NANING

Pada suatu hari, aku yang memutuskan untuk tinggal agak lama disebuah daerah diselatan jawa, aku melihat tiga sosok gadis berjilbab putih yang sedang berjalan ditrotoar. Melihat baju seragam smu yang mereka kenakan, pastilah mereka sedang bolos, karena saat itu masih pukul 10 pagi. Wah, anak gak baik-baik nih, kataku. Langsung otak nakalku bekerja. Dari belakangan mereka, memencet klakson motor, dan langsung berteriak, “ceeeeweeek!” pada mereka, dan langsung kabur. Mereke terlihat kaget bercampur kesal di kaca spion.

Hanya beberapa ratus meter berjalan, tiba-tiba aku merasakan motorku goyah. Wah, ban bocor nih, pikirku. Dan ternyata benar. Sial, pikirku. Terpaksalah aku turun dan menuntun motorku menuju tambal ban.

Sembari menunggu proses penambalan ban selesai, aku membeli mi ayam didepan tukang tambal ban. Ketika menunggu mi ayam yang kupesan matang, tiba-tiba datang tiga siswi sma yang tadi kugoda, masuk ke warung mi ayam yang sepi itu.

“hayoooo!! Ini dia tadi nih, yang goda kita!” kata seorang siswi berjilbab tadi. Aku hnya tersenyum simpul. :habisnya kalian cantik sih, jadi ya kugoda.” Kataku santai. Langsung aku mempersilahkan mereka duduk didekatku. Siswi yang tadi berbicara padaku mengambil tepat disisiku, sementara dua orang siswi berjilbab temannya berada didepanku, duduk berhadapan. Akhirnya aku berkenalan dengan ketiganya, sembari berbaik hati memntarktir mereka mi ayam, sekedar permohonan maaf diriku atas tingkahku menggoda mereka. Otak ngeres hunterku mulai bekerja. Aku jadi mulai horny, dan mulai membayangkan mereka bertiga ini merintih dan mendesah ketika memeknya kusodok memakai kontol besarku.

Oh ya, sekedar untuk gambaran, tiga orang gadis tadi adalah siswi sebuah sma islam didaerah itu. yang satu bernama Naning, yang cerewat tapi manis, yang tadi mengajakku berbicara, lalu Maya, si gadis berjilbab pendiam lagi pemalu yang sekal dengan kulit kuning langsat berdada montok, lalu yang terakhir adalah Sari, gadis berjilbab pendiam yang masih lugu dan manis berlesung pipit. Akhirnya percakapan kami ditutup dengan saling bertukar nomor handphone. Ketika mereka berlalu dan aku sudah kembali diatas motor binter kesayanganku, aku mulai berpikir untuk mencicipi tubuh ranum mereka.

Beberapa hari kemudian, tepatnya seminggu setelah pertemuanku dengan tiga gadis berjilbab itu, iseng kumisscall Naning, si gadis manis berjilbab yang ceriwis. Kontolku berdiri ketika kubayangkan mulutnya yang indah menyepong-nyepong kontolku. Eh, tiba-tiba ia misscall balik. Langsung naluriku berkata kalo ini waktu yang tepat. Ku sms dia. “boring nih. Kamu lagi bolos gak? Jalan2 yuk.” Tulisku. Karena memang waktu masih menunjukkan jam 09.10 pagi, jadi pastilah dia masih disekolah. Tak beberapa lama siswi berjilbab yang manis itu membalas. “sama boringnya. Ayuk. Kutunggu jam 0945 didepan sekolah ya.” Katanya. Wah, kesempatan nih. Langsung aku keluar dari hotel, naik motor, tarik gas ke smanya.

Sesampai didepan smanya, terlihat dia sedang berdiri didepan gerbang, terlihat cantik dengan jilbab putih dan sragam abu-abu putih panjang longgarnya. Ketika ia melihatku, langsung ia tersenyum. Segera aku berhenti disampingnya, langsung ia naik keboncengan motorku dan segera kami pergi dari tempat itu.

“kemana nih?” tanyaku, masih diatas sepeda motor yang melaju. “Naning manut aja mas, ikut mas.” Kata naning. Kulirik kaca spion, terlihat wajahnya yang cantik terbungkus jilbab lebar. Duduknya yang miring karena memakai rok membuatku hanya bisa melihat sesisi wajahnya, namun tetap dia cantik. Tiba2 ia menyadari pandanganku. Dengan wajah yang bersemu merah ia mencubitku kecil. “hayoo! Gak boleh lirik2! Liat depan!” katanya. Senyum malunya semakin membuat birahiku meninggi. Akhirnya setelah kutanya daerah sekitar situ yang cocok untuk berduaan, sambil malu2 ia menyebutkan beberapa tempat. Akhirnya kuputuskan ke sebuah pantai disebelah selatan kota yang memang tidak jauh dari sekolah Naning. Sekitar 20 menit perjalanan.

Sesampainya disana, langsung aku memarkirkan motorku disebuah tempat parkir yang sepi. Memang situasi pantai itu sepi, karena selain hari itu bukan hari libur dan masih pagi, kami memang memilih pantai yang tidak ramai, jadi bukan pas di pantainya yang terkenal, namun agak kebarat, disebuah pantai tak bernama.

Segera kami berdua berjalan-jalan dipinggir laut, bercerita dan bercanda. Semakin lama kami berjalan semakin menjauh dari penitipan motor dan gubug makan yang ada dipinggir pantai itu. Kami sampai dipinggir pantai, dimana dibelakang kami hanya ada hutan cemara yang pendek dan rimbun.

“emm…naning sudah punya pacar?” tanyaku memancing. Naning memandangku sambil wajahnya bersemu merah. Gadis ceriwis manis yang ebrjilbab itu hari ini wajahnya sering terlihat bersemu merah karena kugoda. Ia menggeleng. “lagi gak punya mas.” Katanya. Ia berjalan agak masuk kedalam hutan cemara menghindari sinar matahari lalu duduk ditanah yang terselimuti daun cemara yang tebal. Aku segera duduk disamping kirinya. “lagi gak punya, berarti pernah punya? Putus ya? Kenapa?” tanyaku lagi. “pacar Naning suka nakal.” Katanya. Wajahnya kembali bersemu merah. “nakalnya kenapa? Apa kayak gini…” tanyaku memancing, sambil tangan kiriku meraih tangan gadis berjilbab itu, lalu membelai dan meremasnya lembut. Ia memandangku. Tatapannya sayu, setengah ingin menolak, namun tak bisa. Tapi segera ia mengangguk. “atau kayak gini?” tanyaku lagi. Tangan kiriku berpindah ke pahanya yang masih tertutup rok abu-abu panjang, lalu meremasnya dari luar roknya. Ia mengangguk lagi. Wajah ayu terbungkus jilbab osis itu semakin memerah. Tatapannya sayu. Gadis manis berjilbab ini sudah dalam genggamanku.

“dia juga maksa megang-megang dada Naning…” bisik Naning lirih. Pemberitahuannya itu seolah meminta aku untuk meraba dadanya yang ranum, tertutup baju osis dan jilbab. Sementara itu tubuhku sudah merapat. Dadaku sudah rapat dengan sisi tubuh Naning. Tangan kananku mmemeluk pundaknya tanpa dia memberikan perlawanan.

“mantan pacar Naning nakal ya… ntar biar mas kasih pelajaran.” Bisikku ketelinga Naning. Naning tersenyum simpul. Tak tahan lagi, aku mencium pipinya yang putih mulus. Siswi berjilbab itu mendesah, sambil matanya terpejam. Namun langsung ia sedikit berontak. “jangan mas…” bisiknya. Hanya sekedar rontaan tak berarti, untuk menjaga harga dirinya, pikirku. Aku sudah berpengalaman dengan itu. Sedikit rayuan pasti menyelesaikan segalanya.

“ssstt…” bisikku. Lalu menciumnya lagi dengan lebih lembut. Kembali dia mendesah dengan mata terpejam. Rontaannya masih tersisa, namun hanya sedikit perbedaannya dengan geliat birahi seorang gadis belia yang sudah terangsang. Dengan tangan kananku, kutolehkan wajahnya yang manis kearahku. Kutatap matanya dalam-dalam. Aku ebrusaha mendapat kepercayaannya, dan berhasil. Tatapannya semakin sayu, pasrah.

Dengan pelan dan lembut kukecup bibirnya yang merah ranum, ia kembali mendesah. Ciumanku terus kulanjutkan, sembari kutingkatkan menjadi pagutan-pagutan dan kuluman kuluman. Akhirnya mulutnya mulai membuka, sembari matanya terpejam, mempersilahkan lidahku masuk dan membelit lidahnya. Tanpa basa-basi kami sudah larut dalam ciuman yang sangat panjang. Tanganku pelan2 mulai turun meraba kedua buah dadanya yang padat, dan tangan satunya membelai kepalanya yang masih terbalut jilbab putih. Merasa sesuatu ada yang menyentuh buah dadanya, Naning sedikit meronta. Namun karena pelan dan lembutnya aku memainkan tempo, akhirnya rontaannya erangsur-angsur hilang. Dari bibirnya mulai keluar suara yang kurasa adalah kenikmatannya. Aku tidak berhenti melakukan gerilya di sekujur tubuhnya. Kusampirkan ujung ujung jilbabnya kepundaknya, lalu kubuka satu persatu kancing hem osisnya. Dari baju kubuka terlihat buah dada yang padat berisi ditutupi oleh kutang berwarna merah muda, kedua tanganku beralih ke belakang tubuhnya untuk melepas BH-nya, karena aku sudah tidak tahan lagi untuk menjilati buah dadanya. “jaangan masshh…”dari bibirnya yang terlepas dari kulumanku terbisikkan kata itu. Kata yang tak berbarti, karena terlihat tubuhnya sudah pasrah.

Setelah aku sanggup melepas BHnya, aku hanya bergumam dalam hati, wah ini baru namanya buah dada, putingnya yang merah muda kecil yang seperti buah cerry langsung kulumat. Naning langsung merintih dan mendesah. Aku berani bertaruh ia belum pernah merasakan seperti itu, dan perasaannya sekarang seakan terbang ke awan. Wajahku bergantian ke kanan dan ke kiri untuk melumat buah dadanya. Ketika aku mencuri pandang kewajahnya yang ayu, dara muda cantik berjilbab putih ini terlihat semakin cantik. Tergambarkan perasaan yang campur aduk diwajahnya. Antara menolak, bingung, malu, tapi juga kenikmatan. Itu semua membuat gadis belia berjilbab ini semakin cantik, dan membuat birahiku semagin memuncak.

Sampai akhirnya aku memutuskan untuk bermain dengan memeknya. Aku tahu gadis ini sudah tak berkutik. Segera tanganku yang satu turun dan membelai pahanya dari luar rok panjanynga, lalu pelan-pelan masuk ke pangkal pahanya, menyentuh memeknya. Ia menggelinjang pelan. Rintihan gadis berjilbab itu semakin kerah. Segera aku sedikit mendorong bidadari sma berjilbab yang sudah birahi dan pasrah ini telentang beralaskan daun-daun cemara yang berguguran. Terasa empuk tanah tempat kami bercumbu. Segera kusibakkan roknya kepinggangnya, dan langsung kupelorotkan celana dalam putih berendanya. Gadis berjilbab itu memejamkan matanya rapat. Kedua tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya, seolah berusaha menahan rintihan dan desahan birahi.

Jantungku berhenti sejenak untuk menyaksikan kulit putih yang ada di hadapanku, sekali lagi aku bergumam, aduh mulusnya tubuh putih gadis smu berjilbab ini. Tanpa pikir panjang aku langsung membuka ikat pinggang dan retsletingku,. Nafasnya yang terputus-putus menandakan dia sudah tidak tahan lagi. Aku sedikit tergesa-gesa membuka celanaku, tidak ingin kehilangan kesempatan emas.segera aku menindihkan tubuhku di tubuhnya. “maassss…jangaanhh..” desis Naning walau tanpa daya.

Dimulai dengan mengecup bibir mungilnya, aku mulai kembali melakukan agresi ke bagian kemaluannya yang berbulu tipis lembut. Jariku mulai mengarah ke rerumputan di sekitarnya dan kulihat matanya merem melek menahan nikmat yang dirasakan. Beberapa saat ia memandangku. Ttapannya bercampur antara marah, malu, tapi juga birahi. “jangan maasss… ini dosaa…” katanya. Aku tersenyum. Tenang Ning.. mas sayang sama kamu.. gak akan sakit.. dinikmati aja yah sayaang…” kataku merayu, sambil beberapa kali mencium bibir, pipi, mata dan keningnya. Wajahnya yang berjilbab sudah berkeringat. Keringat birahi, pikirku.

Pelan-pelan, seiring dengan pandainya jariku membelai dan menggaruk memeknya, Pinggulnya mulai bergoyang ke kiri dan ke kanan seakan ingin mengarahkan jari-jariku untuk masuk ke tempat yang lebih dalam. Begitu jariku mulai meniti ke arah yang lebih dalam, kurasakan jariku basah oleh cairan itulah yang keluar bila seorang wanita mulai terangsang. Semakin lama aku bermain, semakin gadis alim berjilbab itu bergerak lebih agresif dengan mengepitkan kedua pahanya dan tanganku kurasakan tak dapat bergerak oleh hempitan kedua pahanya yang sangat mulus. Hingga saat yang tak kuduga dia mengeluarkan suara tersendat-sendat dengan seluruh tubuh mengejang. Naning berkata, “Akh.. Mass.. mmhh..naniiiingg…pipiiiiissshhh….” dengan ucapan yang tak ada hentinya dan kata terakhir yang panjang, “Aaahh..” dan seluruh tubuhnya mulai melemah, tergolek lemas ditanah beralas dedaunan cemara, dipinggir pantai yang sepi itu.

Aku tak mau kalah dengan situasi seperti ini, karena akulah yang ingin sekali merasakan kenikmatan tubuh mulusnya itu. Dengan senjataku yang telah siap untuk mencari mangsa dan siap untuk diberi tugas. Dengan mata yang tegang dia melihat ke arah kontol-ku, seperti ingin melahap apa yang ada di hadapannya. Naning bergumam, “Mas.. jangan maasss… ntar sakiiit…”katanya.aku agak bingung, darimana dia tahu kalau sakit. Tapi tetap langsung kutancap gas saja, secara perlahan mulai kuarahkan kontol-ku ke kemaluannya, tapi aku susah sekali untuk memulai karena mungkin baru pertama kali ini dia melakukan berhubungan layaknya suami istri. Kubuka kedua belah kakiputih gadis smu berjilbab itu sehingga tampaklah memeknya yang indah, merah muda dan ranum, ditumbuhi bulu halus.

Akhirnya kontolku mulai menemukan lubang sempit memek gadis berjilbab itu. Sedikit demi sedikit kutekan secara perlahan dan dia mengeluarkan desisan yang membuat badanku seperti bersemangat. Dengan bibir digigit dia menahan rasa, entah sakit atau kenikmatan tapi yang kutahu dia mengeluarkan kata “Sstt.. aakkhh..Mass..sakiit…mmmhhh…” aku tahu, pastilah saat pertama akan sakit, tapi birahiku sudah tinggi sehingga aku tak mau ambil pusing. Langsung kugenjot saja kontolku kedalam memeknya. Jeritannya terdengar ketika aku dengans edikit memaksa berhasil menembus selaput perawannya, membuat air mata terlihat muncul menetes kesamping kiri kanan matanya. Tapi genjotanku yang tetap kuteruskan, sembari kutambah dengan rangsangan di buah dada ranumnya juga ciuman disejukur penjuru tubuhnya membuat rintihan dan erangan kesakitannya pelan-pelan berubah menjadi desahan birahi dan kenikmatan. “hhh…mmhh..heegghh.. oohh..oh..oh..ah..” bibirnya sedikit terbuka dengan mata yang tertutup, basah dengan airmata. Siswi smu yang berjilbab itu merintih2 kugenjot memeknya dibawah rimbunnya hutan cemara dipinggir pantai yang sepi itu.

Kuangkat kedua tangannya dan kutaruh agar memeluk punggungku. Wajahnya yang berjilbab ebrkeringat. Aku makin bersemangat bergerak maju dan mundur secara perlahan-lahan, semakin terasa kontol-ku mudah melakukan gerakan maju-mundur di dalam vaginanya, maka semakin kencang dan nikmat aku beradu untuk mencapai kenikmatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Setelah beberapa saat aku merubah gaya bermainku dengan kedua kakinya kuangkat tinggi di bahuku. Dan permainan berlanjut dengan desahan-desahan nikmat. Kuperhatikan wajahnya yang cantik berjilbab epperti menahan sakit atau apa, kedua tangannya mencengkeram erat kakinya sendiri yang terangkat dikiri kanan pundakku dan kepalanya ke kiri dan ke kanan sambil mengeluarkan kata-kata yang tak menentu, “Aaakkhh.. Mass.. aduuhh..udahh..mmhh.. Mass.. aahhkk.. akuu.. udahh.. gaakk.. tahaann nihh.. aduhh.. Mass.. enakk Mas..” gadis siswa sma yang berjilbab itu meracau tidak karuan antara menolak dan menikmati permainanku.. Keringat mulai keluar di sekujur tubuh kami dan sudah tak terhitung berapa kali kontolku keluar masuk ke vaginanya. Tanganku yang tak pernah berhenti memutar, menekan dan meremas buah dadanya bahkan sekali-kali aku melumatnya dengan nafsu yang membara, dia pun setengah berteriak, “Aahk.. Maass.. uuhggk.. Mass.. eemmhh..” begitu seterusnya.

Dan aku merasakan ada sesuatu yang menjepit keras di kemaluanku, rupanya gadis belia berjilbab itu sudah akan mencapai puncaknya. “Aaahhkk.. Mas.. aku.. pipisss lagiihhhh… Mas.. aahhkk.. uughh.. Maas..!” sambil memeluk erat tubuhku dan terasa kuku-kukunya mencabik pundakku. Aku hanya mendesis sejenak, setelah dia sudah keluar, aku mulai dengan kegiatanku semula. Secara perlahan aku mulai menggoyangkan pinggulku maju-mundur secara teratur, dia merasakan kesakitan atau kenikmatan aku tak tahu, yang jelas tubuhnya terasa mengikuti ritme goyanganku. Kemudian aku berganti posisi. Aku duduk selonjor bersandar pada batang cemara. Kedua kakiku kuluruskan, lalu kutarik tubuh Naning keatasku. Gadis sma berjilbab itu membengkangkan kedua pahanya dan tangannya meraih kontol-ku dan memasukkan ke dalam vaginanya. “ahh..kamu sudah mulai pintar, sayaang…” bisikku ketelinganya. Langusng kusibakkan jilbabnya keatas,s ehingga buah dadanya yang tadi tertutup kembali terlihat. Kusedot dan kujilat-jilat, menanti masuknya kontolku kememeknya. “Blep..” begitulah kira-kira antara pertemuan dua kemaluan yang sangat cocok sekali seperti mur dan baut.

Dengan perlahan dia menggoyangkan pinggulnya ke atas dan bawah, “Aaahhkk.. eemmhh.. enak Mas..oouugghh…” sambil kedua tanganku terus membelai dan melumat salah satu dari buah dadanya itu. Rupanya murid baru yang berjilbab di mata pelajaran seksku ini benar-benar pandai. dia semakin pandai menggoyangkan pinggulnya yang indah bagaikan body gitar, membuat kontolku terasa dipelintir-pelintir. Aku mulai tidak tahan dengan irama permainannya yang sungguh nikmat sekali. Mulutku semakin gencar menikmati buah dadanya yang ranum. Goyangan kami berdua semakin cepat. Aku tahu gadis berjilbab ini akan meraih orgasmenya yang ketiga, dan sepertinya kontolku juga akan menyemprotkan laharnya.

“Ssst.. aahk.. Mas…. aku mau pipis lagiihhh.. teruss.. Mas cium teruss.. Mass.. aahhkk..”
Sambil aku berhitung, “Satu..”
“Aaahkk..” ucapnya.
“Dua..””Uuughh Mass.. iiyaa.. Mass.. aakuu.. aakkhh..””Tii.. gaa..”
Kami bersama-sama mengeluarkan kata, “Aaahkkggk..” dan berpelukan erat sekali seperti tak ingin menyiakannya, kontolku memuntahkan laharnya. Naning masih terus menggoyangkan pinggulnya, sambil tubuhnya mengejat-kejat.

Sampai akhirnya kami lemas terkulai berdua ditanah itu. Setelah beberapa saat kulirik keadaannya. Gadis siswi sma itu terlentang. Bajunya awut2an. Dadanya yang terbuka memperlihatkan buah dada yang penuh air liur dan cupanganku. Jilbabnya sudah tersingkap kelehernya, basah oleh keringat kami berdua. Roknya yang tersingkap tanpa memakai celana dalam memperlihatkan memek yang sudah basah oleh air cintanya, spermaku dan bercak-bercak darah keperawanannya. Terdengar isak tangis tertahannya. Kudekati wajahnya, dan kucium dengan penuh rasa sayang. “maafin mas yah… mas lepas kendali..” bisikku. Padahal sebenarnya memang menikmati tubuhnyalah rencanaku. Ia mengangguk pelan. “nggak papa mas.. Naning juga salah… naning cuman takut hamil..” katanya lagi, masih terisak-isak kecil. “tenang sayang…mas sayang kamu… nanti mas belikan obat anti hamil yang manjur…” bisikku ketelinganya yang masih memakai jilbab. Nikmat sekali gadis alim berjilbab ini.

TIA

Nasib itu ada di tangan Tuhan. Seringkali aku memikirkan kalimat ini. Rasanya ada benarnya juga. Tapi apakah ini nasib yang digariskan Tuhan aku tidak tau mungkin lebih tepat ini adalah godaan dari setan. Seperti pagi ini ketika di dalam bus menuju ke kantor aku duduk di sebelah akhwat cantik dengan jilbab dengan tinggi 150 cm, umur sekitar 27 tahun, bertubuh sekal dan berkulit putih (keliatan dari kulit wajah dan telapak tangannya).

 Mula-mula aku tidak perduli karena hobiku untuk tidur di bis sangat kuat namun hobi itu lenyap seketika ketika akhwat berjilbab di sebelahku menarik tas dipangkuannya untuk mengambil hp-nya yang berdering. Sepasang paha montok tercetak jelas dari rok biru tua panjang nan ketat yang dipakainya. Pemandangan itu cukup menarik sehingga menggugah seleraku menjadi bangkit. Aku lantas mencari akal bagaimana memancing percakapan dan mencari informasi. Sepertinya sudah alamnya ketika kita kepepet seringkali ada ide yang keluar.

 Saat itu setelah dia selesai menelefon tiba-tiba mulutku sudah meluncur ucapan ,”Wachhh… hobinya sama juga yach !”

 Sejenak dia memandangku bingung, mungkin berpikir orang ini sok akrab banget sich

 “Hobi apaan ?” tanyanya.

 “Itu nitip absen”, sahutku dan dia tertawa kecil.

 “Tau aja kamu. Dasar tukang nguping”, sahutnya.

 Akhirnya obrolan bergulir. Selama percakapan aku tidak menanyakan nama, pekerjaan maupun teleponnya, tapi lebih banyak cerita lucu.

 Sampai akhirnya dia ngomong “kamu lucu juga yach.., nggak kaya cowok yang laen.”

 “Maksud kamu ?” tanyaku lagi.

 “Biasanya mereka baru ngobrol sebentar udah nanya nama terus minta nomor telepon.”

 Setelah itu kami saling berkenalan. Perempuan muda berjilbab bernama Siti Fathiya, biasa dipanggil Tia. Obrolan terus berlanjut sampe dia turun di Thamrin dan aku terus ke kota. Dua hari kemudian aku bertemu dia lagi. Akhwat manis berjilbab itu menghampiriku dan duduk disebelahku sambil bercerita bahwa teman-temannya penasaran karena dia Hari itu punya banyak cerita konyol. Pagi itu kami menjadi lebih akrab.

 Sambil bercanda tiba-tiba dia berkata “Kamu pasti suka maen cewek yach, soalnya kamu jago ngobrol banget. Pasti banyak cewek di bis ini yang kamu pacarin”

 Sumpah mati aku kaget sekali denger omongan dia. Kayanya maksud aku buat kencan ama dia udah ketauan. Akhirnya karena udah nanggung aku ceritain aja ke dia kalo aku sudah beristri dan punya anak. Ech rupanya dia biasa aja, justru aku yang jadi kaget karena ternyata dia sudah nggak perawan lagi karena pernah MBA waktu lulus sekolah dulu. Sekarang dia sudah bercerai. Wuichhh, nggak nyangka banget kalo doi ternyata janda muda. Selanjutnya sudah bisa ditebak. Obrolan sudah lebih ringan arahnya. Akupun mulai memancing obrolan ke arah yang menjurus sex. Keakraban dan keterbukaan ke arah sex sudah di depan mata.

 Sampai suatu sore setelah dua bulan perkenalan, kami janjian pulang bareng. Hari itu dia mengenakan jilbab merah muda sewarna dengan hem dan rok panjangnya. Posisi duduk kami sudah akrab dan menempel. Bahkan Tia tidak sungkan lagi mencubit aku setiap dia menahan tawa atau tidak tahan aku goda. Beberapa kali ketika dia mencubit aku tahan tangannya dan dia tampaknya tidak keberatan ketika akhirnya tangan kirinya aku tumpangkan di pahaku dan aku elus-elus lengannya yang tertutup hem lengan panjangnya sambil terus ngobrol.

 Akhirnya dia sadar dan berbisik, “Wachh, kok betah banget ngelus tanganku, entar lengan bajuku jadi kusut lho.”

 “Habis gemes ngeliat muka manis kamu, apalagi bibir tipis kamu,” sahutku sambil nyengir.

 “Dasar gila kamu,” katanya sambil menyubit pahaku.

 Serrrrrr…, pahaku berdesir dan si junior langsung bergerak memanjang. Aku lihat bangku sekelilingku sudah kosong sementara suasana gelap malam membuat suasana di dalam bis agak remang-remang. Aku angkat tangan kirinya dan aku kecup lembut punggung jarinya. Janda muda berjilbab itu hanya tersenyum dan mempererat genggaman tangannya. Akhhhhh… sudah ada lampu hijau pikirku.

 Akhirnya aku teruskan ciuman pada punggung jarinya menjadi gigitan kecil dan hisapan lembut dan kuat pada ujung jarinya. Tampaknya dia menikmati sensasi hisapan di jarinya. Wajahnya yang dihiasi jilbab itu tampak sendu terlihat cantik sekali. Dan akhirnya dia menyender ke samping pundakku

 Ketika bis memasuki jalan tol, aktivitas kami meningkat. Tangan kananku sudah mengusap payudaranya yang putih berukuran 36 B dari luar kemeja merah mudanya. Terasa padat dan kenyal. Lalu perlahan jemariku membuka kancing kemejanya satu persatu dan menyusup kedalam BH miliknya. Putingnya semakin lama semakin mengeras dan terasa bertambah panjang beberapa mili.

 Sementara itu tangannya juga tidak tinggal diam mulai mengelus-ngelus kontolku dari luar. Setelah beberapa menit kemudian tiba-tiba sikapnya berubah menjadi liar dan agresif. Dia tarik ritsletingku dan terus merogoh dan meremas kontolku yang sudah tegang. Tanganku yang di dada ditarik dan diarah kan ke selangkangannya. Aku tidak dapat berbuat banyak karena posisinya tidak menguntungkan sehingga hanya bisa mengelus paha dari luar rok panjangnya saja. Aktifitas kami terhenti kala hampir tiba di tujuan. Dan dengan nafas yang masih tersengal-sengal menahan birahi kami merapikan pakaian masing-masing. Turun dari bis aku bilang mau anter dia sampai dekat rumahnya.

 Aku tau kita bakal melewati pinggir jalan tol. Daerah itu sepi dan aku sudah merencanakan untuk menyalurkan hasratku di daerah itu. Tampaknya janda muda berjilbab itu juga memiliki hasrat yang sama. Ketika berjalan, tangan kirikuku merangkul sambil mengelus payudaranya dari luar hem merah muda lengan panjang yang dikenakannya. Dan ketika kita melewati jalan yang sepi tersebut secepat kilat tangan kananku meraih kepalanya yang dibalut jilbab merah muda model modis dan langsung mencium dan melumat bibir tipisnya itu. Dengan cepat pula akhwat berjilbab itu menyambut bibirku, menghisap dan menyedotnya. Tangannya langsung beraksi menurunkan ritsleting celanaku dan aku sendiri langsung mengangkat rok panjang model ketat miliknya. Rrrretttttt… aku tarik kasar cdnya…, jariku langsung menyelusup masuk ke memeknya terasa hangat dan licin. Rupanya dia sangat terangsang sejak di bis tadi. Di tengah deru nafasnya

 Tia berdesah : “Ayo mas… masukin aja… aku kepengen banget nech. Hhhhhh…

 “Sebentar sayang”, sahutku, “Kita cari tempat yang aman.”

 Aku tarik dia melewati pagar pengaman tol dan ditengah rimbun pohon aku senderkan dia dan setelah menarik rok panjang model ketatnya itu sampai sepinggang Lalu buru-buru kuloloskan celana dalamnya kemudian kuangkat kaki kanannya. Sengaja celana dalamnya kusangkutkan di pergelangan kakai kanan yang kuangkat itu biar celana dalamnya tidak kotor menyentuh tanah. Dengan bernafsu aku buka celanaku dan megarahkan kontolku ke memeknya tapi cukup sulit juga. Akhirnya dia menuntun kontolku memasuki memeknya.

 ?Emmhhh…!?, kepala janda muda berjilbab merah muda itu mendongak sembari melenguh tatkala ujung kontolku mulai penetrasi kedalam memeknya.

 Luar biasa, itulah sensasi yang aku rasakan ketika kontolku mulai menyeruak memasuki memeknya yang sudah dibasahi cairan nafsu. Ditengah deru mobil yang melintasi jalan tol aku memompa pantatku dengan gerakan pelan dan menghentak pada saat mencapai pangkal kontolku. Tia menyambut dengan menggigit pundakku setiap aku menghentak kontolku masuk kedalam memeknya.

 “Ooochhhh… auchhhh… Masssss… oochhh…”, desahnya. Birahi dan ketegangan bercampur aduk dalam hatiku ketika terdengar suara orang melintasi jalan dibalik pagar.

 Namun lokasi kami cukup aman karena gelapnya malam dan terlindung pohon yang cukup lebat. Bahkan mungkin orang yang berjalan itu tidak akan berpikir ada sepasang manusia yang cukup gila untuk ber cinta di pinggir jalan tol tersebut.

 “Gantian mas… aku cape”, katanya

 Aku lantas duduk menyandar dan perempuan muda berjilbab merah muda itu memegang rok panjang yang kusingkap tadi agar tidak jatuh kebawah. Kemudian Tia mulai berjongkok mengarahkan memeknya. Ketika kontolku kembali menyeruak diantara daging lembut memeknya yang sudah licin, sensasi itu kembali menerpa diriku. Sambil memegang bahuku, dia mulai menekan pantatnya dan menggerakan pinggulnya dengan cara menggesek perlahan, maju mundur sambil sesekali memutar. Kenikmatan itu kembali mendera dan semakin tinggi intensitasnya ketika aku membantu dengan menekan keatas pinggulku sambil menarik pantatnya. Desahan suaranya makin keras setiap kali kemaluan kami bergesekan, “uchhhhh… ssshhh… uchhhhh…”.

 Mataku sendiri terpejam menikmati rasa yang tercipta dari pergesekan bulu kemaluan kami sambil terus menggerakkan pinggul mengimbangi gerakannya.

 “Terus sayang… ayo terus”, desahku.

 Keringat sudah membasahi punggungnya dan gerakan kami sudah mulai melambat namun tekanan semakin ditingkatkan untuk mengimbangi rasa nikmat yang menjalar disekujur tubuh kami dan terus bergerak ke arah pinggul kami, berkumpul dan berpusar di ujung kemaluan kami. Berdenyut dan ujung kontolku mulai siap meledak, sementara perempuan berjilbab ini mulai mengerang sambil menjepitkan memeknya lebih keras lagi.

 “Hegghhhhhh… hhhegghhhh… heghhh… terus mas… sodok… sodok terussss… mas… yachhh… disitu… terus… terussss… ooocchhhhhhh”, dengan desahan panjang sambil mendongakkan kepalanya yang terbungkus jilbab.

 Tia menekan dan menjepit keras kontolku sementara memeknya terus berdenyut-denyut.

 ?Mass…mmhh…oouuccchh…?, pekiknya tertahan sembari menundukkan kepalanya yang berjilbab itu tatkala mencapai puncaknya. Aku hanya bisa terdiam sambil memeluk tubuhnya menunggu dia selesai orgasme

 Ketika jepitannya mulai mengendur aku langsung bereaksi meneruskan rasa yang tertunda itu, tanpa basa basi rasa nikmat itu mulai menerjang kembali, berkumpul dan meledak menyemburkan cairan kenikmatanku ke dalam memeknya. Aku sodokan kontolku sambil menekan pinggulnya sementara kakiku mengejang menikmati aliran rasa yang menerjang keluar dari tubuhku itu. Setelah beristirahat beberapa menit kami saling memandang… akhirnya tersenyum dan tertawa.

 “Kamu memang bener-bener gila, tapi jujur aku sangat menyukai bercinta dengan cara seperti ini. Aku belum pernah senikmat ini bercinta.” akunya.

 “He.. he.. he.. sama donk”, kataku sambil mengecup bibir sang janda muda berjilbab yang tipis itu sementara kemaluanku mulai mengendur di dalam memeknya.

 Setelah itu kami merapikan pakaian masing dan berjanji untuk mengarungi kenikmatan seks ini untuk hari-hari mendatang.

KISAH KELABU HANIFAH

Hanifah menangis tak berdaya menahan gejolak nafsunya. Tejo mulai menggerakkan kepala Hanifah yang tertutup jilbab naik turun, mengocok penisnya dengan mulutnya, sambil tangan kanannya mulai menggerayangi..

Tubuhnya yang langsing, padat dan dapat dibilang cukup menggiurkan untuk anak seusianya selalu tertutup oleh pakaian longgar. Rambutnya yang pendek ala Demi Moore selalu tertutup dengan jilbab lebar. Ia sangat menjaga penampilannya karena dia tahu, wajahnya yang cantik pastilah mengundang banyak laki2, dan sangat berbahaya jika dia tidak menjaganya. Apalagi usianya yang baru menginjak 17 tahun adalah usia dimana seorang gadis sedang ranum-ranumnya. Namun ternyata justru usahanya dalam menjaga dirinya malah membuat banyak laki2 penasaran untuk menyetubuhinya. Salah satunya adalah tetangganya, Tejo.

Hanifah, walaupun selalu berusaha menjaga dirinya, memang cukup supel dalam bergaul. Suatu malam Hanifah pulang dari menghadiri suatu acara rohani di sekolahnya dan ketika menunggu bis, Tejo muncul dan menawarkan diri untuk mengantarnya. Tejo, yang sudang mengintai mangsanya sejak seminggu lalu, tahu inilah kesempatan terbaiknya. Ia telah mempersiapkan segalanya, termasuk obat perangsang yang sangat kuat, dan sebuah tustel. Karena takut kehabisan bis dan karena paksaan halus dari Tejo, jadilah Hanifah pulang bersama Tejo. Tejo sengaja mengambil jalan memutar lewat pinggiran kota yang sepi. Saat itu Tejo juga sudah sangat terangsang melihat baju hitam longgar dan rok hitam panjang yang dipadukan dengan jilbab lebar putih. Nuansa hitam yang dikenakan Hanifah membuat dirinya tampak misterius, sehingga Tejo semakin bernafsu untuk mengetahui lekuk tubuh yang tersembunyi itu.

Hanifah terkejut merasakan sesuatu terjadi dalam tubuhnya. Ia merasa terangsang, sangat terangsang. Hanifah tak tahu Tejo sudah mencampur minuman yang tadi ditawarkan Tejo dan diminum gadis berjilbab itu dengan obat perangsang dosis tinggi. Lelaki itu tersenyum melihat Hanifah gelisah. Tiba-tiba Tejo menghentikan mobilnya ditepi jalan yang sepi.

“Hanifah, kau mau ini??” Tejo tiba-tiba menurunkan retsletingnya, mengeluarkan penisnya yang talah mengeras dan membesar. Hanifah yang selama ini belum pernah melihat penis laki2 secara langsung menatapnya terkejut, tubuhnya lemas tak berdaya, “J.. Jaangan. Tejo. Aku.. Harus balik.”

Tejo menarik kepala Hanifah yang terbungkus jilbab lebar, menundukkan gadis itu, menghadapkannya pada penisnya. Hanifah tak bisa menguasai dirinya, langsung membuka mulutnya dan segera saja Tejo mendorong masuk penisnya ke dalam mulut Hanifah yang masih perawan.

“Akhh..enak sekali mulut cewek berjilbab…..” Tejo mengerang nikmat.

Hanifah menangis tak berdaya menahan gejolak nafsunya. Tejo mulai menggerakkan kepala Hanifah yang tertutup jilbab naik turun, mengocok penisnya dengan mulutnya, sambil tangan kanannya mulai menggerayangi pantat Hanifah yang tertututup rok panjang dan meremas-remasnya. Suara berdecak-decak liur Hanifah terdengar jelas. Tiba-tiba Tejo mengangkat kepala Hanifah hingga Hanifah tersandar kembali ke jok.

“Sudah..! Tejo!! Sudah..!” Hanifah menangis sesenggukan, terengah-engah. Air liurnya yang berlepotan menetes sampai membasahi jilbabnya.

Tubuhnya lemas. Tejo dengan cepat menyibakkan jilbab lebar Hanifah dan menyampirkannya ke pundak Hanifah sehingga terlihat dua bukit payudara gadis berjilbab itu yang menggunduk di balik baju longgar hitam yang Hanifah pakai.

Dengan penuh nafsu Tejo meremas-remas payudara gadis berjibab itu dari balik baju hitamnya dan segera membuka kancingnya. Lalu disibakkan baju longgar hitam yg sudah terbuka kancingnya itu, sehingga terlihatlah bh putih yang dikenakan gadis bercadar itu membungkus dua bukit indahnya yang besar menantang kencang menculat keluar. Kemudian ia membuka kancing rok panjang Hanifah dengan tak sabar, memelorotkannya hingga lepas. Tubuh Hanifah yang langsing dan sintal itu kini bawahannya hanya dibalut baju yang sudah terbuka, bra dan celana dalam katun hitamnya. Jilbab yang masih dikenakan Hanifah membuat Tejo semakin bernafsu.

“Oii Hanifah, kau ni bahenol nian. Aku ingin menyetubuhimu…..”

Tejo menarik Hanifah yang sudah lemas karena pengaruh obat perangsang dan melentangkannya di jok belakang kijang itu. Hanifah hanya mampu manangis sambil terengah engah. Tejo menarik celana dalam Hanifah dengan cepat, kemudian melepas paksa baju hitamnya dan menarik putus branya. Hanifah telanjang bulat dengan hanya jilbab yang menutupi bagian kepalanya. Kemudian Tejo mengambil sebuah tustel dan memfoto Hanifah beberapa kali. Tejo membukai pakaiannya sendiri dengan bernafsu. Melihat gadis yang masih mengenakan jilbabnya, namun bagian tubuh bawahnya telanjang, Joni menjadi semakin bernafsu.

Hanifah terus menangis tak berdaya melihat kemaluan Tejo yang besar dan panjang. Tejo mulai mengangkangkan kaki gadis itu kemudian menindihi Hanifah dengan bernafsu. Payudara Hanifah yang putih, kejal dan kencang disedot sedotnya hingga tubuh gadis berjilbab itu menggeliat geliat tak menentu.

“Ahh.. R.. Tejo.. S.. Sudahh.. Jangan..”

Melihat Hanifah menggeliat-geliat, menangis tak berdaya antara menikmati dan ingin berontak membuat Tejo semakin bernafsu. Sementara mulutnya sibuk mengulum mulut Hanifah, Tejo mengarahkan batang penisnya ke bibir vagina Hanifah. Hanifah menjerit ketika tiba-tiba Tejo menekan pinggulnya keras, batang penisnya yang panjang dan besar masuk dengan paksa ke dalam tubuh Hanifah, merobek selaput daranya, yang ia jaga untuk suaminya kelak. Tejo mulai menggenjot gadis itu. Kedua tangan Hanifah ditekannya di atas kepala Hanifah di atas jok, sementara ia mengayun, menyetubuhi Hanifah dengan kasar dan bersemangat.

“Ohhs.. Shh. Oh. Hanifah…enak nian… Memek gadis berjilbab… Ssh..” Tejo mendesis desis nikmat.

Hanifah hanya bisa menangis tak berdaya, tubuhnya terguncang-guncang kasar, kijang itu terasa ikut berderit-derit bergerak mengikuti gerakan mereka berdua. Lama-kelamaan rasa sakit yang dirasakan gadis berjilbab itu berkurang, tergantikan dengan rasa nikmat. Tiba-tiba Hanifah yang sudah terpengaruh obat perangsang merasakan seluruh tubuhnya mengejang dalam kenikmatan. Hanifah mengerang dan menjerit keras, kemudian lemas. Ia orgasme. Sementara Tejo tidak peduli terus menggenjot Hanifah dengan bernafsu. Batang penisnya basah kuyup oleh cairan vagina dan darah perawan Hanifah yang mengalir deras.

Tejo berhenti bergerak kemudian membalik Hanifah, menengkurapkankannya.

“Sss.. Sudah Tejo. Sss sudah.. Jangan.”

Hanifah hanya bisa memohon dan menangis pasrah.

Tejo tidak peduli, ia mulai membukai lubang anus Hanifah dengan jari-jarinya.

“Aku ingin nyodomi kau Hanifah.. Tahan.” Tejo terengah-engah bernafsu.

Hanifah menahan nafas ketika dirasakannya kepala penis Tejo yang besar mulai memaksa membuka lubang duburnya yang sempit.

“AAKKHH!! Ampunn. R.. Tejo.. AkhhH!! SAKIT!!” Hanifah meronta hingga Tejo terjatuh dari jok.

Secara reflek Hanifah membuka pintu mobil dan berlari keluar, namun perih di selangkangannya membuatnya limbung dan tersungkur di semak belukar. Mereka berada dipinggiran kota ******* yang gelap dan penuh belukar. Tejo segera menyergap dari belakang, memiting tangan Hanifah kemudian mengikatnya. Kemudian menyusul kedua kakinya. Hanifah tertelungkup tak berdaya, menangis memohon,

“Ampun Tejo.. Jangan..”

Tanpa menunggu lagi Tejo kembali menindih punggung gadis berjilbab itu, kemudian memaksakan penisnya masuk ke lubang dubur Hanifah.

“AKHH!!” Hanifah menjerit kesakitan ketika Tejo mendesak masuk, senti demi senti. “Nikmati ajalah…. Hanifahn.. ssssshhH!” Tiba-tiba Tejo menekan dengan keras, membuat seluruh batang penisnya masuk ke dubur gadis itu.

Tubuh Hanifah mengejang kesakitan. Pandangannya berkunang-kunang menahan sakit. Walaupun penis Tejo sudah dibasahi cairan vaginanya, masih tetap terasa seret dan kesat. Kini Tejo mulai mengeluar masukkannya, dan setiap ia bergerak tubuh Hanifah mengejang kesakitan. Hanifah menangis dan mengerang kesakitan, namun hal itu malah membuat Tejo semakin bernafsu menyodominya dengan kasar. Ia semakin bernafsu melihat jilbab yang masih dikenakan Hanifah. Akhirnya Hanifah lemas dan hanya bisa merintih kesakitan. Hanifah, gadis berjilbab itu di sodomi ditepi jalan, diatas semak belukar.

Tiba-tiba sekelebat cahaya senter membuat Tejo yang tengah bernafsunya berhenti.

“Hei! Lagi ngapain itu!!” Tiga orang bertubuh tegap muncul.

Tejo segera mencabut penisnya kemudian berdiri. Hanifah ambruk kesakitan. Hanifah hanya dapat melihat keempat lelaki itu berbicara tak jauh darinya, menunjuk-nunjuk dirinya sambil tersenyum-senyum. Tiba-tiba Tejo menarik tubuh Hanifah, mendudukannya, sementara ketiga orang tadi tiba-tiba membuka celana masing-masing.

“Tolong Pak. Aku diperkosa dia!!”Hanifah memohon sambil menunjuk kearah Tejo….

Tapi salah seorang dari orang itu tiba-tiba mencengkeram kepalanya yang masih tertutup jilbab, meludahinya kemudian mengarahkan penisnya kemulut Hanifah.

“Aku dak peduli! Sekarang kulum ini! kalau tidak kutembak pepekmu…!!”

Gadis berjilbab itu menangis ketakutan, ketiga orang itu malah minta jatah. Dengan terpaksa Hanifah mulai mengulum dan mengemut batang penis milik orang itu, sementara dua rekannya dan Tejo mendekatinya.

Orang itu menarik kepala Hanifah lepas dari penisnya. Penisnya sudah menegang penuh, besar dan panjang. Mereka membentang terpal ditepi jalan, kemudian orang itu melentangkan tubuhnya. Temannya mengangkat tubuh Hanifah dan mengangkangkannya diatas rekannya tadi. Ketika penisnya tepat berada di vagina Hanifah, mereka menarik tubuh Hanifah hingga penis orang itu masuk dengan lancar ke selangkangan gadis berjilbab itu.

Hanifah menangis ngilu dan perih. Hanifah ditengkurapkan. Sementara vaginanya terus dipompa dari bawah, seseorang dari mereka memaksa Hanifah membuka mulutnya dan mengulum penisnya. Kepalanya dipegang erat-erat kemudian digerakkan maju mundur dengan kasar. Jilbab putihnya sudah lusuh dan kotor, terkena tanah dan air liurnya sendiri, yang mengalir deras saat dia dipaksa mengulum penis orang-orang tadi. yang satu lagi meremas remas kedua payudara Hanifah, memilin-milin putingnya yang coklat dan runcing. Tejo tiba-tiba berlutut di belakang Hanifah, kemudian kembali memaksa masuk ke dubur Hanifah. Tubuh Hanifah menegang dan mengejang kesakitan. Jeritan gadis berjilbab itu tertahan karena mulutnya tersumbat penis.

Gadis berjilbab itu hanya bisa menangis dan mengerang merintih tertahan, meratapi nasibnya dalam hati. Tejo mulai memompa dubur Hanifah dengan bernafsu. Bergiliran dengan orang yang memompa vaginanya dari bawah. Tiba-tiba Tejo mengerang, mencengkeram pantat Hanifah yang putih sekal itu, dan menekankan penis sedalam-dalamnya ke dalam anus Hanifah, bersamaan dengan itu Hanifah dapat merasakan semburan spermanya mengisi duburnya. Belum sempat Hanifah bernafas normal, seorang yang tadi sibuk dengan payudaranya menggantikan posisi Tejo, menduburinya dengan kasar, dengan bantuan sisa sperma Tejo di anusnya. Peluh sebesar jagung mengalir disekujur tubuh Hanifah, bercampur dengan peluh pemerkosanya.

Tejo mengambil tustel di mobilnya kemudian memfoto adegan Hanifah yang diperkosa tiga lelaki bersamaan, disemua lubang ditubuhnya, vagina, anus dan mulutnya. Hanifah yang telanjang bulat dan tinggal mengenakan jilbab lusuh yang menutupi kepalanya tengkurap diatas pemerkosanya yang memeluknya erat, sementara seorang lagi yang tengah mengerjai duburnya dengan semangat mencengkeram pinggulnya, dan seorang lagi mencengkeram kepala Hanifah yang terbungkus jilbab dan memaju mundurkannya, memaksa gadis berjilbab itu mengulum penisnya.

Hingga tiba-tiba kepala Hanifah dipegang erat, penis dimulutnya dimasukkan hingga ke tenggorokannya, kemudian cairan sperma mengalir deras mengisi rongga mulutnya, dan karena saking banyaknya meluber sampai membasahi jilbab putihnya.

“Telenn!! Semua! Cepat! Aakhh!” Hanifah gelagapan tak bisa bernafas terpaksa menelan semua cairan kental yang masih tersisa dimulutnya. Kemudian lagi-lagi cairan sperma memuncrat mengisi dubur dan vaginanya. Hanifah pingsan. Ketika sadar ia sudah didalam mobil, berpakaian lengkap, Tejo menyeringai disebelahnya.

Setelah dirasa cukup salah seorang dari mereka mulai berlutut dibelakang Hanifah tepat dibelahan pantatnya. Gadis berjilbab itu hanya dapat melolong dan menangis tak berdaya ketika dirasakannya batang kemaluan itu melesak perlahan ke duburnya, masuk senti demi senti.

Seminggu setelah kejadian di pinggiran kota itu, Hanifah tengah menunggu rumahnya sendirian. Seluruh isi rumah pergi menginap di Krian karena ada acara keluarga, kecuali 2 keponakannya yang masih berumur 5 tahun. Jam 9 malam ketika tiba-tiba pintu diketuk. Segera ia memakai jilbab rumah yang berbahan kaus berwarna pituh, dan bergegas membuka pintu. Tejo tiba-tiba muncul di balik pintu itu.

“Pergi dari sini!” Hanifah berusaha mengusir Tejo.

Namun dengan santai Tejo mengeluarkan beberap lembar foto dan diletakkannya di atas meja. Gadis ini miliknya, dan entah mengapa ia sangat terangsang jika melihat Hanifah tersiksa. Wajah putih gadis berjilbab itu memucat melihat foto-foto yang diletakkan Tejo diatas meja. Itu foto telanjangnya dan foto-foto adegan ketika ia digagahi beramai-ramai oleh orang malam itu.

“Nah, Hanifah sekarang nurut aja.. Tenang aja, aku janji tidak maen kasar.” Tejo menyeringai sambil mengelus paha Hanifah yang tertutup rok panjang biru.

Hanifah memang disuruh menjaga rumah itu sendirian bersama kedua ponakannya yang masih kecil yang sudah tidur. Hujan turun deras membuat udara malam itu dingin menggigit. Hanifah diam pasrah ketika Tejo menariknya ke belakang.

“Tenang …, kalau tidak nurut fotomu, kusebarkan di kampung kau. Biar tahu kalau gadis berjilbab kayak kamu bisa dientot.” Tejo menarik Hanifah kedapur, pintu depan belum ditutup. Hanifah mendesis tak berdaya. “Tenang ….., Hanifah. Aku cuma sebentar..”

Tejo mulai meraba-raba payudara Hanifah yang masih tertutup t shirt dan jilbab. Hanifah memang sudah bersiap tidur hanya mengenakan t shirt lengan panjang longgar tanpa BH dan rok panjang yang juga longgar. Puting susu Hanifah yang runcing tampak menonjol keluar ketika Tejo menyampirkan jilbab Hanifah ke bahu sambil terus menggerayangi dada Hanifah. Gadis berjilbab itu menggigil ketika baju kaosnya disibakkan ke atas dan ditarik lepas oleh Tejo sehingga bagian atas tubuh gadis berjilbab itu tinggal menyisakan jilbab putihnya. Dengan tangannya Tejo menarik tangan Hanifah yang berusaha menutupi dadanya yang telanjang kemudian mulai menggerayangi payudara gadis itu dengan mulut dan lidahnya.

Hanifah hanya dapat tersandar ketembok yang dingin sambil meringis-ringis ngilu ketika Tejo menggigiti putingnya sementara tangannya dengan leluasa memelorotkan rok panjang longgar Hanifah hingga jatuh ke lantai. Tejo terbelalak melihat celana dalam sutra Hanifah yang berwarna putih dengan motif bunga itu begitu mini dan seksi. Ia tidak pernah berpikir kalau gadis berjilbab lebar seperti Hanifah mau memakai celana dalam seseksi itu. Tanpa menunggu lagi jilatan Tejo turun ke perut Hanifah yang rata, pusarnya, kemudian lambat laun celana dalam Hanifah menyusul jatuh ke lantai. Tejo melempar semua busana Hanifah jauh ke sudut. Dengan sedikit paksaan Tejo membentang paha Hanifah kemudian menjilati vagina gadis berjilbab itu.

“Ohkk..”

Hanifah terdongak merintih-rintih ngilu, antara rasa nikmat, marah dan malu menguasai dirinya ketika kedua tangan Tejo mencengkeram pantat sekalnya, membuka lebar vaginanya kemudian menjilatinya dengan bernafsu. Nafas gadis berjilbab itu terengah-engah tak terkendali mencoba menahan dirinya agar tidak terangsang.

Tejo berdiri kemudian membuka baju dan celananya, hingga pakaian dalamnya, kemudian memegang penisnya yang panjang dan besar.

“Isep Hanifah, ayo. Kalau tidak ingin dikasari.”

Hanifah terpaksa berlutut dihadapan Tejo, kemudian mulai menjilati batang penis Tejo. Hanifah memejamkan matanya kemudian mulai mengocok Tejo dengan mulut dan lidahnya. Tejo mencengkeram kepala Hanifah yang masih terbalut jilbab kemudian menggerakan kepala Hanifah maju mundur, menyetubuhi mulut gadis berjilbab itu. Suara berdecak-decak terdengar jelas disela deras air hujan. Hanifah berusaha semampunya agar Tejo puas dan berhenti, ia menjilat, mengulum, mengocok sebisanya. Tejo mengerang-erang nikmat, tubuhnya sampai tersandar ke meja dapur, “Ahh. Ohh. Hanifahh… Kau memang gadis alim yang pintar.. Ohh..”

Tiba-tiba Tejo menarik tubuh Hanifah kemudian mendudukkannya di atas meja pantry. Hanifah hanya diam sambil terengah-engah ketika Tejo mengangkangkan kedua pahanya kemudian mulai menekan pinggulnya. Gadis berjilbab itu meringis ngilu dan merintih panjang ketika penis Tejo yang keras dan besar itu menerobos vaginanya. Tejo mulai menyetubuhi Hanifah, memperkosanya dengan bertubi-tubi. Hanifah hanya mendengus-dengus dan merintih-rintih menahan diri. Kedua tangannya mencengkeram pinggiran meja dengan kencang. Peluh membasahi tubuh mereka berdua. Hanifah memejamkan matanya berharap Tejo selesai, sementara lelaki itu terus menyentak-nyentak, mengeluar masukkan rudalnya ke dalam tubuh Hanifah yang padat dan langsing, semakin bernafsu melihat gadis alimn yang masih memakai jilbab putihnya, dengan muka merah menahan dirinya agar larut dalam kenikmatan. Tejo semakin cepat menggenjot gadis itu, dan akhirnya Hanifah tidak dapat menahannya lagi. Diiringi seringai kemenangan Tejo, gadis berjilbab itu memekik lirih sambil memejamkan mata. Seluruh tubuhnya mengejang dalam kenikmatan, diiringi mengalir derasnya cairan vagina Hanifah. Tubuh putihnya terguncang-guncang selama beberapa saat.

Beberapa saat kemudian Hanifah terperanjat ketika membuka matanya, Ada lima lelaki bertubuh besar telanjang bulat di dapur itu! Ternyata Tejo membawa teman-temannya dan mereka menunggu di mobil.

” Apa-apaan ini, Tejo!!” Gadis berjilbab itu berontak melepaskan diri. Tapi ia tersudut disudut ruangan. Keenam lelaki itu mengepungnya.

“Sudahlah Hanifah. Mereka cuma temen yang pengen ngerasain memeknya cewek berjilbab. Kalau kau njerit tidak akan ada yang dengar juga. Paling ponakanmu aja yang bisa dengar……. Pintu depan udah kami kunci, lampupun udah kami matikan. Kamu pasti dikira sudah tidur.. He.. He. Nurut aja.., aku janji tidak kasar, …………..!”

Tejo dan kelima temannya menyeringai bernafsu. Tubuh Hanifah lemas, ia tak dapat melakukan apa-apa lagi selain pasrah. Tak terasa air telah tergenang di pelupuk matanya. Tangannya ditarik ketengah ruangan, kemudian disuruh berjongkok.

“Ayo! Sedot punya kami ramai ramai….!”

Enam batang penis disodorkan diwajah Hanifah. Dan sambil menangis Hanifah terpaksa mulai meng’karaoke’nya bergantian.

“Ohh.. Hebat amat…….., gadis ini Joooo…”!!” “Akhh. Aku.. Nak. Keluarr..” Srett.. Srrtt.. Kepala Hanifah yang masih terbalut jilbab dipegangi beramai-ramai sehingga ia terpaksa menelan sperma mereka satu demi satu, bahkan sampai mengalir ke jilbab putih yang masih ia kenakan. “Katamu segala lubang cewek ini bisa dimasukin..??” Tejo hanya tersenyum sambil mengangguk…… “yuuuk kita coba nusuk rame…rame……!!”

Hanifah menangis mendengarnya, “Jangann.. Ampun.. Sakit..”

Dengan cepat mereka menarik tubuh putih Hanifah yang langsing dan padat itu dan menengkurapkannya di lantai. Kelima lelaki itu mengeroyoknya, ada yang memegangi tangannya, menahan kakinya dan menunggingkan pantatnya, ada yang menahan kepalanya hingga Hanifah benar-benar tak dapat bergerak. Air mata terus deras mengalir dari matanya. Salah seorang dari mereka mengambil botol minyak goreng di dekat kompor.

“Kami baik kok, Hanifah, biar tidak sakit, kami minyaki dulu.”

Yang lain tertawa tawa, Hanifah dapat merasakan minyak goreng itu dituangkan dibelahan pantat putihnya yang sekal, kemudian terasa jari jemari mereka mengusap-ngusap pantatnya, membukai lubang anusnya kemudian menusuk-nusuknya beramai-ramai. Hanifah menangis dan merintih nyeri ketika lubang anusnya dibuka paksa oleh jari-jari itu. Setelah dirasa cukup salah seorang dari mereka mulai berlutut dibelakang Hanifah tepat dibelahan pantatnya. Gadis berjilbab itu hanya dapat melolong dan menangis tak berdaya ketika dirasakannya batang kemaluan itu melesak perlahan ke duburnya, masuk senti demi senti.

Hanifah mulai disodomi dilantai dapur itu. Sebuah penis yang berbau menjijikkan disodorkan diwajahnya.

“Isep dulu Hanifah, kalau tidak kami sodomi serempak ………berlima!”

Hanifah terpaksa mulai mengulum-ngulum penis lelaki yang berlutut dihadapannya, berusaha menahan diri agar tidak muntah. Sementara lelaki yang dengan kasar menyodominya terus menyentak-nyentak. Hanifah melihat sekilas salah seorang dari mereka mengambil sebuah terong panjang besar berwarna ungu dari kulkas. Tiba-tiba gadis berjilbab itu merasakan sesuatu yang dingin dan keras menerobos vaginanya.

“Nghh..!!”

Hanifah hanya mampu melenguh perih karena mulutnya tersumpal sebuah penis yang terus bergerak maju mundur. Seorang lelaki mengeluar masukkan terong itu ke vaginanya sementara duburnya disodomi.

“Biar terpake semua lubangnya….!!”

Mereka tertawa-tawa puas. Tiba-tiba lelaki yang sedang menyodominya mengerang dan menyodok dengan keras. Hanifah dapat merasakan cairan sperma yang hangat tumpah di anusnya. Kemudian rekannya segera mengambil alih posisinya menyodomi Hanifah. Tiba tiba lelaki yang dari tadi di’karaoke’ oleh Hanifah berbaring terlentang, dengan isyarat ia meminta teman-temannya menarik Hanifah ke atas tubuhnya. Kemudian menarik tubuh gadis berjilbab itu hingga penisnya masuk ke vagina gadis itu. Bless.

“Aarhh..!!” Hanifah mengerang kesakitan, sebelum sebuah penis lagi menyumbat mulutnya.

Hanifah kembali diperkosa tiga orang sekaligus. Payudaranya diremas-remas dengan kasar hingga Hanifah merasakan sakit bukan hanya dari dubur dan vaginanya yang dikocok paksa tapi juga dari buah-dadanya yang dipilin dan diremas dengan kasar. Jilbab putih yang masih dikenakannya malah membuat keenam orang itu semakin bernafsu memperkosanya. Tiba-tiba kedua tangannya ditarik kemudian dilumuri minyak sayur. Kemudian dipegangkan pada penis dua lelaki lain. Hanifah tertelungkup, dipeluk erat dari bawah, sementara vaginanya dipompa dengan kasar, seorang lagi menyodomi gadis berjilbab itu seperti binatang, seorang lagi memaksanya menghisap penisnya, menyetubuhi mulut Hanifah dengan mencengkeram kepalanya yang masih memakai jilbab, sedangkan dua lagi minta dikocok dengan kedua tangan Hanifah.

Dan setiap salah seorang mencapai kepuasan, yang lain segera menggantikan posisinya, hingga pagi menjelang. Matahari mulai muncul ketika Tejo menyentak-nyentak dubur Hanifah dengan keras dan

“Oohh..”

Ia menyemburkan spermanya dipantat Hanifah. Hanifah pingsan. Ia tertelungkup telanjang diatas lantai. Sperma berlepotan di perut, punggung dan wajah dan jilbabnya, satu-satunya pakaian yang masih dipakainya, yang malah membuat para pemerkosanya semakin bernafsu menggagahinya.

Mereka tidak sadar jendela terbuka dengan lampu menyala. Beberapa pemuda di rumah sebelah menyaksikan semuanya. Bahkan mereka memfoto dan memfilmkan kejadian itu. Bahkan dengan aneh, Tejo membiarkan pintu dapur terbuka ketika pulang.

Keenam pemuda itu menggilir Hanifah di pantatnya. Cairan sperma kental mengalir keluar dari duburnya, bahkan ketika pemuda terakhir mencabut penisnya, gadis berjilbab tak sadar mengeluarkan kotorannya. Muncrat bersamaan dengan sperma pemerkosanya..

Keenam pemuda berandal itu segera bergegas ke rumah Hanifah. Hanifah baru saja sadar. Dubur dan vaginanya perih. Ia tertelungkup di lantai dapurnya, telanjang. Sperma kering berceceran di sekujur tubuhnya. Ia tersentak ketika lampu blits menyala. Betapa terkejut Hanifah melihat enam pemuda tetangganya berdiri mengelilinginya, sibuk memfoto tubuh telanjangnya sambil menyeringai. Mereka tersenyum mesum sambil menatap tubuh Hanifah. “Ternyata kamu memang hebat….Hanifah…..” Gadis berjilbab itu menangis tak berdaya ketika mereka membopong tubuh putihnya yang berlepotan sperma kering ke kamar tidurnya. Tubuhnya masih lemas. Dengan mudah tubuhnya ditelungkupkan diatas ranjangnya. Jilbab putih yang sudah penuh noda sperma tadi tetap dibiarkan terpakai di kepala Hanifah. Rupanya sama seperti Tejo dan kawan-kawan, para berandalan itu juga tambah bernafsu melihatnya.

“Jangann…… ponakan aku nanti bangun.. Jangan..” Hanifah menangis tak berdaya.

Ia tahu mereka tak segan-segan menyebarkan fotonya. Jika itu terjadi entah bagaimana nasibnya di kampung itu.

“Diem Hanifah, biarkan kami melakukannya dengan enak…jadi nurut aja……”

Seseorang dari keenam pemuda itu membuka celananya. Menunggingkan pantat putih Hanifah. Kemudian mulai menyodomi anus Hanifah.

“Uhh uhh! Uhh!” seperti binatang ia mulai menyentak-nyentak dubur gadis berjilbab itu.

Wajah Hanifah terbenam diatas kasur, meringis dan menangis tak berdaya, sementara kelima pemuda lain telah membuka celana masing-masing sambil mengocok kemaluannya memperhatikan Hanifah yang terengah engah tak berdaya. Anusnya perih dan kesat. Hingga tiba-tiba pemuda itu menekan keras. Hanifah menggigit seprei menahan sakit. Sperma pemuda itu muncrat mengisi anus Hanifah, bertubi tubi.

“Aaahh.. sssssshhhhhhhh……enak…..bennnerrr.”

Ia terkulai lemas. Menarik penisnya dari anus Hanifah. Begitu pemuda pertama selesai, yang kedua segera mengganti posisinya. Menyodomi Hanifah dengan brutal. Hanifah hanya bisa melolong tertahan. Tertelungkup sambil menggigit sepreinya kencang. Keenam pemuda itu menggilir Hanifah di pantatnya. Cairan sperma kental mengalir keluar dari duburnya, bahkan ketika pemuda terakhir mencabut penisnya, gadis berjilbab tak sadar mengeluarkan kotorannya. Muncrat bersamaan dengan sperma pemerkosanya.

Mereka berenam tertawa. Hanifah lemas ketika dilentangkan. Kemudian lelaki yang selesai meyodominya tiba-tiba duduk didada Hanifah,

“Ayo suruh ngisep ………!” penisnya yang berlumuran kotorannya yang kental kuning dan bau itu disodokkan ke mulut Hanifah. Sementara rekannya yang lain memegangi kepalanya. Hanifah terbelalak dan meronta ronta. Lelaki itu menyetubuhi mulutnya. Dan Hanifah dapat merasakan cairan asam, pait dan busuk itu memenuhi mulutnya. Hanifah meringis menahan muntah. Tapi mereka tak peduli. Hanifah tergeletak tak berdaya di atas ranjangnya. Keenam pemuda itu segera keluar. Diluar suasana mulai ramai.

“Hanifah, ingat yah kalu kami kepengen kamu harus melayani kami………..!! ……..Setiap kami ingin!”……. Ancam mereka. Dan Hanifah hanya sanggup menangis. Sejak kejadian malam itu Hanifah tak berdaya……….ia betul betul kehabisan tenaga…dan dia hanya bisa diam terpaku dirumah sambil merenungi nasibnya…… Dan Hanifah tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.

****

Di suatu pagi yang dingin, Hanifah berangkat berjalan kaki menuju halte bis. Disana ada bis yang akan mengantarkannya ke sekolahnya SMA ***** yang jauh dari rumahnya. Baju seragam putih lengan panjang, rok abu-abu panjang dan jilbab putih bersih membalut tubuhnya ketika tiba-tiba lengannya dicekal. Tono, salah seorang yang memegang fotonya dan yang pernah memperkosanya rame rame bersama Tejo……… Tono menarik Hanifah ke balik pagar seng kumuh.

“Jangan Kak. ………..” Hanifah menangis ketika melihat Tono sudah memelorotkan celananya. “Terserah, kalau kamu nolak……, foto mu akan tersebar dikampung sini…” gadis berjilbab itu dipaksa berjongkok. ahirnya iapun kembali pasrah….. “Ayo, isep.”

Hanifah dipaksa mengoral Tono. Tempat itu adalah bekas pembuangan sampah yang sudah dipagari seng. Hanifah dengan jengah memasukkan penis Tono ke mulutnya, kemudian mulai menyedot dengan cepat, berharap Tono segera ejakulasi. Air liur gadis berjilbab itu meleleh ke dagunya, turun membasahi jilbab putih yang ia kenakan. Tono mencengkeram kepala Hanifah yang berjilbab itu kemudian menyetubuhi mulutnya. Baju seragam SMA dan jilbab putih yang Hanifah pakai malah semakin membuat Tono terangsang.

“lepas rok mu, Hanifah..”

kata Tono sambil menarik Hanifah berdiri, dan menggerayangi tubuh Hanifah yang masih terbungkus BH, seragam sekolah dan jilbab. Hanifah menangis, tapi ia tahu percuma membantah. Perlahan ia membuka kancing rok panjang abu-abunya kemudian menurunkan retsletingnya. Tono menelan ludah ketika rok itu merosot ke mata kaki. Gadis berjilbab itu mengenakan celana dalam mini berenda.

“Ayo, nunduk! Cepat.”

Hanifah dipaksa berpegangan pada sebuah bekas meja. Kemudian celana dalamnya dipelorotkan menyusul roknya. Tono telah ngaceng berat. Tanpa ba bi Bu lagi ia menyodokkan penisnya ke vagina Hanifah dari belakang.

“Ukhhnnghh. Nghh!” Hanifah merasa ngilu di selangkangannya. Tono merasakan vagina Hanifah yang kering dan kesat menjepit penisnya, menimbulkan kenikmatan.

“Jeritlah kalau berani Hanifah. Uh! Uh! Uh!”

Tono mulai menyetubuhi Hanifah. Menyodok nyodok gadis berjilbab itu hingga tubuhnya tersentak sentak. Hanifah mencengkeram pinggiran meja itu keras, menggigit bibirnya menahan jeritan kesakitan. Di samping seng terdengar beberapa orang lewat. Hanifah mati-matian menahan jangan sampai bersuara. Tono yang melihat itu semakin bernafsu memperkosa Hanifah. Tangannya bahkan telah menyusup kedalam baju gadis berjilbab itu setelah membuka kancing seragam putih Hanifah. Ia meremas remas payudara Hanifah yang bundar menggantung. Bahkan Tono mencabut penisnya dan memindahkannya ke lubang dubur Hanifah.

“Ngngkh!! Nghh!!” Hanifah menggigit bibirnya.

Hampir terjerit. Dan Tono menunggangi gadis berjilbab itu seperti anjing. Hingga, croott.. Crrt.. Crrt. Spermanya memancar mengisi dubur Hanifah. Tono meremas buah pantat Hanifah yang putih dengan keras. Ia mencabutnya perlahan.

“Ohh.. Nikmat Hanifah. Besok lagi ya he he he.” Tono membenarkan celananya sambil menyeringai. Meninggalkan Hanifah yang terduduk lemas.

Hanifah kembali termangu…….sampai kapan penderitaan ini berahir?……

NONI

Sore itu, dua orang pemuda duduk di sebuah warung di dekat sebuah perumahan. Mereka tampak bersantai setelah menandaskan sepiring nasi dan segelas teh hangat. Tangan mereka asyik dengan batang rokok yang dihisap beberapa kali. Sesekali mulut mereka jahil menyiuli pembantu kompleks perumahan yang singgah di warung itu sekedar membeli krupuk atau kebutuhan rumah tangga untuk majikan mereka. Mereka berdua tak punya pekerjaan. Pengangguran. Uang untuk makan sehari-hari diperoleh dari bekerja serabutan, sebentar menjadi tukang parkir, sebentar menjadi kuli bangunan, sebentar menjadi pemalak. Apapun asal perut mereka dapat terisi.
hijabee surabaya - ayyun (1)
Namun kali itu, salah satu dari dua pemuda itu nampak lebih murung meskipun masih bisa tertawa-tawa dan melontarkan guyonan mesum. Temannya, bernama Hendry, penasaran juga dengan tingkah temannya yang tidak seperti biasanya.
“Hei, kenapa kamu? Kok nggak ceria kaya’ biasanya?”
“Mertuaku semalam datang, dan mengancam bakal nyuruh istriku minta cerai kalo aku nggak buruan ngasih rumah yang layak. Tahu sendiri kan selama ini aku masih kontrak di rumah petak yang kecilnya amit-amit itu.”
“Maksudnya, kamu disuruh beli rumah gitu?”
“Iya, gitu. Lha sekarang aku bisa dapet kerjaan dari mana? Lulus SMP aja enggak. Mau nyolong?”
“Bener juga ya. Orang kaya’ kita gini mana bisa beli rumah, beli mobil. Buat makan sehari-hari aja kudu mikir.”
Senja menjelang. Adzan Magrib sayup-sayup terdengar dari masjid terdekat. Saat kedua pemuda pengangguran itu hendak meninggalkan warung, lewatlah Noni, anak tunggal Pak Ridwan, salah satu pemilik rumah di kawasan tersebut. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang sintal menggoda meski tertutup jilbab lebar dan baju panjang, begitu mengundang syahwat mereka. Noni lumayan tinggi untuk gadis seumurannya, kulitnya benar-benar terang dan putih. Yang mereka tahu, Noni masih duduk di kelas 1 SMA.
Tiba-tiba datanglah satu ide di kepala Hendry. “Man, Rahman! Aku ada ide biar kamu bisa beliin rumah buat istrimu.” ujarnya sambil menyenggol tubuh Rahman, temannya itu.
“Eh, gimana.. gimana?”
“Lihat kan si Noni? Bapaknya kan lumayan tajir tuh! Gimana kalau kita culik dia?”
“Gila apa? Ntar kalo ada yang lihat kan bisa berabe? Belum lagi kalo kita dilaporin polisi. Malah nggak jadi beliin rumah!”
“Halah… Itu bisa direncanaiin, man! Yang penting kita susun rencana trus culik dia. Lagian kalo dia pulangnya jam segini kan jalanan udah sepi. Paling tinggal mbak Marni aja yang mau nutup warungnya. Ya nggak?”
”Bener juga! Asal rencananya bagus, nggak bakal ketahuan. Kita minta duit banyak ke orang tuanya. Seratus juta cukup nggak?”
“Tiga ratus deh! Dibagi dua.”
Hari-hari berikutnya, Hendry dan Rahman semakin sering nongkrong di warung itu, dari sore sampai Maghrib, menunggu saat-saat Noni pulang sekolah. Mereka sudah menyiapkan obat bius, tali pengikat, lakban, dan spons beserta sprei untuk kasur. Di hari ketiga belas, rencana itu pun tersusun dan siap dilaksanakan. Tugas Hendry adalah membuat Mbak Marni menutup warung lebih awal, sedangkan tugas Rahman adalah berpura-pura bertanya tentang arah.
Rencana itu berjalan dengan lancar, dan Noni tanpa banyak perlawanan berhasil diculik dan disekap di dalam rumah kontrakan Hendry yang berada di daerah yang cukup sepi. Hal pertama yang mereka lakukan adalah menyumpal mulut gadis itu dengan lakban agar dia tidak bisa berteriak ketika tersadar nanti.
”Beres, kita berhasil.” Rahman tersenyum pada temannya.
Hendry mengangguk. ”Cepat kamu beli nasi, kita nggak mau dia mati ’kan?”
”Yo’i, bro. Jaga dia ya, aku pergi dulu.” sehabis berkata, Rahman pun pergi meninggalkan rumah itu, membiarkan Hendry dan Noni cuma berdua saja.
Saat itulah, demi melihat tubuh molek Noni yang terbaring pasrah di depannya, nafsu Hendry jadi terpancing. Jauh dari istri membuat dia mudah kehilangan kendali. Apalagi sejak mengamati dan memperhatikan gadis ini dalam usaha penculikan mereka, diam-diam Hendry jadi suka dan menginginkannya.
Maka begitulah, tanpa membuang waktu, mumpung gadis itu belum sadar dan Rahman belum kembali, dengan cepat Hendry melanjutkan aksinya dengan menelanjangi Noni, melepas pakaian yang dikenakan gadis itu satu persatu hingga telanjang.
Ia sedikit terpana saat melihat tubuh Noni yang benar-benar seksi untuk ukuran gadis seusianya.  Kulitnya begitu putih dan mulus, terlihat mengkilat karena keringat yang sudah membasahi, maklum rumah Hendry memang agak mungil dan pengap. Gunung kembar yang ada di depan dadanya lumayan montok, terlihat begitu kencang dengan dua buah puting mungil menghiasi puncaknya yang memerah. Di bawah, sebuah vagina sempit dengan dihiasi bulu-bulu lembut yang tidak terlalu lebat, mengintip malu-malu dari sela-sela paha yang begitu kaku dan kencang.
Batang kemaluan Hendry kontan tidak bisa diajak kompromi begitu melihat pemandangan itu, cepat benda itu terbangun dan menegak dengan dahsyat. Setelah ikut menelanjangi diri, Hendry segera mengikat tangan Noni dengan tali pramuka. Ia tarik ke belakang punggung dengan ikatan yang sangat rapat sehingga kedua tangannya menyiku.
Hendry menyeringai, selain dapat uang, sepertinya ia akan dapat kepuasan juga hari ini. Ia mulai dari kedua payudara Noni yang sejak tadi seakan menghipnotisnya untuk terus menatapinya. Hendry mulai menghisapnya dengan rakus, dan berubah menjadi sedikit kasar saat merasakan kalau benda itu ternyata benar-benar lezat. Begitu empuk dan kenyal, juga hangat sekali. Ia terus menghisap dan menjilati keduanya sambil sesekali menggigit putingnya kuat-kuat karena saking gemasnya.
Saat itulah, saat Hendry asyik mengerjai kedua payudaranya, Noni sedikit demi sedikit mulai tersadar. Matanya langsung terbelalak liar karena begitu bangun, dia mendapati dirinya terikat tanpa pakaian di depan seorang laki-laki yang sepertinya mau memperkosanya. Noni mencoba berteriak, tapi itu hanya membuang-buang tenaga saja karena Hendry sudah menutup mulutnya dengan lakban.
hijabee surabaya - ayyun (2)
”Emh… mmh… mhh…” Noni mencoba bersuara.
”Kamu diam saja, cantik… Percuma, nggak ada yang bakalan dengar. Di sini benar-benar sepi, paling cuma kambing sama ayam yang mendengarmu, haha…” tawa Hendry, ”Dan sebaiknya simpan tenagamu, tugasmu masih banyak dan sama sekali belum dimulai. Jadi nikmati aja apa yang akan terjadi!”
Noni menatap Hendry dengan ketakutan, matanya memerah dan wajahnya jadi semakin pucat. Tapi dia tidak menghiraukan ucapan Hendry tadi, sekarang Noni mencoba untuk meronta. “Emh… mhh… mmh…”
Karena ucapannya tidak diindahkan, Hendry segera memutuskan untuk memberi hukuman; ia obok-obok vagina gadis itu dengan kasar sambil mengancamnya, “Ayo, teriak lebih keras lagi! Dengan begitu aku bisa lebih kasar lagi menghadapimu! Aku nggak takut, tahu!”
Dengan sangat ketakutan, Noni akhirnya mengangguk sambil mengucurkan air mata banyak sekali, lalu dia menangis tersedu-sedu, mungkin karena vaginanya terasa sangat kesakitan ketika diperlakukan dengan kasar oleh Hendry tadi.
Tertawa penuh kemenangan, Hendry melanjutkan aksinya dengan menjilati vagina Noni. Ia menghisap-hisapnya dengan ganas serta mencolok-colokkan lidah ke liangnya yang sempit. Noni hanya bisa menangis dan mengucurkan air mata saat menerimanya. Melihat itu, bukannya kasihan, Hendry malah semakin terangsang dibuatnya, ia jadi ingin berbuat lebih kasar lagi.
”Aku mau membuka lakban yang menutupi mulutmu asal kamu janji tidak berteriak.” tawar Hendry, ”Tapi kalo kamu coba-coba teriak, aku pastikan akan membuatmu lebih menderita lagi! Mengerti?!” ancamnya.
Noni yang merasa tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa mengangguk saja mengiyakan.
Breet…!! Hendry menarik lakban itu.
Begitu terlepas, langsung terdengar makian dan jeritan Noni yang begitu kalap, ”Kamu bener-bener bajingan! Anjing kamu! Kenapa kamu perlakukan aku seperti ini?! Bajingan! Lepaskan aku! Dasar anjing!”
Hendry yang tidak menerima dikatai seperti itu, langsung melayangkan tangannya. Plaak!! Ia tampar pipi mulus Noni yang masih basah oleh air mata.
Noni membalasnya dengan berteriak semakin kencang, “Toloong! Toloong! Siapapun, tolong aku!”
Hendry membiarkannya, sengaja untuk membuktikan bahwa di sana memang tidak ada seorang pun yang dapat mendengarnya. “Ayo, teriak lagi lebih keras! Kita lihat siapa yang bisa menolongmu!” ejeknya.
Setelah lama berteriak minta tolong, bahkan sampai suaranya parau, tapi tetap tidak ada yang datang, akhirnya Noni hanya bisa menangis tersedu-sedu dengan suara serak. ”Tolong lepaskan aku… please… apa salahku? Kenapa aku diperlakukan seperti ini?” hibanya.
”Kamu nggak salah… kamu cuma lagi apes aja, hehe…” tawa Hendry sambil mencopoti semua pakaiannya, lalu dengan kedua tangannya, ia membuka kaki Noni lebar-lebar ke kanan dan ke kiri sampai benar-benar mengangkang. Terlihatlah dengan jelas vagina gadis itu yang mungil dan sempit, siap saji untuk menampung kontol besarnya. Tanpa membuang waktu, Hendry pun segera melahapnya.
”Auw! Arghhh… tidaak!” pekik Noni saat Hendry menancapkan batangnya yang sudah sedari tadi tidak bisa diajak kompromi ke lubang vaginanya. Saking sakitnya, ia berteriak memelas, “Ampun… aku jangan diperkosa! Nanti kalo aku hamil gimana?!”
hijabee surabaya - ayyun (3)
”Itu urusanmu! Yang penting, kita akan bersenang-senang sekarang!” sahut Hendry kejam.
Noni menggerakkan kakinya, mencoba menutupi lubang vaginanya yang sudah tertembus sepertiga dari hujaman kontol Hendry. Dan seperti mengerti, lubang itu juga mulai mengatup sehingga batang Hendry jadi terjepit kuat. Jengkel karena usahanya dihalang-halangi, Hendry menarik kembali kaki Noni agar mengangkang lebih lebar, lalu dengan ganas ia mencoba menembus keperawanan gadis itu.
Noni pun berteriak keras sekali saat Hendry kembali menusukkan penisnya. “Oahhh… ampun… sakit… uhh…  aku bisa mati… sakit… uaohh… tolong hentikan!”
Hendry yang merasa sudah telanjur basah, terus melanjutkan aksinya. Ia terus mendorong pinggulnya hingga akhirnya, creett… bisa ia rasakan seperti ada sesuatu yang robek di liang kewanitaan Noni. Bersamaan dengan itu, terdengar teriakan Noni yang menyayat hati. ”Argghhhh…. sakit!!!” gadis itu mencoba meronta sekuat tenaga.
Hendry melihat darah segar mengalir dari sela-sela penisnya, sangat pekat dan banyak sekali. Cepat ia meraih celana dalam dan mengelapnya hingga bersih agar tidak mengotori sprei. Di depannya, Noni terus meronta, terlihat sangat menderita dengan mulut terbuka dan kedua tangan yang masih terikat erat ke belakang. Jilbab putih yang masih membingkai wajah cantiknya  semakin merangsang Hendry untuk berbuat lebih ganas lagi.
Ia mulai menggenjot tubuhnya, menyetubuhi Noni naik turun dengan tanpa ampun. Rasa kewanitaan Noni yang begitu licin dan hangat benar-benar membuatnya kesetanan. Ia terus mengayun semakin keras saat Noni hanya bisa mengerang kesakitan. Tak lupa Hendry juga memilin dan meremas dada gadis itu untuk kian menambah rasa nikmatnya.
Begitu seterusnya sampai akhirnya suara teriakan Noni berubah serak, air matanya masih mengalir, bahkan lebih deras dari yang tadi. Sambil terus  menggenjotnya, Hendry menjilati air mata itu, lalu ia mengulum mulut Noni yang semenjak tadi menganga merangsang nafsu birahinya. Mereka terus berada dalam posisi seperti itu sampai akhirnya, croott… croott… croott… sperma Hendry berhamburan keluar di rahim gadis kelas 1 SMA yang malang tersebut.
”Ahh…” Hendry kelojotan penuh kenikmatan, ia remas payudara Noni semakin keras, sementara penisnya menusuk begitu dalam di liang kemaluan sang gadis yang kini terasa begitu penuh.
Tidak kuat menahan hinaan dan siksaan yang mendera tubuh mulusnya, setelah meronta untuk terakhir kali, Noni pun akhirnya pingsan. Ia menggeletak seperti orang mati.
”Hei! Hei! Bangun!” awalnya Hendry bingung, sekaligus takut. Tapi setelah tahu kalau Noni cuma pingsan, iapun menghela nafas lega. Malah ia jadi terangsang kembali begitu melihat buah dada sang gadis yang membumbung indah ke atas.
Maka sementara Noni tergeletak pingsan, Hendry mengerjai kembali benda bulat padat itu. Ia hisap sedikit-sedikit sambil menggigit dan menarik putingnya yang mungil ke atas karena saking gemasnya, akibatnya kedua payudara itu jadi kian memerah. Tangan Hendry juga bergerak, menuju target yang tadi belum sempat ia jamah; yaitu anus Noni.
Dengan penuh nafsu ia meraba dan menusuk-nusuk lubang mungil itu, rasanya begitu sempit dan kesat. Setelah membasahi dengan ludah dan merasa lubang itu mulai sedikit terbuka, tanpa pikir panjang Hendry langsung mengambil posisi untuk mengerjainya. Pertama-tama ia tancapkan sepertiga batangnya dulu, karena anus Noni benar-benar kecil, maka ia sedikit kesulitan saat melakukannya. Tapi Hendry tidak mau menyerah, ia terus mendorong.
hijabee surabaya - ayyun (4)
Saat itulah, tiba-tiba terdengar rintihan Noni meskipun kurang jelas. ”Ahh… a-apa yang… eh, kamu mau apa?! Hentikan…  jangan di situ! Aku bisa mati! Ampun! Ampun! Jangan!”
Tanpa peduli sedikit pun dengan apa yang diucapkan oleh gadis itu, Hendry terus mencoba menerobos anus Noni. Ia tusukkan penisnya sedikit demi sedikit sampai anus Noni menjadi agak licin dan longgar. Begitu sudah mulai merekah, dengan satu hentakan keras, ia terobos liang anus itu dengan sekuat tenaga.
“Uuaahhhh… arghhhh!” jerit Noni penuh kesakitan, tubuh sintalnya memberontak, tapi Hendry segera memeganginya sehingga ia tidak bisa melawan lagi.
Noni tampak benar-benar menderita, sama seperti saat di vagina tadi, disini juga terasa seperti ada sesuatu yang robek. Darah segar mengucur dari liang anusnya yang memerah. Hendry kembali mengambil celana dalam untuk mengelapnya, setelah bersih, baru ia menggenjot pelan dengan penuh perhitungan. Noni hanya bisa menangis tersedu-sedu menerima nasibnya yang sungguh memilukan. Ia memohon-mohon untuk segera diijinkan pulang, tapi tentu saja Hendry menolaknya.
Malah laki-laki itu terlihat semakin bergairah saat mendengar rintihan Noni yang serak dan sangat menderita, ia  menggenjot pinggulnya lebih ganas lagi, hingga akhirnya menyemburkan sperma di dalam anus gadis itu. Croot… croot… croot… terkejang-kejang, Hendry menyeringai penuh kepuasan.
Sambil menunggu Rahman kembali, ia beristirahat sebentar di sebelah Noni yang kini berbaring miring dengan bermandi peluh. Tubuh gadis itu tampak mengkilap oleh keringat. Noni tak henti-hentinya menangis, air mata terus mengalir keluar dari kedua matanya yang sembab.
Hendry sudah hampir terlelap karena kelelahan saat didengarnya suara kunci yang dibuka di pintu depan. Ia langsung menyeringai begitu melihat kehadiran Rahman. ”Lama banget kamu.” ucapnya.
Rahman melongo, tidak langsung menjawab. Ia menatap tubuh bugil Hendry dan Noni secara bergantian. Saat sudah memahami apa yang terjadi, iapun tersenyum. “Gila kamu! Main nggak ngajak-ngajak.” serunya sambil ikut mencopoti pakaiannya.
“Ini juga nggak sengaja.” sahut Hendry enteng. “Sini cepet! Mana nasinya, aku laper nih.” Ia bangkit dan mengambil bungkusan yang diletakkan Rahman di meja.
Rahman sendiri, dengan tidak sabar langsung memutuskan untuk mengocok batangnya di dalam mulut Noni, ia ingin dioral dulu sebelum mulai menyetubuhi gadis itu. “Berapa ronde tadi?” tanyanya saat melihat kondisi tubuh Noni yang acak-acakan, tidak mungkin kalau mereka cuma main sebentar saja.
“Tanyakan aja pada orangnya,” sahut Hendry riang sambil menyendok nasinya.
Rahman beralih pada Noni yang sedang sibuk membuat gerakan maju mundur berirama, mengulum penisnya. Gadis itu sama sekali tidak bisa melawan apalagi menolak. ”Hmpm… mgmh… ghhm…” gumam Noni dengan mulut penuh penis.
Rahman tertawa, tidak jadi bertanya. Melihat Noni yang masih menangis dan tampak sangat menderita, membuat nafsu birahinya semakin memuncak. Ia pun mempercepat tempo genjotannya, sampai akhirnya… crooott… crooott… crooott… spermanya menyembur kencang di dalam mulut gadis itu. Rahman cepat-cepat membekap bibir Noni agar jangan sampai ada spermanya yang merembes keluar, ia ingin agar Noni menelan semuanya.
hijabee surabaya - ayyun (5)
Dengan patuh gadis itu melakukannya. Meski sangat jijik dan muak, ia sama sekali tidak bisa menolak. Dan saat Rahman memintanya untuk berbaring telentang, ia juga tidak melawan. Noni benar-benar patuh dan pasrah, ia sudah terlalu lelah untuk memberontak.
”Ahh…” rintihnya pedih saat Rahman mulai mengulum lubang vaginanya dan menghisap-hisapnya dengan penuh nafsu, tangan laki-laki itu juga menggelitiki biji klitorisnya pelan dengan harapan Noni akan ikut bergairah.
“Ahh… Geli! Apa yang kamu lakukan!?” Pemandangan yang aneh karena Noni bisa setengah tertawa dan setengah menangis tersedu-sedu, sambil badannya bergetar hebat tentunya. Rupanya, dengan pasrah begini, ia mulai bisa menikmati permainan itu.
Rahman terus memperlakukan Noni seperti itu lama sekali sampai akhirnya gadis itu mengompol meski hanya keluar sedikit-sedikit. “Ahh… ahh…” rintih Noni keenakan saat menggapai orgasme pertamanya.
”Hei, buat apa bikin dia enak?! Yang penting itu, kita yang enak!” protes Hendry yang sudah menyelesaikan acara makannya. Sekarang dia duduk ongkang-ongkang kaki dengan tubuh masih tetap telanjang.
Rahman menatap tajam, ”Aku kan nggak kaya’ kamu, yang sukanya main seruduk aja.”
Hendry mengidikkan bahu, ”Terserah kamu deh,” katanya kemudian. ”Nih, telepon Pak Ridwan, kita minta tebusan. Ntar keburu si Noni mati lagi gara-gara kebanyakan kita perkosa.”
Rahman mengangguk, ia segera  menghubungi orang tua Noni untuk meminta uang tebusan. Tak tanggung-tanggung, tiga ratus juta rupiah! Mulanya, sang pembantu yang menerima telepon itu karena ayah dan ibu Noni sedang tidur. Setelah dibangunkan dan bicara sendiri dengan Rahman, ayah Noni malah kebingungan.
“Jangan becanda kamu! Mana mungkin anak kami diculik!” kata laki-laki itu.
“Lho, benar ini! Kami menculik anak kalian untuk uang tebusan tiga ratus juta.” hardik Rahman. “Dan jangan berani-berani lapor polisi, kalo masih ingin Noni hidup!” ancamnya dengan suara dibuat segarang mungkin.
“Tapi…” laki-laki itu mencoba untuk membantah.
“Nggak ada tapi-tapian!” namun Rahman dengan cepat memutusnya. ”Kami mau duitnya dua hari lagi, di pelataran masjid Al-Amin, daerah Pondok Labu, diikat dalam tas berwarna hitam dan diletakkan di dekat penitipan sandal. Nanti Noni akan kami turunkan di dekat masjid itu juga. Jangan lupa dan jangan lapor polisi!” dia sengaja memberi jeda dua hari agar bisa menikmati tubuh mulus Noni lebih lama lagi.
hijabee surabaya - ayyun (6)
“Dengar dulu, Pak! Mungkin kalian salah orang!” sela ayah Noni.
“Ini Pak Ridwan kan?” tanya Rahman memastikan.
“Iya, benar. Tapi…” kata laki-laki itu.
”Berarti benar! Sediakan uangnya atau Noni kami bunuh.” ancam Rahman garang, mulai kehilangan kesabaran.
”Begini, Pak…” ayah Noni berkata sabar, seperti ingin menjelaskan sesuatu.
”Apa?” bentak Rahman.
”Noni sudah meninggal dari sebulan yang lalu…” jawab Pak Ridwan lirih.
Bulu kuduk Rahman langsung meremang begitu mendengar kata-kata itu. Samar terdengar suara cekikikan dari arah belakangnya, tepat dimana Noni tadi berada.
”Hei, ada apa?” tanya Hendry yang masih belum tahu apa yang terjadi.
Rahman tidak menjawab. Jangankan menjawab, untuk menarik nafas saja ia kesulitan. Tanpa perlu menoleh, ia menyadari kesalahannya. Apalagi saat didengarnya suara cekikikan itu semakin mendekat…

IZUL – MBAK KIKO

“Halo, Izul… kamu dimana?” ibu muda itu berteriak histeris dari telepon seluler.
“Iya, Mbak… Izul sudah di pintu masuk. Mbak dimana?” tanyaku balik.
“Dimananya, Zul? Di depan loket?” tanya dia lagi.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (10)
“Oh, bukan… belum nyampe loket, Mbak. Di pintu masuk. Mbak dimana ya, kok nggak kelihatan? Izul pake baju putih.“ mataku beredar ke depan, mengamati taksi, becak, dan mobil yang berbaris rapi di luar, mencari-cari sosoknya. Ini kali pertama aku akan bertemu dengan ibu muda yang cantik tersebut.
“Oh, Izul… Aku sudah lihat kamu.” ucapnya di telepon.
Aku pun bingung. Di depan tak satupun terlihat sepasang mata yang mencari diriku.
“Izul…!!” terdengar suara wanita memanggilku dari belakang. Bukan lagi dari telepon seluler.
Aku pun membalikkan badan, terlihat ibu muda itu melambaikan tangan ke arahku. Aku bergegas menyusul, ke depan loket. “Mbak Kiko ya?” sapaku.
“Iya, Zul. Akhirnya nggak sekedar di dunia maya, hehehe…” ia tersenyum.
”Saya senang bisa ketemu Mbak.” sambil berjabat tangan, kucium kedua pipinya. ”Dek Afi mana, Mbak?” tanyaku, tadi lewat sms dia mengabarkan kalau datang bersama anaknya.
Belum sempat dia menjawab, datanglah adik kecil dengan jilbab pastel membingkai wajahnya yang imut. Dia malu-malu, tapi santun sekali. Tidak nakal.
“Halo… Dek Afi ya?” aku menyapa ramah. Seketika gadis kecil itu mencium tanganku. Kali ini dia tidak hanya tersenyum, tapi hampir tertawa, memamerkan gigi-gigi kelincinya yang lucu sekali.
“Iya. Ini Afi, Zul. Kalau kakaknya yang gendut itu nggak kuajak, kemarin udah ikut ke Bromo soalnya. Hihihi…” Mbak Kiko tertawa ceria.
Kamipun masuk ke bioskop dan lekas mencari tempat duduk. Sesekali masih kuperhatikan dia, ternyata Mbak Kiko melebihi bayanganku selama ini. Tante Retno bilang kalau dia gendut, Mbak Kiko juga sering berkata demikian. Tapi ibu muda yang saat ini duduk denganku, jauh dari kesan itu. Ya, memang tidak bisa dibilang kurus. Tapi untuk dibilang gendut, tidak cocok juga. Tubuhnya berisi, kalau tidak mau dikatakan seksi ataupun montok. Wajahnya sedikit cubby, matanya tidak terlalu lebar, tapi hidungnya mancung dan kulitnya cukup bersih.
Yang paling menarik adalah, dia sangat-sangat cantik, hampir mendekati jelita. Tidak terlalu kelihatan kalau sudah mempunyai dua orang anak. Mbak Kiko begitu lincah dan ceria, mirip gadis perawan.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (9)
“Mbak, Izul kaget lho tadi. Ternyata Mbak sangat cantik, hihihi…” candaku saat film sudah mulai diputar.
“Cantik dari mana, Zul? Aku tuh gendut, udah ibu-ibu lagi.” sahutnya.
”Enggak… bagiku, wanita seperti Mbak ini yang kelihatan menarik.” bisikku.
Mbak Kiko tertawa, ”Ah, kamu bisa aja, Zul.”
Kugenggam tangannya, dia tidak menolak. Kami terus saling bergandengan selama film diputar.
”Aku juga kaget tadi pas lihat kamu, kok ternyata bongsor ya. Hihihi…” senyumnya begitu keluar dari ruang bioskop. Dia mengomentari tonjolan penisku, tak sengaja dia menyenggolnya tadi.
Aku tertawa, “Hehe… iya, Mbak. Kalau kurus, bisa-bisa Izul nggak laku. Yang ini harus dirawat baik-baik.” sambutku.
Dia ikut tertawa, dan mengajakku mampir ke foodcourt untuk makan siang. ”Jadi gak sabar pengen cepat merasakannya,” bisiknya nakal di telingaku saat kami duduk menunggu pesanan.
”Sabar, Mbak. Bentar lagi,” kugenggam tangannya.
Dia ekspresif sekali. Gerak-gerik matanya menggambarkan kalau ibu muda yang satu ini memang tidak betah kalau hanya diam saja. Gerakan kepalanya, pandangan matanya, cara berjalannya… semuanya membuatku penasaran, apakah dia akan begitu juga di atas ranjang? Ah, mudah-mudahan saja.
Pembicaraan demi pembicaraan kami mengalir begitu saja dalam kurun waktu satu jam tersebut. Mbak Kiko banyak bercerita, aku banyak mendengarkan. Sesekali dia bertanya dan aku menjawab sambil senyum saja. Aku juga sempat mengobrol sama Afi, anak pertamanya yang sekarang duduk di bangku kelas 1 SD. Begitu mengalir saja. Anak-anak selalu menarik perhatianku.
“Zul, kok Mbak Retno bisa tahu kamu?” tanyanya.
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya.
“Dapat info dari siapa?” dia bertanya lagi.
Aku menggeleng, “Maaf, Mbak. Itu rahasia, hehe…” kilahku.
Mbak Kiko terlihat penasaran sekali, tapi roman mukanya tetap ceria penuh canda. Mungkin dia tahu kalau aku tidak akan memberikan keterangan apa-apa, jadi begitu dia paham dengan ekspresiku, dia ganti topik pembicaraan.
Ceritanya pun mengalir begitu saja. Tentang gunung, tentang saxophone, tentang musik jazz yang ia gemari, tentang lomba lukis yang pernah diikuti Afi di Bogor, tentang apa-apa yang mungkin bisa mengisi waktu luang kami.
Aku membalas ceritanya dengan senyum ringan saja, sesekali menjawab seperlunya. Sudah prinsipku, biar klien yang mengungkapkan jati diri mereka, sedangkan aku harus tetap menjadi misteri bagi mereka. Dengan begitu para ibu atau tante itu akan selalu mencari dan penasaran dengan keberadaanku. Dan itu berhasil. Aku sudah membuktikannya, percayalah!
“Dek Afi suka nglukis ya… kakak boleh lihat?” kugoda Afi yang sejak tadi mungkin bingung dengan percakapanku dengan ibunya.
Afi menggeliat. Tersenyum. Mungkin gadis kecil ini setipe denganku. Respon untuk mengatakan suka atau tidak ketika diajak bicara, sempurna ditutupi. Bukan datar, tapi senang mendengar dulu, baru sedikit-sedikit mengomentari.
Kami cukup lama mengobrol, sampai akhirnya… mbak Kiko memintaku untuk mengantarnya pulang. Ok, inilah saatnya. Dengan menggunakan mobil Mbak Kiko, kamipun meluncur.
Berhubung waktu pulang hujan turun cukup lebat, aku harus mengambil jalan memutar yang cukup jauh untuk menghindari wilayah yang biasanya banjir. Selama perjalanan menuju rumahnya, kami terus mengobrol kesana kemari. Saat masih berada di mobil, entah dalam konteks apa, tiba-tiba kami terlibat dalam obrolan yang cukup menyentil.
“Apa kamu suka melakukan pekerjaan ini, Zul?” itu pertanyaan pribadinya yang pertama kuingat. Pandangannya tetap lurus ke depan kaca mobil. Di bangku belakang, Afi sudah terlelap tertidur sambil memeluk boneka beruangnya.
“Yah, namanya nyari uang, Mbak. Apapun harus dilakukan,” jawabku diplomatis, setelah sebelumnya agak gelagapan menerima pertanyaan yang agak sensitif itu.
“Kamu nggak bohong?” tanyanya bernada tak percaya.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (8)
“Memang kenapa?” aku mulai berani memancing.
“Ya nggak apa-apa, cuma nanya aja kok. Nggak boleh?” ia menoleh ke arahku, menatap wajahku.
“Boleh,” aku tersenyum.
Kemudian kami saling terdiam selama beberapa menit.
“Mbak sendiri gimana?” tanyaku balik.
“Maksud kamu?” ia pura-pura tak mengerti.
“Dengan melakukan ini, apa mbak nggak merasa berdosa sama suami?” Ok, aku tahu, ini pertanyaan yang berbahaya. Kalau dia tiba-tiba mengusirku, aku tidak akan membantah.
“Ya kadang-kadang sih…” gumamnya pelan. “Tapi ini bukan salahku juga. Kalau saja suamiku nggak sibuk kerja, aku pasti nggak akan melakukannya.” ia menambahkan.
“Sudah lama?” tanyaku lagi.
Kali ini Mbak Kiko mengerti arah pertanyaanku, ia tampak menerawang sejenak sebelum menjawab. “Baru dua kali, dan semuanya mengecewakan.” dia lalu menatapku, ”Aku harap kali ini berbeda.” pintanya.
Aku tersenyum, “Percayalah, Mbak. Aku nggak akan berani memenuhi undangan Mbak kalau nggak yakin bisa!”
Dia mengangguk dan ikut tersenyum, “Mudah-mudahan begitu, percuma aku berbuat dosa kalau apa yang kucari tidak kudapatkan.”
”Mbak,” kuberanikan diri untuk menggenggam tangannya. Dan ia diam saja. Bahkan kemudian membalas remasan tanganku. “Aku jadi takut!” kataku lirih.
“Takut apa?” ia bertanya.
“Takut kalau Mbak akan ketagihan sama punyaku.” candaku.
“Ihh, dasar!” ia memekik sambil tangannya mencubit pahaku.
”Auw,” aku berteriak, meskipun cubitannya tidak sakit. “Cubit yang lainnya dong…” aku menggodanya lagi.
“Yee, maunya!” tapi tangannya tetap terulur ke arah selangkanganku dan mulai menarik retsleting celana jeans-ku ke bawah.
Masih dalam posisi menyetir, aku segera mengatur posisi agar ia bisa leluasa membuka celanaku. Dalam sekejap milikku sudah terjulur keluar dari celah atas celana dalamku. Milikku mulai membesar tapi belum tegang.
Tangan kanan Mbak Kiko lalu mulai beraksi dengan meremas dan memijit-mijitnya, membuat otot pejal kebanggaanku itu mulai bangun dan berdiri tegak. Rasanya nikmat sekali, aku harus berusaha keras membagi konsentrasi dengan menyetir mobil. Apalagi di luar sana hujan turun semakin lebat. Wiper yang bergerak-gerak seperti tak mampu menahan air hujan yang mengalir turun memenuhi kaca depan, sebagaimana aku tak dapat menahan rasa geli akibat tangan Mbak Kiko yang mulai mengocok pelan.
“Digenggam dong…” kataku menuntut saat Mbak Kiko hanya menjepit dengan menggunakan jempol dan jari tengahnya.
“Tadi katanya minta dicubit aja,” jawabnya sambil melakukan gerakan mencubit pelan pada pangkal kemaluanku yang kini sudah mengeras tajam, membuatku menggelinjang ringan karena kegelian.
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Ya sudah, aku nikmati saja apa yang ia lakukan. Bahkan aku kemudian menjulurkan tangan kiri ke arah buah dadanya yang masih terbungkus baju lengan panjang tanpa kancing, sementara tangan kananku tetap memegang kemudi. Kurasakan buah dadanya sudah mengeras kencang. Meski tertutup jilbab lebar, benda itu terasa empuk dan sangat kenyal sekali. Ukurannya juga begitu besar, membuatku jadi makin bernafsu meremasnya. Maka mulailah acara saling meremas dan memijit di dalam mobil, di tengah hujan deras yang masih mengguyur di sepanjang jalan.
Tampaknya Mbak Kiko mulai terangsang dengan gerayangan tanganku pada buah dadanya. Ia memintaku untuk melakukannya di bagian tubuhnya yang lain, dengan tangannya ia menuntun jariku untuk menuju ke sela-sela pahanya yang sengaja dibuka agak lebar. Roknya sudah ia tarik ke atas sebatas pinggul, menampakkan kulit pahanya yang putih mulus dan sangat licin sekali. Maka jari-jari tangan kiriku pun segera beraksi, meraba tepat di bagian depan celana dalamnya yang menyembul hangat dan sudah mulai basah.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (7)
Tapi pandanganku tetap harus ke depan, ke arah jalan yang mulai masuk ke kompleks perumahan. Di sampingku, Mbak Kiko dengan enaknya terus menggeliat-geliat sambil mendongakkan kepalanya, menikmati segala gelitikanku pada bagian luar cd-nya, tepat di bagian celah kemaluannya. Sementara tangan kanannya kini tak lagi memijit-mijit, tapi sudah menggenggam batang penisku yang makin meradang karena terus dikocok-kocok olehnya.
Aku menarik tanganku dari sela paha Mbak Kiko ketika mobil sudah mulai masuk ke jalan menuju rumahnya. Ia sempat mendesah ketika aku menghentikan aksiku, terlihat nanggung dan kecewa.
“Sudah sampai, Mbak.” kataku memberi alasan sekaligus mengingatkan dia.
Mbak Kiko segera membenahi pakaiannya dan kemudian gantian membereskan celanaku yang sudah setengah terbuka. Kemaluanku yang belum sepenuhnya lemas, agak sulit untuk dibungkus kembali.
“Bandel nih!” gerutunya lucu.
“Makin bandel makin ngangenin, Mbak… hehehe.” aku tertawa melihat ia kesulitan memasukkan batang kemaluanku kembali ke dalam celana.
”Kegedean, Zul.” gumamnya rikuh.
“Sudah biarin, nanti juga dikeluarin lagi.” sahutku.
Dia lalu kusuruh turun duluan menuju teras sambil menggendong Afi yang masih terus terlelap. Aku kemudian memasukkan mobil ke garasi, lalu membetulkan celanaku dan kemudian bergegas keluar menuju teras, menyusulnya. Jilbab dan baju Mbak Kiko terlihat agak basah oleh air hujan.
Kami lalu segera masuk ke dalam rumah. Inilah pertama kalinya aku melakukan kencan di rumah, biasanya di hotel atau villa. Untuk Mbak Kiko aku memberi pengecualian, tante Retno sudah mengatakannya kemarin, ibu muda itu cuma mau melakukannya disini, di rumahnya. Ok, ya udah. Aku jalani aja.
Memang aku jadi sedikit canggung dan kurang nyaman, takut dipergoki oleh penghuni yang lain. Tapi jaminan dari Mbak Kiko, juga saat menatap kaos panjangnya yang basah, yang menampakkan bagian gumpalan buah dadanya, membuatku jadi berpikir lain.
Aku kembali terangsang melihat tubuhnya. Maka setelah ia menaruh Afi di kamar dan keluar menemuiku yang menunggu di ruang tengah, segera kupeluk tubuhnya dan kami pun lalu tenggelam dalam ciuman yang hangat dan penuh gelora.
Saat itulah untuk pertama kalinya aku benar-benar bisa merasakan kehangatan dan kelembutan bibirnya. Sudah sejak tadi aku merindukan percumbuan seperti ini, sehingga nafasku terdengar memburu saat kami berciuman dengan lahapnya. Tanpa perlu disuruh, mulai kujamah bagian-bagian tubuhnya yang sensitif. Terutama dada dan pantatnya yang membulat, yang sepanjang jalan tadi selalu membuatku bergairah.
Mbak Kiko pun langsung membalas, ia remas cepat milikku yang sudah mengeras di balik celana pantalon yang kukenakan. ”Ehm, Zul…” ia merintih dalam dekapanku.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (6)
Aku makin bernafsu, sambil tetap melumat bibirnya, kutekan telapak tanganku ke celah pahanya yang tertutup rok panjang lebar, meremas daging lembut yang ada di sana. Aku sudah akan mencopotnya saat Mbak Kiko berbisik di telingaku, ”Jangan disini, nanti ada orang yang lewat.”
Ah ya, benar. Maka cepat kulepas pelukanku.
“Kita ke kamar aja.” katanya sambil menarik tanganku, mengajakku pergi ke kamar tidurnya. Aku menurut saja, kuikuti dia sambil menggandeng pinggulnya.
Di dalam, birahi kami memanas kembali. Ciuman pun berkembang menjadi acara saling remas, saling tekan, saling rangsang, dan puncaknya; kami berdua lalu saling membantu untuk melepas pakaian satu sama lain dan membiarkannya terserak di lantai.
Di luar, hujan masih turun dengan derasnya. Suara tempaan airnya menyamarkan desahan dan lenguhan yang keluar dari mulut kami berdua. Tubuh bugil kami bergelut dengan penuh gairah di atas ranjang. Mbak Kiko yang berjilbab, ternyata besar juga nafsunya. Ia meminta ijinku untuk melakukan oral seks setelah beberapa saat tubuh telanjang kami menempel erat.
”Boleh ’kan, Zul?” pintanya sambil memegangi penisku.
Tentu saja kuijinkan.  Siapa juga yang mau menolak.
Ia dengan penuh nafsu segera melumat dan mengisap kepala kemaluanku yang terlihat bulat membonggol dan tampak licin mengkilat akibat lumuran cairan precum. Mbak Kiko mengaku, ia suka dengan milikku yang katanya berukuran besar dan panjang. ”Pasti aku akan puas nanti!” yakinnya sambil terus melakukan permainan mulut.
Aku berusaha mengimbangi dengan merangsang bibir kemaluannya dengan jariku. Saat itu posisiku setengah rebahan dan menyandarkan kepalaku pada sandaran springbed. Sedangkan Mbak Kiko berbaring miring setengah telungkup di samping pinggangku. Ia menggeliat ketika jari tengahku mulai menerobos masuk ke celah kemaluannya, sementara jempolku bermain-main pada klitorisnya.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (5)
“Ouw…” jeritnya tertahan, sedikit menjengit tapi terlihat suka.
“Kenapa, Mbak, enak?” tanyaku sambil menusukkan jari tengahku lebih dalam dan memutar jempolku lebih keras pada tonjolan kecil di atas bibir kemaluannya.
”Ahh, Zul…  aku.. ehss… ughh…” kembali mulutnya bersuara, tapi kali ini lebih riuh dan lebih mirip desisan. Sejenak mulutnya terlepas dari batang kemaluanku, tapi sesaat kemudian ia menunduk kembali dan melumat habis batangku hingga hampir ke pangkalnya, dan mengisapnya sedemikian rupa sampai aku merinding kegelian. Pantatku sempat tersentak-sentak karena saking nikmatnya.
Gila! Kelihatannya aja lugu dan alim, ternyata jago juga nyepong kontol. Aku takjub dan benar-benar tak menyangka. Ditambah tubuhnya yang masih utuh sempurna, resmilah Mbak Kiko jadi salah satu langganan favoritku.
“Kenapa, enak ya?” katanya sambil melirikku, lalu melanjutkan kulumannya kembali. Sepertinya ia ingin membalas atau mungkin ingin mengimbangi perbuatanku.
Selanjutnya kami tak sempat bicara sepatah kata pun karena terlalu serius untuk saling melakukan dan menikmati rangsangan. Mataku terpejam mencoba menikmati setiap hisapan mulutnya, sementara jari-jari tanganku terus asyik bermain-main di sekitar liang kewanitaannya.
Berbeda dengan milikku yang kasar dan lebat, rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan Mbak Kiko tak terlalu lebat, terlihat halus dan tercukur rapi. Tentu saja karena dia wanita yang cinta kebersihan. Aku jadi suka sekali mengusap-usapnya. Mbak Kiko berusaha mengimbangi dengan menciumi juga bulu-bulu yang tumbuh di sekitar selangkanganku. Saat sudah tidak tahan lagi, barulah dia melepaskannya.
”Ayo, Zul, sekarang!” ia meminta sambil bangkit dari posisi tengkurapnya, lalu mulai mengangkangi pinggulku, dan kemudian menelusupkan batang penisku yang sudah menegang keras ke sela-sela pahanya.
Dengan posisi antara duduk dan bersandar, aku mencoba membantunya dengan sedikit mengangkat pantatku ke atas. Maka sedikit demi sedikit amblaslah kepala kemaluanku ditelan mulut kecil yang ada di selangkangannya. Terasa sekali liang itu begitu ketat, lembut menjepit sepanjang batangku. Rasanya hangat, lembut dan agak-agak terasa kesat. Tipikal kewanitaan yang jarang sekali dipakai.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (4)
Kenikmatanku semakin terasa ketika kepala penisku yang sensitif mulai menyentuh ujung dinding kemaluannya. Sejenak Mbak Kiko memutar-mutar pinggulnya seolah merayakan pertemuan total itu. Secara spontan kami berdua serempak mengeluarkan rintihan kenikmatan yang sejak tadi tertahan, ”Ooughhhh…!!!”
Mbak Kiko tampak meresapi jejalan batang penisku dan gesekan urat-urat yang ada di sekujur permukaannya. Mulutnya mendesis-desis seperti orang kepedasan. Beberapa kali jarinya berusaha menyentuh bagian luar bibir kewanitaannya, seperti mau menggaruk seolah kegelian, namun tak bisa.
Ia kemudian mengatur posisi berlututnya sedemikian rupa hingga jadi lebih bebas bergerak. Beberapa saat kemudian, setelah kami sama-sama siap, Mbak Kiko mulai menggenjot tubuhnya naik turun. Makin lama genjotannya menjadi semakin cepat, sehingga membuat buah dadanya yang besar jadi tampak berayun-ayun indah di depan wajahku.
Mulutku segera menangkap putingnya yang sudah mengeras tajam dan langsung melumatnya habis, dua-duanya, kiri dan kanan.
”Auw!” ia menjerit tertahan, namun aku tak mempedulikan. Terus aku mengulum kedua bukit padatnya itu secara bergantian. Sementara di bawah sana, pinggulku terus menyentak-nyentak mengimbangi genjotannya di atas tubuhku. Terasa sekali rasa nikmat mulai menjalar di sekitar pangkal dan sekujur batang kemaluanku. Suara hujan di halaman depan makin membuatku bergairah.
Entah sudah berapa lama kami dalam posisi seperti ini, terus menggoyang dan saling memperdengarkan rintihan dan desah penuh kenikmatan. Tubuh Mbak Kiko makin meliuk dan menggeliat-geliat di atas tubuhku. Kedua pahanya yang sejak tadi mengangkang dan bertumpu di tempat tidur, mulai kuelus-elus. Dan rupanya ia menyukainya, karena lenguhan kenikmatannya makin keras terdengar.
Elusanku lalu bergeser ke bukit pantatnya. Tapi kini aku tak lagi mengelus, tanganku lebih sering meremas di bagian itu, membuat Mbak Kiko makin menggelinjang geli akibat ulahku. Tak lupa juga terus kucucup dan kujilati kedua putingnya hingga membuat dia merintih semakin keras. Kami mengakhiri permainan ketika Mbak Kiko mulai menunjukkan tanda-tanda akan mencapai puncak birahi.
Aku segera mempergencar tusukan dan hentakan dari bawah, sementara dia memeluk kepalaku erat-erat hingga membuatku terbenam dalam di belahan dadanya yang curam. Kedua kakinya juga menjepit erat pinggangku, membuat posisi bersandarku jadi agak merosot ke bawah. Beberapa menit kami masih sempat bertahan dalam posisi itu sambil terus berpacu menuju puncak kenikmatan.
“Zul… Izul… ahh… aku…” rintihnya.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (2)
“Iya, Mbak… keluarin aja… jangan ditahan…” sahutku.
”Ahh… auw!” mendadak rintihannya berubah menjadi keras.
Segera kuangkat dan kubalik tubuhnya, lalu kembali kutindih dia. Kini aku yang berada di atas, kugenjot tubuh mulus Mbak Kiko habis-habisan sampai kami berdua akhirnya mencapai orgasme secara hampir bersamaan.
”Mbak… ahh… ahh…” aku mengerang-ngerang ketika kurasakan air maniku mulai menyembur kencang. Ada sekitar empat kali aku menembakkannya. Alirannya terasa nikmat di sepanjang batang kemaluanku. Rasanya berdesir-desir menggelikan.
”Ehm, Zul…” Mbak Kiko pun kulihat ikut menikmati puncak birahinya. Wajah cantiknya memerah dan matanya terpejam, sementara tubuhnya sesekali bergetar menahan rasa nikmat yang menjalar di seluruh pusat kewanitaannya.
Pelan kulumat bibirnya yang basah memerah, dan kami pun melengkapi puncak kenikmatan ini dengan ciuman yang amat dalam dan lama. Sesekali tubuh kami tersengal oleh sisa-sisa letupan kenikmatan yang belum sepenuhnya reda.
Suara riuh hujan tak terdengar lagi. Hanya bunyi tetes-tetes air yang masih berdentang-dentang menimpa atap teras depan. Entah sejak kapan hujan mulai reda. Kami terlalu sibuk untuk memperhatikannya.
Selama beberapa saat, kami terus berbaring berpelukan di atas ranjang. Masih dengan telanjang dan alat kelamin menempel erat. Aku berbaring di atas tubuh Mbak Kiko yang telentang. Tanganku mengusap-usap tonjolan buah dadanya yang bergerak-gerak halus seiring tarikan nafasnya. Sementara ia bermain-main di sekitar pantat dan buah zakarku yang terasa basah oleh ceceran sperma dan cairan kewanitaannya.
“Gimana, Mbak, suka dengan permainanku?” tanyaku meminta pendapatnya.
“Suka banget!” dia mengangguk. ”Nggak salah Mbak Retno merekomendasikanmu.” tambahnya genit.
“Aku juga, Mbak…  selain cantik, Mbak juga sangat seksi dan begitu menggairahkan!” kataku.
“Ah, kamu bisa aja,” ia melenguh manja.
“Beneran… nih buktinya.” kugerakkan penisku yang mulai kembali menegang di dalam liang vaginanya.
jilbab manis montok-aisyah dwiyanda (1)
”Auw… sudah ah… geli, Zul!” ia tergelak, dan kami lalu tertawa bersama. Sementara tanganku terus meremas tonjolan buah dadanya, meremas dan terus meremas hingga akhirnya kami kembali bergelut di atas ranjang, mempersiapkan permainan berikutnya.
Tapi untuk ronde yang kedua ini, kami hanya melakukannya sebentar saja karena suami Mbak Kiko sudah waktunya pulang dari kantor.
“Makasih ya, Zul…” katanya saat kembali merasakan orgasme, entah untuk yang keberapa kalinya di hari itu, di pertemuan pertama kami. Sementara aku baru saja menyemburkan spermaku yang kedua, sekaligus juga yang terakhir.
”Sama-sama, Mbak.” sahutku sambil mencium bibirnya.
Kami pun berpisah. Sesaat sebelum aku pergi, Mbak Kiko memberiku satu bungkus jajanan untuk oleh-oleh, “Maaf ya, Zul… cuma ada ini.” katanya. “untuk bayaranmu, besok aku transfer.” tambahnya lagi.
“Eh, iya… nggak apa-apa, Mbak… ngak usah buru-buru.”sahutku. Kupandangi ia yang kini kembali mengenakan baju panjang dan jilbab lebar, tidak lagi telanjang seperti tadi. Dengan pakaian seperti ini, tentu tidak akan ada yang menyangka kalau Mbak Kiko sebenarnya adalah wanita kesepian yang butuh kehangatan.
Dia memencet hidungku, ”Burungmu enak, kapan-kapan kupanggil lagi ya…” bisiknya.
”Siap, Mbak… anytime deh pokoknya buat mbak.” aku melambaikan tangan, berharap bisa secepatnya bertemu lagi dengan bidadari berjilbab ini.

BU ASIH 2: BUNGA

besoknya setelah aku menikmati tubuh Bu Asmi yang putih montok itu, aku menuju sekolah dimana bu Asmi mengajar. Bukan untuk menemuinya, namun untuk menemui pak Roy, guru yang melakukan hubungan intim dengan Bu Asmi. Bukannya aku butuh uang dan mau memerasnya, tapi kalau benar pak Roy itu playboy, kali aja aku bisa dibagi koleksi perempuannya. Heheheheh.

jilbab hot novita ningsih (2)

Siang menjelang sore itu sekolah sepi karena memang murid-murid udah pulang. Pukul 2 aku memasuki lorong sekolah, menuju ruang guru. Ketika kutengok ke ruang guru, ternyata ruang itu sudah kosong dari guru. Segera aku berjalan dan mencari-cari meja dari pak Roy. Beberapa saat segera aku menemukannya, dengan nama meja diatasnya. Ada foto juga dipajang dimeja itu, seorang laki-laki bertubuh atletis dengan celana training panjang dan kaus putih ketat dengan stopwatch dan peluit tergantung di lehernya. Aku menebak dia adalah pak Roy itu sendiri. Ketika hendak keluar, aku melihat ada seorang cleaning service yang sedang menyapu lantai diluar pintu.

jilbab hot novita ningsih (1)
“pak roy sudah pulang, pak?” tanyaku.
Cleaning service tadi melihat kearahku. “pak roy? Ooh, tadi kayaknya ke belakang sekolah pak. Mau ke kamar kecil, mungkin.” Jawabnya.
“kalo mau segera ktemu, lewat mana yah pak, ke belakang sekolah?” tanyaku. Sedikit curiga karena jelas-jelas disudut ruangan guru ada kamar kecil.
Sang cleaning service tadi memberitahukan jalannya, lalu segera aku menuju ketempat itu, yang memang tempatnya tersembunyi dari hiruk pikuk sekolah.

Ketika aku sudah mendekati tempat yang dimaksud, aku mendengar suara-suara yang aneh. Segera aku melambatkan langkah dan mengintip dari sebuah jendela kecil yang tertutup kaca gelap kusam, sehingga tidak memungkinkan orang yang ada di lapangan kecil disudut sekolah sepi itu melihatku. Lapangan badminton yang sudah tidak terpakai itu nampaknya menjadi semacam gudang besar dimana dipinggirnya banyak ditaruh bangku, almari dan berbagai macam inventaris sekolah yang sudah rusak. Apa yang aku curigai ternyata benar. Aku melihat Pak Roy ada ditengah lapangan sedang bercumbu dengan seseorang. Dan terpananya lagi, ternyata yang ia cumbu adalah seorang gadis muda yang masih mengenakan baju seragam abu-abu putih berjilbab, walaupun sudah berantakan karena cumbuannya. Seragam OSIS putihnya sudah terbuka semua kancingnya, menampakkan buah dada ranum putih sekal yang tidak tertutup lagi oleh BH yang sudah diturunkan kebawah. Gadis itu cantik dan berwajah lugu. Kulitnya yang putih dan seragam SMA serta jilbab putih panjangnya membuatnya terlihat semakin cantik. Pak Roy sambil agak membungkuk mengulum-ngulum putting siswi berjibab itu yang sudah tampak pasrah dan hanya bisa merintih dan mendesah sambil tubuhnya sesekali bergetar merasakan rangsangan yang diberikan oleh guru olah raga itu. Dibelakang, seorang lelaki yang memakai baju safari serta kopiah dikepala menonton adegan panas kedua orang itu.

jilbab hot novita ningsih (3)

Setelah puas merangsang sang siswi itu, pak Roy berdiri didepan siswi berjilbab yang sudah lemas dan pasrah itu sambil mengelus-elus kejantanannya yang sudah mengacung, keluar dari celananya yang memang sudah diturunkan retsletingnya. Dengan tangan satunya Pak Roy menekan pundak sang siswi canti berjilbab itu turun, sampai bagian bawah perut Pak Roy persis berada di depan wajah siswi cantik berjilbab itu. siswi berjilbab berparas lugu itu sepertinya sudah tahu apa yang pak Roy mau. Ada sedikit perlawanan, namun tenaga guru olah raga terlalu kuat dibanding tenaga siswi itu. segera gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu bersimpuh ditengah lapangan kecil kotor itu yang sudah dialasi tikar lusuh yang mungkin memang sudah disiapkan oleh pak Roy dan temannya, lalu perlahan-lahan pak Roy mendekatkan batang kemaluannya ke wajah sang siswi berjilbab itu yang memejamkan matanya.

jilbab hot novita ningsih (4)

Pak Roy kemudian menggesek-gesekkan kontolnya ke pipi siswi itu sambil mendesah-desah. Tak lupa ia tampar-tamparkan pelan kontolnya ke wajah putih bersih siswinya. Beberapa saat, pak Roy membungkuk meraih tangan kiri siswi berjilbab yang sekal itu lalu dipegangkan ke kejantanannya itu. Penis Pak Roy bergetar dalam genggaman siswi berjilbab berparas lugu itu. Tangan siswi cantik berjilbab itu tidak cukup untuk menggengam penisPak Roy yang besar itu. Perlahan-lahan siswi berjilbab itu mengocok-kocok batangPak Roy itu keatas dan kebawah.
‘emmmhh…iyaahhh..enaakk, bungaaa… kamu pintarrrr… nanti bapak kasih nilai bagusshhh…” Pak Roy menatap siswi berjilbab yang ternyata bernama Bunga sambil mendesah-desah dan meracau. Seorang gadis muda yang cantik, sedang mengelus-elus penisnya.

“ayo sayaaangghh…sekarang dikulum-kulum yaahh…” kata pak Roy sambil terus menyorong-nyorongkan batang kerasnya ke wajah siswi berjilbab cantik itu. Pelan-pelan siswi berjilbab berparas lugu itu mengarahkan mulutnya ke penis pak Roy. Gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu siswi berjilbab itu mengulum sekalian alat vital pak Roy ke dalam mulutnya hingga membuat lelaki itu melek merem keenakan. Benda seperti pentungan satpam itu dikulum dan dijilati. “Oh.. Bungaa…enaakk.. sayaaangghh… enaak muridkuu….” kata pak Roy sambil mendesah-desah kenikmatan. “Ehm..ehmm…”hanya itu yang keluar dari mulut siswi cantik berjilbab itu. Selain menyepong, pak Roy juga mengajari siswinya yang cantik berjilbab itu turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya.

jilbab hot novita ningsih (5)

Pak Guru berkopiah yang dari tadi hanya melihat, lalu mendekati mereka. Dia membuka retsleting celana panjangnya, mengeluarkan penisnya yang hitam, lalu meraih tangan siswi berjilbab berparas lugu itu untuk menggengam kemaluannya. Siswi berjilbab itu meraih penis hitam itu lalu secara perlahan-lahan gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu mengocok. Secara bergantian mulut dan tangan siswi berjilbab itu melayani kedua penis yang sudah menegang itu. Tapi siswi cantik berjilbab itu lebih sering mengoral punya Pak Roy, sedangkan penis Pak Guru berkopiah lebih sering dikocok pakai tangan siswi berjilbab berparas lugu itu. Tidak puas hanya menikmati tangan siswi berjilbab itu, sesaat kemudian Pak Guru berkopiah meminta ke pak Roy untuk merubah posisi. Tubuh siswi berjilbab itu tanpa perlawanan yang berarti dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tangan gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu. siswi cantik berjilbab itu diposisikan doggy style sambil mengulum penis Pak Roy, sementara Pak Guru berkopiah itu mengambil tempat dibelakang sisiwi berjilbab yang sudah pasrah itu, dan langsung menyibakkan rok panjang gadis manis siswi SMA itu keatas pinggul dan memelorotkan Cdnya.

“eeemmhh…jjaanngaaannn…jangaannn..” Siswi berjilbab berparas lugu itu berhenti mengulum penis pak Roy dan merintih ketika jari Pak Guru berkopiah itu mulai merenggangka vagina siswi berjilbab itu.

jilbab hot novita ningsih (6)

“udah diem!” bentak pak guru berkopiah. Pak Roy juga segera mencengkeram kepala sang siswi berjilbab dan kembali menjejalkan penisnya ke mulut siswi pelajar SMA itu untuk menghentikan rintihannya. Kembali pak Roy mendesah dan memaju mundurkan pinggulnya, menggenjot mulut siswi berjilbab itu. Siswi berjilbab bertubuh mengkal itu memekik tertahan ketika penis hitam pak guru berkopiah menyeruak masuk kedalam liang vaginanya yang sempit. mulut siswi berjilbab berparas lugu itu yang masih tersumpal penis Pak Roy mengeluarkan desahan tertahan berbarengan dengan amblasnya penis pak guru berkopiah memasuki vagina siswi cantik berjilbab itu. Kening siswi berjilbab itu berkerut menahan sakit karena memang ukuran penis Pak Guru berkopiah memang lumayan besar. Tapi Pak Guru berkopiah justru merasakan nikmatnya jepitan vagina gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu di penisnya. Ditariknya penisnya keluar, lalu kembali didorongnya penisnya itu lebih kedalam hingga kembali amblas semuanya ditelan rongga siswi berjilbab berparas lugu itu. Kontan tubuh siswi berjilbab itu bergetar hebat.

“Ooohh.. Pak.. ngghh”erang siswi cantik berjilbab itu sambil melepas penis Pak Roy dari mulut siswi berjilbab itu. Pak Guru berkopiah perlahan-lahan menggenjot vagina itu, tapi makin lama makin cepat sehingga desahan siswi berjilbab berparas lugu itu menjadi erangan panjang. Pak Roy tidak menyia-nyiakan mulut gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu yang terbuka lebar, diatancapkannya penisnya kemulut siswi berjilbab itu, sehingga siswi cantik berjilbab itu tidak bisa berteriak lagi.

Siswi berjilbab berparas lugu itu disetubuhinya dari belakang, sambil menyodok, kepala Pak Guru berkopiah merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudara siswi berjilbab itu yang sudah tak tertutup apa-apa lagi karena kemeja OSISnya sudah terbuka semuanya dan Bhnya juga sudah dilolosi. siswi berjilbab berparas lugu itu menggelinjang tak karuan waktu puting kanan siswi berjilbab itu digigitnya dengan gemas, kocokan dan kulumann siswi cantik berjilbab itu pada penis Pak Roy makin bersemangat.

jilbab hot novita ningsih (7)

Rupanya gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu telah membuat Pak Roy ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulut Bunga dengan memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepala siswi berjilbab berparas lugu itu pun dipeganginya dengan erat. Bahakan sesekali dia ikut menampar pantat sekal mulus siswi berjilbab itu ketika siswi cantik berjilbab itu menggigit pelan batangnya. Penisnya yang besar itu memenuhi mulut siswi berjilbab itu yang mungil, malah masih ada sisaanya diluar. Hal itu membuat gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu susah bernafas. Akhirnya siswi berjilbab berparas lugu itu hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka dilapangan sepi sudut sekolah yang kotor itu. Sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke tubuh Bunga. siswi cantik berjilbab itu terlihat semakin menikmati permainan brutal Pak Roy dan temannya hingga akhirnya tubuh siswi berjilbab itu mengejang dan mata siswi berjilbab berparas lugu itu membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Roy. Bersamaan dengan itu pula genjotan Pak Guru berkopiah terasa makin bertenaga.

jilbab hot novita ningsih (8)

“mmhhh…Bungaaahhhh… bapak mau keluar nih !” erangnya panjang sambil meringis. Mereka pun terlihat mengejat-ngejat mencapai orgasme bersamaan. Dari selangkangan siswi berjilbab itu meleleh cairan hasil persenggamaan. gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu melepaskan penis Pak Roy dan jatuh telungkup dilantai kotor beralas tikar lusuh itu. Siswi cantik berjilbab itu terlihat sangat lemas. Setelah mencapai orgasme yang cukup panjang, tubuh Bunga berkeringat sangat banyak. “bapak tusuk sekarang ya bunga sayaaangg…? udah ga tahan dari tadi belum rasain memeknya bunga… tahan ya bunga sayaaaang…” kata Pak Roy sambil membalikkan tubuh siswi berjilbab berparas lugu itu. siswi berjilbab itu tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan dia sudah tak mampu melawan ketika Pak Roy yang sudah dibakar api birahi membalik tubuhnya terlentang. Rok panjang gadis SMA itu yang kembali turun dinaikkannya lagi keatas pinggul. Jilbab yang menutupi buah dada mengkal sang gadis dililitkan ke lehernya.

“Pelan-pelan paak….”kata siswi cantik berjilbab itu setengah merintih sambil menatap ngeri ke penis pak Roy yang besar. Air matanya sudah mengalir dipipinya. Pak Roy terlihat semakin bernafsu. Lalu dia mengambil posisi berlutut di depan siswi berjilbab itu. dibukanya paha siswi berjilbab berparas lugu itu lalu diarahkan penisnya yang panjang dan keras itu ke vagina gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu, tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir kemaluan siswi cantik berjilbab itu sehingga Bunga berkelejotan.

jilbab hot novita ningsih (9)

“Suka ga Bunga, memeknya bapak ginikan?”Tanya Pak Roy sambil terus menggesek-gesek.Dia nampaknya tidak mau buru-buru. Dia terlihat menikmati melihat siswi berjilbab berparas lugu itu tersiksa seperti ini.

“Aahh.. iya…senang…” desah siswi cantik berjilbab itu tak tertahankan.

Penisnya yang kekar itu menancap perlahan-lahan di dalam vagina siswi cantik berjilbab itu. siswi berjilbab itu memejamkan mata, meringis, dan merintih akibat gesekan benda itu pada milik siswi cantik berjilbab itu yang masih sempit. Air mata siswi berjilbab itu kembali mengalir. Penis Pak Roy tampaknya susah sekali menerobos vagina siswi berjilbab itu walaupun sudah dilumasi oleh lendir siswi cantik berjilbab itu. dia memasukkan penisnya sedikit demi sedikit kalau terhambat ditariknya lalu dimasukkan lagi.

jilbab hot novita ningsih (10)

“Wah.. Bunga.. hhh… sempit banget memeknya…” ceracaunya. Kini dia sudah berhasil memasukkan setengah bagiannya dan mulai memompanya walaupun belum masuk semua. Rintihan siswi berjilbab berparas lugu itu mulai berubah jadi desahan nikmat. Penisnya menggesek dinding-dinding vagina Bunga, semakin cepat dan semakin dalam, hingga masuk semua. Kini vagina gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu telah terisi oleh benda hitam panjang itu dan benda itu mulai bergerak keluar masuk. Sepertinya siswi berjilbab berparas lugu itu merasa sakit bukan main karena kemudian siswi cantik berjilbab itu kembali merintih-rintih menyuruh Pak Roy berhenti sebentar, namun Pak Roy yang sudah kalap ini tidak mendengarkan siswi berjilbab itu, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih cepat. siswi cantik berjilbab itu terlihat mulai terhanyut sensasi itu. rasa perih dan nikmat bercampur baur dalam desahan dan gelinjang tubuh mereka.

jilbab hot novita ningsih (12)

“Oh..oh…”hanya itu yang keluar dari mulut Bunga. Mata siswi berjilbab berparas lugu itu terlihat terbelalak seolah merasakan kenikmatan yang tiada tara. Malah kini siswi berjilbab itu juga ikut menggoyang-goyangkn pantatnya secara aktif. Melihat siswi cantik berjilbab itu sudah `in` Pak Roy makin bersemangat. Dia lalu berganti posisi. Pak Roy melepas penisnya lalu duduk berselonjor dan menaikkan tubuh gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu ke penisnya. Pak Roy ingin memberi siswi berjilbab itu kepuasan lebih dengan cara siswi berjilbab itu yang memegang kendli. siswi cantik berjilbab itu terlihat sudah sangat pasrah dan terhanyut birahinya. Dengan refleks siswi berjilbab berparas lugu itupun menggenggam penis Pak Roy sambil menurunkan tubuhnya yang sintal itu hingga benda perlahan-lahan itu amblas ke dalam memeknya. Jilbab putihnya turun menutupi buah dadanya yang sudah terbuka, namun pak Roy tidak peduli. Justru sang gadis semakin cantik, dengan jilbab yang masih ia pakai, merintih-rintih sambil mengikuti naluri hewaniahnya, menggenjot penis Pak Roy .

jilbab hot novita ningsih (11)

“aiihh…sakiit paak…” kata siswi cantik berjilbab itu merintih kesakitan sebentar kala penis Pak Roy makin dalam menyentuh liang siswi berjilbab itu. Tapi setelah berhenti sebentar siswi cantik berjilbab itu pelan-pelan mulai menaik turunkan tubuh gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu perlahan-lahan. Pak Roy memegangi kedua bongkahan pantat siswi cantik berjilbab itu yang padat berisi itu, secara bersamaan mereka mulai menggoyangkan tubuh mereka. Desahan mereka bercampur baur, tubuh Bunga tersentak-sentak tak terkendali, kepala siswi cantik berjilbab itu digelengkan kesana-kemari. Jilbabnya sudah basah oleh keringat ketiga orang itu.

Semakin lama, terlihat gadis berjilbab berbuah dada sekal itu semakin bernafsu. siswi berjilbab berparas lugu itu menggoyangkan pinggulnya semakin cepat diatas tubuh Pak Roy, bahkan siswi cantik berjilbab itu dengan kedua belah telapak tangannya meremasi payudaranya sendiri yang bergoyang-goyang.

Pak Guru berkopiah menonton adegan siswi berjilbab itu sambil mengelus-elus penisnya, dia ingin memncing adik kecilnya untuk `bangun`.

jilbab hot novita ningsih (13)

“Ayo…goyang sayaaanghh…oohh!” Pak Roy sepertinya ketagihan dengan goyangan gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu. Tangannya tetap meremas-remas dada Bunga, bahkan sesekali dicondongkannya wajahna untuk melumat payudara siswi berjilbab itu. Kontan siswi cantik berjilbab itu menjerit-jerit makin kuat. Jeritan siswi berjilbab berparas lugu itu membuat Pak Roy makin bernafsu begitu juga Pak Guru berkopiah, dia tidak tahan hanya menonton saja. Dia mendekat dan berdiri di sebelah gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu, penisnya mengacung di depan muka siswi berjilbab itu. Pak Guru berkopiah itu mengelus-elus pipi siswi cantik berjilbab itu yang putih mulus. “Emut Bungaa…ayo buka mulutnya!” sambil mengarahkan batangnya kemulut siswi berjilbab itu yang mendesah-desah. Dengan setengah memaksa Pak Guru berkopiah itu menjejalinya ke mulut siswi cantik berjilbab itu. siswi berjilbab berparas lugu itu yang tak punya pilihan lain langsung memasukkan penis itu kemulutnya. Siswi cantik berjilbab itu menyambut batangnya dengan kuluman dan jilatan. Seperti tak perduli pada bau sperma pada benda itu, lidah gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu terus menjelajah ke kepala penisnya dimana masih tersisa sedikit cairan itu, mungkin karena sudah sangat birahi, siswi berjilbab itu tidak merasa jijik. Malah siswi berjilbab berparas lugu itu mepakai ujung lidah siswi cantik berjilbab itu untuk menyeruput cairan yang tertinggal di lubang kencingnya. Hal itu membuat Pak Guru berkopiah blingsatan sambil meremas-remas kepala siswi berjilbab itu yang masih memakai jilbab putih. Bunga melakukannya sambil terus bergoyang di pangkuan Pak Roy.

jilbab hot novita ningsih (14)

“ah uh ah..ah..uh..auuhh…mmhh..”suara-suara itu membahana disudut sekolah itu, suara nista lenguhan dua orang guru yang sedang menggagahi siswiny ayang berjilbab. Sang siswi berjilbab bernama bunga juga akhirnya pasrah dan dipaksa menikmati persetubuhan nista itu. Aku masih terpaku disudut jendela kusam tempatku mengintip. Hpku sudah kugunakan dari tadi, merekam persetubuhan itu.

Dengan tetap bergoyang, siswi berjilbab berparas lugu itu juga mengisap-ngisap penis Pak Guru berkopiah makin keras. Tangan Pak Guru berkopiah merayap ke bawah menggerayangi payudara siswi cantik berjilbab itu. Dia sangat pandai meremas-remas titik sensitif gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu, sehingga siswi berjilbab itu dibuatnya terpekik-pekik penuh kenikmatan.

“auugghhh..oohhhmm…paaakkk…bungaaa….mauuu..mauuu…”, siswi cantik berjilbab itu meracau terpekik-pekik bahwa sebentar lagi dia orgasme.
“mmmhhh..tahan sayaaaangghhh…bapak juga sudah maauuu….” Pak Roy terus menggenjot dari bawah, ebrusaha segera meraih kenikmatan.

jilbab hot novita ningsih (16)
Sampai akhirnya dia meremas pantat Bunga erat-erat dan memberitahu siswi cantik berjilbab itu akan segera keluar, perasaan yang ditahan-tahan itu pun dicurahkan juga. “Aaaahhhhh….!!” jeritan panjang tertahan keluar dari mulut siswi berjilbab berparas lugu itu, kepala siswi berjilbab itu mendongak ke atas menatap langit sore. Mereka orgasme bersamaan dan Pak Roy menumpahkan sperma kentalnya di dalam vagina sempit siswi cantik berjilbab itu. Sperma yang tidak tertampung meleleh keluar di daerah selangakangan gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu.

Penis Pak Guru berkopiah yang sudah tegang benar dilepaskan lalu Bunga ambruk ke depan, ke dalam pelukan Pak Roy. Dia peluk tubuh siswi cantik berjilbab itu sambil penisnya tetap dalam vagina siswi berjilbab berparas lugu itu, mereka berdua basah kuyup keringat yang mengucur.

jilbab hot novita ningsih (17)

Pak Roy lalu melepas tubuh Bunga yang sangat lemas. Dia mengambil air minum kemasan miliknya di sudut lapangan untuk minum. Penisnya sudah tidak setegang yang tadi. siswi cantik berjilbab itu kini telentang terengah-engah kehabisan tenaga menghadap Pak Guru berkopiah yang sedang mendekat kearah gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu. siswi berjilbab itu menggeleng lemah ke Pak Guru berkopiah yang sudah bersiap-siap ingin mengagahi siswi cantik berjilbab itu. Ar matanya terlihat masih mengalir di pipinya. Tapi sepertinya air mata dan keadaan sang gadis berjilbab itu yang sudah sangat lemas tidak bisa menyurutkan birahi Pak Guru berkopiah itu yang sudah on fire. Pak Guru berkopiah mengambil handuk kecil kotor di sudut lapangan dan membersihkan vagina Bunga yang belepotan sperma. Usapan ujung handuk di vagina siswi berjilbab berparas lugu itu cukup membuat siswi berjilbab itu bergetar.

kemudian tubuh siswi cantik berjilbab itu oleh Pak Guru berkopiah dipaksa dibalikkan dalam posisi menungging lalu kembali menyibakkan rok gadis berjilbab ityu yang kembali turun menutupi paha dan betisnya. Dia menepuk-nepuk pantat gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu yang montok. Puas menepuk sekarang giliran lidah Pak Guru berkopiah yang merasakan kelembutan kulit pantat siswi berjilbab berparas lugu itu. Mulutnya dengan rakus menciumi pantat siswi berjilbab itu. Lidahnya menelusuri vagina Bunga dari atas kebawah. siswi berjilbab itu semakin menggelinjang ketika lidah Pak Guru berkopiah memjilati anus siswi cantik berjilbab itu. Pak Guru berkopiah tanpa perasaan jijik masih terus menjulurkan lidahnya ke anus siswi cantik berjilbab itu sehingga memberi siswi berjilbab berparas lugu itu terus menggelinjang.

jilbab hot novita ningsih (18)

Puas merasakan nikmatnya vagina dan anus gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu, dia kemudian meludahi bagian dubur siswi berjilbab itu beberapa kali. lalu digosok-gosokkan dengan jarinya ke daerah itu. siswi cantik berjilbab itu terlihat memejamkan mata pasrah. Bunga terlihat terkejut ketika Pak Guru berkopiah mulai menggesekkan penis hitamnya dibibir lubang anus siswi cantik berjilbab itu. siswi berjilbab berparas lugu itu kontan menarik pantat siswi berjilbab itu. Tapi Pak Guru berkopiah menarik gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu. siswi berjilbab itu terkejut dan mencoba berontak “Jangan pak…jangan di situ…. sakit” iba siswi cantik berjilbab itu. “Tahan dikit sayang, masih baru emang sakit, tapi ntar pasti enak kok” katanya dengan tenang. Pak Guru berkopiah itu perlahan-lahan mendorong penisnya masuk ke anus siswi berjilbab berparas lugu itu. Anus siswi berjilbab itu kontan mengerut. Pak Guru berkopiah itu terlihat kesulitan memasukkan penisnya kedalam dubur sempit Bunga. Siswi berjilbab itu merintih menahan rasa perih akibat tusukan benda tumpul pada dubur siswi cantik berjilbab itu yang lebih sempit dari vaginanya. Air mata gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu kembali meleleh keluar.

“Aduuhh… Sudah Pak… Bunga nggak tahan” rintih siswi berjilbab berparas lugu itu kesakitan. Tapi Pak Guru berkopiah itu tidak menghiraukannya. Dengan paksa terus dimasukkannya penisnya ke anus siswi berjilbab itu.

“Uuhh… Sempit banget nih anus kamu…” Pak Guru berkopiah itu mengomentari siswi berjilbab itu dengan wajah meringis menahan nikmat.

Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya mentok juga penisnya. Pekikan Bunga semakin keras. Pak Guru berkopiah itu mendiamkan sebentar penisnya disana untuk beradaptasi sekalian menikmati jepitannya. Kesempatan ini juga dipakai bunga untuk membiasakan diri dan mengambil nafas.

“Auhhh….sakit…” Siswi cantik berjilbab itu menjerit keras saat Pak Guru berkopiah itu mulai menghujamkan penisnya. Secara bertahap sodokannya bertambah kencang dan kasar sehingga tubuh Bunga pun ikut terhentak-hentak. gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu mengerang dan memekik keras merasakan perih. Tanpa menghiraukan siswi berjilbab berparas lugu itu dia tetap mengentot dubur siswi berjilbab itu. Untuk merangsang siswi cantik berjilbab itu, tangannya kedepan meraih kedua payudara siswi berjilbab itu yang bergoyang dan diremas-remasnya dengan lembut.

“pak..u..da..ah….Bunga..sa..kit” jerit gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu panjang. Keringat dan air mata siswi berjilbab itu terus bercucuran. Jeritan Bunga itu tampaknya justru membuat Pak Guru berkopiah itu makin bernafsu. Dengan keras dia sodok-sodokan penisnya dan payudara siswi berjilbab berparas lugu itu yang menggantung diremas-remas dengan brutal. Suara rintihan siswi cantik berjilbab itu saling beradu dengan lenguhan Lambat laun jerit kesakitan gadis SMA berjilbab itu berjurang, walaupun begitu air mata gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu tetap bercucuran. Siswi berjilbab itu mengaduh setiap kali Pak Guru berkopiah itu mengirim hentakan dan remasan keras, namun terkadang terlihat siswi berjilbab itu mengimbangi goyangan Pak Guru berkopiah. Terkadang Bunga harus menggigit bibir untuk meredam jeritannya.

Pelan-pelan terdengar pekikan kesakitan sang gadis berjilbab karena sodokkan penis Pak Guru berkopiah mulai berkurang, berganti dengan rintihan nikmat, apalagi waktu Pak Guru berkopiah itu menarik wajah siswi berjilbab berparas lugu itu dan memagut bibir siswi cantik berjilbab itu, diciumnya gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu dengan lembut. Sungguh suatu perpaduan keras-lembut yang fantastis, dia perlakukan anus dan dada siswi berjilbab itu dengan kasar, tapi di saat yang sama dia perlakukan mulut siswi cantik berjilbab itu dengan lembut.

jilbab hot novita ningsih (19)

Akhirnya setelah Pak Guru berkopiah semakin cepat menggoyang pinggulnya menggagahi anus siswi berjilbab itu, sang gadis berjilbab itu mengerang panjang dan mengejat-ngejat, siswi berjilbab itu mengalami orgasme panjang dengan cara kasar seperti ini, tubuh siswi berjilbab berparas lugu itu menegang beberapa saat lamanya hingga akhirnya lemas seperti tak bertulang. Pak Guru berkopiah sendiri menyusul siswi berjilbab itu tak lama kemudian, dia menggeram dan makin mempercepat genjotannya. Kemudian dengan nafas masih memburu dia mencabut penisnya dari gadis SMA berjilbab bertubuh putih mulus itu dan membalikkan tubuh siswi cantik berjilbab itu. Spermanya muncrat dengan derasnya dan berceceran di sekujur dada dan perut siswi berjilbab itu, mengenai BH dan seragam OSISnya.

Siswi berjilbab berparas lugu itu terlihat lemas sekali. Ia hanya terbaring pasrah di tikar lusuh. Bajunya sangat berantakan. Terdengar sisa isak tangisnya. Nafasnya masih menderu karena orgasme-orgasme yang ia alami. Pak Roy kembali merapikan bajunya, semntara Pak Guru berkopiah rekannya masih duduk beristirahat sambil mengocok-ngocok penisnya sendiri. beberapa saat kemudian dari arah aku datang (aku sudah bersembunyi di ruang gelap sebelah jalan yang penuh kursi-kursi rusak sehingga cukup aman) datang lagi seorang yang berjenggot dan juga memakai baju safari.

“wah, kalian mainnya kok ninggal-ninggal aku.” Kata Pak Guru berjenggot itu. Dia langsung membuka retsleting celananya dan mengeluarkan kontolnya yang terlihat berurat.. Segera ia mendekati lagi sang gadis berjilbab yang masih terbaring lemah.

“jangaaan…sudaaah….sakiiitt…” Bunga, gadis berjilbab bertubuh sekal itu kembali merintih namun tak bisa berbuat apa-apa ketika Pak Guru berjenggot itu kembali membentangkan kaki Bunga dan langsung menjejalkan penis berburatnya kedalam vagina yang masih berlumuran sperma milik siswi cantik berjilbab itu.. “eemmmhhh….” Bunga yang sudah sangat lemas hanya bisa mendesah ketika penis Pak Guru berjenggot itu melesak kedalam dan mulai digenjot pelan. Pak Guru berkopiah dan Pak Roy hanya tersenyum melihat birahi rekannya yang baru datang . Pak Guru berkopiah masih beristirahat sambil terus mengelus-elus kontol hitamnya, sementara pak Roy segera beranjak meninggalkan tempat itu. Aku segera mematikan rekamanku karena merasa cukup, dan mengikuti Pak Roy dari belakang, meninggalkan Bunga sang siswi berjilbab itu merintih-rintih karena memeknya kembali digenjot kontol untuk kesekian kalinya, jilbab putihnya yang sudah basah karena keringat masih terpakai rapi membungkus kepalanya.

BU ASMI

Pada suatu siang, aku sedang makan siang dis ebuah warung soto didepan sebuah SMA, masih di kota *****. Sekedar mengisi perut, juga sekalian mengintai mangsa, siapa tahu ada yang dapat di”petik”. Ketika aku selesai makan, terdengar bel sekolah itu, pertanda jam belajar di SMA itu sudah berakhir. Tak lama, mulai banyak siswa-siswi sekolah itu yang keluar dari gerbang.
“cewek-cewek sini cantik-cantik ya…” kata seorang tukang becak kepada dua orang rekannya yang kebetulan juga sedang makan di warung itu.

tante jilbab pns - dian (1)
“iyo, aku sering nganter mereka pulang, wah ayu-ayu tenan… montok-montok!” salah satu temannya menimpali.
“wah, aku jadi pengin ngrasain mereka.” Kata satu lagi tukang becak yang memakai topi.
“hush! Jangan gitu.. mereka itu orang baik-bak kok dibayangin kayak gitu..” kata tukang becak kedua.
“siapa bilang baik-baik mas…” kata bapak pemilik warung itu ikut nimbrung. Aku hanya duduk sambil mencuri dengar, pura-pura tidak tertarik.
“ada tukang becak temen kalian yang cerita sama saya, kalo dia pernah nganterin sepasang siswa siswi disini ke hotel dekat sini kok! Ngapa lagi sekolah disini ke hotel nek ora ameh dho kenthu!”
ketiga tukang becak tadi manggut-manggut mendengarnya.
“parahnya lagi, gurunya juga ada yang kayak gitu lho! Padahal pake jilbab. Jangankan cuma di hotel, lha itu kejadiannya disini je. Kenthu di warung ini!” kata pemilik warung.
“waaahh boong kalo ituu… gak mungkin!!” kata tukang becak itu yidak percaya.
“weeee… kok nggak percaya tho mas, pas itu sore, mau maghrib, sekitar dua bulan yang lalu, kan warungnya sudah saya tutp trus saya udah dirumah, nhaaaa pas itu saya mau ambil uang hasil warung yang ketinggalan di warung sini, lha, pas saya same kok saya liat didalem udah ada orang kenthu! Ternyata dua-duanya guru disini. Lha wong saya sudah apal guru disini kok!” kata pak pemilik warung itu. “nhaaa!! Tuh, yang cewek keluar tuh, yang suka kenthu!” kata pak pemilik warung sambil menunjuk ke sebuah sosok yang berjilbab, baru keluar dari gerbang.

tante jilbab pns - dian (3)

Aku turut memalingkan wajahku, melihat seorang ibu guru muda yang berwajah cantik, nampak santun dengan jilbab dan baju seragam batik dan rok panjang biru tua. Tubuhnya sekal dan pantatnya montok. “waaah.. kalo itu saya tahu, dia itu bu Asmi, guru disini! Rumahnya di perumahan ***** indah! Saya sering nganterin dia pulang! Wah, jadi dia binal juga tho! Tapi ya pantes… suaminya kan pelaut, jarang pulang…” kata pak becak yang pakai topi.
Pikiranku segera mengalahkan suara percakapan seru di warung itu. Aku segera mendapatkan sebuah ide untuk menikmati tubuh seorang guru berjilbab yang ternyata binal. Segera aku membayar makanku ketika melihat sang ibu guru berjilbab beranjak pergi bersama seorang temannya sesama guru. Aku segera tancap gas mengikuti ibu guru cantik itu.

tante jilbab pns - dian (10)

Dua pekan lebih setelah percakapan di warung itu, semua persiapan sudah matang. Aku sudah tahu kapan dia dirumah dan situasi rumahnya. Aku juga tahu hari apa saja pembantunya pergi keluar rumah. Lingkungannya yang sepi juga sudah kupastikan. Aku berencana akan mendapatkan kenikmatan jepitan memek guru muda cantik berjilbab itu dengan memerasnya, berpura-pura memiliki foto dari aibnya ketika melakukan hubungan badan dengan rekan gurunya di warung soto. Nama rekan gurunya, adalah Pak Roy, guru olah raga yang konon playboy.

Hari itu hari rabu sore, aku datang kerumahnya. Saat itu aku tahu adik perempuannya yang sekarang tinggal bersamanya biasany apergi pengajian se kompleks rumahnya, dan ibu Asmi yang montok berjilbab itu pulang pagi karena tidak ada jadwal mengajar. Aku memperkirakan tidak begitu sulit menikmati tubuh sang guru berjlbab semok ini karena memang sudah ada dasarnya kalau dia ini jarang dilayani kehidupan seksnya oleh suaminya yang pelaut.

Kupencet bel 2 kali, baru terdengar jawaban dari dalam. Bu Asmi sendiri yang membukakan pintu, memakai jilbab hijau muda panjang menutupi dada, dan daster putih bermotif bunga-bunga batik.

 tante jilbab pns - dian (2)

“permisi bu, saya Anto (tentu saja aku menyamarkan nama asliku). Ada perlu sebentar dengan bu Asmi.” Kataku mantap. “boleh saya masuk?”
“beliau dengan sedikit bingung mempersilahkan aku masuk, dan duduk di sofa diruang tamu. “ada perlu apa yah?” tanya bu Asmi. Pikiranku tidak langusng bisa merespon karena melihat tubuhnya yang sintal ada didepanku. Pahanya dan pantat wanita muda berjilbab semok itu samar-samar terlihat montok, ketika dia tadi berjalan kedalam rumah didepanku, karena dasternya yang tipis.
“begini bu… ini masalah pak Roy dan ibu…” kataku to the point. (gimana nggak, lha aku sudah horny berat)
Ibu guru yang cantik dan berjilbab itu langsung gelagapan. “ada…ada apa ya, dengan pak Roy?” tanyanya. Jelas berpura-pura.
“egini bu, saya tu punya gambar yang menampilkan ibu dan pak Roy.. itu lho, yang ada di warung soto. Nah, saya bingung, mau saya serahkan istrinya pak Roy, eh, pak Roy belum punya istri kan? Mau saya serahkan suami ibu, suami ibu ada di luar negri. Makanya saya kesini mau minta alamat surat suaminya ibu, agar bisa saya kirimi gambar ibu dan pak Roy…”
Bu Asmi yang cantik itu terperanjat mendengar kata2ku (yang kulebih2kan karena memang aku tidak punya gambar2nya). Dia langsung salah tingkah dan bingung. “jangan… jangan pak… jangan berikan ke suami saya… waktu itu kami berdua khilaf…” kata bu asmi . suaranya gemetar. Terlihat matanya mulai berkaca-kaca, membuatku semakin horny.
“wah, gimana yah bu, saya kan ingin jadi warga negara yang baik… atau…” kataku memancing.
“apa saja mas, saya berikan.. asal jangan serahkan gambar2 saya…” bu Asmi mengiba.
“ohh… gitu ya… apa ya… uang, saya punya banyak… kendaraan saya juga punya…” kataku pura-pura berfikir.
“apa aja pak… maafkan saya pak…” kata bu Asmi. Air mata mulai mengalir dipipi wanita alim berjilbab lebar itu.
“mmmm….” Aku pura-pura berpikir lagi. “ahaa!!” kataku seolah mendapat ide. Segera aku meraih tangan halus wanita alim berjilbab itu yang duduk tidak jauh dariku, dan aku tarik dia untuk duduk tepat disisiku.
Ibu guru alim ini berontak tapi tak mampu memberi perlawanan yang berarti melawan tenagaku yang kuat serta gertakan dan bentakan dariku. “ibu juga harus muasin aku, bikin aku ngecrot dengan tangan ibu.” Kataku sambil menaruh tangan halus wanita montok berjilbab itu tepat di kontolku diluar celana jeans, lalu kugerakkan naik turun mengelus batang kemaluanku yang sudah tegang.

tante jilbab pns - dian (8)
:jangaaan…” katanya lirih. Aku tetap memaksanya. “udah, nikmati aja… kamu udah lama ditinggal suamimu kan… pasti kamu rindu kontol kan? Dari pada gambarmu kusebarkan…” kataku sambil mengancam. Lama kelamaan, entah karena pasrah atau memang mulai terangsang, tangan halus ibu guru montok berjilbab itu mulai bergerak sendiri. Aku mendesah panjang keenakan.
“auuughh… coba dibuka sekalian retsleting celanaku bu… biar lebih enak…” kataku memerintahkan bu Asmi, dia menuruti lalu membuka retsleting celana jeansku dan dengan lembut mengeluarkan dan mengelus-elus kontolku. Desahan terdengar dari bibir indahnya. Kerinduan wanita alim berjilbab itu akan seks mulai bangkit. setelah kontolku terasa cukup tegak dan keras, aku raih kepalanya yang masih memakai jilbab, lalu dengan sedikit memaksa aku tekan kepalanya mendekat diatas batang kontolku. Wanita montok berjilbab ini memejamkan matanya ketika kontolku kutempelkan ke wajahnya dan kutepuk2kan ke pipinya yang halus.
“mulutnya dibuka bu.” Kataku. Batang kontolku sudah kutempel dan kugesek-gesekkan di bibirnya yang masih terkatup. Dia tidak segera mau membuka bibirnya. “ayo bu… daripada gambarnya tak sebarin…” kataku. Mendengar ancamanku, perlawanannya mengendur dan pelan-pelan ia membuka bibirnya, membiarkan kontolku masuk sedikit demi sedikit ke mulutnya. “aaahh.. ” desahku. Terasa hangat ketika rongga mulut ibu guru berjilbab itu penuh oleh kontolku. Kupegang kepalanya yang masih terbungkus jilbab putih, lalu pelan-pelan kugerakkan kepalanya naik turun, memompa kontolku. Lama-lama ibu guru muda montok berjilbab itu tanpa dorongan dariku menggerak-gerakkan kepalanya sendiri. “mmmhhh…” aku mengerang. Wanita berjilbab ini sepertinya sangat hebat dalam blow job. Selain mengulum dan memompa kontolku, kuperintahkan jua dia menjilatinya dan mengulum buah pelirku juga. Sensasi tersendiri kurasakan ketika melihat wanita cantik berjilbab ini menjilat-jilat kontolku dan mengemut-emut buah zakarku dengan wajah merah padam. Marah, malu, risih, takut, namun juga birahi, dan kerinduan akan kontol menyatu jadi satu, membuat wanita cantik berjilbab ini semakin cantik.
“auh.. uh.. uuh ..” aku terus merintih menahan kenikmatan semantara Bu Asmi sibuk dengan aktivitasnya
“ah .. mmhh.. Bu… ayooo bu… mau sampai buu…” rintihku karna aku merasa seperti mau meledak
Dia tak menjawab, malah semakin hebat menyedot kontolku. Tubuhku semakin mengejang dan tanpa bisa kubendung lagi, muncratlah cairan putih itu. Kepalaku langsung terangkat keatas, tubuhku terhempas di sandaran sofa. Tanganku kencang mencengkeram kepalanya yang masih terbungkus jilbab.

tante jilbab pns - dian (9)

Rasanya seperti sedang melayang, wanita cantik bertubuh seksi berjilbab itu menelan habis spermaku sementara aku masih terduduk kaku. Bu Asmi lalu mengangkat kepalanya. Tatapan matanya liar, namun seolah hendak ia kendalikan. Segera dia menjauh dari tubuhku dan kontolku yang masih berkedut-kedut, lalu meraih tissue dimeja dan mengelap bibirnya yang masih ada sisa spermaku.
“saya sudah melayanimu kan, sekarang tolong mas… berikan gambarnya…” kata Bu Asmi. Tubuhnya masih bergetar. Nafasnya masih memburu. Aku tahu wanita cantik montok ini masih ada dalam genggaman nafsu birahi, sementara kenikmatan yang kuraih itu bukanlah kuanggap sebagai final, namun baru pemanasan.

Secepat kilat aku mendekatinya yang terkejut dan berusaha menghindar, namun terlambat, ketika tanganku kembali mencengkeram bagian beakang jilbabnya.
“bu…” kataku penuh nafsu. “saya mau tubuh ibu…” kataku ditengah deru nafasku dan nafasnya yang menggebu.

tante jilbab pns - dian (7)

Setelah wajah kami berhadapan langsung aku menciuminya dengan kasar dan ganas penuh birahi. Dia yang awalnya menjerit-jerit akhirnya justru mendesah-desah ketika seluruh bagian wajahnya kujadikan sasaran ciuman. Bahkan sesaat kemudian wanita montok berjilbab ini membalas ciuman-ciumanku dengan tak kalah ganasnya. Aku segera menindih tubuh sintalnya yang masih terbalut jubah panjang putih diatas sofa. Kami berpelukan dan aku kembali mencium bu Asmi, lalu melumat bibirnya sementara tanganku bergerilya melepaskan kancing jubahny ayang berada dibagian belakang jubahnya satu demi satu. Setelah lepas semua, langsung kulepaskan jubah itu. Bu Asmi yang sudah pasrah dan terhanyut dalam nafsu birahinya, tdak memberikan perlawanan. Justru diantara nafasnya yang memburu, ibu guru muda montok berjilbab itu sempat mengangkat tubuhnya sedikit agar memudahkanku melolosi jubahnya. Segera jubah itu lepas sekalian celana dalam pink berenda yang ia pakai. Akhirnya didepanku tampak seorang ibu guru muda berjilbab bertubuh montok berbaring pasrah. Nafasny amemburu didera nafsu birahi. Tubuhnya yang sudah lama tidak disentuh lelaki menggelora. Aku meraih kontolku yang sudah kembali menegang dan mengocokny apelan. “aku akan segera menggenjotmu, ibu guru berjilbab yang cantikk..” kataku. Bu Asmi hanya memandangku dengan tatapannya yang marah namun bercamur birahi. Ia menggigiti bibir bawahnya seakan menahan nafsunya agar tidak terlepas. Jilbab dan BH hitam yang masih belum kulepas membuatnya semakin erotis, ditambah gerakan-gerakan tubuhnya yang seakan menahan derai birahi.

tante jilbab pns - dian (6)

Asmi merintih minta ampun ketika aku melumat telinganya dari luar jilbab yang masih ia kenakan. Tak lama, aku mengarahkan kepala ku kebawah yaitu payudaranya, aku segera melepas BH nya dan mulai meremas-remas dadanya, sekali-sekali aku puntir putingnya sehingga ia melenguh panjang. “maaasshhh… udaaaaahhh….heeeeghhh… akuu nggaak tahaaaaan…” wanita berjilbab itu mulai meracau jalang. Aku semakin diatas angin. Puas meraba aku lalu menyapu seluruh dadanya dengan lidahku dan menyedot ujung putingnya sambil digigit-gigit sedikit. Hasilnya hebat sekali Asmi bergoyang sambil meracau binal. “aiiiihhh….emmmmhhh!!! udaaaah… maaasss… “. Setelah itu kepalaku turun hingga berhadapan dengan memeknya, wangi yang baru pernah kucium itu membuatku bertambah panas sehingga kujilati semua permukaan memeknya yang sudah banjir itu. Gadis alim berjilbab bertubuh semok itu semakin kelojotan tidak karuan. pahanya dibukalebar sehingga memudahkan aku menjilat dan memasukkan lidahku kedalam memeknya dan menggigit-gigit bagian daging yang merah jambu. Sehingga tubuh Asmi semakin mengejang hebat
“sshh.. aahh.. teruuussss maaassss…aaahhh…ampuuunnn…”

Sekitar lima menit kusapu memeknya, aku melepaskan memeknya dan kembali keatas mengulum bibirnya. Tubuhku menindih tubuh sintal ibu guru muda berjilbab itu. Pahanya sudah mengangkang. Memeknya terlihat haus akan kontol. Aku membuka celanaku lalu meraih kontolku dan kugesek-gesekkan di memek nikmat ibu guru montok berjilbab itu.
“masukkan ya bu…” kataku.
“iyaaaah…masukiiin…ibu dah gak tahaaaaannn…” dengan terengah-engah ibu guru muda itu menggerak-gerakkan pinggulnya seolah tak sabar menerima kontolku. Pelan-pelan kudorong kontolku menerobos goa miliknya yang masih sempit karena jarang sekali digunakan oleh suaminya yang jarang pulang.
“auuuhhh…aiiihhh…enaaak… gateeelll…enaaaakk..” wanita muda berjilbab itu meracau dan merintih jalang ketika kontolku mulai memompa memeknya yang sempit.
Aku merasakan kenikmatan yang kebih hebat dibandingkan saat dimasukkan kemulutnya.
“slep.. slep..slep.. slep..slep.. slep..slep..” kuputar-putar didalam sambil mengikuti goyangan pantat Asmi. sambil kupompa bibir kami terus berperang dan tanganku meraba dan meremas payudaranya dan sekali kali memuntir putingnya.
“uh..ah..mm..ssh..terus masshh..mmh” desah wanita berjilbab yang menjadi binal itu sambil meremas pantatku. Kontolku terasa semakin menegang. Tak terasa sudah dua puluh menit kami “bergoyang”. Bu Asmi sudah beberapa kali orgasme, karena kurasakan beberapa kali memek sempitnya berdenyut keras mencengkeram kontolku. Cairan kemaluannya sudah mengalir deras membasahi sofa. Wanita berjilbab ini terlihat menggelepar-gelepar, kewalahan menghadapi stamina kudaku.
“ooh ..mmh.. ah udah gak kuat.. udaahh maassss mmh ..enaakkhh..” rintih Asmi terpejam.
Akupun semakin memperdalam tusukanku dan mempercepat tempo karena juga merasakan sesuatu yang akan keluar.

tante jilbab pns - dian (5)
“sshh..aarrgghh” jeritnya sambil mencengkram punggungku,
“aahh..aahh” desahku pada saat yang bersamaan sambil mulutku menyedot kedua puting susunya kuat-kuat secara bergantian.
Air maniku muncrat bertepatan dengan air hangat yang kembali keluar mengguyur kontolku didalam memeknya. Ternyata bersamaan dengan orgasmeku, Bu Asmi sang Ibu Guru muda berjilbab bertubuh montok itu menikmati puncak orgasme sampai betul-betul habis. Setelah mengambil nafas beberapa saat, baru aku mencabut kontolku dan segera mengenakan kembali celanaku, membiarkan bu Asmi itu lemas terlentang di sofa.

“berikan gambarnya.” Kata bu Asmi lirih, ketika dia sudah mendapatkan sedikit tenaga. Ia sudah kembali duduk di sofa. Jubahnya belum ia kenakan, hanya ia gunakan untuk menutup tubuh bawahnya. Tubuh bagian atasnya ia tutup memakai jilbab panjangnya.
“gambar apa?” kataku tersenyum menang. Wanita cantik berjilbab itu kaget.
“aku hanya tau kalau ibu sudah pernah melakukan hubungan sama pak Roy dari informasi dari orang yang melihat ibu. Saya tidak punya gambar apa-apa tentang itu.” Kataku lagi.
Sebelum ibu Asmi mulai marah, aku segera mengeluarkan kartu As yang baru saja kubuat.
“tapi bu… saya tadi berhasil merekam secara sembunyi2 kegiatan kita…” ibu Asmi kembali kaget mendengar aku mengeluarkan kartu baru. “jangan lagi…” bisiknya sambil menangis.
“tidak apa-apa bu… saya tidak meminta banyak…” aku senang dengan keadaan ini. Aku sudah menang besar.
“Saya hanya minta ibu tidak melaporkan kepada siapa-siapa tentang apa yang terjadi barusan, dan…” aku kembali tersenyum senang.
“jika saya kangen, saya ingin menikmati remasan memek ibu lagi…” kataku. Bu asmi terdiam. Ia terisak.

tante jilbab pns - dian (4)
“bagaimana bu?” ia beberapa saat tidak menyahut, namun kemudian dia mengangguk. Aku tesenyum.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku pergi dari rumah sepi itu, senang karena telah mendapatkan satu lagi budak seks.