RAPAT DKM (ZAHRA, ANITA, TYAS, NISA)

Namaku Sugeng, mahasiswa semester 6 di kota Y. Di kampus aku termasuk aktivis DKM, walaupun sebenarnya tidak terlalu aktif. Aku berasal dari keluarga yang religius, maka paman dan kakakku menyarankan aku untuk masuk organisasi DKM. Sebenarnya aku tidak terlalu minat, tapi supaya keluargaku tidak cerewet, dan lumayan untuk menambah pengalaman organisasi di CVku, kuputuskan untuk masuk. Aku bergabung di bagian publishing yang kerjanya membuat buletin, mading masjid fakultas dan website. Untungnya di bagian ini ada temanku yang sama parahnya, atau lebih parah dariku untuk masalah porn, namanya Misno. Kalau aku hanya suka membuka website porn, Misno malah lebih aktif, yaitu suka ngintip dan merekam teman kos wanitanya sedang mandi. Kadang-kadang dia menshare hasil “kejahatannya” denganku. Benar-benar teman yang kreatif.

ZAHRA

ZAHRA

Untungnya lagi, teman-teman akhwat di bagianku cantik-cantik semua. Zahra, tubuhnya pendek, berkaca-mata, tapi kulitnya putih bagaikan susu. Anita, sama pendeknya dengan Zahra, tapi wajahnya lebih manis. Tyas, tinggi semampai, dengan hidungnya yang mancung dan senyumnya yang super sweet. Terakhir adalah Nisa, berkulit coklat, tubuhnya lebih padat berisi, namun tetap cantik. Walaupun mereka semua berkerudung panjang, namun aura pesona mereka tetap tak bisa tertutupi, membuat mata yang memandang mereka makin nyaman dalam kesyahduan.

Alkisah Misno membuka obrolan denganku saat jajan es kelapa di kantin fakultas.
“Geng, emang kira-kira iklan obat perangsang yang ada di kampus.us itu beneran ga ya?” ujarnya.
“Wah mana ku tau, aku sih ga pake begituan juga udah terangsang hahaha…,” jawabku sekenanya. Misno pun ikut tertawa.
“Tapi ane masih penasaran geng, jadi pengen nyobain…” sambungnya lagi.
“Wah gila lu ya, mo nyobain ke mana? Ah aku tau, pasti temen kosan kau itu mau kau kasih obat, terus kau rekam ya?” terkaku.
Misno tertawa mendengan jawabanku.
“Ga tau deh, tapi ane udah bosen sih lihat bodinya Murni itu. Pengen liat yang lain, tapi siapa ya…” lanjutnya lagi.
“Wah dasar aktivis DKM mesum kau…,” jawabku. Aku pikir Misno hanya becanda saja, walaupun untuk urusan seperti ini biasanya Misno aku tau tidak pernah takut mencoba. Tapi lagian mau ngintip siapa lagi kalau bukan teman kosannya?


Seminggu kemudian…

ZAHRA

ZAHRA

Sesuai kesepakatan, sore ini ada meeting buletin dan mading di ruang publishing DKM. Semua tim publishing mesti hadir. Jam setengah dua siang sudah hadir semua. Anita, Zahra, Tyas, Nisa, Misno, Rizki sang ketua bagian, Herman sang editor dan aku. Rizki mulai membuka meeting dan menjalankan sesuai agenda, sementara Herman mengetik notulensi meeting di laptonya. Sore itu cukup panas sehingga baru setengah jam, kami sudah kehausan semua.
“Wah, mulai haus nih, kayaknya butuh penyegaran tenggorokan,” komentar Rizki.
“Iya, sama nih kita-kita juga,” balas Zahra mewakili tim akhwat.
“Oh ini tadinya aku mau beli konsumsi, tapi gak sempat. Biar kubeli dulu ya,” tiba-tiba Anita nyeletuk. Memang biasanya Anita lah yang membelikan kami konsumsi karena dia yang paling tajir di antara kami.
“Eh gak usah repot-repot ukti, biar aja aku yang beli. Emang mau beli konsumsi apa?” Misno menjawab sambil berdiri menawarkan diri.
“Oh akhi Misno yang mau beli, terserah aja deh mau beli apa. Ini uangnya,” kata Zahra sambil memberikan selembar seratus ribu kepada Misno.
“Wah Akhi Misno, baik sekali akhi,” ujar Rizki sambil tersenyum.
“Ga papa, sekali-kali kok,” jawab Misno sambil ngeloyor pergi meninggalkan kami.

ANITA

Kurang lebih sepuluh menit Misno datang membawa delapan teh botol dan cemilan kripik dan bolu kering. Dengan semangat kami menyerbu konsumsi tersebut karena memang sudah tak tahan haus dan agak lapar. Lagipula agenda meeting sudah selesai, tinggal membicarakan hal-hal tambahan yang perlu untuk tim publishing. Teh botol yang sudah terbuka sejak dibawa Misno langsung kami sruput dengan semangat sambil bincang-bincang ringan. Ketika pembicaraan dianggap selesai, kami segera beres-beres untuk pulang. Toh tidak baik juga kalau anggota DKM berkumpul laki dan perempuan dalam satu ruangan tanpa pembatas berlama-lama. Tapi saat beres-beres itulah kulihat anggota yang lain mulai bertingkah aneh. Ada yang garuk-garuk, kipas-kipas kepanasan, resah. Pada kenapa ini?? Tapi pas kulihat Misno, dia malah cengar-cengir memperhatikan teman-teman semua.

“Mis, kenapa cengar-cengir? Itu temen-temen pada kenapa ya?” bisikku perlahan.
“Geng, ente inget tentang obat perangsang yang pernah kuomongin kan, tadi kumasukkan ke teh botol mereka hihihi…” jawab Misno.
“Buset, nekat amat lu, begimana ini? bisa pada orgy nih anak DKM,” kataku sambil melotot.
“Tenang geng, kita lihat dulu perkembangannya…” jawab Misno.
Dengan santai Misno menutup pintu ruangan ini yang dari tadi terbuka lebar, menambah gerah suasana. Anehnya, tidak ada yang protes. Lalu Misno mendekati Zahra dan Tyas yang duduk di sofa kecil yang ada di kamar itu. Zahra tampak resah, mukanya menengadah ke atas, sementara Tyas tak henti-hentinya mengelap keringan di pipinya sambil sesekali tangannya menyentuh-nyentuh badannya.

ANITA

ANITA

“Kenapa Zahra, pusing ya?” tanya Misno
“Iya nih, pusing dikit, panas pula…” jawabnya
“Sini ane pijitin ya…” kata Misno lagi sambil tangannya mulai memijit pundak Zahra.
“Jangan akh, ga usah…” tukas Zahra. Tapi anehnya Zahra tidak menolak tangan Misno, malah mulai menikmati pijatan di pundaknya. Merasa mendapat angin, Misno menurunkan pijatannya dari pundak ke punggung Zahra dan dengan cekatan ke depan, ke dada Zahra yang masih terbungkus kerudung, jubah dan pakaian dalamnya. Bukan memijat sekarang, lebih tepatnya meremas. Zahra benar-benar tidak melawan, hanya memekik perlahan saja. Sementara Tyas yang ada di sampingnya, Anita yang ada di sofa panjang, Nisa, Rizki dan Herman yang masih di karpet, dan aku sendiri terpana menyaksikan pemandangan itu. Tidak ada yang protes, malah seolah-oleh menunggu kelanjutan pergerakan tangan Misno.

TYAS

TYAS

Bisa dikatakan semua sudah terpengaruh obat perangsang yang Misno masukkan ke teh botol kecuali Misno dan aku, sebab teh botol Misno dan aku tidak diberi obat perangsang. Seperti seorang ahli, Misno dengan cekatan mencium mulut Zahra dan tangannya menyibakkan jubah Zahra hingga ke pinggang. Melihat Zahra masih memakai celana panjang, Misno langsung memelorotkan celana itu hingga terlepas kemudian melepas celana dalam Zahra yang berwarna pink. Dengan ganas Misno melanjutkan ciumannya sementara tangan kirinya meremas-remas dada Zahra dan tangan kanannya meraba kemaluan Zahra.

Melihat pemandangan itu, akupun langsung On. Kudekati Tyas yang ada di sofa yang sama.
“Tyas mau kaya gitu?” tanyaku memancing. Tapi Tyas diam saja tak merespon. Maka langsung kucium mulutnya sebagai serangan awal sambil kuraba-raba seluruh tubuhnya. Dadanya, perutnya, pahanya, pantatnya, walaupun masih terbungkus jubah. Setelah agak bosan, kulakukan pada Tyas apa yang Misno lakukan pada Zahra, kusingkap jubahnya, kubuka celananya. Lalu kutarik dan kukangkangkan kaki Tyas yang masih duduk di sofa lebar-lebar, dapat kulihat vaginanya yang masih menutup dengan bulu-bulu halus di atasnya. Langsung kubenamkan wajahku, dan kujilat belahan kemaluan itu. Tyas melonjak-lonjak sambil tangannya meremas-remas rambutku. Terus kujilat sampai puas. Kemudian aku berdiri lagi sambil masih memegang kedua pergelangan kaki Tyas. Pemandangan yang luar biasa, Tyas yang alim dan mancung ini masih berkerudung dan berjubah, namun paha dan kemaluannya terpampang di depan hidungku.

TYAS

TYAS

Karena merasa ada desakan di celanaku, langsung kubuka dan kuturunkan sehingga penisku yang sudah tegang mencuat. Kusodorkan ke mulut Tyas sambil kutarik kepalanya. Tyas pun menurut memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Agak sakit malah karena gadis ini pasti belum pernah melakukan blow job. Tapi sensasi lidahnya yang menyapu kepala penisku benar-benar membuatku melayang. Kulirik ke kiriku, ternyata Zahra juga sedang mengoral Misno, bedanya Zahra ternyata sudah tidak berbusana. Payudaranya agak lonjong seperti pepaya mencuat dengan puting yang menegang, ditarik dan diremas oleh Misno. Uniknya lagi, kerudung Zahra tidak dilepas sehingga pemandangan itu sungguh eksotis.

“Mimpi apa gue Geng, diblowjob cewe-cewe alim kaya gini?” kata Misno kepadaku sambil menikmati mulut Zahra.
“Dasar sableng lu No,” jawabku sekenanya.
Aku menoleh ke karpet, ternyata Herman dan Nisa sudah bergaya 69 sambil menyamping, dan keduanya sudah setengah telanjang. Herman tinggal memakai kemejanya, sedangkan Nisa tinggal memakai kerudungnya yang panjang seperut. Sementara di ranjang. Anita dan Rizki yang paling soleh sedang bergaya 69 dengan Rizki di atas sambil mengepaskan penisnya di mulut Anita, sedangkan Anita di bawah membuka kakinya lebar-lebar memberikan ruang untuk mulut Rizki mengeksplorasi vaginanya. Keduanya sudah melepaskan pakaiannya, termasuk Anita yang sudah melepas kerudungnya sehingga rambutnya yang ikal bergelommbang terurai di sofa.

NISA

NISA

Melihat pemandangan ini membuat libidoku memuncak. Kuluman dan remasan Tyas pada penisku membuat pertahananku mulai goyah. Tiba-tiba Misno menepak pundakku, “Gantian dong, aku mau sama Tyas,” katanya.
“Oke aja,” jawabku. Lalu aku melepas penisku dari mulut Tyas, dan pindah ke kiri menghadap Zahra. Aku langsung memasukkan penisku ke mulut Zahra sambil meremas-remas payudaranya yang mencuat dan menggantung itu. Aku terpejam menikmati kulumannya dan kekenyalan teteknya. Tiba-tiba terdengar jeritan “Auu, sakit…” kubuka mataku dan kulihat ke sebelah, ternyata Misno sudah menusukkan penisnya ke vagina Tyas. Keduanya terpejam, yang satu menahan sakit, yang satu menahan nikmat. Bener-bener sableng Misno, keperawanan gadis DKM ini mau direnggutnya juga.

Tapi melihat Tyas yang masih berkerudung menganga sambil menjerit kecil dengan kaki mengangkang membuatku tak kuat lagi. Kupercepat kocokanku di mulut Zahra, kemudian kucabut penisku dari mulutnya, kuarahkan ke atas dan “Aaaakhhhh…”, maniku belepotan di kacamata dan pipi Zahra, menembak-nembak menandakan kenikmatan yang begitu kuat, sambil tangan kiriku terus menekan kenyalnya dada Zahra. Tak lama, aku mulai lemas dan terduduk di lantai. Kulihat Zahra masih belum puas, meremas payudaranya sendiri dengan tangan kanan, sedangkan yang kiri meraba-raba vaginanya yang berambut halus. Di sebelahnya, Misno dengan semangat menyodok-nyodokkan penisnya dalam-dalam ke selangkangan Tyas. Pakaian Tyas kini sudah amburadul dengan jubah yang terangkat hingga pundak, BH yang lepas cupnya dan kedua bukit dadanya yang bulat dengan puting yang menghitam.

NISA

NISA

Kulihat di tempat karpet Herman berbaring terlentang sementara Nisa di atasnya, keduanya tanpa sehelai benangpun, keduanya saling menggesek-gesekkan selangkangan. Entah hanya saling bergesekan, atau penis Herman sudah masuk ke vagina Nisa. Bisa kukatakan, dada Nisa agak rata dan konturnya tidak seindah kedua temannya, tapi erotiknya, ketika pantatnya dimajumundurkan, dari mulutnya terdengar desahan Ahhh… Ahhh… Ahhh… berulang-ulang, tampak sangat menikmati. Dan di sofa panjang, Rizki menindih Anita dengan hentakan yang keras hingga sofanya ikut bergoyang. Mungkin keperawanan Anita pun sudah direnggutnya. Entahlah.

Lama-lama kesadaranku pulih. This is not good, this can be a nasty scandal for DKM. Buru-buru aku merapikan celanaku, merapikan tas dan barang-barangku. Aku tidak mau berlama-lama terlibat dalam perbuatan mesum ini. Aku melihat sejenak aktivitas di kamar mesum ini untuk terakhir kalinya, semua masih sibuk dengan aktivitas masing-masing. Langsung aku menuju pintu, membukanya dan menengok keluar. Ternyata di luar ada Pak Agus, dosen pembimbing DKM di fakultasku bersama Ilham sang ketua DKM.
“Eh Assalamualaikum Sugeng, kalian masih di dalam ya? Saya dengar kalian meeting di ruangan ini. Saya ada perlu sama Rizki dan Anita untuk membicarakan departemen publishing, mereka ada di dalam tidak? Kok pintunya ditutup sih? Boleh kami masuk?”
Aku ternganga…….

BELLA

Bella, seorang wanita cantik. Jilbab lebar, kemeja longgar putih dan rok tidak dapat menutupi kecantikan wajahnya. Bibirnya yang tipis dan lesung pipit yang kentara menimbulkan hasrat semua lelaki untuk menikmatinya. Namun Bella berusaha untuk menjaga dirinya, dengan tidak terlalu menjalin hubungan dekat dengan lelaki. Kacamata kecil menghiasi wajahnya membuatnya terlihat makin berwibawa. Dia juga yang terlihat paling dewasa diantara kawan-kawannya.

ngentot jilbab semok (1)

Sebagai mahasiswi kedokteran, Bella bertugas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan. Dia juga sering bertugas di puskesmas sebagai tenaga medis karena di desa itu tidak ada dokter yang bertugas. Satu-satunya petugas kesehatan yang ada hanyalah mantri kesehatan yang kemampuannya jelas kurang memadai.

Suatu ketika saat Bella sedang bertugas di puskesmas, tiba-tiba datang seorang pria setengah baya yang terburu-buru menemuinya. Bella mengenalnya, pria itu adalah Pak Hasan, salah satu kerabat dekat kepala desa. Pak Hasan walaupun sudah tua, limapuluh tahun tapi terlihat masih kuat dan kekar. Dulunya Pak Hasan adalah jawara desa yang sangat ditakuti. Tampangnya seram, rambutnya yang penuh uban tumbuh tidak teratur seolah tidak pernah tersentuh air, senada dengan kumis dan janggut kambingnya yang juga tidak terawat, tampangnya semakin sangar dengan sebuah bekas luka yang menoreh pipi kirinya, separti luka bekas bacokan senjata tajam

“Pak Hasan… ada apa Pak?” Tany Bella dengan tergopoh-gopoh. Pak Hasan yang terengah-engah tidak segera menjawab. Dia masih terbungkuk mencoba mengatur nafasnya, sepertinya dia baru saja berlari mengelilingi desa.

“Eh.. tolong Neng Dokter.. ibunya.. anu.. maksud saya.. istri saya..” Pak Hasan berujar terputus-putus di tengah nafasnya yang tidak teratur.

“Istri Bapak kenapa..?”

“Tidak tahu Neng Dokter.. tahu-tahu panasnya tinggi dan muntah-muntah.”

“Di mana sekarang istri Bapak?” Bella bertanya bingung. “Kenapa tidak dibawa ke sini..?”

“Di rumah Neng.. boro-boro dibawa ke sini, jalan saja susah, kalau bisa Neng Dokter yang ke sana,” Pak Hasan menunjuk ke arah luar, maksudnya mungkin menunjuk ke arah rumahnya.

“Iya Pak.. sebentar saya ambil tas dulu.” Bella segera menyambar tas peralatannya, dan tanpa menunggu persetujuan, Pak Hasan menarik tangan Bella, Bella mengikuti dengan langkah terseret.

“Aduh.. tunggu Pak.. jangan cepat-cepat,” Bella mengeluh, dia memakai sepatu hak tinggi, tentu saja susah kalau diajak jalan cepat.

“Kalau tidak cepat nanti keburu hujan Neng,” Pak Hasan menunjuk ke atas. Bella ikut menengok, langit terlihat suram karena tertutup mendung tebal. Mereka segera mempercepat jalannya. Tapi perkiraan Pak Hasan tepat, baru setengah perjalanan hujan sudah mulai turun dan makin lama makin deras, membuat keduanya basah kuyup. Bella merasakan tetes air sebesar kelereng seperti hempasan peluru yang menghajar tubuhnya. Tubuhnya menggigil kedinginan sementara tidak ada tempat untuk berteduh. Akhirnya mereka terpaksa berjalan di tengah badai.

Sampai di rumah Pak Hasan hujan belum reda sedikitpun, bahkan makin deras. Bella merasa lega akhirnya bisa berteduh, baju yang dipakainya sudah basah kuyup oleh air hujan menciptakan genangan kecil tiap kali dia berhenti. Di teras rumah Pak Hasan ada dua orang pria yang sepertinya juga sedang berteduh menghindari hujan yang kian menggila.

“Lho.. Parjo.. Somad.. kalian di sini..?” Pak Hasan mengenali mereka, mereka adalah petugas Hansip desa yang sering ronda kalau malam hari.

“Eh iya Pak.. tadi barusan dari desa sebelah, baru sampai di tengah prjalanan kehujanan,” ujar Parjo, pria bertubuh gemuk dengan rambut botak di bagian depannya, menyeringai. Di sebelahnya, Somad yang bertubuh pendek tapi gempal dengan rambut dipangkas pendek bak tentara, juga menyeringai.

“Kok sama Neng Dokter ini Pak..?” Parjo bertanya dengan nada tertahan seolah tidak ingin mencampuri urusan pribadi Pak Hasan. Sesekali matanya melirik ke arah Bella. Tatapannya bagaikan srigala lapar yang siap menerkam mangsanya. Bella mendadak merasa risih ditatap oleh Parjo dan Somad, seolah kedua orang itu mampu melihat menembus ke balik jilbab putih dan kemejanyanya.

“Istri saya sedang sakit.” Pak Hasan menjawab kalem. Parjo dan Somad hanya menjawab dengan O panjang. Pak Hasan lalu menyuruh mereka masuk.

“Neng Dokter bajunya basah kan.. nanti pakai saja baju punya anak saya.” Kata Pak Hasan. Dia masuk ke salah satu kamar dan tak lama kemudian keluar lagi dengan membawa beberapa lembar pakaian.

“Eh.. “ Bella menatap Pak Hasan. “Boleh saya numpang ganti baju Pak?”

“Oh ya.. di situ saja..” Pak Hasan menunjuk ke arah kamar belakang yang sebagian dindingnya terbuat dari kayu triplek tipis.

Bella yang sudah kedinginan bergegas masuk ke dalam kamar itu dan segera mengunci pintunya. Kamar itu tidak seberapa luas, hanya berukuran dua kali tiga meter dan terkesan kosong, ada sebuah ranjang kayu usang di dekat dinding sebelah kiri pintu dan sebuah lemari kayu yang juga usang. Beberapa poster artis India tertempel di dinding secara acak dan tidak teratur.

Bella untuk sesaat hanya berdiri seperti bengong. Dia kemudian meletakkan baju pemberian Pak Hasan di atas ranjang. Kemudian dengan gerakan perlahan dia mulai membuka satu persatu pakaiannya. Mula-mula kemejanya yang basah kuyup sehingga tubuh bagian atasnya sekarang hanya berbalut Bra berwarna pink berenda dan jilbab putih. Tubuhnya jelas sekali terawat dengan baik. Putih dan mulus. Payudaranya terlihat padat dan ketat di balik mangkuk Branya. Lalu Bella mulai menurunkan rok panjangnya, sepasang kaki yang jenjang dan mulus terlihat begitu elok dipandang, pahanya yang padat dengan pinggul membulat berakhir pada pinggang yang ramping. Sebuah celana dalam yang juga berwarna pink berenda melekat di bagian segitiga selangkangannya. Pantatnya terlihat begitu padat, dan meskipun masih berada di balik celana dalam, tidak dapat dipungkiri pantat itu sangat bagus, padat dan mulus, semulus bagian tubuh Bella yang lain.

Bella kemudian menyeka seluruh tubuhnya dengan selembar handuk dengan gerakan tenang seolah di rumah sendiri, bahkan Bella terdengar bersenandung kecil. Tanpa disadarinya, ada sesuatu yang bergerak liar di luar mengikuti setiap gerakannya dengan tatapan mata yang liar. Rupanya di luar kamar, Parjo sedang berkasak-kusuk di dekat tembok kamar tempat Bella berganti baju. Rupanya sejak dari awal Parjo bertemu Bella di rumah Pak Hasan, Parjo mempunyai niat jahat pada Bella. Dia hafal seluk beluk rumah Pak Hasan karena sering sekali menginap di situ. Dia tahu di dinding kamar itu ada celah kecil yang tersembunyi jika diilihat dari dalam, letaknya agak di bawah dekat dengan lemari. Parjo dengan nekat mencoba melebarkan celah itu dengan menggunakan pisau hansip yang saat itu dibawanya. Celah itu membuka cukup lebar untuk Parjo bisa mengintip ke dalam. Dan Parjo dengan jelas bisa melihat apa yang terjadi di dalam, dan dengan jelas pula dia bisa melihat kemulusan tubuh Bella yang hanya berbalut celana dalam dan Bra serta selembar jilbab menutup kepalanya.

Parjo meneguk ludahnya menyaksikan kemulusan dan kemolekan tubuh Bella. Tubuhnya panas dingin dan gemetar menahan dorongan seksualnya yang tiba-tiba bangkit saat menyaksikan tubuh yang nyaris telanjang itu.

“Apa yang..” Pak Hasan dan Somad yang tahu-tahu sudah ada di dekat Parjo melongo tertegun menatap ulah Parjo. Parjo terkejut sesaat dan beringsut mundur. “Ngapain kamu..?” Pak Hasan bertanya, tapi dengan suara lirih. Parjo menunjuk ke arah celah yang dibuatnya. Pak Hasan lalu ikut mengintip ke dalam. Seperti Parjo, diapun meneguk ludah menyaksikan tubuh Bella yang mulus itu. Gairah kelelakiannya bangkit seketika, nafasnya terengah-engah menahan gejolak liar dari dalam tubuhnya.

“Mulus banget Pak…” Parjo berbisik. Pak Hasan hanya mengangguk tanpa menggeser tubuhnya dari tempat mengintip itu. Dilihatnya Bella sedang menimbang-nimbang apakah perlu melepaskan Bra dan celana dalamnya juga.

“Buka… ayo buka..” Pak Hasan bergumam lirih pada dirinya sendiri. Tapi dia kecewa karena Bella memutuskan untuk tetap memakai pakaian dalamnya dalam keadaan basah. Pak Hasan makin kecewa saat Bella memakai baju pemberiannya, seolah menyesali keputusannya memberikan baju itu pada Bella.

Ketika Bella keluar kamar, Pak Hasan dan Parjo bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, meskipun begitu Parjo tidak dapat menahan diri untuk terus menatap tubuh Bella, terutama pada bagian payudara, selangkangan dan pantatnya. Bella sendiri tidak tahu kalau beberapa saat yang lalu tubuhnya dijadikan obyek wisata. Dia segera bergegas memeriksa keadaan istri Pak Hasan yang sedang sakit, yang terbaring lemah di ranjang. Bella kemudian memriksa kadaan istri Pak Hasan. Tanpa disadari oleh Bella, Pak Hasan dan Parjo sedang berkasak-kusuk merencanakan sesuatu.

Bella lalu berdiri sambil menatap ke arah Pak Hasan.

“Dia nggak apa-apa, cuma terserang flu berat, sekarang sudah tidur.” Kata Bella lembut. “Dia cuma perlu istirahat.”

“Terima kasih Neng Dokter,” Pak Hasan mengucapkan terima kasihnya sambil menyilakan Bella duduk di ruang tengah. Ada secangkir minuman di tangan Pak Hasan.

“Silakan diminum dulu Neng,” Pak Hasan menyodorkan cangkir di tangannya sambil tersenyum aneh. Bella menerimanya dengan canggung sambil mengucapkan terima kasih. Bella perlahan meneguknya sedikit, bukan teh, bukan pula kopi, cairan hangat yang mengalir di dalam tenggorokannya terasa aneh, segar dan membangkitkan sesuatu dari dalam dirinya, seperti kehangatan yang sulit dilukiskan.ngentot jilbab semok (2)

“Minuman apa ini Pak..?” tanya Bella sambil menatap penuh tanda tanya.

“Oh.. itu minuman tradisional desa ini Neng, dibuat dari daun teh liar dari hutan sini..” Pak Hasan menjawab ringan. “Habiskan Neng.”

Bella agak ragu untuk meneguknya lagi, tapi dia merasakan tubuhnya yang tadi kedinginan mendadak menjadi hangat, maka Bella sedikit demi sedikit meneguk minuman itu sampai habis.

Sesaat Bella merasakan tubuhnya hangat dengan kehangatan yang tidak lazim. Seperti ada yang menyalakan api kecil di dalam tubuhnya, kepalanya perlahan seperti berputar dan pandangannya mengabur membuat keadaan di sekelilingnya menjadi berwarna abu-abu. Bella juga merasakan dorongan aneh di dalam tubuhnya, seperti seekor kuda liar yang berusaha mendesak keluar. Mendadak badannya menjadi terasa gelisah, keringat mulai menetes dari tubuh Bella. Desakan asing dari dalam tubuhnya membuat Bella seolah ingin secepatnya melepaskan seluruh pakaiannya dan membuatnya seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dalam keadaan seperti itu Bella merasa tubuhnya seperti diangkat dan dipindahkan dari ruangan tengah dan direbahkan ke sebuah tempat yang lembut dan lebar. Setelah beberapa saat Bella kemudian benar-benar hilang kesadaran.

Beberapa saat kemudian Bella terbangun dari tidurnya. Untuk beberapa saat Bella merasakan keanehan yang terjadi pada dirinya, Dia sekarang berada di sebuah kamar sempit dan terbaring di atas sebuah ranjang lebar berbau melati. Samar-samar dilihatnya ada tiga orang yang berdiri di dekatnya mengelilingi tubuhnya.

“Pak Hasan..” Bella mengejapkan matanya untuk melihat lebih jelas, perlahan bayangan samar yang dilihatnya mulai menampakkan bentuk aslinya, Pak Hasan, Parjo dan Somad berdiri mengelilinginya di pinggir ranjang. Ketiganya hanya memakai celana kolor.

Bella berusaha bangun, tapi tubuhnya lemas sekali, pengaruh minunam yang diminumnya membuat sekujur badannya lemas.

“Sudah bangun Neng..” Pak Hasan berujar sambil tersenyum dengan tatapan matanya memelototi Bella. Parjo dan Somad bahkan menatap Bella tanpa berkedip sedikitpun sambil sesekali menguk ludahnya. Bella merasa ada yang salah dengan tubuhnya melihat ketiga orang itu menatapnya. Dan beberapa detik kemudian Bella baru sadar kalau dirinya terbaring di atas ranjang dalam keadaan telanjang bulat, tanpa selembar benangpun menutupi tubuhnya.

“Apa yang kalian lakukan pada saya..?” Bella menjerit, tapi suaranya terdengar terlalu lemah, dia berusaha mundur dan bangkit, tapi tubuhnya tidak bertenaga, dia hanya mampu menutupi payudaranya yang telanjang sambil berusaha merapatkan kakinya, sementara jilbabnya sudah tersingkap hingga leher.

“Hehehehe..” Pak Hasan tertawa pelan. “Belum ada sih Neng, soalnya kami baru saja selesai menelanjangi Neng Dokter.”

“Jangan Pak.. jangan.. jangan sakiti saya..” Bella mulai menangis sambil berusaha berontak, meskipun dia terlalu lemah untuk itu, yang dilakukannya hanya mengejang-ngejang di atas ranjang yang justru membuat gerakan erotis karena dirinya dalam keadaan bugil.

“Oh.. tentu tidak Neng, Bapak hanya ingin senang-senang sedikit saja,” kata Pak Hasan sambil menoleh ke arah Parjo dan Somad yang menyeringai liar.

“Tidak apa-apa Neng.. Bapak hanya minta Neng melayani Bapak sebentar saja, Bapak sudah lama tidak mendapat jatah dari istri Bapak.” Kata Pak Hasan

“Jangan Pak.. jangan.. saya tidak mau..” Bella menangis sesenggukan sambil menggeleng ketakutan.

“Jangan nangis Neng, Bapak janji bakal muasin Neng Dokter juga, malah mungkin Non yang ntar ketagihan” katanya setengah berbisik, hembusan nafasnya terasa di telinganya. Bella merinding mendengar usapan itu, sama sekali tidak disangkanya Pak Hasan tega melakukan hal ini padanya, Bella memang sudah tidak perawan karena pernah melakukan masturbasi dengan timun sehingga selaput daranya robek, tapi dia tidak mau dijadikan pelampiasan nasu seorang tua bangka seperti Pak Hasan.

“Neng Dokter cantik sekali..” Pak Hasan menyeka air mata yang membasahi pipi Bella lalu mengalihkan wajah cantik itu berhadapan dengan wajah buruknya, dilumatnya bibirnya yang mungil itu dengan kasar, sementara tangan kanannya meremas-remas payudaranya. Bella memejamkan mata dan meronta berusaha melepaskan diri, namun tenaganya terlalu lemah untuk melawan Pak Hasan, malah rontaan itu membuat Pak Hasan makin bernafsu mengerjainya. Ketika tangan Pak Hasan mulai merogoh bagian kewanitaannya, dia tersentak dan mulutnya sedikit membuka, saat itulah lidah Pak Hasan menerobos masuk ke mulutnya dan melumatnya habis-habisan, lidah Pak Hasan menyapu telak rongga mulutnya. Bella merapatkan pahanya untuk mencegah tangan Pak Hasan masuk lebih jauh, namun dengan begitu Pak Hasan malah senang bisa sekalian membelai paha mulusnya sambil tangannya makin menuju ke selangkangan. Sekali lagi tubuhnya tersentak seperti kesetrum karena jari Pak Hasan telah berhasil mengelus belahan vaginanya. Desahan tertahan terdengar dari mulutnya. Tangan Pak Hasan menyusup menyentuh permukaan kemaluan Bella yang ditumbuhi bulu-bulu halus.

ngentot jilbab semok (3)

Bella mengejang sesaat ketika tangan itu menyentuh kemaluannya, campuran antara sensasi yang ditimbulkan sentuhan tangan itu dan pengaruh minuman yang tadi diminumnya membuat tubuhnya menegang sesaat. Bella mulai merasakan getaran-getaran yang mengenai syaraf seksualnya, tanpa sadar Bella mendesah.

“Ahhhhhh… ehsssss…. ohhhkkkhhhh…’ Bella merintih dan bergerak liar merespon sentuhan Pak Hasan. Pak Hasan melihat reaksi itu semakin bersemangat. Pak Hasan lalu berusaha membuka kedua belah paha Bella lebar-lebar sambil terus menerus menciumi bibir Bella. Nafas gadis itu semakin memburu dan wajahnya yang putih merona merah karena rangsangan-rangsangan gencar Pak Hasan. Tangan Pak Hasan akhirnya berhasil membuka paha Bella membuat vagina Bella sekarang terbuka lebar, vagina itu terlihat bagus dengan ditumbuhi rambut halus dan rapi.

Parjo dan Somad yang melihat aksi Pak Hasan mengerjai Bella hanya bisa meneguk ludah sambil mengocok penis mereka sendiri.

“Ohh.. jangan lama-lama Pak.. kami juga kebelet..” Parjo mengerang pelan sambil meneguk ludah.

Sebuah pemandangan yang erotis, ironis, namun sangat menggairahkan. Seorang gadis cantik yang alim, berjilbab lebar dan berbaju longgar yang ia gunakan untuk melindungi dirinya dari pikiran kotor para lelaki bejat, kini terbaring tak berdaya dengan jilbab tersingkap dan buah dada serta perut yang terbuka lebar, penuh liur dari orang yang memperkosanya. Dari mulutnya terdengar lenguhan dan desahan birahi yang terdengar semakin meninggi, disela jeritan dan kata2 penolakan yang seperti dikatakan hanya untuk menjaga kehormatannya.

“Hehehe.. giliran kalian nanti ya..” Kata Pak Hasan. Kemudian Pak Hasan mulai memainkan jari-jarinya di vagina Bella sambil terus menciumi dan mengulum bibir Bella Lidah Bella yang berusaha menolak lidahnya justru semakin membuatnya bernafsu mencumbunya. Beberapa saat lamanya Pak Hasan terus menciumi bibirnya dan mengelus-elus bibir vaginanya. Jari-jari Pak Hasan yang ditusuk-tusukkan ke vaginanya sadar atau tidak telah membangkitkan libidonya. Menyadari perlawanan korbannya melemah, Pak Hasan menyerang daerah lainnya, payudara Bella yang telanjang perlahan mulai diremas oleh Pak Hasan. Bella berusaha menepis tangan Pak Hasan dan menutupi dadanya dengan menyilangkan tangan, namun Pak Hasan mencengkeram kedua pergelangan tangannya dan melebarkannya ke samping badan. Dia memejamkan mata dan menangis, seorang bertampang buruk dan seusia ayahnya meremas, menjilati dan mengenyot payudaranya.

Gadis berjilbab itu menggeliat-geliat dengan suara-suara memelas minta dilepaskan yang hanya ibarat menambah minyak dalam api birahi pemerkosanya. Cukup lama Pak Hasan menyedoti payudara Bella sehingga meninggalkan bekas cupangan memerah pada kulit putihnya dan jejak basah karena ludah. Jilatannya menurun ke perutnya yang rata sambil tangannya terus memainkan payudara Bella.

‘Tidak…jangan Pak, jangan !” ucap Bella memelas sambil merapatkan kedua belah paha ketika Pak Hasan mau menjilati vaginanya.

Pak Hasan hanya menyeringai lalu membuka paha Bella dengan setengah paksa lalu membenamkan wajahnya pada vagina gadis itu. Tubuh Bella menggelinjang begitu lidah Bella yang panas dan kasar itu menyapu bibir kemaluannya, bagi Bella lidah itu adalah lidah pertama yang pernah menyentuh daerah itu, tubuhnya menggelinjang dan darahnya berdesir merasakan sensasinya. Pak Hasan berlutut di ranjang dan menaikkan kedua paha Bella ke bahu kanan dan kirinya sehingga badan gadis berjilbab  itu setengah terangkat dari ranjang, dengan begitu dia melumat vaginanya seperti sedang makan semangka.

ngentot jilbab semok (4)

“Sudahhh Pak…ahh…aahh !” desah Bella memelas saat lidah Pak Hasan masuk mengaduk-aduk bagian dalam vaginanya.

Sekalipun hatinya menolak, tubuhnya tidak bisa menolak rangsangan yang datangnya bertubi-tubi itu. Harga diri dan perasaan ngerinya bercampur baur dengan birahi dan naluri seksual.

Sekitar seperempat jam Pak Hasan menikmati vagina Bella demikian rupa, dengan lihainya dia menyedot dan menjilati klitoris gadis berjilbab itu menghanyutkannya dalam permainan liar ini.

“Eenngghh…aaahh !” Bella pun akhirnya mendesah panjang dengan tubuh mengejang. dia menyedoti bibir vagina Bella sehingga tubuhnya makin menggelinjang. Orgasme pertama begitu dahsyat baginya sehingga membuatnya takluk pada pria itu. Parjo dan Somad yang melihat Bella orgasme tertawa senang.

“Hehehehe.. ternyata konak juga, tadi nolak-nolak tuh.. dasar pelacur, dimana-mana sama saja..meski pakai jilbab kalo pelacur yah konak juga ” Parjo berujar datar.

“Iya nih… tadi berlagak alim nggak mau, ternyata nyampe juga..” timpal Somad yang juga masih mengocok-ngocok penisnya sendiri.

“Nah.. kalau begitu Neng dokter sudah siap ya..” kata Pak Hasan. Bella tahu maksud ‘siap’ yang dilontarkan Pak Hasan. Dirinya memang terangsang hebat oleh perlakuan Pak Hasan, meskipun pikirannya menolak, tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Bella yang sudah mulai kehilangan akal sehatnya hanya terdiam. Diamnya Bella itu bagi Pak Hasan dan kawan-kawannya dianggap sebagai lampu hijau dari Bella untuk menidurinya. Perlahan Pak Hasan mulai menarik kedua belah kaki jenjang Bella ke arah luar sehingga terpentang lebar membuat vaginanya terkuak. Lalu perlahan Pak Hasan mulai menindih tubuh mulus Bella yang telanjang bulat. Pak Hasan merasakan kenyalnya payudara Bella menekan dadanya dengan lembut.

Perlahan-lahan, Pak Hasan lalu menaikkan kedua kaki Bella yang masih mengangkang sehingga melingkari pinggulnya yang kekar. kedua pahanya kini melingkari bagian perut Pak Hasan. Kemudian Pak Hasan menggosok-gosokkan batang penisnya ke kemaluan Bella.membuatnya kegelian merasakan kemaluan Pak Hasan yang menyentuh kemaluannya. Setelah penis Pak Hasan mengeras sepenuhnya dan siap dipakai, dia lalu mengarahkan kemaluannya yang panjang dan hitam legam itu ke arah bibir kemaluan Bella. Siap untuk dibenamkan ke dalamnya. Merasa batang penisnya telah siap lalu Pak Hasan mendorong pinggangnya maju mendesak pinggul Bella membuat penisnya masuk ke dalam vagina Bella. Saat penis Pak Hasan melesak ke dalam kemaluan Bella, spontan Bellapun mengejang. Jeritan tertahan di tenggorokannya. Sebentar kemudian, ia pun meringis…. kedua matanya terpejam menahan nyeri dan sakit pada rahimnya. Tak terasa air matanya pun menetes…

“Aduuuh…….. Paak…!! Ampuuun…” jeritnya halus mengiba. Pak Hasan masih mendorong penisnya untuk masuk terus hingga dasar kemaluan Bella. Bella pun terus menangis dan air matanya menetes membasahi pipinya yang putih saat itu. Tubuhnya pun terguncang-guncang di bawah tubuh kekar Pak Hasan.

Mengetahui tangisan Bella saat menerima penisnya masuk, Pak Hasan lalu memeluk Bella dengan ketat dengan posisi tetap di atas tubuh putih Bella. Ia peluk Bella dan diciuminya bibir Bella seakan tidak ingin terpisahkan. Pak Hasan ingin bibir mereka juga menyatu sama seperti tubuh mereka yang telah menyatu saat itu.

Bella meronta mencoba mendorong tubuh Pak Hasan yang menindihnya tapi dirinya terlalu lemah, rontaan Bella bukannya membuat Pak Hasan bergeser justru membuatnya semakin bernafsu, sensasi yang didapatnya saat vagina Bella mencengkeram penisnya benar-benar membuatnya merasa nikmat. Pak Hasan tetap mendiamkan penisnya yang panjang dan besar itu di dalam kemaluan Bella. Ia ingin mereguk kehangatan tubuh gadis berjilbab cantik itu dengan sempurna. Khususnya kehangatan yang berasal dari cengkeraman vaginanya. Apalagi dinding-dinding kemaluan Bella terasa berdenyut-denyut. meremas penis Pak Hasan yang keras. Ia pun menikmati semua itu sambil terus mengulum bibir Bella dan menjilati bagian belakang telinganya yang basah oleh keringat. Dari tengkuk Bella jilatannya terus berpindah kearah bahu yang putih bersih hingga menampakkan aliran merah darah dari urat-urat Bella. Nafsu Pak Hasan terus terpacu karena wangi tubuh Bella yang juga masih tercium aroma minyak wangi mahal yang telah bercampur dengan keringatnya saat itu. Setelah puas di bahu, lalu ia turun ke arah payudara Bella yang bernomer 34B itu. Mulut Pak Hasan terus bermain-main dengan puting dan belahan Payudara Bella. Jejak cupangan merah mulai banyak menghiasi kedua payudara yang putih dan mulus itu.

Diperlakukan sebegitu rupa, pelan-pelan bertahanan Bella jebol, tubuhnya sudah tidak mematuhi perintah otaknya yang menolak cumbuan Pak Hasan, desakan luar biasa sebagai akibat pengaruh minuman yang diberikan Pak Hasan benar-benar bagaikan kuda binal yang menghentak-hentak di setiap ujung syaraf kenikmatan seksual Bella. Cengkeraman Bella pada bahu Pak Hasan makin mengers dan tubuh Bella akhirnya mengejang keras seperti dialiri listrik yang membuatnya terhentak. Wajah Bella merah padam seperti menahan sesuatu yang inginn dilepaskan. Akhirnya diiringi desahan lirih, Bella mencapai orgasme untuk yang kedua kalinya.

Pak Hasan menyadari Bella kembali dilanda orgasme, karena vagina Bella dirasakan mencengkeram penisnye dengan kuat seperti cengkeraman tangan baja. Pak Hsan kemudian mulai mengerakkan pantatnya maju mundur untuk menggenjot kemaluannya ke dalam liang vagina Bella. Sedang kedua tangannya memegangi pinggang Bella agar tetap di tempatnya. Bella perlahan-lahan menikmati genjotan Pak Hasan yang kasar itu. sementara kedua tangannya tergeletak ke samping sambil meremas-remas seprei yang sudah tak jelas warnanya itu. itu yang terdengar hanya dengus nafas dan erangan kedua orang yang sedang bersetubuh itu.

Selama setengah jam lamanya Pak Hasan menyetubuhi Bella, ditonton oleh Parjo dan Somad yang sudah blingsatan setengah mati menahan gejolak yang menggebu. Sungguh sebuah ketahanan yang luar biasa, terutama mengingat umur Pak Hsan yang sdah tua, Sementara Bella semakin lama makin menikmati persetubuhan itu. Tanpa sadar dia mulai mengimbangi gerakan Pak Hasan, bahkan saat Pak Hasan berhenti menggenjot vaginanya, Bella spontan menggerakkan pantatnya sendiri maju mundur. Respon yang diberikan Bella membuat Pak Hasan makin bersemangat. Kemudian Pak Hasan membuat gerakan memutar-mutarkan pantatnya sehingga penisnya seperti mengaduk vagina Bella. Bella merasakan batang penisnya menyentuh seluruh rongga vaginanya, terasa berputar putar, terasa sangat penuh, sampai akhirnya Bella merasakan penis Pak Hasan berdenyut denyut di dalam rongga vaginanya dan Bella sendiri sudah akan mencapai orgasme yang ketiga kalinya. Tubuh Bella kembali mengejang, tanpa sadar Bella memeluk badan Pak Hasan dan mencakari punggungnya dengan garukan keras.

“AHHHHHKKKKHHHHHHHHH………………….” Bella mengerang kuat, seluruh enersinya tumpah keluar saat orgasme untuk ketiga kalinya, pada saat itulah Pak Hasan mencapai puncaknya.

“AAAARRRRGGGGHHHHHH …..” Pak Hasan berteriak kuat-kuat sambil menjambak jilbab Bella, badannya melengkung ke atas sambil wajahnya menunjukkan ekspresi puas luar biasa dan kemudian spermanya menyembur bagitu banyak di dalam rongga rahim Bella. Akhirnya tubuh kedua insan yang baru saja melakukan persenggamaan itu melemas kembali. Pak Hasan selama beberapa menit membiarkan tubuhnya menindih tubuh putih mulus Bella, mencoba merasakan sebanyak mungkin kenikmatan dari tubuh gadis berjilbab cantik dan terpelajar itu sepuas-puasnya sambil sesekali mulutnya mencium dan mengulum bibir Bella. Bella kembali meneteskan air matanya, tapi dia tidak dapat memungkiri kalau dirinya baru saja menerima pengalaman seksual yang sangat luar biasa sehingga di dalam hatinya dia ingin lagi dan lagi disetubuhi oleh mereka.

Pak Hasan akhirnya melepaskan penisnya dari jepitan vagina Bella. Dia sendiri kemudian terkapar lemas di samping Bella sambil mengelus kepala berbalut jilbab Bella.

“Sekarang giliran saya Pak..” suara Parjo yang bergetar membuat Pak Hasan tersadar. Dia lalu berdiri dan menjauh.

“Nah.. giliranmu sekarang Jo..” kata Pak Hasan. Parjo hanya tersenyum liar sambil memandangi tubuh Bella yang basah oleh keringat. Parjo tipe orang yang tidak sabaran, apalagi dia memang sudah sejak tadi terangsang hebat melihat adegan persetubuhan Bella dengan Pak Hasan, Parjo segera menarik tubuh bugil Bella yang tergolek lemas di atas ranjang lalu dibalikkannya tubuh Bella sampai menelungkup.

“Saya mau nyoba gaya anjing boleh ya Neng..” Parjo berlagak sopan. Lalu dengan kasar ditariknya pantat Bella sampai menungging membuat Bella sekarang dalam posisi pantat lebih tinggi dari kepalanya. Parjo kemudian berlutut tepat di belakang Bella sambil segera melepaskan celananya, dan sebatang penis sepanjang 20 cm dengan diameter sekitar 4 cm segera mengacung keras. Parjo mengarahkan penisnya ke bibir vagina Bella yang sudah basah oleh cairan lendir dan sperma Pak Hasan kemudian Parjo segera menekankan penisnya ke dalam vagina Bella, Bella menjerit kecil sambil mendongak, meskipun penis itu masuk tanpa perlawanan akibat vaginanya yang sudah licin, tapi karena ukurannya yang besar membuat Bella merasa kesakitan.

ngentot jilbab semok (5)

“Oookkkhhh….” Bella meringis menahan sakit pada vaginanya. Air matanya sampai meleleh kembali di pipinya yang mulus. Sementara Parjo memejamkan matanya merasakan sensasi jepitan vagina Bella pada penisnya. Kemudian Parjo pelan-pelan mulai menggoyangkan pantatnya membuat penisnya mendesak lebih dalam di dalam vagina Bella. Sentakan itu membuat Bella mengejang sambil merintih.

“Akkhh… sakiit Paak.. aduuuhhh.. sakiit..” Bella merintih sambil menghiba.

“Sakit ya? Tenang saja Neng, sebentar lagi juga enak, tadi kan Neng dokter seneng banget waktu digenjot sama Pak Hasan..” Parjo mengejek. Sambil memegangi pantat Bella, Parjo mulai memaju-mundurkan pinggulnya dengan frekuensi genjotan makin naik. Setiap pria itu menyentakkan pinggulnya, Bella mendesah keras sampai suaranya terdengar keluar, dia merasa perihpada vaginanya, namun juga ada rasa nikmat bercampur di dalamnya, penis yang menyesaki liang kemaluan itu menggesek-gesek klitorisnya yang tentu saja merangsang gairahnya. Parjo melenguh-lenguh menikmati penisnya menggesek-gesek dinding vagina Bella yang masih ketat. Bella sendiri mulai bangkit kembali gairah seksualnya. Dia lama-lama bisa mengimbangi gerakan kasar Parjo. Pinggul Bella kini malah ikut bergoyang mengimbangi sentakan-sentakan Parjo. Lama-lama Bella pun tidak tahan lagi, tubuhnya menggelinjang karena klimaks.

“Ooohhhhhh……….” desahan panjang terdengar dari mulutnya, dia merasakan mengeluarkan cairan dari vaginanya meleleh keluar dari selangkangannya. Selama klimaksnya, Parjo tidak sedikitpun berhenti maupun memperlambat genjotannya, sebaliknya dia semakin bersemangat melihat gadis berjilbab cantik itu telah takluk.

Setelah selama sekitar limabelas menit menggagahi Bella dengan gaya anjing, rupanya Parjo kurang puas, dengan gerakan kasar dia mendorong tubuh Bella membuat penisnya yang masih menancap di vagina Bella terlepas dari jepitan vagina itu. Lalu Dipaksanya Bella duduk berhadap-hadapan dengannya. Ditatapnya wajah Bella yang cantik itu, wajah itu terlihat sangat memelaskan tapi tidak membuat Parjo merasa iba, dia justru merasa kenikmatannya bertambah.

“Sekarang Neng dokter yang goyang ya..” kata Parjo. Bella hanya bisa mengangguk, lalu mulai menggerakkan pantatnya maju mundur sambil melingkarkan kaki mulusnya ke pinggang Parjo. Parjo mengimbanginya dengan mencengkeram pantat Bella dan mendorong pantatnya maju mundur. Sementara bibirnya sibuk menyusu pada payudara Bella sambil sesekali mengulum dan menjilati puting payudara Bella. Selama beberapa menit berikutnya yang terdengan hanyalah gesekan penis Parjo di dalam vagina Bella diiringi dengan desahan erotis dari bibr Bella yang mungil, sementara Parjo tanpa henti terus mengaduk-aduk vagina Bella membuat Bella makin merasa nikmat, pelan-pelan birahi Bella kembali meninggi dan akhirnya Bella bersedia mengimbangi setiap gerakan Parjo, membuat mereka bisa berpadu dengan serasi dalam mencapai puncak kenikmatan seksual.

Selang beberapa menit, Parjo perlahan merebahkan kembali tubuh mulus Bella yang sekarang kembali basah oleh keringat membuat posisinya kembali tertindih tubuh Parjo, tapi dengan kedua kaki masih melingkari pinggul Parjo. Parjo tanpa berhenti terus menggenjotkan penisnya di dalam vagina Bella, hal itu membuat Bella makin terhanyut, desahannya makin menjadi-jadi, tubuhnya makin lama makin menegang, tangannya mencngkeram kasur dengan sangat erat dan beberapa menit kemudian Bella akhirnya tidak tahan lagi, orgasmenya meledak.

“OOOOHHHHH……………………..” Bella mengerang kuat-kuat sambil badannnya melengkung membuat payudaranya mencuat menekan dada Parjo dengan lembut. Parjo merasakan vagina Bella berdenyut-denyut, seolah menyempit dan meremas penisnya dengan kekuatan cengkeraman tangan, sensasi itu membuat Parjo megap-megap, dia tidak tahan lagi, sensasi dahsyat menghantam sekujur tubuhnya seolah cakar harimau yang merobek tubuhnya dari dalam.

“AHHHHHKKHHHH…………….” Parjo tidak tahan lagi, dengan erangan keras dia menyentakkan penisnya dengan keras ke dalam vagina Bella, lalu saat itu juga spermanya menyembur dengan deras membanjiri rahim Bella. Tubuh Parjo menegang sesaat sebelum melemas lagi. Parjo ambruk setelah mendapat orgasme yang luar biasa. Belum pernah Parjo melakukan hubungan seks senikmat ini, kenikmatan yang diperolehnya daripara pelacur yang pernah digaulinya jelas tidak ada seujung kuku jika dibandingkan dengan kenikmatan yang didapatkannya saat menggauli tubuh gadis secantik Bella.

“Ohhh… gila, enak banget memeknya Neng dokter..” kata Parjo lirih di telinga Bella. Bella hanya diam saja meskipun air matanya meleleh membasahi pipinya. Tapi meskipun sedih, Bella juga merasakan kenikmatan yang tiada taranya saat digauli oleh Parjo. Pacarnya sekalipun belum pernah memberikan kenikmatan begitu dahsyat seperti yang baru saja dialaminya bersama Parjo dan Pak Hasan. Karena itu Bella diam saja ketika dilihatnya Somad naik ke ranjang menggantikan posisi Parjo.

“Sekarang giliran saya Neng..” ujar Somad sambil cengar-cengir. Bella hanya menatapnya dengan tatapan sayu. Somad untuk beberapa saat hanya mengagumi tubuh telanjang Bella yang terlentang di hadapannya.

“Astaganaga, gila bodinya Neng dokter mantap banget nih, wah beruntung banget nih kita, ” kata Somad, ” Lalu tanpa ba bi bu lagi tubuh Bella langsung diterkamnya.

ngentot jilbab semok (6)

“Hmmphhh ungghhh pak… hmmph,” Bella merasa sangat sesak sekali, karena selain tubuh Somad yang gempal itu, nafas dan bau badannya sangat mengganggu, tapi Somad tidak mempedulikannya, Mulut Bella langsung dijilatnya tanpa menghiraukan rintihan Bella, lidahnya mulai berhasil menembus mulut Bella, dan selama beberapa saat keduanya saling bergulat bibir dengan ganas.

Tiba–tiba tanpa peringatan Somad langsung menjambak jilbab dan rambut Bella membuat Bella kesakitan.

“AAhhh sakit pak.” Bella merintih, Somad justru menyeringai.

‘Keluarin lidahnya Neng dokter…” Somad memberi perintah, dan dalam keadaan seperti itu Bella hanya pasrah, dijulurkannya lidahnya yang berwarna pink. Somad tanpa pikir panjang langsung mengulum lidah Bella tanpa merasa jijik sedikitpun. Lidah Bella bahkan di permainkan di mulutnya Kemudian Somad mulai meremas remas payudara Bella, ia mainkan puting susu Bella seperti orang ingin mencari gelombang radio, Somad juga menjilat-jilati puting susu Bella dan dimainkan terus sehingga puting susu Bella mengeras dan mengacung dengan indahnya, Bella kembali menegang, birahinya seperti dibakar kembali, dan tanpa sadar Bella kembali hanyut dalam permainan yang kali ini dilakukan oleh Somad. Bella hanya mampu mengerang menahan gejolaknya yang kembali menggebu.

Melihat Bella yang sudah kembali terangsang, Somad segera melepaskan celana kolornya, dan penisnya yang hitam legampun mengegang keras siap untuk dihujamkan ke dalam vagina Bella. Somad kemudian mengatur posisi kaki Bella supaya mengangkang lebar membuat vaginanya yang sudah basah itu membuka lalu Maan mngatur posisi tubuhnya tepat di depan celah kemaluan itu. Kemudian dengan gerakan pelan Somad menggesek-gesekkan ujung kemaluannya di bibir vagina Bella, hal itu membuat Bella mengerang lirih. Somad kemudian mendorong pantatnya maju dengan gerakan pelan, membuat penisnya sdikit demi sedikit mendesak masuk ke dalam liang vagina Bella. Bella merasakan vaginanya seperti melebar ketika menerima penis Somad yang lebih besar dari penis Parjo, membuatnya meringis kesakitan.

“Ahhh… sakiiitt.. sakit Pak…” Bella merintih lirih. Air matanya kembali meleleh, dia berusaha melebarkan kakinya agar vaginanya bisa menanpung penis Somad.

“Sakit ya Neng..? Bentar lagi juga enak.. tahan ya Neng..” Somad berujar santai sambil menindih tubuh mulus Bella lalu mendekapnya dengan kedua tangannya yang kekar. Kemudian dengan gerakan pelan Somad menarik penisnya, membuat Bella sedikit bisa bernafas lega. Tapi sedetik kemudian Somad kembali menusukkan penisnya ke dalam vagina Bella, kali ini dengan sentakan kasar.

“Ahhhkk….!!” Bella merintih sambil menggeliat, membuat tubuhnya melengkung dan tulang rusuknya seperti menjiplak di kulitnya. Tanpa sadar Bella mencengkeram punggung Somad dengan kuat membuat goresan kecil dengan kuku-kukunya. Tapi Somad tidak merasakan goresan kecil itu, konsentrasinya sepenuhnya berpusat pada kemaluannya yang sudah bersatu dengan kemaluan Bella. Sensasi luar biasa mengalir ke dalam setiap pembuluh darahnya membuat darahnya seperti menggelegak. Somad lalu mengulangi aksinya, meanirk penisnya pelan dan menghunjamkannya ke dalam vagina Bella dengan kasar. Kembali Bella menjerit lirih menerima perlakuan itu. Somad lalu mengulanginya lagi, membuat Bella kembali menjerit. Dan selama sepuluh menit kemudian yang terdengar di kamar itu adalah jeritan-jeritan lirih Bela ketika vaginanya digenjot oleh Somad dengan kasar. Rupanya jeritan Bella yang sensual itu menjadi sensasi tersendiri yang menambah kenikmatan Somad dalam melakukan persenggamaan dengan Bella.

Bella sendiri meskipun merasa tersiksa, tapi mulai bisa menikmati sensasi yang dihasilkan dari persetubuhannya dengan Somad. Pelan-pelan rintihannya berubah dari rintihan kesakitan menjadi rintihan kenikmatan. Bella perlahan juga mulai mengimbangi gerakan-gerakan Somad yang kasar dengan gerakan pinggulnya. Sensasi yang dibuat oleh Somad pada diri Bella membuat Bella tak berkutik lagi, lenguhan dari bibirnya yang mungil makin menjadi-jadi seolah meracau. Karena itu Bella tidak menolak ketika Somad memintanya berganti posisi. Somad yang masih mendekap tubuh Bella yang mulus berguling sehingga sekarang posisinya terbalik, tubuh mulus Bella yang telanjang sekarang berada di atas Somad. Somad lalu meminta Bella untuk menggerakkan pantat sehingga penis Somad yang masih mendekam di dalam vagina Bella kembali terkocok oleh jepitan vaginanya. Bella melakukannya sambil terengah-engah, Somad meresponnya dengan melumat bibir Bella yang megap-megap dengan rakus seolah berusaha menelan bibir itu mentah-mentah. Selama sepuluh menit keduanya berada dalam posisi berdekapan dan saling berpagutan bibir.

Masih tidak puas dengan gaya itu, Somad lalu bangkit dalam posisi duduk tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Bella sehingga sekarang keduanya saling menempel dalam posisi duduk di ranjang. Kaki Bella sekarang melingkari pinggul Somad, lalu keduanya bergantian menggerakkan pinggulnya membuat kemaluan mereka yang bersatu kembali terbenam dalam sensasi seksual yang menggebu. Bella mendesah penuh kenikmatan diperlakukan sedemikian rupa. Dan Somad membalas aksi Bella dengan memagut bibirnya kemudian menelusuri leher dan belahan payudara Bella dengan ciuman-ciuman, meninggalkan bekas kemerahan di bagian yang diciuminya.

Setelah bebarapa menit Somad kembali kepada posisinya semula, direbahkannya tubuh Bella dan ditindihnya kembali tubuh mulus itu. Somad kemudian menggenjotkan penisnya lagi, kali ini gerakannya teratur, membuat Bella serasa melayang ke angkasa oleh sensasi yang dihasilkan genjotan Somad. Menit demi menit berlalu, Somad masih bersemangat menggenjot Bella. Sementara Bella sendiri sudah mulai kehilangan kendali diri, dia kini sudah tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang diperkosa lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah Somad. Bella merasakan ingin selamanya disetubuhi seperti ini, Bella tanpa sadar memeluk Somad dan memberikan ciuman di mulutnya. Mereka berpagutan sampai Bella mendesis panjang dengan tubuh mengejang, tangannya mencengkeram erat-erat lengan kokoh Somad.

“Aaaaaahh…ooooohh !” desah Bella sambil memeluk Somad dengan kuat saat penis Somad melesak ke dalam vaginanya, cairan yang sudah membanjir dari vagina Bella menimbulkan bunyi berdecak setiap kali penis itu menghujam. Suara desahan Bella membuatnya semakin bernafsu sehingga dia meraih payudara Clara dan meremasnya kuat-kuat membuat Bella meringis kesakitan bercampur nikmat. Bella merasa dirinya seperti mau meledak. Tubuhnya bergetar dan kemudian mengejang kuat sekali.

“AHHKHHH….. OHHHHH…..” Lolongan kuat meluncur begitu saja dari bibir mungil Bella, untuk kesekian kalinya Bella mengalami orgasme gila-gilaan. Somad akhirnya menyerah, diapun kemudian melepaskan sensasi yang sedari tadi ingin dilepaskannya.

“Ahhhhh….. “ Somad melenguh penuh kepuasan saat spermanya menyembur mengisi rahim Bella.

“Minggir Mad!” Terdengar suara Pak Hasan dan Parjo, Somad yang masih dikuasasi sensasi orgasme gelagapan, dia menyingkir dan melihat Pak Hasan dan Parjo tiba-tiba naik ke atas ranjang sambil berlutut tepat di atas wajah Bella sambil mengocok penisnya. Lalu.

ngentot jilbab semok (7)

“Crtt…crt…crt….,” sperma kedua orang itu muncrat membasahi wajah Bella. Rupanya selama mereka melihat Bella disetubuhi oleh Somad, mereka kembali naik birahinya dan melakukan onani. Setelah puas menyemprotkan spermanya di wajah Bella mereka terkapar di ranjang dengan nafas terengah-engah. Dibiarkannya Bella ranjang itu, wajahnya tampak sedih dan basah oleh keringat, air mata dan cairan sperma yang sangat banyak melumuri wajahnya, dalam hatinya berkecamuk antara kepuasan yang dialaminya dan rasa benci pada ketiga orang yang baru saja memperkosanya.

Selama sehari semalam penuh, ketiga orang itu kembali menikmati kemulusan tubuh Bella dengan berbagai macam cara. Bella dipaksa untuk melakukan oral seks sambil mengocok penis yang lain, lalu dipaksa pula untuk melayani tiga orang sekaligus. Ketiganya melakukan hal itu secara bergantian membuat Bella berkali-kali orgasme. Bella juga dipaksa untuk menari dalam keadaan telanjang bulat, lalu mereka menyuruhnya untuk menjilati penis mereka satu-persatu sambil kemudian menyemprotkan spermanya di wajah dan tubuh Bella. Baru keesokan paginya setelah semalam suntuk menggarap tubuh Bella habis-habisan mereka mengantar Bella pulang ke pondokan sambil disertai ancaman akan melakukan sesuatu yang buruk jika Bella berani buka mulut tentang perlakuan mereka semalam. Gadis berjilbab itu segera mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan sperma-sperma kering masih menempel di tubuhnya. Sementara Pak Hasan tidak lupa untuk berpesan agar Bella setiap saat siap jika mereka ingin menikmati tubuhnya lagi.

RAME-RAME 3 : HENNY

Kepala penisku mulai mendesak pintu masuk ke liang vagina Fika. Gadis itu sepertinya akan berontak. Tetapi, pinggulnya cepat-cepat kucengkeram.
“Jangan pak…. tolong….jangaaaan…….” Fika memekik. Sia-sia saja, sebab penisku dengan gagah berhasil mendobrak pintu liang vaginanya.
Rasanya luar biasa. Vagina istriku juga luar biasa. Tetapi vagina gadis muda ini punya kelebihan sendiri. Penisku serasa diremas-remas. Aku terpaksa berusaha sekuat tenaga agar tidak cepat keluar.
Untungnya di perjalanan tadi kantong spermaku sudah dikosongkan dengan aksi blowjob Fika. So, syaraf-syaraf penisku tak terlalu sensitif saat ini. Ini membuatku bisa ‘menyiksa’ pacar Al ini lebih lama.
Tempo genjotan penisku di vagina Fika kubuat makin lama makin cepat. Lama kelamaan terdengar suara kecipak vaginanya yang basah. Sepanjang perkosaan itu, mahasiswi berjilbab itu terus mengerang-erang. Sesekali ia memekik waktu bokongnya yang bundar dan mulus aku tampar. Kedua belah bongkahan pantatnya yang putih itu kini telah berubah warna menjadi merah.
Aku ingin melihat wajah cantiknya menderita. Kudorong bokongnya hingga Fika tersungkur di sofa. Segera kuseret kedua kakinya. Gadis montok itu jatuh tengkurap di karpet. Pasti kedua payudaranya ngilu. Kuangkat sebelah kakinya hingga kini ia berbaring miring ke kanan. Dalam keadaan seperti itu, kusodokkan lagi penisku ke vaginanya.
“Rasakan nih kontolku…. ” kataku dengan hentakan keras ke dasar vaginanya.
Fika menjerit memilukan. Apalagi, payudaranya yang tergeletak di lantai kutekan dengan telapak tanganku. Belakangan, ibu jariku menekan puting kanannya ke lantai.
“Akkkhh…. ampuuun…. sudaaah…. sakiiit….” gadis malang itu merintih-rintih.
Rintihannya membuatku makin tergila-gila. Kugenjot penisku makin cepat dan makin dalam. Nafas Fika tersengal-sengal. Sekujur tubuhnya mandi keringat. Dan akhirnya, aku tak tahan lagi. Kuledakkan spermaku di dalam vaginanya.
“Hihhhh…. memekmu memang… legiiiit…..” kataku sambil menusukkan penisku sejauh mungkin untuk melepaskan semprotan sperma terakhir.
Kubiarkan penisku tetap di dalam sampai akhirnya mengecil dan terlepas sendiri dari jepitan vagina Fika. Kedua pipi gadis itu basah oleh linangan air mata.
“Tolong bersihin kontol gue…. jilatin,” kataku sambil menyodorkan penisku yang berlepotan sperma ke depan wajah sendu gadis itu.
Fika masih terisak-isak. Kuangkat dagunya.
“Perlu gue tarik pentil lu ?” ancamku. Ancaman yang manjur. Sebab, lidah gadis itu akhirnya mulai menjilati sekujur permukaan penisku.
“Sedot sisa mani gue,” perintahku sambil menyodorkan kepala penisku. Tanpa banyak bicara, Fika mengecup bagian lubang di kepala penis gue. Dan…. wawww…. rasanya mau melayang waktu dia menyedot-nyedot di bagian itu.
“Gantian bro…” kata Ben yang sejak tadi menonton. “Gue udah nggak sabar pengen bikin balon toket cewek berjilbab,” lanjutnya.
Aku beringsut, duduk di samping Bob dan menyulut rokok. Siap menyaksikan adegan menegangkan. Penyiksaan atas Fika….

Tubuh Fika Aditya memang luar biasa. Mungil, tetapi payudara dan bokongnya terlihat mantap. Itu rupanya yang menarik Ben.
Ben menunduk ke arah Fika yang duduk bersimpuh. Fika menggeliat saat Ben menjepit kedua putingnya. Gadis itu baru merintih ketika Ben menarik kedua daging mungil itu ke atas.
“Bangun…” katanya.
Sambil merintih kesakitan, Fika terpaksa menuruti kemauan lelaki bertubuh hitam dan tinggi besar itu. Fika akhirnya berdiri tegang di hadapan Ben. Aku dan Bob duduk santai di sofa menonton pertunjukan ala Ben ini. Fika tertunduk, wajahnya dibuang menyamping. Tangan kanannya menyilang di depan dada. Telapak tangan kirinya menutupi selangkangannya.
“Sebentar, gue pingin pacarnya ikut nonton…” kata Ben. Fika mendelik kaget. Aku bangkit dan menggandeng keluar Al lalu mendudukkannya di sofa.
“Mas Aaallll….!!!” Fika memekik melihat Al yang dalam keadaan telanjang, terikat kedua tangannya ke belakang dan bibir dilakban.
Tetapi Fika masih dalam posisi semula. Tak berani bergerak menghampiri pacarnya. “Nikmati aja Al… seperti gue menikmati waktu kalian memperkosa istri gue. Ok ?” aku berbisik ke Al. Calon dokter itu mengangguk dan kulihat penisnya memang mulai menegang.
“Nah, pacarmu sudah datang. Nggak usah malu-malu. Dia sudah biasa melihat tetek dan memekmu kan ?”kata Ben sambil menepis kedua tangan Fika. Fika terisak. Tak pernah membayangkan akan tampil telanjang bulat di hadapan lelaki-lelaki asing. Apalagi kini pacarnya ada di hadapannya juga !
“Maaf ya, kamu harus diikat. soalnya kamu nanti pasti banyak berontak…” kata Ben, lalu tahu-tahu ia meringkus kedua tangan Fika ke belakang dan mengikatnya dengan bra gadis itu. Fika memekik dan meronta, tapi itu hanya membuat kedua payudaranya berayun indah.
“Nggak usah banyak melawan, ok ?” kata Ben setelah mengikat Fika. Dan… PLAKKK…PLAKKK….
“Aaakhhh…. sakkiiiit….” Fika menjerit histeris ketika tiba-tiba Ben menampar kedua payudaranya kanan dan kiri. Bekas tamparan tampak memerah di kulit payudaranya yang putih mulus.
“Kalau nggak mau tetekmu ini kutampar terus, nurut ya Non…” lanjutnya. Fika terisak-isak. Kulihat penis Al makin tegang.
Ben kemudian membimbing Fika agar berdiri menghadap kami dan mendekat hingga tinggal sejangkauan tangan. Tangannya yang terikat ke belakang membuat payudaranya yang bundar tampak makin membusung.
Ben lalu menendang betis Fika sebagai isyarat agar Fika melebarkan kakinya. Akhirnya kini Fika berdiri mengangkang di hadapan kami. Al pasti melihat dengan jelas spermaku mengalir dari celah vagina Fika ke bagian dalam paha kirinya…
Wajah Fika merah padam ketika dari belakang Ben memeluknya dan jemarinya mulai menyentuh vaginanya. Dua jari kanan Ben menyusup ke celah bibir vagina Fika, lalu menyusul dua jari kirinya. Fika merintih saat Ben menarik jari-jarinya ke arah berlawanan sehingga liang vagina Fika tampak mengangga.
Penis Al mengangguk-angguk melihat pemandangan bagian dalam vagina pacarnya yang betul-betul becek oleh cairan putih kental.
“Nah, Mas Al… mulai sekarang bukan cuma ente yang boleh naruh benih di sini. Ntu bapak itu juga udah. Bentar lagi ane sama Bos Bob…” katanya. Fika terisak-isak. Fika agak lega ketika Ben menghentikan perlakuannya pada vaginanya. Namun, kaget juga ia karena Ben kemudian memaksanya mengulum empat jarinya yang berlepotan sperma…
“ok, kita kembali ke rencana semula,” kata Ben, lalu mulai menjamah sepasang buah dada Fika yang bundar dan lumayan besar.
Ben menggenggam kedua payudara Fika ke atas dari pangkalnya. Hal itu menyebabkan payudara mahasiswi jurusan farmasi itu makin terlihat membusung. Ben pun mengguncang-guncangkannya. Fika menggigit bibirnya saat Ben menyedot
kuat-kuat kedua putingnya berganti-ganti. Perlakuan itu menyebabkan putingnya yang pink jadi menonjol dan menegang.
Ben nyengir melihat pucuk payudara Fika. Dijepitnya dengan ibu jari dan telunjuk, lalu diguncang-guncangkannya. Fika sampai merintih-rintih kesakitan.
Tapi itu belum seberapa. Ben tahu-tahu mengeluarkan seutas tali sepatu dari sakunya. Fika mengernyitkan keningnya, dan akhirnya dia tahu apa yang akan dilakukan Ben….
Ben melewatkan tali itu di bagian bawah payudara kiri Fika hingga terselip di bawah gumpalan daging kenyal itu. Lalu, dua ujung tali ditarik ke atas menyusul kemudian salah satu ujung melingkar lagi lewat pangkal bawah payudaranya. Perlahan, Ben mengeratkan ikatannya. Akibatnya, payudara kiri Fika seperti “dicekik”…
“Aduhhh… sakit masss… ampun… ngilu….” rintih Fika. Tapi Ben tak peduli. Dieratkannya lagi sambil kembali melingkarkan tali itu lewat pangkal payudara Fika. Empat putaran tali dan tak bisa dieratkan lagi. Payudara kiri Fika pun melembung seperti balon yang siap meletus. Gadis cantik berjilbab itu terus merintih-rintih. Air mata membasahi pipinya.
Perlahan balon payudara kiri Fika yang semula putih mulus itu berubah memerah dan makin lama cenderung membiru. Kontras sekali dengan payudara kanannya. Bukan hanya itu. Fika merasakan gumpalan daging payudaranya seperti akan copot…
“Aduh.. mas.. sakit… tolong lepasiin…” Fika mengiba-iba.
Ben meringis. “Mau dilepasin ?” katanya. Fika mengangguk.
“Nanti yaaa… yang satu juga diiket dulu. Ntar tetekmu jadi gede sebelah gimana ?” jawab Ben sambil langsung mulai melakukan hal yang sama pada payudara kanannya.
Fika merintih-rintih tetapi tak berdaya melawan. Akhirnya payudara kanan Fika pun tak beda dengan yang kiri. Ben tersenyum-senyum puas memandang hasil karyanya.
“Mau dilepas ?” Ben menggoda sambil membelai-belai bulatan balon payudara Fika.
Fika menggigit bibirnya dan mengangguk-angguk.
“Aakhh… ampun… sakiit…” Fika mengaduh-aduh lagi karena Ben menjepit dan menarik kedua putingnya.
“Kalau mau dilepas, puasin ane dulu, okey ?” lanjut Ben sambil mengguncang-guncang kedua payudara Fika. Gadis cantik itu cepat-cepat menganggukkan kepalanya.
Ben melepas tarikannya pada kedua puting Fika lalu melepas celananya sendiri. Penisnya yang hitam dan besar langsung terlihat tegang. Dengan tenang Ben memintaku dan Bob pindah tempat duduk. Ia kini duduk di sebelah Al. Pintar juga dia menyiksa mental Fika.
“Ane pengen Fika masukin kontol ane ke memek Fika. Tapi karena kontol ane gede banget, Fika kudu jilatin dulu kontol ane. Kasian ntar memek Fika yang cakep itu lecet lagi…” katanya sambil menggenggam penisnya sehingga tampak tegap.
Kudorong pantat Fika hingga ia maju dan kemudian berlutut di hadapan Ben. Kulihat gadis itu dengan malu melirik pacarnya.
“Udah jangan malu-malu gitu. Di ruangan ini siapa sih yang kontolnya belum pernah ukhti isep ?” kata Ben. Dibimbingnya kepala Fika, lalu gadis itu pun mulai menjilati dan akhirnya mengulum penisnya,
Beberapa saat kemudian, Ben memberiku kode agar membimbing Fika menaiki sofa. Kini gadis itu mengangkangi penis Ben.
“Pelan-pelan…” bisiknya, ketakutan, saat kepala penis Ben yang besar mulai menekan liang vaginanya. Ben memegangi penisnya agar terarah. Dari belakang, kukuakkan sedikit bibir vagina Fika.
Perlahan, akhirnya kepala penis Ben terjepit mulut liang vaginanya. Baru segitu saja Fika sudah megap-megap.
“Ah…ah…ah… besar sekali… ahhh…” rintihnya. Ben kini memegangi pinggul Fika. Dari belakang, kutekan pundak Fika ke bawah. Fika mengerang panjang bersamaan dengan makin dalamnya penetrasi penis Ben.
“Tekan terus bos. 5 senti lagi mentok,” kata Ben.
“Aaashhh… shudaaahh… sakkiiit…” Fika menggeleng-gelengkan kepalanya. Ingat perlakuan kasar Al kepada Tari, kutekan pundak Fika kuat-kuat. Akibatnya gadis itu menjerit histeris.
Nafasnya kini tersengal-sengal. Ben memberi kode jempol kepadaku. “Memeknya rapet banget,” katanya.
“Kontol lu aja yang kegedean, Ben,” jawabku.
Fika masih terisak-isak. Kulihat penis Ben memang betul-betul melesak sampai pangkalnya. Praktis gadis ini duduk di pangkal paha Ben.
“Ayo digoyang-goyangin naik turun. Kalo cuman berhenti gini, kapan ane puas ? Kapan tetekmu ini ane lepas ?” kata Ben sambil menyentil sebelah puting Fika. Fika memekik kesakitan. Lalu, dengan susah payah ia menggerakkan tubuhnya naik. Bibir vaginanya terlihat jelas tertarik keluar saat ia menaikkan tubuhnya. Perlahan ia turunkan kembali. Lalu naik lagi. Makin lama makin cepat…
“Aahh… bagus gitu… lebih cepat lagi, neng…mantap…” desis Ben.
Fika tampaknya memang sudah terbiasa melakukan itu. Sebentar saja ia terlihat sudah seperti bintang film porno. Dengan tangan terikat ke belakang pun ia mampu melakukan itu. Bahkan, saat penis Ben tertancap sampai ke pangkalnya, mahasiswi farmasi ini pun menggerak-gerakkan pinggulnya ke depan, belakang dan memutar. Fika terlihat memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Boleh jadi ia pun menikmati perkosaan ini !
“Ambil pantatnya, bos..,” bisik Ben.
Langsung kudorong punggung Fika hingga tubuhnya ambruk ke atas tubuh Ben. Fika menjerit. Pasti sakit sekali payudaranya yang melembung itu kini terjepit di antara tubuhnya dan dada Ben.
Dari belakang kulihat penis Ben masih menancap erat di vagina Fika. Batang penis Ben tampak benar-benar basah. Kuselipkan dua jariku di antara batang penis Ben. Fika melenguh.
Dua jariku kini juga berlendir dari campuran spermaku dan cairan vagina Fika. Kutusukkan telunjukku ke anus Fika.
“Aiihhh… aduhhh… jangan di situuuu….” Fika tiba-tiba memekik dan berusaha bangkit, namun Ben memeluknya erat.
“Kenapa neng? Belum pernah ?” aku tak peduli, kutusukkan telunjukku lebih dalam dan menggerakkan jariku memutar seperti hendak melebarkan lubang sempit ini. Jari tengah pun menyusul….
“Aahhh…ahhh… sakiiit… jangan di situuu… aku belum pernah…huhuhuuuu…” Fika menangis.
“Nggak bisa neng. Kita semua mau pantatmu ini. Kamu cuma punya pilihan, siapa yang boleh duluan ambil keperawanan anusmu ini,” kataku. Dua jariku masih mengaduk-aduk perlahan lubang anusnya. Fika terus menangis dan menggeliat-geliat.
“Bagaimana, kamu mau aku duluan atau pacarmu duluan ?” kataku.
Fika terisak kebingungan.
“Ya sudah, kalau kamu nggak jawab, berarti aku duluan,” kataku lagi.
“Ahh..ehhh…. jangan… biar Mas Al dulu…” sahutnya panik.
“Wow… hebat. Cewek ini betul-betul cinta kamu Al. Ambil tuh pantatnya, habis itu baru gue,” kataku lalu melepas ikatan Al dan duduk di sebelah Bob yang terus asyik menghisap cerutu.
Al mendekati pacarnya dari belakang. Penisnya betul-betul tegang.
“Maafin aku ya say…” katanya sambil melebarkan belahan pantat Fika.
“Nggak papa mas…auhhh… yang penting, Mas Al yang pertama… aaakkhhh….” baru saja Fika berhenti bicara, Al langsung menancapkan penisnya ke anus Fika.
Dasar Al, dia mengerdipkan matanya ke kami. “Pelan-pelan sayaaang…. sakiiit….” jerit Fika.
“Maaf sayang… kamu memang bikin nafsu siapa saja…. hihhh…” sahut Al sambil menggenjot pantat Fika. Nafsu Ben pun terpacu lagi. Fika hampir tak henti menjerit saat dua batang penis berebut menusuk sedalam-dalamnya ke dua lubang yang bersebelahan di bagian bawah tubuhnya.
Namun, menahan nafsu sekian lama membuat Al tak mampu bertahan lama. Al akhirnya menyemprotkan spermanya ke anus Fika. Bahkan, Ben pun belum selesai…
“Nggak turun, Pak Bob ?” tanyaku.
“Nggak mas… nggak tahu kenapa, aku malah kangen istri mas. Jangan marah ya…hehe… memeknya memang ngangenin. Aku kangen rintihannya juga,” sahutnya. Gila, aku meringis mendengar kata-katanya. Tapi peduli setan, aku langsung bangkit ke belakang tubuh Fika dan menancapkan penisku di anusnya !
Sialan, Fika kenapa cuma diam saja ?
“Pingsan bos…” kata Ben.
Ah, bangsat. Kugenjot sekuat-kuatnya dan akhirnya kusemburkan sisa-sisa spermaku hari ini. Ben memang gila. Dia baru menuntaskan nafsunya 5 menit kemudian.
**
Kini di lantai tergolek tubuh telanjang seorang mahasiswi cantik. Cuma jilbab pink yang melekat di tubuhnya. Selebihnya terbuka. Di bagian bawah tubuhnya terlihat banjir cairan kental beraroma khas. Sepasang payudaranya melembung membiru.
Al mendekat dan melepaskan ikatan di payudara pacarnya. Perlahan, gumpalan daging indah itu mulai kembali ke bentuk dan warna aslinya.
“Al, kemari Al…” aku memanggilnya.
“Thanks Al… sekarang kita bisa bertukar dengan nyaman,” kataku.
“Ok pak. Saya juga kapan-kapan pingin mengikat tetek Mbak Tari,” katanya. Aku tertawa.
“Tuh, pacarmu sudah bangun. Pakaikan baju, bawa pulang, mandikan dan entot lagi di rumah…” kata Bob.
“Nggak bos… hari ini sudah cukup,” katanya sambil mendekati pacarnya.
“Mas, saya jadi kepingin memek Mbak Tari nih. Gimana ya ?” ujar Bob kepadaku.

TARI

TARI

“Wah, jangan dulu dong bos… Biar dia istirahat barang seminggu,” sahutku.
“ok deh… saya cari perek yang mau pake jilbab deh,” katanya.

Seminggu setelah menikmati tubuh Fika, aku dapat job keluar kota, seminggu lamanya. Huh, bosan juga. Untung sebelum pergi kemarin, sudah sempat ML semalaman dengan Tari. Uhhh, sejak jadi budak sex Bob dan kawan-kawannya, istriku yang alim ini makin ahli saja melayaniku di ranjang. Kemampuan oral sexnya luar biasa. Malah, sesekali dia sekarang mau menelan spermaku…
Dia juga sekarang luwes sekali berstriptease ria di hadapanku. Pakai jilbab lebar dan jubahnya, dia pun melenggak-lenggok di depanku sambil meremas-remas payudara dan pangkal pahanya.

TARI

TARI

Entah apakah dia menikmati saat-saat disetubuhi banyak lelaki itu atau apa, yang jelas Tari kini memang jadi seperti mesin pemuas nafsu… Dia yang dulu pemalu, bahkan di hadapanku, kini dengan enak saja menyingkapkan jubahnya sampai ke pinggang, melorotkan cd-nya, lalu merangsang klitoris dan memasukkan jemarinya ke liang vaginanya sampai orgasme…
That’s why one week away from her seemed like one year…
Hari ini aku pulang. Kutelepon rumah, tak ada yang mengangkat. Ku-SMS Tari, “Lg dmn, say ?”. Sebentar saja ada jawaban, “di rmh teman, sbntar. kpn plg mas?”
Aku mau buat kejutan untuknya, jadi ku-sms “3 hr lg.”
“Yawdah…tak tnggu.mmuach” jawabnya.
Dan 3 jam berikutnya aku sudah di rumah. Dengan kunci cadangan, kubuka pintu belakang. Siang begini, Tari kadang tidur. Pelan-pelan aku mengendap ke kamar. Mau pura-pura memperkosa dia ceritanya…
Sialan… ternyata kamar kosong. Kemana dia ? Tapi tunggu dulu, ranjang kami terlihat berantakan. Ini bukan kebiasaan Tari meninggalkan kamar berantakan. Sprei awut-awutan dan di atasnya ada jubah hijau tua, jilbab lebar putih. Shit… jubahnya terasa lembab. Begitu pula jilbabnya. Kuperhatikan banyak gumpalan kental yang sangat kukenal… sperma. Di bawah jilbabnya ada bra Tari yang talinya putus, tampaknya seperti bekas ditarik paksa. Di dekatnya ada cd yang juga sobek seperti bekas digunting di bagian muka…
Sialan… pasti ada yang mendatangi istriku di saat aku pergi. Aku ke ruang TV untuk menelepon Bob. Uhhh… berengsek… kakiku menginjak tumpukan sperma lagi di depan TV… Sepotong timun tergeletak di situ. Terlihat jelas timun itu juga berlendir…
Baru saja aku mengangkat gagang telepon, hpku berbunyi. Dari Bob !
“Bos… siapa yang ngerjain istri saya ?” kataku langsung dengan nada tinggi.

TARI

TARI

“Sabar Mas… Mbak Tari ada di sini sama saya. Dia baik-baik saja… Jangan khawatir. Mas ke sini saja. Ada yang menarik buat Mas…” jawab Bob dan langsung menutup telepon. Aku langsung cabut, ngebut ke rumah Bob.
Sampai rumah Bob yang besar, mobil langsung kuparkir di garasi yang berada tepat di samping ruang kerja Bob. Enak juga jadi orang kaya seperti si gendut ini. Rumah besar, banyak ruangan, anak buah banyak…
Aku baru turun dari mobil, Bob sudah membukakan pintu ruang kerjanya.
“Silakan masuk Mas…” katanya.
Aku masih jengkel. Mungkin karena nafsuku pada Tari batal tersalurkan.
“Dimana istriku ?” kataku sambil menghempaskan pantat di sofa empuk.
Bob menunjuk jendela di belakangku. Langsung kusingkap tirai sedikit.
“Buka yang lebar aja Mas. Itu kaca satu arah. Dari luar nggak bisa lihat ke sini,” katanya.
Aku berdiri dan membuka tirai lebar-lebar. Mataku langsung melotot melihat pemandangan di sebuah ruangan seluas sekitar 10 x 10 m persegi…
Gila. Kulihat istriku yang cantik dan alim itu duduk bersimpuh di lantai dengan hanya berjilbab dan kaus kaki. Jilbabnya yang panjang hanya menutupi tangannya yang terikat ke belakang punggungnya. Kain bagian muka jilbab yang seharusnya menutupi dadanya pun tersampir ke belakang.
Sementara di depannya belasan lelaki berbaris. Semuanya tanpa celana. Seorang di antaranya tengah memaksa Tari mengoralnya. Kedua tangannya memegangi kepala Tari yang berjilbab. Tujuh lelaki lain tampak duduk-duduk di sekitar Tari. Sepertinya mereka sudah dapat giliran. Ada 2 lelaki yang duduk di dekat Tari sambil mempermainkan payudara dan vaginanya.
Sperma betul-betul membasahi wajah dan jilbab abu-abunya. Payudaranya juga terlihat mengkilap karena dibasahi sperma. Bercak-bercak putih juga terlihat di lantai di sekitar tempat Tari bersimpuh.
Lelaki yang tengah memperkosa mulut Tari kulihat sudah selesai. Semprotan spermanya menyembur ke wajah sendu istriku. Lelaki itu kemudian menyapukannya ke sekujur wajahnya, juga ke payudaranya. Tak lama kemudian, lelaki di belakangnya mengambil giliran dengan menarik kedua puting Tari.

TARI

TARI

“Apa-apaan ini, Pak Bob ?” aku protes pada lelaki gendut di sebelahku. “Pak Bob kok nggak bilang saya dulu?”
“Sabar Mas…” Bob senyum-senyum sambil menghisap cerutunya. “Saya cuma ingin bikin kejutan.” katanya.
“Kejutan apa ? Kok melanggar kesepakatan sih ? Lagian, memek Tari bisa remuk ngelayanin laki-laki sebanyak itu. Di rumah juga tadi sudah berapa lelaki?” sahutku.
Bob menghisap cerutunya dalam-dalam.
“Pertama, tak satupun dari laki-laki itu aku bolehkan menyetubuhi istri Mas. Mereka cuma menggunakan mulut Mbak Tari. Di rumah tadi juga gitu. Kecuali, sepotong timun yang masuk ke memek Mbak Tari. Btw, Mbak Tari juga orgasme tadi,” katanya perlahan.
“Kedua, saya ingin meminjamkan Henny buat Mas. Tapi maaf, dia sudah nggak perawan lagi,” lanjutnya.
Aku jadi tertarik dengan kalimat terakhirnya. “Henny ? Siapa dia ?”
Bob tidak menjawab, tetapi langsung menghidupkan tiga layar monitor di hadapannya. Ternyata itu CCTV. Layar pertama tampaknya mirip front office sebuah salon. Yang aneh, di ruangan itu cuma ada 5 perempuan muda, cantik-cantik dan semuanya berjilbab lebar ! Aku melirik Bob. Si gendut senyum-senyum. Layar kedua memperlihatkan sebuah ruangan kosong dengan ranjang yang tampaknya ruangan pelayanan salon tadi. Sedang layar ketiga memperlihatkan kamar mandi….
“Menarik nggak ?” tanya Bob.
“Apaan nih, bos ?” aku mulai tertarik.
“Ha ha ha ha… kamu pasti tertawa. Aku buka salon khusus akhwat dan ummahat… hahahaha….” jawab Bob. Aku bengong.

TARI

TARI

“Ah, orang malah curiga. Ada Cina kayak sampeyan kok buka salon akhwat?” sahutku masih ragu.
“Owe punya banyak cara. Owe kan punya banyak anak buah. Ya yang disampaikan ke publik bahwa itu salon punya dia, bukan punya owe…”
sahut Bob dengan gaya Chinesenya.

“Itu Henny,” kata Bob seraya menunjuk seorang gadis hitam manis berkacamata di balik meja resepsionis. Wow… aku langsung bernafsu melihatnya. Bibirnya tampak penuh. Pasti hisapannya mantap…
“Dia masih kuliah S-2. Umurnya baru 26. Masih perawan, 2 minggu yang lalu…hahahaha…. Sudah owe sikat memeknya….hahahaha…” kata Bob sambil tergelak.
“Kok bisa ?” sahutku.
“Owe jebak… Owe pancing sampai akhirnya dia onani di kamar mandi itu,”kata Bob sambil menunjuk layar 3. “Terus pake rekaman, owe ancam dia… hahahaha,” lanjutnya. Aku tertawa, pinter juga si gendut ini.
“Nih kalo Mas nggak percaya,” katanya lalu mengangkat telepon. Di layar terlihat Henny sebentar kemudian mengangkat gagang telepon juga.
“Henny sayang… Pak Bob lagi horny nih, pingin lihat kamu striptease di kamar mandi. Sekarang ya sayang… jangan lupa bawa kontol-kontolan itu, kamu masukin memek kamu sampai kamu orgasme ya ? Ayo segera sekarang sayang…” kata Bob. Aku bengong. Kulihat Henny mengangguk-anggukkan kepala.
Terlihat gadis itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu berjalan lewat pintu di belakangnya.
Tak lama kemudian Henny terlihat di monitor ketiga. Jelas ia tahu posisi kamera yang berada di balik cermin besar. Gadis manis berkacamata ini betul-betul tampak santun. Jilbab biru tuanya lumayan panjang. Ujung kain jilbab bagian belakang sampai menutupi pinggulnya. Blusnya panjang
sampai hampir selutut. Rok biru tuanya juga panjang.

Di depan cermin, Henny mulai menari, meliuk-liukkan tubuhnya. Tangannya mulai meremas kedua payudaranya dari luar jilbabnya, lalu menelusuri perutnya, bokongnya dan pangkal pahanya.
“Lihat, akhwat ini bisa binal juga kan ?” komentar Bob.
Kulihat Henny mulai menyampirkan bagian muka jilbab panjangnya ke punggung. Gundukan payudaranya mulai terlihat kini. Sambil terus melenggok, Henny melepas satu persatu kancing di bagian muka blousenya. Nakal juga dia. Dia membalikkan tubuhnya saat blousenya terlepas dari tubuhnya. Punggungnya tampak mulus…
“Eh, dia nggak pake BH ya ?” kataku “Dia memang aku larang pakai BH dan celana dalam. Supaya kalau sewaktu-waktu aku butuh, tinggal angkat rok dia,” jelas Bob sambil terkekeh.
Kulihat Henny kini berbalik. Wowww… dia menggenggam kedua payudaranya yang tampak montok, meremas-remasnya dan perlahan menunjukkan kedua putingnya yang mungil dengan gerakan memilinnya dengan ibu jari dan telunjuknya. Terlihat jelas, kedua putingnya tampak mengacung…
Aku tak sabar menunggu saat dia mulai menyentuh ritsleting di bagian belakang rok panjangnya. Kali ini, Henny tak berlama-lama. Rok panjangnya pun meluncur indah ke bawah kakinya. Wewww… tubuh yang luar biasa indah. Betis yang berlapis kaus kaki hampir sampai lutut dan pahanya sungguh proporsional. Tak ada rambut di pangkal pahanya. Vaginanya terlihat gemuk.
“Wow… memeknya mantab banget bos,” ujarku.
“Iya, mirip memek Mbak Tari,” sahutnya.
Pertunjukan belum usai. Henny meliuk-liukkan tubuhnya makin menjadi-jadi. Tangannya tak henti meremas-remas payudaranya, menarik putingnya, mengucek-ucek vaginanya. Yang menarik, ia kemudian mengambil dildo dari kantong roknya, lalu menjilati dan mengulumnya seperti seorang pelacur…
Ini tampaknya puncak pertunjukan. Henny mengangkat sebelah kakinya ke meja di depan kaca. Aku melotot ketika jemarinya menelusuri bibir vaginanya yang rapat dan sudah terlihat lembab.

TARI

TARI

“Memeknya sudah basah, bos,” kataku.
“Iya, mirip memek Mbak Tari,” sahutnya. Sialan, Bob tampaknya betul-betul terobsesi pada istriku.
Tapi masa bodoh. Pemandangan yang ini tak boleh dilewatkan. Jemari Henny kini menguakkan bibir vaginanya. Wowww… indah sekali bagian dalam vaginanya. Pink dan lembab. Klitorisnya tampak menonjol memerah. Gadis itu pun berlama-lama memainkan klitorisnya. Henny terlihat memejamkan mata dan menggigit bibirnya…
Puncaknya adalah saat ia memasukkan dildo ke dalam vaginanya. Luar biasa cantik vaginanya melahap dildo yang lumayan besar itu. Tampaknya Henny betul-betul menikmatinya. Sekujur batang dildo itu terlihat basah oleh lendir vagina akhwat yang satu ini. Dan akhirnya, Henny terlihat mencapai orgasme dengan mendorong dildonya sejauh mungkin ke dalam vagina, lalu berdiri dengan tangan bersandar ke meja rias dan mengempit benda itu dengan kedua pahanya. Tubuhnya beberapa kali terlihat gemetar menahan terpaan orgasme…
Gadis itu perlahan bisa menguasai dirinya kembali. Dia pun duduk di kloset dan membersihkan vaginanya. Kulihat Bob mengangkat telepon. Ternyata Henny yang diteleponnya.
“Hebat Henny sayang… enak mana kontol-kontolan itu sama kontol beneran sayang ?” katanya.
“Eh… enak… enak yang beneran, Bapak ?” sahut Henny, terdengar dari speaker HP Bob yang sengaja dikeraskan.
“Kamu ke ruang Bapak 15 menit lagi ya?” katanya.
“Baik, pak,” sahutnya.
Aku memandangi Bob.
“Wah, gila lu bos…” kataku.
“Itu baru Henny. 4 lainnya pelan-pelan mau tak jebak…hehehe…” ujarnya. “Dan jangan lupa, owe sekarang punya banyak rekaman gadis dan ibu-ibu berjilbab yang ke salon owe… Nanti Henny bantuin ngejebak mereka yang memeknya cakep-cakep kaya punya Mbak Tari,” lanjutnya, lagi-lagi nyebut-nyebut istriku.
“Gimana, imbang nggak ? Owe pinjam memek Mbak Tari. You owe pinjamin memek Henny,” Bob terus nerocos. Aku nyengir. Nafsu yang tadinya mau aku lampiaskan ke Tari, tampaknya bakal menemukan salurannya di tubuh mahasiswi S-2 itu.

TARI

TARI

Kulihat di ruangan sebelah, Tari kini berbaring di lantai. Seorang lelaki tengah mengangkangi wajahnya dan memaksanya mengoralnya. Pantat berbulu lelaki itu terlihat menekan kedua payudara istriku. Sementara beberapa lelaki lain melebarkan kakinya dan tak henti menjamah vaginanya. Keasyikanku menonton terhenti saat terdengar suara ketukan di pintu ruangan Bob.
“Itu Henny… masuk !” kata Bob.
Pintu ruangan Bob terbuka. Mataku terbelalak lebar. Dari jarak dekat, Henny memang terlihat sangat cantik. Gadis itu menunduk, memalingkan wajah dariku.
“Ada apa, Pak ?” kata Henny. Tak bosan-bosan aku memandangi wajahnya yang kearab-araban itu.
“Henny sayang, Mas ini teman baik bapak. Kamu layani dia sebaik-baiknya seperti kamu melayani Bapak ya ?” kata Bob. Henny tampak tegang.
“Ayo Mas, nggak pengen liat memeknya ?” lanjut Bob kepadaku. Aku agak bingung. Tapi nafsu mengalahkan segalanya. Aku rangkul pinggang Henny dan kuputar tubuhnya hingga kini ia menghadap kepadaku.
“Boleh ya ?” kataku sambil menyentuh pangkal pahanya. Henny menggigit bibirnya. Tubuhnya bergetar waktu tanganku merasakan kelembutan dan kekenyalan gundukan kemaluannya. Kujumput daging vaginanya yang tembam itu sambil memandang wajahnya. Akhwat hitam manis ini menggigit bibirnya.
Tak sabar, kuangkat bagian bawah rok Henny. Wow, kulit pahanya begitu mulus. Sampai akhirnya, bagian paling indah pun terlihat. Vaginanya benar-benar mulus. Kutepuk bagian dalam pahanya agar Henny merenggangkan kakinya. Lalu, tanpa basa-basi kumasukkan jari tengahku ke dalam liang vaginanya.
Henny menggeliat. Vaginanya terasa lembab dan agak panas di bagian dalam.
“Memekmu kok panas gini, sayang ?” godaku sambil jempolku mulai menstimulasi klitorisnya.
“Dia gadis Padang, suka makan yang pedas-pedas. Owe juga suka memeknya…. hot…” timpal Bob.
Jariku terus mengorek-ngorek vagina gadis cantik ini. Kulihat wajah Henny yang hitam manis ini jadi kemerahan.
“Buka kancing bajumu, sayang. Aku mau pegang tetekmu,” kataku.
Henny terlihat ragu, tapi Bob menganggukkan kepalanya. Bob malah membantunya melepas blousenya dan menyampirkan jilbabnya ke pundak.
Fiuhhh… payudaranya betul-betul indah. Padat membulat dan tampak kencang. Lebih terang dari kulit wajahnya. Putingnya mengacung tegak kehitaman.
Kukeluarkan jari tengahku yang mengaduk-aduk vaginanya. Lalu, kuoleskan cairan lengket di jariku ke puting kiri Henny. Dengan dua tangan, kini kuremas-remas kedua payudaranya. Kudekatkan ke wajahku dan dengan penuh nafsu kukulum kedua putingnya berganti-ganti. Henny memejamkan matanya.
Tak berapa lama, kudekatkan wajah Henny ke pangkal pahaku. Penisku telah mengacung. Kupegang kepalanya yang berjilbab.
“Ayo, diemut. Kamu pasti sudah dilatih Pak Bob,” kataku.
Henny terlihat pasrah. Ughhh… mulutnya terasa hangat membungkus penisku. Inipun tak lama. Begitu terasa bakal meledak, kukeluarkan penisku dari mulutnya.
“Bagaimana kalau kita main di dekat Mbak Tari ?” usul Bob.
“Nanti dia liat gimana ?” kataku khawatir istriku tahu.
“Lihat, mukanya betul-betul belepotan sperma. Matanya juga ketutup sperma. Dia nggak bakal bisa lihat. Ayo…” katanya sambil menunjuk ke ruang sebelah.
Aku segera berdiri dan menggandeng tangan Henny. Akhwat ini tampak ragu, melihat banyak lelaki di ruang sebelah.
“Santai aja sayang. Kamu udah pernah ngentot sama mereka semua kan ?” kata Bob sambil meremas bokong Henny.