SURTI

Namaku Surti, ah bukan, Ny. Susilo. Kemanakah Surti, sampai tiba-tiba aku harus menyandang nama lain yang asing sama sekali bagiku? Kata ibuku, nama itu cocok untuk kusandang.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (11)
Namaku Ny. Susilo, usiaku sekarang 21 tahun. Aku istri seorang tuan tanah di desaku. sudah 5 tahun kami menikah, namun aku belum melahirkan seorang anakpun baginya. Aku melihat ibu mertuaku sering menatap tajam ke arahku, mulutnya nyinyir, mengeluarkan kotoran kemana ia suka. Mengeluarkan bau busuk dimanapun ia berada; baik di ruang tamu, di dapur, di kamar, di WC, bahkan di rumah tetangga.
Bau busuk, hanya itulah yang keluar dari mulutnya dan aku tetap diam, begitu juga suamiku. Suamiku bahkan mulai jarang pulang, bukan aku tidak tahu kemana ia pergi. Ke kompleks pelacuran, itulah tempat yang paling ia suka.
Kompleks pelacuran? Sejak kapan suamiku punya hobi pergi ke kompleks pelacuran? Setahun yang lalu? dua tahun lalu? Tiga tahun lalu? Empat tahun lalu? Lima tahun lalu? Atau sebelum itu?
Anehnya, baik ibu mertuaku atau orang tuaku malah menyalahkan aku. Bagaimana dengan Ayah mertuaku? lupakanlah, ia sudah mati jauh sebelum aku menikah dengan anaknya. Intinya, akulah yang tidak becus meladeni suami, sehingga suamiku lari ke pelukan pelacur itu. Apalagi, aku mandul, itulah yang dibilang oleh ibu mertuaku, bau busuk yang ia sebarkan hampir di setiap sudut desa ini.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (5)
Percayalah, aku tidak mandul, tapi aku sungguh tidak tahu mengapa aku tak kunjung hamil juga. Anehnya, suamiku sama sekali tidak memusingkan hal ini, bukankah keturunan adalah hal yang paling penting dalam hidup manusia?
Malam itu suamiku baru saja pulang, entah dari mana, aku pura-pura tidur ketika ia membuka pintu kamar.
“Kau sudah tidur?” Suamiku menyapaku! Hatiku bahagia sekali, sampai tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (10)
Aku membalikkan tubuhku, kutatap matanya dalam-dalam. “Belum, Mas.” jawabku. “Mas dari mana?” Sungguh pertanyaan yang paling konyol yang pernah kuucapkan. Bukankah aku tahu ia baru kembali dari pelukan pelacur itu?
“Kau tak perlu tahu, yang penting kau harus berpikir bagaimana bisa melahirkan seorang anak untukku!” jawabnya.
Jantungku berdesir, sakit sekali seperti ditusuk dengan ribuan paku, bukan, lebih dari ribuan paku. Aku membenamkan kepalaku dalam bantal, menangis tanpa suara, suara yang tak pernah kumiliki walau sekedar untuk mengeluarkan isi otakku. Aku tak pernah mempunyai suara.
Selanjutnya, hari-hariku seperti neraka saja, seluruh penduduk desa bergunjing tentangku, bahwa aku mandul, perempuan yang tidak sempurna. Aku juga melihat pelacur itu selalu ceria, senyumnya membuat hatiku semakin terluka, seperti disayat sembilu.
Pelacur itulah, yang tidur dengan suamiku setiap malam, setiap malam sebelum suamiku menjamah tubuhku. Ia membayar pelacur itu tiap malamnya, sedangkan aku harus melayaninya seumur hidupku tanpa bayaran, kecuali makian yang kudapat dari ibunya dan suamiku sendiri. Inikah hidup baru yang dulu aku bayangkan? Yang kuimpikan dan kuidamkan? TIDAK! dan tentu saja aku takkan tinggal diam, karena aku adalah Surti.
“Dasar pelacur!” teriakku pada perempuan yang sekarang berdiri di depanku. Hari itu aku tak bisa menahan diri untuk menemui perempuan itu di kompleks pelacuran.
“Pelacur? Yah tentu saja aku pelacur dan asal kau tahu Ny. Susilo, aku bangga dengan profesiku.”
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (4)
Mukaku memerah karena marah. Kuremas tanganku, ingin rasanya kutempeleng wajahnya. “Kau telah merebut suamiku, kau memang perempuan murahan!” teriakku.
“Merebut? Suamimu sendiri yang datang padaku dan melayaninya adalah tugasku. Kau salah alamat Ny. Susilo, kau harusnya mendamparat suamimu karena ia tidak setia, bukan kepadaku!”
“Plak!” aku menampar wajah perempuan itu, amarah tergambar jelas di wajahku. Namun aku sungguh tak menyangka ia membalas tamparanku, bahkan lebih keras dari tamparanku.
“Aku memang pelacur, tapi takkan kubiarkan satu orangpun melecehkan harga diriku.” katanya.
Aku tertawa keras, berani sekali pelacur ini ngomong soal harga diri.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (9)
“Kau pikir kau lebih berharga dari aku, Nyonya? Katakan padaku apakah suamimu menghargaimu?” ia bertanya.
Aku tediam, tiba-tiba saja aku tak punya lagi kata-kata. Aku sudah kalah dan aku pergi dari pelacur itu dengan kekalahan. Ya, kekalahan telak seorang istri tuan tanah yang terhormat. Air mataku mengalir deras, sesaat aku berpikir apakah gunanya aku hidup. Toh aku bukan istri sempurna.
Malam itu aku menunggu suamiku pulang, kali ini aku tidak berpura-pura tidur, tak kupejamkan mataku walaupun sejenak. Akhirnya suamiku pulang, kuhirup bau badannya, bau parfum pelacur itu.
“Kau baru dari pelacur itu?” tanyaku dan aku sangat terkejut dengan keberanianku menanyakan hal itu padanya.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (3)
“Iya.”
Hatiku luluh lantak mendengar jawaban yang jujur itu, aku berharap ia berbohong, sungguh aku ingin kebohongan yang manis walau beracun.
“Kau mengkhianati aku, mas.” kataku lirih.
“Aku mencintai Widuri.”
Sungguh, aku berharap apa yang diucapkannya barusan adalah kebohongan, tapi aku melihat kejujuran di mata itu.
“Aku menikahimu untuk melahirkan anak-anakku, tapi kau tak kunjung hamil juga.” kata suamiku.
“Aku baru saja berpikir apa kau pantas menjadi ayah dari anakku kelak!” sahutku berani. Akhirnya aku bersuara, akhirnya suaraku berguna juga.
Mata itu menatapku terkejut. “Lancang!” teriak suamiku sambil menempelengku, darah segar keluar dari sudut bibirku.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (8)
Aku tidak menangis, tidak, aku bersumpah takkan ada lagi setetes air matapun untuknya. Suamiku beranjak pergi dari kamarku, malam itu ia tidak kembali.
***
Lelaki itu sedang duduk di ruang tamu dan menatapku penuh senyum, menyapaku penuh kerinduan. Andi adalah teman sepermainanku sejak kecil, terakhir aku bertemu dengannya adalah di hari pernikahanku.
“Gimana kabarmu, Ti?” tanyanya.
“Baik, mas sendiri?” kataku balas bertanya.
“Aku jadi buruh di Jakarta. Hidup di Jakarta ternyata sulit, Ti.” katanya.
“Namanya juga kota besar, Mas.”
“Aku kembali ke sini justru karena aku dipecat, situasi pabrik kacau, sebagian besar buruh dipecat dengan alasan kesulitan keuangan. Kami para buruh menggalang aksi mogok sampai berhari-hari karena nasib kami nggak jelas. Eh, pemilik perusahaan malah minggat entah kemana.”
Aku tertegun sesaat, jadi buruh ternyata tak lebih baik daripada jadi petani.
“Kami para buruh ditelantarkan begitu saja, pemerintah juga tidak melakukan tindakan apapun terhadap nasib kami.”
“Sudahlah, Mas, terima aja. Mungkin emang nasibmu lagi apes. Nggak usah macem-macem, Mas, entar nasib kamu kayak Marsinah gimana?” kataku ngeri dengan kisah Marsinah yang mati karena dia terlalu vokal.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (7)
“Pokoknya aku nggak mau tahu, Ti. Kita emang miskin, tapi jangan diem aja kalo diperlakukan sewenang-wenang.”
Aku diam aja, Andi emang sulit diajak ngomong kalo udah pakai kata ’pokoknya’, sulit diganggu gugat. Aku tak mau ambil pusing dengan masalahnya, yang jelas aku sudah memberi nasihat padanya.
Andi berniat tinggal di desa selama beberapa bulan, kami memang cukup dekat, bahkan ia pernah mau melamarku, namun ia tidak punya keberanian yang cukup untuk itu. Apalah artinya seorang pemuda miskin bila dibandingkan dengan Mas Joko yang seorang tuan tanah.
***
Aku tercenung sesaat ketika kutemukan selembar surat hasil pemeriksaan dari Dokter. Kupikir suamiku sakit, tapi ternyata aku salah, suamiku sama sekali tidak sakit. Surat itu menyatakan bahwa suamiku mandul!
Hatiku bahagia sekaligus marah, suamiku yang mandul, bukan aku! Aku ingin berteriak pada semua orang bahwa aku tidak mandul, bahwa suamikulah yang mandul. Aku ingin mengatakan pada ibu mertuaku yang nyinyir itu bahwa aku tidak mandul, bahwa anaknyalah yang mandul. Aku akan membuktikan pada semua orang bahwa aku tidak mandul. Aku tertawa, namun sesungguhnya aku menangis, yah aku menangis.
Suamiku menatapku heran, ia terpana dengan surat pemeriksaanku dari dokter yang menyatakan bahwa aku telah hamil dua bulan, wajahnya pucat pasi namun aku merasakan kemenangan dalam hatiku.
“Aku telah membuktikan bahwa aku tidak mandul,” kataku. “dan kau tak sanggup membuktikan bahwa kau cukup subur untuk membuatku hamil.” Aku melihat dengan jelas wajah suamiku memerah, entah karena malu atau marah. Mungkin keduanya.
“Dengan siapa kau mengandung, anak siapa bayi yang kau kandung?” tanya suamiku dengan suara gemetar.
“Apakah itu penting? Bukankah keluargamu menginginkan keturunan? Dengarkan aku, Joko Susilo, kau akan merawat, mengasuh darah daging orang lain dan anak ini akan menjadi satu-satunya pewaris dari kekayaanmu.”
Inilah hari kemenanganku. Aku tak peduli lagi dengan perselingkuhan yang dilakukannya dengan Widuri, pelacur itu. Aku tak peduli. Suamiku harus menutupi kenyataan dari semua orang, termasuk ibunya bahwa dia mandul dan ia terpaksa menerima darah daging orang lain sebagai pewarisnya.
Inilah pernikahanku. Sebuah pernikahan yang pernah aku idamkan sebagai pernikahan yang penuh kebahagiaan namun ternyata penuh kemunafikan. Aku telah mengandung dan semua gunjingan pun berakhir.
Ibu mertuaku begitu bahagia, tanpa ia tahu bahwa bayi yang kukandung bukanlah darah dagingnya. Semua keluarga begitu bahagia kecuali suamiku.
Namaku Surti, sebagai seorang perempuan aku harus menjaga kesucianku, sebagai seorang istri aku harus mengabdi, menjaga kesetiaanku pada suamiku dan sebagai seorang ibu aku harus mengasuh anakku siang dan malam. Yah, itulah aku dan untuk semua itu hanya ada satu alasan, karena aku adalah seorang perempuan.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (6)
Namaku Surti, dan saat ini aku berada di sebuah gubuk tengah sawah. Di samping kami, begitu banyak petani yang sedang bekerja, namun tidak ada satupun yang mengetahui apa yang yang sedang aku dan Andi lakukan.
Kami adalah sepasang kekasih sekarang. Bayi yang kukandung adalah anak Andi. Dengan lembut teman masa kecilku itu mendekap erat tubuhku. Wajah kami saling berhadapan, amat dekat.
Segera Andi mencium dan melumat bibirku dengan gemas sambil kedua tangannya mulai beraksi mengelusi punggung dan pinggangku secara bergantian. Beberapa saat kemudian tangannya beralih turun ke pantatku. Andi mengelus dan merabanya, merasakan betapa kenyal dan padatnya bongkahan pantatku. Dengan gemas ia meremas-remasnya sambil sesekali mencengkeram dan mendorongku ke arah selangkangannya.
Aku tidak kaget dengan kelakuannya itu. Andi memang sangat menginginkan tubuhku. Sejak pertama kali bertemu, sudah tak terhitung lagi berapa kali kami melakukannya. Pertama di rumah Andi, saat sore-sore aku mengiriminya kue kering. Tak kusangka Andi akan menyergap dan meniduriku. Namun bukannya marah dan sakit hati, aku malah menikmatinya. Selanjutnya, sudah bisa ditebak, kami jadi semakin sering melakukannya. Hingga akhirnya aku hamil 2 bulan.
Dan sekarang, Andi mengajakku ke sawah yang ia jaga. Dan disini, kami kembali melakukannya. Kurasakan benda keras miliknya mulai menekan selangkanganku. Meski masih tertutup celana, bisa kurasakan kalau penis itu sudah begitu kaku dan keras.
Sambil terus melumat bibirku, tangan kanan Andi meraih dan meremas payudara kiriku sedangkan tangan kirinya masih asyik meremas buah pantatku. “Ohh… mmh…” kepalaku langsung mendongak sambil melenguh panjang menikmati perlakuannya.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (2)
Perlahan tangan Andi mulai membuka kancing baju panjangku satu persatu. Segera terpampang dihadapannya sepasang buah dadaku yang montok dengan bh yang nampak kekecilan untuk menampung bulatannya yang besar. Memang, sejak hamil payudaraku rasanya semakin besar saja.
Andi lalu melanjutkan dengan melucuti celana dalamku. Untuk rok panjangku cukup ia singkap hingga ke pinggang, tidak perlu dilepas. Begitu juga dengan jilbabku. Andi sengaja membiarkannya karena hal tersebut merupakan sesuatu yang amat menggairahkan baginya. Ia paling suka menyetubuhiku dalam keadaan berjilbab!
Melihat pemandangan yang indah ini, segera Andi melanjutkan aksinya dengan menghisap dan menjilati sepasang puting susu milikku yang sudah menegang dengan rakus. Terkadang tangannya ikut bermain dengan menjepit dan memilin-milin putingku yang berwarna coklat muda kemerahan.
“Ouhh… ahhh… ahhh…” desah bibir mungilku yang setengah terkatup sambil meremas kepala dan pundaknya. Nafasku naik turun menahan nikmat. Semakin lama desahanku menjadi semakin kencang, membuat Andi semakin bergairah saja.
Sambil membalikkan tubuhku, ia kemudian melepas celananya. Andi lalu memeluk tubuhku dari belakang dan meraih wajahku untuk melumat kembali bibir mungilku, sementara ia juga menggesek-gesekkan penisnya yang sudah menegang ke arah pantatku. Tangannya juga tak tinggal diam, Andi kembali memilin puting dan meremas-remas kedua buah dadaku secara bergantian. Ia juga mulai mengorek-ngorek liang kemaluanku dengan tangannya yang lain.
“Emmhh… mmhh…” desahku tertahan oleh ciumannya.
Beberapa saat kemudian Andi menyuruhku untuk membungkuk. Ia tampak menatap kagum keindahan pantatku yang bulat dan putih mulus. Sejenak ia mengelus dan meremas-remas bokong indahku sambil sesekali menciuminya dengan gemas.
Aku hanya bisa merintih sambil menundukkan kepala. Tubuhku sedikit bergetar mendapat perlakuan seperti itu. Setelah itu Andi merentangkan sedikit kedua pahaku hingga ia bisa melihat lubang vaginaku yang ditumbuhi bulu-bulu halus rimbun. Baunya yang khas segera menyebar di seluruh gubuk. Andi menyibaknya dan dengan menggunakan jari tengah, ia mulai menusuk-nusuknya.
“Emmmhh…” tentu saja aku langsung menggelinjang sambil pahaku bergerak seolah hendak menjepit tangan kanannya yang sedang memainkan liang surgaku.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (1)
Andi terus mengorek-ngorek sampai jarinya jadi basah oleh cairan kewanitaanku. Nafas dan desah kecilku yang memburu membuat gairahnya meningkat. Andi merasa inilah saat yang tepat untuk mulai beraksi karena penisnya sudah menuntut untuk dimasukkan.
Ia menarik jarinya, lalu merebahkan tubuhku ke balai-balai bambu. Mataku menatap sayu ke arahnya. ”Ihhh..!!” pekikku pura-pura malu sambil menutupi wajah saat melihat kemaluannya yang besar mengacung indah ke depan. Padahal sudah sering aku menikmatinya.
Andi tersenyum dan perlahan mendekatiku sembari kembali mencium bibirku. Kedua tangannya tidak ketinggalan memainkan payudara dan liang vaginaku. Kudengar nafasnya mulai memburu pertanda ia semakin terangsang. Tak lama kemudian Andi mulai merentangkan kedua pahaku lebar-lebar. Lalu sambil bertumpu dengan lengan kirinya, ia membimbing penisnya untuk memasuki liang kemaluanku.
“Ouhh… sshhh…” desisku menahan rasa nikmat saat penis Andi perlahan tergelam membelah lorong vaginaku. Senti demi senti kemaluannya  menembus lubang sempit di pangkal pahaku.
Akhirnya Andi berhasil membenamkan seluruh batang kejantanannya dan mulai memompanya maju mundur secara perlahan. Sungguh luar biasa rasanya. Nikmat sekali. Aku sampai menggigit bibir bawah agar teriakanku teredam. Aku tidak ingin perselingkuhan ini dipergoki oleh orang lain.
“Shhh… hehh… hhhh…” desah bibir mungilku sembari kedua tanganku mencengkeram erat lengan Andi yang sedang bertumpu disamping tubuhku.
Melihat wajah cantikku yang mendesah membuat Andi semakin bergairah. Segera ia melumat bibirku sambil memainkan lidahnya di dalam mulutku. Aku balas dengan memainkan lidah di dalam mulutnya.
“Mmmhh… cupp… cupp…” bunyi ciuman kami berdua yang diselingi permainan lidah.
Semakin lama semakin cepat genjotan Andi dan secara refleks aku melingkarkan kedua kakiku ke pinggulnya. Hampir sepuluh menit lamanya kami bersenggama dengan posisi ini dan tidak lama kurasakan lubang senggamaku menjadi semakin basah.
“Ouuhhh… Ndi… aku mau pipis…” getar suaraku saat menahan suatu dorongan yang luar biasa dari dalam tubuhku.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (1)
Tahu kalau aku akan mencapai klimaks, Andi semakin mempercepat goyangannya. Dan benar saja, tak lama kemudian tubuhku bergetar pelan sedangkan pahaku yang melingkar di pinggulnya menjepit erat. Terasa sesuatu yang hangat menyemprot keluar dari dalam vaginaku, membasahi batang penisnya.
Sejenak Andi menghentikan genjotannya sambil mencabut penisnya dari liang senggamaku. Nampak penis itu dibasahi oleh cairan vaginaku.  Beberapa menit kemudian, setelah aku cukup istirahat, Andi menyuruhku  agar membungkuk membelakanginya. Tanganku bertumpu di pinggiran gubuk sedangkan kedua kakiku menjejak ke lantai.
Rok hijauku yang panjang sempat menjuntai ke bawah, yang segera diangkat kembali oleh Andi dan diikat rapi di pinggang. Sambil mencengkeram pantatku yang semok, ia kembali mengarahkan batang penisnya yang masih tegak mengacung ke arah lubang vaginaku. Sejenak Andi menggesek-gesekkan ujungnya yang tumpul di bibir kemaluanku yang sangat basah.
“Ohhh…” desahku pelan sambil tanganku meremas-remas payudaraku sendiri.
Kini ujung penisnya benar-benar terasa basah oleh cairan kewanitaanku. Perlahan dengan bantuan tangan kananku, Andi mulai melakukan penetrasi. Dengan lancar batang coklat panjang itu masuk kembali memenuhi liang senggamaku. Andi membiarkannya sejenak sebelum perlahan mulai menggoyang  maju-mundur tak lama kemudian. Ia melakukan dengan tempo lambat untuk beberapa saat lalu secara bertahap mempercepat sodokannya.
“Ahh… ahh… uhh… uhh…” desahku dengan tubuh terguncang-guncang karena sodokannya. Sambil menyetubuhiku dari belakang, kedua tangan Andi beraksi meremas dan mencengkeram bulatan pantatku.
“Plak… plak… plak…” begitu bunyi selangkangannya saat berbenturan dengan bokongku. Terkadang Andi juga meremas kedua buah dadaku dari belakang
“Oh, Surti… kamu memang nikmat.” racaunya sembari terus menggenjot pantatnya demakin cepat.
“Emhh… ohh… omm…” desahku seakan merespon racauannya.
Tubuh kami berdua kini benar-benar basah kuyup bermandikan keringat. Jilbab dan rok panjang yang melilit di pinggangku juga ikut basah karenanya. Tak terasa lebih dari 10 menit kami berdua bersetubuh dalam posisi ini.
“Ouhh… Andi, aku mau pipis lagi…” kataku dengan nafas terengah-engah.
ardini fitriana - cewek jilbab bugil  (2)
“Tahan, Ti… aku juga mau nyampe.” ujar Andi sembari mempercepat laju sodokannya.
“Ohhhh…” erangku dengan tubuh menegang saat vaginaku mengucurkan cairan. Bersamaan dengan orgasmeku, Andi pun mencapai klimaks. Ia memeluk erat pinggangku sembari membenamkan penisnya dalam-dalam ke liang senggamaku.
”Ahh…” lenguh Andi penuh nikmat saat memuntahkan air maninya.
Liang senggamaku sekarang dipenuhi oleh campuran sperma dan cairan vaginaku sendiri. Kemudian kami berdua terkulai lemas di dalam gubuk. Andi membiarkan sejenak kemaluannya yang masih tegang terjepit di dalam vaginaku.
Hari menjelang sore, tak terasa kami terlelap puas. Saatnya aku untuk pulang. Suamiku pasti sudah menunggu di rumah.

MIA 2

Malam itu aku baru pulang. Aku dan Andre habis dari jalan-jalan. Sekarang jam 12 malam. Suamiku tentu saja sudah tidur, tapi nggak apa-apa… aku bawa kunci rumah. Sebelum berangkat tadi sore, aku bilang ke suamiku, kalau aku mau ke rumah Rieke… dan dia percaya!

yessi eci - horny jilbaber montok (2)
Pas mau turun mobil (parkir di 2 rumah sebelum rumahku. Kebetulan tempat itu sepi dan gelap, karena samping kanannya adalah taman kompleks, dan sebelah kirinya lapangan bulu tangkis), Andre minta aku untuk blowjob. Aku nggak mau… aku maunya ML. Ya sudah, akhirnya kami bertempur di mobilnya Andre. Kami tidak mau repot-repot… karena memang aku tidak mengenakan bh dan celana dalam (aku sudah siap-siap). Aku hanya mengenakan jilbab, baju kurung selutut dan rok lebar semata kaki . Praktis kan? Tinggal menaikan rok, pindah ke jok belakang dan ML dengan posisi duduk. Aku diatas, dipangku Andre. Setelah selesai, aku masuk ke rumah dengan memek penuh spermanya Andre yang juga menetes di pahaku. Sebelum ke tempat tidur, aku ke kamar mandi, nyuci memek, bersihin make-up pakai lingerie (tapi nggak pakai dalaman), terus tidur deh…
Sekitar jam ½ 5an, suamiku bangun untuk minta jatah. Aku bilang aja begini, “Nggak sekarang ya mas… aku lagi nggak mood. Aku capek banget. Maaf ya mas…!”
Terus kata suamiku, “Ya sudah, nggak apa-apa.” Lalu dia turun dari tempat tidur dan langsung ke kamar mandi. Aku rasa dia masturbasi,… soalnya sudah 3 hari nggak dapet jatah. Aku senyam-senyum sendiri… “Kavlingnya sekarang punya orang banyak. Kalo’ mau pake, izin dulu… mentang-mentang resmi di depan penghulu, belum berarti tubuhku dan semua anggotanya jadi properti pribadi, hihihi…..” kataku dalam hati. Lalu aku tidur lagi, dan baru bangun jam 10 pagi, tentu saja Tino sudah berangkat.

yessi eci - horny jilbaber montok (1)

Sekitar jam 11an, aku mandi. Rumahku sepi sekali. Pembantuku belum pulang, Fanny sedang dirumah ibuku. Andre kerja… Alex belum pulang dari Surabaya. Aah…. Dengan suasana seperti ini, aku jadi hanya pakai daster (no bra no cd). Daripada iseng, aku nonton dvd blue aja sambil mbayangin Alex dan Andre. Sekitar jam 1an, suamiku telfon. Katanya dia malam ini nggak pulang, karena proyeknya di Sukabumi harus sudah selesai besok pagi. Setengah nggak percaya, aku menelfon hp-nya Andre untuk memastikan, ternyata benar! Tapi, baru saja aku akan menyuruh Andre menginap di rumah, Andre bilang kalo’ dia juga harus kesana. “Aahh…. Sial banget! BT!”

Dari pada bengong di rumah, akhirnya aku memutuskan untuk ke mal. Aku mau belanja saja. Ya sudah… aku memacu mobil ke mal. Sekitar 1 jam aku disitu, ada seorang pria menghampiriku. Pada saat itu, aku sedang makan di restoran. Kami berkenalan dan ngobrol-ngobrol. Nama orang itu, Vito. Dia sudah menikah dan sedang menantikan kelahiran anak pertamanya. Sekarang, istrinya sedang dirumah orang tuanya, dan dia sendiri baru pulang kantor. Singkat cerita, kami akan bertemu malam ini, dirumahku. Tapi dia akan ke mertuanya dulu untuk melihat istrinya. Karena sudah tukeran no Hp, kami janjian lewat telfon. Akhirnya, Vito bilang kalau dia akan datang kerumahku jam 9 malam. Setelah aku memberikan alamatku, kami menyudahi pembicaraan telfon.

yessi eci - horny jilbaber montok (5)

Vito mau datang jam 9… sekarang baru jam ½ 8. “Aah… lama banget!” pikirku. Aku memakai jilbab biru muda seperti yang dipakai ineke, kemeja yang pas di badan berwarna biru terang dengan celana panjang hitam. sementara di dalam aku pakai g-string hitam tembus pandang. Buat atasannya, aku pakai tanktop model tali yang agak longgar, sehingga toketku bisa bergerak bebas (aku nggak pakai bh), Pas jam 9 lewat 10, Vito datang… “Ganteng banget sih ni orang!” pikirku.

Kami duduk-duduk di ruang tv sambil ngobrol-ngobrol, ngopi dan merokok. Sambil ngobrolin tentang keluarga kami masing-masing, Vito menyelingi dengan pujian-pujian seputar keindahan dan kemontokkan tubuhku. Aku kan jadi GR!!! Vito bercerita dengan jujur, bahwa semasa istrinya hamil ini, dia juga ‘jajan’ ke wanita-wanita lain. Seperti ; sepupu istrinya, istri teman kantornya, beberapa anak SMU dan SMP dan juga beberapa teman istrinya.
“Aku kan juga pingin ‘ginian’ Mi…” kata Vito sambil menjepitkan ibu jari tangan kanannya di jari tengah dan telunjuknya.
“Iya lah… aku ngerti kok!” kataku bersimpati.
Sekitar jam ½ 11, Vito numpang ke kamar mandi. Dia mau mandi, gerah katanya. Ya sudah… dia kusuruh mandi dikamar mandi ruang tidurku. Karena kamar mandi tamu sedang rusak ledengnya.
“Numpang mandi ya Mi…” kata Vito.
“Iya… iaya…” sahutku.
Vito baru saja masuk kekamar mandi, dan aku mau keluar kamar, tiba-tiba aku terasa mau pipis. Daripada ngompol, aku ketok aja kamar mandi. “Vito, aku mau pipis nih… bukain pintu dong?!”
Pas pintu kamar mandi dibuka, aku disuguhkan pemandangan indah. Penis Vito setengah tegang, dan itu saja sudar besar. Aku sampai menelan ludah, “Glk…. Gede banget!” gumamku.
“Ya sudah….” Kata Vito, “katanya mau pipis?!”
Setelah selesai pipis (belum cebok), Vito tiba-tiba memegang tanganku dan menyuruhku berdiri. Dia melepas jilbabku (cd dan celana panjangku sudah ku lepas dari tadi) dan menanggalkan kemeja dan tanktopku. Kini aku bugil. Kemudian, Vito memelukku dari belakang, dia menciumi leherku dan membasuh vaginaku, dengan posisi; tangan kanannya menyirami memekku dan tangan kirinya mengelus-elus barang kesayanganku itu.

Ternyata tidak sampai disitu saja. Vito mulai memainkan jarinya, keluar masuk lubang itilku sambil sesekali menggosok kelentitku. Ketika aku mulai mendesah keenakkan, tangan kanan Vito bergerak kearah payudaraku. Toketku itu, diremas bergantian. Sementara mulutnya mulai mengulum bibir dan menghisap lidahku. Tak lama kemudian, aku mengajak Vito ke tempat tidur. Setelah duduk di pinggiran spring bed, aku segera membuka kakiku lebar-lebar, mengundang lidah Vito untuk bermain dan menari di lubang tempat Fanny keluar dulu.
Desahan kenikmatanku makin keras, dan pada saat yang bersamaan…. Cairan pelumasku keluar. Tanpa banyak argumen, Vito segara memasukkan barangnya yang besar, panjang dan keras itu ke tempat yang seharusnya. Dia mulai merangsak maju mundur, sementara kedua tangannya menopang tubuhnya di kedua sisi tubuhku. Tusukan dan hujaman Vito sangat berirama. Segera aku ikut memutar-mutarkan pinggulku untuk merespon Vito. Desahan kenikmatanku keras sekali terdengar, sehingga terkadang, Vito membungkamku dengan melumat bibirku dengan bibirnya. Tak lama kemudian (dengan kontolnya masih menancap di memekku) Vito menggendong dan membopongku. Lalu ia duduk di kursi di samping tempat tidur. Setelah itu, aku yang bekerja.

yessi eci - horny jilbaber montok (4)

Zakar Vito dikocok dengan keras dan cepat oleh memekku. Sementara aku bergoyang naik turun memanjakan kontol gede ini, aku berpegangan di pundak pria atletis itu, sambil tangannya meremas kedua payudaraku. Kemudian aku mencondongkan tubuhku lebih dekat ke tubuh Vito. Sambil menciumi bibirnya, aku menggerakkan pinggulku semakin cepat… dan efeknya? Aku orgasme… lalu aku menurunkan tempo pergerakanku, untuk merasakan kenikmatan ini. Vito sadar kalau lawan mainnya ini sudah jebol, tiba-tiba dia meremas pantatku dan menusuk vaginaku dari bawah… pelan tapi beraturan. “Anjing!” pikirku, “enak banget!”
Ketika ada jeda dalam serangan-serangan Vito, tiba-tiba telfon di meja samping kami berbunyi.
“Sst…” bisikku, “kamu jangan ngomong dulu ya sayang!!”
Sambil berbicara di telfon (itu suamiku), aku bergerak turun naik secara perlahan-lahan. Sementara Vito menjilati putting susuku. Di tengah pembicaraan telefon, Vito berbisik, “Aku mau keluar!” Setelah aku berhenti bergerak, Vito memasukkan batangannya dalam-dalam sambil menekan pantatku. Segera aku tutup telfon dengan tanganku dan aku berteriak tertahan… memekku di semprot oleh sperma yang hangat, kental dan banyak sekali. Setelah semuanya keluar, Vito menciumi dan melumat bibirku. Kontolnya masih di dalam memekku, ketika aku melanjutkan pembicaran telfon dengan suamiku. Tak lama kemudian aku menutup telfon. Tanpa membersihkan kedua alat kelamin kami, kami berbaring kelelahan. Setelah berbaring 10 menitan… tiba-tiba aku merasa lapar sekali, dan setelah aku tanya, Vito juga.

Lalu aku keluar. Vito tetap di rumahku (takut dilihat orang). Setelah hanya mengenakan daster (didalem gak pakai apa-apa) dan jilbab, aku beli nasi goreng yang kebetulan lewat di depan rumah. Lalu, aku dan Vito makan sambil masih bertelanjang bulat. Selesai makan, kami nonton Tv di kamar tidurku (yang nonton sih Vito, aku sibuk dengan batangannya yang aku sepong dengan beringas). Sepanjang malam itu, kami 3 kali ML. Sekitar jam 1/6, kami tidur.

Aku kaget sekali, sekitar jam ½ 8 ada yang memencet bel rumahku. Aku lihat, Vito masih tertidur pulas. Bergegas aku cuci muka dan mengenakan dasterku (aku dan Vito masih bugil). Setelah kubuka pintu, ternyata yang datang supir ibuku. Dia mengantar Fanny pulang. Setelah itu dia pun pergi.

Setelah membangunkan Vito, aku membuatkan sarapan. Di meja makan, aku mengenalkan Fanny ke Vito. Vito tersenyum ketika mendengar pertanyaan polos Fanny;
“Kok Om Vito telanjang?”
“Iya. Kan habis main kuda-kudaan…”jawabku asal.
“Fanny jangan bilang ke papi ya…” kata Vito menimpali.
“Iya Om….”
“Sekarang, mami mau mandi sama Om Vito. Fanny mau ikut nggak?” kataku sambil berdiri dan menggandeng Vito.
“MAU…!!!”

Di kamar mandi, Fanny yang duduk di ujung bathtub terpaku bingung melihat aku yang sedang berlutut sambil menghisap penis Vito yang duduk di toilet.
“Mami makan apaan tuh?” tanyanya polos.

yessi eci - horny jilbaber montok (3)
“Mami lagi maem permennya Om vito sayang…” jawabku tanpa menoleh ke Fanny, “kan Fanny sering ngeliat… masa belum tahu juga?”
“Iya, Fanny tahu… terus nanti dimasukkin ke memeknya mami kan?”
Vito terkejut mendengar omongan Fanny, “Kok Fanny tahu memek? Tahu darimana?”
“Aku yang ngasih tahu…” sahutku.
“Oo…!”
“Terus…” lanjut Fanny, “mami juga maem permennya papi?”
“Pernah sih… tapi sekarang mami males! Habisnya, permennya papi kecil. Kalo’ punya Om Vito… bbeesssaaarrr….. bangeettt! Fanny mau pegang gak?”
“Boleh Fanny pegang nggak Om?” tanya Fanny ke Vito.
“Boleh… sini!” jawab Vito.
Aku hanya tertawa saja melihat ulah Fanny dan Vito. Akhirnya, setelah selesai mandi, kami bertiga bugil seharian itu.

Setelah itu, kami bertiga duduk-duduk di ruang Tv. Aku dan Vito senderan dengan santai di sofa. Aku iseng-iseng ngocokin batangan Vito, sementara dia sedang berbicara dengan istrinya di hp, sambil sesekali mencium bibirku dan meremas toketku. Aku merasakan cairan pelumasku keluar, ketika Vito menutup hp-nya. Tanpa banyak bicara, aku langsung berputar dan duduk di paha Vito sambil mengangkang. Vito yang langsung memahami nitaku, segera menggenggam batangannya dan mengarahkannya langsung ke vaginaku yang kian melebar. Lama sekali kami mengolah kenikmatan kami dengan gaya itu. Tusukan-tusukan Vito semakin cepat ketika aku mengerang dan bergetar dengan hebat. Aku orgasme! Setelah itu, Vito membaringkan aku terlentang di lantai yang hanya beralaskan karpet. Sambil setengah membungkuk, Vito berusaha mengejar orgasmenya sendiri. Benar saja… tak lama kemudian, vaginaku kembali dibanjiri cairan kental dan hangat milik Bapak Vito. Tidak itu saja, sisa sperma yang masih ada di zakarnya di semprotkan di payudaraku, dan dibalurkan di bibirku.
Kami berbaring bersebelahan. Sama-sama merasakan kenikmatan yang kami dapat. Aku menggoda Fanny dengan menorehkan peju Vito yang ada di toketku dan menempelkannya di hidung Fanny.
“Iih… mami… apaan sih itu? Kok lengket?” kata Fanny sambil mengelap hidungnya sendiri.
“Itu namanya sperma… tapi mami, nyebutnya peju! Enak deh Fan, kamu lihat mami njilatin itu kan?”
“Rasanya apaan sih mi?” tanya Fanny. Lalu aku menorehkan sisa sperma itu ke bibir Fanny yang langsung meringis, “Iih… asin!” katanya.
Vito dan aku tertawa terbahak-bahak melihat ulah Fanny.

RIF’AH 5 : ABU NIDA

Sesampainya Ummu Nida dan Ummu Rosyid di kantor DPD, gedung itu terlihat lengang. Sama sekali tidak ada aktivitas perkantoran seperti hari-hari biasa. Ummu Rosyid membuka pintu utama dengan kunci yang dibawanya. Sebagai seorang kader senior, Ummu Rosyid memang diberi kepercayaan untuk memegang kunci kantor DPD. Kedua ummahat yang masih bertubuh sintal itu pun langsung menuju ke ruang serbaguna yang ada di bagian belakang gedung DPD untuk bersiap-siap.

Tak berapa lama kemudian, mereka mendengar suara motor yang tengah diparkir di halaman depan. Mereka pun langsung tahu siapa pemilik motor tersebut. Dengan ketukan sepatu kets yang berdecit, Faizah juga memasuki ruang serbaguna tersebut.

“Assalamualaykum Ummu Nida, Ummu Rosyid,” ujar akhwat berkulit gelap itu sambil tersenyum.

“Waalaykumsalam warahmatullah, Faizah,” jawab Ummu Nida yang kemudian diikuti juga oleh Ummu Rosyid.

Tanpa basa-basi, Faizah langsung menuju kamar mandi untuk berganti pakaian, sementara Ummu Nida sudah siap dengan pakaian bela dirinya.

***

Rif’ah begitu kesal, dosen yang harus ditemuinya di kampus hari ini berhalangan hadir. Ia pun kembali pulang ke rumah Ummu Nida. Untung Ummu Nida telah meminjamkan kunci serep kepadanya.

Sambil memainkan HP di dalam kamar, Rif’ah begitu penasaran dengan apa yang terjadi di kantor DPD. Sebenarnya ia begitu ingin menonton langsung duel antara Ummu Nida dan Faizah, karena hasil duel tersebut akan menentukan kelanjutan hidupnya. Namun ia juga membenarkan nasihat Ummu Nida, kalau kehadirannya di sana bisa membuat Faizah melakukan hal yang tidak-tidak.

“Tokk, tok …” Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar Rif’ah. Dalam kondisi setengah terkaget, ia yang masih mengenakan jilbab panjangnya langsung melompat dan setengah berlari ke arah pintu.

Rif’ah hanya membuka pintu itu sedikit, dan ternyata sudah ada Abu Nida yang berdiri di sana. Ia masih mengenakan baju koko berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam, pakaian yang sama dengan yang dikenakannya ketika berangkat tadi pagi. “Ada apa, Abu? Tumben sudah pulang.”

“Iya, setelah mengantarkan Ayyash, Abu baru sadar kalau dompet Abu ketinggalan. Sekarang Abu cari tidak ketemu, bisa Rif’ah bantu Abu mencari?” ujar Abu Nida sambil tersenyum.

Di mata Rif’ah, senyum Abu Nida itu begitu jantan dan menenangkan. Tanpa kecurigaan sedikitpun, ia pun menuruti perintah Abu Nida. “Di mana terakhir Abu melihat dompet Abu?”

“Di kamar Abu dan Ummi, Ukhti Rif’ah.”

Rif’ah pun langsung menuju kamar Abu Nida dan Ummu Nida, sementara Abu Nida mengikuti dari belakang. Walau masih tertutup jubah dan jilbab panjang, tubuh Rif’ah yang seksi masih bisa terlihat jelas, apalagi bokongnya yang begitu montok dan menonjol. Hal inilah yang sejak lama menghantui pikiran Abu Nida. Karena itu begitu Ummu Nida mengatakan kalau Rif’ah akan menginap, ia langsung mengiyakan. Namun, sebenarnya ia tidak sampai membayangkan akan berduaan saja dengan junior istrinya itu seperti ini.

Di dalam kamar, Rif’ah langsung mencari dompet Abu Nida di seantero ruangan. Ia bahkan sampai menungging untuk mencarinya di kolong tempat tidur. Ketika ia berdiri, tiba-tiba sepasang tangan telah merangkul tubuhnya dari belakang. Rupanya Abu Nida sudah langsung berdiri di belakangnya dan memeluk tubuh akhwat cantik yang montok dan sintal ini. Mungkin karena tidak ada ruang gerak lagi akhirnya Rif’ah pasrah dirinya dipeluk Abu Nida dari belakang. Selain itu Rif’ah sendiri sering berkhayal untuk berdua dengan Abu Nidal. Tercium bau wangi shampoo dari rambutnya. “Aduh dik Rif’ah, rambut kamu wangi,ya” sambil tangan Abu Nida meraih rambut Rif’ah dengan memasukkan tangannya ke dalam jilbab panjang yang dikenakan akhwat cantik ini.” Abu Nida jangan, aku geli, Abu” , “Emang dik Rif’ah nggak pernah buat kayak gini?”,” Ngak pernah Abu, saya nggak pernah dipeluk…” ,”Aah masak?” Abu lalu kembali memeluk perut Rf’ah dari belakang. Tampak dari cermin wajah akhwat cantik ini terkejut dan memerah. Waktu Abu Nida menaikan pelukan di dadanya, tangan akhwat cantik ini disilangkan ke depan dadanya.” Abu Nidal, apaan sih aku malu, Abu..” sambil dia berputar ke arah depan Abu Nida. Abu Nida melihat wajah Rif’ah yang bersemu kemerahan, lalu dengan cepat Abu mempererat pelukan hingga wajah mereka mendekat, tidak lama bibirnya segera dilumat Abu Nidal. Pertama lidah Rif’ah begitu pasif, tangannya sudah memeluk badan Abu. Abu Nida merasakan badan akhwat cantik ini gemetar menyambut ciuman, detak jantung mereka seolah seirama. Saat bibir akhwat cantik ini terbuka Abu memasukkan lidahnya. Ragu-ragu Rf’ah menyambut lidah Abu Nida. Libido Rf’ah terpacu dan gairah seksnya meninggi. Perlahan tangan Abu Nida menyusuri punggungnya dan menarik resliting jubah khawat cantik ini ke bawah sampai ke ujung pantatnya. Abu Nida meraba naik turun dari pantat menuju ke perut. Perlahan kaitan bra Rif’ah dibuka Abu Nda. Abu Nidda merasakan semakin diraba, nafas akhwat cantik ini menjadi berat dan pendek-pendek. “Abu jangan, abuu…ah” rintihan yang keluar dari mulutnya ketika tangan Abu mulai menjamah ujung celana dalam yang di pantatnya, lidahnya semakin liar seiring tangan Abu yang menuju gundukan pantatnya. “Ah…uh…Abu Nidaaaa…”. Tangan Abu Nida meremas lembut gundukan pantat akhwat cantik ini, kakinya berjinjit naik seiring tekanan naik dari remasan tangan Abu. Kukunya mencengkram erat punggung Abu Nida. Ciuman Abu pindah menyusuri leher jenjang yang telah banjir dengan keringat dari Rif’ah dengan memasukkan kepada di balik jilbab akhwat cantik dan sintal ini.

Perlahan Abu Nida mencupang leher putih itu, “ Eerrrrhh…abuuu…” tubuhnya mengejan dan merapat ke tubuh Abu, saat tangan Abu Nida yang menjelajah punggung dan pantatnya telah turun ke belahan paha. Dengan sedikit sentakan kedua tangan Abu telah melorotkan celana dalam akhwat cantik ini. Tangan kanan Abu membelai lipatan pantatnya dan merasakan anusnya yang lunak. “Uuh…..abuuu, aku geli” tiap kali Abu menyentuh anusnya. Ciuman Abu Nia telah meninggalkan cupang merah di leher akhwat cantiik ini, tangan Abu meraba pundaknya dan berhasil menurunkan jubahnya ke samping hingga melorot ke dadanya yang montok dan masih kenceng ini, jubahnya ditahan oleh lekuk payudaranya. Bibir Abu ikut turun ke dada montok akhwat cantik ini, bra yang telah terlepas melonggar dan memberikan kesempatan Abu untuk mengecup payudaranya. Sementara tangan Abu telah berpindah menyusuri ketiaknya.

Tampak puting yang kemerahan yang tidak pernah terjamah laki-laki, tangan Abu menyusuri memutar kedua payudara, kecupan menjelajah di antara ketiak dan daerah sekitar payudara, tubuh Rif’ah kian menyusup menahan kenikmatan,” Abu, abuu, aku geli abuuu” kedua tangannya merangkul dan menekan kepala Abu ke payudaranya, nafasnya semakin memburu. Abu Nida menempelkan telinga ke dada montok akhwat cantik ini, detak jantung terdengar semakin kencang. Tiba-tiba Abu membalikkan badannya menghadap ke cermin,merah padam wajahnya melihat tanggan Abu Nida telah memegang payudaranya, kedua putingnya ditaruh di antara jari-jari Abu, kemudian secara cepat Abu Nida melucuti jubah yang separuh menutupi tubuh akhwat cantik ini berikut celana dalam dan branya. Abu Nida cepat membuka baju dan celananya sendiri. Abu Nida mendudukkan Rf’ah ke pangkuannya, tangan kanan akhwat cantik ini diarahkan ke penisnya. Rif’ah terkejut dan berusaha menarik tangannya, tapi Abu Nida buru-buru merapatkan badannya, “Pegang aja sayang, ok”, tubuhnya melemas waktu Abu Nida menarik puting dadanya dengan tangan kiri. “Och.., abuuu” lirihnya. Dengan jari Abu Nida memlintir puting yang masih kenceng itu. Tubuh Rif’ah mengejan, punggungnya menempel ke dada Abu dan tangan kanannya meremas penis Abu dengan lembut. ”Enak dik Rif’ah??”, “Aah…abuuu” . Cuma itu yang dia bisa jawab di antara puncak birahinya. Bibir Abu Nidda tak henti-henti mengecup tengkuknya dan tangan Abu aktif menarik kedua puting hingga badan akhwat cantik ini bergemetaran. Abu memangku Rifah di atas paha, Abu Nida membuka ke dua paha akhwat antik ini hingga menampakkan jajaran jembutnya menghiasai bukit kemaluaanya. Ketika kepalanya diarahkah Abu ke belakang, Abu Nida mencium bibirnya dengan lidah merekka saling membelit, kemudian tangan Abu Nida turun membelai helaian jembutnya. Tangan kiri Abu Nida yang aktif memilin puting payudara dan yang kanan membelai jembutnya. Suatu pemandangan yang eksotis. Mengingat Rif’ah adalah seorang akhwat cantik yang alim, sehari-hari memakai jilbab yang panjang dan jubah, hari ini semua lekuk-lekuk yang tertutup itu bisa dilihat dan dinikmati Abu Nida. Putingnya telah memerah karena ditarik dan dipilin Abu Nida, keringat deras mengalir di dada dan punggung akhwat cantik ini, tangannya tetap meremas-remas penis Abu dengan lembut. Ketika tangan kanan Abu mulai turun dan menyusuri bukit kemaluannya, tubuhnya mulai menggeliat dan menggigil. Abu Nida mencari benda sebesar kacang di ujung bukitnya. Ketika Abu Nida mendapatkan lalu ditekan perlahan “Owwwuuuhhhhh….abuu, kau apakan tubuhku ini abuu?”, ”Rilex dik Rif’ah, enak bukan?”, ”Uuhhhhh,stttttss…….” Rif’ah  hanya merancau sambil meremas penis Abu. Tangan Abu kemudian mengusap ke klitoris akhwat cantik ini. ”Sssssssttttts, aaaah” ketika tangan Abu  menyapu klitorisnya. Perlahan tangan kiri Abu turun menelusuri labia mayora. Abu Nidda menarik salah satu labia mayora, digosok dengan jempol dan jari telunjuk. ”Abuu….geli….”, teriaknya sambil kepalanya mendongak dan berusaha merapatkan kakinya tapi tertahan oleh kedua paha Abu Nida.

Nafasnya semakin tersenggal mana kala tangan kanan Abu Nida dengan gerakan vertikal menggosok lubang kencingnya dan klitorisnya. ”Abuuu…pingin pipis….”. “Pipis aja dek Rf’ah. Ngak usah ditahan”, Abu mempercepat putaran tangan pada klitorisnya. ”Aah…ah….ah…..Abuuu aku pipisssss”, kedua pahanya diangkat merapat di atas paha Abu. Abu Nida merasakan klitoris akhwat cantik ini berkedut-kedut dan cairan hangat meleleh dari sela pahanya yang turun membasahi paha Abu. Abu melihat dari cermin di mana dadanya membusung dan kepalanya mendongak disertai hentakan badannya yang mengelinjang tidak karuan, seolah Abu menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Badannya kemudian melemas, Abu menurunkan perlahan dari pahanya dan menidurkan akhwat cantik yang montok dan sintal ini di dipan kamar itu. Nafasnya masih memburu dan butiran keringat membasahi wajah dan tubuhnya. Abu menurunkan ciumanku ke hidungnya, kedua pipinya trus dikulum bibirnya, lidah mereka kembali saling membelit. Ketika Abu mengangkat kepalanya, kepala akhwat cantik ini juga juga terangkat seolah tidak mau melepas bibir Abu Nida. Abu Nida mengambil posisi di samping kanan Rif’ah, tangan kiri Abu merangkul pundak akhwat cantik ini melewati lehernya dan mengelus payudara kiri. Perlahan bibir Abu  nida turun ke leher akhwat canetik ini dan tangan kanannya mengelus payudara dan putingnya. Berlahan lidah Abu berputar di payudaranya kanan dan kiri bergantian sambil menyusuri wangi ketiak Rif’ah. Dada Rf’ah terangkat bergelinjang menahan geli, ketika lidah Abu Nidda menelusuri bagian bawah payudara kembali tangannya menekan kepala Abu. “Dik Rif;af boleh aku mencium putingmu?” wajah akhwat cantik ini memerah seketika, kemudian matanya terpejam dan menganggukan kepala. Abu Nida menyergap puting sebelah kiri yang sudah menonjol merah, menghisap lembut dan menjilat dalam mulutnya melingkar-lingkar. “AAah. Sssstttttt…….” tangan kanannya mengelus punggung Abu Nida dan tangan kirinya menekan kepala. Abu Nida merasakan keringat asin dari puting akhwat cantik ini dan merasakan getaran tubuhnya yang menandakan kalau Abu Nida adalah lelaki pertama yang menyentuhnya. Tangan kiri Abu Nida aktif memilin puting yang lain, tangan kanan menarik punggungnya. Punggungnya telah dibsahi keringat, lembut punggungnya menandakan tidak pernah dijamah laki-laki. Kemudian bibir Abu Nida beralih ke puting kanan meninggalkan bekas gigitan di sekitar puting kirinya. “Ah…uh….” desahan yang keluar dari bibir Rif’ah di saat putingnya tenggelam di bibir Abu Nida. Abu menggigit lembut, menarik ke atas, Rif’ah meremas-remas sprei sambil tangan kirinya menekan tengkuk Abu Nida. Sementara tangan kanan Abu menggapai klitorisnya. Masih meleleh lendir licin keluar dari memek akhwat cantik ini, Abu mengusap vaginanya dan menggunakan lendirnya untuk membasahi klitorisnya. Mata akhwat cantik ini kembali mendongak bergetar, hanya terlihat putih di kelopak matanya. Abu menggigit puting kirinya dengan cepat. Kedua tangan Abu melesat mengangkat pantatnya, terlihat warna pink di sekitar kemaluan hingga membangkitkan gairah Abu Nida. ”Abu Nida …. jangan…”, saat Rif’ah melihat kepala Abu berada di antara dua pahanya, dengan lembut Abu menjilat klitorisnya, ”Aah….abuu…, jangan”, tubuhnya mengejan melengkung, kedua tangannya mencengkram sprei dan kepalanya kembali terdongak. Abu Nida mamasukkan ujung klitorisnya ke bibirnya sampai semua masuk ke bibir abu, Abu Nida menggigit pelan-plan. “Aah…aah…aduh….Abuuu…. aku ngilu” . Kedua paha akhwat cantik ini menjepit erat kepala Abu Nida.” Abuu….aku mau pipis lagi abuu” kepala Abu tersanggkut.

Di paha Abu Niada air mani mengalir dari lubang pipisnya mengenai lidah. Waktu kececap rasanya seperti meminum bir pahit. Tampak lelehan lendir membasahi sprei di bawah pantat Rif”ah. Abu Nida mengamati wajahnya yang sudah mencapai orgasme, benar-benar menggetarkan, lalu Abu Nida membuka paha akhwat cantik itu dan menindih tubuhnya. Tiba-tiba Rifah membuka matanya, “ABU Nida jangan, aku masih perawan. Kasihani aku abu”, setitik air mata keluar dari ujung matanya. Abu Nida pun kembali beringsut ke sisinya. ”Te..terimakasih abu, aku dari semula emang menganggumimu….makanya aku rela engkau jamah”. ”Terimah kasih, dik Rif’ah. Maafkan aku khilaf”. Lalu dia bangkit duduk di dipan, matanya melihat burung Abu Nida yang mengacung keras. ”Iih….abuu masih terangsang?”, “Iiya dik Rif’ah khan aku blom nyampe tadi”. Tiba-tiba tangan Rif’ah meraih penis Abu. “Ini ya Abu yang namanya kontol? Ih ngeri aku”. “Ngeri kalau diliat, klu dirasain entar juga enak”. “Aah aku ngak mau, abuu. Aku khan masih perawan”. ” Eeh sapa suruh masukin memek, masukin ke lainnya juga boleh.” rayuan Abu Nida mulai mengenai, Rif’ah mulai meremas-remas penis Abu. ” Maksudnya Abuu??”, “ Masukkin
mulut dong…”, “ Ngak ah, jijik……”,” bentar aja…..ya udah klu nggak mau kamu cium bentar aja. Tadi aja aku udah jilatin memekmu”

Dengan ragu Rif’ah mendekatkan penis Abu Nida ke bibirnya. Awalnya hanya satu kecupan kemudian disusul dengan kecupan-kecupan yang lain. Kemudian perlahan penis Abu Nida dijilat-jilat, kemudian Rif’ah membuka mulutnya dan memasukkan kepala penis ke dalam mulutnya. Rasa ngilu langsung menyergap Abu. ”Aduh dik Rif’ah, jangan pake gigi……”, perlahan-lahan penis Abu ditelan bibirnya yang seksi itu, rasa hangat dan nikmat terasakan.  Sekarang tampak pemandangan gadis berjilbab lagi menghisap kontol Abu Bida, Abu Nida semakin terangsang. Selama 20 menit Rif’ah memainkan kontol Abu di dalam mulutnya. ”Aduh abuuu…aku pegal”. ”Oke mending kamu di sini berbaring aja”.
Rif’ah beringsut mengambil posisi tidur di sebelah Abu Nida. Dia menggaruki selangkangnya ”Kenapa dik Rif’ah?”, ” Gatal abu ”O ohhh…itu normal tadi khan darahnya ngumpul di ujung”, sambil tangan Abu Nida membelai klitoris akhwat cantik ini yang ternyata masih memerah dan keras “ssshhhh…abuuu…” sambil dia merapikan jilbabnya. Jilbab yang dikenakan adalah semacam jilbab lebar yang dikaitkan dengan peniti jadi ada belahan di tengah. Kembali tangan Abu menyusup ke dalam jilbabnya dan mengelus-elus payudara akhwat cantik ini. Matanya kembali sayu karena tubuhnya kembali dikuasai rangsangan.

” Dik Rif’ah, anti percaya khan Abu ngak bakal bobol perawanmu”, “Rif’ah percaya, abu…. Trus hrs gmn?”. ”Ana pingin ngesekkin konto ana ke paha anti boleh, khan?”. ”Cuma paha? Boleh abu tapi janji ya?” Lalu Abu Nida menindih Rif’ah. ”Oke sekarang pahamu rapatkan”. Rif’ah merapatkan pahanya.  ” Dik Rif’ah, buka dikit pahanya trus rapetin lg, ya”. Rif’ah mengangguk dan membuka pahanya, Abu Nida menempatkan kontolnya di antara paha akhwat cantik ini, kemudian dirapatkan lagi. ” Udah dik Rif’ah? Ngak kena lubang khan?”, ” Iiya abuu…” Abu Nida menarus tanganku di atas dada akhwat cantik yang masih tertutup jilbab ini. ”EEehhhhhh….abu… geli banget udah hampir ke lubang”. Abu Nida mengatur kedua tangannya di belakang punggung akhwat canik ini. ”Segini?”, ”Iya abuu…”. Pelan-pelan Abu Nida mulai menaik turunkan kontolnya, secara perlahan gerakan kontol Abu mendekati lubang memek Rif’ah.”Enak, dik Rif’ah??” Abu Nida menatap wajah akhwat cantik yang dibalut oleh jilbab itu, wajahnya bersemu merah, ia membuang muka, Abu Nida mencium bibirnya yang merah kesedot bibir bawahnya dan menjilati bibir atasnya. Rif’ah menutup matanya seolah merasakan desakan birahi, gerakan benar-benar sudah tepat di lobang memeknya, hal itu ditandai bunyi kecipak. ”Abuu?”, ”Hmmmmm?”, ”Aku mencintaimu….aku mengagumimu”. Semakin Abu Nida mempercepat Rifa’h semakin mengelinjang, semakin tersingkap jilbab yang menutupi payudaranya, Abu menggigit pelan putingnya, perlahan pahanya melebar ke kiri ke kanan. Kontol Abu telah menggesek memek Rif’ah yang telah basah.

Memandang Rif’ah yang sudah terserang birahi membuat dada Abu seolah meledak, Abu Nida menaruh tangan di atas payudara akhwat cantik ini sementara tangan satunya membantu kontolnya untuk menggosok vagina Rif’ah. Perlahan kontol Abu mendesak masuk ke memek Rif’ah, perlahan namun pasti pahanya semakin dilebarkan. ”Abuuu..…trus….abuuu…..”, antara nafsu dan janji berlahan kata hati Abu Nida menguasai pikirannya. Abu Nida melambatkan gesekan mencabut ujung kontol dari memek Rif’ah, Abu Nida menghempaskan tubuh ke samping Rif’ah. Perlahan Rif’ah membuka mata. ” Kenapa Abuu? Aku sudah hampir nyampe? Nggak enak?”, “Tidak, maafkan aku. Aku hampir merengut kesucianmu”. ”Hah? Kenapa berhenti Abuu”. ” Aku juga sering mengagumi, dik Rif’ah”.

Tiba-tiba Rif’ah memeluk Abu,” Kau sungguh laki-laki yang menepati janji. Ijinkan ana melayani antum Abuu…”, lalu Rif’ah menaiki tubuh abu nida. ”Aku juga kan menggesek pahaku, abuuu”. Perlahan tapi pasti kontol Abu Nida bergesekan dengan klitorisnya, kontol abu nida ditindih dengan rapat dengan posisi horisontal. Kontol Abu Nida perlahan menjadi basah oleh lendir kewanitaan akhwat cantik ini, dengan menggunakan jari kanan Abu Nida meraba klitorisnya yang menyebabkan lubang kenikmatannya mundur ke belakang sehingga tepat di atas kontol Abu. Rangsangan jari Abu Nida ini membuat Rif’ah menggeleng-gelengkan kepala, tampak jilbab yang dikenakan menjadi longgar sehingga membuat rambutnya menyembul, tangan Abu Nida meraih puting susu akhwat cantik ini yang tampaknya dia semakin terangsang, dia menempatkan payudaranya tepat di mulut Abu dengan sekali gerakan k Abu Nida meraih puting kirinya, dengan bibir digigit pelan-pelan dan dikulum dengan buasnya. Perlahan tangan Abu berpindah menarik punggungnya agar dada akhwat cantik ini dirapatkan ke dadanya, rasa hangat menerpa dada Abu keringat mereka saling menyatu.

Abu Nida menempatkan kontol ke posisi vertikal. Rif’ah kemudian mengesek naik turun kontol Abu Nida yang sudah berada tepat di belahan memeknya. Bibir Abu Nida menggigit lembut pundak akhwat cantik ini dan tangannya mengelus pantat bulatnya, Abu Nida menarik keluar sebagian labia mayoranya hingga menggesek kontolnya. Wajah horny Rif’ah sungguh luar biasa, jilbabnya sudah melorot ke lehernya, matanya membeliak tiap kali jari Abu menusuk-nusuk memeknya, tubuhnya beringsut mundur sehingga kepala kontol Abu Nida masuk ke dalam vaginanya yang telah banjir oleh lendir cintanya. Lidah mereka saling bertautan, nafas mereka semakin memburu. Kepala kontol Abu Nida tenggelam di gerbang vagina Rif’ah, tempo gesekan semakin cepat. Saat separuh batang Abu Nida hampir masuk ada suatu lapisan liat yang menghalangi, Abu Nida merasa itu adalah selaput daranya. Abu Nida melihat Rif’ah tertunduk melihat kemaluannya dengan menggigit bibirnya. Abu Nida melihat seberkas keraguan, tapi di saat ujung topi baja kontol itu keluar dengan cepat Rif’ah memasukkan kembali sebatas penghalang. “ Miliki ana, Abuu…”.

Kemudian dengan menarik nafas panjang Rif’ah menaikkan tangannya di atas dada Abu, dengan gerakkan sedikit melengkung dimasukkan seluruh batang kontol abu hingga ke dasar vaginanya. ”bless…ach…abuuu, aku…..” tubuhnya langsung roboh ke tubuh abu. Abu Nida mengangkat pantat agar kontolnya tidak lepas dari vaginanya. Mereka terdiam sesaat, Rif’ah mengangkat wajahnya yang dihiasi senyum walaupun ada air mata di sudut matanya.” Perih Abu, sakit”, ”Iiya dek,nanti coba digesek pelan-pelan”. Perlahan Rif’ah mulai menaikan pantatnya. ”Sssssshhhhhh……Abuu….”, kemudian tubuhnya diangkat ke atas dengan hanya bertumpu pada lututnya.” Coba jongkok ukhti Rif’ah, biar Abu lihat”. Rif’ah berjongkok dengan kontol Abu yang masih tersarung di memeknya, Abu melihat darah merah mengalir di sela-sela kontolnya. ”Sssshhhhtttt…ah…abuu, aku ngilu”, sambil mangangkat pantatnya. Abu Nida menahan pinggul akhwat yang sintal itu agar kontolnya tidak lepas dari vaginanya. “Abu…abuu…abuu…ouch” kontol abu keluar masuk dengan lancar, tiap kali ditarik vaginanya seolah ikut tertarik.

Rasanya kontol Abu Nida dipilin-pilin oleh memeknya diurut lubang peret dari perawan Rif’ah. Lubang yang sempit itu lama kelamaan semakin menjepit kontol Abu Nida seiring dengan makin terangsangnya Rif’ah. Lututnya kembali diturunkan, jembut mereka menyatu. Tangan Abu aktif meremas dan memilin puting akhwat cantik ini. Gesekan yang dirasakan kontol Abu Nida keluar masuk vagina Rif’ah semakin terasa ditambah denyut-denyut di dalam memeknya tiap kali Rif’ah memasukkan kontol abu, aAbu Nida mengangkat pantat dan pinggul agar penetrasi semakin dalam.

” Abu ana mau nyampe…”, “iya ukhti kita sama-sama, di dalam apa di luar?” Rif’ah tidak menjawab ia hanya menggeram nikmat, abu juga merasakan ujung kenikmatannya akan keluar. “Ooch…ah…..uh…” nafasnya semakin pendek-pendek dan berat. ”Ukhty Rif’ah, Abu juga mau nyampe” digigitnya bibirnya seolah menahan kenikmatan. Akhirnya tidak lama lahar Abu sudah mendesak keluar. ” Ukhty ….. Abu nyampe…….ah….” dengan kerasnya Abu Nida mengangkat pantatnya, laharnya menyembur memenuhi lorongnya., Rif’ah masih bergoyang di atas kontok abu.

“Abuuu…aku juga…..” Tiga goyangan Rif’ah mengejan di atas tubuh Abu, Abu merasakan tubuh akhwat cantik ini melengkung dan kepalanya mendongak kemudian turun cepat ke dada abu, tangannya memeluk tubuh abu dan kukunya menancap di punggung abu, dada mereka saling menempel hingga Abu Nida merasakan detak jantungnya yang cepat. Kontol Abu Nida serasa diurut-urut oleh vagina akhwat cantik ini, tangan abu memeluk tubuhnya erat, 10 detik dia terdiam diiringi helaan nafas yang memburu menyembur telinga abu. Setelah birahi melanda, keringat mereka saling melekat satu sama lain. Abu Nida membiarkan Rif’ah beristirahat di atas tubuhnya, tak lama kemudian kontol Abu Nida mengecil dan keluar dari vaginanya, serasa lendir mereka meleleh turun mengalir di sela paha dan membasahi sprei.

Rif’ah menggeser tubuhnya di sebelah Abu Nida dengan posisi miring dia memeluk. Tampak wajah cantik dan hidung yang mancung dipenuhi buliran keringat, Abu Nida mencium kening dan rambutnya. “Maafkan ana Ukhty Rif’ah”, “ Kita khilaf abuu, bagaimana kalau ana hamil abuuu?”, “ Kamu jadwal mens kapan?”, “ 3 hari yang lalu aku selesai mens, abuu”, ”oh berarti ngak bakal hamil, karena anti blom subur”

Abu Nida lega mendengar hal itu. Lima menit kemudian Rif’ah bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, Abu Nida mengamati jalannya agak mengkangkang dengan sekali-kali tangannya mengusap selangkangannya. Abu Nida kemudian melepas sprei yang bernoda darah dan bercampur dengan spermanya sendiri, agar Ummu Nida istrinya tidak mengetahui kejadian barusan. Setelah 10 menit Rif’ah kembali ke kamar dengan keadaan jilbab yang terpasang rapi dengan tubuh yang masih telanjang.

”Abu kok kayaknya di selangkangan ana kok masih ada yang nyangkut? Terus labia mayoraku kok tambah lebar?”, tanyanya lugu ke Abu Nida. “Biasa kalau pertama ML, masih peret berarti” sambil tangan Abu Nida mengusap klitorisnya. Plak, tangannya memukul punggung Abu “ Abu jangan, aku geli. Khan udahan. Mana bra dan cd ku abuus?” MerekaKami mencari bra dan celana dalam Rif’ah yang terselip di sprei yang dibereskan Abu Nida tadi. Cukup lama mereka mencarinya, dengan tubuh yang bugil dan hanya mengenakan jilbab saja Rif’ah berjongkok di atas kasur melihat barangkali dalamannya jatuh ke samping tempat tidur. Pantatnya menungging ke arah Abu memperlihatkan belahan memeknya yang masih segar kemerahan, tak terasa kontol Abu Nida mulai bangun lagi. Abu Nida mencengkram pantat yang padat itu, lalu menjilat memek merahnya. “Abu ini apaan sih? Geli abu” . Rif’ah hanya menggoyangkan pantatnya. Di bawah sinar lampu tampak memeknya yang mengkilap kemerahan karena ludah abu. Tubuh Abu Nida menyusup di antara tubuh akhwat cantik ini, Abu mengambil posisi 69. “Ayo ukhty Rif’ah, kontokku jangan cm dilihat”, ” iya abuu…” bibirnya dengan cepat telah mengulum kontol abu, lidah abu mengaduk-aduk vaginanya sekali-kali mampir ke anusnya.

Pantatnya kian diturunkan ke wajah abu, digoyangkannya naik turun. Klirorisnya digosok Abu Nida dan dipiln dengan jari sambil sekali disedot dan digigit kecil. Tampak labia mayora yang semakin lebar ditarik kanan kiri, Rif’ah semakin mengelinjang. Semakin terangsang semakin melengkung tubuhnya mulutnya tidak berhenti menyedot kontol abu. “ Abuuu…..ah…..abuuu……” lepas mulutnya dari kontol Abu Nida, dijilati pula kedua pelir abu. Tubuh Abu Nida beringsut mengambil posisi doggy style, Abu Nida menggosokkan kontol ke klitoris akhwat cantik ini “Aaaaaah….geli abuu…”, ”Eeenak, sayang?” tangan Abu menggosok klitorisnya yang sudah basah sambil mengarahkan kontol ke lubang memeknya. ”Eeeemmmh….enak Abu. Aku diapain sihh…..?”

Abu Nida menjawab dengan memasukkan kontol ke dalam memeknya, seperti pertama tadi rasanya ada sesuatu yang menahan penetrasi kontilnya. Bles….Abu Nida menunduk mencium punggungnya yang sudah berkeringat, rasa asin menerpa lidah mneyusuri punggung putih itu hingga leher jenjangnya. ”Aaaau…abuuu”. Tangan Abu aktif meremas-remas susunya, Rif’ah semakin beringsut mendorong pantatnya ke belakang. Abu Nida menarik kontol dari vaginanya, plok,plok….setiap kali ujung kontol Abu Nida masuk ke vagina akhwat cantik ini seolah udara dipompa keluar dari lubang memeknya. ”Aduh abuuu, pelan dong …masih perih”tubuhnya gemetaran menahan antara sakit dan nikmat. Abu Nida membuka lebar pantatnya semakin dalam kontol memasuki tubuh akhwat cantik ini, akhirnya tubuhnya melengkung menyebabkan pantatnya semakin menungging.

Dada Abu Nida penuh sesak dan bergemuruh antara merasakan kenikmatan di kontol dan melihat punggungnya yang berkeringat mengkilap diterpa cahaya, sungguh pemandangan yang eksostik. Abu Nida terus menambah kecepatan ayunan pantatnya, karena tadi abu sudah keluar kontolnya menjadi perkasa untuk ronde kali ini.

“Aaaaah…uh…abuuu aana mau dapet, abuuu”, ”iya sayang…” hujaman kontol Abu Nida semakin cepat pada hujaman sepuluh tubuh Rif’ah mengejan bergetar. ”Abuuu…ahhc…aku dapet”, Abu Nida menarik pinggulnya agar merapat ke kontol, kedutan-kedutan vaginanya menerpa permukaan topi baja kontol abu nida. Kepala akhwat cantik ini rubuh ke kasur, tangan abu menggosok klitorisnya. Kembali lelehan lendirnya membasahi jembut. Abu Nida membalikkan tubuh akhwat cantik yang putih bersih tanpa cacat, tubuh yang selalu tertutupi oleh jubah dan jilbab panjang itu kini terlentang pasrah di hadapan Abu. Abu Nida membuka paha akhwat cantik ini, menggesekkan kontol ke anusnya. Rif’ah menggelinjang, kakinya diangkat ke atas. Abu menarik pinggulnya ke arah kontolnya, lubang yang telah basah itu seolah menarik penis untuk masuk ke dalamnya. Abu Nida mengangkat kaki akhwat cantik ini di atas pundaknya, menciumi dan menjilati betisnya. Payudaranya yang besar dan bulat kenceng itu bergoyang berputar setiap kali abu menghentakkan selangkangannya, abu memilin-milin klitroris akhwat cantik ini. Kepalanya menggeleng-geleng, jilbab yang dikenakan mulai terbuka lagi. Abu Nida menaruh kakinya menindih kakinya yang lain, kontolnya tetap tidak terlepas. Penetrasi dari samping semakin menjadikan vaginanya sempit.

”Aaaaahhhh abu, sempit abuuu…” dari samping pula abu melihat payudaranya menjadi mngancung dan berayun-ayun. Abu Nida menarik tangannya agar penetrasiku semakin dalam. Ketiaknya yang bersih tanpa bulu dicium dan membuat Rif’ah semakin tenggelam dalam birahinya. “Abu cium ana dong…” bibir bawahnya memerah karena seringkali digigit tiap kali ujung kontol abu mentok di rahimnya, abu pun membungkukkan badannya dan meraih bibirnya sementara tangan kanannya menaikan tenggkuknya. Abu Nida menekan pahanya untuk membuat penetrasi semakin dalam” Aaaah abuuu….mentok abuu””enak?” “He…em” gumannya.

Setelah 15 menit dalam posisi yang sama kedutan dalam vaginanya kembali muncul, penis Abu Nida menjadi sangat tegang, dibayangi oleh wajah berjilbab dan susu yang bergoyang menjadikan abu nida tidak mampu lagi menahan ejakulasi.”Ukhty Rif’ah ane mau nyampe….”,”nyampe aja abuu, anaa bentar lagi”. Abu Nida menggeram dan melepaskan tembakan ke dalam rahim akhwat cantik ini. ”Ooooh…dik Rif’ah, aku nyampe” Abu Nida menghujamkan dalam-dalam kontolnya hingga mentok ke rahim akhwat cantik ini.

”Abuu…aku nyampe”, tubuhnya beringsut tangannya menegang hingga hampir terlepas dari cengkraman abu. Ketika semprotan Abu Nida selesai dia menindih tubuh Rif’ah, keringat abu sekali lagi menyatu dalam keringat Rf’ah. Abu Nida mencium bibir akhwat cantik ini, hidungnya dan pipinya. Rif’ah tersenyum manis. ”Aaaah abu ini nakal aana tadi khan udah mandi”, Ya sono mandi lagi”, ” Aaaah males abuu, rasanya lemas banget ana mau tiduran di sini dulu”. ”Jangan dik Rif’ah, Ummu Nida pulang berabe”, ” TApi lemas Abuuu”.

Akhirnya dengan bantuan Abu Nida, Rif’ah dibimbing ke kamar mandi, sebelum masuk Abu Nida sempat memasukkan jari ke vagina akhwat cantik itu tapi ditepis sama tangannya. Tapi sesudah kejadian itu mereka sering mengulangi kapan saja ada kesempatan. Rif’ah sendiri nampak tidak keberatan jadi istri kedua Abu Nida…..

MIRZA

Hingga hari ini, aku masih diliputi perasaan senang bercampur takut. Ini semua mengenai misteri yang mencakup seputar  kehamilanku. Atau  bisa juga dikatakan tentang hubungan seks dengan suamiku.
Sebelum menceritakan pengalamanku ini, sebaiknya aku ceritakan sekilas tentang latar belakangku. Panggil saja aku Mirza, wanita berusia 30 tahun. Sudah menikah  selama 6 tahun, dan memiliki anak yang masih berusia  6 bulan. Lucu dan imut  banget.
Aku mantan  guru sekolah dasar, tapi sekarang ini aku  mengabdikan diri  seutuhnya  untuk mengurus anak dan rumah tangga. Aku lahir di kota Yogya,  dan dibesarkan dalam keluarga yang  religius. Sehari-hari aku berjilbab,  Penampilanku anggun dengan tubuh padat berisi yang selalu terbungkus gamis panjang dan jilbab lebar, semakin menambah kecantikanku. Tubuhku yang montok kadang tercetak jelas di balik kain jilbabku. Meski cenderung alim, namun di balik semua itu, aku tetaplah seorang wanita yang punya hasrat, nafsu, dan gejolak birahi yang siap menyerang kapanpun dan dimanapun.
Suamiku  sendiri juga pria Jawa, berusia 5 tahun lebih tua, dan merupakan pengusaha yang cukup sukses. Karena faktor pekerjaannya pula, dia sering keluar  kota sehingga tidak setiap hari suamiku berada di rumah. Kami jadi jarang bertemu.
Dalam 5 tahun pernikahan, sebenarnya kami ingin cepat-cepat punya momongan, tetapi kenyataan berbicara lain. Ada beberapa faktor yang menghambat. Diantaranya yaitu suamiku sering keluar kota untuk urusan bisnisnya. Disamping itu, ada satu permasalahan yang begitu mengganggu. Yaitu suamiku mengalami problem ejakulasi dini ( cepat keluar saat bercinta ).
Memang hal ini begitu mengganggu di dalam bercinta. Suamiku tidak bisa bertahan lebih dari 2 atau 3 menit. Kami sudah berusaha lewat berbagai cara, namun tidak begitu banyak menolong. Mulai latihan senam pernafasan, mengatur  makanan, berobat ke dokter, dan bahkan lewat pengobatan tradisional.
Disamping itu,  suamiku agak tertutup dalam soal seks, sehingga lama-lama menjadi minder. Asalkan aku tidak banyak menuntut, sepertinya dia menerima kenyataan.  Suamiku sepertinya juga tidak begitu menaruh perhatian banyak dalam urusan seks.
Sedangkan aku orangnya lain.  Justru aku banyak membaca artikel dan menambah pengetahuan mengenai hubungan seks. Saat masih gadis aku tidak pernah melakukan masturbasi. Karena menurut agama merupakan sikap yang tidak terpuji dan dosa.
Disaat menikah, aku juga tidak begitu  menikmati hubungan seks yang optimal. Walau suamiku sudah berusaha melakukan foreplay yang cukup, tetap saja aku tidak pernah merasakan orgasme. Karena aku sering sharing dengan sahabatku yang katanya bisa mendapatkan orgasme berkali-kali, maka rasa penasaranku menjadi semakin meningkat.
Aku dianjurkan bermasturbasi olehnya, kalo sedang sendiri. Karena bisa rileks dan lebih nyaman katanya. Hasilnya memang seperti yang dikatakan sahabatku itu. Aku memang bisa mendapatkan orgasme. Tetapi aku selalu diliputi perasaan bersalah, sehingga jadinya tidak sering aku lakukan.
Pada suatu hari, suamiku  pulang dari urusan bisnis di pulau Bali. Disana dia menyempatkan jalan-jalan ke  Ubud, suatu desa tempat seniman-seniman menghasilkan karya seni. Suamiku  membeli sebuah lukisan; gambar tentang seorang wanita telanjang yang ditemani oleh kucing. Lukisan  ini ia taruh di kamar tidur. Jika kita rebahan di ranjang, maka mata kita akan langsung menatap lukisan ini.
Aku selalu menyiapkan segalanya kalo suamiku pulang. Biasanya suamiku  kuanjurkan mandi yang bersih, kemudian ngobrol sambil  menikmati minuman segar, dengan cemilan ringan tentunya.  Dan tanpa disuruh, aku biasanya memijitinya. Sudah menjadi ritual, aku menggunakan baju yang ’enak dipandang’ suami.
Saat itu aku mengenakan baju tidur tipis berbentuk jubah yang diikat tali di bagian pinggang sehingga sedikit memamerkan bagian paha yang aku kira cukup untuk membuat suamiku menelan air liurnya. Selain memamerkan paha, belahan dadaku juga terbuka. Suamiku pasti tahu kalau saat itu aku tidak mengenakan bra sama sekali. Untuk daleman, aku mengenakan CD tipis berwarna pink.
Aku mulai memijit suamiku.
”Aduh, enak banget pijitannya, Ma.“ dari caranya berbicara, aku dapat menilai kalau dia sudah horny berdekatan dengan diriku.
“Idih, belum juga punya anak, udah dipanggil mama,” kataku menggodanya. Kutumpangkan kaki kiriku ke kaki kanan sehingga bagian bawah gaunku sedikit tertarik ke atas, membuat pahaku semakin jelas terlihat.
”Yaa,  semuanya kita serahkan saja sama yang Maha Kuasa,” celetuknya gugup sambil menatap pahaku yang terlihat sangat mulus sekali. “Tapi emang bener, enak banget kok pijitannya,“ tambahnya lagi. Dia mencoba untuk memperbanyak omongan karena dia masih ingin duduk di dekatku yang mengeluarkan bau sangat harum.
”Siapa dulu dong yang mijit. “ aku menurunkan kaki dan mengambil minuman di meja dengan setengah membungkuk. Kumajukan sedikit tubuhku sehingga gaunku yang belahan dadanya sangat rendah jadi bisa memamerkan tetekku yang tidak memakai beha.
“Iya deh, percaya.” kata suamiku. Aku tahu persis jika saat itu dia begitu terpesona dengan tetek yang menantang di dadaku ini. ”Kita ke kamar, yuk?” ajaknya kemudian sambil tangannya mencupit pinggulku.
Aku hanya tersenyum kecil sambil mengerlingkan mata. “Emang tidak mau makan dulu?“ tanyaku saat dengan cepat dia membopongku ke  kamar tidur.
“Ah, nanti sajalah, ” jawabnya pendek.
Ketika aku direbahkan di atas kasur, mataku langsung menatap lukisan wanita telanjang yang ditemani oleh kucing tersebut. Demikian juga dengan suamiku. Saat itulah, tiba-tiba terjadi keanehan. Suamiku seperti menggerak-gerakkan kepalanya, matanya nanar menatapku dengan pandangan sayu. Dia lekas melepas t-shirt dan celana pendeknya. Dan terlihatlah mister P-nya yang sudah sangat menegang panjang.
Padahal rencananya aku mau memijitnya, malah saat itu aku yang dipijitnya. Sambil memijit, dia memuji dan mencumbui seluruh bagian tubuhku. Hal  seperti ini belum pernah dia lakukan sebelumnya.
”Ahh, Mas!” rintihku saat mulai merasa kegelian, badanku menggeliat dan kedua tanganku yang memegang sandaran tempat tidur jadi mencengkram erat sekali. Sementara suamiku terus asyik meraba ketiakku sambil mulai mendekati tetekku yang sebelah kanan.
”Nggak apa-apa, Ma… santai aja.” katanya sambil terus mengelus-elus ketiak kananku dan mulai melebar hingga mencapai pinggiran tetekku yang bulat besar.
”Udah, Mas, gelii…” badanku mulai melenting-lenting ke depan sehingga kedua tetekku yang berukuran 34B ini semakin tampak menantang indah.
”Kan belum dijilat, Ma… masa mau udahan?” balasnya dengan nakal.
Apa! Menjilat? Tidak biasanya dia berbuat seperti ini. Tangan kiriku segera berusaha mendorong tangannya yang masih berada di sekitar ketiak dan pinggiran tetek. ”Udah ah, geli… aku nggak tahan!” kataku.
Kemudian suamiku mengubah posisi; sekarang dia ganti menjilati ketiakku sampai pinggiran tetekku yang masih berlapiskan gaun satin tipis dan memainkan lidahnya di sana.
”Mas, udah dong… aku kegelian nih.” rintihku semakin menggelinjang.
Tapi bukannya berhenti, tangan kanannya yang sedang asyik mengelus-elus ketiak kiriku mulai bergerak semakin ke tengah hingga sampai di bulatan tetekku yang sebelah kiri, dan tanpa membuang-buang waktu langsung meremas-remasnya lembut.
”Hihi… udah ah!” aku tertawa menahan rasa geli yang teramat sangat sambil tangan kananku meremas-remas rambutnya yang licin.
Suamiku yang tampaknya tahu kalau aku mulai terangsang, tangannya semakin liar meremas-remas di kedua tetekku, terkadang juga memainkan putingku dari luar gaun satinku.
”Ohh, Mas… ampun… jangan diterusin… aku nggak tahan!” kata-kataku mulai terbata-terbata menahan rasa tegang yang mulai mengalir ke ubun-ubun.
”Semakin geli semakin nikmat, Ma…” katanya dengan tangan masih memainkan kedua putingku, dan mulutnya mulai bergerak semakin mendekat ke arah tetek kananku. Dia mulai membuka ikatan gaunku yang berada di pinggang agar mulutnya dapat melahap dengan bebas kedua tetekku yang tidak memakai BH. Setelah gaunku merosot hingga ke perut, mulutnya langsung mengulum habis tetek kananku yang terlihat putingnya berwarna merah kecoklatan.
”Ssh… kok kamu sekarang jadi pinter, Mas!” aku mulai mendesah keenakan, sementara lidah suamiku terus bergerak dengan lincah memainkan puting tetek kananku, sedangkan tangannya yang satunya meremas-remas lembut tetekku yang sebelah kiri. Setelah puas dengan tetekku yang kanan, mulutnya pindah ke tetek kiriku, sambil tetekku yang kanan dimainkan dengan tangan kirinya.
”Kenapa nggak dari dulu-dulu suka ngisep tetek seperti ini?” kupancing suamiku dengan kata-kata yang menggairahkan sambil kedua mataku terpejam rapat.
”Nggak tahu, tiba-tiba pengen nyusu aja!” dia semakin kuat menyedot-nyedot tetek kiriku.
”Ahh…” aku merintih, tak sanggup untuk berkata lagi. Kedua tanganku meremas-remas rambutnya yang terasa sangat licin karena minyak. Sekarang tangan suamiku berpindah meraba dari perut sampai ke bagian bawah baju tidurku yang sudah tersingkap kemana-mana. Dia mengelus-elus terus paha kananku yang bagian dalam, sedangkan mulutnya tidak pernah diam untuk memainkan tetek kiriku.
”Kalau mau main, cepat lakukan, Mas… aku udah nggak tahan nih! Mmh…” kuregangkan kedua pahaku sehingga terbuka semakin lebar, menampakkan lubang senggamaku yang masih berlapis cd tipis, tapi sudah nampak basah tepat di bagian tengahnya.
”Belum, aku masih ingin mencicipi tubuhmu…” kata suamiku, tangannya semakin bergerak ke atas sehingga menyentuh celana dalamku, lalu mengusapnya dengan begitu lembut.
”Ssh… ohh… s-sudah, Mas! Mmhh…” rintihku sambil terpejam nikmat.
Tangan suamiku terus mengelus-elus lembut diatas cd miniku yang semakin basah memerah. Kadang ia mengelus-elus, kadang juga sedikit menekan-menekan pas berada diatas memekku yang berjembut lebat sehingga cd-ku tidak dapat lagi menutupinya. Jembutku yang menyeruak kemana-mana sesekali juga terkena usapannya. Oh, terasa sangat enak dan nikmat sekali.
Apalagi saat suamiku bertindak semakin berani; bukan hanya tangan, tetapi jari-jarinya sekarang dimasukkan ke dalam celana dalamku agar bisa menyentuh langsung bibir memekku yang memanas karena basah.
”Shh, Mas… kumohon… mhh… kalau mau entotin aku, lakukan SEKARANG!!” aku berteriak saking tidak dapat menahan rangsangan.
”Ok, Ma…” suamiku mengangguk. Ia mulai menarik celana dalam yang kukenakan hingga terlepas, tapi tetap membiarkan baju tidur menyelimuti tubuh mulusku. Posisiku saat itu masih bersandar di tempat tidur dengan pakaian yang sudah tidak karuan lagi. Suamiku menatap kawahku yang sudah amat sangat basah dan mencium bau harum ciri khas memek yang sedang terangsang.
Saat itulah, aku begitu kaget ketika tiba-tiba muncul seekor kucing yang berdiri di jendela yang tidak tertutup rapat. Anehnya, kucing ini sama persis seperti kucing yang ada di dalam lukisan. Kucing itu kemudian  meloncat masuk ke dalam kamar dan berdiri di sudut ruangan sambil memandang kami yang sedang bercinta.
”Mas, ada kucing!” aku  bilang ke suamiku, tetapi dia sama sekali tidak menghiraukan.
”Emang kenapa? Mungkin dia kepingin lihat kita, hehe…” suamiku tertawa dan mulutnya mulai menciumi paha dan sekujur kakiku hingga akhirnya masuk ke terminal utama, yaitu lubang senggamaku. Lidahnya langsung menyentuh pinggiran memekku.
”Aahh,” aku berteriak sambil menggeliat. Pikiran tentang si kucing langsung hilang sudah.
Suamiku mulai menjilati memekku dari bagian pinggir. Tanganku menarik kepalanya agar semakin dalam terbenam di selangkanganku. Sesekali mulutnya menyedot-nyedot bagian dalam liang memekku.
”Aah, Mas… enak!” aku merintih. Kuremas rambutnya dengan dua tangan saat lidahnya mulai bermain di itilku yang sudah membesar tajam sambil sesekali menghisap dan terkadang menyedot-nyedotnya ringan.
”Ahh, Mas… terusin… ahh… cepat!” Badanku menggeliat-menggeliat tidak karuan kesana kemari. Lidahnya terus bermain di dalam memekku, kedua tangannya juga mengangkat kedua kakiku agar mudah lidahnya menjilati setiap bagian dari memekku. Dia terus bermain disana dengan begitu rakusnya.
”Terus, Mass…” aku semakin bernafsu karena selama ini aku belum pernah merasakan jilatan di memek. Suamiku terus menjilati memekku yang sudah basah sekali dari bawah ke atas, lalu balik lagi ke bawah, dan kembali ke atas. Begitu terus berulang-ulang sampai badanku bergetar dan kepalaku menggeleng terus ke kiri dan ke kanan, sedangkan pinggulku berputar-putar mengikuti irama jilatannya yang semakin lama menjadi semakin cepat.
”Mas, aku udah nggak tahan… oohh!” aku menjerit saat lidahnya menerobos masuk ke dalam memekku lalu ditarik lagi, itu terus dilakukannya berulang-ulang, dengan diselingi sedotan ke liang memekku.
Aku yang tidak kuat menahan kenikmatan ini akhirnya menjepitkan kedua kakiku ke kepalanya dan tanganku menggapai langit-langit yang tidak bisa kuraih, sedangkan badanku membusung jauh ke depan. Aku lalui orgasme yang pertama sepanjang hidupku ini dengan teramat sangat indahnya, seperti melambungkan diriku ke impian yang selama ini tidak pernah kudapatkan. Semburan demi semburan terus keluar dari tubuhku, membuatku terus berkelojotan dan berkedut-kedut ringan.
Suamiku yang tahu kalau aku sudah orgasme, bukannya berhenti, malah semakin kuat menyedot-nyedot belahan memekku.
”Mas, ahh… ahh… oh enaknya…” Memekku terasa basah kuyup setelah orgasmeku yang begitu deras. Namun lidah suamiku ternyata belumlah berhenti untuk memainkan itilku, tangan kirinya terus meremes-meremes tetek kananku, sementara tubuhku masih tersandar di tempat tidur dengan gaun yang masih terpakai tapi sudah tersingkap kemana-mana.
”Cepet, Mas, kalau mau ngentot… mhh… mumpung punyaku sudah basah begini! Sshh…” aku meminta. Kedua pahaku masih berada di bahunya kiri dan kanan. Tangannya masih mengusap-mengusap memekku, kadang dia juga memainkan itilku dengan jari-jarinya.
Aku mencoba berdiri sehingga kepalanya terjepit di selangkanganku. Gaunku turun menutupi wajahnya, membuat bagian atas tubuhku tak berpenutup lagi. Payudaraku yang bulat besar terlihat menggantung dengan indahnya, yang langsung diremas-remas olehnya dengan dua tangan, membuatku kembali merintih dan menggelinjang suka.
Mulutnya sekarang pas berada di bawah memekku, dan dia memberikan sedotan yang sangat kuat. Aku langsung mencondongkan tubuh ke depan karena tidak kuat menahan sedotan itu, tapi tangan kananku menekan kepalanya yang tertutup baju tidurku. Suamiku mengulangi lagi sedotan itu, cuma yang sekarang jadi sasarannya adalah itilku yang merona tajam. Dan lagi-lagi, aku merintih keras sambil menekuk tubuh ke depan. Berkali-kali dia melakukan itu, dan berkali-kali pula aku tak tahan.
”Ahh, Mas… enak!” aku yang tidak kuat akhirnya menahan tubuh dengan kedua tangan di atas ranjang sehingga posisiku sekarang jadi setengah menungging. Lidah suamiku terus bergoyang menikmati itilku kiri dan kanan, sedangkan tangannya mengelus-elus bulatan payudaraku tiada henti.
”Entotin aku, Mas… aku udah nggak tahan!” jeritku setengah berteriak sambil mendesah kuat. Tangannya kini mengelus pusarku sambil mulutnya masih asyik bermain-main di belahan memekku.
”Buka celanamu, Mas… aku mau lihat kontolmu… shh.. ohh…” pintaku tak sabar ingin melihat benda yang selama ini tidak pernah bisa memuaskanku, yang anehnya kali ini kulihat begitu besar dan kuat.
”I-iya, Ma…” sambil terus mempermainkan memekku, suamiku sedikit mengangkat tubuhnya untuk membuka celana dalam. Dia langsung mengacungkan kontolnya yang sudah sejak tadi ngaceng keras ke depan mukaku.
Kulihat kontol yang begitu besar itu dengan penuh nafsu. Memekku rasanya sudah gatel sekali ingin dientot oleh kontol yang begitu perkasa tersebut. ”Duduk sini, Mas…” aku mencoba untuk meminta.
”Iya,” suamiku langsung duduk di sofa dengan kontolnya berdiri tegak seperti monas, tapi tangannya kembali menerobos masuk dari bagian bawah gaun satinku dan mulai mengelus-elus memekku lagi.
Aku langsung mengangkat baju tidurku dan berlutut di ranjang, di atas kontolnya. Jari tengah suamiku berusaha masuk menembus belahan memekku. Ia mengobok-obok sebentar isi memekku sebelum mengocoknya cepat tak lama kemudian hingga membuatku tak tahan. Dengan dua tangan aku menjerit dan bertumpu di bahunya.
”S-sudah, Mas… shh… ahh…” aku mendesah keenakan. Apalagi saat mulutnya ikut beraksi dengan mengulum kedua tetekku kuat-kuat, sambil tangannya terus bermain di dalam memekku.
”Aahh!!” aku memekik kalap, kubekap kepalanya hingga semakin terbenam di belahan tetekku. Mulutnya terus menyedot-nyedot lembut disana, sementara jari-jarinya yang nakal terus bermain di belahan memekku, membuatnya jadi semakin basah. Aku mencoba membalas dengan menggapai kontolnya lewat belakang pantat menggunakan tangan kiriku. Kuremas-remas kontol yang gede dan hitam itu dengan penuh nafsu.
”Ahh… pelan-pelan dong, Sayang!” suamiku yang keenakan semakin kuat mengobok-obok memekku sambil memainkan itilku.
”Sshh… s-sudah,  cepat masukin, Mas… aku mau kontolmu!” pintaku semakin tidak sabar.
“Iya, sayang…” suamiku mulai naik sedikit agar kontolnya bisa masuk ke dalam memekku. Di sebelah kami, si kucing mengeong, tapi suamiku terus mendekapku dan  terus melakukan panetrasinya.
”Achh…” aku merasakan kepala kontolnya masuk dan ditarik kembali. Dia memain-mainkan kontolnya di atas memekku dulu, ujungnya yang tumpul sengaja disentuh-sentuhkan ke itilku yang sudah sangat kaku dan sensitif.
“Masukin, Mas!! Oohh…” aku menjerit, memekku terasa semakin gatal dan aku menjadi binal dibuatnya.
“Iya,” suamiku kembali memasukan setengahnya, lalu diputar-diputar sebentar sebelum ditarik lagi.
“Masukin, Mas!” aku semakin berteriak tak sabar.
“Seret, Ma.. punya kamu sempit banget sih.” kata suamiku.
”Ahh… biar! Teruskan aja… ahh… uhh…” aku sendiri semakin meracau tak karuan, tidak kuat menahan kontol yang sekarang jadi begitu besar hingga jadi sangat sesak saat masuk ke dalam belahan memekku. Aku langsung melampiaskan dengan mengulum bibirnya kuat-kuat sambil meremas-remas rambutnya hingga jadi acak-acakan.
Suamiku langsung menekan kontolnya lagi dan bless…
”Mmhh…” aku kembali bergumam menikmati sodokan kontolnya yang begitu nikmat.
”Aduh! Enak banget memek kamu, Sayang…” suamiku ikut berteriak penuh kenikmatan karena ini yang pertama kali baginya bisa ngentotin aku begitu lama. Biasanya kan 2 – 3 menit sudah selesai.
”Aah… enak!” kembali kukulum bibirnya, tapi kali ini dengan lembut dan begitu mesra.
Suamiku menarik pelan-pelan kontolnya, lalu mendorong lagi. Sedangkan lidahnya bermain di mulutku. Terkadang dia bergerak memutar pantatnya agar kontolnya ikut bergoyang di dalam memekku. Aku mengimbangi putaran itu dengan menggerakkan pinggulku berlawanan arah. Jadilah kemaluan kami saling menggesek dan memilin nikmat
”Mas, shh…” aku mendesis merasakan kontolnya yang begitu penuh berputar-putar di dalam liang memekku. Suamiku terus bergoyang ke kanan dan ke kiri
sambil memaju-mundurkan pantatnya semakin cepat.
”Sshh… enak banget, Sayang… terus!” erangnya karena aku menggoyangkan pinggul maju-mundur, atau kadang berputar sambil memainkan otot-otot liat di dinding memekku.
”Sshh… Mas… mhh…” aku ikut merintih.
”Ahh… terus, Sayang… enak!” suamiku rupanya sangat ketagihan dengan permainan memek yang kulakukan. Sambil tangannya meremas-remas tetekku, atau kadang sambil memainkan putingnya, ia mengimbangi goyanganku.
”Terus, Mas… kontol kamu enak! Sshh…” aku jadi ikut ketagihan dibuatnya, kukulum bibirnya begitu mesra sambil kusedot-sedot lidahnya. Suamiku yang tak ingin kalah, ikut menyedot lidahku juga, sementara tangannya masih menempel di putingku dan memainkannya dengan jari-jarinya yang kasar.
Aku bergerak naik turun semakin cepat karena memekku sudah basah sekali sehingga jalan keluar masuk kontolnya menjadi begitu lancar. ”Ayo, Mas… cepet keluarin! Hhss…” aku meminta. Tidak biasanya aku begini. Yang sering itu suamiku moncrot duluan, bahkan sebelum aku merasa nikmat. Tapi sekarang…
Aku malah sudah berada di titik pendakian, sementara dia tampak masih tenang-tenang saja. Berteriak-teriak penuh kenikmatan, kuangkat kedua tanganku ke atas untuk meremas-remas rambutku sendiri. Sementara suamiku meremas-remas kuat bulatan tetekku karena tahu kalau aku akan segera keluar.
”Ahh… enak, Mas… enak sekali!” aku bergerak naik turun dan memutar pinggul semakin gila. Dia ikut terbawa dengan menggerakkan pantatnya liar.
”Kita keluar bareng, Mas… shh!” aku merasakan nafsu sekali sehingga sudah
tidak kuat menahan detik-detik yang teramat sangat indah selama hidupku itu.
”I-iya, Sayang…” sahutnya.
Kutekan kuat-kuat memekku ke bawah dan menggesekkannya maju mundur dengan begitu cepat di batang kontolnya. Kedua tanganku terus meremas-remas rambutku sendiri sehingga jadi sangat berantakan. Tapi anehnya, meski permainanku sudah begitu hot, namun nampaknya suamiku tidak cepat ejakulasi. Dia terus bertahan, dan terus memompa hingga membuatku makin kelojotan tak karuan. Dan akhirnya, akupun kalah.
Aku orgasme. Cairanku meledak keras sambil tubuhku mengejang-ngejang ringan merasakan nikmat yang begitu hebat itu. Belum pernah aku merasakannya, dan sekali dapat, langsung begini nikmat. Oh, sungguh sangat beruntung sekali. Sementara suamiku seperti pria yang kesurupan, dengan tidak mengenal lelah ia terus menyetubuhiku.
”Ayo. Ma, kita main yang lebih nikmat!” ia meremas tetekku dan memainkan putingku dengan kedua jarinya sambil menjepit-menjepitnya gemas.
”Lakukan, Mas. Genjot terus tubuhku!” teriakku semakin binal sambil memutar-memutar kontolnya yang terbenam penuh di lorong memekku.
”Ahh… enak, Ma!” dia mulai menyedot-nyedot putingku bergantian.
”Cepet, Mas… semprot memekku dengan pejuhmu! Shh… aku udah nggak tahan nih!” teriakku semakin kencang, kemudian aku mengulum bibirnya dan menekan kepalanya sehingga semakin rapat ke arah wajahku.
”Tahan sebentar, Sayang.” suaranya kacau akibat bibirku yang mendekati bibirnya. Kami berciuman dan berpagutan dengan penuh nafsu sambil suamiku tak lepas memaju-mundurkan pantatnya, bahkan kadang bergoyang semakin kuat dan cepat.
Aku kembali melawan dengan memainkan otot-otot memekku sekuat tenaga agar dia lekas orgasme. Tubuhku terus menggeliat karena nikmat yang tiada tara ini. Kami bercinta dengan berbagai gaya yang belum pernah kami lakukan sebelumnya. Aku merasakan orgasme yang berulang-ulang. Karena kenikmatan dan perasaan bahagia, aku sampai meneteskan air mata saat bercinta.
”Terus, Sayang… ahhs… aku sudah mau keluar!” teriaknya yang sudah mulai kewalahan, tidak dapat menahan lagi orgasmenya lebih lama.
”Aahh…” kupenuhi permintaannya dengan bergoyang amat sangat liar dan akhirnya tubuhku kembali menggelepar-gelepar. ”Mas, aku mau keluar juga!” aku berbisik.
”Kita sama-sama, Sayang…” dia mengajak.
”Aah, Iya…” aku menyahut, dan meledak. Titik puncak itu dapat kuraih dengan begitu indahnya selama masa perkawinan kami. Tubuhku mengejat-mengejat sambil memeluk tubuh suamiku erat sekali. Anganku melayang jauh merasakan gelombang orgasme yang sedemikian hebat, yang belum pernah kurasakan sebelumnya dengan kontol ini.
”Ahhh…” suamiku ikut menyemprot dengan begitu kuat dan deras di dalam leiang memekku. Croot, croot, croot, begitu dia menyembur berulang-ulang.
”Aahhm…” aku kembali bergumam di alam mimpi yang indah ini.
Bibirnya mengecup bibirku yang ranum dan aku langsung mengulum bibirnya dengan liar sambil memeluknya. Tangannya mengelus tetekku lembut. ”Punya kamu enak sekali, Sayang!” bisiknya perlahan dengan napas yang masih terengah-engah.
”Sama! Aku puas sekali hari ini, Mas.” aku tersenyum dan berbisik di telinganya. Sambil tetap memeluk tubuhnya, kemudian kukecup bibirnya dengan begitu lembut dan mesra.
”Baru kali ini kita bercinta sehebat ini… kamu benar-benar hot sekali, Sayang… sungguh luar biasa!” jawabnya puas.
Tangan kananku memegangi pipinya. ”Mas juga! Bisa tahan lama begitu, aku jadi suka sekali!” kataku sambil memeluk erat tubuhnya seakan tidak ingin kehilangan dan mengecup keningnya.
Aku sempat melihat jam dinding sebelum tertidur. Astaga! Ternyata kami bercinta lebih dari 2 jam! Sungguh luar biasa. Pantas tubuhku jadi begini lelah. Di pojok ruangan, si kucing kembali mengeong sebelum menggulung tubuhnya menjadi lingkaran dan ikut tertidur pulas.
Keesokan harinya, ketika aku terjaga dari tidur, aku aku tidak menemukan kucing itu lagi. Aku bertanya dalam hati, apakah itu kucing liar yang sering ditemukan di dekat kuburan? Karena rumahku tidak jauh dari tempat pemakaman umum.  Aku segera bertanya kepada suami perihal kucing itu, tetapi dia bilang tidak melihatnya.
Tapi suamiku bilang kalau dia juga  merasakan keanehan saat bercinta tadi malam. Katanya kami seolah-olah dibawa melayang ke suatu tempat, dan bercinta di sebuah taman yang sangat indah. Dia melihat diriku begitu cantik seperti putri, yang tidak seperti sebelumnya. Karena itulah ia begitu bernafsu saat menyetubuhiku. Bahkan suamiku merasa badannya menjadi ringan dan tidak mengenal lelah, sehingga dia  ingin memuaskanku sepuas-puasnya.
Beberapa hari kemudian, aku secara kebetulan membaca artikel tentang seekor kucing. Saat itulah aku menjadi terkejut ketika membaca sejarah tentang kucing. Ternyata ribuan tahun sebelum masehi, kucing dianggap sebagai binatang suci di negeri Mesir. Dan bahkan jika meninggal dibuat mummi. Malah disamping Mummi raja Firaun, juga ditemukan mummi kucing kerajaan.
Kucing merupakan penjelmaan dari Dewi Kesuburan pada wanita,  yang  bernama Basted / Usbati atau Pesht, yang dipuja oleh orang-orang  Mesir. Sehingga orang yang membunuh kucing akan mendapatkan hukuman mati. Konon ada rombongan kereta tentara pasukan raja Firaun (Farau) yang secara tidak sengaja menabrak seekor kucing, dan  tentara tersebut langsung mendapatkan hukuman mati.
Kucing binatang suci  yang harus dilindungi. Dan jika ada kucing meninggal, maka  pemiliknya akan mencukur bulu alis matanya, sebagai tanda duka dan perkabungan. Kucing yang dalam  bahasa asingnya cat, merupakan serapan dari bahasa latin Felix Cattus, yang ditulis pertama kali oleh Rolladius, penulis asal Roma, pada abad ke-4 masehi.
Artikel yang nongol secara kebetulan. Anehnya, sejak malam itu kucing tersebut tidak pernah muncul lagi. Dan hebatnya, suamiku menjadi sembuh dari  gangguan ejakulasi dini. Bahkan dia menjadi bisa mengontrol ejakulasinya secara gampang. Kamipun bisa bercinta dengan leluasa, dan menggunakan berbagai variasi. Dan mulai saat itu aku  merasa gampang mendapatkan multi orgasme.
Empat minggu setelah seks yang ditunggui kucing tersebut, aku dinyatakan hamil. Ketika aku konsultasi ke dokter, beliau banyak menjelaskan masalah medis.
”Waduh, sejauh ini kok saya tidak pernah mendapatkan pasien, yang saat bercinta mendapatkan halusinasi melihat kucing ya…” kata dokter. ”Ibu waktu melakukan hubungan seks, tepat pada saat masa subur sehingga terjadi perubahan fisiologis, termasuk peningkatan libido.  Sehingga dipastikan pada malam  itu terjadi pembuahan sel telur oleh sperma di saluran telur,” katanya menambahkan.
“Lagian suami ibu sering keluar kota.  Jadi jika kebetulan ibu  pada masa subur, hal ini menjadi terlewatkan. Karena sel telur hanya mampu bertahan hidup dalam keadaan siap dibuai hanya selama 1 – 2 hari.  Ibu sudah lama menanti momongan, dan  hal  sekarang ini layak  disyukuri,” kata dokter sambil mengusap-usap stetoskop yang mengalung di lehernya.
Cerita diatas memang terasa aneh, karena  aku juga merasakan seperti itu. Namun terlepas dari semuanya, semua pasti ada hikmahnya.

ZURAIDA AND FRIENDS 3

hilda yulis - hijabers mom community (2)

“Cantik,,,sangat cantik,,,”
Mata Bu Sofie menyapu panorama dari ruang tak berbatas, matahari pagi memberi warna berkilauan pada ombak yang pagi itu sedikit lebih jinak. Wanita berambut ikal yang diikat keatas itu melepas sendalnya, berjalan menyambut ombak kecil yang dengan cepat menjilati jari-jari dan telapak kakinya.
“Aku ingin seperti ini selamanya,,,” gumam Bu Sofie pelan, merentang kedua tangan seolah ingin memeluk langit. bibir tersenyum bahagia, bahagia dengan kebebasan yang tengah dinikmatinya.
Lepas dari sorotan mata bengis para wanita sosialita, lepas dari segala macam barang branded puluhan juta. Tas versace, gaun dari desainer ternama, jam tangan hingga kalung dan cincin berlian yang selalu menjadi barometer kesuksesan para suami. Bu Sofie menggerak-gerakkan tangannya yang serasa begitu bebas tanpa mata berlian yang setiap hari menjepit erat aliran darah, yang terkadang membuat jari-jarinya kebas.
“Bebaaass,,,” gumamnya, tersenyum lepas, terbebas dari segala beban.
Bukan sekedar bebas dari rintih persaingan para srikandi borjuis, tapi juga bebas dari kritik tajam Pak Prabu yang sehari-hari tak kalah cerewet dengannya. Tak ada pula komentar miring dari suaminya saat mendapati pantat montoknya hanya dibalut kain pantai tipis, tanpa underwear. Bahkan beberapa kali tubuh montoknya dipeluk Dako dan Munaf dihadapan suaminya, tapi lelaki berkumis itu hanya tersenyum, seolah mengizinkan dirinya mencari bahagia ditempat itu. Bibir Bu Sofia tersenyum kecut, saat teringat tingkah suaminya yang pura-pura tidak melihat saat tubuh montoknya diseret Dako ke kaki sebuah tebing.

“Pemuda yang nakal,” kepala Bu Sofie menggeleng-geleng, coba mengingat bagaimana lelaki muda itu menggumuli dirinya dengan begitu buas di atas pasir pantai.
Teringat pula bagaimana serunya persaingan antara dirinya dan Aida saat berebut mengendarai batang Adit subuh tadi. “Keponakan geloo,,dikira pingsan beneran, ga taunya malah main kuda-kudaan sama Aida,” umpat Bu Sofie sambil tertawa.
Parahnya lagi, beberapa saat lalu, secara terang-terangan dirinya menawarkan tubuh montoknya kepada Arga, “Uuugghhh,,,dasar betina gatel,,,ga punya maluuu,,” Bu Sofie memaki dirinya sendiri, sambil tertawa kecil. Kakinya menendang gumpala ombak kecil.
“Ibu baik-baik aja kan Bu?,,,”
Tanya Mang Oyik yang heran melihat tingkah Bu Sofie yang tertawa sendiri.
“Ehh,,, iyaa,, baik,, Mang,,kenapa di sini lebih banyak batu karangnya dibanding pantai di depan cottage?,,”
Bu Sofie berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah, malu dengan tingkahnya sendiri, bertanya pada Mang Oyik, namun lelaki berambut kriwel itu mengangkat kedua pundaknya tanda tak tau.

Mata belo (baca: mata bola pingpong nya Bung Iwan Fals) yang dihias bulu mata lentik itu beralih menuyusuri bibir pantai. Tiba-tiba pandangannya beralih pada ATV yang masih diduduki Mang Oyik. “Mang,, ajarin saya nyetir ATV dong,,, kaya nya seru kalo bisa ngebut di pantai sepi begini,,” pinta Bu Sofie.
“Lhaa,, terus nyiapin peralatan game nya gimana Bu?,,” Mang Oyik menjawab pertanyaan bu Sofie dengan mata yang tak lepas dari payudara besar Bu Sofie yang dipastikan tidak mengenakan bra. “Gilaa,, pentilnya aja gede banget,,” gumam Mang Oyik penuh birahi.
“Kenapa Mang?,,,”
“Eenghh,, maksud saya,,, saya ga enak kalo mereka ke sini peralatan game belum siap,,,”
Kali ini mata Mang Oyik lebih beruntung, angin pantai begitu lihai meniup rok lebar Bu Sofie, hingga menampilkan pantat yang begitu montok.
“Itu gampang Mang,,lagian mereka masih lama ke sini,,kita aja yang terlalu pagi,, Ayolaaah, ajarin sayaaa,,,” rengek Bu Sofie, begitu acuh dengan kenakalan angin yang memanjakan mata Mang Oyik.
Mang Oyik meneguk ludah, saat Bu Sofia berbalik menghadapnya, memohon dengan gaya centil khas ABG, tak peduli dengan ulah angin yang berhasil menyingkap rok bagian depannya, hingga menampilkan gundukan vagina yang gemuk. Tangan Mang Oyik gemetar menyerahkan kunci, disambut tawa Bu Sofia yang sukses mengerjai lelaki berambut kriting itu.
“Ayo naik,, biar saya bonceng,” seru Bu Sofia yang sudah duduk manis mengangkangi ATV.
Dan ternyata,,, memang tidak sulit bagi Bu Sofia untuk menjinakkan ATV di atas pasir pantai, ulah ngebut Bu Sofie membuat membuat Mang Oyik sedikit terganggu menikmati tubuh dan paha mulus di depannya.
“Jangan terlalu ngebut Bu,,, pasir pantai bikin roda jadi liar lhoo,,apalagi kalo mau naik tanjakan bukit itu,,” seru Mang Oyik menunjuk bukit pasir yang menjauh dari bibir pantai, mencari-cari alasan agar dapat berpegangan pada pinggang yang sedikit berlemak.
Bu Sofia justru tertawa, menggeber gas semakin kencang. Namun tiba-tiba laju ATV mulai menurun saat Mang Oyik mengelusi paha. ATV Menaiki bukit pasir yang landai namun cukup tinggi dengan gas tertatih, akibat ulah Mang Oyik yang berhasil mengganggu konsentrasi wanita itu, hingga akhirnya kendaraan beroda 4 itu turun dengan sendirinya dari bukit.
“Mang,, kalo mamang takut jatuh, pegangan yang kenceng,,,” seru Bu Sofie, yang diamini mang Oyik, memindah telapak tangannya ke payudara besar Bu Sofia, dan meremasnya dengan kuat.
“Pegangan seperti ini Bu?,,,”
“Tidaaak,,, lebiiih kencaaang lagiii,,,” rintih Bu Sofie, menikmati kebrutalan tangan Mang Oyik. ATV terhenti ketika Mang Oyik berusaha menarik keluar sepasang payudara.
“Silahkan jalan lagi buu,,” bisik Mang Oyik, ditengah kekaguman, telapak tangannya yang kasar tak mampu sepenuhnya menangkup kedua daging milik Bu Sofie.
ATV berjalan dengan sangat lambat, bibir wanita itu terus mendesis, putingnya yang mengeras terasa sedikit pedih saat jari-jari Mang Oyik mencubit dan memelintir. Tubuh Bu Sofie semakin gemetar saat pantatnya merasakan menggesek batang yang sudah sangat keras.
“yang nempel di pantat saya ini apa Mang?,”
“Cuma tongkat persneling koq Bu,,,”
“Mana ada sih ATV pake persneling,hahahaa,,oowwwhsss,,,” Bu Sofie tertawa di sela rintihannya.
“hahahaa,, ya artinya ini tongkat persneling saya bu,, hahaha,,Pengen nyoba tongkat persneling saya?,,,”

Deg,,, Laju ATV direm mendadak, Bu Sofie memang sudah sering mencoba ketangguhan para pejantan muda yang menjadi bahan arisan teman-temannya, tentunya tanpa sepengetahuan suami-suami mereka, tapi Mang Oyik adalah manusia paling amburadul yang pernah menjamah tubuhnya. Matanya menyusur bibir pantai, menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada seorangpun selain mereka ditempat itu. Mengucap terimakasih pada bukit pasir yang tadi dinakinya, menutup akses pandangan dari arah cottage
“Boleehhh,,, biar saya coba,,” jawab Bu Sofie dengan jantung berdebar, coba merasakan batang keras yang terus menggesek-gesek sekitar pinggang dan pantatnya.
Wanita itu berdiri, mengangkangi jok ATV, perlahan menurunkan celana dalamnya dengan mata waspada mengamati sekitar pantai. Melihat pantat montok mulus yang terbuka di depan wajahnya Mang Oyik langsung membenamkan wajahnya ke belahan pantat Bu Sofie.
“Aaaakkkhhh,,, Maaaangssss,,,,” tubuh wanita terlonjak, tak menduga dengan serangan Mang Oyik, tangannya segera memegang stang menahan tubuhnya yang terhuyung kedepan.
“Oowwwhhssss,,,Ganas baangeetss ni Orang,,, Aaaggghhhsss,,,” gumam wanita itu tak jelas, merasakan lidah panas Mang Oyik yang dengan cepat melakukan sapuan panjang di selangkangannya, menjilati bibir vaginanya dan terus menyapu hingga ke lubang anusnya.
Terus berulang-ulang, menyapu, menggelitik, sesekali menusuk lorong vagina dan anusnya, membuat tubuhnya merinding.
“Aaaaggghhh,,, gilaaaa,,, masukin maaaaang kalo beraniii,,,” rintih Bu Sofie semakin membuka lebar pahanya, dan benar saja, sesaat kemudian Mang Oyik menjawab tantangannya

hilda - jilbab hot (7)
Lidah panas itu berusaha menguak lubang anus Bu Sofie. Akibatnya wanita itu semakin kalang kabut dilanda birahi. Tak pernah dirinya diperlakukan seperti ini, selama ini pejantan muda yang dibokingnya kebanyakan dari kalangan mahasiswa, yang minim pengalaman dan terlalu menjaga sopan santun. Tapi kini, wanita itu dapat merasakan lidah panas yang berhasil menerobos liang kotor itu, menggelitik liar berusaha masuk semakin dalam,
“Aaaaaggghhhh,, Maaaang,,,jilaaaatin dalam nyaaa jugaaaa Maaaangssshhh,,,” pantat besar Bu Sofie menekan wajah Mang Oyik.
Tak ingin mengecewakan tamunya, Mang Oyik tak lagi peduli dengan rasa pahit di lidah, daging tak bertulang itu menari, melengkung ke kiri ke kanan seolah mencari sesuatu di lorong anus Bu Sofie.
“Dasaaarrr,,, betinaaa binaaaallll,,,” rintihnya, mengakat pantatnya semakin tinggi, memberi akses sepenuhnya pada lidah Mang Oyik untuk bertualang. Bibirnya terus mendesis, merintih, menjerit histeris.
“Aaaaakkkkhhhhhh,,,,, pindaaaah depaaaaannn,,, sedooottt yang didepaaaan Maaaaang,,,,” jerit Bu Sofia tiba-tiba, menjambak rambut kriting Mang Oyik, mengangkangi wajah Mang Oyik, mengarahkan lidah yang masih terjulur itu kebagian depan.
Tapi, belum puas dengan gerakan lidah Mang Oyik di vaginanya, pantat Bu Sofie bergerak semakin liar, menggesek-gesek bibir vaginanya yang penuh lendir ke wajah mang Oyik dengan kuat. Hingga akhirnya gelombang orgasme menyerang tubuhnya.
“Aaaaggghhh,,, keluaaaaaarrrr,,,,”
“Sedooot Maaang,,, minuuuum,,,sedoooot semuaaaa,,,” perintah Bu Sofie yang merintih penuh kenikmatan, menjejalkan bibir vaginanya ke mulut Mang Oyik yang terbuka.
Tapi bukan Mang Oyik namanya jika pasrah begitu saja menjadi objek pelampiasan seorang wanita. Karena bibir tebalnya tiba-tiba membekap seluruh pintu vagina Bu Sofie, dan melakukan sedotan kuat, hingga wanita itu terkencing-kencing.

Didera orgasme panjang kaki montok itu gemetar, “Sudaaaah Maaaang,,,stooop,,,” namun bibir Mang Oyik terus menghisap, menyedot lorong vaginanya, memaksa semua cairan keluar dan beralih ke mulutnya.
“Uuuuggghhh,,,”
Seeeerrr…. lagi-lagi Bu Sofie squirt, memuntahkan air seni yang dipaksa keluar. Tubuhnya roboh memeluk stang ATV, menungging membelakangi Mang Oyik yang tertawa puas dengan wajah basah oleh cairan vagina.
“Saat nya beraksi,,,” batin Mang Oyik, Tangan kirinya mengocoki batang yang sudah mengeras, sementara tangan kanannya mengusap-usap bibir vagina yang penuh dengan tetesan lendir.
“Oooowwwwhhhssss,,,”lenguh Bu Sofie, saat merasakan batang Mang Oyik yang dengan mudah menerobos vagina yang basah, tanpa menunggu dirinya siap, Mang Oyik langsung menggenjot dengan kasar.
Bu Sofie tertawa melihat ulah Mang Oyik yang begitu bernafsu, wajar saja, sangat jarang lelaki itu bisa merasakan barang semulus milik Bu Sofie.
“Selamat menikmati,,” seru Bu Sofie dengan gaya yang sangat genit, menduduki batang Mang Oyik di atas ATV.
Menggerakkan pinggulnya pelan. Wanita itu sadar, lorong vaginanya yang terbiasa dengan batang besar, terasa sedikit longgar saat berusaha mengempot batang Mang Oyik.
“Waaahhh,,, Mang Oyik, ada barang bagus dipake sendiri nih,,,” seru seseorang dari arah belakang. Bu Sofie yang terlalu asik dengan Mang Oyik tak menyadari seorang pemuda menghampiri mereka. Bu Sofie berusaha meloncat turun dari atas tubuh Mang Oyik, tapi lelaki itu mencengkram erat pinggulnya sambil tertawa. akhirnya wanita itu hanya bisa berusaha menutupi selangkangannya dengan rok yang terlalu pendek.
“Tenang Bu, dia si Kontet teman saya koq, penjaga cottage sebelah, ga usah takut, Kontet ini kalo ga diizinin ga bakalan ikut nyodok koq,” terang Mang Oyik, yang langsung dijawab Kontet dengan plototan mata.
“Gila lu Mang, barang bagus gini masa gue cuma disuruh nonton, aaahh,,, tai lu Mang, bini gue kemarin lu obrak-abrik gue santai aja, sekarang elu ada barang bagus dipake sendiri, liat aja ntar bini lu gue pake siang malam jangan protes lu,,,”
“Aaahh,, berisik Lu Tet, bikin orang ga khusu aja,” Mang Oyik melempar sendal ke arah Kontet.
Bu Sofie tak bisa menahan tawanya, meski tampangnya lebih sangar dan punya body yang jauh lebih besar dari Mang Oyik, ternyata lelaki itu cerewetnya minta ampun.
“Bu,, gimana?,,, boleh ikut gabung ga?,,,”
“Eeenghh,, iya deehh,, eemmh,,terserah deh maksud sayaa,,” wajah Bu Sofie panas seketika, bibirnya telah memperislahkan dua manusia amburadul itu untuk menikmati tubuhnya, tubuh istri dari seorang direktur cabang perusahaan besar di negeri maritim ini.

hilda yulis - hijabers mom community (4)

Tapi ulah Kontet yang tertawa girang menampilkan gigi yang sebagian ompong itu, membuat Bu Sofie tak mampu lagi menahan tawanya. Dan akhirnya hanya bisa merutuki nasibnya yang harus menjadi pemuas nafsu dua kura-kura pantai selatan.
“Tapi bilangin Mang, kalo nusuk punya saya ini mulut harus diam, ga boleh cerewet,,Hihihihi,,,”
Namun tawa Bu Sofie terhenti saat Kontet mengeluarkan batangnya. Batang yang lebih besar dari milik suaminya yang sudah termasuk kategori big size. Berselimut kulit yang coklat kehitaman, membuat tampilannya semakin sangar.
“Kenapa Bu,, gede banget ya,,,hehehee,,, makanya saya ga pernah ngizinin dia ngentotin bini saya, pasti ancur meqi Marni kalo disodok tu batang,,,hehehee,,,”
Jantung Bu Sofie bergemuruh mendengar paparan dari Mang Oyik yang begitu vulgar, khas orang pinggiran. Tapi batang itu memang sangat besar. Pinggul besar Bu Sofie kembali bergerak, berusaha sekuat mungkin menjepit batang Mang Oyik agar lelaki itu cepat selesai. Sementara Kontet berjalan ke depan ATV, seolah ingin memamerkan batang gorilanya kepada Bu Sofie yang tak berkedip memandang dengan bibir mendesis birahi. Tak sabar menunggu giliran.
“Bu,,, kelamaan kalo nungguin Mang Oyik kelar,,langsung masukin double dong Bu,,,”
“Gila kamuu,, bisa hancur beneran punya sayaa,,, Sini deehhh,,Aaawwwhh,, pelan Mangss,,”
Bu Sofie kembali menungging, agar mulutnya dapat menjangkau batang besar itu.
“Dasar kau Sofiee,, ga pernah bisa sabar kalo liat batang besar,” batinnya tertawa girang bercampur ngeri.
“Ooowwwhhh,,,yaaa,,, jilaaat buuu,,,yaaa,,,basaaahiin dulu batangnyaaa,, jilat memutar buuu,, oowwhhh,,,”
“yaaa sekarang masukin kemulut ibu,,, ooowwwhhhsss,,, gilaaa,, mulut ibuuu hangaaat bangeeettt,,masukiiin semua dong Buuu,,ayoo buuu semuaaa,,”
“AAAAWWWW,,, SAKIT BUUUU,,,”
Kontet menjerit seketika, batang besarnya digigit oleh Bu Sofie.
“Makanya diam,,, tinggal nikmatin aja repot bener sih,,, ga tau apa kalo ane masih Nobi,, kalo bikin cernas otaknya masih sering ngadat.”
(Naahhhh,, Lhooo,,, tepos kan ,,,lanjut ngaceng lagi yuuu,,,)
“Makanya diam,,, tinggal nikmatin aja repot bener sih,,, ga tau apa kalo ni batang gede banget,, ga bisa masuk semua tauu,,,”
“Tapi Bu, kan ga usah pake digi,,,”
“Diam!!!,,”
Kontet langsung menutup rapat mulutnya.
“Whuahahahaa,, emang bener Lu Tet, sampe ngentot aja mulut lu ga bisa diam,,,” Mang Oyik sontak tertawa. disambut tawa Bu Sofie yang ga sanggup melihat wajah Kontet yang seketika pucat, mendengar bentakannya.

Kehadiran Kontet membuat Bu Sofie bisa lebih rileks, seakan lupa dengan status sosialnya.
“Waduuuhh,,, koq malah ngecil sih ni batang,” Bu Sofie tiba-tiba panik saat mendapati batang Kontet yang keras seperti kayu mulai loyo.
“Sini dehh,, ibu masukin semuuaaa,, Eeemmmpphhh,,,, uuummpphhh,,,”
Bu Sofie berusaha menjejalkan batang gemuk itu kemulutnya, membekap dengan lidahnya. Namun batang itu hanya mampu masuk setengah.
“Uuugggmmpphhh,, Ooommppphh,,,” Bu Sofie gelagapan, saat batang kontet yang hitam kembali membesar di dalam mulutnya. Tapi mulut wanita itu enggan untuk melepaskan.
Ini adalah persetubuhan paling gila dari yang pernah dialaminya. Tangan Bu Sofie mencengkram pantat Kontet, memberi perintah agar batang itu bergerak di dalam mulutnya.
“Ooommmpphhh,,, uuggmmmppp,,,” jari lentiknya menekan pantat Kontet lebih kuat, hingga batang besar itu hampir masuk ke kerongkongannya, menutup saluran nafasnya.”
“Ooogghhhh,,,” mulut Bu Sofie tersedak, melepaskan batang besar, matanya berair akibat tersedak, tapi gilanya bibir sensualnya itu justru tersenyum.
“Gimanaa Tet,,,nikmat mana sama meqi binimu,,”
“Juancuuuk,, mulut Ibu ganas banget,,nikmat banget Bu,,,hampir aja saya muncrat di mulut ibuuu,” telinga Bu Sofie terasa panas saat mendengar Kontet hampir saja memenuhi mulutnya dengan sperma, batangnya saja sudah bau, bagaimana spermanya.
“Buu,, sebelum mulut ibu menampung sperma kita-kita,, saya cium dulu dong Buu,,” Mang Oyik yang merasa diacuhkan memalingkan wajah Bu Sofie, lalu dengan cepat melumat ganas.
“Eeemmpphhh,,, Mmaamgghhh,, emmpphh,,” Bu Sofie gelagapan, mulutnya dihisap Mang Oyik, lidahnya membelit, menarik masuk lidah wanita cantik itu ke dalam mulut yang bau tembakau.
Tak henti-hentinya Mang Oyik menyedot dan meneguk ludah Bu Sofie yang terkumpul. Sementara batangnya kembali bergerak menghajar kemaluan wanita itu. Belum lagi Kontet yang begitu ganas menyusu di payudara besarnya.
“Bolehkan? kalo saya nyemprot di mulut ibu?,,” tanya Mang Oyik, dengan nafas memburu. Pantatnya semakin cepat bergerak.
“mulut sayaa?,, Yaaa,, saya rasa itu lebih baik, saya sedang subuurrr,” ucap Bu Sofie terengah-engah, entah apa maksudnya, padahal subuh tadi keponakannya Adit berkali-kali memenuhi rahimnya dengan benih yang sangat subur. Tapi yang pasti, mulut Mang Oyik yang bau itu hampir saja menghantarnya pada orgasme yang liar.
“Buu,, isep punya saya lagi buuu,,,” pinta Kontet dengan suara memelas, sesaat Bu Sofie menatap wajah Kontet yang penuh harap. Haapp…
Kembali batang besar itu memenuhi mulut Bu Sofie.

“Eeemmpphh,, Oooommggghh,, Ooowwhhggg,,,”
“Ooowwhhhsss,, Buuu enaaaak Buuu,,,”
Tangan Bu Sofie kembali mencengkram pantat kekar Kontet, memandu agar batang besar itu bergerak lebih cepat di dalam mulutnya, begitu kompak dengan kedua tangan kontet yang memegangi kepala Bu Sofie, seakan benar-benar tengah menyenggamai mulut wanita cantik itu.
“Oooommmgggghh,,, Aaaaagghhmmm,,,”
Mata Bu Sofie kembali berair, berkali-kali batang besar itu menyodok tenggorokannya dengan kasar. Tapi wanita enggan melepaskan, bahkan lidahnya semakin liar menggelitik batang besar Kontet.
“Buuu,,, sayaaa keluaar duluaaannn,,, Aggghhhh,,,” tiba-tiba Mang Oyik mendengus liar, menghambur sperma di lorong kemaluan Bu Sofie.
Wanita itu berusaha berdiri, melepaskan batang Mang Oyik, tapi lelaki itu mencengkram erat pinggulnya, menekan kuat pantatnya ke bawah, membuat Batang Mang Oyik semakin jauh tenggelam. Mati-matian Bu Sofie berusaha melepaskan batang yang terus berkedut menghambur benih, tapi sangat sulit, mulutnyapun masih dipenuhi oleh Batang besar. Bahkan gerakan batang itu semakin kasar. Bu Sofie menatap wajah Kontet yang habang ijo mengejar kenikmatan tertinggi.
“Uuugghhh,, Siaaal,,” hati Bu Sofie mengumpat melihat wajah Kontet yang menunjukkan bagaimana besarnya kenikmatan yang diberikan oleh mulut seorang wanita sosialitas kelas atas.
“Ooommmggghhh,,, uuuggmmhhhh,,,,” tangan Bu Sofie meremas erat pantat Kontet, pinggulnya besar wanita itu kembali bergerak, berharap batang Mang Oyik masih dapat melaksanakan tugasnya.

Terlanjur basah, dirinyapun tak ingin rugi, harus mendaptkan orgasme seperti yang tengah dikejar Kontet, dengan mulut menggeram, penuh dengan jejalan batang besar, mata wanita menatap Kontet memberi sinyal. Inilah saat yang tepat.
“Oooowwwhhhsss,, Buuu,,,Aaaagghhhh,,,”
“Gilaaa,, nikmat bangeeeet,,,” Kontet histeris menghambur sperma, yang sigap disambut mulut Bu Sofie, berkali-kali mulutnya meneguk sperma Kontet yang memancar, seiring lorong vaginanya yang juga menghambur cairan orgasme ditengah sumpalan batang Mang Oyik.
“Ooommpphh,, puiihh,,puaahh,, puihhh,, asin banget sperma mu Tet,,,”
“Haayyaaaahh,, kalo asin kenapa ditelan Buu,, heheheee,,”
“Terpaksa tau,,”
Bu Sofie mencoba berdalih, meski mulutnya sudah terbiasa dengan beberapa cita rasa sperma.
“Buu,,,” Kontet kembali merengek, meminta bibir mungil Bu Sofie membersihkan batangnya.
“Aaahhh,, ngelunjak Lu Tet,, gue kan juga mau disepong ama Bu Sofie,,,” protes Mang Oyik yang merasa tersisih.
“Iyaa,,iyaa,, sini gantian,,,” wanita itu melepaskan batang Mang Oyik dari vaginanya. Lalu turun dari ATV, tanpa tendeng aling langsung melahap batang yang masih mengeras, dan itu membuatnya sangat heran.
BREEMMM…BREEEMMMM… BREEEEMMMMM….tiba-tiba terdengar suara ATV di kejauhan. Bu Sofie terkaget, itu pasti rombongan suaminya. dan mereka pasti mencari dirinya yang tiba lebih dulu. Sebenarnya Bu Sofie bisa saja langsung melepaskan batang Mang Oyik, membenahi pakaiannya lalu menghampiri mereka. Tapi matanya menatap nanar batang Kontet yang besar dan masih mengeras. Yaa,, dirinya masih ingin merasakan batang yang lebih besar dari milik suaminya itu memasuki tubuhnya.

“Aaahh,, persetanlah,, ntar gampang cari-cari alasan,” batin Bu Sofie menghentak.
“Tet,, cepet tiduran,,” BU Sofie mendorong tubuh besar Kontet kepasir, lalu dengan sigap menggenggam batang besar pemuda itu, dan mengarahkan keliang kemaluannya.
“Oooowwhhhhsss,, Gilaaa,, emang besar bangeeeettsss,,”
“Aaagghhh,,, Tai Lu,, jangan diaaam,, cepet masukiin batang Luu,,”
Bentak Bu Sofie panik,kata-katanya terdengar vulgar. Tanpa pikir panjang Kontet menghentak dengan kuat, bahkan terlalu kuat, hingga batang besarnya menggelosor masuk menghentak hingga ke lorong rahim.
“Aaagghhhh,,, begooo,,,sakiiitt,,kegedeaaann,,”
“Tapi bisa masuk koq Bu,,,” jawab Kontet cengengesan, antara takut dan nikmat.
“Yaaa,, masuukk,,Aaahhhss,, sampe mentoookss,,” Bu Sofie coba meresapi kenikmatan di lorong vaginanya.
“Maaang,,,mau Apaa?,,,jangaaan disituuu,,”
“Aaagghhh,, gilaaa,,,masuuukk,,jangaaann,,sakiitt begooo,,,Aaagghhh,, dikit lagiii,,,”
Bu Sofie kalang kabut, kedua lubangnya dipenuhi batang.
“Buu Sofieee,,, Buuu,,,”
“Sayaaaang,,, yu huuuu,,,”
“Buuuu,,, bu Sofie dimana,,,,”
“Mang Oyiiiik,,, Woooyy,,, Maaaang,,,”
Terdengar teriakan-teriakan samar memanggil namanya. Tapi sudah terlambat untuk menyudahi permainan. Kini dua buah batang pejantan telah memenuhi kedua lorongnya.
“Ayoo Tett,, Hajaaarrr,,” seru Mang Oyik. Memegangi pantat Bu Sofie yang begitu indah, seperti berbentuk amor yang sangat besar, dengan dua panah besar menembusi bagian tengahnya. Assseeeeemm,, pantat besar kaya gini yang dari dulu gue cari-cari,”
“Hehehee,, iyaa Mang,,kapan lagi bisa ngerasain barang kelas atas yang bisa dipake join depan belakang kaya gini,,,” jawab Kontet,mulai bergerak liar, batang besarnya bergerak cepat memaksa sperma Mang Oyik keluar.
“Ooowwwhhhss,,, Gilaaa,,kaliaaan,,ayooo hajaaarr punya Ibuuu,,,” rintih Bu Sofie yang kerepotan menahan tubuhnya, menjaga posisi agar kedua batang itu dapat bergerak cepat dan leluasa menikmati sempit kedua liang kemaluannya.
“Oooowwhhhsss,,, seperti inikah nikmatnya di gangbang, seperti kata Bu Ningrum,, Aaahhhsss,,,” Bu Sofie teringat cerita temannya yang terbiasa digangbang oleh suami dan anak kandungnya.
“Aaarrrgghhhssss,,papii,,, yang cepeeeet,, Sandyyy,,hajar memek Ibuuuu muuu ,,,” tiba-tiba mulut Bu Sofie meracau, membayangkan yang tengah menyetubuhinya adalah suaminya dan anaknya Sandy Prabu, yang tengah kuliah di Australia. Menyodorkan payudara besarnya ke mulut Kontet yang segera melahap rakus.
“Aaaaggghh,,, teruusss soddoook yang kuaaaat Saaandyyy,, masukin memek ibuuu yang dalaaaam Naaak,,”
Tubuh wanita itu mulai gemetar bersiap menyambut orgasme, bertepatan dengan matanya yang menangkap sosok suaminya berdiri di atas bukit pasir, menatap tak percaya.

“Papiii,,, Maaf Piii,, mamiii,,keluaaarrrrhhhh,,, Aaaarrrgggghhh,,,”
Mata Pak Prabu melotot, mulutnya ternganga melihat istrinya dihimpit dua lelaki dengan kejantanan bersemayam di lorong vagina dan anusnya. Sangat persis saat dirinya menunggangi Aryanti bersama Dako, Tapi kenapa istrinya justru menyebut namanya dan anaknya Sandy saat menyambut orgasme. Terlihat jelas bagaimana tubuh montok itu bergetar, pantatnya menekan batang Kontet hingga ke muara rahimnya. Hingga akhirnyaaa,,
“Uuunnghhh,,,Arrggghhh,, masuuuk semuaaaa,,,”
Pak Prabu terbelalak saat Istrinya menghentak keras, sangat keras. Hingga batang yang besar dan panjangnya melebihi miliknya itu tenggelam sepenuhnya kedalam kemaluan istrinya. Mungkinkah batang itu menerobos pintu rahim istrinya yang sudah melahirkan 3 orang anak.
“Buuuu,,, sayaaaa ngecrooot di memek ibuuuuu,,” teriak Kontet yang tak lagi mampu bertahan, jepitan vagina wanita itu tiba-tiba begitu kuat mencengkram seluruh penisnya. Tak pernah ada wanita yang sanggup melumat seluruh batangnya, dan apa yang dilakukan Bu Sofie bener-bener membuat batangnya begitu nikmat.
“Gilaaa kau Teeet,,, cabuuuut,,, cepet cabuuuut,,,” Wanita itu panik, semprotan lahar hangat Kontet dengan cepat memenuhi rahimnya.
“Sayaaa jugaaa keluaaar Buuu,,,” teriak Mang Oyik, menekan kuat batangnya kedalam anus Bu Sofie, hingga menggagalkan usaha wanita itu melepaskan batang Kontet yang terus menghambur cairan kental.
“Ooowwwwghhhhh,,, gilaaa kaliaaaannn,,, aku keluaaar lageeehhhh,,,” lagi-lagi tubuh montok itu menggelinjang, saat merasakan kedua lorongnya terasa begitu penuh.
Akhirnya Bu Sofie jatuh lemas dalam pelukan Kontet, menatap mata suaminya yang berubah seperti orang linglung. “Ooggghh,,ooghh,,” sesekali bibir tipisnya melenguh saat salah satu penis dalam tubuhnya menggeliat ke kiri dan ke kanan.
“Mereka tidak ada disini,,,” teriak Pak Prabu parau. Menuruni bukit, meninggalkan istrinya yang masih terengah-engah kelelahan diantara dua pejantan yang begitu enggan melepaskan batangnya. “Fifty-fifty,,,” gumam lelaki berkumis itu,suaranya begitu lirih.
##############################
Prepare

hilda yulis - hijabers mom community (3)

Di saat yang sama, tepatnya beberapa menit sebelumnya. Di tepi kolam renang.
“Dako,, sudah kau kumpulkan semua milik mereka?,,,” tanya Pak Prabu tertawa cengengesan, memasukkan beberapa potong bra milik Sintya dan Bu Sofie kedalam kerdus besar yang dipegang Dako.
“Beres Paak, Semua udah ngumpul disini, dipastikan tak ada satupun yang tersisa,, Hahahahaaa,,,”
“Terus punya Aryanti mana?,,,”
“Tuhh,, dipegang sama Adit,,” Dako memonyongkan bibirnya menunjuk Adit yang berdiri bersandar ke tembok, matanya terpejam begitu khusu menciumi bra berwarna pink dan cream.
“Asseeem,,, terus punya Zuraida, istrimu mana?,,,”
“Tadi, diambil sama Munaf,,,” Mata Dako celingak-celinguk mencari Munaf
“Juancuk,,, taik kau Naf,, awas aja kalo sampe bra istriku basah ama coli mu,,,” rutuk Dako, ketika mendapati Munaf menggosok-gosok bra warna ungu, ke selangkangan celananya, sambil tertawa.
“Cepet banget sih kalian nyerobot hak atasan,,,” umpat Pak Prabu kesal.
“Tenang Pak, bra Aryanti yang sudah dipake dan belum dicuci ada di bagian bawah kerdus,,,hehehehee,,,” celetuk Dako, membuat wajah Pak Prabu berbinar. Dengan cepat tangannya mengais tumpukan bra dalam kerdus.
“Yang ini?,,,” Pak Prabu menarik tali bra warna hitam dengan bahan yang sangat lembut, hampir saja membenamkan wajahnya ke dalam mangkok bra, tapi untunglah matanya masih jeli menangkap gumpalan sperma yang masih basah di kain itu.
“Dakooo,,, taik kaaauu,,, siapa yang udah make bra ini buat coli?,,,”
“Hahahaa,,sorry Paak, habisnya ga tahan kalo ingat tadi malam, tapi itu bener punya Aryanti koq,,” teriak Dako yang sudah lebih dulu menghindar menjauh. Disambut tawa Munaf dan Adit. Lalu masuk ke ruang tengah cottage.
“Waahh,,Dari mana saja kalian, cepatlah makan, kita mau ngadain game paling panas dari semua game yang ada,,,hahahaa,,” sambut Munaf, saat Arga dan Zuraida memasuki ruang tengah cottage, di samping Munaf tampak Aida yang pagi itu terlihat begitu cantik.
Tak jauh dari mereka, Andini begitu mesra memeluk Adit yang tengah ngobrol dengan Pak Prabu. wajahnya masih terlihat kelelahan akibat permainan tadi malam. Tak berbeda dengan Aida, Andini juga mengenakan kaos ketat dan rok pendek dengan lipitan yang lebar, seolah menjadi seragam wajib bagi para wanita selama liburan ini. Tapi Arga tidak mendapati Aryanti, kemana istrinya? Sedang apa?,,, tanya itu lagi-lagi menyeruak.
“Arga,, Aku duluan ya,, perutku udah lapeeerrr,,,” ucap Zuraida seraya melambaikan tangan. Arga mengacungkan jempol tanda setuju.
“Gaa,, kalo gitu kami juga berangkat sekalian,,,” celetuk Munaf, menggandeng istrinya, Aida, wanita itu melempar senyum penuh makna kepada Arga.
Pak Prabu menghampiri Arga, lalu menepuk pundaknya,,“Mukeee gileee,, kayanya udah sukses nih eksekusi dokter cantik,” tanpa menunggu jawaban dari Arga yang sedikit kelabakan ditembak seperti itu, Pak Prabu berlalu sambil tersenyum.

“Aryanti,,,” gumam Arga, lalu bergegas menaiki tangga. Didalam kamar Aryanti baru saja selesai mandi, mengenakan kaos putih, dengan tulisan ‘Touch Me’ tepat dibagian payudara nya yang membusung. Begitu serasi dengan rok warna merah menyala yang begitu pendek.
“Haaiii Sayaaaang,,” sapa Aryanti sambil menyisir rambutnya yang masih basah.
“Cantik,,, kau memang cantik,,,” ucap Arga mendekat, lalu memeluk dari belakang. Membuat istrinya tersenyum. Wajah wanita itu begitu segar, seakan pertarungan ganas tadi malam adalah hal yang biasa bagi tubuh indahnya yang terbiasa mengikuti aerobik.
“Apakah kau sudah sarapan?,,,”
“Belum,” jawab Arga, tangannya menyusuri pinggang ramping yang bersinergi dengan pinggul dan pantat yang montok berisi. “Apa kau ingin menemaniku sarapan?,”
“Sebenarnya aku sangat ingin menemanimu makan, tapi aku harus membawa barang-barang itu ke tempat game, mungkin Dako yang akan mengantarku,” jawab Aryanti dengan wajah menyesal.
“Yaa,, kurasa tak mengapa,,,” jawab Arga berusaha rileks saat telapak tangannya tiba di  selangkangan wanita yang mengikat janji setia untuk hidup bersamanya.
Tatapan mata sepasang suami istri bertemu di cermin, Aryanti tersenyum, namun seketika berubah murung saat suaminya mengusap lembut gundukan vaginanya.
“Cepatlah mandi sayang,,, kasian teman-teman mu menunggu terlalu lama,”
Hampir saja Arga menurunkan kain tipis di selangkangan Aryanti. Menarik nafas panjang, membaui rambut Aryanti, mengecup lembut rambut istrinya. Aryanti berjalan ke samping kasur, menunduk mengambil pakaian kotor yang ada di lantai, saat itulah jantung Arga tersentak, rok Aryanti terlalu pendek, siapapun dapat melihat pantatnya yang montok bila sedang menungging seperti itu. Jantung Arga semakin berdetak kencang, pakaian kotor yang ada di tangan Aryanti tidak lain adalah kaos dan leggins yang dipakainya tadi malam.
“Kenapa celana mu robek sayang?”
“Owwhhh ini,,, ini ulah teman-temanmu saat bermain game tadi malam,” jawab Aryanti dengan mimik salah tingkah.
“Game?,,,” Arga berpura-pura tak tau dengan apa yang dialami istrinya tadi malam.
“Yaaa,, hanya permainan yang sedikit nakal, yang diusulkan oleh sahabatmu Dako,,,”
“Hanya permainan?,,,” tanya Arga dengan suara lembut tapi begitu tajam.
Wajah Aryanti berubah pucat seketika, dirinya tidak pernah mampu berbohong saat Arga bertanya padanya dengan sebuah senyum yang menyejukkan. Seketika itu juga Aryanti memeluk tubuh Arga,
“Maaf sayaaang,,,” sesal Aryanti dengan suara berat, “aku terlalu terbawa permainan,” matanya yang indah mulai sembab, penyesalan mengalir tak terbendung.
Sangat sulit bagi Arga untuk meneruskan percakapan itu, yang akan membuat hatinya sakit saat harus mengingat kembali kejadian tadi malam, toh apa yang dilakukannya tak jauh berbeda dengan Aryanti. Lagipula, istrinya sudah mengakui kesalahannya.
“Sudahalah,,, bukan kah itu hanya sebuah permainan?,,,” Arga tersenyum sambil menatap mata Aryanti. Tapi,,,
“Sayaaang,, apa kamu,, eenghh,, tidak memakai bra?,,,” tanya Arga ragu-ragu saat merasakan gumpalan empuk yang menyentuh dadanya tidak mengenakan pelindung bra.
“Oohh iya,, bra ku dan semua bra para wanita disita oleh Pak Prabu, karena kami kalah taruhan saat sarapan tadi pagi,,,”

“Taruhan?,,,”
“Yaaa,, bos mu itu menantang kami para wanita untuk menebak, batang siapa yang sanggup tetap tertidur bila Lik Marni memperlihatkan payudaranya yang kencang itu,,” Aryanti bercerita penuh semangat.
“Ohhh,, sayaaang,,, seharusnya kau ada di ruang makan saat itu, karena Lik Marni akhirnya benar-benar memperlihatkan dagingnya yang bulat besar dan kencang itu, kurasa batangmu pun pasti akan dengan cepat mengeras bila melihatnya. Hasilnyaa,,,semua batang milik teman-temanmu itu mengeras semua, hahahahaa,,,sesuai tebakan kami,,, tapi tidak dengan batang Pak Prabu,,”
“Ohh yaa,,,” Arga meneguk liurnya, apa yang digambarkan Aryanti sama persis dengan apa yang dinikmatinya dari tubuh istri penjaga cottage itu.
“Bagaimana kalian tau, bukankah mereka mengenakan celana,,,”
“Yaaa,, karena penasaran, dan untuk memastikan siapa yang memenangkan pertaruhan, kami mengecek batang mereka satu persatu,,”
“Ohh,, apakah kamu juga ikut mengecek batang mereka satu persatu?,,”
“Yaaa,, karena para wanita melakukannya, kurasa tidak mengapa jika aku turut memastikan,” jawab Aryanti, sambil menggelayut manja, tangannya merogoh ke dalam celana Arga mengelus lembut batang yang sudah mengeras.
“Tapi lucunya,,, batang Pak Prabu yang tetap tertidur setelah disentuh para wanita itu, justru mengeras saat kusentuh,,, dan itu membuat semua yang ada di ruang makan tertawa, jadi aku terus meremasnya hingga batang itu menegang sepenuhnya, tapi aku melakukannya dari luar celana, jadi,, kurasa itu tak masalah,, bukan begitu sayang?,,,”
“Eehhh,, iya,, selama kau tidak menyentuhnya langsung, tapi,,,”
tok,,tok,,tok,,
“Sayaaaang,, apa kau sudah siap?,,,”

hilda yulis - hijabers mom community (2)
Seseorang mengetuk pintu, dan pemilik suara itu lain adalah Dako. Pintu terkuak sebelum sempat Arga dan Aryanti menjawab.
“Tidak apa-apa kan, bila Dako yang mengantarku? Nanti kau susullah bersama Zuraida dan Sintya, sepertinya dia juga belum selesai bersiap-siap,”
“Okee,, berhati-hatilah,, jangan ngebut walau pake ATV,” Arga berusaha tidak mempermasalahkan panggilan sayang yang diucapkan Dako kepada istrinya.
“Sob,,, tolong bocengin istriku ya,,,” seru Dako sambil mengedipkan matanya, lalu menggamit pinggang Aryanti yang membawa kerdus berisi bola, menuruni tangga.
“Aryantii,,, Apa kau masih bisa membawa beberapa kain ini?” seru Sintya dari arah ruang makan, membawa segumpalan kain bali, “Pak Prabu memintaku untuk membawa kain ini,tapi sepertinya aku akan terlambat,”
“Waaahh,,,sudah penuh Sin, taruh aja di kamarku, nanti biar Arga yang bawa,” jawab Aryanti sambil memperlihatkan isi kotak.
“Owwhh,, okee,, biar kuantar kekamarmu,,” jawab Sintya yang melihat sosok Arga yang masih di atas, berdiri di pinggiran tangga. Lalu melambai kepada Aryanti yang kemudian menghilang di pintu keluar.

Sintya menaiki tangga, tersenyum penuh makna, manatap Arga dengan kerlingan nakal.
“Apa kau ke kamarku hanya untuk mengantar kain itu?,,,” goda Arga, matanya menatap tonjolan mungil pada kaos ketat Sintya yang membulat padat.
Saat tiba di hadapan Arga, wanita cantik itu menepis poni yang menutupi mata indahnya sambil membusungkan dada semakin ke depan.
“Menurutmu?,,, apalagi yang kubawa selain barang-barang ini?,,” Sintya mengerling mata menunjuk kain-kain yang ada di kedua tangannya. Tapi itu tak ubahnya seperti menunjuk kedua payudara yang membusung. Lalu berlenggok genit menuju kamar, sengaja menggoyangkan pantatnya sedikit berlebihan untuk menggoda Arga.
“Okeee,,bawalah barang-barang ini ke kamarku,,,” seru Arga yang menubruk tubuh Sintya dari belakang. Tangannya segera meremas payudara yang hanya ditutupi kaos tipis.
“Uuuugghhh,,, kurasa kau salah,,, karena barang ini milik Pak Prabu, Bos ku di kantor,,” rintih Sitya yang menahan geli ketika payudaranya diremas dengan kuat, memainkan puting yang begitu cepat mengeras.
“Ohh,, yaa?,,, kurasa Pak Prabu tak akan keberatan jika barang spesial ini dihibahkan untuk pimpinan cabang yang baru,,”
Blaam,,,Arga segera menutup pintu dengan kakinya, ketika kedua sudah berada di dalam. Lalu menyeret tubuh Sintya ke ranjang.
“Boleh aku mencobanya?,,,” tanya Arga, memandangi payudara yang kini terpapar bebas di depan matanya, tubuhnya beringsut menaiki, menindih tubuh Sintya yang menggeliat manja.
“Sudah kubilang, itu punya Bos ku di kantor,, jika kau adalah bos baruku, maka kau bebas untuk mencicipinya,,,” wajah Sintya memerah, menunggu bibir Arga yang berada beberapa senti dari putingnya.
“Ooowwwhhh,,, Emmmppphhh,,,”
“Yaaa,, yaaang kanaaan jugaaa,,,, aaaggghhh,,”
“Boosss,,, gimanaaa,,, apa aku masih layak jadi sekretarismu nanti,,” tangan Sintya mengelus wajah Arga yang masih sibuk mengenyoti dua puting yang sudah mengeras.
“Apa kau masih membawa alat tester kelamin para lelaki?” tanya Arga, membuat Sintya bingung, lalu tertawa terbahak saat teringat kejadian di gazebo, saat mereka bercanda dalam birahi, tentang barang siapa yang lebih besar, apakah milik Arga ataukah milik Pak Prabu.
“Hahahaa,,Yaa,, kurasa aku membawanya,, cobalah cek, apakah alat itu masih ada di bawah sana?” Sintya menunjuk selangkangannya dengan menggerakkan wajahnya.Arga tertawa girang, “kurasa kita harus menyelesaikan tugas kita di gazebo, mengukur punya siapa yang lebih besar,” tangan Arga menarik tepian celana panjang dari bahan katun yang membekap tubuh bagian bawah Sintya.
“Yaaa,, benar katamu,,kita harus menyelesaikannya,,” dengus Sintya, mengangkat pantat sekalnya memudahkan usaha Arga.
Tapi tiba-tiba terdengar suara derap langkah mendekat dari luar kamar
“Argaaaa,,,”
“Gaaa,,, Argaaaa,,,”
Zuraida memanggil dari depan pintu, sontak keduanya meloncat bangun, membenahi pakaian yang mulai berantakan.
“Yaa,, Ada apa,, engghhh,, apa kau sudah sarapan?,,, aku,, aku belum mandi,,” Arga gelagapan saat pintu terbuka, sementara Sintya baru saja berhasil memasukkan payudaranya yang besar kembali ke dalam kaos.
“Hohohohooo,,, ternyata kau nakal juga yaa,,” seru Zuraida sambil berkecak pinggang, bola matanya melotot menyelidik wajah Arga yang pucat, layaknya maling tertangkap tangan.
“Huuhh,, ku kira kau memang berbeda dengan mereka,, ternyata,,,” wajah Zuraida yang kaget berubah menggoda Arga, tertawa genit, lalu berjalan menghampiri Sintya yang masih di atas kasur.
“Tunggu Zee,,, kami hanyaaa,, emmhhh,, maksudku,,,”
Tapi Wanita anggun itu tampak cuek, mengacuhkan Arga yang mati-matian mencari alasan, menghampiri Sintya lalu membisikkan sesuatu ke telinganya.
“Iiihh,, mba Zuraida apaan sih,,,” wajah Sintya tersipu malu, entah apa yang dibisikkan Zuraida ke telinganya.
Zuraida balik menghampiri Arga, berdiri tepat di depan lelaki yang terlihat canggung itu.
“Sayaaang,, Pak Prabu, Munaf, Bu Sofie, Aida, bahkan suamiku dan istrimu, Sepertinya mereka benar-benar menikmati permainan ini, lalu kenapa kita harus menahan diri,” ucap Zuraida.
Tangan lentiknya perlahan meraih selangkangan Arga, lalu tertawa genit, saat mendapati batang Arga yang keras mulai lunglai karena kaget.
“Kau punya waktu beberapa menit, sampai aku selesai mandi, tapi ingat,,, berusahalah untuk tidak memasukkan barang ini kedalam tubuh Sintya, karena aku bisa cemburu,,” ucap Zuraida dengan suara bergetar, tangannya mencengkram erat batang Arga yang dengan cepat kembali keras.
“Weelll,, aku mandi dulu ya sayang, manfaatkan waktumu dengan baik,,, Sintya, ingat kata-kataku tadi ya,,” seru Zuraida melepaskan batang Arga, mengedip genit ke arah Sintya. Lalu melangkah keluar dan menutup pintu.Tinggal Arga dan Sintya yang saling pandang.
“Apa yang dikatakan Zuraida tadi?,” tanya Arga, duduk ditepi ranjang.
“Adda aja,,,” Sintya tertawa genit, berusaha menurunkan celananya yang ketat hingga ke lutut, memamerkan gundukan vagina yang begitu indah, tersembunyi penuh misteri di balik kain segitiga berenda yang tipis.
“Soo,,, apa kau masih ingin alat ini mengukur batangmu itu,” tanya Sintya, jarinya mengusap-usap kain tepat di bibir vagina, membuat kain itu mulai basah.
“Aaaawwww,,, Argaaa,,,” Sintya terpekik, Arga membenamkan wajahnya ke selangkangannya, lalu mengusapi kain pelindung dengan hidung dan bibirnya.
“Gaaa,, ingaaat kata Zuraida, waktu kita hanya sebentaaar,,” Sintya berusaha melepaskan celana dalamnya, lalu membuka lebar pahanya.
Arga yang tengah melepas celana, harus meneguk ludahnya, barang itu statusnya memang milik Pak Prabu, tapi bos nya itu sangat jarang menggunakan, hanya pada saat berpergian keluar daerah bersama Sintya.
“Maaf Sin,, aku ga bisa memasukkan punyaku,,, tapi,,, kurasa bibir mu ini cukup mahir untuk mengukur seberapa besar batangku ini,,,” Arga memegangi batang besarnya yang sudah mengeras sempurna.
Mau tak mau Sintya harus mengakui keunggulan batang Arga dari milik Pak Prabu, tanpa menyentuhnya pun semua wanita pasti sudah tau.
“Sini Gaaa,, biar bibirku yang memastikan,,” Sintya membuka lebar mulutnya, tanpa basa-basi wanita itu ingin segera melumat seluruh batang Arga ke dalam mulutnya.
“Eeemmmhhh,,, Ghheedhheee bhhaaangheeed,,,” Sintya memutar-mutar wajahnya, membuat batang Arga serasa dipelintir. Menariknya keluar memandangi dengan takjub, lalu kembali memasukkan sambil menggerakkan kepalanya maju mundur.
Arga tertawa bangga. “hehehee,,,bagaimana? punya siapa yang lebih besar,,,”
Wanita itu memandangi Arga dengan tatapan birahi, “Masukkanlah ke dalam tubuhku,,, hingga aku benar-benar bisa mengukurnya,,,” Sitya mengangkat pinggulnya, seolah memamerkan kenikmatan yang siap diberikan oleh kemaluannya
Sintya menggeliat, tubuhnya sudah tak tahan untuk merasakan kejantanan Arga, apalagi saat teringat kejadi di gazebo, saat batang itu memenuhi lorong vaginanya dengan sempurna. Mata Arga memandangi vagina yang terus dielus-elus oleh Sintya, membuat permukaannya begitu basah. Tapi Arga menggelengkan kepala dengan sangat berat. “Aku ga bisaaa, Sin,,” pesan Zuraida terombang-ambing di pikirannya.
“Gaa,, Pleasee,,,” Sintya merengek, semakin tinggi mengakat vaginanya, memamerkan pada Arga yang masih berlutut di samping kepalanya. Menguak kedua pintu vagina, hingga mata Arga dapat melihat lorong yang begitu sempit.
“Aaagghhh,, Siaaal,,, Zeee,,, maaaf sayaaang,,aku ga tahaaaan pengen nusuuuk lubang Sintyaaa,,,” Arga menggeram, menindih tubuh montok Sintya, mengarahkan batangnya ke pintu vagina, dan dalam tiga hentakan batang besar itu berhasil masuk sepenuhnya.Tanpa sepengetahuan Arga, mata indah milik Zuraida mengamati dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Tersenyum lembut sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Gaa,,Usahamu untuk bertahan boleh juga,,” gumamnya pelan, lalu berbalik menuju kamar dengan birahi yang ikut tersulut.
“Gaaa,,, Oooowwwhhh,,, penuh banget Gaaa,,,”
“Mba Zuraidaaa,,,sudaaah masuk semua Mbaaa,,,”
“Oooowwwhh,,,”
Arga terkaget, menghentikan gerakannya, “Apa maksud mu Sin,,,”
“Mba Zuraida membisikiku,, menantang, apakah aku bisa menelan semua batangmu,,,”
“Owwhhh yaaa?,,,jadi memang ini yang diinginkannya?,,lalu apalagi,,” Arga menjadi bingung dengan Zuraida, dirinya dilarang tapi justru menantang Sintya untuk menggodanya. Tapi masa bodoh lah bila itu adalah ujian untuk dirinya, karena vagina Sintya sangat mahir memanjakan batangnya di dalam sana. Pinggulnya kembali bergerak menghentak dengan ganas.
“Mba Zuraida juga pengen Pak Arga nyemprot di dalam sebelum dia selesaai maandiiii,,, Aaahhhh,, yaaa,,,Oooowwwhhh,,,”
“Owwwhh,,,tapi apa kau sanggup membuat aku keluar secepat itu? Arrggghhh,,,”
“Aaahhhssss,,, bisaaa,, haruuusss bisaaa,,, Sintyaaa pengeeen disemproot punyaaa bapaaaak,,,” paha montok itu menjepit pinggul Arga, kakinya membelit kaki Arga dan menekan pinggulnya keatas. Membuat batang Arga masuk semakin dalam dan terjepit begitu erat.
“Gilaaa,, ada jugaaa ternyata tehnik seperti ini,,, Uuugghhh,, tapi ini belum cukup Sin,,,”
Sintya tertawa sambil terengah-engah di sela sodokan Arga yang semakin keras. Lalu mendorong Arga hingga duduk bersimpuh di atas kedua kaki, dan menaikinya, tanpa menunggu Arga siap, Sintya yang kini dalam posisi dipangku segera menggerakkan pantatnya dengan liar.
“Oooowwwhhh,,, Paaaak,,, bagaimanaaa,,, Aaagghhhh,,,”
Membekap wajah Arga di antara kedua payudara, pinggul montok itu kini bergerak menghentak dengan kasar dengan lorong vagina yang menjepit erat.
“Paaaak,,, cepeeet keluaaarin Paaaak,,, Sintya udaaah ga kuaaaaat,,”
“Ooowwwhhh,,, batang mu gedeee bangeeet Paaak,,,”
Gerakan liar wanita cantik berponi itu membuat Arga kelabakan, batangnya dengan cepat keluar masuk.
“Uuugghh,, gila kamu Sin,,, Aaaghhh,, barangmu ini haruss menjadi milikkuuu Aaarrgghh,,,”

hilda - jilbab hot (1)
“Please semprotin meeeemek aaahh,,,Sintyaaaa,,”
“Pleaseeee,,, Sintyaaa keluaaaarrrr,,,”
“Aaarrrgggghhh,,,”
“Akuuu semprooot memeeeeeek mu Siiin,,, Aaaarrrgghhhh,,,”
Kedua tubuh manusia berlainan jenis itu berkelojotan, saling melumat bibir, bertukar ludah, seiring cairan kelamin mereka yang menyatu dalam vagina Sintya.
“Oowwhh,, nikmat banget punyamu Sin,,,hehehee” ucap Arga, menjatuhkan tubuh Sintya ke kasur, dan menindihnya.
“Punya bapak tuh yang gila,, nusuknya dalem banget, sampe mentok,,hihihi,,,”
“Paak,, Apa bener bapak mau ngambil saya dari Pak Prabu,,,” tanya Sintya, tatapannya begitu serius, membuat Arga bingung.
“Eeeenghhh,, maksud ku,,”
“Hehehe,, tenang aja pak,, Sintya Cuma bercanda koq,,hehehe,,”
“Tapi kalo kapan-kapan bapak mau nyoba alatnya Sintya lagi, boleh koq,” Wanita itu tersenyum, menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Arga. Memeluk erat, dalam desir hati yang berbeda.

“Waahh,,, cepet banget,,, tau-tau udah makan disini,,,” Sapa Zuraida saat mendapati Arga dan Sintya sudah berada di ruang tamu. “Tapi kamu sudah mandi kan Ga?,,”
“Ya sudahlah,, kamu aja yang terlalu lama mandinya,,” jawab lelaki itu sambil memandangi tubuh Zuraida yang dibalut kaos putih yang ketat. lebih ketat dari biasanya.
“Gimana tadi?,,,” bisik Zuraida, duduk di sisi Sintya.
“Aku menang,,Mba kalah,,,” jawab Sintya malu-malu.
Zuraida langsung melotot ke arah Arga, yang tiba-tiba keselek dipandangi wanita berwajah cantik itu. penutup kepalanya diikat keleher seakan sengaja memamerkan sepasang gundukan payudara yang membulat padat.
“Aku ke kamar sebentar, ngambil kacamata, pasti panas banget nanti,,” pamit Sintya, menuju kamar.
“Sempurnaaa,,” ucap Arga pelan. Matanya tak sengaja menangkap tonjolan mungil, puting Zuraida tercetak jelas di kaos putihnya yang ketat. Bulatan payudara yang tidak ditopang oleh bra itu tetap membusung tegak, bergerak begitu indah mengikuti gerakan tubuh sang wanita. Sontak wanita itu tersipu malu, menundukkan wajahnya.
“Argaa,,, apakah aku masih terlihat cantik?,,” Hati Zuraida bergemuruh, ingin mendapatkan pengakuan dari lelaki yang dulu begitu dikaguminya.
“Cantik, bahkan sekarang kau bertambah lebih montok,,” Arga berdiri, mendekati bangku Zuraida. “Tapi bagiku, kau lebih dari sekedar cantik dan seksi, kau masih yang terindah,,”
“hohohoo,,, tidak,,tidaaak, jangan menggodaku lagi,,,” Zuraida bangkit, berusaha mengelak dari Arga yang ingin merengkuh pinggangnya. “Kau sudah gagal tadi,, u are a looser,, hahaaha,,,” berjalan menuju keluar.
“Aaahhh Siaaaal,,,” Arga memang sudah menduga jika Zuraida tadi tengah mengujinya.
“Zeee,,, Sayaaaang,,,” Arga menggenggam tangan Zuraida, menahan wanita itu. Menatap dengan penuh harap.

Setidaknya…
Biarkan di waktu yang tersisa ini aku memilikimu…
Merengkuh hatimu yang begitu jauh…
Meski sesaat, itu sangat berarti bagiku…
Aku ingin dirimu…

Lagi-lagi Zuraida harus menyerah pada tatapan teduh itu. Berjalan mendekat, masuk dalam pelukan sang lelaki.
“Arga,,, meski untuk sesaat, liburan ini juga sangat berarti bagiku,,, berusahalah untuk mendapatkan ku,, mendapatkan tubuhku,,,” ucap wanita yang hatinya tengah goyah itu.
Ada hasrat untuk menyerahkan tubuhnya dalam keperkasaan sang pejantan, tapi tidak dalam birahi liar. Wanita itu menginginkan sang pejantan menikmati tubuhnya dalam ritual hasrat yang sengaja dicipta, mencinta dan dicinta.
“Mbaaa,, Hehehee,, sorry,, lagi-lagi aku ngeganggu, Cepet Yuk,,, udah ditunggu sama yang lain,” seru Sintya, tepat saat Arga mengecup lembut Zuraida, yang menyambut dengan bibir terbuka.

***********************************
“Ayooo Aidaaaa,,, satu putaran lagiii,,,”
“Aryantiii,,, cepeeet,,, jangan mau kalaaahh,,,, loncat yang tinggi,,hahahaaa,,,”
Teriakan para suami terdengar ramai, tapi mereka bukan memberi semangat kepada istri masing-masing, teriakan itu justru ditujukan kepada istri yang memiliki gerakan paling liar.  Yaa,, lomba balap karung dipilih sebagai laga pembuka untuk game pantai.  Mata para suami tertuju pada Aida yang begitu semangat meloncat memacu tubuhnya, memimpin paling depan, dan bisa ditebak, mata jalang para suami tertuju pada sepasang payudara besarnya yang bergerak naik turun.  Sementara di belakangnya Aryanti berusaha menyusul, meloncat dengan cepat, tak peduli dengan payudara mereka yang tidak dilindungi bra, bergerak liar. Memang sangat merepotkan bagi mereka yang memiliki buah dada dengan ukuran besar, ketika harus meloncat, jelas sepasang benda menggiurkan itu akan ikut bergerak tak terkendali. Andini yang berada diurutan ketiga memang lebih diuntungkan dengan payudaranya yang tidak terlalu besar, namun ukuran karung yang hampir menutup seluruh tubuhnya itu membuatnya sangat kerepotan.
“Ayooo cepeeeet,,, yang nyampe duluan saya kasih piala,,” seru Pak Prabu yang berdiri di garis finish, sambil menggosok-gosok penisnya, membuat para suami lainnya tertawa. Tapi justru membuat para wanita yang tengah berloncat dan berlari tersipu malu.
Siapapun dapat melihat tojolan penis Pak Prabu, yang telah mengeras dengan sempurna, dan itu diakibatkan ulah payudara mereka yang bergerak brutal tak terkendali. Aryanti yang sudah pernah merasakan keperkasaan batang besar itu, tertawa. Terlintas dipikiran nakalnya untuk menabrak Pak Prabu, dan memberi pelajaran buat lelaki paruh baya itu dengan meremas batangnya saat tubuh mereka terjatuh.  Aryanti lagi-lagi tertawa, menertawakan pikiran mesumnya. Tapi ternyata hal yang sama juga terlintas dibenak Aida, meski tidak tau pasti ukuran pusaka Bos suaminya itu, dari balik kacamata minusnya Aida dapat memastikan batang itu memeiliki ukuran yang menggiurkan birahinya. Tak ayal kedua wanita cantik itu memacu kakinya lebih cepat, bersaing menuju tempat Pak Prabu berdiri. Saling bersenggolan sambil tertawa. Membuat Munaf yang berdiri tak jauh dari Pak Prabu sangat cemburu.
“Kyaaaaa,,,”
“Aaaaaa,,,hahahaahaa,,,”
“Mba Aida curaaaang,,, Hahahaaa,,”
Bruaakkk!!! Kedua tubuh montok itu bersamaan menubruk Pak Prabu yang tertawa menyambut sambil merentangkan kedua tangannya, jatuh terjengkang ditindih dua wanita cantik. Membuat para lelaki begitu iri dengan keberuntungan Pak Prabu. Apalagi mata mereka menangkap gerakan tangan Aida dan Aryanti yang berebut mencengkram selangkangan Pak Prabu bersamaan. Andini yang tepat berada di belakang mereka seakan tak mau kalah ikut meloncat ketubuh Pak Prabu, menindih Aida dan Aryanti. Membuat tawa semakin riuh.Tentu saja Pak Prabu juga berusaha sebaik mungkin memanfaatkan kesempatan, tangannya yang terentang dengan bebas meremasi payudara para wanita yang menyerahkan tubuh pada dirinya.
“Asseeeemmm,, mantap bener pantat istri kalian,,, uggghh,,, pasti nikmat banget kalo di Doggy,,” celetuk Mang Oyik kepada Arga dan Munaf, meremas-remas selangkangnya saat melihat rok ketiga wanita itu tersingkap, memamerkan pantat yang dibalut celana dalam aneka warna.
hilda - jilbab hot (2)
“Kan mamang udah pernah nyobain, kemaren nyemprot didalam juga kan?,,hehehe,,” jawab Arga terkekeh.
“Mamang udah pernah nyobain? Sama siapa? Istrimu Ga?,,,” tanya Munaf bingung.
“Ya istri mu lah,,, ngeliat sendirikan gimana lemesnya istri mu tadi malam? Hahahahaa,,,” Arga tertawa, seakan ingin membalas ulah Munaf yang sempat merayon tubuh Aryanti saat bermain kartu.
“Heehhh,, yang beneeer?,, ahh sialan kau Mang,,,” wajah Munaf seketika berkerut, tak pernah terlintas diotaknya kalau tubuh mulus istrinya turut dinikmati oleh lelaki seperti Mang Oyik.
Aryanti menghampiri Arga sambil tertawa. “Huuufff,,, capek banget sayang,, kakiku pegel seperti ingin keram,”
Sementara Munaf dan Mang Oyik harus meneguk liur menatap payudara Aryanti yang tercetak jelas di balik kaos, bergerak naik turun dengan teratur, mengikuti tarikan nafas yang masih tersengal.
“Kalau gitu istirahat lah dulu,” ucap Arga santai tanpa menoleh.
“Sayang,,, masih marah ya?” tanya Aryanti yang bingung melihat Arga sedikit agak cuek dari biasanya. “Atau kau marah karena kejadian tadi, saat aku menabrak Pak Prabu, aku memang melakukannya dengan sengaja, maaf,,,”
“Ngga koq sayang,, aku tau kau cuma terbawa permainan,” Arga menoleh sambil tersenyum lembut, tapi tetap saja ada yang mengganjal di hati Aryanti. Perlahan dipeluknya Arga dari samping.
“Ayooo Zuraidaaaa,,, cepaaat,,, jangan mau kalaah sama Bu Sofie,,,”
DEEEGGG, hati Aryanti terasa sakit saat Arga memberi semangat kepada Zuraida. Tapi kenapa?,,, Zuraida adalah teman baiknya, dan Zuraida pula yang menjodohkan mereka. Wanita cantik itu semakin erat memeluk pinggang Arga. Tapi bukan hanya Arga, karena mata semua lelaki kini tertuju pada Zuraida yang terlihat malu-malu untuk meloncat, menghindari gerakan di dadanya, sesekali kakinya berusaha berjalan di dalam karung yang sempit. Akibatnya Bu Sofie yang berada di belakang perlahan mulai mendekat, padahal tenaga wanita dengan tubuh padat berisi itu telah terkuras habis akibat ulah Mang Oyik dan Kontet.
“Ayooo Zuraidaaaa,,, loncat yang tinggiii!!!,,, Awwww,,,” Munaf yang berteriak memberi semangat seketika terpekik akibat cubitan Aida yang cemburu.
Teriakan Munaf justru membuat gerakan Zuraida semakin pelan, tapi sepelan apapun gerakan, payudara dengan ukuran menggiurkan itu pasti akan bergerak tanpa topangan bra.
“Hahahahaaa,, Hooosshh,, Hooshhh,, haahh,,hahaaahh,,,” Bu Sofie yang tertinggal dibelakang, kembali bersemangat saat melihat gerakan Zuraida semakin pelan, kini dirinya sudah menyusul beberapa langkah di depan, berusaha memperpendek jarak dengan Sintya yang ada di depannya.“Siaaal,,, Uuuhhhh,, Kenapa semua melihat ke aku sih,, padahal masih ada Sintya dan Bu Sofia yang nenennya lebih gedeeee,, Uuuhh,,, ,” Hati Zuraida berteriak kesal seakan ingin menangis.
Tubuh nya yang selalu tertutup hingga kekepala itu, tak pernah sekalipun dipertotonkan seperti itu kepada banyak orang, meskipun hanya dengan pakaian yang ketat. Tapi kini semua lelaki dapat melihat puting payudara yang tercetak jelas. Apalagi saat dirinya menangkap pandangan mata Pak Prabu, Adit dan munaf yang menatap penuh birahi. Parahnya lagi, di belakang ketiga lelaki itu, Mang Oyik begitu bernafsu menggosok selangkangannya, mulut lelaki berwajah amburadul itu membuka dan menutup mengikuti gerak payudaranya yang naik turun. Ada penyesalan dihati wanita itu, kenapa tadi dirinya memilih kaos ketat, padahal tujuannya tidak lain hanya untuk menggoda Arga, tapi jika ranum buah dadanya itu turut dipelototi oleh lelaki lain, jelas dirinya sangat malu.
“Begoooo,,, kenapa ga ditutup pake jilbab aja,,, uugghhh,, begoo, begooo,,,” rutuk hati Zuraida, ketika teringat bagian bawah jilbabnya yang terikat ke belakang. Dengan sekali hentakan ikatan kain putih itu terlepas, menutupi bagian depan payudaranya. Sontak teriak kecewa menghambur dari mulut para lelaki.
“Whooooo,,, Zuraidaaa pelit,, Aaaaww,,, koq dicubit terus sih mahh,,” protes Munaf ketika teriakan kecewanya beroleh cubitan di perutnya yang mulai buncit.
“Mamahkan enak, udah nyobain banyak batang dimari,,,” sungut Munaf.
“Tu kan,,, salahnya papah juga sih suruh-suruh mamah pake rok beginian, pasti biar bisa pamerin punya mamah kan?, jadi kalo ada orang yang minta isi dalam rok mamahh, papah ga boleh marah dong,,,” protes Aida lalu melenggang meninggalkan Munaf yang terbengong.
“Eeee,,, busyet dah, sejak kapan bini ku binal kaya gitu, main kasih memek seenaknya,, kan tu punya kuu,,,” dengus Munaf kesal, melototi istrinya yang melenggang cuek, sesekali memamerkan pantat yang tak mampu ditutupi oleh rok yang pasrah tertiup angin.
“Yeeeeaaahhhh,,,,” terdengar teriakan Sintya yang berhasil mencapai finish.
“Aaahhh,,, tungguuu,,tungguuu,,, curang kaliaaan,,,” Bu Sofie berteriak histeris dengan nafas ngos-ngosan, mulai keteteran tak mampu menyaingi Zuraida yang memacu tubuhnya, menyalip dengan cepat mencapai garis finish.
“Yaaaaaaaa,,,, hahahahahaaa,,,” Zuraida ikut tertawa heboh berdiri digaris finish. Mengangkat tinggi kedua tangannya, terlihat jelas wanita itu mulai menikmati permainan.
“Maaf ya buu,, sekali-sekali ibu yang belakangan,,,heheehee,,” ucap Zuraida menyambut Bu Sofie yang menggerutu lucu, di garis finish.
Sekilas Zuraida melirik Arga yang mengangkat jempolnya, membuat wanita itu tertawa tersipu. Dokter cantik itu tidak menyadari, Aryanti yang berdiri di samping suaminya tersenyum kecut, cemburu melihat kemesraan Suaminya dan Zuraida
“Wokkeeeee,,, game kali ini dimenangkan oleh Aidaaa,,,” Pak Prabu mengumumkan pemenang lomba.
“Lhoo koq bisa Pak?,,, aku kan lebih dulu nginjak garis finis dibanding Aida,,” protes Aryanti.
“Yaa,, tapi Aida sepersekian detik lebih cepat memegang punyaku,,,hahahaa,,,”
“Whhoooooo,,, Pak Prabu curang,,Hahahahaaa,,,”
“jurinya mupeng tuuuhhh,,,Hahahaa”

Teriakan dan tawa menghambur di bibir pantai. Terik matahari seakan tak mampu mengurangi keceriaan para suami istri.
“kali ini biar adil, biar aku yang jadi jurinya, karena game berikutnya bakal lebih panas, lomba makan sosis hahahaa,,” ucap Bu Sofie sambil bertolak pinggang.
“Ayooo sini,,,, semua ngumpul,,, para wanita silahkan pakai kalung pita ini,” lanjutnya, lalu menyerahkan pita merah kepada Aryanti, pita biru untuk Andini, pita ungu diserahkan pada Aida, Pita putih untuk Sintya, dan pita hijau untuk Zuraida. Bu Sofie meminta para istri mengalungkan di leher.
“Ayooo,, sekarang giliran para suami, cepet sini,,,” teriaknya sambil menenteng kain kantongan berisi beberapa bola.
“Dako kau duluan,, silahkan pilih wanita mu,,,, hehehee,,,” Bu Sofie mengulurkan kantong. Mata Dako berusaha mengintip melalui celah.
“Eeehh,, ga boleh ngintip,,, semua tergantung keberuntungan tanganmu,, ayo cepat ambil satu bola,”
“Warna Unguuu,, Aidaa,,,hahahaa,,” Bu Sofie mengumumkan pasangan Dako adalah Aida.
“Hehehehee,,, hay bu guru cantik, udah siap untuk menang?,,” Dako sengaja mencolek pinggang Aida, menggoda Munaf yang lagi uring-uringan.
hilda - jilbab hot (6)
“Yaaa,, meraahh,,Aryantiii,,,”
“Yeeeaaahhh,,,” Adit berteriak girang, menghampiri Aryanti, “Sorry ya calon boss,, aku pinjam dulu istrimu,,,hehehee,,” Adit menggoda Arga, menarik tangan Aryanti yang masih memeluk pinggang suaminya.
“Awas aja kalo sampe lecet, aku jadiin OB kamu,,” ancam Arga bercanda, walau ada rasa was-was dihati, permainan seperti apa yang bakal digelar.
“Sintyaaa,,, Putih,,,”
“Weeew,,, boleh juga nih,,, game nya harus hot Bu,,” seru Munaf, jengkelnya sedikit berkurang. Sudah lama dirinya tertarik dengan wanita yang setiap hari duduk manis di depan ruang Pak Prabu dengan rok ketat dan minimalis.
“Argaa,, kau dapat Andini,,, hahahaa,, mau ditukar dengan ibu?” goda Bu Sofie, ketika Arga maju mengambil bola warna Biru.
“Emang ibu sanggup makan sosis saya?,,” jawaban Arga membuat Bu Sofie terdiam dengan jantung berdegub kencang.
“Tunggu tanggal mainnya, pasti kulahap habis sosis besarmu itu,,” balas Bu Sofie, berbisik dengan jantung menderu merasa ditantang.
“Tersisa satu bola hijau, artinya Zuraida berpasangan dengan suamiku, pak Prabu,,,” terang Bu Sofie, sepeninggal Arga yang mendekati Andini.“Jadi permainannya seperti ini,, Sosis yang dibagikan Mang Oyik ini harus diikat dipinggang para istri, dan mereka harus mendekati pasangan mainnya dengan mata tertutup, dan pasangan mainnya harus memberi aba-aba kemana si wanita harus menuju, terus,,,” Bu Sofie menghentikan ucapannya sambil wajah tersenyum nakal, membuat peserta lomba penasaran menunggu.
“Terus,,, sosis itu harus dimasukkan ke dalam mulut para lelaki yang berbaring di pasir, dan ingat,, tidak boleh dibantu oleh tangan,,,hehehee,,” Bu Sofie tertawa sambil bertolak pinggang. Permainan itu tak ubahnya seperti permainan memasukkan pensil dalam botol, hanya saja dilakukan dengan cara yang vulgar.
“Haahhh???,, yang benar aja bu,, masukin sosis kemulut Adit yang tiduran, berarti kami harus ngangkangin mereka dong?,,,” Aryanti coba protes, tangannya reflek menahan rok yang tertiup angin, entah kenapa tiba-tiba dirinya merasa malu, pasti lomba ini akan terlihat sangat vulgar.
“Hehehee,, itulah tantangan dari game ini, kalian boleh berusaha menutupi rok kalian bila mau, tapi ingat tangan kalian tidak boleh memegang sosis itu,,.” terang Bu Sofie, tersenyum puas melihat wajah para wanita mulai pucat.
hilda - jilbab hot (3)
“Tenang aja mba,, ntar saya merem koq,,,”
“Merem? aku make rok aja kamu masih usaha buat ngintip ke bawah, gimana kalo aku ngangkang depan matamu,,, awas aja kalo ngga merem, bakal ku colok matamu,,,”
“Hahahahaaa,, nih Yan,,, buat jaga-jaga, kalo ngintip colok aja,” celetuk Zuraida, menyerahkan potongan ranting kepada Aryanti.
Wanita yang selalu setia dengan penutup kepalanya itu dapat sedikit bernafas lega, karena dirinya memakai celana leggins putih. Meski celana dalam warna hitamnya dapat terlihat dengan samar, setidaknya itu masih lebih baik dibanding para istri lainnya yang mengenakan rok. Mang Oyik membagikan potongan sossis yang ujungnya dibungkus plastik, agar dapat diikat oleh tali, wajah mesumnya cengengesan membayangkan kegilaan yang bakal terjadi.
“Lho Mang,,, koq tali punya saya pendek banget sih, tuker yang lebih panjang dong,,” sela Zuraida saat menerima sosisnya.
“Waduh,, udah habis bu,, itu yang terakhir,,” jawaban Mang Oyik membuat wajah cantiknya cemberut.
“Aaahhhh,,, tu kaaaann,,, pendek banget,,” Zuraida mulai panik, sosis yang sudah diikat kan di pinggang menggantung hanya beberapa senti dari pantatnya.
“Heheheheee,,,, cuma game aja koq Bu Dokter,,,ga usah terlalu diambil hati,, hehehee,,,” ucap Pak Prabu, hatinya berteriak girang, dengan mata tak lepas dari pantat montok Zuraida.Dokter cantik itu cuma bisa tersenyum kecut, andai saja partner game nya adalah Adit atau Munaf mungkin Zuraida bisa main bentak kalo mereka nakal, tapi ini adalah Pak Prabu. Akhirnya wanita itu cuma bisa berharap game dapat selesai dengan cepat.
“Ko,,, koq pendek banget sih ngiketnya,, lagian kenapa ngiketnya dibelakang,,,” protes Munaf kepada Dako yang membantu mengikatkan sosis di pinggang belakang istrinya, membuat sosis itu menggantung tepat di depan selangkangan istrinya.
Dako mengangkat kedua pundaknya, “Tapi Istrimu ga protes tuh,,,” jawaban itu membuat Munaf melototi istrinya yang jadi salah tingkah, wajah berhias kacamata itu memerah malu.
“Sayaaaang,,, Kan ini cuma permainan aja,, ngga lebih koq,” bujuk Aida, membuat Munaf tidak bisa berkata apa-apa.
“Hanya permainan,,,” hati Aida berkali-kali mengucap kalimat itu dengan jantung berdegub kencang.
Protes yang sama juga dilontarkan Adit yang melihat Istrinya, Andini, dengan sengaja memutar sosis yang berada di belakang ke depan, hingga menggantung tak jauh dari selangkangannya. Begitu juga dengan Pak Prabu yang melototi ulah Munaf, meski sosis itu tetap berada di belakang, tapi wanita simpanannya tidak protes saat Munaf menggulung tali menjadi lebih pendek.
“Okeeee,,, para suami silahkan berbaris disana,,, dan kalian berbaris di sini,, silahkan menutup mata dengan syal ini,,,” Bu Sofie kembali memberi perintah.
Berbeda dengan para lelaki yang tampak terlihat girang, para wanita justru terlihat pucat, saling pandang dengan bingung, masing-masing merasa tidak nyaman.
“Duuuhhh,,, aku ga bisa,,, kasian kamu Zuraidaa,,,” ucap Aida, memutar posisi sosisnya ke belakang, lalu menurunkan tali menjadi lebih panjang.
Perbuatan Aida ternyata diikuti wanita lainnya, yang berusaha menjauhkan gantungan sosis dari selangkangan mereka. Perbuatan para istri itu jelas membuat para lelaki yang berbaris 5 meter dari para wanita, terlihat kecewa.
“Kalian harus mendengarkan intruksi dari pasangan kalian, kemana kalian harus melangkah,, dan kalian yang cowok, setelah pasangan kalian sudah mendekat tepuk pundaknya lalu kalian boleh berbaring dan memakan sosis itu sampai habis,” Bu Sofie terpaksa harus sedikit berteriak agar semua dapat mendengar suaranya.
“Yaaa,,,Silahkan pasang penutup mata kalian,,” seru Bu Sofie sambil memeriksa mata para wanita, memastikan sudah benar-benar tertutup.
“Semua sudaahh siaaap?,,,”
“Satuuuu,,,,”
“Duaaaaa,,,,”
“Tigaaaaaa,,, Gooo,,,!!!”
Aba-aba dari Bu Sofie langsung disambut teriakan para lelaki yang heboh memberi komando kepada pasangannya agar menuju ke arah mereka. Para wanita harus bekerja sedikit ekstra untuk mengenali suara, untungnya Bu Sofie memberi jarak dua meter antar wanita dan pasangan mainnya agar suara teriakan tidak terlalu kacau dan membingungkan. Sintya yang lebih dulu sampai di hadapan Munaf, pundaknya segera ditepuk oleh Munaf, dan dengan wajah sumringah Munaf segera berbaring di kaki Sintya.
hilda - jilbab hot (4)
“Yaaa,, buka kakimu Sin,,, turunin sosisnya pelan-pelan,,,”
“Ooowwwhh,,, Shit!!!,,,” Munaf mengumpat saat Sintya mengangkangi wajahnya, pantat semok milik sekretaris seksi itu tepat di depan matanya, perlahan mulai turun mendekati wajahnya. Meski mulutnya sudah menyentuh sosis, Munaf tetap saja menyuruh Sintya menurunkan pantatnya.
“Yaa,,, cukup,,, aku akan makan sosis ini pelan-pelan,,,” seru Munaf saat selangkangan Sintya tinggal sejengkal dari mulutnya.
“Makan yang cepet Pak,, jangan lama-lama,,,” seru Sintya, entah kesal, entah marah, tapi yang jelas liang vaginanya yang kini berada satu jengkal dari wajah Munaf, mulai basah.
“Ayooo Bu,,,, Yaaa,, cepet buka kaki mu,,,turuuniiin,, Oooowwwhhh,,, punyamu mantap banget Buuu,,,” seru Dako tak kalah heboh, langsung berbaring dan meletakkan kepalanya di antara kedua kaki Aida.
“Ckckckck,,, bener-bener mantap ni pantat, apalagi meki nya gemuk banget,,pasti jepitannya mantap nih,,” Dako dengan cueknya berkomentar, tak peduli dengan kondisi Aida yang panas dingin. “curang tu si Arga, dapet barang bagus ga bilang-bilang,,,”
DEG,,,
“Jangan-jangan Dako juga melihat perselingkuhannya dengan Arga?,,,” hati Aida semakin tidak karuan.
“Ayooo Dakoo,, cepet makan sosisnya,,,” pinta Aida tidak karuan.
“Aku ga mau sosis,,, aku mau nya kue apem,,, hehehe,,,” jawab Dako.
“Huusss,, jangan nakal,,, makan aja cepat,,,” Aida perlahan semakin menurunkan pantatnya, hingga hidung Dako dapat merasakan aroma dari vagina yang mulai basah.
Hal yang sama juga dirasakan Zuraida, yang tidak menyangka dirinya menuruti begitu saja untuk mengikuti permainan gila itu. Dirinya yang berhasil sampai di tempat Pak Prabu berdiri, disambut dengan cara yang sangat nakal. Yaaa,, Pak Prabu yang seharusnya memberi kode dengan menepuk pundak atau tangannya, justru mencolek puting payudaranya.
“Maaf Bu Dokter,,, ga tahan pengen nyolek, habisnya kenceng banget,,,Hehhehe,,,” ucap Pak Prabu pelan, yang begitu menikmati kenakalannya mengerjai wanita alim itu.
Seandainya lelaki itu bukan atasan suaminya, ingin sekali Zuraida menampar wajah Pak Prabu, tapi dirinya cuma bisa menahan emosi,  Toh,, sebentar lagi lelaki itu akan pergi meninggalkan kantor suaminya, akhirnya Zuraida berusaha untuk tetap tersenyum di antara wajah kagetnya.
“Kakinya buka yang lebar ya Bu Dokter,,, kepala saya mau masuk,,,”
“Ooowwwhh,,, pantat ibu mantap banget Bu,,, ga terlalu besar, tapi nungging kaya itik,,,”
Komentar-komentar nakal Pak Prabu sangat menganggu pikiran jernih Zuraida. Tak pernah dirinya merasa senakal ini di hadapan orang lain, selain dengan Arga. Tak ubahnya seperti eksibisi berselubung persaingan dalam permainan.
“Paakk,, berhenti mengomentari tubuh saya, selesaikan saja permainan ini secepatnya,,” ucap Zuraida dengan intonasi tinggi, untuk menunjukka rasa tidak senangnya atas kenakalan atasan suaminya itu.Tapi tanpa disadari Zuraida, rasa dari amarah yang menyeruak itu tidak lebih dari pelarian rasa malu dan bersalahnya. Dan parahnya permainan ini baru saja dimulai.
“Pelan-pelan aja bu nurunin meqi nya,,, ga usah buru-buru,,,hehehee,,”
“Uuuugghhhh,,,” Zuraida bingung, sangat bingung, komentar Pak Prabu semakin nakal.
Zuraida masih bingung, bagaimana bisa dirinya terjebak permainan gila seperti ini. ingin sekali dirinya menyudahi permainan itu, tapi itu hanya akan membuat suaminya malu. Dengan bertopang pada tangan yang berpegangan dilutut, Zuraida perlahan menurunkan pantatnya. Meski matanya tertutup tapi wanita itu sangat yakin tepat di bawah selangkangannya wajah Pak Prabu sedang tersenyum girang. Dirinya cukup sering menemani suaminya dalam acara-acara kantor, dan Pak Prabu selalu memuji kecantikan wajah dan keindahan tubuhnya, dan saat ini lelaki itu tengah memuaskan rasa penasaran atas tubuhnya.
“Terus Bu,, turunin pantatnya, mulut saya belum bisa menjangkau meqi ibu,, ehh,, maksud saya sosisnya bu,,,Hehehehee,,”
Zuraida tau, lelaki berkumis lebat itu tidak berbohong, karena tali pengikat sosisnya memang sangat pendek, dengan sangat terpaksa menurunkan tubuhnya lebih rendah, membuat siapapun yang melihat akan tergoda untuk menghajar pantat montok yang semakin menungging.
“Ooowwhhggg,,,” tubuh Zuraida kembali terangkat, dirinya sangat kaget saat sesuatu yang lembut menyentuh lapisan celana leggins nya, tepat di bibir vagina.
“Lho koq diangkat lagi sih Bu,,, saya baru pengen ngegigit meqi ibu, eehh,, sosis nya bu,,,”
“Paaak,,, jangan nakal,, plisss,, saya mohon,,,” Zuraida serasa ingin menangis, sungguh dirinya tidak ingin menjadi wanita yang nakal. Meski dirinya pernah menggoda Arga, tapi itu tidak lebih dari ungkapan perasaan hatinya yang masih memiliki rasa terhadap Arga.
“Heheehee,, maaf bu,,, tadi ga sengaja bibir saya nyenggol itunya ibu,,,”
“Tapi meqi punya Bu Dokter emang indah banget, gemuk, mukung,,, seperti punya Sintya,, hehehehe,,,”
“Tuuu kaaaan,,, Pak Prabu memang mengincar vagina ku yang gemuk,,,” hati Zuraida semakin panik. Tapi kata-kata Pak Prabu yang membeber bentuk vagina Sintya membuat Zuraida teringat pada Arga.
Teringat ketidaksengajaan dirinya saat memergoki percumbuan Arga dan Sintya. Zuraida yang sangat mengerti dengan kondisi para lelaki, merasa kasihan dengan kondisi Arga yang berkali-kali menggantung setelah bercumbu setengah jalan dengan dirinya, dan akhirnya memilih untuk mendukung kenakalan Arga pada Sintya.
“Mukung seperti punya Sintya?,,, uggghhh,,, apa vagina Sintya memang seperti milik ku?,,, Apa Arga juga suka bentuk vaginaku,,, Aaaggghhhh,,,” kepala Zuraida menggeleng-geleng, berusaha mengenyahkan pikiran nakal.
“Ooowwwhh Paaaak,,,” Zuraida terkesiap, pantatnya bergetar, dirasakannya mulut Pak Prabu bergerak-gerak dibibir vaginanya. Lewat celah dibawah matanya, wanita itu melihat Pak Prabu yang mulai mengunyah sosisnya, bergerak pelan sesekali menggesek vaginanya.
Zuraida tak yakin dirinya dapat bertahan dengan godaan ini, apalagi saat merasakan ada cairan yang merembes dicelah kemaluannya. Ingin sekali mengangkat tubuhnya, tapi para istri lainnya pun pasti tengah mengalami hal yang sama dengan dirinya, berusaha menyelesaikan lomba secepatnya.
“Batang Pak Prabu bangun!!!,,,” Jantung wanita itu berdegub semkain keras, mata indahnya tidak sengaja melihat celana Pak Prabu yang menonjol.
“Kenapa Bu?,,,”
“Ngga apa-apa,,, cepat pak makan sosisnya,,,”
Tapi permintaannya itu justru membuat tubuhnya semakin tidak karuan, Zuraida tidak bisa memastikan apa saja yang tengah dilakukan mulut lelaki itu dibawah selangkangannya, tapi yang pasti mulut lelaki itu semakin cepat bergerak, menggesek bibir vaginanya semakin cepat. Pak Prabu yang tau apa yang tengah dipelototi oleh wanita itu, sengaja menggerakkan otot penisnya, memamerkan keperkasaan batangnya. Meski tertutup kain celana, Dokter cantik itu pasti dapat melihat dan memastikan seberapa besar betang yang bergerak nakal
“Owwwhhhh,,, Pak cepaaat habiiiskaaan,,, Aaagghhhh,,, Paak,,”
Tubuh wanita itu melejit, refleks terangkat saat kumis tebal Pak Prabu berhasil menyelinap dan menusuk bibir vaginanya. Lagi-lagi wanita itu harus menyesal, kenapa tadi pagi memilih celana leggins yang tipis, tak mengira akan ada permainan seperti ini. Tak jauh dari dokter cantik itu, Aryanti juga tengah berjuang membunuh rasa malunya. Komentar-komentar Adit membuat Aryanti ingin menghajar bibir pemuda itu.
“Mbaaa,, tebel banget kayanya tu jembi,,, bener-bener bikin konti ku ngaceng,, jadi pengen masukin kaya malam kemarin,,, hehehee,,,”
“Banyak omong ni bocah, tinggal nikmatin aja masih sempat komentar, kalo masih cerewet aku bekep mulut mu pake ni pantat,,” Aryanti benar-benar gerah dengan komentar Adit, terlintas keajadian malam itu saat bibirnya dan bibir Sintya meberikan servis pada batang Adit.
“Ooowwhhh,,, mauu dong dibekep ama pantat montok mu mbaaa,,,”
“Cepeeet habisin,, atau ku pecahin dua telur mu ini,,,” seru Aryanti sambil mencengkram dua telur kehidupan milik Adit, dan ancamannya ternyata cukup manjur, Adit yang kesakitan segera melahap sosis yang menggantung.
Tampaknya wanita cantik itu tengah berusaha untuk tidak nakal, dan menyelesaikan permainan secepatnya. Tapi nafas Adit yang mendengus panas tepat mengenai bibir vaginanya yang hanya dibalut kain tipis. Lutut Aryanti gemetar, berusaha untuk tidak menurunkan pantatnya lebih dekat kewajah Adit.
“Oooowwwhhh,,, Diiiit,,, jangan nakaaaal,,,” lirih Aryanti saat Adit dengan sengaja menggesekkan hidung ke bibir vaginanya. Mati-matian wanita itu bertahan untuk tidak lagi mengkhianti suaminya.
Karena saat ini hatinya sudah cukup sakit melihat kemesraan pandangan mata suaminya dan Zuraida. Yaaa,, sebatas pandangan mata yang mesra, karena Aryanti percaya akan kesetiaan suaminya, lagipula dirinya yakin Zuraida bukan wanita yang mudah tergoda oleh lelaki. Tapi hatinya jadi penasaran, apa yang tengah dilakukan Arga pada Andini, istri dari lelaki yang tengah dikangkanginya.
hilda - jilbab hot (5)
Tepat disamping Aryanti, beberapa langkah dari tempat wanita cantik itu mengangkangi wajah Adit, Arga telihat tengah digoda oleh Andini yang menarik segitiga pelindungnya kedalam belahan pantat, seolah memamerkan kulit pantat yang putih mulus. Sepertinya gadis itu sengaja ingin membalas ulah nakal Arga dikolam renang tadi malam. Arga tertawa lalu meremas pantat mungil Andini yang kencang, entah apa yang diucapkan Arga, hingga membuat Andini terlihat tertawa, lalu menyentil batang nya yang mengeras. Perlahan Arga makan sosis yang menggantung. Siapapun tau, jika gadis itu tengah menggoda Arga, tapi lelaki itu hanya berani mengusap-usap paha dan pantat mulusnya. Berkali-kali Andini menurunkan tubuhnya hingga vagina yang masih terbalut celana dalam putih itu mengenai bibir Arga, tapi lelaki itu menghindar dengan membuang wajahnya ke samping sambil tertawa.
“Hihihi,, ternyata Pak Arga juga jinak-jinak merpati, kalo ada istri nya sok jaim, tapi kalo ga ada,, wuuuhhhh,,, habis-habisan meqi ku dihajaaarr,,, hihihii,,” bisik Andini yang agak kesal dengan sikap sok cool lelaki itu. Sementara birahi mudanya tengah terbakar.
Padahal saat itu hati Arga tengah gundah, berkali-kali matanya melirik istrinya yang tengah dinakali oleh Adit, berkali-kali pemuda itu dengan sengaja mengakat kepala agar lidahnya dapat mengusap vagina istrinya. Dilihatnya Aryanti tampak berusaha untuk bertahan, namun saat kain celana dalam yang mulai basah itu disapu oleh lidah Adit, mau tidak mau bibir seksinya melenguh menahan nikmat. Sementara di sebelah kanannya Zuraida tampak menggeliat menahan godaan bibir Pak Prabu yang menciumi bibir vaginanya. Berkali-kali bibir nya merintih saat Pak Prabu membenamkan wajahnya setelah menggigit potongan sosis, dan dengan cepat Zuraida mengangkat kembali pantatnya dengan wajah yang tersipu malu. Tanpa disadari Arga yang tengah mengamati sekitar, tiba-tiba Andini menarik celana dalamnya ke samping, lalu mengambil sosis yang menggantung dan meletakkannya di bibir vagina, perlahan pantatnya turun, mengarahkan sosis ke bibir Arga.
“Asseeeemm,,, ni cewek, bener-bener ngerjain aku dah,,,” umpat Arga, saat melihat batangan sosis terjepit divagina Andini.
“Aaahh,, Masa Bodoh lahh,,,” dengan cepat Arga menggigit sebagian sosis, tapi gerakannya yang terburu-buru itu justru membuat sebagian sosis yang tersisa masuk semakin dalam ke vagina Andini.
“Oooowwhhh,,, Paaakk,,, Jangan nakaaall,,”
Meski pelan, Rintihan Andini membuat Aryanti menoleh,,,
“Mas Argaaa,,, Maaass!!!,,,”
Jantung wanita itu seakan berhenti berdetak, Aryanti yang sengaja membuka sedikit penutup matanya, melihat Arga seperti tengah memasukkan batangan sosis ke dalam vagina mungil Andini.
Tapi Aryanti juga heran, jika suaminya memang tengah menakali Andini, kenapa suaminya justru begitu takut bibirnya tersentuh vagina gadis mungil itu. Dengan giginya Arga berusaha menarik keluar batangan sosis, tapi gerakan pinggul Andini justru membuat sosis itu masuk semakin dalam. Membuat wajah Arga kebingungan.
“Dasar,, gadis nakal,,,” gumam Aryanti kesal, “lihat apa yang bisa kulakukan pada suami mu,,,”
Perlahan Aryanti menurunkan pantatnya, membenamkan wajah Adit di belahan pantat dan vaginanya, membuat pemuda itu terkejut tapi juga kegirangan.
“Mbaaa,,, Owwwhh,, wangi banget mba meqi muuu,, owwhhh,,,” Adit mendengus disela belahan vagina Aryanti, menggerak-gerakkan hidungnya seolah ingin membelah vagina Aryanti yang masih tertutup kain.Kini justru Aryanti yang kelimpungan, gerakan Adit membuat vaginanya begitu cepat basah, berusaha sekuat tenaga menahan lenguhan agar Arga yang berada beberapa meter darinya tidak mendengar dan menoleh.
“Ooooggghhh,, Adiiittt,,, jangan digigiiiit,,,” Aryanti terpekik tertahan, Adit yang memegangi pinggulnya tiba-tiba menekan pantat montoknya hingga wajah pemuda menghilang sepenuhnya, dan tanpa diduga mengigit bibir vaginanya.
Aryanti berusaha mengangkat tubuhnya, tapi tenaga Adit mampu menahan.
“Diiitt,,, jangaaaan,, Oooowwwhh,, Aku bisaaa keluar kalooo diginiiin teruusss,,”
“Suuudaaaahhh,,,”
Aryanti semakin kaget, disaat bibirnya merintih akibat ulahnya sendiri, saat itulah Arga menoleh, pandangan mata mereka bertemu,,,”
“Maaaasss,, aku dikerjai Adiiiit,,,”
“Eeeeeenghhhhkkss,,Ooooowwhhhhhsss,,,,” Aryanti melenguh menghantar orgasme dihujung tatapan suaminya.
Ingin sekali Aryanti menerangkan bahwa dirinya tengah dikerjai Adit, tapi sulit baginya untuk berkelit, tubuhnya yang menggelinjang orgasme telah menerangkan segalanya. Bu Sofie yang melihat permainan mulai panas justru tertawa.
“Ayooo,,, cepaaaat,,, habiskan sosisnya,,, Yang cowok jangan nakal yaa,,,hahahaaa,,”
“Saya hitung sampaai sepuluh,,, kalo ga habis bakal saya kasih sosisnya Mang Oyik lhoo,, hahahaa,,,”
Mendengar nama nya disebut untuk ditawarkan, membuat Mang Oyik tertawa girang. “Waaahh,, bener nih punya saya mau dikasihin keteman-teman ibu?,,,heheee,,makasih Buu,,,”
“Yeee,, jangan girang dulu,, bukan buat yang cewek,, tapi buat cowok yang kalah,,”
“Anjrit,,,”
“Asseeemm,,,”
Serentak para cowok yang mendengar obrolan Mang Oyik dan Bu Sofie mengumpat, bergegas menghabiskan sosisnya. Zuraida tersenyum kecut, saat Pak Prabu menghentikan kenakalannya, kain celana leggins nya tampak sangat basah, entah oleh ludah Pak Prabu, entah oleh rembesan cairan vaginanya, tapi yang pasti Dokter cantik itu mampu bertahan.  Begitu juga dengan Munaf dan Adit, sambil tertawa kedua orang itu mengunyah habis sosisnya. Lidah Dako yang tengah asik menikmati labia mayora milik guru cantik bernama Aida, mengumpat berkali-kali. Yaaa Aida dengan sukarela menyibak celana dalamnya kesamping karena tak mampu bertahan atas rayuan Dako.
“Asseeem,,, emang aku Maho,,,” umpat Dako, setelah menarik lidahnya dari lorong vagina Aida yang baru saja mendapat orgasme, tapi sosisnya masih utuh, belum digigit sedikitpun.
Sambil tersenyum nakal, dengan bibirnya Dako menarik lepas sosis yang masih utuh menggantung, lalu dengan mulutnya memasukkan sosis yang memiliki potongan cukup besar itu ke vagina Aida. Membuat wanita itu menjerit kaget.
“Akuu,, titip dulu,,, ntar setelah lomba baru kuambil,,,” bisik Dako, sementara Aida cuma bisa mengangguk, lalu mengangkat tubuhnya untuk berdiri.
Kakinya terlihat gemetar, menahan geli akibat sosis yang bersemayam di dalam vagina. Tersisa Arga yang kelimpungan, terpaksa mengais-ngais vagina Andini, berusaha menarik keluar sosis yang masuk semakin dalam ke vagina Andini.“Ooowwhhsss,,Ni Paaak,,, aku bantu ngeluarin,,,” ucap Andini disela desahannya, mengencangkan otot vaginanya, hingga membuat batangan sosis yang tersisa sedikit itu meloncat keluar, seiring dengan cairan orgasme yang menghambur.
“Ooowwhhhh,,,” kaki Andini gemetar, orgasme diatas wajah Arga yang kelimpungan, di bawah tatapan Aryanti dan peserta lomba lainnya.
Terlihat jelas wajah malu Aryanti, meski ia tau suaminya tengah dikerjai, tapi tidak bagi yang lainnya, yang hanya menonton prosesi hebohnya orgasme Andini. Jika yang lainnya justru tertawa dan bersorak menganggap itu adalah kemenangan Arga sebagai seorang lelaki, tidak begitu halnya dengan Zuraida, wanita cantik itu terlihat sangat kecewa. Menggenggam erat ujung kaosnya untuk meredam emosi, cemburu, marah yang membaur menjadi satu. Tapi wanita itu cuma bisa terdiam, sedikitpun dirinya tidak memeliki hak untuk marah, Arga bukan suaminya, bukan pula kekasihnya, karena masa bagi dirinya dan Arga telah habis beberapa tahun yang lalu.
“Okeee,,, permainan selesai,,”
“Sambil menunggu Mang Oyik mengambil minuman, kita istirahat sebentar,,,” Seru Bu Sofie, tanpa rasa bersalah setelah memberikan permainan yang begitu gila.
“Ingat,,, permainan selanjutnya bakal lebih gila,,, tapi bagi mereka yang menang akan mendapatkan mobil saya sebagai kenang-kenangan,,,” Sambungnya, lalu berjalan menuju kesebuah pohon.
Mereka yang awalnya ingin protes menjadi tertawa, saling pandang, tertantang untuk mendapatkan Honda CRV milik Bu Sofie.

UMI ANIS

Teng! Jam dinding berdentang satu kali. Malam semakin larut, tapi Anis masih duduk di ruang tengah. Sejak tadi matanya sulit terpejam. Baru beberapa jam yang lalu Ibu Mas Iqbal, suaminya, menelepon, “Nis, Alhamdulillah, barusan ini keponakanmu bertambah lagi…” suara ibu terdengar sumringah di ujung sana.”Alhamdulillah… laki-laki atau perempuan, Bu?” Anis tergagap, kaget dan senang. Sudah seminggu ini keluarga besar Mas Iqbal memang sedang berdebar-debar menanti berita Dini, adik suaminya, yang akan melahirkan.

hijaber hot (1)

“Laki-laki. Cakep lho, Nis, mirip Mas-mu waktu bayi…” Ibu tertawa bahagia. Dini memang adik yang termirip wajahnya dengan Mas Iqbal.
“Selamat ya, Bu, nambah cucu lagi. Salam buat Dini, Insya Allah besok pulang kerja, Anis dan Mas Iqbal akan jenguk ke rumah sakit.” janji Anis sebelum menutup pembicaraan dengan Ibu yang sedang menunggu Dini di rumah sakit.
Setelah menutup telepon, Anis termenung sesaat. Ia jadi teringat usia pernikahannya yang telah memasuki tahun ke lima, tapi belum juga ada tangis si kecil menghiasi rumah mereka. Meskipun demikian ia tetap ikut merasa sangat bahagia mendengar berita kelahiran anak kedua Dini di usia pernikahan mereka yang baru tiga tahun.
“Kok melamun?!” Mas Iqbal yang baru keluar dari kamar mandi mengagetkannya. Ia memang pulang agak malam hari ini, ada rapat di kantor katanya. Air hangat untuk mandinya sempat Anis panaskan dua kali tadi.
“Mas, ibu tadi mengabari, Dini sudah melahirkan. Bayinya laki-laki,” cerita Anis.

“Alhamdulillah… Dila sudah punya adik sekarang,” senyum Mas Iqbal sambil mengeringkan rambutnya, tapi entah mengapa Anis menangkap ada sedikit nada getir dalam suaranya. Anis menepis perasaannya sambil segera menata meja menyiapkan makan malam.

Selepas Isya’an bersama, Mas Iqbal segera terlelap, seharian ini ia memang lelah sekali. Anis juga sebenarnya agak lelah hari ini. Ia memang beruntung, selepas kuliah dan merasa tidak nyaman bekerja di kantor, Anis memutuskan untuk membuat usaha sendiri saja.
hijaber hot (2)
Dibantu temannya yang seorang notaris, akhirnya Anis mendirikan perusahaan kecil-kecilan yang bergerak di bidang design interior. Anis memang berlatar pendidikan bidang tersebut, ditambah lagi ia punya bakat seni untuk merancang sesuatu menjadi indah dan menarik. Bakat yang selalu tak lupa disyukurinya. Keluarga dan teman-teman banyak yang mendukungnya, akhirnya sekarang ia sudah memiliki kantor mungil sendiri tidak jauh dari rumahnya.
Dan, seiring dengan kemajuan dan kepercayaan yang mereka peroleh, perusahaannya sedikit demi sedikit mulai dikenal dan dipercaya masyarakat. Tapi Anis merasa itu tidak terlalu melelahkannya, semua dilakukan semampunya saja, sama sekali tidak memaksakan diri, malah menyalurkan hobi dan bakatnya merancang dan mendesign sesuatu sekaligus mengisi waktu luangnya. Beberapa karyawan yang sigap dan cekatan membantunya. Malah sekarang sudah ada beberapa designer interior lain yang bergabung di perusahaan mungilnya.
Itu sebabnya sesekali saja Anis agak sibuk mengatur ketika ada pesanan mendesign yang datang, selebihnya teman-teman yang mengerjakan. Waktu Anis terbanyak tetap buat keluarga, mengurus rumah atau masak buat Mas Iqbal meski ada Siti yang membantunya di rumah, menurutnya itu tetap pekerjaan nomor satu. Anis juga bisa tetap rutin mengaji mengisi ruhaniahnya. Namun karena kegiatannya itu, biasanya ia tidur cepat juga, tapi malam ini rasa kantuknya seperti hilang begitu saja. Berita dari ibu tadi membuat Anis teringat lagi. Teringat akan kerinduannya menimang si kecil, buah hatinya sendiri.
Lima tahun pernikahan adalah bukan waktu yang sebentar. Awalnya Anis biasa saja ketika enam bulan pertama ia tak kunjung hamil juga, ia malah merasa punya waktu lebih banyak untuk suaminya dan merintis kariernya. Seiring dengan berjalannya waktu dan tak hentinya orang bertanya, dari mulai keluarga sampai teman-temannya, tentang kapan mereka menimang bayi, atau kenapa belum hamil juga, Anis mulai khawatir. Fitrahnya sebagai wanita juga mulai bertanya-tanya, apa yang terjadi pada dirinya, atau kapan ia hamil seperti juga pasangan-pasangan lainnya…
Atas saran dari banyak orang, Anis mencoba konsultasi ke dokter kandungan. Seorang dokter wanita dipilihnya. Risih juga ketika menunggu giliran di ruang tunggu klinik, pasien di sekitarnya datang dengan perut membuncit dan obrolan ringan seputar kehamilan mereka. Atau ketika salah seorang diantara mereka bertanya sudah berapa bulan kehamilannya.
“Saya tidak sedang hamil, hanya ingin konsultasi saja…” senyum Anis sabar meski dadanya berdebar, sementara Mas Iqbal semakin pura-pura asyik dengan korannya. Anis bernafas lega ketika dokter menyatakan ia sehat-sehat saja. Hindari stress dan lelah, hanya itu nasehatnya.
Setahun berlalu. Di tengah kebahagiaan rumah tangganya, ada cemas yang kian mengganggu Anis. Kerinduan menimang bayi semakin menghantuinya. Sering Anis gemas melihat tingkah polah anak-anak kecil disekitarnya, dan semakin bertanya-tanya apa yang terjadi dengan dirinya. Setelah itu mulailah usaha Anis dan suaminya lebih gencar dan serius mengupayakan kehamilan. Satu demi satu saran yang diberikan orang lain mereka lakukan, sejauh itu baik dan tidak melanggar syariat agama. Beberapa dokter wanita juga kadang mereka datangi bersama, meski lagi dan lagi, sama saja hasilnya. Sementara hari demi hari, tahun demi tahun terus berlalu.
Kadang Anis menangis ketika semakin gencar pertanyaan ditujukan padanya atau karena cemas yang kerap mengusik tidurnya. Mas Iqbal selalu sabar menghiburnya, “Anis, apa yang harus disedihkan? Dengan atau tanpa anak, rumah tangga kita akan berjalan seperti biasa. Aku sudah sangat bahagia dengan apa yang ada sekarang. Insya Allah tidak akan ada yang berubah dalam rumah tangga kita…” kata Mas Iqbal suatu ketika seperti bisa membaca jalan pikirannya.
hijaber hot (3)
Suaminya memang tahu kapan Anis sedang mendalam sedihnya dan harus dihibur agar tidak semakin larut dalam kesedihan. Di saat-saat seperti itu memang cuma suaminya yang paling bisa menghiburnya, tentu saja disamping do’a dan berserah dirinya pada Tuhan. Kadang Anis heran kenapa Mas Iqbal bisa begitu sabar dan tenang, seolah-olah tidak ada apapun yang terjadi. Dia selalu ceria dan optimis seperti biasa. Apakah memang pria tidak terlalu memasukkan unsur perasaannya atau mereka hanya pintar menyembunyikan perasaan saja? Anis tidak tahu, yang pasti sikap Mas Iqbal banyak membantu melewati masa-masa sulitnya.
Sebenarnya Anis juga bukan selalu berada dalam kondisi sedih seperti itu. Sesekali saja ia agak terhanyut oleh perasaannya, biasanya karena ada faktor penyulutnya, yang mengingatkan ia akan mimpinya yang belum terwujud itu. Selebihnya Anis bahagia saja, bahkan banyak aktivitas atau prestasi yang diraihnya. Buatnya tidak ada waktu yang disia-siakan. Selagi sempat, semua peluang dan kegiatan positif dilakukannya. Kadang-kadang beberapa teman menyatakan kecemburuannya terhadap Anis yang bisa melakukan banyak hal tanpa harus disibuki oleh rengekan si kecil. Anis tersenyum saja.
Anis juga tidak pernah menyalahkan teman-temannya kalau ketika sesekali bertemu obrolan banyak diisi tentang anak dan seputarnya. Buatnya itu hal biasa, usia mereka memang usia produktif. Jadi wajar saja kalau pembicaraan biasanya seputar pernikahan, kehamilan, atau perkembangan anak-anak mereka yang memang semakin lucu dan menakjubkan, atau cerita lain seputar itu. Biar bagaimanapun Anis menyadari menjadi ibu adalah proses yang tidak mudah dan perlu belajar atau bertukar pengalaman dengan yang lain.
Tapi kadang-kadang, sesekali ketika Anis sedang sedih, rasanya ia tidak mau mendengar itu dulu. Anis senang juga jika ada yang berusaha menjaga perasaannya diwaktu-waktu tertentu, dengan tidak terlalu banyak bercerita tentang hal tersebut, bertanya, atau malah menyemangati dengan do’a dan dukungan agar sabar dan yakin akan datangnya si kecil menyemarakkan rumah tangganya.
Anis tersadar dari lamunannya. Diminumnya segelas air dingin dari lemari es. Sejuk sekali. Meskipun malam tapi udara terasa pengap. Anis meneruskan tidurnya. Dalam lelap ia bermimpi bermain bersama beberapa gadis kecil. Senang sekali.
***Siang keesokan harinya, Anis sedang merancang sebuah ruang pameran di kantornya. Ada festival Islam yang akan digelar, mungkin karena tidak banyak designer interior berjilbab rapi seperti Anis, ia dipercaya merancangnya. Ketika sedang mencorat-coret gambar, Fitri mengejutkannya, “Mbak Anis, ada tamu yang mau bertemu.”

hijaber hot (4)

“Dari mana, Fit?” tanya Anis.
“Katanya dari Yayasan Amanah, mbak, tanya soal aplikasi mbak Anis bulan kemarin.”
“Oh itu. Iya deh, saya ke depan sepuluh menit lagi.” jawab Anis.
Setelah berbincang-bincang dengan tamunya, akhirnya Anis menyepakati mengangkat salah satu anak yatim yang diasuh yayasan tersebut sebagai putra asuhnya. Namanya Safiq. Anis memang selalu menyisihkan rezekinya untuk mereka yang membutuhkan. Dan kali ini, ia berniat untuk menyantuni dan mengasuh Safiq seperti anaknya sendiri, itupun setelah dimusyawarahkan dengan suaminya. Anis berharap, dengan begitu ia bisa cepat hamil. Ibu-ibu banyak yang mengatakan, mungkin Anis perlu ’pancingan’ agar bisa lekas dapat momongan.
Begitulah, mulai saat itu, Safiq yang berusia 12 tahun, tinggal bersama Anis dan Iqbal.
Mempunyai ’anak’, membawa banyak hikmah bagi Anis. Ia jadi semakin teliti dan perhatian. Apapun kebutuhan Safiq berusaha ia penuhi. Mulai dari baju hingga mainan, juga kebutuhan sekolah bocah itu yang tahun depan mau masuk SMP. Anis juga mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada Safiq, hingga mas Iqbal yang merasa tersisih, sempat melayangkan protes sambil bercanda, ”Hmm, gimana kalau punya anak beneran ya, bisa-bisa aku nggak boleh tidur di kamar.”
Anis cuma tertawa menanggapinya. ”Ah, mas bisa aja.” dia mencubit pinggang laki-laki itu. Dan selanjutnya merekapun bergumul di ranjang untuk memuaskan satu sama lain, sambil berharap persetubuhan kali ini akan membuahkan hasil.
Esok paginya, seperti biasa, Anis menyiapkan sarapan bagi Safiq. Tidak terasa, sudah hampir tiga bulan bocah itu tinggal bersamanya. Dan Anis merasa senang sekaligus bersyukur, karena pilihannya ternyata tidak salah, Safiq sangat pintar dan baik. Anak itu tidak nakal, sangat menurut meski agak sedikit pendiam. Hanya kepada Anis lah ia mau berbincang, sedangkan dengan mas Iqbal, Safiq seperti menjaga jarak.
”Kenapa, Fiq?” tanya Anis menanyakan sebabnya saat mereka sarapan bersama. Saat itu mas Iqbal sudah berangkat ke kantor, sedangkan Safiq masuk siang.
Bocah itu terdiam, hanya jari-jari tangannya yang bergerak memainkan bulatan bakso di atas nasi gorengnya.
”Tidak apa-apa, ngomong saja sama Umi.” kata Anis. Dia memang menyuruh Safiq untuk memanggilnya dengan panggilan ’Umi’ sedangkan untuk mas Iqbal ’Abi’.
”Ah, nggak, Mi.” Safiq masih tampak takut.
Anis menatapnya. Di usianya yang baru beranjak remaja, bocah itu terlihat tampan. Kalau besar nanti, pasti banyak gadis yang akan terpikat kepadanya. ”Umi nggak akan marah.” kata Anis lagi, penuh dengan sabar.
Safiq menggeleng, dia menundukkan kepalanya semakin dalam.
Kasihan, Anis pun mendekatinya. ”Tidak apa-apa kalau kamu nggak mau bilang, umi nggak akan maksa.” Dipeluknya bocah kecil itu, diletakkannya kepala Safiq di atas gundukan buah dadanya. Ia biarkan Safiq menangis di situ.
”Maaf kalau Umi sudah membuatmu takut.” ucap Anis penuh nada penyesalan, ia memang tidak berharap perbincangan ini akan berakhir seperti itu.
Lama mereka berpelukan, hingga Anis merasa tangis Safiq perlahan mereda dan akhirnya benar-benar berhenti. Ia sudah akan melonggarkan dekapannya saat merasakan sesuatu yang lembut mengendus dan menyundul-nyundul pelan buah dadanya. Ah, Safiq! Apa yang kamu lakukan? Anis memang cuma mengenakan daster longgar saat itu, hanya saat keluar rumah atau ada tamu pria, ia mengenakan jilbab. Dengan pakaian seperti ini, bibir Safiq yang bermain di belahan payudaranya sungguh sangat-sangat terasa.
Cepat Anis melirik ke bawah, dilihatnya si bocah yang kini berusaha mencium dan menyusu ke arah buah dadanya. ”Safiq!” Anis menegur, tapi dengan suara dibuat selembut mungkin, takut membuat bocah itu kembali mengkerut. Padahal dalam hati, Anis benar-benar mengutuk aksinya yang sudah kurang ajar.
Safiq mendongakkan kepala, ”M-maaf, Mi.” suaranya parau, sementara tubuhnya gemetar pelan.
Tak tega, Anis segera memeluknya kembali. ”Tidak apa-apa, tapi jangan diulang lagi ya. Itu tidak boleh.” ia membelai rambut Safiq penuh rasa sayang.
Safiq mengangguk. ”Maaf, Mi. Safiq cuman pengen tahu gimana rasanya nenen.”
Anis terkejut, ”Emang kamu belum pernah?” tanyanya tak percaya.
”Safiq kan yatim piatu dari kecil, Mi. Jangankan nenen, siapa ibu Safiq aja nggak ada yang tahu. Safiq ditinggal di depan pintu yayasan.” jawab bocah itu dengan getir.
Anis meneteskan air mata mendengarnya, ia mendekap dan mengelus kepala Safiq lebih erat lagi. Setelah terdiam cukup lama, Anis akhirnya membuka suara, ”Bener kamu pengen nenen?” tanyanya dengan suara berat. Keputusan sudah ia ambil, meski itu awalnya begitu berat.
Safiq menganggukkan kepala.
”Janji ya, cuma nenen?” tanya Anis sambil memandang matanya.
”I-iya, Mi.” angguk Safiq cepat.
”Dan jangan ceritakan ini sama orang lain, termasuk pada Abi. Karena anak sebesar kamu sudah tidak seharusnya nenen pada Umi, ini tidak boleh.  Tapi karena kasihan, Umi terpaksa mengabulkannya.” terang Anis, terbersit nada getir dalam suaranya.
”Iya, Mi. Safiq janji.” kata bocah kecil itu.
Begitulah, dengan perlahan Anis pun menurunkan dasternya hingga buah dadanya yang besar terlihat jelas. Meski masih tertutup BH, benda itu tampak begitu indah. Ukurannya yang di atas rata-rata membuatnya jadi tampak sesak. Anis segera membuka cup BH-nya, tanpa ada yang menyangga, bulatan kembar itupun terlontar dengan kerasnya hingga sanggup membuat mata bulat Safiq makin melotot lebar.
”M-mi…” Safiq memanggil, tapi pandangannya sepenuhnya tertuju pada area dada sang ibu angkat yang kini sudah terbuka lebar, siap untuk ia jamah.
”Ayo, katanya mau nenen?” kata Anis sambil menarik salah satu bulatan payudaranya ke depan, memberikan putingnya yang merona merah pada Safiq.
Tahu ada benda mulus menggiurkan yang mendekat ke arah mulutnya, Safiq pun membuka bibir, dan mencaplok puting Anis dengan perlahan, ”Ahm…” lenguh mereka berdua hampir bersamaan. Anis kegelian karena ada lidah basah yang melingkupi ujung payudaranya, sedangkan Safiq merasa nikmat mendapat benda yang selama ini ia idamkan-idamkan. Lidahnya terus menari membelai puting payudara Umi-nya, sedangkan bibirnya terus mengecap untuk mencucup dan menghisap-hisapnya.
”Ah, jangan keras-keras, Fiq. Sakit!” desis Anis di sela-sela jilatan sang anak angkat. Ia mulai merasa merinding, jilatan Safiq mengingatkannya pada mas Iqbal, yang biasa melakukannya sebelum mereka tidur. Meski aksi Safiq terasa agak sedikit kaku, tapi sensasi dan rasanya tetaplah sama.
Sementara itu, Safiq dengan tak sabar dan penasaran terus menyusu. Mulutnya dengan liar bermain di gundukan payudara Anis. Tidak cuma yang kiri, yang kanan juga ia perlakukan sama. Kadang Safiq malah membenamkan wajahnya di belahan payudara Anis yang curam, dan membiarkan mukanya dikempit oleh bulatan kenyal itu, sambil tangannya mulai meremas-remas ringan.
hijaber hot (5)
”Ah, Fiq.” rintih Anis mulai tak sadar. Ia menekan kepala bocah itu, berharap Safiq mempermainkan payudaranya lebih keras lagi.
Safiq yang gelagapan berusaha mencari udara, digigitnya salah satu puting Anis hingga umi-nya itu menjerit kesakitan.
”Auw, Fiq! Apaan sih, sakit tahu!” Anis mendelik marah, tapi melihat muka Safiq yang memerah dan nafasnya yang ngos-ngosan, iapun akhirnya mengerti. ”Eh, maaf. Umi nggak tahu.”
”Gak apa-apa, Mi.” Safiq tersenyum, kedua tangannya masih hinggap di dada Anis dan terus meremas-remas ringan disana.
”Gimana, kamu suka?” tanya Anis sambil membelai kepala Safiq penuh rasa sayang.
Si bocah mengangguk, ”Iya, Mi.”
”Mau lagi?” tanya Anis.
Safiq mengangguk, senyumnya terlihat semakin lebar.
”Kalau begitu, ayo sini.” Anis pun menarik kepala bocah itu dan ditaruhnya kembali ke atas gundukan payudaranya.
Begitulah, sampai siang, Safiq terus menyusu di bongkahan payudara Anis, sang ibu angkat yang masih berusia muda, tidak lebih dari 30 tahun. Dengan payudara yang masih mulus sempurna, Safiq benar-benar dimanjakan. Ia menjadi bocah yang paling beruntung di dunia. Sementara Anis juga merasa senang karena kini ia menjadi semakin intim dan akrab dengan sang putra angkat yang sangat ia sayangi.
***
Rutinitas itu terus berlangsung. Kapanpun dan dimanapun Safiq ingin, asal tidak ada orang -terutama mas Iqbal- Anis dengan senang hati menyusuinya. Dan seperti yang sudah dijanjikan, Safiq memang tidak pernah meminta lebih. Bocah itu cuma meremas dan menghisap, tidak macam-macam. Ditambah lagi, sama sekali tidak ada nafsu ataupun birahi dalam setiap jilatannya, Safiq benar-benar murni melakukannya karena pengen nenen. Anis jadi merasa aman.
Tapi semua itu berubah saat Safiq naik ke jenjang SMP…
Umur yang bertambah membuat pikiran bocah itu semakin berkembang. Dari yang semula cuma nenen biasa, kini berubah menjadi jilatan mesra yang sangat lembut namun sangat menggairahkan. Remasan bocah itu juga semakin bervariasi; kadang keras, kadang juga lembut. Kalau menghisap puting yang kiri, Safiq memijit dan memilin-milin yang kanan, begitu pula sebaliknya. Tak jarang Safiq mendempetkan dua puting itu dan menghisapnya dalam satu waktu. Pendeknya, Safiq sekarang sudah tumbuh menjadi remaja yang tahu apa arti seks yang sesungguhnya.
Anis bukannya tidak mengetahui hal itu. Ia sudah bisa menebaknya saat melihat penis Safiq yang sedikit ereksi saat mereka sedang melakukan ’ritual’ itu. Tapi Anis pura-pura tidak tahu dan mendiamkannya saja. Toh Safiq juga tidak berbuat macam-macam, anak itu tetap ’sopan’. Malah Anis yang panas dingin, itu karena ukuran penis Safiq yang saat ini sudah melebihi punya mas Iqbal, padahal usia bocah itu masih sangat muda. Gimana kalau nanti sudah besar… ah, Anis tidak kuat membayangkannya.
Esoknya, saat membangunkan Safiq untuk sholat subuh, Anis disuguhi pemandangan baru lagi. Saat itu Safiq masih tertidur lelap, tapi tidak demikian dengan penisnya. Benda itu sedang berdiri dan menjulang begitu tegarnya. Sempat Anis terpana dan terpesona untuk beberapa saat, tapi setelah bisa menguasai diri, ia segera membangunkan sang putra, ”Fiq, ayo sholat dulu.”
Safiq cuma menggeliat lalu meneruskan tidurnya. Anis jadi tergoda. Apalagi sekarang di depannya, penis Safiq jadi kelihatan lebih menantang. Ukurannya yang begitu besar membuat Anis tercengang, dengan warna coklat kehitaman dan ‘kepala’ yang masih kelihatan imut (Safiq baru bulan kemarin disunat), benda itu jadi terasa seperti magnet bagi Anis. Tanpa terasa perlahan jari-jarinya terulur dan mulai menggenggamnya. Ia memperhatikan wajah sang putra angkat, Safiq terlihat tenang saja, matanya tetap terpejam rapat sambil menikmati tidur pulasnya.
Dengan hati berdebar dan penuh perhitungan, takut dipergoki oleh sang suami -juga takut bila Safiq tiba-tiba bangun- Anis mulai mengocok benda panjang itu perlahan-lahan. Saat diperhatikannya Safiq tetap tertidur, malah bocah itu seperti menikmatinya -terlihat dari desah nafasnya yang semakin memburu dan tarikan lirih karena terangsang- Anis pun mempercepat kocokannya. Hingga tak lama kemudian berhamburan cairan putih kental dari ujungnya. Safiq ejakulasi. Yang gilanya, akibat rangsangan Anis, ibu angkatnya sendiri.
Merasa sangat bersalah, dengan tergopoh-gopoh Anis segera membersihkannya. Saat itulah, Safiq tiba-tiba terbangun. ”Eh, umi…” gumamnya tanpa tahu apa yang terjadi.
Anis mengelap sisa sperma Safiq ke ujung dasternya, ”Ayo sholat dulu, sayang.” katanya dengan nada suara dibuat senormal mungkin, padahal dalam hati ia sangat berdebar-debar.
Safiq memperhatikan cairan putih kental yang berceceran di perutnya. Untuk yang ini, Anis tidak sempat membersihkannya. ”Ini apa, Mi?” Safiq mengambil cairan itu dan mempermainkan di ujung jarinya, lalu mengendusnya ke hidung. ”Ih, baunya aneh.” bocah itu nyengir.
Anis tersenyum, ”Tidak apa-apa, itu tandanya kamu sudah mulai dewasa.”
Safiq memandang umi-nya, ”Dewasa? Safiq nggak ngerti. Maksud Umi apaan?” tanyanya.
”Nanti Umi jelaskan, sekarang mandi dulu ya.” Anis membimbing putra kesayangannya turun dari ranjang.
Safiq menggeleng, ”Nggak mau ah, Mi. Dingin!”
”Eh, harus. Kalau nggak, nanti badanmu kotor terus. Ini namanya mandi besar.” terang Anis.
”Mandi besar?” tanya Safiq, lagi-lagi tidak mengerti.
”Ah, iya. Kamu kan belum pernah melakukannya. Ya udah, ayo Umi ajarin.” Anis mengajak Safiq untuk beranjak ke kamar mandi.
Di ruang tengah, dilihatnya mas Iqbal kembali tidur setelah menunaikan sholat subuh. Sudah kebiasaan laki-laki itu, malam melek untuk sholat tahajud, habis subuh tidur lagi sampai waktu sarapan tiba. Dengan bebas Anis membimbing Safiq masuk ke kamar mandi.
“Lepas bajumu,” katanya memerintahkan.
Safiq dengan patuh melakukannya. Ia tidak risih melakukannya karena sudah biasa telanjang di depan ibu angkatnya. Tak berkedip Anis memperhatikan penis Safiq yang kini sudah mengkerut dan kembali ke ukuran semula.
”Pertama-tama, baca Bismillah, lalu niat untuk menghilangkan hadast besar.” kata Anis.
”Emang Safiq baru dapat hadast besar ya?” tanya Safiq pada ibu angkatnya yang cantik itu.
Anis dengan sabar menjawab, ”Iya, kamu tadi mimpi enak kan?” tanyanya.
Safiq mengangguk, ”Iya sih, tapi Safiq sudah lupa ngimpiin apa.”
”Nggak masalah, itu namanya kamu mimpi basah. Itu tanda kedewasaan seorang laki-laki. Dan sehabis dapat mimpi itu, kamu harus mandi besar biar badanmu suci lagi.” sahut Anis.
Safiq mengangguk mengerti. ”Terus, selanjutnya apaan, Mi?”
”Selanjutnya… basuh kemaluanmu seperti ini,” Anis meraih penis Safiq dan mengguyurnya dengan air. Ajaib, bukannya mengkeret karena terkena air dingin, benda itu malah mendongak kaku dan perlahan kaku dan menegang karena usapan tangan Anis.
”Mi, enak…” Safiq merintih.
hijaber hot (6)
Anis jadi serba salah, cepat ia menarik tangannya. ”Eh,”
Tapi Safiq dengan kuat menahan, ”Lagi, Mi… enak,” pintanya.
Melihat pandangan mata yang sayu dan memelas itu, Anis jadi tidak tega untuk menolak. Tapi sebelumnya, ia harus memastikan segalanya aman dulu. Dikuncinya pintu kamar mandi, lalu ia berbisik pada sang putra. ”Jangan berisik, nanti Abimu bangun.” sambil tangan kanannya mulai mengocok pelan batang penis Safiq.
Safiq mengangguk. Yang kurang ajar, untuk meredam teriakannya, ia meminta nen pada Anis. “Plis, Mi. Safiq pengen.”
Menghela nafas -karena merasa dipecundangi- Anis pun memberikan bongkahan payudaranya. Jadilah, di kamar mandi yang sempit itu, ibu serta anak yang seharusnya saling menghormati itu, melakukan hal buruk yang sangat dilarang agama. Safiq menggelayut di tubuh montok ibu angkatnya, sambil mulutnya menyusup ke bulatan payudara Anis. Bibirnya menjilat liar disana. Sementara istri Iqbal, dengan nafas memburu menahan kenikmatan, terus mengocok penis besar sang putra hingga  menyemburkan sperma yang dikandung di dalamnya tak lama kemudian.
Banyak dan kental sekali cairan itu, meski tidak seputih yang pertama, tapi pemandangan itu sudah cukup membuat Anis jadi horny. Wanita itu merasakan celana dalamnya jadi basah. Tapi tentu saja ia tidak mungkin menunjukkannya pada Safiq, bocah itu tidak akan mengerti. Jadi cepat-cepat ia bersihkan semuanya, takut mas Iqbal yang sedang tertidur di ruang tengah tiba-tiba bangun dan memergoki ulah mereka.
Didengarnya Safiq menarik nafas panjang sambil mendesah puas, ”Terima kasih, Mi. Nikmat banget. Badan Safiq jadi enteng.”
Anis mengangguk mengiyakan. ”Sudah, sekarang mandi sana. Ulangi semuanya dari awal.”
Safiq tersenyum, dan dengan bimbingan dari ibu angkatnya yang cantik, iapun melakukan mandi wajib pertamanya.
Sejak saat itu, level ’permainan’ mereka jadi sedikit meningkat. Anis tidak cuma memberikan payudaranya, tapi kini juga harus memuaskan Safiq dengan tangannya. Dan si bocah, tampak senang-senang saja menerimanya. Siapa juga yang bakal menolak kenikmatan seperti itu. Dan sampai saat ini, Anis masih belum juga hamil, padahal ia dan mas Iqbal tidak pernah lelah berusaha. Ah, mungkin memang belum rejekinya. Anis berusaha menerima dengan ikhlas dan lapang dada. Toh kini sudah ada Safiq yang menemani hari-harinya. Dan bagusnya, bocah itu bisa bertindak lebih dari sekedar anak.
Itu dibuktikan Safiq saat mereka berbincang berdua sambil menunggu mas Iqbal yang bekerja lembur. Berdua mereka duduk di sofa ruang tengah, di depan televisi. Mereka mengobrol banyak, mulai dari sekolah Safiq hingga saat-saat intim mereka berdua yang menjadi semakin sering. ”Kamu nggak bosen nenen sama Umi?” tanya Anis sambil membelai rambut Safiq yang lagi-lagi tenggelam ke belahan buah dadanya.
Dengan mulut penuh payudara, Safiq berusaha untuk menjawab, ”Ehm… enggak, Mi. Susu umi enak banget!”
”Saat aku kocok gini, enak juga nggak?” tanya Anis yang tangannya mulai menerobos ke dalam lipatan sarung Safiq.
Safiq melenguh pelan saat merasakan jari-jari Anis melingkupi batang kemaluannya dan mulai mengocok pelan benda coklat panjang itu. ”Hmm, enak, Mi.” sahutnya jujur.
Anis tersenyum, dan melanjutkan aksinya. Terus ia permainkan batang penis sang putra angkat hingga Safiq melenguh kencang tak lama kemudian. Badan kurusnya kejang saat spermanya berhamburan mengotori sarung dan tangan Anis. Mereka terdiam untuk beberapa saat. Anis memperhatikan tangannya yang belepotan sperma, dan selanjutnya mengelapkan ke sarung Safiq. Lalu dipeluknya bocah itu penuh rasa sayang.
”Terima kasih, Mi.” gumam Safiq di sela-sela pelukan mereka.
Anis mengecup pipinya lalu membimbing anak itu untuk pindah ke kamar, sekarang sudah waktunya untuk tidur.  Tapi Safiq tidak langsung beranjak, ia tetap duduk di sofa, sementara Anis sudah berdiri di hadapannya. Safiq menengadah memandangnya dengan tatapan sayu. Dengan nada bergetar, bocah itu berucap, ”Safiq sayang Umi,” sambil mulutnya mendekat untuk mencium kemaluan Anis.
Anis jadi bingung, mau menolak, tapi takut membuat Safiq kaget dan malu. Dibiarkan, ia tahu apa yang diinginkan bocah kecil itu. Belum sempat menjawab, tangan Safiq sudah menyusup ke balik dasternya untuk mengusap paha Anis dari luar. Dan terus makin ke atas hingga menemukan CD yang membungkus pantat bulatnya. Anis sedikit terhentak saat Safiq memegang dan menarik turun kain mungil itu. ”Ah, Safiq! Apa yang kamu lakukan?” teriaknya, tapi tetap membiarkan sang putra angkat menelanjangi dirinya. Ia berpikir, mungkin Safiq hanya akan menciumnya sesaat saja.
Tapi tebakannya itu ternyata salah. Memang Safiq cuma mencium pelan, hanya bagian luar yang dijamah oleh bocah kecil itu. Tapi itu cuma awal-awal saja, karena selanjutnya, saat melihat tidak ada penolakan dari diri Anis, iapun melakukan yang sebenarnya, Safiq mengangkat salah satu kaki Anis ke sandaran sofa hingga kini selangkangan sang ibu angkat terbuka jelas di depan matanya. Diperhatikannya kemaluan Anis yang basah merona kemerahan untuk sesaat, sambil tangannya meremas dan mengelus-elus bongkahan pantat Anis dengan gemas.
hijaber hot (8)
”Ehm,” Anis melenguh, tubuh sintalnya mulai bergetar. Ia yang awalnya ingin menolak, kini malah terdiam mematung. Anis pasrah saja saat bibir kemaluannya mulai disentuh oleh Safiq, dari mulai jilatan yang sopan hingga semakin lama menjadi semakin gencar. Akhirnya Anis malah merapatkan kemaluannya ke bibir Safiq dan tanpa sadar mulai menggoyangkan pinggulnya. Aksinya itu membuat Safiq semakin leluasa menciumi lubang kemaluannya.
”Ough…” Anis merasakan lidah Safiq semakin kuat menari dan menjelajahi seluruh lekuk kemaluannya. Ia merasakan cairan kewanitaannya semakin deras mengalir seiring dengan rangsangan Safiq yang semakin kuat. Entah darimana bocah itu belajar, tapi yang jelas, jilatan dan hisapannya sungguh terasa nikmat. Tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh mas Iqbal membuat Anis merintih kegelian, namun terlihat sangat menyukai dan menikmatinya. Ia elus-elus kepala Safiq yang terjepit diantara pangkal pahanya, hingga akhirnya tubuhnya mengejang dan menekuk kuat tak lama kemudian.
Safiq yang tidak mengetahui kalau Anis akan mencapai puncak, terus menghisap kuat-kuat disana. “Uuhh…” didengarnya sang ibu angkat melenguh sambil menghentak-hentakkan pinggulnya. Dari dalam lubang surga yang tengah ia nikmati, mengalir deras cairan bening yang terasa agak sedikit kecut. Baunya pesing, seperti bau air kencing. Cepat Safiq menarik kepalanya, tapi tak urung, tetap saja beberapa tetes air mani itu membasahi mukanya. Diperhatikannya Anis yang saat itu masih merapatkan kaki dengan tubuh mengejang-ngejang pelan. Selanjutnya, tanpa suara, istri Iqbal itu jatuh lunglai ke atas sofa, menindih badan kurus Safiq ke dalam pelukannya.
Mereka terdiam untuk beberapa saat. Anis berusaha untuk mengatur nafasnya, sementara Safiq dengan polos melingkarkan tangan untuk mengusap-usap bokong bulat Anis yang masih terbuka lebar.
”D-darimana kamu b-belajar seperti i-itu, Fiq?” tanya Anis saat gemuruh di dadanya sedikit mulai tenang.
Safiq memandangnya, ”Dari Umi,” jawabnya polos.
“Jangan ngawur kamu, Umi nggak pernah ngajarin yang seperti itu.” sergah Anis sedikit berang.
“Memang nggak pernah, tapi Umi pernah memintanya.” sahut Safiq.
“Meminta? Maksud kamu…”
Safiq pun berterus terang. Kemarin ia memergoki kedua orang tua angkatnya bercinta di ruang tengah, di sofa dimana mereka tengah berpelukan sekarang. Saat itu Anis meminta agar mas Iqbal mengoral kemaluannya, tapi laki-laki itu menolak dengan alasan jijik dan dilarang oleh ajaran agama. Anis memang kelihatan kecewa, tapi bisa mengerti. Safiq yang terus mengintip jadi menarik kesimpulan; perempuan suka jika kemaluannya dijilat. Dalam hati Safiq berjanji, ia akan melakukannya untuk membalas budi baik Anis yang selama ini sudah merawat dan menyayanginya.
”Kamu sudah salah paham, Fiq,” di luar dugaan, bukannya senang, Anis malah terlihat ketakutan.
”Kenapa, Mi?” tanya Safiq kebingungan.
“Setelah menjilat, kamu pasti akan melakukan hal lain, seperti yang kamu tonton kemarin malam. Benar kan?” tuduh Anis.
Safiq terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Memang sempat terbersit di hati kecilnya untuk melakukan apa yang sudah diperbuat kedua orang tua angkatnya. Sepertinya nikmat sekali. Sebagai seorang remaja yang baru tumbuh, ia jadi penasaran, dan ingin merasakannya juga. Safiq sama sekali tidak mengetahui kalau itu sangat-sangat dilarang dan tidak boleh.
“Ah, ini salah Umi juga.” keluh Anis, pelan ia menarik tubuhnya dan duduk di sisi Safiq. Tangan Safiq yang terulur untuk memegangi bongkahan payudaranya, ditepisnya dengan halus. Safiq jadi terdiam dan menarik diri. Anis merapikan bajunya kembali.
“M-maaf, Mi.” lirih Safiq dengan muka menunduk, sadar kalau sudah melakukan kesalahan besar.
“Tidak apa-apa. Tapi mulai sekarang, jangan nenen sama Umi lagi, kamu sudah besar.” putus Anis sambil bangkit dan beranjak menuju kamar, meninggalkan Safiq sendirian di ruang tengah menyesali kebodohannya.
***Esoknya, Anis menyiapkan sarapan dalam diam. Dia yang biasanya ramah dan ceria, hari ini terlihat seperti menanggung beban berat. Mas Iqbal bukannya tidak mengetahui hal itu, tapi dia mengira Anis cuma lagi PMS saja.  Tapi setelah ditunggu berhari-hari, dan sang istri tercinta tetap cemberut saja, bahkan cenderung keras hati, iapun mulai curiga.

”Ada apa, Nis? Kuperhatikan, kamu berubah akhir-akhir ini. Ceritakanlah, siapa tahu aku bisa membantu.”
Anis menggeleng, ”Ah, nggak, Mas. Tidak ada apa-apa, aku cuma lagi capek aja.”
hijaber hot (9)
”Jangan bekerja terlalu keras. Ingat, kita kan lagi program hamil.” Mas Iqbal mengingatkan.
Anis berusaha untuk tersenyum, ”Iya, Mas.” Dan saat sang suami merangkul lalu mengecup bibirnya untuk diajak menunaikan sunnah rasul, iapun berusaha melayani dengan sepenuh hati. Siapa tahu, dengan begitu ganjalan di relung hatinya bisa cepat sirna.
Tapi harapan tetap tinggal harapan. Bukannya hilang, hatinya malah semakin resah. Apalagi saat melihat Safiq yang mulai menjauhinya. Bukan salah bocah itu juga, Anis juga jarang mengajaknya bicara berdua seperti dulu. Sejak peristiwa di ruang tengah itu, mereka jadi seperti dua orang asing, hanya saat benar-benar perlulah mereka baru bertegur sapa.
Di sisi lain, Anis juga seperti kehilangan sesuatu. Penis Safiq yang besar dan panjang terus menghantui pikirannya, juga jilatan dan hisapan bocah itu di atas gundukan payudaranya, dan yang terutama, kuluman Safiq di lubang vaginanya yang sanggup mengantar Anis meraih orgasmenya. Semua itu ia rindukan, meski dalam hati terus berusaha ia bantah. Tapi tak bisa dipungkiri, pesona Safiq sudah menjerat nafsu birahinya. Kalau dia yang beriman saja merasa seperti ini, bagaimana dengan Safiq yang ingusan? Bocah itu pasti lebih menderita.
Anis mulai meneteskan air mata. Pikirannya kacau, campur aduk antara ingin menolak dan minta ditiduri oleh Safiq. Ada rasa ingin merasakan, tapi juga ada rasa takut akan dosa. Tapi adzan subuh yang berkumandang lekas menyadarkannya, cepat ia menghapus air mata dan mengambil air wudhu. Ia harus tegar. Ini perbuatan maksiat. Sangat salah dan berdosa. Tidak boleh diteruskan. Kalau tidak, akan percuma lantunan tobatnya selama ini.
Tapi benarkah seperti itu?
Semuanya berubah saat Anis menerima surat panggilan dari sekolah keesokan harinya. Safiq memberikannya dengan takut-takut, ”M-maaf, Mi.” gagap bocah kecil itu.
Tidak menjawab, Anis menerimanya dan membacanya di kamar. Siangnya, bersama Safiq, ia pergi ke sekolah.
”Nilai-nilainya turun, Bu. Sangat jelek sekali.” kata ibu kepala sekolah yang gemuk berjilbab.
Anis berusaha untuk tersenyum dan meminta maaf.
”Mungkin ada masalah di rumah?” tanya ibu kepala sekolah. ”Dulu Safiq itu sangat pintar, salah satu yang terpandai di kelas. Tapi sepertinya sekarang lagi mengalami penurunan motivasi.”
”Emm, sepertinya tidak ada.” jawab Anis berbohong, padahal dia sangat tahu sekali apa yang dipikirkan anak angkatnya itu.
”Baiklah, saya harap ibu membantu kami untuk mengembalikan semangat belajarnya. Kalau begini terus, ia bisa tidak naik kelas.” pesan ibu kepala sekolah sebelum mengakhiri pertemuan itu.
hijaber hot (10)
Anis pun mengucapkan terima kasih dan memohon diri. Dilihatnya Safiq yang meringkuk ketakutan di sampingnya. Dipeluknya bocah kecil itu dan berbisik, ”Umi tunggu di rumah, belajar yang rajin ya…”
Safiq mengangguk. Mereka pun berpisah, Anis kembali ke rumah, sementara Safiq meneruskan pelajarannya.
Sorenya, saat pulang dari sekolah, Safiq mendapati ibunya menyambut di ruang tamu. Wanita itu memeluknya dengan erat. ”Maafkan Umi, Fiq. Gara-gara Umi, kamu jadi begini.” kata Anis lirih sambil berlinang air mata.
Belum sempat Safiq berkata, Anis sudah menunduk dan melumat bibirnya dengan lembut. Dicium untuk pertama kali, tentu saja membuat Safiq jadi gelagapan, tapi ia cepat belajar. Saat bibir Anis terus mendecap dan menempel di bibirnya, iapun mengimbangi dengan ganti melahap dan menghisapnya rakus. Dinikmatinya lidah sang bunda yang kini mulai  menjelajah di mulutnya.
”Ehmm… Mi,” Safiq melenguh, sama sekali tak menyangka kalau akan diberi kejutan menyenangkan seperti ini.
”Sst…” Anis kembali membungkam bibirnya. ”Diam, Sayang. Umi ingin menebus kesalahan kepadamu.” Pelan Anis menarik tangan Safiq dan ditempelkan ke arah gundukan payudaranya. ”Kamu kangen ini kan?” tanyanya sambil tersenyum manis.
Dengan polos Safiq mengangguk dan mulai meremas-remas pelan. Jari-jarinya memijit untuk merasakan tekstur bulatan yang sangat menggairahkan itu. Seperti biasa, ia tidak bisa mencakup seluruhnya, payudara itu terlalu besar. Safiq bisa merasakan kalau Anis tidak memakai BH, tubuh sintalnya  cuma dibalut daster hijau muda yang sangat tipis sehingga ia bisa menemukan putingnya dengan cepat.
“Mi,” sambil memanggil nama sang bunda, Safiq meneruskan jelajahannya. Ia tarik tali daster Anis ke bawah hingga baju itu turun ke pinggang, menampakkan buah dada sang bunda yang sungguh besar dan menggiurkan. Safiq memandanginya sebentar sebelum lehernya maju untuk mulai mencucup dan menjilatinya, sambil tangannya terus meremas-remas pelan.
Anis merebahkan diri di sofa, dibiarkannya Safiq menindih tubuhnya dari atas. Bibir bocah itu terus menelusur di sepanjang bukit payudaranya, mulai dari pangkal hingga ujungnya, semuanya dihisap tanpa ada yang terlewat. Beberapa kali Safiq membuat cupangan-cupangan yang membikin Anis merintih kegelian. Terutama di sekujur putingnya yang mulai kaku dan menegang, baik yang kiri maupun yang kanan. Safiq menghisap benda mungil kemerahan itu dengan begitu rakus, ia mencucupnya kuat sekali seolah seluruh payudara Anis ingin dilahap dan ditelannya bulat-bulat. Tapi tentu saja itu tidak mungkin.
“Ehmmm…” merintih keenakan, Anis membimbing salah satu tangan Safiq untuk turun menjamah kemaluannya yang sudah sangat basah. Ia sudah menanti hal ini dari tadi. Sepulang sekolah, Anis berpikir dan merenung, Safiq jadi malas belajar karena perseteruan mereka tempo hari. Maka, untuk meningkatkan kembali semangat bocah kecil itu, inilah yang bisa ia lakukan. Anis akan memberikan tubuhnya!
Jangan dikira mudah melakukannya. Anis sudah menimbang dengan matang, memikirkan segala resikonya, dan tampaknya memang inilah jalan yang terbaik. Selain bagi Safiq, juga bagi dirinya sendiri. Karena tak bisa dipungkiri, Anis menginginkannya juga, hari-harinya juga berat akhir-akhir ini. Pesona kemaluan Safiq yang besar dan panjang terus mengganggu tidur malamnya. Mas Iqbal yang selalu setia menemani di atas ranjang, mulai tidak bisa memuaskannya. Memang penisnya juga besar dan panjang, tapi entahlah, dengan Safiq ia seperti mendapatkan sensasi tersendiri. Sensasi yang membuat gairah dan birahinya berkobar kencang. Sama seperti sekarang.
Bergetar semua rasa tubuh Anis begitu Safiq mulai memainkan jari di lubang vaginanya. bocah itu menggesek-gesek kelentitnya pelan sebelum akhirnya menusukkan jari ke dalam lubangnya yang sempit dan gelap. ”Ough,” Anis merintih nikmat. Di atas, bibir Safiq terus bergantian menjilati puting kiri dan kanannya sambil sesekali menghisap dan menggigitnya rakus.
Anis mendorong kepala bocah kecil itu, meminta Safiq untuk beranjak ke bawah. Safiq yang mengerti apa keinginan sang bunda, segera menurunkan ciumannya. Ia jilati sebentar perut Anis yang masih langsing dan kencang sebelum mulutnya parkir di kewanitaan perempuan yang sudah membiayai hidupnya itu.
”Jilat, Fiq!” Anis meminta sambil membuka kakinya lebar-lebar, memamerkan kemaluannya yang sudah becek memerah pada Safiq.
hijaber hot (11)
Si bocah menelan ludah, memandangi sebentar lubang indah yang terakhir kali dilihatnya sebulan yang lalu itu. Perlahan mulutnya turun saat Anis menarik kepalanya. Safiq menjulurkan lidah dan mulai menciuminya. Ia lumat bibir tipis yang tumbuh berlipat-lipat di tengah permukaannya. Bulu kemaluan Anis yang tercukur rapi juga diciuminya dengan senang hati. Anis merasakan Safiq membuka bibir kemaluannya dengan dua jari. Dan saat terkuak lebar, kembali lorongnya dibuat mainan oleh bocah kecil itu.
Lidah Safiq bergerak liar, juga cepat dan sangat dalam. Namun yang membuat Anis tak tahan adalah saat lidah bocah itu masuk diantara kedua bibir kemaluannya sambil menghisap kuat-kuat kelentitnya. Lama tidak bertemu, rupanya Safiq jadi tambah lihai sekarang. Diam-diam Anis bersyukur dalam hati, rupanya ia tidak salah membuat keputusan. Memang, ia tahu ini dosa -salah satu dosa besar malah- tapi kalau rasanya senikmat ini, ia sama sekali tidak menyesal telah melakukannya.
Safiq terus memainkan kemaluan Anis. Mulutnya menghisap begitu rakus dan kencang, hingga dalam beberapa menit, membuat sang bunda jadi benar-benar tak tahan. ”Auw… arghh!” Mengejang keenakan, Anis pun berteriak sekuat tenaga sambil mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. Kelentitnya yang sedang dijepit oleh Safiq, berkedut kencang saat cairannya menyembur deras membasahi lantai ruang tamu.
”Hah, hah,” terengah-engah, Anis meremas pelan rambut Safiq yang duduk berjongkok di lantai.
”Enak, Mi?” tanya bocah kecil itu dengan polos, matanya menatap sang bunda sebelum beralih memandangi selangkangan Anis yang masih mengucurkan sisa-sisa cairan orgasmenya.
Anis mengangguk, ”Nikmat banget, Sayang.” bisiknya sambil berusaha untuk bangkit.
”Mau kemana, Mi?” tanya Safiq cepat, takut tidak mendapatkan jatahnya.
”Kita pindah ke kamar, disini terlalu berbahaya, nanti dipergoki sama tetangga.” sahut Anis. Ditariknya tangan sang putra untuk masuk ke dalam rumah. Beriringan mereka menuju kamar.
”Kamarmu,” kata Anis saat melihat Safiq ingin berbelok ke kiri. Safiq segera memutar langkahnya, kamar mereka memang berseberangan.
Di dalam, tanpa menunggu lama, Safiq segera menelanjangi diri. Begitu juga dengan Anis. Dengan tubuh sama-sama telanjang, mereka naik ke atas tempat tidur. ”Kamu pengen nenen?” tanya Anis sambil mendekap kepala Safiq dan lekas ditaruhnya ke atas gundukan payudaranya.
Tanpa menjawab, Safiq segera mencucup dan menciumi dua benda bulat padat itu. Dihisapnya puting Anis dengan begitu rakus sambil tangannya bergerak meremas-remas pelan. Di bawah, penisnya yang sudah ngaceng berat terasa menyundul-nyundul lubang kelamin Anis.
”Fiq, ayo masukkan!” pinta perempuan cantik itu. Ia membuka pahanya lebar-lebar sehingga terasa ujung penis Safiq mulai memasuki lubangnya.
”Gimana, Mi, didorong gini?” tanya Safiq polos sambil berusaha menusukkan penisnya.
”Yah, begitu… oughhh!” Anis melenguh, penis Safiq terasa membentur keras, tapi tidak mau masuk. Dengan pengalamannya, Anis bisa mengetahui penyebabnya. Maka dengan cepat ia bangkit berdiri dan meraih penis Safiq, lalu dimasukkan ke dalam mulutnya.
“Ahh, Mi!” Safiq menjerit, sama sekali tak menyangka kalau sang bunda akan berbuat seperti itu. Dan asyiknya lagi, rasanya ternyata begitu nikmat, lebih nikmat daripada dikocok pake tangan. Safiq mulai mengerang-erang dibuatnya, tubuhnya kelojotan, dan saat Anis menghisap semakin kuat, iapun tak tahan lagi. Penisnya meledak menumpahkan segala isinya yang tertahan selama ini. Begitu banyak dan kental sekali.
”Ahh,” Anis yang sama sekali tidak menyangka kalau Safiq akan keluar secepat itu, jadi sangat kaget. Beberapa sperma si bocah sempat tertelan di mulutnya, sisanya yang sempat ia tampung, lekas ia ludahkan ke lantai.
“M-maaf, Mi.” kata Safiq dengan muka memerah menahan nikmat, lelehan sperma tampak masih menetes dari ujung penisnya yang mengental.
Anis tersenyum penuh pengertian, “Tidak apa-apa. Bukan salahmu, sebulan tidak dikeluarkan pasti bikin kamu nggak tahan.”
Penuh kelegaan, Safiq menyambut sang bunda yang kini berbaring di sebelahnya. Mereka saling berpelukan dan berciuman. Tapi dasar nafsu remaja, begitu payudara Anis yang besar menghimpit perutnya, sementara paha mereka yang terbuka saling bergesekan, dengan cepat penis Safiq mengencang kembali.
“Eh, udah tegang lagi tuh.” kata Anis gembira sambil menunjuk penis Safiq yang perlahan menggeliat bangun.
“Iya, Mi.” Safiq ikut tersenyum.
Anis mengocoknya sebentar agar benda itu makin cepat kaku dan menegang. Saat sudah kembali ke ukuran maksimal, ia lekas mempersiapkan diri. Rasanya sudah tidak sabar lubang vaginanya yang gatal dimasuki oleh kemaluan muda itu. Anis memejamkan mata saat Safiq mulai mendekap sambil terus menciumi bibirnya, ia merasakan bibir kemaluannya mulai tersentuh ujung penis si bocah kecil.
”Tunggu dulu,” Anis menjulurkan tangan, sebentar ia usap-usapkan ujung penis Safiq ke bibir kemaluannya agar sama-sama basah, barulah setelah itu ia berbisik, ”Sudah, Fiq, masukkan sekarang!” Anis memberi jalan.
hijaber hot (12)
Safiq mulai mendorong. Pelan Anis mulai merasakan bibir kemaluannya terdesak menyamping. Sungguh luar biasa benda itu. Ohh, Anis benar-benar merasakan kemaluannya nikmat dan penuh sesak. Safiq terus mendorong, sementara Anis menahan nafas, menunggu pertautan alat kelamin mereka tuntas dan selesai sepenuhnya.
”Ahh,” Anis mendesah tertahan saat penis Safiq terus meluncur masuk, membelah bibir kemaluannya hingga menjadi dua, memenuhi lorongnya yang sempit hingga ke relungnya yang terdalam, sampai akhirnya mentok di mulut rahimnya yang memanas.
Mereka terdiam untuk sejenak, saling menikmati rangsangan kemaluan mereka yang kini sudah bertaut sempurna, begitu erat dan intim. Rasanya sungguh luar biasa. Safiq bergidik sebentar saat merasakan Anis yang mengedutkan-ngedutkan dinding rahimnya, memijit batang penisnya dengan remasan pelan. Safiq membalas dengan kembali mencium bibir dan payudara sang bunda, sambil tangannya tak henti-henti meremas-remas bulatannya yang padat menggoda.
Beberapa detik berlalu. Saat Anis sudah merasa cukup, iapun meminta Safiq untuk mulai menggerakkan pinggulnya. ”Pelan-pelan aja, nggak usah buru-buru. Kita nikmati saat-saat ini. Abi-mu masih lama pulangnya, dia lembur malam ini.” kata Anis.
Mengangguk mengerti, Safiq pun mulai memompa pinggulnya. Gerakannya begitu halus dan pelan, meski terlihat agak sedikit kaku. Maklum, masih pengalaman pertama. Tapi itu saja sudah sanggup membuat Safiq merintih keenakan, ia benar-benar cepat terbawa ke puncak kenikmatan yang belum pernah ia alami sebelumnya. Nafasnya sudah memburu, terengah-engah. Sementara tubuhnya mulai bergetar pelan.
Anis yang melihatnya jadi panik. ”Tahan dulu, Fiq. Tahan sebentar!” bisiknya, ia tidak mau permainan ini berhenti begitu cepat. Ia baru mulai merasa nikmat.
Tapi apa mau dikata, jepitan kemaluan Anis terlalu nikmat bagi seorang perjaka seperti Safiq. Diusahakan seperti apapun, bocah itu sudah tak mampu lagi. Maka hanya dalam waktu singkat, Safiq pun menjerit dan kembali menumpahkan spermanya. Kali ini di dalam kemaluan Anis. Cairannya yang kental berhamburan saat Safiq ambruk menindih tubuh bugil sang bunda dengan nafas ngos-ngosan.
”Ah, Safiq!” meski terlihat kecewa, namun Anis berusaha untuk memakluminya. Ia belai punggung Safiq dengan lembut. Penis bocah itu yang masih menancap di lorong vaginanya, masih terasa berkedut-kedut, menguras segala isinya. Anis merasakan liangnya jadi begitu basah dan penuh.
Mereka terus berpelukan untuk beberapa saat hingga tiba-tiba Anis menjerit kaget, ”Ah, Fiq!” tubuh montoknya sedikit terlonjak saat merasakan penis Safiq yang tiba-tiba saja kaku dan menegang kembali. ”Cepet banget!” pujinya gembira. Diciumnya bibir bocah itu sebagai hadiah.
Safiq cuma tersenyum dan kembali memperbaiki posisi. Ia sudah siap untuk beraksi. Sambil melumat bibir dan leher Anis, ia mulai menggerakkan pinggulnya. Remasan tangannya di payudara sang bunda juga kembali gencar, secepat tusukannya yang kini sudah mulai lancar dan tahan lama.
”Ahhh… terus, Fiq. Yah, begitu!” Anis yang menerimanya, merintih dan menggeliat-geliat tak terkendali. Tubuh montoknya menggelepar hebat seiring goyangan Safiq yang semakin kuat. Dengan tusukannya yang tajam, bocah itu membuat vagina Anis menegang dan berdenyut pelan, benar-benar puncak kenikmatan yang belum pernah ia alami selama enam tahun pernikahannya dengan mas Iqbal. Ohh, sungguh luar biasa. Anis jadi tak ingat apa-apa lagi selain kepuasan dan kenikmatan. Dosa dan neraka sudah lama hilang dari pikirannya. Hati dan kesadarannya sudah tertutup oleh nafsu birahi.
“Fiq, ooh… oohh… terus… arghhh…” Anis sendiri terkejut oleh teriakannya yang sangat kuat. Pelan tubuhnya bergetar saat cairan kenikmatannya menyembur keluar.
Safiq yang juga kesetanan terus memompakan kemaluannya berulang kali, dan tak lama kemudian ikut menggelepar. Wajahnya yang tampan menengadah, sementara kedua tangannya mencengkeram dan menekan payudara Anis kuat-kuat. Di bawah, spermanya yang kental kembali meledak di dalam vagina sang bunda, memancar berulang kali, hingga membuat rahim Anis jadi begitu basah dan hangat.
”Oh,” Anis melenguh merasakan banyak sekali cairan kental yang memenuhi liang vaginanya.
Setelah selesai, Safiq memiringkan tubuh sehingga tautan alat kelamin mereka tertarik dan terlepas dengan sendirinya. Tangannya kembali meremas lembut payudara Anis sambil bibirnya menciumi wajah wanita yang sangat dikasihinya ini. Anis senang dengan perlakuan Safiq terhadap dirinya.
“Fiq, kamu sungguh luar biasa.” puji Anis kepada putra angkatnya. ”Cepet banget tegangnya, padahal barusan keluar.”
Safiq tersenyum, ”Trims, Umi. Safiq senang bisa membuat Umi bahagia.”
”Tapi kamu juga nikmat kan?” goda Anis.
”Tentu saja, Mi.” Safiq mengangguk.
“Mau lagi?” tawar Anis.
”Umi nggak capek?” Safiq bertanya balik.
”Seharusnya umi yang tanya begitu,” sahut Anis, dan mereka tertawa berbarengan.
***Sejak saat itu, hubungan mereka pun berubah. Bukan lagi seorang ibu dan anak, tetapi berganti menjadi sepasang kekasih yang selalu berusaha untuk memuaskan nafsu masing-masing. Kapanpun dan dimanapun.

Prestasi Safiq kembali meningkat, bahkan lebih dari sebelumnya. Sementara Anis, mendapat hikmah yang paling besar. Ia kini hamil, sudah jalan 2 minggu. Sudah jelas itu anak siapa, tapi sepertinya mas Iqbal tidak curiga. Malah laki-laki itu kelihatan sangat senang dan gembira, sama sekali tidak curiga saat Anis kelepasan ngomong, ”Selamat, Fiq, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah,”

MURTI 6

Setelah ngebut menembus hujan lebat selama dua jam, Gatot sampai di jalanan tanah menuju desa Cemorosewu. Ia berhenti dan turun dari motor, menuntun motor itu menuju semak-semak, menutupinya dengan tanah lempung dan daun-daun, lalu meninggalkannya disana. Langit yang menghitam berwarna sama dengan bayangan tubuhnya yang serba hitam, berkelebat cepat di sepanjang tepian desa Cemorosewu, dalam sepi sunyi yang teramat senyap.

Dalam sekejap ia sudah berdiri di depan sebuah rumah. Mata elangnya menatap nyalang mengamati rumah itu dari atas pohon mangga. Ia lalu melompat ringan dan hinggap di genteng rumah. Seluruh panca indranya bekerja dan senyumnya mengembang dari balik topeng hitam. Dengan penuh tenaga, ia jejakkan kaki menjebol genteng dan dalam hitungan detik ia sudah berada di dalam sebuah kamar.

Gerakannya teramat sangat cepat menghunus golok dan mengayunkan ke arah sesosok tubuh yang masih berbaring. Tidak ada teriakan dan sosok itupun mati seketika. Setelah itu ia menyelinap dalam gelap dan berkelebat cepat hingga sampai di tempat ia menyembunyikan motor. Kemudian ia pergi bagai hantu.

***

Di pagi yang masih diselimuti mendung, desa Cemorosewu geger. Kentongan berbunyi bertalu-talu memanggil penduduk untuk berduyun-duyun mendatangi rumah kepala desa. Pengumuman disebarluaskan melalui mulut ke mulut, dari surau ke surau, dari satu dusun ke dusun yang lain. Bendera hitam berkibar di sepanjang jalan menuju desa.

“TELAH TUTUP USIA BAPAK ASNAWI, PEMIMPIN DAN SESEPUH DESA CEMOROSEWU.”

Begitulah inti dari kegegeran itu. Dalam sekejap rumah kepala desa dipenuhi ratusan orang. Di jalan-jalan masyarakat ramai membicarakan penyebab tewasnya bapak kepala desa. Ada yang bilang kepala desa mati dibacok. Yang lain berkata kepala desa dibunuh selingkuhan istrinya. Banyak juga yang yakin kepala desa mereka korban balas dendam. Semuanya masih simpang siur.

Murti terbangun dari tidurnya oleh dering handphone. Semalaman ia tidur sendiri karena Pak Camat, suaminya, belum pulang. Ia sangat malas untuk bangun. Tapi dering handphone tak kunjung berhenti, memaksanya menyingkirkan selimut dan sempoyongan mendekati meja rias, meraih HP untuk mencari tahu siapa yang berani mengusik tidurnya di pagi buta begini.

“Assalamu’alaikum,” jawab Murti.

“Wa’alaikum salam… selamat pagi, Bu. Saya cuma mau menyampaikan kabar kalau pagi ini Madrasah diliburkan. Ayahnya Bu Aisyah meninggal.” kata suara di seberang.

“Pak Asnawi meninggal? Kapan terjadinya, Bu Minah?” tanya Murti pada rekannya sesama guru yang menelepon.

“Tadi malam. Kalau Bu Murti mau ikut melayat, bisa ikut rombongan guru-guru.” kata Bu Minah.

“Baiklah, Bu Minah. Biar saya berangkat sendiri saja. Terima kasih informasinya, Bu.” kata Murti.

Murti tidak bisa tidur lagi. Kabar yang disampaikan oleh Bu Minah membuatnya terkejut. Tidak ada angin, tiba-tiba ada kabar buruk bahwa Pak Asnawi, salah satu pendiri Madrasah, ayah kandung dari Aisyah, kepala desa Cemorosewu, meninggal dunia. Ia pun segera keluar kamar dan menuju halaman belakang. Terlihat olehnya Gatot sedang mengambil air.

“Tot, cepat mandi. Antar aku ke rumah Aisyah.” kata Murti.

“Di mana itu, Mur?” tanya Gatot.

“Cemorosewu. Kutunggu di rumah ya,” tanpa menunggu jawaban, Murti berbalik masuk ke dalam rumah.

Wajah Gatot langsung berubah begitu mendengar kata Cemorosewu. Entah kenapa hatinya berdebar-debar tak nyaman. Tapi perintah Murti harus dilaksanakan karena Murti adalah istri majikannya, yakni Pak Camat. Menolak perintah Murti sama saja dengan menolak perintah Pak Camat. Maka Gatot pun tidak meneruskan pekerjaannya mengambil air. Ia langsung masuk dan tidak sampai sepuluh menit sudah berada di ruang tamu rumah Pak Camat. Gatot heran karena suasana rumah Pak Camat masih sangat sepi, padahal ini masih teramat pagi. Lagipula tidak mungkin Pak Camat pergi ke kantor tanpa bersamanya.

“Pak Camat sudah berangkat ya, Mur?” tanya Gatot sambil memandangi Murti yang baru keluar dari kamar mandi.

“Suamiku malah belum pulang sejak kemarin. Entah dimana dia,” kata Murti.

Gatot pun manggut-manggut sambil matanya nyalang memandangi tubuh Murti yang masih belum berpakaian lengkap, belum memasang kerudung, bahkan belum juga mengenakan pelindung. Tubuh yang masih setengah basah itu tampak begitu indah, memancing penuh hasrat gairahnya. Tapi Gatot lekas berpaling dari hadapan Murti, sekarang bukan waktu yang tepat untuk melakukannya. Ia kembali memikirkan Pak Camat yang menurut Murti belum pulang sejak kemarin.

’Berarti Pak Camat masih ada di sana,’ pikir Gatot dalam hati. Ia sangat tahu persis dimana Pak Camat berada saat ini, tapi ia tidak mau memberitahukannya pada Murti. Semua ini ia lakukan demi sebuah janji.

Gatot cuma menyayangkan kenapa Murti harus menikahi pria semacam Pak Camat, yang kurang lebih sama bejatnya dengan dirinya sendiri. Pak Camat lebih suka bersenang-senang dengan daun muda, meninggalkan istrinya yang cantik merana seorang diri. Istri yang kemarin ia gauli dengan sepenuh hati.

“Ayo berangkat, Tot!” seru Murti mengagetkan lamunan Gatot.

“B-baik.” Gatot berpaling cepat. ”Betulkan kerah bajumu dulu, Mur.” tambahnya saat melihat kerah baju Murti yang sedikit terbuka, menampakkan belahan buah dadanya yang ranum dan indah.

Murti mesem, tapi tetap membiarkan kerah bajunya melonggar. Ia juga tidak memakai kerudung yang sengaja ia simpan di dalam tas kecil. Murti merasa aman di dalam mobil yang baru sebulan dibeli Pak Camat. Kacanya gelap, inilah mobil pribadi yang dibeli Pak Camat khusus untuknya. Selama ini mobil baru itu nongkrong di garasi karena Pak Camat lebih suka mobil dinas, sementara ia sendiri belum bisa nyetir.

“Sebaiknya kamu turuti suamimu, Mur. Sayang kan kalau mobil sebagus ini cuma diam saja di garasi.” kata Gatot saat mereka mulai meninggalkan rumah Pak Camat.

“Kamu serius mau ngajari aku nyetir?” tanya Murti.

“Tentu. Apalagi Pak Camat sudah memberi ijin.” sahut Gatot.

“Aku tidak mau,” sergah Murti.

“Kenapa? ’Kan malah enak. Kemana-mana kamu bisa pergi sendiri.” kata Gatot.

“Aku tidak suka pergi sendiri.” sahut Murti.

Gatot menghela nafas. Ia pun berusaha untuk mengganti topik pembicaraan, “Ada keperluan apa kamu minta diantar ke Cemorosewu?” tanyanya.

“Nanti kamu juga tahu sendiri,” jawab Murti, masih sedikit ketus.

Gatot diam tidak bertanya-tanya lagi. Murti memang seperti tidak ingin diganggu saat ini. Mungkin karena ketidakpulangan Pak Camat malam tadi. Jadilah dua insan itu terdiam dalam sepi. Larut dalam irama hati masing-masing. Murti lalu rebah, menyandarkan kepalanya ke dada Gatot, sementara tangannya menyusup ke balik kemeja Gatot dan mengusap bulu-bulu dada pria kekar itu.

“Aku sangat menyesali diriku, Tot.” bisik Murti lirih.

Gatot menghela napas dan mengurangi kecepatan mobil untuk mengimbangi konsentrasinya yang mulai terpecah. “Apa yang membuatmu menyesal?” tanyanya sambil membelai rambut panjang Murti dengan tangan kiri.

“Aku menyesal kenapa harus menikah dengan Mas Joko.” kata Murti lirih.

“Itulah jodohmu, Mur. Pak Camat sangat mencintaimu dan aku yakin kamu juga cinta dia.” balas Gatot.

“Salah. Aku tidak mencintai Mas Joko, Tot. Aku menikah dengannya demi menyenangkan hati ayahku. Abah yang memilih jodoh untukku, Tot.” terang Murti.

“Semua orangtua ingin yang terbaik buat anaknya, Mur. Pun demikian dengan ayahmu. Nyatanya Pak Camat memang baik.” kata Gatot.

“Tapi aku tidak mencintainya,” Murti bersikeras.

“Cinta sudah tidak penting buat orang seusia kita, Mur. Apalagi kamu sudah bertahun-tahun berumah tangga.” Gatot mencoba bersikap bijak.

“Tapi cintaku hanya buat satu orang saja, Tot.” tukas Murti.

“Siapa itu?” tanya Gatot, meski dalam hati ia takut dengan jawabannya.

“Belum saatnya kamu tahu. Yang jelas, orang itu membuatku ingin mengakhiri saja kehidupan rumah tanggaku.” jelas Murti.

“Janganlah terbawa perasaan, Mur. Belum tentu setelah cerai nanti kehidupanmu jadi lebih baik.” kata Gatot.

“Jadi kamu mendoakan aku sengsara seumur hidup?” sengit Murti.

“Aku hanya mengatakan hal-hal yang pernah kualami, Mur. Aku adalah potret dari manusia yang gagal dalam perkawinan.” kata Gatot.

”Aku tidak peduli,” Murti mencubit perut Gatot dan tersenyum ketika merasakan sesuatu yang kaku tersentuh oleh ujung jemarinya. Wajahnya bersemu merah, semerah bibir yang basah dan merekah bagai mawar itu, menanti hisapan sang kumbang. ”Ahh,” Murti mendesah, melenguh ketika merasakan tangan Gatot yang semakin turun dan terus turun, lalu hinggap di atas gundukan payudaranya.

Tapi sayang sekali, disaat sang kumbang akan menghisap sisa madu yang tentu masih terasa manis itu, gerbang desa Cemorosewu sudah siap menyambut. Terpaksa acara intim mereka harus diakhiri sampai disitu. Murti segera memperbaiki posisi duduknya, ia juga lekas memasang kerudung hitam dan membenahi kancing baju muslimnya yang tadi sempat sedikit terbuka, dan menyapu wajahnya dengan make up tipis. Dengan cepat ia telah menjelma kembali menjadi ibu guru Madrasah yang cantik dan alim.

“Kamu tahu arti umbul-umbul hitam itu, Tot?” tanya Murti pada Gatot.

“Hitam identik dengan duka dan kematian. Benar kan?” tebak Gatot.

“Benar. Hari ini desa Cemorosewu berkabung. Pak Asnawi, kepala desa ini meninggal semalam.” kata Murti.

“Kamu mau melayat?” tanya Gatot.

“Iya. Untuk menghormati Aisyah, Tot. Dia pasti sangat terpukul oleh kematian ayahnya.” sahut Murti.

Gatot merasakan ulu hatinya bagai ditusuk ribuan jarum. Jantungnya serasa berhenti berdetak mendengar perkataan Murti. Mulutnya terkunci dan wajahnya berubah pias. Ia ingin bicara tapi tak bisa. Ocehan Murti sudah tidak didengarnya sama sekali. Ia lebih sibuk mendengarkan kata hatinya sendiri.

“Kita sudah sampai, Tot. Ayo ikut ke dalam.” ajak Murti.

Gatot melangkah ragu memasuki rumah duka. Semakin masuk ke dalam rumah, hati dan perasaannya semakin gundah dan gelisah. Terlebih setelah ia dan Murti sampai di kamar tempat sesosok tubuh terbujur kaku, dibungkus kain jarik dan dikelilingi beberapa orang. Tubuh pak kepala desa. Gatot tak menyangka sama sekali. Terlebih ketika seorang wanita menoleh, wanita yang seketika menyiksa batinnya. Wanita itu adalah Aisyah, wanita jelita yang kini bersimbah airmata.

“Assalamu’alaikum, Aisyah.” kata Murti.

“Wa’alaikum salam, Bu Murti, silahkan duduk. Silahkan, Mas.” kata Aisyah pada Gatot.

“Terima kasih. Biar saya di luar saja.” jawab Gatot. Ia menyampaikan beberapa patah kata sebagai tanda bela sungkawa lalu melangkah keluar, menuju kerumunan polisi yang masih berjaga-jaga di sekitar rumah kepala desa. Begitu ia muncul, para polisi langsung mengajaknya ngobrol. Maklum sebagian besar polisi telah mengenalnya. Ia juga sudah dikenal karena seringnya mendatangi kantor polisi.

“Selamat pagi, Pak.” sapa Gatot.

“Selamat pagi, Tot. Kamu melayat?” tanya salah seorang polisi.

“Iya, Pak. Saya ngantar Bu Murti, istrinya Pak Camat.” Gatot terdiam sejenak sambil memperhatikan sekitar rumah. “Kok banyak anggota bapak disini?” tanyanya kemudian.

“Kami sedang melakukan olah TKP. Ini kan pembunuhan.” kata polisi itu.

“Pembunuhan?” Gatot pura-pura tidak tahu.

“Benar. Semalam kepala desa dibacok orang. Kepalanya hampir putus.” jawab sang polisi.

“Sudah dapat pelakunya, Pak?” tanya Gatot.

“Sampai saat ini belum. Kami masih menanyai beberapa saksi dan berusaha mencari barang bukti.”

“Kan biasanya ada petunjuk, Pak?” kata Gatot.

“Pembunuh yang ini mahir, Tot.” jawab si anggota polisi. ”Dia tidak meninggalkan jejak sama sekali. Hujan deras semalam juga menyulitkan kami.” terangnya.

“Semoga cepat terungkap, Pak.” sahut Gatot.

Polisi itu mengangguk. “Oh ya, Tot. Ada kabar kalau ayahmu mendapat pengampunan. Dia cuma dihukum seumur hidup.” kata polisi itu.

“Apapun yang terjadi pada ayah saya, biar saja. Bapak sudah tahu keputusan saya.” jawab Gatot.

“Bapak mengerti.” Polisi itu mengangguk. “Tuh, Bu Murti manggil kamu,” dia menunjuk ke arah rumah Aisyah.

Gatot menoleh dan tersenyum, “Baik, Pak. Saya permisi dulu.”

Ia meninggalkan sang komandan polisi dan menghampiri Murti. Kini Gatot telah berada kembali di hadapan Aisyah, yang tengah menatapnya dengan sorot mata sayu. Ia tidak berani berlama-lama menantang sorot mata itu. “Jam berapa pemakamannya?” tanyanya pada Aisyah.

“Sepuluh menit lagi, Mas. Saya harap Mas Gatot ikut mendoakan ayah saya.” sahut Aisyah.

“Saya akan berdoa, Aisyah. Semoga kamu tabah.” jawab Gatot.

“Saya menerima ini dengan ikhlas, Mas. Semoga pembunuh ayah saya mendapat rahmat dari Allah untuk kembali ke jalan yang benar. Semoga dia juga ikhlas menyerahkan diri.” kata Aisyah lirih, air mata kembali bergulir di matanya yang lentik.

“Allah mendengar doa orang-orang yang ikhlas, Aisyah.” timpal Gatot dengan hati tercabik-cabik.

“Terima kasih, Mas. Pemakaman sudah siap. Saya mohon Bu Murti dan Mas Gatot mau mendampingi saya.” pinta Aisyah.

Permohonan itu membuat Gatot semakin resah dan gelisah. Terlebih saat jemari halus gadis itu menggandengnya menuju pemakaman umum yang cuma beberapa langkah saja dari rumah duka. Ia sungguh tak mampu berkata-kata. Gatot kini berada di sisi sebelah kanan Aisyah, sementara Murti ada di sebelah kiri. Ia tak kuasa menolak cengkeraman jemari yang semakin kuat menggenggam lengannya, ikut merasakan isak tangis yang tak tertahan saat jenasah diturunkan ke liang lahat dan tanah-tanah mulai menimbun.

Belum selesai makam ditimbun, sosok mungil Aisyah limbung, tepat di rengkuhan Gatot. Aisyah pingsan dan wajah ayunya pucat kelelahan. Gatot dengan dibantu beberapa orang segera membopong Aisyah dan membawanya kembali ke dalam rumah.

“Tolong dijaga ya, Mas.” kata seorang warga memintanya menjaga Aisyah.

“Baik, Pak.” angguk Gatot.

Kini ia berada berdua saja dengan Aisyah, gadis berhati mulia yang tiba-tiba mengingatkannya pada sang ibunda. Ia melihat sosok Aisyah yang terbujur sama seperti ia melihat sosok ibunya saat tidur. Sangat damai. Membuat matanya jadi terasa panas, menahan airmata agar tidak jatuh. Tapi usahanya gagal dan setitik airmatanya jatuh ke wajah Aisyah, tepat di saat gadis itu perlahan membuka mata.

“Abaaah,” lirih suara Aisyah, terucap dengan getar yang menghantam seluruh sendi tubuh Gatot. Laki-laki itu terpaku, diam membatu menatap Aisyah tanpa menyadari ia telah menggenggam jemari Aisyah dengan sangat kuat.

“Saya bisa merasakan kesedihanmu, Aisyah.” bisik Gatot tulus.

“Saya tidak sedih dengan kematian abah, Mas. Tapi sedih dengan dosa pembunuh abah.” sahut Aisyah.

“Tuhan akan membalas setiap perbuatan umatnya.” balas Gatot.

“Semoga dosa orang itu terampuni, Mas. Aisyah ikhlas lahir dan batin.” kata Aisyah.

“Keikhlasanmu akan mendapat ganjaran berlipat-lipat, Aisyah. Maafkan saya,” Gatot melepaskan cengkeramannya. Ia meninggalkan Aisyah dan pergi ke mobil.

Sambil menunggu Murti, Gatot tercenung sendiri, merenungi betapa kejahatan yang telah ia lakukan semalam telah membuat begitu banyak orang berduka, membuat beberapa hati terluka. Ia sungguh tidak tahu siapa sebenarnya orang yang semalam mati di ujung golok mautnya. Yang ia tahu tentang kepala desa Cemorosewu adalah bahwa lelaki itu adalah salah satu begundal bejat yang mencabut nyawa ibunya. Ia sama sekali tidak tahu tentang Pak Asnawi yang kata orang-orang adalah sosok dermawan, berjiwa sosial, ulama terkenal, pendiri madrasah tempat Murti mengajar.

Yang paling menyakitkan dan menyiksa batinnya ialah kenyataan bahwa kepala desa Cemorosewu tak lain dan tak bukan adalah ayah kandung Aisyah. Berarti lantunan ayat-ayat suci yang ia dengar semalam adalah suara Aisyah, sosok manusia bermukena yang sempat ia intai adalah gadis mulia berwajah jelita itu. Sekarang gadis itu dirundung duka akibat perbuatan jahat yang ia lakukan. Untung semalam ia tidak meneruskan niat menghabisi seluruh keluarga kepala desa. Untung Aisyah terlalu khusyuk mengaji sehingga tidak mendengar tragedi semalam. Untung ia urung untuk menelanjangi sosok bermukena itu. Lebih untung lagi, Aisyah sama sekali tidak tahu bahwa pembunuh itu adalah dirinya. Pun demikian dengan polisi yang tidak curiga padanya.

Gatot menyandarkan kepala ke jok mobil, memejamkan mata untuk beberapa saat hingga ia merasa seseorang mencubit pahanya. Ia membuka mata dan melihat Murti sudah ada disana. “Ayo kembali ke kota, Tot.” kata perempuan cantik itu.

Mereka pun meninggalkan desa Cemorosewu dengan diiringi lambaian umbul umbul hitam yang tertiup angin. Warna hitam yang membuat seluruh jiwa jadi muram. Gatot dan Murti sama-sama diam. Hanya desah napas dan detak jantung mereka saja yang terdengar. Cuaca siang ikut murung dan berduka. Langit diselimuti mendung dan titik-titik kecil air mulai menetes di kaca mobil. Gerimis yang membuat hati menjadi miris.

Tiba di rumah, Murti mendapati Pak Camat masih belum pulang. Di HP-nya ada sms, Pak Camat masih ada acara di tempat lain. Murti mendesah kecewa, sekaligus lega. Ia segera turun dari mobil dan berbisik pada Gatot, ”Kalau sudah selesai masukin mobil, pergi ke kamarku ya… ada yang ingin aku bicarakan.”

”Iya, Mur.” sahut Gatot tanpa membantah.

Sementara Gatot sibuk di dalam garasi, Murti segera mengganti pakaiannya. Ia sengaja mencopot BH-nya untuk merangsang Gatot. Di balik daster tipis yang sekarang ia kenakan, bentuk payudaranya yang bulat besar terlihat jelas, terlebih lagi puting susunya yang menyembul indah. Murti yakin, Gatot pasti suka dan terangsang dibuatnya.

Masuk ke dalam kamar, mata Gatot nyaris copot karena melotot melihat tubuh molek Murti yang sekarang tersaji utuh di depan hidungnya. Istri Pak Camat itu membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas, tidak seperti biasanya yang selalu tertutup jilbab lebar saat ia tampil di muka murid-muridnya. Di dada Murti, tampak tonjolan payudaranya menggunung sangat indah, membuat Gatot sejenak lupa bernafas dan memejamkan mata.

”Kenapa, Tot? Ayo duduk dulu,” Murti mempersilakannya sambil tersenyum manis.

Muka Gatot langsung memerah karena nafsu, bayangan wajah cantik Aisyah segera lenyap dari pikirannya, tergantikan oleh tubuh telanjang Murti yang sudah beberapa kali ia nikmati. Dan sekarang, sepertinya ia juga akan mendapatkannya lagi, terlihat dari senyum Murti yang merekah semakin lebar saat pandangan Gatot terarah tajam ke buah dadanya.

”Tot, kamu mau nolong aku?” Murti merapatkan tubuh ke arah Gatot yang masih berdiri mematung di depan pintu.

”N-nolong apa, Mur?” tubuh Gatot bergetar ketika tangan teman masa kecilnya itu merangkul dirinya, sementara tangan Murti yang lain mengusap-usap daerah ‘vital’ nya.

”Tolong temani aku, Tot… aku takut tidur sendiri.” bisik Murti manja.

Muka Gatot makin memerah mendengar perkataan itu. ”T-tapi, Mur… nanti dipergoki sama Pak Camat.” tukasnya ragu.

”Mas Joko masih lama pulangnya,” Murti menunjukkan sms dari Pak Camat pada Gatot. ”Kita punya banyak waktu,” bisiknya. Dan tanpa menunggu jawaban dari Gatot, Murti segera menarik tangan laki-laki itu dan membimbingnya agar duduk di atas tempat tidur. Murti yang agresif karena haus akan sentuhan laki-laki, kemudian duduk di pangkuan Gatot. Tanpa bisa dicegah, bibir keduanya pun langsung saling bertemu dan berpagutan erat.

”Ehm, Mur…” lenguh Gatot saat merasakan puting susu Murti yang sudah mengeras menggesek ringan di permukaan perutnya, sementara lidah perempuan cantik itu terus menjelajahi mulutnya, mencari lidahnya untuk diajak saling melilit bagai ular.

Setelah puas, Murti kemudian berdiri di depan Gatot yang masih melongo karena tidak menyangka akan diserang seganas itu. Satu demi satu Murti mencopoti pakaiannya hingga tubuhnya yang mulus sempurna jadi polos seperti bayi yang baru lahir. Tersenyum manja, Murti seakan menantang Gatot agar segera menghangatkan tubuhnya yang selama ini jarang disentuh oleh Pak Camat.

”Lepaskan pakaianmu, Tot.” Murti berkata sambil merebahkan dirinya di atas ranjang. Rambut panjangnya tergerai bagai sutera ditindih oleh tubuhnya yang sangat sintal menggoda.

”Ayo cepat, Tot!” Murti  mendesah tak sabar saat melihat Gatot masih terdiam kagum memandangi tubuhnya..

”Ah, i-iya.” terkaget-kaget, Gatot lekas ikut menelanjangi diri. Dengan penis mendongak kuat ke depan, ia kemudian duduk berlutut di samping Murti. Pelan Gatot meletakkan tangannya di atas dada Murti yang bergerak naik turun seirama dengan tarikan nafasnya, lalu mulai meremas-remasnya lembut sambil tak lupa memijit dan memilin-milin putingnya yang montok kemerahan.

”Oohh… enak, Tot… terus… yah, begitu… remas pelan-pelan!” bisik Murti lirih, matanya sudah mulai terpejam rapat.

Dengan penuh semangat Gatot melakukan apa yang teman masa kecilnya katakan. Ia terus meremas-remasnya bergantian kiri dan kanan, merasakan betapa empuk dan kenyalnya benda itu, sampai akhirnya tubuh Murti menegang tak lama kemudian saat jilatan dan hisapan mulut Gatot mampir ke puncak payudaranya yang mungil dan indah. Seperti anak kecil, Gatot mulai menyusu ke arah puting Murti.

”Oohh… jilat terus, Tot… ohh… enak!” tangan Murti mendekap erat kepala Gatot ke arah payudaranya.

Gatot semakin buas menjilati puting susu istri Pak Camat tersebut, mulutnya sampai menimbulkan bunyi decapan yang sangat nyaring, tanda kalau hisapan Gatot begitu keras dan kuat, bahkan tanpa ia sadari, Gatot mulai menggigit-gigit ringan puting mungil itu.

”Hmm… nakal kamu, Tot!” Murti tersenyum merasakan tingkah sang sopir. ”Jangan cuma disitu, coba juga daerah bawah pusarku,” pintanya.

Gatot menurut saja. Cepat ia duduk diantara dua kaki Murti yang sudah terbuka lebar. Murti sendiri menyandarkan punggungya ke sandaran tempat tidur, membiarkan Gatot memandangi daerah kemaluannya yang sudah menganga lebar dengan sepuas hati.

”Sudah basah bukan?” Murti membimbing telunjuk Gatot agar memasuki liang vaginanya.

Gatot mengangguk, ”Lengket sekali, Mur…”

”Kelentitku, Tot. Coba kamu gosok-gosok sebentar, rasanya gatal sekali.” Murti memohon.

Pelan jari-jari Gatot mulai mengusap-usap tonjolan pink yang mulai menyembul itu.

”Ahh… yah, gosok terus, Tot… ughh, enak!” Murti menggelinjang keenakan ketika klitorisnya terus dipermainkan  oleh Gatot.

”Kalo aku giniin, enak nggak?” Gatot tersenyum sambil menekan kelentit Murti semakin keras.

”Ooh… Tot! Emm…” tubuh montok Murti makin melengkung keenakan, nafasnya terdengar semakin memburu, sementara bibirnya yang mungil terus mengeluarkan rintihan dan desahan yang sangat membangkitkan gairah, menandakan kalau pertahanan perempuan cantik itu akan segera jebol tidak lama lagi.

”Ooaahh… Tot!” Murti mencengkeram kuat pundak Gatot saat semua otot di tubuhnya menegang. Matanya terpejam sesaat, menikmati sesuatu yang telah lama tidak ia rasakan bersama Pak Camat.

”Hmm… kamu pintar sekali, Tot.” bisik Murti dengan vagina masih berkedut-kedut ringan mengeluarkan cairan kenikmatannya. Gatot tersenyum dan menurut saja saat Murti menyuruhnya untuk berbaring, ”Sekarang giliranku untuk memuaskanmu,” ucap Murti sambil mengurut lembut batang penis Gatot. Benda itu jadi semakin kaku dan menegang saat berada di dalam genggaman tangannya.

”Wow, makin besar aja, Tot!” dengan gemas Murti terus mengusap-usap dan membelainya. Gatot cuma tersenyum dan terdiam menikmati segala tingkah istri Pak Camat yang cantik dan seksi itu.

Tanpa menunggu lama, segera saja penisnya berpindah tempat. Kini benda coklat panjang itu sudah masuk ke dalam mulut Murti. Dengan rakus tapi sangat telaten, Murti mulai mengulum dan menghisapnya. Kepala penis Gatot yang berbentuk jamur tumpul digigitnya keras-keras hingga membuat Gatot merintih kegelian.

”Ahh… enak, Mur… terus!” Gatot tanpa sadar menyodok-nyodokkan pinggulnya, menekan penisnya semakin dalam ke mulut tipis Murti. Gerakannya menjadi semakin cepat seiring semakin kerasnya hisapan sang ibu guru cantik.

”Oohh, Mur… aku… aku… arghhh!” tanpa bisa dicegah, muncratlah cairan sperma Gatot ke dalam mulut Murti, yang segera dijilati oleh Murti hingga tandas dan tuntas.

”Hmm… manis juga rasa manimu, Tot.” Murti tersenyum, masih dengan mulut tetap menjilati ujung penis Gatot yang masih tegak berdiri.

”Kamu juga makin pintar, Mur, bikin aku jadi tak tahan.” sahut Gatot dengan nafas terengah-engah pelan.

Murti ikut tersenyum, ”Kita istirahat dulu ya, habis itu…”

”Kenapa istirahat, aku masih kuat kok.” potong Gatot sambil mendekap tubuh montok Murti dari belakang dan dengan cepat menyodokkan penisnya ke liang vagina perempuan cantik itu keras-keras.

”Arghkh!!” Murti menjerit kaget, namun cuma sebentar, karena dalam hati ia sangat menikmati hal ini. Siapa juga yang tidak suka mempunyai partner seks sejantan Gatot, biarpun habis keluar tapi penisnya masih bisa digunakan!

”Kamu menikmatinya ’kan, Mur?” bisik Gatot di telinga Murti. Tangannya yang satu menyangga tubuh montok Murti, sementara yang lain meremas payudara Murti yang menggantung indah. Sementara penisnya dengan keras melumat liang vagina Murti hingga jadi semakin basah dan memerah.

”Ahh… hhh…” Murti hanya bisa merintih, tubuhnya bagai lemas tak bertenaga menikmati setiap sodokan Gatot di liang vaginanya. Mereka terus berada alam posisi seperti itu hingga Gatot menyemprotkan kembali cairan spermanya tak lama kemudian, kali ini di dalam vagina sempit milik Murti.

”Ahh… Gatot!” rintih Murti saat merasakan cairan hangat memenuhi liang kewanitaannya. Ia cepat menekan pinggulnya ke belakang agar penis Gatot yang masih berkedut-kedut ringan makin amblas lagi ke dalam miliknya. Di saat yang sama, Murti rupanya orgasme juga.

Kedua insan itu pun tergolek lemas menikmati apa yang baru saja mereka lakukan. Cairan keduanya bertemu dan bercampur menjadi satu, memenuhi liang kelamin Murti hingga terasa jadi begitu basah dan lengket. Beberapa ada yang menetes keluar saat Gatot mencabut pelan batang penisnya.

”Ughh,” Murti mendesah, rambutnya yang hitam panjang terurai menutupi bantal, sementara dadanya yang besar bergerak naik-turun mengikuti irama tarikan nafasnya. Tangan Gatot bertengger disana, meremas-remasnya pelan.

”Pak Camat masih lama pulangnya?” tanya Gatot.

”Sebentar, aku sms dulu.” Murti segera mengambil HP-nya yang ditaruh di atas meja dan mengirim sms kepada Pak Camat. Tak lama sms balasan sudah ia terima.

Gatot tersenyum lebar saat ikut membaca, ”Masih 2 jam lagi, itupun kalau sudah selesai.” katanya.

Murti mengangguk, ”Iya, masih banyak waktu bagi kita.”

”Gimana, sudah siap lagi?” tanya Gatot sambil mencolek vagina Murti mesra.

”Hei, jangan bilang kalau kamu sudah ngaceng lagi!” sahutnya sambil melirik ke bawah dan memekik gembira saat melihat penis Gatot yang sudah beranjak bangun dan menegang. ”Gila, benar-benar gila!” Murti menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.

”Akan kubikin kamu pingsan malam ini,” janji Gatot sambil menindih tubuh molek Murti dan bersiap untuk memulai ronde yang kedua.