MIA 4

yessi eci - jilbab semok (1)

Sekarang Fanny sudah masuk sekolah. Memang sih dia baru play group, tapi selama dianya senang… aku dan Mas Tino nggak masalah. Selain di rumah sudah nggak ada pembantu, tugasku semakin banyak dengan mengantar-jemput Fanny ke sekolahnya… belum lagi harus melayani Mas Tino (dan juga ‘suami-suami’ku yang lain). Pokoknya mulai saat ini, aku sibuk sekali.

Sudah dua hari ini, aku harus menjemput Fanny dengan menggunakan taksi. Mobilku lagi ada di bengkel, tapi nggak apa-apa. Sewaktu sedang menunggu Fanny keluar sekolah, aku melihat-lihat sekeliling… halaman sekolah dipenuhi ibu-ibu muda yang juga sedang menunggu anak-anaknya. Tapi aku males banget bila harus bersosialisasi dengan mereka. Aku terus melihat-lihat, sampai akhirnya pandanganku tertumbuk pada seorang pria, yang keberadaannya sangat aneh sekali. Maksudku, kebanyakan yang ada di sini adalah ibu-ibu. Kenapa ada bapak-bapak disini?
Yaaa…. Kalau diperhatiin, bapak yang satu ini sih cukup masuk dalam kriteriaku. Tinggi, putih dan mmhh… ganteng juga J Sedang asik-asiknya ngeliatin si bapak itu, tiba-tiba bel sekolah berbunyi. Waahhh…. Sebentar lagi, halaman ini akan dipenuhi anak-anak kecil yang berlarian mencari ibunya. Berarti aku harus siap-siap….

Benar saja, tak lama kemudian, halaman ini penuh dan berisik sekali. Aku mendongakkan kepalaku untuk mencari Fanny. Tapi nggak lama… Fanny datang menghampiriku. Dia berlari ke arahku… “Mami…” teriaknya lucu. Dia berdua dengan temannya, anak laki-laki kecil yang lucu banget tampangnya.
“Halo sayang…” kataku, “ini siapa?”
“Namanya Haikal, mami!” jawab Fanny, “Haikal ini teman aku”
“Halo Haikal… kamu nunggu mami kamu juga ya?” tanyaku pada Haikal.
“Nggak tante… aku nunggu Ayah. Soalnya mami lagi pergi… 1 minggu!” katanya tegas tapi lucu, sambil mengacungkan 1 jarinya.
“Ooo… Ayahnya sudah datang?” tanyaku lagi.
“Sudah… itu” jawab Haikal sambil menunjuk sosok pria yang sedang setengah berlari menghampiri kami. Ternyata, cowok ganteng yang dari tadi aku liatin adalah Ayahnya Haikal.

“Halo… ibunya Fanny ya?” katanya membuka pembicaraan.
“Oo.. tahu Fanny ya?” kataku.
“Iya… Haikal sering cerita tentang Fanny. Rupanya mereka teman akrab!” katanya lagi, “O iya… namanya siapa?” tanya ayah Haikal, “Saya Fachri!” sahutnya.
“Eh… mmhh… Mia!” jawabku.
“Mia sama Fanny mau langsung pulang?” tanya Fachri.
“Mmmh… iya sih. Kenapa memangnya?” jawabku.
“Nggak papa. Cuma mau ngajak makan siang bareng aja. Gimana? Mau ikut?”
“Terserah Fanny… kalau dia mau, aku sih ikut aja!” jawabku.
Lalu Fachri bertanya ke Fanny, “Fanny mau ikut Om makan dulu nggak. Sama Haikal?”
“Mau.. tapi mami ikut!” jawab Fanny lucu.
Tanpa banyak bicara lagi, akhirnya kami berempat (dengan menggunakan mobil Fachri) meluncur ke arah Kemang untuk makan siang.
Sambil makan, Fachri bercerita banyak tentang kehidupan rumah tangganya. Menurutku, keluarga Fachri termasuk keluarga harmonis, walaupun pekerjaan istrinya banyak menyita waktu, namun pada dasarnya, mereka cukup harmonis.
Yaa… aku mencoba membandingkannya dengan keluargaku sendiri, walaupun Tino sibuk dengan pekerjaannya (dan aku sibuk dengan orang-orang yang mengerjai), pada dasarnya, kami pun cukup harmonis (selama Tino tidak tahu dengan ulah istrinya ini J). Cukup lama juga kami di Kemang, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Fachri mengantarkan aku dan Fanny sampai di rumah. Setelah ngobrol sebentar dan tukeran no telf (rumah dan hp), Fachri dan Haikal pun pulang.

Sekitar jam 9 malam, suamiku sampai dirumah. Saat itu, aku sedang membaca novel yang baru aku beli kemarin. Setelah selesai mandi, suamiku langsung berbaring di tempat tidur.
“Kamu nggak makan, mas?” tanyaku.

yessi eci - jilbab semok (5)
“Mmh… tadi sudah. Aku sama Andre makan di kantor. Aduh… Mi… pekerjaanku makin lama makin menumpuk. Btw, besok aku lembur dan paginya aku harus langsung ke Menado.” Kata suamiku.
“Loh? Terus kalo besok lembur, malamnya kamu pulang?” tanyaku lagi.
“Enaknya sih aku nginap di kantor ya…. Ya udah deh, kamu tolong siapin baju-bajuku aja ya…”
“Berapa lama di Manado, mas?”
“Kurang lebih 1 minggu….!”
Wow… lama sekali, pikirku. Berarti kesempatanku untuk berpetualang, di mulai lagi. Tapi sama siapa ya? Alex… Sekarang dia tinggal di Semarang ; Andre… dia pergi ke Manado ; Vito… mmh.. suasana hubunganku dengan dia lagi nggak enak… yaahh… liat aja deh besok-besok.

Keesokan harinya, Tino berangkat sekitar jam 5 pagi… ke kantor, lembur & menginap di kantor dan esoknya langsung ke Menado. Setelah Tino berangkat, akupun langsung menyiapkan baju dan sarapan untuk Fanny yang mau berangkat sekolah. Sekitar jam 6an, hp ku berbunyi… ternyata Fachri.

yessi eci - horny jilbaber montok (5)
“Pagi Mia…” kata suara ramah di seberang sana.
“Pagi Fachri… kok telfonnya pagi bener?”
“Mmh… nggak papa kan?”
“Ya.. nggak papa sih… Cuma heran aja, kok pagi-pagi telfon. Gimana Haikal, dah siap berangkat sekolah belum?”
“Sudah sih.. karena nggak ada ibunya, makanya aku bangun pagi-pagi untuk nyiapin semuanya… uuhh… capek juga ya?”
“Waahh… contoh ayah teladan! Sekarang lagi ngapain?”
“Siapa? Haikal apa aku?”
“Kamu!”
“Oo… lagi ganti baju.. mau nganterin Ikal. Kamu sendiri?”
“Aku juga lagi ganti baju… habis mandi! Sekarang lagi pake celana dalam! Kenapa emangnya? Mau bantuin?”
“Bantuin apa? Bantuin kamu pake cd? Mmmhh…. Mau banget!” Kata Fachri sembari tertawa kecil.
“Uuu… maunya!!”
“Eh… Mi… nanti mau bareng nganter Fanny ke sekolahan nggak? Kalo mau, nanti aku mampir dulu ke situ. Gimana?”
“Ya udah… lagian mobilku juga belum selesai servis. Masih di bengkel. Jam berapa mau dateng?”

“Mmhh… kalo kamu masih bertahan pake cd aja, aku pasti cepet datengnya!” goda Fachri.
“Dasar kamu tuh… pagi-pagi udah iseng…”
“Ya udah… gimana? Masih bertahan nggak?”
“Ntar dulu deh… perjalananmu ke sini kan kurang lebih ½ jam… kalo’ kamu bisa sampai disini dalam 20 menit, pas buka pintu, aku pasti masih pake kimono mandi. Gimana?”
“Tapi pake cd?”
“Ya… iyalah….”
“Mmmhh… gak usah deh…!”
“Terus aku bugil?”
“Iya!”
“Topless aja ya….”
“Mmmhhh…. Ok!”
“20 menit ya….!!!”
“OK!”
Sambil senyum-senyum, akupun memutuskan hubungan telfon dengan Fachri. Dalam hati aku berkata. ‘Thanks God… akhirnya bisa ngewe juga. Sama cowok Arab lagi… Wah, enak banget kali ya, pagi-pagi di genjot kontol Arab?! Beruntung banget sih kamu…!’ sambil mengelus memekku sendiri.

Setelah itu, aku membantu Fanny ganti baju hanya dengan memakai g-string tipis tembus pandangku yang berwarna senada dengan kulit tubuhku. Sementara diatas, aku membiarkan toket besarku yang indah ini menggantung bebas. Tentu saja Fanny bertanya dengan heran…
“Kok mami belum pakai baju…. Kan sebentar lagi aku berangkat sekolah…”
“Iya… iya… tapi nanti kita dijemput sama Om Fachri. Nanti Om Fachri ke sini dulu! Nyamper kita”
“Sama Haikal?”
“Ya… iya… sama Haikal. Kan mau sekolah juga”

yessi eci - jilbab semok (4)
“Tapi mami kok belum pakai baju? Nanti kalau Om Fachri dateng, gimana? Emang mami nggak malu, ininya keliatan?” Kata Fanny sambil memegang toketku.
Aku mau menjelaskan ke Fanny soal perjanjianku dengan Fachri, tapi daripada sudah berpanjang lebar Fannynya nggak ngerti juga, akhirnya aku jawab aja sekenanya..
“Mami belum pakai baju, soalnya mami nanti mungkin mau di pakai sama Om Fachri.”
“Di pakai gimana?”
“Ya… memeknya mami mau dipakai sama kontolnya Om Fachri…”
“Oo… mau gituan dulu ya…”
“Gituan apa?”
“Ya.. yang kayak waktu sama Om Vito, sama Om Alex itu maam….” Kata Fanny lucu.
“Ooo… iya… kayak gitu. Tapi jangan bilang-bilang ke Om Fachri soal Om Vito, Om Alex, Om Andre…. Ya? Soalnya Om Fachri kan ada keturunan Arabnya. Kata Tante Keke, orang Arab kontolnya gede-gede. Mami mau nyobain. Makanya jangan cerita2 soal papi-papi mu yang lain itu ya?”
“Iya!” sahut Fanny, “tapi nanti aku sama Haikal ngapain?”
“Ya… kamu sama Haikal ngeliat mami aja!”
“Nggak boleh ikut gituan juga?”

Aku tertawa mendengar perkataan Fanny, “Ya nggak boleh… besok kalo Fanny sudah besar, Fanny boleh deh begituan!”
“Kalo gituan, namanya apa sih mam?”
“Mmhh… namanya banyak. Ada yang bilang ngewe, ngentot, ML…. pokoknya banyak deh…!”
Kami terus ngobrol sampai akhirnya aku mendengar pintu pagar ada yang membuka. Aku tahu itu Fachri… spontan aku lihat jam… wow… Cuma 15 menit lebih sedikit. Sambil berjalan ke depan, aku berfikir akan memberikan Fachri bonus. Sebelum membuka pintu, aku melepas kain peradaban terakhir yang menutupi memek sempitku ini dan melemparnya asal ke arah sofa. Sambil mengenakan kimono mandi dan jilbab, aku membukakan pintu.
“Kok cepet datengnya?” tanyaku ke Fachri sambil menggandeng tangannya.
“Gimana nggak cepet? Orang ditawarin ngeliat toket… pagi2 lagi!”
“Diih… siapa yang bilang mau ngeliatin toket?” tanyaku genit.
“Ooo… nggak mau nepatin janji?”
“Kan aku bilang, kalo’ kamu datengnya cepet, aku masih pake kimono tapi nggak pake BH… gitu doang kok…”
“Yaahh… terus aku nggak boleh liat?” tanya Fachri sedikit kecewa.
“Emangnya kalo sudah liat, mau diapain?”
“Toketmu?”
“Iyalah…”
“Mau aku remes2!!!”
Nggak boleh…” kataku sambil berlari kecil setelah sebelumnya meremas batangan pria keturunan Arab ini.
Merasa barangnya diremas tanpa izin, Fachri langsung lari mengejarku.

“Aaachh… jangan! Tolong!” teriakku sambil tertawa, ketika Fachri berhasil menangkapku. Lalu aku dipeluknya dari belakang. Aku pura2 meronta-ronta. Tapi tanganku aku lingkarkan ke belakang lehernya. Dan dengan begitu, aku memasrahkan tangannya yang kekar berbulu itu, merangsak masuk ke balik kimonoku dan meremas dengan lembut kedua toketku ini.

Tidak lama setelah itu, Fachri berhasil melepas kimonoku dan jilbabku. Dan dia terkejut sekali melihatku bugil.
“Wow… kok kamu nggak pakai celana dalam?” tanyanya.
“Bonus!” jawabku singkat.
“Bonus apa?” tanyanya lagi.
“Bonus karena kamu sampai disini kurang dari 20 menit!”
“Mmh… kalo’ tadi aku sampainya Cuma 10 menit, bonusnya apa?”
“Aku suruh Fanny yang buka pintu.”
“Lho? Terus kamunya?”
“Bugil sambil ngangkang di tempat tidur.”
“Waah… kamu nggak bilang sih tadi. Kalo’ tau gitu kan, aku ngebut aja kesininya!” kata Fachri dengan nada kecewa.
“Tapi nggak papa kok. Biarpun kamu nggak 10 menit sampai sini, aku tetep mau kok kamu suruh ngangkang.”
“Kenapa emangnya?”
“Aku pingin ngerasain kontol Arab!”
“Dasar kamu!!!!!”

yessi eci - jilbab semok (3)

Kemudian, Fachri mulai menciumi bibirku. Dan aku dibopong ke arah sofa. Setelah sampai di sofa, Fachri duduk dan mulai melucuti sendiri celananya. Ternyata tubuh Fachri tuh bagus banget. Tegap, dadanya berbulu daaannn… kontolnya gede banget! Padahal itu aja baru setengah bangun. Sebelum mulai mengisap kontolnya, aku menyuruh Fanny menutup pintu depan yang masih terbuka.
Setelah Fanny menutup pintu, dia dan Haikal duduk di dekat ku dan Fachri.
“Mi…” kata Fachri, “anak2 gimana nih?”
“Gimana apanya?”
“Mereka disini ngeliatin kita.”
“Nggak papa… biar ngerti” kataku asal.
Fachri hanya senyum-senyum saja mendengar jawabanku. Sementara aku melanjutkan ‘kerjaanku’. Menikmati kontol arab satu ini sambil menggosok kelentitku sendiri.

Setelah selesai dengan kontolnya, aku berdiri di sofa dan membungkam mulut Fachri dengan memekku. Lidahnya mulai menari-nari diantara belahan memekku, dia menghisap dan menjilati kelentitku, sambil memainkan jarinya didalam lubang itilku. Cairan pelumasku keluar banyak sekali, sehingga memekku banjir. Menyikapi hal ini, Fachri segera membibimbing tubuhku untuk duduk di pangkuannya. Perlahan-lahan, batangan kerasnya mulai memasuki liang sempit yang seharusnya milik suamiku. Aku mulai mengoyang pinggulku untuk perlahan membiasakan diri dengan barang baru ini. Tapi, nafsuku tak bisa ku bendung lagi. Aku makin mempercepat gerakanku. Pada saat yang bersamaan, Fachri meremas kedua belah pantatku sambil menusukkan batangan kerasnya itu bertubi-tubi. Eranganku makin keras ketika bapak ini menghujamkan kontolnya kedalam memekku dan mendiamkannya saja disana, bukan apa-apa… semua urat yang mengeras didalam penisnya berdenyut dengan kencang sekali. Memekku merasakan sensasi yang belum pernah dirasakannya sama sekali.
“Ssshhh… Yang… kok berhenti?” tanyaku.
“Mmmhh… enak kan tapinya?”
“Iya…. Oohh….! Yang… aku basah banget ya….???”
“Nggak papa…. Kamu dah mau dapet belum?”
“Kayaknya… sshhh… dikit lagi… kenapa?”

Tapi Fachri tidak menjawab. Dia malah dengan tiba2 kembali menghujamkan batangannya itu. Kontan saja aku berteriak keenakkan… Aku tak tahu berapa lama Fachri menggenjot memekku, tapi yang jelas entah kenapa orgasmeku cepat sekali datangnya.
“Yang… uuuhhh… aku mau keluar….!!!”
Benar saja, tak lama setelah itu aku merasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat sekali. Tapi Fachri tetap tidak berhenti. Dia terus menggenjot memekku dari bawah. Makin keras hujamannya, makin kencang aku memeluk tubuh bapak ini. Wajah ganteng Fachri makin lama makin terbenam ke dalam kedua belah buah dadaku.

Kemudian, Fachri menghentikan serangannya sebentar untuk berdiri dan menggendongku. Sambil berjalan, Fachri mengangkat tubuhku dengan topangan tangannya di kedua belah pantatku, sementara aku mencoba untuk tetap memanjakan kontolnya dengan membuat gerakan naik turun. Tapi dia tidak jauh membawaku. Dia membaringkan aku di sofa tempat Fanny dan Haikal duduk.

“Ical minggir dulu… Ayah lagi sibuk main kuda-kudaan sama tante Mia!” perintah Fachri kepada Haikal.
“Fanny juga minggir dulu ya…” kataku pada Fanny, “Kamu sama Haikal duduk di bawah aja dulu ya…”
Lalu mereka pindah tempat ke lantai sambil tetap menyaksikan pertarungan alat kelamin milik ayah dan maminya.
Dengan posisi terlentang seperti ini, tentu saja memekku makin terlihat merekah. Ditambah dengan kedua kakiku yang aku buka lebar-lebar untuk memudahkan Fachri memasukkan kontolnya. Sambil mengocok batangannya sendiri, Fachri tersenyum dan berkata…
“Sumpah, Mi… memekmu enak bener!”
“Aahh.. kamu tuh… bisa aja! Kontolmu juga enak kok! Ayo… masukkin lagi… !”
Lalu Fachri kembali memasukkan kontol arabnya ke dalam memek lokalku. Sumpah… pergesekkan perlahan yang dibuat kontol Fachri kepada liang memekku, membawa sensasi kenikmatan yang cukup membuat nafsuku kembali memuncak. Sambil memegang kedua kakiku, Fachri kembali membuat penetrasi yang sangat hebat sekali. Mulai dari gerakan maju mundur perlahan sampai gerakan yang cepat sekali. Tiba-tiba, Fachri kembali menusuk dengan kencang memekku dan kembali diam tak bergerak. Sialan… rupanya ini jurus andalannya. Orgasmeku kembali terasa lagi ingin datang untuk yang kedua kalinya.
“Ooohh… ssshhh…. Kamu hebat banget ssiihh…. Aku mau dapet lagi!” desahku.
Tapi Fachri tetap tidak menjawab, dia malah membuat gerakan menusuk yang simultan namun gerakannya pendek-pendek, sehingga serasa seperti memompa orgasmeku. Tak lama kemudian, erangan dan desahan kenikmatanku kembali terdengar. Aku dapet lagi… Ketika kenikmatan ini sampai pada puncaknya, tiba-tiba Fachri menusukkan dalam-dalam kontolnya. Lalu terasa ada cairan yang mengalir didalam liang memekku. Lengket, kental dan kayaknya banyak sekali.

yessi eci - jilbab semok (3)

Setelah semua pejunya ditumpahkan kedalam memekku, Fachri mengeluarkan kontolnya dan menyuruhku menghisapnya. Dia duduk bersandar kelelahan di sofa, sementara kakinya dia buka lebar-lebar. Wow… kontol yang masih menegang itu terlihat mengkilat karena basah oleh cairan kenikmatan kami berdua. Langsung aku duduk di bawahnya dan mengocok batang besar itu sambil menghisap dan menjilatinya… sampai bersih. Setelah itu kami ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kami. Sambil masih telanjang bulat, kami kembali ke ruang tamu untuk bergabung dengan kedua anak kami.
“Fan…” kataku pada Fanny, “hari ini kamu nggak usah masuk sekolah dulu ya?”
“Kenapa?” tanya Fanny.
“Om Fachri sama mami mau ngewe seharian…!”
“Mi… emang Fanny tau ngewe? Kok kamu ngomongnya gitu…?” tanya Fachri bingung.
“Sayang… Fanny udah pernah aku kasih tahu soal apa itu ngewe, ngentot, ML…. tinggal pilih!
“Oo….! Berarti seharian kita ngentot nih?” tanya Fachri lagi.
“Terserah kamu…” jawabku, “Kalo aku sih maunya gitu!”
“OK!”
“Berarti… hari ini kita… telanjang bulat!” kataku pada Fanny.
“Haikal juga telanjang, mam?” tanya Fanny.
“Tanyanya sama Om Fachri dong, Fan!” lalu aku bertanya pada Fachri, “Gimana yang… anakmu kita telanjangi juga nggak?”
“Ya sudah….”

Akhirnya seharian itu kami berempat telanjang bulat di rumahku. Aku, Fachri, Fanny dan Haikal. Betapa lucunya Fanny ketika ia membandingkan kontol Fachri dengan batangan imut milik Haikal.
“Kok punya Om Fachri gede banget mam?” tanya Fanny.
“Soalnya supaya muat di memeknya mami!” Jawabku singkat.
“Tante…” kata Haikal, “memek apaan sih?”
Tapi yang menjawab ayahnya sendiri. Sambil mengelus memekku, Fachri berkata…
“Ini yang namanya memek, Cal! Memeknya Tante Mia enak banget deh… coba kamu cium memeknya Tante Mia, pasti wangi banget baunya!”
Mendengar hal ini, aku segera menyodorkan memekku pada Haikal, “Cium Cal!” Lalu anak kecil ini mencium memekku. Belum selesai Haikal menciumi memekku, Fachri menyuruh anak laki-lakinya itu menjilat memekku. Jilatan Haikal memang nggak berpengaruh banyak, tapi geli2nya cukup bikin kaget juga, maklum… lidahnya anak kecil! Lalu aku juga menyuruh Fanny mengocok kontol Fachri dan mengajarkan untuk mengulumnya. Fachri tertawa kecil ketika ia melirikku… “Eksperimen nih?” Aku menjawab dengan mengecup bibirnya. “Sekali2 gak papa kan? Mumpung ada moment…” kataku.

yessi eci - jilbab semok (2)

Sekitar jam ½ 12 siang, HP Fachri berbunyi. Rupanya istrinya menelfon menanyakan kabarnya dan Haikal. Setelah selesai, Fachri menutup telfonnya. Saat itu, ia sedang memangku Fanny di sofa sambil mengelus-elus memek mungilnya. Fanny hanya diam walaupun kadang2 seperti kegelian. Sementara aku memangku Haikal sambil memainkan kontol kecilnya. Setelah tegang, aku mengocok kontol kecil itu dengan dua jariku. Tapi itu nggak lama, soalnya sekarang jam makan siang. Fachri mengajak aku untuk makan. Sekitar jam ½ 2, Fanny dan Haikal tidur siang berdua di kamarnya Fanny, sambil masih tetap telanjang bulat. Aku dan Fachri berdiri didepan pintu kamar sambil memperhatikan mereka. Fachri memeluk tubuhku dari belakang sambil tangan kanannya meremas toketku dan tangan kirinya mengelus memekku. Sementara tangan kiriku aku lingkarkan ke belakang lehernya dan tangan kananku menyelinap untuk menggenggam dan meremas kontolnya.
“Mi… hari ini aku seneng banget!” kata Fachri.
“Kenapa?”
“Bisa nyobain memekmu! Kamu?”
“Aku apalagi! Bisa nyobain kontol arab. Yang gede dan yang kecil”
Aku dan Fachri tertawa kecil.
“Sekarang kita ngapain?” tanya Fachri.
“Terserah!” jawabku, “ngapain aja aku mau… yang penting enak!”
“Yang enak yaa….”
“NGEWE!” potongku sambil meremas batang besar Fachri.
“Astaghfirullah!!!” sahut Fahri terkejut…
“Kenapa?”
“Kaget aku!” Sahutnya lagi, “Mi… aku mau tanya boleh nggak?”
“Apa sayang?” kataku sambil memutarkan tubuhku untuk berhadapan dengan Fachri sambil melingkarkan tanganku ke belakang lehernya.
“Kamu seneng banget ngentot ya?” tanyanya lagi.
“Mmhh… kalo iya kenapa?”
“Gak papa… Cuma heran aja!”
“Heran kenapa?”
“Mmmhh… aku tahu, aku pasti bukan laki-laki satu-satunya yang kamu jadikan petualanganmu. Iya kan?”
“Iya… terus?”
“Mmhh… suamimu tahu gak sih?”
“Ya … nggak lah.. kenapa emangnya?”
“Gak papa… Cuma pengen tahu aja reaksi suamimu kalo misalnya tiba2 pas dia pulang kantor, ada aku atau siapa lah… yang jelas-jelas habis ngacak-ngacak memek istrinya.”
“Mmhh.. aku nggak tahu gimana reaksinya. Tapi…. Boleh dicoba juga tuh kapan2! Gimana? Kamu mau nyoba nggak?”
“Itu maksudku dari tadi…” sahut Fachri, “Lucu kali ya….??”

yessi eci - jilbab semok (1)

Kami berdua lalu pergi ke ruang tamu sambil masih ngobrolin tentang berbagai spekulasi soal eksperimen tadi. Kami terus ngobrol sambil terus bercumbu, tanpa terasa sudah magrib. Sambil masih telanjang bulat, kami lalu menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, sementara dari arah kamar Fanny, aku mendengar dua anak itu sudah bangun dan mencari ayah dan maminya.

Fachri menginap malam itu. Kami mengisi malam ini dengan berfoto berempat (sambil telanjang bulat tentu saja). Kebetulan, aku punya cam digital dan handycam. Fachri memotret aku dengan berbagai macam cara dan gaya. Sampai akhirnya, dia menyuruh aku menghisap titit Haikal, sementara dia dengan senangnya merekam adegan itu dengan handycam. Sebagai gantinya, aku menyuruh dia menjilati memek mungil Fanny. Setelah selesai, kami menontonnya di TV. Fachri tertawa geli sekali ketika melihat adeganku dengan anaknya.
“Liat Fan… mamimu!” katanya kepada Fanny yang sedang dia pangku. Sementara tangannya tidak berhenti mengelus-elus memek anakku itu. “Mamimu itu seneng banget sih sama yang namanya kontol!”
“Aah.. kan kamu yang nyuruh?!” kataku membela diri. Sementara Haikal yang aku pangku berkata, “Tapi tadi aku kok enak yaa, Tan…”
Aku dan Fachri tertawa mendengar Haikal bicara begitu.
“Makanya Cal…” kata Fachri, “ayah nggak ada bosen-bosennya disepong sama Tante Mia… soalnya hisapannya enak banget!”
Aku tersenyum kepada Fachri lalu mengecup bibirnya, “Makasih atas pujiannya ya Yang…!” Lalu berkata kepada Haikal, “kontolnya ayahmu juga enak kok Cal… makanya tante mbolehin kontolnya ayahmu ngacak-ngacak memeknya tante….!”

Sekitar jam 11 malam, kedua anak itu tertidur. Sementara kedua orang tuanya ini, kembali saling meniduri.

SURTI

Namaku Surti, ah bukan, Ny. Susilo. Kemanakah Surti, sampai tiba-tiba aku harus menyandang nama lain yang asing sama sekali bagiku? Kata ibuku, nama itu cocok untuk kusandang.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (11)
Namaku Ny. Susilo, usiaku sekarang 21 tahun. Aku istri seorang tuan tanah di desaku. sudah 5 tahun kami menikah, namun aku belum melahirkan seorang anakpun baginya. Aku melihat ibu mertuaku sering menatap tajam ke arahku, mulutnya nyinyir, mengeluarkan kotoran kemana ia suka. Mengeluarkan bau busuk dimanapun ia berada; baik di ruang tamu, di dapur, di kamar, di WC, bahkan di rumah tetangga.
Bau busuk, hanya itulah yang keluar dari mulutnya dan aku tetap diam, begitu juga suamiku. Suamiku bahkan mulai jarang pulang, bukan aku tidak tahu kemana ia pergi. Ke kompleks pelacuran, itulah tempat yang paling ia suka.
Kompleks pelacuran? Sejak kapan suamiku punya hobi pergi ke kompleks pelacuran? Setahun yang lalu? dua tahun lalu? Tiga tahun lalu? Empat tahun lalu? Lima tahun lalu? Atau sebelum itu?
Anehnya, baik ibu mertuaku atau orang tuaku malah menyalahkan aku. Bagaimana dengan Ayah mertuaku? lupakanlah, ia sudah mati jauh sebelum aku menikah dengan anaknya. Intinya, akulah yang tidak becus meladeni suami, sehingga suamiku lari ke pelukan pelacur itu. Apalagi, aku mandul, itulah yang dibilang oleh ibu mertuaku, bau busuk yang ia sebarkan hampir di setiap sudut desa ini.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (5)
Percayalah, aku tidak mandul, tapi aku sungguh tidak tahu mengapa aku tak kunjung hamil juga. Anehnya, suamiku sama sekali tidak memusingkan hal ini, bukankah keturunan adalah hal yang paling penting dalam hidup manusia?
Malam itu suamiku baru saja pulang, entah dari mana, aku pura-pura tidur ketika ia membuka pintu kamar.
“Kau sudah tidur?” Suamiku menyapaku! Hatiku bahagia sekali, sampai tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (10)
Aku membalikkan tubuhku, kutatap matanya dalam-dalam. “Belum, Mas.” jawabku. “Mas dari mana?” Sungguh pertanyaan yang paling konyol yang pernah kuucapkan. Bukankah aku tahu ia baru kembali dari pelukan pelacur itu?
“Kau tak perlu tahu, yang penting kau harus berpikir bagaimana bisa melahirkan seorang anak untukku!” jawabnya.
Jantungku berdesir, sakit sekali seperti ditusuk dengan ribuan paku, bukan, lebih dari ribuan paku. Aku membenamkan kepalaku dalam bantal, menangis tanpa suara, suara yang tak pernah kumiliki walau sekedar untuk mengeluarkan isi otakku. Aku tak pernah mempunyai suara.
Selanjutnya, hari-hariku seperti neraka saja, seluruh penduduk desa bergunjing tentangku, bahwa aku mandul, perempuan yang tidak sempurna. Aku juga melihat pelacur itu selalu ceria, senyumnya membuat hatiku semakin terluka, seperti disayat sembilu.
Pelacur itulah, yang tidur dengan suamiku setiap malam, setiap malam sebelum suamiku menjamah tubuhku. Ia membayar pelacur itu tiap malamnya, sedangkan aku harus melayaninya seumur hidupku tanpa bayaran, kecuali makian yang kudapat dari ibunya dan suamiku sendiri. Inikah hidup baru yang dulu aku bayangkan? Yang kuimpikan dan kuidamkan? TIDAK! dan tentu saja aku takkan tinggal diam, karena aku adalah Surti.
“Dasar pelacur!” teriakku pada perempuan yang sekarang berdiri di depanku. Hari itu aku tak bisa menahan diri untuk menemui perempuan itu di kompleks pelacuran.
“Pelacur? Yah tentu saja aku pelacur dan asal kau tahu Ny. Susilo, aku bangga dengan profesiku.”
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (4)
Mukaku memerah karena marah. Kuremas tanganku, ingin rasanya kutempeleng wajahnya. “Kau telah merebut suamiku, kau memang perempuan murahan!” teriakku.
“Merebut? Suamimu sendiri yang datang padaku dan melayaninya adalah tugasku. Kau salah alamat Ny. Susilo, kau harusnya mendamparat suamimu karena ia tidak setia, bukan kepadaku!”
“Plak!” aku menampar wajah perempuan itu, amarah tergambar jelas di wajahku. Namun aku sungguh tak menyangka ia membalas tamparanku, bahkan lebih keras dari tamparanku.
“Aku memang pelacur, tapi takkan kubiarkan satu orangpun melecehkan harga diriku.” katanya.
Aku tertawa keras, berani sekali pelacur ini ngomong soal harga diri.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (9)
“Kau pikir kau lebih berharga dari aku, Nyonya? Katakan padaku apakah suamimu menghargaimu?” ia bertanya.
Aku tediam, tiba-tiba saja aku tak punya lagi kata-kata. Aku sudah kalah dan aku pergi dari pelacur itu dengan kekalahan. Ya, kekalahan telak seorang istri tuan tanah yang terhormat. Air mataku mengalir deras, sesaat aku berpikir apakah gunanya aku hidup. Toh aku bukan istri sempurna.
Malam itu aku menunggu suamiku pulang, kali ini aku tidak berpura-pura tidur, tak kupejamkan mataku walaupun sejenak. Akhirnya suamiku pulang, kuhirup bau badannya, bau parfum pelacur itu.
“Kau baru dari pelacur itu?” tanyaku dan aku sangat terkejut dengan keberanianku menanyakan hal itu padanya.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (3)
“Iya.”
Hatiku luluh lantak mendengar jawaban yang jujur itu, aku berharap ia berbohong, sungguh aku ingin kebohongan yang manis walau beracun.
“Kau mengkhianati aku, mas.” kataku lirih.
“Aku mencintai Widuri.”
Sungguh, aku berharap apa yang diucapkannya barusan adalah kebohongan, tapi aku melihat kejujuran di mata itu.
“Aku menikahimu untuk melahirkan anak-anakku, tapi kau tak kunjung hamil juga.” kata suamiku.
“Aku baru saja berpikir apa kau pantas menjadi ayah dari anakku kelak!” sahutku berani. Akhirnya aku bersuara, akhirnya suaraku berguna juga.
Mata itu menatapku terkejut. “Lancang!” teriak suamiku sambil menempelengku, darah segar keluar dari sudut bibirku.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (8)
Aku tidak menangis, tidak, aku bersumpah takkan ada lagi setetes air matapun untuknya. Suamiku beranjak pergi dari kamarku, malam itu ia tidak kembali.
***
Lelaki itu sedang duduk di ruang tamu dan menatapku penuh senyum, menyapaku penuh kerinduan. Andi adalah teman sepermainanku sejak kecil, terakhir aku bertemu dengannya adalah di hari pernikahanku.
“Gimana kabarmu, Ti?” tanyanya.
“Baik, mas sendiri?” kataku balas bertanya.
“Aku jadi buruh di Jakarta. Hidup di Jakarta ternyata sulit, Ti.” katanya.
“Namanya juga kota besar, Mas.”
“Aku kembali ke sini justru karena aku dipecat, situasi pabrik kacau, sebagian besar buruh dipecat dengan alasan kesulitan keuangan. Kami para buruh menggalang aksi mogok sampai berhari-hari karena nasib kami nggak jelas. Eh, pemilik perusahaan malah minggat entah kemana.”
Aku tertegun sesaat, jadi buruh ternyata tak lebih baik daripada jadi petani.
“Kami para buruh ditelantarkan begitu saja, pemerintah juga tidak melakukan tindakan apapun terhadap nasib kami.”
“Sudahlah, Mas, terima aja. Mungkin emang nasibmu lagi apes. Nggak usah macem-macem, Mas, entar nasib kamu kayak Marsinah gimana?” kataku ngeri dengan kisah Marsinah yang mati karena dia terlalu vokal.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (7)
“Pokoknya aku nggak mau tahu, Ti. Kita emang miskin, tapi jangan diem aja kalo diperlakukan sewenang-wenang.”
Aku diam aja, Andi emang sulit diajak ngomong kalo udah pakai kata ’pokoknya’, sulit diganggu gugat. Aku tak mau ambil pusing dengan masalahnya, yang jelas aku sudah memberi nasihat padanya.
Andi berniat tinggal di desa selama beberapa bulan, kami memang cukup dekat, bahkan ia pernah mau melamarku, namun ia tidak punya keberanian yang cukup untuk itu. Apalah artinya seorang pemuda miskin bila dibandingkan dengan Mas Joko yang seorang tuan tanah.
***
Aku tercenung sesaat ketika kutemukan selembar surat hasil pemeriksaan dari Dokter. Kupikir suamiku sakit, tapi ternyata aku salah, suamiku sama sekali tidak sakit. Surat itu menyatakan bahwa suamiku mandul!
Hatiku bahagia sekaligus marah, suamiku yang mandul, bukan aku! Aku ingin berteriak pada semua orang bahwa aku tidak mandul, bahwa suamikulah yang mandul. Aku ingin mengatakan pada ibu mertuaku yang nyinyir itu bahwa aku tidak mandul, bahwa anaknyalah yang mandul. Aku akan membuktikan pada semua orang bahwa aku tidak mandul. Aku tertawa, namun sesungguhnya aku menangis, yah aku menangis.
Suamiku menatapku heran, ia terpana dengan surat pemeriksaanku dari dokter yang menyatakan bahwa aku telah hamil dua bulan, wajahnya pucat pasi namun aku merasakan kemenangan dalam hatiku.
“Aku telah membuktikan bahwa aku tidak mandul,” kataku. “dan kau tak sanggup membuktikan bahwa kau cukup subur untuk membuatku hamil.” Aku melihat dengan jelas wajah suamiku memerah, entah karena malu atau marah. Mungkin keduanya.
“Dengan siapa kau mengandung, anak siapa bayi yang kau kandung?” tanya suamiku dengan suara gemetar.
“Apakah itu penting? Bukankah keluargamu menginginkan keturunan? Dengarkan aku, Joko Susilo, kau akan merawat, mengasuh darah daging orang lain dan anak ini akan menjadi satu-satunya pewaris dari kekayaanmu.”
Inilah hari kemenanganku. Aku tak peduli lagi dengan perselingkuhan yang dilakukannya dengan Widuri, pelacur itu. Aku tak peduli. Suamiku harus menutupi kenyataan dari semua orang, termasuk ibunya bahwa dia mandul dan ia terpaksa menerima darah daging orang lain sebagai pewarisnya.
Inilah pernikahanku. Sebuah pernikahan yang pernah aku idamkan sebagai pernikahan yang penuh kebahagiaan namun ternyata penuh kemunafikan. Aku telah mengandung dan semua gunjingan pun berakhir.
Ibu mertuaku begitu bahagia, tanpa ia tahu bahwa bayi yang kukandung bukanlah darah dagingnya. Semua keluarga begitu bahagia kecuali suamiku.
Namaku Surti, sebagai seorang perempuan aku harus menjaga kesucianku, sebagai seorang istri aku harus mengabdi, menjaga kesetiaanku pada suamiku dan sebagai seorang ibu aku harus mengasuh anakku siang dan malam. Yah, itulah aku dan untuk semua itu hanya ada satu alasan, karena aku adalah seorang perempuan.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (6)
Namaku Surti, dan saat ini aku berada di sebuah gubuk tengah sawah. Di samping kami, begitu banyak petani yang sedang bekerja, namun tidak ada satupun yang mengetahui apa yang yang sedang aku dan Andi lakukan.
Kami adalah sepasang kekasih sekarang. Bayi yang kukandung adalah anak Andi. Dengan lembut teman masa kecilku itu mendekap erat tubuhku. Wajah kami saling berhadapan, amat dekat.
Segera Andi mencium dan melumat bibirku dengan gemas sambil kedua tangannya mulai beraksi mengelusi punggung dan pinggangku secara bergantian. Beberapa saat kemudian tangannya beralih turun ke pantatku. Andi mengelus dan merabanya, merasakan betapa kenyal dan padatnya bongkahan pantatku. Dengan gemas ia meremas-remasnya sambil sesekali mencengkeram dan mendorongku ke arah selangkangannya.
Aku tidak kaget dengan kelakuannya itu. Andi memang sangat menginginkan tubuhku. Sejak pertama kali bertemu, sudah tak terhitung lagi berapa kali kami melakukannya. Pertama di rumah Andi, saat sore-sore aku mengiriminya kue kering. Tak kusangka Andi akan menyergap dan meniduriku. Namun bukannya marah dan sakit hati, aku malah menikmatinya. Selanjutnya, sudah bisa ditebak, kami jadi semakin sering melakukannya. Hingga akhirnya aku hamil 2 bulan.
Dan sekarang, Andi mengajakku ke sawah yang ia jaga. Dan disini, kami kembali melakukannya. Kurasakan benda keras miliknya mulai menekan selangkanganku. Meski masih tertutup celana, bisa kurasakan kalau penis itu sudah begitu kaku dan keras.
Sambil terus melumat bibirku, tangan kanan Andi meraih dan meremas payudara kiriku sedangkan tangan kirinya masih asyik meremas buah pantatku. “Ohh… mmh…” kepalaku langsung mendongak sambil melenguh panjang menikmati perlakuannya.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (2)
Perlahan tangan Andi mulai membuka kancing baju panjangku satu persatu. Segera terpampang dihadapannya sepasang buah dadaku yang montok dengan bh yang nampak kekecilan untuk menampung bulatannya yang besar. Memang, sejak hamil payudaraku rasanya semakin besar saja.
Andi lalu melanjutkan dengan melucuti celana dalamku. Untuk rok panjangku cukup ia singkap hingga ke pinggang, tidak perlu dilepas. Begitu juga dengan jilbabku. Andi sengaja membiarkannya karena hal tersebut merupakan sesuatu yang amat menggairahkan baginya. Ia paling suka menyetubuhiku dalam keadaan berjilbab!
Melihat pemandangan yang indah ini, segera Andi melanjutkan aksinya dengan menghisap dan menjilati sepasang puting susu milikku yang sudah menegang dengan rakus. Terkadang tangannya ikut bermain dengan menjepit dan memilin-milin putingku yang berwarna coklat muda kemerahan.
“Ouhh… ahhh… ahhh…” desah bibir mungilku yang setengah terkatup sambil meremas kepala dan pundaknya. Nafasku naik turun menahan nikmat. Semakin lama desahanku menjadi semakin kencang, membuat Andi semakin bergairah saja.
Sambil membalikkan tubuhku, ia kemudian melepas celananya. Andi lalu memeluk tubuhku dari belakang dan meraih wajahku untuk melumat kembali bibir mungilku, sementara ia juga menggesek-gesekkan penisnya yang sudah menegang ke arah pantatku. Tangannya juga tak tinggal diam, Andi kembali memilin puting dan meremas-remas kedua buah dadaku secara bergantian. Ia juga mulai mengorek-ngorek liang kemaluanku dengan tangannya yang lain.
“Emmhh… mmhh…” desahku tertahan oleh ciumannya.
Beberapa saat kemudian Andi menyuruhku untuk membungkuk. Ia tampak menatap kagum keindahan pantatku yang bulat dan putih mulus. Sejenak ia mengelus dan meremas-remas bokong indahku sambil sesekali menciuminya dengan gemas.
Aku hanya bisa merintih sambil menundukkan kepala. Tubuhku sedikit bergetar mendapat perlakuan seperti itu. Setelah itu Andi merentangkan sedikit kedua pahaku hingga ia bisa melihat lubang vaginaku yang ditumbuhi bulu-bulu halus rimbun. Baunya yang khas segera menyebar di seluruh gubuk. Andi menyibaknya dan dengan menggunakan jari tengah, ia mulai menusuk-nusuknya.
“Emmmhh…” tentu saja aku langsung menggelinjang sambil pahaku bergerak seolah hendak menjepit tangan kanannya yang sedang memainkan liang surgaku.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (1)
Andi terus mengorek-ngorek sampai jarinya jadi basah oleh cairan kewanitaanku. Nafas dan desah kecilku yang memburu membuat gairahnya meningkat. Andi merasa inilah saat yang tepat untuk mulai beraksi karena penisnya sudah menuntut untuk dimasukkan.
Ia menarik jarinya, lalu merebahkan tubuhku ke balai-balai bambu. Mataku menatap sayu ke arahnya. ”Ihhh..!!” pekikku pura-pura malu sambil menutupi wajah saat melihat kemaluannya yang besar mengacung indah ke depan. Padahal sudah sering aku menikmatinya.
Andi tersenyum dan perlahan mendekatiku sembari kembali mencium bibirku. Kedua tangannya tidak ketinggalan memainkan payudara dan liang vaginaku. Kudengar nafasnya mulai memburu pertanda ia semakin terangsang. Tak lama kemudian Andi mulai merentangkan kedua pahaku lebar-lebar. Lalu sambil bertumpu dengan lengan kirinya, ia membimbing penisnya untuk memasuki liang kemaluanku.
“Ouhh… sshhh…” desisku menahan rasa nikmat saat penis Andi perlahan tergelam membelah lorong vaginaku. Senti demi senti kemaluannya  menembus lubang sempit di pangkal pahaku.
Akhirnya Andi berhasil membenamkan seluruh batang kejantanannya dan mulai memompanya maju mundur secara perlahan. Sungguh luar biasa rasanya. Nikmat sekali. Aku sampai menggigit bibir bawah agar teriakanku teredam. Aku tidak ingin perselingkuhan ini dipergoki oleh orang lain.
“Shhh… hehh… hhhh…” desah bibir mungilku sembari kedua tanganku mencengkeram erat lengan Andi yang sedang bertumpu disamping tubuhku.
Melihat wajah cantikku yang mendesah membuat Andi semakin bergairah. Segera ia melumat bibirku sambil memainkan lidahnya di dalam mulutku. Aku balas dengan memainkan lidah di dalam mulutnya.
“Mmmhh… cupp… cupp…” bunyi ciuman kami berdua yang diselingi permainan lidah.
Semakin lama semakin cepat genjotan Andi dan secara refleks aku melingkarkan kedua kakiku ke pinggulnya. Hampir sepuluh menit lamanya kami bersenggama dengan posisi ini dan tidak lama kurasakan lubang senggamaku menjadi semakin basah.
“Ouuhhh… Ndi… aku mau pipis…” getar suaraku saat menahan suatu dorongan yang luar biasa dari dalam tubuhku.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (1)
Tahu kalau aku akan mencapai klimaks, Andi semakin mempercepat goyangannya. Dan benar saja, tak lama kemudian tubuhku bergetar pelan sedangkan pahaku yang melingkar di pinggulnya menjepit erat. Terasa sesuatu yang hangat menyemprot keluar dari dalam vaginaku, membasahi batang penisnya.
Sejenak Andi menghentikan genjotannya sambil mencabut penisnya dari liang senggamaku. Nampak penis itu dibasahi oleh cairan vaginaku.  Beberapa menit kemudian, setelah aku cukup istirahat, Andi menyuruhku  agar membungkuk membelakanginya. Tanganku bertumpu di pinggiran gubuk sedangkan kedua kakiku menjejak ke lantai.
Rok hijauku yang panjang sempat menjuntai ke bawah, yang segera diangkat kembali oleh Andi dan diikat rapi di pinggang. Sambil mencengkeram pantatku yang semok, ia kembali mengarahkan batang penisnya yang masih tegak mengacung ke arah lubang vaginaku. Sejenak Andi menggesek-gesekkan ujungnya yang tumpul di bibir kemaluanku yang sangat basah.
“Ohhh…” desahku pelan sambil tanganku meremas-remas payudaraku sendiri.
Kini ujung penisnya benar-benar terasa basah oleh cairan kewanitaanku. Perlahan dengan bantuan tangan kananku, Andi mulai melakukan penetrasi. Dengan lancar batang coklat panjang itu masuk kembali memenuhi liang senggamaku. Andi membiarkannya sejenak sebelum perlahan mulai menggoyang  maju-mundur tak lama kemudian. Ia melakukan dengan tempo lambat untuk beberapa saat lalu secara bertahap mempercepat sodokannya.
“Ahh… ahh… uhh… uhh…” desahku dengan tubuh terguncang-guncang karena sodokannya. Sambil menyetubuhiku dari belakang, kedua tangan Andi beraksi meremas dan mencengkeram bulatan pantatku.
“Plak… plak… plak…” begitu bunyi selangkangannya saat berbenturan dengan bokongku. Terkadang Andi juga meremas kedua buah dadaku dari belakang
“Oh, Surti… kamu memang nikmat.” racaunya sembari terus menggenjot pantatnya demakin cepat.
“Emhh… ohh… omm…” desahku seakan merespon racauannya.
Tubuh kami berdua kini benar-benar basah kuyup bermandikan keringat. Jilbab dan rok panjang yang melilit di pinggangku juga ikut basah karenanya. Tak terasa lebih dari 10 menit kami berdua bersetubuh dalam posisi ini.
“Ouhh… Andi, aku mau pipis lagi…” kataku dengan nafas terengah-engah.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (2)
“Tahan, Ti… aku juga mau nyampe.” ujar Andi sembari mempercepat laju sodokannya.
“Ohhhh…” erangku dengan tubuh menegang saat vaginaku mengucurkan cairan. Bersamaan dengan orgasmeku, Andi pun mencapai klimaks. Ia memeluk erat pinggangku sembari membenamkan penisnya dalam-dalam ke liang senggamaku.
”Ahh…” lenguh Andi penuh nikmat saat memuntahkan air maninya.
Liang senggamaku sekarang dipenuhi oleh campuran sperma dan cairan vaginaku sendiri. Kemudian kami berdua terkulai lemas di dalam gubuk. Andi membiarkan sejenak kemaluannya yang masih tegang terjepit di dalam vaginaku.
Hari menjelang sore, tak terasa kami terlelap puas. Saatnya aku untuk pulang. Suamiku pasti sudah menunggu di rumah.

MURTI 9 : AISYAH

Setelah seminggu dirawat di rumah sakit, Gatot menunjukkan kemajuan pesat. Ia sudah bisa membuka mata dan bicara meski terbata-bata. Yang paling melegakan bagi semua adalah bahwa Gatot tidak hilang ingatan. Gatot masih bisa mengenali orang-orang yang ada di sekelilingnya.
annisa islamiyah jilbab montok (2)
Yang paling merasa beruntung adalah Murti. Sakitnya Gatot bersamaan dengan liburan sekolah. Ia mendapat libur selama dua minggu dimulai hari ini. Ia jadi punya banyak waktu luang dan ia tidak ingin waktu luang itu terbuang begitu saja. Ditambah ia sudah mendapat restu dari suaminya untuk mengunjungi Gatot kapan saja. Murti jelas bahagia. Pak Camat suaminya bilang bahwa ia boleh menunggui Gatot mengingat Gatot tidak punya sanak saudara dan kerabat dekat. Orang yang paling dekat dengan Gatot ya cuma mereka saja.
annisa islamiyah jilbab montok (1)
“Kamu tidak mengajar?” tanya Gatot dengan suara masih gemetar. Kini Gatot sudah dipindahkan ke paviliun kelas satu. Masa-masa kritis yang dialaminya telah lewat, tinggal masa penyembuhan dan pemulihan.
“Aku libur, Tot, dua minggu.” kata Murti sambil menyuapkan sesendok demi sesendok makanan ke mulut Gatot. “kamu juga sudah seminggu lho di sini,” tambahnya.
“Aku ingin pulang, Mur. Aku mau di rumah saja.” kata Gatot.
“Jangan buru-buru. Tunggu sampai kamu benar-benar sehat.” sergah Murti.
“Aku tidak punya uang buat bayar biayanya,” Gatot merenung.
annisa islamiyah jilbab montok (3)
“Jangan dipikirkan. Aku dan Mas Joko yang menanggung biaya sampai kamu sembuh.” kata Murti.
“Aku selalu merepotkanmu ya, Mur?” Gatot berbisik malu.
“Sudahlah. Kita ini sudah sehati, Tot.” Murti memberi Gatot minum lalu duduk persis di samping laki-laki itu. “Aku mencintaimu!” bisiknya perlahan.
“Akupun begitu, Mur. Tapi kamu punya suami.” sahut Gatot getir.
“Sekarang jelaskan bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi. Kamu tidak mabuk minuman keras kan?” tanya Murti.
“Aku sempat minum susu di rumah teman. Entah apa karena susu itu atau ada hal lain, tiba-tiba aku pusing. Kupaksakan untuk pulang sampai rumah, tapi ya begitu, di tengah jalan aku tak tahan lagi dan nabrak tronton.” Gatot berkilah.
annisa islamiyah jilbab montok (4)
“Darimana dan siapa yang memberikan susu itu?” todong Murti.
“Kawanku,” Gatot menjawab pendek.
“Bohong. Pas kejadian itu ada yang memergoki mobil dinas suamiku di perumahan residence.” sanggah Murti.
“Aku memang kesana, Mur. Rumah kawanku ada disana,” Gatot tetap bersikukuh.
“Rumah kawanmu atau rumah kawan Mas Joko, suamiku?” tanya Murti.
Gatot terdiam, tapi Murti ingin mendapat penjelasan sejelas-jelasnya. Dia sudah akan bertanya lagi saat dokter yang bertugas memeriksa datang.
“Kapan saya bisa pulang, Dok?” tanya Gatot pada laki-laki itu.
“Sebenarnya hari ini bisa. Tapi demi kesembuhanmu, mungkin dua hari lagi kamu bisa pulang.” kata pak Dokter.
annisa islamiyah jilbab montok (5)
“Saya bosan tidur terus.” balas Gatot.
“Cobalah jalan-jalan sekitar rumah sakit. Kamu perlu melatih kakimu.” kata Pak Dokter.
“Kaki saya baik-baik saja. Memang agak nyeri, tapi tidak masalah.” Gatot berkata meyakinkan.
“Akan aku diskusikan dulu dengan tim dokter. Permisi,” dokter itu berbalik, pamit untuk meninggalkan ruangan.
Murti membantu Gatot berdiri dan memapahnya ke kamar mandi. Ia tidak malu menelanjangi Gatot dan memandikan pria itu. Bukankah sudah sering mereka telanjang berdua seperti ini?!
“Aku ingat masa-masa saat kita sering mandi bareng, Tot.” kata Murti dengan wajah bersemu merah. Ia ikut-ikutan basah tersiram air. Tubuhnya yang sintal tampak begitu menggoda di pandangan Gatot.
“Tapi kita bukan anak kecil lagi, Mur.” sela Gatot sambil berusaha menutupi tonjolan penisnya yang sudah mulai menegang panjang.
annisa islamiyah jilbab montok (6)
“Yah, setidaknya masa itu masih bisa kukenang bersamamu, Tot.” Murti berbisik lirih, lalu mendekatkan mulutnya ke bibir Gatot.
“Ada masa yang lebih penting untuk kamu kenang, Mur. Pernikahanmu dan rumah tanggamu.” Gatot berusaha untuk mengelak saat Murti ingin mencium bibirnya.
“Apalah arti pernikahan tanpa ada lagi kesetiaan.” Murti mengalihkan wajah, kecewa.
“Kamu yang tidak setia pada suamimu. Kamu mencintai lelaki lain selain suamimu. Bahkan kamu telah berzinah.” kata Gatot mengenang kebersamaan mereka yang sudah sangat kebablasan.
“Mas Joko lah yang memulai. Aku hanya mengikuti alur, Tot. Perselingkuhan harus dibalas dengan perselingkuhan juga.” balas Murti penuh tekad.
“Darimana kamu tahu kalau suamimu selingkuh?” tanya Gatot.
annisa islamiyah jilbab montok (7)
“Dari caranya memperlakukan aku, Tot. Sebenarnya aku berharap kamu jujur. Tapi biarlah kucari sendiri jawabannya.” Murti menyeka tubuh telanjang Gatot untuk yang terakhir kali, selanjutnya ia membantu laki-laki itu mengenakan pakaiannya kembali.
“Aku pulang sekarang saja, Mur. Kemasi barang-barangku.” Gatot meminta.
Murti sejenak tercenung, tapi kemudian tak punya pilihan karena Gatot terus memaksakan diri. Ia segera menelpon suaminya. Murti berharap Pak Camat ikut menjemput Gatot dan mengantar Gatot pulang, namun suaminya itu lagi-lagi bilang sibuk rapat dan sibuk dengan alasan ini-itu. Suaminya hanya bilang akan mengirim seseorang untuk menjemput. Ternyata seseorang yang dimaksud suaminya adalah Dewi. Murti sama sekali tidak mengharapkan Dewi yang akan datang.
“Selamat siang, Mbak Murti. Mau langsung pulang?” tanya gadis cantik itu dengan senyum manis terkulum dibibirnya yang tipis.
“Iya, Dewi. Gatot tuh nggak sabaran,” sergah Murti.
“Siapa sih yang betah lama lama di rumah sakit, Mbak? Benar kan, Tot?” tanya Dewi sambil mengerling manja.
“Benar, Mbak. Saya tidak tahan bau obat. Makanya saya maksa.” jawab Gatot.
“Saya bantu jalan ke mobil ya?” tawar Dewi tanpa bisa ditolak.
Murti melengak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Dewi. Sangat gamblang dan terang-terangan, tanpa tedeng aling-aling. Dewi ingin mengambil alih peran yang selama ini ia lakukan. Murti mengumpat dalam hati. Posisinya saat ini memang tidak memungkinkan untuk melakukan yang biasa ia lakukan pada Gatot. Ia adalah istri seorang camat yang wajib menjaga imej dan nama baik, wajib berkelakuan baik dihadapan anak buah suaminya. Fitnah bisa saja muncul kalau ia memaksakan diri memapah Gatot dihadapan dewi. Jadi mau tidak mau ia kebagian tugas membereskan dan mengangkut tas-tas ke garasi. Masih untung Dewi mau membantunya setelah mendudukkan Gatot ke dalam mobil.
annisa islamiyah jilbab montok (8)
“Tidak ada yang tertinggal, Mbak Murti?” tanya Dewi tanpa merasa bersalah sedikitpun.
“Tidak ada, Dewi. Langsung saja ke rumah.” jawab Murti sedikit ketus, masih marah dengan peristiwa barusan.
“Rumah yang mana? Rumah Pak Camat atau rumah Gatot?” lagi-lagi Dewi bertanya menggoda.
“Ke rumahku saja, Mbak Dewi.” potong Gatot sebelum Murti sempat membuka suara.
“Baiklah, Tot. Biar aku yang nyetir. Mbak Murti kan belum bisa bawa mobil.” sambut Dewi.
Murti ingin menampar mulut Dewi yang terkesan menyepelekannya. Ia memang belum bisa nyetir, tapi tak selayaknya Dewi bicara begitu, terlebih dengan nada yang angkuh. Murti kini duduk bersebelahan dengan Gatot di dalam mobil, tetapi ada dinding yang seakan memisahkan mereka berdua. Dinding itu berupa tatapan mata Dewi yang membuat Murti tidak berani melakukan apapun terhadap Gatot. Ia tidak berani walau sekedar tersenyum pada Gatot. Tatapan mata Dewi terlalu berbahaya.
“Memangnya tidak ada sopir lelaki di kantor ya, Dewi?” tanya Murti memecah keheningan.
“Ada sih, Mbak. Tapi Pak Camat nyuruh aku, ya kuterima.” sahut Dewi tanpa menoleh.
annisa islamiyah jilbab montok (9)
“Bagaimana dengan rencanamu ke depan? Maksudku, kapan kamu mau nikah?” tanya Murti.
“Waduh, Mbak Murti ini ada-ada saja.” Dewi tertawa.
“Bukannya mengada-ada, Dewi. Usiamu kan sudah cukup. Masa depanmu juga sudah mapan. Tunggu apa lagi?” kejar Murti.
“Saya nunggu jodoh, Mbak. Nikah itu kan nggak bisa dipaksa-paksa. Nikah karena terpaksa itu rawan bencana, Mbak Murti.” jawab Dewi seperti menyindir.
Murti manggut-manggut, namun dalam hati sebenarnya merengut kalang kabut. Perkataan Dewi telah menohoknya dari belakang. Entah disengaja atau tidak, tetapi Dewi telah mengingatkan Murti pada kisah hidupnya sendiri. Ia memang menikah karena terpaksa, bukan atas dasar cinta. Mahligai perkawinannya dengan Pak Camat tak lebih demi untuk menyenangkan hati orangtua. Ia belum puas menikmati masa muda ketika Pak Camat datang melamar. Belum pernah pacaran sampai Pak Camat mengajaknya kencan.
annisa islamiyah jilbab montok (14)
Sampai akhirnya benar-benar menikah, ia sama sekali masih buta arti rumah tangga. Kini ia mengerti betul bahwa berumah tangga sangatlah susah. Ada banyak hal yang membuat hati tersiksa. Seperti yang dikatakan oleh Dewi bahwa menikah karena terpaksa rawan bencana. Kini Murti sadar bencana itu sudah membayang di pelupuk mata. Pak Camat suaminya ada tanda-tanda punya daun muda. Tetapi itu masih sebatas prasangka Murti, belum benar-benar jadi nyata.
“Sudah sampai, Mbak. Saya cuma disuruh nganter saja oleh Pak Camat. Setelah ini saya harus balik ke kantor,” kata Dewi.
“Ya sudah, balik saja sekarang. Biar Gatot saya yang menangani. Terima kasih ya, Dewi.” Murti tersenyum malas.
“Sama-sama, Mbak. Mungkin nanti malam saya kesini,” kata Dewi. Habis berkata begitu, dia langsung pergi berlalu.
Murti bersyukur Dewi tidak ikut masuk ke dalam rumah Gatot. Justru Gatot yang terheran-heran karena rumahnya sangat bersih. Dan ia semakin heran saja karena bukan hanya bersih, namun juga tertata rapi. Sama sekali tidak ada yang berserakan. Ia menoleh pada Murti, tapi Murti cuma mengangkat bahu dan sibuk sendiri. Gatot jadi tak tahan untuk bertanya.
“Kamu yang membersihkan rumahku ya?”
“Bukan. Bersihkan rumahku sendiri saja malas, apalagi bersihkan rumahmu.” kata Murti.
“Lalu siapa yang merawat rumahku ini?” tanya Gatot bingung.
“Aisyah. Dia tiap hari sepulang mengajar mampir kesini, membersihkan rumahmu.” jawab Murti.
“Aisyah? Kok mau dia bersusah payah membersihkan rumahku?” Gatot semakin tak mengerti.
“Karena dia ada maunya.” Murti tersenyum menyeringai. ”Sudahlah, Tot. Kasihan juga Aisyah tiap hari bolak-balik ke Cemorosewu. Terima saja dia tinggal di rumahmu.”
annisa islamiyah jilbab montok (13)
“Apa Pak Camat sudah kamu beritahu soal itu?” tanyanya.
“Sudah berkali-kali dan Mas Joko sepertinya tidak mempermasalahkannya. Bahkan Pak RT juga memberi lampu hijau.” jawab Murti.
“Baiklah, Mur. Mungkin memang ada baiknya Aisyah tinggal disini.” Gatot mengangguk.
“Dia pasti kesini. Aku pulang dulu ya, kalau ada apa-apa panggil saja dari belakang.” Murti pamit.
“Iya, Mur. Aku juga mau istirahat. Kangen sama kasurku sendiri” Gatot tersenyum.
“Dasar kamu,” kata Murti sambil mengantar Gatot ke kamarnya.
Setelah itu Murti pulang lewat pintu belakang. Sekarang ia sudah ada di rumahnya sendiri. Murti meringis menahan sesuatu yang sangat mengganggu. Perutnya terasa mual dan ingin muntah. Iapun pergi ke kamar mandi, mencoba mengeluarkan isi perut, tetapi tidak ada yang keluar. Murti ingat bahwa ia belum makan apapun sejak pagi tadi. Ah, mungkin sakit mag-nya kambuh, pikirnya. Ia menghabiskan siang dengan tidur sepuas-puasnya.
Namun baru satu jam terlelap, Murti terkesiap karena merasakan seseorang menyelinap masuk ke dalam rumah. Tapi setelah tahu yang datang adalah Pak Camat, Murti melanjutkan tidurnya. Pak Camat menyusul tidur di sampingnya.
annisa islamiyah jilbab montok (12)
“Kok sudah pulang, Mas?” tanya Murti.
“Iya, Mur. Aku pusing,” sahut Pak Camat.
“Sudah minum obat?” tanya Murti lagi.
“Sudah, tapi tetap nggak ada efeknya. Makanya aku ijin pulang,” Pak Camat menyahut malas.
“Ya istirahat saja, Mas. Mungkin Mas Joko juga perlu mengajukan cuti.” Murti membelai bahu suaminya.
“Pembangunan di desa-desa semakin meningkat, Mur. Tidak mungkin aku cuti.” kata Pak Camat.
“Bagaimana dengan pembangunan rumah tangga kita, Mas?” kejar Murti.
“Maksudmu apa, Mur?” Pak Camat mendelik.
“Tidak ada maksud apa-apa, Mas. Sudah, tidur saja.”
Murti ingin suaminya langsung tanggap dengan pembangunan rumah tangga yang ia maksudkan. Sayangnya Pak Camat tidak paham atau pura pura tidak mengerti maksud hati istrinya. Ini adalah siang pertama Murti tidur bersama suaminya setelah siang-siang sebelumnya yang lebih sering tidur bersama Gatot. Seharusnya ada usaha memperbaiki bangunan rumah tangga yang mulai lapuk digerus berbagai macam praduga dan rasa curiga. Namun Murti tidak mendapati suaminya punya keinginan untuk itu. Murti pun meneruskan tidurnya dan tidak bertanya ataupun ‘meminta’ pada suaminya. Ia tidur dengan hati kosong.
Ketika bangun jam lima sore, Murti sudah tidak mendapati suaminya. Ia mencari-cari ke sudut rumah tapi Pak Camat tidak ada. Yang ada malah selembar undangan yang tergeletak diatas meja. Murti membaca undangan itu. Bukan untuknya, tapi untuk Pak Camat. Kini Murti tahu kemana suaminya itu menghilang. Di undangan itu tercantum acara resepsi hari ini jam lima sore. Yang ia tak mengerti, kenapa suaminya tidak memberitahu dan bahkan tidak mengajaknya ke acara resepsi itu padahal selama ini mereka selalu berpasangan bila menghadiri acara-acara pernikahan. Apakah Pak Camat sudah punya pasangan lain? Murti cuma bisa menduga-duga saja.
annisa islamiyah jilbab montok (11)
Gatot juga baru saja terbangun dari tidurnya. Saking nyenyaknya tidur, ia sama sekali tidak merasakan apapun. Seluruh panca indranya ikutan tertidur. Ia mengucek mata dan menajamkan telinga, mencoba mendengar lebih jelas suara-suara berisik yang bersumber dari dapur. Gatot sudah sangat yakin bahwa yang ada di dapurnya adalah Murti karena hanya Murti yang bisa keluar masuk rumahnya dengan bebas. Gatot menerawang memikirkan hari-harinya bersama Murti yang juga semakin bebas, semakin tak ada batas. Ia ingin semua berakhir, namun sudah terlalu sulit untuk menghindari Murti. Ada nuansa hati bila ia bersama Murti, nuansa yang tidak pernah ia rasakan bila bersama wanita lain.
Gatot teringat saat-saat terakhir dirinya sebelum kecelakaan terjadi. Ia curiga jangan-jangan susu yang ia minum di rumah Mbak Ayu telah dicampur sesuatu yang membuatnya pening. Tingkah laku Mbak Ayu juga bikin kepalanya pusing tujuh keliling. Sepengetahuan Gatot, istri simpanan Pak Camat itu memang bukan wanita baik-baik. Sebagai orang yang lama berkecimpung di dunia hitam, ia tahu dan mengenal hampir semua wanita penghuni lembah hitam. Mbak Ayu pernah ia lihat di salah satu lokalisasi paling elit di kota ini. Berarti Pak Camat juga pernah mengunjungi lokalisasi itu, lalu bertemu dengan Mbak Ayu, kesengsem berat pada wanita cantik itu, sampai akhirnya menjadikan Mbak Ayu sebagai istri simpanan.
”Sungguh malang nasibmu, Murti,” kata Gatot dalam hati. Selanjutnya ia bangkit menuju pintu dapur. “Murti, kamukah itu?” tanyanya dengan setengah berteriak.
Tidak ada jawaban, tapi Gatot bisa mendengar langkah-langkah kaki mendekat. Dan ketika seseorang berdiri diambang pintu kamar, iapun langsung terperanjat kaget.
“Aisyah?”
annisa islamiyah jilbab montok (10)
“Assalamualaikum, Mas. Maaf kalau mengejutkan.” sapa Aisyah dengan tersenyum ringan.
“Berapa lama kamu disini, Aisyah?” Gatot bertanya.
“Dua jam yang lalu. Saya dengar Mas Gatot sudah pulang, jadi saya kesini.” jawab Aisyah.
“Terima kasih, Aisyah. Kamu sudah banyak membantuku.”
“Semoga bantuan ini ada hikmahnya, Mas.” Aisyah mengangguk. “Mas Gatot makan dulu ya. Habis itu minum obat.”
“Aisyah, tinggallah disini kalau memang kamu mau. Ada satu kamar kosong yang bisa kamu tempati.”
“Syukurlah, Mas. Besok saya akan boyongan kesini. Makan saja dulu, Mas.” Aisyah mempersilahkan.
Seluruh jiwa Gatot bergetar hebat. Aisyah berada begitu dekat, membelenggu jiwanya dengan senyuman tulus yang menghangatkan aliran darah, sehangat bubur yang disuapkan Aisyah ke mulutnya. Aisyah telah membuat Gatot teringat pada mantan istrinya, Zulaikha. Begitu banyak kemiripan antara keduanya. Aisyah sangat lugu dan murni. Memang Aisyah tidak secantik Murti, tapi punya daya tarik tersendiri. Dibalik kerudung lebarnya, Gatot seakan melihat Zulaikha yang sedang tersenyum.
“Saya ganti perbannya ya, Mas.” Tawar Aisyah.
Gatot luluh. Jemari itu teramat halus. Gatot segera menghapus imajinasinya dan ikut membantu Aisyah melilitkan perban di kakinya. Setelah semua selesai, Aisyah membantunya berdiri, menggamit perutnya dan memapahnya keluar kamar.
annisa islamiyah jilbab montok (15)
“Sampai sini saja, Aisyah.” Gatot duduk di dapur, memperhatikan kesibukan Aisyah. Disinilah ia mendapati betapa berbedanya Aisyah dengan wanita-wanita lain, termasuk Murti. Bila wanita lain suka membuka diri dan memamerkan diri, maka tidak demikian halnya dengan Aisyah. Gadis itu menutup rapat dirinya, tidak membiarkan mata usil memelototi tubuhnya yang sintal menggoda. Aisyah hampir selalu mengenakan pakaian panjang yang longgar sehingga lekuk-lekuk raganya tidak mencolok mata. Gatot sempat melihat punggung Aisyah tersingkap, tapi gadis itu segera menarik pakaiannya ke bawah dan punggung itupun tertutup lagi tanpa menimbulkan pikiran-pikiran buruk di kepala Gatot.
“Kapan kamu mulai tinggal disini, Aisyah?” tanya Gatot.
“Mungkin besok, Mas.” jawab Aisyah. ”kebetulan saya libur dua minggu. Ada waktu buat membersihkan kamar itu.”
“Itu kamar almarhum ibuku, Aisyah. Tapi jangan takut.” hibur Gatot.
“Kita ini hanya perlu takut pada Tuhan, Mas. Manusia dan setan memang menakutkan, tetapi kekuasaan dan kebesaran Tuhan lah yang paling menakutkan.” jawab Aisyah bijak.
“Tidakkah kamu takut padaku, Aisyah?” tanya Gatot sedikit menyelidik.
“Sama sekali tidak, Mas.” Aisyah tersenyum.
“Itu karena kamu belum tahu siapa saya,” sela Gatot.
“Saya sedikit banyak tahu tentang Mas Gatot. Tapi saya harap Mas Gatot tetap seperti yang saya kenal sekarang.” Aisyah menyahut ringan.
“Kamu baik dan tulus, Aisyah.” Gatot tersenyum. ”Jadi kamu mau kembali ke cemorosewu malam ini?” tanyanya kemudian.
“Saya takut kalau malam-malam pulang, Mas. Cemorosewu kan jauh dan gelap. Saya mau menginap saja disini. Anggaplah ini hari pertama saya kos disini.” jawab Aisyah.
“Saya tidak keberatan, Aisyah. Silahkan kamu tinggal sesuka hati.”
“Terima kasih, Mas. Bagaimana pembayaran uang kosnya? Mas Gatot mau sekarang atau dibayar bulanan saja?”
“Tidak perlu ada pembayaran apapun, Aisyah. Saya ikhlas.” jawab Gatot.
“Tapi, Mas…” Aisyah tampak ragu.
annisa islamiyah jilbab montok (16)
“Sudahlah. Simpan saja uangmu.” Gatot mengangguk tulus.
”Saya sangat berterima kasih, Mas.” sambut Aisyah dengan mata berbinar. ”Saya mau ke kamar mandi dulu.” pamitnya kemudian.
“Silahkan, Aisyah.” Gatot mempersilahkan.
Sejak itulah, Gatot tinggal serumah bersama Aisyah. Kamarnya berdampingan. Gatot merenovasi beberapa bagian kamar yang ditempati oleh Aisyah. Aisyah cukup pintar. Karena Gatot menolak uang sewa, maka Aisyah memanfaatkan uang itu untuk membeli dua buah kasur baru, satu untuk Gatot dan satu buat dirinya sendiri. Aisyah juga melengkapi peralatan dapur, membeli televisi. Kini Gatot punya listrik sendiri, tidak lagi menumpang di rumah Murti. Pun demikian dengan air, tidak lagi jadi masalah karena Aisyah memasang pompa air baru.
Tapi Gatot masih tetap mengabdi di rumah Pak Camat, masih tetap mengantar Pak Camat dan Murti berangkat kerja, juga masih tetap berjaga malam di rumah Pak Camat. Yang beda adalah sekarang Gatot tidak terus- terusan ada di rumah Murti. Gatot sekarang lebih suka beristirahat di rumah sendiri. Ia sudah pulih seratus persen pasca kecelakaan hebat itu. Gatot juga mulai mengambil jatah libur di hari minggu yang diberikan oleh Pak Camat. Jadi setiap hari minggu, Gatot selalu ada di rumahnya dari pagi sampai pagi esoknya lagi.
annisa islamiyah jilbab montok (17)
Dan di suatu malam yang diselingi rinai hujan, Gatot duduk berdua bersama Aisyah menonton televisi, dengan ditemani segelas kopi dan setoples kacang kapri. Aisyah baru saja selesai mandi sehingga rambut basahnya dibiarkan tanpa lindungan kerudung, tergerai sebatas leher dan sangat wangi.
“Bagaimana kopinya, Mas?” tanya gadis manis itu.
“Nikmat sekali, Aisyah. Terima kasih ya,” Gatot tersenyum.
“Kalau kurang, nanti saya buatkan lagi, Mas.”
“Ini sudah cukup, Aisyah. Oh ya, kamu nggak pulang ke Cemorosewu? Ingat, besok kamu mulai kerja.”
“Tidak, Mas. Saya malas ke Cemorosewu. Ummi juga sudah tidak tinggal di sana.”
“Sebelumnya saya mohon maaf, Aisyah. Benarkah ibumu sudah kawin lagi?” tanya Gatot.
“Benar, Mas. Ummi kawin lagi, tapi nikahnya siri, tidak resmi.” jawab Aisyah.
annisa islamiyah jilbab montok (18)
“Jadi ibumu tinggal dengan suaminya yang baru?”
“Iya. Makanya saya sekarang jadi jarang pulang. Malah Ummi mau menjual rumah warisan abah.”
“Kamu sendiri bagaimana?”
“Saya ini hanya seorang anak, Mas. Sebenarnya saya ingin marah, tetapi saya sadar, berani melawan orangtua -terlebih ibu- adalah dosa besar.”
Gatot mengangguk mengerti. “Sudah dua minggu kamu tinggal disini, Aisyah. Sampaikan saja kalau ada yang tidak berkenan di hatimu.”
“Tidak ada, Mas. Saya malah senang bisa hidup mandiri seperti ini. Mumpung masih bujang, harus banyak belajar kan, Mas?”
“Kapan kamu akhiri masa bujangmu itu? Jangan sampai jadi perawan tua, Aisyah.” kata Gatot tanpa berniat untuk menggoda.
“Mas Gatot ini ada-ada saja,” tapi Aisyah malah tertawa mendengarnya.
Gatot mendengar tawa nan renyah itu serenyah kacang kapri yang sedang ia kunyah. Gatot sempat melihat wajah Aisyah membias merah jambu dan tampak malu-malu. Gatot ikut membalas tawa itu lalu menyimak acara televisi. Kadang-kadang saling lirik dan saling lempar senyum.
annisa islamiyah jilbab montok (19)
“Berbaring saja di kamarmu, Aisyah.” kata Gatot saat melihat Aisyah mulai menguap.
“Saya masih ingin nonton sinetron, Mas.” jawab Aisyah.
“Pindah ke berita saja ya?” tawar Gatot.
“Boleh,” Aisyah mengangguk.
Gatot memang sengaja menyuruh Aisyah berbaring di kamar daripada wanita itu berbaring di hadapannya. Selain merusak pandangan mata, juga merusak konsentrasi, terlebih lagi imannya. Itu karena Aisyah sama seperti Murti, tidak pernah pakai baju muslimah kalau lagi berada di rumah. Malam ini Aisyah hanya memakai baju terusan panjang tapi berkerah rendah, agak tipis pula sehingga isi tubuhnya membayang saat tersorot lampu neon.
Sampai jam sebelas malam, Gatot masih nongkrong di depan televisi, sedangkan Aisyah juga masih berbaring di karpet tapi sudah pasti terlelap dalam mimpi. Dengkur halusnya terdengar seperti lenguhan di telinga Gatot. Dada gadis itu bergerak turun naik secara teratur seirama dengan tarikan napasnya. Gatot menghela napas, lalu mematikan televisi dan membopong tubuh molek Aisyah ke dalam kamar.
Sejenak ia terdiam setelah menaruh tubuh Aisyah ke atas ranjang, tertegun Gatot menatapnya, jantungnya berdegup kencang menyaksikan pemandangan yang baru pertama kali ini ia lihat. Kini di depannya, berbaring sesosok tubuh perempuan cantik dengan kulit putih mulus dan kaki jenjang menggiurkan, menantinya untuk melakukan sesuatu yang sangat-sangat dilarang oleh agama.
annisa islamiyah jilbab montok (24)
Dada Gatot semakin berdetak kencang saat memperhatikan bahwa daster tidur yang dikenakan oleh Aisyah telah tertarik ke atas, hanya menutupi sebatas pinggulnya saja, memperlihatkan area kemaluannya yang meski dilapisi oleh celana dalam, tapi jelas menunjukkan rambut hitam yang tumbuh cukup lebat disana. Mata Gatot beralih ke atas, menatap ke arah dada Aisyah yang berpotongan rendah. Disana terlihat sebagian besar gunung kembarnya, membuat puting Aisyah yang mungil hampir menyembul keluar.
Gatot gugup melihat semua itu, gemetar ia menyaksikan indahnya pemandangan ini. Takut kalo seandainya Aisyah tiba-tiba sadar dan terbangun, serta menyaksikan ia berada di sampingnya sambil menatap takjub pada dirinya. Sadarkah Aisyah dengan keadaan dirinya ? Apakah dia memang benar-benar tertidur pulas sehingga tidak menyadari bahwa kehormatannya sedang terancam sekarang?
Ada keinginan yang bertolak belakang di hati Gatot. Keinginan yang pertama adalah segera pergi dan keluar dari kamar itu, meninggalkan Aisyah tidur sendirian. Namun disisi lain ada keinginan untuk tetap berada disitu, menikmati apa yang disuguhkan Aisyah kepadanya, dengan alasan bahwa ini adalah pengalaman pertama dan satu-satunya bagi dirinya dan mungkin tidak ada kesempatan lain untuk menikmatinya di lain waktu.
annisa islamiyah jilbab montok (22)
Gatot tertegun sejenak, melihat sekeliling, memastikan bahwa keadaan telah benar-benar aman. Entah apa yang membuat keberaniannya meningkat, tahu-tahu ia sudah memegang kaki Aisyah dan menariknya menjauh, membuat posisi kaki Aisyah sekarang terbuka lebar. Gatot lalu beringsut duduk diantara celah paha Aisyah, mengambil posisi senyaman mungkin disana.
Pelan ia mulai menelusuri bagian dalam paha Aisyah yang putih mulus, mulai dari lutut, dan terus naik dan semakin naik hingga jari-jarinya mencapai pangkal paha Aisyah dan berujung di pinggiran bukit kemaluan gadis cantik itu. Menggunakan jari telunjuk, ia geser kain celana dalam Aisyah agak ke tepi hingga bisa menyentuh daging lunak berbelahan sempit yang ada di baliknya. Gemetar Gatot menggerakkan ibu jarinya untuk menggesek bibir kemaluan Aisyah, mengetes reaksinya, sebelum menarik lagi tangannya saat didengarnya Aisyah sedikit mengeluh.
Tapi saat dilihatnya Aisyah masih tetap tertidur pulas, Gatot pun mengulang lagi aksi bejatnya. Ia urut belahan sempit yang terasa lengket itu hingga bibir kemaluan Aisyah jadi semakin terbuka lebar sekarang. Bentuknya sungguh sangat menggoda; tidak seperti milik Murti yang sudah menghitam karena sudah sering dipakai, vagina Aisyah masih tampak utuh dan sempurna. Dengan warna merah menyala dan belahan yang masih sangat sempit, Gatot yakin kalau Aisyah benar-benar masih perawan. Membuat Gatot jadi ragu, haruskah ia meneruskan perbuatan ini?
annisa islamiyah jilbab montok (23)
Tapi setan terus berbisik dan merayu imannya, hingga Gatot yang pada dasarnya masih labil, dengan mudah terbujuk. Tanpa bisa membantah, iapun menerus aksinya, tapi kali ini sambil memperlihatkan sikap waspada. Diperhatikannya wajah Aisyah yang masih terpejam rapat, suara dengkuran gadis itu terdengar halus dengan dada naik turun tak beraturan. Aisyah tersenyum dalam tidurnya, seolah ikut menikmati sensasi yang diberikan oleh Gatot. Sementara di bawah, vaginanya yang semula kering, kini mulai menjadi sedikit basah, seolah ada yang menyiramnya dengan cairan licin tak berwarna.
Tak tahan melihat semua itu, cepat Gatot melepas celana. Ia biarkan batang penisnya yang sudah menegang dahsyat mengacung tegak ke depan hingga bisa menyentuh belahan kewanitaan Aisyah. Terasa sangat geli sekali saat ia mulai menggesek-gesekkan ujung penisnya dengan bagian luar kewanitaan Aisyah. Gatot juga memberanikan diri dengan menjulurkan tangannya ke depan, menyentuh halus bagian atas dada Aisyah yang tidak tertutup oleh baju tidurnya. Hanya menyentuh, tidak lebih. Gatot tidak ingin membuat Aisyah terbangun.
Tapi entah bagaimana, mungkin akibat gesekan atau akibat dari nafsu Gatot yang sudah meledak-ledak, penisnya yang semakin keras dan tegang mulai mencari jalan untuk mencari kenikmatan lebih. Tanpa sadar -meski dari awal tidak berniat untuk menyetubuhi Aisyah- perlahan Gatot menggeser lutut dan paha Aisyah untuk semakin melebarkan celah mungil yang ada di selangkangannya. Tanpa disuruh dan diminta, penis Gatot yang semula hanya menggesek-gesek bagian luar kewanitaan Aisyah, kini mulai menyeruduk masuk menuju lubang kenikmatan perempuan cantik itu.
”Ups,” Gatot tercekat atas meluncurnya sang penis di luar kendalinya, menelusuri jalan licin dan sempit di belahan kewanitaan Aisyah. Ingin ia menarik kembali, namun Gatot takut kalau gerakannya yang tiba-tiba malah akan membuat Aisyah terbangun. Bisa celaka dia kalau dipergoki dalam keadaan seperti ini.
Maka Gatot menahan diri, sambil menahan nafas juga, menunggu reaksi dari Aisyah. Namun ternyata gadis itu diam saja, tidurnya masih terus berlanjut, membiarkan Gatot bertarung sendirian melawan hawa nafsunya. Dan tentu saja setan selalu menang; bukannya mencabut batang penisnya, Gatot malah mendorongnya semakin jauh ke dalam. Perlahan-perlahan ia terus menusukkannya hingga tiba-tiba saja Gatot merasakan ada sebuah dinding tebal yang menghalangi jalannya.
”Ok, cukup!” Gatot berkata dalam hati. Ia tidak ingin mengambil keperawanan Aisyah. Baginya begini sudah cukup. Gatot sudah merasa nikmat. Tanpa perlu merusak kehormatan Aisyah, Gatot merasa sudah bisa menyalurkan hasrat seksualnya.
annisa islamiyah jilbab montok (20)
Pelan Gatot mulai menggoyangkan pantatnya, menarik dan mendorong penisnya di sekitar bibir kewanitaan Aisyah. Hanya ujung penisnya yang masuk, namun sudah sanggup membuat Gatot melenguh nikmat. Ia terus melakukannya sambil berusaha mencari sensasi lebih. Dia arahkan tangan ke dada Aisyah yang masih tertutup baju tidur dan menyentuhnya perlahan. Gatot mulai meraba dan mengelus-elusnya lebih kuat saat dilihatnya Aisyah masih tetap tertidur dengan begitu pulasnya. Wajah cantiknya tampak damai, tidak ada perubahan apapun.
Semakin berani, Gatot segera menyingkap bagian baju tidur Aisyah yang menutupi sebagian kecil area payudaranya. Ia menarik dan menurunkannya, memaksanya agar jadi sedikit mengendur. Dengan begitu bisa memperlihatkan semua bagian yang tadi tersembunyi disana. Tampak puting mungil Aisyah yang berwarna merah muda, dengan dikelilingi lingkaran sewarna yang berdiameter sekitar dua cm.
Gatot segera mencium dan mengulumnya sambil terus memaju-mundurkan pantatnya, mendorong agar batang penisnya mendapatkan kenikmatan lebih. Ia juga mulai meremas-remas bulatan payudara Aisyah saat dilihatnya gadis itu masih tetap tertidur pulas. Terasa puting Aisyah mulai sedikit mengeras di dalam mulutnya.
Memandangi wajah cantik dan bibir indah Aisyah, membuat Gatot jadi penasaran ingin mengecupnya. Sambil terus melakukan dorongan-dorongan lembut ke vagina Aisyah, ia pun mendekatkan mulutnya kesana. Gatot memajukan bibir untuk mengecup bibir indah Aisyah.
”Hmm…” sensasinya sungguh luar biasa. Apalagi dalam tidurnya, Aisyah ternyata juga membalas kecupan itu. Gatot terus mempertahankan posisi sebelum akhirnya ia mulai turun untuk beralih ke arah payudara Aisyah yang padat dan indah. Ia kecup dengan lembut kedua puting Aisyah secara bergantian, lalu mulai menghisap-hisapnya secara rakus saat dilihatnya Aisyah masih tetap tertidur pulas dalam balutan mimpi indah.
annisa islamiyah jilbab montok (21)
Waktu terus berlalu. Entah berapa menit kemudian -mungkin karena penis Gatot sudah sangat terangsang- penetrasi yang ia lakukan nampaknya akan segera berakhir. Gatot merasakan seperti ada sesuatu yang akan meledak di ujung penisnya. Secara otomatis ia pun mempercepat gerakan, namun juga sedikit ia tahan karena takut Aisyah akan terbangun nantinya. Maka begitulah, tanpa dapat ditahan lagi, Gatot menyemburkan spermanya ke perut Aisyah.
Sengaja ia tidak mengeluarkan di dalam rahim Aisyah karena tidak ingin membuat gadis itu hamil. Tampak lelehan spermanya berceceran di perut Aisyah yang mulus dan ramping. Gatot segera melepas kaos yang dikenakannya untuk dipakai membersihkan cairan putih kental itu sebelum jatuh ke atas sprei. Sisa-sisanya yang masih menempel di ujung penisnya, juga ia lap pelan pelan. Baru kemudian Gatot bisa terduduk lemas.
Ada perasaan menyesal setelah melakukan ini, tapi juga lega karena tidak sampai merusak selaput dara Aisyah. Gadis itu masih tetap perawan! Ia perhatikan wajah cantik Aisyah yang masih tersenyum tipis dalam tidur pulasnya, gadis itu diam terpejam seolah tak menyadari apa yang telah terjadi. Menghela nafas puas, pelan Gatot beringsut turun dari ranjang. Setelah merapikan kembali baju Aisyah, tanpa bersuara ia berjalan ke arah pintu dan balik ke dalam kamarnya.
Gatot menghempaskan badan ke atas tempat tidur, ia merebahkan diri sambil mendengarkan suara rintik hujan yang tiba-tiba datang, membuat suasana yang hening jadi bertambah sepi. Sepi yang membungkus kedamaian hati.

ASMARANI

Lebih dari 15 menit berdiri, antrian di depanku masih panjang juga. Padahal aku hanya akan membeli tiket film yang kuyakin tak banyak orang akan membeli. Film berjudul panjang ‘What They Don’t Talk About When They Talk Bout Love’, tak seperti kebanyakan orang yang akan membeli tiket Iron Man 3. Bosan memperhatikan antrian, aku mengutak-atik smartphone-ku, mencari tahu ada berita apa di timeline Twitter. Samar terdengar percakapan di telepon dari pemuda di belakangku.

fatifa asmarani

“Iya, datang sendiri… dan jangan coba-coba lapor polisi!”

“…”

“Aku masih mau nonton film. Nanti malam saja. Jam sepuluh, bagaimana?”
“…”

“Hmm, begitu ya? Oke, di parkiran lantai delapan kalau gitu. Sebentar lagi aku ke sana. Ingat, jangan coba-coba menjebakku!” ujarnya setengah berbisik. Lirih.

Aku sempat menoleh untuk melihat seperti apa pemuda yang bercakap lirih itu. Rupanya seumuran denganku, berpenampilan necis dengan gaya rambut trendi. Tubuhnya kurus dan raut wajahnya tampak gelisah. Sempat kucuri pandang saat dia beberapa kali melihat jam tangan.

Ketika antrian di depanku sudah menyusut dan aku tinggal sejengkal dari meja ticketing, tiba-tiba pemuda itu meninggalkan antrian. Batinku bergejolak, antara tetap di sini atau membuntutinya. Setelah antrian di depanku benar-benar habis, aku melangkah mantap meninggalkan bioskop dan mengikutinya menuju parkiran. Kupercepat langkahku menuju lantai delapan. Sampai di sana, aku menjelajahi sudut demi sudut, mencari di mana sosok dirinya. Ketika hampir putus asa, terdengar suara jeritan perempuan tak jauh dari tempatku berdiri. Segera aku berlari ke arah suara itu.

fatifa asmarani (2)

Di belakang sebuah van, kulihat seorang gadis sedang diancam oleh seorang pemuda. Pemuda yang tadi. Dan gadis itu adalah… Asmarani Setiana Dewi. Ya Tuhan, tidak mungkin. Aku menatap tak percaya. Tapi memang benar, gadis disana itu adalah Asmarani Setiana Dewi.

Dari tempatku mengintip, aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun aku bisa menebak kalau si pemuda sedang mengancam Asmarani, ia mengeluarkan sebuah bungkusan yang di dalamnya berisi setumpuk foto dan menunjukkan pada Asmarani.

Asmarani melihatnya dan langsung terkesiap. Seperti tidak menyangka kalau akan melihat gambar-gambar itu. Tidak bisa kulihat foto apa itu, namun bisa kutebak kalau itu adalah foto-foto pribadi yang tidak seharusnya muncul ke publik.

Aku berjalan mendekat, ingin mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Kini jarakku hanya dua mobil dari mereka.

iffa-jilbabsemok (1)

”Pram, apa-apaan ini?! Darimana barang ini kau dapatkan?” tanya Asmarani dengan suara tegang.

”Itu tidak penting.” jawab pemuda yang ternyata bernama Pram.

”Jangan kurang ajar ya, cepat serahkan padaku!” kata Asmarani ketus, jilbab lebarnya yang sebatas perut tampak melambai-lambai karena tertiup angin.

”Eh, tidak semudah itu. Ada syaratnya,” jawab Pram kalem, tahu kalau ia memegang kendali permainan ini.

”Kamu mau uang? Sebutkan berapa, aku bayar sekarang!” tantang Asmarani tak sabar.

”Oo… nggak, nggak. Aku tidak serendah itu. Uang tidak aku butuhkan, aku  cuma minta…” Pram tidak meneruskan perkataannya.

”Apa, cepat katakan!” kata Asmarani dengan ketus. Meski berusaha untuk tegar, namun perasan aneh mulai menjalari tubuh sintalnya disertai dengan keringat dingin yang mulai mengucur deras. Dalam hati ia sudah bisa menebak apa yang diinginkan oleh Pram.

Pram maju selangkah dan tiba-tiba tangannya bergerak meremas payudara bulat milik Asmarani.

“Hei! Jangan kurang ajar ya!” bentak Asmarani sambil langsung menepis tangan itu dan mendorong tubuh Pram menjauh. “Bangsat… berani sekali kamu!!” Asmarani  menghardik dengan marah.

fatifa asmarani (1)

Pram tersenyum dan melambai-lambaikan setumpuk foto yang ada di tangannya. “Ayolah, aku tahu kamu bisa berpikir jernih. Coba bayangkan, gimana kalo foto-foto ini tersebar ke media. Gimana nanti tanggapan orang tentang kamu?!” kata Pram disusul gelak tawanya yang menjengkelkan.

Asmarani tertegun, pikirannya kalut. Tiada pilihan baginya selain mengikuti kemauan Pram. Kalau foto-foto itu sampai tersebar, imej-nya sebagai artis anggun yang berjilbab pasti akan hancur. Bahkan bisa-bisa karirnya tamat gara-gara masalah ini.

Pram kembali mendekatinya dan meraba pundaknya, “Gimana? Aku yakin kamu bisa memilih mana yang terbaik.” katanya sambil membelai lembut jilbab Asmarani yang melambai.

iffa-jilbabsemok (2)

Kulihat Asmarani tampak masih berpikir-pikir. Namun setelah beberapa saat, ia  akhirnya mengangguk meski masih dengan berat hati. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat Pram menyeringai penuh kemenangan.

“Hahaha… kamu memang pintar!” kata Pram dan tanpa sungkan-sungkan lagi langsung memeluk tubuh sintal Asmarani. Tangannya dengan gesit menggerayang untuk meremas-remas payudara Asmarani dari luar baju kurungnya. Tak cuma itu, Pram juga mulai menciumi Asmarani, lidahnya bermain dengan liar di dalam mulut gadis cantik itu.

Asmarani tampak geli, jijik dan juga nikmat saat menerimanya. Semuanya bercampur menjadi satu bersamaan dengan gejolak birahi yang entah berasal dari mana tiba-tiba saja mulai naik menyelubungi tubuh sintalnya.

Pram kini semakin berani dengan menyusupkan salah satu tangannya ke balik kaos lengan panjang yang dipakai oleh Asmarani. Tangan itu terus bergerak hingga sampai di atas gundukan payudara Asmarani. Pram berhenti disana dan mulai meremas-remasnya sebentar sebelum ia kembali menyusupkan tangan ke balik beha mungil Asmarani.

Tampak nafas Asmarani jadi semakin memburu ketika tangan Pram dengan begitu kasarnya mulai menggerayangi buah dadanya. Ditambah jari-jari Pram yang turut mempermainkan putingnya, maka makin lengkaplah penderitaan yang ia terima. Di atas, Pram juga terus aktif mempermainkan lidahnya, melumat habis bibir tipis Asmarani hingga air liurnya menetes-netes di pinggiran mulut.

”Ahh… j-jangan!” Asmarani melenguh, namun sama sekali tidak bisa menolak. Kini Pram sudah membuka resleting rok panjangnya sambil meraba-raba kulit pahanya yang putih jenjang. Satu-persatu kancing baju Asmarani juga dipreteli oleh laki-laki itu hingga nampaklah BH Asmarani yang berwarna merah muda, juga belahan dada dan perut Asmarani yang nampak mulus dan rata.

iffa-jilbabsemok (3)

Melihat semua itu, Pram terlihat semakin bernafsu. Dengan kasar ia menarik turun BH Asmarani hingga menyembullah payudara Asmarani yang montok dengan sepasang puting merah tua yang sangat mengggiurkan.

”Wow, ternyata lebih indah dari yang di foto!” kata Pram suka. Dibentangkannya lebar-lebar kedua kaki Asmarani, tangannya yang semula mengelus-elus paha Asmarani, kini mulai merambat naik ke selangkangan. Jari-jari besarnya dengan nakal menyelinap ke pinggiran celana dalam Asmarani dan mengelus lembut disana.

Asmarani terlihat muak dengan semua yang diterimanya, namun terlihat tidak berdaya untuk melawan. Matanya terpejam sementara dari mulutnya keluar desahan pasrah untuk yang terakhir kali, “Eeemhh… uhh… s-sudah… jangan… tolong hentikan… aku mohon!”

Namun Pram sama sekali tidak menghiraukan, dia malah merapatkan tubuh Asmarani pada bagian belakang mobil van. Yang tidak diketahui oleh Asmarani  adalah, Pram ternyata pintar membangkitkan nafsunya. Sapuan-sapuan lidah pemuda itu pada putingnya perlahan namun pasti mulai membuat Asmarani gelagapan. Yang terutama terlihat adalah puting Asmarani yang sekarang tampak semakin mengeras saja.

Tangan Pram juga mulai menyelinap ke balik celana dalam Asmarani untuk mengusap-usap permukaan kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus lebat menggiurkan. Dari tempatku berdiri bisa kulihat betapa rimbun rambut keriting itu.

“Sshh… eemhh…” Asmarani mulai meracau saat jari-jari tangan Pram perlahan memasuki lubang vaginanya dan memainkan klistorisnya, sementara mulut pemuda itu tiada henti-henti mencumbu bulatan payudaranya. Mau atau tidak, diperlakukan terus seperti itu membuat Asmarani mulai terbawa nikmat.

“Hehehe… kamu mulai terangsang ya?” ejek Pram dekat telinga Asmarani.

iffa-jilbabsemok (4)

Sebelum Asmarani sempat untuk menjawab, tiba-tiba saja Pram dengan kasar menarik lepas celana dalamnya sehingga yang tersisa di tubuh Asmarani sekarang hanya baju lengan panjang dan jilbab lebar yang masih menutupi kepala dan rambutnya. Sedangkan BH-nya sudah terangkat, memperlihatkan sepasang payudara milik Asmarani yang begitu putih dan mulus.

Pram menunduk, dibentangkannya kedua paha Asmarani di depan wajahnya. Tanpa aba-aba, ia kemudian membenamkan wajah pada selangkangan Asmarani. Dengan penuh nafsu ia melahap dan menyedot-nyedot vagina Asmarani hingga menjadi begitu basah. Lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina dan klitoris gadis itu. Sesekali Pram juga mengorek-ngorek lubang kemaluan dan anus Asmarani. Perlakuannya itu membuat tubuh Asmarani menggelinjang-gelinjang dengan diiringi oleh desahan nikmat.

iffa-jilbabsemok (11)

Tidak lama Pram melakukannya. Saat dirasa vagina sempit Asmarani sudah mulai basah, iapun berhenti. Ditariknya dua jari tangan yang sedari tadi mengorek-ngorek liang senggama dan diberikannya pada Asmarani, disuruhnya gadis itu untuk membersihkannya. Meski jijik, dengan terpaksa Asmarani melakukannya. Dijilatinya jari-jari Pram yang penuh belepotan oleh cairan cintanya.

“Nah, sekarang giliran kamu untuk merasakan kontolku!” kata Pram sambil mendorong tubuh Asmarani hingga jatuh ke lantai parkiran yang dingin. Disana, Asmarani meringkuk tanpa daya, berusaha untuk menutupi tubuhnya yang terbuka disana-sini. Sambil menyeringai, Pram mulai melepaskan celana. Dalam waktu singkat, tampaklah oleh Asmarani kemaluan Pram yang sudah menegang sedari tadi. Ukurannya lumayan besar juga, dengan dihiasi bulu-bulu keriting yang mencuat tak beraturan disana-sini.

Pram kemudian maju ke wajah Asmarani dan menyodorkan penisnya. Asmarani tanpa perlu disuruh dua kali segera mengocok dan mengemut penis itu. Pada awalnya ia terlihat hampir muntah, namun Pram dengan gesit menahan kepala Asmarani hingga gadis itu tidak dapat melepaskan kulumannya.

iffa-jilbabsemok (5)

“Yah gitu… hisap yang kuat, jangan cuma dimasukin mulut aja!” dengus Pram sambil terus memaju-mundurkan penisnya di mulut Asmarani.

Aku yang melihat dari jauh jadi ikut terangsang juga. Kubayangkan seandainya penisku yang sedang dihisap oleh Asmarani disana, uh betapa nikmatnya. Sambil terus menonton, kukeluarkan penisku dari sela-sela restleting dan mulai mengocoknya pelan. Aku onani!

Selama 5 menit Asmarani mengkaraoke Pram sebelum pemuda itu mengakhirinya dengan menarik kepala Asmarani menjauh. Setelah itu dibaringkannya tubuh Asmarani di lantai dan membuka lebar-lebar kedua paha gadis itu. Pram lalu berlutut di antaranya. Asmarani terlihat memejamkan mata, tak sanggup menerima pemerkosaan atas dirinya.

iffa-jilbabsemok (10)

Sleebb…!!! Dengan lancar penis Pram meluncur masuk sampai tembus menyentuh rahim Asmarani. Aku heran juga, apa Asmarani sudah tidak perawan? Yah, sepertinya begitu. Karena meski menangis, Asmarani tidak terlihat kesakitan, ia hanya merasa dilecehkan karena sudah diperkosa oleh Pram di lahan parkir mall. Asmarani bahkan mengerang setiap kali Pram menyodokkan penisnya, ia terlihat mulai bisa menikmatinya. Perawan ataupun tidak, aku suka melihat persetubuhan ini. Bayangkan, seorang Asmarani Setiana Dewi diperkosa tepat di depan matamu. Sungguh sangat beruntung sekali bukan? Siapa tahu aku bisa mengambil manfaat dari peristiwa ini. Ah, mudah-mudahan saja.

Gesekan demi gesekan, sodokan demi sodokan terus terjadi. Begitu membuai dan sangat nikmat. Sambil menyetubuhi, bibir Pram tak henti-henti melumat mulut dan payudara Asmarani, tangannya pun selalu meremas payudara dan pantat Asmarani yang putih mulus. Asmarani hanya pasrah saja menerima semua perlakuan itu. Bahkan saat Pram menaikkan tubuhnya ke pangkuan, ia hanya diam saja.

Pram kembali menggerakkan tubuh Asmarani naik turun. Ia melakukan itu sambil menyusu pada payudara Asmarani yang tepat berada di depan wajahnya. Ia kulum dan hisap puting Asmarani ke dalam mulutnya seperti bayi yang sedang menetek.

Puas di posisi itu, Pram kemudian membalik badan Asmarani hingga sekarang menungging. Disetubuhinya Asmarani dari arah belakang sambil tangannya bergerilya merambahi lekuk-lekuk tubuh Asmarani yang putih mulus. Dari tempatku mengintip, harus kuakui kalau Pram sungguh-sungguh hebat. Aku yang cuma onani sambil melihat saja sudah ejakulasi, sedangkan dia yang beneran main bisa bertahan begitu lama.

iffa-jilbabsemok (6)

Setelah lebih dari setengah jam, barulah Pram mulai melenguh panjang. Sodokannya terlihat semakin kencang sambil kedua payudara Asmarani diremas-remasnya brutal. Ia terus melakukannya sampai maninya menyempot dengan deras mengisi liang rahim Asmarani tak lama kemudian.

Asmarani menjerit keras saat menerimanya, namun ia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sudah kehabisan tenaga, jadi dibiarkannya saja mani Pram belepotan di sekujur tubuhnya.

Sebagai hidangan penutup, Pram menempelkan penisnya pada bibir Asmarani dan menyuruh gadis itu untuk membersihkannya. Asmarani tanpa bisa melawan segera menjilatinya sampai bersih. Setelah tidak ada lagi ceceran sperma yang ada disana, Pram baru mencabut penisnya dari mulut Asmarani.

“Aku sudah memenuhi keinginanmu, jadi serahkan foto-foto itu sekarang!” kata Asmarani tak sabar.

“Tenang, Sayang. Nih ambil,” jawab Pram sambil melemparkan tumpukan foto di tangannya ke muka Asmarani.

Asmarani lekas mengumpulkan dan mengamatinya. Saat tahu ada yang kurang, ia segera berteriak. “Klisenya! Mana klisenya?!” bentaknya.

iffa-jilbabsemok (7)

“Jangan marah-marah gitu dong, klisenya aman bersamaku. Kamu bisa mengambilnya besok pagi di rumahku.” kata Pram sambil memutar tubuhnya, bersiap meninggalkan Asmarani yang masih terpuruk kelelahan.

Tidak terima dengan kelakuan laki-laki itu, Asmarani pun lekas bangkit dan memburunya, ia mengejar Pram. Namun baru satu langkah, Pram tiba-tiba berbalik dan Jreb! Ia menghujamkan pisau tepat ke dada Asmarani. Gadis itupun langsung roboh tanpa sempat berteriak.

Aku yang panik, tanpa pikir panjang segera menghambur keluar. Sementara Pram berlari menjauh, kutarik pisau yang menancap di dada Asmarani dengan tanganku. Memang aku sempat terpesona oleh tubuh mulus Asmarani yang masih terbuka disana-sini, namun melihatnya yang sekarat menyabung nyawa, lekas kusingkirkan jauh-jauh pikiran mesum itu.

Aku sudah akan menelepon polisi saat tiba-tiba suara Pram mengejutkanku dari arah belakang. “Hei, Bung… jangan suka mencampuri urusan orang!”

Belum sempat aku berkata apa-apa, apalagi berbalik untuk menghadapinya, kurasakan sebuah benda tumpul menghantam tengkorak kepalaku.

iffa-jilbabsemok (8)

Bletak!

***

Aku terbujur kaku di satu ruangan lembab dan gelap. Tanganku terikat ke belakang kursi. Tak lama kemudian, lampu di atas meja depanku menyala. Redup. Pintu di belakangku terbuka, dan masuklah seorang lelaki tegap berseragam polisi. Dia duduk di depanku dan menyodorkan map yang dibawanya. Di situ tertulis bahwa aku tersangka utama pemerkosaan dan pembunuhan seorang artis dengan bukti berupa sidik jari pada pisau yang dijadikan senjata, serta saksi yang melihat. Aku tercenung, setengah shock membaca isi map itu.

“Pak, saya justru hendak menolong gadis itu. Saya hendak membawanya ke rumah sakit. Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapi. Sidik jari jelas, saksi juga jelas melihat Saudara melakukan pembunuhan itu. Saudara tak bisa mengelak!”
“Tidak, Pak. Demi Tuhaaan!”

“Jangan bawa-bawa nama Tuhan! Saudara itu seorang kriminil. Tak pantas!” bentak

polisi itu. Ia lalu membuka pintu dan setengah berteriak pada polisi yang lain.
“Jon, saksi bisa dipersilahkan pulang.”

“Baik, Pak!”

Tiba-tiba mataku menatap sosok yang tak asing. Pemuda itu. Pram!

iffa-jilbabsemok (9)

“Pak, pemuda itu pelakunya, bukan saya! Saya dijebak!”\

“Ah, diam kamu! Berisik!” bentak polisi itu lagi sambil mendekatiku. Satu tamparan keras melayang ke wajah. Sebelum kesadaranku hilang lagi, sempat kutangkap senyuman di wajah Pram.

MIA 3

yessy eci - hijabers mom community (1)

Aku menggeliat kedinginan. Suhu AC di kamar ini dingin sekali. Aku menengok ke kiri dan kekanan untuk mencari remote control mesin pendingin itu. Ketika Sedang mencari-cari, pandanganku tertumbuk pada tubuh polos telanjang seorang pria yang masih terbaring tidur. “Lelap sekali dia…”, pikirku. Di sebelahnya ada anak perempuan kecil, dia Fanny, anakku. Aku melihat jam yang ada di meja disamping tempat tidur, “Jam 6…”, gumamku.
Aku malas sekali untuk pulang. Aku masih ingin disini, di rumah Alex. O.. Iya… Alex itu adalah nama pria yang masih tidur di sampingku. Dia bukan suamiku, aku baru mengenalnya kemarin siang. Tapi kami sudah saling melakukan penjelajahan pada tubuh kami berdua selama semalaman ini.
Aaahhh…. Dingin sekali kamarnya Alex. Saking dinginnya, putting susu di payudaraku mendadak mengeras. Sambil senyam-senyum sendiri, niat isengku timbul, aku membalikkan tubuh Alex yang sangat atletis itu. Seketika itu juga, aku disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Sebuah benda yang sangat panjang dan besar, yang selama beberapa jam tadi telah membuatku lupa akan keberadaan suamiku, telah kembali bangkit berdiri tanpa disadari pemiliknya. Dan seolah-olah menyuruhku untuk menjilati dan mengulumnya. Tapi aku belum sepenuhnya tergoda.
Sambil menggenggam batang keras itu, akupun mengelus-elus liang vagina ku sendiri, dan entah kenapa, pikiranku menerawang ke saat aku dan pemilik penis besar ini bertemu….

***

Pukul 11 siang. Aku dan Fanny sedang berbelanja bulanan di sebuah supermarket. Sambil mendorong trolly, aku berjalan dari lorong ke lorong, berusaha mencari barang-barang yang ada di daftar belanjaan ku. Sampai suatu ketika, aku membelokkan trollyku ke lorong minuman. Tapi karena aku tidak melihat sisi sebelah kiri lorong –karena terhalang oleh sebuah rak display- trollyku menabrak trolly lain yang ada di sisi luar display tadi. Kontan saja aku meminta maaf. Pria yang trollynya aku tabrak tadi tersenyum, “Nggak apa-apa kok…”, katanya.
“Bener gak apa-apa?”, Tanya ku memastikan.
“Iya, “ jawabnya. “Makanya non, jangan sambil melamun. Mikirin apa sih?” tanyanya lagi sambil tersenyum.
“Aku nggak mikirin apa-apa kok….” Jawabku agak sedikit genit (Aku sendiri heran, kenapa bisa bergenit-genit gitu)
Lalu, tanpa terduga, pria tadi mengajukan tangannya dan mengajak berkenalan.
“Mmh… boleh tahu namanya gak non?”
Terus terang, aku kaget. Tapi entah kenapa, aku juga mengajukan tangan dan berkenalan dengan pria tinggi, putih dan ganteng yang berdiri di depanku ini.
“Kenapa nggak kamu duluan?” tantangku.
Sambil tersenyum maaanniiisss sekali, dia menyebutkan namanya….
“Alex… kamu?”
“Mmmhh…. Mia! Dan ini anakku… Fanny…”
“Oo.. anakmu tho non….” Sahutnya.
“Iya…” jawabku, “emang kenapa?”
“Nggak papa… Eh iya… boleh tahu no hp mu nggak?” tanyanya lagi.
Dan sekali lagi, entah kenapa… aku dengan entengnya memberikan no hp ku. Padahal biasanya, aku gak pernah kaya gini. Setelah mencatat no ku ke dalam hp nya, Alex me-misscall-ku. “Itu no ku…” katanya. Tak lama setelah itu, kami pun berpisah dengan berjanji akan saling telfon, paling tidak, sms-an.

Pukul 11.30 siang.
Aku baru saja sampai dirumah. Aku menyuruh pembantuku membereskan belanjaan, sementara aku masuk kekamar untuk berganti pakaian. Pas… ketika kain peradaban terakhir yang melingkar menutupi daerah sensitifku meluncur turun melalui kedua paha dan betis indahku, Hp ku berbunyi… aku lihat nama si penelfon. Ternyata Alex!!!
“Hallo…” kataku.
“Hallo non… lagi ngapain?” jawab Alex.
“Mmh… lagi ganti baju. Ngapain telfon?”
“Lho… kok sinis sih? Aku Cuma mau ngobrol kok…”
“Iya… iya…. Nggak sinis kok..!!” kataku mengoreksi, “maksudku, kok telfonnya cepet banget… kirain besok-besok…”
“Mmh… tapi nggak papa kan?” Tanyanya…
Kami ngobrol-ngobrol hampir 1 ½ jam sebelum aku (dengan herannya pada diriku ini) Memberikan no telfon rumahku. Ternyata, Alex lagi sendirian dirumah. Istrinya lagi ke Semarang dengan anaknya. Tanpa diduga, Alex mengajakku untuk ketemuan. Setelah aku pikir-pikir, toh cuma ketemuan ini…. Ya sudah, akhirnya aku mengiyakan ajakannya. Janjiannya di PIM, didepan bioskop 21, jam 7 nanti malam.

yessy eci - hijabers mom community (5)

Pas jam ½ 6, aku mengajak Fanny untuk mandi bareng (Alex membolehkanku untuk mengajak Fanny). Didalam kamar mandi, Fanny bertanya kepadaku…
“Mami kenapa? Kok senyum-senyum?” tanyanya lugu.
“Gak papa”, kataku, “mami mau ketemu sama Om Alex… tapi Fanny jangan bilang-bilang sama papi ya…. Nanti kalo Fanny nurut, mami beliin baju baru….”
“Asiiikkk…” sahut Fanny, “tapi…” katanya lagi, “kok ketemu Om Alex, mami seneng bener?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan Fanny, “Iya lah… Om Alex lebih ganteng dari papi, terus badannya bagus banget. Mami rasa, kontolnya Om Alex besar banget deh Fan….”
“Kontol apaan sih Mam?” Tanya Fanny lugu.
“Kontol itu buat dimasukkin kesininya mami!” jelasku sambil memperlihatkan belahan indah dibagian selangkanganku ini.
“Fanny juga punya….” Sahut Fanny seraya memperlihatkan memek kanak-kanaknya.
“Iya… tapi belum boleh dimasukkin kontol… nanti kalo Fanny sudah SMP atau SMU, Fanny mami bolehin deh masukkin kontol ke itunya Fanny”
“Emangnya kontol itu kaya gimana sih mam?”
Sedikit bingung njelasinnya, aku ngomong gini ke Fanny, “Kalo nanti Mami diajak ngewe sama Om Alex, mami kasih tahu ya…. Tapi inget… jangan bilang-bilang ke papi ya…!”
“Emangnya kenapa?”
“Nanti papi-mu ngiri…. Jangan bilang ke papi ya?”
Fanny mengiyakan saja…

Ketika aku ganti pakaian, suamiku bertanya, “kamu mau kemana?” Aku menjawab, kalau aku mau ke rumah Rieke, temanku, tapi suamiku gak tahu kalo aku sudah menelfon Rieke dan bilang kalo aku ada janji sama cowok… Rieke cuma ketawa kecil tapi ngerti. Lah… si Rieke ini jagonya selingkuh… hihihihihihi…..
Suamiku gak curiga dengan pakaianku. Aku memakai jilbab, baju kurung dan celana panjang ( aku pake g-string putih tipis dan tembus pandang), Sekitar jam ½ 7, aku dan Fanny, dengan menggunakan Taxi, cabut ke PIM.

Pertemuanku dengan Alex sangat menyenangkan. Dia selalu bisa membuatku tertawa dengan banyolan dan joke-jokenya. Bahkan dia membelikan Fanny, baju dan boneka. Kami juga sempat makan, belanja dan saling memuji. Katanya, rambut panjangku yang hitam sangat menarik, ditambah dengan tubuh yang proporsional, membuat dia ingin memeluk, mencium dan mencumbuku. Mau gak mau, aku cerita ke dia, kalo’ tadi pas lagi mandi, aku sempat membayangkan ‘barangnya’. Sambil tertawa, dia ngomong, “Ya ampun non, kamu sempat mikir gitu?”
“Iya!” jawabku singkat sambil tersipu malu.
Lalu ia membungkukkan badannya dan berbisik padaku, “Non, kamu mau nginap dirumahku gak? Nanti aku akan memuaskan rasa penasaranmu. Bahkan kamu boleh ngotak-ngatik barang yang tadi kamu bayangin.” Lalu ia mengecup pipiku dan tersenyum.
Tanpa banyak basa-basi, aku langsung meng-iyakan ajakannya. Di mobil, dalam perjalanan ke rumah Alex, aku menelfon suamiku. Aku bilang kepadanya, kalo’ aku dan Fanny menginap dirumah Rieke. Setelah menutup Hp-ku, aku bilang ke Alex… “Tonight, I’m yours!”
Dan Alex berkata (seolah untuk suamiku) “Sorry man! Tonight, your lovely, sexy, adorable and juicy wife is mine!”, lalu ia tertawa.
Aku ikut tertawa, sambil mengecup bibirnya, aku berkata, “Kamu lupa satu lagi!”
“Apa itu?” tanyanya…
“My pussy… my hairless, tight and warm pussy is yours too, tonight!”
“Yeah… baby! And my red neck dick is yours!” katanya…
Aku menjawab dengan gairah dan nafsu yang menggebu, “You’re right, baby! Can I try it now?”
Tanpa banyak basa-basi, Alex segera melepas celananya sebagian dan mengeluarkan benda yang dari tadi mengganggu pikiranku. Belum bangun sih… tapi itu saja sudah membuatku sesak nafas, karena besar sekali.
Sisa perjalanan ke rumah Alex diisi oleh suara-suara kecipak dan hisapan, tanpa ada suara lain. Aku sibuk dengan ‘barang baru’, Alex nyetir sambil keenakkan (terkadang, dia mengelus rambutku dan meremas toketku). Sementara Fanny, anakku, duduk di jok belakang dan diam saja menyaksikan aksi maminya ini.

yessy eci - hijabers mom community (4)

Sesampainya dirumah, Alex langsung mengunci pintu dan jendela. Lalu ia menelfon istrinya dan berpura-pura ber ‘miss u-miss u’an, sementara tangan kirinya menggenggam batangannya sendiri, berusaha untuk menjaga agar tetap tegang.
Setelah selesai nelfon, Alex langsung membuka jilbab dan pakaianku meninggalkan Bh dan g-string. Sisa pakaianku tergeletak pasrah di pintu depan. Alex memelukku dari belakang. Tangan kanannya merogoh cd-ku dan memainkan jarinya di kelentitku, sementara tangan kirinya saling bergantian meremas kedua payudaraku. Aku yang melingkarkan tanganku di belakang lehernya, memasrahkan bibir dan lidahku untuk dilumat bibir dan lidah Alex.
Lalu kami melanjutkan aksi kami dengan ber-69 ria. Ketika sedang bertukar posisi (sekarang aku tengkurap diatas tubuh Alex yang berbaring terlentang), Fanny mendatangi kami.
“Mami lagi ngapain?” tanyanya.
Sambil terengah-engah (Lidah Alex tidak mau keluar dari liang vaginaku), aku berusaha menjawab, “ssh… lagi ngisep… kontolnya… mmmhh… Om Alex! Uuuh… enak baangget Lex…”
Setelah itu, Alex menghentikan serangannya dan menyuruhku berlutut sambil menghisap zakarnya, sementara ia duduk di sofa dan menyuruh Fanny duduk di sampingnya.
“Fanny lihat mami kan?” Tanya Alex.
“Iya, Om… mami lagi ngapain?”
“Mami lagi ngisep kontolya Om Alex, sayang.” Jelas Alex.
Aku menghentikan seranganku dan menjelaskan ke Fanny, kalau benda panjang, besar dan keras yang sedang aku hisap ini adalah kontol. Fanny mengangguk mengerti, mungkin ia ingat omonganku di kamar mandi tadi sore.
“Fan…” kata Alex, “nanti mami sama Om Alex mau ML. Fanny diam aja ya…”
Fanny mengiyakan saja, walaupun ia tidak tahu apa itu ML.
Lalu aku bangkit berdiri dan duduk di samping Alex sambil memangku Fanny. “Fan, inget pesen mami ya… jangan bilang ke papi. Nanti, kalo Fanny bialang, kasihan mami… gak bisa ML lagi sama Om Alex… ya?”
“Iya mam…” jawab Fanny polos.
“Dan kamu…” kataku ke Alex, “mulai hari ini, memekku punya kamu. Dan gak usah ikut mikir suamiku. Kalo sama dia kan kewajiban… kalo sama kamu namanya hak… hak untuk menikmati kontolmu yang besar ini!”
Alex tertawa, “Kalo’ memekmu punyaku, berarti kontolku boleh kamu acak-acak!”
Setelah menurunkan Fanny, kami berpelukan dan saling mengulum bibir kami.

Kemudian, Alex menyuruhku terlentang dan dia membuka kakiku lebar-lebar. Setelah itu, vaginaku mulai dijajah oleh jari dan lidahya. Aah… nikmat sekali. Tak lama kemudian, aku meraskan ada cairan yang membasahi vaginaku, rupanya cairan pelumasku keluar. Mengetahui hal ini, Alex segera berlutut dan berusaha memasukkan penisnya yang besar itu kedalam vaginaku.
“Ssshh… Alex… eeennaaakkkk…. Baangeeettt…. Mmhhh!!!!”
Aku tahu kalo’ vaginaku ini memang sempit, tapi aku heran, ternyata barang kesayanganku ini sanggup menelan zakar Alex yang panjang dan besar itu. Pergulatan kami dilanjutkan dengan doggy style. Baru saja aku nungging, memek kesayanganku ini langsung disumbat oleh batang besarnya Alex. Alex merangsak maju mundur, walau sesekali dia menancapkan dalam-dalam batangannya lalu diam, seolah menyuruh dinding bagian dalam vaginaku untuk merasakan denyutan-denyutan dari urat dan kelenjar di batang besar itu.
Hujaman-hujaman Alex kian liar tatkala dia tahu aku bocor untuk yang pertama. Aaahhh… nikmat sekali rasanya (suamiku pun belum pernah memberikan yang seperti ini). Gerakan maju mundur Alex kian lancer saja, karena memekku sudah basah banget. Lalu Alex melepas kontolnya dan menyuruhku berbaring miring.
Dengan gerakan cepat, Alex mengangkat kaki kananku dan menancapkan kontolnya dengan mantap di liang surgaku dari belakang. Rupanya ini jurus andalannya. Dan ternyata, gayanya ini membawaku ke orgasme kedua, aahhh…. Lebih nikmat dari yang pertama!! Di tengah hujaman-hujaman itu, Alex berkata;
“Non… mmmhh… aku mau keluar yaaa….?!”
Baru saja aku mau bilang ‘didalam aja ngeluarinnya!’, Alex sudah mengerang hebat. Pada saat yang sama, bagian dalam vaginaku disiram dengan kencang sekali oleh cairan yang hangat, lengket, kental… dan sepertinya banyak sekali.
Pokoknya enak banget! Kemudian Alex melepas kontolnya dan menyuruhku terlentang. Lalu dia menempelkan kepala kontolnya di mulutku lalu mengocoknya. Ternyata masih ada cairan yang keluar dari bapak beranak satu ini. Peju lengket dan hangat itu muncrat di mulut dan lidahku. Sebagian memang ada yang ku kumur-kumurkan dulu sebelum kutelan, tapi sebagian lagi (dan itu yang paling banyak) langsung aku nikmati dari batang tempat keluarnya tadi. Setelah selesai, Alex langsung bersandar di sofa, sementara aku masih terbaring terlentang, merasakan kenikmatan luar biasa. Sementara Fanny berlutut dan membungkukkan badannya didepan vaginaku. Kakiku memang aku buka selebar-lebarnya, walau aku menaikkan kedua lututku. Kata Fanny, “Mami, kok pipisnya putih?” Sambil berusaha mencerna pertanyaan Fanny, aku merasakan ada sisa cairan sperma Alex yang mengalir keluar dari vaginaku.

yessy eci - hijabers mom community (3)

10 menit kemudian, aku dan Alex ke kamar mandi untuk membersihkan ‘kotoran’ yang ada di tubuh kami. Setelah itu, kami bertiga ke kamr tidur Alex. Aku dan Alex saling mencumbu lagi, sementara Fanny masih menyaksikan kami. Tiba-tiba Hp ku berbunyi, kulihat siapa yang menelfon… ternyata suamiku!
“Sayang…” kataku ke Alex, “ini suamiku. Kamu diam dulu ya… main sama Fanny dulu kek!” Lalu aku berkata ke Fanny, “Fan, kamu jangan berisik dulu yaa… main sama Om Alex dulu giih?!”
Fanny dan Alex menjawab berbarengan, “Iya mami…”
Lalu aku mengangkat telfon. Suamiku bertanya dimana aku sekarang. Aku bilang saja, ada di rumah Rieke. Sekarang, Rieke lagi keluar sama anaknya dan Fanny… lagi cari makan. Sementara aku menelfon, aku melihat Fanny sedang memegang-megang penis Alex. Aku terus berbicara di telfon sambil berusaha menahan senyum melihat Fanny dan Alex. Tak lama kemudian, aku menyudahi pembicaraan telfon dengan suamiku.
Setelah aku kembali ke tempat tidur, Alex ngomong ke aku, “Non, sekarang Fanny sudah tahu darimana dia berasal…”
“Kamu ngomong apa ke Fanny?” tanyaku. Lalu Alex menjelaskan pembicaraannya dengan Fanny. Aku hanya senyam-senyum aja dengerinnya. Sambil terus mendengarkan, aku dengan posisi berbaring miring menghadap Alex, kembali menggenggam batangan Alex dan mengocoknya. Sementara Alex yang berbaring terlentang, terus bercerita sambil terkadang meremas payudaraku yang besar dan memilin-milin putting susuku. Akibatnya, kami saling mencumbu lagi dan langsung memulai babak ke 2 pertandingan seru antara memekku dan kontol Alex.
Pergulatan itu berlangsung dalam berbagai gaya dan cara. Aku sampai 2 kali lagi mengalami orgasme. Untuk babak ini, Alex sengaja menyemprotkan spermanya di tubuh Fanny. Anakku kaget sekali disiram cairan kenikmatan Alex yang hangat, lengket dan banyak itu, tapi aku langsung menenangkannya. Seteha tenang, aku langsung membersihkan sperma itu dengan cara menjilati dan menelannya semua… sampai bersih. Aku dan Alex benar-benar gila sekali malam itu.

“We’re not makin’ love… we’re fuck!” kata Alex. Aku mengiyakan saja, sambil terus menjilati dan menciumi kepala zakar Alex. Sampai ½ 5 pagi, Alex sudah 4 kali mengeluarkan peju, sementara orgasmeku sudah tak terhitung lagi. Sekitar jam 5, kami tidur.

***

Tiba-tiba, aku tersadar dari lamunanku. Setelah mencium kontol Alex. Aku kamar mandi untuk sikat gigi dan mandi, lalu ke dapur untuk membuat sarapan (aku masih bugil). Ketika sedang membuat kopi, tubuhku dipeluk dari belakang, aku kaget sekali. Setelah melihat siapa dia, ternyata Alex.
“Pagi sayang!” kataku.
“Pagi juga Mia cantik…” jawab Alex sambil mengecup bibirku. “Kok kamu sudah bangun? Kenapa?”
“Aku kedinginan. Ya sudah, aku mandi aja pakai air hangat!” jawabku sambil memeluk tubuhnya yang tegap. “Kamu belum mandi! Kamu gak ke kantor?”
Alex menjawab sambil melepas pelukanku dan menyandarkan tubuhnya ke lemari kecil di sampingnya. “Kalo aku ke kantor, kamu kemana?”
“Ya… disini aja… nungguin kamu pulang!” jawabku.
“Tapi aku males masuk. Aku pingin ML lagi sama kamu… seharian ini!”
Aku kembali memeluk tubuh Alex yang telanjang itu, dan membiarkan penisnya menempel di perutku. “Aku juga mau! Tapi gimana kalo dirumahku aja?”
“Boleh…! Aku setuju!” sahut Alex sambil tersenyum. Senang sekali dia.

Singkat cerita, aku dan Fanny pulang jam 9 pagi, Alex ikut kerumahku. Dalam perjalanan pulang itu, aku mengenakan baju yang aku pakai waktu pergi (jilbab, baju kurung dan celana panjang). Sementara didalamnya, aku tidak memakai apa-apa… no bra… no kancut! Di lain pihak, Alex hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Sesampainya di rumah, suamiku sudah berangkat, hanya pembantuku saja. Kepadanya, aku bilang kalau Alex ini adalah rekan baruku dalam bisnis yang baru kurintis (bohong siiihh…  ) Jadi, aku aku dan Alex akan berdiskusi dikamarku. Dan aku berpesan, supaya jangan ada yang masuk ke kamarku. Kalau ada yang telfon, bilang aja gak ada ; Tapi kalau suamiku yang telfon, bilang aja aku sudah pulang dari pagi, tapi pergi lagi sama Rieke.

Didalam kamar, Alex langsung melepas jilbab dan bajuku dan aku melepaskan bauju Alex. kembali bugil! Setelah mengunci pintu, penis Alex langsung aku sepong lagi. Kali ini, Alex sudah dapat mengontrol dirinya. Hisapan-hisapanku ditanggapinya dengan tenang dan tidak grasak-grusuk. Sekitar 5 menit kemudian, aku minta Alex gantian menjilati memekku. Alex langsung memainkan peranannya, jilatan lidahnya pada kelentitku sangat hebat sekali dampaknya… cairan pelumasku keluar, basah sekali memek tersayangku ini. Mengetahui hal ini, Alex segera membalikkan tubuhku, sehingga aku dalam posisi menungging. Segera saja Alex memasukkan akar tunjangnya ke tempat yang seharusnya. Sambil bekerja keluar-masuk, penis Alex terkadang diputar-putarkan didalam memekku.
Batang besar itu lancar sekali bekerja, karena vaginaku sudah basah sekali. Setelah itu, Alex melepas zakarnya dan berbaring terlentang.

yessy eci - hijabers mom community (2)
Melihat hal ini, aku faham. Aku duduki pahanya, dan kujepit kontolnya dengan memekku. Aksiku yang satu ini ditanggapi Alex dengan meremas-remas toket besarku. Ketika sedang nikmat-nikmatnya menggenjot batangan Alex, aku merasakan akan orgasme… “Lex, aku mau dapet… enaaakkk banngeeetttt!!” erangku sambil bergetar hebat. Ternyata, Alex juga mau keluar. Tanpa dikomando lagi, aku dan Alex orgasme berbarengan. Cairan orgasmeku membasahi kontol Alex yang pada saat bersamaan, menyemprotkan spermanya, yang kutahu banyak sekali. Dan sepertinya, vaginaku gak sanggup menampung semua sperma Alex, sehingga sebagian ada yang mengalir keluar. Setelah itu, (tanpa mengeluarkan kontol Alex) kami saling berpelukan dan berciuman, menikmati orgasme kami masing-masing.

Ketika sedang berciuman. Hp ku berbunyi, kulihat nama penelfonnya. Ternyata Rieke! Aku angkat telfon…
“Eh Ke… ngapain telfon?” tanyaku.
Di seberang sana, Rieke menjawab. Suaranya terdengar agak panik, “Ngapain… ngapain… Gila lo! Laki lo nyariin, nelfonin gue terus. Dimana lo?”
“Di rumah. Lo dimana?” tanyaku tenang.
“Di rumah? Sinting lo ya…” Rieke menghela nafas lega, “tadi malam nginep dimana neng? Gw sampe bohong sama laki lo.”
“Ada aja…” jawabku genit. Sementara Alex sedang memelukku dari belakang (kami masih di tempat tidur) sambil meremas-remas toket dan menciumi leherku. “Eh… elo dimana?” tanyaku lagi.
“Gw lagi di taksi. Mau jalan-jalan sama Meta”
“Ke sini aja neng!” kataku lagi sambil melirik Alex yang tampak kaget. Lalu aku menyuruh Alex tenang.
“Ke rumah lo? Ngapain? Sepi, gak ada apa-apa!” kata Rieke, “gue mau nyari ‘lontong’ di mall!”
“Hahahahaha….. dasar lo! Gak jauh-jauh dari kontol. Gak pernah puas apa? Tiap hari ngewe…”
“Lo tau gue kan neng… Gue belum nemu ‘lontong’ yang pas buat serabi botak gue.” Tiba-tiba Rieke tertawa, seolah menyadari sesuatu, “Eh… dari tadi gue ngomong ‘lontong’ terus ya… hihihi… supr taxi ngeliatin gue sambil senyam-senyum. Dia ngerti, barangnya gue sebut dari tadi!”
Aku tersenyum, “Ya udah… makanya kesini aja… disini ada kontol satu, tapi gede banget! Mau nyoba gak?”
“Ha? Waaahhh…. Gue ngerti kemana lo semalem. Di perkosa sama tu laki-laki dirumahnya ya? Gila lo…. Ya udah gue ke rumah lo!”
Hubungan terputus………

NYAI SITI : ANITA

Seperti biasa, sehabis memasak dan bersih-bersih rumah, Nyai Siti akan pergi ke kamar Dewo untuk membangunkan laki-laki itu. Dan seperti biasa juga, caranya membangunkan Dewo adalah dengan menyepong kontolnya.
Dewo terbangun ketika merasakan ada tangan halus yang menggerayangi kontolnya, ia membuka mata dan melihat Nyai Siti yang duduk di tepi ranjang sambil cepat sekali mencopoti bajunya hingga telanjang. Hanya jilbab lebar yang ia biarkan menutupi rambutnya yang panjang. Sambil tersenyum, Nyai Siti langsung menghisap kontol Dewo. Ia kulum habis dan jilat-jilat benda panjang itu penuh nafsu, sambil tak ketinggalan juga biji pelernya ia pijit-pijit ringan.

”Yang beginian aja kok banyak yang nyari ya?” kata Nyai Siti sambil terus melomot kontol panjang Dewo.
Dewo cuma tersenyum mendengarnya. Ia biarkan Nyai Siti terus mempermainkan batang penisnya sementara ia sendiri membalas dengan meremas dan memijit-mijit bulatan payudara perempuan cantik itu yang kini kelihatan makin besar dan mengkal saja akibat sering ia pegang-pegang.
Lagi enak-enaknya, tiba-tiba masuklah dua orang ke kamar itu. Dewo dan Nyai Siti serentak menoleh kaget, tapi segera menarik nafas lega saat tahu kalau itu cuma Rohmah dan Wiwik yang akan berangkat ke sekolah.
”Mi, berangkat dulu,” pamit Rohmah pada ibunya.
Nyai Siti mengangguk mengiyakan. Ia lepaskan kontol Dewo sebentar untuk menyalami Rohmah dan Wiwik.
”Ih, Paman… nggak ada bosan-bosannya, ngaceng terus,” goda Wiwik sambil menggenggam pelan kontol Dewo. Nyai Siti tersenyum saja melihat ulah adiknya itu.
”Iya, bikin pengen aja.” Rohmah nimbrung dengan ikut memegang dan mengocoknya lembut.
”Eh, sudah-sudah… nanti kalian bisa terlambat sekolah,” sergah Nyai Siti begitu melihat Rohmah dan Wiwik mulai menunduk untuk menciumi kontol panjang Dewo.
Dewo hanya tertawa saja melihat kontolnya jadi rebutan. ”Iya, kalian sekolah dulu. Nanti sore, kalian baru boleh mainin kontol paman sepuasnya.” kata Dewo sambil meremas dada Rohmah dan Wiwik secara bergantian.
Dengan berat hati kedua gadis itupun melepaskan kontol panjang Dewo. Diiringi anggukan dari Nyai Siti, mereka keluar dari kamar. ”Janji ya, Paman, nanti sore?” kata Wiwik sebelum menutup pintu.
”Iya,” Dewo mengangguk sambil menarik kembali kepala Nyai Siti agar sekali lagi mengulum batang penisnya.
”Tusuk di memek sama anusku ya?” timpal Rohmah.
“Iya, iya, pasti dikasih sama Paman Dewo. Sekarang kalian sekolah dulu, cepat berangkat sana!” usir Nyai Siti melihat kedua anak gadisnya yang masih berat meninggalkan kamar.
Rohmah dan Wiwik tertawa cekikikan melihat Nyai Siti yang mulai uring-uringan karena nafsu kenikmatannya terganggu. Sepeninggal mereka, dengan gairah menggebu-gebu, Nyai Siti langsung berjongkok di atas kontol Dewo. Dia pegang dan masukkan benda coklat panjang itu ke lubang vaginanya, dan lalu mulai menggenjotnya naik-turun sambil menghadap pada Dewo sehingga laki-laki itu bisa leluasa mempermainkan dan meremas-remas tonjolan payudaranya sementara ia sendiri berkuda.
Sekitar 7 menit mereka dalam posisi seperti itu sebelum pintu kamar kembali terbuka. Kali ini Kyai Kholil yang masuk. Nyai Siti sempat menghentikan gerakannya sejenak, tapi segera menggoyang kembali saat mengetahui kalau Kyai Kholil cuma menanyakan dimana Nyai Siti menyimpan lauk untuk sarapan.
”Ahh… a-ada di d-dalam lemari…” sahut Nyai Siti dengan nafas ngos-ngosan dan tubuh mulus mengkilat karena keringat. Dewo sendiri cuma tersenyum dan mengangguk, tangannya dengan nakal terus menjamah dan meremas-remas payudara Nyai Siti yang putingnya kini kelihatan kaku dan menegang.
Seperti sudah diceritakan di episode lalu, Dewo sudah berhasil memelet Kyai Kholil. Laki-laki itu kini sudah seperti orang ling-lung, sama sekali tidak marah meski mengetahui istrinya main gila dengan Dewo. Malah yang lebih gila lagi, Kyai Kholil juga ikut-ikutan. Ia sudah tidur dengan Wiwik, dan kemarin malam -atas bantuan Dewo- ia juga tidur dengan Imah. Hanya Rohmah yang masih belum karena sedikit kesadaran di pikiran Kyai Kholil melarangnya untuk meniduri anak sendiri. Pelet Dewo masih belum bisa menjangkau kesana.
Mengangguk mengiyakan, Kyai Kholil keluar dari kamar, meninggalkan Dewo dan Nyai Siti menyelesaikan urusan mereka. Ia bergegas pergi ke dapur dan menyiapkan sarapannya sendiri. Tapi baru saja menyendok nasi, didengarnya suara seseorang mengucapkan salam dari luar.
”Assalamu’alaikum…”
”Wa’alaikum salam… tunggu sebentar,” balas Kyai Kholil, tanpa mencuci tangan ia pergi ke pintu depan.
Saat dibuka, dilihatnya seorang wanita cantik berjilbab lebar dengan pesona yang sungguh memukau. Apalagi dengan baju gamisnya yang cukup ketat hingga mencetak jelas bentuk tubuhnya yang sangat menggairahkan. Kyai Kholil langsung tergoda. Dulu, sebelum terkena pelet Dewo, ia tidak mungkin punya pikiran seperti ini. Kyai Kholil adalah orang yang lurus dan beriman. Tapi sekarang, begitu merasakan kenikmatan memek wanita-wanita berjilbab, ia jadi berubah seperti srigala pemangsa. Di dalam pikiran Kyai Kholil langsung terbayang erangan-erangan mereka yang menjerit penuh nikmat di atas ranjang dengan masih memakai jilbab. Ia jadi ingin merasakannya lagi, dengan wanita ini tentunya. Wanita yang bernama Anita.
”Eh, Anita… mari, mari masuk, silakan.” sapa Kyai Kholil dengan sopan.
Anita dengan tersenyum malu melangkahkan kaki ke ruang tamu. Begitu melewati pintu, sebentuk hawa sejuk tiba-tiba menerpa mukanya, membuatnya jadi terdiam dan terbengong-bengong untuk beberapa saat. Kyai Kholil tersenyum, tahu kalau pelet Dewo sudah mulai bekerja.
”Ada perlu apa, Nit?” tanya Kyai Kholil, masih dengan sopan. Padahal di balik sarung, kontolnya sudah mulai ngaceng dan mengeras.
”Eh, itu… aku… emm… apa ya?” Anita menjawab bingung, tiba-tiba lupa dengan tujuannya kemari. Yang ada di pikirannya sekarang malah paras Kyai Kholil yang kelihatan jadi jantan dan menarik, membuat memeknya jadi basah dan lembab dengan begitu cepat.
Kyai Kholil tersenyum, ”Kamu duduk aja dulu, saya ambilkan minum.” Sesuai pesan Dewo, agar lebih memperkuat khasiat pelet, harus ditambah dengan minuman yang sudah diberi jampi-jampi. Dewo sudah menyiapkannya di dapur, di dalam sebuah kendi yang ditaruh di atas lemari. Meminum seteguk ramuan itu akan membuat wanita langsung hilang kesadaran dan menuruti apapun mau kita. Kyai Kholil sudah mencobanya kemarin kepada Imah, dan sekarang ia ingin memberikannya pada Anita.
Anita sendiri adalah wanita yang sangat cantik, baru saja menikah dan belum dikaruniai anak. Sehari-hari selalu memakai jilbab, perilakunya sangat alim dan religius. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk menekuni akhirat, dan yang pasti selalu berbuat kebajikan. Suaminya seorang da’i muda yang sering memberikan ceramah di mana-mana. Anita jadi sering ditinggal sendiri, membuatnya jadi harus menahan nafsu yang menggebu-gebu. Siapa sangka, di balik jilbab lebarnya, Anita ternyata mempunyai naluri seks yang sangat tinggi, yang sama sekali tidak bisa diimbangi oleh suaminya. Maka jadilah Anita selalu kecewa, tapi selalu bisa ia sembunyikan. Sebagai istri solehah, ia memang tidak boleh menuntut. Menurut agama, itu sangat tabu. Kewajiban istri adalah melayani suami, bukan meminta kepuasan.
Karena itulah, begitu pelet Dewo mulai bekerja, Anita tunduk dengan begitu mudah. Ia diam saja saat Kyai Kholil memberinya minum dan kemudian duduk di sebelahnya, padahal seharusnya mereka tidak boleh berposisi seperti itu karena bukan mahram. Kalau dua orang berdiam di satu tempat, maka yang ketiga adalah setan. Setan yang berwujud pelet maut Dewo.
”Habis menikah, kamu tambah cakep aja,“ puji Kyai Kholil tanpa malu-malu, ia memandangi Anita sambil tersenyum. Mukanya sudah mupeng, ingin segera menyetubuhi perempuan cantik itu.
“Ah, Pak Kyai bisa aja,” Anita tertawa manja. ”Kok sepi, kemana Bu Nyai?“ tanyanya dengan menggeleng-gelengkan kepala, berusaha mengusir rasa gatal aneh yang mulai menyelubungi tubuh sintalnya. Yang tentu saja itu tidak mungkin, pelet Dewo sangat mustahil untuk dilawan.
“Bu Nyai lagi pergi, mungkin belanja.” jawab Kyai Kholil berbohong dengan hidung mengendus-endus, bau wangi tubuh Anita menusuk hidungnya, membuatnya jadi makin terangsang dan bergairah.
“Oh… berarti kita cuma berdua ya?“ Anita tersenyum, seperti mengerti dengan kode aman dari Kyai Kholil.
”Iya,” Kyai Kholil mengangguk, “tahu nggak, kecantikan kamu bikin aku jadi kesengsem nih.“ godanya yang dijawab dengan pelototan mata dari Anita. Bukan karena marah, tapi lebih karena kaget melihat Kyai Kholil yang terang-terangan menggodanya.
“Pak Kyai kok jahil, sih…“ Anita mengipas-ngipaskan tangannya, mulai merasa panas akibat pengaruh pelet Dewo. Ia berusaha membenahi jilbabnya yang berwarna merah muda dan tersenyum. “Eh, Pak Kyai… saya mau tanya… tapi aaah…“ ucap Anita dengan suara mulai tak teratur.
“Tanya apa, soal seks ya?“ pancing Kyai Kholil dengan kurang ajar, membuat Anita yang meski sudah menyerah jadi sedikit terkejut juga.
“Iyaa… eh, tidak… ah, anuu… soal rumah tangga!“ ralat Anita yang semakin kacau, panas tubuhnya semakin meningkat membakar gairahnya.
“Kamu kok kelihatannya nggak tenang, panas ya… apa kamu gerah?“ tanya Kyai Kholil sambil mendekatkan tubuhnya, merangsek lebih menempel ke tubuh montok Anita.
Anita sendiri tidak menyingkir, ia diam saja dan malah memijit-mijit  kepalanya, “Nggak tahu nih, Pak Kyai… tiba-tiba saja saya nggak enak badan.” katanya.
”Ada yang bisa kubantu?” tawar Kyai Kholil.
”Uuh… gimana ya, saya mau minta tolong… tapi aaah…“ ujar Anita semakin bingung.
Kyai Kholil langung mengambil inisiatif dengan memandangnya sambil tersenyum. Anita terkejut dipandangi seperti itu, tapi sama sekali tidak bisa menolak. Yang ada nafsunya malah semakin melambung dan ikut tersenyum. Anita kembali menenggak sisa minuman yang ada di meja, yang tentu saja membuat badannya menjadi kian panas. Kyai Kholil terus mendekat sedikit demi sedikit, hingga akhirnya Anita memejamkan mata saat merasakan rangsangan dari minuman itu kian menggerogoti tubuh sintalnya. Ia juga diam saja saat Kyai Kholil mulai menggenggam belahan tangannya.
”Pak Kyai…” lirih Anita sedikit terkejut.
“Tenanglah, aku akan membuatmu nyaman.“ kata Kyai Kholil sambil mulai memijit lengan Anita. Dengan bimbingan dari Kyai Kholil, Anita segera merebahkan diri di sofa, jilbabnya ia atur sedemikian rupa agar tidak lecek, sebelum kemudian mulai memejamkan mata. Pelan Kyai Kholil terus memijat bahu Anita.
“Uh, Pak Kyai… rasanya panas.“ keluh Anita tetap tidak tenang.
”Hembuskan nafasmu pelan-pelan,“ Sambil terus memijit, Kyai Kholil menggiring tangan Anita agar menyentuh selangkangannya.
“Iya, Pak Kyai…” Anita membuka matanya sebentar, lalu memejamkannya lagi. ”Eh, apa ini?!” teriaknya kencang saat tangannya nemplok di selangkangan Kyai Kholil yang sudah ngaceng berat. Kontan Anita langsung membuka matanya.
Namun Kyai Kholil yang sudah tidak tahan lagi, langsung menundukkan kepala dan melumat bibir tipis Anita dengan penuh nafsu, ia pegang kepala perempuan berjilbab itu agar tidak dapat bergerak lagi. Mereka berciuman dengan sangat-sangat panas.
“Oh, Pak Kyai… aaahh…“ jerit Anita dengan mata tertutup. Akibat pengaruh pelet Dewo, ia menanggapi lumatan Kyai Kholil dengan tak kalah bernafsu.
Mengetahui kalau mangsanya sudah berhasil dijerat, Kyai Kholil mengendurkan lumatannya, kini ia cuma memagut pelan. Anita menikmati pagutan itu dengan tetap memejamkan matanya. Kyai Kholil terus mencium dan mencucup mesra, ia mainkan bibir Anita dengan lidahnya. Gadis itu tetap terdiam, menerima semua perlakuan Kyai Kholil dengan senang hati. Namun Anita sedikit terkejut saat merasakan ada tangan yang mulai menggerayangi buah dadanya, membuatnya jadi sedikit membuka mata.
“Pak Kyai…“ lirihnya untuk yang terakhir kali.
Kyai Kholil pantang untuk mundur. Sambil mulai meremas dan memijiti bulatan payudara Anita dari luar baju kurung, ia peluk perempuan cantik itu dan dihujaninya lagi dengan ciuman dan pagutan. Payudara Anita terasa sangat empuk dan kenyal dalam genggaman tangannya. Meski terlapisi oleh beberapa helai kain, tapi kelembutannya begitu terasa. Ukurannya yang besar dan di atas rata-rata juga membuat Kyai Kholil semakin menyukainya, membuatnya semakin bernafsu dan bergairah.
“Ah, Pak Kyai… enak… terus… uuuh…“ kembali Anita mengerang saat Kyai Kholil bertindak semakin nakal.
“Akan kuberikan kenikmatan surgawi kepadamu, Anita sayang.“ rayu Kyai Kholil semakin menggila. Ia tindih tubuh mulus Anita yang kini semakin tenggelam dalam lautan birahi. Disingkapnya rok panjang perempuan cantik itu dan diterobosnya celana dalam Anita yang menyembunyikan jembut tebal.
“Uuh… enak, Pak Kyai… uuh!“ lenguh Anita ketika dengan nakal Kyai Kholil mengelus dan menekan-nekan lubang vaginanya yang telah membasah penuh.
“Pegang punyaku, Nit.“ seru Kyai Kholil pada wanita berjilbab ini.
Anita membuka matanya saat melihat Kyai Kholil berdiri untuk membuka sarung. Di depannya langsung tersaji kontol Kyai Kholil yang sudah ngaceng berat. Meski tidak begitu panjang tapi sangat kaku sekali. Anita melotot sebentar saat melihatnya. ”Uhh… penis Pak Kyai gede,“ ungkapnya dengan racauan mulut sudah keluar dari logika.
Kyai Kholil memberikan pagutan lagi sebelum menyuruh Anita untuk mengulumnya, “Emut, Nit…”
Anita menggeleng ragu. ”Saya belum pernah…” dia berkata.
”Enak kok… coba aja, ayo!” rayu Kyai Kholil jorok. Ia tarik tangan Anita dan diarahkan ke batang penisnya. Begitu sudah memegangnya, Anita langsung tersenyum. Ia pandangi batang Kyai Kholil dengan penuh nafsu, gejolak birahinya tahu-tahu naik dengan drastis. Ini semua adalah efek dari pelet Dewo.
Pelan-pelan Anita memajukan kepala dan membuka mulutnya. Kyai Kholil mengatur jilbab perempuan itu agar jadi lebih rapi, tidak menghalangi aksinya dalam mengulum penis. Sementara Anita mulai mencucup dan menciumi kontolnya, tangan Kyai Kholil ikut nakal dengan meremas-remas buah dada Anita yang masih tertutup pakaian gamis. Hanya rok Anita yang terlihat tak karuan karena sudah disingkap oleh Kyai Kholil tadi. Terlihat betapa mulus dan putihnya paha perempuan cantik itu. Juga pinggulnya yang bulat menggoda, membuat Kyai Kholil makin ngaceng berat dibuatnya. Di depannya, Anita dengan kaku mulai menelan batangnya. Menghisapnya pelan-pelan dan mulai mengulumnya dengan begitu rupa.
“Tahan sebentar!“ Kyai Kholil menahan kepala Anita, ia tarik batangnya hingga terlepas dari jepitan mulut gadis alim itu, sebelum kemudian duduk di sofa. “Sudah, emut lagi!” katanya sambil mengelus paha mulus Anita.
Anita pun kemudian membungkuk, mengulum kembali kontol Kyai Kholil. Dengan cepat mereka saling membelai, Kyai Kholil mengelus dan meraba-raba bokong bulat Anita, sementara Anita melayani batang Kyai Kholil dengan segenap nafsu dan gairah.
“Sssh… ahhh… enak sekali seponganmu, Nit… ahhh… terus kulum kontolku… kamu benar-benar menggairahkan, berjilbab tapi ngemut kontol…“ Kyai Kholil menarik ikatan jilbab Anita yang terikat ke belakang agar tidak jatuh ke depan. Ia terlihat semakin dilanda birahi, namun Kyai Kholil berusaha sekuat tenaga menahan diri mengontrol nafsunya agar tidak cepat-cepat keluar. Ia ingin bisa bercinta dengan Anita, tidak cuma menikmati sepongan mulut gadis itu.
Anita yang juga sudah terbakar birahi, terus melumat dan menghisap kontol Kyai Kholil penuh nafsu. Kehormatannya sebagai seorang istri setia yang alim dan soleha, kini telah hilang. Tergantikan oleh nafsu setan dan gairah yang menggebu-gebu, yang menuntut untuk dipenuhi dan dituntaskan saat ini juga.
“Terus, Nit… uhhh… kamu pintar!” rayu Kyai Kholil semakin menggila, membuat Anita semakin cepat mengulum batang penisnya. Ia membalas dengan mengelus belahan memek Anita pelan-pelan.
“Sssh… s-sudah, Pak Kyai… g-geli… ahhh…” desis Anita dengan suara tidak terdengar jelas karena mulutnya tersumbat kontol panjang Kyai Kholil.
Kyai Kholil segera mendorong tubuh Anita ke depan, ia tarik celana dalam perempuan alim berjilbab itu hingga terlepas. ”Mau tahu yang lebih geli?” tanyanya sambil menaikkan rok Anita ke atas dan langsung menyerbu vagina perempuan itu dengan begitu rakus. Anita langsung memejamkan mata karena saking nikmatnya.
“Oh, Pak Kyai… enaknya… aaah… aauh… terus, Pak Kyai… terus!!“ ucap Anita kembali terlanda birahi. Serangan Kyai Kholil pada lubang vaginanya membuat Anita melayang antara sadar dan tidak sadar. Jantungnya  berdegup kencang merasakan jilatan Kyai Kholil yang begitu cepat dan lihai, mengorek-ngorek seluruh isi memeknya hingga jadi begitu basah dan lembab. Anita sampai menggeliat tak karuan karenanya.
“Pak Kyai nakal… aahh… tapi enak… terus, Pak, terus… aaah… ssssh…“ lenguh Anita yang jilbabnya kini semakin tak teratur akibat gelengan kepalanya. Namun dengan sigap tangan Kyai Kholil segera naik membenahinya, ia tidak ingin jilbab itu sampai terlepas. Kyai Kholil paling suka menyetubuhi perempuan yang memakai jilbab.
Setelah cukup lama lidahnya bermain-main di memek sempit Anita, Kyai Kholil akhirnya menarik lepas bibirnya. Pelan ia pagut kembali bibir tipis Anita dan dikulumnya dengan begitu lembut. “Ayo, kontolku sudah siap mencoblos memekmu!“ bisik Kyai Kholil yang dijawab Anita dengan anggukan mesum penuh nafsu.
Kyai Kholil mengocok pelan batangnya agar tetap ngaceng sementara Anita mempersiapkan diri. Wanita itu duduk mengangkangi kontol Kyai Kholil yang tetap duduk diam di sofa, siap memangkunya. Pelan Anita mendekatkan selangkangannya, ia pegang batang Kyai Kholil agar tepat menusuk di lubang kemaluannya. Sementara tangan Kyai Kholil sendiri masuk ke gamis Anita untuk meremas-remas buah dada indah yang masih tersembunyi disana. Entah kenapa, sampai sekarang Kyai Kholil masih belum melepas baju Anita. Padahal kan nikmat sekali bercinta dengan tubuh sama-sama telanjang.
“Tekan, Nit!“ ajak Kyai Kholil yang disambut tekanan lembut di selangkangan Anita. Pelan tapi pasti, batang Kyai Kholil mulai tenggelam di belahan memek Anita yang sempit dan legit.
“Auw! Aduuh… aaah…“ erang Anita merasakan batang Kyai Kholil yang mulai menerobos liang surgawinya.
“Tenang, Nit… rasanya nanti akan nikmat kalau kamu sudah menggenjotku.“ rayu Kyai Kholil sambil terus menekan batangnya ke atas.
“Iya, Pak Kyai… aaoh… batang Pak Kyai gede banget!“ keluh Anita suka.
“Ini kontol namanya, Nit…“ sahut Kyai Kholil jorok.
“Iya, kontol… aaah… kontol Pak Kyai… auhh…“ sahut Anita semakin tak karuan. Desakan di lorong vaginanya semakin membesar akibat Kyai Kholil yang terus menekan pinggulnya, membuat batangnya semakin melesak lebih dalam lagi.
“Genjot pelan-pelan, Nit.“ ajak Kyai Kholil saat batang kontolnya sudah terbenam penuh.
Anita menyambut perintah itu dengan mulai menggerakan pinggulnya pelan-pelan, menggoyangnya naik-turun hingga membuat kontol Kyai Kholil melesak masuk lebih dalam lagi. “Aaaaaw…“ jerit Anita penuh kenikmatan.
“Ayo, genjot terus!“ ajak Kyai Kholil dengan tangan terus bermain-main di gundukan payudara Anita yang mulus dan lembut. Ia remas-remas benda bulat padat itu sambil tak lupa memilin-milin putingnya yang semakin terasa kaku dan menegang.
Menerima semua rangsangan itu membuat Anita semakin kuat menggerakkan tubuhnya, terus ia genjot batang Kyai Kholil sampai mereka berdua semakin larut dalam api birahi. “Ahh… enak, Pak Kyai… sssh… sssh… uuuh…“ lenguh Anita tak tahan akan kontol Kyai Kholil yang terus mengoyak lorong vaginanya. Ia bergerak semakin cepat karena merasa akan mencapai orgasme, hal yang sudah lama tidak ia rasakan bersama sang suami. Anita terus menekan lebih dalam, bahkan sampai kontol Kyai Kholil mentok di ujung vaginanya.
“Pak Kyai… aaaah… saya nggak kuat! Aaaaaah…“ erang Anita sambil  menghujamkan pinggulnya kuat-kuat. Di saat yang bersamaan, celah vaginanya menyempit ketika menyemburkan cairan cintanya yang begitu banyak dan basah. Dengan kepala terdongak ke atas, Anita memejamkan mata, sementara dadanya yang besar makin kelihatan membusung dalam genggaman Kyai Kholil. Tubuhnya kelojotan beberapa saat dalam pangkuan laki-laki itu.
Kyai Kholil segera memeluk tubuh Anita yang masih tampak ngos-ngosan untuk memberikan ketenangan. Ia rasakan memek perempuan cantik itu mengalirkan cairan banyak sekali, bahkan hingga sampai membasahi sofa. Masih dalam pelukan Kyai Kholil, Anita tampak mulai bisa menguasai diri, nafasnya sedikit lebih tenang meski tubuhnya sudah keringetan disana-sini. Kyai Kholil berusaha terus menenangkan dengan mengelus-elus kepala Anita yang masih tertutup jilbab. Sementara penisnya masih tetap tertanam penuh di lorong kewanitaan Anita yang sekarang jadi terasa hangat dan menyedot-nyedot ringan.
Tak lama kemudian Anita menarik kepalanya dan memandang Kyai Kholil dengan perasaan setengah takjub. “Pak Kyai sangat luar biasa, baru kali saya merasakan yang seperti ini.” bisiknya dengan nada penuh pemujaan.
Kyai Kholil tersenyum, ”Ini semua karena tubuhmu yang molek dan indah, Nit.” balasnya membual.
“Saya puas main dengan Pak Kyai.“ ungkap Anita dengan menunduk mengusap mukanya dan kemudian hendak membuka jilbabnya.
“Eh, jangan dibuka.” sela Kyai Kholil, ”Saya paling suka main sama yang berjilbab. Ayo sini, tinggal selangkah lagi aku sampai.” ajaknya sambil memandang kecantikan Anita.
“Baiklah, kalau memang itu yang Pak Kyai mau…” gumam Anita mengiyakan. Ia biarkan tangan Kyai Kholil menelusup masuk ke balik baju gamisnya untuk mengelus-elus bulatan payudaranya yang putih mulus. ”S-sudah, Pak Kyai… geli ah… katanya tadi udah mau nyampai.” Anita menggelinjang karena Kyai Kholil kini bertindak semakin nakal dengan menaikkan pakaiannya ke atas, mengangkat terus dan akhirnya melepas kain itu melewati tubuh montok Anita.
Anita sama sekali tidak melawan atau mencegah. Diperhatikannya Kyai Kholil yang sekarang tampak melongo mengagumi keindahan payudaranya. Laki-laki itu memandang sambil menggeleng-geleng. “Cium, Pak Kyai… jangan cuma dilihatin aja.“ ucap Anita dengan perasaan ditahan, tanpa terasa gairahnya mulai muncul kembali. Itu semua karena kontol Kyai Kholil yang masih terjepit kuat di celah selangkangannya, membuat Anita jadi cepat lupa daratan jadinya.
“Aku pengin menggenjotmu dengan menungging, Nit!“ ajak Kyai Kholil sambil memeluk tubuh molek Anita dan menggulingkannya ke samping. Langsung ia tindih dan tusuk keras-keras begitu Anita memberikan pinggulnya. Anita sendiri kontan melenguh merasakan desakan batang Kyai Kholil yang tanpa membuang waktu sudah bergerak dengan begitu cepat.
“Ahhh… Pak Kyai… e-anak banget kontol bapak!!“ aku Anita dengan mata terpejam.
”Iya, Nit. Coba rasakan ini!” sahut Kyai Kholil sambil terus menggerakkan pinggulnya kuat-kuat hingga membuat Anita semakin mengerang penuh kenikmatan.
“Aaah… cepat selesaikan, Pak Kyai… saya udah nggak tahan… arghhh!!” pekik Anita keenakan.
“Kamu ketagihan kan sama kontolku?!” Kyai Kholil tertawa, ”Lagian kamu berjilbab, tapi nafsu tetep gede…” ejeknya sambil menahan tangan Anita agar ia bisa leluasa meraba dan meremas-remas payudaranya yang besar.
“Aah… i-itu karena Pak Kyai yang merangsangku.“ Anita mencoba mencari pembenaran dari perbuatan maksiatnya.
“Kita lihat saja… kalo kamu sampai ketagihan sama kontolku, jangan salahkan aku…“ Kyai Kholil semakin cepat menggerakkan pinggulnya hingga membuat Anita sampai melenguh saat menerimanya.
Kyai Kholil menghentikan genjotannya sebentar saat penisnya tiba-tiba selip dan terlepas. Anita menggigit bibir, ada secercah kecewa di wajahnya saat batang itu terlepas, sikapnya berubah jadi sedikit masam. Namun kemudian ia bisa tersenyum lagi saat Kyai Kholil menarik tangannya dan membawanya ke dekat meja yang ada di ruang tamu. Kembali Kyai Kholil meremas-remas buah dada Anita sampai membuat Anita melenguh dan mendesah-desah penuh kenikmatan. Jilbabnya ia atur kembali agar tidak terlepas.
“Naikkan kakimu ke meja, Nit.“ perintah Kyai Kholil yang disambut senyum oleh Anita.
“Belum pernah aku diginiin sama suamiku, Pak Kyai… “ aku Anita jujur.
“Kamu pasti suka,” rayu Kyai Kholil. ”Nah, sekarang aku coblos lagi memekmu ya… tahan!” ajaknya dengan selangkangan merapat ke pantat Anita yang bahenol.
“Iya, Pak Kyai.“ jawab Anita singkat.
“Nanti malam aku ke rumahmu ya… akan kuberikan kepuasan lagi kepadamu.“ pancing Kyai Kholil membuat mata Anita membesar.
“Silahkan, Pak Kyai. Mumpung suami saya lagi nggak ada di rumah.” jawab Anita dengan senang hati. Dan ia kembali memekik saat batang Kyai Kholil kembali menusuk celah kemaluannya. “Uuuh… ayo, Pak Kyai… tusuk yang keras… ahhh… enaak… shhh… aaah…” jerit Anita dengan kepala menggeleng-geleng, membuat jilbab lebarnya jadi ikut bergerak ke kiri dan ke kanan.
Kyai Kholil segera memeganginya dan mengajak Anita untuk saling mengadu lidah. Anita pun langsung menanggapi dengan memagut bibir Kyai Kholil kuat-kuat, membuatnya semakin tenggelam dalam lautan birahi. Sementara Kyai Kholil terus menekan batangnya sambil tangannya memeluk dada bulat Anita dan meremas-remas lembut disana.
“Uuuh… remes yang keras, Pak Kyai… lagi, remes yang kuat… ughhh… enaak… ssssh… ahhh…“ erang Anita kelojotan.
Kyai Kholil terus menggerakkan penisnya dan mendesak lagi lebih kuat hingga membuat jeritan Anita semakin meninggi karenanya. Batang Kyai Kholil terasa ludes mentok di bagian terdalam dari lorong vagina Anita.
“Ahhh… Pak Kyai… terus entotin aku… saya suka sama kontol yang gede… rasanya… aah!!” racau Anita dengan mata merem melek keenakan disodoki kontol Kyai Kholil dari arah belakang. Roknya yang tersingkap membuat pahanya yang putih mulus jadi terlihat jelas. Kyai Kholil meraba lembut disana setelah puas dengan buah dada Anita.
“Aaah… Pak Kyai… ughh… enaknya… aduh… saya jadi nggak tahan nih…” erang Anita semakin menggila dan bersemangat, bahkan sampai menekan pinggulnya ke belakang saat dirasa tusukan Kyai Kholil kurang memuaskan.
“Duh, enak banget, Pak Kyai… ayo genjot… sodok… sodok terus punyaku!!“ ajak Anita dengan pinggul digoyang-goyang, ia berusaha mengimbangi kontol Kyai Kholil yang terus meluncur keluar-masuk di lorong kewanitaannya.
Kyai Kholil terus bergerak, membuat Anita mulai menggelinjang pelan. Tangannya kembali meremas buah dada gadis cantik itu sambil sesekali mengurut paha Anita yang naik ke atas meja. Dari arah belakang, ia terus menyodokkan pantatnya dengan begitu kuat.
“Enak, Pak Kyai… ohhh… nikmat! Terus… aaah… aauh… ssssh…” erang Anita semakin senang.
“Jilbabmu jangan sampai terlepas, Nit.“ ingat Kyai Kholil yang dijawab oleh Anita dengan anggukan kepala, ia segera memperbaiki letak jilbabnya yang mulai miring ke samping. Kyai Kholil terus menggenjotnya dengan cepat untuk memberikan kenikmatan.
“Uhhh… kontol Pak Kyai kok enak ya… beda sama punya suamiku!” sungut Anita dengan kepala berpaling, ia tatap Kyai Kholil sambil tersenyum.
“Itu namanya kamu sudah mulai ketagihan, Nit.” sahut Kyai Kholil sambil terus menggenjot memek Anita, ia pegang ekor jilbab perempuan cantik itu dan disingkirkannya ke samping agar ia bisa leluasa meremas-remas buah dadanya.
“Iya, Pak Kyai… sepertinya begitu. Saya suka dengan kontol Pak Kyai!” lenguh Anita dengan tangan kiri mengelus-elus bagian atas vaginanya yang terlihat menggelembung akibat dorongan penis Kyai Kholil.
”Aku juga suka dengan tubuhmu!” balas Kyai Kholil.
“Cepetan dikit, Pak Kyai… s-saya sudah hampir sampai!” ajak Anita yang mulai tak tahan menikmati gaya seks di meja itu.
Kyai Kholil langsung bergerak lebih cepat hingga membuat tubuh montok Anita menjadi tergoncang-goncang hebat karenanya. Payudaranya yang bulat besar, yang menggantung indah di atas meja, bergoyang-goyang seiring tusukan Kyai Kholil. Kyai Kholil meremasnya sebentar sebelum tangannya berpindah mengelus pantat Anita yang mulus dan bahenol. Anita semakin membungkukkan badannya sehingga Kyai Kholil jadi semakin cepat menggerakkan penisnya.
“Ahhh… Pak Kyai… ayo, saya udah nggak tahan nih… ayo cepetan… saya sudah mau…” jerit Anita dengan mata merem-melek keenakan, buah dadanya yang menggelantung indah kembali diremas-remas oleh Kyai Kholil. Ia terlihat sudah tak tahan menerima rangsangan, apalagi Kyai Kholil juga terus menggenjotnya dengan begitu cepat, menghujamkan batangnya keras-keras hingga membuat Anita sampai menjerit-jerit.
“Aaah… aaah… aaah…” erang Anita semakin melemah karena tenaganya kian habis akibat digenjot terus oleh Kyai Kholil. Tapi di lain pihak, lorong vaginanya terasa menyempit, menjepit kuat batang Kyai Kholil, dan akhirnya Anita mendapatkan orgasmenya dengan menjerit panjang. Dari vaginanya mengucur cairan panas yang amat banyak, membasahi batang Kyai Kholil sehingga laki-laki itu semakin lancar memaju-mundurkan pinggulnya.
”Ahh…” melenguh keenakan, Kyai Kholil meremas buah dada Anita kuat-kuat untuk memberikan sensasi maksimal pada orgasmenya. Tubuh Anita terus berkelojotan, sementara Kyai Kholil terus menggenjotnya sampai membuat wanita cantik itu kelimpungan dan akhirnya rebah di atas meja dengan tubuh remuk redam karena kelelahan. Kakinya sekarang menjadi selonjor. Meski jadi sedikit kesulitan, tapi itu tidak menghalangi Kyai Kholil untuk terus menggenjot dengan cepat karena ia sendiri juga sudah tak tahan.
Kyai Kholil terus menghujam berkali-kali sampai tubuh montok Anita tergoncang-goncang kesana kemari. Tak kuat lagi, Kyai Kholil pun membenamkan penisnya dalam-dalam ke celah kewanitaan Anita yang kini sudah terasa begitu basah dan lengket.
“Craaat… craaat… craaat…“ Air mani Kyai Kholil menyembur deras ke dalam rahim Anita. Wanita itu sedikit terkejut saat menerimanya, namun sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan kepala yang masih tertutup jilbab, Anita rebah di atas meja sambil menggigit bibirnya kuat-kuat.
“Aaah…. banyak sekali, Pak Kyai…” lenguh Anita bimbang. ”Gimana kalau saya sampai hamil?” tanyanya dengan nafas masih berantakan.
”Bukankah kamu punya suami… nggak bakal ada yang curiga.” jawan Kyai Kholil ringan sambil menarik badannya menjauh. Kontolnya yang mulai menciut langsung terlepas dari jepitan memek Anita. Tampak cairan lendir kental belepotan di batang itu, demikian pula dengan vagina Anita. Dengan nafas masih berat, Kyai Kholil duduk di sofa dan mengelap penisnya dengan baju gamis Anita hingga jadi bersih kembali.
”Ihh… Pak Kyai!!” pekik Anita melihat pakaiannya yang jadi belepotan oleh lendir kental. ”Apa-apaan sih?!” protesnya.
Kyai Kholil tertawa, “Buat kenang-kenangan, biar kamu selalu ingat sama aku.”
Saat itulah, dari dalam kamar, keluar Dewo dan Nyai Siti yang juga baru selesai menuntaskan hasrat bejat mereka. Keduanya tersenyum melihat Anita dan Kyai Kholil. Anita langsung berusaha menutupi tubuhnya, sementara Kyai Kholil tampak tenang-tenang saja.
”Tidak apa-apa, santai saja.” Kyai Kholil berusaha menenangkan. Ia lalu berpaling pada Dewo. ”Pak Dewo, mau merasakannya juga?” tanyanya menawarkan tubuh mulus Anita.
Dewo tersenyum dan menggeleng, ”Mungkin lain kali. Sekarang aku capek banget gara-gara istrimu ini, pagi-pagi sudah minta ditusuk dua kali.”
Nyai Siti tertawa mendengar omongan itu. ”Habis siapa juga yang tahan melihat kontol besar Pak Dewo.” balasnya genit.
Anita melongo, sama sekali tak menyangka akan melihat pemandangan ini di keluarga Kyai Kholil yang terkenal alim dan religius. Anita menyangka hanya dia saja yang berani berbuat mesum, tak tahunya…
Tapi sebelum dia berpikir lebih jauh, Kyai Kholil sudah memeluk tubuhnya  dan berbisik, ”Kamu nggak buru-buru pulang kan?”
Anita menoleh dan melihat kontol Kyai Kholil yang perlahan mulai kaku dan menegang, siap untuk memulai ronde yang kedua. Ia pun tersenyum dan mengangguk. ”Sepertinya saya punya waktu luang sampai dhuhur nanti.”