Ketika Iblis Menguasai 7 :MURTIASIH

Derita Murtiasih di Tangan Ustadz Cabul

Dengan susah payah Murtiasih berusaha membuka kedua matanya. Pelupuknya terasa sangat berat bagaikan ada perekat yang memaksanya kembali memejamkan mata. Dia menggeleng-gelengkan kepala sambil berusaha mencari orientasi dimana dirinya berada sekarang. Kepalanya terasa agak pusing ketika disadarinya bahwa posisi badannya yang setengah duduk.

Murtiasih berusaha untuk duduk lebih tegak, namun tak berhasil karena ada tangan yang melingkar di pinggang langsingnya dan mendekapnya dari belakang. Murtiasih belum menyadari sepenuhnya apa yang telah dan sedang dia alami, tapi dilihatnya bahwa dirinya setengah duduk bukan di kursi melainkan di ranjang! Selain itu mulai disadarinya bahwa posisinya yang setengah duduk itu tetap bertahan karena dia tengah bersandar ke tubuh seorang lelaki yang sedang memeluknya dari arah belakang.

Bukan itu saja, kini tangan si lelaki mulai meraba dan meremas-remas kedua bukit mungil namun sintal padat di dadanya. Murtiasih menggelinjang kegelian, apalagi ketika dirasakannya hembusan nafas hangat dan kecupan lembut di belakang lehernya. Ciuman dan gigitan kecil menyusul di kuduknya, menjalar ke samping arah leher, kemudian menjilat di lubang telinganya. Tak salah lagi, inilah apa yang pernah, dan bahkan beberapa kali ia alami.

Inilah cara dan siasat dari gurunya, yaitu si ustadz Mamat, untuk merayunya, menjebaknya dan menjerumuskannya ke dalam pusaran samudra birahi. Selalu dirasakannya jeratan nafsu sang ustadz cabul yang menyebabkannya sering lupa akan derajatnya sebagai seorang siswi madrasah yang seharusnya sangat alim shalihah. Keinginannya melawan selalu terkalahkan oleh gelora nafsu syahwat yang melanda tubuhnya yang muda dan kini telah mengenal persetubuhan mahluk berlawanan jenis – dan semuanya itu adalah akibat ulah dan pengaruh gelap sang iblis.

Godaan itu kini terulang dan dialaminya kembali, Murtiasih mulai menyadari bahwa ustadz Mamat adalah yang sedang memeluknya dari belakang dan menjalari tubuhnya serta meremas-remas bergantian kedua buah dadanya, bahkan menyelinapkan jari di bawah kebayanya, memasuki BH warna merah jambu yang ia kenakan.

Ustadz Mamat agaknya sudah kehilangan semua akal sehatnya sejak ia berhasil merenggut dengan paksa kegadisan muridnya ini. Murtiasih adalah murid teladan, tak pernah datang terlambat, hampir tak pernah absen terkecuali sakit, sangat seksama mengikuti pelajaran, rajin mengulang dan patuh terhadap segala peraturan madrasah. Wajahnya sangat ayu, manis, imut dan lugu – tak banyak memakai tambahan perhiasan apapun, kulitnya putih bersih sehingga tidak membutuhkan bedak maupun tambahan lapisan kecantikan lain. Suaranya sangat lemah lembut dan merdu, kedua matanya jeli memancarkan sinar kejujuran, hidungnya mungil bangir dan mancung, dan bibirnya sempurna berwarna merah muda tanpa lipstik, sedikit merekah dan mengkilat seolah agak basah.

Berbeda dengan Rofikah dan Sumirah yang agak genit, maka Murtiasih justru amat polos hingga akhirnya dipilih oleh iblis untuk dijadikan korban nafsu ustadz Mamat. Pengalaman pertamanya dengan Murtiasih menyebabkan sang Ustadz hampir melupakan sama sekali statusnya sebagai suami dari istri yang sebetulnya tak kalah cantik bahenol yaitu Aida. Sementara Aida telah menjadi korban keganasan nafsu pak Sobri, maka ustadz Mamat berniat mengulang menggauli Murtiasih, dan saat ini tibalah kesempatan yang telah lama dinantikan untuk mengulang kemaksiatannya!

“Wah, lama juga tidurnya si neng geulis. Bapak jadi gemes ngeliatin neng tidur nyenyak begitu, hhm… nih susu makin sekel montok aja, bapak ntar lagi pengen nyusu boleh ya, neng?” ustadz Mamat langsung meremas kedua buah dada Murtiasih hingga menyebabkan murid alim cantik ini menggeliat kegelian.

“Udah, pak.. saya ada dimana? Saya mau pulang, pak.. Asih enggak mau disakitin, aaah… lepasin, pak! Toloong.. enggak mauu!!” suara Murtiasih memelas ketika menyadari bahwa peristiwa maksiat yang semula sangat dibencinya akan terulang kembali. Peristiwa yang mengubah dirinya dari siswi yang belum pernah mengalami jamahan lelaki menjadi korban permainan cabul.

“Siapa yang mau nyakitin Asih? Ini kan udah pernah Asih alamin, akhirnya malah jadi keenakan pengen terus, iya kan?” ustadz Mamat meneruskan cumbuannya dengan menghujani leher dan pundak Asih dengan kecupan hangat, menyebabkan mulai muncul bekas-bekas merah cupangan.

Selain itu ustadz Mamat juga menghembuskan nafas panasnya ke liang telinga gadis itu, bergantian kiri kanan hingga tentu saja membuat murid yang lugu dan naif ini semakin mendesah serta menggelinjang kegelian. Kedua tangan Asih yang berjari lentik halus berusaha melepaskan pelukan di pinggangnya, namun ustadz Mamat bukan tandingan untuk kekuatannya yang lemah. Bahkan dengan sekali hentak, tubuh Asih berputar dan kini berhadapan langsung dengan guru cabulnya itu, dan sebelum sempat memprotes maka ustadz Mamat telah merebahkan muridnya yang lugu itu ke ranjang lalu ditindihnya sehingga Murtiasih merasakan sukar bernafas.

Ustadz Mamat paham sekali bagaimana murid yang alim shalihah ini sedang mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan, bagaikan di persimpangan jalan : membelok ke kiri atau ke kanan. Akal sehat Asih menganjurkan supaya menolak semua godaan serta bujukan iblis dan berontak untuk kembali menuju ke jalan lurus sesuai moral dan akhlak yang selama ini dipelajarinya. Namun kenyataan yang terjadi beberapa waktu lalu menyebabkannya bimbang : selain disadarinya bahwa perlawanannya akan sia-sia karena tenaganya pasti kalah kuat, juga rasa kenikmatan badan yang pernah dialaminya telah membangunkan jutaan ujung syaraf di permukaan kulitnya menjadi hidup segar dan ketagihan.

Karena itu Murtiasih tak melakukan banyak perlawanan ketika ustadz Mamat mulai lagi mempreteli dan membuka satu persatu busana penutup tubuhnya. Suara protesnya pun terdengar hanya setengah hati, itu pun segera terbungkam oleh ciuman ustadz Mamat yang sangat rakus bernafsu melumat bibirnya yang mungil.

“Cupp.. cupp.. hhhm.. mmmh.. si neng mulutnya emang sedap buat diciumin! Uuhh.. sedapnya! Shhh.. cupp.. cupp..” Suara kecipak terdengar saat ciuman ganas ustadz Mamat yang kini menjulurkan lidahnya menerobos masuk ke rongga mulut Murtiasih. Semula muridnya ini berusaha menutup mencegah dorongan masuk lidah guru cabulnya, namun bagaikan ular python yang mendesis, ustadz Mamat menyelinap masuk sambil membasahi bibir Murtiasih dengan air liur kentalnya.

Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, tubuh Murtiasih sudah hampir bugil : baju kurungnya serta gamis yang dipakai telah bertebaran di ranjang, kini hanya jilbab yang tertinggal menutupi setengah rambutnya, demikian pula BH serta celana dalam kecil masih menutup auratnya. Ustadz Mamat telah yakin bahwa muridnya telah sepenuhnya berada dalam kekuasaannya, terbukti dari Murtiasih yang tidak bangun ataupun melarikan diri. Gadis itu juga tidak berteriak lagi, hanya kedua tangannya masih dengan malu-malu berusaha menutupi dada serta selangkangannya.

Ustadz Mamat tersenyum lebar dan bergegas melepaskan pakaiannya sendiri – kemeja, sarung plekat, lalu kaos dalamnya telah terlepas, kini dengan hanya memakai celana dalam ia kembali menindih tubuh mungil padat murid kesayangannya itu. Kembali tangannya meremas-remas gundukan bukit di dada Murtiasih serta diturunkannya BH berukuran 32 C itu sehingga terlihatlah dua gunung kembar yang sedemikian memukau setiap pandangan lelaki. Buah dada Murtiasih tidak sebesar milik Rofikah ataupun Sumirah, namun sangat putih mulus padat menantang.

Tak sanggup lagi mengusai diri, ustadz Mamat segera merentangkan kedua tangan muridnya ke atas kepala sehingga tampaklah ketiak Murtiasih yang licin dicukur. Kembali ustadz cabul ini dengan ganas menciumi bibir Murtiasih, dilumat dan disedot-sedotnya lidah mungil yang berusaha lepas ke kiri ke kanan itu, namun sia-sia saja. Liur ustadz Mamat berlimbahan dan bercampur dengan ludah sang siswi kesayangannya, dan campuran ludah itu kemudian dibawa oleh bibir ustadz Mamat ke arah leher Murtiasih yang nampak banyak bekas cupangan.

Kini diulanginya lagi cupangan dan gigitan gemas di leher jenjang itu sebelum turun ke pundak, ke bahu dan menyelinap ke bawah ketiak Murtiasih. Bukan bau asam dari ketiak yang menerpa hidung ustadz Mamat, melainkan aroma keringat gadis muda tercampur sedikit minyak wangi hingga menyebabkannya semakin bergairah.

“Aaiihh.. Asih mau diapain sih? Aaah.. geli, pak! Udah, aaih.. enggak mau! Ahhh.. geli.. enggak tahan! Aiihh..” Murtiasih menggelinjang sejadi-jadinya menahan rasa geli tak terkira ketika kedua ketiaknya yang mulus itu dikecupi guru madrasahnya.

Tak dapat diragukan bahwa selain leher jenjang Murtiasih, pasti ketiaknya juga akan penuh bekas cupangan dan bercak sedotan serta gigitan ganas sang ustadz yang sudah kerasukan iblis itu. Berikutnya adalah tebing gunung kembar Murtiasih yang sedemikian putih sehingga terlihat membayang pembuluh darah kapilernya yang menjadi sasaran sang ustadz, dan Murtiasih agaknya telah menikmati semua permainan tabu ini.

Jari-jari lentik Murtiasih merangkuh rambut gurunya yang kini dengan sangat gemas menghisap dan menyedot puting coklat kemerahan miliknya sehingga terasa semakin menegang dan ngilu tak terkira.

“Bageur teuing, uuih.. legit tenan nih tetek, padetnya enggak tahan euy! Banyak nyimpen susu ya, neng, kalo diperes kencengan dikit bisa keluar enggak? Cobain ya..” Dengan sadisnya ustadz Mamat meremas daging penghias dada Murtiasih dengan sangat kencang hingga menyebabkan sang murid meringis dan memekik sambil memohon agar permainan itu tak dilanjutkan secara begitu kasar.

“Aauw.. jangan keras-keras dong! Aaohhh.. aauww.. pak, ngilu! Pelan-pelan dong! Asih enggak mau disakitin, pak! Udah.. sakiit! Aaah..” Murtiasih kini berusaha menolak kepala sang ustadz yang masih nangkring bergantian di kedua payudara montoknya.

Tentu saja mana mau ustadz Mamat menghentikan kegiatan yang amat mengasyikkan itu, protes korbannya justru semakin meningkatkan nafsu birahinya. Setelah meninggalkan begitu banyaknya bercak merah di leher serta buah dada mangsanya, kini mulutnya mulai mengembara ke arah perut Murtiasih, lalu menyusur ke pinggang kiri kanan, mengecup menjilat-jilat disitu, sebelum kemudian kembali ke tengah untuk menjilat pusar. Semuanya menyebabkan gadis alim ini menggeliat-geliat bagaikan cacing kepanasan.

“Gelii.. lepasin.. udah, pak! Gelii.. aahhh.. lepasin Asih, pak!!” jerit Murtiasih sambil menggeliat dan berusaha menggeser tubuhnya ke kiri ke kanan, namun tetap ditindih oleh sang ustadz.

“Diem, Neng! Kan enak dijilatin begini, ampe keringetan gitu.. percuma ngelawan, neng, bentar lagi bapak nyampe kesini nih! Nah, mulai kelihatan tuh gunung tembemnya.. masih tetep gundul, cuma ada rumput jembut alus banget. Dicabutin mau enggak, neng?” ujar ustadz Mamat menggoda.

“Enggak mau! Udah, pak, udaah! Berhenti mainnya.. Asih mau pulang aja! Aaih.. geli, pak! Gelii.. ooh.. ampun!!” Murtiasih yang sangat polos dan lugu tak pernah membayangkan betapa malunya jika bulu kemaluannya dicabuti oleh ustadz Mamat. Padahal ucapan itu hanyalah sekedar untuk menambah sedikit ‘bumbu’ saja dalam perangsangan yang sedang dilakukan oleh ustadz durjana ini. Geliatan geli murid madrasah ini justru dipakai oleh ustadz Mamat untuk menarik celana dalam Murtiasih ke bawah sehingga kini siswi ABG itu telanjang bugil seutuhnya!

Betapa malunya Murtiasih saat itu, jantungnya sangat berdebar berdegup sangat cepat karena menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya. Jikalau cara berpikir sehatnya masih berfungsi penuh, maka seharusnya Murtiasih akan melawan dan balas mengancam gurunya untuk melaporkan kepada polisi dan setiap orang di desa kediamannya. Namun peristiwa pelecehannya beberapa waktu lalu telah memberikan kesan pengalaman lain terhadap tubuhnya yang masih muda belia. Tubuh seorang gadis meningkat remaja dengan hormon kewanitaan yang masih seolah tidur kini telah tergugah dan bangun serta menagih untuk kembali menguasai dan mengalahkan akal sehat serta rasa malu.

“Ck-ck-ck.. duh, ini badan montok amat! Putih halus lagi.. mana bisa ada yang tahan sama godaan kaya begini? Bapak beruntung banget bisa ketemu dan kenalan ama si neng, ngimpi juga enggak pernah ngebayangin bidadari kaya neng!” menggumam ustadz Mamat sambil mengawasi tubuh si anak baru gede, sementara air liurnya hampir keluar dan jakunnya naik turun.

“Udah ah, pak, kan udah pernah ngeliat badan Asih.. pulangin baju Asih dong, pak, dingin engga pake baju!” demikian protes Murtiasih sambil menarik selimut yang tergeletak di kaki ranjang.

“Ah, masa dingin sih, neng? Tuh badannya mengkilat keluar keringat.. tapi iya deh kalo kedinginan, sini bapak kelonin dan dibikin anget lagi! Hmm, bapak bakal mulai olahraga di ranjang manasin badan neng.. uuhhm..” Ciuman ustadz Mamat kembali menghujani permukaan tubuh Murtiasih, terutama di bagian-bagian vitalnya, berpusat di pusar dan menurun ke bawah.

“Mau ngapain sih, pak? Udah ah.. oohh, pak!” Kembali Murtiasih dilanda rasa geli serta malu karena gurunya mengendus-endus perut bawahnya bagaikan seekor anjing mencari makanan.

Selain mengendus dan mencium perut datar muridnya, ustadz Mamat juga merenggangkan belahan paha Murtiasih sambil meraba dan mengelus betis serta bagian dalam pahanya yang amat putih mulus. Kumis ustadz Mamat yang menghiasi bagian atas bibirnya terasa menggelitik kulit perut Murtiasih, demikian pula jenggotnya yang bagaikan kambing gunung karena telah beberapa minggu tak dicukur, menyapu-nyapu di bawah pusar dan semakin mendekati bukit Venus dengan belahan lembah terhias bulu halus sangat rapih milik Murtiasih.

“Hhmh.. geli enak ya, neng, diciumin kayak gini? Sshhh.. keringat si neng aja wangi, apalagi air itunya! Aaah.. bapak jadi kangen lagi, bapak mau kesitu lagi ah.. kita maen sama-sama ya, neng? Sini bapak ajarin,” ustadz Mamat kembali merubah posisi badannya dengan membalikkan diri menyamping sambil mendekatkan penisnya ke arah wajah Murtiasih. Rupanya ustadz Mamat menginginkan agar Murtiasih juga memanjakan si otongnya sekaligus ia akan melakukan perantauan di bukit kemaluan si siswi ABG yang memiliki celah surgawi di bagian tengahnya itu.

Mula-mula Murtiasih melengoskan kepalanya ke samping dengan pipi merah merona karena malu melihat kejantanan gurunya yang mengangguk-angguk meminta pelayanan itu. Karena itu ustadz Mamat mengambil lagi inisiatif dengan harapan bahwa kalau diberikan bimbingan dan contoh, maka sang murid yang lugu namun telah terbangun instingnya sebagai wanita dewasa ini bersedia mengikuti jejak perbuatan terlarang antara dua manusia berbeda jauh usia dan kedudukan itu.

“Nih, bapak mulai dengan mencari air madu yang tersembunyi di lembah.. si neng juga mulai kulum juga tuh pisang ambon bapak. Si neng pasti doyan dan sering makan pisang kan? Ini pisang spesial, neng, jangan malu-malu. Enggak ada yang lihat. Ayo mulai dikulum.. bapak mulai disini, cupp.. sssh..” ustadz Mamat mengendus, menciumi dan menjilati tebing lembah yang tertutup rambut halus itu.

Murtiasih merasa sangat malu dan berusaha merapatkan kedua pahanya, namun sia-sia saja karena tenaga tangan ustadz Mamat lebih kuat. Laki-laki itu kini memaksanya untuk mengangkang semaksimal mungkin.

Tak tahan melihat betapa indahnya belahan memek Murtiasih, maka lidah ustadz durjana itu mulai menjarah menerobos masuk. Pertama pinggiran bibir kemaluan Murtiasih yang merekah bagaikan bunga ia kecupi sebelum lidah panas dan kasap itu menyelinap menjilati dinding vagina Murtiasih yang kemerahan.

Rasa geli terasa oleh Murtiasih ketika lidah sang guru menjalar di bagian intimnya disertai desis ustadz Mamat yang bagaikan ular mencari mangsanya. Kegelian itu mulai membangunkan hasrat Murtiasih untuk juga melakukan perbuatan yang setimpal, seolah ingin menjawab atau bahkan membalas ulah gurunya itu.

Tangan mungil Murtiasih yang sementara masih agak ragu menyentuh kemaluan sang guru, namun gerakan anggukan yang dirasakannya menimbulkan rasa ingin tahu, maka direngkuhnya dengan jari lentiknya penis ustadz Mamat. Sejenak terbersit keraguan untuk meneruskan, namun kalah oleh bujukan sang iblis durjana di telinganya.

Sementara itu, Ustadz Mamat semakin meningkatkan aksinya dengan menyapu dan menjilat dinding serta bibir kemaluan Murtiasih. Ia memancing dan merangsang keluarnya lendir pemulas yang akan dihirupnya sampai habis tak bersisa!

“Wuih.. mulai enak kerangsang ya, neng? Basah lengket amat nih memek.. wah, tuh sampe keluar madunya! Iyah, gitu.. pinter si neng! Iyah, diremes gitu barang bapak.. pegang yang keras, neng! Iyah, sip banget! Oooh.. sepongin ya, neng, tapi jangan digigit, aaah..” ujar ustadz Mamat keenakan ketika merasakan jari-jari tangan Murtiasih menggenggam batang penisnya.

Bagaikan terkena sihir, Murtiasih mengawasi kejantanan dalam genggamannya itu. tak berkedip ia memperhatikan betapa tegar dan kerasnya kepala jamur yang beberapa waktu lalu pernah menembus kegadisannya. Dengan agak gemetar Murtiasih menatap kepala penis disunat berbentuk jamur warna coklat kehitaman milik ustadz Mamat yang dihiasi celah sempit di tengahnya, agak terbuka mirip mulut ikan. Ragu Murtiasih menyentuhnya dengan ujung lidah.

“Aiih.. iyah gitu, neng! Oooh.. aduh, pinternya nih murid bapak! Juara luar biasa, benar-benar bakat alam! Jilatin ya, neng? Nih bapak kasih hadiah lagi, sluurp.. cupp.. aaah.. ssshh..” ustadz Mamat semakin menggila menjilati dan menggelitik liang kegadisan Murtiasih.

Kedua manusia yang seharusnya mematuhi perbedaan derajat mereka di masyarakat itu sudah sepenuhnya menjadi budak iblis. Mereka melupakan segalanya, bergumul dan bergulat, berpagutan dalam posisi 69. Ustadz Mamat dengan rakus menjarah memek Murtiasih, menghirup air madu dinding vagina, sedangkan Murtiasih tak kalah serunya mengulum, menyepong, menghisap penis gurunya. Suara tertawa kegelian tercampur cekikikan genit mengiringi jilatan ujung lidah yang memasuki belahan liang kencing sang guru, sementara ustadz Mamat dengan tak sabar mencari kelentit muridnya.

“Uuuh.. ngumpet dimana tuh daging itil? Jangan nakal ya pake ngumpet segala.. awas ntar ketemu, digewel digigit ama bapak! Oooh.. neng makin jago nyepongnya! Iyah, sekalian pijit-pijit biji pelernya, neng. Wiuuh, enak tenan! Enggak tahan lagi bapak hampir nyampe!!” ceracau ustadz Mamat tak karuan sambil memaju-mundurkan pinggulnya, menyebabkan Murtiasih terkadang tersedak karena kepala penis yang semakin dalam masuk menyentuh langit-langit mulutnya.

“Uuegkk.. ueegk.. pelan-pelan dong, pak! Sssh.. shhh.. sslurrp!!” Murtiasih berusaha sejauh mungkin mengimbangi kegiatan tak senonoh gurunya. Jari-jari langsing yang biasa memegang alat tulis kini menggenggam batang pentungan daging ustadz Mamat, dan mulai menggerakkannya naik-turun, mengocok-ngocok, sementara lidahnya menjilat-jilat menimbulkan bunyi berkecipak.

“Ahh.. akhirnya ketemu juga daging yang dicari, mmhh.. bapak gigit-gigit ya, neng? Uummh.. lalu jilat.. gigit lagi.. sssh.. enak kan, neng?” bibir dower ustadz Mamat menjepit gemas kelentit Asih.

Jepitan bibir itu ibarat jutaan watt listrik yang menyetrum tubuh elok Murtiasih sehingga ia pun mengejang dan melengkung, jari-jarinya menggenggam kuat-kuat penis ustadz Mamat sambil disedot dan dihisapnya rakus. Perlakuan Murtiasih di penisnya itu membuat guru cabul itu pun meledak menyemburkan pejuhnya!

“Duuhh… shhh.. aaah.. enak tenan, neng! Enggak nyangka gitu pinternya si eneng, oooh.. bapak nyemprot! Aahh.. isep, minum semua ya, neng?!” ustadz Mamat menggeram sambil memeluk pinggul muridnya yang kecil tapi padat bahenol itu.

Sekuat tenaga ditahannya liuk-liukan, goyangan dan hentakan orgasme Murtiasih, ditekannya mulut serta hidungnya di bukit kemaluan gadis itu yang telah basah kuyup oleh air mazi, sebelum kemudian dikecup dihisapnya kelentit Murtiasih yang sedemikian peka hingga membuat si gadis berusaha mati-matian menelan lahar gurunya itu.

Setelah beberapa menit mengalami orgasme secara bersama-sama, akhirnya ustadz Mamat mengubah kembali posisi tubuhnya. Dengan merebahkan diri di samping muridnya, ditatapnya wajah Murtiasih yang telah berubah dari siswi alim shalihah menjadi wanita muda dengan di sudut mulut setengah terbuka mengalir sisa-sisa air mani. Betapa ayu cantik wajah muridnya itu yang merah merona akibat pergulatan dan orgasme yang baru dialami, hidung nan bangir mancung masih berkembang kempis, bukit di dada Murtiasih dengan puting menggemaskan masih turun-naik seirama tarikan napasnya yang memburu.

Ustadz Mamat mengecup bibir yang setengah terbuka itu, tercium aroma spermanya sendiri tercampur ludah Murtiasih yang harum – yang mana itu kembali membangkitkan nafsu birahinya dengan sangat cepat. Kemaluannya mulai dirasakannya menegang, biji pelirnya dirasakan kembali memberat, dan dari belahan di ujung kepala si ‘Ujang’ yang masih mengkilat mengangguk-angguk itu terlihat tetesan air mazinya.

“Hehehe.. lemes nikmat ya, neng? Ini belum apa-apa, sekarang bapak mau nerusin senam ranjang ama neng!” Seringai mesum ustadz Mamat kembali menghiasi wajahnya, sedangkan jari-jarinya telah mulai menjalar kembali mengusap-usap buah dada Murtiasih, juga meraba paha serta selangkangannya.

“Udah dong, pak! Asih udah capek nih.. iya enak, tapi Asih jadi lemes! Ntar susah bangun.. udahan ah, pak, lain kali aja nerusin maennya!!” jawab Murtiasih sambil berusaha mencegah keinginannya sendiri.

“Ahh.. masa udah berhenti, kan kita baru mulai maen? Enggak enak dong macet di tengah jalan.. kalo diterusin pasti makin sip. Sini bapak ajarin lagi,” sahut ustadz Mamat sambil menggesot dan kini menindih kembali tubuh muridnya yang masih penuh keringat.

Murtiasih hanya dapat mengeluh lemah agak susah bernafas ketika tubuhnya kembali ditindih di guru cabul, kedua lengannya direntangkan terbuka ke samping dan dirasakannya kembali ciuman dan cupangan ganas di kulit ketiaknya. Rasa geli menyebabkannya menggeliat kesana-sini sambil mendesah lirih.

“Geli, pak.. jangan digelitikin lagi! Aah.. gelii, udah dong! Asih capek.. aaiih.. udah, pak, Asih lemes.. Lepasin, emmpffhh!!” Teredam protes Murtiasih ketika mulutnya dibekap oleh bibir ustadz Mamat.

Kedua lutut pemimpin madrasah itu menekan lutut Murtiasih sehingga terpentang lebar, kejantanannya yang telah mengeras kembali segera menggesek-gesek di selangkangan yang masih basah oleh lendir kewanitaan itu, mencari kesempitan licin di kesempatan sempit. Karena tak langsung menemukan jalan masuk ke dalam liang yang dicarinya, maka ustadz Mamat menggelusur ke bawah tanpa mempedulikan rengekan Murtiasih, lalu berlutut diantara belahan paha muridnya.

Dikaitkannya lutut Murtiasih di atas bahunya sehingga vagina mungil berambut halus itu jadi sedikit terbuka, menampakkan dindingnya yang merah mengkilat. Dengan memajukan dan membungkukkan diri ke depan, maka ustadz Mamat yang masih berlutut berhasil menekuk tubuh Murtiasih sejauh mungkin sehingga paha mulusnya hampir menyentuh puting buah dadanya.

Dalam posisi seperti ini maka siaplah dosen yang telah dirasuki iblis itu untuk melakukan persetubuhan terlarang dengan muris asuhannya. Kepala penisnya yang tegang bagai pentungan kini menyelinap diantara bibir memek Murtiasih, menggesek-gesek seolah menggoda sebelum masuk. Murtiasih menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri-kanan bagaikan tak setuju dengan tindakan sang ustadz, namun celah diantara lembah Venus-nya telah terasa panas, geli, dan sedikit gatal seolah meminta untuk digaruk.

“Aduh.. pelan-pelan dong, pak! Nyeri.. ohh.. sakit!! Aah.. aihh.. cabut lagi, pak! Tolong.. ampun.. sakit! Udah, pak!” Murtiasih membuka matanya yang kuyu berlinang menatap sang pejantan ketika dirasakan bagian intimnya dibelah oleh daging rudal besar.

“Iya, bapak kan sayang Asih.. nih maennya udah pelan begini, masa iya sih masih sakit? Bapak masukin lagi sedikit.. ini pasti gara-gara memeknya si neng yang emang kekecilan, jadinya sakit begini. Tapi enggak apa-apa, pasti muat kok! Dijamin puas.. uuh, sempitnya! Bapak mesti kerja keras lagi nih,” celoteh ustadz Mamat tanpa memperdulikan rengekan gadis yang ditindihnya sambil mendorong batangnya kembali.

Kini kedua tangan ustadz Mamat merangkuh dari arah kiri kanan lutut Murtiasih yang tergantung di bahu, jari-jarinya ikut membantu merentangkan bibir kemaluan Murtiasih ke samping sehingga tampaklah biji klitoris yang sebelumnya terselip tersembunyi di lipatan bibir bagian atas. Tonjolan daging yang mulai memerah itu kini dijadikan sasaran telunjuk dan ibu jari kasar ustadz Mamat.

“Aaih.. gelii.. ngilu.. auw! Tolong, pak, jangan dipelintir lagi itunya.. Asih enggak tahan! Geli.. udah, pak! Sshh.. oohh..” Murtiasih menggelinjang meronta-ronta karena memang klitorisnya masih sangat peka akibat ulah jilatan ustadz Mamat yang menyebabkan ia klimaks tadi. Kini bagian tubuh terpeka itu kembali dijadikan bulan-bulanan usapan jari tangan yang membuatnya menceracau mendesis tak karuan.

“Iya, betul begitu, neng! Enak tenan.. ayo goyang-goyang pantatnya, neng! Oohh.. nih memek mulai ngedut-ngedut mijit-mijit! Uuh, siapa tahan ngadepin godaan kayak begini? Cakep banget si eneng kalau meringis-ringis gitu.. kita bikin anak yang cakep mau enggak, neng?” ustadz Mamat semakin lupa daratan dan mulai menggenjot dengan meningkatkan gerakan maju-mundurnya.

“Jangan, pak! Jangan.. Asih enggak mau hamil! Jangan! Buang di luar, pak! Ooh.. kasihani Asih, pak. Asih enggak mau hamil.. hiks-hiks-hiks,” Murtiasih menangis terisak sejadi-jadinya, mengingat memang saat ini ada kemungkinan dirinya di tengah masa subur.

Pada saat itu muncullah kembali iblis di samping telinga ustadz Mamat sambil membisikkan sesuatu, selain itu digunakannya kemampuan mempengaruhi panca indera ustadz murtad itu, dan memang betul : wajah Murtiasih berubah selang-seling menjadi wajah istrinya sendiri : Aida!

Agak terkejut ustadz Mamat melihat pergantian gonta-ganti wajah wanita yang sedang digarapnya akibat pengaruh iblis, namun ia melihat bahwa wajah Aida pun sebenarnya memang cantik juga.

Hanya bedanya wajah Aida seolah sedang mengejeknya dan menanyakan apakah sampai disitu saja kemampuannya sebagai seorang suami yang sedang menyetubuhi istrinya. Seolah-olah Aida menanyakan bahwa dia sama sekali tidak merasakan adanya kemaluan sedang memasuki alat kelaminnya.

Bagaimana pun usaha ustadz Mamat mempercepat dan menusuk sedalam-dalamnya, namun wajah Aida seolah tak mau menghilang dengan senyum ejekannya, membuat ustadz Mamat jadi semakin gusar dan menghunjamkan alat kejantanannya sejadi-jadinya. Telinganya seolah hanya mendengar ejekan-ejekan Aida yang mencelanya sebagai suami tak mampu memuaskan istrinya sendiri – padahal yang sebenarnya adalah, kamar itu telah dipenuhi oleh jeritan dan rintihan sakit Murtiasih yang tak berdaya diperkosa habis-habisan oleh gurunya sendiri!

Kini sang iblis menunjukkan kembali kemampuannya mempengaruhi manusia lemah seperti ustadz Mamat, dibisikkannya sesuatu di telinga ustadz itu, sesuatu yang memang selama ini tak pernah dilakukannya terhadap istrinya sendiri yaitu Aida. Sesuatu yang pernah muncul di benak ustadz dan dikemukakannya ketika sedang intim dengan istrinya, namun hal ini dianggap tabu oleh Aida dan ditolaknya mentah-mentah. Sang iblis tahu soal ini dan membujuk ustadz cabul untuk melakukannya sekarang.

“Ayo, kapan lagi? Ini kesempatanmu, jangan biarkan istrimu mengejek dan menghinamu sebagai suami yang tak mampu memuaskannya! Ayo hukumlah istrimu supaya ia tahu kamu yang lebih berkuasa!”

Ustadz Mamat tahu apa yang selama ini ditolak mentah-mentah oleh Aida. “Hhm.. memang sudah waktunya aku renggut kegadisanmu yang kedua. Rasakan betapa sakitnya, itulah hukuman yang harus kamu derita karena mengejek dan menghinaku selama persetubuhan ini!”

Demikianlah tekad ustadz Mamat yang mempersiapkan rudal dagingnya memasuki lubang terlarang di celah pantat. Semuanya adalah siasat dan tindakan iblis, sehingga ustadz Mamat tak menyadari bahwa korbannya bukan sang istri sendiri, melainkan murid kesayangannya yang sedang digarapnya kesekian kali.

Tentu saja ustadz Mamat tak mengetahui bahwa istrinya Aida selama ini pun telah menjadi korban pelecehan pak Sobri dan konco-konconya, bahkan apa yang selama ini dipertahankannya terhadap keinginan suaminya telah direnggut paksa olek pak Sobri. (baca kisah Aida sebelumnya).

Dengan tetap menatap wajah cantik dihadapannya yang seolah-olah terus mengejek-mencemooh, tanpa ragu lagi ustadz Mamat mencabut penisnya yang gagah perkasa dari vagina korbannya, dan meludahinya beberapa kali meskipun telah sangat licin oleh air lendir vagina Murtiasih. Ia juga meludahi lubang kecil kemerahan yang berkerut-berkedut membuka menutup bagaikan sekuntum bunga di bokong Murtiasih.

Murtiasih menarik nafas lega karena penis ustadz Mamat yang menghunjam menyakitinya tiada henti mendadak ditarik keluar, ia merasa sangat bersyukur bahwa gurunya mau mendengarkan permohonannya agar tak menghamilinya. Tak diduganya sama sekali bahwa iblis ternyata menuntun guru durjana itu melakukan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Kecurigaan Murtiasih baru muncul ketika dirasakannya kepala penis yang beberapa detik lalu menghunjam rahimnya, kini mulai menyentuh lubang duburnya. Langsung saja otot-otot lingkar yang amat kuat berkontraksi untuk mencegah benda asing itu menembus masuk, dan kuku-kuku Murtiasih mencakar dada ustadz Mamat.

Namun ustadz Mamat betul-betul sudah kesetanan, tenaganya bagaikan berlipat ganda, demikian pula alat kejantanannya yang semakin kaku membesar siap menggempur menembus otot-otot anus.

“Aah.. auww! S-sakit, pak! Tolong.. perih.. jangan diterusin! Kumohon, lepaskan.. ampun.. jangan masuk disitu.. sakiit!!” lolong Murtiasih yang jeritannya memenuhi kamar tidur, dan pada saat itu barulah ustadz Mamat tersadar. Tapi sang iblis segera menunjukkan muslihatnya dan membisikkan ke telinga Mamat bahwa tindakan itu tak akan menyebabkan Murtiasih hamil, sehingga semua perbuatan maksiatnya tak akan berbenih.

Bagaikan mengalami hipnotis, ustadz Mamat berhenti sebentar dengan perbuatannya, kepala penis kebanggaannya baru saja menembus gerbang anus Murtiasih, dilihatnya Murtiasih mencakari dadanya sambil menangis terisak-isak kesakitan, air matanya membasahi pipinya yang halus.

Apa yang sudah terjadi tak mungkin dibatalkan. Sudah kepalang basah, lebih baik mandi sekalian. Dan memang betul juga, jika aku tak membanjiri rahim muridku maka ia tak akan hamil, pikir si ustadz.

Maka segera dicekalnya kedua pergelangan tangan Murtiasih yang sedang mencakari dadanya penuh rasa putus asa, lalu ditekannya di samping wajah ayu gadis itu sambil berbisik, “Tahan sedikit, neng. Ini supaya neng tidak hamil. Mulanya memang akan terasa ngilu dan sakit, tapi selanjutnya akan hilang. Bapak janji bakal pelan-pelan maennya. Percayalah, bapak sayang sama Asih. Jangan dilawan ya, neng, ntar malah tambah sakit. Rileks supaya bapak bisa masuk,”

Sambil berusaha menghibur, ustadz Mamat menekan semakin dalam, tambah dalam, dan akhirnya… “Aduuh.. auw! Pelan-pelan, pak.. tetep sakit! Asih enggak kuat, ooh.. Asih enggak tahan, sakit sekali.. bapak jahat! Sadis amat sama Asih,”

Murtiasih merasakan anusnya perih dan panas bagaikan disayat dan dibelah oleh kayu menyala. Perlahan-lahan jeritannya semakin melemah dan berubah menjadi desahan dan rintihan memilukan. Ustadz Mamat kini mulai bergerak keluar-masuk di anus muridnya yang terasa begitu sempit, dan karena dilihatnya Murtiasih sudah sedemikian lemah dan pasrah tak sanggup melawan, maka nadi yang dicekalnya kini ia lepaskan.

Telunjuk dan ibu jari ustadz Mamat ganti menyelinap kembali diantara bibir kemaluan muridnya, pelan ia mengusap dan memilin-milin kelentit Murtiasih, menyebabkan sensasi baru menerpa tubuh gadis muda yang hanya sanggup menghentak-hentak lemah dan memukul-mukulkan tumitnya dengan sia-sia di punggung ustadz Mamat.

“Iyah gitu, pinter banget! Rileks ya, neng.. nih bapak bantuin supaya lebih enak! Bagus amat kelentitnya, neng, bapak geregetan jadinya. Diusap-usap supaya lebih mantap ya, neng?” Demikianlah suara dosen cabul itu terdengar sayup-sayup di telinga Murtiasih.

Tubuhnya yang telanjang bulat penuh keringat kini bergetar akibat menahan gelombang sensasi yang begitu menyiksa, geli nikmat tak tertahan karena klitorisnya terus-menerus dirangsang, bercampur dengan ngilu-perih-sakit di anus yang baru saja ditembus beberapa menit lalu. Semuanya terlalu banyak untuk dapat ditahan oleh tubuh Murtiasih, hingga akibatnya jutaan bintang meledak di ujung syaraf serta di hadapan mata gadis alim salihah itu. Jutaan volt tegangan listrik juga menyerang dan menyebabkan jeritan orgasme terakhir keluar dari mulutnya. Otot-otot lingkar di anus Murtiasih menegang dan meremas penis ustadz Mamat yang tengah menyiksanya sehingga sang ustadz pun tak sanggup lagi menahan gelora lahar biji pelirnya!

“Aaah.. bapak moncrot nih! Duh nikmatnya.. iya, pijit terus kontol bapak, neng! Oooh.. pinternya nih murid. Dikawinin jadi istri muda bapak, mau neng?” ustadz Mamat menyemburkan spermanya secara bergelombang ke dalam anus Murtiasih sebelum akhirnya kedua insan yang berbeda usia dan kedudukan di masyarakat itu ambruk berpelukan.

Di bawah selimut keduanya tidur menyamping berpagutan. Ustadz Mamat memeluk tubuh siswi muridnya yang mungil langsing membelakanginya. Dirasakannya getaran lemah Murtiasih yang rupanya masih menangis terisak-isak. Saat ini pengaruh iblis agak berkurang dan ada perasaan sedikit menyesal pada diri ustadz Mamat karena menyadari telah melakukan perbuatan yang tak senonoh – merenggut keperawanan Murtiasih yang kedua dan itu pasti lebih sakit daripada yang pertama.

Ustadz Mamat mengelus menciumi pundak dan punggung Murtiasih dengan lembut, dibelainya penuh rasa sayang, berbeda dengan kelakukannya beberapa menit lalu. Dengan suara berbisik ia menyatakan bahwa tak ada maksudnya sama sekali untuk menyakiti muridnya itu. Perlahan-lahan Murtiasih yang memang berbudi sangat halus itu membalikkan tubuhnya dan dengan berlinangan air mata ia menatap gurunya. Keduanya bagaikan sadar dan kembali ke dalam dunia nyat.

Namun semua telah terjadi, nasi telah menjadi bubur. Murtiasih kini telah mengenal dunia terlarang dan dirinya telah ternoda, namun di samping itu ia telah mengalami transformasi menjadi dewasa.

Ia dapat memilih untuk melaporkan semuanya kepada pihak berwajib dan konsekuensinya adalah publikasi di koran serta majalah yang mencari sensasi. Bukan saja namanya sendiri tercemar tapi juga nama keluarga serta madrasah yang baru saja dibuka. Jalan lain yang dapat ditempuh adalah menjadikan semuanya menjadi resmi : ia dapat mengancam gurunya untuk menjadikannya sebagai istri kedua setelah Aida, namun apakah Aida akan mau menerima dirinya dimadu? Adakah jalan yang lebih baik bagi keduanya?

Tanpa disadari oleh ustadz Mamat, akibat pengaruh iblis telah membangunkan naluri hewaniah wanita muda dewasa di pori-pori kulit dan ujung-ujung syaraf Murtiasih. Dunia baru penuh dengan campuran sakit namun nikmat tak terkira telah dicipi oleh Murtiasih – dan itu diawal mula menimbulkan penyesalan, namun di balik itu juga ada keinginan untuk mengalami kembali. Apakah tak ada jalan keluar yang terbaik untuk kedua insan itu?

Satu jam kemudian, Murtiasih, Rofikah, Sumirah, ustadz Mamat serta pak Jamal, pulang kembali ke asrama madrasah mereka. Sementara pak Fikri tetap bermalam di rumahnya yang terpencil dan menjadi saksi bisu dari semua perbuatan maksiat yang baru saja mereka lakukan.

TAMAT EPISODE MURTIASIH & USTADZ MAMAT

LIA

Lia adalah gadis cantik, bibirnya  tipis yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Meski bibirnya agak lebar tapi tetap manis dengan senyum khasnya. Kulitnya kuning langsat dengan tubuh langsing, tapi kalau dibuka pinggul dan pantat menarik.

cccsd

Tentu saja sebagai staf muda di salah satu instansi pemerintahan penampilannya harus selalu dijaga apa lagi ia bekerja di protokoler. Ia selalu tampil manis dan harum.

Lia tergolong anak bahagia, hidupnya tak pernah menderita. Sejak kecil  ortunya pejabat bermental veodal yang rakus tapi sok alim. Di usianya yang 24 ia sudah menjadi pegawai bersamaan dengan suaminya yang sama sebagai pegawai juga, Lia adalah seorang ibu muda kini 29 tahun yang bekerja di kantor pemerintahan kabupaten B.

Ia tinggal di rumah sendiri bersama suami anak dan seorang pembantu.Suaminya juga pegawai sama walaupun pada intansi yang berbeda.

Lia adalah gadis cantik, bibirnya  tipis yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Meski bibirnya agak lebar tapi tetap manis dengan senyum khasnya. Kulitnya kuning langsat dengan tubuh langsing, tapi kalau dibuka pinggul dan pantat menarik.

Tentu saja sebagai staf muda di salah satu instansi pemerintahan penampilannya harus selalu dijaga apa lagi ia bekerja di protokoler. Ia selalu tampil manis dan harum.

Lia tergolong anak bahagia, hidupnya tak pernah menderita. Sejak kecil  ortunya pejabat bermental veodal yang rakus tapi sok alim. Di usianya yang 24 ia sudah menjadi pegawai bersamaan dengan suaminya yang sama sebagai pegawai juga, Lia adalah seorang ibu muda kini 29 tahun yang bekerja di kantor pemerintahan kabupaten B.

Ia tinggal di rumah sendiri bersama suami anak dan seorang pembantu.Suaminya juga pegawai sama walaupun pada intansi yang berbeda.

Nah pemerkosaan itu terjadi saat ia melanjutkan kuliah dan tinggal di apartemen yang disewa orang tuanya.

Pemerkosaan itu tak lepas dari kasus politik dendam seorang atasan orang tuanya yang gagal mencalonkan meraih kekuasaan oleh penghianatan orang tuanya yang menjelang pensiun.

Suatu hari di sore hari Lia terkejut saat membuka pintu apartemennya yang tak terkunci, sementara barang-barang di kamarnya berantakan. Ia berfikir terjadi pencurian, namun belum sempat ia berikir ke arah yang lain dua orang menyergap dan menutupkembali pintu kamarnya, dua orang itu mengunci tangan dan menutup mulutnya.
Sementara seorang yang muncul dibalik daun pintu menutup pintu dan mengkuncinya dari dalam.

“Tenang Lia?”, tiba-tiba seorang  menegurnya dari kegelapan ujung ruangkan apartemenya .

Tentu saja Lia terkejut, ada empat orang telah mengepungnya. “Eh tolong lepasin gua,…”, Lia meronta berusaha melepas dari cengekraman.

“Lia, santai saja, kamu akan mendapat kenikamatan malam ini hingga besok..”, seorang dari mereka berkata

“Hhm,,, tolong lepasin”, Lia menjawab sambil terus berontak.

Teriakan Lia nyaris tak terdengar, apa lagi di luar, ruangan kamar yang telah tertutup pintu. Apartemen yang ia sewa itu kedap suara karena dilapisi karpet rapat di tembok dan lantai.

“Mau lepas..? tapi kami minta kenang-kenangan dulu ya,” tiba-tiba seorang yang yang berada di depannya mengancam sambil melihat kakinya yang bergerak-gerak ingin lepas.

“Lepaskan, ambil semua barang saya .. tapi lepasin saya dulu..”, Lia menjawab.

Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Seorang yang kelihata lebih tua mencekal lengan Lia. Sebelum Lia tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka lalu diikat.
“Aah! Jangan Pak!”.

Selanjutnya lelaki itu menarik blus lengan panjang warna ungu milik Lia. Ibu muda itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan.
Lelaki itu menyeringai ketika melihat rekanya membuka kancing celana panjang Lia, lalu menarik resleting. Lia berusaha meronta, namun tak berdaya. Pinggulnya yang kencang yang terbungkus celana longar mulai kelihatan, termasuk CDnya berwarna pink mencuat.

“Jangannnn! Lepaskannn!”, Lia berusaha meronta.

Lelaki  yang memmbuka celana itu terus melanjutkan berusaha menurunkan celana panjang ungu Lia. Sebenarnya di antara para lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Lia. Perempuan yang langsing yang selama ini terbalut rok dan Jilbab yang selalu berganti model itu sering mereka intipnya ketika ke kamar mandi kantor.

Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Bahkan ketika kaki Lia menyepak mereka dengan keras.

“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, seorang pemuda yang membuka celana lia  hanya menyeringai.

Dengan kaki terikat Lia di seret ke meja di antara sova ruang tamu apartemen. Dengan sekali kibas sebuah fas bunga jatuh berhamburan.

“Aahh! Jangan Pak! Jangannn!”, Lia mulai menangis ketika ia ditelentangkan di atas meja itu.

Sementara kedua tangannya yang terikat terus dipegang ke belakang, empat lelaki itu  lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Lia. Bahkan sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Lia menangis,  ia dapat merasakan AC di ruangan  menerpa kulit pahanya. Celana panjangnya  telah terlepas jatuh meski masih tergantung di ujung kakinya.

Lia lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan baju lengan panjang dan menarik CD pink Lia. Lia mengenakan setelan pakaian dalam berenda yang juga warna pink yang mini dan sexy.

Mulailah pemerkosaan itu. Tangan Lia telah diikat oleh para pemerkosa yang dendam terhadap orang tuanya.Dengan mudah para lelaki itu menyaksikan Lia terikat dengan dada menjuntai meski masih memakai BH. Sementara perut ke bawah pusar sudah keliahtan jelas menunjukan memeknya yang dirimbuni jembut.

CD Lia sendiri telah lepas sebelumnya menutup memeknya, CD itu mengantung di lutut. Lelaki satu yang paling senior memanfaatkan pemandangan itu dengan cara mengelus-elus selengkangan perempuan muda beranak satu itu.

Telapak tangan menjamah sebuah gundukan memek yang ditumbuhi jembut agak rimbun. Sementara jari asik menelusup ke bagian bibir memek menerobos mencukil itil Lia, memainkan dengan jari dan membuat Lia merintih menangis kenikmatan.

Payudara Lia yang kencang mulai kena sasaran, meski masih terbungkus BH, sejumlah tangan mengelus bertubi-tubi menerobos ke gunungan dan pengtilnya.

Tubuh Lia memang langsing namun kencang menggairahkan. Payudaranya biasa ukuran 34 namun kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan terlentang di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan.

Pemerkosaan terus berlanjut, BH Lia sudah lepas entah kemana, Kini tak hanya bibir, empat orang berebut menciumi dan menjilat tubuh lansging bak artis ibu kota itu. Termasuk  si tua pemerkosa yang jadi pemimpin itu, tak lagi merabai memek dan memainkan itil, tapi sudah mengarahkan mulut dan lidahnya menerobos di memek Lia .

dsdac

Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala membentuk huruf O itu sudah diilatin habis-haisan. Mata Lia basah, air mata mengalir di pipinya.

“cliup ciup, !”, suara bibir lidah dan beradu antara bibir memek dan itil Lia Lia yang dijilat oleh pemerkosa, celana dalam  telah ditarik hingga sebagian robek.

Hanya meninggalkan jilbab masih menutup kepalanya, Lia benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan tak bercelana dalam yang sudah mengelantung di lutut bersama celananya.

Sementara penis sang komandan Pemerkosa yang besar dan keras mulai tak bisa dikendalikan, ia pun mulai mengarahkan peler ukuran 16 CM itu ke mulut Lia yang sebelumnya beradu dengan mulut anak buahnya yang kini bergantian memainkan memek.

Lia terpaksa mengulum peler yang tak ia sukai, meski saat kuliah dan pacaran dulu ia sering melakukan oral. Namun  oral kali ini merupakan keterpaksaan.

“Ouuhh! ooupp,…”, Lia gelagapan.

Sementara lelaki lain yang sebelumnya menciumi bibirnya beralih haluan menjilati memek lia, bahkan yang masih muda kurang puas hanya mendapatkan memek dan itil yang telah dijilat. Lelaki yang umur baru 26 tahun itu mengangkat kaki lia dan menekuk shingga kelihatan dubur dan menjilatinya.

Tubuh lia seakan menjadi bulan-bulanya sekelompok singga lapar,ia terkapar tak berdaya dalam kebugilan oleh empat lelaki yang mengerubuti.

Tiba-tiba sang aktor lelaki tertua pemerkosa, memminta yang lain meninggalkan memek lia dari jilatan mulut. Ia lansgung melakukan eksekusi dnegan menyodok peler ukuran 16 cm ke memek Lia yang telah basah kuyup oleh ludah dan cairan memeknya sendiri.
Lelaki itu menyodok memek lia yang telah terbuka menerobos di antara jembut dan bibir memek serta itil yang telah terbuka. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Lia hanya mampu menangis tak berdaya.

Kurang puas memompa Lia yang terlentang di atas meja, tiba-tiba lelaki yang telah menyodokan pelernya pertama kali ke memek Lia mengangkat kaki lia dari lutut, kemudian menyodokan penisnya yang keras panjang.

Lia memang sedang sial dan tak mampu berbuat banyak, ia hanya menahan rasa ngilu di selangkangannya. Sementara lelaki pemerkosa pertama terus memompa memek, sedangkan yang lain memperkosa mulutnya.

Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka. Lelaki tua mendesak dari depan lewat tusukan memek Lia, sementara lelaki lain  menyodok dari depan lewat mulut Lia.

Bibir Lia yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan yang dijejalkan secara bergantian  saat memeknya mendapat tusukan yang terus keluar masuk.

Tiba-tiba sang ketua pemerkosa yang dendam terhadap orang tuanya itu mencabut pelernya dan menarik Lia.

“Ampuunnn…, hentikan Pak..”, Lia menangis tersengal-sengal.

Lelaki itu duduk di atas sofa tamu kemudian dengan dibantu yang lain  Lia dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.

“Slebb!”, kemaluan lelaki tua itu  kembali masuk ke vagina Lia yang sudah basah.

Lia menggelinjang, melenguh dan merintih. Lelaki itu  kembali memeluk Lia sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina ibu muda yang anaknya baru berusia lima tahun itu.

Lia masih tersengal-sengal melayani serangan mulut dan memeknya, namun sesaat kemudian ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit.
Ternyata  lelaki muda yang mendapat giliran sudah tak tahan dan  mulai memaksa menyodominya.

Liat tak mamapu teriak karena bibirnya dilumat. Sementara perutnya tersa mulas karena dorongan peler dari pemerkosa lain yang mendorong peler dari anus.

“Nghhmmm..! Nghh! Jahannaammm…!”, Lia berusaha meronta, saat mampu melepaskan mulutnya dari lumatan pemerkosa.

Namun teriakan yang ia lakukan justru menambah gairah para pemerkosa yang terus beramai-ramai  menjilatin tubuh dan nenenya.

Lia lemas tak berdaya sementara ketiga lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang.

Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti. Lia diteleungkupkan  dengan tergesa kemudian lelaki lain  menyodokkan kemaluannya ke mulut perempuan yang jadi pegawai karena KKN itu.

Lia gelagapan ketika lelaki pemerkosa Senior mengocok pelernya yang bafu lepas dari memek kemudian mendadak  kepala Lia dipegang erat dan…
“Crrrt! Crrrt!”, cairan sperma lelaki itu muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.
Lia merasa akan muntah. Tapi lelaki itu  terus menekan hidung Lia hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu.

Lelaki itu terus memainkan batang pelernya di mulut Lia hingga bersih. Lia tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.

Lelaki tua pemerkosa pertama klimak, mendadak yang lain ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Lia. Kembali mulut  gadis itu diperkosa. Lia terlalu lemah untuk berontak.

Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya. Lia menangis sesengggukan.

Para pemerkosa biadab itu memakai celana dalam Lia untuk membersihkan sisa spermanya.

“Wah.. bener-bener kenangan indah, yuk..”, ujar lelaki tua yang pertama kali memasukan pelernya ke memek Lia sambil membuka pintu kulkas mengambil minuman.

Tak lama kemudian diikuti 3 orang lain  yang secara bergiliran memperkosa mulut, anus dan memek Lia.

Pemuda yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Lia. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Lia dipaksa menelan sperma semua pemuda itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Lia bergiliran.

Tubuh Lia yang langsing itu basah berbanjir peluh dan sperma. Jilbabnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya Lia ditelentangkan di sofa, kemudian para lelaki itu bergiliran menikmati makanan  dan minuman keras.
Namun tak lama kemudian mereka kembali mengilir Lia seperti semula  secara bergiliran.

Ketika telah selesai Lia telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat dan air matanya sendiri. Lia pingsan. Tapi para para lelaki itu ternyata belum puas. mereka melakukan hinga dua kali klimak.

Dan malam itu sebagai malam jahanam bagi Lia. Sampai saat ini trauma mendalam dialami oleh Lia, dan dia sangat sedih dengan perkosaan itu.

Nah pemerkosaan itu terjadi saat ia melanjutkan kuliah dan tinggal di apartemen yang disewa orang tuanya.

Pemerkosaan itu tak lepas dari kasus politik dendam seorang atasan orang tuanya yang gagal mencalonkan meraih kekuasaan oleh penghianatan orang tuanya yang menjelang pensiun.

Suatu hari di sore hari Lia terkejut saat membuka pintu apartemennya yang tak terkunci, sementara barang-barang di kamarnya berantakan. Ia berfikir terjadi pencurian, namun belum sempat ia berikir ke arah yang lain dua orang menyergap dan menutupkembali pintu kamarnya, dua orang itu mengunci tangan dan menutup mulutnya.
Sementara seorang yang muncul dibalik daun pintu menutup pintu dan mengkuncinya dari dalam.

“Tenang Lia?”, tiba-tiba seorang  menegurnya dari kegelapan ujung ruangkan apartemenya .

Tentu saja Lia terkejut, ada empat orang telah mengepungnya. “Eh tolong lepasin gua,…”, Lia meronta berusaha melepas dari cengekraman.

“Lia, santai saja, kamu akan mendapat kenikamatan malam ini hingga besok..”, seorang dari mereka berkata

“Hhm,,, tolong lepasin”, Lia menjawab sambil terus berontak.

Teriakan Lia nyaris tak terdengar, apa lagi di luar, ruangan kamar yang telah tertutup pintu. Apartemen yang ia sewa itu kedap suara karena dilapisi karpet rapat di tembok dan lantai.

“Mau lepas..? tapi kami minta kenang-kenangan dulu ya,” tiba-tiba seorang yang yang berada di depannya mengancam sambil melihat kakinya yang bergerak-gerak ingin lepas.

“Lepaskan, ambil semua barang saya .. tapi lepasin saya dulu..”, Lia menjawab.

Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Seorang yang kelihata lebih tua mencekal lengan Lia. Sebelum Lia tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka lalu diikat.
“Aah! Jangan Pak!”.

Selanjutnya lelaki itu menarik blus lengan panjang warna ungu milik Lia. Ibu muda itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan.
Lelaki itu menyeringai ketika melihat rekanya membuka kancing celana panjang Lia, lalu menarik resleting. Lia berusaha meronta, namun tak berdaya. Pinggulnya yang kencang yang terbungkus celana longar mulai kelihatan, termasuk CDnya berwarna pink mencuat.

“Jangannnn! Lepaskannn!”, Lia berusaha meronta.

Lelaki  yang memmbuka celana itu terus melanjutkan berusaha menurunkan celana panjang ungu Lia. Sebenarnya di antara para lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Lia. Perempuan yang langsing yang selama ini terbalut rok dan Jilbab yang selalu berganti model itu sering mereka intipnya ketika ke kamar mandi kantor.

Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Bahkan ketika kaki Lia menyepak mereka dengan keras.

“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, seorang pemuda yang membuka celana lia  hanya menyeringai.

Dengan kaki terikat Lia di seret ke meja di antara sova ruang tamu apartemen. Dengan sekali kibas sebuah fas bunga jatuh berhamburan.

“Aahh! Jangan Pak! Jangannn!”, Lia mulai menangis ketika ia ditelentangkan di atas meja itu.

Sementara kedua tangannya yang terikat terus dipegang ke belakang, empat lelaki itu  lebih leluasa menurunkan celana panjang ungu Lia. Bahkan sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Lia menangis,  ia dapat merasakan AC di ruangan  menerpa kulit pahanya. Celana panjangnya  telah terlepas jatuh meski masih tergantung di ujung kakinya.

sn_

Lia lemas. Hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan baju lengan panjang dan menarik CD pink Lia. Lia mengenakan setelan pakaian dalam berenda yang juga warna pink yang mini dan sexy.

Mulailah pemerkosaan itu. Tangan Lia telah diikat oleh para pemerkosa yang dendam terhadap orang tuanya.Dengan mudah para lelaki itu menyaksikan Lia terikat dengan dada menjuntai meski masih memakai BH. Sementara perut ke bawah pusar sudah keliahtan jelas menunjukan memeknya yang dirimbuni jembut.

CD Lia sendiri telah lepas sebelumnya menutup memeknya, CD itu mengantung di lutut. Lelaki satu yang paling senior memanfaatkan pemandangan itu dengan cara mengelus-elus selengkangan perempuan muda beranak satu itu.

Telapak tangan menjamah sebuah gundukan memek yang ditumbuhi jembut agak rimbun. Sementara jari asik menelusup ke bagian bibir memek menerobos mencukil itil Lia, memainkan dengan jari dan membuat Lia merintih menangis kenikmatan.

Payudara Lia yang kencang mulai kena sasaran, meski masih terbungkus BH, sejumlah tangan mengelus bertubi-tubi menerobos ke gunungan dan pengtilnya.

Tubuh Lia memang langsing namun kencang menggairahkan. Payudaranya biasa ukuran 34 namun kencang. Seluruh tubuhnya pejal kenyal. Dalam keadaan terlentang di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan.

Pemerkosaan terus berlanjut, BH Lia sudah lepas entah kemana, Kini tak hanya bibir, empat orang berebut menciumi dan menjilat tubuh lansging bak artis ibu kota itu. Termasuk  si tua pemerkosa yang jadi pemimpin itu, tak lagi merabai memek dan memainkan itil, tapi sudah mengarahkan mulut dan lidahnya menerobos di memek Lia .

Bibirnya yang penuh berlipstik merah menyala membentuk huruf O itu sudah diilatin habis-haisan. Mata Lia basah, air mata mengalir di pipinya.

“cliup ciup, !”, suara bibir lidah dan beradu antara bibir memek dan itil Lia Lia yang dijilat oleh pemerkosa, celana dalam  telah ditarik hingga sebagian robek.

Hanya meninggalkan jilbab masih menutup kepalanya, Lia benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan tak bercelana dalam yang sudah mengelantung di lutut bersama celananya.

Sementara penis sang komandan Pemerkosa yang besar dan keras mulai tak bisa dikendalikan, ia pun mulai mengarahkan peler ukuran 16 CM itu ke mulut Lia yang sebelumnya beradu dengan mulut anak buahnya yang kini bergantian memainkan memek.

Lia terpaksa mengulum peler yang tak ia sukai, meski saat kuliah dan pacaran dulu ia sering melakukan oral. Namun  oral kali ini merupakan keterpaksaan.

“Ouuhh! ooupp,…”, Lia gelagapan.

Sementara lelaki lain yang sebelumnya menciumi bibirnya beralih haluan menjilati memek lia, bahkan yang masih muda kurang puas hanya mendapatkan memek dan itil yang telah dijilat. Lelaki yang umur baru 26 tahun itu mengangkat kaki lia dan menekuk shingga kelihatan dubur dan menjilatinya.

Tubuh lia seakan menjadi bulan-bulanya sekelompok singga lapar,ia terkapar tak berdaya dalam kebugilan oleh empat lelaki yang mengerubuti.

Tiba-tiba sang aktor lelaki tertua pemerkosa, memminta yang lain meninggalkan memek lia dari jilatan mulut. Ia lansgung melakukan eksekusi dnegan menyodok peler ukuran 16 cm ke memek Lia yang telah basah kuyup oleh ludah dan cairan memeknya sendiri.
Lelaki itu menyodok memek lia yang telah terbuka menerobos di antara jembut dan bibir memek serta itil yang telah terbuka. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Lia hanya mampu menangis tak berdaya.

Kurang puas memompa Lia yang terlentang di atas meja, tiba-tiba lelaki yang telah menyodokan pelernya pertama kali ke memek Lia mengangkat kaki lia dari lutut, kemudian menyodokan penisnya yang keras panjang.

Lia memang sedang sial dan tak mampu berbuat banyak, ia hanya menahan rasa ngilu di selangkangannya. Sementara lelaki pemerkosa pertama terus memompa memek, sedangkan yang lain memperkosa mulutnya.

Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka. Lelaki tua mendesak dari depan lewat tusukan memek Lia, sementara lelaki lain  menyodok dari depan lewat mulut Lia.

Bibir Lia yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan yang dijejalkan secara bergantian  saat memeknya mendapat tusukan yang terus keluar masuk.

Tiba-tiba sang ketua pemerkosa yang dendam terhadap orang tuanya itu mencabut pelernya dan menarik Lia.

“Ampuunnn…, hentikan Pak..”, Lia menangis tersengal-sengal.

Lelaki itu duduk di atas sofa tamu kemudian dengan dibantu yang lain  Lia dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.

“Slebb!”, kemaluan lelaki tua itu  kembali masuk ke vagina Lia yang sudah basah.

Lia menggelinjang, melenguh dan merintih. Lelaki itu  kembali memeluk Lia sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina ibu muda yang anaknya baru berusia lima tahun itu.

Lia masih tersengal-sengal melayani serangan mulut dan memeknya, namun sesaat kemudian ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit.
Ternyata  lelaki muda yang mendapat giliran sudah tak tahan dan  mulai memaksa menyodominya.

Liat tak mamapu teriak karena bibirnya dilumat. Sementara perutnya tersa mulas karena dorongan peler dari pemerkosa lain yang mendorong peler dari anus.

“Nghhmmm..! Nghh! Jahannaammm…!”, Lia berusaha meronta, saat mampu melepaskan mulutnya dari lumatan pemerkosa.

Namun teriakan yang ia lakukan justru menambah gairah para pemerkosa yang terus beramai-ramai  menjilatin tubuh dan nenenya.

vsdv

Lia lemas tak berdaya sementara ketiga lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang.

Juga rintihannya. Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti. Lia diteleungkupkan  dengan tergesa kemudian lelaki lain  menyodokkan kemaluannya ke mulut perempuan yang jadi pegawai karena KKN itu.

Lia gelagapan ketika lelaki pemerkosa Senior mengocok pelernya yang bafu lepas dari memek kemudian mendadak  kepala Lia dipegang erat dan…
“Crrrt! Crrrt!”, cairan sperma lelaki itu muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.
Lia merasa akan muntah. Tapi lelaki itu  terus menekan hidung Lia hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu.

Lelaki itu terus memainkan batang pelernya di mulut Lia hingga bersih. Lia tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.

Lelaki tua pemerkosa pertama klimak, mendadak yang lain ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Lia. Kembali mulut  gadis itu diperkosa. Lia terlalu lemah untuk berontak.

Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya. Masuk ke tenggorokannya. Lia menangis sesengggukan.

Para pemerkosa biadab itu memakai celana dalam Lia untuk membersihkan sisa spermanya.

“Wah.. bener-bener kenangan indah, yuk..”, ujar lelaki tua yang pertama kali memasukan pelernya ke memek Lia sambil membuka pintu kulkas mengambil minuman.

Tak lama kemudian diikuti 3 orang lain  yang secara bergiliran memperkosa mulut, anus dan memek Lia.

Pemuda yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Lia. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Lia dipaksa menelan sperma semua pemuda itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Lia bergiliran.

Tubuh Lia yang langsing itu basah berbanjir peluh dan sperma. Jilbabnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya Lia ditelentangkan di sofa, kemudian para lelaki itu bergiliran menikmati makanan  dan minuman keras.
Namun tak lama kemudian mereka kembali mengilir Lia seperti semula  secara bergiliran.

Ketika telah selesai Lia telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat dan air matanya sendiri. Lia pingsan. Tapi para para lelaki itu ternyata belum puas. mereka melakukan hinga dua kali klimak.

Dan malam itu sebagai malam jahanam bagi Lia. Sampai saat ini trauma mendalam dialami oleh Lia, dan dia sangat sedih dengan perkosaan itu.

KETIKA IBLIS MENGUASAI 6

Perselingkuhan Aida dan Pak Sobri

Apakah pak Sobri sudah puas dengan pengalaman sekali saja menggarap Aida – ataukah di masa depan masih ada kesempatan lagi mencicipi tubuh Aida yang bahenol itu? Apakah Aida telah belajar kenal dengan semua teknik bercinta? Ooh, masih jauh dari itu. Pak Sobri bertekad akan mengulang menikmati Aida dengan cara lain dan menjadikannya budak sex yang patuh 100%

ANNISA ISLAMIYAH (11)

***

Keadaan kesehatan Ubaidillah yang dirawat di RS hanya menunjukkan perbaikan sedikit sekali. Uang yang diperoleh dari pak Sobri telah terpakai untuk segala macam pemeriksaan, perawatan, obat-obatan, dan juga honorarium dari para dokter spesialis. Sementara itu Ustadz Mamat serta adik iparnya, Farah, tetap belum memperoleh pamasukan yang pasti.

Secara sepintas terdengar jumlah uang tiga juta yang diperoleh Aida dari pak Sobri memang banyak, namun dengan kenaikan harga kebutuhan hidup sehari-hari, ditambah biaya RS, maka punahlah semuanya bagaikan tetesan air di kuali panas yang langsung menguap di udara. Demi mengusahakan agar dapur tetap berasap, maka Ustadz Mamat terpaksa sering bekerja di sebuah madrasah di kota kecil lain yang cukup jauh sehingga tak jarang harus menginap satu dua malam meninggalkan rumahnya.

Demikian pula dengan Farah yang karangannya belum juga dimuat dan telah mengalami pelecehan oleh pak Burhan, berusaha melupakan pengalaman gelapnya itu dengan bekerja sebagai guru agama di Sekolah Rakyat di sebuah desa yang berjauhan dengan rumahnya. Dengan demikian maka Aida semakin sering tinggal seorang diri di rumahnya – dan hal ini tentu saja tak luput dari pengamatan para lelaki di desa itu. Salah satu lelaki yang mengamati bagaimana keadaan Aida adalah seorang duda pemilik warung serba ada kecil-kecilan di desa itu : Fadillah.

Fadillah telah berusia masuk lima puluh tujuh, bertubuh sangat kekar dan wajah sangat bengis, jarang tertawa terkecuali jika ada langganan yang datang untuk membeli seorang wanita muda. Fadillah yang sehari-hari disebut Fadil itu pernah bekerja sebagai buruh kuli harian, dan kebetulan dahulu menjadi kuli bangunan pada saat rumah pak Sobri dibangun. Dimasa menjadi kuli borongan itulah, Fadil yang memang berjiwa maksiat, pernah mencuri bahan bangunan dan berusaha menjualnya di pasar gelap.

Akibatnya Fadil ditangkap polisi dan dimasukkan ke penjara – namun karena istri Fadil almarhum merasa kasihan terhadap suaminya, maka ia meminta tolong kebijaksanaan kepada pak Sobri yang banyak mengenal pihak polisi. Istri Fadil bernama Subiati memang cukup cantik sehingga pak Sobri bersedia menolongnya, namun tentu saja tidak dengan gratis, melainkan menjebak Subiati ke rumahnya untuk dapat digarapnya.

ANNISA ISLAMIYAH (10)

Subiati sebagai istri alim shalihah tak dapat sembuh kembali dari tekanan jiwa akibat perkosaan yang dialami, sehingga menderita tekanan batin dan semakin kurus akibat mengidap sakit paru-paru. Perempuan itu akhirnya meninggal mendahului suaminya, Fadillah, yang sejak saat itu hidup menduda.

Setelah ditinggal mati sang istri, Fadillah menjadi kaki tangan pak Sobri, terutama di dalam hal mencarikan ‘daun muda” di desa, karena Fadillah faham sekali apa kegemeran dan kesenangan pak Sobri.

Oleh karena itulah Fadillah mendapat perintah dari pak Sobri agar memperhatikan bagaimana kehidupan Aida setelah berhasil digarap olehnya, terutama pada saat berbelanja keperluan dapur di kedai milik Fadillah yang sejak awal mula didirikan dengan modal dari pak Sobri.

Tentu saja Fadillah harus menahan nafsunya sendiri melihat istri Ustadz yang seronok behenol setiap kali membeli beras, minyak dan bumbu-bumbu masak lainnya. Fadillah berusaha ramah-tamah dan menanyakan bagaimana keadaan Ustadz Mamat yang semakin lama semakin jarang muncul sendiri di warung itu.

Semula agak segan Aida menceritakan keadaan keluarganya, keadaan ayahnya yang masih dirawat di rumah sakit, kegiatan yang dilakukan suaminya mencari nafkah. Namun karena Fadillah yang memang diberikan perintah oleh pak Sobri untuk menjebak Aida semakin sering memberikan potongan harga dan menjual barang keperluan sehari-hari jauh di bawah harga pasaran biasa , maka Aida tanpa disadari mulai terhanyut oleh ’kebaikan hati’ laki-laki itu.

Dalam waktu hanya beberapa minggu, maka Fadillah telah memperoleh banyak informasi dari Aida yang polos dan lugu, bahwa biasanya di hari Senin dan Kamis, Ustadz Mamat mempunyai tugas mengajar para siswi di madrasah yang terletak cukup jauh dari desa. Informasi berharga ini disampaikan kepada pak Sobri yang memang selalu mencari kesempatan untuk menggauli kembali wanita alim idamannya itu. Apalagi memasuki musim hujan, maka hubungan antar desa semakin sukar sehingga Ustadz Mamat lebih sering terpaksa bermalam di madrasah setelah usai tugas mengajarnya itu – meninggalkan istrinya Aida seorang diri di rumah.

***

Setelah makan siang bersama, kembali Ustadz Mamat meninggalkan Aida, istrinya, untuk balik mengajar ke madrasah tempatnya bekerja. Ia memberitahu Aida bahwa karena banyaknya tugas, maka ia akan bermalam di asrama madrasah selama dua hari.

Secara naluri, Aida merasakan adanya perbedaan kelakuan suaminya sejak mempunyai pekerjaan di madrasah baru yang terletak di desa lain itu. Aida merasakan bahwa suaminya tidak lagi menunjukkan kegairahan di saat menggaulinya sebagaimana lazimnya seorang suami dengan istri yang masih berusia muda. Tak banyak dilakukan oleh Ustadz Mamat untuk mencumbu merayu sang istri sebelum sanggama, dan sesudah itupun, Ustadz Mamat langsung membalikkan tubuhnya ke arah lain dan mendengkur.

Aida yang baru saja kehilangan ayahnya yang meninggal setelah menderita stroke, ikut acuh pula terhadap sang suami. Dalam suasana kesedihan itulah, Aida merasakan tak adanya seseorang yang dapat menghibur dirinya; ketiga adik perempuannya semakin sibuk dengan tugas dan kuliah masing masing. Bahkan tak pernah diduganya bahwa Farah telah menjadi korban pelecehan pak Burhan dan kini menjadi guru di sekolah agama sehingga hanya sekali dua kali sebulan mengunjunginya.

ANNISA ISLAMIYAH (9)

Ada dugaan di dalam hati kecil Aida bahwa Ustadz Mamat, suaminya, mungkin menyeleweng dengan wanita lain; mungkin dengan salah seorang siswi muridnya sendiri. Namun dengan segera dihapusnya rasa syak wasangka itu. Semua siswi madrasah pasti alim shalihah, mana mungkin mau untuk menjadi sasaran nafsu gurunya sendiri? Demikianlah cara berpikir Aida yang amat lugu dan naif.

Selain itu Aida menyimpan pula sebuah rahasia dan rasa bersalah karena telah menjadi korban pak Sobri. Semuanya menyebabkan Aida semakin merasakan dirinya sendiri kurang berharga dan tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya untuk memulihkan segalanya seperti awal semula.

Semua suasana yang kurang menguntungkan itu tentu saja tidak luput dari pengawasan iblis yang memakai ‘anak buah’nya yaitu Fadillah, si pemilik warung dimana Aida selalu belanja.

Setelah suaminya kembali ke tempat kerja di madrasah, maka Aida bergegas membeli keperluan mandi di warung langganannya itu, dan karena kebetulan sepi maka mereka ngobrol sebentar. Dari hasil obrolan itulah Fadillah mengetahui bahwa Ustadz Mamat akan absen selama dua hari, artinya Aida hanya seorang diri di rumahnya karena ketiga adik wanitanya pun sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Fadillah yang tahu bagaimana keadaan Aida, segera melapor kepada majikannya yaitu pak Sobri. Dengan seksama pak Sobri mendengarkan laporan Fadillah, dan paham inilah kesempatannya untuk menikmati istri Ustadz yang selalu dirindukannya sejak digarap tempo hari.

Fadillah memberitahukan pula kepada pak Sobri bahwa Aida meminta bantuannya mendirikan tiang jemuran di halaman belakang serta memperbaiki grendel pintu belakang yang hampir terlepas. Aida telah bosan meminta suaminya membetulkan kedua hal sepele itu, namun entah memang sengaja atau tidak, selalu dilupakan oleh Ustadz Mamat. Fadillah berjanji akan datang setelah menutup warungnya di sore hari.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, demikian pikir pak Sobri yang memang mencari akal untuk dapat masuk ke rumah Aida. Setelah berhasil menipunya tempo hari, maka kemungkinan besar Aida tak akan mau membukakan pintu jika pak Sobri yang datang sendirian. Fadillah akan dijadikannya sebagai umpan pemancing; pada saat Fadillah membetulkan tiang jemuran itu, maka pak Sobri akan coba menyelinap masuk. Semuanya harus diatur sedemikian rupa waktunya sehingga bisa berjalan lancar.

Pak Sobri bertekad kali ini akan menggarap dan menaklukkan Aida untuk dijadikan budak seks-nya, sehingga di masa depan Aida akan selalu ‘ketagihan’ dan bersedia menerimanya tanpa bantuan serta akal bulus siapapun.

Fadillah juga tidak sebodoh yang diperkirakan pak Sobri. Untuk ‘jasanya’ menjadi umpan pemancing kali ini, maka diajukannya persyaratan bahwa ia harus diberi kesempatan untuk ikut menikmati tubuh Aida yang sudah lama dilahap matanya saat belanja di warung.

Setelah menimbang semua untung ruginya, akhirnya pak Sobri menyetujui keinginan Fadillah – saat itulah iblis menyeringai lebar penuh kepuasan karena dua manusia itu akhirnya jatuh ke dalam jebakannya!!!

Pak Sobri menjanjikan kepada Fadillah untuk boleh menikmati tubuh Aida, namun harus tunggu giliran. Fadillah diberikan petunjuk untuk merejang kedua tangan Aida, kemudian jika perlu diikatnya di ujung ranjang, demikian pula kedua pergelangan kakinya jika Aida tetap melawan. Setelah itu Fadillah harus menunggu giliran untuk dapat menikmati mulut serta buah dada Aida, namun kedua lubang di bawah adalah milik pak Sobri.

Fadillah semula menolak dan menuntut agar diberi kesempatan menikmati semua lubang di tubuh Aida, bahkan sedikit mengancam akan mengundurkan diri dan membatalkan bantuannya, hingga akhirnya pak Sobri bersedia bernegosiasi lebih lanjut dan memberikan tawaran bahwa disamping Fadillah diperkenankan menciumi mulut Aida, ia juga boleh meminta service lainnya. Namun memek Aida tetap menjadi bagian yang tabu bagi Fadillah, ia boleh merangsang sedemikian rupa, namun tak boleh dicoblos – bagian ini adalah hak monopoli pak Sobri.

Selain itu pak Sobri berniat menjarah lubang Aida lainnya yang di waktu pergulatan pertama belum sempat ia nikmati; sebuah lubang yang diyakini pak Sobri belum pernah dijamah oleh Ustadz Mamat, suami Aida, yang di dalam bidang seksual tidak begitu banyak fantasi liar.

Tanpa meneruskan perundingan mereka, sebetulnya Fadillah pun berpikir bahwa jika vagina Aida tidak boleh ia nikmati, mungkin ada lubang lain dimana si otongnya dapat mampir. Itu sama dengan yang diinginkan olek pak Sobri. Sepertinya mereka akan rebutan nanti.

***

Sore itu terasa udara sangat panas menyengat, langit mendung dan beberapa kali terdengar gelegar guntur. Namun hujan yang turun tak begitu lebat, hanya gerimis rintik-rintik saja. Tidak seperti biasanya, Fadillah telah menutup warungnya sekitar jam empat sore, kemudian dengan sepeda motor bekas pemberian pak Sobri, ia melawan rintik hujan menuju rumah Aida yang letaknya di pinggiran desa, agak tersembunyi di balik pelbagai pohon besar.

Di gang kecil tempat tinggal Ustadz Mamat hanya ada tiga rumah lain – yang terletak paling memojok di akhir jalan adalah rumah Aida. Ketika Fadillah membelokkan sepeda motornya memasuki gang itu, dilihatnya bahwa Aida sedang bergegas akan masuk ke rumah tetangganya di ujung jalan, di tangannya membawa botol kecil.

“Eeh, mau pergi kemana, ustazah? Saya kan sore ini mau membetulkan jemuran di belakang rumah,” demikian tanya Fadillah sambil menghentikan sepeda motornya.

“Iya, ini saya mau bawakan minyak tawon ke bu Nur, karena ia barusan jatuh di tepi sumur hingga lututnya memar. Silahkan bapak mulai saja betulkan jemuran dan pegangan pintu belakang, saya tidak lama koq.” jawab Aida dengan nafas agak tersengal dan segera masuk ke rumah bu Nur.

“Baik, ustazah. Saya harus mulai nih karena sudah turun hujan gerimis,” lanjut Fadillah yang merasa dapat kesempatan baik untuk memberitahu pak Sobri yang ternyata secara seksama mengikuti semua adegan itu dari belakang setir mobilnya yang berada di tempat agak jauh.

Ketika Aida telah masuk ke rumah bu Nur, maka Fadillah mengacungkan tangannya ke atas sebagai tanda bahwa pak Sobri agar segera parkir dan meninggalkan mobilnya. Pak Sobri lekas melakukannya. Setelah itu, bagaikan dikejar setan, ia langsung lari secepatnya mengikuti jejak Fadillah yang telah memutari pekarangan rumah Ustadz Mamat dan kini mulai menegakkan jemuran pakaian yang miring itu.

Rupanya Aida lagi mengangkat pakaian di jemuran ketika dia dipanggil oleh bu Nur, sehingga ia bergegas ke dalam mengambil botol minyak tawon dan berlari ke rumah tetangganya itu, tanpa menyadari bahwa pintu belakang rumahnya lupa ia kunci. Akibatnya, kini dengan mudah pak Sobri masuk ke dalam dan bersembunyi di dalam kamar tidur Ustadz Mamat.

Hujan gerimis berubah semakin lebat sehingga tanah menjadi sangat basah. Fadillah dengan mudah dapat menegakkan tiang penyangga jemuran, namun untuk memasang pondasi semen pada saat itu sungguh tidak mungkin. Karena itulah ia memutuskan untuk mengalihkan kegiatannya membetulkan grendel pintu belakang, dan hal itu ternyata hanya sepele saja; cukup dengan mengencangkan dua sekrup kecil yang berada di pegangan grendel sebelah dalam dan luar, maka sebentar saja grendel itu telah mantap dan tak goyang lagi sedikitpun.

Di saat Fadillah berniat untuk menyimpan lagi segala peralatan yang dibawanya ke tas di bagian belakang sepeda motornya, ternyata Aida telah kembali dan merasa kasihan karena Fadillah basah kuyup. Namun sebagai ustazah yang alim maka tak mungkin ia mengajak Fadillah masuk ke dalam rumah karena saat itu hanya seorang diri, tanpa mengetahui bahwa ‘mahluk buas’ telah berada di dalam kamar tidurnya.

Fadillah pun berpura-pura sama sekali tak berniat masuk dan hanya numpang meneduh sekedarnya di bawah jendela rumah sang Ustadz yang sedikit terbuka. Namun Fadillah telah melihat sebelumnya bahwa jendela itu sangat mudah untuk dicongkel penyangganya dari luar, dengan demikian ia dapat melompat masuk ke dalam rumah tanpa perlu susah payah.

Ketika hujan mulai mereda – namun keadaan sudah gelap sehingga tak mungkin di saat itu untuk Fadillah melanjutkan pekerjaannya, maka ia dengan suara lantang ‘pamit’ pulang kepada Aida dan menjanjikan untuk meneruskan membetulkan jemuran yang miring itu esok hari. Aida setuju dan merasa lega ketika mendengar suara sepeda motor Fadillah menderu sayup-sayup semakin menjauh.

Padahal Fadillah hanya menjalankan motornya beberapa puluh meter, kemudian kembali berhenti dan meneduh di bawah pohon sambil menantikan beberapa saat lagi, dimana di luar sudah sedemikian gelap sehingga tak ada manusia yang melihatnya, barulah ia kembali ke rumah Aida.

Sekitar sepuluh menit setelah suara sepeda motor Fadillah tak terdengar lagi, maka Aida berniat untuk membasuh dirinya di kamar mandi. Setelah menunaikan tugasnya seharian sebagaimana biasa sebagai ibu rumah tangga, maka Aida merasakan badannya membutuhkan siraman air segar untuk menghapus keringat yang melekat di badan. Sebagaimana biasanya ia selalu menukar pakaian setelah mandi, maka Aida menuju ke kamar tidurnya untuk mengambil pakaian baju kurung sederhana tapi bersih untuk dipakai sehari-hari di rumah. Tanpa curiga sedikit pun Aida membuka pintu kamar tidurnya dan mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam, ketika tubuhnya disergap-dibekap secara tiba-tiba dari belakang.

“Uumpfh.. efpffhhh.. s-siapa?! Aauuffhhh,” Aida menggeliat dan berusaha meronta membebaskan dirinya dari sergapan dan pelukan ketat yang melingkar di pinggangnya.

Dirasakannya bahwa tubuh lelaki yang menyergapnya dari belakang itu sangat kekar serta memiliki tenaga yang jauh berlipat dibandingkan dengan tenaganya sendiri. Selain itu aroma yang keluar dari tubuh penyergapnya sangat khas kelaki-lakian, bau keringat yang tidak keluar dari tubuh suaminya sendiri, namun bau itu pernah dialaminya beberapa bulan lalu. Ditambah lagi dengusan nafas menderu bagaikan banteng murka di tepi telinganya, dengusan penuh nada kejantanan yang didengarnya saat dirinya ditakluki seorang pemerkosa : pak Sobri!

Tanpa disadari Aida merinding, bulu kuduknya berdiri, lututnya melemas, badannya menggigil bagaikan demam : Ya Allah, jangan biarkan hal yang nista ini terulang lagi, demikianlah panjatan doanya.

“Ssh.. tenang aja, neng geulis, kan pernah kenalan sama bapak, pasti udah péngén digenjot lagi. Bapak juga kangeeen banget.. kenapa merinding, neng? Sini bapak bikin badan neng jadi anget,” bisik pak Sobri disertai nafasnya yang berbau rokok semakin menembus lubang hidung mungil Aida.

Tanpa memperdulikan rontaan dan hentakan Aida yang melawan mati-matian nasib yang akan terulang kembali, pak Sobri yang walapun telah cukup usia namun masih sangat tegap dan kuat, menyeret mangsanya perlahan-lahan ke arah ranjang. Sementara tangan kirinya tetap membekap mulut Aida, jari-jari tangan kanan pak Sobri semakin liar menjalar dan menyelinap masuk diantara belahan kebaya yang dipakai istri Ustadz Mamat itu.

ANNISA ISLAMIYAH (8)

Aida berusaha mencakar tangan pak Sobri, namun sang pejantan yang telah kemasukan iblis ini seolah tidak merasakan kuku wanita cantik mangsanya. Dengan sekali putaran dan dorongan, maka pak Sobri berhasil menghempaskan tubuh Aida ke ranjang dan langsung ditindih dengan badannya yang sangat berotot. Bagaikan singa telah menjatuhkan kancil ke tanah, maka pak Sobri semakin ganas menguasai calon korbannya.

Mulutnya kini sepenuhnya menutup rekahan bibir Aida yang ingin berteriak, namun sama sekali tak berdaya. Lidah pak Sobri menerobos dan menjalar ke dalam rongga mulut Aida, membasahi dan mencampuri ludah manis Aida dengan liur kentalnya yang berbau tembakau sangat memualkan dan tak disenangi oleh Aida.

Pada saat itu pintu kamar tidur Aida kembali terkuak dan dari sudut matanya, Aida melihat kemunculan sesosok tubuh yang dikenalnya : Fadillah! Penuh harap Aida menggapai ke arah Fadillah untuk meminta tolong, namun yang dilihat olehnya adalah sinar mata Fadillah berbinar-binar penuh nafsu. Telah beberapa kali Aida menangkap sinar mata liar Fadillah semacam itu di warungnya, namun memang dianggapnya bahwa itu lumrah saja untuk semua lelaki. Namun dalam situasi seperti ini, barulah Aida menyadari bahwa harapannya untuk mendapat bantuan dan pertolongan Fadillah sama sekali sia-sia belaka, bahkan dilihatnya kini Fadillah bergegas melepaskan pakaiannya sendiri!

“Gimana, pak, perlu bantuan?” demikian tanya Fadillah sambil melepaskan celana panjangnya sehingga kini hanya memakai kaos dan celana dalam saja, lalu mendekati pergulatan di ranjang itu.

“Iya, nih cewek masih cukup binal. Mana tali serta lakbannya, Dil ?” demikian tanya pak Sobri diantara ciuman ganasnya di bibir Aida sambil tetap menindih dan menggeluti tubuh yang makin terlihat kemulusan serta putih menggiurkan itu. Sarung kebaya yang selalu sopan ketat menutup tubuh Aida kini telah acak-acakan dan tersingkap akibat ronta mati-matian, menyebabkan dada berbukit kembar, perut datar berpusar menantang, serta paha betis halus bagaikan batu pualam milik Aida menonjol keluar!

Sambil tersenyum lebar penuh kemesuman, Fadillah menghampiri serta kini berdiri di ujung ranjang bagian kepala. Pak Sobri merenggut kasar kebaya dan BH yang dipakai oleh Aida, kemudian sarung penutup pinggul serta auratnya juga ditarik ke bawah, sementara Fadillah merejang merentangkan kedua tangan Aida, lalu diikatnya seerat mungkin ke ujung ranjang, sehingga kini tak dapat mencakar lagi.

“Toloong.. empfh.. sialaan! Bangsat! Bajingan kalian semua! Terkutuk, cepat lepaskan! Atau saya akan teriak panggil polisi.. tol-eummpfh!!” Kali ini teriakan Aida diredam oleh bibir Fadillah yang ternyata tak kalah ganas dan juga sama berbau tak sedap seperti mulut pak Sobri.

Kesempatan ini dipergunakan oleh pak Sobri untuk melepaskan semua pakaiannya. Dalam waktu hanya satu menit, terlihatlah tubuh pak Sobri yang meskipun agak tambun namun tetap berotot dan agak mengkilat dengan keringat akibat pergulatannya dengan Aida. Setelah itu pak Sobri kembali ke ranjang dan menindihi tubuh Aida yang tetap menggeliat meronta-ronta. Sarung yang telah turun melorot ke betis Aida dilepaskannya sama sekali, setelah mana pak Sobri menarik celana dalam kecil warna biru muda, diciuminya bagian tengah cd yang telah nampak lembab itu penuh nafsu.

“Wuih, harumnya nih air madu dari memek… enggak percuma selalu disimpan ya, neng.. udah waktunya ntar disedot ama bapak. Tapi sekarang bapak mau nyusu dulu ah,” celoteh pak Sobri sambil menelusuri bukit kembar di dada Aida; diremas dan dipilin-pilinnya puting yang semakin mengeras itu, kemudian dicaploknya bergantian kiri kanan sambil digigit dan dikenyotnya habis-habisan.

Aida semakin kewalahan menghadapi serangan kedua lelaki durjana ini, mulutnya masih tertutup oleh bibir dan lidah Fadillah yang menyapu langit-langitnya dengan kasar. Bau tak sedap terpaksa harus diterimanya karena liur Fadillah semakin bercampur dengan ludahnya sendiri, dan kini ujung syaraf tubuhnya sebagai wanita dewasa yang agak kurang mendapatkan nafkah batin dari suaminya mulai tergugah akibat rangsangan yang dilancarkan oleh pak Sobri di kedua puting buah dadanya.

Kedua betis langsing Aida yang sedari tadi menghentak menendang-nendang, kini mulai berubah irama; kaki dengan jari-jari amat kecil mungil kemerahan itu menekuk ke dalam mengiringi lekukan gelisah di sendi lutut Aida. Paha mulus yang selama itu berusaha merapat mempertahankan aurat yang tersembunyi di tengahnya, kini mulai agak gemetar dan perlahan-lahan kehilangan tenaga untuk bertahan.

ANNISA ISLAMIYAH (7)

Pak Sobri dengan penuh keahlian telah menempatkan diri diantara kedua paha korbannya, sementara tangannya tetap menyiksa kedua puting bukit kembar kemerahan milik Aida. Bibirnya yang tebal dower merambat turun dari dada ke arah perut, menggelitik pusar melengkung ke dalam perempuan itu, kemudian semakin turun…

Meskipun masih menciumi Aida dengan penuh rasa birahi tak tertahan, namun Fadillah sempat melihat dengan sudut matanya bahwa pak Sobri telah meningkatkan rangsangannya dengan makin mendekati bawah perut Aida. Fadillah merasakan nafsunya sendiri semakin tak tertahan, belahan bibir Aida yang sedemikian hangat menggiurkan, diidamkannya untuk bisa menerima kemaluannya. Betapa seringnya Fadillah mendambakan untuk menikmati tubuh Aida saat melayaninya di warung, kini bidadari idamannya itu telah berada dalam genggamannya : kedua nadi Aida terikat erat di sudut ranjang, mulutnya yang setengah terbuka kini akan dipaksanya mengulum menyepong penisnya.

Fadillah berlutut menempatkan diri di samping kepala Aida yang langsung melengos, namun secara sigap wajah cantik itu dipaksanya kembali menoleh dan kepala kejantanannya yang berbentuk jamur itu segera ditempelkannya ke bibir Aida. Tentu saja Aida menutup mulutnya sekuat tenaga, tapi Fadillah langsung menjepit hidung bangir mancung yang menggemaskan itu sehingga Aida tak dapat bernafas dan terpaksa membuka sedikit mulutnya. Namun bukaan ini belum cukup lebar untuk ditembus pentungan daging yang cukup besar keras dan tegang itu : Fadillah harus sabar!

Sementara itu pak Sobri telah menurunkan wajahnya mendekati bukit Venus kemaluan Aida. Bukit nan lebam hanya dihiasi bulu halus sangat terawat itu menampilkan lembah mungil di tengahnya, sebuah lekukan panjang, dalam dan sempit, sebuah celah yang mengundang untuk dijelajahi. Pak Sobri masih mengingat betapa empuk dan halus dinding celah surgawi itu, betapa lembut denyutan serta pijitan yang dialami kemaluannya ketika akhirnya berhasil membelah celah hangat licin itu.

Aroma kewanitaan yang khas menerpa hidungnya, aroma khas tubuh Aida yang meskipun belum sempat mandi namun justru menampilkan bau alami wanita yang amat membius. Dengan kedua tangan yang kuat berotot, pak Sobri membuka dengan paksa lutut Aida ke samping kiri kanan. Walaupun Aida dengan mati-matian mempertahankan diri, namun tenaganya kalah kuat sehingga kedua lututnya terbuka maksimal dan ditekan ditindih oleh lutut pak Sobri, menyebabkan Aida memekik kesakitan.

Kini terbukalah selangkangan Aida dihadapan mata pak Sobri yang menelan ludahnya beberapa kali, jakunnya turun naik, jari-jari kasar hitam pak Sobri mulai mengelus betis serta paha mulus Aida.

Fadillah menyaksikan kegiatan pak Sobri dari sudut matanya. Karena pak Sobri telah mengalihkan kegiatan jari-jarinya ke bawah tubuh Aida, maka tibalah giliran Fadillah untuk merasakan betapa halus namun kenyal dan padatnya gunung kembar di dada Aida. Tanpa menghentikan ciuman rakusnya yang sangat menjijikkan, mulailah Fadillah meraba dan mengelus bahu mangsanya. Dari bahu, jari-jari kasarnya menjalar ke ketiak, sedikit memijit-mijit disitu sehingga Aida menggeliat kegelian.

Perantauan jari-jari hitam Fadillah dengan kuku panjang tak terawat semakin nakal menaiki lereng bukit montok, mengelus-elus disitu sebelum mendaki ke puncak untuk menemukan puting mencuat berwarna merah kecoklatan, berdiam sebentar disitu kemudian mulai mengusap dan meremas-remasnya pelan.

“Aauummpfhh.. aasshhh.. eeiimmppfhh.. ooaahhh.. oooh..” bunyi desahan Aida tak nyata karena mulutnya tetap disumpal lidah Fadillah yang besar. Tubuh Aida yang putih montok semakin menggeliat menggelinjang resah sehingga terlepaslah tindihan lutut pak Sobri, Aida berusaha menggulingkan tubuhnya ke kiri ke kanan walaupun kedua tangannya terikat erat di ujung ranjang.

Namun semuanya hanya sia-sia saja karena kini pak Sobri bahkan meneruskan penjarahannya lebih lanjut dengan menangkap kedua pergelangan kaki Aida yang mencoba menendang ke kiri kanan. Kedua betis langsing bak padi membunting itu dicekalnya keras kemudian dinaikkan dan diletakkan di atas bahunya, sehingga Aida kini hanya dapat memukul-mukul lemah dengan tumit mungilnya ke punggung pak Sobri.

“Aauww.. sakiit! Lepaskan! Aaah.. sakiit! Auwffmph..” Aida menjerit kesakitan ketika Fadillah dengan sadis mencubit putingnya dengan kuku tajam tak terawat.

ANNISA ISLAMIYAH (6)

Pada saat mulutnya membuka lebar, maka kesempatan yang telah lama ditunggu Fadillah akhirnya tiba. Cepat lelaki itu menjejalkan kemaluannya yang memang sejak tadi menunggu di depan bibir Aida yang hanya terbuka sedikit. Lidah Aida berusaha sekuat tenaga mendorong keluar daging pentungan berkepala topi baja itu, namun Fadillah tak kenal kasihan. Tanpa mengurangi cubitannya bergantian di kedua puting Aida yang semakin ngilu mengeras, ia mendorong dan menekan kejantanannya senti demi senti ke dalam rongga mulut Aida sehingga menyentuh langit-langit dan menyebabkan Aida tersedak.

“Kalo enggak mau disiksa, makanya nurut dong! Ayo, sekarang kulum yang bener.. isepin, jilat yang bersih.. iya, gitu.. pinter, udah biasa nyepongin suami ya?” celoteh Fadillah keenakan ketika akhirnya Aida terpaksa menyerah, mulai mengulum penis hitam yang dibencinya itu. Namun biarlah daripada terus-menerus disakiti dengan puting yang telah sedemikian peka ditarik dan dicubiti kuku tajam.

Tanpa merasa kasihan Fadillah mencekal rambut Aida, kemudian digerakkannya kepala perempuan itu mundur maju memanjakan penisnya yang kini terlihat mengkilat akibat basah oleh ludah Aida.

Bagian bawah tubuh Aida kini tak kalah serunya dijadikan sasaran keganasan sang pejantan lain : sambil menikmati pukulan-pukulan lemah tumit Aida di punggungnya, pak Sobri telah menjelajahi bukit kemaluan Aida dengan beberapa jarinya. Terlihat betapa licin mengkilat lembah sempit yang telah lama diimpikannya itu. Dengan hati-hati Pak Sobri membuka dan melebarkan celahnya yang mungil, lalu disentuh dan dijilatnya dengan penuh rasa kepuasan sebelum lidahnya menyapu dinding halus itu.

Tanpa rasa jijik pak Sobri menikmati licinnya dinding surgawi Aida yang berwarna merah muda, dicicipinya lendir yang mulai keluar membasahi celah nirwana itu, dijilatinya penuh mesra hingga membuat Aida kegelian. Dilanjutkannya penjarahan lembah kewanitaan Aida dengan mengutik-utik, menyentuh, meraba dan mengusap-usap ujung klitoris yang kini semakin peka dan tanpa disadari mulai menonjol keluar.

“Ooohh.. jangan! Lepasin saya, pak! Ooohh… bang, jangan! Saya sudah menjadi istri ustadz! Tolong kasihani dong, pak! Jangan begini.. saya enggak rela! Ooohh..” Aida mulai menangis menimbulkan iba, namun tubuhnya yang ‘kekeringan’ selama ini mau tak mau mulai memberikan respons terhadap rangsangan kedua lelaki berpengalaman itu.

“Kenapa nangis, neng? Nikmati aja, percuma nunggu berkah dari suami bodoh yang pergi melulu.. masa istri bahenol gini enggak diganyang tiap malam? Ayolah, neng, lepasin semuanya! Jangan ngelawan, percuma aja ngarepin suami yang enggak pulang-pulang. Ini ada penggantinya,” pak Sobri mencoba berusaha mesra, kemudian mulai dikecupi, diciumi dan dijilatinya memek basah Aida.

Dibukanya bibir kemaluan Aida ke kiri kanan dengan hati-hati sehingga terlihatlah lubang kecil dari kandung kemihnya, demikian juga sepotong daging mungil di lipatan atas bagaikan yang penis kecil. Inilah pusat kenikmatan yang diabaikan sang ustadz, namun kini didapat oleh pak Sobri!

“Uumhhh.. duh mungilnya nih lubang.. cupp, cupp, aaah.. neng, wangi amat memeknya? Bapak enggak puas-puas ngeliatin nih kelentit. Bapak gigit dan jilatin mau ya?” Tanpa menunggu jawaban, pak Sobri segera menyentuh lubang kencing Aida dengan ujung lidah, sementara kumisnya yang sengaja dua hari tak dicukur, menyentuh klitoris Aida bagaikan sapu ijuk, mengakibatkan Aida merasakan kegelian luar biasa sehingga menjerit lupa diri!

“Jangan, pak! Lepaskan, udaah.. oohh.. saya mau diapain lagi?! Enggak mau, ooohh.. sssh.. saya mau pipis! Aaaah.. jangan! Lepasin,” Bagaikan terkena aliran listrik, tubuh Aida mulai menegang, sementara cairan memeknya semakin deras keluar.

“Sssh.. tenang aja, neng. Nikmati biar puas.. ini surga dunia, neng. Jangan dilawan, buang tenaga aja. Dijamin ntar puas, kapan lagi gratis dikerjain dua lelaki,? Ayo sepongin lagi tuh si Fadil, udah lama dia enggak dapat jatah perempuan. Sekarang bapak mau nerusin ngegali lobang si neng,” pak Sobri menundukkan kepalanya lagi dan meneruskan penjarahannya ke liang vagina dan kelentit Aida.

ANNISA ISLAMIYAH (5)

Sebelum Aida dapat protes lebih banyak, kembali mulutnya dijejali oleh penis Fadillah yang berbau asam meskipun disunat. Mungkin Fadillah tak mempunyai kebiasaan untuk mencuci kemaluannya jika telah kencing, dan sekarang justru nafsunya semakin meningkat melihat Aida telah berkali-kali hampir muntah. Pemilik warung ini semakin bersemangat memperkosa mulut mungil yang telah kewalahan membuka maksimal itu karena Fadillah ingin memaksa Aida meminum pejuhnya.

Sementara itu pak Sobri telah memusatkan perhatiannya ke vagina Aida yang dijilat dan dikecupnya tak henti-henti, menyebabkan Aida bagaikan cacing kepanasan yang menggeliat sejadi-jadinya. Pak Sobri tak peduli kegelisahan wanita alim shalihah itu : lidahnya bergantian menyentuh lubang kencing dan klitoris Aida. Daging yang semula kecil bersembunyi di lipatan bibir kemaluan itu semakin lama semakin terlihat menonjol keluar berwarna kemerahan. Permukaannya yang dipenuhi jutaan ujung syaraf peka diserang bertubi-tubi oleh sapuan lidah, gigitan kecil dan juga ujung kumis pak Sobri yang kaku bagaikan sapu ijuk.

Semua siksaan itu tak sanggup lagi ditahan oleh tubuh si wanita alim. Tubuh Aida melengkung bagaikan sekarat, menegang kaku seolah terkena aliran listrik, tangannya yang terikat di sudut ranjang membuat kepalan tinju kecil.

Fadillah memegang sekuat tenaga secara sangat sadis kepala Aida dan ditekannya rudalnya sehingga menekan di kerongkongan, disaat mana air maninya menyembur keluar berbarengan dengan orgasme Aida akibat rangsangan dari pak Sobri.

Pak Sobri pun tak kalah licik dan sadis ingin menikmati orgasme istri Ustadz ini : dimasukkannya jari telunjuk dan jari tengahnya ke liang vagina Aida untuk merasakan bagaimana jepitan denyut-denyutan ritmis otot memek yang sedang orgasme! Sementara jempolnya yang kasar mengusap permukaan klitoris Aida demi meneruskan dan memperpanjang orgasme yang melanda korbannya. Dilihatnya pula kedutan dan kontraksi otot-otot lingkar pelindung anus Aida – dan ini membuatnya tersenyum lebar.

“Pertama lubang di atas akan kunikmati sepuasnya sebelum lubang satunya kuperawani!” begitu dia bertekad.

Tentu saja Aida tak menyadari rencana licik pak Sobri, ia sedang dilanda tsunami orgasme sekaligus juga mati-matian harus melawan rasa ingin muntah karena terpaksa menelan pejuh Fadillah.

“Oooh.. uuuhh.. duh, enak tenan eeuy.. nyemprot ser-seran gini, di mulut istri orang yang cantik kayak neng. Nih datang lagi.. iya, sedot semua.. minum sampai habis!” tak henti-hentinya Fadillah memuji tegukan demi tegukan yang terpaksa dilakukan oleh Aida demi usahanya memperoleh nafas agar tak tercekik oleh luapan air mani lelaki asing yang kini dibencinya itu.

Jika ia mengira bahwa penyiksaannya telah berakhir, maka Aida salah besar : ternyata meskipun telah menyumbangkan air pejuhnya, namun penis Fadillah tetap saja tegak mengacung, mungkin akibat ramuan kuat yang juga dijual di warung, selain juga resep dari dukun kampung di situ.

Beberapa menit kemudian kedua lelaki durjana itu melepaskan Aida dari ikatan nadi di ujung kepala ranjang, tubuh putih mulus sintal telanjang bulat itu terlihat bergetar akibat tangisan sesenggukan. Semuanya itu sama sekali tak menimbulkan rasa kasihan pada kedua lelaki pejantan : permainan mereka justru baru memasuki babak pertama, kini mereka telah siap melanjutkan ke babak kedua!

Fadillah diberikan tanda oleh pak Sobri agar merebahkan dirinya, sedangkan tubuh Aida yang masih tergetar akibat tangisan tersedu-sedu itu diangkat oleh pak Sobri dan diletakkan diantara kaki Fadillah.

Dengan mata sembab penuh linangan air mata, Aida kini dipaksa untuk berlutut dengan wajahnya kembali menghadapi kejantanan Fadillah yang masih tegak mengacung bagaikan tugu Monas. Aida yang masih sangat lemas berusaha menolak dan ingin berdiri, namun pak Sobri yang berada di belakangnya segera menekan belakang lehernya dan memaksa wajah ayu penuh air mata itu mendekati kepala penis Fadillah yang masih mengkilat oleh air mani.

“Ayolah, neng, manjakan lagi nih si ujang. Bantuin pijit dan peres-peres nih biji pelir, masih banyak jus segar yang ntar bisa dipakai buat obat awet muda si neng. Tadi si neng udah ngicipin pejuh. Dan si neng emang jagoan, enggak muntah sama sekali, padahal kebanyakan cewek pada muntah tuh. Makin sering nyembur si ujang ini, maka akan manis air sarinya, neng!” demikian Fadillah dengan penuh dusta berbicara mengenai air pejuhnya.

ANNISA ISLAMIYAH (4)

Aida hanya menggeleng-gelengkan kepala, namun Fadillah telah menggantikan pak Sobri dan kini ia menarik kepala Aida dan dipaksanya untuk menciumi senjata kesayangannya kembali. Masih tetap istri ustadz itu menolak membuka bibirnya, apalagi ketika dirasakannya pak Sobri yang berlutut di belakang punggungnya kini telah menyentuh belahan pantatnya.

Aida berusaha berdiri namun pak Sobri telah siap dan dengan tenaga begitu kuatnya, pundak Aida lagi-lagi ditekan ke bawah sehingga posisi tubuhnya semakin menungging. Aida masih berusaha melawan dengan mencoba mencakar tangan pak Sobri yang menekannya ke bawah, tapi apalah artinya cakaran kuku wanita kalau sang pejantan telah kemasukan tenaga iblis?

Pak Sobri memijit kedua pundak Aida dengan cukup keras sehingga umamah ini menjerit kesakitan, kesempatan sekali lagi bagi Fadillah yang langsung menekan wajah Aida ke bawah dan mulut ternganga itu segera disumpal oleh tombak daging yang kali ini bahkan langsung masuk ke dalam kerongkongan!

“Eeghh.. ueeghkk.. eegghk.. aauhh.. uueeghh..” berkali-kali Aida merasa lambungnya bagai terpelintir, namun untunglah perutnya sudah lama kosong tak terisi sehingga ia tak jadi muntah.

Fadillah rupanya agak kasihan juga melihat korbannya penuh aliran air mata dan kelabakan megap-megap berusaha bernafas. Diurut-urutnya belakang kepala Aida seolah ingin melemaskan kerongkongannya agar dapat menerima seluruh batang kemaluan yang menjejal tajam.

“Iya, pelan-pelan aja. Yah begitu, diurut dan dikocok neng, supaya lebih mantap dan sip. Terus.. duh, makin pinter nyepongnya.. dasar emang istri ustadz pelacur!” ejekan sang pemilik warung membuat pipi Aida memerah panas dan merasa malu serta turun harga dirinya.

Sementara itu pak Sobri telah memegang penisnya yang hitam besar penuh urat melingkar, dan diarahkannya ke celah yang masih licin dengan cairan pelumas wanita dewasa serta air liurnya sendiri. Dengan satu tangan pak Sobri menekan pinggang Aida ke bawah sehingga tunggingan pantat nan bulat bahenol itu semakin merangsangnya, dan juga terlihat celah vagina yang agak merekah merah milik Aida. Perlahan dan dengan penuh kepuasan pak Sobri memajukan pinggulnya sendiri sehingga akhirnya kepala penisnya menyentuh dan mulai membelah celah memek Aida. Mula-mula meleset ke samping beberapa kali, namun akhirnya ujung pentungan daging berbentuk topi baja itu terjepit diantara bibir vagina nan sempit legit.

ANNISA ISLAMIYAH (3)

“Eemmhhh.. weleh-weleh, sempit amat nih memek neng! Sering latihan kegel ya, neng, atau barang suaminya memang kecil? Duh, enak tenan.. licin, anget, sempit lagi.. ayo mulai goyang-goyang dong pantatnya, neng, seperti tempo hari.” pak Sobri merem-melek merasakan senjatanya menerobos lubang hangat idamannya.

Berbeda dengan pak Sobri yang amat bergairah menikmati persetubuhan, maka Aida kembali merasa sangat perih dan ngilu karena vaginanya yang kecil dan sempit itu dipaksa membuka lebar untuk menerima sodokan penis besar.

“Wuih, enggak nyangka nih lobang kalo ditembus nungging jadi makin dalem.. tapi jangan kuatir, neng, alat pacul bapak cukup panjang buat ngeluku sampe bisa mentok! Oh nikmatnya.. ngimpi berbulan-bulan akhirnya kesampean juga, mmmhh.. sssshh..” lanjut pak Sobri.

Setelah maju-mundur tarik-dorong beberapa kali, akhirnya berhasil juga ujung kepala penis pak Sobri yang telanjang disunat itu menyentuh mulut rahim Aida. Setelah itu pak Sobri tak memperdulikan lagi perbedaan ukuran kemaluannya dengan lubang mungil Aida, gerakannya kini telah dikuasai oleh keinginannya mendengar keluhan, rengekan, desahan dan bahkan isakan tangis istri Ustadz Mamat akibat menahan rasa ngilu dan perih yang dideritanya.

Dan memang itulah yang didengarnya saat ini, namun pak Sobri yakin bahwa istri ustadz yang kekeringan nafkah batin ini akan segera berubah menjadi budak seks-nya. Rintihan sakit yang terdengar disaat rahim Aida dihentak dijedug kasar oleh senjata ampuh penakluknya, akan perlahan-lahan berubah menjadi desahan wanita dewasa yang meminta. Ya, desahan seorang wanita yang akan kehilangan semua rasa malu, akan melupakan pelecehan yang dialami, rintihan itu akan berubah menjadi ratapan dan permohonan agar perkosaan berlanjut!

Dan dugaan pak Sobri memang benar : semua hormon kewanitaan di tubuh sehat Aida mengkhianati, semua daya upaya pertahanannya berdasarkan rasa malu dan harga diri sebagai istri ustadz alim shalihah akhirnya dapat terkalahkan oleh keahlian kedua lelaki durjana yang menggagahinya.

Bunyi kecipak jilatan Aida menyepong Fadillah terselang-seling dengan dengusannya, bersilih ganti dengan ritme plak-plok-plak-plok pantatnya yang bersentuhan dengan paha pak Sobri. Kepalanya terasa pusing terbawa arus gelombang yang muncul dari genjotan tak kenal ampun di rahimnya.

Semakin lama semakin memuncak nafsu pak Sobri yang meskipun mulai putih beruban namun dalam persoalan menggarap wanita dapat dibandingkan anak usia belasan yang masih ingusan. Dirasakannya kemaluannya yang semakin memelar dan memanjang itu diremas dipijit oleh otot di dalam memek wanita yang tengah digagahinya, remasan dan pijitan yang mana mengundang lahar panasnya mulai mendidih dan mendesak mengalir menunggu ledakan dari saluran di sepanjang penisnya.

Bagaikan orang kesetanan, pak Sobri meningkatkan gerakan maju-mundurnya. Peluhnya mulai menetes di dahi. Matanya semakin melotot dan dengusannya semakin menguasai ruangan, hingga akhirnya… disertai teriakan menyeramkan, pak Sobri melepaskan arus syahwatnya.

“Aaaah.. bapak tak tahan lagi, mau banjir nih! Oooh.. neng geulis, lagi subur enggak? Siapa tahu jadi anak nih, oooh.. angetnya nih lobang! Iya, pijit dan remes-remes, Neng.. aje gile, neng bahenol! Enak enggak, neng, sakit-sakit nikmat ya?”

Pak Sobri menyemprot rahim Aida dengan air maninya yang menyembur bagaikan tak akan berhenti. Disaat mana juga Aida tak dapat menahan lagi gejolak mendidihnya hormon kewanitaan di seluruh ujung syarafnya. Wajahnya mendadak terlepas dari genggaman Fadillah dan menengadah ke atas dengan bibir merah merekah, hidung bangirnya mancung kembang-kempis , tarikan nafas panjang berubah menjadi histeris, dan…

“Aauw.. iyaah, ngilu! Aauuww.. pak, ngilu! Oouuh.. aaih.. iyah terus! Ooohh.. nikmat, oooh.. terus, pak!!” jeritan suara Aida melengking menandingi dengusan berat pak Sobri. Kembali tubuhnya kejang dan melengkung ketika gelombang orgasme kedua melandanya dan menghempaskannya kembali.

Pak Sobri menggeram bagaikan singa terluka karena menyadari bahwa kesanggupannya masih ada dan lebih dari cukup untuk meneruskan senggama dengan wanita cantik idamannya ini. Lembing pusakanya masih tegang ketika ditariknya keluar dari vagina Aida, dan dengan penuh kebanggaan pak Sobri melihat penisnya mengangguk-angguk tak sabaran menunggu tugas berikutnya.

Senyum iblis menghiasi wajah pak Sobri ketika direkahnya kedua bongkahan pantat Aida yang bahenol tanpa tandingan ketika perempuan itu bergoyang. Dilihatnya lubang kecil tersembunyi di tengah belahan pantat itu, lubang yang masih berkedut menciut ke arah dalam akibat kontraksi otot-otot pelindungnya.

Pak Sobri meludahi lubang kecil yang seolah menantang di hadapan matanya, ia menarik nafas amat dalam dan dipusatkan konsentrasinya agar penisnya menegang semaksimal mungkin. Diletakkannya kepala penisnya yang masih licin oleh lendir kewanitaan dan ditekannya perlahan-lahan ke tengah anus Aida. Dirasakannya otot-otot lingkar pertahanan anus Aida mencegah penetrasi lebih lanjut, namun dengan penuh keyakinan akan segera menang, pak Sobri menekan sekuatnya.

“Aduuh! Auuw.. jangan, pak! Oouuhh.. aauuuw.. sakit! Kasihani saya, pak! A-ampuun.. jangan masuk di situ, haram! Auuuw..” Aida menggelepar-gelepar menahan rasa sakit tak terkira di anusnya.

ANNISA ISLAMIYAH (2)

Air matanya kembali mengalir sangat deras turun di pipinya karena menahan penderitaan lubang tubuhnya yang terkecil sedang dijarah. Terasa panas bagaikan dicolok oleh kayu menyala, dan setiap kali pak Sobri menekan menambah masuk, maka perihnya bagaikan terkena sayatan pisau. Mungkin karena penis pak Sobri terlalu besar, maka walaupun telah dilicinkan dan dilumasi dengan air lendir cintanya sendiri, ditambah ludah pak Sobri, namun semuanya tidak menolong banyak. Apalagi otot-otot lingkar pertahanan anus Aida rupanya masih tak rela dilebarkan secara paksa oleh benda sebesar kemaluan pak Sobri, sehingga melawan dan berusaha menolak benda asing itu – semua hanya menambah rasa sakit dan perih.

Berbeda dengan penderitaan Aida yang menggeliat menggelepar menahan rasa sakit tak terkira, maka pak Sobri justru merasa betapa nikmatnya memasuki lubang intim Aida yang telah lama diincar dan dibayangkannya. Namun pak Sobri masih ingin menambah lagi rasa ego kebanggaan sebagai lelaki pertama yang berhasil masuk ke anus Aida : ya, pak Sobri ingin mendengar pengakuan itu langsung dari mulut Aida, bukan hanya dengan dugaannya semata-mata. Selain itu muncul kembali iblis yang menganjurkannya untuk menyaksikan bagaimana ekspresi wajah si wanita cantik idaman saat disiksa rasa sakit di anusnya.

Lihatlah bagaimana wajah istri ustadz saat disodomi, hehehe.. demikianlah bisikan iblis, dan pak Sobri telah sepenuhnya dikuasai oleh bujukan itu.

Oleh karena itu pak Sobri menarik sementara penisnya yang menancap di anus Aida, menyebabkan Aida menarik nafas lega karena sakitnya berkurang dan dikiranya bahwa deritanya telah berakhir. Namun dugaannya itu sama sekali meleset karena pak Sobri hanya ingin mengubah posisi : badan Aida yang sedemikian putih mulus sintal bahenol dan lemas lunglai itu kembali dibaliknya hingga telentang. Kemudian kedua paha Aida kembali dikuakkan lebar-lebar dan dikaitkan lagi di pundaknya sehingga selangkangan Aida dengan memek dan anusnya terekspos penuh di hadapannya.

Seringa mesum menghiasi wajah pak Sobri melihat anus Aida berdenyut kembang kempis menutup membuka, dan disaat agak membuka itu tampak kemerahan di bagian dalam karena baru saja mengalami pelebaran secara paksa. Aida hanya sanggup menangis tersedu sedan tak mampu melawan lagi, tapi ia ‘bersyukur’ bahwa bagian intimnya sementara dibebaskan dari penyiksaan yang menyakitkan.

“Ayo, Dil, bantu pegangin lagi nih cewek kalo dia ampe ngelawan. Ntar loe boleh mandiin dia ama pejuh loe sepuasnya. Sekarang dia harus ditaklukkan betul-betul dan jadi budak seks kita di masa depan,” kata-kata pak Sobri mendengung di telinga Aida dan ia menyadari bahwa nasib malangnya belumlah tamat.

“Jangan ngelawan ya, neng, tahan dikit lagi. Ini kita udah mau masuk babak terakhir,” ujar Fadillah sambil cengengesan dan kembali memegangi kedua nadi Aida di atas kepala.

Sementara itu tangan-tangan pak Sobri menekan kedua paha Aida ke samping sehingga vagina maupun anus Aida agak terkuak kembali. Sambil mengusap kelentit Aida yang mengintip keluar akibat ulah ibu jarinya, pak Sobri dengan penuh kebanggaan meletakkan lagi ujung kepala kemaluannya di anus mangsanya. Diperhatikannya denyutan kontraksi otot-otot Aida yang seolah menyedotnya masuk. Sambil menarik nafas panjang seperti beberapa menit lalu, pak Sobri menekan, mendorong, menekan, dan…

“Aauww.. udah, jangan masukin lagi disitu, pak! S-sakit.. toloong.. a-ampun!!” Aida kembali menjerit bagaikan hewan disembelih, sama sekali tak diduga deritanya berlanjut.

“Uuuh.. sempit amat nih lobang! Sakit-sakit enak ya, neng, sakit tapi nikmat kan? Enggak usah malu-malu lah, neng , pasti udah sering pantat si neng dijebol begini sama suami kan?” tanya pak Sobri pura-pura untuk memancing pengakuan dari mulut Aida sendiri, sesuai bujukan sang iblis.

“Aduh, pak, udahan dong! Saya enggak tahan, sakit! Haram ini, pak, enggak mau!!” Aida hanya sanggup menangis kesakitan sambil menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

“Aah.. si neng jangan bohong! Pasti udah sering dijarah bo’olnya sama suami.. ngaku lah, neng! Kalo enggak, ntar saya terusin nih sampe semalaman. Mau enggak?” pak Sobri melanjutkan ‘interogasinya’ sambil bergerak maju-mundur, masuk keluar di anus Aida tanpa peduli korbannya kesakitan.

“Enggak pernah, pak, sungguh mati! Aauuw.. udah, stop dong.. saya enggak tahan lagi sakitnya, pak! Aduh.. auuw.. ampun, pak! Ya Allah, ampun sakitnya..” akhirnya tanpa sadar Aida mengakui bahwa memang pak Sobri-lah lelaki pertama yang menyodominya.

Saat itu tak dapat dilukiskan oleh kata-kata rasa kebanggan pak Sobri karena memang benar dialah lelaki pertama yang merenggut keperawanan anus istri alim shalihah ini. Kini tinggal selangkah lagi yang harus dilakukannya untuk menaklukkan Aida dan menjadikannya budak seks pribadi yang selalu menurut dan patuh atas semua kemauannya.

Pak Sobri meneruskan mengusap dan menyentil-nyentil biji klitoris Aida yang semakin memerah dan luar biasa peka itu, sementara ia meningkatkan gerakan dorong-tarik di lubang Aida yang sedemikian sempit. Dengan memberikan kombinasi antara sakit nikmat ini maka pak Sobri akan memaksakan Aida untuk mengaku bersedia menjadi budak seks-nya.

“Hehehe, kelihatannya udah lemes amat, neng.. ini belon apa-apa lho! Gimana, Dil, kita terusin semaleman sanggup enggak?” pak Sobri melirik Fadillah dengan kedipan mata penuh kelicikan.

“Lha, ya pasti sanggup, pak. Mesti diapain lagi ya nih cewek?” balas Fadillah penuh pengertian.

“Sekarang tergantung si neng dah, diterusin apa enggak? Kalo neng enggak mau, sekarang neng harus ngaku sekaligus janji ama kita,” pak Sobri merasakan kemenangan mutlak hampir tercapai.

“Ampun, pak, saya enggak… sanggup lagi.. auuw.. ngelayanin.. auuw.. saya enggak tahan lagi.. aauuw.. jangan diperkosa lagi, pak.. auw, auw, auw.. tolong hentikan, pak.. aauuw.. aauuw.. aduh, sakit! Saya janji tak akan lapor kemana-mana, juga pada siapapun.. tolong, pak,” suara Aida semakin melemah.

“Gimana, Dil, kelihatannya hampir kelenger nih istri pak Ustadz? Iya deh, kita berhenti dulu, neng. Tapi sekarang neng mesti janji dan ulangi apa yang bapak ucapkan, dan juga selalu siap melakukan di masa depan apa yang bapak inginkan. Setuju enggak?” pak Sobri mendesak terus sambil menambah genjotan dan tusukan penisnya di anus Aida, sementara kelentitnya ia pelintir dan pilin-pilin kuat.

“Ooohh.. sakit, pak! Geli, jangan dipelintir begitu! Aauw.. jangan dipilin lagi.. aauw.. udah, oooh.. aauuw.. ngilu, sakit, pak.. iya, saya nyerah! A-ampun, pak, saya pasrah.. aaaahh..” jeritan Aida yang disertai kejangan orgasme ketiga memberikan tanda mutlak kemenangan kedua lelaki itu – terutama pak Sobri.

Disertai raungan dan geraman terakhir, pak Sobri akhirnya menyemburkan lahar panasnya ke dalam anus Aida yang ternyata telah jatuh pingsan.

ANNISA ISLAMIYAH (1)

Di malam itu – disertai dengan linangan air mata, Aida harus berulang kali melayani nafsu pak Sobri yang dibantu tenaga iblis agaknya tak pernah kekurangan stamina. Menjelang pagi hari Aida telah berubah menjadi wanita dewasa jalang yang membutuhkan kepuasan seks. Ia telah kehilangan semua rasa malu dan jengah – suaminya, ustadz Mamat, hanya terikat pernikahan secara agama di atas kertas – sedangkan kepuasan batin dan badaniahnya hanya dapat dipenuhi oleh pak Sobri

WINDY 4

Di balik meja kerja, kuelus pelan batang kontolku yang sepertinya akan nganggur dalam dua bulan ini. Hanya istriku yang bisa kupakai, sedangkan Tanti dan Windy lagi halangan. Sungguh apes sekali. Tanti sedang nifas habis melahirkan, sedangkan Windy lagi hamil muda. Dua-duanya tak bisa melayaniku.

Namun ternyata nasibku tidak jelek-jelek amat karena sekitar dua minggu kemudian, Tanti tiba-tiba mengirim sms, “Ada waktu? Suamiku dinas ke luar kota besok, 3 hari.”

Tanpa menunggu lama, segera kukirim jawaban. Kusanggupi untuk datang. Kucoba membayangkan tubuh montok Tanti yang sekarang memiliki bayi berusia dua bulan. Yang pasti dia jadi tambah gemuk, tapi bokong dan payudaranya pasti juga tambah besar. Ah, jadi tak sabar rasanya pengen merangkul dan menggelutinya. Istriku yang bertanya kapan aku akan pulang, terpaksa kubohongi lagi.

“Maafkan aku, Sayang. Bukan aku nggak suka padamu, tapi aku juga penasaran pengen nengok lubang yang lain.” batinku dalam hati.

Jadilah pada sabtu sore sepulang kerja, aku langsung meluncur ke kota M. Tanti menyambutku dengan memakai baju hamil seperti daster panjang selutut, perutnya masih endut. Tapi tidak seendut bongkahan payudaranya yang seperti mau meledak saja. Disanalah tanganku langsung mengarah untuk membelai dan mengusapnya ringan.

“Makan dulu yuk,” ia mengajakku masuk.

Di meja makan, ia ikut duduk menemaniku sambil ngobrol ngalor-ngidul, menanyakan kabar masing-masing setelah hampir 3 bulan tak ketemu. Selama itu pula tanganku tak henti-henti meremas dan membelai-belai anggota tubuhnya yang bisa kujangkau. Tanti bergidik agak risih, namun sama sekali tidak menolak. Yang ada ia malah menggodaku.

“Gitu ya… dapat yang baru, yang lama jadi dilupain,” komentarnya karena aku sibuk menghamili Windy, jarang sekali menengoknya.

“Eh, bukannya gitu,” aku berkilah. “Kan kasihan dia kalau nggak hamil-hamil.”

Tanti tersenyum, “Kapan hari dia nelepon, katanya sudah isi 2 bulan.”

Aku mengangguk mengiakan, “Jadi nggak bisa dipakai deh,” kataku bercanda.

“Yee… pikirannya memek mulu,” Tanti mencubit perutku.

Kubalas dengan mencubit puting susunya, dan Tanti langsung ambruk ke dalam pelukanku. “Tan, aku kangen.” bisikku sambil membelai mesra dua bongkahan payudaranya.

“Ahh… a-aku juga, Mas.” Ia mendesah, “Tapi bisa kan kita nggak langsung main?” tanyanya meminta.

“Kenapa?” kupandangi wajahnya yang kini tampak bulat menggemaskan.

“Tolong pijitin kakiku sebentar ya, betisku rasanya pegel banget nih.” katanya.

Aku mengangguk, “Jangankan betis, semua juga aku mau. Asal setelah itu dikasih yang ini,” Kucolek sedikit lubang memeknya yang masih tertutup kain daster dan celana dalam tipis.

Tanti tertawa dan selanjutnya mengajakku pindah ke kamar. “Kalau pijitanmu enak, nanti kukasih bonus.” bisiknya menggoda.

“Apaan?” tanyaku sambil mengikutinya naik ke atas ranjang.

“Ada deh, pokoknya pijit dulu kakiku.” Dia tersenyum dan menyingkirkan majalah yang tergeletak disitu ke atas meja, lalu membaringkan diri di ranjang. Dia duduk dengan menyusun bantal di kepala ranjang sebagai sandaran, sementara kakinya selonjor ke arahku.

“Kamu tambah seksi, Tan,” bisikku tak berkedip menatapnya, terutama tonjolan payudaranya yang seperti tumpah ruah tak terkendali.

”Cepetan sini…” tangannya melambai. “duh, pegel banget kakiku, pijitin yang enak ya,” pintanya memelas.

Aku nyengir saja melihatnya dan mulai memijit betisnya bergantian. Kaki itu sekarang jadi agak gemuk, namun tetap terlihat putih dan mulus. Karena posisi Tanti agak merenggang, dan juga baju hamilnya yang menutupi hanya sebatas lutut, otomatis CD nya jadi kelihatan. Gundukan itu terlihat tebal dan sangat enak untuk dipandang, jadi ngaceng kontolku. Tapi aku tak ingin terburu-buru, toh nanti aku akan tetap dapet juga. Maka aku tetap konsentrasi memijat betisnya.

Cukup lama aku melakukannya sampai Tanti meminta agar pahanya dipijit juga. Namun baru aku mau memindahkan tangan, dia tiba-tiba berkata, ”Bentar, Mas. Aku buka celana dulu, soalnya rasanya ketat banget di sekitar pinggul, nggak nyaman.”

Tanpa berpikir macam-macam, kubantu memelorotkan celana dalam tipis itu. Lalu Tanti agak menaikkan baju hamilnya, ditariknya sampai ke paha atas hingga menampakkan pinggul dan bulatan bokongnya yang bulat kencang. Tak berkedip aku menatap dan mulai memijat, namun kali ini dengan agak resah karena kemaluan Tanti jadi terlihat jelas.

Belahannya agak berbeda dari yang dulu; sekarang seperti agak terbuka lebar. Warnanya juga jadi lebih gelap, namun tetap saja sangat merangsang nafsuku. Tanpa sadar, aku pun menelan ludah. Sementara di bawah, Tanti terus menikmati pijatanku sambil memejamkan mata. Sama sekali tak tahu kalau batang penisku sudah mulai mengeras tak terkendali.

Tapi aku tetap memijat. Biarlah kontolku ngaceng, akan kusimpan buat nanti. Aku tak berniat menyetubuhi Tanti sekarang, biarlah dia relaks dulu sebelum berkutat melayaniku. Biar kami bisa sama-sama puas. Toh malam ini aku bebas melampiaskan nafsuku.

Sampai suara merdu Tanti memecah lamunanku, ”Mas, mau ngerasain minum ASI nggak?” tanyanya pelan.

“Hah?” aku masih belum ngeh.

“Kalau mau coba, nih punyaku.” Dia menunjuk tonjolan payudaranya yang seperti semangka besar. Kuperhatikan ada noda tepat di puncaknya yang membusung indah.

“Bocor ya, Tan?” tanyaku antusias.

“He-eh,” Dia mengangguk. “ASI-ku banyak banget, sedang bayiku minumnya dikit. Jadinya ya gini ini, bocor kemana-mana. Ayo kalau mas mau, daripada terbuang percuma,”

”Memang boleh?” tanyaku bego.

”Asal nggak mas habiskan aja,” dia tersenyum.

Terus terang, aku memang penasaran. Terakhir kuingat minum ASI adalah satu tahun yang lalu, saat istriku masih menyusui buah hati kami. Rasanya saat itu begitu nikmat, netek langsung dari sumbernya yang begitu empuk dan kenyal. Aku ketagihan. Dan sekarang Tanti akan memberiku hal yang sama, yang tentu saja tak akan sanggup untuk kutolak.

”Mau dong, Tan,” jawabku pada akhirnya, penuh semangat.

”Bentar, aku buka baju dulu.” Tanti bangun dan melepas daster pendek yang ia kenakan, juga sekalian behanya yang seperti kerepotan dalam menyangga.

Kulihat perutnya masih nampak gendut, dengan bekas-bekas parut melingkar-lingkar luas disana-sini. Di atas sedikit, tonjolan payudaranya yang selalu kukagumi, sekarang jadi dua kali lipat lebih besar dari yang terakhir kulihat. Putingnya juga lebih besar dan benar-benar dalam posisi tegak mengacung. Warnanya sudah berubah, agak lebih cokelat gelap sekarang. Memang lebih bagus yang dulu, tapi tetap saja ada keseksian tersendiri melihatnya gemuk seperti ini. Jadi makin keras saja batang penisku.

Tanti lalu naik ke atas ranjang dan berbaring. “Ayo, Mas.” Dia memanggil.

Aku pun segera memposisikan diri ke sampingnya, kuciumi dulu perutnya sambil sesekali menempelkan hidungku di lubang senggamanya yang mulai berair. Sengaja kugelitik-gelitik sedikit disana agar membuat benda itu jadi semakin lengket dan basah. Samar kuperhatikan biji itilnya yang tertutup jembut tebal, indah sekali meski sudah pernah dilalui bayi. Lama aku menatapnya sementara Tanti hanya tersenyum dan membelai lembut kepalaku.

”Sudah dulu, Mas. Ini susuku rasanya sudah ngilu minta disedot,” rengeknya.

Aku pun menarik tubuh dan berbaring di sampingnya, posisiku sedikit lebih rendah sehingga ketika Tanti mengangsurkan dadanya, putingnya tepat namplok di mulutku. “Hmmh… Tan!” Tanpa membuang waktu, segera kujilat dan kuhisap-hisap rakus sambil tanganku ikut meremas-remas gemas karena kebiasaan.

“Mass…” Tanti mendesis, tangannya semakin kacau membelai rambutku.

Kurasakan teteknya jadi sedikit agak keras, namun aku tetap menyukainya. Malah sambil menghisap, jariku juga memilin-milin putingnya yang menganggur. ASI-nya langsung muncrat kemana-mana, membasahi pipi dan rambutku. Aku tak peduli, malah semakin menyukainya. Cairan putih manis itu segera kutelan dan kuhisap rakus. Tanpa ragu aku mengemutnya karena puting Tanti memang jadi lebih enak untuk dikulum saat ini. Besarnya pas saat mulutku mencoba menangkupnya. Semakin lama, kurasakan cairan yang keluar jadi semakin banyak. Selain manis, rasanya juga sedikit asin dan gurih.

Aku pun terus menghisapnya, nenen seperti bayi, sampai akhirnya Tanti mendesah perlahan. ”Mas, s-sudah… geli,”

”Hmm… Hagi henagh gihh…” jawabku masih sambil nenen.

”Dilepas dulu dong…” Dia menjewer telingaku hingga cumbuanku pun terlepas. Mulutku belepotan oleh ASI, begitu juga dengan kedua puting Tanti. Kuraba-raba benda mungil itu, kuratakan seluruh cairannya ke seluruh bulatannya yang putih membengkak. Payudara Tanti jadi tampak mengkilap sekarang, basah oleh air susunya sendiri.

“Mas ada-ada aja deh,” dia tersenyum.

”Enak banget, Tan… mau lagi donk,” pintaku sambil pengen nyosor lagi, tapi Tanti lekas menahan kepalaku.

“Hei, nanti bayiku nggak kebagian,” bisiknya lembut.

Aku pun nyengir. Terpaksa kulampiaskan nafsuku dengan meraba dan meremas-remas benda besar itu, karena hanya itu yang bisa kulakukan. Sementara Tanti kini perlahan merangsek ke bawah untuk melepas celana panjangku. Penisku yang memang sudah mengeras sedari tadi, segera dicekal dan dipeganginya erat.

“Kangen aku sama ininya Mas,” bisiknya gemas.

Tadinya aku mau berdiri saja biar dia gampang dalam melakukannya, namun Tanti menyuruhku berbaring. Kuturuti apa kemauannya, kuperhatikan saat ia mulai mendekati selangkanganku dengan posisi tubuh miring. Perlahan lidahnya menjulur untuk mulai memainkan lubang pipisku, dijilati perlahan, sebelum kemudian mulai mengulum kepala kontolku. Awalnya perlahan, namun semakin lama menjadi semakin cepat, lalu kembali perlahan. Tangannya juga memainkan biji dan batang penisku saat mulutnya terus menghisap rakus.

“Ahh… Tan!” aku merintih keenakan, dan kulampiaskan dengan kembali memenceti tonjolan buah dadanya secara bergantian.

Puas dengan hisapan ringan, Tanti kemudian memasukkan kontolku perlahan ke dalam mulutnya. Ia mulai mengulum dan menghisap-hisapnya lembut sambil sesekali diemut-emut dengan sedikit kasar. Sungguh sangat nikmat, apalagi saat bijiku juga disedotnya kuat-kuat.

“Aughh…” aku mendesah menahan serangan nikmat ini, dan entah bagaimana ceritanya, posisi tubuh Tanti kini sudah berubah tanpa kusadari; memeknya kini berada tepat di depan mukaku.

Secara naluri, aku segera memiringkan tubuh sedikit. Tanganku mulai mengelus-ngelus untuk memainkan rambut kemaluannya, lalu melihat untuk mengintip belahannya yang agak melebar. Pelan jariku mengusap-usapnya, ingin kubalas rasa nikmat pada kontolku yang sedang dimanja oleh mulutnya.

Tanpa perlu repot-repot bergeser, aku mulai mendekat. Lembut kuciumi celah mungil yang begitu menggiurkan tersebut. Tanti agak melebarkan kakinya, seperti ingin memberi kemudahan padaku.

Mula-mula aku menciumi dengan lembut seluruh permukaan dan belahannya yang terasa manis dan sedikit asam, sebelum kemudian lidahku mulai menyeruak untuk menjilati lubangnya. Terasa agak lain, agak sedikit lembab dan lebih lebar dari biasanya. Namun aku terus menyodok-nyodok rakus dengan ujung lidahku, sampai kemudian itilnya kutemukan.

Dengan cepat aku berganti sasaran. Lidahku memutar-mutar di atas biji mungil yang terasa kaku itu, menghisap dan menjilatinya dengan gemas sampai membuat Tanti mengerang dan merintih lirih, yang mana itu semakin menambah nafsuku.

“Ehgm… Tan,” aku ikut bergidik, pasrah menerima hisapan dan emutan mulutnya pada batang penisku. Lidah basahnya seakan tiada lelah terus menjelajahi seluruh selangkanganku, mulai dari batang hingga bijinya, juga rajin membelai urat-uratnya yang sensitif.

“Mass…” Tanti juga sama pasrahnya menerima tarian lidahku, kini desahannya menjadi semakin kuat seiring pinggulnya yang kadang-kadang menggeliat mengimbangi rasa nikmat yang diterima pada itilnya. Lama-lama makin cepat… dan akhirnya tubuh itu mengejang menerima orgasmenya.

Kubiarkan dia bergetar pelan sebentar saat menyemburkan cairan cintanya, sebelum kemudian kutarik kembali tubuhnya agar kami bisa berbaring saling berhadapan. “Gimana, enak?” tanyaku sambil mengecup puncak payudaranya.

”Lebih dari yang kubayangkan,” angguknya puas.

“Sekarang giliranku, dimasukin ya?” kutunjukkan penisku yang masih menegang dahsyat.

Tanpa membantah, Tanti segera mengatur posisi tubuhnya. “Tahu nggak, Mas. Setelah melahirkan, gairahku jadi tambah meningkat lho. Mas harus siap-siap capek malam ini,” bisiknya manja.

”Kalau yang kayak gitu… tanpa disuruh pun, aku juga udah siap, Tan.” Segera aku berdiri di pinggir ranjang, sementara Tanti berbaring dan memposisikan memeknya tepat di depan kontolku. Kakinya menjuntai ke lantai.

“Siap ya, aku masukkan sekarang…” Lembut aku mengarahkan penis ke lubang basah yang tak sempit lagi itu, masuk dengan mudah, namun tetap kurasakan sensasi gigitan dan jepitannya yang masih tetap mantap. Yang beda hanya kelembapan dan kehangatannya yang kini terasa lebih, sehingga terasa nyaman saat menyelimuti batang penisku.

“Aghh…” kami melenguh secara bersamaan.

Sambil menyusu di bongkahan payudaranya, aku mulai menggerakkan pinggulku. Rasanya gimana gitu, beda banget dengan yang dulu. Kontolku jadi terasa licin dan lancar, berbeda sekali dengan sebelumnya yang begitu ketat dan kesat. Ternyata melahirkan membuat memek seorang perempuan jadi berubah total, namun tetap mempunyai sensasi enak yang sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata. Dan aku tentu saja menyukainya.

Terus kugerakkan kontolku maju mundur secara lembut, tidak merasa perlu tergesa-gesa karena kami memang punya bayak waktu. Tanti juga tidak protes, malah seperti sangat menikmati. Sesekali agak kubungkukkan badanku untuk menciumi perut dan teteknya. Bunyi pompaanku di dalam lobang memeknya terdengar jelas, semakin menambah erotis suasana kamar yang sebenarnya sudah remang-remang.

Lama sudah posisi ini kulakukan, sampai akhirnya kucabut kontolku dan lalu naik ke atas ranjang. Kuminta Tanti untuk berbaring menyamping, yap… posisi favoritku, gaya samping.

Segera kuangkat lembut satu kakinya, dan dari arah samping, kumasukkan penisku ke lubang memeknya. Lalu kulanjutkan dengan memompa secara perlahan saja sambil mulutku mulai menciumi bibir dan lehernya, sebelum akhirnya mulutku berdiam dengan nyaman di atas putingnya, nenen susu disana.

Namun Tanti nampaknya kurang puas dengan sodokanku yang perlahan, ia merengek minta agar dipercepat sambil mengatakan bahwa memeknya gatal ingin digaruk. Maka aku percepat sedikit sodokanku sambil mulutku masih dengan rakusnya menghisap pentilnya yang besar, menikmati susu manis yang mengalir lancar dari sana.

Tak berapa lama, Tanti mulai mendesah dan mengerang. Badan dan pinggulnya sesekali menggeliat, sampai akhirnya dengan diiringi erangan nikmat, dia mengalami orgasme. Meski merasakan cairannya yang menyembur deras di batang kontolku, aku masih saja memompakan pinggul dengan cepat. Tanti berusaha mengimbangi dengan sesekali menggoyangkan pantatnya memutar.

Kunikmati ulahnya itu untuk menggiring denyut yang sudah familiar di daerah kontolku agar semakin cepat tercapai. Dan tak menunggu lama, spermaku pun muncrat keluar tak tertahankan lagi. Meledak membasahi lubang memek Tanti hingga membuatnya jadi semakin licin dan hangat.

“Hhh… Tan,” terengah-engah, aku lalu terkulai lemas sambil tetap mengemut putingnya satu per satu.

”Hmm… enak banget, Mas. Rasanya gairahku jadi terpuaskan.” bisiknya manja.

”Aku juga, Tan,” Kukecup bibir tipisnya. “Punyamu memang lebih longgar, tapi ada rasa lain yang lebih spesial.”

”Jadi nanti lagi ya?” Ia tersenyum menggoda.

”Tentu saja, mana cukup cuma main satu ronde sama kamu.”

Lalu kami berciuman dengan mesra. Tanpa perlu repot-repot berpakaian, kami tidur berpelukan di depan televisi. Kulihat di luar sudah sepi, hari sudah sangat larut rupanya. Sementara suami Tanti sedang dalam perjalanan menuju luar kota, aku juga ikut asyik menindih tubuh sintal istrinya. Sungguh perpaduan yang sangat menguntungkan.

Besoknya, aku bangun agak siang. Kulihat Tanti sedang duduk nonton TV di sebelahku, tubuhnya masih telanjang dan awut-awutan hasil pertempuran kami semalam. Aku pun bangkit dan memeluknya, lalu kukecup mesra pipinya.

”Hii… bau naga!” dia berseloroh.

“Sama,” kutindih dan kupepet kembali tubuh sintalnya yang hangat ke atas sofa. Cepat saja tanganku sudah menggerayang di atas gundukan dadanya yang super besar itu. “Lho, kok nggak ada susunya?” tanyaku bingung saat tidak ada ASI yang mengalir keluar meski sudah kupenceti putingnya berkali-kali.

“Sudah dihabiskan sama bayiku,” jawabnya sambil berusaha untuk bangkit.

Kuelus sebentar lubang memek Tanti yang masih nampak basah oleh sperma dan kuikuti dia yang melangkah pelan menuju dapur.

“Mau sarapan apa, mas?” tanyanya sambil mengenakan daster tipis semalam, tapi tanpa beha dan celana dalam.

“Terserah aja,” kupandangi tubuh sintal yang selalu bisa menggodaku itu, tak tahan aku kembali menelan ludah saat kulihat ia membuka kulkas di dekat meja makan dan agak membungkuk untuk mencari sayuran. Terlihat belahan memeknya mengintip sedikit, membuat pikiran nakalku jadi timbulke permukaan.

”Mandi dulu, Mas… ganti baju, sementara aku masak.” katanya sambil menunjuk handuk bersih yang tersampir di depan pintu kamar mandi.

”Nanti aja, lebih enak sarapan dulu,” jawabku sambil menghampiri dan meremas lembut bulatan pantatnya.

“Ihh…” Tanti bergidik, lalu membalikkan badannya sambil tertawa. ”Jahil amat sih, Mas.” katanya pura-pura marah.

”Salah sendiri… kenapa mamerin anggota tubuh kayak gitu. Lagian, aku pengen nih…” sahutku tertahan.

”Iya, aku juga… tapi sabar dong, Mas, kan aku mesti masak dulu…” kilahnya.

”Sudah, nanti saja deh masaknya… sekarang ada yang lebih penting.” serudukku ke tubuhnya.

”Huh, dasar Mas ini, nggak sabaran amat.” Ia menggelinjang saat kutarik tubuh mulusnya dan kututup pintu kulkas, lalu segera kuciumi bibirnya dengan gemas.

”Hmm…” Tanti membalasnya, lidah kami bertautan dengan cepat.

Tanganku meremas tetek besarnya sementara tangannya meremas batang penisku. Segera saja kulepaskan dasternya, lalu tubuhnya yang sintal itu kuangkat dan kubaringkan di atas meja makan yang kosong. Dengan berdiri di sampingnya, kuserbu teteknya dengan meremas-remas menggunakan tanganku dan melumatnya memakai mulutku, sesekali juga kumainkan dan kuhisap-hisap putingnya yang terasa manis.

Sementara tangan Tanti mulai meraih batang kontolku untuk dikocok-kocoknya ringan, lalu diarahkan ke mulutnya. Lidahnya dengan cepat mulai menjilati kepala penisku, juga batang dan biji pelerku dia jilati dan dia kulum-kulum halus. Tanti juga menghisapnya dengan ringan dan lembut. Lalu dia mulai mengulum dan menghisapnya semakin rakus, sampai aku yang masih sibuk menyusu di putingnya jadi turut tak mau tinggal diam.

Jariku segera menuju ke arah selangkangannya, kumainkan itilnya dan kusodok-sodok lobang memeknya dengan jariku. Tubuh Tanti menggeliat keenakan, namun kulumannya pada batang penisku masih tetap seperti biasa; perlahan namun mematikan, dengan jilatan lidah yang terus bergerak menggelitik saraf-saraf sensitifku.

Masih dengan penis di mulutnya, aku ikut menaiki meja. Posisi kami jadi 69. Kini lidahku mulai bergerilya menjilati memeknya yang sudah basah, kusapu lubang mungil yang ada disitu dengan rakus, sebelum mulai kumainkan itilnya yang besar dan menonjol dengan gemas. Kupilin-pilin dan kulumat benda bulat itu dengan ujung lidah hingga semakin membuat Tanti kelojotan tak karuan. Ditambah jariku yang kembali ikut berpartisipasi menyodok lobang memeknya, jadi makin seringlah ia menggeliatkan pinggulnya.

”Hmm… Tan!” Kurasakan pula hisapan pada kontolku menjadi semakin kuat. Enak sekali. Sebagai kompensasinya, itilnya semakin kulumat dengan cepat dan ganas.

Tanti terlihat sudah pasrah sepenuhnya. Sesekali terdengar desahannya, dengan badan terus menggeliat dan akhirnya mengejang saat menyemburkan cairan orgasmenya.

Aku segera turun dan berdiri di depannya. Kutarik kakinya hingga lubang memeknya kini berada di pinggiran meja. Masih ada sisa-sisa cairan yang merembes dari dalam sana meski sebagian besar sudah jatuh ke lantai. Kulebarkan kedua kakinya dan kuangkat ke atas dengan kedua tanganku, lubang memeknya kini terlihat melebar, siap menerima hujaman penisku. Segera saja aku menusuknya dengan memajukan pantatku ke depan.

Bless… tanpa perlu bersusah payah, amblaslah seluruh kemaluanku ke dalam lubang senggama itu, membuat tubuh mulus Tanti jadi bergetar sedikit.

”Mas…” Ia memanggil namaku, namun tanpa basa-basi aku segera memompa pinggulku dengan cepat, membuat desahan dan rintihannya jadi semakin kuat. Tetek besarnya yang indah terlihat bergoyang-goyang akibat sodokanku. Semakin kupercepat, semakin kuat juga benda itu bergoyang hingga akhirnya kupegangi agar tidak terus bertubrukan.

Tanti menikmati sambil mengaitkan kedua kakinya di bahuku. Pinggulnya juga tak tinggal diam, berusaha mengimbangi dengan berputar cepat seiring sodokanku yang menusuk semakin dalam. Kucondongkan badan untuk menciumi puncak payudaranya, lalu kujilati puting mungil memerah yang ada disana. Tanti menggeliat geli, geli tapi teramat nikmat.

”Ugh… enak, mas… enak banget… auw… yang cepat… ohh… terus… aughh…” rintihnya berkali-kali begitu kembali mengalami orgasme.

Aku lalu naik ke atas meja dan berbaring disana, kusuruh Tanti untuk naik ke atas tubuhku. Ia duduk membelakangiku, badannya condong ke belakang, sementara tangannya bertumpu di bibir meja. Kakinya jongkok, persis di atas batang penisku yang masih mengacung tegak. Sesuai aba-abaku, dengan perlahan Tanti menurunkan pinggulnya.

Jleeeb… dengan sempurna alat kelamin kami saling bertautan, dan tanpa membuang waktu ia pun mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun.

Dari belakang, tanganku terulur untuk mulai meremas-remas bulatan teteknya. Kumainkan juga putingnya sambil kunaikkan kepalaku sedikit untuk menciumnya. Lama kami bermain dalam posisi itu sampai Tanti memajukan badannya hingga berada dalam posisi jongkok sempurna. Kembali ia menaik-turunkan pinggulnya, yang kuimbangi dengan ikut menggoyangkan pinggulku mengikuti iramanya. Kulihat, sambil memainkan pinggul, tangan Tanti mulai memainkan itilnya sendiri. Sementara tangannya yang satu lagi sibuk meremas dan mengurut-urut biji pelerku. Sungguh sangat nikmat dan begitu menakjubkan.

”Ahh… Tan!” aku merintih masih sambil berbaring, menikmati saja apa yang ia berikan. Sesekali mataku merem-melek keenakan, apalagi saat mulai kurasakan denyutan enak di batang penisku. Kulihat badan Tanti juga mulai bergetar cepat.

Namun sebelum dia sempat berteriak, croot… croot… croot… spermaku sudah menyembur duluan tanpa ampun berbarengan dengan orgasmenya. Tanti menikmatinya sambil diam, masih terus berjongkok di atas kontolku yang tetap menancap penuh pada lubang kewanitaannya. Kurasakan cairan mengalir membasahi alat kelamin kami berdua. Kupeluk dia dan kami terdiam menikmati sensasi orgasme yang begitu melelahkan itu, sebelum kemudian Tanti bangkit untuk mencabut batang kontolku yang mulai melemas. Ia menjilatinya sebentar untuk membersihkan sisa-sisa sperma yang mungkin masih menempel disana.

”Ugh… nggak bisa tunggu nanti ya, mas ini.” bisiknya manja.

”Hehe… kamu juga mau kan?” Kukecup bibir merahnya. ”Anggap aja ucapan selamat pagi.”

”Ih, konyol deh.” ia tertawa. ”Mandi yuk, habis itu bantu aku masak.” ajaknya.

Lalu kami berdiri. Aku sempat mengecup pipinya dan kubersihkan meja makan, sebelum kemudian mengikutinya ke kamar mandi. Dengan telaten Tanti mencuci kontolku, juga menyabuni seluruh tubuhku. Kubalas dengan ikut menyabuni tubuhnya, dan ujung-ujungnya aku jadi ngaceng lagi karena terus memegangi tetek besarnya. Setelah main sebentar, kami pun mengeringkan tubuh dan segera berpakaian.

Pagi itu kami sibuk di dapur. Kubantu Tanti memasak sarapan dan makan siang, yang ditutup dengan kembali saling bertindihan di atas meja makan. Sorenya Tanti pergi ke posyandu untuk imunisasi anaknya. Pulangnya segera kugarap ia di kursi ruang tamu karena aku memang tak tahan ditinggal lama-lama. Dan seperti malam kemarin, malam itu kami juga jarang tidur karena lebih sibuk membelai dan mengusap satu sama lain. Menjelang subuh, baru kami pulas.

Besoknya aku tidak berpakaian. Kuhabiskan waktu yang tersisa untuk terus bercinta dan bersetubuh dengannya karena sore nanti suami Tanti katanya akan pulang. Kutindih tubuh sintalnya hampir di mana saja; mulai dari sofa, di dapur, halaman belakang, kamar mandi, pokoknya puas-puasan deh. Kegiatan itu baru kami akhiri ketika matahari sudah naik tinggi ke angkasa.

Tanti mengantarku ke terminal. Sambil menunggu bis berangkat, kusempatkan menyusu sebentar kepadanya di toilet terminal. Setelah kenyang, barulah aku pamit. Tanti mengecup pipiku dan berkata, ”Sampai jumpa, Mas. Nanti kukabari lagi.”

”Kutunggu, Tan,” Dengan diringi lambaian tangannya, kutinggalkan kota M di panas yang terik itu.

NYAI SITI 14 : ROHMAH

Melalui telepon genggamnya, Rohmah berpesan kepada Adinda, teman sekolahnya yang tadi janjian mau mengerjakan PR bersama. “Maaf, ya Din. Aku masih sibuk di Masjid. Ada anak-anak kecil yang harus kuajari mengaji. Tapi kayaknya sebentar lagi udah beres kok.”

“Jadi aku bagaimana dong?” tanya Adinda.

“Tunggu di situ saja. Sekitar dua puluh menit lagi aku sudah sampai rumah kok. Atau, mau ditunda besok saja?” tawar Rohmah.

“Aku ingin makalah ini cepat selesai… ya udah deh, biar kutunggu di sini saja.” kata Adinda pasrah.

“Maaf ya, Din. Kalau mau apa-apa, ambil saja sendiri. Atau, tanya saja sama mbak Wiwik,”

“Nggak ada. Cuma ada ibumu di sini.”

“Ya udah, minta saja sama ibuku. Pokoknya anggap saja rumah sendiri, Din.”

Adinda mengangguk dan segera mematikan hapenya. Gadis manis bertubuh sekal, mungil dan berdada kencang itu terpaksa harus menunggu. Satu jam lewat dia duduk di teras, sampai akhirnya pindah ke ruang tamu untuk membaca majalah yang ada di bawah meja. Namun Rohmah masih belum pulang juga. Mula-mula memang ia ditemani oleh Nyai Siti, tapi lama-lama obrolan mereka jadi nggak nyambung dan menjenuhkan sehingga Adinda mengganti kesibukannya dengan membaca majalah.

Nyai Siti tampak lebih tertarik dengan ‘sesuatu’ yang ada di dalam kamarnya, karena beberapa kali perempuan itu bolak-balik ke dalam dan lama tak kunjung keluar. Adinda sendiri tak keberatan ketika Nyai Siti akhirnya tak menemuinya lagi. Adinda merasa lebih tenang memandangi gambar-gambar cantik dan bentuk tubuh yang indah di majalah, ketimbang ngobrol dengan Nyai Siti yang seperti menyimpan sebuah misteri.

20 menit lagi berlalu, dan Rohmah tetap belum pulang. “Kalau ada mbak Wiwik enak nih, bisa jadi penghiburku. Biar usia kami terpaut 2 tahun, tapi mbak Wiwik senang bercanda, dia kocak dan supel.” pikir Adinda sambil membolak-balikkan majalah. Dia merasa tengkuknya dingin, tapi tak begitu dihiraukan Hanya diusap saja sambil lalu. Arlojinya dilirik, jarum jam menunjukkan pukul 20.14, masih belum larut malam.

Tapi Adinda lupa bahwa malam itu adalah malam Jumat Wage. Menurut kepercayaan orang Jawa, malam Jumat Wage punya kekuatan mistis tersendiri, hampir menyamai malam Jumat Kliwon. Maka wajarlah kalau malam itu hembusan angin terasa aneh. Seperti meninggalkan kelembaban tipis di kulit tubuh manusia. Wajar juga jika malam itu ada aroma aneh yang tercium di hidung Adinda. Aroma wangi aneh itu menyerupai keharuman dupa atau kemenyan. Tapi sebenarnya jauh lebih wangi dari asap dupa dan kemenyan .

“Bau apaan sih ini, wanginya aneh sekali?!” gumam hati Adinda sambil tengok kanan-kiri. Ada kecemasan yang mulai mengusik hati gadis itu. Ada rasa penasaran juga yang mendesak hati Adinda untuk mencari tahu, wewangian apa yang saat itu tercium olehnya.

Makin lama hembusan angin makin kencang. Tubuh Adinda mulai merasakan dinginnya malam, karena malam itu dia hanya mengenakan blus longgar lengan panjang dengan rangkapan jilbab dari bahan satin tipis. Celananya yang juga longgar, dari bahan sejenis beludru yang lentur, tak mampu menutupi bentuk tubuhnya yang meliuk-liuk indah.

Pintu kamar terkuak dan keluarlah Nyai Siti dengan badan penuh peluh dan wajah masih merah padam. Perempuan cantik berkebaya coklat itu clingak-clinguk dengan dahi berkerut. “Siapa sih yang bakar menyan sore-sore begini?!” gumamnya seperti bicara pada diri sendiri.

“Menyan?! Jadi bau harum ini dari asap bakaran menyan ya, Nyai?” tanya Adinda curiga.

“Iya, ini bau asap kemenyan.” Nyai Siti mengangguk memastikan. Kalau saja kebayanya tidak berwarna gelap, Adinda pasti bisa melihat dengan jelas ceceran sperma yang menempel di bokongnya.

“Kemenyan itu bukannya yang dipakai untuk memanggil jin atau…” Adinda tidak berani meneruskan kata-katanya.

“Tidak apa-apa, mungkin ini hanya ulah orang iseng.” Nyai Siti bergegas menjauh ke kamar mandi.

Sementara di ruang tamu, Adinda tak meneruskan membaca majalah karena melihat kedatangan seorang tamu. Karena pada waktu itu Nyai Siti masih berada di kamar mandi, maka Adinda lah yang menyambut kedatangan tamu tersebut. Dalam hati kecil Adinda sempat merasa heran, seiring kedatangan tamu itu, bau kemenyan terhirup semakin tajam. Adinda semakin berdebar-debar memandangi langkah sang tamu yang mendekati teras. Keadaan sang tamu menimbulkan keheranan dan perasaan bingung bagi Adinda.

Tamu itu adalah seorang kakek berusia lebih dari 60 tahun. Rambutnya putih kusam, agak awut-awutan, jenggotnya belang, tak terurus seperti rambutnya. Kakek yang masih tampak tegap itu memandang Adinda dengan matanya yang cekung menyeramkan, sementara di tangannya tergenggam tongkat hitam sebagai penopang langkahnya.

Pada saat Adinda ditatap dengan dingin, sekujur tubuhnya jadi merinding. Namun anehnya ia tak mampu pergi dari ruang tamu itu, seakan kakinya tertanam ke dalam tanah. Sampai akhirnya kakek yang rambutnya acak-acakan itu menginjakkan kakinya di lantai rumah juga. Kaki kurus itu menggunakan alas kaki dari bahan karet murahan. Pakaiannya yang gombrong menyerupai rompi berwarna abu-abu, terlihat melambai-lambai karena ditiup angin. Adinda mencium bau kemenyan lebih tajam setelah kakek misterius itu berada dalam jarak sekitar 3 meter dari tempatnya berdiri.

Adinda memaksakan diri agar tetap tenang, walaupun yang terjadi adalah kegugupan samar- samar dengan kaki dan tangan gemetar. “Hmm, ehh, mmm… mari, silakan duduk. Kakek mencari siapa?” tanya Adinda bingung.

“Cantik sekali kamu, Nduk!” jawabnya datar dan menggetarkan jiwa.

“Hmm, t-terima kasih, Kek!” Adinda memaksakan untuk tersenyum walaupun sangat kaku dan hambar.

“Hmm!” jawabnya dalam gumam pendek. Matanya melirik ke arah dalam rumah. Lirikannya… sungguh mengerikan bagi Adinda.

“Nyai Siti… eh, anu… maksud saya, Kyai Kholil nggak ada, Kek. Silakan duduk dulu. Hmm, ehh… kalau boleh saya tahu. Kakek dari mana?” tanya gadis itu.

Tak ada jawaban dari si kakek misterius. Yang ada hanya hembusan angin lebih kencang dan aroma harum kemenyan yang bercampur dengan aroma aneh lainnya, seperti bau keringat yang tak jelas bentuknya. Kadang bau sperma juga tajam tercium, tapi Adinda sama sekali tak mengetahuinya. Ia sama sekali tidak curiga kalau sedang dipelet oleh si Dewo.

“Kalau begitu, sini temani aku ngobrol.” Dewo tersenyum dan menepuk pundak gadis itu.

Adinda langsung berjengit, seperti tersengat arus listrik. Dan bersamaan dengan itu, pikirannya mendadak menjadi buram. Begitu mata dingin si Dewo memintanya untuk mendekat, maka seketika itu juga Adinda menjatuhkan tubuhnya tanpa bersuara. Jantungnya seakan berhenti berdetak dan terbelalak dengan mata terpentang sangat lebar hingga sulit untuk dikatupkan kembali ketika Dewo melakukan sesuatu yang sangat mengerikan. Adinda tahu, seharusnya dia menolak. Namun entah kenapa sama sekali tak mampu melakukannya.

Pelet si Dewo memang tak mungkin untuk dilawan! Sekali mangsa dijerat, maka tak akan bisa kabur lagi.

“A-apa yang bisa aku lakukan, Kek?” tanya Adinda ragu.

“Kamu santai saja,” Dewo mempersilakan dengan sopan, sungguh bertolak belakang dengan wajahnya yang angker. “Sekarang, lepas semua pakaianmu. Aku ingin melihat tubuhmu.”

Seperti orang bodoh, Adinda melakukannya. Ia segera mempreteli bajunya meski dalam hati merasa sangat bungung. Saat akan melepas dalemannya, Dewo melarang. “Yang itu jangan, biar nanti aku yang melepas. Sama jilbabmu juga jangan.”

Hanya dengan jilbab dan celana dalam, Adinda duduk bersebelahan dengan Dewo. Dengan gemas lelaki tua yang sudah bau tanah itu meraih tubuh sekal Adinda ke dalam pelukannya. Aroma parfum Adinda yang lembut membuatnya mulai naik, dibelainya bulatan payudara gadis itu yang kini hanya tertutup jilbab lebar.

“Hmm, gede juga susumu,” gumam Dewo sambil merebahkan tubuh mungil Adinda ke kursi ruang tamu. Dia langsung menciumi gadis itu sesaat setelah Adinda telentang. Diciumi kedua pipi dan kening Adinda, juga dilumatnya bibir gadis itu dengan rakus.

Adinda hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat melihat wajah seram Dewo yang mendekati mukanya. Belum pernah ada lelaki yang menciumnya, dan sekarang begitu mendapatkan, malah kakek tua renta seperti Dewo yang melakukannya. Bibir tebalnya terus melumat rakus, mengirim rasa muak pada diri Adinda pada awalnya, namun gadis itu tersadar bahwa ia sama sekali tidak sanggup untuk menolak. Inilah salah satu kehebatan pelet Dewo: semakin kuat korbannya melawan, maka dia akan semakin terjerat. Dan begitu sudah masuk ke dalam perangkap, maka tidak ada jalan untuk kembali.

Masih tetap memejamkan mata, Adinda mulai membalas lumatan bibir dan lidah Dewo dengan ragu-ragu. Meski batinnya menjerit, entah mengapa tubuhnya malah bergairah. Terasa aneh saat ia membalas lumatan laki-laki itu, sementara Dewo terus menyapukan lidah dengan terburu-buru dan melumat bibir tipis Adinda dengan mulutnya yang tebal. Dengan satu ‘tiupan’ terakhir, ia memasukkan sisa peletnya agar dapat menekan perasaan ragu yang timbul pada diri Adinda, lalu digantinya dengan bisikan gaib bahwa ini adalah sebuah kewajiban untuk dapat memuaskannya.

Tangan Dewo sudah menjelajah ke sekujur dada gadis itu; diremasnya bulatan payudara Adinda dengan kasar, diselipkannya di balik jilbab. Kulit tangannya terasa kaku saat meremas, dan Adinda menggeliat begitu Dewo mempermainkan putingnya yang mungil dengan dua jari.

“Hmm, Kek…” dia merintih, namun tetap diam saat satu tangan Dewo mulai mengelus celana dalam hitam berenda merah yang ia kenakan.

Sesaat Dewo menghentikan ciumannya, mengamati tubuh sekal Adinda, lalu tersenyum dan kembali melumat bibir tipis gadis itu dengan lebih bergairah. Bibir dan lidahnya beranjak menyusuri leher putih Adinda karena kini jilbabnya sudah disingsingkan ke belakang, Dewo ingin menatap bulatan payudara gadis itu dengan lebih jelas. Dipandanginya sejenak dua bukit kembar yang begitu putih dan mulus itu, dirasakannya dengan meremas-remasnya ringan, sebelum kemudian bibir tebalnya menyambar, mendarat tepat di puncaknya yang mungil menjulang kemerahan.

“Ahh…” Mata Adinda masih terpejam meskipun kegelian mulai menghinggapi tubuhnya.

Ia remas-remas rambut kaku Dewo ketika laki-laki itu terus menyusu di dadanya. Dia menggeliat tanpa sadar saat bibir tebal Dewo menyentuh putingnya. Terasa aneh pada awalnya, tapi makin lama makin terasa enak, hingga membuat Adinda mulai mendesis dalam nikmat. Apalagi Dewo menyelinginya dengan meremas-remas lembut puting yang satunya, bergantian mengulum dari puting kiri ke yang kanan, lalu balik lagi, dan begitu terus selama beberapa waktu sampai desahan Adinda semakin lepas keluar.

“Ahh… aughh… Kakek, a-apa yang… k-kakek l-lakukan?!! Arghh!!” Adinda menggelinjang.

Namun meski sudah kepanasan, mendesah serta keringetan, dia masih belum mampu membalas lebih jauh. Masih ada keraguan untuk menggerakkan tangannya ke selangkangan Dewo yang terasa mulai menegang, menyundul-nyundul kaku di perutnya. Terasa begitu membuai. Adinda hanya sebatas meremas-remas rambut laki-laki tua itu, karena sejujurnya memang baru pertama kali ini dia berbuat yang seperti ini.

“Ssh… nikmati saja, Nduk,” Dewo melanjutkan penjelajahannya, disusurinya perut Adinda dengan bibirnya yang tebal dan berhenti di selangkangan gadis muda itu.

Dia membuka lebar kaki Adinda, dan menarik turun celana dalam yang masih menutup di sana. Tanpa membuang waktu, lidahnya langsung menari pada biji klitoris Adinda, membuat si gadis langsung menjerit tertahan merasakan kenikmatan jilatan Dewo yang tak terduga. Mata Adinda masih terpejam, namun kini tangannya meremas-remas bulatan payudaranya sendiri untuk melampiaskan geli akibat lidah dan bibir Dewo yang bergerak liar di liang memeknya.

“Ahh, Kakek!! Aku… aughh…. geli!!” Gadis itu melambung dengan desahan semakin keras.

Sembari mempermainkan memek Adinda, tangan Dewo juga mengelus paha dan meremas-remas buah dada gadis itu. Remasannya begitu keras dan kasar, namun sama sekali tidak mengurangi kenikmatannya, malah semakin membuat Adinda menjerit takluk.

“Sini, Nduk!” Dewo merubah posisi, kini ia tuntun tangan Adinda agar meranjak ke batang kontolnya yang sudah tegang mengeras.

Dengan masih ragu Adinda memegang dan meremas-remasnya pelan. Kaget dia merasakan betapa panjang dan besarnya benda itu karena seumur-umur baru sekarang dia memegang kontol laki-laki. Karena penasaran, terpaksa ia membuka mata untuk melihatnya, dan langsung terhenyak. Dewo sudah telanjang di depannya, dengan kontol teracung sangat panjang dengan bentuk melengkung ke atas seperti busur panah. Sungguh sangat menarik sekali. Kalau bukan karena pelet, tidak mungkin Adinda bisa berpendapat seperti ini.

“Ahh…” Mata gadis itu kembali terpejam saat merasakan jilatan di memeknya kembali menghebat. Kali ini tanpa ragu lagi tangannya mulai mengocok-ngocok kontol panjang Dewo, rasanya tak sabar untuk segera merasakan benda itu masuk ke dalam liang memeknya yang masih perawan.

Dan keinginan itu tersampaikan beberapa menit kemudian, saat Dewo mulai berlutut diantara kedua kakinya. “Ahh… Kakek! Pelan-pelan saja,” pinta Adinda sambil menggelinjang.

Dia sudah siap seandainya benda itu melesak masuk, tapi Dewo justru mempermainkan dengan mengusap-usapkan penisnya ke paha dan bibir memek Adinda. Padahal kaki si gadis sudah terpentang lebar, dan pinggulnya turun-naik merasakan kegelian yang luar biasa di lubang memeknya.

“Ayo, Kek. Cepat masukkan!” kembali Adinda meminta.

“Dasar perempuan gatal, maunya cepat-cepat saja. Nih, emut dulu kontolku!” Dewo mengarahkan batang kontolnya ke mulut mungil Adinda.

Gadis yang masih mengenakan jilbab namun kini sudah awut-awutan itu, segera melahapnya dengan rakus. Dia mengulum dan menjilatinya sebisa mungkin, sempat beberapa kali pula tersedak, namun nampaknya cukup lancar meski ini adalah pengalaman pertamanya. Dewo tampak menikmati, dia mendesah-desah dengan mata tertutup sambil tangannya menggerayangi bulatan payudara Adinda yang berukuran cukup lumayan.

Setelah dirasa cukup, barulah Dewo kembali ke bawah. Dirabanya memek sempit Adinda sebentar sebelum sedikit demi sedikit kejantanannya memasuki liang kenikmatan itu.

“Aihh…” Adinda mulai menjerit. Ohh, betapa sakitnya kontol itu… tapi juga teramat nikmat! Makin dalam semakin nikmat, dan dia benar benar berteriak ketika Dewo berhasil menjebol selaput dara-nya.

“Pelan-pelan, kek… ughh! Pelan-pelan!” Adinda merintih saat Dewo mulai mengocok pelan maju-mundur. Sungguh sakit luar biasa, tapi juga ada sedikit rasa geli saat alat kelamin mereka saling bergesekan. Tak pernah Adinda merasakan yang seperti ini.

Dari tangis, perlahan jeritannya berubah menjadi rintihan. Dan manakala Dewo mengocok semakin cepat, sambil sesekali menyusu di puting payudaranya, desah napas Adinda pun semakin menderu, berpacu dengan desis dan jerit kenikmatannya. Dia tak bisa menahan rasa ini lebih lama lagi, matanya yang tak lagi terpejam bisa melihat dengan jelas ekspresi nikmat dari wajah Dewo yang hitam menyeramkan. Namun entah kenapa justru pemandangan itu terlihat begitu menggairahkan bagi dirinya.

Maka Adinda menurut saja ketika Dewo menunduk untuk mencium bibirnya, bahkan ia pun tak segan untuk ikut memeluk dan melumat rakus. Semuanya telah berubah akibat pengaruh pelet Dewo; dari yang asalnya menolak, kini Adinda sudah pasrah sepenuhnya, apalagi ketika merasakan nikmatnya kejantanan Dewo yang terus menghujam cepat seperti tiada berhenti.

Mereka terus mengayuh sampan birahi itu hingga ke tengah samudra nafsu yang terdalam. Keringat Dewo mengalir deras membasahi dada dan jilbab Adinda yang belum juga terlepas. Tubuhnya yang putih mulus semakin erat dalam dekapan tubuh hitam laki-laki tua itu. Dewo memeluk gadis itu dengan erat sembari pantatnya terus bergerak turun naik secara bertubi-tubi. Kocokannya berubah semakin cepat, membawa Adinda lebih dekat ke puncak birahinya.

“Ahh… Kakek!!” Jepitan kakinya pada pinggul Dewo membuat kontol laki-laki itu semakin dalam mengisi liang kenikmatannya. Ukurannya yang begitu besar serta bentuknya yang aneh dan panjang, serasa melempar Adinda hingga ke surga.

Pertahanannya pun jebol. Dengan kaki masih menjepit kuat, meledaklah jerit kenikmatannya. Ia mencengkeram erat kepala Dewo yang menempel di lehernya untuk meminta jeda sejenak, namun laki-laki itu justru malah mempercepat kocokannya.

Dewo kini berbaring telentang dan meminta Adinda agar duduk di atas. Dengan kondisi masih lemas, Adinda ragu apakah bisa bertahan lebih lama lagi. Sejenak ia pegang-pegang, lalu diremas-remas dan dikocoknya batang kontol Dewo dengan tangannya. Ini agar dia bisa menarik napas untuk beristirahat. Tak berkedip diamatinya kontol Dewo yang baru saja merobek perawannya., benda itu begitu keras dan hitam seperti kayu habis terbakar. Meski sudah tua, namun begitu kokoh dan kuat. Ingin rasanya Adinda melumatnya habis, namun Dewo keburu mengatur posisi tubuhnya hingga perlahan kontol itupun masuk kembali, menguak liang kenikmatannya mili demi mili hingga akhirnya terbenam semua.

“Ahh… enak memekmu, Nduk!” Dewo memandang, seolah menikmati ekspresi kesakitan yang kembali dialami oleh Adinda sembari tangannya menggerayangi kedua buah dada gadis muda itu. Dia mencegah Adinda yang mencoba membuka peniti jilbabnya.

“Biarkan saja. Sekarang, kamu goyangkan saja tubuhmu!” Dewo memang suka menyetubuhi perempuan dengan jilbab tetap terpasang, erotismenya terasa lebih nyata.

“Ahh… ahh…” Tubuh Adinda mulai bergerak turun-naik, pelan tapi semakin cepat dengan diiringi desahan dan jeritan nikmat dari Dewo. Mata laki-laki itu tak pernah lepas dari dadanya, terpancar ekspresi kepuasan di wajah Dewo saat tangannya menggerayang untuk meremas-remas benda bulat itu.

“Sini Nduk cantik,” Ditariknya tubuh sekal Adinda ke dalam pelukan. Kembali mereka saling mengadu bibir dan lidah. Hilang sudah rasa enggan pada diri Adinda, beralih dengan perasaan yang begitu eksotis, membuatnya makin bergairah dalam pelukan dan kocokan si laki-laki tua.

“Ahh… Kakek!!!” Adinda berteriak histeris ketika merasakan tubuh Dewo menegang saat menyemprotkan cairan spermanya. Pejuh kental itu terlontar sangat kencang hingga ke lorong rahimnya yang terdalam.

Adinda bisa merasakan dengan jelas denyutan demi denyutan kontol Dewo yang terus meludahkan cairan kental, membuat dinding-dinding memeknya jadi semakin lengket dan membanjir deras. Dewo memeluknya erat, sementara napas mereka menderu saling berpacu, lemas dalam keheningan. Hanya degup jantung yang saling bersahutan terdengar begitu keras.

Adinda menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu, merasakan kontol Dewo yang masih tegang tetap mengisi liang senggamanya. Jantungnya berdetak kencang, sementara pandangan matanya pun menjadi serba hitam pekat. Tulang dan urat-urat Adinda seperti putus semua, dan ia pun melayang entah ke mana. Gadis itu pingsan!

“Lho, dia kenapa Mas Dewo?!” Nyai Siti panik menemukan Adinda terkapar di kursi ruang tamu, sedangkan Dewo sudah memakai pakaiannya kembali.

“Hanya kecapekan,” kata Dewo sambil menyuruh Nyai Siti agar menutupi tubuh Adinda yang telanjang. “Nanti juga siuman.”

Nyai Siti memandangi wajah cantik Adinda yang kini sepucat mayat. Dia segera memasang kembali baju gadis itu sebisanya, sebelum Kyai Kholil pulang. Kalau sampai melihat Adinda dalam kondisi seperti ini, bisa-bisa suaminya itu tertarik dan ikut menyetubuhinya juga. Sesuai pesan dari Dewo, setelah semua lubangnya dicicipi, barulah korban yang masih perawan boleh diambil oleh Kyai Kholil. Nyai Siti berniat untuk mematuhinya karena tidak ingin kena marah.

“Bagaimana Bayu, sudah kau laksanakan perintahku?” tanya Dewo sambil mengambil air minum dari panci yang ada di dapur.

“Sudah 2 kali spermanya kukuras, tapi tetap masih belum encer juga. Sepertinya dia cukup kuat.” sahut Nyai Siti.

“Lakukan terus, kalau perlu sampai dia pingsan. Aku baru bisa memasukkan guna-gunaku kalau dia sudah benar-benar menyerah.”

Nyai Siti mengangguk dan lekas beranjak ke kamar. Di sana, terikat di atas ranjang, tampak Bayu berbaring lemas dengan tubuh telanjang bulat. Kontolnya sudah kemerahan akibat terus disepong dan dipakai oleh Nyai Siti. Namun kini benda itu sudah kembali berdiri menegak. Nyai Siti segera menyingkap kebayanya dan duduk mengangkangi, kembali memasukkan batang kontol itu ke dalam celah memeknya yang melembab cepat.

“Ahh…” Bayu mendesah, terlihat linglung dan bingung. Selanjutnya ia merintih begitu Nyai Siti mulai menggoyang tubuh sintalnya naik-turun secara perlahan-lahan.

“Mungkin kamu harus meminta bantuan pada Rohmah atau Wiwik,” kata Dewo yang melongokkan kepala di sela-sela pintu.

“Hhh… sepertinya memang begitu,” desah Nyai Siti, dan kini menggoyang semakin cepat.

Menyeringai senang, Dewo segera beranjak kembali ke ruang tamu. Dipandanginya tubuh sekal Adinda yang masih pingsan. Untuk ronde kedua nanti, ia berniat untuk mencicipi lubang anus gadis itu. Tapi sepertinya Dewo harus bersabar hingga Adinda siuman.

Ketika Iblis Menguasai 5

Adegan di Kamar Tidur 2 : Hilangnya Kehormatan Sumirah

Pak Jamal menelan ludahnya berulang-ulang, jakunnya turun naik menyaksikan pemandangan di depan matanya. Siswi madrasah ABG berusia belasan tahun – diperkirakannya sekitar tujuh belas tahun – yang dikenalnya sejak peristiwa pembantaian Murtiasih (baca kisah terdahulu Ustadz Mamat) itu bernama Sumirah atau dengan panggilan sehari-harinya ‘Irah’, kini hanya berdua dengannya di kamar!

Sumirah yang demikian ayu elok dan manis itu masih di bawah pengaruh obat penenang dan juga obat perangsang yang tak disadari diminumnya sekitar dua jam lalu. Sumirah tetap belum sadar ketika beberapa menit lalu pak Jamal menggendongnya keluar dari mobil, membawanya masuk ke dalam rumah milik pak Fikri, kemudian dibawa masuk ke sebuah kamar tidur yang ditunjuk oleh si pemilik rumah

Jilbab yang biasanya menutupi rambut serta lehernya telah tergeser ke bawah ketika tubuhnya dipanggul oleh pak Jamal. Sandalnya juga telah terlepas, demikian pula kaus kakinya. Bahkan sarung panjang yang menutup hingga mata kakinya pun tersingkap sehingga betis putih sangat menantang mata lelaki miliknya kini menjadi santapan mata pak Jamal.

Bagian atas tubuhnya pun tak lagi terlindung secara rapih oleh kebaya yang biasa sehari-hari tertutup rapat. Kancing dan peniti penjaga kebaya di bagian depan telah sebagian besar berantakan. Akibatnya belahan bukit kembar di dada Irah mengintip keluar, gundukan daging gempal terlindung BH putih dengan pinggiran renda muncul di hadapan mata Jamal yang ganas.

Pak Jamal menjulurkan lidah untuk membasahi bibirnya, lehernya dirasa sangat kering menghadapi gadis muda yang masih setengah tidur itu. Dari hidung Sumirah yang bangir terdengar nafas halus, matanya masih tertutup, tangannya tetap menggenggam saputangan yang memang sering dipakainya dengan dibasahi air mawar harum.

Pak Jamal meletakkan tubuh Sumirah di atas ranjang, tangan nakalnya membuka beberapa kancing peniti yang tersisa, yang masih menutup kebaya si siswi madrasah itu. Kemudian disingkapnya lebih lanjut sarung Sumirah ke atas sehingga kini bukan saja betisnya, namun paha begitu licin mulus bak batu pualam putih pun terpampang, pada saat mana Sumirah malahan menekuknya sehingga sarungnya semakin tersingkap dan selangkangannya menjadi terbuka, membuat pak Jamal hampir terbatuk-batuk karenanya.

Karena selangkangan Irah terbuka tanpa disadari oleh sang empunya, maka pak Jamal dapat melihat betapa halusnya kulit paha Irah yang putih kuning langsat karena selalu terlindung dan tak coklat terbakar sinar matahari. Pak Jamal menarik nafas dalam-dalam namun dengan dengus tertahan, karena ia ingin memakai kesempatan selama mangsanya belum pulih kesadarannya untuk menarik ke bawah dan mencopoti celana dalam Sumirah yang berwarna merah muda!

Celana dalam tipis dengan renda itu perlahan-lahan ditarik pak Jamal ke bawah. Semula agak sulit karena tertindih oleh pinggul Sumirah, namun dengan kesabaran yang cukup mengagumkan, pak Jamal sedikit demi sedikit dapat melorotinya. Akhirnya sebercak kain merah muda tipis penutup aurat Sumirah itu pun ditarik turun melewati paha, lolos melalui kedua lututnya, dan pada saat Sumirah tanpa sadar membalik tubuh maka lepaslah lewat kakinya!

Namun pak Jamal masih dapat menahan diri dan tak langsung menerkam mangsanya itu, perlahan-lahan ia berdiri di samping ranjang, satu persatu baju dan celananya sendiri ia lepaskan, sambil tetap mengawasi calon korbannya. Ketika ia hanya tinggal memakai celana dalam saja, pak Jamal kembali naik ke ranjang dan kini merebahkan dirinya di samping kanan Sumirah.

Pak Jamal yang terkenal sebagai pejantan kampung telah sering menggarap wanita di desanya – pada umumnya wanita muda yang telah bersuami tapi kurang memperoleh nafkah badaniah, demikian pula janda kembang entah karena diceraikan atau ditinggalkan suami yang meninggal pada usia muda.

Namun tak diingatnya lagi kapan ia pernah menggauli seorang gadis muda remaja, apalagi anak ABG siswi madrasah seperti Sumirah. Tak disangkanya ketika memasuki usia pertengahan lima puluhan masih memperoleh kesempatan menikmati tubuh Murtiasih beberapa bulan lalu, sebagai ’bonus’ dari Ustadz Mamat (baca kisah mengenai Ustadz Mamat sebelumnya).

Kini di hadapannya menggeletak seorang siswi madrasah lainnya yang hampir seusia dengan Murtiasih, siswi yang sehari-hari memang agak genit, apalagi jika sedang bergaul dan bercanda tertawa cekikikan bersama dengan Rofikah. Pak Jamal membayangkan betapa serunya adegan di kamar pak Fikri yang pasti sedang berusaha menguasai dan menggagahi Rofikah. Khayalannya itu semakin menggugah rencananya untuk mencicipi tubuh Irah yang pada saat itu dengan tak terduga rupanya mulai sadar dan perlahan-lahan membuka matanya!

“Iiih, pak Jamal, kenapa ada disini? Ayo keluaar! S-saya dimana, pak? Tolongin saya pulang ke rumah, Pak. J-jangan macam-macam, kita tak baik berduaan di kamar,” suara Irah terdengar panik.

“Tenang aja, non geulis… ditanggung aman deh, non, asal jangan berisik. Ntar mamang pulangin non ke madrasah, atau mau ke rumah juga boleh. Tapi sebelonnya mamang mau ngelonin si non geulis,” demikian pak Jamal yang langsung menyergap dan menarik tubuh Irah yang berusaha bangun.

“Toloong! Saya mau diapain? Enggak mau begini, kurang ajar!! Ntar aku laporin polisi lho, ayo lepasin…” Irah bergumul dengan lelaki setengah baya yang kembali berhasil meletakkannya di ranjang.

“Eeh… udah dibilang jangan berisik, malahan cerewet! Jangan rewel, non, percuma ngelawan! Kan si non juga pengen ngalamin seperti temen non Murtiasih itu, ayo sini deh mamang ajarin! Tadi mamang udah ngeliat barang non, tembeeem banget… keliatannya siiip dihiasin rambut halus! Bener nggak, non? Hehehe,” pak Jamal menyeringai mesum selebar-lebarnya sambil menatap Sumirah.

Sumirah sangat terkesiap mendengar kalimat terakhir itu, dan baru disadarinya bahwa ada sesuatu yang sangat lain daripada biasa di selangkangannya. Baru disadarinya bahwa selangkangannya telah ‘kehilangan’ sesuatu : terasa jauh lebih dingin daripada biasanya – ooh, kemana celana dalamnya?

Penuh dengan rasa panik, Sumirah kembali berusaha bangun sambil sejauh mungkin merapatkan kedua pahanya. Namun kali ini pak Jamal telah bersedia : tubuh Sumirah langsung ditindihnya dan mulutnya segera membekap dan menciumi hingga membuat Sumirah gelagapan dan menggeliat-geliat pelan.

Keadaan Sumirah sudah sangat tak menguntungkan karena pak Jamal sendiri telah lepas semua pakaiannya terkecuali celana dalamnya yang agak dekil, sedangkan busana muslim yang biasanya menutup tubuh Sumirah dengan rapih kini telah berantakan, bahkan celana dalamnya telah tergeletak di lantai.

Pergulatan yang tak sebanding itu berjalan beberapa menit. Jilbab Sumirah telah lepas terhempas di lantai, kebaya serta sarungnya berantakan tak karuan. Sementara pak Jamal yang menyekal kedua tangan Sumirah di atas kepalanya, kini mulai menciumi dan menyupangi leher korbannya.

“Lepaaaaas! Lepasin saya! T-toloong… saya enggaak relaaa! Ooooouuffhh…” kembali Sumirah merintih saat pak Jamal menciumi bibirnya dengan rakus, lalu turun lagi ke leher, bahu, dan menancap di ketiak.

“Duuuuh siaaaah… sedeeep teuuiiing nih ketek! Licin amat, slurrrrp… engggak puas-puas mamang mau ngejilatin teruuuus… wangi amat nih ketek, emang gadis madrasah lain baunya kali,” pak Jamal tak habisnya mengendus, mencium, menjilati dan menyupangi ketiak Sumirah kanan dan kiri.

Semua rontaan Sumirah sia-sia saja, bahkan semakin memacu pak Jamal yang kini hanya menyekal kedua nadi Sumirah dengan satu tangan kirinya yang kuat, sementara tangan kanannya menjelajahi serta mulai menggerayangi ke dalam kebaya Sumirah, mencari bukit daging kembar yang gempal dan kenyal.

Sumirah tetap menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan penuh keputus-asaan. Secara tak sengaja matanya melihat beberapa codetan panjang bekas luka di dada pak Jamal yang sedikit dipenuhi bulu, hal sama terdapat pula di lengan atasnya yang masih cukup berotot keras. Terpana mata Sumirah menatap bekas-bekas luka itu dan terbersit rasa ketakutan di matanya, yang mana itu tidak lolos dari pengamatan pak Jamal yang langsung menggunakan kesempatan untuk mengancam!

“Hehehe… bagus ya, non, banyak codetan bekas bacokan golok dan pisau di badan mamang… biasa deh, kalo ada yang enggak nurut dan ngelawan, mamang jadi berkelahi. Tapi semua udah diberesin langsung, enggak ada lagi yang ngerepotin mamang karena semuanya udah masuk ke dalam tanah,” pak Jamal mendadak mengubah nada suaranya menjadi dingin dan memberikan gerakan jari menyilang di depan leher yang berarti bahwa semua musuhnya telah digorok dan ia bunuh!

Sumirah tak tahu apakah benar apa yang dikatakan oleh pak Jamal, namun tanpa sengaja ia rasakan tubuhnya gemetar menggigil dan bulu badannya berdiri gara-gara ngeri atas ucapan tersebut. Sebagai lelaki berpengalaman, pak Jamal mengerti bahwa ucapannya memberikan pengaruh besar pada siswi madrasah muda dan lugu yang semakin lama semakin berada dalam kekuasaannya itu.

“Hehehe… jangan takut, non, mamang udah umpetin pisau mamang di bawah ranjang. Pokoknya si non enggak bakalan mamang sakitin asal nurut, engga ngelawan dan jangan bikin berisik, ngarti?” pak Jamal melanjutkan jamahan dan remasannya di gunung kembar gempal di dada Sumirah, lalu putingnya dipijit serta dicubit-cubitnya, menyebabkan Sumirah jadi meringis dan menggeliat kesakitan. Meskipun sehari-hari agak genit, namun pak Jamal menduga bahwa belum pernah ada lelaki melakukan hal seperti itu pada Sumirah.

“Hehehe… enak enggak, non? Geli ya sampe ngegelinjang begitu? Ini belon apa-apa, non, mamang tambahin lagi nih… mau netek di susunya si non, uummh… legitnya! Cuuppp… nyyuuuum… duuuh siaaah, mamang isep dan sedot supaya makin lancip ya, non? Tuh udah mulai ngacung dan merah muda kaya jambu,” pak Jamal kini bergantian menggigit dan menyedot-nyedot puting Sumirah sehingga anak ABG ini makin gelisah kelojotan, namun dari puting yang digigit-gigit itu muncul aliran rasa hangat dan geli menyebar ke seluruh tubuhnya.

“Aaah… aoouuh… udaah dong, maaang! Gelii… ngiluuu… aauhh!! Irah enggak mau, udahan dong mainnya! Lepasin, oooh… Iraah enggak tahan!!” Sumirah makin menggelinjang.

Dirasakan kedua buah dadanya semakin membengkak dan selain itu muncul kehangatan di tengah selangkangannya sebagai akibat dari obat perangsang yang secara tak sadar diminumnya tadi. Sumirah merasakan bahwa selangkangannya yang telah tak tertutup celana dalam itu semakin lembab dan juga ada rasa geli serta keinginan untuk meraba dengan jari tangannya sendiri. Namun hal itu tak mungkin dilakukannya karena bertentangan dengan rasa kehormatan dan malu. Sehingga tak sadar Sumirah hanya mencoba membuka menutup kedua pahanya, selain itu kedua kakinya yang jenjang melurus, kemudian menekuk, lalu melurus lagi secara bergantian. Kedua pipinya terlihat semakin muncul merah merona, hembusan nafasnya semakin cepat tak teratur disertai keluhan halus.

“Hehehe, bageuur eeuuy… si non makin cakep aja, udah waktunya nih mamang akan memanjakan si non. Abis netek begini biasanya mamang pengen minum air madu. Non mau sekalian diajarin nyepong apa engga? Apa ntar aja kalo mamang banjiran di mulut? Iya deh mamang ngajarinnya pelan-pelan supaya non jadi pinter dan belajarnya gampangan,” pak Jamal melepaskan cekalan dan remasannya, kemudian menyerosot turun sambil melepaskan pakaian Sumirah sehingga akhirnya terlihatlah semua tubuh indah dan montok siswi madrasah yang kini hanya menolehkan kepalanya ke samping.

Sumirah tak berdaya melawan rangsangan tubuhnya sendiri, namun rasa malu jengah dan penyesalan menyebabkan air matanya mulai berlinang dan tubuhnya terguncang pelan oleh isak tangis.

Namun semuanya tak akan lagi menghentikan keinginan pak Jamal untuk menggauli gadis muda ABG ini. Pak Jamal sebagai pejantan kampung memang selama ini cukup sering bersenggama dan merogol pelbagai wanita di desanya, namun belum pernah dengan seorang gadis siswi madrasah.

Kesempatan ini tentu saja tak akan diabaikannya. Ketika Murtiasih berhasil masuk jebakannya dan dibantu Rofikah serta Sumirah akhirnya digarap oleh Ustadz Mamat, maka pak Jamal memang sudah bertekad untuk suatu waktu menikmati tubuh ketiga siswi itu. Baginya tak menjadi soal siapa yang akan pertama kali digaulinya, dan rejekinya memang malam ini memperoleh Sumirah.

Kini pak Jamal telah berhasil menempatkan dirinya diantara kedua paha Sumirah yang terkuak, tak ada gunanya sang korban berusaha membalik diri ke kanan atau ke kiri, tindihan pak Jamal terlalu berat. Kedua tangan pak Jamal masih berada di atas dan tak hentinya meremas-remas buah dada Sumirah, sementara mulutnya disertai lidah basah menjulur keluar menyapu pinggang dan perut gadis muda itu.

Pusar Sumirah yang cekung ke dalam kini telah basah oleh ludah pak Jamal, kecupan hangat terus menerus menjalari seluruh pori kulit putih mulus : dari perut dan pusar semakin turun mengarah ke selangkangan. Disitu kecupan-kecupan pak Jamal semakin ganas dan brutal disertai dengan gigitan kecil di lipatan paha, kemudian bagian dalam paha, dan setelah menimbulkan beberapa cupangan merah akhirnya menuju bukit Venus dengan celah sempit yang tepinya dihiasi bulu-bulu halus terawat rapi.

Kedua tangan pak Jamal melepaskan cengkramannya pada buah dada Sumirah, kini telah turun mengusap paha mulus si gadis yang telah lemas terbakar nafsu birahinya sendiri. Sambil menekan kedua paha Sumirah dengan sikunya agar tetap membuka selebar mungkin, maka jari-jari tangan kiri pak Jamal kini berada di kiri-kanan bibir kemaluan Sumirah dan menguakkannya dengan perlahan-lahan.

Mata pak Jamal melotot bagaikan akan keluar dari cekungannya ketika melihat betapa indah dan menggiurkannya dinding vagina Sumirah yang berwarna coklat muda agak kemerahan. Pembuluh darah yang demikian halus tampak menghiasi dinding yang terlihat mulai mengkilat akibat dibasahi oleh cairan alamiah itu. Ketika bibir kemaluan Sumirah semakin ia kuakkan, maka terpampanglah lubang kencing yang demikian kecil, dan di bawahnya… di bawahnya, ooooh itukah yang disebut selaput dara?

Bagaikan seorang petualang menemukan harta, pak Jamal semakin mendekatkan wajahnya ke lubang surgawi mangsanya. Aah, betul rupanya omongan orang-orang bahwa selaput kegadisan agak berbentuk bulan sabit dan terletak di bawah lubang kantung kemih. Tak sanggup lagi menahan nafsunya, pak Jamal langsung menempelkan hidung dan bibirnya ke vagina Sumirah.

“Sshh… cuup, cuupp, slrruupp… aaah, wuuih manisnya nih madu si non, rejeki nomplok bisa ngirup madu cewek… slrrrrrruuup… duuuh segernya! Mamang ganti bayar madunya ama liur mamang ya supaya semakin licin? Cakepnya si non pas lagi dijilatin kayak gini,” pak Jamal mengulurkan lidahnya yang besar dan kasap untuk menyapu dinding celah kelamin Sumirah.

“Aaiih… emmhh… oooh, pak, Irah diapain lagi? Geli, pak, nngghh… oooh… gelii, sssh… ooohh… iih, Irah enggak tahan,” Sumirah menceracau dengan tanpa sadar kedua tangannya kini meremas-remas buah dadanya sendiri dan menarik-narik putingnya yang mungil indah.

“Enaak teuing ya, non? Betul engga tuh mamang bilang, jadi ketagihan kan? Sekarang mamang ajarin supaya non melayang ke surga ke tujuh ya, nih gini caranya,” bagaikan mencari butir perhiasan nan mahal, pak Jamal membuka lipatan atas bibir vagina Sumirah. Bagaikan penis mini seorang bayi laki-laki yang baru lahir, muncullah tonjolan daging diantara lipatan bibir memek Sumirah, seolah malu dan segan menampilkan dirinya. Namun kelentit yang dicari-cari itu langsung dikecup, diciumi, dan dijilati oleh pak Jamal. Sumirah yang telah terbuai dengan nafsu birahi kini menghentakkan kakinya bagaikan terkena aliran listrik tegangan tinggi, apalagi ketika kelentitnya tersapu kumis kasar pak Jamal.

“Aaiih… iihh… eemph… aah, geli amat, pak! Udaah…” Sumirah menggeliat-geliat dan berusaha berontak melepaskan dirinya, namun kedua pahanya tetap berada dalam tekanan lengan dan siku pak Jamal sehingga tetap terpaksa mengangkang lebar.

“Toloong, pak… aauuw! U-udah, hentikan! Gelii… aauww! Oooh… iiih… Irah pengen pipis, oooh… lepasin dong, pak! U-udaah,” bagaikan orang sedang kalap terkena serangan ayan, Sumirah menghentak-hentak dan menendang, sementara semua jari tangannya justru malah menjambak rambut pak Jamal dan menekan kepalanya seolah-olah ingin dirangsang terus.

Sinyal sangat khas yang begitu nyata ini tentu saja begitu dikenal oleh pak Jamal yang kini justru semakin meningkatkan kegiatannya. Klitoris yang telah menonjol diantara lipatan bibir kemaluan Sumirah kini dijepit oleh pak Jamal diantara bibirnya, disapu dan diusap dengan lidahnya, kemudian digesek serta digéwel dengan menggunakan barisan giginya yang digerakkan ke kiri dan ke kanan.

Rangsangan semacam ini tak akan dapat ditahan oleh wanita manapun, meskipun ustazah alim shalihah berpengalaman bagaimanapun pasti akan langsung blingsatan dan takluk! Apalagi yang sedang menghadapi serangan ini adalah gadis muda siswi madrasah yang masih asing lelaki.

Tanpa disadarinya tubuh Sumirah semakin terangkat dari kasur, semakin melengkung, dari lubang hidung yang mungil terdengar nafas memburu bagaikan seekor kuda sedang berpacu. Mata Sumirah membeliak terbalik ke atas, tangannya melepas sementara rambut pak Jamal lalu menarik sprei ke mulutnya untuk digigit sekuat tenaga. Kemudian kedua tangannya itu kembali menekan kepala pak Jamal sekuatnya seolah ingin agar rangsangan di klitorisnya semakin ditingkatkan, kedua paha betisnya menendang dan membuka menutup tak beraturan. Pada saat itu pak Jamal secara sadis meremas dan mencubit puting Sumirah dengan jari-jari tangan kirinya, lalu sekaligus telunjuk tangan kanannya menjelajah di bawah vagina dan dengan tiba-tiba menusuk masuk ke anus Sumirah yang amat sempit.

“Ummmppffh… eemmppffh… aiiihh… auww… Irah pipis!! Ohh, pak… auoohh,” tubuh Sumirah melengkung bagaikan busur yang siap melepaskan anak panah, mengejang dan gemetar selama beberapa menit disaat mengalami orgasme pertama kalinya. Setelah sesaat, barulah akhirnya perlahan-lahan melemas dan menghempas kembali.

Namun pak Jamal masih belum puas. Setelah tubuh Sumirah terhempas kembali dikasur, maka dengan sadis pak Jamal memulai kembali rangsangannya. Kedua puting susu Sumirah yang semakin membengkak dan mengacung ke atas itu dijadikannya sasaran kembali. Ia mempulir-pulir, mencubit-cubit, menggigit-gigit dan mengenyot-ngenyot penuh nafsu, bagaikan seorang bayi raksasa telah kehausan sehari semalam tak diberikan susu ibu. Terutama gigitan sadis yang membuat ngilu itu memaksakan Sumirah kembali dari dunia ekstase setelah orgasme pertama.

Sumirah menggeliat dan merintih-rintih ketika putingnya terasa perih dan lecet karena gewelan dan gigitan buas pak Jamal. Setelah puas dengan meremas dan membuat kulit buah dada sang mangsa penuh cupangan serta bercak merah, maka pak Jamal turun kembali dan mulai menjilati lagi kemaluan Sumirah. Tanpa ampun celah sempit di bukit Venus berbulu halus itu ia kuakkan kembali, dijilatinya dinding yang merah muda itu, dicarinya kelentit yang sedemikian peka, diulangi lagi ritualnya dengan maksud membangunkan birahi sang siswi yang malang itu.

Tak sangguplah Sumirah menghadapi serangan bertubi-tubi lelaki setengah baya yang begitu berpengalaman : tubuhnya yang telah letih, lemas dan mandi keringat itu mulai melengkung dan membusur ke atas. Sepuluh menit kemudian terdengar kembali jeritan histeris Sumirah, kali ini pak Jamal tanpa kasihan memaksanya untuk orgasme tiga kali berturut-turut!

Sumirah merasakan seolah-olah dilandai badai tsunami : jutaan bintang menguasai pandangan matanya, jutaan bintang meledak di dalam kepalanya, tubuhnya bagaikan dihempaskan ombak samudra hindia ketika sang penghuni Nyai Roro Kidul sedang mengamuk. Setelah ketiga kalinya kejang dan kesadarannya sama sekali hampir punah, barulah pak Jamal menghentikan kegiatannya, karena ia telah siap bersenggama!

Pak Jamal menyeringai dan tersenyum penuh kepuasan melihat korbannya telah runtuh semua pertahanannya dan takluk terhadap tindakan apapun yang akan dilakukan pak Jamal berikutnya. Kini telah tiba saatnya pak Jamal mengambil piala utama di petang hari itu, piala kemenangannya terhadap gadis alim shalihah. Piala itu hanya berupa kegiatan beberapa menit menembus selaput pertahanan dan pemisahan status seorang gadis dan wanita dewasa. Pak Jamal kembali menarik dirinya ke atas tubuh Sumirah yang mengkilat mandi keringat akibat orgasmenya. Nafas Sumirah masih memburu, terlihat dari naik turun buah dadanya dengan puting mencuat tajam. Selangkangannya tetap terkuak dan rambut halus di sekitar memek Sumirah tampak basah dengan air mazi serta air ludah pak Jamal yang menjilatinya beberapa menit lalu.

Pak Jamal menarik nafas panjang, menahannya selama mungkin. Jari-jari tangan kirinya menguakkan kembali bibir kemaluan Sumirah. Dengan tangan kanannya diarahkannya penisnya yang menegang maksimal sejak melihat orgasme calon mangsanya. Setelah kepala batang rudalnya diletakkan diantara belahan vagina Sumirah dan dirasakannya cukup mantap, dijepit bibir kemaluan berwarna kemerahan itu. Pak Jamal kemudian mengangkat dan meletakkan betis mangsanya di bahunya, lalu perlahan-lahan ia menekan ke bawah. Sekali dua kali tusukannya meleset, namun akhirnya kepala penis berwarna merah tua dengan bentuk topi baja itu meretas masuk di belahan hangat, senti demi senti lembing daging itu menghilang ke dalam lembah hangat licin dan menemukan pertahanan.

“Aduuh… aauww! Nyerii, pak… sakiiit!! J-jangan, pak… lepasin! S-sakiit, pak… ooh… udah!! Auw, ampuun…” Sumirah merasakan bagian dalam memeknya bagai disayat pisau, pinggulnya mengesot ke kiri dan ke kanan menahan rasa sakit.

Sangat berbeda dengan Sumirah yang kesakitan, maka pak Jamal justru merasakan kebanggaan tak terkira ketika alat kejantanannya masuk perlahan-lahan ke dalam liang nirwana gadis muda itu. Setengah jalan dirasakannya ada yang menahan tembusan penisnya dan pak Jamal tersenyum lebar karena yakin bahwa penahan itu adalah selaput kegadisan Sumirah. Ekspresi wajah mangsanya yang ayu cantik namun telah sepenuhnya dikuasai itu justru makin memacu nafsu birahinya.

Dengan penuh rasa kepuasan pak Jamal menekan lebih kuat ke depan, sementara kedua tangan Sumirah memukul lemah dadanya yang kekar penuh codetan. Dengan senyum mesum disertai nafsu iblis pak Jamal merejang kedua pergelangan tangan Sumirah, ditekannya ke kasur sehingga tak mungkin si gadis ini mencakar atau meronta lagi. Disertai dengusan bagai banteng ketaton, pak Jamal menghunjam ke depan dan dirasakannya bahwa pertahanan di dalam vagina Sumirah akhirnya berhasil ditembus.

“Uuh, sempitnya nih memek… non geulis kenapa meringis nangis? Ntar pasti keenakan, mmh… aah, kerasa jebol di dalem enggah, non? Kasian si non ngerasa ngilu, mamang licinin lagi ya supaya enggak terlalu perih? Duuh, begeuuuur teuiiing, mamang jadi makin napsu aja, hehehe.” pak jamal kembali menciumi mulut Sumirah yang setengah terbuka. Lidah Sumirah disedot serta dijepit diantara bibir tebalnya, kini ludah pak Jamal makin bercampur dengan ludah Sumirah.

“Eemmuuppffh… uuddhh… aauummppffh… aauuww, sakiiit! A-ampuun, pak!!” Sumirah menangis terisak-isak, tusukan dan hunjaman pak Jamal dirasakannya semakin menyiksa masuk ke dalam sehingga terasa ngilu menjalar sampai ke ulu hatinya.

Memang telah beberapa kali ia mendengar dari tetangga serta kenalan wanita yang telah menikah bahwa proses metamorfose dari gadis menjadi wanita dewasa di malam pengantin sering disertai dengan rasa sakit. Namun apa yang dirasakannya saat ini sama sekali di luar dugaannya, jauh lebih sakit daripada perasaanya semula.

Sumirah tetap berusaha menggeser pinggulnya ke pelbagai arah ketika alat kejantanan pak Jamal menumbuk mulut rahimnya yang penuh ribuan ujung syaraf peka. Namun semua tak mengurangi atau meringankan rasa perih dan ngilu karena dinding memeknya yang masih luka memar itu tetap digesek-gesek bagaikan diampelas oleh kulit kasar penis pak Jamal. Bahkan usaha goyang dan geseran pinggul Sumirah itu menyebabkan salah dugaan pak Jamal bahwa gadis korbannya justru mulai merasakan kenikmatan, sehingga semakin seru dan mantaplah pak Jamal menggerakkan penisnya.

“Wah, mulai ngerasa enak ya, non? Mamang bilang juga apa, sedap kan di entot? Pinter banget si non, mulai goyang pantat kaya penyanyi dangdut ngebor di panggung. Mamang mulai enggak tahan nih, yahud amat si non makin geuliiiis… cakepnya dipompa, aah… uuh!!” pak Jamal mengarahkan dan menumbuk senjata dagingnya ke semua sudut celah surgawi mangsanya.

Masuk keluar, masuk keluar, dorong tarik, tarik dorong, sebentar halus dan perlahan, mendadak berubah menjadi sangat kasar dan brutal. Siswi madrasah yang baru kehilangan kegadisannya itu hanya dapat mengikuti saja semua kemauan pemerkosanya. Percuma saja melawan karena justru akan lebih memacu nafsu hewaniah kuli pembersih di madrasah itu. Sumirah mulai membiasakan hidungnya dengan bau keringat pak Jamal yang kini bersimbah bercampur dengan keringatnya.

Tak ada lagi yang sanggup dipertahankannya, Sumirah hanya mengharapkan agar semuanya cepat berlalu dan ia akan segera pulang untuk melupakan pengalaman pahitnya yang ibarat mimpi buruk. Tapi pak Jamal ternyata mempunyai stamina yang sangat mengagumkan untuk seorang pria seusianya.

Setelah dirasa bahwa perlawanan Sumirah sama sekali tak ada, maka justru ia membalik badan dan meminta agar gadis itu menungganginya dalam posisi “woman on top”. Karena Sumirah telah lemas dan terlalu letih, maka justru pak Jamal yang mencengkeram pinggang langsing korbannya. Kemudian dia naik-turunkan tubuh Sumirah bagaikan boneka, sehingga memeknya ditikam dan ditusuk tusuk dari arah bawah oleh tombak daging yang mengacung ke atas dengan begitu gagahnya.

Setelah puas menjarah Sumirah dalam posisi ini, pak Jamal kini menyuruhnya merangkak bagaikan seekor anjing, kemudian didekati mangsanya dari belakang dan kembali dibelah vaginanya. Tanpa rasa kasihan sedikit pun, pak Jamal kini menggarap dan mengerjai Sumirah dari arah belakang, dan karena sudah amat lemas maka Sumirah tak sanggup lagi menunjang tubuhnya sendiri dengan lengan yang diluruskan.

Akhirnya Sumirah hanya sanggup menumpang tubuh atasnya dengan lengan atas dan bertopang di siku yang menekuk. Kepalanya yang sudah tak tertutup jilbab dengan rambut acak-acakan menyentuh kasur, setiap genjotan dan jedugan pak Jamal dari belakang hanya dijawab dengan lenguhan dan desahan putus asa, terputus-putus diantara isak tangis memilukan.

Pak Jamal merasakan bahwa gejolak lahar panasnya telah sangat meninggi di dalam biji pelirnya, secara iseng dan sadis ia menyentuh dan mencolek lubang kecil dilindungi otot lingkar mengkerut-kerut. Dengan penuh kepuasan dilihatnya otot pelindung yang masih mengerut itu berkontraksi menarik si lubang kecil hingga semakin menciut bersembunyi di tengah bongkahan pantat yang sangat menantang.

Namun kali ini pak Jamal masih mempunyai rencana lain, lubang pantat Sumirah akan disimpan untuk dikerjainnya dalam kesempatan di masa mendatang. Kali ini ia berniat mengajari Sumirah untuk menghirup air maninya, dibayangkannya betapa wajah ayu Sumirah dengan mulut mungil terpaksa membuka selebarnya untuk mengulum rudalnya. Betapa nikmatnya merasakan hangat dan lembut lidah Sumirah menyapu lubang kencingnya yang menyemburkan air pejuh kental. Pasti Sumirah akan menolak melakukan hal tak senonoh itu, namun pak Jamal tahu caranya menakluki dan mematahkan pertahanan si anak ABG muda.

“Uuuh, mamang udah hampir nyampe nih… buang pejuhnya di dalem supaya jadi anak mau ya? Kebetulan lagi subur enggak, non? Udah lama juga mamang enggak naburin ladang becek, mau ya?” sengaja pak Jamal menjedug-jedug rahim Sumirah sambil menanyakan hal tak senonoh itu.

“Jangan, pak, Irah enggak mau hamil… tolong, kasihani Irah dong, pak! Buang diluar aja,” isak tangis Sumirah semakin menimbulkan iba, namun tak dipedulikan oleh pemerkosanya.

“Kalo enggak dibikin anak kan sayang, tapi bisa juga dimasukin lobang yang laen. Ditimbun disini boleh enggak, non?” kembali pak Jamal menjedug menghunjam sambil mengusap anus Sumirah.

“Kelihatannya kecil dan sempit, pasti enak dijebol nih lobang,” lanjut pak Jamal sambil meludahi anus Sumirah kemudian dengan perlahan ditusuk-tusuk dengan jari telunjuknya.

“Auw, jangan, pak! Jangaaan… enggak mau disitu… haram, pak! Oooh… jangan, ampun, pasti sakit sekali… ampun, pak! Ampuuuun…” Sumirah berusaha meronta dan menggelinjang lemah.

“Wah, cerewet amat si non! Dibuang sini salah, dibuang kesitu juga salah… gini aja lah supaya jangan mubazir, mamang ajarin non minum air pejuh simpanan supaya jadi awet muda,” pak Jamal tak menunggu jawaban Sumirah namun langsung membalikkan dan menelentangkan tubuh sintal telanjang bulat itu. Kembali direjangnya kedua pergelangan tangan Sumirah di samping kepalanya, dan kemudian disodorkannya penis hitam legam penuh urat melingkar-lingkar itu di depan bibir Sumirah.

Sumirah melengoskan kepalanya ke samping ketika penis mengkilat mengangguk-angguk yang terlumasi bekas darah dan air mazinya sendiri itu menyentuh bibirnya. Pak Jamal hanya tersenyum sadis, segera dicengkeramnya kedua nadi Sumirah dengan satu tangan dan diletakkan di atas kepalanya. Tangan satunya kini digunakan untuk memegang dagu Sumirah , jari-jarinya yang kuat menekan pipi si gadis malang sedemikian kuat hingga menyebabkan siswi madrasah ini kesakitan dan tanpa sadar menjerit.

Kesempatan itu langsung dipergunakan oleh pak Jamal dengan meneroboskan kemaluannya ke celah diantara bibir yang membuka, lalu tanpa rasa iba didorongnya masuk sedalam mungkin.

Sumirah tersedak terbatuk-batuk ketika langit-langit mulutnya disentuh oleh benda asing, hidungnya mengernyit karena mencium aroma campuran yang baru pertama kali ini dikenalnya. Aroma keringat lelaki, aroma khas penis sang pemerkosa, aroma lendirnya sendiri, dan juga sebersit aroma darah perawan yang beberapa saat lalu mengalir akibat perenggutan paksa selaput kegadisannya.

Rasa mual ingin muntah menyebabkan lambung Sumirah memberontak, namun apalah dayanya saat ini : pak Jamal telah memaju-mundurkan pinggulnya. Lingkaran kemaluan sang pejantan dirasakan oleh Sumirah semakin lama semakin membesar, menyebabkan sendi rahangnya sangat pegal linu karena dipaksa membuka maksimal. Pak Jamal semakin mempercepat irama penggejotannya di dalam mulut yang sedang dijarahnya habis-habisan, semakin lama semakin ganas, semakin dalam dan…

“Aaah… oooh… iya! Isep, non! Iseep semua, ooh… duuh, enggak tahan lagi nih mamang mau ngecrot! Kemut, non, iyah… minum semuanya, ooh…” geraman dan dengusan pak Jamal menyertai semprotan serta luapan spermanya yang masuk memenuhi rongga mulut Sumirah. Tak ada ruangan sedikitpun yang dapat dipakai Sumirah untuk membuang air pejuh menjijikkan itu. Supaya tidak terselak dan kehabisan nafas maka tak ada jalan lain bagi Sumirah daripada menelan teguk demi teguk air mani yang dirasakan seolah tak ada habisnya.

Lebih dari tiga menit barulah semburan lahar panas di mulut Sumirah mereda, penis pak Jamal pun mengurang diameternya dan akhirnya dapat didorong keluar lidah Sumirah. Beberapa tetes air pejuh putih mengalir keluar dari sudut bibir Sumirah dan beberapa kali ia menarik nafas sedalam-dalamnya untuk menahan rasa ingin muntah karena aroma sepat agak asin di kerongkongannya.

“Gimana, non, puas enggak? Ngaku deh enaknya dientot sama lelaki, mamang masih pengen maen-maen lagi, lain kali diterusin pasti lebih puas,” demikian rayuan gombal pak Jamal berusaha untuk menghibur Sumirah yang masih terlentang telanjang bulat dengan isakan tangisnya.

Perlahan-lahan pak Jamal menuntunnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri, terutama bagian selangkangannya yang masih terasa sangat perih dan memar. Setelah itu pak Jamal membantu Sumirah memakai sarung panjang dan kebayanya, tak lupa jilbabnya menutup kembali rambutnya. Mereka kemudian duduk berdampingan di ranjang, kemudian pindah ke ruang tamu tanpa banyak mengucapkan kata. Mereka menunggu pasangan lain yang juga sibuk dengan acara hangat di kamar tidur masing-masing.

Beberapa jam kemudian Sumirah telah pulang ke rumahnya. Berbeda dengan pak Jamal yang langsung menggeros kepuasan karena dapat menikmati tubuh gadis remaja, maka Sumirah merasakan tubuhnya pegal linu akibat pergulatannya tadi. Beberapa kali diraba selangkangannya yang masih memar, namun ketika jari-jarinya menyentuh bibir kemaluannya, terutama kelentitnya yang tersembunyi itu, maka terbayangkan kembali adegan memalukan namun mengesankan sukar terlupakan ketika perawanannya direnggut paksa oleh kuli pengurus sekolah madrasah itu.

Karena sukar sekali tidur maka Sumirah mengusap dan meraba kelentitnya dengan perlahan, makin lama semakin cepat. Akhirnya dijepitnya bantal guling dengan kedua pahanya, bantal kepalanya digigit sekuat tenaga untuk meredam jeritan orgasmenya. Berkat kejantanan pak Jamal maka Sumirah sebagai siswi madrasah akhirnya menemukan kenikmatan badaniah yang selama ini tersembunyi, namun itu semua adalah lumrah dan normal bagi semua wanita muda. Tak perduli warna kulitnya, keturunannya, apapun kepercayaannya, kebangsaannya – tak perlu dijadikan rasa malu sama sekali. Barangsiapa berusaha menyangkal hal itu adalah hanyalah kaum munafik saja di dunia ini.

TAMAT EPISODE SUMIRAH DENGAN PAK MAMAT 

INTAN 2

INTAN 2

Dua hari lagi, Intan akan menjalani prakteknya di Purwokerto. Dan hari ini sesuai dengan janji yang sudah ia buat dengan Rangga, ia akan menghabiskan waktu seharian berjalan-jalan keliling Yogyakarta. Intan tahu bahwa pada akhirnya ini akan berakhir pada permainan ranjang yang panas di kontrakan Rangga seperti pada hari-hari sebelumnya. Yang Intan tidak tahu bahwa di ujung hari, ia tidak akan bergumul dengan kekasihnya, tetapi bersama Pak Jarwo.

Sudah beberapa hari ini sebenarnya Intan sering bermain cinta dengan Pak Jarwo tanpa diketahui oleh Rangga, kekasihnya. Dengan beralasan sedang praktek, response, dan lain-lain, maka Intan dengan bebas ‘bertamu’ ke rumah Pak Jarwo. Istri Pak Jarwo sendiri adalah seorang buruh migran yang entah kapan akan pulang dan tidak tentu mengirimkan uang untuk Pak Jarwo di Indonesia. Tapi semua itu tidak menjadi masalah karena banyak kebutuhan Pak Jarwo yang pada akhirnya ditanggung Intan. Dia sudah seperti istri kedua bagi Pak Jarwo. Laki-laki itu bagaikan raja yang menikmati kenikmatan lahir batin, kebutuhannya tercukupi dari Intan.

Sekarang kita tarik cerita dari sekitar dua minggu ke belakang, beberapa hari setelah permainan cinta pertama antara Intan dan Pak Jarwo. Saat itu hari Rabu pagi dan Intan kebetulan kuliahnya sedang kosong karena dosen yang berkepentingan sedang berada di luar kota.

Intan terbangun karena ada sms masuk ke handphone-nya, setelah dilihat ternyata dari Pak Jarwo. Setelah pertemuan pertama mereka, memang mereka pada akhirnya bertukar kontak supaya Pak Jarwo bisa menghubungi Intan lagi di lain kesempatan. Selain itu juga, hampir tiap malam Pak Jarwo mengirim sms mesra kepada Intan dan Intan juga tak kalah mesra membalas sms-sms tersebut. Ah, indahnya hubungan kedua insan berbeda usia jauh ini.

“Pagi cewek bispak, kuliah gak hari ini? Hmm, kayaknya pagi-pagi begini kalo sarapan sambil disepongin sama mahasiswi berjilbab pasti nikmat. Kamu ke rumah bapak dong, sayang..”

“Ah, Pak Jarwo kok pagi-pagi udah sms sih? Bikin memekku cenat-cenut kalo inget kemaren di kontrakan pacar saya. Saya gak kuliah hari ini, Pak. Hmm, Pak Jarwo mau ditemenin? Ya udah, kasih saya alamatnya ya. Sama itu juga, Pak Jarwo mau dibeliin sarapan apa?”

“Kamu tau aja maunya bapak, hehe… saya mau bubur ayam aja deh, beli dua buat kamu juga ya, saying. Oya, jangan lupa mandi yang bersih dan wangi, dandan, pake jilbab yang bikin kamu paling cantik ya, tapi pake baju dan celananya yang ketat. Oke, pelacur?”

“Duh, kalo bapak bilang saya pelacur tuh bikin saya makin terangsang. Hmm, ya udah, nanti bapak sms aja alamat rumah bapak ya. Saya manasin mobil dulu. Sampai nanti pejantanku sayang, mmuuaacchh!”

Sms-sms yang terjadi diantara keduanya memang sudah kelewat mesra bahkan cabul, dan Intan sebagai seorang mahasiswi berhijab dan calon dokter malah lebih terangsang ketika direndahkan oleh kata-kata kasar oleh seorang bapak tua yang jadi ketua RT di daerah kontrakan Rangga. Tidak berapa lama kemudian Intan sudah meluncur untuk membeli sarapan dan menuju rumah Pak Jarwo. Intan memberi tahu Rangga bahwa ia tidak enak badan dan tidak ingin diganggu selama seharian ini, supaya Rangga juga fokus dengan pekerjaannya. Sebuah alasan yang cukup klasik.

Akhirnya mobil Intan sampai di sebuah rumah yang cukup asri, kecil namun banyak ditumbuhi tumbuhan-tumbuhan liar, sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Pak Jarwo. Seorang bapak tua kemudian keluar untuk membuka gerbang dan menyuruh Intan memarkirkan mobilnya masuk ke garasi, setelah itu ditutup dengan cover mobilnya sehingga setiap orang yang lewat tidak mengetahui mobil siapa yang ada di garasi Pak Jarwo saat ini.

“Masuk aja, sayang, langsung buka sarapannya di meja makan ya. Bapak udah kangen banget sama kamu nih!” kata-kata Pak Jarwo dibarengi dengan tepukan di pantat Intan.

“Duh bapak, jangan diluar gini ah, nanti ada yang liat loh… hihi, masa cewek berjilbab mesra sama bapak-bapak, hihi… tapi ga papa deh, kan sama Pak Jarwo ini,” Sambil tersenyum manja, Intan mengatakan hal tersebut yang membuat Pak Jarwo makin kelimpungan.

Akhirnya mereka berdua sudah duduk di meja makan, tetapi Pak Jarwo bilang, “Loh, kok disitu sih? Sini dong.” katanya sambil menepuk paha, memberikan isyarat agar Intan duduk di situ.

“Aduh, bapak manja deh. Hihi, ya udah, Intan duduk menyamping di paha bapak ya.” Intan akhirnya duduk di pangkuan Pak Jarwo, lalu ia membuka bungkusan buburnya, tapi lagi-lagi Pak Jarwo menyela.

“Eh, punya kamu nanti aja, punya bapak dulu ya. Hehe, saya mau sarapan sambil disepong sama mahasiswi berjilbab, impian bapak dari dulu nih. Boleh ya, sayang?” Pak Jarwo mencolek dagu Intan, membuat gadis itu tersipu malu dan akhirnya menganggukkan kepala menuruti kemauan pak RT cabul yang satu ini.

Intan mencium bibir Pak Jarwo dan mengulumnya secara tiba-tiba, Pak Jarwo sendiri kaget. “Loh kok?”

“Dari tadi kan bibir kita belum ketemu, saya gak boleh ya cium bibir Pak Jarwo? Tiba-tiba saya jadi kangen banget sama rasa bibir bapak, uh!” Dalam hatinya, Intan merasa bahwa ada perasaan tersendiri jika berduaan dan bermesraan seperti ini dengan Pak Jarwo.

Setelah itu, perlahan Intan turun dari pangkuan Pak Jarwo dan duduk di bawah meja. Pikiran Pak Jarwo telah melayang-layang kemana-mana, ah seandainya ia bisa memperistri Intan dan bisa ia pakai setiap hari, pasti hidupnya akan lebih bahagia.

“Saya buka ya, pak… ups! Besarnya, hmm…” Intan membuka celana panjang Pak Jarwo dan menurunkannya sebatas paha, lalu menciumi paha Pak Jarwo yang telanjang.

Perlahan ia mendekati penis Pak Jarwo yang berukuran besar, penis itu masih layu dan sedikit bau pesing, tapi Intan tidak peduli. Perlahan ia mengenduskan hidungnya pada pangkal penis itu, menciumnya dengan sangat mesra dan penuh kasih sayang. Sementara di atas, Pak Jarwo mulai menikmati sarapan buburnya sambil juga menikmati ‘sarapan’ yang lain, ia tersenyum licik karena berhasil menaklukkan seorang mahasiswi fakultas kedokteran, berjilbab pula, bawa mobil juga, ah hidupnya terasa sangat indah sekarang.

Intan mulai menciumi penis Pak Jarwo hingga perlahan penis tersebut mengembang dan mengeras bagaikan sebatang kayu. Intan tertawa kecil melihat penis kesayangannya menjadi sebesar ini karena usahanya. Intan akhirnya menjilati penis Pak Jarwo dengan sangat perlahan, memindahkan rasa yang ada ke dalam mulutnya, menstimulasi penis tersebut agar makin mengeras, seakan-akan penis tersebut adalah pisang yang dilumuri oleh susu kental manis. Ah, Intan sangat ketagihan sekarang. Ia mulai membasahi semua bagian penis tersebut dengan liurnya, mulai memasukkannya ke dalam mulutnya secara perlahan.

Suara Intan yang sedang mengulum penisnya membuat Pak Jarwo makin bernafsu, kecipak pertemuan antara bibir indah berlipstik tipis, behel dan penis hitam miliknya membuat nafsu Pak Jarwo menjadi semakin meningkat.

Sementara Pak Jarwo terus melanjutkan sarapannya, Intan masih mengulum penis Pak Jarwo yang sudah benar-benar tegang. Ia mengocok dengan tangannya yang halus, jari-jarinya yang lentik dan kukunya yang baru tadi pagi di-kutek. Uh, tidak ada yang bisa menandingi sensasi dan aroma sensualitas yang ada di ruang makan rumah Pak Jarwo.

Tiba-tiba Pak Jarwo membuka kotak sarapan bubur milik Intan dan menarik Intan ke atas. “Duh, kayaknya kamu nafsu banget nyepong kontol bapak? Suka banget ya sama kontol bapak?” tanyanya.

“Mulut saya kayaknya udah jodoh sama kontol Pak Jarwo, uhh… kontolnya Pak Jarwo tuh bikin mulut saya jadi gatel dan yang bisa garukin cuma kontol ini, pak RT-ku tersayang, hihi…”

“Ya udah sayang, kamu makan dulu ya, biar nanti kita ngentotnya bisa kuat seharian. Kamu ga ada janji sama pacar kamu kan?”

“Ah, saya lebih milih seharian dientotin sama Pak Jarwo daripada harus kencan sama dia, pak. Hmm, pak… saya boleh minta tolong sesuatu gak?”

“Buat kamu, bapak akan turutin. Apa sih, sayang?”

“Suapin..” Dengan senyum malu-malu, Intan mengungkapkan keinginannya untuk dimanja oleh Pak Jarwo. Perempuan kalau sudah tersentuh hatinya, apalagi vaginanya, pasti akan takluk walaupun lawan mainnya adalah seorang bapak tua.

Intan menganggap Pak Jarwo sebagai suaminya sendiri, Intan bahkan akan gelisah kalau satu hari tidak berkomunikasi dengan Pak Jarwo. Tetapi bukan Pak Jarwo namanya kalau tidak punya ide gila, ia akan menyuapi Intan lewat mulut, dan hanya dijawab oleh anggukan serta senyum manis dari Intan.

Akhirnya Pak Jarwo mengaduk buburnya dan menyuapi dirinya sendiri, sehabis itu layaknya orang berciuman, Pak Jarwo mendekatkan mulutnya ke mulut Intan, perlahan-lahan bubur tersebut pindah ke mulut si gadis muda.

“Gimana? Enak, sayang?” tanya Pak Jarwo.

“Makasih ya, pejantanku saying. Pak Jarwo tuh satu-satunya cowok yang bikin saya, walaupun berbeda usia, jadi meleleh. Bapak tuh jantan banget.” Sambil berkata begitu, Intan yang masih duduk di pangkuan salah satu kaki Pak Jarwo, kembali mengelus dan mengocok penis Pak Jarwo yang belum mengeluarkan isinya.

Pak Jarwo yang sudah berpengalaman dengan berbagai wanita hanya melenguh pelan dan kembali menyuapi Intan dengan mulutnya. “Intan, uuhh… pelacur pribadiku. Uuhh… saya bentar lagi mau keluar nih, saya campurin pejunya ke bubur kamu ya, saying? Gimana, mau? Uuhh…”

“Ih, bapak… nanti buburnya jadi rasa peju dong. Tapi kayaknya malah enak, hihi… ya udah, pak, keluarin aja pejunya. Uhh…” Dengan muka penuh birahi, Intan kembali mengocok dengan kuat penis Pak Jarwo, hingga akhirnya tidak berapa lama kemudian, sperma laki-laki itu menyembur keluar.

“Aahhh… uuhhh… nikmatnyaa… uhh… terus kocok, saying… uuh…” Pak Jarwo akhirnya ejakulasi di atas bubur ayam milik Intan, sampai tetes terakhir spermanya pun tidak disia-siakan oleh Intan. Ia membersihkan penis Pak Jarwo dengan lidahnya, ia terlihat tidak ikhlas ketika satu tetes sperma jatuh ke lantai. Uh, hanya dengan melihatnya saja membuat Pak Jarwo jadi semakin bernafsu untuk menggarap tubuh molek berbalut jilbab dan gamis panjang ini.

Lalu Intan keluar dari kolong meja makan dan dengan kerlingan mata genitnya pada Pak Jarwo, ia menjilat bibirnya sendiri dan berkata nakal, “Hmm, enaknya peju Pak Jarwo, buat saya awet muda nih, hihi…”

Akhirnya Intan sarapan bubur ayam yang sudah dicampur dengan sperma Pak Jarwo, ia memakannya dengan lahap. Pak Jarwo sendiri pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan memulihkan staminanya setelah spermanya dikuras habis pagi ini oleh mahasiswi cantik berhijab seksi.

Pak Jarwo bersiul bernyanyi pelan di kamar mandi, memikirkan nasibnya yang sekarang seakan-akan telah menjadi raja dan Intan menjadi selirnya yang menjamin semua kebutuhannya, lahir dan batin. Sampai tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan persis di luar kamar mandi, Pak Jarwo melihat Intan yang perlahan-lahan menelanjangi diri; mulai dari hijabnya, kemudian baju, dan akhirnya bra serta celana dalamnya. Gadis itu melangkah perlahan mendekati Pak Jarwo yang masih saja ternganga dan hampir melotot tak percaya seorang mahasiswi kedokteran berhijab melakukan hal tersebut.

“Saya boleh ikutan mandi kan, Pak Jarwoku sayang?” tanya Intan manja.

“Tentu saja boleh, pelacur pribadiku. Hehe…”

Ketika berada di depan Pak Jarwo, Intan memutar tubuhnya, mempertontonkan bagian tubuh belakangnya yang polos tanpa selembar penghalang pun. Lalu ia menempelkan tubuhnya pada tubuh Pak Jarwo. Sambil sedikit mendesah, ia mengambil tangan Pak Jarwo dan menyentuhkan pada payudaranya, seakan meminta untuk diremas dan dimanjakan.

“Ayo, Pak Jarwo. Uhh… sentuh tiap senti tubuh saya, saya kangen sama kulit kasarnya Pak Jarwo yang bikin saya geli-geli gimana gitu. Cium setiap inci kulit saya, uhh… ayo, pejantanku saying, uhh…”             Sambil berkata begitu, Intan menggoyangkan pantatnya dan membuat penis Pak Jarwo yang tadinya lemas karena air yang dingin, jadi mengembang dan mengeras bak batang kayu jati.

Pak Jarwo hanya diam menikmati goyangan pantat Intan yang mengaduk penisnya sehingga benda panjang berurat itu menjadi ereksi total. Tangannya dengan lembut meremas payudara Intan sehingga si empunya kembali melenguh merasakan nikmatnya bersetubuh dengan pria yang jauh berbeda usia dengannya.

Ini juga membuat Pak Jarwo tidak pernah merasa bosan untuk menggarap tubuh muda dan sekal milik Intan. Saat ini penis Pak Jarwo mulai mencari jalan untuk masuk ke vagina Intan.

Intan yang mengerti kemauan Pak Jarwo langsung menundukan badannya agar lubang vaginanya bisa lebih mudah untuk dimasuki penis Pak Jarwo. Ia pun mendesah ketika senti demi senti penis Pak Jarwo akhirnya berhasil memasuki liang vaginanya. Ketika semuanya sudah masuk, mereka berdiam diri untuk sesaat. meresapi nikmatnya persetubuhan terlarang ini di bawah guyuran shower yang tidak terlalu kencang.

Perlahan Pak Jarwo mulai untuk menggoyangkan badannya maju mundur, menusuk liang peranakan milik Intan, sambil memegang pinggul Intan yang tak kalah semok dengan bagian tubuh lainnya. Pak Jarwo kembali mendapatkan semangat mudanya.

Intan pun mulai mendesah dengan merdu, seakan-akan dia sangat mengharapkan tusukan penis Pak Jarwo di vaginanya. Itu juga yang membuat Pak Jarwo semakin bersemangat untuk melakukan penetrasi.

“Ahh… aah… terus, Pak… uhh, enak banget tusukan kontol bapak di memek saya… uhh, nikmatnya ngentot sama bapak… uuuhh…” Intan merintih.

“Uhh… uuh… nih saya tusuk terus! Uhh, memek kamu pernah dihargai berapa paling mahal, sayang? Uuh!” tanya Pak Jarwo sambil terus menggoyang.

Omongan yang mulai melantur menandakan mereka berdua sudah tenggelam dalam lautan birahi dan hanya mengejar kenikmatan. Intan yang direndahkan seperti itu tidak merasa terhina, bahkan dia merasa lebih terangsang. Intan memutuskan lebih baik ia berdrama supaya dirinya dan Pak Jarwo jadi lebih terangsang.

“Uuh… cuma tiga ratus ribu, Pak Jarwoo… uhh! Kalau sama Pak Jarwo, saya rela terus-terusan dientot sama kontol besar dan enak milik bapak… uhh! Saya kan pelacur pribadinya Pak Jarwo, uhh! Uhh!”

Mendengar itu, Pak Jarwo pun semakin ganas menusukkan penisnya ke tubuh Intan. Ia membalikkan tubuh gadis itu dan mendudukkannya di pangkuan, di atas kloset.

Ah, ganas sekali Pak Jarwo hari ini, begitulah pikir Intan. Tetapi ia sangat senang kalau Pak Jarwo begini, itu artinya ia sangat bisa membuat pria seusia Pak Jarwo masih bergairah seperti anak muda.

Intan kembali menggoyangkan tubuhnya, tidak hanya ke atas dan ke bawah, tetapi juga ke samping kiri dan kanan hingga membuat penis Pak Jarwo seperti digiling dan rasanya… tentu sangat nikmat! Pak Jarwo sampai menutup matanya agar membebaskan Intan untuk bergoyang lebih binal dan liar. Hanya ada suara shower yang belum mati dan juga desahan mereka berdua, dan ini membuat suasana kamar mandi semakin mesum dan romantis.

Posisi Intan yang membelakangi Pak Jarwo membuat lelaki itu jadi tambah bergairah melihat goyangan pantatnya yang… hmm, liur Pak Jarwo menetes dan ia pun tidak tahan menahan ejakulasinya.

Tetapi Pak Jarwo belum mau melepaskan laharnya sekarang. Kasar ia menangkap payudara Intan dari belakang, meremasnya kuat, hingga membuat Intan harus merebahkan dirinya ke belakang, menyandarkan dirinya ke tubuh Pak Jarwo yang hangat.

“Uuh… Intanku, jangan terburu-buru dong, saying… uhh, goyangan pantat kamu buat saya gak tahan, uhh…” Pak Jarwo merintih.

“Abis suruh siapa punya kontol gede dan nikmat banget kayak punya Pak Jarwo, uhh… muachh!” Intan dengan manjanya melingkarkan tangannya ke belakang, memeluk leher Pak Jarwo dan mencium pipi kasar lelaki tua itu.

“Uuh, cium bibir saya dong, Pak Jarwoku saying. Saya udah gak tahan banget nih pengen ngeluarin peju Pak Jarwo pake gilingan memek saya, uhh!”

Pak Jarwo mengabulkan permintaan Intan untuk mencium bibirnya, dan ciuman tersebut berlangsung sangat panas sambil perlahan Intan menggoyang pantatnya pelan-pelan, membuat nafsu Pak Jarwo yang sempat turun menjadi perlahan naik kembali.

Tidak hanya Intan yang bergerak menaik-turunkan tubuhnya di atas penis Pak Jarwo, tetapi lelaki itu juga berusaha menusuk ke atas, membuat tubuh molek Intan bergoyang cukup keras. Desahannya pun semakin melengking hingga kadang sampai harus ditutup oleh mulut Pak Jarwo.

Tangan Pak Jarwo pun tidak tinggal diam, ia meremas dan memilintir dengan lembut puting tegang Intan, membuat sang empunya tidak tahan untuk tidak mendesah nikmat. Pak Jarwo juga terus-menerus merangsang Intan, tidak hanya dengan penis besarnya, tetapi juga dengan remasan di seluruh bagian tubuhnya. Pak Jarwo bertekad memberikan orgasme yang tidak akan pernah dilupakan oleh Intan seumur hidupnya.

“Terus, Pak Jarwo… uhh, teruskan… uhh, saya mau keluar nih, pejantanku sayang… uuhh! Aku gak tahan banget, uuh… kontol besar… uhh! Enaknya!!!”

“Enak kan, sayang? Uhh, kita keluar bareng-bareng yuk!! Uhh, enaknya ngentot sama mahasiswi berjilbab kayak kamu… uhh!!”

“Iya, ayo Pak Jarwoo… uhh… keluarin aja… uhh… saya juga mau keluar nih, uhh! Uhh… saya keluar, aaahhhh… aaahhhh… uuuhhhh!!”

“Iya, ini saya juga udah keluar, aaahhhh… aaaaahhhh… uuuhhhh… terus goyang, pelacurr!!”

Akhirnya mereka berdua melepaskan ejakulasinya masing-masing dan seketika itu juga semua suara terhenti, hanya terdengar suara shower yang masih mengucur deras, juga desahan napas yang terdengar berat, serta senyuman kecil di bibir mereka berdua, menandakan mereka telah mendapatkan kenikmatan yang benar-benar tidak pernah bisa mereka bayangkan sebelumnya.

Masih banyak cerita tentang Intan dan Pak Jarwo berikutnya, kisah mereka belum akan berhenti sampai disini..