BU ANDI

irnawati (21)

Banyak orang memanggil namaku Egiek, nama kesayangan yang diberikan keluargaku. Setelah menyelesaikan SMA di kota T, saya masuk kuliah dan tamat S1 di kota B ini, sebuah kota besar yang memancarkan kesibukannya setiap hari, yang mendorong kesibukan bagi warganya. Studi lanjut S2 di Jakarta saya selesaikan selama 2 tahun, kemudian kembali di kota B bekerja dan menetap di kota ini pula.

irnawati

Malam itu sekitar jam delapan, saya bergegas menuju stasiun kereta api menjemput mama yang bersama dengan seorang temannya dari kota T. Setelah salam hormat cium tangan dan pelukan sama mama, sayapun memberi salam kepada temannya yang memperkenalkan diri, namanya Andi, kemudian kami bertiga masuk mobil. Saya menyetir, mama duduk di sebelah saya, sementara temannya di jok belakang.

“Tadi mama mau naik taksi saja, katanya kamu fitness Giek” kata mama memecah kesunyian

“Ya Ma, tadi fitnesnya Egiek ajukan Ma, supaya bisa jemput mama”

“Ini Bu Andi, bosnya mama” kata mama memperkenalkan

“Boss apaan Bu…?” sahut Bu Andi merendah, menyanggah ucapan mama.

“Yang mama ceritakan tempo hari, Bu Andi mau masuk S2, di kota B ini, nanti kamu bantu ya…”

“Ya Ma, siap Ibu…” kataku penuh hormat.

“Terima kasih…Giek” sahutnya dari belakang.

irnawati (1)

Lamunanku melayang ke waktu sekitar satu tahun yang lalu. Sebenarnya saya sudah tahu dengan bu Andi ini, ketika itu saya mengantar mama pada acara perkenalannya sebagai pejabat baru di kantor tempat mama bekerja, kebetulan waktu itu saya pulang ke kota T. Dalam acara perkenalan itu dia duduk di kursi deretan terdepan, beserta dengan bos lainnya, saya bersama mama di kursi lain. Hanya dalam hati saya, perempuan ini berparas elok, kulitnya putih bersih ditunjang dengan tinggi badan, kira-kira 165 cm. Nampak anggun malam itu, memakai kebaya, berjilbab dan seleyer yang disampirkan pada bahu sebelahnya. Nama Andi, semula saya kira nama suaminya, ternyata memang namanya aslinya ‘Andi’. Pembawaannya kurang banyak bicara, hingga kesannya seolah sombong, tapi sebenarnya tidak sombong-sombong amat kalau sudah kenal.

Pesan mama, saya harus membantu kebutuhannya selama dia studi di kota B ini, tidak hanya saat pendaftaran ini saja, tetapi kalau perlu kebutuhan studi lainnya termasuk mencarikan kost-kosan dan sebagainya dan saya tidak keberatan. Saya mencoba memenuhi pesan mama dan mengatur antara tugas pekerjaan saya dengan membantu bu Andi. Keesokan harinya, hari Sabtu seperti biasanya saya libur, sesuai jadwal yang telah ditentukan saya antar bu Andi ke kampus untuk proses pendaftaran, kemudian mereka berdua saya ajak jalan-jalan keliling kota.

Pada waktu seleksi masukpun masih diantar mama, seperti saat pendaftaran dulu. Mama bercerita, suaminya tidak sempat mengantar, lagi pula sakit-sakitan, sehingga merasa repot untuk bepergian jarak jauh. Dia mengambil kuliah weekend, Sabtu dan Minggu. Biasanya tiba di kota B Jumat malam, Sabtu-Minggu pagi hingga sore masuk kuliah dan Senin pagi baru pulang dengan kereta atau travel.

irnawati (2)

Karena sering bertemu dalam membantu kebutuhan studinya, lama-kelamaan kami menjadi dekat, enak juga diajak ngobrol dan diskusi. Mungkin karena merasa lebih tua, saya kadang dinasehati. Usianya 35 tahun, sedangkan saya baru 26 tahun, jadi seperti kakak jauh atau tante begitu. Saya sering berkunjung ke kostnya, ngobrol atau sekedar makan malam bersama. Terus terang saya mulai tertarik dengan sikapnya yang tenang, tapi cerdas yang menambah point kecantikannya. Dan saya menghormatinya, saya berinisiatif, ketika turun dari mobil saya sering membukakan pintunya, walau dia tidak mau diperlakukan demikian. Lambat laun ingin rasanya dalam hati untuk berhubungan lebih dekat lagi, misalnya mencium pipinya yang ranum itu dan ingin selalu berdekatan.

Di suatu Jumat siang saya di telepon bu Andi, dia minta untuk dijemput di stasiun pukul 17.00. Tidak seperti biasanya yang langsung ke tempat kost.

“Aku mau pinjam printermu untuk selesaikan tugas. Besok dikumpulkan” katanya dari seberang.

“Ya Bu, bisa…” jawabku

irnawati (4)

Sorenya cuaca hujan, dari kantor saya langsung ke stasiun menjemputnya. Beberapa menit kemudian kulihat dia muncul dari peron, memakai celana hitam dan blouse warna putih lengan panjang dan kerudung biru muda, menenteng tas dan mengembangkan senyum khasnya. Aku langsung bergegas menghampirinya meminta tasnya, kami berdua berpayung menuju tempat parkir. Saya senang sekali bisa berdekatan, karena satu payung sampai mepet, hingga bau harum tubuhnya sampai di hidungku. Tapi ada perasaan aneh, dadaku tiba-tiba bergetar, ingin rasanya memeluk sosok perempuan cantik ini, tapi saya tidak berani. Sebelum sampai di rumah kami berdua makan bersama, namun tidak lama-lama seperti biasanya, karena terburu dengan menyelesaikan tugasnya. Dia harus selesaikan tugas malam ini di rumahku, karena di tempat kostnya tidak ada printer.

Sampai di rumah, saya langsung menyiapkan untuk mengerjakan tugasnya, saya membantu mengedit, melengkapi referensi dan data, sementara bu Andi saya persilakan mandi dulu. Bagi saya, pekerjaan ini bukanlah pekerjaan berat karena sayapun pernah mendapat tugas perkuliahan semacam ini. Keluar dari kamar mandi dia memakai jilbab putih, kaos ketat warna putih bergambar dan celana panjang warna hitama. Berjalan menuju meja mengentry data yang belum sempat dibuat. Cantik memang, apapun yang dikenakan perempuan ini pantas dan tampak indah.

Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam lebih, saya berfikir; dalam rumah ini hanya ada saya lelaki dewasa dan bu Andi, perempuan cantik dan bukan muhrim. Kalau ada orang yang tahu tentu akan berpikir bahwa ada sesuatu yang terjadi. Saya memang mempunyai hasrat untuk memeluk atau mencium. Tapi suatu hal yang tidak mudah aku lakukan, bagai ada ‘tembok’ yang menghalangiku untuk berbuat seperti itu. Tembok itu adalah kedudukan bu Andi sebagai atasan mamaku dan saya harus menghormatinya. Mungkin aku bisa ‘melompat tembok’ itu dengan cara memaksa mencium atau memeluknya, tapi aku masih sadar; dia bisa marah dan akibatnya fatal. Tidak hanya pada diri saya saja, hubungan menjadi putus berantakan, tetapi juga bisa marah kepada mamaku sebagai anak buahnya. Dan ini tidak baik hanya pada diri saya saja, tetapi juga pada karier mamaku.

irnawati (5)

Lamunanku menjadi buyar, ketika perempuan bertahilalat di pipi ini berkata:

“Peralatan jilidmu lengkap juga ya Giek, bisa buka percetakan nih….kalau pensiun.” selorohnya ketika tahu tugasnya sudah terjilid.

“He…he… dulu ini juga untuk bikin tugas-tugas begini, Bu” kataku sambil membersihkan ruangan dan beranjak ke kamar mandi.

Dalam kamar mandi pikiran itu masih menggelanyut di kepalaku, bahkan ketika aku mulai melepas pakaian, tanpa sebab yang jelas tititku tegang dan membesar, aku tersenyum sendiri. “Ngapain lu..” pikirku. Ini dia, efek dari pikiranku yang tertuju pada sosok perempuan cantik itu.

Selesai mandi, waktu menunjukkan pukul 10.00 malam, kudapati bu Andi duduk sambil membalik-balik buku tugasnya. Saya mendekatinya dan berdiri di sebelahnya, cukup dekat. Dia berpaling ke arahku tersenyum dan berkata:

“Terima kasih ya Giek, atas bantuanmu selama ini dan terima kasih semuannya, aku selalu merepotkanmu” katanya.

“ Terima kasih, sama-sama, Bu Andi…”

Kemudian dia berdiri dari tempat duduknya, tapi aku tidak berusaha menjauh darinya, sehingga kami sangat dekat sekali, aroma wewangian tubuhnya sampai ke hidungku kembali. Wanita yang punya bibir indah itu belum beranjak dari tempat berdirinya, dia agak mendongakkan kepalanya ke arah wajahku.

“Kamu baik sekali…” katanya bergetar, tatapan matanya tertangkap penuh arti.

“Ibu jangan risau, saya hanya bantu, itupun tidak sepenuhnya. Sering Ibu berangkat sendiri ke stasiun dan dari stasiun” kataku mulai bergetar juga. Saya memang sering bantu dia, tidak hanya antar jemput, tetapi juga mengerjakan tugas-tugas, mencarikan referensi buku.

irnawati (6)

Kemudian saya memberanikan diri memegang tangannya. Kedua tanganku meraih tangannya menggenggam lembut. Kami berhadap-hadapan dekat sekali, saling memegang tangan dengan eratnya dan mata kami beradu saling memandang. Kebersaman selama lebih dari empat bulan ini membuat kami merasa semakin dekat saja. Rasa hatiku sebagai lelaki dewasa bergeser dengan kesadaran menghadapi seorang perempuan dewasa pula. Getaran-getaran itu merambat yang kemudian mendorong hasrat yang kuat untuk memeluk dan mencium sosok perempuan pns ini. Jantungku berdetak lebih keras lagi, kami berdua tanpa mengeluarkan kata-kata lagi. Masih saling memandang, mengikuti aliran pikiran masing-masing yang berkecamuk dalam kepala dan bergetar sampai dada. Namun aku merasa; mungkin pikiran bu Andi ini juga tidak jauh berbeda dengan benakku. Perasaanku mengatakan demikian. Kemudian dia mengatupkan matanya sambil mendongakkan kepalanya ke arah wajahku. Aku sambut dengan kecupan pada keningnya, kemudian memeluknya dengan ketat, sambil mencium keningnya. Angan-anganku tadi di taman parkir stasiun, kini menjadi kenyataan.

Dadaku mulai bergetar kencang demikian pula yang kurasakan dadanya bergetar kuat. Kami berdua saling berpelukan, ada sesuatu yang ingin saya katakan tapi tidak kuasa mengungkapkannya. Ada seribu kata tak terucapkan, demikian pula dia berdiam tapi makin mempererat pelukannya, seolah tidak ingin berpisah dan melepas. Kedua tangannya merangkul pinggangku dengan ketat, kami berdua ingin menyatu. Dada kami berdua bertalu-talu saling berkejaran. Aku mulai mengecup bibirnya agak ragu, tetapi bu Andi menyambut dengan kecupan lembut. Kami berciuman bibir, menyisir bibir indah itu, kemudian saling melumat lembut, meluapkan perasaan masing-masing dan saling merasakan kenikmatan pada sudut-sudut bibir kami berdua.

Sementara dari luar terdengar hujan rintik-rintik, tapi di dada ini semakin membara. Beberapa menit bu Andi aku peluk kembali dan kedua tangannyapun memeluk aku. Berpelukan, berciuman kembali bergantian, lidah kami saling berinteraksi saling mengisap dan menari. Aku mundur pelan dan mengarahkan pantatku di meja tulis, bu Andi tetap merangsek ke depan dalam pelukanku, seakan tidak mau kulepaskan. Aku setengah duduk di meja, sementara berciuman ketat, lidah kami menari bersama dan saling memagut.

“Ibu cantik sekali…” rayuku

“Thanks Giek, kau pria gagah, tampan dan pintar, tapi perasaanmu lembut. Aku suka kamu…” katanya bergetar, terus terang, sambil tersenyum dan memandangiku penuh arti.

irnawati (7)

“Saya juga senang bersanding bersama Ibu. Sekarang sudah larut malam, kalau berkenan, Ibu menginap di sini saja malam ini” kataku memberanikan diri dan disambut dengan mengangguk dengan pandangan mata ke arahku, tanpa kata walaupun bibirnya bergetar.

Lalu dia merebahkan kepalanya di dadaku, kubelai-belai keningnya. Rasa dan perasaanku sangat dekat dengannya, rupanya pelukan itu mempunyai arti sejuta kata dan rasa. Saya tidak bisa membedakan antara rasa sayang dan nafsu, yang campur aduk menjadi satu. Saya berusaha memilah-milah dan mengurai dua kata itu; ‘sayang’ karena selama ini dalam kebersamaannya, tapi juga ‘nafsu’, karena tititku menjadi tegak teramat sangat.

“Ada bagian lain yang bergerak-gerak…!” katanya sambil ketawa dan agak menjauh melepaskan pelukan.

“Iyaa…, he…he…” kataku ketawa pula.

Yang dimaksud tentu tititku, yang berontak saat kutempelkan ketat pada tubuhnya. Ini yang tidak bisa ditipu. Aku raih tangannya, dengan pelan aku membalikkan tubuhnya, sehingga dia memunggungiku. Tanganku mendekap dari belakang, Telapak tanganku posisinya persis pada teteknya, tapi aku tidak berani meremas. Hanya karena dekapanku kuat sehingga telapak tanganku kena sasaran. Dia meraba-raba wajahku dengan jari lentiknya. Roamantis sekali.

Beberapa menit kemudian kuangkat tubuh perempuan itu, tangan kananku mengangkat kedua pahanya, sedangkan tangan kiriku mengangkat punggungnya, lalu kubawa ke kamar, agak berat. Kurebahkan pelan-pelan di tempat tidur, kami mulai bergumul dengan cumbuan-cumbuan yang meningkatkan getaran-getaran pada tubuh kami. Dadaku bergemuruh kembali, berdetak dengan kerasnya sampai menggoncang-goncang dadaku dengan keras dan cepat, lebih cepat dari detak-detak jam dinding di kamar itu. Pertanda menanjaknya birahi kami berdua, tanda yang lebih nyata adalah tititku tegak sangat kuat sekali.

irnawati (8)

Saat dia tidur terlentang dan kaki kananku menindih kakinya, sementara tangan kananku menyusup pada susunya.

“Maaf, aku buka ya bu…” kataku sambil memegang kaosnya

“Sudah Sayang, sampai di sini saja ya” katanya lembut sambil menahan tanganku, dan katanya lagi:

“Mestinya kita nggak boleh sampai begini, aku kilaf tadi. Maafkan aku Giek ”

“Ibu nggak usah minta maaf, akulah yang bersalah”

Walaupun aku meminta maaf, aku tetap kecewa, mestinya aku segera bisa merasakan kenikmatan yang belum pernah aku rasakan, diusia 26 tahun ini. Tinggal selangkah lagi sudah sampai pada puncaknya, ternyata menjadi mentah. Nafsu yang sudah memuncak, tiba-tiba menurun dengan derasnya. Dalam hati aku bertanya: “Mengapa ketika saya angkat ke kamar tadi dia diam saja, mestinya dia melarang?” “Mengapa pula dia bersedia menginap di rumahku?” Namun aku tetap berusaha menutupi kekecewaan hatiku kepada bu Andi yang berbaring di sisiku. Sebenarnya akupun bisa memaksa dia untuk melayaniku, tapi itu tidak aku lakukan, dengan pertimbangan-pertimbangan di atas tadi. Paling tidak dia tetap ada di sampingku, kami bisa tetap ngobrol dan memandangnya sepuasnya dikala tidur nanti. Aku tetap menghendaki perempuan cantik ini tidur di rumahku malam ini. Lalu dia beranjak kekamar mandi, setelah beberapa saat keluar lagi. Kini dia memakai gaun tidur warna putih motif bunga, tanpa kerudung. Kemudian mendekat saya, tidur di sampingku, sambil mencium keningku.

Malam semakin larut, jam menunjukkan waktu pukul 12.00 malam. Kami berdua belum tidur, masih ngobrol ngalor-ngidul.

“Aku tahu perasaanmu Giek, kamu pasti kecewa. Tapi saya percaya kamu bisa memahami ‘kan?” katanya sambil membelai-belai bahuku.

irnawati (9)

“Ya Bu, saya paham 1000%” kataku, tersenyum sambil berbaring miring menghadap ke arahnya. Diapun memiringkan tubuhnya ke arahku. Tiba-tiba kaki kirinya ditimpakan pada kakiku. Aku senang sekali.

“Sudah, kita tidur, supaya besok fresh…” katanya.

Aku lihat jam 00.30, aku beranjak mematikan lampu terang dan kuganti lampu bad yang temaram. Seumur-umur baru kali ini aku tidur bersama perempuan, pikirku menghibur diri. Hatiku tetap bergetar walaupun aku tahu dia membatasi diri. Bagaimanapun aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku pura-pura tidur sambil melihat sosok perempuan cantik berbaring di sampingku. Perempuan ini benar-benar cantik, nafasnya teratur, mulutnya mengatup indah. Dalam kondisi tidur saja kelihatan cantik, gumanku. Kemudian kakiku kutimpakan pada kakinya, tanganku ku taruh pada pinggulnya. Dia diam saja, mungkin sudah tidur beneran. Akhirnya dia beringsut mendekatkan diri pada tubuhku, akupun menyambut dengan memeluknya. Di bawah selimut bersama, tangan kiriku menyusup di bawah lehernya, sementara kaki kiriku menyusup pada selakangannya. Batapa aku senang sekali, dia tidak mengelak, bahkan menyambutku dengan pelukan pula. Kamipun berpelukan ketat, tapi lagi-lagi gejolak kelelakianku menanjak naik. Dia merangsek tubuhnya ke arahku katanya.

“Giek……” katanya lirih sambil tangannya disusupkan di balik kaosku dan mengelus-elus dadaku dan perutku.

“Ya Bu, saya dekap Ibu” aku mendekap seperti induk ayam yang melindungi anaknya.

“Belum tidur Bu..?

irnawati (10)

“Aku enggak bisa tidur. Tadi tidur sebentar, sekarang terjaga lagi…” katanya sambil mengusap-usap wajahku. Kemudian katanya lagi

Dengan gemetaran tanganku mulai menyusup di balik gaunnya setelah membuka beberapa kancing di bagian dadanya, tampak behanya yang berwarna putih, seolah tidak muat menyangga susunya yang montok itu.

“Behaku buka saja, biasanya kalau tidur aku tidak berbeha. Sesak rasanya”

“Baik Bu, Maaf…” kataku, sambil menarik gaunnya ke atas, membuka kait behanya pada bagian punggung. Saya bertambah terkesima melihat indahnya payudaranya, yang mendorong untuk meraba dan meremas lembut bongkahan daging ajaib ini. Saya remas dengan lembut dan pentilnya yang berwarna coklat muda kemerah-merahan itu kupilin-pilin lembut. Bu Andi membuka matanya memandangiku, rona wajahnya menampakan sebuah kenikmatan, sambil menatap langit-langit. Wajahku menyapu berkali-kali payudaranya sesekali membenamkan pada sela antara keduanya. Tangannya juga masuk merayap lembut pada tubuhku, kemudian sampai pada cedeku, dielus-elus tititku. Senjata yang sejak tadi tegak maksimal itu, sekarang tambah ngaceng berat! Betapa tidak? Dipegang oleh tangan lembut, tangan seorang wanita ayu. Kemudian kubuka celanaku supaya tidak sakit tertekan celana.

Keberanian semakin meningkat, aku meraba bokongnya di balik cedenya, sambil menggesek-gesekkan pada pahanya yang mulus itu. Ketika aku bermaksud membuka cedenya, aku berkata:

“Ini boleh aku buka?”

“Jangan… Nggak, Giek, masa aku telanjang bulat… Kan nggak boleh itu?” sambil menahan tanganku.

“OK, I’m sorry, Mrs” kataku walaupun aku kecewa berat.

Namun tititku tegak bukan kepalang, melihat pahanya yang putih mulus dan bersih itu.

“Kita tidak lebih jauh ya Giek… Gini aja, kan sudah enak…? ” katanya sambil memegang tititku dibelai-belai lembut dan agak sedikit manja.

irnawati (11)

“OK, maaf Bu” kataku walau aku kecewa untuk yang kesekian kalinya.

“Kamu jangan panggil aku Bu, Panggillah aku ‘Andi’ saja, agar lebih karib”

“Ya, terima kasih” kataku senang berbunga-bunga.

“Tapi aku takut Giek…” katanya lagi.

“Takut apa?”

“Kalau tetanggamu tahu..”

“Jangan kawatir Bu”

“Bu lagi…!” sergahnya. Aku memang masih kikuk memanggil ‘Andi’ saja.

“Mereka tidak akan tahu. Seandainya tahu, merekapun tidak akan peduli. Lihat saja pagar mereka tinggi-tinggi, sehingga setiap aktivitas tetangganya tidak akan diketahui. Mereka individualis, dan tidak peduli.” kataku meyakinkan.

Kemudian aku tetap membuka kaosku, jadi aku sudah telanjang bulat. Walau hanya bercumbu aku tidak peduli, aku tetap telanjang, terserah dia mau telanjang atau tidak. Sebenarnya aku ingin sekali mencapai klimaknya, seperti yang tergambar dalam bf yang sering aku lihat. Aku ingin mempraktikkan, ingin merasakan yang sebenarnya! Walau aku pernah onani, tapi ingin sekali merasakan dengan perempuan. Namun saya tidak bisa memaksanya, saya takut fatal akibatnya, dia mau setengah telanjang, itu sudah luar biasa bagiku. Toh saya masih boleh ngeloni, meraba-raba pahanya mulusnya, memainkan puntingnya dan menciuminya dan menjelajah seluruh tubuhnya. Sudah cukuplah, pikirku. Suatu perkembangan yang sangat pesat. Saya pun tidak mengira sebelumnya sampai begini, paling tidak sejak di parkiran tadi. Peringatan bu Andi tadi membuat aku jera. Sekarang saya tidak mau merusak suasana indah ini. Kalaupun tidak boleh dimasukkan, akan aku masukkan lewat jepitan pahanya. Itu sudah lebih dari bagus, pikirku. Mungkin di antara pembaca berpikir, apa yang aku lakukan bisa menjadi bahan ejekan: “Bodoh amat itu orang, hanya dijepit saja sudah senang…” Ya begitulah kondisinya, Bro.

“nDik..” kataku

“Lah.. gitu, enakkan..?”

irnawati (12)

“Saya sudah telanjang begini, nih” kataku menggoda.

“Itu kan urusanmu, bukan urusanku” sambil tersenyum

Sebenarnya urusannya juga. Dia menikmati juga, terlihat cede pada bagian selakangannya sudah basah oleh cairan dari Mrs-Vnya. Lalu dalam lamunanku aku punya ide dan pikiranku berkembang: “Mengapa aku tidak bikin mainan miliknya yang lain, kan lebih mengasyikkan. Seperti di BF itu?”

Sementara dia terlentang, posisiku seperti merangkak, tanganku membuka kedua pahanya dan ku sibak cedenya ke samping pada bagian selakangannya yang ditumbuhi rambut tipis itu. Saya menyinari dengan lampu hp, selakangannya becek sampai membasahi cedenya, jemariku mulai menyentuh klitorisnya mempermainkan antara ibu jari dan jari telunjukku. Dia sendiri membuka pahanya agak lebar lagi, sehingga belahan warna pink kelihatan jelas walau sebagian terhalang oleh cedenya.  Bu Andi mendesah lembut ketika aku memilin-pilin klitorisnya, dan jemariku yang lain masuk lorong pink yang mengeluarkan cairan itu, menari-nari menekan bagian atas lorong itu. Dia bergelincangan. Lalu aku mendekatkan mulutku pada tempik (vagina)nya itu, ujung lidahku menari-nari pada benda sensitifnya.

“Ah….” desahnya tertahan sambil kakinya bergelincangan.

irnawati (13)

Sesekali kedua bibirku mengatup-katup benda kecil berwarna pink itu, kemudian mengisap-isapnya berirama. Perempuan bertubuh indah itu mulai bergelincangan hebat seperti cacing kepanasan.

“Ah…uh… ah… uh… Giek..” suaranya lembut hampir tak terdengar. Saya tidak peduli, bahkan aku sedot-sedot terus kletorisnya dengan nafsuku, menyaksikan tingkahnya ini aku tambah bergairah dan bernafsu. Setelah bergelincangan hebat dia mengejang sambil mulutnya mendesis-desis. Sampai kepalaku dijepit kedua pahanya, aku tetap menyedot-sedot benda kecil itu, untuk menghilangkan kekecewaanku. Aku tidak peduli!

“Ahhh ….Mas…” desahnya lagi, dia rupanya orgasme. Baru pertama kali ini dia menyebut aku ‘mas’

Aku menghentikan aktivitasku mengeksploitasi V-nya, terlihat cairan dari vagina atasan mamaku itu mulai mengalir dan becek sekali, sehingga cedenya tambah basah kuyup. Kemudian aku mengambil tisu membersihkan V-nya, agak lembab lalu kutaruh lipatan tisu kering di antara Mrs. V-nya dengan cedenya. Saya berbaring di sampingnya sambil mengecup bibirnya. Setelah nafasnya teratur, kembali aku memilin-pilin pentil susunya. Lambat laun dia bergerak menindihku menciumi dadaku, kemudian bibirku dengan penuh nafsu tapi lembut. Menyodorkan susunya pada mulutku, lalu melorotkan tubuhnya ke arah kakiku, tititku dicepit di celah kedua susunya dan digesek-gesekkan. Beberapa saat kemudian melorot lagi, gerakannya seperti ular yang mlungsungi (ular yang mau ganti kulit), dia memasukkan tititku ke mulutnya dan dikulum-kulum lembut. Saya merasakan surprise enak luar biasa, seperti aku melayang-layang di angkasa luas. Nikmat abizz.

irnawati (14)

Bagaimana kalau saya keluarkan di mulutnya? Belum sampai saya keluarkan, tapi kemudian dia bergerak merayap ke atas dan menindih tubuhku sambil menggoyang-goyang pinggulnya setelah posisi selakangannya di tempatkan ketat pada tititku, kemudian digesek-gesek lembut. Tititku terasa basah oleh cedenya itu.

Kami tertidur sambil berpelukan, rasanya baru saja memejamkan beberapa menit, ternyata subuh tiba, sekitar jam lima dia bangun lalu ke kamar mandi. Akupun ikut bangun merapikan tempat tidur. Bu Andi memanggil aku dari kamar mandi. Aku mendekat dan pintu kamar mandi terbuka:

“Mandi sekalian yuk…”

“Sip…”kataku langsung mebuka seluruh pakaianku, lalu masuk kamar mandi. Di kamar mandi kudapati bu Andi sudah polos tanpa kain selembarpun. Saya menjadi takjub, seumur-umur baru kali ini melihat dengan mata kepala sendiri seorang perempuan telanjang. Tubuhnya benar-benar indah, cantik tidak hanya wajahnya tetapi sekujur tubuhnya cantik, indah mengundang gairah lelakiku bertambah. Pagi itu aku baru melihat tubuh bu Andi utuh, tanpa busana. Polos.. Lekuk-lekuk tubuhnya sangat indah, susunya montok, pinggulnya bulat dan perutnya ramping, bentuk kakinya indah sekali. Pada pangkal pahanya membentuk huruf ‘V’ dihiasi rambut tipis. Tadi malam di tempat tidur, tidak seluruhnya kelihatan. Benar-benar perfect body orang ini, pikirku.

“Kok polos nDik, enggak pakai pakaian?” tanyaku heran

“Nggak. Kan mau mandi? Masak mandi pakai pakaian? Kalau saat mandi boleh polos” katanya.

“O.. gitu” kataku nggobloki. “Apa ya bedanya di tempat tidur?” pikirku.

Kami berdua mandi di bawah guyuran shower, saling menggosok dan menyabun. Saya senang sekali saya menyabun susunya, pinggulnya dan selakangannya. Demikian pula dia menyabun seluruh tubuhku dan menggosok tititku dengan sabun. Busa-busa sabun memenuhi seluruh tubuh kami berdua. Kami berangkulan sesekali membersihkan tubuh dari busa sabun di bawah guyuran air. Tititku yang ngaceng dipegang-pegang, kemudian dia agak berjinjit, dan saya agak menekuk lututku supaya alat kami beradu. Dia hanya menggesek-gesekkan kepala tititku pada klitoris dan lubang Mrs Vnya. Tapi aku diam saja, katanya tidak boleh lebih jauh tapi kok begini? Saya tidak habis berpikir. Kemudian dia memutar air shower lagi dan kami kembali bergulat di bawah guyuran air. Setelah mengeringkan badan dengan handuk, dia melilitkan handuk pada tubuhnya dan kuangkat ke tempat tidur.

“Bahumu kekar dan kokoh Giek. Aku suka kamu”

“Aku juga suka kamu nDik. Kamu cantik sekali” kataku

Aku membungkuk membaringkannya, tangannya tetap bergelayut pada bahuku dan menariku, katanya:

“Tuntaskan sekarang Yuk, Giek. Aku tidak mau mengecewakan kamu. Aku tahu, kamu semalam sangat ingin kan? Aku sebenarnya juga seperti kamu, sudah lama aku jarang melakukan dan tidak terpuaskan. Mengapa tidak kita coba?” katanya retorik sambil meneteskan air mata. Lalu dia bercerita, bahwa suaminya sakit-sakitan, dan sudah jarang bermain kalaupun berhubungan, tidak sampai mampu memuaskannya.” katanya, aku menjadi iba lalu mengusap air matanya.

“Sayang, anduknya agak basah. Nanti kamu kedinginan” kataku

irnawati (15)

“Ganti yang lain aja, baru ambil anduknya” sahutnya. O ya, aku teringat dia tidak mau telanjang bulat di tempat tidur.

Aku meraih sarungku yang saya taruh di atas bantal, tidak saya buka lipatan seluruhnya, setengah terlipat kemudian saya tumpangkan pada bagian perutnya, sehingga pada bagian dada dan pinggulnya masih polos. Supaya dia tidak telanjang bulat.

Kemudian kami berdua bergumul di tempat tidur, saling mencium dan meraba. Dadaku mulai bergetar kembali, menggumuli bu Andi. Dia membiarkan aku menikmati susunya yang ranum dan kenyal itu, sementara dadanya terasa bergemuruh. Puntingnya yang berwarna coklat muda kemerah-merahan itu aku dot kanan-kiri. Sesekali wajah kubenamkan di antara kedua susu indah itu. Sementara tangannya menyusup ke bawah, aku masih belum berpakaian sejak dari kamar mandi tadi. Dia memegang dan mengelus-elus tititku yang mencuat tegak, seperti meriam itu. Akupun membelai selakangannya yang sudah basah oleh cairan hangat.

“Basah lagi nDik”  kataku

“Ya, sejak tadi malam juga sudah basah begitu” katanya agak malu-malu.

Kami kembali bergumul saling serang dengan ciuman-ciuman dan saling meraba, tititku dipegang dan di kocok-kocok lembut.

“Mantap… besar”

“Apa tidak biasa segitu”

“Enggak, ini besar, jumbo lagi..” katanya seketika itu.

Dadaku mulai bergetar kembali, menggumuli bu Andi. Dia memegang dan mengelus-elus tititku yang mencuat tegas, dan akupun membelai selakangannya. Lalu aku mempermainkan Mrs Vnya, sekarang sudah tidak terhalang cedenya, aku agak leluasa. Sementara aku menikmati selakangannya, dengan lidahku pada klitorisnya, jemariku membuka Vnya lebar-lebar dengan dominasi warna pink itu. Sekarang jelas sekali pemandangan indah itu. Sementara itu di sisi lain dia memegang tititku dan berusaha memasukkan pada mulutnya. Aku bergeser supaya senjataku dekat dengan mulutnya. Lalu di kocok-kocok sebentar kemudian dicepong kepalanya dan seluruh batangnya. Nikmatnya luar biasa.

Kembali kami bergumul, perempuan berkulit putih bersih itu menindihku, pada bagian pinggulnya saya taruh sarungku. Pinggulnya beringsut untuk mengambil posisi tepat pada senjataku, tapi tidak bisa, beberapa kali. Baru ketika tangannya memegang tititku dan menuntun pada lobang kewanitaannya sambil dia mendesah:

irnawati (16)

“Ahhh…” Agak seret, tapi bebas hambatan. Suatu kenikmatan yang teramat sangat. Betapa nikmatnya apa yang aku rasakan. Inilah kenikmatan baru yang aku rasakan, seolah-olah aku melayang-layang ke angkasa di antara awan-awan.

Setengahnya aku tidak percaya, semalam melarang, pagi itu dia yang mengajak dan lebih aktif? Tetapi rasa heranku segera aku kesampingkan. Saya fokus pada kenyataan apa yang saya hadapi. Rasanya nikmat dan enak sekali, luar biasa. Baru kali ini aku merasakan nikmatnya bersenggama ini. Selama ini saya hanya berkhayal dan kemudian onani. Tapi ini kenyataan, bukan mimpi, tititku masuk di tempik perempuan dan perempuan itu Bu Andi, atasannya mama. Dia tidak banyak bergerak hanya sesekali saja, akupun mengimbangi gerakannya di atas tubuhku, dengan lembut tapi menimbulkan rasa nikmat luar biasa. Rupanya dia menganut pepatah slow but sure itu. Pelan tapi pasti. Pasti enak!

“nDIk, semalam kamu menahan saya, tapi sekarang kamu yang aktif? Apakah kamu merasa saya paksa?”

“Enggak Giek… enggak. Saya tidak tahan dengan gempuranmu semalam dan tadi itu, aku menyerah… pertahanku bobol” katanya sambil menggoyang pinggulnya.

“Iya… boleh juga” kataku puas.

“Saya belum pernah diperlakukan seperti tadi oleh suamiku, seumur-umur. Dia selalu konvensional dan cepat selesai” katanya

Perempuan beranak satu yang berumur 10 tahun itu, kembali menggoyang-goyang lembut pinggulnya yang berbentuk sangat indah itu. Dadaku bergemuruh seperti langit akan menurunkan hujan lebat, bergetar keras bercampur dengan rasa nikmat tiada tara. Rasanya darahku mendidih dengan dahsyatnya, seluruh ototku rasanya ikut merasakan kenikmatan, yang dalam anganku aku setengah tidak percaya. Inikah Bu Andi, atasannya mama? Ini kenyataan bukan bayang-bayang dalam anganku atau mimpi.

“Pentilku emut Mas….” katanya manja, terbata-bata tanpa menghentikan aktivitas pinggulnya yang bergerak memutar, meliuk dan naik-turun, keluar masuk. Mulutku nyepong pentilnya, kedua tanganku mencengkeram ketat pantatnya, mengiikuti irama pinggulnya.

Gerakan perempuan lembut ini makin mempesona di atasku, sekitar lima menit dia meningkatkan gerakan pinggulnya, makin keras dan kuat sampai menggoncang-goncang tubuhku. Aku makin kuat mencengkeram kedua pantatnya yang indah itu.

“Ah….keluar…. Mas…. “ katanya terengah-engah, sambil menyapu mulutku dengan bibirnya, tapi aku belum mencapai puncak.

Sejenak diam, tetapi kemudian menggerakkan lagi dan lagi-lagi meleguh..”Ahh…” sampai akhirnya terkapar lemas di atasku.

Nafasnya berkerjar-kejaran, terengah-engah seperti habis fitness saja. Tanganku mengelus-elus punggungnya yang halus itu, sementara dia mencium bibirku dan sesekali menggerakkan pinggulnya. Beberapa menit kemudian kami bergulung, sehingga posisiku menindih tubuhnya. Kembali dia mencari sesuatu yang tertindih, kemudian aku menyambar lipatan sarungku kutaruh pada bagian perutnya untuk menutupi tubuhnya, walau di bawah tindihanku. Pelan-pelan aku mulai memompa perempuan bertubuh molek ini dengan pelan. Seperti gerakannya tadi naik-turun, keluar masuk. Sementara saya tembak, dia memandangi wajahku sambil meraba-raba dadaku dan punggungku, demikian juga pinggulnya digoyang yang berlawanan dengan irama gerakanku, sehingga menimbulkan efek nikmat. Ketika aku genjot masuk, dia menyambut dengan mengangkat pinggulnya, ketika aku berputar kekiri dia bergerak ke kanan. Selalu berlawanan dalam gerakannya, yang menambah kenikmatan. Tapi sebenarnya gerakan apapun yang kami lakukan membawa nikmat tersendiri.

irnawati (17)

Udara dingin tanpa terasa menusuk kulit kami, justru menambah nikmatnya kami bergumul. Suara detak-detak jam dinding memecah kesunyian kamarku, tetapi sebenarnya detak jantung kedua insan lain jenis, laki-perempuan ini saling berpacu dengan memburu, kejar-kejaran mencari puncak kenikmatan. Susunya yang montok selalu menjadi sasaran bibir, wajah dan tanganku untuk menyalurkan nafsu yang tiada terbendung ini.

“Rasanya terjepit nDik.., punyaku….” kataku karena merasakan lobangnya cukup sempit untuk punyaku. Tapi ini ternyata membawa nikmat sendiri.

“He-eh, milikmu yang kelewat gedhe. Pelan-pelan saja, biar lebih lama” katanya, sambil tangannya mengelus punggungku.

Sambil memompa tubuhnya dengan lembut dan berirama, aku memandangi wajah ayunya, demikian juga ia memandangiku. Aku teringat, ketika malam perkenalan itu, setahun yang lalu, saat dia memberi kata sambutan, pelan tapi wibawa sebagai seorang pemimpin. Demikian juga ketika memberi nasehat di suatu waktu, dengan ucapan:

“Secara akademik kamu lebih tinggi dari aku, tapi aku kan lebih lama menghirup udara dunia ini dan lebih banyak makan asam garam kehidupan ini daripada kamu”

“Ya Bu, terima kasih atas nasihatnya” kata ketika itu.

Sudah beberapa menit aku di atas, kedua kakinya kadang dililitkan pada kakiku, pahanya direnggangkan dan bahkan dirapatkan sambil mengatupkan kedua pahanya, sehingga terimbas pada kewanitaannya sepertinya mengisap-isap tititku dengan kuatnya. Aku memutar-putar pinggulku seakan mengebor milik bu Andi dan tubuhnya tergoncang diiringi dengan suara lirih “Ah….Say…”   Dengan perlakuan ini jelas membawa nikmat luar biasa.

Sesekali kedua tanganku lurus menompang berat badanku, lalu kuturunkan, bertumpu pada siku-siku sambil kedua telapak tanganku mempermainkan puntingnya dan meremas susunya. Kadang-kadang jemari kami berdua saling bertautan. Cukup capai, tapi aku tidak berusaha untuk melepas kenikmatan yang tiada tara ini.

Dari himpitanku itu, perempuan yang mengaku jarang diajak bermain cinta dengan suaminya itu berusaha keras menggerakkan pinggulnya memutar dan menggoyang lembut, dengan pesona dalam ritme yang tinggi. Wajah dan lehernya mulai membasah, berkeringat.

irnawati (18)

Rasa nikmat mulai menjalar keseluruh tubuhku mulai dari darah yang mengalir dalam tubuh secara deras dan terus menerus menerjang dan membakar dinding-dinding birahi, mendidih sampai menghempas dari berbagai penjuru tubuh.  Dengan tenaga yang menghentak-hentak itu akhirnya aku sudah tidak mampu mengendalikan laju semprotan sperma yang dahyat memancar dengan daya dorong tinggi dan kuat sekali masuk ke lobang kewanitaan Bu Andi, diiringi dengan rasa kenikmatan yang dahsyat pula.

“Ahh…. aku keluar Sayang” kataku…

“Akh… tuntaskan Yang, aku juga keluar lagi” katanya terengah-engah… dengan pipinya merona merah jambu sebagai ekspresi kepuasannya.

Puncak kenikmatan telah kami raih bersama, suatu kenikmatan yang seumur hidupku, baru kali ini kudapat dari seorang perempuan. Dan orang pertama yang saya nikmati adalah Bu Andi. Sosok wanita pendiam, tegas dan cantik tentu saja. Aku puas sekali.

Sesaat dia bergerak lagi dan “Ah..” rupanya dia orgasme lagi.

Beberapa menit aku masih menindihnya, sementara tititku masih kuat menancap, sayang kalau dicabut, saya masih merasakan sisa-sisa kenikmatan.

“Aku puas sekali…Terima kasih ya nDik, kamu memuaskan aku” kataku sesaat setelah tititku lepas dari tempiknya, setelah beberapa menit mencapai puncak kenikmatan.

“Aku juga terima kasih. Kau mampu memuaskan aku, nikmat sekali rasanya. Tititmu terasa pas di milikku, walau agak ketat… Semula aku mengira, wah ini nggak muat, ternyata muat walau agak seret” bisiknya tersenyum. Setelah nafasku pulih membersihkan selakangannya dengan wash lap hangat, lalu tititku, dia yang membersihkan.

Pagi itu tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul 06.27 menit, astaga kami bermain satu jam lebih. Kami masih berbaring bersebelahan, dia menutup tubuhnya dengan sarungku, kemudian memakai gaunnya. Hujan mulai reda, hening terdengar tetesan-tetesan air dari genting ke pelimbahan.

Saya ke dapur membuat roti bakar dan dia menyusul membuat teh panas.

“Wah, enak itu Giek…”

“Sip…” kataku sambil mengacungkan jempol dan mencium keningnya.

irnawati (19)

Kami berdua duduk di sofa di ruang tengah, sambil menikmati sajian pagi itu. Duduknya beringsut mepet denganku, tangannya ditaruh di paha saya dan membelainya, aku tersenyum, sesekali menyuapi aku dengan roti bakar.

“Jam berapa Giek..?”

“Setengah tujuh. Kamu berangkat ke kampus jam berapa?”

“Setengah delapan, nanti. Jam delapan masuk”

“Perjalanan cuma seperempat jam, dari sini..” kataku disambut anggukan kepala.

Aku mencium keningnya, lalu duduk dipahaku berhadapan dengan ku lalu menciumiku. Pertama pipi kemudian bibir saya. Sayapun menyambut ciuman pagi itu dengan senang bahkan aku melumatnya dengan hebat, sampai nafasnya terengah-engah. Dia merangkulku dengan kuat lalu menciumi leherku dan wajahku. Kami saling menyambut ciuman dengan ciuman penuh nafsu, kembali tanganku menyusup di balik gaunnya. Kemudian aku melanjutkannya ke atas meraih susunya, dia tidak berbeha. Dia rupanya lebih bernafsu pagi itu, dia merangsek terus dan duduk dipangkuanku sambil memeluk leherku.

“Lagi yuk…” katanya

Tanpa dimintapun, dalam kondisi begini aku tetap mempunyai hasrat yang sama, saya sangat bernafsu dengan perempuan ini. Sambil duduk, tangannya berpegangan pada sandaran sofa, saya melorotkan cedenya kemudian cede saya. Aku tidak membuka gaunnya, supaya tidak telanjang bulat. Kedua tanganku menompang sepasang bongkahan pantat bulat indah menggiurkan itu. Tititku jelas sudah siap tembak itu, dipegang dan dimasukkan ke lobang Mrs Vnya. Dengan gerakan naik-turun dan diselingi putaran eksotik, aku menarik roknya bagian depan ke atas dan nyepong dan meremas lembut susunya yang mengeras dan kenyal itu. Dalam waktu tidak terlalu lama dia mengerang lembut. Dia orgasme dan diam sesekali menggerakkan pinggulnya dan Ah.. keluar lagi rupanya.

irnawati (20)

“Aku keluar.…” katanya dengan wajah serius

Aku belum keluar. Supaya lebih leluasa, maka bu Andi saya angkat ke kamar dan saya naiki di tempat tidur seperti yang pertama tadi. Dan di atas tempat tidur itu saya mengulangi adegan menggairahkan yang penuh dengan pesona keindahan tubuh bu Andi.

Setelah selesai, bersiap ke kampus. Aku mengantarnya ke kampus, dalam perjalanan pulang saya mampir belanja di super market dan kembali ke rumah. Rasanya lama menunggu perempuan cantik itu sampai sore. Akhirnya tiba juga dia SMS minta dijemput.

Sesampainya di kampus, sore itu dia masuk ke mobilku, duduk di sampingku, sambil berkata:

“Aku nginap lagi di rumahmu ya Giek..” katanya sambil tersenyum penuh arti.

“Ya, saya welcome selalu..” kataku

Sore itu, sesampai di rumah, kembali kami bercumbu. Saling membelai dan mencium.

“Kita mandi dulu, yuk…” katanya sambil beranjak menarik tanganku memasuki kamar. Dia mulai membuka pakaiannya mulai dari jilbabnya, bleser dan kemudian celana panjangnya, aku membantu sampai menarik cedenya ke bawah. Lalu ke kamar mandi yang menyatu dengan kamarku.

Dimulai sore itu sampai malam itu, aku mengarungi samudera birahi bersama bu Andi, sampai beberapa kali mencapai puncak, tiada bosan untuk mengulanginya. Relung-relung perasaan menyatu dengan tegarnya tititku ketika menghujam dalam-dalam Mrs Vnya Bu Andi. Perempuan ini memancarkan kepuasan pada guratan wajah bersihnya dengan rona merah jambu setiap mencapai orgasme. Kami merayakan setiap kepuasan malam itu dengan erangan yang dahsyat.

Minggu pagi harinya, aku terbangun pukul 05.00, biasanya aku lalu bangun, namun saat ini sayang aku tinggalkan tempat tidur. Bu Andi kelihatan masih pulas, dalam dekapanku, kaki kami saling berlilitan. Saya hanya memakai kaos, tanpa cede sementara Bu Andi hanya pakai cede dan kaos ku yang longgar sampai pada pahanya.

“Nggak usah pakai celana Giek..” katanya manja, tadi malam

Kami berangkulan dalam hangatnya selimut dan malas untuk bangun. Apalagi tangan Bu Andi memainkan tititku dan tubuhnya terus merangsek ketat ke arahku. Jam 06.00 kami baru bangun dan langsung mandi bersama. Ada bercak merah jambu di kedua pantatnya bekas cengkeraman telapak tangan saya. Setelah mandi kuangkat tubuhnya ke kamar, tidak lupa dia melilitkan handuk pada pinggulnya. Sebelum dia memakai cedenya, aku tarik dia untuk mengelus tititku, kemudian dielus-elus lalu dimasukkan dalam mulutnya. Pertama lidahnya menari-mari di atas kepala titit, lidahnya berjalan dari pangkal bagian bawah ke arah puncaknya, kemudian dikulum lembut, berkali-kali. Karena aku tak tahan, lalu aku minta main dogy style dan dia menurut saja. Jam setengah delapan baru aku antar ke kampusnya.

Lusanya, Senin pagi, aku terbangun jam 5, lalu kuantar ke stasiun, kali ini Bu Andi tidak sendirian, tetapi saya antar sampai di kota T. Saya tidak sampai hati, selama tiga malam aku keloni, masak saya biarkan saja pulang sendirian.

“Nggak apa-apa Giek, biasanya pulang sendiri, kan” katanya ketika aku berniat mengantar.

Akhirnya aku tetap mengantar, Senin itu aku mengatur tugas kantor untuk mengambil tugas dinas di kota T, mengunjungi kantor cabang perusahaan di kota T, dengan supervisi di sana. Itu alasan yang saya kemukakan ke atasanku.

“Kita seperti manten baru ya…Giek” bisiknya saat di atas kereta.

“Ya, manten baru tiga hari” jawabku

“Sampai milikku sakit, kena rudalmu selama dua siang-malam…” bisiknya lagi

“Sama nDik, saya juga begitu, rasanya lecet” kami tersenyum bersama.

“Kamu hebat sekali Giek, aku puas…” katanya

Di atas kereta tangan kami ‘bekerja’ di bawah selembar selimut, dia memegang tititku sementara aku, mengelus pahanya, karena Vnya katanya masih sakit. Kami tertidur.

Di stasiun T kami berpisah, saya langsung ke kantor cabang kami. Sesuai dengan izinku, aku supervisi beneran. Saat istirahat siang, saya menolak untuk makan bersama rekan kerja di kantor cabang, karena ada janji dengan Bu Andi makan siang bersama. Sesampainya di kantor Bu Andi, saya menuju ruangan mama, setelah saya telepon mama dan bilang; kalau nanti mampir saat istirahat. Tanpa mengetahui latar belakang kedatanganku, tahunya memang supervisi ke kantor semata, maka oleh mama saya dianjurkan menemui bu Andi dan di antar ke ruangannya.

Ketika membuka pintu, Bu Andi yang sudah tahu kedatanganku, dia pura-pura surprise dan menyalamiku. Bener-bener pemain watak. Setelah basa-basi seperlunya kami; mama, bu Andi dan saya makan bersama.

Sejak kejadian itu, setiap Jumat sampai Minggu, Bu Andi sering menginap di rumahku bahkan pernah walau kuliahnya libur, dia tetap berkunjung ke kota B, tentu saja menginap di rumahku. Saat liburan itu, dia mengajak keluar kota dengan bersepeda motor. Sabtu pagi saya ajak ke sebuah perkebunan buah di sana menikmati udara segar, indahnya panorama pegunungan dan makan buah tentu saja setelah bayar kepada yang punya kebun. Di sebrang sana ada hamparan bangunan tempat wisata. Siang itu kami berangkat menuju sebuah vila dan bermalam di sana. Jarak tempat wisata ini tidak jauh hanya 30 km dari kota. Kami menginap sampai minggu sore baru pulang.

Pernah pula kuliahnya berhenti satu semester dalam kurun waktu kuliahnya, dia cuti karena hamil, di saat itu aku yang berkunjung ke T. Hari-hari berikutnya bahkan ganti tahunpun, kami selalu meluangkan waktu untuk mengarungi lautan asmara, mengisap madu libido menuruti hasrat seksualitas kami berdua. Saya sering mengisi rahimnya dengan pancaran sperma yang menyenangkan dan dia puas. Pernah sehabis kami ML dia mengaku, walau sepertinya menguras tenaga, tapi selalu memetik kenikmatan dan kepuasan bulat dariku. Hebat.

Tamat.

SYARIFAH

Namanya Syarifah. Kulitnya putih bersih. Kulitnya terlihat sangat terawat, halus dan licin (tapi tentu saja saya belum pernah menyentuhnya). Wajahnya mirip banget sama Aishwarnya Rai, Miss Universe itu lho. Hidungnya mancung, matanya indah, bulu matanya lentik. Bibirnya apa lagi…nggak pernah kena lipstick tapi selalu basah dan menggoda. Bikin pengen nyipok dan French kiss habis-habisan. Pipinya sering merekah indah kalo digodain cowok-cowok. Semua cowok napsu sama dia…wajar lah, primadona kampus.

Gak Cuma wajahnya yang oke. Bodinya juga montok banget. Payudaranya yang gede dan indah itu gak bisa disembunyiin gamisnya yang longgar. Bokongnya yang indah apalagi. Kalo lagi jalan lenggak-lenggok indah, bikin ngaceng. Tubuhnya tinggi semampai, 178 centian lah. Kalo mau jadi model, pasti deh gak ada yang nolak. Aku jadi penasaran dengan betis, leher, atau kakinya bagaimana. Pasti indah banget.

Suaranya merdu. Kalo lagi nanya sama dosen, suara indahnya bikin terangsang. Apalagi kalo lagi ketawa. Wauh…gak nahaan.

sayangnya, gue Cuma bisa ngiler doang. Jilbabnya gede banget khas aktivis kampus. Pengen ngentotin dia tapi kayaknya gak mungkin. dia udah nikah. Sama mahasiswa juga. Huh, bikin emosi aja.

Tapi, mimpi itu akhirnya jadi kenyataan. Gue bisa ngentotin dia habis-habisan. Dari memek, mulut, sampai bokong semuanya gue tusuk. Sempet malah penis gue jepitin ke toketnya yang gede itu. “uh…ah…”suaranya yang indah dan matanya yang sayu bikin pengalaman itu gak pernah terlupakan.

Semuanya berawal ketika suaminya main ke kampus. Kebetulan gue lagi nongkrong di tempat sepi. Dasar suami-istri, si suami gak nahan lagi. Iya lah, kalo punya istri seperti itu siapa sih yang tahan. Akhirnya, di pojokan kampus mereka mulai beraksi.

Suaminya mengecup dahinya, terus bibirnya dilumat. Gila, jago juga French kissnya. Lidah keduanya dengan buas saling berpagutan. Wajah keduanya sayu, menyiratkan nafsu yang amat sangat. Tangan suami Syariffah kemudian meraba-raba payudaranya dari luar gamis. Diremas-remasnya dengan penuh nafsu. Beberapa saat kemudian, lidahnya kemudian menjilat-jilat payudaranya tersebut.

Aku tegang luar biasa. Tanganku udah memegang penis yang mulai membesar. Apalagi setelah Syarifah mulai mengerang-erang. “Ahhh…enak…terus…enak…masss…”. Rupanya gamisnya udah dirogoh rogoh sama suaminya. Tangannya menyelusup dari bawah. Gamisnya tersingkap memperlihatkan pahanya yang luar biasa indah itu. Betisnya juga indah banget. cepat, kancutnya udah dilepas turun. Warnyanya pink. Tapi, gamisnya masih kepake, sementara baju atasnya udah kebuka. Beha tidak lagi mampu menampung payudaranya yang sempurna. Seakan meloncat, toket gedenya lepas dari beha dan membusung iindah. Oohhh…seandainya gue suaminya.

Payudaranya semakin membusung karena terangsang. Warnanya putih mulus, sampai uratnya kelihatan dikit. Pentilnya yang merah jambu tegang menantang. Wajahnya juga semakin sayu merayu. Ahh…mass…

Suaminya mengeluarkan kontolnya. Betapa terkejutnya aku, ternyata ia nggak ada reaksi apa-apa. Kontolnya tetep pada ukuran normal.

Keduanya lalu bergumam lirih. “Maafin mas ya…mas gak bisa muasin adek…”. Syarifah Cuma tersenyum merana. “Gak papa kok bang. Ini kan bagian dari terapi. Pasti bisa suatu saat nanti…”

Suaminya terduduk lesu, sementara Sarifah kemudian memainkan putingnya dengan tangannya sendiri. Diputar-putar dan dipilin pilin toketnya yang indah dan besar itu. Matanya merem melek menyiratkan kehausan atas kenikmatan seksual yang nggak pernah didapatnya dari suaminya. Sesekali dia meremas toketnya dan membawanya ke atas untuk dijilati dengan lidahnya sendiri. Ia menjilatinya kehausan seperti menjilati permen. Suaranya indah, merayu, tapi sendu.

Kesempatan nih! Kontol gue yang udah ngaceng akhirnya bisa ngentotin dia juga. Suaminya yang sedih segera gue bekap sementara Ifah masih asik masturbasi. Gua ikat dia. Nih, tonton cara laki-laki sejati memuaskan Istri.

Aku segera meluncur. Sayrifah gelagapan ketika toketnya tiba-tiba gue remas-remas dengan penuh nafsu. Keterkejutannya gua sumpal dengan ciuman maut di bibirnya yang seksi dan ranum. Dasar nafsu, ternyata ia menyambut juga dengan lidahnya.

Gamisnya segera gue pelorotin.wow, gadis berjilbab ini tinggal polos. Tinggal jilbabnya aja yang semampir. Aku tidak bosan memandang tubuh yang sudah haus seks ini. Dadanya membusung dan mulai berwarna kemerahan. Bodinya ideal: pantat gede, betis oke, kaki jenjang, jemari lentik. Memeknya terlihat indah. Kue apemnya terlihat besar merangsang dan mulai basah oleh cairan nafsu.

Tadinya, dia protes. Tapi nafsu rupanya udah gak ketahan. Istri sholehah ini akhirnya diam saja ketika gua raba-raba. Aku pilin pilin putingnya dengan teknik canggih. Kutelusuri tubuhnya dari bawah ke atas. Mulai dari kakinya yang mulus itu. Gua jilat jmarinya yang bersih karena selalu tertutup kaos kaki. Terus ke atas, ke betisnya yang indah. Aku gigit-gigit kecil. “Awww….awas….nanti kamu kulaporinn,,,uhh….”

Mulutnya memang protes, tapi tubuhnya mendukung aksiku. Lidahku naik dan menemukan sasarannya. Pertama, kucium-cium dan jilat perutnya yang rata dan indah itu. Sementara tanganku masih memutar-mutar dan memilin-milin toket dan putingnya yang tegang dan membusung terangsang. Berikutnya, lidahku akhirnya mengaduk-adik liang kewanitaannya yang sudah terangsang berat. Rasanya yang unik menambah nafsuku. jembutnya halus menggelitik penisku.

Akhirnya, kumasukkan jari-jariku bermain di liang rahasianya. Sementara mulutku gentian … …meskipun sudah lemas. Aku masih ingin menikmati tubuhnya.

Penisku segera kuangkat ke atas. Kusuruh gadis sholehah ini duduk berjongkok. TAngannya kubimbing mengocok penisku. Ia meronta tapi sia-sia. Sensasi yang kurasakan luar biasa ketika tangannya yang halus lembut dan lentik itu mengocok kontolku. Nikmat sekali.

Akhirnya, kumasukkan kontolku ke mulutnya yang indah itu. Wajahnya yang masih memakai jilbab terlihat semakin cantik dan terangsang. Tadinya ia menolak dengan menutp mulutnya. Namun, kontol yang udah licin karena cairan kewanitaannya ini akhirnya bisa masuk. Ia akhirnya mengulumnya dengan indah. Jauh lebih enak daripada pacarku.

Hampir 10 menit penisku dikocok di mulutnya. Auh….seruku kenikmatan, Akhirnya, aku meledak juga. Tumpahlah spermaku di mulutnya. Matanya kelihatan terkejut karena spermaku tertelan. Ia muntah-muntah dari bibirnya yang seksi.

Aku kemudian mengocok penisku yang mengecil. Ku French kiss dia beberapa menit. Payudaranya tiba-tiba mengencang lagi. Wow…indah membusung. Dengan sigap, burungku yang tadinya kecil ini membesar lagi. Kujepitkan di antara payudaranya yang besar. Payudaranya berguncang-guncang indah ketika kugenjot dia. Ahhh uhhh…desisnya gak karuan.

Payudaranya yang ngaceng semakin besar. Mulutnya semakin basah oleh air liur. Memeknya mulai basah lagi. Setelah beberapa lama, tiba-tiba ia orgasme lagi yang kedua. Awwww….Kali ini cairannya menyemprot jauh.

Kuambil sisa-sisa cairannya sambil merogoh-rogoh memeknya yang basah dan memerah jambu. Kuusap-usap di pentilnya yang indah. Kemudian, kujilati dan kugigit-gigit toketnya itu dengan bernafsu. Ia menggelinjang keenakan lagi, meskipun terlihat sangat lemas.

Akhirnya, tiba saatnya bagiku. Kubalik badannya dan terlihatlah bodinya yang indah. Bongkah pantatnya sangat menggoda. Tadinya aku pengen doggy style. Tapi, sepertinya lebih enak untuk anal seks.

Kumasukkan penisku ke pantatnya yang besar dan indah. Kujejalkan ke anusnya yang sempit. Ia berteriak kesakitan. Teriakan yang indah. Kugenjot-genjot terus pantatnya yang padat berisi itu. Tubuhnya putihnya berguncang-guncang. Payudaranya naik turun sementara ia terus mendesah-desah. Kepalanya yang tertutup jilbab mengangguk-angguk kenikmatan. Lidahnya terjulur keluar, tidak mampu menahan nikmatnya. Tanganku menangkap toketnya dan memilin-milinnya. Akhirnya kami orgasme bersamaan.

Ohhhh! Crottt!

Kucabut penisku yang belum selesai muncrat. Kuhadapkan wajahnya yang cantik itu. Wajah sayu yang cantik itu kutembak dengan sperma. Wajahnya berlumuran cairan cinta, sebagian mengenai jilbabnya.

Tidak berhenti di situ, kusiramkan spermaku di tubuhnya kemudian kuoles-oleskan ke seluruh tubuhnya yang idah. Betisnya, lehernya yang jenjang, kakinya yang indah, perutnya yang sempurna, sekarang semuanya terkena sperma, ludah, dan cairan kewanitaannya. Ia tampak berkilauan. Bodinya yang montok semakin indah. Ia tergolek lemas….dan berbisik…”innalillahi….”

Untuk terakhir kalinya. Aku ngentot cewek yang udah lemes ini dengan doggy style sampai beberapa kali. Kumasukkan juga pisang ke vaginanya. Suaminya pingsan melihat istrinya diperlakukan sebejat itu. Sebaliknya, Syarrifah seperti menikmatinya. Ia orgasme sampai beberapa kali. Yang paling aku suka, tubuhnya menggelinjang indah, dengan pantat padat dan toket yang bergoyang-goyang menggoda. Matanya menyiratkan kesedihan, sekaligus kepuasan yang luar biasa.

6 SAHABAT PART 2

“Gimana Ma, udah bilang ke mas Gio?” Tanya Revi di kantin sekolah siang itu.
“Udah, dia mah hayu-hayu aja. Kamu aja yang tentuin jadwalnya.”
“Okeh, gimana kalo tiap Rabu gitu. Bilangin ya?
“Siap.”
“Heh, makan apa? Ada jatah buat saya ga?” Entah dari mana Udin tiba-tiba duduk di sebelah Ima.
“Kagak. Tapi keliatannya bu Nunung banyak tuh. Soto masih numpuk.” Revi dan Ima tertawa.
“Ceria banget Din? Ada sesuatu kah?” Revi melirik ke arah Udin dengan menyipitkan mata. “Hayooooo. Ada apa? Biasanya Senin bawaan kamu mah muruuuung mulu. Gak ada semangat bahkan untuk makan soto.”
“Hmmm, pasti cewek. Jadian ama siapa lagi Din?” Sahut Ima.
“Siapa bilang saya jadian lagi Ima cantik? Gak ko. Deket, iya, jadian? Belum tau. Eh, liat si Gusti gak? Kemaren dia dapet rejeki nomplok.”
“Rejeki? Pantesan dari pagi dia cengar cengir mulu, dan keliatannya tadi langsung pulang.” Ima menambahkan.
“Ke BIP, nyari baju katanya.” Tiba-tiba Rian datang dari belakang mereka. “Tumben, biasanya eta Betawi ngajak-ngajak kalo mau beli baju. Ini maen cabut sendiri aja. “ Rian menempelkan pantatnya di sebelah Revi. “Apaan tuh? Bagi lah?”
“Ih ni anak, dateng-dateng ngerampok.” Cegah Revi, “Beli olangan sana. Banyak duit juga.”
“Huh, banyak duit dari mana? Dia maen DotA kemaren aja saya yang bayarin.” Seru Udin. “Lah, buktinya kemaren ngbayarin tiket nonton plus makannya.” Sahut Revi.
“Riaaaannn, ih, gak ngajak-ngajak.” “Maneh siah, katanya boke, hutang, dianggap hutang.” Ima dan Udin berkata hampir bersamaan.
Rian hanya diam, matanya memandang wajah Revi lekat-lekat, mata mereka bertemu, dan Revi tersenyum.

====================================
Rian mengunci HP nya. Tersenyum. Baru kali ini dia chatting dengan Revi sampai jam 11 malam, padahal mereka mulai dari jam 7. Tiba-tiba saja, cat kamar kos yang dia tempati terlihat lebih putih dan bersih.
Jumat nanti, mereka berjanji untuk nonton bareng lagi. Duduk lagi berdua di tempat gelap. Memperhatikan wajah Revi dari dekat tanpa dia harus tau, memegang tangannya. Bayangan apa yang terjadi pada hari Minggu kemaren membuat Rian serasa berada di awang-awang, karena itu akan terjadi lagi nanti.

====================================
“Kalo aja kamu bukan sahabat saya Yan.” Berbaring di atas dipannya Revi merenung. “Kamu baik, kalian baik. Bima, Rian, Bima, Rian.”
Terbayang wajah Bima yang ganteng, dengan sikap cuek dan apa adanya. Rian yang tidak kalah ganteng tapi lebih perhatian dan down to earth.
“Gak, ga boleh Vi, mereka adalah sahabat.” Lama Revi merenung, memandang profile picture Rian sekali lagi, dan tertidur, pulas.

====================================
“Nah, eta bisa. Ternyata kamu gak bodo-bodo amat Vi.” Ucap Gio di hari Rabu itu. Gio setuju untuk ngajarin Revi setiap Rabu untuk beberapa minggu ke depan. Kali ini, mereka belajar bersama di rumah Ima.

“Sialan, saya pinter tau, cuman Fisika aja yang ga cerdas gak mau temenan ama saya.”
“Ah, ngeles kamu mah Vi.” Ima masuk kamar membawa bungkusan gorengan. Yang pertama udah menghilang semua ke dalam perut mereka. Duduk di sebelah Gio, “Cape ga ngajarin makhluk satu ini mas?”
“Gak, sebenernya dia cerdas si Ma, cuman gampang nyerah.”
“Huh, serius nih, mas Gio muji saya? Hahaha, aduh, senengnya …”
“Heh orang pinggiran, gitu aja seneng.” Seru Ima.
“Yey, jeles nih pacarnya muji gueeee.”

Dan perang saudara dengan bantalpun mulai. Revi dan Ima berkejaran di dalam kamar, saling memukulkan bantal dan guling. Bergulat di kasur, berlari dan berteriak sambil terawa. Tanpa mereka sadari, Gio sedari tadi menelan ludah, melihat paha mereka karena rok seragamnya terangkat, “Putih” Pikir Gio melihat paha Revi. Buah dada mereka yang berayun kenyal, suara mereka, terutama Revi yang memiliki suara menggoda. Dan terutama Revi, dengan buah dada bulat yang tentunya belum pernah dia cicipi.
Kecapaian, mereka berdua tertidur telentang di atas kasur, memperlihatkan dengan semakin jelas payudara mereka yang turun naik. Gio semakin tidak nyaman, kemudian berdiri, “Ke aer dulu. Buat hari ini beres ya Vi, kita ketemu minggu depan.”

====================================
Lidya melihat baju yang diberikan oleh Gusti. “Buat saya Gus?”
“He eh.” Sahut Gusti sambil tersenyum.
Lidya tertawa. Perempuan cantik ini berfikir betapa cepatnya ini anak sampe ngasih dia barang. Tapi gak apa-apa, pikirnya lagi. Toh dia juga menyukai Gusti dari pertama dia melihat Gusti. Ketika dia dan lima sahabatnya bermain biliard di tempat Lidya bekerja.
“Ma kasih ya.”
“Iya, bagus ga? Gue belon pernah beli sesuatu buat perempuan sebelumnya. Mudah-mudahan lo seneng Lid.”
“Entar, ama maksud kamu belum pernah Gus? Kamu belum pernah punya temen cewek spesial?”
Gusti cuman tersenyum atau lebih tepatnya tersipu malu.
“Hah, serius? Jadi saya ini yang pertama? Hahaha, pertama kamu kasih dan pertama ngambil keperjakaan kamu. Saya jahat ya? Hahah?
“Iya nih, lo yang pertama. Untung aja lo itu cantiiiiiikkk banget, kalo gak, gakan mau gue.” Berkata Gusti dengan nada yang biasa, padahal otot-ototnya pada kejang. Keringat dingin sebetulmya sedari tadi sudah mengalir, dan pegangan tangannya di ujung mejapun sangat kuat. Lidya sebetulnya menyadari hal ini, dan ini lah yang membuat dia senang. Tapi buat Gusti, rasa senang ini masih dikalahkan oleh rasa takut. Ini kali pertamanya dia berani dekat dengan perempuan.

====================================
Popcorn itu sudah habis setengah, dan film yang mereka tonton masih seperempatnya. Rian menawarkan untuk membeli lagi, tapi Revi menolaknya. “Ga papa, biar aja.” Jumat yang dinanti oleh Rian akhirnya tiba. Dan mereka kini sedang menonton film berdua, seperti biasa mereka lakukan, namun kini dengan rasa berbeda.
Asik mereka menonton sampai tangan mereka bertemu ketika hendak mengambil popcorn secara bersamaan. Tertawa, mereka saling pandang.
“Revi, betapa indahnya senyum itu.”
“Rian, betapa baik kamu.”

Revi ingat, minggu kemaren ketika mereka bertemu dengan orang yang ingin dilupakan Revi. Rian mengajaknya nonton. Film yang ditonton lumayan menghibur hati Revi, tapi yang paling menghibur ialah perhatian Rian, dan usaha Rian untuk membuat Revi lupa dan kembali tersenyum. Rian membawa Revi berkeliling malam itu di atas motornya. Meminta Revi memeluk Rian dengan alasan malam yang dingin, tapi sesudahnya bilang kalo itu cuman asal-asalan dia aja. Tapi tetap Revi memeluk Rian. Rian yang membawa Revi ke batas kota dan lebih, hanya untuk menikmati malam bersama Revi dan bercerita, ato lebih tepatnya, ‘ngabodor’ sepanjang jalan. Menceritakan kisah-kisah lucu, inspiratif dan menarik. Membuat dia lupa.
Tanpa sadar, Revi menyandarkan kepalanya di bahu Rian.
Dan Rian tertawa dalam hati.

Keluar dari teater, mereka bertemu dengan Yuni.
“Yun, nonoton juga?” Sapa Revi ketika dia dan Rian bertemu dengan Yuni di depan pintu masuk bioskop itu.
“Eh, kalian, mmm, i-iya, tadi udah, ini lagi nunggu.”
“Nunggu Satrio?” Tanya Rian.
“Bukan, itu …”
Tak sempat menyelesaikan perkataan, Bima keluar dari dalam dan sedikit kaget melihat Revi dan Rian di sana.
“Hai.”
“Udah ke airnya Bim?” Tanya Yuni.
“Kalian?” Sahut Revi dan Rian bersamaan.

====================================

“Mmmm, slurp, hmmppf.” Udin melumat bibir Icha dengan bersemangat. Icha, mantan Udin. Kekasih Udin yang ke-empat. Mereka berpisah hanya karena mereka berbeda SMA. Ya, sebetulnya karena Icha juga denkat dengan laki-laki lain. Dan Udin menyukai teman satu kelompok waktu MPLS.
Icha sendiri sebetulnya cantik. Namun sikapnya seperti laki-laki, selengean dan seenaknya. Dengan rambut sebahu yang berwarna hitam. Hidung mancung dan kulit sawo matang. Dengan tinggi badan 160 cm, Icha memiliki ukuran buah dada yang lumayan besar. Dan sebetulnya Icha kurang menyukai ukuran buah dadanya, dia selalu bilang terlalu besar. Tapi Udin sangat menyukainya. Dulu waktu SMP, Udin paling suka meremasi sepasang buah dada itu, walaupun baru dari luar. Udin belum pernah sekalipun memegang buah dada itu secara langsung, melihatpun belum pernah. Namun dulu mereka sering melakukan peting. Tapi masih menggunakan seragam atau pakaian mereka. Nah, kalo celana dalam Icha, Udin sering liat ketika mereka peting. Tapi hanya sebatas itu yang pernah mereka lakukan.
Ciuman Udin turun ke leher jenjang Icha, “Ssssshhhh, aaahhh.” Rintih Icha. Benar-benar geli dia rasakan. Tangan kanan Udin bergerak ke arah buah dada Icha dan mulai meremasinya. Pelan, kasar, pelan, kasar, terus bergantian. Membuat Icha tambah kegelian.

“Buka aja Din.”
“Hmm.” Udin berguman, keget sebetulnya, sambil berfikir, sudah sejauh mana Icha dengan mantannya, namun tetap membuka kaus yang dikenakan Icha. Terlihat untuk pertama kali bagi Udin, buah dada Icha yang montok, “Aneh”, pikir Udin, “Padahal badan Icha gak montok, tapi ini dada mantep banget.”
Tak sabar, kemudian Udin melepaskan kaitan BH Icha, terpampanglah buah dada Icha yang bulat dan besar. Gemas, langsung Udin melumat dada kanan Icha.
“Aaaahhh, Udin, pelan sayang. Ah ah ah, ya, pelan, aaakhhhhh, jangan digigit.”
“Maaf, abis gemes sih. Ini, udah siapa aja yang ngemut dada ini Cha? Yang udah milin ini puting?” Tanya Udin sambil kembali mempermainkan puting Icha dengan lidahnya. “Mantan Ichaaaaa, ah, Udin enak banget, diapain puting Icha?”
“Oooo, hm, udah pernah, itu ga Cha?”
“Apa? ML? Belum, baru peting doang Din.”
“Dengan ato tanpa baju?”
“Ah, udah gak pake baju Din. Iya, enak Din, jangan berhenti.”
Udin tersenyum, kemudian dia bangkit. “Kenapa Din?” Tanya Icha. Tanpa menjawab, Udin membuka celana jeans Icha, Icha membantu dengan mengangkat pantatnya. Kemudian giliran CD nya. “Indah” pikir Udin. Pasti enak kalo dimasuki oleh penisnya. Tapi Udin tidak berniat untuk melakukan sejauh itu. Udin sendiri langsung membuka pakaiannya. Kemudian dia mulai memposisikan dirinya di atas Icha.
“Udah oernah oral Cha?” Icha tidak langsung menjawab, namun kemudian dia mengangguk.
Udin meneruskan niatnya, dia temelkan ujung penis di atas lubang vagina Icha, dan lalu dia mainkan penisnya menggesek-gesek lubang vagina Icha yang sudah basah.

“Aaah, Udin, itu diapain? Enak banget say. Ah, aakhhhh, Udin.” Lama Udin melakukan hal ini, baru kemudian dia menekan-nekankan penisnya, menggesek-gesekan, pokoknya semua hal dia coba, sampai, “Udin, Icha mau keluar nih, hhhhhhmmmmm, aaakkkhh. Cepet Din, gesek lagi kaya tadi.” Udin melakukan hal yang Icha minta sampai tubuh Icha menegang, dan mulutnya terbuka tanpa suara. Cairan keluar dari vagina Icha.
“Cha, memek kamu basah banget.” Icha hanya terdiam malu dengan nafas yang ngos-ngosan.
Udin kemudian mengangkat kaki Icha ke atas, mengangkangkannya. Vagina Icha terpampang jelas di diapn mata, Klitorisnya jelas terlihat. Kemudian udin mendekatkan penisnya, menyimpannya diantara belahan vagina yang sudah basah itu, kemudian mulai memaju mundurkan penisnya, “Ichaaa, enak banget Cha. Ah uh, memek kamu enak banget Cha, pdahal belum dimasukin.” Butuh waktu 5 menit di posisi ini sampai akhirnya, crooottt, udin menembakkan spermanya, banyak sekali, sebagian mengenai perut, dada, bahkan ada yang muka Icha.

“Hah hah hah, gila, cape Cha.” Tapi rupanya Udni belum puas, dia bangkit, mendekatkan penisnya ke mulut Icha. “Bersihin Cha, sekalian isep.” Tanpa banyak bicara Icha menelan penis Udin, menjilatinya, dan mengoralnya.
“Ah, iya gitu Cha. Mantep juga mulut kamu, enak diemut kamu Cha.”
Icha mengeluarkan penis Udin dari mulutnya lalu bertanya “Emang udah diemut ama siapa aja hayo?” Udin tertawa, tidak menjawab, langsung memasukan lagi penisnya ke dalam mulut Icha, kali ini, bukan Icha yang aktif bergerak, Udin memaju-mundurkan pinggangnya, menyetubuhi mulut Icha. Icha sendiri hanya bisa mendengus, dan mencoba bernafas sambil menyedot penis Udin supaya cepet selesai.
“Cha, mau keluar Cha, telen Cha, jangan ada sisa. Chaaaa, Ichaaaaaaa, keluarrrr.” Dan Udin menyemprotkan spermanya ke dalam mulut Icha, dan sesuai permintaan Udin, Icha menelan seluruh spermanya, tanpa sisa.

Setengah jam setelah permainan mereka, Icha bertanya pada Udin, “Din, mau nanya, tapi tolong kamu jawab, kamu masih ada rasa gak ke Icha?”
Udin tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya merengkuh tubuh Icha dalam pelukannya dan mencium bibir Icha, lembut
“Gimana Ma, udah bilang ke mas Gio?” Tanya Revi di kantin sekolah siang itu.
“Udah, dia mah hayu-hayu aja. Kamu aja yang tentuin jadwalnya.”
“Okeh, gimana kalo tiap Rabu gitu. Bilangin ya?
“Siap.”
“Heh, makan apa? Ada jatah buat saya ga?” Entah dari mana Udin tiba-tiba duduk di sebelah Ima.
“Kagak. Tapi keliatannya bu Nunung banyak tuh. Soto masih numpuk.” Revi dan Ima tertawa.
“Ceria banget Din? Ada sesuatu kah?” Revi melirik ke arah Udin dengan menyipitkan mata. “Hayooooo. Ada apa? Biasanya Senin bawaan kamu mah muruuuung mulu. Gak ada semangat bahkan untuk makan soto.”
“Hmmm, pasti cewek. Jadian ama siapa lagi Din?” Sahut Ima.
“Siapa bilang saya jadian lagi Ima cantik? Gak ko. Deket, iya, jadian? Belum tau. Eh, liat si Gusti gak? Kemaren dia dapet rejeki nomplok.”
“Rejeki? Pantesan dari pagi dia cengar cengir mulu, dan keliatannya tadi langsung pulang.” Ima menambahkan.
“Ke BIP, nyari baju katanya.” Tiba-tiba Rian datang dari belakang mereka. “Tumben, biasanya eta Betawi ngajak-ngajak kalo mau beli baju. Ini maen cabut sendiri aja. “ Rian menempelkan pantatnya di sebelah Revi. “Apaan tuh? Bagi lah?”
“Ih ni anak, dateng-dateng ngerampok.” Cegah Revi, “Beli olangan sana. Banyak duit juga.”
“Huh, banyak duit dari mana? Dia maen DotA kemaren aja saya yang bayarin.” Seru Udin. “Lah, buktinya kemaren ngbayarin tiket nonton plus makannya.” Sahut Revi.
“Riaaaannn, ih, gak ngajak-ngajak.” “Maneh siah, katanya boke, hutang, dianggap hutang.” Ima dan Udin berkata hampir bersamaan.
Rian hanya diam, matanya memandang wajah Revi lekat-lekat, mata mereka bertemu, dan Revi tersenyum.

====================================
Rian mengunci HP nya. Tersenyum. Baru kali ini dia chatting dengan Revi sampai jam 11 malam, padahal mereka mulai dari jam 7. Tiba-tiba saja, cat kamar kos yang dia tempati terlihat lebih putih dan bersih.
Jumat nanti, mereka berjanji untuk nonton bareng lagi. Duduk lagi berdua di tempat gelap. Memperhatikan wajah Revi dari dekat tanpa dia harus tau, memegang tangannya. Bayangan apa yang terjadi pada hari Minggu kemaren membuat Rian serasa berada di awang-awang, karena itu akan terjadi lagi nanti.

====================================
“Kalo aja kamu bukan sahabat saya Yan.” Berbaring di atas dipannya Revi merenung. “Kamu baik, kalian baik. Bima, Rian, Bima, Rian.”
Terbayang wajah Bima yang ganteng, dengan sikap cuek dan apa adanya. Rian yang tidak kalah ganteng tapi lebih perhatian dan down to earth.
“Gak, ga boleh Vi, mereka adalah sahabat.” Lama Revi merenung, memandang profile picture Rian sekali lagi, dan tertidur, pulas.

====================================
“Nah, eta bisa. Ternyata kamu gak bodo-bodo amat Vi.” Ucap Gio di hari Rabu itu. Gio setuju untuk ngajarin Revi setiap Rabu untuk beberapa minggu ke depan. Kali ini, mereka belajar bersama di rumah Ima.

“Sialan, saya pinter tau, cuman Fisika aja yang ga cerdas gak mau temenan ama saya.”
“Ah, ngeles kamu mah Vi.” Ima masuk kamar membawa bungkusan gorengan. Yang pertama udah menghilang semua ke dalam perut mereka. Duduk di sebelah Gio, “Cape ga ngajarin makhluk satu ini mas?”
“Gak, sebenernya dia cerdas si Ma, cuman gampang nyerah.”
“Huh, serius nih, mas Gio muji saya? Hahaha, aduh, senengnya …”
“Heh orang pinggiran, gitu aja seneng.” Seru Ima.
“Yey, jeles nih pacarnya muji gueeee.”

Dan perang saudara dengan bantalpun mulai. Revi dan Ima berkejaran di dalam kamar, saling memukulkan bantal dan guling. Bergulat di kasur, berlari dan berteriak sambil terawa. Tanpa mereka sadari, Gio sedari tadi menelan ludah, melihat paha mereka karena rok seragamnya terangkat, “Putih” Pikir Gio melihat paha Revi. Buah dada mereka yang berayun kenyal, suara mereka, terutama Revi yang memiliki suara menggoda. Dan terutama Revi, dengan buah dada bulat yang tentunya belum pernah dia cicipi.
Kecapaian, mereka berdua tertidur telentang di atas kasur, memperlihatkan dengan semakin jelas payudara mereka yang turun naik. Gio semakin tidak nyaman, kemudian berdiri, “Ke aer dulu. Buat hari ini beres ya Vi, kita ketemu minggu depan.”

====================================
Lidya melihat baju yang diberikan oleh Gusti. “Buat saya Gus?”
“He eh.” Sahut Gusti sambil tersenyum.
Lidya tertawa. Perempuan cantik ini berfikir betapa cepatnya ini anak sampe ngasih dia barang. Tapi gak apa-apa, pikirnya lagi. Toh dia juga menyukai Gusti dari pertama dia melihat Gusti. Ketika dia dan lima sahabatnya bermain biliard di tempat Lidya bekerja.
“Ma kasih ya.”
“Iya, bagus ga? Gue belon pernah beli sesuatu buat perempuan sebelumnya. Mudah-mudahan lo seneng Lid.”
“Entar, ama maksud kamu belum pernah Gus? Kamu belum pernah punya temen cewek spesial?”
Gusti cuman tersenyum atau lebih tepatnya tersipu malu.
“Hah, serius? Jadi saya ini yang pertama? Hahaha, pertama kamu kasih dan pertama ngambil keperjakaan kamu. Saya jahat ya? Hahah?
“Iya nih, lo yang pertama. Untung aja lo itu cantiiiiiikkk banget, kalo gak, gakan mau gue.” Berkata Gusti dengan nada yang biasa, padahal otot-ototnya pada kejang. Keringat dingin sebetulmya sedari tadi sudah mengalir, dan pegangan tangannya di ujung mejapun sangat kuat. Lidya sebetulnya menyadari hal ini, dan ini lah yang membuat dia senang. Tapi buat Gusti, rasa senang ini masih dikalahkan oleh rasa takut. Ini kali pertamanya dia berani dekat dengan perempuan.

====================================
Popcorn itu sudah habis setengah, dan film yang mereka tonton masih seperempatnya. Rian menawarkan untuk membeli lagi, tapi Revi menolaknya. “Ga papa, biar aja.” Jumat yang dinanti oleh Rian akhirnya tiba. Dan mereka kini sedang menonton film berdua, seperti biasa mereka lakukan, namun kini dengan rasa berbeda.
Asik mereka menonton sampai tangan mereka bertemu ketika hendak mengambil popcorn secara bersamaan. Tertawa, mereka saling pandang.
“Revi, betapa indahnya senyum itu.”
“Rian, betapa baik kamu.”

Revi ingat, minggu kemaren ketika mereka bertemu dengan orang yang ingin dilupakan Revi. Rian mengajaknya nonton. Film yang ditonton lumayan menghibur hati Revi, tapi yang paling menghibur ialah perhatian Rian, dan usaha Rian untuk membuat Revi lupa dan kembali tersenyum. Rian membawa Revi berkeliling malam itu di atas motornya. Meminta Revi memeluk Rian dengan alasan malam yang dingin, tapi sesudahnya bilang kalo itu cuman asal-asalan dia aja. Tapi tetap Revi memeluk Rian. Rian yang membawa Revi ke batas kota dan lebih, hanya untuk menikmati malam bersama Revi dan bercerita, ato lebih tepatnya, ‘ngabodor’ sepanjang jalan. Menceritakan kisah-kisah lucu, inspiratif dan menarik. Membuat dia lupa.
Tanpa sadar, Revi menyandarkan kepalanya di bahu Rian.
Dan Rian tertawa dalam hati.

Keluar dari teater, mereka bertemu dengan Yuni.
“Yun, nonoton juga?” Sapa Revi ketika dia dan Rian bertemu dengan Yuni di depan pintu masuk bioskop itu.
“Eh, kalian, mmm, i-iya, tadi udah, ini lagi nunggu.”
“Nunggu Satrio?” Tanya Rian.
“Bukan, itu …”
Tak sempat menyelesaikan perkataan, Bima keluar dari dalam dan sedikit kaget melihat Revi dan Rian di sana.
“Hai.”
“Udah ke airnya Bim?” Tanya Yuni.
“Kalian?” Sahut Revi dan Rian bersamaan.

====================================

“Mmmm, slurp, hmmppf.” Udin melumat bibir Icha dengan bersemangat. Icha, mantan Udin. Kekasih Udin yang ke-empat. Mereka berpisah hanya karena mereka berbeda SMA. Ya, sebetulnya karena Icha juga denkat dengan laki-laki lain. Dan Udin menyukai teman satu kelompok waktu MPLS.
Icha sendiri sebetulnya cantik. Namun sikapnya seperti laki-laki, selengean dan seenaknya. Dengan rambut sebahu yang berwarna hitam. Hidung mancung dan kulit sawo matang. Dengan tinggi badan 160 cm, Icha memiliki ukuran buah dada yang lumayan besar. Dan sebetulnya Icha kurang menyukai ukuran buah dadanya, dia selalu bilang terlalu besar. Tapi Udin sangat menyukainya. Dulu waktu SMP, Udin paling suka meremasi sepasang buah dada itu, walaupun baru dari luar. Udin belum pernah sekalipun memegang buah dada itu secara langsung, melihatpun belum pernah. Namun dulu mereka sering melakukan peting. Tapi masih menggunakan seragam atau pakaian mereka. Nah, kalo celana dalam Icha, Udin sering liat ketika mereka peting. Tapi hanya sebatas itu yang pernah mereka lakukan.
Ciuman Udin turun ke leher jenjang Icha, “Ssssshhhh, aaahhh.” Rintih Icha. Benar-benar geli dia rasakan. Tangan kanan Udin bergerak ke arah buah dada Icha dan mulai meremasinya. Pelan, kasar, pelan, kasar, terus bergantian. Membuat Icha tambah kegelian.

“Buka aja Din.”
“Hmm.” Udin berguman, keget sebetulnya, sambil berfikir, sudah sejauh mana Icha dengan mantannya, namun tetap membuka kaus yang dikenakan Icha. Terlihat untuk pertama kali bagi Udin, buah dada Icha yang montok, “Aneh”, pikir Udin, “Padahal badan Icha gak montok, tapi ini dada mantep banget.”
Tak sabar, kemudian Udin melepaskan kaitan BH Icha, terpampanglah buah dada Icha yang bulat dan besar. Gemas, langsung Udin melumat dada kanan Icha.
“Aaaahhh, Udin, pelan sayang. Ah ah ah, ya, pelan, aaakhhhhh, jangan digigit.”
“Maaf, abis gemes sih. Ini, udah siapa aja yang ngemut dada ini Cha? Yang udah milin ini puting?” Tanya Udin sambil kembali mempermainkan puting Icha dengan lidahnya. “Mantan Ichaaaaa, ah, Udin enak banget, diapain puting Icha?”
“Oooo, hm, udah pernah, itu ga Cha?”
“Apa? ML? Belum, baru peting doang Din.”
“Dengan ato tanpa baju?”
“Ah, udah gak pake baju Din. Iya, enak Din, jangan berhenti.”
Udin tersenyum, kemudian dia bangkit. “Kenapa Din?” Tanya Icha. Tanpa menjawab, Udin membuka celana jeans Icha, Icha membantu dengan mengangkat pantatnya. Kemudian giliran CD nya. “Indah” pikir Udin. Pasti enak kalo dimasuki oleh penisnya. Tapi Udin tidak berniat untuk melakukan sejauh itu. Udin sendiri langsung membuka pakaiannya. Kemudian dia mulai memposisikan dirinya di atas Icha.
“Udah oernah oral Cha?” Icha tidak langsung menjawab, namun kemudian dia mengangguk.
Udin meneruskan niatnya, dia temelkan ujung penis di atas lubang vagina Icha, dan lalu dia mainkan penisnya menggesek-gesek lubang vagina Icha yang sudah basah.

“Aaah, Udin, itu diapain? Enak banget say. Ah, aakhhhh, Udin.” Lama Udin melakukan hal ini, baru kemudian dia menekan-nekankan penisnya, menggesek-gesekan, pokoknya semua hal dia coba, sampai, “Udin, Icha mau keluar nih, hhhhhhmmmmm, aaakkkhh. Cepet Din, gesek lagi kaya tadi.” Udin melakukan hal yang Icha minta sampai tubuh Icha menegang, dan mulutnya terbuka tanpa suara. Cairan keluar dari vagina Icha.
“Cha, memek kamu basah banget.” Icha hanya terdiam malu dengan nafas yang ngos-ngosan.
Udin kemudian mengangkat kaki Icha ke atas, mengangkangkannya. Vagina Icha terpampang jelas di diapn mata, Klitorisnya jelas terlihat. Kemudian udin mendekatkan penisnya, menyimpannya diantara belahan vagina yang sudah basah itu, kemudian mulai memaju mundurkan penisnya, “Ichaaa, enak banget Cha. Ah uh, memek kamu enak banget Cha, pdahal belum dimasukin.” Butuh waktu 5 menit di posisi ini sampai akhirnya, crooottt, udin menembakkan spermanya, banyak sekali, sebagian mengenai perut, dada, bahkan ada yang muka Icha.

“Hah hah hah, gila, cape Cha.” Tapi rupanya Udni belum puas, dia bangkit, mendekatkan penisnya ke mulut Icha. “Bersihin Cha, sekalian isep.” Tanpa banyak bicara Icha menelan penis Udin, menjilatinya, dan mengoralnya.
“Ah, iya gitu Cha. Mantep juga mulut kamu, enak diemut kamu Cha.”
Icha mengeluarkan penis Udin dari mulutnya lalu bertanya “Emang udah diemut ama siapa aja hayo?” Udin tertawa, tidak menjawab, langsung memasukan lagi penisnya ke dalam mulut Icha, kali ini, bukan Icha yang aktif bergerak, Udin memaju-mundurkan pinggangnya, menyetubuhi mulut Icha. Icha sendiri hanya bisa mendengus, dan mencoba bernafas sambil menyedot penis Udin supaya cepet selesai.
“Cha, mau keluar Cha, telen Cha, jangan ada sisa. Chaaaa, Ichaaaaaaa, keluarrrr.” Dan Udin menyemprotkan spermanya ke dalam mulut Icha, dan sesuai permintaan Udin, Icha menelan seluruh spermanya, tanpa sisa.

Setengah jam setelah permainan mereka, Icha bertanya pada Udin, “Din, mau nanya, tapi tolong kamu jawab, kamu masih ada rasa gak ke Icha?”
Udin tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya merengkuh tubuh Icha dalam pelukannya dan mencium bibir Icha, lembut

***********************

“Gini?”
“Bukan neng, gini harusnya.”
“Ah, bener, lebih pas.”
“Nah kan, apa saya bilang, kalo udah pas gini kan enak.”
“Ya tapi mas, soalnya kan susah, jadi gak bisa langsung ke baca.” Kilah Revi di hari Rabu itu. Jadwal belajar Fisikanya dengan Gio. Kali ini di rumah Revi.
“Vi, kemaren kamu udah bisa baca jenis soal kayak gini. Sekarang kenapa? Ko gak fokus. Problem?”
“Engga, ga ada apa-apa mas.”
“Yakin? Ya sudah kalo emang gak ada apa-apa mah. Tapi kamu jadi kurang fokus aja.”
“Hm, sebenernyaaaa ada sesuatu sih, tapi masih bisa dihandle.” Revi tersenyum. Senyum yang Gio tahu pasti dibuat-buat.
“Kalo ada apa-apa, kamu jangan ragu-ragu cerita ke saya. Nyantey aja. Ya?”
“Siap deh mas.”

“Tapi, itu ko ada kecoa di kerudungnya gak bilang-bilang?” Ucap Gio kala ia melihat memang ada kecoa di kerudung Revi.
“Hah, aaaaa, mana? Mana?”. Revi teriak, meloncat, dan refleks memeluk Gio, Gio sendiri tidak menyangka hasilnya bakalan seperti ini.
“Glek.” Empuk, ketika Gio merasakan sepasang buah dada Revi yang bulat empuk itu menyentuh dadanya. Gio menyingkirkan kecoa itu, tapi Revi masih juga memeluk dirinya. Dibiarkan beberapa saat walaupun hal ini mau tak mau mebuat penisnya keras, kemudian Gio berkata, “Mau ampe kapan nih meluknya? Bayar loh.”
Revi kaget, tersipu, dan melepaskan pelukannya pada Gio. Pelajaran kali ini diakhiri dengan perasaan canggung di kedua pihak.

Tak lama setelah Gio pulang, Revi terbaring di kasurnya, tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi, namun kembali dia teringat Bima, pertemuannya dengan Bima dan Yuni Jumat kemarin masih berbekas di benak Revi. “Apa benar Bima ama Yuni? Tapi Yuni kan udah ada Satrio, ato mereka emang backstreet?” Ada perasaan iri dan cemburu di hati Revi. Perasaan yang segera ia simpan. Kemudian ia ingat Rian. Membuka HP nya, masuk ke Gallery, dan melihat foto Rian. Revi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Udahlah.” Pikirnya, dan kemudian Revi berdiri, membuka kerudungnya, dan masuk ke kamar mandi.

Teringat lagi kejadian tadi dengan Gio, dan Revi berusaha mengingat-ngingat kembali, kapan terakhir kali dia dipeluk oleh laki-laki. “Sudah lama.” Revi lalu menanggalkan seluruh pakaiannya, bersiap untuk mandi. Dan ketika menyabuni dirinya, pas dia memegang buah dadanya, kembali dia berpikir, mengingat terakhir kali dadanya itu diemut, dan putingnya dipilin. Tanpa Revi sadari, dia mulai menyenyuh dirinya, meremas sendiri buah dadanya.
“Aaaahhhh, ssssss” Revi mulai merintih, dan merasa geli. Tangan kanannya turun ke arah selangkangannya, menyentuh vaginanya, bermain disekitar belahan vaginanya.

“Hhhheeeeuuu, ah, sssss, ahhhh …… “ Jarinya menemukan klitorisnya, dan Revi bermain disitu, di tempat yang belum pernah disentuh oleh laki-laki. Mantannya pun dulu, walaupun pernah memainkan vaginanya, namun belum menemukan bagian ini.
Lima menit sudah revi menyentuh dirinya sendiri, sampai. “Aaaaaaahhhhhsssssss …… hah hah hah.” Orgasme dahsyat melanda Revi, setelah hampir 2 tahun dia tidak merasakannya.

================================

Gio memacu motornya dengan cepat, tujuannya sudah pasti, rumah Ima. Kejadian tadi dengan Revi benar-benar membuatnya naik. Di simpannya kuda besi di halaman rumah Ima, dan langsung dia menuju pintu, baru saja hendak digoyangkannya bel gantung di pinggir pintu, ibu Ima keluar. “Eh, Gio, mau ke Ima? Imaaaa, ada mas Gio nih.”

“Loh, Ibu mau ke mana?” Tanya Gio.
“Ke rumah neneknya Ima, sakit katanya, bapaknya Ima udah di sana, jadi Ibu mau nyusul. Udah makan belum? Kalo belum di meja masih ada makanan.”
“Udah ko Bu, tapi nanti kalo tiba-tiba rasa lapar datang menerjang, pasti ikut makan, haha.”
“Ya sudah, Ibu pergi dulu.”
“Ya, hati-hati Bu.” Gio memperhatikan sampai ibunya Ima menghilang dari pandangan sambil berpikir, “Mana nih si Ima, lama banget keluarnya.” Namun tak lama kemudian Ima keluar, segar, rupanya dia baru beres mandi, menggunakan kaos putih pendek, yang ditutup oleh jaket hitam, celana piyama dan kerudung langsung pakai berwarna putih.

“Hai Mas, dari Revi?”
“Iya, kangen Ima, jadi langsung ke sini.”
“Huuuu, gombal. Masuk mas”
“Pada kemana Ma?”
“Si kakak pulang malem, mamah dan papah di nenek, Ima tadinya udah ma….. mmmppphhhhf.”

Belum selesai menyelesaikan perkataannya, Gio langsung menyambar bibir Ima. “Mas? Mhmm …. ah, slurp.”
Tangan Gio langsung meremas buah dada Ima, padat, kenyal, “Aaaahhh … mas.”
Bernafsu, Gio membalikan tubuh Ima, memeluknya dari belakang, tangan kirinya menyentuh pipi kiri Ima, mendorongnga agar Ima melihat ke arah kanan, kemudian kembali melumat bibir Ima, lembut, namun tetap bernafsu.

Lidah mereka saling melilit satu sama lain, kedua tangan Gio kini sudah berada di atas kedua buah dada Ima, meremasnya, memainkannya. “Ah, massss, masih di ruang tamu ini, aaahhhhhh, enak tapi, terusin dulu, aahhhhhh ….. “
Gio tidak menyia-nyiakan kesempatan, dilepaskannya jaket hitam Ima, dan dinaikannya kaos Ima ke atas, dia langsung menyentuh buah dada Ima dari atas BH nya. Tidak puas dengan itu, Gio melepaskan kaitan BH Ima, dan langsung memainkan puting Ima yang sudah berdiri, memilinnya, dan kembali meremas dada Ima.
Ima sendiri tampaknya terbawa oleh nafsu, dari mulutnya keluar rintihan yang menggairahkan, hal ini menambah nafsu Gio. Mereka terus berciuman, dan Gio pun mulai beralih dari mulut Ima ke arah telinga Ima yang masih tertutup kerudungnya. “Mas, aaaahhh, geli mas.”
Gio menyingkapkan bagian kanan kerudung Ima, dan dia langsung mencium leher Ima yang putih mulus, menjilatinya, membasahinya. Penis Gio dia tekan dengan keras ke pantat Ima “Ah, Ima, susu kamu bener-bener bagus Ma. Putingnya juga.”

Tangan kanan Gio kemudian turun ke selangkangan Ima. Ima sendiri langsung berteriak kecil. Piyama yang digunakannya terbuat dari kain yang tipis. Otomatis, kini jari Gio lebih terasa menyentuh belahan vaginanya. Gio sadar akan hal ini, apalagi dari nafas Ima yang semakin memburu dan rintihannya.
Sementara tangan kirinya tak henti meremas dada kiri Ima, tangan kanannya terus saja menggesek vagina Ima dari luar piyamanya, dan penisnya terus Gio tekan ke pantat Ima. Bibirnya sendiri sedari tadi sudah kembali menemukan bibir Ima. Dan tangan Gio sudah merasakan selangkangan Ima semakin lembab. Gio paham betul hal ini, karenanya terus dia mainkan jari-jarinya sampai akhirnya Ima mendapatkan orgasmenya.

“Mas, Imaaaa, aahhhh, keluar mas.” Lemas, Ima langsung duduk di lantai ruang tamunya. Gio mengangkat Ima dan mendudukannya di sofa. “Saya belum keluar Ma.”
“Ya, mas mau peting?”
Rupanya Gio ingin lebih, ini dibuktikannya dengan langsung membuka resleting celananya dan mengeluarkan penisnya, tidak mempedulikan protes Ima.
“Tolong kocokin sayang, ya? Mau ya?”
Kali ini Ima merasa sangat tidak enak, kemudian dia mengangkat tangan kanannya, menyentuh penis Gio, untuk pertama kali Ima menyentuh kemaluan laki-laki, “Ya, kocok Ma.”

“Gini?” Ima bertanya sambil mengoco penis Gio dengan tangannya yang halus. “Iaaa, gitu sayangngng, ah, terus Ma.” Gio mendesah dan mengerang. Cairan pelumasnya pun sudah banyak yang keluar dari ujun penisnya. “Ma, mau keluar Ma, kocok yang lebih cepet lagi Ma. Ah ah ah, Ma, keluar, Imaaaaaa …”
Dan, crooott, spermanya keluar, muncrat, sebagian mengenai kerudung Ima, sebagian ke sofa, dan sebagian ke kaos Ima.

“Ahh!” Ima berteriak kaget. “Ih, Mas, jorok banget deh.” Apalagi ketika Ima sadar di tangannya pun terdapat sperma Gio. Gio sendiri hanya tersenyum puas. Ima kemudian membersihkan semua sperma Gio dengan tisu. Gio kembali memeluk Ima dan berucap, “Terima kasih cinta.”

Tapi rupanya itu tadi itu belum cukup buat Gio, dia kembali menciumi Ima, dan kali ini yang menjadi sasarannya sudah pasti adalah puting Ima. Ima yang masih kaget kembali tersentak, namun kali ini oleh rasa nikmat yang dirasa, apalagi ketika Gio membuka mulutnya lebar-lebar dan menyedot buah dada kananya, hampir seluruh buah dadanya masuk ke mulut Gio, “Aaahh, mas, enak mas, ah, ya, itu, mainin puting Ima mas.” Rengek Ima.
Gio menidurkan Ima di atas sofa, menindihnya, kembali melumat buah dada Ima. “Cupangin mas.” Kembali Ima merengek. “Kiri ato kanan?”
“Dua-duanyaaaaa, ah, enak.”

Gio terus membuat tanda, tapi dia tidak berhenti di dada, naik ke atas, Gio memberikan cupangan di leher, membuka sedikit kerudungnya ke atas, dan dia mencium telinga Ima langsung, tanpa tertutup oleh kerudung.
“Mas, geliiiii, aaaakhhhh ….”
“Tahan sayang, ntar juga enak.”
“Geli mas, gak kuat. Ssssss … Aaakhhh.”

Sedikit demi sedikit Gio mengangkat kerudung Ima, sampai akhirnya kerudung langsung pakai itu terlepas dari kepala Ima, dan terlihatlah rambut Ima yang hitam dan panjang, lehernya yang benar-benar jenjang dan putih. Gio langsung menyambar mulut Ima, dengan kedua tangannya bergerak dikepala Ima di antara rambut Ima yang indah.

Penis Gio yang belum dimasukkan ke dalam celananya menekan-nekan vagina Ima dari luar piyama, dan ini otomatis lebih dirasakan pula oleh Ima. Penis Gio langsung dan piyamanya yang tipis. Mereka terus saling tekan, saling raba, dan saling cium. Sampai mereka merasakan orgasme hampir berbarengan. Dimulai dari Gio, yang keluar dan disertai dengan dorongan pinggulnya yang kuat ke selangkanyan Ima, dan diikuti oleh Ima. “Ah, mas, Ima keluar mas.”
Ngos-ngosan, Gio masih berada di atas tubuh Ima. Memeluk Ima, dan mencium keningnya.

Gio merasa puas, kali ini permainannya dengan Ima sudah lebih jauh, tapi dia merasakan hal lain. Ya, peristiwa dengan Revi tadi. Dan yang jadi masalahnya, dia sempat bekhayal bahwa yang tadi dia remasi dan mainkan adalah buah dada Revi.

*****************************

Hari Sabtu, beberapa minggu setelah pertemuan Rian-Revi dan Bima-Yuni di bioskop, Ima mentraktir para sahabatnya makan. Hari ini ulang tahunnya ke 18. Udin membawa Icha, dan menyatakan kalo mereka udah jadian lagi. Namun yang sempat membuat suasana canggung adalah Bima yang membawa Yuni. Karena semua tahu, Yuni masih berstatus pacarnya Satrio.

Namun suasana canggung itu tidak berlangsung lama, namun tetap saja, Yuni merubah suasana. Bahkan Rian pun beberapa kali mencuri pandang pada paha Yuni yang kebetuan saat itu menggunakan gaun dengan rok di atas lutut. Putih dan bersih.
Udin pun walaupun ada Icha, masih mencuri-curi pandang juga. Setiap ada kesempatan, pasti di ambil. Hal ini diketahui oleh Revi. Berkali-kali dia melihat ujung mata Rian melirik kaki Yuni yang panjang dan seksi. Namun dia diam saja. Bingung harus bertindak seperti apa.

“Saya ke aer dulu.” Bima berkata pada suatu waktu.
“Bareng Bim.” Rian mengajak. Di toilet Rian memberanikan diri bertanya ke Bima “Bim, kamu sahabat saya, saya gak mau ada apa-apa ama kamu dan Satrio. Maksud saya, siapa sih yang gak seneng ama Yuni. Cantik, seksi, putih, pokokna mah, wah! Tapi status dia masih ama Satrio. Kamu yakin?”
Bima hanya tertawa kecil, lalu menjawab “Ya, mau gimana lagi Yan, untuk saat ini kami nempel kayak perangko.”
“Gelo maneh Bim. Cari masalah. Tapi, ya, kalo ada apa-apa saya ada buat kamu. Terus maksudna nempel itu apa? Udah ah uh ah uh kalian?”
“Jiah, kayak gak tau Bima aja Yan. Udahlah, hahaha.” Jawab Bima dengan nada bangga.
“Anjrit, sirik uy.”
“Lah, kamu juga yang gak baleg. Si Ifa yang cantiknya bukan maen itu kenapa kamu jauhin. Si Atika juga, perempuan cantik gitu dengan body aduhai, walopun pake kerudung juga, tetep cakep, kenapa kamu gak mau?”
“Belum mau Bim. Bukan gak mau. Ngomong-ngomong, udah diapain aja si Yuni?”
“Hahahaha, mau tau? Tar saya ceritain.”

=======================

“Huft, cape mas, udah dulu ah.”
“Ya udah Vi, gimana tuan putri ajaaaaa.”
Sore itu kembali Revi dan Gio belajar bersama. Revi bener-bener mengejar ketinggalannya di Fisika. Supaya lulus UN ujarnya.
“Eh Vi, sori nih nanya, kenapa kamu masih jomblo, kamu cantik, baik, tapi ko sendiri?”
Revi terdiam, tapi akhirnya menjawab “Gak ah mas, sakit hati ama yang kemaren juga. Tar aja lagi. Nyantey.”
“Dasar, emang sakit hati kenapa?” Gio bertanya lebih jauh.
“Ya gitu deh, dia ternyata udah tunangan.” Entah kenapa, Revi ingin menjawab. Beberapa waktu berdua dengan Gio membuat Revi nyaman. Gio enak untuk diajak cerita, tidak menghakimi, dan tidak pernah sekalipun melihat dari sisi negatif.
“Ya, bodo dia. Perempuan cantik kayak kamu disia-siain.”
“Emang Revi cantik mas? Cantik mana ama Ima?”
“Ya gak bisa dibandingin gitu atuh Vi, ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi kamu pasti kalo lagi, ehm, gitu,” Gio menekankan pada kata ‘gitu’ “pasti berisik. Ya?”
“Ih, sok tau. Hehehe. Tapi bener sih, pernah Revi ampe di tutup mulutnya gara-gara berisik.” Jelas Revi.
“Tar, ditutup mulutnya? Emang lagi diapain?”
“Hm, jangan bilang-bilang ya? Itu, di emut.”
“Apanya? Hahahahaha.”
“Idih, itunya. Emang mas suka ngemut apanya Ima?”
“Baru dada ama putingnya si Vi.”
“Jiah, baru, emang mau ngemut apa lagi mas? Dasar.”
“Tapi, kamu udah pernah oral?” Gio kembali bertanya.
“Hm, udah sih, terakhir gitu, Revi ngoral dia. Ampe disuruh bersihin mani nya dia malah. Tapi udah itu tunangan dia dateng. “
“Hmmm.” Gio merenung, entah apa yang ada dipikirannya.
“Mas udah pernah di oral Ima?”
“Belum, baru dikocokin doang. Enak, hahahaha.”
“Dasar cowok, udah ah, ganti topik.”
“Haha, iya, tapi ngomong-ngomong, suka ngerasa pengen lagi ga Vi?”
“Hm, gimana ya? Hehehehe, masih mas.”

====================================

“Serius Ma? Bima udah gituan ama Yuni?” Revi mengklarifikasi ucapan Ima sebelumnya.
“Beneran, kata Yuni. Dia Ima tanya waktu itu, Ima gak mau Bima dan Yuni jadi susah. Kamu kan tau, Ima ama Yuni sebangku di kelas X. Terus dia cerita, kalo sebenernya Yuni suka ama Bima. Dan mereka udah beberapa kali ML. Tapi Yuni juga masih ada rasa ama Satrio.” Jelas Ima.
“Gak bisa gitu dong. Itu kan sama aja maenin Bima. Ko gitu si Yuni.” Protes Revi bersemangat. Padahal, sebagian kecil dari hatinya luka. Revi sadar akan hal ini. Cemburu dan iri. Cemburu pada Yuni dan iri dengan apa yang dilakukan Bima pada Yuni.
“Gak juga. Soalnya dilakukan tahu sama tahu dan suka sama suka, tanpa ikatan. Mereka bisa berhenti kapanpun mereka mau, kata Yuni. Tapi, yaaaa, gitu deh. Apalagi si Bima, kaya kucing nemu ikan. Pasti didahar, kayak gak tau sahabat kita satu itu Vi. Makhluk nekad dia mah.” Ima menjelaskan. “Pokoknya, kita gak usah ngehakimin mereka. Yang penting, sebagai sahabat kita harus selalu ada.”

Perbincangan di waktu istirahat tadi membuat Revi diam selama sisa jam pelajaran. Menjadi tidak fokus malah, berkali-kali dia ditegur guru pada jam-jam itu. Revi kembali melikah bangku kosong Bima dengan pandangan kosong. Ini tidak luput dari perhatian Rian.
“Revi, kamu bener ada hati buat Bima ya?” Pikir Rian, dan terlintas dipikirannya bahwa kedekatan Rian dengan Revi selama ini sebatas sahabat bahkan hubungan adik dan kaka. Revi sudah melihatnya seperti itu. Rian menarik nafas panjang dan melepaskannya. Sampai Udin di sebelehnya berkomentar, “Ngantuk maneh Yan? Ke aer gih, sambil saya nitip gorengan.”
“Maneh waeee. Jenuh aja Din, kalo kamu mau gorengan, sana, saya nitip minum.”
“Jiah, teu jadi ah.” Keluh Udin.

================

Beberapa hari ke depan semua berjalan sama seperti biasa, hanya saja ditambah Revi yang sedikit out of focus dan Rian yang berbeda, Rian masih memuja Revi. Namun kini dia mau ngobrol berlama-lama dengan Ifa, Atika dan siswi lain yang mendekatinya.
Terutama Atika. Ifa memang cantik, sangat cantik malah. Namun entah kenapa Rian lebih senang dengan siswi berjilbab. Menurutnya terkesan lebih seksi dan menggairahkan.

Hal ini pun tak luput dari mata Revi. Pernah suatu waktu, Revi melihat Rian sedang tertawa lepas bersama Atika di pojok sekolah dekat parkir motor. Revi cemburu, ya, dia merasakan cemburu. Namun tidak seperti apa yang Revi rasa ketika mendengar hubungan Bima dengan Yuni. Tanpa rasa iri, namun rasa cemburunya lebih besar sebetulnya, hanya Revi belum sadar.

========================
Hari berganti hari dan minggu pun berganti, tidak terasa ini minggu terakhir Gio mengajar Revi. Tiga minggu lagi Ujian Nasional di mulai. Perkembangan Revi sangat baik menurut Gio, walaupun akhir-akhir ini Revi sedikit malas dalam belajar. Dan hal ini yang membuat Gio menawarkan solusi bagi Revi.
“Minggu besok ada kegiatan ga Vi?” Tanya Gio di akhir sesi belajar itu.
”Gak ada, kenapa Mas? “
“Tangkuban perahu yu? Kita Refreshing aja. Mau?”
“Hmmm, gimana ya? Ima gimana?”
“Gak apa-apa. Ya, tapi dia gak perlu tahu juga. Nyantey aja. Gak bakalan terjadi hal-hal yang amat sangat saya inginkan ko.” Tengan Gio menjawab. Kalimat terakhir sebetulnya sangat dia harapkan ada. Lumayan, Revi, siswi berjilbab yang cantik. Memang kalah cantik dari Ima, tapi setiap Gio berduaan dengan Revi, pandangannya selalu mencuri kesempatan untuk melihat buah dada Revi yang membusung kencang. Bulat.
“Hmm, liat entar deh ya. Kalo gak ada kegiatan apa-apa.”
“OK.”

====================================
Rian memandangi layar memandangi layar HP nya, dia memandang chat window antara dia dengan Revi. Sudah beberapa hari Rian ingin menghubungi Revi, dan ngobrol lagi sampai malam, namun rupanya dia masih belum berani. Alih-alih mengawali percakapan, dia membuka beberapa foto Revi yang dia miliki. Menciumnya, kemudian melakukan hal yang biasa dia lakukan sambil melihat foto Revi, onani.

====================================
Bima memandang keluar jendela kamarnya. Dia lebih menyukai perempuan berambut panjang. Apalagi mereka yang dengan tidak segan mempertontonkan keindahan tubuh mereka, putihnya paha mereka atau indahnya leher mereka. Namun tadi, ketika dia melihat Rian bersama Atika jalan bareng di toko buku, dia menyadari sesuatu, jilbab atau tidak, mereka tetap cantik dan seksi. Dan entah kenapa, tiba-tiba adiknya naik, hanya memikirkan Atika dan membayangkannya. “Sial.” Gerutu Bima dalam hati, dan dia mulai memikirkan Ima dan Revi, sahabatnya yang cantik. Terutama Ima, karena Bima memang menyukai perempuan dengan kulit putih, dan Ima memang sangat putih dan mulus.
Tidak kuat, Bima langsung lari ke kamar mandi.

====================================

Udin melihat foto bareng dia dengan Icha. Mereka tadi sore iseng berfoto di booth foto. “Icha.” Gumannya lirih, dulu dia sangat mencintainya, kini pun masih, walaupun tidak dengan sangat. Dia mengelus foto itu. Icha memang cantik. Sawo matang, eksotis, bodi yang aduhai. Tapi ada yang kurang, ya, mantan Udin. Mantannyaterakhir bukan perempuan tomboy seperti Icha ataupun mantan-mantan dia yang lain, tapi ada sesuatu yang tidak bisa dia gambarkan. Mungkin hanya sebuah pembenaran keadaan, dia laki-laki dan menyukai perempuan, titik. Bukan perempuan tomboy.

====================================

Ima melihat dada kanannya di cermin. Melihat cupangan baru yang tadi Gio buat. Tersenyum. Entah kenapa dia suka dilakukan keras, atau lebih tepatnya kasar ketika melakukannya dengan Gio. Dan dia menyentuh buah dadanya itu, meremasnya. “Kencang, masih kencang.” Pikirnya, dia sedikit khawatir, karena remasan tangan Gio di buah dadanya itu seringkali keras, belum lagi sedotannya.

Kemudian diamenyibakan rambutnya, sebuah tanda kecil juga ada di lehernya sebelah kiri. Kembali dia tersenyum, lalu berdiri, mematikan lampu kemudian berbaring di tempat tidur. Ima tidak langsung tidur, melainkan tangannya turun, membelai kemaluannya. Tadi Gio memainkan tangan dan jarinya disana, setelah satu tahun pacaran, baru tadi kemaluannya disentuh langsung oleh Gio. Basah, geli tapi nikmat. Dan Ima tahu ini salah, namun dia berharap, pada pertemuan lain kali, dia menginginkan Gio bertindak lebih.

====================================

“Cantik.” Pikir Revi ketika melihat pantulan wajahnya di cermin. Melihat alisnya yang lurus den lumayan tebal. Hidungnya yang bagus dan mancung, dan bibirnya yang memang indah. Bibir itu sudah dipuji oleh banyak orang, diantaranya Gio dan Rian, ya, bahkan Rian terlalu sering memuji bibirnya. Bima? Belum pikir Revi, Bima belum pernah memujinya.

Menguap, Revi kemudian berjalan menuju tempat tidur. “Huft, harus tidur nyenyak. Besok mau ke Tangkuban.”
Memejamkan mata namun tak lama kemudian dia kembali membuka matanya. “Mas Gio.” Rupanya ketika menutup mata tadi, Revi melihat bayangan Gio, laki-laki yang selama ini menjadi kekasih Ima, namun baru dia sadari kalo Gio penuh perhatian dan baik, dan diapun menyadari, kalo sebenarnya Gio sering memperhatikan dia. Tapi Revi membuang jauh-jauh pikiran itu. “Gio punya Ima.” Kemudian Revi tertidur.

====================================

Gusti belum memejamkan mata. Di sampingnya Lidya tertidur pulas tanpa pakaian. Tangannya mengelus rambut Lidya. Permainan tadi benar-benar dahsyat, dia sampai keluar 5 kali. Lidya sendiri entah berapa kali.
Dia mencintai perempuan satu ini. Walaupun masih belum pernah mengucapkannya. Namun dia yakin, jika ini adalah cinta. Karena dia tidak peduli kenyataan bahwa Lidya 2 tahun lebih tua dan bukan perawan lagi. Gusti tidak pernah bertanya siapa yang mengambil keperawanannya, dia selalu beralasan, nanti juga Lidya bilang kalo sudah waktunya.

Tangan kanan Gusti perlahan meraih buah dada Lidya, meremasnya. “Hmmmmmm….” Lidya mendesah, Gusti tersenyum, sadar bahwa adiknya mulai bangun. Dia melihat jam, pukul 11.30. Dia belum bisa tidur. Baru kali ini dia menginap di kamar Lidya. Masih belum terasa kerasan. Gusti memejamkan matanya berusaha tidur, namun di kepalanya kembali terulang adegan-adegan tadi, adegan gila yang mereka lakukan ………

**********

Gusti mengingat-ngingat kejadian tadi, ketika mereka baru saja sampai kamar kostan Lidya.
Gusti melucuti semua pakaian Lidya, kini Lidya tidak mengenakan sehelai benangpun. Terlihat badannya yang meliuk indah dengan kulit kuning langsat yang bersih. Rambut sebahunya tercium harum kala gusti menciumi telinga Lidya.

Malam ini keduanya memutuskan untuk tidur bersama di kostan Lidya. Tidak begitu jauh dari tempat Lidya bekerja, dan bukan kostan yang memiliki peraturan ketat dari para penyewa. Tadi siang Gusti dan Lidya berkeliling kota sampai malam ini, dan kini, mereka memutuskan untuk salking mengeskplorasi diri.
Ciuman Gusti merambat semakin turun, kini berada pada buah dada Lidya yang kanan, diciumnya dada Lidya dengan lembut, turun lagi ke perut Lidya yang rata, dijilatnya pusar Lidya dan dimainkannya lidah disitu.

“Mmmmm, geli Gus.”
Terus turun, ciuman Gusti bersarang di paha Lidya, dijitatinya paha yang mulus itu. Kemudian Gusti berdiri, dilumatnya bibir tipis Lidya, disedotnya bibir Lidya, kemudian dimainkan lidahnya.
Berhenti, Gusti memandang wajah Lidya, keduanya tersenyum. “Malam ini kamu milik saya Lid.” Gusti langsung mendorong Lidya ke tembok. Melumat bibirnya, sementara tidak henti kedua tangannya meremas kedua buah dada Lidya. Keras.
“Aaaakkhhhh, pelan Gus, sakitttttt…. “ Namun Gusti tidak mempedulikan rintihan Lidya, kini jarinya memainkan kedua puting Lidya, memilinnya. Tidak puas, mulutnya kembali turun, menjilati puting Lidya, menyedotnya, lalu menggigitnya.
“Guusssss ……. , ah ah, aaaaaahhhhh ….. “ Buah dada kanan Lidya masuk seluruhnya ke dalam mulut Gusti. Gusti benar-benar menikmati hal ini. Apalagi melihat wajah Lidya yang kesakitan namun menikmati.

Tangan kanan Gusti turun ke bawah, mengarah ke selangkangan Lidya, basah, jari-jari Gusti mencari klitoris Lidya, menggesekan jarinya dalam proses. Setelah ketemu, Gusti menggesekkan jarinya pada vagina Lidya, keras dan cepat.
“Sssshhhhhh. ….. aaaaaaahhhhh, Gus, ah ah, enak Gus, ya, gitu, ah ah aaaahhhhhh…” Tangan Gusti masuk ke dalam vagina Lidya, mengobel-ngobelnya, dan Gusti melakukan sesuatu yang baru pernah dia lakukan pertama kali, meniru dari film-film bokep yang sering dia tonton. Gusti mengangkat kaki kanan Lidya, menopangkannya pada kursi. Dan Gusti memompa vagina Lidya dengan dua jari yang dia masukan dalam vagina Lidya, semakin lama semakin keras, samapi terdengar kecipakan air vagina.

“Gus, pelan, gilaaa, aaaahhhh, Gustiiiiii, keluar, keluar, aaahhhhhhh.” Badan Lidya mengejang, membungkuk dan kedua tangannya memegan tangan kanan Gusti yang jemarinya asih berada dalam vagina Lidya.
“Hah, hah, hah, lemes, enak banget Gus. Tapi jijik ah, itu lantai basah banget.”
“Yey, punya sapa tu coba yang basahin? Hehehehe” Gusti kemudian membuka pakaiannya, dan menyodorkan penisnya ke Lidya. Tanpa diperintah, Lidya langsung bersimpuh di lantai. Memegang penis Gusti yang sudah mengeras, menjilatinya, tak lupa pelir Gusti dia basahi.
Namun rupanya Gusti tidak sabar, dipegangnya kepala Lidya, dan diarahkan mulutnya ke arah penis Gusti, memasukannya dan Gusti mulai mengentot mulut Lidya. Kedua tangannya meremasi rambut sebahu Lidya, terus memompa mulut Lidya, cepat dan dalam.

“Heggg, pwweln Gwus.” Namun Gusti terus memeompa penisnya, tanpa memberikan Lidya waktu untuk bernafas lega. Terus, terus dan terus. Gusti beberapa kali menekan pinggulnya ke kepala Lidya, menyebabkan penisnya masuk sampai ke tenggorokan Lidya, terus memompa sampai, “Aaaaaarrrggh… “ Melenguh panjang, Gusti menyemprotkan spermanya ke dalam mulut Lidya menekankan lagi pinggulnya, mendiamkan penisnya beberapa saat dalam mulut Lidya, lalu beru mencabutnya.
“Uhuk huk, aahhhh.” Lidya terbatuk, meludahkan sebagian dari sperma Gusti dan berusaha untuk bersandar di tembok, namun Gusti rupanya belum selesai, alih-alih membiarkan Lidya beristirahat, Gusti mengangkat tuguh Lidya untuk berdiri, membalikan badannya ke arah tembok dan memeluknya dari belakang. Menciumi telinga Lidya juga lehernya dari belakang. Kemudian Gusti memposisikan tubuh Lidya agar menungging.

Pasrah, Lidya mengikuti apa keinginan Gusti, dia menungging, dengan kedua tangannya menempel pada tembok kamarnya. Gusti mulai menggesek-gesekan penisnya pada vagina Lidya, dan tanpa menunggu lebih lama lagi, dia mulai melesakkan penis itu ke dalam vagina Lidya.
“Aahhh …. Ya, yang cepet Gus.”
“Kamu pengen saya gerak cepet sayang?”
“Ahm, iya, yang cepeeetttt, yang kerasss. Ya, kaya gitu say, hah hah hah, yaaaa, aaaaakkkhhh.” Mendengar rintihan dan desahan Lidya membuat Gusti memompa vagina Lidya seperti kesetanan, tanpa henti, bertubi-tubi dan tanpa kenal lelah, keringat mereka berdua sudah bercucuran di lantai, dan mereka berdua sudah mengeluarkan suara dan desahan yang cukup keras.

Beruntung kostan Lidya bukanlah kostan dengan peratruan dan penghuni yang ketat. Suara seperti ini bagi para penghuni adalah hal yang biasa.
Gusti terus memompa vagina Lidya samapi tubuh Lidya menegang keras, Lidya sendiri berteriak cukup keras menikmati orgasmenya yang ke dua ini, kemudian lemas, dan tubuhnya terjatuh ke lantai. Untuk Gusti cepat tanggap dan menahannya. Mengangkatnya kembali, dan kali ini menekan tubuh Lidya hingga seluruh tubuhnya menempel pada tembok. Tangan kanan Gusti kembali mencari lubang kenikmatan Lidya, dan mengarahkan penisnya ke arah situ. Setelah ketemu, langsung tancap, Gusti memasukan penisnya ke dalam vagina Lidya.

“Mmmmmppppp, ah, ah , ah .. aaahhh.” Lidya kembali merintih, Gusti menekan pinggulnya sehingga penisnya yang besar itu masuk semakin dalam. Tangan kiri Gusti memainkan buah dada kiri Lidya, dan pada saat yang bersamaan tangan kanannya bergerak menuju anus Lidya, tanpa ijin, Gusti membenamkan jempolnya ke dalam anus Lidya.

“Aaaaaakkkhhh, Gusti, ahhhh. Annnjrit, sakiiitttt, aaaaahhh.” Lidya berusaha berontak, namun kemudian Gusti memeluk Lidya erat, dan melakukan pompaan lebih cepat lagi. Tubuh Lidya kembali dia buat menungging, Gusti kembali memompa Lidya dengan kecepatan tinggi. Cairan vagina Lidya sudah keluar banyak, membasahi penis Gusti dan lantai di mana mereka bercinta. Jempol kanan Gusti masih berada di dalam anus Lidya, namun kini Gusti mulai memaju mundurkannya, sakit, Lidya mulai meringis, tampak air mata keluar dari ujung matanya yang indah, namun Gusti seakan tak peduli, dia tetap memompa penisnya dan tetap menekankan jempolnya pada anus Lidya.

Permainan itu berlangsung bebepa saat, samapi Lidya kembali menegang, orgasme kembali melanda, kali ini lebih dahsyat dari yang sebelumnya, “Aaaaaahhhhhhhhhhhhhhh, anjrrit, enak Gus, ahhhh, mainin anus Lidya terus, ah, yaaaa, aaahhhhhhhhhhhhhhhhh.”
Tak lama setelah Lidya mendapatkan orgasmenya, nafas Gusti tertahan, menakankan pinggulnya sekali samapi penisnya masuk dalam pada kemaluan Lidya hanya untuk mencabutnya, dan menyimpannya diantara pantat Lidya. Spermanya muncrat membasahi pantat dan punggung Lidya.
Nafas mereka terdengar ngos-ngosan. Lidya masih bertopang pada tembok, namun itu tidak lama. Gusti menarik badan Lidya ke arah kasur. Kemudian menidurkannya.

=============================

Ketika Gusti mengingat kembali bagaimana akhirnya dia bisa memerawani pantat Lidya, disebelahnya Lidya menggeliat, terbangun, Lidya bertanya “Belum tidur?”
“Ada mkhluk cantik di sebelah, mana bisa tidur, pengennya si terus dinikmati.”
“Gelo, kuat eman?”
“Nah itu dia, gak kuat. Tar, tunggu sejam, baru kita maen lagi.”
“Parah, habis deh ini memek ama pantat.”

6 SAHABAT : BIMA & YUNI (PRE EPISODE 1)

Bandung, mendung. Sore itu Bima masih belum memutuskan untuk pulang. Kembali hari ini dia tidak masuk sekolah, rasa malas bertemu banyak orang kembali merasuki. Katana yang dia kendarai dalam hal ini mungkin merasakan hal yang berbeda, kalo saja mobil bisa berfikir. Hujan sebentar lagi pasti turun. Rasa lapar sesungguhnya sudah membuat perut Bima bergejolak, namun dia tetap enggan hanya untuk menghentikan mobil dan turun. Dari pagi sampai siang tadi dia berkeliling tidak jelas di Dago Pakar.
Menjelang pukul 16. Matanya memandang sosok yang di kenal. Yuni. Temannya satu sekolah. Perempuan cantik berkulit putih dan berambut indah sepunggung. Berjalan sendiri. Bima merasa heran, biasanya selalu ada Satrio disamping dia. Seolah menjaga Yuni dari seluruh laki-laki yang mendekati.

Refleks dia meminggirkan Katana kesayangannya, membuka jendela. “Yun, ngapain sendirian di sini?”
“Eh, makhluk setengah, gak tau nih, lagi males, jadi jalan geje aja.”
“Sama dong, mau bareng ber geje ria? Yu, masuk.”
“Hahaha, kamu mah perasaan setiap hari juga pemalesan Bim.” Jawab Yuni sambil masuk ke mobil Bima. “Jadi, mau kamu culik kemana Yuni?”

Langit tiba-tiba memuntahkan air dengan derasnya. Langit tetiba menjadi gelap. Dan angin yang sedari tadi sudah kencang menjadi lebih kencang. Bima menjalankan kembali mobilnya, pelan-pelan. Dia menikmati hujan yang turun ini, dingin, gelap tapi membersihkan.
Katana hitam modifikasi itu kembali berjalan di atas jalanan kota Bandung yang berlubang, membelah hujan deras. Percakapan antara Bima dan Yuni hampir dibilang tidak ada. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Satu jam mereka berdiam merasakan AC mobil. Hingga Yuni menggigil merasakan suhu mobil yang semakin dingin.

“Dingin?” Tanya Bima.
“Mayan, jaket ketinggalan di rumah Satrio.”
“Hmmm, ngomong-ngomong, dah sejauh mana hubungan kamu ama penjaga mu itu Yun?”
“Jahat banget, penjaga, kesannya gimanaaa …. gitu.”
“Lo, emang dia terkenal sebagai, ehem, monyet penjaga paling setia, hehehe, kata yang lain lo. Ya, menurut saya juga si, hehe.”
“Dasar.”
“Jadi?”
“Jadi, gimana ya? Ya gitu lah, sama dengan pasangan anak muda lainnya.”
“Owwww…”

Hening kembali melanda. Diam. Bahkan ketika mobil masuk ke SPBU, mengisi bensin dan keluar dari SPBU, keheningan tetap terjaga. Hingga Bima bertanya.
“Kalo, sori nih, hubungan ehem ehemnya udah nyampe mana Yun?”
Diam beberapa saat. Membuat Bima merasa bersalah telah bertanya.
Tersenyum Yuni menjawab, “Ya gitu de Bim. Udah gitu deh.”
“Udah gimana? Udah masuk belum?”
“Masuk kemana dulu nih? Hehehehehe.”
“Ya, kamu kan ada tiga lubang Yun.”
“Ih, apan nih, Bima jorok.” Sambil mencubit lengan kiri Bima. Bima berpura-pura kesakitan dan tertawa.
“Atas dan bawah.” Yuni menjawab singkat.

Bima langsung diam. Salah satu perempuan idaman banyak lelaki di sekolah sudah bukan perawan. Menelan ludah, setengah menyayangkan. Dia sendiri tidak bisa dibilang laki-laki baik dalam hal hubungan pria-wanita. Bima sudah menganal SPA, PP dan Lokalisasi terkenal kota Kembang sejak beberapa waktu lalu. Dia juga pernah bermain cinta dengan beberapa teman di sekolahnya. Sejak saat keluarganya berantakan, Bima terkesan tidak peduli dengan benar dan salah.
“Kenapa?” Sambung Yuni. “Jijik? Ilfil? Ato nyesel kamu memasukan perempuan murahan ke mobil ini?”
“Gak, justru seneng, ada makhluk yang sama kotornya dengan saya. Bedanya, kamu cantik seperti bidadari, saya jelek kaya gini.” Jawab Bima kalem.

“Kamu cakep ko Bim. Kalo aja dulu kamu … hahahahaha.”
“Kalo aja saya gimana?” Bima memandang penuh kedalam dua mata Yuni.
“Bim.” Perlahan Yuni mendekatkan wajahnya ke Bima. Bima pun tidak melewatkan kesempatan, dan akhirnya mereka berciuman.
“Manis.” Bima mengkomentari.
“Ma kasih.”
“Yun, mau maen kerumah saya bentar?”
“Yakin cuman bentar Bim?”
Dan Bima pun tertawa.

================================================== ========

Bima membukakan pintu kamarnya untuk Yuni, mempersilahkan untuk masuk ke dalam kamarnya kemudian menutup dan mengunci pintu.

Tanpa menunggu, Bima memeluk Yuni dari belakang. Menghirup wangi dari leher jenjang Yuni, menempelkan hidungya. Kedua tangan Bima disimpan di atas pinggang Yuni yang ramping, “Kamu cantik sekali Yun.” Tersenyum Yuni memalingkan lehernya, dan di sambut dengan ciuman mesra oleh Bima.

“Hmmmmmmm…” Lidah mereka saling berpagut, makin lama makin bernafsu, tangan Bima naik, dari pinggang ke atas, dan berhenti tepat di atas kedua buah dada Yuni. Bima mulai meremas, “Aaaahhh …. “ Yuni melepaskan ciumannya, dan Bima beralih, dari bibir menuju telinga. Menggigit-gigit kecil daun telinga Yuni.
“Bimaaaaa, geliiiii ……”

Tak puas, masih memeluk dari belakang, Bima mulai membuka kancing seragam Yuni, satu demi satu, melepas seragam Yuni hingga jatuh ke lantai. Kemudian dia menyibakkan BH Yuni ke atas untuk merasakan langsung buah dada Yuni. Memilin-milin putingnya, mempermainkannya. Bibir Bima menemukan tengkuk Yuni, dan langsung menciumnya, terus merangsang yuni.
“Mmmmmmm, Bimaa, terus, geli, geliii…. “ Bima membalikan Yuni sehingga kini mereka saling berhadapan. Bibir mereka kemudian bertemu, saling memagut, melumat, lidah mereka berdansa bagai diiringi irama merdu.

Bima perlahan membuka resleting rok Yuni. Menjatuhkannya ke lantai. Kemudian melorotkan celana dalam Yuni hingga kini Yuni telanjang bulat menunjukan keindahan badannya. Bima menelan ludah, melihat badan yang indah, dengan kulit putih mulus, melihat wajah cantik Yuni, bibirnya yang tipis, dan sampai di situ pertahanannya sudah habis.
Bima merengkuh Yuni, memangkunya ke arah kasur. Menidurkannya dengan lembut. Kini yang jadi sasaran bibir Bima adalah buah dada Yuni, bibirnya langung mengarah ke puting merah muda Yuni, puting yang sudah mengeras sedari tadu itu benar-benar dinikmati Bima, di jilat, gigit, sedot, pilin.

“Ahhh, geli Bima. Yaaa, teruss, isep, aaa, gigit Bim…. Aaaahhhhh.”
Dan Yuni pun tidak mau tinggal diam, diarahkan tanganna ke penis Bima, diusap dari luar celana seragamnya. Membuka sabuk lalu kancing dan resletingnga. Kemudian dia raih penis Bima menyelusup ke balik celana dalamnya, “Udah keras Bim.”
“Jelas aja keras, setiap liat kamu nungging pake seragam di sekolah aja keras.” Pikir Bima.

Bima kemudian menghetikan aksinya, membuka seluruh seragam yang dia kenakan. Dan tanpa menunggu kembali dia menerkam. Tapi kali ini angsung ke vagina Yuni yang bersih dan berwarna pink. Dengan bulu kemaluan yang lumyan lebat tapi halus. Lahap dia mencium vagina indah dihadapannya. Mencari klitorisnya, dan mulai memainkan lidahnya.

“Aaahhhh, ssssssss, enak Bim, terus. Ah, ya, itu, di situ Bimaaaaa.” Kala Bima menyedot-nyedot klitoris Yuni, kemudian dia mulai memasukan jari tengahnya ke dalam vagina Yuni yang sudah basah itu. Keluar masuk, mengobel vagina Yuni dengan semangat 45 seperti tak ada lagi hari esok.

“Bimaaa, pelaaannn, ahhhhh, pelan.” Bima tidak peduli, dia mengocokan jarinya semakin lama semakin cepat. Buci vagina Yuni yang sudah penuh oleh cairan kewanitaan pun cukup keras dia dengar. Semakin cepat, dan “Aaaaaaahhhhhhhh …. “ Yuni mengejang. Tubuhnya melenting, buah dada yang sempurna itu bergetar, orgasme yang dahsyat, belum pernah pacarnya mengocokan jari di liang vagina Yuni seerti itu.

Lemas, ngos-ngosan Yuni berucap, “Gila, memek Yuni kamu apain Bim? Sakit, tapi enak banget.”
“Udah, gak usah tau, sekarang mah, nih, emut ya?” Bima mengarahkan penisnya ke mulut Yuni.
“Gede Bim.”
“Ama Satrio gedean punya siapa?”

“Kamu dikit. Dikit lo ya? Hahahaha.” Dan Yuni langsung mencium penis Bima, menjilatinya, menjilatinya sampai ke pelir.
“Ah, ya, disitu Yun, nikmat, udah, isep sayang, isep.”
Dan Yuni pun langsung menghisap penis Bima, keluar masuk, dahsyat, bagaikan artis-asrtis di film porno, Yuni mengoral penis Yuni dengan cepat. Dalam, sampe ‘deepthroat’ pun dia lakukan.

“Yun, enak banget sayang, ah, ahhhhhh, gila, enak, mulut kamu enak , terus, yang dalem.” Tangannya tidak diam. Tangan kanan Bima memegang kepala Yuni dan memeju mundurkannya, dan tiba-tiba Bima menekankan pinggulnya ke depan sembari menarik kepala Yuni, memastikan seluruh penisnya masuk ke mulut Yuni.

“Heekkkkkkk, mmmmmmm.” Setelah beberapa saat, kembali kegiatan oral itu dilakukan, semakin cepat, “Ah, Yun, mau keluar. Aaaahhhhh.” Cepat muncratan sperma yang keluar dari penis Bima di dalam mulut Yuni, banyak dan kental.
“Banyak banget Bim, ampe belepotan gini mulut Yuni.”
“Hahaha, wajar, kamu si Yun, bener-bener ngebuat saya on abis.”
“Masih On gak?” Tanya Yuni.
“Masih sangat, sekarang, giliran lubag surgamu Yun.”

Bima mengarahkan penisnya ke vagina Yuni. “Siap?”, Yuni mengangguk. “Saya masuk Yun.” Dengan bantuan tangannya, Bima mulai memasukkan penisnya ke dalam vagina Yuni, seperempat, setengah, dan langsung tancap sampe seluruh penis itu dilahap oleh vagina Yuni.

“Aaaahhhhh.” Keduanya mendesah. “Memek kamu enak banget Yun, udah dimasukin ama siapa aja?” Tanya Bima sambil tangan kanannya meremas dada dikir Yuni sambil telunjuk dan jempolnya memilin-milin puting Yuni. “Ama Satrio aja ko Bim, waktu acara perpisahan kelas X kita dulu di Ciwidey.”

Bima tertawa, mengingat kembali saat itu, dia juga menikmatinya dengan salah satu teman wanitanya.
“Dasar, yasud, Bima mulai ya Yun?” Dan tanpa banyak bicara lagi, Bima mulai memompa vagina Yuni, pelan, namun perlahan-lahan mulai cepat, “Ahm iya, gitu Bim, cepet, yang keras, enak Bimmmm, enak banget say, ahhhh, gila, memek Yuni penuh, punya Bima keras banget, masuk, ahhh, mentok Bim.”

Mendengar itu Bima semakin bersemangat, dia mengangkat ke dua kaki Yuni, mengangkangkannya, ditekukannya kaki Yuni hingga lututnya menempel di dada Yuni, dan kembali Bima memompa vagina Yuni hingga bersuara, dan tentu saja, seprei Bima sendiri sudah basah oleh cairan vagina Yuni dan keringat mereka berdua. Pompaannya terus berlangsung, hingga. “Keluar, Bim, Yuni mau keluar, ah, ah, ya, ah, keluaaaarrr….”

Bima menghentikan pompaannya, membiarkan Yuni menikmati orgasmenya. Kemudia memulai kembali, kali ini tidak secepat yang tadi, dan dia kini melakukannya dalam gaya misionaris, sambil melumat bibir Yuni dan meremasi buah dada Yuni, tak lama kemudian dia mencabut penisnya, mengarahkannya ke wajah Yuni, mengocoknya, dan, crottttt ….

Spermanya muncrat memenuhi wajah Yuni, sebagian mengenai mata dan lubah hidung. Kemudian dia memasukkan penisnya ke dalam mulut Yuni, hingga bersih Yuni mengoralnya.

“Hah, hah, gila Yun, kamu emang hebat. Beruntung si Satrio bisa dapetin kamu.” Bima kemudian memeluk Yuni, mengecup keningnya, dan berkata, “Masih jam 8, gimana kalo kamu ampe jam 10 di sini?”
“Hahahaha. Ngapain aja ampe jam 10 Bim?” Tanya Yuni sambil tertawa.
“Saya entotin.” Jawab Bima kalem.

6 SAHABAT PART 1

Rian mulai membuka matanya, tugas yang dia selesaikan tadi malam benar-benar membuat dia harus begadang sampai jam 4 pagi. Setelah percobaan tidur yang gagal, akhirnya dia memutuskan langsung ke kamar mandi. Tugas Matematika dari guru killer, Pak Bonang, ya gak killer-killer banget sih, cuman punya kebiasaan menyimpan siswanya di tengah lapang dan menghormat tiang bendera selama jam pelajaran. Jam sudah menunjukan pukul 6.15 ketika Rian hendak pergi sekolah, “santai” gumannya. Jarak kostan Rian ke sekolah memang tidak jauh, 10 menit menggunakan motor kesayangannya juga udah nyampe kantin malah .

Seperti biasa, guru olahraga itu sudah berdiri di depan gerbang. Pak Ujang berdiri dengan tampang menyeramkan dengan senyum paksaan. Setelah merapikan motor di parkiran, Rian langsung menuju tempat favoritnya. Kantin sekolah. Sambil menyapa ke bu Nunung penjual soto, dia langsung ke kedai mang Encang, membeli sebungkus nasi kuning.

“Woi, pagi-pagi udah memamah biak begini.” Revi, sahabat Rian, satu dari 5 setengah bersahabat. Satu lagi disebut setengah karna anak yang bersangkutan jarang masuk sekolah. Revi, wanita yang selama ini selalu ada dalam mimpi-mimpi Rian, baik yang kering maupun yang basah. Objek onani dan sahabat sejati. “Maklum lah Vi, anak kost.” “Alesan, bilang aja cari makanan kantin sekolah biar murah. Lagian kita kan udah tau semua Yan, kasbon kamu di mang Encang udah berapa? Hahaha.”
“Sialan.” Umpal Rian, “Gak gede-gede banget kali, masih dalam tingkat yang wajar. Gak kaya tabungan soto si Udin di bu Nunung.”
“Ya deh, iyaaaaaaaa. Eh, pe er udah Yan?” “Ya udah lah, napa? Mau nyontek? Mau bayarin nasi ini dulu ga?”
“Ogah.” Jawab Revi, “Lagi seret uang nih. Pe er mana pe er? Ada dua nomor yang belum.” Rian lalu memberikan buku Matematikanya. Sebenernya dalam hati Rian selalu berkata kapan saja kalo Revi meminta sesuatu, pasti, apapun yang kamu minta Vi. Namun itu tentunya hanya dalam hati. Revi, gadis cantik dengan tinggi sekitar 160 cm. Alis matanya yang lurus, hidungnya yang mancung, matanya yang teduh, dan yang paling utama, bibirnya yang sensual. Ingin sekali Rian melumat bibir itu. Mengelus rambut yang berada di balik jilbabnya, dan meremas buah dada Revi yang bulat sempurna.

“Sakit Bim, pelan-pelan.” Yuni berteriak kecil kala Bima menyedot buah dada Yuni sebelah kanan. Bima hanya tersenyum kecil dan tetap menyedot puting Yuni dengan penuh nafsu. Tangan kanannya merayap melewati perut Yuni yang rata dan menyelusup ke pantat Yuni, mencari resltering di rok SMA nya. Membukanya, dan langsung menarik rok SMA Yuni ke bawah melewati lutut Yuni. Yuni sedikit membantu dengan mengangkat pantat. Tangan Bima langsung diarahkan ke selangkangan Yuni yang sudah basah sedari tadi, setelah dicumbu selama setengah jam lebih, pastilah cairan vagina Yuni sudah keluar banyak.

Jari tengah Bima mulai digesek-gesekkan di belahan vagina Yuni. Basah. Dan Yuni semakin menggeliat. Jari-jari Bima mulai menyingkirkan bagian celana dalam yang menghalangi belahan vagina Yuni. Dengan sekali hentak, jari telunjuk Bima mulai menikmati liang vagina Yuni. Gemas, Bima mempercepat frekuensi kocokan jari tengahnya. “Bim, pelan Bim, aaahhh, Bimmmmm …. , Bimaaaa.”
“Yunnn.” Bibir Bima melumat bibir Yuni, “Mmpphhpfff … ” Bibir mereka saling berpagut, lidah pun saling bergumul di dalam mulut. Air liur mereka mengalir melalui sela bibir.

“Bimaaa, Yuni mau …. aaaahhhh …. ” Gelombang orgasme melanda Yuni. “Keluar Yun?” Dan Yuni pun mengangguk.
“Udah siap ya?” Tanya Bima lagi. Pelan Yuni mengangguk. “Tapi pelan-pelan Bim, lemes banget.” Bimapun langsung membuka celana seragam dan celana dalamnya. Dia memposisikan badannya di atas Yuni. “CD Yuni nya buka dulu Bim.” “Gak usah sayang, biar saya entot kamu dengan CD kamu masih dipake, saya singkirkan aja dikit ke pinggir.”

Perlahan Bima mulai memasukan penis nya ke dalam vagina Yuni, pelan, dan blessss. Masuk semua. “Bimaaaa.” Rintih Yuni, “Katanya pelan-pelan, aaaahhhhhh, Bim, ah.” Tanpa memberikan jawaban, Bima mulai menggenjot vagina Yuni. Tak berselang lama, keringat sudah membasahi tubuh mereka berdua.

Masih jelas diingatan Bima, bagaimana dia pertama kali menikmati vagina Yuni. Yuni, salah satu siswi cantik disekolahnya, dengan rambut hitam lurus sepunggung, wajah cantik sedikit oriental walaupun Sunda asli, badan yang kurus tinggi dan langsing, berkulit putih bersih, namun memang ukuran buah dadanya tidak begitu besar, namun pas digenggaman Bima. Perempuan yang jadi incaran para lelaki di sekolah. Di sini, di atas ranjang tanpa dipan Bima, Yuni pertama kali dinikmatinya, walaupun sudah bukan perawan, karena keperawanannya sudah diambil oleh pacar Yuni saat ini, ya, mereka kini hanya menikmati seks tanpa ikatan kekasih, namun itu bukan masalah bagi Bima, seks bukanlah hal baru apalagi tabu buatnya.

“Bim, ahh, Bim, Yuni mau keluar lagi Bim. Ahhhh.” Rintihan Yuni semakin terdengar menggairahkan, menambah nafsu Bima yang mempercepat kocokan penisnya dalam vagina Yuni, “Keluarin aja Yun, ugh, memek kamu masih rapet juga, padahal udah di entot berapa kali Yun?” Tanya Bima. “Gak tau, sama kamu baru dua kali dengan ini, ama Satrio udah, aahhh, tiap malem … ahhhhkkk Bima, pelan-pelan, malem minggu, kalo Yuni gak dapet. Bim, keluar Bim, keluaaaarrrrr….” Tubuh Yuni menekuk, tegang, dan Bima langsung meremas sekeras-kerasnya kedua buah dada Yuni, menambah kenikmatan orgasme yang dirasakan oleh Yuni.

“Cape Yun? Saya belum mau. Bentar ya? Tahan.” Pinta Bima, Yuni cuman bisa diam. Dan Bima membalikan badan Yuni, telungkup. Dia lalu menyimpan sebuah bantal di perut Yuni. “Lubang ini udah pernah dimasukin Yun?” Tanya Bima waktu jarinya menyentuh anus Yuni. “Belum, takut. Katanya sakit banget.” “Owww, baguslah, tar bagian saya, hahahahaha.” Bima tertawa “Enak aja, sakit tau, gak mau.” Jawab Yuni ketus. “Kata si Lia anak IPS 1 sakiiiiittttt, Bima, bilang-bilang dong kalo mau masuk!” Teriak Yuni, ketika tiba-tiba Bima memasukan penisnya ke vagina Yuni. Bima hanya tertawa. “Ah, bohong dia, ugh, soalnya, hmppf, saya udah pernah nyobain.” “Serius Bim? Lia udah kamu cobain pantatnyaaaa? Agh, pelan sayang. Kirain kamu gak suka ama cewek pake kerudung.” Sela Yuni diantara rintihannya. “Saya suka siapapun yang cantik, kaya kamu Yun, ah, Yun, dah mau keluar nih, keluarin dimana?” Tanya Bima dengan cepat. “Di dalem aja Bim, lagi pake pil kok, ah, ah, Bim, bentar Bim, tahan dulu, Yuni dah mau keluar lagi, bareng Bim, Bim, ah, Bimaaa, keluarrrrrrrrr….!” Dan mereka pun merasakan orgasme yang dahsyat pada saat yang hampir bersamaan.

“Gila Yun, memek kamu bener-bener.” Merekapun berpelukan. Sisa-sisa air mani dan cairan kewanitaan Yuni meleleh keluar dari vaginanya. Dan Bima mencium bibir Yuni dengan lembut. Hmmm, ciuman ini, ini yang membuat Bima berbeda dengan pacarnya yang selalu langsung tidur, atau langsung meninggalkan Yuni sendiri tanpa ciuman ataupun pelukan setelah berhubungan badan.
“Bim, ini yakin gak apa-apa kita bolos? Ya, kamu sih udah disebut setangah ama gengmu malah, gara-gara jarang sekolah. Nah Yuni kan engga.” Tanya Yuni beberapa saat kemudian. “Gak apa-apa. Nyantey aja, justru dengan gini kita punya waktu lama buat maen.” Jawab Bima.
“Habis dah kalo gini badan Yuni. Terserah deh, tapi inget, jangan ampe ada bekas cupang, tar Satrio curiga.” Sambut Yuni, dan Bima hanya bisa tersenyum sambil kembali menindih tubuh mulus Yuni.

==========================================

Revi memandangi kursi kosong di seberang ruangan. Bima, sahabat mereka satu geng. Dan kursinya yang kosong, sekosong hati Revi saat ini. Sama kosongnya dengan hati Rian yang diam-diam memperhatikan Revi. Namun secepat kilat dia memalingkan wajah ketika Revi melihat ke arahnya. “Revi, apa dia ada hati ama Bima?” Batin Rian, karena hampir setiap hari jika Bima tidak masuk, Revi selalu melihat kursi kosong itu.

Rian, Revi, Ima, Gusti, Udin dan Bima. Lima setengah, julukan dari wali kelas mereka. Selalu bersama, dan selalu terlihat kompak. Waktu kelas XI, ketika mereka pertama kali dipertemukan, yang ada hanyalah Enam Sahabat, namun setelah orang tua Bima, bercerai, sosok Bima perlahan mulai menghilang namun selalu ada bagi mereka.

Sama halnya seperti hari ini, Bima masih belum masuk. Biasanya dalam satu minggu, Bima paling tidak masuk 3 hari, namun ini sudah hari ke empat. Udin pernah berkata bahwa Bima itu adalah sebuah anomali, anak orang kaya, pinter, ganteng, tapi pemalesan. Tapi bagian anomalinya ialah dia pandai menarik hati guru, segala urusan jadi mudah kalo ada Bima. Dan yang pasti, bu Nunung gak akan nagih uang soto ke Udin kalo Bima ada, karena Bima selalu ngebayarin dia. “Seneng ada temen untuk bisa berbagi.” Jawab Bima. Selalu saja seperti itu.

Tak terasa, bel tanda pelajaran berakhir berbunyi, tanpa dikomando, anak-anakpun langsung berhamburan keluar kelas. Namun Ima masih duduk di bangkunya, termenung. Sampai pundaknya ditonjok Gusti, “Woi, makhluk tercantik se kelas, ngapain lu bengong sendiri?” Ya, Ima memang lebih cantik dibandingkan Revi bahkan dibandingkan dengan semua siswi di kelas mereka. Dengan warna kulit yang lebih putih dari Revi, karena ada turunan china dari neneknya, dan hidung yang lebih indah, bahkan semuanya yang ada di diri Ima memang lebih cantik dari Revi, cara dia menggunakan kerudungnyapun yang selalu sederhana malah membuat dia lebih cantik.

Ya, guman Rian, namun Revi tetap yang terindah dihati ini. Ima dan Revi, dua wanita dalam geng. Keduanya berkerudung. Sama-sama gila kalo udah kumpul-kumpul. Cantik-cantik, walopun kata Udin bukan selera dia. Udin lebih menyenangi perempuan dengan potongan rambut pendek dan sedikit tomboy. Hampir semua mantannya seperti itu. Hanya satu yang tidak. Gusti sendiri, entah makhluk apa Gusti ini. Berbadan tegap dan kekar. Baik hati. Ganteng. Banyak perempuan yang suka, namun sepanjang sepengetahuan para sahabatnya, belum sekalipun dia menjalin cinta. Ima sendiri saat ini sedang memadu kasih dengan kaka kelas yang sekarang sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Bandung ini. Dan Revi? Bidadari hati ini memiliki masa lalu yang pahit dalam percintaan. Lalu Bima, ya, makhluk ini bisa saja mendapatkan siapa saja yang dia mau. Dan dia sendiri? Rian berfikir, selalu saja ada Revi. Dari pertama kali dia melihat wajahnya ketika MPLS, sampai sekarang. Hanya ada Revi, namun dia tidak berani untuk melangkah.
“Gustiiiii, sebel. Ngapain ganggu?” Teriak Ima. “Jangan gangguin Ima Gus, lagi ada masalah dengan masnya.” Jelas Revi, “Udah sana, kejar dulu pak Guntur, itu tugas kamu kumpulin.” Lanjutnya.

“Kenapa Ma?” Revi bertanya ketika semua sudah keluar kelas. “Mas Gio, mmm, jangan bilang siapa-siapa ya? Janji?” Revi mengangguk. “Kemarin dia minta, hmmmm, kamu tau kan Vi, Ima baru ampe ciuman dan mmm, paling jauh remes dada Ima dari luar. Kemaren dia udah ngedapetin dada Ima dari dalem, udah nyedot puting Ima, terus, ini, nyupangin.” Revi tersenyum dan bertanya “Cuman gitu aja Ma?” Ima menjawab, “Nah, engga Vi, dia minta ngemut punya nya dia. Ima takut, bilang gak mau.” Revi kembali tersenyum, “Jadi dia pundungceritanya ?” Lanjutnya. “Pundung beneran, bukan ceritanya neng. Gak enak sih, pengenna muasin mas Gio, tapi takut”. Revi memeluk sahabatnya ini dan berkata “Nyantey aja Ma, kalo dia sayang ama kamu, dia pasti biasa lagi, cowok emang kaya gitu.” Ima lalu memandang tajam ke arah Revi, “Kamu pernah Vi kaya gitu?”. Revi tertawa, “Eeeee, gimana ya? Belum si, tapi kalo ampe pas foto sih udah lah. Hahahaha. Tapi gak pernah ampe dicupangin kaya kamu ya. Gak leveeeelll, aduh.” Ima menutup perkataan Revi dengan cubitan di tangan. “Ngomong-ngomong,” Lanjut Revi kemudian,”Enak gak diemut Ma?”. Dengan tersipu Ima menjawab, “Banget.”

*************

“Mas, kelapa muda dinginnya satu.”
“Kopi satu.”
“Ayamnya tambah lagi dua, di bakar.”
“Sialan, minta sama mas yang jualanna, jangan ka saya.” Gio mengeluh.
“Lah, sama-sama mas mas kan?” Ejek Revi. Semua tertawa. Sore ini seluruh geng 5 setengah kumpul di Punclut, plus satu, Gio, kekasih Ima. Menikmati sore hari kota Bandung sambil makan ayam bakar, nasi merah dan kelapa muda dingin. “Ga gitu juga kali.” Bela Ima, “Ganteng-ganteng gini juga pacar Ima.”
“Cieee, tapi masih kekar gue Ma, ni liat.” Gusti menimpali seraya memamerkan otot tangannya yang memang kekar. “Heh, Betawi edan, lu mah mikirin otot mulu, otak juga pake dong, masa body kayak gitu masih juga jomblo.” Ledek Bima, semua, kecuali Gusti pastinya ketawa. “Eh, Jawa kurang asem, gue bukan gak mampu dapet cewek, cuman belum mau aja.”
“Ya ni Gus, kamu homo ya? Perasaan dari kamu pindah ke Bandung kalo gak ama kita-kita, kamu maen ama sepupumu aja deh.” Ima menambahkan, “Kita semua sebenernya penasaran, tapi ga enak aja nanya, suer, kita-kita gak mau kalo kita nanya ama kamu, kalo kamu itu suka laki-laki ato perempuan?”
Tawa kembali meledak kencang, membuat tamu lain di rumah makan itu melirik ke arah mereka. Tak terkecuali para pelayan dan pemilik tempat makan itu.

Edan, 7 orang aja berisiknya kaya kebun binatang. “Say, kamu si itu sama aja nanya ama si Gusti. Parah lah.” Sambung Gio. “Ga papa mas, kali-kali, emang harus digituin tu anak.” Rian menimpali enteng.
“Lah, lu sendiri gimana Yan? Yuni, Atika, Ifa, mereka pada demen ama lu, eh, lu nya dingin, jangan-jangan lu yang gak normal.” Gusti membalas dengan cepat. “Udah, kalian cocok ko, jadian aja, kami ikhlas ko.” Sambil menikmati daging dalam mulut Revi memberi pendapat. Gusti kembali mengelak, namun Rian diam. Omongan Revi tadi walaupun becanda cukup membuat hati dia berdetak lebih kencang.

“Eh, serius mereka suka ama si Rian? Si Ifa yang cantiknya bukan main tapi dingin kaya putri es?” Bima bertanya ke Gusti. “Suer, potong tuh telinga si Udin kalo gue bo’ong.” Jawab Gusti. “Nah lu lagi Betawi, gue lagi enak-enak makan mau maen potong aja, potong tuh kemaluan lo. Ato jangan-jangan lu gak punya lagi?” Komentar Udin. Dan kemudian terjadilah perang mulut yang dahsyat membahana.

==========================================
“Mas, mau teh anget ato susu anget?”
“Susu Ima aja boleh?”
“Apaan ah. Genit. Weee.”
“Hahahahaha. Teh aja, jangan anget. Suhu ruangan aja.”
“Berapa derajat itu mas?”
“Ni anak, dicium geura.”
“Ah, gak usah mas ngomong gitu juga, biasanya maen terkam aja, hehe.”
Tak lama kemudian, Ima masuk ke kamar membawa dua cangkir teh. Kamarnya di lantai dua. Ima sendiri anak bungsu dari 3 bersaudara. Yang paling tua sudah menikah, tinggal di Jakarta, yang kedua anak laki-laki, malem minggu gini pasti ngilang entah kemana, orang tuanya jam segini pasti lagi asik nonto para wayang kocak di TV.

“Kamu seksi kalo udah pake kaos itu Ma.” Gombal Gio. “Apalagi kao gak dipake.” Senyum setan terpancar dari bibir Gio. “Uuuu, maunya.” Ima menjawab sambil mencibir. Menambah kecantikannya. Pulang dari Punclut, mereka langsung pulang ke rumah Ima. Hari ini Ima menggunakan celana jeans biru, kaus ketat dan kerudung warna putih dan jaket hitam. Ima menyimpan kedua gelas di atas meja belajarnya. Kemudian duduk di samping Gio di atas kasur dengan dipan warna coklat kayu. Di layar TV terlihat adegan laga dari sebuah film yang di putar di HBO. Sebetulnya, sedari tadi mata dan pikiran Gio sudah tidak fokus ke TV, melainkan ke Ima, kekasih cantiknya ini benar-benar mempesona.

Tanpa menunggu lagi, Gio memeluk Ima, dan mulai melumat bibir indahnya, mereka berciuman, awalnya pelan, lama kelamaan semakin bernafsu. Nafas mereka semakin memburu. Perlahan tangan Gio bergerak ke arah buah dada Ima, dia meremas pelan buah dada sebelah kanan, bergantian ke sebelah kiri, berharap menemukan putingnya dari balik kaos putih dan BH yang digunakan Ima.

Sampai pada suatu saat, saking bernafsunya, tangan kanan Gio meremas kedua buah dada Ima secara bersamaan. “Aaaaahhhh, massss, pelan, mmmm, slurp, mas, geli mas.” Gio melumat bibir indah Ima seperti tak ada hari esok. Gio sudah tidak sabar, diangkatnya kaos Ima ke atas, dan dilepaskan kaitan BH Ima, kemudian
dia kembali meremas dua gunung kembar yang indah itu. Ukurannya yang pas dengan puting merah muda yang tidak kecil dan tidak besar. Tangan kanan dan kiri Gio mulai memilin kedua puting Ima, Ima sendiri sudah gelagapan, rasa geli dan enak menyerang dirinya. “Mas, ooohhh…. ” Gio mengarahkan ciumannya ke telinga Ima yang masih tertutup kerudung. Ima merinding tapi merasakan kenikmatan yang tiada tara. “Enak sayang?” Gio bertanya. Ima hanya bisa mengangguk. Lemas. Ini kali kedua putingnya dipilin oleh kekasihnya. Laki-laki pertama yang melakukannya.

Ciuman Gio turun, ke arah leher, sedikit menyibakkan kerudung Ima, mencium lehernya yang putih jenjang itu, membasahinya, menjitatnya, menggigitnya, menciumnya kembali. Membuat Ima semakin tidak karuan. Kerudung Ima pun sudah sama tidak karuannya. Turun, bibir Gio diarahkan ke puting kanan Ima, menjilatnya, memutarinya dengan lidah, membuat Ima mendesah. Dan tiba-tiba, Gio membuka mulutnya lebar-lebar, menyedot buah dada kanan Ima kuat-kuat, memasukkan hampir seluruh buah dada kanan Ima ke dalam mulutnya. “Heggg.” Menahan nafas sebentar karena kaget dan nikmat. “Maaassss!!! pelan-pelan mas, enak tapi, terus, terus mas. Aaaahhhhh. Mas, iikhh, hah hah hah.” Ima tak kuasa lagi menahan gejolak nafsunya. Tangan Gio terus meraja lela, kini turun ke atas perut rata Ima, turun lagi, dan berhenti di atas paha kirinya. Membelai, meremas, dan naik lagi sampai ke selangkangan Ima, “Aaaahhh, mas, jangan kesitu, geli.”

“Tahan bentar say, ntar juga enak.” Gio menjawab sambil terus menjilati puting Ima. “Puting kamu ngegemesin Ma, sluuurrppp, Ma, enak ga diginiin?” Ima menjawab dengan nafas yang tidak teratur, “Enak, tapi jangan yang di bawah, sakit mas.” Gio seakan tidak mendengar rengekan Ima tetap melakukan tindakannya. Kemudian dia menaiki Ima, menindih Ima di bawahnya, dan mulai menekankan kemaluannya di atas vagina Ima. Kembali Gio mencium bibir Ima, meremas dada Ima, memilin puting Ima, sampai dia mengerang. “Aaaaarrrghhh.” Dia orgasme dari peting yang mereka lakukan. Kemudian Gio membalikan badan, terlentang di samping Ima yang masih bernafas cepat. Kemudian dia mencium kening Ima, “I love you my angel.”

==========================================
Motor itu sampai di depan gerbang sebuah rumah. “Makasih Yan.” “kembali kasih Revi.”
“Masuk dulu gak? Kalo gak salah masih ada bandrek di dalem.” Ajak Revi. “Hayu, ada makanannya juga gak?”. “Dasar perut naga, makanan mulu ni anak. Bisa di atur lah.”Dengan perasaan gembira Rian memesukan motor ke halaman rumah Revi. Dan dimalam itu mereka berdua bercengkrama, berdebat, berargumen, curhat, tertawa bersama. Hati Rian sangat berbunga, melihat lirikan Revi dan senyumnya, bibirnya, ah, betapa indahnya itu bibir, coba kalo dilumat, pasti empuk.

Rian sudah terbiasa duduk berdekatan dengan Revi, apalagi kalo anak-anak lagi kumpul. Jadi tukang ojek pribadinya juga sering. Nonton berdua pun sudah gak bisa diitung lagi. Namun kali ini, berdua, di ruang tamu yang sepi, duduk bersampingan, saking dekatnya wangi kerudung Revi tercium dengan jelas. Hatinya selalu berdebar, setiap kali mata mereka bertemu lama. Dekat. Indah.

Tiba-tiba terdengar lagu tema Power Ranger, HP Rian berbunyi, SMS, dari Udin ngajakin maen DotA. Sialan si sarkudin, batin Rian, padahal udah ada chemistry. “Vi, saya pulang dulu ya, si Udin ngajak maen game.” Lagian, kalo kelamaan di sini nanti yang lain curiga, jam 11 malem masih di rumah Revi. Ada apa. “Ya udah, gih pulang sana. Ati-ati Yan, ma kasih ya.”

Malam itu Rian membawa motor dengan ringan dan bahagia.

==========================================
Suara bola biliar beradu keras. Pulang dari Punclut, Bima, Udin dan Gusti langsung ke arena biliar langganan mereka. Taruhan. Yang kalah harus menggoda mbak Lidya, kasir disana. Gusti yang minim pengalaman dengan perempuan jelas saja berjuang keras untuk menang. Bima, dilain pihak, berjuang agar menang, dia ingin menyaksikan usaha GUsti merayu mbak Lidya. Udin yang gak bisa maen diputuskan menjadi wasit, atau lebih tepatnya, saksi peristiwa yang akan datang.

“Sialan lu Jawa, gue kali ini kalah, tapi liat besok, pasti gue bales.” Kata Gusti.
“Udah, kalah mah kalah, noh, mbak Lidya noh, si cantik kutilang darat nan mempesona. Ini adik gue juga bangun terus kalo liat dia.” Bima menjawab sambil terkekeh. “Nah, lo aja kalo gitu.” Sambung Gusti. “Ogaaah, the deal is, the loser, that is you, must seduce her, hahahaha. Kecuali kalo lo pengecut.”

“Gue, pengecut? Kagak. Liat ni. Gue buktiin kalo gue bisa.” Dan Gusti dengan muka merah berjalan ke arah mbak Lidya, setengah jalan dia berbalik dan melangkah kembali, namun melihat Bima dan Udin joged bergaya seperti ayam dia kembali berbailk. Gak tau apa yang mereka bicarakan, Bima hanya melihat dari jauh ketika tangan Gusti di tarik oleh mbak Lidya ke atas. Terlihat raut muka Gusti yang panik. Bima dan Udin hanya bisa melongo dan tak sadar ketika bibir Gusti membentuk sebuah kata. “Tolong”

***********************

Musik keras yang keluar dari komputer di ruangan itu tidak terdengar jelas. Namun yang pasti jelas adalah pemandangan yang ada di pojok ruangan. Lidya dan Gusti sedang berciuman, atau lebih teptnya, Lidya sedang mencium Gusti dengan ganas. Gusti sendiri hanya bisa menerima sambil mencoba bernafas normal, tapi tidak bisa. Tangan kanan lidya menarik tangan kiri Gusti dan mengarahkannya ke buah dada seblah kanan. Gusti yang hanya pernah melihat adegan di film-film porno hanya bisa meremas tak beraturan, keras, dan kencang. Lidya memang tidak memiliki buah dada yang besar, namun remasan Gusti cukup membangkitkan gairahnya.
Lama kelamaan gusti mulai bisa mengimbangi. Dan pada saat itu, Lidya membuka resleting jeans Gusti dan langsung melorotkannya. Tonjolan kemaluan Gusti tercetak jelas di celana boxer yang ia kenakan. Dan itu pun tak lama. Sedetik berikutnya bagian bawah Gusti sudah tak tertutup sehelai benang pun.

“Mbak, ah, ini mau ngapain?” Gusti gelagapan bertanya. “Udah, diem aja, dari dulu saya suka liatin kamu, ganteng, kekar, udah lama saya bisa mimpiin bisa, aahh, Gus, gede banget.” Komentar Lidya ketika dia memegang penis Gusti. “Gila, anak SMA ko bisa segene gini, tapi kamu udah pernah ginian belum?” Tanyanya kemudian. “Belum mbak, paling cuman onani doang.” Jujur Gusti menjawab. “Bagus, berarti saya yang pertama. Oke, kamu diem sayang, saya udah siap.” Dan blesss…. penis Gusti kini berada di dalam vagina Lidya. Tanpa membuka rok, hanya melepas CD dan keduanya dalam keadaan berdiri.
“Aaahh, gede banget kontol mu Gus, enakkk… “ Rintih Lidya. “Ahh, mbak, enak, memek mbak juga, aahhhh, kalo tau ginian enaknya kayak gini, udah dari, aaahhhh, duluuuu …. “ Gusti merasa keeanakan. “Mbak, gak kuat mbak, mau keluar.” Tapi Lidya membentak sambil telunjuk kirinya menekan bagian dekat lubang anus Gusti, “Tahan, saya masih pengen ngerasain kontol gede kamu. Udah, kamu tiduran, biar saya yang di atas.”

Lidya kemudian menidurkan Gusti, dan kembali memasukan vaginanya. Sleppp. “Aaaahhhh, gede banget Gus, memek saya penuh, hah hah hah, gila.” Gusti hanya bisa merem melek, tapi kali ini dia tidak tinggal diam, tangannya mengangkat baju seragam Lidya, dan langsung mengangkat BH nya ke atas. Kedua tangannya mulai memainkan kedua puting Lidya, diremasnya kedua buah dada yang menggantung bebas itu. Kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak pernah disangka Lidya, Gusti memasukkan jari tengah kirinya ke dalam anus Lidya. “Aaaaaaaahhhh, Gus, jangan, saya belum pernah di situ, hey, stop, aaahhhhh.” Tapi Gusti tak mau tau, dia sangat menikmati sampai lupa diri, tapi akhirnya “Mbak, udah mbak, gak kuat.” “Yaaa, saya juga dah mau keluar, bareng Gus, hah hah, hmmmmppfff, keluaaaarrrrrr.” Gusti menyemprotkan spermanya banyak sekali ke dalam vagina Lidya, dan Lidya sendiri menekukan badannya, kejang dan tegang, terasa oleh Lidya cairan sperma Gusti masuk ke dalam rahimnya. Untung dia lagi dalam program. Kalo gak celaka, ini masa subur dia.

Setelah beres-beres dan menggunakan pakaian, Lidya berkata “Jangan panggil saya mbak, saya baru lulus SMA 2 tahun lalu, panggil nama aja. Dan kamu kurang ajar, pantat saya ini masih perawan ting ting, untung tadi gak dalem.”
Gusti cuman menyeringai, “Ya maaf, habisnya mbak, eh, lo juga sih, beneran dah, gua nyerah. Tapiii, mmm …” Lidya memandang Gusti, “Tapi apaan?” Tanyanya. “Boleh kapan-kapan lagi gak?” Gusti bertanya. “Hmmmm, boleh gak ya?” Lidya berkedip manja, dan mencium Gusti, keduanya kembali berciuman untuk beberapa saat. “Boleh.” Jawab Lidya. Dalam hati Gusti merasa bahagia, bisa dapetin perempuan secantik Lidya. Cantik dengan kulit kuning langsat bersih dan mata tajam yang menggoda. Bibir tipis nan sensual, juga badan yang kecil namun padat.

==========================================
“Gila, ngapain aja kalian bedua di atas?” Bima bertanya ketika Gusti sudah bersama mereka lagi.
“Gue udah bukan perjaka lagi pren.” Jawab Gusti dengan muka merah dan bibir sumringah. “Bangsat lo Gus, tau gitu gua yang kalah tadi. Mbak Lidya, kasir cantik model gitu.” Omel Bima. Udin mengomentari, “Udahlah, bukan rejeki.” Bima mengusap dada. “Tapi tetep, tau gitu gue tadi ngalah.”
Dan merekapun pulang ke rumah masing-masing. Dua dengan rasa kecewa dan iri, satu dengan rasa puas teramat sangat.

==========================================
“Ma, bisa bantuin ga?” WA dari Revi ke Ima siang itu.
“Kenapa say?” Ima membalasnya.
“Ajarin Fisika dong”
“Gak bisa oon. Saya aja minta tolong mas Gio. Eh, tanya dia aja”
“Gpp nih saya nanya dia?yakin?”
“Yakin, gpp kok. Mas Gio gak bakalan mau ama kamu”
“Heh, dasar, gini-gini juga termasuk cewek incaran di sekolah ya”
“Ya, incarannya mang Encang, xixixixixi”
“Imaaaaaaaa…… “

==========================================
Jam 3, pusat elektronik Bandung, Rian berjalan pelan diantara counter komputer. VGA Card. Game yang kemaren dia beli membutuhkan VGA yang lebih bagus dari yang dia pakai. “Sial.” Gerutu Rian. “Uang tabungan kepake lagi nih.”
Brukkk. Dia menabrak seseorang. Empuk.
“Yan, ngapain di sini?”
“Vi? Lah, kamu juga ngapain?”
“Ngisi pulsa modem. Sekalian sambil nyari mouse. Yang di rumah udah lari entah kemana. Kamu ngapain?” Jawab Revi. Rian menjawab kalo dia nyari VGA card. Dan mereka sepakat untuk nyari bersama. Setelah dapet, keduanya memutuskan untuk makan dulu di lantai atas. Tapi langkah Revi terhenti. Sesosok laki-laki berdiri mematung dihadapannya.

“Revi?”
“Ka?”
“Sehat?”
“Sehat, oya, kenalin, Rian, pacar Revi.” Revi berbohong. Rian sendiri hanya diam melongo.
Ingatan Revi kembali ke satu tahun silam. Ketika dia masih memiliki kisah dengan orang dihadapannya. Bagaimana orang ini menjadi orang pertama yang melumat bibir indahnya. Bagaimana dia sering main ke kostan orang ini hanya untuk memberikan bibir, telinga dan leher juga sepasang buah dada yang bulat padat.

Masih teringat ketika Revi dan dia berciuman, lama, lama sekali. Dan rangsangan yang diberikan padanya membuat dia tidak tahan. Revi pernah orgasme dari permainan orang ini di kedua buah dadanya. Revi masih ingat, bagaimana dengan lembut, dia memainkan puting Revi dengan lidahnya. Bagaimana pada suatu hari, ketika keduanya bertemu setelah sebulan tak bertemu, bergumul dengan dahsyat di atas ranjang, peting seperti biasanya, namun kali itu, saking bernafsunya, rok Revi sudah melorot. Celana dalamnya pun sudah hampir turun. Kalau bukan ada telepon masuk, pasti Revi bakal ditelanjangi bulat-bulat di hari itu.

Dan Revi pun ingat, terakhir kali ketika mereka melakukannya. Ketika dia membuat Revi mengoral penisnya. Membuat Revi merasakan benda itu keluar masuk mulutnya. Melintasi bibirnya yang indah. Ketika orang itu menyelipkan penisnya diantara bongkahan dada Revi yang besar dan bulat, ketika spremanya muncrat ke wajahnya, dan ketika Revi harus membersihkan sisa-sisa dari sperma dengan menjilati pebis orang itu.

Dan di hari itu pula, Revi dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita yang mengaku tunangan orang itu. Brengsek. Kenangan yang lama disimpan keluar lagi.

==========================================
“Mas, hmmm, bentar, udah dulu, aaahhh, geli. Stop!” Ima menyingkirkan kepala Gio dari buah dadanya. “Dengerin dulu bentar ih.” Gio mendengus, “Iya, kenapa?”
“Revi minta diajari Fisika. Dan Ima bilang mas pasti mau.”
“Oh, gak apa apa, asal ada bayarannya aja.” Jawab Gio.
“Ih, ko gitu. Apa bayarannya?” Tanya Ima.
“Hmmmm, emutin punya mas.”
“Ogah ah, minta aja ntar ke Revi.” Tukas Ima.
“Oh, oke lah kalo gitu, tar mas minta ke Revi, sapa tau dia mau.” Jawab Gio sambil nyengir kuda.
“Iiiihhh, mas ko gitu, nyebelin deh. Udah, sini, emut lagi dada Ima.”
“Ah, bilang aja kali Ima lagi pengen.” Gio menimpali sambil tersenyum.
“Iya, emang, pengen diemut, yang keras. Tandain lagi ya mas.” Ima menjawab pelan, tertunduk malu.
“Dengan senang hati malaikatku.” Dan Gio pun melahap kedua buah dada Ima, menyupanginya satu persatu.

==========================================
“Yun,lg dimana.” SMS dari Bima. “Di rumah, kenapa? Kangen ya?”
“Ya nih, kangen bgt.” Bima menjawab.
“Kangen apanya nih? Yuni ato lubang Yuni?” Tanya Yuni.
“Semuanya Yun. Badan kamu juga, wangi tubuh kamu, dan sepongan kamu. Mantap.”
“Ini orang jorok banget deh, iiiiihhhh. Hhe. Yasud,tar malem km maen ke rmh , Yuni tunggu.”
Bima tersenyum. Kejadian tadi malam antara Gusti dengan mbak Lidya membuat dia terangsang berat. Sampai rumah dia langsung onani. Mikirin mbak Lidya yang cantik dan menggairahkan. Siang ini tadinya dia berencana ke SPA untuk menyalurkan keinginan si otong. Tapi dia lebih memilih Yuni, bisa diapain aja, segalanya, dan tanpa biaya alias gratis. Cantik, manis, baik, dan nikmat.
Segera dia bangun dari tempat tidur, bersiap untuk mandi, tapi langkahnya terhenti di sebelah tangga, dia mendengar suara ibunya di telepon. Keras, lantang dan mengancam. Secepat kilat dia memalingkan muka. Muak. Kenapa mereka memutuskan menikah, melahirkan dia, kalo akhirnya hanya menyia-nyiakannya.

==========================================
Hal yang sama berlaku pada Udin. Bermain DotA semaleman dengan Rian sepertinya kurang mengalihkan pikiran. Setelah Onani tadi malam, dilanjutkan pagi dan siang tadi, entah sore ini mau diterusin atau tidak, dia memutuskan menghubungi salah satu mantan pacarnya. Siapa tau bisa ‘sakecrot dua kecrot’ pikirnya.
Yang ada dipikirannya adalah Icha, dan langsung dia menghubunginya. Beruntung sekali Icha mau diajak ketemuan. Lagi bosen juga, katanya. Dan malam ini mereka bakal ketemu di tempat mereka jadian dulu. Mall di jalan Merdeka.

==========================================
“Jadi itu orangnya?” Tanya Rian kepada Revi. Mereka kini duduk bersebrangan di salah satu meja di food court itu. “Iya, dia.” Jawab Revi. “Maaf tadi ngaku-ngaku kamu pacar Revi. Dan tolong, jangan diungkit-ungkit ya? Revi muak ama si bajingan itu.”
“Gak perlu minta maaf, malah kalo emang iya pacar beneran saya pasti senang.” Pikir Rian, ah Revi, betapa indahnya dirimu. “Iya, nyantey aja kali, kaya ke siapa aja. Udah, gak usah dipikirin. Kita nonton aja yu? Sapa tau kamu bisa lupa.”
“Rian yang bayarin ya?”
“Yeeeee, ni anak. Iya deh.”

ULVAH

Aku adalah salah seorang anak pengurus DPP Partai, dan sering hilir mudik ke DPP membantu Bapak. Penampilanku sopan dan bersahaja, katanya ganteng dan murah senyum. Waktu keluar dari DPP Partai di daerah Mampang, aku berpapasan dengan serombongan akhwat yang akan menuju Monas untuk berkumpul berdemonstrasi.

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (9)

Setelah semua persiapan selesai, aku naik bus way dan ternyata bertemu dengan rombongan tadi, yang berjumlah 5 orang, 1 orang murrobiyah dan 4 muttarobinya, sang murrobiyah berumur 45 tahunan tampang cukup dewasa, sambil membawa 2 orang anak. Ke empat muttarobi masing masing Rina, Ulva, Saskia dan Dila, mereka semua berpakaian panjang dengan jilbab sampai pantat. Mereka memakai jilbab yang berbeda-beda ada yang putih, ungu dan biru tampak anggun dan serasi dengan wajah manis mereka.

Rupanya di antara mereka yaitu murrobiyah nya mengenali wajahku, meski tidak kenal nama tapi menjadi awal yang baik untuk perkenalan.

Sang murrobi tersenyum tipis dan akau membalas dengan sopan. Sambil bengong aku memandangi ke empat remaja putri yang ayu dan anggun, sebenarnya aku tidak begitu tertarik ikut demonstrasi, tapi karena simpati ku terhadap kekejaman Israel, akhirnya aku memutuskan ikut, aku sendiri bukanlah anak yang taat beragama sebagaimana ikhwan Partai lainnya.

Mereka memakai jilbab yang berbeda-beda ada yang putih, ungu dan biru tampak anggun dan serasi dengan wajah manis mereka.

Rupanya di antara mereka yaitu murrobiyah nya mengenali wajahku, meski tidak kenal nama tapi menjadi awal yang baik untuk perkenalan.

Sang murrobi tersenyum tipis dan akau membalas dengan sopan. Sambil bengong aku memandangi ke empat remaja putri yang ayu dan anggun, sebenarnya aku tidak begitu tertarik ikut demonstrasi, tapi karena simpati ku terhadap kekejaman Israel, akhirnya aku memutuskan ikut, aku sendiri bukanlah anak yang taat beragama sebagaimana ikhwan Partai lainnya.

Meski jilbab menutup sampai ke bawah, keindahan tubuh ke empat akhwat itu tampak terlihat jelas, dengan kulit wajah yang senantiasa berseri tanpa meninggalkan kesan pemalu, dada yang menonjol dan pinggang yang membesar layaknya biola.

Mendekati pasar festival, seorang akhwat terpaksa berdiri karena ada ibu yang lebih tua masuk demikian juga aku ikut berdiri karena banyak penumpang lain berdatangan, kebanyakan ibu-ibu arisan dan anak-anak seumuran SMP dan SD.Kondisi bus jadi lumayan padat,aku dan akhwat tadi berdiri berdekatan bahkan akhirnya bersentuhan. Tak dapat tidak mataku tertuju pada bongkahan pantat akhwat yang sintal dan menggairahkan.

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (8)

Si akhwat juga asyik berbicara dengan temannya yang duduk, aku memutuskan mengambil kesempatan untuk menempelkan tubuhku ke badannya, maklum goyangan bus mendukung niat jailku itu. Nyaman sekali ketika penisku menggesek pantatnya, si akhwat sepertinya maklum karena kondisi bus yang bergoyang dan sedang asyik ngobrol dengan temannya, tapi lama-kelamaaan dia menyadari ada batang penis yang menempel di belahan pantatnya, dia pun mulai terdiam, kesempatan ini aku ambil untuk membuka pembicaraan
dengan dia, “Mau ke mana mbak?”, tanyaku. ”Ke Monas ada munasyoroh” jawabnya, merdu sekali suaranya. “Maafya desek-desekan”, kataku. Sejak dari pasfest aku sering menggesekkan penis ku ke pantatnya, nikmat sekali belahan pantat akhwat ini, empuk dan berisi, dia kadang tampak risi, tapi karena tahu kondisi dia diam saja, sesampainya HI kondisi macet total karena ratusan ribu massa Partais berkumpul di sana, setelah 30 menit menunggu kondisi tetap seperti semula, banyak suara sound system yang meraung keras. Aku makin berani menempelkan penisku dan tanganku mulai meraba pinggulnya, dia tampak menyadari hal tersebut namun karena malu dia diam saja, tanganku meremas pantatnya beberapa kali dan kadang turun ke paha, tanganku yang satunya berusaha menelusup lewat ketiaknya untuk menyentuh bukit indah di dadanya.Setelah sekitar 5 menit aku meremas pantatnya, akhwat itu tampak menikmati bercampur marah, dan kemudian membalikkan badannya sambil mendelik melotot.

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (1)

Kemudian aku memanfaatkan kondisi itu untuk secepat kilat mengambil pisau di saku, dan menusuk ke perutnya. Si akhwat tampak kaget, sambil bertatapan aku berkata “diam”. Kemudian kuambil tangannya dan ku tempelkan kepada penisku dan menuntunnya untuk membelainya, mau tak mau akhwat itu harus menuruti perintahku, kemudian ku keluarkan penisku dan tangan mungil itu kupaksa mengocok penisku, nikmat sekali rasanya. Mata kami terus bertatapan, dan lama kelamaan tampak sayu lah mata gadis itu. Tangan ku yang satu mulai bergerilya ke bagian payudara, dan meremas-remas dadanya. Karena posisi yang rapat orang di sekeliling tidak menyadari, dan hanya melihat-lihat keramaian di luar.

Di tengah keheningan kami, sang murrobiyah dari jauh berkata, ”Ayo turun saja”. Aku pun bersungut dan mengikuti mereka dan berbisik ke pada si akhwat yang kuketahui bernama Ulva, jangan bilang ke mereka. Ulvah hanya menunduk mungkin karena malu dan takut. Aku terus berbaur dengan mereka sambil ikut meneriakkan yel-yel.

Aku menempel Ulvah dan berada di paling belakang dari kami ber enam, mereka sibuk dengan aktivitasnya serta mengurusi kedua anak sang murrobiyah.

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (7)

Aku mencairkan suasana dengan mengajak ngobrol ulvah tapi tidak dijawab,sepanjang perjalanan aku sering meremas pantat ulvah dan kalau kondisi berdesakan aku keluarkan penis untuk minta dikocok, suatu saat aku tidak tahan dan muncratlah air maniku ke luar, aku pun pura-pura bego dan tetap bersama mereka.

Ketika sampai di perkebunan Monas, aku paksa Ulvah untuk memisahkan diri, tentu saja dengan pisau ditodong ke balik jilbab ulvah. Aku mencari tempat di sebelah mushola di mana kondisi tidak terlihat siapapun, dan kembali memaksa ulvah untuk mengulum penisku dengan mulut mungilnya.

Setelah selesai aku kembali membaur, saat acara selesai kami pun pulang bersama…Di Bus Ulvah hanya diam dan tampak lelah, sebagaimana yang lain juga kelelahan. Sepanjang perjalanan penisku senantiasa menempel di belahan pantatnya….nikmat sekali pengalaman hari itu.

Sesampai di DPP aku hanya bertukar senyum dengan murrobiyah, aku berharap esok hari bertemu Ullvah lagi.

Beberapa hari sesudah kejadian di Busway dan taman Monas itu, Ulvah agak menjaga jarak denganku. Mungkin dia takut, walaupun aku merasa kalau Ulvah juga menikmati pelecehan yang aku lakukan atas dirinya. Namun dia menjaga jarak sebab dia tau kalau aku sudah punya istri dan anak. Namun aku bermaksud menjadikan Ulvah bini keduaku. Aku ingin menikmati Ulvah lebih dari sekedar melecehkan akhwat berjilbab lebar itu.

Maka aku bercita-cita pengen banget bisa menculik akhwat cantik itu untuk tau isinya itu seperti apa sih….. Waktu itu aku lihat Ulvah yang sedang memakai pakaian yang serba hitam, berjubah panjang hitam dan berjilbab sampai lutut. Aku tahu kebiasaannya setiap hari kalo pas keluar dari kos-kosannya. Ternyata setiap hari libur dia pasti keluar untuk pergi ke toko buku yang ada di sekitar komplek tempat kosnya Ulhav.

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (2)

Keingintahuan diriku makin membesar, muncul lah ide buat menculik Ulvah. Waktu itu dia pas siang hari seperti biasa dia keluar rumah jalan sendirian dengan pakaiannya yang serba hitam lengkap dengan cadarnya. Walau hanya matanya saja yang terlihat tapi mata itu kelihatan begitu indah dan jalannya begitu anggun yang bikin aku makin napsu aja.

Aku langsung ikuti Ulvah dengan mobil. Di tempat yang agak sepi, aku sedikit pepetkan mobilku yang lagi jalan pelan itu ke pinggir ke tempat dia lagi jalan. Tentu saja dia kaget dan terjatuh. Lalu aku keluar untuk melihat dan meminta maaf.

“Maaf Vah, kamu tidak apa-apa?” tanyaku. Dia baru saja bangun dari jatuhnya dan kaget tapi dia menjawab juga sapaanku itu sebab kami memang sudah saling kenal.

“Oh nggak papa mas, cuma lain kali hati-hati dong nyetirnya,” sahutnya.

“Maaf ya sekali lagi maaf nih saya tidak sengaja, tiba tiba ban mobil saya terasa aneh nih. Begini saja deh sebagai tanda maaf saya saya akan antar adik ke tempat tujuan adik dengan aman tentunya, saya janji deh,” kataku

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (6)

Terlihat dia sedikit ragu dan curiga dengan ajakan saya, sebab tentu dia ingat perlakuanku di Busway dan Monas dulu. Setelah lama terdiam akhirnya diapun mau dengan alasan kakinya sedikit sakit dan dia berpikir mungkin itu niat baikku sebagai tanda penyesalan dan minta maaf. Akhirnya saya bukakan pintu mobil agar dia masuk, setelah itu aku berputar untuk kembali masuk ke posisi kemudi.

Sambil jalan, aku mengeluarkan saputanganku yang sudah saya kasih chlorofom atau obat bius yang memang sudah aku siapkan. Waktu aku masuk, aku langsung bekap aja dia dengan saputangan yang sudah mengandung obat bius itu. Dia segera meronta, namun walau dia menggunakan cadar tapi akhirnya dia mulai lemas juga karena aku kasih obatnya lumayan banyak.

Di dalam mobil waktu dia sudah setengah pingsan, aku lepas bekapanku dan aku segera menjalankan mobil ke tempat temenku yang waktu itu memang kosong. Karena kita begitu akrab, aku sudah biasa dan punya kunci serep rumah dia karena aku sering maen ke rumahnya dan aku menunggu dia pulang seperti rumah aku sendiri.

Setelah memarkir mobil aku angkat Ulvah untuk dipindahkan ke dalam rumah. Waktu aku angkat terasa sekali tubuhnya ternyata begitu empuk dan tangan Ulvah yang sedang aku pegang itu juga begitu halus dan itu membuat aku semakin ingin cepat-cepat ke dalam untuk memuaskan rasa ingin tahuku.

Aku letakkan dia terlentang di tempat tidur yang keempat sisinya terbuat dari besi. Pertama yang aku lakukan adalah membuka cadarnya sehingga aku akan dengan leluasa melihat wajahnya yg selama ini disembunyikan di balik cadarnya. Aku nikmati kecantikannya tanpa cadar  beberapa saat..

Wowwwwwww..!! cakep bangettttttttttt..!!!!!

Bibir Ulvah yang tipis dan sedikit basah mengkilap itu begitu indah dan kayanya enak untuk dinikmati. Aku berpikir sejenak, apa yang akan aku lakukan. Untuk jaga-jaga kalo nanti dia sadar dan berteriak gimana? Kemudian aku ambil beberapa women handkerchief dan aku gulung2 jadi seperti bola dan dengan pelan2 aku buka mulutnya dan aku sumpalkan bola saputangan tadi ke dalam mulutnya..aku akan tambah beberapa lembar women hanky lagi ke dalam mulutnya kalo aku rasa kurang penuh.. (aku sengaja pake women hanky krn selain warna-warni, aku juga bisa nambahin beberapa kalo kurang penuh tanpa takut kepenuhan krn bentuknya yg kecil2 dan tipis..kalo pake kain yg tebel2 takut terlalu penuh dan tidak nyaman).

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (5)

Aku ambil scarf yg rada tipis dan aku pilin jadi seperti tali agak tebal dan aku ikatkan di tengah sumpal mulutnya yg terlihat penuh dan menyembul keluar.. aku ikatkan scarf tadi dengan kuat ke belakang kepalanya dan sekarang yg terlihat di mulutnya adalah sumpal yg penuh dan di tengahnya tertahan oleh scarf yg terikat kencang. Aku ambil lagi sebuah bandana berwarna, aku lipat lebih lebar dari scarf tadi kemudian aku ikatkan menutup seluruh sumpal yg ada dimulutnya. Aku sedikit tekan sumpal di mulutnya biar lebih masuk lagi krn aku mau sumpalan itu bener-bener kencang jadi Ulvah bener bener nggak bisa mengeluarkan suara apapun kalo sudah sadar nanti. yang terdengar cuma mmmmppphhh…mmmppphh..

Aku pastikan lagi kuatnya sumpalan di mulutnya itu dan yakinkan kalo dia sudah tidak akan mampu mendorong sumpal mulutnya keluar sehingga berteriak saat sadar nanti. Aku perhatikan wajah cantik yang sudah nggak berdaya itu, dia begitu seksi dengan mulut tersumpal kaya gitu. Setelah itu aku mulai pasangkan lagi jilbab dan cadarnya dengan rapi seperti semula sehingga kalau ada yg melihat dia gak akan tau kalo sebenernya mulutnya disumpal dengan erat dan tidak bisa bersuara. Kemudian aku singkapkan pakaiannya karena aku akan mengikat tangan dan kakinya supaya dia tidak bisa lari waktu sadar nanti..

Wow tubuh yang sangat indah dan montok. Tubuh Ulvah yang ditutupi dengan jubah yang panjang dengan jilbab dan cadar. Nikmatnya tubuh Ulvah! Aku ambil beberapa tali dan aku ikat tangannya jadi satu ke belakang sehingga toketnya semakin membumbung ke atas dan terlihat semakin seksi. Kemudian dengan tali panjang ikat ke tiang besi di atas kepalanya lalu aku ikatkan ke lehernya tapi tidak terlalu kencang jadi Ulhav nggak tercekik. Aku ikatkan tali ke tiang yang berada di bawah satu aku ikat ke kaki kiri dan tiang satunya aku ikatkan ke kakinya yang satu lagi. Sehingga sekarang posisi kakinya sudah “mengangkang”.

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (4)

Akhirnya sedikit demi sedikit Ulvah mulai sadar, dia kebingungan memandang sekeliling dan ke arahku… Kemudian dia menggerakkan badannya dan mulai sadar apa yg terjadi….

“MMMmmmmpppphhhh….!!!!” Sekarang dia sadar betul kalo dia sedang dalam kesulitan.. Dia mulai menyadari kalo dia terikat dan hanya bisa sedikit saja meronta..Dan dia sadar mulutnya sekarang tersumbat penuh dan erat sehingga dia tidak bisa berteriak minta tolong kecuali …mmmmmpppphhhh…yg keluar dari mulutnya.. Dia sepenuhnya sadar kalo dia tidak berdaya sampai berusaha bangkit pun sama sekali tidak bisa karena tali yang mengikat lehernya itu tersambung ke tiang di ujung tempat tidur yg menahannya utk tetep nempel di ranjang.. dan dia akhirnya sadar bahwa dia sekarang sedang DICULIK!!….mmmppphh..

Semua keadaan tadi aku perhatikan dan aku bener-benar sangat menikmati keadaan tidak berdayanya itu, terutama keadaan di saat dia kaget dan melotot takut dan bingung ke arahku saat pertama sadar keadaannya yg nggak berdaya dan hanya bisa..mmpphh.. tanpa bisa lakukan yg lain.. Ekspresi bingung, takut dari sorotan matanya ditambah suara dari mulutnya yg tertahan oleh sumpalan itu..mmmppphh..mmmppphh.. itu yg membuat aku bener2 puas dan senang dan semakin ingin lebih lagi nyicipin bagian yang lain!

Aku sedikit menghardik dan membentak menyuruhnya diam saat dia tetep merengek di balik sumpalannya … Aku memintannya tenang dan berjanji tidak akan melukainya kalo dia tetep tenang dan menuruti perintahku. Aku mulai naik ke atas ranjang sambil membuka celana panjang lalu cd aku, yang memang sudah terasa sempit karena kontolku yag memang sudah bangun dari tadi. Ulvahh tetap berusaha meronta. Tapi untuk berapa lama?! pasti sebentar lagi dia akan mulai lemas dan terangsang juga. Merontanya sudah mulai memelan. Dan itu saatnya aku memuaskan hasratku sebagai laki-laki. Dia mulai menangis, terlihat dari airmatanya yang muali keluar dari ujung matanya, tapi aku nggak perduli, aku sudah semakin “horny”. Langsung aja “adik” ku, aku gue masukan ke dalam memek Ulhav yang terasa begitu sempit (ternyata dia memang masih asli alias masih perawan). Darahpun mulai keluar dari pinggir vaginanya. Sambil melihat seluruh tubuhnya yang sudah nggak berdaya dan tidak mengunakan pakaian sehalai pun kecuali cadar yang masih menempel di wajahnya itu, aku semakin merasa “on” dan makin kuat “memompa” dari lubang vaginanya itu sambil maju mundur dengan pelan-pelan dan menikmati gesekan di dinding vagina yang masih sempit itu. Wow asik bener sesekali terdengar suara rintihannya yang hanya terdengar mmmmmppppphhh!

nur aini dwi hapsari - jilbab perawan (3)

Nafasnya yang mulai ter-engah engah sepertinya dia juga menikmatinya. Hehehe… hari itu aku memang mendapatkan pengalaman yang tidak dapat terlupakan, aku bisa mencicipi gadis bercadar yang begitu alim ini.

Aku tidak melakukannya sekali, dia nggak langsung aku lepaskan, sesekali aku ngaso dulu sambil menikmati suara “mmmppppphh” itu dari mulutnya yang aku yakin bunyinya itu “tolongg, lepasin gue, jangan lakukan lagi” Hehehe aku sangat puas hari itu, sampai 5 kali aku menyetubuh Ulvah akhwat yang cantik dan sintal ini. Wow, pengalaman yang luar biasa. Ternyata di balik cadarnya itu tersimpan kecantikan yang siap dinikmati kapan saja dan oleh kontolku!

MIA 7

“Oke… sampai besok yaa….!” Ucapku menutup pembicaraan telfon. Uuuhhh… besok pasti seru banget deh, makan malam… terus… kemungkinan besar, aku pasti nginep dirumahnya. Ngapain yaaaa….???
Sambil masuk ke kamar, aku melihat suamiku sedang menonton TV.

yessy purnamasari - jilbab memek seret (4)
“Siapa Mi’? tanya suamiku tiba-tiba.
“Siapa apa?” tanyaku lagi, pura-pura bego.
“Yang tadi telfon…”
“Ooo…. Rahma!” jawabku sekenanya, “temen SMA dulu, dia ngajakin ketemuan di rumahnya. Kebetulan, suaminya sedang pergi ke luar kota. Mungkin aku nginep disana. Boleh ya Mas…?” rengekku sedikit manja.
“Sendirian aja?”
“Ya enggak! Kan sama Rahma…”
“Maksudku, nggak ada yang lain?”
“Nggak tau! Yang sudah pasti sih… yaaa… baru aku. Yang lainnya baru besok bisa ngasih kepastian. Boleh yaa…?? O iya… aku ngajak Fanny. Jadi besok, pulang dia sekolah, aku jemput langsung ke rumah Rahma.”
“Pulang kapan?”
“Yaaa… besok kan Sabtu. Mungkin pulangnya Minggu malam. Kenapa? Mau jemput?
“Yaa… kamunya bawa mobil nggak?”
“Kayaknya enggak deh, Mas…!”
“Emangnya mau dijemput dimana? Di rumahnya Rahma?”
“Enggak. Di ini aja… di PIM, kapan dan dimananya, besok aku telfon. Gimana?”
“Ya udah. Besok hati-hati lho. Soalnya besok kan Sabtu, kamu inget kan, aku ada janji sama klien di Kemang. Setelah itu aku langsung ke Bogor bareng si Andre.”
“Iya… iya… kamu juga hati-hati lho Mas… jangan macem-macem!”
“Siip!!”
“Ya udah, aku mau tidur. Habis nonton, matiin TV nya, tadi malam kamu kelupaan…!”
“Oke…!!!”

Di dalam kamar, aku senyam-senyum sendiri. Sambil melepas daster yang aku pakai sekarang, aku membayangkan wajah David yang sedang melongo karena kagum, kalau melihat tubuh telanjangku nanti. Hihihi….  Lalu aku mengenakan lingerie ku yang tipis, tembus pandang dan pendek sekali. Aku berfikir, aku akan membawa lingerie ini sebagai surprise untuk si bapak itu.
Ketika aku berbaring, aku membayangkan momen dimana kami pertama kali bertemu, kemarin siang. Tentu saja sambil menggosok-gosok memek dan meremas kedua toketku.

Aku sedang makan siang dengan Fachry di Pizza Hut, PIM. Tentu saja bareng dengan Fanny dan Haikal. Ketika sedang asik-asiknya makan, Hpnya Fachry berbunyi. Setelah memberi kode ke aku kalo yang telfon itu istrinya, dia lalu keluar. Aku yang sedang bertiga saja dengan anak-anak kami, melihat Fachry berjalan keluar. Ketika aku mengalihkan pandangan dari Fachry, aku melihat ada seorang laki-laki yang ngeliatin aku sambil senyam senyum. Dia bertanya kepadaku dari jauh.

Tentu saja dengan tidak bersuara. Tapi karena jarak mejaku dan mejanya sangat dekat, aku dengan mudah, dapat membaca gerak bibirnya.
“Suaminya ya?” tanyanya.
Aku menjawab dengan menggelengkan kepalaku sambil tersenyum.
“Boleh kenalan?” tanyanya lagi.
Aku kembali tersenyum, tapi kali ini aku menganggukkan kepalaku.
“&imana kenalannya?
“Apa?” tanyaku nggak ngerti pertanyaannya. ‘Dimana apa Gimana’
Lalu dia tersenyum (manis juga, pikirku) sambil membuat huruf ‘G’ dengan jarinya, “Gimana kenalannya?”
“Ooo….” Aku jadi malu. Sambil tersenyum aku berdiri. “Ikutin aku!” kataku ber-kode.
Sebelum berjalan keluar, aku bilang sama Fanny dan Haikal kalo aku mau ke department store. “Fan, mami nyari baju dulu yaa, sebentar. Ical jagain Fanny ya…”
“Iya mam/tan..” sahut mereka berbarengan.
Diluar aku berbisik ke Fachry, yang lalu menutup Hpnya dengan tangan. “Aku nyari baju dulu ya, yang….”
Fachry mengangguk. Sambil berjalan, aku sempat menengok ke belakang sebentar, dan melihat pria tadi mengikutiku dengan tampang acuh tak acuh ketika melewati Fachry.

Ketika aku merasa sudah agak jauh dari Pizza Hut, aku berhenti di depan sebuah toko. Sambil sedikit mengaca di kaca toko dan merapihkan baju (hari itu, aku jilbab putik, kemeja ketat warna pink bra yang setengah dan celana panjang yang ketat – tentu saja pakai g-string) aku menunggu pria tadi, yang berjalan semakin dekat ke arahku.

yessy purnamasari - jilbab memek seret (3)

Ketika jarakku dengannya hanya tinggal (kurang lebih) semeter lagi, dia tersenyum.
“Hai…” katanya.
“Hai juga…” jawabku sambil tersenyum.
“David!” katanya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“Mia!” jawabku sambil membalas salamnya.
“Tadi itu suamimu?” tanyanya lagi.
“Bukan! Aku kan udah bilang…” jawabku.
“Terus, siapamu?”
“Ada deh… udah lah… nggak usah dibahas!”
“Oke… tapi tadi itu anakmu?”
“Yang perempuan!”
“O… Oke….”
Lalu kami ngobrol-ngobrol sebentar yang dilanjutkan dengan tukeran no HP. Setelah itu, aku kembali ke Pizza Hut, dan dia pergi nggak tahu kemana, tapi sebelum pergi, dia bilang mau telfon aku nanti malam.

Di Pizza Hut, aku kembali duduk dengan ‘keluargaku’, melanjutkan makan. Ketika Fachry bertanya tentang ‘tujuan’ku pergi tadi, aku bilang kalo model baju yang aku cari, nggak ada! Setelah selesai makan, kamipun langsung meluncur ke rumah ibuku untuk ‘buang hajat’.

Sesampai di rumah ibuku, aku bilang ke ibuku aku mau numpang ‘buang hajat’. Aku dan Fachry langsung menuju kamar dan meminta Fanny dan Haikal sama ibuku dulu. Facri langsung memelukku dan menciumku dengan penuh nafsu. Sambil menciumku, tangan Fachry menbuka kancing kemejaku, bra dan kancing celana panjangku. Aku juga sambil membuka kemeja yang dipakai. Setelah selesai berciuman, Fachry melepaskan jilbab yang aku pakai dan melemparnya. Lalu dia melepaskan celana dan cdnya. berlanjut melepaskan celana dan cd yang aku pakai. Fachry menjilati memekku.samapai basah. Fachry mengendongku ke ranjang dan  mengarahkan kontolnya ke memekku. Fachry lalu mengatakan bahwa dia udah mau keluar. ” Aku juga. Kita sama-sama” ujarku. Fachry lalu mencabut kontolnya dan megarahkan ke mulutku. setelah tau aku sudah mencapai klimaks dengan memelukknya dengan erat dan mengigit punggungnya. aku melahap semua sperma yang keluar dan menelannya tanpa sisa. Setelah selesai, aku dan Fachry ngobrol di tempat tidur sambil masih telanjang bulat. Fachry berbaring terlentang dengan tangannya dia lipatkan ke belakang kepalanya. Telfon Fachry berdering dan memberitahuku bahwa istrinya telfon. Sementara aku berbaring miring disampingnya sambil mengurut dan mengocok perlahan kontol Arabnya itu sewaktu Fachry berbicara dengan istrinya.
“Istrimu nelfon mau ngapain, yang?” tanyaku.

yessy purnamasari - jilbab memek seret (2)
“Dia harus ke Sukabumi nanti malam. Dapet telfon kalo bapaknya sakit.”
“Kamu ikut?” tanyaku lagi.
“Kayaknya iya! Nggak papa ya?”
“Ya udah… berapa lama?”
“Sekitar 2 atau 3 mingguan lah… kenapa?”
“Yaa nggak papa, nanya aja!”
Dalam hatiku, aku mikir, kamu pergi lama juga nggak papa… aku dan memekku mau nyobain kontol baru kok! ?. 2 jam kemudian, kami pulang. Fachry dan Haikal langsung ke rumahnya dengan mobilnya, sementara aku dan Fanny naik Taksi.

Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan berpakaian. Suamiku belum pulang, hari ini ada rapat katanya. Dia baru pulang jam 9 nanti, sementara sekarang baru jam ½ 7 malam. Sekitar jam 8an, HP ku berbunyi. Aku lihat nama di Hpku… ‘D@v1d’… Kami ngobrol lama banget. Nggak taunya, David ini sudah merit dan punya anak 1 laki-laki. Tapi istri dan anaknya tidak tinggal disini, tapi di Surabaya. David tinggal di Jakarta karena sedang mengurus bisnisnya (dia pengusaha… dan dia memang punya rumah di sini). Sebelum tutup telfon, dia bilang, kalo dia ingin ketemuan lagi sama aku. “Kapan?” tanyaku
“Besok bisa?”
“Yaahhh… nggak bisa, aku harus nemenin suamiku ke acara kantor…” padahal, besok aku ada janji sama Andre (teman suamiku) untuk SAL (Sex After Lunch) di rumah ibuku.
“Oo… ya sudah. Terus kira-kira, bisanya kapan?”
“Gini aja… besok malem kamu telfon aku. Ya?”
“Jam berapa?” tanyanya lagi.
“Jam-jam seginian deh…”
Setelah terjadi kesepakatan, kamipun menyudahi pembicaraan kami.

Nah… besok malamnya David nelfon untuk ngajakin ketemuan. Setelah ngobrol agak panjang (aku sengaja pindah ke teras depan rumah, supaya nggak kedengaran Tino) aku menyetujui ajakan David untuk makan malam. Tapi sebelum itu, dia memintaku datang ke rumahnya.
“Lho…? Kok gitu?” tanyaku
“Kamu mau suamimu ngeliat aku jemput kamu dirumah?”
“Iya siihh… ya udah jam berapa?”
“Ya.. jam 1 an deh! Gimana?”
“Kok siang banget. Kan Kita makan malamnya jam 8.”
“Aku mau ngobrol-ngobrol dulu sama kamu. Boleh kan?”
“Terus dari jam 1 sampai jam 8, kita ngapain? Masa ngobrol-ngobrol doang?” tanyaku sedikit memancing.
“Yaaa… ngapain kek… udah gede ini…!” jawabnya
“Dasar kamu tuh… ditanya bener-bener juga! Ngapain? Jawab yang jelas dan tegas!”

“Kamu maunya diapain emangnya?” tanyanya lagi setengah nyerempet.
“Emang mau ngapain aku!
“Yang pasti yang membuatmu senang… besok kamu pasti aku apa-apain!”
“Emang kamu tau yang bisa buatku senang!” jawabku tegas….
“Aku tau apa yang bisa membuat wanita sepertimu senang” timpalnya
“OKE…! jawabku
“Dadah Mia sayang…. Sampai besok !“
“Oke… Sampai besok yaa….!”

yessy purnamasari - jilbab memek seret (1)

Aku senyam senyum sendiri kalo ngebayangin wajahnya itu. Apalagi ngebayangin seberapa besar kontolnya. Pas baru mau tidur, Hpku berbunyi lagi, tapi itu suara SMS. Dari David… nggak taunya dia ngirim sms berisi alamat rumahnya. Setelah itu akupun tidur.

Esoknya, sekitar jam 10an, aku mandi dan berpakaian (minimalis tentu saja. Cukup jilbab putih model inneke–kemeja lengan panjang berwarna pink-dilapisin cardigan biru muda-no bra- dan celana panjang hitam yang agak ketat –no cd- jadi kalo ngeliat dengan jelas dan teliti bagian selangkanganku, tercetak bentuk mem… uuppss… ‘tempat keluarnya Fanny’ ?). Lingerie dan baju untuk makan malam aku masukan ke dalam tas, tentu saja dengan peralatan make-up, 1 bra, 1 celana pendek yang pendek banget, 1 tangtop dan 1 buah g-string (kayaknya bawa 1 celana dalam cukup kok… buat aku pakai makan malam aja). Baju-bajunya Fanny juga aku masukkan di situ. Setelah pamit dengan suamiku, aku pergi untuk menjemput Fanny, dengan menggunakan Taksi.
Sesampainya di alamat yang dituju, akupun turun dari Taksi, setelah sebelumnya membayar harga yang ada di argo. Lalu, aku dan Fanny berjalan, masuk kedalam halaman rumah yang lumayan luas itu. Setelah memencet bel, ada seorang wanita setengah baya yang membukakan pintu.
“Ya…? Cari siapa ya bu?” kata wanita itu.
“Mmhh,… benar ini rumahnya David?” tanyaku.
“Iya, betul!”
“Davidnya ada, bu?” tanyaku lagi sambil tersenyum seramah mungkin.
“Oo… ada. Pak Davidnya lagi berenang. Masuk dulu, bu! Biar saya panggilkan Pak David nya” setelah itu dia pergi memanggilkan David, dan aku serta Fanny masuk ke ruangan yang cukup mewah, walaupun tidak terlalu besar. Baru berjalan beberapa langkah, perempuan tadi balik lagi, “Kalo saya ditanya, yang cari Pak David namanya siapa ya?”
? Aku tersenyum, “Bilang aja, MIA!” jawabku.
Setelah beberapa saat, Davidpun keluar menemui aku dan Fanny. Dia hanya memakai Piama mandi. Rambut dan bagian tubuhnya yang kelihatan, basah sekali.
“Aduh… ada wanita cantik lagi nungguin aku rupanya?” katanya memuji, sambil menyapaku.
? Aku tersipu mendengar pujiannya, “Aah… kamu bisa aja! Lagi ngapain, kok basah semua gitu sih?”
“Lagi berenang! Kenapa? Mau ikut?”
“Aku nggak bawa swimsuit!” jawabku.
“Oohh… nggak papa! Kebetulan, aku sudah merencanakan hari ini. Jadi, kemarin aku sengaja pergi untuk beli swimsuit buat kamu. Tapi aku lupa, kalo anakmu ikut, jadinya aku nggak beli buat anakmu.” Katanya sedikit kecewa.
“Aduh… kamu sampai segitunya! Jadi nggak enak aku…..”

“Gak papa! Buat kamu, apa sih yang nggak aku beliin?” katanya lagi sambil tersenyum.
Aku juga ikut tersenyum, “Ngomong-ngomong, kamu beli swimsuit buatku, modelnya kayak apa?”
Tapi David tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil menarik tanganku. Setelah aku berdiri dan mengikutinya naik ke lantai atas, aku bilang ke Fanny untuk menungguku sebentar.

Ternyata aku diajak kekamar tidurnya yang cukup besar dan sangat elegan. Lalu David menunjuk ke arah tempat tidur. Aku tersenyum kepadanya, “Terima kasih ya!?” Lalu aku berjalan ke tempat tidur, untuk mengambil dua potong kain yang ternyata adalah bikini.
“Kamu tidak masalahkan memakai bikini?” tanya David

yessi eci - jilbab semok (6)
“Aku malu sama pembantumu masa wanita pakai jilbab berenang pakai bikini!” jawabku
“Mbo Surti disini tidak nginep” jawabnya
“Oooo….”timpalku
“Dimana pakainya?” tanyaku pada David.
Lalu David menunjuk sebuah ruangan, yang ternyata adalah kamar mandi. Setelah masuk, aku segera melepas jilbabku, bajuku, dan segera mengenakan bikini itu. Aku merasa kalau bikini ini kekecilan 1 nomer, soalnya bagian bawahnya terasa sedikit sempit, walaupun bahannya nyaman sekali. Setelah aku pakai, ternyata bagian thong nya itu, Cuma sampai sebatas pinggul, sehingga lekukan pinggang dan perutku (yang mengarah ke arah vaginaku) kelihatan sekali… dan setelah aku perhatikan, ternyata belahan ku itu tercetak jelas sekali (udah gitu, warnanya senada pula dengan kulit tubuhku. Sehingga aku berkesan tidak memakai apa-apa ? ). Lalu, bagian bra nya juga tipis dan kecil sekali, sehingga puting susuku terlihat menyembul. Dan bagian atas bra nya, pas sekali diatasnya. Aku lalu memperhatikan diriku di cermin… Sexy banget siihhh aku!!!

“Mi… sudah belum?” terdengar suara David di luar kamar mandi.
“Iya…” jawabku… “sudah selesai kok! Kalo mau masuk, masuk aja… pintunya gak aku kunci!”
Tak lama kemudian, David membuka pintu kamar mandi dan berdiri saja disana. Terpaku dengan kemolekan tubuhku…. Tapi, ternyata tidak hanya dia saja yang terpana. David sudah melepas kimononya, sehingga tubuhnya yang hanya terbalut celana renang yang ketat itu, seolah ingin memamerkan benda besar yang menggunung di baliknya.

“Wow…” kataku setengah berbisik, dan aku yakin ada nada kagum pada suaraku tadi.
“Kenapa?” tanya David.
“Besar banget… itumu!” kataku sambil menunjuk ke arah gudukan di bagian selangkangannya itu.
“Ooo… ini?!” katanya… “mau lihat?”
Tanpa berbasa-basi, langsung aku jawab… “Mau!”
Lalu David membuka celana renangnya, gak sampai lepas sih… tapi benda besar yang menggantung itu serasa sudah menggodaku. Tapi baru saja aku hendak memegangnya, ada suara wanita di luar kamar tidur memanggil si pemilik kontol besar ini.
“Pak David…!” kata suara itu.
David, sambil tersenyum, mengenakan lagi celana renangnya… “Yaa.. mbok?”
Lalu aku dan David berjalan ke arah pintu kamar. Sebelum David membuka pintu kamarnya, aku segera berlari kecil, balik ke kamar mandi.
“Mau kemana?” bisik David.
“Mau pakai handuk!”
Lalu David membuka pintu kamarnya dan berbicara dengan wanita itu. Aku, yang sudah memakai handuk berjalan ke arah pintu dan mendengarkan perbincangan mereka. Mbok Surti pamit mau pulang. Ternyata Mbok Surti tidak menginap di rumah ini.
Setelah selesai, aku mendengar langkah kaki menjauh dari kamar. Dan tak lama kemudian, David sudah nongol dari balik pintu mengajakku turun ke bawah, ke pool nya.

Setelah sampai kembali ke ruang tamu, aku segera melepas kembali handukku, dan mengajak Fanny ke kolam renang. 2 jam kami disitu, main air dan sebagainya. Karena Fanny gak bawa baju renang, aku dan David sepakat menelanjangi Fanny. Fanny yang berenang telanjang, merasa diperlakukan tidak adil, rupanya.
“Mami, aku kok berenangnya gak pakai baju. Mami juga dong…” protes Fanny.
Aku dan David tertawa mendengar celoteh anakku itu.
“Fan… kalo mami telanjang juga… nanti adiknya Om David bangun!” kataku sambil melirik David.
“Gak papa…” kata Fanny “kan nanti bisa main sama aku!”
Aku langsung tertawa lagi mendengar perkataan Fanny.
“Maksud mami,… bukan adik kecil… tapi adik yang itu…”

yessi eci - jilbab semok (2)
“Yang mana sih mam…??” tanya Fanny sambil celingukan.
“Fanny… maksud mami… kontolnya Om David…!! Kalo kontolnya bangun, nanti dia minta masuk ke sininya mami….!” Kataku sambil menunjuk selangkanganku.
“Ooo…” kata Fanny, “tapi mami bukannya suka, kalo memeknya dimasukin kontol?”
Aku dan David kembali tertawa. Lalu David bangun dari kursi kolamnya dan langsung menghampiri kami.
“Fanny… Fanny… kamu lucu banget siihh…. Kecil-kecil tau memek… kontol… siapa yang ngajarin sih?” tanya David.
“Mamiiii…!!“ katnya sambil menunjuk ku.
“Dasar kamu tuh!” kata David sambil mengecup bibirku. “Emangnya, Fanny kamu ajarin apa aja sih?”
Lalu aku cerita dengan singkat ke David, kalo setiap ML aku selalu di depan Fanny, dan menyuruhnya diam dan jangan ngomong ke Papinya.
“Kamu pinter deh….!!” Kata David sambil mengelus kepala Fanny.
“Terus Mami mau buka baju juga gak?” tanya Fanny lagi.
“Iya…” potong David sambil melepas celana renangnya, “mami mau bugil gak?”
Melihat David sangat semangat, aku juga langsung berdiri dan melepas bikiniku.
“Iya… iya…Fanny sayang!!” kataku.
Lalu kami main air lagi, tapi sekarang kami telanjang. Ketika hari menjelang magrib, kami pun selesai dan masuk ke dalam rumah… tetap telanjang tentu saja.

Setelah terjadi perbincangan singkat, akhirnya kami memutuskan untuk tidak jadi makan malam diluar. Kami hanya memesan pizza. Sambil menunggu deliverynya dateng, aku dan David serta Fanny ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Aku hanya memakai kemeja David (tetep no bra… no cd).
“Fan…” kata David kepada anakku, “mamimu tuh sexy banget yaa…”
“Emangnya kenapa, Om?” balas Fanny.
“Iya… emangnya kenapa kalo aku sexy?” timpalku.
“Ya… gak papa… Cuma….”
“Cuma apa?” potongku.
“Mmmmhhh… aku mau tanya boleh gak?” ujar David lagi.
“Tanya apa?” kataku sambil menggeser posisi dudukku semakin mendekati David.
“Langsung aja ya Mi… aku mau ML sama kamu… boleh nggak?”

? (Akhirnya !) “Dave… untuk apa aku kesini… nginep sama kamu… kalo bukan kepingin ML sama kamu(sambil memukul pelan lengan David)?! Lagian… tadi kamu juga udah ngeliat semua barangku kan? Kenapa gak tadi aja di pool?”
“Tadi… biarpun aku konak banget, tapi aku masih nggak enak sama kamu… soalnya ada Fanny!”
Aku tidak menjawab… yang aku lakukan Cuma berdiri dan melepas kemeja yang aku kenakan. Setelah telanjang, perlahan-lahan aku mendekati David dan menarikku duduk di pangkuannya. Setelah melingkarkan tangannya diperutku sesekali meremas-remas buah dadaku, aku berbisik di telinganya. “Tonight… I’m Yours!”

yessi eci - jilbab semok (4)

Lalu aku merasa kedua tangan David mulai meraba bagian pinggulku, dan mulai menjelajah ke seluruh bagian belakang tubuhku. Sementara bibir kami saling berpagut dan lidah kami saling membelit. “Mi…” bisik David, “ada Fan…”
Belum selesai dia bicara, aku memotongnya dengan kembali mengulum bibirnya. Aku merasa birahiku semakin naik, sedikit demi sedikit. Lalu aku mulai menggoyangkan pinggulku… pelan… pelan… dengan gerakan yang erotis, sementara posisi memekku semakin menggosok gundukan daging di bagian selangkangan David, yang makin lama makin mengeras. Setelah itu, aku mulai melepas T-shirt yang dia kenakan. Melihat dadanya yang bidang, aku mulai memeluknya dan menempelkan kedua toket indahku ini, sementara bibirnya tidak mau lepas dari bibirku.
Aku gak tahu berapa lama Fanny melihat aksi maminya ini. Tapi ketika aku mulai merasakan birahi yang tinggi sekali,…. Bel pintu depan berbunyi… “tukang Pizza” pikirku. Biarpun malas-malasan, David bangun untuk mengambil dan membayar Pizza itu. Ketika David berjalan ke depan, aku duduk di sofa sambil mengangkang dan memainkan klitoris memekku (supaya gak kehilangan momen) sementara tanganku yang satu lagi meremas bergantian kedua toketku. Setelah selesai, David balik lagi ke ruang TV.
Dia berdiri di depanku sambil memperhatikan ‘istrinya’ yang sedang onani ini. Lalu dia melepas celananya. Sambil masih berdiri dan menonton aksiku, David mulai menggenggam batangannya dan berusaha untuk membangunkannya.
“Fan….” Kataku pada Fanny, “mami minta tolong gosokin ininya mami dong…” sambil memperlihatkan klitorisku.
“Mami mau ngapain?” tanya Fanny
“Mami mau ngisep kontolnya Om David!”.
Lalu aku mulai berlutut di hadapan David dan segera memasukkan kontolnya ke dalam mulutku, sementara Fanny menuruti kemauanku untuk menggosok kelentitku itu. David yang merasa keenakkan, mendesah pelan sambil tangannya mengelus-elus rambutku. Ketika mulutku mulai merasakan keras dan kencangnya benda yang sedang aku hisap dan kulum ini, aku menghentikan seranganku. Lalu aku berdiri dan memeluk tubuh David dengan erat sekali sambil mengulum bibirnya. Lalu David mulai mengangkat kaki kananku dan sesekali menggesekkan kontolnya di memekku sambil sesekali mencoba untuk memasukannya. Mengerti hal ini, aku langsung merenggangkan kakiku yang satunya dan menggenggam batangannya sambil mengarahkannya ke dalam memekku. Ketika aku mulai merasakan kepala kontolnya masuk, David menghentikan serangannya…
“Kenapa sayang?” tanyaku sambil setengah erengah-engah.

yessi eci - horny jilbaber montok (3)
“Kamu siap?” tanyanya sambil tersenyum…
“Whenever you are… baby!”
Tanpa lebih banyak argumen, David segera menghentakkan pinggulnya, dan pada saat yang bersamaan, kontolnya menancap mantap di dalam memekku…
“Aaahhh….” Desahku.
Tidak berhenti di situ saja, David langsung menggendongku dan duduk di sofa. Aku yang dipangkuannya, tanpa berlama-lama, segera menggoyangkan pinggulku sambil sesekali membuat gerakan maju mundur. Gesekan memekku pada kontol David sepertinya agak sedikit terasa longgar (mungkin memekku sudah lebar kali yaaa… ?) Lalu, untuk menanggapi hal ini, aku segera merapatkan kedua pahaku, sambil terus menggenjot si bapak ini. David tampak merasa keenakkan sekali aku perlakukan demikian, untuk lebih menikmati bapak ini, aku sengaja melambatkan gerakanku… hal ini ditanggapi David dengan beringas rupanya, ia langsung memelukku, mengulum bibirku sambil kedua tangannya meremas kedua belah pantatku…. Sambil terus begitu, ia menggenjotku dengan mendadak.
Pada tahap ini, aku ternyata tidak bisa menahankan orgasmeku… tanpa mau menahannya lebih lama lagi, aku membiarkan diriku terbuai oleh kenikmatannya. Aku makin kencang memeluk si bapak ini, sementara dia tetap terus menggenjotku… Rupanya dia sadar kalo aku sudah mendapatkan yang aku cari, Sambil tetap memanjakan kontolnya di memekku, David bertanya, “Enak sayang?”
Aku cuma tersenyum keenakkan sambil mengengguk… “Enak banget!” Rupanya David juga tidak mau menahan lama-lama orgasmenya. Baru saja aku selesai ngomong, dia langsung menggenjot kembali memekku… “Aaakkhhh….!!!!” Terdengar dia berteriak keenakkan, sementara kontolnya menyemprotkan peju yang hangat dan banyak ke dalam memekku…

Setelah selesai, aku nggak mau ngeluarin kontolnya. Jadi kami terengah-engah dan beristirahat sambil masih berposisi seperti ketika kami ngewe tadi.
“Uuuhhh… memekmu enak banget Mi!” kata David.
“Terima kasih. Tapi aku yakin kamu belum puas banget deh….” Sahutku
“Iya… so?”
“Ya… nggak papa. We have whole nite…!”
Setelah mencium bibirku, David menggendongku ke kamar mandi untuk membersihkan badan kami. Setelah selesai, sambil masih bertenjang bulat, kami ke ruang tamu untuk bergabung kembali dengan Fanny.

Di ruang tamu, aku, Fanny dan David ngobrol-ngobrol… tentu saja tetap diselingi dengan cumbuan dan ciuman dan terkadang petting-petting kecil. Ketika jam menunjukkan pukul 3 pagi, kami ML lagi di ruang tamu David.

Sekitar jam 9 pagi, aku terbangun. HP ku berbunyi… ternyata suamiku,
“Pagi mas… kok udah bangun?” tanyaku dengan suara masih terkantuk-kantuk.
“Gak papa… lagi ngapain Mi?”
“Baru bangun! Nih, Fanny tidur di sampingku. Masih tidur.” Jawabku, sementara kulihat David terbangun. “Siapa?” bisiknya. Setelah tau yang nelfon suamiku, David kembali tidur, kali ini sambil memelukku. Kontolnya yang pelan-pelan mulai bangun, serasa meraba-raba pahaku.

yessi eci - horny jilbaber montok (1)

“Nanti mau pulang jam berapa?” tanya Tino lagi.
“Gak tahu… nanti kalo dah mau pulang, aku telfon deh…!”
“Ya udah… hati-hati ya…”
“Iya… iya….”
Pembicaraan selesai.