BU ANDI

irnawati (21)

Banyak orang memanggil namaku Egiek, nama kesayangan yang diberikan keluargaku. Setelah menyelesaikan SMA di kota T, saya masuk kuliah dan tamat S1 di kota B ini, sebuah kota besar yang memancarkan kesibukannya setiap hari, yang mendorong kesibukan bagi warganya. Studi lanjut S2 di Jakarta saya selesaikan selama 2 tahun, kemudian kembali di kota B bekerja dan menetap di kota ini pula.

irnawati

Malam itu sekitar jam delapan, saya bergegas menuju stasiun kereta api menjemput mama yang bersama dengan seorang temannya dari kota T. Setelah salam hormat cium tangan dan pelukan sama mama, sayapun memberi salam kepada temannya yang memperkenalkan diri, namanya Andi, kemudian kami bertiga masuk mobil. Saya menyetir, mama duduk di sebelah saya, sementara temannya di jok belakang.

“Tadi mama mau naik taksi saja, katanya kamu fitness Giek” kata mama memecah kesunyian

“Ya Ma, tadi fitnesnya Egiek ajukan Ma, supaya bisa jemput mama”

“Ini Bu Andi, bosnya mama” kata mama memperkenalkan

“Boss apaan Bu…?” sahut Bu Andi merendah, menyanggah ucapan mama.

“Yang mama ceritakan tempo hari, Bu Andi mau masuk S2, di kota B ini, nanti kamu bantu ya…”

“Ya Ma, siap Ibu…” kataku penuh hormat.

“Terima kasih…Giek” sahutnya dari belakang.

irnawati (1)

Lamunanku melayang ke waktu sekitar satu tahun yang lalu. Sebenarnya saya sudah tahu dengan bu Andi ini, ketika itu saya mengantar mama pada acara perkenalannya sebagai pejabat baru di kantor tempat mama bekerja, kebetulan waktu itu saya pulang ke kota T. Dalam acara perkenalan itu dia duduk di kursi deretan terdepan, beserta dengan bos lainnya, saya bersama mama di kursi lain. Hanya dalam hati saya, perempuan ini berparas elok, kulitnya putih bersih ditunjang dengan tinggi badan, kira-kira 165 cm. Nampak anggun malam itu, memakai kebaya, berjilbab dan seleyer yang disampirkan pada bahu sebelahnya. Nama Andi, semula saya kira nama suaminya, ternyata memang namanya aslinya ‘Andi’. Pembawaannya kurang banyak bicara, hingga kesannya seolah sombong, tapi sebenarnya tidak sombong-sombong amat kalau sudah kenal.

Pesan mama, saya harus membantu kebutuhannya selama dia studi di kota B ini, tidak hanya saat pendaftaran ini saja, tetapi kalau perlu kebutuhan studi lainnya termasuk mencarikan kost-kosan dan sebagainya dan saya tidak keberatan. Saya mencoba memenuhi pesan mama dan mengatur antara tugas pekerjaan saya dengan membantu bu Andi. Keesokan harinya, hari Sabtu seperti biasanya saya libur, sesuai jadwal yang telah ditentukan saya antar bu Andi ke kampus untuk proses pendaftaran, kemudian mereka berdua saya ajak jalan-jalan keliling kota.

Pada waktu seleksi masukpun masih diantar mama, seperti saat pendaftaran dulu. Mama bercerita, suaminya tidak sempat mengantar, lagi pula sakit-sakitan, sehingga merasa repot untuk bepergian jarak jauh. Dia mengambil kuliah weekend, Sabtu dan Minggu. Biasanya tiba di kota B Jumat malam, Sabtu-Minggu pagi hingga sore masuk kuliah dan Senin pagi baru pulang dengan kereta atau travel.

irnawati (2)

Karena sering bertemu dalam membantu kebutuhan studinya, lama-kelamaan kami menjadi dekat, enak juga diajak ngobrol dan diskusi. Mungkin karena merasa lebih tua, saya kadang dinasehati. Usianya 35 tahun, sedangkan saya baru 26 tahun, jadi seperti kakak jauh atau tante begitu. Saya sering berkunjung ke kostnya, ngobrol atau sekedar makan malam bersama. Terus terang saya mulai tertarik dengan sikapnya yang tenang, tapi cerdas yang menambah point kecantikannya. Dan saya menghormatinya, saya berinisiatif, ketika turun dari mobil saya sering membukakan pintunya, walau dia tidak mau diperlakukan demikian. Lambat laun ingin rasanya dalam hati untuk berhubungan lebih dekat lagi, misalnya mencium pipinya yang ranum itu dan ingin selalu berdekatan.

Di suatu Jumat siang saya di telepon bu Andi, dia minta untuk dijemput di stasiun pukul 17.00. Tidak seperti biasanya yang langsung ke tempat kost.

“Aku mau pinjam printermu untuk selesaikan tugas. Besok dikumpulkan” katanya dari seberang.

“Ya Bu, bisa…” jawabku

irnawati (4)

Sorenya cuaca hujan, dari kantor saya langsung ke stasiun menjemputnya. Beberapa menit kemudian kulihat dia muncul dari peron, memakai celana hitam dan blouse warna putih lengan panjang dan kerudung biru muda, menenteng tas dan mengembangkan senyum khasnya. Aku langsung bergegas menghampirinya meminta tasnya, kami berdua berpayung menuju tempat parkir. Saya senang sekali bisa berdekatan, karena satu payung sampai mepet, hingga bau harum tubuhnya sampai di hidungku. Tapi ada perasaan aneh, dadaku tiba-tiba bergetar, ingin rasanya memeluk sosok perempuan cantik ini, tapi saya tidak berani. Sebelum sampai di rumah kami berdua makan bersama, namun tidak lama-lama seperti biasanya, karena terburu dengan menyelesaikan tugasnya. Dia harus selesaikan tugas malam ini di rumahku, karena di tempat kostnya tidak ada printer.

Sampai di rumah, saya langsung menyiapkan untuk mengerjakan tugasnya, saya membantu mengedit, melengkapi referensi dan data, sementara bu Andi saya persilakan mandi dulu. Bagi saya, pekerjaan ini bukanlah pekerjaan berat karena sayapun pernah mendapat tugas perkuliahan semacam ini. Keluar dari kamar mandi dia memakai jilbab putih, kaos ketat warna putih bergambar dan celana panjang warna hitama. Berjalan menuju meja mengentry data yang belum sempat dibuat. Cantik memang, apapun yang dikenakan perempuan ini pantas dan tampak indah.

Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam lebih, saya berfikir; dalam rumah ini hanya ada saya lelaki dewasa dan bu Andi, perempuan cantik dan bukan muhrim. Kalau ada orang yang tahu tentu akan berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi. Saya memang mempunyai hasrat untuk memeluk atau mencium. Tapi suatu hal yang tidak mudah aku lakukan, bagai ada ‘tembok’ yang menghalangiku untuk berbuat seperti itu. Tembok itu adalah kedudukan bu Andi sebagai atasan mamaku dan saya harus menghormatinya. Mungkin aku bisa ‘melompat tembok’ itu dengan cara memaksa mencium atau memeluknya, tapi aku masih sadar; dia bisa marah dan akibatnya fatal. Tidak hanya pada diri saya saja, hubungan menjadi putus berantakan, tetapi juga bisa marah kepada mamaku sebagai anak buahnya. Dan ini tidak baik hanya pada diri saya saja, tetapi juga pada karier mamaku.

irnawati (5)

Lamunanku menjadi buyar, ketika perempuan bertahilalat di pipi ini berkata:

“Peralatan jilidmu lengkap juga ya Giek, bisa buka percetakan nih….kalau pensiun.” selorohnya ketika tahu tugasnya sudah terjilid.

“He…he… dulu ini juga untuk bikin tugas-tugas begini, Bu” kataku sambil membersihkan ruangan dan beranjak ke kamar mandi.

Dalam kamar mandi pikiran itu masih menggelanyut di kepalaku, bahkan ketika aku mulai melepas pakaian, tanpa sebab yang jelas tititku tegang dan membesar, aku tersenyum sendiri. “Ngapain lu..” pikirku. Ini dia, efek dari pikiranku yang tertuju pada sosok perempuan cantik itu.

Selesai mandi, waktu menunjukkan pukul 10.00 malam, kudapati bu Andi duduk sambil membalik-balik buku tugasnya. Saya mendekatinya dan berdiri di sebelahnya, cukup dekat. Dia berpaling ke arahku tersenyum dan berkata:

“Terima kasih ya Giek, atas bantuanmu selama ini dan terima kasih semuannya, aku selalu merepotkanmu” katanya.

“ Terima kasih, sama-sama, Bu Andi…”

Kemudian dia berdiri dari tempat duduknya, tapi aku tidak berusaha menjauh darinya, sehingga kami sangat dekat sekali, aroma wewangian tubuhnya sampai ke hidungku kembali. Wanita yang punya bibir indah itu belum beranjak dari tempat berdirinya, dia agak mendongakkan kepalanya ke arah wajahku.

“Kamu baik sekali…” katanya bergetar, tatapan matanya tertangkap penuh arti.

“Ibu jangan risau, saya hanya bantu, itupun tidak sepenuhnya. Sering Ibu berangkat sendiri ke stasiun dan dari stasiun” kataku mulai bergetar juga. Saya memang sering bantu dia, tidak hanya antar jemput, tetapi juga mengerjakan tugas-tugas, mencarikan referensi buku.

irnawati (6)

Kemudian saya memberanikan diri memegang tangannya. Kedua tanganku meraih tangannya menggenggam lembut. Kami berhadap-hadapan dekat sekali, saling memegang tangan dengan eratnya dan mata kami beradu saling memandang. Kebersaman selama lebih dari empat bulan ini membuat kami merasa semakin dekat saja. Rasa hatiku sebagai lelaki dewasa bergeser dengan kesadaran menghadapi seorang perempuan dewasa pula. Getaran-getaran itu merambat yang kemudian mendorong hasrat yang kuat untuk memeluk dan mencium sosok perempuan pns ini. Jantungku berdetak lebih keras lagi, kami berdua tanpa mengeluarkan kata-kata lagi. Masih saling memandang, mengikuti aliran pikiran masing-masing yang berkecamuk dalam kepala dan bergetar sampai dada. Namun aku merasa; mungkin pikiran bu Andi ini juga tidak jauh berbeda dengan benakku. Perasaanku mengatakan demikian. Kemudian dia mengatupkan matanya sambil mendongakkan kepalanya ke arah wajahku. Aku sambut dengan kecupan pada keningnya, kemudian memeluknya dengan ketat, sambil mencium keningnya. Angan-anganku tadi di taman parkir stasiun, kini menjadi kenyataan.

Dadaku mulai bergetar kencang demikian pula yang kurasakan dadanya bergetar kuat. Kami berdua saling berpelukan, ada sesuatu yang ingin saya katakan tapi tidak kuasa mengungkapkannya. Ada seribu kata tak terucapkan, demikian pula dia berdiam tapi makin mempererat pelukannya, seolah tidak ingin berpisah dan melepas. Kedua tangannya merangkul pinggangku dengan ketat, kami berdua ingin menyatu. Dada kami berdua bertalu-talu saling berkejaran. Aku mulai mengecup bibirnya agak ragu, tetapi bu Andi menyambut dengan kecupan lembut. Kami berciuman bibir, menyisir bibir indah itu, kemudian saling melumat lembut, meluapkan perasaan masing-masing dan saling merasakan kenikmatan pada sudut-sudut bibir kami berdua.

Sementara dari luar terdengar hujan rintik-rintik, tapi di dada ini semakin membara. Beberapa menit bu Andi aku peluk kembali dan kedua tangannyapun memeluk aku. Berpelukan, berciuman kembali bergantian, lidah kami saling berinteraksi saling mengisap dan menari. Aku mundur pelan dan mengarahkan pantatku di meja tulis, bu Andi tetap merangsek ke depan dalam pelukanku, seakan tidak mau kulepaskan. Aku setengah duduk di meja, sementara berciuman ketat, lidah kami menari bersama dan saling memagut.

“Ibu cantik sekali…” rayuku

“Thanks Giek, kau pria gagah, tampan dan pintar, tapi perasaanmu lembut. Aku suka kamu…” katanya bergetar, terus terang, sambil tersenyum dan memandangiku penuh arti.

irnawati (7)

“Saya juga senang bersanding bersama Ibu. Sekarang sudah larut malam, kalau berkenan, Ibu menginap di sini saja malam ini” kataku memberanikan diri dan disambut dengan mengangguk dengan pandangan mata ke arahku, tanpa kata walaupun bibirnya bergetar.

Lalu dia merebahkan kepalanya di dadaku, kubelai-belai keningnya. Rasa dan perasaanku sangat dekat dengannya, rupanya pelukan itu mempunyai arti sejuta kata dan rasa. Saya tidak bisa membedakan antara rasa sayang dan nafsu, yang campur aduk menjadi satu. Saya berusaha memilah-milah dan mengurai dua kata itu; ‘sayang’ karena selama ini dalam kebersamaannya, tapi juga ‘nafsu’, karena tititku menjadi tegak teramat sangat.

“Ada bagian lain yang bergerak-gerak…!” katanya sambil ketawa dan agak menjauh melepaskan pelukan.

“Iyaa…, he…he…” kataku ketawa pula.

Yang dimaksud tentu tititku, yang berontak saat kutempelkan ketat pada tubuhnya. Ini yang tidak bisa ditipu. Aku raih tangannya, dengan pelan aku membalikkan tubuhnya, sehingga dia memunggungiku. Tanganku mendekap dari belakang, Telapak tanganku posisinya persis pada teteknya, tapi aku tidak berani meremas. Hanya karena dekapanku kuat sehingga telapak tanganku kena sasaran. Dia meraba-raba wajahku dengan jari lentiknya. Roamantis sekali.

Beberapa menit kemudian kuangkat tubuh perempuan itu, tangan kananku mengangkat kedua pahanya, sedangkan tangan kiriku mengangkat punggungnya, lalu kubawa ke kamar, agak berat. Kurebahkan pelan-pelan di tempat tidur, kami mulai bergumul dengan cumbuan-cumbuan yang meningkatkan getaran-getaran pada tubuh kami. Dadaku bergemuruh kembali, berdetak dengan kerasnya sampai menggoncang-goncang dadaku dengan keras dan cepat, lebih cepat dari detak-detak jam dinding di kamar itu. Pertanda menanjaknya birahi kami berdua, tanda yang lebih nyata adalah tititku tegak sangat kuat sekali.

irnawati (8)

Saat dia tidur terlentang dan kaki kananku menindih kakinya, sementara tangan kananku menyusup pada susunya.

“Maaf, aku buka ya bu…” kataku sambil memegang kaosnya

“Sudah Sayang, sampai di sini saja ya” katanya lembut sambil menahan tanganku, dan katanya lagi:

“Mestinya kita nggak boleh sampai begini, aku kilaf tadi. Maafkan aku Giek ”

“Ibu nggak usah minta maaf, akulah yang bersalah”

Walaupun aku meminta maaf, aku tetap kecewa, mestinya aku segera bisa merasakan kenikmatan yang belum pernah aku rasakan, diusia 26 tahun ini. Tinggal selangkah lagi sudah sampai pada puncaknya, ternyata menjadi mentah. Nafsu yang sudah memuncak, tiba-tiba menurun dengan derasnya. Dalam hati aku bertanya: “Mengapa ketika saya angkat ke kamar tadi dia diam saja, mestinya dia melarang?” “Mengapa pula dia bersedia menginap di rumahku?” Namun aku tetap berusaha menutupi kekecewaan hatiku kepada bu Andi yang berbaring di sisiku. Sebenarnya akupun bisa memaksa dia untuk melayaniku, tapi itu tidak aku lakukan, dengan pertimbangan-pertimbangan di atas tadi. Paling tidak dia tetap ada di sampingku, kami bisa tetap ngobrol dan memandangnya sepuasnya dikala tidur nanti. Aku tetap menghendaki perempuan cantik ini tidur di rumahku malam ini. Lalu dia beranjak kekamar mandi, setelah beberapa saat keluar lagi. Kini dia memakai gaun tidur warna putih motif bunga, tanpa kerudung. Kemudian mendekat saya, tidur di sampingku, sambil mencium keningku.

Malam semakin larut, jam menunjukkan waktu pukul 12.00 malam. Kami berdua belum tidur, masih ngobrol ngalor-ngidul.

“Aku tahu perasaanmu Giek, kamu pasti kecewa. Tapi saya percaya kamu bisa memahami ‘kan?” katanya sambil membelai-belai bahuku.

irnawati (9)

“Ya Bu, saya paham 1000%” kataku, tersenyum sambil berbaring miring menghadap ke arahnya. Diapun memiringkan tubuhnya ke arahku. Tiba-tiba kaki kirinya ditimpakan pada kakiku. Aku senang sekali.

“Sudah, kita tidur, supaya besok fresh…” katanya.

Aku lihat jam 00.30, aku beranjak mematikan lampu terang dan kuganti lampu bad yang temaram. Seumur-umur baru kali ini aku tidur bersama perempuan, pikirku menghibur diri. Hatiku tetap bergetar walaupun aku tahu dia membatasi diri. Bagaimanapun aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku pura-pura tidur sambil melihat sosok perempuan cantik berbaring di sampingku. Perempuan ini benar-benar cantik, nafasnya teratur, mulutnya mengatup indah. Dalam kondisi tidur saja kelihatan cantik, gumanku. Kemudian kakiku kutimpakan pada kakinya, tanganku ku taruh pada pinggulnya. Dia diam saja, mungkin sudah tidur beneran. Akhirnya dia beringsut mendekatkan diri pada tubuhku, akupun menyambut dengan memeluknya. Di bawah selimut bersama, tangan kiriku menyusup di bawah lehernya, sementara kaki kiriku menyusup pada selakangannya. Batapa aku senang sekali, dia tidak mengelak, bahkan menyambutku dengan pelukan pula. Kamipun berpelukan ketat, tapi lagi-lagi gejolak kelelakianku menanjak naik. Dia merangsek tubuhnya ke arahku katanya.

“Giek……” katanya lirih sambil tangannya disusupkan di balik kaosku dan mengelus-elus dadaku dan perutku.

“Ya Bu, saya dekap Ibu” aku mendekap seperti induk ayam yang melindungi anaknya.

“Belum tidur Bu..?

irnawati (10)

“Aku enggak bisa tidur. Tadi tidur sebentar, sekarang terjaga lagi…” katanya sambil mengusap-usap wajahku. Kemudian katanya lagi

Dengan gemetaran tanganku mulai menyusup di balik gaunnya setelah membuka beberapa kancing di bagian dadanya, tampak behanya yang berwarna putih, seolah tidak muat menyangga susunya yang montok itu.

“Behaku buka saja, biasanya kalau tidur aku tidak berbeha. Sesak rasanya”

“Baik Bu, Maaf…” kataku, sambil menarik gaunnya ke atas, membuka kait behanya pada bagian punggung. Saya bertambah terkesima melihat indahnya payudaranya, yang mendorong untuk meraba dan meremas lembut bongkahan daging ajaib ini. Saya remas dengan lembut dan pentilnya yang berwarna coklat muda kemerah-merahan itu kupilin-pilin lembut. Bu Andi membuka matanya memandangiku, rona wajahnya menampakan sebuah kenikmatan, sambil menatap langit-langit. Wajahku menyapu berkali-kali payudaranya sesekali membenamkan pada sela antara keduanya. Tangannya juga masuk merayap lembut pada tubuhku, kemudian sampai pada cedeku, dielus-elus tititku. Senjata yang sejak tadi tegak maksimal itu, sekarang tambah ngaceng berat! Betapa tidak? Dipegang oleh tangan lembut, tangan seorang wanita ayu. Kemudian kubuka celanaku supaya tidak sakit tertekan celana.

Keberanian semakin meningkat, aku meraba bokongnya di balik cedenya, sambil menggesek-gesekkan pada pahanya yang mulus itu. Ketika aku bermaksud membuka cedenya, aku berkata:

“Ini boleh aku buka?”

“Jangan… Nggak, Giek, masa aku telanjang bulat… Kan nggak boleh itu?” sambil menahan tanganku.

“OK, I’m sorry, Mrs” kataku walaupun aku kecewa berat.

Namun tititku tegak bukan kepalang, melihat pahanya yang putih mulus dan bersih itu.

“Kita tidak lebih jauh ya Giek… Gini aja, kan sudah enak…? ” katanya sambil memegang tititku dibelai-belai lembut dan agak sedikit manja.

irnawati (11)

“OK, maaf Bu” kataku walau aku kecewa untuk yang kesekian kalinya.

“Kamu jangan panggil aku Bu, Panggillah aku ‘Andi’ saja, agar lebih karib”

“Ya, terima kasih” kataku senang berbunga-bunga.

“Tapi aku takut Giek…” katanya lagi.

“Takut apa?”

“Kalau tetanggamu tahu..”

“Jangan kawatir Bu”

“Bu lagi…!” sergahnya. Aku memang masih kikuk memanggil ‘Andi’ saja.

“Mereka tidak akan tahu. Seandainya tahu, merekapun tidak akan peduli. Lihat saja pagar mereka tinggi-tinggi, sehingga setiap aktivitas tetangganya tidak akan diketahui. Mereka individualis, dan tidak peduli.” kataku meyakinkan.

Kemudian aku tetap membuka kaosku, jadi aku sudah telanjang bulat. Walau hanya bercumbu aku tidak peduli, aku tetap telanjang, terserah dia mau telanjang atau tidak. Sebenarnya aku ingin sekali mencapai klimaknya, seperti yang tergambar dalam bf yang sering aku lihat. Aku ingin mempraktikkan, ingin merasakan yang sebenarnya! Walau aku pernah onani, tapi ingin sekali merasakan dengan perempuan. Namun saya tidak bisa memaksanya, saya takut fatal akibatnya, dia mau setengah telanjang, itu sudah luar biasa bagiku. Toh saya masih boleh ngeloni, meraba-raba pahanya mulusnya, memainkan puntingnya dan menciuminya dan menjelajah seluruh tubuhnya. Sudah cukuplah, pikirku. Suatu perkembangan yang sangat pesat. Saya pun tidak mengira sebelumnya sampai begini, paling tidak sejak di parkiran tadi. Peringatan bu Andi tadi membuat aku jera. Sekarang saya tidak mau merusak suasana indah ini. Kalaupun tidak boleh dimasukkan, akan aku masukkan lewat jepitan pahanya. Itu sudah lebih dari bagus, pikirku. Mungkin di antara pembaca berpikir, apa yang aku lakukan bisa menjadi bahan ejekan: “Bodoh amat itu orang, hanya dijepit saja sudah senang…” Ya begitulah kondisinya, Bro.

“nDik..” kataku

“Lah.. gitu, enakkan..?”

irnawati (12)

“Saya sudah telanjang begini, nih” kataku menggoda.

“Itu kan urusanmu, bukan urusanku” sambil tersenyum

Sebenarnya urusannya juga. Dia menikmati juga, terlihat cede pada bagian selakangannya sudah basah oleh cairan dari Mrs-Vnya. Lalu dalam lamunanku aku punya ide dan pikiranku berkembang: “Mengapa aku tidak bikin mainan miliknya yang lain, kan lebih mengasyikkan. Seperti di BF itu?”

Sementara dia terlentang, posisiku seperti merangkak, tanganku membuka kedua pahanya dan ku sibak cedenya ke samping pada bagian selakangannya yang ditumbuhi rambut tipis itu. Saya menyinari dengan lampu hp, selakangannya becek sampai membasahi cedenya, jemariku mulai menyentuh klitorisnya mempermainkan antara ibu jari dan jari telunjukku. Dia sendiri membuka pahanya agak lebar lagi, sehingga belahan warna pink kelihatan jelas walau sebagian terhalang oleh cedenya.  Bu Andi mendesah lembut ketika aku memilin-pilin klitorisnya, dan jemariku yang lain masuk lorong pink yang mengeluarkan cairan itu, menari-nari menekan bagian atas lorong itu. Dia bergelincangan. Lalu aku mendekatkan mulutku pada tempik (vagina)nya itu, ujung lidahku menari-nari pada benda sensitifnya.

“Ah….” desahnya tertahan sambil kakinya bergelincangan.

irnawati (13)

Sesekali kedua bibirku mengatup-katup benda kecil berwarna pink itu, kemudian mengisap-isapnya berirama. Perempuan bertubuh indah itu mulai bergelincangan hebat seperti cacing kepanasan.

“Ah…uh… ah… uh… Giek..” suaranya lembut hampir tak terdengar. Saya tidak peduli, bahkan aku sedot-sedot terus kletorisnya dengan nafsuku, menyaksikan tingkahnya ini aku tambah bergairah dan bernafsu. Setelah bergelincangan hebat dia mengejang sambil mulutnya mendesis-desis. Sampai kepalaku dijepit kedua pahanya, aku tetap menyedot-sedot benda kecil itu, untuk menghilangkan kekecewaanku. Aku tidak peduli!

“Ahhh ….Mas…” desahnya lagi, dia rupanya orgasme. Baru pertama kali ini dia menyebut aku ‘mas’

Aku menghentikan aktivitasku mengeksploitasi V-nya, terlihat cairan dari vagina atasan mamaku itu mulai mengalir dan becek sekali, sehingga cedenya tambah basah kuyup. Kemudian aku mengambil tisu membersihkan V-nya, agak lembab lalu kutaruh lipatan tisu kering di antara Mrs. V-nya dengan cedenya. Saya berbaring di sampingnya sambil mengecup bibirnya. Setelah nafasnya teratur, kembali aku memilin-pilin pentil susunya. Lambat laun dia bergerak menindihku menciumi dadaku, kemudian bibirku dengan penuh nafsu tapi lembut. Menyodorkan susunya pada mulutku, lalu melorotkan tubuhnya ke arah kakiku, tititku dicepit di celah kedua susunya dan digesek-gesekkan. Beberapa saat kemudian melorot lagi, gerakannya seperti ular yang mlungsungi (ular yang mau ganti kulit), dia memasukkan tititku ke mulutnya dan dikulum-kulum lembut. Saya merasakan surprise enak luar biasa, seperti aku melayang-layang di angkasa luas. Nikmat abizz.

irnawati (14)

Bagaimana kalau saya keluarkan di mulutnya? Belum sampai saya keluarkan, tapi kemudian dia bergerak merayap ke atas dan menindih tubuhku sambil menggoyang-goyang pinggulnya setelah posisi selakangannya di tempatkan ketat pada tititku, kemudian digesek-gesek lembut. Tititku terasa basah oleh cedenya itu.

Kami tertidur sambil berpelukan, rasanya baru saja memejamkan beberapa menit, ternyata subuh tiba, sekitar jam lima dia bangun lalu ke kamar mandi. Akupun ikut bangun merapikan tempat tidur. Bu Andi memanggil aku dari kamar mandi. Aku mendekat dan pintu kamar mandi terbuka:

“Mandi sekalian yuk…”

“Sip…”kataku langsung mebuka seluruh pakaianku, lalu masuk kamar mandi. Di kamar mandi kudapati bu Andi sudah polos tanpa kain selembarpun. Saya menjadi takjub, seumur-umur baru kali ini melihat dengan mata kepala sendiri seorang perempuan telanjang. Tubuhnya benar-benar indah, cantik tidak hanya wajahnya tetapi sekujur tubuhnya cantik, indah mengundang gairah lelakiku bertambah. Pagi itu aku baru melihat tubuh bu Andi utuh, tanpa busana. Polos.. Lekuk-lekuk tubuhnya sangat indah, susunya montok, pinggulnya bulat dan perutnya ramping, bentuk kakinya indah sekali. Pada pangkal pahanya membentuk huruf ‘V’ dihiasi rambut tipis. Tadi malam di tempat tidur, tidak seluruhnya kelihatan. Benar-benar perfect body orang ini, pikirku.

“Kok polos nDik, enggak pakai pakaian?” tanyaku heran

“Nggak. Kan mau mandi? Masak mandi pakai pakaian? Kalau saat mandi boleh polos” katanya.

“O.. gitu” kataku nggobloki. “Apa ya bedanya di tempat tidur?” pikirku.

Kami berdua mandi di bawah guyuran shower, saling menggosok dan menyabun. Saya senang sekali saya menyabun susunya, pinggulnya dan selakangannya. Demikian pula dia menyabun seluruh tubuhku dan menggosok tititku dengan sabun. Busa-busa sabun memenuhi seluruh tubuh kami berdua. Kami berangkulan sesekali membersihkan tubuh dari busa sabun di bawah guyuran air. Tititku yang ngaceng dipegang-pegang, kemudian dia agak berjinjit, dan saya agak menekuk lututku supaya alat kami beradu. Dia hanya menggesek-gesekkan kepala tititku pada klitoris dan lubang Mrs Vnya. Tapi aku diam saja, katanya tidak boleh lebih jauh tapi kok begini? Saya tidak habis berpikir. Kemudian dia memutar air shower lagi dan kami kembali bergulat di bawah guyuran air. Setelah mengeringkan badan dengan handuk, dia melilitkan handuk pada tubuhnya dan kuangkat ke tempat tidur.

“Bahumu kekar dan kokoh Giek. Aku suka kamu”

“Aku juga suka kamu nDik. Kamu cantik sekali” kataku

Aku membungkuk membaringkannya, tangannya tetap bergelayut pada bahuku dan menariku, katanya:

“Tuntaskan sekarang Yuk, Giek. Aku tidak mau mengecewakan kamu. Aku tahu, kamu semalam sangat ingin kan? Aku sebenarnya juga seperti kamu, sudah lama aku jarang melakukan dan tidak terpuaskan. Mengapa tidak kita coba?” katanya retorik sambil meneteskan air mata. Lalu dia bercerita, bahwa suaminya sakit-sakitan, dan sudah jarang bermain kalaupun berhubungan, tidak sampai mampu memuaskannya.” katanya, aku menjadi iba lalu mengusap air matanya.

“Sayang, anduknya agak basah. Nanti kamu kedinginan” kataku

irnawati (15)

“Ganti yang lain aja, baru ambil anduknya” sahutnya. O ya, aku teringat dia tidak mau telanjang bulat di tempat tidur.

Aku meraih sarungku yang saya taruh di atas bantal, tidak saya buka lipatan seluruhnya, setengah terlipat kemudian saya tumpangkan pada bagian perutnya, sehingga pada bagian dada dan pinggulnya masih polos. Supaya dia tidak telanjang bulat.

Kemudian kami berdua bergumul di tempat tidur, saling mencium dan meraba. Dadaku mulai bergetar kembali, menggumuli bu Andi. Dia membiarkan aku menikmati susunya yang ranum dan kenyal itu, sementara dadanya terasa bergemuruh. Puntingnya yang berwarna coklat muda kemerah-merahan itu aku dot kanan-kiri. Sesekali wajah kubenamkan di antara kedua susu indah itu. Sementara tangannya menyusup ke bawah, aku masih belum berpakaian sejak dari kamar mandi tadi. Dia memegang dan mengelus-elus tititku yang mencuat tegak, seperti meriam itu. Akupun membelai selakangannya yang sudah basah oleh cairan hangat.

“Basah lagi nDik”  kataku

“Ya, sejak tadi malam juga sudah basah begitu” katanya agak malu-malu.

Kami kembali bergumul saling serang dengan ciuman-ciuman dan saling meraba, tititku dipegang dan di kocok-kocok lembut.

“Mantap… besar”

“Apa tidak biasa segitu”

“Enggak, ini besar, jumbo lagi..” katanya seketika itu.

Dadaku mulai bergetar kembali, menggumuli bu Andi. Dia memegang dan mengelus-elus tititku yang mencuat tegas, dan akupun membelai selakangannya. Lalu aku mempermainkan Mrs Vnya, sekarang sudah tidak terhalang cedenya, aku agak leluasa. Sementara aku menikmati selakangannya, dengan lidahku pada klitorisnya, jemariku membuka Vnya lebar-lebar dengan dominasi warna pink itu. Sekarang jelas sekali pemandangan indah itu. Sementara itu di sisi lain dia memegang tititku dan berusaha memasukkan pada mulutnya. Aku bergeser supaya senjataku dekat dengan mulutnya. Lalu di kocok-kocok sebentar kemudian dicepong kepalanya dan seluruh batangnya. Nikmatnya luar biasa.

Kembali kami bergumul, perempuan berkulit putih bersih itu menindihku, pada bagian pinggulnya saya taruh sarungku. Pinggulnya beringsut untuk mengambil posisi tepat pada senjataku, tapi tidak bisa, beberapa kali. Baru ketika tangannya memegang tititku dan menuntun pada lobang kewanitaannya sambil dia mendesah:

irnawati (16)

“Ahhh…” Agak seret, tapi bebas hambatan. Suatu kenikmatan yang teramat sangat. Betapa nikmatnya apa yang aku rasakan. Inilah kenikmatan baru yang aku rasakan, seolah-olah aku melayang-layang ke angkasa di antara awan-awan.

Setengahnya aku tidak percaya, semalam melarang, pagi itu dia yang mengajak dan lebih aktif? Tetapi rasa heranku segera aku kesampingkan. Saya fokus pada kenyataan apa yang saya hadapi. Rasanya nikmat dan enak sekali, luar biasa. Baru kali ini aku merasakan nikmatnya bersenggama ini. Selama ini saya hanya berkhayal dan kemudian onani. Tapi ini kenyataan, bukan mimpi, tititku masuk di tempik perempuan dan perempuan itu Bu Andi, atasannya mama. Dia tidak banyak bergerak hanya sesekali saja, akupun mengimbangi gerakannya di atas tubuhku, dengan lembut tapi menimbulkan rasa nikmat luar biasa. Rupanya dia menganut pepatah slow but sure itu. Pelan tapi pasti. Pasti enak!

“nDIk, semalam kamu menahan saya, tapi sekarang kamu yang aktif? Apakah kamu merasa saya paksa?”

“Enggak Giek… enggak. Saya tidak tahan dengan gempuranmu semalam dan tadi itu, aku menyerah… pertahanku bobol” katanya sambil menggoyang pinggulnya.

“Iya… boleh juga” kataku puas.

“Saya belum pernah diperlakukan seperti tadi oleh suamiku, seumur-umur. Dia selalu konvensional dan cepat selesai” katanya

Perempuan beranak satu yang berumur 10 tahun itu, kembali menggoyang-goyang lembut pinggulnya yang berbentuk sangat indah itu. Dadaku bergemuruh seperti langit akan menurunkan hujan lebat, bergetar keras bercampur dengan rasa nikmat tiada tara. Rasanya darahku mendidih dengan dahsyatnya, seluruh ototku rasanya ikut merasakan kenikmatan, yang dalam anganku aku setengah tidak percaya. Inikah Bu Andi, atasannya mama? Ini kenyataan bukan bayang-bayang dalam anganku atau mimpi.

“Pentilku emut Mas….” katanya manja, terbata-bata tanpa menghentikan aktivitas pinggulnya yang bergerak memutar, meliuk dan naik-turun, keluar masuk. Mulutku nyepong pentilnya, kedua tanganku mencengkeram ketat pantatnya, mengiikuti irama pinggulnya.

Gerakan perempuan lembut ini makin mempesona di atasku, sekitar lima menit dia meningkatkan gerakan pinggulnya, makin keras dan kuat sampai menggoncang-goncang tubuhku. Aku makin kuat mencengkeram kedua pantatnya yang indah itu.

“Ah….keluar…. Mas…. “ katanya terengah-engah, sambil menyapu mulutku dengan bibirnya, tapi aku belum mencapai puncak.

Sejenak diam, tetapi kemudian menggerakkan lagi dan lagi-lagi meleguh..”Ahh…” sampai akhirnya terkapar lemas di atasku.

Nafasnya berkerjar-kejaran, terengah-engah seperti habis fitness saja. Tanganku mengelus-elus punggungnya yang halus itu, sementara dia mencium bibirku dan sesekali menggerakkan pinggulnya. Beberapa menit kemudian kami bergulung, sehingga posisiku menindih tubuhnya. Kembali dia mencari sesuatu yang tertindih, kemudian aku menyambar lipatan sarungku kutaruh pada bagian perutnya untuk menutupi tubuhnya, walau di bawah tindihanku. Pelan-pelan aku mulai memompa perempuan bertubuh molek ini dengan pelan. Seperti gerakannya tadi naik-turun, keluar masuk. Sementara saya tembak, dia memandangi wajahku sambil meraba-raba dadaku dan punggungku, demikian juga pinggulnya digoyang yang berlawanan dengan irama gerakanku, sehingga menimbulkan efek nikmat. Ketika aku genjot masuk, dia menyambut dengan mengangkat pinggulnya, ketika aku berputar kekiri dia bergerak ke kanan. Selalu berlawanan dalam gerakannya, yang menambah kenikmatan. Tapi sebenarnya gerakan apapun yang kami lakukan membawa nikmat tersendiri.

irnawati (17)

Udara dingin tanpa terasa menusuk kulit kami, justru menambah nikmatnya kami bergumul. Suara detak-detak jam dinding memecah kesunyian kamarku, tetapi sebenarnya detak jantung kedua insan lain jenis, laki-perempuan ini saling berpacu dengan memburu, kejar-kejaran mencari puncak kenikmatan. Susunya yang montok selalu menjadi sasaran bibir, wajah dan tanganku untuk menyalurkan nafsu yang tiada terbendung ini.

“Rasanya terjepit nDik.., punyaku….” kataku karena merasakan lobangnya cukup sempit untuk punyaku. Tapi ini ternyata membawa nikmat sendiri.

“He-eh, milikmu yang kelewat gedhe. Pelan-pelan saja, biar lebih lama” katanya, sambil tangannya mengelus punggungku.

Sambil memompa tubuhnya dengan lembut dan berirama, aku memandangi wajah ayunya, demikian juga ia memandangiku. Aku teringat, ketika malam perkenalan itu, setahun yang lalu, saat dia memberi kata sambutan, pelan tapi wibawa sebagai seorang pemimpin. Demikian juga ketika memberi nasehat di suatu waktu, dengan ucapan:

“Secara akademik kamu lebih tinggi dari aku, tapi aku kan lebih lama menghirup udara dunia ini dan lebih banyak makan asam garam kehidupan ini daripada kamu”

“Ya Bu, terima kasih atas nasihatnya” kata ketika itu.

Sudah beberapa menit aku di atas, kedua kakinya kadang dililitkan pada kakiku, pahanya direnggangkan dan bahkan dirapatkan sambil mengatupkan kedua pahanya, sehingga terimbas pada kewanitaannya sepertinya mengisap-isap tititku dengan kuatnya. Aku memutar-putar pinggulku seakan mengebor milik bu Andi dan tubuhnya tergoncang diiringi dengan suara lirih “Ah….Say…”   Dengan perlakuan ini jelas membawa nikmat luar biasa.

Sesekali kedua tanganku lurus menompang berat badanku, lalu kuturunkan, bertumpu pada siku-siku sambil kedua telapak tanganku mempermainkan puntingnya dan meremas susunya. Kadang-kadang jemari kami berdua saling bertautan. Cukup capai, tapi aku tidak berusaha untuk melepas kenikmatan yang tiada tara ini.

Dari himpitanku itu, perempuan yang mengaku jarang diajak bermain cinta dengan suaminya itu berusaha keras menggerakkan pinggulnya memutar dan menggoyang lembut, dengan pesona dalam ritme yang tinggi. Wajah dan lehernya mulai membasah, berkeringat.

irnawati (18)

Rasa nikmat mulai menjalar keseluruh tubuhku mulai dari darah yang mengalir dalam tubuh secara deras dan terus menerus menerjang dan membakar dinding-dinding birahi, mendidih sampai menghempas dari berbagai penjuru tubuh.  Dengan tenaga yang menghentak-hentak itu akhirnya aku sudah tidak mampu mengendalikan laju semprotan sperma yang dahyat memancar dengan daya dorong tinggi dan kuat sekali masuk ke lobang kewanitaan Bu Andi, diiringi dengan rasa kenikmatan yang dahsyat pula.

“Ahh…. aku keluar Sayang” kataku…

“Akh… tuntaskan Yang, aku juga keluar lagi” katanya terengah-engah… dengan pipinya merona merah jambu sebagai ekspresi kepuasannya.

Puncak kenikmatan telah kami raih bersama, suatu kenikmatan yang seumur hidupku, baru kali ini kudapat dari seorang perempuan. Dan orang pertama yang saya nikmati adalah Bu Andi. Sosok wanita pendiam, tegas dan cantik tentu saja. Aku puas sekali.

Sesaat dia bergerak lagi dan “Ah..” rupanya dia orgasme lagi.

Beberapa menit aku masih menindihnya, sementara tititku masih kuat menancap, sayang kalau dicabut, saya masih merasakan sisa-sisa kenikmatan.

“Aku puas sekali…Terima kasih ya nDik, kamu memuaskan aku” kataku sesaat setelah tititku lepas dari tempiknya, setelah beberapa menit mencapai puncak kenikmatan.

“Aku juga terima kasih. Kau mampu memuaskan aku, nikmat sekali rasanya. Tititmu terasa pas di milikku, walau agak ketat… Semula aku mengira, wah ini nggak muat, ternyata muat walau agak seret” bisiknya tersenyum. Setelah nafasku pulih membersihkan selakangannya dengan wash lap hangat, lalu tititku, dia yang membersihkan.

Pagi itu tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul 06.27 menit, astaga kami bermain satu jam lebih. Kami masih berbaring bersebelahan, dia menutup tubuhnya dengan sarungku, kemudian memakai gaunnya. Hujan mulai reda, hening terdengar tetesan-tetesan air dari genting ke pelimbahan.

Saya ke dapur membuat roti bakar dan dia menyusul membuat teh panas.

“Wah, enak itu Giek…”

“Sip…” kataku sambil mengacungkan jempol dan mencium keningnya.

irnawati (19)

Kami berdua duduk di sofa di ruang tengah, sambil menikmati sajian pagi itu. Duduknya beringsut mepet denganku, tangannya ditaruh di paha saya dan membelainya, aku tersenyum, sesekali menyuapi aku dengan roti bakar.

“Jam berapa Giek..?”

“Setengah tujuh. Kamu berangkat ke kampus jam berapa?”

“Setengah delapan, nanti. Jam delapan masuk”

“Perjalanan cuma seperempat jam, dari sini..” kataku disambut anggukan kepala.

Aku mencium keningnya, lalu duduk dipahaku berhadapan dengan ku lalu menciumiku. Pertama pipi kemudian bibir saya. Sayapun menyambut ciuman pagi itu dengan senang bahkan aku melumatnya dengan hebat, sampai nafasnya terengah-engah. Dia merangkulku dengan kuat lalu menciumi leherku dan wajahku. Kami saling menyambut ciuman dengan ciuman penuh nafsu, kembali tanganku menyusup di balik gaunnya. Kemudian aku melanjutkannya ke atas meraih susunya, dia tidak berbeha. Dia rupanya lebih bernafsu pagi itu, dia merangsek terus dan duduk dipangkuanku sambil memeluk leherku.

“Lagi yuk…” katanya

Tanpa dimintapun, dalam kondisi begini aku tetap mempunyai hasrat yang sama, saya sangat bernafsu dengan perempuan ini. Sambil duduk, tangannya berpegangan pada sandaran sofa, saya melorotkan cedenya kemudian cede saya. Aku tidak membuka gaunnya, supaya tidak telanjang bulat. Kedua tanganku menompang sepasang bongkahan pantat bulat indah menggiurkan itu. Tititku jelas sudah siap tembak itu, dipegang dan dimasukkan ke lobang Mrs Vnya. Dengan gerakan naik-turun dan diselingi putaran eksotik, aku menarik roknya bagian depan ke atas dan nyepong dan meremas lembut susunya yang mengeras dan kenyal itu. Dalam waktu tidak terlalu lama dia mengerang lembut. Dia orgasme dan diam sesekali menggerakkan pinggulnya dan Ah.. keluar lagi rupanya.

irnawati (20)

“Aku keluar.…” katanya dengan wajah serius

Aku belum keluar. Supaya lebih leluasa, maka bu Andi saya angkat ke kamar dan saya naiki di tempat tidur seperti yang pertama tadi. Dan di atas tempat tidur itu saya mengulangi adegan menggairahkan yang penuh dengan pesona keindahan tubuh bu Andi.

Setelah selesai, bersiap ke kampus. Aku mengantarnya ke kampus, dalam perjalanan pulang saya mampir belanja di super market dan kembali ke rumah. Rasanya lama menunggu perempuan cantik itu sampai sore. Akhirnya tiba juga dia SMS minta dijemput.

Sesampainya di kampus, sore itu dia masuk ke mobilku, duduk di sampingku, sambil berkata:

“Aku nginap lagi di rumahmu ya Giek..” katanya sambil tersenyum penuh arti.

“Ya, saya welcome selalu..” kataku

Sore itu, sesampai di rumah, kembali kami bercumbu. Saling membelai dan mencium.

“Kita mandi dulu, yuk…” katanya sambil beranjak menarik tanganku memasuki kamar. Dia mulai membuka pakaiannya mulai dari jilbabnya, bleser dan kemudian celana panjangnya, aku membantu sampai menarik cedenya ke bawah. Lalu ke kamar mandi yang menyatu dengan kamarku.

Dimulai sore itu sampai malam itu, aku mengarungi samudera birahi bersama bu Andi, sampai beberapa kali mencapai puncak, tiada bosan untuk mengulanginya. Relung-relung perasaan menyatu dengan tegarnya tititku ketika menghujam dalam-dalam Mrs Vnya Bu Andi. Perempuan ini memancarkan kepuasan pada guratan wajah bersihnya dengan rona merah jambu setiap mencapai orgasme. Kami merayakan setiap kepuasan malam itu dengan erangan yang dahsyat.

Minggu pagi harinya, aku terbangun pukul 05.00, biasanya aku lalu bangun, namun saat ini sayang aku tinggalkan tempat tidur. Bu Andi kelihatan masih pulas, dalam dekapanku, kaki kami saling berlilitan. Saya hanya memakai kaos, tanpa cede sementara Bu Andi hanya pakai cede dan kaos ku yang longgar sampai pada pahanya.

“Nggak usah pakai celana Giek..” katanya manja, tadi malam

Kami berangkulan dalam hangatnya selimut dan malas untuk bangun. Apalagi tangan Bu Andi memainkan tititku dan tubuhnya terus merangsek ketat ke arahku. Jam 06.00 kami baru bangun dan langsung mandi bersama. Ada bercak merah jambu di kedua pantatnya bekas cengkeraman telapak tangan saya. Setelah mandi kuangkat tubuhnya ke kamar, tidak lupa dia melilitkan handuk pada pinggulnya. Sebelum dia memakai cedenya, aku tarik dia untuk mengelus tititku, kemudian dielus-elus lalu dimasukkan dalam mulutnya. Pertama lidahnya menari-mari di atas kepala titit, lidahnya berjalan dari pangkal bagian bawah ke arah puncaknya, kemudian dikulum lembut, berkali-kali. Karena aku tak tahan, lalu aku minta main dogy style dan dia menurut saja. Jam setengah delapan baru aku antar ke kampusnya.

Lusanya, Senin pagi, aku terbangun jam 5, lalu kuantar ke stasiun, kali ini Bu Andi tidak sendirian, tetapi saya antar sampai di kota T. Saya tidak sampai hati, selama tiga malam aku keloni, masak saya biarkan saja pulang sendirian.

“Nggak apa-apa Giek, biasanya pulang sendiri, kan” katanya ketika aku berniat mengantar.

Akhirnya aku tetap mengantar, Senin itu aku mengatur tugas kantor untuk mengambil tugas dinas di kota T, mengunjungi kantor cabang perusahaan di kota T, dengan supervisi di sana. Itu alasan yang saya kemukakan ke atasanku.

“Kita seperti manten baru ya…Giek” bisiknya saat di atas kereta.

“Ya, manten baru tiga hari” jawabku

“Sampai milikku sakit, kena rudalmu selama dua siang-malam…” bisiknya lagi

“Sama nDik, saya juga begitu, rasanya lecet” kami tersenyum bersama.

“Kamu hebat sekali Giek, aku puas…” katanya

Di atas kereta tangan kami ‘bekerja’ di bawah selembar selimut, dia memegang tititku sementara aku, mengelus pahanya, karena Vnya katanya masih sakit. Kami tertidur.

Di stasiun T kami berpisah, saya langsung ke kantor cabang kami. Sesuai dengan izinku, aku supervisi beneran. Saat istirahat siang, saya menolak untuk makan bersama rekan kerja di kantor cabang, karena ada janji dengan Bu Andi makan siang bersama. Sesampainya di kantor Bu Andi, saya menuju ruangan mama, setelah saya telepon mama dan bilang; kalau nanti mampir saat istirahat. Tanpa mengetahui latar belakang kedatanganku, tahunya memang supervisi ke kantor semata, maka oleh mama saya dianjurkan menemui bu Andi dan di antar ke ruangannya.

Ketika membuka pintu, Bu Andi yang sudah tahu kedatanganku, dia pura-pura surprise dan menyalamiku. Bener-bener pemain watak. Setelah basa-basi seperlunya kami; mama, bu Andi dan saya makan bersama.

Sejak kejadian itu, setiap Jumat sampai Minggu, Bu Andi sering menginap di rumahku bahkan pernah walau kuliahnya libur, dia tetap berkunjung ke kota B, tentu saja menginap di rumahku. Saat liburan itu, dia mengajak keluar kota dengan bersepeda motor. Sabtu pagi saya ajak ke sebuah perkebunan buah di sana menikmati udara segar, indahnya panorama pegunungan dan makan buah tentu saja setelah bayar kepada yang punya kebun. Di sebrang sana ada hamparan bangunan tempat wisata. Siang itu kami berangkat menuju sebuah vila dan bermalam di sana. Jarak tempat wisata ini tidak jauh hanya 30 km dari kota. Kami menginap sampai minggu sore baru pulang.

Pernah pula kuliahnya berhenti satu semester dalam kurun waktu kuliahnya, dia cuti karena hamil, di saat itu aku yang berkunjung ke T. Hari-hari berikutnya bahkan ganti tahunpun, kami selalu meluangkan waktu untuk mengarungi lautan asmara, mengisap madu libido menuruti hasrat seksualitas kami berdua. Saya sering mengisi rahimnya dengan pancaran sperma yang menyenangkan dan dia puas. Pernah sehabis kami ML dia mengaku, walau sepertinya menguras tenaga, tapi selalu memetik kenikmatan dan kepuasan bulat dariku. Hebat.

Tamat.

One thought on “BU ANDI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s