MURTI 13 : AISYAH

Murti menjanda. Sudah genap seratus hari sejak kematian Pak Camat, Murti menyandang status barunya. Bahkan orang-orang menambahi embel-embel di belakang status barunya sehingga lengkap sudah; Murti si janda kembang. Sudah menjanda, kaya pula. Tidak heran kalau banyak lelaki yang antri, baik yang terang-terangan ataupun yang sembunyi-sembunyi. Tapi Murti tetap setia bersama Gatot dan orang-orang komplek mulai yakin kalau Murti dan Gatot memang ditakdirkan untuk menjadi pasangan dewa-dewi. Sang dewa seorang duda, sang dewi baru saja menjanda. Cocok sekali.

Sekarang Murti sudah mau belajar nyetir dan gurunya adalah Gatot. Tiap hari sepulang dari mengajar, Murti langsung memanggil Gatot lewat dapur rumahnya. Kadang yang muncul adalah Gatot sendiri, tetapi kadang pula Aisyah. Seperti sore ini, ketika ia memanggil Gatot, yang nongol malah Aisyah.

“Mana Gatot, Aisyah?” tanya Murti penuh harap.

“Masih sholat, Bu Murti.” jawab Aisyah.

“Kalau sudah suruh ke rumah ya.” pesan Murti.

“Baik, Bu.” Aisyah mengangguk, lalu masuk ke dalam dan menuju kamar Gatot. Perlahan ia membuka pintu dan duduk di tepi tempat tidur dimana Gatot sedang berbaring. Gatot tidak sedang sholat seperti yang Aisyah katakan pada Murti, laki-laki itu masih tidur.

“Mas Gatot, bangun!” panggil Aisyah dengan suara merdu.

Gatot menggeliat malas dan entah sengaja atau tidak, tangannya hinggap di paha Aisyah. Gatot mengelusnya pelan sambil bergerak bangun. “Ada apa, Aisyah?” tanyanya dengan suara serak.

“Mas dipanggil Bu Murti di rumahnya.” kata Aisyah.

“Baiklah. Aku kesana ya,” sahut Gatot.

“Mas…” Aisyah memanggil.

“Apa lagi, Aisyah?” tanya Gatot penuh rasa sayang.

“Ah, tidak apa-apa. Hati-hati saja di jalan ya, Mas.” pesan Aisyah menyembunyikan maksud yang sebenarnya.

“Hati-hati di jalan atau hati-hati bersama Murti?” goda Gatot seperti mengetahui isi batin Aisyah.

“Mas Gatot ini…” Aisyah tersenyum merajuk. ”Sudah pergi sana. Kasihan Bu Murti lama menunggu.”

Gatot mencium kening Aisyah sebelum pergi, tangannya juga sempat mampir ke dada Aisyah dan meremasnya pelan satu persatu, merasakan betapa empuk dan padatnya benda bulat itu. Ukurannya juga menjadi semakin besar karena keseringan dipegangi oleh Gatot. Memang belum ada ikatan resmi diantara mereka, tapi hal-hal semacam tadi sudah menjadi rutinitas yang Gatot dan Aisyah lakukan setiap hari.

“Hati-hati di rumah ya, Aisyah. Kunci saja pintunya.” pesan Gatot sebelum pergi.

“Baik, Mas.” Aisyah mengangguk, dan sekali lagi membiarkan Gatot meremas gundukan payudaranya.

Gatot meninggalkan Aisyah dan menuju rumah Murti. Tinggallah Aisyah seorang diri, duduk termenung di depan cermin sambil memperhatikan dirinya sendiri. Aisyah membandingkan keadaannya sebelum dan sesudah tinggal di rumah Gatot. Aisyah merasakan perubahan besar yang terjadi. Dulu sewaktu masih menetap di Cemorosewu, ia adalah sosok yang taat beribadah, tidak pernah melakukan hal-hal tabu yang melanggar norma agama dan norma susila. Ia dulu adalah sosok wanita yang benar-benar bersih dan suci, tanpa pernah tersentuh sedikitpun oleh tangan lelaki.

Tapi tidak dengan sekarang. Ia memang masih taat menjalankan sholat lima waktu, namun juga rajin melakukan hal-hal yang dulunya ia anggap tabu. Norma susila dan agama telah ia langgar. Tubuhnya telah tersentuh oleh tangan seorang lelaki. Kebersihan dan kesucian dirinya telah luntur digerus sensasi yang sangat menggoda hati.

“Masih pantaskah aku mengenakan kerudung ini?” pikirnya seorang diri.

Sementara Gatot sudah bersama Murti. Sejenak Gatot teringat Aisyah, tapi terganggu oleh suara Murti yang mendesah. Gatot berpaling dan mendapati seraut wajah Murti yang semakin bening. Ia kembali memfokuskan diri ke jalan raya.

“Apa yang kamu rasakan saat ini, Murti?” tanya Gatot membuka obrolan.

”Aku merasa bebas, Tot. Benar-benar sangat bebas.” kata Murti sambil merentangkan kedua tangannya, seperti berusaha memamerkan tonjolan buah dadanya yang besar kepada Gatot.

“Kamu memang bebas, tapi harus kamu ingat jangan sampai kebebasan itu membuatmu bablas.” pesan Gatot.

“Jangan mengajariku, Tot. Bukankah kebebasanku ini menguntungkanmu juga, menguntungkan kita?” sahut Murti tidak terima.

“Aku tidak berharap keuntungan apapun dari keadaanmu ini, Mur.” tegas Gatot.

“Munafik.” Murti mencibir. ”berapa kali kamu tidur denganku selama Pak Camat masih hidup? Sekarang Pak Camat sontoloyo itu sudah mati dan kamu bebas meniduriku kapan saja, berapa kalipun yang kamu inginkan. Bukankah begitu?” tuduh Murti.

“Pikiranmu tidak sama dengan pikiranku, Mur.” Gatot menggeleng. ”Aku malah ingin kebobrokan ini berhenti.” katanya kemudian.

“Oh, jadi begitu ya?” Murti berkata ketus. ”Setelah kamu puas mencabik-cabik hati dan tubuhku ini, kamu mau meninggalkanku begitu saja? Jangan sampai aku menganggapmu pengkhianat, Tot!” ancamnya.

“Aku tidak berkhianat, Mur. Ini demi mengakhiri jalan kita yang sesat.” jelas Gatot.

Murti mendengus. Ia pindah posisi dan duduk di depan Gatot, masih dalam satu jok. Ia mengambil alih kemudi dari kekuasaan Gatot sementara pantatnya ia tancapkan di pangkuan Gatot. Pantaslah kalau Aisyah khawatir bila Gatot sudah bersama Murti karena setelah menjadi janda, Murti semakin terang-terangan dan semakin berani. Contohnya ya kali ini.

“Pegangi pahaku, Tot!” pinta Murti tegas.

“Kamu nggak bakalan jatuh, Mur. Ini belajar mobil, bukan belajar motor.” jelas Gatot santai.

“Apa sih susahnya membantu aku?” sungut Murti ngambek.

“Kamu sudah mulai mahir, Mur. Cobalah berani nyetir sendiri.” kata Gatot.

Murti mendorong Gatot kesal. Gatot jadi tidak punya ruang untuk sekedar melonggarkan badan. Mau tidak mau ia harus memegangi pinggul Murti agar tidak merosot ke bawah. Pinggul yang semakin bulat bagai biola. Murti memang telah tampil beda dan bergaya anak muda. Rambutnya dipotong pendek. Bulu matanya dibikin lentik. Bajunya model tank top tanpa lengan. Bawahnya dipadu dengan rok mini. Murti yang cantik jadi makin menarik. Tidak ada sama sekali kerut kerut di wajah dan kulitnya. Semua sama seperti puluhan tahun silam. Masih sangat kencang.

“Semakin muda saja kamu, Mur.” bisik Gatot.

“Semakin membuatmu tergoda kan?” Murti tersenyum.

Wanita pembelenggu memang punya seribu cara dan seribu pesona untuk membuat pria terjatuh. Itulah Murti, wanita pembelenggu paling berani yang membuat Gatot tak kuat hati. Kalau sudah begitu, Gatot langsung membayangkan wajah Aisyah. Ia harus bertahan demi cintanya pada Aisyah.

“Sudah cukup untuk hari ini, Mur. Dan kamu sudah bisa kemana-mana tanpa sopir lagi. Kamu bisa jadi sopir buat dirimu sendiri.” kata Gatot sambil menjauhkan tubuhnya.

“Bagaimana kalau kamu kuberi gaji tiga kali lipat?” tantang Murti.

“Aku menghargai jasa dan pengorbananmu padaku, Mur. Tapi aku harus mulai memikirkan diriku sendiri, hidupku sendiri.” tampik Gatot.

“Kita bisa hidup bersama sampai mati, Tot. Aku mencintaimu.” Murti memandang Gatot penuh rasa sayang.

“Akupun pernah mencintaimu, Mur. Tapi itu sudah lama sekali. Dan sekarang aku mencintai orang lain.” kata Gatot terus terang.

“Siapa dia, Tot! Siapa yang berani merenggut hatimu dariku?” seru Murti tak terima.

“Kelak kamu akan tahu siapa dia.” Gatot berkilah, tidak ingin menyeret Aisyah dalam masalah ini.

“Aku tidak sabar untuk tahu siapa dia. Biar aku cari sendiri.” tekad Murti. Ia mengantar Gatot sampai depan rumahnya. Murti berbasa-basi sejenak dengan Aisyah lalu pergi lagi entah kemana, sama sekali tidak curiga kalau gadis di depannya inilah yang sudah merebut hati pujaan hatinya..

Gatot senang karena Murti sudah pintar menyetir. Tapi melihat wajah Aisyah yang mendung, kesedihannya langsung menggantung. Gatot merangkul bahu Aisyah dan membawanya masuk ke dalam rumah. Mendung di wajah Aisyah masih belum sirna. Senyum di bibir merah itu tak kunjung merekah. Dan mata bening itu seakan menahan airmata agar tidak tumpah. Tapi itu gagal. Airmata Aisyah jatuh di dada Gatot.

“Menangislah sepuasmu, Aisyah. Habiskan kesedihanmu,” kata Gatot sabar.

“Mas Gatot jahat,” lirih suara Aisyah tersendat-sendat di sela tangis.

“Aku memang jahat, Aisyah. Aku membuatmu cemburu kan?” tebak Gatot.

“Bu Murti, Mas. Kenapa Mas Gatot tidak bisa lepas darinya?” tanya Aisyah.

“Aku ingin seperti itu, Aisyah. Tapi kebaikan Murti belum sempat kubalas.” sahut Gatot.

“Tidak adakah cara lain yang bisa mengurangi cemburu ini, Mas?” Aisyah semakin masuk ke dalam rengkuhan Gatot, menumpahkan cemburu yang serasa menghanguskan jiwa. Dihelanya napas lalu mendongak, sesaat diam begitu keningnya dikucup oleh Gatot.

“Bu Murti semakin cantik ya, Mas?” tanya Aisyah dengan suara lebih jelas.

“Itu penilaianmu?” Gatot bertanya balik.

“Juga semakin berani berpakaian, Mas.” tambah Aisyah.

“Kamu iri?” Gatot tersenyum sambil membelai wajah cantik Aisyah.

“Aah, Mas Gatot ini. Aku serius, Mas.” Aisyah merajuk.

Murti memang semakin berani, bukan hanya dalam hal penampilan, juga sudah semakin berani pergi sendiri. Masa-masa bebas ia nikmati dengan puas. Kini Murti sudah berada di dalam ruang karaoke salah satu kafe. Ia menyanyi sampai puas dengan ditemani sebotol minuman kelas atas. Pengunjung bersorak dan sebagian ikut berkaraoke dan berjoget bersamanya. Murti bagai bintang baru yang menyihir pecinta karaoke. Sampai larut malam Murti berada di kafe.

Murti bukan lagi seorang guru dan bukan pegawai negeri. Seisi kota sudah tahu kabar itu. Murti dipecat karena sering mangkir dari tugasnya mengajar. Murti dipecat karena murid-muridnya sering memergoki gurunya tiap malam keluyuran di kafe-kafe. Murti dipecat karena dianggap merusak citra pegawai negeri sipil. Tapi Murti tidak serta merta melarat. Malah kini menjadi salah satu konglomerat. Rumahnya yang di komplek sudah dijual pada Aisyah. Murti kini tinggal di pusat kota, di perumahan residence dan menempati rumah super mewah bertingkat tiga. Hanya untuk dirinya sendiri. Apa pekerjaan Murti setelah dipecat tidak ada yang tahu dengan jelas. Yang pasti Murti sering didatangi orang dan wartawan. Sampai seisi komplek akhirnya tahu kalau Murti jadi bintang film dan penyanyi. Itu setelah warga komplek menonton sinetron yang dibintangi oleh Murti.

“Itu kan Bu Murti ya, Mas?” kata Aisyah pada Gatot saat nonton tv berdua. Seperti biasa, pakaian atasnya terbuka, menampakkan gundukan payudaranya yang besar, yang selalu jadi mainan favorit Gatot dikala senggang.

“Iya. Dia sudah merubah nasibnya, Aisyah.” kata Gatot sambil terus meremas dan mengusap-usapnya pelan. Putingnya yang mungil ia pilin-pilin ringan sambil sesekali menjilat dan mengecupnya lembut kalau sudah merasa tak tahan.

“Uhh… juga sikapnya ya, Mas. Ikut berubah,” lirih Aisyah diantara rintihannya. Hisapan Gatot pada ujung buah dadanya terasa geli sekali, namun Aisyah sama sekali tidak berniat untuk menghentikannya karena terus terang ia juga menikmatinya.

”Iya,” Gatot membenarkan perkataan Aisyah. Sikap Murti memang berubah seiring perubahan nasibnya. Setiap kali bertemu di jalan atau di pusat perbelanjaan, Murti hanya mau melambaikan tangan tanpa mau bertegur sapa, apalagi berbagi senyuman. Gatot sadar senyum Murti kini mahal dan berharga puluhan juta. Murti hanya mau tersenyum di televisi, tersenyum kepada orang-orang yang telah membayarnya berjuta-juta.

Murti seperti kacang lupa akan kulitnya, lupa pada komplek dan tanah kelahirannya, tempat nenek buyut dan orangtua serta suaminya dikubur. Murti tidak sekalipun mengunjungi komplek sejak namanya melejit. Murti lebih suka mengunjungi tempat dimana banyak orang mengagumi dan mengelu-elukan namanya. Gatot tentu makin senang karena perubahan nasib dan sikap Murti berimbas sangat besar pada diri dan kehidupannya. Ia kini bisa lebih mendekatkan diri dan memadukan hati bersama Aisyah.

“Apa kita perlu mengundang Bu Murti, Mas?” tanya Aisyah sambil mengusap mesra puncak kepala Gatot yang masih asyik menyusu.

“Tidak usah, Aisyah. Kita gelar resepsi sederhana saja. Cukup orang-orang komplek dan kerabatmu dari Cemorosewu.” jawab Gatot dengan mulut penuh bongkahan payudara Aisyah. Ia terus mencucup dan mengulumnya tanpa pernah merasa bosan.

“Saya sudah pesan dua ratus undangan, Mas. Semoga memberi restu pada pernikahan kita nanti.” wajah Aisyah memerah, tampak sangat menikmati sekali apa yang dilakukan Gatot pada tubuh sintalnya.

“Puji syukur, Aisyah. Sudah mantapkah hatimu?” tanya Gatot sambil mencucup puting susu kiri Aisyah kuat-kuat.

“Auw!” Aisyah menggelinjang geli, namun segera meminta Gatot agar melakukan juga pada yang kanan. ”Ehm… sudah, Mas. Saya ikhlas lahir batin menjadi istri Mas Gatot.” bisiknya dengan paras berbinar.

“Terima kasih, Aisyah. Aku akan berjuang menjadi suami yang baik buatmu.” Setelah mengangguk, Gatot melanjutkan kembali jilatan dan hisapannya di buah dada Aisyah.

“Saya percaya mas pasti bisa.” Yakin Aisyah. “Sudah ashar, Mas. Bukankah setelah ini Mas ada undangan ke musholla?” ingatnya sambil menarik kepala Gatot menjauh.

“Hampir aku lupa.” Gatot tersenyum, ”Terima kasih sudah mengingatkan.” katanya sambil kembali mencium puting Aisyah untuk yang terakhir kali.

Itulah Gatot yang sekarang. Ia telah menjelma kembali seperti saat masih kanak-kanak dulu. Ia kembali bahkan semakin rajin ke musholla untuk ikut pengajian dan sholat berjamaah. Suara merdu Gatot kembali terdengar lima kali dalam sehari mengumandangkan adzan. Dan di hari minggu seperti ini, Gatot punya aktivitas membantu Pak Ustadz mengajar anak-anak komplek mengaji dan qiroah.

Penduduk komplek sangat senang dan menaruh hormat padanya. Orang-orang mulai suka membandingkan Gatot dan Murti. Kata orang-orang komplek, lebih baik sesat terlebih dahulu lalu sungguh-sungguh tobat daripada sebaliknya. Kata orang-orang, Murti adalah contoh yang tidak baik. Kalau ingin jadi anak baik, tirulah Gatot, kata orang-orang tua pada anaknya. Tapi Gatot selalu meluruskan. Yang paling patut ditiru adalah hal-hal yang membawa kebaikan, jangan meniru jalan sesat yang pernah ia jalani. Itu selalu dikatakan Gatot.

Kebaikan itulah yang kini menulari komplek. Orang-orang tua pula yang menganjurkan Gatot agar segera menikahi Aisyah agar terhindar dari fitnah. Gatot tidak marah dan langsung memenuhi anjuran itu. Secara agama ia telah sah menjadi suami Aisyah disaksikan penghulu desa. Tinggal mengesahkan lewat jalur resmi. Dan resepsi pernikahan itu sudah dirancang, tinggal tunggu sebar undangan.

Lain ladang lain pula belalang. Lain Gatot tentu lain pula Murti. Sekarang Murti ada di salah satu pantai terkenal untuk menjalani sesi pemotretan. Ia dijadikan model sebuah majalah dewasa. Murti sudah siap dengan kostumnya berupa bikini merah hati. Gambarnya diambil beberapa kali dalam berbagai pose dan gaya yang berani nan menantang. Berlatar belakang pantai biru dan pantulan jingga mentari yang hampir tenggelam, lekukan tubuhnya sungguh indah dan mempesona, membuat fotografer tidak sedetikpun memicingkan mata.

“Lebih lebar, cut!” teriak sang pengarah gaya.

“Kakiku sakit,” rintih Murti.

“Sekali lagi. Setelah ini selesai.” kata laki-laki berkaca mata itu.

Murti kembali berpose, kali ini berbaring telentang di hamparan pasir putih. Tangan dan kakinya terentang lebar-lebar, membuat dadanya menghujam tajam dan menjulang ke langit. Kakinya membentang sangat lebar dan sudut-sudut selangkangannya sangat jelas membayang. Sang pengarah gaya tertawa puas, fotografer juga puas.

“Mbak Murti adalah model paling berani yang kami kontrak,” kata pengarah gaya.

“Saya hanya berusaha profesional, Mas. Sesuai perjanjian dalam kontrak.” kata Murti sambil membersihkan punggungnya dari pasir.

“Kami yakin edisi terbaru kami nanti laku keras. Silahkan kalau Mbak Murti mau mandi.”

“Terima kasih. Saya mau langsung pulang saja.” sahut Murti.

Selesai pemotretan, Murti langsung meninggalkan pantai. Entah kenapa ada sebuah kerinduan menyelinap. Ia rindu pada orang-orang yang telah terlupakan, terutama sekali ia rindu pada Gatot. Ia ingin sekali berkunjung ke komplek, tapi takut dan ragu. Ia takut akan dihujat oleh warga komplek yang telah membencinya. Ia ragu apakah Gatot masih mau menerimanya seperti dulu atau sudah berubah. Bagaimana pula dengan Aisyah, masihkah Aisyah menganggapnya seorang ibu dan kakak. Murti terbayang-bayang semua itu dan matanya berlinang. Ia memutar mobil dan mengurungkan niat berkunjung ke komplek.

Ditolehnya jam yang melingkar di lengan lalu menggumam pelan, “Aku harus syuting film.”

Syuting dan syuting terus, itulah kesibukan sehari-hari Murti. Tak peduli siang malam ia harus menjalani semuanya demi mendapatkan uang. Dengan cepat uang bisa ia dapat, namun secepat itu pula uang itu lenyap. Murti selalu merasa serba kurang. Kurang cantik, kurang seksi, dan kurang yang lain yang membuatnya rajin ke salon, rajin ke pusat-pusat senam demi menjaga tubuh.

“Mbak Murti,” sebuah suara memanggil.

Murti terhenyak. Ia membuka kaca mobil dan mendapati wajah yang sangat dikenalnya. Sayang sekali ia berada di lampu merah. “Hai, Dewi.” balasnya sambil melambaikan tangan.

“Mbak, ini undangan buat mbak. Datang ya,” kata Dewi.

“Kamu mau nikah?” tanya Murti.

“Iya. Maaf, saya buru buru. Ayo, Mbak.” Dewi pamit permisi.

Murti menyimpan undangan dari Dewi dan kembali menjalankan mobil karena lampu telah berubah hijau. Masih ada kawan lama yang tidak membencinya. Dewi masih sudi mengundangnya ke pesta pernikahan. Apakah Dewi juga mengundang Gatot? pertanyaan itu berseliweran di kepala Murti.

Tentu saja Dewi juga mengundang Gatot karena kini mereka bertetangga. Dewi telah membeli rumah di komplek, rumah milik almarhum Mbah Surti. Dewi bahkan kini telah sampai di depan rumah Gatot. Dewi memarkir mobilnya dan berjalan ke pintu rumah Gatot.

“Assalamualaikum,” teriaknya memberi salam dan mengetuk pintu.

“Waalaikum salam,” terdengar suara renyah menjawab salam. Tak lama kemudian pintu terbuka bersama seraut wajah cantik. “Mbak Dewi, silahkan masuk, Mbak.” kata Aisyah ramah

“Mana Gatot, Aisyah?” tanya Dewi.

“Tadi diajak Pak RT. Mbak Dewi ada perlu apa?” tanya Aisyah.

“Nih undangan buat kalian. Jangan sampai nggak datang ya?” Dewi mengancam sambil tersenyum.

“Mbak Dewi nikah? Kenapa nggak bilang-bilang, Mbak?” Aisyah terlihat ikut senang.

“Sengaja kubuat surprise buat kamu dan Gatot.” jawab Dewi.

“Selamat ya, Mbak. Kami pasti hadir.” janji Aisyah.

“Oh ya, Aisyah. Baru saja aku bertemu, Murti. Jadi sekalian kuundang dia.” terang Dewi.

“Bagaimana kabar Bu Murti, Mbak?” tanya Aisyah penasaran.

“Sepertinya baik baik saja. Murti semakin sering ada di tv ya,” kata Dewi.

“Iya, Mbak.” Aisyah mengangguk. ”Karirnya semakin maju. Saya ikut bersyukur.”

“Tapi Murti juga berubah, Aisyah. Aku sekarang jadi asing dengannya.” Dewi menggumam.

“Itulah, Mbak. Bukan cuma Mbak Dewi saja yang merasakan perubahan itu, saya dan Mas Gatot juga.” dukung Aisyah.

“Sangat disayangkan ya, Aisyah. Padahal kalian, terutama Gatot, adalah orang-orang terdekat Murti.” sahut Dewi. ”Sudah ah. Aku pulang dulu. Sampaikan salam ke Gatot. Assalamualaikum,” wanita itu kemudian pamit.

“Waalaikumsalam,” jawab Aisyah sambil mengantar ke depan pintu.

Sepeninggal Dewi, tak sampai sepuluh menit kemudian, Gatot pulang. Bahkan Aisyah masih belum menyimpan undangan yang tergeletak di atas meja. Aisyah segera membawa undangan itu dan menyusul Gatot ke dalam ruang tengah. Ia menggelar karpet dan memberi Gatot bantal.

“Ada undangan dari Mbak Dewi, Mas.” bisiknya mesra.

“Undangan apa, Aisyah. Biar jelas, bicara dekat sini.” kata Gatot.

Aisyah menggeser duduknya dan merapat ke telinga Gatot, membisikkan sesuatu yang membuat Gatot terkejut. Gatot segera menyambar undangan dari tangan Aisyah, tapi Aisyah mempermainkan undangan itu hingga Gatot jadi gemas. Sekali tubruk, Aisyah terguling-guling di karpet dan Gatot memungut undangan yang terlepas dari tangan Aisyah.

“Akhirnya menikah juga si Dewi.” kata Gatot gembira.

“Mas kenal calon suaminya?” tanya Aisyah.

“Tidak terlalu kenal, tapi aku tahu Aldo adalah pegawai kecamatan juga.” jawab Gatot.

“Berarti cinta lokasi dong. Enak ya, Mas, mereka sama-sama pegawai negeri.” kata Aisyah.

“Hei, kamu menyesal ya kawin sama duda tanpa pekerjaan sepertiku?” todong Gatot.

“Ihh, siapa juga yang menyesal. Rasakan ini,” Aisyah menghujani Gatot dengan cubitan bertubi-tubi. Pada cubitan terakhir, Gatot menahan jemari Aisyah tetap di bawah perutnya. Bahkan ia menggesernya sedikit hingga Aisyah bisa menyentuh batang penisnya yang sudah mulai menegang.

”Mas?” Aisyah menatap sayu, perlahan cubitannya melemah dan tidak terasa sama sekali karena ia sudah berada di bawah himpitan tubuh kekar Gatot. Malah yang ada, Aisyah mulai mengusap-usap penis Gatot perlahan hingga membuatnya jadi semakin besar dan menegang sempurna.

Merasa mendapat balasan, Gatot mencium pelan bibir tipis Aisyah. Mata Aisyah terpejam, menikmati ciuman itu. Gatot melanjutkan dengan memainkan lidahnya di mulut Aisyah, yang dibalas oleh gadis itu dengan hangat. Perlahan tapi pasti, tangan Gatot merayap ke dada Aisyah, lalu menekan-nekan bukit indah itu perlahan.

”Auh! Mas!” Aisyah melenguh, sama sekali tidak ada penolakan. Malah semakin Gatot meremas, semakin kuat Aisyah memagut.

”Aisyah, Mas pengen!” bisik Gatot manja.

”Lakukan, Mas. Aisyah sudah sepenuhnya milik Mas.” jawab Aisyah sambil mengangguk pelan dan tersenyum.

Ya, yang mereka lakukan memang bukan lagi zinah, malah sebuah amanah. Kini Gatot sudah bisa memiliki Aisyah seutuhnya, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Gatot berhak atas diri Aisyah dan Aisyah wajib menyerahkan dirinya dengan ikhlas. Lampu telah dipadamkan dan karpet telah dihamparkan. Dalam keremangan malam, Gatot melanjutkan sentuhannya. Sambil berciuman, tangannya mulai merambah ke dalam baju Aisyah.

”Shh…” Aisyah mendesah halus saat tangan Gatot juga mengusap kulit pahanya, dan terus merayap hingga jauh ke pangkal paha. Disana Gatot menggelitik nakal yang dibalas oleh Aisyah dengan meremas tonjolan di celana Gatot perlahan.

”Adik kamu sudah bangun, Mas.” bisiknya mesra dengan tangan terus mengusap-usap.

”Dekat denganmu selalu membuatnya bersiaga, Aisyah.” jawab Gatot dengan birahi memuncak. Ia sudah tidak peduli lagi dimana mereka berada. Segera diangkatnya kaos Aisyah sehingga ia bisa meremas bukit kembar itu sesuka hati. Mereka juga terus berciuman. Penuh nafsu.

”Hmm… shh… uuh…”Aisyah mendesah saat Gatot menciumi lehernya yang putih jenjang. Laki-laki itu juga membuka tali branya lalu menjilati bukit Aisyah yang kenyal dengan begitu rakus. Gatot menjelajahinya dengan sapuan lidah dan ciuman mesra, ia juga menekan-nekan bukit itu serta menghisapi putingnya yang tegak memerah secara bergantian.

Ciuman dan jilatan itu membuat Aisyah merintih lirih, ”Mmh… Mas! Shh… ahh…” Ia mengambil jari Gatot lalu mengulumnya.

Gatot terus menjilati puting Aisyah secara perlahan sambil sesekali menggigit-gigit kecil. Suara desahan Aisyah membuat penis Gatot jadi bertambah keras. ”Mhh… shh… ahh… terus, Mas!!” Aisyah mengerang penuh nafsu.

Gatot sekarang meremas dan mengangkat kedua bukitnya, menghisap sekaligus menggigiti putingnya secara bergantian. Aisyah membalas dengan membuka retsleting Gatot. Untungnya Gatot memakai celana yang berkancing hingga dengan mudah Aisyah melakukannya. Wanita itu segera meremas penis Gatot begitu benda coklat panjang itu meloncat keluar. Dengan gerakan maju-mundur, Aisyah mulai mengurut-urut penis Gatot yang sudah mulai mengeluarkan pelumas.

Mereka berpindah posisi. Dengan setengah duduk, Gatot membuka rok panjang Aisyah. Wanita cantik yang sudah resmi jadi istrinya itu menatap sayu. Gatot hanya tersenyum dan meneruskan aksinya. Aisyah membantu dengan meluruskan kedua kakinya, memudahkan Gatot untuk membuka seluruh bajunya. Kini Aisyah cuma mengenakan celana dalam saja. Tubuh sintalnya terekspos jelas di depan Gatot, begitu putih dan mulus sekali. Gatot tak berkedip saat melihatnya. Berapa kalipun ia menatap tubuh Aisyah, ia selalu menyukainya.

Dari sela-sela celana dalam, Gatot menikmati ketebalan bulu-bulu kelamin Aisyah. Juga belahan vaginanya yang sudah melembab sempurna. Pelan Gatot menggerakkan jarinya, memainkan klitoris Aisyah yang terasa mengganjal di depan lubang selangkangannya. Perbuatannya itu membuat Aisyah jadi mendesah penuh nafsu. ”Mas! Sshh… hmm…”

Gatot menunduk untuk mulai menciumi paha Aisyah yang putih mulus sambil terus memainkan jari di arah labium minoranya. Dengan gemas ia gigiti paha perempuan cantik itu, lalu menempelkan lidahnya di pangkal paha Aisyah yang sudah membuka lebar. Aisyah meremas kedua bukitnya sendiri penuh nafsu, dengan lidah menjilati bibirnya berulang-ulang.

”Ouh… Mas!” rintih Aisyah saat Gatot membuka celana dalam putihnya. Tercium bau khas vagina yang lembab. Gatot segera menciumi vagina yang mulai basah berlendir itu.

”Auw! Auw! Ahh…” erangan dan desahan Aisyah semakin kuat terdengar saat lidah Gatot mulai menusuk-nusuk ke dalam liang sempit itu. Sesekali Gatot juga menjilati klitoris Aisyah dan menghisapnya pelan.

”S-sudah, mas! Geli! Auwh…” rintih Aisyah begitu Gatot memasukkan satu jari untuk memijat gelembung kecil di dinding dalam klitorisnya. Ia menjambak rambut sang suami. Kaki Aisyah mengejang, mengikuti gesekan jari Gatot di titik sensitifnya.

”Ahh… Mas! Shh… terus… ahh… ahh…” lagi-lagi Aisyah mengerang saat Gatot menggerakan lidahnya naik-turun di permukaan klitorisnya. Vagina gadis itu sudah basah kuyup oleh lendir bercampur air ludah Gatot.

Gatot terus menghisap sambil jarinya menjalar-jalar di bagian dalam liang vagina Aisyah, menggerakkannya keluar-masuk, sebelum akhirnya kembali memijit-mijit biji klitoris gadis itu. Sentuhan Gatot membuat desahan dan erangan Aisyah menjadi semakin cepat, menandakan gejolak birahi yang semakin memuncak. Tidak beberapa lama, Aisyah tampak mengejang pelan.

”Mas! Ahh… a-aku… mhh… shh…” Tubuh Aisyah mengejang-ngejang sesaat dengan diiringi oleh erangan nafasnya yang berat. Di puncak klimaksnya, Gatot menatap wajah Aisyah yang terpejam rapat. Begitu indahnya pemandangan ini.

Puas menikmati orgasmenya, Aisyah membuka mata dan mencium mesra pipi Gatot. ”Terima kasih ya, mas. Sekarang giliran kamu,” bisiknya dengan tangan kembali mengurut-ngurut penis Gatot yang semakin menegang penuh.

”Jilat donk!” pinta Gatot sambil tertawa.

”Yee… maunya!” balas Aisyah, namun tetap membuka mulutnya dan mulai menelan batang coklat panjang itu. Seperti memakan es krim, ia memainkan lidahnya di batang penis Gatot sambil mengurut-ngurut kantongnya yang berisi dua bola mungil.

”Ini isinya apaan sih?” tanya Aisyah sambil bibirnya terus menghisap.

”Ugh… itu yang bikin kita bisa punya anak, Aisyah.” selain erangan nikmat, hanya itu yang keluar dari mulut Gatot.

Aisyah mengangguk mengerti dan terus mengulum batang penis Gatot sampai memerah dan basah seluruhnya. Setelah dirasa cukup, dan sebelum Gatot meledak duluan seperti kemarin, cepat-cepat Aisyah menarik mulutnya.

”Sudah, Mas. Lakukan sekarang!” pintanya dengan mata menatap mesra.

Gatot tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Ia belai rambut Aisyah yang panjang sepundak. Tanpa menunda lebih lama, dengan posisi setengah tidur, Gatot menuntun Aisyah agar duduk di atas batang penisnya sambil berpegangan pada bahunya. Menggunakan tangan kanan, Aisyah menumpu keseimbangan, sementara tangan kiri ia gunakan untuk menuntun penis Gatot ke arah lubang kenikmatannya.

”Ahhh…” mereka mendesah bersama-sama saat alat kelamin keduanya mulai bertemu dan bertaut mesra satu sama lain. Meskipun bukan perawan lagi, vagina Aisyah tetap terasa sempit. Gatot jadi terasa terus memperawani gadis itu. Mungkin karena ukuran penisnya yang cukup besar, atau memang lubang di tubuh Aisyah yang terlalu mungil. Yang jelas, mereka jadi sama-sama nikmat karenanya.

Dengan gerakan perlahan, mereka mulai bercinta dalam posisi duduk. Aisyah memeluk tubuh Gatot agar tetap seimbang, sementara Gatot balas memegangi bulatan payudara Aisyah agar tidak lari kemana-mana. Mereka juga kembali berpagutan mesra.

”Ughh… Aisyah… sempit sekali… shh… ahh… enak!” rintih Gatot penuh kenikmatan.

”Iya Mas… shh… aku juga enak!” balas Aisyah tak mau kalah. Karena berada di atas, ia jadi menguasai permainan. Sesekali Aisyah memutar-mutar pantatnya hingga membuat penis Gatot serasa dipijit-pijit ringan. Ia juga menggosok-gosok kantung ajaib milik Gatot hingga membuat laki-laki itu makin menggelinjang kegelian.

”Ughh… Aisyah!” Gatot melepaskan ciumannya agar bisa mengerang. Dilihatnya batang kemaluannya yang bergerak keluar masuk di vagina sempit Aisyah. Bibir vagina itu terlihat seperti mengulum-ngulum batang penisnya. Suara berdecak terdengar sesekali akibat vagina Aisyah yang sudah begitu basah berlendir.

”Ehm… enak, Mas?” tanya Aisyah sambil terus mengoyangkan pinggulnya.

Gatot mengangguk dan berbisik, ”Ganti posisi, Aisyah!”

Tanpa perlu disuruh dua kali, Aisyah segera melepaskan tautan alat kelamin mereka dan mengambil posisi merangkak. Gatot menciumi pinggulnya sejenak sebelum kembali memain-mainkan ujung penis di mulut vagina sang istri, membuat Aisyah jadi mendesah lirih karenanya.

”Ughh… shh… Mas… cepetan!” Tangan kiri Aisyah menekan pantat Gatot agar segera memasukkan batang penisnya.

Gatot langsung kembali membenamkan kemaluannya di lubang kenikmatan sang istri. Sleep! Jelebb!

”Ughh…” Aisyah mengerang nikmat bercampur perih. Apalagi saat Gatot mulai bergerak maju mundur penuh nafsu, erangan dan desahannya menjadi semakin keras. Aisyah berusaha membantu proses itu dengan memaju mundurkan pantatnya berlawanan dengan irama tusukan Gatot. Terus seperti itu sampai belasan menit kemudian, tampak Aisyah mulai mempercepat gerakannya.

”Mas! Shhaa… arghhh… a-aku…” tubuh Aisyah mengejang mencapai klimaksnya. Cairan hangat mengalir deras membasahi batang penis Gatot, yang dibalas oleh Gatot dengan semakin mempercepat gerakan pinggulnya agar ia bisa segera muncrat menyusul sang istri.

”Aisyah! Oughh… nikmatnya!” rintih Gatot sambil menekan kuat-kuat batang penisnya ke liang rahim Aisyah berbarengan dengan cairan spermanya yang menyembur deras. Cairan kental itu berhamburan memenuhi lorong kelamin Aisyah hingga membuatnya jadi begitu basah dan licin.

Saat Gatot mencabut alat kelaminnya, tampak ada beberapa cairan itu yang mengalir keluar. Gatot meraupnya dengan tangan dan mengoleskannya ke bulatan pantat Aisyah yang masih menungging. Setelah basah dan mengkilat, ia kemudian menarik tubuh bugil Aisyah dan menaruhnya ke dalam pelukan.

”Aku mencintaimu, Aisyah!” bisik Gatot sungguh-sungguh dengan tangan melingkar di permukaan payudara gadis itu.

”Aku juga, Mas.” balas Aisyah lembut sambil menempelkan hidungnya ke bibir Gatot. Mereka tersenyum puas. Sesaat keduanya saling berciuman sebelum sama-sama tertidur pulas tak lama kemudian, bermimpi merajut berjuta-juta impian tentang masa depan.

MURTI 6

Setelah ngebut menembus hujan lebat selama dua jam, Gatot sampai di jalanan tanah menuju desa Cemorosewu. Ia berhenti dan turun dari motor, menuntun motor itu menuju semak-semak, menutupinya dengan tanah lempung dan daun-daun, lalu meninggalkannya disana. Langit yang menghitam berwarna sama dengan bayangan tubuhnya yang serba hitam, berkelebat cepat di sepanjang tepian desa Cemorosewu, dalam sepi sunyi yang teramat senyap.

Dalam sekejap ia sudah berdiri di depan sebuah rumah. Mata elangnya menatap nyalang mengamati rumah itu dari atas pohon mangga. Ia lalu melompat ringan dan hinggap di genteng rumah. Seluruh panca indranya bekerja dan senyumnya mengembang dari balik topeng hitam. Dengan penuh tenaga, ia jejakkan kaki menjebol genteng dan dalam hitungan detik ia sudah berada di dalam sebuah kamar.

Gerakannya teramat sangat cepat menghunus golok dan mengayunkan ke arah sesosok tubuh yang masih berbaring. Tidak ada teriakan dan sosok itupun mati seketika. Setelah itu ia menyelinap dalam gelap dan berkelebat cepat hingga sampai di tempat ia menyembunyikan motor. Kemudian ia pergi bagai hantu.

***

Di pagi yang masih diselimuti mendung, desa Cemorosewu geger. Kentongan berbunyi bertalu-talu memanggil penduduk untuk berduyun-duyun mendatangi rumah kepala desa. Pengumuman disebarluaskan melalui mulut ke mulut, dari surau ke surau, dari satu dusun ke dusun yang lain. Bendera hitam berkibar di sepanjang jalan menuju desa.

“TELAH TUTUP USIA BAPAK ASNAWI, PEMIMPIN DAN SESEPUH DESA CEMOROSEWU.”

Begitulah inti dari kegegeran itu. Dalam sekejap rumah kepala desa dipenuhi ratusan orang. Di jalan-jalan masyarakat ramai membicarakan penyebab tewasnya bapak kepala desa. Ada yang bilang kepala desa mati dibacok. Yang lain berkata kepala desa dibunuh selingkuhan istrinya. Banyak juga yang yakin kepala desa mereka korban balas dendam. Semuanya masih simpang siur.

Murti terbangun dari tidurnya oleh dering handphone. Semalaman ia tidur sendiri karena Pak Camat, suaminya, belum pulang. Ia sangat malas untuk bangun. Tapi dering handphone tak kunjung berhenti, memaksanya menyingkirkan selimut dan sempoyongan mendekati meja rias, meraih HP untuk mencari tahu siapa yang berani mengusik tidurnya di pagi buta begini.

“Assalamu’alaikum,” jawab Murti.

“Wa’alaikum salam… selamat pagi, Bu. Saya cuma mau menyampaikan kabar kalau pagi ini Madrasah diliburkan. Ayahnya Bu Aisyah meninggal.” kata suara di seberang.

“Pak Asnawi meninggal? Kapan terjadinya, Bu Minah?” tanya Murti pada rekannya sesama guru yang menelepon.

“Tadi malam. Kalau Bu Murti mau ikut melayat, bisa ikut rombongan guru-guru.” kata Bu Minah.

“Baiklah, Bu Minah. Biar saya berangkat sendiri saja. Terima kasih informasinya, Bu.” kata Murti.

Murti tidak bisa tidur lagi. Kabar yang disampaikan oleh Bu Minah membuatnya terkejut. Tidak ada angin, tiba-tiba ada kabar buruk bahwa Pak Asnawi, salah satu pendiri Madrasah, ayah kandung dari Aisyah, kepala desa Cemorosewu, meninggal dunia. Ia pun segera keluar kamar dan menuju halaman belakang. Terlihat olehnya Gatot sedang mengambil air.

“Tot, cepat mandi. Antar aku ke rumah Aisyah.” kata Murti.

“Di mana itu, Mur?” tanya Gatot.

“Cemorosewu. Kutunggu di rumah ya,” tanpa menunggu jawaban, Murti berbalik masuk ke dalam rumah.

Wajah Gatot langsung berubah begitu mendengar kata Cemorosewu. Entah kenapa hatinya berdebar-debar tak nyaman. Tapi perintah Murti harus dilaksanakan karena Murti adalah istri majikannya, yakni Pak Camat. Menolak perintah Murti sama saja dengan menolak perintah Pak Camat. Maka Gatot pun tidak meneruskan pekerjaannya mengambil air. Ia langsung masuk dan tidak sampai sepuluh menit sudah berada di ruang tamu rumah Pak Camat. Gatot heran karena suasana rumah Pak Camat masih sangat sepi, padahal ini masih teramat pagi. Lagipula tidak mungkin Pak Camat pergi ke kantor tanpa bersamanya.

“Pak Camat sudah berangkat ya, Mur?” tanya Gatot sambil memandangi Murti yang baru keluar dari kamar mandi.

“Suamiku malah belum pulang sejak kemarin. Entah dimana dia,” kata Murti.

Gatot pun manggut-manggut sambil matanya nyalang memandangi tubuh Murti yang masih belum berpakaian lengkap, belum memasang kerudung, bahkan belum juga mengenakan pelindung. Tubuh yang masih setengah basah itu tampak begitu indah, memancing penuh hasrat gairahnya. Tapi Gatot lekas berpaling dari hadapan Murti, sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukannya. Ia kembali memikirkan Pak Camat yang menurut Murti belum pulang sejak kemarin.

’Berarti Pak Camat masih ada di sana,’ pikir Gatot dalam hati. Ia sangat tahu persis dimana Pak Camat berada saat ini, tapi ia tidak mau memberitahukannya pada Murti. Semua ini ia lakukan demi sebuah janji.

Gatot cuma menyayangkan kenapa Murti harus menikahi pria semacam Pak Camat, yang kurang lebih sama bejatnya dengan dirinya sendiri. Pak Camat lebih suka bersenang-senang dengan daun muda, meninggalkan istrinya yang cantik merana seorang diri. Istri yang kemarin ia gauli dengan sepenuh hati.

“Ayo berangkat, Tot!” seru Murti mengagetkan lamunan Gatot.

“B-baik.” Gatot berpaling cepat. ”Betulkan kerah bajumu dulu, Mur.” tambahnya saat melihat kerah baju Murti yang sedikit terbuka, menampakkan belahan buah dadanya yang ranum dan indah.

Murti mesem, tapi tetap membiarkan kerah bajunya melonggar. Ia juga tidak memakai kerudung yang sengaja ia simpan di dalam tas kecil. Murti merasa aman di dalam mobil yang baru sebulan dibeli Pak Camat. Kacanya gelap, inilah mobil pribadi yang dibeli Pak Camat khusus untuknya. Selama ini mobil baru itu nongkrong di garasi karena Pak Camat lebih suka mobil dinas, sementara ia sendiri belum bisa nyetir.

“Sebaiknya kamu turuti suamimu, Mur. Sayang kan kalau mobil sebagus ini cuma diam saja di garasi.” kata Gatot saat mereka mulai meninggalkan rumah Pak Camat.

“Kamu serius mau ngajari aku nyetir?” tanya Murti.

“Tentu. Apalagi Pak Camat sudah memberi ijin.” sahut Gatot.

“Aku tidak mau,” sergah Murti.

“Kenapa? ’Kan malah enak. Kemana-mana kamu bisa pergi sendiri.” kata Gatot.

“Aku tidak suka pergi sendiri.” sahut Murti.

Gatot menghela nafas. Ia pun berusaha untuk mengganti topik pembicaraan, “Ada keperluan apa kamu minta diantar ke Cemorosewu?” tanyanya.

“Nanti kamu juga tahu sendiri,” jawab Murti, masih sedikit ketus.

Gatot diam tidak bertanya-tanya lagi. Murti memang seperti tidak ingin diganggu saat ini. Mungkin karena ketidakpulangan Pak Camat malam tadi. Jadilah dua insan itu terdiam dalam sepi. Larut dalam irama hati masing-masing. Murti lalu rebah, menyandarkan kepalanya ke dada Gatot, sementara tangannya menyusup ke balik kemeja Gatot dan mengusap bulu-bulu dada pria kekar itu.

“Aku sangat menyesali diriku, Tot.” bisik Murti lirih.

Gatot menghela napas dan mengurangi kecepatan mobil untuk mengimbangi konsentrasinya yang mulai terpecah. “Apa yang membuatmu menyesal?” tanyanya sambil membelai rambut panjang Murti dengan tangan kiri.

“Aku menyesal kenapa harus menikah dengan Mas Joko.” kata Murti lirih.

“Itulah jodohmu, Mur. Pak Camat sangat mencintaimu dan aku yakin kamu juga cinta dia.” balas Gatot.

“Salah. Aku tidak mencintai Mas Joko, Tot. Aku menikah dengannya demi menyenangkan hati ayahku. Abah yang memilih jodoh untukku, Tot.” terang Murti.

“Semua orangtua ingin yang terbaik buat anaknya, Mur. Pun demikian dengan ayahmu. Nyatanya Pak Camat memang baik.” kata Gatot.

“Tapi aku tidak mencintainya,” Murti bersikeras.

“Cinta sudah tidak penting buat orang seusia kita, Mur. Apalagi kamu sudah bertahun-tahun berumah tangga.” Gatot mencoba bersikap bijak.

“Tapi cintaku hanya buat satu orang saja, Tot.” tukas Murti.

“Siapa itu?” tanya Gatot, meski dalam hati ia takut dengan jawabannya.

“Belum saatnya kamu tahu. Yang jelas, orang itu membuatku ingin mengakhiri saja kehidupan rumah tanggaku.” jelas Murti.

“Janganlah terbawa perasaan, Mur. Belum tentu setelah cerai nanti kehidupanmu jadi lebih baik.” kata Gatot.

“Jadi kamu mendoakan aku sengsara seumur hidup?” sengit Murti.

“Aku hanya mengatakan hal-hal yang pernah kualami, Mur. Aku adalah potret dari manusia yang gagal dalam perkawinan.” kata Gatot.

”Aku tidak peduli,” Murti mencubit perut Gatot dan tersenyum ketika merasakan sesuatu yang kaku tersentuh oleh ujung jemarinya. Wajahnya bersemu merah, semerah bibir yang basah dan merekah bagai mawar itu, menanti hisapan sang kumbang. ”Ahh,” Murti mendesah, melenguh ketika merasakan tangan Gatot yang semakin turun dan terus turun, lalu hinggap di atas gundukan payudaranya.

Tapi sayang sekali, disaat sang kumbang akan menghisap sisa madu yang tentu masih terasa manis itu, gerbang desa Cemorosewu sudah siap menyambut. Terpaksa acara intim mereka harus diakhiri sampai disitu. Murti segera memperbaiki posisi duduknya, ia juga lekas memasang kerudung hitam dan membenahi kancing baju muslimnya yang tadi sempat sedikit terbuka, dan menyapu wajahnya dengan make up tipis. Dengan cepat ia telah menjelma kembali menjadi ibu guru Madrasah yang cantik dan alim.

“Kamu tahu arti umbul-umbul hitam itu, Tot?” tanya Murti pada Gatot.

“Hitam identik dengan duka dan kematian. Benar kan?” tebak Gatot.

“Benar. Hari ini desa Cemorosewu berkabung. Pak Asnawi, kepala desa ini meninggal semalam.” kata Murti.

“Kamu mau melayat?” tanya Gatot.

“Iya. Untuk menghormati Aisyah, Tot. Dia pasti sangat terpukul oleh kematian ayahnya.” sahut Murti.

Gatot merasakan ulu hatinya bagai ditusuk ribuan jarum. Jantungnya serasa berhenti berdetak mendengar perkataan Murti. Mulutnya terkunci dan wajahnya berubah pias. Ia ingin bicara tapi tak bisa. Ocehan Murti sudah tidak didengarnya sama sekali. Ia lebih sibuk mendengarkan kata hatinya sendiri.

“Kita sudah sampai, Tot. Ayo ikut ke dalam.” ajak Murti.

Gatot melangkah ragu memasuki rumah duka. Semakin masuk ke dalam rumah, hati dan perasaannya semakin gundah dan gelisah. Terlebih setelah ia dan Murti sampai di kamar tempat sesosok tubuh terbujur kaku, dibungkus kain jarik dan dikelilingi beberapa orang. Tubuh pak kepala desa. Gatot tak menyangka sama sekali. Terlebih ketika seorang wanita menoleh, wanita yang seketika menyiksa batinnya. Wanita itu adalah Aisyah, wanita jelita yang kini bersimbah airmata.

“Assalamu’alaikum, Aisyah.” kata Murti.

“Wa’alaikum salam, Bu Murti, silahkan duduk. Silahkan, Mas.” kata Aisyah pada Gatot.

“Terima kasih. Biar saya di luar saja.” jawab Gatot. Ia menyampaikan beberapa patah kata sebagai tanda bela sungkawa lalu melangkah keluar, menuju kerumunan polisi yang masih berjaga-jaga di sekitar rumah kepala desa. Begitu ia muncul, para polisi langsung mengajaknya ngobrol. Maklum sebagian besar polisi telah mengenalnya. Ia juga sudah dikenal karena seringnya mendatangi kantor polisi.

“Selamat pagi, Pak.” sapa Gatot.

“Selamat pagi, Tot. Kamu melayat?” tanya salah seorang polisi.

“Iya, Pak. Saya ngantar Bu Murti, istrinya Pak Camat.” Gatot terdiam sejenak sambil memperhatikan sekitar rumah. “Kok banyak anggota bapak disini?” tanyanya kemudian.

“Kami sedang melakukan olah TKP. Ini kan pembunuhan.” kata polisi itu.

“Pembunuhan?” Gatot pura-pura tidak tahu.

“Benar. Semalam kepala desa dibacok orang. Kepalanya hampir putus.” jawab sang polisi.

“Sudah dapat pelakunya, Pak?” tanya Gatot.

“Sampai saat ini belum. Kami masih menanyai beberapa saksi dan berusaha mencari barang bukti.”

“Kan biasanya ada petunjuk, Pak?” kata Gatot.

“Pembunuh yang ini mahir, Tot.” jawab si anggota polisi. ”Dia tidak meninggalkan jejak sama sekali. Hujan deras semalam juga menyulitkan kami.” terangnya.

“Semoga cepat terungkap, Pak.” sahut Gatot.

Polisi itu mengangguk. “Oh ya, Tot. Ada kabar kalau ayahmu mendapat pengampunan. Dia cuma dihukum seumur hidup.” kata polisi itu.

“Apapun yang terjadi pada ayah saya, biar saja. Bapak sudah tahu keputusan saya.” jawab Gatot.

“Bapak mengerti.” Polisi itu mengangguk. “Tuh, Bu Murti manggil kamu,” dia menunjuk ke arah rumah Aisyah.

Gatot menoleh dan tersenyum, “Baik, Pak. Saya permisi dulu.”

Ia meninggalkan sang komandan polisi dan menghampiri Murti. Kini Gatot telah berada kembali di hadapan Aisyah, yang tengah menatapnya dengan sorot mata sayu. Ia tidak berani berlama-lama menantang sorot mata itu. “Jam berapa pemakamannya?” tanyanya pada Aisyah.

“Sepuluh menit lagi, Mas. Saya harap Mas Gatot ikut mendoakan ayah saya.” sahut Aisyah.

“Saya akan berdoa, Aisyah. Semoga kamu tabah.” jawab Gatot.

“Saya menerima ini dengan ikhlas, Mas. Semoga pembunuh ayah saya mendapat rahmat dari Allah untuk kembali ke jalan yang benar. Semoga dia juga ikhlas menyerahkan diri.” kata Aisyah lirih, air mata kembali bergulir di matanya yang lentik.

“Allah mendengar doa orang-orang yang ikhlas, Aisyah.” timpal Gatot dengan hati tercabik-cabik.

“Terima kasih, Mas. Pemakaman sudah siap. Saya mohon Bu Murti dan Mas Gatot mau mendampingi saya.” pinta Aisyah.

Permohonan itu membuat Gatot semakin resah dan gelisah. Terlebih saat jemari halus gadis itu menggandengnya menuju pemakaman umum yang cuma beberapa langkah saja dari rumah duka. Ia sungguh tak mampu berkata-kata. Gatot kini berada di sisi sebelah kanan Aisyah, sementara Murti ada di sebelah kiri. Ia tak kuasa menolak cengkeraman jemari yang semakin kuat menggenggam lengannya, ikut merasakan isak tangis yang tak tertahan saat jenasah diturunkan ke liang lahat dan tanah-tanah mulai menimbun.

Belum selesai makam ditimbun, sosok mungil Aisyah limbung, tepat di rengkuhan Gatot. Aisyah pingsan dan wajah ayunya pucat kelelahan. Gatot dengan dibantu beberapa orang segera membopong Aisyah dan membawanya kembali ke dalam rumah.

“Tolong dijaga ya, Mas.” kata seorang warga memintanya menjaga Aisyah.

“Baik, Pak.” angguk Gatot.

Kini ia berada berdua saja dengan Aisyah, gadis berhati mulia yang tiba-tiba mengingatkannya pada sang ibunda. Ia melihat sosok Aisyah yang terbujur sama seperti ia melihat sosok ibunya saat tidur. Sangat damai. Membuat matanya jadi terasa panas, menahan airmata agar tidak jatuh. Tapi usahanya gagal dan setitik airmatanya jatuh ke wajah Aisyah, tepat di saat gadis itu perlahan membuka mata.

“Abaaah,” lirih suara Aisyah, terucap dengan getar yang menghantam seluruh sendi tubuh Gatot. Laki-laki itu terpaku, diam membatu menatap Aisyah tanpa menyadari ia telah menggenggam jemari Aisyah dengan sangat kuat.

“Saya bisa merasakan kesedihanmu, Aisyah.” bisik Gatot tulus.

“Saya tidak sedih dengan kematian abah, Mas. Tapi sedih dengan dosa pembunuh abah.” sahut Aisyah.

“Tuhan akan membalas setiap perbuatan umatnya.” balas Gatot.

“Semoga dosa orang itu terampuni, Mas. Aisyah ikhlas lahir dan batin.” kata Aisyah.

“Keikhlasanmu akan mendapat ganjaran berlipat-lipat, Aisyah. Maafkan saya,” Gatot melepaskan cengkeramannya. Ia meninggalkan Aisyah dan pergi ke mobil.

Sambil menunggu Murti, Gatot tercenung sendiri, merenungi betapa kejahatan yang telah ia lakukan semalam telah membuat begitu banyak orang berduka, membuat beberapa hati terluka. Ia sungguh tidak tahu siapa sebenarnya orang yang semalam mati di ujung golok mautnya. Yang ia tahu tentang kepala desa Cemorosewu adalah bahwa lelaki itu adalah salah satu begundal bejat yang mencabut nyawa ibunya. Ia sama sekali tidak tahu tentang Pak Asnawi yang kata orang-orang adalah sosok dermawan, berjiwa sosial, ulama terkenal, pendiri madrasah tempat Murti mengajar.

Yang paling menyakitkan dan menyiksa batinnya ialah kenyataan bahwa kepala desa Cemorosewu tak lain dan tak bukan adalah ayah kandung Aisyah. Berarti lantunan ayat-ayat suci yang ia dengar semalam adalah suara Aisyah, sosok manusia bermukena yang sempat ia intai adalah gadis mulia berwajah jelita itu. Sekarang gadis itu dirundung duka akibat perbuatan jahat yang ia lakukan. Untung semalam ia tidak meneruskan niat menghabisi seluruh keluarga kepala desa. Untung Aisyah terlalu khusyuk mengaji sehingga tidak mendengar tragedi semalam. Untung ia urung untuk menelanjangi sosok bermukena itu. Lebih untung lagi, Aisyah sama sekali tidak tahu bahwa pembunuh itu adalah dirinya. Pun demikian dengan polisi yang tidak curiga padanya.

Gatot menyandarkan kepala ke jok mobil, memejamkan mata untuk beberapa saat hingga ia merasa seseorang mencubit pahanya. Ia membuka mata dan melihat Murti sudah ada disana. “Ayo kembali ke kota, Tot.” kata perempuan cantik itu.

Mereka pun meninggalkan desa Cemorosewu dengan diiringi lambaian umbul umbul hitam yang tertiup angin. Warna hitam yang membuat seluruh jiwa jadi muram. Gatot dan Murti sama-sama diam. Hanya desah napas dan detak jantung mereka saja yang terdengar. Cuaca siang ikut murung dan berduka. Langit diselimuti mendung dan titik-titik kecil air mulai menetes di kaca mobil. Gerimis yang membuat hati menjadi miris.

Tiba di rumah, Murti mendapati Pak Camat masih belum pulang. Di HP-nya ada sms, Pak Camat masih ada acara di tempat lain. Murti mendesah kecewa, sekaligus lega. Ia segera turun dari mobil dan berbisik pada Gatot, ”Kalau sudah selesai masukin mobil, pergi ke kamarku ya… ada yang ingin aku bicarakan.”

”Iya, Mur.” sahut Gatot tanpa membantah.

Sementara Gatot sibuk di dalam garasi, Murti segera mengganti pakaiannya. Ia sengaja mencopot BH-nya untuk merangsang Gatot. Di balik daster tipis yang sekarang ia kenakan, bentuk payudaranya yang bulat besar terlihat jelas, terlebih lagi puting susunya yang menyembul indah. Murti yakin, Gatot pasti suka dan terangsang dibuatnya.

Masuk ke dalam kamar, mata Gatot nyaris copot karena melotot melihat tubuh molek Murti yang sekarang tersaji utuh di depan hidungnya. Istri Pak Camat itu membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas, tidak seperti biasanya yang selalu tertutup jilbab lebar saat ia tampil di muka murid-muridnya. Di dada Murti, tampak tonjolan payudaranya menggunung sangat indah, membuat Gatot sejenak lupa bernafas dan memejamkan mata.

”Kenapa, Tot? Ayo duduk dulu,” Murti mempersilakannya sambil tersenyum manis.

Muka Gatot langsung memerah karena nafsu, bayangan wajah cantik Aisyah segera lenyap dari pikirannya, tergantikan oleh tubuh telanjang Murti yang sudah beberapa kali ia nikmati. Dan sekarang, sepertinya ia juga akan mendapatkannya lagi, terlihat dari senyum Murti yang merekah semakin lebar saat pandangan Gatot terarah tajam ke buah dadanya.

”Tot, kamu mau nolong aku?” Murti merapatkan tubuh ke arah Gatot yang masih berdiri mematung di depan pintu.

”N-nolong apa, Mur?” tubuh Gatot bergetar ketika tangan teman masa kecilnya itu merangkul dirinya, sementara tangan Murti yang lain mengusap-usap daerah ‘vital’ nya.

”Tolong temani aku, Tot… aku takut tidur sendiri.” bisik Murti manja.

Muka Gatot makin memerah mendengar perkataan itu. ”T-tapi, Mur… nanti dipergoki sama Pak Camat.” tukasnya ragu.

”Mas Joko masih lama pulangnya,” Murti menunjukkan sms dari Pak Camat pada Gatot. ”Kita punya banyak waktu,” bisiknya. Dan tanpa menunggu jawaban dari Gatot, Murti segera menarik tangan laki-laki itu dan membimbingnya agar duduk di atas tempat tidur. Murti yang agresif karena haus akan sentuhan laki-laki, kemudian duduk di pangkuan Gatot. Tanpa bisa dicegah, bibir keduanya pun langsung saling bertemu dan berpagutan erat.

”Ehm, Mur…” lenguh Gatot saat merasakan puting susu Murti yang sudah mengeras menggesek ringan di permukaan perutnya, sementara lidah perempuan cantik itu terus menjelajahi mulutnya, mencari lidahnya untuk diajak saling melilit bagai ular.

Setelah puas, Murti kemudian berdiri di depan Gatot yang masih melongo karena tidak menyangka akan diserang seganas itu. Satu demi satu Murti mencopoti pakaiannya hingga tubuhnya yang mulus sempurna jadi polos seperti bayi yang baru lahir. Tersenyum manja, Murti seakan menantang Gatot agar segera menghangatkan tubuhnya yang selama ini jarang disentuh oleh Pak Camat.

”Lepaskan pakaianmu, Tot.” Murti berkata sambil merebahkan dirinya di atas ranjang. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindih oleh tubuhnya yang sangat sintal menggoda.

”Ayo cepat, Tot!” Murti  mendesah tak sabar saat melihat Gatot masih terdiam kagum memandangi tubuhnya..

”Ah, i-iya.” terkaget-kaget, Gatot lekas ikut menelanjangi diri. Dengan penis mendongak kuat ke depan, ia kemudian duduk berlutut di samping Murti. Pelan Gatot meletakkan tangannya di atas dada Murti yang bergerak naik turun seirama dengan tarikan nafasnya, lalu mulai meremas-remasnya lembut sambil tak lupa memijit dan memilin-milin putingnya yang montok kemerahan.

”Oohh… enak, Tot… terus… yah, begitu… remas pelan-pelan!” bisik Murti lirih, matanya sudah mulai terpejam rapat.

Dengan penuh semangat Gatot melakukan apa yang teman masa kecilnya katakan. Ia terus meremas-remasnya bergantian kiri dan kanan, merasakan betapa empuk dan kenyalnya benda itu, sampai akhirnya tubuh Murti menegang tak lama kemudian saat jilatan dan hisapan mulut Gatot mampir ke puncak payudaranya yang mungil dan indah. Seperti anak kecil, Gatot mulai menyusu ke arah puting Murti.

”Oohh… jilat terus, Tot… ohh… enak!” tangan Murti mendekap erat kepala Gatot ke arah payudaranya.

Gatot semakin buas menjilati puting susu istri Pak Camat tersebut, mulutnya sampai menimbulkan bunyi decapan yang sangat nyaring, tanda kalau hisapan Gatot begitu keras dan kuat, bahkan tanpa ia sadari, Gatot mulai menggigit-gigit ringan puting mungil itu.

”Hmm… nakal kamu, Tot!” Murti tersenyum merasakan tingkah sang sopir. ”Jangan cuma disitu, coba juga daerah bawah pusarku,” pintanya.

Gatot menurut saja. Cepat ia duduk diantara dua kaki Murti yang sudah terbuka lebar. Murti sendiri menyandarkan punggungya ke sandaran tempat tidur, membiarkan Gatot memandangi daerah kemaluannya yang sudah menganga lebar dengan sepuas hati.

”Sudah basah bukan?” Murti membimbing telunjuk Gatot agar memasuki liang vaginanya.

Gatot mengangguk, ”Lengket sekali, Mur…”

”Kelentitku, Tot. Coba kamu gosok-gosok sebentar, rasanya gatal sekali.” Murti memohon.

Pelan jari-jari Gatot mulai mengusap-usap tonjolan pink yang mulai menyembul itu.

”Ahh… yah, gosok terus, Tot… ughh, enak!” Murti menggelinjang keenakan ketika klitorisnya terus dipermainkan  oleh Gatot.

”Kalo aku giniin, enak nggak?” Gatot tersenyum sambil menekan kelentit Murti semakin keras.

”Ooh… Tot! Emm…” tubuh montok Murti makin melengkung keenakan, nafasnya terdengar semakin memburu, sementara bibirnya yang mungil terus mengeluarkan rintihan dan desahan yang sangat membangkitkan gairah, menandakan kalau pertahanan perempuan cantik itu akan segera jebol tidak lama lagi.

”Ooaahh… Tot!” Murti mencengkeram kuat pundak Gatot saat semua otot di tubuhnya menegang. Matanya terpejam sesaat, menikmati sesuatu yang telah lama tidak ia rasakan bersama Pak Camat.

”Hmm… kamu pintar sekali, Tot.” bisik Murti dengan vagina masih berkedut-kedut ringan mengeluarkan cairan kenikmatannya. Gatot tersenyum dan menurut saja saat Murti menyuruhnya untuk berbaring, ”Sekarang giliranku untuk memuaskanmu,” ucap Murti sambil mengurut lembut batang penis Gatot. Benda itu jadi semakin kaku dan menegang saat berada di dalam genggaman tangannya.

”Wow, makin besar aja, Tot!” dengan gemas Murti terus mengusap-usap dan membelainya. Gatot cuma tersenyum dan terdiam menikmati segala tingkah istri Pak Camat yang cantik dan seksi itu.

Tanpa menunggu lama, segera saja penisnya berpindah tempat. Kini benda coklat panjang itu sudah masuk ke dalam mulut Murti. Dengan rakus tapi sangat telaten, Murti mulai mengulum dan menghisapnya. Kepala penis Gatot yang berbentuk jamur tumpul digigitnya keras-keras hingga membuat Gatot merintih kegelian.

”Ahh… enak, Mur… terus!” Gatot tanpa sadar menyodok-nyodokkan pinggulnya, menekan penisnya semakin dalam ke mulut tipis Murti. Gerakannya menjadi semakin cepat seiring semakin kerasnya hisapan sang ibu guru cantik.

”Oohh, Mur… aku… aku… arghhh!” tanpa bisa dicegah, muncratlah cairan sperma Gatot ke dalam mulut Murti, yang segera dijilati oleh Murti hingga tandas dan tuntas.

”Hmm… manis juga rasa manimu, Tot.” Murti tersenyum, masih dengan mulut tetap menjilati ujung penis Gatot yang masih tegak berdiri.

”Kamu juga makin pintar, Mur, bikin aku jadi tak tahan.” sahut Gatot dengan nafas terengah-engah pelan.

Murti ikut tersenyum, ”Kita istirahat dulu ya, habis itu…”

”Kenapa istirahat, aku masih kuat kok.” potong Gatot sambil mendekap tubuh montok Murti dari belakang dan dengan cepat menyodokkan penisnya ke liang vagina perempuan cantik itu keras-keras.

”Arghkh!!” Murti menjerit kaget, namun cuma sebentar, karena dalam hati ia sangat menikmati hal ini. Siapa juga yang tidak suka mempunyai partner seks sejantan Gatot, biarpun habis keluar tapi penisnya masih bisa digunakan!

”Kamu menikmatinya ’kan, Mur?” bisik Gatot di telinga Murti. Tangannya yang satu menyangga tubuh montok Murti, sementara yang lain meremas payudara Murti yang menggantung indah. Sementara penisnya dengan keras melumat liang vagina Murti hingga jadi semakin basah dan memerah.

”Ahh… hhh…” Murti hanya bisa merintih, tubuhnya bagai lemas tak bertenaga menikmati setiap sodokan Gatot di liang vaginanya. Mereka terus berada alam posisi seperti itu hingga Gatot menyemprotkan kembali cairan spermanya tak lama kemudian, kali ini di dalam vagina sempit milik Murti.

”Ahh… Gatot!” rintih Murti saat merasakan cairan hangat memenuhi liang kewanitaannya. Ia cepat menekan pinggulnya ke belakang agar penis Gatot yang masih berkedut-kedut ringan makin amblas lagi ke dalam miliknya. Di saat yang sama, Murti rupanya orgasme juga.

Kedua insan itu pun tergolek lemas menikmati apa yang baru saja mereka lakukan. Cairan keduanya bertemu dan bercampur menjadi satu, memenuhi liang kelamin Murti hingga terasa jadi begitu basah dan lengket. Beberapa ada yang menetes keluar saat Gatot mencabut pelan batang penisnya.

”Ughh,” Murti mendesah, rambutnya yang hitam panjang terurai menutupi bantal, sementara dadanya yang besar bergerak naik-turun mengikuti irama tarikan nafasnya. Tangan Gatot bertengger disana, meremas-remasnya pelan.

”Pak Camat masih lama pulangnya?” tanya Gatot.

”Sebentar, aku sms dulu.” Murti segera mengambil HP-nya yang ditaruh di atas meja dan mengirim sms kepada Pak Camat. Tak lama sms balasan sudah ia terima.

Gatot tersenyum lebar saat ikut membaca, ”Masih 2 jam lagi, itupun kalau sudah selesai.” katanya.

Murti mengangguk, ”Iya, masih banyak waktu bagi kita.”

”Gimana, sudah siap lagi?” tanya Gatot sambil mencolek vagina Murti mesra.

”Hei, jangan bilang kalau kamu sudah ngaceng lagi!” sahutnya sambil melirik ke bawah dan memekik gembira saat melihat penis Gatot yang sudah beranjak bangun dan menegang. ”Gila, benar-benar gila!” Murti menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.

”Akan kubikin kamu pingsan malam ini,” janji Gatot sambil menindih tubuh molek Murti dan bersiap untuk memulai ronde yang kedua.