Ketika Iblis Menguasai 7 :MURTIASIH

Derita Murtiasih di Tangan Ustadz Cabul

Dengan susah payah Murtiasih berusaha membuka kedua matanya. Pelupuknya terasa sangat berat bagaikan ada perekat yang memaksanya kembali memejamkan mata. Dia menggeleng-gelengkan kepala sambil berusaha mencari orientasi dimana dirinya berada sekarang. Kepalanya terasa agak pusing ketika disadarinya bahwa posisi badannya yang setengah duduk.

Murtiasih berusaha untuk duduk lebih tegak, namun tak berhasil karena ada tangan yang melingkar di pinggang langsingnya dan mendekapnya dari belakang. Murtiasih belum menyadari sepenuhnya apa yang telah dan sedang dia alami, tapi dilihatnya bahwa dirinya setengah duduk bukan di kursi melainkan di ranjang! Selain itu mulai disadarinya bahwa posisinya yang setengah duduk itu tetap bertahan karena dia tengah bersandar ke tubuh seorang lelaki yang sedang memeluknya dari arah belakang.

Bukan itu saja, kini tangan si lelaki mulai meraba dan meremas-remas kedua bukit mungil namun sintal padat di dadanya. Murtiasih menggelinjang kegelian, apalagi ketika dirasakannya hembusan nafas hangat dan kecupan lembut di belakang lehernya. Ciuman dan gigitan kecil menyusul di kuduknya, menjalar ke samping arah leher, kemudian menjilat di lubang telinganya. Tak salah lagi, inilah apa yang pernah, dan bahkan beberapa kali ia alami.

Inilah cara dan siasat dari gurunya, yaitu si ustadz Mamat, untuk merayunya, menjebaknya dan menjerumuskannya ke dalam pusaran samudra birahi. Selalu dirasakannya jeratan nafsu sang ustadz cabul yang menyebabkannya sering lupa akan derajatnya sebagai seorang siswi madrasah yang seharusnya sangat alim shalihah. Keinginannya melawan selalu terkalahkan oleh gelora nafsu syahwat yang melanda tubuhnya yang muda dan kini telah mengenal persetubuhan mahluk berlawanan jenis – dan semuanya itu adalah akibat ulah dan pengaruh gelap sang iblis.

Godaan itu kini terulang dan dialaminya kembali, Murtiasih mulai menyadari bahwa ustadz Mamat adalah yang sedang memeluknya dari belakang dan menjalari tubuhnya serta meremas-remas bergantian kedua buah dadanya, bahkan menyelinapkan jari di bawah kebayanya, memasuki BH warna merah jambu yang ia kenakan.

Ustadz Mamat agaknya sudah kehilangan semua akal sehatnya sejak ia berhasil merenggut dengan paksa kegadisan muridnya ini. Murtiasih adalah murid teladan, tak pernah datang terlambat, hampir tak pernah absen terkecuali sakit, sangat seksama mengikuti pelajaran, rajin mengulang dan patuh terhadap segala peraturan madrasah. Wajahnya sangat ayu, manis, imut dan lugu – tak banyak memakai tambahan perhiasan apapun, kulitnya putih bersih sehingga tidak membutuhkan bedak maupun tambahan lapisan kecantikan lain. Suaranya sangat lemah lembut dan merdu, kedua matanya jeli memancarkan sinar kejujuran, hidungnya mungil bangir dan mancung, dan bibirnya sempurna berwarna merah muda tanpa lipstik, sedikit merekah dan mengkilat seolah agak basah.

Berbeda dengan Rofikah dan Sumirah yang agak genit, maka Murtiasih justru amat polos hingga akhirnya dipilih oleh iblis untuk dijadikan korban nafsu ustadz Mamat. Pengalaman pertamanya dengan Murtiasih menyebabkan sang Ustadz hampir melupakan sama sekali statusnya sebagai suami dari istri yang sebetulnya tak kalah cantik bahenol yaitu Aida. Sementara Aida telah menjadi korban keganasan nafsu pak Sobri, maka ustadz Mamat berniat mengulang menggauli Murtiasih, dan saat ini tibalah kesempatan yang telah lama dinantikan untuk mengulang kemaksiatannya!

“Wah, lama juga tidurnya si neng geulis. Bapak jadi gemes ngeliatin neng tidur nyenyak begitu, hhm… nih susu makin sekel montok aja, bapak ntar lagi pengen nyusu boleh ya, neng?” ustadz Mamat langsung meremas kedua buah dada Murtiasih hingga menyebabkan murid alim cantik ini menggeliat kegelian.

“Udah, pak.. saya ada dimana? Saya mau pulang, pak.. Asih enggak mau disakitin, aaah… lepasin, pak! Toloong.. enggak mauu!!” suara Murtiasih memelas ketika menyadari bahwa peristiwa maksiat yang semula sangat dibencinya akan terulang kembali. Peristiwa yang mengubah dirinya dari siswi yang belum pernah mengalami jamahan lelaki menjadi korban permainan cabul.

“Siapa yang mau nyakitin Asih? Ini kan udah pernah Asih alamin, akhirnya malah jadi keenakan pengen terus, iya kan?” ustadz Mamat meneruskan cumbuannya dengan menghujani leher dan pundak Asih dengan kecupan hangat, menyebabkan mulai muncul bekas-bekas merah cupangan.

Selain itu ustadz Mamat juga menghembuskan nafas panasnya ke liang telinga gadis itu, bergantian kiri kanan hingga tentu saja membuat murid yang lugu dan naif ini semakin mendesah serta menggelinjang kegelian. Kedua tangan Asih yang berjari lentik halus berusaha melepaskan pelukan di pinggangnya, namun ustadz Mamat bukan tandingan untuk kekuatannya yang lemah. Bahkan dengan sekali hentak, tubuh Asih berputar dan kini berhadapan langsung dengan guru cabulnya itu, dan sebelum sempat memprotes maka ustadz Mamat telah merebahkan muridnya yang lugu itu ke ranjang lalu ditindihnya sehingga Murtiasih merasakan sukar bernafas.

Ustadz Mamat paham sekali bagaimana murid yang alim shalihah ini sedang mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan, bagaikan di persimpangan jalan : membelok ke kiri atau ke kanan. Akal sehat Asih menganjurkan supaya menolak semua godaan serta bujukan iblis dan berontak untuk kembali menuju ke jalan lurus sesuai moral dan akhlak yang selama ini dipelajarinya. Namun kenyataan yang terjadi beberapa waktu lalu menyebabkannya bimbang : selain disadarinya bahwa perlawanannya akan sia-sia karena tenaganya pasti kalah kuat, juga rasa kenikmatan badan yang pernah dialaminya telah membangunkan jutaan ujung syaraf di permukaan kulitnya menjadi hidup segar dan ketagihan.

Karena itu Murtiasih tak melakukan banyak perlawanan ketika ustadz Mamat mulai lagi mempreteli dan membuka satu persatu busana penutup tubuhnya. Suara protesnya pun terdengar hanya setengah hati, itu pun segera terbungkam oleh ciuman ustadz Mamat yang sangat rakus bernafsu melumat bibirnya yang mungil.

“Cupp.. cupp.. hhhm.. mmmh.. si neng mulutnya emang sedap buat diciumin! Uuhh.. sedapnya! Shhh.. cupp.. cupp..” Suara kecipak terdengar saat ciuman ganas ustadz Mamat yang kini menjulurkan lidahnya menerobos masuk ke rongga mulut Murtiasih. Semula muridnya ini berusaha menutup mencegah dorongan masuk lidah guru cabulnya, namun bagaikan ular python yang mendesis, ustadz Mamat menyelinap masuk sambil membasahi bibir Murtiasih dengan air liur kentalnya.

Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, tubuh Murtiasih sudah hampir bugil : baju kurungnya serta gamis yang dipakai telah bertebaran di ranjang, kini hanya jilbab yang tertinggal menutupi setengah rambutnya, demikian pula BH serta celana dalam kecil masih menutup auratnya. Ustadz Mamat telah yakin bahwa muridnya telah sepenuhnya berada dalam kekuasaannya, terbukti dari Murtiasih yang tidak bangun ataupun melarikan diri. Gadis itu juga tidak berteriak lagi, hanya kedua tangannya masih dengan malu-malu berusaha menutupi dada serta selangkangannya.

Ustadz Mamat tersenyum lebar dan bergegas melepaskan pakaiannya sendiri – kemeja, sarung plekat, lalu kaos dalamnya telah terlepas, kini dengan hanya memakai celana dalam ia kembali menindih tubuh mungil padat murid kesayangannya itu. Kembali tangannya meremas-remas gundukan bukit di dada Murtiasih serta diturunkannya BH berukuran 32 C itu sehingga terlihatlah dua gunung kembar yang sedemikian memukau setiap pandangan lelaki. Buah dada Murtiasih tidak sebesar milik Rofikah ataupun Sumirah, namun sangat putih mulus padat menantang.

Tak sanggup lagi mengusai diri, ustadz Mamat segera merentangkan kedua tangan muridnya ke atas kepala sehingga tampaklah ketiak Murtiasih yang licin dicukur. Kembali ustadz cabul ini dengan ganas menciumi bibir Murtiasih, dilumat dan disedot-sedotnya lidah mungil yang berusaha lepas ke kiri ke kanan itu, namun sia-sia saja. Liur ustadz Mamat berlimbahan dan bercampur dengan ludah sang siswi kesayangannya, dan campuran ludah itu kemudian dibawa oleh bibir ustadz Mamat ke arah leher Murtiasih yang nampak banyak bekas cupangan.

Kini diulanginya lagi cupangan dan gigitan gemas di leher jenjang itu sebelum turun ke pundak, ke bahu dan menyelinap ke bawah ketiak Murtiasih. Bukan bau asam dari ketiak yang menerpa hidung ustadz Mamat, melainkan aroma keringat gadis muda tercampur sedikit minyak wangi hingga menyebabkannya semakin bergairah.

“Aaiihh.. Asih mau diapain sih? Aaah.. geli, pak! Udah, aaih.. enggak mau! Ahhh.. geli.. enggak tahan! Aiihh..” Murtiasih menggelinjang sejadi-jadinya menahan rasa geli tak terkira ketika kedua ketiaknya yang mulus itu dikecupi guru madrasahnya.

Tak dapat diragukan bahwa selain leher jenjang Murtiasih, pasti ketiaknya juga akan penuh bekas cupangan dan bercak sedotan serta gigitan ganas sang ustadz yang sudah kerasukan iblis itu. Berikutnya adalah tebing gunung kembar Murtiasih yang sedemikian putih sehingga terlihat membayang pembuluh darah kapilernya yang menjadi sasaran sang ustadz, dan Murtiasih agaknya telah menikmati semua permainan tabu ini.

Jari-jari lentik Murtiasih merangkuh rambut gurunya yang kini dengan sangat gemas menghisap dan menyedot puting coklat kemerahan miliknya sehingga terasa semakin menegang dan ngilu tak terkira.

“Bageur teuing, uuih.. legit tenan nih tetek, padetnya enggak tahan euy! Banyak nyimpen susu ya, neng, kalo diperes kencengan dikit bisa keluar enggak? Cobain ya..” Dengan sadisnya ustadz Mamat meremas daging penghias dada Murtiasih dengan sangat kencang hingga menyebabkan sang murid meringis dan memekik sambil memohon agar permainan itu tak dilanjutkan secara begitu kasar.

“Aauw.. jangan keras-keras dong! Aaohhh.. aauww.. pak, ngilu! Pelan-pelan dong! Asih enggak mau disakitin, pak! Udah.. sakiit! Aaah..” Murtiasih kini berusaha menolak kepala sang ustadz yang masih nangkring bergantian di kedua payudara montoknya.

Tentu saja mana mau ustadz Mamat menghentikan kegiatan yang amat mengasyikkan itu, protes korbannya justru semakin meningkatkan nafsu birahinya. Setelah meninggalkan begitu banyaknya bercak merah di leher serta buah dada mangsanya, kini mulutnya mulai mengembara ke arah perut Murtiasih, lalu menyusur ke pinggang kiri kanan, mengecup menjilat-jilat disitu, sebelum kemudian kembali ke tengah untuk menjilat pusar. Semuanya menyebabkan gadis alim ini menggeliat-geliat bagaikan cacing kepanasan.

“Gelii.. lepasin.. udah, pak! Gelii.. aahhh.. lepasin Asih, pak!!” jerit Murtiasih sambil menggeliat dan berusaha menggeser tubuhnya ke kiri ke kanan, namun tetap ditindih oleh sang ustadz.

“Diem, Neng! Kan enak dijilatin begini, ampe keringetan gitu.. percuma ngelawan, neng, bentar lagi bapak nyampe kesini nih! Nah, mulai kelihatan tuh gunung tembemnya.. masih tetep gundul, cuma ada rumput jembut alus banget. Dicabutin mau enggak, neng?” ujar ustadz Mamat menggoda.

“Enggak mau! Udah, pak, udaah! Berhenti mainnya.. Asih mau pulang aja! Aaih.. geli, pak! Gelii.. ooh.. ampun!!” Murtiasih yang sangat polos dan lugu tak pernah membayangkan betapa malunya jika bulu kemaluannya dicabuti oleh ustadz Mamat. Padahal ucapan itu hanyalah sekedar untuk menambah sedikit ‘bumbu’ saja dalam perangsangan yang sedang dilakukan oleh ustadz durjana ini. Geliatan geli murid madrasah ini justru dipakai oleh ustadz Mamat untuk menarik celana dalam Murtiasih ke bawah sehingga kini siswi ABG itu telanjang bugil seutuhnya!

Betapa malunya Murtiasih saat itu, jantungnya sangat berdebar berdegup sangat cepat karena menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya. Jikalau cara berpikir sehatnya masih berfungsi penuh, maka seharusnya Murtiasih akan melawan dan balas mengancam gurunya untuk melaporkan kepada polisi dan setiap orang di desa kediamannya. Namun peristiwa pelecehannya beberapa waktu lalu telah memberikan kesan pengalaman lain terhadap tubuhnya yang masih muda belia. Tubuh seorang gadis meningkat remaja dengan hormon kewanitaan yang masih seolah tidur kini telah tergugah dan bangun serta menagih untuk kembali menguasai dan mengalahkan akal sehat serta rasa malu.

“Ck-ck-ck.. duh, ini badan montok amat! Putih halus lagi.. mana bisa ada yang tahan sama godaan kaya begini? Bapak beruntung banget bisa ketemu dan kenalan ama si neng, ngimpi juga enggak pernah ngebayangin bidadari kaya neng!” menggumam ustadz Mamat sambil mengawasi tubuh si anak baru gede, sementara air liurnya hampir keluar dan jakunnya naik turun.

“Udah ah, pak, kan udah pernah ngeliat badan Asih.. pulangin baju Asih dong, pak, dingin engga pake baju!” demikian protes Murtiasih sambil menarik selimut yang tergeletak di kaki ranjang.

“Ah, masa dingin sih, neng? Tuh badannya mengkilat keluar keringat.. tapi iya deh kalo kedinginan, sini bapak kelonin dan dibikin anget lagi! Hmm, bapak bakal mulai olahraga di ranjang manasin badan neng.. uuhhm..” Ciuman ustadz Mamat kembali menghujani permukaan tubuh Murtiasih, terutama di bagian-bagian vitalnya, berpusat di pusar dan menurun ke bawah.

“Mau ngapain sih, pak? Udah ah.. oohh, pak!” Kembali Murtiasih dilanda rasa geli serta malu karena gurunya mengendus-endus perut bawahnya bagaikan seekor anjing mencari makanan.

Selain mengendus dan mencium perut datar muridnya, ustadz Mamat juga merenggangkan belahan paha Murtiasih sambil meraba dan mengelus betis serta bagian dalam pahanya yang amat putih mulus. Kumis ustadz Mamat yang menghiasi bagian atas bibirnya terasa menggelitik kulit perut Murtiasih, demikian pula jenggotnya yang bagaikan kambing gunung karena telah beberapa minggu tak dicukur, menyapu-nyapu di bawah pusar dan semakin mendekati bukit Venus dengan belahan lembah terhias bulu halus sangat rapih milik Murtiasih.

“Hhmh.. geli enak ya, neng, diciumin kayak gini? Sshhh.. keringat si neng aja wangi, apalagi air itunya! Aaah.. bapak jadi kangen lagi, bapak mau kesitu lagi ah.. kita maen sama-sama ya, neng? Sini bapak ajarin,” ustadz Mamat kembali merubah posisi badannya dengan membalikkan diri menyamping sambil mendekatkan penisnya ke arah wajah Murtiasih. Rupanya ustadz Mamat menginginkan agar Murtiasih juga memanjakan si otongnya sekaligus ia akan melakukan perantauan di bukit kemaluan si siswi ABG yang memiliki celah surgawi di bagian tengahnya itu.

Mula-mula Murtiasih melengoskan kepalanya ke samping dengan pipi merah merona karena malu melihat kejantanan gurunya yang mengangguk-angguk meminta pelayanan itu. Karena itu ustadz Mamat mengambil lagi inisiatif dengan harapan bahwa kalau diberikan bimbingan dan contoh, maka sang murid yang lugu namun telah terbangun instingnya sebagai wanita dewasa ini bersedia mengikuti jejak perbuatan terlarang antara dua manusia berbeda jauh usia dan kedudukan itu.

“Nih, bapak mulai dengan mencari air madu yang tersembunyi di lembah.. si neng juga mulai kulum juga tuh pisang ambon bapak. Si neng pasti doyan dan sering makan pisang kan? Ini pisang spesial, neng, jangan malu-malu. Enggak ada yang lihat. Ayo mulai dikulum.. bapak mulai disini, cupp.. sssh..” ustadz Mamat mengendus, menciumi dan menjilati tebing lembah yang tertutup rambut halus itu.

Murtiasih merasa sangat malu dan berusaha merapatkan kedua pahanya, namun sia-sia saja karena tenaga tangan ustadz Mamat lebih kuat. Laki-laki itu kini memaksanya untuk mengangkang semaksimal mungkin.

Tak tahan melihat betapa indahnya belahan memek Murtiasih, maka lidah ustadz durjana itu mulai menjarah menerobos masuk. Pertama pinggiran bibir kemaluan Murtiasih yang merekah bagaikan bunga ia kecupi sebelum lidah panas dan kasap itu menyelinap menjilati dinding vagina Murtiasih yang kemerahan.

Rasa geli terasa oleh Murtiasih ketika lidah sang guru menjalar di bagian intimnya disertai desis ustadz Mamat yang bagaikan ular mencari mangsanya. Kegelian itu mulai membangunkan hasrat Murtiasih untuk juga melakukan perbuatan yang setimpal, seolah ingin menjawab atau bahkan membalas ulah gurunya itu.

Tangan mungil Murtiasih yang sementara masih agak ragu menyentuh kemaluan sang guru, namun gerakan anggukan yang dirasakannya menimbulkan rasa ingin tahu, maka direngkuhnya dengan jari lentiknya penis ustadz Mamat. Sejenak terbersit keraguan untuk meneruskan, namun kalah oleh bujukan sang iblis durjana di telinganya.

Sementara itu, Ustadz Mamat semakin meningkatkan aksinya dengan menyapu dan menjilat dinding serta bibir kemaluan Murtiasih. Ia memancing dan merangsang keluarnya lendir pemulas yang akan dihirupnya sampai habis tak bersisa!

“Wuih.. mulai enak kerangsang ya, neng? Basah lengket amat nih memek.. wah, tuh sampe keluar madunya! Iyah, gitu.. pinter si neng! Iyah, diremes gitu barang bapak.. pegang yang keras, neng! Iyah, sip banget! Oooh.. sepongin ya, neng, tapi jangan digigit, aaah..” ujar ustadz Mamat keenakan ketika merasakan jari-jari tangan Murtiasih menggenggam batang penisnya.

Bagaikan terkena sihir, Murtiasih mengawasi kejantanan dalam genggamannya itu. tak berkedip ia memperhatikan betapa tegar dan kerasnya kepala jamur yang beberapa waktu lalu pernah menembus kegadisannya. Dengan agak gemetar Murtiasih menatap kepala penis disunat berbentuk jamur warna coklat kehitaman milik ustadz Mamat yang dihiasi celah sempit di tengahnya, agak terbuka mirip mulut ikan. Ragu Murtiasih menyentuhnya dengan ujung lidah.

“Aiih.. iyah gitu, neng! Oooh.. aduh, pinternya nih murid bapak! Juara luar biasa, benar-benar bakat alam! Jilatin ya, neng? Nih bapak kasih hadiah lagi, sluurp.. cupp.. aaah.. ssshh..” ustadz Mamat semakin menggila menjilati dan menggelitik liang kegadisan Murtiasih.

Kedua manusia yang seharusnya mematuhi perbedaan derajat mereka di masyarakat itu sudah sepenuhnya menjadi budak iblis. Mereka melupakan segalanya, bergumul dan bergulat, berpagutan dalam posisi 69. Ustadz Mamat dengan rakus menjarah memek Murtiasih, menghirup air madu dinding vagina, sedangkan Murtiasih tak kalah serunya mengulum, menyepong, menghisap penis gurunya. Suara tertawa kegelian tercampur cekikikan genit mengiringi jilatan ujung lidah yang memasuki belahan liang kencing sang guru, sementara ustadz Mamat dengan tak sabar mencari kelentit muridnya.

“Uuuh.. ngumpet dimana tuh daging itil? Jangan nakal ya pake ngumpet segala.. awas ntar ketemu, digewel digigit ama bapak! Oooh.. neng makin jago nyepongnya! Iyah, sekalian pijit-pijit biji pelernya, neng. Wiuuh, enak tenan! Enggak tahan lagi bapak hampir nyampe!!” ceracau ustadz Mamat tak karuan sambil memaju-mundurkan pinggulnya, menyebabkan Murtiasih terkadang tersedak karena kepala penis yang semakin dalam masuk menyentuh langit-langit mulutnya.

“Uuegkk.. ueegk.. pelan-pelan dong, pak! Sssh.. shhh.. sslurrp!!” Murtiasih berusaha sejauh mungkin mengimbangi kegiatan tak senonoh gurunya. Jari-jari langsing yang biasa memegang alat tulis kini menggenggam batang pentungan daging ustadz Mamat, dan mulai menggerakkannya naik-turun, mengocok-ngocok, sementara lidahnya menjilat-jilat menimbulkan bunyi berkecipak.

“Ahh.. akhirnya ketemu juga daging yang dicari, mmhh.. bapak gigit-gigit ya, neng? Uummh.. lalu jilat.. gigit lagi.. sssh.. enak kan, neng?” bibir dower ustadz Mamat menjepit gemas kelentit Asih.

Jepitan bibir itu ibarat jutaan watt listrik yang menyetrum tubuh elok Murtiasih sehingga ia pun mengejang dan melengkung, jari-jarinya menggenggam kuat-kuat penis ustadz Mamat sambil disedot dan dihisapnya rakus. Perlakuan Murtiasih di penisnya itu membuat guru cabul itu pun meledak menyemburkan pejuhnya!

“Duuhh… shhh.. aaah.. enak tenan, neng! Enggak nyangka gitu pinternya si eneng, oooh.. bapak nyemprot! Aahh.. isep, minum semua ya, neng?!” ustadz Mamat menggeram sambil memeluk pinggul muridnya yang kecil tapi padat bahenol itu.

Sekuat tenaga ditahannya liuk-liukan, goyangan dan hentakan orgasme Murtiasih, ditekannya mulut serta hidungnya di bukit kemaluan gadis itu yang telah basah kuyup oleh air mazi, sebelum kemudian dikecup dihisapnya kelentit Murtiasih yang sedemikian peka hingga membuat si gadis berusaha mati-matian menelan lahar gurunya itu.

Setelah beberapa menit mengalami orgasme secara bersama-sama, akhirnya ustadz Mamat mengubah kembali posisi tubuhnya. Dengan merebahkan diri di samping muridnya, ditatapnya wajah Murtiasih yang telah berubah dari siswi alim shalihah menjadi wanita muda dengan di sudut mulut setengah terbuka mengalir sisa-sisa air mani. Betapa ayu cantik wajah muridnya itu yang merah merona akibat pergulatan dan orgasme yang baru dialami, hidung nan bangir mancung masih berkembang kempis, bukit di dada Murtiasih dengan puting menggemaskan masih turun-naik seirama tarikan napasnya yang memburu.

Ustadz Mamat mengecup bibir yang setengah terbuka itu, tercium aroma spermanya sendiri tercampur ludah Murtiasih yang harum – yang mana itu kembali membangkitkan nafsu birahinya dengan sangat cepat. Kemaluannya mulai dirasakannya menegang, biji pelirnya dirasakan kembali memberat, dan dari belahan di ujung kepala si ‘Ujang’ yang masih mengkilat mengangguk-angguk itu terlihat tetesan air mazinya.

“Hehehe.. lemes nikmat ya, neng? Ini belum apa-apa, sekarang bapak mau nerusin senam ranjang ama neng!” Seringai mesum ustadz Mamat kembali menghiasi wajahnya, sedangkan jari-jarinya telah mulai menjalar kembali mengusap-usap buah dada Murtiasih, juga meraba paha serta selangkangannya.

“Udah dong, pak! Asih udah capek nih.. iya enak, tapi Asih jadi lemes! Ntar susah bangun.. udahan ah, pak, lain kali aja nerusin maennya!!” jawab Murtiasih sambil berusaha mencegah keinginannya sendiri.

“Ahh.. masa udah berhenti, kan kita baru mulai maen? Enggak enak dong macet di tengah jalan.. kalo diterusin pasti makin sip. Sini bapak ajarin lagi,” sahut ustadz Mamat sambil menggesot dan kini menindih kembali tubuh muridnya yang masih penuh keringat.

Murtiasih hanya dapat mengeluh lemah agak susah bernafas ketika tubuhnya kembali ditindih di guru cabul, kedua lengannya direntangkan terbuka ke samping dan dirasakannya kembali ciuman dan cupangan ganas di kulit ketiaknya. Rasa geli menyebabkannya menggeliat kesana-sini sambil mendesah lirih.

“Geli, pak.. jangan digelitikin lagi! Aah.. gelii, udah dong! Asih capek.. aaiih.. udah, pak, Asih lemes.. Lepasin, emmpffhh!!” Teredam protes Murtiasih ketika mulutnya dibekap oleh bibir ustadz Mamat.

Kedua lutut pemimpin madrasah itu menekan lutut Murtiasih sehingga terpentang lebar, kejantanannya yang telah mengeras kembali segera menggesek-gesek di selangkangan yang masih basah oleh lendir kewanitaan itu, mencari kesempitan licin di kesempatan sempit. Karena tak langsung menemukan jalan masuk ke dalam liang yang dicarinya, maka ustadz Mamat menggelusur ke bawah tanpa mempedulikan rengekan Murtiasih, lalu berlutut diantara belahan paha muridnya.

Dikaitkannya lutut Murtiasih di atas bahunya sehingga vagina mungil berambut halus itu jadi sedikit terbuka, menampakkan dindingnya yang merah mengkilat. Dengan memajukan dan membungkukkan diri ke depan, maka ustadz Mamat yang masih berlutut berhasil menekuk tubuh Murtiasih sejauh mungkin sehingga paha mulusnya hampir menyentuh puting buah dadanya.

Dalam posisi seperti ini maka siaplah dosen yang telah dirasuki iblis itu untuk melakukan persetubuhan terlarang dengan muris asuhannya. Kepala penisnya yang tegang bagai pentungan kini menyelinap diantara bibir memek Murtiasih, menggesek-gesek seolah menggoda sebelum masuk. Murtiasih menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri-kanan bagaikan tak setuju dengan tindakan sang ustadz, namun celah diantara lembah Venus-nya telah terasa panas, geli, dan sedikit gatal seolah meminta untuk digaruk.

“Aduh.. pelan-pelan dong, pak! Nyeri.. ohh.. sakit!! Aah.. aihh.. cabut lagi, pak! Tolong.. ampun.. sakit! Udah, pak!” Murtiasih membuka matanya yang kuyu berlinang menatap sang pejantan ketika dirasakan bagian intimnya dibelah oleh daging rudal besar.

“Iya, bapak kan sayang Asih.. nih maennya udah pelan begini, masa iya sih masih sakit? Bapak masukin lagi sedikit.. ini pasti gara-gara memeknya si neng yang emang kekecilan, jadinya sakit begini. Tapi enggak apa-apa, pasti muat kok! Dijamin puas.. uuh, sempitnya! Bapak mesti kerja keras lagi nih,” celoteh ustadz Mamat tanpa memperdulikan rengekan gadis yang ditindihnya sambil mendorong batangnya kembali.

Kini kedua tangan ustadz Mamat merangkuh dari arah kiri kanan lutut Murtiasih yang tergantung di bahu, jari-jarinya ikut membantu merentangkan bibir kemaluan Murtiasih ke samping sehingga tampaklah biji klitoris yang sebelumnya terselip tersembunyi di lipatan bibir bagian atas. Tonjolan daging yang mulai memerah itu kini dijadikan sasaran telunjuk dan ibu jari kasar ustadz Mamat.

“Aaih.. gelii.. ngilu.. auw! Tolong, pak, jangan dipelintir lagi itunya.. Asih enggak tahan! Geli.. udah, pak! Sshh.. oohh..” Murtiasih menggelinjang meronta-ronta karena memang klitorisnya masih sangat peka akibat ulah jilatan ustadz Mamat yang menyebabkan ia klimaks tadi. Kini bagian tubuh terpeka itu kembali dijadikan bulan-bulanan usapan jari tangan yang membuatnya menceracau mendesis tak karuan.

“Iya, betul begitu, neng! Enak tenan.. ayo goyang-goyang pantatnya, neng! Oohh.. nih memek mulai ngedut-ngedut mijit-mijit! Uuh, siapa tahan ngadepin godaan kayak begini? Cakep banget si eneng kalau meringis-ringis gitu.. kita bikin anak yang cakep mau enggak, neng?” ustadz Mamat semakin lupa daratan dan mulai menggenjot dengan meningkatkan gerakan maju-mundurnya.

“Jangan, pak! Jangan.. Asih enggak mau hamil! Jangan! Buang di luar, pak! Ooh.. kasihani Asih, pak. Asih enggak mau hamil.. hiks-hiks-hiks,” Murtiasih menangis terisak sejadi-jadinya, mengingat memang saat ini ada kemungkinan dirinya di tengah masa subur.

Pada saat itu muncullah kembali iblis di samping telinga ustadz Mamat sambil membisikkan sesuatu, selain itu digunakannya kemampuan mempengaruhi panca indera ustadz murtad itu, dan memang betul : wajah Murtiasih berubah selang-seling menjadi wajah istrinya sendiri : Aida!

Agak terkejut ustadz Mamat melihat pergantian gonta-ganti wajah wanita yang sedang digarapnya akibat pengaruh iblis, namun ia melihat bahwa wajah Aida pun sebenarnya memang cantik juga.

Hanya bedanya wajah Aida seolah sedang mengejeknya dan menanyakan apakah sampai disitu saja kemampuannya sebagai seorang suami yang sedang menyetubuhi istrinya. Seolah-olah Aida menanyakan bahwa dia sama sekali tidak merasakan adanya kemaluan sedang memasuki alat kelaminnya.

Bagaimana pun usaha ustadz Mamat mempercepat dan menusuk sedalam-dalamnya, namun wajah Aida seolah tak mau menghilang dengan senyum ejekannya, membuat ustadz Mamat jadi semakin gusar dan menghunjamkan alat kejantanannya sejadi-jadinya. Telinganya seolah hanya mendengar ejekan-ejekan Aida yang mencelanya sebagai suami tak mampu memuaskan istrinya sendiri – padahal yang sebenarnya adalah, kamar itu telah dipenuhi oleh jeritan dan rintihan sakit Murtiasih yang tak berdaya diperkosa habis-habisan oleh gurunya sendiri!

Kini sang iblis menunjukkan kembali kemampuannya mempengaruhi manusia lemah seperti ustadz Mamat, dibisikkannya sesuatu di telinga ustadz itu, sesuatu yang memang selama ini tak pernah dilakukannya terhadap istrinya sendiri yaitu Aida. Sesuatu yang pernah muncul di benak ustadz dan dikemukakannya ketika sedang intim dengan istrinya, namun hal ini dianggap tabu oleh Aida dan ditolaknya mentah-mentah. Sang iblis tahu soal ini dan membujuk ustadz cabul untuk melakukannya sekarang.

“Ayo, kapan lagi? Ini kesempatanmu, jangan biarkan istrimu mengejek dan menghinamu sebagai suami yang tak mampu memuaskannya! Ayo hukumlah istrimu supaya ia tahu kamu yang lebih berkuasa!”

Ustadz Mamat tahu apa yang selama ini ditolak mentah-mentah oleh Aida. “Hhm.. memang sudah waktunya aku renggut kegadisanmu yang kedua. Rasakan betapa sakitnya, itulah hukuman yang harus kamu derita karena mengejek dan menghinaku selama persetubuhan ini!”

Demikianlah tekad ustadz Mamat yang mempersiapkan rudal dagingnya memasuki lubang terlarang di celah pantat. Semuanya adalah siasat dan tindakan iblis, sehingga ustadz Mamat tak menyadari bahwa korbannya bukan sang istri sendiri, melainkan murid kesayangannya yang sedang digarapnya kesekian kali.

Tentu saja ustadz Mamat tak mengetahui bahwa istrinya Aida selama ini pun telah menjadi korban pelecehan pak Sobri dan konco-konconya, bahkan apa yang selama ini dipertahankannya terhadap keinginan suaminya telah direnggut paksa olek pak Sobri. (baca kisah Aida sebelumnya).

Dengan tetap menatap wajah cantik dihadapannya yang seolah-olah terus mengejek-mencemooh, tanpa ragu lagi ustadz Mamat mencabut penisnya yang gagah perkasa dari vagina korbannya, dan meludahinya beberapa kali meskipun telah sangat licin oleh air lendir vagina Murtiasih. Ia juga meludahi lubang kecil kemerahan yang berkerut-berkedut membuka menutup bagaikan sekuntum bunga di bokong Murtiasih.

Murtiasih menarik nafas lega karena penis ustadz Mamat yang menghunjam menyakitinya tiada henti mendadak ditarik keluar, ia merasa sangat bersyukur bahwa gurunya mau mendengarkan permohonannya agar tak menghamilinya. Tak diduganya sama sekali bahwa iblis ternyata menuntun guru durjana itu melakukan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Kecurigaan Murtiasih baru muncul ketika dirasakannya kepala penis yang beberapa detik lalu menghunjam rahimnya, kini mulai menyentuh lubang duburnya. Langsung saja otot-otot lingkar yang amat kuat berkontraksi untuk mencegah benda asing itu menembus masuk, dan kuku-kuku Murtiasih mencakar dada ustadz Mamat.

Namun ustadz Mamat betul-betul sudah kesetanan, tenaganya bagaikan berlipat ganda, demikian pula alat kejantanannya yang semakin kaku membesar siap menggempur menembus otot-otot anus.

“Aah.. auww! S-sakit, pak! Tolong.. perih.. jangan diterusin! Kumohon, lepaskan.. ampun.. jangan masuk disitu.. sakiit!!” lolong Murtiasih yang jeritannya memenuhi kamar tidur, dan pada saat itu barulah ustadz Mamat tersadar. Tapi sang iblis segera menunjukkan muslihatnya dan membisikkan ke telinga Mamat bahwa tindakan itu tak akan menyebabkan Murtiasih hamil, sehingga semua perbuatan maksiatnya tak akan berbenih.

Bagaikan mengalami hipnotis, ustadz Mamat berhenti sebentar dengan perbuatannya, kepala penis kebanggaannya baru saja menembus gerbang anus Murtiasih, dilihatnya Murtiasih mencakari dadanya sambil menangis terisak-isak kesakitan, air matanya membasahi pipinya yang halus.

Apa yang sudah terjadi tak mungkin dibatalkan. Sudah kepalang basah, lebih baik mandi sekalian. Dan memang betul juga, jika aku tak membanjiri rahim muridku maka ia tak akan hamil, pikir si ustadz.

Maka segera dicekalnya kedua pergelangan tangan Murtiasih yang sedang mencakari dadanya penuh rasa putus asa, lalu ditekannya di samping wajah ayu gadis itu sambil berbisik, “Tahan sedikit, neng. Ini supaya neng tidak hamil. Mulanya memang akan terasa ngilu dan sakit, tapi selanjutnya akan hilang. Bapak janji bakal pelan-pelan maennya. Percayalah, bapak sayang sama Asih. Jangan dilawan ya, neng, ntar malah tambah sakit. Rileks supaya bapak bisa masuk,”

Sambil berusaha menghibur, ustadz Mamat menekan semakin dalam, tambah dalam, dan akhirnya… “Aduuh.. auw! Pelan-pelan, pak.. tetep sakit! Asih enggak kuat, ooh.. Asih enggak tahan, sakit sekali.. bapak jahat! Sadis amat sama Asih,”

Murtiasih merasakan anusnya perih dan panas bagaikan disayat dan dibelah oleh kayu menyala. Perlahan-lahan jeritannya semakin melemah dan berubah menjadi desahan dan rintihan memilukan. Ustadz Mamat kini mulai bergerak keluar-masuk di anus muridnya yang terasa begitu sempit, dan karena dilihatnya Murtiasih sudah sedemikian lemah dan pasrah tak sanggup melawan, maka nadi yang dicekalnya kini ia lepaskan.

Telunjuk dan ibu jari ustadz Mamat ganti menyelinap kembali diantara bibir kemaluan muridnya, pelan ia mengusap dan memilin-milin kelentit Murtiasih, menyebabkan sensasi baru menerpa tubuh gadis muda yang hanya sanggup menghentak-hentak lemah dan memukul-mukulkan tumitnya dengan sia-sia di punggung ustadz Mamat.

“Iyah gitu, pinter banget! Rileks ya, neng.. nih bapak bantuin supaya lebih enak! Bagus amat kelentitnya, neng, bapak geregetan jadinya. Diusap-usap supaya lebih mantap ya, neng?” Demikianlah suara dosen cabul itu terdengar sayup-sayup di telinga Murtiasih.

Tubuhnya yang telanjang bulat penuh keringat kini bergetar akibat menahan gelombang sensasi yang begitu menyiksa, geli nikmat tak tertahan karena klitorisnya terus-menerus dirangsang, bercampur dengan ngilu-perih-sakit di anus yang baru saja ditembus beberapa menit lalu. Semuanya terlalu banyak untuk dapat ditahan oleh tubuh Murtiasih, hingga akibatnya jutaan bintang meledak di ujung syaraf serta di hadapan mata gadis alim salihah itu. Jutaan volt tegangan listrik juga menyerang dan menyebabkan jeritan orgasme terakhir keluar dari mulutnya. Otot-otot lingkar di anus Murtiasih menegang dan meremas penis ustadz Mamat yang tengah menyiksanya sehingga sang ustadz pun tak sanggup lagi menahan gelora lahar biji pelirnya!

“Aaah.. bapak moncrot nih! Duh nikmatnya.. iya, pijit terus kontol bapak, neng! Oooh.. pinternya nih murid. Dikawinin jadi istri muda bapak, mau neng?” ustadz Mamat menyemburkan spermanya secara bergelombang ke dalam anus Murtiasih sebelum akhirnya kedua insan yang berbeda usia dan kedudukan di masyarakat itu ambruk berpelukan.

Di bawah selimut keduanya tidur menyamping berpagutan. Ustadz Mamat memeluk tubuh siswi muridnya yang mungil langsing membelakanginya. Dirasakannya getaran lemah Murtiasih yang rupanya masih menangis terisak-isak. Saat ini pengaruh iblis agak berkurang dan ada perasaan sedikit menyesal pada diri ustadz Mamat karena menyadari telah melakukan perbuatan yang tak senonoh – merenggut keperawanan Murtiasih yang kedua dan itu pasti lebih sakit daripada yang pertama.

Ustadz Mamat mengelus menciumi pundak dan punggung Murtiasih dengan lembut, dibelainya penuh rasa sayang, berbeda dengan kelakukannya beberapa menit lalu. Dengan suara berbisik ia menyatakan bahwa tak ada maksudnya sama sekali untuk menyakiti muridnya itu. Perlahan-lahan Murtiasih yang memang berbudi sangat halus itu membalikkan tubuhnya dan dengan berlinangan air mata ia menatap gurunya. Keduanya bagaikan sadar dan kembali ke dalam dunia nyat.

Namun semua telah terjadi, nasi telah menjadi bubur. Murtiasih kini telah mengenal dunia terlarang dan dirinya telah ternoda, namun di samping itu ia telah mengalami transformasi menjadi dewasa.

Ia dapat memilih untuk melaporkan semuanya kepada pihak berwajib dan konsekuensinya adalah publikasi di koran serta majalah yang mencari sensasi. Bukan saja namanya sendiri tercemar tapi juga nama keluarga serta madrasah yang baru saja dibuka. Jalan lain yang dapat ditempuh adalah menjadikan semuanya menjadi resmi : ia dapat mengancam gurunya untuk menjadikannya sebagai istri kedua setelah Aida, namun apakah Aida akan mau menerima dirinya dimadu? Adakah jalan yang lebih baik bagi keduanya?

Tanpa disadari oleh ustadz Mamat, akibat pengaruh iblis telah membangunkan naluri hewaniah wanita muda dewasa di pori-pori kulit dan ujung-ujung syaraf Murtiasih. Dunia baru penuh dengan campuran sakit namun nikmat tak terkira telah dicipi oleh Murtiasih – dan itu diawal mula menimbulkan penyesalan, namun di balik itu juga ada keinginan untuk mengalami kembali. Apakah tak ada jalan keluar yang terbaik untuk kedua insan itu?

Satu jam kemudian, Murtiasih, Rofikah, Sumirah, ustadz Mamat serta pak Jamal, pulang kembali ke asrama madrasah mereka. Sementara pak Fikri tetap bermalam di rumahnya yang terpencil dan menjadi saksi bisu dari semua perbuatan maksiat yang baru saja mereka lakukan.

TAMAT EPISODE MURTIASIH & USTADZ MAMAT

One thought on “Ketika Iblis Menguasai 7 :MURTIASIH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s