Kasihan juga aku melihatnya terikat seperti ini. Dengan menggunakan belati yang tergeletak di pinggir ranjang, aku memotong tali yang mengikat kedua kakinya. Begitu kedua kakinya terbebas, wanita itu sempat berontak. Tapi apa dayanya dengan posisi telentang dan tangan masih terikat ke atas kepalanya. Belum lagi posisiku yang sudah mantap di antara kedua kakinya, membuat dia hanya bisa meronta-ronta dan kakinya menendang-nendang tanpa hasil. Aku terus menyetubuhinya, bahkan kini semakin terasa nikmat karenanya.

“Ahh… sudah! Hentikan! Ampun! Lepaskan aku!” dia memohon lagi, tapi kali ini suaranya tidak kasar seperti tadi, malah mulai terdengar mendesah karena geli. Nafasnya pun mulai sedikit memburu. Mungkin wanita itu sadar kalau sia-sia saja melawan, jadi dia mulai berusaha menikmati apa yang aku berikan.

Kusingkap jilbab lebarnya ke atas hingga aku bisa melihat batang lehernya yang mulus dan jenjang, kujilat lembut disana hingga ia makin tak mampu menutupi rasa geli dan nikmatnya. “Aduh! Sshh… udah dong! Hhh… ssh…” suaranya memohon, tapi diselingi desahan lirih yang menggairahkan. Kedua kakinya masih meronta menendang-nendang tapi kian lemah dan pelan. Tendangannya juga bukan karena memberontak, melainkan akibat menahan rasa geli dan nikmat yang kuberikan di sekujur tubuhnya.

jilbab manis-nia (11)

Aku menaikkan tempo dalam memompa liang kemaluannya sehingga tubuh wanita itu semakin bergetar setiap kali batang kemaluanku menusuk ke dalam liang kemaluannya yang hangat berulir serta kian basah oleh cairan kenikmatannya yang makin membanjir itu. Kali ini suara desah nafasnya sudah sedemikian berat dan memburu.

“Uhh… uhh… sialan kamu! Aghh… uhh… uhh!” Wajahnya terlihat semakin memerah, sesekali dia memejamkan matanya sehingga kedua alisnya yang tebal seperti bertemu. Tapi tiap kali dia begitu atau saat dia merintih nikmat, selalu wajahnya dipalingkan dariku. Pasti dia malu kepadaku. Liang kemaluannya kurasakan mulai mengeras seperti memijit batang kemaluanku. Pantatnya mulai bergerak naik turun mengimbangi gerakan batang kemaluanku yang bergerak keluar masuk semakin cepat di liang kenikmatannya yang sudah basah total.

Saat itulah aku berbisik, “Gimana, nikmat bukan?” aku menggodanya. Tanganku kembali memijiti tonjolan buah dadanya yang bulat besar, benda itu terasa sedikit kaku sekarang.

Sambil mengatur nafas dan dengan ekspresi yang sengaja dibuat serius, wanita itu berkata, “Tidak… ba-bajingan kamu!” suaranya dibuat setegas mungkin, tapi matanya yang sudah sangat sayu itu tidak dapat berbohong kalau dia sangat menikmati perbuatanku.

jilbab manis-nia (12)

“Masa?” godaku lagi sambil terus menggerakkan batang kemaluanku keluar masuk di liang kemaluannya yang terasa semakin basah dan membanjir.

Tampak dia ingin menjawab dengan wajahnya yang merah padam karena peluh, nafasnya yang berat terasa menerpa wajahku, tapi dia tidak jadi membuka mulutnya. Yang ada dia malah mendesah dan merintih semakin keras saat kugenjot pinggulku semakin cepat. “Hssh… hh… hh…” kakinya melingkar di kulit pahaku, seperti ingin meminta lebih dan lebih

Aku tersenyum saat melihatnya, dia sudah benar-benar jatuh ke dalam pelukanku, seperti korban-korbanku yang lain selama ini. Terus kuhujamkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya, semakin lama semakin keras dan dalam, hingga…

”Ughh… hhh… ghh…” wanita itu dengan gugup berusaha menarik nafas panjang dan menggigit bibir bawahnya, berusaha mengendalikan nafasnya yang sudah sangat berat dan ngos-ngosan. Pantatnya yang bulat mulai bergerak turun naik, mengimbangi genjotanku di atas tubuh sintalnya yang sudah mengkilat pasrah, ia sama sekali tak sanggup untuk menghentikannya. Di dalam, liang kemaluannya juga kurasa semakin berdenyut kencang dan menggigit kuat batang kemaluanku. Rupanya dia sudah hampir orgasme.

“Gimana, nikmat bukan?!”

Kata-kataku membuatnya tak mampu berpura-pura lagi. Mukanya mendadak memerah padam dan dengan setengah tersipu dia berbisik, “Ah, setan kamu! Uhh… uhh… tapi iya, memang enak ba… ughh!!”

Belum selesai ia berkata, aku langsung kembali menggenjotnya hingga ia kembali melenguh panjang. Rupanya perasaan malunya telah ditelan oleh kenikmatan yang kuberikan kepadanya.

“Ah iya… iya… terus… mmh… aah!!” dia tanpa sungkan-sungkan lagi mengekspresikan kenikmatannya.

Selama 15 menit berikutnya kami masih bertempur sengit. Tiga kali dia orgasme dan yang terakhir betul-betul dahsyat kerena bersamaan dengan saat aku ejakulasi. Spermaku menyemprot kencang di liang vaginanya, bertemu dengan semburan-semburan cairan kenikmatannya yang begitu basah dan hangat. Tersungging senyum puas di wajahku. Senyum penuh kemenangan. Ah, sungguh hari yang sempurna. Aku merasa seakan-akan dipenuhi energi yang luar biasa sehingga sanggup untuk menyetubuhinya tiga kali lagi.