ANI

Namaku Sony dan aku adalah seorang mahasiswa semester 5 jurusan Fisika di suatu Perguruan Tinggi yang cukup terkenal di kota Bandung, Aku mempunyai sahabat yang sangat akrab bernama Aceng. Sebagai dua orang sahabat karib, kami kemana-mana selalu berdua. Bahkan saking akrabnya secara bercanda teman-temanku yang lain di kampus selalu mengatakan kami adalah sepasang suami istri. Padahal kami adalah dua orang pemuda yang normal, yang masing-masing telah punya pacar.

jilbab semok (1)
Kami selalu belajar bersama bahkan sampai menginap, kalau tidak di rumahku maka pastilah di rumah Aceng sehingga keesokan harinya kami ke kampus bersama-sama. Bahkan lebih sering aku yang menginap di rumah Aceng. Sedangkan Aceng tinggal bersama dengan kakak perempuannya yang sudah bersuami dan mempunyai dua orang anak, yang pertama adalah perempuan berusia kurang lebih 14 tahun dan duduk di kelas 2 MTs bernama Ani dan sedangkan yang kedua laki-laki bernama Danu dan masih duduk di kelas 2 SD.
Ani adalah seorang gadis remaja yang cantik, manis dan lugu. Dia selalu mengenakan jilbab baik pada saat pergi ke sekolah maupun di rumah. Nampaknya sebagai gadis remaja, Ani sedang memasuki masa puber sehingga dia mulai menyenangi lawan jenis. Sering aku lihat Ani mencuri-curi pandang padaku pada saat aku sedang belajar di rumahnya bersama Aceng, namun tak terlalu kupedulikan dan aku memang tak berniat untuk menggodanya karena aku sangat menghargai persahabatanku dengan Aceng.
Pada suatu hari Aceng meminta padaku untuk mengajari Ani pelajaran matematika, karena dia merasa kesulitan dalam pelajaran tersebut, sedangkan Aceng merasa tidak mampu untuk memberikan penjelasan tentang pelajaran tersebut. Aku menyanggupinya sehingga sejak saat itu secara rutin seminggu dua kali aku memberi pelajaran tambahan matematika ke Ani sampai jam 9 malam, sebelum aku belajar bersama dengan Aceng hingga larut malam.
Selama belajar denganku, kurasakan bahwa Ani semakin memperhatikan diriku, dia begitu manja dan selalu meminta perhatian dariku. Ada saja yang dia tanyakan agar dia bisa berdekatan dan ngobrol denganku, bahkan sering kali dia menggodaku dan mengajak bercanda. Namun sampai saat itu aku masih bisa mengendalikan diri dan perasaan untuk tidak tergoda memacari keponakan sahabatku ini.
Hubunganku dengan keluarga Aceng, sudah sangat akrab seperti keluarga sendiri. Aku sudah tidak sungkan-sungkan lagi di rumah itu, bahkan walaupun Aceng tidak ada di rumahpun, aku sudah terbiasa keluar masuk rumah itu dan tidur di kamar Aceng. Namun ada sesuatu yang kurang nyaman, jika aku belajar hingga larut malam di rumah Aceng ini, yaitu jika pada malam-malam tertentu kakaknya Aceng melakukan hubungan suami istri dengan suaminya, aku merasa sedikit terganggu karena kakaknya Aceng selalu mengeluarkan erangan-erangan nikmat yang cukup keras, hingga kadang-kadang terdengar sampai ke kamar Aceng dimana aku atau kami sedang belajar. Tentu saja hal itu membuat diriku terangsang dan hilang konsentrasi belajarku.

jilbab semok (2)
Suatu hari, setelah aku mengajari Ani, Aku melanjutkan dengan belajar sendirian, karena Aceng sedang pergi ke Banten menemui kakaknya yang paling besar untuk keperluan tertentu. Sekitar jam 11 malam aku ke WC untuk kencing. Dan untuk ke WC aku harus melewati kamar kakaknya Aceng yang bersebelahan dengan kamar Ani. Ketika aku tepat berada di depan pintu kamar kakaknya Aceng, kudengar suara desahan dan erangan nikmat dari mulut kakaknya Aceng dan suaminya. Nampaknya mereka sedang melakukan hubungan suami istri. Tanpa aku sadari, aku terdiam dan mendengarkan desahan dan erangan yang cukup merangsang diriku. Namun beberapa saat kemudian aku melanjutkan langkah kakiku menuju WC dan selintas kulihat pintu kamar Ani agak terbuka sedikit, rupanya lupa dia tutup rapat.
Setelah aku dari WC, kulihat pintu kamar Ani masih agak terbuka dan lampu kamar dimatikan. Iseng-iseng aku lebih memperhatikan isi kamar yang gelap itu. Aku tersentak heran karena melihat Ani sedang mengintip kamar orangtuanya dari jendela kaca yang terpasang diantara kamar Ani dan kamar orang tuanya dan dihalangi gordyn dari kamar orang tuanya, namun menyisakan celah yang bisa digunakan untuk mengintip apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Nampaknya dia begitu terhanyut dengan apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Ani tidak menyadari, ketika pintu kamar aku buka perlahan-lahan dan secara perlahan-lahan pula kuhampiri dirinya.
Di belakang Ani, aku melihat ibunya Ani sedang merem-melek sambil mengerang nikmat ketika ayahnya dengan sangat bergairah memompa penisnya ke dalam vagina ibunya sambil mulutnya memilin-milin putting susu ibunya dan tangannya meremas-remas buah dada ibunya yang satu lagi. Terlihat Ani sangat terangsang dengan apa yang dilihatnya, napasnya memburu, tangan kanannya meremas-remas buahdadanya sedangkan tangan kirinya menggosok-gosok vagina dengan penuh kenikmatan. Akupun sangat terangsang melihat adegan live show itu, penisku langsung mengeras dan napaskupun tanpa kusadari telah memburu dipompa nafsu yang mengebu-gebu.
Kutepuk bahu kiri Ani. Dia tersentak kaget, tapi kusimpan telunjukku didepan bibirku memberi isyarat agar dia jangan ribut. Dia diam tidak bersuara, tapi terlihat bahwa dia sangat malu karena kepergok sedang mengintip. Lalu kubisikan ke telinganya “ Ayo ikut ke kamar Aa, ada yang ingin Aa bicarakan dengan Ani !”. Ani hanya termangu, lalu kupimpin tangannya dan secara perlahan-lahan kutarik dia ke kamar Aceng. Ani hanya menuruti apa yang kulakukan. Kutup pintu kamar Ani dari luar dan kami segera ke kamar Aceng.
Setibanya di kamar Aceng, kututup pintu kamar dan kutarik tubuh Ani agar dia duduk disisi tempat tidur. Lalu aku bertanya “Ani sering mengintip apa yang dilakukan oleh Ayah dan Ibu Ani seperti tadi ?”.
Dengan malu-malu Ani menjawab “Sering A, habis Ibu dan bapak kalau lagi begituan suka ribut, membuat Ani terbangun dari tidur..”
“Sejak kapan, Ani suka ngintip ?” tanyaku lagi
“Dari dulu A, barangkali sejak Ani kecil…” jawabnya lagi.
“Apa yang Ani rasakan, pada saat ngintip ?” tanyaku lagi ingin tahu
“Gimana ya, susah diomongin…, rasanya darah seperti berdesir, merinding tapi ada perasaan melayang-layang…. , pokoknya mah susah diomongin lah….malah ada perasaan pingin nyoba, abisnya ibu seperti yang sangat keenakan sampai merem-melek segala, apalagi kalau pingin udahan ibu dan bapak suka melonjak-lonjak sambil melotot dan menjerit-jerit keenakan kemudian terhempas seperti yang sangat kelelahan kemudian mereka saling melepas senyum bahagia dan berciuman mesra” jelasnya dengan polos.
“Terus…, kenapa atuh…., sambil ngintip, Ani pake meremas-remas susu dan menggosok-gosok bagian selangkangan Ani segala..?” tanyaku lagi semakin ingin tahu.
“Abis enak sich…” jawabnya dengan genit.

jilbab semok (3)
“Ani pingin nyoba, seperti yang dilakukan oleh orang tua Ani tadi ?” pertanyaan isengku muncul
Dengan ragu-ragu dia menjawab “karena sering mengintip, Ani jadi ingin sekali mencobanya. Tapi dengan siapa ? Ani ‘kan belum kawin. Kata temen-teman Ani, yang begituan mah dilakukannya dengan suami, sedangkan Ani kan belum kawin” jawabnya lagi dengan lugu.
“Udah aja Aa sekarang jadi suami Ani, kan kita sudah sangat dekat. Biar pesta perkawinannya mah nanti aja kalau kita udah selesai sekolah. Jadi Ani bisa mencobanya sekarang dengan Aa, karena Aa juga ingin mencoba seperti apa yang dilakukan oleh orang tua Ani !” pikiran kotorku mulai bekerja mempengaruhinya.
Entah Ani terpengaruh oleh rayuanku, atau dia memang sudah sangat terangsang dengan apa yang dilihatnya tadi sehingga dia ingin segera mencoba apa yang dilihatnya. Ani memandangku sejenak dan mengangguk perlahan.
Hatiku bersorak. Kuhampiri wajahnya yang manis, dia menatapku sayu. Bibirku mendekati bibirnya dan secara lembut bibirku mencium bibirnya dengan lembut dan secara perlahan kuhisap dengan penuh perasaan. Perlahan-lahan mata Ani terpejam dan dengan kaku dia mulai membalas hisapan bibirku. Gairahku semakin terpompa dan nampaknya Anipun menikmati ciuman ini, Dia berdecak-decak menciumku, napasnya sudah memburu. Akhirnya kupeluk erat tubuhnya dan Anipun memeluk erat tubuhku, sambil kedua bibir kami saling menghisap dengan gairah yang menyala-nyala.
Walaupun ciuman ini adalah hal yang pertama bagiku juga bagi Ani, namun secara naluri akhirnya bibir kami saling menghisap dan mencium apa yang dapat dicapai oleh bibir masing-masing, mulai dari bibir, hidung, pipi, telinga hingga leher secara bergantian dengan perasaan nikmat yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. “Ouhhh… enak.. A.. enak…. Ouhhh… terus… terussss..” erang keenakan keluar dari mulut Ani ketika bibir dan lidahku mencium dan menjilat telinga dan seluruh permukaan lehernya yang halus, kepalanya terdongak dan matanya mendelik, pelukannya pada diriku semakin erat seolah tak mau lepas.
Badanku sudah mulai terasa panas kegerahan, keringatpun sudah mulai keluar dari seluruh pori-poriku dan napas semakin memburu, demikian juga dengan Ani. Lalu badanku agak kurenggangkan diri tubuhnya, sehingga tangan kananku bisa meremas-remas buah dadanya yang mungil dari luar bajunya. Tubuhnya bergetar hebat, ketika telapak tanganku meremas buah dadanya seraya keluar erangan “Auh…Aa… enak..”
Penisku semakin keras mendengar erangan itu, nafsuku semakin menggebu, dan telapak tanganku semakin meremas-remas buah dadanya serta bibir dan lidahku menjilati leher dan dan dagu penuh nafsu. Ani semakin menikmati apa yang kulakukan, desahan nikmat terus-menerus keluar dari mulutnya yang mungil, kepalanya semakin terdongak dan matanya mendelik hingga hanya bagian putihnya saja yang terlihat.
Nafsuku semakin meninggi, baju yang kukenakan semakin basah oleh keringat. Sambil bibirku menghisap bibirnya kucopot bajuku hingga terlepas dan kulemparkan ke bawah tempat tidur, kemudian kubuka kancing baju tidur Ani satu persatu , dia diam saja tidak menolak, bahkan turut membantu melepaskan baju tidurnya hingga terlepas dari tubuhnya dan menyisakan bh ukuran remaja yang menutupi buah dadanya yang mungil. Kucari-cari cara untuk melepaskan bh tersebut, setelah beberapa lama tidak terbuka, Ani membantu melepaskan bh yang menutupi buah dadanya hingga lepas dari tubuhnya. Kini tampaklah tubuh gadis remaja usia 14 tahun telanjang yang menggairahkan dihadapanku, hanya menyisakan celana panjang tidur bagian bawahnya.
Kudorong tubuhnya agar terlentang di atas kasur. Dengan penuh nafsu tangan kananku meremas buah dada yang tertutup oleh telapak tanganku dan terkadang memilin-milin putting susu yang berukurn kecil namun menonjol keras. Kepala Ani tidak bisa diam kuperlakukan seperti itu, kepalanya terus terdongak sambil mata mendelik dan terkadang terpejam rapat sambil mulutnya mengeluarkan desahan “Auh…auh…enak…enak…. Auh….. terus Aa … terusssss”

jilbab semok (4)
Aku semakin bernafsu, mulutkupun tak diam, menjilat menyusuri dada dan akhirnya menjilat dan menghisap putting susu bagian kiri. Seerrr….. badannya kembali bergetar ketika lidah dan bibirku tiba di putting susunya dan terdengan suara erangan “Aaahhh..”
Aku menghisap-hisap buah dada mungil Ani baik yang kiri maupun yang kanan, dan hisapan itu kadang-kadang demikian kerasnya karena rasa gemas dan nafsu yang semakin menggebu, hingga tanpa kusadari menimbulkan banyak tanda merah dipermukaan buah dadanya. Namun nampaknya Ani semakin melayang nikmat dengan apa yang kulakukan, tubuhnya melonjak-lonjak merasakan nikmat yang tak tertahankan dan erangan nikmat terus keluar dari mulutnya.
Ciuman bibirku mulai turun kearah perutnya dan menjilati sekitar pusat sementara kedua tanganku meremas dan memilin kedua buah dada dan putting susunya. Ani semakin tak bisa diam, tubuhnya semakin basah oleh keringat. Lalu mulutku semakin turun dan kedua tanganku menarik celana tidur sekaligus dengan calana dalam yang dikenakannya hingga lepas dari tubuhnya, hingga kini dihadapanku benar-benar tergolek tubuh telanjang menggairahkan dari seorang gadis remaja yang masih duduk di kelas 2 MTs.
Mataku nanar melihat tubuh gadis telanjang yang baru pertama kali kulihat seumur hidupku secara nyata bukan dalam film BF, kuperhatikan jembut di vaginanya masih jarang, hingga bibir vaginanya begitu jelas terlihat. Aku tak sanggup melihat pemandangan merangsang ini berlama-lama, lidahku langsung menjilati bibir vagina itu. Serrrr….. kembali tubuhnya bergetar seperti dialiri aliran listrik ribuan volt. Kali ini getaran itu begitu keras, hingga kakinya terjulur kaku dan kembali ia mengeluarkan teriakan nikmat tanpa diasadarinya “Aaaaahhh Aa….auh,…. “
Kulakukan jilatan bibir vagina dari bawah ke atas secara intensif, pinggulnya bergoyang-goyang tak bisa diam sambil terus-menrus mengerang nikmat “Aaahhh…enak…auh…”
Kujulurkan lidahku untuk membuka bibir vagina itu, tak terlihat ada liang di sana, hanya ada gurat kecil yang sangat rapat, kukorek-korek dengan lidahku, lidahku terasa asin, tapi tak kupedulikan, terus kukorek-korek, gerakan pinggulnya semakin menggila dan akhirnya lidahku naik menyusuri lipatan hingga aku menemukan tonjolan kecil sebesar kacang hijau yang cukup keras, kujilati tonjolan kecil itu. Tubuh Ani semakin bergetar dengan keras dan erangannya seperti tercekik “Aakh……auh Aa….”
Akhirnya aku menjilati cukup lama tonjolan kecil itu. Getaran dan erangan Ani semakin menggila, hingga akhirnya pantatnya naik menekan mulutku dan kedua tangannya menjambak erat rambutku sambil menekan kepalaku ke arah vaginanya sambil menjerit cukup panjang sambil melentingkan badannya “Aaaaaakkhhhh……” kemudian pantatnya berkedut-kedut cukup keras dan cepat. Dan beberapa saat kemudian tubuhnya melemas dan jambakan rambutku terlapas. Ani terlentang lemas dengan napas yang tersengal-sengal kecapean.
Kemudian dengan tenaga yang lemah dia berusaha menarik tubuhku ketas agar wajahnya bisa berhadapan dengan wajahnya. Walaupun ini adalah pengalaman pertamaku, tapi karena aku sering nonton BF, aku tahu bahwa Ani baru saja mengalami orgasme yang cukup hebat. Tubuhku bergeser agar bisa berhadapan dengan tubuh telanjangnya yang lemas kelelahan Ani memandangku dengan tatapan puas dan berkata “Aa , Ani cape, tapi barusan enak sekali….”

jilbab semok (5)
Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Kepalanya kubelai dan kucium bibirnya dengan lembut. Ani membalas lemah kecupan bibirku. Lalu kukatakan padanya “Ani barusan mengalami orgasme seperti yang dirasakan Ibu Ani kalau mau selesai waktu berhubungan dengan Bapak, kan Ibu Ani juga suka kelelahan begitu selesai main dengan bapak..” jelasku padanya
“Tapi bapak juga suka menjerit keenakan dan kelelahan, kalau ibu sudah menjerit keenakan seperti Ani tadi. Kenapa Aa kelihatannya masih segar belum nampak kelelahan seperti bapak Ani ?” Tanya Ani dengan lugunya.
“Karena Aa belum keluar, kan Ani lihat, Aa masih pake celana panjang “ jelasku
“Oh..iya..yah… Kenapa atuh celana Aa belum dibuka. Aa curang…, Ani sudah telanjang sedangkan Aa belum… Buka dong !” mintanya dengan manjanya.
Aku yang masih dalam keadaan terangsang, segera membuka celana panjang dan celana dalamku sekaligus, sehingga begitu terlepas, tampaklah penisku yang masih keras dan tegang terangguk-angguk ketika aku kembali menghampiri dirinya di tempat tidur.
Kemudian Ani bangkit dari tidurnya, tangannya meraih penisku yang tegang dan keras serta dimainkannya dengan dikocok-kocok. Lalu dia berkata “Ibu juga mainin punya Bapak seperti dibeginiin, kelihatannya bapak seperti yang keenakan…” sambil terus menerus tangan lembutnya mengocok-ngocok lembut penisku.
“Ouh… Ni…. Enak.. tentu saja…. Aa juga enak…” kataku sambil merem-melek merasakan kocokan lembut tangan Ani di penisku
Melihat aku yang merem-melek keenakan. Ani semakin bersemangat, Dia jadi ingat dengan yang sering dilihatnya ketika ibunya mempermainkan penis bapaknya. Dia terus mengocok dan memijit lembut penisku membuat diriku melayang-layang kenikmatan. Dan tanpa aku duga-duga, Mulut Ani menghampiri penisku dan lidahnya menjilati kepala penisku sambil tangannya tetap mengocok batang penisku. Aku semakin melayang dan mataku semakin merem-melek keenakan dan mulutku melenguh “Ohhh….ouh… Enak Ni….. enak…ouh…..”
Ani semakin bersemangat melihatku melenguh nikmat, rupanya gairahnya sudah bangkit lagi dengan cepat dan dia sangat menikmati mengoral penisku yang tegang dan keras. Setelah cukup lama dia mengoral penisku, kemudian dia berhenti dan berkata “Aa, bagaimana kalau punya Aa di masukkan ke punyai Ani, seperti yang biasa Bapak lakukan ke Ibu !”
Aku yang masih dikuasai gairah yang menyala-nyala dan belum tertuntaskan tentu saja langsung menyetujuinya, kubaringkan tubuhnya dan kuposisikan selangkanganku berhadapan dengan selangkangannya sementara pahanya terbuka lebar dan lututku berada diantara kedua pahanya. Kuarahkan kepala penisku ke bibir vaginanya yang masih rapat naum sangat basah, kudorong pantatku….. mentok, kutekan pantatku , penisku malah bengkok seperti mau patah, aku meringis kesakitan.

jilbab semok (7)
Kucoba lagi mengarahkan ke tepat bibir vaginanya, kutekan…, kepala penis meleset ke atas, kucoba lagi…. Meleset kesamping… kucoba lagi… meleset ke bawah.
Beberapa kali kucoba … selalu gagal, keringatku semakin mengucur deras dan Ani nampaknya semakin terangsang, pinggulnya bergoyang-goyang, sambil berkata..”Ayo dong…Aa.. jangan main-main aja..”
Aku semakin penasaran dan malu terhadap Ani, kucoba lagi mengarahkan penisku ke bibir vagina Ani, kubantu kedua tanganku untuk membuka bibir vagina itu, setelah kepala penis tepat berada didalam celah vaginanya yang basah, kudorong… kembali meleset ke atas hingga kepala dan batang penisku menekan dan menggesek tonjolan sebesar kacang hijau yang terdapat dibagian atasbibir vagina. Kurasakan tubuh Ani bergetar hebat merasakan nikmat, akupun merasakan nikmat yang sangat akibat gesekan ini. Kenikmatan yang kurasakan ini adalah kenikmatan yang pertama kali aku rasakan, akhirnya walaupun aku tak berhasil menembus liang vaginanya saat ini aku merasa cukup dengan menggesek-gesekkan penisku ke celah bibir vagina Ani hingga ke tonjolan sebesar kacang hijau yang barangkali itu yang disebut dengan klitoris.
Gesekan-gesekan yang kulakukan dengan memaju-mundurkan pantatku di atas tubuh Ani menimbulkan kenikmatan yang tiada tara bagiku, mataku sampai berkunang-kunang merasakan kenikmatan ini, diriku seolah melayang-layang terombang-ambing oleh perasaan nikmat yang teramat sangat. Demikian juga yang dirasakan oleh Ani, dia memeluk erat diriku hingga buah dadanya menempel erat dengan dadaku dan sambil menggerak-gerakkan pinggul dan pantat, kami berciuman dengan penuh gairah dan napas semakin memburu
Cukup lama gerakan seperti itu kami lakukan, dan makin lama gerakan kami semakin cepat tak terkendali, hingga akhirnya aku merasa ada gelombang yang maha dahsyat melanda diriku membuat darahku bergerak sangat cepat dan gerakanku menjadi cepat tak terkendali dan menghentak-hentak tubuh Ani. Demikian juga dengan Ani, gerakan pinggulnya telah berubah menjadi lonjakan-lonjakan keras dengan napasyang memburu saling berkejaran. Dan tiba-tiba tanpa kami kehendaki kedua tubuh kami melenting kaku secara bersamaan dan menjerit tertahan melepas nikmat secara bersamaan “Aaaakkh…”
Cret… cret… , spermaku terpancar deras dan kental keluar dari mulut penisku membasahi perut dan pusar Ani. Beberapa kali penisku berkedut-kedut nikmat sambil menumpahkan semua sperma yang ada di dalamnya hingga akhirnya melemah. Demikian juga dengan Ani, pantatnya beberapa kali terjadi kontraksi dengan keras… Dan akhirnya secara bersamaan badan kami ambruk kelelahan. Akupun terbaring disamping tubuh Ani dengan napas yang tersengal-sengal seolah-olah kehabisan napas
Beberapa saat kami terdiam menikmati sensasi nikmat yang baru pertama kualami, kemudian kupandangi wajah Ani dengan perasaan puas dan kukecup bibirnya dengan lembut dan mesara. Ani membalas kecupanku dengan tak kalah lembut dan mesra. Kemudian dia berkata dengan polosnya “Pantas ibu dan bapak sering melakukan hal seperti yang kita lakukan, enak sich…!”
Setelah tenaga kami pulih, Ani mengeringkan sperma yang membasahi perutnya dengan celana dalamnya, kemudian mengenakan celana dan baju tidur tanpa mengenakan celana dalam, akupun mengenakan pakaianku. Dengan hati-hati ia kembali kekamarnya, dan kurasa orang tuanya sudah terlelap tidur kelelahan.
Setelah ditinggal Ani, aku berbaring sambil melamunkan apa yang baru saja kualami. Walaupun aku tidak berhasil melakukan penetrasi secara sempurna pada pengalaman pertama ini, namun aku cukup puas karena merasakan nikmat yang baru pertama aku rasakan. Aku terus melamun hingga akhirnya aku tertidur lelap kelelahan.
Keesokkan paginya, pada saat sarapan bersama dengan keluarga kakaknya Aceng, terlihat perubahan yang sangat mencolok pada diri Ani. Wajahnya sangat ceria walaupun terlihat kurang tidur, secara sembunyi-sembunyi sambil makan dia sering melemparkan senyum bahagia padaku. Dengan seragam MTs dan jilbab yang dia kenakan, dimataku Ani semakin cantik dan menggemaskan saat itu, dan tanpa dapat kutahan penisku langsung mengeras ketika aku teringat apa yang terjadi tadi malam. Setelah sarapan Suami kakaknya Aceng pergi kerja sedangkan Ani dan adik lelakinya pergi sekolah.
Hari itu, aku masuk kuliah jam 11 siang, sehingga aku akan tetap disana sampai aku berangkat ke kampus jam 10.30. Sekitar jam 8.30 pagi, kakaknya Aceng bilang padaku bahwa dia akan ke rumah temannya untuk keperluan bisnis sampingan dan mungkin pulangnya sekitar magrib. Dan dia memesan agar kunci rumah disembunyikan ditempat biasa apabila seluruh penghuni rumah lagi keluar rumah. Dan akhirnya akupun ditinggalkan sendirian di rumah itu. Sambil menunggu rumah, aku membaca buku-buku kuliah sebagai persiapan kuliah yang akan kuhadapi hari itu.
Sekitar jam 10, aku tersentak kaget dan sekaligus bahagia, karena Ani sudah pulang dari sekolah dan langsung menghampiri kamar yang kutempati, lalu kutanyakan padanya mengapa dia pulang lebih awal dan dia menjawab “Di sekolah ada kegiatan PKS (Pekan Kreativitas Siswa), jadi Ani pulang aja ach.. “
“Kenapa pulang , ‘khan kegiatannya seru dan heboh ?” tanyaku lagi
“‘ngga seru Ach… mendingan pulang. “ jawabnya lagi.
“Ngga seru .. atau pingin ketemu Aa ?” tanyaku menggodanya
“’ngga seru dan ingin ketemu Aa” jawabnya sambil mencubit pinggangku dengan manja
“Aduduhh…” jeritku pura-pura kesakitan, begitu cubitannya terlepas aku langsung berucap “lagi dong…!”. Ani kembali ingin mencubitku tapi aku menangkap tangannya yang telah siap mencubit pinggangku, lalu langsung kupeluk sambil kucium gemas bibirnya. Ani membalas ciumanku dengan penuh gairah, kami berciuman sambil berdiri, tanganku membelai jilbab yang dikenakannya sedangkan kedua tangan Ani memeluk erat pinggangku.
Ciuman itu berlangsung begitu lama dan menggairahkan, hingga akhirnya terlepas karena masing-masing kami kehabisan napas. Napasku dan napas Ani begitu memburu didorong oleh gairah nafsu yang mengebu-gebu.
“Tadi di sekolah, Ani ‘ngga bisa tenang, ingat aja ke Aa..” katanya, dilanjutkan dengan mencium bibirku dan kedua tangannya meremas dan membelai kepalaku dengan penuh gairah.
“Apalagi Aa, sejak tadi malam susah tidur setelah Ani keluar dari kamar, ingat terus ke Ani… malahan di dalam buku kuliah Aa yang terlihat hanya wajah Ani…” kataku menggombal, sambil menyambut ciumannya dengan tak kalah bernafsunya.
Sambil berciuman, tanganku membuka kancing baju seragamnya satu persatu dan Anipun melakukan hal yang sama padaku, dia membuka kancing bajuku satu persatu, sehingga semua kancing baju yang kami kenakan telah terbuka semuanya. Aku langsung mencopot bajuku dan melepaskan baju seragam yang dikenakan Ani, baju-baju itu aku lemparkan ke lantai. Kemudian aku berusaha melepaskan kaos dalam yang dikenakan Ani, dia membantu melapaskannya, hingga kini aku telah bertelanjang dada sedangkan Ani masih mengenakan jilbab , BH , dan rok biru panjang seragam MTs.

jilbab semok (6)
Kembali Ani mencium bibirku dan tangannya membelai dada dan mempermainkan putting susuku membuat aku semakin terangsang. Tanganku mengarah ke punggungnya untuk membuka kaitan Bh yang dikenakannya, kali ini usahaku berhasil tidak seperti tadi malam, bh itupun terlepas dari tubuh mungil Ani yang semakin menggairahkan. Tangankananku langsung meremas-remas buah dada bagian kiri milik Ani. Ani mulai mengeluh “Ouhhh…ouhmmmnn…. Aa…ouh…”
Keluhan nikmat itu semakin memacu gairahku, kepalaku menunduk mengarah ke buahdada bagian kanan milik Ani, kukecup dan kujilati permukaan buah dada yang menggemaskan itu dengan penuh nafsu dan berakhir dengan memilin dan menghisap-hisap putting susu miliknya. Badan Ani bergetar dan erangan nikmat semakin nyaring keluar dari mulutnya “Auh.. Aa.. Aa.. ouh…. Aa….” Kepalanya terdongak dengan mata yang mendelik menahan nikmat yang menderanya. Penisku pun semakin mengeras hingga bagian depan celanaku menggelembung. Tonjolan dibagian depan celana panjangku ini menggesek dan menekan perut dibagian bawah pusar Ani membuat dia semakin bergairah.
Dengan gairah yang menyala-nyala, Ani mengusap penisku dari luar celana panjangku dengan gemas. Badanku bergetar, aliran darahku semakin cepat mengalir dan napasku semakin memburu terpompa oleh gairah yang semakin menggebu, sehingga hisapan, jilatan dan kulumanku pada buah dada Ani semakin panas. Tanganku menarik sleting rok biru yang dikenakannya hingga rok panjang tersebut terlepas turun dari pinggulnya menyisakan celana dalam berwarna pink yang menghalangi vaginanya yang terlihat basah oleh gairah yang menyerang tubuh Ani dengan hebatnya.
Tanpa membuang waktu, kulanjutkan dengan menarik cd berwarna pink hingga tubuh Ani benar-benar bugil dengan indahnya dan hanya menyisakan jilbab yang masih dikenakan menghalangi rambutnya nan indah. Napasku semakin sesak melihat vagina Ani yang indah dan menggairahkan, gairahku semakin terpompa cepat. Lidahku langsung terjulur dan menjilat-jilat permukaan vagina indah itu dari bawah ke atas. Badan Ani bergetar keras, kakinya terangkat dan dari mulutnya keluar teriakan nikmat yang cukup keras “Aaaakkhhhh…. Aaaa ouhhh…. Enak… Aa … enak aaakkhhhh….”
Teriakan nikmat itu semakin memompa gairahku, hisapanku semakin keras, jilatanku semakin cepat dan lidahku mengorek-ngorek liang vagina yang semakin basah oleh gairah. Tubuh Ani semakin keras bergetar, erangan serta teriakan nikmat semakin keras tiada henti keluar dari mulutnya yang mungil “Aa… Aa… aaaakhhh…. Auh… enak..”
Tubuhnya menggeliat-geliat menahan nikmat yang teramat sangat.
Telapak tangan kananku meremas-remas pantatnya yang halus dan montok, sedangkan jempol jari tangan kiriku menekan dan memutar-mutar klitorisnya, sementara lidahku yang panas terus mengorek-ngorek liang vaginanya. Ani semakin terlonjak-lonjak merasakan siksaan nikmat yang datang bertubi-tubi tiada henti “Hoh..hoh..Aa… ouh…aouh….” Teriakan nikmatnya semakin tak terkendali.
Tak kupedulikan teriakan itu, bahkan lidah dan jariku semakin liar mempermainkan liang vagina dan klitorisnya, hingga akhirnya kakinya terjinjit dan tubuhnya melenting kaku serta kedua tangannya menjambak keras rambutku sambil keluar teriakan panjang seperti tercekik “Aaaaaaakhh……. Hhhhhoooohhhhhsss…” badannya limbung hilang keseimbangan dan terjadi kontraksi yang sangat keras pada pantatnya dan liang vaginanya menghisap-hisap lidahku dengan keras seraya mengeluarkan rembesan cairan kenikmatan yang terasa asin diujung lidahku. Lalu.. persendian lututnya seperti yang terlepas dan dia ambruk terjengkang ke belakang. Untung aku masih sigap menahannya…. Ani tergolek lemas di lantai kamar…, napasnya tersengal-sengal kehabisan napas.
Kupangku tubuhnya dan kuletakkan diatas kasur dan membiarkan dia mengatur napasnya agar kelelahan yang dideritanya mereda. Dia membuka mata dan memandangku dengan pandangan rasa puas yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata, lalu terpejam kembali menikmati sisa-sisa rasa nikmat yang masih terus menghampiri dirinya. Sementara itu aku melepaskan celana panjang dan celana dalam serta meletakkannya di lantai kamar dan merayap menghampiri Ani yang sedang tergolek diatas kasur.
Kuposisikan diriku berbaring miring menghadap tubuh telanjang Ani yang masih mengenakan jilbab yang sudah tak karuan dan basah oleh keringat. Kukecup bibirnya dengan lembut dan mesra. Ani membuka mata dan memeberiku senyuman yang sangat manis, lalu dia membalas kecupanku dengan hisapan yang sangat dalam dengan napas yang belum sepenuhnya normal.
Penisku yang sangat keras dan tegang menekan selangkangannya, sehingga dengan gemas dan rasa penasaran, tangan kirinya meraih batang penisku dan mengocoknya secara perlahan sambil tersenyum memendang diriku.
Badanku bergetar dan rasa nikmat menjalar disekujur tubuhku, ketika Ani dengan inetnsnya terus meremas dan mengocok batang penisku. Kemudian dia berkata “Aa sekarang mah, punya Aa harus bisa masuk seluruhnya ke punya Ani seperti yang biasa Bapak dan Ibu lakukan. Jangan seperti tadi malam, hanya digesek-gesek aja..!” pintanya padaku penasaran ingin merasakan yang lebih seperti yang biasa ia lihat jika Bapak dan Ibunya bersetubuh.

jilbab semok (8)
“Ya…dech…, nanti akan Aa masukkan semuanya ke milik Ani…” sahutku sambil kembali menciumnya dengan gairah yang menyala. Ani membalas dengan gairah yang tak kalah menyalanya, rupanya gairahnya sudah bangkit kembali dan menuntut kenimkmatan yang lebih dari kenikmatan yang baru saja dia rasakan.
Disela-sela napasnya yang memburu , Ani berbisik mesra “Ayo.. dong Aa… sekarang… masukin… ouhhh..!” diakhiri dengan desahan nafsu yang terus memburunya.
Kubuka pahanya lebar-lebar agar dia mengangkang dan kuposisikan kedua lutut tepat dibawah pahanya, kutarik kedua pahanya kearah pinggangku sehingga betisnya terangkat, kusibakkan bibir vaginanya agar liang vaginanya yang sangat sempit dan hampir tak telihat karena masih perawan, hanya terasa bagian itu sangat basah dan licin, lalu kuletakan kepala penisku yang sangat keras tepat di liang sempit tersebut.
Kudorong penisku dengan sangat perlahan, terasa liang yang sangatsempit itu memuai, namun belum sanggup meloloskan kepala penisku, kudorong lagi.. , liang itu semakin melebar, namun terlihat Ani meringis menahan sesuatu…
Kuhentikan gerakanku dan bertanya…”kenapa, Ni ? Sakit..?”
“’ngga apa-apa Aa…, terus aja…” jawabnya.
Ani merasakan vaginanya seperti karet gelang yang ditarik melebar, agak terasa perih…, namun ia tidak mau menghentikan, karena yang biasa dia lihat, ibunya begitu sangat menikmati apabila vaginanya di dimasukki oleh batang penis bapaknya. Jadi Ani sangat penasaran, mengapa ia merasa perih. Mungkin belum pikirnya, oleh sebab itu ia tidak mau menghentikan apa yang sedang kulakukan. Ditambah lagi bahwa dirinya sedang diliputi oleh gairah nafsu yang menyala-nyala, sehingga rasa perih kalah oleh nafsu dan gairah yang melayang-layangkan dirinya.
Sementara itu aku merasakan nikmat yang tak dapat terkatakan ketika ujung kepala penisku dapat membelah liang vaginanya yang sangat sempit. “Ini baru ujung kepala penis sedah sedemikian nikmat apalagi jika seluruh batang penisku dapat memasuki liang vaginanya tentu aku akan merasakan jauh lebih nikmat” pikirku dalam hati. Maka aku lebih berkonsentrasi untuk dapat menembus selaput dara yang menghalangi liang vagina tersebut.

jilbab semok (10)

Kudorong lagi perlahan, liang itu semakin terkuak. Kepala penisku semakin terasa nikmat yang aneh dan agak terasa sakit akibat jepitan yang sangat ketat. Namun nafsu yang menggebu dan rasa nikmat yang aneh mengalahkan rasa sakit di kepala penisku demikian juga dengan Ani, walaupun terlihat meringis kesakitan namun dia tidak menginginkan aku menghentikankan usahaku ini, Ani semakin penasaran…
Kudorong lagi lebih keras, hingga liang vaginanya terkuak semakin lebar dan seluruh kepala penisku telah masuk kedalam liang vaginanya yang licin dan basah . Breettt… “Auw….saaakiiitt Aa..!!” Ani menjerit kesakitan…, aku merasa ujung kepala penisku menembus suatu lembaran yang terkoyak dan terasa basah, namun rasa nikmat yang aneh itu membuatku tertegun dan nervous. Kuhentikan gerakanku dengan bagian kepala penis menancap dengan eratnya pada liang vagina Ani. Kulihat Ani meringis dan menggigit bibir bagian bawah menahan rasa sakit karena ada bagian vaginanya yang terkoyak, namun anehnya dia tidak mendorong tubuhku untuk melepaskan penisku dari vaginanya, bahkan sambil meringis dan mata terpejam, dia memeluk tubuhku dengan erat sehingga penisku kembali terdorong…, “Aduhhh…Aa… sakiitt….” pelukannya semakin erat.
Aku semakin bingung dan nerveous, namun rasa nikmat semakin menjalar disekujur tubuhku walaupun rasa sakit di kepala penisku akibat jepitan vaginanya tidak berkurang, tapi aku merasa kepala penisku seperti diremas-remas oleh selubung yang sangat halus namun ketat, remasan itu semakin menambah rasa nikmat yang kurasakan.
Dan kudorong lagi sehingga seluruh batang penisku masuk secara perlahan-lahan hingga mentok. “Aaahhh…. Aduh…. Aouh.. Aa” Tubuh Ani terguncang sangat keras ketika seluruh batang penisku tertanam dengan eratnya di dalam vaginanya. Namun aku merasakan nikmat yang luar biasa, karena seluruh permukaan kepala dan batang penisku seperti ada selubung yang sangat halus dan lembut meremas dan memijit penisku. Mataku terbeliak merasakan kenikmatan itu. Dan rasa sakit akibat jepitan vagina yang sangat ketat sudah tak kurasakan dan kuhiraukan lagi, mataku semakin nanar merasakan kenikmatan itu.
Lengan Ani semakin erat memeluk tubuhku, tapi pantatnya semakin dia angkat dengan mata terpejam dan mulut yang meringis seperti kesakitan tapi penasaran sehingga selangkangan kami menempel sangat rapat. Kucium bibirnya dengan penuh nafsu, dan aku terkesiap, Ani membalas ciumanku dengan sangat ganas dan liar, disela-sela ringisannya, Ani tampaknya seperti merasakan kenikmatan yang membuatnya melayang-layang tinggi.
Kutarik penisku perlahan…
”aduuuhhh… auuh.. Aa” kembali ringisan kesakitannya terdengar, namun diselingi dengan erangan kenikmatan, pantatnya mengikuti tarikan penisku hingga menyisakan bagian kepalanya saja. Kudorong lagi perlahan…, terdengar erangan nikmat dan ringisan kesakitan secara bersamaan..”Auhh….. Aa…adduuh… aouh… “ kembali penisku amblas ditelan vaginanya yang rapat, namun remasan dan belaian didalam vaginanya terasa semakin keras dan bervariasi sehingga diriku semakin melambung nikmat.
Kutarik dan kudorong lagi perlahan, erangan nikmat semakin jelas keluar dari Ani walaupun terkadang ringisan kesakitannya masih tampak. Gerakan kocokan itu terus kulakukan dengan secara perlahan dan makin lama semakin lancar dan cepat
“Ohh…Ani.. .. enak… aouh “ lenguhan nikmat keluar dari mulutku….
“Auh..Aa… Aa… enak… ouh..” Ani membalas lenguhanku.
Aku semakin bergairah, nafsuku semakin membuncah di kepalaku, mukaku semakin merah dan darah semakin cepat mengalir, gerakan kocokanku semakin cepat dan vagina Ani terasa semakin basah dan licin.
Tampaknya rasa sakit yang dirasakan Ani semakin berkurang, bahkan kini secara naluri Ani mulai membalas gerakan pinggulku dengan menggerakan pinggulnya dengan penuh gairah sambil tak putus-putusnya erangan dan jeritan nikmat keluar dari mulutnya
“Aahh…. Aahhh.. Aahh…. Aahhh…”
Makin lama gerakan dan erangan Ani semakin liar, kedua tangannya bukan hanya memeluk punggungku dan kukunya mencengkram erat kulit punggungku sambil menghentak-hentakkan tubuh agar dadaku beradu dengan buah dadanya dan pinggulnya melonjak-lonjak liar serta teriakan-teriakan yang semakin nyaring.
Aku melihat buah dada montok Ani berguncang-guncang sangat keras dan semakin terlihat indah dan menggemaskan. Mulutku menghisap-hisap dengan keras buah dada itu sehingga meninggalkan tanda merah disana sini. Ani semakin melayang kepalanya semakin terdongak dan pinggulnya semakin bergerak liar
“Oooouuhhhh…. Ouh… ouh… “ erangan nikmat tiada henti-hentinya menyertai setiap gerakan Ani.jilbab semok (9)
Tanpa kusadari gerakankupun semakin liar dan gerakan pantatku menghentak-hentak dengan kerasnya sehingga terdengar suara
PLOK… PLOK…. yang cukup nyaring
Napasku tersengal-sengal namun pantatku bergerak cepat tak terkendali
Rasa nikmat semakin membuat diriku melayang-layang. Dan tampaknya Anipun merasakan hal yang sama, karena gerakannyapun semakin liar dan melonjak-lonjak tak terkendali.
Tiba-tiba aku merasakan darahku mengalir sangat cepat dan berkumpul pada suatu titik dan aku merasakan ada gelombang yang menghantam tubuhku membuat tubuhku terbang melayang sambil menjerit nikmat “Aaaakkhh…..”, badanku melenting kaku dan penisku kutancapkan dalam-dalam ke dalam liang vagina Ani. Dalam waktu yang bersamaan Anipun merasakan hal yang sama, Dia merasa dihantam oleh gelombang yang sangat dahsyat yang menerbangkan tubuhnya dan Anipun menjerit sangat keras “Aaaaaaakkkhhhh…” dan tubuhnyapun melenting kaku dengan kepala terdongak kebelakang.
Selama beberapa detik, badan kami melenting kaku, kemudian CRETTT… CRETTT… sperma kental dan panas tersembur dari penisku jauh kedalam ujung rahimnya dan dibalas dengan kontraksi yang sangat hebat didalam vagina Ani yang memelintir dan menghisap-hisap membuat mataku semakin nanar oleh kenikmatan yang teramat sangat. Lalu seperti bangunan yang tiang penyangganya patah karena kelebihan beban, tubuh kami pun terhempas dengan sangat keras
“Hhuuhhssss……” keluhan kelelahan bagaikan koor … keluar secara bersamaan dari mulut kami, tubuhku ambruk menindih tubuhnya, kugelosorkan tubuhku ke samping tubuhnya dan kami berdua telentang terkapar tak berdaya…
Seluruh persendian kami terasa seperti dilolosi dan selama beberapa detik kami tak mampu menggerakkan tubuh, yang terdengar hanyalah dengusan napas tersengal-sengal kelelahan yang saling bersahutan yang keluar dari mulut kami berdua.
Selama beberapa menit kami terkapar tak berdaya, hanya tangan kiriku dan tangan kananya saling mengenggam erat saling berbicara tanpa kata.
Setelah rasa lelah kami berkurang…, aku bangkit menghampiri Ani yang masih telentang tak berdaya, kukecup lembut bibirnya seraya berkata “Aa sayang ke Ani…” Ani memandangku dan tersenyum, kemudian membalas kecupanku dengan mesra. Dan kamipun berpelukan erat. Kali ini kurasakan nuansa yang lain dalam berpelukan. Aku merasa sangat sayang padanya dan merasa nyaman memeluknya. Dan nampaknya Anipun merasakan hal yang sama, dia memeluk erat tubuhku dan menyusupkan kepalanya didadaku. Tidak ada nafsu dalam pelukan ini, benar-benar pelukan yang membuat perasaan menjadi nyaman dan damai. Cukup lama kami merasakan kedamaian dalam pelukan ini hingga aku rasakan tubuhku benar-benar pulih dari lelah yang tadi menghantamku.
Ani melepaskan diri dari pelukanku dan bangkit dari tidurnya. Dia memperhatikan selangkangannya kemudia menjerit tertahan “Aaahh Aa..”. Aku kaget dan bangit dari tidur lalu bertanya “Ada apa, sayang..?”
Ani tidak menjawab, hanya matanya memandang kaget ke selangkangan dan sprei yang ditindihnya, tampak ada noda merah darah disekitar selankangannya dan sprei yang ditindihnya bercampur dengan cairan sperma yang keluar dari liang vaginanya. Air matanya meleleh dan berucap..”Aa… saya … “ , dia melanjutkan ucapannya.
Aku mengerti apa yang menjadi kesedihannya, aku dekap ia dengan rasa sayang yang tulus dan berkata “Aa… akan bertanggung jawab, kalau terjadi apa-apa pada diri Ani. Jangan takut… Aa sayang ke Ani.. percaya ke Aa” Aku menenangkan dirinya sambil mencium lembut kepalanya yang masih tertutup oleh jilbab yang sangat kusut.
Ani merasa tenang mendengar ucapanku… dan ia membalas erat pelukanku serta menyusupkan kepalanya kedalam dadaku. Ia merasakan damai disana.
Tiba-tiba.. diluar terdengar teriakan adiknya Ani..
“Assalamu’alaikum..! Teh… Teteh….” Rupanya adik Ani yang duduk di SD sudah pulang dari sekolah mencari-cari kakaknya . Kami tersentak kaget dan dengan terburu-buru kami mengenakan pakaian kami yang berserakan dan kulihat jam dinding, ternyata telah menunjukkan jam 12.15, pantas saja adiknya sudah pulang.
Setelah beres, Ani segera keluar kamar dan menghampiri adiknya “Ada apa Danu..?” kata Ani kepada adiknya seperti tidak terjadi apa-apa. Kemudian Ani mengurus adiknya dan mengajakku dan adiknya makan siang.
Hari itu aku tak jadi kuliah…, tapi sejak hari itu aku telah mengikat janji dengan Ani untuk menjadi sepasang kekasih, walaupun masih sembunyi-sembunyi dari Aceng dan ibunya. Tapi lama-lama hubunganku diketahui oleh mereka, dan aku bersyukur mereka merestui hubunganku dengan Ani berlangsung, mereka hanya berpesan agar aku jangan kelepasan, agar sekolahnya dan kuliahku tidak terganggu. Aku hanya mengangguk setuju.
Tetapi dibelakang mereka , secara sembunyi-sembunyi aku masih terus mereguk kenikmatan persetubuhan dengan Ani yang semakin lama semakin ahli memberikan kenikmatan padaku. Aku jadi semakin sayang dan cinta padanya dan semakin memantapkan hati untuk tidak akan meninggalkannya.
Ani
You are my sun shine….
You are my endless love…
You are my everything…
I love you so much….

RAME-RAME 1 : TARI

“Mmmmpfff….mmmpffff….”
kulihat perempuan yang semasa gadis kukejar-kejar itu meronta-ronta tak berdaya. Kedua tangannya terikat terentang ke sebatang besi yang melintang. Kedua matanya tertutup sehelai kain hitam yang mengikat kepalanya. Mulutnya tersumpal celana dalamnya sendiri.
Dulu, ia jadi buruan banyak lelaki, termasuk aku. Tari namanya. Kulitnya putih mulus. Setidaknya, itulah yang ketika itu terlihat pada kulit wajah dan telapak tangannya. Memang hanya itulah yang bisa terlihat. Ya, sebab ia selalu berbusana tertutup. Jubah panjang dan jilbab lebar.
Aku mencintainya. Cinta sekaligus nafsu. Dari sekian banyak lelaki, akhirnya akulah yang beruntung mendapatkannya, menjadi suaminya. Aku tahu, banyak lelaki lain yang pernah menidurinya dalam mimpi. Atau, menjadikannya objek masturbasi mereka. Tetapi, aku bukan hanya bermimpi. Aku bahkan betul-betul menidurinya kapanpun aku mau. Ia juga membantuku masturbasi saat ia datang bulan.
Cintaku padanya belum berubah. Yang berubah adalah caraku memandangnya. Tiba-tiba, entah kapan dan bagaimana awalnya, aku selalu membayangkan Tari dalam dekapan lelaki lain. Aku bayangkan payudara dan vaginanya dalam genggaman telapak tangan lelaki lain.
Tari istri yang setia. Tentu saja, dalam imajinasiku itu, Tari tidak sedang berselingkuh.
Sudah dua tahun pernikahan kami ini belum juga mendapatkan buah hati, ya, kami belum punya anak, berbagai usaha dan pengobatan, dokter maupun alternative sudah kami jalani dan belum Nampak hasilnya hingga sekarang. Akhirnya muncullah ide dibenakku ini, sekaligus imajinasi yang luar biasa. Aku tahu, seandainya aku bilang langsung ke istriku dia tidak akan setuju karena memang istriku ini orang yang alim dan selalu menjaga dirinya.
Dan kini imajinasiku itu mewujud nyata. Di depanku, seorang lelaki tengah memeluknya dari belakang. Sebelah tangan lelaki itu meremas-remas payudaranya. Sebelah lagi dengan kasar melakukan hal yang sama pada pangkal pahanya.

TARI

TARI

Tiga lelaki sedang bersiap-siap memperkosa Tari, seorang istri setia yang alim. Di depan suaminya sendiri. Atas perintah suaminya sendiri.
Tentu saja, Tari tak tahu hal itu terjadi atas rancangan aku, suaminya. Itu sebabnya, kedua matanya kini terikat.
Tiga lelaki itu, kukenal lewat internet. Searching sekian lama lewat milis-milis tentang fantasi liar atas gadis-gadis berjilbab.
Tidak mudah menemukan orang yang bisa dipercaya di internet. Apalagi, untuk berbicara hal yang sangat sensitif: gadis berjilbab. Tapi akhirnya kudapatkan juga tiga lelaki yang kini jadi kawan akrabku ini. Mereka satu kota denganku. Ini untuk memudahkan komunikasi dan aksi.
Ketika aku mulai yakin tentang keseriusan mereka, kontak dilanjutkan lewat HP. Lalu, kami sepakat bertemu. Pertemuan itu membuatku makin yakin. Sebab, saat itu kami saling bertukar informasi detail tentang diri kami masing-masing.
Lelaki pertama, Al masih kuliah di Fakultas Kedokteran. Aku langsung menyukainya. Bagaimanapun, aku tak ingin istriku disetubuhi lelaki yang ‘kotor’. Perawakan Al mirip denganku.
Al mengaku tak pernah main pelacur. Tetapi, katanya, tak kurang 3 mahasiswi pernah ditidurinya. Dua yang pertama, sekarang sudah jadi mantan pacarnya. Sedang yang terakhir, masih jadi pacarnya. Yang menarik, pacarnya ini berjilbab.
“Mungkin karena keseringan nidurin dia, saya jadi terangsang kalau melihat perempuan berjilbab,” katanya.
Lelaki kedua Bob, seorang pengusaha agrobisnis. Aku juga suka begitu melihatnya. Ia seorang lelaki yang matang. Umurnya 10 tahun di atasku. Yang aku suka, perutnya gendut. Aku memang kadang mengkhayalkan wajah Tari yang lembut dikangkangi seorang lelaki gendut.
Bob mengaku tertarik dengan tawaranku lantaran ia punya seorang karyawati yang cantik dan berjilbab. Ia bahkan memperlihatkan foto gadis itu kepada kami. Memang cantik.
Kata Bob, ia sudah berulangkali mencoba merayu gadis itu untuk melayaninya. Tetapi, gadis itu selalu menolaknya.
“Setelah bermain-main dengan Tari, aku ingin kalian membantuku memperkosa Anisa,” katanya.
“Boleh. Dengan senang hati. Kalau cewek lu Al, boleh nggak kita perkosa ?” kataku.
Al terlihat agak kaget.
“Ehh, gimana ya ?” katanya.
“Iya Al, pacarmu itu kan udah nggak perawan toh ? Kamu nggak usah khawatir. Nanti kita bikin dia nggak tahu kamu ikut merancang perkosaannya,” timpal Bob.
“Well, okelah,” akhirnya Al setuju.
“Semua sudah setuju barter cewek berjilbab. Terus kamu gimana Ben ?” kali ini aku menoleh ke Ben, lelaki ketiga.
Aku juga suka Ben. Tubuhnya kekar. Kulitnya hitam, sepertinya keturunan Arab. Melihatnya, aku langsung membayangkan Tari menjerit-jerit lantaran vaginanya disodok penis Arab.
“Ane nggak punya istri atau pacar berjilbab. Tapi jangan khawatir, paman Ane punya kos-kosan yang penghuninya jilbaban semua. Ane punya cewek favorit di situ. Ntar kite atur gimana caranya nyikat die,” sahut Ben. Gaya ngomongnya memang mirip Said di sinetron Bajuri.
“OK guys, minggu depan kita beraksi. Silakan kalian puaskan diri dengan istriku. Rencana aksi kita atur lewat email, oke ?” kataku mengakhiri pertemuan.
***
Lewat email, kukirimkan kepada tiga maniak itu foto-foto Tari. Close up wajahnya yang lembut. Full body dengan jubah dan jilbab lebar. Hingga foto-foto curian saat ia tertidur dengan jubahnya yang sengaja kusingkap hingga ke pinggang. Juga saat ia tertidur kecapekan setelah bermain tiga ronde denganku. Ini foto favoritku. Sengaja kuminta ia tetap berjilbab putih lebar dan berjubah hijau muda saat aku menyetubuhinya.
Ketika usai, kupeluk ia sampai tertidur lelap. Lalu, diam-diam aku bangun dan memotretnya. Tari terlentang dengan kaki mengangkang. Jubahnya tersingkap sampai ke pinggang. Dari celah vaginanya terlihat menetes spermaku. Jubah di bagian dada juga kubuat terbuka dan memperlihatkan sepasang payudaranya yang montok dengan puting yang menegang.

TARI

TARI

Sejumlah skenario kami bahas lewat email. Akhirnya, ide Bob yang kami pakai. Idenya adalah menculik Tari dan membawanya ke salah satu rumah Bob yang besar. Bob menjamin, teriakan sekeras apapun tak akan terdengar keluar rumahnya itu. Aku tak sabar menunggu saatnya mendengar jeritan kesakitan Tari.

Hari yang disepakati pun tiba. Aku tahu, pagi itu Tari akan ke rumah temannya. Aku tahu kebiasaannya. Setelah aku berangkat kantor, ia akan mandi. Aku bersorak melihatnya menyiapkan jubah hijau muda dan jilbab putih lebar. Ini memang pakaian favoritku. Selalu saja aku tergoda untuk menyetubuhinya jika ia mengenakan pakaian itu.
Aku tidak ke kantor, tetapi ke rumah Bob. Di sana, tiga temanku sudah siap. Kamipun meluncur ke rumahku dengan mobil van milik Bob.
Sekitar sepuluh menit lagi sampai, kutelepon Tari. “Sudah mandi, sayang ?” kataku.
“Barusan selesai,” sahutnya.
“Sekarang lagi apa ?”
“Lagi mau pake baju, hi hi…” katanya manja.
“Wah, kamu lagi telanjang ya ?”
“Hi hi… iya,”
“Cepat pake baju, ntar ada yang ngintip lho !” kataku.
“Iya sayang, ini lagi pake BH,” sahutnya lagi.
“Ya udah, aku kerja dulu ya ? Cup mmuaachh…” kataku menutup telepon.
Tepat saat itu mobil Bob berhenti di samping rumahku yang tak ada jendelanya. Jadi, Tari tak akan bisa mengintip siapa yang datang.
Bob, Al dan Ben turun, langsung ke belakang rumah. Kuberitahu mereka tentang pintu belakang yang tak terkunci.
Aku tak perlu menunggu terlalu lama. Kulihat Al sudah kembali dan mengacungkan jempolnya. Cepat kuparkir mobil Bob di garasiku sendiri.
“Matanya sudah ditutup Al ?” kataku.
“Sudah bos. Mbak Tari sudah diikat dan mulutnya disumpel. Tinggal angkut,” katanya.
Memang, kulihat Bob dan Ben sedang menggotong Tari yang tengah meronta-ronta. Istriku yang malang itu sudah berjubah hijau muda dan jilbab putih lebar. Kedua tangannya terikat ke belakang.
Aku siap di belakang kemudi. Kulirik ke belakang, tiga lelaki itu memangku Tari yang terbaring di jok tengah.
“Ha ha… gampang banget,” kata Bob.
Aku menelan liurku ketika jubah Tari disingkap sampai ke pinggang. Tangan mereka kini berebut menjamah vaginanya !
Ben bahkan telah membuka bagian dada jubah Tari dan menarik keluar sebelah payudaranya dari BH. Lalu, ia menghisapnya ! Tari merintih-rintih. Gila, aku menikmati betul pemandangan itu.
“Udah, ayo berangkat,” kata Bob. Kulihat jari gemuknya sedang mengorek-ngorek vagina Tari.
***
Itulah yang kini terjadi. Tari terikat dengan tangan terentang ke atas. Ben tengah memeluknya dari belakang, meremas payudara dan pangkal pahanya.
“Pak Bob, sampeyan ngerokok kan ? Tari benci sekali lelaki perokok. Saya pingin ngelihat dia dicium lelaki yang sedang merokok. Saya juga pengen Pak Bob meniupkan asap rokok ke dalam memeknya,” bisikku kepada Bob. Bob mengangguk.
Aku lalu mengambil posisi yang tak terlihat Tari, tapi aku leluasa melihatnya.
Kulihat Bob sudah menyulut rokoknya dan kini berdiri di hadapan Tari. Dilepasnya penutup mata Tari. Mata sendunya berkerjap-kerjap dan tiba-tiba melotot.
Rontaan Tari makin menjadi ketika Bob menyampirkan jilbab putih lebarnya ke pundak. Apalagi, kulihat tangan Ben sudah berada di balik jubahnya. Pinggul Tari menggeliat-geliat.
“Ben nggak bosen-bosen mainin memek Mbak Tari,” kata Al yang duduk di sebelahku sambil memainkan penisnya.
“Lho, kok kamu di sini. Ayo direkam sana,” kataku.
“Oh iya. Lupa !” kata Al sambil ngakak.
Bob terlihat menarik lepas celana dalam Tari yang menyumbat mulutnya.
“Lepaskaaaan…. mau apa kalian… lepaskaaaan….!” langsung terdengar jerit histeris Tari. Jeritan marah bercampur takut.
“Tenang Mbak Tari, kita cuma mau main-main sebentar kok,” kata Bob sambil menghembuskan asap rokok ke wajah Tari. Kulihat Tari melengos dengan kening berkerut.
“Ya nggak sebentar banget, Mbak. Tuh si Arab dari tadi maenan memek Mbak,” kata Al. Ia berjongkok di hadapan Tari. Disingkapkannya bagian bawah jubah Tari. Diclose-upnya jari tengah Ben yang sedang mengobok-obok vagina istriku.
“Memek Mbak rapet sih. Ane betah maenan ini searian,” timpal Ben.
“Aaakhhh… setan… lepaskaaann…nngghhhh…” Tari meronta-ronta. Telunjuk Al ikut-ikutan menusuk ke dalam vaginanya.
Kulihat Bob menghisap rokok Jie Sam Soe-nya dalam-dalam. Tangan kirinya meremas-remas payudara kanan Tari dari luar jubahnya.
“Lepaskaaaan… jangaaann…. setaan….mmmfff…..mmmmfffff….mmmpppfff….” Jeritan Tari langsung terbungkam begitu Bob melumat bibirnya dengan buas.
Mata Tari mendelik. Kulihat asap mengepul di antara kedua bibir yang berpagut itu. Al mengclose-up ciuman dahsyat itu.
Ketika Bob akhirnya melepaskan kuluman bibirnya, bibir Tari terbuka lebar. Asap tampak mengepul dari situ. Lalu Tari terbatuk-batuk.
“Ciuman yang hebat, Jeng Tari. Sekarang aku mau mencium memekmu,” kata Bob.
Tari masih terbatuk-batuk. Wajahnya yang putih mulus jadi tampak makin pucat.
Bob berlutut di hadapan Tari. Ben dan Al membantunya menyingkapkan bagian bawah jubah Tari dan merenggangkan kedua kakinya.
“Wow, memek yang hebat,” kata Bob sambil mendekatkan ujung rokok yang menyala ke rambut kemaluan Tari yang tak berapa lebat. Sekejap saja bau rambut terbakar menyebar di ruangan ini.
Bob lalu menyelipkan bagian filter batang rokoknya ke dalam vagina Tari. Istriku masih terbatuk-batuk sehingga terlihat batang rokok itu kadang seperti tersedot ke dalam. Tanpa disuruh, Al meng-close-upnya dengan handycam.
Bob lalu melepas rokok itu dari jepitan vagina Tari. Dihisapnya dalam-dalam. Lalu, dikuakkannya vagina Tari lebar-lebar. Mulutnya langsung merapat ke vagina Tari yang terbuka.
“Uhug…uhug…aaaakkhhh… aaaaakkhhh….aaaaakkkhhhh…” Tari menjerit-jerit histeris. Bob tentu sudah mengembuskan asap rokoknya ke dalam vagina istriku.
“Aaakhhhh… panaaassss….adududuhhhh….” Tari terus menjerit dan meronta-ronta.
Kulihat Bob melepaskan mulutnya dari vagina istriku. Kulihat Al mengclose up asap yang mengepul dari vagina Tari.
Tari kini terdengar menangis. Bob bangkit dan menjilati sekujur wajahnya. Lalu dengan gerak tiba-tiba ia mengoyak bagian dada jubah istriku. Tari memekik. Begitu pula ketika Bob merenggut putus bra-nya. Ia terus menangis saat Bob mulai menjilati dan mengulum putingnya.

Kulihat Ben kini berdiri di belakang istriku. Penisnya mengacung, siap beraksi. Ia menoleh ke arahku, seolah minta persetujuan. Aku mengacungkan ibu jari, tanda persetujuan. Tak sabar aku melihat istriku merintih-rintih dalam persetubuhan dengan lelaki lain.
Kuberi kode kepada Al agar mendekat.
“Tolong tutup lagi matanya. Aku ingin Tari menelan spermaku. Dia belum pernah melakukan itu,” kataku.
Al mengangguk dan segera melakukan perintahku.
Setelah yakin Tari tak bisa melihatku, aku pun mendekat.
“Aaakkhhh….aaakkkhhh….. jangaaaannn….!” Tari menjerit lagi. Kali ini lantaran penis Ben yang besar mulai menusuk vaginanya. Kulihat, baru masuk setengah saja, tapi vagina Tari tampak menggelembung seperti tak mampu menampung penis Arab itu.
Kulepaskan ikatan tangan Tari. Tapi kini kedua tangannya kuikat ke belakang tubuhnya. Penis Ben masih menancap di vaginanya. Ben kini kuberi isyarat agar duduk di lantai. Berat tubuh Tari membuat penis Ben makin dalam menusuk vaginanya. Akibatnya Tari menjerit histeris lagi. Tampaknya kali ini ia betul-betul kesakitan.
Aku sudah membuka celanaku. Penisku mengacung ke hadapan wajah istriku yang berjilbab. Tari bukannya tak pernah mengulum penisku. Tapi, selalu saja ia menolak kalau kuminta air maniku tertumpah di dalam mulutnya.
“Jijik ah, Mas,” katanya berkilah.
Tetapi kini ia akan kupaksa menelan spermaku. Kutekan kepalanya ke bawah agar penis Ben masuk lebih jauh lagi. Akibatnya Tari menjerit lagi. Saat mulutnya terbuka lebar itulah kumasukkan penisku. Jeritannya langsung terbungkam. Aku berharap Tari tak mengenali suaminya dari bau penisnya.
Ughhhh… rasanya jauh lebih nikmat dibanding saat ia mengoral penisku dengan sukarela. KUpegangi bagian belakang kepalanya yang masih berjilbab itu. Kugerakkan maju mundur. Sementara terasa Ben juga sudah mulai menaikturunkan penisnya. Tari mengerang-erang. Dari sela kain penutup matanya kulihat air matanya mengalir deras.
Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Kutahan kepalanya ketika akhirnya spermaku menyembur deras ke dalam rongga mulut istriku yang kucintai.
Kutarik keluar penisku, tetapi langsung kucengkeram dagunya yang lancip. Di bawah, Bob dan Al menarik kedua puting istriku.
“Ayo, telan protein lezat itu,” kata Bob.
Akhirnya memang spermaku tertelan, meski sebagian meleleh keluar di antara celah bibirnya.
Nafas Tari terengah-engah di antara rintihan dan isak tangisnya. Ben masih pula menggerakkan pinggangnya naik turun.
****
Aku duduk bersila menyaksikan istriku tengah dikerjai tiga lelaki. Penis Ben masih menancap di dalam vagina Tari. Kini Bob mendorong dada Tari hingga ia rebah di atas tubuh tegap Ben.

TARI

TARI

Ia kini langsung mengangkangi wajah Tari. Ini dia yang sering kubayangkan. Wajah berjilbab Tari terjepit pangkal paha lelaki gendut.
Kuambilalih handycam dari tangan Al, lalu kuclose up wajah Tari yang menderita. Tari menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menjerit-jerit. Tetapi, jeritannya langsung terbungkam penis Bob.
Kubantu Ben menarik jubah hijau muda Tari sampai ke atas dadanya. Kini kedua tangan kekarnya menggenggam payudara Tari. Meremas-remasnya dengan kasar dan berkali-kali menjepit kedua putingnya. Dari depan kulihat, tiap kali puting Tari dijepit keras, vaginanya tampak berkerut seperti hendak menarik penis Ben makin jauh ke dalam.
Al tak mau ketinggalan. Ia kini mencari klitoris Tari. Begitu ketemu, ditekannya dengan jarinya dengan gerakan memutar. Sesekali, bahkan dijepitnya dengan dua jari. Terdengar Tari mengerang-erang. Tubuhnya mengejang seperti menahan sakit.
“Boleh aku gigit klitorisnya ?” tanya Al padaku sambil berbisik.
“Boleh, asal jangan sampai luka,” sahutku sambil mengarahkan handycam ke vagina istriku.
Mahasiswa fakultas kedokteran ini betul-betul melakukannya. Mula-mula dijilatinya bagian sensitif itu. Lalu, kulihat klitoris istriku terjepit di antara gigi-gigi Al. Ditariknya menjauh seperti hendak melepasnya. Kali ini terdengar jerit histeris Tari.
“Aaaaakkhhhh….saakkkkiiiittt…”
Rupanya Bob saat itu menarik lepas penisnya lantaran Ben ingin berganti posisi.
Ben memang kemudian berdiri sambil mengangkat tubuh Tari pada kedua pahanya. Penisnya yang besar masih menancap di vagina istriku. Terus terang aku iri melihat penisnya yang besar itu.
Tari terus menjerit-jerit dalam gendongan Ben. Ben ternyata membawanya ke atas meja. Diturunkannya Tari hingga kini posisinya tertelungkup di atas meja. Kedua kakinya menjuntai ke bawah. Kedua payudaranya tepat di tepi meja.
“Kita teruskan lagi, ya Mbak. Memek Mbak kering sekali, jadi lama selesainya,” kata Ben. Kulihat ia menusukkan dua jari ke vagina Tari.
“Sudaaahh…. hentikaaan… kalian…jahaaat…” teriaknya di sela isak tangisnya.
“Iya Mbak, maafkan kami yang jahat ini, ya ?” sahut Ben, sambil kembali memperkosa istriku.
Suara Tari sampai serak ketika ia menjerit histeris lagi. Tapi tak lama, Bob sudah menyumpal mulutnya lagi dengan penisnya.
Dalam posisi seperti itu, Ben betul-betul mampu mengerahkan kekuatannya.
Tubuh Tari sampai terguncang-guncang. Kedua payudaranya berayun ke muka tiap kali Ben mendorong penisnya masuk. Lalu, kedua gumpalan daging kenyal itu berayun balik membentur tepi meja. Payudara Tari yang putih mulus kini tampak memerah.
Ben terlihat betul-betul kasar. Saat ia terlihat hampir sampai puncak, Bob berseru kepadanya, “Buang ke mulutnya dulu Ben. Nanti putaran kedua baru kita buang ke memeknya,” kata Bob. Ben mengangguk.
Lalu, Ben terlihat bergerak ke depan Tari. Vagina Tari tampak menganga lebar, tetapi sejenak saja kembali merapat.
Ben dengan cepat menggantikan posisi Ben. Penisnya kini menyumpal mulut Tari. Ia menggeram keras sambil menahan kepala Tari.
“Ayo, telen spermaku ini… Uuughhhh….yah…. telaaannn…..” Ben meracau.
Ben baru melepaskan penisnya setelah yakin Tari benar-benar menelan habis spermanya.
Tari terbatuk-batuk. Ben mengusapkan penisnya yang berlumur spermanya sendiri ke hidung Tari yang mancung.
“Uuggghhh….nggghhhhhh…..” Tari merintih. Tak menunggu lama, kini giliran Bob menyetubuhi Tari. Tari tampaknya tak kesakitan seperti saat diperkosa Ben. Mungkin karena penis Bob lebih kecil.
“Aiaiaiaiiiii…. jangaaan…. aduhhhh…. sakiiit….” tiba-tiba Tari mendongak dan menjerit kesakitan.
“Anusmu masih perawan ya ? Nanti aku ambil ya ?” katanya. Ternyata, sambil menancapkan penisnya ke vagina Tari, Bob menusukkan telunjuknya ke anus Tari.
Kudekati Bob, “Jangan sekarang, pak Bob. Aku juga ingin merasakan menyodominya. Aku belum pernah memasukkan kontolku ke situ,” bisikku.
“Oke, setelah suaminya, siapapun boleh kan ?” sahutnya juga dengan berbisik. Aku mengangguk.
Bob tak mau kalah dengan Ben. Ia juga menancapkan penisnya dengan kasar, cepat dan gerakannya tak beraturan. Bahkan, sesekali ia mengangkat sebelah kaki Tari dan memasukkan penisnya menyamping. Saat bersetubuh denganku, biasanya posisi menyamping itu bisa membuat Tari melolong-lolong dalam orgasme.
Tapi, kali ini yang terdengar adalah rintihan dan jerit kesakitan. Saat aku mulai merasa kasihan padanya, jeritan itu berhenti. Al kini membungkam mulutnya dengan penisnya.
***
Peluh membahasi sekujur tubuh Tari. Bob sudah menumpahkan sperma ke dalam mulutnya. Tubuhnya lunglai kelelahan. Tetapi, kulihat ia masih sadar.
Al membopongnya ke kasur busa yang tergeletak di lantai. Tari diam saja ketika ikatan tangannya dilepas.
“Sebentar ya Mbak. Saya mau lepas baju Mbak. Mbak pasti terlihat cantik sekali dengan jilbab lebar tetapi tetek dan memek Mbak terbuka,” katanya sambil melucuti jubah Tari.
Tari berbaring terlentang di kasur busa. Hanya jilbab lebar putih dan kaus kaki krem yang masih melekat di tubuhnya. Ia tampak terisak-isak.
Al kemudian mengikat kembali kedua tangan Tari menjadi satu ke kaki meja. Aku tertarik melihat Al yang berlagak lembut kepada Tari.
“Aduh kasihan, tetek Mbak sampai merah begini,” katanya sambil membelai-belai lembut kedua payudara istriku.
Dibelainya juga kedua puting Tari dengan ujung jarinya. Tari menggeliat.
“Siapa yang menggigit ini tadi ?” kata Al lagi.
“Alaaaa, sudahlah cepat masukkan kontol kau tuh ke memek cewek ini,” terdengar Bob berseru.
“Ah, jangan kasar begitu. Perempuan secantik dan sealim ini harus diperlakukan lembut. Ya, Mbak Tari ?” Al terus bermain-main.
Kali ini ia menyentil-nyentil puting Tari dengan lidahnya. Sesekali dikecupnya. Biasanya, Tari bakal terangsang hebat kalau kuperlakukan seperti itu. Dan tampaknya ia juga mulai terpengaruh oleh kelembutan Al setelah sebelumnya menerima perlakuan kasar.
“Unngghhh…. lepaskan saya, tolong. Jangan siksa saya seperti ini,” katanya.
Al tak berhenti, kini ia malah menjilati sekujur permukaan payudara istriku. Lidahnya juga terus bergerak ke ketiak Tari yang mulus tanpa rambut sehelaipun.

TARI

TARI

Tari menggigit bibirnya menahan geli dan rangsangan yang mulai mengganggunya. Al mencium lembut pipinya dan sudut bibirnya.
“Jangan khawatir Mbak. Bersama saya, Mbak akan merasakan nikmat. Kalau Mbak sulit menikmatinya, bayangkan saja wajah suami Mbak,” kata Al sambil melanjutkan mengulum puting Tari. Kali ini dengan kuluman yang lebar hingga separuh payudara Tari terhisap masuk.
“MMmfff….. ouhhhhh…. tidaaakk… saya tidak bisa… ” sahut Tari dengan isak tertahan.
“Bisa, Mbak… Ini suami Mbak sedang mencumbu Mbak. Nikmati saja… ” Al terus menyerang Tari secara psikologis.
Jilatannya sudah turun ke perut Tari yang rata. Dikorek-koreknya pusar Tari dengan lidahnya. Tari menggeliat dan mengerang lemah.
“Vaginamu indah sekali, istriku…” kata Al sambil mulai menjilati tundun vagina istriku. Tari mengerang lagi. Kali ini makin mirip dengan desahannya saat bercumbu denganku.
Pinggulnya kulihat mulai bergerak-gerak, seperti menyambut sapuan lidah Al pada vaginanya. Ia terlihat seperti kecewa ketika Al berhenti menjilat. Tetapi, tubuhnya bergetar hebat lagi saat Al dengan pandainya menjilat bagian dalam pahanya. Aku acungkan ibu jari pada Al. Itu memang titik sensitifnya.
Al menjilati bagian dalam kedua paha Tari, dari sekitar lutut ke arah pangkal paha. Pada jilatan ketiga, Tari merapatkan pahanya mengempit kepala Al dengan desahan yang menggairahkan.
“Iya Tari, nikmati cinta suamimu ini,” Al terus meracau.
Direnggangkannya kembali kedua paha Tari. Kini lidahnya langsung menyerang ke pusat sensasi Tari. Dijilatinya celah vagina Tari dari bawah, menyusurinya dengan lembut sampai bertemu klitoris.
“Ooouhhhhhh…. aahhhh…. am…phuuunnn….” Tari merintih menahan nikmat. Apalagi, Al kemudian menguakkan vaginanya dan menusukkan lidahnya ke dalam sejauh-jauhnya.
Tari makin tak karuan. Kepalanya menggeleng-geleng. Giginya menggigit bibirnya, tapi ia tak kuasa menahan keluarnya desahan kenikmatan. Apalagi Al kemudian dengan intens menjilati klitorisnya.
“Ayo Tari, nikmati…. nimati… jangan malu untuk orgasme…” kata Al, lalu tiba-tiba ia menghisap klitoris Tari.
Akibatnya luar biasa. Tubuh Tari mengejang. Dari bibirnya keluar rintihan seperti suara anak kucing. Tubuh istriku terguncang-guncang ketika ledakan orgasme melanda tubuhnya.
“Bagus Tari, puaskan dirimu,” kata Al, kali ini sambil menusukkan dua jarinya ke dalam vagina istriku, keluar masuk dengan cepat.
“Aaakkhhhh….aaauuunnghhhhhh…” Tari melolong. Lalu, ia menangis. Merasa terhina karena menikmati perkosaan atas dirinya.
Al memperlihatkan dua jarinya yang basah oleh cairan dari vagina istriku. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah istriku. Dijilatnya pipi istriku.
“Oke Tari, kamu diperkosa kok bisa orgasme ya ? Nih, kamu harus merasakan cairan memekmu,” katanya sambil memaksa Tari mengulum kedua jarinya.
Tari hanya bisa menangis. Ia tak bisa menolak kedua jari Al ke dalam mulutnya. Dua jarikupun masuk ke dalam vagina Tari dan memang betul-betul basah. Kucubit klitorisnya dengan gemas.
“Nah, sekarang aku mau bikin kamu menderita lagi,” kata Al, lalu menempatkan dirinya di hadapan pangkal paha Tari.
Penisnya langsung menusuk jauh. Tari menjerit kesakitan. Apalagi Al memperkosanya, kali ini, dengan brutal. Sambil menyetubuhinya, Al tak henti mencengkeram kedua payudara Tari. Kadang ditariknya kedua puting Tari hingga istriku menjerit-jerit minta ampun.
Seperti yang lain, Al juga membuang spermanya ke dalam mulut istriku. Kali ini, Tari pingsan saat baru sebagian sperma Al ditelannya. Al dengan gemas melepas penutup mata Tari, lalu disemburkannya sisa spermanya ke wajah lembut istriku.

Tari sudah satu jam pingsan.
“Biar dia istirahat dulu. Nanti suruh dia mandi. Kasih makan. Terus lanjutkan lagi kalau kalian masih mau,” kataku sambil menghisap sebatang rokok.
“Ya masih dong, bos. Baru juga sekali,” sahut Ben. Tangannya meremas-remas payudara Tari.
“Iya, aku masih ingin anal,” timpal Bob sambil jarinya menyentuh anus Tari.
“Oke, terserah kalian. Tapi jam 2 siang dia harus segera dipulangkan,” kataku.
Tiba-tiba Tari menggeliat. Cepat aku pindah ke tempat tersembunyi. Apa jadinya kalau dia melihat suaminya berada di antara para pemerkosanya ?
Kulihat Tari beringsut menjauh dari tiga temanku yang hanya memandanginya. Jilbab putih lebarnya dirapikannya hingga menutupi organ-organ vitalnya.
Ben berdiri mendekatinya, lalu mencengkeram lengannya dan menariknya berdiri.
“Jangan… saya nggak sanggup lagi. Apa kalian belum puas !” Tari memaki-maki.
“Belum ! Tapi sekarang kamu harus mandi dulu. Bersihin memekmu ini !” bentak Ben sambil tangan satunya mencengkeram vagina Tari yang tertutup ujung jilbabnya. Tari menjerit-jerit waktu Ben menyeretnya ke halaman belakang.

TARI

TARI

Ternyata mereka akan memandikannya di ruang terbuka. Kulihat Ben merenggut lepas jilbab putihnya. Di dalamnya, masih ada kerudung kecil berwarna merah jambu, warna favorit Tari. Itupun direnggutnya. Rambut Tari yang panjang terurai hingga ke pinggangnya.
Al menarik selang panjang. Langsung menyemprotkannya ke tubuh telanjang Tari. Tari menjerit-jerit, berusaha menutupi payudara dan vaginanya dengan kedua tangannya. Bob lalu mendekat, menyerahkan sepotong sabun kepada Tari.
“Kamu sabunan sendiri apa aku yang nyabunin,” katanya.
Tari tampak ragu.
“Cepat, sabuni tubuh indahmu itu,” seru Al. Semprotan air deras diarahkannya tepat mengenai pangkal paha Tari.
Tari perlahan mulai menyabuni tubuhnya. Ia terpaksa menuruti perintah mereka untuk juga menyabuni payudara dan vaginanya. Tetapi, terlihat Bob mendekat.
“Begini caranya nyabunin memek !” katanya sambil dengan kasar menggosok-gosok vagina Tari.
Acara mandi akhirnya selesai. Mereka menyerahkan sehelai handuk kepada Tari. Tari segera menggunakannya untuk menutupi tubuhnya.
“Hey, itu bukan untuk nutupin badanmu. Itu untuk mengeringkan badan,” bentak Ben.
“Kalau sudah, pakai jilbab lagi ya Mbak, tapi tetek dan memek jangan ditutupin,” kata Al sambil menyerahkan jilbab putih lebar Tari berikut jilbab kecilnya.
“Aiiihhh…” Tari memekik. Al sempat-sempatnya mencomot putingnya.
“Kalau sudah pakai jilbab, susul kami ke meja makan. Kamu harus makan biar kuat,” lanjut Bob sambil meremas bokong Tari yang bundar.
***
Kulihat Tari telah mengenakan jilbabnya. Ia mematuhi perintah mereka, menyampirkan ujung jilbabnya ke pundaknya.
Betul-betul menegangkan melihat istriku berjalan di halaman terbuka dengan tanpa mengenakan apapun kecuali jilbab dan kaus kaki. Sensasinya makin luar biasa karena dalam keadaan seperti itu ia kini berjalan ke arah tiga lelaki yang tengah duduk mengitari meja makan.
Mereka betul-betul sudah menguasai istriku. Kulihat Tari menurut saja ketika diminta duduk di atas meja dan kakinya mengangkang di hadapan mereka. Posisiku di belakang teman-temanku, jadi akupun dapat melihat vagina dan payudara Tari yang terbuka bebas.
Bob mendekatkan wajahnya ke pangkal paha Tari. Kuihat ia menciumnya. “Nah, sekarang memekmu sudah wangi lagi,” katanya. Tari menggigit bibirnya dan memejamkan mata.
“Teteknya juga wangi,” kata Al yang menggenggam sebelah payudara Tari dan mengulum putingnya.
“Ngghhh… kenapa kalian lakukan ini pada saya,” rintih Tari.
“Mau tahu kenapa ?” tanya Bob, jarinya terus saja bergerak sepanjang alur vagina Tari.
Aku tegang. Jangan-jangan mereka akan membongkar rahasiaku.
“Sebetulnya, yang punya ide semua ini adalah Mr X,” kata Bob. Aku lega mendengarnya.
“Siapa itu Mr X ?” tanya Tari.
“Kamu kenal dia. Dia pernah disakiti suamimu. Jadi, dia membalasnya pada istrinya,” jelas Bob.
“Tapi Mr X tak mau kamu mengetahui siapa dia. Itu sebabnya tiap dia muncul, matamu ditutup.” lanjut Bob.
“Sudah, Bos, biar Mbak Tari makan dulu. Dia pasti lapar habis kerja keras,” sela Ben.
“Maaf ya Mbak Tari. Kami nggak punya nasi. Yang ada cuma ini,” kata Ben sambil menyodorkan piring berisi beberapa potong sosis dan pisang ambon. Ben lalu mengambilkan sepotong sosis.
“Makan Mbak, dijilat dan dikulum dulu, seperti tadi Mbak mengulum kontol saya,” katanya.
Tangan Tari terlihat gemetar ketika menerima sepotong sosis itu. Ragu-ragu ia menjilati sosis itu, mengulumnya lalu mulai memakannya sepotong demi sepotong.
Habis sepotong, Al mengupaskan pisang Ambon. Lalu didekatkannya dengan penisnya yang mengacung.
“Pilih pisang yang mana, Mbak ?” goda Al. “Ayo ambil,” lanjutnya.
Tangan Tari terjulur hendak mengambil pisang. Al menangkap pergelangannya dan memaksa Tari menggenggam penisnya.
“Biar saya suap, Mbak pegang pisang saya saja,” katanya.
“Tangannya lembut banget Ben,” kata Al. Ben tak mau kalah. Ia menarik sebelah tangan Tari dan memaksanya menggenggam penisnya yang besar. Sementara Tari menghabiskan sedikit demi sedikit pisang yang disuapkan Al.
Sepotong pisang itu akhirnya habis juga. Bibir Tari tampak belepotan. Bob yang sedang merokok kemudian mencium bibir Tari dengan bernafsu.
Tari mengerang-erang dan akhirnya terbatuk-batuk saat Bob melepaskan ciumannya.
“Sudah…uhukkk… sudah cukup,” kata Tari dengan nafas terengah-engah.
“Eee ini masih banyak. Sosis satu, pisang satu lagi ya,” kata Ben. “Tapi dikasih saus dulu ya ?” lanjut Ben sambil merenggangkan paha Tari.
Tari meronta-ronta, tetapi Al dan Bob memeganginya. Ben ternyata memasukkan sepotong sosis ke dalam vagina Tari. Didorongnya sampai terbenam di dalam vagina Tari yang tembam.
“Coba sekarang didorong keluar,” katanya sambil menepuk vagina Tari.
Tari terisak-isak. Ia mencoba mengejan dan akhirnya perlahan sosis itu keluar. Ben mendorongnya lagi dan menyuruh Tari mengeluarkannya lagi. Terus diulang-ulang sampai sosis itu terlihat berlendir. DIberikannya kepada Al yang kemudian menyuapi Tari. “Enak kan, sosis pakai saus memek ?” katanya. Tari menangis tersedu-sedu.
“Sekarang pisangnya ya,” kata Ben lagi.
Kulihat ia mengupas sepotong pisang. Dan kini ia melebarkan celah vagina istriku. Didorongnya pisang seukuran penisnya itu ke dalam. Tari menjerit-jerit. Pisang itu akhirnya terbenam di dalam vaginanya.
“Ayo, hancurkan dengan otot memekmu ini. Kita bikin bubur pisang,” kata Ben sambil meremas-remas vagina Tari.
Ben kemudian membantu mengaduk-aduk pisang di dalam vagina Tari itu dengan dua jarinya.
“Nih, bubur pisang rasa memek,” katanya sambil memaksa Tari mengulum dua jarinya yang berlepotan bubur pisang. Diulanginya hal itu berkali-kali.
“Sepertinya lezat. Aku mau coba bubur pisang rasa memek ah,” kata Bob. Ia kemudian merapatkan mulutnya ke celah vagina Tari.
Tari tak henti menjerit dan merintih.
Bob bangkit. Mulutnya belepotan bubur pisang. Diciumnya bibir Tari dengan bernafsu. Al dan Ben tak mau ketinggalan mengicipi bubur pisang itu.
Adegan selanjutnya tak urung membuatku kasihan pada Tari. Mereka kembali memperkosanya di atas rumput. Kali ini, mereka menumpahkan sperma di dalam vagina Tari.
Begitu usai, mereka membaringkan Tari kembali di atas meja. Kulihat pangkal paha Tari betul-betul berantakan oleh cairan sperma yang bercampur bubur pisang.
Tari terisak-isak saat Bob menyendoki campuran sperma dan bubur pisang itu dan memaksanya menelannya.
Dari tempatku sembunyi kuhubungi selular Bob.
“Pak Bob, tolong tutup lagi matanya dan ikat tangannya. Aku mau sodomi istriku,” kataku.
“Oke bos,” sahutnya.
Kulihat Tari melotot waktu Bob menyampaikan pesanku.

TARI

TARI

“Tidaaaakk…. jangaaaann… kalian… jahaaat…. setaaaannn….” ia memaki-maki saat Ben meringkus tangannya dan mengikatnya ke belakang punggung. Lalu, Al mengikatkan kain hitam menutup matanya.
Mereka membaringkan Tari menelungkup di atas meja. Dari belakang, pinggulnya yang bundar sungguh menggoda. Kutusukkan dua jari ke dalam vaginanya. Betul-betul banjir sperma bercampur bubur pisang.
“Jahanaaaamm…. Aaaaiiikkhhhhh… “Tari menjerit waktu dua jariku yang basah kutusukkan ke dalam anusnya. Kugerakkan berputar-putar untuk melebarkannya. Pada saat yang sama, kutancapkan penisku ke dalam vagina istriku.
Dan kini, penisku betul-betul basah. Kutekan ke anusnya yang sedikit terbuka. Aaakhh… sempit sekali. Tetapi, akhirnya kepala penisku mulai masuk diiringi jerit histeris Tari. Kudorong terus. Istriku yang tercinta terus menjerit-jerit.
Kudorong dengan sedikit lebih bertenaga. Akhirnya batang penisku masuk semua. Betul-betul sesak. Tari menjerit dan menangis hingga suaranya serak.
Kucengkeram buah pinggulnya yang bundar lalu kugerakkan pinggangku maju mundur dengan cepat dan kasar.

MALAPETAKA DI HUTAN

Tangan Johan memegang pinggang Hanifah dan mulai menarik maju mundur badan wanita cantik itu, sehingga pompaan penisnya dalam memek Hanifah semakin keras dan cepat. Mendapat perlakuan demikian, wanita alim itu hanya bisa mengerang-erang keras, tangannya kembali meremas-remas kasur.

***

Desa itu desa terpencil, yang berada di tepi sebuah hutan yang besar dan gelap. Karena keterpencilannya, maka jarang sekali ada orang yang masuk ke desa itu. Setelah lama tidak pernah ada pendatang, pada suatu hari datanglah sepasang suami istri muda. Sang suami, Farid, adalah seorang guru SD yang dengan sukarela mau mengajar di desa terpencil itu. Sementara sang istri, Hanifah, ikut sebagai pendamping, dan membantu mengajar TPA di masjid kecil di tengah desa.

Segera mereka berdua menjadi terkenal. Farid, berusia 28 tahun, yang guru dan sangat pandai dalam hal agama sering diminta menjadi pembicara pengajian sampai ke desa-desa tetangga yang lumayan jauh, selain juga menjadi guru di SD-SD tetangga yang kekurangan guru. Hanifah, seorang ibu muda cantik yang baru berusia 22 tahun, sangatlah populer di kalangan anak-anak dan ibu-ibu. Kelembutannya dalam berbicara, kepandaiannya dalam hal agama, dan kesabarannya dalam menghadapi anak-anak membuatnya menjadi idola di desa itu.

Hanifah adalah seorang wanita yang taat beragama. Wajahnya yang putih dan luar biasa cantik sungguh mengundang birahi banyak pria, jikalau ia tidak menjaganya. Karena itu, jilbab lebar selalu ia pakai. Tubuhnya yang bahenol dan sangat montok juga ia tutupi dengan jubah longgar. Walaupun begitu, tetap saja wajah yang cantik putih dan tubuh bahenolnya tidak bisa 100% disembunyikan, dan masih membayang pada jubah longgarnya.

Banyak pria yang merasa terangsang saat melihat Hanifah melintas. Apalagi jika angin menerpa jubah longgarnya, membuat tubuhnya semakin terlihat jelas membayang dari luar jubahnya yang tertiup angin. Namun mereka hanya bisa memendamnya dalam hati, atau paling jauh onani sambil mambayangkan bersetubuh dengannya, wanita alim yang bahenol. Kepopulerannya membuat para pria itu merasa takut mengganggunya.

Namun ternyata ada saja orang yang memang benar-benar menginginkannya. Mereka adalah Arman dan rekan-rekannya, para pemburu yang suka keluar masuk hutan. Tabiat mereka yang kasar dan berangasan membuat mereka tidak peduli. Mereka sungguh ingin merasakan tubuh seorang ibu muda cantik bahenol yang berjilbab, yang menyembunyikan tubuh indahnya di dalam jubah longgar. Justru jubah longgar dan jilbab lebar itu membuat mereka semakin penasaran dan terangsang.

Pada suatu hari, Farid, suami Hanifah, dipanggil ke kota untuk mengikuti pembekalan guru tingkat lanjut. Tiga hari ia harus pergi, dan karena ada masjid yang harus dikelola, Hanifah tidak ikut. Kesempatan itu segera digunakan oleh Arman dan rekan-rekannya untuk menuntaskan nafsunya pada ibu muda alim yang molek itu.

Saat malam tiba, setelah sholat Isya’, Hanifah pulang menyusuri jalanan desa yang sangat gelap, melintasi pinggiran hutan. Tiba-tiba ia disergap dan dipukul pada bagian tengkuk, yang membuat ibu muda berjilbab cantik itu pingsan. Ternyata sang penyerang adalah Arman. Ibu muda itu dibawa ke tengah hutan. Diperjalanan, ia mulai tersadar, dan meronta-ronta. Segera Arman menjatuhkannya dan langsung mengancamnya.

“Diam kamu!! Mau kubunuh, hah?!!” katanya sambil mengacungkan senjata pembunuh babi ke arah Hanifah. Wanita itu kaget bukan kepalang. Matanya mulai berkaca-kaca karena ketakutan. Akhirnya, di bawah todongan senjata, dengan pasrah wanita berjilbab itu digiring masuk lebih jauh ke dalam hutan. Dia sengaja diajak berjalan berputar-putar supaya bingung kalau mencoba melarikan diri.

Rasanya sudah berjam-jam mereka masuk ke dalam hutan. Rasa takut, ditambah haus dan lapar membuat Hanifah makin tersiksa, apalagi di sepanjang perjalanan berkali-kali tangan usil para pemburu itu juga sibuk meraba dan mencubiti bagian-bagian tubuhnya yang masih tertutup jilbab dan jubah lebar. Jilbabnya disampirkan kepundaknya, sehingga membuat para pemburu itu leluasa meremas-remas buah dada gadis berjilbab itu yang luar biasa montok. Pantat Hanifah yang mulus dan sekal menjadi bagian yang paling favorit bagi tangan para pemburu itu. Diperlakukan demikian, Hanifah hanya bisa menahan tangis dan rasa ngerinya.

Mereka kemudian sampai di sebuah pondok kayu kecil tapi kokoh karena terbuat dari kayu-kayu gelondongan. Anehnya mereka tidak mambawa Hanifah masuk ke dalam pondok kayu itu, tapi hanya di luarnya. Wanita montok berjilbab itu berusaha meronta tapi menghadapi tiga pria yang jauh lebih kuat darinya, perlawanannya hanyalah usaha yang sia-sia.

“Nah, Ibu yang cantik, sekarang waktunya kamu harus menerima hukuman dari kami karena sudah membuat penunggu hutan ini resah.” ujar Arman sambil matanya menyapu ke sekujur tubuh Hanifah yang tertutup jilbab yang tersingkap dan jubah yang sudah terbuka dua buah kancing atasnya.

Hanifah bingung. “A-apa salah saya, pak?” tanyanya.

“Diam!! Tubuhmu yang montok itu sudah bikin penghuni hutan ini resah tahu!! Kamu harus mempersembahkan tubuhmu itu kepada mereka!!” bentak Arman lagi.

Rofi’ah semakin panik. Ia sadar, ia akan diperkosa. Ia terus berusaha berontak, namun dua orang rekan Arman yang semuanya bertubuh tinggi besar tidak bisa ia kalahkan. Segera ia menyerah kalah, sambil menangis tersedu-sedu.

“Hmm, hukumannya apa ya?” Arman bergumam tidak jelas seolah bertanya pada dirinya sendiri. “Ah iya, mbak Hanifah, hukuman buat Mbak yang pertama adalah menari buat kami. Tapi dengan catatan, sambil menari, Mbak harus buka jubah, kutang sama celana dalam Mbak. Jilbabnya biarin saja. Sampirkan aja di pundak.” lanjut laki-laki itu datar, nyaris tanpa emosi. Ia sudah pernah melakukan ini sebelumnya, saat memperkosa seorang gadis alim yang sedang KKN di desa sebelah. Memek mereka benar-benar seret dan legit.

Hanifah yang mendengarnya tersentak kaget, seketika tubuh wanita bahenol berjilbab itu gemetar. Dia terkesiap, tidak mengira akan dipaksa melakukan tarian telanjang. Tubuhnya gemetar karena shock, Hanifah hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan tangis yang semakin kencang.

“Jangan!” pintanya dengan pasrah. “Kalian minta apa saja, silahkan. Tapi jangan seperti itu…”

“Hehehehe… ” Arman menyeringai. “Kalau mau lari juga tidak apa-apa, paling-paling Mbak hanya akan bertemu macan di sekitar sini. Lagipula tidak ada yang tahu tempat ini selain kami.”

Hanifah gemetar ketakutan, air matanya semakin deras mengaliri pipinya yang mulus. Wanita itu tahu dia tidak punya pilihan lain, dia memang tidak tahu jalan pulang, ditambah kemungkinan benar ucapan Arman tentang harimau yang masih berkeliaran. Wanita berjilbab itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat mencoba pasrah.

“Bagaimana, Non?” Arman bertanya datar.

Hanifah diam sesaat sebelum akhirnya mengangguk. Tawa ketiga pemburu itu langsung meledak penuh kemenangan.

“Horee… Asiik.! Hari ini kita bakal dapat tontonan bagus. Jarang lho ada wanita alim, berjilbab lebar secantik Mbak mau menari bugil buat kita,” kata Pak Man yang dari tadi diam saja dengan nada dibuat-buat.

Hanifah menunduk sambil menggigit bibirnya untuk menahan malu dan takutnya yang makin memuncak. Ia merasa bersalah terhadap Farid, suaminya, yang sedang ada di kota.

“Tunggu dulu, pakai musik dong.” kata Arman, dia lalu masuk ke pondokan dan keluar lagi membawa sebuah tape recorder kecil bertenaga batere. Ketika disetel, alunan musik dangdut mulai bergema di sekitar tempat itu.

“Nah, ayo dong, Non. Mulai goyangnya.” seru laki-laki itu di sela-sela suara musik yang lumayan keras.

Hanifah mencoba pasrah. Dia lantas mulai menggoyangkan tubuhnya dengan gerakan-gerakan erotis yang coba ia tiru dari joged para penyanyi dangdut di TV. Tangannya diangkat ke atas lalu pinggulnya digoyang-goyangkan, membuat seluruh tubuhnya berguncang. Seketika ketiga pemburu itu bersuit-suit melihat goyangan pinggul dan pantatnya. Apalagi saat gadis berjilbab itu mulai membuka kancing jubahnya satu per satu, mereka makin bersorak.

Saat ia merasa sangat malu dan sejenak berhenti, senjata berburu Arman langsung teracung padanya, membuatnya takut dan segera melanjutkan goyangannya. Ketiga pemburu itu terdiam saat jubah Hanifah meluncur turun ke tanah, memperlihatkan tubuh yang sangat montok, putih dan mulus tanpa cacat. Birahi mereka langsung memuncak.

“Buka kutangnya! Buka! Kami mau lihat pentilnya,” teriak mereka sambil terus memelototi tubuh Hanifah yang bergoyang erotis. Wanita alim yang bahenol itu lalu perlahan mulai melepas Bra yang menutupi payudaranya lalu melemparkannya ke tanah. Payudara Hanifah yang masih kencang sekarang tergantung telanjang, begitu putih dan mulus. Payudara itu berguncang seirama gerakannya.

Melihat bulatan daging yang begitu mulus itu, ketiga pemburu itu makin liar berteriak, meminta Hanifah untuk membuka celana. ”Celana! Sekarang celanamu… buka! Buka!”

Hanifah dengan sesenggukan mulai memelorotkan celana dalamnya dan melemparkannya ke tanah. Sekarang ibu muda berjilbab itu sudah telanjang bulat di hadapan ketiga pemburu yang memelototinya dengan penuh nafsu. Dia meneruskan tariannya dengan berbagai gaya yang diingatnya. Ketiga pemburu itu tampak paling suka saat Hanifah melakukan goyang ngebor ala Inul dan goyang patah-patah milik Anisa Bahar. Pantatnya yang montok dan mulus bergoyang-goyang secara erotis. Jilbab yang tersampir dipundaknya dan kaus kaki putih yang membungkus kaki sampai betisnya membuatnya semakin cantik.

Selama hampir satu jam Hanifah menghibur ketiga pemburu itu dengan tarian bugilnya. Tubuhnya sampai basah karena keringat, membuat kulitnya yang putih mulus terlihat berkilat-kilat. Acara itu baru selesai setelah Arman menyuruhnya berhenti.

“Hehehehe… Ternyata Mbak pintar juga narinya. Kami jadi terangsang lho.” kata laki-laki itu sambil tersenyum keji.

“Sudah cukup, Pak, saya sudah menuruti permintaan Bapak. Sekarang lepaskan saya.” pinta wanita alim yang bahenol itu dengan memelas sambil setengah mati berusaha menutupi payudara dan memeknya yang terbuka.

“Cukup?” Arman tertawa. “Hukumanmu belum lagi dimulai.”

Hanifah merasa mual mendengar ucapan itu. Kalau yang tadi belum apa-apa, ia ngeri membayangkan apa yang akan mereka minta berikutnya.

“Hukuman selanjutnya… sekarang Non berdiri sambil ngangkang, lalu angkat tangan Non ke belakang kepala!” Arman memerintah dengan jelas.

Hanifah tersedu sesaat, tapi wanita alim itu mulai membuka kakinya lebar-lebar, membuat bagian selangkangannya terkuak lebar sehingga memperlihatkan memeknya dengan jelas. Benda itu terlihat terawat dengan baik, ditumbuhi rambut-rambut halus dan rapi, Hanifah selalu merawat bagian genitalnya dengan sangat cermat demi menyenangkan suaminya. Selanjutnya tangannya diangkat ke atas dan jari-jarinya ditumpukan di belakang kepalanya, membuat payudaranya yang putih dan kenyal sedikit terangkat hingga terlihat makin membusung dan mencuat menggemaskan.

“Nah, sekarang… boleh nggak kami meraba tubuh Mbak?” tanya Arman.

Hanifah tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti permintaan itu. Wanita alim itu mengangguk sambil menangis.

“Sekarang kita mulai ya,” kata Arman.

Hanifah hanya mengangguk, dia merasakan sentuhan tangan laki-laki itu mulai bergerilya di wajah putih mulusnya.

“Uhh, wajahmu mulus sekali, Non.” Arman mencium pipi Hanifah.

Antara geli dan jijik, Hanifah memejamkan mata saat Arman mulai menelusuri bibirnya yang merah dan melumatnya dengan gerakan lembut. Laki-laki itu terus berusaha mendesakkan bibirnya untuk mengulum bibir Hanifah, lidahnya mencoba menerobos masuk ke mulut wanita cantik itu, sementara tangannya bergerilya meraba-raba dan meremas payudara Hanifah yang putih mulus. Hanifah menggelinjang menerima perlakuan itu.

Sambil bibirnya terus mengulum bibir wanita alim itu, tangan Arman kini memilin-milin puting payudara Hanifah dengan gerakan kasar. Hanifah meringis kesakitan, tapi perlahan perlakuan laki-laki itu justru menimbulkan sensasi aneh dalam dirinya, tubuhnya menegang saat sensasi itu melandanya. Tanpa sadar wanita alim itu mulai mendesah. Suaminya tidak pernah memperlakukannya seperti ini.

“Ayo, kalian juga boleh ikut.” Arman memanggil kawan-kawannya.

Hanifah makin menderita mendengar ucapan itu. Tiga orang langsung mengerubutinya. Mereka meraba-raba ke sekujur tubuh montoknya. Pak Man yang berangasan meremas-remas payudara kirinya dengan kasar, sementara sebelah tangannya meraba dan meremas pantat Hanifah yang sekal.

“Uohh, pentilnya dahsyat. Pantatnya juga nih. Kayaknya enak kalo ditidurin,” kata Pak Man.

Sementara di sebelahnya, Johan tampak asyik berkutat dengan payudara Hanifah yang sebelah kanan. Dia menjilati dan menyentil puting payudara putih bersih wanita berjilbab itu dengan lidahnya.

“Ohh, baru tahu ya?” Arman tertawa di tengah usahanya menjilati payudara Hanifah. Wanita cantik itu hanya bisa merintih pasrah. Apalagi saat Arman mulai menggerayangi memeknya.

“Ohh, tempiknya bagus banget nih, Pak Man.” kata laki-laki itu sambil menggesek-gesekkan jarinya di bibir memek Hanifah.

Pak Man tidak menanggapinya karena kini dia sibuk menciumi dan menjilati payudara Hanifah bersama Johan. Tangan laki-laki tua itu juga membelai-belai perut Hanifah yang licin. Wanita alim itu semakin menggelinjang dan terus mendesah tertahan.

“Ohh…” Hanifah menjerit kecil saat Arman mencoba memasukkan jari-jarinya ke dalam memeknya. “Jangan, Pak…” dia merintih, tapi rintihan pasrah wanita alim itu ibarat musik perangsang bagi Arman dan kawan-kawannya. Laki-laki itu makin liar menggesekkan jarinya ke selangkangan Hanifah, bahkan dia juga meremas-remas gundukan memek ibu muda cantik itu. Hanifah makin merintih. Tubuhnya mengejang mendapat perlakuan itu.

“Hei, Ar, kayaknya Mbak ini sudah mulai terangsang nih. Tuh lihat, dia mulai merintih, keenakan kali ye?” ujar Johan diiringi tawa. Hanifah makin sakit hati dilecehkan seperti itu, tapi memang dia tidak bisa mungkir kalau dirinya mulai terangsang oleh perlakuan mereka.

“Jangan! Oohh…” wanita itu mulai meracau tidak karuan saat Arman mulai menjilati memeknya. Dia menjerit saat lidah laki-laki itu bermain di klitorisnya. Lidah Arman mencoba mendesak ke bagian dalam memek wanita berjilbab itu sambil sesekali jari-jarinya juga ikut mengocok memek itu. Sungguh Hanifah tidak mau diperlakukan seperti itu, karena bahkan suaminya sendiri tidak pernah memperlakukannya seperti itu.

“Ahkkhh.. Oohh.. jangan!!” rintih Hanifah sambil menggeliat. Semantara Pak Man dan Johan kali ini berdiri di belakangnya sambil mendekap tubuhnya dan meremas-remas kedua payudara Hanifah dengan gerakan liar. Sesekali puting payudara wanita berjilbab itu dipilin-pilin dengan ujung jari seperti orang sedang mencari gelombang radio. Hanifah mengejang, sebuah sensasi aneh secara dahsyat mengusir akal sehatnya. Dia mendesah-desah dengan gerakan liar, hal ini membuat kedua penjahat itu terlihat semakin bernafsu.

“Ayo terus, sebentar lagi dia nyampe.” Pak Man berteriak kegirangan seperti anak kecil sambil terus menerus meremas payudara Hanifah sementara Arman masih menelusupkan wajahnya ke selangkangan wanita alim itu. Lidahnya terus menyapu bibir memek Hanifah dan sesekali menyentil klitorisnya.

Hanifah menjerit kecil setiap kali lidah Arman menyentuh klitorisnya, semantara tangan laki-laki itu terus bermain meremasi pantatnya. Tubuh Hanifah sudah basah oleh keringat, sekuat tenaga dia menahan desakan sensasi liar di dalam tubuhnya yang makin lama makin kuat sampai membuat wajahnya merah padam. Tapi Hanifah akhirnya menyerah, tubuh montoknya mengejang dahsyat dan tanpa sadar dia mendorongkan memeknya sendiri ke wajah Arman dan menggerakkannya maju mundur dengan liar dan menyentak-nyentak. Hanifah sudah tidak dapat menahan diri lagi. Tubuhnya menggeliat dan menegang.

“OOHHHKKHHHH… AGGGHHHH…” wanita berjilbab lebar itu mengerang kuat-kuat seperti mengejan. Wajahnya merah padam penuh aura birahi, Dan seketika itu pula “Crt… crt… crt…” cairan memeknya muncrat keluar. Tanpa sadar Hanifah mengalami orgasme untuk pertama kali, dan kemudian tubuhnya melemas lalu terpuruk, Pak Man dan Johan menahan tubuh ibu muda cantil itu supaya tidak jatuh.

Arman tertawa senang melihat bagaimana Hanifah mengalami orgasme dengan begitu dahsyat. “Hehehehe…” dia tertawa seperti orang sinting. “Enak ya, mbak? Galak juga kalau lagi orgasme. Gak ngira kalo cewek berjilbab besar kayak mbak bisa orgasme liar kayak gitu.” sindirnya.

Hanifah hanya diam saja. Tubuhnya masih lemas setelah mengalami orgasme yang begitu hebat. Sekujur syaraf seksualnya seolah digetarkan dengan begitu kuat seperti dihimpit oleh truk raksasa, membuat dorongan seksualnya entah bagaimana menggelegak hebat hingga wanita alim itu serasa ingin dientot. Namun ia berusaha mengusir pikiran itu.

“Nah, sekarang hukuman ketiganya.” Arman memberi isyarat pada Pak Johan. Johan segera bergegas masuk ke dalam pondok dan keluar dengan mengusung sebuah kasur busa usang yang berbau lembab lalu menghamparkannya di tanah begitu saja.

“Nah, Mbak sekarang tiduran di situ ya.” Arman menunjuk ke arah kasur bau itu.

Hanifah hanya bisa mengangguk. Didorong oleh gejolak seksualnya yang menggelora, wanita berjilbab yang biasanya pemalu itu merebahkan dirinya terlentang di atas kasur. Jilbab lebarnya sudah basah penuh keringat. Hanifah refleks membuka kakinya lebar-lebar, sehingga posisinya sekarang telentang di atas kasur dengan kaki mengangkang lebar. Ketiga pemburu itu terkagum-kagum melihat gadis alim yang sangat cantik, yang biasanya menjaga dirinya dengan jilbab dan jubah panjang, sekarang sudah terlentang pasrah, siap untuk disetubuhi.

Arman segera membuka seluruh bajunya dan langsung menindih tubuh Hanifah sambil mengarahkan penisnya yang besar ke memek wanita berjilbab itu.

“Sudah siap kan, Mbak?” tanyanya lirih sambil mendorongkan penisnya ke dalam memek Hanifah.

“Aagghh…” wanita alim itu merintih keras ketika penis besar Arman mulai memasuki memeknya yang sudah basah. Arman dengan kasar mendorongnya sampai mentok. Karena besarnya diameter penis laki-laki itu, memek Hanifah sampai terlihat tertarik penuh dan menjadi berbentuk bulat melingkar ketat di penis Arman. Meskipun Hanifah sudah tidak perawan lagi, tapi baru kali ini memeknya dimasuki penis sebesar milik Arman. Wanita berjilbab itu meringis menahan sakit sambil mengigit bibirnya.

Arman mulai memompa penisnya dengan cepat keluar masuk memek Hanifah. Hanifah yang belum pernah dipompa oleh penis sebesar milik Arman hanya bisa mengerang-erang dengan mata tertutup dan mulut sedikit terbuka. Wajahnya memperlihatkan kesakitan sekaligus birahi. Sungguh kini ia sudah tak mampu berpikir jernih, dan terhanyut oleh perkosaan yang ia alami.

“AAAHHH… UUUUHHHH… OOOHHHH…!!” teriaknya sambil menggelinjang-gelinjang dan kedua tangannya meremas-remas kasur yang cukup tebal itu.

Arman semakin cepat memompa memek Hanifah dengan penisnya. Hanifah yang keenakan, mengangkat kakinya ke atas, memberikan kesempatan kepada laki-laki itu untuk terus memompa memeknya dengan lebih cepat lagi dan lebih dalam lagi.

“Aaahh… enak… terus, paaakk… oohhhh… maafkan Hani, mas Fariiiidd… Oooohhh… ini enaaakkk sekaliiii… Aku tidak bisa menahannya!!!” Hanifah mulai meracau dengan mata tertutup dan tangannya semakin keras meremas-remas kasur.

Setelah dua puluh menit disetubuhi Arman, tiba-tiba badan montok ibu muda berjilbab yang sudah basah bersimbah peluh itu mengejang, kedua kakinya dirapatkan menjepit pinggang Arman, tangannya memeluk erat leher laki-laki itu.

“AAAARRGGHHH…” erang Hanifah saat mencapai orgasme yang kedua. Tubuhnya menggelinjang hebat tak terkendali. Sementara Arman yang mengetahuinya, segera mendekap tubuh wanita itu seerat-eratnya. Pinggulnya terus mendorong-dorong kemaluannya seakan ingin mendekam dan bersarang di memek wanita berjilbab lebar itu. Lalu diciuminya seluruh wajah Hanifah. dikulumnya dalam-dalam bibir wanita itu. Hanifah yang sudah kecapaian tak kuasa menolaknya. Dia membiarkan bibirnya dilumat oleh Arman dengan kasar.

Setelah bergetar-getar beberapa saat, badan Hanifah kemudian melemah, pelukan tangannya lepas dari leher Arman, kakinya yang tadinya memeluk pinggang Arman, jatuh ke kasur. Memek wanita alim itu yang tersumpal rapat oleh penis Arman terlihat mengeluarkan cairan sampai membasahi kasur.

Arman yang juga keenakan, menyusul tak lama kemudian. Si pemburu kasar itu menyemprotkan spermanya dengan sodokan yang keras ke dalam kemaluan Hanifah. Spermanya keluar sangat banyak hingga tak tertampung oleh memek ibu muda alim itu. Rembesannya juga keluar membasahi kasur.

Setalah menuntaskan segala kepuasannya, Arman berdiri meninggalkan tubuh Hanifah yang lemas telanjang di atas kasur. Tubuh putih itu sekarang berkilau basah oleh keringat, pada memeknya terlihat mengalir cairan sperma kental berwarna putih susu.

“Ohhhh…” Arman mendesah penuh kepuasan. Baru kali ini dia merasakan nikmatnya menyetubuhi seorang wanita berjilbab yang sangat cantik. Berbeda sekali dengan pelacur-pelacur yang pernah dipakainya selama ini.

Hanifah hanya bisa menangis meratapi nasibnya diperkosa oleh pemburu ugal-ugalan, tapi dalam hatinya dia tidak memungkiri kalau sebetulnya dia menikmati saat dirinya disetubuhi oleh Arman. Rasa yang sangat berbeda dari yang pernah didapatnya dari Farid, suaminya, bahkan Hanifah merasa Farid tidak ada apa-apanya dibandingkan Arman. Karena itu ketika Pak Man mendekatinya, wanita alim itu hanya diam saja, menunggu persetubuhannya yang kedua.

“Nah, sekarang giliranku.” kata Pak Man tenang sambil melepas pakaiannya satu-persatu, dia menyeringai kegirangan mirip anak kecil yang diberi permen. “Kita ganti gaya ya, mbak…” katanya kalem.

Mungkin karena saking terangsangnya, Hanifah menurut saja apa yang diminta oleh laki-laki itu. Pak Man membalikkan tubuhnya dengan pantat agak ditunggingkan, tangan dan lutut Hanifah bertumpu di kasur dengan gaya nungging. Pak Man membelai pantatnya yang mulus telanjang sambil sesekali menamparnya ringan dan mencubitinya.

“Busyeet… pantatnya gede banget, putih mulus lagi.” kata Pak Man kegirangan. Penisnya mulai memasuki memek Hanifah dari belakang.

“Oohh… gila!” laki-laki itu mengejang ketika penisnya amblas sepenuhnya di dalam memek sang ibu muda. “Tempiknya Mbak masih seret aja, nggak pernah dipake sama suaminya ya?” Pak Man berujar.

Hanifah hanya diam saja sambil memejamkan mata karena kesakitan sekaligus merasakan nikmat pada dinding memeknya sebelah dalam. Sekarang Pak Man mulai memaju-mundurkan pinggulnya sambil berpegangan pada pantat wanita alim berjilbab itu. Hanifah serasa melayang, sekonyong-konyong dia tidak merasa diperkosa karena turut menikmatinya. Pak Man lalu mencengkeram kepalanya yang masih terbungkus jilbab merah muda, dan ditariknya hingga wajah Hanifah terangkat memperlihatkan ekspresi kesakitan tapi penuh kenikmatan setiap kali laki-laki itu menggenjotkan penisnya.

“Ahhh… Aahhhh… Ooohhhhh… Ooohhhh…” Hanifah mengerang setiap kali Pak Man menyodokkan penisnya.

Di lain pihak, Arman dan Johan ikut memberi semangat setiap kali Pak Man menyodok memek gadis berjilbab lebar yang sudah sangat terangsang itu. “Ayo, terus! Terus, Mbak… Yeahh… Ooohhh… Bagus!” seru keduanya bergantian.

”Aghhh.. Aahhhh… Auwhhhh…!” Hanifah yang sudah dikuasai nafsu birahi mengerang-erang kuat setiap kali sentakan penis Pak Man menyodok bagian dalam memeknya.

Menit demi menit berlalu, Pak Man masih bersemangat menggenjot tubuh ibu muda cantik itu. Sementara Hanifah sendiri sudah mulai kehilangan kendali, dia kini sudah tidak terlihat sebagai seseorang yang sedang diperkosa lagi, melainkan nampak hanyut menikmati ulah Pak Man.

Saat laki-laki itu minta untuk ganti gaya lagi, Hanifah dengan senang hati mengabulkannya. Kali ini dia telentang lagi. Pak Man mengangkat kedua paha sekal Hanifah dan disampirkan ke pundaknya, lalu kedua tangannya mencengkeram pergelangan tangan wanita cantik itu dan menariknya kuat-kuat. Kemudian dia kembali mendesakkan penisnya ke memek Hanifah dan menggenjotnya kuat-kuat. Wanita alim itu kembali menggeliat antara sakit bercampur nikmat.

Di ambang klimaks, tanpa sadar saat Pak Man melepaskan pegangannya dan kembali menindih tubuhnya, Hanifah memeluk laki-laki itu dan memberikan ciuman di mulutnya. Mereka berpagutan sampai gadis berjilbab itu mendesis panjang dengan tubuh mengejang, tangannya mencengkeram erat-erat lengan Pak Man. Cairan kentalkembali menyembur dari dalam memeknya.

Tapi Pak Man yang belum terpuaskan, setelah jeda beberapa menit, kembali menggerakkan penisnya maju mundur di dalam memek Hanifah.

“Uugghh… Ooohh !” desah Hanifah sambil mencengkeram kasur dengan kuat saat penis Pak Man kembali melesak ke dalam memeknya, cairan yang sudah membanjir di memeknya menimbulkan bunyi berdecak setiap kali penis laki-laki itu menghujam. Suara desahan pasrah wanita alim itu membuat Pak Man semakin bernafsu. Dia meraih payudara Hanifah dan meremasnya dengan gemas seolah ingin melumatkan benda kenyal itu.

Lima belas menit lamanya Pak Man menyetubuh Hanifah sampai akhirnya laki-laki itu menggeram saat merasakan sesuatu akan meledak dalam dirinya.

“Crott… crot… crot…” spermanya menyembur berhamburan membasahi rahim Hanifah dengan sangat deras. Pak Man merasakan sekujur syaraf seksualnya meledak saat itu, bagai seekor binatang ganas yang keluar mengoyak tubuhnya dari dalam. Tubuh tuanya menegang selama beberapa detik merasakan kenikmatan yang diperolehnya sebelum akhirnya melemas kembali dan tergolek mendekap tubuh mulus Hanifah. Setelah puas, baru dia bangkit. Dibiarkannya wanita alim yang bahenol itu terkapar di ranjang, wajah Hanifah tampak sedih dan basah oleh keringat, cairan sperma yang sangat banyak mengalir keluar dari memeknya yang sempit. Jilbab yang ia pakai sudah kusut dan basah kuyup oleh keringat.

Johan yang mendapat giliran terakhir maju sambil bersungut-sungut. Dia yang sedari tadi sudah telanjang hanya bisa mengocok penisnya sendiri sambil memelototi adegan persetubuhan kedua temannya dengan wanita berjilbab yang ternyata sangat cantik dan seksi itu.

“Jangan tiduran saja di situ, Mbak cantik.” Johan menarik tangan Hanifah dengan kasar hingga membuatnya tersentak ke depan. Diangkatnya wajah Hanifah yang tertunduk, ditatapnya sejenak dan disekanya air mata yang mengalir sebelum dengan tiba-tiba melumat bibir mungil wanita itu dengan ganas.

Mata Hanifah membelalak menerima serangan kilat itu. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendorong dada Johan, namun sia-sia karena Johan memeluknya begitu kuat dengan tangan satunya memegangi kepalanya. Ciuman Johan juga semakin turun ke leher jenjangnya yang tidak tertutup jilbab, laki-laki itu membungkukkan badannya agar bisa menciumi payudara Hanifah yang mulus dan sekal. Johan menjilatinya dengan liar hingga permukaan payudara Hanifah basah oleh ludahnya, terkadang dia juga menggigiti puting susu wanita berjilbab itu, memberikan sensasi tersendiri bagi Hanifah. Sementara tangan satunya turun meraba-raba kemaluan Hanifah dan memainkan jarinya disitu, menyebabkan daerah itu makin berlendir.

“Pak… Pak… Ooohh… Aaaah!” desah Hanifah antara menolak dan menerima.

Johan kembali melumat bibirnya, sambil pelan-pelan merebahkan tubuh mulus Hanifah kembali ke atas kasur dan kemudian menekan penisnya dalam-dalam ke liang memek wanita cantik itu.

“Sshhh… sakit! Aawhhh…!!” rintih Hanifah ketika penis Johan yang besar menerobos memeknya. Sementara Johan terus berusaha memasukkan penisnya sambil melenguh-lenguh.

“Ough… aduh! Aduduhhhh…! Pak, pelan-pelan, pak!!! Aahhh… Auggghhhh…!” jerit Hanifah sambil mendorong tubuh Johan sedikit menjauh. Namun Johan tetap tidak peduli. Ia pun terus mendorong penisnya masuk perlahan. Gesekan yang ditimbulkan batang penis dan dinding rahim Hanifah membuat Hanifah merasakan sakit di selangkangannya. Apalagi ia harus menahan bobot tubuh Johan yang terbilang agak berat itu.

Mengetahui kondisi dan tidak ingin terlalu membuat ibu muda alim itu tersiksa lebih lama, Johan pun mendorong penisnya dengan kekuatan penuh hingga akhirnya amblas semuanya. Kedua tangannya memegang pinggul Hanifah agar batangnya tidak terlepas dari liang itu.

Johan mulai menarik penisnya yang masih tertancap di memek yang sempit itu. Gerakan maju mundurnya membuat Hanifah menggigit bibir bawahnya. Rasa perihnya mulai hilang, diganti rasa nikmat karena gesekan kulit daerah organ vital mereka berdua. Goyangan maju mundur Johan terus menerus seolah ingin menancapkan penisnya sedalam mungkin. Cukup lama ia melakukan gerakan menekan dan memutar liang itu. Beberapa menit berlalu hingga sebuah erangan panjang keluar dari mulut manis Hanifah.

“Ooooughhhhhhh… Ooughhhh… Oooooohhhhhhhhh… Paaak…!!!” Tubuh montoknya mengejang, kakinya menekan pinggul Johan. Cengkeraman kukunya di lengan laki-laki itu menandakan ia telah orgasme untuk kesekian kalinya. Setelah dua kali diperkosa, tiada lagi daya dalam diri Hanifah untuk mengimbangi serangan Johan.

Melihat kejadian itu, Johan pun mempercepat gerakannya, ia meningkatkan tempo goyangannya. Penisnya yang besar dan berurat menggesek dan menekan klitoris Hanifah ke dalam setiap kali benda itu menghujam. Kedua payudara Hanifah yang membusung tegak ikut berguncang hebat seirama guncangan badannya.

Johan segera meraih yang sebelah kanan dan meremasnya dengan gemas. Gairah wanita alim berjilbab itu mulai bangkit lagi, Hanifah merasakan kenikmatan yang berbeda dari biasanya, yang tidak didapatnya saat bercinta dengan suaminya. Tanpa disadarinya, ia juga ikut menggoyangkan pinggulnya seolah merespon gerakan Johan. Tapi Belum lagi sempat Hanifah menarik napas, Johan dengan kasar mengangkat dan membalikan tubuh sintalnya. Johan membuat Hanifah sekarang dalam posisi menungging. Pantat wanita cantik itu terangkat tinggi, sedangkan kepalanya tertunduk ke kasur dan badannya bertumpu pada kedua lutut dan tangannya. Johan dengan kasar dan dalam tempo yang cepat, kembali memompa memek becek Hanifah dari belakang.

“Aaaaghh… Eegghhhh… Sakiiit…!!” teriak Hanifah menerima perlakuan kasar dari Johan.

Mendengar itu, Johan malah semakin bersemangat dan semakin keras menghajar memek Hanifah dengan penisnya yang besar. Tangannya memegangi pinggang Hanifah sambil terus menarik maju mundur badan mulus wanita cantik itu, sehingga pompaan penisnya dalam memek Hanifah semakin keras dan cepat.

Mendapat perlakuan demikian, wanita alim itu hanya bisa mengerang-erang keras, tangannya kembali meremas-remas kasur. Badan Hanifah bergerak maju mundur mengikuti pompaan keras penis Johan. Setiap kali laki-laki itu memasukkan penisnya sampai mentok ke memeknya, ia berteriak. “AAHGHH… AAGHHHH… AGHHH…!!” serunya berulang-ulang. Semakin cepat Johan memompa penisnya, semakin keras pula erangan Hanifah.

Kemudian Johan merubah posisinya yang tadinya berlutut menjadi berjongkok di belakang Hanifah. Posisi itu membuat Johan dapat makin cepat lagi memompa memek sang ibu muda dari belakang dan membuat penisnya dapat makin keras menekan memek Hanifah, meskipun sebenarnya penis yang besar itu sudah mentok. Johan makin mempercepat pompaan penisnya sambil menjambak rambut Hanifah.

“Aaaaahh… Ouuuuhh… Aaaaaahhhh… Eeeeeehhhgggh…!!” teriakan Hanifah menggema di tengah hutan itu. Penis Johan yang besar terlihat makin cepat keluar masuk di dalam memeknya.

Hanifah dalam posisi demikian tidak dapat berbuat apa-apa selain mengikuti irama permainan laki-laki itu, mengikuti apa maunya Johan, beberapa menit bermain cepat, kemudian melambat dan menjadi cepat lagi.

Wajah Hanifah yang terdongak menunjukkan betapa dia sebenarnya menikmati perlakuan kasar laki-laki itu. Matanya merem melek dan mulutnya terbuka lebar menikmati serbuan penis Johan dari belakang. Tangannya makin keras meremas-remas kasur, payudaranya yang padat bergantung dan bergoyang keras ke depan dan ke belakang, memeknya sudah sangat basah, cairan memeknya yang bercampur sperma bukan saja meleleh banyak di kedua paha bagian dalamnya tapi sedikit-sedikit mulai menetes ke kasur yang dijadikan alas. Ternyata wanita berjilbab itu sudah sangat menikmati perlakuan kasar dari para pemerkosanya, dan orgasme berkali-kali.

Setengah jam lamanya Johan menyetubuhi dirinya. Cairan kewanitaan semakin deras membasahi kedua paha dalamnya, kaki Hanifah sudah mulai bergetar karena terlalu letih akibat orgasme yang berulang-ulang. Sementara Johan masih saja terus menggenjotkan penisnya seolah tidak akan berhenti, sampai akhirnya ketika Hanifah orgasme lagi, laki-laki itu mengejang kuat-kuat sambil menyentakkan penisnya dalam-dalam ke liang memek Hanifah yang sempit.

Johan melenguh keras. “AAAAHHHHKKKHHHH…!” dia merasakan kenikmatan yang luar biasa menghantam sekujur tubuhnya, dan seketika itu pula spermanya menyembur dengan sangat deras ke dalam rahim Hanifah. Seketika didorongnya tubuh ibu muda itu hingga tertelungkup di kasur, sementara dia sendiri terkapar terengah-engah merasakan kenikmatan yang luar biasa setelah menyetubuhi wanita berjilbab besar yang ternyata begitu cantik dan montok.

***

Dan selama sehari semalam, ketiga orang pemburu itu memperlakukan Hanifah tidak lebih dari budak nafsu yang harus siap melayani nafsu seksual mereka bertiga. Mereka tidak mengijinkan Hanifah untuk berpakaian, kecuali jilbab merah muda dan kaus kaki putihnya. Mereka juga memaksa Hanifah untuk menjadi pelayan di pondokan mereka, tentunya dengan tetap telanjang bulat. Dan semalaman, mereka bertiga memaksa Hanifah untuk melakukan hubungan seksual dengan berbagai gaya dan cara yang bisa mereka praktekkan.

Pesta seksual itu baru selesai sekitar jam empat pagi setelah Hanifah benar-benar tidak kuasa lagi bergerak. Mereka berempat kemudian tertidur di lantai beralas karpet usang tanpa busana. Johan tidur sambil menggenggam payudara Hanifah, Arman dan Pak Man tidur di sebelahnya.

Hanifah kembali ke rumahnya dengan tertatih, namun tidak menceritakan peristiwa itu pada siapa pun, termasuk suaminya. Ternyata ia memang diam-diam menikmati perkosaan yang menimpanya, sehingga saat suaminya keluar desa dan ia kembali diperkosa oleh ketiga orang pemburu itu dirumahnya, wanita alim itu hanya pasrah. Bahkan ia kembali orgasme berulang-ulang.