RARA

Kejadian ini merupakan suatu sejarah kehidupan biruku beberapa tahun yang lalu, tepatnya 27 Maret 1993, hampir setahun setelah lulus SMA di Magelang dan sedang menunggu panggilan bekerja dari sebuah perusahaan penerbangan di Jakarta.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (7)

Pagi itu, aku bangun dengan penuh semangat, ada janji jalan-jalan bersama mantan adik kelasku di SMA. Hari itu hari libur sekolah. Namanya Rara, dia seorang mantan penyiar remaja yang cukup dikenal di kota kecil itu, pada masa itu.

Dengan Astrea 800 warna merah kesayangan, kujemput dia sekitar pukul sembilan pagi. Saat kebetulan sampai di sana Rara memang baru menungguku. Sementara menunggu Rara mandi, aku ngobrol dengan mamanya. O iya, si Rara tinggal berdua dengan mamahnya (dia panggil ibunya ‘emak’)

Tak lama kemudian Rara selesai mandi, mamahnya masuk ke ruang tengah. Ruang tamu cuma kita bedua. setelah Rara berganti baju, kami lalu bercakap – cakap. Wajah Rara yang cantik, dibalut dengan jilbab cekak putih dan baju ketat merah jambu membuatnya semakin menggairahkan. Lama mata kami berpandang – pandangan. Saat aku membelai pipinya, ia hanya tersenyum malu. Segera aku merapaykan tubuhku ke tubuhnya. Tangan kiriku segera hinggap ke pahanya yang ditutupi jins ketat, mulai membelainya. Ia mencoba menghindar saat aku mencoba menciumnya, tapi akhirnya ia pasrah, dan ia juga tidak berontak, bahkah menutup matanya saat bibirku mendekati bibirnya. adegan French Kiss mengalun begitu saja. Singkat cerita, kayaknya kok tidak nyaman kissing di ruang tamu, lalu kita sepakat untuk jalan-jalan saja.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (8)

Tepat pukul sepuluh, setelah sedikit berbasa-basi dengan mamanya, kita pergi menuju ke pinggiran kota. Sepanjang jalan kami sama-sama diam tak tahu mau ke mana. Kuarahkan sepeda motorku ke arah Borobudur, sebelum sampai ke kawasan candi, kubelokkan motorku ke arah kali Progo (melewati Mendut) menuju daerah Ancol salah satu tempat pacaran favorit di pinggiran kota Magelang. Dan di sana kissing kita teruskan lagi, maklum waktu itu status kita belun resmi pacaran, baru hobby sama lagu Slank “American style” gitu… Kita belum terpikir untuk melakukan hubungan badan yang terlalu jauh waktu itu. Namun, setiap hal pasti memiliki sebuah awal, dan hanya alamlah yang tahu dari mana sang awal itu berasal.

Tiba-tiba langit menjadi gelap (Padahal pagi tadi cerahnya bukan main). “Nno… kayaknya mau hujan nih..”. gadis cantik berjilbab itu diam saja, Untuk beberapa saat dia memandangi mukaku. Pandangannya agak meredup, lalu dia memelukku, satu kecupan mendarat di bibir tebalku, sesaat kemudian kulihat Rara tersenyum penuh arti dan matanya seolah ingin mengatakan sesuatu. Meskipun tiada kata cinta yang terucap, aku hanya mengerti, apa arti senyumannya itu.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (6)

Tanpa banyak tanya, aku starter lagi motorku yang sejak tadi kuparkir di pinggiran sungai Progo, aku pacu seolah ingin berburu dengan hujan yang sewaktu-waktu mungkin tiba. Kupegang tangannya, kutarik agar dadanya lebih menempel di punggungku, terasa payudaranya yang mulai ranum itu menusuk lembut mata punggungku.

Setelah beberapa kilometer kuhentikan motor dan kusuruh dia duduk di depan. Kujalankan lagi motor pelan-pelan. Saat itu gerimis mulai turun. Sementara dari kejauhan, kota Magelang sangat gelap, mungkin sudah deras hujannya. Posisi duduk kami di motor sangat romantis, Aku duduk di belakang, tangan kananku memegang stang gas, tangan kiriku menggenggam erat tangan kanannya. Tangan kiri Rara memegang stang kiri.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (10)

Sambil menyanyikan lagu Nothings Gonna Change, kusuruh tangan kanannya berpegangan pada speedometer. Sementara secara naluri, tangan kiriku mulai masuk ke sweaternya. Kucari dua gundukan itu, lalu kuremas-remas setelah kudapatkan. Terdengar desahan tertahan dari bibir gadis cantik berjilbab itu.

Motor kami masih berjalan pelan menyusuri jalan Borobudur – Magelang. Kendaraan lain hanya terkadang lewat, suasana alam cukup mendukung keberadaan kami untuk berduaan saja.

Setelah beberapa menit, langit semakin menghitam, sementara Rara mulai menggeliat sembari mendesis-desis kecil. Saat tanganku berpindah ke arah celana jeans-nya, gadis berjilbab itu tak melarangnya. Aku buka ritsluitingnya, kudorong sedikit duduknya sehingga posisinya agak kupangku, kumasukkan tangan kiriku ke dalam celananya, kumainkan jariku sedapat-dapatnya. Teman-teman, meski kejadiannya di atas motor, namun sensasi yang kami rasakan lumayanlah. Bulu-bulunya terasa halus di ujung jemariku dan sedikit ke bawah kemudian, jariku menyentuh kewanitaannya secara acak demikian juga klitorisnya. Sedikit desahan tersendat kurasakan di dadaku karena memang posisiku menempel ketat di belakang gadis berjilbab itu, sementara itu si ucok sudah tidak peduli terhadap cuaca yang lumayan dingin karena gerimis.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (9)

Lalu bagai tak sadar, tangan Rara merayap ke belakang, dengan gemetar tangan itu mencari-cari pusakaku. Aku tahu posisinya agak sulit buat dia, makanya aku membantu buka ritsluiting celanaku, kubimbing tangannya memasukinya. Dan apa yang kami rasakan pastilah bisa kalian bayangkan saudara-saudaraku…

Tak berapa lama kemudian, kami putuskan untuk tidak langsung pulang ke rumah, kepalang tanggung, jam sudah menunjuk angka dua. Setelah ber-petting di motor, kuarahkan motor melaju menuju Muntilan. Karena arah Magelang – Muntilan adalah jalan utama, kami menghentikan aktifitas kami yang cukup melelahkan perasaan dan tenaga tersebut.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (10)

Kupacu sepeda motorku sampai di Blabag (sebelun Muntilan) kubelokkan stang ke kiri mendaki menuju arah gunung Merapi. Saat itu aku yakin, walau kubawa ke manapun dia tidak akan menolak. Sebelumnya kami sudah bertukar tempat duduk lagi sehingga aku di depan, sedangkan tangannya sudah tak mau lepas dari kepala kentangku, malah sekarang kedua tangannya telah masuk ke dalam. Motor tetap kupacu sekitar 40 Km/jam, kendaraan banyak berseliweran tapi kami sudah tak peduli. Rara masih melayang dengan kedua tangan di dalam celanaku dan tertutup oleh ujung sweaterku, sehingga orang sekilas akan mengira tangannya hanya memeluk pinggangku saja.

Sementara aku masih berjuang untuk tetap konsentrasi mengemudikan motor ke arah Kedung Kayang, suatu tempat sakral para sejoli mencari tempat pacaran. Kedung Kayang terletak di tepian gunung Merapi, berupa sebuah jurang yang dalam dengan panorama yang luar biasa indahnya. Teman-teman, sebenarnya aku tak tahu kenapa kita ke tempat itu, (bukannya ke hotel misalnya..) naluri membawa tanganku untuk menuju ka sana.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (4)

Sementara hujan akan segera mengucur… Sampai di Kedung Kayang suasana sangatlah sepi. Tak satupun kendaraan terparkir di sana. Maklum mendung dan gerimis. Kami turun dari motor, sedikit berjalan ke arah sebuah tempat berteduh, berjalan beriringan tanpa satupun kata terucap, kepala kami terlalu sarat dengan apa yang baru saja kami lakukan. (sebagai info: saat itu adalah pertama kali melakukan petting, sebelumnya hanya French kiss aja..)

Gerimis mulai lenyap berganti hujan, kami telah cukup selamat berteduh, meski baju kami agak basah. Mata kami hanya saling beradu, cukup lama… Kami tidak tahu mau berkata apa, tetapi kami juga tidak merasa menunggu apa-apa. Di beberapa detik berikutnya, tangan kami telah berpegangan. Kuusap pipi gadis berjilbab itu dengan beribu kata di hati. Terasa ada gemuruh, entah di dalam dada, entah di luar sana geledek yang lewat.

Seiring dengan beriramanya hujan yang makin menderas, secara refleks kepala kami saling menyongsong, bibir kami saling berpagut.., lama dan mesra. Kedua tanganku memegangi kedua sisi rahangnya, lidah kami menari bersama. Kurasakan tangan gadis berjilbab itu mulai naik merangkul leherku, semakin lama makin erat pegangannya. Sedikit kunaikkah jilbab ketenya, sehingga lehernya terlihat. Kuturunkan bibirku ke arah leher jenjangnya, kuciumi dengan nafsu yang sedikit kupendam sehingga tak meluap begitu saja.

Tiba-tiba kepalanya terdongak, dan kali itulah aku melihat seorang wanita menggelinjang.. indah sekali, tangannya yang mengejang menambah erat pelukan di leherku. Kuhentikan secara mendadak ciumanku di lehernya, sempat kulirik hujan telah turun dengan derasnya bagai kesetanan.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (3)

Rara sempat kaget saat kuhentikan ciumanku. Aku tersenyum, lalu dengan cepat kusambar lagi lehernya dengan nafsu yang tak dapat kutahan lagi. Kujilati lehernya, aku cupang pangkal lehernya. Irama hujan seolah menabuhi apa yang kami lakukan. Desahan nafas kami sama-sama memburu bagaikan bernyanyi dengan alam Kedung Kayang yang angker keindahannya. Lalu dengan kasar kunaikkan t-shirt ketatnya sampai ke lehernya, kupegang pantat gadis berjilbab itu dengan tangan kiriku kuremas-remas dengan gemas, dan tangan kananku menarik kutangnya ke atas searah t-shirt yang kuangkat tadi. Kutemukan dua gundukan indah yang lebih ranum dari Merapi yang usianya sudah seumur bumi. Kumainkan kedua putingnya bergantian, kugosok sejadi-jadinya hingga wajahnya merah merasakan kekasaranku. Tapi kutahu gadis berjilbab ini menikmatinya. Wajahnya yang merah memperlihatkan bahwa ini juga adalah pengalaman pertama baginya. Jilbab putih ketatnya, bajunya yang sudah tersibak, dan desahan – desahan erotis yang keluar dari mulutnya membuatku semakin bernapsu.

Desahan-desahannya sudah tak kuhiraukan lagi. Kudorong tubuhnya ke arah tembok agar tak terlalu berat menyangga beban berat tubuhnya yang disesaki berahi itu. Kumajukan kaki kiriku ke arah selangkangannya, kutundukkan kepalaku dan kujilati puting susu gadis berjilbab itu, kusedot-sedot dengan kekuatan penuh seperti dendam pada sang hujan kenapa baru sekarang aku dikenalkan dengan kenikmatan seperti ini. Kugesek-gesekkan kaki kiriku ke pangkal pahanya, matanya merem melek tak tahu sudah sampai di mana otaknya yang melayang.

Kini badannya lemas tidak.., kakupun tidak, hanya kepasrahan saja yang kudapati di raut mukanya yang putih dan sangat cantik itu.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (2)

Setelah beberapa cupanganku menghiasi sekitar putingnya, kini dengan satu tangan kuremas pantat, satu tangan lagi berkarya di ritsluitingnya. Kubuka celananya, masih dengan nafas yang memburu, kulorotkan celana jeans gadis berjilbab itu sampai dengkulnya, kumasukkan tangan kananku ke dalan CD-nya, bagai tanpa perasaan lagi kumainkan dengan ganas vaginanya, kusentil-sentil sekitar clitorisnya, gadis berjilbab itu melenguh dan menggerinjal – gerinjal di dunia tanpa akal. Kumasukkan jari tengahku ke arah lubang vaginanya, kumasukkan dengan ganas, kuputar-putar jari tengahku di dalam vaginanya yang sedamg ranum-ranumnya. Sambil kusedot dengan kuat susu kirinya, aku mainkan tangan kiriku di lubang pantatnya, masih terdengar jelas suaranya memanggil-manggil namaku dengan penuh kenikmatan.

Akhirnya setelah orgasme yang kesekian baginya, kubuka celanaku, kuturunkan sebatas dengkul, kuturunkan juga celana dalamku, dengan posisi agak jongkok, kutarik kaki kiri pasanganku, dengan galak kunaikkan sedikit kakinya lalu dengan penuh nafsu kuarahkan moncong “hidung” pinokioku ke arah lubang sorga gadis berjilbab itu. Susah, sempit dan erangan perih terdengar lirih di antara erangan kenikmatannya. Kini matanya terbuka, dipandanginya aku dengan sorot yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata, lalu dengan cepat mulutnya menyambar mulutku. Permainan bertambah panas setelah itu, seolah-olah kami sudah tak ingin membuang waktu lagi. Dengan isyaratnya, kuhujamkan penisku dengan agak kasar, kurasakan mulutnya seakan menahan sesuatu saat berpagut dengan mulutku, tapi kini kami tak perduli. Dengan saling bantu, akhirnya sedikit-demi sedikit penisku berhasil ditelan dengan mesra oleh vagina gadis berjilbab itu. Benar-benar basah, panas dan berjuta perasaan meledak di dalam dada saat kurasakan vaginanya bagaikan mulut bayi yang menghisap kempongnya dengan gemas.

Agak lama juga kami saling mengocok, menggoyang dan bertempur lidah.., sampai akhirnya batas kemampuan kami berdua telah sampai di ambang batas, dengan di awali suara gelegar geledek di atas tempat kami berlindung, sebuah erangan keras dan tubuh mengejang sama-sama mewarnai hari bersejarah tersebut. Kami mencapai orgasme bersama-sama semenit sebelum kaki kami lunglai menahan berat beban nafsu kami.

Sekitar setengah menit kemudian kami berpelukan, kedua alat reproduksi kami masih berpelukan juga. Lalu hujan berhenti berganti dengan gerimis. Kami rapikan lagi baju kami berdua. Kami terdiam, menatap pemandangan basah di sekitar kami. Indah.., seindah suasana selanjutnya saat kupeluk tubuhnya dari belakang, dan kami menikmati sisa-sisa orgasme kami.

dianita sukma - jilbab bohay probolinggo (1)

Beberapa saat kemudian serombongan keluarga melewati kami. Aku bersyukur, mereka tidak datang sejak tadi mengingat tempat kami berkarya tadi relatif sangat terbuka. Seorang ibu sempat mengernyitkan dahinya melihat kami berpelukan. Kulepaskan pelukanku, kumundur beberapa langkah ke belakang dan kulihat bagian belakang kaosnya berwarna merah.

“Rara..”, aku memanggilnya dan memberi tanda dengan mataku ke arah bagian bawah kaosnya. Sedikit ekspresinya menandakan kekagetannya. Darah…. Ya, sore itu aku mendapatkan keperawanannya. Lalu dia tersenyum. Kami berpandangan, lalu berpelukan.

Setelah gerimis agak reda, waktu telah menunjukkan pukul lima seperempat. Kami pulang dengan wajah sangat bahagia.

RANI, SITI DAN DITA

Sonny aku adalah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi kesehatan swasta di salah satu kota di sumatera. Umurku 27 tahun dengan perawakan agak gemuk dan kulit hitam wajahku biasa saja bahkan bisa di bilang jelek. Aku tinggal sendirian mengontrak rumah kecil dengan satu kamar, kamar mandi dan dapur. Sebagai seorang dosen tentunya aku sangat sering melihat mahasiswa-mahasiswa cantik berpakaian seksi. tetapi aku lebih suka melihat mahasiswa-mahasiswa berjilbab yang berpakaian seksi. aku pun punya pacar yang cantik dan berjilbab, juga sering berpakaian yang agak menonjolkan keseksian tubuhnya sehingga membuatku sering menelan ludah jika sedang jalan dengannya atau berduaan dengannya. gaya pacaran kami sangat tidak bebas, bahkan pacarku tidak memperbolehkan aku untuk memegangi tangannya. katanya aku hanya boleh menyentuhnya setelah kami menikah nanti. dan kemungkinan kami akan menikah sekitar 6 bulan lagi.

https://i2.wp.com/farm8.staticflickr.com/7177/6907235295_5b72d9a427.jpg

RANI

seperti biasa aku bangun pagi, duduk sebentar, kemudian aku berdiri mengambil minum dibelakang. memang sejak bangun tadi perasaan tubuhku agak tidak enak. mungkin akan flu atau demam. kemudian aku mencoba mandi. tubuh ku sudah agak segar setelah selesai mandi. Kemudian aku berpakaian rapi, memanaskan motorku seperti biasa dan berangkat ke kampus tempatku mengajar. Kebetulan hari ini adalah hari pembagian KHS untuk mahasiswa-mahasiswa dari hasil belajar mereka semester yang lalu.

RANI

RANI

Aku mengajar pelajaran kimia, kira-kira satu setengah jam aku mencukupkan kuliah hari ini, dan kembali ke ruanganku untuk beristirahat. 15 menit aku beristirahat terdengar ketukan pintu dari luar ruanganku. Aku mempersilahkan masuk, ternyata masuk 3 orang mahasiswaku, Siti, Dita, dan Rani. Siti mempunyai tubuh mungil sekitar 155 cm, berwajah cantik, kulitnya putih bersih, memakai jilbab hitam keemasan dengan baju berwarna merah diikat dengan ikat pinggang hitam, mengenakan celana hipster ketat berwarna hitam membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas. Sedangkan Dita, wajahnya sangat manis dengan senyum menawan dan kulit agak gelap, sikapnya agak centil dengan suara yang centil pula, ia memakai jilbab orange terang, memakai baju orange dan lengan hitam, memakai celana hipster abu-abu, dita agak kurus dengan payu dara yang tidak begitu besar. Sedangkan Rani, kulitnya putih bersih dan mempunyai tubuh yang proporsional dengan tinggi badan sekitar 168 cm, pakaiannya bak model sehingga sangat menonjolkan keseksian tubuhnya, ia memakan baju cokelat dengan celana legging ketat tipis sebetis berwarna cokelat dipadu dengan jilbab berwarna putih.

RANI

RANI

Aku mempersilahkan mereka duduk di sofa tamu, meskipun gairahku menggelora melihat ketiga mahasiswaku yang cantik dan seksi ini, aku berusaha menahan gejolak nafsuku walaupun “adikku” dibawah sana sudah tidak bisa di ajak berkompromi lagi. Kemudian mereka mengutarakan maksud mereka padaku, “Pak kami sudah terima KHS semester lalu….” Rani membuka pembicaraan, karena memang di kelas dia yang agak vokal. “Ya, trus kenapa?” sahut ku, “begini pak, setelah dilihat ternyata nilai mata kuliah kimia kami bertiga gagal, kami ingin mengkonfirmasi apakah nilai kami ini memang benar gagal pak…” Lanjut Rani. Aku mengangguk kemudian mengeluarkan berkas dari mejaku, “Ini kalian cari nama kalian dan lihat sendiri nilainya…”. kemudian mereka memeriksa berkas itu dengan seksama, dan terbersit kekecewaan di wajah mereka bertiga.

RANI

RANI

Mereka bertiga kemudian saling menatap dan Dita mengerdipkan sebelah matanya pada rani dengan nakal. Rani langsung menghampiriku dengan berputar ke belakang kursiku, dan tiba-tiba Dita mengunci pintuku dan menutup gorden jendela dan pintuku. Lalu Rani memijat bahuku, dan berbisik ke telingaku, “kami tau yang bapak mau, rani lihat bapak gelisah dari tadi….” Rani kemudian memagut bibirku dengan bibirnnya yang seksi, dan menjejalkan lidahnya dalam mulutku. Terus terang aku belum pernah melakukan ini sebelumnya, sehingga aku agak kaku dalam menerima ciuman Rani. Nafasku memburu dan jantungku berdegup kencang. Kemudian dari selangkangkan ku tiba-tiba terasa sangat nikmat, ternyata Dita dan Siti sedang mengerjai “adik kecil”-ku. Aku melihat ke arah mereka Dita tersenyum centil padaku sambil mengocok-ngocok dan mengelus dengan lembut kontolku yang sudah mengeras dari tadi, dia sesekali menjilat kepala kontolku sambil mengocoknya, sehingga terasa sangat enak. Sedangkan Siti sedang asyik menjilati buah zakarku dan mengulumnya dengan bibirnya yang kemerahan, membuatku merem-melek dibuatnya, aku berusaha agar tidak mengeluarkan suara, dan merekapun begitu. Dita mulai mengulum kontolku dengan bibir mungilnya, bibirnya yang dipoles lipstik merah jambu membuatnya terlihat sangat seksi saat mengoral kontolku. Kemudian Dita sesekali mengocok kontolku dengan jilbabnya, terasa sangat enak sekali.

DITA

DITA

Aku tengah terangsang berat, Rani terus saja menjilati bibirku dan mengulum bibirku, aku mulai bisa mengimbanginya, Rani tampak sudah sangat Horny sekali sehingga wajahnya yang putih semakin merah merona. Rani kemudian menyingkapkan setengah bajunya, membuka bra nya sehingga menonjollah payudaranya yang indah dan putih bersih, ku taksir ukurannya sekitar 34, ukurannya sangat proporsional. Kemudian Rani menyodorkan payudaranya ke mulutku, aku langsung mengulumnnya seperti menyusu, Rani melenguh merasakan kenikmatan hisapanku.

Kemudian setelah kira-kira 10 menit pemanasan, Rani turun dari pangkuanku. Dita dan Siti membuka celana panjangku dan melemparnya ke sofa, Kemudian Dita membuka Jean hipsternya hingga terlihatlah pahanya yang mulus walaupun tidak terlalu putih, karna kulitnya yang memang agak hitam seperti orang Pakistan, kemudian Dita mengangkangiku, dan memegangi kontolku dan membimbingnya memasuki vaginanya. Aku melenguh keenakan saat kontolku untuk pertama kalinya merasakan jepitan vagina seorang gadis, sangat nikmat sekali, hal ini yang sudah lama aku impikan untuk mendapatkannya dari pacarku, akhirnya kudapatkan dari gadis lain.

Dita melenguh saat kontolku amblas seluruhnya kedalam vaginanya, memang kontolku cukup besar dan gemuk, dengan panjang 17 cm dengan diameter sekitar 4 cm. “OOOHHH….Pak sonny besar sekali kontol bapak….ookkhh…” racau Dita ditengah lenguhannya. Kemudian Dita menggoyang-goyangkan pantatnya sehingga kontolku mengocok vaginanya, aku merasakan diselangkanganku sangat nikmat terkocok oleh vagina Dita yang sempit dan berdenyut denyut. Sementara Dita sedang mengerjai kontolku, Siti kemudian menghampiriku, kemudia ia menciumku dengan bibir merahnya, wajahnya yang cantik semakin merangsangku….aku mengulum bibirnya sambil meremas-remas payudaranya yang putih bersih itu yang berukuran sekita 34 sama dengan Rani, Siti mempunyai tahi lalat di payudaranya.

DITA

DITA

Tak lama kemudian terasa kontolku seperti tersiram cairan hangat, ternyata tubuh Dita telah menegang dan melengkung di pangkuanku. Ia telah mengalami orgasme. Setelah Dita lepas dari pangkuanku, Siti Menarik tanganku, ia kemudian mendorongku ke sofa, hingga aku tertidur di sofa, kemudian dengan cepat Siti yang sudah setengah telanjang dan masih memakai Jilbabnya menaiki tubuhku dan segera mengarahkan kontolku ke liang kenikmatannya, dan memasukkannya pelan-pelan hingga amblas semuanya, “oooookkkkhhh…besar sekali pakkkk…..” racaunya. Mungkin karena tubuh siti yang lebih montok dan seksi dari Dita, liang vagina Siti lebih terasa menjepit dan berdenyut-denyut, aku kelabakan menahan kenikmatan di selangkanganku, jika aku tidak dapat mengendalikan diri, mungkin aku sudah muncrat, tapi aku tak mau buru-buru, karna belum menikmati tubuh si cantik Rani. Siti kemudian dengan perlahan memompa tubuhnya hingga terasa kontolku terkocok sangat nikmat sekali rasanya. Jika terasa akan muncrat aku menahan tubuh siti supaya dia menghentikan goyangannya sejenak, kemudian ia melanjutkan lagi menggenjot kontolku dengan cepat. Begitu seterusnya kami memakai gaya ‘stop-go’ supaya aku tidak cepat orgasme. Setelah terbiasa aku kemudian berganti gaya, menindih Siti dengan gaya missionary, dan menggenjotnya dengan cepat supaya Siti cepat orgasme, dan agar aku dapat menikmati tubuh si kembang kampus Rani yang sedari tadi bermasturbasi menunggu gilirannya.

Sepuluh menit kemudian, Siti mengalami orgasme yang sangat dahsyat, tubuhnya melengkung, vaginanya membetot kontolku dengan keras hingga terasa sangat nikmat. Untuk menghindari orgasme, cepat2 aku mencabut kontolku dari vagina Siti sebelum vaginanya memijat kontolku lebih keras lagi, hingga cairan cintanya muncrat semua keluar. Siti mengejang-ngejang menikmati orgasmenya. Dan segera tertidur di sofa.

DITA

DITA

Kemudian aku menghampiri rani yang setengah telanjang dengan jilbabnya dibentuk dengan gaya yang seksi, ia tersenyum nakal padaku, mungkin ia tahu aku tengah menantikan untuk bersetubuh dengannya dengan tubuhnya yang seksi itu. Kemudian ia mengampiriku yang masih berdiri dengan kontolku mengacung memerah, setelah merasakan kenikmatan vagina dua temannya. Rani kemudian menyeka kontolku yang berlumuran cairan cinta Siti tadi dengan jilbabnya, aku bergetar saat tangannya menyentuh kontolku, kemudian Rani memasukkan kontolku ke mulutnya dan menghisapnya dengan kuat, “Ooookkkhhh Rani…Nikmat sekali….” racauku. “bapak belum pernah ya…kasian padahal pacarnya cantik gitu”, “iiiya raann….oookkkhhh”sahutku lagi. “Dengan Begini nilai kami selamat kan pak?” kata Rani, “iya Ran, Pasti”jawabku tak menghiraukan lagi ditengah kenikmatan yang melanda selangkanganku. Setelah 5 menit Rani mengoralku, ia kemudian mendorongku hingga tertidur di karpet kantorku, kemudian ia mengangkangi wajahku, “pak isep…”, aku langsung mengulum dan menjilat vaginanya yang merah jambu itu, bulunya tercukur rapi, sehingga terlihat indah, dan sepertinya rajin dirawat karna baunya yang harum. Rani kemudian melenguh-lenguh ditengah jilatanku, aku menghisap klitorisnya dan liang kenikmatan sang bunga kampus pun makin membanjir.

Kemudian Rani melepaskan vaginanya dari jilatanku dan langsung mengangkangi kontolku yang mengacung gagah sedari tadi, dia kemudian menyeka terlebih dahulu lendir yang keluar dari kontolku dengan jilbabnya, terasa geli sekali, dan akupun semakin terangsang dibuatnya. “Pak Rani masukin ya, udah nggak tahan”kata rani sambil mengengam kontolku dengan tangannya dan membimbingnya masuk ke liang kenikmatan miliknya. Kepala kontolku sudah terjepit vagina Rani, kemudian ia menurunkan pantatnya pelan-pelan, tampak ia merintih agak kesakitan menampung kontolku yang besar. “Oookk paaakkk besar sekali…calon istri bapak pasti sangat puas nantinya….oookkkhh paaakk” racaunya setelah kontolku amblas semuanya kedalam liang kenikmatan Rani. Terasa perbedaan jepitan vagina Rani dengan Dita dan Siti, kali ini memang sangat menjepit, mungkin dikarenakan berat badan dan tubuh rani yang memang sangat seksi itu. Setelah rani terbiasa dengan keberadaan kontolku di dalam vaginanya, diapun langsung menggenjot kontolku dengan cepat, sehingga kembali aku merasakan kenikmatan tiada tara pada kontolku.”ookkk raaann…sempit sekali vaginamuuu…” racauku sambil meremas-remas payudaranya, jilbabnya berkibar-kibar saking cepatnya goyangan Rani. 15 menit kemudian aku merasa sebentar lagi akan orgasme, langsung berganti posisi dengan gaya menindih rani dengan gaya missionary. Aku kemudian menggenjot vagina rani dengan liar, karna merasa akan muncrat sebentar lagi, “Raaaannn bapak mau keluar sebentar lagi….ooohhh” kataku, “didalam aja pakkkk….oookkhhh aku nyampeee paaakkk…” Tubuh Rani mengejang dan melengkung, terasa sekali vaginanya membetot kontolku dengan keras sekali dan denyutannya semakin kencang…hingga aku tak tahan lagi dan menyentak vaginanya dalam-dalam hingga mentok dan “oooookkkkkkhhh bapak keluar rannn…oookkhhh” aku menyemburkan mani ku ke dalam liang kenikmatan Rani sangat banyak sekali…kira-kira sampai 10 semprotan kuat didalam vaginanya, dan terasa vaginanya mengempot kontolku dengan kuat seperti memerah spermaku sampai habis.

SITI

SITI

Kira-kira 1 menitan tubuh kami mengejang, dan langsung ambruk diatas tubuh Rani yang seksi, aku berbisik pada nya”Hebat sekali kamu Ran, bapak beri kalian nilai A+ untuk ini”. “ya terima kasih pak” jawab rani sambil menyunggingkan senyumnya dari wajah cantiknya yang berjilbab itu. Kemudian Rani melapas kontolku dari vaginanya, terlihat cairanku yang kental berleleran di vaginanya. Ia kemudian menyeka kontolku dengan Jilbabnya, membuatku terangsang berat lagi, dan kontolku pun langsung mengacung lagi. “Wah bapak masih semangat aja nih,hihi” katanya menggodaku. “Baiklah kami akan berikan bonus buat bapak, Dit, Siti, ayok..” mereka bertiga kemudian bergantian mengoral kontolku dan sesekali memasukkan ke vagina mereka dan mengocok nya dengan vagina mereka kemudian mengoral lagi, memasukkan lagi ke vagina mereka, mengoral lagi, begitu seterusnya hingga aku kelabakan dan mau muncrat lagi, mereka menyuruhku berdiri lalu menempatkan wajah cantik mereka didepan kontolku. “Pak Ayo keluarin disini…” kata Rani sambil menunjuk wajah cantiknya, “Oke, Pinjam Jilbabnya ya ran..” aku kemudian mengocok kontolku dengan Jilbab rani…dan satu menit kemudian…”ooookkkk nikmat sekaliii” mani ku langsung menyembur mengenai wajah-wajah cantik mereka bertiga. Mereka langsung menjilati kontolku hingga bersih dan menyekanya dengan jilbab mereka masing-masing, membuat aku Horny lagi.

SITI

SITI

Walaupun sebenarnya aku masih ingin menikmati tubuh-tubuh seksi mereka, tetapi aku teringat ada janji, sore ini dengan pacarku. “Oke cukup segini dulu ya” Aku menahan keinginanku untuk melanjutkan. “Tapi pak, itu nya masih semangat kayaknya, hihi” kata rani menggoda. “Bapak ada janji, tapi bapak masih pengena ran…” kataku. “Ntar lagi deh pake, kalo aku ujianku gagal gagal lagi dengan bapak…hihi…nggak kok pak, kalo bapak senggang bapak boleh telepon Rani…nanti Rani bawain temen-temen Rani yang cantik-cantik lagi…”. “Oh Rani kamu baik sekali makasih banget ya…Bapak Pengen Quick sama kamu 1 kali lagi Ran Boleh?”. Rani langsung membelakangi meja, menunggingkan pantatnya yang sekal dan seksi. Aku langsung penetrasi dari belakang, dan menggenjot Rani dengan cepat. 5 menit kemudian aku menyemburkan spermaku dalam rahim Rani.

Kami kembali berpakaian, Rani, Dita dan Siti, mengganti jilbabnya yang telah berlumuran spermaku tadi. “Makasih ya” kataku pada mereka. “sama-sama pak” kata mereka sambil tersenyum menggoda. Inilah Awal dari petualangan Seks ku dengan para gadis berjilbab yang seksi

ATIKA

Sore itu aku baru pulang dari rumah temanku. Karena perjalanan pulang melewati kampusku, maka sekalian aku menyempatkan diri untuk mampir ke sana dengan tujuan melihat nilai UTS-ku dan mencatat jadwal SP (Semester Pendek). Kumasuki halaman kampus dan kuparkirkan sepeda motorku. Saat itu waktu telah menunjukkan jam 17.35, di tempat parkir pun hanya terlihat 3-4 kendaraan. Aku segera memasuki gedung fakultasku, di sana lorong-lorong sudah gelap hanya diterangi beberapa lampu downlight, sehingga suasananya remang-remang, terkadang timbul perasaan ngeri di gedung tua itu sepertinya hanya aku sendirian, bahkan suara, langkah kakiku menaiki tangga pun menggema. Akhirnya sampai juga aku di tingkat 4 dimana pengumuman hasil ujian dan jadwal SP dipasang.

Ketika aku sedang melihat hasil UTS-ku dari lantai bawah sekonyong-konyomg terdengar langkah pelan yang menuju ke sini. Sadar atau tidak kurasakan bulu kudukku berdiri dan membayangkan makhluk apa yang nantinya akan muncul. Ah konyol, kubuang pikiran itu jauh-jauh, hantu mana mungkin terdengar bunyi langkahnya. Suara langkah itu makin mendekat dan akhirnya kulihat sosoknya, oohh, ternyata lain dari yang kubayangkan, yang muncul ternyata seorang gadis cantik. Aku pun mengenalnya walaupun tidak kenal dekat, dia adalah mahasiswi yang pernah sekelas denganku dalam salah satu mata kuliah, namanya Atika, orangnya tinggi langsing, pahanya jenjang, teteknya pun membusung indah, kuperkirakan ukurannya 34B, dipercantik dengan wajahnya yang selalu berjilbab namun tetap modis dan wajah oval yang putih mulus. Dia juga termasuk salah satu bunga kampus di Universitasku yang mewajibkan mahasiswinya untuk berjilbab..

“Hai.. sore, mau lihat nilai ya?” tanyaku berbasa-basi.
“Iya, kamu juga ya?” jawabnya dengan tersenyum manis.
Aku lalu meneruskan mencatat jadwal SP, sementara dia sedang mencari-cari NRP dan melihat hasil ujiannya.
“Sori, boleh pinjam bolpoin dan kertas? gua mau catat jadwal nih,” tanyanya.
“Ooo, boleh, boleh gua juga udah selesai kok,” aku lalu memberikannya secarik kertas dan bolpoinku.
“Eh, omong-omong kamu kok baru datang sekarang malam-malam gini, nggak takut gedungnya udah gelap gini?” tanyaku.
“Iya, sekalian lewat aja kok, jadi mampir ke sini, kamu sendiri juga kok datang jam segini?”
“Sama nih, gua juga baru pulang dari teman dan lewat sini, jadi biar sekali jalanlah.”

Kami pun mulai mengobrol, dan obrolan kami makin melebar dan semakin akrab. Hingga kini belum ada seorang pun yang terlihat di tempat kami sehingga mulai timbul pikiran kotorku terlebih lagi hanya ada sepasang pria dan wanita dalam tempat remang-remang. Aku mulai merasakan senjataku menggeliat dan mengeras. Kupandangi wajah cantiknya, wajah kami saling menatap dan tanpa sadar wajahku makin mendekati wajahnya. Ketika semakin dekat tiba-tiba wajahnya maju menyambutku sehingga bibir kami sekarang saling berpagutan. Tanganku pun mulai melingkari pinggangnya yang ramping. Sekarang mulutnya mulai membuka dan lidah kami saling beradu, rupanya dia cukup ahli juga dalam berciuman, nampaknya ini bukan pertama kalinya dia melakukannya. Wangi parfum dan desah nafasnya yang sudah tidak beraturan meningkatkan gairahku untuk berbuat lebih jauh, tanganku kini mulai turun meremas-remas pantatnya yang montok dan berisi, dia juga membalasnya dengan melepas kancing kemejaku satu persatu. Tiba-tiba aku sadar sedang di tempat yang salah, segera kulepas ciumanku.

“Jangan di sini, gua tau tempat aman, ayo ikut gua!”
Kuajak dia ke lantai 3, kami menelusuri koridor yang remang-remang itu menuju ke sebuah ruangan kosong bekas ruangan mahasiswa pecinta alam, sejak team pecinta alam pindah ke ruang lain yang lebih besar ruangan ini dikosongkan hanya untuk menyimpan peralatan bekas dan sering tidak dikunci. Kubuka pintu dan kutekan saklar di tembok, ruangan itu hampir tidak ada apa-apa, hanya sebuah meja dan kursi kayu jati yang sandarannya sudah bengkok, beberapa perkakas usang, dan sebuah matras bekas yang berlubang.

Segera setelah tombol kunci kutekan, kudekap tubuhnya yang sedang bersandar di tepi meja. Sambil berciuman tangan kami saling melucuti pakaian masing-masing. Setelah kulepas kemeja lengan panjangnya yang ketat dan branya, kulihat tubuh putih mulus dengan tetek kencang dan putingnya yang kemerahan. Saat itu dia sudah topless tinggal memakai celana panjang dan jilbab merah saja. Kuarahkan mulutku ke dada kanannya yang berada di balik jilbab sementara tanganku melepas kancing celananya lalu mulai menyusup ke balik celana itu. Kurasakan kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan sudah becek oleh cairan kenikmatan. Puting yang sudah menegang itu kusapu dengan permukaan kasar lidahku hingga dia menggelinjang-gelinjang disertai desahan. Dengan jari telunjuk dan jari manis kurenggangkan bibir memeknya dan jari tengahku kumainkan di bibir dan dalam lubang itu membuat desahannya bertambah hebat sambil menarik-narik rambutku.

Akhirnya dengan perlahan-lahan kuturunkan celana beserta celana dalamnya hingga lepas. Kubuka resleting celanaku lalu kuturunkan CD-ku sehingga menyembullah kontol yang dari tadi sudah mengeras itu. Tangannya turut membimbing kontolku memasuki lubang memeknya, setelah masuk sebagian kusentakkan badanku ke depan sehingga dia menjerit kecil. Aku mulai menggerakkan badanku maju mundur, semakin lama frekuensinya semakin cepat sehingga dia mengerang-erang keenakan, tanganku sibuk meremas-remas tetek montoknya, dan lidahku menjilati leher di balik jilbabnya. Aku terus mendesaknya dengan dorongan-dorongan badanku, hingga akhirnya aku merasakan tangannya yang melingkari leherku makin erat serta jepitan kedua pahanya mengencang. Saat itu gerakanku makin kupercepat, erangannya pun bertambah dahsyat sampai diakhiri dengan jeritan kecil, bersamaan dengan itu kurasakan pula cairan hangat menyelubungi kontolku dan spermaku mulai mengalir di dalam rahimnya. Kami menikmati klimaks pertama ini dengan saling berpelukan dan bercumbu mesra.

Tiba-tihba terdengar suara kunci dibuka dan gagang pintu diputar, pintu pun terbuka, ternyata yang masuk adalah Pak Toyip, kepala karyawan gedung ini yang juga memegang kunci ruangan, orangnya berumur 50-an keatas, rambutnya sudah agak beruban, namun badannya masih gagah. Kami kaget karena kehadirannya, aku segera menaikkan celanaku yang sudah merosot, Atika berlindung di belakang badanku untuk menutupi tubuh telanjangnya meskipun memakai jilbab.

“Wah, wah, wah saya pikir ada maling di sini, eh.. ternyata ada sepasang kekasih lagi berasik ria!” katanya sambil berkacak pinggang.
“Maaf Pak, kita memang salah, tolong Pak jangan bilang sama siapa-siapa tentang hal ini,” kataku terbata-bata.
“Hmmm… baik saya pasti akan jaga rahasia ini kok, asal…”
“Asal apa Pak?” tanyaku.
Orang tua itu menutup pintu dan berjalan mendekati kami.
“sal saya boleh ikut merasakan si Mbak yang berjilbab tapi telanjang ini, he.. he… he…!” katanya sambil terus mendekati kami dengan senyum mengerikan.
“Jangan, Pak, jangan!”

Dengan wajah pucat Atika berjalan mundur sambil menutupi dada dengan jilbab dan kemaluannya dengan tangan kiri untuk menghindar, namun dia terdesak di sudut ruangan. Kesempatan itu segera dipakai Pak Toyip untuk mendekap tubuh Atika. Dia langsung memegangi kedua pergelangan tangan Atika dan mengangkatnya ke atas. “Ahh.. jangan gitu Pak, lepasin saya atau… eeemmmhhh…!” belum sempat Atika melanjutkan perkataannya, Pak Toyip sudah melumat bibirnya dengan ganas. Sekarang Atika sudah mulai berhenti meronta sehingga tangan Pak Toyip sudah mulai melepaskan pegangannya dan perlahan-lahan mulai turun ke tetek kanan Atika lalu meremas-remasnya dengan gemas. Entah mengapa daritadi aku hanya diam saja tanpa berbuat apa-apa selain bengong menonton adegan panas itu, sangat kontras nampaknya Atika yang berparas cantik dan berjilbab merah itu sedang digerayangi oleh Pak Toyip yang tua dan bopengan itu, seperti beauty and the beast saja, dalam hati berkata, “Dasar bandot tua, sudah ganggu acara orang masih minta bagian pula.”

Ciuman Pak Toyip pada bibir Atika kini mulai merambat turun ke lehernya yang masih tertutup jilbab, dijilatinya leher jenjang Atika kemudian dia mulai menciumi tetek Atika sambil tangannya mengobok-obok liang memek Atika. Diperlakukan seperti itu Atika sudah tidak bisa apa-apa lagi, hanya pasrah sambil mendesah-desah, “Pak… aaakhh.. jangan.. eeemmhh… sudah Pak!” Setelah puas “menyusu” Pak Toyip mulai menjelajahi tubuh bagian bawah Atika dengan jilatan dan ciumannya. Setelah mengambil posisi berjongkok Pak Toyip mengaitkan kaki kanan Atika di bahunya dan mengarahkan mulutnya untuk mencium memek yang sudah basah itu sambil sesekali menusukan jarinya. Sementara Pak Toyip mengerjai bagian bawah, aku melumat bibirnya dan meremas teteknya yang montok itu, putingnya yang sudah tegang itu kupencet dan kupuntir.

Masih tampak jelas warna kemerahan bekas gigitan dan sisa-sisa ludah pada tetek kirinya yang tadi menjadi bulan-bulanan Pak Toyip. Tak lama kemudian kurasakan dia mencengkram lenganku dengan keras dan nafasnya makin memburu, ciumannya pun makin dalam. Rupanya dia mencapai orgasme karena oral seks-nya Pak Toyip dan kulihat Pak Toyip juga sedang asyik menghisap cairan yang keluar dari memeknya sehingga membuat tubuh Atika menegang beberapa saat dan dari mulutnya terdengar erangan-erangan yang terhambat oleh ciumanku. Sekarang aku membuat posisi Atika menungging di matras yang kugelar di lantai. Kesetubuhi dia dari belakang, sambil meremas-remas pantat dan teteknya. Pak Toyip melepaskan pakaiannya hingga telanjang, kemudian dia berlutut di depan wajah Atika yang jilbabnya telah acak-acakan. Tanpa diperintah Atika segera meraih kontol yang besar dan hitam itu, mula-mula dijilatinya benda itu, dikulumnya buah pelir itu sejenak lalu dimasukkannya benda itu ke mulutnya. Pak Toyip mendengus dan merem melek kenikmatan oleh kuluman Atika, dia menjejalkan kontol itu hingga masuk seluruhnya ke mulut Atika.

Atika pun agak kewalahan diserang dari 2 arah seperti ini. Beberapa saat kemudian Pak Toyip mengeluarkan geraman panjang, dia menahan kepala Atika yang ingin mengeluarkan kontolnya dari mulutnya, sementara aku makin mempercepat goyanganku dari belakang. Tubuh Atika mulai bergetar hebat karena sodokan-sodokanku dan juga karena Pak Toyip yang sudah klimaks menahan kepalanya dan menyeburkan spermanya di dalam mulut Atika, sangat banyak sperma Pak Toyip yang tercurah sampai cairan putih itu meluap keluar membasahi bibirnya, jeritan klimaks Atika tersumbat oleh kontol Pak Toyip yang cukup besar sehingga dari mulutnya hanya terdengar, “Emmpphh.. mmm.. hmmpphh…” tangannya menggapai-gapai, dan matanya terbeliak-beliak nikmat.

Kemudian Pak Toyip melepas kontolnya dari mulut Atika, lalu dia berbaring telentang dan menyuruh Atika memasukkan kontol yang berdiri kokoh itu ke dalam memeknya. Sesuai perintah Pak Toyip, Atika sambil membneahi jilbabnya yang hampir lepas menduduki dan memasukkan kontol Pak Toyip, ekspresi kesakitan nampak pada wajahnya karena kontol Pak Toyip yang besar tidak mudah memasuki liang memeknya yang masih sempit, Pak Toyip meremas-remas susu Atika yang sedang bergoyang di atas kontolnya itu. Aku lalu memintanya untuk membersihkan barangku yang sudah belepotan sperma dan cairan kemaluannya, ketika kontolku sedang dijilati dan dikulum olehnya, kutarik erat-erat ujung jilbabnya “Wah cantik banget si Mbak ini sudah berjilbab tapi binal, mana memeknya masih sempit lagi, benar-benar beruntung saya malam ini,” kata Pak Toyip memuji Atika. “Dasar muka nanas, kalo dia pacar gua udah gua hajar lo dari tadi!” gerutuku dalam hati.

Setelah kontolku dibersihkan Atika, kuatur posisinya tengkurap di atas Pak Toyip, dan kumasukkan kontolku ke duburnya, sungguh sempit liang anusnya itu hingga dia menjerit histeris ketika aku berhasil menancapkan kontolku di sana. Kami bertiga lalu mengatur gerakan agar dapat serasi antara kontol Pak Toyip di memeknya dan kontolku di anusnya. Aku menghujam-hujamkan kontolku dengan ganas sambil meremas-remas tetek dan pantatnya juga sesekali kujilati lehernya. Sementara Pak Toyip juga aktif memainkan tetek yang hanya beberapa sentimeter dari wajahnya itu. Tak lama kemudian Atika menjerit keras, “Akkhh…!” tubuhnya menegang dan tersentak-sentak lalu terkulai lemah menelungkup, begitu tubuhnya rebah langsung disambut Pak Toyip dengan kuluman di bibirnya. Aku dan Pak Toyip melepas kontol kami dan berdiri di depan Atika secara bergantian dia mengulum dan mengocok kontol kami hingga sperma kami muncrat membasahi wajahnya dan jilbab merahnya itu.

Tubuh kami bertiga sudah bersimbah keringat dan benar-benar lelah, terutama Atika, dia nampak sangat kelelahan setelah melayani 2 lelaki sekaligus. Sesudah beristirahat sejenak, kami berpakaian kembali. Kami membuat kesepakatan dengan Pak Toyip untuk saling menjaga rahasia ini, Pak Toyip pun menyetujuinya dengan syarat Atika mau melayaninya sekali lagi kapanpun bila dipanggil, meskipun mulanya dia agak ragu-ragu akhirnya disetujuinya juga. Kami yakin dia tidak berani kelewatan karena dia sebagai gadis berjilbab juga tidak ingin hal ini diketahui keluarganya. Sejak itu kami semakin akrab dan sering melakukakan perbuatan itu lagi meskipun tidak sampai pacaran, karena kami sudah punya pacar masing-masing.