SYARIFAH

Namanya Syarifah. Kulitnya putih bersih. Kulitnya terlihat sangat terawat, halus dan licin (tapi tentu saja saya belum pernah menyentuhnya). Wajahnya mirip banget sama Aishwarnya Rai, Miss Universe itu lho. Hidungnya mancung, matanya indah, bulu matanya lentik. Bibirnya apa lagi…nggak pernah kena lipstick tapi selalu basah dan menggoda. Bikin pengen nyipok dan French kiss habis-habisan. Pipinya sering merekah indah kalo digodain cowok-cowok. Semua cowok napsu sama dia…wajar lah, primadona kampus.

Gak Cuma wajahnya yang oke. Bodinya juga montok banget. Payudaranya yang gede dan indah itu gak bisa disembunyiin gamisnya yang longgar. Bokongnya yang indah apalagi. Kalo lagi jalan lenggak-lenggok indah, bikin ngaceng. Tubuhnya tinggi semampai, 178 centian lah. Kalo mau jadi model, pasti deh gak ada yang nolak. Aku jadi penasaran dengan betis, leher, atau kakinya bagaimana. Pasti indah banget.

Suaranya merdu. Kalo lagi nanya sama dosen, suara indahnya bikin terangsang. Apalagi kalo lagi ketawa. Wauh…gak nahaan.

sayangnya, gue Cuma bisa ngiler doang. Jilbabnya gede banget khas aktivis kampus. Pengen ngentotin dia tapi kayaknya gak mungkin. dia udah nikah. Sama mahasiswa juga. Huh, bikin emosi aja.

Tapi, mimpi itu akhirnya jadi kenyataan. Gue bisa ngentotin dia habis-habisan. Dari memek, mulut, sampai bokong semuanya gue tusuk. Sempet malah penis gue jepitin ke toketnya yang gede itu. “uh…ah…”suaranya yang indah dan matanya yang sayu bikin pengalaman itu gak pernah terlupakan.

Semuanya berawal ketika suaminya main ke kampus. Kebetulan gue lagi nongkrong di tempat sepi. Dasar suami-istri, si suami gak nahan lagi. Iya lah, kalo punya istri seperti itu siapa sih yang tahan. Akhirnya, di pojokan kampus mereka mulai beraksi.

Suaminya mengecup dahinya, terus bibirnya dilumat. Gila, jago juga French kissnya. Lidah keduanya dengan buas saling berpagutan. Wajah keduanya sayu, menyiratkan nafsu yang amat sangat. Tangan suami Syariffah kemudian meraba-raba payudaranya dari luar gamis. Diremas-remasnya dengan penuh nafsu. Beberapa saat kemudian, lidahnya kemudian menjilat-jilat payudaranya tersebut.

Aku tegang luar biasa. Tanganku udah memegang penis yang mulai membesar. Apalagi setelah Syarifah mulai mengerang-erang. “Ahhh…enak…terus…enak…masss…”. Rupanya gamisnya udah dirogoh rogoh sama suaminya. Tangannya menyelusup dari bawah. Gamisnya tersingkap memperlihatkan pahanya yang luar biasa indah itu. Betisnya juga indah banget. cepat, kancutnya udah dilepas turun. Warnyanya pink. Tapi, gamisnya masih kepake, sementara baju atasnya udah kebuka. Beha tidak lagi mampu menampung payudaranya yang sempurna. Seakan meloncat, toket gedenya lepas dari beha dan membusung iindah. Oohhh…seandainya gue suaminya.

Payudaranya semakin membusung karena terangsang. Warnanya putih mulus, sampai uratnya kelihatan dikit. Pentilnya yang merah jambu tegang menantang. Wajahnya juga semakin sayu merayu. Ahh…mass…

Suaminya mengeluarkan kontolnya. Betapa terkejutnya aku, ternyata ia nggak ada reaksi apa-apa. Kontolnya tetep pada ukuran normal.

Keduanya lalu bergumam lirih. “Maafin mas ya…mas gak bisa muasin adek…”. Syarifah Cuma tersenyum merana. “Gak papa kok bang. Ini kan bagian dari terapi. Pasti bisa suatu saat nanti…”

Suaminya terduduk lesu, sementara Sarifah kemudian memainkan putingnya dengan tangannya sendiri. Diputar-putar dan dipilin pilin toketnya yang indah dan besar itu. Matanya merem melek menyiratkan kehausan atas kenikmatan seksual yang nggak pernah didapatnya dari suaminya. Sesekali dia meremas toketnya dan membawanya ke atas untuk dijilati dengan lidahnya sendiri. Ia menjilatinya kehausan seperti menjilati permen. Suaranya indah, merayu, tapi sendu.

Kesempatan nih! Kontol gue yang udah ngaceng akhirnya bisa ngentotin dia juga. Suaminya yang sedih segera gue bekap sementara Ifah masih asik masturbasi. Gua ikat dia. Nih, tonton cara laki-laki sejati memuaskan Istri.

Aku segera meluncur. Sayrifah gelagapan ketika toketnya tiba-tiba gue remas-remas dengan penuh nafsu. Keterkejutannya gua sumpal dengan ciuman maut di bibirnya yang seksi dan ranum. Dasar nafsu, ternyata ia menyambut juga dengan lidahnya.

Gamisnya segera gue pelorotin.wow, gadis berjilbab ini tinggal polos. Tinggal jilbabnya aja yang semampir. Aku tidak bosan memandang tubuh yang sudah haus seks ini. Dadanya membusung dan mulai berwarna kemerahan. Bodinya ideal: pantat gede, betis oke, kaki jenjang, jemari lentik. Memeknya terlihat indah. Kue apemnya terlihat besar merangsang dan mulai basah oleh cairan nafsu.

Tadinya, dia protes. Tapi nafsu rupanya udah gak ketahan. Istri sholehah ini akhirnya diam saja ketika gua raba-raba. Aku pilin pilin putingnya dengan teknik canggih. Kutelusuri tubuhnya dari bawah ke atas. Mulai dari kakinya yang mulus itu. Gua jilat jmarinya yang bersih karena selalu tertutup kaos kaki. Terus ke atas, ke betisnya yang indah. Aku gigit-gigit kecil. “Awww….awas….nanti kamu kulaporinn,,,uhh….”

Mulutnya memang protes, tapi tubuhnya mendukung aksiku. Lidahku naik dan menemukan sasarannya. Pertama, kucium-cium dan jilat perutnya yang rata dan indah itu. Sementara tanganku masih memutar-mutar dan memilin-milin toket dan putingnya yang tegang dan membusung terangsang. Berikutnya, lidahku akhirnya mengaduk-adik liang kewanitaannya yang sudah terangsang berat. Rasanya yang unik menambah nafsuku. jembutnya halus menggelitik penisku.

Akhirnya, kumasukkan jari-jariku bermain di liang rahasianya. Sementara mulutku gentian … …meskipun sudah lemas. Aku masih ingin menikmati tubuhnya.

Penisku segera kuangkat ke atas. Kusuruh gadis sholehah ini duduk berjongkok. TAngannya kubimbing mengocok penisku. Ia meronta tapi sia-sia. Sensasi yang kurasakan luar biasa ketika tangannya yang halus lembut dan lentik itu mengocok kontolku. Nikmat sekali.

Akhirnya, kumasukkan kontolku ke mulutnya yang indah itu. Wajahnya yang masih memakai jilbab terlihat semakin cantik dan terangsang. Tadinya ia menolak dengan menutp mulutnya. Namun, kontol yang udah licin karena cairan kewanitaannya ini akhirnya bisa masuk. Ia akhirnya mengulumnya dengan indah. Jauh lebih enak daripada pacarku.

Hampir 10 menit penisku dikocok di mulutnya. Auh….seruku kenikmatan, Akhirnya, aku meledak juga. Tumpahlah spermaku di mulutnya. Matanya kelihatan terkejut karena spermaku tertelan. Ia muntah-muntah dari bibirnya yang seksi.

Aku kemudian mengocok penisku yang mengecil. Ku French kiss dia beberapa menit. Payudaranya tiba-tiba mengencang lagi. Wow…indah membusung. Dengan sigap, burungku yang tadinya kecil ini membesar lagi. Kujepitkan di antara payudaranya yang besar. Payudaranya berguncang-guncang indah ketika kugenjot dia. Ahhh uhhh…desisnya gak karuan.

Payudaranya yang ngaceng semakin besar. Mulutnya semakin basah oleh air liur. Memeknya mulai basah lagi. Setelah beberapa lama, tiba-tiba ia orgasme lagi yang kedua. Awwww….Kali ini cairannya menyemprot jauh.

Kuambil sisa-sisa cairannya sambil merogoh-rogoh memeknya yang basah dan memerah jambu. Kuusap-usap di pentilnya yang indah. Kemudian, kujilati dan kugigit-gigit toketnya itu dengan bernafsu. Ia menggelinjang keenakan lagi, meskipun terlihat sangat lemas.

Akhirnya, tiba saatnya bagiku. Kubalik badannya dan terlihatlah bodinya yang indah. Bongkah pantatnya sangat menggoda. Tadinya aku pengen doggy style. Tapi, sepertinya lebih enak untuk anal seks.

Kumasukkan penisku ke pantatnya yang besar dan indah. Kujejalkan ke anusnya yang sempit. Ia berteriak kesakitan. Teriakan yang indah. Kugenjot-genjot terus pantatnya yang padat berisi itu. Tubuhnya putihnya berguncang-guncang. Payudaranya naik turun sementara ia terus mendesah-desah. Kepalanya yang tertutup jilbab mengangguk-angguk kenikmatan. Lidahnya terjulur keluar, tidak mampu menahan nikmatnya. Tanganku menangkap toketnya dan memilin-milinnya. Akhirnya kami orgasme bersamaan.

Ohhhh! Crottt!

Kucabut penisku yang belum selesai muncrat. Kuhadapkan wajahnya yang cantik itu. Wajah sayu yang cantik itu kutembak dengan sperma. Wajahnya berlumuran cairan cinta, sebagian mengenai jilbabnya.

Tidak berhenti di situ, kusiramkan spermaku di tubuhnya kemudian kuoles-oleskan ke seluruh tubuhnya yang idah. Betisnya, lehernya yang jenjang, kakinya yang indah, perutnya yang sempurna, sekarang semuanya terkena sperma, ludah, dan cairan kewanitaannya. Ia tampak berkilauan. Bodinya yang montok semakin indah. Ia tergolek lemas….dan berbisik…”innalillahi….”

Untuk terakhir kalinya. Aku ngentot cewek yang udah lemes ini dengan doggy style sampai beberapa kali. Kumasukkan juga pisang ke vaginanya. Suaminya pingsan melihat istrinya diperlakukan sebejat itu. Sebaliknya, Syarrifah seperti menikmatinya. Ia orgasme sampai beberapa kali. Yang paling aku suka, tubuhnya menggelinjang indah, dengan pantat padat dan toket yang bergoyang-goyang menggoda. Matanya menyiratkan kesedihan, sekaligus kepuasan yang luar biasa.

UFAIROH

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (5)

Ufairoh  begitu kesal, dosen yang harus ditemuinya di kampus hari ini berhalangan hadir. Ia pun kembali pulang ke pesantren dimana dia menuntut ilmu agama sambil kuliah di Yogjakarta. Ufairoh Nurulhayah adalah seorang aktivis muslimah di kampusnya dia menjadi pengurus dalam HMMTP perkumpulan mahasiswa muslim di fakultasnya.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (6)

Meskipun Ufairoh adalah seorang aktivis muslimah, tapi jubah yang dia pakai tidak bisa menutupi kemolekan dan kemontokan tubuhnya terutama payudaranya yang montok dan besar itu. Sebenarnya semua ikhwan-ikhwan di sekitarnya juga sangat bernafsu ketika melihat gundukan kelenjar susu yang besar dan montok itu. Bukan tidak sadar, Ufairoh mengetahui jika Payudaranaya itu istimewa, sehingga dia tidak pernah menggunakan jilbab yang panjang untuk menutupinya, karena tanpa diketahui semua orang, Ufairoh adalah seorang pecandu seks, dan dia sangat binal.

*******

Sambil memainkan HP di dalam kamar, Ufairoh  begitu penasaran dengan apa yang terjadi di kantor HMMTP. Sebenarnya ia begitu ingin menonton langsung duel antara Ummu Nida dan Faizah, karena hasil duel tersebut akan menentukan kelanjutan hidupnya. Namun ia juga membenarkan nasihat Ummu Nida, kalau kehadirannya di sana bisa membuat Faizah melakukan hal yang tidak-tidak.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (12)

“Tokk, tok …” Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar Ufairoh . Dalam kondisi setengah terkaget, ia yang masih mengenakan jilbab panjangnya langsung melompat dan setengah berlari ke arah pintu disaa sudah ada ina teman sekamarnya yang mengatakan jika ada seoran ikhwan mencarinya di luar .

Ufairoh  hanya membuka pagar itu sedikit, dan ternyata sudah ada Ardi yang berdiri di sana. Ia masih mengenakan baju koko berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam, pakaian yang sama dengan yang dikenakannya ketika berjumpa denganya dikantor HMMTP . “Ada apa, Ardi? “

“ada keributan antara Faizah dan Ummu Nida di Sekretarian HMMTP, saya disuruh menjemput kamu untuk melerai mereka.,“

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (11)

Ufairoh yang memang terlibat dalam organisasi itu dan merasa bertanggung jawab pada mereka karena berdebat langsung bersiap-siap untuk ke kantor HMMTP di kampusnya

****

Sesampainya di sekerteriatan Ufairoh  pun langsung menuju ruangan rapat sementara Ardi mengikuti dari belakang. Walau masih tertutup jubah dan jilbab panjang, tubuh Ufairoh  yang seksi masih bisa terlihat jelas, apalagi payudaranya yang begitu montok dan menonjol. Hal inilah yang sejak lama menghantui pikiran Ardi . Karena itu begitu Ummu Nida menyuruhnya  menjemput Ufairoh  , ia langsung mengiyakan.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (13)

Di dalam ruangan, Ufairoh  langsung mencari berkas untuk membantu Ummu Nida di seantero ruangan. Ia bahkan sampai menungging untuk mencarinya di laci meja. Ketika ia berdiri, tiba-tiba sepasang tangan telah merangkul tubuhnya dari belakang. Rupanya Ardi sudah langsung berdiri di belakangnya dan memeluk tubuh akhwat cantik yang montok dan sintal ini. Mungkin karena tidak ada ruang gerak lagi akhirnya Ufairoh  pasrah dirinya dipeluk Ardi dari belakang. Selain itu Ufairoh  sendiri sering berkhayal untuk berdua dengan Ardi. Tercium bau wangi shampoo dari rambutnya. “Aduh dik Ufairoh , rambut kamu wangi,ya” sambil tangan Ardi meraih rambut Ufairoh  dengan memasukkan tangannya ke dalam jilbab panjang yang dikenakan akhwat cantik ini.” Ardi jangan, aku geli,,,” , “Emang dik Ufairoh  nggak pernah buat kayak gini?”,” Ngak pernah Abu, saya nggak pernah dipeluk…” ,”Aah masak?” Ardi lalu kembali memeluk perut Ufairoh dari belakang. Tampak dari cermin wajah akhwat cantik ini terkejut dan memerah. Waktu Ardi menaikan pelukan di Payudaranya, tangan akhwat cantik ini disilangkan ke depan Payudaranya.” Ardi, apaan sih aku malu,..” sambil dia berputar ke arah depan Ardi. Ardi melihat wajah Ufairoh  yang bersemu kemerahan, lalu dengan cepat Ardimempererat pelukan hingga wajah mereka mendekat, tidak lama bibirnya segera dilumat Ardi. Pertama lidah Ufairoh  begitu pasif, tangannya sudah memeluk badan Abu. Ardi merasakan badan akhwat cantik ini gemetar menyambut ciuman, detak jantung mereka seolah seirama. Saat bibir akhwat cantik ini terbuka Ardimemasukkan lidahnya. Ragu-ragu Ufairoh menyambut lidah Ardi. Libido Ufairoh terpacu dan gairah seksnya meninggi.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (1)

Perlahan tangan Ardi menyusuri punggungnya dan menarik resliting jubah khawat cantik ini ke bawah sampai ke ujung pantatnya. Ardimeraba naik turun dari pantat menuju ke perut. Perlahan kaitan bra Ufairoh  dibuka Ardi, dan Ardi langsung mengelus dan meremas-remas payudara biada Ufairoh yang besar dan menggoda itu, Ardi merasakan semakin diraba, nafas akhwat cantik ini menjadi berat dan pendek-pendek. “Ardii jangan, ardii…ah” rintihan yang keluar dari mulutnya ketika tangan Ardimulai menjamah ujung celana dalam yang di pantatnya, lidahnya semakin liar seiring tangan Ardi yang menuju gundukan pantatnya. “Ah…uh…Ardiaaa…”. Tangan Ardi meremas lembut gundukan pantat akhwat cantik ini, kakinya berjinjit naik seiring tekanan naik dari remasan tangan Abu. Kukunya mencengkram erat punggung Ardi. Ciuman Ardipindah menyusuri leher jenjang yang telah banjir dengan keringat dari Ufairoh  dengan memasukkan kepada di balik jilbab akhwat cantik dan sintal ini.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (15)

Perlahan ciuman Ardi turun sampai ke target utamanya yaitu payudara montok milik ufairoh yang putih dan kenyal, Ardi mencupang payudara putih itu, “ Eerrrrhh…ardiiiii.. haaah…” tubuhnya mengejan dan merapat ke tubuh Abu, saat tangan Ardi yang menjelajah punggung dan pantatnya telah turun ke belahan paha. Dengan sedikit sentakan kedua tangan Arditelah melorotkan celana dalam akhwat cantik ini. Tangan kanan Ardimembelai lipatan pantatnya dan merasakan anusnya yang lunak. “Uuh….., aku geli” tiap kali Ardi menyentuh anusnya. Ciuman Ardi telah meninggalkan cupang merah di leher dan di payudara akhwat cantiik ini, tangan Ardi meraba pundaknya dan berhasil menurunkan jubahnya ke samping hingga melorot ke Payudaranya yang montok dan masih kenceng ini, jubahnya ditahan oleh lekuk payudaranya. Bibir Ardi ikut turun ke Payudara montok akhwat cantik ini, bra yang telah terlepas melonggar dan memberikan kesempatan Ardiuntuk mengecup payudaranya.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (14)

Tampak puting yang kemerahan yang tidak pernah terjamah laki-laki, tangan Ardimenyusuri memutar kedua payudara, kecupan menjelajah di antara ketiak dan daerah sekitar payudara, tubuh Ufairoh  kian menyusup menahan kenikmatan,” Ardiiiii , aku geli aaaaah,,,” kedua tangannya merangkul dan menekan kepala Ardi ke payudaranya, nafasnya semakin memburu. Ardi menempelkan telinga ke Payudara montok akhwat cantik ini, detak jantung terdengar semakin kencang. Tiba-tiba Ardimembalikkan badannya menghadap ke cermin,merah padam wajahnya melihat tanggan Ardi telah memegang payudaranya, kedua putingnya ditaruh di antara jari-jari Ardi, kemudian secara cepat Ardi melucuti jubah yang separuh menutupi tubuh akhwat cantik ini berikut celana dalam dan branya. Ardi cepat membuka baju dan celananya sendiri. Ardi mendudukkan ufairoh ke pangkuannya, tangan kanan akhwat cantik ini diarahkan ke penisnya. Ufairoh  terkejut dan berusaha menarik tangannya, tapi Ardi buru-buru merapatkan badannya, “Pegang aja sayang, ok”, tubuhnya melemas waktu Ardi menarik puting Payudaranya dengan tangan kiri. “Och.., ardiii” lirihnya. Dengan jari Ardi memelintir puting yang masih kenceng itu. Tubuh Ufairoh  mengejan, punggungnya menempel ke Payudara Ardidan tangan kanannya meremas penis Ardidengan lembut. ”Enak dik Ufairoh ??”, “Aah…” . Cuma itu yang dia bisa jawab di antara puncak birahinya. Bibir Ardi tak henti-henti mengecup Payudara sebelah kanan  dan tangan Ardi aktif menarik puting payudara biadab kiri itu hingga badan akhwat cantik ini bergemetaran. Ardi memangku Ufairoh di atas paha, Ardi membuka ke dua paha akhwat semok nan binal ini hingga menampakkan jajaran jembutnya menghiasai bukit kemaluaanya. Ketika kepalanya diarahkah Ardi ke belakang, Ardi mencium bibirnya dengan lidah merekka saling membelit, kemudian tangan Ardi turun membelai helaian jembutnya. Tangan kiri Ardi yang aktif memilin puting payudara dan yang kanan membelai jembutnya. Suatu pemandangan yang eksotis.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (10)

Mengingat Ufairoh  adalah seorang akhwat cantik yang alim, sehari-hari memakai jilbab yang panjang dan jubah, hari ini semua lekuk-lekuk yang tertutup itu bisa dilihat dan dinikmati Ardi. Putingnya telah memerah karena ditarik dan dipilin Ardi, keringat deras mengalir di Payudara dan punggung akhwat cantik ini, tangannya tetap meremas-remas penis Ardi dengan lembut. Ketika tangan kanan Ardimulai turun dan menyusuri bukit kemaluannya, tubuhnya mulai menggeliat dan menggigil. Ardi mencari benda sebesar kacang di ujung bukitnya. Ketika Ardi mendapatkan lalu ditekan perlahan “Owwwuuuhhhhh….ardiii, kau apakan tubuhku ini ardiii?”, ”Rilex dik Ufairoh , enak bukan?”, ”Uuhhhhh,stttttss…….iyaahh hahh yaaah nikmaat, enaaakh…..” Ufairoh   hanya merancau sambil meremas penis Abu. Tangan Ardi kemudian mengusap ke klitoris akhwat cantik ini. ”Sssssssttttts, aaaah” ketika tangan Ardi menyapu klitorisnya. Perlahan tangan kiri Ardi turun menelusuri labia mayora. Ardi menarik salah satu labia mayora, digosok dengan jempol dan jari telunjuk. ”Ahhh….geli….”, teriaknya sambil kepalanya mendongak dan berusaha merapatkan kakinya tapi tertahan oleh kedua paha Ardi.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (2)

Nafasnya semakin tersenggal mana kala tangan kanan Ardi dengan gerakan vertikal menggosok lubang kencingnya dan klitorisnya. ”Akuuu…pingin pipis….”. “Pipis aja dek ufairoh Ngak usah ditahan”, Ardi mempercepat putaran tangan pada klitorisnya. ”Aah…ah….ah…..Ardiiii aku pipisssss”, kedua pahanya diangkat merapat di atas paha Abu. Ardi merasakan klitoris akhwat cantik ini berkedut-kedut dan cairan hangat meleleh dari sela pahanya yang turun membasahi paha Abu. Ardi melihat dari cermin di mana Payudaranya membusung dan kepalanya mendongak disertai hentakan badannya yang mengelinjang tidak karuan, seolah Ardi menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Badannya kemudian melemas, Ardi menurunkan perlahan dari pahanya dan menidurkan akhwat cantik yang montok dan sintal ini di meja ruanga itu. Nafasnya masih memburu dan butiran keringat membasahi wajah dan tubuhnya. Ardimenurunkan ciumanku ke hidungnya, kedua pipinya trus dikulum bibirnya, lidah mereka kembali saling membelit. Ketika Ardi mengangkat kepalanya, kepala akhwat cantik ini juga juga terangkat seolah tidak mau melepas bibir Ardi. Ardi mengambil posisi di samping kanan Ufairoh , tangan kiri Ardi merangkul pundak akhwat cantik ini melewati lehernya dan mengelus payudara kiri. Perlahan bibir Ardi nida turun ke leher akhwat canetik ini dan tangan kanannya mengelus payudara dan putingnya. Berlahan lidah Ardi berputar di payudaranya kanan dan kiri bergantian sambil menyusuri wangi ketiak Ufairoh . Payudara Ufairoh  terangkat bergelinjang menahan geli, ketika lidah Ardi menelusuri bagian bawah payudara kembali tangannya menekan kepala Abu. “Dik Ufairoh boleh aku mencium putingmu?” wajah akhwat cantik ini memerah seketika, kemudian matanya terpejam dan menganggukan kepala. Ardi menyergap puting sebelah kiri yang sudah menonjol merah, menghisap lembut dan menjilat dalam mulutnya melingkar-lingkar. “AAah. Sssstttttt…….” tangan kanannya mengelus punggung Ardi dan tangan kirinya menekan kepala. Ardi merasakan keringat asin dari puting akhwat semok ini dan merasakan getaran tubuhnya yang menandakan kalau Ardi adalah lelaki pertama yang menyentuhnya. Tangan kiri Ardi aktif memilin puting yang lain, tangan kanan menarik punggungnya. Punggungnya telah dibsahi keringat, lembut punggungnya menandakan tidak pernah dijamah laki-laki. Kemudian bibir Ardi beralih ke puting kanan meninggalkan bekas gigitan di sekitar puting kirinya. “Ah…uh….” desahan yang keluar dari bibir Ufairoh  di saat putingnya tenggelam di bibir Ardi. Ardi menggigit lembut, menarik ke atas, Ufairoh  meremas-remas sprei sambil tangan kirinya menekan tengkuk Ardi. Sementara tangan kanan Ardi menggapai klitorisnya. Masih meleleh lendir licin keluar dari memek akhwat cantik ini, Ardi mengusap vaginanya dan menggunakan lendirnya untuk membasahi klitorisnya. Mata akhwat cantik ini kembali mendongak bergetar, hanya terlihat putih di kelopak matanya. Ardi menggigit puting kirinya dengan cepat. Kedua tangan Ardi melesat mengangkat pantatnya, terlihat warna pink di sekitar kemaluan hingga membangkitkan gairah Ardi. ”Ardi…. jangan…”, saat Ufairoh  melihat kepala Ardiberada di antara dua pahanya, dengan lembut Ardimenjilat klitorisnya, ”Aah….ardi…, jangan”, tubuhnya mengejan melengkung, kedua tangannya mencengkram sprei dan kepalanya kembali terdongak. Ardi mamasukkan ujung klitorisnya ke bibirnya sampai semua masuk ke bibir abu, Ardimenggigit pelan-plan. “Aah…aah…aduh…. …. aku ngilu” . Kedua paha akhwat cantik ini menjepit erat kepala Ardi.” Ardii….aku mau pipis lagi ardii” kepala Ardi tersanggkut.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (4)

Di paha Ardi air mani mengalir dari lubang pipisnya mengenai lidah. Waktu kececap rasanya seperti meminum bir pahit. Tampak lelehan lendir membasahi sprei di bawah pantat Ufairoh. Ardi mengamati wajahnya yang sudah mencapai orgasme, benar-benar menggetarkan, lalu Ardi membuka paha akhwat cantik itu dan menindih tubuhnya. Tiba-tiba ufairoh membuka matanya, “Ardi masukann masukaaan” kata ufairoh lirih ”Te..terimakasih abu, aku dari semula emang menganggumimu….makanya aku rela engkau jamah”. ”Terimah kasih, dik Ufairoh .

Memandang Ufairoh  yang sudah terserang birahi membuat Payudara Ardi seolah meledak, Ardi menaruh tangan di atas payudara akhwat cantik ini sementara tangan satunya membantu kontolnya untuk menggosok vagina Ufairoh . Perlahan kontol Ardimendesak masuk ke memek Ufairoh , perlahan namun pasti pahanya semakin dilebarkan. ”Abuuu..…trus….abuuu…..”, antara nafsu dan janji berlahan kata hati Ardimenguasai pikirannya. Ardimelambatkan gesekan mencabut ujung kontol dari memek Ufairoh , Ardi menghempaskan tubuh ke samping Ufairoh . Perlahan Ufairoh  membuka mata. ” Kenapa Ardi? Aku sudah hampir nyampe? Nggak enak?”,”Hah? Kenapa berhenti Ardi”. ” Aku juga sering mengagumi, dik Ufairoh ”.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (3)

Rangsangan jari Ardiini membuat Ufairoh  menggeleng-gelengkan kepala, tampak jilbab yang dikenakan menjadi longgar sehingga membuat rambutnya menyembul, tangan Ardi meraih puting susu akhwat cantik ini yang tampaknya dia semakin terangsang, dia menempatkan payudaranya tepat di mulut Ardidengan sekali gerakan k Ard imeraih puting kirinya, dengan bibir digigit pelan-pelan dan dikulum dengan buasnya. Perlahan tangan Ardi berpindah menarik punggungnya agar Payudara akhwat cantik ini dirapatkan ke Payudaranya, rasa hangat menerpa Payudara Ardi keringat mereka saling menyatu.

Ardi menempatkan kontol ke posisi vertikal. Ufairoh  kemudian mengesek naik turun kontol Ardi yang sudah berada tepat di belahan memeknya. Bibir Ardi menggigit lembut pundak akhwat cantik ini dan tangannya mengelus pantat bulatnya, Ardi menarik keluar sebagian labia mayoranya hingga menggesek kontolnya. Wajah horny Ufairoh  sungguh luar biasa, jilbabnya sudah melorot ke lehernya, matanya membeliak tiap kali jari Ardi menusuk-nusuk memeknya, tubuhnya beringsut mundur sehingga kepala kontol Ardi masuk ke dalam vaginanya yang telah banjir oleh lendir cintanya. Lidah mereka saling bertautan, nafas mereka semakin memburu. Kepala kontol Ardi tenggelam di gerbang vagina Ufairoh , tempo gesekan semakin cepat. Saat separuh batang Ardi hampir masuk ada suatu lapisan liat yang menghalangi, Ardi merasa itu adalah selaput daranya. Ardi melihat Ufairoh  tertunduk melihat kemaluannya dengan menggigit bibirnya. “ Miliki aku, Aardiii…”.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (9)

Kemudian dengan menarik nafas panjang Ufairoh  menaikkan tangannya di atas dada Ardi, dengan gerakkan sedikit melengkung dimasukkan seluruh batang kontol Ardihingga ke dasar vaginanya. ”bless…ach…ardiiiih, aku…..” tubuhnya langsung roboh ke tubuh Ardi. Ardi mengangkat pantat agar kontolnya tidak lepas dari vaginanya. Mereka terdiam sesaat, Ufairoh  mengangkat wajahnya yang dihiasi senyum walaupun ada air mata di sudut matanya.” Perih Ardi, sakit”, ”Iiya dek,nanti coba digesek pelan-pelan”. Perlahan Ufairoh  mulai menaikan pantatnya. ”Sssssshhhhhh……Ardii….”, kemudian tubuhnya diangkat ke atas dengan hanya bertumpu pada lututnya.” Coba jongkok ukhti Ufairoh , biar Ardi lihat”. Ufairoh  berjongkok dengan kontol Ardi yang masih tersarung di memeknya, Ardimelihat darah merah mengalir di sela-sela kontolnya. ”Sssshhhhtttt…ah…Ardii.. aku ngilu”, sambil mangangkat pantatnya. Ardi menahan pinggul akhwat yang sintal itu agar kontolnya tidak lepas dari vaginanya. “Ardi.. ardiiii…ardii…ouch” kontol Ardi keluar masuk dengan lancar, tiap kali ditarik vaginanya seolah ikut tertarik.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (8)

Rasanya kontol Ardi dipilin-pilin oleh memeknya diurut lubang peret dari perawan Ufairoh . Lubang yang sempit itu lama kelamaan semakin menjepit kontol Ardi seiring dengan makin terangsangnya Ufairoh . Lututnya kembali diturunkan, jembut mereka menyatu. Tangan Ardi aktif meremas dan memilin puting akhwat cantik ini. Gesekan yang dirasakan kontol Ardi keluar masuk vagina Ufairoh  semakin terasa ditambah denyut-denyut di dalam memeknya tiap kali Ufairoh  memasukkan kontol. Ardimengangkat pantat dan pinggul agar penetrasi semakin dalam.

” Ardi aku mau nyampe…”, “iya ukhti kita sama-sama, di dalam apa di luar?” Ufairoh  tidak menjawab ia hanya menggeram nikmat, Ardi juga merasakan ujung kenikmatannya akan keluar. “Ooch…ah…..uh…” nafasnya semakin pendek-pendek dan berat. ”Ukhty Ufairoh , Ardi juga mau nyampe” digigitnya bibirnya seolah menahan kenikmatan. Akhirnya tidak lama lahar Ardi sudah mendesak keluar. ” Ukhty ….. Ardi nyampe…….ah….” dengan kerasnya Ardimengangkat pantatnya, laharnya menyembur memenuhi lorongnya., Ufairoh  masih bergoyang di atas kontol abu.

sherly faraniva - jilbab manis payudara besar (7)

“Ardii…aku juga…..aaahhhh ” Tiga goyangan Ufairoh  mengejan di atas tubuh Abu, Ardi merasakan tubuh akhwat cantik ini melengkung dan kepalanya mendongak kemudian turun cepat ke dada abu, tangannya memeluk tubuh Ardi dan kukunya menancap di punggung abu, Dada mereka saling menempel hingga Ardi merasakan detak jantungnya yang cepat. Kontol Ardi serasa diurut-urut oleh vagina akhwat cantik ini, tangan Ardi memeluk tubuhnya erat, 10 detik dia terdiam diiringi helaan nafas yang memburu menyembur telinga abu. Setelah birahi melanda, keringat mereka saling melekat satu sama lain. Ardi membiarkan Ufairoh  beristirahat di atas tubuhnya, tak lama kemudian kontol Ardi mengecil dan keluar dari vaginanya, serasa lendir mereka meleleh turun mengalir di sela paha dan membasahi sprei.

Setelah merasakan Seks dengan orang yang dikagumi, maka Ufairoh lupa akan urusanya,  dan mereka melakukan itu lagi dan lagi, sampai mereka tak sanggup berdiri.

Beginilah hidup ufairoh nurulhaya, penuh seks, dia tak lagi peduli dengan yang lain kecuali seks, dan semua masturbasinya selama ini terbayar dengan kontol asli milik Ardi.

MIA 5

Hari ini aku dan Fachri sudah genap 4 ½ bulan menjalani hubungan. Di sela-sela hubunganku dan pria Arab itu, aku juga masih menjalin hubungan dengan pria-pria yang dulu sering banget menggenjotku di tempat Fanny keluar (menurutku mereka sudah ketagihan) J.

yessy eci - hijabers mom community (3)

Sekarang sudah jam 5 sore, berarti suamiku sebentar lagi pulang dari kantornya. Aku dan Fachri baru saja selesai mandi, setelah sebelumnya dia membuatku orgasme yang tak terhitung banyaknya. Aku baru saja selesai berpakaian (daster, no bra dan no cd) dan memakai jilbab, sementara Fachri baru saja memakai celana panjangnya, ketika aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Suamiku pulang! Segera saja aku mnyuruh Fachri untuk ‘berakting’ di ruang tamu (rumah sedang kosong, Fanny dirumah ibuku).

Tak lama kemudian, suamiku masuk kedalam rumah dan langsung bertatap muka dengan Fachri.
“Mi… eh… ada tamu… siapa ya?” tanya suamiku yang segera menjabat tangan Fachri yang berdiri dan mengulurkan tangannya.
“Fachri!” katanya tegas.
“Mmh.. Tino.”
Aku segera menengahi suasana yang agak kikuk itu, “Fachri ini temanku SMA dulu mas… dia kesini mau mengkonfirm soal reunian bulan besok!”
“Oo… kok tapi tadi pintunya ditutup?” tanya suamiku curiga.
“Anu… tadi ada pengamen lewat. Males banget aku ngelayaninnya. Makanya pintunya aku tutup, eh… keenakkan ngobrol sampe lupa mbuka pintu!” jelasku asal.
“Oo… Fanny belum pulang?” tanya suamiku lagi.
“Belum!”
“Ya sudah… Mmh.. aku mandi dulu ya. Fachri, saya tinggal dulu ya…!”
“O.. Ok!”

Setelah suamiku masuk ke kamar mandi, Fachri segera memelukku. Sambil berbisik di telingaku, dia bilang kalo aku pinter banget bikin alasan..
“Ya… kalo nggak gitu, kita nggak bisa ngewe lagi dong…” jawabku.
Tapi Fachri tidak berkata apa-apa lagi, dia langsung mengulum bibirku yang aku balas dengan bernafsu sekali, sementara tangan si Arab itu masuk ke dalam dasterku dan melesat ke arah memekku sambil mengelus dan menggosok memekku. Sementara tanganku mengelus gundukan daging di balik celananya di arah selangkangan. Sekitar 10 – 15 menit kemudian terdengar pintu kamar mandi terbuka, aku dan Fachri segera berakting lagi pura-pura ngobrol di sofa.

yessy eci - hijabers mom community (5)

Setelah berganti pakaian, Tino langsung bergabung dengan kami. Tapi aku malas banget bila harus berakting terus. Setelah minta ijin untuk ke belakang, aku segera pergi ke dapur. Di dapur aku menelfon ibuku untuk menelfon ke rumah. Aku bilang supaya ibu pura-pura menelfonku untuk menjemput Fanny. Tentu saja dia bertanya-tanya, tapi aku menjelaskan dengan singkat alasanku. Aku bilang ke Ibu, kalo dirumah ada selingkuahanku yang lagi ngobrol sama Tino.
Aku bilang aja kalo aku dan selingkuhanku itu lagi nanggung dan ingin melanjutkan ‘pertempuran’ dirumah ibu. Ibuku langsung mengerti dan dalam 5 menit akan menelfon ke rumah.

Benar saja, 5 menit kemudian telfon berbunyi. Tino yang angkat. Setelah menutup telfon, Tino bilang kalo ibu minta Fanny dijemput, soalnya ibu mau pergi. Aku segera berganti pakaian di kamar. Aku memakai jilbab putih, kemeja tangan panjang dan rok lebar semata kaki. Setelah selesai berpakaian aku segera ke ruang tamu untuk izin sama Tino. Aku segera memberi kode pada Fachri. Lalu, dengan beralasan akan pulang, Fachri segera pamit kepada Tino, setelah sebelumnya pura-pura menawariku tumpangan untuk mengantarkanku ke rumah ibu. Setelah itu, aku dengan menggunakan mobil Fachri, pergi ke rumah ibu.

Sesampainya disana, ibu tidak banyak bertanya. Dia langsung aku kenalkan pada Fachri. Setelah itu, aku dan Fachri segera masuk kamar ibu dan nggak keluar-keluar sampai jam ½ 9 malam. Saat itu aku sedang membersihkan batang zakar milik bapak beranak satu itu, ketika ibu masuk ke kamar dan memberitahu kalau Tino telefon. Setelah minta izin ke Fachri (masih bugil) aku segera keluar kamar untuk menerima telefon Tino. Setelah selesai, aku kembali ke kamar dan memberitahu Fachri dan ibu bahwa Tino menyuruhku segera pulang. Aku dan Fachri segera berpakaian lalu aku pulang menggunakan taksi agar Tino tidak curiga.

Keesokan harinya, Fachri menelfonku, katanya dia nggak bisa ke rumahku hari ini, karena tadi malam ia hrs melayani istrinya yang minta ML J. Terus aku juga bilang kalo nggak kerumah gak papa, soalnya ibu dan kakaknya Tino akan datang malam ini dan mungkin menginap selama 3 hari.

Aku nggak tahu apa urusan mertuaku itu datang kesini, apalagi Mbak Tammy juga ikut. Aku gak pernah suka sama kakak perempuan Tino itu. Sudah gendut, cerewet, selalu iri dengan penampilanku, bawel, suka ikut campur… uuugghh… pokoknya semua hal yang negatif ada di dia deh…. Tapi yang membuatku agak senang, Mas Pras (suaminya Tammy) ikut juga ke sini. Aku bingung, padahal Mas Pras itu ganteng, tinggi, baik, lucu ,ramah… kok mau ya sama si Tammy gembrot itu? Cocoknya, Mas Pras itu dapet perempuan sexy kayak adik iparnya ini… tapi, sudahlah….

yessi eci - jilbab semok (5)

Mereka datang sekitar jam 5 sore. Tino menjemput mereka di Gambir. Setelah berbasa-basi nggak jelas dengan ibu mertuaku itu, aku langsung ke dapur untuk membuatkan minum dan menyiapkan makan malam.

Jelas-jelas aku sibuk, si gembrot itu bukannya mbantuin, malah mencela aku. “Kamu kok kayak males-malesan gitu sih Mi kerjanya? Nggak ikhlas aku dateng?”
RESEEE….. !!!!

Biarpun begitu, Mas Pras malah ndatengin aku ke dapur setelah si babon itu pergi, “Udah Mi, jangan dipikirin. Kamu kan tahu… si Tammy memang begitu orangnya.”
“Iya Mas, nggak papa!”
“Ngomong-ngomong, kamu kok kayaknya makin cantik ya Mi apalagi memakai jilbab…” kata Mas Pras memujiku.
“Ah… Mas Pras bisa aja. Tapi Mas Pras juga makin ganteng kok…” balasku sambil memukul pelan pundak pria gagah ini.
“Kamu bercanda apa serius nih?”
“Serius!!!”
“Ya udah… aku kan emang ganteng!” sahut Mas Pras sambil tertawa.
Aku juga ikut tertawa sambil mencubiti Mas Pras di bahunya yang keras dan kekar itu.
“Udah ah…” potongku, “nanti Mbak Tammy denger, terus curiga lagi!”
“Iya… ya udah… aku ke depan dulu ya?!”
“Lho, nggak mau nemenin aku di belakang nih?”
“Ntar aja… aku nanti balik lagi!”
“Kapan?”
“Mmmhh… maunya kapan?”
“Nanti malem aja!”
“Lho… kok nanti malem?” tanya Mas Pras bingung.
“Iya….” Sahutku, “nanti malem aja. Pas semua sudah pada tidur…”
“Maksudmu?” tanya Mas Pras sambil mendekati aku.
“Mmmhhh… nanti malem aku tunggu di kamarnya Fanny!” bisikku.
“Terus ngapain?” tanya Mas Pras sambil terus merapatkan tubuhnya ke tubuhku.
“Terus… kita… “ belum selesai aku bicara, Mas Pras, dengan lembutnya, memeluk dan mengecup bibirku.
“Mas… nanti ada yang….” Tapi sisa kata-kataku hanya menggantung di udara. Mas Pras malah langsung mengulum bibirku sambil tangannya dilingkarkan ke tubuh setengah horny ini dan meremas kedua belahan pantatku. Mendapat perlakuan demikian, aku langsung membalas kuluman itu dengan memainkan lidahku didalam mulut Mas Pras.

yessy eci - toge jilbab montok (4)

Sedang nikmat-nikmatnya aku mencium Mas Pras, tiba-tiba ada yang memanggilku.
“Mami…”
Kami berdua tersentak kaget, dan langsung mengambil posisi berjauhan yang tampak aneh sekali. Ternyata yang memanggil adalah Fanny.
“Aduh… kamu bikin mami kaget, Fan…. Kenapa?”
“Mami lagi ngapain?”
“Mami lagi ngelapas kangen sama Om Pras… Iya kan Om…” sahutku asal sambil melirik Mas Pras.
“Iya Fan… tapi jangan bilang ke papi ya…”
“Iya Om….”
“Kenapa kamu nyari mami?” tanyaku ketika sudah sedikit tenang.
“Aku laper… mau makan…”
“Ooo… ya udah.. kamu panggil papi sama nenek gih… bilang makan malam siap habis shalat maghrib. Ya…?”
Setengah berlari, Fanny langsung pergi ke ruang tengah. Ketika aku berjalan menyusul Fanny, Mas Pras dengan isengnya meremas pantatku.
“Aahh… Mas Pras iseng nih… dah nggak sabar ya?”
“Iya…!!”
“Tahan sedikit dong! Eh… mau lihat itunya dong Mas?” pintaku sedikit manja.
Mas Pras langsung menurunkan relsletingnya dan mengeluarkan batangannya sendiri. Lalu aku kembali mendekati Mas Pras lalu menngenggam kontolnya itu.
“Sabar ya dik… nanti malem kamu boleh masuk kesini deh.” Kataku sambil menempelkan kepala kontol besar yang setengah bangun itu ke arah memekku yang ada dibalik g-stringku yang masih tersembunyi di balik rok panjangku yang sudah terangkat bagian depannya.
“Mi…” kata Mas Pras, “buka dong cd mu!”
Tanpa banyak komentar, aku langsung menurunkan cd ku dan kembali menempelkan palkon Mas Pras di belahanku ini.
“Sabar ya Mas… aku juga dah nggak tahan!” bisikku pada Mas Pras.
“OK!” jawabnya singkat.

Malamnya, sekitar jam ½ 1, aku bangun dari tempat tidurku dan mulai mempreteli semua pakain yang menempel ditubuhku. Untuk menutupi tubuh telanjangku, aku hanya memakai daster tanpa lengan. Setelah melihat suamiku yang tertidur pulas, aku berjalan mengendap keluar kamar menuju kamar Fanny. Sesampainya di sana, aku melihat Fanny tertidur pulas sekali, tapi Mas Pras belum datang. Sekitar 5 menit kemudian, Mas Pras, yang hanya memakai celana pendek, masuk ke kamar Fanny. Saat itu aku tengah berbaring terlentang di samping Fanny. Aku mengangkang lebar memamerkan liang yang sebentar lagi akan dimasuki oleh batang besar milik kakak iparku ini.
“Bagus banget bentuknya, Mi!” bisik Mas Pras.
“Buat Mas!” jawabku singkat.
Lalu Mas Pras mulai naik ke tempat tidur Fanny dan langsung memeluk dan mengulum bibirku. Tangan kanannya langsung melesat ke arah memekku dan mulai meraba, mengelus dan menggosok kelentitku. Pada saat yang bersamaan, aku mulai melepas celana pendeknya dan mencoba untuk menggenggam kontol yang setengah bangun itu. Setelah dapat, aku mulai mengocoknya perlahan-lahan. Semua gerakan yang kami buat, kami lakukan dengan pelan-pelan sekali. Kami berusaha untuk tidak grasak-grusuk, supaya tidak membuat suara-suara yang dapat membangunkan seluruh isi rumah. Akibatnya, nafsu kami sudah tidak dapat terbendung lagi. Cairan pelumasku cepat sekali keluarnya, begitu juga Mas Pras. Kontolnya menegang dengan cepat sekali.
“Gimana Mas?” tanyaku, “langsung aja ya?”
Tapi Mas tidak menjawab, dia hanya bangikt dan berlutut di hadapanku dan mulai mengarahkan senjatanya itu langsung ke sasarannya. Perlahan-lahan. Kontolnya mulai memasuki liang memekku. Lalu Mas Pras sambil setengah berlutut, berbaring tengkurap diatasku, rapat sekali. Aku faham, ini untuk meminimalisasi gerakan dan suara yang pasti keluar. Memahami hal ini, aku langsung melingkarkan kakiku ke bagian atas pinggulnya, sementara tanganku aku lingkarkan di lehernya. Tusukan-tusukan Mas Pras sangat lembut namun mantap sekali di dalam memekku.
“Enak banget Mas!” bisikku di telinga Mas Pras.
“Tahan Mi. Kita tukar posisi. Jangan sampai lepas ya?!” kata Mas Pras.
Lalu kami mulai berputar untuk bertukar posisi.

yessi eci - horny jilbaber montok (3)

Setelah aku berada diatas, aku mulai menggenjot Mas Pras. Mulai dari putaran pinggulku sampai gerakan-gerakan erotis yang membuat Mas Pras merem melek. Tangannya meremas dengan kuat kedua toketku. Setelah itu, gantian aku yang merebahkan tubuhku diatas tubuh Mas Pras. Sambil meremas kedua pantatku, ia mulai menggasak memek adik iparnya ini dari bawah. Efeknya jelas sekali terasa. Aku mulai merasa orgasmeku akan datang. Lalu aku mulai mengolah sendiri orgasmeku itu. Masih ditengah-tengah tusukan-tusukan Mas Pras, aku memutar-mutarkan pinggulku. Benar saja… tak lama kemudian, aku dapet. Uuuhhh…. Enak banget!

Mengetahui hal ini, Mas Pras makin mempercepat gerakannya sendiri untuk mengejar orgasmenya. Dan itu tidak lama kemudian. Dia memuntahkan seluruh pejunya didalam memekku.

Setelah selesai membuang kotoran kami masing-masing, aku dan Mas Pras segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kami. Sambil masih bertelanjang bulat, kami segera bergegas untuk kembali kekamar kami. Di depan kamarku, Mas Pras memeluk ku dan berkata, “Terima kasih ya Mi… malam ini aku puas banget!” lalu dia mengulum bibirku.
“Sama-sama Mas… aku juga puas banget. Kira-kira, besok bisa beginian lagi gak ya….??”
“Aku nggak tahu…. Tapi aku coba cari cara. OK?!”

yessi eci - horny jilbaber montok (2)

Setelah itu, aku masuk ke kamarku dan segera berbaring di samping Tino. Belum lama aku merebahkan badanku, Tino minta jatah hariannya.
“Mi,… ML dong!” katanya.
“Anuku lagi perih mas… nggak tau kenapa!”
“Oo.. terus nggak bisa ML dong?”
“Aku kocokin aja ya….”
“Ya udah deh… nggak papa!”
Sambil tersenyum dalam hati, aku segera mengocok kontol suamiku ini. Aku bergumam dalam hati, “bukannya perih karena apa-apa sih Mas… tapi memekku habis dihajar sama kakak ipar lo! Mana kontolnya gede banget!” J

*****

Paginya, suamiku berangkat ke kantor seperti biasa. Sementara mertuaku dan si gembrot pergi nggak tahu kemana. Mas Pras pergi mengantar mereka. Aku dirumah sendirian. Fanny tentu saja sedang berada di sekolahnya dan Fachri berjanji akan menjemput dan mengantarnya. Sekitar jam 1an, saat itu aku sedang asik-asiknya mencukur bulu yang ada di sekitar kemaluanku, ada suara mobil parkir di depan rumah. Setelah mengintip sebentar keluar jendela kamar, aku langsung pergi ke depan untuk membukakan pintu. Karena aku tahu yang datang Fachri, makanya aku hanya pakai daster dan jilbab.

“Halo yang…” sambutku pada pria Arab itu.
“Halo juga sexy….” Jawabnya sambil memeluk tubuh polos ini, lalu mengulum bibirku.
“Kok Tante pentil teteknya kelihatan?” tanya Haikal, anak Fachri.
“Tante lagi lagi malas pakai daleman Ikal…” jawabku sambil menunjukkan menunjuk tetekku ke arahnya.
Sambil meremas tetekku, Fachri berkata, “Tante mau ngentot ama papa ya!”
“iya….” Sahutku.

Sambil menggandeng tangan Fachri, Fachri mengajakku ke kamar mandi untuk menemaninya buang air kecil. Momen ini kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Celana Fachri langsung aku preteli dan akibatnya…. Kami ngewe di kamar mandi!
Setelah selesai, aku langsung berlutut di hadapannya dan menghisap serta menjilati sisa peju yang ada di kontolnya.
Karena kami tidak menutup pintu kamar mandi, makanya anak-anak kami dengan mudah masuk dan ikut menonton aksi kami. Setelah selesai, Fachri segera mengenakan bajunya lagi. Sementara tubuh indahku ini hanya aku tutupi dengan  daster. Setelah kurang lebih 15 menit kemudian, Fachri dan Haikal pulang.

LASMI 2

Setelah kejadian kemarin, aku dua hari tidak ketemu mbak Lasmi karena aku sibuk kuliah, tetapi konsentrasiku kacau, pikiranku selalu ke mbak Lasmi. Kelihatannya rumahnya kosong, dengar-dengar mbak Lasmi ada acara ke Jogja ketemu saudara mas Slamet yang kebetulan bekerja di kejaksaan untuk memperlancar kebebasan mas Slamet.

Ketika nongkrong di kampus lihat cewek, aku jadi lebih memperhatikan cewek yang lebih gemuk, seolah-olah melihat mbak Lasmi yang telanjang. Aku jadi tidak kerasan di kampus. Akhirnya aku pulang, berharap ketemu mbak Lasmi. Tapi sampai rumah, aku terus tidur karena kulihat rumah mbak Lasmi masih sepi. Jam 4 sore aku bangun dan kelihatannya ada orang berbincang-bincang di kamar tamu. Karena kamarku letaknya di depan dan harus melewati ruang tamu, aku keluar dan sempat aku kaget karena disitu ada mbak Lasmi sama ibu sedang ngobrol. Aku agak canggung ketika lewat di situ, tapi mbak Lasmi menyadari itu sehingga berusaha mencairkan suasana.

jilbab toket besar (1)

“Baru bangun, Riz, kelihatan kok kusut banget?” kata mbak Lasmi.

“Iya, mbak. Habis kuliah langsung tidur.“ jawabku.

“Si Fariz kerjanya tidur sama main, dan dua hari ini kurang semangat.” kata ibuku. “Sana mandi, trus antar mbak Lasmi daripada kamu bengong aja di rumah.“ sambung ibu.

“Iya, bu… “ jawabku kaya ada semangat baru.

“Tapi kamu ada tugas kuliah tidak, Riz?” kata mbak Lasmi.

“Tidak, mbak. Aku siap nanti, yang penting ada bonusnya kaya kemarin.” kataku keceplosan.

Mbak Lasmi kelihatan kaget dengan jawabanku.

“Kamu kasih apa, mbak? Jangan dikasih yang kira-kira memberatkanmu lho, mbak, kamu kan lagi banyak kebutuhan.” kata ibu.

“Paling makan aja kok,” jawab mbak Lasmi agak tenang.

Akhirnya aku tinggalkan mereka berdua yang masih asyik ngobrol untuk mandi. Pada waktu mandi, terbayang mbak Lasmi yang telanjang memandikan dan mengelus tubuhku, membuatku horny dan aku tuntaskan di kamar mandi dengan tanganku, sambil aku bicara sendiri pada kontolku. “Nanti malam kamu dapat belaian tangan dan mulut yang lebih halus, dijepit tetek, kejepit memek mbak Lasmi.”

Selesai mandi, aku lihat kamar tamu sudah sepi, mungkin mbak Lasmi sudah pulang. Aku masuk kamar dan berganti baju. Setelah itu keluar dan ambil motor, kelihatan mbak Lasmi berjalan ke rumah, disitu ada ibuku.

“Semoga lancar urusannya ya, mbak.“ kata ibu pada mbak Lasmi.

“Doakan saja, mbakyu.” jawab mbak Lasmi.

“Hati-hati ya, Riz, jangan ngebut. Kalau sudah selesai langsung pulang, tidak usah minta jajan ke mbak Lasmi.” pesen ibu kepadaku.

“Siap laksanakan perintah, Komandan.” jawabku bercanda.

Akhirnya kami berangkat. Mbak Lasmi membonceng aku dengan sopan, masih ada jarak di antara kita. Setelah sampai jalan besar, aku ngomong: “Pegangan, mbak, aku mau cepet nih.”

“Malu, Riz, nanti dikira aku tante girang… bawa brondong.” canda mbak Lasmi, tapi tetap melingkarkan tangannya di pinggangku sehingga teteknya yang besar menempel mantap di punggungku.

“Kalau ngak pegangan malah nanti dikira aku tukang ojek, mbak.” jawabku.

“Mosok cowok ganteng dikira ojek, kalau gigolo mungkin, haha..” kata mbak Lasmi.

“Kalau gigolo sama tante girang kan pasangan,” jawabku.

“Tadi dipesen ibu nggak boleh kenceng-kenceng gitu… kita nyantai aja, toh jam besuk masih lama. Kamu kan bukan pengin kenceng, tapi pengin tetekku yang kenceng nempel kan? Hahaha…“ canda mbak Lasmi.

“Tapi kok nular ke bawah ya? Kontolku jadi ikut kenceng.” candaku.

“Masak… kok bisa ya?” kata mbak Lasmi sambil memegang kontolku dari luar celana.

Dalam perjalanan, kami selalu bercanda. Mungkin orang menganggap kami adalah sepasang kekasih yang berpacaran. Tak terasa kami sudah sampai di pintu masuk Polresta. Setelah lapor sana-sini, akhirnya kita dipertemukan di ruangan paling pojok tanpa pengamanan karena bukan merupakan tindak kriminal sehingga lebih bebas. Ketika aku ketemu mas Slamet, ada perasaan bersalah di hatiku. Mbak Lasmi langsung memeluk mas Slamet sambil sama-sama meneteskan air mata. Aku tak kuasa melihatnya, akhirnya aku tinggalkan mereka berdua ke luar ruangan. Aku ngasih kesempatan mereka untuk berbicara.

Setelah beberapa saat, aku kembali ke ruangan. Tapi aku terhenti karena dari kejauhan yang kebetulan agak gelap, kulihat mereka tidak lagi berbicara, tapi saling berciuman kaya mau bercinta. Aku urungkan niatku untuk masuk, memberi kesempatan bagi mereka sambil aku menjaga setuasi kalau ada penjaga yang akan masuk. Aku nikmati permainan live show dengan lebih mendekat sehingga suara mereka terdengar tanpa perlu ngintip, karena kebetulan ada lubang yang kemungkinan bekas loket yang ditutup tidak sempurna, masih ada celah yang cukup lebar. Jarak aku dan mereka hanya beberapa meter saja sehingga suara mereka terdengar cukup jelas.

Kelihatan mereka mulai horny, mas Slamet tangannya mulai masuk di blus mbak Lasmi. “Ma, aku pingin ngentot.“ minta mas Slamet penuh nafsu.

“Tapi, Pa… apa mungkin? Nanti ketahuan, malah repot.” jawab mbak Lasmi menahan nafsu juga.

“Tidak masalah, kita kan dikasih waktu seperempat jam, ayo… Ma!” bujuk mas Slamet sambil menciumi mbak Lasmi.

“Tapi cepet aja ya, Pa… aku kurang tenang.” kata mbak Lasmi.

“Iya, yang penting ini masuk aja.” kata mas Slamet sambil menurunkan celana dan menunjuk kontolnya yang sudah tegang.

“Kalau polisi atau Fariz tahu, gimana, Pa? Nanti papa dihajar.” kata mbak Lasmi kurang tenang.

“Ya… kalau mereka tahu, paling mereka ikut ngentot mama. Hahaha…” kata mas Slamet bercanda mesum.

“Memangnya papa ikhlas kalau mama dientot orang lain?” kata mbak Lasmi mulai terbawa suasana.

“Ya gimana mama aja, yang penting saat ini pejuhku bisa muncrat.“ kata mas Slamet.

Mereka mulai bercinta meskipun kelihatan mbak Lasmi kurang tenang. Mulut mereka masih saling lumat. Mas Slamet kelihatan kurang sabar, tangannya langsung masuk di blus mbak Lasmi dan menaikkan blus tersebut sehingga tetek mbak Lasmi yang masih tertutup bra, yang bikin aku pusing kemarin, terlihat.

“Sebentar, Pa.“ kata mbak Lasmi sambil melepas branya, meloncatlah tetek yang super mantap itu. Entah gimana caranya, tahu-tahu bra sudah di tangan mbak lasmi dan dimasukkan ke tasnya.

Mas Slamet dengan rakus memainkan tetek itu dengan tangan dan mulut serta lidahnya. “Kangen ya, Pa, sama tetekku?“ kata mbak Lasmi. Mas Slamet hanya mengangguk, tetap menikmati tetek istrinya seperti anak kecil dapat mainan baru.

“Sudah, Pa. Pingin yang lain tidak?” kata mbak Lasmi sambil berdiri dan menurunkan celana dalamnya sampai di bawah dengkul. Terpampanglah memek yang tembem dan rimbun seperti gunung Lawu.

jilbab toket besar (2)

“Ma, kok rimbun banget ya? Papa pingin besok di rumah, mama gunduli itu jembut… untuk syukuran kebebasanku, papa akan gunduli juga kontolku.” kata mas Slamet sambil mengamati memek mbak Lasmi dan terus menjilatnya.

Mbak Lasmi kelihatan sudah enjoy menikmati kelakuan sang suami, mulai terdengar erangannya yang tertahan. ”Eghmm… Pah!”

Aku yang menyaksikan tidak kuat, aku benar-benar horny. Tapi mau bagaimana? Aku berpikir pingin masuk dan langsung ikut ngentot, tapi aku tidak berani.

Mbak Lasmi sekarang duduk di kursi dengan posisi tetek dan memek terpampang bebas. Mas Slamet sudah tidak tahan mau ngentot wanita itu. “Sebentar, Pa.“ kata mbak Lasmi sambil melumat kontol mas Slamet, membasahinya agar nanti lancar saat dimasukkan ke dalam memek.

“Ma, aku sudah tak tahan, mau keluar di memek mama!“ jerit mas Slamet tertahan.

Karena posisi kurang nyaman, akhirnya mbak Lasmi telentang di lantai. Aku berpikir, kalau sudah nafsu, dimanapun jadi. Kaki mbak Lasmi dikangkangkan sehingga memeknya yang tembem menjedol minta ditusuk. Mas Slamet memegang kaki mbak Lasmi karena kurang leluasa, akhirnya celananya ia lepas. Aku khawatir juga kalau ada penjaga yang datang, mereka tidak bisa cepat memakai, tapi aku tetap menikmati tontonan ini. Mas Slamet menciumi muka mbak Lasmi yang masih tertutup jilbab, tangannya menopang tubuhnya dan salah satunya memainkan tetek mbak Lasmi secara bergantian.

“Mas, ayo entot aku. Memekku pengin ditusuk,“ pinta mbak Lasmi parau.

Tanpa disuruh dua kali, mas Slamet langsung mengarahkan kontolnya ke memek mbak Lasmi. Dengan sekali hentakan, kontol itu tertelan masuk ke dalam. Ternyata mudah ya ngentot itu, pikirku. Mereka saling menggoyang maju mundur dengan cepat dan penuh nafsu, tanpa henti, kira-kira beberapa menit. Lalu kemudian…

“Ma, aku mau keluar.” kata mas Slamet ngos-ngosan.

“Iya, Pa, aku juga. Memekku siap menerima semprotanmu.” sahut mbak Lasmi.

Mereka kembali berpacu sambil terengah-engah. Akhirnya, dengan sedikit teriakan yang tertahan, mereka mengejang dan kelihatan mas Slamet menekan kontolnya semakin dalam, seolah-olah tidak pengin lepas. Demikian juga mbak Lasmi, mereka kelihatannya sudah orgasme berbarengan, terlihat mereka langsung terkapar lemas. Menyadari waktu yang tidak banyak tersisa, mereka mulai bangun dan berpakaian.

“Terima kasih, Ma… sekarang papa puas.” kata mas Slamet sambil meremas-remas tetek mbak Lasmi yang menggelantung indah.

“Sama-sama, Pa. Memek mama juga sudah tidak gatel karena sudah ditusuk.” canda mbak Lasmi.

Setelah itu mbak Lasmi melepas CD-nya untuk digunakan mengelap memeknya dan kontol mas Slamet karena memang cairan kenikmatan mereka keluar sangat banyak. Mbak Lasmi merapikan kembali baju panjangnya, sementara mas Slamet menaikkan kembali celananya. CD mbak Lasmi yang kotor oleh cairan, dimasukkan ke dalam tas bercampur dengan bra.

“Tidak dipakai, Ma?” tanya mas Slamet.

“Nanti lengket kotor, Pa. Kan juga nggak kelihatan, baju mama panjang dan lebar.” kata mbak Lasmi.

“Iya, benar sih. Tapi nanti kan mama bonceng Fariz, nanti dia tahu kamu tidak pakai bra, apa tidak malu?” kata mas Slamet.

“Nggak masalah, Pa. Ya kalau Fariz merasa, anggap aja sedekah karena dia sudah nolongin kita selama ini, hahaha…” canda mbak Lasmi.

Aku menahan nafsu mendengarnya, tapi apa daya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Supaya tidak ketahuan, aku segera menjauh dari situ sambil pura-pura melihat poster di dinding. Saat mbak Lasmi keluar mencariku, aku segera mendekat sambil menyapanya, ”Ada apa, mbak?”

“Yuk, kita pulang dulu.” kata mbak Lasmi.

Aku mengikuti masuk ke ruang tersebut, terbayang mbak Lasmi tanpa bra dan celana dalam, kelihatan semakin cantik. Kelihatan mas Slamet sudah rapi meskipun kelihatan mereka agak kelelahan. Dan setelah itu kita pamit. “Mas, aku pulang dulu ya?” kataku.

“Makasih ya, Riz, kamu telah membantu mbakmu. Aku tidak bisa membalasnya,” kata mas Slamet.

“Sama-sama, mas, kan aku saudara sendiri.“ kataku berusaha sok tulus.

“Tapi jangan sampai ganggu kuliahmu lho. Kalau perlu atau pingin apa-apa, minta aja sama mbakmu.” kata mas Slamet.

“Iya, mas.“ jawabku singkat untuk memberi kesempatan mereka bicara.

“Pa, aku pulang dulu ya? Yang sabar disini,” kata mbak Lasmi.

“Iya, Ma. Kamu juga hati-hati di rumah, kalau perlu bantuan, ngomong sama Fariz saja. Tapi kalau dia perlu atau pingin apa, kamu usahakan.” pesen mas Slamet.

Akhirnya kita keluar dari Polresta, kita diam pada pikiran masing-masing. Mbak Lasmi bonceng tetap melingkarkan tangannya di pinggangku sehingga otomatis teteknya yang tidak pakai bra menempel ketat di punggungku. Terasa sangat empuk, beda dari waktu berangkat tadi. Mbak Lasmi tidak menyadari atau sengaja, aku tidak tahu. Di perjalanan, aku lebih berkonsentrasi pada rasa di punggungku yang hangat-hangat kenyal daripada jalanan di depan yang sepi dan lengang.

Akhirnya mbak Lasmi ngomong, “Riz, kita makan dulu yuk?”

“Nggak usah, mbak. Aku kalau sama mbak kenyang terus, haha…” candaku.

“Kok bisa, Riz?” tanya mbak Lasmi heran.

“Maaf, mbak. Kan aku minum susu terus meskipun cuma punggungku.” jawabku semakin kurang ajar.

Mbak Lasmi tertawa. ”Kamu bisa aja,”

“Mbak, kok rasanya beda ya dari waktu berangkat tadi, lebih empuk?” tanyaku.

“Haha… kamu ngerasa to, Ris?” jawab mbak Lasmi agak malu-malu.

“Ya pasti to, mbak. Aku kan punya kulit yang bisa merasakan. Kok empuk, mbak, apa mbak kedinginan?” tanyaku sok bloon.

“Maaf, Riz, sebenarnya aku malu ngomong ini. Mbak sekarang tidak pakai bra, tadi mas Slamet minta netek. Daripada repot, ya mbak lepas aja, sekarang belum sempat makai. Apa berhenti dulu di pom bensin? mbak pakai dulu kalau kamu tidak nyaman,” cerocos mbak Lasmi.

“Jangan, mbak, begini malah lebih nikmat.” kataku semakin berani.

“Haha… kamu bisa aja, Riz. Atau jangan-jangan, kamu pingin netek juga ya?” tanya mbak Lasmi memancing.

“Nggak kok, mbak, nggak pingin. Tapi… puingin buanget!” jawabku penuh harap.

“Hush, jangan ngawur. Kamu kenyang apa kentang?“ kata mbak Lasmi sambil mengelus kontolku.

Aku semakin berani, “Aku pingin ini.“ kataku sambil tanganku memegang memeknya dari luar gamis karena terbawa nafsu.

jilbab toket besar (3)

Tapi ini jadi fatal, karena mbak Lasmi langsung memukul sambil berkata agak keras. “Kurang ajar kamu, Riz, kamu anggap aku ini apa?!”

“M-maaf, mbak… maaf. Saya tidak bermaksud begitu.” kataku penuh melas.

“Iya.” jawab mbak Lasmi ketus.

Aku merasa bersalah. Selama perjalanan, kita diam. Akhirnya sampai depan rumahnya, aku turunkan mbak Lasmi.

“Maafkan kelancanganku tadi, mbak. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” kataku pelan.

“Iya.” jawab mbak Lasmi tanpa melihatku, kelihatan begitu kecewa.

Aku berpikir, haruskah berakhir seperti ini? Tidak, harus dilanjutkan…

***

HADIAH YANG SEBENARNYA

Kumasukan motor ke rumah. Di kamar, aku mencoba untuk tidur, tapi tidak bisa. Nonton siaran TV, tidak nyaman juga. Aku terus membayangkan mbak Lasmi yang sedang marah. Aku kecewa merasakan kelancangan dan kegagalanku saat ini. Akhirnya aku berpikir harus menyelesaikan malam ini juga. Ada dorongan sangat kuat untuk mendatangi rumah mbak Lasmi. Berani nggak, berani nggak? Mengapa nggak berani, aku kan seorang lelaki. Entah apa yang mendorongku, tahu-tahu aku sudah keluar rumah lewat tempat biasa: jendela.

Aku mendatangi rumah mbak Lasmi. Dengan berdebar-debar, aku ketok pelan-pelan kaca nakonya, “Mbak Lasmi, aku Fariz.” kataku lirih.

Terdengar gemerisik suara orang berjalan, lalu sepi. Mungkin mbak Lasmi masih belum tidur dan takut. Bisa juga mengira aku maling. “Aku Fariz, mbak.” kataku lagi.

Kain korden terbuka sedikit. Nako terbuka sedikit. “Lewat samping!” kata mbak Lasmi.

Aku segera menuju ke samping, ke pintu ruang keluarga. Pintu terbuka, aku masuk, pintu lalu kututup kembali. Malam itu, mbak Lasmi mengenakan daster di atas dengkul warna merah yang kontras dengan kulitnya yang putih dan bersih dengan seutas tali yang dikaitkan di leher sehingga teteknya yang montok kelihatan menantang, mungkin ini baju tidur kesukaannya. Jilbabnya sudah ia lepas, rambutnya yang lurus sebahu tergerai indah membingkai wajah cantiknya. Ada bau harum sabun mandi, kelihatannya mbak Lasmi baru mandi, maklum tadi sore habis dipakai mas Slamet. Aku langsung terangsang, pingin memperkosanya, tapi aku sadar aku kesini untuk minta maaf, bukan buat masalah lagi. Aku duduk di ruang santai tempat pertunjukan kemarin, aku tidak berani melihat, hanya berani melirik mbak Lasmi, kita berdua diam tanpa kata. Akhirnya kuberanikan bicara.

“Mbak, maafkan aku atas kekurangajaranku tadi.” kataku penuh harap.

“Iya, Riz. Mbak juga salah telah membuat kamu kecewa, kamu kan yang paling perhatian kepadaku.” kata mbak Lasmi.

”Iya, mbak.” aku mengangguk, sedikit lega dengan jawabannya.

“Aku salut sama kamu, memang lelaki harus berani bertanggung jawab.” sambung mbak Lasmi.

Aku tambah lega, tidak ada jarak lagi diantara kita.

“Riz, kamu kesini mau apa?” tanya mbak Lasmi.

“Hanya pingin minta maaf, mbak.” jawabku mantap.

“Iya, sudah mbak maafkan dari tadi, Riz… kamu pingin minta apa, tadi mas Slamet kan sudah pesan kalau perlu apa-apa ngomong langsung aja sama mbak.” tanya mbak Lasmi dengan suara parau, terlihat ada sesuatu yang ditahan.

“Iya, mbak, makasih banget. Aku kesini tidak pingin apa-apa, aku sudah lega kalau mbak maafin aku. Kalau begitu aku pulang dulu, mbak.“ kataku sambil berdiri.

Mbak Lasmi ikut berdiri, kami lalu bersalaman. Aku berjalan ke pintu, mau membukanya, saat tiba-tiba… “Riz, sebentar…” panggil mbak Lasmi dengan suara tertahan.

Aku langsung membalik tubuhku, menghadap ke arahnya yang berdiri agak ragu. “Iya, mbak?” jawabku penuh tanda tanya.

“Aku percaya ada yang kamu inginkan, tapi tidak berani berucap.” kata mbak Lasmi, aku hanya diam kaya patung.

“Kamu mau ini, Riz… hadiah untukmu.” lanjut mbak Lasmi. Aku tetap diam tak berkedip saat melihat tangan mbak Lasmi melingkar ke belakang leher sehingga teteknya yang montok makin kelihatan menantang. Dengan sedikit tarikan, ia melepas tali daster dan membiarkan kain berwarna merah itu meluncur ke bawah. Aku kaget dan terpana karena mbak Lasmi langsung bugil total, ternyata dari tadi dia tidak pakai daleman. Kuperhatikan tubuh indahnya dari atas sampai bawah, teteknya yang montok langsung terekspos dengan jelas, sangat menantang untuk dijamah. Dan astaga! memeknya yang tembem sekarang jadi gundul. Kemana gerangan jembut lebat yang kulihat tadi siang?

Aku masih terpana, tidak mampu bergerak. Yang bisa bereaksi cuma kontolku, benda itu mulai berontak dan menegang saat melihat pemandangan indah itu. Tapi aku tidak berani berbuat apapun. Mbak Lasmi berjalan mendekatiku, teteknya yang montok bergoyang-goyang saat ia melangkahkan kaki. Aku hanya mematung saat mbak Lasmi mengambil inisiatif dengan langsung menarik kaosku ke atas hingga terlepas. Ia kemudian jongkok dan menarik turun kolor dan CD-ku. Aku sedikit mengangkat kakiku, memudahkan mbak Lasmi melepasnya. Ia melempar celanaku entah kemana. Kontolku yang sudah ngaceng berat langsung meloncat dan berdiri tegak bagai tongkat. Berdua, di ruang tengah rumah mbak Lasmi, kami sama-sama bugil sekarang.

Aku dibimbingnya masuk ke kamar tidurnya. Aku nggak tahan lagi, segera kupeluk tubuh montok mbak Lasmi erat-erat. Kuciumi pipinya, hidungnya, bibirnya, dengan lembut dan mesra, tapi penuh nafsu. Mbak Lasmi membalas memelukku, wajahnya disusupkan ke dadaku.

“Maaf, mbak, aku pingin banget kaya kemarin.” bisikku sambil terus menciumi dan membelai punggungnya. Nafsu kami semakin menggelora.

“Riz, akan aku kasih yang lebih dari kemarin. Jamahlah tubuh mbak sesukamu, mana yang kamu mau, tubuh mbak semua untukmu!” kata mbak Lasmi.

“Iya, mbak. Tapi ajari aku ya, karena ini baru pertama.” kataku memohon.

“Kamu memang anak baik, Riz. Jangan terburu-buru, ikuti naluri saja.” terang mbak Lasmi. Aku ditariknya ke tempat tidur. Mbak Lasmi kemudian membaringkan dirinya. Aku langsung menubruknya.

“Riz, jangan terburu-buru. Nodai dulu bibirku.“ kata mbak Lasmi sambil menyorongkan mulutnya. Aku menyambutnya. Bibirnya terasa hangat dan lembut. Aku yang baru pertama berciuman, dengan kasar melakukannya, asal sedot dan lumat saja. Mbak Lasmi dengan santai mengajariku, aku mengikutinya. Hingga beberapa menit kemudian, kita bisa saling lumat dan hisap dengan lebih nikmat.

“Enak, Riz?” kata mbak Lasmi dengan sedikit senyum. Aku hanya bisa mengangguk. Dia kemudian mendorong tubuhku ke atas. “Ini yang menempel di punggungmu tadi, Riz. Nikmatilah, jangan bengong aja.” kata mbak Lasmi sambil menyorongkan teteknya yang besar dan bulat.

jilbab toket besar (4)

Aku tidak tahan lagi, segera kujamah buah dada yang kenyal dan empuk itu. Ukurannya benar-benar besar, sampai tanganku tidak muat menangkup semuanya. Aduh! terasa nikmat sekali. Kuelus bulatan daging itu dengan lembut, kuremas pelan-pelan. Putingnya terlihat memerah dan menggemaskan. Kuciumi, kukulum, kubenamkan wajahku di kedua bulatan mungil itu, sampai aku tidak bisa bernapas. Aku mainkan buah dada mbak Lasmi sesuai naluri dan teori dari film bokep yang sering kulihat. Mbak Lasmi terlihat menikmati sambil sedikit mengarahkan kalau aku berbuat salah.

“Riz, biar wanita bisa horny kalau teteknya dimainin kayak gini,” kata mbak Lasmi, “kamu mulai dari bagian bawah dulu, jangan langsung kamu sentuh bagian putingnya.” terangnya.

Aku hanya menurut seperti anak TK yang nurut sama ibu gurunya. Mulai kujilati bagian bawah tetek mbak Lasmi yang besar, melingkar dari kanan ke kiri. Kelihatan puting mbak Lasmi tambah menjulang saat aku melakukan itu, mungkin ia benar-benar horny, mbak Lasmi terlihat menikmatinya. Tanpa diduga, aku langsung menyedot dan melumat putingnya secara bergantian. Mbak Lasmi kaget tapi tidak menolak. Dia malah berkata, ”Pinter kamu, Riz. Ughh… enak banget!”

Aku masih memainkan tetek mbak Lasmi sesukaku. Istri mas Slamet itu membiarkan dan menikmatinya sambil mengelus kepalaku penuh kasih sayang, seperti perlakuan seorang ibu pada anak bayinya yang lagi netek. Aku tidak bosan-bosannya memainkan gundukan padat itu dengan mulutku, sementara tanganku mulai merogoh memeknya. Saat kurasakan benda itu jadi licin, tak tahan aku bertanya. “Kok gundul, mbak, nggak takut banjir?” tanyaku konyol.

”Spesial untukmu, Riz. Biar bersih, biar kamu tahu gimana bentuk memek yang sebenarnya, kamu kan baru belajar.” jawab mbak Lasmi sabar.

”Iya, mbak.” kubelai dan kuusap-usap belahan tembem itu. Kutusukkan jari telunjukku ke lubangnya yang sempit, terasa sangat hangat dan basah disana.

“Riz, mbak tidak kuat lagi. Jilati memekku, Riz!” pinta mbak Lasmi sambil mendorongku ke bawah.

“Kok basah, mbak?” kataku penuh nafsu. Kupandangi bibir vaginanya yang terlihat merah mengkilat karena terlumasi cairan.

“Nikmati, Riz, mainin itilku!” kata mbak Lasmi tanpa menjawab pertanyaanku. Dia membuka kakinya makin lebar, membuat belahan memeknya makin jelas terlihat. Lorongnya yang sempit berwarna merah cerah, hampir kekuningan. Terasa berkedut-kedut ringan saat aku merabanya.

Kuikuti perintah mbak Lasmi. Segera aku jongkok dan menghisap benda itu. Mbak Lasmi mengarahkan jilatanku yang masih kasar dan asal dengan membuka bagian atas memeknya. Karena memang memeknya gundul, maka segera terpampanglah daging kecil berwarna merah sebesar biji kacang miliknya. Aku pikir, ini pasti itil yang ia maksud. Langsung kujilat dan kumainkan benda itu. Mbak Lasmi hanya bisa mendesah sambil berkata, ”Iya, begitu, Riz! Jilat terus. Sedot. Lumat itilku dengan mulutmu, Riz!”

Aku mainin terus itil itu. Terasa ada cairan yang membasahi memek mbak Lasmi dengan aroma yang khas, benar-benar menambah sensasiku. Semakin kupercepat jilatanku, semakin Mbak Lasmi tidak tahan. Hingga akhirnya ia menarik tubuhku dan kembali menciumiku bertubi-tubi. Terasa teteknya yang bulat padat mengganjal tepat di dadaku.

“Riz, masukin kontolmu. Entot aku. Tusuk memekku, Riz!” kata mbak Lasmi seperti tante girang. Dia segera menggenggam dan mengocok-ngocok pelan batang penisku, dari ujung hingga ke pangkalnya. Aduh, rasanya geli dan nikmat sekali. Aku jadi nggak sabar lagi.

Kaki mbak Lasmi kukangkangkan lebar-lebar, aku coba langsung memasukan penisku ke memeknya seperti mas Slamet tadi, tapi meleset terus.

“Hehe… aku percaya kamu memang baru pertama, Riz.” kata mbak Lasmi. ”Mbak akan nikmati perjakamu,” sambil tersenyum, dia membimbing penisku untuk memasuki liang memeknya yang sudah basah. Digesek-gesekannya ujung penisku di bibir memeknya, makin lama semakin terasa basah, hingga ketika kudorong pelan, sudah bisa agak sedikit masuk, meski masih tetap sulit. Memek mbak Lasmi terasa sangat sempit. Dia dengan sabar terus membimbingku.

“Pelan-pelan aja, Riz. Kontolmu besar lebih dari milik mas Slamet.” bisik mbak Lasmi gembira.

“Memek mbak sempit banget, kontolku muat nggak, mbak?” tanyaku kaya orang bego.

Mbak Lasmi tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil terus membimbing kontolku memasuki lubang memeknya. Aku sendiri terus menekan dengan pelan, hingga akhirnya kontolku masuk semakin dalam, semakin dalam… sudah setengah terbenam, kutekan terus… lagi, lagi, dan lagi, dan akhirnya… tinggal sedikit lagi, lalu… penuh nafsu, blees! kutekan kontolku keras-keras hingga semuanya terbenam ke dalam memek mbak Lasmi yang tembem.

“Auw, pelan-pelan, Riz… sakit!” teriak mbak Lasmi tertahan. Aku hanya diam, membiarkan penisku tetap menancap. Terasa nikmat kurasakan, kontolku seperti dijepit sesuatu yang tidak tergambarkan; hangat, basah, geli, lengket, dan berkedut-kedut. Melenguh keenakan, kunikmati lubang memek mbak Lasmi.

“Riz, memek mbak jadi penuh banget, kontolmu mantap!” teriak mbak Lasmi.

“Ehm, memek mbak juga enak banget! Masih sakit, mbak?” tanyaku sambil memainkan puting susunya.

“Sebentar, Riz, jangan bergerak dulu. Biar kelamin kita kenalan dulu, kontolmu terlalu besar, memekku jadi kaget.” kata mbak Lasmi.

”Iya, mbak.” aku mengangguk.

Kita tetap dalam posisi seperti itu selama kurang lebih lima menit, hingga kemudian mbak Lasmi berkata, ”Riz, aku siap digoyang.” bisiknya mesra.

Aku pun mulai menggerakkan pinggulku naik-turun dengan pelan seperti yang kulihat dilakukan oleh mas Slamet. Aku melakukannya dengan teratur. Aduh, nikmat sekali rasanya. Penisku rasanya dijepit erat oleh kemaluan mbak Lasmi yang sempit dan licin. Makin cepat kucoblos, makin erat memek itu mencekik kontolku. Aku terus menggerakkannya keluar-masuk, turun-naik, kadang memutar dan kutekan dalam-dalam dengan penuh nafsu, menggesek dinding kelamin mbak Lasmi hingga membuatku kami merintih keenakan.

“Aduh, Riz, Fariz… enak sekali! Yang cepat… terus, ya begitu!” bisik mbak Lasmi sambil mendesis-desis. Kupercepat lagi genjotanku. Suara memek mbak Lasmi makin kecepak-kecepok, menambah semangatku. “Riz, aku mau muncak… terus… terus!” rintihnya.

Aku juga sudah mau keluar, ada sesuatu yang mau meledak di ujung kontolku. Aku percepat goyanganku, dan penisku merasa akan segera muncrat. Kubenamkan dalam-dalam ke dalam vagina mbak Lasmi sampai amblas, mentok seluruhnya. Pangkal penisku berdenyut-denyut, spermaku muncrat, menyembur berkali-kali di dalam vagina sempit mbak Lasmi.

Bersamaan dengan itu, mbak Lasmi mengejang. Terasa basah di ujung kontolku. Rupanya dia juga orgasme. Kami berangkulan kuat-kuat, nafas kami seakan berhenti. Saking nikmatnya, dalam beberapa detik, nyawaku seperti melayang entah kemana. Aku ambruk di atas tubuh montok mbak Lasmi untuk beberapa saat menikmati sisa-sisa kenikmatan yang masih mendera.
Setelah rasa itu hilang, barulah kucabut penisku, dan berbaring di sisinya. Kami berdiam diri, mengatur napas kami masing-masing. Tiada kata-kata yang terucapkan, ciuman dan belaian kami yang berbicara.

“Terima kasih, mbak, hadiahnya. Tidak akan terlupakan,” bisikku di telinganya.

“Iya, Riz. Mbak juga puas. Mbak bisa keluar lepas, tidak seperti tadi sama mas Slamet.” kata mbak Lasmi keceplosan.

“Memangnya tadi sempat ngentot sama mas Slamet?” tanyaku pura-pura tidak tahu.

“Eh, nggak, nggak, Riz!” kata mbak Lasmi gelagapan, mukanya merah padam, menambah kecantikannya.

“Mbak cantik deh kalau lagi bohong,” rayuku. ”Tapi mas Slamet ahli ya, mbak? Tanpa bantuan nyoblos, langsung bisa masuk.” lanjutku.

“Kamu kurang ajar ya, Riz! Berarti kamu tadi ngintip… kamu memang kurang ajar,” kata mbak Lasmi berlagak marah.

“Salah sendiri, ngentot di tempat gituan. Beralaskan lantai apa enaknya? Aku tidak ngintip, aku lihat kok.” candaku.

“Iya, Riz, aku ngaku. Habis tadi tidak tahan. Kasihan mas Slamet, mosok punya istri harus pakai tangan?” akhirnya mbak Lasmi mengakui perbuatannya. “Tapi kamu memang kurang ajar, Riz. Mosok suamiku di sel, istrinya kamu nodai!” katanya kemudian.

“Biarin, wong ini mbak juga gatel.” kataku sambil membelai memeknya.

“Kamu kebablasan, Riz.“ teriak mbak Lasmi sambil berdiri.

Aku kaget dengan responnya. Langsung aku diam, apa aku salah lagi? Mbak Lasmi bikin pusing saja. Aku masih terlentang diam, sementara dia mulai bergerak mengangkangi tubuhku. Bisa kulihat sisa-sisa spermaku masih menetes-netes di celah-celah belahan memeknya.

“Ini, kubalas kekurang-ajaranmu!” maki mbak Lasmi. Dia lalu memegang kontolku yang masih lesu, terus dijilat dan langsung ditelannya tanpa rasa jijik. Mendapat perlakuan seperti itu, kontolku langsung berdiri tegak menjulang.

“Mbak, jadi berdiri lagi, gimana ini?” rengekku pura-pura lugu.

“Dasar, kontol muda nggak ada matinya!” maki mbak Lasmi sambil menggenggamnya erat. Dia langsung naik ke atas tubuhku, memeknya berada tepat di depan kontolku. Tanpa permisi, mbak Lasmi menurunkan tubuhnya, batang kontolku langsung amblas ditelan mekinya.

“Mbak, ughh… sakit, mbak!” kataku.

“Biarin, rasakan pembalasan atas kekurang-ajaranmu!” kata mbak Lasmi sambil mulai bergoyang tak beraturan. Teteknya yang besar bergoyang ke kanan dan ke kiri kayak mau jatuh. Aku nikmati pertunjukan ini.

Mbak Lasmi seperti kesetanan. Aku rasakan meskipun badannya gemuk, kalau begini rasanya enteng. “Riz, jangan bego gitu, remas tetekku!” teriaknya gemas. Aku diam saja, mosok aku dikatakan bego?!

“Kalau kamu kurang, rasakan ini!” kata mbak Lasmi sambil menghentikan goyangannya. Terasa ada pijatan kuat yang menjepit batang kontolku, seolah-olah membetot dan menyedot spermaku. Dia melakukannya berulang-ulang hingga membuatku merintih dan menggelinjang keenakan.

“Mbak, enak banget… aku tak kuat!” teriakku tertahan. Segera kugapai gundukan payudaranya dan kuremas-remas dengan penuh nafsu.

“Gimana empot ayamku, Riz?” kata mbak Lasmi sambil tersenyum.

jilbab toket besar (5)

“Enak banget, mbak, lagi dong!” pintaku sambil memilin-milin putingnya.

Mbak Lasmi langsung mengeluarkan jurus empotannya yang bikin kontolku panas dingin tak karuan. Aku nikmati sambil merem melek dan memenceti terus tonjolan buah dadanya berulang-ulang.

“Riz, kamu kuat juga, biasanya mas Slamet kalau aku ginikan langsung nyembur.” puji mbak Lasmi.

“Darah muda, mbak.” sahutku.

“Riz, ayo goyang. Mbak udah mau nyampai, kita barengan lagi.” ajak mbak Lasmi.

Tanpa diminta lagi, aku mainkan memek mbak Lasmi. Kubalik tubuh sintalnya hingga ia sekarang berada di bawah, lalu aku hajar memeknya bertubi-tubi. Mbak Lasmi mengimbangi dengan memutar pinggulnya berlawanan arah dengan genjotan tubuhku. Kami terus melakukannya hingga akhirnya ada sesuatu yang mau mendesak keluar dari dalam batang kontolku.

“Mbak, aku mau nyampe. Siram dong kontolku!” kataku sambil balik lagi telentang, mbak Lasmi kembali berada di atas tubuhku. Dia tanpa kompromi langsung menggoyang, dan aku mengikutinya. Hingga akhirnya…

“Riz, mbak mau keluar!” teriak mbak Lasmi.

“Aku juga… barengan, mbak!” kataku menyahut. Kuikuti goyangan mbak Lasmi sambil menyodok memeknya semakin dalam saat sesuatu yang basah dan hangat menyembur keluar, mengguyur kontolku hingga terasa semakin licin dan lengket.

“Aku keluar, Riz!” teriak mbak Lasmi tertahan. Tubuh sintalnya terkejang-kejang seiring semprotan cairan dari dalam liang vaginanya.

Aku yang juga sudah di ujung orgasme, langsung membalik dan mengenjotnya tanpa ampun, dan baru berhenti saat spermaku yang kental menyembur untuk yang kedua kali di dalam memek mbak Lasmi.

Kami kembali roboh berpelukan. Karena kecapekan dan kepuasan, aku tertidur di atas tubuh montok mbak Lasmi dengan kontol tetap menancap di lubang memeknya. Setengah jam kami tidak sadar. Kami terbangun bersamaan saat merasakan kontolku menciut dan akhirnya lepas dengan sendirinya. Aku terlentang seperti tidak ada tenaga.

“Riz, mau lagi?“ tawar mbak Lasmi sambil tersenyum.

“Siap, mbak, sampai pagi pun siap!” kataku mantap.

“Uh, maunya! Sana kamu pulang, sudah jam satu. Nanti malah ketahuan ronda kampung, malah repot.” suruh mbak Lasmi sambil mengecup pipiku.

“Sekali lagi, mbak, please…” pintaku memelas.

“Besok aja mbak kasih lagi, sekarang pulanglah!” kata mbak Lasmi sambil berdiri dan keluar dari kamar.

Akhirnya aku nurut. Terlihat mbak Lasmi memunguti baju dan celanaku dan menyuruhku untuk memakainya, sementara dia masih tetap telanjang. Aku pakai bajuku dan duduk sambil istirahat melihat mbak Lasmi yang masih telanjang mengambilkan minum untukku.

“Ini, minum dulu biar kuat sampai rumah.” perintahnya sambil duduk di sebelahku, tetap telanjang.

“Rumahku kan di sebelah, mbak. Pacarku mbak Lasmi.” kataku bercanda.

“Riz, mbak minta ini jadi rahasia kita berdua.” kata mbak Lasmi.

“Iya, mbak…” sahutku.

“Kamu bisa minta kapan pun, asalkan pas suamiku tidak ada.” kata mbak Lasmi lagi. “Kamu boleh nikmati tubuhku, bibirku, tetekku dan memekku, semuanya untukmu… tapi ingat, jangan mencintai aku. Hatiku hanya untuk mas Slamet!” sambungnya penuh nasehat.

“Berarti ini hanya untuk nafsu saja, mbak?” tanyaku.

“Ya, begitulah. Kita sama-sama puas. Kamu bisa belajar dariku, tapi jangan sampai hal ini membuatmu gagal kuliah, mbak akan sangat kecewa.” kata mbak Lasmi.

“Ok, guruku yang binal dan bahenol.” jawabku bergurau.

“Sekarang pulang sana, brondongku. Besok tak kasih lagi jepitanku,” suruh mbak Lasmi.

“Pulang dulu ya, tante girang. Besok kusobek-sobek memekmu.” kataku sambil berdiri. Dengan berat hati, aku pergi meninggalkan mbak Lasmi. Aku masuk rumah lewat jendela dan langsung menuju kamar. Aku berusaha tidur sambil menyesali ketidak-perjakaanku. Tapi memang benar-benar enak memek tembem mbak Lasmi.

Aku bangun kesiangan dan langsung ke kampus dengan semangat akibat motivasi dari mbak Lasmi. Aku tidak mau mengecewakan orang tua dan mbak Lasmi. Selama tiga hari berikutnya, aku setiap malam ke rumah mbak Lasmi, tetapi dia selalu menanyakan tugasku sudah selesai belum. Kalau sudah selesai, baru kita mencari kepuasan. Sudah banyak cara dan gaya yang mbak Lasmi ajarkan, dan aku merasa menjadi lelaki kuat. Tapi aku tetap tidak berani macam-macam kalau mbak Lasmi tidak meminta.

Hari pertama berikutnya, tepat jam sepuluh malam, aku datang. Seperti biasa, kita ngobrol sebentar baru kemudian mulai ngentot. Tapi mbak Lasmi minta situasi gelap, jadi kita melakukannya di kamar tanpa ada cahaya sedikitpun. Malam itu, seperti biasa, dua kali kita keluar berbarengan.

Hari kedua, aku sengaja datang agak cepat, jam setengah sepuluh. Aku langsung masuk ke rumahnya, terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Kelihatannya mbak Lasmi baru mandi. Pintu kamar mandi tidak tertutup, sehingga aku dapat melihat mbak Lasmi yang sedang menggosok-gosok tubuh sintalnya dengan sabun. Aku langsung pengin mengentotnya, tapi tidak berani. Akhirnya aku ikut telanjang sambil berbicara, ”Mbak, boleh ikut mandi?”

“Hei, ngapain kamu?!” teriak mbak Lasmi kaget saat aku membuka pintu kamar mandi.

“Kalau mandi ya ditutup dong pintunya!” aku membela diri.

Mbak Lasmi tersenyum menyadari keteledorannya. “Sini, Riz, mandi sekalian.” undangnya.

Kami pun mandi bareng sambil saling usap, saling remas dan saling belai hingga akhirnya kami pun tak tahan. Dengan posisi doggy style, kuentot tubuh mulus mbak Lasmi. Dia menungging sambil berpegangan di dinding kamar mandi, sementara aku dari arah belakang menusuknya bertubi-tubi. Ternyata enak sekali, aku bisa remas tetek mbak Lasmi yang menggantung indah dan bisa kulihat wajah cantiknya lewat kaca yang cukup besar di kamar mandi, rasanya jadi tambah hot.

Malam yang dingin itu jadi panas penuh gairah oleh nafsu kami berdua. Aku dan mbak Lasmi keluar bersamaan waktu doggy style. Dan setelah itu kita mandi lagi sebelum coba posisi 69 setelah berpindah ke depan TV. Memang setelah mandi ada rasa yang lain karena memek mbak Lasmi jadi lebih harum, aku semprotkan spermaku di mulut mbak Lasmi, sementara memek mbak Lasmi banjir di mulutku. Sebelum pulang, kami lakukan posisi normal: aku di atas, mbak Lasmi di bawah, tapi terasa lebih enak. Malam itu aku sama sekali tidak melihat mbak Lasmi pakai baju. Setelah puas mengentotinya, aku pulang.

jilbab toket besar (6)

Malam ketiga merupakan malam terakhir sebelum kepulangan mas Slamet. Sengaja agak malam aku datang, sekitar jam sebelas. Mbak Lasmi kelihatan sudah menungguku. Sebelum aku sampai, dia sudah membukakan pintu. Dengan kesal mbak Lasmi berkata, ”Jadi kering nih memekku, Riz, apa sudah bosen?”

“Maaf, mbak, ada tugas kuliah yang harus kukerjakan.“ alasanku biar mbak Lasmi tidak marah.

“Ya sudah, tapi malam ini kamu harus temani mbak sampai pagi.” pintanya sambil membuka baju dan jilbabnya.

“Ok, mbak, siapa takut?” jawabku mantap.

Malam itu kita ngentot di ruang tengah, diawali dengan melihat VCD bokep koleksi mbak Lasmi, dan kita ikuti semua gaya yang dicontohkan disitu, kecuali anal, memang aku tidak suka dan mbak Lasmi juga tidak mau, terlalu jorok katanya.

Setelah selesai, mbak Lasmi berkata. ”Riz, aku curiga, salah satu dari kami mandul. Kalau aku subur, aku harap aku bisa hamil dari spermamu. Nanti kalau jadi aku kasih tahu.”

“Tapi, mbak, aku belum siap jadi bapak.” tanyaku agak cemas.

“Yang tahu bapaknya siapa kan hanya aku sendiri, dengan siapa aku membuat anak,” katanya sambil mencubitku.

“Mbak, malam ini terakhir bagiku ya?“ tanyaku.

“Jangan khawatir, Riz. Ingat, tubuh mbak kan milikmu, jadi memek mbak tetep kangen sama kontolmu.” jawab mbak Lasmi mesra.

“Lha mas Slamet gimana?” tanyaku lebih berharap.

“Kalau mas Slamet lagi di rumah, aku milik mas Slamet. Tapi kalau pas dia lagi jalan, memek gatelku ini bisa kamu sodok.” kata mbak Laami sambil memegang memeknya. “Kalau perlu, mbak dipakai bareng-bareng juga kuat kok.” candanya.

“Salome, mbak, satu lobang rame-rame.” balasku.

“Ya tidak begitu. Kan cuma dua; kamu mulut, mas Slamet memek, nanti gentian.“ jawab mbak Lasmi genit.

setelah itu kita ON lagi, kali ini kami melakukannya di kamar mbak Lasmi. Setelah tiga kali orgasme, sebelum pulang, aku sempatkan sodok memek mbak Lasmi sekali lagi saat dia mengantarku ke pintu. Tapi kubuat tidak sampai keluar supaya dia ketagihan. Aku semprotkan pejuh terakhir malam itu di gundukan payudaranya. Setelah itu, aku langsung buka pintu dan pergi meninggalkan mbak Lasmi yang masih menggantung sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Lanjutin pakai tangan dulu ya, mbak.” kataku.

“Kurang ajar kamu, Riz!” umpat mbak Lasmi.

Aku pun pulang dan masuk rumah lewat jendela seperti biasa. Baru juga mau tidur, tapi kok ayamnya sudah berkokok ya? Ketika kulihat jam, ternyata sudah pukul empat pagi. Pantes aja!

Hari-hari berikutnya, selama dua minggu mas Slamet berada di rumah karena masih belum boleh nyetir, masih masa pemulihan katanya. Aku jadinya blingsatan tak karuan, apalagi ketika ketemu mbak Lasmi. Kadang kulihat dia lagi bermesraan di rumah dengan mas Slamet, atau malah kadang-kadang mbak Lasmi seperti sengaja memamerkan tubuhnya yang polos ketika habis mandi waktu aku sedang main catur dengan suaminya. Mbak Lasmi mengejekku sambil menjulurkan lidahnya. Sering dia meremas-remas teteknya sendiri saat aku meliriknya, itu ia lakukan ketika mas Slamet tidak melihat atau lagi diluar rumah.

Ah, dasar. Awas, mbak, tunggu pembalasanku!